Pengembangan Diri
Submitted by admin on Thu, 12/11/2009 - 1:06pm.
Abstrak:
Lihatlah sekeliling kita pada bangsa dan budaya yang tidak tersentuh oleh Alkitab. Saya kira kita akan terkejut menemukan bahwa konsep Sabat—berhenti bekerja—merupakan sesuatu yang asing di telinga mereka. Jelas terlihat bahwa nilai alkitabiah telah mewarnai budaya Barat sedemikian rupa sehingga kebanyakan orang di belahan dunia itu mengenal dan menjalankan sekurangnya satu hari istirahat. Orang yang tidak menjalankannya hanyalah orang yang mendewakan kerja di atas segalanya. Di sini akan diuraikan latar belakang Sabat dan tujuan dari Sabat.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Sabat dan Kesehatan Rohani". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pada kesempatan yang lalu kita membicarakan tentang "Sabat dan Kesehatan Jiwa", tetapi selain menyangkut kesehatan jiwa tentunya Sabat ini juga menyangkut kesehatan rohani. Jadi begitu pentingnya perintah Tuhan ini tetapi akhir-akhir ini kurang mendapat perhatian. Apa betul seperti itu, Pak Paul ?
PG : Saya setuju dengan pengamatan Pak Gunawan. Sebagai hamba Tuhan saya juga mengakui bahwa kami sebagai hamba Tuhan kurang memberikan pengajaran tentang hal ini. Saya kira ini adalah sebuah kesalahan di pihak kami sebagai hamba Tuhan. Bukankah Tuhan memberikan sepuluh perintah itu untuk ditaati oleh umat-Nya, bukan hanya untuk dipandang dan ditaruh di dalam bingkai tapi untuk dilakukan. Bukankah kita tetap menjalankan perintah-perintah yang lainnya yaitu jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan menjadi saksi dusta, jangan menginginkan harta dari sesamamu manusia, tidak ada ilah lain dihadapan Tuhan dan sebagainya, tapi mengapa perintah yang keempat yaitu kuduskanlah hari Sabat tidak kita lakukan. Begitu banyak orang Kristen yang menamakan hari Sabat atau hari Tuhan hanyalah waktunya ke gereja saja dan setelah ke gereja melakukan hal-hal yang lainnya jadi semua aktifitasnya kembali lagi. Tuhan memberikan hari itu bukan saja agar kita mengingat Tuhan dan berbakti kepada Dia tapi sesungguhnya Tuhan memikirkan kepentingan kita juga. Jadi hari Sabat itu bukanlah beban tambahan, namun justru itu adalah cara untuk kita hidup secara sehat. Dan kita sudah bahas di waktu yang lampau bahwa hari Sabat ini kalau kita mulai terapkan menjadi sebuah gaya hidup maka hidup kita akan menjadi sebuah gaya hidup yang berimbang, karena kalau kita begitu terkuras oleh pekerjaan dan hanya mementingkan pekerjaan maka hidup kita tidak berimbang dan pertimbangan kita menjadi tidak jernih dan mungkin kita menjadi sering emosi dan sering marah. Akhirnya hidup menjadi berat sebelah dan hal yang penting yang harus kita perhatikan justru kita abaikan. Contoh yang paling keras adalah misalnya kita mengabaikan tanggungjawab kita sebagai suami, istri, ayah atau ibu. Kenapa begitu? Karena terlalu berat pada satu hal yaitu pekerjaan kita. Maka Tuhan memberikan contoh, waktu Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya dan kemudian pada hari yang ke tujuh dia berhenti. Bagi Tuhan sebenarnya tidak perlu berhenti atau beristirahat karena Tuhan adalah Roh tapi dia sengaja berhenti sejenak dan dalam bahasa Inggrisnya Tuhan itu beristirahat. Apa artinya itu? Karena Tuhan ingin agar kita itu meniru sebuah pola kehidupan yang bagi Dia itu merupakan pola kehidupan yang paling baik dan paling sehat yaitu pola kehidupan yang mengikutsertakan Sabat, kita berhenti bekerja dan kita mengingat Tuhan dan kita hidup dalam keterbatasan kita sehingga kita bisa kembali memohon kekuatan Tuhan dan disegarkan pada hari itu.
GS : Tapi kemudian perintah Tuhan "Hormatilah hari Sabat", berkembang menjadi begitu rumit sampai hal-hal yang kecil pun diatur di situ, misalnya berjalan kaki dan mengangkat barang. Dan itu bagaimana, Pak Paul ?
PG : Jadi sebetulnya perintah Tuhan itu sangat general atau umum tapi pada akhirnya orang-orang Yahudi, karena tidak mau melanggar perintah Tuhan itu maka merekalah yang merumuskan. Kita mengenal di dalam sistem kenegaraan kita ada yang namanya PERPU (Peraturan Pengganti Undang-undang) yang berisi terapan-terapannya sehingga digariskan menjadi sebuah kebijakan dan bisa diterjemahkan dan dilaksanakan. Dan orang-orang Yahudi saat itu melakukan hal-hal yang sama dan mereka menetapkan tidak boleh berjalan lebih dari berapa mil, dan tidak boleh mengangkat barang dari berapa beratnya dengan tujuan yang sebetulnya baik dan jangan sampai mereka melanggar perintah Tuhan. Namun karena mereka terpaku pada tatakrama pelaksanaannya akhirnya mereka kehilangan makna di belakang itu sendiri sehingga akhirnya mereka mengingat Sabat bukan sebagai hari untuk Tuhan dan hari untuk mereka. Jadi akhirnya menjadi sebuah peraturan tambahan yang harus mereka jalani juga dan itu sebetulnya bukanlah yang Tuhan tujukan atau Tuhan maksudkan.
GS : Apakah bukan hal itu yang menyebabkan orang lalu enggan untuk melaksanakan hukum ini, Pak Paul ?
PG : Mungkin sekali karena akhirnya menjadi suatu beban tambahan sebab tidak boleh ini dan itu, kita sebagai manusia memang agak sukar menerima larangan tidak boleh ini dan itu. Maka inilah yang membuat sebagian kita akhirnya tidak mau lagi mengingat-ingat hari Sabat dan sebagainya. Saya pun secara pribadi tidak harus menjalankan hari Sabat seperti orang-orang Israel dulu sebab jelas sekali nanti kita akan melihat dalam perkataan Tuhan Yesus bahwa yang harus kita tangkap adalah maknanya, dimana di hari itu kita berhenti bekerja supaya di hari itu kita bisa menghormati dan mengingat Tuhan, dan di hari itu juga kita bisa kembali disegarkan. Dan dengan gaya hidup seperti inilah, kita menjalankan kehidupan yang lebih efektif. Maka seperti yang dikatakan di dalam pembahasan yang lampau bahwa kehidupan ini akhirnya menjadi sebuah kehidupan yang berimbang dan dari kehidupan yang berimbang itulah baru bisa lahir kehidupan yang bernilai dan dari kehidupan yang bernilai, barulah nanti juga akan keluar berkat-berkat yang nanti akan bernilai juga.
GS : Kalau pada kesempatan yang lalu kita banyak berbicara tentang kesehatan jiwa. Dan sekarang bagaimana dengan kesehatan rohani ini, sebenarnya apa tujuan hukum Sabat itu ?
PG : Sekurang-kurangnya ada 3 yang akan saya uraikan. Yang pertama adalah, hari Sabat itu akan mendesak kita untuk bergantung penuh pada Tuhan. Karena memang secara logika kita akan berkata, "Kalau saya harus tutup toko saya sehari maka saya akan kehilangan penghasilan saya dan saya akan dirugikan," mungkin saja hal itu betul dan saya tidak bisa menyangkal. Ada lagi misalkan kita memunyai restoran dan misalkan dalam sehari kita bisa mendapatkan Rp. 5 juta, maka kalau buka tujuh hari pendapatan yang diterima kurang lebih Rp. 35 juta, belum lagi kalau pada hari itu merupakan hari yang sibuk jadi kita bisa mendapatkan lebih banyak lagi. Tapi kita anggap saja satu hari Rp. 5 juta maka kalau 7 hari sudah Rp. 35 juta. Kalau kita potong 1 hari, maka penghasilan kita hanya tinggal Rp. 30 juta dan kurang Rp. 5 juta. Tapi yang Tuhan maksudkan adalah Tuhan tetap akan memelihara kita, bahkan kalau kita harus kehilangan sejumlah uang karena kita harus berhenti bekerja, namun tetap Tuhan akan memelihara kita. Jadi di hari Sabat seolah-olah adalah cara Tuhan menguji iman kita apakah kita bisa percaya bahwa Tuhan akan mencukupi kebutuhan kita dengan jumlah yang bisa jadi memang lebih sedikit. Dalam konteks orang-orang Israel di padang pasir selama 40 tahun, mereka langsung mendapatkan manna dari Tuhan dan burung-burung puyuh juga diberikan agar mereka memakan dagingnya. Dan Tuhan katakan, "Pada hari ketujuh jangan mengambil dan mencari." Mula-mula mereka tidak mendengarkan perintah Tuhan. Dan pada hari ketujuh mereka tetap berjalan-jalan untuk mencari manna dan daging burung puyuh, tapi mereka tidak menemukan sebab Tuhan sudah berkata, "Dihari keenam Aku akan tambahkan, supaya kamu pada hari ketujuh tidak lagi mengumpulkan." Kalau kita pikir bukankah hal itu sungguh baik dan kita tidak perlu bekerja pada hari ketujuh dan hari keenam dicukupkan. Hal itu sebenarnya baik tapi karena kita orang berdosa dalam diri kita ada ketamakan dan terutama satu hal yakni kurang iman sehingga di hari ketujuh mereka tetap keluar untuk mencari manna dan daging burung puyuh. Tuhan menawarkan hal yang lebih baik dan kita tetap mau mencari yang lebih buruk. Maka sekarang Tuhan juga memanggil kita untuk mendengarkan dan menerima konsep ini yaitu peliharalah dan amatilah, lakukanlah dan jalankanlah hari Sabat dimana hari kita berhenti bekerja sebab kita akan melihat bahwa Tuhan akan tetap mencukupi kebutuhan kita. Berapa jumlah yang akan Dia berikan, itu tidak menjadi soal tapi yang penting Dia mencukupi kebutuhan kita.
GS : Pak Paul, ada orang yang mengatakan sekarang ini setelah kebangkitan Tuhan Yesus, kita tidak lagi merayakan hari Sabat tetapi hari Minggu sebagai hari dimana kita memuliakan Tuhan. Apakah ini Sabatnya orang Kristen atau bagaimana Pak Paul ?
PG : Boleh saja, dan saya memunyai keyakinan sebetulnya hari apanya itu tidak menjadi soal. Makanya Paulus pun pernah mengatakan hal yang sama, bagi orang tertentu hari ini yang paling khusus dan bagi orang-orang lain hari itu yang paling khusus. Bagi Paulus tidak menjadi soal yang penting hari apa pun yang kita mau khususkan, jadikanlah hari dimana kita itu berhenti bekerja dan kita memuliakan Tuhan, itu esensinya. Jadi kalau kita menggunakan misalnya hari Minggu, maka silakan, jadikanlah hari itu dimana kita berhenti bekerja dan tidak mencari-cari order, tidak kemana-mana dan benar-benar bersandar penuh bahwa Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita. Saya perhatikan orang yang tidak lagi mementingkan Sabat sehingga hari Minggu pun tetap bekerja, dia akhirnya menjadi berpikir bahwa semua bergantung pada dirinya, dia yang harus mencukupi, dia harus memutar modal dan sebagainya, jadi semua kembali kepada dirinya. Awalnya orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa itulah yang sedang terjadi, yang ada di pikirannya adalah mereka harus rajin bekerja dan sebagainya. Tapi padahal perlahan-lahan terjadilah pergeseran dari bersandar kepada Tuhan menjadi bersandar kepada diri sendiri.
GS : Ada beberapa jenis pekerjaan, termasuk sebagai pendeta atau orang-orang yang membuka restoran seperti yang Pak Paul katakan, mereka menyiasatinya dengan cara Minggu beribadah tapi ada hari lain dimana dia tidak bekerja ?
PG : Betul. Jadi misalkan dia sebagai hamba Tuhan, misalkan dia tidak bisa memilih hari lain maka dia harus bisa menentukan satu hari, hari apa pun tidak mengapa entah itu hari Senin, Selasa, Rabu karena hari Minggu adalah hari dimana dia harus bekerja karena hari itu adalah hari dimana dia harus bertugas. Di hari lain itulah benar-benar dia harus memisahkan dirinya, berhenti dan menikmati Tuhan, menikmati keluarganya, menikmati persahabatan dengan teman-temannya. Jadi itulah yang Tuhan inginkan dari kita.
GS : Seringkali orang khawatir kalau dia tidak melakukan pekerjaan, nanti siapa yang akan melakukan pekerjaan ini. Biasanya seperti itu ?
PG : Seringkali seperti itu, seperti yang telah saya katakan bahwa kami-kami ini sebagai hamba Tuhan kalau tidak hati-hati menempatkan diri di pihak Tuhan, semua bergantung kepada kami-kami ini. Kalau tidak ada, maka pekerjaan Tuhan tidak berjalan, itu salah. Suatu hari Pdt. Billy Graham ditanya, "Nanti setelah Anda meninggal siapa yang akan menggantikan, dan dia menjawab "Saya tidak memikirkan," kenapa dia tidak memikirkan? Karena dia tidak khawatir. Kenapa tidak khawatir? Sebab bukankah Tuhan selalu mengirimkan hamba-hamba-Nya untuk melayani umat-Nya. Kemudian dia memberikan contoh, sebelumnya ada Pdt. D.L. Moody, setelah Pdt. D.L. Moody dipakai Tuhan dan meninggal dunia kemudian orang bertanya, "Siapa yang menggantikan?" kemudian Tuhan membangkitkan Billy Sunday, setelah Billy Sunday meninggal, orang berkata "Siapa yang menggantikan?" maka kemudian Tuhan memakai Pdt. Billy Graham. Dan sekarang beliau sudah uzur sudah berusia 90 tahun, kita jarang lagi mendengar namanya, sayup-sayup kita mendengar namanya. Sekarang nama yang lain yang Tuhan pakai. Jadi persis seperti yang beliau katakan yakni janganlah khawatir dan pekerjaan Tuhan tetap berjalan. Dua minggu yang lalu saya baru menghadiri KKR di dekat Los Angeles yang diadakan oleh Pdt. Greg Laurie di suatu stadion, dimana stadion itu terisi penuh oleh manusia. Dan waktu Pdt. Greg Laurie memanggil orang untuk menyerahkan diri kepada Tuhan dan bertobat, maka ribuan orang turun. Sehingga satu lapangan terisi penuh dengan manusia. Dan setiap tahun diadakan selama 3 hari, setiap tahun dan sudah 20 tahun selalu penuh. Itu membuktikan bahwa Tuhan selalu bisa melakukan pekerjaan-Nya bahkan tanpa kita. Satu hal yang kita mesti sadari adalah sesungguhnya Tuhan tidak memerlukan kita, kadang-kadang kita beranggapan bahwa Tuhan butuh kita, kalau kita tidak ada maka pekerjaan Tuhan akan kacau, tidak seperti itu! Yang Tuhan percayakan kepada kita itu adalah sebuah kehormatan bisa ambil bagian dalam bagiannya. Ini adalah sebuah kehormatan dan nanti akan ada waktunya kita akan berhenti. Kalau mulai dari sekarang kita memelihara hari Sabat, memisahkan diri dari pekerjaan kita terus menerus. Sebetulnya nantinya kita juga disiapkan untuk menjalankan Sabat yang panjang. Dimana tidak ada lagi orang yang menelepon untuk mencari kita dan sebagainya, tapi tidak mengapa karena kita sudah dipersiapkan bahwa kita memang Tuhan tidak bergantung kepada kita. Jadi Tuhanlah yang mengerjakan pekerjaan-Nya.
GS : Hal yang kedua yang menyangkut kesehatan rohani ini apa Pak Paul ?
PG : Yang kedua adalah hari Sabat menolong kita untuk mengingat bahwa bagi Tuhan yang terpenting bukanlah jumlah tapi kwalitas. Saya mengingat perkataan dari seorang penulis yang bernama Scott Peck, beliau berkata bahwa ada beda antara hidup efisien dan hidup efektif. Hidup efisien menurut dia adalah memproduksi sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat mungkin, sedangkan hidup efektif adalah melakukan satu dua hal dalam masa hidup namun melakukan satu dua hal yang nantinya bermakna. Seharusnya kita ini menyadari bahwa yang Tuhan tekankan sekali lagi bukanlah jumlah tapi kwalitas. Kalau tidak hati-hati seringkali kita berpikir, "Tuhan itu menginginkan jumlah orang yang bertobat, makin banyak makin baik." Misalkan kita membuat acara, makin banyak yang hadir maka makin baik, orang-orang yang terlibat dalam pelayanan sangat-sangat bergantung pada jumlah. Kalau yang datang tidak sebanyak yang diharapkan, maka gagal. Definisi siapakah gagal itu? Itu adalah definisi manusia, sedangkan di mata Tuhan, Tuhan tidak mementingkan itu kalau Tuhan mementingkan jumlah maka Tuhan akan memilih 1.200 murid dan bukan 12 murid karena dari segi jumlah 12 murid adalah jumlah yang sangat kecil. Tapi Tuhan memang tidak memilih jumlah tapi Tuhan memilih kwalitas. Sama ketika Gideon berperang, akhirnya Tuhan hanya memilih 300 orang melawan orang-orang Midian yang berjumlah ribuan. Tuhan mau menunjukkan bahwa kemenangan ini adalah dari Tuhan dan bukan dari manusia. Sabat adalah cara Tuhan untuk menolong kita mengingat bahwa semua dari Tuhan dan tugas kita adalah melakukan bagian kita. Saya memiliki 3 langkah yang bisa saya usulkan agar kita ini bisa hidup tidak bergantung pada jumlah. Yang pertama adalah kita mesti menerima porsi yang Tuhan berikan kepada kita, kita mesti mensyukuri apa pun itu yang Tuhan berikan. Saya kira banyak orang yang susah untuk mengadopsi gaya hidup Sabat karena tidak bisa menerima porsi itu Pak Gunawan, karena mereka mau lebih dan rasanya kurang dan bagi saya itu sama, entah itu mau lebih dalam bentuk uang atau mau lebih dalam bentuk pelayanan. Kita mesti menerima dan bersyukur bahwa inilah porsi yang Tuhan berikan kepada kita. Dan langkah yang kedua adalah kita mesti setia menyelesaikan porsi itu sampai pada akhirnya. Jadi apa yang Tuhan percayakan, maka kita harus menerimanya dan itu yang akan menjadi tanggungjawab kita sampai akhirnya. Yang ketiga, dengan sikap mau menyelesaikan sampai akhir, kalau di tengah jalan dengan jelas Tuhan membelokkan arah, mengubah porsi maka kita harus mengubahnya pula, maka kita tetap bisa dengan luwes dipakai oleh Tuhan sesuai dengan kehendak-Nya. Saya kira ini akan terjadi kalau kita sudah mulai memelihara gaya hidup Sabat itu.
GS : Tapi gaya hidup seperti itu seringkali tidak cocok dengan kenyataan kehidupan sekeliling kita yang mengejar-ngejar target, mengejar-ngejar jumlah banyak. Jadi seolah-olah kita hidup di dalam dunia yang nantinya berbeda. Bahkan kalau kita menggunakan cara-cara yang tadi seringkali dianggap malas dan tidak memunyai gairah kerja dan seterusnya, Pak Paul.
PG : Banyak sekali kemungkinan dimana kita akan disalahmengerti. Misalkan kita berkata kalau kita memang tidak mau terima tambahan tanggungjawab, nanti kita dikatakan terlalu memikirkan istri, terlalu mengutamakan suami dan sebagainya. Tapi kita harus menyadari kemampuan kita. Kita yang paling tahu kemampuan kita, kita yang paling tahu kondisi dalam keluarga kita dan inilah tanggung jawab kita yang pertama. Jadi kita harus menerima tudingan orang yang tidak mengerti keputusan kita ini. Karena saya sudah terjun ke dalam pelayanan, saya pernah melihat orang-orang pada masa yang lebih muda jorjoran dan pada akhirnya memetik buahnya. Saya melihat cukup banyak para pelayan Tuhan, yang pada usia paro baya dan anak-anaknya sudah besar, memetik buahnya dan melihat bahwa inilah hasilnya yaitu masalah demi masalah pada anaknya. Kita seringkali memang tidak tahu karena tidak diceritakan keluar dan hanya sedikit orang yang dekat dengan orang ini yang akhirnya mengetahui. Tapi itulah harga yang harus dibayar dan janganlah di saat itu kita berkata bahwa kita sedang pikul salib, itu salah. Sebab itu bukanlah salib yang Tuhan kehendaki, karena dari awalnya Tuhan sudah gariskan bahwa kita harus menghormati dan menguduskan hari Sabat itu. Ini penting untuk bisa menjalankan kehidupan yang berimbang karena kehidupan tidak akan terisi hanya oleh satu unsur saja entah itu pekerjaan atau pelayanan, karena ada juga yang namanya persahabatan, kehidupan sosial, ada yang namanya keluarga, ada yang namanya menjadi orang tua. Dan semua itu harus kita perhatikan juga.
GS : Ada yang berpikir seperti ini, Pak Paul. Jadi semasa ada kesempatan maka dia akan menggunakan itu semaksimal mungkin dan nanti kalau sudah selesai dia akan membayar semuanya itu, misalkan dia pensiun. Tapi ada juga yang tidak keburu, sebelum menikmati masa pensiun untuk melunasi hutungnya yang dahulu, dia sudah meninggal duluan.
PG : Dan bukankah kalau boleh saya tambahkan, itu tidak akan sama Pak Gunawan. Misalkan kalau kita berkata, "Yang penting saya bekerja jorjoran, nanti setelah tua saya akan menikmati." Dan pertanyaannya adalah, apa yang akan dinikmati? Saya duga hal-hal yang akan dinikmati adalah hal-hal yang bisa dibeli oleh uangnya misalnya dia memang bisa mengumpulkan banyak uang, tapi nantinya yang dia nikmati hanya uang itu saja. Tapi kalau kita tanya, apakah engkau pernah dan cukup sering menikmati apa itu artinya bercanda dengan anak, bercumbu dengan istri atau suamimu, pergi bersama-sama, makan bersama-sama. Apakah pernah engkau menikmati semua itu? Justru ini yang terhilang. Mungkin dia berkata, "Nanti pasti bisa", tapi nantinya itu ialah kita pergi dengan anak yang sudah dewasa sedangkan belasan tahun sewaktu anak kita masih kecil, kita tidak melakukannya, berarti semua itu terhilang. Jadi waktu orang berpikir, mengumpulkan dulu dan di hari tua nanti baru melakukan, itu adalah hal yang salah sebab kita akan kehilangan begitu banyak. Dan itu bukanlah rencana Tuhan, Tuhan mau hari lepas hari kita menikmati dan mencicipinya, maka di Matius 6 Tuhan juga berkata, "Lihatlah burung pipit di udara, rumput-rumput di ladang semua Tuhan dandani dan dipelihara serta diberi makan. Jangan pusingkan hari esok karena hari ini sudah ada kesusahannya masing-masing." Jadi Tuhan selalu mengingatkan hidup untuk hari ini dan nikmatilah hari ini. Kenapa? Sebab yang pertama kita tidak mengetahui hari depan kita dan yang kedua kalau pun nanti ada waktu, kita tidak bisa lagi mencicipi yang telah terhilang.
GS : Hal yang ketiga yang menjadi tujuan Sabat itu dalam kaitannya dengan kesehatan rohani apa, Pak Paul ?
PG : Kalau kita menjalankan Sabat maka pada akhirnya kita menjadi orang yang melihat Tuhan di setiap penggalan hidup kita karena kita selalu bergantung kepada Tuhan, dan kita benar-benar hidup di dalam kontak yang intim dengan Tuhan. Akhirnya kalau kita menengok ke belakang, apa yang akan kita lihat? "Benar ya, karena dulu saya mau ikut Tuhan dan mau menjalankan cara Tuhan dan saya tidak menggunakan waktu untuk ini dan itu, saya tidak menerima jabatan yang lebih tinggi dan sebagainya dan memang benar ada berkat Tuhan di situ dan ada rencana Tuhan di situ dan sebagainya." Saya berikan contoh ada seorang yang saya kenal dan dia mendapatkan tawaran untuk pindah ke tempat yang berbeda dan kota yang berbeda untuk mendapatkan pangkat yang sungguh-sungguh tinggi dalam sebuah perusahaan dan dia sangat tergoda. Kenapa sangat tergoda? Karena saat itu dia baru saja kehilangan pekerjaannya karena perusahaan yang dulu dia bekerja bangkrut. Jadi dia kehilangan pekerjaan dan dalam keadaan kehilangan pekerjaan biasanya apapun yang ada kita mau saja menerima. Tapi orang ini adalah anak Tuhan yang setia, dan waktu menerima tawaran itu dia memang sangat tergoda untuk mengambilnya, dia dan istrinya berdoa dan akhirnya mereka berpikir kembali bahwa orang tuanya ada di kota dimana mereka tinggal sekarang dan orang tuanya sudah sakit-sakitan, kalau mereka pindah siapa yang akan merawat orang tuanya. Maka akhirnya dia memutuskan tidak jadi pindah dan tetap di situ. Mereka berkata bahwa itu adalah keputusan yang sangat berat, kalau dia memunyai pekerjaan saat itu, maka tidak masalah kalau dia menolaknya. Tapi saat itu dia tidak memunyai pekerjaan, tapi dia mengerti prioritas hidup bahwa ada yang lebih penting dari mendapatkan pekerjaan dan dia orang beriman bahwa Tuhan akan tetap memelihara hidupnya. Dan setelah dia menolak jabatan itu, dan dia tetap tinggal di kotanya, tidak lama kemudian dia mendapatkan pekerjaan yang juga sangat baik dan dia bersyukur. Kemudian dia menengok kebelakang dan melihat Tuhan. Orang yang mau hidup menjalankan hari Sabat, akhirnya lebih sering melihat Tuhan, Tuhan bekerja di sini dan Tuhan juga bekerja di situ. Tapi orang yang 'ngoyo' bekerja seperti mesin, yang terus bekerja bekerja atau melayani melayani maka dia tidak bisa melihat Tuhan sebab dia lebih sering melihat dirinya sendiri, yang bekerja kesana-kesini dan melakukan ini dan itu akhirnya sama sekali kehilangan kesempatan menyaksikan Tuhan bekerja.
GS : Jadi sebenarnya seseorang yang menjalankan hukum Sabat adalah orang yang memang mengenal Tuhan yang membuat hukum Sabat itu sendiri, Pak Paul.
PG : Betul sekali Pak Gunawan. Jadi dia mengenal isi hati Tuhan sehingga dia bisa mengerti kenapa Tuhan memberikan perintah itu. Ternyata perintah ini luar biasa, begitu indah dan begitu baik untuk manusia.
GS : Tapi manusianya sendiri yang kurang menyadari kalau itu untuk manusia seringkali dianggapnya ini untuk Tuhan sendiri, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Maka dalam suatu percakapan, Tuhan Yesus itu menegaskan di Markus 2:27-28, "Lalu kata Yesus kepada mereka: 'Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat'." Jelas di sini Tuhan menegaskan bahwa hari Sabat diciptakan Tuhan untuk manusia artinya untuk kepentingan kita, itulah baiknya Tuhan, meskipun kita berkata kuduskanlah untuk Tuhan tapi ujung-ujungnya tetap untuk kepentingan manusia. Bagi saya ini adalah hadiah dari Tuhan untuk umat manusia. Sayang sekali kalau kita tidak mau menerimanya, tapi kebanyakan manusia tidak menerimanya dan membuangnya. Itu sangat disayangkan sebab ini adalah hadiah yang begitu besar dari Tuhan.
GS : Saya juga percaya bahwa ini adalah salah satu siasat iblis bahwa sesuatu yang baik yang Tuhan berikan kepada manusia itu dibalik oleh iblis, seolah-olah ini membebani kehidupan manusia.
PG : Itu point yang baik, Pak Gunawan. Saya kira ada campur tangan si iblis di situ sehingga akhirnya orang berkata rugi, tidak perlu, berat, padahal tetap ini untuk kebaikan manusia, karena Tuhan sayang kepada kita.
GS : Kita tentunya berharap para pendengar setia acara TELAGA ini setahap demi setahap bahkan lebih taat untuk menjalani hukum-hukum hari Sabat ini. Terima kasih untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Sabat dan Kesehatan Rohani". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Lihatlah sekeliling kita pada bangsa dan budaya yang tidak tersentuh oleh Alkitab. Saya kira kita akan terkejut menemukan bahwa konsep Sabat-berhenti bekerja-merupakan sesuatu yang asing di telinga mereka. Jelas terlihat bahwa nilai alkitabiah telah mewarnai budaya Barat sedemikian rupa sehingga kebanyakan orang di belahan dunia itu mengenal dan menjalankan sekurangnya satu hari istirahat. Orang yang tidak menjalankannya hanyalah orang yang mendewakan kerja di atas segalanya.
Latar Belakang Sabat
Perintah untuk menjalankan Sabat pertama muncul di Keluaran 16:4-5, 27-30. Dalam perjalanan di padang pasir bani Israel tidak bisa bergantung pada siapa pun kecuali Tuhan sendiri. Mereka tidak bisa bekerja, mereka tidak punya perusahaan, mereka tidak memunyai sumber daya alam-mereka dalam kondisi tidak berdaya secara total. Kenyataan bahwa mereka berhasil bertahan membuktikan bahwa Tuhanlah yang telah memelihara hidup mereka. Tuhanlah yang memenuhi semua kebutuhan mereka selama 40 tahun mengembara di padang pasir. Di pagi hari Tuhan menyediakan manna dan di malam hari Tuhan menyediakan daging burung puyuh untuk dimakan.
Sungguhpun demikian dalam menyediakan kebutuhan mereka, Tuhan tidak menggunakan cara yang sama setiap hari. Pada hari keenam Tuhan menyediakan dua kali lebih banyak sebab pada hari ketujuh Tuhan memerintahkan mereka untuk tidak lagi mengumpulkan makanan. Sayangnya, sebagaimana dapat kita lihat, pada awalnya mereka tidak mendengarkan perkataan Tuhan: mereka tetap mencari manna di hari ketujuh-tanpa hasil!
Tuhan melarang mereka bekerja di hari ketujuh agar mereka ingat bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang memelihara hidup mereka. Kendati tidak mengumpulkan makanan di hari ketujuh, mereka tetap memiliki kecukupan dari sisa makanan yang dikumpulkan di hari keenam.
Tujuan Sabat
Bergantung penuh pada Tuhan. Tuhan memerintahkan kita untuk memelihara hari Sabat agar kita terus diingatkan untuk bergantung pada Tuhan yang memelihara hidup kita. Tuhan memperkenalkan Sabat kepada umat-Nya agar kita mengenal-Nya sebagai Yehovah Jireh-Allah yang menyediakan keperluan kita.
Setelah bekerja selama enam hari sangatlah mudah bagi kita untuk berpikir bahwa kitalah yang telah bekerja dan mencukupi semua kebutuhan. Satu hari istirahat mesti dipisahkan agar kita dapat selalu diingatkan bahwa Tuhanlah yang memelihara hidup kita sebab walaupun pada hari itu kita tidak bekerja kita tetap menikmati kecukupan. Singkat kata, Tuhan memerintahkan Sabat supaya iman bertumbuh dan kita makin bergantung pada-Nya.
Sabat mendorong kita melihat bahwa bukan saja Tuhan tidak butuh kita-seperti yang dibayangkan-sesungguhnya pelayanan dan orang-orang yang dilayani juga tidak butuh kita-seperti yang diharapkan. Singkat kata Sabat mengingatkan secara gamblang bahwa pelayanan adalah pekerjaan Tuhan dan pekerjaan Tuhan diatur dan dikerjakan oleh Tuhan.
Tidak bergantung pada jumlah. Ingatlah bahwa yang penting bukanlah berapa banyak melainkan berapa bernilainya. Scott Peck membedakan antara hidup efisien dan hidup efektif. Hidup efisien berarti menghasilkan sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Hidup efektif adalah melakukan satu atau dua hal semasa hidup namun memberi dampak mendalam. Untuk itu kita mesti belajar menerima apa yang ditetapkan Tuhan untuk kita.
Untuk dapat menciptakan sikap menerima diperlukan langkah-langkah berikut ini:
Menerima dengan syukur porsi yang Tuhan telah tetapkan buat kita.
Menyelesaikan porsi itu dengan setia sampai akhirnya.
Menyambut dengan iman bilamana Tuhan memutuskan untuk mengubah porsi.
Terakhir, menolong kita melihat Tuhan di dalam setiap sudut kehidupan ini. Sekali kita mengembangkan kebiasaan untuk berhenti, kita pun akan mulai menyaksikan karya dan kehadiran Tuhan di dalam dan melalui semua yang kita alami. Kita hanya perlu melakukan bagian kita; sisanya kita serahkan kepada Tuhan. Sabat adalah untuk kita sebab tatkala kita berhenti bekerja, di situlah Tuhan bekerja.
Submitted by admin on Thu, 12/11/2009 - 1:03pm.
Abstrak:
Ada banyak alasan mengapa tidak selalu kita berhasil menjalankan hidup yang memancarkan Kristus. Salah satunya adalah karena tidak selalu kita berhasil menjalankan kehidupan yang berimbang. Sabat adalah hari di mana Tuhan memerintahkan kita untuk berhenti bekerja dan mengingat Tuhan. Sewaktu berhenti bekerja dan mengingat Tuhan, kita pun diajak untuk menjalani sebuah kehidupan yang sehat. Sabat yang bagaimana yang membuat jiwa kita sehat?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Sabat dan Kesehatan Jiwa". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Membicarakan tentang Sabat, Pak Paul. Ada banyak orang yang sudah tidak lagi menghiraukan aturan-aturan Sabat. Karena mereka berpikir bahwa Sabat adalah peninggalan Perjanjian Lama dan ini sudah terlalu kuno, tidak cocok lagi dengan dunia modern. Apakah masalah Sabat masih relevan untuk kita bicarakan saat ini, Pak Paul ?
