Orangtua-Anak
Submitted by admin on Thu, 12/11/2009 - 2:50pm.
Abstrak:
Ibarat tanaman, anak pun membutuhkan ruang untuk bertumbuh. Tugas orang tua adalah mengawasi dan merawat pertumbuhan anak agar sesuai dengan arah yang diinginkan orang tua. Masalah timbul bila selain dari mengawasi dan merawat, orang tua pun membebani anak dengan tanggung jawab yang melebihi usia dan kemampuannya. Ibarat tanaman yang terhimpit beban, pertumbuhan anak akhirnya tersendat dan melenceng dari jalur semula. 5 beban yang kadang keliru diembankan pada anak yaitu tuntutan sebagai anak sulung, tuntutan sebagai anak perempuan, tuntutan sebagai anak kesayangan, tuntutan sebagai anak terpandai dan tuntutan sebagai anak rohani.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami yang terdahulu tentang "Tuntutan Yang Menghimpit Anak". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita sudah membicarakan tentang beberapa atau tepatnya tiga tuntutan yang menghimpit anak. Tetapi rupanya belum cukup kalau hanya tiga itu dan ada beberapa hal lain lagi yang masih akan kita perbincangkan. Supaya para pendengar kita bisa mengingat kembali atau bahkan mengetahui apa yang kita perbincangkan pada kesempatan yang lalu, mungkin Pak Paul bisa mengupas secara singkat.
PG : Kadang kita sebagai orang tua membebankan tuntutan kepada anak kita yang berlebihan dan tugas kitalah sebagai orang tua untuk menyadari supaya jangan sampai kita memberikan beban yang terlalu berlebihan kepada anak-anak. Ada beberapa yang telah saya ungkapkan. Misalnya ada anak yang beranggapan karena anak ini adalah anak yang paling besar, anak yang sulung maka seharusnyalah dia yang paling bertanggung-jawab mengurus adik-adiknya sehingga kita memberikan beban kepada si anak sulung itu untuk selalu menjaga adiknya, kalau ada masalah yang terjadi kepada adik-adiknya maka dia yang dimarahi, dia yang dituntut, kalau dia minta tolong maka kita katakan "Kamu anak yang paling sulung, seharusnya kamu sudah tahu dan tidak perlu meminta tolong lagi." Jadi dengan kata lain kita mendorong anak sulung itu untuk memikul tanggung-jawab yang terlalu besar pada usia yang relatif dini dan juga pada akhirnya kita menuntut anak sulung itu seolah-olah untuk mandiri terlalu cepat sehingga tidak boleh meminta bantuan atau arahan. Kalau kita anggap melakukan hal yang terlalu kekanak-kanakan, dia yang dimarahi lagi sebab kita katakan, "Kamu anak sulung tidak seharusnya berbuat seperti ini," padahal dia juga masih anak-anak, dan dia juga masih bisa melakukan kesalahan-kesalahan sebagai anak-anak. Jadi pada akhirnya anak-anak sulung itu kehilangan masa-masa kecilnya dan ini akan berdampak buruk pada pertumbuhannya kelak. Yang berikut adalah kalau anak itu menjadi anak-anak perempuan, dia juga akan menjadi sasaran tanggung-jawab dan orang tuanya akan meminta dia untuk mengurus adik-adik, berbuat ini dan itu karena dia adalah anak perempuan, kakaknya yang laki-laki boleh pergi keluar tapi dia disuruh diam di rumah dan membantu mama untuk masak dan sebagainya. Saya bukannya melarang untuk menyiapkan anak perempuan dengan tugas-tugas rumah tangga itu, tapi kita mesti sensitif bahwa bukan saja anak perempuan yang harus belajar mengurus rumah, tapi anak laki-laki pun juga baik kalau diberikan tanggung-jawab untuk membersihkan kamarnya, membersihkan kamar mandi. Jadi kita mesti memberikan beban yang sama antara anak laki dan anak perempuan, anak perempuan itu perlu bertumbuh karena kalau kita terlalu banyak menuntutnya maka dia akan merasa seperti dipasung dan dia tidak akan lagi bertumbuh dengan bebas, seolah-olah dia tidak bisa berinisiatif dan susah menikmati hidup dan hidupnya terisi oleh kewajiban-kewajiban dan belum lagi dia menjadi mudah cemas dan mudah merasa bersalah, kalau ada yang tidak beres entah dengan adiknya, maka dia merasa bahwa dia yang harus bertanggung-jawab sehingga mudah sekali cemas memikirkan orang lain. Dan yang ketiga kita juga melihat orang tua kadang-kadang memunyai anak favorit yaitu anak yang disayang. Anak yang disayang ini di satu pihak menerima keuntungan-keuntungan, apa yang diminta akan diberikan oleh orang tua. Tapi dia juga harus bayar mahal yaitu dia dituntut untuk selalu bersikap baik, untuk selalu menurut, baik setuju maupun tidak setuju kepada orang tua tapi diharapkan agar dia setuju. Sebagai contoh kadang kita melihat kakaknya dimarahi oleh orang tua dan dia tahu sebetulnya yang salah adalah orang tuanya, karena tidak seharusnya mengatakan hal-hal seperti itu kepada si kakak. Tapi berhubung dia anak kesayangan maka dia tidak bisa membela si kakak dan dia terpaksa membela si orang tua. Jadi pada akhirnya anak-anak yang manja, yang disayangi ini mudah sekali kehilangan objektivitas dalam hidup, tidak lagi mementingkan apa yang benar dan hanya mementingkan siapa yang benar, itu yang nanti akan dibelanya.
GS : Selain ketiga tuntutan itu tadi, selanjutnya Pak Paul, tuntutan apa lagi yang sering menghimpit anak ?
PG : Yang berikut adalah tuntutan sebagai anak terpandai, sekali lagi di satu pihak kita melihat betapa beruntungnya anak yang terpandai ini, mereka akan mendapatkan pengakuan, pujian dan sebagainya namun ada juga bebannya. Kita kadang berpikir bahwa beban terberat dipikul oleh anak yang kurang pandai di rumah, memang ada benarnya bahwa anak kurang pandai memiliki beban tersendiri untuk dipikulnya tapi kenyataannya anak terpandai dalam keluarga tidak kalah menderita tekanan. Sebagai anak terpandai pada dasarnya dia diharapkan untuk tidak pernah gagal, hasil yang dicapainya mesti selaras dengan tuntutan orang tua. Dengan kata lain, sejak dia kecil karena dia sudah menunjukkan kepandaiannya maka ada tuntutan dari orang tua, dia selalu harus berprestasi, dia tidak boleh mengecewakan orang tua dengan prestasi yang tidak maksimal.
GS : Beban ini akan semakin berat kalau orang tua suka memamerkan anak terpandainya kepada teman-temannya atau kepada keluarga besarnya, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Jadi tekanan itu berlipat kali ganda sebab bukan saja datang dari keluarganya sendiri tapi juga dari orang-orang lain. Jadi begitu dia dikenalkan sebagai anak yang paling pandai kepada misalkan pamannya, berarti dia merasa banyak orang yang menuntutnya untuk menjadi sepandai itu. Orang yang sudah dewasa kalau dituntut seperti itu meskipun berat tapi mungkin masih bisa menanganinya. Dia terbiasa dan dia lebih kuat. Tapi bagi anak-anak untuk memikul beban seperti itu saya kira dia akan merasa terhimpit. Jadi kalau tidak hati-hati, orang tua yang menuntut anak seperti itu nanti akan membuat si anak merasa lebih seperti sapi perahan dan ia cenderung merasa berharga bila ia bisa memuaskan harapan orang tuanya. Jika tidak, ia pun merasa bahwa dirinya tidak lagi bernilai. Singkat kata karena itulah tuntutan yang diterimanya pada akhirnya dia pun memerlakukan dirinya sama dengan perlakukan orang tua terhadap dirinya. Jadi misalnya kalau orang tua terlalu menekankan prestasi pada dirinya menjadi anak terpandai, dia pun nanti hanya terpaku pada soal prestasi. Jadi kalau dia menatap dirinya, maka yang dipikirkannya hanya prestasi. Jadi apa yang diterimanya dari orang tua, itu nanti yang juga akan digunakannya untuk memandang dirinya. Dia pun akhirnya memerlakukan dirinya sebagai sapi perahan, dia pun tidak bisa melihat bagian-bagian lain dari dirinya sebab semuanya hanya terfokus pada satu hal yaitu prestasinya, kalau tidak berhasil mencapai prestasi itu maka dia merasa tidak lagi bernilai. Pada akhirnya, Pak Gunawan, orang-orang ini akan menghapus kata kegagalan dari kamus hidupnya dan keberhasilan menjadi dewa yang disembahnya.
GS : Tapi ada sebagian anak yang sudah disanjung-sanjung sebagai anak terpandai dan pada suatu saat nilai-nilainya merosot semua. Apakah itu salah satu bentuk pemberontakan di dalam dirinya bahwa dia tidak mau disebut-sebut seperti itu lagi, Pak Paul ?
PG : Saya rasa itu adalah salah satu penyebabnya, jadi ada anak-anak yang berkata, "Sudah cukup" dan tidak mau lagi hidup di dalam beban seperti itu, jadi dia berontak dan dia benar-benar mematahkan belenggu yang telah merantainya itu, dia mau bebas dengan cara memerosotkan nilai prestasinya. Sehingga nanti tidak ada orang yang menuntutnya sebab memang tidak ada lagi yang bisa dibanggakan.
GS : Tapi dia tidak bisa mengatakan hal itu terus-terang kepada orang tuanya dan ini menjadi beban tersendiri bagi dia.
PG : Sebab kalau dia mengatakan secara langsung, dia akan merasa percuma karena dia merasa orang tuanya tidak akan mengerti sebab orang tuanya akan terus berkata, "Kamu ini memang pandai, jadi seharusnya kamu bisa." Saya juga meminta kepada orang tua untuk mengerti, saya bukannya berkata kalau anak itu pandai tidak perlu dipacu, tapi kita harus memang menyadari bahwa anak itu perlu pacuan, perlu dorongan namun yang saya minta adalah kita fleksibel dan jangan terlalu menekankan aspek itu dalam diri si anak. Sebab anak itu tidak hanya terdiri dari satu aspek yaitu prestasi akademiknya, tapi anak itu terdiri dari berbagai macam elemen-elemen dirinya dan orang tua juga harus melihat yang lain, misalnya kesukaannya pada binatang, kesukaannya pada menggambar, kesabarannya menunggu, kebaikannya untuk menolong, jadi kekurangan-kekurangnnya juga harus kita mengerti dan menerima. Jadi kadang-kadang ada orang tua yang seperti ini, karena anak itu tidak pernah memuaskan atau memenuhi tuntutannya, nanti yang diangkat justru prestasi akademiknya, misalnya orang tua berkata seperti ini, "Kamu percuma, sekolah pandai padahalnya dalam urusan yang sepele seperti ini kamu tidak bisa," yang keluar justru perkataan yang seperti itu. Jadi dengan kata lain, orang tua tidak bisa menerima kelemahan sama sekali, seolah-olah karena dia pandai di sekolah, dalam semua aspek kehidupannya dia selalu harus tahu, selalu harus bisa, selalu harus menunjukkan level pengertian yang paling top. Jadi akhirnya anak itu benar-benar hidup di dalam tuntutan yang begitu meluas.
GS : Belum lagi beban yang harus dipikul oleh anak yang dianggap terpandai ini, Pak Paul, mereka dituntut untuk menggantikan posisi orang tuanya pada suatu saat nanti. Atau paling tidak mewujudkan impian orang tuanya yang dulu tidak terwujud.
PG : Itu seringkali terjadi. Jadi banyak orang tua yang berpikir, anak saya pandai maka anak ini nantinya harus menggantikan saya, kalau tidak hati-hati anak ini justru akan patah di tengah jalan, justru tidak meneruskan usaha orang tua, tidak menjadi seperti yang diharapkan oleh orang tua, karena di tengah jalan dia berkata, "Cukup, dan saya tidak lagi memikul tanggung-jawab ini, tuntutan ini jadi lebih baik saya patah saja." Cara dia patah adalah dengan cara melakukan kebalikan dari yang dituntut oleh orang tuanya, justru menjadi orang yang tidak lagi dihargai atau dibanggakan oleh orang tuanya. Sayangnya untuk menjadi anak yang seperti itu seringkali yang dimaksud adalah dia melakukan perilaku yang negatif.
GS : Itu betul sekali Pak Paul, saya mengenal ada sebuah keluarga yang anaknya bercita-cita menjadi musisi dan mau sekolah musik tapi dilarang oleh orang tuanya, sekarang dia menjadi pemulung. Jadi rumahnya penuh dengan barang-barang bekas dan sebagainya yang memang dia jual lagi dan memang dia tinggal di rumah orang tuanya, jadi rumahnya penuh dengan barang-barang bekas, dia disuruh menikah namun dia menolak malahan menjadi pemulung. Jadi dia keliling kota hanya untuk mengumpulkan barang-barang bekas, itu bisa menjadi suatu bentuk pemberontakan, Pak Paul ?
PG : Bentuk pemberontakan secara halus tapi yang paling besar adalah rasa frustrasinya dalam hidup. Dia tidak bisa menjadi seperti yang diidamkannya yang sesuai dengan kebisaannya atau kemampuannya, karena dia tidak bisa menjadi seperti yang diinginkan maka kemudian dia berpikir dia tidak ingin menjadi apa-apa. Jadi seolah-olah, "Lebih baik seperti ini, jadi keinginan antara saya dan orang tua tidak terwujud," dengan dia menjadi seperti ini maka apa yang orang tua harapkan dan dia harapkan semuanya tidak terwujud. Jadi sepertinya dia membuang hidupnya, itu sangat disayangkan karena sepertinya dia membuang sesuatu yang sangat berharga dan akhirnya dibuang menjadi sampah.
GS : Tapi sekarang akhirnya orang tua menjadi sangat malu memunyai anak seperti itu sehingga orang tua juga sering meninggalkan rumah, pergi atau tinggal di rumah anaknya yang lain. Jadi rumah itu dikuasai oleh anak ini yang sebenarnya bisa menjadi musisi yang cukup bagus karena prestasinya sudah kelihatan dan menghasilkan uang tapi sekarang rumahnya menjadi seperti itu.
PG : Sayang sekali, ini adalah contoh kalau kita tidak berhati-hati dalam menuntut anak secara berlebihan.
GS : Hal lain yang bisa membuat tekanan atau himpitan kepada anak apa, Pak Paul ?
PG : Yang terakhir adalah tuntutan sebagai anak rohani, ini juga sering terjadi pada anak-anak Kristen, anak-anak yang rajin ke gereja, yang rajin membaca Firman Tuhan. Tentu orang tua senang melihat anak bertumbuh secara rohani, misalkan gemar membaca Firman dan rajin ke gereja, namun masalah muncul tatkala orang tua menuntut anak untuk selalu bersikap dan berperilaku rohani dalam pengertian tidak boleh marah, tidak boleh kecewa, tidak boleh ragu, tidak boleh berkecil hati, tidak boleh putus asa. Kemudian yang langsung dicetuskan adalah, "Kamu ini adalah anak Tuhan, kamu ini adalah anak yang disayangi Tuhan," jadi semua dibangkit-bangkitkan. Sudah tentu tuntutan ini tidak realistis. Kendati dia adalah anak yang rohani, tapi sebagai manusia ia pun dapat melakukan kesalahan. Dan kita pun harus menyadari meskipun dia rohani tapi tidak selalu dia berbuat sesuai dengan ajaran Firman Tuhan, sebab dia manusia biasa. Jadi adakalanya dia pun akan berdosa dan tugas orang tua adalah menyikapinya dengan tepat dan jangan sampai waktu anak menunjukkan ketidak sempurnaannya sebagai anak Tuhan, kemudian kita marah, kita tuntut dia dan kita berusaha mengingatkan dia sebagai anak-anak Tuhan. Meskipun maksud kita baik tapi saya kira perkataan-perkataan itu makin membuat si anak terpuruk dan terhimpit, "Sekarang saya menjadi anak yang rohani, saya harus menjadi seolah-olah seperti malaikat." Tidak heran akhirnya di antara mereka berhenti menjadi anak-anak yang rohani, melepaskan semuanya, "Saya tidak mau lagi menjadi anak-anak yang rohani, karena menjadi anak-anak yang rohani dengan membaca Firman, menaati Tuhan, rajin ke gereja, beribadah kepada Tuhan akhirnya saya dituntut menjadi orang-orang kudus yang sama sekali tidak boleh berbuat dosa," justru karena hal itu akhirnya dia tidak tahan. Konsekuensinya sangatlah buruk di luar pengharapan orang tuanya.
GS : Tuntutan ini menjadi semakin berat di kalangan anak-anak dari mereka yang berjabatan gerejawi atau bahkan menjadi pendeta atau penginjil, atau semacam itu. Jadi dianggapnya agar anak-anaknya harus menjadi seperti orang tuanya dan masyarakat melihat seperti itu, jadi tidak boleh salah sedikit pun, begitu, Pak Paul ?
