Pendidikan
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:40am.
Abstrak:
Hidup berisikan sederet pilihan. Bagaimana kita memilih dan apa yang dipilih akan menentukan kehidupan yang kita jalani. Sayangnya banyak orang yang menjalani hidup tanpa pemahaman yang benar tentang bagaimana seharusnya memilih. Kita mesti belajar sistem prioritas yang benar agar dapat menentukan pilihan yang tepat dalam hidup. Ada 7 prioritas yang mesti kita adopsi dari Alkitab, yaitu : karakter di atas kemampuan, keutuhan diri si pelayan di atas kegiatan si pelayan, ketaatan di atas keefesienan, mengedepankan yang kecil di atas yang besar, mengedepankan memberi di atas menerima, prioritaskan proses di atas produk dan utamakan Tuhan di atas segalanya.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Prioritas Hidup" bagian yang kedua. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita membicarakan tentang prioritas hidup dan Pak Paul katakan setidaknya ada 7 hal yang perlu diprioritaskan dalam kehidupan ini, tapi pada waktu yang lalu kita baru sempat membahas 3 dari ketujuh itu. Sebelum kita melangkah pada prioritas yang keempat, supaya para pendengar kita memunyai gambaran yang terdahulu atau mengingatkan yang terdahulu, mungkin Pak Paul secara sekilas bisa kembali mengulang membahasnya.
PG : Kita ini berangkat dari sebuah pengamatan bahwa hidup berisikan sederet pilihan, bagaimana kita memilih dan apa yang kita pilih akan menentukan kehidupan yang kita jalani. Karena itu kita harus belajar memilih dan kita mau kembali kepada Firman Tuhan, sehingga mengerti apa yang diutamakan Tuhan, sehingga kita bisa memilih sesuai dengan sistem prioritas Tuhan sendiri. Kita telah belajar bahwa yang pertama Tuhan itu mengedepankan karakter di atas kemampuan, meskipun kemampuan penting namun kita mesti tambah dan pertajamkan tapi jangan lupa nilai siapa kita ini dilandasi atas karakter kita. Yang membawa kemuliaan bagi Tuhan adalah karakter kita. Kedua, kita belajar bahwa Tuhan mengedepankan keutuhan hidup atau keutuhan diri kita sebagai pelayan Tuhan di atas kegiatan-kegiatan kita sebagai seorang pelayan Tuhan. Tuhan lebih berminat melihat kehidupan yang berimbang, kehidupan yang tertata, jangan sampai kita melakukan banyak hal untuk Tuhan, tapi hidup kita tidak beres, keluarga kita berantakan, emosi kita tidak terkendali, jiwa kita tidak stabil. Tuhan tidak mau melihat itu dan yang ketiga adalah Tuhan mengedepankan ketaatan di atas keefisienan. Kita belajar bahwa dewasa ini efisien itu telah menjadi ilah yang baru, segala sesuatu harus efisien sudah tentu itu benar, itu baik tidak salah, tapi jangan lupa yang diutamakan Tuhan adalah ketaatan. Kita melihat contoh perempuan yang membuka buli-buli dan menuangkannya di atas Tuhan, minyak narwastu itu mahal sekali tetapi bagi Tuhan pemborosan itu dinomorduakan, yang dinomorsatukan adalah hati si wanita itu yang mengasihi Tuhan. Dia merasa Tuhan mengetuk hatinya untuk memberi persembahan dan dia langsung berikan. Jadi itulah yang Tuhan kedepankan, ketaatan di atas keefisienan.
GS : Sekarang kita memasuki prioritas yang keempat, yang harus kita perhatikan tentang apa, Pak Paul ?
PG : Yang keempat adalah Tuhan mengedepankan yang kecil di atas yang besar. Menjadi besar adalah idaman kita semua bahkan dalam pelayanan sekali pun kita merindukan menjadi besar. Sudah tentu kita menamakannya, menjadi besar buat Tuhan. Pertanyaannya adalah apakah Tuhan menginginkan semua pekerjaan-Nya menjadi besar sebagaimana kita mendefinisikan besar, dalam bentuk biasanya kuantitas. Di dalam kitab Hakim-Hakim 7 dicatat tentang karya penyelamatan Tuhan melalui hamba-Nya Gideon. Pada awalnya Gideon membawa 30.000 pasukan untuk melawan bangsa Midian namun Tuhan terus mengurangi jumlahnya hingga mencapai 300 orang, 1/100 dari jumlah awal, namun sebagaimana kita tahu mereka berhasil memenangkan pertempuran, karena Tuhanlah yang menyelamatkan mereka. Dari situ ternyata ukuran besar, tidak berarti buat Tuhan. Tuhan memilih 300 orang saja, 1/100 dari jumlah pasukan, supaya apa? Tuhan dibesarkan. Jadi kita akan melihat pola ini mengalir di Alkitab dari depan sampai belakang. Tuhan tidak mementingkan jumlah di mata manusia, Tuhan tahu bahwa apa yang bisa dilakukan-Nya, itu pasti berhasil.
GS : Jadi tepat sekali seperti Yohanes Pembaptis yang mengatakan, "Biarlah aku makin berkurang dan Engkau makin bertambah", begitu Pak Paul ?
PG : Betul sekali, justru itu adalah prinsip yang kita sering lupakan, Pak Gunawan. Ada satu hal yang mesti kita camkan, Tuhan memakai kita untuk menggenapi rencana-Nya, bukan sebaliknya. Kalau tidak hati-hati kita malah memakai Tuhan untuk menggenapi rencana kita! Ini bahayanya, orang yang ingin besar dan ingin melakukan karya besar mudah jatuh ke dalam perangkap memakai Tuhan menggenapi rencana kita sendiri. Rencana yang besar terlalu penting untuk diabaikan, sehingga akhirnya itulah yang menjadi kekuatan dan pendorong pelayanannya. Jadi kita mesti berhati-hati, seperti Yohanes Pembaptis berkata bahwa aku harus makin kecil, Ia harus makin besar. Justru ia menekankan hal itu jangan sampai ia menjadi penghalang bagi pekerjaan Tuhan.
GS : Tapi beberapa ada orang yang dipakai Tuhan untuk melakukan karya-karya yang besar, karya-karya yang mengubah dunia ini juga.
PG : Betul sekali, namun kalau kita perhatikan dari awalnya mereka tidak memikirkan melakukan perkara besar, mereka hanyalah menaati Tuhan, bersedia melakukan apa yang Tuhan berikan kepada mereka namun pada akhirnya itulah yang Tuhan lakukan. Kenapa Tuhan seolah-olah tidak begitu senang kita mengejar perkara besar? Karena begini, Tuhan meminta kita memfokuskan pada yang kecil sebab Dia tidak ingin kita jatuh ke dalam dosa kecongkakan, Pak Gunawan. Di Yakobus 4:6 Firman Tuhan berkata, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati". Tidak mudah bagi kita yang mengejar perkara besar untuk tetap rendah hati, itulah sebabnya Tuhan meminta kita untuk tidak mengarahkan mata pada perkara besar, Ia meminta kita memandang dan mengutamakan perkara kecil. Dalam pelaksanaannya ada kalanya Ia melakukan perkara besar, melalui kita yang tengah mengerjakan perkara kecil, begitu Pak Gunawan.
GS : Dari perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus yang sering kita lihat Tuhan mengambil contoh yang kecil-kecil, seperti burung pipit, anak kecil, domba yang hilang satu saja, itu sesuatu yang sederhana tetapi punya makna yang besar sekali.
PG : Dan kedatangan Tuhan ke dunia ini sangat-sangat merupakan simbol dari prioritas itu. "O betlehem yang kecil" sebab memang kota itu kecil, kota yang besar adalah Yerusalem. Dan juda Nasaret, Tuhan Yesus pernah mengungsi dan tinggal di sebelah Utara, di Nasaret. Karena itu waktu Natanael bertemu ia bertanya tentang Tuhan, "Apa ada hal yang baik yang keluar dari Nasaret?" Kenapa? Karena memang tidak ada yang tahu tempat itu, terlalu terpelosok. Akhirnya itulah yang kita lihat, raja Israel yang pertama, Saul, dari suku Benyamin, suku terkecil. Jadi sekali lagi kita melihat Tuhan mau kita fokus pada yang kecil. Dalam pelaksanaannya Ia berkati kita, embankan kita dan mampukan kita melakukan perkara yang besar, itu kehendak-Nya tapi kita sendiri tidak boleh mengejar-ngejar yang besar-besar itu. Banyak orang, yang berlomba untuk menjadi besar, ada yang ingin cepat kaya, ada yang ingin berpengaruh besar, ada yang ingin bersumbangsih besar, ada yang ingin berpengikut besar dan seterusnya. Inilah bukti prioritas yang keliru. Kita pun terlalu cepat mengagumi orang yang besar dan menelantarkan orang yang kecil, orang yang bisa mengembangkan baik itu pekerjaannya, atau pengaruhnya atau pelayanannya menjadi besar, sering kita kagumi. Orang yang ingin besar hanya melihat yang besar dan mereka luput melihat yang kecil, yakni orang-orang yang kecil dan perkara-perkara kecil. Jadi sekali lagi fokus kita haruslah pada yang kecil.
GS : Bagaimana hubungan kita dengan keluarga, terkait dengan ini ?
PG : Sudah tentu kalau kita memerhatikan anak-anak kita, suami kita, istri kita dan melihat hal-hal yang kecil, yang sederhana justru itulah yang mereka butuhkan, diperhatikan secara mendetail, diutamakan, dihargai oleh kita karena apa yang mereka bisa berikan, bukan karena mereka bisa memenuhi sekehendak kita. Kita lihat Tuhan Yesus sendiri pun memberikan contoh itu, Pak Gunawan, misalnya dalam hal anak-anak kecil, anak kecil seringkali menjadi perkara kecil, tidak dianggap. Itulah yang terjadi pada masa pelayanan Tuhan. Tatkala Ia sedang mengajar tentang kerendahan hati Tuhan menggunakan seorang anak sebagai pokok acuannya. Dia berkata di Matius 18:10, "Ingatlah jangan anggap rendah seorang seperti anak-anak kecil ini". Jadi sekali lagi Tuhan meminta kita melihat yang kecil. Tuhan melihat anak kecil, mereka tidak melihatnya. Salah satu bahayanya bila kita terus fokus pada yang besar adalah pada akhirnya kita menyamakan mulia dengan mewah, Pak Gunawan. Kita ingin melakukan pekerjaan Tuhan yang mulia, namun akhirnya mulia berganti menjadi mewah. Akhirnya kita terbiasa melakukan semua yang mewah dan tidak lagi bersedia melakukan pekerjaan yang tidak mewah. Pada akhirnya kita pun merendahkan yang kecil dan yang tidak mewah. Tuhan tahu kelemahan dan kecenderungan kita itu. Itu sebabnya dari awal Ia meminta kita mengutamakan yang kecil, bukan yang besar.
GS : Prioritas yang kelima yang perlu kita perhatikan apa, Pak Paul ?
PG : Mengedepankan memberi di atas menerima. Saya kira konsep ini kita kenal, masalahnya adalah tidak banyak orang yang bersedia memberi, Pak Gunawan. Apa itu maksudnya memberi? Tanpa menerima imbalan, yang penting kita terus memberi. Biasanya kita memberi karena kita menerima sesuatu baik dari orang yang bersangkutan atau dari orang lain. Sebagian orang terus memberi tanpa pamrih tapi ada orang yang hanya ingin menerima. Di antara memberi dan menerima ada satu di tengah-tengahnya yaitu membayar, masalahnya dalam hal membayar tidak semua orang rela melakukannya. Ada banyak orang yang menghindar dari kewajiban membayar. Memberi adalah satu langkah di depan membayar dalam pengertian pada waktu kita membayar ialah kita tidak menerima apa pun. Itulah memberi dan itulah yang seharusnya kita kedepankan.
GS : Memang ini perlu dilatihkan sedini mungkin, karena kita terbiasa menerima dari pada memberi, bahkan mencari sesuatu yang gratis daripada harus membayar. Kalau ada yang gratis mengapa kita harus membayar, begitu Pak Paul.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Memang itulah yang terjadi, kita dikondisikan untuk mencari-cari yang gratis, menerima yang kita inginkan tanpa harus membayarnya. Jadi inilah prioritas kita sebagai manusia, kalau membayar saja susah, apalagi memberi, tapi Tuhan mengajarkan kepada kita untuk memberi. Di Matius 20:28 Tuhan berkata, "Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang". Kita tahu melayani adalah memberi, baik itu jasa atau barang, tapi Tuhan memberi nyawa-Nya, ini adalah sebuah pemberian yang termahal.
GS : Padahal, sebenarnya dengan memberi itu membuktikan bahwa kita kaya, Pak Paul. Punya sesuatu yang lebih yang kita bisa berikan kepada orang lain. Kalau kita menerima terus menunjukkan kemiskinan kita atau kebutuhan kita yang tidak terpenuhi.
PG : Sebetulnya begitu, Pak Gunawan, jadi dengan kita memberi kita menunjukkan iman, bahwa kita punya dan nanti kita akan diberikan oleh Tuhan dengan cukup sehingga waktu kita memberi kita tidak akan mengalami kekurangan. Ini seringkali kita identikkan dengan memberi, dianggap kalau kita memberi kita akan kehilangan, akan rugi karena pada dasarnya kita tidak mau rugi, kita hanya mau untung. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus selalu menolak untuk menerima apa pun dari siapa pun, bukan itu yang saya maksud. Saya hanya mengingatkan bahwa oleh karena Tuhan mementingkan memberi daripada menerima, maka kita pun harus mengutamakan memberi ketimbang menerima. Singkat kata, dalam hidup kita harus mencari kesempatan untuk memberi, bukan mencari kesempatan untuk menerima. Jika kita butuh, jangan sungkan menerima, sebab mungkin saja Tuhan tengah memelihara kita lewat bantuan yang ditawarkan orang. Namun sekali lagi jangan mencari-cari kesempatan untuk menerima, sebaliknya carilah kesempatan untuk memberi, tanpa mengharapkan imbalan.
GS : Masalahnya kita tidak bisa memberi kalau kita tidak menerima terlebih dahulu, Pak Paul.
PG : Betul, kalau kita terbuka, kita tahu bahwa kadang-kadang kita butuh dan Tuhan mengutus orang untuk menolong kita, sudah kita terima dan kita tahu bahwa nantinya pun kita bisa memberikan lagi. Selama kita fokuskan terus bagaimana kita bisa memberi dan memberi lagi, saya kira itu yang Tuhan inginkan ada pada diri kita, bukan mentalitas sebaliknya bagaimana supaya kita bisa menerima dan menerima dan menerima lagi. Tidak seperti itu, berkat Tuhan dikucurkan pada orang yang terus mencari kesempatan untuk memberi dan memberi lagi.
GS : Prioritas yang lain yang perlu mendapat perhatian kita, apa Pak Paul ?
PG : Ini adalah yang keenam yaitu kita harus prioritaskan proses di atas produk. Makin hari kita makin menjadi masyarakat yang tidak sabar Pak Gunawan, kita ingin melihat hasil atau produk. Bila tidak melihat hasilnya, dengan cepat kita menyimpulkan bahwa upaya itu telah gagal dan semua yang gagal harus dilenyapkan. Itu bukanlah prioritas Tuhan, Ia lebih mementingkan proses daripada produk. Sebagai contoh, Tuhan terus bersabar membentuk Petrus sebab Ia tahu perubahan memerlukan proses, coba kita simak salah satu percakapan Tuhan dengan Petrus dan peristiwa penyangkalannya yang dicatat di Matius 26. Petrus menjawab, "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak". Yesus berkata kepadanya, "Aku berkata kepadamu sesungguhnya malam ini sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali...". Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah, "Aku tidak kenal Orang itu" pada saat itu berkokoklah ayam, maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya, "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali". Lalu ia pergi keluar dan menangis dengan sedihnya."
GS : Memang proses yang dialami oleh Petrus berbeda dengan proses yang dialami oleh Yohanes atau pun murid-murid yang lain, memang semua menjalani proses itu, Pak Paul. Ini yang seringkali membuat kita ketika memasuki proses itu merasakan mengapa begitu lama proses itu terjadi pada saya sedangkan orang itu bisa begitu cepat melewati proses itu ?
PG : Betul, Pak Gunawan, memang kita sebagai manusia tidak bisa tidak akan membanding-bandingkan "Dalam proses ini saya lama sekali, mengapa Tuhan tidak menyelesaikan? Mengapa saya masih merangkak, orang itu lebih cepat." Maka kita mesti sabar dengan orang lain. Kita sebagai seorang ayah atau seorang ibu, kadang-kadang kita ingin melihat proses itu berjalan lebih cepat, kita ingin melihat hasilnya langsung pada anak-anak kita, tapi pada faktanya tidaklah demikian. Kita mesti mengingatkan diri bahwa Tuhan akan terus membentuk anak kita, memprosesnya tapi tentu akan makan waktu. Misalnya dalam hal Petrus, Tuhan tahu bahwa Petrus akan menyangkal mengenal-Nya dan Ia pun telah memeringati murid-Nya itu. Sayangnya Petrus terlalu percaya diri sehingga lalai menjaga diri, akhirnya dia jatuh, tapi Tuhan tidak memarahinya. Kita tahu di Alkitab tertulis jelas bahwa Tuhan hanya memandangnya dan itu sudah cukup. Petrus keluar dan menangis, perubahan pun terjadi. Dalam hidup kita mesti sabar menantikan hasil atau produk, fokus perhatian justru harus lebih diarahkan kepada prosesnya. Memberi kesempatan kepada seseorang, memeringatinya, mengajarkannya dan menunggu hasilnya. Inilah yang susah tapi inilah yang harus kita lakukan, menunggu hasilnya. Inilah yang menjadi prioritas Tuhan dan seyogianyalah ini pun menjadi prioritas kita pula.
GS : Kalau kita coba-coba ikut serta "membantu" Tuhan mempercepat proses ini pun malah hasilnya tidak menjadi baik, Pak Paul ?
PG : Betul sebab seringkali yang kita lakukan yang namanya membantu lebih banyak memberikan tuntutan-tuntutan dan kadang-kadang emosi kita juga turut bermain, kita marah-marah dan sebagainya. Jadi ada waktunya kita memberi peringatan, ada waktunya kita juga bisa marah, tapi ada waktunya untuk menunggu dan memberi kesempatan kepada Roh Kudus bekerja dalam hidup seseorang, sehingga pada akhirnya orang itu akan mengalami perubahan.
GS : Jadi dibutuhkan kesabaran yang luar biasa dan itu pun cara Tuhan memproses kita memunyai karakter yang baik. Itu yang pernah kita bicarakan, Pak Paul.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan.
GS : Sebagai akhir dari prioritas ini, puncaknya apa, Pak Paul ?
PG : Yang ketujuh adalah kita mesti mengutamakan Tuhan di atas segalanya. Sebetulnya jika kita jujur Pak Gunawan, kita mesti mengakui bahwa kita menginginkan keduanya. Apa itu keduanya? Dunia dan surga, kita ingin mendapatkan surga yang kekal tapi kita juga mendambakan dunia yang memuaskan. Kita menginjak dua perahu sebab kita menginginkan yang terbaik dari keduanya, sayangnya impian itu tidak akan menjadi kenyataan, sebab Tuhan tidak memberi kita kesempatan memiliki keduanya. Coba kita dengar perkataan Tuhan kepada seorang pemuda yang kaya raya, yang tercatat di Markus 10:21, "Hanya satu lagi kekuranganmu, pergilah dan juallah apa yang engkau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin maka engkau akan beroleh harta di surga kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku". Tuhan memintanya untuk menjual semua hartanya, sebab Tuhan tahu bahwa harta telah menjadi penghalang antara dirinya dan Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan tahu bahwa sesungguhnya pemuda itu mencintai keduanya, harta dan Tuhan. Ia menginjak kedua perahu, dunia dan surga, Tuhan ingin dan Tuhan menuntut kita untuk menempatkan-Nya di takhta kehidupan bukan di kursi menteri semata.
GS : Dalam hal ini, Pak Paul, apakah tidak ada hal-hal yang bisa dikompromikan, misalnya antara karakter dan kemampuan, efisiensi dan ketaatan. Menurut kita sebenarnya hal ini bisa berjalan bersama-sama, Pak Paul.
PG : Sudah tentu dalam hal-hal yang tadi Pak Gunawan singgung, tidak salah kita juga belajar supaya bisa memajukan ketrampilan dan kemampuan kita. Tidak salah juga kita belajar mengefisienkan pekerjaan kita. Ada hikmatnya dalam mengefisienkan pekerjaan namun intinya adalah tetap, ketaatan kepada Tuhan di atas dari keefisienan. Kadang-kadang waktu Tuhan meminta kita melakukan sesuatu, meski kita melihat tidak efisien, tapi kalau kita meyakini ini dari Tuhan, kita mesti menaatinya, lakukanlah. Contoh yang klasik adalah ini, Pak Gunawan, bukankah banyak orang-orang yang bersekolah, yang memunyai pendidikan yang baik, memutuskan untuk menjadi hamba Tuhan, mungkin keluarganya bisa mengatakan, "Aduh pemborosan sudah disekolahkan 4 tahun atau 6 tahun, akhirnya meninggalkan ini semua dan menjadi hamba Tuhan". Sekali lagi di dalam konsep sebagian orang, ini pemborosan tetapi yang dikedepankan haruslah tetap, ketaatan kepada Tuhan.
GS : Seperti Tuhan Yesus yang menyuruh pemuda tadi untuk menjual harta bendanya, itu tidak diberlakukan kepada semua orang yang mengikut Dia, Pak Paul.
PG : Betul sekali, tidak semuanya Tuhan tuntut, tapi dalam kasus tadi harta itu telah menghalangi orang tersebut mencintai Tuhan sepenuhnya. Jadi konkretnya, praktisnya dalam penerapannya, apa pun itu yang hendak kita lakukan, kita harus selalu bertanya, "Tuhan, apakah kehendak-Mu dalam hal ini?" dan setelah bertanya kita harus menaatinya. Buat apa kita bertanya kalau kita tidak berniat menaatinya? Misalnya ada orang yang tinggal bersama kekasihnya, artinya kumpul kebo, sewaktu ditanya ia selalu memberi jawab, "Bukankah Tuhan menginginkan saya hidup senang?" Inilah contoh orang yang tidak bertanya kepada Tuhan, sebaliknya ia hanya bertanya kepada dirinya sendiri. Waktu dia berkata begitu, "Bukankah Tuhan menginginkan saya hidup senang", sebetulnya dia hanya bertanya kepada dirinya sendiri, "Saya mau hidup senang, boleh atau tidak?" Sudah tentu karena dia bertanya kepada dirinya sendiri, ia jugalah yang memberi jawab kepada dirinya sendiri.
GS : Jadi dalam hal ini rupanya Tuhan mau kita taat secara mutlak kepada-Nya, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Tuhan tidak berbagi kuasa dengan siapa pun. Ia adalah Allah yang berkuasa penuh, termasuk atas diri kita, itu sebabnya Ia menuntut kuasa mutlak atas diri kita maka respons kita kepada-Nya hanya satu yaitu tunduk. Itu sebabnya dalam hidup tidak boleh ada yang lebih penting dan lebih besar daripada Tuhan, Dia adalah segalanya. Di dalam perahu hanya boleh ada Tuhan dan hanya boleh ada satu perahu, itulah syarat yang tidak boleh ditawar.
GS : Saya rasa ini jelas sekali, Pak Paul dan terima kasih untuk perbincangan bersama Pak Paul saat ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Prioritas Hidup" bagian yang kedua. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Hidup berisikan sederet pilihan. Bagaimana kita memilih dan apa yang dipilih akan menentukan kehidupan yang kita jalani. Sayangnya banyak orang yang menjalani hidup tanpa pemahaman yang benar tentang bagaimana seharusnya memilih. Kita mesti belajar sistem prioritas yang benar agar dapat menentukan pilihan yang tepat dalam hidup. Untuk itu kita perlu kembali ke Alkitab dan belajar menetapkan prioritas. Berikut adalah tujuh prioritas yang mesti kita adopsi.
Karakter di atas Kemampuan. Hidup perlu kemampuan. Tanpa kemampuan kita tidak dapat mengerjakan apa-apa dengan baik. Sungguh pun demikian kita mesti mengingat bahwa kemampuan bukanlah segalanya. Tuhan mengutamakan karakter di atas kemampuan. Oleh karena itu kita pun mesti mengutamakan karakter dan berusaha menambah kualitas karakter yang diinginkan Tuhan yaitu kasih. Di samping itu kita pun harus menitikberatkan karakter di atas kemampuan dalam menilai orang. Janganlah sampai kita terseret arus dan menilai orang atas dasar kemampuannya semata.
Firman Tuhan di 1 Korintus 1:26 berkata, "Ingat saja , saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang." Di sini Paulus mengingatkan jemaat di Korintus untuk tidak lupa diri dan terus ingat siapakah diri mereka sebenarnya. Kadang setelah mencapai status tinggi dalam masyarakat, kita lupa akan keberadaan diri kita. Pada akhirnya kemampuan menjadi tolok ukur dalam kita menilai dan menghargai orang. Hanya orang yang berkemampuan yang kita hormati; sebaliknya, orang yang tidak berkemampuan kita pandang sebelah mata.
Inilah prioritas yang mesti kita terapkan di keluarga. Janganlah sampai kita meninggikan kemampuan di atas karakter. Hargailah usaha anak menajamkan kemampuan tetapi pujilah anak atas dasar karakternya. Begitu pun terhadap suami dan istri. Janganlah sampai kita menitikberatkan kemampuan di atas karakter. Perlakuan kita yang mengutamakan kemampuan di atas karakter niscaya membuatnya merasa seperti obyek yang tengah dimanfaatkan-hanya bernilai kalau masih berguna.
Keutuhan Diri Si Pelayan di atas Kegiatan Si Pelayan. Sebagai anak Tuhan sering kali kita terlibat dalam pelayanan-baik di gereja maupun di luar gereja. Sudah tentu ini baik. Namun adakalanya kita menjadi terlalu sibuk; kita sukar menolak permintaan orang dan terus mengiyakan tugas pelayanan yang diembankan. Pada akhirnya kita melalaikan satu hal yang penting yakni menjaga kehidupan yang utuh. Itu sebabnya kalau tidak berhati-hati, kegiatan pelayanan yang tinggi akan menyita banyak dari kehidupan pribadi maupun keluarga. Alhasil, baik kehidupan keluarga ataupun pribadi menjadi kacau dan berantakan.
Pendeta Bill Hybels menegaskan pentingnya menata kehidupan pribadi kita sendiri. Beliau mengemukakan bahwa seorang pemimpin yang tidak dapat menata dirinya tidaklah akan dapat menata pelayanannya. Bila kita memunyai prioritas seperti ini, hidup dan keluarga tidak menjadi korban malah menjadi penerima berkat.
Ketaatan di atas Keefisienan. Kadang ketika membaca Firman Tuhan terlintas seutas pikiran, "Betapa banyaknya perintah Tuhan!" Pada kenyataannya hanya satu yang dituntut Tuhan-ketaatan. Suatu hari Tuhan Yesus sedang berada di rumah seseorang bernama, Simon, penderita kusta. Tiba-tiba datanglah seorang wanita dengan buli-buli berisikan minyak narwastu yang mahal. Ia memecahkan buli-buli itu dan menuangkan minyaknya ke atas kepala Tuhan. Bagi banyak orang-termasuk murid Tuhan-tindakan ini merupakan pemborosan uang alias tidak efisien. Namun dengarlah perkataan Tuhan, "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku." (Markus 14:6)
Pada dasarnya efisiensi berarti menghasilkan sebanyak-banyaknya dengan modal seirit mungkin. Efisiensi adalah lawan dari pemborosan. Ternyata di mata Tuhan efisiensi bukanlah segalanya. Ada satu hal lain yang lebih bernilai yakni ketaatan. Ketaatan kepada Tuhan kadang melanggar hukum efisiensi. Jika kita memprioritaskan efisiensi dengan kaku, kita pun akan kehilangan tuntunan Tuhan. Langkah-Nya tidak selalu sama dengan langkah manusia dan melampaui logika kita. Itu sebabnya ketaatan mesti dikedepankan. Dengan cara itulah pekerjaan dan kehendak Tuhan terlaksana.
Kecil di atas Besar. Menjadi besar adalah idaman kita semua. Bahkan dalam pelayanan sekalipun, kita merindukan menjadi besar. Ada satu hal yang mesti kita camkan: Tuhan memakai kita untuk menggenapi rencana-Nya. Tuhan meminta kita memfokuskan pada yang kecil sebab Ia tidak ingin kita jatuh ke dalam dosa kecongkakan. Dengarlah Firman Tuhan lewat Yakobus 4:6, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
Anak kecil sering kali menjadi perkara kecil. Itulah yang terjadi pada masa pelayanan Tuhan Yesus. Tatkala Ia tengah mengajar tentang kerendahan hati, Tuhan menggunakan seorang anak sebagai pokok acuan-Nya, "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini." (Matius 18:10). Tuhan tahu kelemahan dan kecenderungan kita. Itu sebabnya Ia meminta kita untuk mengutamakan yang kecil, bukan yang besar.
Memberi di atas Menerima. Tidak banyak orang yang bersedia memberi-tanpa menerima apa pun. Biasanya kita memberi karena kita menerima sesuatu-baik dari orang yang bersangkutan atau dari orang lain. Sebagian orang terus berusaha untuk memberi tanpa pamrih, tetapi ada orang yang memang hanya ingin menerima. Di antara menerima dan memberi ada "membayar." Kalau membayar saja susah, apalagi memberi? Tuhan mengajarkan kepada kita untuk memberi. Dengarlah seruan-Nya yang dicatat di Matius 20:28, "Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Melayani adalah memberi-baik itu jasa atau barang-namun Tuhan memberi nyawa-Nya-pemberian termahal.
Dalam hidup kita mesti berusaha untuk mencari kesempatan memberi, bukan mencari kesempatan untuk menerima. Jika memang kita butuh, jangan sungkan menerima sebab mungkin saja Tuhan tengah memelihara kita lewat bantuan yang ditawarkan orang.
Proses di atas Produk. Makin hari makin kita menjadi masyarakat yang tidak sabar. Kita ingin melihat hasil atau produk; bila tidak melihat hasilnya, dengan cepat kita menyimpulkan bahwa upaya itu telah gagal dan semua upaya yang gagal harus dilenyapkan. Itu bukanlah prioritas Tuhan. Ia lebih mementingkan proses daripada produk. Jadi fokuskan perhatian justru pada prosesnya-memberi kesempatan, memeringati, mengajarkan, dan menunggu.
Tuhan di atas Segalanya. Sebetulnya, jika kita jujur, kita mesti mengakui bahwa kita menginginkan keduanya-dunia dan surga. Kita ingin mendapatkan surga yang kekal, tetapi kita juga mendambakan dunia yang memuaskan. Sayangnya impian itu tidak akan menjadi kenyataan, sebab Tuhan tidak memberi kita kesempatan memiliki keduanya. Apa pun itu yang hendak kita lakukan, kita harus bertanya, "Tuhan, apakah kehendak-Mu dalam hal ini?" Dan, setelah bertanya, kita harus menaati-Nya. Sebab Tuhan tidak berbagi kuasa dengan siapa pun. Ia adalah Allah yang berkuasa penuh, termasuk atas diri kita. Itu sebabnya dalam hidup, tidak ada yang boleh lebih penting dan lebih besar dari Tuhan. Ia adalah segalanya.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:31am.
Abstrak:
Hidup berisikan sederet pilihan. Bagaimana kita memilih dan apa yang dipilih akan menentukan kehidupan yang kita jalani. Sayangnya banyak orang yang menjalani hidup tanpa pemahaman yang benar tentang bagaimana seharusnya memilih. Kita mesti belajar sistem prioritas yang benar agar dapat menentukan pilihan yang tepat dalam hidup. Ada 7 prioritas yang mesti kita adopsi dari Alkitab, yaitu : karakter di atas kemampuan, keutuhan diri si pelayan di atas kegiatan si pelayan, ketaatan di atas keefesienan, mengedepankan yang kecil di atas yang besar, mengedepankan memberi di atas menerima, prioritaskan proses di atas produk dan utamakan Tuhan di atas segalanya.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Prioritas Hidup". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Memang hidup ini berisi dengan berbagai macam peristiwa, niat dan macam-macam, sehingga mau tidak mau kita harus memprioritaskan, walaupun dalam hati keinginannya semua bisa terjangkau tetapi nyatanya tidak mungkin seperti itu, Pak Paul. Tapi bagaimana kita bisa memprioritaskan dan apa sebenarnya yang harus kita prioritaskan terlebih dahulu, Pak Paul ?
PG : Pengamatan Pak Gunawan benar. Hidup itu sebetulnya merupakan sederet pilihan, jadi bagaimana kita memilih dan apa yang dipilih akan menentukan kehidupan yang kita jalani. Sayangnya banyak orang yang menjalani hidup tanpa pemahaman yang benar tentang bagaimana seharusnya memilih akhirnya tersangkut pada pilihan-pilihan yang keliru. Kita harus belajar sistem prioritas yang benar agar dapat menentukan pilihan yang tepat dalam hidup.
GS : Pilihan memang banyak Pak Paul. Misalnya untuk memilih baju saja sudah sulit, memilih makanan kadang-kadang sulit, apalagi ini sesuatu yang sangat menentukan untuk masa depan kehidupan kita, Pak Paul. Apa saran Pak Paul dan apa yang harus kita pilih sebenarnya ?
PG : Saya akan mengajak kita semua kembali ke Alkitab, ke Firman Tuhan dan belajar menetapkan prioritas nanti kita akan bahas sekurangnya ada 7, Pak Gunawan, prioritas yang mesti kita adopsi. Pertama adalah kita mesti memprioritaskan karakter di atas kemampuan, saya mengerti bahwa hidup perlu kemampuan, itu betul. Tanpa kemampuan kita tidak dapat mengerjakan apa-apa dengan baik dan tanpa kemampuan pun kita akan sulit mendapatkan penghargaan dari orang, itu sebabnya tidak salah bila kita berupaya mempertajam kemampuan. Sungguh pun demikian kita mesti mengingat bahwa kemampuan bukanlah segalanya. Saya tahu ada sebagian orang yang terus mengejar-ngejar kemampuan, tapi saya ingin mengatakan bahwa kemampuan bukanlah segalanya. Ternyata Tuhan mengutamakan karakter di atas kemampuan. Oleh karena itu kita pun mesti mengutamakan karakter dan mengusahakan menambah kualitas karakter yang diinginkan Tuhan, yaitu kasih. Disamping itu kita pun harus menitikberatkan karakter di atas kemampuan dalam menilai orang, artinya janganlah kita sampai terseret arus dan menilai orang atas dasar kemampuannya semata.
GS : Yang Pak Paul maksud dengan karakter dalam hal ini seperti apa ?
PG : Jadi dengan kata lain saya rangkumkan, saya sarikan : memiliki kasih, karakter yang merupakan puncak dan sari dari semua karakter Kristus. Itulah yang seharusnya kita miliki.
GS : Padahal itu semua datangnya dari Tuhan, baik karakter maupun kemampuan dan kenapa karakter harus lebih diprioritaskan dari pada kemampuan, Pak Paul?
PG : Pak Gunawan, sebetulnya kemampuan itu pemberian Tuhan karena itu kita tidak boleh bermegah, menepuk dada dan memegahkan diri sebab kemampuan adalah pemberian Tuhan. Sebetulnya karakter tidaklah pemberian Tuhan semata, karakter adalah sebuah proyek kerjasama antara Tuhan dan kita manusia. Kita pun mesti berusaha sedapat mungkin untuk bersedia diubahkan Tuhan, bersedia menaati Tuhan sehingga karakter kita makin hari makin dipoles menjadi serupa dengan karakter Kristus yaitu kasih. Kenapa Tuhan lebih mengutamakan hal itu sebab Tuhan tidak memberikan kemampuan yang sama kepada setiap orang, Tuhan memberikannya berbeda-beda sesuai dengan rencana Tuhan atas diri kita masing-masing. Itu sebabnya kita mengetahui bahwa ini pemberian Tuhan maka kita tidak boleh bermegah hati, tetapi karakter itu sesuatu yang merupakan kerjasama antara Tuhan dan kita. Kita bekerja keras menumbuhkan, oleh karena itu Tuhan memberi penghargaan, karena seolah-olah karakter itu persembahan kita kepada Tuhan. Kasih, kemurahan, kelemah-lembutan dan sebagainya adalah persembahan kita kepada Tuhan dan itulah yang dihargai. Dan yang memuliakan Tuhan bukanlah kemampuan kita, yang memuliakan Tuhan adalah karakter kita. Orang melihat Tuhan di dalam hidup kita dalam pengertian orang melihat karakter kita, mirip dengan karakter Kristus barulah orang memuji Tuhan, memuliakan Tuhan karena melihat itu dalam diri kita.
