Masalah Hidup
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:47am.
Abstrak:
Orang tua adalah manusia yang tidak sempurna dan sebagai manusia yang tidak sempurna, mereka dapat berbuat salah. Sudah tentu masuk penjara adalah konsekuensi yang menyesakkan dan membuat kita sebagai anak merasa malu. Selain malu kita pun juga menghadapi kebinggungan tatkala orang lain menanyakan keberadaan orang tua kita. Apa yang mesti kita lakukan?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Bila Orang Tua Masuk Penjara". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Memang sesuatu hal yang tidak bisa diduga dan tidak diharapkan, tapi bisa menjadi kenyataan, pada suatu saat di keluarga tertentu orang tuanya harus berurusan dengan hukum dan ditahan bahkan dipenjara sebagai pihak yang bersalah. Ini tentu saja membawa dampak yang sangat buruk terhadap keluarganya, tetapi bagaimana sikap seorang anak bila berhadapan dengan masalah seperti ini, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa yang bisa saya bagikan, Pak Gunawan. Yang pertama kepada anak, saya berkata jangan tergesa-gesa menguburkan rasa marah kepada orang tua yang telah berbuat salah. Maksud saya, biarkanlah kemarahan itu muncul janganlah kita langsung meredamnya, menguburnya dan berkata, "Saya tidak boleh marah, seharusnya saya mendukung, seharusnya saya mengampuni" dan sebagainya. Kemarahan seperti ini justru adalah kemarahan yang wajar, jangan terburu-buru memutihkannya. Pengampunan akan datang dan mesti diberikan namun sekali lagi kemarahan pun adalah bagian yang nyata dan normal. Tanpa pengakuan akan kemarahan dan rasa malu, pengampunan hanyalah menjadi selimut penutup, tidak menyelesaikan malah menjauhkan hubungan kita dengan orang tua yang bersangkutan karena kita masih menyimpan rasa malu dan marah itu tapi kita merasa berkewajiban memutihkannya dengan pengampunan, akhirnya hubungan itu tidak bisa lagi dekat. Jauh lebih sehat jika kita akui kemarahan ini, jika memungkinkan sampaikanlah kepada beliau bahwa kita kecewa karena perbuatannya. Akui juga bahwa kita malu dan marah kepadanya, selain dari ini adalah bagian dari proses yang wajar, ini juga peringatan kepada orang tua untuk tidak mengulang perbuatan yang sama, dengan kita menyampaikan perasaan yang sesungguhnya, kita memberitahukan bahwa sungguh perbuatannya berdampak menyakitkan pada kita sebagai anak-anaknya.
GS : Di dalam hal ini tentu saja anak-anak ini sudah cukup dewasa untuk bisa mengerti masalah itu, Pak Paul. Kalau anak-anak masih terlalu kecil tentu tidak akan punya sikap yang seperti itu.
PG : Betul sekali, biasanya ini hanya bisa dilakukan oleh anak-anak yang sudah remaja. Kalau masih terlalu kecil biasanya ia juga tidak mengerti apa yang terjadi dengan orang tuanya.
GS : Tetapi seringkali teman-temannya entah karena informasi dari orang tua mereka, lalu anak-anak yang masih belum mengerti ini menjadi bahan ejekan, bahwa ayahnya atau ibunya itu dipenjarakan.
PG : Betul jadi kadang-kadang anak-anak yang masih kecil itu tahu dari orang lain atau tahu dari orang tua temannya. Jadi ia harus bisa menerima ejekan-ejakan dari temannya dan dia harus pulang dan dia akan menanyakan kepada ibunya dan ibunya dalam hal ini harus berkata terus-terang kalau itu yang dikatakan oleh teman-temannya, bahwa memang ayahmu sedang dalam penjara, sedang menerima hukuman sebab berbuat salah. Ibunya dapat menjelaskan, "Kamu juga kadang-kadang menerima hukuman karena berbuat salah, dan sekarang ayah juga sedang mendapat hukuman karena berbuat salah". Tapi kita harus menjelaskan kepada si anak itu, "Kamu waktu berbuat salah, dihukum, tapi setelah dihukum, kita kembali berdekatan". Kita baikan lagi dan nanti juga setelah papa pulang, kita akan baikan lagi, kita tidak akan memusuhi papa, sama seperti kami juga tidak memusuhi kamu.
GS : Tapi yang seringkali terjadi di pihak yang terhukum itu, pihak yang dipenjarakan itu tidak mau menyadari dan tidak mau mengakui kalau dia bersalah dan mempersulit hubungan antara orang tua dengan anak itu sendiri, Pak Paul.
PG : Jadi bila orang tua menolak untuk mengambil tanggungjawab atau malah balik marah menyalahkan kita, maka kita mesti mundur dengan teratur. Jangan paksakan dan mencoba membuatnya berubah, ternyata beliau memang belum bertobat atau terlalu angkuh untuk mengakui kesalahannya. Jadi saran saya kepada anak yang orang tuanya seperti ini maka sudah biarkan. Berdoalah untuknya agar ia mengalami pertobatan yang sesungguhnya, tapi tidak perlu si anak memaksa atau meminta orang tua mengakui kesalahannya, meminta dia untuk bertobat dan sebagainya. Hal itu tidak perlu karena kalau orang tua belum siap, masih menyalahkan sana sini, tidak mau mengambil tanggungjawab, maka kita tidak dapat berbuat banyak.
GS : Apakah ada bedanya kalau orang tua itu masih dalam status tahanan atau sebagai narapidana yang sudah divonis bersalah ?
PG : Memang ini tergantung pada orang yang bersangkutan, Pak Gunawan. Ada orang yang sebelum masuk penjara pun sudah sangat hancur, sudah sangat menyadari ia bersalah, ia berdosa dan ia menyesali perbuatannya tapi ada juga orang yang sampai dilepaskan dari penjara pun tidak merasa bersalah, malah menyalahkan orang lain. Jadi tergantung pada orang itu sendiri.
GS : Kemarahan ini sering dilakukan oleh orang yang kehilangan kebebasan karena dipenjara, jadi kalau kita balik marah akan mengakibatkan konflik yang lebih tajam, tapi kalau kita tidak marah maka kemarahan ini mau kita lampiaskan ke mana, padahal jelas-jelas kita mengetahui bahwa yang salah adalah orang tua kita sendiri ?
PG : Kita bisa melakukannya langsung kepada orang tua yang bersangkutan sebelum dia masuk penjara atau setelah dalam penjara waktu kita berkunjung namun kita lihat suasananya apakah memungkinkan. Tetap kita juga harus berdoa meminta waktu Tuhan yang tepat, tapi point saya adalah jangan kita tergesa-gesa menguburkan rasa marah dan rasa malu itu. Justru kita angkat kita akui, itu jauh lebih sehat sebab dari titik berangkat itulah nanti kita bisa mengampuni orang tua dengan sepenuhnya.
GS : Hal yang lain yang perlu diperhatikan kalau orang tuanya dipenjarakan, apa Pak Paul ?
PG : Relasi dengan orang tua yang ditinggal di rumah akan sangat bergantung dari tanggapannya terhadap masalah ini. Jadi misalkan ibu yang di rumah, ibu diamuk kemarahan dan kepahitan, sudah tentu kita hanya dapat menghiburnya dan memberinya waktu untuk pulih. Bila ibu malah balik menyalahkan orang dan secara membabi buta, membela ayah yang dipenjarakan, sudah tentu reaksi ini akan memadamkan keinginan kita untuk dekat dengannya. Jika sebaiknya kita mundur teratur dan membiarkannya mencerna apa yang terjadi. Jika pada akhirnya ia siap menerima kenyataan, berbicaralah kepadanya dan hiburlah hatinya, namun bila ia tetap bersikeras untuk hidup dalam dunia penyangkalan maka biarkanlah. Kita tidak bisa memaksa orang untuk bertobat.
GS : Jadi dalam hal ini kita menghadapi pihak pasangan yang ada di rumah, jadi bukan yang dipenjarakan ?
PG : Betul dalam hal ini jadi misalkan ibu yang di rumah, kita harus bijaksana bagaimana berelasi dengan ibu. Tadi saya sudah singgung ada ibu yang dewasa, yang terbuka dan berkata, "Ya, ayahmu salah." Tapi ada ibu yang membela mati-matian suaminya, membabi buta menyalahkan orang lain atau waktu kita berkata, "Tapi ayah pun salah," dia marah kepada kita. Memang ini menyulitkan si anak, sudah tentu si anak sebetulnya ingin ada tempat di mana dia bisa menumpahkan rasa sedihnya, tapi kalau si ibu bereaksi seperti itu sudah tentu si anak susah untuk dekat dengannya. Apabila si anak mau bercerita misalnya, "Tadi di sekolah teman-teman mengejeknya" tapi dia tidak berani, dia takut nanti ibunya marah, mengamuk dan berkata, "Kamu lawan balik, kamu jangan terima dan sebagainya". Penting sekali orang tua yang ditinggal di rumah bersikap bijaksana dan matang sebab ini akan membuka pintu dialog dengan anak. Kita sebagai orang tua justru memberikan kekuatan kepada anak-anak, tetapi kalau kita tidak dewasa seolah-olah kita menutup pintu untuk anak-anak masuk dan berbagi rasa dengan kita.
GS : Tapi disamping itu si anak ini juga harus hati-hati ketika berbicara dengan ibunya, karena ibu juga dalam kondisi sangat sedih, sangat peka terhadap perkataan orang lain, Pak Paul.
PG : Betul jadi si anak selalu harus berhati-hati menggunakan kata-kata yang tidak menyudutkan tapi mesti jujur juga dengan perasaannya. Sekali lagi saya ingatkan, sebagai anak dia harus bisa menilai apakah ibunya siap atau tidak siap untuk diajak bicara. Apakah ibunya bisa melihat masalah dengan objektif atau tidak. Kalau ibu tidak objektif, sangat membela suami dengan membabi buta, itu akan menyusahkan anak untuk bisa berbagi rasa dengan dia.
GS : Biasanya memang memunyai kecenderungan seperti itu, Pak Paul, karena ini pasangannya dan untuk menutupi supaya jangan sampai timbul kesan yang negatif dari anak kepada ayahnya.
PG : Atau kebalikannya juga bisa terjadi, Pak Gunawan. Ada ibu yang karena marah kepada suaminya yang telah menyusahkannya pada masa lampau, sekarang menyusahkannya lagi dengan masuk ke penjara, ia mengamuk dan marah sekali, penuh dengan kebencian dan kepahitan. Sudah tentu ini juga akan menutup pintu komunikasi dengan anak. Anak yang sudah melihat ibunya penuh dengan kepahitan akhirnya tidak mau bicara. Sekali lagi saya katakan, relasi kita dengan orang tua yang ditinggalkan di rumah sangat bergantung dari reaksi orang tua itu sendiri. Kalau orang tua itu bersikap dewasa, hal itu akan menolong si anak, tapi kalau orang tua tidak bersikap dewasa membabi buta membela pasangan atau sebaliknya terus menyalahkan pasangan dan penuh dengan kebencian serta kepahitan. Dua reaksi itu akan menutup pintu komunikasi dengan anak yang sebetulnya sangat membutuhkan tempat untuk berbagi rasa.
GS : Itu baru hubungan orang tua dengan anak, belum lagi anak dengan saudara-saudara kandungnya, Pak Paul? Tentu punya pandangan yang berbeda-beda pula tentang ayah yang dipenjarakan ini.
PG : Itu sebabnya, tidak bisa tidak harus kita simpulkan bahwa pemenjaraan orang tua sering kali membawa bibit perpecahan ke dalam keluarga, di antara kakak dan adik serta antara orang tua dan anak juga. Ada misalkan yang bereaksi marah dan malu, kemudian menyalurkannya secara keliru misalkan dengan menimbulkan pemberontakan atau perilaku menyimpang lainnya. Anak yang menunjukkan perilaku memberontak atau menyimpang itu otomatis akan dijauhkan atau berjauhan dengan anggota keluarga yang lain atau ada yang tidak mau membicarakan hal ini sama sekali dan memilih untuk menyembunyikan semua perasaan di dalam hatinya. Selain menutup diri mungkin ia pun mengucilkan diri dari pergaulan, akhirnya tidak ada komunikasi dengan kakak atau adiknya atau orang tuanya. Ada pula yang berusaha membela orang tua dan bersikap defensif terhadap siapa pun yang berbicara buruk tentang orang tua. Sudah tentu ada anak yang tidak setuju, ada anak yang berkata, "Ayah salah, kamu jangan membelanya secara membabi buta". Yang membela membabi buta pasti marah mendengar kata-kata seperti ini. Jadi sekali lagi intinya, pemenjaraan orang tua membawa bibit perpecahan ke dalam keluarga. Semua reaksi yang berbeda ini menciptakan sekat antara anggota keluarga dan kondisi ini sangat menyedihkan dan kadangkala tidak banyak yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya. Di sini kita bisa melihat dosa bersifat menghancurkan, tidak ada yang baik dari dosa itu. Reaksi terbaik dalam kondisi seperti ini adalah membiarkan waktu berjalan, prinsip terpenting yang perlu diterapkan adalah jangan memaksakan apa pun. Setiap orang memerlukan waktu untuk mencerna apa yang terjadi dan setiap kita memberi respons yang tidak sama terhadap masalah yang berat ini.
GS : Tentu ini menjadi tugas yang berat bagi pihak yang ada di rumah, Pak Paul, sementara misalnya suaminya di penjara maka ibu ini memunyai tanggungjawab ganda, menjadi ibu dan ayah sekaligus serta membuat agar keluarga ini tidak terpecah-belah lagi.
PG : Betul sekali. Maka tugas yang sangat berat itu harus dipikul oleh satu orang, maka kita yang terlibat harus belajar jangan sampai mengulang perbuatan yang salah itu, karena efeknya berat untuk satu keluarga. Betul yang tadi Pak Gunawan katakan, biasanya ibu itu akan hidup dalam ketertekanan yang berat. Misalnya ketertekanan menyambung kehidupan dan bekerja di luar untuk bisa menyokong kehidupan keluarga, belum lagi ia harus menerima keluhan dari anak, belum lagi tudingan dari orang di sekeliling, belum lagi menyatukan keluarga karena adanya perpecahan ini. Yang satu marah, yang satu tidak mau bicara jadi dia harus mengurus semuanya dan memang berat sekali.
GS : Dalam hal ini, sebenarnya apa yang dapat dilakukan oleh si ibu ?
PG : Dalam hal ini sudah tentu ia harus mendapatkan kekuatan khusus, supernatural dari Tuhan. Dia mesti tiap hari duduk bersama dengan Tuhan, berdoa membaca Firman-Nya karena Tuhan ingin menolongnya. Tuhan tidak ingin justru ia menghadapi semua ini sendirian. Jadi akan ada kekuatan ekstra yang Tuhan berikan kepadanya dan akan ada hikmat dari surga yang Tuhan akan berikan kepadanya, sehingga ia tahu bersikap baik kepada orang-orang di luar maupun kepada anak-anaknya sendiri. Langkah konkretnya misalnya, ia mengajak anak-anaknya berdoa setiap malam, dia mengajak anak-anaknya untuk bercerita, untuk saling membagikan. Tapi kalau ada anak yang diam yang tidak mau berbicara jangan dipaksakan, biarkan mungkin pada waktu yang tepat secara pribadi si ibu dapat mendekati si anak dan berkata, "Mama melihat kamu sendiri saja, kamu tidak bicara dengan siapa-siapa, mama jadi khawatir, tapi mama mengerti kamu mungkin tidak nyaman berbicara. Kalau memang kamu tidak siap tidak apa-apa. Tapi ketika kamu siap, mama di sini mau mendengarkannya". Atau kadang-kadang si mama tetap mengajak anak-anaknya melakukan aktifitas bersama, pergi ke sana ke sini atau menikmati liburan sehingga sedapat-dapatnya memutar roda kehidupan senormal mungkin.
GS : Jadi sebenarnya kalau anak-anak memahami berapa tertekannya ibunya pada saat itu, mereka tentu bisa memberikan dukungan kepada ibunya agar tetap bisa bertahan dalam kondisi yang sulit ini, Pak Paul.
PG : Betul, Pak Gunawan. Jadi seyogianya itu yang terjadi dalam keluarga.
GS : Seringkali juga anak-anak menjadi liar, melakukan kegiatan-kegiatan di luar rumah dan sebagainya yang sulit sekali dikontrol oleh ibunya.
PG : Ini merupakan bentuk dari pelampiasan kemarahan, Pak Gunawan. Jadi si anak itu frustrasi ayahnya masuk ke penjara, membuat dia malu. Kadang-kadang si anak mau melakukan apa pun untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi adakalanya ini juga yang terjadi, Pak Gunawan. Kita ini manusia berdosa dan di dalam keberdosaan kita ingin melakukan hal-hal yang salah, namun karena orang tua menjadi benteng pertahanan moral, kita jadi dikuatkan untuk tidak melanggar, tidak melakukan dosa karena adanya orang tua yang tetap menjaga nilai moral dalam keluarga kita. Begitu orang tua masuk ke penjara seolah-olah benteng itu runtuh, seolah-olah kita diberi ijin untuk berbuat apa pun. Ayah pun masuk ke penjara, ayah pun hidupnya berengsek seperti itu, berarti saya juga bebas mau melakukan apa saja. Kadang-kadang perbuatan memberontak dan menyimpang keluar sewaktu seseorang masuk ke penjara.
GS : Katakan kita punya saudara yang sepaham dengan kita, kalau kita terlalu dekat dengan dia ini menjadi satu kelompok tersendiri yang seolah-olah menentang pihak-pihak lain yang tidak sepaham dengan kita, Pak Paul.
PG : Betul Pak Gunawan, itu sebabnya kita mesti menghindari kedekatan dengan anggota keluarga, misalnya jangan karena dia sepaham dengan kita, maka dia menjadi ekstra dekat dengan kita sedangkan dengan yang lain-lainnya kita tidak dekat, sebab kalau itu yang terjadi maka yang namanya bibit perpecahan lama kelamaan menjadi buah perpecahan. Benar-benar nantinya setelah masalah ini lewat dan orang tua kita pulang kembali, dia merasa tersisihkan oleh kita, menyimpan rasa sakit hati. Dia akan berkata, "Dulu kamu selalu dengan adik, selalu bicara dengan adik, tidak pernah bicara dengan saya. Ada apa-apa kamu tidak pernah cerita dengan saya, tidak pernah tanya pendapat saya, selalu hanya tanya pendapat adik". Kalau pun nanti masalah selesai, ayah pun pulang dari penjara, sakit hati itu ada, tersisa, alangkah baiknya kalau kita tidak hanya merasa lebih dekat dengan kakak atau adik yang sepaham dengan kita tapi sebaiknya kita juga dekat dengan semuanya. Dengan cara itu kita bisa tetap menjaga keutuhan keluarga kita.
GS : Bagaimana kalau kita begitu dekat dengan ibu sementara ayah di penjara, apakah dampaknya juga sama ?
PG : Saya kira anak-anak yang lainnya akan merasa lebih tidak suka terhadap ibu, karena ibu lebih mau bicara dengan kita bukan dengan yang lain-lainnya. Mengapa ibu membedakan? Mungkin sekali itu menimbulkan rasa sakit hati dari anak-anak yang lain terhadap ibunya.
GS : Padahal maksud kita dekat dengan ibu itu untuk memberikan penghiburan, kekuatan, begitu Pak Paul. Tapi bisa disalah mengerti seperti itu ?
PG : Bisa, kecuali anak-anak yang lain secara langsung atau tidak langsung menyatakan bahwa mereka memang tidak dekat dengan ibu dan merasa lebih baik kitalah yang menghibur ibu. Kalau ada kesepakatan seperti itu, saya kira silakan kita langsung lebih dekat dengan ibu dan menolongnya. Jadi intinya kita harus melihat dampak perbuatan kita pada keluarga secara keseluruhan.
GS : Kalau kita pas sebagai anak sulung biasanya mencoba berperan untuk menggantikan posisi ayah yang sedang dipenjarakan.
PG : Besar kemungkinan kalau kita anak sulung, hal itu lebih dapat diterima karena secara otomatis adik-adik akan melihat tugas kitalah sebagai anak yang sulung untuk membantu ibu dan mengatur adik-adik yang lainnya. Tapi kalau kita bukan anak sulung coba kita melihat keadaan, apakah memang bijaksana untuk menjadi sangat dekat dengan ibu memberinya penghiburan. Sebelumnya kita melakukan hal itu sebaiknya kita berembuk di antara kakak adik, siapa yang bisa bicara dengan ibu.
GS : Hal lain yang ingin Pak Paul sampaikan dalam hal ini ?
PG : Kita tidak boleh berbohong kepada orang, tapi kita pun tidak harus memberi penjelasan mendetail tentang keberadaan orang tua. Jadi jika ada orang bertanya, silakan mengatakan bahwa orang tua tengah pergi untuk waktu yang lama. Jika ditanyakan kemana, maka kita dapat dengan santun menjawab bahwa hal itu tidak dapat kita kemukakan. Singkat kata, ceritakanlah peristiwa sebenarnya hanya kepada orang yang memang dekat dengan kita dan sungguh peduli dengan keadaan kita. Kepada orang seperti inilah kita bercerita untuk mendapat dukungan sekaligus doanya. Sebaliknya bila orang sudah mendengar perihal pemenjaraan orang tua dan jika ia bertanya, maka katakan "Ya" jangan menyangkal. Tentang berapa mendetail kita akan bercerita, sekali lagi itu bergantung pada berapa dekat dan pedulinya ia dengan kita. Jadi prinsip yang kita gunakan dalam hal informasi adalah jelas dan tepat, artinya kita tidak memberi informasi yang berlainan dari fakta, namun kita pun hanya akan menyampaikan detailnya kepada orang yang tepat, tidak kepada sembarang orang.
GS : Seringkali justru pada saat-saat seperti ini banyak orang yang ingin mengorek-ngorek keterangan dari kita dan itu memberikan keterangan yang bukan mengenakkan kita, sesuatu yang menyakitkan hati kita, Pak Paul. Kalau kita jawab dengan pendek mereka akan tetap mengejar kita, tapi kalau kita memberikan penjelasan yang cukup panjang, salah-salah bisa keliru penjelasan itu.
PG : Maka kalau kita tidak nyaman, jangan merasa bahwa kita harus menceritakan detailnya. Kita bisa langsung berkata, ya sudah sampai di situ saja atau "Maaf saya tidak bisa mengatakan lebih dari ini". Jadi tidak apa-apa menolak untuk memberitahukan detailnya. Yang penting harus jelas, artinya faktanya apa sudah kita katakan, "Ayah kita masuk penjara". Dan kita tidak harus menceritakan detail-detailnya. Kita katakan, "Ayah saya masuk penjara", kalau orang bertanya, "Kenapa?" dan sebagainya, kita bisa berkata, "Maaf saya tidak bisa cerita detailnya, tapi memang benar ayah masuk penjara".
GS : Dari pihak kita mungkin kita tidak menceritakan, lalu bagaimana dari pihak saudara-saudara kandung kita atau bahkan mungkin ibu kita? Kalau mereka sampai menceritakan itu, kita tidak bisa melarang mereka untuk cerita.
PG : Betul, kalau sampai orang di rumah memutuskan untuk bercerita, adik atau kakak atau bahkan ibu bercerita kepada orang lain maka tidak mengapa karena itu hak mereka. Kita tidak bisa mengontrol arus informasi dari mulut-mulut yang lainnya. Idealnya kita berembuk dalam keluarga, yaitu seberapa banyak informasi yang akan kita berikan. Tadi saya berikan prinsip, jelas dan tepat, tidak berlainan dari fakta tapi harus tepat orang, jangan sembarangan orang. Kepada orang yang tidak begitu dekat dan yang tidak menunjukkan mereka sungguh-sungguh peduli dengan kita, tidak usah mendetail. Jadi kalau ada kesepakatan itu dalam rumah, itu akan lebih baik lagi.
GS : Jadi sangat dibutuhkan kekompakan dalam keluarga yang tinggal dalam rumah ini, Pak Paul ?
PG : Betul.
GS : Ada hal lain yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Ini yang terakhir Pak Gunawan. Kita mesti melihat semua yang terjadi dari kacamata Tuhan. Kita mesti melihat pemenjaraan orang tua sebagai bagian dari keadilan Tuhan, kita tidak menyukainya namun bila orang tua bersalah, mendekam di penjara adalah bagian keadilan Tuhan yang mesti ditegakkan. Janganlah sampai kita kehilangan perspektif dan menyalahkan pihak lain. Terimalah ini sebagai bagian keadilan Tuhan, namun kita juga mesti mengingat bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kasih karunia, Dia menghukum, betul tapi Ia akan memulihkan. Pemenjaraan bukanlah akhir melainkan justru permulaan hidup dalam Tuhan. Dia akan membuka lembaran baru dalam hidup kita dan terakhir kita harus mengingat kasih setia Tuhan yang memelihara hidup kita. Kendati akan ada banyak kesulitan tapi Tuhan pasti akan memelihara, Dia tidak akan meninggalkan kita. Pemenjaraan orang tua akan memberi kesempatan kita beriman dan mengenal Tuhan dengan lebih mendalam.
GS : Kadang-kadang menghadapi kasus seperti ini kita justru menjauh dari Tuhan atau malah menyalahkan Tuhan, Pak Paul.
PG : Sayangnya itu yang kadang-kadang kita lakukan, tapi justru sebaliknya kita harus mendekat kepada Tuhan. Kita mesti melihat ini dari kacamata Tuhan. Keadilan mesti ditegakkan dan kita tidak boleh berkata, "Biarlah keadilan ditegakkan pada orang lain dan bukan pada keluarga kita sendiri". Tidak seperti itu juga, kalau keluarga kita memang salah maka keadilan harus ditegakkan pula.
GS : Apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Mazmur 121 : 5 dan 8 berkata, "Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah Naunganmu di sebelah kananmu, Tuhan akan menjaga keluar masukmu dari sekarang sampai selama-lamanya". Kita mesti berdoa dan yakin, Tuhan akan menjaga orang tua kita, mulai dari masuk ke penjara sampai keluar dari penjara dan Tuhan pun akan menjaga serta menaungi kita yang ditinggalkan.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan dan penghiburan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Bila Orang Tua Masuk Penjara". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Orangtua adalah manusia yang tidak sempurna dan sebagai manusia yang tidak sempurna, mereka dapat berbuat salah. Sudah tentu masuk penjara adalah konsekuensi yang menyesakkan dan membuat kita sebagai anak merasa malu. Berikut akan dipaparkan beberapa masukan untuk menghadapi hal seperti ini.
Jangan tergesa untuk menguburkan rasa marah kepada orang tua yang telah berbuat salah. Kemarahan seperti ini adalah kemarahan yang wajar. Jangan terburu-buru memutihkannya dengan berkata, "Saya ampuni!" sebab itu tidak menyelesaikan, malah menjauhkan hubungan kita dengan orang tua yang bersangkutan. Jika memungkinkan sampaikanlah kepada beliau bahwa kita kecewa, malu dan marah atas perbuatannya. Dengan kita menyampaikan perasaan yang sesungguhnya, kita memberitahukannya bahwa perbuatannya sungguh berdampak menyakitkan pada kita, anaknya.
Apabila orang tua menolak untuk mengambil tanggung jawab dan malah balik marah menyalahkan kita, mundurlah dengan teratur. Jangan paksakan dan mencoba membuatnya berubah. Ternyata beliau belum bertobat atau memang terlalu angkuh untuk mengakui kesalahannya. Biarkanlah dan berdoalah untuknya agar ia sungguh mengalami pertobatan yang sesungguhnya.
Relasi dengan orang tua yang ditinggal di rumah akan sangat bergantung pada tanggapannya terhadap masalah ini. Bila beliau diamuk kemarahan dan kepahitan, sudah tentu kita hanya dapat menghiburnya dan memberinya waktu untuk pulih.
Tidak bisa tidak, pemenjaraan orang tua membawa bibit perpecahan ke dalam keluarga. Ada yang bereaksi marah dan malu kemudian menyalurkannya secara keliru misalkan dengan menimbulkan pemberontakan atau perilaku menyimpang lainnya. Ada yang memilih untuk menyembunyikan semua perasaan ini di hati bahkan sampai mengucilkan diri dari pergaulan. Prinsip terpenting yang perlu diterapkan adalah jangan memaksakan apa pun. Setiap orang memerlukan waktu untuk mencerna apa yang terjadi dan setiap kita memberi respons yang tidak sama terhadap masalah yang berat ini.
Jagalah diri agar tidak terlalu dekat dengan seseorang di dalam keluarga. Kita akan merasa dekat dan ingin berbagi duka dengan orang yang paling mengerti isi hati kita. Bahayanya adalah, setelah masalah ini berlalu, bibit perpecahan pada akhirnya menimbulkan buah perpecahan yang riil dan permanen. Anggota keluarga yang merasa tersisihkan, mungkin tidak akan lagi bersedia dekat dengan kita. Ia sudah merasa dipinggirkan dan menyimpan sakit hati yang dalam.
Kita tidak boleh berbohong kepada orang tetapi kita tidak harus memberi penjelasan mendetail tentang keberadaan orang tua. Jadi, jika ada orang bertanya, silakan mengatakan bahwa orang tua tengah pergi untuk waktu yang lama, kemana? Kita dapat dengan santun menjawab bahwa hal itu tidak dapat kita kemukakan. Sebaliknya, bila orang sudah mendengar perihal pemenjaraan orang tua, jika ia bertanya, katakanlah, ya. Singkat kata, hanya ceritakan peristiwa sebenarnya kepada orang yang memang dekat dengan kita dan sungguh peduli dengan keadaan kita. Kepada orang seperti inilah kita bercerita untuk mendapatkan dukungan sekaligus doa.
Kita mesti melihat semua yang terjadi dari kacamata Tuhan. Kita melihat pemenjaraan orang tua sebagai bagian dari keadilan Tuhan. Janganlah sampai kita kehilangan perspektif dan menyalahkan pihak lain. Ia menghukum tetapi Ia akan memulihkan. Dan kita harus mengingat kasih setia Tuhan memelihara hidup kita. Kendati akan ada banyak kesulitan, Tuhan pasti memelihara. Ia tidak akan meninggalkan kita.
Firman Tuhan: "Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu, di sebelah kananmu . . . Tuhan akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya." (Mazmur 121:5, 8)
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:42am.
Abstrak:
Salah satu pergumulan pemuda yang tidak sering dibicarakan adalah pergumulan menjaga batas dalam masa berpacaran. Kita tahu batas yang seharusnya dijaga namun kita tidak selalu berhasil menjaganya. Akhirnya banyak di antara kita yang berhenti bergumul dan malah menyerah pada godaan. Tidak jarang, sebagai akibat dari perbuatan kita itu, kehamilan terjadi. Kita pun menjadi takut dan merasa malu dan kadang terlalu bingung untuk mengambil keputusan. Di sini akan di paparkan beberapa masukan yang layak dipertimbangkan dalam mengambil keputusan
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Hamil Di Luar Nikah". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, rupanya seperti tren saja bahwa kehamilan di luar nikah itu makin lama makin sering terjadi dan orang rasanya bisa menerima tidak seperti beberapa waktu yang lalu di mana itu menjadi suatu berita yang sangat menghebohkan. Bagaimana pandangan Pak Paul ?