PG : Betul. Maka ada sebagian dari mereka yang tidak tahan lagi dan benar-benar melakukan yang kebalikannya, sehingga orang tua menjadi kecewa, orang tua kecewa dan semua kecewa, tapi dia merasa bahwa dirinya itu bebas dan tidak lagi hidup di dalam tuntutan yang begitu tinggi. Jadi justru sebagai orang tua, tugas kita adalah menuntun anak untuk bisa menghadapi kegagalan melakukan sesuatu seturut kehendak Tuhan. Kita jangan memarahinya dan membangkitkannya tentang dia adalah anak Tuhan, harus seperti ini dan dan seperti itu, kita harus memahaminya bahwa dia adalah manusia jadi bisa melakukan kesalahan dan sama seperti kita juga yang pernah salah dan akan salah. Jadi kita mesti menuntunnya agar dapat menghadapi kegagalannya hidup seturut dengan kehendak Tuhan. Misalnya dengan mengajar anak untuk meminta pengampunan dari Tuhan dan yang juga penting adalah untuk bisa memberi pengampunan kepada dirinya sendiri, sebab kalau tidak hati-hati ada anak yang rohani dan dituntut sedemikian tinggi, akhirnya sulit mengampuni dirinya sendiri, dia tidak bisa menerima bahwa dirinya gagal, dia tidak seperti yang diharapkannya. Jadi jangan sampai orang tua itu justru memperalat kerohanian anak untuk kepentingan orang tua.
GS : Kalau orang tua itu memunyai beberapa anak, apakah hal itu terjadi hanya pada sebagian anak atau kepada semua anak, dituntut seperti itu ?
PG : Memang yang biasanya dituntut adalah anak yang sudah menunjukkan minat rohani. Justru anak-anak yang tidak menunjukkan minat rohani tidak terlalu dituntut tapi yang menunjukkan minat rohani itulah yang nantinya dituntut kamu harus hidup seperti ini. Jadi kadangkala orang tua setelah anak-anak itu mulai dewasa kadang-kadang memanfaatkan hal ini untuk kepentingan mereka. Misalkan ada orang tua yang melarang anaknya untuk studi ke kota lain kemudian memperalat mereka dengan perkataan, "Karena kamu adalah anak yang berbakti kepada Tuhan, harus berbakti kepada keluarga, kamu harus sayang dengan orang tua, jadi jangan tinggalkan kami." Jadi sebenarnya anak itu bisa pergi mengembangkan dirinya dan sebenarnya orang tuanya juga tidak mempermasalahkannya, tapi anak ini tidak bisa pergi karena perasaannya atau rasa bersalahnya dimainkan oleh orang tuanya sehingga tetap tinggal di rumah dan mengorbankan hidupnya.
GS : Hal itu juga sering dialami oleh anak bungsu dimana kakak-kakaknya itu memunyai kesempatan studi di luar kota dan yang bungsu ini seolah-olah ditahan oleh orang tua, "Kamu jangan tinggalkan kami, di sini hanya tinggal kamu masakan kamu juga akan meninggalkan kami." Itu juga menghambat masa depan anak, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, anak bungsu ini cukup kasihan dan dia yang benar-benar harus berkorban. Semua bisa mencicipi pendidikan yang lebih baik tapi dia tidak bisa. Jadi sebagai orang tua kita mesti berhati-hati. Khusus tentang anak yang rohani ini, kita mesti berhati-hati sebab jangan sampai kita ini merancukan pengertian anak akan sesuatu yang rohani sebab kalau tidak hati-hati, maka kerohanian itu akhirnya ditukar dengan keinginan dan selera orang tua. Selama kita melakukan keinginan dan selera yang sesuai dengan orang tua berarti rohani, padahalnya belum tentu. Jadi jangan sampai anak-anak itu cepat sekali menimbun rasa bersalah dan berdosa padahalnya dia tidak berdosa, sesungguhnya dia tidak melakukan apa yang diharapkan oleh orang tuanya saja dan itu belum tentu dosa. Tapi orang tua yang mencampur adukkan keduanya, akhirnya membuat anak jauh lebih cepat merasa berdosa.
GS : Apalagi kalau nasihat-nasihat itu dikatakan dengan mengutip ayat-ayat Kitab Suci yang sesuai dengan selera orang tuanya Pak Paul, hal itu kadang membuat anak menjadi muak dan tidak lagi mau untuk membaca Kitab Suci.
PG : Betul, kalau tidak hati-hati maka itu yang akan menjadi reaksi anak, bukan malah mendekat namun menjadi menjauh dari Tuhan.
GS : Kalau Pak Paul sudah menguraikan sebegitu banyak tentang tuntutan-tuntutan yang bisa menghimpit anak, dampak secara keseluruhan itu apa, Pak Paul ?
PG : Sekurang-kurangnya ada empat yang bisa saya paparkan, Pak Gunawan. Yang pertama adalah kaku. Ada sebagian anak yang bertumbuh dengan kepribadian yang kaku, ia sukar melihat interaksi, dia hanya bisa melihat aksi reaksi, dia cepat marah, dia tidak suka dengan ketidak konsistenan, tidak mudah mengerti kenapa orang berbeda dari dirinya. Dia menjadi anak yang kaku karena tuntutan cenderung membuat kepribadian menjadi kaku. Jadi tuntutan itu harus fleksibel, tuntutan yang kaku juga akan menciptakan kepribadian anak yang kaku. Yang kedua yang sering kita lihat adalah perfeksionis artinya dia menuntut kesempurnaan di atas segalanya, dia tidak menoleransi kegagalan baik pada dirinya atau orang lain. Standart hidup dan karyanya sukar diturunkan karena ia tidak mudah berkompromi sebab adanya tuntutan yang berlebihan sehingga akhirnya dia sangat meninggikan bahwa segala sesuatu harus sempurna, harus sebaik-baiknya, harus berprestasi sehingga tidak menoleransi kegagalan atau ketidak sempurnaan dalam dirinya atau diri orang lain. Dampak yang ketiga yang bisa kita lihat pada anak-anak yang dituntut berlebihan ialah menjadi sering menyalahkan, mudah sekali menyalahkan karena dia besar oleh tanggung-jawab jadi jika ada kesalahan, orang tua kerap untuk menyalahkannya. Untuk menghindar dari disalahkan, ia pun menghindar sebisa mungkin untuk bertanggung-jawab sebaik-baiknya. Masalahnya adalah makin bertanggung-jawab, maka makin sering dan makin mudah ia menyalahkan orang yang dianggapnya tidak bertanggung-jawab sebagaimana dirinya. Inilah proses yang melestarikan pola menyalahkan, maka dia akan mudah sekali menyalahkan dan menyalahkan orang lain kalau tidak bisa memenuhi tanggung-jawab yang diharapkannya. Dan dampak yang terakhir adalah anak-anak ini mudah cemas, pada umumnya mudah tegang sebab hidup tidaklah bebas karena dari kecil sering dituntut dan akhirnya tidak memiliki kebebasan dan seringkali tegang. Baginya hidup adalah bekerja sepenuhnya dan tidak ada ruang untuk beristirahat dan santai, semua mata memandangnya sehingga dia harus selalu memperlihatkan perilaku dan diri yang terbaik. Jika ada kekurangan dan kesalahan dia cepat menyalahkan diri, merasa takut dihukum, pada masa remaja dan dewasa hukuman terberat baginya adalah penolakan, dia takut ditolak kalau dia tidak bisa menyenangkan orang, membuat orang terkesan dengan dia. Itu sebabnya dia didesak oleh dirinya sendiri untuk selalu berprestasi.
GS : Intinya, hal ini akan menjadikan dia sangat egois, Pak Paul, menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian dari semua orang, dia menuntut agar orang mengerti dia tapi dia tidak mau mengerti orang lain.
PG : Betul. Jadi banyak sekali kontradiksinya. Jadi di satu pihak dia egois, hidup itu berpusat pada dirinya sendiri tapi di pihak lain sebenarnya dia juga kehilangan hidup. Itu yang menjadi ironinya, dia benar-benar tidak pernah mencicipi apa arti hidup ini, susah untuk hidup senang, jarang ada moment-moment seperti itu.
GS : Karena tujuan mula-mula dari orang tua itu adalah tujuan yang positif, bagaimana orang tua memantau dan segera sadar kalau dia sudah terlalu melampaui batas dan memberikan himpitan pada anak ?
PG : Biasanya kita melihat reaksi anak, kalau anak mulai bereaksi tertekan, menangis, sering cemas, takut, mudah marah, meledak. Jadi ada sesuatu bahwa kita ini terlalu banyak menuntutnya dan mungkin kita harus mundur kalau anak mulai frustrasi bicara dengan kita, merasa kalau kita tidak mendengarkan mereka maka kita juga harus mulai mengubah standart kita atau tuntutan kita.
GS : Kesimpulan dari semuanya ini apa, Pak Paul ?
PG : Saya akan bacakan Firman Tuhan, waktu Tuhan berkunjung ke Yerusalem di usia 12 tahun, dia pergi meninggalkan orang tuanya masuk ke bait Allah, mendengarkan dan berdialog dengan kaum alim ulama. Waktu Yusuf dan Maria menegurnya, maka Tuhan menjawab, "Mengapakah kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" di Lukas 2:49. Kendati ayat ini membicarakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan bukan sebagai anak manusia biasa tapi pelajaran Firman Tuhan juga bisa ditarik secara relevan untuk pembahasan kita. Kendati anak adalah keturunan kita, misi utamanya adalah dia bertumbuh sesuai dengan kehendak Tuhan. Tugas utama seorang anak adalah menjadi seperti yang dikehendaki Tuhan dan bukan kita, jadi besarkanlah anak untuk bertumbuh berdasarkan arah yang ditetapkan Tuhan.
GS : Ini menjadi tanggung-jawab dan kewajiban orang tua untuk mengarahkan anak sesuai dengan kehendak Tuhan, Pak Paul ?
PG : Betul sekali.
GS : Jadi apa yang diberikan atau karuniakan kepada kita memang harus dipertanggung-jawabkan kepada Tuhan karena saya yakin Tuhan pun juga meminta pertanggung-jawaban kita sebagai orang tua. Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Tuntutan Yang Menghimpit Anak" bagian yang kedua. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ibarat tanaman, anak pun membutuhkan ruang untuk bertumbuh. Tugas orang tua adalah mengawasi dan merawat pertumbuhan anak agar sesuai dengan arah yang diinginkan orang tua. Masalah timbul bila selain dari mengawasi dan merawat, orang tua pun membebani anak dengan tanggung jawab yang melebihi usia dan kemampuannya. Ibarat tanaman yang terhimpit beban, pertumbuhan anak akhirnya tersendat dan melenceng dari jalur semula. Berikut akan dipaparkan beban yang kadang keliru diembankan pada anak.
Tuntutan sebagai anak sulung. Cukup banyak orang tua yang menuntut anak tertua untuk memikul tanggung jawab besar. Misalnya, ada orang tua yang melimpahkan anak sulung untuk menjaga dan mengurus adik-adiknya pada usia yang relatif muda. Memang adakalanya orang tua terlalu sibuk atau memunyai anak terlalu banyak sehingga tidak lagi dapat memberi pengawasan dan perhatian kepada semua anak. Terpaksa orang tua menuntut anak sulung untuk menolong orang tua.
Masalahnya adalah, bila hal ini dilakukan di kala anak sulung masih berusia belia, tuntutan ini akan membebaninya secara berlebihan. Tugas mengawasi serta mengurus adik sudah tentu akan menyita waktunya sendiri. Ketika ia ingin bermain-sebagaimana layaknya anak seusianya-ia terpaksa menjaga dan mengurus adiknya. Alhasil ia cenderung kehilangan masa kanak-kanak yang seharusnya menjadi miliknya. Sebagaimana kita ketahui kehilangan masa kanak-kanak berakibat negatif pada pertumbuhan anak. Ia cenderung matang terlalu dini dalam hal tanggung jawab namun miskin pemenuhan kebutuhan emosionalnya.
Tuntutan sebagai anak perempuan. Masih banyak orang tua yang memerlakukan anak perempuan sebagai setengah pembantu rumah tangga. Misalkan sehabis makan, anak laki-laki dibiarkan pergi tetapi anak perempuan diwajibkan untuk membawa piring ke dapur dan mencucinya. Ketika anak laki bermain di luar, anak perempuan disuruh untuk membantu ibu memasak. Tatkala anak laki pergi bersama teman untuk menonton, anak perempuan diminta orang tua untuk menjaga rumah.
Semua perlakuan ini keluar dari pandangan bahwa tempat bagi anak perempuan adalah di dalam rumah. Itu sebabnya anak perempuan dianggap tidak perlu pergi bermain keluar. Terpenting adalah menyiapkan anak perempuan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang cakap. Sudah tentu ada waktu dan tempat bagi anak perempuan belajar keterampilan mengurus rumah. Namun, ada pula waktu dan tempat bagi anak laki untuk belajar keterampilan mengurus rumah. Tuntutan yang berlebih pada anak perempuan berpotensi memasungnya menjadi anak yang tidak berinisiatif dan sukar menikmati hidup. Ia pun cenderung bermasalah dengan rasa bersalah yang tidak pada tempatnya.
Tuntutan sebagai anak kesayangan. Sebagai anak kesayangan, seorang anak dituntut untuk senantiasa mengerti perasaan orang tua. Ia pun dituntut untuk menjadi anak yang bersikap dan berbuat baik kepada orang tua. Jika ada pertentangan antara orang tua dan anak lainnya, anak kesayangan merasa berkewajiban untuk membela orang tua-tidak peduli siapa yang salah. Singkat kata, anak kesayangan menerima beban untuk mengasihi orang tua lebih daripada anak-anak lainnya.
Ia pun dituntut untuk mengabaikan kelemahan orang tua dan hanya memfokuskan pada kelebihan. Akibatnya anak kesayangan sering kali susah mengembangkan obyektivitas dalam hidupnya. Kesetiaannya bukan terletak pada APA yang benar tetapi pada SIAPA yang dianggapnya benar. Dengan kata lain, benar atau salah menjadi relatif serta bergantung pada siapa yang disukainya.
Dampak lainnya adalah anak kesayangan tidak mempunyai kebebasan untuk menjadi diri apa adanya. Ia harus menjadi anak sesuai kehendak orang tua walaupun itu bertentangan dengan karunia dan isi hati yang sesungguhnya.
Tuntutan sebagai anak terpandai. Kadang kita berpikir bahwa beban terberat dipikul oleh anak yang paling tidak pandai. Pada kenyataannya anak terpandai dalam keluarga tidak kalah menderita tekanan. Sebagai anak terpandai pada dasarnya ia diharapkan untuk tidak pernah gagal. Hasil yang dicapainya mesti senantiasa selaras dengan tuntutan orang tua.
Bila orang tua tidak fleksibel, anak yang terpandai merasa lebih merupakan sapi perahan. Ia cenderung merasa bahwa ia hanya berharga bila ia dapat memuaskan harapan orang tuanya. Jika tidak, ia pun tidak merasa dirinya bernilai. Singkat kata, oleh karena itulah tuntutan dan perlakuan yang diterimanya, pada akhirnya ia pun memerlakukan dirinya sama dengan perlakuan orang tua terhadap dirinya. Ia hanya merasa bernilai bila ia sanggup mencapai tuntutan dirinya sendiri. Kegagalan dihapus dari kamus hidupnya, keberhasilan menjadi dewa yang disembahnya.
Tuntutan sebagai anak rohani. Orang tua tentu senang melihat anak bertumbuh secara rohani. Misalnya anak gemar membaca Firman Tuhan dan rajin ke gereja. Masalah muncul tatkala orangtua menuntut anak untuk selalu bersikap dan berperilaku rohani, dalam pengertian tidak boleh marah atau merasa kecewa dan sebagainya. Sudah tentu tuntutan ini tidak realistik. Kendati ia rohani sebagai anak yang manusiawi ia pun dapat melakukan kesalahanl. Tugas orang tua seyogianya adalah menuntun anak untuk dapat menghadapi kegagalannya melakukan sesuatu seturut kehendak Tuhan. Orang tua mesti mengajarnya untuk datang meminta pengampunan dari Tuhan dan memberi pengampunan pada diri sendiri. Kesalahan orang tua adalah kadang orang tua malah memperalat kerohanian anak untuk kepentingan orang tua. Misalnya melarang anak untuk pergi studi ke kota lain dengan alasan sebagai anak yang berbakti kepada Tuhan tidak seharusnya ia pergi meninggalkan keluarga.
Dampak Keseluruhan
Kaku. Ada sebagian anak yang bertumbuh dengan kepribadian yang kaku. Ia sukar melihat interaksi dan hanya dapat melihat aksi-reaksi. Ia cepat marah dan tidak suka ketidakkonsistenan. Ia tidak mudah mengerti mengapa orang berbeda dari dirinya.
