Keluarga
Submitted by admin on Fri, 05/06/2009 - 7:52am.
Abstrak:
Tujuan hidup adalah memuliakan Tuhan dan salah satu cara memuliakan Tuhan adalah lewat keluarga. Keluarga yang memuliakan Tuhan memunyai dampak besar terhadap orang di sekitar dan generasi berikutnya. Dua contoh keluarga yang memuliakan Tuhan dan telah memberi dampak besar bagi nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu keluarga dari Dr.James Dobson dan Pdt. Jonathan Edward. Mereka melakukan hal-hal yang sederhana namun memberi dampak yang luar biasa dan memberkati.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Tuhan Di Tengah Keluarga". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Sebagai keluarga-keluarga Kristen, kita percaya bahwa Tuhan menjadi pusat dari keluarga, tapi aplikasinya atau kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari seringkali Tuhan hanya sebagai simbol yang kurang mewarnai kehidupan keluarga Kristen. Sebenarnya tujuan dari hidup pernikahan itu apa, Pak Paul ?
PG : Salah satunya adalah untuk memuliakan Tuhan sebab kita diciptakan oleh Tuhan pada akhirnya untuk memuliakan-Nya. Artinya lewat kehidupan kita , kita membawa kemuliaan Tuhan di tengah-tenga dunia ini karena kita adalah orang-orang yang dipanggil untuk menikah dan berkeluarga maka kita harus menggunakan kesempatan dalam pernikahan dan berkeluarga untuk memuliakan Tuhan pula.
Sehingga lewat kehidupan keluarga kita nama Tuhan lebih dipermuliakan.
GS : Apakah pengertian memuliakan Tuhan? Apakah seperti satu keluarga menyanyi atau sekeluarga ke gereja atau bagaimana, Pak Paul ?
PG : Arti memuliakan Tuhan di dalam keluarga berarti menomor satukan Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai TUHAN atau TUAN dalam keluarga kita. Berarti adanya sebuah kesediaan untuk menanggalkan dri kita, ego kita, kehendak kita dan meletakkannya pada kaki Tuhan sehingga apa pun yang kita perbuat, kita akan coba selaraskan dengan kehendak Tuhan, dan sebagai keluarga kita akan berusaha bersama-sama mencari kehendak Tuhan baik untuk keluarga secara keseluruhan dan juga untuk anggota-anggota keluarga secara pribadi.
Jadi memuliakan Tuhan yang pertama adalah mengesampingkan diri, menundukkan diri dan menjadikan kehendak Tuhan sebagai tuntunan bagi kita semua.
GS : Padahal di dalam anggota keluarga pertumbuhan imannya itu berbeda-beda Pak Paul, kadang-kadang kita melihat ada satu keluarga yang suami atau ayahnya begitu tekun, tapi di keluarga lain yang lebih tekun adalah istri atau ibu dan yang lainnya kurang. Dan ini bagaimana Pak Paul, karena semacam ada ketimpangan ?
PG : Seringkali ada kesenjangan seperti itu, Pak Gunawan. Maka dalam keluarga kita harus saling mengingatkan, kadang kita tidak bisa berjalan seiring dan sekata dengan pasangan karena ada satu ang lebih tertarik dan mau menuntut pertumbuhan dalam Tuhan Yesus, tapi ada sebagian juga yang tidak mau dan tidak begitu memedulikan hal-hal rohani.
Memang kalau terjadi kesenjangan maka tidak bisa tidak ini akan memengaruhi suasana rohani di dalam keluarga kita dan kita akan mengalami kesulitan hidup atau cerita tentang pengalaman dengan Tuhan kepada pasangan kita, otomatis kalau ini menjadi masalah dalam kehidupan keluarga kita, maka ini juga akan berdampak pada anak-anak kita, akan ada anak-anak yang ikut kita yaitu yang lebih rohani yang memedulikan kepentingan Tuhan, tapi biasanya juga akan ada anak yang menuruti pasangan kita yaitu tidak menuruti kepentingan Tuhan karena dia merasa tidak masalah sebab bukankah pasangan kita atau misalkan ayahnya atau ibunya juga tidak begitu memedulikannya. Jadi seringkali kalau ada kesenjangan dalam relasi suami istri, maka kesenjangan itu nantinya akan turun pula pada anak-anaknya.
GS : Sebaliknya kalau keluarga itu kelihatan harmonis dan kelihatan sama-sama memuliakan Tuhan, dampaknya juga bisa terlihat pada kehidupan anak-anak mereka ?
PG : Betul sekali, jadi dalam kehidupan keluarga yaitu suami dan istri atau ayah dan ibu bersatu padu di dalam kehidupan bukan saja kehidupan suami istri saja tapi dalam kehidupan rohani sebaga anak-anak Tuhan, membesarkan anak-anak mereka dalam takut akan Tuhan.
Kita akan melihat dampak yang sangat luas berkepanjangan dan dampak ini tidak hanya terbatas pada generasi atau waktu saja. Misalkan saya dapat memikirkan kehidupan dari Dr. James Dobson. Ayah dari Dr. James Dobson adalah seorang penginjil keliling dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga dan Dr. James Dobson sebagai anak tunggal dibesarkan oleh kedua orang tuanya dan Dr. James Dobson itu kadang-kadang melihat orang tuanya bercengkrama setelah papa pulang dari pelayanan dan si papa akan menceritakan tentang pekerjaan Tuhan. Dan dalam pembicaraan biasanya, pada akhir percakapan si ayah akan berkata kepada si ibu, "Tadi saya melihat anak pendeta tidak memiliki sepatu yang bagus karena hidupnya memang kurang dan saya ingin memberikan kepada orang itu, jadi sebagian dari uang yang telah saya terima, saya berikan untuk keluarga tersebut." Biasanya mama Dr. James Dobson hanya berkata kepada papanya, "Jimmy, jika itu yang Tuhan gerakkan untuk engkau lakukan, maka lakukanlah." Inilah yang dilihat oleh Dr. James Dobson, interaksi antara papa dan mama yang begitu harmonis, yang mendahulukan Tuhan di atas kepentingan pribadi, sebab bisa saja mamanya Dr. James Dobson marah, "Kenapa kamu tidak memikirkan keluarga dulu dan kenapa kamu memikirkan orang lain dan sebagainya," tapi karena dua-dua memunyai pikiran Kristus dan menundukkan kepentingan pribadi di kaki Tuhan, maka mereka dapat hidup dengan harmonis dan menampakkan kesalehan. Dan inilah yang diteruskan kepada Dr. James Dobson, sehingga tidak heran pada akhirnya Dr. James Dobson bertumbuh besar menjadi orang yang mencintai Tuhan , yang dengan serius mau melayani Tuhan. Dan kita tahu sekarang di Amerika Serikat dan pada beberapa negara dia menjadi orang yang Tuhan pakai untuk memengaruhi banyak keluarga.
GS : Jadi peristiwa yang bisa dikatakan kecil ini tapi kalau dilihat berkali-kali oleh anak atau bahkan cucu mereka, maka ini akan memunyai dampak yang luar biasa besarnya, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Jadi bagi banyak orang seperti Dr. James Dobson, sebagai anak yang dibesarkan dalam rumah tangga atau keluarga yang rohani, konsep tentang Tuhan itu bukanlah sebuah konsep yag berada dalam tataran pemikiran tapi juga dalam tataran realitas, anak-anak ini seperti Dr.
James Dobson melihat kenyataan bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan itu memelihara. Misalkan satu contoh lagi tentang Dr. James Dobson, waktu papanya lanjut usia sebetulnya tidak terlalu tua, papanya terkena serangan jantung memang masih bisa hidup namun kemudian terkena stroke, dalam kondisi yang sudah payah itu suatu kali Dr. James Dobson bercerita bahwa papanya dikunjungi oleh Tuhan Yesus dan Tuhan berkata kepadanya bahwa Tuhan akan memanggilnya pulang tapi "Jangan khawatir," kata Tuhan, sebab Ia akan memelihara istrinya atau mama Dr. James Dobson. Setelah penampakan Tuhan itu, dia memanggil istrinya yang bernama Merdle, "Merdle tadi Tuhan telah menyatakan diri kepadaku dan Tuhan mengatakan pada waktu dekat Tuhan akan panggil saya pulang, tapi Ia berjanji bahwa Dia akan memelihara engkau." Dan benar beberapa bulan setelah itu papa Dr. James Dobson terkena serangan jantung dan meninggal dunia, dan Dr. James Dobson berkata bahwa Tuhan menepati janji-Nya, sampai mamanya tua dan kemudian mendapatkan banyak penyakit tapi Tuhan mencukupi kebutuhan mamanya sehingga mamanya terpelihara. Dr. James Dobson bukan saja mendengar, mengetahui tentang Tuhan, tentang kasih-Nya dan pemeliharaan-Nya, tapi dia mengalami sendiri dan melihat sendiri kasih Tuhan dan pemeliharaan Tuhan. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga seperti ini , mereka tidak bisa menyangkal keberadaan Tuhan. Anak-anak lain mungkin banyak mendengar pendapat-pendapat tentang Tuhan dan sebagainya tapi bagi anak-anak yang seperti Dr. James Dobson, Tuhan itu nyata, kasih-Nya nyata dan pemeliharaan-Nya nyata, firman-Nya itu digenapi. Jadi bagi anak-anak seperti ini tidak ada lagi pertanyaan tentang Tuhan. Inilah keluarga yang ingin kita ciptakan supaya anak-anak bisa berdiam di dalam suasana seperti ini.
GS : Pak Paul, memang ideal sekali keluarga seperti itu, karena seringkali kita jumpai orang hanya menempatkan Tuhan sebatas konsep-konsep diajarkan dan dibicarakan, tetapi tidak dihidupi di dalam kehidupan sehari-hari. Dan ini sebuah contoh yang sangat konkret. Pak Paul mungkin punya cerita yang lain yang menarik seperti itu ?
PG : Ada satu lagi, Pak Gunawan. Kisah kehidupan dari Pdt. Jonathan Edward, beliau dipakai Tuhan untuk membakar kerohanian orang-orang Amerika. Dia sebetulnya seorang pendeta tipe pelajar, tipepengajar, bicaranya perlahan-lahan.
Suatu hari beliau dipanggil untuk menggantikan seseorang yang seharusnya memimpin Kebaktian Kebangunan Rohani/KKR di sebuah kota kecil, tapi karena orang tersebut batal datang maka akhirnya yang diminta datang adalah Pdt. Jonathan Edward. Ditulis bahwa beliau datang ke gereja itu dan berkhotbah dengan tenang dan malahan naskah khotbahnya dibaca dari depan sampai ke belakang, tapi naskah itu berjudul Orang Berdosa di bawah Murka Allah. Waktu dia bacakan naskah khotbah itu dengan suara yang tenang dan tidak berapi-api, Tuhan bekerja dan tiba-tiba orang mulai berdatangan dan bersujud dan berlutut meminta ampun bertobat atas dosa-dosa mereka, orang menangis meratap dan benar-benar kebangunan rohani terjadi di gereja itu. Pergilah Pdt. Jonathan Edward ke tempat-tempat lain dan di manapun dia berkunjung dan dia berkhotbah seperti itu juga dengan tenang dan sebagainya kemudian orang bertobat sehingga masa itu disebut dengan masa "The Great Awakening", kebangunan rohani yang besar atau yang agung di Amerika. Tapi yang indah dari kehidupan Pdt. Edward adalah dia mempraktekkan apa yang dikhotbahkannya dalam keluarganya, hidup dengan istrinya begitu baik, harmonis, cinta Tuhan dan anak-anaknya bukan saja mengetahui tentang Tuhan tapi melihat langsung dan mengalami langsung kasih Tuhan dan pemeliharaan Tuhan, dan diteruskan kepada cucu-cucunya, dari cucu-cucunya kemudian diteruskan lagi kepada buyut-buyutnya dan saya sudah lupa sekarang sudah sampai generasi yang keberapa dari keturunan dari Pdt. Jonathan Edward tapi itu dibukukan, dicatat karena ini menjadi sebuah fenomena yang luar biasa dan tidak lazim yaitu satu keluarga besar mulai dari Pdt. Jonathan Edward sampai keturunan keempat atau kelima atau keenam sekarang, semuanya berada pada kasih Tuhan Yesus dan melayani Tuhan, tidak ada yang tidak dalam Tuhan dan tidak ada yang tidak melayani, semua melayani. Setiap tahun berkumpul dalam reuni besar keluarga mereka dan semuanya selalu bersyukur melihat Tuhan bekerja dalam keluarga besar itu. Dan ini bukan peristiwa atau hal yang umum terjadi atau yang gampang terjadi sebab betapa banyaknya orang yang bisa memelihara iman di generasinya tapi tidak bisa meneruskan kepada keturunan berikutnya. Tapi dari keluarga Pdt. Jonathan Edward, sampai dengan keturunan berikutnya, semua tetap berada dalam Tuhan kita Yesus Kristus.
GS : Memang yang seringkali kita lihat, yang tadi Pak Paul angkat adalah mereka yang menjadi hamba Tuhan penuh waktu yang sebenarnya sangat sibuk tetapi masih sempat membangun kehidupan keluarganya, bukan hanya meletakkan dasarnya tapi juga membangunnya sehingga dari generasi ke generasi, bangunan itu kelihatan terbangun dengan baik sekali. Sekarang masalahnya kalau keluarga itu tidak berhasil walau pun kelihatannya dia berhasil meletakkan dasarnya, tetapi tidak berhasil untuk membangun seperti yang kedua contoh itu, maka bagaimana Pak Paul ?
PG : Sebagaimana kita lihat kalau berhasil maka dampak rohani itu bisa bertahan dan bisa begitu berkembang dengan luasnya, demikian pula kalau kita berhasil. Kalau kita sebagai orang tua tidak erhasil meletakkan dasar pada kaki Tuhan, mengikuti kehendak-Nya dan hidup dengan kasih sayang maka nantinya kita akan menghadapi masalah dalam keluarga.
Nanti anak-anak kita ada yang ke kiri dan ada yang ke kanan, nanti ada yang ribut dan nanti ada yang tidak cocok dan konflik sehingga akhirnya benih-benih kemarahan atau pemberontakan berbuah dan pada akhirnya menjadi masalah-masalah besar. Ini yang nantinya sering terjadi Pak Gunawan, dan sayangnya itu juga terjadi di dalam keluarga-keluarga Kristen.
GS : Apakah ada contoh yang konkret untuk ini ?
PG : Saya teringat contoh di Alkitab yang seringkali dibicarakan yaitu keluarga Imam Eli. Imam berarti hamba Tuhan yang Tuhan tetapkan untuk mewakili Tuhan di bumi ini dan sekaligus juga mewakii manusia di hadapan Tuhan.
Jadi Imam Eli memiliki tugas yang sangat penting saat itu dan pada zaman itu, seorang imam bukan saja menjadi seorang pemimpin agamawi tapi juga menjadi pemimpin negeri atau politis. Jadi Imam Eli saat itu memunyai kedudukan yang sangat tinggi, tapi sayang sekali nanti kita akan melihat bahwa keluarga ini tidak pernah lepas dari kemelut masalah dan awalnya dimulai dari Imam Eli sendiri.
GS : Tapi kita tetap percaya bahwa Tuhan tetap ada di tengah-tengah keluarga itu, dan bagaimana reaksi atau tanggapan Tuhan terhadap sikap Imam Eli yang kurang pas untuk kehidupan berkeluarga ini, Pak Paul ?
PG : Di sini kita melihat indahnya dan besarnya kasih Tuhan, kita melihat Tuhan itu tidak berhenti membawa Firman-Nya, mengingatkan Imam Eli akan kehendak Tuhan. Sebagai contoh kita bisa membac di 1 Samuel 2:27-28, "Beginilah Firman Tuhan, 'Bukankah dengan nyata Aku menyatakan diri-Ku kepada nenek moyangmu ketika mereka masih di Mesir dan takluk kepada keturunan Firaun? Dan Aku telah memilihnya dari segala suku Israel menjadi imam bagi-Ku; kepada kaummu telah kuserahkan segala korban api-apian orang Israel'."
Jadi di sini kita bisa melihat, Pak Gunawan, waktu Imam Eli mulai keluar jalur kehendak Tuhan, maka Tuhan mendatanginya dan Tuhan menyampaikan peringatan-peringatan-Nya, namun yang indah di sini adalah Tuhan tidak langsung menegur Imam Eli dan justru Tuhan mengingatkan Imam Eli akan pemilihan Tuhan atas dirinya dan kaumnya yaitu suku Lewi sebagai pelayan Tuhan. Dengan kata lain sebelum Tuhan menegurnya, Tuhan mengingatkan Eli akan relasi yang terjalin di antara Tuhan dan Imam Eli. Inilah yang Tuhan lakukan kepada kita pula, Pak Gunawan, Tuhan tidak langsung menegur apalagi menghukum sewaktu kita itu berbuat salah, yang seringnya adalah Tuhan mengingatkan kita akan relasi-Nya dengan kita, hubungan-Nya yang begitu intim dengan kita, bukankah Dia yang telah memilih kita untuk menjadi umat dan anak-anakNya dan inilah yang pertama yaitu Tuhan akan terus ingatkan kepada kita juga.
GS : Dalam hubungan kita, seringkali kita kadang-kadang rajin mendengarkan Firman Tuhan dan berdoa tetapi ada waktu-waktu tertentu kita menjadi kendor, apakah pada saat-saat seperti itulah Tuhan mengingatkan kita bahwa relasi kita sedang menurun atau bahkan buruk dengan Tuhan ?
PG : Seringkali itu yang Tuhan lakukan, kita mungkin menganggap remeh dan kita menganggap tidak begitu penting hubungan dengan Tuhan, misalkan menjaga saat teduh dengan Tuhan, menjaga waktu untk bersekutu dengan Tuhan secara pribadi.
Saya tahu ini adalah sebuah pergumulan pribadi bagi kita semua, saya pun kadang juga bergumul dalam kesibukan akhirnya tidak bisa bersaat teduh dengan Tuhan. Namun Tuhan akan mengingatkan kita, Dia dan kita memunyai sebuah relasi, Dia telah memilih kita menjadi anak-Nya dan Dia telah menjadikan diri-Nya sebagai Bapa dari kita. Seringkali Tuhan akan mengingatkan bahwa kita ini adalah ayah dan anak dan kita ini adalah anak yang disayangi dan Dia akan mengingatkan relasi ini supaya kita bisa kembali ke dalam relasi yang semula dengan Tuhan.
GS : Setelah Tuhan mengingatkan tentang relasi kita dengan Dia, langkah berikutnya apa yang Tuhan akan lakukan ?
PG : Kepada Imam Eli Tuhan berkata, "Kepada kaummu, Ku serahkan segala korban api-apian orang Israel." Dengan kata lain, Tuhan mengingatkan Imam Eli bahwa selama ini Tuhan telah memelihara hidunya dengan serba berkecukupan lewat persembahan yang dibawa oleh umat Israel kepada Tuhan, singkat kata Tuhan setia menyediakan kebutuhannya.
Sewaktu Tuhan memeringati kita, Tuhan pun mengajak kita melihat semua yang diberikan-Nya. Tuhan selalu setia dan tidak ingkar janji.
GS : Harapannya agar orang itu tersadar bahwa sekalipun kita sebagai umatNya tidak menghiraukan Tuhan, tapi Tuhan tetap menghiraukan kita dan terus memberkati kita.
PG : Betul, seolah-olah Tuhan ingin mengingatkan akan bagian Tuhan yang Tuhan akan kerjakan, seolah-olah dengan Tuhan mengingatkan kita akan apa yang Tuhan telah kerjakan maka Tuhan juga ingin enanyakan kepada kita apakah kita telah menunaikan kewajiban kita, apakah kita telah mengerjakan bagian kita.
Di sinilah Tuhan juga melakukannya kepada Imam Eli, seolah-olah Tuhan ingin mengingatkan bahwa dari awal sampai sekarang bukankah Aku telah setia memelihara hidupmu. Seolah-olah Tuhan ingin berkata, "Imam Eli, apakah masih kurang, apakah masih ada yang belum Aku lakukan untukmu. Bukankah Aku sudah memelihara hidupmu seperti ini." Jadi itulah yang Tuhan lakukan kepada kita waktu kita mulai menjauh, waktu kita mulai berontak, waktu kita mulai memertanyakan kasih Tuhan, seringkali Dia datang memeringatkan kita "Apa yang masih kurang, apakah yang engkau masih inginkan yang belum Aku berikan kepadamu," Tuhan ingin selalu mengingatkan bahwa Dia tidak pernah berubah dan Dia selalu di sini dan Dia selalu memberikan apa yang dibutuhkan oleh anak-anakNya.
GS : Bagaimana tanggapan Imam Eli terhadap apa yang Tuhan ingatkan itu ?
PG : Saya yakin Imam Eli mendengarkannya dan mencoba untuk melakukannya, misalkan kita tahu karena nanti ini merupakan teguran kepada Imam Eli akan kelalaiannya mendisiplin anak-anaknya. Kita lhat Imam Eli berusaha melakukan apa yang Tuhan inginkan dan menegur anak-anaknya, tapi nanti kita akan melihat bahwa teguran Imam Eli tidak lagi mempan karena masalahnya adalah sudah terlalu besar dan kompleks karena kegagalan Imam Eli juga.
Jadi dengan kata lain, Imam Eli mencoba untuk taat tapi akhirnya sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur.
GS : Jadi bagaimana reaksi Tuhan, Pak Paul ?
PG : Tuhan memang menegur Imam Eli dan yang Tuhan tegur pertama-tama adalah dirinya sendiri yaitu dirinya Imam Eli, Tuhan berkata di 1 Samuel 2:29, "Mengapa engkau memandang dengan loba kepada orban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku yang telah Kuperintahkan .
. ." Dengan kata lain Firman Tuhan mengingatkan Imam Eli akan pemilihan dan pemeliharaan Tuhan dan barulah Tuhan menegur Imam Eli dan ternyata masalah utama Imam Eli terletak di dalam dan bukan di luar dirinya yaitu sikap hatinya yang loba alias rakus. Rupanya Imam Eli adalah orang yang suka makan dan tidak dapat menguasai dirinya sewaktu melihat makanan, besar kemungkinan Imam Eli tidak melanggar peraturan-peraturan persembahan, tapi sikapnya yang loba menjadi dosa besar sehingga pada akhirnya dia tidak lagi menghormati korban bakaran sebagai persembahan untuk Tuhan, tetapi melihat korban bakaran sebagai pemuas nafsu makannya belaka. Tuhan melihat apa yang ada di dalam, kendati dari luar kita kelihatan baik dan melakukan semua yang diperintahkan Tuhan tapi belum tentu kita melakukannya atas dasar hormat kepada Tuhan. Satu hal lagi yang bisa kita lihat adalah awal dosa ialah hilangnya respek terhadap kekudusan Tuhan. Imam Eli kehilangan respek terhadap kekudusan Tuhan maka memandang korban persembahan sebagai pemuas nafsu belaka, bila kita tidak lagi menghormati kekudusan Tuhan maka tinggal masalah waktu sebelum kita jatuh ke dalam dosa yang serius, inilah yang terjadi pada Imam Eli.
GS : Apa yang dialami Eli sebenarnya merupakan kelemahan dia atau memang dia sengaja untuk mau memberontak kepada Tuhan.
PG : Saya melihat sebagai kelemahan Eli, menurut saya dia tidak dengan sengaja mau memberontak kepada Tuhan. Kelemahannya terletak di sini yaitu pada makanan, nafsunya dan inilah yang Tuhan liht.
Jadi Tuhan berkata, "Kenapa kamu ini loba, kenapa kamu ini rakus tidak bisa menahan dirimu dan gara-gara engkau tidak menahan dirimu maka engkau mencemari atau mengotori kekudusan Tuhan." Nanti kita akan melihat dampak kelemahan Imam Eli ini ternyata sangatlah luas dan fatal.
GS : Tapi kalau masalah kelemahan itu, maka semua keluarga dalam satu anggota keluarga itu pasti memunyai kelemahan masing-masing bukan hanya dalam hal makanan seperti yang Imam Eli alami ini Pak Paul, tetapi ada hal lain yang juga merupakan kelemahan yang bisa menyakiti hati Tuhan, Pak Paul ?
PG : Betul. Waktu kita tahu kalau kita punya kelemahan kita harus berusaha untuk mengatasinya. Saya ingat sekali perkataan dari pernulis Kristen yang bernama C.S. Lewis berkata bahwa, "Yang Tuhn lihat adalah usaha kita untuk hidup kudus, belum tentu kita selalu berhasil menjalani hidup yang kudus tapi yang Tuhan perhitungkan adalah usahanya jangan menyerah."
Kita semua punya kelemahan tapi marilah kita terus menggumuli dan bawa ke dalam doa dan bawa ke hadapan Tuhan, minta Tuhan menolong kita. Jangan akhirnya mendiamkan dan malah menjadikan kelemahan itu sebagai bagian hidup kita yang tak terpisahkan. Inilah yang terjadi kepada Imam Eli, dia tidak lagi menggumuli, dia menerimanya dan malah akhirnya makin hari makin terseret dan makin jauhlah dia berjalan. Akhirnya tidak lagi menghiraukan kekudusan Tuhan dan dampaknya menjadi sangat buruk kepada anak-anaknya.
GS : Tapi memang profesi Eli sebagai seorang imam, memungkinkan dia untuk memuaskan kelobaannya, memuaskan hawa nafsunya untuk rakus dan sebagainya itu, Pak Paul ?
PG : Betul, karena pada saat itu dia adalah orang yang sangat berkuasa. Jadi di seluruh Israel, dia adalah orang yang sangat berkuasa sehingga orang tidak bisa untuk menghentikan perbuatannya. ungkin orang merasa takut karena dia seorang pemimpin sehingga orang terpaksa mendiamkan meskipun orang tahu kalau dia sudah melewati batas.
Jadi waktu kita merasa diri begitu berkuasa dan tidak ada yang bisa menguasai kita, maka kita lebih mudah untuk terjerumus ke dalam dosa.
GS : Dan itu belum akhir dari kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh Imam Eli, Pak Paul, karena nanti kita akan melihat bagaimana dampaknya terhadap anak-anaknya. Tapi untuk bagian ini karena waktu tidak memungkinkan lagi maka kita sudahi dulu dan kita harapkan para pendengar kita akan mengikuti perbincangan ini pada acara yang selanjutnya. Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Tuhan Di Tengah Keluarga". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by TELAGA on Thu, 27/11/2008 - 2:53pm.
Abstrak:
Salah satu sumber pertikaian dalam rumah tangga adalah uang. Kurang uang kita bertengkar; kelebihan uang kita pun bertengkar. Bagaimanakah caranya mengatur masalah keuangan sehingga tidak harus menjadi penyebab perselisihan?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengatur Keuangan Keluarga". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Dalam mengatur keuangan keluarga, ternyata banyak sisinya dan tidak mudah. Kita masing-masing mungkin bisa mengelola keuangan kita sendiri tapi begitu kita menikah sebagai suami punya penghasilan dan istri juga punya penghasilan kemudian ada anak-anak, ternyata dalam mengatur keuangan keluarga juga menjadi rumit, Pak Paul. Dan sekarang ini adalah kesempatan yang baik untuk kita bisa membicarakan hal itu, dan ini bagaimana ?
PG : Pada kesempatan ini Pak Gunawan, saya tidak akan membahas pernak-pernik teknisnya yaitu uang itu ditaruh di mana, siapa yang pegang, itu tidak akan saya bahas. Saya akan lebih fokuskan pad pemahaman atau kesamaan nilai karena menurut saya kalau dua belah pihak sudah memiliki suatu pemahaman yang tepat maka nanti masalah teknisnya dapat diatur dan tidak menjadi masalah lagi.
Jadi itulah yang kita akan coba uraikan dan ada beberapa yang bisa saya bagikan. Yang pertama adalah tentang masalah uang ini, dan kita tahu memang sangat sensitif sehingga ada orang yang berkata, "Ada uang ribut dan tidak ada uang juga ribut", memang sensitif. Maka kita harus menyamakan persepsi terhadap uang, sudah tentu kita harus kembali kepada firman Tuhan agar kita berdua bisa mempunyai kesamaan. Jangan sampai kita berkata, "Pokoknya saya benar dan kamu salah," tidak seperti itu! Mari kita lihat apa yang firman Tuhan katakan. Amsal 11:24 berkata, "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." Artinya ada orang yang terus berani membagi harta memberikannya kepada yang lain tapi terus bertambah kaya, tapi ada orang yang terus menghemat tidak mau membagi, tidak mau memberikan kepada yang lain, tapi selalu berkekurangan. Dari firman Tuhan ini kita bisa simpulkan bahwa Tuhan ialah pemberi berkat dan bahwa usaha manusia itu terbatas dan tidak akan menentukan pemasukannya. Jadi kita mesti menyadari bahwa kita ini terbatas, sekeras apa pun kita bekerja kalau memang bukan waktunya kita diberkati Tuhan, maka tidak akan bertambah satu sen pun, tapi sebaliknya kalau ini memang pemberian Tuhan, dan sudah waktunya Tuhan maka nanti akan ada penghasilan-penghasilan tidak terduga dan ada berkat-berkat yang tidak kita bayangkan sebelumnya. Maka dari awal Tuhan sudah mengingatkan agar kita bergantung kepada-Nya, bukan kepada kekuatan sendiri. Jadi baik suami atau istri harus mempunyai suatu keyakinan bahwa pemberi berkat dan pemelihara hidup adalah Tuhan, kita kerjakan bagian kita tapi semua itu bergantung pada Tuhan sendiri. Jadi jangan sampai kita lepas dari perspektif ini, semua bergantung kepada kita seakan-akan kalau kita tidak melakukan ini dan itu kemudian kita kekurangan, itu salah ! Sebab Tuhan adalah pemelihara hidup kita.
GS : Pak Paul, untuk menyamakan persepsi seperti itu, kesulitannya adalah persepsi ini terbentuk pada waktu kita di keluarga kita masing-masing. Dan kalau latar belakangnya berbeda, maka seringkali persepsinya juga berbeda.
PG : Betul sekali. Memang ada keluarga yang menekankan bahwa kamu harus cari uang, ini hasil usahamu. Kalau itu yang menjadi pandangan kita maka kita harus kembali ke firman Tuhan dan meyakini ahwa ini yang benar, apa pun yang diajarkan kalau sebelumnya itu berbeda dari yang Tuhan ajarkan, maka itu yang harus kita tanggalkan.
Maka meskipun kita menganggap kita benar, dan pendapat kita harus diikuti, itu salah! Kita harus kembali lagi ke apa yang firman Tuhan telah ajarkan dan itu yang sekarang harus kita yakini.
GS : Ada sebagian orang juga yang menganggap karena penghasilan kita adalah berkat Tuhan maka dia malas-malasan bekerja dan tentu ini bertentangan dengan firman Tuhan juga.
PG : Sudah tentu, jadi kita harus mengerjakan bagian kita, namun Tuhan ingatkan jangan sampai akhirnya kita berkata, "Atas usaha sayalah, atas kecerdasan sayalah, atas ketajaman insting sayalahmaka akhirnya saya berhasil menempati posisi seperti sekarang ini," jangan ! Kita harus kembalikan semuanya kepada Tuhan.
Suami istri yang biasanya sudah sepakat tentang masalah ini, sudah tentu dalam soal uang nantinya akan lebih relaks dan tidak terlalu tegang, kalau tidak akhirnya suami istri itu menjadi mudah tegang karena memang sangat menggantungkan pada kemampuan sendiri. Kalau kita berdua menyadari semua adalah pemberian Tuhan maka kita juga akan lebih relaks soal uang. Jadi kita tidak terlalu lagi mengejar-ngejar dan hidup kita akan jauh lebih berimbang.
GS : Berarti kiat apa yang Pak Paul ingin sampaikan pada kesempatan sekarang ini ?
PG : Yang berikut adalah kendati berkat berasal dari Tuhan, maka kita diminta untuk hidup rajin tidak malas, bukan saja kita mengerjakan bagian kita tapi kerjakanlah dengan sebaik-baiknya, dengn serajin mungkin.
Firman Tuhan di Amsal 20:13 berkata, "Janganlah menyukai tidur, supaya engkau tidak jatuh miskin, bukalah matamu dan engkau akan makan sampai kenyang," sudah tentu Tuhan tidak melarang kita tidur untuk beristirahat, kalau perlu beristirahat, beristirahatlah yang cukup tapi janganlah menjadi orang yang malas dan itu yang Tuhan kehendaki. Kenapa ? Sebab orang yang malas adalah orang yang memang sedang berjalan menuju kepada kemiskinan, sebab kemalasan adalah jalan tercepat menuju kepada kemiskinan. Maka meskipun kita tahu Tuhan adalah pemberi berkat, tidak benar kalau kita berkata, "Saya walaupun tidak bekerja juga tidak apa-apa nanti akan ada berkat Tuhan," itu salah! Bukan saja kita harus bekerja dan melakukan bagian kita tapi kita juga harus melakukannya dengan rajin, ini permintaan Tuhan. Tapi jangan sampai keterlaluan gara-gara rajin dan akhirnya menghasilkan uang, kemudian kita melupakan Tuhan sebagai pemberi berkat itu sendiri.
GS : Ada orang yang salah menafsirkan tentang perkataan Tuhan Yesus, bahwa burung pipit tidak bekerja tetapi diberkati, tapi mereka lupa bahwa apa yang dimakan oleh burung pipit itu tidak dilemparkan Tuhan ke sarangnya. Jadi burung ini juga harus pergi mencari makan.
PG : Betul sekali, jadi dengan kata lain memang Tuhan berharap dan meminta kita untuk bekerja. Hal ini bisa menyelesaikan banyak problem sebab ada orang yang seperti ini, "Saya tidak perlu bekeja tidak apa-apa, yang penting sekarang apa yang bisa saya lakukan untuk Tuhan maka saya lakukan untuk Tuhan."
Tapi masalahnya adalah dia tidak cukup dan dia memang harus bekerja, tidak benar kalau kita berkata seperti itu. Kita harus kerjakan bagian kita, kita jangan melarikan diri dari tanggung jawab dan bersembunyi di balik firman Tuhan bahwa nanti akan Tuhan penuhi. Bagian kita harus kita kerjakan dan Tuhan menginginkan kita untuk menjadi orang yang rajin, jadi jangan menggantikan kemalasan dengan kerohanian dan itu tidak benar.
GS : Kalau uang itu sudah kita dapatkan, Tuhan memberkati dengan uang, dan ini menjadi masalah lagi tentang bagaimana menggunakan uang itu.