PG : Saya setuju, Pak Gunawan, bahwa masalah ini makin hari makin sering terjadi dan itu sebabnya kita perlu mengangkat hal ini meskipun toleransi kita bertambah dan toleransi tidak selalu harus bersifat buruk, menurunkan standar dan sebagainya. Tapi kita tetap memunyai standar yang kita tahu adalah kehendak Tuhan, tapi kita juga mesti mengerti bahwa ini adalah dosa. Yang berbuat juga pasti menyesali dan sudah menjadi tugas kitalah sebagai anak-anak Tuhan merangkul dan menolong mereka agar mereka tidak terperosok makin dalam ke dalam dosa. Saya kira ada baiknyalah kita mengangkat topik ini dengan lebih seksama kita membahasnya dan mudah-mudahan kalau sampai ada yang bermasalah dengan hal ini, hamil di luar nikah, mereka mengetahui apa yang harus mereka lakukan.
GS : Kehamilan ini bisa terjadi karena mereka diperkosa atau karena suka dengan suka, ini bagaimana Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kita akan membedakan yang terjadi karena pemerkosaan dan yang terjadi karena suka dengan suka. Yang akan kita fokuskan kali ini adalah kehamilan akibat suka sama suka, jadi dalam konteks berpacaran akhirnya melakukan hubungan seksual sehingga si wanita mengandung.
GS : Banyak juga karena si wanita atau pria ini kurang mengerti, bahwa kalau mereka berhubungan hanya sekali tidak akan terjadi kehamilan, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Ada orang yang beranggapan kalau sekali tidak apa-apa, jadi kesalahpahaman ini adalah salah satu alasan mengapa terjadi kehamilan, namun intinya makin banyak pemuda-pemudi yang mengalami kesulitan mengendalikan dirinya dan juga tidak bisa kita sangkali terjadinya kemerosotan nilai-nilai moral di tengah-tengah kita, sehingga menganggap berhubungan seksual sebelum menikah sebagai sesuatu yang lazim.
GS : Bukan hanya kedua remaja itu yang bingung setelah menyadari bahwa remaja putri ini hamil, orang tuanya sendiri pun bingung. Langkah apa yang sebenarnya perlu kita ambil kalau sampai hal yang buruk itu terjadi ?
PG : Ada beberapa, Pak Gunawan, yang bisa saya bagikan. Yang pertama adalah kita mesti bertekad tidak berdosa apa pun itu keputusan yang akan diambil. Dengan kata lain, kalau ini memang terjadi pada kita bahwa kita mengandung, kita harus berkomitmen untuk tidak menambah dosa di atas dosa yang telah kita lakukan. Jadi buanglah jauh-jauh pikiran untuk menggugurkan anak dalam kandungan, itu adalah sebuah dosa. Keputusan memelihara anak adalah keputusan yang berkenan kepada Tuhan, sebaliknya menggugurkan kandungan tidak berkenan kepada Tuhan. Saya kutipkan Firman Tuhan di Mazmur 139:13, "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku". Dengan kata lain dalam Firman Tuhan ini jelas terlihat bahwa Tuhanlah yang menciptakan anak dari awal hingga lahirnya dan tangan Tuhanlah yang menenun dia, yang membentuk dia, jadi kalau kita mengakhiri hidupnya maka kita mengakhiri hidup seorang manusia yang telah Tuhan ciptakan dalam tubuh kita.
GS : Dalam hal ini seringkali banyak orang berpikir kalau masih 1 bulan, 2 bulan usia kandungan itu, tidak apa-apa dilakukan aborsi, pengguguran. Dalam hal ini apakah ada dampak bagi si remaja putri ini khususnya ?
PG : Sudah tentu akan ada, Pak Gunawan. Seorang remaja putri yang karena bingung dan mendapat masukan-masukan yang tidak tepat, memutuskan untuk menggugurkan kandungan acapkali mengalami rasa bersalah. Sampai nanti pun kalau dia mengingat, dia merasa bersalah. Kadang-kadang kalau sudah lewat beberapa tahun dia akan kembali terkenang bahwa kalau ada anak itu, anak itu sudah berusia berapa, sebab kita tidak bisa meyakinkan diri kita bahwa menggugurkan kandungan sama dengan membuang kutil di tangan kita. Misalnya kita bisa berkata "Ini hanya daging sama seperti kutil di tangan kita yang dibuang," tapi orang yang melakukannya itu tahu dan dokter yang melakukannya pun tahu bahwa tidak sama, kalau kita beranggapan seperti itu seharusnya dampaknya sama seperti kalau kita operasi kutil. Semua orang pasti akan berkata kalau itu tidak sama, menggugurkan janin dan membuang kutil di tangan adalah dua hal yang berbeda. Jadi kita tidak bisa mengatakan, itu hanya seonggok daging yang belum ada kehidupan dan sebagainya. Itu salah sebab dari awal itu adalah tangan Tuhan yang telah menciptakannya.
GS : Memang dengan kemajuan ilmu kedokteran, aborsi ini bisa dilakukan dengan relatif lebih mudah, lebih murah dan banyak dilakukan di kota-kota besar, Pak Paul.
PG : Memang itulah yang terjadi, di negara-negara Barat pun hal ini kerap dilakukan dengan legal. Salah satu tujuannya adalah untuk menyelamatkan nyawa si ibu karena kalau dilarang para ibu muda ini akan melakukannya dengan prosedur medis yang tidak sehat, tapi tetap intinya adalah perbuatan salah tidak berkenan di mata Tuhan, ini adalah sebuah dosa. Jadi prinsip pertama waktu kita hamil di luar nikah, kita mesti bertekad untuk tidak berdosa, jangan menambah dosa di atas dosa yang telah kita lakukan.
GS : Selain hal itu apakah ada yang lain, Pak Paul ?
PG : Kita tetap mesti melihat kehamilan dari perspektif Allah sendiri. Tuhan menggunakan pelbagai cara untuk membawa seorang anak lahir ke dalam dunia. Sudah tentu waktu kita berkata, "Tuhan menggunakan pelbagai cara" itu tidak berarti bahwa semua cara adalah cara yang diperkenankan Tuhan. Tuhan membawa anak lahir ke dalam dunia lewat pemerkosaan, ini memang contoh yang ekstrem sekali, kita tahu pemerkosaan adalah dosa dan tidak diperkenankan Tuhan, namun anak yang dihasilkan dari pemerkosaan berada dalam kehendak Allah yang sempurna. Artinya, Tuhan menghendaki keberadaannya di dunia, walaupun Tuhan tidak menghendaki terjadinya pemerkosaan itu sendiri. Demikian pula dengan anak yang lahir di luar nikah, kendati hubungan seksual di luar nikah itu sendiri adalah dosa, namun anak yang dikandung berada dalam kehendak Allah. Itu sebabnya kita mesti memisahkan antara hubungan atau penyebab lahirnya anak dan anak itu sendiri. Roma 8:28 memberi kita kejelasan akan cara kerja Allah yang sempurna, Firman Tuhan berkata, "Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah", dengan kata lain, Tuhan tak terbatasi, Tuhan dapat memakai segala sesuatu bahkan segala sesuatu yang salah, yang cacat, yang berdosa di dalam kedaulatan Tuhan dan kemahakuasaan-Nya, Dia dapat menggunakannya untuk menggenapi rencana-Nya. Sudah tentu ini tidak berarti Tuhan menyetujui dan berkenan terhadap dosa, sama sekali tidak. Namun sekali lagi saya tekankan, anak yang dikandung itu adalah dalam rencana Tuhan.
GS : Kesulitannya adalah melihat peristiwa ini dari perspektif Allah, Pak Paul. Biasanya dalam keadaan kalut seperti itu, kita justru cenderung mencari jalan pintasnya. Seringkali orang malah mengatakan bahwa anak yang lahir di luar nikah ini, anak haram dan sebagainya dan ini memberikan beban psikologis tertentu kepada si remaja putri itu.
PG : Ada sebuah konsep yang keliru yang sudah berkembang di masyarakat, bahkan di dunia bukan hanya di Indonesia yaitu adanya konsep anak haram. Pada kenyataannya tidak ada anak haram, Pak Gunawan. Yang ada adalah relasi haram, relasi yang tidak diperkenankan Tuhan. Hubungan seksual antara orang yang tidak menikah adalah hubungan yang haram atau hubungan yang tidak diperkenankan Tuhan, tapi anak itu sendiri tidak salah, anak itu sendiri tidak memilih lahir dengan cara seperti itu. Jadi anak itu tidak haram, anak itu tidak dimusuhi oleh Tuhan, justru kalau kita lihat dari rencana Allah kita harus berkata anak itu ada di dunia karena Tuhan menghendakinya. Kita juga bisa melihat betapa banyak orang tua yang tidak bisa memunyai anak, mau memunyai anak, berusaha memunyai anak tapi tidak memunyai anak. Jadi benar-benar dalam hal kelahiran anak kita harus mengakui bahwa ini sepenuhnya berada di tangan Allah.
GS : Jadi sebenarnya sangat dibutuhkan seorang pembimbing untuk menolong, baik remaja putri maupun pihak-pihak keluarga yang lain untuk melihat peristiwa ini dalam perspektif Allah itu sendiri, Pak Paul.
PG : Betul sekali, sebagai anak-anak Tuhan, sebagai orang-orang Kristen kita tidak lagi menilai segala sesuatu dari kacamata kita sebagai manusia, dari kacamata budaya atau latar belakang kita, kita mesti mengadopsi nilai-nilai Tuhan dan memandang masalah dari mata-Nya.
GS : Hal yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Yang ketiga adalah kalau kita hamil di luar nikah, kita harus selalu memertimbangkan dampak jangka panjangnya. Secara langsung saya ingin mengingatkan, janganlah memutuskan untuk langsung menikah hanya karena kita hamil bila kita memang belum siap menikah. Pernikahan yang tidak dikehendaki yaitu pernikahan yang terpaksa dilakukan karena kehamilan hampir dapat dipastikan akan menjadi pernikahan bermasalah. Ini saya temukan berkali-kali dalam konseling dan ini pun tertera di banyak buku-buku konseling keluarga yaitu ketika kita diminta untuk mencari data-data, mengumpulkan data-data latar belakang pasangan nikah itu, hampir selalu kita temukan kalau mereka menikah karena terpaksa, bukannya kemauan mereka tapi terpaksa akibat kehamilan, hampir dapat dipastikan mereka nantinya menuai masalah dalam pernikahannya. Jadi nasihat saya, jangan menyelesaikan masalah dengan cara menciptakan masalah baru. Seolah-olah dengan kita menikah maka masalah selesai, rasa malu karena kehamilan tertutupi, tapi bukankah seringkali kita sedang menabur benih-benih masalah yang kelak nanti harus dituai.
GS : Justru biasanya pernikahan itu dianggap jalan keluar yang paling ampuh atau jalan satu-satunya. Pihak orang tua pun seringkali mendorong supaya kedua remaja ini segera menikah, supaya jangan terlihat aib yang lebih besar lagi, Pak Paul.
PG : Inilah kecenderungan kita, Pak Gunawan. Untuk menutupi aib akhirnya kita bersedia melakukan apa saja, kita tidak berpikir panjang "Kita lihat besok saja, sebab belum tentu masalah terjadi." Tapi kita sudah tahu bahwa terlalu banyak pernikahan akhirnya bermasalah karena pada awalnya mereka tidak siap menikah. Jadi kesiapan menikah itu sangat penting. Kecocokannya apakah sudah bisa matang terjadi, apakah sudah ada saling pengertian yang kuat, apakah cinta juga sudah mencapai puncaknya. Jadi pernikahan itu sama seperti buah yang harus matang secara alamiah di pohon, baru benar-benar menjadi buah yang ranum untuk kita makan. Pernikahan pun seperti itu harus menjalani proses sampai waktunya tiba untuk kedua orang tersebut menikah. Kalau dipaksakan di depan akhirnya buah itu tidak matang dan manis dan malahan menjadi sangat masam sekali.
GS : Biasanya masalah yang timbul seringkali apa, Pak Paul ?
PG : Seringkali begini, Pak Gunawam, kalau seorang suami dan istri itu belum memunyai cinta maksudnya belum memunyai daya tahan yang kuat tapi kemudian sudah terlibat hubungan seksual, benar-benar nafsu menjadi bagian yang dominan dalam relasi itu, berarti apa? Waktu mereka harus menikah modal cinta mereka itu masih sangat terbatas. Dalam waktu yang tidak lama seks tidak lagi memunyai daya tariknya. Karena apa? Begitu seks dibolehkan dalam pernikahan tiba-tiba daya tarik itu langsung luntur kalau tidak ada cinta. Kalau ada cinta hubungan seksual masih terus bisa bertumbuh, tapi kalau tidak ada lagi cinta maka susah sekali untuk bisa memertahankan hubungan seksual dan cinta itu sendiri. Jadi akhirnya karena modal cinta minim maka rontoklah pernikahan itu, mudah marah belum lagi ada orang yang merasa dijebak "Kamu tahu bahwa saya belum siap untuk menikah, kenapa kamu tidak menjaga dan sebagainya." Akhirnya menyalahkan pasangan, merasa dijebak padahal dia melakukannya dengan sukarela, tapi dia mudah saja melemparkan tanggungjawab itu kepada pasangannya. Jadi banyak hal yang mudah terjadi, Pak Gunawan, kalau kita belum siap untuk menikah.
GS : Jadi sebagian besar masalah-masalah itu timbul karena hubungan emosional dan hubungan sosial ini, Pak Paul. Karena yang dikuatirkan orang tua kadang-kadang masalah keuangan dan mereka bilang, "Kami akan mencukupi kebutuhan itu, tapi masalahnya lebih besar dari itu".
PG : Jauh lebih kompleks, Pak Gunawan, uang hanyalah sebagian, bukan satu-satunya masalah yang harus dipecahkan. Misalkan satu hal lain lagi adalah karena mereka belum siap, mereka belum cukup waktu menyesuaikan diri, Pak Gunawan. Benar-benar belum melihat ketidakcocokannya, perbedaan-perbedaannya dengan jelas, tapi karena sudah terlanjur hamil langsung menikah, setelah menikahlah mereka menemukan betapa berbedanya pasangan dari yang dipikirkan sebelumnya. Penyesuaiannya menjadi sangat susah sekali, belum lagi ada orang yang merasa marah misalkan ia memunyai karier, kariernya terhenti gara-gara hamil di luar nikah sehingga harus menikah dan tidak bisa melanjutkan karier, harus menjaga anaknya, dia merasa hidupnya itu terbuang, meskipun awalnya dia berpartisipasi secara sukarela, tapi tidak bisa tidak kalau dia melihat ke belakang bertahun-tahun hidupnya itu terbuang. Jalurnya yang sudah dia rancang sekarang berbelok dengan begitu drastis. Dia benci, marah sekali, akhirnya kebencian itu dilampiaskan kepada pasangannya dan sering kali kepada anak itu sendiri.
GS : Hal yang keempat yang ingin Pak Paul sampaikan, apa ?
PG : Yang keempat, jika kita belum siap untuk menikah, putuskanlah untuk mengandung dan memunyai anak di luar pernikahan. Dalam hal ini silakan mencari orang tua yang tengah mencari anak untuk diadopsi atau hubungi lembaga adopsi, kita juga dapat menghubungi pelayanan Kristiani yang menampung ibu yang hamil di luar nikah atau pilihan terakhir adalah kita sendiri merawat dan membesarkan anak itu. Saya mengerti semua pilihan ini memerlukan pengorbanan namun pada akhirnya kita mengetahui bahwa kita telah menyelesaikan masalah dengan cara yang terbaik dan berkenan kepada Tuhan. Sekali lagi ini sebuah konsep yang mungkin baru sebab tadi Pak Gunawan sudah angkat juga, kenyataan di lapangan orang berpikir kalau sudah hamil langsung menikah. Itu jalan keluarnya, ternyata tidak! Ada jalan lain yang mungkin jauh lebih bijaksana untuk jangka panjangnya. Jangan berpikir kalau tidak menikah dan membesarkan anak itu sendiri, berarti kita berdosa. Hubungan itulah hubungan berdosa dan apa yang kita lakukan terhadap anak nantinya yang akan menimbulkan berdosa atau tidak berdosa. Kalau kita memutuskan memelihara anak itu dan kita merasa kita belum siap menikah dengan orang tersebut, silakan tidak perlu menikah dengan orang tersebut, serahkan anak itu untuk diadopsi atau nanti kita sendiri yang akan membesarkan anak tersebut. Itu tidak berdosa, itu bertanggungjawab memelihara anak yang Tuhan sudah titipkan kepada kita.
GS : Tapi itu sebuah keputusan yang dilematis, Pak Paul. Kalau bayi itu diserahkan kepada orang lain untuk diadopsi, sang ibu juga merasa bersalah tapi kalau dia mau memelihara sendiri, membesarkan sendiri, dia belum memunyai kemampuan yang cukup untuk membesarkan anaknya.
PG : Betul, saya pikir hampir semua ibu waktu menyerahkan anaknya untuk diadopsi akan merasa bersalah, tapi penghiburan buat dia adalah bahwa anak itu nanti dirawat oleh orang yang mengasihinya, oleh orang yang sudah menanti-nantikan anak, jadi mereka akan menyambut anak itu, melimpahkannya dengan kasih sayang. Sedangkan kalau kita yang merawatnya besar kemungkinan kita belum dalam posisi bisa merawatnya seperti itu. Jadi waktu kita serahkan kita mesti mengingat bahwa yang pertama anak itu tetap berada dalam tangan Tuhan sampai kapan pun, yang kedua anak itu juga berada di tangan orang yang memang menyambut dan menginginkan kehadirannya.
GS : Mungkin bisa pula dititipkan pada orang, Pak Paul, selama ibu ini masih belum siap. Sambil memersiapkan diri, anak ini dibesarkan oleh orang atau neneknya atau siapa sampai ibu ini siap untuk menerima anak itu kembali.
PG : Bisa juga. Jadi ada orang yang memutuskan menyerahkan anak itu untuk dirawat oleh orang tuanya sendiri, sehingga akhirnya anak itu diberi kesempatan untuk bertumbuh dalam rumah yang stabil dan nanti waktu si ibu sudah siap untuk mengambilnya kembali, dia bisa mengambilnya. Itu pun bisa dilakukan meskipun cara itu juga ada masalahnya, karena kalau nanti anak itu kembali ke si ibu misalkan setelah 10 tahun berarti ia 10 tahun tidak mengenal ibunya dengan baik dan penyesuaian tinggal dengan ibu kandungnya juga menjadi masalah. Tidak begitu gampang juga.
GS : Belum lagi kalau nanti sang ibu siap untuk menikah betul-betul, Pak Paul. Ini akan mempersulit anak yang lahir di luar nikah tadi itu ?
PG : Betul dan belum tentu si suami juga siap menerima adanya anak. Jadi banyak hal yang mesti dipertimbangkan dengan bijaksana.
GS : Di dalam memutuskan hal seperti itu, apakah pihak si remaja putra tadi perlu dilibatkan atau tidak ?
PG : Perlu, memang dua-duanya perlu dilibatkan sehingga dua-duanya memunyai suara apa yang mereka inginkan, sebab bagaimana pun juga anak ini adalah anak mereka.
GS : Jadi setelah peristiwa itu terjadi, apa yang harus dilakukan oleh kedua remaja ini, baik yang putra maupun yang putri.
PG : Mereka sebetulnya harus mengevaluasi kembali relasinya dengan si pacar. Maksud saya begini, tidak jarang melalui kehamilan kita mendapat pengertian yang lebih mendalam dan tepat tentang siapakah pacar kita itu. Sudah tentu pengertian ini bisa bersifat positif atau pun negatif. Misalnya, ada pacar yang tidak mau bertanggungjawab, lepas tangan, menyuruh aborsi, tidak mau tahu langsung menjauh, tidak lagi menghubungi, tidak lagi menelepon dan sebagainya. Kalau ini yang terjadi, sudah tentu ini memberi kepada kita informasi dan pengertian, "Ternyata inilah pacar saya, dalam kondisi seperti ini barulah saya lihat 'warna aslinya' ". Sudah tentu ini menjadi bahan yang kita gunakan untuk memertimbangkan. Sekali lagi saya ingatkan, selalu pertimbangkan dampak jangka panjang, ingatlah tidak ada keharusan buat kita menikah dengan dia. Jadi bila pada akhirnya kita tahu bahwa dia bukanlah pasangan hidup yang sesuai, akhirilah hubungan itu, jangan perpanjang. Jangan merasa berkeharusan bersama dengan dia karena sudah ada anak. Kalau ini hubungan yang tidak cocok, nantinya akan menuai masalah, kita mesti bijaksana untuk menyikapinya.
GS : Tapi itu berarti memberi kesempatan pada si remaja pria untuk tidak bertanggungjawab, Pak Paul ?
PG : Dalam pengertian dia tidak merawat si anak itu, memang betul. Kita melepaskan dia dari tanggungjawab itu, sebab kita mau memikirkan dampak panjang yang lebih luas. Dia sebagai ayah, kalau tingkah lakunya tidak bertanggungjawab sekarang, nanti dia lebih merugikan perkembangan si anak itu sendiri dan nanti akan memberikan beban tambahan kepada si ibu atau istrinya. Kita mau memikirkan bagaimana menyelamatkan sehingga tidak menambahkan masalah di atas masalah yang sudah terjadi. Anak itu sendiri harus diapakan? Sudah tentu orang tuanya harus memberikan kepadanya disiplin. Malangnya adalah dalam kasus yang seperti itu, anak itu tidak bertanggungjawab dan sebagainya, seringkali yang kita jumpai orang tuanya pun bermasalah, tidak memunyai hubungan yang harmonis, sudah lepas kendali, tidak lagi tahu bagaimana mengatasi anak. Sering kali itulah gambar keluarga di mana anak itu dibesarkan. Jadi susah untuk kita mau menjatuhkan sanksi atau meminta orang tuanya mendisiplin anak itu.
GS : Tapi ada pihak lain, orang tua yang memaksa mereka untuk menikah, Pak Paul.
Dari pihak yang pria atau yang wanita.
PG : Maka saya berharap masukan-masukan kita ini dapat didengarkan oleh mereka, sehingga mereka dapat memutuskan bukan hanya untuk kepentingan jangka pendek tapi melihat jangka panjang dan dampak luasnya.
GS : Hal lain yang mau Pak Paul sampaikan, apa Pak ?
PG : Masukan keenam adalah, oleh karena kita telah berjalan dalam kehendak Tuhan dan bertindak bijaksana, kita pun dapat memperoleh keyakinan bahwa Tuhan akan terus menuntun langkah hidup kita. Jangan takut akan masa depan, jika Ia berkehendak kita menikah kita akan menikah. Ia akan menyediakan seseorang yang dapat mengasihi dan menerima kita apa adanya. Sebaliknya bila Tuhan berkehendak lain, Ia akan memampukan kita hidup untuk-Nya sebagai seorang lajang. Satu hal yang mesti kita camkan adalah bahwa Ia memberikan kita kesempatan kedua. Firman Tuhan di Mazmur 107:1-2 berkata, "Bersyukurlah pada Tuhan sebab Ia baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya". Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus Tuhan, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan. Jadi Firman Tuhan jelas mengatakan, "Tuhan yang telah menebus kita dari kuasa yang menyesakkan akan terus menunjukkan kasih setia-Nya kepada kita".
GS : Jadi berarti kita harus percaya pada janji-janji Tuhan dan pimpinan Tuhan dan Tuhan selalu berkata, "Jangan berbuat dosa lagi", begitu Pak Paul ?
PG : Betul sekali.
GS : Tapi ada juga remaja yang setelah melakukan dosa seperti ini mengulangi lagi kesalahan yang sama, Pak Paul.
PG : Memang ada orang yang cepat belajar, ada orang yang lambat belajar. Mudah-mudahanlah mereka tidak lagi mengulangnya.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini dan tentunya perbincangan ini akan sangat bermanfaat bagi para pendengar kita sekalian. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Hamil Di Luar Nikah". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu pergumulan pemuda yang tidak sering dibicarakan adalah pergumulan menjaga batas dalam masa berpacaran. Kita tahu batas yang seharusnya dijaga namun kita tidak selalu berhasil menjaganya. Kita merasa bersalah namun kita sukar menghentikannya. Seharusnya dalam menghadapi pergumulan ini kita berbagi beban dan meminta bantuan pembimbing rohani namun itulah yang jarang dilakukan. Pada umumnya kita takut membicarakannya karena malu. Akhirnya banyak di antara kita yang berhenti bergumul dan malah menyerah pada godaan. Tidak jarang, sebagai akibat dari perbuatan kita itu, kehamilan terjadi. Kita pun menjadi takut dan merasa malu dan kadang terlalu bingung untuk mengambil keputusan. Berikut akan dipaparkan beberapa masukan yang layak dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.
Pertama, kita mesti bertekad untuk tidak berdosa-apa pun itu keputusan yang akan diambil. Dengan kata lain, kita harus berkomitmen untuk tidak menambah dosa di atas dosa yang telah kita lakukan. Jadi, buanglah jauh-jauh pikiran untuk menggugurkan anak dalam kandungan. Keputusan memelihara anak adalah keputusan yang berkenan kepada Tuhan. Sebaliknya, menggugurkan kandungan tidak berkenan kepada Tuhan. Sebab Tuhanlah yang menciptakan anak-dari awal hingga lahir.
Kedua, kita mesti melihat kehamilan dari perspektif Allah sendiri. Tuhan menggunakan pelbagai cara untuk membawa seorang anak lahir ke dalam dunia. Sudah tentu, sewaktu kita berkata, Tuhan menggunakan pelbagai cara, itu tidak berarti bahwa semua cara adalah cara yang diperkenankan Tuhan. Tidak! Seperti anak yang lahir di luar nikah, kendati hubungan itu sendiri adalah dosa namun anak yang dikandung berada dalam kehendak Allah. Itu sebabnya kita mesti memisahkan hubungan atau penyebab lahirnya anak dan anak itu sendiri. Roma 8:28 memberi kita kejelasan akan cara kerja Allah yang sempurna.
Ketiga, kita harus selalu memertimbangkan dampak jangka panjangnya. Janganlah memutuskan untuk langsung menikah hanya karena kita hamil bila kita memang belum siap menikah. Pernikahan yang tidak dikehendaki-terpaksa menikah karena kehamilan-hampir dapat dipastikan akan menjadi pernikahan bermasalah. Jadi, jangan menyelesaikan masalah dengan cara menciptakan masalah baru.
Keempat, jika memang kita belum siap menikah, putuskanlah untuk mengandung dan melahirkan anak-di luar pernikahan. Dalam hal ini silakan cari orang tua yang tengah mencari anak untuk diadopsi atau hubungi lembaga adopsi. Kita juga dapat menghubungi pelayanan Kristiani yang menampung ibu yang hamil di luar nikah. Atau, pilihan akhir adalah kita merawat dan membesarkan anak itu sendiri. Semua pilihan ini memang memerlukan pengorbanan namun pada akhirnya kita tahu bahwa kita telah menyelesaikan masalah dengan cara yang terbaik dan berkenan kepada Tuhan.
Kelima, evaluasi ulang relasi kita dengan pacar. Tidak jarang lewat kehamilan kita memperoleh pengertian yang lebih mendalam dan tepat akan siapakah dia. Sudah tentu pengertian ini bisa bersifat positif ataupun negatif. Sekali lagi, selalu pertimbangkan dampak jangka panjang. Ingat, tidak ada keharusan buat kita menikah dengan dia; jadi, bila pada akhirnya kita tahu bahwa dia memang bukanlah pasangan hidup yang sesuai, akhirilah hubungan itu.
Keenam, oleh karena kita telah berjalan dalam kehendak Tuhan dan bertindak bijaksana, kita pun dapat memperoleh keyakinan bahwa Tuhan akan terus menuntun langkah hidup kita. Jangan takut akan masa depan. Jika memang Ia berkehendak kita menikah, kita akan menikah. Ia akan menyediakan seseorang yang dapat mengasihi dan menerima kita apa adanya. Sebaliknya, bila memang Tuhan berkehendak lain, Ia akan memampukan kita hidup untuk-Nya sebagai lajang. Satu hal yang mesti kita camkan adalah bahwa Tuhan memberi kita kesempatan kedua.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:18am.
Abstrak:
Salah satu masalah yang kerap dihadapi dewasa ini adalah menjauhnya pasangan dari Tuhan. Pada awalnya ia dekat dengan Tuhan dan rajin dalam pelayanan namun seiring dengan berjalannya waktu ia pun makin menjauh dari Tuhan. Di sini akan dipaparkan ciri pasangan yang menjauh dari Tuhan, penyebabnya dan cara untuk menghadapi pasangan yang tengah menjauh dari Tuhan.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Ketika Pasangan Menjauh Dari Tuhan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Sebagai pasangan, tentu kita berharap untuk bisa maju bersama-sama pasangan kita, baik secara ekonomi, sosial dan juga termasuk di dalam hal kerohanian, kedekatan kita dengan Tuhan. Tapi adakalanya ini tidak berjalan beriringan, kita menginginkan maju tapi pasangan kita malah menjauh dari Tuhan, ini adalah fakta kehidupan dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Saya pun sudah melihat pasangan yang ketika mereka memulai seperti itu, mereka berdua adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhan yang terlibat di dalam pelayanan. Jadi mereka bertemunya pun dalam wadah persekutuan Kristen, setelah menikah pekerjaan makin sibuk dan kemudian kita baru tahu kalau pasangan mulai menjauh dari Tuhan. Sudah tentu ini bagian dari kenyataan hidup dan tidak selalu kita terus dekat dengan Tuhan, tapi adakalanya karena satu atau lain hal akhirnya kita mulai menjauh dari Tuhan. Maka pertama-tama kita mau melihat ciri-cirinya terlebih dahulu. Karena adakalanya kita tidak menyadari ciri-cirinya sehingga waktu pasangan menjauh, kita tidak menyadari dan tahu-tahu dia sudah begitu jauh. Apalagi dalam kasus-kasus tertentu bahkan sudah jatuh ke dalam dosa yang serius dan barulah mata kita celik dan berkata, "Ternyata sudah lama seperti ini...." Ciri-ciri apa yang bisa kita amati, yang pertama adalah kalau orang sudah mulai menjauh dari Tuhan, biasanya dia mulai meninggalkan persekutuan pribadi dengan Tuhan. Jadi kita akan jarang melihatnya berdoa, jarang melihatnya membaca Firman Tuhan, dan ketika kita tanya seringkali alasannya adalah letih atau sudah berdoa dalam hati atau kamu saja yang berdoa. Kendati kita dapat bersekutu dengan Tuhan di dalam hati namun sikap yang menghormati dan menguduskan waktu bersekutu dengan Tuhan merupakan salah satu petunjuk berapa intimnya kita dengan Tuhan. Jadi kita tidak bisa berdalih, "Sudah berdoa dalam hati." Sebab sekali lagi usaha menguduskan waktu, usaha menyediakan waktu untuk Tuhan, itulah bukti kita hormat kepada Tuhan.
GS : Kalau tadinya bersama-sama, yaitu suami-istri bersama-sama membaca Kitab Suci dan berdoa bersama-sama kemudian salah satu pasangan berkata, "Kamu berdoa dan membaca Alkitab sendiri-sendiri," dan memang dia melakukan hal itu tapi sendiri-sendiri. Apakah hal itu bisa disebut kemunduran atau bagaimana ?
PG : Saya kira tidak sebab yang pertama adalah tidak selalu waktunya tepat, kita tidak selalu memunyai waktu yang sama untuk membaca Firman dan berdoa tapi yang penting adalah kita masing-masing melakukannya dan menghayati waktu bersama-sama dengan Tuhan itu. Selama masing-masing melakukan saya kira itu tidak apa-apa, yang saya khawatirkan adalah kalau pasangan tidak lagi mau melakukan hal-hal itu dan tidak lagi berdoa, membaca Firman Tuhan.