GS : Apakah ada ayat Firman Tuhan yang terkait dengan itu, Pak Paul ?
PG : Saya bacakan di I Korintus 1:26, Firman Tuhan berkata, "Ingat saja saudara-saudara bagaimana keadaan kamu ketika kamu dipanggil, menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh dan tidak banyak orang yang terpandang". Di sini Paulus mengingatkan jemaat di Korintus untuk tidak lupa diri dan terus ingat siapakah diri mereka sebenarnya. Kadang setelah mencapai status tinggi dalam masyarakat kita lupa akan keberadaan diri kita, pada akhirnya kemampuan menjadi tolok ukur dalam kita menilai dan menghargai orang. Hanya orang yang berkemampuan yang kita hormati, sebaliknya orang yang tidak berkemampuan kita pandang sebelah mata. Adakalanya ketika kita bertemu dengan orang berkarakter tidak baik namun berkemampuan tinggi, kita berdalih "Biarlah" sebab setidaknya ia berkemampuan tinggi. Ini menunjukkan sistem prioritas kita telah terbalik. Prioritas yang benar dan sesuai standard Tuhan adalah menghormati orang yang berkarakter baik. Seberapa tingginya kemampuan seseorang bila ia berkarakter buruk, ia tidak layak dihormati.
GS : Pak Paul, bila tadi dikatakan bahwa karakter adalah proyek kerjasama Tuhan dengan manusia, apa yang harus kita lakukan supaya kita memunyai karakter yang baik ?
PG : Nomor satu kita harus sering-sering membaca Firman sehingga kita mengetahui apa yang Tuhan tuntut, apa yang Tuhan inginkan dari kita. Setelah itu kita mesti sering-sering berdoa, mengakui kelemahan dan keterbatasan kita dan memohon Tuhan untuk terus menolong kita memunculkan karakter seperti yang Dia inginkan itu. Dan yang ketiga ini kuncinya, memang hanya satu saja yang bisa merangkumkan semuanya yaitu ketaatan. Apa yang Tuhan minta kita lakukan, itu kita kerjakan. Ia meminta kita untuk meminta maaf, kita meminta maaf, Ia meminta kita untuk merendahkan diri, kita rendahkan diri. Pokoknya ikuti dan taati saja yang Tuhan inginkan, maka akhirnya karakter itu akan terbentuk. Dampaknya sangat luas, kalau kita bisa mengutamakan karakter di atas kemampuan, bukan saja akan memengaruhi relasi kita dan orang lain tapi juga relasi kita dengan anggota keluarga kita. Jangan sampai kita dalam keluarga sendiri pun meninggikan kemampuan di atas karakter. Kepada anak misalnya, hargailah usaha anak menajamkan kemampuan tetapi pujilah anak atas dasar karakternya, begitu pun terhadap suami dan istri jangan sampai kita menitikberatkan kemampuan di atas karakter. Perlakuan kita yang mengutamakan kemampuan di atas karakter niscaya membuatnya merasa seperti objek yang tengah dimanfaatkan, hanya bernilai kalau masih berguna. Kalau masih bisa membantu kita, masih bisa menghasilkan uang dan sebagainya, kita hargai. Begitu tidak bisa memberikan sumbangsih, kita sudah uring-uringan, marah-marah kepadanya, dengan cara itu kita mengkomunikasikan kepada pasangan dan anak-anak kita, kamu masih berguna kalau kamu masih memunyai fungsi. Kalau tidak ada lagi fungsi dalam hidup saya, kamu sudah tidak ada lagi gunanya dan tidak ada lagi nilainya.
GS : Tapi karakter seseorang itu bisa berubah-ubah, Pak Paul? Pada waktu karakternya masih baik kita bisa memprioritaskan dia, menghargai dia berdasarkan karakternya, tapi kemudian pada suatu saat karena suatu sebab karakternya menjadi buruk sekali. Bagaimana kita menghadapi orang seperti ini?
PG : Sudah tentu kalau orang itu dekat dengan kita atau dia anggota keluarga kita, kita mesti sering-sering mengingatkan dia bahwa kita melihat perubahan-perubahan dalam dirinya, sehingga yang tadinya begitu indah penuh dengan kasih sayang, sekarang makin hari makin hilang kasih sayang itu dan digantikan justru dengan kejudesan, kemarahan, tidak murahhati, semua itu hal-hal yang perlu kita kemukakan kepada orang tersebut supaya ia bisa kembali diingatkan bahwa "Benar ya, telah terjadi perubahan besar dalam hidup saya dan saya mesti kembali lagi kepada karakter Tuhan yang Tuhan inginkan itu".
GS : Hal lain yang perlu diprioritaskan, apa Pak Paul ?
PG : Yang kedua adalah kita mesti memprioritaskan keutuhan diri si pelayan atau diri kita di atas kegiatan si pelayan. Coba saya jelaskan, sebagai anak Tuhan seringkali kita terlibat dalam pelayanan, baik di gereja maupun di luar gereja. Sudah tentu ini semua baik, namun ada kalanya kita menjadi terlalu sibuk. Kita sukar menolak permintaan orang dan terus mengiakan tugas pelayanan yang diembankan, pada akhirnya kita melalaikan satu hal yang penting yaitu menjaga kehidupan yang utuh, tidak bisa tidak kegiatan pelayanan akan menyita waktu dan tenaga. Itu sebabnya bila tidak berhati-hati kegiatan pelayanan yang tinggi akan menyita banyak dari kehidupan pribadi maupun keluarga kita, akhirnya baik kehidupan keluarga maupun kehidupan pribadi menjadi kacau dan berantakan.
GS : Apa yang maksudkan dengan keutuhan diri di sini ?
PG : Jadi keutuhan diri adalah sebuah diri yang tertata, yang tidak berat di sini, ringan di sini tapi memunyai keseimbangan. Dalam contoh praktisnya, orang yang memunyai keutuhan, orang yang bijaksana, orang yang bisa bersikap dengan tepat. Orang yang bisa menghadapi masalah dengan bijaksana, orang yang tahu bagaimana menghadapi orang dan tuntutannya. Tidak mudah meletup, tidak mudah ambruk, tidak mudah diombang-ambingkan oleh badai kehidupan, dengan kata lain adanya sebuah kestabilan, sehingga ia bisa membagi waktu dan hidupnya itu dengan bijaksana kepada orang-orang di sekitarnya.
GS : Termasuk di dalam keluarganya, begitu Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi kalau tidak hati-hati kita akan justru mengorbankan orang-orang dalam keluarga kita, terlalu banyak suami, istri dan anak yang harus menderita karena kita tidak lagi sanggup memberi waktu dan tenaga untuk mereka. Alhasil semua kocar-kacir dan merana termasuk diri kita sendiri. Saya ingin mengutip perkataan dari Pdt. Bill Hybel, beliau menegaskan pentingnya menata kehidupan pribadi kita sendiri. Beliau mengemukakan bahwa seorang pemimpin yang tidak dapat menata dirinya, tidaklah akan dapat menata pelayanannya. Pengamatannya ini memang benar, beliau mengamati pemimpin yang akhirnya jatuh, yang hidupnya berantakan, yang keluarganya berantakan. Dia berkata, "Orang-orang itu tidak bisa menata organisasi atau pelayanannya" dan dia pun melihat orang-orang yang gagal dalam pelayanannya seringkali diawali oleh kegagalannya menata dirinya sendiri. Jadi benar-benar beliau menekankan pentingnya mulai menata diri pribadi, sebelum nanti menata yang di luar, maka kalau kita sebagai anak Tuhan terlalu mementingkan kegiatan pelayanan dan mengabaikan diri kita, keutuhan diri kita sebagai seorang pribadi maka tinggal tunggu waktu akhirnya kita jatuh terjerembab.
GS : Apakah ada contoh yang konkret dari Alkitab, Pak Paul ?
PG : Saya teringat Musa, Pak Gunawan. Musa itu harus mengalami perombakan hidup terlebih dahulu sebelum Tuhan memakainya, selama 40 tahun ia hidup dalam pengasingan di gurun Midian jauh dari kegiatan yang bermakna namun di situlah terletak maknanya, Musa harus diutuhkan terlebih dahulu sebelum ia terjun ke dalam kegiatan pelayanan yang maha berat itu. 40 tahun sebelumnya Musa penuh energi dan percaya diri, ia terobsesi memerdekakan bangsanya dari belenggu bangsa Mesir. 40 tahun kemudian Musa tidak berenergi dan tidak percaya diri, ia pun kehilangan obsesi memerdekakan bangsanya, itu sebabnya waktu Tuhan panggil ia menolak, tidak bersedia namun itulah saat yang ditunggu Tuhan. Sekarang di mata Tuhan Musa siap dipandu dan dipakai Tuhan, ia telah menjadi pribadi yang jauh lebih utuh dibanding sebelumnya.
GS : Seringkali kita mengagungkan tokoh Musa ini padahal perjalanan hidupnya bukan suatu perjalanan yang gampang, tapi bagaimana pun juga ini suatu panutan bagi kita yang mau melayani Tuhan, Pak Paul? Apa dampaknya langsung kepada kita yang mau melayani Tuhan ?
PG : Begini, Pak Gunawan. Sebagai pelayan Tuhan kita harus senantiasa peka melihat dampak kegiatan pelayanan pada diri dan keluarga kita. Bila hidup kita mulai kocar-kacir dan keluarga mulai tercerai-berai, itulah pertanda kegiatan pelayanan telah menindih kita, itulah waktunya bagi kita menimbang ulang prioritas hidup. Sayangnya Pak Gunawan, ada banyak orang yang tidak memedulikan hal ini, mereka terus berjalan dengan cepat, mereka menuntut misalnya pasangan untuk mengambil alih tanggungjawab atau malah menuntut anak untuk tidak mengganggunya, kalau dimintai tolong dia tidak suka atau dia marah. Itu semua menandakan prioritas yang sudah mulai terbalik, kita terlalu menekankan pada kegiatan pelayanan itu sendiri dan mengabaikan keutuhan hidup kita pribadi.
GS : Tapi dalam hal ini Musa sendiri pernah diingatkan oleh mertuanya, Yitro, karena dia terlalu sibuk melayani orang lain sehingga banyak hal yang terbengkalai, begitu Pak Paul.
PG : Betul meskipun Musa telah menjalani pelatihan, pembinaan, pembentukan selama 40 tahun, tetap sebagai manusia dia gagal, dia bisa saja akhirnya khilaf, dia lupa, dia tidak bisa mengurus semua orang, semua masalah di bangsa Israel, maka Tuhan memakai mertuanya untuk memberitahukan Musa, "Kamu harus mendelegasikan", sebab intinya kita selalu harus ingat bahwa Tuhan mementingkan diri si pelayan di atas kegiatannya. Tuhan lebih mencintai kita dibanding kegiatan-kegiatan pelayanan kita. Itu sebabnya Tuhan tidak tergesa-gesa memakai Musa, Tuhan menunggu, membentuk Musa sampai utuh sebelum mengutusnya ke dalam pelayanan. Bila kita memunyai prioritas seperti ini, hidup dan keluarga tidak menjadi korban malah menjadi penerima berkat. Jadi dalam pelayanan kita harus menerapkan sistem prioritas yang benar. Kadang kita justru menuntut rekan pelayanan untuk berani membayar harga, padahal itu bukanlah harga yang semestinya dibayar. Roda pelayanan yang diputar di atas kegiatan dan bukan di atas keutuhan hidup si pelayan akhirnya menuai masalah. Bukankah terlalu sering kita menyaksikan pelayanan hancur oleh karena masalah pribadi si pelayan, bukan karena kegiatan pelayanan itu sendiri. Kita harus belajar dari kesalahan di masa lampau dan membangun prioritas yang benar.
GS : Kalau begitu apa prioritas yang ketiga yang perlu kita perhatikan, Pak Paul ?
PG : Yang ketiga kita mesti memprioritaskan ketaatan di atas keefisienan. Kadang ketika kita membaca Firman Tuhan mungkin terlintas pikiran betapa banyaknya perintah Tuhan. Pada kenyataannya, Pak Gunawan, hanya satu yang dituntut Tuhan yaitu ketaatan. Raja Saul adalah contoh ketidaktaatan yang menyedihkan, berkali-kali ia tidak menaati Tuhan dan sewaktu ditegur ia selalu berdalih. Itu sebabnya Samuel, hamba Allah, mengingatkan Saul yang tercatat di I Samuel 15:22, "Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya mendengarkan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan".
GS : Wujud ketaatan yang Tuhan kehendaki dari kita itu seperti apa, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu pada akhirnya yang pertama kita harus jelas secara spesifik, apa yang Tuhan inginkan dari kita, apa itu yang merupakan sabda-Nya kepada kita? Bisa kita melihat dari Firman Tuhan atau kadang-kadang Ia akan langsung membisikkannya kepada kita. Itulah yang akan kita taati, dalam kasusnya Saul, ia selalu tidak mentaati Tuhan karena Ia selalu memunyai pertimbangannya sendiri. Pertimbangannya selalu dianggap lebih efisien daripada perintah Tuhan. Misalnya, pernah Samuel memintanya untuk menunggu kedatangannya sebelum mempersembahkan korban. Saul tidak sabar, langsung mempersembahkan korban dengan alasan guna mencegah serdadunya meninggalkan dia sekaligus memohon restu Tuhan atas mereka dalam peperangan melawan bangsa Filistin. Memang kita bisa mengatakan, "OK pertimbangannya itu efisien, tapi justru menunjukkan ketidakberimanan Saul dan ini menunjukkan juga ia tidak mengerti isi hati Tuhan". Jadi benar-benar intinya kita harus mendengarkan Tuhan, itu adalah yang dimaksud dengan menaati Tuhan.
GS : Karena hampir setiap hari kita dituntut untuk hidup efisien khususnya pada saat-saat seperti ini, ini berimbas juga pada bagaimana kita berhadapan dengan Tuhan walaupun itu ternyata tidak benar.
PG : Tidak selalu, sudah tentu adakalanya efisien itu baik dan itulah yang dikehendaki Tuhan, namun kita mesti selalu mengedepankan ketaatan ketimbang keefisienan. Saya ada contoh lain, Pak Gunawan, tentang perempuan yang datang ke Tuhan Yesus. Pada suatu hari Tuhan Yesus sedang berada di rumah seseorang yang bernama Simon, seorang penderita kusta. Tiba-tiba datang seorang wanita dengan buli-buli berisikan minyak narwastu yang mahal. Ia memecahkan buli-buli itu dan menuangkan minyaknya ke atas kepala Tuhan. Bagi banyak orang termasuk murid Tuhan, tindakan ini termasuk pemborosan uang alias tidak efisien, namun dengarlah perkataan Tuhan di Markus 14:6 , "Biarkanlah dia, mengapa kamu menyusahkan dia. Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku". Pada dasarnya efisiensi berarti menghasilkan sebanyak-banyaknya dengan modal seirit mungkin. Efisiensi adalah lawan dari pemborosan. Ternyata di mata Tuhan, efisiensi bukanlah segalanya, ada satu hal lain yang lebih bernilai yakni ketaatan. Perempuan itu ingin menaati panggilan Tuhan di hatinya, yaitu melakukan sesuatu yang baik buat Tuhan. Baginya tidak ada jalan atau cara lain yang dapat diperbuatnya untuk menunjukkan kasihnya kepada Tuhan, selain mempersembahkan minyak narwastu itu. Tuhan melihat isi hatinya dan menerima perbuatannya.
GS : Jadi efisien yang dikehendaki Tuhan itu sejalan dengan apa yang Tuhan rencanakan untuk kehidupan kita, tapi efisien yang kita rencanakan sendiri, yang kita buat sendiri itu bisa bertentangan dengan kehendak Tuhan.
PG : Betul sebab akhirnya bila efisiensi itu tidak didasari atas pengenalan akan isi hati Tuhan, tidak dilandasi oleh kasih, tidak dilandasi atas keinginan memuliakan Tuhan, efisiensi itu hanyalah memaksimalkan tanpa benar-benar mengerti untuk apakah kita memaksimalkan. Akhirnya saya perhatikan, kita terlalu terpaku pada efisiensi dan menjadikannya ilah baru. Segala sesuatu yang tidak efisien mesti dihilangkan dan dipastikanlah bukan berasal dari Tuhan. Ini keliru! Ketaatan kepada Tuhan kadang melanggar hukum efisiensi, misalnya Musa harus dibenahi Tuhan 40 tahun sebelum dipakai-Nya. Tidak efisien menurut standar kita sebab terlalu lama. Dan bukankah usia 40 jauh lebih baik daripada 80 untuk melayani Tuhan. Namun itulah yang Tuhan lakukan dan Tuhan berhasil. Tuhan Yesus misalnya hanya memilih 12 murid, tidak efisien, bagaimana mungkin menyebarkan Kabar Baik pengampunan Allah hanya lewat 12 manusia? Kenyataannya Nama Kristus didengar dan dikenal oleh bermilyaran manusia sekarang. Jadi jika kita memprioritaskan efisiensi dengan kaku, kita pun akan kehilangan tuntunan Tuhan, Pak Gunawan. Langkah-Nya tidak selalu sama dengan langkah manusia dan melampaui logika kita. Itu sebabnya ketaatan mesti dikedepankan, dengan cara itulah pekerjaan dan kehendak Tuhan terlaksana.
GS : Jadi yang penting di sini adalah mencapai pekerjaan dan kehendak Tuhan itu dengan cara yang Tuhan kehendaki, karena bagi Tuhan soal waktu, soal uang, soal jumlahnya orang itu tidak terlalu bermasalah yang seringkali kita permasalahkan.
PG : Tepat sekali, justru itulah yang menjadi fokus kita, tapi Tuhan mau berkata, "Taatilah dulu Aku, jangan khawatir dengan yang lain-lain, Aku akan bereskan yang lain-lainnya".
GS : Tadi Pak Paul katakan ada 7 hal yang perlu kita prioritaskan dalam hidup ini, tapi rupanya kita baru sempat membahasnya 3 saja, dan tentu saja perbincangan ini kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. Terima kasih sekali untuk hal-hal yang Pak Paul sudah sampaikan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Prioritas Hidup" bagian yang pertama. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Hidup berisikan sederet pilihan. Bagaimana kita memilih dan apa yang dipilih akan menentukan kehidupan yang kita jalani. Sayangnya banyak orang yang menjalani hidup tanpa pemahaman yang benar tentang bagaimana seharusnya memilih. Kita mesti belajar sistem prioritas yang benar agar dapat menentukan pilihan yang tepat dalam hidup. Untuk itu kita perlu kembali ke Alkitab dan belajar menetapkan prioritas. Berikut adalah tujuh prioritas yang mesti kita adopsi.
Karakter di atas Kemampuan. Hidup perlu kemampuan. Tanpa kemampuan kita tidak dapat mengerjakan apa-apa dengan baik. Sungguh pun demikian kita mesti mengingat bahwa kemampuan bukanlah segalanya. Tuhan mengutamakan karakter di atas kemampuan. Oleh karena itu kita pun mesti mengutamakan karakter dan berusaha menambah kualitas karakter yang diinginkan Tuhan yaitu kasih. Di samping itu kita pun harus menitikberatkan karakter di atas kemampuan dalam menilai orang. Janganlah sampai kita terseret arus dan menilai orang atas dasar kemampuannya semata.
Firman Tuhan di 1 Korintus 1:26 berkata, "Ingat saja , saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang." Di sini Paulus mengingatkan jemaat di Korintus untuk tidak lupa diri dan terus ingat siapakah diri mereka sebenarnya. Kadang setelah mencapai status tinggi dalam masyarakat, kita lupa akan keberadaan diri kita. Pada akhirnya kemampuan menjadi tolok ukur dalam kita menilai dan menghargai orang. Hanya orang yang berkemampuan yang kita hormati; sebaliknya, orang yang tidak berkemampuan kita pandang sebelah mata.
Inilah prioritas yang mesti kita terapkan di keluarga. Janganlah sampai kita meninggikan kemampuan di atas karakter. Hargailah usaha anak menajamkan kemampuan tetapi pujilah anak atas dasar karakternya. Begitu pun terhadap suami dan istri. Janganlah sampai kita menitikberatkan kemampuan di atas karakter. Perlakuan kita yang mengutamakan kemampuan di atas karakter niscaya membuatnya merasa seperti obyek yang tengah dimanfaatkan-hanya bernilai kalau masih berguna.
Keutuhan Diri Si Pelayan di atas Kegiatan Si Pelayan. Sebagai anak Tuhan sering kali kita terlibat dalam pelayanan-baik di gereja maupun di luar gereja. Sudah tentu ini baik. Namun adakalanya kita menjadi terlalu sibuk; kita sukar menolak permintaan orang dan terus mengiyakan tugas pelayanan yang diembankan. Pada akhirnya kita melalaikan satu hal yang penting yakni menjaga kehidupan yang utuh. Itu sebabnya kalau tidak berhati-hati, kegiatan pelayanan yang tinggi akan menyita banyak dari kehidupan pribadi maupun keluarga. Alhasil, baik kehidupan keluarga ataupun pribadi menjadi kacau dan berantakan.
Pendeta Bill Hybels menegaskan pentingnya menata kehidupan pribadi kita sendiri. Beliau mengemukakan bahwa seorang pemimpin yang tidak dapat menata dirinya tidaklah akan dapat menata pelayanannya. Bila kita memunyai prioritas seperti ini, hidup dan keluarga tidak menjadi korban malah menjadi penerima berkat.
Ketaatan di atas Keefisienan. Kadang ketika membaca Firman Tuhan terlintas seutas pikiran, "Betapa banyaknya perintah Tuhan!" Pada kenyataannya hanya satu yang dituntut Tuhan-ketaatan. Suatu hari Tuhan Yesus sedang berada di rumah seseorang bernama, Simon, penderita kusta. Tiba-tiba datanglah seorang wanita dengan buli-buli berisikan minyak narwastu yang mahal. Ia memecahkan buli-buli itu dan menuangkan minyaknya ke atas kepala Tuhan. Bagi banyak orang-termasuk murid Tuhan-tindakan ini merupakan pemborosan uang alias tidak efisien. Namun dengarlah perkataan Tuhan, "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku." (Markus 14:6)
Pada dasarnya efisiensi berarti menghasilkan sebanyak-banyaknya dengan modal seirit mungkin. Efisiensi adalah lawan dari pemborosan. Ternyata di mata Tuhan efisiensi bukanlah segalanya. Ada satu hal lain yang lebih bernilai yakni ketaatan. Ketaatan kepada Tuhan kadang melanggar hukum efisiensi. Jika kita memprioritaskan efisiensi dengan kaku, kita pun akan kehilangan tuntunan Tuhan. Langkah-Nya tidak selalu sama dengan langkah manusia dan melampaui logika kita. Itu sebabnya ketaatan mesti dikedepankan. Dengan cara itulah pekerjaan dan kehendak Tuhan terlaksana.
Kecil di atas Besar. Menjadi besar adalah idaman kita semua. Bahkan dalam pelayanan sekalipun, kita merindukan menjadi besar. Ada satu hal yang mesti kita camkan: Tuhan memakai kita untuk menggenapi rencana-Nya. Tuhan meminta kita memfokuskan pada yang kecil sebab Ia tidak ingin kita jatuh ke dalam dosa kecongkakan. Dengarlah Firman Tuhan lewat Yakobus 4:6, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
Anak kecil sering kali menjadi perkara kecil. Itulah yang terjadi pada masa pelayanan Tuhan Yesus. Tatkala Ia tengah mengajar tentang kerendahan hati, Tuhan menggunakan seorang anak sebagai pokok acuan-Nya, "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini." (Matius 18:10). Tuhan tahu kelemahan dan kecenderungan kita. Itu sebabnya Ia meminta kita untuk mengutamakan yang kecil, bukan yang besar.
Memberi di atas Menerima. Tidak banyak orang yang bersedia memberi-tanpa menerima apa pun. Biasanya kita memberi karena kita menerima sesuatu-baik dari orang yang bersangkutan atau dari orang lain. Sebagian orang terus berusaha untuk memberi tanpa pamrih, tetapi ada orang yang memang hanya ingin menerima. Di antara menerima dan memberi ada "membayar." Kalau membayar saja susah, apalagi memberi? Tuhan mengajarkan kepada kita untuk memberi. Dengarlah seruan-Nya yang dicatat di Matius 20:28, "Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Melayani adalah memberi-baik itu jasa atau barang-namun Tuhan memberi nyawa-Nya-pemberian termahal.
Dalam hidup kita mesti berusaha untuk mencari kesempatan memberi, bukan mencari kesempatan untuk menerima. Jika memang kita butuh, jangan sungkan menerima sebab mungkin saja Tuhan tengah memelihara kita lewat bantuan yang ditawarkan orang.
Proses di atas Produk. Makin hari makin kita menjadi masyarakat yang tidak sabar. Kita ingin melihat hasil atau produk; bila tidak melihat hasilnya, dengan cepat kita menyimpulkan bahwa upaya itu telah gagal dan semua upaya yang gagal harus dilenyapkan. Itu bukanlah prioritas Tuhan. Ia lebih mementingkan proses daripada produk. Jadi fokuskan perhatian justru pada prosesnya-memberi kesempatan, memeringati, mengajarkan, dan menunggu.
Tuhan di atas Segalanya. Sebetulnya, jika kita jujur, kita mesti mengakui bahwa kita menginginkan keduanya-dunia dan surga. Kita ingin mendapatkan surga yang kekal, tetapi kita juga mendambakan dunia yang memuaskan. Sayangnya impian itu tidak akan menjadi kenyataan, sebab Tuhan tidak memberi kita kesempatan memiliki keduanya. Apa pun itu yang hendak kita lakukan, kita harus bertanya, "Tuhan, apakah kehendak-Mu dalam hal ini?" Dan, setelah bertanya, kita harus menaati-Nya. Sebab Tuhan tidak berbagi kuasa dengan siapa pun. Ia adalah Allah yang berkuasa penuh, termasuk atas diri kita. Itu sebabnya dalam hidup, tidak ada yang boleh lebih penting dan lebih besar dari Tuhan. Ia adalah segalanya.
Submitted by admin on Thu, 12/11/2009 - 3:11pm.
Abstrak:
Kejenuhan bisa melanda siapa saja termasuk melanda ibu-ibu muda yang baru memiliki anak. Hidup di komunitas baru dan tanggung-jawab baru namun rutin, membuat ibu-ibu muda cepat menjadi jenuh. Bagi ibu-ibu muda yang sekaligus bekerja di luar, tingkat kejenuhannya relatif sedikit. Namun bagi ibu-ibu muda yang secara purna waktu berada di rumah, kejenuhan itu seringkali melingkupi. Mengapa kejenuhan itu begitu besar dan apa yang mesti dilakukan jika kejenuhan itu melanda?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Kejenuhan Ibu Rumah Tangga". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Memang ada banyak keluhan dari ibu-ibu rumah tangga khususnya yang murni menjadi ibu rumah tangga, artinya tidak berkarier di luar, mereka mengeluh kadang-kadang jenuh menjadi ibu rumah tangga ini, lebih baik kerja di kantor dan sebagainya. Dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Saya kira kita perlu mengangkat topik ini karena kadang muncul persepsi yang keliru terhadap ibu yang tidak bersedia tinggal di rumah mengurus anak dan lebih suka untuk bekerja di luar. Kita mesti mengerti bahwa tidaklah mudah mengurus anak dan sekarang kita juga harus mengerti bahwa dengan kemajuan kehidupan dan perbedaan, ibu-ibu ini memang sudah dikondisikan untuk tidak lagi siap 100% seperti dulu untuk tinggal di rumah dan mengurus rumah tangga. Jadi banyak faktor yang memang kita harus pertimbangkan, dan inilah tujuan kita mengangkat topik ini agar yang pertama kita bisa menilai para ibu dengan lebih objektif dan yang kedua adalah mudah-mudahan masukan-masukan yang akan kita berikan kepada para ibu dapat menolong mereka mengatasi kejenuhan yang mereka harus hadapi jika mereka memutuskan untuk tinggal di rumah dan mengurus anak-anak mereka.
GS : Tetapi sekalipun mereka juga belum memiliki anak, banyak timbul keluhan seperti itu karena tidak ada kegiatan yang lainnya ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi memang ada beberapa penyebab yang ditimbulkan oleh perubahan-perubahan yang telah dialami wanita selama ini yang menyulitkan mereka untuk diam di rumah dan mengurus rumah tangga.
GS : Seperti apa, Pak Paul ?
PG : Yang pertama adalah tugas keseharian ibu rumah tangga relatif tidak memerlukan dan tidak menimbulkan stimulasi intelektual. Jadi kita mesti menyadari bahwa dewasa ini banyak wanita yang telah mengenyam bangku perguruan tinggi dan mungkin juga sudah bekerja, sehingga sudah terbiasa dengan tuntutan profesional yang menimbulkan rangsangan intelektual. Begitu meninggalkan dunia kuliah dan dunia kerja kemudian terjun di dalam dunia mengurus rumah tangga secara purna waktu, tidak bisa tidak dia akan kehilangan sumber stimulasi intelektualnya itu. Otak yang terbiasa dengan tantangan yang bersifat intelektual sekarang tiba-tiba dipaksa untuk diam.
GS : Ini seringkali terjadi tetapi apakah itu juga tidak dialami oleh orang yang secara intelektual tidak banyak dituntut dari awal. Misalkan saja pendidikannya tidak sampai ke perguruan tinggi hanya sampai SMP atau SMA. Apakah juga mengalami kejenuhan yang sama ?
PG : Saya kira, makin tinggi tingkat pendidikan maka makin tinggi tingkat rangsangan intelektual yang terbiasa dialami oleh seseorang. Maka makin sulit bagi dia untuk melepaskannya dan memilih untuk tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga. Tapi ada jenis yang kedua yaitu tidak mesti orang itu mengenyam pendidikan yang sangat tinggi tapi mungkin hanya tingkatan SMA namun terbiasa bekerja. Ini pun menjadi sesuatu yang tidak mudah untuk mereka lepaskan karena tugas keseharian seorang ibu rumah tangga merupakan sebuah tugas yang relatif monoton atau rutin. Jadi tidak banyak perbedaan dari hari lepas hari. Jadi ini satu hal yang membedakan kerja di luar dan kerja di dalam. Yang kedua adalah selain dari fisik yaitu mengerjakan kerja rutin, perasaan pun dipaksa untuk menoleransi tuntutan anak yang terus- menerus dan meletihkan, anak minta ini dan itu, harus diurus ini dan itu. Itu adalah tuntutan yang tidak berhenti dan secara mental akan meletihkan seorang ibu. Jadi dalam waktu yang relatif singkat pada akhirnya dia mudah sekali mengalami kejenuhan, tubuh, perasaannya, pemikirannya seringkali tidak bisa menahan kejenuhan. Kadang akhirnya kesabarannya pun terganggu. Dia mudah marah, dia mudah tidak sabar karena menghadapi hal yang sama terus-menerus.
GS : Bagaimana dengan mereka yang berlatar belakang keluarga besar sehingga pada waktu sebelum menikah seringkali sudah banyak kesibukannya. Jadi tantangannya lain, banyak kesibukan dimana dia harus melayani keluarganya dan sekarang menikah dan belum memunyai anak, tiba-tiba dia kehilangan semuanya itu Pak Paul.
PG : Sudah tentu kalau dia dibesarkan dalam rumah tangga yang besar dengan banyak anak, sudah tentu itu menjadi sebuah keramaian yang telah dia nikmati dan waktu dia harus meninggalkan rumah yang ramai seperti itu dan masuk ke dalam rumah tangga baru tanpa ada keramaian, tanpa ada kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhinya maka tidak bisa tidak saya kira dia akan merasa sepi Pak Gunawan, bisa-bisa dia merasa sangat jenuh dan merasa tidak ada yang bisa dikerjakan hari lepas hari sebab sudah terbiasa dengan banyaknya kerjaan atau urusan yang mesti ditanganinya.
GS : Bagaimana hubungannya dengan orang lain, jadi kontak sosialnya dengan orang lain apakah itu juga bisa menimbulkan kejenuhan, Pak Paul ?
PG : Saya kira demikian, sebab tugas dari seorang ibu rumah tangga memang pada umumnya tidak berhubungan dengan manusia lain yang setingkat, setingkat dengan pengertian tingkat pengertiannya, kecerdasaannya, keluasannya. Jadi ibu rumah tangga tidak bisa tidak akan harus berhadapan dengan anak-anak kecil yang tingkat kecerdasan, kematangannya jauh dibawah dirinya. Jadi artinya dia harus berhadapan dengan anak yang lebih menuntut pemenuhan secara fisik serta kebutuhan emosional untuk diberikan, disayangi maka tidak bisa tidak relasi antar ibu dan anak menjadi relasi searah dan bukan relasi timbal balik yang saling mengisi, saling menguatkan dan saling memenuhi, dimana dalam hal ini ibu hanya memberikan dan anak hanya menerima. Sebagaimana manusia normal sudah tentu dalam bekerja kita membutuhkan baik itu rekan kerja maupun objek pelayanan yang dapat diajak untuk bertukar pikiran dan berbagi rasa serta pengalaman, tapi kalau dengan anak kecil kita tidak bisa melakukan hal itu. Jadi dengan kata lain, seharian bisa jadi dia tidak bicara dengan siapa pun kecuali dengan anak dan anak pun dalam tahun pertama tidak begitu fasih untuk berbicara berarti dia hampir tidak bisa berkata-kata seperti biasanya. Bayangkan orang yang terbiasa dengan kata-kata yang rumit dan tinggi, yang dalam yang luas namun tiba-tiba selama beberapa tahun harus menggunting semuanya itu dan membuat dirinya setingkat dengan seorang anak kecil. Jadi meskipun tugas ini penuh dengan sukacita tapi ada juga tantangan yang membuat seorang ibu rumah tangga menjadi jenuh.
GS : Apalagi kalau dia harus pindah keluar kota, tentunya dia tidak memiliki teman yang biasanya diajak berbicara, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Ini adalah point yang sangat penting. Kalau kita membangun suatu keluarga yang baru dan kita harus pindah ke kota atau tempat yang baru, ini adalah suatu tekanan yang lumayan berat juga. Saya teringat waktu kami pertama kali pindah ke kota Malang. Bagi istri saya hal itu terlalu berat dengan mengurus anak umur 1 tahun, 3 tahan, dan umur 5 tahun dan sebagai ibu dia tidak meminta bantuan jadi semua diurus sendiri, tapi saya melihat hal itu sebagai masa yang sulit bagi kami berdua karena tuntutan itu sangat berat dan dia tidak memiliki tempat lain untuk berbagi, bercerita dan sebagainya, bagi saya itu baru dan bagi dia juga masih baru. Sehingga akhirnya menimbulkan tekanan dalam rumah tangga kami.
GS : Sekalipun keluarga ini mendambakan anak kecil misalnya berusia 3 tahun atau 2 tahun, apakah itu juga bisa menimbulkan kejenuhan, Pak Paul ?
PG : Saya kira ya, sebab bagaimanapun juga seorang manusia memerlukan teman yang setingkat sehingga dia bisa saling berbagi dan saling mengisi dan mengasah, untuk waktu-waktu tertentu saya kira kita masih bisa tangani tapi kalau ini berlanjut untuk bertahun-tahun, ini adalah kondisi yang cukup menjenuhkan.
GS : Hal lain yang membuat seorang ibu rumah tangga cepat jenuh apa, Pak Paul ?
