Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereSuami yang tidak Mau Bekerja

Suami yang tidak Mau Bekerja


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T254A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Seyogianyalah seorang suami bekerja untuk menafkahi keluarganya tetapi sayangnya ada sebagian suami yang tidak mau bekerja. Sudah tentu hal seperti ini menciptakan masalah tersendiri. Apakah yang harus diperbuat istri bila ini terjadi pada keluarganya?
MP3: 
3.61 MB
Ringkasan
Isi: 

Seyogianyalah seorang suami bekerja untuk menafkahi keluarganya tetapi sayangnya ada sebagian suami yang tidak mau bekerja. Sudah tentu hal seperti ini menciptakan masalah tersendiri. Apakah yang harus diperbuat istri bila ini terjadi pada keluarganya? Sebagaimana hal lainnya, kita harus mencari penyebabnya terlebih dahulu sebelum mencari solusinya.

  • Ada yang tidak mau bekerja selama belum memperoleh pekerjaan yang diidamkannya. Dalam kasus ini bisa saja ia dulunya bekerja namun kemudian kehilangan pekerjaannya. Ia menolak untuk melakukan pekerjaan lainnya sebab ia merasa tidak cocok. Dalam kasus seperti ini, istri sebaiknya turut membantu suami mencarikan pekerjaan, dengan catatan suami pun tidak berhenti mencari pekerjaan. Secara berkala sampaikanlah kepada suami kondisi keuangan keluarga supaya ia menyadari kebutuhan yang ada. Pada akhirnya istri dapat mendorong suami untuk mengambil pekerjaan lain sebagai pekerjaan sementara. Bila istri sendiri mempunyai penghasilan yang cukup, ini bisa memperlama si suami untuk mengambil pekerjaan lain sebab kondisi keuangan tidak lagi mendesak.
  • Ada yang tidak mau bekerja sampai menemukan pekerjaan yang diidamkannya. Masalahnya adalah, ia tidak pernah bekerja. Jika ini yang terjadi, istri dapat mengajaknya menjalani konseling karier agar suami bisa melihat rumpun pekerjaan, bukan satuan pekerjaannya saja. Dengan kata lain, lewat konseling karier suami berkesempatan melihat bahwa sesungguhnya ada pekerjaan lain yang dapat dikerjakannya sekaligus menjadi wadah aktualisasi dirinya. Sudah tentu di sini dituntut kesediaan suami untuk fleksibel.
  • Ada yang tidak mau bekerja karena merasa kecewa atau sakit hati dengan pekerjaannya. Mungkin ia diberhentikan dengan cara yang tidak adil atau ia diperlakukan secara buruk. Berilah waktu kepadanya untuk pulih namun setelah itu ingatkanlah bahwa kebutuhan rumah tangga mesti dipenuhi. Istri dapat menawarkan diri untuk bekerja membantu suami namun mintalah agar suami tetap mengambil pekerjaan yang ada.
  • Ada yang tidak mau bekerja karena sukar berelasi dengan orang. Masalahnya adalah, ia bukanlah tipe pekerja mandiri sehingga menuntut kesediaannya untuk bekerja dengan orang lain. Dengan lembut namun jelas, istri mesti menyadarkan suami akan kelemahannya agar suami tidak menyalahkan orang terus. Mungkin istri bisa memberi solusi praktis yang berkaitan dengan kerja sama. Terpenting adalah, semasa suami bekerja, istri harus sering sering mengajaknya bicara akan situasi dalam pekerjaan supaya bila ada masalah yang timbul, istri dapat dengan segera memberi bantuan praktis.
  • Ada yang tidak mau bekerja karena memang ia seorang yang malas. Ia mau hidup enak tanpa mengeluarkan keringat dan merasa tidak apa-apa memanfaatkan istri. Ini adalah kasus yang berat sebab pada akhirnya demi kepentingan keluarga istri harus memikul beban supaya kebutuhan tercukupi. Dalam kasus seperti ini pembicaraan dengan suami hampir selalu percuma. Jadi, daripada bertengkar, lebih baik diamkan, jangan diungkit-ungkit. Sudah tentu relasi suami-istri cenderung memburuk, namun inilah konsekuensi yang mesti dipikul.