GS : Tadinya pasangan itu adalah teman yang cocok untuk berdiskusi mengenai hal-hal yang rohani, membicarakan pelayanan dan sebagainya, karena tadi sama-sama di dalam satu wadah pelayanan tapi karena kesibukannya maka dia sekarang jarang sekali mau diajak bicara tentang hal-hal yang bersifat rohani. Apakah itu adalah hal-hal yang bersifat kemunduran ?
PG : Saya kira ya, jadi sama sekali minatnya berubah dan tidak ada lagi minat ke arah sana, saya kira ini adalah pertanda terjadi perubahan nilai-nilai hidup, terjadi perubahan dari apa yang diprioritaskannya dalam hidup ini. Kita tidak berkata bahwa pekerjaan tidak penting, urusan bisnis kita tidak penting, semua juga penting dan harus kita perhatikan, namun kalau kita sama sekali tidak ada minat terhadap hal-hal rohani maka bagi saya itu adalah suatu pertanda bahwa perlahan-lahan kita sudah mulai menjauh dari Tuhan.
GS : Tanda yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Ia mulai tidak bersemangat beribadah kepada Tuhan, hari Minggu mulai diisinya dengan kegiatan lain sebagai pengganti ke gereja atau ia mulai sukar dibangunkan untuk pergi ke gereja dan kerap memberi alasan kenapa dia tidak bisa beribadah hari itu, "Saya ada acara, saya ada janji dan sebagainya." Itu berarti prioritas beribadah kepada Tuhan sudah turun dan digantikan oleh hal-hal lain. Yang lebih serius lagi adalah keinginannya beribadah sudah hampir tidak ada lagi. Bagi saya ini adalah suatu pertanda yang serius.
GS : Biasanya itu terjadi karena sering tugas keluar kota atau karena ada kegiatan-kegiatan yang bertepatan dengan hari Minggu. Jadi terbiasa kalau hari Minggu tidak melakukan kegiatan ke gereja tapi melakukan hal lain dan kita pun sebagai pasangan sudah mulai terbiasa karena harus ke gereja sendirian berminggu-minggu dan sekarang dia tidak ke gereja maka kita merasa tidak ada apa-apa, Pak Paul ?
PG : Memang ini adalah bahayanya, kalau kita menempati posisi dimana kita harus sering-sering bepergian berkaitan dengan urusan bisnis kita, namun saya juga tahu ada orang-orang yang dalam posisi seperti itu dan harus mengunjungi rekan bisnis di kota-kota, namun dia akan menyempatkan waktu ke gereja dan dia akan mencari tahu dimanakah gereja di dekat dimana dia tinggal atau dia akan bertanya pada orang yang disana dan dia akan usahakan pergi meskipun dia harus sedikit bangun lebih pagi. Tapi dia akan berikan waktu itu untuk Tuhan. Sebab sekali lagi begitu kita mulai putus hubungan dengan ibadah di rumah Tuhan, perlahan-lahan hal tentang Tuhan pun terputus dari hidup kita karena benar-benar semuanya itu berawal dari rumah Tuhan dan di rumah Tuhanlah kita mendengarkan suara Tuhan dan di rumah Tuhanlah kita diajak kembali untuk menatap kepada Tuhan. Waktu itu terhilang, tinggal tunggu waktu nanti yang lain-lainnya juga akan hilang.
GS : Ciri yang lain lagi apa, Pak Paul ?
PG : Yang lain adalah kalau pasangan itu terus menghindar ajakan untuk melayani Tuhan, misalkan dia diminta untuk terlibat pelayanan penyambutan tapi dia menolak, kalau dia diminta untuk melayani dalam bidang Sekolah Minggu juga menolak, dalam komisi-komisi tertentu juga menolak padahal dulu dia terlibat dan dulu dia adalah orang Kristen yang aktif dalam pelayanan, tapi sekarang makin hari makin tidak mau. Memang ada berbagai macam kemungkinan, misalkan ada orang yang tidak mau terlibat pelayanan karena memang melihat dirinya tidak layak tapi dia tidak berani bercerita kepada kita. Jadi dia simpan tapi dia tahu kalau dia tidak layak makanya dia tidak mau mengotori rumah Tuhan dengan kehadirannya, dan memang ada orang yang seperti itu. Tapi ada juga orang yang kehilangan minat sama sekali, tidak menganggap melayani Tuhan sebagai bagian hidup yang penting dan bagian ibadah yang penting. Jadi akhirnya sama sekali tidak mau. Atau menganggapnya ini buang waktu tidak ada hasilnya, "Buat apa saya buang-buang waktu seperti ini," Jadi kita mesti memerhatikan pertanda orang kalau mereka tidak mau terlibat lagi dalam pelayanan.
GS : Bagaimana kalau sejak dulu dia tidak terlibat dalam pelayanan, Pak Paul ?
PG : Berarti sejak dulu dia tidak begitu mengerti arti hidup buat Tuhan, sebab hidup buat Tuhan termasuk di dalamnya bersedia melayani Tuhan. Atau juga kalau dari dulu dia tidak mau melayani karena dari dulu dia bukan orang yang dekat dengan Tuhan, sehingga dia tidak merasakan perlunya membagi waktu untuk melakukan hal-hal demi Tuhan.
GS : Apakah ada ciri yang lain yang bisa kelihatan bahwa orang ini sedang menjauh dari Tuhan, Pak Paul ?
PG : Yang lain adalah dia jarang menyebut nama Tuhan dan tidak lagi mengikutsertakan Tuhan dalam pengambilan keputusan, dengan kata lain dia makin tergantung pada hikmat sendiri atau dia hanya tergantung pada konsultasi dengan orang lain dan dia tidak lagi berdoa, meminta tuntunan Tuhan dalam hidupnya. Waktu kita mengajaknya berdoa meminta tuntunan Tuhan, dia langsung menjawab, "Buat apa? Kita sudah pikirkan dan saya sudah berkonsultasi dengan orang ini dan ini adalah keputusan yang baik." Jadi keinginan mengikut sertakan Tuhan dalam hidup tiba-tiba lenyap, semua bergantung pada pertimbangan-pertimbangan manusiawi dan tidak lagi kita peduli dengan kehendak Tuhan, bagi saya itu adalah pertanda pasangan kita mulai menjauh dari Tuhan.
GS : Mungkin dia kecewa karena selama ini berdoa tapi Tuhan tidak menjawab lalu dia merasa, "Buat apa?" kemudian melihat orang yang sedikit-sedikit menyebut nama Tuhan tapi kelakuannya tidak sesuai dengan apa yang diungkapkannya, ini membuat orang juga menjauh, Pak Paul.
PG : Saya pernah mendengar hal yang sama dan sayangnya itu terjadi. Kita orang Kristen tidak selalu hidup benar di hadapan Tuhan dan adakalanya kita justru menghalangi orang datang kepada Tuhan. Jadi mungkin sekali pasangan kita tersandung atau terhalang datang kepada Tuhan gara-gara kecewa kepada sesama orang Kristen yang tidak hidup sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Namun inilah yang terjadi dalam dirinya, karena dia kecewa akhirnya dia sendiri menjauh dari Tuhan.
GS : Apakah ada ciri yang lain, Pak Paul ?
PG : Ciri terakhir adalah ia mulai menurunkan standart moral Tuhan dengan menoleransi dosa. Misalkan ia lebih menekankan pada penerimaan Tuhan, "Tuhan itu baik, Tuhan pasti menerima," dan meninggikan sikap tidak menghakimi. Saya perhatikan orang yang makin hari makin menjauh dari Tuhan, makin tidak berani mengatakan ini salah dan itu benar, dan dia makin tidak suka dengan orang yang suka berkata, "Ini salah atau ini benar." Jadi sangat mengidolakan dan mengidealkan, mendewakan sikap menerima penuh tanpa kondisi, tidak menghakimi. Dengan kata lain dia mulai lebih menitik beratkan pada kebaikan manusia sebagai jalan keselamatan dan bukan lagi pada anugerah Tuhan. Bagi dia segalanya itu menjadi relatif dan tidak ada lagi nilai-nilai moral yang absolut, sering keluar dari mulutnya, "Jangan menghakimi." Sudah sering saya melihat kalau orang sering bicara seperti itu, pertanda dia mulai menjauh dari Tuhan dan tidak jarang yang saya temukan yaitu dia pun sebetulnya sudah terlibat dalam banyak dosa, maka dia sangat peka dengan orang yang menyebut dosa atau mengatakan tentang hal apa yang Tuhan tidak setujui. Dia sangat peka sekali maka dia mulai menggambarkan sebuah Tuhan yang baru, Tuhan yang tidak pernah marah dengan dosa.
GS : Sebenarnya ada begitu banyak tanda yang tadi Pak Paul sudah mulai sebutkan sehingga kita bisa mengidentifikasi kalau orang ini sedang menjauh dari Tuhan. Tapi kenapa ada banyak pasangan yang tidak peka bahwa pasangannya ini sedang menjauh dari Tuhan ?
PG : Mungkin orang sering berpikir seperti ini, "Untuk sementara, itu normal karena orang tidak selalu dekat dengan Tuhan, tidak mengapa dia lelah tidak mau ke gereja, tidak mengapa kalau dia tidak sempat membaca Firman Tuhan tapi yang penting adalah dia masih mendengar khotbah, tidak mengapalah kalau tidak berdoa dan mungkin dalam hati dia berdoa." Jadi kita sebagai pasangan cenderung berusaha mengerti dan ini bukanlah sebuah sikap yang buruk namun kita mesti seimbangkan dengan penilaian yang cermat supaya bukannya menghakimi pasangan tapi supaya akhirnya bisa menolongnya dan terutama mencegahnya makin terjerumus di dalam jurang yang jauh dari Tuhan.
GS : Semua ini tentu ada penyebabnya karena tidak mungkin semua itu bisa terjadi pada pasangan kita kalau tidak ada penyebabnya. Hal-hal apa saja yang bisa menjadi penyebab seseorang itu menjauh dari Tuhan, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa, Pak Gunawan. Yang pertama adalah orang menjauh dari Tuhan karena dia terlibat dalam dosa. Sifat dosa yang utama adalah memisahkan kita dari Tuhan, dan ini yang harus kita sadari. Pasangan yang mulai terlibat dalam dosa sebetulnya memilih memisahkan diri dari Tuhan sebab sifat dosa memisahkan dirinya dari Tuhan. Itu sebabnya dia tidak nyaman berada dalam hadirat Tuhan dan berupaya menghindar. Itu sebabnya juga ia tidak bersekutu dengan Tuhan baik secara pribadi maupun jemaat, ia pun berusaha menghindar dari sesama saudara seiman sebab dosa membuatnya defensif, tidak nyaman berada bersama saudara-saudara seiman dan mungkin dia juga takut kalau-kalau dosanya terbongkar di hadapan saudara- saudara seiman. Kalau mereka mulai bertanya ini dan itu, ia menjadi susah menjawab atau akhirnya ketahuan. Itu sebabnya orang-orang ini berusaha menghindar dari persekutuan.
GS : Tetapi kalau kita sebagai pasangan yang hendak menolong dengan bertanya, "Kamu ini memunyai dosa apa, kenapa semakin menjauh dari Tuhan? Dan saya rasa kamu pasti punya dosa." Saya yakin pasangannya setelah mendengar hal itu menjadi marah, Pak Paul.
PG : Betul. Jadi sikap defensif itu seringkali keluar karena sekali lagi dalam hatinya tahu kalau dia salah dan dia sedang terlibat dalam dosa. Maka tadi saya sudah singgung yang acapkali keluar dari mulutnya adalah, "Sudahlah jangan menghakimi, semua orang tidak ada yang sempurna dan semua orang juga berdosa, pendeta pun bisa jatuh dalam dosa." Jadi akhirnya dia berusaha untuk membenarkan kondisinya itu.
GS : Hal lain yang menyebabkan orang jauh dari Tuhan apa, Pak Paul ?
PG : Yang berikut adalah hubungan pernikahan yang bermasalah. Jadi kalau kita sering konflik, akibatnya pasangan menjauh dari Tuhan sebab bila pasangan merasa bahwa kita yang rohani adalah bagian dari masalah, kecenderungan dia adalah menjauh dari Tuhan, mungkin sekali dia merasa kalau kita adalah orang yang munafik menyebut-nyebut nama Tuhan tapi tidak memerlihatkan kasih Kristus dalam kehidupan. Oleh karena dia tidak mau disamakan dengan orang munafik, ia pun menolak untuk dekat dengan Tuhan. Jadi seolah-olah mereka berkata, "Buat apa kamu mengaku diri rohani tapi hidupmu seperti ini yaitu sering memaki saya dan sebagainya, untuk apa saya dekat dengan Tuhan dan buat apa saya terlibat pelayanan seperti kamu." Akhirnya dia menjadi menjauh dari Tuhan.
GS : Di sini banyak pasangan yang merasa dihakimi oleh pasangannya sendiri, seolah-olah tidak serius dan tidak sungguh-sungguh di dalam Tuhan kemudian diberikan ayat-ayat Kitab Suci, akibatnya orang ini makin menjauh dari Tuhan.
PG : Kalau hidup kita benar-benar tulus, penuh kasih sayang dan mengikut Kristus sepenuh hati, bisa jadi kendati kita bicara mengarahkan seperti itu maka dia tidak marah karena dia tidak memiliki alasan untuk marah. Yang membuat dia marah adalah kalau dia melihat kita tidak hidup konsisten.
GS : Bagaimana dengan kekecewaan terhadap Tuhan, Pak Paul ?
PG : Tadi kita sudah singgung sedikit, seringkali ini adalah penyebab kenapa pasangan tidak mau dekat lagi dengan Tuhan. Kekecewaan membuat semangatnya padam dan kasihnya kepada Tuhan juga redup dan mungkin dia merasa disakiti dan tidak mau disakiti lagi untuk kedua kalinya, akhirnya dia memilih untuk jauh dari Tuhan agar tidak mengalami kekecewaan lagi. Sebab bagi dia, dia tidak akan kecewa kalau dia tidak harus melihat perilaku orang-orang Kristen seperti ini. Atau kalau saya tidak meminta apa-apa kepada Tuhan maka saya tidak akan menerima penolakan apa-apa dari Tuhan juga dan saya tidak harus kecewa. Ada orang yang menjauh dari Tuhan akibat kekecewaan.
GS : Karena pengaruh teman atau orang-orang yang dekat dengan dia, seringkali orang menjauh karena imannya goncang. Dia mau pindah ke agama lain tapi belum berani memutuskan. Apakah hal itu juga bisa terlihat, Pak Paul ?
PG : Ini juga bisa terjadi. Jadi karena pergaulan atau pengaruh-pengaruh mungkin dia mulai mempertanyakan nilai-nilai kepercayaannya, "Apakah itu benar, tapi kenapa seperti ini dan tidak masuk diakal, kenapa Tuhan seperti ini." Akhirnya dia mengalami kesukaran menerima dogma-dogma Kristiani dan mulai mempertanyakan kebenaran Alkitab sehingga akhirnya mulailah dia memertimbangkan keyakinan yang lain. Atau untuk sementara tidak memertimbangkan kepercayaan yang lain, namun dia juga tidak bisa lagi memercayai apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan.
GS : Kita tiba pada bagaimana mengatasinya, karena masalah-masalah seperti ini harus kita tanggulangi khususnya kita sebagai pasangan. Apa yang bisa kita lakukan, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa kalau mengenai keterlibatan pasangan dengan dosa, kita harus mengingatkannya akan kekudusan dan kemahatahuan Tuhan, ingatkan dia akan Mazmur 69:6 yang berkata, "Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu." Dengan kata lain, kita harus mengingatkan bahwa Tuhan mengetahui segalanya dan akan menuntut pertanggung-jawaban kita. Jadi secara halus dan lembut kita ingatkan dia akan Firman Tuhan ini, Ia kudus dan Ia Mahatahu jadi jangan sampai kita melanggar kehendak-Nya.
GS : Bagaimana kalau penyebabnya karena hubungan kita sebagai suami istri sudah tidak harmonis lagi ?
PG : Seperti tadi yang telah kita singgung itu merupakan salah satu penyebabnya. Jadi tidak bisa tidak kita harus membereskannya terlebih dahulu sebelum kita bicara banyak tentang hal-hal rohani, kita harus membereskan masalah dalam pernikahan kita terlebih dahulu, carilah seorang konselor atau hamba Tuhan, tunjukkanlah itikad baik kepadanya dengan mengatakan bahwa kita menyadari kalau ada masalah dalam pernikahan dan perlihatkan niat bahwa kita ingin menyelesaikan masalah ini dan beri dia kesempatan untuk mengutarakan keluh kesahnya kepada kita. Jadi singkat kata, fokuskan dulu pada masalah kita sebelum kita nanti membawa-bawa masalah rohani dalam pembicaraan kita dengan dia.
GS : Kalau dia terbuka maka masalah ini akan bisa diselesaikan, tapi kalau dia menutup-nutupi masalah dan dia mengatakan, "Tidak ada apa-apa di antara kita," maka penyelesaian ini akan lebih lama lagi, Pak Paul ?
PG : Betul. Kalau memang tidak ada sambutan dari dia dan dia tidak mau lagi menyelesaikan masalah pernikahan, itu yang menjadi kendala. Mungkin langkah terakhir kalau ini masalahnya maka kita harus minta maaf dan kita katakan, "Hal-hal keliru yang saya lakukan, saya minta maaf tapi sekarang kita coba perbaiki masalah pernikahan ini."
GS : Mungkin ada cara lain, Pak Paul, yang harus kita lakukan ?
PG : Bila penyebabnya adalah kekecewaan terhadap Tuhan dan sesama orang Kristen, maka ajaklah dia untuk mengemukakan kekecewaan itu kepada Tuhan dalam doa, doronglah dia untuk membuka semua kekecewaannya kepada Tuhan. Akuilah bahwa tidak selalu kita dapat memahami Tuhan dan akui pula bahwa orang Kristen pun dapat melakukan perbuatan yang salah, setelah itu kita bawa dia kepada salib Kristus, ingatkan bahwa salib adalah bukti kasih dan komitmen Tuhan terhadap kita. Ingatkan juga bahwa pemazmur sendiri dan sebagian dari hamba Tuhan di dalam Alkitab adalah orang yang pernah mengalami kekecewaan. Tidak heran Daud di Mazmur 69:4 berkata, "Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri karena mengharapkan Allahku," jadi di sini kita melihat bahwa inilah kondisi nyata raja Daud yang dekat dengan Tuhan, dia bisa lesu dan dia bisa merasa begitu letih karena sudah berlama-lama berseru kepada Tuhan, tapi tidak mendapatkan jawabannya namun perhatikan akhir dari keluhannya di Mazmur 69:34 ia berkata, "Sebab Tuhan mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan." Artinya Tuhan pasti akan mendengarkan doa dia. Jadi meskipun dia kecewa tidak mendengarkan jawaban Tuhan, tapi tetap dia percaya bahwa Tuhan akan memerhatikannya.
GS : Kalau kekecewaan itu terjadi kepada sesama anggota jemaat atau bahkan kepada majelis atau pendetanya dan kemudian dia meminta, "Kita pindah gereja saja," apakah hal itu perlu dituruti atau bagaimana, Pak Paul ?
PG : Saya kira untuk pindah kita perlu perlahan dalam pengambilan keputusan dan kita harus melihat dan memberi kesempatan apakah ada perubahan dan suarakan keluhan kita, apakah didengarkan atau apakah nanti ada tindak lanjut dan apakah ada damai sentosa dalam hati kita waktu kita nanti bersekutu dan beribadah di sana. Kalau kita sudah suarakan masukan kita tapi tidak disambut, kita sudah memberi kesempatan dan waktu tapi tidak ada perubahan dan tidak ada damai sejahtera, kita tidak lagi bertumbuh dalam Tuhan, semua itu kita pertimbangkan mungkin kita harus berkata pada akhirnya, "Baiklah saya terima." Namun kadang-kadang meskipun kita tahu kalau pasangan kita yang kurang tepat, sebetulnya tidak apa-apa tetap di gereja ini. Namun kalau dia ingin pindah sebaiknya kita tahan dulu, tapi kalau dia merasa bahwa sudah tidak bisa lagi di sini mungkin pada akhirnya kita harus mengalah sebab yang penting adalah jangan sampai dia tidak lagi beribadah kepada Tuhan.
GS : Lalu bagaimana dengan yang tadi kita bicarakan kalau orang ini atau pasangan kita ini ingin pindah ke agama lain, Pak Paul ?
PG : Kalau ada perubahan iman kepercayaan, ada 2 tindakan yang harus kita ambil misalnya ada orang yang meragukan keyakinannya karena ilmu pengetahuan. Sebaiknya dalam kasus seperti itu, kita memintanya membaca buku tertentu atau memintanya berbicara dengan seorang ilmuwan yang bukan hanya memahami sains tapi juga Firman Tuhan. Tapi bila keraguannya atau kegoncangannya tidak berkaitan dengan ilmu pengetahuan, sebaiknya kita memintanya untuk mendalami Firman Tuhan lewat bimbingan seorang hamba Tuhan yang berpengalaman. Ijinkan dia untuk bertanya bahkan bawalah semua pertanyaan ini di hadapan Tuhan dalam doa. Jadi biarkanlah dia bergumul di dalam Tuhan dan bukan di luar Tuhan. Jadi dalam doa silakan berkata, "Tuhan saya ragu, saya tidak tahu lagi apakah ini benar atau tidak." Jadi biarkan dia katakan kepada Tuhan sebab inilah caranya Tuhan memimpin ia kembali ke jalan-Nya.
GS : Tapi biasanya sulit sekali bagi orang yang sudah mengundurkan diri untuk tetap berdoa, untuk tetap menggumuli Firman Tuhan karena konsepnya adalah kekristenan ini sudah jelek dan dia ingin pindah ke lainnya.
PG : Seringkali kita tidak bisa memaksakan tapi kita bisa dengan memberi teladan lewat tindakan kita yang penuh kasih sayang dan kelembutan, mendengarkannya dan terus berdoa untuk dia sebab kita tahu bahwa ini adalah sebuah pertarungan rohani meskipun kita tidak bisa melihatnya secara kasat mata. Tapi dalam doa kita terus mendoakannya dan waktu dia melihat kesaksian hidup kita yang indah itu maka tidak bisa tidak dia pun tidak mudah untuk meninggalkan apa yang telah dipercayainya itu. Jadi itulah yang bisa kita lakukan, Pak Gunawan.
GS : Mungkin kunci utamanya adalah kita tetap mengasihi dia dan memerlakukan dia dengan penuh kasih, begitu Pak Paul ?
PG : Betul sekali.
GS : Karena tanpa itu maka pasangan kita bisa terhilang.
PG : Betul.
GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Ketika Pasangan Menjauh Dari Tuhan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu masalah yang kerap dihadapi dewasa ini adalah menjauhnya pasangan dari Tuhan. Pada awalnya ia dekat dengan Tuhan dan rajin dalam pelayanan namun seiring dengan berjalannya waktu ia pun makin menjauh dari Tuhan. Berikut akan dipaparkan ciri pasangan yang menjauh dari Tuhan dan pelbagai penyebabnya. Terakhir akan dipaparkan cara untuk menghadapi pasangan yang tengah menjauh dari Tuhan.
Ciri Pasangan yang Menjauh dari Tuhan
Ia mulai meninggalkan persekutuan pribadi dengan Tuhan.
Ia mulai tidak bersemangat beribadah kepada Tuhan.
Ia menghindar dari ajakan untuk melayani Tuhan dengan pelbagai alasan.
Ia jarang menyebut nama Tuhan dan tidak mengikutsertakan Tuhan dalam pengambilan keputusan.
Ia mulai menurunkan standar moral Tuhan dan menoleransi dosa. Ia lebih memfokuskan pada kebaikan manusia sebagai jalan keselamatan. Tiba-tiba segalanya menjadi relatif-tidak ada lagi nilai moral yang absolut.
Penyebab Menjauh dari Tuhan
Terlibat dalam dosa. Sifat dosa yang utama adalah memisahkan kita dari Tuhan. Itu sebabnya ia tidak bersekutu dengan Tuhan baik secara pribadi maupun jemaah.
Hubungan pernikahan yang bermasalah. Mungkin sekali ia merasa kita adalah orang yang munafik-menyebut-nyebut nama Tuhan namun tidak memperlihatkan kasih Kristus dalam kehidupan.
Kekecewaan terhadap Tuhan atau sesama orang Kristen. Kekecewaan membuat semangat padam dan kasih kepada Tuhan redup. Akhirnya ia memilih jauh dari Tuhan agar tidak mengalami kekecewaan lagi.
Perubahan iman kepercayaan. Ia mengalami kesukaran menerima dogma kristiani dan mulai memertanyakan kebenaran Alkitab sebagai Firman Tuhan.
Cara Menghadapi
Bila penyebabnya adalah keterlibatan dalam dosa, kita harus mengingatkannya akan kekudusan dan kemahatahuanTuhan. Mazmur 69:6 berkata, "Ya Allah Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu."
Bila penyebabnya adalah hubungan pernikahan yang bermasalah, kita mesti membereskannya terlebih dahulu. Carilah konselor atau hamba Tuhan. Tunjukkanlah itikad baik kepadanya dengan mengatakan bahwa kita menyadari adanya masalah dalam pernikahan dan niat kita untuk menyelesaikan masalah.
Bila penyebabnya adalah kekecewaan terhadap Tuhan dan sesama orang Kristen, ajaklah dia untuk mengemukakan kekecewaan itu kepada Tuhan di dalam doa.
Daud pun pernah kecewa dan mengeluh di Mazmur 69:4, "Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri karena mengharapkan Allahku." Namun perhatikanlah akhir dari keluhannya di Mazmur 69:34, "Sebab Tuhan mendengarkan orang-orang miskin dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan."
Bila penyebabnya adalah perubahan iman kepercayaan, ada dua tindakan yang dapat kita ambil. Bila ini berkaitan dengan ilmu pengetahuan, sebaiknya kita memintanya membaca buku tertentu atau memintanya berbicara dengan seorang ilmuwan yang bukan saja mendalami sains tetapi juga Firman Tuhan. Bila tidak berkaitan dengan ilmu pengetahuan, sebaiknya kita memintanya untuk mendalami Firman Tuhan lewat bimbingan seorang hamba Tuhan yang berpengalaman.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:12am.
Abstrak:
Hidup tidak ideal. Kadang karena pelbagai alasan, pasangan terpaksa berurusan dengan hukum dan mendekam dalam penjara. Keberadaan pasangan mulai dari proses pengadilan sampai dalam penjara akan memberi pengaruh besar pada kehidupan keluarga. Apakah yang harus dilakukan bila ini terjadi?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Ketika Pasangan Terlibat Kriminal". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, ada banyak pasangan dan mungkin beberapa pasangan yang walaupun tidak dikehendaki ternyata salah satu dari pasangan ini harus berhubungan dengan hukum dan pengadilan, bahkan harus dipenjarakan di lembaga pemasyarakatan. Sebagai pasangan yang tidak ikut terlibat langsung bahkan tidak mengetahui masalahnya seringkali menjadi bahan pertanyaan atau bahan perbincangan. Kalau seperti itu apa yang harus dilakukan sebagai pasangan ?
PG : Pertama-tama kita harus melihat dampak perbuatan itu, maksudnya keterlibatan pasangan secara hukum pada keluarga kita. Yang pertama adalah perbuatan pasangan yang menyebabkan dia berhubungan dengan hukum biasanya membuat kita dan anak-anak harus menanggung rasa malu yang besar, rasanya kita tidak sanggup lagi bertemu dengan sanak saudara dan teman oleh karena rasa malu itu, kita pun enggan berjumpa dengan orang sebab kita tidak ingin mendapat pertanyaan tentang hal itu. Jadi sedikit banyak rasa malu itu menjadi beban yang berat yang harus kita tanggung untuk waktu yang cukup lama.
GS : Dengan kemajuan media seperti sekarang ini, hal-hal seperti itu tersiar dengan sangat cepat sehingga dimana pun kita berada seolah-olah kita itu berjumpa dengan orang-orang yang selalu mempersoalkan hal itu, yang mungkin belum tentu merupakan suatu kesalahan hanya karena ideologi, faham agama dan sebagainya, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Jadi seringkali melalui media massa berita itu tersebar meskipun belum tentu pasangan kita bersalah atau yang kedua adalah lewat mulut artinya teman berbicara dengan teman dan akhirnya sampai kemana-mana. Inilah yang menjadi bagian konsekuensi yang harus ditanggung oleh kita kalau pasangan kita terlibat dengan hukum. Jadi apa yang harus kita lakukan jikalau ini yang terjadi? Saya kira seperti ini, tentu respons malu adalah wajar dan keengganan kita untuk bersembunyi juga wajar. Jadi saya sarankan untuk sementara waktu hal itu tidak mengapa kalau kita menutup diri supaya kita bisa merenungkan apa yang telah terjadi dan mungkin waktu kita memisahkan diri dari lingkungan, memberi kepada kita kesempatan untuk membuat rencana ke depan. Jadi itu bisa digunakan untuk mengumpulkan tenaga yang selama ini telah habis ketika menghadapi tekanan ini. Ini adalah waktu yang kita anggap bahwa kita sedang beristirahat. Namun satu hal yang saya titipkan adalah jangan sampai kita memutuskan hubungan dengan semua orang dan ini sangat penting. Jadi kita mesti berani untuk meminta bantuan dari sekurangnya seseorang yang rohani, yang bijak yang dapat dipercaya karena dalam masa ini kita mungkin sekali harus mengambil begitu banyak keputusan yang besar dan kalau tidak hati-hati, maka kita malah terjerumus ke dalam kesalahan dalam pengambilan keputusan itu.
GS : Pada awalnya pasangan akan berupaya untuk membebaskan pasangannya yang ditahan atau bahkan dipenjarakan, jadi segala jalan akan ditempuh entah itu mencari pembela, atau mencari orang yang membenarkan perbuatannya itu. Apakah hal itu bisa dibenarkan, Pak Paul ?
PG : Ini adalah respons yang sesuai dengan hukum jadi kita tidak salah mencari pengacara untuk bisa mewakili pasangan kita dalam proses hukum ini dan memang ini adalah bagian dari peradilan yang ditetapkan. Jadi menurut saya tidak salah, tapi yang penting adalah jangan sampai kita terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang salah. Selama kita meminta bantuan pengacara atau bantuan hukum untuk melindungi pasangan kita maka saya kira itu dapat dibenarkan.
GS : Tadi Pak Paul katakan, adalah saatnya untuk menyusun rencana ke depan. Biasanya itu rencana apa, Pak Paul ?
PG : Misalnya dari masalah-masalah yang dihadapi, kita bisa memutuskan misalnya apakah kita bisa meneruskan tinggal di tempat yang sama ataukah kita harus menjual asset kita ataukah kita harus meminta bantuan orang untuk menalangi hutang kita dan sebagainya. Biasanya cukup banyak hal yang harus diputuskan yang berkaitan baik itu dengan proses hukum pasangan kita maupun dengan masa depan keuangan keluarga kita. Jadi dalam hal ini saya kira ada baiknya kita tidak sendirian, dan jangan sampai kita memutuskan hubungan dengan semua orang karena rasa malu dan akhirnya mengambil langkah sendiri. Takutnya kita malah terjerumus.
