Pranikah/Pernikahan
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Ada beberapa hal yang bisa kita timba dari ayat ini dalam relasi suami-istri, yang antara lain satu jiwa yang berarti satu pikiran, satu tujuan, tidak mencari pujian yang sia-sia, rendah hati.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S.Th., kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Filipi 2 untuk Pernikahan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, dari judulnya Pak Paul mau membahas tentang Filipi pasal 2 tapi bukankah itu sebuah pasal yang cukup panjang. Bagian yang mana yang Pak Paul maksudkan Filipi 2 untuk pernikahan?
PG : Filipi 2:2 dan 3, yang berbunyi demikian, "Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa,satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pjian yang sia-sia.
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri." Ini adalah bagian yang akan coba kita terapkan dalam relasi suami-istri. Sebab ternyata ayat ini penuh dengan hikmat, penuh dengan masukan-masukan yang berguna bagi relasi suami-istri.
GS : Memang kalau ayat yang tadi Pak Paul bacakan dari Filipi 2:2 dan 3 itu diaplikasikan dalam kehidupan rumah tangga sangat baik. Tetapi kenyataannya kita itu sebagai suami-istri acap kali terjadi selisih paham, pertengkaran yang memuncak. Nah ini relevensinya bagaimana?
PG : Ada beberapa yang akan saya timba atau saya petik dari firman Tuhan ini, Pak Gunawan. Yang pertama yang akan kita angkat adalah kata hendaklah kamu sehati sepikir dalam satu kasih, tujunnya adalah supaya kita itu sehati sepikir, nah firman Tuhan langsung berkata dalam satu kasih.
Apa yang bisa kita terapkan dari istilah satu kasih ini? Kesatuan hanya dapat dimungkinkan bila kita saling mengasihi, jadi kita mesti memelihara kasih di antara kita. Artinya kita tidak akan bisa menjaga kerukunan kalau kasih itu tidak ada lagi di antara kita dan pasangan kita. Masalahnya adalah apa yang harus kita lakukan agar kasih itu tetap ada dan bahkan bisa bertumbuh dalam relasi suami-istri. Nah saya kira salah satu hal yang penting yang mesti kita lakukan adalah kita sering-sering melakukan hal-hal yang menyenangkan hati pasangan kita. Ini saya kira nasihat tradisional yang tetap benar sampai sekarang. Kasih cenderung bertumbuh dalam relasi yang menyenangkan, dan relasi yang menyenangkan adalah relasi di mana pasangan kita mencoba dengan jelas menyenangkan hati kita, melakukan hal-hal yang membuat kita senang. Sekali lagi ini adalah suatu atau sebuah nasihat yang sederhana, yang tradisional tapi tetap mempunyai kebenaran sampai sekarang.
WL : Kalau kita harus melakukan hal-hal yang menyenangkan pasangan kita terkadang bahkan sering juga hal itu belum tentu menyenangkan buat diri kita, hanya demi pasangan. Ada pengaruhnya atau tidak Pak Paul dari faktor yang dari sebelum menikah keduanya memang mempunyai kesamaan minat dalam banyak hal. Tapi akhir-akhir ini sepertinya ada beberapa buku yang justru mencetuskan bahwa persamaan minat tidak terlalu penting, menurut Pak Paul bagaimana?
PG : Saya mengutip dari Norman Wright seorang pakar pernikahan di Amerika, dia berkata bahwa makin banyak ketidaksamaan di antara suami dan istri makin besar usaha yang harus dikeluarkan untk mencocokkan keduanya.
Jadi sudah tentu aplikasinya adalah makin banyak kesamaan makin sedikit usaha yang harus kita keluarkan untuk mencocokkan diri. Jadi saya kira yang tadi Ibu Wulan katakan itu betul sekali, kalau kita mempunyai kesamaan minat atau hoby dan kita bisa melakukannya bersama-sama (sebab ini menyenangkan hati satu sama lain), sudah tentu ya sekali tepuk dua lalat mati. Benar-benar langsung pasangan kita senang kita pun senang. Namun jangan sampai kita membatasi diri hanya pada hal-hal yang menyenangkan kita berdua, kita juga mesti memikirkan apa yang disenangi oleh pasangan kita. Dan bukan saja mencoba memikirkan namun memberikan dan melakukan hal-hal yang menyenangkan itu. Simpel sekali misalkan istri kita senang kalau kita meneleponnya sebelum kita pulang, kalau kita akan terlambat, nah lakukanlah. Kenapa kita susah melakukan hal yang sederhana seperti itu, misalkan suami kita senang kalau misalnya dia pulang ke rumah kita bisa menyediakan teh, kita bisa memberikan dia handuk supaya dia bisa mandi. Hal kecil seperti itu, hal-hal kecil yang ternyata sangatlah berguna.Saya jadi teringat inilah hal-hal kecil yang sering kali dilakukan oleh orangtua, atau kakek-nenek kita di zaman dahulu. Namun sekali lagi hal-hal kecil yang ternyata membawa dampak positif. Karena cinta bertumbuh di dalam relasi yang menyenangkan dan relasi yang menyenangkan adalah relasi di mana masing-masing mencoba menyenangkan hati satu sama lain.
GS : Saya masih kurang jelas Pak Paul, mana yang lebih dahulu; kita memiliki kasih sehingga kita bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan pasangan kita atau karena kita melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan lalu timbul kasih, itu bagaimana Pak Paul?
PG : Saya kira titik berangkatnya atau penggerak utama dan pertamanya adalah kasih. Jadi kita mempunyai kasih kepada pasangan kita, oleh karena adanya kasih itulah kita ingin melakukan hal-hl yang menyenangkan hati pasangan kita.
Nah kenapa harus saya munculkan karena yang lebih sering terjadi adalah begitu kita memasuki pernikahan seakan-akan kita juga tidak lagi terdorong untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan hati pasangan kita. Kita merasa seolah-olah ya sudahlah tugas sudah selesai sekarang masuk dalam kenyataan hidup yaitu pernikahan dan tugas kita selanjutnya adalah bekerja mengurus anak dan sebagainya. Akhirnya kita lalai memelihara kasih atau relasi kasih dalam pernikahan kita. Ini yang sering kali terjadi dan relasi yang tak disirami oleh perbuatan-perbuatan yang menyenangkan seperti itu lama-lama menjadi relasi yang kering alias kasih itu tak lagi ada dalam relasi, tidak lagi kuat. Dampaknya apa yang sering kali muncul? Konflik; konflik itu benar-benar ibarat api yang menyambar ranting-ranting yang kering. Kalau rantingnya basah api itu susah sekali membakar, nah demikian pulalah relasi; kalau kering, kurang kasih mudah sekali terbakar oleh api konflik.
GS : Ada hal lain yang disebut dalam firman Tuhan tadi tentang satu jiwa, apakah itu Pak Paul?
PG : Satu jiwa berarti satu pikiran, ini artinya adalah satu cara pikir, cara pola pikir. Saya menyimpulkan kesatuan hanya dimungkinkan bila kita mempunyai pola pikir serupa; kalau pola piki kita dan pasangan kita berbeda sekali itu susah sekali untuk disatukan.
Misalkan yang satu cara berpikirnya loncat-loncat, susah sekali untuk sistematik; yang satunya sistematik, berurut nah untuk disatukan sangatlah sulit. Yang satu praktis luar biasa, tidak usah persiapan yang penting lihat saja nanti bagaimana, nanti bisa terpikirkan jalan keluarnya sementara yang satu tidak; dia harus benar-benar mempersiapkan segalanya. Itu akan mudah sekali terjadi pertengkaran. Jadi perlu juga kesatuan berpikir, pola pikir akan makin serupa bila kita sering berkomunikasi. Sudah tentu meskipun kita sebelum menikah sudah berusaha mencari pasangan yang pola pikirnya serupa dengan kita, tapi tetap setelah kita menemukan pasangan kita dan akhirnya menikah dengan dia kita menyadari ternyata pola pikirnya tidak terlalu sama. Dan tidak jarang justru kita menyukai orang yang pola pikirnya berkebalikan dari kita; jadi bukannya alasan untuk kita tidak bisa menyatu. Yang perlu kita lakukan adalah sering-sering berkomunikasi karena ini yang sering kali terjadi makin kita berkomunikasi makin kita itu bisa belajar dari pasangan kita. Dan pasangan kita pun demikian terhadap kita, belajar tentang pola pikir kita sehingga lama-kelamaan pola pikirnya makin menyerupai pola pikir kita dan sebaliknya pola pikir kita pun makin menyerupai pola pikir pasangan kita.
WL : Pak Paul, mungkin ada pasangan-pasangan yang sepertinya mengartikan pola pikir serupa ini secara ekstrim. Sebab saya sering menemukan kalau acara diskusi, misalkan ditanyakan ke bapak A si suami kemudian misalkan dia menjelaskan tentang sesuatu; langsung istrinya kalau ditanya ya sama dah dan hampir semua begitu. Itu jadinya si istri tidak mempunyai identitas dirinya, pola pikirnya sendiri, bukankah kita juga perlu berkembang juga Pak Paul.
PG : Kesimpulannya ada dua, mungkin si istri sungkan berseberangan pendapat dengan si suami; jadi daripada dia melontarkan kata-kata yang nanti berseberangan ya lebih baik dia tidak bicara. tau yang kedua dia memang malas berpikir, jadi daripada berpikir susah-susah ya lebih baik berkata sama dengan suamnya.
Jadi saya tidak tahu yang mana di antara dua itu.
GS : Di dalam menyatukan jiwa, satu pola pikir tadi, sering kali kita tetap bertahan pada pola kita sendiri sebenarnya tetapi kita mencoba memahami pola pikir pasangan kita, jadi kita masing-masing mempunyai identitas. Dan benturan atau gesekan itu agak jarang terjadi dengan banyaknya kita berkomunikasi.
PG : Awalnya selalu begitu Pak gunawan, jadi upaya memahami meskipun awalnya yang tercetus adalah tidak memahami. Kenapa engkau bisa berpikir seperti ini, sering kali itu yang terjadi. Namunkarena kita itu mau menjaga dan memelihara persatuan kita berusaha memahami kenapa dia sampai berpikir seperti ini.
Kalau kita cukup mengenal pasangan kita dan pola pikirnya seharusnya kita bisa menyimpulkan kenapa dia sampai berpikir seperti ini. Karena kita mencoba menempatkan diri dalam pola pikirnya, o......OK! dengan pola pikirnya seperti itu tidak heran dia sampai pada kesimpulan seperti itu. Jadi langkah pertama selalu mencoba memahami. Tapi memahami belum tentu menerima, itu adalah dua hal yang berbeda. Nah, kapankah kita menerima? Nah ini sebetulnya rahasianya kita baru bisa menerima tatkala kita pun mulai berubah. Berubahnya karena kita terus-menerus berinteraksi dengannya. Maka pernikahan yang memang ditandai dengan kefakuman interaksi, jarang suami-istri itu berbicara, bertukar pikiran, akibatnya sangat-sangat jelas itu nanti bukannya sekarang. Bertahun-tahun kemudian akan terlihat jelas bahwa mereka tak pernah berusaha menyatukan keduanya sehingga beberapa tahun kemudian kita melihat mereka tidak bisa berkomunikasi, tidak bisa berbicara, tidak bisa menyatukan pikiran. Karena dua-duanya terlalu berseberangan, nah kita bertanya berbelasan tahun menikah apa yang mereka lakukan. Jawabannya adalah ya tidak berkomunikasi. Mungkin sekali awalnya mereka mencoba tapi terus berbenturan dan jera, tidak mau lagi nanti berbenturan lagi. Keliru, justru biarkan berbenturan, biarkan mencoba terus dengan sekuat tenaga terus mencoba untuk berkomunikasi meskipun sulit, maka lama-kelamaan kita mulai terpengaruh oleh pola pikir pasangan kita tanpa kita sadari karena kita terus bergaul dengannya. Kita mulai berubah, kita mulai bisa menerimanya. Nah inilah akhirnya pada usia-usia yang sudah agak paro baya kalau memang kita telah berusaha keras seperti itu, pada usia paro bayalah kita akhirnya mulai memetik buah-buah kerja keras kita itu.
WL : Pak Paul, tapi kalau misalkan keduanya itu memang jenis pola pikirnya sangat kontras seperti yang tadi Pak Paul sebutkan sebelumnya; yang satu misalnya berpikiran global, yang satunya sangat mendetail, berarti itu sering terjadi konflik. Apakah tetap bisa mengaplikasikan bagian ini untuk serupa, karena banyak kasus saya temukan misalnya teman-teman kalau cerita, saya bisa lebih enak ngobrol dengan papa atau yang satu dengan mamanya, karena enak diajak berpikir, diajak berdiskusi; sedangkan dengan mama tidak nyambung. Nah itu bagaimana Pak Paul?
PG : Saya kira kita tidak berubah secara total, tapi kita makin mendekati satu sama lain sehingga nantinya dalam pengambilan keputusan karena kita makin dekat maka makin dekat dalam mengambi keputusan.
Nah dalam payung inilah kita itu disebut satu pikir, bukannya benar-benar seperti duplikat, seperti kembar, namun makin menyerupai sehingga dalam pengambilan keputusan kita lebih bisa untuk sepikiran.
GS : Pak Paul, selain satu kasih dan satu jiwa, ada juga yang disebut satu tujuan, apakah itu Pak Paul?
PG : Satu tujuan artinya mempunyai nilai kehidupan yang sama. Apakah tujuan hidup kita, apakah tujuannya kita ada di dunia ini. Saya menyimpulkan kesatuan antara suami-istri hanya dimungkinkn bila kita mempunyai nilai kehidupan yang sama.
Nah yang kita tahu dari firman Tuhan adalah hidup untuk Tuhan, kita ini sudah dibeli oleh Tuhan, kita bukanlah pemilik hidup kita ini, Tuhanlah yang memiliki hidup kita. Jadi kita mesti memiliki nilai-nilai yang Tuhan miliki pula, misalnya prinsip yang ingin saya bagikan adalah genggamlah yang kekal sedangkan lepaskan yang fana. Artinya kita menggenggam yang kekal itu adalah menggenggam Tuhan dan juga manusia, kita utamakan Tuhan dan manusia di atas yang fana yakni benda. Kita tahu manusia juga kekal, kita nanti akan hidup bersama Tuhan tapi kalau sekarang kita hidup di luar Tuhan nantinya pun setelah meninggalkan dunia ini kita akan hidup di luar Tuhan. Jadi kalau suami-istri mempunyai nilai hidup yang sama, prinsip hidup yang sama; yaitu menggenggam yang kekal dan berani melepaskan yang fana, setidak-tidaknya mereka sudah dipersatukan oleh satu tujuan yang sama bahwa hidup ini untuk Tuhan; yang penting bagi Tuhan barulah penting buat saya; yang tidak penting buat Tuhan tidak penting buat saya. Mereka akan lebih mudah hidup harmonis, sebaliknya kalau tujuan ini sudah berbeda, misalnya menggenggam yang fana melepaskan yang kekal, tidak mungkin bisa bersatu.
WL : Pak Paul, berarti prinsip ini tidak bisa bagi orang yang menikah dengan yang tidak seiman. Misalnya yang satunya sangat memfokuskan diri pada materialisme, misalnya mengurus toko dan sebagainya, mungkin akan sulit Pak?
PG : Betul sekali, mungkin itulah prasyarat yang Tuhan berikan di I Korintus 7:39 dikatakan kita bebas menikah dengan siapa saja asalkan sesama orang percaya. Yang tujuannya adaah agar kita memiliki nilai-nilai hidup yang serupa.
GS : Salah satu wujudnya mungkin ini Pak Paul, yang tidak mencari kesenangan sendiri.
PG : Betul sekali, firman Tuhan dengan jelas berkata tidak mencari kepentingan sendiri. Nah ini syarat kesatuan dalam pernikahan juga, sebetulnya dalam pernikahan hanya ada satu kepentingan ang boleh ada yaitu kepentingan bersama.
Kepentingan bersama artinya kita mengakomodasi kepentingan pasangan kita dan juga kepentingan kita pribadi. Nah saya ini mendefinisikan kepentingan sebagai kebutuhan pula dan saya percaya kebutuhan adalah suatu bagian yang penting dalam pernikahan. Jadi kita mesti berusaha memenuhi kebutuhan dasar pasangan kita, meskipun pada waktu kita memenuhi kebutuhannya kita sendiri tidak terlalu puas, tidak terlalu bahagia namun kita harus juga memenuhi kebutuhannya. Contohnya, kebutuhan akan kasih sayang, kita berkata: "Aduh besar benar kebutuhan kasih sayangnya." Tapi itulah yang dibutuhkannya kita coba berikan. Dia butuh penghargaan, nah kita tahu dia memang butuh penghargaan itu ya kita berikan meskipun kita tidak terlalu senang tapi kita tahu itu penting bagi pasangan kita, sudah kita berikan. Jadi apa yang merupakan kebutuhan dasar nah itulah yang akan kita coba penuhi.
WL : Kalau kepentingan bersama lebih banyak diwarnai kepentingan pribadi salah satu pasangan, tapi dia mengatasnamakan kepentingan bersama, bagaimana Pak Paul?
PG : Memang adakalanya kita itu akhirnya mengatasnamakan kepentingan pribadi dengan kepentingan bersama, misalnya kita itu maunya tinggal di derah yang terpisah dari mertua kita. Sebetulnya ni demi kepentingan pribadi, tapi kita bagaimana membujuk pasangan kita ya kita katakan, "Anak-anak perlu sekolah yang ini dan sekolah ini dekat dengan rumah yang akan kita beli," meskipun kita mempunyai kepentingan pribadi.
Nah dalam kenyataannya atau konkretnya adalah kadang-kadang hal-hal seperti itu terjadi. Tapi saya kira sampai titik tertentu itu adalah hal yang wajar, kita mempunyai kepentingan, kita tahu ini juga baik ini ada kepentingan untuk pasangan kita, kita akomodasikan keduanya sebab apa salahnya kalau dua-duanya bisa memperoleh kepentingannya. Namun jangan sampai kita menjadi orang yang egois yang hanya memusingkan kepentingan diri tidak memikirkan kepentingan orang lain. Kalau kita bermental seperti itu sebetulnya kita sedang meretakkan hubungan keluarga sendiri.
GS : Ada yang mengkhawatirkan kalau dituruti terus keinginannya, dia akan menjadi manja.
PG : Ada juga yang begitu, kalau sampai itu yang terjadi berarti kita harus mengerem dan berkata: "Mengapa saya sendiri yang terus-menerus memikirkan dan melakukan kepentinganmu, sedangan yang saya butuhkan tidak pernah engkau berikan."Berarti
kita harus berani mengemukakan kepentingan kita kepada pasangan kita pula.
GS : Kalau yang tidak mencari pujian yang sia-sia itu bagaimana Pak Paul?
PG : Artinya kita itu jangan mencari kesempatan untuk berbangga-bangga dan menuntut pasangan kita memberikan pengakuan itu kepada kita. Kita ingin tatkala kita benar, pasangan kita mengakui,nah kita ingin juga dia itu hormat kepada kita, tunduk kepada kita, dan kita ingin menonjolkan diri kita di hadapan pasangan.
Hati-hati, firman Tuhan berkata: "Jangan mencari pujian yang sia-sia." Yang penting bukanlah pengakuan bahwa kita benar, sering kali kita itu ingin menunjukkan bahwa kita benar dan kita tuntut pasangan kita mengakui bahwa kita benar. Jangan, yang penting bukan pengakuannya, yang penting adalah kita melakukan hal yang benar. Ada juga orang yang mencari-cari sukses, dia berpikir semakin saya sukses semakin pasangan saya harus menghormati saya. Ini pujian yang sia-sia, saya meminta kepada semua biarlah pasangan kita memuji kita karena kita takut akan Tuhan dan mengasihi keluarga serta bertanggung jawab. Kalau kita bisa dipuji pasangan kita karena itu saja, saya kira itu sudah cukup yang lain-lainnya tidak seperti ini.
WL : Berbicara tentang pujian, saya jadi teringat Amsal 31:10 sampai 30-an khusus berbicara memuji terhadap istri yang cakap. Apakah itu berarti memang lebih banyak perempuan atau istri yang butuh dipuji, atau sebetulnya kalau di Filipi 2 ini berlaku untuk semua bukan hanya untuk istri, bagaimana Pak Paul?
PG : Saya kira dua-duanya baik perempuan maupun pria membutuhkan pujian. Tapi yang firman Tuhan ingin tekankan adalah jangan kita itu mengejar-ngejar pujian, mengejar-ngejar pengakuan dari psangan kita.
Karena seharusnyalah bisa dikatakan oleh pasangan kita tentang kita dan kita pun bisa mengatakan tentang hal yang sama pada pasangan kita.
GS : Ayat tadi juga mengatakan yang sebaliknya, hendaknya dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri. Ini wujud rendah hatinya seperti apa, Pak Paul?
PG : Wujud rendah hati benar-benar dikonkretkan dengan satu tindakan yaitu memperlakukan orang lebih baik daripada kita. Benar-benar kita menganggap orang lain itu lebih utama, lebih baik daipada kita, dan kita harus memperlakukannya sebagai orang yang lebih baik daripada kita.
Nah, kenyataannya apakah selalu pasangan kita lebih baik daripada kita? Kenyataannya bukankah tidak, dalam hal-hal tertentu dia lebih baik dan dalam hal tertentu kita lebih baik. Nah firman Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi orang yang ilusional, yaitu hidup dalam khayalan, seolah-olah dalam semuanya dia itu lebih baik. Jangan, Tuhan meminta kita melihat orang dengan jelas, dengan jernih tapi Tuhan meminta kita mempunyai sikap memperlakukan orang seakan-akan dia orang yang lebih baik daripada kita seperti itu. Jadi itu benar-benar wujud dari rendah hati, rendah hati tidak diwujudkan dalam jalan bongkok-bongkok, ngomong merendah-rendah, sama sekali bukan itu. Rendah hati diwujudkan secara konkretnya melalui tindakan, yaitu memperlakukan orang seakan-akan dia lebih baik daripada kita. Meskipun kita tahu kita lebih baik daripada dia dalam hal ini, tapi tetap kita memperlakukan dia seakan-akan dia lebih baik daripada kita. Nah sikap seperti inilah kalau kita pelihara, kita bisa menikmati kesatuan dalam rumah tangga kita.
WL : Mungkin teladan yang paling ideal pada Tuhan Yesus sendiri. konteks ini Paulus menulis Filipi 2 di bagian berikutnya tentang kerendahan hati Tuhan yang merendahkan diri, mengosongkan diri sampai mati di kayu salib. Sampai Tuhan Allah meninggikan Dia. Tuhan Yesus sendiri tahu Dia pasti lebih sempurna, lebih baik daripada manusia. Tetapi Tuhan memperlakukan kita begitu istimewa.
PG : Betul sekali, contoh yang baik dan itulah yang menjadi dasar contoh Paulus atau tolok ukurnya seperti Kristus.
GS : Tetapi kalau itu diterapkan di dalam hubungan suami-istri, apakah itu tidak membuat pasangan kita itu menjadi tidak tahu kelemahannya.
PG : Nah sudah tentu kita itu dipanggil Tuhan untuk saling membangun, membangun artinya kita melihat di mana kekurangan pasangan kita. Tapi kalau kita sudah bersikap bahwa dia itu lebih baikdaripada kita, waktu kita menyampaikan kekurangannya kita menyampaikannya dengan cara yang lebih baik, dengan penuh hormat.
Tapi kalau kita sudah bersikap saya lebih baik, kamu memang tidak mengerti apa-apa dalam hal ini, wah kita mencoba memberitahukan dia bukannya membangun tapi malah menghancurkan dia. Dan ini yang saya kira kita semua lakukan termasuk saya, jadi kita perlu belajar untuk benar-benar memperlakukan pasangan kita seakan-akan dia lebih baik daripada kita.
GS : Jadi ada cukup banyak ayat-ayat di dalam Alkitab itu yang memberikan pedoman bagi kita di dalam kehidupan berkeluarga khususnya dalam hubungan suami-istri. Jadi terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan kali ini di mana Pak Paul sudah menguraikan dengan begitu jelas Filipi 2:2 dan 3 dan juga Ibu Wulan terima kasih untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami bersama dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Filipi 2 untuk Pernikahan." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamt telaga@indo.net.id Kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sekalian sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Filipi 2:2 dan 3, "Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri." Ini bagian yang akan kita coba terapkan dalam relasi usami-istri.
Ada beberapa hal yang bisa kita timba dari ayat ini, yaitu:
Pertama, dari kata hendaklah kamu sehati sepikir dalam satu kasih , tujuannya adalah supaya kita sehati sepikir, dalam satu kasih. Kesatuan hanya dapat dimungkinkan bila kita saling mengasihi. Artinya kita tidak akan bosa menjaga kerukunan kalau kasih itu tidak ada di antara kita dan pasangan kita.
Salah satu hal yang penting yang perlu kita lakukan untuk kasih itu tetap bertumbuh dalam relasi suami-istri adalah kita harus sering-sering melakukan hal yang menyenangkan hati pasangan. Ini adalah suatu nasihat yang sederhana, yang tradisional tapi tetap mempunyai kebenaran sampai sekarang.
Kedua, satu jiwa yang berarti satu pikiran. Artinya satu cara pikir dan cara pola pikir. Kesatuan hanya dimungkinkan bila kita mempunyai pola pikir serupa. Kalau pola pikir kita berbeda dengan pasangan, itu susah sekali untuk disatukan.
Ketiga, satu tujuan yang artinya mempunyai nilai kehidupan yang sama. Kesatuan suami-istri hanya dimungkinkan bila kita mempunyai nilai kehidupan yang sama. Kalau di dalam firman Tuhan ditekankan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk Tuhan, karena kita sudah dibeli oleh Tuhan; kita bukanlah pemilik hidup ini melainkah Tuhanlah yang memiliki hidup kita. Jadi kita mesti memiliki nilai-nilai yang Tuhan juga miliki. Misalnya prinsip genggamlah yang kekal dan lepaskan yang fana. Artinya kita menggenggam yang kekal itu adalah Tuhan dan manusia, kita mengutamakan Tuhan dan manusia di atas yang fana yakni benda.
Jadi kalau suami-istri mempunyai nilai hidup yang sama, prinsip hidup yang sama; setidak-tidaknya mereka sudah dipersatukan oleh satu tujuan yang sama bahwa hidup ini untuk Tuhan.
Keempat, tidak mencari pujian yang sia-sia. Artinya kita itu jangan mencari kesempatan untuk berbangga-bangga dan menuntut pasangan kita memberikan pengakuan kepada kita. Kita ingin tatkala kita benar, pasangan kita mengakui, kita ingin dihormati, kita ingin pasangan kita tunduk kepada kita, dan kita ingin menonjolkan diri kita di hadapan pasangan. Firman Tuhan berkata: "Jangan mencari pujian yang sia-sia." Yang penting bukanlah pengakuan bahwa kita benar, yang penting adalah kita melakukan hal yang benar.
Kelima, rendah hati; rendah hati diwujudkan dengan satu tindakan yaitu memperlakukan orang lebih baik daripada kita. Kita menganggap orang lain lebih utama, lebih baik daripada kita dan kita harus memperlakukannya sebagai orang yang lebih baik dari kita.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Pertemuan antara suami dan istri adalah suatu hal yang penuh dengan keunikan. Tidak ada yang terjadi di luar kehendak Tuhan. Demikian juga pertemuan kita dengan calon pasangan kita adalah dalam rencana dan kehendak Tuhan.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini bersama Ibu Wulan, S.Th. akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengapa Tuhan Mempertemukan Kami", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul ada orang yang berpendapat bahwa jodoh itu di tangan Tuhan, bagaimana tanggapan Pak Paul terhadap ungkapan seperti itu?
PG : Begini Pak Gunawan, kalau kita berkata bahwa jodoh itu di tangan Tuhan, itu adalah suatu pernyataan bahwa Tuhanlah yang berdaulat atas hidup ini, sehingga bukan saja jodoh di tangan Tuhan api segala hal yang terjadi di dalam kehidupan kita ini semua ada di tangan Tuhan, dalam kedaulatan Tuhan.
Tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam dunia ini di luar kedaulatan atau penguasaan Tuhan sendiri. Jadi kira-kira seperti itulah maknanya, namun dalam pengertian kita tentang jodoh itu di tangan Tuhan, kita memaknainya seperti ini bahwa meskipun itu dalam kehendak Tuhan namun Tuhan memberikan andil kepada manusia untuk berpartisipasi dalam mewujudkan kehendak Tuhan itu. Sehingga dalam perjodohan kita ini tidak diam, tidak hanya menantikan Tuhan berbuat sesuatu membawa seseorang ke dalam kehidupan kita dan kita berkata inilah jodoh yang Tuhan berikan kepada kita, tidak. Pengertian dalam kehendak Tuhan, kita ini diberikan kesempatan dan juga andil untuk berpartisipasi dalam mewujudkan kehendak Tuhan itu.
GS : Itu berlaku bagi setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus maupun tidak, Pak Paul?
PG : Betul, dalam pengertian ini bahwa Tuhanlah yang memegang kendali penuh atas semua kehidupan dan aktifitas di dalam dunia ini ya, semua hal yang terjadi memang dalam kedaulatan Tuhan sendir, pertanyaan berikutnya adalah apakah semua pernikahan itu adalah pernikahan yang Tuhan setujui dalam pengertian kehendak itu sesuatu yang terjadi tidak ada yang di luar penguasaan Tuhan.
Namun kalau kita masuk ke point berikutnya apakah semua pernikahan itu disetujui oleh Tuhan, ternyata tidak Pak Gunawan.
GS : Kalau begitu pasti ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi sebuah pernikahan itu disetujui atau dikehendaki oleh Tuhan atau pun tidak?
PG : Betul sekali, dan syaratnya sebetulnya Alkitab hanya memberikan dua. Yang pertama Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan menghendaki kita menikah dengan sesama orang percaya, dengan ssama orang yang sudah ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus.
Maka di 1 Korintus 7:39 Rasul Paulus memberikan nasihat bahwa kalau seseorang kehilangan pasangannya karena kematian, boleh menikah lagi dengan siapapun yang dikehendakinya asalkan dia orang percaya. Dalam terjemahan Alkitab yang lain ditulis asalkan dia orang yang di dalam Kristus. Yang kedua adalah saya ambil dari Kejadian 2:18 , di sana dikisahkan tentang penciptaan Hawa. Nah kita tahu bahwa Hawa bukan hanya sembarang manusia tapi adalah istri Adam, jadi memang penciptaan Hawa itu harus dilihat dari dua konteks. Konteks penciptaan manusia yang selanjutnya tapi juga dalam konteks pernikahan, ini adalah istri yang Tuhan bawa dalam kehidupan Adam. Istilah yang Tuhan gunakan adalah seorang penolong yang sepadan bagi Adam. Berarti kalau kita boleh menggunakan ayat ini sebagai kriterianya, Tuhan menghendaki kita ini menikah dengan yang cocok, yang sepadan dengan kita, yang bisa terlibat dalam relasi saling tolong sehingga kita mendapatkan bantuan, masukan dari pasangan kita dan demikian pula sebaliknya. Nah dua syarat inilah yang Tuhan sudah tetapkan, jadi kalau kita keluar dari dua syarat ini berarti itu adalah pernikahan yang tidak Tuhan setujui.
WL : Pak Paul, berkaitan dengan pernikahan yang dikehendaki Tuhan, apakah Pak Paul bisa menjelaskan perbedaannya dengan area ketetapan Tuhan. Ketetapan Tuhan yang saya mengerti seperti keselamatan, orang ini dipilih atau tidak dipilih. Saya merasa perlu dijelaskan lebih lagi berkaitan juga dengan pertanyaan Pak Gunawan. Tidak sedikit orang Kristen yang meyakini bahwa memang benar-benar si A jodohnya itu pasti si B. Saya juga pernah membaca sebuah buku yaitu pengalaman seorang Jepang, benar-benar mengasumsikannya seperti itu, bahwa dia yakin di suatu hari kelak di satu hutan tertentu dia akan bertemu dengan jodoh yang ini. Nah, masalahnya kalau ternyata bukan. Saya sendiri juga pernah mengalami, suatu hari di perayaan Natal di gereja lain, tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri saya, saya sedang telepon kemudian pria ini berkata: "Kamu adalah jodoh yang dikehendaki oleh Tuhan buat saya," saya terkejut luar biasa, "bagaimana bisa tahu bahwa saya ini jodoh buat kamu. Saya belum kenal kamu, kamu pun belum kenal saya," Pak Paul mungkin bisa menolong untuk menjelaskan?
PG : Contoh Ibu Wulan itu contoh yang baik sekali yaitu contoh penyalahgunaan kehendak Tuhan. Jadi kita mesti berhati-hati agar kita tidak mengklaim inilah kehendak Tuhan, meskipun kita belum mmpunyai buktinya.
