Karier/Pekerjaan
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Dalam materi ini kita diajak melihat kembali dampak, latar belakang dan bagaimana kita menghadapi PHK tersebut.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Sebuah paket perbincangan tentang masalah-masalah kehidupan berkeluarga yang dikemas oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen. Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan mengemukakan sebuah masalah tentang pemutusan hubungan kerja, mungkin ini sesuatu yang tidak enak dialami tetapi perlu untuk didengarkan, karena PHK atau pemutusan hubungan kerja ini merupakan sesuatu yang banyak melanda kehidupan kita. Karenanya kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) GS : Bapak Paul Gunadi, sehubungan dengan adanya krisis moneter akhir-akhir ini yang kita alami, banyak orang terpaksa mengalami pemutusan hubungan kerja atau PHK entah karena pensiunnya dipercepat, entah karena perusahaan sudah tidak mampu lagi untuk membayar dan saya kok percaya bahwa di antara para pendengar kita itu satu atau dua orang (saya harap tidak terlalu banyak) juga mengalami PHK, Pak Paul. Yang ingin saya tanyakan bagaimana pengaruhnya terhadap sebuah keluarga, karena biasanya suami atau bahkan istri itu menjadi sumber dana bagi keluarga itu. Dan kalau ada yang di-PHK tentu kondisi keluarga itu ada gangguan Pak Paul, nah sejauh mana dampaknya Pak Paul?
PG : Dampaknya sangat besar sekali Pak Gunawan, jadi saya kira kita ini belum benar-benar melihat berapa jauhnya dampak PHK yang sekarang sedang melanda masyarakat kita. Saya teringat akan stu situasi di Amerika Serikat, kalau tidak salah tahun 20-an, Amerika mengalami resesi yang sangat-sangat parah, namun menariknya adalah masa resesi tersebut tidak disebut masa resesi tapi disebutnya masa depresi.
Nah itu adalah nama formal, nama yang sering dikenal untuk menunjuk pada suatu masa di Amerika Serikat di mana masyarakat mengalami kesulitan ekonomi yang sangat parah. Banyak orang kehilangan pekerjaan, banyak orang hidup melarat luar biasa. Nah saya masih ingat gambar-gambar atau foto-foto yang diambil pada masa tersebut, foto orang-orang yang duduk di pinggir jalan, foto orang dalam keluarga dengan satu persamaan yaitu wajah mereka memang benar-benar menunjukkan depresi. Jadi wajah yang luar biasa murungnya, benar-benar sendu, tidak ada cahaya, tidak ada gairah hidup maka saya setuju sekali dengan istilah yang diakhiri lekatkan dengan periode tersebut di Amerika Serikat yakni periode depresi. Nah saya khawatir kita pun sebetulnya menghadapi masalah yang serupa bahwa dampaknya ini bisa meluas akibat dari krisis ekonomi yang sedang melanda kita semuanya ini. Dan kalau ini benar-benar melanda separah di Amerika Serikat memang bisa kita sebut sebagai suatu periode depresi karena akan sangat mempengaruhi kejiwaan seseorang.
GS : Artinya bukan cuma yang mengalami PHK itu ya, yang mengalami depresi tapi juga pengaruh ke segenap keluarganya begitu Pak Paul?
PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi orang-orang yang bergantung pada si pencari nafkah tersebut, mereka semua akan mengalami tekanan-tekanan.
GS : Apakah ada perbedaannya Pak Paul kalau itu pekerja wanita dan pekerja pria?
PG : Mungkin secara kejiwaan lebih memukul pria karena seperti yang telah kita bahas pada kali yang terakhir, pria menggantungkan harga dirinya pada kariernya. Sewaktu dia kehilangan karier,dia kehilangan dirinya, dia bukan saja kehilangan pekerjaan, saya kira ini tidak sama dengan wanita.
Waktu wanita kehilangan karier, kehilangan pekerjaan, dia tidak kehilangan dirinya namun seperti yang telah kita bahas, jika wanita kehilangan anaknya, kehilangan suaminya, kehilangan orang yang dikasihinya dia akan kehilangan dirinya. Jadi saya kira dampak karier ini atau dampak PHK ini akan lebih berat dirasakan oleh para pria.
(2 ) GS : Kalau begitu bagaimana Pak Paul seseorang itu harus mempersiapkan diri dalam menghadapai PHK, kita memang tidak mengharapkan PHK itu menimpa kita atau pendengar kita, tetapi mengantisipasi itu perlu, kalau itu berkepanjangan siapa tahu, nah hal-hal apa yang bisa kita lakukan?
PG : Pertama-tama kita harus memahami proses atau dampak PHK pada keluarga Pak Gunawan. Yang pertama adalah waktu suami kehilangan pekerjaan, dia kehilangan jati diri, dia kehilangan dirinya Nah cukup umum pria-pria yang kehilangan pekerjaan juga mulai mengucilkan diri dari pergaulan sosial.
Misalnya dia biasanya rajin terlibat dalam pelayanan gerejawi misalnya, bisa jadi mulai malas ke gereja, dia mulai malas melayani di gereja karena apa? Karena dia merasa dia itu tidak lagi mempunyai sesuatu yang bisa dia banggakan atau ditawarkan untuk masyarakat. Benar-benar dia merasa seperti orang yang tidak ada artinya, daripada dia harus menanggung malu lebih baik dia tidak ke gereja. Kecuali misalkan dalam tim yang sama, dalam kelompok yang sama, ada orang-orang yang senasib dengan dia nah itu menjadi kekuatan bagi dia untuk terus datang, namun kalau tidak, dia cenderung menarik diri. Tapi masalahnya bukan saja dari lingkungan dia menarik diri, ada kecenderungan para suami ini juga menarik diri bahkan dari istri mereka.
GS : Jadi kalau begitu perlu seseorang itu semasa masih aktif bekerja dan sebagainya, dalam kondisi seperti itu membangun jaringan atau relasi dengan teman-temannya dengan harapan kalau dia suatu saat mengalami PHK ada orang yang bisa mengerti dia begitu Pak Paul.
PG : Betul, dan jaringan persahabatan ini kalau memungkinkan bukan disatukan oleh karier sebab kecenderungan pria berteman (GS : Dengan teman-teman yang sekarier) dengan teman-teman yang sekrier atau sejenjang begitu.
Maka kalau kita perhatikan kecuali teman yang dari kecil ya, pada umumnya pria itu berteman dengan orang-orang yang sejenjang dalam kariernya. Misalkan kariernya tidak sama tapi jenjangnya sama atau sejenis, setingkat.
GS : Lalu ada ikatan-ikatan seperti ikatan dokter, ikatan sarjana Pak Paul, itu karena seprofesi.
PG : Ya seprofesi begitu, jadi memang kecuali ini teman dalam sepelayanan atau teman masa kecil umumnya pria itu tidak berteman dengan orang yang jarak kariernya jauh sekali, jenjang karierna berbeda jauh dari dia, di atas dia atau di bawah dia biasanya tidak, biasanya dengan yang selevel.
Nah jaringan yang tadi Pak Gunawan maksud seyogyanya janganlah jaringan yang seperti ini sebab kalau jaringannya hanya ini (GS :Jatuh satu, jatuh semua) jatuh semua, benar-benar tidak ada lagi pegangan dia.
IR : Nah Pak Paul kalau salah seorang keluarga misalnya ayah yang di-PHK, kira-kira dukungan moril atau sikap apa yang harus diperbuat oleh seorang istri untuk mendukung supaya dia tidak terlalu frustrasi, apakah si istri itu terus mungkin mencari pekerjaan atau menanggulangi ekonomi itu dengan dia yang bekerja atau bagaimana Pak Paul?
PG : OK! Kita memang harus menyadari bahwa pada masa PHK apalagi kalau berkepanjangan pria bisa lebih labil secara emosional. Jadi mudah marah, mudah tersinggung tidak panjang sabar. Nah di ini memang dituntut pengertian yang sangat tinggi dari para istri.
Saya bukannya meninabobokkan pria dan mengatakan pria itu harus dimaklumi terus-menerus bukan ya, pria pun harus sadar dia tidak boleh bersukacita dalam kelemahannya, dia harus juga belajar untuk sabar, jangan sampai terlalu mudah tersinggung dan sebagainya. Namun pada saat ini ada baiknya istri menjauhkan diri dari hal-hal yang berbau tuntutan, tuntutan benar-benar sangat dipandang negatif oleh para suami pada masa-masa PHK ini. Sebab tuntutan mengingatkan si suami akan ketidakmampuannya memenuhi tuntutan tersebut. Jadi sewaktu si istri mengeluarkan kata-kata yang dapat ditafsir menuntut dia untuk menghasilkan uang lagi itu bisa benar-benar memicu kemarahannya atau membuat dia tersinggung dan sebagainya. Jadi yang saya anjurkan adalah untuk si istri misalnya mendekati si suami dari kaca mata, "Mari kita bersama-sama membangun kembali rumah tangga ini, mari kita bersama-sama memikirkan apa yang kita berdua bisa lakukan." Nah jadi bukannya saya mau begini, saya mau begitu, saya mau kerja, saya mau begini supaya rumah tangga ini bisa ada makanan lagi dan sebagainya itu juga harus dihindarkan. Karena sewaktu si istri mulai mengatakan kata-kata seperti itu, saya akan bekerja, saya akan ini, itu membuat si suami makin terpojok dan makin kelihatan lemah, jadi dia akan merasa memang sekarang saya tidak lagi berfungsi sebagai suami, malah istri saya harus bekerja dan sebagainya, nah jadi lebih baik ya jangan berkata seperti itu. Jadi gunakan kata-kata, kita bersama-sama, mari kita bersama-sama bangun lagi, mari kita bersama pikirkan apa yang bisa kita berdua lakukan, yuk kita berdoa dan sebagainya. Jadi kebersamaan itu saya kira lebih bisa diterima oleh si suami.
GS : Mungkin peran istri juga penting untuk membangkitkan minat suami dengan melihat bahwa sebenarnya ada keahlian lain yang dimiliki oleh suami Pak Paul. Ada kadang-kadang seorang pengemudi yang terpaksa harus di-PHK karena perusahaannya juga bangkrut. Sebenarnya dia itu punya kemampuan untuk menjadi tukang kayu, dia mempunyai keahlian itu, tapi sering kali juga dia tidak mau untuk melakukan sebagai tukang kayu. Dia berkata selama ini saya hidup dari mengemudi itu bagaimana Pak Paul?
PG : Ini adalah contoh klasik dari yang kita sebut kepribadian yang kaku Pak Gunawan, jadi manusia yang sehat adalah manusia yang fleksibel, kata fleksibel kata kunci dalam kesehatan jiwa Pa Gunawan, (GS : Yang luwes begitu) yang luwes betul.
Kalau kita ini memang mendasari siapa diri kita pada satu profesi dan waktu profesi itu tumbang, kita pun tumbang. Jadi yang lebih dianjurkan adalah kita membentuk konsep diri kita ini dari berbagai sudut atau bidang. Nah mungkin bagi si pengemudi tersebut menjadi tukang kayu adalah profesi yang lebih rendah daripada mengemudi. Tapi yang sering terjadi adalah kehilangan kepercayaan diri ini yang sering kali menohok, yang paling berat. Sewaktu seorang pria kehilangan pekerjaannya dia kehilangan kepercayaan dirinya sehingga waktu didorong untuk mencoba karier yang baru, semangat juangnya sudah habis, karena sudah kehilangan kepercayaan diri, takut dia akan mengalami peristiwa yang sama, sebab peristiwa PHK itu peristiwa yang berat sekali menampar dirinya. Dan dia takut kalau dia mengulang apalagi memulai karier yang baru yang belum dia begitu paham terus dia mengalami kegagalan akibatnya dia harus menanggung rasa malu yang besar begitu.
IR : Dalam menghadapi keadaan seperti itu Pak Paul apakah bisa kalau seorang istri itu membekali atau mencari teman untuk menasihati suaminya?
PG : Boleh saja, asalkan memang teman itu teman yang bisa diterima oleh si suami, namun sebetulnya di sinilah peran istri yang paling penting. Tadi saya sudah singgung bahwa kita harus menyaari prosesnya dampak PHK pada keluarga.
Bahwa si suami itu cenderung mengisolasi diri, waktu dia mengisolasi diri karena kehilangan dirinya, dia akhirnya menjauhkan diri dari istrinya, dia menjadi orang yang tertutup. Ada kecenderungan suami-suami ini justru makin tidak mau cerita, karena ini hal yang sulit sekali bagi dia untuk dibagikan dengan orang lain, sebab hal yang sangat memukul dia, membuat dia merasa kehilangan dirinya, kehilangan siapa dirinya jadi untuk dia menceritakan kepada istrinya pun tidaklah begitu mudah. Sehingga adakalanya si istri panik karena seperti kita sudah singgung pada kali yang terakhir bahwa si istri justru mendapatkan harga dirinya, makna dirinya dari relasi tersebut. Nah tiba-tiba sekarang hubungannya dengan si suami terputus, nah si suami kehilangan diri atau harga dirinya, si istri juga tiba-tiba merasa yang sama dia kehilangan harga dirinya. Karena hubungannya yang tadinya akrab tiba-tiba sekarang terputus nah ini menggoncang dia, maka PHK kalau tidak hati-hati dicermati dan ditanggapi bisa benar-benar menghancurkan keluarga, dampaknya sebetulnya berat sekali.
GS : Saya melihat dampaknya bukan hanya terhadap hubungan antar manusia Pak Paul, memang dia bisa meninggalkan istrinya, bahkan anak-anaknya tapi ada beberapa orang juga yang justru menyalahkan Tuhan dalam hal ini. Dia merasa Tuhan membiarkan dia mengalami peristiwa semacam ini.
PG : Bisa sekali Pak Gunawan apalagi pertanyaannya sebetulnya bukan hanya satu tapi dua terhadap Tuhan. Yang pertama adalah mengapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi, artinya mengapa Tuhan mebiarkan saya di-PHK.
Namun yang kedua ini yang lebih serius, kalau setelah di-PHK dia berupaya mencari pekerjaan dan tidak berhasil selama berbulan-bulan, pertanyaan yang kedua akan timbul yaitu Tuhan mengapa engkau tidak mendengar doaku, Tuhan mengapa Engkau tidak menolong aku, di manakah kebenaran janjiMu. Nah justru pertanyaan yang kedua ini yang lebih mematikan.
GS : Nah itu bagaimana Pak Paul kalau sudah sangat serius seperti itu apa yang bisa dilakukan atau orang lain lakukan terhadap korban PHK itu?
PG : Sebelum kita keluar, kita harus memperkuat yang di dalam dulu yaitu apa? Begini di sini si istri melihat bahwa si suami mulai menjauhkan diri, nah jangan panik, bahwa si suami bukan sedng menolak dia, bukan dia sedang menghempaskan dia keluar dari kehidupan si suami tapi si suami mengalami kesulitan membagi dirinya jadi langkah berikutnya adalah si istri harus tetap mendekati si suami, mengajak si suami untuk jalan-jalan, malam hari berduaan, misalkan tidak bisa makan di restoran, tidak bisa makan di mana-mana eh.....kita
makan es krim saja atau es dawet atau apa, jadi terus memberikan suatu sentuhan-sentuhan kepada si suami. Sehingga akhirnya si suami tidak bisa tidak menangkap isyarat dari si istri bahwa si istri sedang bersama dengan dia dan si istri terus membangunkan semangatnya bahwa ini bukan masalah kemampuanmu tapi masalah ini memang yang sedang hilang yang sedang tidak ada di pihak kita tapi engkau mampu, jadi ini terus menguatkan rasa percaya dirinya. Yang kedua adalah si istri dan suami mulai harus memikirkan langkah kreatif, tadi Pak Gunawan sudah singgung tentang seorang pengemudi yang bisa menjadi seorang tukang kayu. Jadi di sini dituntut kreatifitas misalkan si istri bisa masak atau si suami bisa masak, bisa misalnya buka warung atau buka kedai makan misalkan jadi benar-benar kreatif untuk bisa menutupi lubang, apakah ini akan permanen atau tidak, tidak tahu. Nah mungkin si suami berkata: "Masak saya harus menjadi tukang masak seumur hidup saya," nah kita harus beritahu kepada si suami, ini tidak berarti engkau selama-lamanya akan jadi tukang masak. Tapi yang harus kita sadari sekarang ini kita harus melakukan sesuatu jadi kreatif melakukan apa saja yang kita bisa lakukan selama jalannya itu jalan yang betul. Dan yang ketiga adalah meskipun kita belum melihat pemenuhan janji Tuhan, kita tidak meninggalkan Tuhan sebab janji Tuhan itu pasti terpenuhi namun kapannya memang tidaklah kita ketahui begitu Pak Gunawan dan Ibu Ida.
IR : Apakah benar Pak Paul bahwa seorang wanita itu lebih tabah dalam menghadapi masalah daripada seorang pria?
PG : Cenderungnya begitu karena wanita itu mempunyai yang kita sebut daya tahan yang tinggi endurance level yaitu kemampuan menahan sakit untuk waktu yang panjang. Pria kesulitan menahan sakt untuk jangka waktu yang panjang, pria bisa menahan sakit yang besar tapi jangka waktunya pendek, kalau wanita bisa menahan sakit untuk jangka waktu yang panjang.
Nah makanya saya melihat peranan wanita yang sangat besar di sini untuk bisa terus mengangkat si pria. Sebab kecenderungannya adalah pria lebih mudah putus asa dalam hal seperti ini, mungkin wanita lebih sering (maaf ya) mungkin lebih sering marah, lebih sering ngomel, lebih sering mengeluarkan emosinya tapi sebetulnya dia lebih bisa bertahan. Saya mau memberikan satu Firman Tuhan Pak Gunawan dan Ibu Ida diambil dari Mazmur 91 , "Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya." Ini Mazmur 91:14-15 . Saya suka sekali dengan perkataan hatinya melekat kepada-Ku dan ia mengenal nama-Ku, jadi kuncinya adalah pada masa PHK ini hati kita terus melekat pada Tuhan dan kita mengenal siapa Tuhan kita, bahwa nama Tuhan kita adalah penyelamat, Yesus adalah penyelamat dan Dia adalah penolong kita. Jadi kita terus berseru kepadaNya dan Tuhan berjanji Dia akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan. Orang yang depresi, orang yang tertekan seolah-olah dadanya sesak, jadi memang Firman Tuhan menggunakan istilah yang sangat grafik sekali di sini tapi Tuhan berkata Dia akan menyertai kita dalam kesesakan dan Dia akan meluputkan kita dan memuliakan kita, jadi tugas kita terus melekat dengan hati Tuhan, terus mencari kerajaan sorga dan kebenarannya, seperti janjiNya maka Dia akan menambahkan. Saya mempunyai teman yang selama lebih dari setahun di-PHK, ini di Amerika Serikat waktu Amerika mengalami resesi yang berat beberapa tahun yang lalu istrinya bekerja sebagai suster, malam hari sampai pagi hari, anaknya ada 5 luar biasa beratnya tanggungan mereka, si suami benar-benar susah sekali tapi mereka terus berdoa dan mereka terus bertahan dalam Tuhan. Dan suami fleksibel, luwes, kreatif, dia seorang insinyur tidak ada pekerjaan lagi sebagai seorang insinyur akhirnya dia membuka suatu usaha baru yaitu mencetak buku telepon atau directory book untuk kalangan Kristen di kotanya dan akhirnya Tuhan memberkati usahanya itu sehingga dia bisa bangkit kembali. Jadi memang diperlukan sekali ketabahan dan diperlukan sekali kerelaan untuk mencoba yang baru dan yang lainnya begitu.
IR : Ya memang janji Tuhan Pak Paul, di dalam kita mengalami kesesakan, di dalam menghadapi masalah kalau kita dekat dengan Tuhan, Tuhan akan memberikan kekuatan dan akan memberikan jalan keluar.
PG : Betul sekali Bu Ida, itulah tumpuan kita satu-satunya.
GS : Ya, jadi memang kita bersyukur, bahwa kita diselamatkan oleh Tuhan bukan hanya jiwa kita nanti karena kita sudah meninggal tapi saya percaya bahwa di dunia ini pun Tuhan memeliharakan kita sebagaimana janjinya.
Jadi demikianlah tadi para pendengar sekalian, telah kami persembahkan sebuah perbincangan seputar pemutusan hubungan kerja, walaupun kita tidak mengharapkan tetapi perbincangan ini mengajak kita untuk mencoba mempersiapkan kalau hal itu menimpa kehidupan kita. Tadi kita sudah berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.END_DATA
Ringkasan Isi:
Dampak PHK sangat besar, baik dirasakan oleh pencari nafkah atau pun orang-orang yang bergantung pada si pencari nafkah. Lebih-lebih PHK ini akan lebih memukul pria secara kejiwaan, karena pria cenderung menggantungkan harga dirinya pada kariernya. Sewaktu dia kehilangan karier, dia bukan saja kehilangan pekerjaan tetapi dia juga kehilangan dirinya. Ini berbeda dengan wanita, sewaktu wanita kehilangan karier dia kehilangan pekerjaan, dia tidak kehilangan dirinya. Jadi dampak PHK ini akan lebih berat dirasakan oleh para pria.
Yang perlu kita lakukan untuk mengantisipasi hal tersebut:
Kita harus memahami proses atau dampak PHK pada keluarga.
Waktu suami kehilangan pekerjaan, dia kehilangan jati diri, dia kehilangan dirinya. Pria-pria yang kehilangan pekerjaan juga mulai mengucilkan diri dari pergaulan sosial. Misalnya dia biasanya rajin terlibat dalam pelayanan gerejawi, bisa jadi dia mulai malas ke gereja, dia mulai malas melayani di gereja karena dia merasa dia tidak lagi mempunyai sesuatu yang bisa dia banggakan atau tawarkan untuk masyarakat. Benar-benar dia merasa seperti orang yang tidak ada artinya.
Masa PHK yang berkepanjangan dapat menyebabkan pria bisa labil secara emosional. Jadi mudah marah, mudah tersinggung, tidak panjang sabar. Karena PHK, akhirnya pria pun cenderung untuk mengisolasi diri, sewaktu mengisolasi diri dia akhirnya menjauhkan diri dari istrinya, dia menjadi orang yang tertutup.
Sikap yang perlu dilakukan seorang istri adalah: ;
Jangan panik. Suami bukan menolak, bukan sedang menghempaskan dia keluar dari kehidupan suami tapi suami kesulitan membagi dirinya. Jadi Istri harus tetap mendekati suami ;, misalnya mengajak jalan-jalan, malam hari berduaan. Sehingga akhirnya si suami tidak bisa tidak menangkap isyarat dari istri bahwa si istri sedang bersama dengan dia dan si istri terus membangunkan semangatnya
Si istri dan suami harus mulai memikirkan langkah kreatif.(Anak-anak diminta menulis jawabnya dan mendiskusikannya di kelas.)
Tidak meninggalkan Tuhan, meskipun kita belum melihat pemenuhan janji Tuhan. Kita tidak meninggalkan Tuhan sebab janji Tuhan itu pasti terpenuhi namun kapan waktunya memang tidak kita ketahui secara pasti.(Anak-anak diminta menulis jawabnya dan mendiskusikannya di kelas.)
Mazmur 91:14,15 berkata: "Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya."
Jadi yang menjadi kunci pada saat mengalami PHK adalah hati kita terus melekat kepada Tuhan dan kita mengenal siapa Tuhan kita, bahwa nama Tuhan kita adalah penyelamat, Yesus adalah penyelamat dan Dia adalah penolong kita. Jadi kita terus berseru kepadaNya dan Tuhan berjanji Dia akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Mencari pekerjaan yang ideal tidaklah mudah; kerap kali kita harus puas dengan pekerjaan yang tersedia, kendati pekerjaan itu tidak terlalu kita sukai. Meskipun kita tidak menyukainya tetapi kita tetap harus mengerjakan kewajiban kita sebaik-baiknya dan apa yang harus kita lakukan?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Bila Pekerjaan tidak lagi Memuaskan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, kita tentu membutuhkan pekerjaan karena kita memerlukan dana untuk kehidupan sehari-hari, tetapi untuk mendapatkan pekerjaan yang pas yang sesuai dengan keinginan kita, dengan bakat kita, dengan kemampuan kita, itu sangat sulit, Pak Paul.
PG : Sangat-sangat sulit Pak Gunawan, jadi ada satu hal yang kita harus sadari adalah bahwa kesempatan tidak selalu datang meskipun kita menganggap diri kita cukup mempunyai kualifikasi, seayaknyalah mendapatkan pekerjaan itu dan sebagainya.
Tapi kita harus juga menerima fakta bahwa kesempatan tidak selalu datang. Dan inilah yang kadang-kadang meski kita hadapi dan kita harus dengan kreatif melewatinya sehingga tidak membuat kita tertekan dan akhirnya putus asa.
GS : Mungkin itu karena jumlah pekerjaan yang tersedia dan tenaga kerja yang ada tidak seimbang, Pak Paul.
PG : Betul sekali, setiap tahun kita melihat dalam bursa kerja ada ribuan orang yang mengantri mendapatkan formulir pendaftaran, melamar. Dan dari ribuan orang yang datang itu mungkin hanyaberapa ratus yang mungkin akan mendapatkan pekerjaan.
Jadi inilah kondisi yang kita hadapi yaitu kondisi yang tidak ideal.
GS : Menurut pengamatan Pak Paul yang pernah tinggal di Amerika, apakah hal itu pernah terjadi di sana?
PG : Saya kira pada masa tertentu Amerika pun mengalami hal-hal seperti itu. Misalkan pada suatu masa bidang teknologi yang tadinya menjadi primadona namun akhirnya mengalami kemunduran sehngga akhirnya ada teman-teman yang tadinya bekerja di bidang teknologi akhirnya kehilangan pekerjaan mereka.
Dan mereka harus menunggu bahkan sampai berbulan-bulan sebelum mendapatkan pekerjaan yang lain.
GS : Bahkan yang sudah bekerja pun kadang-kadang masih di-PHK, Pak Paul?
PG : Betul sekali, memang tidak ada kepastian dalam hidup ini, hal yang kita sukai dan kita kerjakan dengan baik namun perusahaannya mengalami kebangkrutan dan kita akhirnya tidak lagi mempnyai pekerjaan itu.
GS : Nah itu kalau kita masih dalam usia yang produktif, apa saran Pak Paul buat para pendengar dan buat kita semua?
PG : Ini yang saya ingin berikan kepada para pendengar kita yang sedang dalam masa-masa penantian mencari pekerjaan atau melakukan pekerjaan tapi tidak bisa menikmatinya. Saya akan membagikn beberapa prinsip dari Firman Tuhan.
Yang pertama yang ingin saya katakan adalah meski tidak menyukainya kita harus tetap mengerjakan kewajiban kita sebaik-baiknya. Kita mengerjakan tugas kita, pekerjaan kita, kita memang tidak terlalu menyukainya tapi tetap kita harus kerjakan sebaik-baiknya. Firman Tuhan mengingatkan, "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini di dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." Kolose 3:22 dan 23. Pada intinya yang ingin saya katakan adalah bahwa kita dipanggil untuk melakukan tugas dan kewajiban kita dengan sebaik-baiknya, tidak peduli apakah kita menyukai atau tidak menyukai pekerjaan itu.
GS : Yang saya amati di tempat saya bekerja, biasanya orang bertahan hanya beberapa bulan mungkin karena pada awalnya dia terdesak karena tidak ada pekerjaan yang lain, dia mau saja menerima pekerjaan apapun yang diberikan. Tapi setelah dia melewati masa percobaannya biasanya akan timbul masalah.
PG : Kalau kita memang tidak menyukai pekerjaan kita acap kali kita berkompensasi, kita akhirnya melakukan hal-hal yang tidak produktif, hal-hal yang mengganggu relasi kerja kita atau yang aru saja kita bahas, kita tidak melakukan tugas kewajiban kita dengan sebaik-baiknya, sehingga akhirnya kwalitas kerja kita merosot dan orang-orang yang di sekitar kita tidak puas dengan harian kita tapi kita mungkin defensif karena kita tidak suka ditegur sehingga terjadilah masalah.