GS : Kalau kita datang kepada seseorang yang lebih rohani atau rekan yang seiman biasanya manfaatnya apa, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kita bisa mendapatkan dukungan doa karena dia tahu masalah ini dengan lebih jelas lagi. Nanti dia juga dapat menjadi juru bicara kita untuk mewakili kita memberi penjelasan kepada orang lain karena memang kita tidak bisa menjelaskan kepada semua pihak. Ada pihak-pihak yang bisa kita jelaskan, tetapi kebanyakan tidak. Kalau ada orang yang dapat kita percaya, dewasa secara rohani maka orang inilah yang nanti dapat menolong kita memberi penjelasan kepada orang-orang. Jadi setidaknya dua hal itu yang bisa kita terima dari seseorang yang lebih matang dan lebih rohani memberikan dukungan doa dan wejangan-wejangan dari Firman Tuhan. Yang kedua adalah mewakili kita memberi penjelasan kepada pihak lain sehingga berita yang sudah begitu menyimpang dari kebenaran bisa kembali diluruskan.
GS : Kadang-kadang kita juga ragu, apakah orang-orang di sekeliling kita mengetahui persis persoalan yang dialami oleh pasangan kita dan bagaimana sikap kita, Pak Paul?
PG : Ini adalah bagian dari respons kita sewaktu perbuatan pasangan yang menyebabkannya berurusan dengan hukum, seringkali membuat kita bertanya-tanya tatkala bertemu dengan orang, "Apakah sesungguhnya ia telah mengetahui kasus itu," dan ini yang penting yaitu, "Apakah yang dipikirkannya tentang diri kita sekarang." Jadi kita benar-benar ingin tahu. Kenapa kita ingin tahu sebab di satu pihak kita ingin mengetahui apakah orang tetap menerima diri kita apa adanya, karena kita tidak ingin kalau orang menolak kita dan kita ingin agar mereka tetap melihat kita secara positif. Namun di pihak lain meskipun kita ingin tahu, tapi kita takut bertanya dan kita merasa tidak bersalah kalau kita bertanya, "Bagaimana menurutmu? Apakah kamu tetap menerima saya?" rasanya kita tidak tepat kalau bertanya seperti itu. Jadi seringkali hal itulah yang menjadi pertanyaan-pertanyaan waktu kita bertemu dengan orang, kita ingin tahu apakah orang sudah mengetahuinya dan apakah orang ini menerima kita atau tidak.
GS : Sebaiknya kita yang bertanya dulu untuk memulai pembicaraan atau menunggu tanggapan dari orang tersebut, Pak Paul ?
PG : Saya kira kalau kita sudah dekat dengan dia, tidak apa-apa kita langsung menceritakan karena besar kemungkinan dia sudah tahu. Waktu dia dekat dengan kita dan dia berkeinginan menolong kita namun seringkali dia ragu-ragu apakah dia perlu bertanya karena dia takut nanti menyinggung kita. Jadi kalau kita tahu bahwa dia dekat dengan kita maka sebaiknya kita menceritakannya tapi kalau orang itu tidak dekat dengan kita, sudah tentu kita tidak harus menceritakannya. Hal ini penting untuk kita ketahui mengenai bagaimana pendapat mereka sekarang? Karena kita ingin mengetahui apakah orang-orang sekarang mengetahui kasus kita? sebab kalau mereka sudah mendengar kasus kita seringkali kita harus menyesuaikan sikap kita terhadapnya. Misalkan jika dia tahu tentang kasus kita maka lebih baik kalau kita bercerita dan menjelaskannya, namun kalau dia belum tahu dan tidak terlalu dekat dengan kita maka kita biasa-biasa saja, sehingga menjadi sebuah relasi yang relatif normal.
GS : Tetapi kadang-kadang ada keinginan di dalam diri kita untuk menceritakan yang sebenarnya kepada orang, dimana dia sedikit pun tidak mengetahui masalah ini. Apa ini perlu, Pak Paul ?
PG : Sekali lagi kalau orang itu dekat dengan kita dan dia peduli dengan kita serta dia tulus mau memerhatikan kita maka tidak ada salahnya kita bercerita karena dari orang yang tulus dan peduli kepada kita maka kita akan mendapatkan dukungan dan doa-doanya. Hal itu kita perlukan untuk melewati masa yang sulit ini. Ibarat beban, beban itu begitu berat dan kita tidak bisa memikul beban itu sendiri. Namun berapa banyak informasi yang kita bagikan, sekali lagi itu bergantung pada berapa nyamannya kita dengan dia, berapa terlibatnya dia dalam hidup kita, berapa intimnya dan akrabnya dengan dia dan satu lagi yaitu berapa bermanfaatnya informasi itu baginya. Jadi sekali lagi kalau orang itu tidak dekat, tidak terlalu peduli dengan kita dan tidak ada manfaatnya dia mengetahui hal itu maka lebih baik tidak perlu kita menceritakannya. Jadi semua faktor ini selalu kita pertimbangkan sebagai kriteria perlu atau tidaknya kita menceritakan hal itu kepadanya.
GS : Pak Paul, apakah ada hal lain yang kita bisa lakukan kalau sampai pasangan kita itu mendekam di penjara karena kasus-kasus kriminal ?
PG : Perbuatan pasangan yang menyebabkan dia berhubungan dengan hukum membuat hidup kita terganggu dan bahkan terputus. Misalkan gara-gara hutang, akhirnya kita harus pindah rumah atau menyewa rumah yang lebih sederhana. Atau kita harus berhenti dari pekerjaan dan mencari pekerjaan baru, besar kemungkinan penghasilan kita akan menurun dengan drastis atau bahkan kita tidak akan berpenghasilan sama sekali. Semua ini menyebabkan kehilangan kerutinan dan rasa aman yang selama ini kita nikmati, jadi benar-benar rumah kita ini seperti rubuh dan sekarang kita berada di alam terbuka. Jadi kita merasa kebingungan, apa yang harus kita lakukan dengan banyaknya perubahan-perubahan yang kita jalani.
GS : Kalau memang ada hal-hal seperti itu, apa sebaiknya yang harus kita lakukan, Pak Paul?
PG : Menurut saya, kita harus benar-benar mengambil keputusan yang besar dengan berhati-hati dilandasi dengan doa, dilandasi dengan pertimbangan yang matang, jangan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa apalagi emosional dan menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan penghasilan, dengan perpindahan tempat tinggal. Jadi jika masih memungkinkan saya sarankan lebih baik tinggal di tempat yang sama dan memertahankan pekerjaan yang sama daripada terburu-buru pindah karena malu. Sebab perubahan hidup akibat perginya pasangan ke penjara, itu sudah cukup membawa tekanan yang berat, perpindahan dan hilangnya mata pencaharian itu akan menambah beratnya beban. Belum lagi dampaknya kepada anak-anak yang harus pindah ke sekolah yang baru, membangun persahabatan dengan teman yang baru. Semua itu adalah tekanan yang sangat berat. Saya tidak berkata, "Jangan pindah sama sekali atau jangan berhenti bekerja sama sekali," tapi yang saya minta adalah pertimbangkan masak-masak semuanya. Seringkali dalam pengambilan keputusan seperti ini, kita harus mengorbankan kepentingan tertentu karena tidak semua kepentingan bisa kita penuhi dan tidak semua keinginan yang baik bisa kita genapi. Jadi akan ada pengorbanan-pengorbanan tapi kita lihat dulu pengorbanan yang seperti apa yang lebih bisa kita lakukan, jangan sampai kita mengorbankan hal yang sangat penting.
GS : Dalam hal ini, yang dipenjarakan adalah pihak suami. Apakah si istri perlu berkonsultasi dulu dengan suami sebelum memutuskan sesuatu ?
PG : Sedapatnya ya. Jadi kita libatkan pasangan kita yang berhubungan dengan hukum itu, sehingga dia tidak merasa disingkirkan sebab sudah tentu dalam masa-masa seperti ini, mungkin sekali dia peka dan merasa bahwa dia tidak ada artinya dan tidak dihormati lagi. Jadi saya kira di sini si istri perlu berkonsultasi dengan suaminya meskipun si suami harus berada di dalam tahanan sehingga si suami merasa dekat dan dilibatkan. Setelah semuanya dipertimbangkan dan berkonsultasi dengan suami dan minta pendapat dari orang lain maka ambillah keputusan apa pun itu keputusannya. Kalau memang kita harus menanggung susah karena keputusan itu namun itu adalah keputusan yang terbaik maka tanggunglah kesusahan itu, bicaralah dengan anak-anak dan berilah mereka pengertian, siapkan hati mereka dan rancanglah langkah konkret untuk memudahkan mereka menjalani transisi ini. Misalkan kita katakan, kita akan tinggal di rumah yang lebih sederhana, kita mengajak dia melihat rumah itu dan kita katakan, "Ini menjadi kamarmu yang baru tapi kamu nanti harus berbagi kamar dengan saudaramu dan tidak bisa satu anak memiliki kamar sendiri-sendiri, tapi nanti saya akan berusaha membelikannya." Jadi lakukanlah apa yang bisa dilakukan seperti langkah-langkah kecil misalnya hadiah-hadiah kecil atau perbuatan-perbuatan kecil yang dapat melegakan hati si anak dalam masa transisi ini.
GS : Sebenarnya sangat berat Pak Paul, karena harus dihadapi seorang diri sementara di saat-saat normal hal ini dihadapi bersama-sama dengan pasangan.
PG : Betul sekali. Dan ini membawa kita kepada dampak berikutnya yaitu bukan saja kita harus sendiri tanpa pasangan, namun seringkali perbuatan pasangan yang menyebabkan dia berhubungan dengan hukum membuat kita kehilangan kerabat, sanak saudara dan teman-teman baik. Kita tidak bisa menghindari hal itu sebab tidak semua orang dapat menerima diri kita kendati kita sesungguhnya adalah korban. Mungkin sekali kita tidak tahu apa-apa tapi orang tidak mau peduli dan orang-orang hanya akan berpikir, "Kamu seharusnya tahu dan kamu pasti terlibat." Jadi akan ada orang yang menjauh dan akan ada orang yang malah memutuskan hubungan dengan kita. Mungkin kita kehilangan sahabat, mungkin pula kita kehilangan komunitas gerejawi, tiba-tiba kita merasa bahwa diri kita sebagai penderita kusta.
GS : Dalam hal ini Pak Paul, kalau kita merasa bahwa ada orang-orang di sekitar atau sahabat kita yang kemudian menjauh, apakah kita perlu meminta mereka untuk memahami kondisi kita dan meminta mereka untuk tetap tinggal dekat kita, Pak Paul ?
PG : Saya kira setelah kita melakukan segala upaya untuk memberi penjelasan kepada sanak-saudara yang dekat dengan kita, tapi mereka tetap memilih untuk menjauhi, saya kira tidak banyak yang bisa kita lakukan. Jadi akhirnya kita harus menerima hal ini yaitu bahwa penolakan orang adalah bagian dari hidup bersama pasangan yang terlibat perkara kriminal. Kita mesti menerimanya sebab kita tidak bisa memaksa orang untuk menerima diri kita. Memang ada godaan untuk meyakinkan orang kalau kita tidak bersalah atau setidaknya bahwa kita tidak sebersalah yang dikiranya namun pada kenyataannya kesempatan untuk menjelaskan tidak selalu hadir dan kita harus siap disalahmengerti dan dinilai buruk sebab tidak mungkin kita bisa meyakinkan semua orang. Jadi saran saya adalah terpenting kita meyakinkan beberapa orang yang telah menjalin hubungan baik dengan kita dan inilah relasi yang mesti dipertahankan dan diselamatkan. Jadi jujurlah kepada mereka-mereka ini, jangan menutupi sebab tindakan menutupi hanya akan memperburuk kondisi yang sudah buruk ini.
GS : Ada orang yang kalau mendengar kisah kita tentang pasangan yang terlibat kriminal, mungkin karena mereka tidak ingin melukai hati kita lalu pembicaraan itu tidak difokuskan ke arah itu. Jadi teman kita selalu mencari pokok pembicaraan yang lain, sehingga kita kesulitan sebenarnya dia ini ada pada posisi yang mana mau memahami kita atau tidak.
PG : Memang kita tidak selalu memperoleh kejelasan, memang ada orang yang sengaja menghindar karena tidak mau melukai kita, menambah kesedihan kita, ada orang yang menghindar karena mereka tidak tahu bagaimana untuk bersikap. Jadi dia bingung, daripada dia bicara dan bingung maka lebih baik dia diam saja, menghindar dan membelokkan arah percakapan. Tapi ada juga orang yang menganggap ini adalah perbuatan pasanganmu dan kamu tidak bermasalah maka saya akan memerlakukan kamu biasa-biasa saja. Jadi banyak kemungkinan dan sudah tentu kita ini ingin tahu kemungkinan mana yang benar sehingga kita tahu memosisikan diri atau bagaimana bersikap kepada dia. Tapi adakalanya kita tidak tahu sampai nanti. Seringkali yang terjadi seperti ini, yaitu setelah lewat waktu-waktu yang lama, biasanya orang baru berbicara, "Sebetulnya dulu itu...," barulah mereka bercerita isi hati yang sesungguhnya tapi nanti dia akan tambahkan dengan kata-kata penutup, "Saya tidak berani berbicara karena takut kalau nanti akan menyinggung perasaanmu." Jadi saya ingin memberitahu kepada kita semua yang mengalami peristiwa seperti ini yaitu maklumilah bahwa orang itu tidak selalu harus tahu apa yang seharusnya dilakukan terhadap kita atau bagaimana memerlakukan kita dalam situasi seperti ini dan kita harus mengerti, dan jangan salahkan mereka kalau mereka tidak tahu bersikap atau justru mengatakan hal yang keliru. Jadi terimalah bahwa ini adalah bagian dari gejolak yang harus kita hadapi.
GS : Lalu seringkali kita dalam kondisi seperti ini mudah emosi. Jadi kalau ada orang-orang yang bukan menolong tapi membingungkan kita, kita akhirnya marah-marah dan ini merenggangkan hubungan yang mestinya tidak perlu terjadi.
PG : Ini point yang baik sekali. Jadi kita harus belajar sabar memahami bahwa orang itu tidak selalu tahu bersikap yang benar terhadap kita dan kita jangan cepat tersulut sebab kalau itu yang kita lakukan maka kita malah makin memutuskan hubungan dengan orang dan makin orang itu seolah-olah merasa terkonfirmasi, "Kamu ini merasa bersalah makanya kamu begitu defensif, tidak bisa dengar apa pun yang saya katakan," kalau itu yang terjadi maka semuanya makin repot.
GS : Kalau selama ini kita membicarakan tentang hubungan kita dengan orang lain, sekarang bagaimana hubungan kita dengan anak-anak, Pak Paul ?
PG : Ini yang memang serius, perbuatan pasangan yang menyebabkan dia berurusan dengan hukum membuat kita kehilangan wibawa di depan anak. Tidak bisa tidak akan ada penurunan wibawa, karena otoritas atau wibawa dibangun diatas integritas yaitu hidup benar di hadapan Tuhan. Perbuatan pasangan kita yang terlibat hukum seakan menarik keluar alas wibawa kita di dalam keluarga, membuat kita akhirnya merasa tidak layak memberi arahan dan disiplin kepada anak, seakan-akan kita merasa, "Siapa saya, menegur-negur anak, memberi disiplin kepada anak padahal kami sendiri seperti ini." Hal ini seringkali yang menjadi pergumulan pasangan yang ditinggal di rumah.
GS : Jadi bagaimana sikap kita terhadap anak-anak, karena tidak mungkin kita membiarkan mereka hidup tanpa kedisiplinan karena hal ini, Pak Paul.
PG : Saya kira tidak bisa tidak akan terjadi goncangan dalam hubungan dengan anak, mereka malu dan harus menderita akibat perbuatan orang tuanya. Hal-hal ini tidak bisa dihindari. Tugas kita memang berat, disamping berusaha kuat untuk diri sendiri, jangan sampai kita ambruk tapi kita pun harus kuat dengan anak sekaligus menjaga ketertiban dalam keluarga. Saran saya adalah kita izinkan anak untuk mengutarakan perasaannya, baik itu rasa malu maupun rasa marah dan jangan kita melarang anak menyatakan isi hati yang sebenarnya. Waktu kita mengatakan kalau kita kecewa, saya hilang respek dan sebagainya, kita jangan marah dan menegur anak dengan mengatakan kepada anak, "Kurang ajar" dan sebagainya, tapi biarkan mereka menyatakan isi hati yang sebenarnya, namun kita pun mesti berusaha menjalankan roda kehidupan dengan senormal mungkin dan jangan paksa anak untuk lebih sering diam di rumah, "Jangan keluar, malu!" karena mereka juga perlu menjalankan roda kehidupan mereka seperti biasanya. Jadi untuk hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal seperti mendisiplin di rumah, saya kira kita harus tetap tegakkan disiplin seperti biasanya, apa pun penilaian anak terhadap diri kita, jangan sampai kita vakum mendisiplin di rumah karena akan menimbulkan kekacauan.
GS : Mungkin karena hal itulah maka banyak anak-anak yang menjadi liar atau nakal kalau ada orang tuanya yang dipenjarakan, Pak Paul ?
PG : Benar, karena mereka memiliki kemarahan dan kemarahan itu ingin dilampiaskan. Kalau tidak bisa dilampiaskan di rumah maka mereka akan melampiaskannya di luar sehingga masalah akhirnya semakin menggurita.
GS : Bagaimana hubungan kita dengan Tuhan, Pak Paul ?
PG : Ini bagian yang penting, perbuatan pasangan yang menyebabkannya berurusan dengan hukum seringkali membuat kita malu pada Tuhan dan merasa tertolak oleh Tuhan, mungkin kita berandil besar dalam perbuatannya tapi mungkin kita berandil kecil atau mungkin kita tidak berandil sama sekali. Seberapa besar dan kecilnya andil kita, tidak bisa tidak kita merasa bertanggung-jawab pula atas perbuatannya dan kita merasa gagal di hadapan Tuhan. Jika itu yang terjadi maka kita harus meminta pengampunan Tuhan, akui dosa kita dan jangan berbuat dosa lagi. Bila ada kerugian yang diderita oleh orang akibat perbuatan pasangan kita, kita mesti berjanji untuk menebusnya. Jangan kita menutupi atau menyangkali dosa. Jika kita ingin agar Tuhan menolong kita maka kita pun harus melakukan apa yang benar di hadapan-Nya dan jangan berharap bahwa Tuhan akan menolong kita jika kita terus berbohong atau berbuat dosa. Jadi kita mesti memegang janji Tuhan dan hidup berdasarkan janji Tuhan yang mulia yang terdapat di 1 Yohanes 1:9, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."
GS : Dalam kondisi seperti ini memang dibutuhkan seorang pembimbing rohani yang bisa membantu bukan hanya di dalam doa, tapi juga mendengar keluh kesah yang ditinggalkan oleh pasangannya di penjara itu, Pak Paul.
PG : Saya kira itu sangat perlu. Dan sudah tentu kita merasa sungkan atau kita merasa bahwa saatnya belum tentu tepat kalau kita menceritakan keluh kesah kepada anak-anak. Jadi lebih baik kita tumpahkan itu pada pembimbing rohani kita agar ia pun dapat menolong kita.
GS : Saat-saat seperti ini juga membuat kita sukar untuk berkonsentrasi pada saat teduh dan sebagainya. Apakah hal itu wajar atau bagaimana, Pak Paul?
PG : Saya kira wajar, kalau kita tidak bisa membaca satu pasal maka bacalah satu atau dua ayat saja dan renungkan dan sering-seringlah berdoa, sering-seringlah dengarkan suara Tuhan yang akan disampaikan-Nya lewat Firman-Nya atau pun secara langsung kepada kita. Itulah sumber kekuatan kita.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Ketika Pasangan Terlibat Kriminal". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Hidup tidak ideal. Kadang karena pelbagai alasan, pasangan terpaksa berurusan dengan hukum dan mendekam dalam penjara. Keberadaan pasangan mulai dari proses pengadilan sampai dalam penjara akan memberi pengaruh besar pada kehidupan keluarga. Apakah yang harus dilakukan bila ini terjadi?
Hal itu membuat kita dan anak-anak harus menanggung rasa malu yang besar.
Sudah tentu respons malu adalah wajar dan keengganan kita untuk bersembunyi juga wajar. Untuk sementara tidak apa kita menutup diri supaya kita dapat merenungkan apa yang telah terjadi dan membuat rencana ke depan. Namun sedapatnya jangan putuskan hubungan dengan semua orang. Mintalah bantuan dari sekurangnya seseorang yang rohani, bijak, dan dapat dipercaya. Banyak keputusan yang mesti diambil dan kita memerlukan masukan berhikmat dari orang lain.
Hal itu membuat kita senantiasa bertanya-tanya tatkala bertemu dengan seseorang, apakah sesungguhnya ia telah mengetahui kasus itu dan ini yang penting, apakah yang dipikirkannya tentang diri kita sekarang. Apakah kita harus menceritakannya masalah kita kepadanya?
Tidak ada keharusan bagi diri kita untuk menceritakan masalah ini kepada semua orang. Berapa banyak informasi yang kita bagikan bergantung pada berapa dekatnya ia dengan kita, berapa tulus dan pedulinya ia dengan kita, dan berapa bermanfaatnya informasi itu baginya. Jadi, bila ia tidak dekat, tidak terlalu peduli dengan kita, dan tidak ada manfaatnya ia mengetahui hal itu, tidak perlu kita menceritakannya.
Hal itu membuat hidup kita terganggu dan terputus. Misalkan, gara-gara utang maka kita harus pindah dan menyewa rumah yang lebih sederhana. Penghasilan mungkin sekali menurun dengan drastik atau bahkan tidak berpenghasilan sama sekali.
Ambillah keputusan besar dengan berhati-hati-dilandasi doa dan pertimbangan yang matang. Jika masih memungkinkan lebih baik tinggal di tempat yang sama dan mempertahankan pekerjaan yang sama daripada terburu-buru pindah karena malu.
Namun bila itu yang harus dilakukan, lakukanlah dan bersiaplah untuk menanggung susah. Bicaralah dengan anak-anak dan berilah mereka pengertian.
Hal itu membuat kita kehilangan kerabat. Tidak semua orang dapat menerima diri kita kendati kita pun sesungguhnya adalah korban. Akan ada orang yang menjauh dan memutuskan hubungan dengan kita.
Kita mesti menerimanya karena memang kita tidak dapat memaksa orang untuk menerima diri kita. Kita harus siap disalahmengerti dan dinilai buruk sebab tidak mungkin kita meyakinkan semua orang. Terpenting adalah kita meyakinkan beberapa orang yang telah menjalin hubungan baik dengan kita. Inilah relasi yang mesti dipertahankan dan diselamatkan. Jujurlah kepada mereka; jangan menutupi.
Hal itu membuat kita kehilangan wibawa di hadapan anak. Otoritas dibangun di atas integritas-hidup benar di hadapan Tuhan.
Tidak bisa tidak, akan terjadi goncangan di dalam hubungan dengan anak. Tugas kita memang berat: di samping berusaha kuat untuk diri sendiri, kita pun harus kuat buat anak sekaligus menjaga ketertiban dalam keluarga. Kita mesti mengizinkan anak untuk mengutarakan perasaannya-baik itu malu maupun marah.
Jangan melarangnya menyatakan isi hati yang sebenarnya-kecewa dan hilangnya respek pada orangtuanya. Jangan paksa anak untuk lebih sering diam di rumah; biarkanlah ia menjalani roda kehidupan seperti biasanya. Tegaklah disiplin seperti biasanya-apa pun penilaiannya terhadap diri kita.
Hal itu membuat kita malu dan tertolak oleh Tuhan. Seberapa besar dan kecilnya andil kita, tidak bisa tidak, kita merasa bertanggung jawab pula atas perbuatannya. Kita merasa gagal di hadapan Tuhan.
Bila kita berandil, mintalah pengampunan Tuhan. Bila ada kerugian yang diderita orang akibat perbuatan pasangan, berjanjilah untuk menebusnya. Jangan menutupi apalagi menyangkali dosa. Yakinlah akan janji Tuhan dan hiduplah berdasarkan janji yang mulia ini, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9)
Submitted by admin on Fri, 05/06/2009 - 7:50am.
Abstrak:
Kita adalah orang beriman namun kadang kita tidak tahu bagaimana menerapkan iman dalam situasi tertentu, misalnya dalam krisis keluarga. Iman bukanlah sekadar sarana untuk memperoleh keselamatan yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Iman juga adalah sarana yang mutlak diperlukan untuk tetap hidup di dalam pimpinan-Nya. Secara spesifik, iman dibutuhkan dalam menghadapi krisis yang melanda keluarga agar kita dapat melewatinya dengan benar-sesuai kehendak Tuhan.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Iman Dalam Krisis Keluarga". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita sudah berbicara tentang krisis dalam keluarga Kristen. Rupanya keluarga Kristen pun juga mengalami krisis dan Pak Paul juga menjelaskan banyak contoh-contohnya. Dan sekarang kita akan membicarakan bagaimana peranan iman dalam krisis keluarga ini. Namun sebelumnya, mungkin Pak Paul bisa menguraikan secara singkat tentang apa yang sudah kita perbincangkan pada kesempatan yang lalu.
PG : Krisis itu bisa melanda siapa pun termasuk kita anak-anak Tuhan, selama kita hidup dalam dunia yang tidak sempurna dan kitanya sendiri juga tidak sempurna, maka masalah bisa muncul. Waktu msalah muncul kita dituntut untuk beradaptasi, waktu kita gagal beradaptasi dengan tepat atau dengan cara yang sesuai dengan kehendak Tuhan maka masalah acapkali berkembang menjadi sebuah masalah yang besar yang pada akhirnya membuahkan krisis dalam hidup kita.
Kita juga belajar bahwa ada krisis yang diakibatkan oleh perbuatan kita secara langsung, tapi ada juga yang bukan. Kita belajar tentang Daud dan Yakub yang memunyai andil besar dalam krisis yang akhirnya melanda keluarga mereka. Tapi kita juga belajar tentang Naomi dan Ayub, mereka adalah orang-orang yang harus menghadapi bencana yang besar tapi mereka sendiri tidak berandil di situ. Jadi kita mesti sedapat-dapatnya berusaha, jangan sampai kita yang menciptakan krisis, kalau ada masalah sekecil apa pun maka kita harus mencoba menangani supaya masalah itu tidak berkembangbiak. Kita juga belajar bahwa apa pun penyebab krisis, dalam kedaulatan dan kebaikan Tuhan, Dia dapat mengubahnya dan memakainya untuk menggenapi rencana Tuhan. Tidak ada hal yang dapat menghalangi rencana Tuhan bahkan krisis sebesar apa pun. Inilah keyakinan kita untuk terus maju, kita tahu sebagai anak Tuhan kita tidak dibebaskan dari krisis tapi kita juga tahu bahwa Tuhan beserta dengan kita, sehingga Dia akan terus bersama mendampingi kita memberikan kita kekuatan melewati krisis, tapi yang terutama adalah kita melakukan kehendak-Nya waktu kita menghadapi krisis itu.
GS : Jadi yang penting di sini adalah bagaimana kita menanggapi suatu krisis yang terjadi di dalam keluarga kita atau mengenai diri kita, baik itu karena dosa atau karena sesuatu yang di luar kemampuan kita.
PG : Betul sekali, jadi bagaimanakah kita menanggapinya itu yang akan sangat menentukan besarnya krisis tersebut dan berapa lamanya krisis itu akan melanda kita.
GS : Jadi langkah-langkah apa yang bisa kita lakukan, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa yang bisa kita lakukan, yang pertama adalah kita harus melakukan pengakuan, pengakuan artinya mengakui kalau kesalahan telah dibuat. Jadi kalau kita melihat bahwa masalah ini erkepanjangan, masalah rumah tangga kita tidak beres-beres, kenapa problem ini terus berkembang, maka kita harus berani melihat pada diri kita sendiri.
Betapa mudahnya kita menyalahkan orang lain. Betapa mudahnya kita berkata bahwa kita hanya memberikan reaksi kepada perbuatan orang, bukankah kita juga bertanggungjawab dalam hal memberi reaksi. Apakah reaksi itu sesuai dengan kehendak Tuhan ataukah tidak. Jadi penting sekali waktu kita menghadapi krisis kita tidak menengok ke kiri atau ke kanan, tapi menengok kepada diri sendiri dulu. Salah satu contoh yang sekarang tengah menjadi masalah besar dalam kehidupan kita adalah krisis ekonomi yang tengah melanda dunia ini. Mungkin ada di antara para pendengar kita yang harus kehilangan pekerjaan, atau merugi dan sebagainya. Jangan ragu untuk menengok kepada diri sendiri dan mengakui bahwa kesalahan telah dibuat. Misalkan kita melihat Nabi Natan yang menegur Daud, apa yang Daud lakukan ? Dengan cepat Daud mengakui dosanya, Daud tidak berbelit-belit memberi sikap defensif. Jadi dengan kata lain, semakin cepat kita mengakui maka semakin cepat pula kita datang kepada Tuhan meminta pengampunan-Nya, dan kemudian datang kepada satu sama lain untuk meminta pengampunan.
GS : Apakah didalam pengakuan itu, termasuk mengakui kalau kita sedang dalam krisis, Pak Paul ?
PG : Jadi langkah pertama kita harus mengakui bahwa ada masalah yang tengah melanda diri kita atau keluarga kita. Adakalanya sebagian dari tidak mudah untuk mengakui bahwa diri kita atau keluara kita tengah mengalami krisis, apalagi bagi kita yang terbiasa dikenal sebagai orang yang dikenal atau sebagai orang yang selalu sanggup mengatasi apa pun, selalu "in control", kita tidak pernah merasa kehilangan kendali atas hidup ini.
Jadi bagi orang-orang yang seperti ini agak sukar untuk merendahkan diri dan berkata, "Benar, saya sedang mengalami krisis." Seringkali pengakuan seperti membuka lembar baru yaitu lembar permintaan tolong. Seringkali orang yang memang memunyai harga diri tinggi tidak bersedia mengakuinya sebab bagi dia, "Nanti orang akan melihat saya sebagai orang yang meminta-minta tolong. Saya tidak mau dilihat orang sebagai pengemis atau memohon pertolongan orang lain." Sekali lagi ini adalah bagian dari harga diri yang terlalu kaku atau berlebihan. Lebih baik sewaktu kita berhadapan dengan krisis yang melanda diri atau keluarga kita, akuilah kalau ada krisis dan kita tidak selalu tahu bagaimana menghadapinya, mungkin kita juga belum tahu jalan keluarnya dan kita sangat terbatas dan lemah dan kita juga mengakui ada andil dalam diri kita. Pengakuan-pengakuan seperti inilah yang harus dimulai, itu sebabnya waktu kita mengahadapi krisis maka kita harus menghadapinya bersama dengan pasangan kita atau bahkan anak-anak kita. Kalau tidak ada pengakuan, kita seolah-olah menutup pintu, melarang pasangan kita atau anak-anak kita untuk masuk membantu kita dan inilah yang nanti akan menyulitkan orang untuk datang dan memberi pertolongan kepada kita.
GS : Jika kita sudah mengakui, entah itu mengakui kalau kita sedang dalam krisis maupun kita juga mengakui bahwa ini semua adalah salah saya. Maka langkah berikutnya apa, Pak Paul ?
PG : Langkah berikut adalah penyerahan. Dalam kasus Daud misalnya, Daud berserah kepada kemurahan Allah dan menerima apa pun yang terjadi. Misalnya dalam kasus berikut yaitu Daud mengadakan senus dengan tujuan mau menghitung dan melihat betapa jayanya atau suksesnya dia, sehingga sewaktu panglimanya yang bernama Yoab berkata, "Tidak perlu itu dilakukan karena Tuhan sudah memberkati tuanku," Daud tidak mendengarkan, dan dia terus ingin melihat kesuksesannya secara nyata.