PG : Karena mengurus anak terutama anak balita merupakan sebuah tugas yang memang berat, inilah hal yang susah dimengerti oleh banyak orang. Orang mungkin akan banyak berkata, "Apa susahnya mengurus anak, anak kecil itu lucu seharusnya kamu senang." Tapi orang tidak mengerti bahwa misalnya waktu tidur anak. Anak kecil tidur 3-4 jam dan dia akan terbangun, mungkin selama 3 atau 4 jam kemudian dia akan tidur lagi 3 atau 4 jam, jadi dengan kata lain dalam waktu 24 jam anak kecil yang usianya dibawah 1 tahun akan berkali-kali bangun dan tidur berkali-kali. Sehingga seorang ibu yang mengurus anak secara purna waktu seharusnya mengikuti jadwal tidurnya si anak, jadi 4 atau 5 jam si anak tidur, si ibu pun juga harus tidur dan waktu si anak bangun 4 atau 5 jam maka si ibu juga harus bangun. Tapi itu tidak mungkin sebab si ibu juga harus mengurus hal-hal lain dalam rumah tangganya dan dia juga harus memerhatikan suaminya atau orang lain. Jadi dia sendiri tidak bisa beristirahat sebanyak si anak atau sebanyak orang-orang lain. Yang pertama karena kekurangan waktu istirahat dan yang kedua adalah perubahan jadwal kehidupan. Jadi kalau kita bayangkan kehidupan kita itu harus dijadwalkan seperti itu yaitu 3 atau 4 jam berhenti untuk tidur dan kemudian bangun, mungkin kita sendiri tidak akan sanggup. Jadi sebuah perubahan jadwal kehidupan yang meletihkan dan yang akhirnya membuat tubuh tidak nyaman. Makanya tidak jarang pada masa-masa seperti ini seorang ibu rumah tangga akan sering mengeluh secara fisik entah itu sakit kepala pusing dan sebagainya karena memang ada perubahan jadwal itu, belum lagi waktu dia hamil dia juga harus mengalami perubahan-perubahan itu. Jadi keletihan terus berlanjut sampai anak itu sudah mulai lebih besar. Masalahnya adalah kalau setelah 3 atau 4 tahun dia punya anak kedua maka dia akan mengulang lagi dan kalau dia memunyai anak ketiga berarti dia harus mengulangnya lagi. Jadi dengan kata lain kurang lebih sekitar 12 tahun, hidupnya itu akan berbeda dengan hidup-hidup yang sebelumnya. Jadi dia akan cukup menderita berkepanjangan seperti itu. Memang akhirnya tubuh akan bisa menyesuaikan, tapi tetap itu adalah sebuah kondisi yang tidak nyaman.
GS : Hanya mungkin tingkat kejenuhan pada anak yang kedua apalagi anak yang ketiga mungkin sudah lebih berkurang karena anak-anaknya sudah mulai besar.
PG : Betul. Sudah tentu dengan adanya anak-anak yang lebih besar tugas itu sedikit lebih ringan dan anak-anak yang lebih besar juga bisa mengajak bermain adiknya pula. Jadi memang ada timbal baliknya.
GS : Apalagi kalau anaknya itu sedang sakit, itu bisa menimbulkan kejenuhan yang lebih kuat lagi.
PG : Betul. Sebab di tempat pekerjaan yang lain, hampir kebanyakan tuntutan bisa ditunda jadi kita tidak harus saat itu juga memenuhinya tapi tidak demikian dengan mengurus anak, misalnya waktu si anak membuang kotoran, kita tidak bisa berkata kepada si anak, "Tunggu satu jam lagi," tapi kita harus segera melakukannya. Dan waktu jam makan, si anak akan menangis dan kita harus segera memberikan ASI atau memberikan makanan. Jadi dengan kata lain tugas-tugas ini adalah tugas-tugas yang tidak menunggu dan hanya menuntut. Dengan kata lain, susah sekali bagi seorang ibu rumah tangga untuk mengatur jadwal bagi dirinya sendiri sebab apa pun yang dia inginkan itu tidak terpenuhi dan dia harus segera memenuhi apa yang dituntut oleh anaknya.
GS : Apa yang Pak Paul sampaikan ini tentu akan diamini oleh para ibu, khususnya mereka yang memiliki anak balita. Dan kemudian bagaimana cara mengatasinya ?
PG : Saya ingin memberikan beberapa masukan karena kelompok ibu rumah tangga dan anak-anak balita merupakan kelompok wanita yang rentan terhadap depresi. Jadi penting bagi ibu rumah tangga untuk bisa menyiasati, jangan sampai ibu rumah tangga nanti masuk ke dalam lembah depresi akibat kejenuhan yang berlarut dan tuntutan yang begitu meletihkan. Yang pertama adalah jangan malu meminta bantuan, daripada tenggelam dalam kejenuhan mintalah pertolongan baik dari suami, kerabat atau pun bantuan profesional. Mungkin yang diperlukan bukanlah pengalihan tanggung-jawab melainkan bantuan singkat dan praktis seperti minta bantuan seseorang untuk diam di rumah selama 2 jam, agar dia bisa pergi keluar berolah raga atau bertemu dengan kerabat atau teman untuk bersantai sejenak, hal ini mungkin bisa dilakukan atau memberi pengertian kepada suami tentang beratnya beban ini supaya suami bisa berjalan searah dengan istri dalam menanggulangi masalah ini. Kadang saya harus mengaku, kita sebagai suami atau pria, kurang mengerti dan kita berpikir, "Saya juga lelah dan bukan hanya kamu yang lelah," tapi kita harus mengerti keletihan seorang ibu rumah tangga berbeda dengan keletihan kita di luar. Keletihan kita itu seringkali tidak bercampur dengan keletihan mental alias kejenuhan sedangkan ibu rumah tangga selain letih juga harus menanggung keletihan mental alias kejenuhan itu.
GS : Tapi yang menjadi masalah bagi kami kaum pria atau suami itu ialah si istri tidak mau terus terang mengatakan bahwa dia tidak sedang mengalami kejenuhan atau sedang depresi, tapi kemarahannya yang terus nampak. Jadi kita sebagai suami juga bingung mencari-cari penyebabnya dulu.
PG : Betul. Maka saya minta dengan sangat kepada ibu rumah tangga sebelum akhirnya meledak maka lebih baik ajaklah suami berbicara dari hati kehati berikanlah penjelasan bahwa kita ini sangat letih dan saya perlu bantuan. Saya tidak meminta bahwa kamu harus mengambil alih tugas dan tanggung-jawab saya karena ini adalah tugas yang mulia dan saya dengan senang hati ingin melakukannya bagi anak-anak tapi saya minta bantuan yang konkret. Jadi misalkan daripada si istri marah dan mengeluhkan, "Kamu ini tidak peduli dengan aku," lebih baik kita berbicara secara konkret kepada suami, "Bisa tidak kalau hari ini kamu memberikan saya waktu 2 jam saja karena saya ingin pergi untuk senam dan atau pergi dengan teman saya atau keluarga saya." Jadi langsung saja minta jangka waktu itu. Kadang-kadang memang si suami itu sering bereaksi kepada si istri karena si istri itu tidak langsung meminta dengan konkret atau secara spesifik apa yang dia butuhkan, tapi malah marah-marah. Jadi lebih baik si istri bicara dan meminta secara spesifik apa yang dibutuhkannya.
GS : Kadang-kadang usulan dari si suami juga tidak bisa ditanggapi secara spesifik juga misalkan disarankan untuk membayar perawat, si istri belum tentu mau padahalnya bagi kita lebih mudah membayar perawat karena mungkin si suami bertugas diluar kota, sering pergi keluar kota dan sebagainya, pasti akan menjadi lebih mudah kalau memanggil perawat yang bisa menemani dia. Tapi dia tidak mau.
PG : Dalam hal ini, kita harus mengerti bahwa mungkin bagi seorang istri ada sebuah kebanggaan tersendiri, dan ada sebuah sukacita tersendiri dalam merawat anak. Jadi yang dia butuhkan bukanlah pengambil alihan tugas secara penuh, tapi yang dia butuhkan adalah pertolongan-pertolongan singkat supaya dia bisa dibebaskan dan bisa menikmati hal-hal yang diinginkannya. Jadi saya mohon kepada suami meskipun kita punya solusi yang lebih praktis dan mungkin bisa menyelesaikan masalah, tapi kita juga harus mengerti bagi seorang ibu adakalanya mengurus anak memberinya sukacita tersendiri.
GS : Cara penanggulangan yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Yang kedua adalah saya minta kepada para ibu, jangan mengabaikan kebutuhan pribadi. Saya memahami pada masa merawat anak balita sangatlah sukar bagi ibu untuk meninggalkan anak, selain kebutuhan anak yang tanpa henti, satu hal lain yang membuat ibu susah beranjak adalah rasa bersalah entah itu rasa bersalah meninggalkan anak demi kepentingan pribadi. Mungkin untuk pergi ke pasar atau membeli kebutuhan pokok, itu masih bisa dilakukan tanpa rasa bersalah, namun pergi untuk sesuatu yang menyenangkan bagi dirinya hal itu sangat berat dilakukan, ibu-ibu ini cenderung merasa egois kalau melakukannya sehingga kalau pun dia dapat pergi, maka ia pun juga tetap merasa tidak bahagia. Jadi yang saya minta kepada para ibu dengan anak-anak yang masih kecil, penuhilah kebutuhan pribadi dan lakukanlah hal-hal yang menyenangkan hati kendati tidak sesering dulu. Ingatlah bahwa ibu yang bahagia, membuat anaknya pun bahagia. Sebaliknya ibu yang merana pada akhirnya membuat anaknya turut merana.
GS : Yang sulit bagi para ibu untuk membedakan antara hal ini merupakan kebutuhan atau keinginan. Kadang-kadang dia merasa bersalah karena hanya memenuhi keinginannya sendiri misalkan ke salon. Bagi ibu-ibu ini tidak terbiasa untuk melakukan hal-hal itu, kemudian merasa, "Tidak apa-apa karena suami saya juga bisa menerima saya apa adanya, dia pasti mengerti kalau saya ini repot." Jadi sulit bagi dia untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
PG : Sesungguhnya ini adalah campuran keduanya, dalam kebutuhannya ada keinginan untuk memanjakan diri, menyenangkan hati namun itu juga merupakan sebuah kebutuhan, karena kalau tidak dipenuhi, maka kehidupannya akan kehilangan keseimbangan. Jadi terimalah ini sebagai suatu campuran dan tidak apa-apa selama kita tidak melalaikan tanggung-jawab dan anak-anak terurus dengan baik, tidak ada salahnya memenuhi kebutuhan atau pun kesenangan atau keinginan pribadi. Misalkan pergi ke salon, tidak mengapa pergi 2 jam, dia bisa dirawat, dia bisa relaks dan mungkin dia juga bisa ngobrol-ngobrol, itu pun sudah sangat menyegarkan jiwanya. Dengan jiwa yang lebih segar kemudian kembali ke rumah, maka dia bisa membagikan kesegaran itu kepada anak-anaknya, daripada dia menahan diri karena rasa bersalah, tidak mau keluar mengurus anak dan kemudian nanti anak-anak melakukan hal yang tidak diinginkannya, dan dia marah-marah. Kenapa marah karena dia merasa, "Saya sudah berkorban demi kamu, pergi ke salon pun tidak, pergi olahraga pun tidak, saya sudah mengorbankan semuanya demi kamu tapi kamu seperti ini, tidak menuruti mama dan sebagainya." Akhirnya yang terjadi menjadi lebih parah. Jadi tolong ibu-ibu perhatikan kebutuhan pribadi dan coba penuhi sedapat-dapatnya.
GS : Ada juga kekhawatiran di antara para ibu, kalau dia melakukan itu yaitu memenuhi kebutuhan pribadinya maka dia takut dimarahi atau ditegur oleh mertuanya, khususnya ibu mertuanya dan dianggap bahwa dia manja.
PG : Kadang-kadang ini terjadi sebab orang-orang dulu memunyai konsep bahwa tidak seharusnyalah seorang ibu mementingkan kesenangannya. Tapi bagi saya yang terpenting adalah suami mengerti, meskipun mertua tidak setuju maka hal ini bisa dilakukan dengan lebih berhati-hati dan lebih bijaksana sehingga dia bisa tetap menjalaninya. Atau memberikan pengertian kepada ibu mertua bahwa dia masih perlu dan dia adalah seorang manusia dan ini adalah hal-hal yang menyenangkan hatinya, sehingga nanti dia bisa lebih senang mengurus anaknya pula.
GS : Langkah yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Jangan menjauh dari doa dan Firman Tuhan. Salah satu tantangan terberat dalam mengurus rumah tangga dengan anak yang masih kecil adalah menyisihkan waktu untuk berdoa dan membaca Firman Tuhan. Kesibukan yang begitu padat dan terus menerus akhirnya membuat tubuh dan jiwa terlalu letih untuk berdoa dan membaca Firman Tuhan. Belum lagi adanya gangguan tatkala sedang berdoa dan membaca Firman, baru saja duduk tapi anak sudah bangun dan menangis. Pada akhirnya walaupun hati ingin membaca Firman dan berdoa namun kesempatan makin menyempit untuk bersekutu dengan Tuhan. Maka saya sarankan, setelah suami kembali mintalah waktu untuk bersaat teduh, mintalah kesediaannya untuk mengawasi dan merawat anak selama kita bersaat teduh. Jadi kita perlu kekuatan Tuhan dan mengingat kembali janji Tuhan dan kita pun perlu diingatkan akan rencana Allah memberikan anak kepada kita, bila kita terlepas dari persekutuan dan Firman Tuhan, maka nanti dengan mudah kita melupakan rencana Tuhan dan malah melihat tugas mengurus anak dengan kacamata duniawi.
GS : Kadang-kadang ada perasaan bersalah di antara para ibu kalau dia berdoa dan membaca Firman Tuhan, seolah-olah dia santai-santai saja. Ada suatu kekhawatiran kalau melakukan doa dan membaca Firman Tuhan kemudian pekerjaan yang lainnya itu terbengkalai.
PG : Jadi seorang ibu harus berkata kepada suaminya, "Ini penting bagi saya mendapatkan kekuatan dari Tuhan". Jadi mintalah waktu sekitar setengah jam atau berapa, agar suami mengawasi anak-anak sehingga ibu bisa duduk dan berdoa membaca Firman.
GS : Kalau ke gereja bagaimana Pak Paul, karena itu membutuhkan waktu yang agak lama biasanya ibu-ibu juga kesulitan kalau membawa anak yang masih kecil ke gereja.
PG : Sedapatnya pergilah ke gereja meskipun mungkin belum tentu ia bisa beribadah dalam ruang ibadah karena anaknya masih kecil. Kalau gereja punya ruangan khusus untuk ibu dan anak maka akan lebih baik, tapi kalau tidak ada saya rasa tetap pergi saja ke gereja. Misalkan si anak mulai resah maka bawa saja keluar sehingga si ibu masih bisa tetap ke gereja bersekutu dan berbicara dengan teman-teman, walaupun dia tidak selalu bisa untuk beribadah.
GS : Atau memutar lagu-lagu rohani maka itu akan menolong baik untuk dia maupun untuk anak-anaknya.
PG : Saya setuju sekali. Jadi dengan kata lain dia bisa tetap beribadah kepada Tuhan walaupun dia itu di rumah.
GS : Pak Paul, apakah ada ayat Firman Tuhan yang bisa kita jadikan pedoman untuk pembicaraan ini ?
PG : Yeremia 1:5 berkata, "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." Dari ayat ini kita bisa melihat Tuhan terlibat penuh dalam penciptaan anak dalam kandungan, bahkan Dia telah menguduskan anak yang akan dipakainya kelak. Tugas mengurus anak dan rumah tangga, dan memang bukan pekerjaan mudah namun ini adalah pekerjaan Tuhan, bersama dengan Tuhan maka kita dipakai-Nya, bukan saja untuk membesarkan anak tapi juga untuk membentuk anak agar bertumbuh besar menjadi alat di tangan Tuhan. Tidak ada sukacita yang besar bagi seorang ibu selain melihat anak-anaknya bertumbuh, dibentuk oleh Tuhan dan mencintai Tuhan.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Kejenuhan Ibu Rumah Tangga". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
"Kejenuhan Ibu Rumah Tangga" oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi
Status seseorang setelah menikah secara otomatis berubah, pria lajang kini menjadi suami, wanita lajang kini menjadi seorang istri, dengan tuntutan dan tanggung jawab masing-masing. Beban seorang istri bertambah dengan hadirnya seorang anak. Bagi istri yang secara purna waktu mengurus rumah tangga di rumah, seringkali mengalami kejenuhan dalam melakukan tanggung-jawabnya tersebut.
Maka sekarang kita akan belajar menilai para ibu dengan lebih objektif dan yang kedua memberikan masukan-masukan untuk menolong para ibu mengatasi kejenuhan yang mereka harus hadapi.
Penyebab kejenuhan mengurus rumah tangga:
Tugas keseharian ibu rumah tangga relatif tidak memerlukan dan tidak menimbulkan stimulasi intelektual. Dewasa ini banyak wanita yang telah mengenyam bangku perguruan tinggi dan mungkin juga sudah bekerja, sehingga sudah terbiasa dengan tuntutan profesional yang menimbulkan rangsangan intelektual. Begitu meninggalkan dunia kuliah dan dunia kerja kemudian terjun di dalam dunia mengurus rumah tangga secara purna waktu, tidak bisa tidak dia akan kehilangan sumber stimulasi intelektualnya itu.
Tugas ibu rumah tangga pada umumnya tidak berhubungan dengan manusia lain yang setingkat, setingkat dengan pengertian tingkat pengertiannya, kecerdasaannya, keluasannya. Jadi ibu rumah tangga harus berhadapan dengan anak-anak kecil yang tingkat kecerdasan, kematangannya jauh dibawah dirinya, dimana dalam hal ini ibu hanya memberi dan anak hanya menerima. Sebagaimana manusia normal sudah tentu dalam bekerja kita membutuhkan baik itu rekan kerja maupun objek pelayanan yang dapat diajak untuk bertukar pikiran dan berbagi rasa serta pengalaman, tapi kalau dengan anak kecil kita tidak bisa.
Mengurus anak terutama anak balita merupakan sebuah tugas yang berat. Karena jadwal tidur anak yang tidak menentu membuat ibu rumah tangga letih yang akhirnya membuat tubuh tidak nyaman.
Mengatasi kejenuhan:
Jangan malu meminta bantuan. Entah itu bantuan suami, kerabat atau pun bantuan professional. Mungkin yang diperlukan bukanlah pengalihan tanggung-jawab melainkan bantuan singkat dan praktis seperti minta bantuan seseorang untuk diam di rumah selama 2 jam agar dia bisa pergi keluar berolah raga atau bertemu dengan kerabat atau teman untuk bersantai sejenak, dengan memberi pengertian kepada suami tentang beratnya beban ini supaya suami bisa berjalan searah dengan istri dalam menanggulangi masalah ini.
Jangan mengabaikan kebutuhan pribadi. Masa merawat anak balita sangatlah sukar bagi ibu untuk meninggalkan anak, selain kebutuhan anak yang tanpa henti, satu hal lain yang membuat ibu susah beranjak adalah rasa bersalah entah itu rasa bersalah meninggalkan anak demi kepentingan pribadi. Namun tetap, penuhilah kebutuhan pribadi dan lakukanlah hal-hal yang menyenangkan hati kendati tidak sesering dulu. Ingatlah bahwa ibu yang bahagia, membuat anaknya pun bahagia. Sebaliknya ibu yang merana pada akhirnya membuat anaknya turut merana.
Jangan menjauh dari doa dan Firman. Menyisihkan kesibukan yang begitu padat dan terus menerus akhirnya membuat tubuh dan jiwa terlalu letih untuk berdoa dan membaca Firman Tuhan. walaupun hati ingin membaca namun kesempatan makin menyempit. Maka saya sarankan, setelah suami kembali mintalah waktu untuk bersaat teduh, mintalah kesediaannya untuk mengawasi dan merawat anak selama kita bersaat teduh
Firman Tuhan di Yeremia 1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." Tidak ada sukacita yang besar bagi seorang ibu selain melihat anak-anaknya bertumbuh, dibentuk oleh Tuhan dan mencintai Tuhan.
Submitted by admin on Thu, 04/06/2009 - 2:46pm.
Abstrak:
Banyak orang mendambakan perubahan namun tidak semua menyadari langkah menuju kepada perubahan, untuk mencapai ke situ perlu dua hal yaitu menatap diri dan menata diri. Menatap diri berarti melihat diri dengan tepat—apa adanya—dan sejahtera—bersedia menerima diri apa adanya. Menata diri berarti tahu apa yang mesti dilakukan agar perubahan terjadi. Agar kita bisa menatap diri dan menata diri, hal-hal apa saja yang kita perlukan?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami tentang "Menatap Diri dan Menata Diri". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Dengan adanya perubahan yang begitu cepat, ada orang yang rasanya kurang siap bahkan tidak siap menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Dan ini membawa dampak negatif bagi dirinya dan juga orang-orang di sekitarnya, ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Tidak bisa tidak kalau lingkungan kita atau kondisi kehidupan kita berubah, kita pun akan turut terpengaruh, Pak Gunawan. Misalkan seseorang yang tadinya menempati posisi yang baik dalam sbuah perusahaan kemudian tiba-tiba harus kehilangan pekerjaan, apalagi di masa sekarang kita sedang dilanda krisis ekonomi, tidak bisa tidak apa yang terjadi juga akan menimpa pada dirinya dan akhirnya membawa dampak pada bagaimanakah dia memandang dirinya.
Dan ini adalah sesuatu yang nantinya harus dihadapi, inilah yang harus dilihatnya, dan ternyata tidak terlalu mudah bagi semua orang untuk bisa menyadari serta menerima dirinya ini.
GS : Memang perubahan itu diusahakan, baik dicari atau tidak, maka dengan sendirinya akan terjadi perubahan, Pak Paul ?
PG : Ya sebab kita tidak memiliki kendali atas semua apa yang terjadi dalam hidup ini.
GS : Karena ada beberapa orang yang menghendaki selalu ada perubahan di dalam dirinya, kalau tidak ada perubahan di dalam dirinya maka dia merasa kehidupan ini monoton. Tetapi kalau terjadi perubahan yang cepat maka orang pun tidak siap, Pak Paul.
PG : Betul. Jadi ada orang-orang yang kita katakan progresif, dia ingin sekali melihat dirinya itu bertambah baik, berubah. Jadi memang ada orang-orang yang menyambut perubahan itu. Tetapi ada uga sebaliknya yaitu ada orang-orang yang tidak menyambut perubahan-perubahan, tidak mau melihatnya sama sekali, dan sebaliknya ada orang yang ingin melihat perubahan tapi tidak bisa melihat keseluruhan pada dirinya itu.
Semua hal ini memang terkait dan akhirnya akan memengaruhi bagaimana dia melihat dirinya itu.
GS : Kalau hal ini terkait dengan dirinya sendiri, artinya masalahnya ada pada diri orang itu, maka apa yang harus kita lakukan sebenarnya kalau itu menyangkut diri kita sendiri ?
PG : Dalam hidup ini ada dua keterampilan yang mesti kita miliki, Pak Gunawan. Yang pertama yaitu menatap diri dan yang kedua adalah menata diri, memang ini adalah dua kata yang mirip namun merka berbeda arti.
Apa yang saya maksud menatap diri ? Menatap diri berarti melihat diri dengan tepat, apa adanya dan sejahtera, yang berarti menerima diri apa adanya. Saya akan menjelaskan apa yang saya maksud, ada orang yang dapat melihat diri dengan tepat namun tidak sejahtera, dengan kata lain orang ini menolak menerima kenyataan bahwa itulah dirinya. Jadi ada orang yang dapat melihat dirinya dengan tepat tapi tidak bisa melihat dirinya dengan sejahtera karena tidak bisa menerima apa yang dilihatnya itu. Ada juga kebalikannya, orang yang melihat diri dengan sejahtera artinya bisa menerima keberadaannya tetapi sayangnya dia tidak bisa melihat dirinya dengan tepat, maksudnya ia hanya bisa melihat sebagian dari dirinya. Untuk menciptakan perubahan diperlukan ketepatan dan penerimaan dalam melihat diri sehingga kita tahu bagian yang manakah yang sesungguhnya memerlukan perubahan.
GS : Kalau kita mau menilai diri kita sendiri atau menatap diri kita sendiri dengan apa adanya itu akan jauh lebih sulit daripada kalau kita itu menatap orang lain.
PG : Jauh lebih mudah memang menatap orang lain, sebab kita harus akui sejak kecil kita itu tidak begitu terlatih untuk melihat diri dengan tepat apalagi menerima diri dengan sejahtera, sebab oang tua memang kadang-kadang memiliki tuntutan tertentu atau harapan tertentu dalam diri kita sehingga waktu orang tua pun mulai menolak bagian-bagian dalam diri kita yang tidak disetujui atau tidak disenangi oleh orang tua maka kita pun akhirnya mulai mengembangkan sikap "bermusuhan" dengan bagian dalam diri kita yang kita tidak senangi itu.
Itu sebabnya walaupun kita bisa melihat diri kita dengan baik tapi belum tentu kita bisa melihatnya dengan sejahtera. Atau ada orang yang bisa melihat dirinya dengan sejahtera yaitu menerima namun tidak tepat sebab dia hanya menerima sepotong-potong dalam dirinya atau yang lebih parah justru dia itu menggelembungkan dirinya atau mengubah dirinya yang sebetulnya tidak ada, supaya dia bisa melihat dirinya dengan lebih sejahtera.
GS : Selain faktor orang tua, kadang-kadang faktor teman juga sangat berpengaruh, dia akan membandingkan dirinya dengan teman-temannya, "mengapa teman-temannya seperti itu dan dia tidak seperti itu ?" Itu membuat dia tidak lagi nyaman dengan dirinya sendiri, Pak Paul.
PG : Betul. Jadi ada waktu-waktu dimana anak itu dibanding-bandingkan dengan saudaranya atau dengan temannya sehingga pada akhirnya dia tidak bisa melihat dirinya dengan sejahtera. Dia justru mnginginkan apa yang ada pada diri temannya itu yang tidak dimilikinya.
Kalau tidak hati-hati, si anak nanti bisa hidup di dalam dunia khayali, seolah-olah dia memiliki apa yang dimiliki oleh temannya itu padahal dia tidak memunyainya.
GS : Kalau menata diri itu bagaimana, Pak Paul ?
PG : Jadi skill atau kemampuan pertama yang diperlukan adalah kemampuan untuk melihat diri atau menatap diri supaya nanti kita bisa maju ke arah perubahan. Yang kedua adalah menata diri artinyatahu apa yang mesti dilakukan agar perubahan terjadi.
Jadi maksudnya tidak cukup hanya memiliki kemampuan menatap diri bila tidak diikuti dengan kesanggupan mengambil langkah yang tepat menuju pada perubahan. Jadi seorang yang ingin berubah harus mampu untuk menata dirinya, dia bisa mengatur, merancang dan mengetahui apa yang mesti dikerjakannya supaya pada akhirnya dia bisa menikmati perubahan pada dirinya.
GS : Itu dalam rangka dia menyesuaikan diri dengan perubahan atau dia yang menciptakan perubahan, Pak Paul ?
PG : Bisa dua-duanya, jadi kadang-kadang memang ada tuntutan dari luar sehingga dia harus berusaha mencapai standart itu. Saya berikan contoh misalnya dalam kehidupan saya dengan istri saya, awl pernikahan saya bukanlah orang yang mengerti perasaan dengan baik, tapi istri saya kebalikan dari saya yaitu orang yang memiliki kepekaan dengan perasaannya.
Setelah kami menikah tidak bisa tidak saya harus belajar lebih memiliki pengertian kepekaan terhadap perasaan terutama perasaan istri saya. Karena adanya tuntutan itu maka saya pun juga mau berubah ke arah itu dan saya juga harus memikirkan apa itu yang harus saya lakukan, misalnya dalam prakteknya yang harus saya lakukan adalah waktu istri saya berbicara maka saya harus diam dan mendengarkan apa yang sungguh-sungguh dia rasakan, saya tidak boleh dengan cepat tidak menghiraukannya, pokoknya yang penting berpikir praktisnya saja, itu tidak bisa. Saya justru harus memikirkan baik-baik apa yang dirasakannya. Dengan kata lain, saya harus memikirkan langkah apa yang harus saya kerjakan supaya pada akhirnya perubahan dalam diri saya bisa terjadi dan ini memang dimunculkan oleh tuntutan dari luar, kondisi dari luar yang memaksakan diri saya untuk berubah. Namun kadang-kadang tidak ada kondisi dari luar tapi keinginan dalam diri sendiri. Ada orang-orang yang misalkan ingin belajar berani mengambil resiko maka dia akan misalkan mengikuti program pelatihan atau dia akan mulai belajar untuk berani berbicara dengan, kalau ada orang yang tidak setuju dengan dia, dia tidak hanya tutup mulut dan dia berani untuk berkata, "Saya juga tidak setuju." Lewat langkah-langkah kecil seperti itu akhirnya dia mulai bisa menata dirinya alias menciptakan perubahan dalam hidupnya.
GS : Tetapi ada sebagian orang yang mencoba berusaha untuk bisa menatap diri dan bisa menata diri, tetapi selalu gagal. Biasanya itu kenapa, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kadang-kadang kegagalan itu muncul karena besarnya problem, besarnya tugas proyek yang harus kita kerjakan. Ada hal-hal yang lebih mudah untuk kita bisa ubah, tapi ada hal-hal ang memang lebih berat untuk kita ubah.
Untuk itulah kita memerlukan pertolongan Roh Kudus. Saya melihat, Pak Gunawan, di dalam pertumbuhan saya sebagai orang Kristen, saya melihat hal-hal ada yang relatif dengan mudah berubah dalam hidup saya misalnya waktu saya masih SMP atau SMA meskipun tidak terlalu sering tetapi kadang-kadang saya ikut bicara jorok dengan teman-teman. Itulah bagian-bagian dalam hidup saya yang berubah dengan relatif cepat, setelah saya menyerahkan hidup saya kepada Tuhan Yesus waktu saya berusia 19-20 tahun itu. Namun setelah saya menjalani hidup ini saya baru menyadari ada bagian-bagian lain dalam hidup saya yang tidak terlalu cepat untuk berubah, misalnya saya menyadari kemampuan dalam hidup saya untuk bisa menoleransi rasa luka di hati, kecenderungan saya dari pada saya terluka di hati lebih baik saya tidak mau dekat, tidak mau lagi bergaul, tidak mau menghadapinya dan seolah-olah putus hubungan. Bagi saya tetap diam di dalam keterlukaan, ternyata sangat sulit dan ini bagian dalam diri saya yang memerlukan waktu jauh lebih lama untuk berubah. Itu sebabnya tadi saya katakan untuk bisa berubah terutama dalam hal-hal yang berat yang sangat pribadi, yang sudah berakar dalam diri kita memang sangat sulit dan memang sangat penting dan kita harus datang kepada Roh Kudus, kepada Tuhan kita untuk dapat menolong kita.
GS : Mungkin kebiasaan sehari-hari itu lebih cepat berubah dari pada kalau sudah menjadi karakter bagi seseorang, Pak Paul ?
PG : Misalnya satu hal yang seringkali susah berubah karena sudah menjadi bagian karakter dari seseorang adalah keangkuhan. Karena orang tahu kata sombong itu adalah kata yang negatif, maka akhrnya orang merubah kata sombong menggantikannya dengan kata yang lain, misalnya berprinsip, misalnya harga diri.
Sejenak, kata berprinsip itu bukanlah kata yang buruk tapi kalau tidak hati-hati batas antara berprinsip dan angkuh atau sombong sangatlah tipis, atau mempertahankan harga diri dan keangkuhan itu juga batasnya sangat tipis, walaupun sebetulnya muatan di dalamnya adalah kesombongan itu sendiri. Jadi hal yang sudah menjadi bagian karakter kita, waktu kita harus mengubah ternyata sangat sulit sebab kita sudah terbiasa dan itu sudah menjadi bagian dalam konsep diri kita. "Saya orang yang berprinsip, saya orang yang mempertahankan harga diri" itulah yang sangat keras sekali untuk diubah.
GS : Tetapi Pak Paul, tadi katakan kita bisa berubah dengan pertolongan dari Roh Kudus dan memang cara kerja Roh Kudus ini yang membuat orang menjadi bertanya-tanya. Ada orang yang memang begitu cepat diubah oleh Roh Kudus seperti misalnya Saulus menjadi Paulus, perubahannya itu sangat drastik. Tetapi ada juga yang Pak Paul katakan yaitu secara bertahap tapi Roh Kudus itu tetap berkarya di dalam hidup kita.
PG : Betul, misalkan kita bandingkan Rasul Paulus dengan Petrus. Paulus memang tidak pernah hidup dengan Tuhan Yesus dan Petrus pernah hidup dengan Tuhan Yesus secara jasmaniah. Namun kita perhtikan buat Petrus perubahan itu perlu waktu lebih lama, waktu dia hidup dengan Tuhan kurang lebih 3 tahun namun dia masih bisa menyangkal Tuhan.
Dan kita tahu Paulus menulis di Galatia, waktu dia bertemu dengan orang-orang yang bukan Yahudi dia menerima dan dia makan tapi waktu orang-orang Yahudi datang dia menjadi orang yang munafik tidak mau bertemu, tidak mau bergaul dengan orang-orang non-Yahudi. Disitu kita melihat Petrus memerlukan waktu yang lebih lama untuk berubah, tapi ternyata di mata Tuhan, Pak Gunawan, yang penting adalah kita menuju kepada perubahan sebab pada akhirnya itulah yang Tuhan mau lihat. Ada yang cepat, ada yang lambat tapi dua-dua menunjukkan usaha yang besar, usaha yang kuat berjalan menuju kepada perubahan yang Tuhan inginkan itu.
GS : Karena waktu lama atau singkat bagi Tuhan itu relatif sekali dan tidak ada artinya, tapi kita berada pada proses itu.
GS : Pak Paul, sebenarnya bagaimana cara kerja Roh Kudus di dalam diri seseorang yang mau berubah ?
PG : Ada beberapa yang kita harus lakukan tapi sebelumnya saya ingin sedikit menjabarkan apa yang Roh Kudus lakukan supaya kita akhirnya bisa mengalami perubahan. Pertama yang Roh Kudus lakukanadalah membukakan mata supaya kita bisa melihat diri kita dengan tepat.
Jadi itulah langkah pertama yaitu Tuhan membukakan mata kita supaya kita bisa melihat diri dan kondisi kita dengan tepat. Setelah itu Roh Kudus juga akan menolong kita menerima apa yang kita lihat itu sehingga perlawanan atau upaya untuk menyangkal akan diredam oleh Roh Kudus Tuhan dan nantinya kita diminta untuk berhadapan muka dengan muka dengan diri kita yang seadanya itu. Pada akhirnya Roh Kudus juga yang menuntun kita kepada perubahan, ialah yang akan membisikkan kepada kita langkah-langkah apa yang nantinya harus kita ambil supaya kita dapat diubahkan.
GS : Jadi dari situ kita melihat Roh Kudus bukan merubah seseorang seperti robot yang harus mengikuti tapi menumbuhkan kesadaran dari orang itu bahwa dia memang memerlukan perubahan itu.
PG : Benar sekali. Sebab Roh Kudus bukan secara drastik mengambil alih kehendak dalam diri kita sehingga kita tidak lagi punya kehendak yang berbeda dari kehendak Roh Kudus. Jadi memang ada kerasama antara Tuhan dan kita, waktu kita berkata, "Tuhan saya mau berubah, saya mau menjadi lebih serupa dengan Engkau."
Memang kadang ada orang yang salah konsep dalam hal ini, Pak Gunawan, mereka berdoa, berdoa, meminta Roh Kudus untuk mengubahnya tapi sebetulnya yang mereka harapkan adalah mereka berharap supaya Roh Kudus itu mengambil alih kehendak jadi seolah-olah dengan mengundang Roh Kudus datang menolongnya maka Roh Kudus menghilangkan kehendaknya yang berbeda dari kehendak Tuhan, tidak seperti itu. Saya berikan contoh seorang pemuda yang ketemu dengan seorang pemudi, dia jatuh cinta habis-habisan tapi orang itu tidak seiman, dan dia berdoa, "Tuhan, kalau ini dari Tuhan atau kalau ini salah, ini bukan kehendak Tuhan saya bersama dengan perempuan ini maka Tuhan yang harus menghilangkan perasaan saya," tidak seperti itu ! Tuhan tidak menghilangkan kehendak itu. Maka kita harus bekerjasama dengan Tuhan di mana kita harus mengakui bahwa kehendak kita belum sama dengan Roh Kudus dari situ kita harus menundukkan diri pada kehendak Tuhan.
GS : Jadi langkah-langkah Roh Kudus untuk menciptakan perubahan itu seperti apa?
PG : Yang pertama kita harus datang kepada Tuhan lewat Firman-Nya baik itu membaca Firman atau pun mendengarkan Firman-Nya sebab lewat pembacaan dan mendengarkan Firmanlah nantinya Roh Kudus akn menyadarkan kita akan apa yang terkandung dalam diri kita.
