Remaja/Pemuda
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:54am.
Abstrak:
Salah satu gejala merusak yang mulai melanda kawula muda dewasa ini adalah pengiriman gambar porno lewat ‘on-line’, melalui alat komunikasi seperti komputer dan telepon genggam. Masalahnya adalah, bukan hanya gambar porno orang lain yang dikirimkan, tetapi juga gambar organ tubuh sendiri. Dampak dari perilaku ini sangat buruk, ada yang menyimpan gambar-gambar ini kemudian menyebarluaskannya di kalangan teman dan luar teman. Ada pula yang menjadikannya sebagai bahan untuk berfantasi seksual dan masturbasi. Dampak terberat adalah terjadinya hubungan seksual yang tidak jarang menghasilkan kehamilan di luar nikah. Apakah yang harus dilakukan orang tua dalam menyikapi masalah yang tengah menggejala ini?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Remaja dan Pergaulannya. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Sudah menjadi ciri dari remaja yaitu bergaul dan kelihatan aneh kalau ada remaja yang tidak bisa bergaul. Tetapi pergaulan sendiri bisa membawa dampak yang positif dan juga bisa membawa dampak yang negatif dalam kondisi yang sekarang ini. Menurut pengamatan Pak Paul, hal apa yang membahayakan dalam pergaulan remaja ini ?
PG : Salah satu gejala merusak yang mulai melanda kawula muda dewasa ini adalah pengiriman gambar porno lewat 'online', melalui alat-alat komunikasi seperti komputer dan telepon genggam. Masalahnya bukan hanya gambar porno orang lain yang dikirimkan, tapi juga gambar porno dari organ tubuh sendiri. Jadi dirinya sendiri yang menjadi pelaku dari gambar-gambar itu. Seperti yang dapat kita duga, pelaku utamanya adalah para remaja yang memang sedang berada dalam kondisi seksual yang prima. Mungkin Pak Gunawan juga mengingat beberapa hari yang lalu masuk ke dalam surat kabar Jawapos tentang beredarnya gambar porno seorang remaja putri yang adalah siswi di sebuah SMA di suatu kota di Jawa Timur dan gambar itu sudah meluas ke mana-mana. Benar-benar ini menjadi sebuah tren, kita tahu hal ini yang tertangkap belum lagi yang tidak tertangkap. Dan di Amerika sendiri hal ini telah menjadi masalah yang luar biasa besar. Bahkan ketika remaja itu diwawancara, mereka mengatakan bahwa mereka melakukannya untuk kesenangan dan tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang memaksa dan memang mereka ingin melakukannya, jadi memfoto diri sendiri melakukan adegan seksual kemudian mengirimkannya kepada teman-teman, bahkan ada yang mengirimkan itu secara umum. Jadi benar-benar kita melihat ini adalah sebuah badai yang sedang menerpa, dan bagi anak-anak kita, kalau mereka tidak kita bekali maka mereka ini benar-benar bisa tersapu oleh badai ini sebab teman-teman akan mengirimkan gambar-gambar ini kepada mereka dan mereka akan mulai melihatnya. Jadi benar-benar penyebaran pornografi melalui alat-alat komunikasi dan komputer akan menjadi masalah yang berat.
GS : Sebenarnya apa yang melandasi seseorang mengirimkan gambar-gambar porno, bahkan gambar porno dari bagian tubuhnya sendiri dibagikan kepada orang lain, Pak Paul ?
PG : Yang menarik adalah tidak ada jawabannya selain untuk senang-senang saja. Jadi waktu saya membaca tentang hal ini dan para remaja ini diwawancara, mereka berkata hanya untuk senang-senang. Waktu ditanya, "Apakah tidak malu?" mereka menjawab, "Untuk apa malu, ini tubuh saya sendiri dan saya bangga dengan tubuh saya kalau orang mau melihat, silakan." Jadi benar-benar remaja ini tidak memikirkan dampaknya, bagaimana kalau nanti dia menjadi mangsa bahkan nanti akan ada orang yang mencari tahu di mana dia tinggal dan tergoda untuk melakukan hal yang lebih buruk kepadanya. Belum lagi kita harus menyadari bahwa gambar-gambar ini akan digunakan oleh orang untuk berfantasi seksual, untuk bermasturbasi. Jadi benar-benar kerugian yang sangat besar, belum lagi kalau orang-orang ini nanti menjadi seorang ibu rumah tangga, menjadi bapak, menjadi orang yang lumayan terhormat. Bagaimana kalau nanti ada orang yang menyimpan gambar-gambar ini? Bagaimana kalau nanti dia diperhadapkan dengan gambar-gambar ini setelah dia menjadi mama. Dan anaknya nanti yang akan berhadapan dengan gambar ini, yaitu mamanya atau papanya yang sedang beradegan porno dan direkam dan masih ada orang yang menyimpannya, bagaimana kalau nanti mereka bertobat, bagaimana kalau nanti mereka menjadi anak Tuhan dan melayani Tuhan, kemudian tiba-tiba ada orang yang berkata, "Saya memunyai gambarmu, waktu kamu sedang seperti ini dan seperti itu." Banyak anak remaja tidak memikirkan hari depan dan hanya memikirkan hari ini, yang penting hari ini senang-senang. Jadi hal ini sangat berbahaya dan sudah menjadi hal yang dianggap normal bagi banyak anak-anak remaja, sehingga banyak yang melakukan seperti ini, ada yang mengajak pacarnya untuk melakukan adegan porno sendiri dan mengirimkannya kepada dia, saling tukar menukar. Begitu banyak hal yang menyimpang yang sedang terjadi. Jadi sudah selayaknyalah kita orang tua mengetahuinya.
GS : Jadi sebenarnya dampak negatif mana yang lebih besar, Pak Paul ? Terhadap dirinya sendiri atau terhadap orang yang melihat gambar-gambar itu?
PG : Pada akhirnya dirinya sendiri, Pak Gunawan, karena yang tadi sudah saya singgung. Bagaimana kalau nanti 10 tahun berlalu dan dia sudah menjadi seorang ibu rumah tangga, dia telah bertobat dan dia telah menjadi orang terhormat dan masih ada orang yang menyimpan gambar-gambar ini. Bagaimana nanti kalau ada orang yang mengenali dia dari gambar ini, dan waktu dia sedang berjalan ada orang yang mengenali dia maka orang akan mengingat gambar-gambar dia dalam adegan porno itu. Jadi ada dampak-dampak berat yang harus ditanggungnya. Salah satu dampak berat yang kita juga harus pikirkan adalah terjadinya hubungan seksual akibat tingginya tingkat rangsangan yang ditimbulkan yang tidak jarang menghasilkan kehamilan di luar nikah. Jadi mula-mula saling mengirimkan adegan porno yang dilakukan sendiri, karena sering dikirim lewat HP dan sebagainya akhirnya waktu mereka berjumpa, dari awal mereka sudah begitu terangsang dan kemudian setelah bertemu mereka langsung melakukan hubungan seksual dan akhirnya terjadilah kehamilan di luar nikah. Jadi benar-benar masalah ini terus berkembang dan orang tua tidak bisa menutup mata.
GS : Dan mereka yang melakukan hal-hal yang seperti ini, sebetulnya masih di dalam pengawasan orang tua, Pak Paul. Jadi sebenarnya apa yang orang tua harus lakukan ?
PG : Yang kita harus lakukan, yang pertama adalah kita harus memantau anak-anak dengan dekat. Dewasa ini Pak Gunawan, ada orang tua yang berpuas diri dan mengatakan bahwa dia terus memantau keberadaan anaknya tapi hanya lewat telepon genggam, dia bisa SMS, telepon dan menanyakan di mana anaknya sekarang, sebab orang tuanya sendiri juga entah dimana, entah itu di klub malam atau mungkin sedang di kafe, pulang tengah malam. Jadi mereka sendiri tidak bisa mengawasi anak, hanya mengawasi anak lewat telepon genggam. Menghubungi anak dan menanyakan keberadaannya lewat telepon tidak sama dengan memantaunya secara langsung. Pada kenyataannya anak yang tahu bahwa dia diawasi, akan lebih takut untuk melakukan perbuatan terlarang, dibanding dengan anak yang tahu bahwa ia tidak diawasi. Jadi semua anak remaja Pak Gunawan, mesti tahu kalau dia diawasi. Begitu dia tahu kalau dia tidak diawasi, maka hilanglah pagar untuk melakukan perilaku yang menyimpang itu. Bukankah anak-anak yang melakukan hal-hal yang seperti ini hampir dapat dipastikan lepas dari pengawasan orang tuanya. Bisa memang orang tuanya mengabaikan secara tidak langsung karena pekerjaannya, tapi bisa juga diabaikan secara langsung akibat rumah tangga yang tidak harmonis. Jadi dengan kata lain, kemungkinan hal ini dilakukan oleh anak yang mendapatkan pengawasan yang ketat dari orang tuanya itu kecil, namun jika orang tuanya tidak mengawasi secara ketat maka kemungkinan ini jauh lebih besar.
GS : Kalau orang tua itu mengawasi anak terus menerus, itu adalah hal yang tidak mungkin dilakukan, Pak Paul, karena anak sudah keluar dari rumah dan banyak temannya di luar rumah, bagaimana orang tua bisa mengawasi terus menerus? Lagi pula kalau anak hanya menurut kepada orang tua, tidak melakukan hal itu selama dia diawasi kemudian di belakang kita dia melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan itu, ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu harus ada relasi yang akrab antara kita dan anak. Kita mesti mendapatkan kepercayaannya bahwa kita itu menyayanginya dan bahwa kita itu berpikir atau memikirkan kepentingannya. Di dalam relasi yang baik antara kita dengan anak, anak akan berpikir dua kali sebelum melakukan hal-hal yang dia tahu akan dapat memengaruhi reputasi orang tuanya atau melukai hati orang tuanya. Jadi anak yang tahu bahwa dia disayangi akan jauh lebih sulit melakukan hal-hal yang dapat mengecewakan orang tuanya. Tapi anak yang tidak tahu bahwa dia disayangi atau tidak peduli apakah dia disayangi atau tidak oleh orang tuanya, otomatis juga tidak akan begitu peduli apakah tindakannya akan berdampak pada orang tua atau tidak. Jadi saya tahu kita harus memberi ruangan kepada anak, kita harus memberi kepercayaan kepada anak dengan meningkatnya usia namun itu tidak berarti kita melepaskan pengawasan secara penuh. Kita tetap harus menanyakan kemana dia pergi, jam berapa dia kembali, dengan siapa dia pergi, apa yang dilakukannya dan kenapa dia terlambat pulang. Hal-hal seperti itu tetap harus kita tanyakan kepada anak-anak remaja kita sebab semua pertanyaan ini memerlihatkan bahwa kita mengawasinya. Kendati dia tidak suka namun pengawasan ini perlu, kita pun mesti menanyakan tentang penggunaan komputer dan telepon genggamnya. Jangan takut menanyakan hal-hal seperti ini. Dan jangan takut menyinggung perasaannya. Kalau misalkan anak bertanya kepada kita maka katakan dengan jujur, "Saya takut, oleh sebab itu saya ingin tetap memantau kamu" sebab saya tahu kalau anak dipantau, kemungkinan dia berbuat akan lebih kecil. Jadi kita katakan terus terang kepada anak-anak. Kalau anak-anak berkata, "Saya masih tetap bisa melakukannya meskipun papa dan mama mengawasi saya," maka kita menjawab, "Itu betul, tapi karena kamu tahu kalau kami mengawasi maka nantinya kamu akan lebih berhati-hati dan nanti kamu juga akan lebih merasa bersalah kalau kamu melakukannya karena kamu tidak mau kalau nanti ketahuan. Tapi kalau kami tidak mengawasi sama sekali, bukankah kamu lebih dapat tergoda, bukankah kamu nanti lebih dapat berkata tidak mungkin ketahuan." Jadi faktor tidak diketahui itu menjadi faktor yang besar yang mendorong anak untuk melakukan perilaku yang menyimpang ini.
GS : Tapi sebenarnya relasi antara orang tua dan anak, itu yang menjadi lebih penting dari pada kita bisa mengawasi anak karena kita sangat terbatas sekali. Apalagi kalau anak ini sudah di luar kota, sulit bagi kita untuk memeriksa HP atau komputernya, Pak Paul.
PG : Betul, Pak Gunawan. Jadi bukan saja kita harus menjaga relasi dengan anak tapi kita juga harus menjaga atau mengawasi perkembangan rohani karena anak yang tidak memiliki minat rohani, tidak peduli dengan kehendak Allah, otomatis juga tidak peduli dengan "Apakah tindakannya ini berdosa atau tidak." Jadi kita mesti menjaga relasi dengan baik dan juga mendorong dia untuk menjaga relasi dengan Tuhan dengan baik. Jangan sampai kita berpikir karena anak kita baik, maka tidak mungkin dia melakukan hal-hal seperti ini. Masalahnya adalah kendati dia anak yang baik, namun dia telah berkenalan dengan anak yang tidak begitu baik dan anak yang tidak begitu baik ini menyuruh atau memengaruhinya sedemikian rupa sehingga pada akhirnya karena keluguannya ia telah menjadi mangsa anak yang tidak baik itu. Jadi sekali lagi meskipun anak kita baik, namun tetap kita mesti menjaganya karena kita tidak tahu dengan siapa saja dia bergaul. Maka jalanilah komunikasi sehingga kita tahu dengan siapa dia bergaul itu penting sekali, juga memastikan dia memunyai hubungan dengan Tuhan dengan baik, itu pun juga penting karena kalau dia tahu bahwa Tuhan juga mengawasi maka dia juga akan lebih takut untuk berdosa. Kalau dia tidak peduli bahwa Tuhan mengawasi atau tidak, sudah tentu dia akan lebih mudah jatuh ke dalam dosa pula.
GS : Sekarang ini banyak anak-anak yang oleh orang tuanya, kalau tinggal di luar kota bukan di-kost-kan namun disewakan atau dibelikan apartemen di mana pengawasan itu menjadi sangat longgar. Kalau di-kost-kan atau diasramakan, kita masih bisa menghubungi kepala asrama atau ibu kost atau orang tua asuhnya dan meminta tolong agar dia diawasi, tapi kalau sudah di apartemen, hal itu bisa menjadi kendala juga, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi banyak sekali orang tua yang bersikap menggampangkan hal-hal seperti ini "Tidak mengapa beli apartemen dari pada menyewa atau kost," kalau kita tidak bisa memastikan perilaku si anak maka lebih baik jangan dan lebih baik di-kost-kan supaya ada yang mengawasi, namun kita pun juga mesti berhati-hati dengan tempat-tempat kost karena ada pemilik kost yang mengawasi tapi ada juga yang tidak, sebab mereka akan berkata bahwa ini bukanlah tugas kami dan ini adalah tugas orang tua mengawasi anaknya dan kami hanya menyediakan tempat, kami tidak menyediakan pengawasan atas perilakunya. Itu sebabnya kita juga tahu bahwa di tempat-tempat kost hal-hal seperti ini terjadi dan sering terjadi. Betapa banyak sekarang mahasiswa dan mahasiswi yang sudah berhubungan seksual di tempat kost. Jadi kita tidak bisa menyalahkan tempat kost atau orang tua kost karena itu memang adalah anak kita. Jadi pemilik kost hanya menyediakan tempat untuk tinggal, dan tugas kitalah sebagai orang tua untuk memelihara hubungan yang dekat dengan anak dan memastikan mereka pun memelihara hubungan yang dekat dengan Tuhan.
GS : Apakah kita bisa melihat gejala-gejala yang nampak dalam diri anak kita kalau anak ini mulai terpengaruh oleh pergaulan yang kurang sehat, Pak Paul?
PG : Saya kira bisa. Misalkan kita ini memerhatikan kehidupan rohani anak, jika kita melihat dia mulai enggan ke gereja atau berdoa dan kita melihat ketika bangun tidur dia langsung pergi, malam mau tidur dia langsung tidur, kita tidak lagi melihat dia membaca Firman Tuhan. Silakan kita tanyakan kepada si anak apakah yang sedang terjadi dalam dirinya, bila ia tidak lagi bergaul akrab dengan Tuhan, ini adalah pertanda yang tidak baik, jangan-jangan sekarang dia mulai terlibat dosa sehingga dia tidak begitu nyaman hidup dengan Tuhan, atau dia sudah kehilangan minat hidup dengan Tuhan, dia menganggap dulu ketika dia masih kecil ke gereja karena disuruh oleh orang tua dan sekarang saya sudah dewasa, saya tidak perlu lagi mengikuti kehendak orang tua saya dan saya mau memilih sendiri. Kita sebagai orang tua tetap harus mengawasi dan terus mengingatkan dia untuk hidup akrab dengan Tuhan. Atau ada juga yang seperti ini, ada anak yang tidak mau lagi bergaul dengan teman-temannya yang lama, yang kita kenal baik-baik dan sekarang sudah mulai bergaul dengan teman-teman yang lain. Kalau kita tanya dia tidak mau menceritakannya kepada kita, maka ini berarti ada sesuatu yang terjadi, biasanya anak tidak mau menceritakannya tentang teman-temannya, karena dia tahu kalau orang tuanya pasti tidak setuju bahwa teman-temannya itu adalah teman-teman yang baik. Jadi kalau dia tidak mau cerita dan sepertinya menghindar maka kita harus mulai curiga. Atau misalkan tanda yang lainnya, seorang anak sering mengurung diri di kamar dan sering terlihat kaget ketika kita memasuki kamarnya, maka tanyakan ada apa, dan mulai curigalah apa yang sedang dia kerjakan. Kadang-kadang orang tua masuk ke kamar, kemudian mereka kaget, dia mau menutup komputernya dan memencet sesuatu sehingga gambar yang keluar adalah misalkan permainan atau games padahal sebelum itu yang dia sudah mulai lihat mungkin gambar-gambar porno. Jadi kita mesti menanyakan dan jangan takut bertanya. Misalkan dia terus memegangi telepon genggamnya atau langsung memasukkan 'password' sehingga tidak ada yang bisa membuka telepon genggamnya, dia takut sekali kalau kita melihat isinya. Kita patut curiga kenapa kita tidak boleh memeriksa apa yang ada di 'handphone'nya itu. Jangan kita takut dan berkata, "Nanti menyinggung perasaannya," kadang orang tua zaman sekarang ini takut menyinggung perasaan anak dan ini yang mesti kita camkan baik-baik bahwa waktu kita hendak mendisiplin anak, maka kita pasti menyinggung perasaannya tapi demi kepentingannya. Maka kita tidak mau dihentikan karena ketakutan menyinggung perasaannya. Sudah tentu kita tidak sembarangan menyinggung-nyinggung perasaan, tidak sembarangan mau melecehkannya, menghinanya dan sebagainya, tapi untuk hal-hal yang penting kalau pun menyinggung perasaannya maka tidak apa-apa. Semua perubahan atau tanda-tanda yang tadi saya sebut biasanya memunyai penyebab, dan tugas kitalah untuk memastikan bahwa penyebabnya bukanlah masalah yang serius.
GS : Sulit memang bagi kita sebagai orang tua membedakan, kita mau mendisiplin anak dengan cara-cara seperti itu, tapi kita juga mau menghargai 'privacy' anak itu sendiri dengan tujuan mengajar si anak supaya menghargai 'privacy' kita. Dalam hal ini supaya seimbang bagaimana, Pak Paul ?
PG : Kadangkala kita harus berterus terang kepada anak dengan mengatakan bahwa "Saya selalu menghargai 'privacy' kamu, saya tidak sembarangan memasuki kamar kamu dan kamu tahu itu, selama ini papa atau mama berusaha menjaga hal itu namun akhir-akhir ini papa dan mama punya kecurigaan dan untuk memastikan kecurigaan kami tidak benar, kami ingin menanyakan dan melihat langsung". Jadi lebih baik berterus terang seperti itu dari pada secara diam-diam buka ini dan itu, mencari ini dan itu tentang anak-anak kita, lebih baik kita langsung bicara dengan dia. Tadi yang sudah saya singgung adalah banyak orang tua sekarang takut melakukan hal itu kepada anak. Jangan menghormati anak lebih dari menyayangi jiwanya. Kita harus menyayangi jiwa anak dan jangan sampai jiwanya rusak, jangan sampai masa depannya hancur, saya akan korbankan menghormati perasaan anak sebab ada hal yang jauh lebih penting lagi.
GS : Disamping sebagian orang tua takut melakukan hal itu, kadang-kadang mereka juga tidak tahu caranya. Bagaimana caranya supaya saya bisa masuk mendekati anak dan menanyakan kepada si anak tanpa menimbulkan ketersinggungan atau bahkan menimbulkan jarak yang lebih jauh antara kita dengan anak?
PG : Jadi saya tadi sudah sarankan agar kita langsung berterus terang berkata kepada anak, "Kami curiga dan karena kami curiga maka kami mencari tahu." Misalkan semuanya dia memakai 'password', maka kita katakan, "Kalau begitu saya akan mengambil komputermu," dan kita katakan, "Saya akan membawa ke ahli komputer yang bisa memecahkan 'password'nya, supaya isinya bisa dilihat." Dan lihat reaksinya, kalau reaksinya begitu marah dan ketakutan maka kita tahu kalau ada sesuatu dan kita katakan, "Pilihanmu hanya dua, buka sekarang dan saya melihat semuanya atau saya akan ambil kemudian akan saya bawa ke tempat lain biar orang lain juga melihatnya." Jadi inilah yang harus dilakukan karena begitu banyak bahaya, dan sudah sering korban berjatuhan dan kita hendak menghentikannya.
GS : Tapi perlu diberitahukan kepada anak akan resiko apa yang dia lakukan pada saat ini, bahwa resikonya terlalu besar dan dampaknya begitu luas untuk masa yang akan datang.
PG : Betul sekali. Maka sekali lagi ini juga bergantung pada relasi orang tua dan anak, kalau relasi orang tua dan anak itu begitu renggang, tidak ada kedekatan jadi orang tua jarang memberitahukan anak akan apa yang baik dan sebagainya, anak-anak akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal itu.
GS : Kalau mengenai hubungan rohani anak, biasanya kita bisa menanyakan misalnya tadi khotbahnya tentang apa dan ayat bacaan dari Kitab Suci apa. Hal ini bisa kita komunikasikan dengan anak tapi untuk hal-hal yang tertutup ini, kita harus hati-hati, tapi juga berani melangkah. Pak Paul, apakah ada hal-hal lain yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Yang terakhir adalah kita mesti berhati-hati dengan tipe teman pemangsa. Maksud saya, ada anak yang dibesarkan dalam lingkungan buruk karena sejak kecil anak ini telah dikondisikan untuk menjadi pemangsa anak lainnya. Misalnya ada anak yang mengalami penganiayaan, dipukuli dengan luar biasa kerasnya oleh orang tua sehingga dia akhirnya menjadi penganiaya pula. Jika keinginannya tidak terturuti, dia akan marah, dia akan mengancam serta melakukan hal-hal yang buruk, bila anak kita jatuh ke tangannya sudah pasti dia akan menjadi objek manipulasi dan ancamannya. Atau contoh lainnya ada anak yang tidak terawasi dengan baik oleh orang tuanya sehingga dia bebas melakukan apa saja termasuk menonton film porno, belum lagi kalau anak itu bisa mendapatkan film-film porno di rumah, dalam keluarga yang bermasalah dimana ada ayah atau ibu yang juga bermasalah yang memunyai akhlak yang buruk. Mereka juga mungkin pengkonsumsi film-film porno, sehingga anak-anak sejak kecil memunyai akses terhadap film-film porno itu, bila anak-anak kita berkenalan dengan anak yang seperti ini, yang dibesarkan dalam rumah seperti itu, dengan berbagai cara anak itu akan membuat anak kita tunduk kepadanya dan bahkan bersedia bersetubuh atau melakukan adegan seksual lainnya. Jadi awasilah teman anak-anak, bila ia tampak sangat ketakutan atau begitu tunduk dengan seorang temannya, maka berhati-hatilah.
GS : Rupanya tipe teman pemangsa ini tambah hari tambah banyak, mengelilingi anak atau anak-anak kita, Pak Paul?
PG : Betul. Karena makin banyak keluarga yang bermasalah dan makin banyak orang tua yang kawin cerai dan hidupnya itu juga tidak karuan, sudah bisa dipastikan anak-anak mereka pun juga tidak karuan dan akan ada sebagian yang memangsa anak-anak yang baik. Anak-anak kita yang baik mungkin sekali lugu dan tidak begitu mengerti kejahatan orang lain. Maka kita mesti melindungi dia. Saya harus mengingatkan orang tua, mesti berbuat sedapat-dapatnya melindungi anak-anak dari tipe-tipe teman yang berakhlak buruk seperti ini.
GS : Dan keteladanan orang tua ini sangat dibutuhkan oleh para remaja atau para pemuda kita saat ini karena mereka ingin melihat contohnya dari orang tuanya langsung.
PG : Betul, sebab kalau hidup kita sendiri tidak karuan kemudian kita menyuruh anak kita hidup lebih tertib maka anak kita akan berkata, "Papa sendiri hidup seperti ini, mama sendiri hidupnya seperti ini maka janganlah menyuruh kami hidup tertib." Jadi semua memang harus kembali kepada bagaimanakah kita hidup.
GS : Apakah ada ayat-ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Amsal 22:3 berkata, "Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka." Remaja berada pada tahap di mana dia beranggapan bahwa dia tahu semua dan tidak membutuhkan pengawasan orang tua, menurut Firman Tuhan ibaratnya dia orang yang tak berpengalaman namun percaya diri terus berjalan. Firman Tuhan berkata, "Orang yang seperti ini akan kena celaka," maka sebagai orang tua kita harus terus memerhatikan kehidupannya agar dia tidak kena celaka.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Remaja dan Pergaulannya" Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu gejala merusak yang mulai melanda kawula muda dewasa ini adalah pengiriman gambar porno lewat on-line melalui alat komunikasi seperti komputer dan telepon genggam. Masalahnya adalah, bukan hanya gambar porno orang lain yang dikirimkan, tetapi juga gambar organ tubuh sendiri. Seperti dapat kita duga, pelaku utamanya adalah para remaja yang memang sedang berada dalam kondisi seksual yang prima. Dampak dari perilaku ini sangat buruk: Ada yang menyimpan gambar-gambar ini kemudian menyebarluaskannya di kalangan teman dan luar teman. Ada pula yang menjadikannya sebagai bahan untuk berfantasi seksual dan masturbasi. Dampak terberat adalah terjadinya hubungan seksual akibat tingginya tingkat rangsangan yang ditimbulkan yang tidak jarang menghasilkan kehamilan di luar nikah. Apakah yang harus dilakukan orang tua dalam menyikapi masalah yang tengah menggejala ini?
* Kita harus memantau anak-anak dari dekat. Dewasa ini ada orang tua yang berpuas diri mengatakan bahwa ia terus memantau keberadaan anaknya lewat . . . telepon genggam! Menghubungi anak dan menanyakan keberadaannya lewat telepon tidaklah sama dengan memantaunya secara langsung. Pada kenyataannya, anak yang tahu bahwa ia DIAWASI akan lebih takut untuk melakukan perbuatan terlarang dibanding dengan anak yang tahu bahwa ia TIDAK DIAWASI.
Memang kita mesti menambah kepercayaan pada anak dengan meningkatnya usia namun itu tidak berarti kita melepaskan pengawasan secara penuh. Kita harus tetap menanyakan ke mana ia pergi, jam berapa ia kembali, dengan siapa ia pergi, apa yang dilakukannya, dan kenapa ia terlambat pulang. Semua pertanyaan ini memerlihatkan bahwa kita mengawasinya. Kendati ia tidak suka, tetapi pengawasan ini perlu.
Mungkin kita berpikir tidak mungkin anak kita akan melakukan hal-hal seperti ini sebab pada dasarnya ia anak yang baik. Masalahnya adalah, kendati ia anak yang baik namun mungkin saja ia telah berkenalan dengan anak yang tidak begitu baik. Dan anak yang tidak begitu baik ini menyuruh dan memengaruhinya sedemikian rupa sehingga pada akhirnya, ia telah menjadi mangsa anak yang tidak baik itu.
* Kita harus menggunakan pelbagai barometer untuk mengenali gejala yang tidak sehat ini. Misalkan, kita mesti memerhatikan kehidupan rohani anak. Jika ia mulai enggan ke gereja atau berdoa, tanyakanlah apa yang tengah terjadi pada dirinya. Bila ia tidak lagi bergaul dengan teman-temannya, tanyakanlah apa yang terjadi. Sewaktu ia sering mengurung diri di kamar dan terlihat kaget ketika kita memasuki kamarnya, tanyakanlah kenapa dan mulai curigalah. Jika ia terus memegangi telepon genggamnya dan sangat takut kita melihat isinya, curigalah dan paksalah untuk melihat. Semua perubahan memunyai penyebab dan adalah tugas kita untuk memastikan bahwa penyebabnya bukanlah masalah yang serius.
* Berhati-hatilah dengan tipe teman yang pemangsa. Ada anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang buruk sehingga sejak kecil, ia telah dikondisikan untuk menjadi pemangsa anak lainnya. Misalnya ada anak yang tidak terawasi dengan baik oleh orang tuanya sehingga ia bebas melakukan apa saja, termasuk menonton film porno. Bila anak kita berkenalan dengannya, dengan pelbagai cara ia akan membuat anak kita tunduk kepadanya dan bersedia bersetubuh atau melakukan adegan seksual lainnya. Jadi, awasilah teman-teman anak. Bila ia tampak sangat ketakutan atau begitu tunduk pada seorang temannya, berhati-hatilah.
Firman Tuhan: "Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka." (Amsal 22:3) Remaja berada pada tahap di mana ia beranggapan bahwa ia tahu semua dan tidak membutuhkan pengawasan orang tua. Sebagai orang tua kita harus terus memerhatikan kehidupannya agar ia tidak kena celaka.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:51am.
Abstrak:
Salah satu masalah yang sering dihadapi anak-anak Tuhan dewasa ini adalah keterbatasan pilihan pasangan hidup. Pada umumnya mencari orang seiman dan sepadan tidaklah mudah. Kadang kita menemukan yang seiman namun tidak sepadan; atau, kadang menemukan yang sepadan tetapi tidak seiman. Apakah yang mesti dilakukan dalam kondisi seperti ini? Karena seringkali keterbatasan pasangan hidup membuat kita mengkompromikan hal-hal yang di luar Tuhan.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Berpacaran dengan Siapa ?". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Kalau kita memikirkan tentang para remaja dan pemuda yang mau berpacaran, untuk menentukan itu menjadi masalah yang cukup besar, Pak Paul, karena mereka tahu bahwa ini adalah pilihan sekali untuk seumur hidup. Ini merupakan suatu gejala yang umum atau pada tempat-tempat tertentu saja, Pak Paul ?
PG : Memang kita harus menerima fakta bahwa dewasa ini agak sedikit sulit bagi orang itu bertemu dengan orang yang seiman karena bukankah kita sekarang tahu kalau pergaulan itu sangat meluas, misalkan di tempat kuliah kita bertemu dengan banyak orang, kemudian sekarang lewat 'internet chatting', kita juga bisa bertemu dengan banyak orang atau melalui facebook dan sebagainya. Jadi dengan kata lain terjadi perubahan secara sosiologis, kelompok-kelompok dimana kita bertemu dengan teman-teman. Jadi makin banyak kesempatan kita bertemu dengan orang-orang di luar sehingga akhirnya kemungkinan-kemungkinan kita tidak memilih yang di dalam gereja itu juga besar. Maka bagi sebagian orang yang menghabiskan waktunya dalam konteks gerejawi, kadang-kadang mereka kesulitan untuk menemukan pasangan hidup. Dan adakalanya kita juga menemukan fakta bahwa di dalam gereja misalkan lebih banyak wanita daripada pria, sehingga akhirnya para wanita itu mengalami kesulitan karena adanya batas dan tidak banyak anak-anak muda pria yang masih bergereja.
GS : Jadi masalah ini lebih banyak menjadi persoalan bagi remaja putri atau pemudi, begitu Pak Paul?
PG : Saya kira ya. Jadi lebih banyak masalah ini ditemukan oleh para wanita yang lajang apalagi waktu usia mereka mulai meningkat dan akan lebih kesulitan lagi mendapatkan pasangan karena kebanyakan pria seumur mereka sudah menikah namun dia di gereja masih tetap lajang. Akhirnya ada godaan untuk mengkompromikan nilai-nilai dan akhirnya asal terima saja dan yang penting menyandang status nikah, ini yang nanti harus kita waspadai.