PG : Sangat relevan, Pak Gunawan. Sebab kalau kita menilai dari Firman Tuhan yaitu sepuluh titah Tuhan yang Tuhan turunkan melalui hamba-Nya Musa ialah sepuluh perintah Tuhan yang diharapkan untuk kita semua. Kalau kita tetap menaati perintah pertama yaitu, "Tidak ada ilah lain dihadapan-Nya", kalau kita menaati perintah kelima yaitu "Hormatilah ayah dan ibumu", kalau kita menghormati perintah yang kesepuluh, "Tidak menginginkan harta milik orang lain" dan sebagainya. Mengapakah perintah yang keempat ini justru kita abaikan, bukankah Firman Tuhan sendiri yang berkata di Keluaran 20: 8-11, "Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan. Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya." Jadi Tuhan meminta kita untuk menghormatinya, menghormati perintah-Nya yaitu untuk memelihara hari Sabat. Sudah tentu kita harus lebih masuk pada esensi perintah itu sendiri yang lebih penting daripada tidak melakukan apa-apa, sebagaimana yang dilakukan oleh umat Israel. Yang lebih Tuhan tekankan adalah sebuah gaya hidup yang mengikut sertakan Tuhan di dalam setiap tindakan kita dan menunggu Tuhan sehingga kita tidak menjadi orang yang berjalan di depan Tuhan, tapi justru menjadi orang yang berjalan di belakang Tuhan dan bersandar sepenuhnya kepada Dia.
GS : Sekarang ada banyak yang mengatakan bahwa kita tidak lagi libur pada hari Sabtu dalam pengertian Sabat seperti ini, tapi hari Minggu. Dan ini bagaimana, Pak Paul?
PG : Nanti yang akan kita angkat adalah bukannya memfokuskan pada hari itu sendiri, sebab sudah tentu kita tidak lagi memegang hari Sabat seperti yang dijalankan oleh orang Israel. Tapi kita mau memunyai sebuah gaya hidup yang tidak senantiasa dikejar-kejar oleh target atau oleh produktifitas, sehingga kita melupakan waktu untuk kita berhenti.
GS : Berarti hari apa pun boleh, yang penting ada hari dimana kita bisa libur. Seperti itu, Pak Paul ?
PG : Betul, mesti ada satu hari dimana kita harus berhenti bekerja. Sebetulnya kata Sabat itu sendiri berasal dari kata yang berarti berhenti dan dalam terjemahan yang lainnya misalkan dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan beristirahat, tapi sebetulnya kata itu sendiri berarti berhenti. Artinya berhenti yaitu tidak melakukan pekerjaan. Sudah tentu yang Tuhan inginkan di sini adalah sebuah gaya hidup dimana kita tidak hanya mengisi kehidupan dengan bekerja tapi juga harus diselingi sebuah hari untuk kita berhenti bekerja atau beristirahat.
GS : Justru sekarang ini yang rasanya kurang cocok dengan kondisi sekarang dimana orang dikejar-kejar target dan hari apa pun dia harus bekerja ?
PG : Betul sekali. Memang kalau kita melihat di sekeliling kita, makin hari makin banyak yang menekankan produktifitas, kita harus menghasilkan sebanyak-banyaknya. Itu sebabnya hampir-hampir tidak ada hari libur, bahkan hari dimana kita harus berlibur pun seringkali kita pergunakan untuk bekerja atau menemui misalnya rekan-rekan kerja atau menemui prospek bisnis dan sebagainya, dan ini bukanlah desain Tuhan. Namun desain Tuhan adalah kita harus bekerja tapi disamping itu kita juga harus berhenti bekerja. Dari desain Tuhan, kita bisa melihat enam hari harus bekerja dan satu hari berhenti bekerja. Itu menunjukkan bahwa hidup baru bermakna kalau diisi dengan bekerja. Kita tidak bisa membalikkannya yaitu enam hari beristirahat dan sehari bekerja, itu salah. Jadi hidup baru bermakna jika diisi dengan bekerja. Tapi untuk kita bisa hidup secara efektif dan baik, maka mesti ada satu hari yang kita panggil hari Sabat atau hari tidak bekerja.
GS : Berarti ketika Tuhan menurunkan 10 perintah Allah ini dan mencantumkan, "hormatilah hari Sabat", tentu itu ada suatu tujuan tertentu, Pak Paul ? Tujuan ini apa, Pak Paul ?
PG : Sekurang-kurangnya ada dua. Dan sekarang kita lihat terlebih dahulu, saya percaya Tuhan menurunkan perintah-Nya kepada kita agar kita bukan saja mengingat Tuhan, menyembah-Nya pada hari itu tapi kita juga menjalankan sebuah kehidupan yang berimbang. Tuhan berhenti bekerja bukan karena Tuhan perlu berhenti bekerja karena terlalu letih, karena kita tahu bahwa Tuhan adalah Roh dan Tuhan tidak bisa letih. Tapi kenapa pada hari ketujuh Tuhan harus berhenti bekerja atau digunakan untuk beristirahat? Sudah tentu ini dilakukan untuk kita dan untuk ditiru oleh kita, bahwa seharusnyalah manusia menjalankan hidup seperti ini. Kita melihat kalau orang tidak memunyai konsep hidup seperti ini, maka kehidupannya pasti tidak berimbang. Misalnya karena dia terlalu letih akhirnya hal-hal lain yang penting yang harus dia kerjakan tidak dikerjakannya atau tidak lagi diperhatikannya. Misalnya kalau kita terlalu capek sudah tentu kita tidak punya waktu dan tenaga mengurus hal-hal dalam keluarga kita, misalnya waktu suami atau istri kita sedang menceritakan masalah dalam keluarga kita, kita sudah tidak bisa lagi mendengarkannya karena otak kita sudah terlalu penuh dan tubuh kita sudah terlalu penat, akhirnya kita berkata, "Kalau begitu kamu saja yang mengurus semuanya." Atau misalkan kita dituntut dan diminta untuk ambil bagian melakukan sesuatu dalam keluarga, karena kita sudah terlalu letih, akhirnya kita malah tersinggung dan marah kemudian kita berkata, "Kenapa kamu tidak mengerti saya bahwa saya sedang sibuk, apa kamu tidak sadar kalau saya ini banyak pekerjaan." Yang menjadi masalah adalah hidup kita tidak lagi berimbang, sehingga kita memberi terlalu banyak di satu tempat dan memberi terlalu sedikit di tempat yang seharusnya kita berikan sama banyaknya.
GS : Pak Paul, banyak orang yang mengatakan di tengah-tengah pekerjaan ini dia sudah beristirahat, jadi ada waktu-waktu senggangnya. Jadi dia tidak memerlukan waktu lagi untuk istirahat secara khusus yaitu satu hari tidak bekerja.
PG : Sudah tentu kalau dalam pekerjaannya itu ada waktu-waktu dimana dia bisa santai dan beristirahat maka itu akan sangat menolong sehingga kehidupan dia sedikit banyak terjaga atau lebih berimbang. Tapi kalau bisa memang harus ada waktu dimana dia terpisah dari pekerjaannya, dia benar-benar berhenti dan tidak senantiasa berjaga-jaga, berada di sekitar pekerjaannya. Kita mau memunyai dedikasi dan seharusnyalah kita memunyai dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaan kita, tapi tidak seharusnya juga kehidupan kita senantiasa dipenuhi oleh pekerjaan kita. Jadi perlu ada jarak antara kita dan pekerjaan, kalau tidak maka kita akan terlilit oleh pekerjaan sehingga apa pun yang kita lakukan semua terkait dengan pekerjaan. Sebagai contoh Pak Gunawan, kadang-kadang waktu saya jalan pagi, saya melihat orang berolahraga pagi, kakinya jalan namun tangannya memegang handphone dan ngobrol, mungkin itu sanak keluarganya atau temannya tapi bisa jadi itu urusan bisnisnya. Karena dia tahu kalau dia harus menjawab telepon dari rekan bisnisnya sehingga teleponnya dibawa kemana-mana. Jadi akhirnya hidupnya menjadi terikat sekali oleh pekerjaannya, dan seolah-olah di luar pekerjaan tidak ada lagi kehidupan dia. Dan kita tahu bahwa ini tidak sehat, kalau nantinya orang ini tidak ada pekerjaan maka dia akan kehilangan dirinya atau kehilangan pegangan dalam hidup, kehilangan arah dalam hidupnya sebab pekerjaan itu sudah menjadi segalanya dalam hidup dia.
GS : Tapi sebenarnya alasan yang utama itu adalah kekhawatiran, entah dia khawatir tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya atau dia khawatir bahwa kesempatan bisnisnya akan diambil orang lain, seperti itu Pak Paul.
PG : Ada orang yang seperti itu, saya tahu ada seorang dokter yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Kalau diminta untuk berlibur dia tidak bisa, karena kalau dia berlibur misalkan 2 minggu atau 3 minggu dalam setahun, maka dia harus alihkan pasiennya ke dokter lain supaya nanti kalau ada pasien yang mencari dia maka dia akan dialihkan ke dokter yang lain. Dan dia takut kalau-kalau nanti pasien-pasiennya itu lebih suka kepada rekannya dan tidak kembali lagi kepada dia. Jadi saya melihat dalam hidup orang itu, hidupnya benar-benar diikat atau diperhamba oleh pekerjaannya sendiri. Dan Tuhan meminta kita untuk lepas dari pekerjaan supaya hidup kita berimbang dan bukankah kalau kita tidak memunyai kehidupan yang berimbang maka pertimbangan kita menjadi terganggu. Misalnya kita melihat berapa banyak kecelakaan di darat, di laut maupun di udara yang terjadi yang disebabkan oleh orang yang terlalu letih, ini dalam kasus yang ekstrem. Tapi bukankah dalam kehidupan sehari-hari kalau kita terlalu letih dan pikiran kita juga terlalu dipenuhi oleh pekerjaan kita maka pertimbangan kita pun terganggu dan keputusan yang kita ambil tidak bisa kita ambil dengan jernih karena otak kita sudah terlalu penuh. Maka Tuhan sudah menggariskan inilah pola hidup yang sehat supaya kehidupan kita menjadi kehidupan yang berimbang.
GS : Apakah ada contoh konkret di Alkitab tentang kehidupan seseorang yang tidak berimbang seperti ini ?
PG : Saya teringat dengan Nabi Elia yang Tuhan pakai dengan luar biasa dan memiliki keberanian melawan nabi-nabi palsu dan akhirnya waktu dia dikejar mau dibunuh oleh Izebel, istri Raja Ahab, dia lari keletihan. Dan waktu Tuhan temui, dia mengatakan, "Saya ini tidak jauh berbeda dari nenek moyangku, cukuplah itu ya Tuhan dan sekarang ambillah nyawaku." Jadi dengan kata lain, kalimat pertama sewaktu Tuhan menyapanya ialah "Saya mau mati." Di sini kita sering melihat Elia yang begitu jernih, begitu berani, begitu rohani, pada titik itu dia kehilangan keseimbangan hidupnya sehingga pertimbangannya terganggu. Di saat itu justru bukannya dia minta kekuatan Tuhan atau tempat berteduh dalam Tuhan tapi dia malah meminta nyawanya dicabut oleh Tuhan. Kita harus sadar, bahwa dalam kondisi kita yang terlalu letih maka pertimbangan-pertimbangan kita juga turut terganggu, dan yang indah adalah Tuhan tidak memarahinya dan Tuhan hanya memberinya makan dan setelah itu memberinya tidur. Apa yang Dia lakukan? Yaitu memberinya Sabat supaya ia bisa berhenti dan nantinya bisa dikuatkan kembali, dia lari ke gunung Horeb dan disanalah Elia bisa beristirahat untuk sejenak, setelah dia dipulihkan barulah dia turun gunung lagi dan melayani Tuhan kembali.
GS : Jadi kalau kita melihat contoh Elia ini, di dalam melakukan pekerjaan Tuhan pun, orang tetap membutuhkan istirahat Pak Paul ?
PG : Sebab kalau tidak, orang yang melakukan pekerjaan Tuhan tanpa mengikut sertakan Tuhan, tanpa mengingat Tuhan akhirnya terlalu bergantung pada dirinya sendiri, pada kekuatan sendiri dan tinggal tunggu waktu dia akan terjerembap jatuh ke dalam dosa.
GS : Tujuan yang kedua dari hari Sabat itu apa, Pak Paul ?
PG : Setidaknya yang kedua kita bisa katakan, Tuhan ingin agar kita hidup dalam keterbatasan. Kita mesti mengerti bahwa Tuhan tidak mengharapkan kita menjadi superman yang bisa melakukan semua hal, sangat kuat, yang tidak perlu istirahat, tapi Tuhan tahu bahwa kita manusia dan kita terbatas dan kita perlu waktu beristirahat, maka Tuhan meminta kita untuk beristirahat, untuk berhenti bekerja. Kadang-kadang kita beranggapan, makin giat bekerja buat Tuhan maka makin tidak pernah mengenal lelah dan istirahat dan makin terpujilah di hadapan Tuhan, tidak seperti itu. Tuhan menggariskan pola hidup yang diinginkan-Nya supaya kita menyadari keterbatasan atau kelemahan kita. Misalnya saya ini dalam keadaan letih maka saya ingat saya harus berdoa, memohon kekuatan dari Tuhan. Saya diingatkan pertama akan keterbatasan saya dan yang kedua waktu saya diingatkan akan keterbatasan saya maka saya diingatkan bahwa saya perlu kekuatan Tuhan. Dengan kata lain, waktu kita berhenti bekerja, kita diingatkan akan Tuhan yang memunyai kekuatan untuk kita. Jadi dengan kata lain, Sabat itu adalah waktu atau hari untuk mengingatkan kita bahwa kita tidak bisa mengerjakan pekerjaan Tuhan tanpa kekuatan-Nya. Jadi kita mesti sadar keterbatasan kita dan sebagai tindak lanjut bergantung pada Tuhan.
GS : Ada orang-orang tertentu yang dari Senin sampai dengan Sabtu, dia mengerjakan profesinya dan pada hari Minggu dia melakukan yang dia sebut sebagai pelayanan pada Tuhan dari pagi sampai petang. Jadi dia tidak memiliki waktu lagi untuk beristirahat, Pak Paul ?
PG : Saya mengerti bahwa di gereja tidak banyak orang bersedia untuk berkorban waktu dan tenaganya dan juga uangnya untuk pekerjaan Tuhan. Jadi saya tahu bahwa gereja itu sangat butuh dan menghargai anak-anak Tuhan yang rela untuk bekerja dan berkorban. Dan memang sebagai hamba Tuhan, saya katakan bahwa kita sangat memerlukan orang-orang yang seperti itu. Tapi tetap pada akhirnya saya harus berkata tengoklah kebutuhan di dalam rumah tangga juga, tengoklah apakah anak-anak, pasangan hidup, istri atau suami sudah mendapatkan cukup dari kita, kalau mereka tidak mendapatkan maka apa pun yang kita lakukan walaupun atas nama "buat Tuhan" tapi itu bukan lagi suatu persembahan yang harum, karena waktu kita memberikan persembahan yang harum sebetulnya kita sedang merugikan orang-orang yang Tuhan percayakan kepada kita untuk kita kasihi dan perhatikan. Memang sangat perlu adanya hari Sabat dan salah satunya karena kita ini seringkali kalau sudah terbiasa bekerja nonstop akhirnya tidak lagi merasa letih dan tidak butuh lagi berhenti untuk beristirahat. Jadi seperti roda yang terus berjalan dan biasanya kita baru berhenti kalau kita sudah terkena penyakit yang berat, barulah berhenti. Justru kalau kita membiasakan hidup ada hari Sabatnya, maka disitulah kita merasakan letihnya kita, jadi akhirnya kita menginginkan Sabat itu lagi. Tapi orang yang terus memforsir dirinya seperti itu maka tinggal tunggu waktu secara fisik dan mental dan secara rohani dia akan mengalami masalah. Saya takutnya dia bukan saja menghancurkan hidupnya, tapi juga menghancurkan hidup orang-orang di sekitarnya. Orang yang terlalu letih, kalau pulang ke rumah, dia akan lebih cepat marah, tersinggung dan tidak bisa menoleransi kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh keluarganya. Sehingga anggota keluarganya juga menjadi korban.
GS : Ada sebagian orang yang merasa bersalah kalau dia beristirahat, Pak Paul. Jadi dia akan terus mencari kesibukan.
PG : Memang tergantung pada budaya, filsafat kehidupan kita, apa yang telah kita dengar dari lingkungan kita dan dari orang tua kita. Itu yang seringkali akhirnya menjadi bagian dari kehidupan kita. Sehingga waktu kita beristirahat, kita justru merasa bersalah. Tapi sebetulnya Firman Tuhan ini jelas sekali meminta kita dan kalau Tuhan yang meminta dan menggariskannya berarti Tuhan tahu ini resep kehidupan yang baik. Misalkan saya bertanya mengapa kita cepat mendengar nasehat orang di dalam hal kesehatan misalkan, "Jangan makan makanan berlemak!" Nah kita mendengarkannya, kenapa? "Sebab ini baik untuk kehidupan", kenapa kalau manusia yang memberi nasehat maka kita langsung bisa mendengarkan, tapi kalau Tuhan yang memberikan nasehat, kita kurang mendengarkan. Padahal Tuhan yang paling tahu kondisi tubuh kita, dan Tuhan yang paling tahu hidup yang sungguh-sungguh sehat itu seperti apa. Dan bagaimana untuk bisa hidup sesehat itu, Tuhan sudah gariskan bahwa hari Sabat itu perlu yaitu untuk mengingat Tuhan, menguduskannya buat Tuhan dan sesungguhnya manfaatnya jatuh pada diri kita sendiri.
GS : Pak Paul, mengenai hari Sabat, banyak orang yang salah mengerti bahwa dia tidak harus melakukan apa pun juga pada hari Sabat itu, pada hari istirahatnya itu. Dan ini bagaimana Pak Paul ?
PG : Saya kira kita tidak perlu menjalankan Sabat seperti itu yang secara kaku. Tapi jadikanlah hari itu sebagai hari dimana kita tidak melakukan yang biasa kita lakukan. Misalkan hari itu telepon genggam kita matikan, atau kalau tidak mau seektrem itu, maka seandainya kalau ada permintaan pun maka kita tolak karena kita mau menguduskan hari itu dan menyisihkannya. Misalnya untuk diri kita dan keluarga kita, sambil kita terus mengingat inilah hasil karya Tuhan. Orang-orang Israel waktu di gurun pasir, mereka tidak memunyai pekerjaan atau usaha berarti mereka hanya dapat bergantung pada pemeliharaan Tuhan. Kemudian Tuhan juga perintahkan untuk satu hari agar mereka tidak bekerja, tidak mengumpulkan manna atau burung puyuh sebab Tuhan mau memperlihatkan walaupun kamu tidak bekerja, tapi Tuhan tetap penuhi kebutuhanmu. Jadi orang yang menjalankan kehidupan dengan gaya Sabat pada akhirnya menjadi orang yang dilatih untuk bersandar pada pemeliharaan Tuhan, dia tidak bergantung pada dirinya lagi. Jadi hidup dalam keterbatasan, benar-benar hidup yang memaksa kita dan mengingatkan kita untuk bersandar kepada Tuhan.
GS : Jadi kesimpulan dari pokok pembicaraan kita ini sebenarnya apa Pak Paul ?
PG : Yang pertama yang paling penting bahwa dengan adanya kehidupan yang berimbang, pada akhirnya kita akan melahirkan kehidupan yang bernilai dan dalam kehidupan yang bernilai itulah baru bisa lahir berkat yang bernilai. Saya berikan contoh, salah satu buku yang sangat populer dan telah diterbitkan ulang lebih dari 300 tahun adalah buku "Perjalanan Seorang Musafir" dan ditulis oleh John Bunyan, dia menulis itu waktu dia sedang dipenjarakan karena memberitakan Firman Tuhan. Dengan kata lain dia ditangkap dan kemudian harus mendekam di penjara selama belasan tahun. Inilah hari Sabatnya, dia menulis 5 buku namun yang terkenal hanya 2 buku saja dan salah satunya adalah buku "Perjalanan Seorang Musafir". Buku itu adalah buku yang paling banyak diterbitkan selain Alkitab sampai sekarang, tapi ditulis oleh orang yang hanya menulis 5 buku seumur hidupnya. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan inilah yang kita mesti yakini bahwa Tuhan tidak pernah terpukau oleh jumlah atau kwantitas, Tuhan hanya lebih tertarik melihat kwalitas kehidupan. Contoh lain lagi adalah Dr. James Dobson, seorang psikolog Kristen yang kita kenal di Amerika Serikat, dia seorang penceramah, populer, diundang kemana-mana dan akhirnya berkata, "Saya tidak bisa terima, dan saya sekarang berada di rumah dan membuat pelayanan radio," sebab tidak mungkin saya ceramah keluarga kemana-mana tapi saya sendiri tidak ada di rumah untuk keluarga saya. Dan kita tahu pelayanan Dr. James Dobson sekarang dikenal oleh puluhan dan bahkan ratusan juta orang di dunia ini. Sekali lagi kita melihat kehidupan yang berimbang, melahirkan kehidupan yang bernilai dan hanya dari kehidupan yang bernilai baru bisa muncul berkat yang juga begitu bernilai. Tuhan tidak tertarik dengan jumlah tapi Tuhan tertarik dengan kwalitas. Maka kita mesti menyelaraskan nilai-nilai hidup kita dengan Tuhan. Sabat mengingatkan kita akan hal itu bahwa yang penting di mata Tuhan adalah kwalitas dan bukan kwantitasnya.
GS : Jadi kalau kita mau memuliakan Tuhan maka mau tidak mau harus menjalankan hukum hari Sabat di dalam kehidupan kita, Pak Paul?
PG : Betul. Kita benar-benar mengadopsi gaya hidup yang baru dan dalam bahasa Jawa Timurnya ngoyo, tapi hidup yang lebih bisa berserah, bergantung pada pemeliharaan Tuhan, hidup yang lebih menyadari keterbatasan kita sehingga kita memunyai kehidupan yang lebih berimbang dan dari kehidupan yang berimbang itulah akan lahir kehidupan yang bernilai serta berkat-berkat yang nanti juga akan bernilai.
GS : Jadi Pak Paul, kita mencoba untuk menjalankan hukum-hukum hari Sabat dengan sungguh-sungguh karena ini menjadi suatu keputusan penting di dalam kehidupan kita, tinggal kita mau melakukannya atau tidak ?
PG : Betul. Dan akhirnya kalau orang tidak mau mengambil keputusan itu, maka sampai kapan pun hidupnya akan berjalan seperti itu. Saya sangat senang sekali dengan keputusan yang saya ambil kira-kira hampir 10 tahun yang lalu yaitu waktu saya sadari anak saya yang paling besar sudah hampir kuliah dan tinggal beberapa tahun lagi akan meninggalkan rumah, saya sangat sibuk dan sering pergi pada akhir pekan, akhirnya saya putuskan tidak lagi. Saya akan menerima undangan pelayanan pada masa sekolah libur, pada masa saya tidak lagi mengajar, baru saya terima. Itu adalah keputusan yang saya kira baik, waktu saya menengok ke belakang saya sangat bersyukur karena pada akhirnya saya dan istri bisa berjalan pagi, anak-anak bisa makan-makan bersama saya, kami bisa bersama-sama beribadah kepada Tuhan di gereja. Itu adalah waktu yang tidak bisa diulang lagi, Pak Gunawan.
GS : Jadi pada hari Sabat, kita tidak hanya pergi ke gereja kemudian bekerja lagi. Tentu bukan seperti itu, Pak Paul ?
PG : Betul. Jadi benar-benar mengubah kehidupan kita. Sabat itu bukan hanya 2 jam di gereja !
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Sabat dan Kesehatan Jiwa". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
"Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan . . . . Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya."
Keluaran 20:8-11
Makna Sabat
Istilah Sabat pada dasarnya berarti, "berhenti." Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk berhenti bekerja selama sehari setelah bekerja selama enam hari. Di Kitab Kejadian 2:2-3 dapat kita baca bahwa pada hari ketujuh Tuhan "berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya." Dari makna "berhenti" muncullah istilah "istirahat" sebab memang berhenti bekerja identik dengan istirahat. Hari di mana Tuhan berhenti bekerja atau "beristirahat" dipanggil, Sabat.
Tujuan Sabat
Hidup dalam keseimbangan.
Kita mafhum bahwa Tuhan tidak memerlukan istirahat. Tuhan berhenti bekerja bukan karena Ia butuh beristirahat melainkan karena Ia ingin menggariskan sebuah pola hidup bagi kita yaitu sebuah pola yang terdiri dari bekerja DAN beristirahat.
Agar dapat hidup kita mesti bekerja, bukan beristirahat. Namun, agar kita dapat hidup sehat, kita mesti beristirahat. Istirahat dibutuhkan sebab tubuh kita tidak imun terhadap kelapukan dan kerusakan. Bekerja tanpa beristirahat akan berakhir dengan kerusakan-secara fisik, mental, dan rohani. Sebagaimana kita ketahui ada begitu banyak kecelakan terjadi-baik di darat, di laut, maupun di udara-yang disebabkan oleh keletihan. Sewaktu kita kurang beristirahat kita tidak lagi berfungsi dengan optimal dan pertimbangan kita pun terganggu.
Hidup dalam keterbatasan.
Sewaktu kita menjadwalkan diri untuk menikmati Sabat, kita diingatkan akan kelemahan kita. Adakalanya kita tidak menyadari betapa letihnya kita sampai kita berhenti bekerja dan beristirahat. Kadang kita begitu tenggelam dalam pekerjaan sehingga mulai mengabaikan tanda peringatan yang dikeluarkan tubuh dan jiwa. Sering kali kita lupa keterbatasan sampai kita berhenti bekerja. Di saat berhenti itulah baru kita merasakan keletihan sampai-sampai kita tidak sanggup melakukan apa-apa lagi. Di saat itulah kita diingatkan betapa lemahnya kita dan di saat itu pulalah kita mengingat Tuhan-Allah perkasa yang dapat memberi kita kekuatan.
Kesimpulan
Gaya hidup Sabat melahirkan KEHIDUPAN YANG BERIMBANG dan hanya kehidupan berimbang yang dapat melahirkan KEHIDUPAN YANG BERNILAI. Pada akhirnya hanyalah kehidupan bernilai yang dapat melahirkan BERKAT BERNILAI. Sewaktu ditanya seseorang apa kiatnya sehingga ia dapat menulis begitu banyak buku yang memberi inspirasi kepada banyak orang, Scott Peck, penulis buku "The Road Less Travelled," bertutur bahwa setiap hari ia menyisihkan waktu tiga jam untuk tidak berbuat apa pun. Dengan kata lain, tiga jam sehari ia menjalankan Sabat. Dalam tiga jam yang tidak diambilnya secara serentak itu, biasanya ia menggunakan sebagian untuk bersaat teduh dan selebihnya hanya untuk berdiam diri dan merenung.
TUHAN TIDAK TERTARIK DENGAN JUMLAH. Jika Ia mementingkan jumlah atau kuantitas, sudah tentu Ia akan memilih 1200, bukan 12 murid. Tuhan tertarik pada KUALITAS HIDUP, bukan kuantitasnya. Bila kita senantiasa berkejaran dengan waktu pada akhirnya kita akan MENGHANCURKAN HIDUP SENDIRI DAN HIDUP ORANG LAIN. Sebaliknya, jika kita menyelaraskan hidup dan pelayanan sesuai dengan pola yang ditetapkan Tuhan, pada akhirnya kita akan melahirkan berkat yang jauh lebih bernilai dan bertahan lama.
Kesimpulannya satu: Kita tidak mungkin memproduksi kualitas secara MASSAL. Kualitas mesti diukir satu per satu-mulai dari hidup kita sendiri. Bila kita sendiri tidak memiliki kualitas itu, jangan berharap kita akan dapat menularkannya pada orang lain.
Submitted by admin on Fri, 05/06/2009 - 7:37am.
Abstrak:
Di dalam suratnya yang terakhir, Rasul Paulus berbagi pesan dengan anak rohaninya Timotius, “Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan…” (2 Timotius 4:7-8). Banyak orang yang memulai dengan baik tetapi tidak banyak yang mengakhirinya dengan baik. Banyak yang tersandung di tengah perjalanan dan masuk ke lubang dosa. Pembahasan ini menguraikan bagaimana mengakhiri perjalanan hidup bersama Tuhan Yesus dengan baik.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengakhiri Dengan Baik". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Setiap orang tentu berharap perjalanan kehidupannya di dunia ini bisa diakhiri dengan baik, tetapi untuk bisa di garis akhir yang baik tentu orang harus membuat persiapan-persiapan dalam mempersiapkan dia untuk bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya. Kira-kira mengakhiri dengan baik, yang akan kita perbincangkan ini tentang apa, Pak Paul ?
PG : Di dalam surat 2 Timotius 4:7-8 Rasul Paulus berbagi pesan dengan anak rohaninya Timotius, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memeliara iman.
Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan." Ini adalah sebuah ungkapan yang indah. Sebuah ungkapan syukur bahwa Tuhan telah menyertai hamba-Nya ini dan sekarang dia akan mengakhiri hidup ini dengan sebuah rasa syukur bahwa Tuhan telah menjaganya. Pak Gunawan, di dalam hidup ini banyak orang yang memulai dengan baik, tetapi tidak banyak yang mengakhirinya dengan baik. Banyak yang tersandung di tengah perjalanan dan masuk ke lubang dosa. Itu sebabnya kita mau mengangkat topik ini agar kita bisa belajar waspada, berhati-hati agar bisa mengakhiri perjalanan hidup dengan Tuhan Yesus dengan baik.
GS : Tapi kalau kita melihat pada diri Rasul Paulus sendiri, sebenarnya dia memulainya dengan kurang baik namun pada akhirnya dia mengakhirinya dengan baik, seperti itu Pak Paul.
PG : Dan itu yang memang seharusnya, Pak Gunawan. Kadang-kadang kita mengawali hidup dengan tidak baik, kita tidak mengenal Tuhan dan kita tidak hidup sesuai dengan kehendak Kristus dan akhirny dalam hidup ini kita lebih banyak berkubang dan jalan di tempat, tapi karena anugerah Tuhan maka kita diselamatkan dan kita bertobat dan kita mau memulai hidup yang baru.
Maka seyogianyalah dari titik itu sampai akhir maka kita bisa berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Rasul Paulus menggunakan istilah pertandingan, jadi dia melihat hidup ini sebagai suatu pertandingan dan kita harus selalu berjaga-jaga dan kita harus selalu waspada. Maka Paulus menasehati Timotius bahwa dia harus mengakhiri hidup ini dengan baik. Karena itu kita sebagai anak-anak Tuhan perlu belajar hal-hal apa yang perlu kita lakukan atau jaga supaya mengakhiri hidup dengan baik.
GS : Pada saat Rasul Paulus mengatakan hal seperti itu kepada Timotius, sebenarnya pada saat itu dia belum meninggal, tetapi mengapa dengan yakin dia mengatakan bahwa "Aku telah mencapai garis akhir" ?
PG : 2 Timotius adalah surat yang terakhir ditulis oleh Rasul Paulus dan di saat itu, dia sedang dalam pemenjaraan di Roma, diduga Rasul Paulus dipenjarakan lebih dari sekali. Jadi setidaknya aa 2 kali dia dipenjarakan dan rupanya dia sudah bisa membaca situasi waktu pemenjaraan yang terakhir ini bahwa dia tidak lagi selamat dan dia akan dibunuh, karena pada saat itu yang memerintah adalah Kaisar Nero.
Kaisar Nero membenci orang Kristen dan suatu ketika menyebabkan kebakaran melanda kota Roma. Tapi untuk menutupi jejaknya, dia menuding bahwa orang Kristenlah yang telah menyebabkan kebakaran itu. Kemudian dia mengompori orang-orang di Roma untuk mengejar dan membunuh orang-orang Kristen. Dalam kondisi seperti itulah Rasul Paulus dan juga Rasul Petrus ditangkap dan dipenjarakan oleh Nero. Kita tahu bahwa menurut catatan tradisi, dua hamba Tuhan ini akhirnya mati di tangan Nero. Jadi besar kemungkinan Paulus melihat bahwa sekarang dia di tangan kaisar yang sangat lalim dan begitu bernafsu untuk membunuh orang-orang Kristen, jadi bisa dibayangkan bahwa nanti dia juga akan terkena.
GS : Pada hari-hari terakhir dari kehidupan seseorang, jika dia menengok ke belakang maka sebagian orang akan mengatakan kalau dia menyesal karena dia tidak melakukan hal-hal tertentu yang seharusnya dia bisa lakukan. Tapi juga ada sebagian orang yang menyesali, kenapa dia melakukan hal-hal yang seharusnya dia tidak lakukan, dan ini bagaimana Pak Paul ?
PG : Seringkali pada masa-masa tua kita menengok ke belakang, kalau ada hal-hal yang kita tahu seharusnya kita lakukan namun tidak melakukan maka itu akan membawa penyesalan dalam hidup kita. Sbagai contoh kita melihat ke belakang kemudian kita menyadari seharusnya saya lebih memberikan waktu untuk keluarga saya namun kenyataannya tidak, sekarang saya menjadi jauh dengan keluarga saya.
Akhirnya dia harus membawa penyesalan itu. Atau ada juga orang-orang yang menengok ke belakang dan berkata, "Kenapa saya melakukan hal-hal seperti itu, saya melakukan kesalahan ini dan itu sehingga sekarang saya harus membayar harganya," biasanya seperti itu pula kita merasa penyesalan dalam hati kita.
GS : Berarti hal-hal yang seharusnya dilakukan atau hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, itu terjadi pada usia parobayanya seperti itu, Pak Paul ?
PG : Biasanya seperti itu, Pak Gunawan, sebab seringkali pada masa awal kita masih berhati-hati dan kita masih waspada. Periode yang paling rentan adalah di parobaya, biasanya kita lengah di stu dan kalau kita tidak hati-hati maka pada akhirnya kita terjerumus masuk ke dalam lobang dosa.
GS : Berarti hal-hal apa yang harus dilakukan oleh seseorang pada usia paro-bayanya supaya dia mengakhiri kehidupannya ini dengan baik ?
PG : Ada beberapa yang akan kita angkat. Yang pertama adalah kita mesti menjaga batas dalam berelasi dengan lawan jenis. Salah satu lubang dosa yang kerap kali membuat kita jatuh di dalamnya adlah dosa perzinahan.
Alasan kenapa kita mudah jatuh ke dalamnya adalah dikarenakan kita tidak berhati-hati dalam menjaga batas, dalam berelasi dengan lawan jenis maka kita harus menjaga batas yang jelas. Jika kita mulai melanggarnya maka suatu hari kelak, kita akan jatuh ke dalam dosa perzinahan, memang pelanggaran pertama tidak harus kita jatuh ke dalam dosa tapi kalau kita tidak menjaga batas maka tinggal hitungan waktu maka kita akan makin kendor dan kemudian kita melanggar batas tersebut dan disitulah akhirnya kita jatuh ke dalam dosa perzinahan.
GS : Padahal pada usia-usia parobaya, seseorang itu mendambakan hubungan seksual dengan pihak lain disamping istrinya.