Kemudian Tuhan marah dan Tuhan menghukumnya. Yang terjadi adalah Tuhan memberikan kepada Daud pilihan, yaitu hukuman apa yang Daud harus terima. Dan Daud memilih hukuman tulah sebab dia berkata, "Saya mau berserah kepada Tuhan dan berserah kepada kemurahan hati Tuhan." Jadi dengan kata lain, sewaktu kita menghadapi masalah krisis ini maka kita harus berserah sepenuhnya kepada kemurahan Tuhan, menerima apa pun juga yang harus menjadi porsi kita sekarang ini. Misalnya gara-gara krisis ekonomi, kita kehilangan rumah kita yang besar dan harus pindah ke rumah kita yang kecil dan kita kehilangan pekerjaan kita yang begitu baik dan sekarang harus memulai lagi dari nol atau bahkan tidak memunyai pekerjaan. Semua porsi yang tidak enak diterima, tapi kita harus berserah dan tidak melawan apapun yang terjadi dan bersandar sepenuhnya pada kemurahan Tuhan karena kita tahu bahwa kita aman di tangan Tuhan.
GS : Berarti sekalipun orang sudah mengambil langkah pertama yaitu mengakui dosanya, belum tentu dia sampai pada langkah yang kedua yaitu berserah, Pak Paul ?
PG : Kadang-kadang kita melihat seharusnya setelah mengakui adanya kesalahan dan dosa maka seharusnya berserah kepada Tuhan. Tapi ada orang yang tidak berjalan ke arah itu, Pak Gunawan, karena etelah dia mengakui, dia berbalik dan berkata, "Sekarang saya harus membereskan sendiri" entah itu dengan kekuatannya atau kemampuannya berpikir, dia mencoba untuk membereskan semuanya.
Dan ada orang yang tidak bisa menerima konsekuensinya, misalnya dia mengakui kalau itu adalah kesalahan saya sehingga akhirnya saya merugi sebesar ini, seharusnya langkah keduanya adalah berserah dan menerima apa yang menjadi porsi kita sebagai konsekuensi dari apa yang telah terjadi. Tapi ada orang yang tidak mau menerima dan dia masih mau mempertahankan level kehidupan yang setinggi dulu dan tidak mau sedikit pun menguranginya. Memang ada orang yang melakukan hal-hal seperti supaya dilihat orang bahwa mereka ini tetap kelihatan sukses, mentereng, mobil dipertahankan, semua dipertahankan padahalnya tidak ada lagi kemampuan untuk membiayai gaya hidup seperti itu.
GS : Kalau seseorang tidak menyerah, maka akan menimbulkan krisis yang baru lagi, Pak Paul ?
PG : Dengan kata lain, kalau orang tidak mau menyerah atau tidak mau berserah kepada Tuhan, memertahankan hidupnya atau menggunakan kekuatannya sendiri seringkali dia akhirnya makin terpuruk da terpuruk, krisisnya tidak pernah berkesudahan dan terus berlanjut.
Sehingga di sini penting kita memunyai hati yang besar untuk mengakui kesalahan dan dosa kita dan diikuti penyerahan yang total kepada Tuhan untuk mengeluarkan kita dan tidak bersandar pada kekuatan diri sendiri.
GS : Kalau kedua langkah itu sudah dilalui yaitu dia mengakui dosanya dan dia berserah, maka langkah berikutnya apa, Pak Paul ?
PG : Langkah ketiga adalah pengampunan. Misalnya kita melihat dalam kasusnya Yusuf, Yusuf mengampuni kesalahan kakak-kakaknya dan tidak hidup dalam penyesalan masa lalu. Tentang pengampunan yan kita harus camkan ialah pengampunan harus bersedia melupakan masa lalu dan siap merenda masa depan bersama.
Kadang karena kita merasa, gara-gara pasangan kita sehingga kita menyalahkan pasangan kemudian kita merasa seperti ini dan menjadi seperti ini, sehingga kita menyimpan dendam dan kita tidak bisa melupakannya kalau kita tetap hidup di dalam masa lalu atau tidak bisa menggunting masa lalu dan menatap ke masa depan. Kalau kita mau menghadapi krisis bersama dengan pasangan dan juga anak-anak maka harus ada kerelaan memberi pengampunan. Tentang pengampunan tadi sudah saya singgung, bukanlah hanya memaafkan tapi benar-benar merupakan tekad atau komitmen untuk lepas dari masa lalu. Wujud konkrit dari pengampunan adalah kerelaan melepaskan masa lalu dan tidak lagi mau mengikat pasangan kita atau anak-anak kita dengan tanggungjawab masa lalu. Tapi sekarang kita tanggung bersama dan kita hadapi masa depan bersama. Itulah bukti nyata dari pengampunan.
GS : Pengampunan di sini juga termasuk mengampuni dirinya sendiri, Pak Paul ?
PG : Kadang-kadang ini yang sulit dilakukan oleh orang yang terus-menerus hidup dalam penyesalan, "Kenapa saya seperti ini, gara-gara saya akhirnya semua menderita dan saya tidak layak diampuni" terus hidup dalam penyesalan masa lalu.
Akhirnya pasangan kita atau anak-anak kita tambah terpuruk karena mereka membutuhkan kita untuk maju bersama mereka. Kalau mereka sudah siap maju dan mereka sendiri sudah mengampuni kita, tapi kitanya tidak mau mengampuni diri sendiri berarti kita sendirilah yang menjadi beban bagi mereka dan akhirnya kita menahan mereka untuk maju mengatasi krisis ini.
GS : Dalam hal ini mestinya kita betul-betul menyadari bahwa Tuhan Allah sudah mengampuni kita, Pak Paul ?
PG : Betul, Pak Gunawan. Saya bukannya tidak mau sensitif atau tidak mau mengerti tapi kadang untuk peristiwa yang berat, yang besar, mengampuni diri itu sangat sulit. Tapi tadi Pak Gunawan sudh tekankan dasar hidup kita bukanlah apa yang kita pikir tapi apa yang Tuhan pikir, dasar hidup kita adalah bukan bagaimana kita melihat tapi bagaimanakah Tuhan melihatnya.
Itu harus menjadi dasar hidup kita. Kalau kita tahu bahwa Tuhan melihat kita sebagai orang berdosa yang telah diampuni-Nya, maka kita harus berkelahi dengan diri kita dan melihat diri kita seperti Tuhan melihat diri kita pula dan jangan kemudian kita berkata, "Saya tidak peduli apa yang Tuhan lihat atas saya, saya mau melihat diri saya seperti saya melihatnya yaitu orang yang tidak layak diampuni dan sebagainya," itu hal yang salah sekali, sebab itu berarti kita tidak akan pernah maju ke depan. Yusuf benar-benar bebas dari masa lalu sebab dia mengampuni saudara-saudaranya, maka waktu dia bertemu dan melihat saudara-saudaranya telah berubah, apa yang dia lakukan ? Dia menangis dan dia memeluk mereka dan langsung memanggil ayahnya untuk datang. Padahal sudah berbelasan tahun dia menderita, tapi kemudian tersapu bersih dan terhapus tidak ada bekasnya lagi dalam jiwa Yusuf. Kenapa sampai seperti itu ? Saya percaya karena Yusuf sudah berhasil melupakan masa lalunya dan meninggalkannya, tidak lagi hidup dalam bayang-bayang penyesalan masa lalu.
GS : Langkah berikutnya apa, Pak Paul ?
PG : Langkah berikutnya adalah pemulihan. Langkah pemulihan artinya misalkan dalam kasus Yusuf, dia memilih untuk menjadi berkat bagi saudara-saudaranya. Dia bukan saja melupakan masa lalu tapidia pun membalas kejahatan saudaranya dengan perbuatan baik.
Dalam kita menghadapi krisis, maka kita harus bersama dan tidak hanya berhenti menyalahkan saja, tapi harus mulai memberkati satu sama lain. Memberkati dalam pengertian berbuat hal yang baik, menolong satu sama lain. Jangan kita berkata, "Sudahlah, saya tidak lagi marah dan saya tidak lagi menyalahkan kamu, tapi sekarang kamu urus dirimu sendiri," kita tidak boleh seperti itu. Apalagi sewaktu krisis melanda keluarga kita, misalkan seperti krisis ekonomi sekarang ini semua dituntut untuk saling membantu, baik itu membantu adik, adik membantu kakak, orang tua membantu anak, anak membantu orang tua, suami membantu istri, istri membantu suami. Semua dituntut untuk saling memulihkan.
GS : Untuk bisa mencapai seperti itu tentunya peranan iman itu besar sekali. Dalam hal ini mengatasi krisis, peranan iman itu apa, Pak Paul ?
PG : Iman ini seringkali disalah konsepkan atau disalah mengertikan. Ada orang yang berkata "Sudahlah, percaya saja." Tapi sebetulnya dalam perkataan itu terkandung sebuah niat untuk tidak mau enghadapi fakta dan itu keliru.
Iman bukan lari dari tanggungjawab dan realitas, sebaliknya iman berhadapan dengan tanggungjawab dan realitas, artinya kalau kita beriman, apa yang harus kita lakukan, kita harus lakukan. Misalnya ini Pak Gunawan, saya mengerti waktu ada orang yang menderita penyakit tertentu dia takut dan dia tidak mau menghadapinya dan berkata, "Yang penting saya berdoa dan saya percaya pasti Tuhan sembuhkan saya." Akhirnya apa yang terjadi ? Penyakit itu bersarang dan akhirnya melumpuhkannya dan akhirnya meninggal dunia karena penyakit tersebut. Apakah itu iman ? Belum tentu, Pak Gunawan. Memang kita tidak boleh menghakimi orang karena kita tidak tahu isi hati orang tapi saya juga mau berkata belum tentu itu adalah iman. Iman justru merupakan sebuah keberanian, keberanian menghadapi segala sesuatu karena kita tahu bahwa yang pertama Tuhan bersama kita, jadi kita akan bisa menghadapinya. Yang kedua kita juga tahu bahwa di ujung sana ada kehendak Tuhan meski kita belum melihatnya sekarang, tapi di ujung sana ada kehendak Tuhan. Maka kita akan berani melewatinya, menghadapinya dan tidak lari dari masalah yang sedang menghadang.
GS : Tapi benar yang dikatakan Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Memang tidak bisa tidak, iman mengharuskan kita untuk berani menghadapi apa pun yang tengah melanda kehidupan kita.
GS : Tapi bagaimana dengan tindakan itu sendiri, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu tindakan-tindakan yang harus kita lakukan, haruslah tindakan yang benar karena kita harus menghadapi realitas dan bertanggungjawab atas semuanya, maka kita harus bersandar kepaa Tuhan dan pemeliharaan-Nya.
Tidak berarti kita menghadapinya dengan melupakan Tuhan, tapi kita mau bersandar kepada Tuhan dan kepada pemeliharaan-Nya. Berarti kita harus bertindak benar sesuai dengan cara dan kehendak-Nya, kita tidak bisa berkata, "Yang penting terserah kepada Tuhan karena saya percaya Tuhan akan tolong," namun kita melakukan hal-hal yang salah, yang jelas-jelas tidak berkenan kepada Tuhan. Misalkan kita malah menutupi dan kita malah bersembunyi dan kita malah mengambil yang bukan milik kita. Hal-hal itu kalau kita lakukan, jangan kita berharap Tuhan mengeluarkan krisis itu dengan cara dan kehendak Tuhan. Jadi Tuhan hanya akan mengeluarkan kita dari krisis, kalau kita tetap setia bertindak sesuai dengan cara dan kehendak-Nya.
GS : Seringkali di sana orang mengatakan, "Tuhan itu bisa menolong saya dengan berbagai macam cara" termasuk cara yang tidak benar, Pak Paul ?
PG : Memang kalau sampai kita berkata seperti itu, hal itu menunjukkan ketidakdewasaan kita, seolah-olah Tuhan begitu siap untuk melanggar perkataan-Nya sendiri, standar-Nya sendiri. Itu tidak ungkin ! Sebab Tuhan tidak akan menodai kekudusan-Nya sendiri, jadi Tuhan akan selalu konsisten dengan apa yang dikatakan-Nya, dan kita tidak bisa membenarkan tindakan kita dengan berkata, "Nanti Tuhan akan ampuni saya, Tuhan akan memberkati saya meskipun cara saya berlawanan dengan kehendak Tuhan."
GS : Pak Paul, kalau kita sudah bertindak benar, berikutnya apa, Pak Paul ?
PG : Setelah kita bertindak benar, maka kita mesti menyadari bahwa iman tidak langsung menghasilkan buahnya, kadang kita itu mengharapkan hasil yang segera. Dalam kasus Daud dan juga Yusuf, merka harus menunggu lama sebelum melihat hasilnya.
Daud harus mengalami begitu banyak bencana-bencana dan pada akhirnya Daud melihat kalau Tuhan menolong. Yusuf harus menderita begitu lama sebelum akhirnya melihat rencana Tuhan dan pemeliharaan Tuhan. Dengan kata lain ini Pak Gunawan, iman tidak berorientasi pada hasil melainkan pada proses, yakni mengalami pembentukan Tuhan yang melahirkan karakter Kristiani dan ternyata itu yang lebih penting.
GS : Karakter Kristiani maksudnya seperti apa, Pak Paul ?
PG : Kita lebih menyerupai Kristus sebab itulah yang Tuhan selalu tekankan bahwa kita akan menjadi seperti Kristus. Ini salah satu yang menjadi letak masalahnya, kita sering berdoa, "Tuhan jadian saya seperti-Mu" tapi kita itu tidak menyadari bahwa permintaan itu sebetulnya permintaan yang sangat serius sebab waktu kita berkata, "Tuhan, jadikan saya seperti Engkau," itu berarti kita harus melewati pembentukan yang tidak mudah supaya karakter kita menjadi seperti Kristus.
Dan pembentukan itu, kadang-kadang himpitan, tekanan, hadangan, masalah dalam hidup kita sehingga dari semua itu maka keluarlah karakter-karakter yang seperti Kristus miliki yakni kesabaran, kemurahan hati. Bagaimana kita bisa sabar kalau hidup kita selalu lancar ? Sabar justru keluar pada waktu hidup kita tidak lancar. Bagaimana kita murah hati kalau hidup kita lancar ? Tidak bisa ! Tapi waktu kita berkekurangan dan kita tetap mau memberi, maka karakter kemurahan hati itu akan keluar. Jadi sekali lagi tujuan akhirnya adalah pembentukan karakter kita agar menjadi serupa dengan Tuhan Yesus.
GS : Proses ini memang biasanya memakan waktu yang panjang dan jarang langsung terjadi.
PG : Betul sekali memang tidak bisa dengan cepat semuanya terjadi, tapi kita harus dengan sabar dan membiarkan Tuhan membentuk kita lewat krisis yang tengah kita hadapi.
GS : Ini kaitannya dengan iman apa, Pak Paul ?
PG : Pada akhirnya seperti ini, Pak Gunawan. Waktu kita sedang menghadapi goncangan-goncangan seperti itu, kita memang tidak melihat karena seringkali dalam krisis kita mau melihat secara langsng pimpinan Tuhan dan cara Tuhan, namun yang terjadi seringkali kita tidak melihatnya tapi kita harus tetap percaya bahwa Tuhan akan menolong kita.
Maka akhirnya pembentukan karakter Kristiani yang keluar dari krisis membuat kita percaya bahwa yang pertama apa pun yang dialami Tuhan tidak meninggalkan, ini iman. Apapun yang dialami, Tuhan sanggup menolong, ini juga iman. Iman juga seperti ini, apa pun yang dialami Tuhan menggenapi rencana-Nya.
GS : Jadi orang baru melihat buah dari krisis itu setelah menyadari bahwa Tuhan tidak meninggalkan, bahwa Tuhan menolong dan Tuhan menggenapi rencana-Nya, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Waktu kita berhasil berkata, "Tetap percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan dan Tuhan sanggup menolong dan Dia akan menggenapi rencana-Nya lewat krisis ini." Di stulah iman bertumbuh.
GS : Pak Paul, sebelum kita mengakhiri perbincangan ini, mungkin ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Di Mazmur 146:5-6 Firman Tuhan berkata, "Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada Tuhan, Allahnya; Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut da segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya."
Tuhan adalah penolong dan Dia berjanji mau menolong kita dan Dia berkuasa sebab Dialah yang menjadikan langit dan bumi dan Dia setia, Dia tidak akan meninggalkan kita. Inilah janji Tuhan yang kita mau percaya lewat iman.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Iman Dalam Krisis Keluarga". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by admin on Fri, 05/06/2009 - 7:42am.
Abstrak:
Krisis dapat melanda seseorang tanpa pandang bulu termasuk juga keluarga Kristen, walaupun ada sebagian orang yang mencoba menyangkali dan berkata bahwa, “Kami tidak akan mengalami krisis karena kami di dalam Tuhan.” Pernyataan ini kurang tepat, kita mesti belajar bagaimana memahami krisis secara tepat menurut kebenaran Firman Tuhan.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Krisis Dalam Keluarga Kristen". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, ternyata krisis melanda seseorang tanpa pandang bulu termasuk juga keluarga Kristen, walaupun ada sebagian orang yang mencoba menyangkali dan berkata bahwa, "Kami tidak akan mengalami krisis karena kami di dalam Tuhan". Pandangan-pandangan seperti ini sebenarnya bagaimana ?
PG : Sudah tentu betapa indahnya hidup kalau kita tidak harus terkena masalah atau krisis. Namun itulah yang menjadi kenyataan hidup bahwa selama kita masih hidup dalam dunia juga tidak sempurn dan terutama kita pun juga tidak sempurna maka tidak bisa tidak adakalanya krisis muncul, masalah besar datang dan kita harus menghadapinya.
Kenyataan bahwa kita adalah anak Tuhan, tidak berarti bahwa kita akan dibebaskan Tuhan sepenuhnya dari masalah-masalah besar itu. Jadi tidak ada janji Tuhan yang mengatakan bahwa kalau kita percaya kepada Tuhan, mengakui Yesus sebagai Juruselamat kita dan hidup taat sesuai dengan kehendak-Nya maka pastilah kita akan dibebaskan selalu dari segala jenis krisis, tidak ada janji Tuhan seperti itu. Bahkan nanti kita juga akan lihat bahwa anak-anak Tuhan di dalam Firman-Nya, adalah anak-anak yang harus menghadapi krisis di tengah-tengah mereka.
GS : Sebenarnya yang disebut krisis itu yang seperti apa, Pak Paul ?
PG : Jadi krisis adalah sebuah masalah yang besar yang menimpa kita. Sebenarnya masalah menjadi sebuah krisis kalau kita gagal beradaptasi dengan masalah tersebut dan sewaktu masalah muncul menntut kita untuk mengadakan perubahan atau penyesuaian, supaya kita dapat mengatasinya atau setidaknya hidup dengan masalah tersebut.
Kalau kita gagal memberi respon yang sesuai, beradaptasi seperti yang diharapkan atau yang diwajibkan maka krisis itu akan terjadi.
GS : Sebenarnya apakah Tuhan Yesus sendiri pernah mengalami krisis di dalam kehidupan-Nya ?
PG : Menurut saya tidak, meskipun Dia pernah mengalami peristiwa-peristiwa yang berat sebelum penyaliban-Nya, misalnya beberapa kali Dia harus melarikan diri karena ada orang-orang yang ingin mmbunuh-Nya atau menangkap-Nya.
Memang ada waktu-waktu Dia harus keluar melarikan diri, dan beberapa kali Dia menghindar dari khalayak ramai karena makin banyak orang yang mengikuti Dia dan makin memancing reaksi marah dari pemuka agama saat itu sehingga misi yang belum terselesaikan itu akhirnya terhambat. Sehingga beberapa kali Tuhan keluar dari sergapan orang banyak itu. Dan kita tahu bahwa sebelum Tuhan disalibkan di taman Getsemani, Tuhan berdoa dengan begitu serius, dengan begitu penuh kesungguhan sehingga dikatakan peluhNya itu bertetesan seperti darah. Di situ kita melihat Tuhan harus bergumul tapi itu tidak menjadi krisis, karena apa ? Nanti kita akan belajar bahwa Tuhan berserah sepenuhnya. Dengan kata lain, Tuhan beradaptasi dengan masalah besar yang harus dihadapinya itu. Jadi sekali lagi sebuah masalah menimbulkan krisis di dalam hidup kita, bila kita tidak berhasil beradaptasi dengan tepat.
GS : Tapi bagaimana dengan tokoh-tokoh Alkitab yang lain, Pak Paul, baik di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru ?
PG : Di sini kita akan melihat bahwa sekurang-kurangnya ada tiga yang nanti kita akan fokuskan dengan lebih mendetail, yang menjelaskan kepada kita bahwa krisis itu dapat menimpa siapa saja dandalam setiap lini kehidupan.
Misalkan kita akan melihat krisis itu menerpa keluarga Daud, Yakub dan juga keluarga Naomi. Ini adalah contoh yang memang menonjol dari Firman Tuhan dan nanti kita akan membahas secara saksama, sekali lagi ini menunjukkan bahwa krisis dapat menerpa orang-orang yang mengasihi Tuhan dan yang taat kepada Tuhan, apakah Daud tidak taat ? Apakah Daud bukan anak Tuhan ? Apakah Yakub bukan anak Tuhan ? Apakah Naomi bukan anak Tuhan ? Kita tahu bahwa ketiganya adalah anak Tuhan tapi ketiganya hidup di dalam dunia yang tidak sempurna dan mereka pun juga bukan orang yang sempurna. Jadi di dalam ketidak sempurnaan ini kita kadang gagal beradaptasi dengan tepat, sehingga akhirnya masalah menjadi sebuah krisis.
GS : Dalam kasusnya Daud dan Yakub, Pak Paul, krisis itu timbul karena kesalahan yang mereka perbuat sendiri.
PG : Saya setuju, Pak Gunawan. Jadi dalam kasusnya Daud, kita tahu bahwa dia berzinah dengan Batsyeba, seharusnya karena dia juga manusia terdiri dari daging dan darah yang telah tercemar oleh osa, sewaktu dia berdosa dia mengakui dan meminta pengampunan Tuhan, apa pun konsekuensi yang harus ditanggungnya, biarlah dia bertanggungjawab.
Namun Daud beradaptasi dengan cara yang keliru, bukannya mengakui dosanya malahan menutupi dosanya dengan cara mengupayakan membunuh suami Batsyeba yaitu Uria. Dalam kasus Yakub, memang ini juga kesalahannya sendiri sebab dia sangat menyayangi Yusuf puteranya, terlalu menyayangi sehingga membuat saudara-saudaranya iri dan mereka merasa bahwa mereka tidak disayang oleh ayah mereka Yakub, begitu marahnya dan bencinya kepada Yusuf sehingga dalam suatu kesempatan mereka berusaha untuk membunuhnya. Jadi jelas kita melihat krisis yang nantinya melanda kedua anak Tuhan ini awalnya adalah akibat perbuatan atau kesalahan mereka sendiri.
GS : Tetapi dalam mengambil keputusan, baik Daud maupun Yakub, mereka merasa bahwa keputusan mereka itu sudah benar.
PG : Sudah tentu dalam pemikiran manusia, apa yang dilakukan itu benar tapi saya kira dalam kasus seperti Daud, sebenarnya dia tahu kalau dia telah berbuat sesuatu yang sangat salah di mata Tuhn karena dia tahu bahwa dia tidak boleh berzinah dan yang kedua dia tidak boleh mengatur pembunuhan orang yang tidak bersalah sama sekali.
Tapi sekali lagi karena dia manusia berdosa maka dalam kondisi terjepit dia malah menutupi dosanya, membungkam teguran Tuhan dan bersikeras untuk melakukan yang dianggap oleh dirinya dapat menyelamatkan dirinya itu. Dalam kasus Yakub kemungkinan besar Yakub itu tidak begitu menyadari perasaannya, seharusnya Yakub dari awal-awal sudah melihat bahwa saudara-saudara Yusuf atau anak-anaknya yang lain begitu membenci Yusuf. Ini sebetulnya sudah memberikan dia lampu kuning bahwa jangan lagi dia terlalu melimpahkan kasih sayang yang begitu mencolok sehingga nanti yang menjadi korban bukankah anaknya sendiri yaitu si Yusuf itu sendiri. Memang di sini kita melihat, dua orang ini karena kelalaiannya, karena kekerasan hatinya akhirnya menimbulkan masalah dalam hidup mereka sendiri. Tapi krisis itu tidak selalu timbul akibat perbuatan sendiri. Dalam kasus Naomi, jelas-jelas keluarganya mengalami bencana besar di tanah kelahirannya di Betlehem, karena adanya kelaparan mereka harus pindah ke tanah Moab dan di sanalah dia kehilangan suaminya, Elimelekh dan kemudian kehilangan lagi Kilyon dan Mahlon mungkin karena sakit penyakit, dan ini benar-benar diluar dari kendali Naomi.
GS : Keputusan yang diambil oleh Elimelekh, sebenarnya merupakan pemicu dari krisis yang dialami oleh Naomi, Pak Paul ?
PG : Sebetulnya Elimelekh atau keluarga Naomi berikhtiar untuk meninggalkan tanah Betlehem karena memang ingin menyelamatkan diri dari bencana kelaparan, bagi saya ini bukanlah hal yang salah.Kita juga melihat dalam Perjanjian Lama, Abraham juga pernah pergi mencari kehidupan yang lebih baik, Ishak juga pernah harus meninggalkan tempatnya, kita juga tahu Yakub juga meninggalkan keluarga mertuanya Laban dan kembali lagi ke tanah yang Tuhan janjikan.
Jadi kita melihat adakalanya karena bencana atau masalah maka kita harus pindah tempat, itu bukanlah sebuah tindakan yang salah, itu adalah tindakan yang bertanggungjawab, dia ingin memastikan bahwa keluarganya dapat hidup dengan layak.
GS : Tapi di dalam kelemahan kita dan ketidaktahuan kita akan masa depan, kita bisa saja mengambil sebuah keputusan yang keliru seperti Daud, Yakub maupun Elimelekh.
PG : Dalam keterbatasan kita untuk mengetahui apa itu yang menjadi rencana Tuhan, kadang kita bisa keliru menafsir perintah Tuhan namun yang akan memancing munculnya krisis dalam hidup kita adlah kalau kita sudah tahu bahwa ini tidak benar tapi kita tetap melakukannya.
GS : Kedua-duanya itu bisa menjadi pemicu munculnya krisis di dalam kehidupan.
PG : Saya kira dua-duanya bisa, Pak Gunawan.
GS : Dan itu pengaruhnya kepada kita sendiri atau kepada seluruh keluarga ?
PG : Saya kira seringkali waktu peristiwa itu terjadi yaitu krisis itu menimpa kita, jarang sekali bisa terbatasi hanya pada satu orang namun pada akhirnya krisis itu berkelanjutan sehingga memuat yang lain-lainnya terkena dampaknya.
Kita tahu dalam kasus Daud dan Yakub, krisis itu meledak menjadi krisis besar dan Yakub selama belasan tahun atau mungkin puluhan tahun hidup dalam penderitaan karena beranggapan bahwa putranya Yusuf telah meninggal dunia. Itu sebabnya waktu dia akhirnya bertemu Yusuf, dan waktu dia bertemu dengan Firaun dia berkata, "Hari-hariku atau hidupku penuh dengan derita," dia tidak bisa lagi berkata bahwa dia telah menikmati suatu kehidupan yang tentram dan sejahtera. Demikian juga dengan Daud, pada akhirnya masalahnya meledak sehingga puteranya melakukan hal yang tidak diperkenankan oleh Tuhan yakni memperkosa adiknya dan kemudian si kakak Absalom membunuh adiknya Amnon dan akhirnya Absalom memberontak kepada Daud. Akhirnya krisis itu menerpa lebih banyak orang dan bukan hanya diri kita.
GS : Tapi sebaliknya dengan Naomi, Pak Paul, dimana akhirnya Naomi pulang bersama-sama dengan Rut. Itu menjadi sesuatu yang baik.
PG : Dari sini kita bisa simpulkan bahwa krisis seburuk apa pun itu, ataukah itu disebabkan oleh perbuatan kita atau di luar kendali kita. Dalam kedaulatan Tuhan dalam keMahakuasaan Tuhan, kriss dipakai oleh-Nya untuk memperlengkapi rencana-Nya.
Alkitab dengan jelas memaparkan bahwa apa pun penyebab krisis pada akhirnya Tuhan memakai krisis untuk menjalankan dan menggenapi rencana-Nya, dengan kata lain, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi rencana Allah. Semua hal termasuk krisis dipakai Tuhan untuk menjalankan dan menggenapi rencana-Nya, misalnya dalam krisis pada keluarga Daud lahirlah Salomo yang Tuhan tunjuk untuk membangun rumah bagi Tuhan. Dan dari krisis pada keluarga Yakub, Tuhan memakai ini untuk membawa Yusuf ke Mesir untuk menjadi penolong, memelihara umat Israel pada masa kelaparan. Dan dari krisis pada keluarga Naomi, Tuhan mendatangkan Rut ke Betlehem dan akhirnya menikah dengan Boas dan dari Boas akhirnya lahirlah Raja Daud, dan dari Raja Daud akhirnya lahirlah Tuhan kita Yesus Kristus.
GS : Jadi sebenarnya kalau krisis itu menimpa kita sebagai orang-orang beriman kepada Tuhan Yesus, maka kita boleh berharap bahwa apa pun yang terjadi nantinya ini akan membawa kebaikan bagi diri kita.
PG : Dengan kata lain, di dalam anugerah Tuhan, di dalam kebaikan hati Tuhan apa pun itu dapat dipakai Tuhan untuk menunjukkan kebaikan-Nya, itulah yang terjadi. Meskipun salah tapi tetap pada khirnya kebaikanlah yang nantinya dicicipi dari dalam kehidupannya.
Meskipun Yakub salah, tapi pada akhirnya itu dipakai juga untuk mendatangkan kebaikan namun memang dalam perjalanannya, sudah tentu mereka tidak lepas dari konsekuensi. Tadi saya sudah singgung, Daud juga harus menderita dan melarikan diri dan dia dikejar oleh puteranya sendiri, pemberontakan terjadi, anaknya saling bunuh, putrinya diperkosa oleh anaknya. Jadi benar-benar menyakitkan. Jadi kita tidak boleh berkata, "Karena nanti Tuhan bisa pakai krisis, maka kita hidup sembarangan saja karena nantinya Tuhan itu baik hati." Jangan seperti itu, sebab akan ada konsekuensi yang harus dipikul akibat perbuatan kita itu.