Saya pernah mempunyai seorang teman yang mendapatkan pinangan yang sama seperti yang pernah Ibu Wulan alami dulu. Pria ini datang kepadanya dan berkata: "Dalam doa saya mendapatkan wahyu dari Tuhan bahwa engkaulah jodoh untukku." Nah, jawabannya dia adalah sangat baik, dia berkata: "OK, saya akan doakan dan kalau Tuhan juga memberikan wahyu yang serupa kepada saya barulah saya yakin ini adalah kehendak Tuhan, kalau Tuhan tidak memberikan wahyu yang sama berarti memang bukan." Jadi itu salah satu cara untuk menangkal pinangan-pinangan orang yang seperti ini. Tapi yang kedua adalah Tuhan meminta kita berandil di dalam mewujudkan kehendakNya bagi kita untuk menemukan pasangan hidup kita. Tuhan justru tidak menghendaki kita ini menjadi seperti orang yang pasif tidak ikut andil sama sekali, seolah-olah hanya menantikan seseorang dibawa di dalam kehidupan kita. Tidak, andil kita apa, andil kita adalah kita mesti melihat kecocokannya, kita mesti benar-benar menguji apakah relasi ini relasi yang cocok dan ujian ini harus melewati kurun yang tertentu, waktu yang tertentu agar kita bisa meyakini ya bahwa ini adalah pasangan yang cocok untuk kita. Kalau misalkan orang ini seiman dan sama-sama dalam Tuhan, tapi orang ini tidak cocok dengan kita, itu adalah pernikahan yang Tuhan tidak setujui meskipun dia seiman, namun kita dalam menjalani masa-masa perkenalan dengan dia kita pun menyadari waduh.........90% pertemuan kita itu diisi dengan pertengkaran, 10% baru tidak diisi dengan pertengkaran. Seharusnya itu sudah cukup kuat untuk memberitahukan kita bahwa ini bukanlah relasi yang cocok, bukan relasi yang sepadan. Memang sebetulnya kehendak Tuhan itu bisa kita lihat dari berbagai level, meskipun dari mata Tuhan kehendak Tuhan hanya satu tapi dari kacamata manusia seolah-olah kita bisa membeda-bedakan kehendak Tuhan dalam dua atau tiga level. Nah, level yang paling dekat dengan kehendak Tuhan adalah ketetapan langsung misalnya kelahirang Tuhan Yesus, kematian Tuhan Yesus di kayu salib itu yang saya panggil ketetapan langsung namun memerlukan kondisi artinya Tuhan memang sudah tetapkan Tuhan Yesus akan mati di kayu salin, namun ada kondisinya. Kondisinya adalah manusia-manusia itu mengambil bagian dalam mewujudkan kehendak Tuhan yaitu mereka membenci Tuhan, mereka melihat Tuhan Yesus sebagai pengacau dan harus disalibkan, sehingga akhirnya Tuhan benar-benar mati disalib. Itu ketetapan Tuhan namun manusia itu seolah-olah mempunyai bagian di situ dalam mewujudkan kehendak Tuhan. Berbeda dengan misalnya kelahiran Tuhan Yesus langsung, tulah yang Tuhan berikan kepada Mesir langsung, itu ketetapan yang benar-benar langsung. Penciptaan alam semesta ini, itu juga benar-benar ketetapan yang langsung sekali tanpa sedikit pun manusia mempunyai bagian dalam kehendak Tuhan itu. Nah, dalam level yang kedua yang tadi saya berikan contoh tentang kematian Tuhan Yesus jelas adanya andil manusia di situ, terus tentang penyebaran Injil dari Yerusalem ke Yudea dan akhirnya ke seluruh muka bumi ini, itu diawali dengan penganiayaan orang Kristen di kota Yerusalem. Memang Tuhan menghendaki murid-murid Tuhan itu pergi ke seluruh penjuru dunia tapi mereka tidak pergi. Jadi seolah-olah Tuhan itu memakai peristiwa penganiayaan itu untuk membawa murid-muridNya keluar dari Yerusalem. Tapi ada level yang ketiga, level yang yang ketiga adalah seolah-olah tidak ada ketetapan dari Tuhan maka saya sebut ketetapan tidak langsung, tetap ketetapan tapi seolah-olah Tuhan tidak turut campur dengan jelas membisikkan inilah ketetapannya, inilah yang harus terjadi. Kalau Tuhan Yesus sebelum mati Dia pun sudah berkata Dia akan disalibkan, Dia akan dibunuh, tapi dalam berpacaran dan memilih pasangan hidup biasanya itu tidak terjadi, nah seolah-olah Tuhan tidak memberikan ketetapan, sebetulnya ada namun secara tidak langsung dan Tuhan memberikan kesempatan dan andil yang sangat besar kepada manusia untuk terlibat di dalam mewujudkan dan mengetahui dengan pasti akan kehendak Tuhan ini.
WL : Pak Paul, kalau saya boleh mengerti berarti Tuhan memang memberikan hak atau kebebasan kepada manusia untuk memilih pasangannya yang manapun, dengan kata lain sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan Tuhan karena yang sering saya dengar kalau rumah tangga akhirnya berantakan cenderung menyalahkan Tuhan. Kenapa Tuhan akhirnya mengijinkan, pernikahan ini bisa terjadi kalau tidak bukankah waktu di altar itu bisa terjadi sesuatu sehingga tidak jadi menikah tapi ini Tuhan berikan kesempatan ini untuk menikah.
PG : Bu Wulan, ada satu kesalahpahaman yang sering kali dimiliki oleh kita sebagai orang percaya, kita ini beranggapan setelah kita ini percaya kepada Kristus maka hidup ini seharusnya mudah. Jdi seolah-olah tujuan hidup itu adalah kebahagiaan, dalam pengertian kemudahan, kegampangan atau keenakan, itu keliru.
Sebab yang Tuhan janjikan dan inginkan dari kita anak-anakNya adalah pertumbuhan, itu jauh menempati porsi besar dalam rencana kerja Tuhan. Justru yang namanya kemudahan, keenakan dan sebagainya, itu tidak pernah Tuhan janjikan. Maka yang Tuhan pernah katakan kalau engkau mengikut Aku, engkau harus menyangkal dirimu dan memikul salibmu, salib itu lambang kematian pada saat itu. Dengan kata lain memang ada penderitaan, ada kuk yang harus kita pikul, Tuhan berkata pikullah kuk meskipun Dia berjanji itu akan ringan. Bukan karena bebannya ringan tapi kekuatan Tuhan yang begitu besar menolong kita memikul kuk itu sehingga kuk itu tidak terlalu memberatkan kita. Tapi kuk itu sendiri bisa berat namun dengan kekuatan dari Tuhan bisa kita pikul, itu maksudnya Tuhan. Jadi intinya Tuhan tidak menjanjikan kemudahan, keenakan, kelancaran, yang Tuhan inginkan justru adalah pertumbuhan dan kita tahu sebagai manusia bahwa pertumbuhan itu terjadi melewati satu syarat. Syaratnya apa, yaitu kesusahan, krisis, pengujian, nah itu yang memang Tuhan tekankan. Jadi pertanyaan Ibu Wulan adalah bagaimana dengan orang yang sudah menikah yakin ini adalah kehendak Tuhan dan memenuhi syarat, cocok, dan juga sama-sama dalam Tuhan kok masih bertengkar, selama menikah kok masih tidak cocok, seolah-olah ini bukan kehendak Tuhan. Nah, yang pertama saya ingin koreksi adalah konsepnya dulu, kalau kita menikah mengharapkan semuanya lancar berarti kita keliru sebab Tuhan menghendaki pertumbuhan. Dan pertumbuhan biasanya harus melewati proses pengujian.
GS : Yang Pak Paul maksudkan dengan pertumbuhan itu pertumbuhan apa Pak?
PG : Pertumbuhan rohani jiwa kita, jadi roh kita, jiwa kita makin hari makin matang. Misalkan kita kurang sabar, Tuhan ingin menumbuhkan kesabaran kita. Kita misalkan mudah putus asa, Tuhan ingn menumbuhkan ketangguhan kita, makanya di II Petrus dikatakan tambahkan atas imanmu itu kebajikan, tambahkan juga penguasaan diri, tambahkan juga ketabahan, dari situ nanti akan muncul kesalehan.
Kesalehan akhirnya Tuhan minta tambahkan lagi kasih kepada sesama saudara dan sebagainya. Jadi pertumbuhan baik secara rohani maupun secara karakter.
GS : Dalam rangka maksud Tuhan supaya kita bertumbuh, kadang-kadang kita melihat pada kenyataannya bahwa pasangan yang dijodohkan oleh Tuhan, yang dikehendaki oleh Tuhan itu kelihatannya aneh sekali. Jadi kalau kita tadi berbicara tentang sepadan, kalau kita lihat itu tidak sepadan, misalnya yang satu boros, yang satu sangat hemat, yang satu suka keluyuran, yang satu tidak, itu bagaimana Pak Paul?
PG : Sudah tentu prinsipnya adalah sewaktu kita menikah, kita memang mau mencari yang sepadan dalam pengertian kalau pun berbeda bedanya tidak terlalu jauh, kalau memungkinkan itu yang diutamakn.
Dan perbedaan itu tidak sampai akhirnya mengganggu dalam pengertian apakah awal-awalnya tidak mengganggu, pasti mengganggu. Namun pada masa perkenalan kita mencoba untuk mencocokkan atau menyesuaikan. Nah, harusnya sebelum kita menikah proses pencocokkan itu sudah terjadi, mesinnya sudah menyala. Kenapa penting mesinnya menyala karena setelah menikah kita akan menemukan banyak lagi ketidakcocokkan. Artinya kita memang harus siap untuk menghadapi ketidakcocokkan itu.
GS : Yang sering kali dialami oleh mereka yang berpacaran itu justru kelihatannya mereka cocok tapi tidak seiman. Karena memang lingkungannya itu yang tidak memungkinkan mereka bisa bertemu dengan orang-orang yang seiman.
PG : Tadi saya sudah singgung Pak Gunawan, bahwa dua syarat yang harus kita penuhi. Yang pertama adalah pasangan kita harus seiman, yang kedua harus cocok, nah kadang-kadang kita kurang bijaksaa kita hanya melihat faktor seimannya sehingga ketidakcocokkan kita abaikan, akhirnya celakalah yang kita alami, dalam rumah tangga sering bertengkar karena memang dasarnya kurang cocok.
Tapi kesalahan kedua yang sering kita lakukan adalah sudah cocok tapi tidak seiman, kita kompromikan nah itu pun juga bukan pernikahan yang Tuhan setujui karena faktor tidak seimannya itu ada, meskipun kita cocok. Jadi kita harus menjaga keduanya ini harus ada di dalam pernikahan kita, tapi kalau kita sudah yakin keduanya ada dalam pernikahan kita cocok dan seiman, kemudian dalam perjalanannya kita mengalami konflik kita jangan sampai menanyakan kembali, "Tuhan, apakah ini kehendakMu saya menikah dengan pasangan saya." Ini pengalaman saya pribadi juga, pada awal pernikahan kami pun juga harus melewati konflik, nah dalam konflik saya pernah bertanya: "Tuhan, saya salah memilih pasangan hidup atau tidak?" Akhirnya saya memikirkan masalah ini, waktu saya masih berpacaran dengan istri saya apakah saya meyakini ini adalah istri yang cocok dengan saya; ya, apakah dia seiman dengan saya, ya; apakah akhirnya saya simpulkan dia memang pasangan yang Tuhan sediakan untuk saya; ya, kalau begitu sudah saya harus tutup kasus ini, saya tidak boleh bertanya-tanya apakah ini pasangan yang Tuhan berikan sebab kedua syarat ini telah saya penuhi. Berarti yang saya alami dalam pernikahan saya adalah bagian pertumbuhan yang Tuhan tetapkan untuk saya dan istri saya. Nah sekarang setelah hampir 20 tahun saya menikah dengan istri saya kami menikmati relasi yang baik, tidak bisa tidak kami baru bisa melihat ke belakang dan berkata: "O.........ya, pengalaman yang dulu itu memang perlu, harus ada kalau tidak kami tidak akan menanjak, bertumbuh baik dalam karakter kami maupun kerohanian kami." Nah, dengan kata lain maksud Tuhan tercapai, di dalam pernikahan ini akhirnya masing-masing mengalami pertumbuhan dan pertumbuhan itu kita tahu adalah harus menuju pada sasaran yang sama yakni menjadi serupa dengan Kristus Tuhan kita.
WL : Pak Paul, bagaimana dengan kasus-kasus yang justru tidak seiman tapi harmonis pernikahannya?
PG : Tadi saya sudah singgung, meskipun itu yang terjadi tetap itu bukan pernikahan yang Tuhan setujui.
WL : Ya, tapi agak sulit dimengerti Pak Paul, karena akhirnya banyak orang yang berargumen kalau tidak seiman kemudian menikah dan mereka gontokan-gontokan, ribut, bermasalah akhirnya kita bisa mengerti ya sudah itu kuk yang harus kamu tanggung karena kamu tidak menuruti firman Tuhan. Tapi kalau kebalikannya tidak seiman tapi tetap harmonis, nah orang akan bertanya-tanya Tuhan tidak menghukum mereka kok lalu orang akan lebih setujui maksudnya untuk kasus-kasus berikutnya mereka berkata tidak apa-apa kok kita boleh mencoba.
PG : Tuhan memang tidak menghukum, dalam pengertian Tuhan tidak bertindak secara langsung melakukan sesuatu penghukuman atau menjatuhkan sesuatu yang buruk kepada orang ini. Kenapa, ya saya tidk bisa memastikan rencana Tuhan karena saya yakin sebetulnya ada rencana Tuhan untuk setiap orang, tapi yang bisa saya katakan adalah meskipun mereka memang harmonis tapi tetap berada di luar persetujuan Tuhan.
Nah kalau sampai kita bertanya juga mengapa Tuhan seolah-olah memberkati, mereka tambah hari tambah harmonis apa yang terjadi? Nah kita bisa menyimpulkan nomor satu mereka memang harmonis, memang mereka cocok. Dan yang kedua adalah di dalam kebaikan hati Tuhan, di dalam kemurahan Tuhan, Tuhan memberikan anugerahNya kepada pasangan-pasangan ini. Sebab kenapa, sebab dari pasangan yang tidak seiman ini pun akan lahir anak-anak dan Tuhan menginginkan anak-anak ini bisa menghirup udara yang tenteram dalam keluarga. Nah maka Tuhan juga akan memberikan anugerah itu kepada keluarga tersebut yakni biarkanlah, supaya apa yakni anak-anaknya bisa menikmati ketenteraman hidup. Jadi Tuhan bukanlah Tuhan yang jahat, gara-gara kita melanggar perintahnya, kita menikah dengan yang tidak seiman maka Tuhan langsung akan kutuk sehingga anak-anaknya akan terus hidup di dalam penderitaan, tidak ada kedamaian dan sebagainya tidak selalu begitu. Ada memang yang menikah dengan yang tidak seiman, orang itu berkarakter buruk sehingga pernikahan mereka menjadi sangat-sangat penuh dengan penderitaan, ada yang seperti itu. Tapi saya juga setuju dengan Ibu Wulan, ada yang tidak seperti itu, ada yang harmonis itu adalah anugerah untuk mereka. Tuhan membiarkan itu terjadi, dan Tuhan memelihara anak-anak mereka, Tuhan ijinkan namun tetap saya tegaskan itu di luar persetujuan Tuhan. Sebab firman Tuhan sudah jelas berkata boleh menikah dengan siapa saja asalkan sesama orang percaya.
GS : Pak Paul, kalau dalam kasusnya Ayub yang istrinya itu marah-marah kepada Ayub bahkan mengatakan kamu menghujat Allahmu saja. Nah di sana kita melihat itu sebenarnya pasangan yang sama-sama beriman kepada Tuhan atau kerena ketidakcocokan atau ada faktor-faktor lain Pak Gunawan?
PG : Nah itu contoh yang baik sekali Pak Gunawan, contoh Ayub dan istrinya adalah contoh klasik manusia yang akhirnya retak di dalam penderitaan yang teramat berat. Sudah tentu istri Ayub juga dalah seorang yang saleh memang Alkitab tidak menuliskan sebelumnya, karena dikatakan di Alkitab pada masa anak-anaknya masih hidup Ayub itu ayah yang begitu mengasihi anak-anaknya, berdoa untuk anak-anaknya dan tampaknya ini keluarga yang harmonis, anak-anaknya saling mengunjungi, makan bersama penuh kedamaian jadi saya bisa menduga bahwa keluarga ini keluarga yang baik.
Taat pada Tuhan dan harmonis, tapi kenapa istri Ayub sampai berkata seperti itu, dia retak dalam tekanan yang begitu berat sehingga dia berkata kepada Ayub kenapa engkau tidak mengutuk Tuhan, kutukilah dirimu seolah-olah lebih baik kamu mati dan sebagainya. Saya kira dia retak sehingga mengeluarkan kata-kata seperti itu, bukannya dia orang yang yang seperti itu. Tapi bisa kita simpulkan juga bahwa penderitaan yang begitu berat memang membuat hubungan mereka retak, relasi mereka akhirnya tidak lagi harmonis, akhirnya mereka bertengkar. Nah apakah dari sini kita bisa katakan o.....pernikahan Ayub dengan istrinya dari awalnya memang Tuhan tidak berkati, atau Tuhan tidak setujui, tidak. Jadi kita jangan terburu-buru mengaitkan ketidakcocokkan atau pertengkaran di rumah tangga kita selalu dengan Tuhan tidak memberkati kita lagi, belum tentu. Jelas Tuhan memberkati Ayub dan keluarganya dan jelas bahwa ujian yang diberikan Tuhan kepada Ayub bertujuan untuk pertumbuhan Ayub itu sendiri dan ada rencana Tuhan yang lebih besar yang Ayub sendiri pada saat itu tidak bisa melihatnya. Tapi apakah Tuhan menarik berkatNya dari Ayub, tidak. Nah ini saya ingin sampaikan kepada para pendengar kita Pak Gunawan. Sebab saya tahu bahwa dalam penderitaan karena hubungan kita kurang harmonis, kita berkata: "Tuhan itu menarik berkatNya dari kita" belum tentu. Kalau dua-dua berjalan, takut akan Tuhan, mau menyenangkan hati Tuhan tapi kok masih ada pertengkaran itu bukan pertanda Tuhan menarik berkatNya, itu pertanda Tuhan menginginkan kita berdua bertumbuh.
GS : Berarti untuk meyakini bahwa pasangan kita itu pasangan yang Tuhan berikan, itu ada firman Tuhan yang menguatkan kita Pak Paul?
PG : Saya akan bacakan dari kitab Yohanes 14:25 dan 26 "Semua itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan iutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu."
Nah yang ingin saya garisbawahi adalah Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita. Bukalah diri kita pada pengajaran Roh Kudus, pada pengajaran Tuhan, dalam masalah yang kita hadapi dengan pasangan kita ada pengajaran Tuhan untuk kita, Tuhan sedang mengajak kita bertumbuh, ini bukan pertanda Tuhan menarik berkatNya, jangan. Jangan terburu-buru berkata begitu, yakinlah kalau ini memang dari Tuhan pernikahan ini juga sudah kita penuhi syarat-syaratnya, ini kehendak Tuhan dan kita tidak lagi bertanya. Dan kalau kita harus bergumul itu pertanda Tuhan menginginkan kita bertumbuh.
GS : Ya berarti sejak awal kita mencari pasangan kita itu, kita harus melibatkan Tuhan di dalam hal taat kepada pimpinan Roh Kudus ini. Terima kasih Pak Paul dan Ibu Wulan untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengapa Tuhan Mempertemukan Kami." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang . Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Pertemuan kita dengan pasangan kita adalah suatu misteri, misteri dalam pengertian sesuatu yang tidak mudah kita nalar atau kita jelaskan secara rasional. Ada unsur-unsur yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar kenapa kita tertarik kepada pasangan kita. Namun kalau dipandang dari sudut kristiani kita percaya dan bersikap bahwa tidak ada yang terjadi di luar kehendak Tuhan dengan kata lain pertemuan kita dengan pasangan kita itu dalam rencana dan kehendak Tuhan. Pertemuan itu sudah pasti ada campur tangan Tuhan namun di samping campur tangan Tuhan banyak sekali hal-hal yang bersifat natural yang terlibat dalam pemilihan pasangan hidup itu. Hal-hal tersebut adalah ciri-ciri tertentu tentang pasangan kita yang klop dengan kita.
Ada 2 faktor yang mendasari bahwa suatu hubungan dikehendaki Tuhan:
Menikah dengan yang seiman, itu permintaan Tuhan
Menikah dengan yang sepadan, artinya yang cocok dengan kita
Bapak Yakub Susabda pernah mengeluarkan pernyataan yang berkata tidak semua pernikahan Kristen dikehendaki Tuhan. Pernyataan ini masuk kategori yang kedua di atas, adakalanya orang Kristen menikah dengan yang tidak cocok, memang seiman, dalam Tuhan, namun tidak cocok dalam hal-hal yang lain, misalnya kepribadian dan sebagainya. Dalam kasus yang demikian kita harus berani berkata bahwa pernikahan Kristen (dua-duanya orang Kristen) tersebut sebetulnya tidak direstui oleh Tuhan karena adanya ketidakcocokan.
Keharmonisan dalam rumah tangga bukanlah pertanda Tuhan merestui suatu hubungan suami-istri. Contoh: menikah dengan yang tidak seiman, jelas itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, meski di dalam rumah tangga mereka harmonis. Kecocokan memang adalah hal yang sangat indah dan hal yang sangat penting dalam pernikahan, namun tidak bisa dijadikan sebagai tolok ukur bahwa itu adalah pernikahan yang dikehendaki Tuhan. Sebaliknya kalau kedua orang tersebut seiman dan menemukan banyak kecocokan sehingga pernikahan mereka benar-benar solid, kuat, bebas dari konflik dengan mudah kita bisa langsung berkata pernikahan itu memang dikehendaki Tuhan.
Namun jika pernikahan kita mengalami konflik itu juga bukan pertanda Tuhan tidak merestui pernikahan kita. Contoh dalam perjalanan kehidupan Ayub, saat istri Ayub mendorong suaminya menjauhkan diri dari Tuhan. Terjadilah konflik, namun apakah kita berkata bahwa Tuhan sedang tidak memberkati Ayub dan meninggalkan Ayub? Dengan tegas kita bisa berkata tidak! Tuhan hadir bersama Ayub, bahkan tantangan dan pencobaan yang dialami pada saat itu adalah kontrol kedaulatan Tuhan, tidak ada indikasi satupun Tuhan meninggalkan Ayub. Memang adakalanya orang Kristen mempertanyakan mengapa pernikahan ini mengalami konflik, tapi kalau sudah yakin Tuhan yang memimpin jalannya hubungan kita, jangan lagi mempertanyakan hal itu. Kita dengan tegas bisa berkata pernikahan ini dikehendaki Tuhan, percekcokan ini adalah memang bagian dari kehidupan kita untuk membangun hubungan yang serasi.
Yohanes 14:25,26 berkata: "Semuanya itu Kukatakan kepadamu selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu, tetapi penghibur yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu."
Jadi pada masa berpacaran jangan sampai kita lupa membuka diri terhadap ajaran, bimbingan Roh Kudus sendiri. Sebab Ia akan membimbing kita, tergantung kita mau dengarkan dan taati atau tidak.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang pernak-pernik perjodohan. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1) GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita sudah membicarakan tentang pernak-pernik perjodohan, tapi namanya pernak-pernik makin dibicarakan makin banyak yang muncul. Kelanjutan pembicaraan itu saya akan mulai dengan menanyakan salah satu pertanyaan dari pendengar. Pada masa pacaran atau menjelang pernikahan bahkan seseorang itu menjadi ragu-ragu, apakah ini jodohnya. Keraguan yang muncul yang sebenarnya tadinya tidak ada, apakah suatu hal yang normal atau sebenarnya tidak boleh terjadi, Pak Paul?
PG : Saya kira itu tergantung pada kapan munculnya keragu-raguan itu. Seyogyanya yang bagi saya lebih natural adalah pada waktu bertemu, awal-awal kita berpacaran yang seringnya terjadi adalah idak ada keraguan, kita berpikir inilah jodoh kita, dialah yang paling cocok dengan kita, ini pasti kehendak Tuhan dan sebagainya.
Namun setelah melewati fase pertama itu mungkin hanya berlangsung katakanlah 6 bulan pertama, seyogyanya setelah itu mereka mulai memasuki fase kedua. Fase kedua adalah fase yang justru timbul keragu-raguan karena disitulah mereka mulai menemukan bahwa mereka tidak sama dengan pasangan mereka dan pasangan mereka tidak bisa selalu mengerti diri mereka. Pada saat itu keragu-raguan biasanya muncul dan ini adalah hal yang justru kita harus terima sebagai suatu bagian dari masa berpacaran yang sehat. Namun kalau hubungannya memang kuat dan harmonis seyogyanya mereka mulai dapat menyelesaikan perbedaan-perbedaan tersebut, sehingga pada waktu memasuki fase ke 3 mereka justru merasakan banyak kecocokan. Sehingga pada masa yang saya sebut dengan fase ke 3 antara 6 bulan sampai setahun sebelum pernikahan, seharusnya mereka justru merasa damai dan lebih banyak tentramnya daripada keragu-raguan atau lebih banyak pertanyaan apakah ini pasangan untuk saya atau bukan, baru memasuki pernikahan. Dengan kata lain tergantung kapan munculnya keragu-raguan itu, kalau dari awal muncul, fase kedua muncul, fase ketiga bisa akhirnya lepas dan tentram itu lebih aman. Tapi yang celaka adalah fase pertama dan fase kedua misalnya tidak ada keragu-raguan, fase ketiga sebelum menikah penuh keragu-raguan, saya bisa menyimpulkan mereka belum siap menikah. Apakah jodoh mereka, apakah mereka cocok, tidak tahu pasti, tapi yang pasti adalah mereka belum siap menikah pada saat itu. Sebab seyogyanya kira-kira 6 bulan atau setahun sebelum pernikahan justru mereka merasakan mantap tidak ragu-ragu, tapi sekali lagi harus didahului oleh fase ragu-ragu itu, mempertanyakan karena munculnya perbedaan-perbedaan. Kalau perbedaan tidak muncul sama sekali saya cenderung skeptik, saya cenderung mempertanyakan kenapa tidak muncul, apakah terlalu disembunyikan sehingga tidak terbuka antara satu sama lain ataukah kalau muncul dihindarkan sehingga tidak pernah diselesaikan atau membutakan mata atau apa. Jadi saya cenderung mempertanyakan kalau tidak ada sama sekali keragu-raguan itu.
GS : Kalau Pak Paul tadi sebutkan fase-fase seperti itu, yang seringkali terjadi masa pacaran itu tidak selama yang Pak Paul sebutkan tadi fase-fasenya?
PG : Itu sebabnya saya memang berasumsi, tersirat dalam perkataan tadi, masa berpacaran jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lama. Misalkan saya selalu berkata kalau mau minimum, orang itu brpacaran tidak boleh kurang dari setahun, tapi setahun bagi saya terus terang terlalu singkat, yang ideal menurut saya orang berpacaran itu sekurang-kurangnya 2 tahun sampai 3 tahun atau 4 tahun.
Tapi jangan pacaran terlalu lama, 15 tahun misalnya.
IR : 5 tahun juga ideal.
PG : Ya, sampai kira-kira 5 tahun itu baik.
(2) IR : Pak Paul, sebagai anak Tuhan apa boleh berganti-ganti pacar?
PG : Pertanyaan ini memang susah dijawab, apakah boleh kita ini berganti pacar sebagai anak Tuhan, otomatis kalau berganti-ganti terlalu sering tidak baik. Karena kita harus menyadari bahwa aka ada dampak perasaan-perasaan akan menjadi korban, jadi berganti-ganti sudah tentu saya kira jangan karena tidak baik.
Namun apakah boleh berganti pacar, boleh sebab justru pacaran adalah waktu untuk menentukan kecocokan atau ketidakcocokan kita. Jadi jangan sampai kita diikat secara tidak perlu karena sudah berpacaran satu kali dengan orang ini, kita harus bertanggung jawab, kita harus menikah dengan dia, tidak. Saya percaya kita harus mempunyai pikiran pada waktu kita berpacaran, kita memang mau menjalankan hubungan ini sampai ke mahligai pernikahan, jadi jangan sampai orang berpacaran dengan pikiran mau main-main saja, mau coba-coba saja. Sebab kita sedang berhubungan dengan orang atau manusia, dengan perasaannya, harga dirinya, reputasinya, semua itu akan terkait dalam hubungan berpacaran, jadi kita jangan sembarangan. Namun walaupun tadi saya katakan kita serius membawa pacaran ini sampai ke mahligai pernikahan, tidak berarti kita harus membelenggu diri kita. Jadi salah kalau orang berkata karena saya sudah berpacaran, saya sudah berjanji saya akan menikahi dia, saya sudah mencintai dia, tapi terus kita melihat tidak cocok tapi terus mempertahankan, itu juga salah. Jadi berganti-ganti pacar itu jangan, kalau berganti dan memang harus berganti silakan dan harus berani untuk berkata tidak cocok.
(3) GS : Mungkin juga pengertian pacaran itu seringkali orang melihat kalau kita sudah pergi berdua terus dengan seseorang yang tertentu. Orang mengatakannya mereka pacaran, padahal sebenarnya itu baru tahap perkenalan, saling mengenal tapi karena terlalu sering yang satu mau saja diajak pergi dan yang satu juga senang mengajak ke mana-mana, lalu timbul konsep pacaran. Nah sebenarnya pacaran itu sendiri seperti apa, Pak Paul?
PG : Saya memberikan fase-fase dari yang paling umum sampai akhirnya ke yang spesifik, berpacaran serius. Tahap pertama saya menganjurkan kita ini bergaul dengan luas, maka saya tidak setuju ank SMP, SMA berpacaran.
Kalau mau berpacaran setelah SMA, setelah memasuki usia dewasa karena pada saat itulah kebutuhan kita untuk mempunyai teman yang khusus, yang akrab baru mulai timbul. Sebelum itu pada masa SMP, SMA memang pada tahap pertumbuhan, kita memang telah didesain Tuhan untuk mampu berkawan secara banyak, silakan berkawan dengan luas agar bisa mengenal baik laki-laki maupun perempuan. Setelah itu kita mulai mengenal pasangan kita atau orang tersebut dalam kelompok kecil, jalinlah hubungan dengan dia namun dalam kelompok 2, 3, 4, sehingga kita mulai bersahabat dengan dia. Dan dari jarak kelompok ini kita mulai memantau siapa dia, mulai mengerti siapa dia, jadi kita mulai mencocok-cocokkan, bisakah kita cocok atau tidak dan ini yang penting dalam kelompok kecil itu kita menjalin persahabatan. Sebab saya sangat-sangat menekankan pentingnya menjadikan persahabatan sebagai pendahuluan masuk ke dalam masa berpacaran. Nah yang seringkali terjadi kebalikannya, sekarang cinta yang didahulukan. Baru nanti pusingkan persahabatan, yang tidak cocok akhirnya dicocok-cocokan, kita membuta-butakan mata karena sudah terlanjur cintanya, tertariknya, itu hal yang keliru. Jadi langkah pertama justru adalah persahabatan, nah itu dimulai dari kelompok kecil, setelah kita mengenal dia dengan lebih baik, menjadi sahabat dia dengan baik, mulailah persahabatan dengan dia secara pribadi. Pada tahap ini saya anjurkan untuk mengatakan langsung kepada pasangan itu, pada orang tersebut bahwa kita berminat kepada dia tapi kita tidak tahu apakah memang ini kehendak Tuhan, jadi kita ajak dia mulai berdoa dan tetapkan suatu jangka waktu, bagaimana selama 6 bulan kita saling mendoakan, saling mengenal. Dan setelah 6 bulan kita akan duduk bersama dan mengevaluasi apakah kita cocok, apakah engkau tetap mempunyai perasaan yang sama atau makin bertambah atau tidak. Kalau tidak kita harus dua-dua konsekuen berkata memang bukanlah kehendak Tuhan, kita akan berpisah baik-baik. Jadi memang ada kejelasan masa 6 bulan ini masa evaluatif, masa yang digunakan untuk menguji coba, setelah 6 bulan itu berlangsung dan kita merasakan makin cocok dua-dua bisa berkata sekarang kita tuntaskan kita memasuki masa berpacaran. Tentukan 2 tahun 3 tahun dimuka sebagai masa berpacaran kita, dalam masa berpacaran itu tetap dimungkinkan kita berpisah kalau memang tidak cocok. Tapi kita tahu ini adalah persiapan kita untuk memasuki pernikahan, nah nanti tahap terakhir barulah kita menikahi dia.