Firman Tuhan
"Berkatalah si pemalas, 'Ada singa di jalan! Ada singa di lorong' . . . . Si pemalas menganggap dirinya lebih bijak daripada tujuh orang yang menjawab dengan bijaksana." (Amsal 26:13, 16) Orang yang malas selalu mempunyai alasan mengapa ia tidak dapat bekerja. Jarang sekali ia mengakui bahwa sesungguhnya bukannya ia tidak dapat bekerja, melainkan ia tidak mau bekerja. Memang sulit berhubungan dengan si pemalas. Pada akhirnya ia harus menanggung akibatnya, sebagaimana dikatakan dalam Amsal 26:1, "Seperti salju di musim panas dan hujan pada waktu panen, demikian kehormatan pun tidak layak bagi orang bebal."

Saya mengalami masaalah suami yang malas bekerja dan tidak pernah bekerja sepanjang tiga tahun saya berkahwin dengannya. Malahan tidak mahu melakukan sebarang kerja rumah walaupun ketika saya sakit. Dia hanya menghabiskan masa dengan tidur di dalam bilik setiap hari tanpa rasa bosan walau sedikit pun. Waktu malam di habiskan dengan melayari internet atau berjumpa dengan kawan-kawannya sahaja. Walaupun dia sentiasa ada di rumah dan tidak bekerja dia sentiasa tiada waktu untuk bermesra dengan saya. Hidupnya hanya di habiskan untuk dirinya sahaja. Segala perbincangan yang saya buat dengannya pasti akan menimbulkan perselisihan faham dan ketegangan yang berpanjangan dan menuduh saya sebagai orang yang melawan suami....Dia terlampau malas dan meminggirkan saya...
Mencoba sedikit membantu atau share tentang masalah yang Anda hadapi, mungkin bisa dimulai dari cek diri sendiri dengan bertanya, Apakah saya sudah menjadi istri yang baik buat suami? Apakah saya sudah melayani dan membuat suami saya sayang sama saya? Mungkin dari perubahan diri Anda, suami Anda bisa mulai berubah. Coba lihat diri Anda kembali, Bagimana penampilan Anda di rumah? Bagaimana cara Anda berkomunikasi dengan suami? Tips singkat buat Anda, mulailah berubah dengan bagaimana menjadi istri yang cantik dirumah, ramah, otomatis perubahan diri Anda sedikit banyak membuat suami Anda bertanya-tanya, Anda bisa lebih dekat dengan suami paling tidak untuk membuka komunikasi jika selama ini Anda sulit berkomunikasi dengannya. Semoga bisa membantu.
Salam Sejahtera, Anda adalah seorang isteri yang malang, Tuhan pasti menaruh kasihan kepada Anda. Dan itu sangat penting, bahwa Tuhan ada di pihak Anda. Sebab kita boleh berharap serta memohon pertolongan Tuhan. Jangan jemu-jemu berdoa kepada Tuhan, sebab hanya Tuhan yang dapat mengubahkan hati suami Anda dan sifat-sifatnya yang malas dan egois itu. Kurangi konfrontasi dengan suami Anda. Lakukanlah kewajiban seorang isteri dengan baik tanpa mengeluh. Keteladanan Anda akan menggugah hatinya.Upayakan untuk berpikir positip, berkata positip dan berbuat positip. Jika ia menunjukkan perubahan atau kemajuan, pujilah dan tunjukkan bahwa Anda menghargainya. Suami Anda tetap seorang manusia yang bisa berubah, yakinlah itu. Jangan hanya dicela tapi lebih banyak didorong dan diharapkan untuk semakin membaik. Hanya dengan kasih yang tulus maka ia dapat dikalahkan, sehingga berubah menjadi seorang suami yang bertanggung jawab. Demikian tanggapan yang dapat kami sampaikan. Tim Pengasuh Program TELAGA
Saya adalah ibu dari 3 anak yang berusia 15, 13 dan 7 tahun, saya sendiri saat ini berusia hampir 39 tahun. Saya memiliki seorang suami yang mengaku `hamba Tuhan `sejak saya mengenalnya 16 tahun yang lalu. X adalah suami saya yang ketika saya kenal adalah mahasiswa teologi. Saat itu saya baru saja putus hubungan dengan pacar saya yang sangat saya cintai, sehingga mengenalnya adalah sebuah pelarian yang salah bagi saya. Kami tinggal serumah meskipun kami belum menikah dan akhirnya saya hamil dan kami gugurkan dengan biaya oleh saya sendiri. Bahwa rumah tangga yang kami jalani saat ini adalah NERAKA 16 TAHUN bagi saya, karena sejak awal hidup saya penuh siksaan mental, dicemburui, difitnah, dicurigai,dihakimi bahkan disiksa secara fisik dengan diinjak-injak hingga tidak dapat bernafas karena iga saya diinjak, kepala di hantam bertubi-tubi dan kejadian –kejadian tersebut tidak terjadi sekali, dua kali, tetapi terus menerus sepanjang tahun selama 16 tahun ini. Sejak menikah di hari pertama X tidak pernah punya penghasilan, sayalah yang mencari dengan berjualan nasi,mengajar les dari rumah ke rumah, hingga saya berhasil