GS : Sebenarnya krisis itu bekerja dengan suatu pola tertentu atau bervariasi atau bagaimana, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa yang bisa kita kenali, Pak Gunawan, untuk kita mencoba mengenali kinerja krisis. Yang pertama adalah krisis bisa datang sekonyong-konyong, tapi juga dapat datang perlahan-lahan. Dalam kasus Daud, krisis bermula sewaktu dia berdosa dengan Batsyeba dan membunuh suaminya, Uria, perlahan namun pasti krisis melanda keluarganya. Amnon putra Daud memperkosa Tamar, putri Daud. Absalom saudara kandung Tamar membalas dan membunuh Amnon kemudian Absalom melarikan diri dan setelah kembali memberontak melawan Daud dan nyaris menggulingkan takhta Daud. Misalnya dalam kasus Yakub secara berlahan krisis berawal sewaktu dia memberikan perhatian berlebih kepada Yusuf puteranya dan mengabaikan anak-anaknya yang lain, setelah Yusuf keluar maka mulailah krisis dalam keluarga Yakub yang berlangsung belasan atau mungkin lebih dari puluhan tahun. Namun dalam krisis Naomi, krisis datang sekonyong-konyong, Elimelekh akhirnya sakit dan meninggal, Mahlon sakit kemudian meninggal, Kilyon juga seperti itu tidak ada tanda-tanda kemudian meninggal. Jadi dalam waktu 10 tahun, Naomi menjadi seorang janda sebatangkara, sedangkan sepuluh tahun sebelumnya dia adalah seorang istri atau ibu dari dua anak. Jadi semua itu datang secara tiba-tiba. Jadi kita bisa kenali krisis itu datang secara mendadak, tapi juga bisa datang secara perlahan. Sudah tentu yang dapat kita kenali dan kita kendalikan adalah yang datangnya perlahan. Sewaktu krisis mulai muncul maka jangan didiamkan, kita harus beradaptasi atau memberi respon yang sesuai dengan cara dan kehendak Tuhan.
GS : Kalau kita tahu ada krisis yang mendadak bukan hanya dalam kasusnya Elimelekh sekeluarga tapi juga misalnya seperti Ayub yang dalam sekejap kesehatannya, harta bendanya anak-anaknya habis, ini berarti kita harus tetap siap Pak Paul, baik krisis itu datangnya tiba-tiba atau perlahan-lahan.
PG : Sudah tentu kita harus bersiap secara rohani, misalkan kita ini bersiap untuk selalu hidup dekat dengan Tuhan, hidup taat kepada Tuhan untuk hal-hal yang kecil, karena seringkali dalam menhadapi krisis yang besar Tuhan menuntut kita untuk mengadakan perubahan yang besar pula, Pak Gunawan.
Perubahan yang besar itu sudah tentu mengharuskan kita untuk menaati Tuhan dan percaya kepada-Nya. "Yang penting mengikuti jalan-Nya" namun bagaimanakah kita bisa siap untuk melakukan perubahan yang besar kalau kita jarang bersiap menaati Tuhan untuk melakukan perubahan yang kecil-kecil itu. Jadi semuanya dimulai dari hal yang kecil, sebagai contoh waktu Daniel dan ketiga sahabatnya diminta oleh raja Nebukadnezar di Babilonia untuk memakan makanan kerajaan yang tidak diperkenankan oleh Firman Tuhan, dari hal sekecil itu, sudah menunjukkan ketaatan mereka kepada Tuhan di atas tuntutan dari raja. Mereka menolak dan dengan bijak mereka berkata, "Silakan uji coba kami, kami akan makan makanan yang diperkenan oleh Tuhan kami dan kami tidak mau makan makanan yang ditetapkan oleh raja." Karena mereka bijak, mereka menggunakan cara itu dan si juru makanan melihat "Benar ya, mereka lebih sehat walaupun tidak makan makanan yang ditetapkan oleh raja," sehingga akhirnya dia setuju tidak memberikan makanan yang ditetapkan oleh Raja Nebukadnezar. Di sini kita melihat bahwa waktu mereka itu dituntut untuk beradaptasi misalnya untuk taat dalam hal yang relatif kecil, mereka taat maka mereka sanggup untuk menaati Tuhan sewaktu hal yang lebih besar terjadi, misalkan waktu mereka diminta untuk menyembah patung yang dibuat oleh Raja Nebukadnezar. Atau waktu Daniel sudah diangkut di kerajaan Media Persia dan akhirnya harus dijebloskan ke dalam lobang yang banyak singanya oleh karena dia menolak untuk menyembah raja. Di sini kita melihat bahwa mereka dapat beradaptasi menghadapi krisis yang besar itu dengan taat kepada kehendak Tuhan, sebab sekali lagi dalam hal-hal kecil mereka telah taat karena ini yang diperlukan.
GS : Kadang-kadang awalnya krisis itu berjalan dengan perlahan, tetapi kalau kita keliru mengantisipasi krisis itu maka krisis itu akan cepat tumbuh, Pak Paul ?
PG : Saya setuju, Pak Gunawan. Jadi seringkali kalau kita tidak menanganinya dengan baik, entah itu kita membiarkannya atau mengabaikannya maka krisis akan berkembang biak dan akhirnya menindihkita dan kalau sudah besar bukankah akan semakin sulit untuk kita bisa menghadapinya.
Maka sewaktu krisis muncul apa pun yang kita harus lakukan, maka lakukanlah tindakan yang sesuai dengan tindakan Tuhan.
GS : Apakah krisis itu terkait dengan dosa, Pak Paul ?
PG : Ternyata tidak selalu, adakalanya krisis berisikan dosa tapi adakalanya juga tidak. Misalkan dalam kasus Daud memang terlihat ada unsur dosa, Daud itu berzinah dan Daud mengatur pembunuhansuami Batsyeba.
Dalam kasus Yakub terdapat unsur ketidakbijaksanaan Yakub, saya tidak berani berkata bahwa Yakub itu berdosa waktu lebih memprioritaskan Yusuf. Yang pasti adalah dia tidak bijaksana, menunjukkan kasih berlimpah kepada Yusuf sedangkan kepada anak-anaknya yang lain tidak. Dalam kasus Naomi secara pribadi saya tidak melihat adanya unsur dosa, keputusan untuk pindah adalah hal yang wajar dalam kondisi kelaparan. Jadi tidak benar menuduh orang yang dilanda krisis sebagai orang yang tengah dihukum Tuhan karena dosanya, belum tentu itulah kasusnya. Salah satu contoh lain adalah Ayub, Ayub tidak berdosa maka akhirnya Ayub dibela oleh Tuhan karena Ayub memang tidak berdosa tapi Tuhan mengizinkan peristiwa-peristiwa buruk itu menimpanya dan akhirnya melumpuhkan Ayub.
GS : Tapi sekali pun tidak disebabkan oleh dosa, Pak Paul, dalam kasusnya Naomi, dia menyadari bahwa itu adalah sebuah dosa sehingga dia berkata, "Saya jangan lagi kau panggil Naomi tetapi panggil saya Mara."
PG : Naomi adalah manusia yang tidak sempurna atau kuat maka luput melihat bahwa ada kasih Tuhan, ada kebaikan Tuhan, ada rencana Tuhan yang memang tidak dimengertinya saat itu. Jadi dari sudutkemanusiaannya, Naomi melihat kemalangan ini sebagai pukulan Tuhan, entah mengapa Naomi beranggapan bahwa Tuhan sedang menghajarnya, memarahinya atau menghukumnya.
Padahalnya tidak demikian, dalam hal ini Ayub memang lebih benar, waktu teman-temannya menuduh bahwa dia bersalah dan berdosa Ayub tetap mengatakan bahwa saya tidak berdosa, dan itulah yang nantinya Tuhan juga konfirmasi.
GS : Pak Paul, kalau jelas-jelas krisis itu timbul akibat dosa bagaimana ?
PG : Kalau jelas itu bermuatan dosa, maka bila tidak diakui dan tidak dibereskan maka dosa cenderung beranak pinak dan menjadi lebih parah. Jadi mesti diakui dan dibereskan. Misalnya dalam kasu Daud, dia tidak mengakui dosa perzinahan malah menutupinya dengan pembunuhan.
Misalkan yang lain juga yaitu dia tidak pernah menghukum Absalom yang membunuh Amnon atau tidak menghukum Amnon yang memperkosa Tamar. Jadi Daud memang luput dan gagal untuk bertindak membiarkan dosa merajalela dan akhirnya dosa-dosa itu makin membesar. Demikian pula dengan Yakub, ia tidak mendisiplin anak-anaknya dalam hal yang lain seperti membunuh Sikhem yang memperkosa putrinya Yakub yaitu Dina. Jadi Yakub membiarkan dan pada akhirnya mereka menjadi lebih buas dan lebih beringas, sehingga Yusuf ditangkap hendak dibunuh kemudian dibuang menjadi budak dan harus menjalani hidup penuh derita selama berbelasan tahun. Jadi di sini tidak bisa tidak, kita melihat bahwa akibat dosa itu fatal yakni keluarga tercerai berai dan hidup hancur.
GS : Tapi pada waktu itu saya percaya baik Daud maupun Yakub tidak terlalu sadar kalau dampaknya akan seperti itu, Pak Paul ?
PG : Karena memang pada saat itu Daud hanya memunyai satu minat, pada saat dia berdosa dia ingin dibebaskan atau lepas dari konsekuensi dosa itu. Kenapa dia tidak bertindak terhadap Amnon yang emperkosa Tamar dan malah membiarkannya, bisa jadi karena dia sendiri merasa bersalah waktu melihat anaknya menjadi seperti ini.
Mungkin sekali integritas sudah hilang, menurunkan wibawa dan mengurangi kuasa atau power untuk mendisiplin anak-anaknya. Sehingga waktu Absalom berbuat tidak benar membunuh Amnon, Daud tetap diam saja sehingga kekacauan makin merajalela dalam keluarganya.
GS : Jadi sebenarnya krisis yang dibiarkan itu akan terus beranak pinak dan akan menjadi semakin berat bagi orang itu atau orang-orang lain disekitarnya, Pak Paul ?
PG : Satu hal yang mesti kita sadari bahwa keputusan apa pun yang kita buat pasti keputusan yang menuntut harga, tidak ada jalan yang mudah untuk menghadapi krisis dan harus dibayar dengan maha, tapi harus dilakukan misalkan tadi kita berbicara tentang Daud, kalau dia akui dosanya bahwa dia telah berzinah dengan Batsyeba mungkin dia harus membayar harga yang mahal yaitu harus turun dari tahtanya dan sebagainya, tapi setidak-tidaknya dosa itu dibereskan sehingga tidak beranak pinak.
Jadi waktu kita menghadapi krisis yang besar dimana kita harus mengambil keputusan yang juga menuntut pengorbanan, kita harus berani melakukannya, semakin banyak dan menunda-nunda atau makin lama membiarkan, maka makin berkembanglah masalah itu.
GS : Sebelum mengakhiri perbincangan ini mungkin ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Saya akan bacakan dari Roma 8:28-29, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang erpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya." Di sini kita bisa melihat bahwa Tuhan akan melakukan apa saja dengan kuasa-Nya sehingga meski buruk yang kita lakukan, meski berat akibat yang harus kita tanggung tapi Tuhan nanti Tuhan dapat memakainya untuk menggenapi rencana-Nya. Dan berdasarkan ayat 29 itu kita juga mau memegang suatu kepastian yaitu Tuhan membiarkan hal itu terjadi yaitu krisis melanda hidup kita supaya pada akhirnya kita menjadi lebih serupa dengan Tuhan kita Yesus Kristus. Jadi Tuhan sangat-sangat tertarik dengan pembentukan karakter kita.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini, tapi kita masih akan melanjutkan perbincangan tentang krisis ini pada kesempatan yang akan datang. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Krisis Dalam Keluarga Kristen". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by admin on Fri, 05/06/2009 - 7:31am.
Abstrak:
Sama seperti masalah lainnya, KDRT merupakan problem yang kompleks dan tidak dapat digeneralisasikan. Untuk dapat memahami dan mencegahnya, kita perlu memahami semua jenis komponen yang terlibat antara lain tipe pelaku, tipe korban, dampak pada anak, pemicu dari kekerasan, reaksi terhadap kekerasan. Yang paling diharapkan adalah bagaimana mengatasi kekerasan pada pihak korban dan pada pihak pelaku.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami terdahulu tentang "Kekerasan Dalam Rumah Tangga". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, perbincangan ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kita yang lalu tentang kekerasan dalam rumah tangga. Pada waktu yang lalu Pak Paul sudah menguraikan tipe-tipe pelaku maupun korban dan juga dampaknya kepada anak. Supaya para pendengar kita atau mungkin ada pendengar yang masih baru kali ini bergabung dengan kita bisa mengingat kembali apa yang sudah kita perbincangkan dan supaya memunyai suatu gambaran yang utuh tentang kekerasan dalam rumah tangga ini, silakan Pak Paul menguraikan perbincangan kita secara singkat.
PG : Dalam pernikahan kadang harus ada pertengkaran, tapi pada keluarga tertentu pertengkaran itu berubah menjadi ajang dari perkelahian atau ajang pemukulan. Biasanya orang yang seringkali terebak dalam pola yang keras itu berasal dari keluarga yang memang menggunakan kekerasan pula, mungkin dia sering melihat orang tuanya berkelahi dan saling pukul memukul, atau dia sendiri yang menjadi korban pemukulan pada masa kecil dari orang tuanya.
Bibit kekerasan itu dan terutama bibit kemarahan dalam dirinya tertanam sehingga sewaktu dia sudah besar atau dewasa dan menikah, kemudian ketika pasangannya membantah dia atau tidak setuju dengan dia atau seolah-olah tidak menghormati dia maka reaksi yang akan muncul adalah reaksi marah yang sangat besar, karena kemarahan dengan kekerasan jaraknya terlalu dekat. Sehingga waktu dia marah, dengan cepat sekali kemarahan itu berubah menjadi tindakan kekerasan. Kita juga mau belajar bahwa adakalanya ada tipe-tipe korban tertentu yang dapat memancing reaksi kekerasan dari pasangannya. Misalnya ada orang yang dibesarkan di dalam keluarga yang penuh dengan kekerasan, anggap saja dia seorang wanita sewaktu dia sudah menikah dia sudah terbiasa menggunakan pola yang sama yaitu dia ingin menaklukkan pasangannya. Kalau sedang bertengkar dan tidak bisa mengalah, dan dia hanya bisa berhenti kalau ditaklukkan oleh pasangannya dan yang terjadi biasanya adalah pasangan akan menaklukkannya lewat tindak kekerasan, dengan memukulnya dan sebagainya dan barulah dia diam. Dan itulah bahasa yang dikenalnya, kalau bertengkar lagi kemudian dia akan mendesak pasangannya, menyudutkannya dan baru berhenti kalau dipukul oleh pasangannya lagi. Kalau itu terjadi sekali atau dua kali maka mulailah dibentuk suatu relasi yang buruk dalam keluarga itu. Dan kita belajar bahwa relasi yang seperti ini berdampak buruk pada anak-anak. Tadi di awal saya sudah singgung bahwa kebanyakan pelaku-pelaku ini dulunya dibesarkan dalam keluarga yang seperti itu, yaitu penuh dengan kekerasan dan sekarang mereka memutar roda yang sama dalam keluarga mereka. Dan besar kemungkinannya anak-anak akan mengulang perbuatan tersebut namun salah satu dampak yang besar yang dialami anak adalah kehilangan rasa damai atau tentram dan dia harus hidup dalam ketegangan dan ketakutan, dan untuk mengatasi ketegangan dan ketakutannya adalah dengan mengunci perasaannya tapi ada juga yang akan diombang-ambingkan oleh perasaan, emosinya tidak stabil naik turun, itu karena dampak dari ketegangan yang harus dialaminya dan untuk bisa menguasai dirinya dia harus bisa membiarkan perasaannya lepas begitu saja tak bisa terkendali. Jadi kesimpulannya adalah kekerasan dalam rumah tangga merupakan sebuah suasana rumah yang sangat buruk, baik untuk suami istri yang tinggal di dalamnya dan terutama bagi anak-anak yang dibesarkan oleh mereka.
GS : Pada waktu itu, Pak Paul juga mengutip ayat Firman Tuhan dari Maleakhi yang mengatakan bahwa Tuhan membenci kekerasan ?
Submitted by admin on Fri, 05/06/2009 - 7:28am.
Abstrak:
Sama seperti masalah lainnya, KDRT merupakan problem yang kompleks dan tidak dapat digeneralisasikan. Untuk dapat memahami dan mencegahnya, kita perlu memahami semua jenis komponen yang terlibat antara lain tipe pelaku, tipe korban, dampak pada anak, pemicu dari kekerasan, reaksi terhadap kekerasan. Yang paling diharapkan adalah bagaimana mengatasi kekerasan pada pihak korban dan pada pihak pelaku.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Kekerasan Dalam Rumah Tangga". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Sekalipun ada undang-undang yang melarang orang melakukan kekerasan dalam rumah tangga, tapi kenyataannya dari hari ke sehari banyak kita jumpai korban-korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Sekarang kita mau memperbincangkan KDRT dari beberapa aspek agar lebih jelas tentang apa yang dimaksud dengan kekerasan dalam rumah tangga ini.
PG : Betul, Pak Gunawan. Memang dalam rumah tangga dapat diduga akan ada konflik tapi konflik tertentu dalam rumah tangga berkembang sehingga menjadi sebuah kekerasan, pemukulan dan misalnya sapai menimbulkan luka-luka dan sebagainya.
Dan inilah yang kita mau teliti kenapa bisa sampai terjadi dan kita juga mau melihat tipe-tipe perilaku dari pelakunya, juga tipe-tipe dari korbannya. Dengan pemahaman ini mudah-mudahan kita semua dapat belajar untuk mencegah masalah ini terjadi dalam rumah tangga kita.
GS : Biasanya alasan-alasan apa yang dimanfaatkan oleh pelaku dari KDRT itu ?
PG : Ada beberapa, Pak Gunawan. Misalnya ada yang menggunakan kekerasan untuk mengekpresikan kemarahannya, orang yang seperti ini mengalami masa kecil yang sarat dengan ketegangan dan kekerasan ari orang tuanya yang bertengkar atau orang tuanya menggunakan kekerasan antara satu sama lain ataupun terhadap mereka sendiri.
Sebagai akibatnya dia bukan hanya mencontoh cara pengekspresian kemarahannya yang keliru itu tapi juga menyimpan kemarahan yang besar karena hidup di dalam keluarga yang penuh kemarahan. Alhasil sewaktu dia marah, kemarahan itu keluar dalam kadar yang besar, ditambah dengan pembelajaran cara pengungkapan yang keliru, dia menjadi rentan untuk melakukan tindak kekerasan kepada pasangannya. Biasanya orang dengan tipe ini menyadari bahwa tindakannya salah, namun dia sendiri tidak bisa menguasai dirinya tatkala marah.
GS : Kemarahan itu sebenarnya diakibatkan oleh korban itu atau oleh hal-hal yang lain, Pak Paul ?
PG : Jadi sudah tentu dalam pertengkaran ada hal-hal yang membuatnya marah, tapi mengapakah kemarahannya itu bisa begitu besar sehingga berubah menjadi suatu kekerasan adalah karena di dalam diinya sendiri dia sudah menyimpan kemarahan yang besar, kemarahan-kemarahan yang berasal dari pengalaman-pengalaman masa kecilnya, melihat orang tua bertengkar menggunakan kekerasan atau dia menjadi korban kekerasan dari orang tua atau lingkungannya.
Singkat kata masa kecilnya itu penuh kekerasan dan ketegangan, sehingga akhirnya kekerasan dan ketegangan itu membuat dia menjadi seseorang yang pemarah dan menyimpan amarah yang besar itu sehingga waktu bertengkar dengan pasangannya meskipun penyebabnya dianggap normal, masalah-masalah yang sering dialami oleh banyak orang, tapi untuk dia kemarahan itu benar-benar keluar dalam bentuk ledakan sehingga dia tidak menguasai dirinya lagi dan akhirnya menggunakan kekerasan.
GS : Jadi sebenarnya pelaku ini juga menjadi korban dari masa lalunya dimana dia tidak pernah diajar atau tidak bisa belajar bagaimana mengungkapkan kemarahan yang benar.
PG : Betul. Jadi untuk tipe yang seperti ini, kita dapat katakan bahwa dia sendiri adalah korban sehingga dia sendiri tidak tahu cara yang sehat mengeluarkan kemarahan dan menggunakan cara yangtidak sehat itu.
GS : Mungkin ada tipe yang lain, Pak Paul ?
PG : Yang lain adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk mengumbar kekuasaannya. Jadi orang yang seperti ini cenderung memandang pasangannya sebagai objek yang perlu dikuasai dan dihajar. Jdi dia cepat menafsir bantahan pasangan sebagai upaya untuk menghina atau melawannya.
Jadi kalau pasangannya tidak setuju atau pasangannya berkata, "Saya tidak mau" dan sebagainya, bagi dia bantahan seperti itu merupakan tindakan menghinanya atau melawannya. Bagi dia tindakan seperti ini dari pasangan membuat dia harus menghajar pasangannya, dengan kata lain, dia mau agar pasangannya belajar jangan sampai berbuat lagi dan cara dia membuat pasangannya belajar adalah dengan menggunakan kekerasan. Orang seperti ini biasanya tidak merasa bersalah. Waktu ditanya, "Kenapa kamu berbuat begitu keras dan kasar kepada pasanganmu ?" dia tidak akan merasa bersalah, sebab dia menganggap tindakannya dapat dibenarkan sebab menurut dia orang yang berbuat seperti itu adalah orang yang kurangajar kepadanya, menghina dia maka sepatutnya diberikan pukulan-pukulan oleh dia.
GS : Biasanya orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang rendah diri ?
PG : Betul, jadi orang-orang yang tidak aman sehingga dia merasa orang cepat sekali menghina dia dan dia mudah sekali marah, menganggap orang itu sengaja menghina dia. Bisa juga yang kedua, diaini adalah orang yang dibesarkan dalam lingkup keluarga yang penuh dengan kekerasan pula, sehingga dia tidak belajar bagaimana cara mengungkapkan perasaan dengan tepat dan caranya adalah selalu menggunakan pukulan.
GS : Dan kekuasaan yang dia peroleh, biasanya diperoleh dengan susah payah dengan cara kekerasan juga, Pak Paul ?
PG : Betul. Jadi dia sangat tidak aman dan merasa kekuasaannya itu tidak boleh dipertentangkan dan menganggap semua bentuk-bentuk bantahan atau sanggahan sebagai tindakan untuk mengambil kekuasan dari dirinya.
Itu adalah salah satu tipe yang membuat terjadinya pemukulan dalam rumah tangga.
GS : Tapi biasanya orang seperti itu, bukan saja melakukan kekerasan dalam rumah tangga, tapi di tempat kerja atau di masyarakat pun dia akan berbuat seperti itu.
PG : Bisa. Jadi memang ada orang yang karena dalam rumah seperti itu maka dia membawa kebiasaan itu keluar. Tapi ada juga tipe, meskipun di rumah keras memukuli pasangannya, tapi di luar kebaliannya, dia tampaknya baik, lemah lembut, paling sabar dengan orang lain.
Jadi kadang-kadang kita tertipu oleh orang-orang yang seperti ini, karena tidak nampak. Jadi waktu pasangannya bercerita, maka orang tidak percaya karena terlihat orangnya begitu baik penuh perhatian, sabar, tapi yang tinggal di rumahlah yang paling tahu.
GS : Tipe yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Ada orang yang menggunakan kekerasan untuk menyeimbangkan posisi dalam pernikahan. Pada umumnya orang ini merasa dirinya 'inferior' (rendah diri) dari pasangan sehingga cepat menuduh pasanan, jadi seolah-olah sengaja merendahkannya, itu sebabnya dia menggunakan kekerasan untuk merebut kembali kekuasaan dalam rumah tangganya.
Jadi orang ini merasa bahwa relasinya itu tidak seimbang, dia merasa dari awal pernikahan dia selalu di bawah terus. Memang berbeda dengan tipe sebelumnya, kalau tipe sebelumnya dia selalu di atas dan tiba-tiba waktu pasangannya berani melawan dia, kemudian dia pukul dan marah. Kalau tipe ini dari awal memang selalu di bawah dan dia menganggap bahwa sepatutnyalah dia di bawah, "Saya dari dulu seperti ini saja" akhirnya dalam satu ketika dia tidak mau terima kenapa dia dari dulu selalu berada di bawah terus. Caranya merebut kembali posisi itu atau menyeimbangkan posisinya dengan menggunakan kekerasan.
GS : Jadi ini untuk menutupi kekurangannya atau kelemahannya.
PG : Betul. Jadi mungkin sekali orang ini untuk satu kurun menerima dan dia merasa kalau dia itu tidak punya apa-apa, dan dia di bawah pasangannya. Tapi bisa jadi pada suatu ketika ada yang memuat dia merasa, "Saya tidak terima" sehingga sewaktu pasangannya berbicara dengan ketus kepada dia tiba-tiba dia berani melawan dan marah dan bukan hanya marah, tapi juga berani memukul.
GS : Tapi hal itu sebenarnya adalah hal yang sudah lama dipendam sehingga terjadi suatu ledakan yang kuat sekali, Pak Paul ?
PG : Betul. Jadi dia sudah menyimpan rasa tidak suka seperti itu, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa sebab dia menyadari kalau dia memang di posisi yang lemah. Entah kenapa ada peristiwa ang terjadi kemudian dia merasa bahwa dia harus kuat dan berani sehingga dia marah dan marahnya itu berubah menjadi suatu kekerasan.
GS : Tipe yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Tipe yang lain adalah orang yang menggunakan kekerasan sebagai jalan keluar terakhir untuk menyelesaikan konflik dan ini adalah tipe yang paling banyak. Jadi orang-orang yang memang tidak erbiasa menggunakan kekerasan namun dalam keadaan frustrasi, dia pun merasa terdesak sehingga secara spontan menggunakan kekerasan.
Jadi orang ini sebetulnya dia tidak menyetujui cara kekerasan ini dan dia tahu ini cara yang salah, dan biasanya cepat merasa bersalah bahwa dia telah melakukannya. Ini memang yang lebih umum, Pak Gunawan, tipe-tipe yang tadi, puji Tuhan lebih jarang, tapi yang lebih umum adalah yang seperti ini yang sebetulnya tidak memiliki maksud memukul tapi karena suasana terus memanas dan dia tidak bisa lagi mengendalikan diri, maka akhirnya masuk ke perilaku yang keras itu.
GS : Apakah bukan karena terjadi gabungan dari tipe-tipe yang lain ataukah tidak, Pak Paul ?
PG : Kalau memang sudah memunyai tipe-tipe yang lain, maka sudah pasti konflik sekecil apa pun cukup untuk bisa memicu kemarahan yang besar itu. Dan orang-orang yang bertipe terakhir ini sebetunya bukanlah orang yang pemarah, tidak ada niat untuk memertahankan kekuasaannya, mungkin dia juga tidak ada niat untuk menyeimbangkan posisi namun untuk suatu ketika saat sedang bertengkar, dan pertengkaran itu tidak berhenti dan malahan terus berlanjut, di titik terakhir dia tidak tahan lagi dan dia ingin membuat pasangannya berhenti bicara atau marah-marah, maka yang tiba-tiba terjadi adalah tangannya memukul.
GS : Banyak orang korban PHK juga melakukan kekerasan rumah tangga karena alasan seperti itu, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Bisa jadi orang-orang seperti ini tidak ada sejarahnya, tidak pernah menggunakan kekerasan kepada pasangannya namun dalam kondisi stres berat, kehilangan pekerjaan dan kemudin merasa disudutkan dan dia mencoba untuk memberitahu pasangannya, "Jangan lagi bicara seperti ini, tolong berhenti" dan sebagainya, tapi mungkin karena pasangan juga stres kemudian berbicara menyudutkannya, akhirnya terjadilah pertengkaran besar dan dia merasa ditantang maka akhirnya terjadilah semacam ledakan dan terjadi kekerasan.
GS : Ada sebagian orang yang memunyai penyimpangan seksual, merasa puas kalau dia melakukan penyiksaan kepada pasangannya, Pak Paul ?
PG : Itu memang masuk ke dalam kategori penyimpangan seksual, dalam istilah psikologis "Sadomasochistic", jadi memang orang-orang yang menggabungkan kenikmatan dengan kesakitan. Itu memang sebuh penyimpangan, sebuah masalah yang harus diselesaikan, tapi itu berbeda dengan yang telah kita bicarakan sebab orang-orang itu bisa jadi dalam pertengkaran tidak menggunakan kekerasan.
Jadi memang ada dua hal yang berbeda, tapi betul ada penyimpangan seperti itu.
GS : Kita sudah berbicara tentang tipe-tipe orang yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga dan sekarang bagaimana dengan korbannya, Pak Paul ?
PG : Korbannya pun juga memiliki tipe-tipe, yang pertama adalah orang yang berjenis penantang. Jadi orang ini hanya mengenal bahasa menaklukkan atau ditaklukkan oleh karena masa kecil yang jugasarat dengan kekerasan.
Jadi karena orang tuanya keras, bertengkar, berkelahi dan mungkin dia juga menjadi korban kekerasan akhirnya dia hanya mengenal bahasa kekerasan, bahasa kekerasan adalah bahasa ditaklukkan dan menaklukkan. Jadi waktu dia bertengkar dengan pasangannya, seolah-olah dia tidak bisa terima dan dia harus menaklukkan pasangan, kalau pasangannya diam saja maka dia terus ingin menaklukkan dan menguasai, akhirnya tindakan seperti itu yang terus menerus menantang dia, kalau tidak kuat-kuat akhirnya pasangannya lari kepada kekerasan dan malahan memukul dia untuk mendiamkan dia, tapi seakan-akan ini adalah bahasa yang dimengertinya yaitu waktu dia dipukul, dia baru diam. Jadi akhirnya pola itu terbentuk, kalau nanti terjadi keributan dan dia seolah-olah menantang dan menantang karena mau menaklukkan dan dia hanya akan berhenti kalau pasangannya menggunakan kekerasan untuk menaklukkannya, seolah-olah bagi dia perselisihan merupakan ajang adu kekuatan alias perkelahian. Jadi orang-orang seperti ini sangat mudah memancing kemarahan pasangan dan dengan cepat mengomporinya sehingga terjadilah pemukulan dan tidak jarang korban dengan tipe penantang justru adalah pihak pertama yang menggunakan kekerasan, jadi hal seperti ini sering ditemukan. Jadi misalkan dia adalah seorang istri, maka dia adalah yang pertama-tama memukul suaminya karena itulah yang dilihatnya dan dia mungkin juga korban kekerasan sewaktu kecil, jadi waktu suaminya hanya diam, maka dia malah marah-marah dan dia tampar pipi suaminya dan akhirnya suaminya marah dan memukul balik si istri dan barulah si istri diam. Kalau lain kali marah, juga akan terulang seperti itu, dia memukul suaminya dan suaminya marah kemudian memukuli istri dan barulah istri diam. Lama kelamaan pola itu terbentuk, dia tidak perlu memulai dengan memukul, si suami langsung memukuli dia. Jadi akhirnya dimulailah roda kekerasan dalam keluarga tersebut.
GS : Seringkali kalau ditanya alasannya untuk membela diri, dari pada dia dikuasai oleh pasangannya maka lebih baik dia menguasai pasangannya.
PG : Orang ini karena belajar dari pengalaman yang memang buruk, jadi susah sekali untuk berdialog dengan baik-baik, untuk berselisih dengan baik-baik. Jadi orang-orang yang dibesarkan dengan kluarga yang penuh dengan kekerasan akhirnya tidak mengenal bahasa dialog dalam menyelesaikan pertengkaran, biasanya adalah bahasa berteriak, marah atau menantang.
Tipe seperti ini akhirnya mudah sekali memancing tindakan kekerasan dari pasangan.
GS : Tipe yang lain dari korban ini apa, Pak Paul ?
PG : Tipe yang lain adalah orang yang bergantung. Jadi orang ini tidak dapat hidup sendirian, butuh pasangan untuk memberinya makna untuk menghidupinya. Orang yang tipe bergantung ini akhirnya embuat pasangan kehilangan respek sehingga dalam kemarahan si pasangan itu mudah terjebak dalam penggunaan kekerasan karena tidak ada respek, tidak memandang dia.