GS : Tapi problemnya selama orang mulai suka dengan lawan jenisnya, emosinya lebih besar daripada akal sehatnya, Pak Paul. Untuk bisa mencapai pada tahapan berpacaran itu, orang seharusnya menggunakan akal sehatnya. Bagaimana mempersiapkan orang yang belum memasuki masa pacaran itu, Pak?
PG : Di sinilah orang tua harus berperan, artinya sejak kecil orang tua sesungguhnya sudah harus mulai menanamkan benih-benih kriteria yang baik. Siapakah istri yang baik, apakah suami yang bai, kriteria-kriteria itu harus mulai kita tanamkan pada diri anak kita.
Kita akan katakan kita mau mereka menikah dengan sesama orang yang percaya, sesama orang yang dalam Tuhan Yesus. Inilah orang yang cocok, inilah orang yang baik dan sebagainya. Kita mulai tanamkan hal-hal seperti itu, sehingga anak-anak dari kecil mulai mempunyai konsep yang saya inginkan adalah yang seperti ini. Itu menolong sekali, waktu dia sudah dewasa dan dia mulai mendekati atau didekati oleh seseorang tidak bisa tidak, kriteria itu yang telah tertanam akan dihidupkan. Namun kalau Pak Gunawan bertanya tapi apakah mungkin anak-anak yang kita perlengkapi seperti itu, akhirnya bisa lupa sewaktu bertemu dengan yang disukai, itupun bisa dan memang terjadi, seperti "buta".
GS : Kecenderungannya mungkin bukan buta, Pak Paul tetapi pengaruh-pengaruh lingkungan yang dia terima dari temannya, kehidupan di luar yang dia lihat itu membuat dia bingung sebenarnya, Pak Paul. Tetapi tidak sempat atau tidak mau bertanya pada orang tuanya, lalu dia mengambil kesimpulan tersendiri bahwa ini yang terbaik buat dia.
PG : Betul, itu sebabnya kita sebagai orang tua harus mengakui dan menyadari bahwa kita mempunyai tugas tapi wewenang kita terbatas. Tugas kita orang tua adalah memberikan dan menanamkan benih-enih itu, namun orang tua pasti akhirnya sampai pada satu kesadaran bahwa wewenangnya terbatas.
Wewenang maksud saya adalah tangannya tidak cukup panjang untuk terus bisa mengatur perilaku dan keputusan anaknya. Pada satu titik orang tua harus mengatakan tanganku hanya bisa menjangkau sampai disini, setelah itu tanganku tidak bisa menjangkaumu. Wewenang kita berhenti di situ, pada waktu wewenang kita berhenti anak memang mempunyai kebebasan memilih sesuai dengan yang dia kehendaki dan adakalanya dia memilih orang yang tidak sesuai, yang keliru.
GS : Pak Paul, tadi katakan jangkauan orang tua itu terbatas ya, tetapi kenyataannya di dalam pernikahan seringkali campur tangan orang tua itu besar sekali untuk meneruskan pacaran itu sampai ke pernikahan atau membatalkannya. Sebetulnya bagaimana hal itu ditinjau dari segi Kekristenan?
PG : Saya percaya bahwa kita bertugas memberikan didikan, penjelasan, pengarahan, namun keputusan terakhir memang ada di tangan anak kita. Karena mereka adalah orang yang dewasa, jadi waktu ana kita mengambil keputusan yang sangat bertentangan dengan kehendak kita dan kita tahu ini bertentangan juga dengan kehendak Tuhan, saya rasa kita dan Tuhan dua-duanya akan bersedih hati.
Namun kita terpaksa bersikap seperti Tuhan yaitu membiarkan, sebab ini nanti adalah hidupnya dan tanggungjawab akan ada pada pundaknya.
GS : Itu kalau ditinjau dari segi orang tua, sekarang kalau kita tinjau dari segi anaknya, Pak Paul. Anak itu seringkali juga diteror oleh lingkungannya yang mengatakan itu permintaan ayahmu atau ibumu yang sudah tua, apakah kamu tidak mau memenuhi permintaan itu, apa sulitnya. Misalnya justru orang tua ini bukan memutuskan untuk menjodohkan dengan seseorang lain yang dia rasa tidak cocok, tetapi demi menuruti orang tuanya, menghormati orang tuanya, maka dia jalani saja.
PG : Sebisanya, saya ini tidak bisa terlalu dogmatik dalam hal ini , tapi saya menghimbau sebisanya anak itu mengambil keputusan tidak didasari semata-mata atas permintaan orang tua. Dia harus uga memikirkan masa depannya apakah memang cocok, tapi sekali lagi saya mau gariskan ini dalam rambu-rambu Kristiani ya.
Jadi tidak bisa anak berkata saya mau menikahi orang yang tidak cocok dengan saya dan juga tidak seiman, itu tidak boleh. Tapi yang saya maksud misalnya orang ini tidak cocok, tidak sesuai tapi orang tua terus bersikeras kita harus menikahi orang itu karena utang budi atau apa, saya kira anak seharusnya tetap berkata tidak. Karena nanti yang akan menanggung resiko pernikahan ini bukan orang tua tapi si anak.
IR : Juga sebaliknya Pak Paul, kalau anak itu juga sering diteror oleh teman-teman sekelilingnya kalau orang tuanya melarang seringkali juga lingkungan memaksa, kamu 'kan bukan anak mama?
PG : Bisa, jadi adakalanya memang kemandirian itu kalau tidak terwujud dengan penuh tanggung jawab akan melenceng jauh sekali karena dipengaruhi oleh lingkungan.
GS : Memang masih ada sisa-sisa tempo dulu mungkin Pak Paul, dimana orang tua selalu berkata Papa dan Mama dulu juga dijodohkan oleh kakek nenekmu, dan ternyata bisa harmonis, kenapa kamu tidak mau coba permintaan ini.
PG : Saya akan kembalikan pertanyaan itu atau komentar tersebut dengan pertanyaan, kalau Papa dan Mama dulu diberikan dua pilihan, satu ditentukan kedua menentukan sendiri, jodoh yang mana Pap Mama akan pilih? Ditentukan atau menentukan sendiri, bukankah orang tua akan berkata, "ya sebetulnya kalau bisa menentukan sendiri."
(4) GS : Nah sebenarnya, Pak Paul dalam hal hubungan ini yang tadi orang tua mencarikan jodoh dan tidak cocok itu, sebenarnya apakah memang ada tipe kepribadian yang memang tidak cocok kalau mereka menikah, Pak Paul?
PG : Saya akan memberikan beberapa panduan karakteristik orang-orang yang cocok untuk menikah. Yang pertama adalah kita menikahi orang yang kita hormati, jadi jangan sampai kita ini menikah denan seseorang yang tidak kita hormati, tidak kita segani, sebaliknya kita harus menjadi orang yang disegani, dihormati oleh pasangan kita.
Kedua kita menikahi dengan orang yang kita percayai, dia tidak akan menyeleweng, menipu. Kalau kita tidak mempunyai rasa percaya itu jangan nikah, sebaliknya kita pun harus jadi orang yang dipercayai oleh pasangan kita. Yang ketiga, kita harus menikahi orang yang kita cintai, jadi orang itu layak dan dapat dicintai, dalam bahasa Inggrisnya orang itu mempunyai karakteristik yang "lovable". Yang kita kagumi yang membuat kita sayang kepada dia, sebaliknya kita juga harus menjadi orang yang layak dicintai yang lovable bagi pasangan kita. Berikutnya kita menikahi orang yang siap untuk meninggalkan kehidupan lajangnya, artinya kita harus menikahi orang yang memang siap untuk terikat. Ada orang yang berkata saya siap menikah, tapi tidak siap mengakhiri hidup lajangnya, masih mau pergi sembarangan, malam baru pulang dan tidak bisa ditegur oleh pasangannya, berkata ini hidup saya, orang itu belum siap mengakhiri hidup lajangnya, jangan nikahi orang seperti itu. Berikutnya kita menikahi orang yang siap berkeluarga artinya kalau mengakhiri hidup lajang tadi, siap menjadi suami dan istri, ini artinya siap menjadi ayah atau ibu. Ya artinya orang yang siap menjadi ayah dan ibu, adalah orang yang siap membagi dan mengorbankan hidupnya. Kalau orang pelit mengorbankan hidupnya, waktunya, dirinya untuk orang lain dia belum siap menjadi ayah atau ibu, dia belum siap berkeluarga. Jadi satu karakteristik yang penting dalam berkeluarga adalah siap untuk mengorbankan diri, jadi kita nikahi orang yang siap berkeluarga. Dan yang terakhir kita menikahi orang yang fleksibel, orang yang artinya bersedia menyesuaikan diri dengan perubahan, jangan kita menikahi orang yang kaku, yang tidak bersedia berubah meskipun keadaan sudah menuntutnya. Dalam segala hal dia mengharapkan orang lain yang berubah sesuai dengan keadaan atau tuntutan dia, kita akan kesulitan menikah dengan orang yang tidak fleksibel. Jadi kita ingat-ingatlah panduan-panduan tersebut dalam memilih pasangan hidup kita.
GS : Kalau perbedaan karakteristik atau kepribadian seseorang seperti yang sanguin dengan melankolik, itu semuanya masih bisa cocok ya Pak Paul?
PG : Semuanya masih bisa cocok asalkan memang kita ini bisa menerima bahwa ada hal-hal yang kita akan sulit kita terima karena perbedaan itu, tapi bisa dicocokkan. Nah misalkan kita senang dengn orang yang plegmatik karena apa kita katakan, dia orang yang mantap, tenang tidak terpengaruh keadaan.
Kita menikah dengan dia 5 tahun kemudian setelah menikah kita mengatakan capek menikah dengan dia, dia tidak peduli, tidak mau tahu orang, jadi karakteristik yang kita kagumi seringkali setelah menikah berubah menjadi karakteristik yang mengganggu atau menjengkelkan kita.
GS : Nah Pak Paul, itu semua membutuhkan kematangan di dalam diri seseorang ya, walaupun bukan sebuah pedoman yang mati tetapi sebagai macam pedoman. Tadi Pak Paul katakan setelah SMA seseorang itu baik untuk mulai berpacaran dan sebagainya. Kenyataannya sekarang itu lebih dini dari itu, jadi misalnya SMP akhir itu sudah mulai pacaran, sebenarnya pengaruhnya itu di mana, Pak?
PG : Kalau dia berpacaran pada usia dini, pertama-tama dia akan kehilangan kesempatan bergaul dengan lebih luas karena berpacaran itu menuntut energi, waktu, hanya diberikan pada satu orang. Jai dia kehilangan kesempatan bergaul dan mengenal orang lebih banyak lagi.
Yang kedua adalah pertumbuhannya sendiri pun akan terganggu karena pergaulan yang luas memperkaya jiwa kita. Sejak dini kita sudah berpacaran berarti jiwa kita tidak bisa bertumbuh dengan luas, akan terikat atau akan terbatasi.
GS : Tapi sebaliknya Pak Paul, kalau ada orang yang mulai pacaran sudah agak lanjut itu sekarang sudah mulai banyak Pak Paul, karena kesibukan masing-masing merintis karier di beberapa negara. Mereka sebetulnya dapat dikatakan berpacaran sudah agak terlambat. Sebenarnya apa itu pengaruhnya, Pak Paul?
PG : Dari segi kematangan memang kita berkata orang yang memulai berpacarannya pada usia yang sudah 30-an ke atas ya, akan lebih matang pertimbangan-pertimbangannya, saya setujui. Tapi yang say takuti adalah unsur-unsur pertimbangan rasional itu akan bisa mengalahkan kespontanannya, spontanitas cinta karena segalanya itu terlalu dipikirkan secara seolah-olah bisnis, keuntungannya, kerugiannya itu yang menjadi motivasi terutama di dalam membina hubungan berpacaran ini.
Jadi saya kira kalau terlalu tua juga tidak baik.
GS : Memang ini menjadi masalah yang timbul karena lingkungan masing-masing juga, Pak Paul; jadi sebelum kita mengakhiri pembicaraan kita pada kali ini, mungkin Pak Paul akan sampaikan ayat firman Tuhan?
PG : Saya akan mengacu kepada tadi yang Pak Gunawan katakan, bahwa Ibu Ida tadi juga singgung yaitu adakalanya anak-anak kita meskipun sudah tahu firman Tuhan namun setelah tergila-gila dengan eseorang akhirnya kehilanganlah pegangan yang sebetulnya dia sudah miliki.
Firman Tuhan di Amsal 31:30 mengingatkan "kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji." Saya boleh membaliknya untuk yang pria disini ya, kegantengan adalah bohong dan ketampanan adalah sia-sia, tetapi suami yang takut akan Tuhan dipuji-puji. Jadi sekali lagi jangan kita dibutakan oleh penampilan fisik, kita harus pegang yang paling penting yaitu carilah istri atau suami yang takut akan Tuhan.
GS : Saya percaya sekali Pak Paul bahwa masih ada banyak pendengar kita yang mempunyai banyak pertanyaan, melalui kesempatan ini mungkin kita bisa mengundang mereka untuk menyampaikan pertanyaan saran dan sebagainya kepada kita dan mungkin kita bisa bahas lagi pada kesempatan yang akan datang.
Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan kehadapan Anda sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja melanjutkan perbincangan tentang pernak-pernik perjodohan. Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang , saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami harapkan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.END_DATA
Ringkasan Isi:
Keraguan yang muncul pada saat menjelang pernikahan dibagi dalam beberapa fase:
Fase pertama, yaitu pada awal kita bertemu dan berpacaran, seyogyanya yang lebih natural sering terjadi adalah tidak ada keraguan, kita berpikir inilah jodoh kita, dialah yang paling cocok dengan kita, ini pasti kehendak Tuhan dsb.
Fase kedua adalah fase di mana justru timbul keragu-raguan karena di situlah mereka mulai menemukan bahwa mereka tidak sama dengan pasangan mereka, dan pasangan mereka tidak bisa selalu mengerti diri mereka. Pada saat itu keragu-raguan biasanya muncul dan itu hal yang baik, ini adalah hal yang justru kita harus terima sebagai suatu bagian dari masa berpacaran yang sehat.
Fase ketiga antara 6 bulan sampai setahun sebelum pernikahan, seharusnya mereka justru merasa damai dan lebih banyak tenteramnya daripada keragu-raguan.
Fase-fase berpacaran dari yang paling umum sampai yang spesfik:
Pertama, saya ini menganjurkan kita ini bergaul dengan luas, maka saya tidak setuju anak SMP atau SMA berpacaran.
Setelah itu kita mulai mengenal pasangan kita atau orang tersebut dalam kelompok kecil, jalinlah hubungan dengan dia namun dalam kelompok 2, 3, 4, sehingga kita mulai bersahabat dengan dia.
Setelah kita mengenal dia dengan lebih baik, menjadi sahabat dia dengan baik, dalam kelompok kecil baru kita mulai persahabatan dengan dia secara pribadi. Kita ajak dia mulai berdoa dan tetapkan suatu jangka waktu, bagaimana selama 6 bulan kita saling mendoakan, saling mengenal.
Setelah 6 bulan kita akan duduk bersama dan mengevaluasi apakah kita cocok, apakah engkau tetap mempunyai perasaan yang sama atau makin bertambah atau tidak.
Setelah masa itu berlangsung dan kita merasakan makin cocok, dua-dua bisa berkata OK…..sekarang kita tuntaskan kita memasuki masa berpacaran.
Di sinilah orang tua harus berperan, artinya sejak anak kecil orang tua sesungguhnya sudah harus mulai menanamkan benih-benih kriteria yang baik. Siapakah istri yang baik, apakah suami yang baik, kriteria-kriteria itu harus mulai kita tanamkan pada diri anak kita. Sebagai orang tua kita harus mengakui bahwa kita mempunyai tugas, tapi wewenang kita terbatas, ini kita harus sadari.
Beberapa panduan karakteristik orang-orang yang cocok untuk menikah:
Kita menikahi orang yang kita hormati, jadi jangan sampai kita menikah dengan seseorang yang tidak kita hormati atau tidak kita segani. Sebaliknya kita pun harus jadi orang yang disegani, dihormati oleh pasangan kita.
Kita menikahi orang yang kita percayai, demikian juga sebaliknya kita pun harus jadi orang yang dipercayai oleh pasangan kita.
Kita harus menikahi orang yang kita cintai, orang yang layak dan dapat dicintai, orang yang mempunyai karakteristik "lovable" yang kita kagumi, yang membuat kita sayang kepada dia. Sebaliknya demikian juga kita harus menjadi orang yang "lovable."
Kita menikahi orang yang siap untuk meninggalkan kehidupan lajangnya. Artinya kita harus menikahi orang yang memang siap untuk terikat.
Kita menikahi orang yang siap berkeluarga. Artinya siap menjadi suami-istri, siap menjadi ayah atau ibu. Orang yang siap menjadi ayah dan ibu, orang yang siap membagi dan mengorbankan hidupnya.
Kita menikahi orang yang fleksibel atau orang yang bersedia menyesuaikan diri dengan perubahan.
Amsal 31:30 mengingatkan "Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji." Saya coba balik untuk yang pria di sini, kegantengan adalah bohong dan ketampanan adalah sia-sia, tetapi suami yang takut akan Tuhan dipuji-puji. Jadi sekali lagi jangan kita ini dibutakan oleh penampilan fisik, kita harus pegang prinsip yang paling penting, yaitu carilah istri atau suami yang takut akan Tuhan.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen kali ini saya bersama Ibu Ester Tjahja, S. Psi, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami pada acara Telaga yang lalu yaitu tentang "Memahami Pernikahan", dan kami masuk pada bagian yang kedua. Kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan inilah sesi yang pertama tentang memahami pernikahan.
Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita sudah berbincang-bincang tentang definisi pernikahan di dalam memahami pernikahan ini. Dan sebelum kita melanjutkan perbincangan pada saat ini, apakah Pak Paul mau mengulang sejenak apa yang kita perbincangkan pada saat yang lalu?
PG : Saya akan menjelaskan mengapa kita memutuskan untuk mengangkat topik ini Pak Gunawan, alasannya adalah bahwa saya melihat adanya kedangkalan pandangan atau pengertian kita terhadap pernkahan.
Karena adanya kedangkalan itulah maka banyak sekali masalah yang muncul dari pernikahan dan akhirnya sudah tentu akibat fatalnya yaitu perceraian. Jadi kita berharap apa yang akan disampaikan pada kesempatan ini akan menjadi berkat bagi para pendengar kita. Pertama-tama kita mau melihat apa itu pernikahan, pernikahan adalah sebuah ikatan, sebuah ikatan yang mengandung pengertian bahwa dua orang itu memilih untuk terikat. Dan terikat berarti dia akan terbatasi dalam relasinya dengan orang-orang lain dan Alkitab menegaskan bahwa memang pernikahan adalah sebuah ikatan yang sangat dan paling intim. Itu sebabnya dikatakan keduanya menjadi satu daging, tidak ada lagi ikatan yang seintim dan sedekat itu. Kedua pernikahan adalah sebuah perjanjian artinya masing-masing pihak mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi tuntutan pernikahan itu. Jadi jangan sampai seseorang memasuki pernikahan berpikir bahwa pasangannyalah yang harus melayani dia, itu tidak benar. Pernikahan sebuah perjanjian di mana masing-masing harus memenuhi tanggung jawabnya, nah yang kita telah bahas pada kesempatan yang lalu adalah kadang kala kita hanya menekankan satu aspek dari perjanjian itu yakni jangan sampai kita bercerai atau membatalkan perjanjian itu dan kita lalai menekankan bagian yang satunya yakni kita harus menjaga perjanjian itu dengan cara melaksanakan tanggung jawab kita, nah itulah kira-kira yang telah kita bicarakan Pak Gunawan.
GS : Ya dan kali ini kita akan membicarakan tentang dua hal penting Pak Paul, yaitu tentang karakteristik pernikahan dan konsep-konsep yang keliru tentang pernikahan. Nah kalau berbicara tentang karakteristik pernikahan Pak Paul, hal apakah yang ingin Pak Paul sampaikan?
PG : Yang pertama adalah bahwa institusi pernikahan tidak terlepas dari campur tangan Allah. Nah, saya ingin memberikan satu rujukan yang lain yaitu institusi yang juga dikatakan berasal dar Allah yakni pemerintahan.
Jadi di Roma 13:1 , dikatakan bahwa: "Pemerintah berasal dari Allah dan tidak ada pemerintahan yang tidak ditetapkan oleh Allah." Artinya Allah turut campur tangan dalam pembentukan, dalam penghadiran sebuah pemerintahan, demikian pula Allah itu campur tangan dalam pernikahan. Nah ini sesuatu yang kita mesti sadari sebab kadang kala kita melihat pernikahan itu sebagai suatu fenomena manusiawi antara saya dan orang yang saya kasihi, dan kedua orang ini kemudian menjalin sebuah hubungan dalam pernikahan, tidak. Ternyata Alkitab menegaskan bahwa Allah itu campur tangan maka di katakan di Matius 19:6 , "Karena itu apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia." Menarik sekali Allah menegaskan bahwa Dialah yang menyatukan orang untuk akhirnya tertarik kepada satu sama lain dan membangun sebuah pernikahan.
GS : Apakah hal itu termasuk juga kalau pernikahan itu adalah pernikahan yang dijodohkan oleh orang tua?
PG : Alkitab mengatakan bahwa pernikahan itu dipersatukan oleh Allah dan tidak ada penjelasan yang lainnya, boleh kita katakan ya. Ternyata kalau itu terjadi, itu terjadi dalam izin Allah. Bhwa entah mengapa Allah mengizinkan kedua orang itu akhirnya menikah dalam suatu saat.
Tapi Pak Gunawan, saya kira kita perlu memberikan penjelasan sedikit tentang hal ini sebab kalau tidak, kita akan masuk dalam sebuah pola pikir yang sangat pasif bahwa semua pernikahan betapa pun buruk dan sebagainya sudah pasti itu adalah dalam kehendak Allah. Saya ingin juga memberikan keterangan di sini, bahwa manusia itu juga bisa keliru dan bisa membuat kesalahan. Jadi adakalanya dalam memilih bidang studi kita keliru memilihnya, memilih pekerjaan kita bisa keliru memilihnya. Apakah kita bisa keliru memilih pasangan hidup kita? Sudah tentu bisa. Adakalanya kesalahan itu baru kita sadari setelah kita menikah dan kita menyesali pilihan kita itu. Nah kekeliruan bisa terjadi namun sekali lagi entah mengapa Tuhan menegaskan bahwa meskipun telah terjadi kekeliruan, tapi Allah terlibat di dalamnya, ada faktor Tuhan yang terlibat dalam pembentukan sebuah pernikahan. Nah saya mau melihat hal ini sebagai sesuatu yang positif yaitu betapa buruk pun pernikahan kita sekarang ini ternyata tetap ada Allah yang melihat dan mau menolong kita asalkan kita sekali lagi melibatkan Allah di dalam pernikahan kita ini. Jadi saya tidak mau kita ini berkubang dalam penyesalan, kenapa saya menikah dengan dia, saya mau kita ini justru melangkah ke depan setelah mendengar firman Tuhan yang berkata: Apa yang telah dipersatukan oleh Allah bahwa Allah itu terlibat, kita melihatnya secara positif ke depan bahwa Allah terlibat. Jadi Allah akan mau menolong kita untuk bisa keluar dari kemelut ini, faktor Allah faktor yang tidak bisa diabaikan dalam sebuah pernikahan Kristen.
ET : Bagaimana halnya kalau misalnya salah satu pasangan itu meninggalkan Pak Paul, misalnya selingkuh kemudian memilih untuk menikahi orang yang lainnya?
PG : Saya kira dalam kasus seperti itu tadi saya telah bahas bahwa dalam kasus seseorang tidak lagi menjalankan peran, tidak lagi menunaikan tanggung jawabnya untuk memelihara pernikahan diasudah memutuskan ikatan nikah itu.
Saya berpendapat pengadilan sebetulnya tidak menceraikan pernikahan, pengadilan mengesahkan sesuatu yang memang sudah terjadi. Yang menceraikan adalah orang yang tidak mau bertanggung jawab untuk menunaikan kewajiban dalam pernikahan dia sudah menceraikan pernikahan itu, waktu dia tidak lagi menjalani tugasnya. Nah apa hubungannya dengan Allah berarti dia adalah orang yang telah juga mengingkari janjinya kepada Allah. Sebab faktor Allah terlibat dalam pernikahan menandakan bahwa kita bukan hanya berjanji pada pasangan kita tapi kita berjanji kepada Allah bahwa kita mau setia, mau menjaga pernikahan ini. Sewaktu kita berselingkuh akhirnya kita ini mempunyai istri yang kedua atau simpanan yang lain, kita mengingkari janji kita kepada Allah ini yang harus disadari oleh manusia bahwa sekali lagi pernikahan bukanlah melulu atau hanya perkara atau relasi antara dua orang, tapi ini adalah sebuah relasi di mana Allah hadir di dalamnya. Konsep ini menarik sekali sebab Alkitab tidak mengatakan yang sama dalam hubungan kita dengan orang lain, misalkan dengan teman kita, dengan sahabat kita, tidak ada ayat yang mengatakan bahwa Allahlah yang mempersatukan kita dan teman kita atau sahabat kita. Tapi dalam kasus pernikahan, Tuhan secara khusus mau menegaskan bahwa Dia terlibat, untuk hal yang sepenting ini Dia terlibat. Jadi orang tidak boleh sembarangan memperlakukan pasangannya, sewaktu dia mulai sembarangan memperlakukan pasangannya dia sebetulnya sembarangan memperlakukan Tuhan karena Tuhan hadir dalam pernikahannya.
GS : Apakah ada karakteristik pernikahan yang lain Pak Paul selain itu?
PG : Yang berikutnya lagi adalah pernikahan dimaksudkan Tuhan menjadi perlambangan kekekalan di tengah-tengah ketidakkekalan di dunia ini. Kita tahu tidak ada yang kekal dalam dunia ini, namn di antara yang tidak kekal itu Tuhan menetapkan lembaga pernikahan sebagai sesuatu yang bersifat kekal.
Maka firman Tuhan berkata di Matius 19:9 , "Barangsiapa menceraikan istrinya kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain dia berbuat zinah." Menarik sekali firman Tuhan ini, bagaimanakah mungkin kita yang misalkan telah menceraikan istri kita kemudian menikah lagi dikatakan berzinah. Bukankah kita telah dengan sah menceraikan istri kita kenapa dikatakan zinah kalau kita mempunyai istri yang lain setelah kita bercerai. Kita hanya bisa memaknai ayat ini dalam pengertian bahwa Tuhan menganggap pernikahan itu kekal, itu sebabnya waktu kita menikah dengan orang lain, Tuhan melihat itu sebagai sebuah perzinahan. Jadi sekali lagi saya mau tekankan, di mata Tuhan pernikahan itu Tuhan desain untuk menjadi sesuatu yang kekal dan permanen. Begitu permanennya sehingga meskipun orang itu akhirnya menikah dengan orang lain setelah dia bercerai, Tuhan berkata dia berzinah. Nah sekali lagi Tuhan mau menekankan bahwa pernikahan itu permanen, nah itu sebabnya orang yang hendak menikah harus menyadari konsep ini dengan baik. Pernikahan bukanlah baju yang bisa dipakai kemudian tidak suka boleh dibuang, pernikahan bukanlah rumah yang kita tempati kemudian kita bisa menjual kembali. Pernikahan adalah sebuah ikatan, perjanjian yang bukan saja eksklusif tapi dimaksudkan Tuhan untuk menjadi sesuatu yang permanen, selamanya.
GS : Berarti hubungan atau relasi antara suami dan istri ini dua orang ini menjadi sangat khusus sekali Pak Paul?
PG : Betul, karena tidak ada hubungan yang lain yang dimaksudkan Tuhan menjadi begitu permanennya. Bahkan tadi dikatakan atau kita sudah membaca ayatnya, laki-laki akan meninggalkan ayahnya an ibunya, Alkitab tidak pernah berkata laki-laki meninggalkan istrinya, tidak pernah.
Justru orang meninggalkan orang tuanya menjadi satu dengan istri, tapi tidak ada ayat yang berkata suami meninggalkan istrinya, tidak itu harus permanen.
GS : Dengan apaakah atau bagaimanakah eratnya hubungan itu digambarkan oleh Tuhan Pak Paul?
PG : Digambarkan oleh Tuhan itu sebetulnya sebagai satu daging. Bagaimanakah dua orang itu menjadi satu daging itu menjadi penggambaran yang sangat-sangat akrab, satu daging bukan lagi dua dn tidak bisa lagi dipisahkan karena keduanya menjadi satu daing.
GS : Adakah karakteristik yang lain dari pernikahan?
PG : Yang ketiga adalah relasi suami dan istri menjadi contoh konkret relasi antara Allah dan manusia. Firman Tuhan di Efesus 5:25-27 berkata : "Hai suami, kasihilah istrimu sebgaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.
Untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela," ini adalah tugas suami. Tugas istri Efesus 5:22-23 , Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh." Dengan kata lain hubungan suami-istri seyogyanya melambangkan atau mencontohkan dengan konkret hubungan antara Allah dan manusia. Dan tidak ada hubungan lain yang didisain lain untuk mencontohkan dengan konkret hubungan antara Allah dengan manusia selain dari hubungan suami-istri ini. Suami harus mengasihi istri dengan penuh pengorbanan dan merawat istrinya dengan begitu halus dan lembut, sehingga dikatakan menjadi kudus dan tidak bercela sebagaimana Allah memelihara kita. Dan istri diminta Tuhan menghormati dan tunduk kepada suaminya sama seperti kepada Tuhan. Jadi sekali lagi pernikahan dimaksudkan Tuhan menjadi perlambangan bagaimanakah Tuhan bersikap kepada kita dan kita bersikap kepada Tuhan.
(3 ) GS : Pak Paul, kalau kita sudah membicarakan tentang konsep-konsep yang benar sesuai dengan Alkitab, sesuai dengan firman Tuhan sendiri, apakah masih ada konsep-konsep yang keliru yang ada di dalam kehidupan sehari-hari itu Pak?
PG : Ada beberapa Pak Gunawan dan Ibu Esther, yang pertama adalah adanya anggapan bahwa pernikahan merupakan puncak dari sebuah gunung yang disebut cinta. Jadi seolah-olah setelah kita mencitai, mencintai, puncaknya adalah pernikahan itu tidak salah, tapi tidak lengkap.
Memang pernikahan itu sebaiknya dan seharusnya didirikan di atas cinta tapi pernikahan bukan hanya puncak dari cinta, pernikahan sebuah ikatan, sebuah perjanjian bukan hanya sebuah cinta.
ET : Kalau sudah sampai pada puncak gunung bisa turun berarti Pak Paul ya?
PG : Sampai puncak gunung takutnya turun, sebab kalau cintanya turun berarti ya saya harus turun gunung juga, jadi pernikahan lebih dari sekadar puncak cinta. Kedua ada konsep bahwa pernikahn adalah wadah penyaluran hasrat seksual, itu adalah efek atau keuntungan yang bisa kita raih dalam pernikahan kita bisa berhubungan seksual.
Tapi jangan sampai orang mempunyai anggapan o....saya menikah sebab saya ingin mempunyai seorang rekan, partner di mana saya bisa berhubungan seksual dengan dia, o...pernikahan jauh lebih dalam dan agung dari pada itu.
ET : Tapi saya pernah mendengar ada orang mempunyai konsep ini katanya didasarkan oleh pandangan Paulus yang mengatakan, kalau memang tidak bisa menahan diri, tidak bisa menahan hawa nafsu lbih baik menikah jadi mereka menggunakan alasan ini Pak Paul.
PG : Paulus mengatakan itu memang tidak dalam konteks menjelaskan tentang pernikahan. Dia menjelaskan pernikahan dengan begitu terinci di Efesus 5:25-33 itu. Nah yang Paulus katakan di I Korntus yang tadi Ibu Esther sudah kutib maksudnya adalah kita harus menjaga kekudusan kita.
Nah ada orang yang mungkin ingin menikah tapi berkata saya mau menjaga kekudusan saya tidak mau menikah, nah mungkin sekali dia sudah mencintai seseorang tapi akhirnya karena mau menjaga diri dan tidak mau menikah nah Paulus berkata menikahlah, tidak apa-apa menikah, jadi dalam konteks tidak ada salahnya menikah silakan. Tapi bukannya itu menjadi motif utama kenapa kita menikah.
GS : Tetapi ada yang mengatakan dengan menikah lalu dia tidak bisa bebas lagi Pak Paul.
PG : Ya itu adalah yang tadi saya katakan, pernikahan sebuah ikatan yang eksklusif jadi tidak bisa memperlakukan orang sama seperti dia memperlakukan pasangannya.
GS : Pengertian yang keliru tentang pernikahan, apa lagi Pak Paul?