Kadang Roh Kudus membuka mata lewat masalah yang kita alami pula. Lewat peristiwa itu kita disadarkan bahwa kita sebenarnya adalah orang yang seperti ini dan umumnya reaksi kita ialah menolak dan kita tidak percaya bahwa itulah diri kita yang sesungguhnya, kita tidak memiliki gambaran bahwa "Saya itu seperti itu". Seringkali waktu kita berkata "Saya itu seperti itu" kita bermaksud bahwa kita itu seburuk itu dan itulah yang kita tidak bisa terima.
GS : Jadi dengan membaca Firman atau mendengarkan Firman, iman yang Tuhan berikan di dalam diri kita itu bertumbuh dan di dalam bertumbuh itu kita punya pandangan yang baru tentang perubahan itu.
PG : Jadi langkah pertama Roh Kudus membuka mata menyadarkan kita, "Inilah dirimu" sudah tentu di saat itu kita tidak selalu siap menerimanya, Pak Gunawan. Jadi adakalanya perlu berulang kali Than menyadarkan dan menyadarkan kita kembali.
Kalau belum sadar-sadar biasanya Tuhan menghadirkan suatu peristiwa yang langsung, interaksi lewat orang bahkan ada yang misalkan lewat benturan dengan orang dan sebagainya, supaya kita disadarkan. Salah satu contoh yang sering saya lihat pada diri orang yang mengalami kecelakaan sehingga harus diam tidak bisa jalan dan sebagainya untuk sementara waktu. Seringkali saya perhatian, Pak Gunawan, orang tersebut diminta Tuhan untuk menyadari ketidakberdayaannya. Jadi seringkali Tuhan membiarkan peristiwa itu terjadi supaya disadarkan bahwa, "Engkau ini tidak berdaya, jadi datanglah kepada Tuhan bersandarlah kepada-Nya." Tapi sekali lagi pada tahap ini Tuhan hanya menyadarkan dan membuka mata kita.
GS : Membaca dan mendengarkan Firman Tuhan saja tidak akan bermanfaat kalau tidak melakukannya. Jadi lewat peristiwa itu Tuhan mendorong kita untuk melakukan apa yang kita ketahui dari Firman Tuhan itu.
GS : Langkah berikutnya apa yang Roh Kudus kerjakan, Pak Paul ?
PG : Roh Kudus biasanya akan terus mengingatkan kita akan keberadaan diri kita, jika itulah bagian yang mesti dirubah. Jadi kalau ini adalah bukan bagian yang Tuhan inginkan untuk berubah maka ita itu tidak diingatkan.
Justru Dia mengingatkan bagian dari diri kita yang Dia ingin ubah atau dia akan mengingatkan tentang bagian dalam diri kita supaya kita mengetahui bahwa kita memiliki kekuatan tersebut atau karunia tersebut supaya nanti Tuhan bisa memakai kita. Adakalanya kita ini menganggap diri kita tidak bisa, misalnya melayani Tuhan dalam bidang ini tapi Tuhan terus mengingatkan lewat Firman-Nya atau lewat peristiwa yang kita alami bahwa kita sebenarnya bisa, itu berarti Tuhan menginginkan kita memakainya. Tapi bisa jadi juga yang berikut adalah Dia mengingatkan kita bahwa itu adalah bagian yang Dia ingin untuk kita ubah, jika bagian itu yang harus berubah biasanya itu berkaitan dengan perubahan sebaliknya jika itu adalah bagian yang ingin dipakainya maka itu adalah salah satu kekuatan kita. Kadang dengan mudah kita menerimanya namun kadang sukar untuk kita menerimanya sekalipun itu berkenaan dengan kekuatan sebab tidak selalu kita bersedia dipakai Tuhan dalam bidang itu. Jika itu berkaitan dengan kelemahan pada umumnya kita sukar menerima fakta sebab adakalanya kita tidak mau dianggap masih atau mempunyai kelemahan tersebut, jadi ada daftar kelemahan yang bisa kita toleransi dan ada daftar kelemahan yang tidak bisa kita toleransi sehingga waktu Roh Kudus menyadarkan atau mengingatkan lagi dan mengingatkan lagi maka kita menyangkal atau menolak "Tidak, saya sudah lewati fase itu dan saya tidak mempunyai masalah itu lagi."
GS : Kalau orang itu terus menolak, apa dampaknya ?
PG : Biasanya di saat itulah Roh Kudus akan berhenti mengingatkan dan ini berarti lampu kuning, Pak Gunawan. Ada satu masa Firman Tuhan tidak lagi menegur kita, tidak ada lagi peristiwa yang selah-olah dipakai Tuhan untuk menyadarkan kita, tiba-tiba semuanya itu sunyi.
Kita mungkin senang karena bebas teguran Roh Kudus tapi justru sebenarnya itu adalah waktu di mana kita harus sadar, harus bertobat karena biasanya kalau Roh Kudus sudah berdiam diri maka langkah selanjutnya yang akan dilakukan adalah dia akan membiarkan kita jatuh terjerembab, kita benar-benar harus mengalami sesuatu yang buruk supaya di situlah kita berkesempatan untuk benar-benar disadarkan. Kalau benar peristiwa itu terjadi maka kita tidak akan sadar-sadar.
GS : Sebaliknya kalau kita mau menerima, mau dituntun oleh Roh Kudus maka hasilnya apa, Pak Paul ?
PG : Bila kita menerimanya maka sudah tentu kita harus meminta petunjuk Tuhan agar kita tahu apa yang harus dilakukan. Biasanya Tuhan akan menghadirkan situasi dimana kita akan berhadapan denga kelemahan tersebut dan di saat itulah kita harus datang kepada Tuhan dan mengakui ketidakberdayaan kita dan memohon kekuatan-Nya, kita tidak boleh menuding orang atau situasi sebagai penyebab kelemahan tersendiri jika itu berkaitan dengan kekuatan kita, setelah Roh Kudus menyadarkan kita bahwa kita memilikinya kita bisa menerimanya maka Tuhan akan membukakan pintu bagi kita untuk mendayagunakan apa yang telah diberikan kepada kita.
GS : Itu jauh lebih baik, Pak Paul.
GS : Pak Paul, apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan sehubungan dengan ini ?
PG : Amsal 4:23 berkata, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." Pak Gunawan, ayat ini sangat sederhana tapi sangat dalam bahwa hatilah sesuatu yangmesti kita jaga karena dari hati maka akan terpancar semua diri kita.
Tugas Roh Kudus adalah membuka mata agar bisa melihat hati itu dan memberi kepada kita untuk menata hati itu.
GS : Cara menjaga hati itu dengan firman Tuhan itu tadi, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Jadi lewat Firman-Nya, teguran-Nya, Dia akan terus mengingatkan kita supaya akhirnya kita jangan sampai keliru melangkah.
GS : Terima kasih Pak Paul, untuk perbincangan kali ini dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menatap Diri dan Menata diri". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by TELAGA on Thu, 27/11/2008 - 9:26am.
Abstrak:
Anak tidak hidup di dunia yang sempurna. Biasanya akan ada anak lain yang gemar mengolok-oloknya dan tidak jarang, olokan tinggal dalam hati anak dan mempengaruhi konsep dirinya. Apa yang bisa diajarkan orang tua kepada anaknya ketika anak menghadapi olokan? Dan kenapa anak kita bisa mengolok-olok temannya?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Diolok-olok Teman". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Di dalam pergaulan sehari-hari, Pak Paul, yang namanya anak tidak luput dari saling mengejek, saling mengolok-olok. Tapi kita sebagai orang tua tentu juga tidak senang kalau anak kita menjadi bahan olok-olokan, anaknya juga pasti menderita karena itu. Dalam hal ini Pak Paul, hal apa saja yang bisa kita lakukan ?
PG : Diolok-olok adalah tindakan atau perkataan lewat ucapan langsung atau lewat bahasa tubuh, dengan tujuan untuk menjatuhkan atau membuat orang lain merasa kurang berharga. Jadi pada akhirnyakalau seseorang terus menerima olok-olokan, tidak bisa tidak dia akan mengembangkan rasa kurang percaya diri, melihat dirinya tidak berharga dan banyak kekurangan.
Jadi sekali lagi inilah tugas orang tua untuk melindungi anak, jangan sampai anak menjadi korban olok-olokan dari teman-temannya. Namun nanti kita juga mesti belajar untuk bisa menolong anak menjaga reaksinya, jangan sampai karena dia diolok-olok kemudian nantinya dia akan melakukan hal-hal yang sama buruknya kepada teman-temannya.
GS : Motivasi dari olok-olokan itu bermacam-macam, sebenarnya latar belakangnya apa ? Dan bagaimana kita mengelompokkan olok-olokkan itu ?
PG : Saya kategorikan dalam dua golongan, yang pertama yang saya panggil olok-olok canda, sudah tentu dalam pergaulan anak-anak akan ada olok-olokan canda, biasanya untuk memancing tertawa. Jad tidak ada niat-niat tertentu di belakang itu.
Tapi yang berbahaya adalah yang saya sebut olokan beracun, sebab ini dilakukan dengan sengaja untuk menjatuhkan temannya atas dasar iri atau marah. Jadi ada anak yang sebetulnya iri atau marah kepada temannya, dari pada dia melakukan tindakan-tindakan yang lebih nyata untuk menunjukkan keirihatiannya atau kemarahannya, dia menggunakan sikap mengolok-olok tapi sebetulnya olok-olokannya itu sangat tajam dan benar-benar dengan tujuan untuk menjatuhkan, membuat orang itu lebih rendah dari dirinya atau menerima pembalasannya karena dia marah terhadap orang itu. Terhadap olok-olok yang seperti inilah kita mesti menjaga dan melindungi anak-anak kita.
GS : Walaupun olok-olokan itu bersifat canda tapi itu juga akan merugikan anak yang menjadi olok-olokan itu.
PG : Betul sekali, meskipun olok-olokan canda dan teman-temannya tidak mempunyai maksud apa-apa, namun pada akhirnya kita harus menolong anak untuk bisa menangkis olokan ini, sehingga dia tidakmemasukkan dan memercayainya.
Jadi disini peran orang tua sangat besar, Pak Gunawan. Misalkan kalau teman-temannya mengolok-olok dia dan berkata, "Kamu ini kegemukan" misalnya seperti itu, anggap saja anak kita memang agak gemuk nah apa yang harus kita lakukan? Kita bisa mengajak anak untuk melihat hal-hal lain pada dirinya atau pada tubuhnya yang baik atau yang indah, dengan kata lain kita mencoba menetralisir. Jadi meskipun teman-teman dia itu secara bercanda mengatakan hal itu, memang tidak ada niat untuk melukainya, tapi mungkin saja dia benar-benar terluka dan di sinilah kita berperan menyeimbangkan komentar temannya sehingga si anak tidak hanya melihat satu aspek pada dirinya, tapi dia juga akan melihat aspek-aspek pada dirinya yang indah.
GS : Didalam hal ini, Pak Paul mengajarkan anak untuk bisa melihat sesuatu yang positif di dalam dirinya, tentu kita mengatakan secara terus terang atau kita memang melebih-lebihkan saja.
PG : Saya kira kita harus mengatakan terus terang sebab kalau kita tidak terus terang, maka yang pertama apa yang kita katakan itu tidak terlalu berkekuatan dan si anak itu nanti dengan cepat aan berkata di dalam hatinya, "Papa dan Mama hanya bicara saja untuk menyenangkan hati saya atau menghibur hati saya," padahalnya tidak seperti itu.
Jadi kita tidak mau kalau anak kita akhirnya mengembangkan dugaan seperti itu sebab sekali anak mempunyai dugaan seperti itu, apa pun yang akan kita katakan kepada dia maka tidak akan memberikan hasil sebab dia sudah langsung berasumsi, "Hanya untuk menghibur saya saja" jadi waktu kita katakan bagian hidupnya atau dirinya yang memang baik, maka itulah hal-hal yang sungguh-sungguh kita akan lihat.
GS : Tapi kalau kita katakan apa adanya, sebenarnya si anak ini akan lebih percaya kata-kata temannya dari pada kata-kata kita sebagai orang tua.
PG : Jadi pada akhirnya si anak ini memang tidak akan hanya menggantungkan penilaian dirinya atas perkataan kita, dia tetap akan mendengarkan dan mempercayai apa yang temannya katakan pula. Tap kalau dia mendengarkan dua sumber dan dua komentar, itu berarti dia akan lebih dapat menyeimbangkan penilaian dirinya, dibandingkan kalau dia hanya mendengar satu sumber yang mengolok-olok.
Misalkan dalam hal ini tubuhnya yang gemuk, bukankah ini akan lebih berdampak buruk terhadapnya. Tapi kalau dia juga mendengarkan pendapat-pendapat yang positif dari orang tua, meskipun dia memercayai olokan temannya, namun apa yang kita katakan akan sedikit banyak menetralisir atau dapat menyeimbangkan apa yang temannya katakan.
GS : Jadi tugas kita adalah bagaimana membantu anak menghadapi olokan-olokan yang dia terima tiap-tiap hari, dan apa saja yang bisa kita lakukan Pak Paul ?
PG : Yang pertama kita memang harus mengajak anak, untuk menilai apakah olokan temannya ini masuk ke dalam kategori olokan yang biasa atau olokan yang beracun. Jadi kenapa kita mesti mengajak aak memilah keduanya, sebab kita juga tidak mau kalau anak kita menjadi terlalu sensitif.
Ada orang tua yang keliru menanggapi, waktu anak datang dan menangis karena temannya atau kakaknya atau adiknya mengatakan olokan kepadanya, kemudian kita langsung menyalahkan pihak yang lain itu, kalau tidak hati-hati, tindakan orang tua yang seperti ini justru makin menyuburkan kepekaan seseorang, sebab saat dia pulang ke rumah dan dia bercerita ke orang tua dan orang tua langsung menyalahkan pihak luar. Jadi kita mesti hati-hati agar tidak menyuburkan sikap seperti ini kepada anak-anak. Jadi kita mesti bertanya kepada si anak apa yang sebenarnya terjadi, temannya bicara seperti apa dan kemudian kita tanya dia "Menurut kamu sesungguhnya teman-teman kamu itu berbicara seperti itu kepada kamu, untuk bercanda agar tertawa, atau kamu melihat ada unsur untuk membalas". Misalkan dia berkata, "Tidak, tidak ada unsur itu" mungkin kita bisa berkata kepada si anak, "Kalau begitu besar kemungkinan ini adalah olokan hanya untuk bercanda dan apa yang harus kamu lakukan kalau ini memang hanya untuk bercanda ? Sudahlah! Kamu jangan tanggapi, kamu hanya tertawa biasa tapi kamu jangan masukkan ke dalam hati. Jadi kita mau mendidik anak agar bisa membedakan keduanya supaya dia tidak harus terus- menerus merasakan perasaannya tertusuk-tusuk, terus tersinggung, jadi dia harus belajar membedakan.
GS : Tapi apa pun jenis olokan itu Pak Paul, semuanya itu menimbulkan kemarahan dalam diri anak dan anak itu pasti tidak senang, Pak Paul. Pasti dia marah, kita pun pernah mengalami hal itu dan ini bagaimana Pak Paul ?
PG : Sudah tentu dia akan marah dan reaksi pertama sewaktu marah adalah mau membalas dan kita bisa berkata kepada anak kita, "Saya mengerti kamu marah karena tindakan atau perkataan temanmu ini tapi mari kita pikirkan langkah terbaik yang harus dilakukan untuk menyadarkan temanmu bahwa dia telah melakukan hal yang keliru tapi yang penting adalah kamu juga harus menahan diri, jangan membalas sebab yang pertama Tuhan menekankan agar kita tidak membalas karena pembalasan adalah milik Tuhan."
Kita katakan kepada anak kita, "Apa yang temanmu perbuat itu dilihat Tuhan, nanti suatu hari kelak, Tuhan akan memberikan balasan kepada dia." Dengan cara itu, si anak juga akan belajar mengerem dan tidak langsung terlibat di dalam proses balas- membalas, pokoknya kalau dia berbuat ini maka saya harus membalas, kalau dia berbuat ini maka saya harus balas dan akhirnya tidak ada habisnya, saling mengejek, saling mengolok-olok dan dua-duanya menjadi benci satu sama lainnya. Jadi yang pertama kita mesti mengajarkan anak untuk tidak membalas.
GS : Tidak memupuk rasa benci kepada pihak yang mengolok-olok itu, Pak Paul ?
PG : Betul, sebab semakin dibalas maka semakin membenci.
GS : Karena seringkali kalau kita marah saat diolok-olok, otomatis orang yang mengolok-olok kita menjadi senang, berarti olok-olokannya itu mengena.
PG : Betul, dia makin senang dan kita makin marah. Jadi memang cara yang lebih baik adalah tidak menghiraukan.
GS : Mungkin ada cara yang lain menghadapi olokan ini ?
PG : Kita mesti mendidik anak untuk belajar mengolok canda teman tanpa harus menjatuhkan atau mempermalukannya. Kadang-kadang meskipun anak melakukan olok canda, dia melampaui batas dan mengelurkan kata-kata yang benar-benar menjatuhkan harga diri seseorang.
Jadi kita bisa mengajarkan pada anak untuk tidak mengatakan hal-hal buruk kepada teman atas dasar penampilan fisiknya, dia terlalu kurus, dia terlalu gemuk, dia terlalu pendek, dia terlalu tinggi, tangannya terlalu apa dan sebagainya, lebih baik jangan. Ajarkan kepada dia bahwa, "Tuhan menciptakan temanmu seperti itu sebab itulah desain Tuhan untuknya dan kamu tidak boleh mempermasalahkannya apalagi mengolok-olok apa yang Tuhan telah ciptakan sebab bagaimana pun, itu adalah ciptaan Tuhan, dia belajar untuk menghormati apa yang telah Tuhan ciptakan. Atau ada hal-hal lain yang bisa menghancurkan penghargaan diri orang yaitu intelektual, ajarkan anak untuk tidak mengolok-olok teman lain yang tidak pandai, adakalanya yang pandai seringkali mengatakan hal-hal yang buruk terhadap teman-teman yang kurang pandai, "Bodoh, otakmu dimana ?" dan menjadikan itu sebagai panggilan di kelas, sebagai bahan olokan. Dan kita mengajarkan anak-anak kita, "Jangan begitu" kita bisa ajak dia melihat, "Kalau teman kamu yang mengatakan hal itu kepada kamu, bagaimana perasaanmu ? Pastilah tidak enak." Jadi sekali lagi kita ajarkan bahwa tingkat intelektual adalah pemberian Tuhan, Tuhan memberikan karunia kepada anak-anaknya tidak sama, ada yang kuat dalam bidang tertentu dan ada yang lemah dalam bidang-bidang lainnya, jadi jangan permasalahkan. Dan yang lain yang kita harus ajarkan kepada anak adalah jangan mengolok-olok atas dasar latar belakang keluarga dan ekonomi, misalnya orang tuanya bercerai, hal itu jangan digunakan sebagai bahan untuk mengejeknya, atau yang lainnya adalah tidak punya ayah karena apa pun alasannya, jangan mengejek-ejek anak yang tidak punya ayah atau tidak punya ibu, atau latar belakangnya agak kurang, miskin dan sebagainya, jangan mengolok-olok anak yang tidak punya. Justru kita harus ajarkan pada mereka, engkau harus lebih berbelas kasihan sebab kalau mereka diberikan pilihan, mereka pun juga tidak mau menjalani hidup seperti itu, namun mereka justru hidup apa adanya sekarang, jadi kamu jangan mengolok-olok. Sebelum diapa-apakan dia sudah menderita, jadi jangan ditambahkan penderitaannya dengan olokan-olokanmu.
GS : Kadang-kadang ada orang tua yang dipenjara karena sesuatu hal, dan itu tidak cocok untuk dijadikan bahan olokan, Pak Paul.
PG : Betul sekali, saya pernah bercakap-cakap dengan seseorang, yang saya kenal dimana ayahnya pernah dipenjara, ditangkap, hal itu benar-benar memberikan dampak besar pada keluarga terutama ank-anak yaitu dari kecil anak itu merasa ada aib dalam keluarganya akhirnya dia bertumbuh besar dengan rasa minder, merasa ada yang harus disembunyikan, merasa diri tidak layak bersama-sama dengan teman yang lain karena dia merasa dirinya mempunyai suatu kekurangan, merasa diri tidak layak terhadap teman yang lain karena melihat bahwa dirinya mempunyai kekurangan.
Jadi sekali lagi kita tekankan kepada anak kita bahwa teman-temanmu yang seperti ini dalam hati mereka sudah menderita, jangan tambahkan lagi penderitaan mereka lewat olok-olokan itu.
GS : Kita juga perlu mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa ada hubungan antara Tuhan dan anak-anak yang kita olok-olok itu, Pak Paul ?
PG : Betul, Pak Gunawan. Jadi kita harus kembalikan kepada konsep Alkitabiah bahwa mereka adalah ciptaan Tuhan, mereka adalah orang-orang yang Tuhan tempatkan di dunia ini dan kalau memang Tuha tempatkan di dunia ini pastilah Tuhan mempunyai maksud atas hidupnya.
Kita mesti mengingatkan anak bahwa yang terpenting adalah apa yang Tuhan katakan pada dirinya dan bukan apa yang temannya katakan. Dan salah satu dampak buruk olokan adalah kita merasa kita tidak bernilai dan seburuk apa yang dikatakan teman. Dan kita harus ingatkan tentang siapakah dia di mata Tuhan dan siapakah temannya di mata Tuhan. Jadi jangan sampai kita menghina orang lain maupun diri kita sebab kita adalah anak Tuhan dan ciptaan Tuhan.
GS : Penting sekali hal itu harus dikatakan kepada anak sebab kita adalah ciptaan Tuhan dan didesain begitu unik di hadapan Tuhan dan di hadapan sesama kita.
PG : Betul dan ini penting. Anak kita mulai mengatakan, "Pa, kenapa gigi saya seperti ini? Ma, kenapa mata saya seperti ini ?" Atau "Pa, kenapa kulit saya seperti ini?" dan sebagainya. Disaat sperti itulah kita mesti mengajak anak untuk kembali melihat dari kacamata Tuhan, bukan saja melihat dari kacamatanya, bukan saja bercermin di depan cermin manusia atau di depan cermin dunia tapi di depan cermin Tuhan.
Kita bisa berkata kepadanya, "Kamu adalah ciptaan Tuhan, apa yang Tuhan ciptakan adalah baik karena Firman Tuhan berkata seperti itu. Memang kamu anggap ada yang lebih baik dari kamu, tapi apa yang Tuhan berikan kepada kamu itu baik dan kita terima dengan penuh syukur." Akhirnya kita harus menekankan satu hal kepada anak begini, "Kamu ini beranggapan bahwa temanmu dengan mempunyai misalkan kepandaian seperti ini atau wajah seperti ini, maka temanmu itu akan lebih bahagia." Kita tekankan kepada si anak, bahwa kita sudah lebih tua dari dia, kita sudah lebih mengerti tentang hidup ini dan kita bisa berkata bahwa, "Kita sudah melihat orang yang waktu masih muda tampan, cantik, mempunyai kelebihan-kelebihan tapi hidupnya jauh dari bahagia. Orang yang biasa saja, tidak mempunyai kelebihan-kelebihan seperti itu tapi kehidupannya jauh lebih bahagia mempunyai damai sejahtera dan sebagainya." Nah kenapa begitu ? Kita katakan bahwa semua kelebihan itu ternyata tidak mempunyai janji atau garansi kebahagiaan. Kita bisa membuka di dalam Firman Tuhan dari kitab Pengkhotbah bahwa Tuhan akan memberikan kepada kita kemampuan untuk menikmati apa yang telah Dia berikan kepada kita. Jadi Tuhan yang memang nanti akan memberikan kebahagiaan supaya kita bisa menikmati apa yang Dia telah berikan kepada kita.
GS : Pak Paul, sebenarnya dampaknya lebih besar yang mana antara anak diolok-olok sesama anak atau diolok-olok oleh orang tua ?
PG : Ini tidak bisa dipastikan, bisa dampak terbesar dari orang tua tapi juga bisa sebaliknya yaitu dari teman. Misalkan kalau bagi si anak, si orang dewasa yang mengatakannya, maka dianggap it paling penting maka efeknya akan lebih berat.
Atau kalau menurut si anak, temannya itu dianggap paling penting dalam hidupnya, itu yang juga akan lebih berdampak, jadi bisa kebalikannya. Kalau orang dewasa mengolok-olok si anak kecil ini sangat buruk, tapi bagi anak kecil itu orang dewasa tidak terlalu penting bagi dia, maka perkataan itu akan masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Dan sebaliknya juga sama, kalau dia menganggap teman-temannya itu tidak terlalu berperan, tidak begitu penting dalam hidupnya maka kalau temannya bicara apa saja, dia tidak akan terlalu memusingkan. Jadi bukan karena usia namun seberapa pentingnya orang itu terhadap dirinya.
GS : Dan bagaimana kedekatan relasi si anak dengan orang yang mengolok-olok itu, dia sudah begitu percaya dan dekat kemudian mengolok-olok, itu akan sangat menyakitkan sekali.
PG : Betul Pak Gunawan, dan kita mesti menyadari bahwa bukankah yang paling dekat dengan anak adalah kita orang tua, berarti apa yang kita katakan kepadanya itu akan lebih berdampak sebab meman dia paling dekat dengan kita.
Jadi makin dekat maka tabrakan itu akan memberikan dampak. Maka sebagai orang tua kita mesti berhati-hati karena kadang-kadang olok-olokan itu juga kadang keluar dari mulut kita, kita mungkin tidak berniat buruk namun kita mengatakannya dan hal inilah yang akan dia ingat sampai besar.
GS : Dan lebih parah lagi kalau itu dilakukan di depan teman-teman anak atau lebih banyak orang yang mendengarkan, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Mungkin buat kita itu hanya bercanda tidak ada rasa malu dan sebagainya, mungkin mempermasalahkan misalkan tentang penampilannya atau tingkat intelektualnya, maka itu akan sagat menjatuhkannya.
GS : Seringkali orang tua berkata dengan dalih, "Saya tidak mau menyombongkan anak saya" tapi malah merendahkan anak ini. Jadi terbalik dan itu menyakitkan sekali buat anak.
PG : Betul sekali dan kita mesti waspada, sebab sekali lagi karena kita dekat dengan si anak maka apa yang kita katakan itu akan lebih berdampak pada dirinya.
GS : Mungkin masih ada cara terakhir didalam menghadapi olokan ini ?
PG : Yang terakhir adalah kita mesti mengingatkan anak untuk tidak berupaya membuktikan dirinya. Ada kecenderungan, guna mematahkan olokan teman, anak akan berusaha untuk memerlihatkan kepada lngkungan siapa dirinya dan dirinya bukan seperti apa yang dikatakan teman.
Kadang perilaku ini membuat anak mengatakan hal-hal yang tidak benar atau malah mengundangnya melakukan tindakan yang berlebihan. Jadi 'over-acting' karena dia ingin membuktikan dirinya tidak sama dengan yang temannya katakan, misalkan temannya mulai meledek-ledek, "Kamu pengecut dan sebagainya" maka dia makin menggebu-gebu dan menunjukkan kalau dirinya berani akhirnya melewati batas. Misalnya untuk menunjukkan kalau dirinya berani maka dia mulai melawan gurunya, padahal dia sendiri tidak ada niat untuk melawan guru, dia sendiri tidak ada masalah dengan guru, tapi karena ingin membuktikan diri maka akhirnya itulah yang dilakukannya. Kalau kita sebagai orang tua melihat bila sebelumnya tidak seperti itu dan sekarang dia menjadi seperti ini maka kita harus berpikir bahwa ada kemungkinan si anak ini akan mencoba membuktikan dirinya dan bisa jadi dia akan membuktikan dirinya karena diolok-olok oleh teman. Jadi kita harus menolong anak, kita harus meyakinkan si anak, bahwa dia tidak harus membuktikan dirinya sebab yang terpenting adalah bagaimana dia menerima dan mengenal dirinya. Apa yang temanmu katakan, "Kamu pengecut dan sebagainya" itu adalah sesuatu yang silakan kamu dengarkan tapi tidak harus langsung kamu percayai. Yang penting adalah bagaimana kamu melihat dirimu sekarang. Kalau kamu melihat diri kamu sekarang bahwa kamu bukanlah seorang pengecut tapi hanya tidak mau melakukan hal-hal yang salah, itu bukanlah pengecut. Jadi kamu tidak perlu menerima apa yang teman-temanmu telah katakan. Dan sudah tentu kamu tidak harus membuktikan dirimu lagi.
GS : Pak Paul, ada olok-olokan yang dilakukan secara massal, maksud saya seperti ini misalkan pada tahun ajaran baru, seorang pelajar yang masuk di kelas 1 atau mahasiswa awal, mereka itu semacam diolok-olok pada masa orientasi siswa. Tapi sifatnya massal, diberikan topi yang aneh-aneh, baju yang aneh-aneh, tulisan yang aneh-aneh juga dan ini pengaruhnya besar atau tidak ?
PG : Biasanya tidak. Karena olok-olokan seperti ini adalah olok-olok yang sudah dimengerti, sudah diterima bahwa ini adalah olok-olokan dan berlaku hanya satu saat saja, setelah itu semua kembai normal lagi.
Sebab si pelajar atau mahasiswa dapat melihat bahwa bukankah kakak-kakak tingkatnya setelah lewat semua ini, biasa-biasa saja dan tidak ada apa-apa lagi. Jadi saya kira dalam masa orientasi mahasiswa, hal-hal ini dapat diterima, mereka tidak akan mengambil hati bahwa ini adalah kenyataan, setelah masa orientasi ini lewat mereka akan seperti biasa lagi.
GS : Kecuali kalau setelah masa itu, mereka masih diolok-olok Pak Paul, mereka masih keterusan dan ini menjadi masalah besar bagi anak itu sendiri.
PG : Betul sekali, kalau keterusan sampai kapan pun mereka tetap dipanggil dengan olokan itu maka dia akhirnya akan tahu bahwa ini bukannya terbatas pada masa itu tapi memang dia sedang diolok-lok.
GS : Mungkin kita sebagai orang tua memang perlu membekali anak itu, bagaimana menangkis olok-olokan itu sehingga dia tidak menjadi korban terus.
PG : Betul. Dan memang sekali lagi memang pendekatan dengan orang tua itu penting, orang tua yang dekat dengan anak akan dapat melihat perubahan pada diri anak sehingga dapat menolong anak membrikan masukan, memberikan cara untuk menangkisnya sehingga anak akhirnya lebih siap untuk menghadapi itu.
GS : Dan perlengkapan yang paling canggih tentunya Firman Tuhan sendiri, dan apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Mazmur 18:24 dan 25 berkata, "Aku berlaku tidak bercela di hadapan-Nya, dan menjaga diri terhadap kesalahan. Karena itu Tuhan membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kescian tanganku di depan mata-Nya."
Saya kembalikan lagi kepada Firman Tuhan sebab pada dasarnya tatkala kita diolok-olok, kita marah dan kita ingin membalas tapi Firman Tuhan mengingatkan, "Biarkanlah, Tuhan akan melakukan tugasnya dan kita tidak perlu. Biarlah Tuhan nanti yang akan menilai kita, Tuhan akan memberi yang memang sesuai untuk kita terima." Jadi apa yang orang lain terima, mereka akan menerima bagiannya, yang penting kita hidup benar di hadapan Tuhan.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Diolok-olok Teman." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Anak tidak hidup di dunia yang sempurna. Biasanya akan ada anak lain yang gemar mengolok-oloknya dan tidak jarang, olokan tinggal dalam hati anak dan mempengaruhi konsep dirinya. Pada dasarnya, mengolok adalah tindakan membuat orang lain merasa kurang berharga dan ini dapat dilakukan lewat perkataan maupun bahasa tubuh. Mari kita lihat lebih saksama tentang olokan ini.
Mengapa kita mengolok-olok yang lain? Sesungguhnya ada dua jenis olokan:
Olokan canda: biasanya ini dilontarkan untuk memancing tawa.
Olokan beracun: biasanya ini dilakukan dengan sengaja untuk menjatuhkan yang lain atas dasar iri atau marah.
Kita mesti menjelaskan kepada anak akan perbedaan dua olokan ini. Sewaktu ia mendengar olokan temannya, ia harus dapat membedakan keduanya. Jangan sampai anak menjadi terlalu peka dan menyamaratakan semua olokan. Terhadap olokan canda, kita mengajarnya untuk tidak menanggapinya dengan serius. Terhadap olokan beracun, kita didik anak untuk berbicara langsung dengan temannya dan menanyakan apakah maksud yang terkandung di belakang olokan itu.
Menghadapi Olokan
Sewaktu diolok-olok kita marah dan pada umumnya ingin membalas dengan cara menjatuhkannya pula. Kita mesti mengingatkan anak untuk menahan diri dan tidak membalas sebab balas membalas tidak menyelesaikan masalah dan Tuhan pun melarang kita untuk membalas.
Kita mesti mendidik anak untuk belajar mengolok-canda teman tanpa harus menjatuhkan atau mempermalukannya. Hindarilah olokan yang berkaitan dengan penampakan fisik, tingkat intelektual, dan latar belakang keluarga dan ekonomi.
Kita harus mengajarkan anak akan bagaimanakah Tuhan melihat kita. Firman Tuhan berkata, "Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah manusia sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau membuatnya hampir sama dengan Allah dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat." (Mazmur 8:5,6) Jadi, barangsiapa menghina sesamanya, ia telah menghina Tuhan penciptanya.
Kita juga harus mengingatkan anak bahwa terpenting adalah apa yang Tuhan katakan tentang dirinya, bukan apa yang temannya katakan. Salah satu dampak buruk olokan adalah kita merasa tidak bernilai dan seburuk apa yang dikatakan teman. Tugas kita sebagai orangtua adalah mengingatkannya akan bagian dalam dirinya yang indah.
Terakhir, kita mesti mengingatkan anak untuk tidak berupaya membuktikan dirinya. Ada kecenderungan, guna mematahkan olokan teman, anak akan berusaha untuk memperlihatkan kepada lingkungan bahwa ia tidak seperti yang dikatakan teman. Kadang perilaku ini membuatnya mengatakan hal-hal yang tidak benar atau malah mengundangnya melakukan tindakan yang berlebihan. Kita harus yakinkan anak bahwa ia tidak perlu membuktikan dirinya sebab terpenting adalah bagaimana ia menerima dan mengenal dirinya.
Firman Tuhan
"Aku berlaku tidak bercela di hadapan-Nya dan menjaga diri terhadap kesalahan. Karena itu Tuhan membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucian tanganku di depan mata-Nya." (Mazmur 18:24, 25)
Submitted by TELAGA on Thu, 27/11/2008 - 9:21am.
Abstrak:
Salah satu emosi yang kerap menjadi masalah dalam hidup adalah kemarahan. Alangkah baiknya kalau kemarahan itu dapat diatur mulai anak berusia dini dan ini adalah tugas dari orangtua untuk mendidik anak mengatur kemarahannya dan tugas orangtua pula mengajarkan bagaimana caranya agar kemarahan itu tidak terjadi?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Anak dan Kemarahan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Kemarahan memang bisa menguasai siapa saja, bukan hanya orang dewasa. Anak-anak pun juga sering kali terlihat marah-marah. Tentu kita sebagai orang tua tidak menghendaki kalau anak-anak kita mengungkapkan sesuatu dengan kemarahan. Dan bagaimana kita sebagai orang tua bisa memberikan arahan atau didikan kepada anak supaya, kalau dia marah tidak harus seperti itu. Dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Memang kemarahan adalah emosi yang saya kira menimbulkan masalah paling banyak dalam kehidupan ini. Kita tidak berkata bahwa kita tidak boleh marah, atau kita juga boleh marah, tapi jangansampai kemarahan itu terus hingga matahari terbenam.