Jadi akhirnya itulah yang terjadi dan salah satu penyebabnya juga adalah kekerasan akhirnya menjadi wujud keinginan pasangan untuk melepaskan diri dari kebergantungan orang ini. Jadi karena terus digelayuti bergantung terus, ditanyai, dikendalikan, dibatasi perilakunya sehingga waktu dia sedang marah, dia menggunakan kekerasan karena seolah-olah ingin agar orang ini lepas dari punggungnya atau tangannya dan tidak lagi bergelayutan terus, maunya dekat dengan dia, maunya menguasai dia, dan maunya dia selalu menolongnya. Akhirnya dengan bahasa kekerasan itu seolah-olah dia menghalau orang ini untuk jauh darinya.
GS : Berarti orang ini atau korban ini menjadi beban bagi orang yang melakukan KDRT itu tadi ?
PG : Betul. Jadi yang dilihat adalah sebagai beban, makanya dia ingin melepaskannya dan cara melepaskannya karena dia tidak menghormati maka cara yang digunakan justru adalah cara kekerasan itu.
GS : Tipe yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Tipe yang lain adalah orang yang berperan sebagai pelindung. Jadi ada korban yang selalu berusaha keras menutupi masalah keluarganya demi menjaga nama baik, selalu menekankan penampilan suaya orang melihat bahwa keluarganya baik-baik saja.
Orang seperti ini cenderung menoleransi kekerasan alias membiarkannya sehingga masalah kekerasan terus berulang. Orang ini memang selalu berusaha mengerti pasangannya, "Kamu memukul saya karena kamu sedang letih, kamu memukul saya karena kamu frustrasi karena saya seperti ini." Jadi terus mengerti pasangannya yang bermasalah. Namun tindakan ini justru berakibat buruk pada pasangan yang menggunakan kekerasan, dia makin leluasa menggunakan kekerasan karena tidak ada konsekuensi yang menantinya, dia tahu kalau istrinya akan menutupi perbuatannya dan dia akan selalu bebas dari konsekuensi.
GS : Ada kebutuhan dari pihak pasangan itu, daripada dia diceraikan maka lebih baik dia menderita seperti itu.
PG : Betul. Memang ada orang-orang yang takut hidup sendirian dan mungkin bagi dia kalau sampai dia bercerai maka nama baiknya rusak dan bagaimana nanti orang menilainya. Jadi harganya bagi diaterlalu besar, maka lebih baik ditoleransi saja kekerasan seperti ini.
GS : Biasanya dalam kasus-kasus KDRT, yang menjadi korban adalah anak-anak kalau keluarga itu sudah dikaruniai anak. Ini dampaknya sejauh mana, Pak Paul?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Salah satu korban yang diam dan sunyi adalah si anak yang tidak bisa berbicara, karena dampak pertama adalah ketegangan dan anak akhirnya hidup di dalam bayang-byang kekerasan yang dapat terjadi kapan saja dan ini menimbulkan efek antisipasi.
Apa yang saya maksud efek antisipasi adalah anak selalu mengantisipasi jauh sebelumnya bahwa kekerasan akan terjadi sehingga hari-harinya terisi oleh ketegangan, sewaktu di sekolah maka dia berpikir, "Nanti sore waktu pulang, papa dan mama berkelahi dan terjadi pemukulan" karena mereka terus membayangkan, maka saat dia berangkat ke sekolah dia sudah tegang, dan besoknya terulang lagi karena kemarin malam papa dan mama berkelahi dan terjadi pemukulan, besoknya dia ke sekolah dia pikirkan lagi, "Nanti malam akan terjadi lagi perkelahian." Jadi hari-harinya terus diisi oleh ketegangan sehingga dia tidak lagi menjadi orang yang bebas, yang santai yang penuh damai. Justru hari-harinya diisi dengan ketakutan.
GS : Itu biasanya nampak dari prestasi anak di sekolah, biasanya sangat rendah ?
PG : Biasanya seperti itu. Tidak bisa tidak konsentrasinya terganggu, dia tidak bisa belajar dan nanti juga akan terganggu pada perilaku sosialnya. Bisa juga satu ekstrem dia akan menutup diri arena ketakutan, tapi juga bisa kebalikannya yaitu dia mengembangkan perilaku yang bermasalah karena dia tidak mau lagi dikuasai oleh ketakutan atau ketegangan itu.
Jadi mulailah dia melawan guru, mencuri, berontak supaya dia bisa bebas dari ketegangan itu.
GS : Padahal akar sesungguhnya adalah karena dia sering melihat kekerasan ini.
GS : Dampak yang lain dari kekerasan ini terhadap anak apa, Pak Paul ?
PG : Ada anak yang akhirnya mengunci pintu perasaannya, ia berupaya melindungi dirinya agar tidak tegang dan takut dengan cara tidak mengizinkan dirinya merasakan apa pun. Singkat kata, ia membat perasaannya mati supaya ia tidak harus merasakan kekacauan dan ketegangan.
GS : Didalam dia mengunci perasaannya, dia mematikan perasaan takutnya, perasaan kasihannya, itu yang dilakukan, Pak Paul ?
PG : Masalahnya adalah bukan saja perasaan takutnya yang terkunci, tapi semua perasaannya terkunci sehingga dia menjadi seorang anak yang seolah-olah tidak ada perasaan, datar atau hanya mengguakan satu perasaan untuk mewakili semua perasaannya.
Misalnya satu perasaan itu adalah perasaan murung. Apa pun kondisi hidupnya, suasana hanya satu yaitu murung atau kebalikannya yaitu marah. Jadi kalau ada apa-apa marah, waktu sedih marah, waktu terluka marah, waktu kehilangan marah dan semua diekspresikan dengan marah. Kenapa ? Sebab dia sudah mengunci perasaan yang lain dan hanya memunculkan satu jenis perasaan.
GS : Tapi bisa juga terjadi yang sebaliknya, Pak Paul ?
PG : Bisa. Jadi yang kebalikannya adalah ada anak-anak yang justru membuka pintu perasaannya lebar-lebar dalam pengertian dia tidak memegang kendali atas perasaannya, dia sangat mudah marah, di sangat mudah takut, sangat mudah sedih, sangat mudah tegang dan perasaan ini mengayunkannya setiap waktu.
Jadi benar-benar hidupnya itu diombang-ambingkan oleh perasaan.
GS : Pak Paul, hal-hal seperti itu apakah tidak akan menghambat pertumbuhan anak-anak, baik secara fisik atau secara mental ?
PG : Sangat menghambat, Pak Gunawan. Jadi akhirnya anak-anak ini tidak bisa lagi bertumbuh dengan alamiah dan sehat karena untuk dia bisa bertumbuh dia memerlukan suasana kehidupan yang tentram Ketakutan dan ketegangan melumpuhkan seorang anak dan menghambat pertumbuhan dirinya.
Misalnya dalam hal kepercayaan, ia akan sukar sekali memercayai siapa pun dan masalah ini akan memengaruhi relasinya kelak, sebab ia akan kesulitan membangun sebuah relasi yang intim karena relasi yang intim menuntut adanya kepercayaan.
GS : Kalau anak ini tidak sendirian artinya memunyai saudara kandung yang lain, pengaruhnya bagaimana Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kalau memiliki saudara, itu masih mendingan karena dia bisa berbicara dan bermain dengan saudara-saudaranya, namun tetap pertumbuhannya akan terganggu misalnya anaknya hidup daam ketakutan, bukan saja dia sukar percaya pada orang, tapi dia nanti akan mengembangkan sikap yang terlalu cepat mundur, tidak berani menghadapi tantangan dan itu yang nanti akan menghambat pertumbuhannya.
GS : Tapi kalau dia sebagai anak sulung, dia seringkali menjadi pelindung bagi adik-adiknya ?
PG : Betul. Jadi kalau nanti kita bahas lagi biasanya tiap anak akan mengemban peran-peran tertentu. Jadi anak yang sulung itu akan menjadi pelindung bagi adik-adiknya. Atau nanti ada anak yangberbakat, paling pintar nanti dia akan menjadi pendongkrak harkat orang tuanya sehingga tidak ada satu orang lain pun yang boleh sedikit pun mengatakan hal-hal yang jelek tentang keluarganya.
Maka dia mau marah dan dia mau berkelahi dengan orang. Jadi tiap anak mengembangkan persoalannya masing-masing.
GS : Apakah itu juga memengaruhi hubungan anak dengan orang lain, jadi dalam hal dia berelasi, Pak Paul ?
PG : Seringkali itu terjadi. Jadi anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan kekerasan akan memunyai pola relasi yang terdistorsi, yang terselewengkan misalnya seperti manipulati atau menjadi anak yang pemangsa yang suka menjahati orang atau pemanfaat yang mau mengambil kesempatan dari orang.
Atau ada juga yang memainkan peran korban yang selalu tampak lemah, takut dan minta dikasihani.
GS : Dalam hal ini, kalau kita melihat anak-anak menjadi korban, kita tahu sebenarnya akarnya bukan pada diri anak ini tapi pada kedua orang tuanya. Bagaimana kita mau memberitahu anak-anak ini ?
PG : Sudah tentu nanti kita harus berkata bahwa kenapa kamu begini, itu ada penyebabnya. Dan penyebabnya adalah pada orang tuanya itu, karena kalau tidak anak-anak ini nantinya akan bingung kenpa saya menjadi orang yang mudah marah, mudah tegang, kenapa saya tidak bisa menghadapi tantangan dalam hidup.
Kita mesti menjelaskan bahwa ada yang telah terjadi dalam hidupmu, yang telah melumpuhkan dirimu sehingga tidak bertumbuh dengan semestinya.
GS : Jadi masih ada beberapa bagian yang perlu kita perbincangkan dalam masalah kekerasan dalam rumah tangga ini, tapi karena waktu yang membatasi kita maka kita akan lanjutkan perbincangan kita ini pada kesempatan yang akan datang. Pak Paul, sebelum kita mengakhiri perbincangan kita kali ini, mungkin ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Maleakhi 2:16, "Sebab Tuhan membenci perceraian, firman Tuhan, Allah Israel, juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman Tuhan semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganah berkhianat!" Tuhan bukan saja membenci perceraian, karena Tuhan tahu dampaknya buruk bagi keluarga dan anak-anak, Tuhan juga membenci orang yang menggunakan kekerasan dan kebenciannya.
Maka Tuhan meminta dan memerintahkan, "Jagalah dirimu dan jangan berkhianat". Memang berkhianat itu berarti mengkhianati janji kita untuk memerlakukan dan mencintai pasangan dengan penuh kasih. Jaga diri, kita memang harus menahan emosi kita dan kalau kita tahu kalau kita punya masalah, jangan ragu untuk meminta bantuan.
GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan kali. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Kekerasan Dalam Rumah Tangga" bagian yang pertama. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by admin on Fri, 05/06/2009 - 7:25am.
Abstrak:
Kekecewaan dapat dipastikan akan membuahkan kepahitan. Itu sebabnya hidup dengan orang yang menyimpan kekecewaan sebenarnya hidup dengan orang yang menyimpan kepahitan. Pada akhirnya kepahitan memasuki seantero lini jiwa dan kadang memunculkan diri dalam perilaku yang tidak sehat. Perhatikanlah beberapa masukan yang dapat diberikan untuk orang yang hidup dengan seseorang yang kecewa.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Hidup dengan Orang yang Kecewa". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, rasanya makin hari makin banyak saja orang-orang yang kecewa di sekitar kita. Sebenarnya apa yang dialami oleh orang yang kecewa itu, Pak Paul?
PG : Hidup ini memang tidak sempurna, Pak Gunawan. Ada kalanya hal-hal yang tidak menyenangkan yang tidak kita duga menimpa kita, kalau itu dilakukan oleh orang yang tidak kita kenal, kita menglami peristiwa yang buruk dan sebagainya meskipun kita sakit hati, kita marah, kita takut, kita kecewa, tetapi pada umumnya kita masih bisa melaluinya.
Yang terberat adalah kalau kita di- kecewakan oleh orang yang kita kenal dekat, yang mungkin kita sayangi, atau yang paling penting adalah kalau kita memercayainya. Biasanya kalau itu terjadi maka hasilnya adalah kita mengalami kekecewaan yang dalam. Kita sudah bahas pada kesempatan yang lampau bahwa ada hal-hal yang harus kita lakukan, misalkan pada akhirnya kita melepaskan genggaman kita. Maksudnya adalah kita harus siap membiarkan dia untuk memilih garis hidupnya sendiri. Kita tidak bisa memaksanya untuk dapat menjadi seperti yang kita inginkan dan kita harus menerima fakta bahwa sekarang relasi ini menjadi sebuah relasi yang berbeda, bahwa kita tidak bisa membawa relasi ini seperti sediakala lagi. Atau kita harus menerima fakta bahwa perasaannya kepada kita memang sudah berbeda, dia tidak lagi melihat kita sama seperti dulu. Meskipun berat tapi kita harus menerima semua itu, tetapi sekali lagi kita harus terima dan kita harus mulai mendoakannya. Sudah tentu pada awalnya kita memang sakit hati, marah, kita mungkin harus mengungkapkan kemarahan kita di dalam doa kita, itu tidak mengapa karena Tuhan akan mendengarkan, dan Tuhan tidak marah hanya karena kita marah. Setelah itu kita harus mendoakan orang tersebut yang telah berlaku buruk terhadap kita, supaya Tuhan juga memberinya kesempatan untuk melihat perilakunya dan bertobat kemudian berubah dari hal-hal buruk yang telah dilakukannya.
GS : Sulitnya kalau kita tinggal serumah dengan orang yang seperti itu Pak Paul, padahal bukan kita yang membuat dia kecewa. Apa yang bisa kita lakukan, Pak Paul ?
PG : Kalau kita hidup serumah dengan orang yang telah mengecewakan kita, sudah tentu berat sekali, karena seolah-olah luka itu tidak pernah bisa kering dan pada akhirnya terus-menerus terbuka dn terbuka lagi dan yang kita mesti ingat adalah kekecewaan itu pada akhirnya berkembang menjadi sebuah kepahitan yang awalnya sebuah kekecewaan.
Waktu kepahitan itu kita simpan, maka kepahitan itu akan meresap memengaruhi segenap lini jiwa kita. Maka kita harus menghadapi masalah ini, yang pertama misalkan yang bisa kita lakukan adalah kita tinggal dengan orang yang mengalami kekecewaan. Kita sebagai pasangan harus memahami penyebab kepahitannya, karena kita akan menolongnya. Nantinya setelah kita hidup dengan dia yang mengalami kekecewaan, kita mencoba untuk mengerti penyebab kepahitannya. Ada kalanya kepahitan dan kekecewaan keluar dari persepsi keliru atau kesalahpahaman. Dalam kasus seperti ini, tindakan yang dibutuhkan adalah meluruskan kekeliruan itu, jadi misalkan pasangan kita mencurigai atau menuduh bahwa seseorang telah bersikap tidak baik kepadanya, karena orang itu memandang rendah dirinya dan kebetulan kenal orang tersebut dan kita tahu juga bahwa tidak ada niat bagi orang tersebut memandang rendah pasangan kita. Kalau itu yang terjadi maka kita berusaha untuk meluruskan kekeliruan itu. Bila penyebabnya bukanlah persepsi yang keliru melainkan peristiwa yang selayaknya menimbulkan kekecewaan, sebaiknya kita memerlihatkan pengertian kita akan kekecewaannya. Pada tahap awal, kita sedapatnya menghindar dari kata-kata yang bersifat menghakimi atau yang mengharuskannya untuk melepaskan kekecewaan itu. Jadi yang terlebih penting adalah sebuah pengertian bahwa saya tahu kamu kecewa, tetapi dengan catatan memang faktanya seperti yang dilihatnya. Sekali lagi saya mau tekankan itu, sebab ada kalanya fakta tidak seperti yang dilihatnya.
GS : Seringkali orang yang kecewa tidak mau mendengar apa yang kita katakan. Dalam hal ini kita bisa menjadi musuh, dia memusuhi kita ketika kita tidak mau memahami akan kekecewaannya.
PG : Itu sebabnya pada awalnya, sebaiknya kita tidak mengatakan kata-kata yang berkontradiksi dengan pemikirannya. Jadi awalnya kita coba untuk memahami, menyelami perasaan kecewanya dan kita lbih banyak misalkan mendengarkannya dan tidak memberikan banyak komentar yang mengharuskan dia ini dan itu, sebab dengan cara itulah dia akhirnya yakin bahwa kita mengerti kenapa dia kecewa.
Ini tahap pertama yang harus kita lakukan karena kalau tidak ada tahap pertama ini, maka upaya-upaya kita selanjutnya akan dia sangkal dan dia tidak akan terima dengan mudah. Jadi langkah pertama benar-benar menunjukkan pengertian kita, namun kalau memang setelah kita dapatkan data-data bahwa ada kekeliruan persepsi, maka perlahan-lahan kita bisa bagikan dengannya serta mengajaknya melihat dari sudut pandang yang berbeda. Namun sekali lagi, setelah kita menyampaikan dan mengekspresikan pemahaman kita akan perasaannya.
GS : Misalnya saja ada seorang suami yang kecewa karena tidak jadi naik pangkat dan sebagai isteri akan sulit untuk menghadapinya, karena si suami pasti sangat kecewa. Dan dia menuduh ada rekannya yang sengaja menjegal dia, kalau itu yang terjadi bagaimana, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kekecewaan seperti itu manusiawi. Jadi si isteri bisa berkata, "Saya mengerti kenapa kamu kecewa, kamu sudah mengharapkannya dan saya pun juga mengharapkannya. Saya tahu kekeceaan kamu dan tadi kamu berkata bahwa teman kamu itu tidak senang dengan kamu, menjegal kamu, sehingga akhirnya kamu tidak mendapatkan posisi yang kamu impikan.
Biarlah memang orang itu seperti itu dan saya mengerti. Tetapi untuk sementara kita biarkan saja dulu," jadi kita tidak terus menyuruhnya untuk meluapkan kemarahan, kekecewaannya, tetapi kita juga tidak terlalu cepat memadamkannya pula. Jadi langkah pertama adalah menunjukkan pengertian kita, kenapa dia kecewa dan bahwa reaksinya itu sebuah reaksi yang sepatutnya atau layak.
GS : Jadi yang dibutuhkan oleh orang yang kecewa ini adalah orang lain yang mau mendengar keluhannya, Pak Paul ?
PG : Tepat sekali, Pak Gunawan.
GS : Jadi langkah berikutnya apa, Pak Paul ?
PG : Untuk menolong orang yang kecewa agar kekecewaannya keluar ialah kita harus mengerti bahwa orang yang hidup dalam kekecewaan tidak dapat berfungsi optimal. Makin dalam kekecewaannya maka mkin sukar ia berfungsi maksimal.
Jadi dengan kata lain, misalnya dia terbiasa untuk membantu urusan rumah tangga, atau misalkan dia terbiasa membantu mengantar anak ke sana ke sini, atau menolong anak dengan pekerjaan rumahnya, namun dalam kondisi kecewa dia tidak bisa berfungsi seoptimal dulu, maka kita perlu menunjukkan pengertian kita bukan saja lewat kata-kata, tetapi lewat perbuatan. Dengan cara apa ? Kita menawarkan diri untuk mengambil alih tugas-tugas yang biasa dilakukannya, atau kita bisa berkata, "Kalau kamu letih atau kamu tidak bisa, tidak apa-apa biarkan saya saja yang mengerjakan." Adakalanya ada orang yang memang tidak terima dan berkata, "Tidak apa-apa saya masih bisa" sebab dia mau menunjukkan bahwa dia kuat dan tegar, dia tidak terpengaruh oleh peristiwa yang mengecewakannya itu. Kalau dia bersikap seperti itu, maka kita jangan melawannya dan berkata, "Tidak, kamu tidak mau mengakui bahwa sekarang kamu sedang sedih dan sebagainya, dan kamu juga harus rendah hati," pada akhirnya yang terjadi adalah keributan. Kalau dia berkata, "Tidak, saya tidak apa-apa, saya bisa dan biarkan saya," maka kita harus mengatakan, "Baiklah, kalau kamu perlu bantuan saya, saya siap." Mungkin yang bisa kita lakukan adalah melakukan hal-hal lain yang lebih kecil yang mungkin dia tidak perhatikan. Itulah yang bisa kita lakukan dan yang bisa kita kerjakan, sebab sekali lagi kita mau mengerti bahwa mungkin dia tidak bisa berfungsi optimal dan dia juga perlu melihat bahwa kita menunjukkan pengertian akan kondisinya secara konkret. Dan kita menawarkan untuk memikul bebannya supaya dia tidak terlalu tertindih oleh hal-hal yang harus dilakukannya.
GS : Maksud kita sebenarnya dengan memberikan dia kesibukan maka dia sedikit terhibur sehingga tidak hanya memikirkan penyebab kekecewaannya, misalnya seperti mengantar anak atau melakukan pekerjaan-pekerjaan lain. Dengan demikian dia akan lebih terhibur, bukankah demikian, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kalau dia melakukannya maka itu akan sangat baik. Untuk hal-hal yang praktis, orang yang hidup didalam kekecewaan ini masih bisa melakukannya tetapi misalkan dalam pengambilan eputusan umumnya orang-orang ini akan lebih sulit, akan lebih suka bingung dan diam, mereka tidak yakin apa yang harus dilakukan.
Jadi di sinilah kita harus berperan sebagai pendampingnya, kita memikul beban yang tadinya dia harus pikul itu.
GS : Kalau orang yang kecewa itu menjadi pendiam, padahal tadinya itu tidak pendiam, apakah kita harus memancing dia untuk berbicara ?
PG : Saya kira, ya. Sebab pada dasarnya dia perlu mengeluarkan isi hatinya dan justru makin banyak dia mengeluarkan isi hatinya, maka beban itu makin keluar dari dirinya. Jadi di sini penting skali peran kita sebagai pendengar dan bukan sebagai wasit yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Kita dapat mendorongnya untuk mengenali perasaan yang dirasakannya dan jika memungkinkan kita mendorongnya untuk mengungkapkan perasaan-perasaan ini. Dalam pembicaraan sedapatnya kita menyampaikan pengertian kita akan apa yang dirasakannya, coba dengar ketika orang mengatakan, "Kita mengerti perasaannya," maka dia makin terbuka untuk bercerita dan bercerita lagi tetapi kalau dia belum siap untuk berbicara maka kita jangan terlalu menekannya, menyalahkannya dan berkata, "Kamu ini tidak mau bercerita, kamu seperti ini dan sebagainya." Lebih baik kita sering bersamanya dan waktu dia sedang sedih, kita bisa berkata, "Berat, memang susah untuk melupakan," kata-kata yang singkat dan sederhana, tetapi mengena. Itu biasanya akan lebih dapat menggugah dia untuk mau bercerita kepada kita.
GS : Tetapi seringkali yang diceritakan adalah hal-hal yang sama, sehingga kita harus mendengar hal-hal yang sama itu berulang-ulang, Pak Paul.
PG : Kalau sudah melakukan hal seperti itu kemudian dia mulai cerita, cerita dan cerita berarti itulah kesempatan kita untuk mulai dapat berinteraksi dengan dia, karena sekarang dia sudah mencritakannya berkali-kali.
Dengan cara itu sebenarnya beban perasaannya sudah mulai berkurang dibandingkan dulu berarti dia lebih mudah untuk mendengarkan masukan kita. Didalam tahap ini kita bisa mengajaknya untuk memertimbangkan atau melihat sudut pandang yang berbeda, "Mungkin orang ini seperti ini karena begini, atau menurut kamu apakah mungkin dia begini." Dengan kita melontarkan kemungkinan-kemungkinan itu sebenarnya kita mengajaknya untuk melihat dari sisi yang lain. Bisa jadi sebetulnya dia ingin menolak, "Tidak! Dia memang seperti ini," biarkan saja dan kita tidak perlu memaksanya karena kenyataan kita telah memunculkannya dan didengar oleh dia, sebetulnya kita sudah mulai membuat dia bertanya dan sudah mulai menyuruhnya untuk melihat dari sisi yang berbeda. Meskipun dia tetap bersikeras, biarkan saja sebab sekali lagi pemikiran itu sudah mulai muncul didalam hatinya.
GS : Kadang-kadang yang dibicarakan menjadi berkembang, bukan hanya peristiwa yang baru dialami yang membuat dia kecewa, tetapi dia menarik ke belakang. Pada waktu yang lalu ada kesalahan-kesalahan maka masalah ini menjadi lebih kompleks.
PG : Betul, kadang-kadang untuk kita memastikan, menyimpulkan, bahwa orang ini seperti ini, kita harus mempunyai bukti-bukti. Itu sebabnya didalam kondisi kecewa dan marah seringkali kita akan engumpulkan bukti-bukti yang lama, untuk menguatkan tuduhan kita, bahwa dia adalah seperti ini dan seburuk ini.
Sudah tentu kalau kita mendengar dia berkata seperti itu, kita coba untuk evaluasi karena bisa jadi dia benar, kita tidak bisa langsung beranggapan dia pasti keliru menggunakan bukti-bukti yang dulu, sebab bisa jadi bukti-bukti itu memang merupakan sebuah benang merah bahwa orang tersebut seburuk yang dikatakan oleh pasangan kita. Jadi tugas kita sekali lagi, bukan buru-buru meredam karena adakalanya ada pasangan yang mau buru-buru meredam perasaan-perasaan kecewa yang dialami oleh orang tersebut. Itu salah, kadang malah kebalikannya yaitu dia ingin didengarkan dan diakui bahwa bisa jadi reaksinya ini reaksi yang seharusnya, bisa jadi penilaiannya tentang orang yang telah berlaku buruk kepada dirinya ternyata adalah benar. Jadi sekali lagi kita jangan tergesa-gesa mau memadamkan api kekecewaannya, kita seharusnya lebih berperan untuk mendengarkannya dan menilai apakah memang seperti yang dikatakannya. Berarti kekecewaan seseorang itu bisa berkelanjutan, Pak Paul ?
PG : Betul, Pak Gunawan. Adakalanya ada orang yang bisa cepat melewati fase ini tetapi ada juga orang yang terus melanjutkan perjalanan didalam kekecewaan. Kalau ini yang terjadi maka ada tuntuan yang belum terpenuhi, maksud saya dengan tuntutan adalah dia berharap orang yang mengecewakannya itu datang dan meminta maaf.
Saya kira itu tidak realistik, maka tugas kita adalah mengajaknya melihat tuntutan tersebut dan mengakuinya bahwa dia sebetulnya mengharapkan atau menuntut orang yang telah berbuat buruk atau yang telah melukainya atau yang telah mengecewakannya untuk datang meminta maaf. Kita tahu bahwa tidak mudah bagi seseorang untuk mengakui bahwa sesungguhnya dia menyimpan suatu tuntutan, bisa jadi waktu kita melontarkan hal itu, dia berkata, "Tidak, saya tidak menuntut itu dari dia." Sudah tentu susah bagi dia untuk mengakui, tetapi pada akhirnya dia mesti melihatnya dari pihak kita, kalau kita dapat mengupayakan supaya tuntutan itu dapat dipenuhi. Sudah seyogyanyalah kita mencoba untuk memenuhi namun bila kita lihat itu tidak mungkin untuk memenuhi tuntutan tersebut, maka tugas kita adalah mengajaknya mengakui hal itu, mengajaknya melihat bahwa tidak mungkin tuntutan kamu itu dipenuhi. Penting sekali pada tahap ini, kita tidak memaksanya untuk mengakui hal itu. Cukup bagi kita hanya mengajaknya melihat fakta ini, sudah tentu besar harapan kita bahwa sekali dia dapat melihatnya dia akan menarik tuntutannya, sehingga ia kembali dapat hidup merdeka.
GS : Ini membuat dia menyadari bahwa tuntutannya itu adalah sesuatu yang mustahil, ini suatu tugas yang sangat sulit, Pak Paul. Misalnya seorang anak yang menuntut orang tuanya meminta maaf dan sebagai pasangan kita tahu bahwa orang tuanya itu tidak mungkin meminta maaf kepada anaknya, seperti itu, Pak Paul ?
PG : Betul dalam kasus seperti ini maka perlahan-lahan dengan sensitif kita mesti menyadarkan misalkan anak kita, bahwa sesungguhnya kamu itu memunyai tuntutan ini. Meskipun awal-awalnya dia mugkin tidak mau menerimanya tetapi perlahan kita mesti mengajaknya melihat ada tuntutan dalam hatimu kepada orang tuamu untuk meminta maaf kepadamu, "Menurut saya itu tidak mungkin, semakin engkau terus memegang tuntutan ini semakin engkau terbelenggu olehnya, dan hidupmu tidak akan merdeka, sampai kapan pun engkau akan membawa duri ini di hatimu," kita mau mengajaknya untuk merdeka tidak lagi dibelenggu oleh tuntutan itu.
Sebab sekali lagi orang yang merdeka adalah orang yang tidak menetapkan tuntutan itu, tidak berarti dia tidak boleh meminta, sudah tentu boleh tetapi dia sadar bahwa orang memunyai kehendak dan pilihannya sendiri. Kita bisa lihat ini dalam diri Tuhan Yesus, Pak Gunawan, Tuhan Yesus menyerang, mengkritik orang-orang Farisi, dan ahli taurat pada zaman itu tetapi Tuhan Yesus tahu bahwa diri mereka berbeda, mereka punya kehendak yang berbeda dan sampai batas tertentu Tuhan hanya menyampaikan teguran kepada mereka apakah mereka nantinya berubah atau tidak. Itu memang keputusan orang-orang tersebut. Jadi di- sinilah diperlukan sebuah kesadaran bahwa dia sekarang tidak lagi merdeka gara-gara dibelenggu oleh tuntutan tersebut. Maka dia harus putuskan dan berkata, "Baik, saya tidak lagi memunyai tuntutan, saya bebaskan kamu dari tuntutan ini dan saya sudah serahkan kamu kepada Tuhan, nanti kamu yang bertanggung jawab kepada Tuhan."
GS : Kalau keputusannya adalah dia tidak lagi menuntut Pak Paul, hal itu masih bisa kita terima. Yang menjadi masalah adalah kalau dia memutuskan hubungan misalnya tadi dengan orang tuanya, "Kalau papa (misalnya) tidak mau memberikan maaf kepada saya maka saya tidak mau berhubungan lagi dengan papa," dan ini membuat pihak isteri atau ibu itu menjadi tersudut sekali begitu, Pak Paul.
PG : Betul, Pak Gunawan. Jadi sudah tentu hati kita akan tambah hancur, tugas kita adalah mencoba untuk tetap berbicara kepadanya supaya dia tidak mengambil tindakan yang drastis seperti itu. Nmun pada akhirnya kita harus sampaikan kepada dia bahwa kalau itu yang kamu putuskan kami tidak bisa berbuat apa-apa, saya juga tidak bisa membuat kamu berubah namun kami hanya bisa sedih karena kami akan kehilangan seorang anak.
Namun kami juga tidak bisa apa-apa. Jadi dengan kata lain, kita mau menjadi sangat jelas kepada anak kita atau kepada orang yang sedang mengalami kekecewaan itu, bahwa kita tidak bisa melewati batas ini, kita harus terima bahwa kita hanya bisa berjalan sejauh ini saja.
GS : Apakah itu bukan pertanda bahwa kita menyerah, Pak Paul ?
PG : Bukannya menyerah dalam pengertian kita tidak mau menyelesaikannya, sebenarnya kita mau menyelesaikannya tetapi kita mau melihat dulu secara realistik seberapa jauh kita bisa melangkah.
