Pemimpin Multiplikatif

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T574C
Nara Sumber: 
Ev. Sindunata Kurniawan, M.K.,M.Phil.
Abstrak: 
Tiga model pemimpin dalam hubungan dengan alih kepemimpinan yaitu pemimpin narsisistik, pemimpin regeneratif dan pemimpin multiplikatif. Pemimpin yang baik adalah yang berhasil melahirkan pemimpin baru yang memunculkan generasi berikutnya yang lebih kapabel dan berkembang
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

dpo. Ev. Sindunata Kurniawan, M.K., M.Phil.

Dari perjalanan panjang menjadi pegiat dan pembelajar organisasi, berkenaan alih kepemimpinan, secara sederhana ada tiga model pemimpin yang saya kenali.

Pertama, Pemimpin Narsisistik

Pemimpin narsisistik sangat puas ketika semua orang berpusat dan bergantung kepada dirinya. Kecenderungannya adalah ‘one-man-show’ dan serba direktif atau serba mengarahkan. Pikiran dan perkataannya bersifat hukum mutlak melampaui aturan tertulis organisasi. Agar tampak konsisten, semua aturan tertulis dirumuskan dan direvisi sesuai persetujuannya.

Dirinya adalah takhta, takhta adalah dirinya. Tak heran, semua perbedaan pendapat dan pandangan condong diidentikkan sebagai tindakan subversif. Terhadap orang yang berbeda pendapat, hanya ada dua pilihan: dinasihati untuk tunduk dan takluk atau distigmatisasi hingga dikeluarkan dari organisasi. Buahnya, regenerasi kepemimpinan terjadi dengan begitu sulit. Bahkan, mungkin terjadi ketika baru benar-benar uzur dan tak berdaya. Atau, dilakukan saat dia bugar namun sang penerus menjadi bagaikan boneka dengan tali kendali di tangannya.

Kepuasannya, ketika sejarah mencatat bahwa sejak dia tidak lagi menjabat, organisasi menjadi goyah dan kacau.

Kedua, Pemimpin Regeneratif

Pemimpin regeneratif sejak dini berusaha mendistribusi kekuasaan kepada beberapa orang. Kepemimpinannya lebih bercorak kolegial-partisipatoris daripada kepemimpinan tunggal. Dirinya sejak awal menjaga jarak terhadap takhta. Takhta semata hanyalah amanah pengabdian dan bukan lumbung status keberhargaan diri yang perlu digenggam erat. Kepemimpinannya menghamba dan memberdayakan dan bukan mentuhankan diri maupun memperdaya bawahan. Aturan tertulis organisasi bukan kosmetik pajangan semata, melainkan benar-benar menjadi kompasnya dalam berkinerja sebagai pemimpin. Jika dilihatnya atau diusulkan beberapa orang agar ada pembaruan aturan tertulis demi pengembangan organisasi kini dan ke depan, dikerjakannya dengan sepenuh hati. Tak heran, perbedaan pendapat dihidupkannya sebagai bagian integral budaya organisasi. Setiap orang diizinkan berargumentasi secara jernih dan santun. Perbedaan dirayakan dan bukan diharamkan. Dimoderatori dengan bijak demi sinergitas seluruh potensi terbaik organisasi.

Pengambilan keputusan organisasi diupayakan secara partisipatif dan bersifat ‘bottom-up’, dari bawah ke atas, daripada ‘top-down’, dari atas ke bawah. Bagi bawahan yang berkinerja baik, dipromosikan lewat kenaikan jabatan maupun pendiklatan untuk makin kapabel. Lewat proses bertahap ini, ditemukannya sekelompok kecil orang yang pantas menjadi penerusnya. Publik pun bisa menduga kandidat-kandidat penggantinya karena kekuasaan dan kinerja baik mereka. Mereka menjadi lingkar dalam sang pemimpin.

Pada masanya turun dari jabatan sesuai aturan organisasi, kandidat terbaik menggantikannya. Proses terjadi secara cukup mulus dan nyaris tanpa gejolak.

Kepuasannya, ketika sejarah mencatat bahwa sejak dia tidak lagi menjabat, organisasi tetap berjalan baik dan bahkan berkembang pesat. Baginya, pemimpin terbaik adalah pemimpin yang berhasil melahirkan pemimpin baru yang lebih hebat dari dirinya.

Ketiga, Pemimpin Multiplikatif

Pemimpin multiplikatif memiliki semua karakteristik pemimpin regeneratif. Perbedaannya, pemimpin multiplikatif berorientasi bukan hanya pada kepemimpinan generasi kedua, namun juga kepemimpinan generasi ketiga. Kepemimpinan-lintas-generasi menjadi arah kebijakannya. Dalam masa jabatannya, sejak dini dia menjadi mentor bagi lingkar pemimpin generasi kedua. Dan dia mendorong agar para pemimpin generasi kedua mementori lingkar pemimpin generasi ketiga. Demikian bergulir pula untuk generasi berikutnya.

Mentoring, akuntabilitas dan pelipatgandaan atau multiplikasi pemimpin dari generasi ke generasi menjadi bagian integral budaya organisasi. Akuntabilitas bukan hanya pada aspek profesional-organisasional, melainkan juga aspek integritas diri berkenaan relasi dengan pasangan, keluarga, keuangan, spiritualitas, dan pertumbuhan diri.

Penilaian semesteran kinerja dan kualitas diri dilaksanakan secara 360 derajat. Dinilai oleh diri sendiri, bawahan, rekan sederajat dan atasan. Hasil penilaian berujung pada rekomendasi organisasi berkenaan promosi maupun kontrak target pertumbuhan untuk semester berikut.

Filosofi yang dijunjung tinggi adalah organisasi mengabdi pada manusia dan bukan sebaliknya. Organisasi menjadi ruang pertumbuhan manusia-manusia yang ada di dalamnya. Lewat manusia-manusia yang bertumbuh dinamis ini, diyakini, organisasi pun akan melesat maju dengan akar fondasi yang kuat melampaui sekadar berlandaskan aturan tertulis dan aset fisik organisasi.

Ketika saatnya tiba, untuk turun dari jabatan kepemimpinannya, bukan hanya muncul pemimpin generasi kedua yang kapabel. Juga telah siap pemimpin generasi ketiga yang cukup kapabel untuk kelak menggantikan pemimpin generasi kedua sesuai masa jabatan yang telah digariskan aturan tertulis organisasi.

Tampaknya masih jarang praktik pemimpin multiplikatif ini di Indonesia. Gagasan kepemimpinan generasi ketiga itu sendiri pertama kali saya baca dalam pernyataan misi tim kepemimpinan Para Navigator Indonesia di medio tahun 90-an. Gagasan kepemimpinan generasi ketiga ini diadopsi Pastor Edmund Chan yang masa mudanya dimentori staf Navigator di Singapura.

Diterapkannya secara sukses di "Covenant Evangelical Free Church". Tak heran, Pastor Edmund Chan bisa pensiun dini sebagai gembala gereja dan melaju mengembangkan minat keterbebanan pelayanannya secara spesifik. Sementara gerejanya tetap berkembang melesat lewat kepemimpinan generasi kedua dan berikutnya.

Kiranya ini pula yang menjadi cetak biru dan upaya kudus kita lewat menghidupi model pemimpin multiplikatif.