Firman Tuhan menegaskan bahwa kita harus mengerjakan kewajiban kita dengan sebaik-baiknya tidak peduli kita menyukai atau tidak kita tetap harus menyelesaikan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya.
GS : Karena itu merupakan panggilan Tuhan, Pak Paul.
PG : Betul dan Tuhan memfokuskan mata kita pada Tuhan bahwa kita mengerjakan ini bukan untuk manusia tapi untuk Tuhan. Maka Tuhan berkata apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan seenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Ini adalah perspektif yang harus kita bawa setiap hari kita masuk ke tempat pekerjaan kita.
GS : Ada sebagian orang yang menganggap bahwa pekerjaan itu sebagai kutukan, dengan mengutip di kitab kejadian, nah itu bagaimana?
PG : Saya kira ada sebagian orang yang mempunyai konsep yang keliru tentang bekerja. Mereka melihat bahwa bekerja adalah sebagai kutukan karena Tuhan telah mengutuk manusia setelah manusia atuh ke dalam dosa, maka manusia akhirnya harus melakukan pekerjaan dalam hidupnya.
Kutukan Tuhan sebetulnya lebih berupa suatu fakta kehidupan bahwa kehidupan ini tidak akan menjadi gampang. Kita harus bekerja susah payah untuk mendapatkan penghasilan, nah inilah bagian dari dosa, hidup tidak lagi menjadi mudah namun bekerja itu sendiri bukanlah kutukan. Kita menghasilkan sesuatu kita akan merasa bahagia, kita bisa memberikan sumbang sih kita bisa merasa bahagia, kita bisa mengekspresikan karunia yang Tuhan telah berikan kepada kita, kita pun akan merasa bahagia. Jadi sebetulnya pekerjaan bukanlah kutukan, kehidupan yang susah itu adalah bagian dari hukuman Tuhan atas dosa yang kita perbuat.
GS : Mungkin ada prinsip lain yang ingin Pak Paul sampaikan?
PG : Yang kedua adalah kita dipanggil untuk bekerja, meskipun pekerjaan ideal yang kita idamkan belum terwujud. Artinya kita tidak boleh berkata saya tidak mau bekerja, sebab yang saya idaman belum dapat saya peroleh, nah saya akan tunggu sampai pekerjaan ideal itu datang.
Nah Tuhan berkata: "Jangan, Firman Tuhan mengingatkan: Tetapi kami berpesan kepadamu saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami, sebab kamu sendiri tahu bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi berusaha dan berjerih payah siang malam supaya jangan menjadi beban siapapun di antara kamu." Nah ini prinsip yang Paulus anut, bahwa dia akan bekerja, dia tidak mau menjadi beban dan dia akan melakukan pekerjaannya dengan berjerih payah siang malam. Ini menunjukkan sebuah upaya yang optimal. Kadang-kadang kita memang mudah putus asa dan berkata: "O.....tidak mau saya melakukan pekerjaan ini; o.........tidak suka saya mendapatkan pekerjaan itu meskipun mendapatkan tawaran." Tuhan tidak mau melihat kita itu berpangku tangan, menunggu-nunggu pekerjaan ideal kita datang mengunjungi kita. Tidak demikian, kita tetap harus bekerja meskipun pekerjaan itu tidak sesuai dengan kemampuan kita atau tidak sesuai dengan kesukaan kita.
GS : Kadang-kadang orang juga berdalih pekerjaan ini sebenarnya cocok tapi imbalannya yang tidak cocok, kemudian dia batal lagi untuk bekerja.
PG : Memang kadang-kadang itu akan membuat kita patah semangat, kita hanya dihargai seperti ini sedangkan kita tahu kita mempunyai kemampuan yang lebih. Tapi tetap prinsipnya adalah meskipu tidak sesuai dengan kemampuan kita, imbalan itu terlalu kecil tetap bekerjalah.
Jangan sampai kita tidak bekerja dan hanya menunggu-nunggu pekerjaan ideal kita datang mengunjungi kita.
GS : Tetapi ada juga orang yang bekerja hanya bertujuan untuk mencari uang saja, Pak Paul.
PG : Ada juga orang yang seperti itu, dan dalam kasus tertentu ini memang tidak disalahkan, ini adalah hal yang benar bahwa kita bekerja memang untuk mendapatkan uang tapi kita tahu motivas kita bukanlah hanya uang.
Ada hal-hal lain yang harus kita lakukan, contohnya adalah kewajiban kita. Pertanyaan yang muncul adalah kenapa Tuhan meminta kita sebagai anak-anaknya tidak berhenti bekerja, kenapa kita terus bekerja. Hal ini berkaitan dengan kesaksian hidup, Tuhan tidak mau kita bermalas-malasan, tidak mau hanya berpangku tangan, menunggu pekerjaan mengetuk pintu rumah, tetap kita harus melakukan tugas dan kewajiban kita. Kenapa? Karena kita harus menjaga kesaksian hidup umat Kristen, jangan sampai orang mencoreng nama Tuhan akibat kemalasan kita, jangan sampai kita menjadi buah bibir keluarga kita maupun orang-orang di sekitar kita yang berkata: "lihat orang ini, dia orang Kristen tapi kok malas maunya hanya diam-diam di rumah, tidak mau berusaha," nah bagaimanakah orang bisa mempermuliakan nama Tuhan kalau melihat kesaksian kita seperti itu.
GS : Di samping itu apakah di dalam bekerja, kalau kita sudah bekerja itu akan mencapai suatu pekerjaan yang ideal pada nantinya?
PG : Sering kali begini Pak Gunawan, waktu kita bekerja terus meskipun pekerjaan itu tidak sesuai dengan kemampuan kita, dengan selera kita, tapi dengan bekerja kita sebetulnya sedang menematkan diri di posisi yang strategis untuk bertemu dengan orang.
Untuk bisa akhirnya berkenalan dengan orang-orang, nah siapa tahu nanti orang-orang ini yang akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang lain. Orang yang lain itulah yang memanggil kita dan dia berkata: "O.....saya ada lowongan untuk pekerjaan yang memang sedang engkau cari." Jadi dengan kata lain kita itu berdiri di tempat yang strategis, kalau kita hanya berdiam diri di rumah, hanya menunggu pekerjaan datang, kapankah kita akan berjumpa dengan orang. Bukankah sering kali yang paling efektif adalah perkenalan, orang mengenalkan kita dengan temannya, dengan seseorang atau teman mendengarkan informasi bahwa ada lowongan di sana, ada lowongan di sini. Dengan kita bertemu dengan teman-teman sekerja dan sebagainya kita akhirnya lebih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang kita idamkan itu. Dan ini yang terpenting juga Pak Gunawan, bukankah dengan terus bekerja kita sesungguhnya tengah membangun tumpukan pengalaman kerja yang nantinya akan sangat bermanfaat untuk mendapatkan pekerjaan yang baru atau pekerjaan yang kita idamkan itu. Logikanya, seorang majikan akan lebih senang, akan lebih mau mengkaryakan seseorang yang mempunyai sejarah bekerja, yang tidak berhenti-henti. Seorang majikan tidak akan tertarik mengkaryakan seseorang kalau membaca resume atau CV yang menunjukkan bahwa si pelamar ini sudah lima tahun tidak bekerja. Ditanya: "Apa pekerjaanmu?" "Diam di rumah," "Kenapa?" "Sebab yang saya inginkan belum muncul, jadi saya terus menunggu, sekarang ini ada baru saya datang." Nah si majikan akan berkata dalam hatinya "engkau orang malas, meskipun engkau mampu melakukan pekerjaan ini tapi dengan kemalasanmu engkau akan menjadi beban buatku." Jadi sekali lagi orang tidak mau memanggil dan mengkaryakan pekerja yang tidak mempunyai karakter rajin. Nah orang yang berkarakter rajin adalah orang yang terus bekerja meskipun pekerjaannya itu di bawah kemampuannya atau tidak sesuai dengan seleranya. Itu point yang penting dan juga ini menambahkan pengalaman, lima tahun bekerja akan berbeda dengan lima tahun kehilangan kontak dengan pekerjaan, sebab berarti pengalamannya telah bertambah lima tahun. Jadi ini nilai-nilai tambah yang justru dapat memungkinkannya memperoleh pekerjaan yang diinginkannya.
GS : Ada sebagian orang yang senang berpindah-pindah kerja, setahun pindah, setahun pindah, nah itu kenapa?
PG : Penjelasan pertama, memang dia merasa tidak puas apa yang diperolehnya misalkan imbalannya tidak sesuai dengan input yang diberikannya. Atau jenis pekerjaannya tidak sesuai dengan keininanya sehingga dia terus mencari jenis pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya itu.
Namun ada faktor ketiga yaitu faktor bosan. Ada orang yang cepat bosan, mengerjakan sesuatu tidak bisa bertahan lama sehingga akhirnya mau pindah lagi, mau pindah lagi. Yang keempat adalah ada orang yang terus-menerus pindah karena bertengkar, konflik dengan rekan kerja atau diberhentikan karena karakternya yang kurang baik sehingga menimbulkan banyak masalah. Memang ada beberapa penjelasan kenapa akhirnya orang sering berpindah-pindah tempat kerja.
GS : Bukankah itu akan menjadi kesaksian yang kurang baik Pak Paul?
PG : Betul, sebab orang akan berpikir apa ya yang menjadi masalah? Kenapa orang ini terus menerus pindah, dan waktu dia mau masuk ke pekerjaan yang baru, majikannya juga akan melihat ini degan kacamata negatif.
"Kenapa kamu hanya bertahan enam bulan, bertahan lima bulan, kenapa? "O.....orang ini tidak adil kepada saya, o......majikan saya ini menekan saya dan sebagainya." Tapi kalau sudah berkali-kali terjadi begitu, saya kira orang akan berkata: "Mungkin saja ada satu dua kali memang kamu tertekan tapi kalau terus-menerus seperti ini, kesimpulan saya adalah kamu memang bermasalah, kamu tidak bisa menahan stres, kamu tidak bisa menahan ketidakidealan dalam hidup ini, semua harus berjalan sesuai dengan kehendakmu, rupanya ini yang menjadi duduk persoalannya." Nah orang akan langsung dengan cepat menyimpulkan seperti itu, dan akhirnya dia tidak akan memberikan pekerjaan kepada orang yang seperti ini. Jadi benar-benar pada akhirnya orang ini kehilangan kesempatan untuk bekerja.
GS : Ada orang yang menolak pekerjaan karena sekalipun sesuai dengan bidangnya, tapi karena di situ dia diminta untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya. Misalnya harus menipu, harus membuat laporan palsu dan sebagainya, dia tidak tahan.
PG : Betul sekali, jadi ada jenis-jeniss pekerjaan yang melanggar perintah Tuhan, nah sudah tentu itu harus kita tolak, harus kita katakan, "Maaf tidak bisa saya lakukan." Misalkan hal ini mum, untuk menghibur seorang tamu, dia harus membawa tamu ini, mengunjungi tempat-tempat yang penuh dengan dosa dan akhirnya melakukan dosa, dan dia tahu dia harus ikut dan sebagainya, nah dia bisa dengan terus terang berkata kepada majikannya bahwa "Maaf, saya tidak bisa melakukan ini; kenapa? Sebab saya tahu sewaktu saya melakukannya saya sedang berdosa kepada Tuhan, dan daripada saya berdosa saya tidak mau melakukannya."
Meskipun memang nanti ada resiko yang harus ditanggungnya tapi kalau memang jelas melanggar kehendak Tuhan, seseorang harus berani berkata: "Tidak, saya tidak mau melakukannya."
GS : Dan sering kali tempat untuk pekerjaan kita, bisa menjadi proses kehidupan kita, Pak Paul?
PG : Sering kali seperti itu Pak Gunawan, itu sebabnya adakalanya Tuhan mendiamkan kita di tempat pekerjaan yang kita sedang geluti. Meskipun kita mengeluh, kita berkata: "Tuhan, saya tidaksuka dengan pekerjaan ini, Tuhan, kenapa lingkungannya seperti ini saya tidak nyaman di sini dan sebagainya."
Tapi Tuhan tetap menempatkan kita di situ, kenapa? Kenapa Tuhan menutup pintu-pintu yang lain sehingga kita tidak bisa pindah dan Tuhan benar-benar terus menaruh kita di sana, ada beberapa penjelasannya. Yang pertama adalah kadang-kadang ada tugas yang belum kita selesaikan, ada hal-hal yang Tuhan ingin kita lakukan di sana, Tuhan ingin kita menjadi berkat buat seseorang di sana, ada seseorang yang membutuhkan kasih sayang Tuhan, ada seseorang yang perlu mendengar kabar baik dari Tuhan Yesus dan orang ini memang adalah orang yang seharusnyalah menerima berkat ini dan kitalah yang Tuhan tunjuk menjadi saluran berkat bagi orang ini. Maka Tuhan akan tetap tempatkan kita di sana, meskipun kita tidak nyaman, kita mau pindah dan sebagainya. Tuhan inginkan kita menjadi terang, menjadi pelita dan akhirnya Tuhan membiarkan kita di situ, di dalam suasana yang memang tidak enak. Ini kita lihat misalkan dalam beberapa contoh dalam firman Tuhan, Tuhan membiarkan Daniel dengan ketiga temannya Sadrakh, Mesakh dan Abednego di Babel, tempat yang memang tidak mengenal Allah. Tapi mereka berempat menjadi terang yang menyinari orang-orang di sekitarnya, yang merefleksikan kebenaran Tuhan sehingga akhirnya raja Nebukadnezar mengakui bahwa hanya ada satu Tuhan yaitu Tuhan Allah sendiri. Dan akhirnya dia bertekuk lutut di hadapan Tuhan, nah itu adalah tugas yang Daniel emban, yang Daniel harus penuhi, maka Tuhan membiarkan dan tetap menempatkan Daniel di kerajaan Babel. Yang lainnya lagi Pak Gunawan, kenapa kadang-kadang Tuhan menempatkan kita di situasi yang sama, di pekerjaan yang sama meskipun kita sudah tidak menyukainya lagi. Yaitu ada karakter yang Tuhan ingin tumbuhkan pada diri kita. Kalau semua berjalan sesuai dengan kehendak kita, kita akan menjadi orang yang kerdil, kita tak mungkin bertumbuh dewasa, kematangan kita tidak akan kita capai. Tuhan tidak mau kita menjadi anak-anak, Tuhan mau kita menjadi orang dewasa di dalam iman, maka Tuhan membiarkan kita di dalam situasi yang tidak enak itu supaya akhirnya kita yang berubah dan kita menjadi makin serupa dengan Tuhan kita.
GS : Ada orang yang memisahkan antara pekerjaan dengan pelayanan, pendapat Pak Paul bagaimana?
PG : Saya tidak memisahkan keduanya. Sebab saya memetik firman Tuhan di Kolose 3:23 , "Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah bukan untuk manusia tetapi untuk Tuhan." Nah bgi saya ini adalah definisi pelayanan.
Pelayanan bukanlah aktifitas gerejawi belaka, aktifitas gerejawi memang bagian dari pelayanan tapi itu sebetulnya bagian terkecil dari pelayanan. Bagian terbesar dari palayanan adalah aktifitas sehari-hari yang kita lakukan, itu adalah pelayanan kita untuk Tuhan melalui manusia-manusia yang kita jumpai atau yang kita layani. Memang dibagi dua yaitu pelayanan dalam gereja dan di luar gereja, dua-duanya sama mulianya. Karena yang terpenting adalah kita melakukannya untuk Tuhan. Seseorang yang melakukan "pelayanan" Firman tapi melakukannya dengan asal-asalan, tidak memikirkannya untuk Tuhan, untuk kemuliaannnya sendiri, itu bukan pelayanan, itu sebuah performa manusiawi belaka. Nah tapi seorang yang melakukan tugasnya sebagai tukang cat, sebagai penarik becak, tapi dia melakukannya dengan sukacita, dia tahu ini adalah pemberian Tuhan untuknya dan dia mau melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya, nah ini menjadi palayanannya. Tuhan menerima persembahan pelayanan itu dan Tuhan menganggap itu sebagai hal yang indah di mata-Nya.
GS : Karena itu sering kali menjadi kendala juga seseorang itu diterima pada suatu tempat pekerjaan. Ketika ditanya, kalau misalnya suatu saat dia dibutuhkan bekerja sampai jam enam atau jam tujuh, dia langsung menolak. Dia berkata: "Saya ada pelayanan di gereja, jadi saya harus pulang jam empat." Nah ini menjadi hambatan buat dia.
PG : Sudah tentu akan ada pembicaraan lebih lanjut yang perlu dilakukan, apakah ini jenis pekerjaan yang mengharuskan dia pulang lebih malam atau pulang lebih sore, dan apakah di luar itu aa tuntutan yang lainnya.
Ini sesuatu yang perlu dinegoisasikan, dipikirkan dengan matang, namun kalau seseorang menganggap pekerjaan saya bukan pelayanan, pelayanan saya hanyalah misalkan memimpin persekutuan doa atau membagikan firman Tuhan, saya kira itu pandangan yang keliru. Sebab sama-sama mulianya, kita melakukan pekerjaan kita, ini adalah bagian dari pelayanan kita kepada Tuhan. Sekali lagi kita tidak perlu mendikotomikan hal ini, Tuhan pun tidak mendikotomikannya. Paulus adalah seorang pembuat tenda dan dia melakukan tugasnya dengan baik, Priskilla, Akuila juga sesama rekan pembuat tenda dan mereka terlibat juga di dalam pelayanan yang namanya pelayanan firman tetapi semuanya Tuhan terima apa adanya. Daniel, tidak pernah disebut Daniel berkhotbah, tidak pernah disebut Sadrakh. Mesakh dan Abednego berkhotbah, tidak pernah disebut Yusuf berkhotbah kepada Firaun, tapi semua pelayanan untuk Tuhan, mereka melakukan tugas dan kewajiban mereka sebagai negarawan, sebagai pejabat pemerintah, tapi mereka melakukannya dalam takut akan Tuhan. Itulah pelayanan mereka yang Tuhan tetapkan bagi mereka.
GS : Apakah ada pesan Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?
PG : Saya bagikan dari Mazmur 73:23 , "Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat akuke dalam kemuliaan."
Ini adalah nasihat yang akan saya berikan kepada orang yang merasa pekerjaannya tidak lagi memuaskan. Dekatlah dengan Tuhan jangan sampai jauh dengan Tuhan, mintalah Tuhan pegang tangan kanan kita dan mintalah Tuhan menuntun kita, tapi kita mesti bersabar. Sebab Tuhan berkata Dia akan mengangkat kita ke dalam kemuliaan. Jadi bersabarlah menunggu tuntunan Tuhan.
GS : Jadi ini sesuatu yang penting yang pasti sangat berguna bagi para pendengar kita. Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini, dan para pendengar sekalian, kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Bila Pekerjaan Tidak Lagi Memuaskan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Mencari pekerjaan yang ideal tidaklah mudah; kerap kali kita harus puas dengan pekerjaan yang tersedia, kendati pekerjaan itu tidak terlalu kita sukai. Akibatnya kita merasa jenuh dan tertekan; pada akhirnya kualitas karya kita pun merosot. Apa yang harus kita lakukan bila kita berada dalam kondisi itu?
Meski tidak menyukainya, kita tetap harus mengerjakan kewajiban kita sebaik-baiknya. Firman Tuhan mengingatkan,"Hai, hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:22, 23) Kita dipanggil untuk mengerjakan tugas kewajiban kita sebaik-baiknya-tidak peduli apakah kita menyukai atau tidak menyukai pekerjaan itu.
Kita pun dipanggil untuk bekerja meski pekerjaan ideal yang kita idamkan belum terwujud. Firman Tuhan mengingatkan,"Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu dan tidak makan roti orang dengan percuma tetapi berusaha dan berjerih payah siang malam supaya jangan menjadi beban siapa pun di antara kamu." (2 Tesalonika 3:6-7)
Ada satu alasan mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk bekerja sekalipun kita belum memperoleh pekerjaan yang kita idamkan. Pertama, kita harus menjaga kesaksian hidup sebagai orang Kristen. Jangan sampai kita mencoreng nama Tuhan akibat kemalasan kita.
Tuhan memimpin kita sampai ke tempat tujuan (dalam hal ini, pekerjaan yang kita dambakan) melalui perjalanan karier, bukan melalui berdiam diri menantikan datangnya tawaran. Tidak jarang Tuhan mempertemukan kita dengan orang tertentu yang akhirnya membukakan pintu bagi kita untuk masuk ke pekerjaan baru yang kita impikan. Juga, dengan terus bekerja, bukankah kita sesungguhnya tengah membangun tumpukan pengalaman kerja yang nantinya akan sangat bermanfaat untuk mendapatkan pekerjaan yang baru? Ingat, kita cenderung mengkaryakan orang yang bekerja, bukan orang yang tidak bekerja. Jadi, apa pun pekerjaan itu, lakukanlah.
Adakalanya Tuhan tidak memberikan pekerjaan yang kita inginkan karena Tuhan bermaksud lain, misalnya ada "tugas" yang belum terselesaikan, ada perubahan karakter yang perlu dipersiapkan, atau ada "bahaya" yang Tuhan perlu hindarkan dari kita.
Firman Tuhan, "Tetapi aku tetap dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan." (Mazmur 73:23-23)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Berbeda dengan pria, acap kali peran istri dan karier tidak berjalan harmonis. Ada empat prinsip yang bisa digunakan untuk mempertimbangkan hal ini. Yaitu (1) Tetapkanlah prioritas tujuan hidup, (2) Tuhan tidak menetapkan satu model pernikahan, (3) Perhatikan dan terimalah kodrat masing-masing, (4) Gantilah apa yang telah kita ambil dari keluarga.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya bersama Ibu Ester Tjahja, kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Wanita Karier dan Keluarga." Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, dalam beberapa dekade ini semakin banyak wanita yang berkarier di luar rumah, khususnya yang bekerja di kantor, di tempat-tempat tertentu dan itu selalu menimbulkan pro dan kontra. Menurut pandangan Pak Paul bagaimana?
PG : Betul Pak Gunawan, dan memang ini sering kali menjadi masalah bahwa perempuan bekerja, istri bekerja, ini kadang-kadang menimbulkan masalah dalam keluarga. Ada yang tidak bisa menerima, ad yang menerimanya, ada yang melakukannya dengan hati lapang, ada yang melakukannya dengan hati bersalah.
Ada wanita yang bekerja tapi terus dirundung rasa bersalah karena menganggap dia seharusnya di rumah. Jadi ini adalah beberapa isu-isu yang muncul dan sebaiknya kita membahasnya sehingga para ibu, wanita atau istri yang bekerja dan mempunyai keluarga bisa melihat prinsip yang benar.
GS : Untuk hal itu apakah Alkitab juga memberikan prinsip-prinsipnya?
PG : Ada Pak Gunawan, ada beberapa yang akan saya coba uraikan. Yang pertama adalah saya kira kita harus menetapkan prioritas tujuan hidup kita, ini berlaku baik untuk yang perempuan maupun pria. Yaitu kita mesti memiliki sistem prioritas yang jelas dan alkitabiah. Makin saya mengenal Tuhan, makin saya menyadari bahwa di hati Tuhan 'siapa' atau 'menjadi' menempati urutan teratas dalam daftar prioritasnya. Siapa sudah tentu merujuk kepada manusia sedangkan apa merujuk pada benda atau objek. Tuhan selalu menekankan manusia, Tuhan selalu menekankan siapakah kita ini, dalamnya. Tuhan tidak menekankan benda, materi, Tuhan tidak mementingkan status, tidak mementingkan jabatan kita, kita sebagai apa, bukan itu. Selalu yang Tuhan pentingkan adalah diri kita di dalamnya. Firman Tuhan di Efesus 1:4 dan 5 berkata, "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercela di hadapanNya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya." Jadi Tuhan sangat jelas, kita dijadikan supaya kudus tak bercela, sekali lagi sebuah kwalitas. Sekali lagi Tuhan tidak memusingkan status kita, pekerjaan kita, jabatan kita, tetapi siapa kita supaya menjadi seperti Kristus menjadi kudus tak bercela. Ini hal yang paling penting. Nah prioritas inilah yang seharusnya menjadi prioritas kita sehingga kita tidak terjerat di dalam jabatan, status. Ada orang yang mengejar-ngejar itu sehingga mengorbankan hal-hal yang lebih penting, yakni keluarganya dan dirinya juga.
ET : Tapi konsep siapa ini yang kadang-kadang buat ukuran manusia juga susah memilahnya. Misalnya ada orang yang memang benar-benar sekolah untuk mencapai gelar itu, sehingga waktu ada pertanyan tentang siapa anda, gelarnya yang disebutkan duluan.
Atau misalnya saya seorang direktur, jadi siapanya ini tetap berkaitan erat dengan status-status tersebut. Sudah tentu apa yang disediakan oleh Tuhan untuk kita ya kita coba kembangkan. Kita tidak berkata, "Saya menjadi apa pun tidak apa-apa" dan tidak ada usaha, tidak ada inisiatif untuk meningkatkan, memperbaiki hidup kita, itu juga tidak benar. Namun yang saya minta adalah kita mengerti bahwa yang penting bukan itu, kalau itu Tuhan berikan terimalah, kita mempunyai kemampuan untuk mengembangkan diri kita, kembangkanlah;Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukannya, lakukanlah. Tapi kita tidak benar-benar mengejar-ngejar, memaksa-maksakan diri. Sebab firman Tuhan juga berkata, "Siapa yang mencintai uang, akhirnya akan terjebak dalam kejatuhan. Kita tidak boleh mengejar-ngejarnya. Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan, hasilnya kita kembalikan kepada Tuhan biarkan Dia nanti yang menentukan dan memberikannya sesuai dengan kehendak Dia.
GS : Berarti di dalam menetapkan prioritas tujuan hidup itu, faktor apa yang harus kita pertimbangkan?
PG : Misalkan kita harus pikirkan keluarga kita, jangan sampai kita akhirnya mengorbankan keluarga. Misalnya ada orang yang gara-gara mau mendapatkan kedudukan yang lebih baik dia merelakan diinya untuk pergi ke luar kota, tiga bulan baru pulang sekali.
Akhirnya keluarganya berantakan atau dia pergi kerja dari pagi, pulang jam 12 malam, akhirnya kehidupannya lebih sering di luar rumah, masalah mulai muncul dalam keluarganya. Nah kalau kita memang tidak ada uang dan kita harus bekerja seperti itu, silakan, tapi itu berarti dalam satu kurun saja tidak selama-lamanya begitu. Namun sebisanya setelah keadaan kita lebih baik, sudah korbankan tidak usah melakukan semuanya itu, kita pentingkan yang di rumah, kita pentingkan manusia yang ada di sekitar kita, ini yang harus kita pikirkan.
GS : Prioritas itu bisa berubah-ubah Pak Paul dalam diri seseorang?
PG : Saya kira demikian, sebab memang bergantung pada kondisi di mana kita hidup. Misalkan anak-anak masih kecil, selagi anak-anak kecil kita harus tempatkan diri kita di rumah, kita tidak bis semaunya pergi dari pagi sampai malam, bagaimana dengan anak-anak.
Jadi kita harus pikirkan, "OK! Saya harus di rumah, sebab anak-anak membutuhkan saya." Jadi untuk masa itu mungkin karier harus kita korbankan, namun nanti akan ada kesempatan di mana anak-anak sudah mulai besar, kita bisa kembali bekerja. Jadi benar-benar kita memikirkan manusia-manusia yang ada dalam tanggungan kita, ini yang harus kita prioritaskan, manusia-manusia yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita, ini yang harus kita prioritaskan. Nanti masanya berubah, mereka tidak lagi dalam tanggungan kita, kita lebih bisa keluar, lebih luang waktu kita, silakan kita kerjakan. Apa yang bisa kita kerjakan di luar rumah, coba kita kerjakan.
GS : Prinsip yang lain apa Pak Paul?