PG : Biasanya begitu karena pada usia itulah, pada umumnya laki-laki mencapai puncak kemapanannya dan lebih dihormati dan disegani oleh koleganya termasuk bawahannya, dan kalau di situ ada wania-wanita maka mereka akan menunjukkan sikap mengagumi atasannya ini.
Tidak bisa tidak istrinya sudah mulai menua dan dia akan mulai membandingkan istrinya dengan wanita-wanita ini. Maka disini dia perlu menjaga batas meskipun pada awalnya tidak ada masalah namun dia mesti menjaga batas ini.
GS : Batas-batas apa yang biasanya dilanggar, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa, yang pertama adalah batas dalam berteman yaitu akhirnya kita itu mudah sekali berteman terlalu mendalam. Apa artinya berteman terlalu mendalam, misalnya kita memberi perhatia yang terlalu mendalam kepada seseorang yang tidak bisa tidak akan membuat dia merasa bukan saja diperhatikan tapi juga dianggap spesial.
Adakalanya kita menanyakan hal-hal yang pribadi, meneleponnya waktu dia mengalami sedikit kesusahan atau ada masalah dan kita benar-benar memberikan perhatian yang begitu mendalam pada lawan jenis. Ini memang berbahaya hampir setiap orang senang menerima perlakuan khusus, itu sebabnya bila ia merasa diperhatikan secara khusus maka besar kemungkinan dia akan menikmatinya. Sebagai akibatnya relasi makin bertambah dalam. Kita tahu jika relasi sudah bertambah dalam maka mudah sekali perasaan-perasaan romantis atau suka itu muncul. Kalau kita tidak mengenal orang dan relasi kita dengan dia jauh, maka sudah tentu percikan-percikan api romantis juga lebih susah untuk keluar, namun di dalam relasi yang mendalam inilah percikan api romantis mudah sekali keluar dengan banyak.
GS : Padahal itu seringkali keluar dengan tidak sengaja, perjumpaan atau masalah-masalah yang sama yang dihadapi di kantor dan ini membuat hubungan dua orang ini makin lama makin dekat, Pak Paul.
PG : Betul. Memang karena ini tidak dianggap berbahaya maka kita sebagai anak-anak Tuhan harus waspada dan kita harus melihat, "Benar ya, rasanya makin hari makin mendalam, sekarang dia memperhtikan saya seperti ini."
Kalau kita merasa bahwa kita diperhatikan seperti itu oleh rekan kita, itulah saatnya kita mesti mulai mundur dan mulai membatasi, dan kebalikannya kalau kita merasa bahwa kita telah memberikan perhatian kepada seseorang terlalu mendalam maka kita harus mundur. Jadi jangan sampai kita mendiamkan dan malahan menikmatinya, itu sangat berbahaya.
GS : Pelanggaran yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Yang lain adalah bercanda terlalu jauh, ini sederhana tapi juga bisa berbahaya. Seringkali orang memulai relasi dengan bercanda, sudah tentu bercanda yang segar akan membuat orang tersenyu dan bahagia.
Masalahnya adalah kalau kita terus bercanda dengan seseorang, kita pun terus membuatnya bahagia bersama dengan kita. Jika tidak hati-hati maka ini yang akan menjadi awal dari sebuah relasi yang khusus, perasaan suka mulai bertumbuh dan kita pun makin senang menghabiskan waktu bersamanya. Jadi memang jagalah bercanda kita, jangan sampai terlalu jauh sehingga membuat orang selalu mau dekat dengan kita dan terus mengundangnya untuk terus bersama kita. Ini adalah awal dari permulaan relasi yang makin intim.
GS : Ini sangat berkaitan dengan yang pertama tadi lewat canda-canda sehari-hari ini dan lama-lama makin dekat dan makin dekat dan kita makin berani bercanda lagi dan dia juga menanggapi canda kita dengan canda yang lain. Maka itu menjadi suatu jalinan yang makin lama, makin kuat mengikat seseorang.
PG : Saya setuju sekali, Pak Gunawan. Itu sebabnya kita mesti memperhatikan canda yang kita lontarkan. Seringkali kita berdalih, "Saya hanya bercanda, saya hanya iseng-iseng saja," tapi sedikitsekali orang yang sungguh-sungguh murni dalam dunia ini, kebanyakan hati kita sudah bercabang.
Kalau kita bercanda terlalu mendalam terhadap seseorang maka besar kemungkinan ada sesuatu di dalam hati kita, maka kita mesti menjaganya melarangnya untuk terus bercanda dengan dia karena makin kita bercanda, maka dia semakin menikmatinya dan kita pun makin menikmatinya maka lama-lama makin menikmati kehadiran satu sama lain pula.
GS : Jadi sebenarnya orang yang bersangkutan itu menyadari bahwa dia sudah terlalu jauh dalam hal bercanda ini, Pak Paul ?
PG : Tidak semua, Pak Gunawan. Jadi ada orang-orang yang menyangkal, misalnya ada pasangannya yang berkata, "Kenapa kamu dengan dia selalu bercanda," kemudian dijawab, "Kenapa, salah ? Saya salh bercanda seperti itu.
Namanya juga bercanda." Dan masalahnya adalah saya ini cukup tua, jadi saya mengerti kita ini susah sekali memunyai hati yang murni, seringkali motivasi itu menyusupi tindakan-tindakan kita dan merasa paling aman menggunakan metode bercanda itulah, sehingga kita bisa menikmati kebersamaan dengan orang dan kalau orang curiga, maka kita masih bisa berdalih kalau ini hanya bercanda.
GS : Apakah ada bentuk pelanggaran yang lain tentang jaga batas ?
PG : Yang lain adalah kadang-kadang kita berkenalan terlalu mudah maksudnya begini, atas nama ramah tamah kadang kita cepat berkenalan dengan lawan jenis. Kalau kita tidak hati-hati perkenalan ang terlalu mudah akan membuka celah bagi berkembangnya relasi dengan lawan jenis, kita mesti peka dan jelas dengan motivasi kita saat menjalin komunikasi kita dengan lawan jenis.
Seringkali ketertarikan adalah alasan pertamanya namun kita enggan untuk mengetahuinya, kita biasanya berkata, "Tidak ada apa-apa, tidak ada ketertarikan," tapi kalau kita jujur sebenarnya kita bisa bertanya apakah saya mau berinisiatif menjalin perkenalan dengan orang yang lain misalkan dengan orang yang tidak semenarik orang tersebut. Seringkali kita harus akui, "Benar ya kalau orang itu tidak menarik tentu kita tidak akan memulai perkenalan dengan dia." Jadi kalau kita tahu kita tertarik kepada seseorang, janganlah kita menyuburkan relasi dengan dia. Di dalam Amsal 5, firman Tuhan memanggil perzinahan dengan beberapa kata-kata yang sangat keras yaitu maut, dunia orang mati, dan habis binasa. Jadi dengan kata lain tidak ada yang manis dan indah dengan perzinahan, maka jangan kita memulainya.
GS : Seringkali orang pada masa tuanya banyak menyesali dirinya karena jatuh ke dalam dosa perzinahan, berarti dia tidak bisa lagi mengakhiri hidupnya dengan baik.
PG Betul. Akhirnya dia selalu berpikir-pikir, "Kenapa saya melakukan hal seperti itu." Dan itu yang kadang saya dengar dari orang yang telah jatuh ke dalam dosa perzinahan, dia bisa keluar atas anugerah Tuhan, memulai lagi relasi dengan pasangannya tetapi selalu ada duri yang menusuk hatinya . Dia selalu mengingat perbuatan dirinya di masa lampau dan dia akan benar-benar menyesali kenapa saya bisa sampai seperti itu, kalau mau dihapus juga tidak bisa, karena sudah terjadi dan itu akan terus menjadi bagian dalam hidupnya.
GS : Jadi sebenarnya dengan dia berbaikan dengan istrinya yang pertama dahulu, itu sebenarnya menjadi beban tersendiri di dalam akhir kehidupannya, Pak Paul ?
PG : Jadi selama dia hidup, dan dia sadar istrinya telah memaafkan, memberinya kesempatan yang kedua, dia bersyukur dan dia senang tapi selalu ada rasa bersalah, "Istri saya begitu baik dan maumenerima saya tapi kenapa dulu saya sanggup berbuat seperti itu, apalagi kalau sampai diketahui oleh anak-anak" sampai kapan pun rasa malu itu akan ada di dalam dirinya, rasa malu bahwa mereka tidak bertanggung jawab telah mengkhianati bukan saja pasangan tapi anak-anaknya pula.
GS : Khusus untuk jaga batas, apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Firman Tuhan di Amsal 5:20 dan 21 berkata, "Karena segala jalan orang terbuka di depan mata Tuhan, dan segala langkah orang diawasi-Nya." Kita mesti menjaga batas sebab Tuhan pun melihat mtivasi kita yang terdalam dan terbuka lebar di hadapan Tuhan.
Maka jangan kita membohongi diri apalagi membohongi Tuhan. Kalau memang ada motivasi tertentu dalam diri kita, maka akuilah dan ada kemudian kita membuat garis batas yang harus kita patuhi.
GS : Selain jaga batas, yang harus dilakukan lagi jaga apa, Pak Paul ?
PG : Yang berikut yang saya sebut dengan jaga badan. Sudah tentu jaga badan ini bisa mengacu pada kekuatan tubuh kita, pada usia muda kita kuat dan bergantung penuh pada kekuatan badan sendiri amun dengan bertambahnya usia kita mesti memerhatikan keterbatasan tubuh dan hidup di dalam keterbatasan kita dan bukan malah di luar keterbatasan ini.
Tapi selain dari badan jasmaniah, kita pun mesti menjaga badan atau kekuatan atau kemampuan mental. Makin bertambahnya usia, makin bertambah pengalaman dan sebagai konsekuensinya makin bertambah keyakinan diri dan akhirnya kita makin percaya pada pertimbangan kita dan tidak mudah untuk mendengarkan orang karena kita tahu kalau kita ini paling berpengalaman. Kalau tidak hati-hati maka di masa inilah kita mudah terperangkap di dalam dosa-dosa tertentu.
GS : Misalnya dosa apa, Pak Paul ?
PG : Yang pertama misalnya adalah dosa kesombongan, banyak orang memulai hidup dengan kerendahan hati namun mengakhirinya dalam kesombongan. Kenapa pada awalnya dia rendah hati ? Karena belum aa pencapaian, belum membuktikan diri, belum ada keberhasilan makanya kita rendah hati.
Tapi setelah memunyai keberhasilan, kita mulai sombong, kita menganggap diri kita lebih dan kadang merasa diri paling tahu dari pada orang lain sehingga cepat mengecilkan kemampuan orang lain dan malah meninggikan pengetahuan pribadi, kita menjadi mudah tersinggung sewaktu kita tidak mendapatkan penghargaan yang kita anggap kita layak menerimanya atau mungkin marah sewaktu melihat orang lain memeroleh medali yang seharusnya menjadi milik kita. Tidak heran ada orang yang makin tua, makin sombong dan makin membesarkan pencapaiannya.
GS : Selain timbul dari dalam dirinya sendiri, kesombongan ini juga seringkali dipicu oleh orang-orang di sekitarnya yang mengkultus-individukan dia, yang menyanjung-nyanjung dia sehingga kesombongan itu makin terbentuk.
PG : Ada seorang pendeta yang bernama Max Lucado dia berkata bahwa, "Waktu orang-orang memuji-muji kita karena kita bisa ini dan mampu itu, akhirnya kita itu sungguh-sungguh menyakini bahwa kit sebaik itu dan kita setinggi yang mereka katakan, akhirnya pandangan seperti itu melambung dan melambung.
Biasanya dalam kondisi seperti itu kita menuntut orang memerlakukan orang seperti itu pula waktu orang tidak menghargai pendapat kita, tidak mau mendengarkan masukan kita, kita tersinggung dan marah karena kita mengaggap bahwa sudah seharusnyalah kamu mendengarkan dan menghargai apa yang saya katakan." Ini adalah kesombongan, Pak Gunawan. Jadi kesombongan itu bisa kita tarik ke dalam 2 ekstrem dan yang paling ekstrem adalah mengagungkan diri bahwa saya hebat, saya mulia tapi di dalam ekstrem yang satunya yang paling bawah yaitu kesombongan muncul dan dalam pemikiran saya selalu benar dan tidak salah dan saya tidak mau meminta maaf. Jadi sebetulnya itu adalah bentuk kesombongan yang lebih diam atau lebih sunyi tapi sesungguhnya sama-sama berbahaya dengan kesombongan yang satunya yakni yang mengagung-agungkan diri.
GS : Dalam hal kesombongan, kadang-kadang orang tidak menyadari bahwa itu merupakan kesombongan tapi yang pasti ialah tubuhnya makin hari makin lemah karena usia itu tadi.
PG : Betul sekali. Memang tubuhnya makin melemah tapi seringkali karena pengalamannya bertambah akhirnya dia makin percaya diri, tidak mau mendengarkan orang lain dan menganggap dirinya yang paing tahu.
GS : Dosa yang satunya lagi apa, Pak Paul ?
PG : Yang satu lagi adalah tidak mengakui keterbatasan, Pak Gunawan, oleh karena kita makin berpengalaman dan pintu kesempatan makin dibukakan, maka mudah sekali kita terjerumus ke dalam lembahyang saya sebut dengan ketidak terbatasan, kita tergoda melakukan banyak hal dan tidak ingat lagi akan keterbatasan diri.
Kita menjadi sukar menolak permintaan orang dan sering menyangkal kenyataan sebab kita ingin terus berkiprah dan kita tidak mau menerima bahwa sesungguhnya kita juga makin terbatas, kemampuan kita pun tidak makin bertambah. Biasanya kita makin memacu diri tapi masalahnya adalah kesanggupan kita, tubuh kita makin terbatas akhirnya muncullah berbagai gangguan baik itu yang menyangkut diri sendiri, atau pun relasi dengan sesama karena akhirnya orang yang tidak kenal batas biasanya akan menghalangi orang untuk berkembang, menghalangi orang untuk melakukan hal-hal yang dia rasa dia cocok untuk dia lakukan, akhirnya menginjak kaki orang menganggap diri yang paling super dan masalah pun makin hari makin berkembang.
GS : Ada orang yang mengatakan, dia melakukan itu karena dia sadar bahwa waktu dia terbatas, yang dulu dia tidak pernah lakukan sekarang dia mau kerjakan itu. Jadi setengahnya dia dikejar waktu, Pak Paul.
PG : Kadang-kadang kita lupa bahwa ada Tuhan di dalam hidup ini dan bahwa Tuhan itu tidak bergantung pada satu orang untuk menyelesaikan pekerjaanNya. Sudah tentu kita harus setia melakukan yan Tuhan inginkan tapi kita harus serahkan kepada Tuhan, ada jadwal Tuhan dan selalu ada orang lain yang Tuhan bisa pakai.
Tuhan tidak bergantung pada satu manusia untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya.
GS : Tapi itu membuat dia makin kelelahan, karena sebenarnya dia tidak ditunjang oleh kondisi fisik yang baik.
PG : Betul. Jadi dia seperti lilin yang semakin kecil dan semakin kecil. Biasanya api lilin itu mulai kecil kemudian apinya menjadi besar, begitu lilinnya mengecil maka apinya mulai membesar seingga lilin makin cepat meleleh.
Tapi lilin yang masih panjang dan tinggi, apinya pun kecil dan membakarnya pun juga makin kecil. Seringkali manusia seperti itu, waktu lilinnya itu makin kecil kekuatannya makin melemah, api semangatnya makin membesar dan mau melakukan begitu banyak hal tetapi akhirnya makin membakar dirinya dan menghabiskannya.
GS : Jadi untuk masalah jaga badan ini sebaiknya pada masa usia tengah baya ke atas lebih baik mulai memikirkan berolah raga, untuk hidup lebih santai dan makan makanan yang sehat, apakah seperti itu ?
PG : Betul. Jadi benar-benar mulai membatasi diri dan tidak melakukan semuanya karena menganggap bahwa hanya saya saja yang bisa melakukannya.
GS : Tapi tidak berarti sama sekali berhenti dari kegiatan, karena kalau dia tidak punya kegiatan maka tubuhnya juga makin melemah, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan.
GS : Sebelum kita mengakhiri bagian ini mungkin ada Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Amsal 3:5-6 berkata, "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."Jadi Tuhan meminta kita untuk bersandar kepada-Nya, tidak bersandar pada pengertian kita, kita mesti mengakui Tuhan ada dan mengatur dan menentukan dalam semua perilaku dan usaha kita.
Waktu kita melakukan hal seperti itu maka barulah Tuhan akan meluruskan atau menolong jalan kita.
GS : Pak Paul, apakah masih ada hal-hal lain yang perlu kita jaga, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa lagi, dan nanti kita akan bahas tentang menjaga batin atau menjaga hati kita dan kita juga mesti menjaga keluarga kita, orang tua dan anak-anak kita dan kita juga harus menjag bait Allah atau menjaga iman kepercayaan kita.
Dan saya kira nanti kita harus membahas ini di dalam pertemuan berikutnya, Pak Gunawan.
Gs : Berarti pembicaraan ini masih belum berakhir dan terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengakhiri dengan Baik". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by admin on Fri, 05/06/2009 - 7:35am.
Abstrak:
Di dalam suratnya yang terakhir, Rasul Paulus berbagi pesan dengan anak rohaninya Timotius, “Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan…” (2 Timotius 4:7-8). Banyak orang yang memulai dengan baik tetapi tidak banyak yang mengakhirinya dengan baik. Banyak yang tersandung di tengah perjalanan dan masuk ke lubang dosa. Pembahasan ini menguraikan bagaimana mengakhiri perjalanan hidup bersama Tuhan Yesus dengan baik.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengakhiri Dengan Baik". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Setiap orang tentu berharap perjalanan kehidupannya di dunia ini bisa diakhiri dengan baik, tetapi untuk bisa di garis akhir yang baik tentu orang harus membuat persiapan-persiapan dalam mempersiapkan dia untuk bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya. Kira-kira mengakhiri dengan baik, yang akan kita perbincangkan ini tentang apa, Pak Paul ?
PG : Di dalam surat 2 Timotius 4:7-8 Rasul Paulus berbagi pesan dengan anak rohaninya Timotius, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memeliara iman.
Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan." Ini adalah sebuah ungkapan yang indah. Sebuah ungkapan syukur bahwa Tuhan telah menyertai hamba-Nya ini dan sekarang dia akan mengakhiri hidup ini dengan sebuah rasa syukur bahwa Tuhan telah menjaganya. Pak Gunawan, di dalam hidup ini banyak orang yang memulai dengan baik, tetapi tidak banyak yang mengakhirinya dengan baik. Banyak yang tersandung di tengah perjalanan dan masuk ke lubang dosa. Itu sebabnya kita mau mengangkat topik ini agar kita bisa belajar waspada, berhati-hati agar bisa mengakhiri perjalanan hidup dengan Tuhan Yesus dengan baik.
GS : Tapi kalau kita melihat pada diri Rasul Paulus sendiri, sebenarnya dia memulainya dengan kurang baik namun pada akhirnya dia mengakhirinya dengan baik, seperti itu Pak Paul.
PG : Dan itu yang memang seharusnya, Pak Gunawan. Kadang-kadang kita mengawali hidup dengan tidak baik, kita tidak mengenal Tuhan dan kita tidak hidup sesuai dengan kehendak Kristus dan akhirny dalam hidup ini kita lebih banyak berkubang dan jalan di tempat, tapi karena anugerah Tuhan maka kita diselamatkan dan kita bertobat dan kita mau memulai hidup yang baru.
Maka seyogianyalah dari titik itu sampai akhir maka kita bisa berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Rasul Paulus menggunakan istilah pertandingan, jadi dia melihat hidup ini sebagai suatu pertandingan dan kita harus selalu berjaga-jaga dan kita harus selalu waspada. Maka Paulus menasehati Timotius bahwa dia harus mengakhiri hidup ini dengan baik. Karena itu kita sebagai anak-anak Tuhan perlu belajar hal-hal apa yang perlu kita lakukan atau jaga supaya mengakhiri hidup dengan baik.
GS : Pada saat Rasul Paulus mengatakan hal seperti itu kepada Timotius, sebenarnya pada saat itu dia belum meninggal, tetapi mengapa dengan yakin dia mengatakan bahwa "Aku telah mencapai garis akhir" ?
PG : 2 Timotius adalah surat yang terakhir ditulis oleh Rasul Paulus dan di saat itu, dia sedang dalam pemenjaraan di Roma, diduga Rasul Paulus dipenjarakan lebih dari sekali. Jadi setidaknya aa 2 kali dia dipenjarakan dan rupanya dia sudah bisa membaca situasi waktu pemenjaraan yang terakhir ini bahwa dia tidak lagi selamat dan dia akan dibunuh, karena pada saat itu yang memerintah adalah Kaisar Nero.
Kaisar Nero membenci orang Kristen dan suatu ketika menyebabkan kebakaran melanda kota Roma. Tapi untuk menutupi jejaknya, dia menuding bahwa orang Kristenlah yang telah menyebabkan kebakaran itu. Kemudian dia mengompori orang-orang di Roma untuk mengejar dan membunuh orang-orang Kristen. Dalam kondisi seperti itulah Rasul Paulus dan juga Rasul Petrus ditangkap dan dipenjarakan oleh Nero. Kita tahu bahwa menurut catatan tradisi, dua hamba Tuhan ini akhirnya mati di tangan Nero. Jadi besar kemungkinan Paulus melihat bahwa sekarang dia di tangan kaisar yang sangat lalim dan begitu bernafsu untuk membunuh orang-orang Kristen, jadi bisa dibayangkan bahwa nanti dia juga akan terkena.
GS : Pada hari-hari terakhir dari kehidupan seseorang, jika dia menengok ke belakang maka sebagian orang akan mengatakan kalau dia menyesal karena dia tidak melakukan hal-hal tertentu yang seharusnya dia bisa lakukan. Tapi juga ada sebagian orang yang menyesali, kenapa dia melakukan hal-hal yang seharusnya dia tidak lakukan, dan ini bagaimana Pak Paul ?
PG : Seringkali pada masa-masa tua kita menengok ke belakang, kalau ada hal-hal yang kita tahu seharusnya kita lakukan namun tidak melakukan maka itu akan membawa penyesalan dalam hidup kita. Sbagai contoh kita melihat ke belakang kemudian kita menyadari seharusnya saya lebih memberikan waktu untuk keluarga saya namun kenyataannya tidak, sekarang saya menjadi jauh dengan keluarga saya.
Akhirnya dia harus membawa penyesalan itu. Atau ada juga orang-orang yang menengok ke belakang dan berkata, "Kenapa saya melakukan hal-hal seperti itu, saya melakukan kesalahan ini dan itu sehingga sekarang saya harus membayar harganya," biasanya seperti itu pula kita merasa penyesalan dalam hati kita.
GS : Berarti hal-hal yang seharusnya dilakukan atau hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, itu terjadi pada usia parobayanya seperti itu, Pak Paul ?
PG : Biasanya seperti itu, Pak Gunawan, sebab seringkali pada masa awal kita masih berhati-hati dan kita masih waspada. Periode yang paling rentan adalah di parobaya, biasanya kita lengah di stu dan kalau kita tidak hati-hati maka pada akhirnya kita terjerumus masuk ke dalam lobang dosa.
GS : Berarti hal-hal apa yang harus dilakukan oleh seseorang pada usia paro-bayanya supaya dia mengakhiri kehidupannya ini dengan baik ?
PG : Ada beberapa yang akan kita angkat. Yang pertama adalah kita mesti menjaga batas dalam berelasi dengan lawan jenis. Salah satu lubang dosa yang kerap kali membuat kita jatuh di dalamnya adlah dosa perzinahan.
Alasan kenapa kita mudah jatuh ke dalamnya adalah dikarenakan kita tidak berhati-hati dalam menjaga batas, dalam berelasi dengan lawan jenis maka kita harus menjaga batas yang jelas. Jika kita mulai melanggarnya maka suatu hari kelak, kita akan jatuh ke dalam dosa perzinahan, memang pelanggaran pertama tidak harus kita jatuh ke dalam dosa tapi kalau kita tidak menjaga batas maka tinggal hitungan waktu maka kita akan makin kendor dan kemudian kita melanggar batas tersebut dan disitulah akhirnya kita jatuh ke dalam dosa perzinahan.
GS : Padahal pada usia-usia parobaya, seseorang itu mendambakan hubungan seksual dengan pihak lain disamping istrinya.
PG : Biasanya begitu karena pada usia itulah, pada umumnya laki-laki mencapai puncak kemapanannya dan lebih dihormati dan disegani oleh koleganya termasuk bawahannya, dan kalau di situ ada wania-wanita maka mereka akan menunjukkan sikap mengagumi atasannya ini.
Tidak bisa tidak istrinya sudah mulai menua dan dia akan mulai membandingkan istrinya dengan wanita-wanita ini. Maka disini dia perlu menjaga batas meskipun pada awalnya tidak ada masalah namun dia mesti menjaga batas ini.
GS : Batas-batas apa yang biasanya dilanggar, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa, yang pertama adalah batas dalam berteman yaitu akhirnya kita itu mudah sekali berteman terlalu mendalam. Apa artinya berteman terlalu mendalam, misalnya kita memberi perhatia yang terlalu mendalam kepada seseorang yang tidak bisa tidak akan membuat dia merasa bukan saja diperhatikan tapi juga dianggap spesial.
Adakalanya kita menanyakan hal-hal yang pribadi, meneleponnya waktu dia mengalami sedikit kesusahan atau ada masalah dan kita benar-benar memberikan perhatian yang begitu mendalam pada lawan jenis. Ini memang berbahaya hampir setiap orang senang menerima perlakuan khusus, itu sebabnya bila ia merasa diperhatikan secara khusus maka besar kemungkinan dia akan menikmatinya. Sebagai akibatnya relasi makin bertambah dalam. Kita tahu jika relasi sudah bertambah dalam maka mudah sekali perasaan-perasaan romantis atau suka itu muncul. Kalau kita tidak mengenal orang dan relasi kita dengan dia jauh, maka sudah tentu percikan-percikan api romantis juga lebih susah untuk keluar, namun di dalam relasi yang mendalam inilah percikan api romantis mudah sekali keluar dengan banyak.
GS : Padahal itu seringkali keluar dengan tidak sengaja, perjumpaan atau masalah-masalah yang sama yang dihadapi di kantor dan ini membuat hubungan dua orang ini makin lama makin dekat, Pak Paul.
PG : Betul. Memang karena ini tidak dianggap berbahaya maka kita sebagai anak-anak Tuhan harus waspada dan kita harus melihat, "Benar ya, rasanya makin hari makin mendalam, sekarang dia memperhtikan saya seperti ini."
Kalau kita merasa bahwa kita diperhatikan seperti itu oleh rekan kita, itulah saatnya kita mesti mulai mundur dan mulai membatasi, dan kebalikannya kalau kita merasa bahwa kita telah memberikan perhatian kepada seseorang terlalu mendalam maka kita harus mundur. Jadi jangan sampai kita mendiamkan dan malahan menikmatinya, itu sangat berbahaya.
GS : Pelanggaran yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Yang lain adalah bercanda terlalu jauh, ini sederhana tapi juga bisa berbahaya. Seringkali orang memulai relasi dengan bercanda, sudah tentu bercanda yang segar akan membuat orang tersenyu dan bahagia.
Masalahnya adalah kalau kita terus bercanda dengan seseorang, kita pun terus membuatnya bahagia bersama dengan kita. Jika tidak hati-hati maka ini yang akan menjadi awal dari sebuah relasi yang khusus, perasaan suka mulai bertumbuh dan kita pun makin senang menghabiskan waktu bersamanya. Jadi memang jagalah bercanda kita, jangan sampai terlalu jauh sehingga membuat orang selalu mau dekat dengan kita dan terus mengundangnya untuk terus bersama kita. Ini adalah awal dari permulaan relasi yang makin intim.
GS : Ini sangat berkaitan dengan yang pertama tadi lewat canda-canda sehari-hari ini dan lama-lama makin dekat dan makin dekat dan kita makin berani bercanda lagi dan dia juga menanggapi canda kita dengan canda yang lain. Maka itu menjadi suatu jalinan yang makin lama, makin kuat mengikat seseorang.
PG : Saya setuju sekali, Pak Gunawan. Itu sebabnya kita mesti memperhatikan canda yang kita lontarkan. Seringkali kita berdalih, "Saya hanya bercanda, saya hanya iseng-iseng saja," tapi sedikitsekali orang yang sungguh-sungguh murni dalam dunia ini, kebanyakan hati kita sudah bercabang.
Kalau kita bercanda terlalu mendalam terhadap seseorang maka besar kemungkinan ada sesuatu di dalam hati kita, maka kita mesti menjaganya melarangnya untuk terus bercanda dengan dia karena makin kita bercanda, maka dia semakin menikmatinya dan kita pun makin menikmatinya maka lama-lama makin menikmati kehadiran satu sama lain pula.
GS : Jadi sebenarnya orang yang bersangkutan itu menyadari bahwa dia sudah terlalu jauh dalam hal bercanda ini, Pak Paul ?
PG : Tidak semua, Pak Gunawan. Jadi ada orang-orang yang menyangkal, misalnya ada pasangannya yang berkata, "Kenapa kamu dengan dia selalu bercanda," kemudian dijawab, "Kenapa, salah ? Saya salh bercanda seperti itu.
Namanya juga bercanda." Dan masalahnya adalah saya ini cukup tua, jadi saya mengerti kita ini susah sekali memunyai hati yang murni, seringkali motivasi itu menyusupi tindakan-tindakan kita dan merasa paling aman menggunakan metode bercanda itulah, sehingga kita bisa menikmati kebersamaan dengan orang dan kalau orang curiga, maka kita masih bisa berdalih kalau ini hanya bercanda.
GS : Apakah ada bentuk pelanggaran yang lain tentang jaga batas ?
PG : Yang lain adalah kadang-kadang kita berkenalan terlalu mudah maksudnya begini, atas nama ramah tamah kadang kita cepat berkenalan dengan lawan jenis. Kalau kita tidak hati-hati perkenalan ang terlalu mudah akan membuka celah bagi berkembangnya relasi dengan lawan jenis, kita mesti peka dan jelas dengan motivasi kita saat menjalin komunikasi kita dengan lawan jenis.
Seringkali ketertarikan adalah alasan pertamanya namun kita enggan untuk mengetahuinya, kita biasanya berkata, "Tidak ada apa-apa, tidak ada ketertarikan," tapi kalau kita jujur sebenarnya kita bisa bertanya apakah saya mau berinisiatif menjalin perkenalan dengan orang yang lain misalkan dengan orang yang tidak semenarik orang tersebut. Seringkali kita harus akui, "Benar ya kalau orang itu tidak menarik tentu kita tidak akan memulai perkenalan dengan dia." Jadi kalau kita tahu kita tertarik kepada seseorang, janganlah kita menyuburkan relasi dengan dia. Di dalam Amsal 5, firman Tuhan memanggil perzinahan dengan beberapa kata-kata yang sangat keras yaitu maut, dunia orang mati, dan habis binasa. Jadi dengan kata lain tidak ada yang manis dan indah dengan perzinahan, maka jangan kita memulainya.
GS : Seringkali orang pada masa tuanya banyak menyesali dirinya karena jatuh ke dalam dosa perzinahan, berarti dia tidak bisa lagi mengakhiri hidupnya dengan baik.
PG Betul. Akhirnya dia selalu berpikir-pikir, "Kenapa saya melakukan hal seperti itu." Dan itu yang kadang saya dengar dari orang yang telah jatuh ke dalam dosa perzinahan, dia bisa keluar atas anugerah Tuhan, memulai lagi relasi dengan pasangannya tetapi selalu ada duri yang menusuk hatinya . Dia selalu mengingat perbuatan dirinya di masa lampau dan dia akan benar-benar menyesali kenapa saya bisa sampai seperti itu, kalau mau dihapus juga tidak bisa, karena sudah terjadi dan itu akan terus menjadi bagian dalam hidupnya.
GS : Jadi sebenarnya dengan dia berbaikan dengan istrinya yang pertama dahulu, itu sebenarnya menjadi beban tersendiri di dalam akhir kehidupannya, Pak Paul ?
PG : Jadi selama dia hidup, dan dia sadar istrinya telah memaafkan, memberinya kesempatan yang kedua, dia bersyukur dan dia senang tapi selalu ada rasa bersalah, "Istri saya begitu baik dan maumenerima saya tapi kenapa dulu saya sanggup berbuat seperti itu, apalagi kalau sampai diketahui oleh anak-anak" sampai kapan pun rasa malu itu akan ada di dalam dirinya, rasa malu bahwa mereka tidak bertanggung jawab telah mengkhianati bukan saja pasangan tapi anak-anaknya pula.
GS : Khusus untuk jaga batas, apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Firman Tuhan di Amsal 5:20 dan 21 berkata, "Karena segala jalan orang terbuka di depan mata Tuhan, dan segala langkah orang diawasi-Nya." Kita mesti menjaga batas sebab Tuhan pun melihat mtivasi kita yang terdalam dan terbuka lebar di hadapan Tuhan.
Maka jangan kita membohongi diri apalagi membohongi Tuhan. Kalau memang ada motivasi tertentu dalam diri kita, maka akuilah dan ada kemudian kita membuat garis batas yang harus kita patuhi.
GS : Selain jaga batas, yang harus dilakukan lagi jaga apa, Pak Paul ?
PG : Yang berikut yang saya sebut dengan jaga badan. Sudah tentu jaga badan ini bisa mengacu pada kekuatan tubuh kita, pada usia muda kita kuat dan bergantung penuh pada kekuatan badan sendiri amun dengan bertambahnya usia kita mesti memerhatikan keterbatasan tubuh dan hidup di dalam keterbatasan kita dan bukan malah di luar keterbatasan ini.
Tapi selain dari badan jasmaniah, kita pun mesti menjaga badan atau kekuatan atau kemampuan mental. Makin bertambahnya usia, makin bertambah pengalaman dan sebagai konsekuensinya makin bertambah keyakinan diri dan akhirnya kita makin percaya pada pertimbangan kita dan tidak mudah untuk mendengarkan orang karena kita tahu kalau kita ini paling berpengalaman. Kalau tidak hati-hati maka di masa inilah kita mudah terperangkap di dalam dosa-dosa tertentu.
GS : Misalnya dosa apa, Pak Paul ?
PG : Yang pertama misalnya adalah dosa kesombongan, banyak orang memulai hidup dengan kerendahan hati namun mengakhirinya dalam kesombongan. Kenapa pada awalnya dia rendah hati ? Karena belum aa pencapaian, belum membuktikan diri, belum ada keberhasilan makanya kita rendah hati.