PG : Yaitu pernikahan sebagai wahana untuk memperoleh keturunan, ada orang yang begitu dan ada budaya yang begitu juga. Ya tidak punya anak dari istri pertama pilihlah istri kedua atau istriketiga supaya punya keturunan.
Tidak pernah Tuhan berkata pernikahan adalah satu-satunya wadah untuk memperoleh keturunan. Mempunyai keturunan atau tidak adalah hak preriogatif Tuhan, kita menikah karena kita mau mengikatkan diri kita dan mengikatkan diri dalam perjanjian dengan pasangan kita, itu intinya. Mempuyai anak atau tidak itu adalah bagian dari kehendak dan rencana Tuhan untuk hidup kita.
GS : Jadi ada orang yang beralasan bercerai karena tidak punya keturunan bagaimana Pak?
PG : Itu sangat salah karena memang itu tidak menjadi syarat untuk kita menikah bahwa harus punya anak baru menikah, itu tidak pernah menjadi syarat dari Tuhan. Dan yang terakhir adalah konsp bahwa pernikahan sebagai pemuas dahaga manusia akan kebahagiaan.
Ada orang yang beranggapan saya mau menikah karena saya tidak bahagia, saya menikah supaya saya bahagia, nah ini juga keliru. Pernikahan bukanlah pemuas kedahagaan kita akan kebahagiaan, sekali lagi pernikahan adalah sebuah perjanjian dan sebuah ikatan di mana kita bersama dengan pasangan kita melewati segala fase kehidupan yang menggembirakan dan yang tidak menggembirakan.
GS : Ada orang yang menikah dengan alasan supaya kehidupannya lebih terjamin itu Pak Paul?
PG : Ada, jadi memang pernikahan dianggap sebagai sebuah asuransi kehidupan, itu juga keliru Pak Gunawan. Pernikahan bukannya sebuah peningkatan kesejahteraan hidup atau asuransi kehidupan, idak.
Pernikahan adalah sebuah ikatan dan sebuah perjanjian di mana Tuhan hadir di dalamnya.
(4 ) GS : Dari perbincangan kita selama dua sesi ini Pak Paul mungkin ada suatu prinsip yang sangat penting dalam pernikahan Pak Paul?
PG : Prinsipnya adalah barangsiapa memberi dia akan menerima, nah saya kira ini perlu dicamkan oleh kita semua. Banyak di antara kita yang datang, masuk ke pernikahan mengharapkan untuk meneima dan tidak memikirkan untuk memberi.
Ini adalah awal dari perpecahan dalam pernikahan. Pernikahan hanya bisa dipelihara dengan cara masing-masing memberi. Saya mengatakan pada para pemuda-pemudi yang belum menikah dan ingin menikah seperti ini, mungkin bagi saudara pada saat memilih pasangan saudara berkata : Aduh susah benar memilih pasangan hidup, tapi sebetulnya yang tersusah bukan bagian memilih pasangan, yang tersusah adalah bagian mempertahankan pernikahan itu. Memilih pasangan hidup memang tidak terlalu mudah tapi yang lebih susah adalah mempertahankan pasangan hidup kita itu supaya tetap mencintai kita dan kita mencintai dia dan bersatu dalam pernikahan.
GS : Ya Pak Paul, terima kasih sekali untuk perbincangan yang sangat menarik dan sangat bermanfaat di dalam acara Telaga, dalam dua sesi kita sudah berbincang-bincang cukup banyak tentang memahami pernikahan ini, jadi terima kasih sekali Pak Paul dan juga Ibu Esther bersama-sama dengan kami. Dan para pendengar sekalian kami ucapkan banyak terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Memahami Pernikahan" bagian yang kedua. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang , Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio, kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Pengertian pernikahan adalah :
Pernikahan adalah sebuah ikatan, di mana suami-istri atau kedua orang itu menjadi satu kesatuan dan menjadi sebuah relasi yang begitu unik dan sangat eksklusif. Landasan Alkitab yang kita gunakan adalah Efesus 5:31 yang berkata: "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging."
Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa kesatuan antara suami dan istri merupakan kesatuan yang paling intim, yang paling dekat, tidak ada lagi kesatuan yang bisa menyamai kesatuan suami dan istri ini.
Pernikahan adalah suatu perjanjian, artinya bahwa kedua belah pihak menyetujui untuk mengemban tanggung jawab dan tuntutan yang terkandung di dalamnya. Jadi jangan sampai seseorang memasuki pernikahan berpikir bahwa pasangannyalah yang harus melayani dia.
Efesus 5:33 , "Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya." Perjanjian artinya masing-masing berkata inilah tanggung jawab saya dan inilah tuntutan saya jadi masing-masing juga berusaha untuk memenuhi tanggung jawab tuntutan itu. Kadangkala kita hanya menekankan satu aspek dari perjanjian yakni jangan sampai kita bercerai atau membatalkan perjanjian dan kita lalai menekankan bagian yang satunya yakni kita harus menjaga perjanjian itu dengan cara melakasanakan tanggung jawab kita.
"Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya itu menjadi satu daging."
Keduanya itu menjadi satu daging, pernikahan adalah suatu ikatan yang sangat eksklusif, setelah menikah kita tidak bisa memperlakukan orang sama seperti sebelum menikah, harus ada batas tidak bisa sama. Dengan kata lain kita tidak boleh mengikat diri dengan eksklusif dengan orang-orang lain lagi, hanya satu yaitu dengan istri atau suami kita.
Karakteristik pernikahan yaitu:
Bahwa Institusi pernikahan tidak terlepas dari campur tangan Allah. Satu rujukan yang lain institusi yang berasal dari Allah yakni pemerintahan. Roma 13:1 , "Pemerintah berasalah dari Allah dan tidak ada pemerintahan yang tidak ditetapkan oleh Allah." Artinya Allah turut campur tangan dalam pembentukan, dalam penghadiran sebuah pemerintahan, demikian pulalah Allah campur tangan dalam pernikahan. Alkitab menegaskan bahwa Allah campur tangan maka dikatakan di Matius 19:6 , "Karena itu apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia." Menarik sekali bahwa Allah menegaskan Dialah yang menyatukan orang untuk akhirnya tertarik kepada satu sama lain dan membangun sebuah pernikahan.
Pernikahan dimaksudkan Tuhan menjadi perlambangan kekekalan di tengah-tengah ketidakekalan di dunia ini. Tidak ada yang kekal dalam dunia ini, namun di antara yang tidak kekal itu Tuhan menetapkan lembaga pernikahan sebagai sesuatu yang bersifat kekal. Matius 19:19 , "Barangsiapa menceraikan istrinya kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain dia berbuat zinah." Tuhan menganggap pernikahan itu kekal, itu sebabnya waktu kita menikah dengan orang lain, Tuhan melihat itu sebagai sebuah perzinahan.
Relasi suami-istri untuk menjadi contoh konkret relasi antara Allah dan manusia. Firman Tuhan di Efesus 5:25-27 berkata: "Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. Untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela," ini tugas suami. Tugas istri di Efesus 5:22-23 , "Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh." Dengan kata lain hubungan suami-istri seyogyanya melambangkan atau mencontohkan dengan konkret hubungan antara Allah dan manusia. Dan tidak ada hubungan lain yang didisain lain untuk mencontohkan dengan konkret hubungan antara Allah dengan manusia selain dari hubungan suami-istri.
Konsep-konsep yang keliru tentang pernikahan, yaitu:
Adanya anggapan bahwa pernikahan merupakan puncak dari sebuah gunung yang disebut cinta. Jadi seolah-olah setelah kita mencintai, mencintai puncaknya adalah pernikahan itu tidak salah, tapi tidak lengkap.
Bahwa pernikahan adalah wadah penyaluran hasrat seksual, itu adalah efek atau keuntungan yang bisa kita raih dalam pernikahan bahwa kita bisa berhubungan seksual.
Pernikahan sebagai wahana untuk memperoleh keturunan. Mempunyai keturunan atau tidak adalah hak preriogatif Tuhan, kita menikah karena kita mau mengikatkan diri kita dalam perjanjian dengan pasangan kita, punya anak atau tidak itu adalah bagian dari kehendak dan rencana Tuhan untuk hidup kita.
Pernikahan sebagai pemuas dahaga manusia akan kebahagiaan. Ada orang yang beranggapan saya mau menikah karena saya nggak bahagia, saya menikah supaya saya bahagia, itu keliru. Pernikahan bukanlah pemuas kedahagaan kita akan kebahagiaan.
Pernikahan dianggap sebagai asuransi kehidupan, pernikahan bukanlah sebuah peningkatan kesejahteraan hidup atau asuransi kehidupan.
Prinsip penting yang perlu kita perhatikan adalah barangsiapa memberi dia akan menerima. Banyak di antara kita yang masuk ke pernikahan mengharapkan untuk menerima dan tidak memikirkan untuk memberi. Ini adalah awal dari perpecahan dalam pernikahan. Pernikahan hanya bisa dipelihara dengan cara masing-masing memberi.
Memilih pasangan hidup memang tidak terlalu mudah tapi yang lebih susah adalah mempertahankan pasangan hidup kita itu supaya tetap mencintai kita dan kita mencintai dia dan bersatu dalam pernikahan.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Anugerah dalam Pernikahan." bagian yang kedua karena perbincangan kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami pada acara TELAGA yang lalu. Dan kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita berbicara tentang anugerah dalam pernikahan dan supaya para pendengar kita bisa mengikuti apa yang sudah kita bicarakan pada perbincangan yang lalu mungkin Pak Paul bisa mengulas sejenak sebelum kita masuk pada perbincangan kita hari ini.
PG : Kita itu memandang anugerah sebagai sebuah kata benda yakni sesuatu yang diberikan kepada kita yang sesungguhnya tidak layak kita terima. Dan dalam Alkitab kita tahu bahwa anugerah terbesa adalah Tuhan Yesus Kristus Putra Allah yang mati untuk dosa kita.
Namun kita sesungguhnya juga perlu melihat anugerah bukan hanya sebagai kata benda tapi sebuah kata sifat, karena anugerah mewakili atau melukiskan karakter Allah yang sangat hakiki. Allah adalah Allah yang beranugerah artinya Dia Allah yang mementingkan manusia bukan DiriNya saja, Dia memikirkan apa yang baik untuk manusia dan dia memberikan yang terbaik untuk manusia. Wawasan seperti inilah yang kita juga mesti bawa ke dalam pernikahan kita, berwawasan bahwa Tuhan memanggil kita untuk maksud penyelamatan. Allah mengasihi isi dunia sehingga mengaruniakan Putra tunggalnya berarti inilah yang Allah ingin lakukan lewat kita. Setelah kita memiliki wawasan seperti itu, kita nantinya bisa mengarahkan anak-anak kita bertumbuh di dalam Tuhan dan mempersiapkan mereka menjadi alat-alat yang nanti Tuhan pakai untuk menyelesaikan pekerjaanNya. Kita juga membahas tentang orang yang berwawasan anugerah seperti ini tidak akan tenggelam di dalam persoalannya sendiri atau di dalam masalah-masalah pernikahan sebab dari awal pernikahan, mereka sudah berkomitmen yang penting bukan engkau bahagia, yang penting bukannya aku bahagia, yang penting adalah kita berdua menyukakan hati Tuhan dan mementingkan Tuhan. Dengan sebuah keyakinan seperti ini, kita lebih bisa menyelesaikan masalah kita, kita tidak terlalu disibukkan dengan persoalan-persoalan kita, karena kita mulai melihat lebih luas lagi.
GS : Jadi anugerah itu kita terima dari Tuhan, tapi untuk bisa berwawasan anugerah kita harus mengupayakannya, Pak Paul?
PG : Betul sekali, yang akan kita soroti adalah bagian berikutnya seperti yang saya sudah singgung pada kesempatan yang lampau, ada tiga dimensi dari anugerah ini. Kalau tadi adalah wawasan anuerah, yang sekarang adalah berelasi anugerah, maksudnya kita ini berelasi dengan pasangan kita juga harus beranugerah, kita tidak melihat yang buruk tapi kita melihat yang positif.
Yang kedua, kita juga melihat yang akan datang bukan hanya sekarang, sebagai contohnya saya akan paparkan kasus Petrus. Petrus adalah murid Tuhan yang kita tahu telah menyangkal Tuhan dan mengatakan tidak mengenal Tuhan, tatkala Tuhan ditangkap dan akan disalibkan. Tapi hari-hari akhir sebelum Tuhan naik ke surga, siapakah yang Tuhan panggil? Dan Tuhan menanyakan apakah engkau mengasihi aku. Petrus menyawab "Ya", dan Tuhan berkata, "Gembalakanlah domba-dombaku." Disitu kita bisa melihat Tuhan adalah Tuhan yang beranugerah dalam berelasi dengan murid-muridNya. Waktu Dia memanggil Petrus menjadi muridNya, Dia melihat yang baik pada Petrus dan Dia melihat di masa depan akan seperti apakah Petrus itu. Tuhan tidak mendasari panggilanNya atas masa sekarang saja, Dia mendasari panggilanNya atas masa depan yaitu seperti apakah Petrus nanti di masa depan. Apakah Tuhan tahu kalau Petrus akan menyangkal? Tuhan tahu, tapi Tuhan tidak memfokuskan perhatiannya pada kelemahan dan kekurangan Petrus, tapi Tuhan memfokuskan pada kekuatan Petrus maka Tuhan berkata, "Gembalakanlah domba-dombaku," Tuhan juga berkata "Di atas batu karang ini akan kubangunkan gerejaku," memang batu karang yang sesungguhnya adalah Tuhan Yesus sendiri. Tapi memang Tuhan melimpahkan tanggung jawab yang besar pada Petrus untuk menggembalakan domba-domba Tuhan. Siapa yang Tuhan pilih? Petrus, yang dapat dikatakan lemah karena pernah jatuh kedalam dosa yang sangat serius yaitu menyangkal Tuhan, tapi Tuhan tidak menyoroti hanya kelemahan. Malangnya di dalam pernikahan, Pak Gunawan, itu yang kita lakukan, kita lebih sering menyoroti kelamahan pasangan kita.
GS : Memang yang membedakan adalah Tuhan Yesus bisa melihat jauh ke depan yaitu bagaimana Petrus jadinya, yaitu menjadi seorang rasul, penyalur berkat Tuhan dan melakukan perkerjaan Tuhan dengan baik. Tapi pandangan kita terhadap pasangan ini yang agak sulit, Pak Paul. Dan masalahnya adalah kita justru melihat kelemahannya, kesalahan yang dia buat seperti itu. Lalu kita berasumsi ini tidak mungkin diperbaiki.
PG : Satu cara yang kita lakukan adalah Tuhan menyoroti kekuatan Petrus dan senantiasa memberikan dorongan supaya kita tetap bertahan didalam kekuatannya itu. Tuhan tidak meyoroti kelemahan-kelmahannya, bertahun-tahun Tuhan bersama-sama dengan Petrus, apakah Tuhan secara khusus menyoroti kelamahan Petrus karena Tuhan tahu dia akan jatuh ? Tidak! Tuhan hanya lontarkan itu sekali, pada waktu Petrus terlalu gegabah dan berkata, "Saya tidak akan meninggalkan engkau, semua boleh lari tapi saya tidak akan lari," Petrus gegabah sekali.
Dan Tuhan berkata, "Sebelum ayam berkokok tiga kali maka engkau menyangkali Aku." Tuhan hanya katakan itu sekali, Tuhan tidak terus menyorotinya, yang Tuhan soroti bagaimana membuat Petrus kuat. Maka waktu di Taman Getsemani Tuhan meminta Petrus bersama Yakobus dan Yohanes bersama-sama dengan Tuhan berdoa. Di Taman Getsemani mereka tidur, apa yang Tuhan katakan, "Berdoa dan berjaga-jagalah, memang roh itu penurut tapi daging itu lemah." Apakah Tuhan mengingatkan Petrus lagi, "Kamu memang lemah, kamu hanya bisa bicara saja, nanti kamu akan jatuh, disuruh berdoa saja tidak bisa, kamu kapan bisa berdoa, dan sebagainya," tidak! Yang biasanya Tuhan lakukan adalah Tuhan menegur semua murid pada waktu mereka kurang iman, Tuhan menegur semuanya. Kalau kita sudah tahu kelemahan orang, bukankah kita selalu mencerca kelemahannya dan kita kaitkan dengan kelemahannya terus. Memang maksud kita baik, supaya jangan sampai dia mengulang lagi masalah yang sama, tapi memang metode itu tidak efektif. Tuhan menggunakan metode yang berbeda, yang keluar dari sifatNya yaitu Dia adalah Allah yang beranugerah dan Allah yang beranugerah tidak menyoroti kelemahan tapi pada kekuatan. Dan yang kedua, karena menyoroti pada kekuatan kita bisa berkata, "Dengan kekuatan ini engkau akan menjadi seperti apa." Memang benar yang tadi Pak Gunawan katakan, kita ini tidak bisa melihat manusia lain di masa mendatang. Tapi dengan kita menyadari kekuatan pasangan kita, di masa mendatang engkau bisa menjadi seperti ini.
GS : Memang sangat berkaitan erat antara berelasi anugerah dan berwawasan anugerah. Orang tidak akan berelasi anugerah kalau dia tidak memiliki wawasan anugerah itu, Pak Paul?
PG : Tepat sekali Pak Gunawan. Jadi keduanya merupakan suatu kesatuan dan relasi anugerah keluar dari wawasan anugerah itu sendiri.
GS : Bagaimana kita kaitkan dalam hubungan suami istri yang seringkali justru kita melihat kelemahan-kelemahan pasangan kita daripada kelebihan-kelebihannya.
PG : Tadi kita sudah singgung bahwa kita harus menerima dan menyambut kelemahan pasangan sebagai cara Tuhan membongkar diri kita, ini adalah wawasan anugerah yang telah kita bahas. Kita melihatya dari kacamata surgawi, kalau saja kita bisa melihat kelemahan pasangan sebagai cara Tuhan, dan bukan sebagai gangguan dari dia untuk kita, ini adalah cara Tuhan membongkar kita.
Maka reaksi kita terhadap kelemahannya juga akan berbeda, akan jauh lebih lunak. Bayangkan kalau kita melihat kelemahan pasangan sebagai gangguan, contohnya kita mau mengerjakan sesuatu tetapi menjadi tidak bisa dan kita menyalahkan pasangan, ini semua gara-gara dia, kita lebih mudah bereaksi kita lebih mudah marah karena kita merasa terganggu gara-gara engkau aku begini. Tapi kalau kita mengubah perspektif itu dan memandangnya sebagai cara Tuhan membongkar kita, walaupun kita mungkin tetap jengkel tapi kita akan lihat ini dariMu untukku, memang aku perlu melihat, aku perlu lebih sabar, aku tidak perlu terlalu menyoroti kelemahan dan sebagainya. Justru ini menjadi sesuatu yang baik. Saya berikan contoh yang lama ini terjadi pada saya dan istri saya, kami merayakan "Malam Valentine" di gereja kami, saya dan istri akan menyumbangkan suara bernyanyi bersama dan kami latihan bersama. Dan waktu latihan, saya menyoroti kekurangan istri saya dan berkata, "Bisa tidak begini, bisa tidak begitu, ini rasanya kurang pas. Lebih baik kamu begini, begitu," dia memang sedikit jengkel, tapi dia tidak menunjukkan kejengkelannya dia hanya diam saja. Sebelum kami menyanyi saya berkata kepadanya, "Yang penting menyatukan hati bernyanyi, kita tidak perlu memperhatikan yang lain-lainnya," kemudian dia langsung berkata "Ya, tapi kamu tadi menuntut saya untuk menyanyi lebih baik lagi dan sebagainya." Itu adalah sebuah teguran buat saya, memang itu yang saya lakukan akhirnya karena saya sudah diingatkan oleh dia seperti itu, waktu bernyanyi tidak lagi memikirkan hal-hal itu. Dan apa yang terjadi kami bernyanyi jauh lebih baik daripada waktu berlatih dan kami mengalami sebuah kesatuan batiniah yang memang memperindah. Jadi ilustrasi ini cukup mewakili kehidupan berumah tangga, waktu kita mengesampingkan kelemahan, "Sudah kita tidak perlu memikirkan lagi yang penting kita menyatu," dan ternyata itu lebih mudah menyatunya dan akan membentuk sebuah kesatuan yang lebih indah pula.
GS : Jadi didalam berelasi anugerah ini, unsur pengampunan penting sekali, Pak Paul?
PG : Tepat sekali Pak Gunawan, dan sekali lagi pengampunan ini akan lebih mudah kita berikan kalau kita berwawasan anugerah, bahwa kelemahan pasangan untuk aku juga agar aku lebih komplit, agaraku lebih utuh.
Akhirnya karena kita melihatnya sebagai cara Tuhan membongkar kita agar kita lebih utuh, maka kita lebih mudah pula mengampuni pasangan kita sebab waktu kita melakukannya, kita pun akan menjadi lebih serupa dengan Tuhan kita Yesus Kristus.
GS : Jadi Pak Paul, selain berwawasan anugerah dan berelasi anugerah, hal yang ketiga yang ingin Pak Paul sampaikan apa?
PG : Kita mesti juga berkepribadian anugerah artinya bukan saja terhadap orang lain kita beranugerah, melihat positifnya, melihat potensinya, melihat yang di masa depan bukan hanya di masa sekaang.
Kita juga harus memperlakukan diri kita seperti itu. Karena seringkali kita menjadi hakim yang paling kejam terhadap diri sendiri. Kita mungkin bisa bermurah hati terhadap orang lain tapi susah bermurah hati kepada diri sendiri, bisa membuat orang lain senang, rela menyumbangkan sesuatu kepada orang lain dan untuk diri sendiri tidak bisa, bisa royal dengan orang lain tapi dengan diri sendiri luar biasa hematnya. Kenapa itu juga tidak kita terapkan untuk diri kita, kalau bisa mengampuni orang kenapa tidak bisa mengampuni diri sendiri, kalau bisa melihat kekuatan orang, kenapa tidak bisa melihat kekuatan diri sendiri, kalau bisa menerima kelemahan orang kenapa tidak bisa menerima kelemahan diri pula. Melihat dan mengakui kelemahan memang tidak mudah tapi inilah yang juga Tuhan inginkan, kita menjadi manusia beranugerah yang mau menolong, mau memberi, bukan hanya untuk orang lain tapi juga untuk diri sendiri.
GS : Memang yang sering saya pikirkan kalau mengalami hal itu adalah Tuhan saja mau mengampuni saya, tetapi kenapa saya tidak mau mengampuni diri saya sendiri dan itu seringkali menyadarkan saya.
PG : Betul, Tuhan sudah mengampuni kita, Tuhan tidak lagi menghukum kita kenapa kita mengambil peran Tuhan menghukum kita. Tuhan tidak menghukum kenapa kita mengambil peran seolah-olah kita adaah Tuhan yang harus menghukum diri sendiri.
Apakah ini berarti kita tidak semestinya merasa bersalah, sudah tentu tidak. Adakalanya yang diperlukan adalah rasa bersalah supaya kita sadar akan perbuatan kita namun pada akhirnya karena Tuhan sudah mengampuni dosa kita maka ampunilah diri kita pula. Dan keduanya juga berkaitan antara diri sendiri dan orang lain, kalau kita itu susah sabar dengan diri, susah mengampuni diri sendiri, kecenderungannya adalah kita pun susah sabar terhadap orang lain, susah mengampuni orang lain pula. Kalau kita senantiasa mencambuki diri kita harus lebih baik, saya khawatir kita juga berbuat yang sama kepada pasangan kita, kamu harus ini dan itu, masih kurang ini dan itu dan akhirnya pasangan kita juga stres.
GS : Seringkali hal itu dipengaruhi oleh masa lalu kita yang dituntut banyak, baik oleh orang tua atau lingkungan kita.
PG : Betul Pak Gunawan, sehingga kita tidak pernah merasa damai tentram kalau kita tidak berbuat apa-apa. Salah satu ciri yang kita kenali adalah ciri bahwa kita itu kurang beranugerah terhadapdiri sendiri adalah kita itu susah sekali beristirahat.
Kalau untuk melihat apakah kita itu susah mengampuni, kadang-kadang susah kita lihat. Namun ini ciri-ciri yang gampang, bukankah adakalanya kita menjadi orang yang susah sekali berhenti beristirahat, kita menekankan harus produktifitas. Dan tatkala kita melihat bahwa kita kurang produktifitas kita marah pada diri sendiri, rasanya kita melihat diri tidak puas tidak seperti yang kita harapkan. Akhirnya tidak berdamai dan tidak beranugerah terhadap diri kita sendiri. Sudah tentu kita tidak lagi menjadi orang yang penuh damai sentosa, hidup kita seperti bara yang menyala sangat panas. Orang yang dekat dengan kita merasa gerah dan lelah dituntut terus-menerus, belum lagi merasa takut dekat dengan kita. Takut karena apa? Karena orang tahu kita ini orang yang penuh dengan tuntutan, jadi orang dekat dengan kita pun akhirnya takut. Ini kadang-kadang tidak kita sadari, mungkin kita bertanya-tanya, "Kenapa orang tidak dekat dengan saya dan menjauh dari saya," kita tidak bisa melihat diri kita kalau kita ini seperti bara panas yang siap membakar mereka. Maka mereka harus memasang jarak supaya mereka tidak terkena bara panas dari kita itu.
GS : Jadi orang yang tidak memiliki kepribadian anugerah ini akan sulit berelasi anugerah, Pak Paul?
PG : Biasanya seperti itu, walaupun dia mencoba tampil murah hati atau baik hati, namun itu hanya berlangsung sebentar dan saat bergaul dengan dia cukup lama maka keluar semua keburukannya, sush buat dia mengabaikan gangguan-gangguan itu dan dia menyoroti gangguan-gangguan itu.
Sebab terhadap dirinya juga begitu, ada sedikit yang dia tidak sukai dengan dirinya, dia bisa berhari-hari memikirkannya, merasa kesal dengan dirinya, merasa dirinya jelek, bersalah namun tidak berhenti disitu, terhadap orang lain pun begitu. Jadi akhirnya dia membawa sebuah suasana yang tidak nyaman, dimana pun dia berada dia membawa suasana tidak enak itu.
GS : Jadi sekali pun orang itu menyadari akan keberadaan dirinya yang tidak puas dengan apa yang dia alami, tetapi masalahnya apakah orang itu bisa menolong dirinya sendiri supaya dia punya kepribadian anugerah itu.
PG : Memang ujung-ujungnya dia harus menerima ketidak sempurnaan dirinya. Orang yang tidak beranugerah terhadap dirinya sendiri sebetulnya orang yang tidak menerima ketidak sempurnaannya. Itu sbabnya dia selalu menuntut diri harus lebih dan harus lebih.
Mungkin dalam percakapan dia akan berkata, "Saya banyak kelemahan, saya tidak sempurna dan sebagainya", tapi sesungguhnya di dalam hatinya dia tidak menerima itu. Saya akan fokuskan kepada itu yakni kepada orang yang tidak beranugerah terhadap dirinya sendiri, "Bisakah kamu menerima ketidak sempurnaanmu, bisakah kamu tetap menyukai dirimu dengan ketidak sempurnaan itu", ini adalah langkah awalnya. Langkah berikutnya setelah itu adalah dapatkah engkau membawa ketidaksempurnaanmu itu kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan inilah aku, dan proseslah aku sesuai dengan kehendakMu dan caraMu." Bisakah kau serahkan kepada Tuhan, sebab orang yang tidak beranugerah pada dirinya sendiri sebetulnya tidak menyerahkan ketidak sempurnaan itu kepada Tuhan, dia serahkan kepada dirinya sendiri, dia yang harus bereskan, dia tidak serahkan kepada Tuhan. Makanya kita harus bertanya, apakah kamu rela menyerahkan ketidaksempurnaanmu itu kepada Tuhan, bukan engkau lagi yang harus benar-benar menyoroti, mencambuki diri supaya lebih sempurna tapi serahkan kepada Tuhan.
GS : Apakah ada contoh konkret di dalam Alkitab sehubungan dengan berkepribadian anugerah ini.
PG : Ada satu contoh yang diberikan Tuhan yaitu tentang seorang yang sudah diampuni oleh Tuhan karena hutangnya yang begitu besar tapi tidak bisa mengampuni orang yang berhutang kecil kepadanya ini salah satu contoh orang yang tidak beranugerah kepada dirinya dan kepada orang lain juga.
Dia tidak beranugerah kepada orang lain, kenapa? Dalam contoh itu sebenarnya isinya adalah dia tidak menghargai pemberian Tuhan, artinya dia tidak menghargai bahwa Tuhan telah memberikan begitu besar pengampunan kepada dirinya. Jadi orang yang tidak beranugerah kepada dirinya sendiri sebetulnya orang kurang menghargai pemberian Tuhan terhadap dirinya, karena itu dia selalu menyoroti ketidak sempurnaannya, seolah-olah dia memang tidak menyalahkan Tuhan tapi intinya dia tidak mensyukuri yang Tuhan telah berikan dan dia berusaha lebih dan lebih baik lagi, sehingga dia menjadi orang yang kejam terhadap dirinya. Dan akhirnya menjadi luber sehingga berbuat kejahatan kepada orang lain pula. Jadi orang yang tidak menghargai pemberian Tuhan akan kejam kepada dirinya dan akhirnya akan kejam kepada orang lain pula.
GS : Bagaimana dengan contoh nabi Elia yang pernah akan bunuh diri?
PG : Elia memang saat itu dalam keadaan sangat ketakutan dan panik, dirinya benar-benar sedang kacau karena mau dibunuh oleh Izebel. Memang dalam keadaan seperti itu kita tidak lagi bisa berpikr jernih.
Itu juga yang dialami oleh nabi Elia, lebih baik mati dari pada hidup. Dalam contoh nabi Elia, kita bisa melihat bahwa dia menuntut dirinya sangat tinggi. Dia tidak bisa lagi melihat bahwa ini pemberian Tuhan, Tuhan pakai aku melawan 850 nabi-nabi Asyera dan Baal itu berarti anugerah Tuhan, Tuhan yang bekerja. Tapi waktu di Bukit Horeb Tuhan bertanya "Apa yang kaulakukan disini," dan Elia menjawab apa? "Saya telah bekerja susah payah untuk Tuhan tapi saya menjadi begini." Apa yang dia lakukan? Dia melihat dirinya yang telah melakukan ini dan itu, tapi kenapa hasilnya akhirnya begini. Dia tidak lagi melihat dia hanyalah hamba, dia hanyalah alat dan yang melakukan adalah Tuhan. Cenderung orang yang kurang beranugerah terhadap dirinya memang kurang melihat Tuhan, bahwa Tuhanlah yang mengerjakan semuanya dan kita hanyalah alat, sehingga merasa dirilah yang harus begini dan begitu, menuntut diri agar lebih tinggi lagi dan akhirnya menuntut orang lain. Dalam pernikahan kalau kita seperti itu pasti pasangan kita akan susah, pasti anak-anak kita akan stres hidup dengan kita, kita menjadi orang yang tidak pernah puas dan menyalahkan yang lain, seolah-olah mereka bertanggung jawab terhadap ketidakbahagiaan kita. Akhirnya semua orang merasa kalau hidup dengan kita itu suatu penderitaan.
GS : Memang itu yang menjadi masalah, seringkali kita memaksa orang lain berlaku seperti kita padahal kita itu dalam situasi yang tidak betul.
PG : Seringkali karena kita melihat kita yang betul dan menganggap kamu yang harus maju kamu yang harus lebih baik lagi dan sebagainya. Sekali lagi, harus kembali ke wawasan anugerah. Tuhan menhadirkan anak-anak kita, pasangan, sebagian dari keluarga untuk membongkar kita, membongkar kelemahan-kelemahan kita supaya kita bisa membawa kepada Tuhan dan minta Tuhan memprosesnya bukan sebagai gangguan-gangguan dari manusia.
Kalau kita berani berkata seperti itu berarti kita berani melihat bahwa ini adalah sebuah proyek dalam diri saya yang harus saya selesaikan. Kita tidak lagi menyalahkan pasangan atau anak-anak kita.
GS : Setelah kita membahas ketiga sisi dari anugerah ini, apa yang ingin Pak Paul sampaikan sebagai kesimpulannya.
PG : Satu konsep anugerah sekarang ini, tidak boleh kita pikirkan sebagai sesuatu yang bersifat intelektual tapi kita harus hidup didalam semua aspek kehidupan kita yaitu jadilah orang beranugeah, jadilah orang yang rela memberi, berkorban, rela terbuka melihat yang positif, melihat potensi untuk masa depan dan yang terutama berwawasan anugerah.
Melihat bahwa kita ini dihadirkan Tuhan, kita dibawa kedalam pernikahan juga untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan yaitu penyelamatan umat manusia. Saya kira kalau kita menjadikan anugerah sebuah kata sifat dalam diri kita yaitu manusia yang beranugerah maka Tuhan akan memakai dan memberkati pernikahan kita menjadi alatnya untuk menjadi terang bagi bangsa.