GS : Yang berikutnya apa yang bisa kita lakukan, Pak Paul ?
PG : Setelah kita meminta dia untuk menarik tuntutannya, kalau dia tetap tidak dapat melakukannya pasti dia akan terus berkubang dalam kepahitan dan hal itu tidak bisa lagi dihindarinya. Dalam ondisi seperti ini kita mengajaknya berdoa memohon kepada Tuhan agar memberinya kekuatan dalam melepaskan tuntutan itu, kita pun dapat mendoakan si pelaku agar Tuhan menyadarkannya sehingga ia berubah.
Mungkin ini akan menjadi proses terlama, karena kalau kita melakukan proses tercepat biasanya tidak membuahkan hasil. Jadi lebih baik tidak perlu kita percepat, namun secara berkala kita ajak dia berdoa, minta Tuhan memberinya kekuatan, melepaskan tuntutannya. Hal yang seringkali juga saya hadapi, Pak Gunawan, waktu konseling dengan orang dewasa, yang pada masa kecil tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, orang-orang ini biasanya hidup sampai masa dewasa membawa tuntutan itu, bahwa orang tuaku seharusnya mengasihiku, kenapa dulu tidak mengasihiku, seharusnya mengasihiku. Dalam konseling pada akhirnya kita mesti membawa dia ke titik dimana dia menyadari bahwa nomor satu dia tidak bisa membuat orang tuanya mengasihi dirinya, apa yang diputuskan orang tuanya memang adalah hak mereka seberapa pun kita merasa bahwa itu tidak adil atau tidak semestinya namun kita tetap tidak bisa mengubahnya. Maka tindakan kedua adalah melepaskan tuntutan itu, kita tidak lagi berkata, "Kamu seharusnya begini, kamu seharusnya mengasihi saya," tidak seperti itu dan kita harus mengakui bahwa memang engkau tidak lagi harus mengasihiku dan aku tidak lagi menuntut itu dari padamu. Waktu kita bisa melepaskan itu barulah kita akan dapat menikmati sebuah kelegaan dalam hidup ini.
GS : Masalahnya ketika kita mau mengajak dia berdoa dan mendoakan dia, dia selalu berkata, "Kenapa kamu mendoakan saya, seharusnya doakan orang yang mengecewakan saya juga."
PG : Betul. Jadi dalam doa kita harus mendoakan keduanya, Pak Gunawan. Jadi seperti yang dia minta bahwa pihak yang satunya harus didoakan, harus berubah dan sebagainya, tetapi kita juga doakansupaya Tuhan memberinya kekuatan untuk melepaskan tuntutan bahwa orang itu, misalkan dalam hal ini orang tua yang tidak mengasihinya, memang harus berubah kepadanya sekarang.
Hal itu memang terserah si orang tuanya sendiri. Ini suatu kenyataan yang seringkali menyedihkan, Pak Gunawan, dalam konseling dalam kasus seperti ini waktu seseorang akhirnya harus mengakui bahwa, "Memang benar bahwa dulu papa mama memerlakukan saya berbeda dengan mama papa memerlakukan misalnya adik, memang benar mereka lebih bangga dengan adik karena adik punya kelebihan-kelebihan ini yang saya tidak punya, makanya mereka memerlakukan saya berbeda," waktu kita mengakui hal itu memang sangat menyedihkan tetapi kita harus akui kalau memang berbeda, memang mereka tidak sebangga kepada kita dan kita harus lepaskan tuntutan itu, kita harus berkata bahwa, "Baik, saya tidak bisa membuatnya membayar supaya orang tua sekarang membanggakan kita," memang tidak bisa, maka kita harus terima dan kita tidak lagi menuntut itu dari padanya.
GS : Langkah yang lain apa yang bisa kita lakukan, Pak Paul ?
PG : Secara berkala kita dapat mengajaknya melihat Yusuf yang mengalami kekecewaan namun tidak membuatnya pahit oleh karena dia dapat melihat semua yang terjadi sebagai bagian dari rencana Alla yang lebih besar daripada dirinya.
Menurut saya inilah kuncinya, Pak Gunawan, untuk dapat lepas dari kepahitan yang harus kita lakukan adalah kita mesti memandang semuanya dari kaca mata Tuhan dan bahwa rencana Tuhan lebih besar daripada dirinya sendiri, bahwa semua ini tidak harus berubah atau terjadi sesuai dengan yang dikehendakinya. Tuhan memunyai rencana yang lebih luas daripada dirinya, ada hal-hal yang sedang Tuhan lakukan yang belum bisa kita lihat, tetapi yang harus kita terima adalah Firman Tuhan di Kejadian 50:20. Yang berkata ini adalah kata-kata dari Yusuf kepada saudara-saudaranya yang telah mencoba untuk mencelakakannya. "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." Yusuf tidak tenggelam dalam kepahitannya sebab Yusuf melihat Allah memunyai rencana yang lebih besar, memelihara suatu bangsa dan memang dia harus pergi ke Mesir terlebih dahulu meskipun jalur menuju ke Mesir melewati jalur derita tetapi dia melihat ada rencana Tuhan, dan ini adalah rencana yang lebih baik. Seseorang yang pahit, yang menyimpan kekecewaan yang dalam harus keluar dari dirinya dan melihat rencana Tuhan yang lebih luas.
GS : Walaupun tidak mudah hidup dengan orang yang kecewa, tetapi kita punya Firman Tuhan yang bisa kita sampaikan kepadanya dan itu merupakan suatu pengharapan, penghiburan yang sangat dibutuhkan. Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan kali ini, dan para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Hidup dengan Orang yang Kecewa". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by admin on Fri, 05/06/2009 - 7:22am.
Abstrak:
Hidup tidak sempurna. Ada banyak hal yang tidak menyenangkan yang harus kita hadapi dan terima. Kadang kita mengalami kecurangan namun adakalanya kita harus mengalami kejahatan. Sudah tentu hasil akhirnya adalah kekecewaan. Jika inilah yang kita alami maka kita mesti belajar menolong diri sehingga kita bisa mengatasi kekecewaan.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Hidup Dalam Kekecewaan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Memang sebagai manusia yang tidak sempurna, dan banyak masalah di dalam kehidupan kita, saya rasa kita semua pernah mengalami kekecewaan itu entah karena kegagalan, entah karena dikhianati orang, tapi muncul kekecewaan itu di dalam diri kita. Bagaimana kita harus menyikapinya dan bagaimana biasanya kekecewaan itu menerpa seseorang, Pak Paul ?
PG : Saya setuju dengan pengamatan Pak Gunawan, bahwa hidup memang tidak sempurna dan karena itu ada kalanya apa yang tidak kita harapkan malahan harus kita hadapi, sehingga waktu itu terjadi kkecewaanlah yang menjadi reaksi kita.
Pada kesempatan kali ini kita akan mencoba untuk melihat lebih dalam lagi tentang hidup dalam kekecewaan. Yang pertama yang akan saya uraikan adalah tiga tahapan atau fase pengenalan kita akan pengalaman yang tidak menyenangkan, yang pada akhirnya menimbulkan kekecewaan itu. Yang pertama adalah saya mau bawa ke masa paling kecil dalam hidup kita, pada masa awal dalam hidup ini kita tidak mengenal kecurangan atau kejahatan. Anak-anak pasti dimarahi atau didisiplin orang tuanya sehingga menangis dan sebagainya. Sudah tentu bagi anak itu bukanlah hal-hal yang menyenangkan, tetapi kemarahan orang tua dalam kadar yang wajar, disiplin orang tua kepada anak itu bukanlah sesuatu yang dilihat anak sebagai sebuah kejahatan atau kelaliman, atau kecurangan. Dengan kata lain pada awal-awal kehidupan kita tidak mengenal kecurangan, terlahir dalam ketidaktahuan akan semua itu, namun perlahan-lahan kita mulai mendengar tentang kecurangan atau kejahatan yang terjadi di sekitar kita. Mungkin kita mendengar orang tua kita berbicara tentang orang yang mendapatkan suatu musibah, atau orang yang rumahnya dirampok atau orang yang sedang berjalan kemudian ditodong, atau orang yang dilukai dan sebagainya. Pada masa itulah kita mulai menyadari bahwa dunia di sekeliling kita ini bukanlah dunia yang aman atau sempurna, bahwa ada orang-orang yang berbuat kejahatan atau berniat buruk untuk merugikan orang lain. Jadi dengan kata lain, waktu kita mulai menginjak usia-usia mungkin memasuki 9, 10 tahunan akhirnya kita disadarkan bahwa tidak semua manusia itu baik dan tidak semua pengalaman itu menyenangkan. Pada tahap ini kita diingatkan untuk berhati-hati sebab di sekeliling kita ada bahaya yang mengancam, kendati percaya namun sesungguhnya kita belum sepenuhnya percaya pada hal ini, karena semua ini baru berupa informasi luar atau kita baru mendengarnya, kita belum benar-benar mengalaminya. Jadi sekali lagi secara kognitif atau secara pemikiran, kita tahu bahwa di sekeliling kita itu ada bahaya, ada orang-orang yang tidak baik, namun kita belum sepenuhnya percaya karena pada tahap awal kehidupan kita belum bersentuhan dengan kejahatan itu.
GS : Tetapi seorang anak bisa saja kecewa, misalnya dijanjikan sesuatu oleh ayahnya tetapi ayahnya tidak memenuhi janji itu, hal-hal seperti akhirnya juga menimbulkan kekecewaan ?
PG : Dalam kasus seperti itu, bagaimana seorang anak yang mengharapkan sesuatu dari orang tuanya namun tidak mendapatkannya, atau contoh yang lain yaitu ingin menonton televisi atau ingin mainvideo games namun oleh orang tuanya disuruh belajar, sudah tentu itu akan mengembangkan rasa tidak suka juga.
Tetapi ini bukanlah sebuah kekecewaan mendalam karena keesokan harinya dia sudah lupa dan orang tuanya juga tidak selama-lamanya melarang dia untuk bermain. Atau misalkan yang lain tidak boleh naik sepeda setiap hari, jadi kekecewaan pada masa kanak-kanak yang tidak mengandung kejahatan ini biasanya sebuah kekecewaan yang memang berkadar kecil dan dengan mudah nantinya bisa tersapu bersih.
GS : Tetapi kalau sesuatu yang kecil tadi terjadi berulang-ulang baik oleh ayahnya atau ibunya atau oleh kakaknya maka sangat berpengaruh negatif terhadap anak ini.
PG : Kalau si anak mengalami terus-menerus kekecewaan atau penolakan entah itu dijanjikan sesuatu tetapi tidak pernah diberikan, atau tidak mendapatkan hal-hal yang baik dari orang tuanya atau anji kosong dan itu terus dialaminya, maka nantinya pada usia muda akhirnya mulai mengembangkan sebuah kekecewaan karena kadar itu menjadi sebuah kadar yang personal.
GS : Kemudian tahap berikutnya dalam kekecewaan ini apa, Pak Paul ?
PG : Pada tahap berikutnya adalah kita sekarang mulai besar, kita bukan saja mendengar bahwa di sekeliling kita ada orang yang jahat dan ada orang yang menjadi korban kejahatan, namun sekarang italah yang menjadi korban perbuatan orang jahat itu, misalkan kita berjalan ke sekolah kemudian kita di todong oleh seseorang, atau peristiwa lain kita tidak bersalah namun teman kita marah, kita dipukul.
Perbuatan-perbuatan seperti itu tidak bisa tidak akan menyadarkan kita bahwa orang bisa berbuat yang buruk kepada diri kita. Sudah tentu di situ muncullah suatu reaksi takut, suatu reaksi bahwa kita tidak luput dari hal-hal yang buruk dan kita mesti disadarkan berhati-hati kita juga mesti berbuat sesuatu untuk melindungi diri dari kemungkinan terulangnya perbuatan buruk itu.
GS : Ini sebagai suatu konsekuensi bahwa dia bersosialisasi lebih luas lagi bukan hanya di rumah, sehingga yang ditemukan bukan hanya orang-orang yang di dalam rumah yang mengecewakan dia, tetapi orang-orang lain di luar rumah itu juga menimbulkan kekecewaan untuk dia, Pak Paul.
PG : Betul, jadi dalam tuturan yang sedang saya berikan ini, saya mengasumsikan bahwa keadaan rumah tangganya itu relatif baik. Karena nanti sewaktu kita masuk ke tahap ketiga kita baru melihatbahwa ternyata tahap ketiga ini juga mungkin dialami oleh seorang anak di dalam rumahnya sendiri.
Itu sebuah cerita yang nanti akan kita bahas dan yang jauh lebih berat dampaknya pada si anak, tetapi dalam kondisi yang relatif lebih normal biasanya seorang anak tidak mengalami hal-hal yang seburuk itu, baru menjadi korban perlakuan yang buruk sewaktu pergaulannya semakin meluas, dia menjadi lebih rentan untuk menjadi korban kejahatan atau perlakuan yang buruk dari orang lain.
GS : Apakah itu tidak membuat seorang anak menjadi enggan untuk keluar rumah, Pak Paul ?
PG : Itu sebabnya seorang anak perlu diberikan dukungan, pengertian, sehingga sewaktu dia mengalami perlakuan yang buruk dari orang di luar dan dia takut maka dia harus mengetahui bahwa dia bis berbicara dan dia bisa membagikan ketakutannya dan perasaannya kepada orang tuanya.
Sudah tentu sebaiknya orang tua jangan memarahi si anak, dan berkata, "Kamu seharusnya berani keluar jangan kamu takut, begitu saja kamu lari." Sudah tentu orang tua mesti mengerti bahwa anak itu takut dan terimalah, akuilah bahwa di luar itu kadangkala memang ada orang-orang yang jahat yang bisa berbuat buruk kepada kita. Setelah itu kita katakan kepada dia, "Oleh sebab itu kita harus berhati-hati, jangan sampai kita melakukan hal yang sama lagi, supaya kita tidak menjadi korban yang kedua kalinya."
GS : Kekecewaan ini sebenarnya lebih dekat dengan ketakutan atau dengan kesedihan, Pak Paul ?
PG : Sebetulnya kekecewaan lebih dekat dengan kesedihan dan nanti kita akan lihat pada tahap yang terakhir kekecewaan itu sungguh-sungguh sebuah bentuk kesedihan yang diselimuti oleh rasa ketaktan atau ketidakamanan, karena apa yang tidak diduga itu ternyata menjadi kenyataan.
GS : Jadi tahap yang ketiga itu apa, Pak Paul ?
PG : Tahap yang ketiga adalah pada akhirnya pengenalan kita akan kecurangan atau kejahatan orang mencapai puncaknya, tatkala kita sendiri menjadi korban dari perbuatan buruk orang yang kita kenl dan percaya.
Mungkin saja kita alami waktu kita sudah mulai remaja atau sudah mulai dewasa ketika kita dilukai atau disakiti oleh orang-orang yang kita kenal dengan baik, teman mungkin bisa melakukannya kepada kita, setelah kita menikah pasangan kita bisa melakukannya kepada kita, atau saudara kita yang kita percaya dan tidak menduga bahwa dia bisa berbuat buruk kepada kita seperti menipu kita. Waktu kita mengalami hal-hal seperti ini, tidak bisa tidak, kita akan merasakan kekecewaan yang dalam, sebab kita tidak pernah mengharapkan dan menduga bahwa orang yang kita percaya ini, apalagi orang yang kita sayangi ini, ternyata tega berbuat hal seburuk itu kepada kita, kita bisa juga mengukur seberapa dalamnya kekecewaan yang kita rasakan dari berapa baiknya relasi kita, sebelum kekecewaan itu terjadi. Maksud saya seperti ini misalkan dalam hubungan suami isteri kalau pada akhirnya suami kedapatan menipu si isteri, karena dia memunyai perempuan lain dalam hidupnya, tetapi sebelumnya ini terbongkar si suami memerlihatkan sebuah diri yang baik, sebuah diri yang memerhatikan isterinya, sebuah diri yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, pulang kerja mungkin juga tidak terlambat, selalu bersedia untuk mengantar anaknya, tidak ada tanda-tanda apa-apa, tetapi suatu ketika kedapatan bahwa dia memunyai perempuan lain. Biasanya kalau itu yang terjadi, pukulan kekecewaan akan sangat dalam dibandingkan kalau misalnya perlakuannya yang sebaliknya yaitu didalam relasi memang hubungan suami isteri ini sudah tidak baik yaitu sering terjadi pertengkaran, tidak ada lagi rasa respek dan sayan, sehingga waktu kedapatan bahwa si suami ini berbuat hal yang salah, berdosa di hadapan Tuhan karena ada perempuan lain dalam hidupnya, hal ini pasti si isteri tetap akan sakit hati dan kecewa namun perasaan sakit hati dan kecewanya tidaklah sebesar kalau hubungan kita itu sebelumnya dianggap baik, mesra dan penuh dengan rasa percaya.
GS : Jadi dalam kasus yang kedua itu mungkin hanya menegaskan bahwa apa yang diperkirakan oleh si isteri adalah benar, Pak Paul ?
PG : Betul. Memang hubungan mereka sudah buruk jadi dia sudah bisa mengantisipasi, karena hubungan ini terus memburuk, memburuk, maka nanti kamu akan jatuh cinta atau memunyai perempuan lain daam hidupmu.
Atau sebaliknya juga bisa yaitu si suami yang beranggapan bahwa tinggal tunggu waktu kamu juga akan mendapatkan pria lain. Jadi ini adalah sebuah situasi yang sangat personal yaitu kita menjadi korban kejahatan atau perlakuan buruk dari orang yang kita kenal dengan baik dan kita percaya, apalagi yang kita sayangi. Tetapi tadi saya sudah singgung, Pak Gunawan, kadang-kadang secara alamiah seharusnyalah seorang anak baru mengalami peristiwa yang personal ini tatkala dia sudah dewasa. Tetapi ada kalanya ada anak-anak yang mengalami semua ini tatkala dia kecil yaitu dari orang yang dia percaya yaitu orang tuanya yang dia hormati yang dia sayang, yang seharusnya merawat dia, justru dia menerima perlakuan-perlakuan buruk, tidak bisa tidak si anak akan hidup dalam sebuah kekecewaan yang dalam. Maka tidak heran sebagian anak yang dibesarkan di dalam rumah tangga seperti itu karena menyimpan kekecewaan yang dalam, setelah beranjak dewasa maka suasana hatinya adalah suasana hati yang depresi, jarang kita melihat sukacita, keriangan dalam diri anak yang seperti ini, karena dari kecil dia akhirnya memendam rasa kecewa dan yang juga bercampur dengan kesedihan.
GS : Mungkin juga orang yang tidak terbiasa mengalami kekecewaan pada masa kecilnya, Pak Paul. Dan kemudian setelah dewasa dia mengalami kekecewaan, itu juga akan membuat kekecewaan yang sangat dalam, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kalau kita tidak terbiasa maka pukulan itu akan lebih terasa, tetapi sekali lagi sebetulnya seberapa dalamnya dan seberapa parahnya dampak kekecewaan itu bergantung pada relasikita sebelumnya dengan orang itu.
Kalau kita mengalami perlakuan buruk dari orang yang tidak kita kenal sama sekali sudah tentu tetap kita akan marah, sakit hati, kecewa, tetapi tidaklah separah kalau kita dikecewakan oleh orang yang kita percaya.
GS : Lalu dampaknya apa, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa, Pak Gunawan. Yang biasanya kita keluarkan adalah sebagai reaksi terhadap perlakuan buruk yang menimbulkan kekecewaan itu. Pertama adalah kita marah karena tidak menyangka baha seseorang yang kita percaya dan sayangi ternyata sanggup berbuat hal seperti itu, maka kita benar-benar marah.
Yang kedua adalah kita sedih karena perbuatan itu menciptakan batas pemisah antara kita dan dirinya sebab pada akhirnya kita kehilangan orang yang dekat dan kita sayangi, karena dia telah berbuat hal yang buruk dan melukai hati kita. Sudah tentu kita tidak bisa dengan cepat kembali kepada diri yang sediakala yaitu percaya dan sayang kepadanya, tidak bisa secepat itu. Akhirnya kita membatasi dan di sini biasanya timbul kesedihan yang dalam sebab sebelumnya orang yang berbuat buruk kepada kita itu awalnya adalah orang yang kita sayangi, yang kita hormati, kita percayai dan dalam diri kita tetap ada rasa kehilangan, karena ada garis pemisah antara kita dan orang yang tadinya begitu dekat dan baik kepada kita, dan kita tidak mau terlalu dekat lagi dengan dia. Namun ada sebuah kerinduan dan kehilangan bahwa orang yang tadinya dekat sekarang akhirnya tidak ada lagi.
GS : Itu menimbulkan suatu kekhawatiran atau ketakutan kalau kita mau berhubungan lagi dengan orang itu, Pak Paul ?
PG : Betul sekali dan ini adalah reaksi yang terakhir yaitu kita takut. Takut sebab kita tidak mau hal itu terulang lagi, kita tidak mau terlukai lagi, sehingga kita mulailah mengembangkan sebuh pemikiran bahwa di dalam dunia sebetulnya tidak ada orang yang sungguh-sungguh baik dan dapat dipercaya, sebab orang yang begitu baik dan begitu kita percaya akhirnya sanggup untuk melakukan hal yang seburuk itu kepada kita.
GS : Tetapi selama kita berelasi dengan orang-orang yang ada di dalam satu keluarga dengan kita, itu berarti kita harus selalu siap untuk mengalami hal-hal seperti itu ?
PG : Betul, namun masalahnya adalah kita tahu bahwa kita tidak sempurna dan tidak ada relasi yang sempurna. Bahkan hubungan dengan suami, isteri, orang tua dan anak. Tetapi ada sebuah harapan aau keyakinan bahwa keluarga kita tidak akan berbuat seburuk itu kepada kita, karena satu dengan yang lain sudah dekat, sehingga waktu terjadi masalah biasanya kita akan terpukul dengan berat.
GS : Lalu apa saran Pak Paul sendiri kalau Pak Paul yang mengalami kekecewaan seperti itu ? Apa yang harus kita lakukan ?
PG : Ada empat yang bisa saya tawarkan. Yang pertama adalah kita mesti melihat fakta secara keseluruhan, artinya bukan saja kita melihat perbuatannya dari kacamata kita, tetapi juga dari kacamaanya.
Dengan cara itu kita dapat memandang masalah secara objektif, jadi maksudnya begini, mungkin ada hal-hal yang luput kita lihat, mungkin ada motivasi tertentu yang tidak kita sadari, mungkin sebetulnya orang tersebut tidak seburuk yang kita duga, ada kondisi tertentu yang membuatnya melakukan hal seperti itu. Jadi kumpulkanlah data selengkap mungkin. Kecenderungan kita waktu kita dilukai dan kita kecewa, kita itu secara langsung menarik diri, dan dengan cepat menyimpulkan dan tidak mau tahu terlalu banyak lagi, kenapa bisa seperti ini, kenapa bisa seperti itu dan memeriksa seobjektif mungkin. Kebanyakan dari kita langsung menarik diri dan menyimpulkan bahwa kamu memang begini. Justru ini kurang bijaksana. Jadi langkah pertama kumpulkanlah data seobjektif mungkin.
GS : Tetapi hal itu tidak mungkin kita lakukan sementara kita masih marah dan kita masih sedih atau kita masih takut, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kita perlu melewati suatu masa dimana kita bisa mulai stabil lagi sebab tatkala emosi kita masih labil kita tidak mudah melihat secara objektif dan rasional yaitu mencari tahu agaimana faktanya.
Setelah kita relatif stabil, barulah kita mencoba mendapatkan lebih banyak informasi tentang apa yang sebetulnya terjadi, kenapa dia begini dan begitu.
GS : Tetapi biasanya itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menenangkan diri, Pak Paul. Karena rasanya kita itu enggan untuk mengungkit kembali dan kemudian melihat fakta-fakta dengan jelas.
PG : Betul, maka tadi saya singgung kecenderungan kita adalah cukup, kita mau menarik diri, menutup buku, kita tidak mau lagi melihatnya. Tetapi masalahnya adalah begitu kita menutup buku, kemuian kita memberikan judul pada buku itu dan judul buku itu adalah judul yang sudah pasti yang sesuai dengan pemikiran kita.
Justru sebaiknya meskipun susah tapi kita harus mencoba untuk melihat kenapa dia seperti ini dan seperti itu, apa kemungkinannya. Semakin banyak data, maka semakin lengkaplah informasi tersebut, sehingga kita bisa memberikan penilaian yang lebih tepat.
GS : Langkah berikutnya apa yang bisa kita lakukan, Pak Paul ?
PG : Yang kedua adalah kita mesti mengakui kenyataan apa adanya. Jadi pada akhirnya kita harus menyimpulkan bahwa orang itu berbuat hal ini karena memang dia tidak lagi menyayangi kita, atau idak lagi menghormati kita atau tidak lagi menganggap kita sebagai temannya, maka kita harus akui itu dan kita harus terima.
Bila kita harus mengakui kalau dia adalah orang yang serakah atau yang egois, akuilah juga. Jadi jangan sampai kita mendistorsi fakta, kadang karena ada kebutuhan-kebutuhan pribadi maka kita tidak siap menerima fakta, sehingga kita memberikan warna yang berbeda pada fakta itu. Penting sekali kita mengakui fakta apa adanya, kalau memang hitam maka kita panggil hitam, kalau putih maka kita panggil putih.
GS : Dalam hal ini apakah kita perlu minta pertimbangan orang lain, Pak Paul ?
PG : Ini ide yang baik sekali, Pak Gunawan. Jadi dalam proses mencari fakta pada tahap pertama tadi, sudah tentu kita harus mencari masukan dari orang-orang lain yang mengerti situasi ini dan yng juga mengenal orang tersebut, sehingga data yang kita peroleh akan memerkaya pemahaman kita akan sebetulnya apa yang telah terjadi.
GS : Karena orang lain biasanya tidak terlibat langsung, maka secara emosional juga tidak terganggu seperti itu, Pak Paul. Jadi bisa memberikan penilaian yang lebih objektif .
PG : Betul. Setelah kita mendapatkan semua informasi itu, maka kita harus akui faktanya. Seandainya orang yang berlaku buruk kepada kita itu tidak lagi memunyai perasaan yang sama dengan kita, tau orang itu ingin menjauh dari kita dan dia tidak mau lagi dekat dengan kita, maka dalam kondisi seperti itu kita harus terima.
GS : Hal ketiga yang bisa kita lakukan apa, Pak Paul ?
PG : Berkaitan dengan yang ke dua, langkah ketiganya adalah kita harus melepaskan genggaman. Artinya kita harus rela membiarkan dia memilih garis kehidupannya. Inilah bagian yang sulit dilakuka sebab biasanya kita tetap mengharapkan bahwa dia tidaklah seperti itu.
Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa kita tidak bisa mengendalikan sikap orang terhadap kita, kekecewaan adalah reaksi alamiah terhadap perlakuan orang yang tidak semestinya kepada kita, namun kita harus melepaskan genggaman ini sebab dia tidak berkewajiban menghilangkan kekecewaan, orang tersebut memang tidak memunyai kewajiban untuk membuat kita lebih tidak kecewa atau lebih percaya, memang tidak! Dia sudah memutuskan bahwa dia memilih garis kehidupannya dan kita memang harus terima itu dan kita harus lepaskan. Kadang-kadang yang menyulitkan adalah kita mau tetap menggenggamnya, berharap bahwa dia akan berbuat lebih baik lagi kepada kita. Namun kita harus terima.
GS : Tetapi kalau itu terikat dalam suatu ikatan kekeluargaan, maka akan lebih sulit untuk melepaskannya.
PG : Tepat sekali. Sudah tentu adanya kedekatan seperti tadi kita sudah bahas di dalam relasi yang akrab, kita percaya, kita sayang, kita hormati, maka kita mengharapkan ini bisa kembali lagi sperti dulu dan dia sudah meminta maaf dan sebagainya namun kenyataannya tidak seperti yang kita harapkan dan kita harus terima bahwa itu pilihan dia, apapun yang akan kita lakukan besar kemungkinan tidak akan mengubahnya, sekurang-kurangnya pada saat ini.
Mungkin kita bisa berharap suatu hari kelak, dia bisa lebih dewasa melihat dan menerimanya dengan lebih baik, memang untuk sementara kita harus lepaskan genggaman kita.
GS : Tetapi kita bisa menyampaikan bahwa kita mengharapkan agar dia tidak mengecewakan kita lagi, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kita boleh menyampaikan permintaan tersebut, tetapi kita hanya menyampaikannya, setelah itu kita harus lepaskan seperti kita melepaskan burung dari sangkar, bahwa burung ini searang akan terbang ke mana dia ingin terbang dan kita tidak bisa lagi mengatur ke manakah burung ini akan terbang.
GS : Mungkin ada langkah yang lain, Pak Paul, yang bisa kita lakukan ?
PG : Yang terakhir adalah kita mesti berusaha mendoakannya, sebab berdoa berarti membawanya ke hadapan Tuhan dan menjadikannya objek yang layak didoakan. Mendoakan adalah mengizinkan Tuhan mauk membasuh kekecewaan kita dan menggantikannya dengan kesediaan untuk berbelas kasihan, dan akhirnya kembali mengasihinya.
GS : Sesuatu yang tidak mudah dilakukan bahwa kita harus mendoakan demi kebaikan orang yang telah mengecewakan kita, biasanya doa kita juga sedikit terdistorsi dengan mendoakan sesuatu yang kurang baik untuk orang itu, Pak Paul ?
PG : Saya kira pada awal apalagi sewaktu kita baru dikecewakan, maka kita marah dan sedih. Silakan ungkapkan doa apa adanya kepada Tuhan, baik itu kemarahan kita, rasa sakit hati kita, kadang kta juga berdoa supaya Tuhan membalaskan sebab Tuhan tidak mau kita membalas, kemudian kita meminta agar Tuhan yang membalaskannya untuk kita.
Itu tidak mengapa tetapi saya kira setelah kita melewati fase itu, akan ada fase berikutnya yaitu kita mendoakan untuk orang itu supaya apa yang buruk bisa dilepaskan dan apa yang baik bisa dia lakukan. Sewaktu kita mulai mendoakan dia sebetulnya kita sedang membuka hati kita untuk dibasuh oleh Tuhan karena orang yang tidak bersedia mendoakan orang yang telah menyakitinya, seolah-olah dia tetap membiarkan adanya kotoran-kotoran di dalam hatinya. Tetapi waktu dia mulai mendoakan dan mulai membuka hati, mengizinkan Tuhan mengundang Tuhan membasuh hatinya dan hatinya menjadi kembali bersih.
GS : Saya rasa kita sebagai manusia, semua juga mengalami hal yang sama namun kita harus selalu siap bahwa suatu saat kita akan pernah mengalami kekecewaan lagi. Dalam hal ini, apakah bimbingan Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?
PG : Mazmur 61:5 dan Mazmur 62:2. Di Mazmur 61:5 berkata, "Biarlah aku menumpang di dalam kemah-Mu untuk selama-lamanya, biarlah aku berlindung dalam naungan sayap-Mu!" Mazmur 62:2, "Hanya dekt Allah saja aku tenang dari pada-Nyalah keselamatanku."
Jadi sekali lagi pada akhirnya kita harus masuk ke kemah Tuhan, kita bernaung dan menumpang di dalam kemah Tuhan dan dekat dengan Allah sebab hanya di dalam kemah Tuhan dan hanya dekat dengan Allah barulah kita mendapatkan ketenangan itu dan kita barulah bisa menghadapi kekecewaan itu pula.
GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan kali ini dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Hidup Dalam Kekecewaan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.