Tapi setelah memunyai keberhasilan, kita mulai sombong, kita menganggap diri kita lebih dan kadang merasa diri paling tahu dari pada orang lain sehingga cepat mengecilkan kemampuan orang lain dan malah meninggikan pengetahuan pribadi, kita menjadi mudah tersinggung sewaktu kita tidak mendapatkan penghargaan yang kita anggap kita layak menerimanya atau mungkin marah sewaktu melihat orang lain memeroleh medali yang seharusnya menjadi milik kita. Tidak heran ada orang yang makin tua, makin sombong dan makin membesarkan pencapaiannya.
GS : Selain timbul dari dalam dirinya sendiri, kesombongan ini juga seringkali dipicu oleh orang-orang di sekitarnya yang mengkultus-individukan dia, yang menyanjung-nyanjung dia sehingga kesombongan itu makin terbentuk.
PG : Ada seorang pendeta yang bernama Max Lucado dia berkata bahwa, "Waktu orang-orang memuji-muji kita karena kita bisa ini dan mampu itu, akhirnya kita itu sungguh-sungguh menyakini bahwa kit sebaik itu dan kita setinggi yang mereka katakan, akhirnya pandangan seperti itu melambung dan melambung.
Biasanya dalam kondisi seperti itu kita menuntut orang memerlakukan orang seperti itu pula waktu orang tidak menghargai pendapat kita, tidak mau mendengarkan masukan kita, kita tersinggung dan marah karena kita mengaggap bahwa sudah seharusnyalah kamu mendengarkan dan menghargai apa yang saya katakan." Ini adalah kesombongan, Pak Gunawan. Jadi kesombongan itu bisa kita tarik ke dalam 2 ekstrem dan yang paling ekstrem adalah mengagungkan diri bahwa saya hebat, saya mulia tapi di dalam ekstrem yang satunya yang paling bawah yaitu kesombongan muncul dan dalam pemikiran saya selalu benar dan tidak salah dan saya tidak mau meminta maaf. Jadi sebetulnya itu adalah bentuk kesombongan yang lebih diam atau lebih sunyi tapi sesungguhnya sama-sama berbahaya dengan kesombongan yang satunya yakni yang mengagung-agungkan diri.
GS : Dalam hal kesombongan, kadang-kadang orang tidak menyadari bahwa itu merupakan kesombongan tapi yang pasti ialah tubuhnya makin hari makin lemah karena usia itu tadi.
PG : Betul sekali. Memang tubuhnya makin melemah tapi seringkali karena pengalamannya bertambah akhirnya dia makin percaya diri, tidak mau mendengarkan orang lain dan menganggap dirinya yang paing tahu.
GS : Dosa yang satunya lagi apa, Pak Paul ?
PG : Yang satu lagi adalah tidak mengakui keterbatasan, Pak Gunawan, oleh karena kita makin berpengalaman dan pintu kesempatan makin dibukakan, maka mudah sekali kita terjerumus ke dalam lembahyang saya sebut dengan ketidak terbatasan, kita tergoda melakukan banyak hal dan tidak ingat lagi akan keterbatasan diri.
Kita menjadi sukar menolak permintaan orang dan sering menyangkal kenyataan sebab kita ingin terus berkiprah dan kita tidak mau menerima bahwa sesungguhnya kita juga makin terbatas, kemampuan kita pun tidak makin bertambah. Biasanya kita makin memacu diri tapi masalahnya adalah kesanggupan kita, tubuh kita makin terbatas akhirnya muncullah berbagai gangguan baik itu yang menyangkut diri sendiri, atau pun relasi dengan sesama karena akhirnya orang yang tidak kenal batas biasanya akan menghalangi orang untuk berkembang, menghalangi orang untuk melakukan hal-hal yang dia rasa dia cocok untuk dia lakukan, akhirnya menginjak kaki orang menganggap diri yang paling super dan masalah pun makin hari makin berkembang.
GS : Ada orang yang mengatakan, dia melakukan itu karena dia sadar bahwa waktu dia terbatas, yang dulu dia tidak pernah lakukan sekarang dia mau kerjakan itu. Jadi setengahnya dia dikejar waktu, Pak Paul.
PG : Kadang-kadang kita lupa bahwa ada Tuhan di dalam hidup ini dan bahwa Tuhan itu tidak bergantung pada satu orang untuk menyelesaikan pekerjaanNya. Sudah tentu kita harus setia melakukan yan Tuhan inginkan tapi kita harus serahkan kepada Tuhan, ada jadwal Tuhan dan selalu ada orang lain yang Tuhan bisa pakai.
Tuhan tidak bergantung pada satu manusia untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya.
GS : Tapi itu membuat dia makin kelelahan, karena sebenarnya dia tidak ditunjang oleh kondisi fisik yang baik.
PG : Betul. Jadi dia seperti lilin yang semakin kecil dan semakin kecil. Biasanya api lilin itu mulai kecil kemudian apinya menjadi besar, begitu lilinnya mengecil maka apinya mulai membesar seingga lilin makin cepat meleleh.
Tapi lilin yang masih panjang dan tinggi, apinya pun kecil dan membakarnya pun juga makin kecil. Seringkali manusia seperti itu, waktu lilinnya itu makin kecil kekuatannya makin melemah, api semangatnya makin membesar dan mau melakukan begitu banyak hal tetapi akhirnya makin membakar dirinya dan menghabiskannya.
GS : Jadi untuk masalah jaga badan ini sebaiknya pada masa usia tengah baya ke atas lebih baik mulai memikirkan berolah raga, untuk hidup lebih santai dan makan makanan yang sehat, apakah seperti itu ?
PG : Betul. Jadi benar-benar mulai membatasi diri dan tidak melakukan semuanya karena menganggap bahwa hanya saya saja yang bisa melakukannya.
GS : Tapi tidak berarti sama sekali berhenti dari kegiatan, karena kalau dia tidak punya kegiatan maka tubuhnya juga makin melemah, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan.
GS : Sebelum kita mengakhiri bagian ini mungkin ada Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Amsal 3:5-6 berkata, "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."Jadi Tuhan meminta kita untuk bersandar kepada-Nya, tidak bersandar pada pengertian kita, kita mesti mengakui Tuhan ada dan mengatur dan menentukan dalam semua perilaku dan usaha kita.
Waktu kita melakukan hal seperti itu maka barulah Tuhan akan meluruskan atau menolong jalan kita.
GS : Pak Paul, apakah masih ada hal-hal lain yang perlu kita jaga, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa lagi, dan nanti kita akan bahas tentang menjaga batin atau menjaga hati kita dan kita juga mesti menjaga keluarga kita, orang tua dan anak-anak kita dan kita juga harus menjag bait Allah atau menjaga iman kepercayaan kita.
Dan saya kira nanti kita harus membahas ini di dalam pertemuan berikutnya, Pak Gunawan.
Gs : Berarti pembicaraan ini masih belum berakhir dan terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengakhiri dengan Baik". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by TELAGA on Tue, 16/12/2008 - 2:18pm.
Abstrak:
Hidup dengan orang yang tidak memiliki kepekaan memang tidak mudah. Ibarat orang yang berjalan dan menginjak kaki yang lain, orang yang tidak peka pun demikian. Ia tidak menyadari dampak perbuatan dan perkataannya pada orang lain. Bagaimana kalau masalah ini timbul. Apa yang harus kita lakukan? Masalah apa saja yang akan muncul akibat pribadi yang kurang peka ini?
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Perasaan Tidak Peka". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Berbicara tentang perasaan tidak peka, rasanya makin hari makin banyak saja orang yang perasaannya tidak peka ini, bahkan mungkin kita sendiri tambah tidak peka hanya kita tidak sadar bahwa kita telah menjadi tidak peka.
PG : Betul, Pak Gunawan. Kita mungkin saja memiliki perasaan yang normal, yang peka yang berjalan seperti biasanya tapi ada orang yang hanya peka dengan perasaannya sendiri misalnya dia sangat eka jika dilukai, dianggap remeh.
Jadi yang akan kita bicarakan di sini adalah orang yang tidak peka, bagaimana perubahan tindakan atau sikap dari orang yang tidak peka akan memiliki dampak pada orang lain. Jadi bagaimanakah dirinya itu akan memberikan pengaruh pada orang di sekitarnya, untuk itu diperlukan kepekaan dan ada orang-orang yang tidak memiliki kepekaan tersebut, sehingga akhirnya ini bisa sangat mengganggu relasinya dengan sesama.
GS : Biasanya masalah-masalah apa yang timbul sehingga orang menjadi tidak peka seperti itu ?
PG : Pertama, karena dia tidak peka maka pada waktu dia melukai hati orang lain dia tidak menyadarinya karena dia tidak melihat bahwa dia telah melukai hati orang lain, atau mungkin karena peraaannya tidak berjalan dengan peka atau dia tidak memperhatikan reaksi orang.
Tapi intinya adalah dia mudah sekali melukai hati orang dan akhirnya orang itu tidak tahan untuk dekat-dekat dengan dia dan memilih untuk menjauh darinya karena pada dasarnya tidak ada orang yang mau dilukai dua kali. Dia sendiri mungkin tidak sadar kalau dia telah melukai hati orang. Karena dia tidak sadar maka mungkin dia bertanya-tanya, "Kenapa orang menjauh dari dia" dan dia mungkin tidak mengerti karena dalam budaya kita, orang tidak langsung berani bicara, maka dua-dua akan tambah menjauh tanpa ada penjelasan kenapa.
GS : Tapi biasanya orang yang menyakiti hati orang lain, dia sendiri itu pasti pernah dilukai, Pak Paul. Kemudian dia menjadi kebal dan dia merasa tidak pernah melukai orang lain.
PG : Ada orang-orang karena pengalaman dilukai di masa lampau akhirnya menumbuhkan sikap kebal dan tidak lagi peka dengan tindakannya karena merasa bahwa saya pun pernah dilukai, jadi dia sendii menjadi tidak peduli bagaimana tindakannya akan mempengaruhi apalagi akan melukai hati orang.
Jadi tetap ini akan menjadi masalah karena pada dasarnya tidak ada orang yang mau dilukai berkali-kali oleh kita. Jadi ini adalah dampak pertamanya.
GS : Dampak yang berikutnya apa, Pak Paul ?
PG : Akhirnya orang lain akan mengembangkan prasangka buruk terhadap kita dan kita dianggap orang yang tidak peka dengan perbuatan kita dan orang akhirnya terluka oleh kata-kata kita. Jadi oran di sekitar kita mengembangkan prasangka bahwa kita orang yang berperangai buruk, berakhlak buruk atau berniat tidak baik.
Akhirnya apa yang terjadi ? Sayang sekali orang mempunyai kesalahpahaman terhadap kita, mungkin kita tidak memiliki niat untuk melukai orang, kita tidak berniat untuk membuat orang terpojok oleh kata-kata kita tapi karena kita tidak menyadarinya maka akhirnya orang mengembangkan prasangka buruk itu dan menilai kita sebagai seseorang yang memang berperangai buruk seperti itu. Ini sangat sayang sekali, sebab begitu orang mulai beranggapan bahwa kita adalah orang yang berperangai buruk atau orang yang berkarakter kurang baik, maka apapun yang kita katakan atau yang kita lakukan akan cenderung ditafsir dengan kacamata negatif bahwa kamu itu tidak memiliki niat baik dan kamu sengaja mau menyinggung perasaan saya. Akhirnya masalah tambah hari tambah bertumpuk, karena orang makin hari makin mengembangkan lensa negatif tentang diri kita.
GS : Tapi orang yang tidak peka tadi, sulit memahami orang lain bahwa orang lain memiliki prasangka buruk terhadap dirinya.
PG : Itu masalahnya, dan dia bisa buta tentang bagaimana orang melihat dirinya, dia mungkin saja beranggapan bahwa orang melihat dirinya tetap saja baik dan positif padahalnya sudah tidak. Tadisaya sudah singgung, kalau tidak ada perubahan maka orang akan cepat sekali menilai tindakan dan perkataannya secara negatif dan akhirnya muncul konflik dan kita yang tidak peka ini akhirnya bingung, "Kenapa orang menjadi salah tangkap, kenapa orang menganggap saya seperti ini."
Kita menjadi bingung tapi masalah awalnya adalah karena kita tidak peka, bahwa kita telah menimbulkan prasangka buruk kepada seseorang.
GS : Mungkin ada dampak negatif yang lain, Pak Paul ?
PG : Ketidakpekaan akhirnya menyulitkan kita untuk membaca perasaan dan berlaku tenggang rasa. Jadi akibatnya karena kita tidak mudah membaca perasaan orang, tidak bisa tenggang rasa, saling mngalah dan sebagainya maka kita dilihat orang sebagai manusia yang egois, karena kita dinilai hanya mementingkan diri kita karena memang kita tidak bisa membaca reaksi orang apakah orang itu senang atau tidak senang, orang merasa tersinggung atau tidak, apakah orang sepertinya menyambut kehadiran kita atau tidak, dan kita tidak peka kita tidak bisa membaca reaksi-reaksi orang.
Akibatnya orang akan merasa, "Kamu ini tetap seperti itu, kamu ini tetap bicara itu dan kamu ini tetap usulkan itu". Akhirnya orang akan berkata, "Kamu ini orang yang egois, kamu hanya mementingkan diri sendiri. Jadi akhirnya masalah mulai muncul lagi karena kita tidak mudah membaca reaksi orang, maka seringkali tindakan atau reaksi kita salah sasaran, tidak tepat, bicara pun akhirnya waktunya tidak tepat, tidak bisa cocok tapi tetap saja kita bicara dan kita mengusulkan ini dan itu, akhirnya orang merasa bahwa kamu ini benar-benar 'selfish', hanya mementingkan diri sendiri.
GS : Pak Paul, orang yang tidak peka ini juga tidak mudah memberikan bantuan kepada orang lain, apakah itu salah satu dampak ketidakpekaan ?
PG : Saya kira demikian, Pak Gunawan, jadi ada di dalam satu paket karena kita itu tidak peka dan kita tidak membaca situasi, tidak bisa membaca reaksi orang, perasaan orang, tidak bisa tenggan rasa dan akhirnya kita cenderung buta terhadap pergumulan orang, kebutuhan orang.
Kita mesti menyadari bahwa tatkala orang sedang mengalami masalah, orang cenderung berharap bahwa kita akan menawarkan bantuan. Bisa jadi dia akan menolak bantuan kita, namun tidak apa-apa, tapi waktu dia melihat bahwa kita peduli kita bisa membaca perasaannya yang sedang susah kemudian menawarkan diri untuk menolong, itu benar-benar seperti siraman air segar ke tanah yang gersang. Orang akan merasa, bahwa kita benar-benar sensitif, mengerti situasi dan baik hati sehingga mau menolongnya. Orang yang tidak peka dengan orang di sekitarnya akhirnya juga tidak terpikir untuk menawarkan bantuan, apalagi menawarkan bantuan, untuk melihat kebutuhan pun tidak. Akhirnya apa yang orang akan pikirkan tentang dia, "Kamu ini memang hidup di dalam duniamu sendiri, kamu hanya memikirkan dirimu sendiri," dan memang ada benarnya juga, dia hanya hidup di dalam dunianya dan dia hanya memikirkan dirinya karena dia tidak bisa memikirkan kepentingan orang lain.
GS : Apakah masih ada dampak negatif yang lain, Pak Paul ?
PG : Yang berikut adalah ketidakpekaan itu akhirnya membuat orang merasa dimanfaatkan dan tidak dihargai sebagai seorang pribadi karena kita yang kurang peka ini cenderung memperlakukan orang sperti mesin.
"Kerjakan ini, mari kita lakukan proyek ini, kenapa kamu tidak melakukan ini" pokoknya orang hanya merasa, "Kami itu hanya dihargai sebatas kami masih produktif menghasilkan yang kau inginkan, kalau tidak berarti kami juga tidak ada harganya. Itu sebabnya orang yang sukar peka membaca reaksi orang akhirnya susah sekali menggalang kerjasama, sebab rekan-rekan kerjanya merasa tidak dihargai dan kami merasa seperti mesin, hanya dipakai setelah selesai, tidak ada lagi nilainya. Ini semua akhirnya akan melahirkan kekecewaan, pandangan negatif, perasaan marah tidak suka terhadap kita yang sudah tentu akan membuat jurang pemisah antara kita dengan orang-orang.
GS : Memang merasa dimanfaatkan itu seringkali dialami oleh banyak orang yang tidak peka, sehingga dia pun merasa menjadi korban dari orang-orang di sekelilingnya dan ini menambah lagi ketidakpekaan dia. Jadi ini semacam lingkaran yang tidak ada habisnya.
PG : Itu benar sekali, Pak Gunawan. Jadi orang-orang ini karena ketidak mengertiannya dan ketidakmampuannya untuk mengerti, akhirnya merasa terisolasi dan cepat menuduh orang atau menyimpulkan ahwa oranglah yang jahat kepada dia, oranglah yang tidak mau mengerti dirinya, oranglah yang cepat tersinggung, oranglah yang cepat mengembangkan pikiran negatif terhadapnya.
Jadi dia sendiri nantinya marah, makin dia merasa marah yang tadi Pak Gunawan katakan yaitu orang ini makin menarik diri dan orang ini makin hidup dalam dunianya, kita hidup di dalam temboknya dan makin tidak mau bergaul dengan orang karena sudah beranggapan orang itu cenderung maunya menyalahkan dia, menuduh dia yang berpikiran buruk dan sebagainya. Jadi lebih baik tidak perlu terlalu banyak kontak dengan orang dan tidak perlu membangun relasi dengan orang. Makin terpisah, makin dia tidak mengerti caranya membaca reaksi orang dan makin menambah ketumpulannya.
GS : Jadi ketidakpekaan seseorang bukan semata-mata hanya karena karakter orang itu, Pak Paul, tapi ada unsur-unsur di luar dirinya yang membuat orang ini tidak peka, Pak Paul ?
PG : Seringkali anak-anak yang bertumbuh besar dalam rumah di mana misalkan jarang ada interaksi orang tua, anggap saja tidak ada masalah yang berat antara orang tua tapi orang tua itu jarang brkomunikasi antara satu sama lain, jarang sekali berkomunikasi dengan anak, cenderung mendiamkan anak.
Apalagi antara anak juga tidak dekat karena orang tua tidak menyatukan anak-anak, hidup di dalam dunia sendiri, kebetulan kalau dia juga agak sedikit pendiam, kurang berinisiatif, agak introvert, di sekolah pun tidak mencari teman, saat menjadi besar anak-anak ini cenderung menjadi orang yang tidak peka, Pak Gunawan. Tipe kedua adalah yang kebalikannya, jadi anak-anak yang dibesarkan dalam rumah yang bermasalah. Orang tua terlalu banyak konflik sehingga dia harus menutup telinga secara fisik maupun secara mental, supaya tidak terpengaruh oleh konflik orang tuanya dan memilih hidup dalam dunianya sendiri karena tidak lagi nyaman tinggal di luar dalam dunianya. Di sekolah pun akhirnya dia mulai menjauh dari pergaulan sebab pergaulan itu ujung-ujungnya akan terjadi konflik, dan orang bertanya tentang keluarganya. Jadi dia memilih untuk menjaga jarak dengan orang dan anak-anak seperti ini pun kalau sudah besar, berkemungkinan menjadi orang yang tumpul, tidak peka terhadap lingkungannya.
GS : Apakah kerutinan hidup itu bisa membuat orang tidak peka lagi, Pak Paul ?
PG : Saya rasa bisa. Kerutinan hidup dalam pengertian semuanya sama dan memang pekerjaan yang dilakukan bukanlah pekerjaan yang menuntut kepekaan. Dan akhirnya tidak ada lagi variasi, tidak adaletupan-letupan dan semua selalu sama, sangat monoton sekali.
GS : Tapi ketidak pekaan ini bisa kita upayakan untuk dikurangi, walaupun tidak dihilangkan. Bagaimana atau upaya-upaya apa yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan kepekaan seseorang itu ?
PG : Memang sebelum kita masuk ke arah langkah, prasyarat pertama adalah pengakuan dulu bahwa saya kurang peka. Masalahnya terdapat di sini yaitu orang yang tumpul dalam hal kepekaan memang tidk memiliki kesadaran dan tidak mau mengakuinya.
Tadi Pak Gunawan katakan bahwa orang ini akhirnya cenderung masuk ke dunianya sendiri, menganggap orang di luarlah yang keliru dan tidak mau memahaminya. Jadi susah untuk dia memulai sebuah langkah untuk memperbaikinya, karena dia beranggapan bahwa dia tidak bermasalah. Dia sungguh percaya bahwa yang bermasalah adalah orang lain dan dia tidak selalu langsung mengatakannya kepada orang bahwa, "Kamu yang bermasalah". Bisa jadi dia adalah tipe yang lebih introvert, dia akan simpan sendiri, tapi di dalam hatinya yang dia yakini adalah dia yang benar dan orang lain yang salah. Maka langkah pertama yang seharusnya dia lakukan adalah dia mendengarkan dan mengingat-ingat, "Benar ya, banyak orang yang menjauh dari saya, banyak orang yang salah paham kepada saya." Seharusnya data-data itu cukup untuk menyadarkannya bahwa, "Ada masalah dalam diri saya." Kalau dia sudah mengakui itu barulah nanti ada langkah-langkah menuju kepada perbaikannya. Yang pertama adalah pada malam hari sebelum dia tidur, dia duduk atau dalam kondisi berbaring dia merenungkan apa yang telah terjadi pada hari itu, jadi seolah-olah membuka lembaran kehidupan dari pagi sampai dengan malam. Saya mengerti orang yang tidak peka, adalah orang yang tidak suka untuk menengok ke belakang, dia juga tidak suka menengok ke dalam hatinya. Jadi pemikirannya itu cenderung di rana intelektual, di rana rasional, dia tidak suka masuk ke dalam perasaan dan dia tidak suka menengok ke belakang, dia maunya melihat ke depan, sesuatu yang ada di depan untuk hari esok dan yang dulu-dulu tidak perlu diingat-ingat, hal itu yang makin menambah ketidakpekaannya. Maka dia mesti membiasakan diri untuk membuka lembaran keseharian itu, "Apa yang tadi telah terjadi, dia tadi bicara apa, dan dia tadi bicara dengan siapa" kemudian berusaha menempatkan diri di posisi orang lain yaitu apa yang dipikirkan orang lain waktu orang itu mendengar saya bicara ini, waktu orang itu melihat begini kira-kira ? Latihan-latihan ini akan menolong dia menempatkan diri pada diri orang lain dan melihat masalah dari kacamata orang lain.
GS : Biasanya itu membutuhkan kekuatan yang besar, atau ada juga suatu kejadian yang sangat penting untuk merubah orang ini, Pak Paul. Misalnya saja tatkala dia sakit dan tidak ada orang yang menengok dia, maka dia akan mulai berpikir-pikir, "Kenapa tidak ada orang yang datang untuk menengok dia" atau dia mengalami kebangkrutan dan tidak ada orang yang mau memberikan pinjaman kepada dia untuk memulai usaha baru lagi, hal itu membuat dia mempunyai kesempatan untuk berpikir, Pak Paul.
PG : Kadang-kadang pukulan seperti itulah yang diperlukan, Pak Gunawan, untuk membangunkan orang dari 'tidur'nya dan mudah-mudahan karena pukulan yang besar itu jiwanya benar-benar tergoncang, ehingga dia dipaksa untuk menengok ke belakang, mengevaluasi diri, introspeksi diri dan masuk ke dalam perasaan-perasaannya yang tersembunyi sehingga dia lebih bisa mengenali apa yang sebetulnya telah terjadi.
GS : Jadi orang lain yang ada di sekeliling kita itu sangat membantu seseorang untuk bisa menjadi lebih peka.
PG : Seyogianya memang orang lain itu berfungsi untuk memberikan masukan-masukan, untuk memberikan pandangan bahwa, "Kamu ini waktu berkata begini akan membuat orang merasa begini, waktu orang egini maka kamu pun juga harus melihatnya seperti ini, waktu orang buru-buru ingin selesai berbicara dengan kamu dan mungkin saja ada yang dia kurang suka maka kamu harus lihat bagaimana reaksinya" dan sebagainya.
Memang jadinya kita ini perlu 'coach', teman yang baik entah itu teman, pasangan atau sahabat yang akan memberikan kita bimbingan seperti itu, karena kita tidak bisa lagi mempercayai persepsi atau penilaian kita, sebab telah terbukti bahwa penilaian kita tidak tepat, tidak tepat sasaran dan tumpul, tidak peka untuk memberikan tanggapan maka kita harus berkata, "Memang saya harus mengecek" jadi carilah orang yang bisa kita percaya dan berbicaralah, terbukalah, tanyakanlah "Tadi terjadi seperti ini dan orangnya seperti ini, kemudian saya berbuat ini dan saya berkata seperti ini, menurut kamu bagaimana sebaiknya, apakah tindakan saya ini benar" ? Dengan cara seperti itu maka dia makin hari akan makin bisa mengecek apakah respons-responsnya itu makin sama dengan pandangan-pandangan yang temannya katakan. Bila makin hari makin sama maka dia bisa berkata, "Kepekaan saya telah bertambah, sekarang saya lebih tepat sasaran dalam berkata-kata atau dalam perbuatan."
GS : Tapi dalam hal ini dibutuhkan orang-orang yang memang benar-benar objektif. Kadang-kadang karena kedudukan seseorang atau posisi maka akan membuat orang lain tidak berani memberikan penilaian yang objektif, semua yang dikatakan itu yang baik-baik saja.
PG : Itu sebabnya diperlukan kerendahan hati, Pak Gunawan, untuk bisa mengakui bahwa kita memang bermasalah dan masalah itu bukan pada diri orang lain. Dan yang kedua untuk mendengarkan masukanmasukan dari teman yang memang berniat baik kepada kita, seyogianyalah kita mencari teman dan mengeceknya dan juga membuktikan kerendahan hati kita, maka jangan ragu-ragu untuk meminta maaf.
Seringkali orang yang sudah terlanjur tumpul susah untuk minta maaf, Pak Gunawan, karena ketumpulan itu sangat terkait dengan kekerasan hati jadi akhirnya susah sekali minta maaf. Kalau minta maaf juga akhirnya secara samar-samar, tidak mau langsung berkata kepada yang bersangkutan. Kenapa permintaan maaf itu merupakan latihan, sebuah tindakan yang baik untuk menolong orang menambah kepekaannya ? Karena memang minta maaf itu membuat diri kita itu lebih lunak, lebih cair sehingga akhirnya kita pun lebih tanggap lagi. Makin kita mengeraskan hati tidak mau meminta maaf maka akan makin menambah ketumpulan makin susah melihat reaksi orang dan tepat sasaran dalam berkata-kata.
GS : Mungkin ada upaya lain untuk menumbuhkan kepekaan kita ?
PG : Kita mesti belajar membaca ekspresi bahasa tubuh, membaca ekspresi wajah, orang yang tumpul atau yang tidak peka ini tidak bisa membaca reaksi wajah, bahasa tubuh, mungkin jadinya dia haru lebih memerhatikan apakah orang itu memberikan tatapan matanya ataukah tidak, apakah nada orang itu sedikit meninggi ataukah menurun, apakah ada ketegangan waktu dia berbicara, apakah bahasa tubuhnya itu menunjukkan kalau dia tidak nyaman dengan kita ataukah dia mau buru-buru untuk mengakhiri percakapan ini.
Hal seperti itu memang perlu untuk dipelajari, sekali lagi di sini diperlukan seorang teman yang bisa memberikan bimbingan, 'coaching' kepadanya sehingga dia mengerti, "Benar, ini adalah perasaannya." Kalau begitu maka seharusnya saya berkata seperti ini atau seperti itu. Jadi latihan-latihan membaca bahasa tubuh dan ekspresi wajah adalah bagian yang harus dilalui pula.
GS : Kita juga bisa mengajukan pertanyaan pada lawan bicara kita atau orang yang berinteraksi dengan kita kalau memang dia betul-betul mau membantu kita maka dia akan memberikan tanggapan, tapi biasanya orang tidak akan memberikan tanggapan kalau kita tidak meminta kepada orang itu.
PG : Itu ide yang baik. Jadi karena kita menyadari bahwa kita sedang belajar sesuatu yang baru, maka jangan ragu untuk bertanya dan terbukalah dengan berkata, "Maaf ya, saya ini sedang belajar ebih peka kepada orang, maka saya kadang-kadang tidak yakin apakah saya itu sudah membaca reaksi orang dengan tepat.
Apakah benar kamu tadi merasa seperti ini waktu saya mengatakan ini dan itu atau saya berbuat ini dan itu ?" Ceklah dan tanyalah langsung. Kalau orang itu memang dekat dengan kita maka dia akan berbicara terus terang, "Sebenarnya ya, saya tadi merasa seperti ini" maka nantinya kita akan menjadi lebih tepat lagi dalam berkomunikasi dengan orang.
GS : Upaya yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Kita juga perlu berinisiatif berbuat sesuatu tatkala mendengar ada kebutuhan di sekitar kita. Sekali lagi kecenderungan orang yang tumpul atau yang tidak peka adalah berpangku tangan, dia ang pertama tidak membacanya, kalau pun bisa membaca, sinyalnya lemah.
Tapi juga ada satu lagi, Pak Gunawan, yang harus diakui bahwa mereka itu tidak begitu memusingkan dan memedulikan orang. Maka kalau dia mau belajar lebih peka, dia harus lebih tanggap terhadap kebutuhan orang di sekitarnya. Makin dia tanggap maka makin sering dia memberikan bantuan kepada orang di sekitarnya, maka makin menambah kepekaannya. Sebaliknya makin dia berpangku tangan, lebih bersikap masa bodoh, makin tidak peka dengan kebutuhan orang dan makin tidak mau berbuat apa-apa untuk menolong orang yang berada pada situasi butuh. Tadi saya sudah singgung, waktu orang butuh dan berada di sekitar kita tersirat harapan agar kita menawarkan bantuan, waktu kita tidak mengulurkan bantuan maka orang akan kecewa dan melabelkan bahwa kita hanya mementingkan diri dan tidak menghargainya. Jadi sayang sekali kalau sampai akhirnya terjadi pemisahan atau konflik antara kita dengan orang.
GS : Anehnya kalau orang yang tidak peka dengan orang lain, mereka bisa memberikan kritikan-kritikan yang cukup tajam, misalkan tadi dia melihat orang yang membutuhkan, yang dilakukan bukanlah menolong orang itu tapi bisa mengkritik orang itu, "Kenapa tidak bekerja, kenapa malas tidak berusaha," sehingga dia tidak melakukan apa pun juga.
PG : Betul, dengan dia mengkritik maka dia sekaligus melakukan dua hal, yaitu yang pertama, dia menyalahkan orang seolah-olah kamu yang harus berbuat sesuatu dan bukan tanggung jawab saya untukberbuat sesuatu untuk menolong kamu dan membenarkan tindakannya, sekaligus kenapa dia juga tidak menawarkan bantuan.
Jadi sekali lagi memang harus mulai dengan cara kalau kurang jelas, bertanyalah "Apakah ada yang saya harus bantu" ? Itu adalah langkah yang saya kira sudah sangat menolong.
GS : Pak Paul, apakah ketidakpekaan ini mempengaruhi kehidupan rohani seseorang ?
PG : Saya kira benar, Pak Gunawan. Karena ketidakpekaan itu pada akhirnya bisa pula memadamkan suara Roh Kudus, waktu Roh Tuhan menyuruh kita berbuat sesuatu, mengatakan sesuatu, karena kita tiak peka akhirnya bukan saja tidak peka kepada sesama tapi juga terhadap suara Tuhan.
Contohnya adalah raja Saul, bukan saja tidak peka kepada sesamanya tapi akhirnya dia pun tidak peka kepada suara Roh Kudus, akhirnya dia binasa di dalam dosanya. Jadi kita mesti berhati-hati jangan sampai ketidakpekaan kita terhadap sesama menjalar ke wilayah rohani pula.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Perasaan Tidak Peka". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Hidup dengan orang yang tidak memiliki kepekaan memang tidak mudah. Ibarat orang yang berjalan dan menginjak kaki yang lain, orang yang tidak peka pun demikian. Ia tidak menyadari dampak perbuatan dan perkataannya pada orang lain. Berikut akan dipaparkan beberapa masalah yang timbul akibat ketidakpekaan.
Ketidakpekaan menimbulkan luka hati. Masalahnya adalah orang ini tidak menyadari bahwa ia telah melukai orang lain. Biasanya luka membuat kita ingin menjauh sebab tidak ada orang yang ingin dilukai dua kali. Alhasil orang yang tidak peka cenderung hidup dalam kesendirian. Masalahnya adalah makin sendiri, makin sulit ia mengembangkan kepekaan.
Ketidak pekaan membuahkan prasangka buruk. Akibat terluka, kita pun mengembangkan opini bahwa orang ini berniat buruk atau berperangai tidak baik. Itu sebabnya orang yang tidak peka kerap menimbulkan kesalahpahaman dengan sesama. Sebagai akibatnya perbuatan atau perkataannya sering ditafsir keliru dan negatif oleh orang.
Ketidakpekaan menyulitkan orang untuk membaca perasaan dan berlaku tenggang rasa. Akibatnya ia mudah dilihat sebagai orang yang egois sebab ia buta terhadap reaksi orang dan hanya mementingkan diri. Tanggapannya pun terhadap sesama cenderung salah sasaran sehingga sering memerkeruh relasi.
Ketidak pekaan membuat orang sukar memenuhi kebutuhan sesama. Hidup tidak selalu mulus, kadang kita harus menjalani penggalan hidup yang berat. Pada saat seperti itu kita membutuhkan teman yang bukan saja dapat membaca kesulitan kita tetapi juga menawarkan bantuan, tanpa kita harus memintanya. Kadang itulah yang kita ingin dengar: tawaran untuk membantu! Kita cenderung memandang orang yang menawarkan bantuan sebagai orang yang memedulikan kita. Alhasil kita merasa berharga dan ini membuat kita makin menghargainya. Hidup bersama orang yang tidak peka sudah tentu mengecewakan sebab ia tidak tanggap terhadap kebutuhan di sekitarnya.
Ketidakpekaan membuat kita merasa dimanfaatkan dan tidak dihargai sebagai seorang pribadi. Orang yang tidak peka cenderung memerlakukan sesama seperti mesin tanpa mengindahkan apa yang terkandung di dalam diri. Itu sebabnya orang yang tidak peka sukar mengumpulkan rekan kerja yang dapat diajaknya bekerja sama.
Sekarang bagaimanakah caranya kita menambahkan kepekaan?
Salah satu kelemahan orang yang tidak peka adalah bahwa ia tidak suka menengok ke belakang dan ke dalam untuk introspeksi. Ada baiknya bila ia membiasakan diri untuk membuka lembar kejadian selama sehari dan berupaya menempatkan diri pada diri orang yang telah ditemuinya. Usahakanlah untuk melihat dari kacamata orang, bukan hanya kacamata sendiri.