GS : Sebenarnya dalam hal apa Pak Paul, mereka harus punya pedoman atau suatu norma atau ukuran pasangan hidup seperti apa yang layak menjadi pasangannya ?
PG : Kita memang harus setia pada panduan atau pedoman yang benar dan yang Tuhan juga tetapkan, misalkan yang pertama adalah kita tidak boleh berkompomi dalam hal yang penting yakni mencari pasangan yang seiman dan jangan sampai kita itu mengkompromikan dengan berkata, "Saya sepadan, cocok, tapi tidak seiman. Mungkin hal seperti ini tidak apa-apa dan nanti kita bisa bersama-sama ke gereja." Tapi Firman Tuhan dengan jelas mengatakan di 1 Korintus 7:39, "Ia bebas kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang percaya." Dalam konteks percaya di sini adalah percaya kepada Tuhan kita Yesus Kristus, juga di 2 Korintus 6:14, Firman Tuhan menegaskan, "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya." Sudah tentu Rasul Paulus di sini merujuk pada orang yang tak percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka. Jadi meskipun kondisi mendesak, pilihan terbatas namun jangan kompromi dalam hal yang paling penting ini sebab ini adalah perintah Tuhan untuk anak-anak-Nya.
GS : Dalam hal ini sebenarnya gereja berpeluang atau memunyai panggilan untuk memertemukan para pemuda dan pemudinya. Jadi membuat suatu program yang bisa memertemukan mereka.
PG : Sayangnya kita harus akui, program seperti itu sangat langka. Jadi tidak terlalu banyak gereja yang memunyai program khusus untuk memertemukan para pria lajang dengan wanita lajang. Dan adakalanya gereja pun memunyai kesulitan untuk melakukan ini sebab kita tidak bisa memaksa-maksa orang untuk datang kalau orang itu tidak mau datang. Jadi intinya adalah seringkali ini menjadi masalah yang berat dalam gereja karena saya tahu bahwa bagi kebanyakan orang pernikahan menjadi sangat penting. Jadi mereka berusaha sedapat-dapatnya untuk menikah dan seringkali akhirnya mereka berkompromi dalam hal yang paling penting yaitu mereka akhirnya tidak menikah dengan yang seiman.
GS : Dengan alasan, beberapa orang yang mengatakan, "Nanti kalau kami sudah menikah, kami akan mengajak dia ke gereja dan sebagainya."
PG : Memang ada yang berkata seperti itu, namun kita mesti mengingat bahwa begitu kita memutuskan menikah dengan orang yang tidak seiman, sebetulnya kita telah mendukakan hati Tuhan yang memberikan perintah-perintah ini. Tuhan memberikan perintah untuk ditaati dan bukan hanya untuk dibaca. Waktu Tuhan memberikan perintah, Dia memikirkan kepentingan kita. Kita kadang berpikir bahwa Tuhan menyusahkan kita dengan perintah-perintah-Nya tapi sesungguhnya perintah Tuhan adalah untuk kebaikan kita. Bukankah akan jauh lebih indah jika kita hidup bersama seorang suami atau seorang istri yang seiman, yang sama-sama mengasihi Tuhan dan Juruselamat kita. Memang ada orang yang berkata bahwa, "Ini bukanlah hal yang besar, kami berbeda juga tidak mengapa," tapi seringkali saya harus berkata, "Yesus Tuhan adalah Bapa kita, Dia adalah Juruselamat yang telah mati untuk kita dan Dia telah mengadopsi kita sebagai anak-anak-Nya, jadi Dia adalah Bapa kita dan mana mungkin saya akan menikah dengan orang yang tidak mau mengakui Bapa saya, yang tidak mau bercakap-cakap dengan Bapa saya." Jadi masalahnya seperti itu, bagi saya penting sekali kita menikah dengan yang seiman yang dapat memanggil Bapa surgawi kita, yang mengakui bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita."
GS : Seringkali yang dipakai alasan adalah pasangan yang sama-sama Kristen seringkali menemui banyak masalah di dalam kehidupan rumah tangganya sedangkan mereka yang tidak seiman masih kelihatan lebih baik.
PG : Ini memang salah satu dalih atau rasionalisasi yang dikemukakan oleh orang untuk mengizinkan dirinya menikah dengan yang tidak seiman dan ini membawa kita kepada panduan yang berikutnya. Setelah kita tekankan jangan berkompromi dalam hal yang paling penting yakni menikahlah dengan yang seiman, kita juga harus mendengarkan panduan yang kedua yaitu kita tidak boleh berkompromi dengan hal yang paling penting lainnya yakni mencari pasangan yang sepadan. Artinya kalau kita bertemu dengan yang seiman namun tidak sepadan maka jangan teruskan dan jangan kita berkata, "Yang penting seiman karena kita berdua sudah sama-sama Kristen jadi tidak ada masalah meskipun banyak ketidakcocokan." Ingat bahwa pernikahan tidak dibangun di atas kesamaan iman saja, tapi juga di atas kecocokan atau kesepadanan. Jadi janganlah menggampangkan dengan berkata bahwa selama seiman maka segala macam masalah akan bisa diselesaikan. Secara teoritis hal itu betul, tapi kita ini bukanlah orang yang selalu super rohani. Jadi kalau kita memulai pernikahan dengan perbedaan-perbedaan, dengan ketidakcocokan yang begitu besar maka jurang ini akan memisahkan kita meskipun kita seiman. Jadi mesti kita camkan baik-baik walaupun kita dapat menyelesaikan satu dua hal, namun kalau kesepadanan begitu banyak, nanti akan menyulitkan kita dalam fase penyesuaian.
GS : Ketidaksepadanan itu juga dalam bidang kerohanian, jadi walaupun seiman tapi kalau di dalam pertumbuhan iman mereka itu tidak sepadan, maka itu akan menimbulkan masalah dalam rumah tangga mereka.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi misalkan ada orang yang berkata, "Hidup ini adalah untuk Tuhan, uang adalah uangnya Tuhan, yang penting kita mengelolanya dengan bertanggung-jawab," orang ini kadang-kadang akan tergerak untuk memberikan lebih dari apa yang biasanya dia beri, sebab dia merasakan bahwa Tuhan menggerakkan dia untuk memberikan persembahan ekstra kali ini. Pasangan yang tidak memiliki persamaan pertumbuhan rohani mungkin sekali akan marah dan berkata, "Kenapa kamu memberikan lebih, untuk apa? Itu tidak perlu." Bagaimanakah kita menjelaskan kepada dia bahwa pada saat itu entah mengapa itulah yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Tapi bagi orang yang tidak mengalami hal-hal seperti ini sulit untuk dia menerimanya. Pak Gunawan benar mengemukakan bahwa kita mesti menemukan yang sepadan juga dalam hal pertumbuhan rohaninya, dan yang sepadan dalam hal kepribadian. Jangan sampai kita menikah dengan orang yang kepribadiannya terlalu bertolak belakang dengan kita dan kita mesti ingat prinsip bahwa semakin berbeda maka semakin keras kerja atau usaha yang nanti harus kita keluarkan untuk menyesuaikan diri. Jadi dari awal pilihlan seseorang yang memang memunyai banyak kesamaan baik dalam hal nilai hidup, kebiasaan, dalam hal sifat-sifat. Makin sepadan maka makin memudahkan kita untuk menyesuaikan diri.
GS : Kesepadanan ini saya rasa juga penting dalam hal tujuan hidup. Jadi perlu ada kesamaan tujuan hidup kalau yang satu ke Utara dan yang lain ke Selatan, maka akan menimbulkan masalah dalam rumah tangga itu.
PG : Betul. Jadi misalkan tujuan hidupnya adalah kita hidup untuk Kristus artinya kita akan mendahulukan kepentingan Kristus dan bukan kepentingan kita. Tapi ada orang yang memunyai tujuan hidup hanyalah untuk mengumpulkan harta supaya nanti bisa diwariskan kepada anak-anak dan cucu kita sehingga tujuan mereka adalah membesarkan anak maka semua yang dihasilkan, sedapatnya disimpan untuk keperluan anak-anaknya. Atau ada orang yang memunyai tujuan hidup mengumpulkan harta atau melebarkan karier usahanya sebesar besarnya dan tidak sama sekali memikirkan kepentingan Tuhan. Sudah tentu jika itu yang terjadi yakni adanya perbedaan-perbeaan itu, tidak bisa tidak akan menimbulkan masalah.
GS : Dua syarat itu saja sudah membuat orang sulit untuk mendapatkan pasangan hidup, kemudian bagaimana dengan yang lainnya, Pak Paul ?
PG : Kalau dua syarat ini dipenuhi dan kita mendapatkan orang yang sepadan dan seiman, faktor lainnya dapat dikompromikan misalkan kriteria 'seberapa cantik dan tampannya pasangan kita.' Hal itu mungkin masih bisa kita kompromikan. Atau tingkat pendidikan, asal tidak terlalu jauh berbeda maka kita masih bisa kompromikan, misalkan lagi tentang suku, ada orang yang memunyai target menikah dengan orang yang sesuku dan kadang-kadang hal ini tidak dapat kita lakukan, dan kita masih bisa terima asalkan kita menyadari perbedaan latar belakang yang ditimbulkan oleh perbedaan suku itu. Kemudian kita juga masih bisa mengkompromikan kemapanan ekonomi, ada orang yang tadinya memiliki prinsip akan menikah dengan orang yang sudah mapan, mapan artinya sudah punya rumah dan sebagainya. Sudahlah kita terima bahwa dia memang belum punya rumah, tapi nanti masih bisa kontrak rumah, yang penting dia sudah memunyai pekerjaan. Atau hal lain seperti warna kulit dan penampilan fisik lainnya. Semua ini adalah faktor yang terbuka untuk dipertimbangkan ulang, namun tetap satu pertanyaan yang mesti diajukan adalah dapatkah saya tinggal bersamanya dan terus menghormati serta mencintainya seumur hidup. Pada akhirnya kita harus bertanya apakah kita dapat hidup bersamanya tanpa kriteria-kriteria yang kita dambakan itu. Jadi kalau kita berkata, "Kalau tingkat pendidikan tidak sama maka saya sulit untuk menghormatinya, kalau kemapanan ekonominya belum maka saya juga sulit menghormatinya," itu berarti jangan, sebab pertanyaan tadi harus kita jawab secara positif, "Ya, saya dapat tinggal bersamanya, saya dapat terus menghormatinya serta mencintainya seumur hidup meskipun hal-hal yang tadinya saya dambakan tidak ada." Jadi bila kita memutuskan untuk menikah dengannya walaupun salah satu faktor idaman tidak ada dalam dirinya, kita mesti menetapkan hati menerima dirinya apa adanya. Jadi saya meminta kepada para pendengar kita, sekali kita menerimanya maka kita tidak boleh lagi membangkitkan faktor-faktor yang tidak ada dalam dirinya itu. Ada orang yang tidak suka kalau pasangannya itu makin gemuk, waktu menikah dengan dia pun sebetulnya orangnya tidak terlalu kurus dan sekarang tambah gemuk dan tambah gemuk. Dia memang telah berusaha menjaga makan tapi bawaannya sejak lahir memang sudah gemuk, maka janganlah kita membangkit-bangkitkan dan jangan malah menambah luka di hati orang dengan terus mengkritik tentang kegemukannya. Ingat bahwa menerima berarti tidak menuntutnya.
GS : Kesulitannya ini muncul tatkala masih dalam pacaran apalagi seperti yang kita sudah bicarakan, orang cenderung memilih, "Tidak mengapa kalau ini kita kompromikan." Tapi sejak awalnya memang sudah diragukan apakah dia bisa hidup terus dengan orang yang seperti ini. Kalau pun mereka memutuskan untuk menikah apakah nanti tidak merupakan suatu benih yang nantinya menjadi sumber permasalahan ?
PG : Sudah pasti, Pak Gunawan. Jadi ini sebetulnya terjadi. Ada orang-orang yang menggampangkan, "Tidak mengapalah", tapi dalam hitungan beberapa tahun dan bukan hitungan puluhan tahun, sudah terjadi beberapa masalah dan akhirnya hendak bercerai. Karena mengharapkan menuntut pasangan menjadi seseorang yang bukanlah dia. Tapi persoalannya adalah dari awal dia sudah tahu namun tetap menerima dan setelah menikah menuntut pasangannya harus menjadi seperti itu. Ini benar-benar sesuatu yang tidak realistis, kalau kita sudah tahu kita tidak bisa menerimanya, maka jangan dilakukan dan kalau kita memang menerimanya maka kita harus diam dan jangan menuntut lagi.
GS : Di sini faktor keluarga juga penting dalam menentukan hal-hal yang bisa dikompromikan. Kadang-kadang pasangan itu sendiri kemungkinan besar bisa mengkompromikan itu tapi dari pihak keluarga itu keberatan, misalnya dalam hal suku, tingkat pendidikan, kemapanan ekonomi, di sini peran keluarga sangat kuat, Pak Paul ?
PG : Betul. Jadi kadang-kadang kita harus menimbang banyak faktor dan tidak ada jalan yang paling mudah yang bisa kita lalui. Kita harus berbicara dengan orang tua kita, menjelaskan, meyakinkan dan pada akhirnya kalau memang adanya keterbatasan pilihan dan ini adalah yang terbaik maka terimalah dan jangan persoalkan lagi.
GS : Selanjutnya apa, Pak Paul ?
PG : Panduan yang lain adalah boleh melihat, namun sebaiknya jangan mencari-cari pasangan hidup. Maksud saya seperti ini, silakan membuka mata dan diri untuk berkenalan namun jangan sampai kita pergi ke sana ke sini untuk mendapatkan jodoh, ini yang saya maksud dengan jangan mencari-cari pasangan hidup. Ada orang-orang yang sangat membutuhkan pasangan hidup sehingga ke sana ke sini tujuannya hanya satu, yakni mencari pasangan hidup. Jadi saya lebih menganjurkan, silakan bergabung dengan kelompok lajang agar dapat berkenalan namun jangan sampai kita terlalu menggebu-gebu dalam mencari pasangan hidup. Pada umumnya saya kira kita ini tidak suka dengan orang yang terlihat jelas tengah mencari-cari jodoh. Pada dasarnya kita tidak menyukainya oleh karena kita tidak ingin diperlakukan sebagai objek semata, objek untuk dinikahinya dan kita tidak mau diperlakukan seperti itu tapi kita ingin diperlakukan sebagai manusia yang utuh dan bernilai, kita menuntut orang untuk berkenalan dan menyukai kita atas dasar keberadaan diri kita bukan atas dasar kebutuhannya mencari pasangan hidup.
GS : Seringkali yang menjadi masalah adalah bagi pribadinya itu sendiri, tidak menjadi masalah dan dia tetap tenang menghadapi semua ini tapi lingkungan sekitar dia yang menjodoh-jodohkan dia, mendorong-dorong dia sehingga dia merasa terusik, Pak Paul.
PG : Kadang-kadang lingkungan yang terlalu bersemangat menolong kita, dan mungkin kita juga harus berhati-hati jangan sampai terlalu bersemangat sehingga membuat orang juga merasa tidak nyaman, namun kita sendiri kalau sedang menanti-nantikan pasangan hidup, jangan sampai kita ini terlalu agresif sebab pada umumnya baik laki-laki maupun perempuan yang terlalu agresif, biasanya membuat orang lain itu tidak suka dan bahkan menjauhkan diri dari mereka.
GS : Zaman sekarang, kalau kita ingin menghubungi seseorang itu mudah sekali seperti yang Pak Paul tadi katakan yaitu lewat 'online' dan macam-macam sarana yang tersedia. Menurut pandangan Pak Paul ini bagaimana ?
PG : Sekarang ini ada banyak layanan-layanan 'online' untuk mendapatkan jodoh, berkenalan lewat 'online', dan ada juga yang lewat 'Facebook' dan 'Chatting' dikenalkan lewat teman dan sebagainya. Maka berhati-hatilah sebab kita bisa menaruh apa saja di layar dan kita bisa mengetikkan siapa kita, dari mana, gelar kita apa, saya berpendidikan apa, kita bisa menaruh itu di layar Facebook, 'Chatting lewat Online', tapi kita tidak tahu siapa yang akan mengecek. Bagi saya ini adalah membuka kesempatan untuk orang-orang yang tidak bertanggung-jawab dan orang-orang yang jahat untuk bisa memangsa kita-kita ini yang tulus mencari pasangan hidup. Jadi saya mau mengingatkan bahwa mencari pasangan hidup tidaklah sama dengan dengan mencari buku lewat Online. Bahkan dalam membeli buku pun kalau kita membelinya Online, salah satu kerugian terbesarnya adalah kita tidak tahu isinya dan sebaliknya bila kita membeli buku di toko buku, maka kita akan dapat membaca dan mengetahui isinya, demikianlah dengan mencari pasangan hidup, perkenalan lewat Online menurut saya tidak sama dengan perkenalan lewat interaksi langsung. Perkenalan yang langsung dan melewati rentang waktu yang panjang pun tetap menuntut penyesuaian. Apalagi bila kita berkenalan lewat Online. Jadi ini kesimpulannya, untuk urusan sepenting pernikahan lakukanlah dengan cara yang tradisional namun terbukti ampuh yakni perkenalan langsung, kalau memungkinkan kenalilah juga keluarganya, kenali juga komunitasnya, lingkungannya dan ini akan menolong kita mengenal siapa pasangan kita, jangan tergopoh-gopoh mengiyakan lewat Online. Saya tahu memang ada yang berhasil tapi saya tahu juga ada yang kurang berhasil, karena bisa saja terjadi kebohongan.
GS : Tapi kalau itu dipakai sebagai langkah awal saya rasa masih dimungkinkan, Pak Paul, jadi hanya tahap perkenalan kemudian mereka saling bertemu, saling pendekatan dan sebagainya, apakah itu masih dimungkinkan, Pak Paul?
PG : Betul. Jadi kalau dalam masa perkenalan yang normal, itu masih tidak mengapa jadi Online itu adalah tahap pertama berkenalan dengan seseorang, tapi setelah itu gunakan cara-cara yang tradisional namun yang terbukti ampuh yakni berkenalanlah dengan langsung.
GS : Sebagai kesimpulan dari pembicaraan ini, Pak Paul, apakah yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Kita harus mengingat bahwa hidup tidak hanya terdiri dari pernikahan dan kita pun tidak hidup hanya untuk menikah. Dan ini penting, Firman Tuhan mengingatkan di 2 Korintus 5:15, "Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." Kita hidup untuk Kristus sebagaimana Firman Tuhan katakan, oleh karena itu terpenting adalah melakukan pekerjaan-Nya selama kita hidup. Adakalanya kita terkecoh dan kita menyangka bahwa tujuan hidup adalah untuk menikah, itu salah! Kita hidup bukanlah untuk menikah melainkan untuk Kristus, kita hidup bukan untuk menyenangkan hati sendiri tapi hati Kristus. Setelah kita menyenangkan hati Kristus, biarlah kita menyerahkan hidup kepada-Nya termasuk hal perjodohan ini.
GS : Ada semacam pendapat yang kurang tepat yang menganggap menikah itu adalah perintah dari Tuhan seperti kita mengasihi sesama, kalau kita mengasihi sesama, perintah itu jelas. Dan bagaimana dengan menikah, Pak Paul ?
PG : Saya senang Pak Gunawan mengangkat hal itu sebab itu adalah sebuah kekeliruan bahwa Tuhan tidak pernah memerintahkan kita untuk menikah. Coba cari di sepuluh Hukum Tuhan, apakah ada perintah untuk menikah? Tidak ada. Perintah yang Tuhan intisarikan dari semua perintah-perintah Tuhan di dalam Matius 22:37-39, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Tidak ada sebutan tentang harus menikah, tapi perintah untuk hidup kudus, perintah untuk menyenangkan hati Tuhan, perintah untuk hidup bagi Kristus, semua ada namun kalau untuk menikah tidak ada. Dan hati-hati dengan kesalahpahaman yang kedua yaitu orang yang berkata, "Kalau tidak menikah berarti tidak normal, ada yang keliru, ada yang tidak benar dengan dirinya," itu salah! Ini adalah sebuah panggilan yang Tuhan berikan kepada sebagian anak-anak-Nya dan kita harus terima itu, tidak ada yang keliru dan tidak ada yang salah, tidak ada yang tidak normal dengan diri kita kalau kita memutuskan untuk tidak menikah.
GS : Hanya lingkungan sosial saja yang menganggap bahwa kalau tidak menikah itu menjadi tidak normal karena sebagian besar orang menikah.
PG : Betul sekali. Jadi konsep inilah yang mesti kita waspadai sehingga kita tidak termakan olehnya. Sekali lagi kita harus selalu menguji apakah hal-hal ini seturut dengan Firman Tuhan atau tidak, kalau tidak seturut maka jangan kita menerimanya.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Berpacaran dengan Siapa ?" Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu masalah yang sering dihadapi anak-anak Tuhan dewasa ini adalah keterbatasan pilihan pasangan hidup. Pada umumnya mencari orang seiman dan sepadan tidaklah mudah. Kadang kita menemukan yang seiman namun tidak sepadan; atau kadang menemukan yang sepadan tetapi tidak seiman. Apakah yang mesti dilakukan dalam kondisi seperti ini? Berikut akan dipaparkan beberapa masukan sebagai panduan menghadapi masalah ini.
Kita tidak boleh berkompromi dalam hal yang paling penting yakni mencari yang pasangan seiman. Kita mungkin sepadan alias cocok namun bila tidak seiman, pernikahan kita tidaklah berkenan di hadapan Tuhan. Firman Tuhan di 1 Korintus 7:39 dengan jelas mengatakan, ". . . ia bebas menikah dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya." Juga 2 Korintus 6:14 menegaskan, "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya."
Kita tidak boleh berkompromi dalam hal yang paling penting lainnya yakni mencari pasangan yang sepadan. Ingat, pernikahan tidak dibangun di atas kesamaan iman saja tetapi juga di atas kecocokan atau kesepadanan. Janganlah menggampangkan dengan berkata bahwa selama seiman, maka segala masalah akan dapat diselesaikan. Mungkin saja akan dapat diselesaikan namun ketidaksepadanan tetap akan menyulitkan penyesuaian.
Bila dua prasyarat ini terpenuhi, faktor lainnya dapat dikompromikan. Misalkan, kriteria seberapa cantik dan tampan, tingkat pendidikan, suku, kemapanan ekonomi, warna kulit dan penampilan fisik lainnya, semua ini adalah faktor yang terbuka untuk dipertimbangkan ulang. Meskipun semua ini dapat dipertimbangkan ulang, tetap satu pertanyaan yang mesti diajukan kepada diri sendiri adalah, "Dapatkah saya tinggal bersamanya dan terus menghormati serta mencintainya seumur hidup?" Dengan kata lain, sekali kita menerimanya, kita tidak boleh lagi membangkit-bangkitkan faktor yang tidak ada pada dirinya itu. Ingat, menerima berarti tidak menuntutnya lagi.
Boleh melihat namun sebaiknya jangan mencari-cari pasangan hidup. Silakan bergabung dengan kelompok lajang agar dapat berkenalan namun janganlah sampai kita terlalu bergebu-gebu dalam mencari pasangan hidup. Pada umumnya kita tidak suka dengan orang yang terlihat jelas tengah mencari-cari jodoh. Kita ingin diperlakukan sebagai manusia yang utuh dan bernilai; kita menuntut orang untuk berkenalan dan menyukai kita atas dasar keberadaan diri kita, bukan atas dasar kebutuhannya mencari pasangan hidup.
Sebaiknya jangan mencari-cari pasangan lewat on-line. Dewasa ini ada biro jasa perjodohan yang mencoba memasangkan orang secara on-line. Masalahnya adalah mencari pasangan hidup tidaklah sama dengan mencari buku lewat on-line. Bahkan dalam membeli buku pun, kalau kita membelinya on-line, salah satu kerugian terbesarnya adalah kita tidak tahu isinya. Demikian pulalah dengan mencari pasangan hidup. Perkenalan lewat on-line tidaklah sama dengan perkenalan lewat interaksi langsung. Untuk urusan sepenting pernikahan, lakukanlah dengan cara yang tradisional namun terbukti ampuh yakni perkenalan langsung.
Kita mesti mengingat bahwa hidup tidak hanya terdiri dari pernikahan dan kita pun tidak hidup hanya untuk menikah. Firman Tuhan mengingatkan, "Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." (2 Korintus 5:15) Kita hidup untuk Kristus; oleh karena itu yang terpenting adalah melakukan pekerjaan-Nya selama kita hidup. Setelah kita menyenangkan hati Kristus, biarlah kita menyerahkan hidup kepada-Nya, termasuk hal perjodohan ini.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:29am.
Abstrak:
Pada umumnya kita beranggapan bahwa adalah baik bila seorang pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya. Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk mendukung pandangan ini. Namun bagaimana jika ada seorang pria yang menikah dengan wanita yang lebih tua? Perbedaan usia berdampak pada cara berpikir, menyikapi hidup dll. Sebaiknya kita menikah dengan orang yang usianya tidak terlalu jauh berbeda. Pria maksimal 10 tahun lebih tua dari wanita dan wanita jangan sampai 5 tahun lebih tua dari pasangannya.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Dampak Usia". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, perbincangan ini menyangkut kehidupan rumah tangga, faktor usia itu bisa memberi dampak pada pasangan suami istri. Sejauh mana faktor usia itu memengaruhi hubungan suami istri, Pak Paul ?
PG : Memang ini topik yang cukup hangat Pak Gunawan, jadi ada bermacam-macam pandangan orang tentang dampak usia pada pernikahan, ada yang sangat mementingkan masalah perbedaan usia, malah ada yang sampai takhayul menentukan jarak usia berapa yang ideal, berapa yang sangat tidak ideal dan sebagainya. Sudah tentu kita mau membahas hal ini terutama untuk mereka yang belum menikah, kalau sudah menikah mungkin sudah lewat waktunya dan harus menerima. Tapi bagi mereka yang masih belum menikah dan masih menimbang-nimbang, kita berharap bahwa yang kita bicarakan ini bisa menjadi salah satu bahan pertimbangan mereka dalam memilih pasangan hidup.
GS : Faktor-faktor apa yang memengaruhi di dalam dampak usia ini untuk pernikahan ?
PG : Banyak orang yang berkata bahwa seyogianyalah seorang pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya. Coba kita lihat konsep ini secara lebih teliti. Saya kira salah satu alasan mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah dikarenakan pada umumnya wanita lebih matang atau lebih dewasa daripada pria. Coba kita teliti konsep ini. Saya kira sebetulnya belum tentu wanita lebih dewasa daripada pria yang seusia dengannya, namun satu hal yang hampir pasti adalah pada umumnya wanita lebih siap untuk hidup berumah tangga, dalam pengertian lebih siap untuk memenuhi tuntutan berumah tangga. Yang saya maksud dengan tuntutan sudah tentu adalah hal-hal tertentu yang harus dimiliki oleh seseorang agar dapat membangun rumah tangga.
GS : Hal-hal apa itu, Pak Paul ?
PG : Yang pertama adalah yang kita kenal dengan kata keterikatan. Saya kira lebih banyak pria yang memunyai masalah dengan keterikatan dibanding wanita. Karena banyak pria yang setelah menikah masih terus menginginkan kehidupan lajang, masih senang bepergian dengan teman-temannya, masih terus ingin menjalin relasi dengan teman perempuannya. Sudah tentu dalam batas-batas yang wajar semua ini dapat dilakukan, tapi tidak dapat disangkal cukup banyak pria yang menginginkan kebebasan tanpa batas. Sebaliknya wanita memang jauh lebih siap untuk meninggalkan peran dan gaya hidup lajang demi suaminya. Singkat kata, jika seorang wanita menikah dengan pria yang seusia dengannya, dia mungkin takut bahwa suaminya ini masih tetap ingin hidup lajang, susah terikat, masih mau menjalin relasi dengan banyak orang di luar rumah. Tapi jika ia menikah dengan pria yang lebih tua dari dirinya, dia berharap si suami akan lebih siap untuk terikat.
GS : Apakah karena dulu terpengaruh ketika masih di rumahnya sendiri, bersama orang tuanya sendiri, Pak Paul ?
PG : Saya kira pengaruh-pengaruh itu sudah pasti ada, bahwa apa pun yang telah kita terima dari lingkungan, dari keluarga kita akan memengaruhi kita, tapi secara alamiah pria itu lebih susah untuk terikat. Kecenderungannya pria adalah untuk bebas. Untuk dia mengikatkan diri pada istri, pada rumah tangganya lebih perlu perjuangan.
GS : Sebaliknya juga dengan kemajuan pendidikan sekarang ini, wanita pun memunyai kebebasan yang lebih besar daripada beberapa puluh tahun yang lalu.
PG : Betul, lebih banyak kesempatan yang terbuka bagi wanita, tapi tetap saya kira secara alamiah wanita itu lebih siap untuk melepaskan lingkup sosialnya, membatasinya dan memberikan lebih banyak waktunya untuk anak dan suaminya.
GS : Ada pasangan yang saling berjanji untuk tidak saling mengikat, jadi bila pihak yang pria mau berteman maka dipersilakan, saya juga tolong beri kebebasan pada saya untuk tetap berteman dengan teman-teman saya terdahulu.
PG : Tadi sudah saya singgung, sudah tentu berteman tidak salah Pak Gunawan, namun setelah kita menikah berapa dalam kita berteman dan berapa banyak waktu kita berikan kepada teman sudah tentu itu semuanya harus dikaji ulang dan harus diturunkan kadarnya, karena tidak bisa tidak kekhususan itu harus diberikan kepada pasangan kita. Dalam hal mengkhususkan pasangan inilah saya kira pria lebih banyak memunyai masalah, itu sebabnya ada orang berkata maka janganlah menikah dengan pria yang lebih muda atau yang seusia karena nanti masalah ini akan lebih banyak.
GS : Dengan wanita berkarier di luar rumah, sebenarnya ada kebebasan yang lebih besar daripada kalau wanita itu setelah menikah tinggal di rumah.
PG : Betul, Pak Gunawan. Jadi kalau wanita itu sebelum menikah berkarier di luar rumah sudah tentu dia lebih mudah untuk memertahankan gaya hidupnya itu, namun dalam hal ini perempuan cenderung lebih mampu untuk mementingkan keluarganya. Saya kira inilah faktor yang berikut yang acapkali diasosiasikan dengan kedewasaan atau kematangan. Dalam usia muda kebanyakan pria akan mementingkan pengembangan kariernya, dia ingin memajukan usahanya, dia ingin menanjak dalam kariernya. Sudah tentu hal ini berdampak positif pada keluarganya juga. Karier yang menanjak pada umumnya diikuti dengan peningkatan penghasilan yang pada akhirnya akan menambah kesejahteraan keluarga. Tapi selain dari itu pengembangan karier pria sebenarnya sangat terkait dengan pemantapan identitas dan penilaian dirinya. Jadi bagi pria makin berkibar kariernya, makin kokoh jati dirinya, itu sebabnya kebanyakan pria pada fase awal pernikahan tersedot pada kegiatan di luar rumah. Karena dia tersedot di luar rumah, kecenderungannya dalam pengambilan keputusan dia lebih menitikberatkan pada karier atau pada yang di luarnya dan kurang mementingkan keluarganya. Ini adalah perbedaan besar antara pria dan wanita. Wanita akan jauh lebih siap memertimbangkan dan mengutamakan kepentingan keluarganya. Inilah yang seringkali diidentikkan dengan kematangan, Pak Gunawan. Jadi akhirnya orang berkata, wanita itu lebih matang daripada pria. Saya kira lebih matang dengan pengertian dua hal itu. Harus kita akui wanita lebih siap memenuhi tuntutan berumah tangga.
GS : Tapi dalam hal seperti itu, katakan si pria lebih tua atau lebih muda dari si wanitanya, tetap ia dalam usia-usia dini ini ia akan tetap banyak ke luar rumah karena mengejar karier itu, Pak Paul.
PG : Tepat sekali, Pak Gunawan. Jadi sebetulnya dalam hal ini kalau ia menikah dengan orang yang hanya berbeda usia beberapa tahun akan kebanyakan sama sebab pria baru menoleh ke dalam, lebih memerhatikan ke dalam secara alamiah di usia paro baya dan mungkin lewat dari paro baya barulah ia mementingkan hal-hal yang di dalam rumahnya. Di awal-awal itu mungkin 25 tahun pertama dia akan lebih fokus pada yang di luar rumah. Harus kita akui dalam berumah tangga tuntutan-tuntutan itu lebih dapat dipenuhi wanita daripada pria.