PG : Tuhan tidak menetapkan satu model pernikahan Pak Gunawan, ini prinsip penting sekali. Kadang-kadang kita mempunyai prinsip yang terdengar rohani tapi sebetulnya tidak alkitabiah. Yaitu aa orang yang berkata perempuan seharusnya di rumah, tugasnya membesarkan anak-anak, melayani suaminya (titik).
Persoalannya adalah apakah itu rencana Tuhan, apakah itu sudah pasti rencana Tuhan untuk masing-masing wanita atau masing-masing istri. Saya kira justru tidak, Alkitab justru mempunyai beberapa contoh kasus yang berkebalikan dengan gambaran ini. Misalkan di Amsal 31, itu Amsal yang diidentikkan dengan Amsal wanita bijak. Justru memperlihatkan peran wanita sebagai pekerja bukan hanya ibu rumah tangga. Coba kita melihatnya, "Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya. Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur di tanaminya. Ia membuat pakaian dari lenan dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang." Amsal 31:13, 16 dan 24. Dari penjabaran ini dapat kita simpulkan bahwa selain sebagai ibu rumah tangga yang baik, ia adalah seorang pengusaha dan jenis usahanya pun ternyata beragam. Yaitu dia menjual bulu domba, rami, anggur, pakaian, ikat pinggang, jadi kalau istilah sekarang adalah 'she is business woman' bukan hanya sebagai ibu rumah tangga. Firman Tuhan yang lain yang juga memberikan contoh yang berbeda kepada kita adalah Lydia, seorang petobat yang pertama di Eropa, dari Filipi Makedonia. Dia adalah seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, ini dicatat di Kisah Para Rasul 16:14. Dengan kata lain dia seorang yang aktif berdagang dan dia menjadi petobat yang baru di Eropa. Nah kita tidak melihat satu model pernikahan Pak Gunawan. Jadi tidak ada firman Tuhan yang berkata, istri diwajibkan berdiam diri di rumah dan suami mencari nafkah di luar rumah, tidak harus begitu. Model apakah yang jadinya kita terapkan, kita peluk untuk keluarga kita. Jadi jawabannya adalah disainlah model yang paling sesuai dengan kondisi keluarga kita sendiri. Acapkali pilihan antara karier dan keluarga bukan sebuah harga mati yang harus diputuskan sekali dan selamanya. Pilihan antara keduanya lebih merupakan sesuatu yang bersifat cair, mengalir secara temporer, tergantung situasi dan kebutuhannya. Misalnya ada waktunya bagi suami mengalah dan mendahulukan karier istrinya sebab itulah tindakan yang paling bijak dan paling sesuai bagi keluarga ini. Sebaliknya kadang istrilah yang harus mengalah mendahulukan kepentingan suami dan anak. Pada dasarnya prinsip yang berlaku di sini adalah ambillah keputusan yang bijak, bijak artinya melihat kembali kepentingan masing-masing anggota keluarga pada masa itu sehingga kita tidak kaku.
ET : Ini mungkin yang rasanya masih agak asing bagi kebanyakan kita, karena entah dari mana kebanyakan pria beranggapan bahwa dialah yang harus menjadi kepala keluarga yang mencari nafkah keluarga sehingga, kalau konsep suami harus mengalah demi karier istri ini rasanya mungkin masih sulit, Pak?
PG : Ya karena memang dalam konsep kita ini siapa yang memegang uang dialah yang memegang kuasa. Jadi kami-kami yang pria ini sedikit banyak termakan dengan konsep itu. Jadi kami-kami ini bersaha mencari uang dan kami menganggap kami yang menjadi kepala keluarga gara-gara kami mencari uang.
Sebetulnya bukan itu, sudah tentu Tuhan tidak menginginkan pria-pria ini malas tidak bekerja, sudah tentu baik bekerja dan seharusnyalah bekerja. Tapi seharusnya penghargaan diri kita tidak didasarkan atas itu, sebab memang bukan itu, Tuhan tidak meminta hal itu. Yang Tuhan tekankan adalah kita menjadi kepala keluarga dengan cara kita mengasihi istri kita, anak-anak kita, kita bertanggung jawab untuk mereka, pada akhirnya itu yang paling penting untuk mereka. Dan kadang-kadang kalau itu yang dibutuhkan, gara-gara kepentingan istri kita dan kita memang bisa mengalah terlebih dahulu, mengalah-lah. Misalkan, bukannya istri yang ikut suami pindah-pindah tapi kadang-kadang silakan suami pindah-pindah ikut istri kalau memang itu yang terbaik buat istrinya dan dia siap mengalah dan tidak apa-apa. Sekali-sekali lakukan untuk itu juga dan tidak apa-apa. Saya kira keuntungannya akan dicicipi oleh mereka berdua, bukan hanya untuk satu orang.
GS : Memang yang dikhawatirkan banyak suami adalah kalau penghasilannya lebih rendah dari penghasilan istrinya, Pak?
PG : Dan tidak seharusnya menjadi masalah, sebab kalau si istri bisa membawa diri dengan baik, dia tidak menguasai si suami, dia tidak mendikte si suami, uang itu dia simpan di tempat yang umummaksudnya di tempat di mana suaminya pun bisa memegangnya dan sebagainya, itu tidak apa-apa.
Tapi ada suami yang merasa terancam karena istrinya menghasilkan uang lebih besar daripada dia. Saya kira tidak perlu, menurut saya biarkan, sebab memang kita tidak tahu rencana Tuhan dan cara Tuhan memberkati kita. Adakalanya Tuhan memberkati keluarga kita lewat kita, kepala keluarga, tapi kadang kala Tuhan memberkati kita lewat pasangan kita, dan bersukacitalah dan bersyukurlah asal kita jangan menjadi benalu yang terus-menerus menyedot uang istri kita, hidup foya-foya sebab istri kita beruang sekarang. Jangan Itu juga salah. Intinya adalah terbukalah, Tuhan memiliki banyak cara memberkati kita, lewat kita tapi kadang-kadang lewat istri kita pula.
ET : Tapi memang hal seperti ini memang benar-benar membutuhkan kebesaran hati dari kaum pria, dari para suami. Karena memang secara umum, entah kita golongkan masyarakat di Timur ini memang msih menganggap wanita dan pria itu beda status, beda peran.
Bahkan ada pepatah Jawa yang mengatakan wanita itu tugasnya 3M, Masak, Macak atau berdandan dan Melahirkan anak. Jadi tentu hal ini benar-benar membutuhkan kebesaran hati.
PG : Dan ini harus kita pelajari Ibu Ester, budaya tidak selalu alkitabiah. Penekanan kita bukan pada budaya, pada kebiasaan, pada lingkungan, tapi pada apa yang Alkitab katakan. Alkitab tida mengatur-atur perempuan harus begini atau begitu, yang Tuhan tekankan adalah kita orangtua bertanggung jawab, kita suami bertanggung jawab, kita istri bertanggung jawab, masing-masing melakukan tugas dan kewajibannya.
Nah kalau semua bertanggung jawab dan kita masih diberi kesempatan untuk mengembangkan diri kita ya tidak apa-apa.
GS : Apakah ada prinsip yang lain Pak Paul?
PG : Berikutnya adalah perhatikan dan terimalah kodrat masing-masing. Ada wanita yang senang berkarier di luar rumah lebih daripada di dalam rumah. Bagi mereka kehidupan yang aktif dan dinamisbukan saja menambah gairah hidup tapi merupakan energi untuk hidup.
Dengan kata lain bagi wanita-wanita ini tanpa kegiatan di luar rumah mereka akan kehilangan semangat hidup. Seperti api pada lilin yang semakin meredup, sebaliknya bila mereka dapat mengaktualisasi diri di luar rumah, mereka menjadi diri mereka yang terbaik dan ini berarti mereka bisa menjadi ibu rumah tangga yang lebih baik pula. Jika dipaksakan diam dalam rumah, mereka tidak menjadi istri yang terbaik, menjadi diri mereka yang terbaik, menjadi ibu yang terbaik, dan hal ini akan berdampak pada keluarganya pula. Tapi ada sebagian wanita senang berada dalam rumah dan bagi mereka aktualisasi diri justru terletak pada peran di dalam rumah. Sebagai istri, sebagai ibu rumah tangga, mereka bisa mengasuh anak, mengatur rumah tangga. Nah itu pilihan yang juga baik, kalau itu memang menjadi tujuan dan makna hidup mereka, silakan. Saya mengerti, bagi mereka pencapaian tertinggi adalah melihat suami bahagia, anak-anak bertumbuh sehat dan kuat, tidak apa-apa, ini pilihan yang baik. Namun intinya adalah siapapun yang memilih keputusan ini jangan merasa minder, karena diam di rumah tidak identik dengan bodoh atau terbelakang.
GS : Memang ada beberapa istri yang mungkin kurang yakin atau kurang percaya diri, kalau ditanya pekerjaannya apa, dia selalu menjawab ikut suami. Sebenarnya dia bisa mengatakan saya ibu rumah tangga.
PG : Betul sekali, dan itu sebuah pekerjaan, karena di rumah dia harus mengurus anak sampai malam, lebih berat dari pekerjaan di luar yang hanya sampai sore saja. Jadi di rumah pun sebuah pekejaan dan sama-sama terhormatnya.
Sebab misalkan kita bayangkan si suami tidak mempunyai istri dan ada anak-anak, bukankah dia harus meminta orang dan membayar orang, untuk mengurus anak-anaknya dan mengurus rumah tangganya. Jadi itu pun sebuah pekerjaan. Dan sama-sama terhormatnya tapi intinya adalah kita harus melihat dan menerima kodrat kita, jangan kita bandingkan dengan orang lain. Otomatis suami jangan membandingkan istrinya dengan orang lain, "Perempuan ini kok bisa begini, begini, kenapa kamu tidak bisa?" Ya masing-masing orang lain-lain, dan kita memang harus terima dan jangan merasa minder kalau kita tidak bisa melakukan yang orang lain dapat lakukan.
GS : Mungkin faktor pendidikan banyak berpengaruh di sana, Pak Paul?
PG : Saya kira demikian, makin berpendidikan saya kira orang semakin terbuka dengan hal-hal ini.
GS : Dan mungkin cenderung berkarier di luar rumah.
PG : Betul, tapi ada juga orang yang setelah berkarier di luar rumah, terus menikah kemudian memutuskan untuk meninggalkan kariernya dan benar-benar mencurahkan waktunya di rumah menjadi ibu ruah tangga.
Itu pun baik, tapi jangan sampai merasa minder kok teman-temannya statusnya terus menanjak, saya begini, begini saja menjadi ibu rumah tangga. Jangan sampai merasa begitu.
ET : Ya soalnya kadang-kadang ada yang menjawab, saya hanya ibu rumah tangga saja. Atau kadang-kadang suami-suami yang menjawab seperti itu, "Istri bagaimana?" "O....istri saya hanya ibu ruma tangga."
Kenapa harus ada kata hanya, itu yang kadang-kadang akhirnya membuat istri bertanya-tanya.
PG : Betul, jadi karier di dalam rumah atau pun karier di luar rumah, keduanya adalah karier, dua-duanya adalah pilihan dan ambillah pilihan itu sesuai dengan kodrat kita masing-masing. Kita hrus hidup dengan diri kita, jadi kalau kita mencoba untuk menghidupi kodrat orang lain, kita sengsara dan tidak menjadi diri kita yang terbaik.
Akhirnya keluarga kita pun tidak bisa mendapatkan manfaat dari hidup kita ini.
GS : Ada banyak juga wanita karier yang mengatakan terpaksa bekerja karena mereka membutuhkan dana untuk kehidupan rumah tangga mereka.
PG : Itu lain lagi, itu keterpaksaan dan harus dilakukan meskipun ada pengorbanan, tidak bisa lebih banyak waktu di rumah untuk anak-anak. Jadi memang kadang-kadang kondisi mengharuskan kita utuk berbuat seperti itu.
GS : Apakah masih ada prinsip yang lain lagi, Pak Paul?
PG : Yang terakhir adalah gantilah apa yang telah kita ambil dari keluarga. Maksud saya adalah salah satu fakta dalam hidup yang tidak dapat kita tawar adalah kita tak dapat selalu menyenangka dan memenangkan semua pihak.
Hampir dapat dipastikan setiap keputusan yang kita ambil akan berdampak positif sekaligus negatif. Menguntungkan satu pihak sekaligus merugikan pihak yang lain. Demikian pulalah dengan pilihan mengembangkan karier di luar rumah, tidak bisa tidak waktu dan keberadaan kita di dalam rumah akan terbatasi berhubung meningkatnya tuntutan untuk berada di luar rumah. Ini berarti kita mengambil sesuatu dari dalam rumah untuk kepentingan di luar rumah. Jadi jika ini yang harus kita lakukan, kita mesti merencanakan dan mempersiapkan segalanya dengan secepat mungkin. Misalnya, waktu yang kita berikan untuk keluarga haruslah menjadi waktu yang eksklusif. Maksudnya eksklusif adalah di luar kehadiran orang lain dan tidak diisi dengan urusan luar rumah. Saya berikan satu contoh kegagalan menciptakan waktu yang eksklusif. Kita mungkin berbangga hati karena dapat menyisihkan satu hari dalam seminggu untuk keluarga, namun setiap kali kita pergi bersama dengan keluarga, kita pun mengajak kerabat atau teman untuk bergabung. Atau secara fisik kita bersama keluarga, namun telinga dan mulut kita untuk orang lain, yang menghubungi kita lewat telepon atau handphone. Alhasil yang terjadi adalah kendati bersama keluarga tapi sesungguhnya kita bersama orang lain. Jadi ingatlah waktu yang eksklusif menuntut kita bersikap tegas terhadap gangguan pihak luar.
GS : Memang itu agak sulit menjaga keterasingan dengan pihak lain, di mana sekarang itu sarana untuk komunikasi itu gampang sekali, misalkan saja HP. Nah HP itu disediakan oleh perusahaan tempat dia bekerja dengan syarat tidak boleh dimatikan. Artinya sewaktu-waktu dia bisa dihubungi, pada saat mereka berekreasi dengan keluarga justru ada kebutuhan untuk dihubungi.
PG : Nah misalkan itu yang harus terjadi ya kita batasi, artinya selama kita berekreasi kita hanya menerima telepon dari perusahaan dan kita melihat nomornya, kalau memang dari perusahaan baru ita ambil, kalau bukan dari perusahaan, kita diamkan kita tidak usah ambil.
Jadi ini yang diperlukan, misalkan ibu rumah tangga yang akhirnya harus bekerja di luar, kalau itu yang harus dilakukan ya silakan tapi gantilah waktu itu. Nah waktu menggantinya benar-benar sepenuh hati menggantinya. Jangan sampai waktu kita mau menggantinya di rumah atau pergi dengan keluarga, kita pun sibuk dengan orang lain, ajak si ini rame-rame sehingga anak-anak benar-benar tidak bisa mendapatkan kita sepenuhnya. Kita selalu dicabik-cabik dan diambil oleh orang lain.
ET : Kadang-kadang sebagai wanita karier justru banyak waktu dengan orang lain dan waktu dengan suami juga berkurang, mungkin kencan dengan suami diperlukan juga dalam keadaan ini, Pak?
PG : Tepat sekali, dan waktu kencan memang benar-benar kencan, benar-benar pergi berdua atau pergi dengan keluarga. Sering kali kita itu lebih bisa terima meskipun kita suami dan istri kita beerja, tapi waktu dia bersama kita dia benar-benar memberi sepenuhnya kepada kita, rasanya tergantikan meskipun hari-hari lain dia sibuk, tapi waktu bersama kita dia sepenuhnya untuk kita dan dia benar-benar menomorsatukan kita.
Dia tidak menerima telepon dari orang lain, kecuali dari perusahaannya saja, benar-benar dia berikan sepenuhnya untuk kita. Nah kita, baik anak maupun suami akan sangat berterima kasih, dan kita tahu kita diutamakan, ini yang penting, jadi ini yang saya maksud dengan prinsip menggantikan. Yang berikutnya tentang menggantikan berkaitan dengan anak Pak Gunawan, yaitu kepada siapakah kita menyerahkan tanggung jawab pengawasan anak-anak sewaktu kita tidak berada di rumah. Ada dua kriteria yang ingin saya bagikan yaitu aman dan nyaman. Siapapun itu yang bertanggung jawab menjaga anak, haruslah menyediakan lingkungan yang aman dan harus memberikan perhatian yang memadai pada anak dan melindunginya dari bahaya. Jangan kita menyerahkan tanggung jawab mengurus anak kepada orang yang tidak mempedulikan keamanan dirinya sendiri atau orang lain. Juga jangan serahkan mengurus anak kepada orang yang tidak dapat mengurus dirinya sendiri, jika ia tidak dapat mengurus dirinya sendiri bagaimana mungkin dia sanggup mengurus orang lain. Tentang nyaman, yang saya maksud adalah ini, dia haruslah seseorang yang bisa memberi suasana nyaman kepada anak lewat kasih sayang dan kesabarannya. Jangan sampai anak merasa ketakutan atau tertekan, ditinggal bersama seseorang yang tidak sabar dan ketus. Kita mesti peka mendengarkan suara anak dan mengutamakannya di atas rasa sungkan. Misalnya saya mengerti kadang-kadang kita sungkan kepada orangtua sendiri yang bersedia atau memaksa menjaga anak kita. Perhatikanlah reaksi anak dan dengarkanlah isi hatinya, jangan sampai masa ditinggal orangtua menjadi masa penderitaan bagi si anak.
GS : Ini sesuatu hal yang penting sekali yang Pak Paul sudah sampaikan. Mungkin Pak Paul bisa menyimpulkan dan melandasinya dengan firman Tuhan?
PG : Saya akan mengambil dari Ibrani 13:5, "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membirkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
Tuhan sekali lagi menetapkan prioritas, bukan uang, bukan status dan sebagainya, jangan menjadi hamba semua itu. Sedangkan yang Tuhan minta cukupkan dengan apa yang Tuhan telah berikan kepada kita sebab Tuhan akan memelihara. Jadi sekali lagi prioritaskan keluarga, tentang yang lain-lainnya itu nomor dua, nanti Tuhan akan cukupi yang penting kita tidak merugikan keluarga kita.
GS : Jadi sebenarnya wanita berkarier itu tidak bertentangan dengan firman Tuhan?
PG : Tidak, Pak Gunawan, semuanya tidak bertentangan, pria berkarier tidak, perempuan berkarier pun juga tidak, asal dua-duanya memenuhi tanggung jawab dan memang mempunyai prioritas yang benar Dia tidak menghamba pada karier atau status itu.
GS : Semoga perbincangan kita ini bisa mencerahkan pikiran banyak orang yang khususnya ragu-ragu untuk menempuh jalur itu. Terima kasih Pak Paul dan juga Ibu Ester. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Wanita Karier dan Keluarga". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Berbeda dengan pria, acap kali peran istri dan karier tidak berjalan harmonis. Ada orang yang berkeyakinan bahwa sepatutnyalah istri diam di rumah dan mengurus keluarga. Berikut ini adalah beberapa prinsip yang dapat kita pertimbangkan.
Tetapkanlah prioritas tujuan hidup. Baik pria maupun wanita harus memiliki sistem prioritas yang jelas dan alkitabiah. Tuhan lebih mementingkan manusia dan pertumbuhannya dibandingkan pencapaian atau perbuatannya.
Jika inilah sistem nilai Tuhan, seyogianyalah kita mengikutinya dan ini berarti, dalam pengambilan keputusan, manusia atau keluarga akan kita dahulukan di atas pekerjaan atau karier. Dan ini berlaku baik bagi pria maupun wanita, tanpa kecuali. Secara praktisnya, setiap keputusan yang mengharuskan kita memilih antara karier dan keluarga, pilihannya adalah keluarga. Sudah tentu kewajiban memenuhi kebutuhan dasar keluarga merupakan tuntutan yang harus kita upayakan namun di atas kebutuhan dasar, keluargalah yang mesti kita utamakan. Jika Tuhan mementingkan faktor manusia, kita pun harus mementingkannya pula.
Tuhan tidak menetapkan satu model pernikahan. Mungkin ada di antara kita yang langsung berkomentar bahwa sudah seharusnyalah perempuan tidak berkarier sebab Tuhan menghendaki wanita menjadi ibu rumah tangga dan suami menjadi pencari nafkah. Kendati keyakinan ini terdengar rohani namun kenyataannya adalah, keyakinan ini tidaklah alkitabiah, dalam pengertian Alkitab sendiri tidak pernah menawarkan rumus ini.
Sesungguhnya Alkitab sendiri menyediakan pelbagai contoh peran wanita. Amsal 31 yang sering kali diidentikkan dengan amsal wanita bijak, justru memperlihatkan peran wanita sebagai pekerja, bukan hanya sebagai ibu rumah tangga.
Contoh lain dari wanita yang bekerja sebagai pengusaha adalah Lidia, seorang "penjual kain ungu dari kota Tiatira" (Kisah 16:14 ); Priskila, istri Akwila, yang kadang keduanya pergi bersama Paulus mengabarkan Injil (Kisah 18:19 ). Dari semua contoh ini terlihat jelas bahwa para wanita ini adalah orang-orang yang terlibat aktif dalam pelayanan atau bekerja di luar rumah.
Perhatikan dan terimalah kodrat masing-masing. Janganlah kita menggantungkan penghargaan diri pada penilaian orang; terimalah kodrat masing-masing dan berkembanglah sesuai dengan kodrat itu. Ada satu pepatah berbahasa Inggris yang layak kita simak, "Be yourself, but be the best of you!" (Jadilah dirimu sendiri, namun jadilah dirimu yang terbaik.) Kita tidak akan dapat memberi yang terbaik apabila kita sendiri tidak menjadi diri yang terbaik.
Gantilah apa yang telah kita ambil dari keluarga. Tidak bisa tidak, waktu dan keberadaan kita di dalam rumah akan terbatasi berhubung meningkatnya tuntutan untuk berada di luar rumah. Ini berarti, kita mengambil sesuatu dari dalam rumah untuk kepentingan di luar rumah.
Jika ini yang harus kita lakukan, rencanakan dan persiapkan segalanya dengan sebaik mungkin.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Ada orang yang dengan mudah mengetahui jenis pekerjaan yang disukainya namun ada sebagian orang yang mengalami kesukaran menentukan bidang pekerjaannya. Untuk memahami bidang yang cocok, disini kita akan mengenal 11 teori perkembangan karier.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama dengan ibu Ester Tjahja. Kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Pekerjaan yang Cocok". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, harapan dan kebutuhan, itu tentu menjadi idaman hampir semua orang. Ada seorang pendengar setia acara Telaga yang menanyakan apa dan bagaimana mendapatkan pekerjaan yang cocok itu Pak Paul.
PG : Saya setuju dengan pengamatan yang Pak Gunawan kemukakan, saya kira semua mengharapkan bisa memperoleh pekerjaan yang cocok. Masalahnya adalah pertama-tama bagaimana kita mengetahui pekeraan yang cocok itu apa.
Saya kira ada baiknya sekarang kita memulai dengan melihat tentang konsep karier itu sendiri. Karier itu sebetulnya bukanlah pekerjaan atau jabatan. Karier adalah sebuah rumpun, sebuah kelompok; di dalamnya itu terkumpul pekerjaan-pekerjaan yang sejenis. Biasanya kita dikaruniakan Tuhan satu jalur karier, namun adakalanya kita juga dianugerahkan Tuhan lebih dari satu jalur karier. Penting bagi kita untuk mengetahui jalur karier kita sehingga pada waktunya kita bisa memilih bidang yang sesuai dengan jalur karier yang kita sudah miliki. Untuk bisa mengetahui jalur karier itu ada hal-hal yang mesti kita lakukan dan terutama saya ingin mengingatkan kepada orangtua betapa pentingnya peran orangtua nantinya dalam perkembangan karier si anak.
GS : Jadi pekerjaan dan karier itu beda Pak Paul?
PG : Dibedakan, karena pekerjaan itu lebih merupakan sebuah satuan kerja, misalkan kita bisa mempunyai jalur karier yang disebut konvensional, di mana di dalam jalur-jalur konvensional itu kitamengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang lebih bersifat sekretariat; sekretaris, yang menyusun, menata, mengorganisir dan sebagainya.
Nah dalam kelompok itu atau dalam jalur karier itu ada banyak sekali jenis pekerjaan yang bisa termasuk di dalamnya. Atau misalnya jalur karier intelektual atau science, di dalam kelompok itu ada begitu banyak jenis pekerjaan; misalkan kedokteran, farmasi dan sebagainya. Jadi pekerjaan-pekerjaan itu adalah manifestasi dari karier itu sendiri. Dan memang bisa sangat berjumlah banyak, maka di dalam ilmu karier ada yang membagi dalam 6 atau ada yang membagi juga dalam 8 kelompok karier. Tadi saya sudah sebutkan dua yaitu yang konvensional, ada science, sosial-berarti kita enak bergaul dengan orang dan menikmati pekerjaan yang melibatkan manusia, menolong manusia, memberikan jasa kepada manusia. Ada juga kelompok bisnis; kita senang entrepreneur, mengambil risiko, mengatasi tantangan, membuka sebuah peluang baru, menjual ide, menawarkan barang, memasarkan. Kelompok organisasi, di mana kita belajar untuk mengatur, mengelola, menata baik itu benda maupun manusia; ada juga jalur teknologi-kita senang dengan tangan mengotak-atik mesin, hal-hal yang lebih bersifat keterampilan praktis. Ada juga jalur alam terbuka; kita senang bekerja di ruang terbuka misalnya di perhutanan, biologi, itu bagian-bagian yang lebih bersifat alam terbuka. Ada lagi bagian science, ada lagi bagian general culture atau kebudayaan umum misalkan mengajar atau menjadi pendeta-rohaniwan dan yang terakhir adalah jenis seni dan kreatifitas. Misalkan seniman atau bidang-bidang yang memang memerlukan kemampuan imajinasi yang tinggi.
GS : Karena begitu banyaknya jenis pilihan ini lalu orang menjadi bingung untuk menentukannya atau bagaimana Pak Paul?
PG : Sering kali begitu Pak Gunawan, sebab memang adakalanya kita itu bisa kuat dalam satu, cukup kuat dalam bidang yang lain dan lumayan kuat dalam bidang yang satunya lagi. Nah itu yang kadag-kadang membuat kita sedikit bingung, namun kita perlu menyadari kelompok pekerjaan tersebut atau kariernya.
Nanti dalam karier itu kita bisa melihat kesempatan yang Tuhan bukakan dan barulah kita masuk ke satuan-satuan pekerjaan itu sendiri.
GS : Sebenarnya itu sejak kapan seseorang itu bisa mulai dibimbing atau menentukan kariernya Pak?
PG : Sesungguhnya karier itu berkembang sejak anak sangat kecil yaitu usia sekitar 2 tahunan. Pada masa itu biasanya anak-anak mulai mengeksplorasi lingkungan; dia merangkak, dia memasukkan beda ke mulutnya, dia mau tahu apa itu dia merasakan lewat mulutnya.
Dan mengeksplorasi kemampuannya, menguji kemampuannya misalnya dengan memanjat. Atau mulai menggambar-gambar di tembok atau di kertas; dia ingin melihat kemampuan atau menguji kemampuannya. Kalau orangtua memberikan kebebasan, sudah tentu ada pengawasan tapi kalau diberikan kebebasan kepada si anak, ini akan memberikan ruang gerak pada si anak untuk mengembangkan rasa percaya dirinya, karena ia dia merasa dipercaya, dia boleh mengeksplorasi semua itu. Kebalikannya, kalau orangtua sedikit-sedikit melarang, "Ini tidak boleh, nanti kamu jatuh, itu tidak boleh." Akhirnya si anak tidak mempunyai kepercayaan, diri untuk berani mengeksplorasi lingkungannya. Nah ini menjadi tahap yang penting untuk menumbuhkan inisiatif dan kemandirian. Dan kita tahu inisiatif dan kemandirian, pada akhirnya dua komponen yang berpengaruh besar dalam etos kerja, dalam nantinya mencari pekerjaan dan sebagainya. Dengan kata lain disinilah sebetulnya dimulai proses perkembangan karier si anak; dimulai dengan pengembangan inisiatif dan kemandiriannya.