Silakan bertanya kepada orang lain dan mengecek reaksi terhadap perkataan atau perbuatannya. Jika ada yang tidak berkenan, jangan ragu untuk meminta maaf.
Belajarlah untuk membaca reaksi orang lewat ekspresi wajah. Jika tidak yakin, tanyakanlah apakah memang penilaiannya tepat.
Berinisiatiflah untuk berbuat sesuatu tatkala mendengar ada kebutuhan di sekitarnya. Kendati tidak dapat berbuat maksimal, tetaplah berusaha melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Misalnya, bertanyalah akan apa yang menjadi pergumulan seseorang dan apa yang dapat dilakukannya.
Terakhir, waspadalah bahwa ketidakpekaan dapat menjalar ke wilayah rohani pula. Jangan sampai memadamkan suara Roh Kudus! Raja Saul bukan saja tidak peka kepada sesamanya, ia pun tidak peka kepada suara Roh Kudus. Akhirnya ia binasa dalam dosanya. Berdoalah bersama Pemazmur, "Selidikilah aku, ya Allah dan kenalilah hatiku, ujilah aku dan kenalilah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal." (139:23-24)
Submitted by TELAGA on Thu, 27/11/2008 - 3:12pm.
Abstrak:
Tidak mudah menjadi orang benar; jauh lebih mudah menjadi orang yang membenarkan diri. Menjadi orang benar berarti hidup sesuai kehendak Tuhan, sedangkan membenarkan diri adalah hidup sesuai kehendak diri sendiri. Apa penyebab orang lebih senang untuk membenarkan diri ? Jika demikian halnya, apakah yang harus dilakukan agar kita dapat menjadi orang yang benar ?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Menjadi Orang Benar". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Menjadi orang benar memang menjadi idaman bagi banyak orang, Pak Paul, tapi pertanyaannya adalah bisakah seorang yang berdosa ini menjadi orang benar ?
PG : Sudah tentu bisa, Pak Gunawan, itu sebabnya Tuhan tatkala menyelamatkan kita Dia membenarkan kita sehingga kita yang tadinya di luar kehendak-Nya, di luar keluarga-Nya, di luar kasih sayan-Nya sekarang menjadi bagian dari keluarga-Nya dan kasih sayang-Nya.
Setelah kita dibenarkan secara status yakni kita menjadi anak-anak Tuhan memang Tuhan mengharapkan kita bertumbuh makin hari makin serupa dengan Dia. Dan ini yang dimaksud menjadi orang benar yaitu orang yang makin hari makin serupa dengan Dia, namun tadi Pak Gunawan sudah memunculkan sebuah fakta yaitu tidak mudah menjadi orang benar sebab kecenderungan kita adalah menjadi orang yang membenarkan diri.
GS : Atau mengharapkan orang lain membenarkan kita atas tindakan-tindakan kita, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Dan kita akhirnya menjadi orang yang tidak mau tahu, yang penting kita ini harus selalu benar. Sehingga waktu orang berkata-kata kepada kita dan misalkan jalan kita kurang luus atau kita tidak terima, kemudian kita membenarkan diri.
GS : Jadi orang benar adalah status kita di hadapan Tuhan yang Tuhan berikan kepada kita dan kita dibenarkan oleh Tuhan kemudian kita akan bertumbuh menjadi orang benar dan ini pasti menjadi suatu proses yang panjang, Pak Paul.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Ini adalah sebuah proses dan memang tidak selesai dalam satu malam, dan kita terus-menerus harus menjalaninya. Untuk bisa sampai ke sana, Pak Gunawan, kita mestimengerti dulu kodrat manusiawi kita yang berdosa karena kodrat manusiawi kita yang berdosalah yang menghalangi kita bertumbuh menjadi orang benar.
Ada sekurang-kurangnya 3 hal yang bisa saya pikirkan, Pak Gunawan. Yang pertama kita pada dasarnya adalah manusia yang tidak ingin disalahkan, dari pada disalahkan kita beralih menyalahkan lingkungan atau orang lain. Kita bisa melihat bahwa sebetulnya kecenderungannya ini sudah muncul pada waktu hari pertama kita berdosa yaitu sewaktu Tuhan menanyakan kepada Adam. Adam tahu sebetulnya dia salah tapi yang pertama dia langsung menyalahkan Hawa bahwa Hawalah yang menyuruh dia untuk memakan buah yang Tuhan sudah katakan tidak boleh dia makan. Dan Hawa juga sudah langsung menyalahkan si ular yakni si iblis. Kita bisa melihat di sini bahwa dari awalnya tatkala manusia jatuh ke dalam dosa, manusia tidak ingin menjadi orang yang disalahkan. Pak Gunawan mungkin juga bisa melihat di dalam hidup ada begitu banyak masalah muncul gara-gara kita ini menolak untuk disalahkan sewaktu kita memang selayaknya harus menanggung akibat itu. Begitu banyak pertikaian terjadi oleh karena kita menyalahkan orang yang tidak selayaknya menerima tanggung jawab itu.
GS : Apakah ini bukan semacam mekanisme pertahanan diri, Pak Paul.
PG : Betul, ini adalah sebuah mekanisme pertahanan diri yang kalau saya jelaskan dari segi firman Tuhan, ini merupakan buah dosa yaitu kita tidak ingin disalahkan. Dari segi psikologis pun kitaini sebetulnya mendorong orang untuk berani melihat diri dan berani untuk mengoreksi kalau ada yang perlu dikoreksi pada diri sendiri.
Jadi dari segi ilmu psikologi pun kita ini menganjurkan manusia untuk terbuka menerima tanggung jawabnya dan mengakui kesalahannya. Tidak akan ada psikolog yang berkata, "Yang penting kalau ada orang yang menyalahkanmu langkah pertama adalah menangkisnya, menyalahkan orang lain," bukan seperti itu! Justru dari segi psikologis kita katakan itu tidak sehat. Jadi mekanisme pertahanan seperti ini adalah mekanisme yang keluar dari dosa dan inilah yang nantinya harus kita runtuhkan.
GS : Yang dikhawatirkan adalah akibatnya. Kalau kita memang mengakui bahwa kita salah sudah tahu pasti ada akibatnya, Pak Paul dan ini dicoba untuk dihindari.
PG : Betul sekali, jadi karena kita tidak mau menanggung akibat maka kita cepat-cepat mengelak dan malah menyalahkan orang dari pada kita itu menanggung kesalahan yang kita buat.
GS : Kecenderungan yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Yang kedua adalah yang membuat kita sulit menjadi orang benar adalah kita manusia yang ingin mendapatkan pujian, itu sebabnya kita membenarkan diri sehingga pada akhirnya kita memperoleh pjian oleh karena kita dianggap benar.
Pada dasarnya kita memang takut mendengar hal-hal yang berisikan kritikan, hal-hal yang negatif yang tidak sesuai dengan konsep diri kita. Dengan cepat waktu kita mendengarkan hal-hal seperti itu, kita menyimpulkannya sebagai ketidakmengertian orang akan siapa kita, "Kamu tidak tahu saya siapa" artinya apa ? Kita mau mengatakan sebetulnya bahwa kamu tidak tahu betapa baiknya saya, kamu tidak tahu bahwa sebenarnya saya ini jauh lebih baik dari pada apa yang engkau lihat atau engkau pikir dan kamu tidak mengerti tentang saya. Jadi intinya memang kita tidak suka melihat celaan atau hal negatif tentang diri kita maka kita menangkisnya membenarkan diri supaya akhirnya kita tampak benar di hadapan orang. Dan ini sebenarnya muncul dari kerinduan kita untuk mendapatkan pujian dari orang.
GS : Seringkali di sini orang justru menjadi munafik, menjadi berpura-pura di hadapan orang lain supaya dia dipuji oleh orang.
PG : Adakalanya jalan itulah yang kita tempuh gara-gara kita ingin mendapatkan pujian maka kita memunculkan sebuah diri yang sebetulnya itu lain dari apa yang ada di dalam diri kita. Sudah tent hidup seperti ini tinggal tunggu waktu akhirnya kedok kita pun terbuka.
Saya kira tidak ada orang munafik yang pada akhirnya tidak terbongkar kemunafikannya. Pada akhirnya semua kemunafikan akan terbongkar sebab Tuhan pada akhirnya selalu bertindak untuk melepas topeng-topeng dari wajah kita.
GS : Seringkali dibungkus dengan hal-hal yang bersifat rohani sehingga orang lain pun enggan untuk mengungkapkannya.
PG : Seringkali seperti itu, Pak Gunawan. Saya mencoba mengerti kemanusiawian kita bahwa adakalanya kita semua melakukan hal-hal itu, kita itu menampilkan sisi-sisi rohani, sisi-sisi yang layakmendapatkan pujian, supaya nanti orang hanya melihat sisi itu dan tidak melihat bagian dalam diri kita yang gelap itu.
Saya kira ini kecenderungan kita sebagai manusia dan saya juga mengakui bahwa adakalanya kita tidak sengaja munafik, dalam pengertian kita ini sebetulnya ingin sebaik itu, kita sebetulnya ingin serohani itu tapi akhirnya kita salah langkah bukan mulai dari bawah dan mengakui karena memang kita masih di bawah, kita masih penuh dengan kekurangan dan dosa, tapi kita memulainya dari atas. Titik berangkatnya dari kerohanian, dari yang indah, dari yang bagus, sehingga akhirnya begitu kita memulai dari atas, dari yang bagus-bagus itu, untuk kita bisa turun ke bawah dan mengakui betapa gelapnya kita, itu akan menjadi susah, kita akhirnya terus terjebak di atas. Saya kira inilah yang terjadi pada orang-orang Farisi di zaman Tuhan Yesus, pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang religius mereka ingin hidup sesuai perintah Tuhan dan mereka adalah pemimpin-pemimpin rohani. Jadi ingin dilihat sebagai orang-orang yang hidupnya bersih dan layak dipuji tapi karena mereka berangkat dari titik rohani itu, dari titik bagusnya sehingga akhirnya mereka susah turun, tidak pernah turun-turun. Dan akhirnya kita tahu apa yang terjadi yaitu Tuhan Yesuslah yang menurunkan mereka.
GS : Itu seringkali terjadi karena kita punya kekayaan dan punya kekuasaan, Pak Paul. Dan orang-orang di sekeliling kita membenarkan segala sesuatu yang kita lakukan.
PG : Ya. Karena seringkali karena kita berkedudukan tinggi baik itu karena kekayaan kita, karena status-status tertentu atau pun karena jabatan-jabatan rohani kita. Maka akhirnya orang lain punsungkan menyodorkan fakta tentang siapa kita, malah membenarkan tindakan-tindakan kita, membela kita secara membabi buta yang sebetulnya berdampak buruk, kita bukan melek mata melihat siapa kita tapi malah makin buta.
GS : Tetapi karena tindakan-tindakan kita berulang kali dibenarkan walaupun sebenarnya kita salah, yang ada dalam pikiran kita adalah tindakan saya ini sudah benar.
PG : Betul sekali. Pak Gunawan tadi memunculkan hal yang penting yaitu lingkungan pun kadang-kadang mempunyai andil didalam permasalahan kita yang ingin membenarkan diri sehingga makin hari makn jauhlah kita dari fakta yang sesungguhnya.
GS : Mungkin ada kecenderungan yang lain yang Pak Paul ingin sampaikan ?
PG : Yang ketiga adalah kenapa kita ini menjadi orang yang susah sekali untuk hidup benar adalah kita menjadi orang yang tidak mudah percaya pada niat baik orang. Itu sebabnya apa pun yang dikaakan orang, bila orang itu tidak berkenan di dalam hati, maka dengan segera kita simpulkan sebagai niat buruk yaitu "Kamu memang ingin menyerang saya dan sebagainya".
Kita tidak percaya bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan di telinga dapat keluar dari niat baik dan untuk kebaikan kita, itu sebabnya kita terus membenarkan diri dan menolak komentar orang yang tidak berkenan di hati.
GS : Memang seringkali itu disampaikan dengan cara yang kurang menyenangkan kita. Jadi niat baiknya tenggelam oleh karena cara penyampaian yang tidak berkenan di hati kita, Pak Paul.
PG : Betul. Jadi adakalanya orang menyampaikan sesuatu kepada kita yang memang negatif maka bungkusannya adalah emosi, marah, tidak senang dan sebagainya akhirnya yang kita tangkap adalah bungksannya yaitu emosi marah dan ketidaksenangannya itu dan kita luput melihat isi bungkusan itu yang sebetulnya baik.
Kita pun saya kira acapkali berbuat hal yang sama pada orang lain, kita membungkus masukan kita yang penting itu dengan bungkusan-bungkusan yang penuh dengan emosi marah, tidak senang sehingga orang lain pun tidak bisa mendengar apa yang kita sampaikan. Jadi kita ini mesti mulai membangun kepercayaan pada niat baik orang, sebagian orang memang tidak ada niat baik dan itu betul tapi sebetulnya cukup banyak orang yang mempunyai niat baik, mereka memberitahukan kita mungkin saja tidak sepenuhnya tepat karena mereka tidak bisa melihat keseluruhan dari hidup kita, tapi cukup banyak orang yang memberitahukan kita hal yang tidak berkenan itu dengan niat baik untuk kebaikan kita. Hanya saja sekali lagi kita bukanlah orang yang terbiasa untuk percaya pada niat baik orang. Kalau perkataannya itu enak didengar maka kita berkata, "Orang ini baik dan berniat baik kepada kita," tapi begitu perkataannya kurang berkenan kita langsung menyimpulkan, "Kamu memang mempunyai niat buruk, ingin menjelekkan saya, ingin menyerang saya." Tapi sesungguhnya bukankah kalau orang sampai memberanikan diri, memberitahukan kita tentang diri kita yang tidak positif, bukankah itu sebuah upaya yang keras, yang berat dan tidak mudah. Biasanya orang tidak dengan mudah bicara hal yang negatif tentang orang lain secara langsung. Jadi kalau sampai orang mengupayakan hal itu seyogianyalah orang itu mengakui bahwa besar kemungkinan niatnya baik, sebab untuk apa dia susah-susah meresikokan diri untuk berbicara langsung kepada kita.
GS : Diperlukan keberanian dari kita juga melakukan umpan balik, menanyakan apa sebenarnya maksudnya. Tetapi itu memang dibutuhkan kerendahan hati dari kita, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Sebab kecenderungan kita dari pada merendahkan diri, bertanya dengan jujur apa yang menjadi pengamatannya tentang diri kita, maka reaksi yang pertama dari kita adalah menangksnya, membenarkan diri akhirnya makin hari bukannya kita menjadi orang yang benar di mata Tuhan, akhirnya kita sibuk membenarkan diri, makin jauhlah kita dari kondisi yang sesungguhnya yang Tuhan inginkan dari kita.
GS : Jadi kalau begitu apa yang harus kita lakukan untuk menjadi orang yang benar, Pak Paul ?
PG : Mazmur 92:13-16 mengajarkan kita bagaimanakah kita menjadi orang yang benar. Firman Tuhan berkata, "Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Lbanon; mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita.
Pada masa tua pun mareka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya." Dari firman Tuhan ini sekurang-kurangnya ada 3 hal yang bisa kita petik untuk menolong kita hidup sebagai orang benar. Yang pertama, Firman Tuhan berkata orang benar itu akan bertunas dan bertumbuh subur di dalam pelataran Allah, di dalam bait Allah. Artinya apa? Artinya di dalam iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Pertumbuhan adalah tanda adanya kehidupan, jika kita hidup di dalam Tuhan maka kita akan bertumbuh pula. Pertumbuhan rohani diukur lewat pertumbuhan iman, orang yang tidak bertumbuh biasanya hidup di dalam kecemasan karena tidak ada iman sehingga mengkhawatirkan segalanya. Kadang kita hidup seakan-akan tidak ada Tuhan, kita mengupayakan segalanya seakan-akan semua bergantung kepada kita. Pada faktanya Tuhan menentukan segalanya dan tugas kita adalah beriman kepada-Nya dan percaya pada kasih setiaNya. Misalkan kita lihat contoh pada orang Israel, berulang kali orang Israel melihat Tuhan menyelamatkan dan memelihara mereka namun setiap kali masalah datang mereka kembali mengeluh dan inti masalah bukanlah terletak pada keluhan melainkan kepada ketidakpercayaan mereka. Berkali-kali mereka melihat Tuhan bertindak tapi terus tidak percaya bahwa Tuhan sanggup dan akan menyelamatkan dan memelihara mereka, inilah tanda iman yang tidak bertumbuh, pada akhirnya iman yang tidak bertumbuh akan mati. Orang benar yang sepenuhnya beriman kepada Tuhan, Pak Gunawan, dia tahu bahwa semua di tangan Tuhan, jadi dia tidak takut untuk menerima masukan negatif, tidak takut untuk mengakui kesalahannya dan memang ini tanggung jawab saya dan memang benar bahwa saya salah, tidak takut dengan hal-hal seperti itu, tidak takut melihat sisi gelap dalam dirinya dan diketahui sisi gelap itu. Kenapa ? Sebab dia sepenuhnya bertumpu pada Tuhan, Tuhan yang mengatur semuanya.
GS : Jadi pertumbuhan iman ini merupakan suatu proses, apakah orang yang bersangkutan ini tahu bahwa dia sedang bertumbuh ?
PG : Seharusnya perlahan-lahan dia bisa melihat bahwa imannya bertumbuh, Pak Gunawan, sebab Tuhan itu tidak pernah berhenti untuk membentuk kita, Dia akan menghadirkan situasi demi situasi dimaa untuk sejenak kita merasa kehilangan arah, kehilangan kendali atas hidup ini, kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan dan dalam kondisi seperti itu kita dipaksa Tuhan untuk datang kepada-Nya dan bersandar kepada-Nya.
Jadi di dalam kegelapan, saat kita tidak melihat, di saat itulah kita bersandar kepada-Nya, percaya bahwa Tuhan bisa menolong dan memelihara kita. Sewaktu itu terjadi, kita pun akan berkata, "Tidak salah saya percaya kepada Tuhan, tidak salah saya beriman kepada-Nya sebab tangan-Nya selalu cukup panjang untuk menolong kita." Misalkan dalam contoh dengan kaitan yang kita bicarakan ini, waktu misalkan dia mengaku salah, dan dia tidak membenarkan diri, dia mengaku salah dan dia melihat Tuhan bekerja, Tuhan menolong, Tuhan membukakan jalan dan sebagainya. Lewat peristiwa-peristiwa itu imannya makin ditumbuhkan bahwa tidak apa-apa maka kita bisa percaya kepada Tuhan.
GS : Salah satu indikasinya adalah orang itu selalu di bait Allah atau di pelataran Allah seperti yang pemazmur katakan.
PG : Betul. Jadi memang orang yang mendahulukan Tuhan dan benar-benar merenungkan dan memikirkan firman Tuhan dan hidup berdasarkan kehendak Tuhan.
GS : Hal yang kedua apa Pak Paul, tentang orang yang benar ?
PG : Firman Tuhan juga menekankan bahwa orang benar adalah orang yang mengalami sendiri kebenaran perkataan Tuhan. Apa yang Tuhan janjikan pasti ditepatiNya, sebab Tuhan tidak pernah dan tidak kan berbohong, itu sebabnya orang benar hidup sepenuhnya atas dasar kuasa pemeliharaan Tuhan.
Ia tidak takut atau ragu, ia yakin bahwa Tuhan mengatur segalanya dengan sempurna, dia tidak khawatir disalahkan sebab tanggung jawabnya adalah kepada Tuhan sendiri, ia tidak takut penghakiman manusia sebab terpenting baginya hidup sesuai kehendak Tuhan. Jadi orang benar hidup atas dasar setiap perkataan Tuhan. Itu sebabnya dia tidak mencemaskan penilaian orang terhadapnya dan tidak merasakan perlu membenarkan diri. Orang ini benar-benar mantap, kokoh sebab benar-benar apa yang diketahuinya itu bukan saja hanya diketahui secara rasio atau pengetahuan, tapi diketahui secara pengalaman hidup. Tuhan itu setia dan bukan hanya dia tahu secara pengetahuan tapi dia mengalami bahwa Tuhan itu setia, kenapa Tuhan bisa memelihara, kenapa Tuhan bisa mencukupi, kenapa Tuhan bisa menolong, kenapa Tuhan bisa melepaskan saya dari jerat-jerat dan masalah ini ? Dan pengalaman-pengalaman langsung itu membuat kita tambah hari tambah yakin akan kebenaran firman-Nya bahwa Tuhan itu betul. Maka orang seperti ini tidak perlu lagi menemukan alasan untuk membenarkan diri, dia perlu hidup apa adanya dan nanti Tuhan akan tolong dan nanti Tuhan akan lepaskan. Jadi sekali lagi tidak pernah takut dan khawatir.
GS : Ini terkait dengan yang tadi yaitu imannya yang bertumbuh, iman yang bertumbuh itu dasarnya dia membaca, mendengar, menghayati firman Tuhan sendiri, Pak Paul ?
PG : Dan itulah langkah awal yang mutlak harus kita jalani, bagaimanakah kita bisa mengetahui janji Tuhan kalau kita tidak membaca firman-Nya. Jadi itu langkah pertama, namun langkah kedua adalh sewaktu Tuhan menempatkan kita di posisi di mana kita tidak bisa menguasai hidup ini, kita harus bersandar kepada-Nya kita harus melangkah dengan iman dan dari situlah kita akan melihat kebenaran perkataan-Nya, pemenuhan janji-Nya.
Kalau kita tidak pernah mengambil langkah kedua itu mempercayakan sepenuhnya kepada Tuhan maka kita tidak akan mungkin melihat kebenaran firman-Nya bahwa Tuhan itu benar-benar akan melakukan seperti apa yang dikatakan-Nya.
GS : Seringkali orang berkata percaya kepada Tuhan itu suatu langkah awal dan mudah tetapi mempercayakan diri kepada Tuhan itu menjadi masalah yang lain.
PG : Betul sekali. Jadi orang yang tidak bisa mempercayakan dirinya kepada Tuhan, akhirnya tidak pernah bertumbuh menjadi orang yang benar, sebagaimana yang Tuhan kehendaki.
GS : Yang ketiga apa Pak Paul tentang orang benar ini ?
PG : Firman Tuhan mengatakan orang benar bertahan dalam kebenaran sampai tua sebab dia terus menyaksikan pimpinan Tuhan atasnya tatkala dia hidup di dalam kebenaran, ia tidak cemas kehilangan aa yang diharapkannya karena dia tahu Tuhan sudah menetapkan porsi yang tepat untuknya.
Itu sebabnya dia tidak terdorong untuk hidup di dalam kecurangan, ia tahu bahwa dalam kebenaranlah ia akan mendapatkan berkat Tuhan, ia terus bertahan sampai tua sebab dia tidak pernah kecewa kepada Tuhan. Saya masih ingat pertanyaan saya kepada Pdt. Philip Teng, dia adalah seorang hamba Tuhan yang sudah sangat tua berasal dari Hongkong dia melayani Tuhan dengan setia. Waktu beliau datang ke Jakarta kemudian saya bertanya, "Apakah Bapak Philip Teng pernah mengalami kekecewaan hidup di dalam Tuhan dan melayani-Nya selama ini ?" Beliau berkata, "Tidak pernah" sebab bagi dia melayani Tuhan dan hidup di dalam Tuhan merupakan sebuah kehormatan, bagaimanakah kehormatan yang begitu besar dapat mengecewakannya, dia berkata, "Tidak bisa". Kenapa orang bisa sampai tua bertahan menjadi orang benar dan makin hari makin bertumbuh karena dia menyaksikan dan mengalami terus pemeliharaan Tuhan yang begitu setia, maka dia terus bertahan sampai tua. Tapi orang yang tidak mengalaminya, belum sampai tua pun jatuh lagi dan jatuh lagi.
GS : Itu sebabnya ada beberapa orang memang mempertaruhnya nyawanya demi kebenaran ini, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Makanya ada orang yang rela kehilangan segalanya bahkan kehilangan hidupnya demi Tuhan, demi Kristus Juruselamat kita yang telah setia memelihara hidup kita dan telah begitu erkorban untuk dosa kita.
GS : Jadi sebenarnya mempertahankan kebenaran di dalam diri seseorang ini adalah suatu upaya yang mendapat dukungan penuh dari Tuhan dan bukan dari kekuatannya sendiri, Pak Paul.
PG : Betul. Jadi sewaktu kita mempertahankan kebenaran Tuhan maka kita akan terus dipelihara Tuhan. Jangan sampai kita memertahankan kebenaran sendiri, alias membenarkan diri, itu yang Tuhan tiak kehendaki.
GS : Kesimpulannya apa, Pak Paul, dari kehidupan orang yang benar ini ?
PG : Dapat kita simpulkan bahwa hidup orang yang benar akan menghasilkan buah yang lebat dan segar. Sebaliknya hidup orang yang membenarkan diri dan berjalan dalam kecurangan akhirnya hanyalah enghasilkan buah yang pahit.
GS : Contoh konkretnya seperti apa buah yang manis dan buah yang pahit ?
PG : Yang pertama adalah yang pasti dirasakan oleh orang di sekitar kita adalah kepahitan-kepahitan, kekecewaan-kekecewaan tapi bagi orang yang hidupnya benar orang di sekitarnya itu akan selal mencicipi manisnya hidup dengan dia, manisnya berbicara dengan dia, manisnya mendengarkan kata-katanya.
Itu semua adalah buah-buah yang dicicipi. Dan kita harus ingat kita ini adalah pohon yang berbuah, kita sendiri sebetulnya tidak memakan buah itu, buah itu dimakan oleh orang lain. Jadi manis atau tidaknya itu ditentukan oleh orang di sekitar kita, kalau hidup kita membuahkan buah yang manis, orang di sekitar kita menerima buah yang manisnya. Tapi kalau dalam hidup kita, kita menghasilkan buah yang pahit, orang di sekitar kita akan terus memakan buah yang pahit dalam hidupnya gara-gara kita.
GS : Dan orang di sekitar kita itu justru anggota keluarga kita, Pak Paul ?
PG : Seringkali demikian, Pak Gunawan.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menjadi Orang Benar." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Tidak mudah menjadi orang benar; jauh lebih mudah menjadi orang yang membenarkan diri. Menjadi orang benar berarti hidup sesuai kehendak Tuhan sedangkan membenarkan diri adalah hidup sesuai kehendak diri sendiri. Mari kita lihat mengapa kecenderungan kita adalah membenarkan diri.
Kita adalah manusia yang tidak ingin disalahkan. Daripada disalahkan kita beralih menyalahkan lingkungan atau orang lain. Sewaktu Tuhan memanggil Adam, ia menyalahkan Hawa dan akhirnya Hawa menyalahkan si ular yakni iblis. Di dalam hidup begitu banyak masalah muncul gara-gara kita menolak disalahkan sewaktu memang kita selayaknya menanggung akibat itu. Begitu banyak pertikaian terjadi oleh karena kita menyalahkan orang yang tidak selayaknya menerima tanggung jawab itu.
Kita adalah manusia yang ingin mendapatkan pujian. Itu sebabnya kita membenarkan diri sehingga pada akhirnya kita memperoleh pujian oleh karena kita dianggap benar. Pada dasarnya kita takut mendengar hal-hal yang berisikan kritikan dan dengan cepat menyimpulkannya sebagai ketidakmengertian orang akan siapa kita. Membenarkan diri merupakan upaya untuk menangkis kritikan.
Kita adalah manusia yang sesungguhnya tidak mudah percaya pada niat baik orang. Itu sebabnya apa pun yang dikatakan orang, bila tidak berkenan di hati, dengan segera disimpulkannya sebagai niat buruk. Kita tidak percaya bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan di telinga keluar dari niat baik dan untuk kebaikan kita. Itu sebabnya kita membenarkan diri dan menolak komentar orang yang tidak berkenan.
Jika demikian halnya, apakah yang harus dilakukan agar kita dapat menjadi orang yang benar? Mazmur 92:13-16 mengajarkan bagaimanakah kita dapat menjadi orang yang benar.
Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam, di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.
Orang benar akan bertunas dan bertumbuh subur di dalam iman. Pertumbuhan adalah tanda adanya kehidupan. Jika kita hidup di dalam Tuhan maka kita akan bertumbuh pula. Pertumbuhan rohani diukur lewat pertumbuhan iman. Orang yang tidak bertumbuh hidup dalam kecemasan sebab ia mengkhawatirkan segalanya. Kita mengupayakan segalanya seakan-akan semua bergantung pada kita. Pada faktanya, Tuhan menentukan segalanya. Tugas kita adalah beriman kepada-Nya dan percaya pada kasih setia-Nya. Berulang kali orang Israel melihat Tuhan menyelamatkan dan memelihara mereka namun setiap kali masalah datang, mereka kembali mengeluh. Inti masalah bukanlah terletak pada keluhan melainkan pada ketidakpercayaan. Mereka terus tidak percaya bahwa Tuhan sanggup dan akan menyelamatkan dan memelihara mereka. Inilah tanda iman yang tidak bertumbuh. Pada akhirnya iman yang tidak bertumbuh akan mati.
Orang benar adalah orang yang mengalami sendiri kebenaran perkataan Tuhan. Apa yang dijanjikan Tuhan pasti ditepati-Nya sebab Tuhan tidak berbohong. Itu sebabnya orang benar hidup sepenuhnya atas dasar kuasa pemeliharaan Tuhan. Ia tidak ragu atau takut; ia yakin bahwa Tuhan mengatur segalanya dengan sempurna. Ia tidak khawatir disalahkan sebab tanggung jawabnya adalah kepada Tuhan sendiri. Ia tidak takut penghakiman manusia sebab terpenting baginya hidup sesuai kehendak Tuhan. Orang benar hidup atas dasar setiap perkataan Tuhan; itu sebabnya ia tidak mencemaskan penilaian orang terhadapnya dan tidak merasakan perlu membenarkan diri.
Orang benar bertahan dalam kebenaran sampai tua sebab ia terus menyaksikan pimpinan Tuhan atasnya tatkala ia hidup dalam kebenaran. Ia tidak cemas kehilangan apa yang diharapkannya karena ia tahu Tuhan sudah menetapkan porsi yang tepat untuknya. Itu sebabnya ia tidak terdorong untuk hidup dalam kecurangan; ia tahu bahwa dalam kebenaranlah ia akan mendapatkan berkat Tuhan. Ia terus bertahan sampai tua sebab ia tidak pernah kecewa pada Tuhan.
Kesimpulan: Hidup orang yang benar akan menghasilkan buah yang lebat dan segar; sebaliknya hidup orang yang membenarkan diri dan berjalan dalam kecurangan, akan menghasilkan buah yang pahit.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Ada orang yang sukar mengambil keputusan. Mereka terus menimbang-nimbang dan tidak dapat menentukan pilihannya. Disini akan dijelaskan mengenai ciri dan penyebab dari pribadi yang cemas.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama dengan ibu Ester Tjahja. Kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Pribadi yang Cemas". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Semua orang pasti pernah cemas, tetapi ada sebagian orang rasa kecemasannya itu agak di atas kewajaran, dan itu kelihatan sekali khususnya kalau mereka harus mengambil sebuah keputusan atau suatu tindakan yang cepat. Mereka tidak bisa dengan segera melakukannya, apakah memang betul seperti itu Pak Paul?
PG : Betul Pak Gunawan, jadi memang kita secara umum pasti bisa cemas, pasti ada moment-moment di mana kita mencemaskan sesuatu; ada saat-saat di mana kecemasan kita meninggi. Tapi khusus untu sebagian orang kecemasan menjadi problem mereka, karena dalam hal apa pun mereka mudah cemas; sedikit saja ada ketegangan mereka sudah bisa langsung bereaksi.
Jadi memang ada sebagian orang yang mudah sekali dilanda kecemasan.
GS : Apakah itu bisa kita lihat atau kita bisa kenali Pak Paul?
PG : Bisa Pak Gunawan, sekurang-kurangnya ada 3 ciri yang umum. Yang pertama adalah orang yang memiliki kecemasan yang tinggi sukar sekali untuk mengambil keputusan, karena biasanya mereka menkuatirkan banyak hal.
Biasanya fokus perhatian pada kegagalan, sehingga semua tindakan mereka ditujukan untuk menghindar dari kemungkinan kegagalan itu. Belum mengambil keputusan, sudah memikirkan, "wah nanti saya akan gagal, kuatir nanti risikonya buruk." Sehingga pikiran diisi terus-menerus oleh antisipasi akan hal-hal yang buruk itu; pada akhirnya mereka sukar sekali mengambil keputusan.
ET : Bahkan akhirnya tidak ada keputusan ya Pak?
PG : Betul sekali, jadi kadang-kadang kita yang dekat dengan dia agak frustrasi karena kita menunggu-nunggu dia mengambil keputusan. Kalau kita desak dia, dia juga tidak suka tapi kalau tidak idesak dia tidak segera mengambil keputusan, jadi agak sedikit repot.
ET : Tapi kadang-kadang ada yang beralasan, "Wah kita harus memperhitungkan yang terburuk," jadi buat mereka itu sudah menjadi kewajiban untuk mempertimbangkan kegagalan dan juga risiko-risikona.
PG : Masalahnya dengan mereka adalah mereka tidak bisa melihat yang positif dengan mata yang sama. Jadi meskipun mereka bisa mengakui, ya memang benar kalau jalan begini-begini, namun....(namunya itu kembali kepada yang negatif).
Jadi dengan kata lain waktu mereka melihat ke depan mata mereka melihat yang buruk itu dengan sangat jelas. Sedangkan melihat yang positif, meskipun mata bisa melihat dan mengakui tapi seolah-olah tidak memberikan dampak atau rasa tenang dalam diri mereka.
GS : Tapi kalau kita mencoba memberikan masukan atau usulan kepadanya dan orang lain juga memberikan masukan, dia akan tambah bingung.
PG : Betul sekali, memang orang ini mudah sekali tegang. Jadi kalau orang mulai memberikan komentar, masukan; dua orang atau tiga orang dia akan langsung kacau, bukannya mereka itu justru tenag dengan masukan-masukan itu tapi justru tambah bingung.
Kenapa? Sebab memang mudah sekali tegang, terlalu mudah tegang sehingga waktu mau mengambil keputusan, pikiran yang diperlukan untuk berkonsentrasi-tidak bisa berkonsentrasi justru semakin dia berusaha berkonsentrasi pikirannya makin buyar. Makin kita beritahukan caranya begini, dia tambah kacau dan tidak bisa berkonsentrasi. Jadi tetap berkubang di dalam pikiran yang kacau karena tingkat ketegangan yang memang sangat tinggi.
ET : Tampaknya hal ini sudah bisa kelihatan dari usia yang lebih muda atau lebih dini Pak Paul. Kadang-kadang ada anak yang sudah membawa kecemasan seperti ini.
