Olah Raga: Beban atau Berkat

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T578B
Nara Sumber: 
Ev. Sindunata Kurniawan, M.K.,M.Phil.
Abstrak: 
Olah raga hukum alamiah tubuh kemanusiaan kita, olah raga sudah menjadi bagian hidup kita, menolong kita memiliki ketahanan hidup, imunitas tubuh, pola tubuh – pola makan – pola istirahat juga perlu diperhatikan agar tujuan olah raga menjadi berkat.
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

dpo. Ev. Sindunata Kurniawan, M.K., M.Phil.

Berolahraga dan bergerak badan sejak kecil akan membentuk otot-otot jantung yang lebih tangguh. Jantung yang tangguh tetap kuat memompakan darah, meski mungkin sejalan usia menghadapi rintangan pipa pembuluh darah yang sudah tak utuh lagi. Jantung yang terlatih sejak usia muda ototnya lebih tebal dan kuat dibandingkan yang tidak terlatih. Di sini letak perbedaan jantung atlet dengan bukan atlet. Kerja jantung atlet lebih efisien. Makin jantung terlatih, kerja makin efisien. Jantung yang sehat berdegup lebih sedikit dibanding jantung yang sakit tanpa mengurangi pasokan darah tubuh.

Sebagaimana yang dipaparkan dalam buku karya Dokter Handrawan Nadesul, seorang dokter kawakan pengasuh berbagai media cetak rubrik kesehatan, lewat riset panjang kemudian dipopulerkan bentuk latihan aerobik yang tidak perlu berat. Dengan aerobik yang sedang-sedang atau latihan fisik yang moderat kebugaran tubuh sudah bisa tercapai. Dengan gerak badan yang sedang-sedang saja penyakit degeneratif bukan saja dibatalkan, lebih dari itu dicegah.

Bentuknya adalah jalan cepat atau jalan kaki tergesa-gesa (‘brisk walking’). Dikatakan ini pilihan latihan fisik yang paling ideal. Melalui serangkaian riset terbukti bahwa jalan cepat sama-sama memberi manfaat aerobik yang setara dengan berlari atau jogging. Berlari atau jogging apalagi marathon memang memberikan ketahanan yang lebih besar pada tubuh dibanding hanya jalan cepat. Namun, sesungguhnya tubuh tidak membutuhkan takaran sebanyak itu. Justru jenis latihan fisik ini berpotensi mencederai sendi, urat dan otot ketika usia semakin bertambah di atas kepala empat. Terlebih lagi, kalau dilakukan secara berlebihan.

Cukup jalan cepat 3,2 km selama kurang dari 30 menit 3 kali seminggu. Atau jarak sama dalam 40 menit lima kali dalam seminggu. Dengan pilihan seringan ini risiko merusak tubuh hampir tidak ada, namun kualitas hidup lebih meningkat. Jalan cepat bermanfaat membuat jantung terpompa kuat lalu sel-sel tubuh memeroleh seluruh kebutuhan darah khususnya otak. Organ tubuh yang cukup terpasok darah, yang notabene pembawa nutrisi dan oksigen, akan bugar dan tidak layu, termasuk kulit.

Untuk mereka yang berusia di atas 40 tahun, jalan cepat, berenang dan senam kebugaran, tergolong paling aman. Masing-masing jenis olahraga memiliki durasinya sendiri-sendiri untuk meraih kebugaran tubuh.

Upaya melancarkan aliran darah tubuh patut menjadi fokus utama dalam membugarkan tubuh. Jalan cepat dan lainnya ini lebih tepat dan efektif membuahkan hasil daripada mengonsumsi obat, bahan berkhasiat, terapi pijat khusus atau akupunktur.

Bersepeda santai selama 30 menit setiap hari bisa menurunkan berat badan sekitar 4 kg dalam setahun dengan bonus otot-otot di bagian tubuh tertentu akan terbentuk dan laju metabolisme tubuh meningkat. Yang tidak dianjurkan bersepeda adalah berat badan berlebihan, sedang mengalami radang tulang, pengeroposan tulang, gangguan saraf, komplikasi diabetes. Jika bersepeda lama, perlu lebih waspada jika punya sejarah gangguan prostat. Bila bersepeda di luar rumah, perlu memerhatikan tentang keamanan di jalan raya, polusi jalan raya, jalan yang berdebu maupun berkerikil.