GS : Berarti kalau ada wanita yang lebih tua menikah dengan pasangannya yang lebih muda berarti dia harus siap untuk sering-sering ditinggalkan oleh pasangannya, Pak Paul ?
PG : Seringkali itu yang terjadi, Pak Gunawan. Jadi dengan kata lain pria itu lebih didorong untuk memajukan kariernya, ini hal yang sering kita lihat di sekeliling kita, orang-orang yang menikah kemudian istri-istri mengeluh suaminya jarang di rumah dan kurang memberi perhatian kepada dirinya, yang akhirnya nantinya menimbulkan keretakan dalam keluarga.
GS : Apakah mungkin ada alasan yang lain mengapa lebih baik prianya lebih tua dari pada istrinya.
PG : Memang saya mau mengangkat hal ini sudah tentu bukan dengan suatu perintah bahwa sebaiknyalah pria itu lebih tua daripada wanita, tapi saya mau mengangkat hal ini sebab inilah konsep yang berlaku di masyarakat. Dan kita mau mengajak pendengar kita untuk menelitinya. Ada orang yang berkata, pria seharusnya menikah dengan yang lebih muda, kenapa? Secara fisik wanita lebih cepat memerlihatkan penuaan. Pada kenyataannya kita semua baik pria dan wanita mengalami proses penuaan. Kulit akan menampakkan bercak dan mulai mengkerut, otot mulai mengendur mengakibatkan munculnya kantong-kantong kulit, baik di wajah, leher atau bagian tubuh lainnya. Rambut mulai menipis dan memutih dan gigi pun mulai tanggal. Saya kira semua orang mengalami proses penuaan ini, namun ada dua alasan mengapa kita cenderung melihat penuaan pada wanita dibanding pria. Yang pertama adalah karena kecantikan fisik lebih merupakan jati diri wanita ketimbang pria. Itu sebabnya perubahan penampilan pada wanita akibat penuaan akan lebih mudah ditangkap mata. Kita melihat wanita itu cantik dan berpenampilan menarik, dan karena yang disoroti adalah kecantikan secara fisik waktu mengalami penuaan maka perubahan itu pun jadi lebih nyata, karena itulah yang umumnya menjadi sorotan. Tapi sebaliknya kematangan berpikir dan kemapanan ekonomi lebih merupakan identitas pria, sehingga sampai batas tertentu justru proses penuaan bagi pria lebih merupakan nilai tambah karena dengan bertambahnya usia maka dia bertambah matang, dianggap lebih menarik.
GS : Dalam hal merawat tubuh, bukankah wanita lebih teliti sehingga walaupun usianya lebih tua ia bisa tampak lebih muda dari usia aslinya, sedangkan pria kurang memerhatikan perawatan tubuhnya sehingga walaupun usianya masih muda seringkali cenderung kelihatan tua, Pak Paul.
PG : Ini point yang bagus. Jadi tidak serta merta karena wanita selalu dianggap lebih cepat tua. Ada banyak wanita yang dapat menjaga tubuh dengan baik sehingga dia tetap bisa memertahankan kemudaannya dan kecantikannya. Sebaliknya ada pria yang tidak menggubris kesehatannya, tidak menjaga tubuhnya dengan baik sehingga akhirnya lebih cepat mengalami proses penuaan pula. Namun karena bagi pria penuaan atau usia tua itu dikaitkan dengan kematangan dan kematangan menjadi nilai tambah pria, tetap orang pada umumnya tidak begitu memerhatikan. Tapi begitu melihat kerat-kerut pada wajah wanita, melihat kantung-kantung kulit di bawah mata pada diri wanita, orang cepat mengaitkannya "Dia sudah tua". Sebetulnya kantong kulit pada mata, itu ada pada pria dan wanita, bercak-bercak pada kulit juda ada pada wanita dan pria, namun sekali lagi karena kita tidak terlalu memerhatikannya pada pria tapi lebih memerhatikannya pada wanita. Jadi saya kira itulah yang membuat seolah-olah wanita lebih cepat menua.
GS : Apa yang Pak Paul maksudkan bahwa penuaan bagi pria itu merupakan nilai tambah ?
PG : Karena orang cenderung melihat dengan bertambahnya usia bertambah matangnya dia, bertambah berhikmatnya dia, bertambah pengalamannya dia dan itulah yang menjadi daya tarik pria, dia dianggap matang, bisa mengayomi orang dan wanita merasa aman di dekatnya.
GS : Secara fisik, hal lain apa lagi yang perlu diperhatikan, Pak Paul ?
PG : Memang tadi sudah saya singgung mengapa orang berpandangan wanita lebih cepat menunjukkan ciri penuaan. Saya kira faktor kedua mengapa kita melihatnya seperti itu adalah karena wanita harus mengandung dan melahirkan anak. Perubahan drastik secara fisik terjadi pada wanita tatkala mengandung, melahirkan dan mengurus anak. Pada umumnya terjadi penambahan berat badan yang relatif harus dipertahankan sampai sekurangnya setahun setelah melahirkan, oleh karena kebutuhan gizi anak yang disusuinya dan kita juga harus mengerti betapa sulitnya menguruskan badan pada saat aktifitas mulai menurun, tidak seperti diwaktu kita remaja. Jadi sebagai akibatnya banyak wanita yang harus bergumul dengan masalah berat badan dan sudah tentu semua ini berdampak pada penampilannya pula yang nantinya diasosiasikan dengan penuaan. Memang terjadi banyak perubahan pada tubuhnya itu.
GS : Apakah karena alasan itu banyak wanita menunda melahirkan anak atau bahkan sama sekali tidak mau melahirkan anak, Pak Paul ?
PG : Memang ada wanita yang sudah berkata dari awal, "Saya tidak mau melahirkan anak". Jadi kalau mau punya anak, kita akan mengadopsi anak saja, misalkan seperti itu. Karena ada sebagian dari mereka yang begitu mementingkan keindahan tubuhnya dan ini kita lihat pada beberapa bintang film di luar negeri. Di Amerika Serikat misalnya, yang sudah berumur 30-an lebih pun memilih untuk tidak memunyai anak. Karena mereka mementingkan tubuhnya itu. Mereka tahu ketika nanti mereka melahirkan anak, mengurus anak, tubuhnya akan mengalami perubahan drastik dan mengembalikannya seperti semula hampir mustahil.
GS : Dan itu juga menjadi ancaman hubungan dia dengan suaminya, Pak Paul ?
PG : Dia takut kalau nanti tubuhnya tidak lagi menarik, nanti suaminya pun tidak akan tertarik kepadanya dan nantinya akan timbul masalah. Jadi sekali lagi ini menjadi hal yang ditakuti oleh sebagian wanita.
GS : Apakah ada hal lain yang berkaitan dengan fisik ini, Pak Paul ?
PG : Yang lainnya, kita harus mengakui bahwa wanita itu lebih mudah untuk terlihat ciri-ciri tuanya karena adanya mati haid. Wanita mengalami mati haid, artinya apa? Hormon progesteronnya dan estrogennya mengalami penyusutan. Mengalami penurunan dan akhirnya lenyapnya hormon ini pada tubuh wanita seringkali diikuti dengan perubahan kondisi fisik pula. Singkat kata, satu hal yang mesti diakui adalah agar wanita tetap dapat memertahankan kondisi fisiknya diperlukan perjuangan yang jauh lebih berat dibanding pria.
GS : Tapi sekarang sudah ada kemampuan dari ilmu kedokteran untuk menambahkan hormon supaya menopause itu mundur, begitu Pak Paul.
PG : Memang ini kadang-kadang menjadi perdebatan medis, Pak Gunawan. Sudah tentu ada yang mengatakan "Tidak apa-apa asal terjaga atau terpantau, kita pertahankan hormon progesteron dan estrogennya", tapi juga ada yang mengatakan, "Jangan sebab ada resikonya" sebab kalau tetap ada, misalkan resiko terkena kanker, seperti kanker payudara akan bertambah. Memang selalu ada perdebatan-perdebatan, namun tetap ada wanita yang tetap ingin menambahkan hormon-hormon ini karena ia tidak mau melihat tubuhnya mengalami perubahan-perubahan yang terlalu drastik. Ia ingin tetap melihat tubuhnya relatif sama dan kalau pun harus mengalami penurunan itu terjadi lebih mulus dan bertahap.
GS : Menjadi masalah besar ketika si wanita sudah tidak memunyai gairah seksual lagi sementara yang pria sedang pada puncaknya, begitu Pak Paul.
PG : Ini salah satu penyebab mengapa orang-orang berkata, "Lebih baik kalau pria menikah, menikahlah dengan wanita yang lebih muda". Salah satunya memang karena itu, Pak Gunawan. Kalau seumur atau wanitanya lebih muda, nanti wanitanya waktu mengalami penurunan gairah seksual, bukankah ini menimbulkan masalah. Tapi kalau prianya lebih tua, berarti pada saat itu pun si pria lebih tua sehingga gairah seksualnya tidak lagi sebesar sewaktu dia lebih muda.
GS : Apakah ada alasan yang lain mengapa pria seyogianya lebih tua daripada wanita ?
PG : Yang berikut adalah wanita itu sendiri membutuhkan figur pengayom seperti seorang bapak kepada anak. Tidak usah disuruh pun memang wanita lebih mudah tertarik dengan pria yang mencerminkan figur pengayom itu dan biasanya ini adalah pria yang lebih tua darinya. Secara naluriah wanita tidak terlalu mudah tertarik dengan pria yang tidak dewasa, jadi sangatlah lazim bagi wanita untuk akhirnya terpikat dengan pria yang lebih tua. Jadi dalam hal ini perempuan tidak usah disuruh pun ada kecenderungan memilih laki-laki yang lebih tua darinya.
GS : Tapi ada laki-laki walaupun usianya lebih muda tetapi ia dapat mengayomi, bisa memberikan rasa aman kepada wanita yang lebih tua dari dia, Pak Paul.
PG : Betul sekali, maka pada akhirnya kita harus juga akui bahwa dampak usia tidaklah sebesar dampak psikologis atau dampak emosional itu sendiri, karena yang penting adalah dampak psikologis dan emosional itu, bukanlah usia itu sendiri. Tapi kita tidak bisa menyangkal bahwa usia sedikit banyak memberi pengaruh pada kematangan psikologis dan kemampuan untuk berbagi emosi. Kalau orang berkata sebaiknyalah menikah dengan pria yang lebih tua darimu, itu memang ada benarnya. Namun sekaligus juga saya ingin menekankan bahwa tetap yang penting adalah isinya, jangan hanya kulitnya saja asal lebih tua, tapi yang penting isinya.
GS : Ada pria-pria tertentu yang mengidolakan figur ibunya dalam pernikahan, sehingga ia selalu mencari pasangan yang jauh lebih tua daripada dia, Pak Paul.
PG : Ada yang begitu, Pak Gunawan, kalau memang kebutuhan-kebutuhan kita itu terlalu besar, seringkali itu sedikit banyak membuat kita sedikit kurang objektif dalam memilih pasangan. Sudah tentu tidak apa-apa memilih pasangan hidup yang seperti mamanya, dapat mengibukan dia, masalahnya adalah kalau ia orang yang tidak bertanggungjawab karena yang tidak bertanggungjawab memang senang sekali mendapatkan wanita yang lebih tua yang dapat mengayominya. Kalau tidak hati-hati wanita merasa, "Memang inilah yang dibutuhkannya, dia perlu seorang mama dan saya bisa menjadi mama yang dibutuhkannya, tidak menjadi masalah dengan dia". Masalahnya si wanita nantinya akan memelihara dan menyuburkan rasa kurang bertanggungjawab pada si suaminya ini karena semua diurus, ditanggung oleh si istri, sehingga si suami makin hari makin tidak bertanggungjawab.
GS : Menurut pengamatan Pak Paul sendiri, idealnya berapa tahun perbedaan antara pria dan wanita ini, Pak Paul ?
PG : Pada dasarnya yang penting jangan terlalu jauh, Pak Gunawan. Saya tidak anti dengan wanita yang menikah dengan pria yang lebih muda darinya, asalkan jangan terlalu jauh. Bahkan jika memilih pria yang lebih tua pun jangan terlalu jauh, jadi misalkan ada orang menikah bedanya 15 tahun atau 20 tahun, si prianya lebih tua. Tetap itu akan menjadi masalah, karena terjadilah perbedaan-perbedaan cara berpikir, menyikapi hidup dan lain sebagainya yang nantinya menuntut penyesuaian. Sebaiknya kita menikah dengan yang umurnya tidak terlalu jauh berbeda dengan kita, misalkan berbeda antara beberapa tahun sampai maksimal 10 tahun kalau wanitanya lebih muda. Kalau wanitanya harus lebih tua, harapan saya juga tidak terlalu jauh berbeda, jangan sampai misalnya lebih dari 5 tahun, karena nanti perbedaan itu akan menimbulkan masalah.
GS : Apa ada kesimpulan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Hal ini Pak Gunawan, bahwa semua hal ini yang tadi telah kita bicarakan, perlu menjadi bahan pertimbangan bagi kita dalam memilih pasangan hidup. Sudah tentu yang tadi kita bicarakan tidak mesti terjadi dalam setiap kasus, namun setidaknya semua hal yang telah kita bicarakan ini lebih sering terjadi. Satu hal yang patut dicamkan, janganlah memilih pasangan hidup yang jauh berbeda usia dari kita. Perbedaan usia yang terlalu jauh akan menciptakan dua dunia yang berbeda dan menyatukannya akan jauh lebih susah.
GS : Tapi perbedaan ini bukan hanya menyangkut usia, Pak Paul, juga bisa menyangkut misalnya pendidikannya, kalau beda terlalu jauh juga akan sulit bagi mereka untuk menyatu dengan baik, Pak Paul ?
PG : Tepat sekali, Pak Gunawan. Jadi salah satu prinsip yang bisa kita gunakan dalam memilih pasangan hidup adalah carilah yang lebih banyak kesamaannya dengan kita. Justru ada orang yang mengatakan, "Tidak apa-apa carilah orang yang paling berbeda dari kita sehingga bisa saling melengkapi", tapi pada kenyataannya yang menyatukan kita adalah kesamaan bukan perbedaan, jadi makin sama makin lebih mudah nanti menyatukannya.
GS : Apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Amsal 4:18 firman Tuhan berkata, "Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari". Hidup benar atau jalan orang yang hidupnya benar adalah hidup takut akan Tuhan dan hidup berhikmat jadi ada dua. Saya kira memilih pasangan hidup memerlukan keduanya. Dalam memilih pasangan hidup kita mesti takut akan Tuhan, sehingga tidak mau memilih yang tidak berkenan kepada Tuhan dan yang kedua kita mesti hidup berhikmat. Inilah jalan hidup orang yang benar. Apa itu hidup berhikmat dalam hal ini? Memilih pasangan lewat pertimbangan yang matang, jangan sembrono dan jangan langsung mengiyakan. Benar-benar lihat kecocokan dan ketidakcocokan, barulah nanti kita berkata "Ya".
GS : Dan untuk mendapat pertimbangan, kita bisa mendapatkan dari orang-orang di sekeliling kita yang memunyai kemampuan untuk memberikan masukan itu, Pak Paul.
PG : Tepat sekali, Pak Gunawan.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Dampak Usia". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Pada umumnya kita beranggapan bahwa adalah baik bila seorang pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya. Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk mendukung pandangan ini. Berikut akan dibahas dampak perbedaan usia pada pernikahan agar dalam memilih pasangan faktor ini pun dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan.
Mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah dikarenakan pada umumnya wanita lebih matang atau dewasa daripada pria. Sebetulnya belum tentu wanita lebih dewasa daripada pria yang seusia dengannya. Namun satu hal yang hampir pasti adalah bahwa pada umumnya wanita lebih siap untuk hidup berumah tangga, dalam pengertian lebih siap untuk memenuhi tuntutan berumah tangga. Setidaknya ada dua tuntutan berumah tangga yang lebih sering menjadi problem bagi pria dibanding wanita:
Keterikatan. Jika seorang wanita menikah dengan pria yang seusia dengannya, ada kemungkinan bahwa suaminya masih tetap ingin menjalin relasi dengan orang di luar rumah sedangkan bila ia menikah dengan pria yang lebih tua daripadanya, besar kemungkinan si suami akan lebih siap untuk terikat. Kendati semua kemungkinan ini benar namun pada faktanya tidak selalu seperti itu. Pernikahan menuntut keterikatan dan pembatasan sebab di dalam keterikatan barulah akan bertunas benih keintiman dan kepercayaan.
Mementingkan keluarga. Dalam usia muda kebanyakan pria akan mementingkan pengembangan kariernya. Itu sebabnya kebanyakan pria pada fase awal pernikahan tersedot pada kegiatan di luar rumah. Tidak bisa tidak, dalam pengambilan keputusan pun, pria cenderung lebih memerhatikan kepentingan kariernya dan kurang mementingkan keluarganya. Sebaliknya, wanita akan jauh lebih siap untuk memertimbangkan kepentingan keluarganya. Hal inilah yang kerap kali diasosiasikan dengan kematangan dan memang dalam hal ini, wanita jauh lebih matang daripada pria.
Mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah secara fisik wanita lebih cepat memperlihatkan ciri penuaan. Pada kenyataannya kita semua-pria dan wanita-mengalami proses penuaan. Ada alasan mengapa kita cenderung melihat penuaan pada wanita dibanding pria:
Kecantikan fisik lebih merupakan identitas wanita ketimbang pria.
Wanita harus mengandung dan melahirkan anak.
Wanita mengalami mati haid. Tatkala wanita mengalami mati haid, hormon progesteron dan estrogen juga mengalami penyusutan sehingga sering kali diikuti dengan perubahan kondisi fisik pula.
Mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah wanita itu sendiri memang membutuhkan figur pengayom bak seorang bapak kepada anak. Secara naluriah wanita cenderung tertarik dengan pria yang matang dan kurang tertarik dengan pria yang dianggapnya tidak dewasa
Firman Tuhan: "Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari". (Amsal 4:18) Hidup benar adalah hidup takut akan Tuhan dan hidup berhikmat. Memilih pasangan hidup memerlukan keduanya. Namun satu hal yang perlu dicamkan adalah sebaiknya janganlah memilih pasangan hidup yang jauh berbeda usia dari kita. Perbedaan usia yang terlalu jauh memisahkan dua dunia yang berbeda pula.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:26am.
Abstrak:
Pemilihan pasangan hidup adalah sebuah proses yang rumit dan kadang sulit dicerna. Namun sesungguhnya yang terjadi adalah kita tidak memilih pasangan secara acak atau kebetulan. Kita memilih orang yang memunyai kriteria yang kita idamkan. Dua kriteria yaitu NYAMAN dan AMAN yang kerap menjadi penentu orang yang akan mendampingi kita. Namun dari dua kriteria itu seringkali terjadi masalah yang dapat membutakan mata kita dalam pemilihan pasangan hidup ini.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengapa Kita Memilih Dia?" Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, memilih bukan suatu pekerjaan yang gampang, apalagi memilih pasangan hidup yang untuk selamanya. Tetapi apa sebenarnya yang melandasi seseorang untuk memilih orang lain sebagai pasangan hidupnya.
PG : Pada dasarnya, kita tidak memilih pribadi. Sebetulnya kita memilih orang yang memiliki kriteria yang kita idamkan. Dengan kata lain, sebelum kita bertemu dengan seseorang, sesungguhnya kita telah memunyai kriteria seperti apakah pasangan hidup yang kita dambakan. Waktu kita bertemu dengan orang tersebut, kita menjumpai kriteria itu pada dirinya, itulah yang membuat kita tertarik kepada dia.
GS : Walaupun kita sudah tentukan kriteria itu, karena kita tidak menemukannya, lalu kita mengubah kriteria itu. Itu bagaimana, Pak Paul ?
PG : Saya kira pada akhirnya kita juga harus menyesuaikan diri dengan keadaan, adakalanya kriteria yang kita inginkan tidak dapat kita temukan, kita mesti memilah-milah manakah yang pokok yang tidak bisa dikompromikan dan manakah yang masih bisa dikompromikan. Misalkan, kita tidak mengkompromikan menikah dengan yang seiman, yang di dalam Kristus karena itulah perintah Tuhan, ini tidak bisa ditawar-tawar. Ini adalah bagian dari kehendak Tuhan. Kita menikah juga dengan yang cocok, yang bisa menjadi penolong buat kita saling terlibat dalam upaya untuk menumbuhkan diri. Ini juga kriteria yang penting. Jangan sampai kita menikah dengan orang yang kita tahu sangat tidak cocok dengan kita. Setelah dua hal ini kita penuhi mungkin yang lain-lainnya bisa kita kompromikan.
GS : Berarti menentukan kriteria itu cukup menentukan, Pak Paul? Siapakah pasangan hidup kita. Tapi bagaimana bila kita kesulitan dalam menentukan kriteria itu ?
PG : Walaupun kita tidak menyadari, sesungguhnya dalam diri kita sudah ada kriteria itu. Memang ada orang yang secara sadar menetapkan kriteria itu, misalnya saya hanya mau menikah dengan orang yang berpendidikan sarjana. Di luar itu sebetulnya ada sekurang-kurangnya dua kriteria dasar yang kita bawa ke mana pun dan ini ada pada diri kita semua. Orang yang dapat memenuhi dua kriteria itulah yang akhirnya menjadi orang kepadanyalah kita tertarik.
GS : Apakah kedua kriteria itu, Pak Paul ?
PG : Yang pertama adalah sebetulnya kita mencari orang yang membuat kita merasa nyaman. Apa itu yang saya maksud dengan rasa nyaman? Nyaman di sini ialah terpenuhinya semua kebutuhan dan pengharapan yang penting, yang ada dalam diri kita. Dengan kata lain, kita akan memilih orang yang dapat memenuhi kebutuhan dan pengharapan kita, misalnya ada di antara kita yang membutuhkan kasih sayang. Nah waktu kita bertemu dengan seseorang dan orang ini begitu penuh kasih sayang, dengan sendirinya kita tertarik kepadanya. Atau kita mengharapkan seorang pribadi yang matang atau bijak, waktu kita bertemu dengan pribadi yang seperti itu dengan sendirinya kita pun tertarik. Mengapa kita tertarik kepada mereka? Sebab di dalam diri kita adanya keinginan atau kebutuhan untuk merasa nyaman dan orang-orang ini memang sanggup membuat kita nyaman, karena kebutuhan yang kita miliki dapat dipenuhinya.
GS : Tapi itu cukup sulit untuk kita ketahui secara cepat, butuh waktu yang cukup lama. Dan bagaimana caranya kita tahu bahwa pasangan kita ini dapat memberikan rasa nyaman pada kita ?
PG : Memang hal ini harus melalui proses waktu dan kebersamaan. Waktu kita bersama dia, apakah kita mendapatkan yang kita butuhkan itu? Waktu pada saat tertentu akhirnya kita menyadari yang kita butuhkan tidak dapat diberikannya. Itulah saat di mana kita mulai menimbang ulang, apakah kita mau terus dengan pasangan kita ini. Memang sebaiknya dan seharusnya ini dilakukan selama kita berpacaran. Kita harus melalui proses waktu dan jangan terlalu pendek agar kita benar-benar dapat melihat kecocokan kita dan apakah pasangan kita itu dapat memenuhi kebutuhan kita. Jadi tanpa disadari sebenarnya motor yang membawa kita pada orang tertentu adalah motor rasa nyaman. Kalau ada orang yang sanggup membawa kepada kita rasa nyaman, memenuhi kebutuhan kita, maka kita cenderung tertarik pada orang itu.
GS : Kriteria yang lain, apa Pak Paul ?
PG : Yang lain adalah rasa aman. Kalau yang pertama rasa nyaman, yang kedua rasa aman. Di sini artinya adalah kepastian bahwa dia menerima diri kita apa adanya. Kita cenderung memilih orang yang tidak mengancam keberadaan diri kita. Kita memilih orang yang makin meneguhkan keberadaan diri kita. Misalnya, kita bisa melihat kalau bertemu dengan orang yang cenderung mencederai diri kita, melukai kita maka kita akan bereaksi menjauhi dia. Itu sebabnya kita akhirnya tidak mau dekat-dekat dengan orang yang menghina kita, melecehkan atau merendahkan kita. Sebaliknya kalau kita bertemu dengan orang yang mengagumi apa yang ada pada diri kita, maka kita merasa diri kita aman. Mengapa kita merasa aman dengan orang yang mengagumi kita? Sebab kekaguman pada dasarnya meneguhkan keberadaan diri kita. Singkat kata, kita mencari orang yang akan dapat meneguhkan keberadaan diri kita. Makin kita dikokohkan atau diteguhkan, makin kita merasa aman. Sebaliknya makin orang itu menghina, tidak menerima kita, menolak, mengkritisi kita maka kita merasa tidak aman dan kita akan menjauh dari orang seperti itu. Sebagai kesimpulan, Pak Gunawan, dua kriteria umum yang kita gunakan dalam memilih pasangan hidup sebetulnya dua hal yang sangat sederhana, rasa nyaman dan rasa aman. Kalau kita bertemu dengan orang yang membuat kita rasa nyaman dan rasa aman, dengan mudah kita tertarik kepadanya.
GS : Di dalam hal rasa aman tadi itu Pak Paul, apakah juga termasuk rasa aman secara finansial? Artinya kita bisa melihat bahwa memang dia dapat mengelola harta atau uang yang kita dapatkan.
PG : Tepat sekali jadi memang meneguhkan keberadaan diri kita itu menyangkut banyak aspek, Pak Gunawan. Salah satunya aspek finansial, karena kalau kita membayangkan masa depan kita akan suram, kita mungkin akan melarat dan kelaparan, berarti itu akan mengancam keberadaan diri kita. Jadi ada kecenderungan kita mau bersama orang yang kita bayangkan akan dapat memberi sumbangsih meneguhkan keberadaan diri kita bahkan juga secara ekonomi.
GS : Tapi ternyata Pak Paul, dasar pemilihan ini tidak hanya sekadar punya rasa nyaman dan aman, rupanya kompleks sekali. Apakah hal itu memang demikian?
PG : Memang betul, Pak Gunawan. Justru kita mesti berhati-hati. Saya memunculkan kedua faktor tersebut dengan tujuan agar kita menyadarinya sekaligus memahami bahaya yang bisa muncul dari kedua faktor ini. Karena ada kalanya kita tertangkap, tertelan oleh dua kebutuhan ini, sehingga kita bisa memilih pasangan yang keliru. Untuk itulah kita ingin memberi sedikit waktu membahas bahaya-bahaya yang terkait dengan kedua faktor tersebut.
GS : Bahaya apa saja itu, Pak Paul ?
PG : Sekurangnya ada empat yang bisa saya bagikan.
Yang pertama, oleh karena pasangan terlalu mengidolakan kita pada akhirnya kita terbuai dan gagal melihat area di mana kita harus bertumbuh. Tadi sudah saya singgung, kita tertarik pada orang yang memberi rasa aman pada diri kita. Bagaimanakah orang memberi rasa aman pada diri kita, salah satunya memberikan afirmasi akan diri kita, meneguhkan siapa kita, kebisaan kita, kebaikan kita, kelebihan-kelebihan kita dan mengagumi kita. Itu memang aspek-aspek yang meneguhkan kita, tapi ada orang yang mengidolakan kita. Dia sangat-sangat mengidolakan kita, sudah tentu meneguhkan kita oleh pengidolaannya. Tapi masalahnya kalau kita akhirnya masuk ke dalam relasi berpacaran apalagi nanti menikah dengan dia tanpa menyadari dan mengoreksi hal ini, saya kira kita akan terlibat dalam relasi yang tidak sehat dan ini yang penting yaitu kita tidak bertumbuh. Saya jelaskan, relasi yang sehat mesti didasari atas penerimaan dan penghargaan, saya kira semua tahu hal itu. Namun tetap memberi ruang untuk pertumbuhan. Pertumbuhan biasanya terjadi tatkala kita berani terbuka untuk menyatakan ketidakpuasan terhadap pasangan. Sebaliknya pengidolaan mematikan pertumbuhan, kenapa? Sebab kalau kita terlalu mengidolakan seseorang, kita tidak berani mengemukakan apa yang menjadi ketidakpuasan kita, apa yang menjadi kekurangan dirinya, apa yang dalam dirinya kita rasakan perlu bertumbuh namun kita tidak berani mengemukakan hal-hal itu, karena apa? Terlalu terpukau dan mengidolakan dia, akhirnya relasi itu mati tidak lagi bertumbuh dan kalau kita yang menjadi obyek pengidolaan itu akhirnya kita menganggap diri kita sempurna. Tidak ada lagi yang perlu dikoreksi akhirnya karena kita merasa begitu diteguhkan oleh orang ini, kita mengiyakan mau menikah dengan dia, karena kita merasa sangat-sangat enak, sangat aman, tidak ada lagi yang mengancam, tidak pernah dikritik, tidak pernah dicela, semua tentang diri kita adalah baik, dia selalu meneguhkan kita, masalahnya adalah yang pertama tidak baik buat kita. Karena kita akhirnya menganggap kita sempurna. Nanti setelah kita menikah kemudian dia mulai melontarkan kata-kata yang tidak kita senangi maka kita marah. Atau orang lain di luar pernikahan kita yang ingin menolong kita, memberikan masukan, kritikan kepada kita, bukan hanya kita merasa tersinggung tapi pasangan kita yang mengidolakan kita juga tersinggung, sehingga kita berdua menjadi pasukan yang saling melengkapi saling membela, tapi buta terhadap satu sama lain. Memang ada masalah, memang ada hal yang perlu diubah dalam diri kita dan salah satu bahayanya yang sering kali terjadi dan ada satu lagi yang sangat penting kalau kita masuk dalam relasi dimana kita yang diidolakan, kita berdua akhirnya tidak bertumbuh. Tidak bertumbuh karena yang satu terus menutup-nutupi ketidakpuasannya terhadap kita.
GS : Jadi di situ dibutuhkan kejujuran penilaian dari pasangan kita terhadap kita, tapi sering kali juga ada orang yang minta diidolakan secara berlebihan dan itu mematikan komunikasi, Pak Paul ?
PG : Ada orang yang seperti itu, Pak Gunawan. Dia terbiasa diidolakan, disanjung-sanjung sejak kecil, dia dianggap anak yang paling pandai, paling baik, paling cantik, paling tampan dan sebagainya, sehingga dia juga menuntut orang untuk mengidolakan dia. Jadi dia menganggap bahwa dirinya seperti itu dan selayaknyalah orang memberikan peneguhan-peneguhan seperti itu kepada dirinya. Masalahnya, yang seringkali terjadi ialah ketidakcocokan, namun karena kita sudah terlalu tersanjung, diidolakan padahal terbentang jurang di antara kita dalam hal lainnya. Ini yang sering terjadi, dalam banyak kasus orang yang terlalu mengidolakan dalam pernikahan, yang satu merasa beruntung mendapat pasangan yang begitu menyanjung-nyanjung saya, tapi di balik itu ada segudang perbedaan, ketidakcocokan yang tidak pernah diangkat. Setelah menikah bertahun-tahun barulah muncul, yang satu yang biasa diidolakan cepat marah, "Mengapa sekarang kamu menyerang saya, saya tidak bisa terima waktu ditegur", yang satu mengatakan, "Saya sudah lama simpan-simpan ketidakpuasan ini. Kita tidak cocok di sini, kita tidak cocok di sana". Nah akhirnya berantakan. Jadi meskipun rasa aman itu adalah motor yang mendorong kita dekat dengan seseorang, mesti kita waspadai jangan sampai kita buta.
GS : Yang dikuatirkan pengidolaan itu hanya semu, Pak Paul. Hanya untuk mencapai tujuannya dia, karena tahu bahwa pasangannya ini senang diidolakan. Setelah menikah, setelah ia mendapatkan pasangannya, kondisinya sangat berbalik, Pak Paul.
PG : Hal itu pun terjadi. Ada kalanya karena ingin mendapatkan seseorang, dia akan melakukan segala upaya supaya yang diidamkan bisa didapatkannya termasuk salah satunya adalah yang bermulut gombal, mengidolakan pasangannya sehingga akhirnya termakanlah dia oleh pengidolaannya dan bersedia menikah, tapi setelah menikah barulah kelihatan taring-taringnya. Dia akan kuasai pasangannya, dia akan injak-injak haknya dan akhirnya pernikahan itu berantakan.