Perfeksionis. Ia menuntut kesempurnaan di atas segalanya. Ia tidak menoleransi kegagalan baik pada dirinya atau orang lain. Standar hidup dan karyanya sukar diturunkan karena ia tidak mudah berkompromi.
Menyalahkan. Oleh karena ia besar dengan tanggung jawab, jika ada kesalahan, orang tua kerap menyalahkannya. Untuk menghindar dari disalahkan, ia pun berusaha semaksimal mungkin untuk bertanggung jawab sebaik-baiknya. Masalahnya adalah, makin bertanggung jawab, makin sering dan mudah ia menyalahkan orang yang dianggapnya tidak bertanggung jawab sebagaimana dirinya. Inilah proses yang melestarikan pola menyalahkan.
Mudah cemas. Pada umumnya ia mudah tegang sebab hidup tidaklah bebas. Baginya hidup adalah kerja-sepenuhnya. Tidak ada ruang untuk beristirahat dan santai. Semua mata memandangnya sehingga ia harus selalu memperlihatkan perilaku dan diri terbaiknya. Jika ada kekurangan dan kesalahan, ia cepat menyalahkan diri dan merasa takut dihukum. Pada masa remaja dan dewasa hukuman terberat baginya adalah penolakan. Ia takut ditolak, itu sebabnya ia terus didesak oleh dirinya sendiri untuk selalu berprestasi.
Kesimpulan
Pada waktu Tuhan Yesus berusia 12 tahun, dalam kunjungan ke Yerusalem, Ia pergi meninggalkan orangtuanya dan masuk ke Bait Allah untuk mendengarkan dan berdialog dengan kaum alim ulama. Sewaktu Yusuf dan Maria menegur-Nya, Tuhan menjawab, "Mengapakah kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" (Lukas 2:49)
Kendati ayat ini membicarakan tentang Yesus sebagai Tuhan dan bukan sebagai seorang anak manusia saja, tetapi pelajaran yang dapat ditarik juga relevan untuk pembahasan kita. Kendati anak adalah keturunan kita, misi utamanya adalah ia bertumbuh sesuai dengan kehendak Tuhan. Tugas utama anak adalah menjadi seperti yang dikehendaki Tuhan, bukan kita. Jadi, besarkanlah anak untuk bertumbuh berdasarkan arah yang ditetapkan Tuhan.
Submitted by admin on Thu, 12/11/2009 - 2:24pm.
Abstrak:
Ibarat tanaman, anak pun membutuhkan ruang untuk bertumbuh. Tugas orang tua adalah mengawasi dan merawat pertumbuhan anak agar sesuai dengan arah yang diinginkan orang tua. Masalah timbul bila selain dari mengawasi dan merawat, orang tua pun membebani anak dengan tanggung jawab yang melebihi usia dan kemampuannya. Ibarat tanaman yang terhimpit beban, pertumbuhan anak akhirnya tersendat dan melenceng dari jalur semula. 5 beban yang kadang keliru diembankan pada anak yaitu tuntutan sebagai anak sulung, tuntutan sebagai anak perempuan, tuntutan sebagai anak kesayangan, tuntutan sebagai anak terpandai dan tuntutan sebagai anak rohani.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Tuntutan Yang Menghimpit Anak". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Saya yakin sekali kalau setiap orang tua tidak bermaksud untuk membebani anak dengan tuntutan, tetapi fakta membuktikan bahwa banyak anak yang menderita karena tuntutan dari orang tuanya yang berlebihan dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Saya setuju bahwa pada umumnya orang tua itu tidaklah berniat untuk memberikan beban yang berkelebihan kepada anaknya sebab saya percaya bahwa pada umumnya orang tua itu mengasihi anak, namun karena kurang mengerti maka orang tuanya itu memberikan beban atau tuntutan yang berlebihan kepada anak. Saya mengumpamakan anak itu seperti pohon dan pohon itu memerlukan ruang untuk bisa bertumbuh dengan bebas sehingga dapat menjadi pohon yang sesungguhnya. Kalau pada masa pertumbuhan, pohon dihimpit dan tidak diberikan ruang untuk bertumbuh pada akhirnya pertumbuhan itu akan melenceng ke kiri atau ke kanan sehingga tidak bisa bertumbuh semestinya, dan anak pun juga seperti itu. Kita mesti memunyai pengertian tentang bagaimana membesarkan anak, kita itu perlu mengawasi anak dan itu sangat perlu, kalau dia berjalan di jalan yang salah, dia tidak tahu mana yang baik dan mana yang benar, seharusnyalah kita memberitahu tapi di pihak lain kita juga harus mengawasi dan mengarahkannya dengan bijaksana sehingga kita tidak terlalu memberikan tuntutan-tuntutan yang berlebih kepadanya yang justru akan menghimpit pertumbuhannya.
GS : Memang maksud orang tua mengarahkan anak-anaknya sesuai pola pikirnya orang tuanya Pak Paul, jadi apa pun yang dikehendaki oleh orang tua. Seperti yang Pak Paul katakan mereka diumpamakan tanaman. Pasti orang itu menghendaki tumbuhan tanaman itu berbentuk seperti yang dia bayangkan, jadi kalau itu sebuah bonsai maka dia menginginkan sebuah bonsai yang ada di pikirannya.
PG : Betul. Makanya kita sebagai orang tua perlu waspada dengan nilai-nilai hidup kita, tuntutan hidup kita. Sudah tentu kita mesti mengarahkan anak sehingga nanti bisa menjadi seperti yang kita kehendaki dalam pengertian yang positif itu, tapi caranya juga harus tepat. Dan kita juga harus menyadari ada beberapa hal yang cukup umum, yang orang tua sering lakukan seringkali mengakibatkan anak itu justru terhimpit atau tertekan.
GS : Misalnya apa saja, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa yang bisa saya bagikan, yang pertama adalah tuntutan sebagai anak sulung. Cukup banyak orang tua yang menuntut anak tertuanya untuk memikul tanggung-jawab yang besar. Misalnya ada orang tua yang melimpahkan anak sulung dengan tanggung-jawab menjaga serta mengurus adik-adiknya pada usia yang relatif muda. Memang adakalanya orang tua terlalu sibuk atau memunyai anak yang terlalu banyak sehingga tidak lagi memberi pengawasan dan perhatian kepada semua anak. Jadi terpaksa orang tua menuntut si anak sulung untuk menolong orang tua. Ini adalah hal yang umum terjadi dan sering dikomunikasikan kepada si anak sulung, "Kamu anak yang paling besar, kamu seharusnya tahu, kamu seharusnya bantu orang tua, kamu seharusnya lebih bertanggung-jawab." Jadi lahir sebagai anak pertama diberikan beban tuntutan yang ganda dari anak-anak lainnya, seharusnya tidak seperti itu. Tidak ada aturan karena kita lahir terlebih dahulu maka beban tanggung-jawab kita itu dua kali lebih besar, tidak seperti itu karena masing-masing anak itu harus belajar bertanggung-jawab. Jadi orang tua yang memunyai konsep anak sulung, dia harus melakukan lebih lagi, menolong orang tua untuk bertanggung-jawab mengurus adik-adiknya, maka sikap seperti ini perlu dikoreksi.
GS : Tuntutan anak sulung ini muncul setelah anak pertama ini memunyai adik-adik dan tidak akan ada tuntutan seperti itu ketika dia menjadi anak tunggal.
PG : Seringkali seperti itu, barulah fungsi anak sulung menjadi sangat penting tatkala dia punya adik, sewaktu dia hanyalah seorang anak tunggal maka tidak akan ada beban-beban khusus yang diembankan kepadanya. Tapi begitu ada adik kedua dan ketiga dan sebagainya, tiba-tiba tuntutan itu menjadi berlipat kali ganda.
GS : Padahal anak sulung itu sendiri sudah merasa tertekan ketika adiknya lahir, Pak Paul. Jadi ini merupakan beban yang cukup berat bagi anak ini.
PG : Betul. Pada umumnya ini alamiah, anak-anak itu seringkali merasa tersisihkan sewaktu adiknya lahir, dia ter biasa hidup sendirian, kecuali kalau adiknya lahir di usia dimana dia relatif berusia masih kecil sehingga mereka itu bertumbuh bersama. Tapi misalkan jarak usianya 3 sampai 4 atau 5 tahun, berarti dia terbiasa hidup sendiri dan menerima semua perhatian sampai usia 4 atau 5 tahun. Sekarang tiba-tiba ada adik maka tidak bisa tidak perhatian orang tua terbagi dan begitu terbagi maka dia merasakan kehilangan tersebut dan seringkali memunculkan perilaku-perilaku yang kekanak-kanakkan supaya kembali diperhatikan oleh orang tuanya. Jadi kata Pak Gunawan memang betul, waktu adiknya lahir sebetulnya dia sudah cukup menderita apalagi kemudian dibebankan tuntutan harus seperti ini dan seperti itu, "Kamu harus tahu diri dan memberi contoh, kamu harus mengurus dan menjaga adikmu", kalau adiknya yang berbuat salah maka dia yang dimarahi, adiknya yang memang nakal tapi dia juga yang dimarahi. Jadi dia akhirnya berpikir, "Saya salah apa? Kenapa seperti ini? Dan kenapa saya yang kena marah." Kalau tidak hati-hati dia bisa tertekan atau malahan memberontak.
GS : Padahal maksud orang tua adalah memberikan tanggung-jawab kepada si anak sulung ini supaya ke depannya nanti dia bisa lebih mandiri lagi.
PG : Betul. Jadi ada tujuan seperti itu supaya anak ini nanti belajar bertanggung-jawab, belajar mandiri dan sebagainya. Tapi kita mesti berhati-hati dan hendaklah melakukan semua ini dengan bijaksana. Kalau kita memang perlu bantuannya untuk menolong kita dalam hal menjaga adik, maka kita bisa meminta tolong dan jangan menggunakan embel-embel, "Kamu ini anak sulung, maka kamu harus menjaga." Atau kalau adiknya yang salah, kemudian dia yang disalahkan dan kita berkata, "Kamu anak sulung seharusnya kamu bisa mencegah adikmu untuk melakukan hal itu," itu yang harus kita buang dari kosakata kita, kita mungkin hanya perlu menegurnya, "Saya tadi melihat kamu berbuat seperti itu kepada adikmu tapi kamu tidak menegurnya." Jadi jangan menyertakan embel-embel, "Kamu anak sulung maka seharusnya kamu tahu dan mencegah adikmu berbuat itu."
GS : Dampaknya terhadap si anak sulung ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Kalau hal ini dilakukan di kala anak sulung masih berusia belia, tuntutan ini akan membebaninya secara berlebihan. Jadi persis seperti orang yang berjalan tapi dibebani suatu beban, inilah yang harus dipikul oleh si anak sulung. Jadi jalannya lamban secara mental karena bebannya itu berlebihan. Sudah tentu tugas mengawasi serta mengurus adik sudah menyita waktunya juga. Jadi misalkan ketika ia ingin bermain sebagaimana layaknya anak seusianya, itu tidak bisa dilakukannya karena dia harus menjaga adiknya, mengurus adiknya. Jadi dampak yang pertama adalah dia cenderung kehilangan masa kanak-kanak yang seharusnya menjadi miliknya, itu berarti pertumbuhannya sudah mulai ada gangguan karena masa kanak-kanak yang seharusnya menjadi bagian dari pertumbuhannya itu sudah lenyap, sepertinya dia harus bertugas sebagai orang tua.
GS : Apakah itu tidak dimungkinkan jika orang tua ini menyuruh anak dalam rangka bermain. Jadi kalau menjaga adiknya maka dia akan menjaga adiknya untuk bermain dan sebagainya tapi bukan menjaga dari kecelakaan, apakah ini memungkinkan, Pak Paul ?
PG : Memungkinkan. Jadi misalkan si kakak bisa diajak untuk bermain dengan adiknya sehingga adiknya itu bisa terawasi dan waktunya pun terisi dan tidak mengganggu orang tuanya, sudah tentu baik. Namun kita juga mesti peka karena adakalanya si sulung juga tidak ingin bermain dengan adiknya, jadi kita harus terima itu dan jangan kita memarahi dia. Dengan kata lain, harus ada kepekaan dan tidak bisa terus menerus menuntutnya untuk melakukan yang kita minta dan membebankan kepada dia karena dia adalah anak sulung. Itu yang harus kita hindari sebab kita tidak mau hal-hal ini menjadi sesuatu yang berakibat negatif pada pertumbuhannya. Contoh yang paling jelas adalah kalau sejak kecil dia dibebankan dengan tanggung-jawab yang berlebihan, dia menjadi terlalu matang pada usia dini. Jadi dalam hal tanggung-jawab dia mengalami kematangan dan mengerti sekali tanggung-jawab namun dia akan miskin dalam pemenuhan kebutuhan emosionalnya, dia mau tetap bisa tertawa, bisa bermain, bisa berbuat salah, tapi sekarang tidak bisa karena dicemooh dan dimarahi. Kalau berbuat kenakalan tertentu maka label ini yang kemudian dikeluarkan, "Kamu ini anak sulung tapi kenapa kamu ini masih seperti kanak-kanak, kamu anak sulung tapi kenapa tidak memberi contoh yang baik kepada adik-adikmu." Jadi semua itu dilabelkan karena dia adalah anak sulung. Dia bisa menjadi sangat bertanggung-jawab tapi kebutuhan emosionalnya menjadi sangat miskin.
GS : Kalau dia sebagai anak sulung punya beban seperti itu Pak Paul, sebenarnya apakah ada bedanya kalau anak sulung ini laki-laki atau perempuan. Sebab seringkali kalau anak itu perempuan, melakukan hal-hal seperti itu bisa dengan senang hati, Pak Paul.
PG : Saya kira secara alamiah anak perempuan memang lebih memiliki insting keibuan, sehingga tanpa disuruh keinginan untuk mengasuh adiknya itu lebih ada. Namun kalau orang tua membebankannya dan melabelkan anak sulung harus melakukan semua itu maka lama-lama dia mungkin bisa berontak dan tidak suka. Justru kalau tidak dilabelkan sebagai anak sulung dan dia harus mengasuh adik-adiknya maka dia akan lebih spontan melakukannya dengan senang hati dan dia tidak akan merasa beban yang berlebihan pada dirinya. Kalau anak laki-laki pada umumnya tidak secara alamiah memunyai insting untuk mengasuh dan menjaga adik-adiknya, itu sebabnya orang tua harus lebih keras menyuruhnya. Tapi sekali lagi yang saya mau katakan adalah, bukannya saya mau berkata, "Jangan memberikan tanggung-jawab kepada anak sulung," tapi saya mengakui kalau anak sulung pun juga perlu diberikan tanggung-jawab, namun berhati-hatilah jangan sampai berlebihan sebab sekali lagi jangan sampai hal-hal yang perlu dialaminya sebagai seorang anak kecil justru terhilang dan harus dilepaskannya, justru dia masih perlu bimbingan dan arahan. Tapi kalau kita terlalu membebankan tanggung-jawab itu kepada dia, dan kita jarang memberikan bimbingan atau arahan dan kita hanya bisa memarahi dia kalau dia tidak melakukan yang kita inginkan. Akhirnya anak-anak yang seperti ini sangat terikat dengan tanggung-jawab, tidak dapat menikmati hidup, hidupnya tidak bebas, tidak merdeka dan akhirnya setelah mereka mulai remaja, mereka berontak dan mereka tidak mau lagi menerima tanggung-jawab ini dan akhirnya orang tua pun kewalahan, karena justru anak pertamanya menyusahkan sekali.
GS : Dan jika makin banyak adik-adiknya maka makin berat beban yang harus ditanggung oleh anak sulung itu tadi.
PG : Betul, kalau mengurus satu adik masih lebih baik, tapi kalau mengurus sampai 4 atau 5 adik maka itu akan menjadi tanggung-jawab yang besar.
GS : Dan itu akan terbawa sampai mereka dewasa atau tidak, Pak Paul ?
PG : Kalau dia terpaksa memikul beban itu dan dia tidak bisa lari lagi, karena memang jiwanya bukan pemberontak maka dia akan membawa hal itu sampai usia dewasa. Jadi nanti setelah tua pun kalau ada apa-apa dengan adiknya maka dia yang akan paling kalang-kabut dan kalau ada apa-apa dengan adiknya maka dialah yang paling merasa bersalah, "Kenapa saya tidak menolongnya." Bahkan dalam kasus-kasus tertentu jika hidup adiknya tidak karuan dan tidak bertanggung-jawab maka tetap si kakak sulunglah yang menolongnya, melepaskannya dari konsekuensi yang harus ditanggung oleh si adik sehingga menjadi tidak sehat juga. Jadi kalau tidak hati-hati pola tidak sehat ini akan terus berlanjut sampai usia dewasa.
GS : Bahkan sampai ada yang rela tidak berkeluarga, dia sendiri tidak menikah, demi melindungi adik-adiknya itu, Pak Paul.