ET : Apakah itu juga berarti dari usia bayi sampai 2 tahun itu orangtua sudah mulai mendeteksi nanti ke depan minatnya apa, begitu Pak Paul?
PG : Belum, pada usia-usia awal memang kita itu tidak masuk langsung ke bidang karier yang spesifik. Kita pada dasarnya menumbuhkan prasarananya si anak untuk nanti mengembangkan kariernya. Dngan kata lain si anak perlu mempunyai kerangka-kerangkanya dulu, nanti di atas kerangka itulah dibangun informasi yang lebih jelas lagi, bahwa ini kariernya.
Tapi untuk sampai ke sana harus melewati anak tangga yang di bawah dulu, anak tangga yang di bawah itu adalah keberanian, kepercayaan diri untuk mengeksplorasi lingkungan-ini yang akan menumbuhkan inisiatif dan kemandiriannya. Dengan kata lain, kalau si anak tidak mendapatkan atau tidak mengembangkan inisiatif atau kemandirian di masa kecil ini, ini nanti akan mengganggu proses perkembangan dirinya dan juga perkembangan kariernya. Tidak bisa tidak ini akan mempengaruhi. Hal-hal yang seharusnya dia coba untuk dia ketahui, dia tidak berani coba; padahal itulah bagiannya atau bidangnya. Tapi karena dia tidak pernah berani, dia selalu ketakutan, dia tidak pernah tahu. Disuruh ini atau diberi kesempatan itu tidak mau, akhirnya tidak tahu apa-apa-nah ini akan menghambat sekali. Atau dia tahu dia mempunyai kemampuan ini, tapi tidak pernah berani untuk memakainya sehingga dia diam, dia simpan, tidak pernah dia gunakan-akhirnya kariernya atau diri yang nanti mengetahui karier tersebut akhirnya tidak pernah bertumbuh juga. Jadi penting sekali anak tangga yang di bawah ini supaya nanti di atasnya si anak bisa membangun konsep yang lebih jelas akan kariernya itu.
ET : Soalnya kadang-kadang banyak orang beranggapan, "Ah........2 tahun bisa apa, tahu apa," begitu Pak Paul. Tidak sedikit orangtua yang berharap anaknya tidak macam-macam, tidak mengeksplor acam-macam tapi lebih yang tenang, yang baik-baik, kadang-kadang berharapnya seperti itu.
PG : Kalau memang anak itu bawaannya diam, tenang, ya tidak apa-apa tapi kalau anak itu bawaannya lebih aktif, mau mengeksplorasi; di saat itulah orangtua memang sebaiknya memberikan pengawasansekaligus kebebasan sehingga dia bisa mengembangkan kemampuannya, dan juga apa-apa yang dia telah peroleh itu pada masa dua tahun nantinya akan sangat mengokohkan dirinya.
ET : Jadi bukannya dibatasi untuk menjadi diam itu ya?
ET : Saya menjadi ingat akan hal ini, kalau budaya atau tradisi Jawa waktu anak mulai bisa berjalan ada upacaranya. Disediakan banyak barang, kemudian anak disuruh milih. Misalnya anak itu miih buku-wah....anak
ini nanti akan menjadi apa, pendidikannya baik; jadi sepertinya sebuah prediksi ke depannya.
PG : Dan saya kira di sana memang terkandung harapan orangtua, yang sudah tentu barang-barang yang ditaruh adalah barang-barang yang nantinya anak akan pilih. Di sana terkandung harapan orangta terhadap anaknya, dan tidak apa-apa.
Nanti kita juga akan membahas pengaruh orangtua yang lebih langsung dalam perkembangan karier anak. Tapi apakah dengan memilih itu pasti si anak akan menjadi misalnya pelajar atau ilmuwan, bukankah belum tentu.
GS : Memang pilihan anak itu belum berdasarkan pilihan yang sesungguhnya, artinya yang dia pikirkan. Itu mungkin hanya kebetulan dia meraih benda yang terdekat dengan dia. Tetapi sering kali juga itu berpengaruh pada orangtua sehingga orangtua akan mencoba mengarahkannya ke sana ke cita-cita yang baik. Tetapi tadi Pak Paul katakan orangtua harus memberikan rangsangan supaya anak itu bisa menggali sebanyak mungkin. Nah itu hal-hal apa yang bisa dilakukan oleh orangtua Pak Paul?
PG : Misalkan, mainan. Sebaiknya mainan itu bukan mainan yang sempit atau yang monoton, sebaiknya mainan yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk menggunakan tangannya. Daripda hanya melihat saja, silakan gunakan tangan, kakinya dan sebagainya.
Tuhan itu sudah mendisain kita untuk bisa hidup dengan sehat dalam lingkungan yang apa adanya. Tuhan tidak pernah mendisain manusia hanya seolah-olah bisa berkembang dengan baik kalau disediakan alat-alat atau barang-barang yang mutakhir. Tidak demikian, bahkan dalam alam yang sangat bersahaja kalau saja anak itu diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungannya dia akan tetap mengalami pertumbuhan. Akan terjadi rangsangan pada otaknya dan tidak harus dengan barang-barang yang mahal atau mutakhir. Barang-barang yang biasa atau hal-hal yang bersifat alamiah, itu pun sudah sangat cukup untuk bisa mengembangkan diri si anak. Sebab yang si anak perlukan bukannya barang-barang yang berteknologi tinggi atau yang mahal itu, yang dia perlukan adalah dia bisa menggunakan tangannya, matanya, kakinya, telinganya, dia bisa mencium, itulah yang sangat dia perlukan. Dan dia memerlukan ruang untuk bisa mengeksplorasi lingkungannya itu.
GS : Saya juga ingat dulu waktu masih kecil juga main dari kulit jeruk itu juga sudah puas sekali.
PG : Betul, dan memang tidak harus membeli mobil-mobilan yang harganya satu juta. Buat si anak, mobil-mobilan yang satu juta dan kulit jeruk itu dampaknya pada si anak itu sama.
GS : Tetapi masalahnya bagaimana orangtua itu mendampingi dan membimbing anak untuk bisa mengerti menggunakan itu semua.
PG : Betul, dan itu sebetulnya yang terlebih penting daripada benda, mainan, yaitu pembimbingan dari orangtua itu sendiri.
GS : Nah bagaimana kalau anak ini mulai masuk sekolah?
PG : Pada masa sekolah, anak-anak sudah mulai berusia 5 tahunan; main menjadi bagian yang penting dalam perkembangan kariernya. Tipe permainan atau aktifitas yang disukai anak sering kali mencrminkan karier si anak di masa dewasa.
Maksud saya begini, pada waktu anak usia sekitar 5 tahun-10 tahun, 11 tahun, dia akan mengeksplorasi berbagai jenis permainan. Jarang anak itu tiba-tiba satu saja dan langsung suka, kebanyakan anak-anak sesuai dengan perkembangan usianya akan memilih berbagai jenis permainan. Pada usia 5 tahun main apa, 6 tahun main apa, 7 tahun main apa dan sebagainya. Sebetulnya nanti kita bisa mulai melihat anak-anak itu akan memilih permainan yang mempunyai tema yang sama. Tanpa dia sadari sebetulnya dia sudah mulai mengarahkan diri ke karier yang memang Tuhan telah sediakan untuk dia. Misalkan ada anak yang sangat senang dari kecil main petak umpet-mencari orang yang bersembunyi. Misalkan setelah anak itu berusia 11, 12 tahun yang dia sukai adalah permainan game yang mengandung unsur misterinya. Sebetulnya pada usia 5 sampai 12 tahun, tema permainannya akan sama. Di samping tema yang sama sudah tentu ada hal-hal yang lain yang dia mainkan yang dia bisa juga, tapi yang benar-benar dia sukai kalau dipikir-pikir dia akan temukan temanya. "O...ya saya suka tema misteri", dengan kata lain anak ini akan memasuki bidang yang sangat memerlukan aktifitas intelektual untuk mencari tahu penyebab, dan tidak nyaman dengan sesuatu yang langsung dicekoki; dia mau berpikir. Nanti bidang-bidang yang dia geluti adalah bidang-bidang yang memang menuntutnya untuk berpikir. Kalau rutin, sama, manual hari lepas hari begitu-begitu saja, dia paling tidak bisa. Tapi ada juga anak yang memang dari kecil kelihatan dia senang dengan permainan yang banyak sekali tantangannya yang menggunakan kekuatan fisik. Bisa jadi dari permainan-permainan itu kita akan bisa melihat bahwa pekerjaan yang dia sukai adalah pekerjaan yang penuh dengan tantangan. Dan yang juga nanti memerlukan mobilitas yang tinggi. Dia harus sering pergi ke sana - sini, menghadapi masalah di sini-selesaikan, menghadapi masalah di sana-selesaikan, nah kita akan mulai melihat tema-tema itu. Jadi masa bermain atau permainan apa yang dimainkan anak memang sangat penting.
ET : Tapi kadang-kadang itu mengikuti trend juga Pak Paul, maksudnya kalau anak-anak sekarang lagi trendnya main apa. Misalnya sekarang berkaitan dengan yang sifatnya elektronik; playstation, omputer game, rasanya semua anak mainnya ke sana.
Ini bagaimana Pak Paul?
PG : Memang ada pengaruh trend, sudah tentu. Jadinya kalau sekarang permainan video game yang lagi populer, memang main video game. Tapi tidak semua anak senang main video game jenis yang sama. Kadang-kadang kita melihat ada anak-anak yang senang gamenya bersifat misteri, mencari, menemukan, tapi ada juga yang senang tembak-menembak, kejar-mengejar, action dan sebagainya. Dan kalau misalkan temanya itu sama, nanti akan terulang dalam jenis aktifitas yang berbeda. Pada usia ini dia senang main video game, mungkin pada usia yang berikutnya dia senang dengan permainan yang lain tapi kira-kira temanya akan sama juga. Jadi memang kita bisa melihat tema itu sering kali dipertahankan, walaupun ada masanya dia main-mainan tertentu tapi biasanya mainannya tidak akan bertahan lama dan akan memilih mainan yang lain tapi jenisnya akan sama. Kalau dia tidak suka lari-larian, tidak suka cape'-cape'an dia akan lebih senang mainan yang diam. Nantinya misalkan dia lebih senang mejadi sekretaris, dia lebih senang menjadi akuntan, tidak suka yang berkeringat, jadi memang kita akan mulai melihat tema-tema pada permainan anak itu.
GS : Setelah masa anak-anak itu dilewati dan ketika dia memasuki usia remaja, itu biasanya ada pergantian jenis permainan, apakah itu berpengaruh?
PG : Pada masa-masa remaja, anak ini mulai benar-benar terjun hidup dengan teman-temannya yang biasanya sebaya. Di sini keterampilan menjalin dan mempertahankan relasi diasah. Kenapa ini pentng sebab inilah benar-benar tali yang akan mengikat perkerabatan atau yang mengikat kerja sama.
Karena kita tahu bahwa ini penting dalam nanti bekerja sama. Nah ini dipupuk pada masa-masa remaja, mungkin dia mulai konflik, dia mulai menyelesaikannya, dia tidak suka dengan yang ini dia ngomong ke orang tersebut, dia merasa dia takut dia cerita dengan temannya. Nah dinamika pertemanan inilah yang nanti akan menjadi fondasi yang sangat penting dalam perkembangan karier si anak. Karena nanti dia akan harus bekerja sama dengan orang-orang lain. Nah kalau si anak kehilangan kesempatan bergaul seperti ini, tidak ada sosialisasi, ini akan berakibat buruk pada perkembangan karier si anak. Misalnya nanti dia akan susah bekerja sama dengan orang, kehendaknya harus selalu dituruti, dia tidak bisa megalah, dia tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain; dia melihatnya hanya dari kacamatanya sendiri, ini hal-hal yang nanti akan menghancurkan perkembangan kariernya. Misalkan lagi, mempunyai kemampuan di satu bidang tapi gara-gara keterampilannya atau sosialisasinya sangat buruk akhirnya dia tidak bisa masuk ke bidang tersebut. Karena nantinya kita masuk atau keluar dalam sebuah bidang kerja itu tergantung pada penerimaan rekan-rekan kita; kalau rekan-rekan kita menolak kita meskipun kita mau maka kita tidak bisa masuk juga.
ET : Berbicara soal kehilangan, kalau misalkan kehilangan kesempatan untuk bermain di masa sebelumnya apakah itu juga bisa berdampak pada tahapan berikutnya?
PG : Sangat berdampak, karena bermain pada dasarnya akan menumbuhkan juga keterampilan si anak untuk bekerja. Maka ada teori dalam ilmu konseling karier yang mengatakan bahwa sebetulnya main aalah prototipe kerja-cikal bakalnya kerja.
Jadi orang yang memang bisa bermain dengan baik; bisa kerja sama, bisa tenggang rasa, bisa menyatukan visi sehingga bisa mencapai target secara bersama-sama; itu sebetulnya adalah keterampilan-keterampilan yang diperlukan sekali dalam bekerja. Jadi orang yang bisa bermain dengan baik disimpulkan nantinya juga akan lebih bisa bekerja dengan lebih baik pula. Tolong menolong untuk bisa mencapai tujuan yang sama, kreatifitas, mengembangkan permainan, memecahkan problem dalam permainan; itu semua keterampilan yang mutlak diperlukan dalam bekerja. Jadi sampai sekarang kita belum membicarakan bidang karier yang secara spesifik. Kita masih membicarakan kerangka-kerangkanya yang nantinya mendukung perkembangan karier selanjutnya.
GS : Apa yang dirintis sejak usia dua tahun atau sebelum itu, pada saat-saat remaja karena sudah mulai bersosialisasi, itu bisa berubah Pak Paul?
PG : Betul, maksudnya permainannya akan berubah tapi sebetulnya kita akan melihat nanti bidang karier itu akan mulai menampakkan diri di usia remaja. Karena biasanya si anak mulai mengenali miat dan kemampuannya dari pendidikan sekolah; dia mulai tahu apa yang tidak dia suka.
Misalkan mulainya dengan mengetahui apa yang tidak disukainya, perlahan-lahan waktu dia mulai tahu apa yang tidak disukainya dia juga mulai menemukan apa yang disukainya. Tapi jangan takut kalau anak remaja belum tahu pasti apa yang disukainya; sering kali anak remaja itu lebih tahu apa yang tidak disukainya. Kenapa tidak tahu apa yang disukainya, sebab pada masa-masa SLTA atau SMA atau SMU, belum semua bidang pekerjaan itu diperkenalkan sehingga ada waktu-waktu anak-anak tidak tahu. Sebab bukannya dia tidak tahu tapi memang belum ada pengenalan terhadap bidang pekerjaan tersebut. Mata pelajaran hanya sekitar 15, 16 ; jenis pekerjaan yang ada di luar ada berapa ratus, tidak mungkin sekolah bisa memperkenalkan semuanya. Jadi ada kalanya anak tidak tahu tapi itu wajar; yang penting dia mulai tahu jelas apa yang tidak dia sukai, apa yang tidak mampu dia lakukan. Nah ini menjadi dasar untuk dia nanti mengetahui apa yang disukainya dan apa yang mampu dia lakukan dengan baik pula.
GS : Di situ juga biasanya timbul konflik dengan orangtua, bahwa apa yang disukai itu tidak disukai oleh orangtuanya.
PG : Orangtua memang pada tahap-tahap ini memberikan bimbingannya, jangan terlalu keras, otoriter; berikanlah pengarahan kepada anak; jangan sampai langsung memutuskan, kamu tidak boleh ini, kaier ini jelek dan sebagainya.
Tidak demikian, kita awasi dulu, kita lihat dulu perkembangannya, karena ini belumlah tahap akhir. Si anak biasanya pada masa-masa remaja mulai mengenal 3 jenis karier yang kira-kira dia mau geluti, tapi dia sendiri belum tahu pasti. Biarkan dia memastikan bidang apa yang memang sungguh-sungguh dia sukai, jadi orangtua juga jangan terlalu bereaksi. Kasihan si anak, karena yang sebetulnya dia bisa kembangkan tapi akhirnya dia tidak bisa kembangkan.
GS : Tapi memang tadi Pak Paul sudah singgung bahwa sistem pendidikan kita dan kurikulumnya itu tidak mendukung atau kurang menolong anak-anak ini untuk mampu menemukan karier apa yang akan dia geluti nanti.
PG : Di sini peranan sekolah atau guru sangat penting, jadi sebaiknya sekolah atau guru pada masa-masa ini memperkenalkan kepada anak-anak jenis-jenis pekerjaan yang ada di luar. Misalkan, pangil orangtua murid yang mempunyai keahlian tertentu, pekerjaan tertentu, untuk datang bercerita tentang pekerjaannya.
Sehingga siswa belajar dan tahu, apa saja yang ada dan tuntutannya apa, jenis pekerjaannya apa saja. Jadi anak-anak disiapkan mengenal apa yang tersedia di luar. Karena dalam perkembangan karier, mengetahui apa yang diri bisa lakukan dan mengetahui pekerjaan apa yang tersedia di luar, dua-dua sama pentingnya.
GS : Karena itu sering kali anak ketika ditanya oleh orang yang lebih tua, baik orangtuanya maupun orangtua yang lain. Kamu nanti kalau besar mau jadi apa? Mereka juga bingung mau menjawab atau asal menjawab.
PG : Memang kurikulum ini masih perlu dikembangkan Pak Gunawan, saya harap perlahan-lahan hal-hal ini akan lebih dikomunikasikan kepada para siswa.
GS : Pembicaraan kita ini tadi Pak Paul katakan baru menentukan kerangkanya saja, jadi kita belum masuk ke bagian yang lebih detail, yang lebih praktis. Karena keterbatasan waktu, kita harus akhiri dulu perbincangan kita ini dan kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. Jadi kita berharap pendengar kita akan mengikutinya, namun sebelumnya mungkin ada firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?
PG : Amsal 27:17 berkata, "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya." Tadi kita telah belajar tentang peranan orangtua yang ternyata sangat penting sekali. Apa peranan orangtua? Kalauboleh saya simpulkan, ini yang firman Tuhan katakan; besi menajamkan besi.
Orangtua yang bergaul dengan anak, berinteraksi dengan anak, mengkonfermasi, mengarahkan anak, memberikan kebebasan tapi memberikan pengawasan, ini ibarat besi menajamkan besi. Jadi akhirnya si anak pun akhirnya tambah tajam, tambah tajam dan tambah tajam, tapi diperlukan peranan orangtua. Jadi sekali lagi kita mau memanggil orangtua pulanglah ke rumah, terlibatlah dalam kehidupan anak sehingga kita bisa menajamkan besi yang Tuhan telah titipkan kepada kita.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini, juga Ibu Ester terima kasih. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Pekerjaan yang Cocok". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ada orang yang dengan mudah mengetahui jenis pekerjaan yang disukainya namun ada sebagian orang yang mengalami kesukaran menentukan bidang pekerjaannya. Untuk memahami bidang yang cocok, ada baiknya kita mengenal teori perkembangan karier.
Karier berkembang mulai dari saat anak berusia sekitar 2 tahun. Pada masa itu anak mulai mengeksplorasi lingkungan (dengan merangkak dan memasukkan benda ke mulutnya) dan mengeksplorasi kemampuannya (memanjat atau mulai menggambar). Kebebasan yang disertai pengawasan akan memberi ruang gerak kepada anak untuk mengembangkan rasa percaya diri. Jadi pada masa balita, peran serta orangtua sangat penting untuk menumbuhkan inisiatif dan kemandirian anak. Orangtua yang terlalu membatasi akan menumpulkan inisiatif anak dan melemahkan kemandiriannya.
Tatkala anak memasuki usia sekolah, bermain menjadi bagian penting dalam perkembangan karier anak. Tipe permainan atau aktivitas yang disukai anak sering kali mencerminkan karier anak di masa dewasa. Bermain juga merupakan cikal bakal bekerja sebab baik bermain maupun bekerja berbagi etos yang serupa. Dalam bermain kita harus tenggang rasa, saling tolong, kreatif, dapat memecahkan problem dan mengatasi tantangan guna mencapai tujuan bersama-kualitas yang dituntut dalam bekerja. Jadi, kesempatan bermain merupakan waktu yang penting dan bermanfaat bagi anak. Jika anak kehilangan waktu bermain, ia akan kehilangan kesempatan mengembangkan etos bekerja bersama.
Pada masa remaja, anak terjun ke dalam kehidupan bersama teman dan di sinilah keterampilan menjalin dan mempertahankan relasi diasah. Bila anak kehilangan kesempatan bergaul, besar kemungkinan ia akan kehilangan kesempatan mengembangkan kesanggupan berelasi-sesuatu yang sangat penting dalam perkembangan karier karena bukankah semua lapangan kerja menuntut adanya kemampuan untuk menjalin dan menjaga relasi.
Pada masa remaja anak pun mulai mengenali minat serta kemampuan dan ketidakmampuannya lewat pendidikan yang ditempuhnya. Jika sampai saat remaja anak tetap tidak tahu apa minat dan kemampuannya/ketidakmampuannya, besar kemungkinan ia akan mengalami keterlambatan dalam perkembangan kariernya. Pada fase remaja sebaiknya anak diberi kesempatan mengenal pelbagai jenis perkerjaan serta tuntutannya. Pengenalan ini akan membantunya melihat dirinya dengan lebih jelas di dalam lingkup pekerjaan itu.
Baik pada masa anak maupun remaja, exposure dini terhadap jenis pekerjaan tertentu akan mempengaruhi perkembangan karier, apalagi bidang tersebut menjadi bidang yang akhirnya dikuasai dengan baik.
Juga, pada masa anak dan remaja, peran panutan sangat besar dalam pemilihan karier karena ada kaitan antara pemilihan karier dan panutan di mana kita cenderung memilih karier yang dipilih oleh panutan kita.
Dalam menentukan karier, sedapatnya kita memilih karier yang merupakan perpanjangan sekaligus ekpresi diri. Dengan kata lain, pilihan karier serasi dengan kepribadian kita.
Adakalanya karier merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan emosional. Ini tidak salah namun dapat mengaburkan bakat semula. Jadi, penting bagi kita untuk mengenal diri dan kebutuhan dengan tepat.
Jika diperhadapkan dengan pilihan antara kesukaan dan kemampuan, kita memilih kemampuan. Sudah tentu idealnya kita dapat menggabungkan keduanya namun bila pilihan itu tidak ada, sebaiknya kita memilih kemampuan daripada memilih sesuatu yang kita sukai namun tak dapat kita lakukan. Pertajamlah kemampuan yang sudah ada terlebih dahulu, baru-bila ada kesempatan-kita mengasah kemampuan yang lemah namun kita sukai. Dengan kata lain, kita membangun karier di atas realitas, bukan angan-angan.
Alih karier bukanlah sesuatu yang tidak lazim. Adakalanya kita memilih karier atas dasar kebutuhan (ekonomi atau emosi), namun setelah kebutuhan terpenuhi kita pun merasa resah. Di saat itulah kita mulai mempertimbangkan alih karier dan biasanya ada dua kemungkinan: (a) jika sebelumnya kita memilih yang sesuai kebutuhan sekarang kita memilih karier yang sesuai minat dan kemampuan atau (b) kita melihat adanya kebutuhan mendesak dan kita terpanggil untuk memenuhinya.
Di luar itu semua ada sesuatu yang turut mempengaruhi karier yakni kesempatan. Tuhanlah yang memberi kesempatan dan kadang itu tidak diberikannya. Kadang maksud-Nya adalah melatih kita untuk siap melakukan tugas yang akan Ia embankan pada kita. Adakalanya Ia menutup kesempatan karena Ia tahu bahwa kita dapat merugikan orang atau diri sendiri. Kadang Ia menarik kesempatan karena Ia ingin mengalihkan kita ke suatu bidang yang lain. Pada intinya kita tidak selalu tahu rencana Allah; jadi tugas kita hanyalah melakukan tanggung jawab atau bagian kita. Terimalah porsi yang Ia tetapkan untuk kita dengan penuh syukur. Yusuf berkata kepada saudaranya," Janganlah takut sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. (Kejadian 50:19-20)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Banyak anak misalnya di kelas 3 SLTA yang masih bingung mau melanjutkan ke mana, bahkan mereka yang sudah kuliah pun juga bingung nantinya mau kerja apa. Di sini diharapkan mereka dapat bergumul menentukan karier yang harus dia jalani atau profesi yang harus dia tekuni.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Pemuda dan Karier". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, tema yang kita angkat pada kesempatan ini adalah tentang pemuda dan karier. Nah, sebelum kita lebih jauh memperbincangkan masalah ini mungkin Pak Paul bisa memberikan latar belakangnya secara garis besar Pak Paul?
PG : Begini Pak Gunawan, kita mesti memiliki konsep yang jelas dimanakah tempat kita dalam hidup ini. Jikalau kita tidak memiliki pemahaman yang jelas dimanakah tempat kita dalam hidup ini, kit dapat diibaratkan dengan daun yang tertiup oleh angin dan terhempas ke mana-mana.
Tapi kalau kita sudah menyadari dimanakah tempat kita dalam hidup ini, kita akan lebih bisa berakar, kita lebih bisa teguh. Nah, ada orang-orang yang sampai tua pun tidak menyadari dimanakah tempatnya dalam hidup ini, sehingga mereka terus menjadi orang yang terombang-ambing. Nah, sedangkan ada juga orang-orang yang bahkan pada usia muda sudah mengetahui dengan jelas tempatnya dalam hidup ini. Nah, kita bisa melihat meskipun mereka masih usia muda tetapi mereka memiliki kemantapan. Nah apa yang saya maksud dengan tempat ini. Istilah tempat bisa bermakna banyak, namun salah satunya yang saya kira penting adalah tempat mengacu pada apa karunia kita, apa jalur karier kita dalam hidup ini. Tidak bisa tidak jalur karier atau pekerjaan kita itu berpengaruh besar terhadap tujuan hidup ini. Kalau kita tidak mengetahui jelas apa itu yang bisa kita lakukan dalam hidup, apa itu jalur karier yang harus kita tempuh, maka kita sukar sekali menetapkan tujuan hidup kita. Memang secara kasar secara umum kita bisa berkata kita hidup untuk memuliakan Tuhan. Bukan lagi kita hidup untuk diri sendiri kita hidup sekarang untuk Tuhan. Namun secara kongkretnya apa itu yang harus kita lakukan hari lepas hari. Nah, berbahagialah kita yang sudah jelas mengetahui jalur karier kita ini. Setidak-tidaknya jalur karier ini menempatkan kita di rel yang akan mengarah pada tujuan hidup kita itu pula.
GS : Ya sebenarnya kalau seseorang mengalami kesulitan di dalam menentukan atau mengetahui dengan tepat Pak Paul ya tempatnya di dalam dunia ini, itu penyebabnya apa sebenarnya Pak Paul ?
PG : Sebetulnya banyak sekali penyebabnya Pak Gunawan. Saya berikan salah satu contohnya, salah satu teori karier mengatakan begini aktivitas yang kita mulai pada masa-masa kecil yang kemudian endapatkan tanggapan positif akan menumbuhkan minat kita pada bidang atau lapangan kerja itu.
Waktu kita makin bertumbuh besar akhirnya kita termotivasi untuk mendalami bidang tersebut. Akhirnya kita mulailah mengembangkan kompetensi, kemampuan, keterampilan kita asah. Nah dengan kompetensi ini akhirnya kita bisa memasuki jalur kerja. Nah, dari teori yang satu ini saja kita bisa menyimpulkan bahwa peranan orang tua kita, keluarga kita, atau guru-guru kita yang memang berpengaruh besar dalam masa-masa pertumbuhan kita, ternyata peranan mereka sangat besar juga dalam penentuan atau penetapan karier kita. Sudah tentu akan ada juga faktor-faktor bawaan ya kemampuan-kemampuan lahiriah yang telah kita warisi pada masa-masa bayi kita. Tapi sekali lagi kita bisa melihat peranan keluarga atau orang tua yang besar. Nah, untuk menjawab pertanyaan Pak Gunawan tadi apa kira-kira penyebabnya. Salah satu penyebabnya adalah ada orang-orang tua yang memang tidak memberikan bimbingan, tidak memberikan penguatan, imbalan, tanggapan positif tentang apa yang bisa dilakukan oleh anak, sehingga si anak tidak pernah tahu apa yang bisa dilakukannya. Akhirnya dia tidak mempunyai minat, waktu dia sekolah pun dia hanya menjalani kewajibannya, tanpa ada minat yang bisa dia katakan ini kesukaanku karena apa, karena semua dilakukan dalam kesunyian tidak pernah ada yang memberikan tanggapan apa-apa kepadanya.