GS : Apakah ada bahaya yang lain, Pak Paul ?
PG : Bahaya yang berikut adakalanya kebutuhan yang kita miliki sangat besar sehingga pasangan mengalami kesukaran untuk memenuhinya. Tadi sudah saya sebut bahwa kita didorong oleh rasa nyaman, kalau kita bertemu dengan orang yang dapat memenuhi kebutuhan kita, kita merasa nyaman. Nah kita tertarik pada orang yang membuat kita merasa nyaman, tapi adakalanya kebutuhan kita sangat besar, akhirnya kita menjadi sangat sukar didekati oleh siapa pun. Misalnya kita lahir dan bertumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, besar kemungkinan kita pun membawa kebutuhan dan pengharapan yang terlalu tinggi. Sudah tentu kondisi ini akan menyulitkan orang untuk mau dan dapat bersama kita. Kita merasa tidak cocok dengan si A, tidak cocok dengan si B, rasa tidak pas dengan si C. Mengapa tidak jadi-jadi setelah berpacaran berkali-kali, sebenarnya masalahnya karena kita tidak pernah merasa nyaman. Mengapa tidak pernah merasa nyaman, karena kebutuhan-kebutuhan kita tidak terpenuhi dan mungkin sekali kita tidak menyadari malah menyalahkan pacar-pacar kita itu yang tidak bisa memenuhinya, padahal masalah terletak pada diri kita. Kebutuhan kita yang terlalu besar, kita menuntut pasangan untuk dia bisa selalu memenuhinya atau pengharapan dia akan orang yang terlalu tinggi dan tidak realistis, sehingga dia pun tidak sanggup menjadi orang yang kita idamkan. Kalau terus-menerus kita putus dengan pacar, mungkin perlu kita evaluasi ulang, mungkin masalahnya ada pada diri kita yaitu kebutuhan kita terlalu besar sehingga kita tidak pernah merasa nyaman dengan seorang pun.
GS : Itu berarti kita harus menurunkan tuntutan-tuntutan kita atau bagaimana, Pak Paul ?
PG : Sebaiknya kalau itu yang terjadi, kita mesti membereskannya, Pak Gunawan. Saya mendorong kita-kita ini untuk menjalani konseling pribadi lewat bantuan seorang hamba Tuhan atau seorang konselor sehingga kita bisa menggali apa yang menjadi penyebab, mengapa kebutuhan kita untuk dihargai begitu tinggi? Kebutuhan kita untuk merasa penting begitu tinggi, kebutuhan kita untuk dilibatkan dalam kehidupan orang begitu besar, kebutuhan kita untuk bisa bersumbangsih, untuk bisa dikasihi begitu besar. Kalau kita sadari ternyata ada cerita di belakang ini, kenapa saya mengembangkan kebutuhan yang begitu besar atau saya mengidealkan orang harus begini, harus sabar, tidak boleh marah, orang harus selalu bisa menerima kita tanpa harus menghakimi kita, karena dulu kita kenyang dihakimi atau selalu ditolak, sehingga kita butuh orang selalu menerima kita. Kita harus membereskan itu terlebih dahulu sebelum kita memulai relasi dengan seseorang.
GS : Apakah ada bahaya yang lain, Pak Paul ?
PG : Bahaya yang lain adalah kadang kemampuan kita untuk memenuhi kebutuhan memang lemah, artinya kita susah untuk membuat orang merasa nyaman. Tadi sudah saya definisikan nyaman adalah terpenuhinya kebutuhan kita. Adakalanya kita memunyai masalah dalam hal ini sehingga kita tidak sanggup memenuhi kebutuhan pasangan sekecil apa pun. Diminta sedikit rasanya berat buat kita, kita tidak siap memberi dan ada juga di antara kita yang tidak tahu bagaimana memberi. Tidak tahu memberikan kasih sayang, tidak tahu bagaimana bisa mementingkan perasaan orang, akhirnya apa yang terjadi? Kita susah memenuhi kebutuhan orang alias kita susah membuat orang nyaman, akhirnya orang susah dekat dengan kita dan kita akhirnya tidak pernah bisa bersama dengan orang. Karena bagaimana pun juga orang memunyai kebutuhan dan dia mau merasa nyaman dekat kita.
GS : Kalau kelemahan kita saat ini tidak bisa memenuhi kebutuhan itu tapi nanti setelah menikah kita yakin kita bisa, itu bagaimana Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kalau kita memunyai keyakinan seperti itu, selayaknyalah sejak masih berpacaranlah kita mencoba untuk menerapkannya, untuk melakukannya. Jangan kita berkata "Nanti pasti bisalah." Sudah tentu pihak yang satunya, dia pun mesti melihat bukti. Bisakah kita memenuhi kebutuhannya? Jadi pentingnya waktu bersama dalam berpacaran agar kita juga bisa menimbang, apakah kita bisa atau tidak memenuhi kebutuhan pasangan kita. Hal ini baik untuk kita ketahui sebelum kita menikah. Kalau kita bertemu dengan orang yang bagi kita kebutuhannya terlalu besar dan kita tidak mampu memenuhinya, maka kita harus berterus terang dan kita berkata tidak sanggup kalau harus dituntut seperti ini oleh kamu. Mungkin tuntutan kamu tidak setinggi apa, tapi maaf saya tidak bisa, tinggal kita tanya apakah mau terus, apakah bisa ada penyesuaian atau tidak. Kalau memang tidak, sebaiknyalah pada masa berpacaran kita akhirnya berkata "Kita berhenti di sini." Kita mesti realistis dengan apa yang bisa atau tidak bisa kita lakukan.
GS : Repotnya ada orang yang terlalu optimis merasa bisa, tapi kenyataannya sulit sekali untuk dia bisa memenuhi kebutuhan pasangannya, Pak Paul.
PG : Betul, kuncinya di sini adalah bisa melihat diri dengan tepat dan realistis.
GS : Bahaya yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Yang keempat atau yang terakhir adalah oleh karena kita begitu terfokus pada pemenuhan kebutuhan tertentu, kita pun akhirnya luput melihat bahwa sesungguhnya terdapat banyak ketidakcocokan di antara kita. Kembali lagi kepada faktor nyaman, kita merasa nyaman karena ada satu kebutuhan kita yang dapat dipenuhi oleh pasangan kita. Misalnya kita mau diayomi, si pria dapat memberi kita pengayoman tersebut. Kita langsung dengan cepat mengatakan "Ya" kepadanya untuk menikah dengannya. Masalahnya kita luput melihat bahwa di luar kebutuhan ini banyak ketidakcocokan dalam diri kita, nilai-nilai moralnya tidak cocok, cara dia melihat dan memecahkan masalah juga tidak cocok, cara dia membesarkan anak juga tidak cocok. Begitu banyak perbedaan tapi semua itu luput diangkat pada masa berpacaran karena kita menganggap sudah pasti cocok, sudah pasti cocok karena satu-satunya kebutuhan penting kita dipenuhi olehnya. Jadi jangan sampai rasa nyaman karena satu kebutuhan dipenuhi, membutakan mata kita melihat perbedaan yang ada di antara kita.
GS : Kadang-kadang kita menghibur diri sendiri dan mengatakan bahwa sulit kedua faktor itu dipenuhi yaitu nyaman dan aman. Seringkali orang bisa merasa nyaman tapi tidak aman atau sebaliknya merasa aman tapi tidak nyaman, bagaimana Pak Paul ?
PG : Saya kira pada akhirnya kebanyakan kita tetap akan berusaha mendapatkan keduanya, kita mau ada rasa nyaman karena kebutuhan kita dipenuhi, kita mau rasa aman karena kita tahu dia akan meneguhkan dan menerima keberadaan kita. Saya kita itu lumrah dan tidak apa-apa tapi yang tadi sudah kita bicarakan bahaya-bahayanya, jadi kita mesti waspadai Pak Gunawan.
GS : Maksudnya kita tidak terfokus pada satu aspek saja, itu caranya bagaimana, Pak Paul ?
PG : Supaya kita tidak terjebak pada satu kebutuhan saja, kita mesti terbuka mendengarkan penilaian orang. Kadang-kadang teman baik kita atau orang tua kita akan berkata, "Rasanya ada ketidakcocokan, kamu orangnya begini dia orangnya begitu. Apakah kamu yakin dia bisa cocok dengan kamu?" Atau ada orang yang sudah lama mengenal kita dan berkata, "Dari dulu kamu susah untuk dekat dengan orang yang memunyai kriteria seperti ini, mengapa sekarang tiba-tiba kamu bisa sama dia? Kenapa, apa yang terjadi?" Dengarkan, terbukalah dan mintalah pendapat. Konsultasilah dengan orang, terbukalah, kita mau benar-benar melibatkan lebih banyak orang dalam pengambilan keputusan yang penting ini.
GS : Tapi pada masa pacaran biasanya kita tidak bisa seobjektif itu, Pak Paul. Balum lagi ada tekanan-tekanan yang lain entah itu dari faktor usia atau faktor-faktor lain yang mendesak.
PG : Nomor satu kita mesti berdoa, Pak Gunawan. Sebelum berpacaran atau selagi berpacaran kita mesti berdoa meminta Tuhan menuntun kita, memberikan tanda-tanda yang jelas supaya kita tahu apakah ini kehendak-Nya atau tidak. Dengan cara itulah kita bisa dibawa Tuhan kepada jalan atau kehendak-Nya.
GS : Pak Paul apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Di Amsal 3:7 berkata, "Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan". Jadi kita mesti melibatkan Tuhan dalam proses pemilihan pasangan hidup, jangan menganggap diri kita bijak, kita tahu ini yang paling cocok, yang paling benar. Minta Tuhan menolong, memimpin kita, minta pendapat orang yang lebih matang dan lebih rohani daripada kita, supaya kita bisa mengetahui bahwa dia orang yang tepat untuk kita dan kita pun orang yang tepat untuk dia.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengapa Kita Memilih Dia". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Pemilihan pasangan hidup adalah sebuah proses yang rumit dan kadang sulit dicerna. Namun sesungguhnya yang terjadi adalah kita tidak memilih pasangan secara acak atau kebetulan. Kita memilih orang yang memunyai kriteria yang kita idamkan. Itulah sebabnya kita dapat menyukai sejumlah pribadi dan bukan hanya satu karena pada intinya selama orang memiliki kriteria yang kita dambakan, ia akan menjadi sasaran ketertarikan kita. Berikut akan dipaparkan dua kriteria yang kerap menjadi penentu siapakah yang akan mendampingi kita.
NYAMAN yaitu terpenuhinya kebutuhan dan pengharapan. Kita memilih orang yang dapat memenuhi kebutuhan dan pengharapan kita. Misalkan ada yang membutuhkan kasih sayang. Ia pun akan cepat tertarik dengan pribadi yang dianggapnya dapat memenuhi kebutuhannya itu.
AMAN yakni kepastian bahwa ia menerima diri kita apa adanya. Kita cenderung memilih seseorang yang tidak mengancam keberadaan diri kita; kita memilih orang yang makin meneguhkan keberadaan diri kita. Itu sebabnya kita menyukai orang yang mengagumi apa yang ada pada diri kita sebab kekaguman meneguhkan keberadaan diri kita.
Pemilihan pasangan menuntut kejelian untuk melihat relasi secara menyeluruh. Kendati kedua faktor ini penting namun kita pun harus memerhatikan kecocokan dalam hal lainnya. Berikut akan dipaparkan beberapa masalah yang terkait dengan rasa nyaman dan aman yang kadang membutakan mata kita dalam melihat pasangan dengan tepat.
Oleh karena pasangan terlalu mengidolakan kita, pada akhirnya kita terbuai dan gagal melihat area di mana kita mesti bertumbuh. Kita pun terlibat dalam relasi yang tidak sehat dan tidak bertumbuh. Relasi yang sehat mesti didasari atas penerimaan dan penghargaan namun tetap memberi ruang untuk pertumbuhan. Pertumbuhan biasanya terjadi tatkala kita berani terbuka untuk menyatakan ketidakpuasan terhadap pasangan. Sebaliknya, pengidolaan mematikan pertumbuhan.
Adakalanya kebutuhan yang kita miliki sangat besar sehingga pasangan mengalami kesukaran untuk memenuhinya. Bila kita lahir dan bertumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, besar kemungkinan kita membawa kebutuhan dan pengharapan yang terlalu tinggi. Kondisi ini sudah tentu akan menyulitkan orang untuk mau bersama kita. Sudah tentu bila ini yang terjadi, kita tidak merasa terpenuhi dan di pihak pasangan, ia merasa letih bersama kita. Jika inilah masalahnya, seyogianyalah kita membereskan masalah kita terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam pernikahan.
Kadang kemampuan kita untuk memenuhi kebutuhan memang lemah, sehingga tidak sanggup memenuhi kebutuhan pasangan-sekecil apa pun. Ada pribadi yang tidak siap untuk memberi dan ada pribadi yang tidak tahu bagaimana memberi. Keduanya membuat seseorang sukar untuk memenuhi kebutuhan pasangannya. Tidak bisa tidak, kita akan mengalami kesukaran mendapatkan pasangan sebab bagaimana pun pasangan memunyai kebutuhan yang perlu dipenuhi.
Oleh karena kita begitu terfokus pada pemenuhan kebutuhan tertentu, kita pun luput melihat bahwa sesungguhnya terdapat banyak ketidakcocokan di antara kita. Kita menjadi terlalu senang karena apa yang kita cari sekarang telah kita temukan. Masalahnya adalah, di luar pemenuhan kebutuhan tersebut ada banyak ketidakcocokan di antara kita. Alhasil, kita pun terjerumus ke dalam pemilihan pasangan yang tidak tepat.
Firman Tuhan: "Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan". (Amsal 3:7) Libatkanlah Tuhan dalam proses pemilihan pasangan hidup; Tuhan ingin memimpin kita kepada anak-Nya. Terbukalah terhadap penilaian orang lain dan senantiasa berdoa agar kita melihat jelas apakah ia orang yang tepat untuk kita dan kita adalah orang yang tepat untuknya.
Submitted by admin on Thu, 04/06/2009 - 4:54pm.
Abstrak:
Sekarang ini muncul sebuah tren baru di tengah kawula muda seperti Teman Tapi Mesra dan Hubungan Tanpa Status. Pada dasarnya semua ini merujuk kepada relasi yang relatif intim bak pacar namun tidak berstatus sebagai pacar. Sudah tentu jika relasi ini hanyalah pertemanan biasa, kita tidak perlu mempermasalahkannya. Namun apabila relasi ini berubah menjadi relasi intim secara fisik tanpa komitmen, hal ini perlu mendapat perhatian kita. Apa pun namanya, sesungguhnya relasi seperti ini mencerminkan sebuah nilai yang berkembang di tengah kita yaitu hilangnya komitmen yang seyogianya menjadi dasar sebuah relasi yang intim. Di sini akan dipaparkan pentingnya keberadaan komitmen dalam keintiman dan peran keintiman dalam komitmen.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami yang terdahulu yaitu tentang "Komitmen dan Keintiman". Bagi anda yang belum mengikuti perbincangan kami yang lalu maka kami akan mengajak anda sekalian untuk mendengarkan sejenak apa yang kita sudah perbincangkan pada kesempatan yang lalu, karena ini akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian.
Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita membicarakan cukup tentang komitmen dan keintiman tetapi supaya lebih banyak hal yang kita lihat tentang komitmen dan keintiman ini, mungkin Pak Paul bisa menjelaskan terlebih dahulu apa yang sudah kita perbincangkan pada kesempatan yang lampau.
PG : Semua ini lahir dari sebuah keprihatinan terhadap apa yang sudah terjadi di tengah-tengah kita terutama di tengah-tengah kawulamuda yaitu makin banyaknya orang-orang yang menjalin hubunganyang sangat mesra dan tidak jarang dalam kemesraan itu juga terjadi keintiman fisik, tapi dua-duanya mengatakan bahwa dia hanyalah teman dan tidak ada ikatan apa-apa.
Maka pada kesempatan yang lampau kita mengingatkan bahwa dosa itu datang dengan isi yang sama, tapi dengan wajah yang berbeda. Dosa yang sama yaitu perzinahan, percabulan tapi sekarang ditampilkan dengan wajah yang berbeda yaitu namanya yang diubah-ubah, maka kita harus mewaspadainya. Dalam kesempatan yang lalu kita membahas bahwa untuk menjalin keintiman diperlukan komitmen atau kesetiaan, ikatan janji keterpisahan bahwa kita untuk dia dan dia untuk kita. Di dalam komitmen seperti itulah maka akhirnya keintiman bisa muncul dan keintiman baru bisa terus muncul kalau dilindungi dan rasa aman di dalam komitmen itu. Kita pun sudah membahas bahwa ini juga penting dilakukan sebelum kita menikah, artinya kita menanam komitmen supaya pada akhirnya setelah kita menikah, kita bisa memetik buah keintiman sebab di dalam komitmen seperti itulah keintiman barulah bisa bertunas.
GS : Kalau kita sudah memikirkan hubungan yang begitu erat antara komitmen dan keintiman, tapi sekarang ada juga keintiman yang tidak disertai komitmen. Ini sebabnya apa, Pak Paul ?
PG : Yang pertama adalah ada orang yang takut terikat, karena takut terikat maka dia hanya mau mencicipi keintiman tapi tidak mau membayar harga untuk memberikan komitmennya. Kalau ini yang teradi maka relasi ini akan menjadi relasi yang saling pakai, "Tidak apa-apa yang penting keduanya saling memuaskan kebutuhan akan keintiman tapi tidak perlu ada komitmen," jadi sekali lagi relasi ini menjadi relasi saling pakai.
Atau yang satu membohongi yang satunya, yang membohongi adalah yang memakai dan yang dipakai adalah yang dibohongi atau dimanfaatkan. Sudah tentu relasi seperti ini rentan putus, karena tidak ada komitmen dan ketakutan untuk terikat membuat orang lebih cepat putus asa atau cepat lari kalau ada masalah, karena dia tidak mau terikat maka dia akan dengan mudah angkat kaki, melepaskan diri dari masalahnya. Itu sebabnya kalau tidak ada komitmen maka relasi akan mudah patah dan dengan adanya komitmen maka kalau pun ada masalah maka kita dipaksa untuk tinggal dan membereskan masalah itu sampai selesai. Jadi inilah yang diperlukan. Jadi kalau ada relasi yang sudah intim tapi tidak ada komitmen maka tinggal tunggu waktu maka relasi ini juga akan putus.
GS : Banyak orang yang justru memilih bentuk hubungan yang seperti itu, Pak Paul ? Jadi hanya mau intim tapi tidak mau terikat apa-apa sehingga dia tidak menjalin hubungan dengan seseorang secara serius, bahkan dia tidak ragu-ragu mengeluarkan uang untuk memperoleh keintiman tanpa perlu keterikatan, maksud saya dia bisa melakukan hubungan intim dengan siapa saja.
PG : Dan memang ada orang-orang seperti itu di tengah-tengah kita dan sudah tentu yang terjadi adalah dia sedang memulai relasi yang tidak akan berumur panjang, tapi lebih dari itu adalah dia sdang menjalani kehidupan yang tidak berkenan kepada Tuhan, karena Tuhan tidak setuju dan Tuhan melarang kehidupan seperti itu, berhubungan dengan orang secara fisik secara seksual tanpa ada sebuah ikatan nikah dan itu adalah sebuah perzinahan di hadapan Tuhan.
GS : Mereka menganggap keintiman itu sesuatu yang menyenangkan, jadi hanya untuk bersenang-senang.
PG : Betul dan nanti akan ada harga yang harus dibayarnya. Jadi saya tetap menghimbau dan mengingatkan kepada kita semua untuk tidak jatuh ke dalam perbuatan seperti itu.
GS : Selain tentang keterikatan Pak Paul, apakah ada hal lain yang membuat terjadinya keintiman tanpa komitmen ?
PG : Yang berikut adalah kadang kita itu takut untuk ditolak, maka karena takut untuk ditolak maka akhirnya kita tidak mau mengikatkan diri dari komitmen dan kita hanya mau mencicipi keintiman tu saja dan kita tidak berani menyatakan niat kita untuk mengikatkan diri.
Kalau ini yang terjadi maka relasi itu menjadi relasi yang tidak ada keterbukaan karena kita takut ditolak dan kita tidak berani mengikatkan diri dengan komitmen karena takut ditolak, tapi relasi tidak mungkin bertumbuh tanpa adanya keterbukaan dan kita mesti menjadi diri kita apa adanya. Kalau tidak ada keterbukaan dalam relasi itu maka kepercayaan pun juga sukar bertumbuh artinya kita tidak percaya pada pasangan sehingga kita tidak mau berterus terang sepenuhnya pada dia. Dan dalam relasi dimana tidak ada lagi keterbukaan, kepercayaan pun juga tidak ada, maka sebetulnya relasi itu hanya merupakan kedekatan fisik sama sekali tidak ada isinya, tidak ada lagi yang mengikat relasi itu.
GS : Di dalam hal keterbukaan, makin intim seseorang maka seharusnya seseorang itu juga makin mudah dikenali, Pak Paul ? Dan dalam kasus yang Pak Paul katakan, mereka itu tetap sulit untuk dikenali. Apakah seperti itu ?
PG : Benar, sebab dalam kasus seperti itu kalau pun sudah memunyai relasi yang intim namun dia tetap menyembunyikan sesuatu dalam dirinya, seperti keinginan-keinginannya, itu karena dia takut klau nanti ditolak, karena nanti orang akan tahu benar-benar siapa dirinya.
Jadi ketakutan itu menghalangi dia untuk sungguh-sungguh terbuka.
GS : Tapi dalam hal ini, tidak perlu semua rahasia pribadi kita, kita buka kepada orang yang belum tentu menjadi pasangan hidup kita.
PG : Betul. Jadi ini harus kita lakukan secara bertahap, dengan bertumbuhnya relasi maka kita bisa semakin terbuka. Di satu titik maka kita harus menyatakan komitmen kita untuk menjalin sebuah elasi yang serius dengan dia sehingga pasangan kita juga tahu kalau dia tidak akan dipermainkan, kita akan benar-benar bersedia membayar harga untuk terus menuntaskan relasi ini sampai ke jenjang pernikahan.
GS : Ada orang yang menggunakan sistim barter, saya mau terbuka kalau kamu pun juga mau terbuka. Dan ini bagaimana ?
PG : Sudah tentu dalam sebuah relasi harus ada timbal balik, kalau tidak ada timbal balik maka hanya ada satu orang saja yang bekerja keras memertahankan dan memerdalam relasi itu. Jadi sebaikna keterbukaan itu dilakukan oleh kedua belah pihak namun di pihak lain kita tidak boleh memunyai mentalitas, "Saya mau terbuka kalau engkau terbuka," sebab mentalitas seperti itu akan menghalangi tumbuhnya relasi, tumbuhnya kepercayaan dan saling hormat di dalam relasi kita.
GS : Apakah ada penyebab lain mengenai keintiman yang tanpa komitmen ?
PG : Ada pula yang lahir dari nafsu jasmaniah yang membutuhkan pemenuhan tapi tidak mau membayar harga. Jadi dengan kata lain, ada orang-orang yang ingin intim secara fisik bisa menikmati tubuhlawan jenisnya namun sama sekali tidak memunyai komitmen menikah dengan dia.
Relasi seperti ini pasti hanyalah akan menjadi relasi seksual, dan relasi yang hanya bersifat seksual akan sukar bertahan sebab seks tidak pernah dan tidak dapat memertahankan relasi karena seks selalu bersifat mengikat tapi sangat sementara, begitu nanti kenikmatannya hilang dan kebosanan mulai muncul maka relasi itu pun juga akan mati. Dan yang berikut adalah relasi yang hanya diisi oleh kenikmatan seksual akan menyembunyikan masalah yang sebetulnya ada di dalam relasi itu namun mereka tidak sempat untuk membicarakan masalah itu lagi karena fokusnya adalah pada kepuasan seksual, sehingga kepuasan seksual dianggap telah menggantikan semua hal-hal yang harusnya ditumbuhkan atau dibereskan. Dengan adanya kepuasan seksual maka seolah-olah kita beranggapan relasi kita itu sudah menjadi relasi yang baik dan kuat padahalnya tidak sama sekali. Jadi seks berpotensi untuk menutup mata kita. Sebaliknya relasi berpacaran yang tidak diisi dengan seks maka akan menuntut orang untuk melihat masing-masing dengan sangat jelas dan menuntut orang untuk menyelesaikan masalahnya dengan tuntas. Jadi kita mesti berhati-hati, jangan sampai relasi kita menjadi sebuah relasi seksual.
GS : Tetapi relasi seksual itu bukan hanya menyangkut soal fisik tetapi juga emosi orang sehingga ada orang yang mengatakan, "Dengan berhubungan seksual maka hubungan secara emosional menjadi lebih bagus lagi."
PG : Apakah seks bisa mengintimkan orang ? Jawabannya adalah "Ya". Tapi seks mengintimkan orang sementara, sebetulnya yang mengintimkan orang adalah kedekatan atau penyatuan emosional, cinta kaih di antara keduanya, kepercayaan di antara keduanya, respek di antara keduanya, semua hal itulah yang mengintimkan orang dan seks dimaksudkan Tuhan menjadi penyempurnanya.
Jadi seks tidak pernah dimaksudkan Tuhan menjadi fondasi keintiman atau kedekatan, kalau seks yang digunakan maka itu akan rubuh. Jadi justru kita harus membangun alas-alas kedekatan emosional itu dan nanti di dalam pernikahan barulah dituntaskan ke dalam keintiman seksual.
GS : Kalau Pak Paul sudah menguraikan penyebab keintiman yang tanpa komitmen, sekarang sebaliknya apa yang menyebabkan terjadinya sebuah komitmen yang tidak disertai dengan keintiman ?
PG : Ada beberapa penyebabnya, Pak Gunawan. Misalnya adalah ada orang yang memiliki sifat pembosan atau mudah jenuh. Setelah dia menjalin sebuah relasi yang serius, pada awalnya dia menggebu-geu bersemangat namun pada akhirnya pudar dan dia tidak lagi tertarik dan bosan.
Sudah tentu relasi seperti ini juga akan berumur pendek tidak ada lagi keintiman atau rasa sayang, kemesraan. Dan sebaik apa pun relasi itu, rasa jenuh jauh lebih kuat. Jadi ada orang-orang yang mengeluhkan seperti ini, "Hubungan kami baik, kami berpacaran baik, kami jarang bertengkar tapi kenapa dia ingin meninggalkan saya ? Waktu ditanya dia menjawab dia sudah tidak memiliki perasaan dengan saya lagi." Jadi kasih mesra itu cepat sekali pudar. Ada orang yang memang susah sekali memertahankan kasih mesra karena sifat dasarnya adalah pembosan, jadi tidak bisa lama-lama dengan orang yang sama. Sudah tentu kalau itu duduk masalahnya maka orang tersebut seyogianyalah tidak masuk ke dalam relasi yang serius, sebab dia itu akan menyakiti hati orang lain.
GS : Hal ganti-ganti pacar, seringkali terjadi di kalangan remaja atau pemuda dan yang sangat dirugikan dalam hal ini sebenarnya adalah pihak wanita.
PG : Memang di satu pihak kita bisa berkata perempuan yang lebih dirugikan entah itu nama baiknya dan sebagainya, tapi ada juga pria-pria yang dirugikan karena ada pria yang serius mencintai degan sungguh-sunguh, kemudian si perempuan berkata, "Saya tidak cinta lagi, cinta saya sudah habis" maka dia akan sangat terpukul.
Jadi ada juga pria yang sangat dirugikan dan terluka berat oleh karena ditinggalkan oleh pacarnya.
GS : Mungkin ada penyebab yang lain, Pak Paul ?
PG : Penyebab yang lain adalah masalah yang tidak terselesaikan, ada orang yang membuat komitmen menjalani sebuah relasi dengan serius tapi akhirnya harus berhadapan dengan masalah. Karena masaah itu tidak terselesaikan maka lama-lama mengikis kemesraan di antara mereka, cinta dan kemesraan hilang pada akhirnya masalah itu memisahkan mereka dan masalah itu membuat tawar hati dan hati yang tawar mustahil menciptakan keintiman.
Jadi kalau kita berkomitmen dalam hal yang serius dan kemudian ada masalah, maka sekuat mungkin kita akan menyelesaikan masalah itu.
GS : Karena masalah itu datang tanpa kita duga-duga dan selalu hadir di dalam hubungan sebaik apa pun, Pak Paul.
PG : Betul. Memang kita tidak bisa membuat relasi itu bebas masalah karena kita berdua memiliki perbedaan dan tidak bisa kita sangkal bahwa hal-hal yang telah kita pelajari di dalam hidup ini ykni yang kurang sehat, maka setelah kita berelasi kita menggunakan cara-cara yang tidak sehat itu pada pasangan kita.
Kita harus berubah dan sedapatnya kita harus bisa memecahkan masalah kita, kalau kita tidak bisa memecahkannya maka mintalah bantuan kepada hamba Tuhan atau konselor untuk menolong kita menyelesaikan masalah kita, supaya keintiman atau kemesraan itu kembali bisa ditumbuhkan.
GS : Jadi sebenarnya mana yang lebih baik, khususnya untuk pasangan yang belum menikah atau yang masih pacaran kemudian timbul masalah di antara mereka. Yang harus ditonjolkan yang mana ? Keintimannya atau komitmennya untuk menyelesaikan masalah ini ?
PG : Jikalau kita memunyai masalah dalam relasi, maka yang pertama adalah kita harus yakinkan pasangan kita bahwa kita memegang janji keterikatan kita bahwa kita akan terus berkomitmen di dalamrelasi ini, dan kita tidak akan meninggalkan dia dan kita akan terus di sini bersamanya sampai masalahnya selesai.
Jadi itulah yang nantinya membuahkan keintiman sebab pasangan kita akan merasakan bahwa kita sungguh-sungguh menyayanginya dan kita setia kepadanya. Sehingga nantinya dia pun akan terdorong untuk menyelesaikan masalah. Jadi kalau ada orang yang dalam pertengkaran sudah berkata, "Saya akan pergi saja" maka hal itu nantinya akan lebih merusak sendi-sendi pernikahan mereka, karena kalau orang yang berkata, "Saya ingin pergi saja" itu menunjukkan bahwa dia tidak memunyai komitmen di dalam relasi ini. Jadi dia begitu mudah melepasnya atau membuangnya. Hal ini sudah tentu membuat pasangannya merasa tidak dihargai, akhirnya dia berpikir, "Untuk apa saya memberikan komitmen saya dan berinvestasi sebesar ini, kalau kamunya seperti ini." Jadi akhirnya motivasi dan semangat keduanya untuk memertahankan relasi makin hari makin kendor.
GS : Mungkin ada hal yang lain yang menyebabkan komitmen tanpa keintiman ?
PG : Ada orang yang memutuskan dengan tergesa-gesa, Pak Gunawan, memutuskan untuk menjalin relasi mungkin karena rasa kasihan atau mungkin karena tekanan-tekanan dari luar dan sebagainya. Bila ni yang terjadi maka sesungguhnya relasi sudah mati sebab sudah tidak ada lagi kemesraan, apalagi kalau kita tahu bahwa relasi ini dimulai dengan ketergesaan.
Salah satu contoh yang nyata adalah ada orang-orang yang menikah karena sudah hamil, sebetulnya mereka belum siap menikah dan belum merencanakan menikah, tapi karena sudah hamil lebih dulu, jadi mereka harus menikah. Jadi keputusan berkomitmen diambil tergesa-gesa dalam keadaan tidak siap, kebanyakan dari mereka setelah menikah akan menuai badai, masalah tidak akan berhenti-henti datang dan penyesalan, kemarahan juga tidak berhenti-henti datang. Jadi sesungguhnya kasih mesra itu telah hilang dan relasi itu juga hampir mati, tapi seringkali mereka tidak tahu harus berbuat apa dan seringnya juga ada orang yang merasa dirugikan karena sudah harus berkomitmen menikah. "Saya harus meninggalkan hidup saya, saya harus meninggalkan tugas saya," ada orang yang merasa terjebak, "Gara-gara kamu, jadinya saya harus hidup dengan kamu." Ini semua menimbulkan reaksi-reaksi yang negatif dan mengurangi respek serta kasih mesra terhadap pasangan, pada akhirnya relasi itu tidak bertahan lama.