PG : Betul, dan saya pernah menemuinya. Jadi anak-anak sulung ini benar-benar mengorbankan hidupnya demi adik-adiknya tapi saya juga tahu ada kasus-kasus dimana si sulung yang mengorbankan hidupnya demikian besar, nantinya juga selain sayang dengan si adik, namun nanti juga bisa menjadi galak dengan si adik. Jadi karena mereka sudah mengorbankan hidup sedemikian besarnya, kemudian mereka juga menuntut sedemikian besar dari adik-adiknya untuk menyayangi dan menghormati mereka, sehingga kalau itu tidak terjadi maka mereka menjadi marah. Jadi benar-benar si sulung ini menjadi pengganti orang tua tapi pengganti yang bahkan lebih galak daripada orang tuanya.
GS : Tuntutan yang lain yang bisa menghimpit anak ini apa, Pak Paul ?
PG : Yang kedua adalah tuntutan sebagai anak perempuan, masih banyak orang tua yang memerlakukan anak-anak perempuan sebagai setengah pembantu rumah tangga. Misalkan sehabis makan anak laki-laki dibiarkan pergi, tapi anak perempuan diwajibkan untuk membawa piring ke dapur dan mencucinya. Contoh lain, ketika anak laki-laki berada di luar, anak perempuan disuruh membantu ibu memasak, membersihkan rumah dan sebagainya. Contoh lain lagi tatkala anak laki-laki pergi bersama teman untuk menonton, tapi anak perempuan disuruh untuk menjaga rumah. Hal ini masih sering terjadi dan masih ada di dalam zaman kita. Jadi orang tua membedakan tuntutannya dan tuntutan sebagai anak perempuan jauh lebih besar dibandingkan pada anak laki-laki.
GS : Tapi hal seperti itu dilakukan oleh orang tua dengan tujuan agar anak ini mengetahui naturnya sebagai wanita yaitu kelak harus seperti ini. Sama dengan anak laki-laki, kalau mereka ingin menangis mereka akan dimarahi oleh orang tuanya, kalau menangis hanya boleh dilakukan oleh anak perempuan. Beban seperti ini juga hampir sama, Pak Paul ?
PG : Betul. Jadi inilah tuntutan-tuntutan yang kita harus waspadai. Misalkan tadi Pak Gunawan mengangkat contoh anak laki-laki tidak boleh menangis. Sudah tentu hal ini tidak sehat. Orang tua harus menyadari anak laki-laki pun boleh menangis, karena Tuhan memberikan air mata untuk dapat kita tangiskan dan efeknya itu sangat "therapeutik" yaitu menyembuhkan luka-luka kita karena kesedihan kita bisa diekspresikan lewat tangisan. Jadi orang tua mesti waspada dengan nilai-nilai tuntutan yang sebetulnya tidak perlu. Anak perempuan dalam hal lain harus kita akui bahwa mereka akan menerima begitu banyak tuntutan, tidak boleh keluar malam, kalau diajak teman-temannya pergi dia tidak boleh pergi tapi kalau anak laki-laki pulang sampai malam tidak mengapa. Misalkan lagi mulai dari hal yang sederhana yaitu tertawa, kalau anak laki-laki boleh tertawa terbahak-bahak tapi kalau anak perempuan langsung dimarahi dan dikatakan "Tidak pantas tertawa seperti itu." Jadi akhirnya begitu banyak hal-hal yang dibebankan kepada anak perempuan dan ini bisa menjadi tekanan dalam hidupnya yang berlebihan.
GS : Di sini ada perbedaan masalah hak, yang satu boleh berada di luar rumah dan yang satu harus di dalam rumah. Apakah ini juga akan berpengaruh terhadap perkembangan diri anak ini ?
PG : Ada, Pak Gunawan. Jadi saya meyakini bahwa perbedaan perempuan ini keluar dari pendangan bahwa tempat bagi anak perempuan adalah di dalam rumah. Sedangkan secara tersirat orang tua beranggapan tempat bagi anak laki-laki itu di luar rumah, makanya mereka lebih diizinkan keluar rumah dan anak perempuan tidak diizinkan. Maka anak perempuan dianggap tidak perlu pergi bermain di luar dan seringkali disuruh untuk diam di rumah. Terpenting bagi orang tua adalah anak perempuan itu menjadi seorang ibu rumah tangga yang cakap. Jadi seolah-olah dari kecil orang tua terutama ibunya sudah menyiapkan si anak perempuan untuk menjadi seorang mama. Saya mengakui bahwa ada waktu dan tempat bagi anak perempuan untuk belajar keterampilan mengurus rumah dan ini baik karena tidak ada salahnya dengan membersihkan rumah dan belajar memasak. Tapi saya juga harus berkata, ada pula waktu dan tempat bagi anak laki-laki untuk belajar keterampilan mengurus rumah. Tidak ada salahnya anak laki-laki belajar untuk membersihkan kamarnya, untuk membersihkan kamar mandinya dan itu tidak ada salahnya. Bagi saya tuntutan yang berlebih bagi anak perempuan berpotensi memasungnya dan justru membuat anak tidak berinisiatif dan akhirnya sukar menikmati hidup, dan akhirnya anak perempuan menjadi lebih rentan dan cenderung bermasalah dengan rasa bersalah yang tidak pada tempatnya.
GS : Di beberapa etnis tertentu, tuntutan sebagai anak perempuan ini bisa lebih besar dari pada tuntutan kepada anak laki-laki, karena mereka disiapkan untuk menjadi ibu rumah tangga yang bukan hanya mencukupi kebutuhan keluarganya, tapi juga bisa mencukupi keluarga besarnya.
PG : Betul. Jadi benar-benar dia diharapkan untuk menjadi "superwoman", bisa segalanya dan kuat menanggung beban sebesar apapun. Seolah-olah mengurus rumah dan mengurus makanan dan sebagainya adalah hal yang mudah padahalnya itu adalah sebuah pekerjaan yang berat dan meletihkan sekali. Bagi kita yang bekerja di luar, kalau malam pulang maka kita berhenti bekerja tapi bagi ibu rumah tangga tidak ada yang dinamakan berhenti bekerja, dari pagi dia bangun sampai malam dia tidur, akan ada pekerjaan yang harus dilakukannya mulai dari rumahnya, anaknya, suaminya, belum lagi kalau dia dituntut untuk mengurus sanak saudara yang lain-lainnya. Jadi kita melihat beban ini terlalu besar, itu sebabnya tidak heran secara positif anak perempuan cenderung lebih bertanggung-jawab dan lebih mau mengatur, mengurus kehidupannya dan kehidupan orang-orang lain di sekitarnya. Tapi yang kasihan adalah cukup banyak di antara mereka lebih banyak yang dirundung rasa bersalah, lebih mudah dirundung kecemasan, takut kalau nanti ada yang tidak beres. Sebab makin besar tanggung-jawab maka makin besar kecemasan kalau sampai ada yang tidak beres.
GS : Tuntutan yang menghimpit anak yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Yang ketiga adalah tuntutan sebagai anak kesayangan, seolah-olah ini adalah kontradiksi sebab mana mungkin anak kesayangan ada tuntutannya, tapi sebetulnya ada. Sebagai anak kesayangan biasanya seorang anak dituntut untuk senantiasa mengerti perasaan orang tuanya. Waktu orang tuanya merasa sesuatu, karena dia adalah anak kesayangan maka seolah-olah anak itu diwajibkan untuk mendekati orang tua, menghibur orang tua dan satu lagi karena dia dianggap anak kesayangan maka papa dan mamanya sering berkata, "Kamu ini anak kesayangan, kamu ini anak yang paling baik dan sebagainya." Akhirnya dia pun dituntut menjadi anak yang selalu bersikap dan berbuat baik kepada orang tua. Misalnya jika ada pertentangan antara orang tua dan anak lainnya, anak kesayangan merasa berkewajiban untuk membela orang tua dan tidak memedulikan siapa yang salah, misalkan si adik berkata, "Mama tadi seperti ini, papa tadi seperti ini. Kamu itu tahu kalau ini tidak benar." Anak kesayangan tidak bisa berkata, "Memang mama tidak benar, memang papa tidak benar," tapi dia terpanggil untuk membela orang tuanya. Jadi singkat kata anak kesayangan akhirnya menerima beban untuk mengasihi orang tua lebih dari anak-anak lainnya, dalam kategori mengasihi secara membabi buta tapi tidak realistis.
GS : Jadi memanjakan anak terlalu berlebihan ini ternyata menimbulkan beban tersendiri bagi anak tersebut, Pak Paul ?
PG : Betul. Memang disatu pihak anak itu menikmati faedahnya disayangi, apa yang diinginkannya dia dapat peroleh, apa yang diminta diberikan kepadanya, tapi dia harus bayar harga. Justru kadang-kadang anak yang tidak terlalu disayangi seperti itu, hidupnya lebih merdeka, lebih bebas, tidak ada yang menuntut dan dia tidak merasa dituntut, perkembangannya justru lebih sehat. Jadi anak-anak kesayangan bayar harganya cukup mahal.
GS : Jadi orang tua menuntut anaknya ini supaya anaknya bisa melihat orang tua ini sebagai seorang yang sempurna, yang tanpa salah, begitu Pak Paul ?
PG : Seringkali demikian, jadi seolah-olah dia dituntut mengabaikan kelemahan orang tua dan hanya memfokuskan pada kelebihannya. Akibatnya anak kesayangan ini setelah dewasa seringkali susah mengembangkan objektifitas dalam hidupnya sebab kesetiaannya bukan terletak pada apa yang benar, tetapi pada siapa yang dianggapnya benar. Jadi dengan kata lain benar atau salah menjadi relatif, serta bergantung pada siapa yang disukainya sebab itulah yang dipelajari sejak kecil yaitu dia harus membela orang tuanya benar atau salah. Dan satu lagi yaitu dampak buruknya anak kesayangan tidak memunyai kebebasan untuk menjadi diri apa adanya karena dia menjadi anak yang sesuai dengan kehendak orang tua walaupun itu bertentangan dengan kebisaannya, karunianya dan isi hati yang sesungguhnya.
GS : Belum lagi, kalau dia anak kesayangan orang tua lalu saudara-saudaranya atau adik-adiknya atau bahkan kakaknya juga bisa memusuhi dia, Pak Paul.
PG : Betul dan kita bisa jumpai pada kasusnya Yusuf, itu sangat fatal sekali sampai akhirnya dia mau dibunuh dan dibuang, dijual sebagai seorang budak karena Yakub memang tidak bijaksana menyayangi Yusuf. Jadi benar-benar bagi anak kesayangan, di satu pihak menerima keuntungan tertentu tapi kerugiannya lumayan besar.
GS : Jadi sebenarnya kita sebagai orang tua itu maunya menyayangi anak, tapi rupanya sayang ini juga ada batasannya, Pak Paul ?
PG : Betul. Sebab rasa sayang yang kita ungkapkan kepada anak secara tidak bijaksana malahan merugikan anak-anak itu sendiri.
GS : Pak Paul, apakah dalam hal ini ada Firman Tuhan yang mendukung ?
PG : Saya bacakan dari Mazmur 127:4-5, "Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semua itu." Memang ini adalah sebuah ilustrasi seorang prajurit, waktu dia pergi membawa tabung anak panah beserta panahnya bukan saja menunjukkan sebuah kegagahan tapi itu juga menunjukkan sebuah persiapan kelengkapan hidupnya sebagai tentara yang komplet dengan anak-anak panahnya. Jadi dari Firman Tuhan ini, kita bisa belajar bahwa yang pertama adalah Tuhan yang memberikan kepada kita anak-anak panah ini. Maka ketika dikatakan sesungguhnya anak laki-laki adalah milik pusaka dari Tuhan dan buah kandungan adalah suatu upah. Jadi itu adalah pemberian Tuhan, karena pemberian Tuhan maka kita harus merawatnya dengan baik dan bijaksana. Jangan sembarangan dan malahan melakukan hal-hal yang merugikan mereka.
GS : Apalagi pada zaman sekarang dengan banyaknya anak cukup membuat orang tua punya tanggung-jawab yang jauh lebih besar.
PG : Betul sekali. Jadi sekarang ini makin banyak anak maka tuntutannya juga makin berat, jadi kita juga harus bijaksana tentang berapa jumlah anak yang kita inginkan dan kita sanggup pelihara dengan baik.
GS : Karena baik anak sulung maupun anak bungsu, juga anak tengah-tengah ini juga memunyai beban masing-masing yang tidak ringan yang harus mereka tanggung.
PG : Betul. Jadi semua harus kembali kepada orang tua, bagaimana memerlakukan anak-anak dengan bijaksana.
GS : Pembicaraan ini saya rasa belum selesai Pak Paul, karena saya rasa masih ada beberapa tanggung-jawab atau tuntutan dari orang tua yang bisa menghimpit anak, namun kita akan bicarakan pada kesempatan yang akan datang dan tentunya kita berharap para pendengar setia program Telaga ini bisa mengikutinya pada program yang akan datang. Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Tuntutan Yang Menghimpit Anak" bagian yang pertama. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ibarat tanaman, anak pun membutuhkan ruang untuk bertumbuh. Tugas orang tua adalah mengawasi dan merawat pertumbuhan anak agar sesuai dengan arah yang diinginkan orang tua. Masalah timbul bila selain dari mengawasi dan merawat, orang tua pun membebani anak dengan tanggung jawab yang melebihi usia dan kemampuannya. Ibarat tanaman yang terhimpit beban, pertumbuhan anak akhirnya tersendat dan melenceng dari jalur semula. Berikut akan dipaparkan beban yang kadang keliru diembankan pada anak.
Tuntutan sebagai anak sulung. Cukup banyak orang tua yang menuntut anak tertua untuk memikul tanggung jawab besar. Misalnya, ada orang tua yang melimpahkan anak sulung untuk menjaga dan mengurus adik-adiknya pada usia yang relatif muda. Memang adakalanya orang tua terlalu sibuk atau memunyai anak terlalu banyak sehingga tidak lagi dapat memberi pengawasan dan perhatian kepada semua anak. Terpaksa orang tua menuntut anak sulung untuk menolong orang tua.
Masalahnya adalah, bila hal ini dilakukan di kala anak sulung masih berusia belia, tuntutan ini akan membebaninya secara berlebihan. Tugas mengawasi serta mengurus adik sudah tentu akan menyita waktunya sendiri. Ketika ia ingin bermain-sebagaimana layaknya anak seusianya-ia terpaksa menjaga dan mengurus adiknya. Alhasil ia cenderung kehilangan masa kanak-kanak yang seharusnya menjadi miliknya. Sebagaimana kita ketahui kehilangan masa kanak-kanak berakibat negatif pada pertumbuhan anak. Ia cenderung matang terlalu dini dalam hal tanggung jawab namun miskin pemenuhan kebutuhan emosionalnya.
Tuntutan sebagai anak perempuan. Masih banyak orang tua yang memerlakukan anak perempuan sebagai setengah pembantu rumah tangga. Misalkan sehabis makan, anak laki-laki dibiarkan pergi tetapi anak perempuan diwajibkan untuk membawa piring ke dapur dan mencucinya. Ketika anak laki bermain di luar, anak perempuan disuruh untuk membantu ibu memasak. Tatkala anak laki pergi bersama teman untuk menonton, anak perempuan diminta orang tua untuk menjaga rumah.
Semua perlakuan ini keluar dari pandangan bahwa tempat bagi anak perempuan adalah di dalam rumah. Itu sebabnya anak perempuan dianggap tidak perlu pergi bermain keluar. Terpenting adalah menyiapkan anak perempuan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang cakap. Sudah tentu ada waktu dan tempat bagi anak perempuan belajar keterampilan mengurus rumah. Namun, ada pula waktu dan tempat bagi anak laki untuk belajar keterampilan mengurus rumah. Tuntutan yang berlebih pada anak perempuan berpotensi memasungnya menjadi anak yang tidak berinisiatif dan sukar menikmati hidup. Ia pun cenderung bermasalah dengan rasa bersalah yang tidak pada tempatnya.
Tuntutan sebagai anak kesayangan. Sebagai anak kesayangan, seorang anak dituntut untuk senantiasa mengerti perasaan orang tua. Ia pun dituntut untuk menjadi anak yang bersikap dan berbuat baik kepada orang tua. Jika ada pertentangan antara orang tua dan anak lainnya, anak kesayangan merasa berkewajiban untuk membela orang tua-tidak peduli siapa yang salah. Singkat kata, anak kesayangan menerima beban untuk mengasihi orang tua lebih daripada anak-anak lainnya.
Ia pun dituntut untuk mengabaikan kelemahan orang tua dan hanya memfokuskan pada kelebihan. Akibatnya anak kesayangan sering kali susah mengembangkan obyektivitas dalam hidupnya. Kesetiaannya bukan terletak pada APA yang benar tetapi pada SIAPA yang dianggapnya benar. Dengan kata lain, benar atau salah menjadi relatif serta bergantung pada siapa yang disukainya.
Dampak lainnya adalah anak kesayangan tidak mempunyai kebebasan untuk menjadi diri apa adanya. Ia harus menjadi anak sesuai kehendak orang tua walaupun itu bertentangan dengan karunia dan isi hati yang sesungguhnya.