PG : Betul Bu Ester, memang ini tidak bisa kita katakan bahwa ini hanyalah masalah orang dewasa, sebab ada sebagian anak-anak yang juga mengalami masalah yang sama. Misalkan salah satu ciri lan orang-orang yang mudah cemas ini adalah mereka sukar sekali untuk memikul tanggung jawab.
Jadi kalau kita memintanya untuk melakukan sesuatu dan bertanggung jawab atas hal itu, langsung dia itu bingung dan takut. Ini bisa kita lihat jelas pada anak-anak, misalnya kita memintanya untuk bertanggung jawab melakukan sesuatu tapi tidak bisa dan tidak mau. Ada anak-anak yang bahkan kalau diberitahukan oleh gurunya bahwa besok kamu bertanggung jawab melakukan apa, datang membawa apa-besok tidak datang ke sekolah dan malah ketakutan atau malah menghindar dari gurunya. Sehingga kadang-kadang orangtua yang datang memberitahukan, "Pak atau Bu maaf, anak saya diberitahukan dia harus membawa ini dan bertanggung jawab atas hal ini, dia malah semalaman tidak tidur, dia nangis, dia ketakutan makanya hari ini tidak masuk ke sekolah karena takut nanti ditanya mana tanggung jawabnya itu." Jadi betul Ibu Ester, ada sebagian anak-anak sudah memunculkan gejala yang memang mudah dilanda oleh kecemasan ini.
GS : Mungkin itu terkait dengan dia kuatir gagal itu Pak Paul?
PG : Betul, jadi memang ada beberapa penyebab kenapa ada gangguan seperti ini, memang salah satunya adalah itu Pak Gunawan. Sebagian anak-anak atau sebagian orang-orang ini tatkala masih kecildituntut untuk tidak boleh gagal.
Mereka harus selalu mampu mengerjakan sesuai dengan permintaan atau standar orangtua, sehingga kalau gagal akan mendapatkan risiko yang buruk. Mungkin tidak akan mendapatkan pemukulan atau kemarahan, tapi akan terasa dirinya kurang berharga sebab itulah yang dituntut oleh orangtuanya. Kalau kita sebagai orangtua memperlakukan anak dengan standar yang sekaku dan setinggi ini, besar kemungkinan kalau anak kita tidak mempunyai bekal atau potensi yang sesuai atau yang cukup dia akan mudah sekali dilanda kecemasan. Begitu kita meminta dia melakukan sesuatu, tanggung jawab diberikan, langsung goyang sekali. Karena dia sudah membayangkan dia mungkin gagal dan risikonya gagal itu berat yaitu kemarahan orangtua atau mungkin omelannya, tidak dianggap, tidak dinilai berharga. Jadi benar-benar takut sekali, pada akhirnya bukannya malah bisa mengerjakan tugas atau tanggung jawabnya tapi tambah tidak bisa.
ET : Yang pernah saya lihat ada beberapa kasus, kegagalan itu sebenarnya bukan kegagalan yang fatal tapi hanya tidak bisa mencapai standar yang diinginkan orangtua, tapi sudah dilihat sebagai kgagalan karena standar yang tinggi.
Kalau misalnya diukur secara normal misalnya pelajaran di sekolah juga bukannya gagal yang nilainya sampai merah sampai tidak naik kelas seperti itu.
PG : Betul, jadi awalnya anak-anak ini takut dengan risikonya kalau gagal. Misalkan dimarahi, dikata-katai, dianggap bodoh dan sebagainya, jadi awalnya anak-anak itu takut dan mencoba menghindr dari risiko kegagalan itu.
Namun lama-kelamaan si anak tidak lagi sebetulnya memfokuskan pada risikonya saja tapi juga kepada kegagalan itu. Persepsinya atau pandangannya terhadap kegagalan mulai berubah atau terdistorsi, tidak lagi proporsional. Jadi seperti yang tadi Ibu Ester katakan, seharusnya kegagalan ini kecil bukan besar, tidak fatal, mereka tidak sampai mendapat nilai buruk hanya turun satu nilai misalkan dari 9 ke 8, tapi buat mereka karena persepsi atau pandangan mereka sudah terdistorsi, melihat penurunan satu angka dari 9 ke 8, seolah-olah penurunan yang drastik dari 9 ke 4. Jadi akhirnya pandangan mereka pun terhadap kegagalan berubah-sangat membesarkan kegagalan, jadi awalnya adalah dari takut risiko kegagalan konsekuensinya dimarahi dan sebagainya tapi lama-kelamaan menyebar atau menular sampai mempengaruhi cara pandangnya terhadap kegagalan itu sendiri. Maka orang-orang ini begitu melihat ada potensi atau ada kemungkinan kegagalan, sekecil apa pun di mata mereka menjadi besar, karena memang sudah terjadi distorsi itu. Benar-benar kalau melihat kegagalan dia seolah-olah memakai atau menggunakan kaca pembesar. Jadi melihat dengan kaca pembesar maka semuanya menjadi besar, sebaliknya kalau melihat keberhasilan kemungkinan akan berjalan dengan baik, seolah-olah dia memakai kacamata yang mengecilkan, dari jarak jauh dan dirinya tidak kelihatan.
GS : Atau mereka kebanyakan ingin menyenangkan orang lain secara berlebihan?
PG : Bisa jadi Pak Gunawan, jadi anak-anak yang dituntut untuk sempurna, supaya jangan gagal dan sebagainya; bisa jadi secara langsung orangtua sebetulnya tidak menerapkan standar itu tapi si aak mempunyai keinginan yang sangat kuat menyenangkan orangtuanya.
Kadang-kadang kita sebagai orangtua tidak menyadari bahwa tanpa kita berkata-kata, tanpa kita menyampaikannya secara langsung, kita sudah mengkomunikasikan sebuah standar atau sebuah permintaan, ini yang ditangkap oleh si anak. Bisa jadi anak keliru menangkapnya, kita tidak menghiraukan standar yang tinggi itu, kita justru ingin mereka hidup dengan lebih apa adanya, dengan lebih bisa menikmatinya tapi adakalanya justru anak-anak menangkapnya berbeda sehingga keinginan menyenangkan hati orangtua besar sekali. Ini bisa terjadi dalam kasus-kasus yang lebih spesifik. Misalkan orangtua itu menderita, jadi si anak mempunyai dorongan yang lebih kuat, bergebu-gebu sekali untuk menyenangkan hati orangtuanya meskipun orangtua tidak pernah memintanya untuk melakukan hal seperti itu.
GS : Apakah orang-orang seperti ini juga kurang berani untuk bersaing dengan teman-temannya Pak Paul?
PG : Sering kali ya, karena takut gagal itu Pak Gunawan. Tapi kalau dia tahu dia pasti bisa, dan dia tahu level kompetitornya itu jauh di bawah dia, dia berani. Tapi kalau dia melihat kompetiornya itu mungkin setara atau sedikit di bawah dia, wah ketegangannya itu akan langsung meninggi.
Karena dia sudah membayangkan dia pasti akan kalah. Jadi yang dia lihat bukan prosesnya bahwa dia harus melawan atau dia harus bersaing tetapi yang dia fokuskan adalah pada hasil akhir, yaitu pasti kalah dan kalau kalah saya pasti malu; kalau saya merasa malu saya tidak bisa lagi ketemu dengan orang, saya harus menyembunyikan diri. Dunia hancur runtuh semuanya, itu pemikiran-pemikiran pribadi yang mudah cemas.
GS : Mungkin ada sesuatu yang ditakutkan pada pengalaman masa kecilnya Pak Paul?
PG : Bisa jadi Pak Gunawan, jadi ada orang-orang yang memang pada masa kecil mengalami trauma-trauma tertentu; misalkan ketakutan itu muncul karena orangtua sering bertengkar, karena sering berengkar si anak akhirnya menyimpan trauma.
Jangan sampai hari ini orangtua bertengkar, jangan sampai malam ini orangtua bertengkar, tapi seringnya bertengkar. Jadi akhirnya setiap hari begitu si anak di rumah dan melihat ada papa dan mamanya-mungkin orangtuanya belum bertengkar tapi dia sudah langsung dilanda kecemasan. Karena apa? Kemarin-kemarin itu yang terjadi yaitu orangtua bertengkar lagi dan bertengkar lagi jadi sekarang meskipun orangtua belum bertengkar, si anak sudah langsung mengantisipasi bahwa tidak lama lagi orangtua pasti bertengkar. Jadi kita bisa bayangkan akhirnya si anak hari lepas hari hidup dalam penantian akan pertengkaran orangtua. Dan perasaan apakah yang muncul kalau kita dalam penantian pertengkaran orangtua? Sudah tentu perasaan cemas. Inilah yang akan menjadi muatan atau isi jiwa si anak, dan bayangkan kalau dia tinggal bersama dengan orangtua itu berbelasan tahun, hari lepas hari jiwanya diisi oleh ketakutan atau kecemasan ini. Tidak heran setelah dewasa dia akan mudah sekali cemas, bukan hanya dia mendengar orang mau bertengkar dia cemas tapi apa pun yang mengganggu ketenangan atau kestabilan atau equilibriumnya atau apa pun yang membuat dia sedikit lebih tegang itu benar-benar sudah menjungkirbalikkan dia.
ET : Karena memang begitu banyak hal yang susah dia ramalkan, apakah hari ini akan berjalan baik atau tidak, benar-benar tidak bisa diperkirakan sebelumnya.
GS : Dan dia bawa sampai sekarang, jadi meskipun dia tidak tinggal dengan orangtua kalau kita ajak ngomong dia mengerti. "Saya tahu papa-mama tidak ada di sini, saya tahu papa-mama kalau bertengkar saya tidak tahu karena jauh di luar kota, tapi karena sudah terbiasa mengantisipasi adanya masalah, ketegangan atau pertengkaran; jadi dia pun sekarang hari lepas hari itu selalu dalam siaga I. Dirinya selalu siaga I kalau-kalau nanti akan ada yang tidak beres, akan ada yang berantakan, jadi dia selalu berjaga-jaga. Otomatis kalau orang selalu berjaga-jaga, bereaktif sekali, mudah sekali tegang dan cemas. Itulah salah satu penyebabnya kenapa orang-orang ini begitu mudah dilanda oleh kecemasan.
GS : Mungkin ada faktor lain Pak Paul yang menjadi penyebabnya?
PG : Ada juga yang dari lahiriah, artinya kita harus mengakui ada orang-orang tertentu yang dilahirkan dengan perasaan yang sangat sensitif, peka sekali. Kalau kita adalah orangtua dan mempunyi anak yang memang peka, kita akan tahu.
Sebab kalau kita naikkan nada suara kita sedikit saja, anak itu akan menangis, akan ketakutan. Pada hal kakaknya, mungkin kita harus berteriak-teriak, itu pun tidak takut tapi si adik baru kita naikkan suara kita dia langsung menangis ketakutan. Jadi apa yang bisa kita simpulkan, memang orang tidak sama. Ada anak yang lahir dengan perasaan yang lebih kuat, tidak mudah cemas; ada anak-anak yang perasaannya halus, sensitif sekali sehingga anak-anak yang perasaannya halus ini memang akan mudah merasakan segala jenis perasaan termasuk di dalamnya kecemasan. Jadi kalau orang lain merasakan kecemasan misalnya 5 kilo, dia akan merasakan kecemasannya 15 kilo, karena perasaannya itulah yang memang sudah sensitif.
ET : Jadi saya bayangkan kalau anak-anak memang pada dasarnya sudah sensitif, kemudian ditambah lagi mengalami pengalaman-pengalaman buruk di masa kecilnya, kecemasannya itu berlapis ya Pak?
PG : Dan memang itu satu paket, maksudnya kalau anak itu perasaannya tidak terlalu sensitif, waktu dihadapkan dengan orangtua yang terus bertengkar mungkin ada rasa takut tapi biasanya anak-ana ini mengembangkan perasaan yang sebaliknya.
Bukannya akhirnya tertindih oleh ketakutan namun dia akan dikuasai oleh kemarahan. Itu sebabnya dalam rumah yang sama kalau orangtua bermasalah sering bertengkar, akan ada reaksi-reaksi yang berbeda dari anak-anak. Ada anak yang malahan menjadi beringasan, sering berkelahi, sering marah, kalau marah banting barang, penuh dengan kekerasan; tapi ada lagi dalam rumah yang sama ada anak yang justru menjadi depresi sekali, mudah sekali cemas, sering kali dihantui oleh ketakutan. Apa yang terjadi, bukankah kedua-duanya diperhadapkan dengan pertengkaran orangtua yang sama. Yang membedakan sebetulnya adalah modal perasaan itu. Anak-anak yang perasaannya halus sewaktu diperhadapkan dengan rumah tangga yang penuh dengan konflik benar-benar makin tertusuk-tusuk, perasaannya makin terobek-robek. Sehingga alat pertahanannya untuk menjaga diri jangan sampai cemas runtuh. Kalau yang perasaannya tidak sensitif, dia lebih bisa melindungi dirinya; dia lebih bisa cuek tidak terganggu oleh ketegangan itu. Malah karena dia sering merasa orangtuanya bertengkar terus, reaksinya yang muncul adalah kemarahan.
ET : Tapi mungkin di dalam keluarganya tidak ada pertengkaran tapi sering berpindah-pindah atau misalnya pengasuhnya sering berganti-ganti, ini berpengaruh juga atau tidak pada kecemasan anak?
PG : Bisa Ibu Ester, jadi perpisahan dengan orang-orang yang kita kasihi, perpisahan dengan tempat yang kita sudah merasa nyaman dan kenal; kalau terjadi terlalu sering, di masa pertumbuhan si nak memang bisa akhirnya menimbulkan kecemasan.
Kenapa? Sebab perpisahan ini seperti dua hal atau dua benda yang telah bersatu kemudian dipisahkan. Jadi adanya perobekan, sudah tentu ini bukan perobekan secara fisik tapi perobekan secara emosional. Jadi ada dalam dirinya yang tercabik keluar atau yang diputuskan, ini menimbulkan luka, kesedihan. Sehingga kalau ini terjadi terlalu sering, maka akan terjadi perobekan yang makin hari makin banyak. Sebab belum sembuh terjadi lagi perpisahan, perobekan lagi. Lama-kelamaan si anak bisa juga mengembangkan sikap takut kalau-kalau ini terjadi lagi, jadi akhirnya dia penuh dengan kecemasan karena sudah membayangkan nanti akan terjadi perpisahan lagi dengan orang yang dikasihinya. Tapi ada juga yang lain tentang perpisahan, misalkan orangtua meninggal dunia atau bercerai dan sebagainya; kalau ini terjadi pada anak sewaktu masih kecil biasanya ini memang akan menimbulkan dampak kecemasan pada si anak. Sebab kenapa? Sebab figur orangtua itu figur pengasuh, figur yang memberikan rasa aman; nah waktu orang itu tidak ada lagi rasa amannya ikut terbawa pergi. Jadi dia kehilangan rasa aman tersebut; yang akan muncul dalam hatinya ketika rasa aman turut pergi dengan orang yang dikasihinya adalah dia merasa takut, dia merasa cemas. Ini yang sering kali terjadi, jadi kalau ini terjadi pada anak pada usia kecil memang cenderung dampaknya bisa bertahan untuk jangka waktu yang lama.
ET : Sekali pun pada dasarnya anak itu bukan anak yang sensitif Pak Paul?
PG : Meskipun anak itu bukan anak yang sensitif, sebab memang seyogianya anak kecil itu mendapatkan asuhan dari figur pengasuh yang akan bersamanya. Ini benar-benar sebuah pelindung, pemberi rsa aman dan sebaiknya permanen.
Sewaktu orangtua ada; rasa aman itu sudah terbentuk, nah sewaktu orangtua pergi atau meninggal dunia; dia pergi membawa rasa aman tersebut. Nah si anak kehilangan rasa aman. Dan dampaknya yang lain adalah orang ini adalah orang yang mengasihi dia misalkan mamanya atau papanya mengasihi dia sekali; terus sekarang orang yang mengasihi pergi nah waktu kita kehilangan orang yang mengasihi kita, itu akan menggoncangkan sistem kehidupan kita. Tiba-tiba kita merasa takut kehilangan orang yang kita kasihi, hidup kita tidak lagi komplit atau tidak lagi utuh seperti ada yang terhilang, ini menimbulkan gejolak dan akhirnya kecemasanlah yang menjadi perasaannya.
GS : Ini tentu sesuatu yang tidak enak buat seseorang yang menderita kecemasan seperti ini, bagaimana dia bisa mengatasi rasa cemasnya itu?
PG : Pertama, memang dia harus mengakui bahwa dia memiliki masalah ini, kedua dia mesti melihat ke belakang mengetahui kenapa dia bisa menjadi cemas seperti ini. Yang ketiga, dia mesti melawandan berkata sekarang pilihan saya dua, saya terus tunduk pada masa lalu saya yaitu penyebab-penyebab ini atau saya melawannya.
Kalau saya memang terlalu sensitif, mudah peka, sekarang pilihan saya dua; saya akan membiarkan diri saya terus-menerus peka atau saya mau belajar menguatkan perasaan saya sehingga saya bisa tidak terlalu terganggu oleh perasaan cemas ini. Jadi mesti ada sebuah keputusan untuk melawannya, sudah tentu bantuan orang atau teman akan sangat berfaedah. Kita bisa minta teman berbicara dengan kita, itu akan menguatkan kita melewati masa kecemasan. Sebab kecemasan yang disimpan sendiri, makin mengguncangkan; kecemasan yang dibagikan, diceritakan atau dibicarakan akan lebih tidak terlalu memberatkan hati kita.
GS : Padahal tadi dikatakan bahwa orang-orang seperti ini akan sulit sekali membuat keputusan, kalau dia harus memutuskan meninggalkan kecemasan ini, apakah itu tidak sulit?
PG : Sudah tentu merupakan sebuah pergumulan, jadi melihatnya hari lepas hari. Kalau hari ini harus mengambil keputusan, hari inilah mengambil keputusan, kalau hari ini dia merasa cemas, hari ni pula dia melawannya.
Nanti bagaimana, mungkin besok dia gagal; jadi hari per harilah dia lawan, dia kuatkan hidupnya, dia kuatkan dirinya. Sudah tentu pada akhirnya dia harus mempunyai pegangan yang kuat di dalam Tuhan, kalau tidak dia akan mudah goyah.
GS : Bagaimana kalau pasangan kita mempunyai kecemasan yang belebihan ini?
PG : Kita mungkin bisa berkata, "Kalau ada apa-apa coba ngomong, coba ceritakan." Nah waktu dia berbicara kita misalnya bisa memberikan dia masukan atau petunjuk. "OK........., sekarang coba amu mengambil nafas yang panjang kemudian keluarkan perlahan-lahan.
Ok, sudah tenang kalau sudah tenang coba kita lihat lagi masalahnya, atau kita lihat lagi pilihannya. Yang pertama ini, coba kita lihat yang pertama ini masalahnya ini dan risikonya ini. Coba yang kedua dan seterusnya. Jadi kita membimbing dia langkah demi langkah sehingga itu menolong mereka kalau lain waktu kita tidak ada disebelahnya untuk juga menenangkan diri seperti kita waktu menenangkan diri.
GS : Itu kita memberikan peran perlindungan tadi Pak Paul?
PG : Dan menolong dia untuk memilah, sebab orang yang cemas mencampur adukkan semuanya. Jadi dengan tenang dia lebih bisa memilah. Pertama kita memang membimbingnya untuk tenang, kedua menolog untuk berpikir dengan lebih tenang.
Sehingga bisa memilah-milah; kalau sudah dipilah dan dia melihat lebih jelas dia akan lebih tenang kembali.
GS : Orang-orang seperti itu mungkin membutuhkan rasa aman di mana pun dia berada. Kadang-kadang orang seperti ini kalau tinggal di lingkungan yang tidak dia kenal, hampir semua dia tidak kenal dia akan merasa gelisah sekali.
PG : Betul, meskipun belum ada apa-apa yang terjadi, orang-orang itu mungkin tidak melakukan apa-apa. Dia perlu waktu yang agak panjang untuk merasa tenang kembali. Biasanya kalau rumah tangg kita baik-baik saja dan anak-anak kita seperti itu, besar kemungkinan inilah yang dia bawa sejak lahir.
GS : Dalam hal ini adakah firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?
PG : Firman Tuhan saya ambil dari Amsal 12:25, "Kekuatiran dalam hati, membungkukkan orang tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia." Jadi firman Tuhan berkata dengan jelas bahwa kekuatirn membuat orang bungkuk, artinya terhimpit oleh beban sehingga berat sekali hidupnya.
Apa yang dia butuhkan? Perkataan yang baik menggembirakan dia, maka kalau ada teman atau pasangannya; maka teman atau pasangannya itulah yang memberikan kata-kata yang baik, yang positif, yang menenangkan. Itu akan memberikan dia sukacita sehingga akhirnya beban itu tidak lagi berat menindihnya.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini, kami percaya akan ada banyak orang yang tertolong dengan mendengarkan atau melakukan apa yang Pak Paul sudah sampaikan juga Ibu Ester terima kasih telah bergabung dalam perbincangan kami kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Pribadi yang Cemas". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ada orang yang sukar mengambil keputusan. Mereka terus menimbang-nimbang dan tidak dapat menentukan pilihannya. Biasanya mereka mencemaskan segala sesuatu dan akhirnya sukar bertumbuh dalam iman. Berikut kita akan melihat ciri-ciri kepribadian cemas dan penyebabnya.
Ciri Kepribadian Cemas
Orang yang memiliki kecemasan yang tinggi biasanya sukar mengambil keputusan karena mengkhawatirkan banyak hal. Biasanya fokus perhatiannya tertuju pada kegagalan dan segala tindakannya merupakan upaya menghindar dari kegagalan.
Orang yang memiliki kecemasan yang tinggi pada umumnya mudah tegang dan proses pengambilan keputusan merupakan masa yang menegangkan. Biasanya dalam mengambil keputusan, ia sukar berkonsentrasi karena pikirannya cenderung sudah tegang dahulu.
Orang yang memiliki kecemasan yang tinggi berusaha mengelak dari tanggung jawab. Baginya, tanggung jawab memberinya beban tambahan dan ini menambah stres.
Penyebab
Kecemasan dapat timbul dari bawaan lahiriah yakni perasaan yang sensitif. Karena kepekaan yang tinggi, ia mudah dipengaruhi situasi di luar dirinya. Apa pun yang terjadi dapat dirasakannya, termasuk kecemasan.
Kecemasan yang tinggi dapat pula timbul sebagai akibat hidup di bawah ketakutan akan kegagalan. Biasanya anak yang terus dituntut untuk berprestasi cenderung mengembangkan ketakutan akan kegagalan. Pada akhirnya ia terobsesi untuk menjadi sempurna dan menjauh dari risiko kegagalan.
Kecemasan yang tinggi dapat muncul dari trauma masa kecil. Pertengkaran orangtua yang buruk sering kali menjadi penyebab kecemasan yang tinggi pada anak. Konflik menakutkan dan menegangkan anak; jika ini terus terjadi, berarti anak terus menyerap ketegangan. Sebelum terjadi pertengkaran, anak sudah mengantisipasinya dan mulai merasa tegang.
Kecemasan tinggi dapat pula timbul dari perpisahan yang terjadi pada masa kecil yang mengakibatkan hilangnya figur pengasuh dalam hidupnya. Kehadiran figur pengasuh yang mengayomi anak akan menciptakan rasa aman. Juga, rasa dikasihi akan mengusir rasa takut. Itu sebabnya begitu berpisah dengan figur pengasuh anak merasa cemas. Jika ini terjadi di masa awal dan tak pernah terobati, kecemasan dapat terus dibawa hingga dewasa.
Firman Tuhan
Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia. Amsal 12:25
Khusus bagi orang yang mudah cemas, pengambilan keputusan dapat menjadi saat yang menegangkan. Ia takut salah dan tidak berani menanggung akibatnya; acap kali ia berlindung di balik orang lain agar tidak usah mengambil keputusan. Namun ia tidak dapat menghindar terus menerus; ia pun harus belajar membuat keputusan sendiri. Di bawah ini diberikan beberapa masukan untuk menolong orang yang mudah cemas mengambil keputusan.
Berdoalah terlebih dahulu sampai dapat berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Dengan kata lain, jangan asal berdoa melainkan sungguh-sungguh berdoa hingga kita dapat berkata, "Apa pun yang terjadi, akan ada Tuhan yang mengatur segalanya."
Setelah berdoa dan berserah, barulah berkonsultasi dengan orang lain guna mendapatkan masukan. Sekarang, apa pun masukan yang kita terima, kita tahu bahwa semua berada dalam bingkai penjagaan Tuhan. Jika kita memulai dengan bertanya kepada orang lain terlebih dahulu, kita dengan mudah dibuat bingung dan ragu terus menerus.
Sering kali memutuskan sesuatu merupakan proses penentuan pilihan. Dengan kata lain, kita harus memilih dari sejumlah alternatif yang tersedia. Ingatlah kebenaran ini: Apa pun keputusannya, Tuhan tetap dapat bekerja melaluinya. Selama kita telah mempertimbangkan segalanya dengan berhati-hati, sebenarnya tidak menjadi soal manakah yang akan kita pilih sebab Tuhan dapat bekerja di dalam-bukan di luar-keputusan itu.
Pada dasarnya hampir tidak ada pilihan yang terbaik; yang ada ialah pilihan yang lebih baik. Biasanya kita menemukan sejumlah hal yang baik dan kurang menguntungkan pada setiap alternatif. Jadi, lihatlah manakah yang lebih baik dan jangan menunggu sampai yang "terbaik" itu datang.
Gunakan kriteria prioritas terbatas. Maksud saya, untuk saat ini, lihatlah apakah yang lebih baik bagi kita. Selain pernikahan, jarang sekali kita mengambil keputusan untuk jangka yang sangat panjang; kebanyakan pilihan terbatasi oleh waktu dan kondisi. Jadi, pertimbangkanlah kegunaan dan kepentingannya untuk saat ini saja.
Jangan takut untuk merasa ragu setelah membuat keputusan; itu adalah respons yang wajar. Sebaliknya, jangan cepat mengubah keputusan kecuali ada informasi baru yang sebelumnya luput dipertimbangkan. Di sini penting bagi kita untuk tidak mengambil keputusan pada menit terakhir; kita mesti menyediakan waktu cukup untuk melewati proses keraguan pasca-keputusan.
Firman Tuhan
Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat bahwa kita ini debu. (Mazmur 103:13-14)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Kepercayaan diri akan muncul pada diri anak apabila ada bekal atau bahan-bahan yang positif yang dia terima dari orangtuanya atau lingkungan di mana dia ada, di gereja misalnya. Dan mengenai bahan apa saja yang diperlukan topik ini akan membahasnya.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan kali ini kami akan mengajak saudara sekalian untuk berbincang-bincang tentang sebuah topik yaitu "Kepercayaan Diri". Kita percaya bahwa acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) GS : Pak Paul berbicara tentang kepercayaan diri, suatu bagian yang penting di dalam kehidupan kita ini. Tetapi pada dasarnya aspek-aspek apa saja yang ada dalam kepercayaan diri itu?
PG : OK! Sebetulnya ada 2 aspek besar Pak Gunawan, yang pertama adalah aspek diri itu sendiri dan yang kedua adalah aspek mempercayai diri.
GS : Yang Pak Paul maksudkan dengan aspek diri itu apa Pak Paul?
PG : Sebelum kita bisa mempunyai kepercayaan diri alias sebelum kita bisa mempercayai diri kita, mempercayai diri maksudnya mempercayai pertimbangan kita, mempercayai kemampuan kita. Kita meti mempunyai diri terlebih dahulu, nah mungkin konsep ini sedikit membingungkan sebab mungkin ada yang berkata kami semua mempunyai diri jadi apa maksudnya dengan memiliki diri terlebih dahulu.
GS : Tapi yang dimaksud 'kan bukan tubuh jasmani?
PG : Bukan, jadi tepat sekali yang dimaksud dengan diri bukan hanya tubuh jasmani namun yang lebih penting lagi adalah substansi dari diri kita ini. Yaitu siapa kita menurut pandangan kita dn juga yang terpenting adalah mempunyai suatu kekuatan dalam diri kita sehingga waktu kita mengarungi hidup kita tidak merasa sebagai orang yang tersesat, terkatung-katung tanpa arah, sebab kita mempunyai suatu substansi atau suatu isi dalam diri kita itu.
Nah mungkin yang langsung timbul dalam benak kita semua adalah dari mana asalnya diri itu, apakah semua orang otomatis lahir dengan diri yang seperti yang saya gambarkan, ternyata tidak Pak Gunawan. Itulah sebabnya dalam dunia ini kita bisa menyaksikan berbagai problem yang berkaitan dengan diri manusia, kita bisa melihat misalnya ada orang-orang yang mantap, ada orang-orang yang tidak mantap. Nah mungkin di antara para pendengar juga ada yang mengalami masalah seperti ini yaitu merasa diri kosong, hampa tidak tahu arah hidup dan sebagainya. Nah diri itu sebetulnya berasal dari bahan kalau boleh saya gunakan istilah bahan, bahan yang kita serap dari lingkungan kita dan terutama adalah dari keluarga kita Pak Gunawan. Jadi yang dimaksud dengan bahan adalah interaksi, pergaulan antara kita dengan orang tua kita. Yang saya maksud dengan interaksi atau pergaulan adalah hidup bersama-sama dengan orang tua, melihat perilaku mereka, dididik oleh mereka, dinasihati oleh mereka, tertawa dengan mereka jadi semua itu adalah masukan-masukan yang akhirnya mengisi kita, mengisi diri kita sehingga diri kita itu tidak kosong, kira-kira begitu.
IR : Nah Pak Paul, mungkin Pak Paul bisa memberikan contoh yang konkret apa tadi yang dikatakan bahan?
PG : OK! Misalkan kita terlambat pulang, kita sudah berjanji kepada orang tua akan ada di rumah jam 09.00 malam ternyata kita lambat pulang jam 11.00 malam, orang tua marah. Nah waktu orang ua marah kemudian mengatakan satu kalimat, "Engkau harus belajar menepati janjimu, sebab orang hanya akan percaya kepada engkau kalau engkau bertanggung jawab dengan janjimu," nah itu adalah bahan Bu Ida.
Bahan yang akhirnya membentuk dirinya, sebab si anak tiba-tiba saat itu disadarkan akan satu hal yang mungkin dulunya dia sepelekan yaitu bahwa perkataannya atau janjinya itu adalah sesuatu yang akan dipegang oleh orang dan menjadi bahan penilaian orang terhadap dirinya. Kalau orang tuanya tidak pernah berkata apa-apa misalkan dia hidup dalam rumah tangga yang kacau, orang tua tidak peduli dengan dia pulang jam 11.00, pulang jam 12.00 tidak ada yang menegur dia sama sekali dia akan kehilangan pelajaran berharga tersebut, nah ini yang saya maksud dengan bahan. Nah anak yang kurang sekali bahan-bahan seperti ini juga akan memiliki kekosongan, tapi anak yang banyak menerima bahan-bahan seperti ini dia akan menerima banyak bekal, isian untuk dirinya itu.
GS : Setelah bahan-bahan itu dimiliki oleh seorang anak pemuda atau remaja itu, bagaimana dia itu mengolah bahan-bahan itu Pak Paul supaya bisa menambah kepercayaan dirinya. Tentunya itu yang diharapkan.
PG : Nah bahan-bahan itu sebetulnya tidak perlu diolah secara sadar karena bahan-bahan itu juga ditanamkan secara tak sadar maksudnya tak sadar itu tak terencana Pak Gunawan (GS : tidak ada istem tertentu untuk itu ya) betul tidak diberikan secara formal.
Nah pengolahan itu akan berlangsung juga secara alamiah yakni sewaktu anak itu bergaul di luar, sewaktu dia itu hidup dengan teman-temannya di sekolah atau terlibat dalam pelayanan di gereja, melalui pergaulan, interaksi, persahabatan mungkin juga konflik dengan teman dan sebagainya bahan-bahan yang dia terima itu akan mengalami pengolahan. Nah otomatis nanti bahan yang kuat akan menolong dia untuk bisa terjun ke masyarakat dengan lebih kuat. Saya berikan contoh yang lain mengenai bahan, yakni bahan cinta, bahan kasih, mungkin banyak orang yang tidak menyadari bahwa kita ini mengasihi diri kita karena kita terlebih dahulu dikasihi, nah ini memang firman Tuhan, Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita. Nah sebetulnya kita menyukai diri kita atau tidak pada awalnya sangat bergantung dari perlakuan orang tua. Anak itu lahir ke dunia benar-benar tidak memiliki konsep apapun tentang dirinya, tidak tahu dirinya itu positif atau negatif, dia tidak bisa berkata dia suka atau tidak suka tentang dirinya, tidak tahu. Nah bagaimanakah anak itu sampai bisa menyukai atau tidak menyukai dirinya, sebetulnya ada 2 faktor besar faktor yang umum yang sering kita pikirkan atau sering kita lihat terutama di kalangan anak remaja adalah anak itu menyukai dirinya. Kalau dia mencapai standar yang ditetapkan oleh lingkungannya terutama lingkungan remaja. Misalkan remaja sekarang menekankan tubuh yang langsing, nah otomatis kalau tubuhnya tidak langsing dia akan merasa tidak begitu sreg, tidak begitu menyukai dirinya atau penampilannya. Tapi itu adalah salah satu bagian saja, salah satu bagian yang memang berpengaruh dalam pertumbuhan diri si anak. Bagian yang lebih penting yang lebih awal juga adalah pandangan atau tanggapan orang tua terhadap dirinya itu. Kalau sejak kecil dia dicintai, dikasihi, dia disukai, dia dinikmati oleh orang tuanya dia akan belajar menyukai dan menikmati dirinya. Jadi anak belajar mengasihi diri dari kasih orang tua terhadap dirinya, kalau yang dia terima justru sering kali kemarahan, kebencian, orang tua rasanya sebel melihat dia dan sebagainya, orang tua tidak meluangkan waktu baginya, nah hal-hal itu menjadi isyarat bahwa dia itu tidak dikasihi, bahwa dia itu tidak penting dalam kehidupan orang tuanya, bahwa kehadirannya di dunia ini bukanlah sesuatu yang sangat berharga bagi orang tuanya. Nah akibatnya dia itu mulai merasa tidak begitu nyaman dengan dirinya, tidak mempunyai pandangan yang baik terhadap dirinya, nah ini adalah salah satu bahan. Jadi kalau anak itu dicintai dia menerima bahan yang banyak, bahan yang kuat, dia terjun ke sekolah ke masyarakat yang lebih luas, di sekolah temannya meledek dia misalnya e...kamu anak baru tidak bisa apa-apa, anak-anak 'kan biasa suka iseng. Kalau bahannya kuat, bahan yang dia terima sudah cukup banyak dan positif dari rumah, ejekan seperti itu sudah pasti mengganggu dia. Tapi tidak menghancurkan, tidak membuat dia menjadi anak yang bingung, tidak mau sekolah dan sebagainya, karena dia tahu diri dia, dia mempunyai suatu kekuatan untuk melawan tekanan dari luar. Nah anak yang kosong, yang hampa bahan waktu mendapatkan tantangan atau tekanan di luar akan mengalami kesukaran untuk melawan karena kekuatannya itu tidak ada.