GS : Pak Paul, rupanya lebih banyak alasan pada orang yang komitmennya ada namun keintimannya tidak ada. Mungkin masih ada lagi alasannya ?
PG : Ada satu lagi, yaitu ada orang yang menjalin komitmen tapi tidak ada keintiman karena relasinya itu dimulai dari rasa kasihan atau tanggung jawab belaka dan akhirnya menikah dan sebagainya Bila ini yang terjadi maka sekali lagi relasi itu sebetulnya sudah mati dan dalam relasi seperti ini mudah sekali terjadi ketidak setiaan atau terjadi perselingkuhan karena dari awalnya sudah tidak ada cinta dan kasih mesra, yang ada hanyalah komitmen sehingga, "Ya sudahlah."
Akhirnya apa yang terjadi ? Dia menjadi tidak setia ketika bertemu dengan orang yang sungguh-sungguh disayangi. Jadi hati-hati dengan rasa bersalah, meskipun rasa bersalah itu baik, tapi di pihak lain kita juga mesti hati-hati karena kalau kita menjalin komitmen dan relasi atas dasar rasa bersalah, maka sebenarnya kita hanya menyediakan kulit luarnya bukan tulang-tulang di dalam, yang bisa membangun sebuah relasi yang kokoh.
GS : Pak Paul, dari pembicaraan yang cukup kompleks dan cukup membantu bagi para pendengar kita, bagaimana kalau Pak Paul membuat sebuah kesimpulan atau contoh-contoh konkret ?
PG : Saya akan memberikan contoh dari Firman Tuhan, yaitu pada kasusnya Daud dan Batsyeba di dalam Firman Tuhan di kitab II Samuel 11 dijelaskan apa yang terjadi di antara Daud dan Batsyeba, mreka melakukan perzinahan, ini adalah contoh keintiman tanpa komitmen.
Mereka berdua berhubungan di luar pernikahan dan karena dia takut ketahuan, bahkan Raja Daud membunuh suaminya Batsyeba yaitu Uria. Yang sangat menyedihkan adalah hampir sama seperti Daud, putranya pun melakukan hal yang sama kepada adik tirinya yaitu Amnon memperkosa Tamar, keintiman tanpa komitmen sama sekali. Apa hasilnya ? Hasilnya adalah kehancuran. Keintiman tanpa komitmen adalah sebuah perzinahan dan hasil akhirnya adalah kehancuran. Gara-gara Daud berzinah dengan Batsyeba maka mulai dari titik itu sampai akhirnya Daud tidak pernah berhenti-henti dirundung oleh masalah, pemberontakan, perpecahan keluarga, upaya untuk membunuhnya. Jadi kita melihat ada sebuah kehancuran. Apa yang terjadi pada Amnon dan Tamar ? Sama juga yaitu kehancuran. Kakaknya Tamar yaitu Absalom marah dan akhirnya merancang skenario membunuh adik tirinya Amnon. Jadi kita melihat kebenaran Firman Tuhan di Amsal 5 bahwa perzinahan adalah sebuah kematian, Alkitab tidak memanggil perzinahan dengan nama-nama manis yang lain, tapi memanggil dengan nama-nama yang sangat serius yaitu kehancuran dan kematian. Jadi janganlah kita menjalin sebuah keintiman tanpa komitmen. Contoh kedua yang bisa juga kita angkat dari firman Tuhan yaitu kasus Yakub dan Lea di Kejadian pasal 29 hingga 50, kita bisa melihat kehidupan keluarga Yakub. Yakub tidak mencintai Lea tapi Yakub memiliki komitmen dengan Lea karena dia adalah istrinya, ini adalah kasus komitmen tanpa keintiman. Apa isi dari komitmen tanpa keintiman ? Isinya adalah penipuan, Lea merasa ditipu, tidak disayang dan akhirnya dia penuh dengan kepahitan dan akhirnya yang terjadi adalah kehancuran juga. Anak-anak Lea marah dan tidak menyukai papanya, karena papanya hanya menyayangi Yusuf dan Benyamin yang adalah anak dari Rahel (istri yang dicintai) dan merancang rencana yang sangat jahat yaitu membunuh Yusuf. Jadi akhirnya selama bertahun-tahun mereka harus hidup di dalam kemalangan, rasa sedih, dan Yakub benar-benar beranggapan bahwa anaknya sudah dibunuh oleh hewan buas padahalnya dijual oleh kakak-kakaknya sendiri. Jadi kita bisa melihat contoh adanya komitmen tanpa adanya keintiman dan yang terjadi adalah orang merasa ditipu dan dikhianati, dan kemudian nantinya anak-anaknya yang marah dan menjahati papanya dan orang yang dikasihi oleh papanya.
GS : Jadi antara keintiman dan komitmen ini rupanya sangat terkait erat karena dari dua contoh yang Pak Paul sampaikan tadi, keintiman yang tanpa komitmen ataupun komitmen tanpa keintiman kedua-duanya akan menghasilkan kehancuran bagi keluarga itu.
PG : Betul sekali. Jadi memang dua-duanya harus ada. Tuhan mendesain kehidupan seperti itu dan mesti ada komitmen dan keintiman, kalau tidak ada salah satunya maka masalahlah yang kita harus tui.
GS : Apakah itu akan bertumbuh bersama-sama atau salah satu tumbuh lebih dahulu atau bagaimana ?
PG : Jadi awalnya kita harus melandasi dengan sebuah komitmen, di dalam landasan komitmen itulah keintiman baru mulai bertumbuh. Namun untuk terus bisa bertumbuh maka keintiman itu harus terus ilindungi oleh komitmen.
Jadi komitmen harus terus bertambah dan bertambah, tambah setia, tambah eksklusif, tambah memisahkan diri dan nanti akan bertumbuh keintiman. Jadi awalnya adalah sebuah janji bahwa saya mau setia dan di dalam janji mau setia itulah maka keintiman baru bisa bertumbuh. Jangan kita memulai dengan keintiman dan barulah kita memikir-mikir apakah mau ada komitmen. Jadi harus dilandasi oleh komitmen terlebih dahulu.
GS : Adanya sebuah hubungan yang didasari oleh komitmen tanpa keintiman, seringkali itu melanda pasangan-pasangan yang sudah lama menikah, Mungkin timbul kejenuhan atau kebosanan.
PG : Betul sekali. Jadi ada sebagian pasangan yang sudah lama menikah, tapi tidak ada lagi keintiman maka mereka sudah harus memeriksa lagi, kenapa sekarang tidak ada lagi ? Kalau ada penyebab-enyebab atau masalah-masalah di antara mereka maka itu harus dibereskan agar nantinya keintiman bisa kembali bertumbuh dalam relasi mereka.
GS : Tadi Pak Paul sudah sampaikan beberapa penyebab hal itu bisa terjadi, namun sebelum kita mengakhiri perbincangan kita ini mungkin Pak Paul mau menyampaikan ayat Firman Tuhan ?
PG : Ada dua yang ingin saya bacakan, yang pertama adalah Amsal 5:21, "Karena segala jalan orang terbuka di depan mata Tuhan dan segala langkah orang diawasi-Nya." Ini peringatan dari kita buatTuhan, Tuhan melihat kita dan mengawasi kita jadi tidak bisa kita membohongi Tuhan dengan nama-nama yang bagus-bagus untuk menutupi perbuatan kita yang sesungguhnya.
Dan Firman Tuhan yang kedua adalah Zakharia 7:9, "Beginilah firman Tuhan semesta alam: Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing!" Dua hal yang telah kita bicarakan yaitu kesetiaan atau komitmen dan kasih sayang kepada masing-masing. Ini adalah resepnya yaitu ada kesetiaan, ada kasih sayang.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Komitmen dan Keintiman" bagian yang kedua. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by admin on Thu, 04/06/2009 - 4:52pm.
Abstrak:
Sekarang ini muncul sebuah tren baru di tengah kawula muda seperti Teman Tapi Mesra dan Hubungan Tanpa Status. Pada dasarnya semua ini merujuk kepada relasi yang relatif intim bak pacar namun tidak berstatus sebagai pacar. Sudah tentu jika relasi ini hanyalah pertemanan biasa, kita tidak perlu mempermasalahkannya. Namun apabila relasi ini berubah menjadi relasi intim secara fisik tanpa komitmen, hal ini perlu mendapat perhatian kita. Apa pun namanya, sesungguhnya relasi seperti ini mencerminkan sebuah nilai yang berkembang di tengah kita yaitu hilangnya komitmen yang seyogianya menjadi dasar sebuah relasi yang intim. Di sini akan dipaparkan pentingnya keberadaan komitmen dalam keintiman dan peran keintiman dalam komitmen.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami tentang "Komitmen dan Keintiman". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Rupanya ada kaitan yang cukup erat Pak Paul, antara komitmen dan keintiman. Jadi ada satu sisi kesetiaan tetapi sisi yang lain juga ada keintiman. Dan bagaimana hubungannya antara komitmen dan keintiman itu ?
PG : Keduanya itu memang saling mengisi dan saling menyuburkan dan sangat terikat. Jadi pada akhirnya tidak mungkin kita ini mau membangun keintiman tanpa komitmen dan tidak mungkin juga memerthankan komitmen tanpa adanya keintiman.
Jadi kedua hal ini sebetulnya adalah unsur atau bahan yang membangun sebuah relasi yang kuat.
GS : Kalau kita berbicara tentang keintiman, bayangan kita khususnya adalah hubungan antara orang yang berbeda jenis seks antara pria dan wanita yang masih muda, sudah berkeluarga dan sebagainya. Dan ini apa kaitannya, Pak Paul ?
PG : Begini, Pak Gunawan. Saya kira kita perlu untuk membahas hal ini karena dewasa ini tampaknya makin banyak saja orang-orang yang kendor dengan batas-batas antara relasi perempuan dan laki-lki.
Jadi misalkan di kalangan kawulamuda dan juga bahkan di kalangan suami istri mulai berkembanglah sebuah istilah seperti hubungan tanpa status atau teman tapi mesra, itu adalah istilah yang menggambarkan relasi antara dua orang tanpa komitmen tapi masih tetap mau mencicipi keintiman. Kalau hanya sebatas pertemanan saya kira tidak apa-apa, tapi kalau misalkan dalam relasi itu akhirnya terjadilah perbuatan seksual apalagi kalau mereka sudah menikah dengan orang lain maka ini akan menjadi suatu ladang dosa yang subur di tengah-tengah kita.
GS : Sebenarnya setiap kita mengharapkan ada keakraban atau keintiman dengan yang sesama jenis maupun yang berlawanan jenis. Tetapi masalahnya untuk punya komitmen menjaga keakraban atau keintiman ini yang sulit bagi kita.
PG : Saya kira ini adalah kodrat manusiawi kita, kadang-kadang kita itu tidak mau membayar harga untuk sesuatu yang kita inginkan. Untuk bisa mencicipi sebuah keintiman maka kita harus membayarharganya dan harganya adalah sebuah janji keterikatan.
Jadi seharusnyalah itu yang terjadi. Keintiman itu bergerak dari umum ke spesifik, dari luas ke sempit, dari banyak ke satu atau dari inklusif ke ekslusif, dengan pergerakan itulah maka relasi itu berkembang, jadi seperti kerucut dari bawah lebar dan luas kemudian naik ke atas menjadi kecil dan menyatu. Seharusnyalah suatu relasi menjadi makin intim, maka komitmen antara keduanya juga makin menguat dan makin menguat sehingga pada akhirnya keintiman itu makin diikat oleh komitmen dan nanti pada akhirnya komitmen itu juga menambah keintiman yang terjalin di antara kedua orang.
GS : Jadi sebenarnya kita tidak boleh terlalu intim dengan banyak orang seperti itu ?
PG : Tidak bisa, Pak Gunawan. Jadi akhirnya kita harus menyadari bahwa kalau pun kita ingin tapi tidak memungkinkan, karena kalau kita mau intim lebih dari satu orang maka kita akan merugikan slah satu pihak.
Mungkin kitanya disenangkan dan dipuaskan, tapi sudah tentu kita akan mengorbankan orang lain yang bergantung pada kita dan bersandar pada janji keterikatan kita. Sebab mungkin sekali dia memberikan dirinya kepada kita dalam keintiman karena dia percaya bahwa kita pun juga akan memerlakukan dia seperti itu. Itu sebabnya Pak Gunawan, sebagai anak-anak Tuhan kita mesti berhati-hati menjaga hati kita, sebab pada dasarnya setiap relasi sanggup atau berpotensi untuk berkembang menjadi sebuah relasi yang intim antara lawan jenis yang saya maksud. Jadi syaratnya sebetulnya hanyalah dua, yaitu adanya ketertarikan dan ketertarikan itu kemudian dipupuk dengan interaksi. Jadi kalau ada ketertarikan kemudian kita menyediakan waktu bergaul, berbicara dengan orang itu terus-menerus, maka tinggal tunggu waktu relasi itu akan berkembang menjadi sebuah keintiman. Sebagai anak-anak Tuhan kita harus menyadari hal ini. Dan janganlah kita itu naïf dan berkata, "Saya hanya berteman saja" tapi kita menyadari ada ketertarikan dan kita tidak mau membatasi malahan terus menyediakan waktu untuk kita bersama terus dengan dia. Tidak bisa tidak, relasi ini pada akhirnya akan bertumbuh menjadi sebuah keintiman. Maka kalau kita tidak mau menuju kepada keintiman, kalau kita sudah memunyai komitmen dengan orang lain, maka janganlah kita memulai dengan orang lain dengan berkata, "Saya hanya berteman saja," tidak! Selama ada ketertarikan dan dipupuk dengan interaksi maka pada akhirnya itu akan berubah menjadi sebuah keintiman.
GS : Tapi biasanya pada awalnya kita juga tidak menyadari kalau itu adalah sebuah ketertarikan, Pak Paul, kadang-kadang bisa juga karena belas kasihan dan kemudian kita mau menolong, kita mau menghibur dan sebagainya. Dari interaksi yang tadinya berawal dari belas kasihan, kemudian muncul ketertarikan dan seringkali kita tidak menyadari bahwa itu sudah berubah, Pak Paul ?
PG : Bisa jadi. Memang ada awal-awal kita tidak menyadari bahwa kita tidak memunyai ketertarikan sebab mungkin itu murni bahwa dia ingin menolong seseorang yang dalam kesusahan dan sebagainya. aktu relasi berkembang menjadi suatu ketertarikan, disitulah kita harus bertanya apakah ini suatu relasi yang boleh berkembang menjadi sebuah keintiman ? Karena misalkan kalau kita sudah menikah atau kita sudah memunyai seorang pacar dan sudah memunyai komitmen dengan pacar tersebut maka kita harus membatasinya, kita tidak bisa naïf dan berkata, "Tidak apa-apa hanya berteman saja," namun di dalam hati masing-masing sebetulnya kita menyadari bahwa kita sudah ada ketertarikan dan ketika ketertarikan dipupuk dengan interaksi, kunjungan, pembicaraan, SMS maka tidak lama lagi relasi itu menjadi relasi yang intim.
Seringkali orang tetap mau menikmati keintiman itu dan tidak mau disalahkan karenanya maka menamakan relasi itu dengan nama-nama yang lain. Kalau orang bertanya, "Ini siapa?" maka kita menjawab, "Teman." Ada seseorang yang saya kenal dan saya tahu tinggal bersama perempuan lain yang bukan istrinya karena mereka kumpul kebo dan ini terjadi di luar negeri, setiap kali kalau dia ditanya maka dia selalu menjawab, "Ini adalah teman saya" dan dia tidak pernah mengatakan kata yang lain atau istilah yang lain. Sudah tentu kenapa orang berkata, "Ini teman saya" dan tidak mau mengakui bahwa, "Ini adalah rekan perzinahan saya," karena itu adalah istilah yang begitu keras untuk menegurnya. Jadi itu adalah kecenderungan manusia bahwa kita akan menutupinya dengan nama-nama yang lain, supaya kita tetap bisa mendapatkan yang kita inginkan.
GS : Kalau mengenai pertemanan. Memang sebelum pernikahan itu disebut dengan pertemanan dan pacaran, dan orang juga sering berpikir bahwa saya dan dia belum tentu jadi dengan orang ini, maka saya sebut saja dia teman. Sementara itu dia mencoba intim dengan orang-orang lain, dengan harapan kalau nanti putus dengan yang tadi maka dia masih memiliki cadangannya.
PG : Dalam hal seperti itu yang ingin saya katakan adalah kalau kita memang belum yakin maka kita tidak boleh membangun keintiman. Jadi kita memang belum ada komitmen maka kita pun juga tidak bleh membangun keintiman dengan dia.
Dan dari awal kita juga harus jelas dengan dia bahwa ini adalah sebuah relasi biasa, pertemanan biasa dan tidak ada ikatan apa-apa. Dalam kapasitas sebagai teman seperti itu, saya kira kita bebas untuk bergaul dengan orang-orang dan siapa tahu dalam pergaulan itu kita akan menemukan kecocokan sehingga akhirnya dia bisa lebih serius. Yang salah adalah kalau kita sudah berjanji untuk menjadi pacarnya atau kekasihnya kemudian setelah itu disamping dengan dia, kita juga menjalin relasi dengan orang lain. Waktu pacar kita tanya dan kita menjawab, "Saya dan dia tidak ada hubungan dan hanya teman," tapi sesungguhnya keintiman antara kita dengan teman itu sama dengan keintiman kita dengan pacar kita. Kalau kita berbuat seperti itu maka kita sudah menyalahinya dan yang benar adalah kita harus membereskan dulu dengan yang satu ini. Kalau kita menemukan ketidak cocokan maka kita harus memikirkan ulang relasi ini kalau pun tidak cocok lagi silakan kita putus, tapi katakan secara terbuka dan jangan nantinya kita menduakan atau mentigakan orang, berjalan sekaligus dengan dua atau tiga orang dan kemudian melihat siapa yang nanti akan bertumbuh, tidak seperti itu. Kita ini membangun relasi satu tanaman demi satu tanaman, dan kita tidak boleh seperti menebar benih kemudian melihat siapa yang bertumbuh. Kalau limanya tumbuh maka kelima-limanya kita pilih, tidak seperti itu! Tapi satu relasi demi satu relasi, kalau satu relasi ini tidak jalan baru kemudian kita membentuk relasi yang lain.
GS : Mungkin batasan yang sulit ditemukan khususnya oleh para pemuda, seberapa jauh keintiman itu sebenarnya ? Ataukah hanya pergi berdua sudah disebutkan sebagai suatu keintiman ?
PG : Kalau kita melakukan itu dan hanya batas seperti itu dengan pengertian bahwa kita hanya pergi-pergi saja, tidak ada ikatan apa-apa saya kira sampai batas itu tidak apa-apa dan yang menjadiapa-apa adalah kalau itu berubah atau berkembang menjadi suatu keintiman fisik, misalnya kita mulai menciumnya, kita mulai memegang-megangnya dan sebagainya, dan itu menjadi sesuatu yang salah.
Jadi kita tidak boleh melewati batas itu. Dan yang seringkali terjadi seperti itu, jadi ada orang-orang yang mengatas namakan teman tapi bergaulnya sangat mesra bahkan ada yang berbuat hal-hal yang bersifat seksual namun tetap mengatakan bahwa kami hanya teman. Kita tidak boleh melihat hal ini hanya dari kacamata kita sebagai manusia tapi kita juga harus memandangnya dari kacamata Tuhan, "Apakah ini adalah perbuatan yang Tuhan kehendaki ataukah ini adalah suatu perbuatan yang Tuhan larang." Saya takutnya seperti ini, kita ini sebetulnya melakukan sebuah dosa yang lama yaitu dosa perzinahan namun kita memberikan nama yang lain untuk dosa yang sama ini sebab itu adalah akal bulus dari iblis. Iblis selalu menampakkan atau menyodorkan dosa yang sama, namun dengan wajah berbeda tapi ujung-ujungnya semuanya adalah sama. Sebagai contoh pada tahun 1960an waktu gerakan 'Hippies' berkembang di Amerika Serikat, mereka tinggal bersama dan banyak di antara mereka yang melakukan hubungan seks dengan teman dan sebagainya dan mengatas namakan semuanya itu dengan sebutan kasih atau cinta. Jadi atas nama cinta maka boleh saja berbuat apa pun, sebetulnya isinya adalah sama yaitu suatu perzinahan karena kita berhubungan dengan orang-orang yang bukan pasangan nikah kita, tapi kita membolehkannya atas nama cinta. Jadi kita melihat iblis selalu menyodorkan dosa yang sama namun dengan wajah yang baru, ini yang harus kita ingatkan kepada diri kita sendiri bahwa jangan sampai kita termakan dan masuk ke dalam dosa yang sama itu tapi dengan nama yang baru.
GS : Memang seringkali yang dikatakan oleh mereka yang melakukan hal itu, "Kita melakukan ini atas dasar suka sama suka, jadi tidak ada paksaan dan sukarela" dan yang menjadi komitmen mereka adalah "Kalau nanti tidak cocok maka mereka akan pisah", jadi tidak ada yang saling menyalahkan dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Ini memang yang dilakukan oleh masyarakat di negeri Barat karena saya cukup lama tinggal di Amerika dan saya tahu bahwa ini adalah hal yang biasa dilakukan oleh banyak orang. Jadi dari beruluh-puluh tahun yang lalu waktu saya masih mahasiswa di sana yaitu di tahun 1970an, hal ini memang sudah lazim dilakukan oleh para kawulamuda di sana, mereka akan pergi kencan dan setelah kencan mereka juga akan berhubungan seksual dan nanti mereka juga bisa berkata, "Baik, saya akan pergi dengan yang lain" dan mereka melakukan hal yang sama lagi, misalkan pergi nonton bioskop setelah itu pulang dari sana berhubungan seksual dan mereka tetap berkata, "Ini teman saya, ini bukanlah kekasih saya atau pacar saya tapi dia hanyalah teman."
Dan sudah tentu kalau mereka berpacaran, hampir bisa dipastikan mereka juga berhubungan seksual, tapi intinya adalah apapun nama yang mereka gunakan, perbuatannya tetaplah sama yaitu berhubungan seksual dengan orang yang bukan istri kita atau suami kita dan Alkitab memanggil itu sebagai suatu perzinahan dan itu adalah dosa di hadapan Tuhan. Jadi kita tidak bisa ikut-ikutan atau menciptakan sesuatu yang baru supaya kita diperbolehkan melakukannya padahal kita tahu kalau isinya sama, isinya adalah ingin melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Tuhan.
GS : Di sini kita berbicara tentang nilai yang dianut oleh orang itu. Jadi kalau mereka tidak menganggap kesucian hidup sebagai suatu nilai yang harus mereka hargai, maka mereka akan melakukan hal-hal seperti itu.
PG : Pada dasarnya memang itu, Pak Gunawan, yaitu semua bergantung pada nilai moral yang kita miliki. Apakah kita mau tetap berpegang pada nilai moral yang Tuhan telah gariskan ataukah kita aka membuat atau menciptakan sebuah nilai moral yang baru.
Awal atau isi dari dosa sebetulnya hanyalah sederhana yaitu saya di atas segalanya bahkan di atas Tuhan. Itulah dosa, dosa adalah saya mau bebas, saya yang mau melakukan apa pun dan saya tidak mau dihalangi oleh siapa pun atau apa pun dan dosa akan menampakkan dirinya dalam pelbagai bentuk. Kaitannya dengan para remaja pemuda ini, salah satu dosa terberat adalah masalah hubungan dengan lawan jenis apalagi dengan makin kuatnya serangan pornografi ke dalam kehidupan kita ini, maka dorongan untuk berhubungan seksual menjadi lebih besar lagi. Maka dipanggillah atau dibuatnya nama-nama baru agar para kaum muda ini bisa tetap mencicipi keintiman fisik tanpa harus membayar komitmen itu sendiri, apalagi kita tahu ini berhubungan dengan Tuhan, ini tidak menyenangkan hati Tuhan maka kita benar-benar harus taat kepada Tuhan dan tidak boleh menuruti kepentingan diri sendiri.
GS : Berarti dalam hal ini yang namanya komitmen itu bukan hanya terhadap teman kita saja tapi komitmen kita terhadap Tuhan, masyarakat, orang tua dan sebagainya. Jadi sebenarnya banyak hal, Pak Paul ?
PG : Jadi dasarnya adalah sebetulnya sebuah komitmen terhadap Tuhan. Jadi kita berkomitmen untuk menaati kehendakNya dan kita hanya akan mencicipi atau menikmati keintiman di dalam komitmen kit kepada Tuhan.
Langkah berikutnya sudah tentu adalah kita juga harus memunyai komitmen terhadap orang yang dengannya kita mau menjalin sebuah relasi yang akrab. Dalam konteks ini ada dua unsur yang kita harus perhatikan. Komitmen itu berdiri di atas dua tiang atau dua kaki, yaitu kesetiaan dan keterpisahan. Yang saya maksud dengan kesetiaan adalah bahwa kita akan bersamanya meskipun kita belum menikah, masih dalam tahap berpacaran tapi kita akan bersamanya dan tidak akan menduakan dia atau menjalin hubungan yang sama seriusnya dengan orang lain pada saat yang bersamaan. Jadi kesetiaan adalah benar-benar bahwa saya loyal dan saya akan bersamamu dan saya tidak akan melakukan hal yang sama dengan orang lain. Inilah dasarnya yaitu kesetiaan. Kedua adalah keterpisahan artinya saya akan memerlakukan pasangan saya secara ekslusif, secara berbeda dan saya tidak akan memerlakukan dia persis sama dengan orang-orang lain dan saya pun akan memerlakukan diri saya demi dia secara berbeda. Saya tidak akan membiarkan diri saya bergaul sama bebasnya dengan orang lain, karena saya sedang menjalin relasi yang eksklusif dengan pacar saya ini. Jadi mesti ada aspek keterpisahan, mesti ada aspek yang membuat kita merasa bahwa relasi ini berbeda dari relasi lainnya.
GS : Berarti pada masa pacaran, sebenarnya adalah waktu yang tepat bagi pasangan awal untuk membina atau menumbuhkan rasa kesetiaan atau rasa keterpisahan, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Ini adalah modal, modal yang diperlukan nanti untuk membangun relasi nikah yang sehat sebab bukankah kita mendengar ada pasangan nikah yang belum apa-apa sudah ribut dan mau erai.
Kenapa ? Salah satu alasan yang diberikan adalah waktu masih pacaran pun dia sudah tidak setia, waktu masih pacaran pun dia memunyai dua pacar, tiga pacar dan di belakang saya, saya tidak tahu apakah dia punya pacar lain dan sebagainya. Bukankah pengalaman seperti itu akan menorehkan sebuah luka di dalam hati orang dan waktu menikah maka luka itu akan mudah sekali untuk tergores kembali apalagi kalau melihat bahwa pasangannya itu seenaknya saja dengan orang. Jadi sekali lagi ini adalah modal yang kita bawa ke dalam pernikahan, sama seperti keterpisahan, kalau kita memerlakukan pasangan kita itu sama ringannya seperti kita memerlakukan orang-orang lain, maka pasangan kita tidak akan merasakan bahwa dia adalah orang yang khusus dalam hidup kita dan kalau pun kita memerlakukan diri kita seperti itu yaitu seenaknya kalau diajak orang mau saja. Maka pasangan kita akan melihat diri kita, bahwa kita tidak membuat dirinya khusus, kita tidak mau memisahkan orang lain demi dia. Akhirnya apa yang terjadi ? Waktu sudah menikah perasaan-perasaan seperti ini mudah kita bawa dan akhirnya mudah muncul kemarahan, kalau misalkan masalah yang sama timbul maka kemarahan itu akan mengingatkan diri kita, "Memang dari dulu kamu selalu seperti ini, dan dari dulu kamu memang tidak pernah memerlakukan saya secara khusus, dari dulu kamu pun seenaknya sendiri." Dengan kata lain, akhirnya kita masuk ke dalam pernikahan dengan membawa benih-benih yang tidak sehat ini.
GS : Padahal ada pasangan-pasangan seperti itu yang mengatakan, "Ini nanti akan terselesaikan kalau kita menikah," jadi biarkan ini terjadi sebelum menikah tapi nanti kalau sudah menikah maka dia akan berubah dan kenyataannya tidak seperti itu.
PG : Betul. Jadi apa yang kita tanam pada akhirnya itu akan bertumbuh. Jarang sekali apa yang kita telah tanam pada akhirnya akan terkikis dengan sendirinya. Tidak seperti itu. Dan kita memang arus bekerja keras untuk membangun sebuah relasi nikah yang sehat dan itu diawali bukan pada hari tepat kita menikah tapi itu diawali tatkala kita mulai membangun relasi dengan dia.
Seperti apakah dia memerlakukannya ? Apakah dengan kesetiaan ataukah dengan keterpisahan, itu nanti yang akan melahirkan keintiman, Pak Gunawan. Waktu kita telah berhasil membangun komitmen seperti itu pada masa berpacaran maka pada waktu kita menikah, nantinya akan melahirkan sebuah keintiman, baik keintiman emosional maupun keintiman fisik, karena pasangan kita dan kita akan merasakan aman bahwa kita ini sekarang bersama dengan orang yang saya tahu setia, yang saya tahu memerlakukan saya dengan terpisah dan dengan khusus yang juga membuat dirinya terpisah dari orang lain demi saya dan ini menimbulkan rasa aman dan dalam rasa aman seperti inilah barulah keintiman bisa muncul. Maka kalau orang setelah menikah misalnya mengeluh, "Suami saya tidak sayang kepada saya dan istri saya tidak sayang kepada saya, tidak bisa dekat dengan saya dan tidak bisa intim dengan saya," mungkin kita harus mundur ke belakang dan bertanya apakah kita telah melakukan bagian kita untuk memelihara komitmen itu, sebab komitmenlah yang nanti melahirkan keintiman dan keintiman hanya bisa muncul, bertumbuh dengan sehat kalau aman terlindungi di dalam ikatan komitmen tersebut.
GS : Tapi sebaliknya juga bisa terjadi Pak Paul, jadi semasa pacaran itu kelihatan sekali orang itu setia, orang itu memunyai keterpisahan dengan kita dan memperlakukan kita secara khusus tapi setelah menikah justru keadaannya berbalik, Pak Paul.
PG : Itu juga bisa. Jadi ada orang yang sebelum menikah memerlakukan kita secara khusus tapi lama-lama tidak lagi, itu berarti ada hal-hal yang muncul dalam pernikahan, mungkin itu pertengkaranatau mungkin perbedaan yang belum bisa diselesaikan.
Jadi hal-hal itu nantinya perlu dibereskan dan barulah keintiman itu dikembalikan ke dalam pernikahan.
GS : Berarti ada suatu keterkaitan yang sangat erat antara keintiman dan komitmen.
PG : Betul, Pak Gunawan. Dalam komitmenlah maka keintiman itu bisa bertumbuh dan keintiman itu akan terus bisa bertumbuh kalau dia dilindungi rasa aman di dalam komitmen.
GS : Dan itu harus dilakukan oleh kedua belah pihak, Pak Paul, karena tidak mungkin kalau hanya dilakukan sepihak saja.
PG : Betul sekali. Jadi secara alamiah kita melakukannya, kemudian baru akan menyerahkan diri kita dengan lebih bebas kalau kita merasa aman. Maka kita harus menyediakan rasa aman itu dulu yait suatu ikatan atau suatu komitmen, "Saya tidak akan kemana-mana dan saya setia kepadamu, saya memisahkan diri saya demi kamu," dalam komitmen seperti itu maka barulah keintiman bisa bertunas.
GS : Dan itu saling jalin-menjalin sehingga menjadi suatu satuan yang kokoh, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Maka dalam relasi nikah yang kuat seperti itu yang terjadi bertahun-tahun kemudian setelah mereka menjalani pernikahannya, kita akan melihat sebuah kesatuan yang sungguh-sunguh menyatu dengan sangat harmonis.
GS : Jadi ini adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan tetapi buahnya bisa kita nikmati pada saatnya nanti, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Kalau kita sembarangan di masa-masa awal maka kita tidak akan menikmati buah itu.
GS : Dan sehubungan dengan ini Pak Paul, apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Saya akan bacakan Amsal 19:22, "Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong." Lawan dari kesetiaan adalah kebohongan. Jadi uhan menginginkan kesetiaan dan janganlah kita ingkar janji, kita sudah dekat dengan dia maka teruslah dan jagalah relasi ini, setialah dan pada akhirnya janganlah berbohong dan melukai hati orang yang kita kasihi.