Tuntutan sebagai anak terpandai. Kadang kita berpikir bahwa beban terberat dipikul oleh anak yang paling tidak pandai. Pada kenyataannya anak terpandai dalam keluarga tidak kalah menderita tekanan. Sebagai anak terpandai pada dasarnya ia diharapkan untuk tidak pernah gagal. Hasil yang dicapainya mesti senantiasa selaras dengan tuntutan orang tua.
Bila orang tua tidak fleksibel, anak yang terpandai merasa lebih merupakan sapi perahan. Ia cenderung merasa bahwa ia hanya berharga bila ia dapat memuaskan harapan orang tuanya. Jika tidak, ia pun tidak merasa dirinya bernilai. Singkat kata, oleh karena itulah tuntutan dan perlakuan yang diterimanya, pada akhirnya ia pun memerlakukan dirinya sama dengan perlakuan orang tua terhadap dirinya. Ia hanya merasa bernilai bila ia sanggup mencapai tuntutan dirinya sendiri. Kegagalan dihapus dari kamus hidupnya, keberhasilan menjadi dewa yang disembahnya.
Tuntutan sebagai anak rohani. Orang tua tentu senang melihat anak bertumbuh secara rohani. Misalnya anak gemar membaca Firman Tuhan dan rajin ke gereja. Masalah muncul tatkala orangtua menuntut anak untuk selalu bersikap dan berperilaku rohani, dalam pengertian tidak boleh marah atau merasa kecewa dan sebagainya. Sudah tentu tuntutan ini tidak realistik. Kendati ia rohani sebagai anak yang manusiawi ia pun dapat melakukan kesalahanl. Tugas orang tua seyogianya adalah menuntun anak untuk dapat menghadapi kegagalannya melakukan sesuatu seturut kehendak Tuhan. Orang tua mesti mengajarnya untuk datang meminta pengampunan dari Tuhan dan memberi pengampunan pada diri sendiri. Kesalahan orang tua adalah kadang orang tua malah memperalat kerohanian anak untuk kepentingan orang tua. Misalnya melarang anak untuk pergi studi ke kota lain dengan alasan sebagai anak yang berbakti kepada Tuhan tidak seharusnya ia pergi meninggalkan keluarga.
Dampak Keseluruhan
Kaku. Ada sebagian anak yang bertumbuh dengan kepribadian yang kaku. Ia sukar melihat interaksi dan hanya dapat melihat aksi-reaksi. Ia cepat marah dan tidak suka ketidakkonsistenan. Ia tidak mudah mengerti mengapa orang berbeda dari dirinya.
Perfeksionis. Ia menuntut kesempurnaan di atas segalanya. Ia tidak menoleransi kegagalan baik pada dirinya atau orang lain. Standar hidup dan karyanya sukar diturunkan karena ia tidak mudah berkompromi.
Menyalahkan. Oleh karena ia besar dengan tanggung jawab, jika ada kesalahan, orang tua kerap menyalahkannya. Untuk menghindar dari disalahkan, ia pun berusaha semaksimal mungkin untuk bertanggung jawab sebaik-baiknya. Masalahnya adalah, makin bertanggung jawab, makin sering dan mudah ia menyalahkan orang yang dianggapnya tidak bertanggung jawab sebagaimana dirinya. Inilah proses yang melestarikan pola menyalahkan.
Mudah cemas. Pada umumnya ia mudah tegang sebab hidup tidaklah bebas. Baginya hidup adalah kerja-sepenuhnya. Tidak ada ruang untuk beristirahat dan santai. Semua mata memandangnya sehingga ia harus selalu memperlihatkan perilaku dan diri terbaiknya. Jika ada kekurangan dan kesalahan, ia cepat menyalahkan diri dan merasa takut dihukum. Pada masa remaja dan dewasa hukuman terberat baginya adalah penolakan. Ia takut ditolak, itu sebabnya ia terus didesak oleh dirinya sendiri untuk selalu berprestasi.
Kesimpulan
Pada waktu Tuhan Yesus berusia 12 tahun, dalam kunjungan ke Yerusalem, Ia pergi meninggalkan orangtuanya dan masuk ke Bait Allah untuk mendengarkan dan berdialog dengan kaum alim ulama. Sewaktu Yusuf dan Maria menegur-Nya, Tuhan menjawab, "Mengapakah kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" (Lukas 2:49)
Kendati ayat ini membicarakan tentang Yesus sebagai Tuhan dan bukan sebagai seorang anak manusia saja, tetapi pelajaran yang dapat ditarik juga relevan untuk pembahasan kita. Kendati anak adalah keturunan kita, misi utamanya adalah ia bertumbuh sesuai dengan kehendak Tuhan. Tugas utama anak adalah menjadi seperti yang dikehendaki Tuhan, bukan kita. Jadi, besarkanlah anak untuk bertumbuh berdasarkan arah yang ditetapkan Tuhan.
Submitted by admin on Fri, 05/06/2009 - 7:55am.
Abstrak:
Pernahkah kita sebagai orang tua mengasihi anak kita melebihi dari kita mengasihi Tuhan? Kebanyakan kita sebagai orang tua pasti pernah mengalaminya. Sebenarnya kita tahu kalau hal itu salah karena kita menomor duakan Tuhan. Satu contoh dari Alkitab yaitu Imam Eli, Imam Eli mengasihi anaknya melebihi Tuhan sehingga yang didapatnya adalah hukuman. Mari kita belajar dari Imam Eli, agar ini menjadi lampu kuning bagi kita sebagai orang tua dalam mengasihi anak-anak kita.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami terdahulu dan kali ini kami akan memerbincangkan tentang "Mengasihi Anak Lebih Dari Tuhan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita sudah memerbincangkan tentang bagaimana Tuhan di tengah-tengah keluarga Kristen. Pak Paul sudah memberikan banyak contoh dan khususnya ada satu contoh dari Alkitab yaitu Imam Eli, kita mau melanjutkan perbincangan kita tentang Imam Eli dan keluarganya ini. Namun agar para pendengar kita bisa mengikutinya secara lengkap mungkin Pak Paul bisa menguraikan perbincangan kita secara singkat perbincangan kita yang lampau.
PG : Tuhan menciptakan kita agar kita merefleksikan kemuliaan Tuhan di bumi ini, Pak Gunawan, dan kita seyogianya memakai keluarga kita sebagai sarana untuk merefleksikan kemuliaan Tuhan pula. ntuk dapat menjadikan keluarga kita refleksi dari kemuliaan Tuhan sudah tentu kita harus menjadikan Tuhan itu TUHAN dalam keluarga kita, ego atau kehendak diri harus tunduk pada kehendak Tuhan sehingga bukan hanya mengikuti kehendakku tapi mengikuti kehendak Tuhan.
Dalam keluarga yang seperti itu maka kita akan melihat sebuah dampak rohani yang berkepanjangan dan indah. Kita sudah melihat beberapa contoh dari orang-orang modern yang kita kenal, misalkan seperti keluarga dari Dr. James Dobson di Amerika Serikat yang Tuhan pakai dan keluarga Pdt. Jonathan Edwards yang dari generasi ke generasi, semuanya tetap dalam pelayanan, itu adalah akibat dari hidup orang tua yang saleh, hidup orang tua yang meletakkan kehendak pribadi mereka di kaki Tuhan. Sebaliknya Pak Gunawan, kita juga melihat kalau orang tua tidak melakukan hal itu, maka dia akan melihat masalah dan masalah itu akan berkelanjutan pada anak-anak dan pada nantinya cucunya juga, dan itulah yang nanti kita akan lihat pada keluarga Imam Eli.
GS : Dalam keluarga Imam Eli seperti apa, Pak Paul ?
PG : Imam Eli itu sebetulnya awalnya memulai masalah dengan dirinya sendiri yaitu dia tidak bisa mengendalikan hasratnya atau keinginannya atau kemauannya untuk memuaskan diri dengan makanan, da tidak bisa menghargai bahwa Tuhan sudah tetapkan inilah bagian-bagian dari hewan yang dipersembahkan kepada Tuhan, dan inilah bagian-bagian untukmu.
Tapi rupanya Imam Eli itu tidak tahan, jadi dia cenderung memasukkan makanan-makanan itu untuk dirinya dan tidak lagi mengindahkan kekudusan Tuhan sehingga korban persembahan yang seharusnya dipandang dengan kudus, karena itu merupakan sebuah simbol permintaan ampun manusia kepada Tuhan, sekarang justru dipakai sebagai sarana untuk memuaskan nafsu makannya belaka.
GS : Dalam hal seperti itu Pak Paul, itu memberikan teladan yang tidak baik terhadap anak-anaknya khususnya. Apa yang terjadi pada anak-anak Imam Eli ?
PG : Kita lihat di dalam 1 Samuel 2:29 dan Tuhan berkata ". . . dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih daripada-Ku sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian terbaik dari setiap koban sajian umat-Ku Israel" tampaknya seperti ini Pak Gunawan, rasa sayang Imam Eli kepada anak-anaknya begitu besar sehingga sejak mereka kecil, Eli senantiasa memberikan apa yang diminta mereka termasuk makanan persembahan.
Besar kemungkinan Imam Eli pulalah yang memperkenalkan anak-anaknya kepada bagian-bagian daging yang lezat dari hewan persembahan. Dengan kata lain tanpa disadari Imam Eli, ia jugalah yang mengajarkan anak-anaknya untuk tidak menghormati mezbah Tuhan. Jadi kita melihat di sini bahwa peran Imam Eli memang besar didalam kerusakan pada diri anak-anaknya, anak-anaknya melihat papa makan seperti itu, papa mengambil bagian-bagian dari hewan seperti itu karena mungkin papanya juga berkata bahwa "Yang ini enak," dengan tidak mengindahkan bahwa bagian-bagian itu sebetulnya untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Inilah yang rupanya ditransmisikan oleh Imam Eli kepada anak-anaknya sehingga anak-anaknya terus melihat, karena Imam Eli seperti itu maka mereka menjadi anak-anak yang liar dan anak yang tidak kenal disiplin. Maka dari sini kita belajar, Pak Gunawan, bahwa disiplin pada anak harus dimulai sejak anak-anak itu kecil, apa yang dipelajari anak sejak kecil cenderung bertahan sampai usia dewasa, sebaliknya apa yang tidak dipelajari anak pada masa kecil akan sulit dipelajarinya pada masa dewasa. Itu sebabnya waktu Imam Eli mencoba menegurnya setelah mereka usia dewasa, nasehat itu masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri, tidak dihiraukan oleh anak-anaknya.
GS : Padahal anak-anak Imam Eli ini sebenarnya dipersiapkan untuk menggantikan Iman Eli, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, bukan hanya dipersiapkan tapi sebetulnya pada masa Imam Eli tua mereka sudah berfungsi sebagai imam. Jadi mereka bukanlah anak imam, pada masa-masa dewasa mereka itu adalah iam itu sendiri sebab pada masa Imam Eli itu tidak lagi kuat, matanya sudah rabun, tubuhnya juga sudah mulai susah bergerak, jadi yang melayani mezbah adalah anak-anak Imam Eli sebab mereka sudah menjadi imam juga.
Jadi memang kita melihat suatu rasa tidak hormat kepada Tuhan yang begitu besar yang diperlihatkan oleh anak-anak Imam Eli ini.
GS : Memang sulit untuk Imam Eli mengajarkan disiplin kepada anak-anaknya kalau dia sendiri tidak disiplin didalam hal persembahan kepada Tuhan ini.
PG : Betul, Pak Gunawan. Di dalam Firman Tuhan di Imamat 7:30-34, kita tahu bahwa Tuhan sudah menetapkan bahwa bagian imam adalah dada dan paha hewan dan hanya itu, selebihnya adalah milik Tuha dan harus dipersembahkan kepada Tuhan sebagai korban bakaran, namun anak-anak Imam Eli tidak pedulli.
Kita tahu dari Firman Tuhan di 1 Samuel 2:12-17, "Segala yang ditarik dengan garpu itu ke atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri." Jadi anak-anak Imam Eli itu akan masuk sendiri ke dalam kemah pertemuan atau ke dalam Bait Allah, kalau nanti ada orang-orang membawa hewan-hewan yang sedang direbus atau dibakar maka dia akan mencucukkan garpunya dan mengambil semuanya, benar-benar tidak lagi peduli dengan kekudusan Tuhan. Apa yang menjadi bagian mereka, bagi mereka itu kurang, paha dan dada hewan, lembu atau kambing tidak cukup dan harus mengambil bagian yang lainnya juga. Di sini kita melihat kelobaan Imam Eli akhirnya diteruskan kepada anak-anaknya.
GS : Karena itulah yang dilihat tiap-tiap hari dan rupanya tidak ada akibat yang fatal yang mereka lihat langsung terhadap diri Imam Eli ini, Pak Paul.
PG : Memang sejak kecil mereka diperbolehkan oleh Imam Eli maka sampai besar mereka merasa bahwa mereka punya hak itu juga, apalagi ayah mereka saat itu adalah orang yang berkuasa di Israel mak mereka menganggap tidak ada yang dapat menghentikan langkah mereka.
Jadi benar-benar anak yang tidak mengenal disiplin bertumbuh besar menjadi anak yang liar, Pak Gunawan. Maka sebagai orang tua Tuhan mengharuskan kita mendisiplin anak. Ini bukan pilihan, "kapan-kapan mau mendisiplin boleh, tapi kalau tidak mau juga tidak apa-apa" tidak seperti ini ! Ini adalah sebuah kewajiban dan sebagai bentuk pertanggung jawaban kita kepada Tuhan bahwa anak-anak yang Tuhan serahkan kepada kita, mesti kita didik dan kita disiplin. Kalau ada perilaku yang kurang baik mestinya dikikis supaya anak ini nanti bisa hidup menjadi anak-anak Tuhan.
GS : Biasanya karena kita terlalu memanjakan anak, kita selalu berdalih bahwa saya mengasihi anak ini. Jadi apa pun yang dia minta kita selalu memberikan karena saya mampu untuk memberikannya. Mungkin itu juga yang terbersit pada pemikiran Imam Eli.
PG : Betul, Pak Gunawan. Sehingga Tuhan berkata kepada Imam Eli, "Engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku." Jadi kita bisa menyimpulkan bahwa dia lebih mengasihi anak-anaknya dari pad Tuhan maka Imam Eli akhirnya tidak lagi menghiraukan kehendak dan kepentingan Tuhan dan lebih mementingkan kepentingan anak-anaknya.
Maka tidak bisa tidak ini semua memancing reaksi Tuhan yang keras. Di 1 Samuel 3:12-13, Tuhan berkata "Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka." Di sini kita melihat bahwa Tuhan menuntut pertanggungjawaban Imam Eli, sebab Imam Eli dapat berbuat lebih dari apa yang telah dilakukannya, memang dia pernah menegur anak-anaknya, namun dia tidak menjatuhkan sangsi atas mereka sebagai seorang imam, misalnya dia seharusnya memecat anak-anaknya dari jabatan imam namun itu tidak dilakukannya. Kadang sebagai orang tua, Pak Gunawan, kita harus memberi sangsi yang berat kepada anak-anak yang telah memilih jalan yang salah, sayangnya kita ini tidak selalu siap menempuh jalan itu. Ketidaksiapan kitalah yang malah memerpanjang masalah dalam keluarga.
GS : Jadi sebenarnya Imam Eli itu sadar bahwa apa yang dilakukannya itu tidak diperkenankan oleh Tuhan begitu, Pak Paul ?
PG : Saya percaya dia sadar, Pak Gunawan, tapi dia susah melawan hasrat dirinya, dia memang mau makan makanan itu, dia tahu Tuhan melarang, dia tahu bahwa dia hanya boleh maka paha dan dada dar hewan persembahan tapi dia tidak bisa menguasai dirinya, itu sebabnya waktu dia perkenalkan itu kepada anak-anaknya, maka anak-anaknya juga sama menjadi seperti dia.
GS : Tapi kalau sampai dia memecat anak-anaknya, belum tentu dia bisa menemukan imam lain yang lebih baik dari anak-anaknya.
PG : Kalau pun Imam Eli tidak punya anak lain dan hanya dua itu saja, tidak mengapa, sebab saya percaya akan ada jalan Tuhan meskipun Dia akan kehilangan dua imamnya dan itu tidak menjadi masalh, sebab itulah yang terjadi pada keluarga Imam Eli, akhirnya kedua anak Imam Eli mati dalam peperangan sebagai hukuman Tuhan atas mereka dan akhirnya Imam Eli juga mati secara mendadak setelah mendengar berita anaknya meninggal dunia.