PG : Betul sekali. Jadi uang memang harus kita gunakan, tapi bagaimanakah kita menggunakannya. Yang pertama adalah kita harus menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga sendiri, sbelum digunakan untuk kepentingan orang lain.
Firman Tuhan sudah memberikan kepada kita pedomannya di 1 Timotius 5:8 firman Tuhan berkata, "Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman." Jadi artinya sama dengan tadi yang saya sudah tekankan bahwa Tuhan menuntut tanggung jawab. Jadi tidak benar bersembunyi dibalik kerohanian yang sebetulnya itu lebih merupakan kemalasan kita dan itu tidak benar. Tuhan berkata kita harus memenuhi kebutuhan pokok keluarga kita sendiri terlebih dahulu. Kalau orang berkata, "Itu namanya egois" itu salah! Itu namanya bertanggung jawab, itu namanya menaati yang Tuhan kehendaki. Sebab tidak benar, apa yang harus dipenuhi untuk keluarga kita sendiri, kita tidak berikan dan malahan kita berikan kepada yang lainnya dan nanti itu akan sangat melukai atau mencederai perasaan orang-orang di rumah kita sendiri dan kesaksian kita pun sebagai orang Kristen akhirnya merosot. Saya pernah berbicara dengan seseorang yang pernah menceritakan betapa orang tuanya sangat peduli dengan lingkungan, sangat mau menolong orang yang susah tapi masalahnya sewaktu dia kecil dia hidup di dalam kekurangan, karena dia bukanlah keluarga yang berkelebihan jadi seringkali mau membeli buku dan lain-lain tidak mempunyai uang, hidup sangat susah tapi orang tua terlalu memikirkan kebutuhan orang sehingga seringkali uang itu diberikan untuk kebutuhan orang lain terlebih dahulu dan orang yang di rumah kekurangan. Apa yang akhirnya terjadi di rumah ? Orang tuanya sering bertengkar, karena ibu mengharapkan si ayah pulang membawa nafkah tapi seringkali uang itu sudah dibagi-bagi untuk kepentingan orang lain, karena si ibu tidak mempunyai uang yang cukup karena memang hidup mereka kurang dan susah sehingga akhirnya mengeluh dan bertengkar. Akhirnya apa yang dipetik oleh anak-anak bahwa ayah itu tidak bertanggung jawab, ayah itu akhirnya lebih sayang kepada anak orang lain dari pada anak sendiri, itu yang pertama. Dan yang kedua, bukankah anak-anak juga harus hidup di dalam bayang-bayang pertengkaran. Jadi waktu si ayah pulang yang seharusnya membawa gaji, nantinya tidak bisa tidak akan berbuntut pada pertengkaran. Jadi sekali lagi tindakan itu tidak membuahkan berkat malah membuahkan masalah dalam keluarga sendiri. Makanya tidak salah firman Tuhan menegaskan, jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad. Jadi Tuhan menggunakan kata-kata yang keras sekali di sini "murtad" dan "lebih buruk dari orang yang tidak beriman." Tidak ada lagi kata yang lebih keras dari ini semuanya maka jangan sampai kita itu kehilangan perspektif.
GS : Ada orang yang mengatakan akan lebih baik membantu orang lain karena dengan membantu orang lain, dia akan mendapatkan terimakasih atau pujian. Kalau itu digunakan untuk keluarga, keluarganya kadang-kadang juga kurang berterima kasih.
PG : Sudah tentu akhirnya kita harus melihatnya dari sisi yang jelas yaitu tanggung jawab, tanggung jawab kita yang pertama adalah keluarga sendiri dulu. Kita tidak mendapatkan pujian dan sebaginya itu tidak apa-apa sebab yang penting adalah tanggung jawab, ini yang kita harus penuhi.
Jangan sampai kita menjadi orang yang karena haus pujian dari pihak luar makanya mendahulukan kepentingan pihak luar sehingga dari pihak luar orang akan berkata-kata, "Dia baik dan selalu rela mengorbankan diri demi kepentingan orang lain," dipuji-puji tapi dikutuki oleh orang di rumah sendiri, hal itu juga tidak benar. Tuhan selalu punya prinsip yang sangat jelas, Pak Gunawan, yaitu mulai dari seisi rumah, mulai dari lingkungan terdekat. Misalkan juga tentang penyebaran firman atau penyebaran Injil, Tuhan berkata mulai dari Yerusalem, Tuhan tidak berkata "Pergilah ke seluruh dunia ini," tidak seperti itu, tapi awalilah dari Yerusalem-mu kemudian baru ke Yudea-mu kemudian barulah ke tempat yang lebih jauh lagi. Jadi sama dengan hal memelihara kebutuhan juga sama yaitu yang terdekat dulu kemudian baru nanti lapisan luar. Sekali lagi tujuannya bukanlah egois, tapi ini tanggung jawab dan kesaksian hidup.
GS : Memang ini bukan egois, tapi kadang-kadang kita terjerat akan kebutuhan pokok keluarga sendiri Pak Paul, karena kebutuhan keluarga itu terus ada dan tidak ada habisnya sehingga kita juga melalaikan tanggung jawab kita untuk membagikan uang ini untuk orang lain yang membutuhkan di sekitar kita.
PG : Hal ini memang harus kita kombinasikan dengan prinsip yang berikutnya yaitu setelah kita memenuhi kebutuhan pokok keluarga, kita harus memikirkan kebutuhan sesama, sebab Tuhan menjanjikan erkat bagi orang yang murah hati dan ini juga adalah tanggung jawab kita pula untuk memelihara kebutuhan orang lain di luar dari rumah kita.
Firman Tuhan di Amsal 22:9 berkata, "Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin." Jadi Tuhan akan melihat dengan cepat orang yang murah hati membagi rezekinya dengan orang yang miskin, ini dijanjikan berkat tapi sekaligus ini menjadi sebuah tanggung jawab karena firman Tuhan berkata, "Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri." Jadi kita memang harus membuktikan kasih kita kepada orang secara konkret pula. Jadi tidak benar kalau kita hanya memperhatikan kepentingan pokok keluarga kita tanpa memedulikan orang lain. Pertanyaan Pak Gunawan bagus, yaitu batasnya sampai mana? Ada orang yang berkata, "Nanti kalau anak saya sudah besar dan memang masing-masing perlu diberikan mobil untuk diantarkan oleh sopir sehingga tidak perlu menunggu, maka itu yang saya harus lakukan". Tidak! Harus ada batasnya saya sangat suka sekali dengan hal-hal yang dikatakan oleh Pdt. Rick Warren setelah beliau menjadi penulis yang laris dan bukunya dinikmati oleh banyak orang, "The Purpose Driven Church" dan "The Purpose Driven Life". Akhirnya dia menjadi orang yang sangat kaya dan dia akui itu, nah apa yang harus dia lakukan dengan uangnya yang kemungkinan besar dalam jumlah jutaan dolar karena hasil penjualan buku-bukunya. Yang pertama, dia harus membayar kembali gajinya dari tahun pertama dia melayani di gerejanya sampai saat itu dan untuk selamanya, dia tidak terima gaji lagi. Yang kedua, sisa uang itu dia akan gunakan untuk mengongkosi atau membiayai perjalanan pelayanannya. Jadi kalau dia diundang, dia tidak lagi menerima pemberian bahkan untuk semua biaya pelayanan tersebut dia tanggung dari uang tersebut. Ketiga dia juga akan menyisakan uangnya untuk membantu pelayanan-pelayanan lainnya, jadi kalau ada yang butuh ini dan itu dia akan gunakan uang-uang itu untuk menolong pelayanan-pelayanan lainnya. Terakhir yang paling saya kagumi, dia berjanji tidak akan meningkatkan taraf kehidupannya, dia tidak pindah ke rumah yang lebih bagus, dia tidak membeli mobil yang paling baru atau yang lebih mahal, itu tidak dilakukannya. Hanya sesuai dengan kebutuhan, sudah tentu kalau mobilnya sudah tua dan perlu diganti maka dia ganti tapi dia akan pertahankan level kehidupannya itu. Jadi dengan kata lain, dia terima uang itu tapi bukan hanya untuk kepentingannya saja, setelah kebutuhan pokok keluarganya telah tercukupi, kemudian dia terus memikirkan bagaimana dia bisa membagikan uang itu kepada yang lain, sebab dia memang melihat bahwa Tuhan memberikan untuk dibagikan, tapi setelah dia dengan tanggung jawab memelihara kepentingan keluarganya.
GS : Bukan hanya untuk masa kita saja, Pak Paul, orang memikirkan juga untuk masa depannya. Jadi selain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok sehari-hari orang juga perlu memikirkan tabungan, dan ini bagaimana ?
PG : Boleh. Jadi tidak ada salahnya. Misalkan kita ini yang sudah paro baya juga memikirkan hari tua dengan pemikiran, saya nanti tidak ingin bergantung dengan anak-anak, jangan sampai menyusahan anak-anak.
Itu tidak apa-apa tapi jangan sampai kita berpikiran seperti ini, "Saya mau pikirkan hari tua saya, kemudian nanti saya juga harus memikirkan cucu-cucu saya, nanti juga perlu ada simpanan untuk mereka," tidak! Hari ini mempunyai kesusahan untuk hari ini, jangan sampai kita terlalu jauh seolah-olah nanti Tuhan tidak bisa memelihara anak cucu kita, tapi Tuhan bisa. Jadi kita melakukan tugas-tugas kita, kalau kita mau sisakan uang silakan. Kita akan masuk ke prinsip berikutnya yang juga sama pentingnya yaitu menyimpan uang adalah kebiasaan hidup yang bijaksana, untuk mengantisipasi pengeluaran tidak terduga dan merupakan tanda hidup berdisiplin karena hidup ini akan diisi dengan hal-hal yang tidak terduga, pengeluaran-pengeluaran itu nanti harus terjadi maka kita memang harus menyimpannya dan dengan kita mulai menabung, itu berarti kita membiasakan hidup berdisiplin. Hidup tak berdisiplin adalah menerima uang berapa kemudian langsung menghabiskan semuanya dan yang lebih celaka lagi adalah kalau menerima uang berapa kemudian mengeluarkan berlipat-lipat kali lebih besar dari penerimaan. Itu bukan lagi hidup tak berdisiplin, tapi itu hidup tidak bertanggung jawab. Firman Tuhan meminta kita belajar dari semut di Amsal 30:25 firman Tuhan berkata, "Belajarlah dari semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas," sebab semut sudah dilengkapi Tuhan dengan insting bahwa di musim dingin mereka tidak bisa mencari makan, jadi kumpulkan semuanya di musim panas sehingga nanti di musim dingin tidak bisa lagi mencari, sudah ada persediaan makanan. Jadi ini suatu tanda hidup berdisiplin dan hidup bijaksana dan orang Kristen diminta Tuhan hidup seperti ini jangan hidup tidak bertanggung jawab.
GS : Karena ada orang yang menganggap, kalau tabungan kita banyak maka orang itu adalah orang yang kurang beriman kepada Tuhan.
PG : Sudah tentu banyak atau tidak banyaknya bergantung pula pada berapa banyak keperluannya. Jadi kalau kita sudah punya uang kemudian kita terus menyimpan dan kita selalu berkata, "Untuk peneluaran tidak terduga" itu juga tidak benar.
Tadi sudah ditekankan bahwa yang kita bisa berikan adalah yang lebih dari apa yang kita punya, kita harus sumbangkan karena Tuhan ingin untuk kita menjadi orang yang murah hati.
GS : Konsep yang lain apa, Pak Paul?
PG : Setelah kita menyisihkan uang untuk pengeluaran tidak terduga, kita juga mesti hidup sebagai orang beriman bukan seperti orang tak beriman. Jadi jangan sampai kita menumpukkan harta demi brjaga-jaga seakan-akan tidak ada Tuhan yang memperhatikan dan memelihara kita.
Kadang-kadang kita seperti itu, menumpuk harta seolah-olah tidak ada Tuhan di dunia ini yang dapat memelihara kita. Tuhan ada ! Firman Tuhan mengingatkan, "Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?" di Matius 6:30. Pohon-pohon, rumput-rumput, siapakah yang mendandani? Tuhan! Burung pipit di udara siapa yang pelihara ? Tuhan. Masakan Tuhan tidak memelihara kita anak-anak-Nya ? Juga melalui perumpamaan-perumpamaan orang kaya yang bodoh yang membangun lumbung yang lebih besar untuk menyimpan gandum dan barang-barangnya, Tuhan Yesus mengingatkan, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya," Lukas 12:15. Kadang kita mengelabui diri, sebetulnya kita tamak tapi kita tidak mau dikatakan tamak jadi kita ini berkata, "Kita ini bersiap-siap untuk masa depan." Atau kita tamak dan kita tidak mau dikatakan tamak dan kita berkata, "Kita orangnya hemat, tapi ujung-ujungnya adalah tamak, kita tidak pernah merasa cukup dan ini adalah hal yang tidak Tuhan tidak senangi. Tuhan menginginkan kita hidup bergantung kepada-Nya, bahwa Dia adalah Tuhan yang sanggup memelihara hidup kita, jangan sampai kita hidup seolah-olah tidak ada Tuhan di dunia ini.
GS : Menjadi kaya itu bukan suatu dosa, tetapi ketamakan itulah yang Tuhan tidak inginkan.
PG : Betul sekali. Kalau sampai kaya, itu adalah akibat atau berkat yang memang kita terima dari-Nya tapi kita harus ingat bahwa Tuhan itu tidak ingin kita mengejar-ngejar kekayaan supaya kita enjadi kaya.
Tuhan menginginkan kita mengerjakan bagian kita dan kerjakanlah bagian kita dengan rajin, sesudah itu semua biarkan Tuhan yang mengurus. Entah Tuhan ingin memberkati kita lebih, silakan atau Tuhan memberkati kita cukup, silakan, tapi berkat Tuhan tidak akan kurang, paling sedikit berkat Tuhan itu cukup dan kadang-kadang dilebihkan, kalau berkat Tuhan dilebihkan, untuk keperluan kita sudah, maka tolong berikan kepada yang lain, itu yang Tuhan kehendaki.
GS : Ini adalah konsep kita tentang uang, kalau kita tidak bisa menggunakan uang sebagaimana adanya uang, dan kita memper-ilah uang itu, kita sendiri yang menjadi korbannya.
PG : Betul sekali, kalau orang sudah meng-ilahkan uang, maka hidupnya itu hanya diisi dengan satu yaitu uang saja, sehingga dia gagal melihat hidup seperti Tuhan melihatnya, gagal menikmati hidp seperti Tuhan menghendakinya.
Misalnya orang yang meng-ilahkan uang akan sangat sulit sekali menikmati relasi persahabatan karena dia akan mengukur semua dari uang. Tidak menghasilkan uang maka tidak perlu bicara dengan saya, kalau kira-kira tidak akan ada hasil uang, maka tidak perlu bersahabat dengan saya. Jadi akhirnya semua diukur dari uang. Akhirnya apa yang terjadi? Dia kehilangan segalanya, sebelum dia mati sebetulnya dia sudah seperti mati karena dia sudah kehilangan semuanya. Kasih tidak ada lagi, kemurahan hati tidak ada lagi, orang pun tidak mendapatkan berkat dari dia. Maka konsep yang harus selalu kita ingat dalam rumah tangga kita, bahwa uang adalah titipan Tuhan kepada kita untuk digunakan oleh kita terutama untuk kepentingan Tuhan dan bukan kita maka jangan kita menggenggam uang sebagai milik pribadi. Itu salah! Uang adalah sesuatu yang Tuhan titipkan kepada kita, pertama digunakan untuk kepentingan-Nya, untuk kemuliaan-Nya. Sudah tentu yang tadi kita telah bahas kepentingan-Nya dan kemuliaan-Nya adalah, kita pertama-tama bertanggung jawab kepada keluarga kita sendiri, setelah itu bermurah hatilah karena Tuhan menghendaki agar apa yang Tuhan telah berikan kepada kita secara berlebihan, justru untuk dibagikan supaya yang lain pun juga menerima berkat.
GS : Jadi memang masalah terbesarnya adalah memahami konsep yang benar tentang bagaimana kita bertanggung jawab atas berkat yang Tuhan berikan kepada kita, Pak Paul ?
GS : Barulah setelah itu kita bertanggung jawab menggunakannya ?
PG : Betul sekali. Jadi memang kerangka atau nilai inilah yang kita mesti samakan dengan pasangan kita.
GS : Jadi kalau menggunakan, menyimpan dan sebagainya itu akan bisa teratasi kalau konsep kita tentang uang itu benar dulu.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan yang sangat menarik ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengatur Keuangan Keluarga." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu sumber pertikaian dalam rumah tangga adalah uang. Kurang uang kita bertengkar; kelebihan uang kita pun bertengkar. Bagaimanakah caranya mengatur masalah keuangan sehingga tidak harus menjadi penyebab perselisihan?
Kita harus menyamakan persepsi terhadap uang dan sudah tentu kita harus kembali kepada Firman Tuhan. Amsal 11:24, "Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa namun selalu berkekurangan." Kesimpulannya adalah bahwa Tuhan adalah pemberi berkat dan bahwa usaha manusia terbatas dan tidak menentukan pemasukannya. Jadi, kita harus selalu menyadari keterbatasan diri dan bergantung pada Tuhan, bukan pada kekuatan sendiri.
Kendati berkat berasal dari Tuhan, kita diminta untuk hidup rajin dan tidak malas. Firman Tuhan mengingatkan, "Janganlah menyukai tidur supaya engkau tidak jatuh miskin; bukalah matamu dan engkau akan makan sampai kenyang" (Amsal 20:13). Dengan kata lain, kemalasan adalah jalan tercepat menuju kepada kemiskinan.
Uang harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga sendiri sebelum digunakan untuk kepentingan orang lain. Firman Tuhan mengingatkan, "Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman" (1 Timotius 5:8).
Setelah memenuhi kebutuhan pokok keluarga, kita harus memikirkan kebutuhan sesama. Tuhan menjanjikan berkat bagi orang yang murah hati. Amsal 22:9 berkata, "Orang yang baik hati akan diberkati karena ia membagi rezekinya dengan si miskin."
Menyimpan uang adalah sebuah kebiasaan hidup yang bijaksana untuk mengantisipasi pengeluaran tak terduga dan merupakan tanda hidup berdisiplin. Itu sebabnya Firman Tuhan mengajak kita untuk belajar dari "semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas" (Amsal 30:25).
Setelah menyisihkan uang untuk pengeluaran tak terduga, hiduplah sebagai orang beriman, bukan seperti orang tak beriman. Jangan sampai kita menumpukkan harta demi berjaga-jaga seakan-akan tidak ada Tuhan yang memperhatikan dan memelihara kita. Firman Tuhan mengingatkan, "Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?" (Matius 6:30) Melalui perumpamaan orang yang kaya yang bodoh yang membangun lumbung yang lebih besar untuk menyimpan gandum dan barang-barangnya, Tuhan Yesus mengingatkan, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya" (Lukas 12:15).
Singkat kata, uang adalah titipan Tuhan kepada kita untuk digunakan terutama untuk kepentingan-Nya, bukan kita. Jadi, janganlah kita menggenggamnya sebagai milik pribadi.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Kesulitan finansial biasanya merubah gaya hidup kita. Dan dengan adanya uang pun bisa menambah kemesraan dalam hubungan suami istri. Misalnya membelikan hadiah-hadiah kecil dan sebagainya.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara TELAGA. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Krisis Ekonomi dalam Keluarga". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, apakah betul bahwa masalah perceraian itu bukan hanya disebabkan oleh hadirnya pihak ketiga atau karena kurang intimnya mereka berdua, tetapi ada faktor ekonomi atau faktor finansial.
PG : Tepat sekali Pak Gunawan, waktu saya studi dulu sebagai mahasiswa, saya pernah membaca sebuah hasil riset yang memperlihatkan justru penyebab pertama mengapa orang bercerai (ini memang i Amerika) yaitu karena faktor keuangan.
Jadi menarik sekali sebab saya menduga sebelumnya bahwa penyebab pertama orang bercerai misalkan adalah ketidakcocokan atau perselingkuhan, ternyata bukan, penyebab pertama adalah masalah keuangan. Dan gara-gara masalah keuangan rupanya relasi suami-istri menjadi retak dan akhirnya membuat mereka tidak bisa lagi hidup bersama.
GS : Tetapi itu kalau terjadi di Amerika bukankah itu mereka berkelebihan di dalam segi keuangan atau materi, Pak Paul?
PG : Seharusnya memang seperti itu, tapi rupanya ada yang memang hidup di luar kemampuan atau ingin hidup di luar penghasilan yang mereka dapatkan atau bisa jadi juga karena adanya pemberhenian hubungan kerja pada tahap tertentu di dalam hidup mereka, sehingga akhirnya mereka mengalami kesulitan keuangan, sudah membeli rumah harus membayar cicilan bulanannya dan sebagainya.
Sudah beli mobil harus membayar dan sekarang tidak ada uang karena diperhentikan kerja, rupanya hal-hal ini semua yang menjadi penyebab mengapa mereka bercerai.
GS : Berarti faktor finansial ini peranannya cukup besar di dalam menentukan kelangsungan sebuah rumah tangga, Pak Paul?
PG : Ternyata sangat besar Pak Gunawan, jadi benar-benar bisa kita katakan bahwa faktor ekonomi merupakan salah satu penyangga rumah tangga. Dan kalau kita perhatikan baik-baik memang adakalnya ini yang sering kita saksikan yaitu rumah tangga mulai mengalami masalah, mulai sering cekcok karena keuangan makin sulit.
Hal-hal yang tadinya mereka bisa beli, mereka sudah rencanakan tapi akhirnya mereka tidak bisa lakukan atau jalani. Akhirnya pemotongan-pemotongan atau pengurangan-pengurangan yang harus mereka lakukan itu menimbulkan masalah di dalam keluarga mereka.
GS : Tapi biasanya kalau sejak awal, artinya pasangan suami-istri menikah itu memang sudah dalam keadaan yang tidak terlalu berkecukupan di dalam finansial mereka masih bisa menyesuaikan diri. Masalahnya terjadi kalau mereka tadinya berkelimpahan kemudian tiba-tiba kehilangan mata pencaharian seperti yang tadi Pak Paul katakan.
PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi dalam soal krisis ekonomi ini sesungguhnya ada dua faktor besar yang mesti kita perhatikan baik-baik, yang pertama adalah yang tadi Pak Gunawan sudah sebut. Yaitu krisis ekonomi memaksa suami-istri untuk mengubah gaya hidup mereka. Tadinya mereka bisa berpiknik sebulan sekali, sekarang tidak bisa lagi, tadinya seminggu sekali bisa keluar makan dan sebagainya sekarang tidak bisa lagi. Nah, rupanya perubahan gaya hidup itu akhirnya menimbulkan stres dalam keluarga, dan kita mesti ingat juga bahwa perubahan gaya hidup itu sering kali menuntut pemotongan atau penghilangan hal-hal yang bersifat rekreasi, karena yang bersifat hakiki atau yang pokok misalnya makanan, adanya tempat tidur, rumah dan sebagainya itu akan kita coba cukupi dan kita prioritaskan. Yang kita cenderung langsung korbankan atau kita coret dari daftar kita adalah hal-hal yang bersifat rekreasi. Jadi tampaknya itulah salah satu penyebab stres dalam keluarga tatkala mereka mengalami masalah ekonomi, mereka kehilangan kesempatan untuk ber-rekreasi. Mereka tidak bisa lagi menyegarkan jiwa mereka dengan melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan.
GS : Ternyata mengubah pola hidup seperti itu menjadi sangat sulit sekali Pak Paul?
PG : Sangat sulit sebab pertama-tama sesuatu yang telah terbiasa dilakukan yang akhirnya menjadi bagian atau menjadi salah satu aktifitas keluarga. Nah, waktu kita tidak bisa lagi melakukanna berarti ada yang terhilang dan karena terbiasa, waktu terhilang kita merasakan ada yang tidak nyaman dalam hidup kita ini.
Hari Sabtu malam biasanya kita pergi misalkan makan, menonton film, sekarang tidak bisa lagi, kita akhirnya terpaksa hanya diam di rumah atau jalan-jalan di sekitar rumah kita, masalahnya adalah kita tidak terbiasa dengan jalan-jalan atau hanya diam di rumah. Sebab ini biasanya hari atau waktu bagi kita untuk santai, nah berarti perubahan gaya hidup itu sudah menimbulkan ketidaknyamanan, sudah menimbulkan ketidakseimbangan lagi. Dulu tekanan yang masuk berapa banyak, tapi dikeluarkannya berapa banyak karena ada aspek rekreasi itu. Sekarang tekanan yang masuk sama bahkan bertambah kalau adanya kesulitan keuangan namun penyaluran atau pengeluarannya sedikit, karena kita tidak bisa lagi melakukan rekreasi atau hal-hal yang biasa kita lakukan untuk mengendorkan saraf-saraf kita itu.
GS : Padahal tuntutan-tuntutan yang bersifat rekreatif yang menyenangkan kita, itu biasanya bertambah-tambah terus dari hari ke hari atau bulan ke bulan.
PG : Biasanya demikian sebab bukankah semakin bertambahnya tekanan hidup semakin kita juga membutuhkan rekreasi untuk bisa menyegarkan jiwa kita itu, nah sekarang tidak bisa lagi kita lakuka itu.
Makanya hasil akhirnya adalah terjadilah ketidakseimbangan dan ini yang akhirnya menimbulkan stres dalam keluarga.
GS : Jadi dampak negatif krisis ekonomi terhadap keluarga itu apa saja Pak Paul?
PG : Yang berikutnya adalah ini Pak Gunawan, stres dalam rumah tangga, tadi saya sudah singgung perubahan gaya hidup menimbulkan stres. Nah, sekarang apa dampak stres ini pada keluarga. Stre akan langsung menekan relasi suami-istri, sebab biasanya relasi suami-istri itu setelah melewati masa tertentu mereka mulai menemukan titik equilibrium.
Pada awal pernikahan mereka harus mencocokkan diri, menyesuaikan dengan gaya hidup yang berbeda, akhirnya setelah beberapa tahun mulailah mereka menemukan celahnya bisa hidup bersama dalam keadaan yang relatif damai. Sekarang masalahnya adalah timbul stres karena masalah keuangan. Berarti apa, berarti mereka dituntut untuk bisa tanggap atau menghadapi tekanan yang baru ini. Kadang-kadang pasangan suami-istri tidak siap untuk menghadapi tekanan yang baru ini akhirnya tekanan keuangan muncul, mereka tidak siap menghadapinya, dua-dua mudah marah, dua-dua pendek sabar, dua-dua menyalahkan, nah apalagi kalau memang keluarga ini sudah mulai bermasalah sejak awalnya, tekanan ekonomi makin memperburuk relasi mereka. Atau memang di masa lampau seseorang misalkan si suami atau si istri pernah mengambil keputusan yang salah dalam soal keuangan. Dalam keadaan stres karena krisis ekonomi, mudah sekali pihak yang merasa dirugikan meledak, menyalahkan pihak yang dianggap merugikan. "Kalau saja kamu dulu tidak memutuskan investasi ini kita pasti masih mempunyai cadangan uang, kalau dulu kamu tidak membeli ini kita pasti masih ada uang, kalau kamu tidak memutuskan berhenti dulu dan memulai bisnis yang baru kamu pasti tidak mengalami ini." Nah, akhirnya muncullah sikap-sikap menyalahkan, karena apa, kita stres. Dalam keadaan stres kita ingin meluapkan kemarahan kita dan salah satu obyek kemarahan yang paling mudah kita temukan adalah kesalahan pasangan.
GS : Pak Paul, masalah krisis ini bisa menimpa siapa saja, baik pasangan yang baru menikah atau sudah 10 tahun menikah, nah apakah saran Pak Paul terhadap pasangan suami-istri ini supaya bisa mengantisipasi atau mengatasi masalah krisis-krisis ini?
PG : Ada beberapa Pak Gunawan, yang pertama adalah sebagai pasangan muda memang dari awal pernikahan mereka harus mempunyai kesamaan nilai-nilai dalam soal uang, dalam soal harta. Nah, ini pnting sekali karena kalau ada krisis ekonomi, perbedaan nilai (values) akan sangat mempengaruhi berapa kuat atau bertahannya mereka dalam menghadapi krisis ekonomi itu.
Saya berikan contoh, misalkan si suami atau si istri mempunyai nilai moral yang sangat mementingkan uang, jadi benar-benar melihat uang itu sebagai status di mata masyarakat dan di matanya sendiri. Tanpa uang mereka merasa dirinya itu tidak berharga, jadi harus ada uang dan sebagainya. Dan itu terkait juga dengan pekerjaannya, pekerjaannya adalah segala-galanya bagi dia, menomorsatukan pekerjaan di atas apapun. Kalau seseorang mempunyai nilai hidup seperti ini, kalau mengalami krisis ekonomi dia yang paling mudah hancur. Kalau pasangan yang satunya tidak mempunyai atau mempunyai nilai yang berbeda dari yang satunya, sudah tentu mereka akan saling menyalahkan, akan saling menyerang. Nah, waktu krisis ekonomi terjadi perbedaan nilai ini akan makin meledak, makin membesar. Karena yang sangat bergantung pada nilai-nilai moneter, pada nilai-nilai keuangan dia akan terpukul paling hebat. Dia akan ambruk, tidak mempunyai harga diri, tidak mau keluar, tidak mau bergaul dengan siapapun, nah yang satunya karena lebih bebas dari uang merasa tidak apa-apa kita tetap ke gereja, bertemu orang, tidak usah merasa malu ditanya orang. Nah yang satu tetap memaksa keluar, yang satu memaksa masuk ke dalam, mereka akan lebih mudah terlibat dalam pertengkaran. Maka tadi saya katakan penting sekali kita menyelaraskan nilai dalam hidup kita berdua. Tapi langkah yang kedua juga sangat penting yaitu jangan kita meletakkan nilai hidup pada keberadaan uang, pada harta benda, pada status yang kita peroleh dari pekerjaan kita. Dari awal biasakan diri untuk bisa terlepas dari hal-hal seperti ini, karena apa, karena kita mesti ingat bahwa benda-benda ini, status-status ini tidak selalu ada di dalam hidup kita. Ini adalah hak Tuhan untuk memberi, adalah hak Tuhan untuk kadang-kadang mengambilnya kembali.
GS : Memang masalahnya di situ Pak Paul, bagaimana kita itu bisa mempunyai konsep pola pikir seperti yang tadi Pak Paul katakan. Sering kali kita justru dalam bekerja malah terikat dengan pekerjaan, dengan hasil yang kita peroleh.
PG : Itu yang sering terjadi Pak Gunawan, dan saya bisa memahaminya. Sesuatu yang sudah kita geluti tahun demi tahun kalau sampai kita harus lepaskan itu akan sangat merobek diri kita, karen kita sudah lekat, kita sudah menyatu, waktu diambil tidak bisa tidak kita akan kehilangan bagian dari diri kita itu dan ini memang sangat berat.
Itu sebabnya ada sebagian orang yang sewaktu kehilangan pekerjaan, tidak mau bertemu orang, tidak merasa ada kepercayaan diri untuk menghadapi temannya atau sanak saudaranya dan lebih mau mengurung diri di rumah atau di kamarnya. Bahkan ada yang dalam keadaan seperti itu misalkan itu suami tidak terlalu mau berhadapan dengan istrinya. Memang secara umum, ini adalah pengamatan yang dilontarkan oleh seorang penulis Kristen yang bernama C.S. Lewis dia berkata bahwa dalam menghadapi stres pria cenderung berdiam diri, dalam menghadapi stres wanita cenderung membuka diri alias berbicara. Jadi ini saja sudah bisa menimbulkan problem, yang satu ingin berdiam diri, yang satu ingin berbicara membicarakan masalah ini. Apalagi kalau ada lagi masalah-masalah lain yaitu perbedaan-perbedaan nilai-nilai hidup wah itu makin memperkeruh masalah.
GS : Pak Paul, apakah mungkin ada cara lain untuk mengatasi masalah ini?
PG : Ada Pak Gunawan, nah ini memang berkaitan juga dengan relasi kita dengan anak-anak. Karena stres ekonomi tidak bisa tidak akan mempengaruhi kehidupan anak-anak dan sering kali orang tuabisa bertengkar gara-gara soal anak.
Waktu uang berkelimpahan, anak-anak membeli apa kita masih bisa mengaturnya dengan relatif mudah, mudah kenapa, sebab kita bisa berkata ya nanti kita belikan, ya kamu perlu ini nanti kami akan sediakan untukmu. Tapi waktu uang menjadi masalah, kita menjadi tidak bisa membelikan yang anak butuhkan sedangkan anak membutuhkannya. Nah, adakalanya kita panik, dalam keadaan panik kita marah, kita akhirnya menyalahkan pasangan kita. Atau kita menyalahkan anak kita "Kamu minta ini lagi, kamu minta ini lagi, kamu tidak tahu kondisi kami," nah masalahnya anak-anak memang perlu. Misalkan untuk membeli baju seragam, ada acara di sekolah di mana mereka diwajibkan ikut dan harus membayar, nah hal seperti itu susah dihindari. Nah, orang tua memarahi si anak, si anak tidak bisa berbuat apa-apa juga di sekolah. Kalau tidak ikut dia akan kena sanksi, kalau dia beritahukan terus-terang kepada guru, dia akan malu. Mungkin orang tua memaksa anak untuk berkata kamu ceritakan kondisi orang tuamu, nah dia malu dia akan merasa tertekan. Akhirnya apa yang terjadi anak bisa bermasalah, anak akhirnya malas ke sekolah, anak akhirnya tidak mau berbicara dengan orang tua, orang tua makin frustrasi melihat anaknya kok begini, makin suka marah lagi kepada anak-anaknya dan akhirnya rumah tangga tambah kocar-kacir. Maka untuk mengantisipasi dari awal kita mesti sering-sering berbicara kepada anak, juga dalam soal uang. Mengajarkan nilai-nilai yang benar tentang uang. Memang uang itu bukan sesuatu yang harus kita genggam erat-erat, bukan segala-galanya dalam hidup tapi kita mesti mengajar anak menghargai uang, kita harus mengajar anak memakai uang dan menyimpan uang. Mempunyai nilai yang benar dalam penentuan beli atau tidak barang yang dikehendaki dan sebagainya. Dan juga setelah semua ini kita lakukan, pada waktu krisis berlangsung kita mesti mempunyai keterbukaan dengan anak, kita mesti katakan dengan baik-baik bahwa duduk masalahnya bukannya kami tidak mau, bukannya kami tidak peduli, kami memahami kondisimu yang juga susah, kami tahu kamu juga akan sulit berkata jujur kepada gurumu tapi inilah kondisi kami, kami harus memberitahukan kepada kamu apa adanya. Misalkan juga kita mengajak anak untuk sering-sering bersama dengan kita berdoa, misalkan doakan papa yang tidak mempunyai pekerjaan sekarang ini, jadi kita libatkan anak dalam penanggulangan krisis ini. Dalam keadaan stres, mudah sekali kita malah mencerai-beraikan keluarga kita karena sikap-sikap kita yang makin menajam, meruncing, nah kita mesti menjaga duri-duri jangan sampai kita menusuk-nusuk orang di sekitar kita. Dengan anak-anak juga seperti itu, kita libatkan mereka dalam proses penanggulangannya.