GS : Pak Paul, mungkin ada beberapa segi yang harus kita bicarakan tentang komitmen dan keintiman ini, dan kita akan lanjutkan pada perbincangan TELAGA yang akan datang. Terima kasih sekali untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Komitmen dan Keintiman" bagian yang pertama, dan kita akan melanjutkan perbincangan ini pada kesempatan acara TELAGA yang akan datang. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id , kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by admin on Thu, 04/06/2009 - 4:48pm.
Abstrak:
Salah satu tekanan besar yang kerap menghantam remaja putri adalah pengalaman dicintai oleh seorang pria. Jika sampai usia tertentu tetap tidak mendapat pacar dan dicintai oleh seorang pria, remaja putri merasa seakan ia tidak lagi bernilai. Orangtua mesti mencermati hal ini dan memberi dukungan sekaligus pengarahan yang tepat kepada anak putri mereka. Sebenarnya apa saja yang menekan si remaja putri ini sehingga dia ingin dicintai ? Dan dukungan apa yang orang tua perlu berikan?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami merupakan kelanjutan dari perbincangan kami terdahulu tentang "Remaja Putri dan Cinta". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita sudah memerbincangkan tentang tekanan-tekanan yang dihadapi oleh remaja putri khususnya dan pada kesempatan ini kita akan membicarakan bagaimana kita sebagai orang tua menolong agar tekanan itu bisa diantisipasi. Tetapi sebelum kita berbincang-bincang lebih lanjut, mungkin Pak Paul bisa menguraikan secara singkat hal-hal apa yang memberikan tekanan kepada remaja putri di dalam mencari cintanya ?
PG : Sekurang-kurangnya ada tiga, Pak Gunawan. Yang pertama adalah dewasa ini penekanan pada kecantikan makin bertambah. Jadi alat-alat kosmetik yang ditawarkan atau juga penekanan pada kebugarn juga makin menguat.
Jadi remaja putri lebih ditekan untuk tampil langsing dan cantik, dengan kata lain akhirnya mereka mau tampil cantik dan menawan supaya dicintai atau diperhatikan oleh putra. Kalau misalnya mereka mendapatkan cinta dari seorang pria maka bagi mereka itu merupakan sebuah bukti bahwa mereka cukup cantik dan mereka cukup menawan. Sekarang juga cukup banyak orang tua yang repot di luar, sehingga sehingga kurang banyak waktu pada remaja putrinya. Semua anak pada dasarnya perlu kasih sayang dari orang tua tapi karena anak perempuan perasaannya lebih halus maka kebutuhan emosionalnya menjadi lebih besar. Sehingga mereka membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Kalau itu tidak mereka dapatkan, maka itu akan mendorong mereka untuk mencarinya di luar. Maka akibatnya mereka lebih mudah sekali menerima cinta dari pria siapa pun. Yang ketiga adalah dewasa ini juga menekankan pada prestasi akademik atau bisa melakukan ini dan itu, bisa bahasa Inggis, Perancis dan sebagainya. Dan memang tidak bisa kita sangkal bahwa kebisaan-kebisaan ini sepertinya membawa bonus, sebab pada faktanya pria juga cepat terkagum dengan wanita yang cerdas serta memunyai banyak kebisaan. Kita juga sudah bahas pada kesempatan yang lampau bahwa kalau wanitanya terlalu cerdas, itu juga bisa membuat si prianya menjadi takut. Tapi seringkali kalau pria-pria sedang ngobrol di antara mereka, seringkali yang mereka bicarakan adalah tentang wanita yang mereka anggap cerdas dan banyak kebisaan dan mereka mengagumi perempuan yang seperti itu. Dan akibatnya perempuan merasa lebih ditekan lagi untuk mampu dan cerdas, bisa ini dan itu. Dengan kata lain jadinya banyak remaja putri yang harus hidup di dalam tekanan-tekanan seperti ini yaitu tekanan-tekanan yang membuat mereka ingin sekali memunyai seorang pria yang bisa mencintai mereka, sebab inilah yang akan membuat diri mereka aman, komplit. Seolah-olah kalau belum memunyai pacar, rasanya masih ada yang kurang pas atau ada yang masih terhilang dalam diri mereka. Jadi itulah yang mereka kejar-kejar. Itulah yang kita mau bahas saat ini supaya kita bisa memerlengkapi remaja putri kita agar mereka tidak terjebak ke dalam pergaulan yang salah.
GS : Memang ini adalah suatu masa yang sulit bagi remaja putri, dan kita tentunya sebagai orang tua atau yang lebih tua dari mereka pasti tidak akan rela remaja putri kita menjadi korban dari pria-pria yang menyalahgunakan kesempatan ini. Hal-hal apa yang bisa kita gunakan khususnya sebagai orang tua untuk membantu remaja putri ini.
PG : Yang pertama adalah sejak kecil, biasakan untuk tidak memberi penekanan pada penampilan jasmaniah, misalnya adalah jika kita harus memberinya arahan tentang kebiasaan olahraga jangan kaitkn olahraga itu dengan kecantikan.
Jangan berkata, "Makan sedikit saja dan jangan terlalu banyak nanti kamu jelek," atau "Jangan gemuk-gemuk nanti kamu jelek." Jadi jangan kaitkan dengan kecantikan dan sebaliknya kaitkan dengan kesehatan. Memang benar dia perlu menjaga makan agar sehat, memang benar dia perlu berolahraga supaya sehat. Jadi jangan kaitkan supaya cantik. Selama ia telah makan sehat dan telah berolahraga dengan teratur maka terimalah kondisi tubuhnya tanpa memberi komentar lainnya. Jika kita harus memberikan panduan berbusana atau memakai kosmetik maka janganlah memberikan penekanan pada "tampil cantik" melainkan pada "tampil enak atau sedap dilihat". Jadi ajarkan anak untuk sedikit memakai alat-alat kecantikan supaya enak dilihat, jangan sedikit-sedikit ditekankan pada "agar kamu tampil cantik atau kalau tidak pakai ini nanti kamu jelek dan pakai yang ini bagus." Anak-anak yang dijejali dengan konsep cantik atau jelek akhirnya rentan sekali untuk merasa diri minder atau tidak berharga kalau tidak mencapai standart kecantikan itu.
GS : Padahal biasanya orang tua, apalagi yang memiliki anak putri itu memunyai keinginan untuk merias anak putri ini secantik-cantiknya dan dipuji, baik di depan anak itu maupun dipuji di depan orang banyak karena ini adalah anak putri satu-satunya.
PG : Ini adalah sebuah kesalahan. Jadi apakah tidak boleh memuji anak cantik ? Itu boleh-boleh saja, tapi jangan sering-sering atau hanya sekali-sekali saja kita berkata, "Kamu ini cantik" dan angan terlalu tekankan, "Kamu cantik karena tubuhmu langsing dan tinggi semampai, matamu ini dan itu," mengapa ? Seandainya dia memunyai adik dan adiknya tidak seperti kakaknya itu dan kemudian adiknya mendengar maka adiknya akan bercermin dan berkata, "Memang benar saya tidak secantik seperti kakak, berarti saya tidak berharga," dan ini menyebabkan keminderan dalam dirinya.
Sehingga kalau orang tua tidak hati-hati maka orang tua akan mengajarkan anak untuk membangun penghargaan diri atas dasar penampilan jasmaniah dan ini yang perlu kita hindari.
GS : Karena orang tua sangat suka mendandani anaknya, kalau anak laki-laki didandani hanya sederhana yaitu pakai baju dan sudah sampai di situ saja, tapi kalau anak perempuan bisa diberi perhiasan, di make up dan sebagainya. Dan itu menyenangkan buat orang tua, Pak Paul.
PG : Betul dan boleh saja mendandani anak, tapi sekali lagi asal kita menjaga lidah kita dan tidak selalu menekankan kecantikan. Kalau pun mau memuji silakan tapi hanya sekali-sekali, dan yang ebih sering adalah kita mau tekankan pada enak dilihat.
"Kalau kamu memakai seperti ini kamu enak dilihat, kamu memakai pita seperti ini juga enak dilihat." Hal-hal seperti itu jauh lebih positif untuk didengarnya.
GS : Ada hal lain yang orang tua bisa lakukan ?
PG : Yang berikut, sejak kecil ajarkan padanya bahwa pada dasarnya tidak banyak orang cantik di dunia ini. Jadi misalnya kita meminta anak untuk mengeluarkan foto kelasnya dan meminta dia untukmenunjuk teman yang sungguh cantik, misalkan di kelas ada 40 anak dan misalkan ada 20 puteri.
Saya kira waktu dia diminta untuk menunjuk teman-temannya yang cantik dari 20 orang itu maka dia tidak akan menemukan banyak, tapi justru dia akan menemukan bahwa teman yang sungguh cantik hanyalah sebagian kecil mungkin hanya satu atau dua. Jadi kalau pun dia harus membandingkan diri dengan sesama maka kita harus membandingkan dirinya secara realistik dan tepat karena kalau tidak anak-anak akan cenderung berkata bahwa saya tidak cantik, dan seolah-olah orang di luar cantik padahal faktanya hanya sedikit orang-orang yang sungguh cantik dan kebanyakan kita ini hanya biasa-biasa saja. Jadi ingatkanlah pada anak kita bahwa kamu itu biasa, papa dan mama biasa, kebanyakan orang biasa dan kita bisa menyebutkan nama-nama temannya atau orang tua temannya, bukankah semuanya biasa dan yang cantik itu sangatlah sedikit. Jadi bandingkanlah diri kita dengan yang lebih banyak atau yang lebih umum yaitu kebanyakan orang biasa. Dengan cara itu si anak disadarkan bahwa perbandingannya itu tidak tepat bahkan berlebihan.
GS : Dia punya kecenderungan untuk menjadi yang sedikit tapi yang menarik perhatian dari pada yang umum.
PG : Tidak bisa disangkal bahwa kalau dia melihat yang cantik maka dia ingin menjadi yang seperti itu, apalagi kalau melihat iklan, bukankah yang cantik itu dikerumuni oleh pria, dan dalam kehiupan nyata itulah yang dilihatnya yaitu di sekolah, teman-temannya yang cantik itu dikerumuni orang sehingga dia memiliki dorongan itu.
Tapi dia akan kita ingatkan bahwa dia adalah yang mayoritas yaitu yang biasa, supaya dia tahu bahwa dia tidak sendirian dan dia banyak temannya dan itu tidak apa-apa. Mudah-mudahan cara ini menolong dia untuk bisa menerima dirinya.
GS : Tapi bagaimana kalau ada seorang remaja putri yang sangat percaya diri dan dia menunjuk dirinya itu sangat cantik di kalangan teman-temannya yang lain, walaupun dari sudut pandang orang tua sebetulnya dia sedang-sedang saja, tidak terlalu jelek dan juga tidak terlalu cantik dan bahkan ada yang lebih cantik dari dia di kelasnya.
PG : "Bagian tubuhmu yang mana yang kamu anggap indah" dan biarkan dia menunjuknya, biarkan dia berkata, "Rambut saya dan ini yang membuat saya cantik," dan kita akui rambutnya memang baik dan ita harus katakan "Memang rambut kamu indah."
Itu adalah permainan kata yang sama tapi ada sedikit perbedaan, maka itu sudah memberikan suatu perbedaan, Pak Gunawan. Misalkan kita tidak langsung berkata, "Memang benar wajah kamu cantik" tapi kita berkata "Memang benar rambut kamu indah" dan itu lebih spesifik, lebih berdasarkan fakta dan dia mulai melihat dirinya dengan lebih utuh dan lebih tepat pula dan tidak melabelkan dirinya seolah-olah sangatlah cantik tapi dia mulai melihat, "Memang benar, rambutnya yang indah." Atau kita bisa berkata, "Memang benar hidungmu itu mancung." Jadi dia spesifik melihat hidungnya itu.
GS : Ada hal lain yang Pak Paul ingin sampaikan ?
PG : Sebagai orang tua kita ingin mengajarkan atau membedakan antara cantik dan segar, tidak semua orang bisa cantik tapi semua orang bisa segar. Jadi berilah dorongan kepada anak untuk tampil egar dan tidak layu atau kusut.
Jadi kita tekankan kepada dia, "Lihat foto kelasmu, berapa orang yang cantik," hanya sedikit sekali tapi meskipun tidak semua orang berwajah cantik tapi semua orang bisa berpenampilan segar, tidak layu dan tidak kusut. Cobalah kamu berolahraga hiduplah dengan baik, tidur jangan terlalu malam jadi waktu kamu bangun tubuhmu segar dan kamu tampil juga segar. Tubuh dan penampilan yang segar, itu akan membuat orang senang melihat kamu.
GS : Jadi ini berkaitan dengan perawatan tubuhnya yang kita harus perhatikan.
PG : Betul, dan sebenarnya itu tidaklah susah, misalkan keramas dengan teratur, sisirlah rambut dengan baik. Atau misalnya model rambutnya diubah sehingga yang awalnya tampil agak kusut atau awt-awutan sekarang dirapikan jadi lebih enak dilihat.
Jadi ternyata ada hal-hal yang masih bisa dilakukan untuk memaksimalkan penampilan seseorang tanpa dia harus mengubah wajahnya.
GS : Tapi biasanya kalau dia menyadari bahwa dia kurang cantik justru dia malah tidak merawat tubuhnya, Pak Paul.
PG : Justru kita harus ingatkan bahwa kita harus merawat tubuh kita sebaik-baiknya dan nantinya kita akan tekankan bahwa biarlah nanti orang yang menilai kita apa adanya dan yang penting kita tlah hidup bertanggungjawab dengan hidup kita, Tuhan memberikan kepada kita badan ini dan kita harus merawat sebaik-baiknya dan itu yang penting yang harus kita lakukan.
GS : Pak Paul, ada remaja putri yang memang dari penampilan fisik kurang menarik tetapi remaja putri ini begitu mudah bergaul dengan teman-temannya sehingga memunyai daya tarik tersendiri dan ini bagaimana ?
PG : Ini adalah suatu point yang bagus sekali, Pak Gunawan. Jadi memang ada yang namanya anak yang menyenangkan. Tidak harus cantik tapi menyenangkan, cantik adalah kwalitas jasmaniah sedangkanmenyenangkan adalah kwalitas batiniah.
Kita harus menjelaskan kepada anak-anak kita bahwa kecantikan adalah daya tarik berjangka pendek, tetapi menyenangkan adalah daya tarik berjangka panjang. Misalkan kita berikan contoh kepadanya tentang orang terkenal yang tampil cantik namun umur pernikahannya singkat. Ini semua memerlihatkan bahwa kecantikan tidak cukup kuat memikat orang untuk tetap bersamanya, ternyata karakter menyenangkan dan baik adalah perekat sejati yang bertahan lama. Kita bisa langsung bandingkan diri kita sebagai orang tua. Kita bisa berkata, "Papa tidak tampan, dan mama juga tidak cantik, kami hanya biasa-biasa, tapi mamamu adalah orang yang menyenangkan, berkarakter baik dan itulah yang memikat papa." Dari contoh langsung ini akhirnya si anak disadarkan, "Benar juga ya, jadi tidak mengapa kalau tidak cantik" dan itu memang sudah penetapan Tuhan tapi yang penting saya bertanggungjawab untuk membangun karakter yang baik, karakter yang menyenangkan sebab bukankah itu yang pertama yang diinginkan Tuhan dan yang nomor dua adalah itu yang menjadi perekat yang berjangka panjang di dalam relasi.
GS : Dalam hal menyenangkan ini, remaja putri bisa keliru persepsi kalau kita tidak memberikan pengarahan atau bimbingan, apa itu menyenangkan orang lain dan bagaimana menyenangkan orang lain ?
PG : Sudah tentu menyenangkan tidak berarti selalu membuat hati orang tua senang dengan melakukan apa saja, orang meminta atau tuntut dari kita, itu bukanlah definisi menyenangkan yang kita makud.
Jadi menyenangkan berarti berkarakter baik, murah hati, rajin, ramah, tidak sombong, mau mengalah, mau mementingkan kepentingan orang lain tapi juga berani berkata untuk hal yang benar, tidak takut kalau memang ada orang yang mau menekannya kalau dia tahu kalau dia dalam posisi yang benar. Karakter-karakter yang baik ini yang akan menyenangkan orang, kita bisa memberi contoh tentang temannya yang cantik tapi karena tidak berkarakter baik, tidak berkarakter yang menyenangkan akhirnya dijauhi oleh orang, akhirnya kalau punya teman pun putus lagi, ribut lagi dan akhirnya selalu sendiri atau mencari teman baru. Dan bukankah kalau ada orang yang berkarakter baik dan menyenangkan, bisa menjaga persahabatan untuk waktu yang sangat panjang.
GS : Sebenarnya pertanyaannya di dalam diri remaja putri ini adalah apa yang harus saya lakukan supaya teman-teman prianya itu mau dekat dengan dia ?
PG : Betul. Jadi kebanyakan ada pertanyaan seperti itu. Jadi yang dia inginkan adalah apa yang harus dilakukan supaya teman-teman prianya bisa tertarik kepadanya. Dan sekali lagi kita harus teknkan padanya, bangunlah sebuah kepribadian yang baik, yang indah yang nantinya bisa menjadi daya tarik bagi pria-pria.
Kita mesti memberikan penjelasan kepada anak-anak kita bahwa pria menyukai perempuan cantik namun menghormati wanita berkepribadian. Maksud berkepribadian di sini adalah berkarakter baik dan berpendirian teguh dengan kata lain, pria tidak menghargai perempuan yang tampak gamang dan butuh perhatian, pria mungkin menyukainya sebatas penampilan tapi belum tentu menghormatinya. Itu sebabnya kita harus membentuk kepribadian anak sehingga makin hari makin baik dan kita pun mesti mengajarnya memahami hidup sehingga di usia belia dia menjadi seorang anak yang bijak.
GS : Ini kesulitan yang dihadapi oleh banyak remaja putri yaitu membedakan pria yang mendekati dia yang memang sungguh-sungguh mau dekat dengan dia menjadi pacarnya atau hanya sekadar mau main-main saja. Dan itu menjadi kesulitan bagi remaja putri ?
PG : Betul. Maka yang pertama adalah dia jangan selalu menatap pria dengan kacamata, "Apakah ini calon saya, apakah dia ini sedang mengejar saya" itu salah. Ini adalah salah satu masukan yang bsa kita berikan kepada orang tua yaitu alihkan anak perempuan dari keinginan mencari pacar ke mencari teman, jelaskan pada masa remaja tugas pertumbuhan terpenting bukanlah berpacaran melainkan berteman, makin sehat dan bervariasi pertemanannya maka makin diperkaya dirinya sehingga dia bisa makin bertumbuh menjadi pribadi yang kokoh, ajarlah dia untuk tidak melihat pria sebagai kandidat pacar "Apakah dia mau dengan saya atau tidak ?" Jangan seperti itu, melainkan selalu lihatlah pria sebagai potensi pertemanan.
GS : Di sini justru peran orang tua cukup penting karena ada beberapa orang tua yang bangga bahwa anaknya yang SMP itu sudah mulai berpacaran, lalu orang tua ini mulai bercerita kepada tetangga-tetangga atau kepada temannya bahwa anaknya sudah berpacaran, padahal dari sudut pandang anaknya mereka hanya berteman saja.
PG : Dan ini adalah sebuah kesalahan yang merefleksikan nilai-nilai yang ada pada diri orang tua itu bahwa si orang tua itu pun menekankan bahwa selama disukai, dicintai pria maka kita berharga dan itu adalah kesalahan.
Justru kita sebagai orang tua jangan sampai mewariskan nilai-nilai seperti itu, seorang anak perempuan berharga bukan karena dicintai oleh pria, bukan karena dijadikan pacar oleh seorang pria, tapi dia berharga karena karakter-karakternya yang baik dan yang indah itu.
GS : Kalau itu sifatnya pertemanan, berarti dia tidak boleh berteman hanya dengan salah satu orang saja supaya jangan timbul kesan bahwa ini pacarnya.
PG : Betul. Jadi kita anjurkan anak-anak kita pada masa remaja bertemanlah dan bergaullah dengan banyak teman, jangan hanya ekslusif dengan satu teman saja. Jadi itu adalah prinsip yang kita teankan kepada anak-anak kita.
GS : Ada hal lain yang ingin Pak Paul sampaikan supaya bisa membantu orang tua menolong anak remaja putrinya menghadapi kebutuhan cinta itu tadi ?
PG : Terimalah remaja putri apa adanya, dan remaja perempuan mesti tahu dengan pasti bahwa orang tua menyayangi dan menerima sepenuhnya, bukan atas dasar kecantikan dan kecerdasan atau kebisaanlainnya melainkan karena ia adalah pemberian Tuhan yang berharga.
Syukurilah kehadirannya di keluarga atas dasar karunia Tuhan, inilah yang akan menjadi dasar penilaian dirinya bukan perhatian dari pria. Jadi limpahkan anak dengan kasih dan penerimaan dan jangan banding-bandingkan dia dan jangan mencela-cela penampilannya apalagi kecantikannya. Kalau kita lakukan seperti itu maka dia akan semakin merasa harga dirinya terletak pada semua itu yaitu kecantikan, kebisaan dan sebagainya, namun kita harus ucapkan, "Saya bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan sudah mengaruniakan kamu sebagai anak dan kami sayang kepada kamu" sehingga anak tahu dia berharga karena dirinya dan bukan karena kebisaan atau apa yang diperbuatnya.
GS : Mungkin ini adalah sebuah point yang penting karena tidak semua anak lahir dari kondisi fisik yang memang cantik, walaupun bersaudara dan walaupun mungkin saja orang tuanya cantik dan tampan.
PG : Betul sekali. Jadi memang kita harus terima apa yang Tuhan tetapkan pada diri kita dan percaya pada apa yang Tuhan tetapkan itu adalah baik untuk menggenapi rencana Tuhan.
GS : Mungkin masih ada hal terakhir yang mau Pak Paul sampaikan ?
PG : Yang terakhir adalah sebagai orang tua kita mesti bergaul dengan anak perempuan seperti teman dan limpahkanlah kasih kepadanya supaya di dalam keluarga ia menambatkan siapa dirinya sehingg ia tidak tergantung pada yang lainnya.
Kalau kita bisa menjadi teman baginya yang tidak menghakiminya, yang mau menerimanya, yang mau mendengarkannya maka betapa indahnya, dia akan benar-benar menambatkan harga diri itu pada keluarganya sehingga dia tidak lagi seperti perahu yang diombang-ambingkan oleh ombak.
GS : Dan disini memang dibutuhkan perhatian khusus dari orang tua kepada remaja putrinya yang menginjak dewasa ini, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Jadi semakin orang tua itu sudah mempersiapkan sejak awal baik dengan anak, bergaul akrab dengan anak, maka di masa remaja itu mereka sangat berperan besar, karena sebaik ap pun kita mempersiapkan anak-anak remaja putri, biasanya di usia remaja akan ada kegamangan, dia akan sedikit oleng karena tekanan dari luar begitu kuat dan di situlah kita berperan meneguhkan dirinya, dia berharga karena apa yang ada di dalam dirinya dan bukan apa yang tampak di luar dirinya.
Harga itu terletak di dalam dan bukan di luar. Lewat hal-hal seperti itulah akhirnya dia bisa lebih kuat melewati tekanan-tekanan dari luar tersebut.
GS : Memang kadang-kadang sebagian orang tua kesulitan memahami masalah yang dihadapi oleh remaja putrinya, khususnya di dalam hal cinta karena ada beberapa remaja putri yang tidak cukup terbuka sehingga orang tua juga sulit untuk masuk ke dunianya.
PG : Betul. Sudah tentu ada remaja putri yang lebih tertutup sehingga orang tua lebih sulit. Dan dalam kasus seperti itu, kita masih bisa berkata, "Saya masih tetap mencintai kamu dan kami masi sayang kepada kamu."
Jadi tetap komunikasikan hal-hal seperti itu.
GS : Yang dihadapi oleh remaja putri ini tentu tidak terlepas oleh perubahan hormon yang ada di dalam dirinya. Apakah kebutuhan cinta ini juga merupakan dampak dari itu ?
PG : Saya kira dengan bertambah besarnya remaja putri tentu hormon-hormon itu akan bertumbuh menjadi lebih matang dan kebutuhan untuk dekat dengan seorang pria juga akan lebih kuat dan itu betul. Jadi semuanya ini memang makin menekan, baik itu tuntutan dari luar atau pun tekanan dari dalam. Kalau tidak hati-hati maka mudah sekali menjadi orang yang mencari-cari cinta di luar.
GS : Dan tuntunan yang paling tepat tentunya kita dapatkan dari Firman Tuhan. Dan dalam hal ini Firman Tuhan apa yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Amsal 31:30 berkata, "Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji." Kita tahu istri adalah wanita, ini adalah menjadi dasar yang mnjadi kekuatan bagi anak-anak perempuan kita, yang penting adalah orang-orang yang takut akan Tuhan, itu yang akan dipuji dan itu yang akan dihormati.
GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Remaja Putri dan cinta" bagian yang kedua. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by admin on Thu, 04/06/2009 - 4:46pm.
Abstrak:
Salah satu tekanan besar yang kerap menghantam remaja putri adalah pengalaman dicintai oleh seorang pria. Jika sampai usia tertentu tetap tidak mendapat pacar dan dicintai oleh seorang pria, remaja putri merasa seakan ia tidak lagi bernilai. Orangtua mesti mencermati hal ini dan memberi dukungan sekaligus pengarahan yang tepat kepada anak putri mereka. Sebenarnya apa saja yang menekan si remaja putri ini sehingga dia ingin dicintai ? Dan dukungan apa yang orang tua perlu berikan?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Remaja Putri dan Cinta" dan ini adalah bagian yang pertama. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, beberapa hari yang lalu kita berbicara tentang remaja putra dengan pornografinya. Rupanya remaja putri juga mempunyai permasalahan sendiri, dan itu apa, Pak Paul ?
PG : Betul, Pak Gunawan. Saya kira salah satu masalah berat yang dihadapi remaja putri dewasa ini adalah bertambahnya tekanan untuk dicintai. Seolah-olah kalau mereka itu tidak dicintai maka meeka itu tidak lagi bernilai atau tidak berharga.
Sehingga seolah-olah di kalangan remaja putri ada sebuah perlombaan, persaingan untuk dicintai, diperhatikan oleh remaja putra, kalau tidak mendapatkan perhatian itu sampai usia tertentu maka seolah-olah mereka itu menganggap dirinya tidak berharga.
GS : Ini adalah kebutuhan emosional yang harus dipenuhi, apakah itu tidak bisa dipenuhi oleh orang tua mereka, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu, Pak Gunawan, kalau remaja putri sering mendapatkan kecukupan dari orang tuanya maka desakan ini makin berkurang. Tapi kalau dia tidak mendapatkan dengan cukup dari orang tuany maka desakan ini akan makin besar sebab dia merasa gamang dengan dirinya sendiri.
Maka karena dia merasa gamang akhirnya dia harus mendapat tambatan atau tempat dimana dia merasa aman, dan tempat itu adalah cinta dari seorang laki-laki.
GS : Apakah itu bukan merupakan suatu tren, karena melihat banyaknya sinetron-sinetron remaja yang menggambarkan percintaan ?
PG : Saya kira pengaruh dari apa yang ditonton itu pasti ada. Apalagi kalau banyaknya kisah-kisah yang memerlihatkan anak-anak remaja SMP, SMA sudah berpacaran, saya kira itu pun menimbulkan kenginan pada diri remaja putri untuk bisa seperti mereka, yaitu mempunyai pacar.
Tapi misalkan di dalam rumah mereka mendapatkan kekuatan, kasih sayang dari orang tuanya maka desakan ini tidak terlalu bergolak.
GS : Sebenarnya hal-hal apa terjadi di sekitar kita yang memberikan tekanan kepada remaja putri ini sehingga mereka seolah-olah sangat membutuhkan cinta itu ?
PG : Ada beberapa yang bisa saya bagikan. Yang pertama, bertambah banyaknya penekanan pada kecantikan jasmaniah. Jadi sekarang ini penekanan untuk cantik menjadi lebih kuat karena sekarang ini ebih tersedianya alat-alat kecantikan sehingga anak-anak remaja sepertinya sudah disuguhi alat-alat yang bisa menambah kecantikan.
Dan tidak bisa disangkal pula sekarang ini ibu mereka sudah mulai terikat oleh alat-alat kecantikan dan mewariskan ilmu mereka kepada anak-anak mereka bahwa mereka pun harus pintar-pintar merawat kulit, pintar-pintar merawat wajah, mata, hidung, rambut dan sebagainya sehingga ada yang harus operasi ini dan itu. Semua ini akhirnya menambah beratnya penekanan pada penampilan jasmaniah. Kalau kita lihat, sekarang ini berjamuran tempat-tempat olahraga, tempat ini tujuannya satu yaitu menambah kebugaran supaya tampil menarik. Jadi hal inilah yang menjadi tekanan atau hal-hal yang diagung-agungkan oleh kita dewasa ini.
GS : Rasanya pengaruh iklan itu sangat besar terhadap mereka, Pak Paul. Baik lewat radio maupun lewat televisi.
PG : Betul sekali. Misalkan kalau kita mau melihat di televisi, berapa banyak iklan-iklan alat kecantikan baik itu dari shampo, alis mata, lipstik, minyak wangi dan sebagainya. Jadi, inilah genrasi di mana kita hidup bahwa anak-anak remaja ini akan dibombardir oleh alat-alat kecantikan yang menekankan bahwa hanya orang-orang cantiklah yang akan diperhatikan.
Jadi kalau tidak cantik maka tidak diperhatikan. Itu sebabnya akhirnya mereka terdorong untuk masuk ke dalam langkah berikutnya yaitu mereka mesti diperhatikan oleh pria, mesti disukai atau dicintai oleh pria, mesti ada pria yang terpikat olehnya sebab kalau tidak maka mereka tidak memeroleh buktinya, bukti bahwa mereka menarik. Jadi kalau ada pria yang menyukai mereka maka itu adalah bukti bahwa saya menarik, sehingga memikat seorang pria. Barulah hatinya lega bahwa "saya itu cukup berharga".
GS : Jadi ini yang bisa dijadikan korban bagi pria sebenarnya, Pak Paul. Kalau pria itu mengetahui kebutuhan seperti itu, pria siapa pun bisa masuk ke dalam kehidupannya ?
PG : Kalau tidak hati-hati maka itu yang akan terjadi, karena betapa beratnya tekanan di antara mereka untuk bisa memunyai seorang pacar atau kekasih untuk dicintai, dan kalau tidak hati-hati mreka akan menerima siapa saja.
Coba kita masuk ke dunia remaja, Pak Gunawan, misalkan pesta, tidak bisa disangkal kalau mereka datang bersama pacar maka mereka akan menjadi buah bibir atau dibicarakan, apalagi kalau pacar mereka itu ganteng, trendy. Maka remaja putri yang tidak mendapatkan pacar atau dicintai oleh seorang pria tidak bisa tidak dia akan merasa tidak nyaman dengan dirinya, merasa ada yang kurang atau ada yang salah dalam dirinya. Mungkin saja ada perasaan iri terhadap teman-temannya misalkan temannya itu populer atau begitu mudahnya mendapat perhatian dari pria, inilah tekanan-tekanan yang harus dihadapinya. Misalkan dia diundang pesta maka dia sudah membayangkan, "Saya harus datang sendiri atau datang bergerombol dengan sesama teman wanita." Waktu mereka melihat teman wanita yang datang dengan pacarnya maka ada perasaan-perasaan tertentu yang timbul, "Kenapa saya tidak bisa, dan kenapa tidak ada yang tertarik dengan saya." Jadi akhirnya mulailah muncul rasa minder, mulailah merasa tidak berharga. Hal ini sudah tentu seperti yang Pak Gunawan ungkapkan bisa-bisa membuahkan perilaku yang tidak bijaksana, yaitu yang penting ada yang mau dengan saya dan kadang-kadang lebih jauh lagi yaitu apa pun yang diminta oleh si pria asalkan saya disukai oleh si pria maka tidak apa-apa, saya akan memberikan.