Dan siapakah yang menggantikan ? Yang menggantikan adalah Samuel. Jadi jauh sebelumnya Tuhan sudah memikirkan hal ini dan Tuhan sudah memersiapkan Samuel, si anak kecil itu. Tuhan sudah memersiapkan ada seorang ibu yang menderita karena tidak bisa hamil dan memunyai anak akhirnya bernazar, "Kalau Tuhan memberikan anak kepadaku maka anak itu menjadi milik Tuhan." Maka Hana, si ibu itu, mendapatkan seorang anak bernama Samuel dan dia pegang nazar dan dia serahkan Samuel kepada Imam Eli. Tuhan sudah memikirkan dan mempersiapkannya. Jadi kalau pun Imam Eli tegas menghukum anak-anaknya dan mengeluarkannya dari keimamatan, itu tidak masalah dan Tuhan akan menggantikan dan inilah yang terjadi yaitu Tuhan memakai Samuel menggantikan Imam Eli walaupun Samuel bukan dari keluarga imam, Samuel bukanlah orang Lewi, dia adalah seorang Efraim tapi Tuhan tidak berkata, "Tidak ada imam sekarang karena bukan lagi dari orang Lewi," tidak! Tuhan tidak akan disusahkan oleh hal ini dan Tuhan bisa mengangkat seseorang dari suku yang lain, tapi kalau dia mau melayani Tuhan, itu tidak menjadi masalah dan tetap Tuhan pakai.
GS : Sesuatu yang menarik bagi saya, Samuel itu mengikut Imam Eli sejak kecil tetapi mengapa Samuel tidak terpengaruh oleh sifat kurang baiknya Imam Eli, padahal kedua anak Imam Eli terpengaruh sekali.
PG : Memang kita tidak ketahui secara pasti apa alasannya, tapi kita hanya bisa menduga-duga sebab pada saat itu Samuel itu memang hanya bertugas seperti pembantu, dia bukanlah anak Imam Eli da dia tidak memunyai kuasa apa-apa dan dia adalah anak yang hanya disuruh ke sini dan ke situ.
Jadi dia tidak mendapatkan hak penuh seperti anak-anak Imam Eli yang lainnya. Dan kita juga harus ingat bahwa mamanya yaitu Hana tetap ada kontak dengan Samuel, sehingga kita tahu mamanya membuatkan baju dan pakaian untuknya. Jadi kita bisa bayangkan bahwa selama bertahun-tahun itu mamanya atau juga dengan papanya akan datang mengunjungi dia dan pengaruh dari orang-orang saleh ini rupanya jauh lebih kuat ditanamkan dalam diri Samuel.
GS : Tentunya kita bisa belajar banyak dari kehidupan keluarga Imam Eli ini, Pak Paul, walaupun tidak persis sama tapi kita bisa ambil prinsipnya untuk kita terapkan di dalam kehidupan keluarga kita masing-masing. Pelajaran apa yang bisa kita tarik dari kesalahan Imam Eli ini ?
PG : Yang pertama, kelemahan pribadi ternyata dapat diturunkan kepada anak-anak, dalam hal kelobaan Imam Eli terhadap makanan telah diwariskan kepada anak-anaknya, mereka pun meniru Imam Eli da begitu terpaku pada makanan sehingga mengabaikan mezbah Tuhan yang kudus.
Karena Imam Eli tidak menghormati kekudusan mezbah Tuhan, maka anak-anaknya pun tidak menghormati kekudusan Tuhan. Jadi pesan untuk kita sekalian adalah berhati-hatilah dengan kelemahan pribadi, sebab seringkali anak melihat dan akhirnya mencontoh perilaku yang merupakan kelemahan pribadi kita.
GS : Jadi diturunkan ini dalam arti kata karena anak-anak ini melihat, lalu apa yang bisa kita lakukan kalau ini merupakan suatu bagian dari kelemahan kita ? Misalnya saja kalau kita marah, kita suka marah yang berkelebihan dan anak-anak terus melihat kita, mungkin cara kita marah, sangat mungkin saja anak akan mewarisi sikap kurang baik kita itu, Pak Paul.
PG : Yang anak-anak perlu lihat dari diri kita adalah bukanlah kesempurnaan. Karena pada akhirnya semua harus mengerti bahwa tidak ada yang sempurna tapi yang mesti anak-anak lihat adalah kesunguhan untuk bergumul dengan kelemahan.
Artinya anak-anak melihat bahwa kita tidak menikmati, tidak puas diri dan tidak hanya berkata bahwa, "Inilah diri saya apa adanya" tidak seperti itu tapi anak-anak melihat bahwa kita ini berusaha keras untuk bisa lepas dari kelemahan pribadi. Misalkan dalam contoh kemarahan, kalau inilah kelemahan kita dan kita terlalu mudah marah, yang pertama setelah kita lepas kendali dan marah tindakan kita haruslah meminta maaf dan kita menyesali lagi dan kita katakan, "Saya gagal lagi, saya minta maaf dan saya akan berusaha untuk tidak lagi marah." Waktu anak-anak melihat hal ini dua sampai tiga kali yaitu untuk menahan kemarahan, ini yang nanti akan dicatat oleh anak, sudah tentu akan ada yang dilihat atau direkam oleh anak tentang kemarahan kita, namun yang juga akan dilihat dan direkam oleh anak adalah usaha keras kita menahannya dan penyesalan kita tatkala melakukannya. Ini menolong anak mengerti bahwa ini adalah sebuah kelemahan yang kurang baik yang tidak diinginkan, makanya dicoba untuk dihilangkan pula. Sehingga anak-anak nanti juga akan berkata, "Kalau saya punya kecenderungan yang sama, saya juga seharusnya bereaksi sama dengan orang tua saya." Saya seharusnya menyesali, saya seharusnya meminta maaf dan saya seharusnya bekerja lebih keras lagi untuk menahan ledakan emosi saya.
GS : Pelajaran yang lain yang bisa kita peroleh apa, Pak Paul ?
PG : Yang kedua adalah disiplin harus dimulai dari awal kehidupan, bukan di tengah apalagi di akhir kehidupan. Imam Eli membiarkan anak-anaknya berdosa tanpa konsekuensi yang keras dan ini maki menjerumuskan mereka ke dalam dosa.
Kehidupan tanpa disiplin orang tua menciptakan anak tanpa nurani dan rasa bersalah. Anak dapat melakukan dosa apa pun tanpa sedikit pun merasa bersalah, singkat kata nurani perlu dihidupkan sejak kecil dan dibiasakan untuk bereaksi terhadap ketidakbenaran. Nurani yang tidak terlatih untuk membedakan dan merasakan salah dan benar, akhirnya mati dan tidak lagi berfungsi. Ini yang kita lihat pada diri anak-anaknya Imam Eli, Pak Gunawan. Waktu orang berkata, "Ini bukan bagianmu," kemudian dia marah dan dia paksa dan tidak lagi peduli kalau Tuhan tidak menyukai, karena anak-anak Imam Eli kehilangan hati nurani, kenapa kehilangan nurani ? Karena sejak kecil tidak didisiplin, tidak ditegur, tidak diberitahukan bahwa mereka itu salah. Dan akhirnya mereka tidak pernah mengenal kata salah dalam diri mereka dan tidak mengenal rasa bersalah dalam diri mereka. Kalau tidak ada rasa bersalah, bagaimana mungkin akan bertobat, benar-benar mereka menjadi orang yang sulit untuk bertobat, karena rasa salah sudah tidak ada lagi dalam nurani mereka.
GS : Jadi sebenarnya sejak kecil Pak Paul, kalau kita berkata mengasihi anak atau anak-anak kita, kita tidak bisa lepas dari kedisiplinan. Jadi antara disiplin dan kasih ini bukan untuk dipertentangkan, seolah-olah kalau kita mendisiplin anak maka kita tidak mengasihi anak, tapi justru disinergikan supaya menjadi sesuatu yang baik buat anak-anak kita.
PG : Betul dan ini yang harus sering kita komunikasikan kepada anak-anak bahwa disiplin kami sebagai orang tua keluar dari hati mengasihi kalian, karena kami tidak ingin kalian akhirnya harus mnjalani kehidupan yang rusak, yang nanti akan menjadi kerugian besar bagi kalian.
Maka sebagai orang tua kami mau mendisiplinkan kalian. Jadi sekali-sekali atau secara berkala kita mesti ungkapkan kepada anak-anak supaya mereka mengerti bahwa tujuan kita adalah untuk kebaikan mereka. Justru orang tua yang gagal mendisiplin anak-anak sewaktu mereka salah, sedang menyebabkan kerugian besar dalam diri anak-anaknya.
GS : Pelajaran yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Ketidak konsistenan melemahkan sendi otoritas, oleh karena Imam Eli sendiri berbuat yang sama sehingga kewibawaannya pudar di hadapan anak-anaknya. Tidak heran mereka tidak menggubris perigatan ayah mereka.
Sekali lagi kita diingatkan bahwa anak tunduk kepada orang tua yang berintegritas, sebaliknya kepada orang tua yang tidak berintegritas, anak membangkang. Justru kalau ada orang tua yang tidak berintegritas ingin menerapkan disiplin, menegur dan sebagainya, itu akan memancing kemarahan anak sebab anak akan berkata, "Kamu ini begitu munafik tidak melakukan apa yang kamu katakan tapi malah memaksa kami untuk melakukannya." Jadi sekali lagi kalau tidak ada kekonsistenan hidup maka tidak ada lagi otoritas di dalam diri kita. Imam Eli kehilangan otoritas itu dan saya berharap para pendengar kita juga bisa belajar agar tidak kehilangan otoritas, sebab tanpa otoritas maka kita tidak bisa menahkodai keluarga kita.
GS : Ketidak konsistenan Imam Eli sebenarnya dalam hal apa, Pak Paul ?
PG : Dia sendiri memang melakukannya dan dia sendiri itu loba dan sekarang anak-anaknya itu makin hari makin menjauh dari Tuhan dan barulah dia menegur. Tetapi awalnya dia sendiri yang memerkealkan dosa-dosa itu kepada anak-anaknya, sekarang setelah dia memerkenalkan kemudian dia menegur-negur anaknya dan kita juga tahu Pak Gunawan, Imam Eli itu baru mulai menegur setelah ditegur Tuhan.
Dengan kata lan, kalau Tuhan tidak menegur Imam Eli, maka Imam Eli pura-pura tuli dan pura-pura buta tidak mau mendengar dan melihat apa-apa, gara-gara Tuhan tegur Imam Eli maka barulah Imam Eli menegur anak-anaknya. Kita melihat sebuah teguran yang setengah hati atau separuh hati, yang tidak sungguh-sungguh serius.
GS : Tapi hal itu juga sering dilakukan oleh banyak orang tua pada saat ini yang mengatakan, "Kamu jangan mencontoh perbuatan saya, tapi dengarkan nasehat-nasehat saya." Dan seringkali ini justru bertentangan, Pak Paul ?
PG : Dan justru anak-anak tidak akan respek dan tidak akan menaati perintah orang tuanya sebab bagi mereka, "Engkau tidak punya hak untuk menyuruh aku, engkau tidak punya hak untuk memerintahka aku."
Jadi memang penting sekali hidup kita berintegritas.
GS : Mungkin masih ada pelajaran yang lain, Pak Paul ?
PG : Yang terakhir adalah dosa berkembang dari ringan ke berat dan bukan sebaliknya. Imam Eli memulai dengan sikap hati yang loba terhadap makanan dan anak-anaknya meneruskan dosa itu, dari kelbaan kepada pemaksaan dan perampokan milik orang dan milik Tuhan.
Pada akhirnya pun kita tahu bahwa anak-anak Imam Eli berzinah dengan para wanita yang melayani di depan pintu kemah pertemuan. Dosa tidak pernah berhenti, inilah sifat dasar dosa, Pak Gunawan. Dosa senantiasa berjalan menuju puncak dan berkembang dari ringan ke berat.
GS : Kalau kita tidak menyadari dosa yang kita lakukan atau yang dilakukan oleh anak-anak kita, memang kondisinya tambah lama bukan tambah baik tapi tambah buruk dan pengaruhnya luar biasa besarnya, bukan hanya pada keluarga inti kita tapi juga bisa menyebar kemana-mana, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Tadi kita sudah bahas bahwa dari keluarga yang saleh memancarlah berkat yang begitu besar, tapi juga dari keluarga yang tidak ikut kehendak Tuhan akan juga memancar masalah yng berkepanjangan pula.
GS : Pak Paul, dari kehidupan Imam Eli yang kita perbincangkan ini, kesimpulan apa yang ingin Pak Paul sampaikan kepada para pendengar kita ?
PG : Besar kemungkinan, Pak Gunawan, Imam Eli itu tidak pernah berniat untuk melecehkan Tuhan namun ia hanyalah tidak menghormati Tuhan, yaitu tidak menunjukkan usaha keras menegakkan kehormata Tuhan di keluarga dan pelayanannya.
Mungkin kita pun tidak berniat melecehkan Tuhan, sungguh pun demikian kegagalan kita menghormati Tuhan, sama dengan melecehkan Tuhan. Dengan Imam Eli tidak menegakkan kehormatan Tuhan, mendisiplin anak-anaknya, dia sudah melecehkan Tuhan. Jadi kita tidak harus menghujat Tuhan secara langsung, waktu kita gagal menegakkan kehormatan Tuhan, itu sudah sama dengan melecehkan Tuhan.
GS : Dan Tuhan tidak akan membiarkan diri-Nya dilecehkan oleh manusia,Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Pada akhirnya datangnya hukuman Tuhan yang begitu keras kepada keluarga Imam Eli.
GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengasihi Anak Lebih dari Tuhan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by TELAGA on Thu, 27/11/2008 - 2:51pm.
Abstrak:
Salah satu dari Sepuluh Hukum Tuhan adalah “Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu” (Keluaran 20:12). Sebenarnya apakah makna “hormat” di sini? Kita juga harus memahami batas hormat anak kepada orangtua, sebab perintah ini diberikan bukan tanpa batas. Sehingga kita pun bisa bertindak benar dalam menghormati orangtua kita
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Tanggung Jawab Anak kepada Orang Tua". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Kalau kita ada di dunia ini Pak Paul, tentu kita masing-masing memiliki orang tua, entah itu masih ada atau sudah meninggal, entah kita kenal atau pun tidak kita kenal dan pastilah ada yang melahirkan kita, ada orang tua kita. Ini sejauh mana Tuhan Allah melalui firman-Nya, memberikan arahan kepada kita sebagai anak bertanggung jawab kepada orang tuanya, Pak Paul.
PG : Saya kira ini adalah salah satu hal yang kadang-kadang disalah dimengerti oleh kita. Jadi ada orang yang terlalu ekstrem yang berkata bahwa setelah kita besar, kita tidak lagi harus bertangung jawab kepada orang tua.
Tapi ada yang kebalikannya, meskipun sudah berusia tapi kalau ingin mengambil keputusan harus konsultasi dengan orang tua sehingga tidak memiliki kemandirian. Jadinya kita mau kembali kepada firman Tuhan agar dapat memiliki pemahaman yang tepat tentang apa itu maksud tanggung jawab anak kepada orang tua. Kita tahu di firman Tuhan di kitab Keluaran 20:12 Tuhan berkata, "Hormatilah ayahmu dan Ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu." Perkataan hormatilah ayahmu dan ibumu, inilah yang saya kira mesti jelas jangan sampai keliru untuk menafsirnya. Sekurang-kurangnya ada 2 makna yang bisa saya tarik dari kata hormat. Hormat berarti bersikap santun dan patuh terhadap orang tua, dalam Hukum Taurat tertera perintah yang bahkan mengharuskan orang Israel menjatuhkan sangsi berat yaitu kematian kepada anak yang mengutuki orang tuanya. Di Imamat 20:9 tertera, "Apabila ada seseorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri." Jadi makna hormat yang pertama sudah tentu berarti tidak kurang ajar, harus bersikap santun kepada mereka dan kita diminta Tuhan untuk patuh kepada orang tua sebab kepatuhan kepada Tuhan harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimanakah kita patuh kepada Tuhan tapi kita sulit patuh kepada orang tua kita sendiri dan yang kelihatan kasat mata, yang kita ajak bicara. Kalau kita susah patuh kepada orang tua yang kasat mata, sudah tentu jauh lebih susah untuk kita patuh kepada Tuhan yang tidak kasat mata. Maka Tuhan memang menetapkan suatu hierarki di sini, yaitu bahwa seorang anak harus mematuhi orang tuanya.
GS : Dan saya rasa pengertian orang tua di sini bukan selalu dalam pengertian biologis, termasuk juga orang tua angkat kita yang membesarkan kita dan seterusnya, apakah seperti itu, Pak Paul ?
PG : Saya bisa simpulkan seperti itu, sebab di firman Tuhan pun, misalkan di Perjanjian Baru juga ditekankan bahwa kita harus mendengarkan apa yang diajarkan oleh pemuka rohani kita. Misalkan Than Yesus berkata, "Meskipun kamu tidak bisa mencontoh kehidupan orang Farisi tetapi apa yang mereka ajarkan, dengarkan, karena mereka duduk di kursi Musa."