GS : Apakah ada ayat firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan sehubungan dengan perbincangan ini?
PG : Saya akan bacakan dari Matius 5:3, "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." Ini bagi saya salah satu pelukisan dari beranugerah, orng yang miskin di hadapan Allah orang yang berkata, "Tuhan saya tidak punya apa-apa maka saya hanya menerima dari Engkau, semua yang aku miliki itu berasal dari Engkau maka aku hanya memberikan sebagai saluran berkat Tuhan kepada yang lain."
Kata Tuhan, "Orang yang seperti inilah yang empunya Kerajaan Sorga."
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Anugerah dalam Pernikahan" bagian yang kedua. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan email dengan alamat
telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di
www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Banyak pernikahan kandas di tengah jalan oleh karena ketidaksiapan pribadi yang bersangkutan. Sudah tentu ada banyak penyesuaian yang mesti kita lakukan untuk memastikan terciptanya pernikahan yang langgeng. Namun di samping itu ada pula tugas rohani yang harus kita lakukan. Berikut akan dipaparkan tiga di antaranya.
Berwawasan Anugerah
Pernikahan bukanlah segalanya; Tuhan adalah segalanya. Tuhan, pencipta institusi pernikahan, mempunyai rencana keselamatan yakni menyelamatkan umat manusia dari hukuman dosa. Tuhan tengah bekerja untuk membawa manusia kembali masuk ke dalam kerajaan-Nya dan Ia ingin melibatkan kita dalam rencana dan kerja keselamatan-Nya ini.
"Aku ini TUHAN telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa." (Yesaya 42:6)
"Kata Yesus kepada mereka, 'Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. " (Yohanes 4:34)
Jika kita menjadikan pernikahan sebagai akhir, puncak, dan tujuan hidup, kita keliru dan akan kehilangan kesempatan hidup untuk Tuhan. Bila pernikahan adalah segala-galanya, pernikahan telah menjadi ilah dan ini tidak diperbolehkan Tuhan. Pernikahan adalah kendaraan yang Tuhan gunakan dan berkati untuk menghantar kita ke tempat tujuan yaitu menyelesaikan pekerjaan Allah.
Orang yang hidup untuk menikah, tatkala mengalami masalah dalam pernikahan, cenderung terpuruk. Wawasan yang sempit dan sikap hidup yang menekankan kepentingan pribadi akhirnya membuat kita sukar keluar dari masalah. Sebaliknya, bila kita hidup untuk Tuhan dan terlibat dalam pekerjaan-Nya, kita akan lebih berwawasan dan tidak tenggelam dalam urusan sendiri saja. Pada akhirnya, kita pun akan lebih mudah menyelesaikan masalah.
Selain itu, pasangan yang secara sadar dan terencana melibatkan diri dalam pekerjaan Tuhan akan berkempatan membangun keintiman dan keharmonisan sebab keduanya bersatu dalam pekerjaan rohani yang serupa. (Sudah tentu saya tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap orang harus menjadi pendeta sebab pekerjaan Tuhan mesti dilakukan oleh semua orang Kristen.)
Berelasi Anugerah
Sewaktu Tuhan menunjuk Petrus untuk menjadi murid-Nya, Ia tahu bahwa Petrus akan menyangkal-Nya. Namun Ia pun tahu bahwa Petrus akan menjadi murid yang memuliakan nama Tuhan dan efetif dalam pelayanan. Itu sebabnya Tuhan menugaskan Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yohanes 21:15-17) Dengan kata lain, Tuhan melihat potensi baik yang ada pada diri Petrus. Inilah yang saya maksud dengan Relasi Anugerah-relasi yang didasarkan atas kekuatan, bukan kelemahan sesama. Orang yang beranugerah akan mencari hal-hal positif pada sesama; sebaliknya orang yang tidak beranugerah akan mencari kesalahan dan masalah pada diri sesama.
Orang yang beranugerah berkemungkinan besar membangun pernikahan yang kuat dan sehat sebab ia akan menghembuskan nafas percaya dan positif ke dalam diri pasangannya. Pasangannya akan makin berkembang dan mekar menjadi diri yang terbaiknya. Orang yang beranugerah juga akan memberi nafas kelegaan kepada pasangannya sebab ia memberinya ruang untuk menjadi dirinya, apa adanya.
Orang yang beranugerah juga mudah mengampuni dan tidak menyimpan kesalahan. Ia tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna; ia membuka pintu terhadap ketidaksempurnaan dan menerima sesama secara utuh. Sebaliknya orang yang tidak beranugerah sukar mengampuni, termasuk pasangannnya sendiri. Ia cenderung menyimpan kesalahan dan siap menembakkan peluru kesalahan dalam setiap konflik. Alhasil hatinya penuh kepahitan dan kedengkian.
Pernikahan hanya dapat berjalan langgeng bila kita menjalani relasi atas dasar anugerah. Kita harus beranugerah sebab bukankah kita adalah penerima anugerah Tuhan? Ia tidak memperhitungkan kesalahan kita, malah mempercayai kita dengan pekerjaan-Nya. Di dalam anugerah-Nya kita merdeka dan lega menjadi manusia sebagaimana diinginkan-Nya.
Berkepribadian Anugerah
Ada orang yang dapat menerima sesama apa adanya dan bisa melihat kekuatan orang serta mengampuni sesama dengan mudah, namun tidak bisa berbuat hal yang serupa kepada diri sendiri. Justru kepada diri sendiri ia kritis dan keras; ia tidak mudah memaafkan diri dan terus mencemeti diri untuk bekerja tanpa istirahat. Inilah contoh orang yang bisa memberi anugerah kepada sesama namun tidak dapat memberi anugerah kepada diri sendiri.
Orang seperti ini umumnya berasal dari keluarga yang mementingkan performa di atas segalanya. Ia tidak terbiasa dengan penerimaan tanpa syarat sebab itu tidak pernah di alaminya. Itu sebabnya ia pun menerapkan standar yang sama kepada dirinya; ia tidak bisa melihat diri yang tidak sempurna.
Orang ini susah bahagia dan sukar beristirahat-dua kualitas yang pasti mempengaruhi relasi nikah. Ia tidak bahagia sebab ia senantiasa menjumpai kekurangan pada dirinya. Mungkin sekali pasangannya tidak mengeluhkan apa-apa dan menerima dirinya apa adanya tetapi ia tidak bisa menerimanya. Ia sukar beristirahat sebab hidup adalah sebuah usaha kerja untuk mencapai target. Ia terus bergerak tanpa henti dan ini akan dengan mudah menjadikannya orang yang letih dan terkuras.
Tatkala Elia melarikan diri dari Izebel, Tuhan tidak memarahinya (1 Raja-Raja 19); kepada Petrus Tuhan hanya menatapnya tatkala ia menyangkal Tuhan (Lukas 22:61). Tuhan sabar dengan kita, seyogianyalah kita sabar dengan diri sendiri.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Memahami dan mengerti pasangan dengan memikirkan dan memperhatikan kepentingan pasangan lebih dari kepentingan diri sendiri.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kali ini kami akan berbincang-bincang tentang bagaimana memahami kebutuhan dari pasangan di dalam hubungan pernikahan. Kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) GS : Pak Paul, ada bagian dalam Alkitab yang terkenal sekali. Saya rasa hampir seluruh pasangan Kristen pernah mendengar atau membaca ayat itu yang mengatakan kepada suami, Tuhan memerintahkan agar mengasihi istrinya, sedang kepada istri Tuhan mengatakan untuk tunduk kepada suaminya, itu yang terlintas di pikiran saya Pak Paul, lengkapnya mungkin nanti Pak Paul bisa bacakan. Tetapi yang ingin saya pertanyakan adalah bagaimana mengaplikasikan ayat ini di dalam kehidupan suami istri, karena kadang-kadang yang terjadi itu, bukan istri tunduk pada suami tapi menanduk pada suaminya dan bukan suami mengasihi tapi bisa membenci istrinya. Kenyataannya begitu Pak Paul.
PG : Dan lebih parah lagi suami bukan mengasihi istri, tapi mengasihi istri orang lain.
GS : Istri orang lain, padahal kita terpanggil bukan hanya membaca dan menghafal ayat itu tetapi melakukan di dalam kehidupan rumah tangga kita, Pak Paul?
PG : Kebalikannya juga betul, Ibu Ida dan Pak Gunawan, yaitu ada istri yang kurang menghormati suami sendiri, lebih menghormati suami orang lain. Ayat yang tadi Pak Gunawan kutip, diambil dai Efesus 5 : 33 yang berbunyi, "bagaimanapun juga bagi kamu masing-masing berlaku kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya."
Tadi Pak Gunawan menanyakan secara konkretnya bagaimanakah kita bisa mengaplikasikan firman Tuhan ini. Khusus untuk istri ya, Tuhan meminta agar mereka tunduk kepada suami. Saya bisa sekurang-kurangnya mengidentifikasi dua aspek dalam kehidupan yang dapat menunjukkan rasa hormat atau tunduk mereka kepada suami. Yang pertama adalah bagaimana istri itu berbicara kepada si suami. Kadang-kadang saya perhatikan ada masalah-masalah yang timbul bukan karena perbedaan isi percakapan atau prinsip, yang menjadi problem adalah bagaimana si istri mengucapkan atau menyampaikan permintaannya itu. Suami sebagai pria peka sekali akan cara bagaimana si istri menyampaikan pendapatnya, nah kalau istri bisa mengungkapkan dirinya dengan cara yang pas kepada si suami, suami cenderung untuk menerimanya.
GS : Contohnya bagaimana Pak Paul?
PG : Contohnya adalah ini, misalkan si istri itu meminta supaya anak dijemput. Adakalanya tanpa disadari si istri misalnya memintanya dengan, "kamu jangan lupa jemput anak- anak." Misalkan sja hal itu kurang disukai oleh si suami karena apa? Karena ada suami-suami atau pria-pria yang susah sekali mendengar instruksi dari pihak wanita.
GS : Nadanya itu nada memerintah?
PG : Betul, ini adakalanya memang bagian dari kehidupan wanita, kita tidak bisa 100 % mengatakan ini salah wanita, sebab wanita adalah seorang pemberi instruksi dalam perannya sebagai seoran mama, seorang ibu dan bagaimanapun juga mengidentifikasi diri dengan mamanya dulu.
Dan mama yang dikenalnya adalah mama yang memberikan instruksi, mamalah yang seringkali memberikan instruksi kepada anak-anak jadi itulah yang dikenalnya dan diserapnya. Waktu dia sudah besar, ada kecenderungannya juga menggunakan metode bicara yang serupa seperti dia berbicara kepada anaknya, dia perlakukan itu juga kepada suaminya. Suami atau pria cenderung kurang bisa tanggap dan menerima cara bicara yang bernada instruksi dari pihak istrinya .
IR : Sebaiknya bagaimana Pak Paul, cara penyampaiannya, biasanya minta tolong ya?
PG : Bagus sekali Ibu Ida, jadi salah satu contohnya adalah itu, bukannya pria ini gila hormat. Tapi pria itu membutuhkan hormat, tidak gila hormat, pada umumnya hanya membutuhkan hormat. Jai dengan memberikan permintaan tolong itu saya kira menolong sekali si suami.
Atau misalkan contoh yang lainnya lagi adalah dalam pengambilan keputusan, adakalanya memang suami tidak seberhikmat istrinya kita harus akui itu ya. Adakalanya suami tidak melihat hal-hal yang dilihat oleh istri dalam pengambilan keputusan, ada baiknya si istri tidak mengatakan kamu harus begini-begini, kamu masa tidak melihat ini, kamu seharusnya sudah pikirkan ini. Perkataan-perkataan dengan nada seperti itu cenderung membuat si suami defensif, menutup diri, dan malahan ingin membenarkan diri dan yang terjadi selanjutnya adalah pertengkaran, sebab si suami itu tidak menerima tanggapan atau usulan si istri. Si istri marah karena ia memang memberikan usulan yang baik. Apa yang bisa dilakukan dalam situasi seperti ini, saya menganjurkan agar si istri menggunakan kalimat pilihan, daripada memberikan satu pilihan kamu kenapa begini, kamu 'kan seharusnya pikir ini. Kita berkata menurutmu bagaimana ya, apa yang baik kita kerjakan ini, ini, ini atau yang ini, ini dulu yang kita kerjakan. Jadi kita memberikan dia 2,3 pilihan untuk memilih. Misalkan si suami itu egonya sangat besar dan tidak mau mengakui hikmat dari si istri. Dia mungkin tidak menjawab, dia mungkin mempertahankan pendapatnya tapi sekurang-kurangnya 3 pilihan yang diberikan oleh si istri itu akan diingatnya, dan mungkin akan dia ambil nanti, akan dia terima dan akan dia lakukan. Dan karena si istri memberikan misalnya 2 atau 3 pilihan, waktu si suami melakukan salah satu di antaranya si suami tidak terlalu merasa terhina.
GS : Tidak merasa diperintah atau didikte ya, Pak Paul?
PG : Betul, kalau dia menerima satu saja pilihan yang diberikan oleh si istri, si suami akan merasa terhina sebab saya itu benar-benar mengikuti nasihat istri saya. Tapi kalau ada 2 atau 3 plihan, dia merasa lebih baik, ada ruang gerak, saya memilih sendiri misalnya.
IR : Putusan dari sang suami ya?
PG : Sang suamilah sekarang yang merasa dia yang mengambil keputusan tersebut. Jadi sekali lagi bagaimana kita berbicara sangatlah menunjukkan rasa hormat kita kepada suami, dan suami cenderng memang menyukai gaya bicara yang seperti itu.
(2 ) GS : Sebaliknya dikatakan suami itu harus mengasihi istrinya, dikatakan tadi sebagaimana Pak Paul bacakan, seperti mengasihi dirinya sendiri bahkan.
PG : Salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan rasa kasih kepada istri adalah dengan cara membuatnya merasa spesial, merasa istimewa, Pak Gunawan, itu salah satu intinya saya kia.
GS : Contoh konkretnya Pak Paul?
PG : Membuat orang merasa spesial sebetulnya bersumber dari perhatian, berapa banyak perhatian yang kita berikan. Kita tidak bisa berdalih, berargumentasi, saya ini tetap mencintaimu dan kauyang spesial dalam hidupku, tapi jarang berbicara dengan dia, tidak memperhatikan kebutuhannya, ulang tahunnya dilupakan, tidak mendengarkan dia pada waktu dia berbicara kepada kita, jadi sudah pasti hal-hal seperti itulah yang diminta oleh si istri.
Misalkan saya berikan contoh ini yang sangat-sangat segar. Kemarin kami hendak menonton video film drama. Istri saya ini senang dengan film drama, jadi sesekali saya meminjam film-film drama supaya kami berdua bisa menikmatinya bersama setelah anak-anak tidur. Sudah kira-kira jam setengah sebelas malam hampir jam sebelas kami baru sempat nonton di televisi kami, di video kami. Tiba-tiba kami dapat telepon dari seseorang yang membutuhkan pertolongan, dan memang dia sangat butuh sekali pertolongan. Jadi istri saya pun setuju pergi agar menolong orang tersebut. Setelah saya pergi mungkin saya pulang sekitar 45 menit kemudian atau hampir satu jam kemudian, sudah hampir jam 12 malam film itu hampir habis. Jadi pada waktu saya pulang, saya lihat dia masih menonton, saya tidak mau mengganggu dia, jadi saya katakan saya ingin tidur di kamar anak-anak saya, sebab saya tidak bisa tidur di kamar saya, berisik dengan adanya video itu. Film itu hampir habis, akhirnya dia berkata, kenapa kamu tidak mau berbicara dengan saya, tidak mau duduk di sebelah saya. Saya mengatakan saya ini justru mau ke kamar anak-anak supaya tidak mengganggu kamu, tapi dia mengatakan kamu 'kan tidak bicara apa-apa, pulang langsung diam, langsung mau tidur, tadi kita sudah berjanji untuk nonton sama-sama, saya menantikan engkau, sebetulnya berat bagi saya melepaskan engkau pergi, tapi kini kamu sudah kembali malah tidak mau duduk di sebelah saya; memang jelas terjadi kesalahpahaman. Saya mau dengan diam-diam pindah kamar karena tidak mau mengganggu dia, saya kira dia lagi nonton ya jangan diganggu.
GS : Padahal kebutuhannya lain.
PG : Kebutuhannya bukan nonton, omong-omong, jadi kebersamaan itu. Jadi sekali lagi itulah yang diminta oleh istri yaitu perhatian, kebersamaan. Dan memang bagi pria hal ini sepertinya hal kcil, hal sepele, tapi justru itu yang akan membuat dia istimewa.
IR : Memang istri, Pak Paul, kalau diperhatikan dan suaminya itu romantis, itu dibutuhkan setiap istri, pengakuan setiap istri itu demikian, Pak Paul?
PG : Saya sadari bahwa memang istri itu membutuhkan suami yang romantis, tapi kenyataannya adalah di dunia ini pria yang romantis sebetulnya tidak banyak. Kebanyakan pria itu pragmatis, pragatis artinya berpikir secara rasional, yang bermanfaat bagi saya itulah yang saya lakukan, yang tidak bermanfaat itu buang waktu, jadi itu benar-benar sangat bertentangan dengan kebutuhan istri.
Salah satu hal lain lagi yang saya pikir, Pak Gunawan dan Ibu Ida, tentang mengistimewakan istri adalah mengistimewakan dia di atas wanita atau orang lain atau hal lain, itu penting sekali bagi seorang istri. Saingan itu tidak harus berbentuk wanita lain, saingan bisa berbentuk pekerjaan, hobby. Waktu kita dahulukan dia dan berkata ya tidak apa-apa saya lepaskan yang lain sebab saya mau mengutamakan dia, itu memberikan suatu pesan yang sangat jelas kepada istri kita bahwa dia istimewa. Jadi memang keistimewaan itu harus diwujudkan dalam bentuk yang nyata, kalau kita katakan kamu istimewa, kamu spesial tapi kita perlakukan dia persis seperti kita memperlakukan orang lain, maka tidak ada istimewanya. Ini juga saya pelajari dari pernikahan saya sendiri. Terus terang awal-awal pernikahan karena saya banyak teman dan lain sebagainya, saya memperlakukan semua orang sama. Saya masih ingat istri saya berkata, saya tidak mau engkau perlakukan sama seperti orang lain, saya minta engkau perlakukan aku berbeda, sebab aku istrimu. Saya baru disadarkan, ya betul keistimewaannya hanya ada dalam perbandingan dengan perlakuan saya terhadap orang lain.
GS : Tapi 'kan dikatakan oleh firman Tuhan mengasihi istri itu seperti dirinya sendiri, pada hal kita belum tentu punya kebutuhan seperti istri kita itu Pak Paul? Dalam hal diperhatikan, dan apa mungkin kita tidak terlalu pusing dengan itu?
PG : Betul pada akhirnya Pak Gunawan, kita harus mementingkan yang dianggap penting olehnya. Ini sebetulnya dua belah pihak ya, bukan saja istri. Tapi saya pikir suami juga sama, suami inginistri memperhatikan hal yang penting bagi suami pula, hal-hal kecil, memang macam-macam ya.
Misalkan ada suami yang senang handuk itu langsung ditaruh dengan rapi, waktu dia minta kepada istrinya 2, 3 kali diminta tidak dilakukan dia merasa jengkel. Itu penting bagi si suami. Istrinya berkata itu hal kecil bisa mengambil sendiri, jadi sekali lagi betapa pentingnya hal itu.
IR : Dan itu membutuhkan pengorbanan ya Pak Paul, seperti ada kasus ya kesaksian juga dari seorang suami, istri yang memperhatikan hobby suaminya. Sekalipun si istri tidak menyukai, tapi dia mau mementingkan suaminya. Misalnya nonton sepak bola, si istri tidak senang tapi karena dia mengasihi dan menghormati suaminya dia menemani, membuatkan makanan kecil, jadi hal-hal itu Pak Paul yang membuat si suami itu dihargai.
PG : Betul sekali, itu membawa kita kepada bentuk yang lain untuk menyatakan tunduk atau hormat kepada suami, yaitu bagaimana istri bisa menghargai suami, tidak bisa tidak wujud dari tunduk tau hormat adalah dalam hal menghargai.
Salah satu bentuknya tadi ya, Bu Ida sudah ceritakan, menghargai bisa diutarakan dengan mementingkan hal yang penting bagi si suami, waktu dia melakukan itu ya nonton sepak bola bersama suaminya, tidak bisa tidak, si suaminya merasa sangat dihargai.
IR : Tapi Tuhan itu memberkati Pak Paul, akhirnya si istri itu juga ikut menikmatinya, akhirnya dia suka padahal sebelumnya tidak suka.
PG : Betul, jadi akhirnya memperkaya wawasan si istri juga. Demikian juga kalau suami memperlakukan hal yang sama kepada istrinya.
IR : Akhirnya terbalas, dulu suaminya tidak senang kalau istri itu hobby menanam tanaman, tapi karena si istri itu mendahului, mementingkan kepentingan si suami, akhirnya si suami juga ingin membalasnya. Jadi hobby si istri juga dipenuhi, dibelikan tanaman, jadi akhirnya dia yang membelikan tanaman dan si suami juga menikmati bahwa tanaman itu juga indah. Hubungan itu jadi bagus, semakin baik, jadi ada pengorbanan di antara keduanya.
PG : Betul, dan kalau sudah tahap ini pernikahan tersebut juga menjadi pernikahan yang sangat kuat sebetulnya, karena suami istri tidak lagi berputar-putar pada soal kebutuhan, tapi berputarpada yang lebih tinggi yaitu hal-hal yang menyenangkan masing-masing.
Jadi melakukan hal yang bukan hanya menyenangkan pasangannya, yang sebetulnya kalau tidak adapun tidak apa-apa, kalau tidak ditemani nonton sepak bola ya tidak apa-apa, kalau tidak dibelikan tanaman juga tidak apa-apa. Tapi karena hubungan ini sudah begitu baik sehingga sekarang kebutuhannya meningkat kepada hal-hal yang diidamkan, yang bonus-bonus dan itu akan sangat memperkaya hubungan pernikahan tersebut.
(3 ) GS : Karena saya pikir memang betul apa yang Ibu Ida katakan, setiap suami akan merasa senang kalau istrinya itu mau melayani. Bukan dalam hal tertentu tetapi pada semua segi kehidupannya, Pak Paul. Memang sulit seorang suami mau mengatakan, kamu harus melayani saya, nanti dia tersinggung dipikirnya pelayan, tapi bagaimanapun juga sebagai seorang suami itu punya kebutuhan untuk dilayani oleh istrinya.
PG : Betul, dan itu akan membuat si suami merasa dihargai, ya Pak Gunawan, waktu istri melayani suami.
GS : Tapi itu boleh dikatakan dengan spontan, terus terang, dan istri bisa tersinggung ya Pak Paul?
PG : Betul, jadi sekali lagi masalah komunikasinya, mengutarakannya. Adakalanya suami itu menuntut untuk dilayani, tapi karena tidak berani berterus terang, apa kebutuhannya yang dia inginka, keluar dari mulutnya justru dalam bentuk perintah.
Kamu lakukan, jangan banyak tanya ini yang aku minta, masa kau tidak tahu apa yang aku butuhkan. Nada-nada perintah seperti itu membuat istri merasa sebagai pelayan, dan akhirnya tidak bisa memberikan secara spontan dan suka rela. Yang lainnya lagi yang bisa dilakukan oleh suami ya dalam wujudnya mengasihi si istri selain dari membuat si istri merasa spesial adalah mengerti kelemahan istri. Istri itu sebetulnya mempunyai kebutuhan mendasar yaitu ingin suami bisa menerima kelemahannya. Kelemahan yang saya maksud di sini adalah wanita itu cenderung mudah beremosi, karena emosi wanita lebih peka dibandingkan pria. Oleh sebab itulah pada umumnya, ya tidak semuanya, pada umumnya wanita lebih bisa mengalami kelabilan, naik turun emosinya dan kebanyakan wanita menyadari hal ini. Ini adalah sesuatu yang seharusnya lebih baik, lebih diperbaiki, lebih stabil. Yang dibutuhkan oleh wanita atau istri adalah pengertian si suami akan emosinya. Bahwa waktu dia marah, tidak berarti dia membenci si suami, waktu dia bernada tinggi, tidak berarti dia sedang menggurui si suami, jadi yang dibutuhkan adalah "terimalah aku, jangan tolak aku karena aku mempunyai perasaan-perasaan seperti ini". Itu sebetulnya kebutuhan pokok istri, kalau si suami bisa memberikan itu, aku menerimamu apa adanya, aku tahu bahwa waktu engkau berkata begitu, engkau tidak benar-benar bermaksud seperti itu, itu karena emosimu saja. Suami yang bisa memberikan perlakuan seperti itu akan membuat istrinya sangat aman . Dia tahu suaminya itu mencintai dia dan hubungan ini sangat kuat. Jadi apapun yang dilakukan, suaminya akan menerima dia.
GS : Jadi suami bukan saja dituntut untuk menerima kelemahan istri, tapi juga melindungi istri itu. Memang sifat-sifatnya dibuat seperti itu, Pak Paul? Jadi istri yang lemah lembut dan sebagainya agar suami memberikan perlindungan.
PG : Betul sekali, pengayoman itu akan membuat istri merasa sangat tenang dan aman. Tapi adakalanya istri kebablasan akhirnya tidak tepat dalam mengutarakan kebutuhannya ini, bukannya dia megakui terus terang inilah diri saya, tapi saya tidak bermaksud seperti itu atau saya tadi beremosi.
Yang istri lakukan adalah dia meminta si suami untuk seolah-olah tidak boleh menuntut, jangan menuntut apa-apa.
GS : Tapi istri boleh menuntut.
PG : Tapi istri boleh menuntut, itu kadangkala yang terjadi ya, si istri akhirnya benar-benar menutup pintu kepada si suami untuk menuntut atau meminta apapun. Karena apa? Karena si istri measa dia tidak bisa mencapai standar yang diharapkan oleh si suami, dia merasa sangat tidak aman.
Daripada dia dituntut lagi dan dia tambah stres tidak bisa memenuhi tuntutan tersebut, dia benar-benar menutup mulut. Berkata kepada suaminya jangan menuntut-nuntut lagi, jangan minta macam-macam lagi, sudah ini saya apa adanya, mau terima baik tidak mau terima ya sudah. Nah sebetulnya sekali lagi yang dibutuhkan oleh si istri adalah rasa aman, tapi karena akhirnya masalah dalam keluarga, rasa aman itu dia peroleh dengan cara menutup mulut si suami.
GS : Mungkin bukan hanya menutup mulut saja, pergaulan si suami pun bisa dibatasi Pak Paul supaya tidak terlalu sering keluar rumah atau sibuk dengan kegiatan di luar. Lalu seolah-olah si istri ini agak mengekang suaminya.
PG : Betul, betul supaya rasa amannya lebih terjamin.
GS : Apakah yang diperlukan begitu, lalu si suami malah mengasihi istrinya, Pak?
PG : Cenderungnya justru tidak, justru si suami tidak memperlakukan istri dengan istimewa dan spesial, nah itu berkaitan. Jadi akhirnya si suami justru memperlakukan istri sebagai orang yangjahat.
Tapi adakalanya memang ada problem juga dari pihak si suami yang berkaitan dengan kebutuhannya tadi itu. Tadi sudah kita sebutkan memang pria itu ingin sekali dihargai dan dihormati; ini berkaitan dengan perasaan bisa, mampu, sanggup. Pria adalah makhluk yang butuh merasa bisa, dia sangat malu kalau dia tidak bisa, apalagi di depan istrinya. Akhirnya kalau dia tidak mantap, tidak aman, yang keluar dari mulutnya adalah "tutup mulut kamu, jangan beritahu apa-apa, aku bisa, aku mengerti, ini urusan pria." Nah itu contoh-contoh yang mungkin kita pernah dengar, "ini dunia laki-laki, kamu tidak mengerti dagang, jangan banyak mulut" dan sebagainya. Sebetulnya yang dibutuhkan oleh suami adalah perasaan aku bisa, jadi sekali lagi perasaan-perasaan atau kebutuhan-kebutuhan alamiah dalam pernikahan yang tidak sehat benar-benar menjadi hancur. Destruktif sekali, saling merusakkan.
(4 ) IR : Nah Pak Paul, suami yang selalu melibatkan misalkan dalam kariernya, keputusannya selalu melibatkan si istri berarti itu juga memperlakukan istrinya spesial, Pak Paul?
PG : Tepat sekali, tepat sekali orang yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan akan merasa dihargai, itu betul.
IR : Sekalipun keputusannya nanti diambil oleh sang suami tapi pokoknya diutarakan, dibicarakan, istri sudah sangat merasa dihargai, ya Pak Paul?
PG : Betul, ini adakalanya memang yang dianggap atau dimiliki oleh para pria yaitu pria adakalanya menganggap dia itu di atas istri. Tuhan memang meminta pria itu menjadi kepala, tapi bukanlh kepala yang searah ya, yang hanya memberikan perintah dari atas ke bawah, tidak sama sekali.
Sebab yang Tuhan inginkan adalah hubungan cinta, hubungan kasih-mengasihi bukan hubungan kerja. Kadangkala pria yang mempunyai konsep yang keliru, seperti hubungan kerja, saya bos engkau bawahan. Engkau harus menuruti perintah, adakalanya pria yang rasanya terdesak menggunakan senjata Alkitab. Engkau harus taat kepada suamimu, engkau menjadi istri yang tidak taat. Tapi sebetulnya ini bukan hubungan kerja, ini hubungan kasih, dan dalam hubungan kasih memang tidak ada yang menggurui, yang ada adalah saling menghormati, itu sebetulnya yang harus terjadi dalam pernikahan Kristen.
GS : Karena di dalam Tuhan menciptakan kita, baik suami maupun istri masing-masing mempunyai kebutuhan, ya Pak Paul. Dan diciptakan pasangan, dan diberikan pasangan supaya pasangan itu bisa mengisi kebutuhannya dan sebaliknya. Saya rasa begitu.
GS : Jadi menggarisbawahi firman Tuhan yang tadi Pak Paul bacakan dari Efesus itu tentunya kita semua terpanggil untuk betul-betul melaksanakan firman Tuhan dalam kehidupan suami istri. Karena kalau kita keluar dari apa yang Tuhan tetapkan ini, pasti akan menimbulkan banyak masalah di dalam kehidupan rumah tangga kita.
PG : Betul dan saya teringat akan satu ayat di Pilipi 2, di mana Rasul Paulus meminta agar kita tidak hanya memikirkan kepentingan diri kita saja. Nah ini yang harus ditanamkan dalam setiap ernikahan.
Harus kita akui bahwa kecenderungan kita memikirkan kepentingan kita yang tidak terpenuhi, yang dilanggar, dan kurang mementingkan kepentingan pasangan kita.
GS : Jadi memang kalau mau belajar berkorban, di dalam rumah tangga itu Pak Paul, di dalam hubungan suami istri kita betul-betul mewujudkan, mempraktekkan kasih yang nyata itu.
IR : Mengutamakan kepentingan orang lain, terutama keluarga ya Pak Paul?
GS : Jadi saya rasa demikianlah perbincangan kita dalam kesempatan ini Pak Paul, kita percaya bahwa Tuhan pasti akan menolong setiap anak-anaknya yang mau sungguh- sungguh melakukan kebenaran firman Tuhan ini.
Dan demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang bagaimana kita memenuhi kebutuhan pasangan kita suami istri. Dan perbincangan ini kami lakukan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Melalui kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih untuk surat-surat, saran-saran serta pertanyaan yang ditujukan kepada kami. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami bertiga mengucapkan sampai berjumpa lagi pada acara TELAGA yang akan datang.
PERTANYAAN KASET T 36 B
Bagaimana mengaplikasikan Efesus 5 bahwa istri harus tunduk kepada suami?
Bagaimana mengaplikasikan Efesus 5 bahwa suami harus mengasihi istri seperti dirinya sendiri?
Bagaimana cara mengutarakan keinginan kita sebagai suami terhadap istri, bahwa sesungguhnya suami senang dilayani oleh istri?
Melibatkan istri dalam setiap pengambilan keputusan, karier, apakah merupakan wujud dari perlakuan istimewa dari seorang suami?
Ringkasan Isi:
Ada bagian Alkitab yang terkenal sekali dan saya rasa hampir seluruh pasangan Kristen pernah mendengar atau membaca ayat yang seperti ini:
"Hai istri, tunduklah kepada suamimu…."