GS : Pak Paul, sehubungan dengan kecantikan, itu adalah sesuatu yang relatif dan seringkali remaja putri tidak puas dengan penampilan dirinya dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Kita hidup dalam dunia yang memang sudah mengglobalisasi. Jadi tanpa disadari sekarang dunia mempunyai satu patokan tentang kecantikan. Itu tidak bisa disangkal. Misalkan di Amerika Serika banyak wanita yang berkulit hitam merasa kurang percaya diri kalau wajah mereka terlalu berbeda dari wajah wanita yang mempunyai ras Kaukasia atau orang-orang Barat (orang-orang yang berkulit putih).
Jadi orang-orang berkulit hitam yang penampilannya makin mendekati orang berkulit putih, mungkin dikarenakan kawin campur dan sebagainya, mereka merasa lebih bangga, lebih percaya diri karena merasa diri lebih cantik, nantinya lebih bisa menarik hati orang. Tapi yang merasa dirinya terlalu jauh dari gambar orang kulit putih, mereka merasa kurang percaya diri. Tidak bisa disangkal ini juga menggejala di negara Asia. Jadi kalau wajah orang itu jauh dari berpenampilan seperti orang Kaukasia, maka orang ini makin kurang nyaman. Jadi dunia makin sederhana dalam hal standar kecantikan sebab seolah-olah sekarang sudah ada satu patokan.
GS : Mungkin ada hal lain yang menimbulkan tekanan pada remaja putri ini, Pak Paul ?
PG : Yaitu kurangnya interaksi dengan orang tua, Pak Gunawan. Saya tahu bahwa semua anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian orang tua termasuk anak perempuan. Jika anak merasa dikasihi, ditrima apa adanya, maka dia ibarat sauh dia akan tertanam dengan kuat dalam keluarganya.
Sebaliknya bila tidak seperti itu maka dia akan cenderung terapung-apung di tengah dunia pergaulan, mencari-cari arah dan pegangan. Masalahnya adalah makin bertambah sibuknya orang tua maka cukup banyak anak perempuan yang harus menerima fakta bahwa waktu yang harus diberikan adalah terbatas dan secara kodrati anak perempuan lebih membutuhkan ekspresi kasih orang tua dari pada anak laki-laki sebab anak perempuan memang mempunyai kepekaan perasaan yang lebih dari pada anak laki-laki. Itu sebabnya perasaannya, emosinya itu lebih harus diisi. Itu sebabnya kurangnya waktu dan perhatian orang tua cenderung menciptakan kekosongan dalam diri si anak dan untuk mengisi kekosongan inilah si anak perempuan akhirnya rentan untuk mencari pria guna mendapatkan cinta dan perhatiannya.
GS : Biasanya anak remaja ini ceria dan banyak pergaulan dengan teman-teman sebayanya Pak Paul, apakah itu tidak bisa mengisi kekosongan interaksi dengan orang tua, Pak Paul ?
PG : Saya kira sudah tentu kalau dia itu mempunyai banyak teman maka teman-teman itu sedikit banyak akan bisa mengimbangi kekurangannya, tapi tetap sebagai seorang anak karena dia dibesarkan disitu, dari awal dia hidup bersama dengan orang tua maka dari orang tualah dia membutuhkan cinta dan kasih sayang itu.
GS : Biasanya mereka itu bergaul secara nyata di dunia yang nyata tetapi di dunia maya pun mereka terus mencari teman.
PG : Betul dan makin banyak teman maka akan semakin mengisi kehidupannya. Tapi sekali lagi kasih sayang itu perlu dialami dan bukankah hanya bisa dialami kalau ada interaksi langsung, ada pembiaraan langsung, ada pelukan langsung, ada ucapan-ucapan dari orang tua yang membesarkan hatinya yang membuat dirinya berharga.
Hal-hal itulah yang dibutuhkan terutama oleh remaja putri, sekali lagi remaja putra juga membutuhkan itu tetapi remaja putri memiliki kebutuhan emosi yang lebih kuat akibat perasaannya yang makin sensitif, maka dia lebih membutuhkan semua ini. Waktu dia tidak mendapatkannya maka itu akan menimbulkan kekosongan dan dia mencarinya, dan kalau ada laki-laki yang dapat memberikan kepadanya, maka itulah yang dia akan coba dapatkan. Problemnya adalah seringkali mereka tidak hati-hati, dia mau saja dengan siapa pun asalkan memberikan cinta kepadanya.
GS : Kadang-kadang kalau pun mereka tidak mendapatkan teman untuk mencurahkan isi hatinya, maka mereka hidup di dalam khayalan mereka sebagai remaja putri ini, mereka berkhayal seolah-olah ada teman prianya, bukankah ini juga berbahaya ?
PG : Betul. Jadi dalam kondisi mereka sangat kesepian tidak ada yang menelepon, tidak ada yang mengajaknya pergi keluar malam, apalagi malam minggu. Kalau dia masih mempunyai teman-teman yang lin, entah itu teman wanita untuk pergi ke gereja maka sedikit banyak itu bisa mengisi.
Tapi kalau tidak ada kegiatan, tidak ada yang mengajak keluar hanya di rumah, apalagi kalau orang tua repot pergi ke luar, maka dia akan makin terisolasi dan bisa saja dia mulai berkhayal-khayal. Anak-anak remaja seperti inilah yang rawan untuk dimangsa oleh pria-pria yang sudah diketahui butuh kasih sayang seperti ini. Itu sebabnya di Amerika Serikat sekarang ada sebuah unit khusus dari kepolisian yang masuk ke dunia maya berpura-pura menjadi anak-anak remaja putri supaya mereka bisa menjebak para pria jahat yang memang berniat memangsa anak-anak remaja putri ini dan puji Tuhan ada orang-orang yang telah ditangkap yang berusaha memangsa anak-anak remaja putri ini. Orang tua mungkin tidak tahu karena kesibukan di luar, banyak pekerjaan atau kegiatan yang lainnya dan hanya tahu anak putrinya di rumah, nonton TV atau main komputer, laptop dan tanpa diketahui masuk ke dunia maya. Mereka tidak tahu bahwa anaknya mungkin saja sedang menjadi target untuk dimangsa oleh pria-pria tertentu. Kenapa bisa menjadi target ? Karena ada kebutuhan untuk diperhatikan dan dikasihi itu.
GS : Tetapi sebagian anak-anak remaja putri sudah lepas dari asuhan orang tua, misalkan dia belajar di luar kota sehingga harus tinggal di kost dan sebagainya. Maka untuk orang tua bisa berinteraksi langsung dengan remaja putri ini agak kesulitan, Pak Paul.
PG : Betul. Dalam kasus di mana anak remaja putri meninggalkan rumah sudah kuliah dan sebagainya maka sudah tentu interaksi dengan orang tua akan berkurang namun sekali lagi kalau sebelumnya di pergi, jadi saat dia ada di dalam rumah, dia mendapatkan kehangatan itu, perhatian itu maka waktu dia di luar pun walau dia membutuhkan perhatian, namun tetap, apa yang telah diisi akan tetap ada.
Sudah tentu dia akan merasa kesepian, dia butuh orangtuanya atau dia butuh teman-temannya tapi apa yang telah diisi itu tidak hilang dengan begitu saja dan mungkin dalam kesepian dia akan menghubungi orang tuanya, bicara dengan mereka lewat 'chatting' atau lewat telepon. Jadi kita akan melihat perbedaannya, Pak Gunawan. Dan saya sudah melihat ini, saya sudah melihat remaja putri yang keluar rumah, study di luar, hidup sendiri, kalau memang dari keluarga yang hangat maka dia akan lebih mantap. Dan saya perhatikan, kalau remaja putri di rumah tidak mendapatkan perhatian seperti itu maka mereka berbeda sekali dengan yang mantap tadi, mereka terapung-apung mudah sekali hanyut dan sangat terlihat kalau mereka haus, membutuhkan perhatian dan cinta dari seorang pria. Tapi dari keluarga yang hangat dan kuat, meskipun sepi tidak ada orang tuanya, tetap mereka lebih mantap, lebih bijaksana dan lebih bisa membedakan orang, lebih bisa melihat orang. "Saya tidak mau ini, tidak cocok dan sebagainya ". Tapi bagi mereka yang memang kurang dan tabungnya kosong, maka mereka asal pilih, asal ada yang mau mencintai mereka.
GS : Tetapi masalahnya sekali pun mereka berusaha seperti itu, belum tentu ada orang yang mau mendekati dia.
PG : Betul sekali. Akhirnya mungkin di kalangannya tidak ada yang mau, maka dia mulai keluar dan mencari di lingkungan yang berbeda darinya. Jadi misalkan awal-awal dia itu bersama-sama di dala lingkup gereja tapi sekarang sudah tidak lagi disitu, maka dia akan keluar dari lingkup gereja dan dia nanti mulai bergaul dengan teman-teman di luar lingkup itu, mudah-mudahan mereka tetap bergaul dengan relasi yang baik tapi kalau tidak hati-hati, bisa terjebak dan masuk ke dalam lingkup yang buruk.
GS : Biasanya mereka yang belum dapat pacar atau belum bertemu dengan teman prianya maka mereka ini berkumpul jadi satu, lalu pergi bersama-sama atau melakukan kegiatan bersama-sama seperti itu, Pak Paul ?
PG : Di satu pihak memang sekilas kita akan melihat mereka yang biasa berkumpul bersama-sama kelompok wanita saja, seolah-olah mereka itu sungguh-sungguh senang atau puas dan tidak mencari cint tapi pada faktanya adalah beberapa di antara mereka ada yang memang belum merasa mantap atau belum terisi dari rumah, menjadi anak-anak yang menjadi haus dan membutuhkan cinta dari pria itu, Pak Gunawan.
Atau saya juga harus akui kalau pun dia mendapatkan cinta yang cukup dari rumah tapi memang ada tekanan untuk cantik dan untuk membuktikan diri cantik harus disukai oleh seorang pria, itu juga bisa memengaruhi dia sehingga terdoronglah keinginan untuk mendapatkan seorang pacar.
GS : Selain dua unsur tadi, apakah masih ada hal lain yang mendesak seorang remaja putri ini ?
PG : Terakhir adalah, bertambahnya tuntutan prestasi. Pada zaman sekarang hampir semua anak dituntut untuk cerdas dan memiliki kebisaan dalam banyak hal. Jadi selain dari nilai-nilai akademik tnggi, anak-anak sekarang diharapkan bisa main musik, mungkin juga bisa main dua instrumen dan bukan hanya satu, bisa belajar bahasa Inggris dan sebagainya.
Hal ini akan makin menambah daftar syarat untuk menjadi seorang remaja putri yang menarik. Maksudnya bagaimana ? Maksudnya adalah kalau seorang remaja perempuan tidak bisa banyak hal maka dia sendiri akan merasa seolah-olah dia tidak berharga. Jadi sesungguhnya ada cukup banyak remaja putri yang mengalami ketertekanan akibat tuntutan prestasi yang tinggi ini, seolah-olah nilai diri ini tergantung pada prestasi terutama akademik, sebab kalau tidak, maka dia tidak akan dilirik oleh pria dan ini adalah anggapannya. Singkat kata, banyak remaja putri yang takut tampil bodoh dan tidak bisa apa-apa. Itu sebabnya dorongan untuk dicintai dan diperhatikan pria menjadi semakin besar supaya bisa sejahtera melihat dirinya sebagai perempuan yang berharga.
GS : Tapi kenyataannya yang seringkali terjadi, remaja putri yang cantik-cantik justru tingkat intelegensinya rendah, saya tidak tahu apakah ini karena dia terlalu banyak meluangkan waktunya untuk merawat diri tapi kurang belajar atau bagaimana, Pak Paul ?
PG : Memang kita tidak bisa pastikan atau kaitkan kecantikan dengan kecerdasan, sudah tentu ada yang cantik dan cerdas tapi ada yang kurang cantik tapi kurang cerdas, sebagaimana laki-laki jugademikian.
Tapi kalau Pak Gunawan berkata bahwa bisa saja ada anak perempuan yang karena terlalu mencurahkan waktu pada penampilannya maka akhirnya tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap tuntutan akademiknya, sudah tentu itu bisa terjadi. Intinya adalah sekarang ini tuntutan untuk cerdas begitu besar sehingga pria pun terbawa oleh arus ini, kalau mereka melihat perempuan yang dianggapnya atau dinilainya tidak secerdas yang mereka inginkan maka tidak dilirik, kecuali orang itu sangatlah menawan, cantik dan barulah dilirik. Jadi yang kasihan sudah tentu adalah remaja putri kita, sebab seolah-olah mereka itu seperti ingin membuktikan ini, bisa ini dan itu, cerdas ini dan cerdas itu agar lebih bisa dicintai, agar dirinya sendiri merasa dirinya berharga. Inilah dunia di mana kita hidup, Pak Gunawan, persaingan, tekanan lebih mengadu atau tidak mau ketinggalan untuk menjadi lebih besar, dan semua ini terkait dengan misalnya seseorang melihat dirinya.
GS : Ada sebagian remaja putri yang mempunyai pandangan kalau dia terlalu pandai atau menunjukkan kecerdasannya, justru dia tidak dilirik oleh para pria karena para pria juga takut oleh orang yang terlalu pandai. Dan itu bagaimana ?
PG : Itu benar. Jadi ada sebagian perempuan yang memang takut terlalu pandai sebab takut kalau nanti tidak ada pria yang berani untuk mendekatinya. Jadi memang kebanyakan remaja putri tidak bersaha menjadi sepandai itu tapi setidak-tidaknya mereka berusaha untuk tampil lumayan cerdas, sebisanya mereka ingin dinilai sebagai anak-anak yang cerdas.
Sebab mereka sudah mengaitkan itu semua dengan daya tarik dan ini bukanlah sesuatu yang dikhayali atau yang dibayangkan oleh wanita sebab itulah faktanya. Banyak pria atau di kalangan pria, kalau mereka sedang berbicara maka dia akan meninggikan atau mengagungkan wanita yang dianggap cerdas. Jadi itu adalah suatu fakta dan remaja putri tahu itu, remaja putri mungkin tahu atau mendengar bahwa kalau remaja putra bicara kadang-kadang menjelekkan remaja putri yang tidak pandai, entah itu mengatainya atau mengolok-oloknya. Jadi sekali lagi tekanan bertambah besar. Semua ini menumpuk baik itu tekanan untuk cantik, tekanan untuk bugar, langsing, tekanan untuk dikasihi, tekanan untuk bisa cerdas dan semua itu semakin menekan remaja putri sebab ujung-ujungnya, dengan semua itu mereka berharap mereka akan dicintai dan dihargai oleh pria.
GS : Ada salah satu segi lain yang saya lihat dari segi finansial atau keuangan, ada putri yang sengaja seperti terlalu royal atau obral dengan harapan ada pria yang mau memerhatikan dia karena dia seolah-olah mudah sekali memberikan uangnya itu.
PG : Bisa jadi. Adakalanya mungkin pria-pria tertentu senang sekali dengan wanita yang hambur dengan uang, sehingga dia diongkosi karena mungkin dia banyak pengeluaran yang besar dan rasa malu ang dimiliki kurang.
Memang dia merasa senang, yang penting dia mendapatkan alat-alat yang dia butuhkan dan perempuannya yang membayarkan.
GS : Bagi si putri dia tidak merasa keberatan mengeluarkan uang sebanyak itu asalkan ada pria yang mendampingi dia.
PG : Betul sekali. Jadi sekali lagi kasihan dan menyedihkan, tetapi itu salah. Jadi seolah-olah untuk membeli perhatian pria ini, supaya dia bisa berjalan berdampingan dengan pria ke pesta-pest dia harus mengongkosi kehidupan pria ini, seperti itu.
Mungkin pria itu akan berkata, "Mau beli handphone yang lebih canggih, mau beli I-pod, I-phone," dan si wanitanya yang harus mengeluarkan uang, membayarkan.
GS : Juga ada sebagian remaja putri yang mau bergaul dengan cara apa saja dan dengan siapa saja, dengan harapan dia bisa menggait seorang pria. Jadi kadang-kadang pergaulan itu justru merusak dia misalnya dengan minum-minuman keras tapi dia rela untuk melakukan itu, Pak Paul.
PG : Betul, apalagi kalau pria yang disukainya mempunyai kehidupan seperti itu yang suka dugem, minum, merokok padahalnya si putri ini awalnya tidak seperti itu namun akhirnya terbawalah dia kaena mau menyenangkan pria yang dicintainya, supaya pria itu tidak kemana-mana dan juga mencintainya dan pada akhirnya merusakkan dirinya.
Jadi kita bisa melihat kalau tidak hati-hati, remaja putri kita bisa termakan oleh semua ini gara-gara membutuhkan cinta.
GS : Dan Firman Tuhan apa yang mau Pak Paul sampaikan sehubungan dengan ini ?
PG : Di Pengkhotbah 3:14 Firman Tuhan berkata, "Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi." Ini yang akansaya katakan berdasarkan Firman Tuhan yaitu apapun penampilan jasmaniah kita, itu adalah pemberian dan penetapan Tuhan.
Sebagaimana Firman Tuhan katakan di sini, apa yang telah dilakukan Allah tetap selamanya dan tidak dapat ditambah atau dikurangi. Dengan kata lain, semuanya pas dan tepat untuk menggenapi rencana Tuhan, tidak perlu ditambah atau dikurangi apalagi disesali.
GS : Ini sesuatu perbincangan yang sangat menarik, Pak Paul, tetapi kita harus akhiri perbincangan kita dan kita akan ulas lebih jauh masalah remaja putri dan cinta ini pada bagian yang akan datang. Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Remaja Putri dan Cinta" bagian yang pertama. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by admin on Thu, 04/06/2009 - 4:42pm.
Abstrak:
Kadang tahu apa yang benar dan salah tidak cukup untuk menghentikan kita berbuat dosa. Itu sebabnya kendati kebanyakan remaja putra tahu bahwa pornografi adalah dosa namun mereka tetap melakukannya. Bagaimana orang tua bisa membantu anak remaja untuk mengatasi masalah ini ?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami tentang "Melindungi Remaja Terhadap Pornografi". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, perbincangan kita kali ini merupakan lanjutan dari perbincangan kita yang lalu tentang bagaimana remaja menghadapi pornografi, ternyata Pak Paul menguraikan bahaya-bahayanya yang begitu banyak. Sebelum kita membicarakan tentang bagaimana kita melindungi remaja terhadap pornografi ini, mungkin ada baiknya Pak Paul menguraikan sedikit tentang pembicaraan kita yang lampau.
PG : Yang pertama adalah kita ingin menyadarkan orang tua akan bahaya pornografi yang sedang melanda, mengikat anak-anak remaja terutama anak-anak remaja putra kita. Dan orang tua tidak bisa beasumsi bahwa anak saya ini baik-baik saja, setiap malam belajar sebab belum tentu mereka hanya belajar karena begitu banyak anak-anak yang menyimpan materi-materi pornografi di teleponnya, di komputernya, di laptopnya, di I-podnya dan semua itu menggunakan "security system" sehingga orang tua tidak bisa masuk dan melihat apa yang ada di dalamnya itu.
Sekurang-kurangnya ada 3 bahaya besar yang harus diwaspadai. Pertama adalah pornografi itu mencandu sehingga ketika anak-anak yang baru berusia 12-13 tahun melihat gambar-gambar pornografi, maka mereka akan terus ketagihan dan berkeinginan melihatnya lagi. Sebab pada usia itu gejolak seksual adalah sesuatu yang baru, pengalaman yang belum pernah dialami sehingga begitu dia mengalaminya maka dia kecanduan ingin merasakan lagi. Dan yang kedua adalah di usia belasan tahun itulah gejolak seksual sangatlah tinggi sehingga keinginan untuk dipuaskan juga menjadi sangat besar. Jadi itu sebabnya pornografi cenderung mencandu, sekali orang melihat maka orang ingin menggunakan lagi dan menggunakannya lagi. Yang kedua adalah pornografi itu mencemarkan karena ketika pikiran diisi oleh pornografi, maka si remaja putra itu tidak bisa lagi berelasi dengan remaja putri secara bersih karena apa yang dilihatnya itu akan selalu diasosiasikan dengan seks, sehingga dia tidak lagi bisa memerlakukan orang sebagai manusia, dia akan mereduksi perempuan sebagai objek pemuas nafsu belaka. Nah, sudah tentu sebagai orang yang tercemar dia akan sukar sekali untuk bisa dekat dengan Tuhan. Mungkin dia merasa bersalah, dia akan merasa bahwa dia tidak patut datang kepada Tuhan. Hal-hal ini adalah alat yang digunakan iblis untuk menjauhkan anak-anak remaja terutama dari Tuhan. Yang ketiga bahayanya adalah pornografi menjadi sebuah jembatan membawa anak-anak remaja kita kepada dosa-dosa lainnya yang seringkali lebih serius. Berapa banyak anak-anak yang berhubungan seksual pada usia remaja dan akhirnya menghamili pasangannya, yang sebelumnya menggunakan materi pornografi. Atau berapa banyak orang yang terlibat di dalam tindak kriminal perkosaan yang sebelumnya adalah pengguna pornografi. Berapa banyak nanti setelah menikah keluarga yang terluka, istri yang disakiti karena suami-suami yang mengkonsumsi pornografi dan bukankah kita tahu suami-suami yang mengkonsumsi pornografi biasanya sudah memulai kebiasaan itu sejak usia belasan tahun. Belum lagi kita melihat, berapa banyak suami-suami atau bahkan istri yang akhirnya terlibat di dalam perselingkuhan yang juga adalah pengkonsumsi pornografi. Jadi pornografi pada akhirnya menghantar si anak remaja ini untuk melakukan dosa-dosa lain yang lebih serius.
GS : Memang ada sebagian orang yang menyadari bahwa itu adalah sesuatu yang tidak baik bagi dirinya dan bagi orang lain, tapi yang menjadi masalah adalah dia tidak bisa menghentikannya, bagaimana Pak Paul ?
PG : Betul sekali sebab itu adalah sebuah ketergantungan yang sangat kuat sehingga keinginan dia untuk lepas sangatlah susah. Maka nanti kita akan belajar bahwa siapa pun yang pernah menggunaka atau mengkonsumsi pornografi harus datang kepada Tuhan, karena hanya dengan kuasa Dia akhirnya kita bisa melepaskan diri dari jerat pornografi.
GS : Tentunya dia tidak bisa melepaskan diri dengan tenaganya sendiri Pak Paul, butuh orang lain yang menolong dia. Dan kita sebagai orang tua punya peran besar didalam menolong para remaja putra kita menghadapi pornografi. Hal-hal apa yang orang tua bisa lakukan ?
PG : Ada beberapa, Pak Gunawan. Yang pertama sebagai orang tua adalah, kita mesti memantau pergaulan anak. Kebanyakan remaja belajar menggunakan pornografi dari teman. Firman Tuhan mengajarkan i 1 Korintus 15:33, "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."
Jadi sebagai orangtua kita mesti hati-hati harus mengetahui dan mengawasi pergaulan anak. Jika kita melihat anak mulai bergaul dengan teman yang berpotensi memengaruhi pergaulan yang buruk, silakan tegur dan jika perlu melarangnya bergaul dengan teman tersebut.
GS : Masalahnya pergaulan merupakan bagian dari para remaja sehingga mereka lebih mendengarkan suara teman-temannya dari pada mendengarkan suara orang tuanya.
PG : Itu sebabnya orang tua mesti bergaul akrab dengan anak remajanya. Orang tua yang bergaul akrab dengan anak remajanya dengan cepat mendeteksi perubahan pada diri anak, mulai dari apa ? Misakan mulai dari hal-hal yang dikatakan si anak.
Kalau misalkan anak-anak kita mulai mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan bahwa dia ingin membela bahwa menggunakan pornografi ini tidak salah, "Tidak apa-apa berhubungan sebelum menikah karena nantinya juga akan menikah pula", kalau itu yang mulai diucapkan oleh anak-anak kita, maka kita harus menyadari kalau kita sudah mulai mengalami perubahan dan ada sesuatu yang mulai berubah di dalam dirinya, ada yang memengaruhinya pula. Itulah waktunya untuk kita mengajaknya berbicara sehingga kita bisa tahu lebih dalam lagi sebetulnya apa yang tengah dialami oleh anak remajanya.
GS : Jadi ini dibutuhkan kedekatan orang tua dengan anak remajanya. Dan sekarang siapa yang lebih dekat dengan remaja putra ini, dari pihak ayah atau dari pihak ibu ?
PG : Sebaiknya dari dua belah pihak. Karena tidak bisa tidak remaja putra itu akan mengkonsumsi pornografi dan menjadikan wanita sebagai objeknya, maka biarkan si mama yang berbicara dengan si nak itu.
Misalkan seperti yang telah kita bahas di sesi yang sebelumnya kalau misalkan si mama menanyakan kepada si remaja putra, "Bagaimana perasaanmu kalau salah seorang teman kamu memandangi saya dengan nafsu untuk bersetubuh dengan saya, bagaimana perasaanmu ?" Dia pasti akan menjawab, "Saya tidak suka." Maka mama harus berkata, "Kalau kamu tidak suka maka janganlah kamu melakukan hal yang sama kepada orang lain, dan karena kamu mengkonsumsi pornografi, maka kamu akan selalu tergoda untuk membayangkan dan bernafsu dengan perempuan yang kamu jumpai. Perempuan itu bisa jadi kakak dari orang, anak dari orang, bisa juga ibu dari orang. Maka janganlah kamu lakukan itu kalau kamu sendiri tidak mau orang memandang mama dengan pandangan nafsu seperti itu. Itulah pentingnya orang tua mengajak anak untuk berbicara langsung tentang seks. Anak akan jarang berinisiatif menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan seks, itu sebabnya inisiatif tersebut harus datang dari orang tua. Jadi jangan sungkan sebagai orang tua untuk bertanya kepada anak apakah ia pernah menggunakan pornografi, tanya langsung tidak apa-apa. Jika ia mengakuinya maka jangan hanya mengingatkannya bahwa ini tidak baik, tidak boleh melanggar kehendak Tuhan, tapi kita juga bagikan pergumulan pribadi kita di kala kita seusianya. Contoh-contoh konkret seperti ini akan menolong anak memahami kebenaran dengan lebih mudah dan memberinya kebebasan untuk mengangkat masalah ini. Bila pada akhirnya masalah ini menjadi pergumulannya sebab keterbukaan kita mengkomunikasikan pengertian dan penerimaan kita kepadanya. Jadi biasakan mengajak anak berbicara, akrablah bergaul dengan dia, sehingga terbukalah komunikasi dengan dia dan bisa menjadi tempat berbagi pergumulannya dengan kita.
GS : Memang kadang-kadang orang tua ragu, Pak Paul, harus berkata jujur atau menutupi masa lalunya bahwa dia adalah seorang yang pernah melihat pornografi walaupun mungkin tidak sampai kecanduan, Pak Paul.
PG : Dalam hal seperti pornografi atau dosa-dosa seksual, saya kira keterbukaan orang tua sangatlah penting. Misalkan si papa mengatakan dengan jujur, "Papa dulu juga pernah terikat pornografi an papa merasakan bahwa pikiran papa itu tidak pernah lagi bisa bersih dan papa harus akui bahwa sampai sekarang pun papa masih harus bergumul dengan godaan-godaan dengan pikiran-pikiran yang terus membawa papa kepada seks.
Papa tidak mau seperti itu sebab papa ingin memandang wanita dengan bersih sebagai ciptaan Tuhan yang mulia, tapi papa susah dan papa harus bergumul. Maka papa tidak mau kamu akhirnya menjadi seperti papa. Belum lagi godaan itu membesar gara-gara sudah terbayangkan di benak kita, sehingga kita juga lebih mudah jatuh, nanti kalau kamu mempunyai pacar, godaan untuk melakukan hubungan dengan pacar kamu juga akan jauh lebih besar dibandingkan dengan orang tidak menggunakan atau mengkonsumsi pornografi." Dan terakhir yang kita harus tekankan dalam pembicaraan dengan anak-anak kita adalah "Tindakan ini berdosa kepada Tuhan dan tindakan ini bukanlah tindakan yang disetujui oleh Tuhan."
GS : Biasanya reaksi spontan orang tua ketika menemukan anak-anaknya sedang mengkonsumsi pornografi atau menemukan gambar-gambar porno di laci meja anak, seringkali reaksinya adalah marah, terkejut, panik dan sulit bicara dengan tenang seperti tadi.
PG : Maka ada baiknya setelah orang tua menemukan bukti-bukti anaknya mengkonsumsi pornografi, baik si ibu atau pun si ayah, yang pertama harus menunda berbicara. Pertama-tama mereka harus berbcara kepada Tuhan terlebih dahulu, meminta Tuhan untuk menunjukkan jalan atau cara yang tepat, hikmat dari surga untuk bisa berbicara dengan anak itu.
Setelah menenangkan diri berdoa, barulah ajak anak berbicara dan langsung saja tanyakan, "Apakah kamu pernah menggunakan atau mengkonsumsi pornografi?" Misalkan dia menyangkal, orang tua tidak perlu marah, cukup hanya berkata, "Saya tahu kamu susah untuk mengakui sesuatu yang kamu tahu papa dan mama melarangnya, tapi inilah kesempatan yang papa mau berikan kepada kamu untuk berkata jujur. Coba sekali lagi jawab pertanyaan kami, apakah kamu telah mengkonsumsi pornografi ?" Jadi kita mau ajak anak kita ke level yang lebih dewasa, ke level dimana dia tidak ditakuti, tidak dipaksa, tapi diberikan kesempatan untuk keluar bersikap jujur. Dan itu adalah langkah yang penting yang harus dilalui oleh anak kalau dia nantinya ingin lepas dari jerat pornografi yaitu kejujurannya, keterbukaannya. Misalkan si anak berkata, "Ya pa, saya pernah mengkonsumsi pornografi," maka kita harus memuji dia dan langsung katakan, "Papa senang kamu bersikap jujur, sebab kejujuran adalah langkah pertama dan kunci untuk melepaskan kamu dari jerat ini." Kita bisa berkata, "Ini akan menjadi pergumulan yang panjang dan berat tapi papa dan mama mau membantu kamu, mari kita bekerjasama untuk menolong supaya nantinya kamu tidak terjerat oleh pornografi."
GS : Jadi intinya adalah kita mau meyakinkan anak bahwa kita bukannya mau membenci dia atau menyingkirkan dia, tapi justru mau menolong dia untuk lepas dari jerat pornografi itu.
PG : Betul, jadi niat baiklah yang mesti ditangkap oleh anak. Bukannya untuk menghukumnya.
GS : Sekarang kalau anak sudah terbuka seperti itu, Pak Paul, apa yang bisa kita sampaikan kepada anak ?
PG : Kita mesti mengajarkan kepadanya tentang Firman Tuhan. Apa yang harus kita ajarkan kepada anak yang berkaitan dengan seks ? Yang pertama adalah seks adalah pemberian Tuhan, memang Tuhan yag menciptakan hormon-hormon seksual di dalam tubuh kita.
Jadi itu merupakan pemberian Tuhan. Kedua, seks adalah bagian dari kemanusiaan kita namun kita diciptakan oleh Tuhan dengan kemampuan untuk bisa melakukan hubungan seks. Ketiga, seks adalah untuk dinikmati dalam mahligai pernikahan dan inilah ketetapan Tuhan bukan ketetapan manusia. Yang keempat, seks bukan untuk dieksploitasi menjadi sarana mencari keuntungan dan kepuasan belaka. Dan terakhir, seks digunakan untuk dikuasai dan tidak boleh dibiarkan menguasai kita. Kemudian kita jelaskan kepada anak bahwa pornografi melanggar faktor yang keempat dan yang kelima ini yaitu pornografi merupakan eksploitasi seks, untuk mencari keuntungan dan pemenuh kepuasan belaka. Dan pornografi pada akhirnya akan menguasai kita. Kita tidak bisa berdiam diri dan kita harus melawan supaya pornografi tidak masuk ke dalam kehidupan kita.
GS : Padahal hal-hal seperti itu sebenarnya sudah diketahui oleh remaja putra, baik itu bahaya-bahayanya dan apa yang firman Tuhan kehendaki. Tetapi masalahnya dia tidak mampu melakukannya.
PG : Dan kita perlu memberikan pengertian kepadanya bahwa ini adalah pergumulan yang berat karena di usianya yang masih muda namun gejolak seksual itu mencapai puncak kekuatannya. Dan karena in adalah suatu pengalaman kenikmatan yang baru sehingga rasa ingin tahu untuk melakukannya kembali terus-menerus muncul.