Perihal durasi olahraga yang ideal dalam sehari WHO menganjurkan untuk melakukan olahraga 150 menit per minggu dengan intensitas sedang dalam seminggu. Jika membagi waktu olahraga 5 kali dalam seminggu, kita hanya memerlukan waktu 30 menit untuk olahraga per harinya. Meskipun sebentar, tetapi olahraga ini akan lebih efektif daripada kita melakukan langsung 150 menit olahraga dalam sehari. Sesuaikan lama waktu olahraga dengan kemampuan kita. Jika kita pemula disarankan untuk melakukannya dengan waktu singkat tapi sering. Jika sudah terbiasa, kita bisa berlatih 50-60 menit sehari sebanyak 3-4 kali per minggu. Intensitas sedang yang dimaksud tadi dalam anjuran WHO adalah untuk melakukan aktivitas fisik yang bisa membuat suhu tubuh menjadi lebih panas, bernapas lebih berat, detak jantung berdebar lebih kencang daripada sebelumnya. Tapi kita tetap bisa melakukannya sambil berbicara atau mengobrol dengan teman saat olahraga.

Bedanya intensitas berat dan sedang adalah jika kita melakukan olahraga dengan intensitas berat maka kita akan merasakan lebih ‘ngos-ngosan’ hingga tidak bisa bicara saat sedang melakukan olahraga tersebut. Detak jantung pun berdetak lebih cepat dibandingkan dengan olahraga intensitas sedang. Bagi kita yang sudah terbiasa olahraga mungkin akan mudah untuk melakukan olahraga secara konstan dengan intensitas berat. Namun, jika kita masih pemula atau belum kuat, kita dapat menjalankan olahraga dengan intensitas yang sedang dahulu. Kita perlu berhati-hati terhadap ‘overtraining’ atau latihan fisik berlebihan. Latihan fisik berlebihan justru menyisakan radikal bebas lebih banyak dalam tubuh dibandingkan latihan fisik dalam takaran normal. Radikal bebas inilah yang berpotensi mencetuskan kanker, jantung koroner, menurunnya sistem imunitas atau kekebalan tubuh, penyakit mata katarak dan penuaan dini atau lekas tua. Bahkan lebih 50 jenis penyakit muncul karena radikal bebas yang menumpuk dalam tubuh yang kesemuanya berisiko mengantarkan orang mati muda.

Ada tanda-tanda latihan fisik berlebihan. Yakni muncul insomnia atau sulit tidur, luka lebih lama sembuh, tekanan darah anjlok, berat badan turun berlebihan, degup jantung berlebihan, tungkai pegal terus, sering haus waktu malam, rentan terinfeksi, nafsu makan berkurang, menstruasi terganggu, lesu kurang bergairah.

Dalam memilih sepatu, sepatutnya kita tidak merasa sayang untuk membeli sepatu olahraga bermerek. Kita perlu memilih sepatu sesuai anatomi kaki dan dengan bantalan alas kaki empuk yang sanggup menahan hentakan tubuh sehingga mengurangi beban yang harus dipikul oleh sendi tumit, lutut, panggul dan tulang belakang.

Kita perlu menghindari berjalan kaki di atas kerikil tanpa alas kaki. Beberapa orang sengaja berjalan tanpa alas kaki di atas kerikil dengan tujuan menyehatkan kaki mengacu pada titik-titik akupunktur. Terlebih dari kebenaran itu, pola demikian menimbulkan trauma pada saraf, otot dan urat telapak kaki, selain trauma beban pada sendi tumit, lutut, pinggang dan punggung.

Ada beberapa tanda bahwa latihan fisik harus dihentikan. Yakni nyeri dada atau rasa dada tertekan; nyeri menyebar di lengan, pundak, leher dan rahang; kepala terasa ringan melayang atau pusing; degup jantung cepat sekali; mual dan ingin muntah; penglihatan kabur; sesak nafas; rasa mau pingsan. Bahkan kita perlu libur latihan fisik, jika mengalami demam, radang tenggorokan, batuk berdahak, nyeri buang air kecil, nyeri otot dan persendian. Saat sudah berusia 40 tahun ke atas, sebaiknya kita memilih olahraga yang tidak membebani persendian lutut dan pinggang seperti jogging atau berlari. Sendi lutut dan sendi pinggang bisa cedera dini jika sering melakukan lompatan, terlebih lagi jika tubuh kita gemuk. I Korintus 6:19-20, "Atau tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar karena itu muliakan Allah dengan tubuhmu!".