GS : Pak Paul, di dalam menanggulangi stres, katanya ada suatu bentuk yang bisa menolong kita misalnya dengan mendengarkan musik, ini mungkin pola rekreatif yang tidak terlalu mahal Pak Paul, dengan mendengarkan radio kita bisa mendengarkan musik-musik, apa memang betul begitu?
PG : Tepat sekali Pak Gunawan, nah ada hal yang relatif simpel yang bisa dilakukan dan tidak terlalu memakan biaya besar. Yaitu memanfaatkan musik, kalau tidak bisa membeli kaset dengarkan rdio, banyak stasiun yang menawarkan lagu-lagu kesukaan kita, kita dengarkan.
Nah, ada sebuah buku Pak Gunawan yang berjudul Music as Medication, musik sebagai obat. Dalam buku ini diperlihatkan betapa berkhasiatnya musik dalam kesejahteraan jiwa manusia. Kalau kita menyenangi musik dan musik itu bisa berbicara kepada kita wah......kita adalah orang yang diuntungkan oleh musik. Musik mempengaruhi suasana hati Pak Gunawan, kita mungkin belum bisa menjawab persoalan kita, kita mungkin belum bisa mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan, kita mungkin masih belum mempunyai uang untuk membayar uang sewa rumah kita, nah meskipun masalah belum bisa terpecahkan tapi suasana hati kita bisa kita ubah atau bisa kita ringankan dengan cara mendengarkan musik, yang bisa menghibur dan meringankan perasaan kita akhirnya suasana hati kita lebih ringan. Nah, sekali lagi saya tekankan memang masalah belum selesai tapi yang penting detik ini, saat ini untuk mungkin beberapa jam suasana hati kita tidaklah seberat sebelumnya. Apa dampaknya, o.....sangat besar terhadap anak, terhadap suami, terhadap istri, terhadap orang lain, kalau suasana hati kita ringan berarti kita bisa bersikap lebih baik kepada mereka. Sehingga kita bisa menanggulangi stres ini bersama-sama dengan lebih baik pula.
GS : Dan mungkin juga bisa melibatkan mereka dengan mendengarkan musik, menyanyi sama-sama atau memainkan alat musik yang sederhana misalnya gitar, tapi bisa menciptakan suasana riang.
PG : Betul sekali, dan itulah yang dibutuhkan oleh jiwa kita yakni rekreasi, penyegaran. Kita tidak bisa mendapatkannya melalui aktifitas rekreasi yang biasanya dulu kita lakukan, sekarang kta mendapatkannya melalui musik.
Relatif sederhana, sangat murah tetapi sangat mujarab.
GS : Bagaimana dengan kalau kita jalan-jalan ke tempat-tempat yang tidak membutuhkan pengeluaran besar, Pak Paul?
PG : Ini juga sangat baik Pak Gunawan, jadi kita bisa berjalan bersama, ngobrol bersama, itu relatif sudah bisa mengurangi ketegangan kita dengan kita berjalan, menggerakkan tubuh, itu sudahbisa mengendorkan saraf-saraf kita yang tegang.
Nah, yang paling penting adalah jangan saling menyalahkan itu pencobaan yang harus kita lawan, godaannya besar sekali. Dalam keadaan krisis apalagi krisis ekonomi kita menyalahkan pasangan kita atau anak kita.
GS : Kalau begitu apakah ada ayat firman Tuhan yang bisa menolong para pendengar khususnya yang sedang menghadapi masalah krisis ekonomi, Pak Paul?
PG : Ada beberapa Pak Gunawan, yang pertama adalah firman Tuhan yang kita tahu diucapkan oleh Tuhan Yesus. "Datanglah kepadaKu, hai kamu yang letih dan berbeban berat, karena Aku akan memberkan kelegaan kepadamu."
Ini janji Tuhan Yesus, Dia akan memberikan kelegaan. Terus kemudian di Perjanjian Lama, Mazmur 125:1 , "Orang-orang yang percaya kepada Tuhan adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya. Waktu Daud lari dari Saul firman Tuhan mencatat, Daud menguatkan dirinya di dalam Tuhan. Dalam kesulitan-kesulitan inilah yang dilakukan oleh orang-orang percaya, mereka datang kembali dan datang kembali kepada Tuhan. Kita percaya Tuhan tidak akan membiarkan kita, Dia akan mempedulikan kita, itu janji Tuhan dan Tuhan tidak berbohong.
GS : Terima kasih sekali Pak Paul, untuk perbincangan ini. Tentunya perbincangan ini akan sangat berguna baik bagi mereka yang tidak sedang mengalami krisis ekonomi, mudah-mudahan juga tidak terjadi tetapi kalau pun suatu saat terjadi saya rasa para pendengar kita jauh lebih siap menghadapi itu. Dan bagi para pendengar yang saat-saat ini sedang dilanda krisis ekonomi di dalam kehidupan keluarga, kita juga ikut berdoa agar mereka bisa cepat dipulihkan oleh Tuhan dan bisa cepat keluar dari situasi yang sulit ini. Sekali lagi banyak terima kasih Pak Paul dan juga terima kasih untuk para pendengar sekalian Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang krisis ekonomi dalam keluarga. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang . Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga indo.net.id . Kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs atau website kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Hasil riset tentang penyebab perceraian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa ternyata penyebab pertama mengapa orang bercerai saat itu bukanlah perselingkuhan atau hal-hal lain namun masalah ekonomi. Jadi faktor finansial merupakan faktor yang sangat penting sekali dalam berkeluarga, begitu pentingnya sehingga akhirnya dapat mematahkan atau memutuskan tali pernikahan.
Aspek finansial merupakan aspek yang sangat hakiki/integral dalam kehidupan berumah tangga. Dan tanpa disadari uang sebetulnya telah menjadi penyangga kelangsungan hubungan suami-istri. Contohnya rekreasi memerlukan uang, makan keluar dengan teman-teman atau dengan keluarga, anak-anak ulang tahun atau natal memerlukan mainan atau uang. Jadi uang itu sangat-sangat penting dan benar-benar memasuki setiap sendi kehidupan rumah tangga. Uang juga berfungsi sebagai sumbang sih dalam kemesraan hubungan suami-istri.
Dampak negatif krisis keuangan yang perlu diperhatikan:
Kesulitan finansial memaksa kita mengubah gaya hidup.
Melahirkan tekanan baru pada hubungan suami-istri.
Ada hal-hal yang disarankan atau perlu dilakukan dalam menghadapi stres:
Mendengarkan musik, buku yang berjudul Music as Medication, musik adalah obat memaparkan bahwa:
Musik mempunyai dampak yang sangat besar sekali khususnya dalam proses pemulihan dan perilaku kita pada umumnya. Misalnya musik dapat memancing emosi yang kuat, musik yang diperdengarkan dengan tempo yang sedang di pasar swalayan menyebabkan kwantitas belanja sebanyak 80%.
Musik dapat menurunkan tekanan darah tinggi, detak jantung dan pernapasan yang cepat. Maksudnya adalah sewaktu kita mendengarkan musik yang lembut dan tenang ternyata itu bisa membuat jantung kita lebih tenang, tidak berdetak dengan terlalu cepat atau pernapasan yang sedang berlari-lari cepat juga bisa diperlambat dengan suara musik yang tenang.
Jadi singkatnya musik bisa mengurangi persepsi kita akan rasa sakit, ketakutan, stres dan kecemasan. Meski musik tidak dapat menghilangkan problem kita namun ia bisa membantu kita menghadapinya, dan meskipun musik bukan solusi atas kesulitan kita tapi musik dapat menolong kita untuk bersikap lebih tenang dan santai dalam memecahkan masalah, musik tidak dapat menggantikan firman Tuhan namun musik dapat dipakai Tuhan mengkondisikan kita agar siap mendengarkan Firman dan janji-Nya. Sudah tentu kita perlu arif memilih musik yang sesuai, senandung yang tenang akan mengisi kalbu kita dengan kedamaian, sedangkan lantunan yang gembira akan menceriakan jiwa kita.
Tuhan Yesus berkata: "Datanglah kepadaKu, hai kamu yang letih dan berbeban berat, karena Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Ini janji Tuhan. Mazmur 125:1 , "Orang-orang yang percaya kepada Tuhan adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya." Kita percaya Tuhan tidak akan membiarkan kita, Dia akan mempedulikan kita, itu janji Tuhan dan Tuhan tidak berbohong.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Dalam permasalahan orangtua, hampir dapat dipastikan anak menjadi korban yang tidak bersuara-yang sunyi. Dampak negatif pada anak biasanya barulah muncul di permukaan tatkala anak bertumbuh besar. Salah satu dampak masalah orangtua pada anak berkaitan dengan pengembangan kuasa atau otoritas dalam diri anak. Entah itu ayah atau ibu yang otoriter atau kedua-duanya tidak otoriter.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Masalah Kuasa dalam Keluarga" bagian pertama. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Kepemimpinan yang tidak jelas dan tidak tegas, itu sering kali membawa akibat yang buruk terhadap anak-anak yang ada pada keluarga tersebut Pak Paul, bagaimana bisa terjadi seperti ini?
PG : Kepemimpinan memang sesuatu yang sangat mutlak diperlukan dalam sebuah keluarga Pak Gunawan, dengan adanya kepemimpinan, keluarga itu mempunyai arah dan keluarga itu juga mengetahui bahwa ereka tidak bisa bebuat semau-maunya, akan ada yang bisa berkata stop.
Nah maka sangatlah diperlukan adanya kepemimpinan tersebut. Namun di pihak lain selain kepemimpinan yang juga harus ada dalam keluarga ialah orangtua memberikan perhatian yang cukup kepada anak. Sebetulnya kalau saya boleh terjemahkan dalam bahasa sehari-hari orangtua bisa melihat anak. Melihat artinya melihat apa yang dibutuhkan anak, melihat apa yang dipergumulkan anak, melihat apa yang dilakukan anak dan memberikan pujian dan pengakuan kepada anak. Semua ini pada akhirnya akan melahirkan yang kita sebut kuasa dalam diri si anak. Bahwa dia itu bukan si anak yang tidak bisa apa-apa, tidak berdaya, tapi dia itu mempunyai kuasa sehingga pada nantinya dia mulai bisa mengembangkan kepercayaan diri, dia bisa melakukan hal-hal yang harus dilakukannya untuk juga memenuhi tantangan hidup ini. Tapi ternyata tidak semua keluarga melakukan hal ini, tidak semua orangtua atau keluarga melihat anak dengan mata yang jeli, sehingga akhirnya dalam banyak keluarga kuasa itu tidak diberikan dengan tepat kepada anak-anak.
GS : Memang sering kali orangtua khususnya ayah, menyerahkan pendidikan kepada istrinya atau pada orang lain pihak ketiga, dia tidak mau tahu yang penting dia mencukupi secara finansial dan anak ini harus menjadi orang baik.
PG : Jadi akhirnya dalam hal ini si ayah tidak melihat si anak, tidak benar-benar tahu apa yang menjadi pergumulan si anak, yang menjadi isi hatinya tidak tahu sama sekali. Akibatnya adalah dalm hal ini si ayah atau dua-dua yaitu orangtua tidak menganugerahkan cukup kuasa kepada si anak.
Di dalam kasus-kasus seperti ini nantinya akan timbul masalah dalam pertumbuhan si anak. Saya kira penting bagi kita untuk membahas apa yang disebut salah penempatan kuasa dalam keluarga atau penyalahgunaan kuasa dalam keluarga yang nantinya akan berdampak pada si anak.
GS : Sebenarnya baik pihak ayah atau pihak ibu, itu harus mempunyai pengaruh yang besar terhadap anak-anak mereka, tetapi bukankah semua tidak bisa pada peran yang sama, artinya ayah berperan sebagai ayah dan ibu juga berperan sebagai ibu. Nah di sini bagaimana Pak Paul?
PG : Seharusnya ayah menjadi pemegang tampuk kekuasaan, artinya dialah yang menjadi kapten atau nahkoda dalam hidup keluarga itu. Namun pelaksanaannya dia akan melibatkan ibu sebagai rekan, maknya Alkitab memanggil istri sebagai pewaris kasih karunia.
Jadi istri bukanlah bawahan, bukanlah hulu balang tapi istri adalah rekan si ayah dalam melaksanakan tugasnya sebagai orangtua bagi anak-anak. Ayah pemegang tampuk kepemimpinan, pemegang kuasa kemudian ibu menjalankan perannya sebagai pelaksana. Nah dalam kondisi seperti itu biasanya anak-anak nanti bertumbuh dengan sehat apalagi kalau orangtua melihat anak, memberi perhatian, berinteraksi dengan anak, orangtua sedikit-sedikit meminjamkan dan menganugerahkan kuasa kepada si anak, sehingga nanti si anak bangkit berdiri menjadi anak yang kuat, menjadi anak yang mempunyai kepercayaan diri, mempunyai tenaga untuk menghadapi tantangan hidup ini; itu idealnya dan itu yang seharusnya terjadi. Namun malangnya hal-hal seperti ini tidak terlalu sering terjadi.
GS : Yang menyebabkan anak tidak bisa menerima kuasa dari orangtuanya itu kenapa Pak Paul?
PG : Biasanya karena misalkan pertama, ayah atau ibu itu terlalu otoriter. Ini yang kita sebut kuasa yang digunakan secara berlebihan, sehingga akhirnya anak-anak tergilas. Kenapa tergilas, karna orangtua menggunakan kekuasaannya dengan berlebihan.
Sekali lagi saya ingatkan, pada prinsipnya yang harus terjadi adalah orangtua menolong anak mengembangkan kuasa sehingga si anak nanti mempunyai kuasa. Tapi dalam kasus di mana orangtua terlalu otoriter, misalnya si ayah atau si ibu akibatnya si anak tidak dapat mengembangkan kuasa atas dirinya sendiri. Mengapa? Sebab misalkan orangtua tidak menghargai pendapat si anak, si anak berbicara apa kepada orangtua tapi orangtua tidak menghiraukan, si anak memberikan penjelasan apa orangtua tidak mau menerimanya. Selalu yang akan dipaksakan adalah kehendak orangtua, alhasil tidak ada pintu dialog antara orangtua dan anak. Pokoknya orangtua yang menjadi penentu, anak sama sekali tidak mempunyai kuasa. Dalam kasus seperti ini kuasa digunakan secara berlebihan akibatnya menggilas si anak dan si anak tidak mempunyai kuasa.
GS : Tetapi pola mendidik seperti itu kebanyakan kita warisi dari orangtua kita atau orang yang lebih senior dari kita, Pak Paul?
PG : Malangnya itu yang sering terjadi Pak Gunawan, karena kita tidak mempunyai modal atau panutan yang lain jadi akhirnya kita hanya mengadopsi cara-cara yang digunakan oleh orangtua kita. Tap coba perhatikan dampaknya pada anak, anak-anak yang dibesarkan dalam rumah di mana salah satu orangtuanya atau keduanya otoriter sekali menggunakan kuasa secara berlebihan, pada akhirnya tidak lagi mempunyai kuasa atas dirinya.
Tapi yang menarik adalah akan muncul dua tipe anak, dua tipe orang dewasa dari dua tipe keluarga yang seperti ini. Yang pertama adalah tipe anak-anak yang akhirnya tidak berdaya, lemah sekali, tidak bisa mengambil keputusan, tidak mempunyai kepercayaan diri. Nah biasanya kita akan melihat sikap yang paling dominan pada anak-anak seperti ini adalah kepasifannya, luar biasa pasif; kalau tidak dibujuk-bujuk tidak mau melakukannya, kalau tidak didorong-dorong tidak mau melangkah. Dan salah satu ciri yang dominan adalah rasa rendah dirinya kuat sekali, selalu malu, selalu merasa tidak layak, sehingga akhirnya tidak berani maju. Ini tipe yang pertama karena anak ini sudah terlindas, tidak sempat mengembangkan kuasa atas hidupnya. Namun dalam kasus yang sama dan kondisi keluarga yang sama bisa muncul anak yang kebalikannya. Yaitu anak-anak yang haus kuasa, karena dia tidak mendapatkannya, tidak diberikan pengakuan oleh orangtua, semua kehendak pribadinya digilas oleh kehendak orangtuanya. Nah keluar dari rumah dia bukan seperti tipe pertama, tidak berdaya dan menyerah tapi dia menjadi orang yang haus kuasa. Pada dasarnya anak-anak ini akan bertumbuh besar menjadi pembangkang, dan senantiasa berusaha melawan figur otoritas. Dia tidak bia menerima teguran, tidak bisa menerima koreksi orang, tidak mau tunduk pada orang, jadi seolah-olah kalau melihat ada orang dengan kuasa, dorongan dalam dirinya adalah mau mematahkan kuasa itu. Pokoknya kalau ada orang dengan figur otoritas di depannya, reaksi dia adalah mau menghantamnya, mau mengalahkannya, seolah-olah hidup itu adalah ajang pertempuran atau perkelahian. Tapi sekali lagi saya tekankan, ini sebetulnya buah dari kehidupan rumah tangga yang sangat otoriter, yang sangat menggilas anak sehingga anak tidak berkesempatan mengembangkan kuasa atas hidupnya sendiri.
GS : Jadi apapun jadinya anak ini baik yang sangat menurut maupun membangkang, itu tergantung pada tipe anak itu sendiri?
PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi sering kali yang membedakan kenapa ada satu anak menjadi tidak berdaya, pasif, minder; anak yang lain menjadi pembangkang, agresif, maunya melawan, memang tie anaknya.
Ada anak yang memang dari lahir halus sekali, perasaannya peka sekali; nah anak-anak seperti ini cenderung akan menjadi anak tipe pertama yaitu lemah, pasif, bergantung pada orang, tidak mempunyai kepercayaan diri. Tapi anak-anak yang lahir dengan kecenderungan biologis yang kuat, orangnya keras kepala; biasanya anak-anak ini lebih berkembang menjadi pembangkang dan agresif sekali, mencari pemenuhan atas kuasa.
GS : Tapi kedua-duanya menimbulkan masalah di tengah-tengah keluarga?
PG : Sering kali begitu Pak Gunawan, karena misalnya yang pertama anak-anak yang pasif sekali, akhirnya anak-anak itu mengucilkan diri, tidak berani berbuat apa-apa meskipun anak itu sangat berotensi.
Apalagi anak tipe yang kedua maunya membangkang, mau melawan dan sebagainya, nah anak ini akan sangat menciptakan problem baik di rumah, di sekolah maupun nanti di masyarakat.
GS : Sebenarnya orangtua itu bukannya tidak mau berdialog, hanya kadang-kadang ada kekhawatiran kalau berdialog dengan anaknya dia merasa kalah, karena dari segi pendidikan memang sudah kalah.
PG : Adakalanya orangtua beranggapan bahwa dia harus mempertahankan wibawa dengan cara tidak boleh mengakui kekalahan, tidak boleh mengakui keterbatasan, saya kira ini keliru, ini bukannya pikian yang tepat.
Meskipun orangtua tidak berpendidikan setinggi anaknya tapi kalau dia mempunyai wibawa sebagai orangtua, dia mempunyai kasih sayang yang kuat sebagai orangtua dan dia berani mengakui keterbatasannya, saya kira anak-anak tidak akan melecehkannya, justru anak-anak akan tetap sayang kepadanya dan malah menghargainya, dia juga terbatas dan berani mengakuinya. Apalagi jika ditambah dengan sikap yang mau belajar dari orangtua, karena dia mau belajar maka anak-anak melihat; meskipun terbatas tapi orangtuanya mempunyai sikap mau belajar, mereka makin menghargai orangtua.
GS : Kalau tadi Pak Paul katakan baik orangtua maupun ibunya sangat otoriter, ini sebaliknya ada salah satu atau dua-duanya tidak tegas sama sekali, Pak Paul?
PG : Kadang-kadang itu yang terjadi, kebalikan dari kasih yang pertama dan ini pun akan menimbulkan masalah dalam kaitannya dengan kuasa. Dalam keluarga seperti ini, orangtua tidak memiliki kuaa sama sekali, sehingga kuasa didelegasikan kepada anak.
Misalkan ayah tidak lagi berfungsi sehingga anak yang terbesar atau yang tertua diangkat, sehingga dia pada usia yang relatif masih muda mempunyai kuasa yang tinggi. Kenapa orangtua sampai kehilangan kuasanya? Ada banyak penyebabnya tapi yang umum adalah perbuatan orangtua sendiri yang menurunkan wibawanya sehingga menghilangkan kuasa pada dirinya. Contoh yang paling umum terjadi dewasa ini. Misalkan ayah atau ibu yang tidak bertanggung jawab, tidak mau mengurus anak, tidak bertanggung jawab atas kebutuhan-kebutuhan si anak, atau mama mempunyai pria lain atau menghabiskan uang di meja judi, atau minum-minum atau memakai narkoba. Nah ini semua adalah perbuatan-perbuatan yang menurunkan wibawa orangtua. Contoh lain yang kadang-kadang bisa kita lihat adalah orangtua yang lemah, orangtua yang rentan terhadap stres, akhirnya si anak bukannya hormat tapi malah menilai orangtuanya lemah sekali. Ini yang membuat si anak melihat orangtuanya tidak mempunyai wibawa, orangtuanya tidak mempunyai kuasa atas hidupnya. Akhirnya si anak yang dipromosikan menjadi pemegang kuasa pada usia yang terlalu dini.
GS : Juga kadang-kadang ada orangtua yang suka bergurau, tapi berguraunya itu agak terlalu lepas sehingga oleh anak ditanggapi lain, bahwa orangtuanya memang tidak serius.
PG : Kadang kala orangtua bergurau dan melewati batas Pak Gunawan, dia benar-benar merendahkan dirinya serendah itu. Saya kira perlu orangtua mawas diri, jangan sampai menjual harga dirinya denan gurauan-gurauan yang tidak pada tempatnya.
Apa itu gurauan-gurauan yang tidak pada tempatnya, contoh yang paling klasik adalah gurauan-gurauan porno, gurauan-gurauan yang memakai konotasi seksual, atau gurauan yang kedua adalah yang bertipe melecehkan anak, mengejek anak; nah itu memancing kemarahan anak, kalau gurauan-gurauan porno membuat anak memandang rendah orangtuanya; kalau gurauan-gurauan yang melecehkan anak, menghina anak akan memancing kemarahan anak. Akhirnya anak-anak tidak lagi menghormati orangtua dan orangtua kehilangan kuasa itu atas hidupnya.
GS : Sebetulnya yang betul itu orangtua yang mendelegasikan kuasanya kepada anaknya atau anak yang merebut kuasa itu dari orangtuanya?
PG : Ada dua-duanya Pak Gunawan, misalnya dalam kasus si ayah kehilangan wibawa, tidak ada kuasa lagi pada anak-anaknya. Nah ibu sendirian, ibu perlu teman, ibu perlu mitra untuk mengatur rumahtangga ini, akhirnya secara tidak disadari atau secara tidak langsung si ibu yang mempromosikan anak tertua menggantikan si ayah.
Ada apa-apa si ibu bertanya pada anak-anak tertua, ada apa-apa si anak tertua yang diminta si ibu untuk menjaga adik-adiknya; mengurus ini dan itu. Nah tindakan-tindakan seperti itu yang kita sebut pendelegasian. Tapi adakalanya yang Pak Gunawan katakan juga terjadi yaitu perebutan. Kenapa terjadi seperti itu, karena si anak melihat si ayah tidak lagi mempunyai kuasa, malahan merusak suasana rumah, mengacaukan rumah tangga. Dalam kasus seperti itu bisa jadi si anak akan merebut kuasa si ayah atau si ibu yang melihat suaminya tidak berfungsi, akhirnya mengambil alih kuasa si ayah dan menjadi figur yang mendominasi keluarganya. Tapi apapun yang terjadi biasanya memang diawali oleh tindakan-tindakan seseorang yang menurunkan wibawa atau kuasanya sendiri.
GS : Saya teringat Absalom yang memberontak terhadap Daud ayahnya sendiri, apakah ini kasusnya mirip seperti itu?
PG : Sangat mirip Pak Gunawan, sebab Absalom adalah anak Daud yang nomor dua. Jadi dia itu cukup besar untuk mengetahui dengan jelas apa yang ayahnya lakukan, yakni ayahnya mengambil istri daribawahannya dan pada akhirnya secara tidak langsung membunuh bawahannya itu yaitu Uria.
Nah tindakan-tindakan seperti ini memang akan sangat membuat si anak kecewa. Ayahnya seorang raja, seorang yang terhormat dan seorang yang saleh tapi sanggup melakukan hal seperti itu. Nah di titik itu Daud memang kehilangan kuasanya sehingga dia akhirnya merosot. Tapi yang kita lihat dari kasus Absalom ini adalah si anak menjadi dominan sekali, dalam kasus-kasus seperti ini ada kecenderungan si anak yang sejak kecil dianugerahkan kuasa yang terlalu besar menjadi anak yang dominan. Maunya mengatur, memang itu tugasnya di rumah tangga, disuruh mengatur adik-adik dan sebagainya. Tapi buah dari sistem keluarga yang tidak sehat ini adalah nantinya si anak bertumbuh besar menjadi orang yang keras kepala, dia sukar menerima pendapat orang lain, sukar diatur dan cenderung memaksakan kehendaknya. Kalau dia sudah beranggapan bahwa dia benar ya dia pasti benar. Memang kecenderungannya yang lain adalah kepercayaan dirinya kuat, karena sejak kecil dia diberikan kepercayaan dan tanggung jawab. Dan karena sejak kecil diberikan banyak tanggung jawab, anak-anak ini cenderung menjadi pekerja yang baik. Kalau disuruh apa, diberikan tugas apa; dia selesaikan, dia anak yang bertanggung jawab, tapi kelemahannya adalah terlalu dominan dan susah sekali mendengar masukan dari orang.
GS : Tapi tidak semua orang mau diatur oleh anak ini Pak Paul, bukankah ada orang yang dengan tegas menentang, tidak mau menuruti, nah bagaimana reaksi anak ini?
PG : Biasanya nomor satu dia akan marah, kecewa, frustrasi. Dia frustrasi karena dia menganggap "saya sudah berkorban, saya sudah berbuat sebaiknya untuk keluarga saya," dan bahkan memang dalamkasus-kasus tertentu saya harus akui anak-anak yang dominan yang diberikan kuasa berlebihan pada masa mudanya, dia memang mengorbankan dirinya.
Misalkan dia tidak sekolah, dia sengaja bekerja supaya adik-adiknya bisa sekolah. Atau dia seharusnya pada usia remaja main dengan teman, pergi rekreasi; dia tidak, dia di rumah membantu orangtuanya, bekerja mati-matian. Itu sebabnya dia rentan frustrasi, sebab dia akan berkata, "Kenapa orang tidak menghargai apa yang telah dia korbankan dan perbuat, kenapa orang salah paham dengan maksudnya." Dia tidak bisa menerima orang menolak uluran tangannya, sebab dia selalu berpikir dia melakukan ini untuk kebaikan bukan untuk dirinya sendiri dan memang betul, yaitu dia sebetulnya tidak melakukan untuk diri sendiri, dia didelegasikan, dia dipromosikan, seolah-olah memang harus berfungsi karena kondisi. Dia sendiri pada awalnya tidak mau, namun karena dibentuk seperti itu maka dia menjadi orang yang dominan, orang yang akhirnya sukar menerima penolakan orang dan memaksakan orang untuk menerima pendapatnya. Ini tidak bisa dia lihat, dan di sini pula masalahnya; dia tidak bisa melihat apa yang dia lakukan yang membuat orang akhirnya tidak tahan sama dia, akhirnya dia menarik diri. Dia marah, dia kecewa, dia mungkin simpan kemarahannya, atau dia merasa dimanfaatkan, pengorbanannya sia-sia. Nah dalam kondisi seperti ini sering kali dia marah, maka anak-anak yang diberikan kuasa berlebihan cenderung mempunyai sikap yang ektrim. Kadang-kadang baik sekali mengorbankan semuanya untuk orang lain tapi kadang-kadang bisa meledak, bisa marah; orang kadang-kadang bingung menghadapi orang yang seperti ini.
GS : Kalau dia agak besar, ada kecenderungan dia cepat-cepat meninggalkan rumah entah dengan menikah atau bekerja di luar kota dan sebagainya Pak Paul?
PG : Dan sebetulnya usaha ini merupakan bukti dia terlalu letih, dia sebetulnya tidak tahan memikul beban yang begitu berat yang memang selayaknya dia tidak pikul, dia bukanlah orangtua, maka da ingin keluar, melepaskan diri dari semua itu.
Dia ingin bisa menghirup nafas yang lebih lega.
GS : Jadi, sebagai orangtua bertindak terlalu otoriter juga tidak baik, melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai orangtua juga menimbulkan masalah yang besar. Sebaiknya bagaimana kita sebagai orangtua Pak Paul?
PG : Kita harus mengerti bahwa orangtua perlu mempunyai kuasa, tapi orangtua harus bisa menempatkan kuasa dengan tepat pada diri ayah, pada diri ibu dan memakai kuasa itu dengan tepat. Penempatn kuasa yang tepat serta penggunaan kuasa yang tepat pada orangtua, akhirnya menciptakan kuasa pada diri anak-anak.
Sehingga anak-anaknya tidak menjadi anak yang tidak ada kuasa sama sekali, anak-anak yang tidak ada kuasa sama sekali bisa sangat lemah, atau kebalikannya dia haus kuasa. Atau karena orangtua tidak berfungsi, kuasa itu akhinya dilimpahkan berlebihan pada si anak sehingga si anak nantinya juga bermasalah karena terlalu dominan dan akhirnya tidak dapat mendengarkan orang lain. Maka penting sekali kuasa ditempatkan dengan tepat dan digunakan dengan tepat sehingga melahirkan anak-anak yang mempunyai kuasa yang proporsional.
GS : Mengingat tugas yang begitu berat untuk orangtua Pak Paul, apakah ada petunjuk dari firman Tuhan yang dengan jelas menyatakan apa tanggung jawab orangtua itu?
PG : Saya akan bacakan Ulangan 6:6 dan 7, "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicaakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."
Artinya, jadikanlah pengajaran firman Tuhan sebagai fondasi rumah tangga kita. Artinya kembalilah pada firman Tuhan itu sendiri, pada prinsip-prinsip yang Tuhan ajarkan. Nah waktu kita berdiam pada prinsip-prinsip firman Tuhan, saya kira masalah-masalah ini tidak terjadi. Kita akan melaksanakan tanggung jawab kita sebab tadi yang kita bicarakan, semua itu terjadi gara-gara orangtua tidak melakukan tanggung jawabnya. Dan Tuhan sudah meminta kita melakukan tanggung jawabnya sebagai orangtua, yaitu mengajarkan dan hidup sesuai dengan kehendakNya.
GS : Berarti kuasa yang kita wariskan pada anak kita itu harus diberikan secara bertahap dan dengan suatu model yang jelas yang bisa dilihat oleh si anak.
PG : Tepat sekali Pak Gunawan.
GS : Terima kasih Pak Paul, tapi ada beberapa hal yang masih kita perbincangkan mengenai masalah kuasa dalam keluarga ini, kita akan bicarakan pada pertemuan yang akan datang. Terima kasih untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Masalah Kuasa dalam Keluarga." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristesn (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Dalam permasalahan orangtua, hampir dapat dipastikan anak menjadi korban yang tidak bersuara-yang sunyi. Dampak negatif pada anak biasanya barulah muncul di permukaan tatkala anak bertumbuh besar. Salah satu dampak masalah orangtua pada anak berkaitan dengan pengembangan kuasa atau otoritas dalam diri anak. Berikut akan dipaparkan asal-muasal dan relasinya dengan anak.
Penyebab Masalah
Seyogianya ayah menjadi pemegang tampuk otoritas tertinggi dan ibu terlibat dalam penggunaan otoritas. Sejak anak kecil seyogianya orangtua mulai menyalurkan kuasa kepada anak dalam bentuk perhatian dan pemenuhan kebutuhan anak. Anak yang menerima perhatian dari orangtua akan mengembangkan otoritas terhadap dirinya dan memperoleh "kuasa" atau kekuatan untuk menghadapi tantangan hidup. Sebaliknya jika anak tidak menerima cukup kuasa, ia cenderung mengembangkan masalah di kemudian hari. Pada umumnya anak tidak menerima kuasa akibat beberapa faktor. Berikut ini akan dijabarkan beberapa penyebabnya, dampaknya pada anak, serta penyelesaiannya.
Ayah atau Ibu Otoriter
Dalam kasus orangtua otoriter, pada dasarnya orangtua menggunakan kuasanya secara berlebihan. Orangtua tidak menghargai pendapat anak dan tidak membuka pintu dialog. Biasanya ada dua reaksi yang dapat muncul pada anak:
Ia menjadi tidak berdaya. Pada diri anak yang tidak berdaya, ciri utamanya adalah sikap pasif dan rasa rendah diri yang kuat.
Kebalikannya, ia menjadi haus akan kuasa. Pada diri anak yang haus akan kuasa, ia menjadi pembangkang dan senantiasa berusaha melawan figur otoritas.
Orangtua tanpa Otoritas
Dalam keluarga ini, orangtua tidak memiliki kuasa sehingga kuasa didelegasikan kepada anak. Kehilangan kuasa atau otoritas dapat ditimbulkan oleh pelbagai sebab misalnya perbuatan orangtua yang menurunkan wibawa seperti berjudi dan mabuk-mabukan, atau orangtua dinilai rentan terhadap stres. Akibatnya anak dipromosikan menjadi pemegang kuasa pada usia yang terlalu dini.
Dalam kasus ini pada umumnya anak menjadi dominan dan ingin selalu mengatur orang lain. Ia sukar menerima pendapat orang dan berusaha memaksakan kehendaknya. Kepercayaan dirinya cenderung kuat dan biasanya ia mempunyai rasa tanggung jawab yang kuat.
Ia rentan terhadap frustrasi. Sewaktu orang menolak uluran tangannya, ia cepat marah karena merasa tidak dihargai. Ia kerap merasa tidak dimengerti orang dan merasa dimanfaatkan-perasaan-perasaan yang dengan cepat membuatnya marah.