IR : Jadi bahan itu bisa mengakibatkan hal-hal yang positif dan hal-hal yang negatif Pak Paul?
PG : Betul Bu Ida, jadi bahan yang positif menambah kekuatannya, bahan yang negatif justru akan menghancurkan dirinya. Jadi memang ada 2 aspek di situ, aspek yang pertama adalah kekurangan bhan yang positif.
Nah ada rumah tangga yang hampa sekali bahan positif karena misalnya orang tua jarang bergaul dengan anak, dua-dua sibuk pulang malam, jarang memarahi anak, jarang mengungkapkan cinta, menghabiskan waktu dengan anak, ngobrol, ketawa dengan anak, berdiskusi dengan anak, nah jarang sekali kesempatan itu ada karena orang tua sibuk. Yang negatif juga tidak ada namun itu juga menjadikan defisit, kekurangan dalam diri anak. Ada tipe yang kedua yaitu banyak negatifnya artinya apa, anak dikritik, anak dituntut secara berlebihan, dimarahi semau-maunya dan sebagainya, nah itu adalah interaksi atau bahan-bahan negatif yang diserap oleh si anak. Sehingga si anak akhirnya memiliki diri yang penuh dengan perasaan-perasaan negatif.
GS : Jadi dalam diri anak itu tadi yang sudah mendapatkan bahan yang baik tentunya dari rumah dia lebih tahan menghadapi tantangan-tantangan di luar begitu maksudnya Pak Paul. Dan itu menjadi bekal dia untuk melanjutkan kehidupannya. Nah ada orang yang mengatakan bahwa pengalaman hidup itu menjadi suatu yang penting bagi kehidupan seseorang, tetapi bagaimana kalau orang tadi tidak terlalu menghiraukan pengaruh-pengaruh dari luar itu Pak Paul, 'kan ada orang yang agak acuh, tidak peduli dikata-katai apa ya dia acuh saja, jalan terus, itu 'kan dampaknya tidak terlalu terasa?
PG : Memang akan ada orang yang seperti itu Pak Gunawan, jadi mereka mempunyai ketahanan yang kuat, tahan untuk menderita, tahan untuk tidak diperhatikan dan sebagainya. Dan secara sekilas aau penampilan luar, kita akan melihat orang ini OK! Bisa berfungsi di masyarakat dengan relatif baik.
Namun sesungguhnya kalau kita amati dan hidup serumah dengan dia kita akan melihat titik-titik rawan Pak Gunawan. Titik rawan seperti apa misalnya, misalkan ada orang yang kosong, anak yang dibesarkan dalam rumah di mana tidak dapat bahan-bahan dari orang tua. Tapi karena ketabahannya dia bisa bekerja dengan mati-matian dan misalnya berhasil dalam hidup, akhirnya dia mengalami musibah dalam masa krisis moneter ini misalkan dia bangkrut nah karena dalam dirinya itu sebetulnya ada kehampaan yang akhirnya ditutupi dan diisi oleh keberhasilannya di luar seolah-olah memang selama dia berhasil semuanya baik-baik saja tapi waktu usahanya jatuh dia benar-benar collapse, dia benar-benar hancur. Sebab bagi dia pekerjaan menjadi begitu penting, sedangkan bagi orang lain yang mendapatkan banyak dari lingkungan dari keluarganya dan dia tahu siapa dirinya bahwa dia berharga bukan karena pekerjaan atau uangnya tetapi karena siapa dia dalam Tuhan Yesus dan dia tahu banyak saudara-saudara seiman yang dekat dengan dia, orang tua yang mendukung dia, saudara yang mengasihi dia. Nah dia memang akan pasti goncang juga kehilangan pekerjaan tapi kita akan melihat ketabahannya itu bisa berbeda, dia tidak akan terlalu bereaksi, dia itu lebih bisa menerima dirinya bahwa diri dia OK, meskipun tidak ada pekerjaan.
GS : Jadi tetap rawan ya Pak Paul, jadi kepercayaan dirinya juga semu, sehingga kalau dia mengalami kegoncangan yang hebat dia hancur.
PG : Betul, dan ini sering kali nampak Pak Gunawan dalam hubungan suami-istri, misalkan dia mendapatkan kritikan dari istrinya wah dia tidak tahan, dia bisa marah sekali.
GS : Tadi Pak Paul katakan bahwa untuk membangun kepercayaan diri ada 2 aspek besar Pak Paul, yang satu adalah aspek diri yang baru saja kita bicarakan, lalu aspek yang kedua tadi apa Pak Paul?
PG : Itu aspek mempercayai diri, jadi mempercayai kemampuan, kebisaan, nah ini bersumber dari satu hal yaitu kita mesti miliki yaitu penilaian tentang diri yang lumayan positif. Nah sekarangadalah penilaian kitanya, apakah kita sekarang bisa mempercayai keputusan yang diambil oleh diri kita ini.
Nah ada orang yang senantiasa ragu-ragu untuk mengambil keputusan A susah sekali beripikir berhari-hari, nah setelah mengambil keputusan berpikir lagi berhari-hari. Saya ini benar atau tidak, tepat atau tidak tepat dan sering kali ditandai oleh pemikiran tentang pandangan orang lain, nanti orang menilai saya bagaimana, nanti akibatnya bagaimana dan sebagainya. Jadi kerapuhan penilaian diri ini sangat tampak pada keputusan yang telah diambil yaitu sering kali keputusan itu diambil bukan berdasarkan apa yang kita pikir, apa yang telah kita timbang dengan baik-baik namun kita sangat dipengaruhi oleh faktor akibat. Nah saya bukan berkata dalam mengambil keputusan kita tidak mempertimbangkan akibat, kita harus mempertimbangkan segala faktor. Nah tapi kepercayaan diri yang lemah sering kali muncul atau terlihat dalam kasus seperti ini jadinya, terlalu memikirkan pandangan orang, penilaian orang, nanti akibatnya bagaimana, nanti orang melihat saya bagaimana, nanti ini bagaimana sehingga akhirnya keinginan diri, ide dari diri sendiri tertindih dan tidak muncul begitu.
(2 ) IR : Pak Paul tentunya ada saran bagaimana mengatasi orang yang mempunyai tipe seperti ini?
PG : OK! Jadi kalau memungkinkan memang kita ini mesti mengisi diri kita dulu. Nah sebelumnya kita bisa mengisi diri kita, memang kita harus pertama-tama jelas dulu siapa diri kita di hadapa Tuhan.
Sebab sebelum kita tahu siapa kita di hadapan Tuhan saya kira kita akan mengalami kesulitan untuk membangun diri kita yang sudah terlanjur kosong itu, jadi nomor 1 kita mesti bereskan dulu relasi kita dengan Tuhan. Nah Alkitab penuh dengan firman Tuhan yang menyatakan bahwa kita adalah anak Tuhan, kita ini disebut sebagai teman Tuhan, kita ini juga disebut sebagai pewaris kerajaan Tuhan. Kita ini benar-benar dilihat Tuhan secara khusus dan spesial. Nah dengan kata lain bahwa kita mesti melihat bahwa kita ini diciptakan Tuhan bukan karena kebetulan, memang kita muncul dari orang tua, memang kita dilahirkan oleh mereka tapi kehadiran kita di dunia ini ditetapkan oleh Tuhan, bahwa Tuhan memang menghendaki kita ada. Dan kalau Tuhan menghendaki kita ada berarti Tuhan mempunyai rencana dengan kehadiran kita ini dan kita sebaiknyalah hidup sesuai dengan rencana Tuhan itu, nah itu memang adalah dasarnya Bu Ida. Dan yang kedua adalah kita mulai mengisi diri kita dengan pergaulan yang positif, kita mencari teman yang positif yang membangun, kita mencari lingkungan yang positif, dan mulai membangun relasi dengan baik dan dalam. Sehingga kita akan mengisi kembali diri kita yang sudah terlanjur kurang itu atau kosong itu, nah itu langkah pertamanya Bu Ida.
GS : Kalau disebut itu langkah pertama yang berikutnya apa Pak Paul?
PG : Yang berikutnya adalah menyangkut aspek tadi, yaitu mempercayai diri. Nah untuk bisa mempercayai diri atau mempertimbangkan keputusan diri kita memang perlu pengalaman sukses, pengalama keberhasilan dan juga perlu tanggapan dari orang lain bahwa kita itu berhasil, sebab tidak cukup hanya kita saja berkata o.......saya
bisa, orang lain harus memberikan pengakuan yang sama. Nah dari dua sumber inilah kita akhirnya perlahan-lahan mulai membangun kepercayaan diri.
GS : Jadi sama seperti tadi pembentukan aspek diri itu juga tergantung dari bahan yang kita terima banyak atau sedikitnya, nah masalahnya sekarang untuk aspek mempercayai kemampuan diri Pak Paul, kalau terlalu banyak atau sering kita mendapatkan yang positif ada orang-orang tertentu yang dikatakan terlalu percaya diri. Nah itu sesuatu yang konotasinya juga negatif, nah itu bagaimana untuk menghindari kita tetap percaya diri tapi tidak terlalu percaya diri Pak Paul, artinya tidak sampai berlebihan sehingga mengabaikan Tuhan bahkan merasa semua bisa diatasi.
PG : Saya senang sekali dengan satu ayat di Firman Tuhan yang berkata: "Pengetahuan mengangkuhkan diri, menyombongkan diri, cinta kasih membangun." Dalam bahasa Inggrisnya itu knowledge pop ff love edifies.
Pop off itu artinya adalah menggelembung, jadi pengetahuan cenderung membuat kita itu menggelembung saya tahu yang benar, saya tahu saya benar tapi yang Tuhan selalu tekankan bukanlah pengetahuan yang benar tapi cinta yang benar, sebab cinta itu akhirnya menjadi penyeimbang. Saya boleh tahu yang benar, saya boleh yakin bahwa saya benar tapi tatkala saya memaksakan kehendak saya dan mengabaikan sisi cinta sehingga orang lain terinjak oleh saya nah saya telah gagal di mata Tuhan. Jadi orang Kristen harus hidup dalam keseimbangan ini. Nah orang Kristen yang peka dengan suara Tuhan dan mau hidup di dalam Tuhan, sukar untuk bisa menggelembung karena sewaktu dia mulai menggelembung Roh Tuhan mulai berbicara kepada dia mengingatkan dia engkau keliru, engkau kehilangan cinta kasih. Waktu engkau membela argumenmu sampai begitu ngotot engkau itu akhirnya melukai hati orang dan waktu engkau melukai hati orang karena membela pandanganmu saja ya engkau telah kehilangan maknanya.
GS : Jadi yang paling tepat kita melihat sosok diri Tuhan Yesus sendiri Pak Paul, seorang yang betul-betul mempunyai percaya diri tapi juga memiliki kasih terhadap sesamanya, sehingga dia tidak terjatuh dalam dosa. Nah masalahnya sekarang Pak Paul, kalau seseorang itu mempunyai aspek diri yang baik dan mempunyai kemampuan untuk percaya pada dirinya sendiri yang tentu kita harapkan. Bagaimana ciri-ciri orang itu Pak Paul di dalam kehidupannya sehari-hari?
PG : Orang ini mantap, tidak mudah ragu-ragu, dia tahu arah hidupnya, dia tahu ke mana langkah hidupnya. Ini tidak berarti dia tahu pasti hari depannya tidak, namun hidupnya itu memang memilki sasaran yang jelas Pak Gunawan (GS : Ada ketenangan, ada bijaksana dalam mengambil keputusan).
Betul, dan kalau kita melihat waktu dia mengambil keputusan dan dia berhubungan dengan dunia luar, kita melihat adanya suatu kekonsistenan Pak Gunawan dalam cara berpikirnya. Waktu dia mengambil keputusan kita bisa melihat dia menggunakan prinsip-prinsip tertentu dan prinsip itulah yang akan memandu hidupnya. Dia tidak menjadi orang yang terbelah-belah dalam situasi tertentu dia tidak berubah warna seperti bunglon. Jadi kita akan melihat ada sesuatu yang kokoh dalam dirinya, yang menghantar dia melewati suatu peristiwa demi peristiwa yang lainnya.
GS : Saya percaya sekali bahwa Tuhan pun menghendaki kita bertumbuh, sering kali kita membaca di dalam Alkitab menjadi orang-orang yang betul-betul percaya diri tapi yang mempunyai kasih. Tapi itu juga merupakan suatu proses 'kan tidak bisa jadi dalam satu atau dua tahun tapi masalahnya apakah kita ada di dalam proses itu Pak Paul ya.
PG : Betul, dan kadang kala Pak Gunawan harus kita sadari dan harus saya akui juga adakalanya kita ini memasuki suatu tahap dalam hidup di mana kita tiba-tiba rasanya bingung. Ada fase bingug, fase tidak mengerti kenapa ini terjadi, kenapa saya juga begini dan saya pikir itu juga baik, dalam tangan Tuhan ini semua baik, mengajar kita untuk rendah hati lagi, bersandar lagi pada Tuhan, sebab bukankah FirmanNya berkata janganlah bersandar pada pengertian atau kemampuan kita sendiri.
GS : Baik terima kasih banyak Pak Paul, demikianlah tadi telah kami persembahkan sebuah perbincangan tentang kepercayaan diri bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada anda yang sudah berkirim surat kepada kami untuk memberikan tanggapan, tetapi kami tetap menantikan saran-saran, pertanyaan dari anda. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ada 2 aspek besar di dalam kepercayaan diri, sbb:
Aspek diri itu sendiri, yang dimaksud diri bukan hanya tubuh jasmani namun yang lebih penting lagi adalah substansi dari diri kita. Yaitu siapa kita menurut pandangan kita dan juga yang terpenting adalah mempunyai suatu kekuatan dari dalam diri kita sehingga waktu kita mengarungi hidup, kita tidak merasa sebagai orang yang tersesat, terkatung-katung tanpa arah, sebab kita mempunyai substansi atau suatu isi dari dalam diri kita.
Aspek mempercayai diri. Jadi mempercayai pertimbangan kita, mempercayai kemampuan, kebiasaan yang bersumber dari satu hal yaitu kita mesti memiliki penilaian tentang diri yang lumayan positif.
Diri sebenarnya berasal dari bahan, bahan yang kita serap dari lingkungan kita dan terutama adalah dari keluarga kita. Jadi yang dimaksud dengan bahan adalah interaksi, pergaulan antara kita dengan orangtua kita. Yang dimaksud interaksi atau pergaulan adalah hidup bersama-sama dengan orangtua, melihat perilaku mereka, dididik oleh mereka, dinasihati oleh mereka, mengisi diri kita sehingga diri kita itu tidak kosong. Misalkan anak sudah berjanji kepada orangtua akan ada di rumah jam 09.00 malam, ternyata dia pulang jam 11.00 malam. Orangtua marah, waktu marah orangtua kemudian mengatakan satu kalimat: "Engkau harus belajar menepati janjimu, sebab orang hanya akan percaya kepada engkau kalau engkau bertanggung jawab dengan janjimu," itu adalah bahan. Bahan yang akhirnya membentuk diri dia, sebab si anak-anak tiba-tiba saat itu disadarkan akan satu hal yang mungkin dulunya dia sepelekan yaitu bahwa perkataannya atau janjinya itu adalah sesuatu yang akan dipegang oleh orang dan menjadi bahan penilaian orang terhadap dirinya.
Bahan di sini bisa positif maupun negatif. Bahan yang positif dapat menambah kekuatannya, bahan yang negatif justru akan menghancurkan dirinya.
Jadi di sini ada 2 aspek:
Pertama adalah kekurangan bahan yang positif misalnya orangtua jarang bergaul dengan anak, dua-dua sibuk, pulang malam, jarang mengungkapkan cinta, ngobrol, berdiskusi dengan anak hal ini menjadikan defisit, kekurangan dalam diri anak.
Kedua , banyak negatifnya artinya anak dikritik, anak dituntut secara berlebihan, dimarahi semau-maunya dsb itu adalah interaksi atau bahan-bahan negatif yang diserap oleh si anak sehingga si anak akhirnya memiliki diri yang penuh dengan perasaan-perasaan negatif.
Aspek mempercayai diri bersumber dari satu hal yaitu kita mesti memiliki penilaian tentang diri yang lumayan positif, apakah kita bisa mempercayai keputusan yang diambil oleh diri kita ini. Ada orang yang senantiasa ragu-ragu mengambil keputusan. Kerapuhan penilaian diri sangat tampak pada keputusan yang telah diambil yaitu seringkali keputusan itu diambil bukan berdasarkan pada apa yang kita pikir, apa yang telah kita timbang dengan baik-baik namun kita sangat dipengaruhi oleh faktor akibat. Kepercayaan diri yang lemah seringkali muncul atau terlihat dalam kasus seperti ini, jadi terlalu memikirkan pandangan orang, penilaian orang nanti akibatnya bagaimana, nanti orang lihat saya bagaimana, sehingga akhirnya keinginan diri, ide dari diri sendiri tertindih dan tidak muncul.
Yang perlu dilakukan untuk mengatasi / membangun kepercayaan diri adalah:
Pertama-tama, tahu siapa diri kita di hadapan Tuhan.
Kita mesti bereskan dulu relasi kita dengan Tuhan, Firman Tuhan menyatakan bahwa kita ini adalah anak Tuhan, dilihat Tuhan secara khusus dan spesial. Dengan kata lain kita mesti melihat bahwa kita ini diciptakan Tuhan bukan karena kebetulan, memang kita muncul dari orangtua tapi kehadiran kita di dunia ini ditetapkan oleh Tuhan, Tuhan menghendaki kita ada. Itu berarti Tuhan mempunyai rencana dengan kehadiran kita ini dan kita sebaiknya hidup sesuai dengan rencana Tuhan.
Mulai mengisi diri kita dengan pergaulan yang positif, kita mencari teman yang positif yang membangun, kita mencari lingkungan yang positif dan membangun relasi dengan baik.
Kedua, mempercayai diri. Di sini kita memang perlu pengalaman sukses, pengalaman keberhasilan dan juga perlu tanggapan dari orang lain bahwa kita berhasil. Nah dari kedua hal inilah kita akhirnya perlahan-lahan mulai membangun kepercayaan diri.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Kekhawatiran itu bukanlah sesutu hal untuk dihilangkan, tetapi untuk dilawan. Di dalam materi ini dijelaskan tentang hal-hal apa saja yang dapat kita lakukan untuk melawan kekhawatiran.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di manapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S.Th, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Melawan Kekhawatiran", kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, sekalipun setiap orang itu punya rasa khawatir tetapi rupa-rupanya ada beberapa orang yang rasa kekhawatirannya berkelebihan, apa memang betul begitu?
PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi ada orang-orang tertentu yang lebih rentan terhadap kekhawatiran. Dan itu bukanlah sesuatu yang langsung bisa kita kaitkan dengan kurang berimannya dia. Nah,kadang-kadang kita terlalu cepat melabelkan orang yang khawatir adalah orang yang kurang beriman.
Ternyata memang hal kekhawatiran ini hal yang cukup kompleks.
GS : Pak Paul, sebenarnya batasannya antara khawatir dan takut itu apa Pak Paul?
PG : Biasanya kami-kami ini di Psikologi membedakan, kekhawatiran dari ketakutan melalui satu objek, melalui satu faktor yaitu objeknya. Ketakutan memiliki objek, kekhawatiran tidak memiliki obek.
Jadi kalau saya misalkan didiagnosis menderita kanker dan saya takut sekali kanker ini akan mengganas dan akhirnya akan merenggut nyawa saya, nah itu takut karena saya memiliki objek yang jelas. Kekhawatiran tidak mempunyai objek yang jelas, jadi kita bisa khawatir anak kita nanti besar bagaimana, nanti situasi bagaimana, keuangan kita bagaimana; jadi orang yang khawatir itu seolah-olah tidak pernah habis-habisnya mengkhawatirkan hampir setiap hal dalam hidup berpotensi memberikan dia tambahan rasa khawatir.
GS : Tapi kekhawatiran itu tetap mempunyai dasar Pak Paul, bagi orang-orang itu?
PG : Bagi orang-orang itu punya, cuma masalahnya adalah kekhawatiran itu tidak pernah bisa berhenti, selalu akan ada saja yang baru. Dan kalau kita coba menjelaskan tentang kekhawatiran itu seniri dia akan bisa berargumentasi dengan kita dan membenarkan rasa khawatirnya itu.
WL : Faktor-faktor penyebab dari rasa khawatir itu sebenarnya apa, Pak Paul?
PG : Ada beberapa Bu Wulan, yang pertama adalah ada orang yang memang secara fisik lebih mudah khawatir. Nah saya ini memang bukan seorang dokter medis jadi saya akan hanya menggambarkannya secra umum.
Yaitu misalkan orang yang jantungnya lebih mudah berdegup, orang yang memang peka sekali sehingga kalau ada ketegangan apa-apa jantung itu berdegupnya sangat keras dan sangat cepat. Tapi sebaliknya ada orang yang memang degup jantungnya itu lebih perlahan dan degup jantungnya itu juga lebih kuat, benar-benar mempunyai power. Nah orang yang degup jantungnya mudah untuk diaktifkan, tidak bisa tidak akan lebih merasakan dan lebih rentan.
WL : Mungkin tidak sebaliknya Pak Paul, justru kalau tadi karena kelemahan fisik menimbulkan dia rentan. Tapi kalau misalnya justru karena rasa khawatir itu menyebabkan kita sakit perut, sering sakit kepala, orang menyebutnya psikosomatis Pak Paul.
PG : Ya itu sangat mungkin Bu Wulan, jadi kekhawatiran atau ketegangan itu bisa menyebabkan gangguan-gangguan fisik yang aneh-aneh. Contohnya yang aneh-aneh seperti apa, tadi bu Wulan sudah katkan misalnya yang paling umum sakit maag atau sakit perut, nah tadi yang saya sudah sebut juga adalah jantung deg-deg-an, atau ke luar keringat dingin, badan sering lemas.
Nah gangguan-gangguan yang lain yang sering dialami oleh orang yang memiliki ketegangan yang tinggi adalah dia itu misalkan sulit tidur. Nah kalau orang sulit tidur selama satu, dua hari mungkin mengganggunya secara umum tidak terlalu parah, tapi kalau dia tidak bisa tidur dengan pulas selama dua bulan wah itu gangguannya lebih parah. Ada orang yang bisa sampai berbulan-bulan karena ketegangan begitu tinggi bisa memunculkan masalah-masalah fisik yang lainnya, karena kurang tidur itu. Ada juga yang tubuhnya sampai timbul gatal-gatal jadi seperti mempunyai rush, kulitnya seperti korengan. Nah kalau khawatirnya lenyap, sakit kulitnya juga ikut lenyap, tapi kalau lagi khawatir atau ada ketegangan tertentu sekujur tubuh gatal-gatal dan merah-merah, bentol-bentol dan sebagainya. Ada lagi orang-orang yang merasakan lidahnya kering terus-menerus, jadi perlu minum karena lidahnya kering sekali. Nah benar-benar begitu banyak gangguan yang bisa ditimbulkan oleh masalah yang sangat sederhana ini, kekhawatiran. Tapi memang tadi saya sudah tekankan juga kekhawatiran itu sendiri bisa ditimbulkan oleh kerentanan fisik kita, jadi ada faktor-faktor bawaan yang membuat kita lebih rentan terhadap kecemasan ini.
GS : Jadi sebenarnya kekhawatiran itu adalah suatu masalah di fisik kita atau di emosi kita Pak Paul?
PG : Nah kalau kita katakan karena masalah fisik, kekhawatiran itu lebih gampang kita terima. OK! Jantung saya agak lemah jadi saya lebih mudah untuk khawatir. Yang lebih susah adalah ini meman adakalanya dan sering kali kekhawatiran itu disebabkan oleh pengalaman-pengalaman emosional yang kita pernah lewati pada masa yang lebih muda atau lebih kecil.
Dan rupanya kita itu terkondisi untuk lebih mudah khawatir atau lebih mudah tegang karena hal-hal yang pernah kita alami itu. Contoh misalnya kalau kita dibesarkan di rumah tangga yang penuh dengan ketegangan, orang tua sering kali bertengkar, kita lebih terkondisi untuk rentan terhadap kekhawatiran atau ketegangan. Kalau misalnya lagi rumah tangga kita itu saking tidak harmonisnya akhirnya kita hidup di dalam ketidakpastian. Sering pindah karena ayah kehilangan pekerjaanlah atau apa hidup kita susah lagi secara ekonomi, nah hal-hal seperti itu merentankan kita juga terhadap kekhawatiran.
GS : Dan itu biasanya pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan itu Pak?
PG : Ya, misalnya ini yang sangat umum Pak Gunawan, ini dialami oleh cukup banyak orang yaitu kalau misalkan kita pernah mengalami peristiwa yang hampir merenggut nyawa kita. Ada orang-orang yag pernah mengalami kecelakaan, ada orang yang pernah mengalami misalnya rumahnya kebakaran, ada orang yang pernah mengalami situasi di mana dia hampir kehilangan nyawanya itu biasanya menimbulkan bekas.
Sehingga dia menjadi orang yang lebih khawatir dan ini tidak usah terjadi di masa kecil kita. Kalau ini terjadi di masa lampau, meskipun tidak masa kecil namun peristiwa itu sangat traumatis, cukup kuat untuk membuat kita akhirnya rentan sekali terhadap kekhawatiran. Saya masih ingat sekali dulu waktu saya masih bermukim di Amerika, ada seorang wanita yang terus-menerus dilanda oleh kekhawatiran. Ceritanya sangat sederhana sekali, cerita ini memang cerita yang sangat umum sekali jadi saya tidak membuka yang terlalu pribadi. Dia kehilangan salah seorang dari orang tuanya, meninggal dunia. Dan dalam masa berkabung, dia lagi mengendarai mobil tiba-tiba polisi naik mobil juga, mengejar penjahat, dan penjahat serta polisi menjepit mobil dia di tengah-tengah. Dan dua-dua ke luar, polisi ke luar, penjahatnya ke luar saling tembak-menembak jadi dia di tengah-tengah. Begitu takutnya, tegang sekali karena adanya tembak-menembak di sekitar dia, apa yang terjadi setelah itu, dia terserang oleh masalah kecemasan, tegang terus-menerus, khawatir ini, khawatir itu. Nah, jadi secara umum orang-orang yang pernah mengalami masalah atau hal-hal yang traumatis ini berkemungkinan besar akhirnya memang mudah sekali cemas, hal-hal kecil mengagetkan dia sekali dan dia akan benar-benar bingung karena hal yang kita anggap kecil itu, tapi itulah salah satu penyebabnya.
GS : Kadang-kadang dia merasa bukan sebagai sesuatu kekhawatiran, dia menganggap itu sebagai suatu kehati-hatian jadi ada salah seorang teman saya itu yang kecurian Pak Paul, akibatnya sekarang setiap malam dia itu sebelum tidur semua pintu itu diperiksa lagi setiap kali seperti itu. Lalu dia katakan: "Tidak, saya tidak khawatir, cuma saya lebih hati-hati saja."
PG : Betul, ya dia mungkin tidak menyadarinya, dan dia menganggap itu suatu tindakan yang normal-normal saja. Dan untuk situasinya, untuk konteksnya itu kita memang harus akui tindakannya tindaan yang masuk akal karena dia pernah mengalami perampokan misalnya, jadi dia harus berhati-hati.
Meskipun kita tahu tindakannya itu sudah melebihi takaran. Jadi salah satu penyebab yang memang memungkinkan orang untuk rentan sekali terhadap kekhawatiran adalah pengalaman masa lampau itu. Yang lainnya ini, Pak Gunawan dan Ibu Wulan, ada orang yang memiliki kepekaan yang tinggi artinya apa, orang ini memang perasaan ya, sangat-sangat halus, tajam sekali, peka sekali. Akibatnya apa? Dia akan mengalami perasaan-perasaannya dalam derajat yang sangat tinggi. Jadi bukan hanya takut, perasaan sedih kalau dia lagi mengalami kesedihan, sungguh-sungguh bisa hanyut, kalau lagi marah, sungguh-sungguh marahnya itu keluar dengan keras. Nah, orang yang perasaannya sepeka ini, sehalus ini tidak bisa tidak waktu dia khawatir benar-benar kekhawatiran itu melanda seluruh tubuhnya dan hidupnya. (WL : Lebih dari orang yang normal lainnya ya Pak Paul?) lebih dari orang yang lainnya karena kepekaannya itu. Jadi adakalanya ini yang terjadi, dia memang peka untuk segala hal, ya tidak bisa tidak termasuk perasaan khawatir juga dia akan lebih peka.
GS : Apa karena itu lalu wanita pada umumnya memiliki tingkat kekhawatiran yang lebih tinggi dibandingkan pria?
PG : Nah, memang kita harus akui di kalangan wanita masalah ini biasanya lebih tinggi namun tetap saya katakan meskipun secara umum di kalangan wanita lebih tinggi ada juga kasus-kasus karena pngalaman traumatis di masa lampau sebagian pria juga mengalami masalah seperti ini pula.
WL : Pak Paul, kalau pengalaman traumatis tadi itu efeknya menjadi besar pada si orang itu. Yang jadi pertanyaannya, bisa atau tidak disembuhkan Pak Paul, misalnya lewat konseling, terapi atau selamanya dia akan menderita seperti itu?
PG : Penyembuhan untuk orang yang terserang kekhawatiran ini sangat bergantung pada penyebabnya apa ya. Misalkan tadi Ibu Wulan sudah katakan pengalaman traumatis, kalau itu penyebabnya dalam trapi kita harus kembali kepada peristiwa semula itu.
Dia mungkin tidak pernah membicarakan lagi, biarkan dia membicarakannya atau yang kedua dia mungkin membicarakannya tapi tidak benar-benar mengekspresikan perasaan-perasaan yang saat itu dia rasakan. Nah penting sekali dalam terapi kita memintanya dan menciptakan suatu kondisi di mana dia bisa dengan aman mengekspresikan perasaan-perasaan yang dulu itu dia rasakan. Nah perasaan-perasaan yang dulu itu, yang sudah banyak tertumpuk dalam hidupnya, tatkala mulai ke luar sedikit banyak akan mulai meredakan ketegangannya. Nah, ketegangan seperti ini kalau sudah terlalu tinggi, khawatirnya terlalu tinggi bukan saja mempengaruhi fungsi sehari-harinya tatkala dia melek mata, tapi bisa mempengaruhi dia tatkala dia sedang tidur. Jadi muncul dalam mimpi, mimpinya tentu bukan mimpi manis tapi mimpi yang menegangkan. (WL: Jadi tidur pun tidak nyenyak Pak Paul ya). Nah ini yang membuat orang itu kadang-kadang seperti tambah takut tidur karena dia takut nanti harus berhadapan dengan mimpi-mimpi yang mengerikan itu, jadi akhirnya memang terus berputar dalam terapi, kita akan kembali ke situ. Sebelum saya mengatakan bahwa semuanya itu karena akibat-akibat fisik dan emosional, saya rasa cukup adil juga dan pada tempatnya kalau kita katakan juga adakalanya penyebab kekhawatiran memang adalah masalah rohani. Saya kira ini tetap harus kita akui bisa terjadi, meskipun tadi saya sudah jelaskan bahwa masalah ini masalah yang kompleks tidak adil kalau langsung kita kategorikan masalah kekhawatiran adalah masalah kurang beriman, ini tujuannya saya menjelaskan faktor-faktor yang lainnya. Namun adakalanya memang karena kurang beriman, karena kurang bisa berserah kepada Tuhan sehingga terlalu mengawatirkan banyak hal.
GS : Tapi kalau memang masalahnya kurang beriman, itu sebenarnya apa yang bisa dia lakukan?
PG : Nah kalau memang masalahnya kurang beriman, dia pertama-tama harus mendekatkan diri hidup dengan Tuhan, maksud saya adalah dia benar-benar harus bersandar kepada firman Tuhan itu. Dia tida lagi mendasarkan hidupnya atas perasaannya, nanti kalau muncul pemikiran-pemikiran yang mengkhawatirkan nah dia harus lawan dengan firman Tuhan, firman Tuhan berkata apa.
Dia khawatir tentang anak-anaknya nah dia bisa berkata firman Tuhan katakan apa, jadi dia selalu harus menggunakan fakta jangan menggunakan perasaannya, nah itu kira-kira yang dia harus lakukan.
WL : Pak Paul, dari tadi kita sudah panjang lebar membicarakan tentang kekhawatiran. Di benak saya bertanya-tanya penasaran begitu jadi yang dimaksudkan kekhawatiran itu apa, batas-batasnya sampai di mana, kalau Pak Paul bisa jelaskan definisinya?
PG : Sebetulnya kekhawatiran adalah upaya untuk melindungi diri, aneh sekali tapi sebetulnya itulah kekhawatiran. Kekhawatiran benar-benar sebuah selimut untuk melindungi diri kita, dengan kitakhawatir seolah-olah kita ini berjaga-jaga.
Maka saya katakan kekhawatiran adalah alarm, sinyal, peringatan bahwa ada bahaya.
WL : Berarti dari Tuhan, Pak?
PG : Awalnya dalam kadar yang tidak berlebihan ini adalah peralatan yang Tuhan berikan kepada manusia untuk melindungi, menjaga dirinya dari bahaya yang mengancamnya. Namun dalam kadar yang berebihan nah kita tahu sekarang ada yang keliru di dalam sistem itu.
Jadi sistem khawatir itu memang adalah suatu peralatan yang sudah ahli dalam hidup kita. Saya berikan satu contoh yang sangat lucu tapi saya mau bagikan, maaf bukan menyamakan manusia yang khawatir dengan hewan, tapi ini cerita tentang anjing saya. Saya mempunyai seorang pengurus anjing, nah anjing saya ini setiap sore saya bawa ke luar untuk jalan, nah suatu hari saya bawa dia keluar apa mau dikata ada motor lewat, saya memang tidak pakaikan dia rantai, motor itu menabrak dia, dia mau lari nyeberang motornya pas lewat dia ditabrak kepalanya tapi tidak apa-apa. Saya mengalami suatu masalah dengan anjing saya setelah peristiwa itu, peristiwanya terjadi hanya satu kali tapi sampai hari ini sudah hampir setahunan setiap kali saya mau suruh anjing saya ke luar susah sekali karena dia itu takut sekali ke luar, trauma, dan saya baru bujuk-bujuk dia dengan rantai anjing baru dia mau ke luar. Kalau saya tidak membawa rantai anjing dia tidak akan mau ke luar. Rupanya rantai anjing membuat dia merasa aman sebab dia tahu saya memegang, melindungi dia. Kalau saya tidak membawa rantai anjing dan saya panggil ke luar dia tidak mau ke luar. Nah apa yang terjadi, insting, dalam anjing itu ada insting, insting untuk melindungi dirinya. Dalam diri manusia juga ada insting untuk melindungi diri kita; nah sinyalnya, alarmnya itu adalah kekhawatiran. Kekhawatiranlah bel yang berkata kepada kita ada bahaya, ada ancaman.