GS : Ya, berarti Pak Paul ini merupakan suatu proses sampai seseorang itu tiba pada suatu karier yang cocok dengan dirinya Pak Paul. Nah, sebenarnya proses ini berawal sekitar kapan itu Pak Paul di dalam kehidupan seseorang?
PG : Sebetulnya proses itu berawal dari masa kecil sekali, namun untuk lebih terfokus ya lebih bisa kita melihat dengan mendetail kita langsung saja pusatkan perhatian kita pada masa-masa remaja. Sebab masa remaja adalah masa persis sebelum kita memasuki dunia kerja yakni pada usia dewasa awal yakni usia sekitar 20 tahunan. Nah pada masa remaja kita dapat bagi sekurang-kurangnya pada dua masa besar atau dua kategori besar. Yang pertama sekitar usia 14 hingga 18 dan yang berikutnya usia 18 hingga 20 atau 21. Apa saja itu yang termaktub di dalam masa remaja ini. Yang pertama ini saya ambil dari teorinya Donald Super yaitu masa yang disebut masa kristalisasi. Pada usia SMP, SMA ini anak-anak remaja sudah seharusnya mulai memikirkan beberapa kemungkinan nanti saya mau menjadi apa. Nah, sudah tentu pada masa ini saya mau menjadi apa itu memang barulah dalam bentuk pemikiran belaka. Benar-benar belum ada kenyataan konkretnya. Saya masih ingat, ambil saya sebagai contohnya waktu saya masih SMA saya tidak tahu jelas waktu itu mau menjadi apa. SMP pun juga saya tidak tahu. Namun yang saya tahu adalah saya menyukai drama. Nah salah satu hal yang terpikir dalam benak saya adalah saya nanti mau masuk ke teater saya mau mendalami drama. Apalagi? Terus saya mulai memikirkan saya tapi juga harus mengongkosi hidup saya. Nah apa mata pencaharian saya. Nah saya tahu pada saat-saat itu bahwa salah satu pekerjaan yang bisa menghasilkan uang adalah bidang teknik. Tapi saya tidak kuat dalam bidang-bidang teknik. Namun kalau saya ditanya saya selalu berkata oh mungkin saya mau masuk ke bagian teknik mesin. Sebetulnya itu adalah pemikiran saja tidak ada kemampuan saya di bidang itu. Namun saya sudah mulai memikirkannya dari sudut finansial yaitu pekerjaan apakah yang bisa menghasilkan uang. Dengan kata lain pada saat itu ada dua ya kira-kira langkahnya, yang pertama masuk ke dunia teater yang memang saya sukai dan saya miliki kemampuannya. Yang kedua adalah masuk ke dunia teknik yang saya tidak punya kemampuannya saat itu tapi hanyalah mengandalkan pada aspek penghasilannya. Nah, pada saat-saat usia SMP, SMA-lah anak-anak mulai mengembangkan pemikiran-pemikiran ini. Nah, seharusnya mereka sudah mulai mengembangkan pemikiran ini. Jadi kalau sampai mereka tidak memiliki ide-ide ini itu memang tanda awas juga buat kita.
GS : Sering kali yang saya jumpai anak-anak seusia itu SMP, SMA itu masih kebingungan karena justru pilihannya banyak sekali Pak Paul, dia masih tidak bisa menentukan yang satu ini teknik, kalau Pak Paul cuma dua mungkin ini bisa 5, 6 sehingga dia sendiri kebingungan gitu Pak Paul?
PG : Memang kebingungan itu bisa muncul dari berbagai faktor Pak Gunawan. Faktor yang pertama adalah anak-anak yang mempunyai banyak kemampuan juga bisa bingung karena bisa dalam banyak hal. Na, ini salah satu hal yang harus orang tua juga perhatikan.
Sehingga orang tua tidak terlalu tergesa-gesa menyalahkan anak, kok kamu sampai usia 17 tahun belum tahu mau masuk bidang apa. Kalau anak itu mempunyai banyak kemampuan kita tidak usah khawatir biarkan saja. Yang memang lebih mudah untuk masuk jalur adalah anak-anak yang kemampuannya atau minatnya itu terfokus pada satu saja misalkan bidang Kimia dari SMP sudah tahu jelas dia sangat senang dengan Kimia. Tapi ada sebagian anak yang memang tidak seperti itu. Faktor kedua kenapa ada sebagian anak bingung. Nah, ini berkaitan dengan tadi yang saya sudah katakan yakni ada sebagian anak yang memang tidak mendapatkan pantulan dari orang tua atau dari lingkungannya. Tidak pernah diberikan tahu kamu itu bisa apa, kok kamu bagus sekali dalam hal ini dan sebagainya. Semuanya biasa, sehingga dia tidak tahu apa yang dia sukai. Faktor yang ketiga adalah kenapa sebagian mereka bingung, karena ada anak-anak yang memang kemampuannya kurang, di bawah rata-rata. Sehingga di dalam semua bidang dia merasa dia tidak mempunyai kebisaan. Tidak ada kepercayaan diri untuk memasuki salah satu bidangpun. Nah, ini bisa terjadi karena bidang-bidang yang selama ini dia geluti kebetulan bidang-bidang yang tidak dia kuasai. Memang kemampuannya tidak ada di sana. Bisa jadi juga akan ada bidang lain yang belum dia ketahui tapi itu bisa muncul belakangan. Nah ada lagi yang seperti ini Pak Gunawan, ada anak-anak yang sebetulnya sudah tahu dia bisanya di bidang apa. Misalkan dia kuat di bidang Sastra. Berarti apa dia bisa memasuki jurnalisme dan sebagainya. Namun dia tidak terima. Kok saya bisanya hanya bidang Sastra menulis dan sebagainya. Dia maunya menjadi orang yang lebih populer, lebih ternama, lebih menghasilkan uang seperti yang dia pikirkan konsepnya apa itu. Nah, akhirnya karena dia tidak bisa menerima itulah kekuatannya dia terus-menerus mencari. Masalahnya adalah dia mencoba membangun di tempat yang memang dia tidak mempunyai modal. Sehingga selalu kandas. Di tempat dia di mana dia punya modal itu tempat dia tinggalkan dan tidak pernah membangunnya.
GS : Ya, sering kali juga faktor guru atau pengajar itu besar sekali pengaruhnya Pak Paul. Jadi kalau anak itu menyukai caranya guru itu mengajar dan sebagainya itu menarik minatnya.
PG : Betul sekali Pak Gunawan. Jadi salah satu teori karier ini mengatakan bahwa identifikasi anak dengan tokoh tertentu itu juga berpengaruh dalam pengembangan kariernya. Kalau dia menyukai saah satu tokoh tertentu dan kebetulan orang itu profesinya sebagai misalkan guru.
Bisa jadi si anak tertarik akhirnya menjadi seorang guru. Nah, itu salah satu pengaruh yang besar dalam perkembangan karier seorang anak remaja.
GS : Ya, seandainya ada anak remaja itu yang datang pada kita atau orang tuanya lalu menanyakan memang ada satu karier yang dia sukai tapi itu tidak cukup untuk menutup biaya hidupnya nanti, di lain pihak kalau dia toh tadi pergumulannya yang sama dengan Pak Paul yang alami, Pak Paul tahu sebagai seniman mungkin kurang tetapi milih ke jurusan mesin. Nah kalau itu terjadi dan ditanyakan pada orang yang lebih senior, bimbingan apa yang bisa kita berikan?
PG : Pertama-tama kita selalu akan mengembalikan anak itu kepada kemampuannya. Karena minat harus selalu disertai dengan kemampuan. Meskipun dia meminati bidang tertentu tapi dia tidak memilikikemampuan di sana kita sebagai orang tua atau konselor tidak mendorongnya untuk ke sana.
Jadi ada hal-hal yang bisa dikembangkan itu sudah tentu betul. Tapi ada hal-hal yang tidak bisa dikembangkan. Karena apa ya memang tidak ada kemampuan di sana.
GS : Nah kalau proses atau tahap kristalisasi itu sudah bisa dilalui dia akan meningkat ke tahap apa Pak Paul?
PG : Tahap berikutnya adalah yang disebut oleh Super tahap spesifikasi. Nah dari nama tahap ini kita bisa merêka bahwa pada masa ini anak-anak mulai menyempitkan pilihan-pilihannya. Misalkan dai 5 sekarang ke 2 atau ke 1.
Nah usianya adalah sekitar usia 18 hingga 21 tahun. Dengan kata lain ini usia pasca SLTA usia perguruan tinggi nah ini yang kadang-kadang menciptakan masalah. Orang tua kadang-kadang frustrasi dengan anaknya karena apa, karena ada sebagian anak yang memang memerlukan waktu itu 2 atau 3 tahun setelah SLTA untuk mengetahui dengan jelas secara spesifik apa itu bidang yang dia minati dan dia mampu untuk melakukannya. Berarti apa kalau dia baru menyadarinya pada usia 20 atau 21 tahun ini 'kan berarti dia sudah kuliah tahun ketiga. Nah bisa jadi setelah tahun ketiga semester keenam dia berkata kepada orang tuanya: "Pa, Ma, bidang ini bukan bidangku. Aku harus pindah ke tempat yang lain." Nah, orang tua bisa mengeluh kami sudah mengeluarkan uang begini besar untukmu kok sekarang kamu berkata ini bukan bidangmu nah anak ini bisa berkata ya nomor satu saya tidak suka mungkin itu alasan yang pertama. Makin saya geluti makin saya tidak suka. Awalnya saya kira saya akan menyukainya dia bisa tapi dia tidak suka. Atau kasus yang kedua dia mungkin masih mau meneruskan namun tidak bisa. Makin tinggi tingkatan makin susah dan makin jeblok angka-angkanya. Nah, akhirnya si anak sampai pada kesimpulan dan menerima diri apa adanya. Anak ini berkata ini bukan bidang saya. Nah, kadang-kadang kasus seperti ini saya jumpai juga anak-anak yang sudah masuk misalkan di bidang teknik atau bidang komputer. Setelah tahun-tahun dua tahun ketiga di universitas akhirnya baru menyadari ini bukan bidang saya. Nah, setelah akhirnya dibimbing baru dia menyadari bahwa bidangnya misalkan ke bahasa Inggrislah atau ke Ekonomilah dan sebagainya. Nah pada saat itulah si anak memang dihadapkan dengan pilihan meneruskan atau memaksakan atau pindah. Nah, kalau memungkinkan untuk pindah memang sebaiknya pindah. Sebab biasanya kalau sudah sampai pada tahap ini dan anak ini memang mempunyai sejarah yang lumayan stabil, biasanya pada waktu dia pindah sekarang ini dia memang sudah benar-benar jelas. Sudah sangat spesifik sekali. Jadi makanya diberikan rentang waktunya sekitar 3 tahun ya usia 18 hingga usia 21 sampai anak itu bisa mengenal dengan jelas secara spesifik apa itu bidang yang diminatinya.
GS : Tapi 'kan sudah banyak waktu dan dana yang terbuang Pak Paul ya .
GS : Nah, itu bagaimana membimbing anak maksudnya kita sebagai orang tua sebelum masuk ke perguruan tinggi dia sudah menemukan spesifikasinya.
PG : Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Yang pertama adalah orang tua sejak anaknya berusia 16 tahun, SMA 1 orang tua sudah mulai harus sering-sering mengajak anak berbicara. Kedua selainmengajak berbicara dan menanyakan minatnya apa dan sebagainya.
Orang tua juga bisa mulai menyediakan informasi tentang pekerjaan-pekerjaan tertentu atau memberikan keterangan atau mengenalkan si anak dengan orang-orang tertentu yang memang pada bidang-bidang itu. Sehingga akhirnya anak-anak ini menyadari oh ya ya ini bidang yang mungkin saya sukai. Jadi memang perlu persiapan yang lebih matang lebih dini.
GS : Ya, itu baru dua tahapan yang Pak Paul sudah sampaikan kepada kita, kalau tahap berikutnya apa Pak Paul?
PG : Ada tiga tahapan berikutnya Pak Gunawan, ini adalah tahapan yang memang sudah menginjak ke usia dewasa. Yaitu tahap yang pertama implementasi. Usia bisa dari usia 18 hingga usia 25 ya tergntung yaitu anak-anak remaja di sini atau pemuda mengambil keputusan untuk menempuh jalur karier tertentu ya.
Dengan cara menindaklanjuti tekadnya itu, pilihannya itu dengan langkah-langkah kongkrit. Bisa masuk ke perguruan tinggi atau tadi yang kita sudah bahas pindah bidang studi, pindah jurusan, atau justru masuk ke tempat-tempat yang lebih bersifat praktis seperti kursus dan sebagainya. Nah, itu tahap implementasi. Jadi tahap benar-benar mengkongkritkan bukan menjalani persiapannya. Nah, yang berikutnya lagi adalah tahap yang disebut stabilisasi. Ini tahap di mana pemuda sudah masuk jalur. Nah sudah lulus sekolah menyelesaikan pelatihan nah dia masuk. Usianya sekitar 21 atau 22 hingga usia 30 tahun ini disebut tahap stabilisasi, sebab di sini remaja atau pemuda ini mulailah menancapkan akar di bidangnya. Dia mulai belajar, lebih banyak pengalaman, lebih mengerti seluk-beluk pekerjaannya dan perlahan-lahan mereka mulai membangun konsep diri yang sesuai dengan pilihan kariernya. Ada orang yang langsung berkata oh saya seorang programer, oh saya seorang guru, oh saya seorang teknisi, dan sebagainya atau saya seorang dokter. Nah, lama-lama profesi atau jabatan itu dikaitkan dengan siapa dirinya. Dengan kata lain dia menjadi satu dengan profesinya. Nah, ini pada tahapan usia 21 sampai 30 tahun. Nah, setelah itu barulah memasuki tahap konsolidasi yaitu usia sekitar 30-an hingga usia 45 sampai 50 tahun. Apa itu maksudnya? Ini adalah tahap di mana pemuda atau orang-orang dewasa mengembangkan kariernya. Kalau 20 tahun sampai 30 tahunan menancapkan, menstabilkan, mengakarkan. Sekarang tahap mengembangkan, meningkatkan kemampuan atau pindah pekerjaan, memasuki jabatan yang lebih baik lagi, namun jalurnya biasanya sama.
GS : Ya memang kalau awalnya itu sudah bisa diatasi, rasa-rasanya tiga tahapan ini akan berjalan lebih mulus Pak Paul ya?
GS : Tetapi seandainya masih ada suatu keraguan di dalam dirinya atau belum ada kemantapan, apa yang terjadi pada diri orang itu Pak Paul?
PG : Sebetulnya kalaupun mengalami keraguan itu salah satu gejolak yang wajar Pak Gunawan. Kira-kira ada dua penyebabnya, yang pertama adalah kadang-kadang sebetulnya kita ini sudah masuk ke biang yang tepat.
Tapi kita belum menemukan tempat kerja yang tepat. Itu dua hal berbeda. Ada orang-orang yang harus berganti tempat kerja sampai 4 atau 5 kali, baru akhirnya bisa mengakarkan diri di situ. Tapi kita tidak bisa berkata bahwa aduh orang ini kok tidak stabil karena gonta-ganti tempat pekerjaan. Selama dia di bidang yang sama kemungkinan memang dia hanyalah belum menemukan tempat kerja yang tepat. Nah, di sini dia harus bercermin melihat apakah ada faktor-faktor kepribadiannya yang membuat dia kok tidak stabil, membuat teman-temannya tidak cocok dengan dia. Tapi yang saya mau katakan di sini adalah selama dia di bidang yang sama sebetulnya kalaupun dia berganti tempat pekerjaan dia tetap masuk atau berada di dalam tahap yang sama yaitu menancapkan akar, menstabilkan dirinya meskipun tempatnya berbeda. Mudah-mudahan kalau memang tidak ada faktor pribadinya dia akhirnya menemukan tempat yang cocok itu. Dan di situlah dia baru mengembangkan dirinya. Tapi faktor kedua Pak Gunawan bisa jadi ada orang setelah usia 40 tahun di dalam menekuni bidangnya selama 20 tahun ingin pindah yaitu pindah karier. Nah kita katakan apa yang terjadi di sini, sebetulnya ada sebuah teori lain yang dipaparkan oleh seseorang bernama Ann Roe dan juga seseorang yang bernama John Holland mereka berdua mengatakan bahwa kita ini sebetulnya waktu pindah karier kita pindah karier ke karier yang sebelahnya karier kita. Contohnya misalkan seorang konselor itu masuk dalam kategori sosial. Nah sosial diapit oleh dua bidang yang lain yaitu pertama seni dan hiburan, bidang yang satunya adalah bidang bisnis atau "entrepreneur". Nah, jadi orang yang di bidang sosial memang bisa pindah ke bidang yang sebelahnya baik itu seni dan hiburan atau ke bidang bisnis. Sebaliknya orang yang di bidang bisnis setelah terjun ke bidang hidup duapuluh tahunan bisa berubah masuk ke bidang yang sebelahnya yaitu sosial, misalkan seperti itu. Jadi perpindahan karier biasanya perpindahan ke bidang yang bertetangga dengan bidang kita.
GS : Pak Paul, proses ini apakah juga mempengaruhi pertumbuhan iman seseorang?
PG : Ya, tidak bisa kita sangkali akan ada pengaruhnya Pak Gunawan, sebab masa-masa pemuda usia 20 tahun menjadi masa yang penuh keraguan. Karena memang tidak ada kepastian kita masih mencari-cri akhirnya kita bisa sedikit banyak bingung, mempertanyakan pimpinan Tuhan, dan sebagainya.
Namun yang saya ingin tekankan adalah lihatlah masa ini sebagai masa tantangan dan kesempatan. Nah jika kita berhasil nah kita bisa membangun kepercayaan diri dan jati diri yang sesungguhnya. Memang kalau gagal kita bisa frustrasi. Tapi tetap kita gunakan kesempatan ini untuk menumbuhkan iman kita. Kita libatkan Tuhan sehingga kita benar-benar bisa lebih bergantung pada Tuhan. Dengan kata lain masa yang penuh keraguan ini justru bisa menyulut pertumbuhan iman kita. Kita akhirnya bisa lebih bersandar sepenuhnya kepada Tuhan meskipun kita harus menjalani ketidakjelasan itu.
GS : Nah Pak Paul, ini suatu bagian yang sangat penting saya rasa apakah firman Tuhan berbicara mengenai proses pertumbuhan pemuda yang menentukan kariernya ini?
PG : Saya akan berikan ayat dari Amsal 3:5-6 , "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakuu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."
Jadi benar-benar berserah, kita lakukan yang bisa kita lakukan. Langkah di depan kita, kita ambil, tapi selalu bawakan dalam doa.
GS : Ya, terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan yang sangat menarik pada saat ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Pemuda dan Karier". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mngucapkan terima kasih atas perhatian Anda sampai jumpa pada acara telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kita harus memiliki konsep yang jelas dimanakah tempat kita di dalam hidup ini. Jikalau kita tidak memiliki pemahaman yang jelas dimanakah tempat kita dalam hidup ini, kita dapat diibaratkan dengan daun yang tertiup angin dan terhempas ke mana-mana. Istilah tempat di sini mengacu pada apa karunia kita, apa jalur karier kita dalam hidup ini. Tidak bisa tidak jalur karier atau pekerjaan kita itu berpengaruh besar terhadap tujuan hidup ini. Kalau kita tidak mengetahui jelas apa jalur karier yang harus kita tempuh, maka kita sukar sekali menetapkan tujuan hidup kita.
Pencarian dan Penentuan Karier
Tahapan Perkembangan Karier (Donald Super)
Kristalisasi (14-18): pilihan masih samar namun mulai memikirkan beberapa kemungkinan.
Spesifikasi (18-21): beranjak dari beberapa alternatif yang bersifat umum ke satu pilihan tertentu, namun semua masih dalam bentuk pertimbangan, belum berupa tindakan konkret.
Implementasi (18-25): mengambil keputusan untuk menempuh jalur karier tertentu, menindak-lanjuti keputusan dengan langkah-langkah konkret.
Stabilisasi (21-30): Membangun konsep diri yang sesuai dengan pilihan karier, mulai menancapkan akar pada karier tersebut, masa pemantapan.
Konsolidasi (30-45): Mengembangkan karier dan menjadi bagian dari karier itu
Kesimpulan
Masa keraguan namun penuh dengan tantangan dan kesempatan. Jika berhasil, inilah saatnya kita membangun kepercayaan dan jati diri yang sesungguhnya. Sebaliknya, bila gagal, kita mengalami frustrasi dan kehilangan kepercayaan diri, jati diri pun tidak jelas.
Masa pertumbuhan iman: Melibatkan atau tidak melibatkan Tuhan dalam proses pencarian dan pemantapan karier. Jika berhasil, inilah saatnya kita mematangkan iman, kita bertumbuh dari iman Sinterklas ke iman Salib. Bila gagal, kita apatis, iman tidak bertumbuh, mengaitkan pemeliharaan Tuhan hanya dengan berkat kasatmata.
Amsal 3:5-6 , "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Bermacam-macam cara yang akan kita pelajari untuk mengatasi kejenuhan, yang salah satunya adalah melakukan pekerjaan sesuai dengan hobi kita, membangun relasi dengan mitra kerja.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengatasi Kejenuhan dalam Pekerjaan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Kejenuhan rupanya melanda banyak orang yang bekerja, tetapi itu hanya berupa keluhan-keluhan dan dia sendiri tidak mengerti apakah dia betul sedang jenuh atau tidak. Pak Paul mungkin bisa memberikan gambaran, orang yang jenuh di dalam pekerjaannya itu seperti apa?
PG : Ada beberapa yang bisa kita perhatikan, yang pertama adalah orang yang jenuh itu tidak lagi bersemangat, jadi dia kehilangan api di dalam dirinya. Waktu dia hendak bekerja dia merasa brat sekali, waktu dia mau bangun pagi rasanya susah sekali, di tempat pekerjaannya pun dia menjadi sangat lamban tidak lagi efektif.
Hal-hal yang biasanya dia lakukan dengan cepat sekarang memakan waktu yang lebih lama. Kedua, bisa juga ini mempengaruhi perasaannya, menjadi lebih sensitif, menjadi lebih mudah marah, tersinggung akhirnya mengganggu relasi kerjanya. Jadi kadang-kadang perasaannya tidak stabil. Waktu pulang ke rumah, orang di rumah melihat wajahnya muram, tidak ada lagi kebahagiaan atau keceriaan, jadi orang di rumah harus berhati-hati bagaimana bersikap dengannya karena takut dia tersinggung dan marah, jadi pengaruh dari perasaan itu sering dialami. Yang ketiga adalah menurunnya daya tahan tubuh, jadi orang yang jenuh dan berlangsung dalam waktu yang lama akhirnya sakit-sakitan, tubuhnya tidak enak, keluhan-keluhan mulai muncul, "Ini rasanya kurang enak, ada yang tidak beres saya harus berobat" akhirnya mulai makan obat, untuk menghilangkan rasa sakit dan itu sebelumnya merupakan gejala dari kejenuhan yang menimbulkan stres pada jiwanya. Dan setelah pada jiwanya akhirnya memberikan tekanan pada tubuhnya dan daya tahan tubuhnya menurun sehingga akhirnya dia mudah sekali terserang oleh penyakit.
GS : Itu karena dia sering tidak masuk kerja karena sakit seperti tadi kalaupun dia masuk dia sering juga membuat kesalahan-kesalahan. Ini akan menimbulkan kemarahan dan kejengkelan dari atasannya. Lalu dia tambah jenuh lagi karena dimarahi.
PG : Betul sekali, ini seperti lumpur atau pasir yang menghisap, dia makin hari makin terhisap ke dalam. Dia tidak bisa berkonsentrasi, karena memang hatinya tidak di situ bagaimana kita megharapkan dia berkonsentrasi.
Hatinya tidak ada lagi di sana, dia tidak menyukai yang dia lakukan atau merasa sangat jenuh sehingga kerjanya asal-asalan. Akhirnya kwalitas kerjanya menurun dan ini menimbulkan rasa tidak puas pada rekan atau atasannya.
GS : Ternyata hal itu tidak dipengaruhi oleh waktu Pak Paul, meskipun dia sudah cukup lama bekerja di bidang itu, dia bisa saja merasa jenuh.
PG : Bisa Pak Gunawan, jadi memang kejenuhan ini bisa ditimbulkan oleh beberapa sebab. Yang pertama adalah dia merasa bidang ini tidak sesuai dengan kebisaannya, kesukaannya atau seleranya,sehingga tidak lagi bisa menikmati pekerjaannya.
Atau yang kedua adalah dia tidak melihat makna dari apa yang dilakukannya. Makna ini memang sesuatu yang mesti dihayati secara pribadi, misalkan apakah ada orang yang senang menjadi petugas kebersihan? Ada, ada orang yang menganggap bahwa ini adalah pelayanan saya untuk Tuhan, saya membersihkan lantai akhirnya lantai menjadi bersih dan majikan saya senang, orang-orang yang memakai ruangan ini senang. Atau dia sebagai tukang kebun, dia bisa memangkas kebun atau bunga-bunga, dia senang ini adalah hasil karyanya. Jadi sekali lagi makna dari pekerjaan tidak tergantung pada jenis pekerjaannya, sesederhana apapun kalau kita bisa menemukan maknanya sesungguhnya itu akan bisa memberikan kita semangat dan mengurangi kemungkinan untuk jenuh dalam pekerjaan itu. Tapi ada orang-orang tertentu memang tidak menemukan makna, bisa jadi karena dia menemukan atau mengharapkan yang lain yang berbeda. Kalau saya mengerjakan itu barulah saya merasakan atau mendapatkan makna, selama saya belum mendapatkan pekerjaan itu maka saya tidak akan mendapati dan menemukan makna dari pekerjaan saya. Ini saya kira suatu pandangan atau perspektif yang tidak tepat, justru ini harus kita ubah, sehingga apapun yang kita lakukan kita bisa menemukan maknanya. Dan kita bisa berkata seperti Paulus di Kolose 3:23 , "apapun yang kita perbuat, kita perbuat bukan untuk manusia tapi untuk Tuhan." Artinya Tuhan melihat, Tuhan hargai dan Tuhan akan gunakan meskipun dengan cara yang belum tentu kasat mata atau bisa kita lihat.
GS : Tapi memang kadang-kadang harus diakui Pak Paul, sekalipun kita mempunyai persepsi yang betul, visi yang jelas, kejenuhan itu tetap saja kita alami. Nah pada saat-saat kejenuhan itu kita alami, sebenarnya apa yang bisa kita lakukan?
PG : Pak Gunawan mengatakan sesuatu yang memang kenyataan, meskipun kita menyenangi pekerjaan kita. Tapi ada waktu-waktu kita jenuh, saya kira kalau kita bisa menemukan makna dari pekerjaankita, seharusnya kejenuhan itu tidak bertahan untuk waktu yang lama.