Jadi memang Tuhan menekankan sekali kepatuhan kepada otoritas. Maka di kitab Roma pun Tuhan menekankan kepada kita, kita juga harus patuh kepada pemerintah karena Tuhan menunjuk pemerintah untuk juga mengatur kita di dunia ini. Jadi konsep kepatuhan atau keteraturan, ketertiban, itu adalah konsep yang penting di dalam iman kita. Maka Tuhan meminta kita melakukan hal yang sama dan dalam hal ini kita mulai dengan orang tua sendiri. Kalau tidak bisa patuh kepada orang tua sendiri maka akan susah patuh kepada orang lain.
GS : Kalau kaitannya dengan tanggung jawab, itu seperti apa, Pak Paul ?
PG : Kalau kita berkata kita menghormati orang tua namun kita ini masa bodoh kepada orang tua, tidak mau peduli dengan kehidupannya, saya kira itu kata-kata hormat yang kosong, yang tidak ada lgi makna di dalamnya.
Maka hormat juga harus berarti bertanggung jawab memelihara kelangsungan hidup orang tua, akan ada suatu saat orang tua itu tidak bisa lagi bekerja, tidak lagi kuat dan sehat, di saat itulah orang tua akan membutuhkan kita. Maka sebagai anak, kita juga harus memenuhi tanggung jawab kita untuk merawat mereka, memelihara kelangsungan hidup mereka. Di kitab Matius 15:3-6 tercatat dialog Tuhan Yesus dengan orang Farisi dan Tuhan menegur orang Farisi karena mereka mengajarkan sebuah doktrin, doktrinnya adalah seperti ini, kalau orang Israel memutuskan untuk mengesampingkan sebagian dari penghasilan mereka yang tadinya dipakai untuk merawat orang tua tapi mereka berkata, "Tidaklah, saya mau berikan saja kepada Tuhan." Seolah-olah ini adalah sesuatu yang indah yang rohani yaitu mereka tidak jadi memberikan kepada orang tua dan kemudian memberikannya kepada Tuhan. Tapi Tuhan melihat di belakang itu ternyata ada niat-niat jahat tertentu, rupanya ada orang-orang yang tidak mau peduli dengan orang tua, tidak mau memelihara orang tua namun dari pada dicap jelek tidak mau memberikan uang kepada orang tua, maka mereka kemudian mengatakan, "Ini adalah untuk persembahan, ini untuk Tuhan jadi uang ini tidak perlu diberikan kepada orang tua." Dan Tuhan marah, Tuhan menegur mereka bahwa mereka itu telah menyelewengkan firman Tuhan. Jadi di sini kita melihat bahwa kita tidak boleh tidak menghiraukan orang tua, keluarga dan yang penting semua untuk Tuhan. Orang yang seperti itu adalah orang yang salah mengerti apa yang Tuhan maksudkan di sini.
GS : Dalam hal menghormati orang tua, Tuhan Yesus juga meninggalkan suatu teladan yang nyata kepada para rasul dan kepada kita sekalian pada saat ini.
PG : Betul sekali. Sewaktu Tuhan di kayu salib dan sebelum menghembuskan nafas terakhir, di sana ada ibunya yaitu Maria dan ada juga murid yang dekat denganNya yaitu Yohanes. Dan Tuhan Yesus meihat kepada keduanya dan meminta Yohanes untuk memelihara ibuNya, bahkan dia berkata, "Inilah ibumu," dan kepada ibuNya Dia berkata, "Inilah anakmu."
Dan Tuhan mencatat bahwa setelah itu ibu Yesus rupanya tinggal bersama dengan Yohanes dan memang dari situ dapat diduga atau disimpulkan bahwa besar kemungkinan ayahNya yaitu Yusuf sudah tidak ada lagi, sudah meninggal dunia, maka mesti ada yang merawat dan mungkin sekali saat itu adik-adik Tuhan belum berkemampuan untuk bisa mencukupi keluarganya atau ibunya, maka Tuhan meminta Yohanes dan mungkin sekali Yohanes memang dari keluarga yang lebih berkemampuan sehingga bisa menolong ibu Yesus. Di sini Tuhan memberikan contoh, pada detik akhir sebelum Dia meninggalkan dunia, Dia memikirkan ibuNya. Jadi di sini kita bisa menarik sedikit kesimpulan yang memang tidak ada di Alkitab dan saya akui itu, bahwa kalau Tuhan Yesus meminta kepada Yohanes mulai dari saat ini untuk memelihara ibuNya maka besar kemungkinan setelah ayahNya meninggal dunia, yang memelihara ibuNya adalah Tuhan Yesus sendiri, besar kemungkinan Dia juga meneruskan pekerjaan atau juga Dia mendapatkan pemberian atau pertolongan dan itulah juga yang Dia sisihkan untuk ibuNya. Jadi hormat berarti memikirkan dan memelihara kelangsungan hidup orang tua kita di hari tua mereka.
GS : Dan itu bukan hanya dalam bentuk finansial, tapi juga menjaga keamanan dan kenyamanan orang tua di dalam memasuki masa tuanya.
PG : Betul sekali, sebab mereka makin tua makin memiliki keterbatasan, apa yang bisa kita lakukan untuk menolongnya, itulah yang kita coba untuk mengupayakan.
GS : Pak Paul, sejauh mana batasnya kita menghormati orang tua, apakah kita menghormati tanpa batas atau ada batasannya ?
PG : Saya kira kita harus jelas dengan batas-batasnya, karena kalau tidak untuk segi menghormati orang tua yaitu santun, patuh serta bertanggung jawab atas kelangsungan hidup mereka itu adalah alah satu yang harus kita lakukan tanpa ada batas sama sekali, dan ternyata ada pagar-pagar yang mesti kita juga perhatikan.
Ada beberapa dan yang pertama misalkan, saya ambil dari Matius 10:37 firman Tuhan berkata, "Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagiKu." Artinya kendati kita harus patuh kepada orang tua, namun kepatuhan kita tidak boleh melebihi kepatuhan kepada Tuhan sendiri. Bukankah kasih itu ditunjukkan lewat kepatuhan, melakukan apa yang diperintahkan yaitu yang Tuhan katakan, "Kalau kau mengasihiKu, lakukanlah perintah-perintahKu." Melakukan atau menaati tidak boleh menjadi sesuatu yang melebihi kepatuhan kita kepada Tuhan sendiri. Maka kalau orang tua kita memaksa kita untuk melakukan hal yang kita tahu itu salah, itu berdosa, kita tetap harus mengatakan tidak. Kalau orang tua kita memaksa untuk mengikuti kehendak mereka, yang kita tahu juga itu salah dan berdosa, kita harus berkata tidak kepada mereka. Nah mungkin sekali orang tua akan mengutip firman Tuhan, "Kamu tidak menghormati ayahmu dan ibumu, kamu tidak mematuhi orang tuamu, bukankah ini juga kehendak Tuhan." Dan kita juga harus berkata, kepatuhan kita mempunyai batas dan batasnya adalah kalau itu melanggar kehendak Tuhan. Sewaktu kita harus berada di persimpangan antara mematuhi orang tua dan mematuhi Tuhan, dan batasnya adalah dosa, tentu kita harus memilih mematuhi Tuhan.
GS : Memang dalam hal ini, khususnya orang tua yang belum percaya kepada Tuhan, akan melarang anaknya untuk beribadah, untuk memberikan persembahan dan sebagainya, apakah itu bisa terjadi Pak Paul ?
PG : Bisa. Jadi akan ada orang yang berkata, "Uang itu adalah untukmu dan tidak boleh untuk kamu persembahkan," memang itu adalah uang yang kita hasilkan tapi kalau itu adalah uang mereka maka asalahnya lain.
Tapi uang ini adalah uang yang kita cari sendiri, dan orang tua meminta kita untuk tidak memberikannya kepada Tuhan, maka kita bisa berkata, "Itu tidak benar" ada contoh-contoh lain lagi yang sering kali terjadi Pak Gunawan yaitu orang tua memaksa anak untuk menikah dengan orang yang tidak seiman, orang tua mengatakan, "Tidak apa-apa, silakan" tapi si anak akan berkata, "Tidak, ini bukan yang Tuhan kehendaki". Tidak apa-apa si anak mengatakan seperti itu dan seharusnyalah berkata tidak kepada orang tua. Ada kasus-kasus seperti ini Pak Gunawan, ada orang yang sudah berpacaran dan memang benar-benar ini adalah suatu relasi yang sehat dan keduanya cinta Tuhan tapi memang ada satu atau dua hal yang tidak sesuai dengan kehendak orang tua dan kehendak orang tua sama sekali sebetulnya tidak beralasan. Jadi saya mau berhati-hati di sini jangan sampai kalau kita berbeda pandang dengan orang tua soal jodoh maka kita tidak mau menghiraukan perkataan orang tua kita, bukan itu! Kita harus perhatikan yang orang tua katakan pula tapi kalau itu memang sudah melewati batas yang benar maka di saat itu kita juga harus mengambil tindakan atau keputusan yang harus mandiri, sebab kita tahu kita harus benar-benar menjalankan yang Tuhan kehendaki, yang orang tua lakukan adalah yang justru Tuhan tidak kehendaki, dan saat itu terjadi, di saat itulah kita juga harus berkata tidak kepada orang tua.
GS : Namun di dalam mengungkapkan ketidaksetujuan kita sebagai anak kepada orang tua, itu memang perlu diperhatikan juga aturannya, sopan santunnya supaya orang tua kita juga tidak tersinggung atau merasa dilecehkan, Pak Paul.
PG : Betul. Jadi kata-kata hormat itu harus tetap mengalir dalam setiap perkataan dan tindakan kita meskipun kita tidak setuju dengan orang tua, jangan kurang ajar sebab itu benar-benar melawanperintah Tuhan, "Hormatilah ayahmu dan ibumu."
Betul kita harus sampaikan, maka sampaikanlah dengan santun.
GS : Mungkin ada hal lain yang ingin Pak Paul sampaikan dalam bagian ini ?
PG : Matius 12:46-50 juga memuat sebuah kisah yaitu pada waktu Tuhan Yesus sedang mengajar, ibu dan saudara-saudaraNya datang mengunjungiNya dan orang-orang datang langsung dan seolah-olah memita orang yang mendengarkannya itu untuk memberi jalan mengutamakan ibu dan saudara-saudaraNya untuk bisa masuk ke tengah-tengah kerumunan mereka.
Jadi mereka berkata, "Saudara dan IbuMu datang" tapi Tuhan langsung menggunakan kesempatan itu untuk mengajarkan satu kebenaran yaitu bahwa yang terpenting adalah melakukan kehendak Bapa. Makanya Tuhan berkata, "Siapa ibu-Ku? dan siapa saudara-saudara-Ku, sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku, dialah ibu-Ku." Tuhan di sini menekankan suatu prinsip bahwa keluarga rohaniah lebih penting dari pada keluarga jasmaniah. Mungkin ini sedikit menggelitik sebagian kita yang terlalu mengagungkan keluarga jasmaniah kita sendiri, tidak ada yang boleh melebihi Tuhan. Jadi keluarga Tuhan, keluarga rohaniah tetap lebih penting dari pada keluarga jasmaniah. Bahwa orang yang menaati perintah Tuhan, itu adalah saudara kita. Meskipun dia saudara sedaging kita, kalau dia tidak menaati perintah Tuhan, sebetulnya dia menjadi orang yang jauh dari kita. Jadi kita diminta Tuhan untuk benar-benar mengutamakan keluarga Tuhan. Jadi kita juga mesti pahami sehingga kita tidak terlalu membabi buta mengutamakan keluarga sendiri.
GS : Dengan ini sebenarnya relasi anak dengan orang tua menjadi lebih luas bukan hanya pada yang melahirkan atau orang tua kandung atau orang tua angkat tapi di sini juga hubungan persekutuan di dalam Tuhan, dengan orang-orang yang lebih senior dari kita.
PG : Betul sekali. Jadi di sini kita pertama-tama dianugerahkan Tuhan sebuah keluarga baru, keluarga besar yaitu keluarga rohani bahwa kita sesungguhnya adalah saudara di dalam Tuhan, kita tida lagi terbatasi oleh keluarga kecil kita sekarang dan selain dari itu, Pak Gunawan, yang bisa kita simpulkan dari ayat ini adalah bahwa kita harus berdiri di atas kebenaran.
Maka menaati Tuhan menjadi yang terutama dan itu di atas dari ikatan keluarga jasmaniah kita. Implikasinya adalah kalau orang tua kita melakukan sebuah kesalahan, Tuhan justru menginginkan kita tidak membela yang salah, Tuhan justru menginginkan kita berdiri di atas yang benar dan kalau perlu kita mengoreksi dengan memberikan teguran kepada orang tua kita, asalkan sekali lagi disampaikan dengan cara yang santun sehingga kita tidak melanggar firman Tuhan yang meminta kita menghormati orang tua, tapi tetap yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Ini harus tetap di atas dari ikatan jasmaniah kita sebagai anak kepada orang tua. Jadi memang firman Tuhan sangat jelas mengatakan, "siapakah ibu-Ku, siapakah saudara-saudara-Ku, siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga dialah saudara-Ku, dialah ibu-Ku." Jadi inilah yang harus terutama dari ikatan saudara atau ikatan orang tua anak dan yang lainnya tunduk di bawahnya.
GS : Memang agak sulit Pak Paul, orang tua sering berkata, "Saya yang melahirkan kamu dan saya yang membesarkan kamu." Itu yang menjadi alasan, jadi harus patuh kepada orang tua sampai sejauh itu.
PG : Betul. Jadi kadang-kadang tidak mudah untuk kita menyampaikan teguran kepada orang tua. Tapi memang harus, kalau memang salah. Misalkan ada kasus-kasus dimana si ayah akhirnya berselingkuhmempunyai istri yang lain dan sebagainya, tidak apa-apa anak menegur orang tua yang salah itu.
Atau ada ibu yang memang juga selalu menceritakan kejelekan si ayah ke mana-mana, tidak apa-apa bagi si ayah untuk menegur si ibu bahwa itu tindakan yang salah. Jadi kita tetap harus berdiri di atas kebenaran dan kita harus melampaui ikatan persaudaraan sendiri.
GS : Dalam ikatan rangkaian membicarakan tanggung jawab anak kepada orang tua ini, apakah ada hal lain yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Tanggung jawab kepada orang tua itu sebetulnya pada akhirnya lebih bersifat fisik dari pada emosional. Maksud saya adalah anak berkewajiban memelihara kelangsungan hidup orang tua di masa rang tua tidak lagi dapat memenuhi kebutuhannya, namun anak tidak berkewajiban membuat orang tua senang secara membabi buta.
Menyenangkan orang tua mempunyai batasnya, firman Tuhan berkata, "Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya berkata kepada-Nya yaitu kepada Tuhan Yesus, 'Tuhan, izinkanlah aku pergi terlebih dahulu menguburkan ayahku'. Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka," di Matius 8:21-22. Sekilas perkataan ini tampaknya kejam tapi sebetulnya di sini ada satu pengertian yang harus kita timba yaitu pertama-tama Tuhan bukannya kejam, tidak memperbolehkan muridNya merawat orang tuanya. Kalau itu yang terjadi, berarti itu bertentangan dengan yang telah kita bahas tadi sebelumnya. Yang Tuhan inginkan adalah orang ini benar-benar fokus pada menyenangkan hati Tuhan. Jadi perkataan menguburkan, itu bukan berarti orang tuanya sedang sekarat dan harus ditunggui, sebab sebentar lagi akan meninggal dunia dan harus dikuburkan. Bukan itu! Perkataan menguburkan di sana lebih mempunyai arti bahwa saya ingin menemani orang tua saya, menyenangkan hatinya sampai nanti dia tua dan mati. Tidak! Menyenangkan hati orang tua tetap harus tunduk pada menyenangkan hati Tuhan, menyenangkan hati Tuhan itu yang terutama. Maka sekali lagi saya harus ingatkan bahwa tanggung jawab kita sudah tentu harus ada menyenangkan hati orang tua, mematuhinya tapi ada batasnya, tidak boleh melebihi tindakan menyenangkan hati Tuhan.
GS : Memang ada orang tua yang ingin mendapat perhatian lebih, bahkan dikatakan sampai mati pun, dia masih mengharapkan anak-anaknya menghormati dia.
PG : Walaupun pada faktanya setelah dia mati pun, dia tidak tahu apa-apa yang terjadi. Jadi memang selama hiduplah kita seyogianya menyenangkan dan memperhatikan orang tua kita. Tapi sekali lag saya harus memperingatkan bahwa ada batasnya.
Menyenangkan hati orang tua tidak boleh membabi buta, tidak boleh menyenangkan dalam hal yang salah, tidak! Mesti ada batasnya. Kita bertanggung jawab pertama dan terutama kepada Tuhan, kalau menyenangkan orang tua membabi buta, malah menyuburkan yang salah itu berarti kita ambil bagian dalam hal yang salah.
GS : Bagaimana kalau seorang anak itu sudah menikah. Apakah dia terbebas atau sudah tidak perlu lagi menghormati orang tua ?
PG : Setelah kita menikah, kita sudah tentu harus mengutamakan keluarga sendiri tanpa harus melepaskan tanggung jawab kita sebagai anak kepada orang tua. Artinya meskipun kita sudah menikah, kia juga mempunyai tanggung jawab memelihara kelangsungan hidup orang tua kita.