"Hai suami, kasihilah istrimu…. Efesus 5:22-25
Tetapi yang ingin saya pertanyakan adalah bagaimana mengaplikasikan ayat ini di dalam kehidupan suami-istri. Karena kadang-kadang yang terjadi itu, bukan istri tunduk pada suami tapi menanduk suami, dan suami bukan mengasihi istri tetap membenci istrinya. Dan yang lebih parah lagi: Ada istri yang kurang menghormati suami sendiri tapi lebih menghormati suami orang lain. Suami bukannya mengasihi istri sendiri tapi istri orang lain. Dalam Efesus 5:33 tertulis: "Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya." Khusus untuk istri, Tuhan meminta agar mereka tunduk kepada suami.
Ada 2 aspek dalam kehidupan istri yang dapat menunjukkan rasa hormat atau tunduk kepada suami.
Yang pertama adalah bagaimana istri itu berbicara kepada si suami.
Jadi bagaimana cara kita berbicara sangatlah menunjukkan rasa hormat kita kepada suami, dan suami cenderung menyukai gaya bicara yang seperti itu.
Yang kedua bagaimana istri bisa menghargai suami.
Tadi dikatakan, suami harus mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri. Yang bisa dilakukan suami untuk mewujudkan rasa kasih kepada istri adalah dengan cara membuatnya merasa spesial atau istimewa.
Membuat istri merasa spesial sebetulnya bersumber dari berapa banyak perhatian yang kita berikan. Kita tidak bisa berdalih dan berargumentasi: "Saya tetap mencintaimu dan kau adalah yang teristimewa dalam hidupku…." Tapi kenyataannya kita jarang berbicara dengan isteri, atau pada waktu dia berbicara kita tidak mendengarkan.
Mengistimewakan istri di atas wanita atau orang lain, maupun hal lain merupakan hal yang penting sekali. Saingan itu tidak harus berbentuk wanita lain, saingan itu bisa berbentuk pekerjaan atau hobby. Waktu kita dahulukan dia dan berkata: "Ya tidak apa-apa, saya lepaskan yang lain sebab saya mau mengutamakan kamu." Itu memberikan suatu pesan yang sangat jelas kepada istri kita bahwa dia istimewa.
Mengerti kelemahan istri. Sebetulnya isteri mempunyai kebutuhan mendasar, yaitu ingin suami bisa menerima kelemahannya. Kelemahan yang saya maksud disini adalah, wanita itu cenderung mudah beremosi. Yang dibutuhkan oleh wanita atau isteri adalah pengertian si suami akan emosinya. Waktu dia marah, tidak berarti dia membenci suaminya. Waktu dia bicara dengan nada tinggi, tidak berarti dia menggurui si suami. Jadi yang dibutuhkan adalah, terimalah aku, jangan tolak aku karena aku mempunyai perasaan-perasaan seperti ini.
Tuhan menciptakan kita baik suami maupun istri masing-masing mempunyai kebutuhan. Dan kita diberikan pasangan supaya pasangan bisa saling mengisi kebutuhannya. Kita semua terpanggil untuk melaksanakan firman Tuhan, kalau kita keluar dari apa yang Tuhan tetapkan, pasti akan menimbulkan banyak masalah di dalam kehidupan rumah tangga kita.
Filipi 2:4 "…dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." Dalam ayat ini rasul Paulus meminta agar kita tidak hanya memikirkan kepentingan diri kita saja. Ini harus ditanamkan dalam setiap pernikahan. Harus.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Badai dapat menerpa siapa pun, termasuk pengikut Kristus! Badai datang sekonyong-konyong, silih berganti! Ada 5 tuntunan untuk menghadapi badai yang dibahas dalam bagian ini.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen kali ini saya bersma Ibu Ester Tjahja, kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Tangguh di Tengah Badai". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, kalau kita bicara tentang badai ingatan kita itu langsung tentang kehancuran, tentang kerusakan yang parah bahkan tentang kematian. Sehingga orang itu kalau bisa akan coba menghindari atau menjauhkan diri dari badai ini supaya selamat. Tetapi kadang-kadang kita melihat juga berbagai upaya manusia ini ada batasnya, jadi tetap terjebak di dalam badai itu sehingga mau tidak mau harus bertahan. Ini kalau kita melihat kenyataan badai yang sehari-hati, tetapi dalam kehidupan kita sendiri itu juga ada badai-badai yang melanda hidup kita yang kita kenal dengan badai kehidupan. Ini sebenarnya apa Pak Paul?
PG : Badai kehidupan sebetulnya adalah hal-hal yang terjadi dalam hidup kita yang menimbulkan dampak kehilangan yang besar. Jadi hal-hal itu bisa merupakan kematian, bisa merupakan kerugian, bia merupakan hilangnya keseimbangan hidup ini, peristiwa-peristiwa yang menimpa kita apapun itu.
Tapi yang jelas adalah dampaknya, dampaknya adalah kehilangan yang sangat besar, itu sebabnya kita tidak siap untuk menghadapi badai. Karena pada akhirnya yang kita akan harus tanggung adalah sebuah kehilangan yang besar. Persis sama dengan peristiwa-peristiwa yang baru saja kita dengar yaitu badai Katrina, badai Rita yang menerpa di Amerika atau pun kita juga mendengar tsunami yang juga menerpa Sumatera Utara dan tempat-tempat lainnya. Efek akhirnya adalah kehilangan yang sangat besar.
GS : Tetapi badai kehidupan itu untuk setiap orang tidak sama, buat seseorang itu merupakan badai tapi buat yang lain ini mungkin cuma angin-angin sepoi saja Pak Paul.
PG : Memang tidak sama Pak Gunawan, jadi tergantung juga pada daya tahan kita, daya tampung kita untuk menahan terpaaan badai atau stres itu. Pada dasarnya kita itu bisa memfokuskan dampak kehiangan itu pada sekurang-kurangnya 4 kategori.
Yang pertama adalah kehilangan kesayangan, kedua kehilangan kepercayaan dan yang ketiga kehilangan keamanan dan yang terakhir adalah kehilangan kekuatan. Yang saya maksud kehilangan kesayangan adalah kita kehilangan orang yang kita sayangi, kematian adalah badai yang bisa merenggut orang yang kita sayangi. Bisa juga memang ini menyangkut harta miliki kita yang kita sayangi, rumah kita tiba-tiba terbakar habis nah itu bagian dari kehilangan benda atau harta yang kita sayangi pula. Ini adalah jenis pertama dari badai kehidupan.
ET : Kalau yang pertama tadi Pak Paul katakan ada kepercayaan, kehilangan seperti apa Pak?
PG : Kehilangan kepercayaan adalah misalnya suami atau istri yang harus menanggung rasa dikhianati karena apa yang tadinya dipercaya bahwa dia selalu akan setia kepada kita, tiba-tiba tidak seta.
Apa yang kita anggap dia akan selalu menepati janjinya, tiba-tiba dia tidak menepati janjinya. Misalkan kasus yang paling klasik dalam hal ini adalah perselingkuhan. Perselingkuhan adalah badai yang langsung merenggut kepercayaan kita, sehingga setelah badai itu lewat, yang terhilang dalam relasi kita dengan pasangan adalah kepercayaan itu.
ET : Berarti sebenarnya termasuk kehilangan kesayangan dalam hal ini ya Pak?
PG : Betul, ini point yang baik memang jadinya bukan hanya aspek kepercayaan yang hilang tapi juga kesayangan. Seseoang yang disayangi kok sanggup melakukan hal itu dan melukai kita, jadi kita eolah-olah kehilangan orang yang kita sayangi itu.
GS : Bagaimana dengan keamanan tadi yang Pak Paul singgung?
PG : Kita itu kadang-kadang beranggapan kita hidup dalam dunia yang aman tapi waktu sesuatu terjadi di luar dugaan kita dan di luar kemampuan kita, tiba-tiba kita baru disadarkan bahwa kita tidk hidup di dunia yang terlalu aman.
Misalnya perampokan atau terjadi kebarakaran atau terjadi musibah-musibah yang bersifat alami. Hal-hal itu tiba-tiba menggoncangkan rasa keamanan kita, kita anggap bahwa semuanya dapat kita kontrol, kita dapat menjaga, kita membangun rumah yang lebih tinggi, temboknya dan sebagainya, kita menggembok pintu rumah kita dengan lebih kuat, eh...tiba-tiba kita mengalami perampokan atau pencurian atau ada orang jahat yang berbuat jahat kepada kita. Semuanya itu adalah badai yang mengusik dan menghancurkan rasa aman dalam hidup kita.
GS : Termasuk itu kegoncangan ekonomi dalam keluarga itu Pak Paul?
PG : Salah satunya itu Pak Gunawan, jadi kalau kita sudah terbiasa hidup dengan gaji yang tetap setiap bulan, tiba-tiba di-PHK, kita kehilangan pekerjaan kita itu benar-benar akan menggoncangka rasa aman kita.
Nah ini badai yang langsung merenggut rasa aman dalam kehidupan kita.
ET : Termasuk yang psikologis itu Pak Paul, misalnya pelecehan bukankah ini juga berkaitan dengan keamanan?
PG : Betul, ada orang-orang yang memang hidup dalam rumah berharap bahwa kakek atau neneknya, misalnya kakeknya yang akan melindungi dia tapi malah si kakek yang melecehkan dia secara seksual. ah hal ini akan menimbulkan dampak yang sangat berat yaitu hilangnya kepercayaan dia kepada orang-orang yang seharusnya dekat dengan dia.
Justru kalau ada orang yang mau dekat dengan dia yang timbul bukannya percaya tapi malah curiga. Jangan-jangan orang ini juga akan melakukan sesuatu yang buruk kepada saya.
ET : Jadi di keluarga yang seharusnya aman, tapi justru keamanan itu sudah hilang.
PG : Betul sekali, dan bagi orang seperti ini kalau di rumahnya sendiri tidak ada lagi rasa aman apalagi di luar, maka kita bisa melihat pada kasus-kasus korban pelecehan; sampai mereka dewasa un mereka hidup dibayang-bayangi oleh ketakutan.
Sebab betul sekali, bahaya itu masuk di tengah-tengah keluarga, di tengah-tengah rumah tangga yang seharusnya menjadi tempat yang paling aman buat dia.
GS : Tapi kadang-kadang memang ada beberapa kasus seolah-olah sekelompok orang itu mengundang badai di rumahnya sendiri. Jadi sebenarnya dia tahu kalau itu akan menimbulkan bencana kalau dia lakukan tapi tetap dia lakukan itu.
PG : Ada orang-orang yang memang senang berjudi, senang mengambil risiko, sehingga akhirnya mengorbankan orang lain. kalau saja dia yang dikorbankan dampaknya tidak akan begitu meluas, tapi kadng-kadang memang dia mengundang bencana.
Misalkan, sudah tahu bahwa orang ini tidak bisa dipercaya, tetap diajak terlibat dalam kehidupan bisnisnya atau apa, benar-benar orang itu akhirnya berbalik dan merugikan kita. Jadi akhirnya kita marah karena kita merasakan kita kehilangan kepercayaan. Tapi sesungguhnya badai itu memang kita undang sendiri.
GS : Tapi itu sebenarnya seperti apa yang kita ilustrasikan di depan tadi, ada orang-orang yang sudah diperingatkan bahwa badai akan datang, dia tetap bersikeras mau tinggal di situ sehingga akhirnya menghadapi banyak masalah.
PG : Betul, maka kita memang perlu bijak Pak Gunawan. Kadang-kadang kenapa orang begitu, sudah tahu badai akan datang tetap saja berpikir dia bisa menghadapi badai. Orang ini memang mengandalka kekuatannya sendiri.
Nah memang di dalam hidup kita mesti emmpunyai keyakinan bahwa kita mempunyai kekuatan sampai batas tertentu, kita tidak boleh sampai meninggikan kekuatan kita di atas kekuatan Tuhan. Sampai titik tertentu kita mesti meyakini kita punya kekuatan untuk menghadapi hidup ini. Biasanya waktu badai menerpa yang terjadi adalah kekuatan itu tiba-tiba tidak sanggup untuk mengatasi bencana itu. Misalkan kita kehilangan orang yang kita kasihi, kita berpikir saya itu sering menolong orang yang sedang berduka, saya pasti bisa mengatasi kehilangan orang yang saya kasihi ini. Ternyata waktu hal itu terjadi pada diri kita, kita tidak sanggup. Misalkan kita sering mengatakan kepada orang-orang, "Jangan putus asa sewaktu kamu kehilangan pekerjaan, Tuhan akan sediakan pekerjaanmu." Kita bisa memberikan dorongan itu kepada orang-orang, eh....pas kita mengalami PHK kita benar-benar jatuh, kita tidak mempunyai kekuatan untuk bangkit kembali. Nah disitulah kita baru sadari kekuatan kita terhilang, itu kadang-kadang terjadi. Badai masuk merenggut kekuatan yang tadinya kita anggap kita miliki, ternyata kita tidaklah sekuat itu.
ET : Mungkin kadang-kadang karena pengalaman hidup yang selama ini lancar itu juga bisa membuat orang sepertinya kebal. Ada rasa kebal terhadap badai, pasti terlindungi, tidak akan sampai mengaami kejatuhan.
Jadi merasa kalau ada jam waterproof, jadi seolah-olah itu tidak akan menimpa saya, entah karena keyakinan iman atau hal-hal yang lain.
PG : Dan konsep ini sering kali dimiliki oleh kita sebagai orang beriman, sebagai orang percaya pada Kristus, kita tahu Tuhan akan melindungi kita. Dan benar, dalam banyak hal Tuhan melindungi ita namun kadang-kadang Tuhan membiarkan badai menerpa dan masuk dalam kehidupan kita.
Tuhan tidak selalu menjadikan kita itu orang yang Tuhan lindungi terus-menerus dan akan mencegah badai masuk di dalam kehidupan kita. Adakalanya Tuhan membiarkan, nah maka kita akhirnya harus mengakui bahwa badai dapat menerpa siapa saja termasuk pengikut Kristus. Tidak ada perkecualian, yang Tuhan janjikan bukannya kita tak pernah diserang badai, yang Tuhan janjikan adalah penyertaan-Nya. Waktu kita menghadapi pencobaan, Dia akan menyediakan jalan keluar dan Dia janjikan pencobaan itu tidak akan melebihi kekuatan kita. Namun Dia tidak pernah menjanjikan Dia akan terus-menerus menghindarkan kita dari badai, jadi memang sebagai pengikut Kristus kita juga harus menyadari bahwa badai dapat menyerang kita.
GS : Walaupun ada banyak persamaan dengan badai yang kita hadapi sehari-hari secara nyata, tetapi badai kehidupan itu sulit diprediksi sebagaimana badai yang sehari-hari kita hadapi, Pak Paul?
PG : Betul Pak Gunawan, badai yang terjadi di Amerika baik Katrina maupun Rita, beberapa hari sebelumnya bahkan beberapa minggu sebelumnya sudah dapat diprediksi. Tapi badai kehidupan tidak dapt diprediksi, maka kita harus menyadari dua sifat badai kehidupan.
Yang pertama, datangnya sekonyong-konyong, tidak dapat kita duga. Artinya kita tidak bisa menyiapkan diri sesiap-siapnya untuk menghadapi badai kehidupan. Ada orang yangmempunyai anggapan bahwa dia bisa menyangkal badai dengan cara menyiapkan hidup sesiap-siapnya. Semua hal dia kontrol, dia harus jaga, dia harus lindungi, nah itu adalah anggapannya. Tapi faktanya adalah tidak ada yang bisa menahan badai sewaktu badai itu datang dan tidak dapat dia prediksikan kapan badai itu akan muncul dalam kehidupannya. Sifat yang kedua tentang badai kehidupan adalah sering kali badai datang silih berganti, ini mirip dengan peristiwa yang terjadi di Amerika, baru saja badai Katrina melanda New Orleans di Lousiana kemudian datang lagi badai Rita. Sering kali badai kehidupan datangnya silih berganti membuat kita pada akhirnya merasa sungguh-sungguh tidak bisa bernafas dan kita benar-benar tidak lagi mempunyai kekuatan untuk menghadapinya.
GS : Kalau silih berganti itu mungkin orang masih bisa tahan, tapi kadang-kadang beruntun Pak Paul. Jadi seperti kisah yang kita baca di kitab Ayub itu beruntun sekali, dalam waktu yang singkat beberapa badai menerpa keluarga itu.
PG : Dan banyak orang mengalami hal itu Pak Gunawan, kalau kita ngomong-ngomong dengan orang yang pernah mengalami badai kehidupan yang parah umumnya mereka akan berkata badai itu datangnya bukn hanya satu kali tapi benar-benar beruntun.
Silih berganti, satu belum selesai satu lagi datang; satu belum selesai satu lagi datang, kita benar-benar dibuatnya tak bisa bernafas.
ET : Tapi yang menarik adalah reaksi yang berbeda-beda, tadi Pak Gunawan menggunakan istilah buat seseorang itu badai tapi buat orang lain seolah-olah angin sepoi-sepoi. Jadi yang seorang walauun mengalami badai beruntun tapi tetap bertahan, tapi ada orang lain lagi yang mengalami dengan beruntun bisa sampai gila dan mengalami stres yang luar biasa.
Sesungguhnya apakah memang ada tuntunan-tuntunan, kalau memang tidak bisa persiapan tapi paling tidak ketika badai datang, apa yang mesti kita lakukan Pak Paul?
PG : Ada beberapa Ibu Ester, yang pertama kita mesti menyadari bahwa hidup tidak berada dalam kendali kita. Ini sesuatu yang tampaknya sederhana tapi kadang-kadang kita lupa bahwa hidup tidak brada dalam kendali kita.
Contoh: ada orang-orang yang anaknya dijaga luar biasa, sudah besar-besar disuruh tinggal di dekat-dekat rumah tidak boleh tinggal jauh-jauh, dia mau jaga semuanya; seolah-olah hidup itu berada dalam kendali kita. Faktanya tidaklah demikian, faktanya adalah banyak masalah bisa muncul dan kadang-kadang kita tidak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu. Benar-benar sebuah ilusi bahwa kitalah yang mengontrol hidup. Maka kita harus berkata pada akhirnya datanglah kepada Tuhan yang memegang kendali atas hidup ini. benar-benar bukan kita tapi Tuhan; datanglah kepada Tuhan. Datang kepada Tuhan bukan dengan sikap ketakutan, "Tuhan, jangan sampai Tuhan kirim badai." Datang kepada Tuhan yang memegang kendali atas kehidupan artinya adalah datang kepada Dia dengan rasa aman, bahwa apapun yang terjadi kalaupun badai harus menerpa, Tuhan ada bersama dengan kita dan Dia sudah berjalan di depan kita sebelum badai itu datang. Kita harus yakin, orang-orang yang telah berhasil melewati badai, sering kali ketika melihat ke belakang mereka berkata: "Entah mengapa Tuhan sudah persiapkan kami, ada hal-hal yang terjadi sebelumnya yang membuat kami sadar, o......bukannya kebetulan hal-hal itu terjadi untuk mempersiapkan kami menyambut badai itu." Dengan kata lain kesimpulannya adalah Tuhan sudah berjalan di depan kita sebelum badai datang, nah ini ada penghiburan dan kekuatan kita, Dia adalah yang memegang kendali hidup dan kita dapat datang kepada-Nya dengan rasa aman.
GS : Memang kekhawatiran yang sering kali timbul adalah keadaan itu tidak terkendalikan lagi, jadi seolah-olah Tuhan pun tidak mampu mengendalikan badai menerpa hidup kita.
PG : Sering kali memang karena terlalu bertubi-tubi, kita akhirnya berkata Tuhan pun tidak bisa menolong kita. Sebetulnya yang harus kita katakan adalah "Tuhan, saya tidak sanggup lagi," namun angan smapai kita akhirnya mengatakan Tuhan yang tidak sanggup lagi.
Tuhan sanggup, tapi kalau ini tetap terjadi kesimpulannya adalah memang dalam takaran Tuhan inilah badai yang memang Dia telah tetapkan untuk kita. Berarti kekuatan Tuhan akan cukup sesuai takaran badai yang Tuhan tetapkan untuk kita itu.
GS : Tuntunan yang lain apa Pak Paul?
PG : Yang lain adalah kita mesti menyadari bahwa kita tidak selalu kuat. Kadang-kadang kita terlena Pak Gunawan, kita beranggapan kita sekarang sudah kuat, kita bisa menghadapi hidup apapun maslah yang akan datang dalam hidup kita, kita bisa atasi, tapi tidak demikian.
Faktanya adalah hari ini kita kuat, besok kita lemah. Kita tidak selalu kuat, kekuatan kita tidak selalu sama hari lepas hari, ada hari-hari kita kuat, ada hari-hari kita lemah. Kenapa, sebab hidup kita pun tidak selalu sama dan monoton, kadang-kadang ada hal yang mengguncangkan kita dan membuat kita kehilangan keseimbangan. Dalam kondisi seperti itu kita akan lebih lemah, kita harus sadari itu. Maka yang harus kita lakukan adalah datanglah dan dekatlah selalu dengan Tuhan yang perkasa, selalu kita harus sadari meskipun saat ini kita sedang tidak ada apa-apa. Kita harus ingatkan diri kita bahwa yang kuat adalah Tuhan bukan saya, nah Tuhan baik, secara berkala Tuhan akan ingatkan kita dengan menghadirkan situasi yang menyadarkan kita bahwa kita tidak kuat. Dan karena itu kita akhirnya disadarkan kita dipaksa untuk kembali bergantung kepada Tuhan yang adalah sumber kekuatan kita itu.
ET : Saya setuju dengan apa yang Pak Paul katakan tentang terlena, kadang-kadang karena kita merasa di masa lalu kita pernah mengalami badai tapi bisa melampauinya. Jadi kalau mengalami lagi pati akan sama kuatnya dengan yang lalu, tapi ternyata ambruk sehingga langsung merasa ada yang salah.
Seolah-olah terkena apa begitu sehingga tidak bisa sekuat dulu lagi.
PG : Memang kita cenderung berpikir bahwa cara yang telah kita gunakan yang berhasil itu akan selalu berhasil. Faktanya tidaklah demikian, sebab situasi itu mengandung unsur-unsur atau faktor-fktor yang lain yang membuat situasi itu unik dan tidak sama dan kitanya sendiri tidak selalu ada dalam kondisi yang selalu prima.
Ini yang mesti kita sadari. Sedikit saja kita kehilangan fokus kita langsung tenggelam, itu yang terjadi pada Petrus, pada waktu Tuhan meminta dia datang kepada-Nya berjalan di atas air. Dia mendengar badai, dia merasakan badai dan dia mulai takut langsung dia tenggelam. Itulah kita, tapi ingat Petrus sudah berjalan, Petrus bukannya merasakan itu di atas perahu, Petrus sudah berjalan berarti dia pernah mempunyai iman yang kuat. Seharusnya dia berkata, "Saya sudah berjalan sedemikian jauh, saya pasti bisa jalan terus menyelesaikan perjalanan saya mencapai Tuhan Yesus. " Tapi toh di tengah jalan meskipun metodenya tetap sama, tapi imannya tidak sama. Ini sering kali terjadi pada kita, di awal kita mempunyai iman yang besar, di tengah-tengah waktu menghadapi terpaan badai iman kita luntur. Kini saatnyalah kita datang kepada Tuhan, Dialah yang perkasa, mata kita harus tetap tertuju kepada-Nya, tidak boleh akhirnya mata kita itu kehilangan fokus.
GS : Selain kedua hal itu apakah ada tuntunan yang lain yang Pak Paul ingin sampaikan?
PG : Yang ketiga adalah hiduplah dengan problem, ini harus kita sadari. Hidup dengan problem bukan di luar problem, artinya kadang-kadang ada hal-hal yang tidak bisa kita lenyapkan atau hindari Misalkan badai penyakit kanker, kita kadang-kadang tidak bisa hilangkan itu dan kita harus hidup dengan penyakit itu bukan di luar penyakit itu.
Terimalah dan sesuaikan hidup seperti apa adanya, misalnya kita kehilangan suami kita, hiduplah sebagai seseorang yang tanpa suami. Kita kehilangan istri, hiduplah sebagai seseorang yang kehilangan istri. Kita tidak lagi mempunyai kesehatan yang prima, hiduplah dengan kesehatan yang tidak prima; kita mesti hidup sesuai dengan kondisi kita.
GS : Tetapi ada orang yang ingin cepat-cepat keluar dari problem itu sendiri, dengan cara apapun dia ingin keluar.
PG : Memang dalam keadaan yang sangat menyakitkan, penuh penderitaan, kita ingin bebas Pak Gunawan. Makanya kita masuk pada tuntunan keempat dan yang terakhir, yakni belajarlah menghadapi tekann hidup.
Kalau kita mempunyai pasangan hidup, kita mempunyai keluarga, hadapilah bersama-sama, janganlah kita melarikan diri dengan menggunakan cara-cara pintas yang tidak memuliakan Tuhan atau memisahkan diri, tidak mau berbicara dengan sanak keluarga, tidak mau berbicara dengan istri atau suami kita, tidak mau berbicara dengan orangtua kita; jangan, problem akan lebih bisa dihadapi bersama-sama daripada sendiri. Dan juga jangan lari, karena problem akan mengejar kita kalau kita lari, maka mesti kita hadapi. Ini tuntunan terakhir yang mesti kita camkan.
GS : Kebersamaan itu sering kali rusak karena satu menyalahkan yang lainnya, seolah-olah badai itu terjadi karena salahnya dia.
PG : Adakalanya itu kita lakukan, kita mencari kambing hitam, salahnya adalah pada waktu kita mencari kambing hitam, kita memisahkan diri dan kekuatan kita terpecah sedangkan yang diperlukan adlah kebersamaan.
Jadi kuncinya menghadapi ini adalah bersama, bersama dengan Tuhan dan bersama orang-orang yang dekat dan mengasihi kita.
GS : Pak Paul, kita merasakan pimpinan Tuhan itu lewati apa Pak?
PG : Saya kira Firman Tuhan Pak Gunawan, tidak ada lagi yang lain. Hari lepas hari tatkala kita sedang menderita kita datang dan datang kembali pada firman-Nya. Firman-Nya berkuasa memberikan kta pengharapan untuk maju kembali.
GS : Mungkin Pak Paul akan bacakan sebagian firman Tuhan untuk hal ini?
PG : Saya akan bacakan Matius 8:25, setelah datangnya gelombang dan angin ribut; murid-murid berkata: "Tuhan, tolonglah, kita binasa." Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang krang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.
Inilah penghiburan kita, Dia yang perkasa, Dia bisa menghardik angin ribut dan datanglah kepada Dia.
GS : Itu janji untuk kita semua ya, terima kasih Pak Paul juga Ibu Esther untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Tangguh Di Tengah Badai". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristesn (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Matius 8:23-27
Badai adalah segala jenis KEHILANGAN:
Kesayangan
Kepercayaan
Keamanan
Kekuatan
Badai dapat menerpa siapa pun, termasuk pengikut Kristus!
Badai datang:
Sekonyong-konyong!
Silih berganti!
Badai datang, namun Tuhan telah datang terlebih dahulu!
Terpejam, tetapi tidak kejam!
Terpejam, tetapi tidak terlena!
Tuntunan 1
Hidup tidak berada dalam kendali kita
Jadi, datanglah kepada Dia yang memegang kendali!
Tuntunan 2
Kita tidak selalu kuat: Hari ini kuat, besok bisa lemah!
Jadi, datanglah kepada Dia yang perkasa!
Tuntunan 3
Hiduplah DENGAN problem, bukan DI LUAR problem.
Tuntunan 4
Belajar menghadapi tekanan hidup BERSAMA-SAMA!
Jangan melarikan atau memisahkan diri!
Tuntunan 5
Kekuatan Tuhan mengalir turun melalui:
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Relasi suami istri termaktub dalam bagaimana kita memperlakukan orang lain dengan cara Tuhan atau sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhan minta istri untuk taat, tunduk ini konsep yang penting sekali dalam rumah tangga.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara di Malang. Kali ini kami akan mengajak Anda untuk berbincang-bincang tentang bagaimana "Memperkuat Pernikahan" sesuai dengan petunjuk-petunjuk di dalam Alkitab. Dan kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) GS : Pak Paul, tentu menjadi dambaan atau harapan dari semua pasangan suami-istri khususnya pasangan-pasangan Kristen untuk membangun kehidupan pernikahannya itu makin hari makin lebih baik. Dan saya percaya tentu ada banyak bagian di dalam Alkitab yang berbicara tentang itu dan kami sangat mengharapkan Pak Paul bisa memberikan masukan-masukan bagi kami mengenai bagaimana memperkuat pernikahan sesuai Alkitab.
PG : Kadang-kadang saya bertanya-tanya Pak Gunawan, kenapa Alkitab itu tidak terlalu sering membahas tentang masalah keluarga, bukankah keluarga adalah hal yang penting dalam kehidupan ini. udah tentu jawaban yang paling betul adalah bahwa memang Alkitab itu bukanlah buku keluarga sebab Alkitab adalah firman Tuhan yang menceritakan tentang siapa Tuhan dan karyanya untuk menyelamatkan manusia dari dosa.
GS : Tapi pernikahan itu sendiri adalah lembaga yang diprakarsai oleh Tuhan Allah sendiri Pak Paul ya. (PG : Tepat sekali) jadi pasti ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari Alkitab untuk itu.
PG : Tepat sekali, jadi akhirnya saya temukan satu jawabannya Pak Gunawan yaitu Tuhan memang tidak secara khusus membahas tentang relasi suami-istri, tapi Tuhan sarat atau sering kali membicrakan tentang relasi kita dengan sesama kita.
Bahkan Firman Tuhan sendiri menegaskan di Matius 22 tentang hukum yang terutama, yang sama dengan itu adalah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Nah jadi relasi suami-istri termaktub dalam hubungan kita atau bagaimana kita memperlakukan orang lain dengan cara Tuhan dan dengan atau dalam kehendak Tuhan. Dengan kata lain kalau kita bisa hidup di dalam Tuhan dan menuruti Tuhan saya kira kita akan secara otomatis bisa memperlakukan suami-istri kita dengan lebih baik. Dan sebetulnya boleh saya simpulkan juga kalau masing-masing anak Tuhan hidup dalam kehendak Tuhan dan mempraktekkan yang Tuhan minta sebetulnya tidak perlu lagi teori-teori tentang keluarga Pak Gunawan dan Ibu Ida, tidak perlu lagi teori-teori tentang bagaimana membangun rumah tangga serta yang lain-lainnya. Sebab kalau kita telusuri sebetulnya ilmu terapi keluarga itu sendiri kira-kira baru muncul sekitar 50 tahun yang lalu, baru dibuat populer setengah abad yang lalu, belum terlalu lama sebetulnya.
IR : Jadi keharmonisan sebuah rumah tangga itu sangat dipengaruhi dengan seseorang itu dekat dengan Tuhan atau tidak ya Pak Paul?
PG : Sangat dipengaruhi Ibu Ida, sangat dipengaruhi. Saya berikan satu contoh, suatu hari saya dan istri bertengkar ini beberapa tahun yang lalu, dan saya merasa diri saya benar saat itu, suah pasti kalau kita bertengkar kita merasa diri kita benar ya.
Nah saya jengkel sekali dan istri saya juga marah sekali dengan saya akhirnya dia ke kamar anak-anak, sudah malam ya tidak tidur dengan saya. Saya mencoba tidur tapi tidak bisa tidur karena pikiran saya terganggu, terganggu oleh firman Tuhan. Saya diingatkan kembali bahwa saya seharusnya mencontoh Tuhan Yesus dalam mengasihi jemaatNya dan dalam kasus saya adalah mengasihi istri saya. Nah bagaimanakah Tuhan Yesus mengasihi kita yaitu dengan mengorbankan atau mengesampingkan diriNya seperti tertulis di Filipi 2 , jadi Tuhan Yesus itu rela merendahkan diri demi kita, nah jadi saya juga seharusnya sebagai seorang suami Kristen rela mengesampingkan diri saya untuk datang kepada istri saya mengambil inisiatif berdamai dengan dia, namun saya tidak mau saya merasa ini saatnya dia yang harus datang kembali kepada saya, dia yang harus berdamai kembali kepada saya, masak saya yang harus berdamai kepada dia terlebih dahulu. Tapi firman Tuhan terus menegur saya akhirnya saya patuhi, saya ke kamar anak saya dan saya melihat istri saya sedang terduduk di lantai dan menangis, waktu saya melihat istri saya terduduk dan menangis tiba-tiba perasaan bahwa saya benar dan sebagainya sirna, lenyap begitu saja yang muncul dalam hati saya adalah rasa belas kasihan. Saya peluk dia kami berdamai dan sudah beres. Sekarang kalau Ibu Ida tanya saya apa yang diributkan saat itu tidak ingat sama sekali tapi saat itu rasanya perkara itu besar makanya saya tidak rela untuk mundur, namun sekarang ditanya tidak ingat sama sekali.