Muncul secara berkala tapi akhirnya bisa hilang kembali. Kalau waktu muncul dan pas kita merasa jenuh, apa yang bisa kita lakukan? Ada beberapa yang saya sarankan, pertama, lakukanlah aktifitas sesuai dengan hobby kita. Mungkin kita tak dapat mengubah pekerjaan kita, tapi selama dalam waktu bekerja kita tetap melakukan pekerjaan kita, jangan kita marah dan kita tidak mau mengerjakannya. Tetap kerjakan dan kita juga harus tahu bahwa waktu kita mengerjakan tugas kita, memang tidak ada hal lain yang boleh atau seharusnya kita lakukan. Jangan, jam kerja itu memang untuk mengerjakan tugas kita, namun di luar jam kerja lakukanlah hal-hal yang menyenangkan hati. Ini akan dapat menetralisir kejenuhan, ingatlah bahwa pada akhirnya kejenuhan kerja berdampak luas dan berubah menjadi kejenuhan hidup. Jadi mula-mula pekerjaanlah yang membuat kita jenuh tapi saya khawatir lama-lama kejenuhan ini melebar sehingga akhirnya kita mengalami kejenuhan dalam hidup. Itu sebabnya kita perlu menambahkan aktifitas yang menggembirakan hati ke dalam jadwal kehidupan kita.
GS : Jadi misalnya sepulang kerja masih bisa berolahraga, berkebun atau mendengarkan musik Pak Paul?
PG : Tepat sekali Pak Gunawan, pekerjaan itu sendiri kita terima dan kita kerjakan tapi jangan sampai di luar pekerjaan itu hidup kita sama jenuhnya dengan di dalam pekerjaan itu, ini yang enting.
Di luar pekerjaan kita harus membuat hidup kita tidak sejenuh itu, kita mencoba hobby yang baru, belajarlah keterampilan yang baru, kita belajar hal-hal yang belum pernah kita lakukan, belajar menyanyi, belajar musik atau apa, kita tampakkanlah hobby kita, aktifitas-aktifitas yang menggembirakan hati kita.
GS : Memang itu bisa mengurangi kejenuhan Pak Paul, karena sambil kita berolahraga kita berpikir bahwa ini membutuhkan biaya untuk berolahraga, untuk berkebun, untuk mendengarkan musik atau belajar, bukanlah itu membutuhkan biaya. Jadi keesokan harinya saya bekerja untuk itu, seolah-olah begitu Pak Paul.
PG : Betul, dengan kata lain kita bekerja untuk membiayai hobby kita.
GS : Dan itu membangkitkan semangat lagi.
PG : Tepat sekali, dengan kata lain kita mulai mengubah perspektif
GS : Hal yang lain bisa Pak Paul usulkan?
PG : Yang kedua, di tempat pekerjaan bangunlah relasi dengan mitra kerja. Relasi yang sehat akan mengurangi keengganan kita melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai. Setiap hari kita mungkn kehilangan semangat untuk masuk kerja, tetapi kita masih tetap bisa bersemangat bertemu dengan rekan-rekan yang menjadi sahabat.
Sebetulnya prinsip ini saya pelajari dari anak-anak yang susah konsentrasi, anak-anak yang masuk dalam kategori attention deficit hyperactivity disorder anak-anak yang energinya sangat tinggi. Biasanya mereka itu tidak menyukai pelajaran di sekolah karena harus duduk mendengarkan guru memberikan pengajaran, wah konsentrasinya itu buyar, tapi rata-rata mereka itu senang bersekolah bukan senang belajar di sekolah tapi senang bermain di sekolah. Jadi itulah yang memotivasi mereka masuk ke sekolah setiap hari, dan kalau orangtuanya bilang: "Hari ini kamu tidak boleh sekolah, karena kamu nakal." Wah........dia sedih, dia masih mau ke sekolah tapi kita sadari memang mereka ke sekolah bukannya untuk belajar tapi untuk bermain. Saya tidak berkata bekerja untuk bermain, tapi kalau kita ini bisa membangun relasi dengan rekan-rekan kerja yang akrab kita akan senang berjumpa dengan sahabat-sahabat kita, bisa ngobrol-ngobrol, bercanda di sela-sela istirahat kita. Nah itu menjadi sesuatu yang menyegarkan kita sehingga kita bisa lewati lagi hari kerja kita hari lepas hari.
GS : Tapi memang teman-teman ini sangat besar pengaruhnya, kalau kita sudah tidak senang dengan rekan kerja kita, menjengkelkan dan sebagainya itu membuat kita malas.
PG : Itu tepat sekali, jadi memang teman bisa meningkatkan semangat kerja sekaligus bisa menurunkan semangat kerja kita.
GS : Tapi ada juga yang terlanjur jauh di dalam bergaul dengan teman-temannya, kesempatan seperti itu digunakan untuk gosip dan sebagainya sehingga memperkeruh keadaan.
PG : Adakalanya itu pun terjadi, jadi seolah-olah kitalah yang membuat masalah Pak Gunawan, misalnya kita membicarakan hal-hal yang tidak ada dasarnya, menyebarkan berita-berita yang tidak enar sehingga memancing kemarahan orang, akhirnya orang malah mengucilkan kita dan itu yang akhirnya membuat kita malas bekerja.
Jadi ini sebuah prinsip yang harus kita camkan baik-baik, berkerja bukan saja menghasilkan kwalitas karya sebaik-baiknya tapi di tempat pekerjaan kita mesti membangun relasi kerja yang enak dan yang baik. Karena hal ini akan sangat mempengaruhi semangat kerja kita pula
GS : Mungkin ada yang lain Pak Paul?
PG : Yang ketiga adalah perbaikilah kondisi fisik kerja dengan hal-hal kecil. Saya meminta kita semua untuk kreatif Pak Gunawan, misalnya taruhlah foto keluarga di meja atau gantunglah lukian alam yang menyejukkan, sehingga waktu capek kita melihat lukisan alam itu wah seneng atau segar kembali.
Atau buatlah kopi di pagi hari, di sore hari atau siang hari buatlah cokelat yang panas untuk diminum. Atau misalkan menaruh dekorasi atau pajangan tertentu. Nah hal-hal kecil itu bisa mengubah suasana kerja, karena suasana kerja juga berpengaruh terhadap emosi kita, terhadap suasana hati kita. Hal-hal kecil itu kadang-kadang kita anggap tidak penting, tapi ternyata penting sekali. Saya pelajari ini dari seorang petugas imigrasi waktu saya memasuki sebuah negara. Di meja petugas ini ada sebuah foto kuda, kemudian saya tanya ini foto siapa, kemudian dia bercerita tentang foto kuda ini, "Kalau suatu hari saya merasa jenuh saya melihat foto kuda ini wah saya menjadi senang kembali, seolah-olah saya sedang berada dekat dengan kuda itu." Nah hal kecil seperti itu dapat menjadikan suasana berubah, ini nanti akan mempengaruhi suasana hati kita.
GS : Saya juga kadang-kadang menempatkan kata-kata yang baik, kalimat-kalimat pendek yang baik dan saya akan hafalkan, dan suatu saat nanti akan saya ganti dengan yang baru.
PG : Betul sekali, hal-hal kecil seperti itu. Di meja saya, saya menaruh tiga boneka mainan-mainan kecil dari anak-anak saya yang mewakili ketiga anak saya, saya taruh tiga-tiganya, ini mewkili anak saya yang pertama, yang kedua dan yang ketiga.
Saya juga menaruh foto-foto keluarga saya, hal-hal yang menolong. Saya juga menaruh tape supaya saya juga bisa mendengarkan musik. Hal kecil seperti itu sangat membantu.
GS : Apakah itu pengaruhnya pada suasana hati Pak Paul?
PG : Pada suasana hati, suasana lingkungan akan mempengaruhi suasana hati. Suasana lingkungan yang menggembirakan akan menggembirakan suasana hati kita pula. Saya berikan contoh Pak Gunawan pengaruhnya musik pada pembelanjaan, ini salah satu buku yang pernah saya baca memberikan data dari sebuah riset.
Di Amerika Serikat, kebanyakan supermarket memperdengarkan musik, tapi tidak pernah memperdengarkan musik yang keras atau yang cepat, semua musiknya itu selalu alunan atau ritmenya tenang dan perlahan. Dalam buku ini rupanya dikutib tentang riset memperlihatkan orang akan cenderung berjalan lebih perlahan sesuai dengan ritme musik yang didengarnya. Jadi kalau dia ke supermarket, musiknya perlahan, kakinya pun berjalan perlahan, maka matanya lebih perlahan melihat akhirnya tangannya lebih banyak mengambil dan membeli. Tapi kalau musiknya terlalu cepat atau iramanya terlalu cepat dia berjalan cepat-cepat akhirnya yang dia harus beli dia tidak beli, yang dia tidak ingin beli ya benar-benar dia tidak ingin beli. Tapi gara-gara jalan perlahan, tidak ingin beli pun melihat dan akhirnya membeli. Jadi memang suasana musik juga mempengaruhi suasana hati. Jadi intinya ubahlah suasana tempat kerja kita secara kreatif sehingga itu akan dapat membawa pengaruh dalam suasana hati kita.
GS : Tetapi itu pun harus memperhatikan lingkungan di sekitar kita supaya tidak mengganggu rekan kerja yang lain. Yang lainnya apa Pak Paul?
PG : Sedapatnya berilah sumbang sih nyata kepada atasan kita. Maksudnya adalah kalau ada ide sedapatnya sampaikan kepada atasan kita. Namun yang penting adalah jangan memaksakan pendapat, brilah masukan dalam bentuk alternatif untuk dipertimbangkan.
Misalkan atasan kita sudah membuat keputusan atau sedang mempertimbangkan sebuah keputusan, kita bisa bertanya: "Bolehkah saya memberikan pandangan saya selain dari yang Bapak katakan atau selain dari yang Ibu katakan yang saya rasa itu juga baik. Mungkin atau tidak kita melakukan ini, mungkin atau tidak kita mempertimbangkan hal yang ini?" Jadi selalu waktu memberikan saran, ungkapkan dalam bentuk sebuah alternatif, pilihan, kita jangan langsung dengan tegas apalagi kasar mengkonfrontasi ide dari orang lain bahwa itu ide buruk, saya tidak setuju. Jangan menghantam gagasan orang lain, dengarkan gagasan orang lain, terima kebaikannya di mana namun setelah itu coba pikirkan alternatif yang lainnya sehingga orang melihat itu sebagai tambahan pilihan atau tambahan alternatif bukan sebagai gempuran atau hantaman terhadap idenya. Seorang atasan lama-lama akan menghargai kalau kita bisa memunculkan alternatif pemikiran-pemikiran atau ide-ide lain. Sehingga dia tidak hanya melihat satu pilihan, tapi dia bisa melihat dua atau tiga pilihan. Namun biarkan atasan yang mengambil keputusan, waktu keputusan diambil dan tidak sesuai dengan yang kita inginkan biarkan, sebab kita memang bawahannya dan dia yang mengambil keputusan, yang penting kita menyampaikan gagasan atau alternatif itu. Waktu kita mulai lebih sering menyampaikan gagasan dan mudah-mudahan gagasan kita itu lebih sering diterima, kita akan bisa lebih menikmati pekerjaan kita. Kejenuhan bisa berkurang sebab kita melihat kita memberikan sumbang sih yang nyata dalam pekerjaan kita.
GS : Apalagi kalau kita menerima pujian dari apa yang kita sampaikan?
PG : Tepat sekali, dan atasan yang baik juga seharusnya tanggap untuk memberikan pujian kepada karyawan yang telah menyumbangsihkan idenya.
GS : Memang suatu yang peka, atasan biasanya tidak mau kalau digurui apalagi disalahkan.
PG : Apalagi disalahkan karena dia atasan dan dia akan merasa malu, apalagi kalau disampaikan di forum terbuka kita bekata idenya itu seolah-olah salah dan orang mengakui ide kita benar, kia mungkin senang tapi kita telah membuat seseorang tidak senang dan celakanya dia atasan kita, jadi jangan membuat atasan kita tidak senang, jangan sampai dia kehilangan muka.
Jadi ada banyak cara untuk mengungkapkan ide tanpa harus membuat orang kehilangan muka. Saran kelima yang ingin saya berikan adalah persiapkan diri untuk mendapatkan pekerjaan yang kita idamkan. Kita bisa meningkatkan keterampilan khusus kita, kita belajar sesuatu yang baru. Pokoknya apa yang kita inginkan nanti untuk kita kerjakan dari sekaranglah kita persiapkan. Perlu mempelajari komputer, kita ambil kursus komputer; perlu belajar untuk keterampilan misalkan menjahit ya kita mengambil les menjahit; perlu belajar bahasa Inggris ya kita pelajari bahasa Inggris dan sebagainya. Jadi selama kita belum mendapatkan pekerjaan yang kita idamkan, untuk mengurangi kejenuhan kita di tempat pekerjaan sekarang tambahkanlah aktifitas untuk mempersiapkan kita mendapatkan pekerjaan yang lain itu.
GS : Ini memang diperlukan sikap yang aktif dari seseorang karena kadang-kadang diberikan kesempatan orang menolak, diberikan kesempatan untuk kursus dan sebagainya justru orang menolak.
PG : Betul sekali, ini sayang sebetulnya Pak Gunawan, sebab biasanya majikan senang kalau karyawannya memiliki keterampilan khusus. Semakin banyak keterampilan khusus, sebetulnya itu makin enambah daya jualnya si karyawan.
Sehingga si majikan akan berkata saya bukan hanya mendapatkan satu keuntungan tapi mungkin tiga atau empat keuntungan. Sebab dia bisa ini, bisa itu siapa tahu saya nanti membutuhkan keterampilan itu dan dia sudah bisa jadi saya tidak perlu lagi mencari orang lain. Jadi memang menambah keterampilan adalah sesuatu yang penting untuk nanti bisa kita cantumkan di resume kita waktu kita melamar pekerjaan yang lain.
GS : Sebenarnya itu menjadi suatu selingan dalam pekerjaan rutin dan itupun menolong.
PG : Itu pun berfungsi sebagai selingan, sehingga bisa mengurangi kejenuhan kita.
GS : Yang lain Pak Paul?
PG : Yang keenam adalah jangan pernah kesampingkan kemungkinan membuka usaha sendiri. Cukup banyak pengusaha yang tadinya bekerja untuk orang lain, mereka tidak dari awal membuka usaha seniri.
Dari awal mereka justru bekerja untuk orang lain namun suatu saat waktu mereka lagi memikirkan pekerjaan yang lain tiba-tiba terbersit kenapa tidak buka usaha sendiri. Resikonya memang tinggi tapi perhitungkan semuanya, cobalah pertimbangkan alternatif ini. Sering kali orang menutup diri terhadap alternatif ini sering orang berkata:" Hanya orang tertentu yang dikaruniakan tangan emas, sehingga apapun yang disentuhnya berubah menjadi emas." Tidak, terlalu banyak orang-orang yang biasa namun bisa berwiraswasta, jadikanlah ini pertimbangan jangan hanya memikirkan saya bekerja untuk siapa lagi, melamar di perusahaan siapa lagi. Cobalah pertimbangkan membuka usaha sendiri, ini sesuatu yang saya kira layak untuk dipikirkan.
GS : Tadi Pak Paul sudah singgung bahwa ini memang resikonya besar dan orang biasanya tidak mau mengambil resiko itu.
PG : Ini membawa kita ke prinsip berikutnya yaitu jangan tinggalkan pekerjaan yang ada sebelum ada jaminan keberhasilan usaha sendiri itu. Ada orang yang gegabah, belum apa-apa terlalu bernfsu dia berhenti dan memulai pekerjaannya.
Sebetulnya itu tidak bijaksana karena bisa jadi nanti dia mengalami kerugian dan pekerjaan lamanya sudah dia lepaskan. Jadi sebisanya jangan lepaskan pekerjaan yang lama, bangunlah pekerjaan yang baru perlahan-lahan. Kalau kita jelas melihat bahwa ini membuahkan hasil barulah ambil langkah yang lebih berani untuk meninggalkan pekerjaan yang lama itu.
GS : Ya, sering kali dikeluhkan modalnya tidak ada, modal dari segi keungan, pengalaman tidak punya, sehingga orang ragu-ragu untuk mengambil pilihan bekerja sendiri.
PG : Kadang-kadang ini memang menakutkan maka tadi saya sarankan pelajarilah. Kalau kita memikirkan untuk membuka usaha sendiri, kita mesti melakukan persiapan sematang mungkin. Ketahuilah ebih banyak tentang pekerjaan itu, tantangannya apa jangan hanya melihat untungnya, terlalu banyak kita mendengar belum apa-apa sudah memikirkan keuntungan dan tidak memikirkan kerugiannya sama sekali.
Tidak memikirkan kalau pekerjaan ini juga memiliki tantangannya sendiri, orang yang bijak adalah orang yang bisa memikirkan tantangannya pula.
GS : Orang yang bekerja menjadi karyawan dengan orang yang bekerja sendiri, itu tingkat kejenuhannya sama atau berbeda?
PG : Saya kira berbeda Pak Gunawan, sebab orang yang bekerja sendiri akan menganggap ini adalah milikku, ini adalah tanganku, karyaku, jadi rasa pemilikannya lebih tinggi, usaha untuk memajkannya juga lebih besar.
Nah ini biasanya memberikan dorongan kepada mereka. Kalau bekerja dengan orang, sering kali kita itu lebih dikuasai oleh anggapan ya ini nanti untuk orang lain, nanti maju juga orang lain bukan saya dan sebagainya, sehingga kadang-kadang motivasi kerjanya itu tidak tinggi. Ini saya kira yang sudah dikoreksi oleh firman Tuhan, apapun yang kamu kerjakan, kerjakanlah seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Jadi sebetulnya tetap harus sama, tapi saya tidak sangkali bahwa sering kali orang yang membuka usaha sendiri akan lebih rajin. Karena dia tahu bahwa ini semua bergantung pada dirinya, kalau sampai dia tidak melakukan pekerjaan ini dengan sebaik-baiknya maka nanti yang akan menuai hasil yang buruk ya dia juga, jadi akhirnya dia lebih bersemangat.
GS : Sebelum kita mengakhiri perbincangan ini mungkin ada firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?
PG : Tadi kita telah memberikan judul pada pembicaraan kita ini mengatasi kejenuhan dalam pekerjaan. Kita ingin sekali adanya perubahan dalam pekerjaan kita, tetapi Tuhan kadang-kadang teta membiarkan kita di tempat yang sama.
Mungkin salah satu alasannya adalah Tuhan melihat bahwa kalau kita pindah justru pekerjaan yang baru itu membawa akibat buruk yang tidak bisa kita ketahui sekarang. Justru Tuhan sedang melindungi kita dari bahaya, dari persoalan yang mungkin timbul. Seberapa banyak keluarga berantakan gara-gara pekerjaan berubah, penghasilan bertambah, status sosial meninggi dan akhirnya berantakan. Jadi Tuhan kadang-kadang menahan kita karena Tuhan mau melindungi kita dari bahaya. Maka firman Tuhan yang akan saya bagikan adalah Amsal 3:5 , "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri." Jangan langsung percaya diri bahwa ini benar, ini bagus saya harus lakukan dan lupa Tuhan. Selalu tundukanlah, kehendak kita, rencana kita pada Tuhan, biar Dia yang memimpin, menentukan langkah-langkah hidup kita.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini, dan para pendengar sekalian, kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengatasi Kejenuhan dalam Pekerjaan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Untuk mengurangi kejenuhan, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan. Pertama, lakukanlah aktivitas sesuai dengan hobi kita. Mungkin kita tidak dapat mengubah jenis pekerjaan kita dan selama dalam waktu bekerja, tidak ada hal lain yang dapat kita lakukan. Di luar jam kerja, lakukanlah hal-hal yang menyenangkan hati. Ini dapat menetralisir kejenuhan. Ingat, pada akhirnya kejenuhan kerja berdampak luas dan berubah menjadi kejenuhan hidup. Itu sebabnya kita perlu menambahkan aktivitas yang menggembirakan hati ke dalam jadwal kehidupan kita.
Kedua, di tempat pekerjaan, bangunlah relasi dengan mitra kerja. Relasi yang sehat akan mengurangi keengganan kita melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai. Setiap hari kita mungkin kehilangan semangat untuk masuk kerja, tetapi kita masih tetap dapat bersemangat bertemu dengan rekan-rekan yang menjadi sahabat.
Ketiga, perbaikilah kondisi fisik kerja dengan hal-hal kecil. Misalkan, taruhlah foto keluarga di meja, gantunglah lukisan alam yang menyejukkan, buatlah kopi di pagi hari dan cokelat hangat di waktu siang. Dengan kata lain, perindahlah ruang gerak dan ruang pandang kita.
Keempat, sedapatnya berilah sumbangsih nyata kepada atasan kita. Jangan paksakan pendapat, berilah masukan dalam bentuk alternatif untuk dipertimbangkan.
Kelima, persiapkan diri untuk mendapatkan pekerjaan yang kita idamkan. Kita bisa meningkatkan keterampilan khusus atau mempelajari dunia pekerjaan yang baru itu.
Keenam, jangan pernah kesampingkan kemungkinan membuka usaha sendiri. Cukup banyak pengusaha yang tadinya bekerja untuk orang lain.
Ketujuh, jangan tinggalkan pekerjaan yang ada sebelum ada jaminan keberhasilan usaha sendiri. Mulailah secara bertahap kendati ini menuntut waktu ekstra. Bersabarlah dan gunakanlah perhitungan yang matang.
Firman Tuhan: "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri." (Amsal 3:5)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Pada awalnya kita memulai relasi di dalam konteks kehidupan yang serupa. Kesamaan lingkup kehidupan sedikit banyak berpengaruh menyelaraskan kedua diri yang berbeda.Tetapi setelah menikah kesamaan makin menipis berhubung kita dipisahkan oleh tuntutan pekerjaan. Perbedaan berpotensi menciptakan jarak.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama dengan ibu Ester Tjahja. Kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Antara Pekerjaan dan Rumah". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, ada pasangan-pasangan yang ketika berpacaran kelihatan kompak, cocok, tetapi setelah mereka berumah tangga atau menikah malah timbul cekcok tiap-tiap hari. Penyebabnya apa Pak Paul?
PG : Ada banyak penyebabnya tapi salah satunya adalah tanpa mereka sadari terbentang jurang yang makin hari makin melebar di antara mereka. Pertanyaannya, apakah yang menyebabkan munculnya jurng itu.
Sudah tentu ada sejumlah penyebab yang menimbulkan jurang di antara suami dan istri. Tapi salah satu yang umum sebetulnya adalah sesuatu yang sangat bersifat alamiah, yakni kita itu biasanya bekerja di dua lapangan yang berbeda. Tanpa kita sadari waktu kita bekerja di dua tempat yang berbeda, pada akhirnya kita akan juga mengalami perubahan-perubahan, tanpa kita sadari kita menjadi orang yang berubah. Diri yang lama tidak lagi tersisa terlalu banyak di masa sekarang, akhirnya muncullah jurang di antara kita. Itu sebabnya kalau kita pernah mendengar keluhan orang yang mengalami masalah dalam pernikahan, mungkin kita pernah mendengar cetusan seperti ini, "dia seperti orang asing, saya tidak mengenalnya lagi, siapakah dia sekarang ini, kenapa dia begitu berbeda sekarang." Nah ini cetusan yang sah, memang cetusan yang mencerminkan itulah yang terjadi di dalam rumah tangga. Pada akhirnya kedua orang yang menikah itu tanpa disadari mulai berjalan ke arah yang berbeda.
GS : Itu karena faktor pekerjaan, Pak Paul?
PG : Salah satu yang terbesar adalah itu, Pak Gunawan.
GS : Kalau ketika mereka berpacaran masing-masing sudah bekerja, apakah dampak seperti itu masih bisa dirasakan?
PG : Betul, sebab pada akhirnya pekerjaan yang kita lakukan itu memberikan dampak atau mempengaruhi kita. Jadi meskipun kita masing-masing sudah bekerja, bukankah biasanya sebelum menikah kitasudah bekerja misalkan 5 tahun.
Lima tahun bekerja tidak sama dengan 15 tahun bekerja, jadi dengan kata lain dampaknya akan begitu kuat dengan berjalannya waktu.
ET : Apakah ada perbedaan dampak antara setelah menikah dua-duanya bekerja atau setelah menikah salah satu di rumah?
PG : Ternyata memang dampaknya tetap sama yaitu akan terjadi jurang. Itu sebabnya saya berikan gambaran, bukankah sering kali dua orang itu bertemu di tempat yang sama misalnya mereka berkulia di perguruan tinggi yang sama atau beribadah di gereja yang sama atau melayani di sebuah tempat pelayanan yang sama.
Nah di dalam kesamaan itulah kedua orang ini berkenalan, sudah tentu waktu mereka berkenalan di tempat yang sama itu akan ada banyak kesamaan. Baik cara berpikir, nilai-nilai hidup, tujuan kita hidup, itu kesamaan-kesamaan yang mengikat kita berdua. Setelah akhirnya mereka menikah, asalkan yang satu bekerja di luar-yang satu menjaga rumah tangga dan mengurus anak-anak. Menjaga anak di rumah adalah sebuah pekerjaan juga, baik yang bekerja di luar maupun yang bekerja di dalam rumah pada akhirnya dua-duanya itu akan mengalami bentukan-bentukan dari lingkungannya. Atau kalau kita bandingkan dengan dua orang suami-istri yang dua-dua bekerja di luar rumah juga sama. Sebab biasanya dua orang itu tidak bekerja dalam lingkungan yang sama, biasanya dua orang bekerja di lapangan yang berbeda. Nah dua lapangan pekerjaan itu akhirnya akan mempengaruhi kedua individu ini, sehingga waktu mereka pulang ke rumah tanpa disadari sebetulnya mereka perlahan-lahan dibentuk menjadi manusia yang berbeda. Itu sebabnya mulailah muncul masalah, komunikasi antara satu sama lain mulai renggang, mulailah timbul kesalahpahaman. Mungkin saja mereka masih mengucapkan bahasa yang sama tapi pengertiannya sudah mulai berbeda, pola pikir dalam menyelesaikan masalah juga sudah mulai berbeda, nah muncullah konflik-konflik itu.
ET : Soalnya bukankah banyak ibu rumah tangga yang tidak bekerja kadang-kadang merasa, "Wah, kalau saya bekerja pasti perbedaan ini lebih bisa dijembatani," ternyata sama saja Pak Paul?
PG : Belum tentu, memang tergantung sekali dengan bidang pekerjaannya, dan sering kali bukankah suami dan istri tidak bekerja di tempat yang sama.
GS : Mungkin akan lebih kecil dampaknya kalau suami itu bekerja di dalam rumah atau di dekat rumah, misalnya buka toko dan sebagainya sehingga mereka masih tidak terpengaruh dengan lingkungan pekerjaan yang luas.
PG : Betul sekali Pak Gunawan, dan saya kira fenomena yang Pak Gunawan baru saja angkat sedikit banyak menjelaskan kenapa dulu kala rumah tangga itu relatif lebih harmonis, karena perbedaan-peredaan juga lebih diredam.
Sebab dulu kala itulah gaya hidup kebanyakan kita, misalkan dua-dua bertani, dua-dua bekerja di ladang atau satu bekerja di rumah menjaga anak dan sebagainya tapi satu ada toko; tokonya dekat rumah atau dalam rumah, atau ada yang buka bengkel-suami-istri sama-sama membantu dan sebagainya. Nah dalam kesamaan itu keduanya memang akhirnya lebih banyak menemukan kesamaan pula.
GS : Kalau begitu kita harus memikirkan bagaimana membuat sekecil mungkin dampak itu supaya jangan menggoyahkan sendi-sendi rumah tangga, nah hal-hal apa yang mesti diperhatikan?
PG : Yang pertama kita mesti menyadari dampak pekerjaan itu pada diri kita, sebab setiap pekerjaan mempunyai keunikan yang akan memberi dampak pada diri kita. Saya berikan contoh, seorang ibu umah tangga yang mengurus anak-anak pagi sampai malam itu akan dibentuk oleh pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.