GS : Ya mungkin juga kalau kita berada di kerumunan orang banyak yang membuat kita tidak aman di sana kita juga akan merasa khawatir Pak Paul, dengan wajah-wajah yang seram, mungkin mencurigakan itu akan menimbulkan kekhawatiran dalam hati kita.
PG : Betul, jadi banyak hal yang bisa membuat kita khawatir. Nah salah satu lagi cirinya adalah tadi saya sudah katakan kekhawatiran adalah sinyal, namun satu hal yang juga merupakan tema utamadari khawatir adalah kita merasa tidak berdaya.
Jadi kekhawatiran dikaitkan dengan ketidakberdayaan, ketidakmampuan mengatasi bahaya yang mengancam itu. Kalau justru kita merasakan kita berdaya, kita bisa melakukan sesuatu, kekhawatiran itu akan berkurang. Jadi kekhawatiran berkaitan erat dengan perasaan tidak berdaya itu. Bahaya mengancam dan kita rasanya ragu-ragu, rasanya justru lebih ke arah tidak berdaya untuk mengatasi bahaya yang mengancam itu.
GS : Saya juga melihat ini Pak, informasi yang keliru itu juga membuat orang khawatir. Jadi penjelasan atau berita-berita yang sering kali akhir-akhir ini kita dengar. Berita-berita yang sebenarnya tidak seperti itu tetapi karena kita mendengar berkali-kali itu membuat kita khawatir.
PG : Ya karena berita-berita itu mungkin sekali pada masa lampau terbukti benar, akhirnya kita mengantisipasi yang telah terjadi mungkin terjadi lagi. Nah jadi sekali lagi kita melihat suatu poa di sini, khawatir sebetulnya sinyal, sinyal bahwa akan datang bahaya dan tidak berdaya untuk melawan bahaya itu.
WL : Berarti ada sisi positifnya juga Pak Paul. Saya pikir begini misalnya orang tua yang tidak pernah khawatir akan anaknya nanti bagaimana, pasti dia tidak akan membuat planning atau rencana anaknya nanti sekolah di mana. Terus misalnya saya mau ujian tidak khawatir nilai saya jelek atau buruk, saya tidak akan bersiap-siap diri dengan baik, betul begitu Pak Paul?
PG : Betul, ada orang-orang yang memang justru ditolong oleh rasa khawatir itu, karena dengan khawatir itu dia lebih bersiap-siap. Namun pertanyaan ibu Wulan memunculkan juga satu fakta yaitu slain tadi kita bicara ada orang yang memang lebih rentan terhadap kekhawatiran ada orang yang memang tidak rentan, dan susah khawatir (WL : Maksudnya cuek begitu) cuek, kita juga tidak bisa buru-buru berkata dia beriman besar sebab bisa jadi tidak punya iman.
Tapi kenapa misalnya sangat cuek karena misalnya pertama jantungnya terlalu kuat jadi susah berdebar-debar, dia tidak pernah mengalami hal-hal yang traumatis, dan yang ketiga memang kepribadiannya acuh tak acuh, tidak peduli dengan orang di luar. Perasaannya agak tebal, susah menangis, susah sedih, susah marah, susah segala macam termasuk susah khawatir, nah ada orang yang seperti itu juga.
GS : Pak Paul, kalau kita sedang mengalami kekhawatiran sebenarnya apa yang kita lakukan?
PG : Pada prinsipnya kita harus menyadari bahwa kekhawatiran itu bukan untuk dihilangkan tapi untuk dilawan. Saya menggunakan dua kata itu untuk menekankan upayanya. Kalau upaya kita menghilangan kita akan makin terjerat di dalam roda kekhawatiran itu.
Kita berkata saya tidak boleh khawatir, saya harus begini, saya harus begini. Waktu kita mengatakan hal-hal itu, mencoba menghilangkan kekhawatiran itu, kita makin terjerumus, makin tegang. Karena kita repot sekali berkelahi mencoba menghilangkannya, semakin kita lelah berkelahi dengan rasa khawatir itu, semakin letih. Makin letih semakin kurang kuat pertahanan kita, jadi itu prinsip yang pertama, kita memang tidak mencoba untuk menghilangkan. Nah, tapi saya katakan kita mesti melawannya, ada beberapa cara tadi telah saya singgung. Pertama adalah selalu kedepankan fakta. Ada yang takut akan masa depan, Tuhan berjanji memelihara hidup kita, burung di udara Tuhan pelihara masakan kita tidak Tuhan pelihara. Sampai sekarang pun kita Tuhan pelihara masakan dari sekarang sampai nanti Tuhan tidak pelihara. Jadi selalu kita gunakan fakta itu. Ada orang yang mengkhawatirkan misalnya Pak Gunawan keselamatannya, saya sudah selamat belum ya. Apalagi kalau orang ini sangat mempercayai doktrin pemilihan, saya dipilih Tuhan tidak ya, terus bertanya-tanya saya dipilih Tuhan atau tidak akhirnya keragu-raguan itu membuat dia tambah khawatir. Nah faktanya apa? Faktanya adalah dia sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya, Tuhan berjanji akan memberikan hidup yang kekal, itu yang Tuhan akan genapi. Jadi hiduplah berdasarkan fakta firman Tuhan, nah itu caranya kita melawan dengan mengedepankan fakta. Dan yang kedua adalah menarik yaitu kita melawan kekhawatiran dengan tidak memberikan perlawanan, maksudnya apa. Kita justru berserah kalau terjadi, terjadilah, apapun yang terjadi tidak apa-apa, berserah. Sebab waktu kita berkelahi kekhawatiran itu makin menggila, waktu kita melepaskan terjadilah apapun yang harus terjadi, justru lama-kelamaan ketegangan itu akan berkurang. Jadi itu yang perlu kita selalu ingat kita tidak menghilangkan tapi kita melawan. Melawan dengan mengedepankan fakta dan yang kedua melawan dengan tidak memberikan perlawanan justru membiarkan.
GS : Saya tahu ada banyak ayat di dalam Alkitab yang berbicara tentang kekhawatiran ini Pak Paul, nah apakah ada satu saja yang bisa digunakan untuk merangkumkan pembicaraan ini.
PG : 1 Petrus 5:7 berkata: "Serahkan kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." Jadi Tuhan menginginkan kita menyajikan, menyebut kekhawatiran kita jangantakut Tuhan marah.
Justru katakan: Tuhan, saya khawatir ini, ini, ini sebutkan kepada Tuhan dan serahkan kepada-Nya sebab Dia yang memelihara kita dan Dia yang berdaya. Waktu kita melepaskan, membiarkan kita berkata: "Ya, memang saya tidak berdaya, tapi Tuhan berdaya dan tangan Tuhan yang perkasa itulah yang akan menjaga saya."
GS : Ya itu memang mesti belajar menyerahkan itu Pak Paul, karena ada ilustrasi yang mengatakan doanya memang seperti yang tadi Pak Paul katakan, tapi begitu amin kekhawatirannya diminta lagi oleh dia, menjadi bagian dalam kehidupannya lagi. Berulang kali dia melakukan itu lagi.
PG : Betul sekali, itu memang suatu siklus jadi memang tidak bisa selesai satu hari, hari ini dia berhasil mengalahkannya, besok dia harus memang mengalahkannya lagi.
GS : Tetapi kekhawatiran itu akan terus menjadi bagian dari kehidupan manusia Pak Paul?
PG : Betul. Nah bagi orang-orang yang memang lebih rawan atau lebih rentan itu harus menjadi pokok doanya dengan lebih serius lagi.
GS : Ya namun ada janji-janji Tuhan yang begitu pasti yang bisa dijadikan pegangan bagi kita untuk melanjutkan perjalanan hidup ini. Terima kasih Pak Paul, terima kasih juga Ibu Wulan. Para pendengar sekalian, kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Melawan Kekhawatiran". Bagi Anda yang berminat untuk mengikuti lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) JL. Cimanuk 58 Malang , Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Saran-saran pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Mengapa ada orang yang begitu mudah khawatir? Ternyata jawabannya tidaklah sesederhana, "Dia kurang beriman!" Ada beberapa penyebab yang membuat orang mudah khawatir.
Ada orang yang secara fisik lebih mudah khawatir, misalnya jantungnya lemah dan cepat berdebar atau susah berkonsentrasi.
Ada orang yang secara emosional terkondisi untuk khawatir akibat pengalaman masa lalunya, misalnya ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang penuh dengan ketegangan atau ia pernah mengalami trauma yang membuatnya merasa tidak aman lagi, misalnya tragedi atau musibah.
Ada orang yang memiliki kepekaan yang tinggi dan ini membuatnya merasakan segalanya dengan lebih kuat, termasuk kekhawatiran.
Ada orang yang sukar mempercayakan hidupnya kepada Tuhan dan memiliki konsep bahwa Tuhan tidak memelihara hidupnya.
Sebetulnya, apakah kekhawatiran itu?
Kekhawatiran adalah upaya untuk melindungi diri dari bahaya yang mengancam.
Kekhawatiran adalah alarm untuk memberi peringatan bahwa ada bahaya yang sedang mendatangi kita.
Kekhawatiran adalah tindakan untuk mengantisipasi ketidakberdayaan kita mengatasi ancaman yang datang.
Dengan kata lain, kekhawatiran timbul oleh karena dua unsur:
Bahaya yang mengancam
Ketidakberdayaan kita
Cara Mengatasinya:
Kehawatiran tidak untuk dihilangkan melainkan untuk dilawan.
Alkitab menawarkan solusi yang berbeda dengan cara yang manusia kenal: Bukannya mengendalikan situasi, melainkan menyerahkan situasi kepada Tuhan (bukan berserah kepada situasi). "Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya sebab Ia yang memelihara kamu." 1 Petrus 5:7
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Semua orang ingin hidup bersukacita dan bergembira tapi sering kali kita harus menjumpai situasi dalam hidup yang tidak membawa sukacita. Dan pertanyaannya adalah bagaimanakah kita dapat hidup bersukacita?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Hidup Bersukacita". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, semua orang ingin hidup bersukacita, bergembira dan sebagainya. Dan Alkitab pun kerapkali mengingatkan kita untuk hidup dengan bersukacita. Tapi pada kenyataan dalam kehidupan sehari-hari ini sukar sekali mewujudkan sukacita di dalam diri kita, itu bagaimana Pak Paul?
PG : Betul sekali yang Pak Gunawan katakan, kita ini tahu bahwa hidup yang sehat adalah hidup yang bersukacita. Tapi masalahnya adalah kita harus benar-benar berjuang keras untuk menjadi sukcita.
Karena sering kali kita harus menjumpai situasi dalam hidup yang tidak membawa sukacita. Nah hal-hal seperti itulah yang akhirnya menurunkan kadar sukacita dalam hidup kita. Nah sebagai orang Kristen kita tahu bahwa Tuhan juga menyuruh kita untuk bersukacita, tapi waktu kita mencoba untuk hidup sesuai dengan yang firman Tuhan katakan itu kita tidak selalu berhasil. Itu sebabnya kita perlu mengambil waktu ini dan kita sekali lagi melihat apa yang firman Tuhan katakan. Yang akan saya gunakan sebagai teks kita adalah Filipi 4:4-7 , "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Yang pertama bisa kita lihat di sini adalah Paulus meminta kita untuk bersukacita. Seperti tadi saya sudah katakan memang salah satu ciri khas kehidupan kristiani adalah kehidupan yang penuh sukacita. Nah pertanyaannya adalah bagaimanakah kita dapat hidup bersukacita. Mungkin kita bisa mengingat hal-hal yang telah menimpa kita adalah hal-hal yang tidak mengenakkan, tidak menggembirakan, bagaimanakah kita tetap mempertahankan sukacita di tengah-tengah situasi kehidupan yang tidak membawa sukacita. Yang saya ingin tekankan adalah sukacita kristiani bukanlah bersumber dari situasi yang kita hadapi melainkan dari Kristus sendiri.
GS : Berarti yang mau diajarkan kepada kita oleh firman Tuhan itu bahwa sukacita itu bukan sekadar emosi atau menyangkut seluruh kehidupan kita?
PG : Tepat sekali Pak Gunawan, sudah tentu sukacita memang berkaitan dengan emosi tapi yang Alkitab ingin tekankan kepada kita adalah bahwa sumber sukacita bukanlah emosi itu sendiri. Sebetunya emosi hanyalah kendaraan yang kita gunakan untuk menggetarkan diri kita dan untuk menyalurkan sukacita itu keluar sehingga dapat kita rasakan.
Sering kali yang kita katakan sumber sukacita adalah situasi, situasi yang menggembirakan. Nah yang justru Alkitab ingin tekankan di sini adalah sukacita itu bukanlah bersumber pada situasi, situasi bisa berubah-ubah. Sumber dari sukacita adalah Kristus sendiri, jadi sekarang pertanyaan yang ingin kita ajukan adalah bagaimanakah Kristus menyalurkan sukacita kepada kita. Kendati situasi yang kita hadapi tidaklah menggembirakan. Ini sekarang yang menjadi pertanyaannya. Saya akan menjawab begini sukacita dari Kristus adalah sukacita hidup bersama Kristus, itu maksudnya waktu kita berkata bahwa sukacita berasal dari Kristus. Sekali lagi saya ulang, artinya bahwa sukacita dari Kristus adalah sukacita hidup bersama Kristus, yang berarti sebetulnya adalah kita tidak sendirian. Kristus mendampingi dan akan memberi kekuatan kepada kita untuk menghadapi segala tantangan hidup.
GS : Berarti sumbernya bukan emosi tetapi pribadi yaitu Tuhan Yesus sendiri yang Pak Paul katakan, ini yang harus kita terima sebagai pribadi yang selalu beserta dengan kita. Jadi alasan ini harus kokoh seperti itu.
PG : Betul sekali, saya berikan contoh yang mungkin lebih mudah untuk kita cerna. Misalkan kita itu harus melewati perjalanan yang panjang dan kita harus mungkin bersama dengan seseorang selma berhari-hari.
Saya kira faktor yang paling menentukan untuk membuat kita gembira atau tidak gembira adalah dengan siapakah kita melakukan perjalanan yang panjang ini. Kalau kita bersama dengan seseorang yang nyaman, yang membuat kita bahagia, yang mendorong, yang menguatkan kita, nah perjalanan yang panjang itu menjadi sebuah perjalan yang membawa sukacita. Tapi kebalikannya kita melewati perjalanan yang singkat yaitu hanya satu jam, tapi bersama dengan seseorang yang menyusahkan kita, memarahi kita, mengkritik kita, mengahakimi kita; satu jam itu menjadi perjalanan yang benar-benar tidak membuahkan sukacita, justru menambahkan kesusahan hati kita. Jadi faktor yang penting adalah pada dengan siapakah kita itu melakukan perjalanan itu. Jadi kita terapkan contoh itu ke dalam kehidupan kita juga dengan Kristus. Bahwa situasi itu kadang-kadang memang akan berubah, tidak selalu situasi yang kita hadapi situasi yang menyenangkan. Tapi yang Alkitab tekankan adalah kita harus mengingat dengan siapakah kita itu akan melewati situasi tersebut. Kalau kita tahu kita bersama dengan Kristus Tuhan kita Juru selamat kita, yang mengasihi kita, Dia yang perkasa, Dia yang bisa menolong kita, menghibur hati kita; seyogyanyalah itu cukup untuk membuat kita bersukacita.
GS : Kita ini sering kali dengan kawan seperjalanan kita yang dalam hal ini Pak Paul katakan Tuhan Yesus Kristus sendiri, dari kitanya sendiri yang kadang-kadang menimbulkan rasa bosan, rasa ingin mencari yang lain. Seperti dengan teman perjalanan tadi, mungkin kita pergi dengan istri kita, pada awalnya menyenangkan, lama-lama kita merasa jenuh, kita ingin jalan sendiri akibatnya kita kehilangan sukacita itu.
PG : Kalau mata kita lepas dari memandang Kristus, saya kira ya, kita akan bisa menjadi bosan atau jenuh. Tapi kalau kita tidak melepaskan pandangan dari Kristus, kita terus membaca firmanNy, kita datang kepadanya dalam persekutuan, kita tidak akan bosan.
Maka Paulus langsung setelah menyuruh kita untuk bersukacita, Paulus menambahkan bahwa kita harus membawa kekhawatiran kita dalam doa. Artinya kita mesti terus-menerus bercakap-cakap mengeluarkan isi hati kita kepada Tuhan. nah saya ingin tekankan di sini, kenapa Paulus meminta kita untuk berdoa, membawa kekhawatiran kita ini kepada Tuhan, sebab sesungguhnyalah kita bisa mengetahui bahwa kekhawatiran merupakan pembunuh sukacita. Dan kita tahu bahwa kekhawatiran itu juga berhulu dari ketidakpastian. Memang saya akui kehidupan syarat dengan ketidakpastian namun justru di sinilah seorang Kristen dapat hidup dengan bersukacita. Ia tahu bahwa dalam hidup hanya satu yang pasti yaitu Kristus dan firmanNya, jadi sekali lagi kita datang kepada Tuhan di dalam doa membawa kekhawatiran kita kepadaNya. Kita tahu kekhawatiran bersumber dari ketidakpastian, namun Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang pasti. Maka Dia akan memberikan kita ketenangan. Jadi jangan sampai kita berhenti atau luput melihat Kristus dan memelihara persekutuan denganNya.
GS : Itu berarti dari kita itu juga dituntut kesungguhan untuk mau hidup di dalam sukacita itu sendiri, sekalipun pribadi Kristus itu terus beserta kita tapi kalau kita sendiri yang menolak untuk hidup di dalam sukacita itu seperti yang Pak Paul katakan melepaskan pandangan kita, kita tidak akan mengalami sukacita itu.
PG : Betul, setiap saat kita diperhadapkan dengan dua pilihan. Pilihan tetap memandang Kristus atau pilihan tidak lagi memandang Kristus. Saya kira kalau kita memilih tidak memandang Kristusdengan cepat sekali kita akan merasa jenuh datang kepaNya, berdoa kepadaNya, berbakti kepadaNya; kita merasakan ini tidak ada gunanya, membuang waktu dan sebagainya.
Tapi waktu kita tetapdatang kepadaNya, bergumul kepadaNya dalam doa kita; maka kita tidak akan merasa jenuh, kita makin lekat dengan Dia. Yang juga ingin saya tekankan adalah sukacita itu perlu dipelihara, Pak Gunawan. Sering kali kita beranggapan, sekali kita sukacita selama-lamanya kita akan bersukacita, tidaklah demikian kita harus memeliharanya. Pertanyaannya adalah bagaimana kita memelihara sukacita itu. Paulus di sini menegaskan bahwa kita membawa segala kekhawatiran kita dalam doa dan pengucapkan syukur. Nah kata ini merupakan kata yang luar biasa pentingnya yaitu bersyukur. Paulus menekankan bahwa kita bisa memelihara sukacita dengan cara hidup bersyukur. Pertanyaan berikutnya yang kita ajukan adalah apa artinya bersyukur. Bersyukur berarti melihat apa yang telah Tuhan berikan atau lakukan, ini adalah hal yang sangat-sangat penting namun masalahnya adalah kita hanya ingin melihat apa yang seharusnya Tuhan berikan atau lakukan. Kita menjadi gagal melihat apa yang Tuhan telah perbuat dalam hidup kita, kita hanya memfokuskan pada apa yang seharusnya Tuhan lakukan dalam hidup kita.
GS : Memang biasanya kita bersyukur itu kalau ada hal-hal yang cocok untuk kita, kadang-kadang Tuhan mengajak kita atau memberikan kepada kita sesuatu yang kita sebenarnya tidak suka, jadi sulit sekali untuk bersyukur pada saat-saat seperti itu.
PG : Betul sekali, kita cenderung memang melihat yang belum kita miliki dan kita mendasari hidup kita atas apa yang belum kita miliki. Tuhan mengajarkan kepada kita untuk melihat apa yang teah kita miliki, apa yang Tuhan telah berikan kepada kita.
Orang yang bersyukur adalah orang yang dapat melihat ini Pak Gunawan, lawan dari hidup bersyukur adalah hidup bersungut. Dan hidup bersungut adalah hidup menghitung apa yang belum terjadi, sebaliknya hidup bersyukur adalah hidup menghitung apa yang telah terjadi. Saya berikan contoh, misalkan kita ini bertahun-tahun kita hidup susah sekali kemudian akhirnya kita mulai menikmati perbaikan dalam hidup kita, Tuhan memberkati kita, kita akhirnya bertambah makmur. Ada orang yang bukannya bersyukur dia tambah makmur karena Tuhan tambahkan semua ini kepadanya, malahan marah kepada Tuhan. dan berkata: "Kenapa baru sekarang saya makmur, sekarang saya sudah berumur 50 tahun, saya dari umur 10 tahun hidup susah sampai 50 tahun." Nah dia tidak bsia bersyukur bahwa 40 tahun saya hidup susah dan sekarang saya hidup makmur. Dia memfokuskan pada kenapa Tuhan dulu tidak berbuat lebih dini, lebih cepat menolong saya, itu hal-hal yang memang cukup sering kita lakukan. Waktu kita sudah menikmati sesuatu untuk waktu yang lama kita merasa ini kurang, kita bersungut-sungut kepada Tuhan, kita minta Tuhan menambahkannya lagi, ini merupakan ciri khas sebagian manusia. Terlalu sering kita hanya memfokuskan pada apa yang belum kita miliki, kita gagal menghitung apa yang Tuhan telah berikan kepada kita.
GS : Atau kadang-kadang kita juga bersungut-sungut tatkala sesuatu yang telah Tuhan berikan kepada kita lalu hilang dari kita. Padahal awalnya kita juga tidak punya.
PG : Betul sekali, dan kita tidak melihat fakta itu bahwa sebelumnya pun kita tidak punya. Inilah sikap yang dimiliki oleh Ayub sewaktu dia kehilangan segalanya termasuk kesehatannya. Dia maih bisa berkata: "Ya saya datang ke dunia ini telanjang, tidak membawa apa-apa maka saya akan kembali maksudnya saya akan meninggalkan dunia ini juga dengan tidak membawa apa-apa."
Nah itu hidup bersyukur, tapi saya mengerti tidak mudah untuk kita mempunyai sikap seperti itu, tapi kalau kita bisa memilih untuk melihat apa yang Tuhan telah berikan dan bukannya melihat pada apa yang seharusnya Tuhan berikan, kita akan lebih mampu mempertahankan sukacita itu. Sebab sukacita dan sungut-sungut tidak bisa bercampur, tidak bisa menempati ruangan yang sama dalam hidup kita.
GS : Sebenarnya kalau kita hidup sendirian itu kita mungkin cepat bisa mensyukuri Pak Paul, tapi karena dengan banyak orang di sekeliling kita lalu kita menengok sana, menengok sini dan melihat sana kok lebih enak dan sebagainya.
PG ; Betul sekali, akhirnya kita tidak melihat apa yang Tuhan telah berikan kepada kita; kita melihat pada apa yang Tuhan telah berikan kepada orang lain. Kita bertanya-tanya mengapakah Tuhan tidak memberikan hal yang sama itu kepada kita. Nah sekali lagi Tuhan itu tidak memberikan kepada semua orang hal yang sama, karena kalau semua mendapatkan yang sama kita itu tidak akan pernah belajar bermurah hati, berlapang dada; tidak pernah belajar untuk bisa bersukacita dengan orang yang bersukacita, sebab semuanya sama. Justru Tuhan membiarkan ketidaksamaan ini, agar kita semua bisa bertumbuh lebih mirip lebih serupa dengan Kristus. Misalkan kita menjadi lebih murah hati, kita bisa lebih bersyukur akan apa yang Tuhan telah berikan kepada kita.
GS : Jadi masalahnya bagaimana kita mengubah pandangan kita, supaya kita bisa mensyukuri atas segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita?
PG : Ini memang masalah pilihan Pak Gunawan, jadi saya sendiri kalau ada orang bertanya bagaimanakah hidup bersyukur, pada dasarnya kita harus memilih untuk hidup bersyukur. Pilihan kita hana dua yaitu hidup bersyukur atau hidup bersungut.
Hidup bersyukur berarti memfokuskan apa yang Tuhan telah berikan, nah hidup bersungut hanya memfokuskan pada apa yang seharusnya Tuhan berikan kepada kita. Kita tidak bisa memaksa orang untuk memilih yang seharusnya dia pilih. Pertanyaan yang memang akan muncul juga adalah kenapa kita harus bersyukur, sebab kenyataannya memang Tuhan telah memberikan ktia banyak berkat. Ada orang yang berkata: "Kok saya dari dulu harus terus bekerja keras," tapi dia lupa dia punya sepatu, dia punya tempat tidur, dia punya piring makan, dia masih punya atap, jadi banyak hal yang telah kita terima. Dan atas hal-hal itulah kita masih bisa bersyukur kepada Tuhan. Tuhan tidak meminta kita untuk hidup berbohong Pak Gunawan, artinya mensyukuri apa yang tidak pernah kita terima. Tuhan meminta kita riil, dan memang kalau kita melihat apa yang telah kita terima, kita akan harus bersyukur dan Tuhan menyenangi orang yang bersyukur. Karena sebetulnya orang yang bersyukur adalah orang yang melihat bahwa Tuhan itu baik dan sesungguhnya Dia itu baik. Kenapa Tuhan tidak senang dengan orang yang bersungut-sungut, sebab sesungguhnya orang yang bersungut-sungut tidak mempunyai penilaian yang tepat akan Allah. Dia itu melihat Allah sebagai Allah yang jahat, orang yang bersungut sebetulnya mempunyai anggapan atau konsep bahwa Tuhan itu jahat, karena Tuhan jahat maka Tuhan tidak memberikan kepadanya seperti yang dimintanya. Tapi orang yang bersyukur dia berkata Tuhan baik, meskipun saya mendapatkan hanya segini tidak apa-apa karena saya tahu Tuhan baik, Dia pasti tahu apa yang paling buat untuk saya juga.
GS : Sebenarnya keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita itu ´kan merupakan alasan yang paling kuat untuk kita bersyukur. Katakan kita tidak diberikan yang lain pun dengan keselamatan itu kita sudah punya alasan yang kuat untuk bersyukur.
PG : Itu point yang bagus sekali Pak Gunawan, sebab keselamatan yang kita terima itu identik dengan sorga yang akan nanti boleh kita tempati. Hidup ini tidak bisa dibandingkan dengan sorga yng nanti akan menjadi rumah kita yang abadi.
Jadi meskipun di dunia kita tidak memiliki banyak tapi janji kepastian, jaminan bahwa nanti kita akan bersama Tuhan di sorga itu benar-benar alasan yang paling kuat untuk berkata saya bersyukur, saya berterima kasih kepada Tuhan karena Dia sudah menjanjikan sorga untuk saya. Jadi sebetulnya meskipun tidak ada lagi yang lain yang kita miliki, itu saja memang yaitu keselamatan, hidup bersama dengan Tuhan itu sudah merupakan alasan yang lebih dari cukup untuk kita bersyukur kepadaNya.
GS : Yang sering kali dipertanyakan adalah bagaimana kita mengekspresikan rasa syukur itu, apakah kalau kita berkali-kali mengucapkan Puji Tuhan, Tuhan baik, apakah itu sudah merupakan ungkapan rasa syukur orang yang bersyukur atau ada orang yang tanpa bicara terlalu sering seperti itu pun tapi kita melihat hidupnya penuh syukur Pak Paul?
PG : Saya kira salah satu cara yan terjelas untuk merefleksikan bahwa kita ini hidup bersyukur, kita mempunyai wawasan hidup yang positif. Jadi orang yang bersyukur itu cenderung positif, di tidak melihat hidup itu sepertinya gelap, suram.
Dia menantikan hari esok, dia tahu bahwa ada berkat Tuhan untuk hari esok, dia bersedia membantu orang, dia bersedia mempercayai orang karena dia tahu bahwa masih ada kesempatan untuk orang itu bisa berubah dengan dia menolongnya. Dengan kata lain dia positif, dia tidak berkata percuma-percuma, tidak usah-tidak usah; dia berpandangan positif. Nah ini saya kira wujud nyata dari orang yang hidup bersyukur. Hatinya penuh sukacita karena hatinya penuh sukacita maka dia melihat hidup itu dengan lebih cerah. Dengan kata lain kita bisa melihat siklus, makin seseorang bersyukur, makin dia bersukacita. Dan makin dia bersukacita makinlah dia positif melihat hidup ini. Dan yang kita tahu pasti adalah Tuhan pun akan bersukacita, melihat anak-anakNya hidup bersyukur.
GS : Walaupun kadang-kadang di tengah-tengah sukacita itu orang bisa saja kehilangan sukacitanya ya Pak Paul?
PG : Sekali-sekali saya kira itu wajar, sudah tentu kalau misalkan kita ditimpa musibah, kemalangan yang berat, kita akan terpukul, sedih, menangis; tidak apa-apa karena Tuhan tidak anti airmata.
Itu bagian dari kehidupan yang wajar selama kita masih menjejakkan kaki di bumi ini. Namun orang yang bersyukur adalah orang yang tidak ditelan oleh musibah, orang yang tidak mengubah pandangannya terhadap Tuhan gara-gara musibah itu, dia tetap akan berkata: "Tuhan, meskipun saya harus kehilangan untuk sekarang ini tapi saya bersyukur saya pernah memilikinya, saya pernah mencicipi berkat-berkat yang Tuhan berikan kepada saya. Nah dia kembali bisa bersyukur karena dia tetap bisa melihat apa yang Tuhan telah lakukan. Jadi saya percaya juga orang yang bisa melihat apa yang Tuhan telah lakukan nantinya juga akan lebih berharap dan beriman pada apa yang akan Tuhan berikan kepadanya. Dan Tuhan akan lebih memberkati lagi orang yang bersyukur, Dia akan memberikan lebih banyak lagi kepada orang yang bersyukur.
GS : Kesaksian hidup pada jemaat mula-mula yang dicatat di Kisah Para Rasul itu membuktikan bagaimana jemaat Tuhan yang bersyukur itu selalu ditambahi jumlahnya oleh Tuhan.
PG : Betul sekali, maka ironis sekali kalau kita bertemu dengan seseorang yang kaya raya tapi luar biasa negatifnya, bersungutnya, tidak pernah mengucapkan syukur akan apa yang Tuhan telah brikan kepadanya.
Sebaliknya ktiab isa bertemu dengan seseorang yang mungkin sekali sederhana, rumahnya pun sederhana tapi penuh dengan sukacita. Kenapa, sebab orang ini hidup bersyukur; dia menghitung berkat, dia menghitung apa yang Tuhan telah berikan kepadanya. Dan itu menjadi pondasi kehidupannya.
GS : Memang akan ada banyak alasan kalau kita mau bersungut-sungut, tetapi tadi Pak Paul katakan ini merupakan suatu pilihan. Jadi sekalipun banyak alasan untuk bersungut-sungut tapi kita bisa memilih untuk bersyukur terhadap semua itu. Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan kali ini dan saudara-saudara sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga. Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Hidup Bersukacita". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id Kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Semua orang ingin hidup bersukacita dan bergembira. Dan Alkitab pun kerap kali mengingatkan kita untuk hidup dengan bersukacita. Tapi pada kenyataan dalam kehidupan sehari-hari sukar sekali mewujudkan sukacita di dalam diri kita. Hidup yang sehat adalah hidup yang bersukacita . Tapi masalahnya adalah kita harus benar-benar berjuang keras untuk menjadi sukacita. Karena sering kali kita harus menjumpai situasi dalam hidup yang tidak membawa sukacita. Nah hal-hal seperti itulah yang akhirnya menurunkan kadar sukacita dalam hidup kita.
Filipi 4:4-7 , "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Yang pertama, Paulus meminta kita untuk bersukacita. Salah satu ciri khas kehidupan kristiani adalah kehidupan yang penuh sukacita. Nah pertanyaannya adalah bagaimanakah kita dapat hidup bersukacita. Yang saya ingin tekankan adalah sukacita kristiani bukanlah bersumber dari situasi yang kita hadapi melainkan dari Kristus sendiri.
Sukacita dari Kristus adalah sukacita hidup bersama Kristus, yang berarti bahwa kita tidak sendirian. Kristus mendampingi dan akan memberi kekuatan kepada kita untuk menghadapi segala tantangan hidup.
Setiap saat kita diperhadapkan dengan dua pilihan. Pilihan tetap memandang Kristus atau pilihan tidak lagi memandang Kristus.
Sukacita itu perlu dipelihara. Pertanyaannya adalah bagaimana kita memelihara sukacita itu. Paulus menegaskan bahwa kita membawa segala kekhawatiran kita dalam doa dan pengucapan syukur. Ini merupakan kata yang luar biasa pentingnya yaitu bersyukur. Paulus menekankan bahwa kita bisa memelihara sukacita dengan cara hidup bersyukur. Bersyukur berarti melihat apa yang telah Tuhan berikan atau lakukan. Masalahnya adalah kita hanya ingin melihat apa yang seharusnya Tuhan berikan atau lakukan. Kita menjadi gagal melihat apa yang Tuhan telah perbuat dalam hidup kita, kita hanya memfokuskan pada apa yang seharusnya Tuhan lakukan dalam hidup kita.
Salah satu cara yang jelas untuk merefleksikan bahwa kita ini hidup bersyukur adalah kita mempunyai wawasan hidup yang positif. Jadi orang yang bersyukur itu cenderung positif, dia tidak melihat hidup itu gelap atau suram. Dia menantikan hari esok, dia tahu bahwa ada berkat Tuhan untuk hari esok, dia bersedia membantu orang, dia bersedia mempercayai orang karena dia tahu bahwa masih ada kesempatan untuk orang itu bisa berubah dengan dia menolongnya. Dengan kata lain dia positif; dia berpandangan positif. Hatinya penuh sukacita karena hatinya penuh sukacita maka dia melihat hidup itu dengan lebih cerah. Dengan kata lain kita bisa melihat siklus, makin seseorang bersyukur, makin dia bersukacita. Dan makin dia bersukacita makinlah dia positif melihat hidup ini. Dan yang kita tahu pasti adalah Tuhan pun akan bersukacita, melihat anak-anakNya hidup bersyukur.