Namun yang terpenting adalah kita mesti belajar mengaturnya, saya kira kebanyakan dari kita paling sulit belajar mengatur kemarahan. Ternyata saya perhatikan orang-orang yang punya masalah dengan kemarahan di usia dewasa sebetulnya sudah mulai mengembangkan problem kemarahan itu sejak usia kecil. Jadi dengan kata lain, kalau orang tua berhasil menangani si anak, menolong si anak mengatur kemarahannya sejak usia kecil, bukankah si anak itu tidak harus hidup dengan masalah kemarahan di usia dewasanya. Sebaliknya kalau orang tua gagal menolong anak mengatasi kemarahannya, bukankah sayang kalau anak ini nanti saat sudah besar harus mempunyai masalah dengan kemarahannya. Itu sebabnya sekarang ini kita akan mengambil waktu untuk membicarakan bagaimana orang tua dapat menolong anak mengatasi kemarahannya. Dan supaya orang tua bisa memulai dengan suatu perspektif, maka saya akan bagikan dulu secara umum apa yang seringkali menjadi respons kita terhadap kemarahan. Yang pertama adalah orang-orang yang berkata bahwa, "Saya marah" berarti ini tanggung jawab saya, sayalah yang telah memilih untuk memberi respons. Tapi ada jenis yang kedua yaitu orang-orang yang berkata, "Kamu yang membuat saya marah" kalau kamu tidak memancing saya untuk marah, saya pun tidak akan marah. Dengan kata lain beda dari yang pertama dan yang kedua adalah yang pertama meletakkan tanggung jawab pada dirinya sendiri sedangkan yang kedua meletakkan tanggung jawab pada orang lain sebagai penyebab kemarahannya. Sebagai orang tua, inilah arah yang dia mesti tempuh atau mendorong si anak untuk sampai ke sana yaitu mengajar anak untuk bertanggung jawab atas kemarahannya dan belajar mengatasinya.
GS : Tapi kalau kemarahan anak itu disebabkan oleh tindakan orang lain yang merugikan dia dan kita melihat memang dia pantas untuk marah, itu bagaimana, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu sekali lagi marah itu bukanlah sebuah emosi yang harus kita lenyapkan. Jadi boleh saja marah, namun sebagai orang tua kita mesti bisa menolong anak untuk bisa mengatur kemaraha dengan tepat, memberi respons yang sesuai.
Sebab intinya adalah kemarahan menjadi problem jikalau kita tidak bisa lagi mengaturnya sehingga kemarahan itulah yang mengatur kita atau menguasai kita. Dan kita tahu sewaktu kemarahan menguasai kita, kita akan melakukan hal-hal yang sebenarnya belum tentu kita ingin lakukan dan sering kali pada akhirnya kita sesali, dan hal ini yang kita mau cegah. Jadi sebenarnya bukannya bagaimana untuk tidak marah, tapi bagaimana mengatur kemarahan, menguasainya sehingga kemarahan itu tidak menguasai kita.
GS : Berarti ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang anak itu mudah marah?
PG : Sebetulnya, ya. Jadi kadang-kadang kita terlalu menyederhanakan masalah dan hanya menyimpulkan bahwa kalau orang itu sering marah berarti sifatnyalah yang pemarah. Jadi sekurang-kurangnya da 5 faktor penyebab yang menyebabkan orang itu lebih mudah marah.
Yang pertama adalah latar belakang keluarga yang buruk karena tidak ada panutan yang tersedia sehingga si anak hanya melihat satu model atau cara mengungkapkan kemarahan. Misalnya si ibu, kalau tidak senang dia akan marah dan berteriak, kalau si ayah marah dia akan berteriak atau bahkan memukul atau membanting. Semua model atau contoh-contoh yang seperti itulah yang nanti akan diserap oleh si anak dan pada masa kecil, dia mulai mencontoh atau melakukannya akhirnya kemarahan-kemarahan itu menjadi bagian dalam hidupnya yang tidak bisa diatasinya.
GS : Anak juga punya pengalaman kalau ayahnya marah lalu dia melihat ayahnya mendapatkan apa yang diinginkan, bukankah ini akan dipakai sebagai suatu cara oleh anak ini untuk mendapatkan apa yang dia inginkan ?
PG : Betul, Pak Gunawan. Jadi waktu anak ini melihat si ayah marah dan ayah mendapatkan apa yang diinginkannya, sewaktu si ayah marah dan dia menjadi takut akhirnya dia melakukan apa yang diingnkan ayahnya.
Akhirnya itu yang dia pelajari bahwa untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dia hanya perlu membuat orang takut dengan kemarahannya. Cara-cara inilah yang nanti diserap olehnya dan itu yang dia gunakan.
GS : Bagaimana kalau anak ini mempunyai kakak-kakak yang juga sering marah, Pak Paul ? Apakah ini juga akan menunjang anak ini menjadi anak yang pemarah ?
PG : Jadi tidak harus hanya orang tua, tapi kakak-kakaknya juga punya tegangan tinggi, cepat sekali marah. Tidak bisa tidak dia akan terpengaruh, jadi dia pun akan cepat marah.
GS : Jadi sebenarnya sejak kecil anak ini tidak mempunyai bakat tertentu untuk marah.
PG : Memang ya pada dasarnya. Memang ada anak-anak yang mulai dari lahir, nanti kita juga akan bahas tentang anak yang berenergi. Kalau dia memang berenergi, dia memang akan mudah marah. Dia seetulnya kalau diberikan contoh-contoh yang positif maka dia juga akan lebih mampu untuk mengutarakan kemarahannya dengan lebih baik.
GS : Orang yang berenergi itu bagaimana, Pak Paul ?
PG : Pada akhirnya kita simpulkan bahwa tingkat energi yang tinggi membuat anak sukar mengatasi gejolak kemarahannya, cenderung melampiaskan secara fisik dan langsung. Jadi anak-anak yang meman dari lahir berenergi sangat tinggi, dia memang lebih rentan terhadap kemarahan.
Itu sebabnya sebagai orang tua kita mesti memahami hal ini dan mendorong si anak untuk menguras energinya dengan cara-cara yang lebih konstruktif, seperti berolah raga, permainan-permainan, tapi tetap tugas orang tua sama, waktu anak kesal mau marah dan mau melampiaskannya secara fisik, orang tua harus langsung bertindak mencegahnya dan menyuruh si anak untuk mengutarakannya melalui ucapan secara verbal, sehingga dia tidak terburu melampiaskannya secara fisik. Jadi itu adalah tindakan yang kita harus lakukan kalau kita menyadari bahwa anak kita berenergi tinggi.
GS : Energi yang tinggi ini juga bisa diperoleh dari makanan yang dia konsumsi setiap hari, apakah itu berpengaruh juga ?
PG : Untuk anak-anak yang berenergi tinggi, kita juga harus memerhatikan makanan yang dimakannya, sudah tentu kalau banyak sekali protein yang yang dimakan maka akan banyak sekali energi yang dperolehnya.
Sehingga memang perlu keseimbangan, saya memang bukan ahli dalam gizi jadi saya tidak berani mengatakan berapa banyak dan sebagainya. Mungkin orang tua harus konsultasi langsung dengan ahli gizi.
GS : Memang kemarahan itu sendiri sebenarnya menguras energi yang cukup besar sebagai orang dewasa, apakah hal itu juga dialami oleh anak-anak ?
PG : Sudah tentu setelah mereka mengutarakan kemarahannya secara fisik, dia akan merasakan letih, lelah dan sedikit banyak akan mengurangi energinya. Namun sebagai orang tua itu yang mesti kitacegah, jangan sampai dia terbiasa mengutarakan kebiasaannya segera dan secara langsung lewat tindakan-tindakan fisik.
GS : Ada faktor yang lain, Pak Paul ?
PG : Yang ketiga adalah tingkat kepekaan yang tinggi. Jadi umumnya anak-anak dengan kepekaan yang tinggi sensitif sekali, dia jadi mudah terganggu karena perasaannya sangat sensitif, dia akan lbih mudah tersinggung dan dia akhirnya lebih mudah marah.
Itu sebabnya kepada anak-anak ini kita sebagai orang tua harus lebih proaktif karena anak-anak kita itu peka sekali. Waktu kita melihat dia sudah terganggu, kita ajak dia bicara, "Apa yang mengganggu kamu ? Kenapa kamu merasa seperti itu ?" biarkan dia belajar mengutarakannya dan kita berikan masukan-masukan dan pertimbangan sehingga anak-anak perlahan-lahan belajar untuk menggunakan pemikirannya, tidak hanya mendasari tindakannya atas perasaannya yang peka itu. Sekali lagi di sini dibutuhkan peran orang tua yang aktif, kalau orang tua tidak berperan, jadinya apa pun emosi anak maka itulah yang dia akan ikuti. Kalau orang tua bisa melihat atau mendeteksinya dengan cepat, mengajaknya berbicara dan mulai memertimbangkannya secara rasional maka si anak akan dilatih mengembangkan kemampuan nalarnya untuk mengatasi gangguan-gangguan dalam hatinya.
GS : Mengapa ada sebagian anak yang tingkat kepekaannya begitu tinggi, tapi ada anak yang acuh. Jadi dia bisa saja meremehkan hal-hal itu sehingga dia tidak marah.
PG : Ini sebenarnya disebabkan oleh faktor lahiriah, genetik. Kalau orang tua memiliki kepekaan seperti itu besar kemungkinan anak kita itu mewarisinya. Itu sebagai warisan dari orang tua. Dan ertanyaannya, dari mana ini semua ? Maka kembali kepada susunan syaraf yang ada di otak kita, itulah yang menentukan reaksi seperti apakah yang kita akan berikan, ada yang super peka, ada yang biasa-biasa saja dan ada juga yang sangat tidak sensitif.
GS : Faktor yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Yang lain adalah cara pandang yang berorientasi detail, anak-anak dengan kecenderungan mendetail sekali, tidak bisa tidak dia akan melihat masalah dengan begitu jelas, melihat semuanya denan teliti.
Tidak bisa tidak, makin banyak melihat maka makin terbuka kemungkinan melihat hal-hal yang tidak disukai. Sebaliknya ada anak-anak yang berpandangan lebih global tidak begitu melihat hal-hal kecil, dia akan lebih susah marah karena yang lebih melihat banyak sudah tentu akan lebih terganggu dan akhirnya cepat marah. Kalau kita sadar anak-anak kita seperti itu, maka sekali lagi kita harus menolongnya. Sudah tentu komunikasikan pengertian kita, "Karena kamu melihat dengan lebih mendetail atau lebih banyak maka kamu lebih mudah marah, namun kalau bisa kamu memberikan jarak pada dirimu, jangan terlalu dekat, sementara kamu memikirkan masalah itu, maka doronglah kehendakmu atau halau peristiwa itu sehingga kamu tidak terlalu terpengaruh." Kemudian mengajak anak untuk bisa melihat gambar utuh, "Coba lihat globalnya, umumnya" sehingga tidak terlalu diganggu oleh hal-hal yang mendetail itu.
GS : Hal-hal yang mengganggu itu bisa saja orang, bisa saja keadaan atau macam-macam hal.
PG : Betul sekali. Jadi tidak selalu hanya orang saja. Jadi bisa juga kondisi-kondisi tertentu apa yang dilihatnya, karena dia memiliki orientasi kognitif yang detail, dia akan melihat semuanya "Ada yang benar, ada yang tidak benar."
Kita harus mengajar anak untuk berkata, "Saya harus memisahkan diri dari hal yang kecil-kecil itu, meskipun menurut saya salah tapi tidak apa-apa."
GS : Dalam hal itu sebenarnya yang memicu kemarahan dia adalah dia sendiri.
PG : Benar. Karena dia memang melihat dengan lebih detail, lebih banyak hal yang tidak sesuai dengannya, dia cepat melihatnya.
GS : Apakah kemarahan ini ada kaitannya dengan ego seseorang ?
PG : Ada dan bahkan sangat erat. Jadi anak-anak dengan ego yang kuat artinya keras kepala, kemauannya keras, cenderung membuat dia menjadi mudah marah dan kalau marah umumnya lebih eksplosif, lbih kuat ledakannya karena memang egonya sangat kuat.
Kalau ada anak seperti ini tidak bisa tidak kita harus sering-sering mengajaknya berbicara, mengajarnya untuk menarik napas yang panjang sebelum mengatakan apa-apa, mengajarnya untuk keluar dari ruangan, jangan bicara apa-apa dulu sebab kalau sudah terlanjur berbicara akhirnya ledakannya yang terjadi. Maka kita ajak dia, "Mari kita keluar dulu, mari kita tenangkan diri dulu, coba hela napas yang panjang dan keluarkan pelan-pelan." Teknik-teknik seperti itu kita ajarkan kepada dia, sehingga dia bisa tenang, kemudian dia mengeluarkan isi hatinya.
GS : Pak Paul, bentuk kemarahan itu beragam. Ada anak-anak yang memang secara eksplosif menyatakan kemarahannya sehingga kita tahu kalau dia marah tapi ada anak yang kalau marah dia diam, namun kita tahu kalau dia sedang marah. Waktu kita bertanya, "Apakah kamu marah ?" dia menjawab, "Tidak" tapi jawaban "Tidak" itu dengan nada marah. Dan ini bagaimana kita mengatasinya?
PG : Kalau ada anak yang seperti itu, kita memang tidak bisa bicara saat itu juga. Jadi kita biarkan, kalau dia berkata "Tidak" maka kita biarkan saja. Setelah lewat satu masa dia sudah lebih tnang, dan dalam keadaan santai kita ajak dia berbicara, "Tadi Papa atau Mama melihat, kamu sepertinya sedikit terganggu dengan tindakan adikmu.
Mama mengerti kamu marah karena mungkin adikmu tidak sensitif dengan kamu, apakah seperti itu peristiwanya ?" barulah kita ajak bicara. Misalkan dia berkata ini dan itu, maka kita katakan, "Baik, kita bicarakan solusi-solusinya, sehingga dia bisa katakan atau lakukan pada adiknya. Dan kita katakan, "Meskipun kamu tidak bisa langsung mengutarakan perasaanmu atau pikiranmu saat itu, tidak apa-apa. Tunda sementara dan kemudian kamu harus bicara dengan adikmu sehingga dia akan tahu". Misalkan dia akan berkata "tidak perlu" nanti kita akan tawarkan bantuan kita, "Nanti Mama temani kamu." Kemudian kita panggil adiknya dan mengajaknya bicara dan membantu dia untuk berbicara. Waktu tindakan itu membuahkan hasil yang positif, kita berkata kepada dia, "Kamu lihat yang positif, adikmu sekarang mengerti, penting untuk mengutarakannya meskipun saat itu kamu tidak bisa, sekarang kamu lebih lega, tolong kamu utarakan."
GS : Jadi disini yang penting adalah cara mengatasinya, bagaimana anak bisa mengatasi kemarahannya. Selain dari itu, apakah ada hal-hal lain, Pak Paul ?
PG : Ada, Pak Gunawan. Memang ada beberapa yang orang tua perlu sadari. Misalnya kita mau mendidik anak mengembangkan kesabaran sebab kesabaran pada dasarnya adalah kemampuan untuk tinggal diambersama ketidak- nyamanan, artinya makin kita lama duduk dengan ketidaknyamanan makin tinggi tingkat kesabaran, ini yang kita mau anak-anak mulai mengembangkannya.
Kita tahu dari Firman Tuhan salah satu buah Roh Kudus adalah kesabaran di Galatia 5:22. Kalau begitu kita bantu si anak untuk mengembangkan kesabaran. Kadang-kadang kita tidak jelas tentang, "Apa itu sabar ?" jadi sekarang kita mengerti sabar itu artinya bisa duduk bersama ketidaknyamanan, bisa menoleransi ketidaknyamanan itu. Hal seperti ini yang mesti mulai kita tekankan kepada anak. Waktu dia tidak merasa nyaman maka kita mulai mengajak dia untuk duduk-duduk, dan bicara dulu, biarkan kamu tetap di sini, kamu jangan lari dulu, jangan kemana-mana dulu. Jadi ajar anak untuk berhadapan dengan ketidaknyamanan, kadang-kadang orang tua tidak menyadari ini dan terlalu cepat memberikan jalan keluar sehingga anak tidak harus tinggal di dalam ketidaknyamanan, tergesa-gesa melepaskannya dan ini menjadi bagian dari reaksinya terhadap ketidaknyamanan. Kalau tidak nyaman dia inginnya lari, kalau dia tidak bisa lari dan cepat-cepat keluar dia bisa langsung marah dan justru ini yang kita mau kembangkan.
GS : Dan yang menjadi kesulitan tersendiri kalau orang tuanya tidak sabar, Pak Paul. Orang tuanya sendiri justru ingin cepat-cepat lari dari kondisinya yang tidak nyaman yaitu anaknya yang marah-marah ini, Pak Paul.
PG : Seringkali itulah yang terjadi sehingga makin hari anak ini makin mengembangkan ketidaksabaran, begitu ada hal-hal yang tidak enak dia mesti mendapatkan solusi, dia mesti tergesa-gesa lepa sehingga kesabarannya tidak pernah ditumbuh kembangkan.
GS : Pak Paul, kalau orang tidak nyaman tapi harus tetap di situ, maka itu erat sekali dengan penyangkalan diri, Pak Paul ?
PG : Betul, Pak Gunawan, jadi kesabaran erat kaitannya dengan penyangkalan diri. Dan memang Tuhan sudah ajarkan pada kita bahwa untuk mengikutNya , kita harus menyangkal diri. Apa itu artinya enyangkal diri ? Saya definisikan meskipun kita layak untuk menerimanya namun kita harus mengekang diri untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.
Sebagai orang tua ini yang mesti kita tekankan kepada anak yaitu meskipun kamu layak mendapatkannya namun secara berkala atau sekali-sekali itu tidak apa-apa kamu tidak mendapatkannya. Jadi sekali-sekali kamu mesti berkata tidak kepada dirinya. Sudah tentu kalau orang tua selalu menyuruh anak untuk menyangkal diri, maka anak akan sangat kasihan. Dia tidak pernah mengutarakan keinginannya, selalu harus mengalah dan itu tidak tepat. Tapi secara berkala orang tua memang mesti mengajar tidak kepada anak. Meskipun dia sebenarnya layak, dia harusnya mendapat, tidak apa-apa dia tidak harus mendapatkan apa yang dia inginkan.
GS : Apakah ada cara yang lain untuk mengatasi anak yang marah ini, Pak Paul ?
PG : Yang berikut adalah mendidik anak untuk menerima dan hidup dengan kenyataan bahwa dalam dunia ini tidak ada yang sempurna, semua ada kecacatannya. Jadi semua ada waktunya bagi anak untuk mlupakannya dan tidak mempermasalahkan hal yang mengganggunya.
Artinya "Ya sudah" jadi sekali-sekali harus seperti itu dan tidak apa-apa. Kenapa ? Karena memang kita hidup di dalam dunia yang tidak sempurna, tidak semua seperti yang dia inginkan. Memang ada anak yang secara bawaan inginnya sempurna, dia tidak bisa berkata, "Ya sudahlah". Justru kepada anak-anak yang seperti ini, kita sebagai orang tua harus berperan untuk mendorong dia, "Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, jangan kamu terlalu menginginkan semuanya sempurna seperti apa yang kamu inginkan." Dengan cara inilah anak-anak dikondisikan untuk bisa melepaskan dan tidak selalu harus mengejar apa yang dia inginkan supaya terjadi.
GS : Mungkin itu akan lebih mudah diajarkan sejak kecil dari pada sudah menjadi dewasa ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Kalau sudah dewasa memang sangat susah, justru itu harus dimulai saat dia masih sangat kecil misalnya usia 2 atau 3 tahun. Dan di saat-saat itulah kita harus muli memberikan masukan-masukan seperti ini.
GS : Dan untuk mulai mengajarkannya , khususnya seperti yang Pak Paul katakan untuk anak yang berusia 2 atau 3 tahun yang sangat kecil itu, bagaimana kita bisa mengajarkan kepada mereka, seperti "Semua itu tidak harus terlalu dipikirkan atau menimbulkan kemarahan," bagaimana Pak Paul ?
PG : Misalkan mainannya diambil oleh kakak atau adiknya, dia akan marah dan dia berkeinginan untuk mengambilnya kembali, tentu suatu saat kita akan minta si kakak untuk mengembalikan mainannya uga.
Namun ada waktu-waktu kita akan berkata, "Ya sudah biar kakak bermain mainanmu dulu dan kamu ikut Mama atau Papa dan kita mengerjakan hal ini." Jadi dengan tindakan seperti itu maka si anak akan berkata, "Ya sudahlah saya tidak ambil mainan yang itu dan saya akan mengerjakan yang lain", maka dia akan mulai mengalihkan perhatian dengan cara melupakan yang satu dan melakukan yang satunya.
GS : Dan sebetulnya itu juga bisa dilakukan oleh orang dewasa yaitu mengalihkan perhatian kepada hal lain yang mungkin lebih positif.
PG : Betul sekali. Jadi itu adalah satu cara yang efektif untuk bisa mengatasi kemarahan kita pula.
GS : Ada cara yang lain Pak Paul, untuk mengatasi kemarahan ini ?
PG : Ini juga penting yaitu mendidik anak untuk mengampuni. Tentu kita sudah tahu bahwa mengampuni bukanlah melupakan, karena kita pasti bisa mengingat karena kita mempunyai memori. Mengampuni ustru menuntut kita melihat dengan jelas apa yang telah terjadi namun memutuskan untuk tidak membalas dan memilih untuk tetap menjalin relasi.
Firman Tuhan berkata di Kolose 3:13, "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah se-orang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian." Jadi pada waktu anak-anak masih kecil dengan kakak atau adiknya, kita mau anak-anak itu belajar mengampuni bukan hanya, "Sudah lupakan" jadi akui apa yang telah terjadi dan biarkan dia melihat, tapi ajar dia untuk tidak membalas, kalau mau membalas katakan, "Itu bukan hakmu" dan kita katakan, "Coba Mama yang mengurusi, coba Papa yang urus" jadi kita mulai alihkan tanggung jawab itu kepada kita, sehingga si anak tidak langsung harus membalas.
GS : Mungkin ada hal lain bagi kita untuk mengatasi kemarahan ini ?
PG : Dan ini yang terakhir dan yang penting dari Kolose 3:14 berkata, "Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan." Hati yang penuh kasihsudah tentu akan lebih susah marah, dan hati yang hampa kasih sudah tentu mudah marah.
Maka kita mesti mendidik anak untuk mengasihi, belajar mempunyai belas kasihan kepada orang lain sehingga dia tidak mudah marah. Jadi tetap kita ajak dia untuk mengasihi, kita ajak dia untuk mendoakan orang, baik itu kakak atau adiknya yang telah melukai hatinya.
GS : Tapi sebagai orang tua, kita punya tugas untuk memberikan teladan atau memberikan contoh konkret kepada anak, bagaimana kita mengatasi kemarahan kita itu. Kalau tidak, apa yang kita ajarkan itu sia-sia kepada mereka.
PG : Jadi memang semua terpulang kepada kita sebagai orang tua, kalau kita hidup sesuai dengan yang kita ajarkan, maka anak akan dengan cepat meniru hal-hal yang positif dari diri kita.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini dan saya rasa akan menjadi berkat bagi banyak orang. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Anak dan Kemarahan." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu emosi yang kerap menjadi masalah dalam hidup adalah kemarahan. Adalah tugas orangtua untuk mendidik anak mengatasi kemarahannya supaya pada akhirnya anak dapat nyaman sekaligus tahu bagaimana mengatur kemarahannya. Terkait dengan kemarahan, pada dasarnya ada dua respons yang umumnya terbentuk:
Mengatasinya sebagai bagian dari masalah pribadinya
Membuat orang lain mengatasi kemarahannya.
Singkat kata, respons pertama adalah respons yang menandakan tanggung jawab pribadi sedangkan respons kedua adalah respons yang lari dari tanggung jawab pribadi dan malah melimpahkan tanggung jawab ini kepada orang lain. Sudah tentu tugas kita sebagai orangtua adalah mendidik anak agar bertanggung jawab penuh atas kemarahannya sehingga ia dapat belajar mengaturnya dengan efektif.
Untuk dapat mengatur kemarahan, kita perlu mengetahui faktor apa sajakah yang mempengaruhinya:
Latar belakang keluarga yang buruk di mana tidak tersedia panutan yang sehat sehingga pada akhirnya anak belajar mengekspresikan kemarahan secara tidak sehat pula.
Tingkat energi yang tinggi yang membuat anak sukar mengatasi gejolak kemarahannya dan cenderung melampiaskannya secara fisik dan langsung.
Tingkat kepekaan yang tinggi yang membuat anak mudah terganggu, tersinggung, dan marah.
Cara pandang yang berorientasi detail yang membuat anak melihat segalanya dengan begitu jelas. Tidak bisa tidak, makin banyak melihat, makin terbuka kemungkinan ia melihat hal-hal yang tidak disukainya.
Ego yang kuat alias keras kepala yang membuat karakter anak cenderung tegas dan kasar.
Cara untuk mengatasinya:
Sudah tentu target kita bukanlah melarang anak untuk marah namun mendidiknya agar ia tahu mengapa, kapan, dan bagaimanakah seharusnya ia marah. Singkat kata, kita tidak memintanya untuk melenyapkan kemarahan dari hidupnya melainkan mengaturnya dengan efektif.
Mendidik anak untuk mengembangkan kesabaran yang pada dasarnya adalah kemampuan untuk tinggal diam bersama ketidaknyamanan. Jadi, makin lama kita dapat "duduk" bersama ketidaknyamanan, makin tinggi tingkat kesabaran.
Mendidik anak untuk belajar menyangkal diri. Dengan kata lain, meski ia layak mendapatkannya, namun secara berkala kita memintanya untuk tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Mendidik anak untuk menerima dan hidup dengan kenyataan bahwa dalam dunia ini tidak ada yang sempurna. Semua ada kecacatannya. Jadi, ada waktunya bagi anak untuk "melupakannya" dan tidak mempermasalahkan hal yang mengganggunya.
Mendidik anak untuk mengampuni. Mengampuni bukanlah melupakan; mengampuni justru menuntut kita untuk melihat dengan jelas apa yang telah terjadi namun pada akhirnya memutuskan untuk tidak membalas dan memilih untuk tetap menjalin relasi. Firman Tuhan berkata,"Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain dan ampunilah seorang akan yang lain . . . sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu . . . . " (Kolose 3:13)
Pada akhirnya di atas segalanya kita mesti mendidik anak untuk mengasihi. Tuhan memanggil kita untuk mengasihi, "Dan di atas semuanya itu kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan." (Kolose 3:14)
Submitted by TELAGA on Thu, 27/11/2008 - 8:29am.
Abstrak:
Ada orangtua yang cepat berkata “Ini dosa!” kepada anak; sebaliknya ada pula orangtua yang dengan ringan berkata “ Ini bukan dosa.” Singkat kata, kita tidak terlalu jelas dengan definisi dan cakupan dosa sehingga adakalanya kita keliru menilai sesuatu. Bagaimanakah kita mengetahui kapan dan dalam hal apa batasan dosa? Prinsip apa yang dapat digunakan untuk membedakan dosa?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Membedakan Dosa". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Judul ini akan membuat orang menjadi bertanya-tanya, karena yang namanya dosa itu tetap dosa. Tapi apa yang Pak Paul maksudkan dengan mengangkat judul ini ?
PG : Ada kecenderungan, kita sebagai orang tua tidak jelas dengan dosa sehingga kadang-kadang menyamaratakan semua tindakan sebagai dosa. Sehingga sedikit-sedikit anak ditegur, "Ini tidak boleh dosa" semua dianggap dosa.
Tapi ada juga orang tua yang terlalu longgar, sehingga tidak ada yang namanya dosa, semuanya boleh. Jadi kita perlu sebagai orang tua belajar mengerti apa yang namanya dosa sehingga kita nanti juga bisa mendidik anak kita, untuk juga mengenal dan membedakan ini dosa atau tidak dosa, begitu maksud saya.
GS : Dan bagaimana mengindikasikan bahwa ini dosa dan ini bukan dosa ?
PG : Sebetulnya kita harus jelas dulu, apa definisi hakiki dari dosa itu sendiri. Kita tahu dosa adalah sebuah sikap atau tindakan melawan perintah Allah. Jadi apa yang sudah tersurat di dalam irman Tuhan, itu yang tidak boleh kita langgar karena waktu kita melanggarnya itu adalah sebuah tindakan dosa.
Itu sebabnya sebagai langkah awal, kita sebagai orang tua mesti mengetahui perintah Allah seperti yang tersurat di Firman-Nya. Jangan sampai kita cepat-cepat melabelkan ini dosa dan itu dosa. Padahal kita tidak tahu sebetulnya apa yang Tuhan perintahkan di dalam Firman-Nya. Jadi langkah pertama adalah orang tua sendiri perlu tahu Firman Tuhan sehingga tahu apa yang Tuhan perintahkan untuk kita semuanya. Selain dari itu kita akan mencoba bahas, Pak Gunawan, langkah-langkah praktis untuk bisa menolong orang tua mengajar anak-anak, "Apa itu dosa" sehingga tidak cepat-cepat melabelkan dosa atau terlalu longgar mengatakan, "Semua hal tidak dosa".
GS : Mungkin para pendengar kita juga ingin segera mengetahui langkah-langkah apa yang harus diambil, Pak Paul.
PG : Yang pertama adalah orang tua perlu memisahkan antara perbuatan membangkang perintah orang tua dan melawan perintah Tuhan. Saya kira kita sebagai orang tua mesti hati-hati, kadang-kadang kta terlalu cepat mengidentikkan perintah Tuhan dan perintah kita, seolah-olah apa yang kita perintahkan adalah perintah Tuhan sehingga sewaktu anak tidak mengikuti perintah kita, kita langsung panggil itu sebagai dosa terhadap Tuhan, jadi kita mesti berhati-hati.
Belum tentu anak berdosa sewaktu ia misalnya menolak mengerjakan PR, bermain-main saja atau menunda-nunda makan atau mandi, atau tidak mau membersihkan kamarnya. Jangan sampai kita itu langsung dengan cepat menuduh, "kamu telah berdosa", itu belum tentu ! Karena memang hal-hal itu belum tentu dosa. Adakalanya orang tua karena ingin mendapatkan hasil dengan segera maka mengancam dengan cara menakut-nakuti anak dan menyebut-nyebut dosa. Dampaknya tidak sehat, Pak Gunawan, karena lama-lama anak menjadi terlalu takut, cemas karena merasa larangan yang telah dia langgar sangat besar. Dia melihat dirinya sebagai anak yang buruk, sebagai anak yang dikutuk Tuhan, karena telah banyak berbuat dosa, anak kita ini sangat kasihan. Atau ada reaksi yang kebalikannya, Pak Gunawan, ada anak-anak yang karena terlalu di"bombardir" oleh orang tua, "Ini dosa, ini dosa, ini dosa" akhirnya bereaksi keras, justru menolak, tidak mau menerima orang tua "Ini dosa" meskipun sebenarnya itu sungguh-sungguh dosa, akhirnya dia tidak peduli ! Justru dia melawan dan dia tidak pusing lagi ini dosa atau tidak dosa. Jadi kita mau menghindari dua reaksi yang ekstrem ini dari anak. Maka pertama-tama kita harus berhati-hati jangan mengidentikkan perintah kita sebagai orang tua, sebagai perintah Tuhan, karena belum tentu sama.
GS : Seringkali orang berlindung di dalam hukum Tuhan yang berkata, "Hormatilah orang tuamu" jadi kalau mereka tidak menurut atau membangkang, maka mereka dianggap melanggar hukum kelima itu, Pak Paul.
PG : Dan masalahnya adalah orang tua mesti memahami apa yang Tuhan maksud dengan menghormati orang tua. Sebetulnya kalau kita terjemahkan secara praktis, kata menghormati orang tua adalah janga sampai kita kurangajar kepada orang tua, "disrespectful".
Tuhan melarang itu karena kita tahu, ini adalah perintah yang Tuhan mau teruskan karena anak yang berani kurang ajar kepada orang tua, nantinya tinggal tunggu waktu akan berani kurang ajar kepada Tuhan, karena Tuhan sangat peka dengan kekurangajaran. Waktu Musa disuruh Tuhan berkata kepada batu karang untuk mengeluarkan air, Musa dengan emosi marah malah memukul dengan tongkatnya dua kali pada batu karang itu dan Tuhan marah, sehingga Tuhan berkata, "Engkau telah tidak menghormati kekudusanKu" alias kurang ajar. Anak juga perlu hormat, jangan sampai kurang ajar terhadap orang tua. Dan yang kedua maksudnya menghormati orang tua adalah anak itu bertanggung jawab merawat, jangan sampai mengabaikan orang tua, itulah artinya. Tapi apakah setiap kata dari orang tua itu identik dengan perkataan Tuhan, sudah tentu tidak ! Kita pun sebagai orang tua tidak selalu hidup seturut dengan Firman Tuhan. Jadi tidak semua hal yang keluar dari mulut kita sesuai dengan kehendak Tuhan pula.
GS : Tapi kalau ukurannya adalah kita sendiri sebagai orang tua dan kita tidak melakukan maka kita sendiri juga sulit untuk memberikan disiplin kepada anak. Jadi anak akan berkata, "Papa atau Mama sendiri tidak bisa melakukan itu". Tapi kalau itu yang menjadi alasan untuk memperbolehkan anak melakukan suatu kesalahan, maka kita tidak mendidik anak dengan baik.
PG : Maka kalau kita sendiri menyadari bahwa kita tidak bisa melakukannya, yang pertama kita harus berusaha melakukannya karena sekali lagi, kita menjadi panutan anak, kalau sampai kita hanya bsa mengajarkan tapi tidak melakukannya, itu malahan akan melemahkan otoritas kita.
Namun dalam kasus-kasus tertentu kalau memang kita itu sadar kita belum mampu, tapi kita tahu kalau ini penting untuk anak-anak ketahui, maka kita katakan dan akui dengan jujur, "Saya sendiri belum bisa, tapi tolong kamu coba untuk melakukannya, karena ini yang Tuhan kehendaki." Anak akan melihat bahwa kita bukanlah seorang yang munafik, kita mengakui kelemahan kita sendiri.
GS : Langkah berikutnya apa, Pak Paul ?
PG : Orang tua harus membedakan antara selera pribadi dan kehendak Tuhan, maksudnya begini Pak Gunawan, ada orang tua yang tidak menyukai mode rambut tertentu, anak-anak sekarang banyak modenyaatau perhiasan seperti anting-anting dan sebagainya.
Kita harus berhati-hati dan menahan diri, supaya tidak cepat melabelkan mode rambut itu sebagai dosa karena sebetulnya itu adalah masalah selera. Sama dengan musik, kita mempunyai selera musik tertentu, kemudian anak-anak kita sering mendengarkan lagu-lagu rap. Kita memang harus hati-hati melihat liriknya sebab lagu-lagu rap banyak mempunyai lirik-lirik yang kotor yang memang benar-benar suatu sampah. Jadi kita mesti melihat liriknya baik-baik. Tapi kalau anak kita untuk bahasa Inggris saja tidak bisa dan tidak mengerti, jadi hanya suka dengan dentuman nada-nada itu saja, mungkin kita harus toleransi dan kita tidak cepat-cepat melabelkan itu sebuah dosa. Jadi apa yang berbeda dari selera pribadi kita, kita mesti menjaga jangan sampai kita terlalu cepat melabelkannya sebagai dosa.
GS : Juga dalam hal berpakaian atau hal yang lain-lainnya. Banyak hal yang memang tidak cocok dengan selera kita dan selera anak. Dan memang kalau dilabelkan sebagai dosa, maka anak akan bingung karena dia menjadi bertanya-tanya, "Sebetulnya apa yang menjadi dosanya ?"
PG : Tepat sekali dan waktu anak-anak menginjak usia remaja, kita sudah harus mulai menjelaskan kepada anak-anak. Semakin sering tercetus kata-kata, "Pokoknya tidak boleh" maka anak-anak akan mlai mempunyai anggapan bahwa percuma berdialog dengan orang tua sebab pintu telah tertutup, karena orang tua kalau sudah berpikir, tidak akan berubah lagi.
Jadi tidak perlu lagi bicara. Akhirnya anak-anak mulai mengembangkan kehidupan ganda, di depan orang tua dia memberikan tampilan yang sesuai dengan keinginan orang tua tapi di luar orang tua ternyata berkebalikan dan hal ini yang mesti kita hindari. Jadi sebagai orang tua kita mesti menjaga dan berhati-hati, jangan sampai menyamakan selera pribadi dengan kehendak Tuhan, jangan sampai itu terjadi.
GS : Tapi ada kekhawatiran di dalam diri orang tua dan termasuk saya, Pak Paul, kalau anak sudah berpenampilan yang tidak sesuai dengan selera kita atau mengikuti suatu aliran musik tertentu, dan kita tahu itu sebagian besar dilakukan oleh orang-orang yang bukan mengasihi Tuhan, kita menjadi khawatir, apakah anak ini tidak terseret ke dalam pergaulan yang keliru ?
PG : Dan ini yang membawa kita ke point yang berikutnya, Pak Gunawan, yaitu kita sebagai orang tua perlu membedakan antara sesuatu yang tidak berdosa namun berpotensi menuju kepada dosa dan peruatan dosa itu sendiri.