Misalkan dia harus berbicara dengan gaya anak-anak dan kita tahu berbicara dengan gaya anak-anak adalah berbicara dengan tidak langsung. Dia harus bujuk-bujuk anak untuk makan misalkan anak usia 1,5 tahun, kadang-kadang harus mengalihkan perhatian si anak sehingga mulutnya nanti terbuka kita masukkan sesendok makanan. Hal-hal kecil seperti itu tanpa disadari akan membentuk pola bicara si ibu, perlahan-lahan dia pun kalau berbicara mengembangkan gaya tidak langsung pula. Sebab bagi seorang ibu yang mengurus anak dari pagi sampai malam akhirnya yang penting bukanlah hasil tapi proses. Pada pagi hari sampai malam dia tidak melihat anak itu diberikan makan tiba-tiba menjadi besar. Tidak demikian, jadi nilai-nilainya mulai berubah pula. Mungkin sebelum itu dia adalah seorang pekerja yang sangat menekankan hasil akhir, tapi sekarang dia di rumah mengurus anak, yang penting bukan lagi hasil akhir tapi prosesnya itu sendiri dan gaya bahasanya juga tidak lagi terlalu langsung. Misalkan suaminya bekerja di tempat yang berbeda di mana ada hirarki, dimana kalau ada apa-apa dicoba diselesaikan dengan seefisien mungkin, bicara selangsung mungkin. Nah bertahun-tahun kemudian setelah menikah berbicara dengan istrinya, istrinya bicaranya tidak langsung suaminya akan terganggu. Dan suaminya akan berkata, "Kenapa kamu ngomongnya mutar-mutar, kalau ngomong to the point, apa yang ingin kamu sampaikan?" Nah si istri merasa diserang akhirnya muncullah konflik. Atau pekerjaan kita misalkan pekerjaan yang menuntut kita untuk menghitung dengan sedetail-detailnya, mungkin saja kita sebelumnya tidak seperti itu tapi karena kita bekerja sebagai seorang akuntan, kita dituntut menghitung sedetail-detailnya dan kita mempertanggungjawabkan laporan itu. Nah tanpa disadari mulailah menjadi seseorang yang sangat detail dan berhati-hati. Mengecek lagi, mengecek lagi sehingga di rumah pun begitu, kalau mau mengambil keputusan kita akan mengulang-ulang lagi, mengecek lagi; pasangan kita akhirnya jengkel dan berkata, "Kamu kok tidak maju-maju, dari tadi mengambil keputusan kok mempertimbangkan, mempertimbangkan lagi kapan langsungnya." Kita mesti menyadari dampak pekerjaan atas diri kita sebab kita hidup dalam pekerjaan itu dan kita melakukan pekerjaan itu dan perlahan-lahan jiwa pekerjaan itu mulai pindah masuk ke dalam diri kita pula.
ET : Atau sebaliknya juga Pak Paul, seseorang yang bekerja sebagai sales, penjual yang sepanjang hari harus banyak berbicara, atau profesi-profesi yang banyak berbicara, pendekatan kepada orang kemudian pulang mungkin sudah capek tidak mau berbicara, nah istri mengatakan, "Lho mau berbicara kepada banyak orang tapi kepada saya tidak mau berbicara lagi."
PG : Betul itu bisa terjadi sebab memang sudah lelah berbicara di luar, jadi di rumah dia tidak ingin lagi berbicara. Dengan kata lain ada pengaruhnya pekerjaan itu terhadap dirinya, baik itu engaruh dia ingin menjadi sama-sama atau pengaruh dia ingin lepas dari situasi pekerjaannya sehingga tetap dia menjadi seseorang yang berbeda.
Mungkin sekali sebelum dia bekerja dulunya dia senang berbincang-bincang dengan pasangannya, sering ngobrol, tapi sekarang tidak ada lagi energi untuk ngobrol sehingga yang dia inginkan begitu sampai di rumah adalah tidak berbicara sama sekali dengan pasangannya.
GS : Pak Paul, katakan itu sudah disadari tetapi tindakan konkret apa yang harus dilakukan oleh pasangan suami-istri itu?
PG : Kita juga mesti menyadari juga bahwa bukan saja pekerjaan itu memberi dampak kepada kita, tapi lingkungan atau teman-teman, mitra kerja kita juga memberi dampak kepada kita. Nanti ini aka sangat berkaitan dengan apa yang bisa kita lakukan.
Ini yang ingin saya katakan, pekerjaan tertentu itu menarik tipe-tipe orang tertentu. Ada pekerjaan-pekerjaan yang tadi saya berikan contoh yang menuntut orang untuk hati-hati. Nah akhirnya yang bekerja dalam pekerjaan itu orang-orang yang memang berorientasi pada detail dan sangat berhati-hati dengan jumlah atau angka. Bayangkan kalau dalam satu perusahaan itu semuanya seperti itu yaitu berhati-hati, berarti masing-masing saling mengasah, menjadi orang yang lebih berhati-hati. Atau satu perusahaan penuh dengan tipe-tipe 'entrepreneur' yang berani mengambil risiko, kumpul misalnya 10 orang dengan jiwa yang sama, mereka berkumpul 5 tahun, 5 tahun kemudian kemungkinan besar mereka akan lebih berani, lebih bersifat 'entrepreneur' dibandingkan 5 tahun sebelumnya. Karena masing-masing teman itu akan saling mengasah, sebab itulah yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. Itu sebabnya kita mesti menyadari bahwa lingkungan akan membuat kita juga berubah, cara bicara kita akhirnya lebih segelombang dengan teman-teman di tempat pekerjaan. Kita membicarakan dengan konsep pikir yang sama, titik berangkat kita sama sehingga komunikasi juga lebih lancar. Nah waktu kita pulang ke rumah kita berbicara dengan pasangan kita, kita menemukan betapa sulitnya mentransmisikan, memindahkan pengertian ini kepada pasangan kita kenapa dia tidak mengerti-mengerti. Betul sekali karena memang konsep atau pola pikirnya tidak sama dengan rekan kerja kita. Langsung kita menyadari bahwa ternyata kita sudah mulai berubah, dibentuk oleh pekerjaan dan mitra dalam kerja kita itu, jadi kita harus sadari dampak itu. Dan yang kedua adalah kita mesti menemukan cara bagaimana berbicara atau berkomunikasi dengan pasangan kita.
GS : Hal itu mungkin lebih diperparah; zaman sekarang ini meskipun kita di rumah masih disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan di kantor, jadi seolah-olah rumah itu menjadi kantor cabangnya tempat kita kerja. Nah ini makin sulit orang melepaskan diri dari pengaruh itu, Pak Paul?
PG : Betul sekali, bukankah sering terjadi misalkan si suami sudah di rumah tapi tetap di meja kerjanya, di dalam kamar. Istrinya akan tidur mengajaknya bicara, suaminya berkata, "Maaf, janganganggu dulu saya lagi sibuk."
Memang itu adalah kantor di rumah, benar-benar itu menjadi 24 jam, misalkan dia di tempat pekerjaannya berbicara dengan rekannya langsung memberikan instruksi atau apa, kalau tidak hati-hati di rumah pun berbicara dengan pasangannya dia menggunakan nada dan gaya instruksi. Pasangannya di rumah akan terkejut dan jengkel, "memangnya saya stafmu, saya bukan stafmu, saya tidak mau disuruh-suruh begitu." Nah pasangannya yang satu berkata, "Apa salahnya menyuruh seperti itu 'kan supaya beres pekerjaannya." Tapi yang tidak dia sadari adalah nada bicara, dia sudah mengadopsi nada bicara di kantor waktu dia sedang memberikan instruksi kepada bawahannya, jadi akhirnya muncullah konflik-konflik seperti itu.
ET : Jadi bisa terbayangkan rasanya sekarang kalau setelah sekian lama pasangan-pasangan yang hidup dalam pola seperti ini akhirnya sampai pada suatu kesimpulan, "wah komunikasi kami sudah tida nyambung, kami sudah tidak cocok lagi terlalu banyak perbedaan."
Padahal sebenarnya karena hal ini, belum tentu karena kepribadian yang berbeda atau bagaimana.
PG : Betul, dan belum tentu karena ada masalah yang besar. Dan bukankah ini yang sering terjadi dalam rumah tangga kita. Kalau kita cari-cari tidak ketemu masalahnya apa, sebesar apa masalahna tapi tidak ketemu.
Dan memang tidak ada, yang terjadi sebetulnya adalah tanpa disadari kita itu makin terbelah, kita makin hidup di dunia yang berbeda yang menuntut kita berpola pikir berbeda, bergaya komunikasi berbeda pula. Jadi memang sebetulnya tidak ada masalah yang serius, hanyalah karena perbedaan ini.
ET : Biasaya yang terjadi kemudian pasangan yang di luar itu atau katakanlah yang biasa memerintah atau yang biasa disiplin, secara sadar atau tidak sadar seperti menuntut pasangannya untuk menesuaikan.
Ini bagaimana Pak Paul?
PG : Betul sekali, itu yang sering terjadi Ibu Ester. Misalkan dia itu harus disiplin, benar-benar di dalam pekerjaan itu hidup dengan jarum jam, jam berapa melakukan apa, setiap menit harus dpakai karena itulah yang dituntut dalam pekerjaannya.
Tanpa disadari nilai-nilai hidupnya dan cara berpikirnya berubah pula seperti itu, waktu dia di rumah melihat, "kenapa barang ini harusnya di sini kok di situ, kenapa ini dikerjakannya berulang-ulang, kenapa tidak panggil orang." Dia akan malu, dan akan berkata, "Kenapa kamu tidak kerjakan itu," nah yang di rumah jadinya tersinggung dan marah. Yang memberitahukan juga marah, sebab yang memberitahukan juga berkata, "Saya berniat baik, saya ingin menolong kamu menjadikan tempat ini lebih mudah diatur, menjadikan cara kerja kamu lebih efisien sehingga lebih produktif." Tapi yang di rumah berkata, "Saya tidak perlu produktif-produktif, di rumah dari sekarang dan besok akan terus sama. Anak selama 3 hari kecil badannya juga hampir sama, makannya hampir sama dan sebagainya, jadi dia akan sangat tidak nyaman.
GS : Tapi itu bukankah semacam perang pengaruh, kalau si suami dominan apakah si istri tidak terpengaruh juga dengan pola kehidupan si suami atau sebaliknya?
PG : Biasanya memang akan ada saling mempengaruhi, biasanya masing-masing berusaha untuk bisa menyesuaikan. Misalkan karena suaminya sangat efisien dan meminta dia untuk seefisien itu perlahanlahan dia juga akan mencoba untuk mengikuti irama suaminya dan sebaliknya juga bisa.
Namun satu hal yang ingin saya tawarkan adalah yang harus kita targetkan bukan kita berubah, seperti yang diharapkan oleh pekerjaan kita. Saya justru mau menawarkan satu solusi yaitu kita kembali kepada gaya hidup semula, gaya komunikasi semula. Jadi benar-benar kalau sampai kita menyesuaikan diri, itu adalah bonus. Tapi yang kita tuntut sebetulnya jangan perubahan itu, yang harus kita tekankan adalah sewaktu di rumah kita mencoba untuk menanggalkan baju-baju kerja kita, cara-cara kerja kita, itu kita tanggalkan. Kita benar-benar kembali menggunakan pola komunikasi yang dulu yang pernah kita kenal.
GS : Itu yang sulit Pak Paul, karena orang itu akan merasa bahwa dia menjadi dua pribadi yang berbeda.
PG : Menurut saya seseorang sebenarnya harus membelah dirinya sebab kalau dia tidak membelah dirinya tapi malah menuntut pasangannya jadi seperti dia, saya takut yang terjadi adalah kebalikanna justru akhirnya sering berkelahi dan bukannya terjalin jembatan malahan mereka membakar jembatan di antara mereka.
ET : Tapi kalau menggunakan pola lama atau gaya yang lama bukankah kadang-kadang buat yang merasa sudah lebih maju seperti sebuah kemunduran, jadi tidak rela kalau harus mengambil satu langkah e belakang.
PG : Tapi bukankah yang menyatukan kita berdua pada awalnya adalah cara bicara yang lama itu, bukankah gaya bicara kita yang lama itu yang telah menyatukan kedua hati kita. Sebagai contoh, buknkah pada waktu kita masih berpacaran kita bisa berbicara berjam-jam, kenapa setelah menikah tidak bisa lagi.
Dan kita langsung menganggap itu buang waktu, tidak ada tujuannya, berbicara seperti ini mana buahnya atau mana hasilnya. Waktu kita berpikir begitu yakinlah bahwa kita sebetulnya telah dibentuk dan telah menerima atau menyerap jiwa pekerjaan kita yang kita serap dari luar. Dan kita sekarang menuntut pasangan kita untuk menjadi seperti kita yang telah dibentuk oleh pekerjaan kita. Nah menurut saya kalau dua-dua seperti itu maka tabrakanlah yang akan terjadi setiap hari di rumah, jadi saya kira dua-dua harus berusaha menanggalkan baju kerjanya dan kemudian mencoba untuk berkomunikasi kembali dengan cara-cara yang lama atau yang biasa itu.
GS : Tapi mungkin itu lebih mudah dilakukan kalau kita mempertahankan pola yang lama ketika berpacaran dan membiarkan pola yang baru itu hanya di tempat kerja daripada kembali lagi ke lama itu agak sulit, Pak Paul?
PG : Jadi dengan kata lain begitu kita pulang ke rumah kita harus benar-benar menyadari bahwa sekarang kita tidak lagi berada di teritori kerja. Saya harus memperlakukan keluarga saya, orang-oang di rumah saya dengan berbeda.
Soalnya ini dirasakan pula oleh anak, berapa banyak anak-anak yang menderita akibat perlakuan orangtua yang menuntut mereka hidup seperti orangtua mereka di tempat pekerjaan. Kalau di tempat pekerjaan untuk berdisiplin, mereka menuntut anak-anak juga hidup berdisiplin tinggi, mereka dituntut tanpa salah karena pekerjaan mereka menuntut kesempurnaan, di rumah pun mereka mewajibkan pasangan dan anak-anak hidup tanpa salah atau sempurna sekali. Kasihan sekali, jadi di rumah kita harus menanggalkan baju kerja kita, jadilah diri yang semula, jadilah diri yang dikenal oleh pasangan kita. Dan jangan perlakukan anak kita atau pasangan kita sebagai rekan kerja atau staf bawahan kita.
ET : Tadi Pak Gunawan juga sempat memunculkan tentang yang mempunyai usaha di rumah, nah ini bagaimana apakah bisa ada satu tips yang lebih konkret? Karena itu 'kan susah juga misalkan ada kantor di rumah yang hanya beda pintu itu sudah rumah, kembali ke sini kantor, bagaimana memisahkan gaya sehari-harinya?
PG : Nah itu memang bisa terjadi dua arah, gaya bicara di rumah di bawa ke kantor karena terlalu dekat. Tapi setidak-tidaknya saya harus akui kalau bekerja dalam letak geografis yang berdekata dan seringnya terjadi komunikasi pada waktu bekerja, perbedaan itu akan mengecil.
Tapi suami-istri yang bekerja dalam satu perusahaan itu juga mempunyai masalahnya sendiri, yaitu masalah di tempat pekerjaan dicampurkan dengan masalah di rumah. Masalah di rumah dicampurkan dengan masalah pekerjaan. Kalau di rumah kita lagi jengkel dengan pasangan kita dia sepertinya egois, kita bawa ke pekerjaan kita anggap dia sama egois. Di rumah kita melihat pasangan kita pandangannya kurang luas, di tempat pekerjaan kita juga tuduh dia wawasannya sempit, jadi akhirnya tercampur-campur. Jadi bekerja dalam satu perusahaan yang sama sering kali mempunyai masalahnya sendiri. Yang satu merasa, "saya kepala keluarga," tapi di tempat pekerjaan pasangannya berkata, "saya kepala perusahaan, sebab saya lebih tahu perusahaan ini daripada kamu." Bertengkar lagi, jadi memang sebisanya menurut saya tidak bekerja dalam perusahaan yang sama. Tidak bisa dihindari kebanyakan kita akan bekerja di dua tempat yang berbeda, itu tidak apa-apa yang penting waktu di rumah tanggalkan jubah kerja dan jadilah diri yang semula.
GS : Kadang-kadang memang sekalipun di perusahaan yang sama biasanya pihak perusahaan akan memisahkan mereka dalam dua departemen yang berbeda.
PG : Betul sekali, mungkin perusahaan juga menyadari ini ada potensi konflik, mencampuradukkan rumah dengan pekerjaan.
GS : Yang sulit lagi itu kalau orang ini mempunyai kegiatan atau pelayanan di gereja, dia harus mengubah pula caranya berkomunikasi, ini suatu bentuk komunikasi yang berbeda lagi Pak Paul?
PG : Dalam pelayanan harus lebih sabar.........
GS : Ya, tidak bisa diterapkan yang di pekerjaan atau di rumah karena dua-dua tidak cocok. Ini sebenarnya menjadi lebih sulit.
PG : Betul, tapi saya kira sebisanya aslinya kita itu kita pertahankan kecuali aslinya kita itu memang buruk, kita sering mengumpat, sedikit-sedikit marah, mengamuk. Nah asli yang itu yang hars dibuang, tapi kalau aslinya kita baik itu yang harus kita pertahankan.
GS : Mungkin perlu sikap yang lebih rileks kalau kita sudah di rumah, jadi tidak tegang seperti di perusahaan atau membawa ketegangan itu ke dalam rumah.
PG : Betul, sekali kita mesti menyadari semua ini sebab kita sudah melihat betapa banyaknya korban berjatuhan akibat tidak bisa memisahkan pekerjaan dan rumah tangganya.
GS : Dan ada banyak orang yang kehilangan gairah di rumah karena di kantor atau di tempat kerja sudah tersalurkan kegairahannya itu, apakah memang seperti itu?
PG : Betul, ada orang-orang tertentu dalam daftar prioritasnya pekerjaan itu menempati tempat teratas, paling berharga, paling penting buat dia dan keluarga di nomorduakan. Menurut saya itu keiru, kita harus menomorsatukan Tuhan di atas segalanya, terus kita harus memperhatikan orang yang paling dekat dengan kita yaitu keluarga kita, baru setelah itu adalah pekerjaan.
GS : Bagaimana firman Tuhan berbicara mengenai hal ini?
PG : Saya akan ambil dari Lukas 6:38, "Berilah dan kamu akan diberi..." coba kita praktekkan firman Tuhan ini. Sewaktu di rumah berilah, artinya berilah diri kita yang asli, tanggalkanlah juba pekerjaan kita, kita mengalah.
Kita jangan menuntut pasangan menjadi seperti kita, kalau dua-dua mengalah, dua-dua menanggalkan jubahnya masing-masing maka dua-dua akan menerima. Maka firman Tuhan berkata, "Berilah dan kamu akan diberi..." Nah orang yang banyak memberi dia juga akan banyak menerima.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini, terima kasih Ibu Ester dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Antara Pekerjaan dan Rumah". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Pada awalnya kita memulai relasi di dalam konteks kehidupan yang serupa. Kita kuliah di kota dan perguruan tinggi yang sama; beribadah dan melayani di gereja yang sama; bahkan sebagian dari kita bertumbuh besar di lingkungan yang sama. Kesamaan lingkup kehidupan sedikit banyak berpengaruh menyelaraskan kedua diri yang berbeda. Setelah menikah kesamaan makin menipis berhubung kita dipisahkan oleh tuntutan pekerjaan. Ada yang harus diam di rumah bersama anak dan ada yang bekerja di luar rumah. Kalaupun keduanya bekerja di luar rumah, pada umumnya kita bekerja di bidang yang berlainan. Ketidaksamaan lingkup pekerjaan pada akhirnya memberi dampak pada kepribadian dan gaya hidup serta komunikasi di antara kita. Perbedaan berpotensi menciptakan jarak dan untuk menghindarinya kita perlu melakukan beberapa hal berikut ini.
Kita mesti menyadari dampak pekerjaan itu pada diri kita. Sebagai contoh, jika kita mengasuh anak hari lepas hari, mau tidak mau kita harus hidup dengan jadwal anak dan memahami cara hidup anak. Kita harus melonggarkan keteraturan dan bersikap fleksibel terhadap ketidakpastian. Gaya bahasa kita pun mengalami perubahan; misalnya kita menjadi lebih berputar-putar sebab untuk membujuk anak kita perlu berbicara secara tidak langsung. Kadang kita pun bernada memerintah sebab anak memerlukan instruksi. Sebaliknya, bila kita bekerja di lingkup hierarki, kita akan mementingkan aturan dan mata rantai pertanggungjawaban. Kita akan berusaha menyelesaikan pekerjaan sendiri sebelum bertanya kepada atasan. Kita berkomunkasi dengan lebih langsung dan tidak berputar-putar dan dalam bertindak, kita menekankan efisiensi. Semua ini akan berdampak pada diri kita tatkala kita di rumah bersama pasangan.
Kita pun harus menyadari dampak mitra kerja pada diri kita. Pekerjaan tertentu cenderung menyedot orang-orang dengan kepribadian tertentu pula. Akibatnya, makin lama kita bekerja bersama mitra, gaya hidup dan pola pikir kita bukan saja makin serupa tetapi juga makin mengental. Masing-masing memberi sumbangsih yang makin memperkuat karakteristik tertentu itu. Misalkan perkerjaan yang menuntut kepatuhan dan disiplin yang tinggi akan menarik orang yang memiliki kepatuhan dan disiplin yang tinggi. Dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi bila sejumlah orang yang mempunyai kepatuhan dan disiplin tinggi berkumpul hari lepas hari selama bertahun-tahun-mereka akan saling memperkuat kepatuhan dan disiplin yang tinggi.
Kita tidak boleh menuntut pasangan untuk mengadopsi gaya bahasa dan pola hidup kita. Mustahil baginya untuk mengadopsi semua itu sebab ia tidak hidup di dalam dunia kita. Kita mesti menerimanya apa adanya. Jika ia berusaha mengadopsi gaya hidup kita, itu adalah bonus yang kita syukuri, bukan yang kita tuntut.
Jika demikian kondisinya, sebaiknya kita memisahkan gaya hidup dan pola pikir kita di rumah dan di tempat kerja. Tetaplah berkomunikasi dengan gaya lama sebab bukankah gaya lama inilah yang telah mempersatukan kita. Jangan memaksakannya untuk menjadi diri kita.
Firman Tuhan: Berilah dan kamu akan diberi. (Lukas 6:38)
T 200 B "Gaya Komunikasi Pria dan Wanita" oleh pdt. Paul Gunadi
Salah satu sumber konflik dalam rumah tangga adalah komunikasi yang tidak tepat sasaran. Meski kita tidak dapat menggeneralisasi semua, namun ada pola komunikasi tertentu yang lebih sering ditemukan pada pria dan wanita. Memahami pola ini bisa membantu kita memperlancar arus komunikasi.
Dalam berkomunikasi dengan pasangan, pada umumnya pria menuntut ketundukan istri kepadanya. Jadi, sebaiknya istri tidak langsung menyatakan ketidaksetujuannya melainkan meminta waktu untuk memikirkan ulang usulan suami. Atau, di awal bantahannya, istri langsung menyatakan kesediaannya untuk mematuhi kehendak suami namun ia ingin mengungkapkan pikirannya terlebih dahulu. Biasanya jika suami tahu bahwa istri sedia mematuhinya, ia pun akan lebih siap untuk bernegosiasi. Sebaliknya, bila ia sudah membaca bantahan dari istri, ia cenderung bersikeras memaksakan kehendaknya. Alhasil konflik pun terjadi.
Dalam berkomunikasi dengan pasangan, pada umumnya istri lebih mementingkan proses pembahasannya dibanding hasil akhir atau keputusannya. Selama istri memperoleh kesempatan untuk berunding dan mengungkapkan pikirannya, selama itu pulalah ia siap untuk mengikuti kehendak suaminya. Dalam pengertian ini, wanita lebih siap untuk menghadapi konflik sebab terpenting baginya adalah proses berkomunikasi itu sendiri. Sebaliknya pria cenderung memandang konflik sebagai sinyal ketidakpatuhan dan ketidakadaan dukungan istri terhadapnya.
Pria cenderung berpikir praktis, jadi, jika ia menduga bahwa istri akan tidak setuju, daripada terlibat dalam konflik, ia memilih berdiam diri. Sebaliknya, oleh istri sikap diam ini diartikan putusnya relasi (bukan hanya komunikasi). Konflik yang lebih besar pun tak terhindarkan. Bagi istri, ketidaksetujuan dalam berkomunikasi merupakan dinamika sehat, bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Wanita intuitif dan berorientasi pada perasaan, jadi bila ia melihat sikap atau penampakan suami yang menunjukkan ketidaksenangan, itu akan sangat mempengaruhi nada komunikasi. Dalam pada itu, komunikasi menjadi tidak berdasar fakta lagi; kendati "fakta" yang dibicarakan namun sesungguhnya istri menghendaki sesuatu yang lain-jaminan bahwa suami tetap mengasihi dan bersamanya.
Firman Tuhan:". . . kalau hidung ditekan darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul." (Amsal 30:33)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama dengan ibu Ester Tjahja. Kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami beberapa waktu yang lalu tentang "Pekerjaan yang Cocok". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita sudah membicarakan tentang pekerjaan yang cocok yang merupakan pertanyaan dari pendengar setia acara Telaga ini. Pak Paul sudah memberikan ulasan, namun supaya pendengar kita ini bisa mendengarkan secara lengkap, mungkin Pak Paul bisa menguraikan sedikit apa yang sudah kita perbincangkan.
PG : Pada dasarnya perkembangan karier seseorang itu diawali sejak dia berusia 2 tahunan, di mana anak itu mulai mengeksplorasi lingkungannya, dia mulai melihat benda-benda yang asing kemudian ia mau memegangnya, dia melihat tantangan yang baru seperti tangga-dia mau naik dan sebagainya.
Ini adalah bagian penting dalam perkembangan diri dan karier si anak. Artinya ada hal-hal yang perlu si anak kembangkan di usia 2 tahunan, yaitu inisiatif dan kemandirian. Di sini peran orangtua sangatlah penting yaitu untuk bisa memberikan kebebasan dan pengawasan pada si anak. Pada usia masa sekolah anak-anak mulai bermain, dari misalnya usia 5 tahun sampai 10, 11 tahun anak-anak itu maunya main. Ini penting sekali sebab bermain juga nantinya akan memberikan kesempatan pada si anak mengembangkan kualitas yang diperlukan untuk bekerja. Misalnya untuk mencapai tujuan bersama; anak-anak harus bekerja sama dalam permainan, ada kelompoknya melawan kelompok yang lain. Dia harus tenggang rasa-dia tidak bisa hanya menuruti kemauannya sendiri; dia juga harus saling menolong dengan teman-temannya untuk bisa mencapai tujuan bersama itu. Kita melihat di sini ada begitu banyak hal-hal yang nantinya menjadi kualitas yang diperlukan untuk dapat bekerja. Salah satunya yang nanti juga akan sangat berguna dalam bekerja adalah kreatifitas, baik dalam mengembangkan sesuatu maupun kreatifitas dalam upaya untuk menyelesaikan problem. Nah dalam bermain semuanya dipupuk; kemampuan untuk menyelesaikan problem sekaligus untuk mengembangkan sesuatu. Nah semua ini nanti akan sangat berperan dalam dunia kerja. Pada masa remaja anak-anak itu akhirnya berteman; dalam pertemanan inilah anak-anak menjalin dan mempertahankan relasi. Bagaimana saling mengerti satu sama lain, semuanya ini adalah hal-hal yang diperlukan dalam bekerja, karena dalam bekerja kita juga harus menjaga relasi dengan sesama, tenggang rasa dengan teman, dan menghargai teman. Semuanya ini dipupuk pada masa anak-anak remaja. Kalau pada masa remaja, anak-anak tidak mendapatkan semua ini, besar kemungkinan nanti setelah dia besar dia bekerja, dia akan mengalami kesulitan. Tidak mudah diterima oleh orang karena pendapatnya harus dituruti, tidak mau menolong orang, maunya hanya mementingkan diri sendiri. Nah akhirnya kalau pun dia mempunyai kemampuan di bidang tersebut tapi kalau sikapnya seperti itu, dunia kerjanya akan menolak dia sehingga dia akhirnya tidak juga bisa masuk dan mengembangkan kariernya.