menjadi seorang Hrd manager di suatu perusahaan sampai saat ini. Perusahaan dimana saya bekerja saat ini adalah perusahaan kecil yang dimiliki oleh seseorang mungkin karena latar belakang pendidikan saya(saya lulusan Australia dan German) dan performance yang saya tunjukan kepada perusahaan sehingga beliau selalu memperhatikan saya dalam hal meminta pertimbangan, memuji kinerja saya di hadapan manager yang lain meskipun saya adalah orang yang paling baru.Seluruh isi kantor memang amat menghormati saya.Tetapi tidak demikian dengan suami saya,X yang selalu mendampingi saya, memata matai, memfitnah dengan cara masuk keluar ruangan kantor seperti seorang pengawas, lalu dengan serampangan memakai computer demi computer bahkan computer manager untuk bermain kartu, sementara seluruh kantor mengetahui bahwa ia adalah seorang PENDETA. Teguran yang saya berikan hanya membawa bencana bagi saya karena kebiasaannya memukul belakang kepala saya akan selalu dilakukannya di ruangan kantor, di jalan atau di rumah di hadapan anak-anak.Saya adalah anak tunggal dimana ibu say juga ikut tinggal bersama saya dirumah, tetapi seumur hidupnya bersama kami hanya diisi oleh ketakutan melihat pertengkaran kami dan dicacimaki oleh suami saya, padahal ibu saya sudah hidup seperti seorang pembantu bagi keluarga saya. Ia Cuma menangis dan mencoba menolong saya jika saya dipukuli dengan sisa tenaga seorang nenek berusia 76 tahun. Dalam pertengkaran kami selalu berisi fitnahan terhadap saya dengan lelaki yang ia curigai, mulai dari teman guru laki-laki, kepala sekolah , tetangga, pemilik yayasan dan terakhir atasan saya di perusahaannnya yang memintanya melayani kebaktian rutin jumat di kantor kami. Atasan saya tsb juga kerap memberikan sumbangan bagi “GEREJA” kepada suami saya meskipun sesungguhnya ia tidak pernah punya gereja apalagi jemaat, ke gereja tiap minggu saja tidak pernah dilakukannya bertahun tahun dengan alas an malu masa seorang pendeta tidak punya pelayanan di hari minggu, itu alas an yang selalu dikatakannya jika saya ajak ke gereja. Kecurigaannya pada atasan saya bertambah brutal jika atasan saya dating ke kantor.Sebagai pemilik perusahaan wajar Presdir dating karena ia yang memiliki perusahaan, tetapi jika ia dating maka bencana di mulai. Kecurigaannya pada saya dan kecemburuannya juga berlaku bagi anak-anak kandung saya sendiri.jika mereka berkumpul bersama saya, maka ia akan selalu mulai melabrak saya dengan menanyakan hasutan apa yang saya sudah ceritakan pada anak-anak. Suamipun kerap memaksa saya berbohong tentang kondisi “GEREJA” yang dimilikinya, dan terakhir kita bertengkar hebat saat saya tidak mau dimintanya membuat PROPOSAL PALSU PENGADAAN NATAL GEREJA yang bertujuan meminta sumbangan dari atasan saya dll. Pertengkaran itu membuat saya ingin bunuh diri saat ia membonceng saya denga sepedahmotornya saya tidak tahan lagi mendengar makiannya dan saya melompat, tetapi saya hanya lecet-lecet, yang bukan mendapat belas kasihan, tetapi justru celaan yang keluar dari mulutnya. Atasan saya tanpa disodorkan PROPOSAL PALSU toh akhirnya juga memberikan sumbangan kepada ‘GEREJANYA” sebesar total 18 juta rupiah, tetapi saat mencairkan cek adalah gerbang malapetaka lanjutan bagi saya karena saat itulah tuduhan keji bahwa itu adalah bayaran bos saya atas memakai tubuh saya. Sementara suami saya 24 jam ada bersama saya tidak pernah lepas saya dari jangkauan matanya. Yang paling mengherankan saya juga adalah suami saya paling melarang saya curhat kepada keluarganya dan harus menutupi bahwa ia adalah pengangguran abadi, saya harus selalu berbohong bahwa ia juga bekerja bersama saya, walaupun sebenarnya tidak. Hanya 1 kali dalam hidupnya ia bekerja yaitu pada sebuah yayasan Kristen bersama saya, karena pemilik yayasan adalah seorang wanita yang melihat bahwa suami saya selalu berada di samping saya walaupun tanpa ada yang dilakukannya, maka pemilik yayasan memintanya bekerja bersama saya. Walaupun yayasan itu tidak berkembang tapi itu adalah hal terbaik bagi saya karena akhirnya suami saya pernah merasakan bekerja. Meskipun dalam pekerjaan itu kecemburuannya, cacimakinya, dan fitnahan serta pukulan-pukulan tidak pernah berhenti. Saya tidak tahu sampai kapan derita saya akan berakhir, kadang saya Cuma berfikir, Tuhan sudah meninggalkan saya.