Orangtua Berebut Kuasa
Dalam keluarga ini, ayah dan ibu tidak mau mengalah dan masing-masing mempertahankan kuasanya. Tidak bisa tidak, pertengkaran sering terjadi dan anak terjepit di tengah. Kadang ia ditarik untuk berpihak pada ayah, kadang ia ditarik berpihak pada ibu.
Dampak terutama pada anak adalah rasa terhimpit yang membuatnya mudah terkena stres. Beban yang seringan apa pun mudah membuatnya tertekan.
Ia pun rawan terhadap ketegangan karena pertengkaran orangtua membuatnya alergi terhadap konflik. Selain itu, ia cenderung bingung dalam pengambilan keputusan akibat ketidaksesuaian paham di antara orangtuanya.
Keluarga Besar
Dalam keluarga ini,orangtua mempunyai banyak anak sehingga anak yang terkecil tidak mendapat perhatian yang cukup dan acap kali diperlakukan sebagai anak bawang. Kuasa orangtua lebih tersalur pada anak-anak yang lebih besar karena perhatian pun biasanya lebih tercurah pada anak-anak yang lebih besar. Orangtua menganggap semua baik-baik saja padahal anak terkecil tidak mendapat perhatian yang cukup. Pendapatnya tidak didengar dan keluhannya tidak diketahui.
Anak ini bertumbuh kembang tanpa kepercayaan diri sebab apa yang dikatakannya tidak ditanggapi dan dihargai.
Pada akhirnya anak ini menyimpan semua isi hati dan kebutuhannya serta mematikan perasaannya supaya ia tidak harus merasa kecewa. Perasaannya menjadi datar dan pemahaman akan dirinya terbatas. Ia hidup namun tidak sungguh-sungguh mencicipi hidup.
Penyelesaian
Mengingat bahwa masalah utamanya adalah anak-anak ini berkembang
tidak memiliki "kuasa" atas hidupnya, upaya penyelesaian harus
difokuskan pada pembangunan kuasa yang sehat dalam diri anak.
Kuasa diberikan kepada anak lewat pujian dan pengakuan akan apa
yang diperbuat anak. Pada dasarnya anak ini perlu "dilihat" namun
inilah yang terhilang pada masa kanak-kanaknya. Itu sebabnya kita
harus memberinya pengakuan dan pujian agar ia mengetahui kekuatannya
dan merasakan adanya kuasa atas dirinya.
Kuasa juga diberikan lewat batas atau pagar. Anak ini perlu
mengetahui bahwa orang menghormati batas dirinya dan tidak akan masuk
tanpa seizinnya. Kita perlu menolong anak ini untuk mengembangkan
kemampuan berkata "tidak" kepada orang lain. Kita harus menolongnya
mengetahui dan mempertahankan apa yang diinginkan dan tidak
diinginkannya.
Kuasa juga diberikan lewat pembatasan, artinya ia pun perlu
memperhatikan ruang geraknya sehingga tidak seenaknya masuk ke dalam
ruang kehidupan orang lain. Ia harus menyadari bahwa orang lain pun
mempunyai pagar pemisah dan bahwa ia harus menghormatinya.
Firman Tuhan mengingatkan, "Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau
Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksi-Ku di
Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
(Kisah 1:8). Kuasa dari Tuhanlah diperoleh dari kehidupan yang
berserah penuh kepada-Nya. Dengan kuasa Tuhan kita dapat melakukan
pekerjaan Tuhan sebab bukankah itu adalah tujuan Tuhan menempatkan
kita di dunia ini?
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Segalanya jadi lebih praktis dengan internet. Tetapi internet juga mengundang persoalan karena bisa membuat orang duduk di depan komputer beberapa jam sehari. Salah satu tanda dari kecanduan internet ialah adanya perasaan tidak nyaman, murung, atau cepat tersinggung ketika yang bersangkutan berusaha menghentikan penggunaan internet.
Transkrip Isi:
pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. Beliau adalah seorang dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengatasi Kecanduan Terhadap Internet". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Heman, kalau bicara tentang internet itu rasanya sudah biasa dan hampir di sudut-sudut jalan kita bisa menemukan warung-warung internet dimana kita bisa menggunakannya. Di satu sisi internet ini bisa membantu pekerjaan kita tapi disisi lain juga kadang-kadang ada dampak negatifnya. Di jaman modern ini memang kita dituntut untuk bisa menggunakan internet dan segalanya akan menjadi lebih praktis tetapi mengundang persoalan tersendiri dengan orang yang sampai berjam-jam berada di depan komputer. Nah sebenarnya dampak buruk internet ini apa, Pak?
HE : Kalau orang tidak bisa lepas dari internet, maksudnya internet yang tidak dipakai untuk bekerja untuk menolong orang dan sebagainya, internet yang berguna itu bisa menjadi sesuatu yang burk yang mengikat dan internet yang mengikat itu bisa berpotensi membuat orang menjadi kecanduan.
GS : Jadi internetnya itu sendiri sebenarnya adalah sesuatu yang netral. Tetapi bagaimana cara kita menyikapinya, itu yang akan menentukan ?
HE : Jadi memang keputusan dan tanggung jawab ada di tangan kita sebagai pengguna.
GS : Nah kalau seseorang bisa disebut kecanduan internet, dampak buruk apa yang terjadi, Pak?
HE : Ada cukup banyak dampak buruknya. Misalnya seorang peneliti dan terapi perilaku yang banyak membahas tentang keterkaitan dengan internet. David Greenfield ia mengatakan demikian, "Kecandun internet dapat meningkatkan kekacauan didalam pernikahan kemudian juga menciptakan lebih banyak anak bermasalah, meningkatkan perbuatan melanggar hukum dan ada satu lagi yaitu menyebabkan pengeluaran secara berlebihan."
Kemudian peneliti lain misalnya Kimbly Young juga mencatat bahwa kecanduan berinternet itu melumpuhkan secara serius kemampuan akademik, kemampuan berelasi dan juga menurunkan, menghancurkan prestasi kerja para pecandu. Perlu juga ditambahkan bahwa kecanduan internet dapat membuat seseorang mengalami masalah-masalah dengan perasaannya artinya orang yang kecanduan berinternet itu mengalami banyak rasa bersalah, kecemasan dan juga depresi.
GS : Orang tidak akan tiba-tiba menjadi kecanduan terhadap apapun juga terhadap makanan, terhadap obat-obatan termasuk juga internet. Nah tahapan-tahapannya sehingga seseorang itu bisa kecanduan internet itu bagaimana, Pak?
HE : Yang pertama tentu dia tertarik dengan internet, dia merasa asyik, kemudian dia belajar internet. Dan yang kedua dia merasakan bahwa internet itu ternyata menyenangkan bukan hanya untuk beerja tetapi untuk suatu hobi.
Tetapi sesudah itu rasanya tidak cukup, rasanya ingin tambah terus, rasanya kalau biasanya 1 jam dan sebagainya rasanya kurang memuaskan dan dia terus asyik disana. Dan inilah tanda-tanda permulaan orang yang bisa kecanduan internet lama-lama pikirannya tidak bisa lepas dari internet.
GS : Berarti ada tanda-tanda seseorang itu menjadi kecanduan internet, dan apa saja tanda-tanda itu ?
HE : Ada 8 tanda yang sebagaimana dikemukakan oleh Kimberley Young yang meneliti tentang hal ini dan tanda-tanda ini mirip dengan tanda-tanda kecanduan yang lain, misalnya kecanduan terhadap obt-obatan tertentu dan sebagainya.
Yang pertama pikiran pecandu internet biasanya terus-menerus tertuju pada aktifitas berinternet dan sulit untuk dibelokkan kearah yang lain apalagi kalau pekerjaannya sudah berhadapan dengan komputer. Kedua ada kecenderungan penggunaan waktu berinternet yang terus bertambah. Jadi kali ini misalnya dia menggunakan internet 1 jam dan dia sudah mulai berhenti tetapi satu minggu kemudian 1 jam tidak cukup menjadi 1 1/2 jam dengan cepat bertambah lagi 2 jam dengan cepat bertambah lagi sampai akhirnya misalnya 5 jam pun rasanya kurang puas. Jadi tingkat kepuasaan itu lebih susah dicapai. Kemudian ketiga yang bersangkutan, maksudnya pecandu internet pada umumnya berulang kali berusaha mengontrol menghentikan penggunaan internet secara berlebihan tetapi tidak berhasil. Yang keempat biasanya waktu menggunakan internet ada perasaan tidak nyaman, murung, cepat tersinggung kalau misalnya yang bersangkutan berusaha menghentikan atau dihentikan, diinterupsi waktu dia menggunakan internet.
GS : Sekalipun ada 8 tanda dan yang keempat sudah Pak Heman sampaikan itu sebenarnya orang tidak menyadari bahwa dia dalam proses menuju kecanduan, tadi dia sendiri tidak sadar bahwa waktunya bertambah dan sebagainya dan akhirnya terjerumus kesana. Nah tanda yang berikutnya apa, Pak?
HE : Misalnya lagi yang kelima ini ada kecenderungan untuk tetap online melebihi dari waktu yang ditargetkan. Jadi dia sudah menentukan bahwa saya tidak akan menggunakan internet lebih dari waku yang dia sendiri targetkan, tetapi akhirnya yang bersangkutan tetap penggunaannya melebihi dari waktu yang dia targetkan.
Yang keenam penggunaan internet sudah membawa resiko hilangnya relasi yang berarti, bermakna. Jadi maksudnya dia punya teman, punya pasangan dan sebagainya tetapi dia sudah menggunakan internet, membuat relasi itu menjadi kehilangan waktu tidak ada waktu lagi untuk berelasi. Juga ada resiko kehilangan pekerjaan, kesempatan studi, karir dan sebagainya. Yang ketujuh penggunaan internet menyebabkan pengguna itu suka membohongi keluarga juga orang lain, orang-orang dekat yang lain untuk menyembunyikan keterlibatannya yang berlebihan dengan internet. Kedelapan, internet digunakan untuk melarikan diri dari masalah atau untuk meredakan perasaan-perasaan negatif. Tapi malah sering kali menambah masalah didalam perasaannya, misalnya dia berusaha meredakan rasa bersalah kecemasan, depresi tapi kemudian terlibat dengan perasaan-perasaan negatif itu. Nah disini ada 8 tanda tetapi seorang pengguna sesungguhnya sudah bisa digolongkan sebagai pecandu kalau dia sudah memenuhi sedikitnya 5 dari 8 kriteria yang sudah disebutkan oleh Young ini.
GS : Ketika pada tanda kelima yang tadi Pak Heman katakan ada kecenderungan untuk tetap online melebihi waktu yang ditargetkan sendiri. Itu sebenarnya dia sudah menyadari bahwa dia tidak bisa mengontrol dirinya ?
GS : Makanya dengan lima tanda sudah harus tahu bahwa dia ini sudah kecanduan internet. Tapi orang yang kecanduan masalahnya untuk lepas dari kecanduannya itu sulit, Pak?
HE : Ya betul. Memang akan sulit kalau sudah kecanduan.
GS : Kalau dilihat dari kumpulan-kumpulan atau gejala-gejala tadi, memang tidak begitu saja kita mengatakan bahwa seorang pengguna internet itu mengalami kecanduan. Tapi meskipun demikian kalau diamati itu tampaknya cukup banyak orang yang mengalami kecanduan, betul begitu Pak?
HE : Ya tampaknya begitu, karena kalau kita perhatikan saja misalnya dari pengguna warnet. Kita melihat bahwa warnet sudah banyak tetapi masih bertumbuh dengan begitu pesat dan anehnya meskipunbanyak, masing-masing warnet juga masih menghasilkan keuntungan.
Memang ada kemungkinan begini dengan bertambahnya pengguna internet maka persentase orang yang kecanduan itu juga bertambah. Kemudian kalau kita lihat lagi dari keterangan atau dari kesaksian, informasi dari tetangga, dari orang-orang yang kita kenal ada misalnya gara-gara suami kecanduan internet lalu rumah tangganya jadi berantakan, juga ada anak-anak sekolah yang juga sampai tidak mau pulang, menginap di warnet sampai bolos sekolah dan sebagainya. Jelas ini adalah tanda-tanda mereka itu kecanduan internet dan seringkali masalah-masalah seperti ini tampaknya tidak merupakan hal yang dipandang serius oleh banyak orang dan tidak merasa ini perlu diatasi padahal ini sudah serius sekali. Kalau di luar negeri terutama di negara-negara Barat yang sudah maju masalah ini tidak dianggap lagi sebuah masalah yang harus ditutupi dan mereka datang dengan sukarela kepada psikolog atau konselor untuk mengatasi kecanduan itu.
GS : Memang kecanduan internet atau kecanduan apapun harus ditangani secara serius atau sedini mungkin. Jadi kalau makin lama makin sulit penanganannya nanti, tapi memang sangat benar tadi diuraikan. Memang ada seorang tokoh pemasaran yang mengatakan bahwa, "Kalau sekarang mau bergerak di bidang jasa dan jasa yang terbaik adalah lewat warung internet ini, buka warung internet akan menghasilkan keuntungan yang luar biasa besarnya", katanya.
HE : Ada yang bilang begitu!
GS : Ya mungkin itu betul juga pengamatannya karena orang cenderung menjadi kecanduan dengan internet ini. Nah sebenarnya apa yang menarik dari internet itu sehingga orang dibuat kecanduan, Pak?
HE : Ada beberapa hal misalnya di internet kita bisa mendapatkan informasi yang hampir tanpa batas. Mengenai berbagai hal banyak sekali dan banyak hal tabu dibicarakan dan tidak enak kalau dikeahui oleh orang lain itu juga tersedia di internet dan bebas di-download oleh orang-orang tanpa diketahui oleh orang lain.
Jadi internet itu seolah-olah bersifat anonim meskipun sesungguhnya tidak betul-betul bersifat anonim. Kemudian selain informasi, gosip dan sebagainya yang sehari-hari sedikit susah untuk kita temukan misalnya sampai yang rahasia sekali dan sebagainya. Kita juga bisa bebas berpetualang di internet karena internet juga menyediakan hal-hal yang bersifat pornografi dan juga judi, wah ini cukup mengerikan ya. Nah kita tahu bahwa baik pornografi maupun judi sebetulnya termasuk perbuatan kriminal yang dilarang di banyak negara termasuk di negara kita. Tetapi internet dapat membuat orang melupakan batas antara baik dan jahat, antara benar dan salah. Dulu orang membeli materi pornografi, berjudi itu dengan sembunyi-sembunyi karena ada rasa takut ditangkap dan juga rasa malu itu pun banyak orang sudah terjerat menjadi kecanduan. Sekarang internet bisa membuat orang merasa bahwa resiko ditangkap karena berjudi itu sangat kecil maka orang lebih mudah untuk kecanduan. Selain pornografi anak-anak dan orang dewasa juga bisa kecanduan game online dan ini yang sering ditawarkan oleh warnet. Dan menurut beberapa penelitian salah satu yang banyak digunakan oleh pengguna internet adalah "chat-rooms", jadi mereka bisa ngobrol lewat internet. Nah ini yang juga beresiko membuat orang kecanduan karena banyak orang yang merasa kalau mereka berbicara atau ngobrol atau berelasi di dunia yang nyata mereka mempunyai resiko. Mengandung resiko bagaimana misalnya harus menanggung tanggung jawab dan sebagainya. Tetapi kalau di dunia maya hampir tanpa resiko bahkan ada orang bisa jatuh cinta dengan orang yang tidak pernah dijumpainya hanya dikenal lewat internet.
GS : Ya memang sesuatu yang mengasyikkan kalau kita berada di depan komputer lalu berinternet ria, bisa lupa waktu dan sebagainya. Memang kita bisa pergi kemana-mana dan seolah-olah dunia ini tanpa batas yang tadi Pak Heman katakan. Tetapi memang tidak semua orang punya kesempatan menggunakan internet. Itu artinya ada sebagian orang mungkin juga ada sebagian besar orang yang menggunakan komputer saja sudah menjadi masalah tersendiri, jadi dia tidak bisa menggunakan. Mau menggunakan internet bagaimana kalau menggunakan komputer saja dia canggung? Jadi ada sisi positifnya kalau dia tidak melakukan itu, tapi negatifnya dia juga akan ketinggalan banyak hal, informasi yang sebenarnya baik hanya masalah kecanduan ini yang harus diperhatikan. Mengapa sulit bagi orang yang kecanduan internet itu untuk melepaskan kebiasaan buruknya, Pak?
HE : Rasanya ada beberapa sebab disini yang kita bisa deteksi, misalnya yang pertama apa yang kita peroleh dari internet itu seringkali sangat murah dan bahkan bisa gratis. Makin lama, makin hai kita lihat untuk biaya penggunaan telepon dan sebagainya itu makin lama makin murah sehingga orang tidak merasa bahwa internet itu sebetulnya menghabiskan banyak biaya, menyita energi dan juga waktu.
Jadi sebagian orang merasa bebas menggunakan internet karena fasilitas ini disediakan secara berlimpah termasuk di tempat kerjanya. Kemudian yang ke-dua berinternet itu semakin mudah dilakukan dan dapat dilakukan dimana saja. Ada provider yang menyediakan jasa internet murah dan itu sekarang kita bisa dapatkan lewat telpon genggam yang ringan, praktis dan yang bisa kita bawa kemana saja. Ketiga internet itu sering dianggap aman karena identitas kita bisa kita sembunyikan. Yang keempat internet menghilangkan banyak resiko yang terkait dengan tanggung jawab dan etika sosial yang sering terasa membatasi kita di dunia nyata. Nah ini beberapa hal yang membuat internet itu susah dilepaskan kalau sudah kecanduan.
GS : Seringkali orang yang mengetahui kalau ada anggota keluarganya yang terkena kecanduan internet itu tidak secara serius ditangani dibandingkan dengan kalau ketahuan anggota keluarganya ini kecanduan obat bius misalnya. Internet bedanya, mengikuti trend jaman saat ini harus mengerti kebutuhan mereka dan sebagainya tapi kalau kecanduan obat bius ditangani secara serius, Pak?
HE : Ini justru bahayanya kalau kecanduan internet.
GS : Makanya dianggap itu tidak terlalu serius tapi makin lama makin parah begitu Pak?
GS : Dan apakah kecanduan ini bisa menular kepada anggota keluarga yang lain atau teman-teman yang lain ?
HE : Bisa saja terutama kepada anak tentunya atau juga anak menularkannya kepada yang lain.
GS : Kalau tadi Pak Heman sudah panjang lebar menjelaskan tentang bahaya kecanduan internet ini. Apa yang perlu kita lakukan agar kita tidak terjerat oleh internet itu?
HE : Kita sangat perlu memiliki disiplin diri dan kalau kita merasa lemah disiplin diri ketika berinternet beberapa hal saya bisa ajukan sebagai saran untuk kita lakukan. Misalnya saja waktu beinternet kita mengajak teman yang kira-kira bisa mengingatkan kita ketika kita tenggelam dalam keasyikan berinternet atau misalnya menaruh komputer dan internet di rumah dan di tempat kerja itu di tempat yang terbuka sehingga waktu kita berinternet kita berada di tempat publik dimana kita bisa dilihat, diamati oleh banyak orang.
Nah kenyamanan berinternet seperti ini memang berkurang tetapi akan mengurangi resiko kecanduan yang berikutnya lagi misalnya kalau kita berlangganan internet itu sebaiknya kita tidak berlangganan kalau tidak sangat perlu. Dan kalau kita sangat perlu harus berlangganan maka kita sebaiknya membatasi diri ketika kita harus berlangganan atau ketika kita harus ke warnet untuk berinternet. Jadi membatasi diri kita yang berikutnya lagi kita bisa menggantikan aktifitas berinternet dengan aktifitas atau hobby lain yang lebih berguna dan sebaiknya kita mencari hobby yang terus-menerus kita tekuni dan kita tinggalkan kalau tidak bisa menguasai diri kita ketika berinternet.
GS : Memang seringkali kalau untuk game atau permainan satu-satunya cara yang ditempuh adalah membatasi waktu. Jadi saya hanya ingin main game ini hanya sekian, lalu dibunyikan alarm yang mengingatkan kita. Kalau mengajak teman itu kadang-kadang juga teman hanya untuk pengingat, lalu dia sendiri juga keasyikan main juga sama-sama lupa tapi kalau ada alarm yang berbunyi biasanya kita tersadar bahwa waktunya kita sudah habis kita harus berhenti, Pak Heman.
HE : Ya ini salah satu yang bisa kita lakukan tetapi selalu ada resiko-resiko seperti ini. Misalkan teman ikut larut main dan sebagainya. Tetap kita harus jaga diri kita.
GS : Kadang-kadang kita berfikir tambah sebentar lagi, ini kita sudah hampir habis, hampir selesai. Kita selalu dikejar dengan itu dengan niatan untuk melanjutkan-melanjutkan dan akhirnya bisa berkepanjangan lagi. Kalau ke warnet itu kita juga sarankan untuk membawa uang secukupnya jadi kita tahu satu jamnya berapa lalu kita pakai 2 jam, bawa uang secukupnya.
HE : Betul itu salah satu cara untuk membatasi diri.
GS : Kunjungan ke situs-situs bisa direncanakan dari rumah atau sebelum kita bekerja di internet atau sebelum kita membuka internet. Kita sudah tahu situs-situs mana yang akan kita kunjungi jadi seperti kita pergi belanja ke supermarket kita sudah membawa catatan dari rumah mau pergi belanja apa sehingga kalau kita menghadapi internet menurut saya, kita harus perlakukan seperti itu.
HE : Yang penting adalah kita membatasi diri.
GS : Nah itu yang justru sulit. Yang sulit adalah bagaimana kita membatasi diri untuk tidak larut dan bahkan kecanduan internet itu tadi. Dan dalam pembicaraan itu tadi Pak, bapak mengatakan bahwa kecanduan internet juga dapat berkaitan dengan hal yang tidak pantas dan berdosa itu misalnya seperti berjudi atau mengkonsumsi pornografi, ini mengatasinya bagaimana?
HE : Sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa Tuhan melihat apa yang kita lakukan dan juga apa yang kita lakukan itu pasti ada efeknya buat kita dosa dan hal yang tidak berguna yang kita akukan akan mendukakan Tuhan.
Kita juga bisa mengalami kehancuran rumah tangga itu dampaknya, jadi dengan berpegang teguh pada kesadaran ini kita tanamkan dalam diri kita. Rasa takut dan hormat kepada Tuhan kita juga perlu kembangkan rasa tanggung jawab dan kasih di dalam diri kita yang membuat kita berani mengorbankan kesenangan pribadi kita dan berbuat yang terbaik untuk kesejahteraan baik diri kita maupun keluarga kita.
GS : Ini yang terpenting mungkin nasihat Pak Heman sampaikan bahwa didalam kita berinternet tetap kita melihat bahwa Tuhan itu memperhatikan apa yang sedang kita lakukan. Disana akan timbul rasa takut, rasa hormat kita kepada Tuhan. Kalau tidak ada itu maka akan sulit mengatasinya Pak Heman. Tetapi masalahnya kalau kita sudah berinternet itu lalu lupa kalau ada Tuhan yang mengawasi sehingga seringkali kita sudah keasyikan dengan internet itu tadi.
HE : Makanya kita harus ingatkan terus dan tanamkan di dalam diri kita.
GS : Kalau perlu memang meletakkan tulisan didepan komputer sehingga mengingatkan kita tentang waktunya, tentang itu tadi apa yang harus kita jaga kesucian kita sendiri. Memang kenyataannya bahwa orang yang kecanduan internet itu untuk melihat hal-hal yang cabul, pornografi seperti itu tadi akan merusak keluarga karena dia lebih asyik dengan komputernya daripada dengan istrinya atau suaminya. Nah ini karena pengaruh apa sebenarnya, Pak?
HE : Kecenderungan kita untuk larut, berdosa dan untuk tidak bertanggung jawab, kecenderungan kita untuk menuruti keinginan-keinginan kita sendiri untuk memikirkan diri itu yang sering sekali mmbuat kita larut didalam itu.
GS : Jadi didalam hal ini sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan internetnya itu sendiri atau semua fasilitas yang bisa diberikan oleh internet, tetapi ini menjadi tanggung jawab kita .
HE : Tepat sekali Pak Gunawan. Dan internet bisa sangat berguna dan tantangan bagi kita untuk memutuskan supaya kita mengambil hal yang berguna dan meninggalkan hal yang tidak berguna.
GS : Karena ini ada sebagian orang yang menganggap internet itu alat setan untuk merusak rumah tangga, merusak kehidupan moral orang Kristen. Ini bagaimana menurut Pak Heman?
HE : Tentu ada hal-hal atau dampak samping dari itu. Didalam segala hal segala sesuatu kemajuan teknologi termasuk televisi itu ada dampak positif dan dampak negatifnya dan sekali lagi tergantug pada kita yang tadi Pak Gunawan sampaikan bagaimana kita memilih yang baik.
Kita memanfaatkan teknologi untuk sesuatu yang bermanfaat untuk kita.
GS : Memang tidak bisa serta-merta dikatakan bahwa ini alat setan atau produk dari kejahatan?
HE : Ya betul bahkan siaran kita ini pun bisa di download dari internet.
GS : Ya nanti kita tidak berani melakukan itu kalau nanti seperti itu. Untuk mengakhiri perbincangan kita ini mungkin Pak Heman mau menyampaikan Firman Tuhan.
HE : Saya ingin sampaikan yang saya kutip dari Lukas 11:34-36 ini adalah perkataan Tuhan Yesus "Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jaht, gelaplah tubuhmu.
Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya." Perkataan Tuhan Yesus ini sengaja saya kutip disini karena kita berinternet terutama dengan menggunakan mata sebagai pintu masuknya. Apa yang kita lihat lewat internet bisa membuat tubuh kita terang atau sebaliknya menjadi gelap. Biarlah Firman Tuhan ini bisa menjadi pedoman buat apapun yang kita lakukan.
GS : Terima kasih Pak Heman untuk perbincangan yang sangat bermanfaat ini. Para pendengar sekalian kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Heman Elia, M.Psi. dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengatasi Kecanduan Terhadap Internet". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan email dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Rasanya sulit hidup di zaman modern ini tanpa menggunakan internet. Segalanya jadi lebih praktis dengan internet. Tetapi internet juga mengundang persoalan karena bisa membuat orang duduk di depan komputer beberapa jam sehari.
Tanda-tanda orang kecanduan internet yaitu :
Kimberley Young menyebutkan beberapa gejala utama kecanduan berinternet :
Pikiran pecandu internet terus-menerus tertuju pada aktivitas berinternet dan sulit untuk dibelokkan ke arah lain.
Adanya kecenderungan penggunaan waktu berinternet yang terus bertambah demi meraih tingkat kepuasan yang sama dengan yang pernah dirasakan sebelumnya.
Yang bersangkutan secara berulang gagal untuk mengontrol atau menghentikan penggunaan internet.
Adanya perasaan tidak nyaman, murung, atau cepat tersinggung ketika yang bersangkutan berusaha menghentikan penggunaan internet.
Adanya kecenderungan untuk tetap on-line melebihi dari waktu yang ditargetkan.
Penggunaan internet itu telah membawa risiko hilangnya relasi yang berarti, pekerjaan, kesempatan studi, dan karier.
Penggunaan internet menyebabkan pengguna membohongi keluarga, terapis dan orang lain untuk menyembunyikan keterlibatannya yang berlebihan dengan internet.
Internet digunakan untuk melarikan diri dari masalah atau untuk meredakan perasaan-perasaan negatif seperti rasa bersalah, kecemasan, depresi, dan sebagainya.
Seorang pengguna sudah dapat digolongkan sebagai pecandu internet bila ia memenuhi sedikitnya lima dari delapan kriteria yang disebutkan Young ini.
Yang perlu dilakukan agar tidak kecanduan internet :
Mengajak teman yang bisa mengingatkan kita ketika kita tenggelam dalam keasyikan berinternet.
Menaruh komputer dan internet di tempat yang terbuka, juga menghubungkan diri dengan internet ketika berada di tempat publik. Kenyamanan berinternet memang berkurang, tetapi akan mengurangi risiko kecanduan.
Tidak berlangganan internet kalau tidak sangat perlu, dan membatasi diri ketika kita harus berlangganan internet di rumah, atau ketika kita ke warnet.
Menggantikan aktivitas berinternet dengan aktivitas atau hobi lain yang lebih berguna.
Firman Tuhan :
”Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” (Lukas 11:34-36)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Orangtua perlu menyadari satu prinsip bahwa anak bertumbuh sesuai apa yang diterimanya dari orangtua. Dengan kata lain, bagaimana orangtua memperlakukannya akan menentukan bagaimana ia memperlakukan dirinya dan dunia. Ada kebutuhan anak yang paling mendasar yang sangat perlu untuk dipenuhi karena kebutuhan itulah yang akan menjadi struktur jiwa si anak.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Dan kali ini kami akan melanjutkan perbincangan kami pada waktu yang lalu yaitu mengambil tema "Keluarga dan Permasalahan Jiwa". Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
PG : Pak Gunawan dan Ibu Esther, mungkin para pendengar setia kita merasa sedikit bosan dengan tema-tema yang berkaitan dengan keluarga. Betapa seringnya kita ini membahas mengenai keluarga, tai seperti nabi kalau saya boleh gunakan istilah nabi.
Kita adalah nabi-nabi yang Tuhan panggil untuk terus-menerus memberikan peringatan pada para keluarga bahwa hal yang sangat penting ada pada pundak mereka sekarang ini, yakni tugas untuk membesarkan anak dengan baik. Semakin saya mempelajari masalah-masalah dalam kejiwaan, makin saya menemukan bahwa pangkal dari segalanya boleh dikatakan adalah keluarga. Bagaimana seseorang dibesarkan akan sangat menentukan bagaimana dia nanti memperlakukan dirinya dan memandang dunianya, bagaimana juga dia nanti akan bersikap terhadap orang-orang lain. Pada kesempatan yang lampau kita telah membahas bahwa seorang anak memerlukan yang kita sebut struktur kepercayaan. Bahwa dia bertumbuh besar, percaya bahwa lingkungan itu akan menerimanya, akan merawatnya sebab dia itu anak yang juga disayangi oleh orang tuanya. Dan dengan modal kepercayaan itulah si anak nanti akan mengembangkan kemampuan untuk intim dengan orang, untuk akrab dengan orang karena bukankah itu semua memerlukan kepercayaan, tidak curiga pada niat atau motif orang, tidak menjaga jarak dengan orang sehingga dia menjadi seorang anak yang mudah sekali diterima oleh lingkungannya pula. Tapi kalau dia menjaga jarak, tidak bisa dekat dengan orang, dia menjadi seseorang yang bermasalah dan pergaulan yang sempit itu juga akan mempengaruhi perkembangan jiwanya di kemudian hari. Dia tidak berkembang dengan bebas karena lebih banyak kecurigaan-kecurigaan dan ketakutan-ketakutan terhadap orang-orang. Jadi sekali lagi itulah salah satu kebutuhan anak yang harus dipenuhi oleh orang tua.
GS : Nah kalau begitu selanjutnya, kali ini kita akan melanjutkan perbincangan itu. Kebutuhan lain apa yang dibutuhkan oleh anak sejak kecil?
PG : Yang kedua adalah penghargaan, penghargaan merupakan suatu perasaan bahwa dia itu bernilai. Saya akan mengutib perkataan psikolog Kristen bernama Larry Crabb, beliau berkata bahwa setiap mnusia itu mempunyai kebutuhan pokok yaitu penghargaan.
Dia merasa bahwa dia mempunyai nilai dan memang dia itu dianggap bernilai oleh lingkungannya. Yang pertama-tama yang bisa menyampaikan penghargaan tersebut adalah orang tua, sebab anak sebelum sekolah dia ada di rumah. Di dalam rumah itulah seharusnya si anak mulai menerima masukan, respons, tanggapan dari orang tua bahwa dia adalah seseorang yang berharga.
(1) GS : Caranya bagaimana Pak Paul?
PG : Pertama-tama kita harus menyadari bahwa menghargai itu sebetulnya mencakup 2 unsur. Pertama adalah menghargai dirinya dan yang kedua adalah menghargai perbuatannya. Apa yang saya maksud degan menghargai diri, menghargai diri berarti tanpa si anak harus berbuat apa-apa dia sudah menyenangkan hati orang tuanya.
Nah saya ingin kita berhenti di sini untuk lebih bisa menyoroti yang tadi baru saja saya ucapkan. Bukankah kita sebagai orang tua adakalanya kita terlalu terpaku pada perbuatan anak untuk menyenangkan hati kita. Bukankah kata-kata yang sering kali keluar dari mulut kita adalah nah......begitu dong baru papa senang, nah begitu dong baru mama bangga denganmu. Jadi memang kita memberikan penekanan yang sangat berat pada apa yang anak lakukan untuk kita, seolah-olah kalau tidak dia lakukan semua itu tidak ada yang dia bisa lakukan untuk menyenangkan hati kita, saya kira kita perlu sadari itu. Salah satu hal yang penting adalah kita justru mau mengkomunikasikan pada anak-anak bahwa tanpa engkau harus berbuat apapun, engkau sudah menyenangkan hati kami. Saya suka menggunakan istilah menikmati anak di sini, Pak Gunawan dan Ibu Esther, artinya anak tidak perlu berbuat apa-apa kita sudah menikmati kehadirannya. Tanpa dia harus berbuat yang luar biasa, dia sudah menyenangkan hati kita sebagai orang tua. Saya kira ini point yang perlu menjadi bahan introspeksi bagi semua orang tua, apakah kita hanya bisa senang dengan anak kalau si anak melakukan A, B, C, D, E, F, G ataukah kita bisa tetap senang dengan dia apa adanya, tanpa dia harus berbuat apa-apa.
ET : Ini yang tidak mudah rasanya, Pak Paul, karena mulai anak masih kecil itu rasanya kebahagiaan orang tua akan bertambah setiap kali melihat kemampuan-kemampuan baru yang dikuasai anak, misanya dia bisa berjalan, dia bisa bicara.
Jadi setiap hal yang mereka lakukan mendatangkan kesenangan buat orang tua, mungkin awalnya saya rasa itu. Apa yang anak lakukan, orang tua senang karena keterampilan-keterampilan yang meningkat itu sehingga akhirnya sadar tidak sadar memang pola yang terbentuk sudah seperti itu. Sehingga orang tua mungkin juga tidak bilang apa-apa, tidak pernah memberikan penegasan apa-apa tetapi yang ditangkap oleh anak sudah seperti itu bahwa saya tambah satu kepintaran, saya bisa melakukan satu hal lagi, orang tua akan senang begitu.