Tadi Pak Gunawan memberikan contoh tentang cara berpakaian, misalkan anak kita anak gadis yang sudah remaja dan memakai pakaian yang terlalu terbuka. Memang kita bisa bicara dengan anak dan anak bisa menjawab, "Kenapa ? Tidak ada salahnya! Ini hanya pakaian dan orang juga memakai seperti ini dan sebagainya." Kita bisa menjelaskan kepada anak bahwa, "Memang kalau kamu berpakaian seperti ini tidak ada dosanya tapi ini berpotensi menuju kepada dosa sebab nanti kamu pergi dengan teman-teman priamu, teman-teman priamu melihat tubuh kamu seperti itu dan nanti teman pria kamu bisa tergoda sehingga akhirnya kamu pun juga bisa tergoda dan masuk ke dalam dosa." Atau contoh lain lagi yaitu mengunjungi club malam, anak-anak biasanya akan berkata, "Kenapa salah ? Apa salahnya ? Saya di sana hanya ramai-ramai, senang-senang, saya hanya dansa-dansa, kenapa tidak boleh ? Apa dosanya ?" Kita mesti menjelaskan kepada anak, "Memang tempat itu sendiri, dansa itu sendiri, bercengkerama dengan teman-teman itu sendiri bukanlah dosa, tapi ini adalah sebuah tindakan yang berpotensi menuju kepada dosa. Karena di tempat itu kita bisa terlalu lupa daratan dan akhirnya mulai mengkonsumsi minuman-minuman beralkohol, nanti mulailah kita mabuk atau nanti akan ada yang memberikan kita obat-obatan terlarang karena kita tahu di tempat-tempat itulah obat terlarang mudah dijual. Atau kita juga bertemu dengan orang-orang yang memang berakhlak buruk dan kita menjadi mangsanya. Atau mereka yang berakhlak buruk dan kita mengenal orang-orang yang berakhlak buruk, nanti kita pun akan dipengaruhi oleh mereka." Nah ini adalah yang Firman Tuhan katakan di Mazmur 1:1, "Berbahagialah orang yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh". Sudah tentu duduk dengan orang yang berdosa tidak menjadikan kita berdosa dan itu betul. Namun Firman Tuhan mengatakan untuk tidak melakukannya oleh karena bergaul bersama dengan orang berdosa cenderung berdampak buruk pada diri kita dan kita harus menjelaskan hal ini kepada anak, agar dia mengerti alasannya mengapa kita harus memberinya peringatan.
GS : Itu berarti kita harus menunjukkan konsekwensi atau akibat yang harus ditanggung kalau melakukan hal seperti itu.
PG : Betul. Dan kalau satu waktu, anak kita tidak bisa terima dan terus saja, mungkin di saat itulah kita harus mengambil tindakan yang lebih tegas, yaitu benar-benar menghentikannya. Tapi poin saya adalah kita tidak serta merta melarangnya langsung "Tidak boleh" dan langsung melabelkannya dosa, itu yang saya kira kita mesti mencegahnya, sehingga anak-anak tidak melihat kita seperti orang yang membabi buta, membabat semua hal dan mengatakan semua hal adalah dosa dan kita harus hidup terpisah dari semua orang di dunia ini, tidak ! Kita mesti hati-hati jangan sampai bertindak sejauh itu.
Namun kalau kita sudah memberikan peringatan demi peringatan, ajak dia berbicara berkali-kali tapi dia terus melakukannya maka kita makin hari makin melihat sikapnya, nilai-nilai hidupnya pun mulai bergeser, di situ kita harus bertindak dengan tegas dan berkata, "Saya melihat perubahan dalam diri kamu, dulu kalau sudah mulai pagi kamu segera siap untuk ke gereja, kamu mengutamakan beribadah kepada Tuhan tapi sekarang tidak lagi karena kamu pulang sudah jam 2 atau jam 3 pagi dan pagi-pagi kamu tidak bisa bangun, kamu tidak merasa ada yang terhilang di dalam hidup kamu, berarti ini sudah salah. Dan sebagai orang tua saya tidak mau kamu hidup terus-menerus di dalam kesalahan ini", maka kita berikan dia sangsi, "Kalau minggu depan kamu tetap seperti ini berarti saya akan melarang kamu untuk keluar malam." Jadi kita harus mengambil tindakan yang tegas, jangan sampai anak kita tenggelam di dalam lumpur.
GS : Karena kita sebagai orang dewasa tentu tahu akibatnya, Pak Paul.
GS : Dibandingkan dengan anak-anak yang kurang berpengalaman dalam hal ini, tapi seringkali mereka bersikeras, Pak Paul.
PG : Betul, dan sampai titik terakhir kita harus bersikap tegas.
GS : Pak Paul, mungkin masih ada sisi lain yang seringkali kita menganggap sebagai dosa padahal bukan.
PG : Orang tua harus membedakan antara nilai budaya yang dipegangnya dan nilai moral Tuhan. Misalnya dalam soal membuang waktu, ini seringkali keluar dari mulut kita sebagai orang tua, "Jangan uang waktu" ada orang tua yang tidak nyaman berdiam diri dan menganggap itu sebagai kesalahan dan kita katakan "Kurang bertanggung jawab, malas" dan jatuh-jatuhnya kita mengatakan ini adalah sebuah dosa.
Akhirnya orang tua menerapkan tuntutan itu kepada anak-anak, "Tidak boleh diam, tidak boleh relaks" disangka itu adalah tindakan membuang waktu dan dianggapnya itu adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab kepada Tuhan dan akhirnya dikatakan ini adalah sebuah dosa. Hati-hati, besar kemungkinan ini adalah nilai budaya kita, nilai-nilai di mana kita dibesarkan. Mungkin dulu orang tua kita seperti itu, tidak bisa melihat kita duduk diam, langsung disuruh kerja. Kalau kita duduk diam dan tidak mau maka kita akan langsung dimarahi, dikatakan "Malas." Atau kita sebagai pelajar, kita tidak lagi belajar, kemudian dimarahi dan langsung dikaitkan, "Kamu ini tidak menjadi juru kunci yang bertanggung jawab, Tuhan telah memberi kamu kesempatan untuk kamu belajar tapi kamu tidak menggunakan kesempatan untuk belajar." Maka kita coba menjelaskan kepada orang tua, "Saya telah mengerjakan PR saya, semua sudah selesai dan saya mau relaks" tapi orang tua tetap mengatakan, "PR sudah selesai, tapi bukankah masih ada buku yang bisa dibaca, kenapa tidak membaca buku yang lain ?" akhirnya kita terus dicekoki dengan konsep seperti ini dan kita terpengaruh, kita menjadi orang tua dan kita menerapkan hal yang sama dan kita harus bedakan antara nilai-nilai budaya di mana kita dibesarkan dan nilai moral yang Tuhan telah tetapkan, belum tentu sama. Jangan cepat-cepat melabelkan itu sebagai sebuah dosa.
GS : Memang agak sulit membedakannya tapi kadang-kadang pengalaman kita yang membuat kita melabelkan ini sebagai dosa, padahal yang sebenarnya bukan, seperti tadi yaitu membuang waktu atau penggunaan uang berlebihan. Kadang-kadang kita mau menerapkan kedisiplinan di dalam diri anak ini, tapi akibatnya anak memiliki persepsi yang keliru tentang dosa yang sebetulnya dosa.
PG : Betul, misalkan membeli barang menggunakan uang, misalnya untuk membeli komputer, memang kita bisa membeli komputer biasa atau kita bisa membeli misalnya komputer "Apple". Kita tahu kompuer "apple" itu komputer yang bagus dan mempunyai banyak kelebihan dan kita juga tahu "apple" itu bisa bertahan lama, jadi "apple" itu adalah komputer dengan kwalitas tinggi seperti IBM, bisa tahan 10 tahunan dan sebagainya.
Anak kita misalnya berkata "Mengapa tidak beli seperti itu" dan kita tahu dia juga senang dengan multimedia, jadi benar-benar dia bisa memanfaatkan karena pada komputer "apple" banyak sekali hal-hal yang bisa dia gunakan untuk multimedia itu. Bisa jadi kita itu terlalu cepat berkata, "Kalau kamu keluarkan uang untuk komputer "apple" ini, berarti kamu tidak membelanjakan uang yang Tuhan percayakan kepada kita." Sehingga kita terlalu menekankan kepada anak, bukan saja hidup sederhana tapi susah, kita mesti hati-hati. Sudah tentu jangan memboroskan uang, tapi kalau kita memang mempunyai uang itu dan kita hanya menggunakan sekali-sekali, apa salahnya ? Kalau kita setiap kali membeli yang mahal-mahal dan kita tidak gunakan, itu semua untuk apa, itu salah! Tapi kalau hanya sekali-sekali dia perlu ini dan dia gunakan, itu tidak apa-apa. Namun adakalanya kita dibesarkan tidak seperti itu, akhirnya kita menuntut anak untuk tidak boleh sedikit pun mempunyai barang yang agak mewah, sama sekali tidak boleh.
GS : Seringkali kita mengatakan, "Suatu kelemahan pribadi, itu juga suatu dosa" dan apakah memang kelemahan pribadi itu suatu dosa ?
PG : Kelemahan pribadi tidak mesti sebuah dosa, Pak Gunawan, misalnya ada anak yang susah sekali untuk belajar karena dia mudah sekali belajar lewat interaksi langsung atau pengamatan langsung.Justru untuk duduk dan membaca itu sangat susah dan akibatnya dia tidak bisa mengejar atau mempunyai prestasi belajar yang tinggi seperti orang lain.
Jadi kita mesti hati-hati, tidak melabelkan itu sebuah dosa. Saya juga mau menerapkan hal ini kepada kita sebagai orang tua, ada kecenderungan kalau kita yang mempunyai kelemahan itu sendiri, meskipun itu adalah sebuah dosa, kita cenderung mengatakan dosa. Tapi kalau orang lain yang mempunyai kelemahan itu, maka kita katakan itu adalah dosa, sedangkan kalau kita yang mempunyai kelemahan maka kita katakan itu bukanlah dosa. Misalnya contoh yang sering terjadi adalah ada orang tua yang cepat berbohong, kita tidak memanggilnya berbohong tapi kita memanggilnya asal bicara, dari pada nanti menyakiti hati orang, jadi bicara saja seperti ini, dia nanti akan senang mendengar hal ini maka kita mengatakannya. Tapi intinya sebetulnya kita mengatakan hal yang tidak benar yang tidak sesuai tapi kita tidak mengatakan hal itu dosa, kita tidak memanggil itu sebagai sebuah kesalahan karena itu adalah sebuah kelemahan pribadi kita. Jadi itulah sifat dasar kita sebagai manusia, kalau itu menyangkut diri kita maka kita menyebutnya kelemahan pribadi, tapi kalau menyangkut orang lain maka kita katakan itu pasti dosa. Jadi dengan anak-anak kita mesti berhati-hati, jangan cepat-cepat melabelkan kelemahan pribadi anak itu dosa dan jangan cepat-cepat melabelkan kelemahan pribadi kita sebagai bukan dosa.
GS : Itu memang akan membingungkan anak bahkan anak sendiri juga akan bingung "Ini dosa atau tidak" karena ada yang katanya bohong putih, bohong untuk kebaikan, bohong untuk siasat dan sebagainya. Memang agak sulit Pak Paul, kita sendiri tidak jelas bahwa hal ini dosa atau tidak, memang paling aman kalau yang melakukan orang lain maka kita sebut dosa tapi kalau diri kita maka kita sebut tidak dosa dan memang ini menguntungkan buat kita.
PG : Betul dan seringkali kita melakukannya. Jadi sekali lagi kita mesti hati-hati, maka untuk benar-benar kita tahu bahwa hal ini dosa atau tidak dosa, kita harus kembali kepada Firman Tuhan shingga kita tahu apa isi hati Tuhan.
Kalau masih kurang jelas, nanti kita bisa bertanya kepada hamba Tuhan.
GS : Jadi bagaimana tentang dosa ini sendiri ?
PG : Ada satu lagi yang saya mau paparkan yaitu orang tua mesti menyadari bahwa dosa pada hakikinya keluar dari diri yang tidak ingin tunduk kepada Allah. Dosa itu lahir dari keinginan untuk hiup bebas tanpa Tuhan dan tidak membutuhkan kasih karuniaNya.
Dan seringkali lahan dosa tersubur adalah hati yang keras, sesungguhnya hati yang keras merupakan suatu bentuk keangkuhan dan ini adalah sebuah dosa terselubung yang serius. Sejak anak-anak masih kecil, harus mulai diperhatikan apakah anak kita itu mempunyai kecenderungan untuk berhati keras, kalau dia memang memiliki kecenderungan berhati keras maka kita harus mengamatinya, karena hati yang keras adalah ladang yang subur munculnya dosa sebab tadi saya sudah singgung, dosa sebetulnya keluar dari keinginan untuk hidup bebas atau kalau kita balik, tidak suka diperintah. Jadi anak-anak yang berhati keras itu atau yang berwatak keras, tidak suka diperintah, bahkan oleh Tuhan sendiri. Orang tua mungkin tidak melihat ini dari kacamata dosa, tapi saya mau melihatnya dari kacamata dosa bahwa watak keras seperti ini sebuah ladang subur munculnya dosa dalam kehidupannya kelak. Maka kita mesti mewaspadainya dari kecil, misalnya sejak anak kecil, kalau anak ini berwatak keras maka kita harus mendidik dia untuk berani mengakui salah, untuk berani merendahkan diri dan meminta maaf. Hal ini perlu kita lakukan dan sekali lagi bagaimana kita melakukannya, mungkin kadang-kadang kita harus tegas dengan dia, memaksa dia untuk meminta maaf tapi yang lebih sering yang harus kita lakukan adalah mengajaknya berbicara untuk menjelaskannya bahwa engkau telah melakukan kesalahan ini dan engkau perlu mengakuinya. Karena engkau telah mengakuinya maka engkau telah maju lagi satu langkah yaitu meminta maaf kepada orang, kepada siapa kamu telah berbuat salah itu. Dengan cara itu anak belajar untuk melihat diri mengakui kelemahannya, keterbatasannya dan untuk meminta maaf, sehingga ini menolong anak untuk belajar rendah hati. Waktu dia belajar rendah hati, berarti hatinya itu tidak lagi terlalu keras sehingga nanti waktu Tuhan menegur dia dan sebagainya, maka dia akan cepat mendengar suara Tuhan.
GS : Memang anak-anak sering menanyakan baik kepada guru atau kepada orang tuanya, "Ini dosa atau tidak?" dan kadang-kadang kita susah untuk menjawabnya.
PG : Kadang-kadang ada hal-hal yang jelas yang kita bisa langsung katakan, "Ini dosa" tapi ada hal-hal yang memang kurang jelas. Kalau anak-anak itu sudah mulai remaja sebaiknya kita memberinyapenjelasan dan mengajaknya berpikir sehingga nanti yang dia akan serap dari kita sebagai orang tua adalah bukan hanya bentuk akhir dari dosa, tapi kenapa itu akhirnya menjadi sebuah dosa misalkan contoh yang tadi telah kita bahas, waktu Tuhan menyuruh Musa berkata kepada batu karang "Keluarlah air" dan Musa marah kemudian memukul batu itu, Tuhan melarang Musa untuk masuk ke tanah Kanaan sebagai bentuk hukuman kepada Musa yang tidak menghormati kekudusan Tuhan, dan pertanyaannya adalah, "Kenapa ? Sampai-sampai Musa yang sudah bekerja begitu keras buat Tuhan tapi tidak bisa menginjakkan kaki di tanah Kanaan, kenapa ?" Sebab kita bisa katakan yang pertama batu karang itu menyimpulkan Tuhan.
Jadi Musa itu benar-benar seperti memukuli Tuhan, benar-benar tidak ada respek kepada Tuhan, kenapa hal itu begitu besar di mata Tuhan? Sebab Tuhan adalah Tuhan, kalau orang tidak bisa lagi tunduk, tidak bisa respek kepada Tuhan, dia akan terlepas sepenuhnya dari Tuhan pula. Tuhan tidak mau hal itu terjadi, Tuhan mau anak-anakNya tetap tunduk dan hormat kepadaNya. Kita mesti menjelaskan dengan lebih rinci kepada anak-anak, sehingga dia mengerti kenapa hal ini menjadi hal yang lebih serius atau dosa di mata Tuhan, karena ada pertimbangan-pertimbangan ini, sehingga nanti anak-anak akan menyerap proses ini, Pak Gunawan.
GS : Jadi yang berotoritas ini dosa atau tidak, sebenarnya hanya Tuhan sendiri melalui Alkitab.
GS : Apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan untuk ini ?
PG : Firman Tuhan di Matius 22:37 berkata, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu." Sebetulnya resep untuk melawan dosa hanyalh satu yaitu mengasihi Tuhan, makin mengasihi Tuhan makin menjauh dari dosa.
Jadi doronglah anak untuk mengasihi Tuhan dengan cara membicarakan tentang kasih karunia Tuhan, doronglah anak untuk mengasihi Firman Tuhan, membacanya, merenungkannya serta memikirkan isi hati Tuhan, inilah cara tertepat dan terbaik untuk mendidik anak agar bisa jauh dari dosa.
GS : Terima kasih, Pak Paul untuk penjelasan ini sehingga kita bisa mengerti tentang membedakan dosa. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Membedakan Dosa." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ada orangtua yang cepat berkata "Ini dosa!" kepada anak; sebaliknya ada pula orangtua yang ringan berkata " Ini bukan dosa." Singkat kata, kita tidak selalu jelas dengan definisi dan cakupan dosa sehingga adakalanya kita keliru menilai sesuatu. Pada dasarnya dosa adalah sikap atau tindakan melawan perintah Allah. Jadi, sebagai langkah awal orangtua mesti mengetahui perintah Allah sebagaimana tersurat di Firman-Nya. Namun di dalam hidup ada sejumlah hal lainnya yang kadang tidak tampak jelas batas dosanya. Berikut adalah beberapa prinsip yang dapat digunakan untuk mengetahui kapan dan dalam hal apa batasan dosa.
Orangtua perlu memisahkan antara perbuatan membangkang perintah orangtua dan melawan perintah Tuhan. Belum tentu anak berdosa sewaktu ia, misalnya, menolak mengerjakan pekerjaan rumah atau menunda makan. Dengan kata lain, orangtua perlu berhati-hati agar tidak cepat menggunakan istilah dosa untuk mengancam atau menakut-nakuti anak.
Orangtua harus membedakan antara selera pribadi dan kehendak Tuhan. Misalnya ada orangtua yang tidak menyukai mode rambut tertentu. Nah, di sini orangtua perlu menahan diri untuk tidak melabelkan mode rambut itu sebagai dosa.
Orangtua perlu membedakan antara sesuatu yang tidak berdosa namun berpotensi menuju kepada dosa dan perbuatan dosa itu sendiri. Misalnya, mengunjungi klub malam. Mengunjungi dan berada di tempat itu sendiri bukanlah dosa namun tempat seperti itu merupakan jembatan menuju dosa. Firman Tuhan berkata, "Berbahagialah orang yang . . . duduk dalam kumpulan pencemooh" (Mazmur 1:1). Sudah tentu duduk bersama orang yang berdosa tidak menjadikan kita berdosa namun Firman Tuhan meminta kita untuk tidak melakukannya oleh karena bergaul dan hidup bersama orang berdosa cenderung berdampak buruk pada diri kita. Kita harus menjelaskan hal ini kepada anak sehingga ia mengerti alasan mengapa kita harus memberinya peringatan.
Orangtua harus membedakan antara nilai budaya yang dipegangnya dan nilai moral Tuhan. Misalnya dalam soal "membuang waktu." Ada orangtua yang tidak nyaman berdiam diri dan menganggap itu sebagai kesalahan. Itu sebabnya orangtua menerapkan nilai yang sama pada anak dan menyamakan itu sebagai kehendak Allah. Pada akhirnya anak dibuat tidak nyaman jika terlihat tidak berbuat apa-apa atau santai. Ingatlah, nilai budaya belum tentu identik dengan kehendak Tuhan.
Orangtua mesti berhati-hati dengan kelemahan pribadi. Ada kecenderungan bagi kita untuk menoleransi kelemahan sendiri dan tidak memanggilnya dosa. Misalnya, kita berkata bahwa berbohong itu tidak salah sebab pada dasarnya kita hanya menyenangkan hati orang dan ingin orang lain melihat kita baik. Pada akhirnya hal ini tertanam pula pada diri anak dan anak pun mencontoh perbuatan kita.
Orangtua harus menyadari bahwa dosa pada hakikinya keluar dari diri yang tidak ingin tunduk kepada Allah. Dosa lahir dari keinginan untuk hidup bebas tanpa Tuhan dan tidak membutuhkan kasih karunia-Nya. Dan sering kali lahan dosa tersubur adalah hati yang keras. Sesungguhnya hati yang keras merupakan bentuk keangkuhan dan ini adalah dosa terselubung yang serius. Sejak anak kecil, ajarlah anak untuk mengembangkan sikap rendah hati misalnya, mengaku salah dan meminta maaf. Sudah tentu kita harus mengajarkannya dengan tepat bukan dengan paksaan sebab paksaan hanyalah akan makin mengeraskan hatinya. Sikap rendah hati akan mempersiapkan dirinya untuk peka dengan suara Tuhan dan taat kepada kehendak-Nya.
Terakhir, resep untuk melawan dosa sesungguhnya satu yakni mengasihi Tuhan, "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" (Matius 22:37). Makin mengasihi Tuhan, makin menjauh dari dosa. Jadi, doronglah anak untuk mengasihi Tuhan dengan cara membicarakan tentang kasih karunia Tuhan. Doronglah anak untuk mulai mengasihi Firman Tuhan dan memikirkan isi hati Allah.
Submitted by TELAGA on Thu, 27/11/2008 - 8:24am.
Abstrak:
Kendati kemajuan teknologi dicicipi oleh semua lapisan masyarakat, namun tidak bisa disangkal bahwa kelompok remaja adalah kelompok yang paling memanfaatkan kemajuan ini. Tidak heran, generasi remaja sekarang dijuluki Generasi M—singkatan dari multi-tasking yang berarti melakukan beberapa hal pada saat bersamaan. Di sini akan dijelaskan beberapa tanggapan terhadap pengaruh positif maupun negatif kemajuan teknologi pada perkembangan hidup anak.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Anak dan Kemajuan Teknologi". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, kita melihat sekarang kita hidup di era kemajuan teknologi yang sangat luar biasa. Bagi kita yang lebih dewasa ini, lebih mudah untuk mengantisipasinya tetapi bagaimana dampak kemajuan teknologi ini terhadap anak-anak yang dulu Pak Paul katakan tidak ada pagarnya.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Kita ini memang harus mencermati dampak kemajuan teknologi pada perkembangan hidup anak dan kita harus menyadari bahwa segala sesuatu itu bisa berdampak positif tau pun berdampak negatif, itu sebabnya kita perlu mencermati hal-hal apa saja yang menjadi dampaknya.
Kita tahu sekarang begitu berlimpah ruahnya misalkan permainan video, sekarang sudah menggunakan 3 dimensi. Dan kemudian teknologi informasi itu benar-benar telah membuka keran komunikasi antara anak-anak seperti "chatting", SMS, belum lagi masuk ke internet dan kemudian misalnya membuat "FaceBook", atau bisa melihat di "YouTube" atau membuka blog-blog tertentu dan ini semua memang adalah hal-hal yang baru. Dan anak-anak sekarang ini disebut anak-anak generasi M. Kenapa disebut generasi M, karena di Amerika disebut "multi-tasking" artinya mampu mengerjakan banyak hal sekaligus. Saya memperhatikan anak saya kalau sedang belajar, bukunya di depan tangan sedang menulis tapi kadang-kadang menaruh bolpoint dan langsung "chatting", kadang-kadang membalas email, kita tahu "chatting" dengan email itu berbeda. Dan kadang-kadang masuk ke "FaceBook" dan dia melihat "FaceBook" temannya, kadang-kadang dia masuk lagi ke "YouTube" nonton acara-acara tertentu. Itu semua dilakukan dalam jam yang sama, detik yang sama dan memang fokusnya pada belajar. Itulah generasi anak-anak sekarang ini, kalau kita sekarang disuruh seperti itu, maka mungkin sekali kepala kita akan pening, tapi anak-anak memang terbiasa. Kita sekarang ini akan berbicara kira-kira apa dampak-dampaknya.
GS : Dan memang sejak dini, anak itu rupanya dibuat untuk tidak gagap dengan teknologi. Artinya sangat 'familiar' dengan kemajuan teknologi seperti itu, Pak Paul ?
PG : Dan kita ini sudah tertinggal jauh dengan hal-hal yang mereka miliki itu dan kita sekarang ini memang benar-benar buta teknologi, tapi mereka cepat sekali untuk belajarnya.
GS : Mungkin juga keingintahuan yang besar dari anak ini terjawab dengan adanya kemajuan teknologi seperti itu, Pak Paul.
PG : Saya kira benar, Pak Gunawan, dan sekarang banyak hal yang cepat untuk mereka ketahui lewat teknologi informasi yang sudah begitu canggih.
GS : Tapi seperti tadi yang telah Pak Paul janjikan. Kita akan membahas dampak positif dan dampak negatifnya. Dan sekarang lebih baik kita berbicara dampak positifnya lebih dulu.
PG : Baik. Yang pertama adalah kemajuan teknologi tidak bisa tidak akan membuat anak jauh lebih fasih dengan teknologi, terutama teknologi informasi dan ini adalah dampak baiknya karena kemajua seperti ini membawa banyak kemudahan seperti kemudahan mendapatkan informasi, kemudahan memperoleh kontak.
Belum lagi keterampilan-keterampilan seperti ini dibutuhkan dalam pekerjaannya sebab sekarang ini semua pekerjaan hampir dapat dipastikan akan memakai teknologi informasi dan komunikasi. Jadi benar-benar mereka itu nantinya disiapkan untuk masuk ke dunia kerja mereka.
GS : Dan itu berarti anak ditantang untuk mau berusaha lagi menguasai teknologi yang perkembangannya sangat cepat itu tadi, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, dan kata cepat memang kata yang tepat sebab apa yang sekarang menjadi modern dan baru, tahun depan sudah menjadi kuno bagi mereka. Dengan mereka mengikutinya jadi mereka tida ketinggalan.
GS : Untuk itu mereka kadang-kadang tidak segan-segan untuk mempelajari bahasa asing, khususnya bahasa Inggris untuk memahami teknologi itu sendiri, Pak Paul ?
PG : Betul. Dan kalau berbicara tentang bahasa Inggris, sekarang pun sudah ada begitu banyak program 'online' agar kita bisa belajar bahasa dengan lebih cepat. Jadi memang sekali lagi kemajuan ni membawa mereka sangat fasih dan memudahkan mereka mendapatkan pengetahuan dan informasi.
GS : Bagaimana dengan pergaulan, Pak Paul ? Pergaulan anak-anak sampai remaja ini.
PG : Pada zaman kita, pergaulan itu dibatasi oleh lingkup atau geografi tapi sekarang tidak lagi. Jadi ada anak-anak yang mempunyai teman di belahan dunia berbeda atau di pulau berbeda dan di dlam satu kolam, mereka itu berkumpul, bisa bercakap-cakap melalui "FaceBook", mereka bisa berbagi, menjadi anggota atau menjadi anggota dari "mailing list" dan itu semua disatukan.
Sehingga yang tadinya jauh, sekarang menjadi dekat. Jadi ini adalah salah satu dampak positifnya juga.
GS : Bahkan kadang-kadang ada di antara mereka sampai berpacaran dan akhirnya menikah hanya lewat dunia maya seperti ini.
PG : Dan memang ada, yang saya kenal seperti itu. Pacarannya lewat email, berkenalan, kirim foto, kemudian berjumpa beberapa kali lalu menikah dan mudah-mudahan memang mereka siap menikah dan iu memang benar-benar terjadi.
GS : Bagaimana dengan dampak positif yang lain, Pak Paul ?
PG : Yang lain adalah dampak kemajuan teknologi telah menciptakan beragam permainan kreatif dan menantang. Banyak anak yang termasuk kategori ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) diuntngkan oleh permainan ini oleh karena tingkat kreatifitas dan tantangan yang tinggi.
Jadi orang tua yang dibuat letih oleh anak-anak super aktif ini dan sukar konsentrasi, dia mendapatkan kelegaan, istirahat, karena si anak bisa duduk main video games yang memang menantang dan kreatif itu sehingga akhirnya dia bisa duduk juga, duduk tenang dan berkonsentrasi. Jadi sekali lagi saya tidak anti dengan permainan video games yang dapat juga bermanfaat digunakan secara tepat untuk anak-anak yang memang memerlukan daya konsentrasi tinggi.
GS : Jadi dengan bimbingan seorang konselor yang handal, kemajuan teknologi ini bisa digunakan sebagai terapi untuk anak-anak yang bermasalah seperti itu.
PG : Betul. Saya seringkali memberikan saran kepada orang tua, biarkan untuk anak-anak yang super aktif ini untuk duduk dan main video games, tapi yang penting waktunya harus dibatasi dan biarkn mereka bermain karena itulah yang dapat membuat mereka duduk tenang untuk belajar berkonsentrasi, dari pada dia sama sekali tidak ada alat bantu untuk menolongnya duduk diam maka lebih baik gunakan itu, kalau tidak maka dia akan lari ke sana-ke sini dan mungkin akan banyak menimbulkan dampak kerugian.
Dengan adanya video games atau permainan seperti ini maka mereka bisa duduk tenang dan belajar untuk berkonsentrasi pula.
GS : Dan itu meningkatkan kreatifitas mereka Pak Paul, dalam menggambar atau melakukan yang baik dan sebenarnya banyak.
PG : Betul sekali. Karena memang kebanyakan games ini diciptakan oleh orang-orang yang mempunyai daya kreatifitas yang tinggi. Jadi anak-anak yang bermain itu, lama-kelamaan akan belajar mencipakan seperti video games.
GS : Bahkan sampai robot-robot yang sederhana banyak diciptakan oleh anak-anak yang masih relatif muda.
PG : Betul sekali dan memang sekali lagi menuntut kreatifitas yang tinggi pula.
GS : Namun kita tidak menutup mata bahwa disamping ada dampak-dampak positif seperti itu, tentu ada dampak-dampak negatifnya, Pak Paul ? Itu apa saja, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa, Pak Gunawan dan yang pertama adalah kemajuan teknologi berpotensi membuat anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya sehingga menganggap apa yang dibacanya di interet adalah pengetahuan yang terlengkap dan final.
Ini adalah dampak negatif sebab pada faktanya ada banyak hal yang mesti digali lewat pembelajaran tradisional dan internet tidak bisa menggantikan kedalaman. Maka kalau tidak dicermati, akan ada kecenderungan bagi generasi mendatang untuk menjadi generasi yang cepat puas dan cenderung berpikir dangkal. Saya mau tekankan hal ini yaitu membaca 300 halaman buku yang ditulis secara cermat lewat proses pemikiran yang panjang, tidak sama dengan membaca beberapa lembar halaman berisikan kesimpulan di layar komputer. Jadi ada anak-anak yang cenderung beranggapan, "Saya sudah tahu, saya sudah baca", di mana membacanya ? "Di internet". Kita tahu informasi yang ditayangkan di internet seringkali lebih bersifat ringkasan-ringkasan, bukan merupakan sebuah penulisan yang mendalam. Dan ini kita mesti cermati, sebagai orang tua ada baiknya kita harus mendorong si anak untuk membaca buku-buku bermutu, disamping memanfaatkan informasi dari internet. Misalkan juga secara berkala kita mengajak anak berdiskusi sebab proses pengambilan keputusan yang efektif tercapai lewat dialog dua arah. Karena lewat dialog, anak dilatih untuk mendengarkan masukan atau pendapat lain sekaligus memberikan respons yang tinggi, dari pada dia duduk pasif, membaca, menyimpulkan, maka ajak dia bicara, diskusi sehingga dia belajar menarik kesimpulan berdasarkan sebuah dialog. Dialog itu memaksa anak untuk melihat dari kaca mata orang lain, kalau dari internet atau yang dia baca yaitu searah, dengan adanya dialog dia belajar untuk melihat dari kaca mata orang, belajar membela pendapatnya juga, belajar menghargai pendapat orang lain juga dan itu saya kira tidak bisa digantikan oleh kemajuan teknologi.
GS : Ada dampak negatif yang lain, Pak Paul ?
PG : Yang lain adalah oleh karena kemajuan teknologi itu membawa banyak kemudahan maka generasi mendatang berpotensi menjadi generasi yang tidak tahan dengan kesulitan. Dengan kata lain, asumsiyang tersirat dalam diri anak adalah bahwa hidup ini seharusnya mudah.
Singkat kata akhirnya anak berpacu untuk menyederhanakan masalah dan berupaya menghindari kesukaran. Sudah tentu sebagai orang tua kita tidak perlu melarang anak untuk menikmati kemudahan-kemudahan ini, tugas orang tua di sini adalah mendampingi anak, tatkala anak menghadapi kesulitan. Jadi amatilah kecenderungannya untuk mencari jalan pintas dan ajaklah dia untuk memikirkan alternatif penyelesaian. Jadi jangan sampai anak kita itu akhirnya terkotak di dalam suatu pola hidup yang terlalu mudah menyerah pada kesukaran dan selalu mau mencari jalan pintas. Dan ini sebetulnya secara tidak langsung disebabkan oleh kemajuan teknologi yang terlalu banyak membawa kemudahan.
GS : Memang prinsipnya kebanyakan mengatakan, "Kalau bisa dikerjakan dengan mudah, kenapa kita harus mencari yang sukar ?" seperti itu, Pak Paul.
PG : Memang kalau kita bisa mendapatkan jalan keluar yang lebih mudah, itu baik dan silakan. Tapi masalahnya adalah karena kita itu tidak lagi mempunyai daya tahan yang tinggi terhadap kesukara maka kecenderungan kita akhirnya tidak mau menghadapi masalah atau bukan saja kita lari dari masalah namun ada kecenderungan menyederhanakan masalah yang seharusnya rumit.
Sehingga karena kita tidak lagi mau melihat masalah secara utuh, kita hanya memotong sana-sini akhirnya tidak lagi bisa membereskan masalahnya dengan tepat. Dan saya kira anak-anak juga harus diamati di dalam hal seperti ini, waktu dia menghadapi kesulitan, kecenderungannya untuk lari dan sebagainya itu mesti kita perhatikan, kita ajak dia bicara, kita ajak dia untuk memikirkan, memertimbangkan apa jalan keluarnya, apa alternatifnya sehingga dia belajar untuk diam, untuk bisa menghadapi. Sudah tentu kita jangan bereaksi marah "Kamu ini cepat menyela", langsung memarahi dia, itu tidak efektif tapi dampingi dia dan ajaklah dia untuk melihat alternatif penyelesaiannya.
GS : Menjadi sifat anak untuk cepat lari dari kenyataan yang tidak enak seperti itu. Jadi memang dia atau mereka lebih berusaha untuk menyelesaikan masalah itu cepat-cepat atau lari dari kenyataan itu.
PG : Dan saya takut sekali, Pak Gunawan, di dalam generasi mendatang ini kecenderungan itu akan memburuk. Sebetulnya kita harus akui, ada di antara generasi kita ini yang misalnya usianya paro aya dengan generasi orang tua kita yang sudah tujuh puluh atau delapan puluhan, sebetulnya itu sudah ada gap.
Generasi orang tua kita saya kira adalah generasi yang lebih sabar, lebih tahan menderita karena zaman-zaman itu kemudahan-kemudahan teknologi belum ada dan hidup itu jauh lebih sulit, jadinya orang lebih terbiasa dengan kesulitan namun karena kita hidup dalam generasi yang sudah lebih baik atau lebih banyak kebaikan dan kemudahan maka kita itu sebetulnya tidak terlalu kuat lagi menghadapi kesukaran-kesukaran dan derita, dan saya takut nanti generasi di bawah kita akan lebih buruk lagi karena kemudahan-kemudahan itu makin melimpah ruah sehingga mereka semakin tidak tahan dengan yang namanya susah, sukar, atau menderita, mereka semakin tidak tahan. Jadi akhirnya terburu-buru dan sebagai contoh adalah salah satu hal yang makin hari makin menjamur adalah perceraian. Perceraian adalah bukti bahwa bukan saja kita itu keliru memilih pasangan hidup karena terlalu tergesa-gesa, tidak melihat semua secara utuh. Tapi salah satu penyebab utamanya adalah kesulitan kita untuk duduk diam dengan penderitaan itu dan kita ingin segera lari, akhirnya mengambil jalan pintas yaitu cerai saja.