Jadi kita berikan pengertian bahwa kita juga memahami pergumulannya yang sungguh berat namun nantinya kita bisa menolong dia. Misalkan kita bisa ajak dia mengikatkan diri pada sebuah relasi pertanggungjawaban, artinya adalah misalkan kita mengajak dia untuk secara berkala mengizinkan kita mengecek perkembangannya. Jadi misalkan kita tanya, "Boleh tidak misalkan 1 atau 2 minggu sekali Papa atau Mama mengecek, bagaimana apakah kamu jatuh lagi ke dalam dosa pornografi ini," waktu dia berkata jujur kalau dia jatuh lagi, maka kita jangan memarahi dia atau menghukumnya, tapi kita harus berkata, "Mari kita berdoa dan berdoa lagi, kita datang kepada Tuhan dan kita katakan kepada Tuhan, kami butuh kekuatan-Mu, kami tidak bisa menghadapi ini dengan kekuatan kami sendiri." Relasi pertanggungjawaban ini dapat membantunya mengekang diri karena dia tahu bahwa dalam waktu yang telah disepakati ia harus memberi laporan kepada kita. Ini bisa menolong dia untuk menghindar dari pornografi.
GS : Dalam hal ini tentunya keterlibatan orang tua atau perhatian orang tua sangat besar dibutuhkan baik untuk melihat perkembangannya atau pun kejatuhan anak itu kembali, Pak Paul. Kalau orang tua hanya berkata, "Dulu sudah saya peringatkan dan kamu salah lagi." Itu tidak akan menolong, Pak Paul ?
PG : Sama sekali tidak menolong. Jadi kita tidak bisa hanya menjadi pengawas kemudian meniup peluit, memarahinya, tidak seperti itu. Tapi kita harus dengan empati, dengan penuh pengertian berjaan bersamanya melewati tantangan yang berat ini.
GS : Yang menjadi sulit bagi orang tua karena semua sarana itu tersedia di depan anak, baik dari dunia maya maupun dari buku-buku, dari majalah-majalah, film dan hampir di semua film itu sekarang diberikan bumbu seksnya dan ini membuat orang tua sulit untuk menghadapinya.
PG : Betul, maka salah satu hal yang bisa kita ajarkan kepada anak adalah disiplin diri. Kalau sudah tahu film ini mengandung adegan-adegan seks maka jangan pinjam atau jangan lihat. Atau kalautanpa sengaja kita menonton dan tidak tahu bahwa akan ada adegan itu, maka biasakan diri untuk menutup mata.
Waktu anak-anak saya masih lebih kecil saya ingat waktu kami menonton VCD, dan kadang-kadang ada film-film yang memunyai adegan-adegan yang menjurus ke situ dan kami biasakan untuk mematikan atau putar dengan cepat supaya adegan itu tidak terlihat, dan yang saya juga lakukan adalah saya beritahukan kepada anak-anak bahwa saya pun menutup mata dan saya jelaskan kepada anak-anak bukan hanya kamu yang masih kecil harus menutup mata, tidak melihatnya, tapi saya juga atau papa juga tidak melihatnya. Sebab godaan ini bukan saja hanya untuk yang muda, tapi juga untuk yang tua seperti papa. Dan dampak buruknya juga bukan hanya menyerang anak muda tapi juga orang-orang yang sudah dewasa seperti papa. Jadi semua memang harus menjauhkan diri, maka saya beritahukan kepada mereka, "Papa sendiri menutup mata dan tidak mau melihat adegan itu, karena papa tidak mau nanti setelah menonton film ini pikiran papa menjadi tercemar, papa tidak mau melihat perempuan lain dengan mata seperti itu. Papa hanya mau melihat dan memikirkannya dengan mama." Jadi kalau kita mengkomunikasikan hal seperti ini kepada anak-anak maka ini akan menolong anak-anak untuk bisa lebih menjaga diri terhadap pornografi.
GS : Pak Paul, pornografi banyak dijumpai lewat komputer, laptop dan sebagainya dan anak-anak khususnya para remaja sudah sangat akrab dengan komputernya, dengan laptopnya. Bagaimana kita bisa membantu mereka menghindarkan diri dari bencana pornografi ini ?
PG : Kita bisa mengajak anak untuk bekerjasama dengan kita. Misalkan kita bertanya kepadanya, "Karena kamu sekarang bisa lebih terbuka dengan masalah ini, bagaimana kalau kita taruh komputer kau di ruangan terbuka, misalkan di ruang tamu atau di mana saja yang orang lebih sering lalu lalang."
Jadi kita tidak mengambilnya secara paksa, tapi kita mengajak dia berdialog bahwa ini sudah menjadi masalah dan kamu juga sudah mengakui kalau ini sudah menjadi masalah, bagaimana untuk menolong kamu maka komputer jangan ditaruh di kamar tapi di ruang terbuka. Dengan kamu selalu tahu bahwa orang bisa saja lewat dari belakang dan melihat kamu. Bukankah ini akan menolong kamu. Jadi kita ajak dia berdialog supaya dia dengan rela menempatkan barang-barangnya itu di ruangan terbuka.
GS : Tapi tetap menghargai kepentingan pribadi dari remaja putra itu. Kadang-kadang sebagai remaja putra dia menganggap ada beberapa hal yang orang lain tidak perlu tahu.
PG : Baik. Karena kita juga mau menolongnya dan niat baik itu telah diterima oleh anak kita maka kita bisa memintanya untuk memberikan izin kepada kita melihat alat-alat teknologi yang lainnya,misalnya handphonenya, sehingga kapan waktu papa atau mamanya bisa melihat-lihat.
Dan katakan kepada dia bahwa kita melakukan ini bukan untuk mengawasinya, karena kita tidak bisa mengawasinya terus-menerus tapi dengan dia memberikan izin kepada kita untuk mengakses semua ini maka kita menolongnya untuk bisa lepas dari jerat pornografi itu.
GS : Mungkin ada hal lain yang bisa dilakukan, Pak Paul ?
PG : Yang lain adalah kita mesti mengingatkan anak akan konsekuensi dari mencemarkan diri. Firman Tuhan itu mengingatkan di 1 Korintus 3:16, "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah da bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?" Jadi mengisi pikiran dengan pornografi yang adalah percabulan sama dengan membuang sampah ke rumah Allah yang kudus.
Tubuh kita, diri kita adalah tempat kediaman Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam diri kita. Maka waktu kita memasukkan materi-materi pornografi ini maka benar-benar sama dengan membuang barang-barang yang sudah kotor dan najis ke dalam rumah Allah sendiri. Makanya kita tidak boleh melakukan itu sebab rumah Tuhan itu kudus. Jadi tubuh kita, pikiran kita juga harus kudus supaya bisa menjadi tempat kediaman Tuhan dan kita harus ingatkan anak bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita menajiskan rumahNya. Itu sebabnya jika kita terus mengeraskan hati, suatu hari kelak Ia akan menjatuhkan sangsinya.
GS : Hal seperti ini memang harus ditanamkan sedini mungkin, Pak Paul, sejak masih anak-anak sudah ditekankan bahwa Tuhan itu kudus dan Tuhan itu suci dan Tuhan tidak menghendaki hal-hal yang najis seperti itu yang merusakkan pikiran kita, Pak Paul.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Dan disini kita mau angkat satu kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua. Banyak orang tua itu lebih menekankan tentang kekudusan tubuh kepada anak perempunnya, "Kamu jangan main-main, jangan sampai menodai kekudusan kamu, kamu jangan sampai menodai kesucian kamu," seolah-olah anak laki-laki tidak dijatuhkan tuntutan yang sama oleh Tuhan, padahalnya sama.
Yang kita tahu yang lebih sering menodai dirinya atau kesuciannya adalah anak laki-laki. Jadi orang tua harus menekankan prinsip yang sama, baik kepada remaja putra maupun putri.
GS : Mungkin ada hal lain yang harus kita lakukan sebagai orang tua ?
PG : Ini yang terakhir, Pak Gunawan. Titik beratkan pada yang positif dan bukan pada yang negatif. Maksudnya adalah motivasilah anak untuk hidup menyenangkan Tuhan, bukan menghindar dari hukuma Tuhan semata.
Jadi ini yang saya maksudkan dengan menitik beratkan pada yang positif. Ingatkan bahwa setiap upaya menjaga kekudusan niscaya membuat Tuhan senang. Firman Tuhan berkata di Imamat 20:7, "Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu." Jadi waktu kita menjaga kekudusan, kita sedang menyukakan hati Tuhan dan ini hal yang positif. Jadi teruslah dan senangkanlah hati Tuhan, dan ini harus menjadi motivasimu dan bukan hanya motivasi karena takut dihukum Tuhan saja.
GS : Memang dalam hal ini, Pak Paul sudah banyak memberikan tips pada orang tua bagaimana melindungi remaja dari pornografi. Tapi yang terpenting juga adalah orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya. Kalau orang tua mengatakan ini semua, namun orang tua sendiri menjadi pengguna pornografi maka saya merasa anak juga menilai kalau orang tuanya ini hanya bisa bicara saja, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Kalau orang tuanya mengkonsumsi pornografi kemudian melarang anaknya maka sudah pasti anak susah menaati perintah orang tua tersebut.
GS : Justru yang seringkali terjadi seperti itu, karena orang tuanya pengguna pornografi dan dia tidak mau anaknya seperti dia, tetapi dia masih tetap terikat untuk menggunakan pornografi, Pak Paul.
PG : Betul, kalau itu yang menjadi masalah maka yang pertama adalah orang tuanya sendiri yang harus berusaha lepas dulu barulah dia bisa menjadi panutan yang positif bagi anak-anaknya.
GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Melindungi Remaja terhadap Pornografi". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by admin on Thu, 04/06/2009 - 4:37pm.
Abstrak:
Salah satu bahaya besar yang mengancam kehidupan remaja putra dewasa ini adalah pornografi. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi, berkembang pulalah kemudahan untuk mendapatkan materi pornografi. Berikut akan diuraikan bahaya pornografi bagi remaja putra antara lain ada tiga bahaya pornografi yang mesti dicermati yaitu (a) mencandu atau mengikat, (b) mencemarkan atau menghilangkan kesucian dan (c) jembatan masuk ke dalam dosa lainnya.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami tentang "Remaja Putra dan Pornografi". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Berbeda dengan beberapa puluh tahun lalu, rupanya sekarang yang namanya pornografi bisa dijumpai dengan mudah dan murah. Dan ini menyerang sebagian besar para remaja kita khususnya remaja putra. Dan tentu saja kita tidak menghendaki hal ini terjadi terus-menerus karena bisa merusak suatu generasi, Pak Paul. Sebenarnya apa yang bisa ditemui para remaja putra di dalam menghadapi pornografi, Pak Paul ?
PG : Yang tadi Pak Gunawan katakan itu sungguh betul, dewasa ini pornografi benar-benar merajalela terutama di kalangan anak-anak remaja dan sudah tentu di kalangan remaja putra, jauh lebih darpada remaja putri.
Jadi mulai di komputer, di laptop, di handphone, di I-pod disimpan gambar-gambar porno. Jadi sekarang begitu banyak peralatan yang seharusnya digunakan untuk hal-hal yang baik, yang positif malah menjadi tempat penyimpanan gambar-gambar yang penuh dengan pornografi. Dengan adanya "system password" sebagai pengaman, maka orang tidak bisa masuk untuk membuka data kita sehingga terlindunglah data-data tersebut. Waktu dulu, jadi sekitar 2 - 3 dekade yang lalu, orang tua masih bisa menggeledah-geledah kamar anak, melihat di lemarinya apa yang dia sembunyikan, tapi kalau sekarang tidak bisa seperti itu sebab kalau kita mau masuk ke komputernya, sudah ada passwordnya, kalau pada telepon bisa dilindungi ada "security system" sehingga orang tua tidak bisa lagi mengakses dalam kehidupan si anak. Yang ditakutkan oleh kita semua adalah anak kita itu secara diam-diam mengkonsumsi pornografi dan akhirnya makin hari makin dikuasai dan mereka makin tidak menyadari bahaya yang benar-benar menantikan mereka kalau mereka terus mengkonsumsi pornografi.
GS : Yang lebih berbahaya lagi adalah bukan hanya disimpan untuk dikonsumsi sendiri, tapi itu disebarluaskan oleh para remaja ke teman-temannya dan sebagainya. Bagaimana ini, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Di Amerika, bahayanya sudah lebih dan lebih lagi yaitu sekarang anak-anak remaja gemar mengirimkan gambar-gambar bugil mereka sendiri yang sedang melakukan adegan-adegan seksal dan direkam di dalam telepon mereka dan disebarkan.
Karena mereka itu tidak merasa malu dan mereka tidak merasa berkeberatan padahalnya gambar-gambar itu nantinya akan dikonsumsi oleh siapa saja yang mereka tidak ketahui, tapi dalam pemikiran mereka itu tidak apa-apa. Sehingga di sana sedang digodok sebuah undang-undang untuk menjatuhkan sangsi kriminal kepada orang-orang yang baik menyebarkan atau orang yang memotret dirinya untuk gambar-gambarnya disebarkan, itulah yang nantinya akan dijadikan bagian dalam undang-undang pornografi. Jadi memang begitu banyak yang terjadi, yang dilakukan oleh remaja-remaja ini dan sudah selayaknyalah orang tua mengetahui bahayanya dan mulai memberikan pimpinan atau panduan kepada anak-anak kita.
GS : Mungkin yang perlu diketahui adalah seberapa besar bahaya yang ditimbulkan oleh pornografi ini ?
PG : Sangat-sangat besar, Pak Gunawan. Untuk diskusi pada saat ini saya akan bagikan sekurangnya 3 bahaya yang besar itu. Yang pertama adalah pornografi bersifat mencandu, jadi pornografi bukalah sesuatu yang bersifat netral sehingga setelah kita gunakan, kita konsumsi maka tidak ada efeknya pada diri kita.
Itu adalah suatu pandangan yang naïf. Kalau ada orang yang berkata, "Tidak apa-apa saya melihat itu, setelah itu tidak bereaksi apa-apa." Itu adalah penyangkalan, sebab pada dasarnya pengkonsumsian pornografi akan menimbulkan bekas. Jadi seperti mobil yang lewat di tanah atau di semen yang basah maka pastilah akan menimbulkan bekas atau jejak. Demikianlah pornografi sekali melintasi otak kita maka akan menimbulkan jejak. Mencandu dalam diri penggunanya karena sekurang-kurangnya ada dua alasan, Pak Gunawan. Dan alasan ini memang sangat berkaitan dengan para remaja putra sebagai pengguna utamanya. Ada sekurangnya dua alasan kenapa bisa mencandu begitu kuat pada diri remaja putra, yang pertama di usia remaja inilah mereka mulai mengalami gejolak seksual. Perlu orang tua sadari bahwa gejolak seksual pada diri remaja terutama remaja putra adalah sesuatu yang baru, pengalaman yang baru. Sebelumnya belum pernah dirasakan oleh anak 6-7 tahun karena tidak mengalami gejolak seksual, tapi anak umur 16 tahun akan mengalami gejolak seksual. Ini adalah sebuah pengalaman baru yang sebelumnya tidak pernah dialami, semua pengalaman baru cenderung mengundang orang untuk mengulangnya menimbulkan rasa ingin tahu. Itulah sebabnya bagi para remaja putra karena ini adalah pengalaman baru maka mereka ingin sekali tahu, ingin sekali merasakannya dan tidak cukup tahu sedikit, tapi mau lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi. Kedua, kenapa mencandu, karena gejolak seksual pada diri remaja terutama pada remaja putra berada pada puncak-puncaknya, mulai dari usia 12, 13 tahun sampai usia awal pemuda sekitar 25 atau 27, disitu gejolak seksual sangat kuat. Setelah usia 30an sedikit demi sedikit mulai ada penurunan. Jadi benar-benar di usia remaja itulah si remaja putra itu harus menghadapi gejolak seksual yang sangat kuat karena yang pertama rasa ingin tahu yang kuat sekali dan yang kedua secara hormonal pada puncaknya kekuatan itu dinyatakan. Maka waktu dia mengkonsumsi pornografi, ibaratnya seperti memberikan daging kepada singa yang lapar, dilahap dan dilahap dan terus-menerus ingin diberikan daging yang sama. Jadi si remaja putra ini akhirnya sekali melihat, sekali mengkonsumsinya dia tidak bisa lagi melepaskan, terus-menerus di dorong oleh rasa ingin tahu dan didorong oleh rasa ingin dipuaskan, maka sangatlah mencandu.
GS : Padahal kalau itu dilihat oleh seorang anak yang masih anak-anak, reaksinya tidak seperti itu, Pak Paul ?
PG : Tepat sekali karena memang pada masa anak-anak kecil belum ada persiapan, baik itu peralatan dalam tubuhnya atau hormon-hormon seksual yang bisa memberikan tanggapan terhadap gambar-gambarpornografi tersebut.
Pada masa remaja hormon-hormon tersebut dalam tubuh remaja sudah ada, makanya begitu dia mengkonsumsinya sekali, maka kebanyakan dia langsung terikat memiliki keinginan mau lagi dan mau lagi.
GS : Apakah mereka melihat gambar yang sama itu berulang-ulang, atau dia mencari objek yang baru ?
PG : Biasanya akan mencari objek yang baru karena setelah melihat satu atau dua, rasanya dia belum cukup. Jadi mesti melihat lagi dan melihat yang lain lagi, mau lagi mengalami yang lain lagi dn terus seperti itu.
Karena memang kepuasan seksual apalagi lewat pornografi bukanlah sebuah kepuasan yang terminal, tapi sebuah kepuasan yang transisional yaitu ingin mendapatkan yang lainnya. Jadi seperti orang yang ketagihan narkoba dan seperti itulah orang yang ketagihan pornografi.
GS : Tapi itu bukan hanya lewat gambar, tapi juga lewat pembicaraan jadi cerita-cerita yang menjurus ke situ dan itu pun akan membangkitkan gairah anak remaja putra ini.
PG : Betul. Jadi seperti di negara Barat, ada yang namanya "phone service", yang melayani adalah para wanita dan bebas untuk ditelepon, tapi pengguna telepon itu harus membayar biaya yang mahaldan di situ akan dibicarakan hal-hal yang bersifat seksual sehingga orang yang menelepon itu pada akhirnya akan mendapatkan kepuasan seksual pula.
Akhirnya makin hari makin begitu banyak alat atau orang yang memanfaatkan seks untuk menjualnya kepada para remaja putra.
GS : Mungkin ada bahaya yang lain selain dari yang pertama yaitu bersifat mencandu itu tadi ?
PG : Yang kedua adalah pornografi bersifat mencemarkan. Sekali kita terbelenggu pornografi maka pikiran kita akan terus terkontaminasi, dalam hubungan dengan lawan jenis, remaja putra pada akhinya akan terus mengasosiasikan hubungan lawan jenis dengan seks.
Jadi begitu dia bergaul dengan remaja-remaja putri yang akan terbersit di benaknya adalah seks. Melihat teman, melihat perempuan maka akan terbersit seks. Karena didalam penyimpanan memorinya sudah penuh data-data seks itu, jadi akhirnya gambar seksual dari pornografi akan terus menampakkan diri dalam benak sehingga pada akhirnya remaja putra akan mengalami kesulitan menjalin relasi yang bersih. Pada akhirnya wanita pun direduksi menjadi objek pemuas gairah seksual belaka, sehingga nilai kemanusiaan wanita sebagai ciptaan Tuhan hilang. Maka Tuhan Yesus sendiri mengingatkan bahwa perzinahan tidak terbatas pada tindakan konkret berhubungan seksual tapi juga pemuasan nafsu lewat pemikiran atau khayalan. Firman Tuhan di Matius 5:28 berkata, "Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya."
GS : Ini biasanya ditanggapi sebagai hal yang biasa. Jadi remaja itu tidak menyadari bahwa dirinya sudah tercemar karena melihat gambar-gambar porno ini. Dia memikirkan gambar ini terus-menerus, tapi dia tidak merasa bahwa itu adalah sesuatu yang salah atau sesuatu yang bisa mencemarkan kehidupannya, Pak Paul.
PG : Karena apa ? Karena anak-anak remaja ini tidak lagi sensitif terhadap hal ini sehingga menganggap hal itu biasa. Saya kira memang ada strategi dari iblis untuk menghancurkan anak-anak remaa kita lewat pornografi ini.
Salah satunya adalah dengan ajaran-ajaran yang menekankan bahwa ini adalah hal yang normal dan semua orang juga memikirkannya, apa salahnya membayangkan, apa salahnya selalu mengingat-ingat seks, masalahnya adalah karena kita manusia diciptakan Tuhan bukan untuk melakukan atau memikirkan dan membayangkan seks terus-menerus apalagi gambar-gambar itu adalah gambar-gambar manusia, orang-orang yang memang digunakan untuk pengeksploitasian. Jadi ini mesti disadari bahwa ini adalah sesuatu yang berlawanan dengan kehendak Tuhan, manusia tidak diciptakan untuk menjadi seperti hewan yang kalau bertemu hewan lainnya, misalkan anjing ketemu anjing kemudian langsung bisa berhubungan. Kita manusia diciptakan bukan untuk itu, kalau si anak akhirnya memiliki sikap bahwa ini tidak apa-apa maka kemungkinan besar adalah dia menyangkal, supaya dia bisa tetap mengkonsumsinya.
GS : Tetapi sebagai remaja putra, sebetulnya dia bisa menghargai lawan jenisnya secara naluriah, karena ada rasa menghargai lawan jenis dan kenapa bisa seperti itu ?
PG : Sekali lagi karena adanya pengaruh dari teman-teman yang mengatakan bahwa itu biasa apalagi kalau ada orang yang berkata, "Banyak orang yang melakukannya," sehingga karena terlalu banyak oang yang melakukannya seolah-olah itu menjadi sesuatu yang benar.
Pada kenyataannya meskipun dilakukan oleh banyak orang, namun hal yang salah tetaplah salah. Sebab sekali lagi, mustahil Tuhan menginginkan itulah yang ada di benak kita terus-menerus. Kalau kita misalkan memutarkan posisi, supaya anak remaja bisa mengerti misalkan kita bisa bertanya lalu dia berkata, "Ini tidak apa-apa ini," misalkan kita bertanya, "Bayangkan seandainya kamu itu bisa melihat dan membaca pikiran orang, misalkan kamu mempunyai kemampuan bisa membaca atau mengerti pikiran orang. Bayangkan kamu bertemu dengan seseorang pria yang sedang memandangi mamamu dan yang ada di benaknya adalah semua keinginan atau gairah-gairah seksual yang ditujukan kepada ibumu sendiri." Bagaimana perasaannya ? Apakah kamu akan terima hal itu sebagai hal yang normal ? Sebagai hal yang tidak apa-apa, bukankah kamu akan marah. Bukankah kamu akan berkata, "Ini tidak benar, kenapa kamu memandang ibu saya dengan gairah nafsu seperti itu ?" Kalau kita mengajak remaja putra berdialog seperti ini mungkin ini akan menyadarkannya bahwa yang dilakukan itu tidak benar atau kita gunakan contoh misalkan kakaknya yang perempuan atau adiknya yang perempuan, jadi orang-orang yang memang dia kasihi dan itu adalah hal yang tidak benar dan dari situ baru kita bisa bawa ke argumen bahwa karena kita adalah anak Tuhan, kakak kita yang perempuan adalah anak Tuhan, ibu kita adalah anak Tuhan. Apakah Tuhan akan senang kalau anak-Nya dipandangi oleh laki-laki seperti itu, pastilah tidak senang sebab ini adalah anak-anak Tuhan. Jadi kalau kita tidak mau hal itu terjadi pada ibu kita, maka jangan lakukan itu kepada wanita lain pula dan selalu ingatkan bahwa Tuhan memang memandang hal ini.
GS : Tapi dalam pemahaman para remaja ini, Pak Paul, mereka itu yang mempertontonkan tubuhnya dan sebagainya, memang sudah dibayar dan itulah profesi mereka, sehingga mereka tidak merasa bersalah untuk menikmati itu semua karena pelakunya itu dibayar.
PG : Memang pelaku-pelakunya adalah dibayar tapi waktu kita melakukannya, melihatnya, efeknya adalah kita mencemarkan diri kita, kita tahu bahwa pikiran kita itu tidak lagi bisa bersih. Inilah ang menjadikan pornografi itu di dalam diri kita sebagai sebuah dosa karena efeknya benar-benar mencemarkan.
Sehingga nanti mulai dari pemikiran-pemikiran itu maka tidak jarang akhirnya anak-anak remaja putra ini mulai bereksperimen dengan tindakan-tindakan seksual yang konkret.
GS : Berarti pencemaran itu terus mengakibatkan dosa-dosa yang lain di dalam diri anak itu, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan, dan ini membawa kita kepada bahaya yang ketiga yang memang sangat berat yaitu pornografi merupakan jembatan kepada dosa lainnya. Ada remaja yang tenggelam di dalm dosa seksual akibat pornografi tapi ada pula yang meningkatkan kadar dosanya dengan melakukan dosa lainnya seperti berzinah secara langsung.
Jadi cukup banyak yang seperti itu, menonton, mengkonsumsi pornografi kemudian naik tingkat melakukannya baik itu ke pelacuran, baik itu dengan sesama teman dan sebagainya. Dengan kata lain, pornografi menjadi sebuah jembatan untuk kita melakukan dosa-dosa lain yang lebih berat. Ada juga yang terjebak di dalam dosa kebohongan, karena ingin menutupi kebiasaan pornografi jadi akhirnya dia mulai berbohong. Berbohong mula-mula memang soal pornografi tapi lama-lama karena terlalu banyak berbohong maka lama kelamaan mulailah berbohong untuk hal-hal lain pula. Ada pula yang menghamburkan uang untuk membiayai kebiasaan ini akhirnya jatuh ke dalam dosa pencurian uang, mencuri uang orangtua untuk mengkonsumsi pornografi ini. Semua ini adalah dosa yang serius, namun mungkin dosa terberat yang akhirnya sering ditanggung oleh pengguna pornografi di masa muda adalah kebergantungan pada pornografi hingga di usia dewasa. Jadi berapa banyak anak-anak yang sewaktu remaja menggunakan pornografi akan terus terikat oleh dosa seksual sampai di usia tua, bukan hanya di usia 30an tapi sampai usia 65an terus dikuasai. Jadi akhirnya kita melihat dosa yang ditimbulkan oleh pornografi, bisa mengikat manusia mulai di usia 15an dan mungkin sampai usia 65an. Jadi sekitar 50 tahunan dia akan terus dikuasai oleh dosa ini.
GS : Jadi selama dia memiliki gairah seksual maka itu akan tetap menghantui dia, Pak Paul ?
PG : Betul sekali dan kesulitan dia selalu menjaga kesuciaannya, menjaga pikirannya jangan sampai tercemar, menjaga batasnya. Godaan-godaan seperti itu akan terus menghantui dirinya apalagi kalu dia tidak kuat-kuat dan akhirnya dia benar-benar jatuh terlibat di dalam perselingkuhan.
Jadi sekali lagi kita melihat dosa pornografi menjadi jembatan melakukan dosa-dosa lainnya yang lebih berat.
GS : Menurut pengamatan Pak Paul, para remaja putra ini kalau menyaksikan suatu pornografi itu, dia melakukan sendirian atau bersama-sama dengan teman-temannya ?
PG : Pada awalnya karena ditunjukkan teman maka akan melihatnya bersama-sama dengan teman, namun sekali mereka bisa mendapatkannya sendiri maka semuanya tinggal ditransfer ke dalam komputer merka atau di dalam HP mereka.
Jadi akhirnya mereka mengkonsumsinya sendiri di dalam 'privacy' kamar mereka dan inilah yang akhirnya tidak diketahui oleh orang tua mereka padahal ini yang mereka lakukan.
GS : Pak Paul, masalah-masalah apa yang biasanya timbul karena orang pada masa remajanya mengkonsumsi pornografi ?
PG : Ada banyak Pak Gunawan, saya bisa memberikan beberapa contoh misalnya berapa banyak pemuda atau pemudi yang harus menikah lebih dini karena kehamilan di luar nikah dan bukankah cukup banya di antara mereka adalah pengguna pornografi.
Jadi anak-anak remaja yang terlibat dalam hubungan seksual seringkali mengawali perbuatan itu lewat pornografi dulu, nonton, lihat gambar dan sebagainya akhirnya berbuat karena waktu mereka punya pacar mereka tidak bisa lagi mengendalikan diri, sudah begitu kuat dorongannya dan sekarang tersedia orangnya maka akhirnya lebih mudah jatuh ke dalam dosa pornografi, dosa seksual. Akhirnya ada yang hamil dan akhirnya harus ada yang aborsi dan akhirnya harus ada yang menikah lebih dini. Misalkan lagi yang lainnya berapa banyak orang yang terlibat di dalam tindak kriminal perkosaan yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi pornografi juga. Saya masih ingat tahun 1980an di Amerika Serikat ada seorang pembunuh serial bernama Ted Bandy, dia membunuh, memperkosa dan akhirnya sebelum dia dijatuhi hukuman mati dia memberikan kesempatan kepada Dr. James Dobson untuk mewawancarainya di penjara dan dengan terbuka dia bercerita, dia mengadakan pengakuan bahwa sejak remaja dia pengkonsumsi pornografi kelas berat, akhirnya tidak bisa menguasai diri dan akhirnya membunuh orang, memperkosanya, membunuh orang, memperkosanya. Jadi sekali lagi bisa menjadi jembatan ke tindak kriminal. Atau berapa banyak rumah tangga yang hancur akibat pornografi yang dimulai sejak usia remaja, berapa banyak istri yang menangis karena malam-malam melihat suaminya menonton materi-materi pornografi. Istri yang merasa dirinya tidak ada harganya, tidak bisa menjadi idaman suaminya dan merasa benar-benar seperti barang rongsokan, tidak diperhatikan oleh suami karena maunya suaminya hanya itu saja, dan waktu berhubungan dengan si istri, si istri juga tahu bahwa yang ada di benak si suami bukanlah dirinya, yang diinginkan itu benar-benar bukanlah dirinya tapi gambar-gambar itu. Berapa banyak rumah tangga yang rusak dan sudah tentu kalau si istri melihat suami seperti itu maka respek terhadap si suami pun menurun belum lagi ini menjadi contoh buruk bagi anak-anak. Berapa banyak anak-anak yang menemukan gambar-gambar porno di HP ayahnya, di komputer ayahnya. Jadi benar-benar itu memberikan contoh yang buruk kepada anak-anak dan berapa banyak perselingkuhan yang dilakukan oleh orang yang semasa remaja terikat pornografi. Singkat kata, pornografi membuka pintu dosa yang lebih besar.
GS : Itu termasuk juga terjadinya pengguguran kandungan dan sebenarnya resikonya tinggi sekali.
GS : Walaupun tidak langsung berkaitan dengan yang remaja putra, tapi itu memberikan dampak yang negatif kepada orang lain.
PG : Betul sekali. Jadi memang terlalu lebar dan luas dampak buruk dari pornografi.
GS : Dan biasanya orang-orang yang sudah kecanduan pornografi ini kemudian prestasi kerjanya ataupun prestasi di sekolah itu akan menurun.
PG : Betul. Akan terpengaruh karena memang mencandu mereka.
GS : Jadi masih ada hal-hal negatif yang lain yang harus diperhatikan, dan ini memang bukan sesuatu yang mudah untuk diberantas karena tadi Pak Paul katakan, penyebarannya begitu mudah dan bisa terlindungi. Tapi orang lain tidak mengerti bahwa kita itu seorang pecandu pornografi, kadang-kadang seperti itu, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Maka dalam sesi berikut kita akan bicarakan cara penangkalannya dan penangkalannya itu tidak bisa sepenuhnya pada pembatasan alat-alat teknologi itu, sebab sudah sangat susahsekali untuk dicegah.
Maka penangkalan nanti harus dimulai dari dalam dan bukan dari luar.
GS : Pak Paul, kita akan mengakhiri perbincangan ini. Mungkin ada Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : 1 Korintus 6:13 berkata, "Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh." Dan tubuh kita, pikiran kita diciptakan Tuhan bukan untuk percabulan, bukanuntuk diisi dengan materi-materi pornografi, melainkan untuk Tuhan sebab memang Tuhanlah yang menciptakan dan Dia ingin sekali diam dan tumbuh di dalam pikiran kita.
GS : Ini sebenarnya berbicara tentang kesucian ?
GS : Termasuk remaja putra juga perlu menjaga kesuciannya di hadapan Tuhan.
GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Remaja Putra dan Pornografi". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.