PG : Saya mau memberikan suatu perbandingkan Bu Esther, supaya para pendengar kita khususnya orang tua bisa sedikit banyak memahami apa yang kita sampaikan kepada mereka. Misalkan saya minta seua para pendengar kita ini membayangkan dirinya dalam pekerjaan.
Dalam pekerjaan sudah tentu penghargaan dari atasan atas karya mereka, perbuatan atau prestasi akan menggembirakan hati mereka. Tapi kalau boleh saya bertanya kepada para orang tua, bukankah akan lebih senang lagi kalau mereka tahu bahwa atasan mereka atau perusahaan mereka mengasihi, menghargai mereka tanpa harus selalu mengaitkan hal itu dengan prestasi mereka. Misalkan diberikan bonus tanpa ada kaitan dengan mereka itu berhasil memenuhi kuota atau apa, tapi perusahaan berkata kami mau menghargai saudara semua sebagai karyawan jadi kami memberikan bonus ini. Saya kira sukacitanya sangat berbeda dengan kalau diberi bonus karena prestasi kerja mereka. Nah jadi kita bisa melihat di sini, bahwa memang kita sebagai manusia memiliki kerinduan dihargai apa adanya, tanpa harus kita berbuat apa-apa. Bukannya saya mau katakan yang dihargai atas prestasi itu buruk, itu juga perlu, tapi saya kira memang faktor yang agak terhilang. Jadi saya setuju dengan Ibu Esther, bahwa kebanyakan kita orang tua tidak menyadari bahwa sebetulnya ini adalah hal yang penting. Contoh lain lagi yang mungkin bisa diterima oleh para pendengar kita adalah bukankah kalau kita mempunyai seorang sahabat baik, enak diajak bicara atau waktu kita masih berpacaran dengan istri atau suami kita sekarang ini pula, bukankah yang indah adalah bersama mereka dan mereka tidak harus berbuat apa-apa, tapi bersama mereka sudah menjadi sumber kenikmatan. Nah saya kira ini yang harus ditumbuhkembangkan dalam memperlakukan anak-anak kita. Bahwa kita menikmati kehadiran mereka bukan karena mereka berbuat apa-apa untuk kita. Seperti bayi yang kecil, apa yang bisa bayi itu lakukan pada kita sebagai orang tua, tidak ada apa-apa yang bisa dia perbuat untuk kita. Tapi kita menyenangi anak ini, dia adalah hadiah Tuhan untuk kita dan kita mau melimpahkan cinta kepadanya. Jadi bersama dengan bayi itu sendiri sudah membuat kita luar biasa senangnya, nah anak yang tahu bahwa orang tua senang hatinya karena kehadiran mereka tanpa mereka berbuat apa-apa akan menerima penghargaan yang tinggi sekali. Dan dia akan memperlakukan dirinya juga dengan penuh penghargaan dan kebalikannya nanti dia akan memperlakukan orang lain juga dengan penuh penghargaan. Kalau orang tua tidak senang dengan mereka yang kalau tidak berbuat apa-apa misalnya, dia juga nantinya akan memperlakukan dirinya seperti itu. Kalau dia melihat dirinya tidak berbuat ini atau kurang berbuat itu dia akan marah-marahi dirinya, mengkritik dirinya dan nantinya dia akan perlakukan orang lain juga seperti itu. Orang tidak melakukan seperti yang dia inginkan, tidak mencapai standar yang telah dia tetapkan, wah dia marah, dia tidak suka, dia kritik. Nah bukankah itu menjadi masalah besar dalam kehidupannya kelak.
GS : Apakah itu berarti bahwa penerimaan terhadap anak itu yang penting, Pak Paul?
PG : Ya tepat sekali, intinya di situ Pak Gunawan, jadi menerima anak apa adanya.
GS : Tapi selain orang tua itu senang terhadap anak, yang terutama seharusnya mengasihi anak, karena contoh-contoh yang Pak Paul katakan tadi dasarnya kasih.
PG : Betul, kasih yang bisa membuat orang tua akhirnya bisa menikmati kehadiran si anak tanpa dia harus berbuat apa-apa, menunjukkan prestasi apapun.
GS : Ada kebanggaan tertentu dari orang tua terhadap anak-anak itu.
PG : Ya, jadi setelah saya mengatakan tadi itu, Pak Gunawan, yakni menerima anak apa adanya, menghargai keberadaannya ya. Tetap juga harus ada yang keduanya yaitu memberikan penghargaan kepada nak atas perbuatannya, artinya orang tua melihat dan menghargai hal-hal tertentu yang dilakukan oleh anak tersebut.
Dan ini juga saya kira tidak ada salahnya jadi orang tua misalnya melihat anak itu senang menggambar, kita tanggapi. Misalnya berkata kamu pandai menggambar, gambarmu bagus, apa yang kamu gambar coba ceritakan kepada papa, mama mau melihat gambar yang lain coba kamu gambar ini. Itu adalah masukan-masukan yang akan menumbuhkembangkan penghargaan dalam diri anak itu.
ET : Mungkin kembali lagi kepada siklus itu yang sering kali saya lihat, tadi Pak Paul mengambil perumpamaan atau memberikan bonus tanpa melihat kepada prestasinya. Rasanya cukup sulit karena ita sudah terbentuk dalam masyarakat yang bersyarat, segala sesuatu itu sepertinya harus ada syaratnya.
Tampaknya hal ini rasanya yang lebih banyak didapatkan oleh kebanyakan orang tua dari orang tua sebelumnya, sehingga akhirnya kembali lagi juga dilakukan oleh anak-anaknya dan seterusnya. Makanya sering kali kita mendengar kalimat-kalimat seperti aduh mama akan sayang sama kamu kalau kamu melakukan hal ini, papa akan sayang sekali kalau kamu bisa berprestasi. Jadi akhirnya tetap saja yang ditangkap oleh anak kesenangan dan rasa sayang orang tua itu berkaitan dengan apa yang harus dia lakukan. Jarang yang bisa memberikan konfirmasi bahwa orang tua senang dengan keberadaan anak ini tanpa ada usaha-usaha yang dia tunjukkan.
PG : Ya siklus itu memang kita lestarikan Bu Esther, begitulah kita dibesarkan oleh orang tua kita, begitulah kita membesarkan anak-anak kita. Yang sekali lagi saya mau tekankan adalah bukan meghilangkan yang satu, yang saya mau tekankan adalah menumbuhkan yang terhilang itu yakni menerima, menghargai, menikmati anak apa adanya.
Sudah tentu kita juga mau memberikan kepada anak penghargaan atas kebisaannya atau kemampuannya, sebab inipun penting sehingga si anak juga terpacu untuk mengembangkan dirinya. Anak-anak yang dihargai tanpa harus berbuat apa-apa sama sekali penghargaan itu tidak dikaitkan dengan perbuatannya, saya kira juga kehilangan keseimbangan. Anak-anak ini akan besar kepala luar biasa dan dia akan menuntut semua orang untuk menghargai dia tanpa dia harus berbuat apa-apa, nah itu juga akhirnya melewati batas tidak seimbang lagi. Tapi yang saya harapkan adalah keseimbangan antara keduanya, jadi sekali lagi penting orang tua juga melihat dengan peka dan jeli hal-hal apa yang bagus atau yang tidak harus bagus, tapi yang dilakukan oleh si anak.
GS : Bagaimana kalau anak ini tidak sendirian artinya mempunyai saudara? Dalam hal memberikan penghargaan, kita melihat perbuatan dari mereka artinya mereka yang berprestasi baik lalu diberikan penghargaan lebih dibandingkan dengan saudaranya yang prestasinya kurang, apakah hal itu cukup bijaksana, Pak Paul?
PG : Saya kira kita harus peka kalau memang anak yang satunya itu kurang dibandingkan misalnya dengan si kakak sehingga waktu kita memberikan penghargaan kepada si kakak, si adik tidak merasa jstru dibedakan dan tidak diterima oleh orang tuanya.
Misalkan kalau dia tahu si anak yang satu lemah misalnya dalam pelajaran di sekolahnya, nah dia harus rajin-rajin mendorong si anak untuk melakukan hal-hal yang lain. Dan di hal-hal yang lain itulah si orang tua memberikan hadiah atau memberikan tanggapan yang positif terhadapnya sehingga si anak tahu. Dalam hal ini kakak lebih baik, dalam hal ini saya bisa dan orang tua melihat hal itu. Mungkin ini hal yang tampaknya sederhana, tapi sekali lagi saya mau menghimbau kepada orang tua lihatlah anak-anak kita. Saya kira masalah sekarang adalah orang tua tidak berkesempatan melihat anak, itu duduk masalahnya sehingga tidak tahu apa sebetulnya yang bisa atau tidak bisa dilakukan oleh si anak, nah orang tua yang melihat akan tahu apa itu dan akhirnya bisa memberikan masukan atau tanggapan positif.
ET : Kadang-kadang penghargaan ini juga mungkin jadi sulit, karena standar yang terlalu tinggi tampaknya, Pak Paul. Maksudnya apapun yang dibuat anak rasanya tidak berharga karena belum memenuh standar yang dibenak orang tua, pujian itu jadi mahal sekali.
PG : Dan kadang orang tua berdalih ini untuk memacu anak, dengan standar yang tinggi ini si anak dipacu untuk lebih merentangkan dirinya. Boleh memacu anak, jadi prinsipnya adalah berikan standr sedikit di atas kemampuan si anak sehingga si anak dipacu untuk meraih yang lebih tinggi lagi.
Tapi selalu ada kesempatan di mana orang tua mengatakan cukup yang engkau lakukan itu sudah baik, cukup. Inilah bibit-bibit yang membuat si anak menyukai dirinya bahwa dia tahu bahwa dia telah memenuhi standar. Anak yang terus dikatakan atau mendengar kata-kata kurang baik, akhirnya dia akan beranggapan bahwa dia adalah anak yang tidak pernah cukup baik. Dan dia tidak akan bisa menyukai dirinya. Orang yang tidak menyukai dirinya susah menyukai orang lain, orang yang tidak menyukai dirinya akan susah sekali bisa menghargai orang lain pula. Dan takutnya nanti dia sudah besar malah menimbulkan masalah dengan orang-orang lain di sekitarnya. Nah belum lagi kepercayaan diri, anak-anak yang bertumbuh besar di rumah tanpa mendengarkan tanggapan apapun dari orang tuanya tidak tahu dia bisa apa, tidak tahu dia mengerti apa akhirnya? Tidak ada kepercayaan diri. Dia tidak tahu dia bisa apa karena tidak ada tanggapan-tanggapan dari orang-orang di sekitarnya, apalagi kalau tanggapan yang diucapkan yang negatif lagi. Jelek, kamu tidak bisa ini, bikin malu saja akhirnya anak itu ragu-ragu, tidak berani sama sekali melakukan apa-apa. Jadi akhirnya kita membunuh kepercayaan diri si anak.
GS : Selain rasa percaya dan penghargaan yang memang sangat dibutuhkan, apakah ada hal lain yang bisa dilakukan sedini mungkin, Pak Paul?
PG : Yang lain adalah arah Pak Gunawan, jadi saya panggilnya ini struktur arah. Seorang psikolog bernama Golden Elport berpendapat bahwa hidup yang bermakna ialah hidup yang memiliki tujuan hidp yang jelas, dia panggil itu intensi.
Intensi itu kita boleh terjemahkan sasaran hidup, tanpa sasaran anak akan hidup tanpa arah dan bahkan bisa tersesat. Jadi orang tua atau keluarga harus menyediakan kebutuhan sasaran atau kebutuhan akan arah, tidak ada arah si anak cenderung hidupnya tersesat seperti daun yang ditiup oleh angin.
(2) GS : Tujuan di sini atau sasaran konkretnya itu apa, Pak Paul?
PG : Konkretnya adalah si anak tahu apa yang bisa dia lakukan, apa yang dia bisa kerjakan nanti, apa yang dia nanti akan lakukan menjadi apa. Kalau kita ingat-ingat waktu kita masih lebih muda ering kali orang tua bertanya mau jadi apa (GS : Cita-citanya apa?) ya betul.
Nah ternyata cita-cita atau mau jadi apa merupakan hal yang sangat penting buat seorang anak. Jadi si anak itu merasakan adanya panggilan dalam hidupnya, adanya makna dalam hidup dia, karena dia nanti bisa menjadi seseorang. Dengan kata lain kita ini seperti 'puzzle' yang merupakan suatu penggalan saja, kita harus mempunyai tempat dalam 'puzzle' yang besar itu, kalau kita tidak tahu tempat kita dalam 'puzzle' yang besar itu kita benar-benar merasa terlempar dari hidup ini. Nah psikolog yang bernama Elport menegaskan bahwa makna atau sasaran atau tujuan hidup yang dia panggil intensi itu adalah yang mengikat seseorang menjadi seseorang yang utuh, sehingga dia berjalan menuju suatu titik atau sasaran itu. Saya kira di sinilah orang tua bisa berperan sangat besar sekali sehingga anak itu bisa bertumbuh dengan sasaran yang jelas.
ET : Tampaknya ini memang masih berkaitan sangat erat dengan penghargaan tadi ya Pak Paul, kalau penghargaannya sangat kurang rasanya arahnya sudah pasti tidak jelas.
PG : Tepat sekali, jadi orang tua perlu memberikan bimbingan pertama-tama akan kemampuan si anak itu. Dan orang tua tidak perlu takut dengan kenyataan bahwa si anak nanti belum tentu jadi seperi yang dia katakan sekarang, tidak apa-apa,tidak menjadi soal.
Sebab sekali lagi yang anak perlu adalah sasaran dan kita tahu sasaran itu nanti akan diperhalus, akan dipertepat, akan dikembangkan lagi dan tidak pernah memang bisa pas sekali.. kita pun sekarang berkata o..... saya sekarang sudah menjadi seperti apa sekarang, tapi 10 tahun lagi kita jadi apa kita juga tidak tahu. Tapi tidak apa-apa, yang penting kita tahu setidak-tidaknya langkah berikutnya itu apa. Nah ini harus diberikan oleh orang tua melalui bimbingan, bimbingan yang secara spesifik menunjuk kepada kebisaan si anak. Si anak tidak harus jago baru orang tua bilang o.... kamu akan menjadi seorang apa, seorang dokter, seorang insinyur atau seorang guru tidak perlu. Sudah cukup untuk menjadi modal kalau si anak tahu akan menjadi apa nantinya, arah itu penting sekali. Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang guru yang sudah berpuluhan tahun mengajar di sebuah kota, nah guru itu berkata kepada saya, saya melihat mulai ada perbedaan antara anak-anak sekarang dengan anak-anak dulu. Karena dia sudah senior dia mempunyai banyak pengalaman untuk bisa membandingkan, dia berkata anak-anak sekarang kehilangan arah, anak-anak sekarang ini lulus SMA tidak tahu menjadi apa nantinya. Paling tidak orang-orang sekarang atau saya takutnya anak-anak sekarang kalau ditanya mau menjadi apa, mau menjadi kaya. Hanya itu yang mereka pikirkan karena melihat begitu banyaknya materi yang ditawarkan dan dia ingin memiliki dan dia tahu perlu uang untuk memiliki semua itu. Tapi mau jadi apanya tidak penting lagi, yang penting jadi kaya, sebetulnya ini suatu kenyataan memang anak-anak tersesat, tidak ada sasaran hidup yang spesifik lagi. Kaya itu bukan sasaran hidup, jadi kaya adalah untuk bisa memiliki yang dia ingin miliki saja. Jadi peranan orang tua di sini penting sekali membimbing anak benar-benar menuju kebisaannya itu.
GS : Bagaimana supaya orang tua tidak memaksakan apa yang diinginkannya terhadap anaknya, Pak Paul?
PG : Dia harus melihat kemampuan si anak, kebiasaannya, minatnya si anak tertariknya pada hal apa dan itulah yang nanti dia gunakan untuk mengarahkan si anak. Nah point berikutnya, anak perlu mmpelajari kemampuan atau memiliki kemampuan untuk mencapai target itu.
Di sini diperlukan disiplin, maka orang tua yang tidak mendisiplin anak sama juga menyediakan mimpi buat si anak, tapi tidak bisa mewujudkan mimpi itu. Jadi disiplin diperlukan agar impian si anak bisa diwujudkan, tapi kebalikannya juga saya rasa keliru anak yang diberikan disiplin terus tapi tidak diberikan bimbingan, takutnya dia menjadi anak yang kejam, bengis, keras sama orang tapi tidak ada sasaran hidupnya.
ET : Lalu bagaimana dengan anak yang dididik dengan disiplin yang tinggi, tapi untuk mencapai arah yang diinginkan orang tuanya. Ada pesan-pesan yang memang sudah dari kecil kamu harus menjadi eperti ini, yang kadang-kadang mungkin harapan orang tua ingin anaknya menjadi arsitek tapi ternyata tidak berhasil.
Sehingga dari kecil anak sudah didisiplin sedemikian rupa supaya menjadi arsitek. Bagaimana kalau menurut, Pak Paul?
PG : Saya kira ada anak yang seperti itu dan tidak selalu negatif karena mungkin dia nanti benar-benar misalnya menjadi arsitek. Setelah menjadi arsitek bertahun-tahun saya duga pada akhirnya da akan resah dan dia akan berkata saya mau pindah, saya mau mengalihkan karier saya sebab saya bukan di sini.
Tapi itu bukanlah suatu hal yang negatif juga karena apa? Kenyataan dia berhasil mencapai standar tertentu itu cukup memberikan dia arah dalam hidupnya. Namun sayangnya adalah dia tidak langsung bisa mengembangkan dirinya.
GS : Dalam hal ini orang tua harus betul-betul bersifat obyektif terhadap anaknya, kemampuannya dia apa ya diberikan kesempatan untuk ke situ. Cuma memang ada banyak kecenderungan anak mencontoh karier orang tuanya, hampir banyak yang seperti itu.
PG : Betul, dan kalau memang itu minatnya si anak ya tidak apa-apa. Tapi kalau orang tua yang memang memaksakan kehendak ya harus berhati-hati, harus berhati-hati jangan sampai akhirnya si anakitu tidak bisa mengembangkan dirinya sendiri.
GS : Karena konsep kaya yang tadi Pak Paul katakan, sering kali itu juga bukan dari anaknya tapi dari orang tuanya. Dia menginginkan nanti anaknya jangan seperti dia, jadi orang kaya, tidak peduli kamu kerja apa pokoknya kaya, kalau tidak kaya nanti payah atau seperti ayah atau ibumu. Dan itu terus-menerus ditanamkan dalam diri anak hanya kaya...kaya..(PG : Betul ) Nah, Pak Paul, dalam hal ini hubungan keluarga dan kejiwaan dan sebagainya ini apakah ada firman Tuhan yang memberikan bimbingan untuk para orang tua khususnya?
PG : Saya akan membacakan 2 ayat Pak Gunawan, yang pertama dari Amsal 21:21 "Siapa mengejar kebenaran dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan." Siapa engejar kebenaran dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan.
Kalau saya boleh terapkan langsung dalam keluarga, keluarga yang menekankan kebenaran dan kasih dalam rumah tangganya akan melihat anak-anak yang mencari kehidupan dalam kebenaran dan mempunyai kehormatan. Tapi orang tua yang mengabaikan kebenaran dan kasih dalam rumah tangganya tidak ada waktu untuk anak dan sebagainya, tidak mendidik anak dengan baik ya susah untuk dia nantinya menuai kehidupan, kebenaran dan kehormatan pada anak-anak mereka. Dan saya akan tutup juga dengan Amsal 22:6 "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanya pun dia tidak akan menyimpang daripada jalan itu." Nah di sini orang tua diminta untuk mendidik anak maka disebut didiklah orang muda bukannya orang tua baru kita didik. Dari kecil harus dididik, diarahkan menurut jalan yang patut baginya. Lihat kemampuannya di mana kita arahkan seperti itu.
GS : Jadi demikian tadi saudara-saudara pendengar, Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dan Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang keluarga dan permasalahan jiwa pada bagian kedua. Sedangkan pada bagian pertama kami perbincangkan pada beberapa waktu yang lalu. Bagi Anda yang berminat kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Pada umumnya orang tua mempunyai pendapat bahwa anak mempunyai tiga kebutuhan dasar yaitu:
Kebutuhan jasmaninya, untuk itu orang tua memberikan kecukupan makanan, perawatan kesehatan dsb.
Orang tua berpikir anak-anak mempunyai kebutuhan-kebutuhan ekonomis, dia perlu membeli komputer, perlu membeli barang, jadi perlu uang maka mereka mencoba menyediakan uang yang cukup buat anak-anak.
Orang tua berpikir anak-anak mempunyai kebutuhan intelektual, untuk itulah mereka bekerja keras, menyediakan uang yang cukup agar bisa menyekolahkan anak di sekolah yang baik.
Tapi tiga kebutuhan di atas meskipun penting bukanlah kebutuhan mendasar, yang mendasar atau yang terlebih dahulu perlu dipenuhi adalah yang dibawahnya itu dan itu yang sangat-sangat penting dan justru itulah yang menjadi struktur jiwa si anak. Kalau itu tidak dipenuhi anak itu akan bertumbuh dengan struktur jiwa yang sangat lemah atau bisa-bisa malah menyimpang apalagi dalam konteks orang tua sering bertengkar, tidak rukun nah jiwa si anak bukannya tidak lagi kuat malahan bisa bertumbuhnya dengan penyimpangan-penyimpangan yang akhirnya melahirkan perilaku bermasalah pada kemudian hari.
Kondisi anak pada masa lalu dengan sekarang sudah sangat-sangat berbeda diantaranya:
Mereka dulu dibesarkan di dalam komunitas, kita sekarang dibesarkan di dalam kesendirian. Maksudnya hubungan antar tetangga, antar saudara masih sangat erat sehingga kekurangan di satu pihak dicukupi oleh kelebihan di pihak lainnya.
Tawaran-tawaran materi sangat sedikit, sekarang sangat banyak, sehingga godaan pun juga relatif jauh lebih sederhana dibandingkan sekarang. Jadi anak-anak itu untuk mengembangkan perilaku-perilaku yang bermasalah karena yang diinginkannya tidak didapat juga lebih kecil dibandingkan dengan sekarang.
Norma atau nilai-nilai moral dulu dan sekarang tidak sama. Dulu nilai-nilai moral masih jauh lebih kuat, takut akan Tuhan sangat ditekankan, menghormati yang lebih tua sangat-sangat juga diyakini. Sekrang menghormati Tuhan kurang, menghormati yang lebih tua, menghormati guru dsb sudah jauh lebih menipis.
Hal-hal yang dapat dilakukan sebagai orang tua adalah:
Orang tua perlu menyadari satu prinsip dan ini harus kita ingat sebagai orang tua, yakni anak bertumbuh sesuai apa yang diterimanya dari orang tua. Dengan kata lain, bagaimana orang tua memperlakukannya akan menentukan bagaimana ia memperlakukan dirinya dan dunia, ini harus dicamkan dengan baik oleh orang tua. Apa yang orang tua tanam akan dia tuai nanti, sebab apa yang dia berikan kepada si anak atau tidak itu akan menjadi suatu buah yang harus disaksikannya nanti.
Beberapa hal yang sangat dibutuhkan oleh anak :
Anak penting sekali menerima dari orang tua adalah struktur kepercayaan. Seorang ahli kejiwaan Eric Ericson menekankan bahwa pada masa awal kehidupan seorang anak belajar mempercayai orang tua sebagai figur perawat dan pelindung dirinya. Dengan kata lain pada masa awal itu si anak 'kan tidak berdaya apa-apa, dia harus menggantungkan diri sepenuhnya pada kebaikan hati orang tua untuk merawat dan membesarkannya. Nah hubungan antara si anak dan si orang tua disebut hubungan percaya, kegagalan si anak untuk percaya membuat si anak bertumbuh besar dengan rasa tidak aman dengan lingkungannya. Jadi hal pertama yang orang tua mesti berikan adalah perlakuan yang mesra, yang hangat, yang menerima sehingga si anak dari kecil tahu bahwa kebutuhannya itu akan dipenuhi.
Anak memerlukan penghargaan, penghargaan merupakan suatu perasaan bahwa dia itu bernilai, bahwa seorang anak ini merasakan dia adalah seseorang yang bernilai. Larry Crab berkata bahwa setiap manusia mempunyai kebutuhan pokok yaitu penghargaan, bahwa dia merasa dia mempunyai nilai dan memang dia itu dianggap bernilai oleh lingkungannya.
Menghargai mencakup 2 hal yaitu:
Menghargai dirinya, berarti tanpa si anak harus berbuat apa-apa dia sudah menyenangkan hati orang tuanya. Kita sebagai orang tua perlu mengkomunikasikan pada anak bahwa tanpa engkau harus berbuat apapun engkau sudah menyenangkan hati kami. Saya suka menggunakan istilah menikmati anak artinya anak tidak usah berbuat apa-apa kita sudah menikmati kehadirannya.
Menghargai perbuatannya, artinya orang tua melihat dan menghargai hal-hal tertentu yang dilakukan oleh anak tersebut. Ini penting kita memberikan penghargaan atas prestasinya, sehingga si anak juga terpacu untuk mengembangkan dirinya. Anak-anak yang dihargai tanpa harus berbuat apa-apa sama sekali penghargaan itu tidak dikaitkan dengan perbuatannya saya kira akan kehilangan keseimbangan.
Struktur arah. Seorang psikolog bernama Golden Elport berpendapat bahwa hidup yang bermakna ialah hidup yang memiliki tujuan hidup yang jelas atau disebut intensi atau sasaran hidup. Tanpa sasaran, anak akan hidup tanpa arah dan bahkan bisa tersesat. Jadi orang tua atau keluarga mesti menyediakan kebutuhan sasaran ini atau kebutuhan akan arah, tidak ada arah si anak cenderung hidupnya itu tersesat seperti daun yang ditiup oleh angin. Tujuan di sini yang dimaksud adalah si anak tahu apa yang bisa dia lakukan, apa yang dia bisa kerjakan nanti, apa yang dia nanti akan lakukan, menjadi apa.
Amsal 21:21 , "Siapa mengejar kebenaran dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan."
Keluarga yang menekankan kebenaran dan kasih dalam rumah tangganya akan melihat anak-anak yang mencari kehidupan hidup dalam kebenaran dan mempunyai kehormatan. Tapi orang tua yang mengabaikan kebenaran dan kasih dalam rumah tangganya tidak ada waktu untuk anak dsb, tidak mendidik anak dengan baik susah untuk dia nanti menuai kehidupan, kebenaran dan kehormatan pada anak-anak mereka.
Amsal 22:6 , "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanya pun dia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."
Di sini orang tua diminta untuk mendidik anak. Dari kecil harus dididik diarahkan menurut jalan yang patut baginya, lihat kemampuannya di mana kita arahkan seperti itu.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Dengan mengetahui sumber-sumber kemarahan kita akan lebih mudah bagaimana mengatasi kemarahan tersebut. Dan sumber-sumber ini dibagi dalam tiga kelompok yang akan dibahas dalam topik ini.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang sumber-sumber kemarahan dalam di keluarga. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1) GS : Pak Paul, banyak pasangan-pasangan muda atau yang baru menikah mengharapkan bahwa kalau nanti mereka menikah, mereka bisa tetap rukun, bisa damai di rumahnya. Tetapi kenyataan berbicara lain, membuktikan bahwa apa yang diharapkan itu tidak menjadi kenyataan, bahkan sejak hari pertama ada pasangan-pasangan yang bertengkar, saling marah dan sebagainya. Sebenarnya apa saja sumber-sumber yang bisa menimbulkan kemarahan, karena pada saat kita marah itu kita tidak sadar lagi untuk memikirkan penyebabnya apa. Pada kesempatan ini kita coba berbincang-bincang, kalau tahu sumbernya kita bisa belajar meredamnya.
(2) PG : Sebelum saya menjawab yang tadi Pak Gunawan tanyakan, saya ingin memberikan suatu pengantar dulu bahwa kita ini cenderung lebih mudah marah di rumah daripada di luar sebetulnya. Alasanya adalah di rumah kita itu harus berhadapan dengan dekat.
Waktu kita harus berhadapan dengan dekat dengan orang-orang yang ada di rumah, itu juga merupakan orang yang paling mudah memancing kemarahan kita. Kita cenderung lebih bisa menoleransi perbuatan orang yang di luar, rekan kerja kita atau karena mereka pun tidak terlalu dekat dengan kita. Tapi segala sesuatu yang sangat dekat dengan kita dan kemudian bermasalah sedikit dengan kita, memang memiliki kecenderungan untuk lebih menggugah reaksi marah kita.
IR : Oleh karena itu, sifat seseorang itu lebih bisa dilihat di dalam rumah daripada di luar ya, Pak Paul?
PG : Tepat, kalau kita kembali ke masa berpacaran ya, memang hal-hal ini sukar kelihatan pada masa berpacaran, setelah menikah barulah hal-hal ini muncul. Yang kedua kenapa di dalam rumah emosimarah itu lebih mudah meletup, karena rumah tangga kita sekarang sebetulnya sedikit banyak merupakan pengulangan dari kehidupan kita sewaktu masih kecil.
Jadi kalau misalkan kita ini tidak suka dengan sikap papa terhadap mama yang seolah-olah mengejek atau merendahkan mama, namun hal itu tidak terlalu kita pikirkan sewaktu kita remaja dan dewasa, kemudian kita menikah. Tiba-tiba waktu istri kita mulai mengatakan kata-kata misalnya "Kok kamu begitu-begitu saja, tidak ada usaha untuk memajukan diri," tiba-tiba kita bisa meledak dengan begitu keras. Pertanyaannya adalah kenapa kita meledak mendengarkan komentar seperti itu dari istri kita. Tanpa disadari memang akhirnya rumah tangga kita yang dulu kita bawa ke dalam rumah tangga kita sekarang, hal yang dulu tidak kita sukai yang kita lihat dilakukan oleh papa terhadap mama kita atau mama terhadap papa kita, sekarang kita interpretasi itulah yang dilakukan oleh pasangan kita, oleh istri kita misalkan terhadap kita. Ya sekarang istri melecehkan saya dan tiba-tiba kita bereaksi dengan sangat marah. Jadi dua faktor tersebut memang cenderung membuat kita mudah bereaksi di dalam rumah dan bukan di luar rumah.
GS : Tapi mungkin juga di luar rumah kita masih menjaga semacam harga diri kita Pak Paul, jadi kita agak berpura-pura walaupun marah, kita tahan, karena nanti dikatakan orang yang pemarah dan sebagainya. Kalau di rumah kita tidak menanggung resiko itu, Pak Paul.
PG : Tepat sekali, karena kita tahu kita sudah diterima dan apapun yang terjadi istri atau suami kita atau anak kita terpaksa harus menerima kita, jadi tidak ada lagi reputasi yang harus kita prtahankan.
Dan yang kedua adalah kalau memang di luar rumah ada resikonya, misalnya dipecat dari pekerjaan, dijauhi teman.
(3) IR : Bagaimana Pak Paul mengatasi kemarahan yang seringkali terjadi di dalam rumah?
PG : Pertama-tama kita lihat dulu sumber-sumbernya Bu Ida, setelah kita kenali sumber-sumbernya mungkin baru kita usahakan mengatasinya. Yang saya akan lakukan adalah membagi kemarahan yang teradi antara suami dan istri, kemudian orang tua terhadap anak dan anak terhadap orang tua.
Dalam kaitan suami dan istri penyebab umum yang membuat kita marah, biasanya karena pertama kita tidak suka hal yang sama diulang-ulang, itu cenderung menjadi penyebab kemarahan kita. Kita sudah memberitahukan misalkan suami kita, "Kalau menaruh baju jangan sembarangan, dilempar di batu dan sebagainya di lantai, taruh di tempatnya!" Tapi suami kita terus melakukan hal yang sama. Atau kita beritahu istri kita, "Mohon kalau saya pulang makanan disediakan, jangan sampai saya sudah pulang lalu menunggu 1 jam lagi" dan engkau selalu berkata: 'Saya repot anak-anak butuh perhatian' dan sebagainya, tapi terlalu sering terjadi. Hal yang sama diulang kembali dan kita sudah memberitahukan supaya jangan dilakukan lagi cenderung menjadi pemicu kemarahan kita dan ini salah satu penyebab kemarahan antara suami dan istri sering terjadi. Dan yang kedua adalah (GS : Tapi itu 'kan karena kejengkelan kita itu Pak Paul ya) betul-betul (GS : Jadi jengkel tadi menimbulkan kemarahan) karena kita akhirnya merasa tidak dihargai.
GS : Omongan-omongan ini tidak didengarkan atau tidak sungguh-sungguh, padahal di sisi yang lain itu suatu kebiasaan yang kita lihat, misalnya tadi melempar baju yang kotor di lantai, itu kebiasaan yang mungkin sejak kecil dilakukan. Dulu di rumahnya yang lama dia tidak dimarahi, sekarang diberitahu dia balik marah.
PG : Betul, jadi seringkali memang kebiasaan-kebiasaan itu tidak bisa diterima oleh pasangan kita, jadi kita akhirnya tersinggung dan akhirnya merasa tidak dihargai.
GS : Jadi dua-duanya bisa jadi marah ya, Pak Paul?
PG : Betul, dua-duanya bisa marah sekali. Ini salah satu sumber kemarahan yang sering terjadi Pak Gun. Yang kedua adalah kalau kita menyaksikan sifat suami atau istri kita yang tak kita sukai dn ini bisa jadi kita sudah sadari sebelum kita menikah atau tidak kita sadari.
Kalau sudah kita sadari terus tidak kita sukai, kecenderungan kita adalah berharap bahwa nanti setelah menikah sifat ini bisa hilang atau berubah. Namun setelah menikah kita akhirnya harus menyaksikan bahwa sifat itu tidak berubah. Nah sifatnya macam-macam, contoh kita dulu berpikir misalnya suami kita itu hemat tapi setelah menikah baru sadar dia kikir. Nah, hemat dan kikir memang seolah-olah bisa hampir serupa, waktu sebelum menikah kita panggil dia hemat lama-lama kikir setengah mati. Semua harus dicatat dan diberikan budget, setiap bulan harus bisa memenuhi budget tersebut, tidak boleh melampaui, hal-hal lain sebagainya. Atau kita melihat istri kita yang begitu boros, beli barang banyak tanpa memikirkan keuangan di rumah tangga nah akhirnya itu juga bisa mengganggu kita. Seringkali dua hal itu adalah pemicu kemarahan antara suami istri.
GS : Itu sifat atau kebiasaan, Pak Paul ?