GS : Tapi masalah juga berkembang begitu rupa sehingga masalah-masalah saat ini jauh lebih kompleks dari pada generasi orang tua kita atau bahkan kita.
PG : Itu betul. Memang sekarang masalah lebih beragam tapi kalau kita bicarakan tentang kadar intensitas atau derajat keparahannya, saya kira sama. Setiap zaman mempunyai masalah-masalah terseniri yang tidak kalah beratnya.
Misalnya waktu orang tua kita masih muda hidup di dalam kondisi yang sangat minim karena masih dalam penjajahan dan sebagainya, sudah tentu itu adalah suatu tekanan ekonomi yang berat untuk mereka yaitu hidup di dalam keterbatasan tapi mereka menerima dan belajar untuk menghadapinya. Dan saya kira generasi-generasi mendatang lebih tipis lagi kemampuan untuk bertahan di dalam derita itu.
GS : Mungkin ada dampak negatif yang lain, Pak Paul ?
PG : Yang lain adalah kemajuan teknologi mempercepat segalanya dan tanpa disadari anak-anak pun dikondisikan untuk tidak tahan dengan kelambanan dan keajegan. Misalkan dengan internet, dulu untk kita bisa masuk ke internet memakai saluran telepon, dan kita menunggu lama barulah bisa masuk tapi sekarang tidak perlu lagi karena bisa menggunakan 'wireless' dan makin hari makin cepat.
Jadi sekarang begitu kita membuka, kita bisa langsung masuk. Sekarang misalnya program-program sudah begitu cepat sekali sehingga sekarang masuk, kemudian berpindah, itu sudah begitu cepat melalui internet sedangkan dulu lebih lambat. Maka untuk kita yang terbiasa dengan cepat, waktu menghadapi kelambanan, susah untuk menerimanya artinya kalau kita tidak hati-hati, generasi mendatang ini akan menjadi generasi yang susah sabar Pak Gunawan, susah sekali menoleransi kelambanan dan ada satu lagi yang sama pentingnya adalah susah menerima keajegan yang sama, karena maunya yang bervariasi. Makanya anak-anak kalau tidak hati-hati sangat mudah jemu, sedikit-sedikit merasa bosan, kalau diajak orang tua alasannya adalah bosan. Kalau kita bandingkan dengan dulu, bukankah kita jarang mengatakan bosan karena memang kurang hiburan, pilihannya terbatas. Jadi kalau diajak ke luar walau hanya satu minggu sekali atau dua minggu sekali, rasanya sudah senang sekali. Tapi anak-anak sekarang kalau diajak pergi ke suatu tempat dan diminta ke sana lagi mereka sudah bosan. Jadi derajat kemampuannya untuk menoleransi yang sama itu makin hari, makin menipis. Kita mesti mengajar anak untuk belajar sabar dan juga belajar untuk menerima keajegan. Makanya sebagai hamba Tuhan saya juga semakin menyadari bahwa untuk jemaat muda agar mereka duduk diam mendengarkan khotbah, makin hari makin susah karena ini bukan lagi sebuah dialog tapi sebuah monolog, satu orang berbicara dan dia harus mendengarkan sampai empat puluh menit dan ini bukanlah sebuah hal yang mudah lagi buat generasi muda ini.
GS : Kita sebagai orang tua ini akan mengajar anak untuk tetap ajeg, untuk tetap tenang mendengarkan itu atau kita yang merubah pola kita menyampaikan, ini yang mana yang harus kita lakukan ?
PG : Saya kira perlu ada dua-duanya, Pak Gunawan, karena kita mau menjangkau generasi muda yang sudah mempunyai kemajuan teknologi, tidak ada salahnya kita memanfaatkan dua-duanya. Karena kita au menjangkau generasi muda yang sudah mempunyai kemampuan teknologi, tidak ada salahnya kita juga memanfaatkan kemajuan teknologi.
Karena di luar konteks gereja, itulah yang mereka hadapi, semua serba bervariasi, semua serba cepat tidak ada yang sama, semua cepat sekali berubahnya. Maka dalam presentasi-presentasi misalkan di perguruan tinggi, di sekolah, atau pun di gereja tidak disangka kita harus memanfaatkan kemajuan teknologi itu pula. Tapi disamping itu kita tetap harus mendampingi anak untuk menumbuhkembangkan kesabaran, untuk mengajarkan anak menerima bahwa tidak semua orang secepat yang dia inginkan, tidak semua orang bisa menciptakan sesuatu yang sangat menarik, kalau tidak anak-anak itu akan cepat sekali menyalahkan lingkungan dengan alasan membosankan, orang ini selalu sama, menjemukan. Jadi cepat sekali menyalahkan orang, tidak mempunyai lagi kemampuan untuk menoleransi bahwa orang itu berbeda darinya bahwa mungkin sekali memang orang ini tidak mampu untuk melakukan yang dia inginkan. Jadi lama-lama derajat toleransi makin menipis, ini yang kita harus pupuk terus pada anak-anak kita, harus belajar menerima dengan mengajaknya berbicara untuk memberikan kepada dia pandangan-pandangan yang berbeda dan ini nanti yang berguna bagi dia.
GS : Apakah masih ada dampak teknologi yang negatif terhadap anak, Pak Paul ?
PG : Ada satu lagi Pak Gunawan, yaitu kemajuan teknologi berpotensi pula mendorong anak untuk menjalin relasi secara dangkal karena waktu untuk bercengkerama secara langsung sekarang berkurang,sebab waktu tersita untuk menikmati semua kemajuan-kemajuan teknologi ini dalam kesendirian, dia duduk di depan komputer, telinganya dipakaikan "headset" mendengarkan iPod misalnya, kemudian tangannya cetak-cetik SMS di handphone kemudian balik lagi pada email, "chatting" dan semuanya dilakukan sendiri.
Jadi ini tidak bisa menggantikan relasi sebab permainan bersifat individual. Jadi makin hari, anak-anak itu tidak mempunyai jalinan relasi, nanti waktu mereka bekerja, waktu mereka menikah, ini bisa menjadi masalah karena kemampuan mereka berelasi tidak dipupuk dengan maksimal sebab banyak anak sekarang, daripada pergi bercengkerama dengan teman-teman lebih baik di kamar, cetak-cetik sendirian di kamar bisa berjam-jam. Sedangkan nanti bukankah dia harus berkecimpung dalam masyarakat, bergaul dengan orang lain, nantinya dia harus berkeluarga dan semua itu harus menuntut kemampuan berelasi. Semua ini yang akan menjadi duri dalam hidup mereka.
GS : Berarti itu akan memupuk anak untuk menjadi egois ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan, karena mereka susah sekali menoleransi perbedaan, kenapa orang tidak mau cepat mengerti pemikirannya, jadi lebih baik tidak perlu, pokoknya semua kembali kepada irinya sendiri.
Sedangkan untuk membuat pergaulan itu akrab, dia harus selalu belajar menempatkan diri di posisi orang lain, melihat posisi orang lain, mendengarkan orang lain dan inilah yang makin hari makin berkurang. Maka sebagai orang tua kita harus jeli melihat ini dan juga harus membatasi jam mainnya. Selain dari main itu, kita ajak dia keluar, ajak dia pergi dengan teman-temannya, sebab ini tidak boleh digantikan karena sangat penting untuk perkembangan jiwanya.
GS : Mungkin itu sebabnya makin banyak anak yang asosial, Pak Paul, yang sulit untuk bersosialisasi.
PG : Pengamatan Pak Gunawan tepat. Makin hari akan banyak anak yang tidak begitu bisa bergaul dan maunya hanya menyendiri dan anak yang seperti itu susah sekali untuk diajak bekerjasama atau bedialog, susah sekali mengalah, kehendaknya harus terjadi.
Makin hari makin banyak yang egois seperti itu.
GS : Dan itu akan membentuk suatu komunitas, yang masing-masing egois dan buat dia sebenarnya tidak masalah karena dia juga acuh dengan saya.
PG : Betul sekali dan inilah bahayanya, Pak Gunawan. Sebab mereka sekarang sudah menemukan kolam pergaulan, di mana anak-anak yang hidup di dalam pergaulan itu serupa dengan mereka sehingga merka tidak perlu lagi di luar kolam ini karena mereka sudah merasa di sini sudah ada teman.
Tapi resikonya adalah relasi mereka adalah relasi yang dangkal dan ini hanyalah untuk sementara. Bukankah pada akhirnya mereka harus bekerja, harus bersama orang, apalagi kalau menjadi pimpinan, harus mengatur manusia lain, belum lagi menjadi seorang suami atau istri, menjadi seorang ayah atau ibu, semua menuntut kemampuan untuk berelasi. Jadi tetap kita harus mendorong anak untuk keluar dari sangkar.
GS : Karena pada kenyataannya tidak semua anak mempunyai kesempatan menggunakan teknologi maju seperti sekarang ini sehingga timbul suatu gap antara mereka yang menggunakan teknologi dan mereka yang tidak mampu menggunakan teknologi itu.
PG : Tepat sekali Pak Gunawan, dan ada kecenderungan, yang sudah begitu canggih dengan teknologi akan susah sekali sabar dengan yang lain-lain dan dia akhirnya makin terkucilkan dari pergaulan.
GS : Jadi tanggung jawab kita sebagai orang tua cukup berat, kita sendiri tidak terlalu menguasai teknologi, menghadapi anak yang lebih memahami teknologi. Tapi kita mau mempersiapkan mereka menghadapi suatu kehidupan yang lebih baik, Pak Paul.
PG : Jadi memang kita harus mengatakan bahwa ini semua banyak baiknya, banyak manfaatnya tapi kita juga harus mengajarkan kepada anak-anak akan beberapa dampak negatifnya ini. Supaya mereka menadari bahwa ada beberapa yang harus mereka perhatikan dan jangan hanya tenggelam di dalam teknologi-teknologi ini.
GS : Tapi mereka ini sedang dipersiapkan untuk masa depan dimana teknologi ini memang banyak digunakan di dalam kehidupan mereka, Pak Paul.
PG : Betul. Dan sekali lagi kita tekankan kepada anak-anak bahwa teknologi komunikasi tidak bisa menggantikan komunikasi itu sendiri, bahwa komunikasi itu tetap harus dilakukan muka dengan muka relasi itu hanya bisa bertumbuh di dalam kenyataan bukan di dalam dunia maya.
Jadi inilah hal-hal yang harus kita tekankan kepada anak-anak, bagaimana kamu harus belajar bersabar, menoleransi perbedaan, mengerti orang yang tidak sama dengan kamu. Ini adalah hal-hal yang mesti kita tekankan agar jangan sampai anak-anak itu nantinya terlalu egois.
GS : Yang terpenting kita harus kembalikan ke dalam Firman Tuhan karena yang dikhawatirkan adalah mereka mempertuhankan teknologi itu. Dalam hal ini apakah ada Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Yesaya 30:15 berkata, "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." Yang terpenting adalah kita mengajar anak bahwa semuakemajuan teknologi tidak boleh menggantikan Tuhan dalam hidupnya.
Pada akhirnya semua ini tidak akan dapat menyelamatkannya dari dosa , hanya Tuhan dan kasih karuniaNya yang menyelamatkan kita dari dosa. Problem teknologi dapat dipecahkan lewat teknologi, namun masalah relasi dan hati manusia tidak akan bisa diselesaikan lewat teknologi.
GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih, Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Anak dan Kemajuan Teknologi." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kendati kemajuan teknologi dicicipi oleh semua lapisan masyarakat, namun tidak bisa disangkal bahwa kelompok remaja adalah kelompok yang paling memanfaatkan kemajuan-kemajuan ini. Lihat saja permainan video yang sekarang begitu canggih dan melibatkan tiga dimensi. Disamping itu remaja pun dapat menikmati musik lewat iPod, bercengkerama lewat chatting, sms, email, dan dapat berkreasi sekaligus berkomunikasi lewat FaceBook, dan YouTube. Tidak heran, generasi remaja sekarang dijuluki Generasi M-singkatan dari multi-tasking yang berarti melakukan beberapa hal pada saat bersamaan. Berikut adalah beberapa tanggapan terhadap pengaruh positif maupun negatif kemajuan teknologi pada perkembangan hidup anak.
Pengaruh Positif
Kemajuan teknologi tidak bisa tidak membuat anak jauh lebih fasih dengan teknologi, terutama teknologi informasi. Sudah tentu semua ini berdampak baik karena kemajuan ini membawa banyak kemudahan seperti kemudahan mendapatkan informasi dan kemudahan menjalin kontak.
Kemajuan teknologi juga telah menciptakan sebuah kolam pergaulan lewat jalur maya. Tidak bisa tidak, anak dapat mengenal dan menjalin hubungan dengan lebih banyak orang dari pelbagai belahan dunia.
Kemajuan teknologi telah menciptakan beragam permainan yang kreatif dan menantang. Banyak anak yang termasuk kategori ADHD diuntungkan oleh permainan ini oleh karena tingkat kreativitas dan tantangan yang tinggi.
Pengaruh Negatif
Kemajuan teknologi berpotensi membuat anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya sehingga menganggap bahwa apa yang dibacanya di internet adalah pengetahuan yang terlengkap dan final. Pada faktanya ada begitu banyak hal yang mesti digali lewat proses pembelajaran tradisional dan internet tidak bisa menggantikan kedalaman. Kalau tidak dicermati, maka akan ada kecenderungan bagi generasi mendatang untuk menjadi generasi yang cepat puas dan cenderung berpikir dangkal. Membaca 300 halaman buku yang ditulis secara cermat lewat proses pemikiran yang panjang tidak sama dengan membaca beberapa lembar halaman berisikan kesimpulan di layar komputer. Sebaiknya orangtua terus mendorong anak untuk membaca buku bermutu di samping memanfaatkan informasi dari internet. Juga, secara berkala ajaklah anak berdiskusi sebab proses pengambilan keputusan yang efektif tercapai lewat dialog dua arah. Lewat dialog anak dilatih untuk mendengarkan masukan atau pendapat lain sekaligus memberi respons yang tepat.
Oleh karena kemajuan teknologi membawa banyak kemudahan, maka generasi mendatang berpotensi untuk menjadi generasi yang tidak tahan dengan kesulitan. Dengan kata lain, asumsi yang tersirat dalam diri anak adalah bahwa hidup ini seharusnya mudah. Singkat kata, pada akhirnya anak berpacu untuk menyederhanakan masalah dan berupaya menghindari kesukaran. Sudah tentu orangtua tidak perlu melarang anak untuk menikmati kemudahan-kemudahan ini; tugas orangtua di sini adalah mendampingi anak tatkala ia tengah menghadapi kesulitan. Amatilah kecenderungannya untuk mencari jalan pintas dan ajaklah untuk memikirkan alternatif penyelesaian. Doronglah anak untuk bersabar dan menantikan Tuhan dalam menghadapi kebuntuan.
Kemajuan teknologi mempercepat segalanya dan tanpa disadari anak pun dikondisikan untuk tidak tahan dengan kelambanan dan keajegan. Alhasil anak makin hari makin lemah dalam hal kesabaran serta konsentrasi dan cepat menuntut orang untuk memberi yang diinginkannya dengan segera. Hal ini perlu mendapat perhatian orangtua. Sekali lagi, respons yang tepat bukanlah melarang anak untuk memanfaatkan teknologi melainkan mendorongnya untuk berkonsentrasi mendengarkan sesuatu yang bersifat monologis. Juga, ajaklah anak untuk mengembangkan toleransi yang besar terhadap perbedaan-bahwa tidak semua orang dan hal harus berjalan secepat yang diinginkannya.
Kemajuan teknologi juga berpotensi mendorong anak untuk menjalin relasi secara dangkal. Waktu untuk bercengkerama secara langsung berkurang karena sekarang waktu tersita untuk menikmati semuanya dalam kesendirian. Bahkan permainan pun bersifat individual sehingga makin memperkecil jalinan relasi. Semua ini bisa berdampak negatif terhadap pernikahannya dan relasi kerjanya kelak. Ia terbiasa menjalin relasi tidak langsung lewat jasa on-line, sehingga tidak mudah baginya untuk masuk ke dalam relasi yang mendalam. Dan, kita tahu relasi menuntut kesabaran dan ketabahan. Jadi, doronglah anak untuk tidak mengabaikan pergaulan dengan teman sebab relasi dibangun lewat pergaulan berbagi hidup.
Firman Tuhan: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu. " (Yesaya 30:15) Terpenting adalah mengajar anak bahwa semua kemajuan teknologi tidak boleh menggantikan Tuhan di dalam hidupnya. Pada akhirnya semua ini tidak akan dapat menyelamatkannya dari dosa; hanya Tuhan dan kasih karunia-Nya yang menyelamatkan kita dari dosa. Problem teknologi dapat dipecahkan lewat teknologi namun masalah relasi dan hati manusia, tidak akan dapat diselesaikan lewat teknologi.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 09/10/2008 - 2:48pm.
Abstrak:
Ada banyak alasan mengapa orang melakukan aborsi namun salah satu alasan yang paling umum adalah ketidaksiapan mempunyai anak. Apa pun posisi kita tentang aborsi, pada umumnya kita mendasari pandangan itu pada status kehidupan si anak dalam kandungan. Sudah tentu hal ini tidak salah namun sesungguhnya kita pun mesti menyoroti masalah aborsi dari sudut rencana Allah dalam hidup kita.
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Aborsi". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Ada banyak orang yang melakukan pengguguran anak atau aborsi dan dengan alasan yang bermacam-macam. Alasan apa yang biasa dikemukakan, Pak Paul?
PG : Memang ada beberapa namun yang umum adalah tidak siap mempunyai anak. Ada yang tidak siap karena telah memiliki banyak anak, ada yang belum siap karena belum ingin mempunyai anak kendati sdah menikah, atau ada yang belum siap karena belum dalam status menikah.
Tapi memang benang merahnya adalah ketidaksiapan mempunyai anak.
GS : Biasanya bisa diketahui kondisi anak di dalam kandungan, misalnya melalui USG dan terdapat kecacatan pada anaknya dan dia mengetahuinya kemudian mereka melakukan aborsi, apakah tepat kalau itu dijadikan alasan ?
PG : Itu kadang juga dilakukan meskipun kasus seperti ini tidak dilakukan sebanyak yang seperti telah saya sebutkan, nanti kita akan membahas bagaimana kita bersikap untuk kasus-kasus seperti ii dan yang penting untuk kita soroti adalah bukan masalah si anak itu, kebanyakan argumen-argumen tentang aborsi adalah tentang anak itu, apakah dia sudah menjadi seorang anak atau belum atau hanya masih berbentuk janin dan sebagainya, kapan kehidupan itu mulai dan sebagainya, jadi terlalu fokus yang diberikan kepada si anak.
Yang akan saya lakukan adalah menyoroti masalah aborsi ini dari sudut rencana Allah dalam hidup kita. Jadi kita mau menengadah ke atas, kita mau melihat kita dan Tuhan, Tuhan dan kita. Dan bagaimana kita menempatkan aborsi dalam hubungan kita dengan Tuhan.
GS : Dalam hal ini apa yang bisa disampaikan kepada kami, Pak Paul ?
PG : Untuk kita bisa membahaskan secara konkrit, saya memilih untuk menyoroti peristiwa kelahiran Tuhan Yesus yaitu pada waktu malaikat datang memberitakan kepada Maria, Ibu Yesus, bahwa dia akn mengandung dan bahwa dia akan melahirkan Tuhan Yesus.
Memang sudah tentu ada perbedaan besar antara penyebab kehamilan Maria dan kehamilan lainnya dewasa ini namun ada kesamaan situasi yang dialami wanita yang mengalami kehamilan yaitu dalam hal ini orang-orang tersebut tidak siap, dan Maria pun saat itu juga tidak siap. Kita akan melihat beberapa respons yang diperlihatkan Maria dan mudah-mudahan inilah yang bisa kita timba dalam kehidupan kita sewaktu kita menghadapi masalah yang sama. Yang pertama adalah kita mesti memiliki konsep yang benar tentang siapakah kita di hadapan Tuhan sewaktu malaikat Tuhan mengabarkan bahwa dia akan mengandung bayi Yesus. Maria adalah seorang gadis belia yang telah bertunangan dengan Yusuf dan dapat dibayangkan betapa terkejutnya Maria, dalam tanda kutip interupsi yang dialaminya itu, tidak ada angin dan hujan malaikat Tuhan datang, memberitahukan bahwa dia akan mengandung seorang anak sedangkan dia belum menikah. Ini adalah sebuah interupsi, sebuah kejutan, kehamilan bukanlah sesuatu yang ada dalam rencana kehidupannya, ini bisa kita pastikan. Dalam masa sekarang ada juga wanita yang tidak mengharapkan kehamilan oleh karena pelbagai alasan, biasanya respons yang diberikan adalah tidak menerimanya dan berusaha menghilangkan janin dalam kandungan karena kita tidak bisa menerima bahwa "Kenapa saya hamil, ini bukan dalam rencana kehidupan saya," maka kebanyakan atau wanita berkata, "Sudahlah saya tidak mau menerimanya, saya hilangkan saja janin dalam kandungan," tapi sekarang kita akan melihat bagaimana Maria menyikapi interupsi ini. Firman Tuhan di Lukas 1:38, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Maria menempatkan diri sebagai hamba Tuhan dan siap menerima apa pun yang ditetapkan Tuhan atasnya, sebaliknya orang yang memutuskan diri untuk aborsi tidak menempatkan diri sebagai hamba di hadapan Tuhan. Kita mesti melihat kehamilan sebagai penetapan Tuhan dan apa pun yang ditetapkanNya, menyenangkan atau tidak, harus kita terima karena kita adalah hambaNya.
GS : Ini menjadi masalah jika dia belum menikah, padahal kasusnya sama seperti Maria tapi Maria menyadari kalau kehamilannya datang dari Roh Kudus tapi seorang gadis yang belum menikah kemudian hamil. Apakah bisa menggunakan alasan ini, Pak Paul?
PG : Dengan kata lain, dia harus berkata bahwa meskipun dia hamil karena dosa yang dilakukannya tapi dia mesti menempatkan dirinya bahwa inilah yang Tuhan tetapkan dan inilah yang harus terjadi sebab kita mengetahui bahwa tidak semua orang mempunyai kesempatan mempunyai anak meskipun berusaha mencoba.
Jadi kalau benar-benar dia hamil, ini adalah sebuah tindakan Allah untuk menghadirkan seorang manusia di dalam dunia maka kita harus bersikap sebagai hamba, kita harus menerima penetapan itu, meskipun anak itu dikandung dari hubungan seksual di luar pernikahan yang memang adalah dosa. Namun sekali lagi kita mesti menempatkan diri sebagai hamba. Kalau kita berkata, "Saya tidak mau, saya mau hilangkan, saya mau aborsi," berarti kita menempatkan diri di hadapan Tuhan bukan sebagai hamba, kita menempatkan diri sebagai orang yang setara dengan Tuhan, makanya kita merasa tidak harus menerima penetapan Tuhan ini, kita merasa kita mempunyai hak yang sama dengan Tuhan. Ini adalah sikap yang mesti kita pelajari dari Maria.
GS : Tapi seringkali yang dipakai sebagai alasan adalah, "Saya tidak mampu membesarkan anak ini, dari pada anak ini menderita maka dilakukan aborsi saja."
PG : Nanti kita akan menyadari bahwa kita ini orang yang terbatas, kalau memang tidak mungkin kita membesarkan anak ini di usia yang masih muda, dalam kondisi yang seperti ini, biarkanlah ! Nani Tuhan akan menetapkan orang tua yang lain untuk mengasuh dan membesarkan anak ini tapi pada intinya adalah, sikap kita adalah sikap seorang hamba, bukan sikap yang langsung mau mengambil keputusan, mengatur atas hidup kita.
Hidup ini bukan milik kita lagi, hidup ini milik Tuhan, jadi kita tidak lagi mempunyai hak atas hidup ini, atas hidup kita dan sebagainya, ini semua adalah hak milik Tuhan. Dan sikap seperti ini yang sering luput dilihat oleh banyak orang dalam menghadapi kehamilan di luar nikah.
GS : Karena kadang-kadang dia memikirkan tentang dirinya, didalam hal ini orang tersebut seringkali merasa dirinya sudah berdosa, jadi tidak berani mengaku sebagai hamba Tuhan.
PG : Jadi hamba di sini sudah tentu dalam pengertian sebuah sikap bahwa saya itu bukanlah pemilik atau empunya dari dunia ini, saya adalah hamba dan Tuhanlah yang empunya hidup saya atau diri sya, maka saya tidak berhak mengambil keputusan, dan hanya Tuhan sendiri yang memiliki keputusan itu.
GS : Termasuk juga pasangan suami istri yang mungkin keduanya sudah menggunakan alat kontrasepsi, tapi seberapa jauh alat ini akan mencegah tidak terjadi kehamilan, nyatanya tetap ada kehamilan terjadi dan ini juga sikap yang harus diambil.
PG : Betul. Jadi memang tadi saya sudah singgung, kebanyakan aborsi dilatar belakangi oleh ketidaksiapan untuk mempunyai anak, baik dalam naungan pernikahan maupun bukan di dalam pernikahan sebb memang tidak siap dengan adanya anak.
Dalam kasus dimana orang sudah menikah dan akhirnya hamil sering berkata, "Anak kita sudah banyak dan saya tidak mau lagi," itu salah! Kita harus menempatkan diri sebagai hamba, bukan kita yang memiliki hidup ini tapi Tuhan. Maka kalau Dia sudah menetapkannya seperti ini maka kita mesti menerima porsi ini.
GS : Untuk bisa sampai kepada konsep seperti itu Pak Paul, kita juga harus mempunyai konsep yang benar dulu tentang sebenarnya Tuhan itu siapa bagi kita ?
PG : Tepat sekali. Jadi kita mesti mempunyai konsep yang benar tentang siapakah Tuhan, kalau kita kembali lagi kepada Maria, kita bisa melihat Maria mempercayai sepenuhnya akan perkataan Malaikt Tuhan kepadaNya, di Lukas 1:37 ditulis "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil," ini sebuah perkataan yang luar biasa sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil, Allah adalah Tuhan pencipta dan penguasa alam semesta beserta isinya.
Maria tidak dapat menggunakan nalarnya untuk memahami apa yang tengah Tuhan lakukan kepadanya sebab hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya, Dia belum pernah melalui RohNya yang Kudus masuk dan dilahirkan sebagai manusia. Namun Maria percaya tidak ada yang mustahil bagi Dia, Maria tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di hari esok, ia tahu jika itu berasal dari Allah maka Allah akan memeliharanya. Kalau kita akan terapkan pada zaman sekarang ini, wanita yang hamil di luar kesiapannya pasti memikirkan hari esok dan memikirkan banyak hal. Kita mesti percaya bahwa Tuhan bukanlah Allah yang terbatas, Allah sanggup melakukan apa pun asal kita tunduk kepada kehendakNya dan hidup di dalam jalanNya sebab tidak ada yang mustahil bagi Allah.
GS : Kalau kita melihat kehidupan Maria, memang sejak awal Maria ini sudah dipersiapkan dididik oleh orang tuanya sehingga mempunyai konsep yang benar tentang Tuhan. Dan bagaimana dengan mereka yang melakukan aborsi ini, tapi tidak mempunyai konsep yang benar tentang Tuhan ?
PG : Memang kita mesti mengajaknya melihat Allah lebih luas dari pada dirinya dan pemikirannya. Seringkali orang yang dirundung masalah, hamil di luar nikah atau sedang mengalami kehamilan yan tidak diinginkan, tidak melihat Tuhan seluas dan sebesar Tuhan apa adanya, justru menyempitkan Tuhan sesempit pemikiran manusia, bahkan kita sudah membayangkan semua yang buruk yang akan menimpa kita, tidak ! Tuhan itu lebih besar, Dia berkuasa, Dia sanggup memelihara baik kita maupun anak ini.
Sekali lagi jangan kita khawatirkan, kita hanya perlu taati Tuhan, jangan mencemaskan Tuhan, taati saja Tuhan, kita lakukan kehendak Tuhan, jalani perintahNya saja. Nanti Tuhan akan pelihara anak ini, sekali lagi kalau kita belum siap untuk memelihara anak ini, akan ada orang tua lain yang nanti akan Tuhan tetapkan untuk mengasuh dan memelihara anak ini. Mungkin kita pernah punya kenalan yang telah dianugerahkan anak dari adopsi, kita bisa melihat sukacita mereka memperoleh anak, memang mereka merindukan seorang anak tapi mereka bisa melahirkan. Ada orang yang dulu tidak punya anak dan sekarang punya anak, hidupnya begitu berbeda, penuh dengan sukacita, dan memang anak itu pada masa kecil benar-benar tidak tahu bahwa ibu ini bukan ibu yang melahirkan dia dan ayah yang sekarang ini bukanlah ayah kandungnya, dia tidak tahu ! Dan memang tidak penting, karena yang diperlukan anak adalah kasih sayang, perawatan pemeliharaan dari orang tuanya. Inilah yang diperlukan oleh anak dan ada orang tua lain yang memberikan semua ini.
GS : Kalau seseorang tidak memiliki konsep yang benar dengan Tuhan, bukan tidak mungkin dia menyalahkan Tuhan kenapa bisa sampai terjadi kehamilan, padahal dia belum siap. Pasti Tuhan juga tahu kalau dia tidak siap.
PG : Memang kembali kepada satu pokok hal yang mesti kita angkat yaitu kita mesti memiliki konsep yang benar tentang rencana Allah, kalau kita menyalahkan Allah, kita sebetulnya berkata bahwa "uhan mengapa rencanaMu bisa salah, melenceng, saya bisa hamil seperti ini."
Kita mesti memiliki konsep yang benar tentang rencana Allah, kita akan kembali lagi kepada Maria. Maria tidak bisa melihat rencana keselamatan Allah untuk menebus dosa manusia, mustahil bagi dia memahami rencana Allah yang melampaui batas waktu dan wilayah itu, dia belum mengerti tentang Yesus yang menjadi Juruselamat bagi manusia, dan dia baru diberitahu oleh Malaikat. Tapi ini yang penting yaitu dia bersukacita, dia dapat menjadi bagian dari rencana Allah. Maria percaya bahwa bayi yang dikandungnya merupakan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Itu sebabnya dia berseru di Lukas 1:46-47, "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku," coba kita terapkan dalam kondisi sekarang ini. Sewaktu kita hamil di luar kesiapan biasanya reaksi kita adalah ini semua di luar rencana Allah. Sesungguhnya kebalikannya yang terjadi, memang ini di luar rencana manusia tapi di dalam rencana Allah, ada rencana Allah yang ingin digenapiNya lewat kelahiran anak ini, mungkin anak ini akan harus diserahkan kepada pihak yang lebih siap untuk membesarkannya. Namun yang pasti adalah Tuhan memiliki rencana akan keberadaannya di dunia ini, jadi terima dan sayangi anak ini.
GS : Memang posisi Maria saat itu sangat sulit Pak Paul, apalagi pada zaman saat itu, dimana tidak ada orang yang mentolerir ada gadis hamil Pak Paul. Sebenarnya bagaimana Maria bisa mengatasi perasaannya bahwa Dia pasti akan dicemoohkan orang, Pak Paul.
PG : Dalam hal ini kita bisa melihat sebuah kehidupan anak Tuhan yang begitu matang, diduga umur Maria saat itu masih belasan tahun sebab pada masa itu wanita-wanita Yahudi menikah pada usia yag masih sangat belia.
Tapi kita bisa membayangkan tingkat kematangan rohani yang begitu tinggi dalam diri Maria, begitu matangnya dia sehingga dia tidak lagi menghiraukan tentang hidupnya, tentang reputasinya, tentang pandangan orang terhadap dirinya, sebab dia tahu ini dari Tuhan. Sebab dia yakin karena ini dari Tuhan, dia percaya ini adalah rencana Tuhan dan rencana Tuhan akan Tuhan genapi untuk kebaikan. Maka dia bersedia menjadi bagian dari rencana Tuhan. Dari percakapan pertama dengan Malaikat kita bisa melihat bahwa tidak ada spirit atau roh pemberontak dalam diri Maria. Memang kalau kita bandingkan kelahiran Yohanes Pembaptis, ayahnya seorang imam besar Zakharia, waktu dia diberitahukan bahwa nanti dia akan mempunyai anak di hari tuanya, responsnya adalah dia susah percaya. Tapi seorang Maria yang berusia belia, tidak memiliki pendidikan kerohanian yang tinggi tapi memiliki kerohanian yang begitu tinggi, maka dengan apa adanya dia langsung menerima, apa pun konsekuensi, dia berani tanggung karena dia tahu kalau dia berjalan di dalam rencana Allah, demikian juga kepada wanita yang tengah menghadapi masalah yang sama, yang penting lakukanlah semua seturut dengan cara dan kehendak Tuhan, yang terpenting adalah taatilah Tuhan. Jangan khawatirkan yang lainnya, Tuhan akan dapat menolong, Tuhan akan dapat memelihara kalau kita tahu bahwa kita berjalan di dalam kehendak Tuhan, benar-benar kita tidak perlu lagi takut akan konsekuensi dari manusia.
GS : Dan rupanya dia sangat yakin bahwa keluarganya pun juga memahami hal ini Pak Paul, dengan dia berkunjung ke rumah Elisabet dan ternyata Elisabet juga bisa menyambut Maria dengan baik.
PG : Dan bukan saja disambut tapi dikonfirmasi bahwa pada akhirnya bayi yang dikandung olah Maria adalah dari Allah sendiri. Makanya Elisabet langsung berkata bahwa, "Anak dalam kandungannya (Yoanes pembaptis) langsung melonjak seolah-olah bersukacita bisa melihat Yesus", bahkan masih dalam wujud kandungan ibunya.
GS : Memang kadang-kadang kita masih bisa mengabaikan pandangan masyarakat, tapi pandangan keluarga juga penting, karena kita tidak bisa lari. Tapi Maria cukup percaya diri untuk bisa melakukan itu.
PG : Yang kita bisa simpulkan adalah bahwa orang tua Maria pun juga tidak ada sedikitpun keraguan tentang integritas putri mereka, karena mereka melihat seperti apa puteri mereka, tidak mungkinputeri mereka ini akan mengarang sebuah cerita.
Kalau orang yang tidak percaya kepada anaknya akan dengan cepat menuduh anaknya, "Kamu mengarang cerita, mana mungkin Allah turun ke atas kamu dan kamu akan mengandung dan melahirkan anak dari Roh Tuhan yang Kudus itu, tidak mungkin. Kamu hanya mengarang cerita menutupi dosa dan aibmu," tapi itu tidak terjadi ! Dan rupanya orang tuanya memiliki kepercayaan yang penuh kepada puteri mereka, dia hanyalah seorang anak yang memang taat kepada Tuhan, hidup saleh di hadapan Tuhan. Maka mereka percaya, kalau itu yang dikatakan Maria berarti itu yang terjadi. Jadi kita bisa melihat sebuah keharmonisan dan Tuhan menetapkan ini semua terjadi di dalam sebuah keluarga yang Tuhan tahu akan sanggup menerima Maria dan memberi dukungan kepada dia tanpa harus menambahkan penderitaan Maria karena disalah mengerti.
GS : Jadi dalam hal ini sebenarnya peranan keluarga untuk bisa menerima Maria apa adanya ini sangat penting dan menolong Maria untuk bisa menjalani masa kehamilannya dengan baik, Pak Paul. Karena Yusuf sendiri pada mulanya juga mau menceraikan Maria dengan diam-diam.
PG : Betul sekali. Dan mungkin pendengar kita yang belum begitu mengerti tentang kebudayaan Yahudi akan bertanya-tanya, "Tadi dikatakan dia belum menikah, masih bertunangan tapi ada istilah maubercerai."
Karena memang di dalam adat istiadat mereka, ada tahapan-tahapan sebelum pernikahan. Jadi yang paling akhir adalah sebuah pesta pernikahan, namun sebelumnya itu ada yang disebut dengan pertunangan tapi pertunangan itu lebih serius lagi. Jadi sebuah pengikatan dengan sebuah kepastian, nanti hanya tinggal menunggu hari dimana mereka akan dinikahkan. Jadi statusnya sama yaitu mengikat tapi memang belum tinggal bersama. Tahap sebelum itu adalah tahap pertunangan seperti yang kita sudah kenal sekarang, dimana kedua orang itu akan dikenalkan misalkan mereka saling menyukai maka diikat sebagai tunangan dan itu masih dalam tahap pertama, dan statusnya memang tidak sama dengan pertunangan tahap kedua. Maria dan Yusuf rupanya sudah sampai pada pertunangan tahap kedua, maka kalau sampai berpisah, maka itu prosesnya sama persis dengan perceraian dalam pernikahan.