GS : Ya jadi memang di dalam kehidupan pernikahan itu tentu kita harus dengan sungguh-sungguh membangun pernikahan itu sendiri Pak Paul. Apa firman Tuhan yang secara khusus Pak Paul mau sampaikan dalam hal ini?
PG : Saya ingin mengupas 1 Petrus 3:1-9 yang diawali dengan, "Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepda Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup istri mereka itu.
Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman." Nah ini adalah pesan Tuhan bagi para istri Pak Gunawan dan Ibu Ida, ada beberapa hal yang Tuhan tekankan di sini, pertama adalah Tuhan meminta istri untuk taat, untuk tunduk, nah ini adalah suatu konsep yang penting sekali dalam rumah tangga. Dan juga di dalam setiap organisasi kita mesti menyadari bahwa keluarga itu merupakan organisasi yang kecil dan di organisasi mana pun mesti ada yang menjadi kepala. Kalau tidak ada yang menjadi kepala yang akan terjadi adalah kekacauan.
(2 ) IR : Kalau kepala itu hidupnya tidak di dalam kebenaran Pak Paul, bagaimana sorang istri bisa tunduk Pak Paul?
PG : Nah ini adalah rupanya situasi yang dihadapi juga oleh anak-anak Tuhan sewaktu Petrus menulis suratnya ini. Jadi ada anak-anak Tuhan yang menikah dengan orang-orang yang belum percaya pda Tuhan Yasus, nah sudah pasti para istri ini ingin memenangkan suami mereka agar suami mereka pun bisa percaya pada Tuhan Yesus.
Nah Petrus di sini memberikan nasihat jangan menangkan mereka melalui perkataan, jangan mengkhotbahi suami-suami yang memang belum percaya pada Tuhan. Yang harus dilakukan justru adalah tunduk menghormati suami-suami ini, Petrus kemudian menekankan pentingnya hidup yang kudus dalam pengertian biarlah para istri ini menjadi contoh hidup yang sangat baik, contoh hidup yang akhirnya membuat si suami sadar bahwa ada perbedaan yang besar antara hidup saya dengan hidup engkau, yaitu hidupmu saleh, hidupmu itu kudus. Nah sewaktu hidup kita kudus orang akan tahu, kita tidak usah menggembar-nggemborkannya tapi orang akan tahu apalagi suami sendiri. Jadi memang prinsipnya adalah hidup kita ini mestilah hidup yang saleh dan yang kudus. Berikutnya juga adalah memang di sini ditekankan oleh Petrus, kita ini atau para istri ini jangan terlalu menekankan kecantikan lahiriah, tidak berarti perempuan tidak boleh mempercantik diri silakan tapi yang Petrus ingin tekankan adalah jangan sampai itu menjadi penekanan utama. Sebab ada hal yang lebih penting dari kecantikan lahiriah yaitu kecantikan rohani dan ini yang diminta oleh Tuhan, jadi itu adalah beberapa nasihat-nasihat yang Tuhan berikan kepada para istri. Satu hal lain lagi yang harus diingat juga oleh para istri di sini dikatakan yaitu roh yang lemah lembut dan tenteram. Nah, saya kira perempuan atau istri penting sekali mempunyai ciri ini lemah lembut dan tenteram, sebab ada kecenderungan kalau tidak hati-hati wanita itu mudah tidak lemah lembut karena dalam emosi yang tinggi mengeluarkan kata-kata yang pedas dan kasar. Dan yang juga sering terjadi adalah wanita mudah juga untuk tidak tenteram, tidak tenang, panik nah akhirnya malah memancing keributan yang lebih besar. Jadi wanita-wanita Kristen, para istri Kristen harus berusaha menjadi orang yang lemah lembut dan tenteram.
IR : Penguasaan diri itu ya Pak Paul.
PG : Tepat sekali penguasaan diri itu sangat-sangat penting.
GS : Dengan cara bagaimana Pak Paul seorang istri atau seorang wanita itu melatih dirinya supaya dia bisa seperti itu Pak Paul, itu 'kan sesuatu yang alamiah. Pada dasarnya 'kan wanita itu ingin tampil manis, cantik, bersolek dan sebagainya, nah kalau firman Tuhan mengatakan seperti itu tentu ada suatu cara bagaimana dia melatih dirinya itu Pak Paul?
PG : Sekali lagi ini kembali pada seseorang itu harus jelas siapa dirinya di mata Tuhan. Jadi pengetahuan yang jelas tentang siapa dia di hadapan Tuhan juga akan memberikan makna yang jelas enapa dia ada di dalam hidup ini dan ke mana dia akan pergi dalam hidup ini.
Kalau dia jelas dengan hal-hal ini dia menjadi orang yang memang sangat mantap lahir dan batin, dia tidak perlu lagi terlalu bergantung pada hal-hal yang lahiriah. Sekali lagi saya ingin tegaskan ini tidak berarti para wanita Kristen tidak boleh bersolek atau tampil cantik bukan berarti begitu, tapi dia tidak akan bergantung pada kecantikan yang lahiriah karena dia tahu siapa dia di hadapan Tuhan, dia tahu apa misi hidupnya di dalam Tuhan sehingga dia akan mengerti bahwa hal-hal yang lahiriah benar-benar hanyalah lahiriah, hanyalah sebatas kulit saja. Bahwa ada hal-hal yang jauh lebih penting dan lebih berharga yang harus dia kerjakan dalam hidup ini.
IR : Jadi mungkin langkah yang diambil oleh para istri yaitu harus sungguh-sungguh dekat dengan Tuhan Pak Paul, hidup di dalam kebenaran firman sehingga dia akan memperoleh kebijaksanaan, mempunyai kemampuan untuk menguasai di dalam mendampingi sang suami ya Pak Paul?
PG : Tepat sekali, sebab di sini memang dituntut para wanita untuk melawan kodratnya, kita tahu bahwa dalam emosi yang tinggi wanita mengalami kesulitan menguasai diri. Nah ada yang akan berata ya memang saya orangnya begini saya mudah marah tapi mudah baik lagi dan sebagainya.
Nah sebagai anak Tuhan saya kira argumen tersebut tidak cukup atau tidak kuat. Dia harus berani melawan dirinya, tadi yang ibu Ida sudah katakan dia harus dekat dengan Tuhan, sebab firman Tuhan yang dibacanya setiap hari, waktu dia bermeditasi, dia saat teduh di hadapan Tuhan itu semua akan memasuki dirinya dan menjadi kekuatan yang baru bagi dia. Nah yang ingin saya tekankan dan anjurkan adalah baik wanita maupun pria sama memang harus menggenangi diri, mengisi diri dengan firman Tuhan. Yang menyedihkan adalah seperti yang kita ketahui juga cukup banyak orang Kristen yang berminggu-minggu ke gereja sampai usia tua dan lanjut namun jarang sekali mengisi diri dengan firman Tuhan, membaca firman Tuhan setiap hari, berdoa kepada Tuhan dengan khusyuk dan itu jarang dilakukan. Hanya melakukan itu seminggu sekali di gereja, makanya tidak heran di luar gereja perilakunya akan kembali lagi seperti manusia yang lama, tidak ada bedanya. Sebab tidak ada lagi isi Tuhan dalam dirinya itu.
IR : Ya betul Pak Paul karena kita baru bisa menemukan janji-janji Tuhan, kekuatan dari Tuhan kalau kita itu mau belajar firman Tuhan sehingga seseorang atau seorang istri itu akan bisa berubah untuk menjadi wanita yang saleh, yang lemah lembut.
PG : Betul, jadi waktu kita diisi oleh firman Tuhan terus-menerus firman Tuhan itulah yang akan menguduskan kita sedikit demi sedikit. Tiba-tiba kita mulai merasakan perbedaannya tanpa kita arus berusaha terus menguasai amarah kita, ya memang perlu tetap menguasai emosi jangan semaunya, namun tiba-tiba kita akan merasakan ada perbedaan.
Ada suatu kekuatan yang akan mencegah kita marah langsung, mengatai langsung dan sebagainya sehingga akhirnya seperti yang dikatakan oleh firman Tuhan roh yang lemah lembut dan tenteram itu yang justru akan timbul, yang akan dipancarkan dari hidup kita.
IR : Dan mungkin juga karena kita hidup di dalam firman Tuhan kalau kita mau melanggarnya, kita itu mempunyai rasa takut seperti yang saya alami, jadi kalau mau berbuat salah, mau berbuat kasar misalnya kita itu ingat akan firman Tuhan, jadi kita itu mempunyai rasa takut dan tanggung jawab pada Tuhan.
PG : Tepat sekali Bu Ida, tapi Tuhan juga memberikan nasihat kepada para suami ini Pak Gunawan dan saya juga harus mendengar ini.
GS : Supaya jangan hanya sepihak memang untuk memperkuat pernikahan itu harus kedua belah pihak Pak Paul.
PG : Tepat sekali, firman Tuhan berkata demikian: "Juga kamu hai suami-suami hiduplah bijaksana dengan istrimu sebagai kaum yang lebih lemah, hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kash karunia yaitu kehidupan supaya doamu jangan terhalang."
Firman Tuhan menegaskan bahwa pria ini haruslah mempertimbangkan istrinya, jadi hiduplah dengan bijaksana dapat juga diartikan seperti orang Jakarta katakan kita ini knowing, mengerti istri kita, kita mempertimbangkan siapa istri kita. Di sini dikatakan sebagai kaum yang lebih lemah, dalam hal misalnya berkelahi jarang sekali wanita bisa mengalahkan pria dan sebagainya. Nah kalau tidak hati-hati pria memang bisa mendominasi rumah tangga melalui kekuatannya baik itu kekuatan fisik ataupun kekuatan uang. Sebab dalam banyak hal wanita itu memang berada di pihak yang lemah, contoh yang paling gampang saja sekarang ini, secara sosial wanita di pihak yang lebih lemah. Pria umur 40-an misalkan kehilangan istrinya menjadi seorang duda, kemungkinan besar dia bisa menikah lagi tapi seorang wanita yang kehilangan suaminya umur 40-an untuk menikah kembali sangat susah sekali karena memang kurang kesempatan tersebut. Jadi perempuan itu memang dalam banyak hal secara ekonomi, secara sosial, secara fisik berada di pihak yang lebih lemah, maka Tuhan nomor satu mengingatkan pria, ingat baik-baik, memang dia lebih lemah tapi engkau harus hidup bijaksana dalam pengertian kau harus mempertimbangan knowing dia, ngertiin dia, kau harus benar-benar melihat dia siapa, jangan semaunya. Bahkan Tuhan memberikan peringatan yang kedua ingatlah bahwa istrimu adalah sesama pewaris kasih karunia, sesama pewaris anugerah Tuhan. Jadi pria di sini diingatkan bahwa wanita itu bukanlah buntut kita, istri itu bukanlah pesuruh kita, bukanlah orang yang nebeng yang hanya menggandol kita mendapatkan kasih karunia Tuhan yaitu anugerah keselamatan dan hidup yang kekal ini, tidak. Tuhan memberikan hidup yang kekal, memberikan keselamatannya sama rata baik kepada wanita maupun kepada pria, jadi Tuhan sekali lagi secara intinya mengingatkan jangan engkau menganggap dirimu superior, jangan pria itu menganggap dirimu itu lebih hebat meskipun Tuhan ingatkan wanita di pihak yang lebih lemah tapi Tuhan ingatkan pria jangan merasa diri superior.
GS : Saya rasa itu suatu konsep yang jelas sekali dari Alkitab mengenai kesetaraan hubungan suami-istri dalam arti kata suami harus menghormati istrinya dan istri harus mengasihi suaminya dan seterusnya dalam arti ada hubungan timbal balik. Dan itu harus terus-menerus dibangun supaya hubungan pernikahan makin kuat dalam arti bukan hanya tidak gampang cerai tetapi bisa mewujudkan kehidupan pernikahan yang sungguh-sungguh Tuhan inginkan. Tetapi dalam rangka memperkuat hubungan pernikahan itu tentu banyak hambatan-hambatannya Pak Paul, banyak kendala-kendala yang kita hadapi, memang ada banyak pasangan suami-istri yang membaca Alkitab mengerti dan memahaminya tetapi melakukannya itu yang berat, itu bagaimana Pak Paul mengatasi hal itu?
PG : Salah satu yang paling penting adalah yang ditulis di pasal yang sama tapi di ayat berikutnya saya akan bacakan terlebih dahulu. "Dan akhirnya hendaklah kamu semua (jadi tadi mula-mula etrus memberikan saran kepada istri dan suami, tapi sekarang kepada semua orang) hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan atau caci maki."
Nah ini adalah nasihat praktisnya Pak Gunawan, seia sekata berarti berupaya untuk akur, berupaya untuk bisa mencocokkan pandangan, seperasaan artinya mencoba mengerti perasaan yang satunya jangan hanya memikirkan perasaan kita saja. Mengasihi saudara-saudara kita mencoba terus untuk mencintainya, menyayangi dan rendah hati, rendah hati artinya rela untuk mengesampingkan kepentingan diri demi orang lain. Yang praktis lagi di sini janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan kadang kala sewaktu kita merasakan pasangan kita tidak benar dengan kita, kita mau membalas supaya dia sakit, nah Tuhan bilang jangan, jangan balas dan juga jangan balas caci maki dengan caci maki, nah secara praktisnya sudah kalau dimaki sudah jangan kita balas mencaci maki dia. Nah ini yang ingin saya tekankan, tetapi sebaliknya hendaklah kamu memberkati karena untuk itulah kamu dipanggil. Nah konsep memberkati ini sebetulnya saya pelajari dari penulis yang bernama John Trent dan Gary Smalley memberkati artinya di sini adalah membuat pasangan kita itu bahagia. Sebab kata berkat berasal dari kata sukacita Pak Gunawan, jadi memberkati sebetulnya adalah membuat orang lain sukacita, bahagia, jadi kita mencoba carilah hal-hal yang bisa membuat pasangan kita sukacita, senang, sehingga hidupnya menjadi makin hari makin senang itu pada prinsipnya kata berkat itu.
GS : Ya memang firman Tuhan itu bukan sesuatu yang teoritis dan ternyata tadi sudah diuraikan, ada hal-hal yang praktis yang bisa dilakukan, masalahnya berpulang kepada kita, kita mau atau tidak melakukan. Tuhan Yesus mengatakan, yang bijaksana itu orang yang melakukan firman Tuhan di dalam kehidupannya.
PG : Dia harus berani untuk mengalahkan dirinya Pak Gunawan, orang yang mau menikah harus berani mengalahkan dirinya.
GS : Jadi tidak mengutarakan kepentingan-kepentingan dirinya baik itu suami maupun istri Pak Paul ya.
PG : Betul, masalah gengsi memang masalah yang sangat runyam dalam pernikahan.
GS : Kami kaum pria masalahnya gengsi dan sebagainya itu.
IR : Jadi dari diri kita sendiri juga harus berubah terlebih dahulu ya Pak Paul, sebelum kita menuntut orang lain berubah kita dulu yang harus berubah dan pasti pihak lain akan berubah juga biasanya begitu Pak Paul.
GS : Pembicaraan ini pasti sangat menarik karena semua kita seperti tadi di awal acara ini saya katakan pasti mendambakan suatu hubungan pernikahan yang sehat antara suami dan istri dan itu akan bisa menjadi suatu kesaksian bagi keluarga kita, bagi anak-anak kita, bagi orang-orang yang ada di sekeliling kita. Dan kami percaya bahwa Tuhan sendiri akan menolong kita untuk melakukan kebenaran-kebenaran firman Tuhan itu. Demikianlah para pendengar telah kita sampaikan sebuah perbincangan tentang bagaimana memperkuat hidup pernikahan dari ayat-ayat firman Tuhan yang tadi dibacakan oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi melalui 1Petrus 3:1-9 . Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Kami ucapkan juga banyak terima kasih kepada Anda yang sudah berkirim surat kepada kami untuk memberikan tanggapan, tetapi kami tetap menantikan saran-saran, pertanyaan dari Anda. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Alkitab bukanlah buku keluarga sebab Alkitab adalah Firman Tuhan yang menceritakan tentang siapa Tuhan dan karyanya untuk menyelematkan manusia dari dosa. Tuhan memang tidak mencetuskan secara khusus membahas tentang relasi suami-istri, tapi Tuhan seringkali membicarakan tentang relasi kita dengan sesama kita. Firman Tuhan menegaskan di Matius 22 tentang hukum yang terutama, yaitu "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Jadi relasi suami-istri termaktub dalam hubungan kita atau bagaimana kita memperlakukan orang lain dengan cara Tuhan dan dalam kehendak Tuhan. Dengan kata lain kalau kita bisa hidup di dalam Tuhan dan menuruti Tuhan kita akan secara otomatis bisa memperlakukan suami atau istri kita dengan lebih baik. Keharmonisan sebuah rumah tangga sangat dipengaruhi oleh kedekatan seseorang dengan Tuhan.
1Petrus 3:1-8,9 berkata: "Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup istri mereka itu. Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman."
Ini adalah pesan Tuhan bagi para istri, ada beberapa hal yang Tuhan tekankan di sini:
Tuhan meminta istri untuk taat, untuk tunduk menghormati suami
Menekankan hidup yang saleh dan kudus.
Para istri jangan terlalu menekankan kecantikan lahiriah artinya hal ini jangan sampai menjadi penekanan yang utama. Sebab ada yang penting dari pada kecantikan lahiriah yaitu kecantikan rohani.
Perlu mempunyai ciri yang lemah lembut dan tenteram, sebab ada kecenderungan kalau tidak hati-hati wanita mudah untuk tidak lemah lembut karena dalam emosi yang tinggi dia dapat mengeluarkan kata yang pedas dan kasar. Dan juga wanita mudah untuk tidak tenteram, tidak tenang, panik.
Firman Tuhan berkata: "Demikian juga kamu hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu sebagai kaum yang lebih lemah, hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia yaitu kehidupan supaya doamu jangan terhalang." Di sini Firman Tuhan menegaskan atau mengingatkan bahwa
Wanita sebagai pihak yang lemah maka pria haruslah mempertimbangkan istrinya jadi hiduplah dengan bijaksana dapat juga diartikan suami harus "know in" mengerti istri, harus benar-benar melihat dia siapa, jangan semaunya.
Istrimu adalah sesama pewaris kasih karunia, sesama pewaris anugerah Tuhan. Jadi pria diingatkan bahwa Tuhan memberikan hidup yang kekal, keselamatan sama rata baik kepada wanita maupun kepada pria, jadi jangan menganggap diri superior, lebih hebat.
Mengatasi hambatan yang muncul dalam rangka memperkuat hubungan pernikahan adalah kembali kepada Firman Tuhan "Dan akhirnya hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan atau caci maki." Ini adalah nasihat praktisnya, seia sekata berarti berupaya untuk akur, berupaya untuk bisa mencocokkan pandangan, seperasaan artinya mencoba mengerti perasaan yang satunya jangan hanya memikirkan perasaan kita saja. Mengasihi saudara-saudara kita mencoba terus untuk mencintainya, menyayangi dan rendah hati, yang artinya rela untuk mengesampingkan kepentingan diri demi orang lain. Yang praktis lagi di sini janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Kesepadanan tidak bisa hanya diukur dari segi kwantitas berapa banyak, yang paling penting adalah kwalitas kecocokan itu. Di dalamnya ada suatu penghargaan terhadap keunikan masing-masing pasangan, adanya rasa dimengerti antara satu dengan yang lain tidak merasa dihakimi dan juga adanya upaya atau niat untuk menyesuaikan diri, bukan memasabodohkan pasangan serta adanya suatu pertumbuhan pribadi ke arah yang lebih positif.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang tanda-tanda kesepadanan. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita telah membahas atau Pak Paul sudah menyampaikan tentang makna kesepadanan dan kini kita akan membahas lebih lanjut tentang tanda-tanda kesepadanan. Namun supaya para pendengar kita memperoleh gambaran yang lengkap tentang kesepadanan ini, mungkin Pak Paul bisa mengulang sejenak, sekilas tentang makna dari kesepadanan itu.
PG : Yang pertama kesepadanan itu tidak identik dengan kesamaan, meskipun kesamaan adalah hal yang penting dan makin banyak persamaan makin mudah untuk mengharmoniskan diri dengan pasangan kita tapi yang namanya sepadan tidak identik dengan kesamaan.
Kesepadanan juga tidak identik dengan penjiplakan yaitu kita menanggalkan diri kita agar bisa menjadi seperti yang diharapkan oleh pasangan kita. Kita sepenuhnya, menjadi seperti yang diidamkan oleh pasangan kita, itu bukan kesepadanan. Kesepadanan adalah kecocokan, kecocokan yang berarti karakternya cocok dengan kita dan gaya hidupnya bisa kita terima menjadi bagian hidup kita. Kesepadanan juga berarti bahwa karakter dan gaya hidupnya dipakai Tuhan untuk membentuk kita, menjadi orang yang lebih baik. Jadi dengan kata lain karakter dan gaya hidupnya itu tidak menjadikan kita ini orang yang lebih rusak atau lebih buruk malah menjadikan kita menjadi orang yang lebih baik, kira-kira itulah makna kesepadanan.
GS : Nah, sebelum kita masuk ke tanda-tanda kesepadanan mungkin kita juga perlu melihat salah pengertian seseorang tentang kesepadanan itu sendiri, Pak Paul. Sering kali orang rancu tentang kesepadanan, nah mungkin Pak Paul bisa jelaskan terlebih dahulu.
PG : Ada orang yang berkata o... saya dalam hal ini saja tidak cocok dengan dia, dalam hal-hal yang lainnya kami sangat cocok, nah saya ingin menegaskan bahwa kesepadanan tidak boleh diukur dar segi kwantitas berapa banyak.
Sebab yang paling penting adalah kwalitas ketidakcocokan itu, misalkan saya berikan contoh kita berkata o... saya cocok dengan dia, dua-dua senang pergi, senang bernyanyi, dua-dua orangnya terbuka kalau ada apa-apa langsung dibicarakan. Namun kalau lagi marah dua-dua saling memukul, kalau lagi marah dua-dua saling mencaci maki, nah ini kwalitas, meski hanya satu yang sangat buruk dan satu kwalitas ini tidak bisa tidak akan membawa pengaruh pada aspek-aspek lain dalam kehidupannya. Sebab satu masalah ini pada akhirnya akan memerosotkan wibawa atau penghormatan pada pasangannya. Waktu dicaci maki, balas mencaci maki, tidak bisa tidak respek sudah sangat hancur, hati sudah sangat terluka akibat caci maki itu, dan itu akan mempengaruhi hidup mereka dalam aspek-aspek yang lainnya. Jadi sekali lagi kita jangan berkata o... hanya satu saja kami tidak cocok yang lainnya cocok, kita harus melihat seberapa besarnya tidak cocok dan dalam hal apa tidak cocoknya itu. Sebab itupun bisa mempengaruhi aspek-aspek yang lainnya.
GS : Karena memang sulit juga Pak Paul, membuat semacam daftar untuk melihat mana yang cocok dan mana yang tidak cocok.
PG : Betul, jadi kita memang tidak bisa dengan tepat dan objektif mendaftarkan semua kecocokan dan ketidakcocokan. Yang bisa kita lakukan adalah kita hanya merefleksikan selama ini, apakah selaa ini kita meributkan satu hal yang sama dan satu hal itu begitu mempengaruhi kita sehingga kalau meributkan soal itu kita benar-benar merasa tidak mau dekat dengan pasangan kita, kita diamuk oleh amarah kita bahkan rasanya benci dengan dia untuk misalnya berhari-hari.
Kalau itu yang terjadi kita bisa dengan cukup tepat berkata bahwa hal tersebut sangat mengganggu kehidupan kita, bahwa satu hal itu sudah sangat membawa warna yang tertentu kepada hubungan kita ini. Jadi memang kita tidak bisa mendaftar semuanya, tapi ingat saja secara umum hal apa yang paling sering kita ributkan.
GS : Nah mengenai ribut atau pertengkaran kalau pasangan itu jarang sekali ribut, apakah dengan sendirinya kita bisa berkata bahwa pasangan itu cocok?
PG : Belum tentu, Pak Gunawan, jadi adakalanya kita ini terpedaya oleh jarangnya atau hilangnya pertengkaran di antara kita dan kita dengan cepat berkata o... kami sangat sepadan kami jarang betengkar.
Jarang bertengkar memang suatu indikator yang baik, namun harus kita juga teliti melihatnya kenapa jarang bertengkar. Sebab ada kasus di mana orang itu jarang bertengkar dan kenapa jarangnya bertengkar karena memang mengelakkan diri dari pertengkaran. Ada masalah namun tidak mau didiskusikan sebab dia tahu kalau didiskusikan pasti mengundang pertengkaran. Jadi dalam hal ini pertengkaran itu seharusnya terjadi sebab justru baik, bisa menolong mereka menyelesaikan problemnya. Nah mungkin ada yang berkata kalau kami bertengkar, kami tidak pernah bisa menyelesaikannya. Berarti ini adalah aspek yang kita harus teliti sebab kalau ada hal-hal yang kita pertengkarkan, tidak bisa kita selesaikan maka akan kita bawa ke dalam pernikahan. Dan kalau hal-hal yang kita pertengkarkan tidak bisa kita selesaikan, ini menandakan kemampuan kita berdua untuk menyelesaikan pertengkaran atau perbedaan belum ada, belum cukup kuat. Jadi sangat rawan sekali kalau kita memasuki pernikahan dengan modal keterampilan yang seperti ini.
GS : Jadi bukan masalah pertengkarannya itu yang menentukan mereka cocok atau tidak, tapi bagaimana mereka menyelesaikan masalahnya itu ya, Pak Paul?
PG : Betul Pak Gunawan, jadi yang penting memang bukannya pertengkaran sebab perbedaan pendapat akan selalu ada, tapi bisa atau tidak kita menyelesaikan pertengkaran itu. Tapi sebaliknya juga hrus saya katakan begini, kalau hubungan kita itu terus dipenuhi dengan pertengkaran itu pertanda buruk, itu pertanda bahwa nomor satu kita sangat berbeda dan berbedanya ini dalam segala hal.
Kedua, kalau kita terus-menerus bertengkar itu menandakan tahap pengertian kita, tahap penerimaan kita akan pasangan kita sangat lemah, itu sebabnya kita masing-masing ingin membuat dia seperti kita dan mengerti kita atau ada banyak hal tentang dia yang tidak kita sukai. Jadi kita sulit sekali mengoreksinya, banyaknya pertengkaran meskipun akhirnya bisa diselesaikan juga pertanda awas, kita perlu perhatikan hal itu.
GS : Ada juga orang yang berkata saya mencintai pasangan saya ini jadi bagaimana bisa tidak cocok karena kalau ditanya kamu itu tidak cocok, tapi dia menjawab saya mencintainya.
PG : Ini jebakan berikutnya Pak Gunawan, yang membuat orang akhirnya keliru menilai kesepadanan, wah... memang saya mencintai dia, dia mencintai saya pasti cocok, belum tentu. Kenapa? Cinta memng bisa menutupi ketidaksepadanan, namun cinta tidak menyelesaikan ketidaksepadanan, cinta membuat kita melupakan ketidaksepadanan.
Cinta cenderung mengecilkan ketidaksepadanan karena apa, cinta ingin memiliki orang yang kita cintai, cinta membuat kita ingin dekat dengan dia. Dan kita tahu ketidaksepadanan yang harus diselesaikan membuat kita undur sementara agak jauh dengan pasangan kita. Waktu kita berselisih pendapat dan sebagainya, bukankah itu akan menciptakan jarak antara kita berdua. Karena cinta kita begitu bergebu-gebu, kita tidak bisa menoleransi jarak antara kita dengan pasangan kita, itu sebabnya akhirnya kita seolah-olah menutup mata terhadap ketidakcocokan kita itu. Nah jadi hati-hati dengan yang namanya cinta, sebab cinta yang kuat adalah cinta yang mengakui ketidakcocokan dan nomor dua cinta yang kuat adalah cinta yang berani memunculkan dan berupaya menyelesaikan ketidakcocokan itu. Sebab cinta yang kuat tahu bahwa cinta ini tidak akan luntur oleh adanya ketidakcocokan itu. Nah kalau cintanya takut membahas ketidakcocokan itu, maka menandakan hubungan yang memang belum matang.
GS : Mungkin yang belum matang merasa memang pasangannya belum siap, jadi untuk apa dimunculkan perbedaan. Adanya perbedaan tetap diakui dan dia mencintai pasangannya, tapi dia tidak berani memunculkan perbedaan itu menjadi sesuatu yang terbuka, Pak Paul.
PG : Saya kira untuk kadar tertentu atau sampai titik tertentu, kita bisa berkata saya akan tunda dululah karena rasanya dia belum siap. Jadi hikmat selalu dibutuhkan dalam menjalin hubungan, kta tidak bisa berkata pokoknya saya ingin bicara saya bicarakan, kau siap tidak siap bukan urusan saya.
Nah itu tidak berhikmat, orang yang berhikmat harus tahu kapan waktu yang tepat untuk memunculkan suatu masalah. Harus tahu juga apakah memang pasangannya siap atau tidak siap mendengarkannya. Namun kalau kita memang merasakan bahwa hal ini penting buat kita dan kita tahu kapan harus dimunculkan, meskipun akan ada reaksi yang lumayan kuat dari pasangan kita seperti marah, terluka, mungkin sedikit marah, tidak mau bicara dengan kita atau menyalahkan kita tapi kita dapat mengkomunikasikan kepadanya bahwa ini demi kita berdua, bukan untuk meninggalkanmu, bukan untuk membuatmu sengsara tapi untuk kebaikan hubungan kita berdua, ini motivasinya. Dan ini harus dikedepankan, setelah itu baru dibicarakan apa yang sedang mengganggu kita itu.
(1) GS : Pak Paul, setelah kita membicarakan tentang salah pengertian dalam kesepadanan itu tadi Pak Paul, tentunya kesepadanan itu bisa dilihat melalui tanda-tandanya. Tanda-tanda yang ada di dalam pasangan yang saling mengasihi dan yang sepadan, tanda-tandanya itu apa saja, Pak Paul?
PG : Sekurang-kurangnya ada 4, Pak Gunawan; yang pertama adalah kita menghargai bukan membenci keunikan pasangan kita. Orang yang sepadan dengan pasangannya meskipun rasanya tidak sama, tidak ccok, namun seyogyanya ketidakcocokan itu tidak membuahkan kebencian.
Kalau membuahkan kebencian itu berarti memang karakternya atau gaya hidupnya tidak bisa kita terima. Yang namanya sepadan, tadi kita telah singgung adalah berhasil menerima karakter dan gaya hidupnya menjadi bagian dari kehidupan kita. Jadi kalau sampai kita membencinya, itu bagi saya pertanda memang kita belum bisa menerima dan belum sepadan, yang sepadan adalah kita bisa menghargainya, o... memang dia seperti itu ya tidak apa-apa, o.... memang dia lebih ekspresif, emosinya lebih tinggi, saya emosinya lebih tenang. Tapi saya menghargai tidak apa-apa, itu berarti memang sudah sepadan karena kemungkinan besar waktu emosinya tinggi tidak menyerang dia, emosi tinggi tidak sama dengan melecehkan dia hanya beremosi saja misalnya seperti itu. Jadi adanya penghargaan bahwa yang berbeda itu tidak langsung adalah suatu kejelekan, justru itu adalah suatu perbedaan saja.
GS : Tapi kebencian itu kadang-kadang timbul karena berulang kali Pak Paul, ya pertama kita bisa mengerti dan masih menghargai tapi karena hal yang sama itu terjadi berulang kali, lalu timbul rasa benci.
PG : Kalau ini telah kita lihat pada masa berpacaran, memang dapat kita katakan atau dapat saya katakan belum sepadan dalam hal itu. Seyogyanya hal itu memang dibereskan. Saya mengerti hidup meang tidak ideal, jadi akan ada bagian-bagian yang berhasil kita sepadankan dan juga ada hal-hal yang tidak berhasil kita sepadankan sepenuhnya.
Saya kira itu bagian kehidupan yang wajar. Namun harapan saya adalah bagian itu tidak terlalu banyak, jadi akhirnya kita tidak dipenuhi dengan kebencian. Biarlah kadang-kadang kita merasa tidak suka dengan hal-hal yang dilakukan, yang tidak cocok dengan kita namun saya berharap hanya berhenti sampai merasa tidak suka, tidak sampai akhirnya merasa benci. Jadi seyogyanya pada masa berpacaran hal yang berbeda dari kita itu tidak kita benci hanya sedikit tidak suka, tetapi tidak kita benci. Namun yang menjadi karakter dominan adalah menghargai perbedaan itu, jadi kita tidak melihat perbedaan itu atau pasangan kita yang berbeda itu sebagai orang yang bermasalah, orang yang aneh bisa mempunyai pikiran atau sifat atau kehidupan seperti ini. Kalau masih belum menikah kita sudah melabelkan pasangan kita aneh, sakit, orang tidak benar, nah itu bagi saya pertanda tidak sepadan. Sebab seyogyanya sebelum menikah pada masa berpacaran, yang kuat justru menghargai pasangannya meskipun berbeda.