PG : Bisa dua-duanya, jadi bisa juga suatu kebiasaan tapi juga bisa sifat, seperti misalnya kikir itu memang ada unsur kebiasaannya tapi juga ada sifatnya. Atau sifat yang lain ya yang tadi telh kita telah singgung sedikit yaitu misalkan kemarahan.
Ada orang yang mudah marah dan kita tidak suka hal itu sedikit-sedikit meledak, sedikit-sedikit marah, contoh yang sering kita dengar adalah istri yang mengeluh kalau suaminya itu suka marah sewaktu mengendarai mobil. Misalnya sedikit-sedikit memaki orang, nah sebelum dia menikah mungkin dia pergi dengan calon suaminya, ya tidak terlalu sering jadi tidak begitu tahu, tapi setelah menikah baru dia sadar, sedikit-sedikit memarahi orang di jalanan. Nah, akhirnya dia tidak suka dengan sifat seperti ini atau sifat kecurigaan dengan orang, maksudnya apa orang ini ya? Maksudnya apa orang ini ya? Nah sebelum menikah kita tidak begitu melihat hal ini sebagai suatu hal yang serius tapi setelah kita menikah sangat mengganggu sekali. Karena kita melihat orang ini atau suami kita ini memandang orang dengan negatif terus, melihatnya pasti ada apa-apa dibalik ini. Nah sifat-sifat seperti itu yang akhirnya sukar kita toleransi, sebab apa? Sebab kita ini sebetulnya masing-masing mempunyai suatu nilai hidup siapa yang kita akan hormati, siapa yang tidak akan kita hormati. Biasanya kita akan kaitkan dengan sifat-sifat tertentu yang memang kita senangi, misalkan kita mengagungkan orang yang sabar, orang yang kebapakan; ternyata setelah menikah tidak sabar, suami kita mudah marah nah akhirnya apa yang terjadi kita memindahkan dia dari kategori orang yang bisa kita hormati menjadi orang yang justru kita tidak hormati. Akhirnya itu yang mengganggu kita, karena kita ini tidak bisa menoleransi hidup dengan orang yang tidak bisa kita hormati, jadi seringkali itu yang menyulitkan kita menerima sifat-sifat pasangan kita.
GS : Kalau kemarahan yang terjadi antara orang tua dan anak Pak Paul, sumber-sumbernya apa biasanya?
PG : Yang paling umum adalah orang tua harus mengakui atau melihat bahwa si anak ini mewarisi kelemahannya, itu salah satu penyebab yang sering terjadi. Tapi kadang-kadang si orang tua ini tida menyadarinya, contoh misalkan suami kita orang yang keras kepala ya, kepala batu, lalu kita punya anak kebetulan kepala batu, nah kita bisa mulai menyaksikan dinamika hubungan antara si ayah dengan si anak ini, sering berkelahi.
Yang terjadi adalah sebetulnya si ayah tidak menyukai sifat si anak yang kepala batu ini tanpa menyadari bahwa si anak sebetulnya mewarisi sifat kepala batunya ini. Atau kita ini orangnya lembut, kita ini orangnya susah untuk tegas dan kita tidak suka dengan sifat kita yang terlalu lemah, kita anggap kita lemah. Anak kita begitu juga, didorong oleh temannya diam, PR-nya dipinjam tidak dipulangkan diam, kita akhirnya melihat begitu jengkel. "Kamu harus lebih tegas, kamu harus berani melawan teman kamu dan sebagainya, kita lupa bahwa waktu kita kecil kita pun diperlakukan sama dan kita pun juga begitu.
GS : Itu sebenarnya kemarahan terhadap dirinya sendiri, Pak Paul.
PG : Betul, jadi seringkali orang tua marah melihat sifat-sifat anak yang persis dengan sifat mereka yang mereka anggap sebagai kelemahan, itu yang susah mereka terima.
IR : Ini yang jadi korban orang ketiga ya, Pak Paul, misalnya ibunya, si anak meniru tabiat si suami, ayahnya, tapi bagaimana si ibu harus mengatasi anak yang misalnya mudah marah.
PG : Biasanya dalam kasus seperti itu, si ibu menjadi wasit ya, pelerai menjaga supaya ayah jangan marah pada si anak dan si anak jangan marah terhadap si ayah dan dia berdiri di tengah-tengah.Kadang-kadang dia yang menjadi sasaran pukulan-pukulan itu, kemarahan-kemarahan dari kedua belah pihak.
GS : Tapi seringkali juga kemarahan itu timbul karena ini Pak, tuntutan dari anak yang terlalu berlebihan, nah kita tidak bisa memenuhi tuntutan itu.
PG : Bisa, saya kira adakalanya memang anak itu menuntut orangtua untuk selalu bisa memenuhi kebutuhan mereka atau keinginan mereka. Dan sewaktu kita melihat hal itu kita jengkel sekali sebab esan kita adalah anak ini anak yang tidak tahu diri begitu.
GS : Bagaimana dengan hadirnya orang lain di dalam keluarga itu Pak Paul, kadang-kadang bisa menimbulkan kemarahan juga Pak Paul, misalnya ada mertua di sana atau bibi dan sebagainya atau bahkan ada pembantu di sana yang kita tidak berani marah terhadap mereka. Itu karena kita anggap di luar lingkungan keluarga kita, lalu yang jadi sasaran seperti tadi ibu Ida katakan ya kalau tidak istri atau suami, ya anak yang dijadikan sasaran, itu 'kan merupakan sumber kemarahan juga.
PG : Bisa sekali, misalkan ini seringkali terjadi pada suami istri yang tinggal di rumah mertua, nah ini cukup sering menjadi masalah di dalam hubungan suami istri karena kehadiran mertua seola-olah menjadi seperti pengatur di dalam hubungan mereka dan mereka tidak lagi memiliki kebebasan untuk menjadi diri mereka; mau berbicara, mau apa tidak bisa langsung karena ada mertua.
Dan juga kalau mertua ikut campur dalam urusan mereka itu seringkali menjadi kemarahan. Sebab kecenderungan mertua seperti kita tahu kita ini orangtua, kita membela anak tidak bisa tidak, jadi kebanyakan menantu akan merasa dipersalahkan dan mertuanya tidak adil, akhirnya yang timbul adalah kemarahan-kemarahan juga.
GS : Setelah kita coba menggali sumber-sumber konflik tadi Pak Paul, tentunya kita akan melanjutkan perbincangan kita dengan bagaimana mengatasinya itu Pak Paul, bagaimana Pak Paul kalau pasangan suami-istri ribut atau orang tua dengan anak.
PG : OK! Kalau antara suami-istri saya kira ini tidak bisa tidak harus ada pengkomunikasian misalkan dalam hal yang kita minta jangan dilakukan, terus dilakukan. Kita harus bicara dengan tegas,"ini sangat mengganggu saya dan sangat serius, saya minta jangan sampai terjadi lagi."
Selain itu adalah kita menawarkan diri menjadi penolong baginya misalkan dia itu suka lupa untuk menjemput anak misalnya terulang lagi, terulang lagi, terulang lagi nah akhirnya kita tawarkan jalan keluar, "Bagaimana kalau saya menelpon engkau kira-kira ½ jam sebelum anak dijemput saya telepon engkau, dan maaf jangan sampai engkau itu terganggu atau marah karena saya harus menelepon engkau." Jadi kita usahakan memberikan pertolongan atau jalan keluar supaya dia itu tidak lalai dan mengulang lagi perbuatan yang sama, itu yang pertama. Yang menyangkut sifat juga sama, misalkan dia pemarah sifatnya mudah marah dan dia akan mudah marah dengan anak, kita bisa mengatakan kepada dia, "Saya mau menyampaikan sesuatu tapi saya minta engkau jangan memarahi anakmu, kalau engkau memarahi anakmu, engkau mempermalukan saya sebab saya sudah berjanji kepada dia, kami akan bereskan ini dengan baik. Nah mohon kamu hormati saya jadi baru kita beritahu dia." Jadi hal-hal itu bisa dan harus kita lakukan. Kita tidak bisa melepas tangan dan berharap pasangan kita berubah dengan sendirinya.
IR : Juga terhadap anak Pak Paul, kalau misalnya anak suka marah apakah perlu kita memberi sanksi-sanksi, untuk membatasi kemarahan anak terhadap orang tua?
PG : Ya saya kira perlu Bu Ida, jadi kita tidak melarang anak untuk marah tapi nomor satu kita melarang anak untuk kurang ajar, jangan sampai anak itu berani kurang ajar (GS: Memarahi kita) ya emarahi kita, sebab saya kira itu sudah melewati batas ya.
Jadi kita bisa beritahu dia "Kamu boleh marah, silakan kamu tidak suka itu, tapi tidak boleh kamu misalkan menunjuk-nunjuk saya, mata kamu melotot-lotot dan tangan kamu teracung kepada saya, jangan lakukan itu sekali lagi." Jadi kita bisa katakan seperti itu dan sudah tentu kita harus lakukan ini, bukan sewaktu dia umur 17 tahun (GS: Sudah terlambat, mulai kecil sudah dididik seperti itu Pak Paul) betul sejak kecil kita harus beritahukan dia.
GS : Ya tetapi di dalam hubungan suami-istri yang saya sendiri alami biasanya tahun-tahun awal pernikahan itu yang seringkali terjadi salah mengerti lalu timbul kemarahan, Pak Paul. Tapi dengan berjalannya waktu mungkin kita lebih akrab atau lebih tahu, frekwensinya memang agak menurun, Pak Paul.
PG : Seringnya begitu Pak Gunawan, karena selama kita hidup dan berusaha memperbaiki diri ya, memperbaiki hubungan kita ini, sesungguhnya pernikahan itu dengan berjalannya waktu akan lebih baik kalau kita memang berusaha memperbaiki ya, tidak bersikap masa bodoh.
Kenapa makin baik, karena sesungguhnya dengan berjalannya waktu kita makin mengerti isi hati dan cara pikir pasangan kita, sehingga hal yang dulu mengganggu kita, yang membuat kita marah karena kita anggap dia itu tidak hormat kepada kita makin hari makinlah kita mengerti tidaklah demikian. Maksudnya dia tidaklah mau menghina saya atau apa, jadi dengan kata lain dengan berjalannya waktu suami dan istri itu sebetulnya makin bisa sepadu, terpadu ya sehati, karena cara berpikir makin sama, cara melihat problem dan hidup juga makin serupa.
GS : Tapi 'kan kenyataannya juga bisa terjadi makin tahu kelemahannya atau seringkali terjadi kemarahan-kemarahan sehingga mereka pisah saja, suami-istri itu pilih pisah saja, Pak Paul.
PG : Dan salah satu penyebabnya saya kira adalah karena kita melihat pasangan kita sudah berhenti mencoba seolah-olah memasabodohkan, tidak ada lagi keinginan untuk memperbaiki diri atau hubungn ini, nah itu seringkali memadamkan semangat kita sehingga kita pun terpengaruh dan berkata ya sudah masa bodoh, dan itu yang berbahaya.
GS : Sudah ada masa bodoh itu yang berbahaya Pak Paul, sekarang kalau ini Pak, kemarahan anak terhadap orangtua itu Pak Paul ya, memang sejak dini kita sudah mau coba ajarkan tetapi 'kan lingkungan itu membuat mereka itu juga menjadi anak-anak yang mudah marah di dalam rumah, kalau keinginannya tidak dipenuhi lalu marah-marah. Dan kemarahannya seringkali tidak diekspresikan dengan nyata tapi dia mengurung diri dan sebagainya itu, tapi kita sebagai orang tua tahu bahwa anak ini sedang marah, nah itu bagaimana Pak Paul, apa kita yang lebih dahulu mesti datang kepada anak ini atau bagaimana?
PG : Kebanyakan anak marah terhadap orang tua dengan satu alasan, anak merasa orang tua tidak mengerti akan dirinya. Keluhan yang paling umum di kalangan anak-anak remaja adalah "Orang tuasaya tidak mengerti saya."
Nah saya kira alasan ini atau cetusan isi hati ini perlu kita perhatikan ya, mengerti tidak berarti memenuhi, memang adakalanya itulah yang diminta oleh anak memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Teman-temannya beli sepatu roda, dia juga mau beli sepatu roda, teman-temannya mengganti komputernya dari pentium I ke pentium II, kita juga mau mengganti komputernya sampai ke pentium II dan sebagainya. Sewaktu kita melarang, dia marah, nah memang tidak selalu kita harus memenuhi keinginan anak, tapi yang harus kita lakukan adalah mengerti anak. Contohnya begini, misalkan dia meminta kita membelikan sepatu roda dan kita merasa kita ini belum mampu ya membelikan sepatu roda itu atau kita lihat memang belum begitu perlu untuk si anak. Yang kita bisa lakukan adalah berkata kepada dia, "Anakku, saya sadar bahwa engkau mau main sepatu roda karena teman-temanmu semua main sepatu roda dan kalau engkau yang tidak ada sepatu roda sendirian engkau akan merasa aneh sendirian, saya juga dulu waktu masih SMP, SMA pernah minta ini dan tidak dapat, saya merasa jengkel sekali, jadi saya mengerti yang sedang kau alami sekarang ini. Namun boleh tidak saya minta satu hal dulu, sementara waktu memang kami sedang memprioritaskan uang untuk membeli apa misalnya kita beritahu dia. Nah nanti setelah mungkin 2, 3 bulan, akan ada uang yang kami sisihkan untuk kamu membeli sepatu roda itu, bisa tidak kamu tolong tunggu dulu?" Nah saya kira penyampaian yang seperti ini menolong anak untuk merasa dimengerti bahwa permintaannya itu bukanlah permintaan yang keterlaluan atau dibuat-buat, jadi pengertiannya itu, pengertian kita kepada si anak membuat dia merasa tenang dan lebih siap untuk berkompromi dengan kita.
GS : Perlu ada suatu komunikasi atau dialog dengan anak itu ya, Pak Paul?
GS : Tetapi kadang-kadang memang tidak langsung membuahkan hasil Pak Paul, seperti tadi Pak Paul katakan dijanjikan seperti itu. Ada juga anak yang tidak mau menunggu, pokoknya sekarang harus diberikan, hal itu 'kan bisa menimbulkan kemarahan orang tua terhadap anak. Kalau dia sudah memaksakan permintaannya supaya dipenuhi pada hal kita tidak mau memenuhi, tadi contoh yang Pak Paul katakan mungkin ya nanti disuruh tunggu 2,3 bulan. Tapi memang tidak berniat untuk membelikan dia sebenarnya.
PG : Dan kita harus mengkomunikasikan kenapa kita tidak berniat (GS :Alasannya itu ya?) ya ini yang kadang kala memang anak tidak mengerti. Nah misalkan kita harus berkata kepada dia bahwa sebeulnya kita punya uang, jadi jangan misalkan kita memang punya uang, jangan katakan pada anak kami tidak punya uang (GS : Mereka tahu itu) mereka tahu dan mereka akan lebih marah kepada kita.
Jadi kalau misalnya memang bukan soal uang kita harus beritahukan bukan soal uang. Misalkan kita bisa beritahu, "Saya melihat kau itu terlalu mau berkompetisi dengan teman-teman dan saya merasa tidak baik, jadi sekali-sekali saya mau engkau belajar untuk tidak mempunyai yang teman punya, dan kamu pun tahu, saya tidak selalu berbuat itu kepadamu. Banyak hal yang kau minta sudah kami penuhi, tapi kami mulai merasa kamu semakin hari harus semakin sama dengan teman-temanmu dan ini tidak baik, dalam hidup adakalanya kita tidak mempunyai yang teman punya, adakalanya kita mempunyai yang teman tidak punya. Nah saya atau Mama, Papa inginkan agar engkau belajar untuk menoleransi keadaan seperti ini."
IR : Itu sekalipun anak tidak bisa menerima tetap kita diamkan saja?
PG : Betul, tetap harus kita lakukan.
IR : Supaya dia belajar ya Pak Paul?
PG : Betul, karena kedewasaan anak tercapai bukan sewaktu semua yang dia inginkan terpenuhi, tapi bagaimana dia menghadapi keadaan di mana keinginannya tidak terpenuhi, baru kematangannya itu aan lebih menyeluruh ya.
GS : Bagaimana kita harus menghadapi sumber kemarahan, kalau sumbernya itu dari pihak ketiga yang tadi kita bicarakan itu Pak Paul, kalau ada orang lain di dalam rumah tangga kita dan itu menjadi sumber dari kemarahan.
PG : Kalau orang ketiga itu memang sumbernya saya kira suami/istri lebih bisa menghadapinya. Misalkan ya dua-dua bersepakat untuk bagaimana bersikap kepada orang ketiga itu. Namun yang seringkai membuat masalah ini menjadi lebih kompleks dan lebih susah diselesaikan adalah kita merasa pasangan kita tidak berpihak pada kita, seolah-olah dia lebih berpihak kepada orang ketiga itu, orang tuanya atau siapa.
Nah jadi kita marah bukan karena orang ketiga itu saja, tapi karena kita merasa pasangan kita (GS : Tidak mendukung kita) tidak mendukung kita; justru itu yang harus kita bicarakan dengan dia.
GS : Jadi pasangan suami/istri ini dulu harus menyelesaikan masalahnya, lalu bersama-sama menghadapi pihak ketiga itu.
PG : Sebab misalkan orang tua kita yang keliru ya, kita harus berani konsekuen membela istri kita, meskipun orang tua mungkin menuduh kita engkau lebih sayang istri daripada kami. (GS : terjadigitu) betul, tapi kita bisa berkata kepada orang tua kita tidak, saya berpihak kepada yang benar dan dalam hal ini saya melihat istri saya benar.
Tapi lain kali kalau istri kita yang keliru kita pun berani konsekuen untuk memberitahu istri kita, jadi akhirnya semua melihat bahwa kita itu berdiri di pihak yang benar.
IR : Di dalam mengatasi kemarahan di sekitar kita baik itu suami/istri atau anak-anak tentu ada sikap dari kita untuk meredam kemarahan itu, apakah kata-kata yang lemah lembut ataukah bagaimana, Pak Paul?
PG : Bagus sekali Bu Ida, tadi Bu Ida sudah katakan ya yang memang dikatakan juga oleh firman Tuhan di Amsal 15:1 , "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkaaan yang pedas membangkitkan marah."
Jadi saya kira betul Bu Ida, penting sekali kita ini menyampaikan pendapat kita dengan lemah lembut dan itu cenderung meredam kemarahan orang lain.
GS : Para pendengar demikian tadi kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan tentang bagaimana mengatasi sumber-sumber kemarahan di dalam keluarga, bersama dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) , Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kita ini sebenarnya cenderung mudah marah di rumah daripada di luar sebetulnya. Alasannya adalah :
Di rumah kita harus berhadapan dekat dengan orang-orang yang ada di rumah kita, waktu kita berhadapan dengan dekat, orang-orang yang paling dekat dengan kita juga adalah orang yang paling mudah memancing kemarahan kita.
Rumah tangga kita sekarang sebetulnya sedikit banyak merupakan pengulangan dari kehidupan kita sewaktu masih kecil. Jadi misalkan kalau kita ini tidak suka dengan sikap papa terhadap mama yang seolah-olah mengejek atau merendahkan mama, akhirnya kita interpretasikan bahwa itulah yang dilakukan oleh pasangan kita, oleh istri kita.
Jadi itu dua faktor yang cenderung membuat kita mudah bereaksi di dalam rumah dan bukan di luar rumah.
Cara mengatasi kemarahan kita di dalam rumah, yang pertama-tama yang perlu dilakukan adalah kita lihat atau kita kenali dulu sumber-sumbernya baru kita usahakan mengatasinya. Kita membagi kemarahan antara suami-istri, orangtua terhadap anak, dan anak terhadap orangtua.
Sumber-sumber kemarahan antara suami dan istri, penyebab umum yang membuat kita marah biasanya adalah:
Kita tidak suka hal yang sama diulang-ulang. Contoh: hal menaruh baju atau hal menyiapkan makanan.
Kalau kita menyaksikan sifat suami atau istri yang tak kita sukai dan ini bisa jadi kita sudah sadari sebelum kita menikah atau tidak kita sadari.
Sumber-sumber kemarahan antara orangtua dan anak, yang paling umum adalah:
Orangtua harus mengakui atau melihat bahwa si anak mewarisi kelemahannya. Yaitu sifat anak persis dengan sifat mereka yang mereka anggap sebagai kelemahan. Misalnya: keras kepala, susah tegas dsb.
Tuntutan anak yang selalu untuk bisa memebuhi kebutuhan atau keinginan mereka.
Hal yang kita lakukan untuk mengatasi hal ini. Terutama kalau masalah itu antara suami dan istri.
Tidak bisa tidak harus ada pengkomunikasian bahwa misalkan dalam hal yang kita minta jangan lakukan, terus lakukan, kita harus ngomong dengan tegas.
Kita menawarkan atau memberikan jalan keluar supaya dia tidak lalai dan mengulang lagi perbuatan yang sama.
Yang menyangkut sifat juga sama.
Selama kita hidup dan berusaha memperbaiki diri, memperbaiki hubungan kita sesungguhnya pernikahan itu dengan berjalannya waktu akan lebih baik, kalau kita memang berusaha memperbaiki dan tidak bersikap masa bodoh. Sesungguhnya dengan berjalannya waktu kita makin mengerti isi hati dan cara pikir pasangan kita sehingga hal yang dulu mengganggu kita, yang membuat kita marah makin hari makinlah kita mengerti tidak demikian. Jadi dengan kata lain dengan berjalannya waktu suami dan istri itu sebetulnya makin bisa sepadu, terpadu, sehati karena cara pikir makin sama, cara melihat problem dan hidup juga makin serupa.
Kebanyakan anak marah terhadap orangtua dengan satu alasan, anak merasa orangtua tidak mengertinya. Mengerti tidak berarti memenuhi kebutuhannya.
Amsal 15:1 , "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah." Jadi penting sekali kita ini menyampaikan pendapat kita dengan lemah lembut dan cenderung meredam kemarahan orang lain.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Dibahas tentang prinsip ekuilibrium yaitu keseimbangan antara saling mengakomodasi dan saling membangun. Mengakomodasi ialah menoleransi dan menerima "kelemahan" pasangan dan anak.
Membangun ialah melakukan hal-hal yang "menyenangkan" hati pasangan dan anak.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Bantal Keluarga". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Mengenai bantal, kita sehari-hari berjumpa dengan benda ini bahkan menggunakannya tetapi kalau dikaitkan dengan keluarga sebenarnya apa maksud judul dari perbincangan kita ini?
PG : Sebelum saya menjawab hal itu, saya harus menjelaskan terlebih dahulu tentang dua konsep yang nanti akan kita angkat. Yang pertama, konsep menoleransi atau mengakomodasi. Yang saya maksu dengan konsep mengakomodasi atau menoleransi adalah kita menerima kelemahan pasangan atau anak kita.
Akan ada hal-hal tentang pasangan atau anak kita yang tidak kita sukai. Keluarga mesti juga didirikan di atas akomodasi atau penerimaan ini, kita tidak bisa terus-menerus menuntut baik pasangan atau anak kita menjadi seperti yang kita harapkan, mesti ada yang kita terima, mesti ada yang tidak kita persoalkan. Konsep kedua yang juga ingin saya angkat adalah konsep membangun. Membangun artinya kita harus melakukan hal-hal yang menyenangkan hati pasangan atau anak kita. Atau kalau kita adalah anak melakukan hal-hal yang menyenangkan hati orangtua kita. Inilah yang saya maksud dengan bantal keluarga, dan kenapa saya menyebutnya bantal sebab hal-hal yang kita lakukan atau perbuatan-perbuatan kita yang menyenangkan hati baik pasangan maupun anak itu akan menjadi bantal tatkala konflik muncul. Misalkan sewaktu kita sedang bertengkar, kalau tidak ada bantalnya atau dengan kata lain jarang kita ini menerima hal-hal yang kita inginkan dari pasangan; kemarahan kita tatkala konflik akan lebih mudah berkobar. Tapi kalau misalkan kita mempunyai cukup banyak bantal, karena banyak hal-hal yang dilakukan oleh pasangan kita yang baik, yang menyenangkan hati kita; waktu kita konflik meskipun kita marah-kemarahan kita otomatis tidak akan terlalu besar karena memang sudah ditutupi oleh bantal tersebut.
GS : Jadi seperti fungsi bantal yang sebenarnya itu semacam alas atau semacam landasan yang empuk, yang enak, yang nyaman untuk keluarga itu?
PG : Betul, Pak Gunawan. Bantal itu sesuatu yang nyaman, yang enak, kita bisa meletakkan kepala kita di atasnya, sesuatu yang menyenangkan, sekaligus bantal itu juga mengganjal. Jadi itulah fngsi bantal dalam keluarga, yang saya maksud di sini adalah perbuatan-perbuatan yang nyaman, yang meneduhkan hati, yang membuat hati pasangan atau anak bersukacita.
Ini menjadi hal-hal yang membahagiakan sekaligus menjadi penghalang atau menjadi ganjalan tatkala masalah harus muncul, konflik harus terjadi. Akibatnya marah kita atau kefrustrasian kita tidak melebar, tidak berkobar menjadi besar.
GS : Tadi Pak Paul menyampaikan dua prinsip dan salah satunya itu mengenai toleransi terhadap kekurangan, kelemahan pasangan maupun anak kita. Tapi bukankah toleransi itu ada batasnya, sampai sejauh mana kita bisa menoleransi?
PG : Sudah tentu kita harus akui bahwa kita ini selektif dalam menoleransi. Ada hal-hal yang bisa kita toleransi, misalkan suami menoleransi nilai-nilai yang tidak terlalu baik dari anaknya. Tidak apa-apa mendapat 6, mendapat 5," tapi bisa saja istri tidak bisa menerima hal tersebut.
Istri akan meminta anak atau menuntut anak untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Memang kita tidak sama dalam hal menoleransi, biasanya ini juga dipengaruhi oleh latar belakang kita. Kalau kita dari kecil dituntut untuk berprestasi tinggi, cenderung dalam hal ini kita kurang begitu bisa untuk menerima kelemahan anak kita atau pasangan kita. Jadi waktu kita berkata kita mencoba untuk menoleransi, sudah tentu standar yang harus kita gunakan bukan saja standar kita tapi orang lain yaitu istri, suami atau anak kita. Kita juga mesti melihat apakah memang dia berusaha, apakah memang ini sesuatu yang sukar untuk dia lakukan, kalau kita melihat dia berusaha namun sesuatu yang sukar dia lakukan, otomatis toleransi kita mesti bertambah. Jadi kita mendasarinya bukan atas standar kita, sebab mungkin saja standar kita terlalu tinggi atau tidak sama, kita mesti kembali lagi kepada orang tersebut. Kita mesti ingat latar belakangnya, misalnya pasangan kita memang biasa dituntut seperti itu oleh orangtuanya yaitu belajar, belajar dan belajar, sehingga sukar bagi dia untuk melihat prestasi anak kita tidak seperti yang kita inginkan. Nah kita jangan langsung marah, menyerang pasangan kita dan berkata, "Kamu kejam kepada anak." Kita harus memahami kenapa dia seperti itu, itulah standarnya dan karena itulah latar belakangnya. Jadi kita di sini pun mencoba menerima kenapa pasangan kita seperti itu tapi setelah itu kita berkata pada pasangan kita, "Ayo sekarang kita lihat anak kita, ayo kita lihat kemampuannya, ayo kita lihat apakah tuntutan kita ini menambah stres yang berlebihan kepadanya, apakah ini sesuatu yang kita inginkan dari anak kita; melihat dia tertekan seperti ini." Barulah setelah itu kita bernegosiasi dengan pasangan kita.
GS : Dari dua prinsip itu tadi berarti kita harus mencapai suatu keseimbangan yang tepat untuk anak itu?
PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi dua-dua baik kita maupun pasangan pertama-tama memang harus berbicara, dan dalam pembicaraan kita harus mengkomunikasikan pemahaman kita; kenapa pasangan kit menuntutnya seperti ini tapi setelah itu kita mesti melihat kembali anak kita, misalkan ini berkaitan dengan anak; apakah memang sesuatu yang bisa dilakukannya ataukah ini justru menimbulkan tekanan yang terlalu besar baginya.
Kita mesti duduk bersama, mengkompromikan bahwa kita tidak bisa menuntut anak seperti itu lagi.
GS : Kita sebagai orang-orang yang beriman kepada Tuhan, tentu Tuhan memberikan pedoman, memberikan prinsip-prinsipnya kepada kita melalui Alkitab. Mungkin Pak Paul bisa sampaikan ayat-ayat yang tepat untuk hal ini?
PG : Kita akan melihat sekurang-kurangnya ada 7 ayat, mungkin pada kesempatan ini kita hanya bisa membahas beberapa dari 7 ayat ini. Yang pertama saya akan ambil dari Efesus 4:25, "Karena itu uanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota."
Bantal pertama yang kita harus ciptakan dalam keluarga kita adalah kita mesti berkata benar, artinya tidak boleh ada kebohongan di dalam relasi kita. Sudah tentu ini diawali oleh relasi orangtua, kalau suami-istri tidak mempunyai hubungan yang harmonis, sering ada dusta-sukar kita mengharapkan atau menuntut anak-anak untuk berkata benar kepada kita. Memang ini harus dimulai dari kita sebagai orangtua yaitu berkata benar, artinya apa? Benar-benar kita mesti berdisiplin diri mengatakan yang benar apapun konsekuensinya. Kita jangan memulai dengan dusta-dusta kecil. Betapa banyaknya rumah tangga yang akhirnya disusupi dosa tapi malangnya diawali oleh dusta-dusta kecil itu. Jadi biasakanlah kita sebagai suami dan istri kita berkata benar kepada satu sama lain. Mungkin akan ada yang bertanya, tapi bagaimana kalau gara-gara berkata benar kita bertengkar? Kalau itu adalah konsekuensinya gara-gara kita mengatakan yang benar, ya tidak apa-apa.
GS : Mengenai dusta ini banyak orang mengatakan bahwa itu sudah mendarah daging dalam diri saya. Sehingga dia merasa tidak bisa meninggalkan dustanya. Ini bagaimana Pak Paul?
PG : Ada orang-orang tertentu yang dibesarkan dalam latar belakang seperti ini. Mereka sering kali diancam, penuh dengan ketegangan dan ketakutan; kalau melakukan kesalahan pasti nanti dipukuloleh orangtua dan dipukulnya dengan berlebihan sehingga akhirnya mereka belajar untuk berdusta.
Sebab kalau mengatakan yang benar, konsekuensinya terlalu berat, atau mereka dituntut untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa mereka capai dan kalau tidak bisa mencapainya akan ada konsekuensi yang berat. Nah supaya bisa menyelamatkan diri, anak-anak ini mulai berbohong, seolah-olah mencapai apa yang dituntut oleh orangtuanya, itu akhirnya mereka menjadi pembohong. Yang berikutnya ada anak-anak yang mau banyak hal tapi tidak bisa punya, mungkin karena keadaan ekonomi. Akhirnya anak-anak ini mulai berdusta untuk mendapatkan sesuatu. Meminta uang, bilangnya untuk uang sekolah padahalnya untuk membeli sesuatu. Jadi karena tekanan ekonomi berdusta pada orangtua untuk mendapatkan uang supaya bisa membeli apa yang diinginkannya. Apa pun itu yang menjadi masalah adalah kalau tetap dibawa sampai usia dewasa ini akan menjadi problem, dan ada orang-orang yang akhirnya tidak lagi mempunyai hati nurani. Tatkala berdusta dia tidak lagi merasa bersalah, sama sekali tidak lagi merasa bersalah. Benar-benar dengan wajah yang penuh ketulusan dia bisa mengatakan sesuatu yang adalah dusta. Bagaimana kita menghadapi orang yang seperti ini? Kita tidak bisa tidak harus memperhadapkan dia dengan fakta, nomor dua dengan orang yang cenderung berdusta kita tidak usah terlibat dalam perdebatan, yang penting kita hadirkan fakta setelah itu kita katakan kepadanya, "Kita tidak usah berdebat, fakta sudah berbicara; kamu tidak usah lagi membela diri." Jadi kita biasakan tidak lagi memperpanjang karena itulah yang dia inginkan, dia ingin bisa membenarkan dirinya, memutarbalikkan fakta dan sebagainya. Tidak demikian, selama kita bisa temukan faktanya, kita hadirkan di matanya. Berarti kita harus memberikan konsekuensi, pada akhirnya mungkin kita akan berkata kepadanya, "Saya tidak bisa mempercayakan kamu tentang hal ini, saya tidak bisa mempercayakan kamu dengan hal itu." Mengapa? "Sebab saya tidak bisa lagi mengetahui sesungguhnya apa yang terjadi, sebab apa pun yang kamu katakan berkemungkinan berisikan dusta." Jadi kita juga beritahukan konsekuensinya akibat dustanya itu.
GS : Memang sering kali orang berdalih karena untuk kebaikan pasangannya atau untuk kebaikan anaknya, sehingga dia membenarkan dirinya sendiri dengan berdusta.
PG : Kalau orang sudah mulai mempunyai prinsip tidak apa-apa berdusta, tinggal tunggu waktu dia akan berdusta besar. Jadi dalam hidup yang mesti kita tekankan adalah kita berkata jujur. Kenap saya sebut ini bantal, kenapa ini berkaitan sekali dengan aspek nyaman dan aspek mengganjal.
Karena tatkala kita mengalami konflik baik dengan anak maupun dengan pasangan, kalau sudah ada keterbukaan dan kita tahu baik pasangan maupun anak kita mengatakan yang benar maka konflik akan lebih mudah terselesaikan. Bayangkan seperti ini, kita tidak bisa percaya kepada anak karena anak kita sering berbohong, akhirnya waktu terjadi sesuatu dan konfrontasi anak dia menyangkal-kita tambah marah. Mungkin saja saat itu anak kita berkata benar, tapi karena terlalu sering dia berbohong, saat itu sewaktu kita mengkonfrontasinya kita tidak lagi memberi kepercayaan kepadanya. Dia marah karena tidak dipercaya sebab kali ini dia benar-benar berkata yang benar. Kita juga tidak terima sebab kita tidak ada bukti dia mengatakan yang benar, akhirnya pertengkaran menjadi lebih besar. Atau dengan pasangan juga sama, tapi kalau anak kita biasanya berkata jujur kemudian ada sesuatu terjadi, kesalahpahaman muncul kita tanya dia dan dia menjawab, dan jawabannya itu kita terima sebagai kebenaran maka berhentilah konflik. Sama dengan pasangan juga, kita tanya pasangan kita dia menjawab kalau kita sudah percaya kepadanya sebab dia selalu berkata jujur di masa lampau maka kita akan menerima jawabannya itu dan kita akan sudahi kecurigaan kita.