GS : Pak Paul, mungkin ada konsep lain yang perlu dipahami ?
PG : Yang terakhir adalah kita mesti memiliki konsep yang benar tentang dosa. Dosa adalah sikap dan tindakan melawan kehendak Allah karena tidak lagi mempercayai dan memperlakukannya sebagai Alah, Tuhan tidak membiarkan dosa, Tuhan menghukum perbuatan dosa.
Maria berkata di Lukas 2:48-53 "Sebab Tuhan memperhatikan kerendahan hambaNya, dan RahmatNya turun atas orang yang takut akan Dia, Ia menceraiberaikan orang yang congkak hatinya, Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar." Maria tahu bahwa Tuhan adalah Allah yang Kudus dan bahwa Tuhan menghukum perbuatan dosa, melawan kehendak Tuhan adalah dosa, kehamilan adalah bukti kehidupan yang Tuhan ciptakan dalam hidup kita, dalam tubuh kita dan itu berarti Tuhan menghendaki adanya kehidupan yang baru lewat tubuh kita. Firman Tuhan berkata di Mazmur 119:73, 139:16, "Tangan-Mu telah menjadikan aku dan membentuk aku, mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." Jadi janganlah kita berbuat dosa dan menghilangkan ciptaan Tuhan yang hidup yang telah dititipkannya kepada kita.
GS : Jadi kalau ada kehamilan di luar nikah dan direncanakan untuk melakukan aborsi, sebenarnya kita melakukan dosa dua kali, Pak Paul. Bisa terjadi suatu kehamilan itu sudah merupakan dosa dan melakukan pengguguran dengan aborsi ini menjadi dosa yang lain lagi, Pak Paul.
PG : Betul Pak Gunawan, kita jangan sampai menyelesaikan dosa dengan melakukan dosa yang lain. Maria memang memiliki pengertian yang jelas tentang dosa, Tuhan akan menceraiberaikan orang yang cngkak tapi Tuhan akan melimpahkan orang yang lapar.
Jadi dia tahu bahwa Tuhan akan menghukum dosa dan kita mesti memiliki konsep yang benar tentang dosa pula, jangan menambahkan dosa pula, kehamilan adalah bukti bahwa inilah yang Tuhan kehendaki, ada kehidupan dalam tubuh kita dan Dia menghendaki untuk kehidupan itu ada, jangan kita menghilangkannya. Jadi inilah yang Tuhan minta dari kita, saya mengerti ini semua tidak gampang dilewati, cobaan, godaan untuk aborsi akan sangat kuat dan sangat banyak, bahkan mungkin dari keluarga sendiri. Tapi kita mesti kembali kepada kita dan Tuhan, bagaimanakah kita bisa mempertanggungjawabkan semua ini di hadapan Tuhan. Jadi ingat kita dan Tuhan, lakukanlah apa yang Tuhan kehendaki dan berjalanlah di dalam kehendakNya itu.
GS : Kalau memang dia sudah menikah, dukungan suami terhadap istri sangat penting sekali Pak Paul, kalau suaminya justru menganjurkan untuk aborsi maka ini akan memposisikan si calon ibu ini dengan kondisi yang sangat sulit sekali.
PG : Betul. Memang dalam hal ini si ibu juga harus tegas tapi juga harus dengan lembut menyadarkan suami bahwa kita jangan melihat anak ini tapi kita lihat Tuhan, Tuhan yang memberikan maka Tuhn akan memelihara kita.
Apakah nanti kita yang memeliharanya itu masalah kedua, mungkin Tuhan menghendaki anak ini dipelihara oleh orang lain yang memang lebih sanggup. Jadi bicaralah kepada suami seperti itu, kalau suaminya berkata, "Baiklah kita pelihara sama-sama, kita sayangi anak ini, kita percayakan kepada Tuhan hidup kita ini." Jadi sekali lagi fokusnya tidak lagi pada si anak, tapi pada Tuhan dan kita dengan Tuhan.
GS : Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Aborsi." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ada banyak alasan mengapa orang melakukan aborsi namun salah satu alasan yang paling umum adalah ketidaksiapan mempunyai anak. Ada yang tidak siap karena telah mempunyai banyak anak; ada yang tidak siap karena belum ingin mempunyai anak kendati telah menikah; ada pula yang tidak siap karena belum dalam status menikah. Apa pun posisi kita tentang aborsi, pada umumnya kita mendasari pandangan itu pada status kehidupan si anak dalam kandungan. Sudah tentu hal ini tidak salah namun sesungguhnya kita pun mesti menyoroti masalah aborsi dari sudut rencana Allah dalam hidup kita.
Untuk memperoleh pemahaman yang tepat akan hal ini, kita akan menimba pelajaran dari kisah Maria, ibu Tuhan kita Yesus Kristus. Kendati ada perbedaan besar antara penyebab kehamilan Maria dan kehamilan lainnya, namun ada kesamaan situasi yang dihadapi wanita yang mengalami kehamilan dalam ketidaksiapan. Berikut adalah sikap atau respons yang diperlihatkan Maria dapat kita terapkan dalam hidup ini.
Konsep yang benar tentang siapakah kita di hadapan Tuhan. Sewaktu malaikat Tuhan datang untuk mengabarkan bahwa ia akan mengandung bayi Yesus, Maria adalah seorang gadis belia yang telah bertunangan dengan Yusuf. Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Maria dengan "interupsi" yang dialaminya ini. Kehamilan bukanlah sesuatu yang ada di dalam rencana kehidupannya. Ada wanita yang tidak mengharapkan kehamilan oleh karena pelbagai alasan. Biasanya respons yang diberikan adalah tidak menerimanya dan berusaha menghilangkan janin dalam kandungan. Namun lihatlah bagaimana Maria menyikapi "interupsi" ini: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38) Maria menempatkan diri sebagai hamba Tuhan dan siap menerima apa pun yang ditetapkan Tuhan atasnya. Sebaliknya, orang yang memutuskan untuk melakukan aborsi tidak menempatkan diri sebagai hamba di hadapan Tuhan.
Konsep yang benar tentang siapakah Tuhan. Maria mempercayai sepenuhnya akan perkataan malaikat kepadanya, "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (Lukas 1:37) Allah adalah Tuhan, pencipta dan penguasa alam semesta beserta isinya. Maria tidak dapat menggunakan nalarnya untuk memahami apa yang tengah dilakukan Allah atasnya namun Maria percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Wanita yang hamil di luar kesiapan pasti memikirkan hari esok dan mengkhawatirkan banyak hal. Kita mesti tetap percaya bahwa Allah bukanlah Allah yang terbatas; Allah sanggup melakukan apa pun asal kita tunduk kepada kehendak-Nya dan hidup dalam jalan-Nya. Tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Konsep yang benar tentang rencana Allah. Maria tidak dapat melihat rencana keselamatan Allah untuk menebus dosa manusia. Mustahil baginya memahami rencana Allah yang melampaui batas waktu dan wilayah itu, tetapi ia bersukacita dapat menjadi bagian dari rencana Allah. Maria percaya bahwa bayi yang dikandungnya merupakan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Itu sebabnya ia berseru, "Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku" (Lukas 2:46-47). Sewaktu kita hamil di luar kesiapan, biasanya reaksi kita adalah, bahwa ini di luar rencana Allah. Sesungguhnnya kebalikannyalah yang terjadi: Ini di luar rencana manusia tetapi di dalam rencana Allah! Mungkin nantinya anak ini akan harus diserahkan kepada pihak yang lebih siap untuk membesarkannya, namun yang pasti adalah Tuhan memiliki rencana akan keberadaannya di dunia ini. Jadi, terima dan sayangilah anak ini.
Konsep yang benar tentang dosa. Dosa adalah sikap dan tindakan melawan kehendak Allah karena tidak lagi mempercayai dan memperlakukan-Nya sebagai Allah. Tuhan tidak membiarkan dosa; Tuhan menghukum perbuatan dosa. Maria berkata, "sebab Ia memperhatikan kerendahan hamba-Nya . . . dan rahmat-Nya turun atas orang yang takut akan Dia . . . Ia menceraiberaikan orang yang congkak hatinya . . . Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar . . . ." (Lukas 2:48-53). Maria tahu bahwa melawan kehendak Tuhan adalah dosa; kehamilan adalah bukti kehidupan yang Tuhan ciptakan dalam hidup kita dan itu berarti Ia menghendaki adanya kehidupan yang baru lewat tubuh kita. Firman Tuhan berkata, "Tangan-Mu telah menjadikan aku dan membentuk aku . . . . mata-Mu melihat selagi aku bakal anak dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satu pun dari padanya." (Mazmur 119:73; 139:16) Jadi, janganlah kita berdosa dan menghilangkan ciptaan Tuhan yang hidup yang dititipkannya kepada kita.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 09/10/2008 - 2:46pm.
Abstrak:
Kita sering berasumsi bahwa natal adalah hari yang menyenangkan sehingga kita sibuk untuk menyiapkan segala sesuatu, dan seringkali kita juga bertukar kado untuk mengungkapkan kegembiraan kita dengan orang yang kita sayangi. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa natal adalah sebuah kisah sedih? Sebagai orang tua, apa yang harus kita sampaikan kepada anak-anak kita, sehingga mereka lebih mengerti arti natal yang sesungguhnya?
Transkrip Isi:
Lengkap
GS : Pak Paul, pada akhir tahun seperti ini biasanya setiap keluarga bersiap-siap menyambut Natal dan itu memang suatu momen yang indah, yang penuh arti, penuh makna bukan hanya untuk kita pribadi tapi juga untuk anggota keluarga kita. Namun perlu diakui tidak semua keluarga bisa menikmati atau menyelenggarakan itu Pak Paul, sebenarnya Natal adalah Tuhan Yesus sendiri hadir di tengah-tengah keluarga Yusuf dan Maria. Bagaimana untuk kita aplikasikan pada zaman sekarang ini, Pak Paul ?
PG : Betul sekali yang Pak Gunawan sudah katakan tadi, bahwa Tuhan memilih sebuah keluarga untuk menjadi tempat dimana Dia hadir, itu adalah sebuah peristiwa yang tidak bisa kita abaikan begitusaja seolah-olah itu peristiwa biasa, tidak! Itu menandakan bahwa memang Tuhan mengerti sesungguhnyalah seorang anak harus dibesarkan di dalam sebuah keluarga yang menyambut dan mengasihinya.
Di dalam keluarga, Tuhan Yesus diterima dibesarkan dalam kasih dan akhirnya menjadi seorang dewasa bahkan dikatakan di dalam Firman Tuhan bahwa Tuhan dikatakan makin hari makin bertumbuh. Keluarga mempunyai sebuah simbol juga di dalam makna Natal ini, sebab keluarga adalah tempat dimana kasih itu harus menjadi sebuah suasana, menjadi sebuah jiwa dari sebuah keluarga dan itu menandakan bahwa anak seharusnya memang bertumbuh di dalam sebuah lingkup yang penuh dengan kasih, barulah dia dapat bertumbuh seperti bagaimana adanya. Ini sedikit banyak merupakan sebuah simbol juga bahwa di dalam keluarga Allah seharusnyalah ada kasih yang melimpah dimana semua anak-anak akhirnya akan menerima kasih dari Allah Bapa di surga. Yang kedua, saya rasa ada yang Tuhan juga ingin lakukan lewat keluarga di dalam Natal ini yaitu bukankah yang digunakan adalah bahasa keluarga yaitu Allah Bapa, Allah Putra. Yesus dipanggil sebagai Anak Allah, makanya dikatakan juga bahwa Allah mengasihi sehingga menyerahkan atau memberikan Putra tunggalNya. Lewat keluarga, barulah kita memahami sedikit banyak makna pengorbanan kedatangan Kristus ke dalam dunia ini yaitu demi kasih Allah Bapa kepada kita anak-anakNya maka Allah Bapa rela mengorbankan Putra Tunggalnya. Atau kalau kita kaitkan dengan kita ini, Tuhan Allah mengorbankan Putra sulungnya agar kita saudara-saudaraNya, adik-adikNya dari Tuhan Yesus Kristus bisa pulang kembali ke rumah Allah Bapa. Bahasa-bahasa ungkapan ini bisa dimengerti oleh manusia karena manusia mempunyai keluarga, jadi memang tanpa kita ketahui dari awalnya Tuhan sudah mempunyai sebuah desain, sebuah rancangan, kenapa Tuhan menetapkan adanya keluarga di dalam bumi ini, bukan hanya supaya anak-anak kita bisa dibesarkan dalam kasih sehingga anak-anak nanti setelah besar pun dapat menjadi manusia-manusia yang utuh tapi sekaligus keluarga menjadi sebuah miniatur relasi, suatu perlambangan antara Allah dan kita manusia sehingga kita lebih dapat memaknai pengorbanan Allah Bapa yang harus menyerahkan dan melepaskan putraNya, Tuhan Yesus Kristus untuk kita supaya akhirnya kita bisa dipersatukan kembali dengan Allah.
GS : Memang ada satu keunikan di dalam hubungan keluarga ini, yang rasanya hanya manusia saja yang mengalami kehidupan berkeluarga ini.
PG : Betul sekali Pak Gunawan, memang kita harus menyadari bahwa begitu banyaknya hal-hal yang kita harus hadapi dan melalui keluarga pulalah kita nantinya akan mendapatkan kekuatan dan penghibran.
Khusus untuk masalah Natal ini yang kita akan kaitkan dengan keluarga sebetulnya lewat Natal keluarga, kita lebih bisa memaknai kasih Allah Bapa yang begitu besar, bahwa sebetulnya Natal adalah kisah sedih seorang Bapak yang merelakan kematian putraNya demi menyelamatkan anak-anakNya yang lain yaitu kita sendiri dan ini adalah faktanya sesungguhnya anak-anakNya bukanlah anak-anak yang baik tapi melawanNya, meninggalkanNya bahkan menolak mengakuiNya sebagai Bapak namun Dia tetap mengasihi kita, Dia mengundang kita kembali ke rumahNya untuk menjadi bagian dari keluargaNya, kendati pun Ia harus mengorbankan PutraNya Yesus Kristus. Jadi Natal adalah kisah kasih antara Bapak kepada anak-anakNya, Natal adalah juga bukti kasih Bapak kepada anak-anakNya.
GS : Memang seringkali kita mendengar kesaksian atau kita membaca kisah-kisah seputar Natal dimana relasi antara anak dan ayah atau suami dan istri itu di pertautkan kembali, Pak Paul.
PG : Seringkali itu terjadi dan sudah tentu itu adalah harapan kita dimana akhirnya orang tua yang tadinya berpisah, maka lewat Natal mereka bisa dipersatukan kembali atau relasi orang tua dan nak yang tadinya sudah retak akhirnya dijahit kembali, sudah tentu itu adalah harapan kita semua dan sesungguhnyalah itu yang harus terjadi sebab Natal mengingatkan kepada kita bahwa Allah Bapa mengorbankan, merelakan diriNya melepaskan PutraNya untuk menjahit relasi dengan kita, untuk membangun kembali sesuatu yang telah terhilang.
Jadi seharusnyalah Natal mendorong kita untuk melakukan pengorbanan yang sama, kalau Allah Bapa rela melepaskan PutraNya demi kita anak-anakNya yang lain, yang sebetulnya juga tidak baik, kemudian melawanNya tidak menghormatiNya dan berdosa kepadaNya tapi Dia begitu rela. Kita pun juga mesti belajar dari Allah mesti melakukan hal yang sama pula.
GS : Jadi apa yang seharusnya kita lakukan yang menjadi suatu tanggapan bagi kita sebagai orang tua kepada Tuhan, waktu menjelang memperingati Natal, Pak Paul ?
PG : Yang pertama adalah kita dapat mengajak anak untuk berterima kasih kepada Tuhan atas kasihNya yang begitu besar. Jadi sekali lagi pada waktu Natal inilah kita menekankan kepada anak-anak, ersyukur kepada Tuhan atas kasih Tuhan yang begitu besar.
Kita bisa membacakan kisah Natal yang terdapat di Matius 1:18 hingga Matius 2:12, kita bisa membacakan Lukas 2:1-20, itu adalah peristiwa menjelang Natal, dan setelah itu pada hari Natal kita bisa membacakan untuk keluarga Filipi 2:5-11. Disana dijelaskan makna pengorbanan kedatangan Kristus bahwa Tuhan Yesus tidak mempertahankan hakNya, kedudukanNya sebagai Allah di sorga, Dia merelakan mengosongkan diriNya menjadi seorang Hamba hingga mati di kayu salib, itulah makna dari Natal. Jadi kita bacakan Filipi 2 sehingga kita tidak hanya terpaku pada gambar Tuhan Yesus sebagai bayi kecil saja, tapi kita juga bisa melihat makna di belakangnya yaitu pengorbanan seorang Putra Allah untuk datang ke dunia. Kita bisa memberikan kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyatakan syukur kepada Allah Bapa yang telah rela melepaskan Kristus datang ke dunia untuk mati bagi kita.
GS : Membacakan kisah-kisah Natal seringkali juga menjadi masalah buat orang tua karena kebanyakan anak sudah memahami dan sudah mengerti kisahnya, bagaimana supaya apa yang kita bacakan itu tetap didengar oleh mereka, Pak Paul ?
PG : Kita bisa membuat variasi misalnya kita meminta untuk seseorang membacakan menjadi narator, kita bisa meminta anak yang satu membacakan dari pihak malaikat atau dia bisa membacakan atau meyuarakan Maria, ibu Yesus dan sebagainya.
Dengan cara-cara seperti itu saya kira anak-anak akan lebih tertarik untuk membacakannya. Maka tadi saya sudah singgung, penting sekali setelah membacakan kisah Natal kita membaca juga Filipi 2:5-11 sehingga anak-anak memperoleh perspektif bahwa kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini bukanlah sebuah kedatangan agar kita bisa merayakan Natal dan bersukacita di hari Natal, tapi akhirnya kita mempunyai hubungan kembali dengan Allah. Katakan kepada anak-anak, "Kalau Yesus tidak datang, kita tidak bisa berdoa kepada Allah Bapa, kita tidak bisa mempunyai jaminan bahwa setelah kita meninggalkan dunia ini maka kita akan pulang ke rumah Bapa di sorga, kita tidak bisa mendapatkan berkat-berkat dari Allah Bapa untuk kita karena kita akan tetap menjadi orang-orang yang telah berbuat dosa dan telah bersalah kepada Tuhan tapi karena kedatangan Tuhan dan kematian Tuhan maka semua dosa-dosa itu telah ditanggung oleh Tuhan sehingga kita bisa kembali merajut relasi dengan Allah Bapa. Jadi semua kita mesti jelaskan kepada anak-anak.
GS : Dan untuk doa, kita memang tidak perlu menuntut mereka untuk berdoa yang panjang-panjang tetapi yang sungguh-sungguh yakni apa yang mereka syukuri dengan mengingat peristiwa Natal ini, Pak Paul.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi kita jangan mengharapkan anak-anak bisa memanjatkan doa-doa yang kompleks dengan kata-kata yang juga manis di- dengar, itu tidak perlu ! Tapi minta mereka mnggunakan bahasa anak-anak menyatakan syukur kepada Tuhan.
GS : Selain hal mengucap syukur, mungkin ada hal lain, Pak Paul ?
PG : Yang berikut adalah sebagai orang tua kita bisa membagikan perasaan kita, bagaimana perasaan kita jika kita harus merelakan kepergian seorang anak agar bisa membawa pulang anakNya yang lai, kita bisa tanyakan kepada anak, bagaimana perasaannya bila harus terjadi pada keluarga ini.
Misalkan kita berkata, "Bagaimana perasaan kalian kalau supaya adik pulang, kakak harus pergi dan tidak ada di rumah lagi, bagaimana rasanya, bisa tidak kita memilih itu." Anak-anak saya duga akan berkata, "Tidak bisa, saya tidak mau kehilangan kakak supaya adik kembali dan sama kami juga tidak mau kehilangan adik supaya kakak kembali." Itulah yang Allah Bapa harus lakukan agar kita anak-anakNya yang lain kembali kepada Tuhan, maka Dia harus merelakan, melepaskan Tuhan Yesus. Dengan cerita seperti ini, anak-anak akan tergugah untuk lebih memahami betapa besar pengorbanan seorang ayah, betapa besar pengorbanan seorang Allah Bapa, yang dilandasi atas kasih. Itulah yang kita tekankan kepada mereka, itu berarti bukankah Allah Bapa begitu mengasihi kita, begitu besar kasihNya sehingga Dia rela melepaskan Putra tunggalNya. Jadi anak-anak melalui pembahasan seperti ini akan lebih mengerti, Pak Gunawan apa itu arti Natal bagi mereka.
GS : Apakah itu tidak akan menimbulkan suatu kekhawatiran di dalam diri anak bahwa perpisahan itu menjadi sesuatu yang sangat berat, Pak Paul ?
PG : Memang tidak bisa tidak anak akhirnya harus disadarkan bahwa perpisahan itu adalah sesuatu yang sangat berat dan itulah harga yang Tuhan rela bayar supaya kita bisa untuk selamanya tidak aan pernah berpisah lagi dari Tuhan.
Jadi kita tekankan kepada anak-anak kita, kalau Tuhan Yesus tidak datang ke dunia, kita selama-lamanya akan terpisah dari Tuhan tapi karena Dia datang ke dunia maka kita dapat pula merajut kembali relasi dengan Allah Bapa, betapa besar harga yang harus dibayar tapi sekali lagi kita tekankan Allah rela membayarnya karena kasihNya yang begitu besar kepada kita. Ini akan membawa kita kepada point berikutnya, kita bisa langsung bertanya kepada mereka, sebetulnya apakah perbuatan kita begitu baik sehingga Allah rela mencintai kita sebegitu besarnya. Kita bisa bertanya kepada anak-anak, "Apa yang telah mereka lakukan untuk Tuhan, yang membuat Tuhan rela memberikan pengorbanan sebesar itu." Akhirnya yang kita ingin tekankan kepada anak-anak adalah bahwa bukankah sebetulnya kita tidak melakukan apa-apa untuk Tuhan, kita tidaklah melakukan hal-hal yang baik untuk Tuhan tapi kenapa Dia rela, melepaskan putraNya bahkan mati untuk kita, sekali lagi itu menunjukkan betapa besarnya kasih Tuhan. Justru kita katakan kepada mereka seringkali bukannya perbuatan baik yang kita lakukan untuk Tuhan, tapi kita melakukan perbuatan yang mengecewakan Tuhan, kebalikannya. Berapa banyak di antara kita kalau marah memaki orang, berapa banyak di antara kita yang kadang-kadang berdusta, justru kita melakukan hal-hal yang buruk tapi Tuhan tetap mengasihi kita dan rela melepaskan Yesus, di hari Natal datang ke dunia. Kita tekankan itu berarti Allah mengasihi kita tanpa syarat, meskipun kita tidak layak untuk dipanggil Anak Allah, tapi Dia memanggil kita anak Allah dan bahkan mengorbankan PutraNya untuk mendapatkan kita yang tidak layak menjadi anakNya.
GS : Jadi momen Natal juga bisa menjadi suatu momen untuk bisa mengintrospeksi diri, untuk mengevaluasi diri baik secara pribadi maupun secara bersama-sama seperti suatu keluarga, Pak Paul.
PG : Betul, kita bisa menggunakan kesempatan itu untuk memeriksa, bercermin diri, apakah yang telah kita lakukan untuk Tuhan, berapa banyak, berapa besarkah hal-hal yang telah kita perbuat untu Tuhan ataukah kebalikannya bukannya melakukan hal yang baik untuk Tuhan, justru kita melakukan hal-hal yang mengecewakan Tuhan.
Mungkin anak-anak sudah besar dan bisa diajak bicara, dan di waktu Natal itulah kita bisa saling membagikan kelemahan-kelemahan kita, perbuatan-perbuatan yang telah kita lakukan tidak menyenangkan hati Tuhan, di samping kita pada akhirnya meminta ampun kepada Tuhan, mengakui dosa kita, kita juga bisa melakukan hal yang sama satu sama lain. Mungkin di saat itulah ayah berkata kepada anaknya, "Nak, Papa ingin minta maaf. Papa kadang-kadang kurang sabar kepadamu, Papa kadang-kadang tidak membangun tapi malah melukai hati kamu dengan perkataan Papa." Atau Mama bisa berkata, "Nak, aku juga mau minta maaf kepadamu. Aku sepertinya tidak percaya kepadamu, selalu menyuruh-nyuruh kamu melakukan ini dan itu sehingga tidak memberikan kepercayaan kepadamu bahwa kamu itu sudah mampu, Mama minta maaf juga." Dengan kita memelopori, mengakui kesalahan pada anak dan anak-anak pun nantinya termotivasi melakukan hal yang sama kepada kita maupun kepada adiknya atau kakaknya.
GS : Walaupun itu sesuatu yang tidak mudah dilakukan oleh orang tua apalagi dalam suasana seperti itu dimana orang mengharapkan bergembira ria dan sebagainya, ini bisa menurunkan derajat dari kesukacitaan itu tadi, Pak Paul.
PG : Memang akan sedikit banyak mempengaruhi dalam pengertian menghilangkan suasana ceria itu, Pak Gunawan. Tapi memang tadi saya sudah tekankan, sesungguhnya Natal adalah sebuah kisah sedih Alah Bapa yang kehilangan Allah Putra.
Jadi inilah sesuatu yang mesti kita sadari, kenapakah sampai Allah Bapa harus mengirimkan Allah Putra ? Karena kita ini memang perlu ditolong. Kenapakah kita ini perlu ditolong ? Sebab kita ini sudah hidup di dalam dosa dan tidak ada lagi yang bisa menolong kita dari jerat dosa dan terutama tidak ada yang bisa lagi membebaskan kita dari hukuman dosa selain kedatangan dan akhirnya kematian Putra Allah sendiri. Justru itulah makna Natal yang perlu kita dengarkan sebab itulah intinya kedatangan Tuhan di dunia ini, Tuhan datang ke dunia ini bukan untuk berpesta pora, Tuhan datang ke dunia ini bukan untuk bergaul dan berteman ria, Tuhan datang ke dunia ini mengorbankan Kerajaan Sorga, mengorbankan diriNya menjadi begitu terbatas sebagai seorang Bayi. Dari seorang Allah yang tanpa batas dan akhirnya 33 tahun kemudian harus mati, dengan kata lain kita harus membagikan cerita yang menyedihkan ini dan saya justru percaya ketika kita bisa mengakui kesalahan, perbuatan-perbuatan kita yang tidak baik, yang tidak menyenangkan Tuhan dan juga melukai sesama, justru itu akan menjahit kembali relasi. Sebagaimana tadi yang Pak Gunawan telah angkat yaitu betapa baiknya atau betapa indahnya, kalau di hari Natal kita bisa merajut kembali relasi yang tadinya sudah renggang atau terputus. Memang langkah pertama untuk merajut relasi adalah pengakuan apa yang telah kita perbuat, kesalahan apa yang telah kita lakukan dan meminta maaf kembali kepada sesama.
GS : Mungkin ada hal lain yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Yang terakhir, Pak Gunawan, karena Natal adalah bukti kasih Allah maka ajaklah anak untuk menyatakan bukti kasih kepada Allah pula. Selain dari dorongan untuk memberi dan berkorban bagi yag lain, tekankanlah bahwa kehadiran Kristus di hari Natal adalah untuk mengajak anak-anakNya yang telah meninggalkanNya untuk kembali kepadaNya.
Jadi kita bisa bertanya kepada anak-anak, "Siapakah yang ingin mereka doakan," ajak mereka untuk mengenal Kristus, sekali lagi kita harus mengingatkan anak-anak bahwa tugas Tuhan belum selesai, pekerjaan Tuhan masih tersisa, Dia sebetulnya mati untuk semua orang tapi tidak semua orang mengakui dan menerima kematianNya, memang semua orang telah mendengar tentang Tuhan Yesus tapi tidak semua orang memahami hal ini dan tidak semua orang mengakuiNya. Maka kita juga harus meneruskan pekerjaan Tuhan yang belum selesai itu, memberikan kepada orang bahwa Tuhan mengasihi kita semua dan Tuhan telah mengirimkan putraNya untuk datang dan mati bagi kita, supaya kita bisa membenahi relasi kembali dengan Allah Bapa. Maka kita tanya kepada anak-anak, siapa teman-teman mereka yang mereka ingin doakan supaya suatu hari kelak bisa menerima Kabar Baik ini, bahwa Yesus telah datang ke dunia dan akhirnya mati untuk dosa mereka. Kemudian kita bisa berdoa bersama untuk nama-nama yang telah mereka sebutkan itu.
GS : Mungkin juga bukan hanya teman-teman dari anak-anak kita tapi juga mungkin ada kerabat yang anak-anak kita kenal dan kita juga kenal yang masih belum percaya Tuhan dan mengalami banyak kesulitan, bisa kita doakan bersama, Pak Paul.
PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi bukan hanya teman-teman tapi orang-orang yang mereka kenal yang mereka tahu belum mengenal Tuhan Yesus. Mereka sebutkan atau kita sebutkan dan kita doakan besama sehingga lewat itu anak-anak juga mulai ditanamkan kepedulian kasih kepada sesama terutama yang belum mengenal Tuhan supaya orang-orang ini akhirnya bisa mengenal Tuhan.
GS : Jadi acara Natal keluarga seperti ini sebetulnya sifatnya lebih tertutup Pak Paul, jadi hanya untuk keluarga inti kita sendiri.
PG : Tepat sekali Pak Gunawan, sebab kalau kita mengundang banyak orang akhirnya kita hanya berpesta ria, tapi kalau kita hanya menggunakannya pribadi sebagai satu keluarga, ini akan sangat menekatkan satu sama lain, bukan saja kita akan mempunyai perspektif yang tepat akan Natal dan kedatangan Tuhan tapi kita juga bisa memperbaharui relasi kita dengan Tuhan dan relasi kita dengan sesama yaitu dengan sesama anggota keluarga.
GS : Dan biasanya pada acara Natal seperti ini Pak Paul, kita biasa tukar-menukar kado, saling memberikan hadiah dan sebagainya, itu seringkali juga menimbulkan masalah dimana anak-anak merasa tidak sesuai dengan harapannya, dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Maka kalau bisa lebih menekankan aspek ini, kita tetap bisa menyampaikan kepada mereka bahwa kita akan sering memberikan hadiah atau kado sebagai tanda kasih kita kepada satu sama lain tap ini bukanlah Natal, ini bukanlah makna Natal itu sendiri, namun kita tetap melakukannya untuk saling menyenangkan hati satu sama lain.
Dengan kata lain, kita mengajak anak untuk melihat perspektif sebenarnya sehingga mereka diajar untuk tidak menekankan pada masalah hadiah ini.
GS : Pak Paul, ada suatu keluarga yang merindukan kesempatan seperti itu tapi karena tugas dan sebagainya akhirnya mereka berpisah Pak Paul, bagaimana supaya mereka tetap bisa mewujudkan keinginan mereka meskipun di tempat terpisah, Pak Paul ?
PG : Karena sekarang kemajuan teknologi sudah begitu baik, mungkin bisa dilakukan lewat email, telepon atau lewat SMS, sehingga masing-masing tetap bisa bukan saja menghaturkan "Selamat Natal" api mungkin antara ayah atau ibu dan anak-anak ada sebuah pengakuan bahwa, "Saya telah melakukan ini dan saya mohon maaf kepadamu," sehingga kembali relasi itu bisa dijahit kembali.
GS : Jadi tetap bisa diwujudkan suatu interaksi yang baik di antara keluarga ini ?
GS : Karena Natal sendiri merupakan interaksi Allah secara langsung dengan manusia.
PG : Betul. Allah berinisiatif untuk merajut kembali relasi yang telah putus itu.
GS : Pak Paul, mungkin sebelum mengakhiri perbincangan ini ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul bacakan ?
PG : Saya akan bacakan ayat yang kita semua kenal Yohanes 3:16 untuk mengingatkan bahwa sesungguhnya inilah arti Natal, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengarniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."
Natal adalah karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Itulah Natal.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini, dan saya rasa pada tempatnya kalau kita mengucapkan "Selamat Natal" dan juga keluarga-keluarga yang dengan setia mengikuti acara Telaga ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Natal dan Keluarga". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Keluarga adalah desain Tuhan untuk manusia hidup dan dibesarkan dalam kasih. Puncak kasih adalah penyatuan, bukan hanya keintiman. Di dalam keluarga kasih antara dua individu mengecap titik tertingginya. Di dalam keluargalah anak bertumbuh dalam kasih dan belajar mengasihi. Secara alamiah kita mengasihi anak sebab anak adalah darah dan daging-perpanjangan-diri kita. Kasih adalah gizi mutlak yang diperlukan anak untuk dapat bertumbuh dengan sehat. Namun di dalam keluarga pulalah anak belajar mengasihi. Setelah menerima kasih, anak belajar membalas kasih orangtua dan pada akhirnya ia pun belajar mengasihi kakak adik, teman dan orang di sekitarnya. Inilah rencana Tuhan akan keluarga; itulah sebabnya dari semua ciptaan-Nya, hanya manusialah yang didesain untuk berkeluarga.
Keluarga juga merupakan miniatur relasi Tuhan dengan manusia. Allah adalah Bapa dan kita adalah anak-anak-Nya. Kita diciptakan Tuhan dan menerima nafas kehidupan juga dari Tuhan. Kita dikasihi Tuhan sebab Ia adalah kasih dan Ia telah menetapkan kita untuk menjadi penerima kasih-Nya. Surga pun merupakan sebuah keluarga di mana Allah adalah Bapa dan Kristus adalah Putra Allah. Namun Allah Bapa rela melepaskan Putra-Nya untuk meninggalkan surga, turun ke dunia, dan akhirnya mati untuk menggantikan kita, anak-anak Allah.
Jadi, Natal adalah kisah sedih seorang Bapa yang merelakan kematian Putra-Nya demi menyelamatkan anak-anak-Nya yang lain. Sesungguhnya kita, anak-anak-Nya, bukanlah anak-anak-Nya yang baik. Kita melawan-Nya, meninggalkan-Nya, bahkan menolak mengakui-Nya sebagai Bapa. Namun Ia tetap mengasihi kita; Ia mengundang kita kembali ke rumah-Nya untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya. Kendati untuk melakukan semua itu, Ia harus mengorbankan Putra-Nya, Yesus Kristus. Natal adalah kisah kasih antara Bapa kepada anak-anak-Nya; Natal adalah bukti kasih Bapa kepada anak-anak-Nya.
Apakah yang seharusnya menjadi respons kita selaku orangtua kepada Tuhan sewaktu kita memperingati Natal?
Pertama, ajaklah anak untuk berterima kasih kepada Tuhan atas kasih-Nya yang begitu besar. Bacalah kisah Natal (Matius 1: 18 s/d 2:1-12; Lukas 2:1-20) kemudian bacalah Filipi 2:5-11 untuk menjelaskan makna pengorbanan kedatangan Kristus ke dunia. Berilah kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyatakan syukur kepada Allah Bapa yang telah rela melepaskan Kristus datang ke dunia untuk mati bagi kita.
Kedua, bagikanlah perasaan kita sebagai orangtua jikalau kita harus merelakan kepergian seorang anak agar dapat membawa pulang anak yang lain. Tanyakanlah kepada anak, bagaimana perasaannya bila itu harus terjadi pada keluarganya ini. Jelaskanlah kepadanya bahwa inilah yang terjadi pada waktu Natal: Allah Bapa harus melepaskan Putra-Nya Kristus supaya kita bisa pulang kembali ke rumah Bapa.
Ketiga, ceritakan kepada anak bahwa Tuhan mengasihi kita anak-anak-Nya kendati kita melawan-Nya dan tidak mau mendengarkan-Nya. Bagikanlah pengalaman pribadi kita kepada anak, bagaimanakah dulu kita pun melawan Tuhan dan menolak mendengarkan-Nya. Kemudian tanyakanlah kepada anak, bagaimanakah ia telah melawan Tuhan dan menolak mendengarkan-Nya.
Keempat, karena Natal adalah bukti kasih Allah, ajaklah anak untuk menyatakan bukti kasih kepada Allah. Selain dari dorongan untuk memberi dan berkorban bagi yang lain, tekankanlah bahwa kedatangan Kristus di hari Natal adalah untuk mengajak anak-anak-Nya yang telah meninggalkan-Nya untuk kembali kepada-Nya. Tanyakanlah kepada anak siapakah yang ingin ia doakan dan ajak untuk mengenal Kristus. Setelah itu doakanlah bersama.