Salam dalam kasih Kristus, Kami berterima kasih atas kesediaan ibu menulis surat dan menceritakan keadaan buruk yang ibu alami. Kami turut prihatin dengan keadaan ibu. Tidak mudah menjalani hidup bersama suami yang cenderung “abuse”(berlaku kejam) selama 16 tahun. Ibu adalah seorang wanita yang kuat. Setelah membaca keadaan ibu yang sedemikian parahnya, maka kami menganjurkan ibu untuk mencari pertolongan lewat jalur yang lain, yaitu melaporkan segala kejahatan suami ke pihak yang berwajib. Apa yang ibu alami sudah termasuk dalam kategori Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Tidaklah bijaksana jika kami hanya memberi pertimbangan agar ibu bersabar, berserah dan berdoa saja. Tindakan suami sudah sangat membahayakan ibu dan anak-anak. Namun sebelumnya ibu perlu mendapat perlindungan hukum yang pasti, sebab dikhawatirkan menimbulkan dendam dari sang suami. Mungkin ibu bisa menginformasikan kepada pihak kami mengenai domisili ibu, supaya kami bisa menunjukkan pengacara yang ibu bisa mintakan pertolongan. Kalau menengok masa lalu, memang ada kekeliruan yang telah ibu perbuat dalam keputusan menikah dengan X ini. Terlebih ibu pernah menggugurkan kandungan hasil hubungan dengan X sebelum pernikahan. Tetapi Allah Maha Pengampun, Ia sanggup mengampuni dosa-dosa siapa saja yang mau datang kepada-Nya dengan penuh kerendahan hati. Mungkin ini yang perlu ibu lakukan terlebih dahulu, sebelum melangkah ke jalur yang lain. Doakan juga suami agar dijamah oleh Tuhan dan mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh. Selanjutnya, ada hal yang lain yang ibu perlu ketahui mengapa sang suami tidak seperti yang ibu kenal dulu. Perlu ibu ketahui bahwa perubahan karakter sang suami sangat berhubungan erat dengan masalah harga diri laki-laki. Pada umumnya, harga diri laki-laki terletak pada tiga hal, yaitu uang/harta, karier dan sex. Kehilangan salah satu aspek saja akan membuat laki-laki merasa tidak berharga. Perasaan diri tidak berharga akan nampak dari sikap yang minder, tidak mau bergaul dan tidak sedikit yang berperangai ‘ganas’ seperti yang ibu alami saat ini. Ibu sudah ditempatkan Tuhan untuk mendampinginya sebagai penolong yang sepadan. Mudah-mudahan belum terlambat. Sebagai penolong yang sepadan, ibu diberi mandat oleh Tuhan untuk menolong suami agar dapat menjalankan fungsinya sebagai suami dan kepala keluarga. Itulah fungsi seorang istri. Ini tidak mudah, ditambah lagi dengan penganiayaan yang ibu alami. Demikian tanggapan yang dapat kami sampaikan untuk sementara ini. Apabila Ibu ingin menulis lagi, bisa ditujukan ke telaga@indo.net.id . Kiranya Tuhan menolong ibu memberi jalan keluar yang terbaik. Salam, Tim Pengasuh Program Telaga