GS : Di dalam Efesus 4:25 tadi juga dikatakan berkata benar kepada seorang akan yang lain karena kita adalah sesama anggota, ini maksudnya apa Pak Paul?
PG : Paulus membahas dari konteks kita adalah anggota tubuh Kristus. Apakah sesama anggota tubuh akan saling melukai satu sama lain, bukankah logikanya tidak. Tangan kiri kita tidak mau meluki tangan kanan kita, jari kita tidak akan mau melukai biji mata kita, jadi anggota tubuh tidak akan dengan sengaja mau melukai diri kita.
Kita mesti menyadari bahwa pasangan dan anak adalah satu dengan kita. Kita ini satu keluarga, satu tubuh masakan satu tubuh saling melukai, saling mendustai, tidak mungkin dan tidak seharusnya, maka kita harus ingat firman Tuhan ini. Bukan satu tubuh dalam pengertian anggota tubuh di dalam gereja, tapi kita dalam keluarga satu tubuh Kristus pula maka kita harus menjaga relasi ini dengan cara tidak mendustai atau melukai satu sama lain. Ini adalah pangkal yang sangat penting, kalau kita sekarang berbicara dengan orang-orang yang mengalami problem dalam rumah tangga mereka dan pasangan mereka berdusta berkali-kali di masa lampau, mereka pasti akan berkata kepada kita, "Betul, gara-gara terlalu banyak berdusta, tidak pernah ada yang benar yang mereka katakan, bagaimana sekarang kami bisa percaya." Akhirnya masalah tidak bisa selesai sebab apapun yang dikatakan oleh seseorang atau oleh pasangannya dia akan berkata saya tidak percaya, atau kebalikannya orangtua terlalu sering berdusta dan anak tidak bisa lagi pegang omongan orangtua, apapun yang orangtua katakan sekarang-anak tidak mau lagi mempercayainya. Jadi benar-benar kalau tidak ada kebenaran maka tidak ada bantal, berarti tidak ada yang dibahagiakan dan nomor dua kalau ada konflik, konflik itu benar-benar bisa meledak besar.
GS : Selain bantal yang pertama yaitu berkata benar, bantal yang berikutnya apa Pak Paul?
PG : Bantal berikutnya adalah di Efesus 4:26,27, "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepaa iblis."
Ayat ini berbicara langsung tentang emosi. kita tahu salah satu emosi yang benar-benar berkekuatan tinggi adalah emosi marah. Maka firman Tuhan meminta kita untuk mengelola emosi marah kita dengan baik, jangan sampai kita dikuasai oleh emosi marah ini. Alkitab tidak melarang kita untuk marah, firman Tuhan meminta kita untuk menguasainya, mengaturnya, maka firman Tuhan berkata, "waktu marah jangan berdosa." Artinya jangan waktu marah kita mengatakan hal-hal yang malah menghancurkan orang, menghina orang; boleh ungkapkan kemarahan tapi jangan serang orang, menghina orang, mencaci maki orang, menjatuhkan orang, jangan itu yang dilakukan. Katakanlah, saya marah, saya kecewa dan sebagainya tapi jangan langsung mengumpat-umpat orang, itu melewati batas dan masuk ke dalam dosa. Prinsip berikutnya yang firman Tuhan katakan tentang emosi marah adalah jangan berikan kesempatan kepada iblis. Bagaimanakah kita bisa memberikan kesempatan kepada iblis? Sewaktu kita membiarkan emosi marah itu berkobar terus. Kita jangan sengaja menambahkan minyak ke emosi marah, waktu marah jangan ingat yang dulu-dulu supaya kemarahan kita tetap berkobar; jangan ingat-ingat lain kali saya tidak akan mau memaafkan kamu; justru waktu marah kita mencoba untuk bisa meredakan kemarahan kita. Makanya firman Tuhan berkata, jangan sampai kita menyimpan kemarahan ini terus sampai matahari terbenam, sebab kalau kita melakukan hal itu kita membuka diri kita untuk disusupi iblis. Iblis senang melihat kemarahan yang tak terkendali dalam diri kita, bagi iblis ini pintu masuk. Dia akan masuk, dia akan terus taburkan minyak, dia akan tuangkan minyak kemarahan sehingga kita akhirnya tidak bisa lagi menguasai diri kita. Jadi point pertama yang ingin ditekankan bagi kita di sini adalah kita mesti mengendalikan emosi kita.
GS : Sering kali kita mesti menghadapi pasangan kita yang marah atau orangtua kita yang marah, kalau kita dipihak yang dimarahi, bagaimana kita bersikap supaya emosi pasangan kita itu jangan sampai meledak-ledak?
PG : Kita mesti melihat pasangan kita dengan tepat, ada orang yang justru kalau kita menjawab emosinya bertambah, tapi ada orang kalau kita berdiam diri dengan harapan emosinya mereda-dia tamba marah.
Maka penting kita mengenal pasangan kita atau kalau kita adalah anak-penting untuk mengenal orangtua kita. Apakah yang tepat, memberinya jawaban, menjelaskan atau yang tepat justru tidak memberikan jawaban atau penjelasan. Jadi itulah respons yang mesti kita berikan, namun sebagai pihak yang marah-waktu kita menjaga emosi kita, kita juga mesti menjaga lidah kita. Sebab kadang-kadang pihak yang dimarahi, OK-lah dia salah tapi kita yang marah ini kadang-kadang tidak bisa menjaga lidah malah akhirnya dengan lidah kita, kita membuat dia marah balik. Jadi kadang-kadang dengan lidah kita, kita memancing orang untuk bereaksi tambah marah atau benci kepada kita. Firman Tuhan meminta kita mengendalikan emosi dan lidah sebab biasanya dengan lidah dan emosi kita menghancurkan satu sama lain. Ini bantal, sebab waktu pasangan kita marah kita juga akhirnya marah, namun kalau kita menahan emosi mengendalikan lidah maka problem atau konflik itu tidak akan berkobar terlalu besar. Dan waktu kita dikenal oleh pasangan sebagai orang yang bisa mengendalikan emosi maka pasangan pun akan merasa aman waktu dia mengeluarkan uneg-unegnya. Ini penting Pak Gunawan, sebab kadang kala kita tidak berani mengutarakan kemarahan kita sebab kita tahu pasangan kita tidak bisa mendengar kemarahan kita. Waktu dia mendengar kemarahan kita, meledaklah dia dan kemarahannya berkali lipat lebih mengerikan. Susah kalau kita harus hidup dengan orang seperti itu, bagaimana kita bisa mengutarakan kemarahan sebab kemarahan dia nanti akan benar-benar besar dan mengerikan.
GS : Memang masalah kemarahan ini sulit, sering kali kata-kata kita itu lebih menyakitkan daripada tamparan atau pukulan, membekasnya jauh lebih dalam daripada orang itu dipukul secara fisik. Bantal yang lain apa Pak Paul?
PG : Bantal yang ketiga adalah saya ambil dari ayat 28, "Orang yang mencuri, janganlah mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, upaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan."
Ayat ini ayat yang meminta kita untuk hidup berdisiplin, makanya bekerjalah, jangan mencuri, lakukanlah pekerjaan yang baik dengan tangan sendiri. Jadi benar-benar rasul Paulus meminta kepada kita untuk hidup berdisiplin, hidup bertanggung jawab. Coba kita terapkan dalam keluarga kita, kita pun mesti memiliki hidup yang berdisiplin, misalkan tidur, makan secara teratur, bekerja dengan rajin, kita melakukan kewajiban rumah tangga. Mengapa ini penting sebab kemalasan menggerus respek, dan jika kita tidak melakukan kewajiban masing-masing, orang lain akan mengambil alih; ini menjadi awal malapetaka keluarga. Mestinya kita bekerja tapi kita tidak mau bekerja malas-malasan, akhirnya pasangan kita yang bekerja, anak kita yang harus bekerja. Waktu mereka mengambil alih tanggung jawab kita mereka juga akan mengambil alih otoritas kita. Mungkin kita tidak bisa terima, kita marah-marah tapi kita harus melihat kenapa sampai begini, kenapa sampai keluarga kita terpecah belah seperti ini. Itu gara-gara kita yang tidak mau melakukan tanggung jawab kita. Jadi penting sekali bantal keluarga hidup berdisiplin ini kita lakukan di rumah. Kalau kita mempunyai konflik dengan pasangan kita tapi kita tahu pasangan kita hidupnya berdisiplin, bekerja dengan penuh tanggung jawab dan rajin, itu sudah menjadi bantal, itu sudah menjadi respek; kita tidak terlalu menyerangnya sebab kita respek kepada dia. Tapi kalau kita tidak ada lagi respek kepadanya waktu kita bertengkar maka pertengkaran itu bisa berkobar dengan lebih besar.
GS : Saya melihatnya bukan hanya disiplin, tapi juga dituntut kejujuran, Pak Paul?
PG : Betul sekali, hidup berdisiplin memang terkait dengan kejujuran.
GS : Memang banyak aspeknya kadang-kadang orang itu bukan tidak mau bekerja tapi masalahnya belum mendapat pekerjaan.
PG : Kalau itu yang terjadi, yang mesti kita tunjukkan adalah kita tetap berusaha. Misalkan kita mencari pekerjaan, kita melamar pekerjaan dan sementara belum mendapatkan pekerjaan itu kita mebantu pekerjaan di rumah.
Anak minta bantuan kita mungkin untuk menolong pelajarannya, atau membelikan apa untuk dia, misalkan membersihkan rumah, kita lakukan semua itu. Dari tindakan seperti itu pasangan kita bisa menilai, meskipun kita belum mempunyai pekerjaan, kita bukan orang malas. Jadi yang sering kali menurunkan respek adalah sewaktu orang melihat kita tidak berusaha. Itulah nanti yang membuat orang berpikir kita malas, waktu kita dicap malas respek memang sudah langsung merosot.
GS : Rupanya kita harus mengakhiri perbincangan ini walaupun baru kita bicarakan tiga dari tujuh bantal yang Pak Paul sudah siapkan ini. Jadi selain kita harus berkata benar, kita juga harus mengendalikan emosi dalam kemarahan dan juga mencuri. Masih ada empat bantal lagi yang akan kita bicarakan pada kesempatan yang akan datang. Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Bantal Keluarga" bagian pertama. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristesn (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Prinsip Ekuilibrium
Keseimbangan antara saling mengakomodasi dan saling membangun.
Mengakomodasi
Menoleransi dan menerima "kelemahan" pasangan dan anak.
Membangun
Melakukan hal-hal yang "menyenangkan" hati pasangan dan anak. Inilah bantal keluarga!
Tujuh Prinsip Membangun Bantal Keluarga (Efesus 4:25-32)
Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain karena kita adalah sesama anggota (ayat 25).
Berdisiplin diri untuk mengatakan kebenaran apa pun konsekuensinya.
Ingatlah: Semua mulai dari dusta kecil!
Suami, istri dan anak lebih dari sekadar sesama anggota: Kita adalah satu!
Apabila kamu menjadi menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis (ayat 26-27).
Kendalikan emosi.
Kendalikan lidah.
Mengapa? Dengan lidah dan emosi kita menghancurkan satu sama lain dan membuka pintu kepada Iblis untuk masuk.
Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan (ayat 28).
Hidup berdisiplin, misalnya tidur dan makan secara teratur, bekerja dengan rajin.
Lakukan kewajiban rumah tangga.
Ingatlah: Kemalasan menggerus respek dan jika kita tidak melakukan kewajiban masing-masing, orang lain akan mengambil alih. Inilah awal malapetaka keluarga!
Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun di mana perlu supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia (ayat 29).
"di mana perlu" berarti "sesuai dengan kebutuhannya." Jadi, kenalilah kebutuhan pasangan dan anak-anak, kemudian penuhilah.
Gunakan kata-kata untuk membangun satu sama lain agar lebih percaya diri dan menjadi diri mereka yang terbaik.
Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan (ayat 30).
Menjauhlah dari dosa.
Hiduplah benar.
Ingatlah: Dosa menghancurkan keluarga!
Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra ... (ayat 32).
Perbuatlah hal-hal yang "baik."
Belas kasihan muncul dari simpati.
Kebaikan dan belas kasihan keluar dari hati yang penuh kebaikan dan belas kasihan.
... dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (ayat 32).
Kita mengampuni karena Tuhan memerintahkan kita untuk mengampuni.
Pengampunan dan rasa terluka jalan bergandengan.
Pengampunan berarti, "Saya tidak membalas!"
Pengampunan berjalan melalui doa pengampunan.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Dengan bertambahnya kasus selingkuh dan retaknya ikatan nikah, akan makin bertambah pulalah kasus susah percaya pada anak-anak, yang nantinya dibawa masuk ke dalam pernikahan mereka sendiri. Marilah kita lihat dampak masalah orang tua pada rasa percaya anak dan bagaimana pada akhirnya kurangnya rasa percaya mempengaruhi pernikahan sekaligus jalan keluar untuk bisa dipercaya.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Susah Percaya". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Memang kita melihat akhir-akhir ini, khususnya anak atau remaja tidak mudah percaya kepada orang tuanya. Jadi berdampak juga pada percaya kepada Tuhan, terlihat dengan orang tuanya saja mereka susah percaya apalagi dengan Tuhan yang untuk mereka merupakan sesuatu yang masih konsepnya abstrak seperti itu. Dan ini apa penyebabnya, Pak Paul?
PG : Memang kita bisa menyimpulkan, Pak Gunawan, kalau rasa percaya yang paling mendasar sudah tidak lagi bertumbuh dengan sehat maka dampaknya akan kemana-mana. Tadi Pak Gunawan sudah katakan ahwa kepada Tuhan pun akan susah memberikan kepercayaan dan apalagi setelah menikah dengan pasangannya dan sebagainya.
Kenapa ada anak-anak yang akhirnya susah percaya ? Coba sekarang kita lihat relasi orang tua dan anak dalam perkembangan rasa percaya, kita mesti tahu bahwa anak belajar percaya atau tidak percaya berdasar dari relasinya dengan orang tua. Pada masa kecil anak bergantung penuh pada pemeliharaan orang tua. Jadi rasa percaya anak bertumbuh seiring dengan seberapa bertanggung jawab dan konsistennya orang tua dalam menyediakan kebutuhan anak, baik itu kebutuhan jasmaniah maupun emosional. Makin bertanggung jawab dan konsisten maka makin bertumbuh rasa percaya anak dan sebaliknya makin kurang kehadiran orang tua dan makin tidak konsisten perlakuan orang tua dalam menyediakan kebutuhan anak maka akan makin terhambat pulalah pertumbuhan rasa percaya anak. Dengan bertambahnya kebutuhan orang tua dewasa ini, lebih besar kemungkinan akan makin kurang tersedianya kebutuhan emosional anak dengan konsisten. Alhasil di masa mendatang masalah kurang percaya akan bertambah pula, hal-hal kecil misalkan anak meminta perhatian orang tua kemudian orang tuanya lupa akhirnya tidak terpenuhi atau orang tua sudah berjanji tapi kemudian ada urusan lain sehingga janjinya batal atau minta dibacakan, nanti malam cerita tapi tiba-tiba ada telepon sehingga orang tuanya tidak bisa membacakan. Maka makin tidak konsisten dan kurang tersedianya kebutuhan atau hal-hal yang dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya maka akhirnya rasa percaya anak berkurang. Bagaimana bisa percaya ? Sebab kalau sudah meminta tidak diberikan, tapi kalau tidak meminta sama sekali maka akan lebih tidak diberikan, akhirnya terganggulah pertumbuhan rasa percaya itu.
GS : Dan sulitnya bagi anak, kita sebagai orang tua memberikan penjelasan atau alasan serasional apa pun mereka sulit menerimanya, Pak Paul.
PG : Betul sebab itulah kondisi si anak, memang anak belum mempunyai kemampuan dalam memahami hal-hal itu, sebab yang dirasakan itulah yang dia rasakan, yang dia perlu itulah yang dia perlukan an memang sedapat-dapatnya kita sebagai orang tua mesti konsisten memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan anak-anak itu.
Makin bertanggung jawab, makin konsisten, makin mudah anak mengembangkan rasa percaya. Jadi sekali lagi saya ingatkan berhati-hatilah kita sebagai orang tua, apalagi dengan janji-janji yang kita buat dengan anak, "Nanti ya, besok," kemudian tidak jadi dan tidak jadi akhirnya anak berkata "Tidak bisa percaya lagi." Mau cerita kepada orang tua tentang sesuatu yang terjadi, mau cerita dan sudah menggebu-gebu tapi orang tuanya tidak pulang dan malam baru pulang dan malam pun anak melihat orang tua sudah lelah. Itulah yang saya maksud dengan kurang konsistennya orang tua dalam menyediakan kebutuhan anak.
GS : Dan di sana yang dibutuhkan adalah kehadiran fisik dari orang tua, sehingga tidak cukup hanya di telepon dan sebagainya.
PG : Tepat sekali Pak Gunawan. Kita tidak bisa menyediakan kebutuhan anak lewat email, sms atau telepon.
GS : Ada hal lain, Pak Paul?
PG : Yang lain adalah anak belajar percaya atau tidak percaya dari relasi orang tua satu sama lain. Tatkala anak melihat relasi orang tua hangat, harmonis maka anak akan belajar menyimpulkan bawa dalam hidup ini dia dapat dan aman mempercayai satu sama lain.
Sebaliknya bila anak melihat betapa buruknya relasi orang tua, ia akan menyiratkan bahwa dalam hidup dia tidak dapat dan tidak aman mempercayakan diri pada orang lain. Misalnya dalam kasus perzinahan orang tua, rasa percaya anak akan mencapai titik terendah, ia akan menyimpulkan bahwa tidak ada orang yang layak dipercaya terutama orang yang paling dekat dengannya. Alhasil sewaktu menikah anak itu akan membawa rasa percaya pada pasangannya. Sebab sekali lagi itulah yang dilihatnya, orang tua kok seperti itu, tidak harmonis, saling menyakiti, berarti saya harus berhati-hati, berjaga-jaga.
GS : Dalam hal ini apakah anak tidak bisa berpikir sebaliknya Pak Paul, jadi melihat orang tuanya seperti itu kemudian dia punya pikiran yang lainnya, Pak Paul?
PG : Tidak mudah karena sesuatu yang kita lihat berulang-ulang pada akhirnya itu akan mencetak cara pikir kita, pola kita berelasi dengan orang. Dan yang kedua adalah kita melihat juga bahwa orng tua kita dulunya pasti hidupnya baik, harmonis saling mengasihi dan sekarang bisa sampai seperti ini.
Akhirnya kita berkata, "Kalau itu bisa terjadi pada orang tua, mungkin itu juga akan terjadi pada diri saya." Mula-mulanya baik, saling mengasihi dan akhirnya begini. Apalagi kalau ditambah obrolan-obrolan dengan orang tua yang mengatakan hal itu, "Dulu Papamu sabar dengan saya, makanya saya nikahi dia, Mama dulu sangat percaya tapi sekarang sudah menikah, kamu bisa melihat seperti ini." Akhirnya si anak melihat, "Iya ya dulu sayang, dulu sabar dan sekarang begini. Kalau begitu, itu bisa pula terjadi pada pernikahan saya," itu sebabnya nanti waktu anak menikah, belum apa-apa sudah membawa rasa was-was pada pasangannya.
GS : Mungkin itu yang kita pernah bicarakan pada waktu yang lalu bahwa sejarah buruk bisa berulang lagi, Pak Paul.
PG : Tepat. Akhirnya yang kita tidak harapkan terjadi, malah terjadi lagi, tapi kita memang punya andilnya, kita sudah membawa rasa susah percaya itu.
GS : Pak Paul, bagaimana hubungan susah percaya ini di dalam suatu hubungan nikah.
PG : Jadi akhirnya begini Pak Gunawan, relasi nikah cenderung menghidupkan kembali semua perasaan dan reaksi yang dialami pada masa kecil. Relasi nikah mengingatkan kita akan relasi nikah orangtua sekaligus membangkitkan perasaan yang dialami bagi anak.
Jadi bila rasa tidak percaya menandai masa kecil kita, maka rasa tidak percaya cenderung dihidupkan kembali dalam pernikahan, kadang-kadang kita tidak menyadarinya bahwa kita punya masalah ini, setelah kita menikah baru kita sadar karena di dalam pernikahan semua perasaan itu dibangkitkan kembali, karena apa ? Pernikahan kita memang bukan peringatan akan keluarga kita dulu. Saya berikan contoh yang lebih gampang. Kita dulu misalkan dalam kondisi malam di tengah jalan dan tiba-tiba kita diserempet, maka sejak kejadian itu kalau malam gelap, kita berhati-hati sekali dan tidak terlalu dekat dengan pinggir jalan, tidak mau diserempet lagi. Tapi kapan kita berhati-hati sekali? Tatkala malam gelap. Berarti situasi yang sama menghidupkan relasi yang dulu. Dalam pernikahan juga begitu, waktu kita bersama lagi dengan orang yang kita cintai dekat dengan kita, tiba-tiba semuanya kembali hidup.
GS : Dalam hal ini, apakah kita tidak terlalu curiga kepada pasangan, Pak Paul?
PG : Saya kira ya. Jadi meskipun kita tidak sadari waktu akhirnya muncul rasa kurang percaya itu, jarang menempati ukuran yang tepat Pak Gunawan. Seringkali ukurannya memang lebih, akhirnya modl tidak percayalah yang lebih kuat menandai pernikahan kita.
GS : Dalam hal ini pasangan yang dirugikan, Pak Paul.
PG : Sebenarnya ya, dari awalnya dia tidak salah apa-apa tapi dia sudah dapat tuduhan kurang, dianggap tidak bisa dipercaya, memang dia yang mengalami kerugian besar.
GS : Yang lainnya apa, Pak Paul ?
PG : Jadi begini akhirnya orang yang kurang percaya itu memasuki pernikahan dengan modal tidak percaya dan yang terjadi akan mengembangkan rasa tidak aman. Rasa tidak aman itu akhirnya mengemuk dalam bentuk kecemasan, dia tidak bisa percaya, rasanya cemas, tidak aman.
Karena kita tidak suka dengan rasa tidak aman, rasa tidak damai, kita berupaya keras mengatasi kecemasan kita. Biasanya ada dua langkah yang kita ambil untuk mengurangi kecemasan. Pertama adalah kita membatasi ruang gerak pasangan kita dan yang kedua kita memonitor ruang geraknya sebab bukankah ruang gerak yang sempit lebih memudahkan kita memonitor, pada akhirnya membatasi dan memonitor menjadi corak relasi nikah. Misalkan kita membatasi lewat larangan, kamu tidak boleh keluar malam ini, kamu jangan pergi dengan dia, kenapa kamu harus ke rumah orang tuamu lagi. Larangan-larangan itu adalah upaya membatasi, sekali lagi tujuan dibatasi agar dia hidup di depan mata kita dan kita bisa pandang dia, kita lebih tenang. Kita juga akan memonitor pasangan kita dengan meminta tuntutan pertanggung jawaban, misalnya kita ingin selalu tahu apa yang dilakukan pasangan, dengan siapa dia melakukannya, mengapa dia melakukannya ? Misalkan dalam soal bepergian, kita ingin tahu, bukan hanya yang dilakukan, dengan siapa dia pergi ? Kita pun ingin tahu mengapa dia harus pergi dengan orang tersebut dan kenapa bukan dengan orang lain. Jadi memonitor, membatasi inilah yang kita terus lakukan dengan pasangan agar kecemasan kita reda, tapi sekarang kita bisa lihat, itu pasti berdampak pada pasangan kita.
GS : Membatasi dan memonitor bukan suatu perbuatan yang mudah, Pak Paul, karena ruang gerak pasangan kita luas apalagi dia seorang yang lincah, seorang yang cerdik. Kalau kita merasa dibohongi maka akan menjadi sakit lagi.
PG : Ironisnya begini Pak Gunawan, orang yang kurang percaya seperti ini seringkali menikah dengan orang yang lincah yang memang suka bergaul ke sana ke sini, kenapa dia memilih orang seperti ii? Sebetulnya karena di dalam hatinya mempunyai keinginan yang seperti itu, dia ingin menjadi orang yang bebas tapi dia tidak bisa karena apa yang dialaminya di masa kecil.
Jadi dia menjadi orang yang terikat dan bukan bebas. Masalahnya adalah waktu dia menikah, dia memang memilih orang yang bebas karena sebenarnya dia senang dengan hidup yang bebas, tapi dia malah membatasi kebebasan pasangannya supaya kecemasannya reda, supaya ketakutannya hilang, supaya rasa percayanya bisa ada. Tapi untuk ada rasa percaya, dia harus batasi, dia harus memonitor terus menerus sehingga akhirnya pasangannya keberatan. Kalau pasangannya memang orangnya bergantung, pasif, maka dia akan selalu setuju walaupun dia dibatasi, dimonitor. Namun kalau dia tidak punya masalah dengan kebergantungan, dia pasti menolak pembatasan ini, dia juga pasti tidak suka untuk dimonitor. Memang ini menjadi dilema, di satu pihak kita harus simpati dengan orang yang susah percaya, kita mengerti kalau dia ingin memastikan bahwa jangan sampai ada hal-hal yang tidak berkenan itu terjadi, hal-hal yang buruk itu terjadi, dia tidak mau sejarah berulang dalam keluarganya sehingga dia menjaga sekali tapi dengan harga yang mahal, kebebasan orang dipasung, sehingga akhirnya orang tidak bisa melakukan yang dia senang lakukan, semua demi orang ini akhirnya bentroklah yang terjadi.
GS : Kalau pun orang bisa membatasi atau memonitor, sifatnya sangat terbatas, saya rasa, Pak Paul.
PG : Tidak bisa tuntas akhirnya yang menjadi masalah adalah reaksi yang pertama orang itu memberontak, tidak suka, dia melawan, dia berkata, "Saya tidak mau dibatasi seperti ini dan saya tidak au mempertanggungjawabkan semuanya kepadamu, saya tidak mau punya majikan di rumah," orang itu memberontak, kalau dia memberontak akhirnya adalah berkelahi, melawan, tidak diberi izin dia tetap pergi, tidak boleh tapi dia tetap lakukan, kadang-kadang dia malah sengaja melakukan.
Atau kalau dimonitor dimintai pertanggungjawaban, dia tidak mau memberi tahu, dia berkata "Kenapa saya harus beritahu kamu, saya tidak harus memberitahu kamu." Jadi makin terpaut dan makin terpaut. Dan pihak yang susah percaya makin mengejar sebab dia makin ketakutan, dia makin cemas, dia sudah mencium bahaya, tinggal tunggu waktu musibah terjadi karena pasangan saya benar-benar akan lepas, dia makin mencoba untuk makin membatasi. Atau reaksi kedua adalah orang ini akan berkata, "Saya tidak suka dibatasi, saya tidak suka dimonitor maka saya akan sembunyikan." Mulailah perilaku "kucing-kucingan", dia pergi ke sana tapi dia bilang pergi ke situ, dia pergi dengan si A tapi dia pergi dengan si B, mulailah pola berbohong ditanamkan dalam keluarga ini. Kita tahu dua-duanya itu salah, dua-duanya tidak sehat. Apalagi biasanya yang terjadi adalah karena susah percaya, jadi dia mengecek apa benar dia pergi dan dia menelepon orang lain, kemudian ketahuan kalau tidak pergi berarti terbukti kamu tidak bisa dipercaya, kamu menyalahgunakan kepercayaan saya.
GS : Kalau mereka dikaruniai anak, biasanya anak-anak diajak memihak ke salah satunya, Pak Paul. Entah memihak kepada yang mencurigai atau yang dicurigai.
PG : Sudah tentu yang dicurigai akan mengumpulkan bukti-bukti atau dalih-dalih yang memperkuat posisinya, "Lihat Papamu tidak bisa dipercaya," tapi yang dicurigai akan juga berkata kepada anakna, "Saya tidak tahan lagi, saya tidak berbuat apa-apa tapi terus-menerus dicurigai, saya salah apa? Saya pernah berbuat apa? Kenapa terus-menerus begini."
Akhirnya Pak Gunawan, anak-anak seringkali terbelah, ada yang memihak pada yang mencurigai ada yang memihak pada yang dicurigai. Dan yang memihak pada yang dicurigai akan berkata, "Kasihan, kenapa Papa diperlakukan seperti itu." Jadi akhirnya keluarga pun terbelah semuanya.
GS : Sangat berkesan bagi anak-anak dan pasti bisa berdampak kalau nanti dia dewasa.
PG : Betul sekali dan yang seringkali terjadi sebetulnya pada keluarga mereka sebelumnya, bukankah itu yang mereka alami tapi akhirnya mereka lestarikan kembali masalah yang sama dan yang serin terjadi adalah kalau pihak yang susah percaya merasa dia makin kehilangan kendali biasanya reaksinya adalah dia merasa mencoba menguasai.
Makin mencoba menguasai, misalkan dia akan telepon si A dan si B, dia akan tanya si A dan si B, benar tidak suami saya ke sini dan sebagainya, dia muncul di kantor dan sebagainya. Pihak yang dicurigai makin tidak suka, dan makin menutup arus informasi, dia makin tidak mau memberitahu, benar-benar akhirnya terjadi bentrokan. Dan dalam kondisi seperti itu sangat mudah orang untuk jatuh ke dalam dosa perzinahan sebab dia akan berkata, "Tidak bisa lagi hidup dengan pasangan saya dan saya sudah dituduh berkali-kali meskipun saya tidak berbuat, berarti sekalian saja," akhirnya dia terperangkap masuk ke dalam godaan iblis.
GS : Ini menjadi benih perpecahan atau benih perceraian, Pak Paul.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan.
GS : Dan seringkali orang berdalih untuk melindungi keluarga. Jadi dia merasa perlu memonitor, perlu membatasi dan sebagainya, dengan tujuan supaya keluarganya utuh.
PG : Maka kita simpati, Pak Gunawan, dengan problem yaitu dia takut sekali rumah tangganya berantakan, dia takut sekali nanti semuanya seperti yang dia lihat dulu dalam orang tuanya yaitu kehanuran itu.
Maka dia berusaha keras menjaganya namun cara dia salah, dia sendiri tidak bisa mengontrol caranya itu. Dan reaksi yang lain adalah kalau dia tidak berhasil dalam menguasai maka dia akan menarik diri. Ada orang-orang yang akhirnya benar-benar menarik diri, tidak mau lagi ikut campur dan mendiamkan pasangannya, maka dia akan diam tapi dengan dia diam sebetulnya tengah mengalami depresi. Dia akhirnya menyimpulkan pasangan saya tidak menyukai saya, dia juga tidak tahu pasangannya berbuat apa di luar sana, sehingga sudahlah saya diam saja tapi depresi berat. Akhirnya rumah tangga itu tetap terbelah.
GS : Kalau begitu jalan keluarnya apa Pak Paul ?
PG : Ada tiga hal yang ingin saya bagikan, yang pertama adalah kita harus terbuka dengan pasangan sebelum kita menikah, agar dia dapat memahami masalah ini. Ini penting dilakukan sebagai pengauan bahwa kitalah yang bermasalah dan bukan dirinya, seringkali karena kita tidak mau mengakui kalau kita yang bermasalah, kita menyalahkan pasangan, "Kamulah yang memang tidak layak dipercaya, kamulah yang kurang bijaksana dan sebagainya."
Padahal kitalah yang bermasalah, langkah pertama kita harus akui, kita yang bermasalah. Seringkali kalau kita sudah mengakui kita bermasalah, pasangan akan lebih rela untuk menerima kita asalkan kita akui kalau ini salah kita. Jadi misalkan waktu masalah muncul kita sudah cemas, pulangnya terlambat kemudian kita ingin marah, mungkin kita bisa berkata, "Sorry ya, saya memang punya masalah dengan kemarahan ini, saya sangat takut sekali sehingga saya tadi seperti itu." Dengan kita berkata begitu, otomatis pasangan akan bereaksi dengan lebih positif, dia akan berkata, "Baik saya mengerti, tidak apa-apa." Yang membuat pasangan tidak tahan adalah kalau dia disalahkan, jadi langkah pertama kita mesti pikul beban itu dan katakan, "Saya memang yang mempunyai masalah ini."
GS : Justru yang sulit adalah menyadari bahwa itu masalah saya dan bukan masalah pasangan. Yang sering kita tunjukkan adalah masalah pasangan dan bukan masalah saya, Pak Paul.
PG : Itu yang sering terjadi, maka yang telah kita bahas pada rekaman yang lampau seringkali sejarah masa lalu itu berulang karena kita tidak melihatnya sebagai masalah kita. Kadang-kadang kitamalah berbangga hati dengan masalah kita sehingga melestarikan sejarah yang buruk itu.
Jadi kita mesti mengakui bahwa ini masalah dan ini bukan masalah dia tapi masalah kita, kadang-kadang kita untuk lebih halusnya berkata, "Ini 'kan dua-duanya masalah pernikahan". Itu tidak selalu masalah pernikahan merupakan masalah dua orang. Kadang-kadang masalah pernikahan masalah satu orang. Jadi yang satu orang itulah yang mesti mengakui bahwa, "Baik, saya memang mempunyai masalah ini dan saya susah percaya," itu langkah pertama yang harus diambil.
GS : Tapi pengakuan itu juga membutuhkan respon yang positif dari pihak yang lain, kalau tidak maka lain kali tidak mau lagi melakukan itu.
PG : Betul sekali, jadi langkah berikutnya adalah setelah yang pertama itu, si pasangan mesti berusaha mengerti dan secara konkret menyesuaikan diri bukan hanya secara pikiran mengerti, tapi pebuatannya juga harus mengikuti.
Jadi misalkan kita butuh kepastian, kapan dia pulang ? Dengan siapa dia pergi ? dan sebagainya, maka tolong beritahukanlah. Jadi daripada ditanya-tanya, lebih baik beritahukanlah, kalau mau terlambat juga beritahukanlah, dengan pergaulan, kita juga katakan orang ini begini, orang ini begitu, mari kenalan dengan teman saya, mari kenalan dengan keluarga saya. Sehingga dengan kamu mengenal, kamu akan lebih aman, lebih damai dan tolong percayakan bahwa saya bisa. Jadi dengan kata lain sering-seringlah memberikan masukan, berkomunikasilah sebab makin berkomunikasi dia akan semakin lebih tenang. Jadi pasangan harus lebih berkompromi, memang dia akan berkata, "Saya tidak harus seperti itu, ini bukan salah saya," tapi ingat di dalam pernikahan dua-dua harus saling menyesuaikan sesuai dengan kelemahan masing-masing, seringkali kita berpikir dalam pernikahan kita harus menyesuaikan sesuai dengan kekuatan masing-masing, tidak! Yang paling susah adalah kita harus menyesuaikan diri dengan kelemahan pasangan. Jadi tolong pasangannya menyesuaikan, berkompromilah, lebih bersedialah untuk dimonitor, untuk dibatasi demi pasangan kita ini.