GS : Di dalam hubungan suami istri yang saya pikirkan, bahwa pasangan saya ini adalah yang terbaik yang Tuhan berikan kepada saya.
PG : Itu cara berpikir yang sangat bagus sekali Pak Gunawan, sangat bagus sekali sebab kita menyadari hidup kita dipimpin Tuhan dalam mencari pasangan hidup.
GS : Nah tanda yang lain apa, Pak Paul?
PG : Yang kedua adanya rasa dimengerti, bukan dihakimi oleh pasangannya. Jadi kalau kita merasa kuat sekali ya kita dimengerti olehnya, bahwa kita memang tidak sama dengan dia, kadangkala bisa erselisih pendapat.
Namun waktu berselisih, waktu tidak sama dia bisa mengerti kenapa kita tidak sama dengan dia. Dia tidak menghakimi kita, dia tidak membuat kita itu menjadi pesakitan, orang yang bermasalah karena mempunyai gaya hidup atau karakter seperti ini. Kita diterima, dimengerti olehnya, nah bagi saya ini adalah salah satu indikasi memang kita ini sepadan dengan pasangan kita.
GS : Dimengerti itu dalam arti kata segala kelemahan dan kelebihannya ya, Pak Paul ?
PG : Betul, kita bukan saja menerima penghargaan atas kekuatan kita tapi kita juga menerima pelukannya, menerima kita apa adanya atas hal-hal yang kita anggap sebagai kelemahan kita.
GS : Apakah tanda yang ketiga, Pak Paul?
PG : Adanya upaya atau niat baik untuk menyesuaikan diri, bukan memasabodohkan pasangan. Kalau kita sepadan hubungan kita ini harmonis, adanya niat baik dari pihak kita untuk menyesuaikan diri.Kalau yang sering kali muncul adalah perasaan masa bodoh, peduli amat dengan dia nah itu mengkhawatirkan saya, itu membuat saya berpikir jangan-jangan ini tidak sepadan.
Dan sekali lagi saya mau mengulang definisinya adalah tidak cocok ini kita tidak bisa menerima karakternya dan tidak bisa menerima gaya hidupnya. Itu sebabnya pada akhirnya kita tidak mau lagi menyesuaikan diri, kita lebih bersikap atau mengambil sikap memasabodohkan, terima ya terima, tidak terima ya sudah. Nah kalau sudah sampai sebegitu, saya menyimpulkan bahwa mereka belum bisa menerima karakternya masing-masing dan belum bisa menerima gaya hidupnya.
GS : Tapi menyesuaikan diri itu dalam hal-hal yang positif, Pak Paul? Kalau dalam hal-hal yang negatif tidak bisa dilakukan itu.
PG : Betul, jadi dalam hal-hal yang negatif sudah tentu diminta pasangan kitalah yang menyesuaikan diri, kalau dalam hal yang negatif itu dialah yang lebih bermasalah. Jadi kalau memang kita tau dia mempunyai kebiasaan yang negatif, sedang kita memintanya untuk berubah dia tidak berubah dan kita tidak terima, itu suatu sikap yang sebetulnya positif, tidak menerima aspek yang negatif dari dirinya.
Misalnya kita tahu pasangan kita menggunakan narkoba, kita memintanya berhenti tidak mau berhenti malah pakai lagi. Nah saya kira penolakan kita menerima gaya hidupnya adalah hal yang positif, tapi sekali lagi ini menunjukkan tidak sepadan, bahwa memang dia bukan pasangan kita sebab kita tidak mau dan memang seharusnyalah tidak mau menerima gaya hidupnya itu.
GS : Tanda yang keempat yang tadi Pak Paul katakan paling sedikit ada 4 tanda, yang keempat apa, Pak Paul?
PG : Keempat adalah adanya pertumbuhan pribadi ke arah yang lebih positif, bukan malah kemerosotan ke arah negatif. Artinya begini Pak Gunawan, setelah kita berpacaran beberapa bulan, kita ini isa berkata, Tuhan memakai hubungan ini untuk membentuk kita.
Kita menjadi orang yang lebih sabar, murah hati, menguasai diri kita, penuh sukacita, penuh kasih, lemah lembut, nah itu semua adalah kesembilan aspek dari buah Roh Kudus. Jadi saya mau tekankan kalau kita makin memunculkan buah Roh Kudus dalam hidup kita, maka kita makin dekat dengan pasangan kita. Dapat kita simpulkan ini pasangan yang cocok dengan kita, sepadan dengan kita. Kalau sebaliknya yang terjadi kita makin tidak murah hati tambah sempit hati, bukannya lemah lembut tapi makin kasar, bukannya makin bisa menguasai diri tapi makin tidak bisa menguasai diri, bukannya makin penuh kasih tapi makin penuh iri hati. Nah saya kira itu pertanda pasangan ini tidak sepadan dengan kita atau kita memang tidak sepadan untuk dia, jadi itu indikasi yang keempat, Pak Gunawan.
GS : Jadi tolok ukurnya kesepadanan ini memang ada di dalam Alkitab ya Pak Paul. Jadi apa yang Alkitab katakan sehubungan dengan perbincangan kita saat ini, Pak Paul?
PG : Saya akan bacakan dari kitab Efesus 5:1 "Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus jugatelah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diriNya untuk kita sebagai korban persembahan dan korban yang harum bagi Allah."
Jadi yang saya ingin tekankan adalah menjadi penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih dan hidup di dalam kasih. Satu hal yang bisa saya simpulkan di sini adalah kalau kita sepadan dengan pasangan kita, kita akan lebih mirip dengan Allah yaitu Tuhan Yesus sendiri, kita menjadi penurut-penurut Allah. Jadi jangan sampai kita semakin berpacaran semakin jadi pembangkang Allah, tapi justru menjadi penurut Allah. Bukan kita menjadi anak-anak yang penuh kejengkelan, kepahitan, tapi justru firman Tuhan berkata seperti anak-anak yang kekasih dan hidup di dalam kasih. Jadi kalau memang sepadan maka kita makin hidup di dalam kasih bukan makin hidup dalam kebencian, kepahitan, kekecewaan, kira-kira inilah prinsip firman Tuhan yang bisa kita ingat, Pak Gunawan.
GS : Terima kasih Pak Paul. Demikianlah tadi saudara pendengar kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang tanda-tanda kesepadanan. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.
Ringkasan Isi:
Kesepadanan tidak boleh diukur dari segi kwantitas berapa banyak, sebab yang paling penting adalah kwalitas ketidakcocokan itu. Jarang bertengkar dengan pasangan kita memang suatu indikator yang baik namun harus kita juga teliti motivasi kenapa kok jarang bertengkar, sebab ada kasus di mana orang jarang bertengkar karena memang mengelakkan diri dari pertengkaran.
Pertengkaran seharusnya terjadi sebab justru itu baik, bisa menolong mereka menyelesaikan problemnya. Tapi kalau pertengkaran itu kita nggak pernah menyelesaikannya, berarti ini adalah aspek yang kita harus teliti sebab kalau ada hal-hal yang kita pertengkarkan, tak bisa kita selesaikan ini akan kita bawa ke dalam pernikahan. Kalau hal yang kita pertengkarkan tak bisa kita selesaikan, ini menandakan kemampuan kita berdua untuk menyelesaikan pertengkaran belum ada, belum cukup kuat, jadi sangat rawan sekali untuk memasuki pernikahan.
Suatu hubungan yang dipenuhi dengan pertengkaran itu pertanda buruk, itu pertanda bahwa:
Kita sangat berbeda dan berbedanya ini dalam segala hal.
Kalau kita terus-menerus bertengkar itu menandakan tahap pengertian kita, tahap penerimaan kita akan pasangan kita sangat lemah.
Tanda-tanda kesepadanan yaitu:
Kita menghargai perbedaan bukan membenci keunikan pasangan kita. Orang yang sepadan dengan pasangannya, ketidakcocokan itu tidak membuahkan kebencian. Kalau membuahkan kebencian itu berarti memang karakternya atau gaya hidupnya tidak bisa kita terima.
Rasa dimengerti, bukan dihakimi oleh pasangannya. Kita diterima, dimengerti oleh pasangan bagi saya ini salah satu indikasi memang kita ini sepadan dengan pasangan kita.
Adanya upaya atau niat baik untuk menyesuaikan diri, bukan memasabodohkan pasangan. Kalau kita sepadan hubungan kita ini harmonis ya, adanya niat baik dari pihak kita untuk menyesuaikan diri. kalau yang seringkali muncul adalah perasaan masa bodoh, peduli amat dengan dia nah itu mengkhawatirkan, membuat saya berpikir jangan-jangan tidak sepadan.
Adanya pertumbuhan pribadi ke arah yang lebih positif, bukan malah kemerosotan ke arah negatif. Artinya begini setelah kita berpacaran beberapa bulan, kita ini bisa berkata : Tuhan memakai hubungan ini untuk membentuk kita. Kita menjadi orang yang lebih sabar, kita menjadi orang yang lebih murah hati, kita menjadi orang yang lebih menguasai diri, kita menjadi orang yang sukacita, kita menjadi orang yang lebih penuh kasih, kita menjadi orang yang lemah lembut, yaitu 9 aspek dalam buah Roh Kudus.
Jadi yang saya mau tekankan adalah kalau kita makin memunculkan buah Roh Kudus dalam hidup kita, gara-gara kita makin dekat dengan pasangan kita, dapat kita simpulkan ini pasangan yang cocok dengan kita, sepadan dengan kita. Namun kalau sebaliknya yang terjadi kita makin tidak murah hati, tambah sempit hati, bukannya lemah lembut makin kasar, bukannya makin bisa menguasai diri makin nggak bisa menguasai diri, bukannya makin penuh kasih, makin penuh iri hati. Nah ini saya kira pertanda pasangan ini tidak sepadan dengan kita atau kita memang tidak sepadan dengan dia.
Efesus 5:1 , "Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai korban persembahan dan korban yang harum bagi Allah."
Jadi yang ditekankan di sini adalah jadi penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih dan hidup di dalam kasih. Kalau kita sepadan dengan pasangan kita, kita akan mirip dengan Allah, dengan Tuhan Yesus sendiri kita menjadi penurut-penurut Allah. Jadi kalau kita memang sepadan makin hidup di dalam kasih bukan makin hidup dalam kebencian, kepahitan, kekecewaan.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
(Materi ini diambil dari hasil rekaman khotbah Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam suatu acara retreat.) Tugas seorang istri mengandung sebuah janji yaitu berjanji untuk tunduk kepada suami seperti tunduk kepada Tuhan.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S.Th. kita akan bersama-sama mendengarkan sebuah rekaman, rekaman ceramah yang dibawakan oleh Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Pemutaran ulang rekaman ini merupakan suatu kelanjutan dari pemutaran rekaman beberapa waktu yang lalu, jadi kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita sudah bersama-sama mendengarkan diputarnya rekaman ulang yang Pak Paul sampaikan dalam bentuk ceramah, tetapi waktu itu hanya membahas tentang peran suami. Nah kali ini tentang apa, Pak Paul?
PG : Kali ini kita akan melanjutkan dengan membahas peranan istri yaitu kita akan melihat Alkitab, apa yang firman Tuhan katakan kepada para istri, apa yang harus mereka perbuat untuk suami merka.
GS : Sebenarnya ini rekaman ceramah di mana Pak Paul?
PG : Di Pelangi Kristus, di sebuah retreat pada tahun 2002 di Surabaya.
GS : Apakah pada waktu itu banyak pasangan suami-istri yang ikut hadir di sana?
PG : Betul, memang itu khusus untuk para suami-istri.
GS : Jadi kalau begitu baiklah para pendengar sekalian, kita ikuti saja rekaman ceramah dari Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi.
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Nah sekarang mari kita melihat tugas istri, supaya istri tidak kecewa jauh-jauh hari saya beritahukan, ternyata tugas istri tidak sebanyak tugas suami. Saudara, ini tugas yang dalam bentuk janji, saya berjanji untuk tunduk kepada suami saya seperti kepada Tuhan. Saudara menundukkan diri merupakan kesusahan tersendiri bagi para istri, kenapa? Sebab istri adalah rekan, mitra, istri bukanlah pesuruh suami dan semua istri tahu itu, oleh karena itulah menundukkan diri kepada rekan menjadi sangat susah sebab dia bukanlah atasan kita, kita tahu itu, dia bukanlah yang menggaji kita, kita tahu itu, dia adalah rekan kita jadi susah untuk tunduk kepadanya. Saudara, kita susah tunduk juga sebab kadang kala kita melihat tindakannya tidak bijaksana, otomatis kalau kita tahu suami kita melakukan hal yang sangat tidak bijaksana dan bisa menghancurkan keluarga kita, penundukan kita juga harus berakhir. Misalkan saudara kalau suami kita menipu-nipu orang, ke kanan-ke kiri menipu koleganya satu persatu, nah saudara sebagai istri sudah seyogyanyalah kita tidak mendukung dia dan tunduk kepadanya. Misalkan kalau dia meminta kita turut menipu bersama dengan dia karena itu berdosa, jadi tunduk memang ada batasnya yaitu batas tidak berdosa. Tapi saudara yang menarik adalah Alkitab berkata tunduk di dalam segala sesuatu, artinya memang tadi saya juga katakan ada batasnya namun di dalam parameter di mana Tuhan menghendaki istri tunduk, istri memang diminta Tuhan untuk tidak terlalu sering mempertanyakan suami. Saudara, suami sebagai kepala akan mengalami kesulitan melangsungkan tugas dan kewajibannya kalau setiap tindakannya dipertanyakan oleh istrinya. Tunduk berarti berkata begini: "Engkau memang tidak sempurna, aku mungkin tidak setuju denganmu di sini, tapi demi menjaga relasi kita ini saya mau pilih tunduk kepada Tuhan melalui tunduk kepadamu. Saya ulang lagi, saudara saya kira tidak mudah ya untuk tunduk kepada orang lain apalagi kalau kita berpikir kita mempunyai pendapat yang lebih baik daripada pasangan kita. Nah, tapi karena Tuhan meminta kita tunduk dan kita susah tunduk kepada suami, saya meminta kita melakukannya dengan cara yang berbeda yaitu dengan berkata saya tunduk kepada Tuhan melalui engkau. Sekali lagi saudara saya jelaskan, tidak tunduk membabi buta dalam hal-hal yang sangat salah dan berdosa, tidak. Namun dalam hal keputusan-keputusan yang memang harus diambil dalam keluarga, istri lebih siaplah berkata OK saya akan dengarkan, OK saya akan ikuti, nah kalau suami itu juga suami yang takut kepada Tuhan dan mengasihi istrinya dia akan memberikan kesempatan kepada istri memberikan pandangannya. Sebab si suami ingin tahu pula pendapat istrinya, nah istri bisa berkata: "Bolehkah saya memberikan masukan, bolehkah saya memberikan pendapat," di saat itulah suami bisa mendengarkan masukan istri yang bisa menambah informasi dan ketepatannya dalam memutuskan suatu masalah. Saudara kalau tidak tunduk, biduk keluarga tidak bisa berjalan. Keluarga adalah organisasi yang terkecil di dalam masyarakat dan kita tahu semua organisasi membutuhkan kepemimpinan dan ketundukan dari yang dipimpinnya. Saya sering kali menggunakan ilustrasi ini, bagi saudara yang bekerja sebagai karyawan apakah saudara selalu menyetujui keputusan atasan saudara, tidak ya, apakah kadang-kadang atasan saudara membuat keputusan yang keliru untuk perusahaannya, ya, tapi apakah saudara tunduk kepada tuntutannya, ya, kenapa? Perusahaan hanya bisa berjalan kalau ada pemimpin dan ketundukan pada pemimpin itu. Demikian pulalah dengan keluarga kita, kita harus bisa tunduk, tanpa ketundukan keluarga kita tidak berjalan. Yang kedua, Tuhan meminta istri untuk menghormati suami, Tuhan berkata: "Hai istri, hormatilah suamimu." Saudara, hormat adalah cara kita berelasi dengan orang, sekali lagi hormat adalah cara kita berelasi dengan orang. Kita boleh tidak setuju dengan pendapatnya, tapi kita tidak harus kurang ajar atau kasar. Saudara salah satu hal yang bisa meracuni keluarga atau hubungan suami-istri adalah jika istri kasar atau kurang ajar kepada suaminya. Sulit sekali keluarga itu akan bisa bahagia dan diberkati kalau sedikit-sedikit istri marah memaki si suami atau kalau ngomong tidak ada sopan santun, tidak ada penghormatan sama sekali. Sekali lagi saya tekankan, si suami tidak selalu benar, suami bisa salah tapi walaupun suami bisa salah dan kita berbeda pendapat dengan dia, jangan sampai kita kasar dan kurang ajar. Saudara, saya tahu istri yang kalau suaminya bicara dia tidak suka, dia berteriak-teriak memaki-maki suaminya menyuruh suaminya diam, tutup mulut. Saudara itulah salah satu contoh ketidakhormatan, jadi Tuhan meminta kepada istri hormatilah suami. Dan yang terakhir ini adalah janji untuk suami-istri, saya memberikan janji ini saya ambil dari kitab Ibrani, menghormati perkawinan kami dan tidak mencemarkan ranjang pernikahan kami, janji kepada suami dan kepada istri, dua-dua harus membuat janji yang sama, kalau tadi spesifik untuk suami dan istri sekarang berdua. Saudara kita harus menghormati pernikahan kita sedemikian rupa sehingga kita tidak mau mengotorinya dengan ketidaksetiaan. Jangan sampai kita mencemarkan ranjang pernikahan kita. Saudara ke mana-ke mana saya pergi saya selalu mendapatkan laporan anak-anak Tuhan yang terlibat dalam pelayanan dan kemudian jatuh ke dalam perzinahan, terlalu sering saudara antara aktivis Kristen dengan sesama aktivis Kristen. Saudara, kita harus menghormati pernikahan kita dengan cara tidak mencemarkan ranjang kita. Saudara, hampir semua kesalahan yang lain lebih mudah diterima oleh pasangan kita kecuali kesalahan dalam hal mencemarkan ranjang kita, itu akan sangat sulit.
GS : Pak Paul, kita telah bersama-sama mengikuti siaran ulang atau diputarnya ulang sebuah rekaman yang Pak Paul sudah bawakan dalam bentuk ceramah. Kalau pada kesempatan yang lalu Pak Paul sudah membahas tentang peran atau tanggung jawab suami, maka pada kesempatan kali ini lebih banyak dibahas tentang tanggung jawab seorang istri Kristen tentunya. Nah yang ingin saya tanyakan Pak Paul dalam kesempatan ini, konsep pernikahan itu yang diberikan oleh Tuhan kepada suami maupun istri itu 'kan sudah lama sekali Pak Paul, bagaimana hal-hal seperti ini masih tetap relevan untuk kita yang hidup pada zaman ini?
PG : Semua tetap relevan Pak Gunawan, karena yang menarik adalah meskipun kita ini telah berada di muka bumi ribuan tahun tapi kebutuhan kita tetap sama. Kita boleh berevolusi dalam hal berapa esar, tinggi badan kita, warna rambut kita, warna mata kita, tapi kita tidak pernah berevolusi di dalam hal kebutuhan mendasar kita.
Kita tetap membutuhkan dikasihi, kita membutuhkan dihormati, nah itulah kebutuhan pokok yang dibawa oleh manusia ke dalam pernikahan. Tuhan meminta suami mengasihi istri karena itu kebutuhan pokoknya, Tuhan meminta istri menghormati suaminya itulah kebutuhan pokok si suami. Dan melewati abad demi abad kebutuhan tersebut tetap sama, jadi perintah Tuhan atau resep Tuhan tentang pernikahan yang Tuhan berkati juga akan tetap sama sampai kapan pun.
GS : Itu sifatnya universal Pak ya? (PG : Betul). Ada beberapa etnis tertentu itu yang istri ketertundukannya kepada suami itu bisa kita nilai agak berlebihan Pak Paul, jadi betul-betul tunduk dan menyerahkan dirinya itu total, nah itu bagaimana Pak Paul?
PG : Saya kira kita harus membedakan antara akuisisi dan penyatuan. Saya sering mengatakan bahwa pernikahan Kristen bukanlah salah satu bentuk akuisisi. Akuisisi berarti yang satu menelan atau enguasai yang satunya, sehingga yang ditelan atau dikuasai tidak lagi mempunyai suara atau hak, tidak, itu bukan konsep pernikahan Kristen.
Pernikahan Kristen adalah penyatuan dua individu, berarti dua-dua akan meleburkan diri, dua-dua akan harus memotong, mengorting dirinya supaya kedua diri ini bisa menyatu, itulah yang Tuhan inginkan.
WL : Pak Paul, saya teringat pada session sebelumnya, Pak Paul jelaskan tentang tugas suami yang sepertinya lebih banyak dibandingkan tugas istri yang tadi Pak Paul jelaskan hanya sedikit. Saya pikir unik sekali ya Tuhan menuntut seperti itu dibandingkan dengan realita yang sebenarnya (maksudnya dunia sudah jatuh dalam dosa mungkin karena itu). Realitanya istri-istri lebih banyak tugasnya dalam rumah tangga, terus kalau ada masalah dalam pernikahan atau dengan anak itu pasti yang disalahkan kebanyakan istri, padahal Alkitab menuntutnya tidak seperti itu.
PG : Alkitab mempunyai standar yang memang berkebalikan dari standar yang dianut oleh dunia. Tuhan pernah berkata bahwa orang-orang di dunia atau majikan-majikan di dunia akan menuntut orang unuk tunduk kepadanya dan dia akan melakukan itu dengan kekuasaannya, tapi tidaklah demikian dengan kamu, kata Tuhan, kamu harus melayani.
Dengan kata lain konsep memimpin adalah konsep yang identik dengan melayani. Siapa yang hendak menjadi besar, hendaklah menjadi pelayanmu. Nah karena Tuhan memberikan tugas kepada suami sebagai pemimpin maka dia memang bertugas sebagai pelayan, artinya lebih banyak hal yang harus dia korbankan demi keluarganya, demi orang-orang yang memang bernaung di bawahnya. Tapi dunia memberikan konsep yang keliru, karena dia kepala berarti haknya lebih besar, berarti semua orang-orang harus mengikuti kehendaknya sebab dialah kepalanya. Dan sama sekali tidak ada pengertian bahwa sebagai kepala dia justru seharusnya menjadi pelayan bagi semua anggota keluarganya, itu konsep yang terhilang dalam dunia ini. Itu sebabnya di Alkitab kita bisa membaca tugas seorang suami memang sangat banyak, lebih banyak daripada tugas seorang istri karena apa, sejajar dengan konsep pelayan tadi. Kalau saya boleh tambahkan juga Ibu Wulan, Tuhan memberikan tugas kepada pria untuk mendisiplin anak, memang membesarkan anak-anak itu adalah lebih merupakan tugas seorang ibu karena secara alamiah dia yang melahirkan, dia yang menyusui dan sebagainya. Tapi waktu anak itu mulai besar yang lebih diberikan tugas untuk mendidiknya bukannya ibu, firman Tuhan secara konsisten mengatakan: "Hai bapak! Hai Bapak! Didiklah anakmu dalam takut akan Tuhan. Hai bapak, janganlah sakiti hati anakmu." Jadi di Perjanjian Lama juga ada yang seperti itu, intinya adalah tugas itu diembankan kepada bapak. Nah sekarang apa yang terjadi, para bapak mendelegasikannya kembali kepada para ibu, nah itu keliru justru memang banyak sekali tugas yang diberikan Tuhan kepada para pria.
GS : Nah sekarang ini makin banyak wanita yang sadar dan merasa bahwa dia sebenarnya mempunyai hak yang sama dengan kaum pria Pak Paul, nah ini di dalam hubungan suami-istri bagaimana Pak Paul?
PG : Nah ini mesti kita cermati dengan baik-baik, dua-dua memang harus tunduk kepada Tuhan, ini syarat utamanya. Jangan sampai ada dua orang dan tidak tunduk kepada Tuhan, mesti ada titik tenga, titik tengahnya adalah Tuhan sendiri.
Berarti apa yang Tuhan katakan dua-dua akan berusaha untuk menaatinya apapun itu yang Tuhan minta dia lakukan. Nah sekarang memang ada konsep egalitarian yaitu pria membawa 50%, wanita membawa 50% dan semua hal harus didiskusikan sehingga tidak ada lagi yang menjadi pemimpin, itu juga salah. Sebab sebagaimana kita sudah dengar tadi bahwa keluarga adalah organisasi yang terkecil dan semua organisasi harus memiliki pemimpin, tidak ada kepemimpinan berarti kekacauan. Maka saya kira salah satu penyebab mengapa tingkat perceraian makin meningkat adalah konsep yang mulai berubah itu, tetap mesti ada yang mengepalai dan Tuhan memberikan tugas itu kepada si suami. Namun si suami dalam mengepalai dia harus melakukannya dengan jiwa seorang pelayan itu yang dituntut oleh Tuhan. Dan kalau suami sudah mencoba melakukan itu, istri juga harus selalu lebih siap menundukkan diri daripada menyatakan kehendaknya yang selalu berbeda dari suaminya. Jadi keduanya memang saling mengimbangi, jadi tidak bisa kita katakan suami dulu mulai baru istri mulai, tidak, dua-duanya harus mulai pada waktu yang bersamaan.
GS : Ya tetapi di dalam pernikahan, sekalipun pada awalnya suami itu menjadi kepala keluarga, tetapi di dalam perjalanan hidup mereka ternyata memang kelihatan bahwa sebenarnya istri itu lebih dominan, jadi dia itu lebih mampu sebenarnya untuk menjadi pemimpin sehingga suaminya pun berkata kamu saja yang menjadi pemimpin di rumah ini. Itu bagaimana sebenarnya?
PG : Istri yang memang lebih bijaksana dari suaminya atau lebih bisa dalam banyak hal daripada suaminya harus benar-benar bisa menempatkan dirinya. Jadi di depan keluarga, di depan anak-anak da sebagainya istri lebih harus menahan diri.
Di belakang dalam privasi mereka, si istri bisalah memberikan masukan-masukan kepada si suami. Cara yang lainnya lagi adalah istri jangan langsung memberikan perintah, menurut saya ini dan ini yang harus dilakukan, jangan. Meskipun dia tahu yang benar dan si suami mungkin keliru, saran saya adalah berikan pilihan kepada si suami, menurut kamu mana yang lebih baik nah si istri karena lebih pandai misalkan, lebih bijaksana, dia memberikan dua, tiga pilihan. Dan dari dua, tiga pilihan itu jelas yang paling baik yang mana, nah dari dua, tiga pilihan itu si suami nanti yang diminta untuk mengambilnya, akhirnya suami yang mengambil keputusan. Nah suami merasakan juga istrinya menghormati dia, sehingga dia yang tetap diberikan hak untuk mengambil keputusan itu. Tapi siapakah yang sebetulnya menyediakan pilihan-pilihan itu, si istri nah jadi kalau ini bisa dilakukan saja, saya kira meskipun si istri lebih bijaksana tetap kepemimpinan di tangan si suami dan si istri tetap menunjukkan hormat kepada si suaminya.
WL : Pak Paul, menyambung pertanyaan Pak Gunawan, kalau misalnya si istri tidak tahu tentang hal-hal seperti ini, lalu dia juga dibesarkan di tengah-tengah keluarga di mana ibunya memang lebih dominan, lebih banyak kelebihan, kemampuannya lebih dibandingkan ayahnya dan ternyata tidak ada masalah selama ini, papanya juga cukup OK dengan situasi itu bahkan malah "menikmati". Nah yang perempuan ini memang melihat o...suami-istri seperti itu begitu, nah waktu dia masuk ke pernikahan mungkin dia akan kesulitan kalau ketemu pria yang bukan seperti papanya maksudnya memang ya seharusnya suami yang memimpin begitu.
PG : Itu sering terjadi Bu Wulan, jadi memang kita ini produk dari lingkungan, apa yang telah kita lihat pada masa-masa pertumbuhan akhirnya tertempel di benak kita dan itu yang kita akan bawa alam rumah tangga kita.
Itu sebabnya sekali lagi saya ingin ingatkan bimbingan pranikah itu penting dalam masa-masa berpacaran, sehingga masing-masing bisa mengenali pola-pola bagaimana mereka dibesarkan dulu. Sebab pola-pola itulah nanti yang akan mereka nanti bawa dalam pernikahan. Nah sudah tentu waktu dia menikah dengan pria yang berbeda dari ayahnya akan banyak sekali penyesuaian yang harus dia lakukan karena si suami mungkin sekali tidak akan terima dengan cara-cara otoriter istrinya. Sudah tentu akan terjadi konflik tapi kalau dua-dua memang serius mau menyatukan relasi ini ya bisa berubah.
GS : Tapi memang sering saya temukan dalam banyak contoh itu pasangan suami-istri, saya lihat ini ada suatu keahlian istri itu untuk bisa menguasai suaminya Pak Paul, sehingga banyak teman-teman itu yang berkata wah ini suami yang takut istri dan sebagainya. Dalam hal seperti itu Pak Paul, ternyata orang lain bisa membaca memang sekalipun suaminya itu sebagai kepala keluarga, tetapi yang sangat berperan itu istrinya. Nah tentu buat si suami ini menjadi suatu cela tersendiri, dia merasa dipermalukan, itu bagaimana mengatasinya Pak Paul?
PG : Kalau dia menyadari itu dia mesti membicarakannya dengan istrinya dan berkata kepada istrinya: "Saya menghargai masukan kamu sebab saya melihat dalam hal-hal seperti ini kamu yang lebh tepat dibandingkan dengan saya, tapi mohon jangan sampai mempermalukan saya."
Nah Tuhan memang memberikan karunia kepada anak-anakNya laki-laki dan perempuan, jadi dari konsep ini saja kita bisa simpulkan bahwa tidak semua hal dilakukan dengan baik oleh satu orang dalam hal ini si suami, akan ada hal-hal tertentu yang dilakukan dengan sangat baik oleh seorang wanita atau istrinya. Nah pernikahan yang sehat pernikahan yang bisa memberi ruangan munculnya karunia-karunia ini dengan bebas dan kedua orang suami-istri itu bisa saling menghargai. Jadi suami minta kepada istrinya: silakan saya senang dengan masukan kamu, asal penyampaian kamu harus tepat, di mana kamu sampaikan harus juga dilihat-lihat, bagaimanakah cara kamu menyampaikannya mohon diperhatikan jangan sampai akhirnya melecehkan saya, kalau itu bisa disetujui saya kira rumah tangga mereka akan tetap berjalan dengan baik.
GS : Ya tetapi ada istri malah bangga, cerita sama teman-temannya o....kalau suamiku itu takut sama saya. Itu sebenarnya apakah kebutuhan atau keinginan untuk menguasai orang lain itu tercermin di sana?
PG : Saya kira itulah yang memang tersirat dari firman Tuhan kepada istri, istri tunduklah kepada suamimu, sebab memang sifat dasar manusia sebetulnya tidak mudah tunduk baik pria maupun wanita Jadi karena istri yang diminta tunduk memang tidak mudah tunduk, yang lebih enak adalah kalau orang lain yang tunduk kepada kita, jadi perjuangan yang sangat keras sekali.
Kenapa Tuhan memberi perintah kepada pria, kasihilah istrimu sebab saya yakin tersirat dalam perintah itu, cukup banyak pria terlalu cinta pada dirinya sangat egois. Jadi mencintai orang lain, mendahulukan orang lain, buat sebagian besar pria sangat sulit, jadi itulah yang menjadi latar belakang kenapa Tuhan juga memberikan perintah-perintah yang berbeda itu kepada suami dan istri.
WL : Pak Paul, kita sering mendengar istilah ya bolehlah si suami menjadi kepala, tapi siapa dulu jadi lehernya. Leher itu 'kan yang menggerakkan kepala mau ke kiri, ke kanan ke mana begitu jadi penting sekali istri itu memahami benar sampai seberapa porsinya dia di hadapan suami.
PG : Betul, makanya ada peribahasa yang berkata di belakang seorang suami yang sukses, ada seorang istri yang bijaksana. Itu juga betul saya kira.
GS : Jadi terima kasih sekali, saya rasa kalau pasangan suami-istri mengikuti pedoman yang sudah Tuhan berikan melalui kebenaran firman-Nya, kehidupan rumah tangga mereka khususnya dalam hubungan suami-istri pasti akan mendatangkan kebahagiaan yang luar biasa. Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan dan ceramah yang boleh kita dengar bersama pada kesempatan ini, juga Ibu Wulan terima kasih untuk kehadiran Ibu bersama kami. Para pendengar sekalian kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti acara ini acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja mengikuti sebuah penayangan ulang rekaman ceramah dari Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang . Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.