GS : Memang pada masa remaja ini merupakan saat-saat yang sulit baik bagi remaja itu sendiri maupun oleh kedua orangtuanya. Tetapi pada masa remaja ini juga biasanya mereka mulai menemukan karier apa yang akan digeluti berikutnya. Nah di sini peranan orangtua sejauh mana Pak Paul?
PG : Pada masa-masa remaja atau pada masa-masa lebih kecil, orangtua seharusnya menjadi pantulan si anak; memberikan konfermasi akan apa yang bisa dilakukan oleh si anak dan apa yang tidak begiu bisa dilakukan oleh si anak.
Orangtua seharusnyalah melihat perkembangan diri anaknya dan memberikan masukan-masukan itu. Ditambah nanti dengan apa yang si anak akan dapatkan dari sekolah yakni evaluasi. Dia kuat di mana, dia lemah di mana; dia suka atau dia tidak suka apa, semua menjadi masukan berharga si anak untuk mengenal apa sebetulnya yang memang dia sukai dan tidak disukainya. Apa yang dia mampu lakukan dan apa yang kurang mampu dia lakukan.
ET : Kadang-kadang kita bisa melihat ada anak-anak yang rasanya dengan mantap mau memilih jalur karier yang sesuai dengan orangtuanya. Misalkan orangtuanya dokter, dari kecil sudah bercita-cit mau jadi dokter, seakan-akan ini panutan dan ini positif.
Tapi sebaliknya, tidak sedikit juga orangtua yang memaksakan anak harus menjalani jalur yang sama dengan yang orangtua sudah jalankan. Ini bagaimana Pak?
PG : Ada dua Ibu Ester pada masa anak-anak yang dapat menentukan arah karier si anak, ini bisa berdampak positif dan bisa berdampak negatif. Tadi pertama yang Ibu Ester sudah angkat adalah kadng kala anak itu akan diarahkan masuk ke karier tertentu karena si anak memang mengagumi orangtuanya dan akhirnya apa yang dikerjakan oleh orangtuanya dicita-citakannya pula, bahwa saya nanti juga akan melakukan apa yang ayah dan ibu lakukan.
Ini bukannya pasti jelek, tapi kalau memang bakat si anak tidaklah di situ dan kemampuan si anak tidaklah memadai, ini bisa menimbulkan rasa frustrasi juga. Di sini penting sekali orangtua berperan untuk mengatakan kepada si anak bahwa "Engkau tidak harus sama dengan kami dan engkau tetap bisa berharga dan dipakai oleh Tuhan dengan apa yang sudah kamu terima dari Tuhan; tidak usah kamu membandingkan diri dengan kami dan harus menjadi seperti kami. Kami tidak menuntut kamu harus seperti kami, kami akan tetap terima kamu apa adanya dan bersukacita dengan karunia yang Tuhan telah berikan kepadamu." Jadi di sini peran orangtua penting sekali, sekali lagi apa yang dikatakan Ibu Ester betul; panutan-kalau orangtua menjadi panutan yang positif bagi anak, anak memang lebih terdorong untuk mengikuti jejak orangtuanya. Dan kalau memang inilah bakat atau karunia yang diterimanya pula dia akan lebih cepat masuk ke kariernya atau ke jalurnya. Hal kedua yang juga bisa sangat mewarnai pemilihan karier si anak adalah exposure atau maksud saya anak-anak itu pada masa kecil sudah diperkenalkan dengan bidang tertentu. Misalkan ayahnya itu senang otak-atik mobil sehingga si anak sejak masih kecil diajak untuk ikut mengotak-atik mobil, membenarkan ini, pasang itu dan sebagainya. Karena anak sejak kecil diperkenalkan pada bidang tertentu, nah dia juga bisa mengembangkan minat yang lebih besar pada bidang itu. Apalagi kalau dia bisa mengerjakannya, itu makin menambahkan minatnya dia. Ini bisa positif dan negatif; positif dalam pengertian kalau memang ini sesuai dengan kemampuan si anak, ini memang mempercepat langkah si anak masuk ke jalur kariernya tapi kalau ini bukan minat si anak, walaupun dia bisa mengerjakannya tapi kalau ini bukan minat yang sesungguhnya akhirnya sayang, karena yang sesungguhnya dia bisa kerjakan lebih baik tidak dia kerjakan sebab dia sudah langsung terserap pada apa yang sudah diperkenalkan kepadanya pada masa dia masih kecil.
GS : Kalau anak remaja itu sampai masa remajanya dia belum bisa menemukan karier apa yang akan ditempuhnya, itu bagaimana Pak Paul?
PG : Pada umumnya yang kita harapkan pada remaja adalah sekurang-kurangnya dia tahu apa yang tidak disukainya, apa yang tidak diminatinya. Kalau dia belum tahu jelas apa yang disukainya, apa yng pasti bisa dilakukannya, saya kira kita masih bisa toleransi.
Sebab memang kadang-kadang perlu waktu untuk memastikan apa itu yang benar-benar kita sukai atau kuasai. Tapi setidak-tidaknya dia harus tahu apa yang tidak dia sukai. Kalau dia tahu lebih jelas lagi apa yang disukai dan yang tidak disukai itu lebih baik lagi karena berarti dia cukup mengenal dirinya. Ini yang diperlukan pada masa remaja yaitu pengenalan diri sehingga anak-anak itu mulai bisa mengarahkan dan menyempitkan pilihannya misalkan hanya kepada tiga pilihan. Pada waktu dia menyelesaikan SLTA, di masa inilah seharusnya dia sudah bisa melihat, "O...pilihan saya ini kalau tidak ini-ini; kalau tidak itu-itu." Jadi ada 2, 3 pilihan yang seharusnya dia sudah mulai pikirkan.
GS : Berarti waktu dia melanjutkan studinya dia akan memilih salah satu dari yang dia sukai itu.
PG : Betul, dan biasanya pemilihan nanti juga akan dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya faktor kesempatan. Kesempatan itu bisa karena faktor ekonomi; ada orang yang mau masuk ke bidang trtentu tapi secara ekonomi tidak memungkinkan akhirnya tidak jadi masuk.
Atau juga keterbatasan fisik; mau masuk tapi fisik tidak menunjang sehingga tidak bisa. Jadi kadang-kadang pilihan-pilihan itu disempitkan oleh kondisi sehingga akhirnya si anak memilih yang satu dulu. Yang penting dia bisa lulus, setelah dia bisa bekerja ini nanti yang akan menjadi pertimbangan utamanya, kadang-kadang itu yang harus anak lakukan pula.
ET : Jadi semestinya prosedurnya memang harus memahami karier apa dulu baru kemudian memilih bidang studinya atau nanti jurusan di perguruan tingginya.
ET : Yang sering kali terjadi kebanyakan ya sudah sekolah dulu, nanti setelah sekolah baru berpikir nanti mau bekerja apa. Salah kaprah seperti ini yang sebetulnya cukup menyesatkan Pak Paul.
PG : Dan ini terjadi sangat banyak di Indonesia, karena memang banyak anak tidak benar-benar tahu sebetulnya apa kariernya atau jalur kariernya. Dia hanya ikut-ikutan teman, ikut-ikutan juga aa yang orangtua minta tapi dia sendiri tidak benar-benar memikirkannya.
Sayang sekali, karena dia akan menghabiskan waktunya 4, 5 tahun hidupnya untuk sesuatu yang nantinya dia tidak akan gunakan. Jadi sebaiknya anak-anak ini memberikan waktu yang cukup untuk memeriksa dirinya, kalau perlu silakan ke psikolog, atau ke seorang konselor untuk dapat pertolongan sehingga bisa lebih jelas kira-kira apa jalur kariernya.
GS : Memang sekarang sudah banyak dilakukan di sekolah-sekolah lanjutan pertama maupun atas yaitu psikotest-penelusuran bakat dan minat anak, namun tindak lanjutnya yang kurang. Jadi setelah anak itu memilih apa yang disukai, tetapi untuk tindak lanjut ke depanya yang sulit.
PG : Sebetulnya atau sebaiknya anak-anak itu diberikan juga beberapa penjelasan. Misalkan begini, karier sebaiknya merupakan perpanjangan dari diri kita sehingga kita tidak memilih sesuatu yan berkebalikan dari diri kita.
Misalkan kita orangnya relatif tenang, kita tidak suka dengan ketegangan; janganlah memilih karier yang penuh ketegangan, itu sangat bertolak belakang dengan diri kita. Jadi memang penting sekali kita memilih yang sesuai sehingga karier akan menjadi perpanjangan. Kita orangnya mobile, suka jalan, pergi dan sebagainya; energi kita tinggi; jangan memilih karier yang mengharuskan kita duduk di belakang meja terus-menerus, pilihlah karier yang merupakan perpanjangan dari diri kita. Sekaligus juga karier itu seharusnya menjadi ekspresi diri, artinya kita mau mewujudkan sesuatu, menciptakan sesuatu lewat karier kita. Kenapa ini penting? Sebab kita cenderung merasa baru sukacita, terpuaskan dalam karier kita kalau kita berhasil menghasilkan sesuatu, menciptakan sesuatu. Sering kali kita tidak puas kalau kita hanya mutar-mutar secara rutin, kita ingin melakukan sesuatu yang baru, sesuatu yang kita ciptakan. Jadi sebaiknyalah karier juga merupakan wujud diri kita atau ekspresi diri kita.
ET : Bagaimana dengan pertimbangan emosional dalam hal ini?
PG : Kadang-kadang yang terjadi adalah kita memilih karier karena karier itu akan memenuhi kebutuhan emosional kita. Apakah salah? Tidak selalu salah karena kalau kebutuhan kita terpenuhi ole karier tersebut, sudah tentu kita akan merasa senang.
Misalkan kita memang sangat membutuhkan kasih sayang terutama waktu kita masih kecil kita kurang kasih sayang, sehingga kita akhirnya memilih pekerjaan yang berkecimpung dengan anak-anak. Kita bisa melimpahkan kasih sayang pada mereka agar mereka bisa kembali menyayangi kita. Itu baik tidak apa-apa, tapi bisa ada dampak negatifnya; karena kadang-kadang kita akhirnya terkecoh, sesungguhnya kemampuan kita bukan di situ tapi karena kita mempunyai kebutuhan tertentu akhirnya kebutuhan itu yang mendorong kita masuk ke jalur karier tersebut. Biasanya kalau ini yang terjadi, tatkala kebutuhan emosional kita sudah terpenuhi lewat pekerjaan itu, yang akan muncul dalam hati kita adalah rasa jenuh. Jadi kalau ini bukanlah bidang yang sesuai dengan kemampuan atau minat kita, pada umumnya kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan emosional-sampai titik tertentu kita mulai jenuh. Itu sebabnya kita melihat ada orang-orang yang alih kariernya itu cukup mengagetkan; benar-benar bertolak belakang, sering kali memang karena faktor ini. Tadinya karier itu dipilih karena sebetulnya untuk memenuhi kebutuhan (dia mungkin tidak menyadarinya) setelah kebutuhannya terpenuhi barulah dia merasa tidak nyaman, bosan, tidak lagi suka, baru dia mau mengembangkan sesuatu yang tadinya dia pikir bukanlah bakatnya. Tapi waktu dia kembangkan, dia benar-benar baru menyadari betapa sukacitanya dia, kariernya benar-benar ekspresi diri, menjadi wujud dari dirinya sendiri dan merupakan perpanjangan dari dirinya.
ET : Atau kadang-kadang mungkin akhirnya tidak terpenuhi juga walaupun akhirnya sudah memilih jalur karier ini tapi kebutuhannya tidak terpenuhi. Misalnya memilih jalur karier tertentu untuk mmenuhi keinginan harga diri, gengsi, rasanya profesi ini lebih meningkatkan prestise tersendiri, namun itu sangat relatif untuk tercapai dan terpenuhinya.
PG : Betul, kalau itu yang terjadi saya khawatir nanti kita itu terus-menerus mengejar-ngejar guna mendapatkan pemenuhan kebutuhan tersebut lewat karier kita. Kadang kita memang harus berhati-ati, sebaiknya karier memang bukan untuk memenuhi lubang-lubang dalam hidup kita, sebaiknya lubang-lubang kita penuhi dengan cara yang lain yang lebih sehat.
Misalkan lewat relasi dengan sesama. Nah lebih baik begitu sehingga karier benar-benar merupakan ekspresi diri dan ekstensi atau perpanjangan diri.
GS : Ada sebagian orang yang memisahkan karier dengan hobynya, jadi untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya dia menyalurkan itu lewat hoby tapi untuk kariernya dia berbeda sekali. Apakah bisa seperti itu?
PG : Bisa, saya kira itu sangat wajar, jadi bagi dia karier adalah wujud dirinya dan juga perpanjangan dirinya sedangkan untuk kebutuhan emosionalnya dia peroleh dari hal-hal yang lainnya. Mislnya dari relasinya dengan teman dan itu baik sekali.
GS : Itu berarti dalam menentukan karier ada pertimbangan mengenai apa yang dia sukai dan apa yang dia mampu melakukannya?
PG : Betul, selalu di dalam menentukan pilihan mengenai karier ini kita harus selalu menimbang-nimbang dua faktor ini yaitu kesukaan dan kemampuan. Misalkan kita harus menghadapi suatu pilihanyang seperti ini, idealnya memang kita bisa menggabungkan keduanya.
Tapi misalkan pilihan itu tidak ada, yang ideal itu tidak ada; saya anjurkan kita memilih kemampuan daripada memilih sesuatu yang kita sukai namun tak dapat kita lakukan. Kenapa? Sebab kita membangun karier di atas kemampuan, kalau kita hanya sukai dan kita tidak mampu lakukan artinya tinggal tunggu waktu akan jeblok juga, akan hancur karena kita tidak mendapatkan pengakuan dari orang-orang sekerja. Dan mereka malahan bukan hanya tidak memberikan pengakuan mungkin malah mengkonfermasi bahwa ini bukan bidang kita. Akhirnya kita tertolak, jadi pilihlah sesuatu yang sesuai kemampuan kita. Dan bangunlah diri di atas kemampuan itu, pertajamlah kemampuan kita pada bidang kita itu. Setelah kita bisa mempertajam dan akhirnya mendapatkan pekerjaan yang sesuai, mendapatkan pengakuan dari kebisaan kita itu, kalau kita masih mempunyai waktu dan mengembangkan sesuatu yang memang kita sukai tetapi belum kita kuasai, silakan. Tapi jangan kebalikan, terus bersikeras mau menambah, mengasah kemampuan yang kita tidak pernah miliki; yang kita miliki kita abaikan, itu keliru. Justru yang kita sudah terima dari Tuhan itu adalah bagian kita, porsi kita dan kita bertanggung jawab untuk mengembangkannya.
GS : Kalau seseorang mulai menyadari bahwa dia keliru, apa yang dia bisa lakukan?
PG : Sebaiknya alih karier, ini memang berat apalagi kalau ini baru kita sadari di usia paro baya, dan secara keuangan keluarga bergantung pada kita, ini berat. Tapi kalau memungkinkan kita alh karier.
Pada umumnya kita alih karier sekurang-kurangnya sekali dalam hidup, jadi sering kali kita alih kariernya itu belok arah masuk ke karier yang berbeda. Nah itu bukan sesuatu yang tidak lazim melainkan justru lazim. Kalau memang karier yang baru ini bisa mengembangkan diri kita, benar-benar merupakan pertanyaan dari diri kita dan memang memungkinkan kita melakukannya, lakukanlah. Namun kalau harus mengorbankan keluarga kita, ya untuk sementara kita harus mengalah, kita bertahan meskipun kita tidak terlalu menyukai apa yang kita lakukan.
GS : Ada orang yang suka berpindah-pindah karier, dan itu mungkin kalau kita bicarakan tentang karier bukan satu rumpun lagi. Kenapa bisa seperti itu Pak Paul?
PG : Kalau kita mau berpikir positif, ada orang yang memang dikaruniai Tuhan banyak kemampuan, jadi benar-benar dia bisa menguasai berbagai jalur karier. Ada yang seperti itu tapi jarang, kebayakan kita itu sebetulnya hanya satu jalur karier yang sangat kuat kemudian dua yang setengah kuat.
Jadi kita memang bisa pindah sekurang-kurangnya dua kali, karena di situ juga kita mempunyai kemampuan yang lumayan baik. Tapi umumnya hanya satu yang sungguh-sungguh kita sangat cakap untuk melakukannya. Jadi kalau orang yang suka-suka pindah kalau memang sebetulnya tidak seperti itu yang kemampuannya tidak di semua bidang, kemungkinan besar memang belum tahu apa yang dia sukai, apa yang tidak disukai, apa kemampuannya. Berarti proses yang seharusnya dia lewati pada masa-masa yang lebih kecil misalkan usia-usia remaja, tidak dia lewati dengan baik. Sehingga sampai sudah tua tetap belum tahu apa itu yang benar-benar adalah karunianya.
ET : Bukankah yang sulit itu memang dalam ekonomi yang tidak menentu, kadang-kadang untuk memilih yang sesuai itu yang susah sekali didapatkan baik bukan hanya dari segi minat tetapi dari segi emampuan kadang-kadang harus melakukan banyak penyesuaian lagi.
PG : Jadi pada akhirnya akan ada 3 kata K yang kita nanti harus gabungkan; kesukaan, kemampuan, kesempatan. Karena adakalanya kita bisa mengerjakan yang kita sukai dan sesuai kemampuan, itu kaena kita diberikan kesempatan oleh Tuhan tapi adakalanya kita tidak diberikan kesempatan itu.
Kondisi lingkungan tidak mengijinkan, sehingga meskipun kita menyukainya dan kita mempunyai kemampuan melakukannya tapi kita tidak bisa mengerjakannya karena kita tidak mempunyai kesempatan itu. Jadi benar-benar 3 ini harus ada yaitu kesukaan, kemampuan dan kesempatan. Berbahagialah orang yang diberikan ketiganya, tapi saya tahu tidak semua orang diberikan ketiganya, bahkan banyak orang yang tidak memiliki kesempatan itu, dan kita tidak pernah benar-benar tahu kenapa Tuhan tidak memberikan kesempatan itu kepada sebagian orang. Kita tidak boleh menuduh Tuhan tidak adil, sebab ada rencana Tuhan yang sering kali tidak kita ketahui, pastilah yang Dia berikan baik untuk kita dan itulah yang kita terima.
GS : Tetapi bagi orang yang bersangkutan, ini menjadi pertanyaan besar kenapa Tuhan memberikan saya kemampuan seperti itu tapi tidak memberikan kesempatan sehingga dia merasa aneh.
PG : Tuhan adakalanya memang menutup pintu sehingga kita tidak bisa masuk dan mengembangkan kemampuan kita, Tuhan tidak memberikan kesempatan itu. Kenapa? Adakalanya Tuhan ingin melatih kita ntuk melengkapi kita dan pada akhirnya kita benar-benar bisa menjalankan dan mengemban peran itu dengan lebih baik.
Seperti Musa, Musa memerlukan berpuluhan tahun bentukan Tuhan; 40 tahun di Mesir, 40 tahun di Midian untuk mengerjakan tugas Tuhan selama 40 tahun terakhir hidupnya. Jadi adakalanya itulah yang Tuhan harus lakukan kepada kita. Yosua, sebelum dia memimpin umat Israel masuk ke tanah Kanaan; bertahun-tahun dia mendampingi Musa, dia benar-benar menjadi asisten dan tangan kanan Musa sampai pada akhirnya Tuhan memberi kesempatan itu kepada dia. Tapi Kaleb rekan Yosua, tidak memberikan kesempatan itu; yang diminta menggantikan Musa adalah bukannya Kaleb tapi Yosua. Kenapa bukan Kaleb? Tidak kita ketahui juga, tapi Tuhan memberikan kesempatan itu kepada Yosua. Nah kita tidak bisa mengerti sepenuhnya rencana Tuhan, kita mesti percaya rencana-Nya baik, dan kalau kesempatan itu tidak Tuhan berikan percayalah bahwa ini tetap baik. Kadang-kadang ada hal-hal yang sebaiknya tidak kita kerjakan, karena kalau kita paksakan diri itu mungkin lebih berakibat atau berpengaruh buruk pada diri kita.
GS : Kalau begitu, mungkin sikap yang benar adalah kita harus mensyukuri karier dalam bentuk apa pun yang Tuhan percayakan kepada kita Pak Paul?
PG : Betul Pak Gunawan, jadi sebaiknya kesempatan yang Tuhan berikan kita terima, porsi yang Tuhan berikan kita terima; kita lakukan dengan penuh tanggung jawab. Sebab firman Tuhan pun berkatayang Tuhan tuntut adalah kita setia dalam hal-hal yang kecil, dan kalau kita bisa membuktikan setia dalam hal yang kecil baru Tuhan nanti memberikan kepercayaan untuk hal-hal yang lebih besar.
GS : Kalau kita melihat karier dari Yusuf, itu juga penuh dengan variasi.
PG : Sangat-sangat bervariasi dan benar-benar bagian-bagian yang tidak mengenakkan itu banyak, dan berlangsung selama belasan tahun dalam hidupnya. Dan satu kurun dia tidak tahu apakah yang nati akan menimpa hidupnya karena seolah-olah terus-menerus kemalangan yang menimpa hidupnya.
Dia dijual oleh saudara-saudaranya sendiri, bahkan hampir dibunuh oleh saudara-saudaranya, kemudian difitnah oleh istri majikannya, harus masuk ke penjara; di penjara dilupakan oleh temannya yang ditolongnya, terus seperti itu. Tapi memang itulah persiapan yang Tuhan tentukan bagi Yusuf untuk dia melakukan sesuatu yang sangat penting dalam sejarah umat Israel.
GS : Untuk mengakhiri perbincangan kita tentang "Pekerjaan yang Cocok" ini mungkin Pak Paul ingin menyampaikan dari sebagian firman Tuhan?
PG : Di akhir hidupnya Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya setelah ayahnya meninggal dunia di hari tuanya. Dia berkata, "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu tela mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti apa yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar."
Kejadian 50:19 dan 20. Kita melihat di sini Yusuf pada akhirnya menyadari maksud Tuhan. Belasan tahun dia tidak menyadari maksud Tuhan tapi akhirnya dia menyadari Tuhan memang ingin membawa dia ke Mesir menjadi Perdana Menteri untuk menyiapkan tempat dan kehidupan bagi keluarganya, agar mereka tidak mati kelaparan. Dan pada akhirnya Tuhan membawa Israel keluar dari Mesir untuk kembali lagi ke tanah Kanaan.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini, juga Ibu Ester terima kasih. Kami percaya perbincangan ini menjawab pertanyaan pendengar kita dan menjadi berkat bagi kita sekalian. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Pekerjaan yang Cocok" bagian yang kedua. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ada orang yang dengan mudah mengetahui jenis pekerjaan yang disukainya namun ada sebagian orang yang mengalami kesukaran menentukan bidang pekerjaannya. Untuk memahami bidang yang cocok, ada baiknya kita mengenal teori perkembangan karier.
Karier berkembang mulai dari saat anak berusia sekitar 2 tahun. Pada masa itu anak mulai mengeksplorasi lingkungan (dengan merangkak dan memasukkan benda ke mulutnya) dan mengeksplorasi kemampuannya (memanjat atau mulai menggambar). Kebebasan yang disertai pengawasan akan memberi ruang gerak kepada anak untuk mengembangkan rasa percaya diri. Jadi pada masa balita, peran serta orangtua sangat penting untuk menumbuhkan inisiatif dan kemandirian anak. Orangtua yang terlalu membatasi akan menumpulkan inisiatif anak dan melemahkan kemandiriannya.
Tatkala anak memasuki usia sekolah, bermain menjadi bagian penting dalam perkembangan karier anak. Tipe permainan atau aktivitas yang disukai anak sering kali mencerminkan karier anak di masa dewasa. Bermain juga merupakan cikal bakal bekerja sebab baik bermain maupun bekerja berbagi etos yang serupa. Dalam bermain kita harus tenggang rasa, saling tolong, kreatif, dapat memecahkan problem dan mengatasi tantangan guna mencapai tujuan bersama-kualitas yang dituntut dalam bekerja. Jadi, kesempatan bermain merupakan waktu yang penting dan bermanfaat bagi anak. Jika anak kehilangan waktu bermain, ia akan kehilangan kesempatan mengembangkan etos bekerja bersama.
Pada masa remaja, anak terjun ke dalam kehidupan bersama teman dan di sinilah keterampilan menjalin dan mempertahankan relasi diasah. Bila anak kehilangan kesempatan bergaul, besar kemungkinan ia akan kehilangan kesempatan mengembangkan kesanggupan berelasi-sesuatu yang sangat penting dalam perkembangan karier karena bukankah semua lapangan kerja menuntut adanya kemampuan untuk menjalin dan menjaga relasi.
Pada masa remaja anak pun mulai mengenali minat serta kemampuan dan ketidakmampuannya lewat pendidikan yang ditempuhnya. Jika sampai saat remaja anak tetap tidak tahu apa minat dan kemampuannya/ketidakmampuannya, besar kemungkinan ia akan mengalami keterlambatan dalam perkembangan kariernya. Pada fase remaja sebaiknya anak diberi kesempatan mengenal pelbagai jenis perkerjaan serta tuntutannya. Pengenalan ini akan membantunya melihat dirinya dengan lebih jelas di dalam lingkup pekerjaan itu.
Baik pada masa anak maupun remaja, exposure dini terhadap jenis pekerjaan tertentu akan mempengaruhi perkembangan karier, apalagi bidang tersebut menjadi bidang yang akhirnya dikuasai dengan baik.
Juga, pada masa anak dan remaja, peran panutan sangat besar dalam pemilihan karier karena ada kaitan antara pemilihan karier dan panutan di mana kita cenderung memilih karier yang dipilih oleh panutan kita.
Dalam menentukan karier, sedapatnya kita memilih karier yang merupakan perpanjangan sekaligus ekpresi diri. Dengan kata lain, pilihan karier serasi dengan kepribadian kita.
Adakalanya karier merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan emosional. Ini tidak salah namun dapat mengaburkan bakat semula. Jadi, penting bagi kita untuk mengenal diri dan kebutuhan dengan tepat.
Jika diperhadapkan dengan pilihan antara kesukaan dan kemampuan, kita memilih kemampuan. Sudah tentu idealnya kita dapat menggabungkan keduanya namun bila pilihan itu tidak ada, sebaiknya kita memilih kemampuan daripada memilih sesuatu yang kita sukai namun tak dapat kita lakukan. Pertajamlah kemampuan yang sudah ada terlebih dahulu, baru-bila ada kesempatan-kita mengasah kemampuan yang lemah namun kita sukai. Dengan kata lain, kita membangun karier di atas realitas, bukan angan-angan.
Alih karier bukanlah sesuatu yang tidak lazim. Adakalanya kita memilih karier atas dasar kebutuhan (ekonomi atau emosi), namun setelah kebutuhan terpenuhi kita pun merasa resah. Di saat itulah kita mulai mempertimbangkan alih karier dan biasanya ada dua kemungkinan: (a) jika sebelumnya kita memilih yang sesuai kebutuhan sekarang kita memilih karier yang sesuai minat dan kemampuan atau (b) kita melihat adanya kebutuhan mendesak dan kita terpanggil untuk memenuhinya.
Di luar itu semua ada sesuatu yang turut mempengaruhi karier yakni kesempatan. Tuhanlah yang memberi kesempatan dan kadang itu tidak diberikannya. Kadang maksud-Nya adalah melatih kita untuk siap melakukan tugas yang akan Ia embankan pada kita. Adakalanya Ia menutup kesempatan karena Ia tahu bahwa kita dapat merugikan orang atau diri sendiri. Kadang Ia menarik kesempatan karena Ia ingin mengalihkan kita ke suatu bidang yang lain. Pada intinya kita tidak selalu tahu rencana Allah; jadi tugas kita hanyalah melakukan tanggung jawab atau bagian kita. Terimalah porsi yang Ia tetapkan untuk kita dengan penuh syukur. Yusuf berkata kepada saudaranya," Janganlah takut sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. (Kejadian 50:19-20)