GS : Jadi selain memahami akan kelemahan diri kita, memahami kelemahan atau kebutuhan dari pasangan itu penting sekali di dalam hidup pernikahan, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Jadi kita memang harus pahami, kita juga harus munculkan belas kasihan bahwa dia pun sebetulnya tidak mau hidup terbelenggu seperti ini, dia pun sebetulnya ingin hidup bebas api tidak bisa.
Maka kita juga perlu turun tangan untuk menolongnya.
GS : Tadi Pak Paul katakan ada tiga dan yang ketiga apa, Pak Paul ?
PG : Ketiga adalah kita mesti bertumbuh dalam iman agar dapat berserah kepada Tuhan. Firman Tuhan mengingatkan di Matius 6:32-34, "Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu, bahwa kamu memerlukan smuanya itu.
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Meskipun masalah ini masalah psikologis, tadi kita sudah bahas Pak Gunawan, tapi penyelesaiannya rohani. Orang yang terus bersandar bahwa hidup ini dalam tangan Tuhan, dalam pemeliharaan Tuhan "Saya tidak harus mengontrol, saya tidak harus membatasi ada Tuhan yang bisa mengawasi." Waktu kita jadikan Tuhan sebagai tumpuan kita, maka kita pun akan jauh lebih tentram dan akhirnya tidak lagi terlalu di buru-buru dengan keinginan untuk menguasai pasangan.
GS : Dan juga pihak yang dikontrol atau pun yang dibatasi, berdasarkan ayat ini sebenarnya dia tidak perlu kuatir bahwa pasangan saya ini cemburu, pasangan saya ini terlalu curiga pada saya. Berdasarkan ini tadi, Pak Paul.
PG : Bisa juga. Memang dia mendasarinya pada yang sama yaitu memang ada Tuhan dan ini pun bisa Tuhan atur, Tuhan bereskan, saya juga perlu berkorban tapi nanti Tuhan bisa atur, Tuhan bisa beresan lagi.
GS : Makanya Firman Tuhan sangat dibutuhkan oleh pasangan suami istri ini supaya mereka sama-sama bisa berkaca dan melakukan apa yang Firman Tuhan katakan, Pak Paul.
PG : Betul, jadi pertanyaan akhirnya adalah berapa besarnya iman kita? Berapa mampunya kita berserah kepada Dia? Makin bisa berserah kepada Tuhan, akan makin banyak hal yang bisa dibereskan.
GS : Dan kita juga harus pikirkan bahwa kalau tidak melakukan Firman Tuhan ini, akan berdampak buruk kepada anak-anak yang akan melihat kehidupan pernikahan kita, Pak Paul.
PG : Tepat sekali. Jadi sebisanya kita hentikan pola yang tidak sehat ini.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Susah Percaya". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat
telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di
www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Dengan bertambahnya kasus selingkuh dan retaknya ikatan nikah, akan makin bertambah pulalah kasus susah percaya pada anak-anak, yang nantinya dibawa masuk ke dalam pernikahan mereka sendiri. Marilah kita lihat dampak masalah orang tua pada rasa percaya anak dan bagaimana pada akhirnya kurangnya rasa percaya mempengaruhi pernikahan.
Relasi orang tua dan rasa percaya anak
Anak belajar percaya atau tidak percaya dari relasinya dengan orang tua. Pada masa kecil anak bergantung penuh pada pemeliharaan orangtua. Jadi, rasa percaya anak bertumbuh seiring dengan seberapa bertanggung jawab dan konsistennya orang tua dalam menyediakan kebutuhan anak - baik jasmaniah maupun emosional.
Anak belajar percaya atau tidak percaya dari relasi orang tua dengan satu sama lain. Tatkala anak melihat relasi orang tua hangat dan harmonis, anak akan belajar menyimpulkan bahwa dalam hidup ia aman dan mempercayai satu sama lain. Dalam kasus perzinahan orang tua,rasa percaya anak akan mencapai titik terendahnya. Ia akan menyimpulkan bahwa tidak ada orang yang layak dipercaya - terutama orang yang paling dekat. Alhasil sewaktu manikah, anak itu akan membawa rasa tidak percaya pada pasangannya
Rasa tidak percaya dalam pernikahan
Relasi nikah cenderung menghidupkan kembali semua perasaan dan reaksi yang dialami pada masa kecil..
Orang yang memasuki pernikahan dengan modal tidak percaya, akan mengembangkan rasa tidak aman yang biasanya dalam bentuk kecemasan. Untuk mengatasi kecemasannya ia akan berusaha membatasi dan meminitor ruang gerak pasangannya.
Pada umunya kita membatasi lewat larangan dan dalam pernikahan, larangan berkaitan dengan pergaulan
Pada umumnya kita memonitor lewat tuntutan pertanggungjawaban. Jadi, kita akan selalu ingin tahu apa yang telah dilakukan pasangannya, dengan siapa dan mengapa ia melakukannya
Semua batasan dan monitor dilakukan dengan tujuan untuk memastikan bahwa pasangan tidak melakukan sesuatu hal pun yang tidak berkenan di hati kita.
Bila pasangan tidak berkeberatan dan memiliki kebergantungan yang tinggi, pembatasan dan pengawasan seperti ini ditoleransi.
Biasanya ada dua reaksi yang dimunculkan: ia akan memberontak dan kedua, dia akan meyembunyikan. Tidak jarang, ia justru akan melakukan apa yang dilarang.
Menghadapi hal seperti ini, pada umumnya kita akan berusaha menguasainya namun bila ini pun tidak berhasil, kita cenderung menarik diri. Relasi nikah pun retak.
Jalan keluar
Kita harus terbuka dengan pasangan sebelum kita menikah agar ia dapat memahami masalah ini.
Mintalah bantuannya untuk membuat kita bertumbuh dalam hal ini. Mintalah ia untuk berkompromi dengan kita dalam hal larangan dan pertanggunjawaban.
Kita mesti bertumbuh dalam iman agar dapat berserah kepada Tuhan. Firman Tuhan mengingatkan, "Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu jangan kuatir akan hari besok karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6:32-33)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Tuntutan keluarga yang tinggi terhadap seorang anak bisa menjadi suatu hal yang melatarbelakangi seseorang rentan terhadap depresi.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S. Psi. dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dan beliau berdua adalah pakar-pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat, yang kali ini kami beri judul "Tuntutan Keluarga dan Depresi". Bagian ini merupakan kelanjutan dari pembicaraan kami beberapa waktu yang lalu tentang mengenal depresi. Jadi kami percaya Anda yang sudah mengikuti perbincangan kami pada waktu yang lalu juga akan banyak mendapat sesuatu yang baru dari perbincangan kami kali ini. Akhirnya kami dari studio mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita sudah menguraikan panjang lebar tentang depresi. Tapi supaya pendengar-pendengar kita yang mungkin baru kali ini mengikuti pembicaraan ini bisa mengikuti perbincangan tentang tuntutan keluarga dan depresi, mungkin Pak Paul bisa mengulas secara singkat apa yang kita bicarakan beberapa waktu yang lalu.
PG : Depresi bisa menyerang siapapun tidak ada yang terkecuali, sebab depresi itu bisa muncul dengan mudah di dalam hidup seseorang yang tidak lagi seimbang. Tidak seimbang, dalam pengertian keampuan untuk menahan beban kehidupan itu tidak cukup sehingga akhirnya beban hidup menindih seseorang.
Gejala depresi bermacam-macam, yang paling umum adalah kehilangan minat atau gairah terhadap hal-hal yang biasanya diminati, biasanya disertai juga dengan kesulitan tidur, nafsu makan berkurang atau nafsu makan bertambah dengan drastis, gairah seksual menurun, ketegangan dan keresahan menandai hidupnya terus-menerus.
GS : Kalau kita bicara tentang tuntutan keluarga pasti ada di setiap rumah tangga, nah apakah itu juga berdampak pada seseorang yang rentan terhadap depresi itu?
PG : Yang melatarbelakangi pembicaraan kita pada saat ini adalah pengamatan saya bahwa ada orang-orang dewasa yang rentan terhadap depresi dan waktu saya selidiki, latar belakang keluarganya tenyata mereka mempunyai sesuatu yang umum atau yang sama antara satu dengan yang lainnya.
Yaitu mereka berasal dari keluarga di mana sejak kecil mereka telah menjadi tulang punggung keluarga. Apa yang saya maksud dengan tulang punggung keluarga adalah anak yang sangat diandalkan karena penuh tanggung jawab. Jadi apa-apa dia yang disuruh, apa-apa dia yang dipanggil atau anak yang tulang punggung ini adalah anak yang dianggap paling baik di antara anak-anak lainnya, sehingga dialah yang dituntut lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang lainnya. Yang lainnya lagi tulang punggung adalah anak yang dekat dengan salah satu atau kedua orang tuanya, sehingga anak ini menjadi tumpahan isi hati orang tuanya. Ada apa-apa dia yang dipanggil, diajak bicara, diceritakan masalah-masalah keluarga dan sebagainya. Dan yang terakhir tentang ciri anak yang disebut tulang punggung, sering kali anak ini bertumbuh dalam keluarga yang bermasalah, di mana perannya sebagai anak yang paling baik menjadi penting sekali. Dia harus menjadi pendamai di antara kedua orang tuanya, pelindung papanya atau mamanya, menjaga adik-adiknya jangan sampai mereka terlantar. Dengan kata lain anak yang disebut tulang punggung ini memang sungguh-sungguh menjadi tulang punggung keluarganya, di mana kakak adiknya atau orang tuanya bergantung pada dia sehingga dialah yang menopang kelanjutan kehidupan keluarganya itu. Saya perhatikan anak-anak yang disebut tulang punggung ini waktu bertumbuh besar dan misalkan suatu hari tidak mampu lagi menahan beban kehidupan, rentan sekali terhadap depresi.
GS : Padahal sebenarnya ciri-ciri yang tadi Pak Paul katakan sekilas itu kelihatan positif, saya rasa.
PG : Ya bukankah sebagai orang tua kita ini senang mempunyai anak yang seperti ini, Pak Gunawan, tapi sekali lagi anak-anak ini akhirnya sejak kecil dilatih atau dikondisikan untuk tidak hidup ormal.
Maksudnya normal, tidak hidup sebagaimana adanya, dia harus menjadi orang lain. Dia tidak bisa misalnya mengambek, tidak sekolah, dia tidak bisa bolos, dia tidak bisa mengatakan tidak suka. Sebab dia itu adalah anak yang diharapkan untuk senantiasa melakukan hal-hal yang baik untuk keluarganya. Jadi kalau dia ingin menjadi dirinya apa adanya, yang dia akan terima adalah penolakan atau yang lebih parah adalah kekecewaan dari orang-orang yang mengasihinya dan dikasihinya. Nah dia tidak tahan, dia tidak bisa mengecewakan orang-orang di sekitarnya itu.
ET : Selain rasa kecewa mungkin juga ada pikiran bahwa jangan-jangan nantinya menjadi timpang, tidak lagi berjalan lancar kalau dia menolak. Dan dalam arti suatu keadaan yang memang tidak bisa ihindari Pak Paul, misalnya salah satu orang tua meninggal yang memang dia adalah anak sulung.
Dalam hal ini bagaimana Pak Paul?
PG : Jadi yang tadi Ibu Esther katakan betul sekali, anak-anak ini memang adalah roda yang memutar jalannya keluarga. Misalkan tadi contohnya si ayah sudah meninggal, dia yang harus menggantika si ayah, tidak ada pilihan lain.
Jadi memang ada kondisi-kondisi tertentu yang tidak memberikan banyak pilihan kepada anak-anak, dia terpaksa harus memikul beban itu. Nah sekali lagi saya mau tekankan adalah kalau dia hidup dengan berimbang nanti di masa dewasanya dia akan OK! Namun kalau hidupnya tidak berimbang terus-menerus dia tersedot oleh masalah-masalah keluarganya dan tidak cukup waktu untuk dirinya sendiri, dia tidak cukup memberikan makanan untuk dirinya sendiri dan lama-lama dia akan roboh.
ET : Tapi justru memang kadang-kadang hal ini yang suka dilupakan oleh anggota keluarga yang lain. Dalam arti memang dari kecil atau dari mudanya dia sudah menyandang status orang yang dapat diandalkan sehingga sampai dia dewasa, sampai mungkin saat dia sudah berkeluarga, sudah saatnya membina keluarga sendiripun dari anggota keluarga yang lain masih selalu larinya ke si tulang punggung ini dalam situasi yang bahkan kadang-kadang tampaknya remeh begitu ya?
PG : Betul, dia dituntut oleh keluarganya sendiri, oleh mamanya atau adiknya atau siapa dan di rumah pun dituntut karena dia adalah tulang punggung keluarganya, rumahnya, istrinya, anak-anaknya Nah orang-orang ini akhirnya akan terjebak di dalam tuntutan-tuntutan ini dan kalau dia tidak tahan dia akan roboh, depresi.
GS : Jadi ini masalah ketahanan dia ya Pak Paul, ketahanan seseorang itu. Nah pada waktu dia kanak-kanak diperlakukan seperti yang tadi Pak Paul katakan, apakah dia menyadari?
PG : Tidak, masalahnya adalah anak-anak ini tidak menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Dia hanya melakukan yang dia tahu harus dilakukan, sebab memang tidak banyak pilihan lain. Tap akibatnya atau buah-buahnya mulai terlihat Pak Gunawan, nah kita bisa mencermati beberapa gejala yang bisa muncul misalnya yang pertama adalah orang ini mudah merasa bersalah terhadap segala hal yang tidak beres di keluarganya.
Jadi kita ini memang bisa terganggu kalau ada masalah di keluarga kita, tapi khusus untuk anak-anak yang telah menjadi tulang punggung, dia bukan hanya merasa terganggu, dia merasa bersalah karena apa sekali lagi dia tulang punggung, dia yang harus bertanggung jawab memastikan semuanya hidup baik-baik dan bahagia. Jadi waktu ada yang tidak beres, adiknya masuk penjara misalnya atau kakaknya bercerai yang langsung terkena dia, dia yang merasa bersalah sekali. Sepertinya dia tidak berbuat apa-apa, dia gagal melakukan yang seharusnya dia lakukan, nah ini tanda pertama yang bisa kita amati. Tanda yang kedua adalah dia juga memikul beban yang besar karena menerima tuntutan orang tua yang berlebihan ini. Jadi hidupnya itu meskipun bisa bahagia, tapi kelihatannya orang ini memikul beban, nah sekali lagi ini adalah faktor yang mencenderungkan dan merentankan dia untuk terkena depresi. Jadi wajahnya itu seolah-olah wajah yang penuh beban. Dan yang terakhir adalah tandanya orang ini tidak bebas menjadi dirinya sendiri, sebab ia senantiasa harus bersikap dewasa dan menjadi tauladan bagi saudaranya, dia selalu menjadi kakak, menjadi tokoh, orang yang disegani di rumahnya. Tapi dia itu tidak selalu begitu sebetulnya, dia manusia biasa, tapi dia tidak bisa mengeluarkan apa adanya dirinya itu, dia tidak boleh mengeluh dalam pengertian dia tidak boleh berkata saya tidak mau tugas ini, dia harus selalu mau, sebab kalau dia menolak keluarganya kecewa sehingga yang merasa bersalah kembali adalah dia juga.
GS : Ya tapi ada orang-orang yang tidak terlalu mengindahkan hal-hal yang menekan kehidupannya itu, lalu dia mengatakan memang sudah nasibku, seperti ini, jadi bahkan dia tidak menikah begitu. Jadi tuntutannya tidak terlalu banyak memang di dalam diri orang itu dibandingkan dengan orang lain, misalnya tadi teman-temannya itu ke pesta dan sebagainya, dia merasa saya tidak butuh itu. Nah itu sebenarnya ungkapan yang jujur atau tidak ya, Pak?
PG : Kemungkinan besar jujur sebab itulah yang dilihatnya, dia tidak membutuhkan semua kesenangan itu dan dia tidak perlu menjadi orang seperti yang lainnya. Yang dia tekankan adalah dia harus enjaga keluarganya sendiri, nah bisa jadi selama semuanya berjalan biasa saja, baik-baik dia akan OK.
Namun ini yang juga bisa terjadi, misalkan dia sudah menjaga keluarganya, kemudian musibah terjadi, contoh yang biasanya terjadi adalah misalnya adiknya terkena masalah besar, terkena ketergantungan narkoba. Nah itu bisa memukul dia, jadi dengan kata lain tambahan beban bisa benar-benar menjungkirbalikkan keseimbangan hidupnya itu. Atau kakaknya misalnya bercerai nah itu bisa menjungkirbalikkan keseimbangannya. Sebab dia sudah menata hidupnya dengan begitu baik dan rapi sehingga dia bisa hidup dengan baik. Namun kalau ada tambahan beban yang dia tidak sanggup untuk atasi dia akan roboh, sekali lagi sebab dia memang tidak terbiasa juga bercerita membagi beban dengan orang lain. Dia adalah tulang punggungnya dan dalam kasus tadi Pak Gunawan katakan, dia mungkin tidak punya teman banyak di luar karena tidak punya kehidupan sosial.
ET : Dan mungkin yang lebih menyakitkan yang pernah saya lihat kasusnya si kakak sulung. Anak sulung ini merasa begitu bertanggung jawabnya kepada setiap anggota keluarga, sementara adik-adikny ini merasa engkau tidak harus berbuat seperti itu.
Dalam arti terlalu bertanggung jawab sementara adik-adiknya tidak mau diurusi seperti itu. Jadi ada rasa penolakan, dia ingin melakukan yang terbaik tetapi yang adik-adiknya tidak memberikan dukungan.
PG : Betul dan tidak jarang akhirnya terjadi konflik di antara mereka. Karena si adik-adik tidak menerima dan memang sebetulnya tidak harus terjadi pada anak sulung, jadi bisa terjadi pada anakke-2, ke-3, ke-4 namun anak yang dijadikan tulang punggung itu.
GS : Ketika pihak keluarga Pak Paul, memberikan kesempatan kepada yang menjadi tulang punggung tadi untuk menikah. Ternyata dia tidak merasa cocok juga dengan hidup pernikahannya sehingga dia masih lebih sering kembali ke rumahnya, ke rumah aslinya itu lalu berfungsi lagi sebagai tulang punggung lagi di situ.
PG : Pengamatan yang bagus sekali Pak Gunawan, dan kalau saya boleh tambahkan yang juga menyuburkan ketidakbetahannya dia di rumah tangganya sendiri adalah keluarga asalnya. Sebab keluarga asalya itu seolah-olah menyerahkan dia untuk menikah separuh hati.
Di satu pihak dia seharusnyalah engkau menikah, namun kamu kenapa menikah sebab kami masih memerlukan engkau, engkau pergi dari rumah kami kehilangan tulang punggung. Memang adanya anbivalensi di situ, ketidaktuntasan dalam melepaskan si anak. Jadi sering kali tadi Pak Gunawan sudah katakan peranan itu dibawa terus meskipun dia sudah menikah dan berkeluarga, dia tetap kembali ke rumah menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Kalau dia sudah beristri atau bersuami pasangannya jangan sekali-kali menegur tentang keluarganya, dia marah luar biasa umumnya begitu, dia akan bela keluarganya mati-matian, tidak ada yang boleh mencela mamanya atau papanya atau adiknya atau karakternya meskipun memang keluarganya ada masalah.
GS : Nah justru di situ Pak Paul, dia mengalami depresi karena pernikahannya, padahal selama dia tidak menikah atau waktu belum menikah itu tidak ada problem apa-apa.
PG : Betul, karena waktu dia sudah menikah tambahan beban itulah yang dia harus pikul, selama hanya keluarganya yang harus dia pikul dia sanggup, sekarang keluarga sendiri dia harus tanggung. Dn mungkin sekali terjadi tarik ulur di sini, dia dihimpit dari dua sisi, muncul depresi.
Nah waktu dia mengalami depresi atau mengalami ketertekanan, keterhimpitan yang tadi Pak Gunawan sudah singgung, ada beberapa hal yang bisa dilakukan yang sering terjadi adalah dia bisa melakukan hal-hal yang berkebalikan dengan norma yang diyakini keluarganya. Jadi tidak jarang orang-orang ini sudah berumur berapa tahu-tahu ketahuan menggunakan narkoba, mana mungkin anak yang baik, tulang punggung keluarga menggunakan narkoba. Atau yang juga umum adalah orang ini tiba-tiba menikah dengan orang yang sangat tidak diharapkan oleh orang tuanya, misalnya orang tuanya mengharapkan anaknya menikah dengan seseorang dari status keluarga yang baik-baik, tiba-tiba dia menikah dengan status keluarga yang dipandang tidak baik. Jadi pertanyaannya kenapa sampai begitu? Ya sebab pada suatu titik dia tidak mampu lagi menanggung beban itu, dia bukan hanya minta bebannya dikurangi, dia lempar semua beban itu dan dia melakukan hal yang berkebalikan. Supaya apa? Dia lepas dari tuntutan, dia menjadi orang yang berkebalikan dari yang sebelumnya itu dia bukan menjadi tulang punggung, dia menjadi duri yang menusuk keluarganya.
ET : Tapi apakah keputusan itu dilakukan secara sadar, Pak Paul?
PG : Sering kali tidak, jadi bukannya dia sengaja berbuat itu karena dia mau membalas, kalau masih remaja mungkin dia akan sengaja. Tapi kalau usianya sudah dewasa kemungkinan besar memang tida dipikirkan secara sengaja.
GS : Ya karena itu akan bertentangan dengan hati nuraninya sendiri. Dia mau menjadi tulang punggung tapi dia melakukan itu. Apa itu bukan cuma sekadar pelarian saja Pak Paul?
PG : Memang itu pelarian, jelas itu pelarian ya. Kalau dia tetap kuat dia akan bertahan terus, berfungsi sebagai tulang punggung. Namun jika dia tidak kuat lalu memaksakan diri, dia bisa robohke dalam depresi.
GS : Melihat dampak yang begitu serius ya Pak Paul, padahal tiap-tiap keluarga pasti membutuhkan tulang punggung, kalau bisa memang ditanggung bersama tapi kenyataannya selalu ada orang yang menjadi tulang punggung dari suatu keluarga. Bagaimana kita di kehidupan yang satu keluarga banyak orang lalu memperlakukan orang lain seperti itu, Pak Paul?
PG : Kalau masih ada pilihan, sekali lagi saya tekankan kalau masih ada pilihan sebab memang pada kasus tertentu keluarga itu tidak punya pilihan. Kalau masih punya pilihan sebaiknya kita sebagi orang tua menyadari bahwa anak ini terlalu banyak menerima tuntutan dari kita, diatas adik-adiknya atau kakaknya, nah kalau kita sadari itu kita harus mulai mengurangi tuntutan itu.
Kecenderungan kita sebagai orang tua memang melimpahkan tanggung jawab yang lebih besar kepada anak yang paling bertanggung jawab, yang memang tidak mau bertanggung jawab makin bebas dari tanggung jawab. Karena kita orang tua akhirnya enggan menyerahkan tanggung jawab kepada dia, tidak dikerjakan, tapi celakanya justru yang bertanggung jawab akhirnya memikul tanggung jawab terlalu banyak. Jadi kita harus berhati-hati dan lebih peka.
GS : Ya memang yang sulit itu memperlakukan sama rata, jadi diberikan tanggung jawab yang sama dan sebagainya. Tetapi katakanlah orang tua melihat anaknya yang mempunyai daya menangkal depresi lebih kuat. Jadi dia terus dibebani, nah bagaimana kita tahu bahwa sampai batas tertentu kita harus berhenti?
PG : Kalau dia itu kehilangan pergaulan sosialnya, salah satu cirinya atau gejalanya yang harus kita perhatikan. Dia makin jarang keluar dengan teman-temannya, dia lebih sering di rumah, nah it bagi saya pertanda tidak seimbang lagi, atau kalau ada sedikit misalnya ada yang tidak beres dalam keluarga dia meledak, dia marahi adiknya, dia marahi kakaknya nah itu suatu pertanda juga limitnya atau keterbatasannya sudah dicapai, dia akhirnya tidak bisa lagi menahan maka mulailah diluapkan.
Yang berikutnya lagi adalah kalau kita melihat makin hari dia makin kehilangan minat pada hal-hal yang umumnya dilakukan anak-anak seusianya, misalnya pergi nonton atau apa. Kita harus berhati-hati kemungkinan dia ini sudah terjebak di dalam dinamika beban keluarga kita yang besar itu.
ET : Masalahnya kadang-kadang memang keluarga mengandalkan tulang punggung, mungkin keluarga yang kurang seimbang. Jadi juga kadang-kadang kurang peka untuk melihat keadaan si tulang punggung ini dia sudah seperti itu, kehilangan minat, sudah tanda-tanda depresi, sudah di ambang kehancuran tetapi beban terus ditambahkan ya, Pak Paul?
PG : Itu yang menyedihkan Bu Esther, sebab kenyataannya adalah si orang tua yang membebani tidak mau si anak itu lepas dari beban, sebab dia butuh bantuan, dia butuh orang untuk memikul bebannya. Dan waktu si anak misalnya mulai menggeliat dan berkata saya tidak tahan lagi, nah yang sering terjadi adalah si orang tua ini memelas "engkau tidak kasihan dengan saya, tidak peduli dengan saya, bukannya engkau itu menolong, engkau ingin mengelak dari tanggung jawab, siapa yang bisa menolong saya sekarang", maka anak akan terjebak dalam rasa bersalah lagi. Tadi saya sudah singgung rasa bersalah itu luar biasa kuatnya dalam diri anak-anak ini. Rasa bersalah yang berlebihan adalah pupuk yang akan menumbuhkembangkan depresi di kemudian hari.
GS : Tapi semasa anak-anak dia jarang terkena depresi, Pak?
PG : Betul, sebab anak-anak tidak memunculkan depresi seperti orang dewasa Pak Gunawan, meskipun sebetulnya anak-anak bisa terkena depresi. Karena gejalanya tidak sama dan pola pikir anak belumterlalu kompleks seperti orang dewasa, maka sering kali kita tidak mengenalinya, namun sebetulnya bisa terkena depresi.
Salah satu cara untuk menilai anak terkena depresi misalnya tidak pernah ngompol sampai usia 10 tahun normal-normal tapi tiba-tiba ngompol terus menerus, itu adalah gejala yang tidak wajar. Atau baik-baik saja tahu-tahu sekarang mulai jadi keras, suka berantem, memukuli anak lain, itu juga merupakan gejala depresi yang tersembunyi.
GS : Sebenarnya pada saat-saat seperti itu harusnya sudah langsung mendapat pertolongan, Pak Paul?
PG : Seharusnya begitu, bicara tentang pertolongan ada beberapa saran yang bisa saya berikan kepada para pendengar. Yang pertama adalah menanggulangi dengan melakukan beberapa pencegahan. Kalaukita melihat wajah seseorang itu tegang tanpa ekspresi, orang itu sulit tidur, berat badannya menurun atau bahkan melonjak drastis, nah ini menandakan adanya kebutuhan untuk pengobatan.
Apalagi kalau sudah tidak tidur 3, 4 hari, harus bawa dia ke psikiater, ke dokter ahli jiwa agar bisa mendapatkan obat. Yang kedua adalah menasihati agar konsumsi obat-obatan dimakan secara teratur dan tidak digunakan untuk mengakhiri hidupnya. Sebab sekali lagi saya ingatkan, pikiran untuk membunuh diri itu sangat kuat pada penderita depresi. Jadi jangan berikan obatnya kepada dia biarkan kita yang pegang, kita berikan waktu dia harus makan obatnya, seperti itu. Yang ketiga adalah mengawasi secara saksama bila dia ingin membunuh diri, jangan biarkan dia sendirian. Untuk mengetahui kalau dia ingin bunuh diri atau tidak, bertanyalah seperti ini: engkau pernah memikirkan untuk mati? Misalnya tanya seperti itu jangan ragu-ragu untuk bertanya. Kalau dia bilang tidak pernah tetap harus diawasi, sebab mungkin saja dia tidak mengatakan yang benar jadi jangan biarkan dia sendirian kalau terkena depresi, harus terus-menerus didampingi. Yang keempat dengarkan keluhan dan kekhawatirannya, meski diutarakan secara berulang-ulang. Kita kadang-kadang bosan mendengar hal yang sama terus-menerus, ketakutan yang sama, yang tidak rasional diulang terus saja tapi kita harus mendengarkan karena apa? Karena dia akan lebih bisa menenangkan kecemasannya sewaktu dia berbicara, daripada dia simpan sendiri lebih baik dia keluarkan. Dan masukan dari kita, dorongan kita itu akan memberikan dia keteduhan. Jadi jangan sampai kita memutuskan komunikasi dengan dia. Yang kelima adalah bawa dia ke konselor untuk menanganinya secara profesional, dia harus menjalani terapi yang berkepanjangan bukan sekali dua kali. Dan yang keenam adalah ingatkan dia akan janji Tuhan dan ajak dia untuk berdoa dan bernyanyi bersama. Jadi jangan sampai dia meninggalkan persekutuan Kristen, ajak dia berdoa setiap saat, minta Tuhan menolong membebaskan dia dari depresi ini, terus seperti itu.
GS : Ya harus diupayakan terus-menerus supaya dia tidak menutup dirinya itu Pak Paul, dan hidup di dalam kesendiriannya. Tadi Pak Paul katakan ada janji Tuhan, misalnya seperti apa?
PG : Saya akan bacakan Amsal 21:30 dan 31, "Tidak ada hikmat dan pengertian dan tidak ada pertimbangan yang dapat menandingi Tuhan. Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan teapi kemenangan ada di tangan Tuhan."
Jadi janji Tuhan adalah Dia memberikan kemenangan, kita hanya bisa berusaha, tapi Dia yang akan memberikan kemenangan, termasuk kemenangan melawan depresi. Harus bersabar karena prosesnya memang lama tapi dengan pertolongan Tuhan, pengobatan, dukungan orang-orang yang mengasihi kita, kita pasti bisa melewati depresi itu.
GS : Ya terima kasih, Pak Paul dan juga Bu Esther, saudara-saudara pendengar demikianlah tadi Anda baru saja mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Tuntutan Keluarga dan Depresi". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda mengirim surat kepada kami. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Orang yang rentan terhadap depresi memiliki latar belakang keluarga di mana mereka sejak kecil telah menjadi tulang punggung keluarga. Nah apa yang dimaksud tulang punggung keluarga?
Adalah anak yang sangat diandalkan karena penuh tanggung jawab.
Tulang punggung adalah anak yang dekat dengan salah satu atau kedua orang tuanya, sehingga anak ini menjadi tumpahan isi hati orang tua itu. Ada apa-apa dia yang dipanggil, diajak ngomong, diceritakan masalah-masalah keluarga dan sebagainya.
Sering kali anak ini bertumbuh dalam keluarga yang bermasalah, di mana perannya sebagai anak yang paling baik menjadi penting sekali. Dia harus menjadi pendamai di antara kedua orang tuanya, dia harus menjadi pelindung papanya atau mamanya, dia harus menjaga adik-adiknya jangan sampai mereka terlantar.
Anak-anak ini akhirnya sejak kecil dilatih atau dikondisikan untuk hidup tidak normal. Maksudnya apa tidak normal, tidak hidup sebagaimana adanya, dia harus menjadi orang lain. Anak-anak ini nggak menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya, dia hanya melakukan yang dia tahu harus dilakukan, sebab memang tidak banyak pilihan lain.
Tapi akibatnya kita bisa mencermati beberapa gejala yang bisa muncul yaitu:
Orang ini mudah merasa bersalah terhadap segala hal yang tidak beres di keluarganya.
Dia juga memikul beban yang besar karena menerima tuntutan orang tua yang berlebihan ini. Ini adalah faktor yang mencenderungkan dan merentankan dia untuk terkena depresi.
Orang ini tidak bebas menjadi dirinya sendiri, sebab dia senantiasa harus bersikap dewasa dan menjadi tauladan bagi saudaranya.
Waktu orang seperti ini mengalami depresi atau mengalami ketertekanan, keterhimpitan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yang sering terjadi adalah:
Dia bisa melakukan hal-hal yang berkebalikan dengan norma yang diyakini keluarganya. Jadi tidak jarang orang-orang ini sudah berumur berapa tahu-tahu ketahuan menggunakan narkoba
Atau juga yang umum adalah orang ini tiba-tiba menikah dengan orang yang sangat tidak diharapkan oleh orang tuanya.
Yang perlu dilakukan orang tua adalah kalau masih punya pilihan sebaiknya kita sebagai orang tua menyadari bahwa anak ini terlalu banyak menerima tuntutan dari kita, di atas adik-adiknya atau kakaknya, nah kalau kita sadari itu kita harus mulai mengurangi tuntutan itu.
Kita sebagai orang tua hendaknya mengetahui sampai batas di mana kita harus memberikan tanggung jawab pada anak, kapan kita harus berhenti. Salah satu cirinya atau gejalanya yang kita harus perhatikan adalah:
Kalau dia itu kehilangan pergaulan sosialnya, dia makin jarang keluar dengan teman-temannya, dia lebih sering di rumah.
Kalau kita melihat dia makin hari makin kehilangan minat pada hal-hal yang dilakukan pada anak-anak seusianya, misalnya pergi nonton.
Bicara tentang pertolongan ada beberapa saran yang dapat saya berikan yaitu:
Melakukan beberapa pencegahan misalnya memerlukan psikiater, atau ke dokter ahli jiwa agar mendapatkan obat.
Awasi konsumsi obatnya agar dimakan dengan teratur dan tidak digunakan untuk mengakhiri hidupnya. Awasi secara saksama bila dia ingin membunuh diri, jangan biarkan dia sendirian.
Dengarkan keluhan dan kekhawatirannya mesti diutarakan secara berulang-ulang.
Bawa dia ke konselor untuk menanganinya secara profesional, dia harus menjalani terapi yang berkepanjangan bukan sekali dua kali.
Ingatkan dia akan janji Tuhan dan ajak dia untuk berdoa dan bernyanyi bersama.
Amsal 21:30,31 , "Tidak ada hikmat dan pengertian dan tidak ada pertimbangan yang dapat menandingi Tuhan. Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan tetapi kemenangan ada di tangan Tuhan." Jadi janji Tuhan adalah Dia memberikan kemenangan kita hanya bisa berusaha, tapi Dia yang akan memberikan kemenangan, termasuk kemenangan melawan depresi.