Namun sekali lagi harus ada perbedaannya, sebelum dan sesudah menikah. Kita tidak bisa, kalau sewaktu-waktu orang tua memanggil kita harus datang dan tidak memedulikan keluarga yang membutuhkan sesuatu, yang penting kita utamakan orang tua dulu, itu salah! Mesti ada perbedaan, dimana tanggung jawab kita yang pertama sekarang adalah kepada pasangan dan anak-anak kita, sebab Tuhan memang memberikan mereka kepada kita untuk kita mengurus dan bertanggung jawab atasnya. Orang tua memang tetap harus kita perhatikan tapi sekarang menempati urutan kedua. Kalau tidak ada perbedaan, nantinya akan merusakkan relasi kita sendiri di dalam keluarga kita.
GS : Untuk dijadikan nomor dua, kadang-kadang tidak semua orang tua bersedia. Yang tadinya sudah menempati nomor satu, tapi sekarang menjadi nomor dua.
PG : Adakalanya itu terjadi, Pak Gunawan. Terutama di dalam kasus di mana si ayah meninggal di usia muda, ibu yang harus membesarkan anak sendirian, kepatuhan anak kepada si ibu itu menjadi begtu besar terlebih besar dari yang seharusnya.
Atau memang ayah tetap ada, tapi si ayah itu bermasalah sekali sehingga anak harus bersama dengan ibu, bersama-sama saling mendukung dalam ketertekanan di tangan si ayah. Seringkali hubungan seperti itu berlanjut sampai setelah menikah. Meskipun susah tapi tetap kita harus membedakan, kita harus mengutamakan keluarga kita sendiri, tapi dalam prakteknya sudah tentu ini harus dilakukan dengan bijak, jangan sampai si ibu kaget, setelah menikah semua berubah, dan nanti yang akan disalahkan adalah menantunya. Jadi hubungan menantu dan mertua menjadi rusak dan yang menderita pun si anak. Jadi si menantu atau si istri misalkan di sini dituntut untuk mengerti perlahan-lahan jangan terburu-buru, harus mengutamakan keluarga sendiri karena itu nantinya juga bisa berdampak buruk.
GS : Memang dalam hal ini dukungan pasangan, baik suami maupun istri sangat besar, Pak Paul, kalau mereka justru menjadi penghalang agar pasangannya tetap menghormati orang tuanya, itu akan lebih mempersulit.
PG : Seringkali seperti itu. Jadi dibutuhkan sekali pengertian di sini, tapi sekali lagi saya ingatkan yang firman Tuhan sudah mengatakannya di Kejadian 2:24, "Sebab itu seorang laki-laki akanmeninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging."
Ini jelas memang menekankan kepada si laki-laki, sebab ada kecenderungan anak laki-laki nantinya bertanggung jawab atas orang tua, jadi saya kira firman Tuhan dengan sengaja mencantumkan laki-laki dan bukan istri yang meninggalkan orang tua karena memang kecenderungannya terjepit di tengah antara menyenangkan orang tua dan juga istri. Tapi Tuhan menginginkan ada perbedaan.
GS : Pak Paul, memang dalam hal ini, menghormati orang tua harus ada timbal balik, anak harus menghormati orang tua tapi orang tua pun harus layak untuk dihormati. Kadang-kadang orang tua karena tindakannya sendiri, sehingga anak menjadi enggan menghormati orang tua.
PG : Seringkali kita mempunyai konsep, dengan bertambahnya usia maka makin harus bertambahlah kemudahan-kemudahan, penghormatan-penghormatan dan sebagainya. Ini semua bergantung pula pada bagaianakah kita hidup apakah kita ini memang orang yang layak dihormati dan itu juga yang harus kita perhatikan, tidak ada yang gratis dan kita juga harus berbuat hal-hal yang baik yang menunjukkan pengertian kita kepada anak dan menantu, barulah nanti hubungan ini menjadi baik dan timbal balik.
GS : Dan kalau kita tetap menghormati orang tua setelah kita menikah bahkan setelah kita punya anak, ini menjadi teladan yang baik yang bisa dicontoh oleh anak tentang bagaimana nantinya mereka bersikap kepada kita, Pak Paul.
PG : Tepat sekali Pak Gunawan. Jadi benar-benar di sini kita melihat tidak ada yang salah dengan menaati Tuhan, kalau Tuhan sudah perintahkan seperti itu sudah pasti untuk kebaikan, kalau kita enghormati orang tua, anak pun melihat dan nanti di hari tua kita pun akan menerima penghormatan yang sama dari anak kita.
Sebetulnya seperti itulah yang dikehendaki Tuhan.
GS : Dan sebaliknya kalau kita kurang hormat kepada orang tua, kita pun akan kesulitan mendidik anak-anak untuk bisa menghormati kita sebenarnya.
PG : Dan di sana kita bisa melihat berlakunya prinsip tebar dan tuai, apa yang kita tanam atau tebar nantinya kita akan tuai, kalau kita tidak hormat kepada orang tua, besar kemungkinan anak-ank pun akan bersikap sama kepada kita.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Tanggung Jawab Anak kepada Orang Tua." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu dari Sepuluh Hukum Tuhan adalah "Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu" (Keluaran 20:12). Sebenarnya apakah makna "hormat" di sini?
Hormat berarti bersikap santun dan patuh terhadap orangtua. Di dalam hukum Taurat tertera perintah yang mengharuskan orang Israel untuk menjatuhkan sanksi berat-kematian-kepada anak yang mengutuki orangtuanya, "Apabila ada seseorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri" (Imamat 20:9).
Hormat berarti bertanggung jawab memelihara kelangsungan hidup orangtua. Tuhan Yesus menegur orang Yahudi yang menyelewengkan perintah Tuhan akan persembahan atas dasar ketidakrelaan memenuhi kebutuhan orangtua (Matius 15:3-6). Juga, sebelum Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia meminta Yohanes untuk memelihara Maria, ibu-Nya (Yohanes 19:26-27). Semua ini memperlihatkan bahwa Tuhan menginginkan kita untuk bertanggung jawab memelihara kelangsungan hidup orangtua kita.
Namun kita juga harus memahami batas hormat kepada orangtua sebab perintah ini diberikan bukan tanpa batas.
Kendati kita harus patuh kepada orangtua namun kepatuhan kita tidak boleh melebihi kepatuhan kepada Tuhan sendiri. Firman Tuhan mengingatkan, "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku . . ." (Matius 10:37).
Walaupun keluarga jasmaniah adalah penting namun bagi Tuhan terpenting adalah keluarga rohaniah. Pada waktu Tuhan tengah mengajar, ibu dan saudara Tuhan Yesus datang mengunjungi-Nya. Tuhan menegaskan, "Siapakah ibu-Ku dan siapakah saudara-saudara-Ku? . . . Sebab siapa pun yang melakukan kehendak bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku . . . dialah ibu-Ku" (Matius 12:46-50).
Tanggung jawab kepada orangtua lebih bersifat fisik ketimbang emosional. Anak berkewajiban memelihara kelangsungan hidup orangtua di masa orangtua tidak lagi dapat memenuhi kebutuhannya. Namun anak tidak berkewajiban membuat orangtua senang secara membabi buta; menyenangkan orangtua mempunyai batasnya. Firman Tuhan mencatat, "Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya berkata kepada-Nya, 'Tuhan, izinkanlah aku pergi terlebih dahulu menguburkan ayahku.' Tetapi Yesus berkata kepadanya, 'Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka' " (Matius 8:21-22).
Setelah kita menikah, kita harus mengutamakan keluarga sendiri tanpa harus melepaskan tanggung jawab kita sebagai anak kepada orangtua. Itu sebabnya Tuhan berfirman, "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" (Kejadian 2:24). Harus ada sebuah tindak pemisahan dan prioritas sehingga keluarga yang baru dapat berdiri dengan mandiri.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 09/10/2008 - 12:03pm.
Abstrak:
Anak tidak lahir ke dalam dunia dengan keinginan dan kerelaan menolong; sebaliknya, anak lahir ke dalam dunia dengan keinginan untuk tidak harus bersusah payah melakukan sesuatu bagi orang lain. Keluarga adalah tempat di mana anak menerima didikan agar bisa memiliki keinginan dan kerelaan menolong sesama, dan semua itu dimulai dengan menolong kakak dan adiknya. Ada beberapa masukan untuk menumbuhkan sifat saling tolong pada anak.
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Menumbuhkan Saling Tolong Pada Anak". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Sebagai anak yang dilahirkan di dalam keluarga artinya ada beberapa anak lagi, sifat saling tolong ini apakah tidak secara otomatis akan timbul di dalam diri anak-anak, Pak Paul?
PG : Sebetulnya ini tidak akan timbul secara alamiah, Pak Gunawan, karena pada dasarnya kita sebagai manusia tidak ingin disusahkan, waktu kita menolong orang itu berarti kita sedang disusahkandan kodrat awal kita adalah kita tidak mau disusahkan justru kita mau orang lainlah yang akan menolong kita kalau kita mengalami kesusahan.
Dengan kata lain, kalau kita ingin melihat anak-anak kita mengembangkan sikap saling tolong, kita harus menanamkannya di rumah, kalau kita mau anak-anak kita setelah dewasa dapat saling tolong di luar rumah dengan orang lain, maka sikap saling tolong ini harus diawali di rumah, kalau di rumah hal itu tidak terjadi maka lebih kecil kemungkinannya ini akan terjadi di luar.
GS : Hal itu bisa ditumbuh kembangkan pada diri anak itu sejak usia berapa, Pak Paul?
PG : Memang harus kita awali sejak kecil pada waktu misalnya anak sudah bisa berjalan, sudah bisa mulai mengambil barang. Jadi kita bisa mulai terlebih dahulu antara kita dan dia, misalkan dia erumur 3 tahun, "Tolong ambilkan sendok Mama perlu sendok, tolong ambilkan kain, Mama perlu kain."
Hal-hal kecil seperti itu mulai ditanamkan sejak anak berusia kecil sehingga akhirnya anak dapat mengembangkan sikap saling tolong ini. Orang tua tidak bisa beranggapan bahwa, "Pastilah anak nanti dengan sendirinya mengembangkan sikap ini" dan menunggu-nunggu kapan sikap saling tolong ini muncul dalam diri si anak, itu tidak akan terjadi! Karena orang tua tidak menanamkannya dari awal. Akan ada pergumulan, maksudnya tidak selalu waktu orang tua meminta sesuatu kepada anak, anak akan bersedia melakukannya. Apalagi kalau kita minta si anak menolong kakak atau adiknya, belum tentu dia akan siap, dia mungkin akan melawan. Adakalanya dari awal orang tua mesti memaksakan, sekali lagi kita mesti berasumsi bahwa sikap saling tolong ini tidak mesti ada dalam diri si anak dan kita harus menanamkannya dan kadang harus menanamkannya dengan paksaan supaya perlahan-lahan si anak mulai terbiasa untuk melakukannya dan karena terbiasa maka perlahan-lahan kebiasaan itu akan menjadi bagian dari karakternya.
GS : Jadi apa yang harus dilakukan oleh orang tua, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa yang orang tua perlu lakukan, yang pertama misalnya kita menekankan pada aspek saling yaitu saling tolong. "Saling" artinya bergantian melakukan sesuatu yang bermanfaat kepad satu sama lain.
Jadi kita mau anak-anak itu secara bergantian, secara bergiliran menolong kakak atau adiknya. Sekarang misalkan kita berkata kepada si adik, "Kamu yang tolong kakakmu nanti kakak bisa tolong kamu," atau kita berkata kepada kakaknya "Kamu sekarang tolong adikmu nanti adik juga bisa tolong kamu," memang dalam tahap ini saling tolong lebih merupakan transaksi jual beli yaitu melakukan sesuatu dengan pengharapan bahwa suatu hari kelak akan ada imbalan yang sepadan. Dan biasanya anak akan menagih imbalan itu dan orang tua mesti memastikan bahwa imbalan itu diberikan kepada kakak atau adiknya. Pada tahap ini perlu adanya kekonsistenan bahwa imbalan akan diberikan sebab jika tidak, semangat saling tolong ini cepat pudar. Jadi penting adanya kekonsistenan memberi dan menerima sebab ini adalah dasar keadilan dan kepatutan. Dan anak yang tidak memahami hal ini pada akhirnya akan mengalami kesulitan pada pergaulan, ia hanya tahu meminta namun tidak tahu memberi.
GS : Ada anak yang mau menolong tapi ketika ditolong oleh saudaranya dia menolak karena dia merasa bisa melakukan sendiri.
PG : Sudah tentu kita akan meminta agar si adik misalnya memberi pertolongan kepada si kakak, memang untuk hal-hal yang dia perlukan, pada awalnya akan susah sekali memberikan atau meminta si kkak untuk mengizinkan si adik menolongnya karena dia memang tidak perlu, kalau dia tidak perlu kenapa dia harus meminta tolong.
Memang ada benarnya, sehingga kita mesti carikan dimana si adik bisa menolong si kakak, dalam hal si kakak memang perlukan itu. Jadi jeli-jelilah melihat hal kecil itu, misalkan si kakak sedang mandi kemudian minta tolong kepada kita, "Ma, tolong ambilkan handuk," kemudian kita berkata kepada si adik, "Tolong ambilkan handuk buat kakakmu," atau kita bisa berkata, "Mama sedang repot di dapur, coba tolong panggil adikmu, minta ambilkan handuk itu", jadi kita alihkan kepada si adik yang mengambilkannya untuk si kakak. Sekali lagi dalam tahap ini Pak Gunawan, pada saat usia anak-anak masih lebih kecil, memang aspek "saling" yang kita tekankan bahwa kalau kamu menolong nanti kamu akan mendapatkan imbalannya atau pertolongan juga. Jadi motivasinya memang motivasi keadilan, motivasi adanya imbalan tapi sekali lagi ini bukan sesuatu yang buruk karena inilah hidup dalam dunia. Kita termotivasi melakukan sesuatu karena adanya imbalan dan konsep ini pun akhirnya kita terapkan atau tanamkan kepada anak yang kecil ini sebelum akhirnya nantinya dia akan mengembangkan sikap saling tolong yang lebih murni yang keluar dari dirinya tanpa imbalan sama sekali.
GS : Seringkali ini tidak bisa seimbang, biasanya justru yang kakak memberikan pertolongan dengan jumlah yang lebih banyak dari pada dia menerima pertolongan dari adiknya, Pak Paul.
PG : Seringkali itu yang terjadi karena si kakak memang lebih bisa dan lebih besar sehingga lebih mampu melakukan banyak hal bagi si adik. Di sini orang tua juga mesti berhati-hati, Pak Gunawan kadang-kadang orang tua beranggapan "Kamu adalah kakak jadi seharunya kamu mengalah," atau "Kamu adalah kakak jadi kamu harus memberi lebih lagi kepada adikmu."
Konsep ini mesti dijaga, perlakuan ini mesti diwaspadai karena nantinya si kakak itu akan cepat merasakan ketidak adilan "Kenapa saya saja" dan efeknya adalah si kakak akan merasa Papa atau Mama hanya sayang kepada si adik dan si adiklah yang terus-menerus mendapatkan kemudahan dan keuntungan, dan saya yang harus terus-menerus menyuplai keuntungan buat si adik, ini tidak sehat buat si anak. Jadi sekali-kali si anak perlu meminta si adik melakukan atau memberikan sesuatu kepada kakaknya, dengan cara ini si kakak akan melihat bahwa hal ini adil. Sudah tentu yang Pak Gunawan bicarakan tadi betul, misalkan si kakak melakukan 10 hal buat di adik dan si adik mungkin hanya melakukan 5 hal, tapi tetap kalau hal itu dilakukan oleh si adik meskipun tidak sebanyak si kakak, rasanya keadilan itu masih ada dan si kakak tetap bisa melihat masih ada keadilan dan bahwa si adik berbuat sesuatu untuk dia dan ini yang perlu dilihatnya.
GS : Baik juga ditekankan kepada anak-anak ini sebagai saudara bahwa mereka ini menolong dan ditolong, ini wujud dari mereka saling mengasihi.
PG : Betul sekali. Jadi pada akhirnya kita akan mulai mau mengaitkan dan menolong dengan mengasihi artinya menolong adalah bukti mengasihi. Sekali lagi pada saat itu anak belum bisa memahami kosep mengasihi.
Jadi yang kita tekankan awalnya adalah tindakan-tindakan konkret seperti menolong dan perlahan-lahan barulah kita kaitkan "Kamu tolong kakakmu sebab kamu sayang kepada kakak. Kamu menolong adik karena kamu sayang kepada adik." Perlahan-lahan si anak barulah membangun sebuah keterkaitan, sebuah definisi, "Mengasihi itu berarti menolong, menolong artinya mengasihi". Nantinya waktu mereka merasa mengasihi maka dia akan lebih terdorong untuk menolong kakak atau adiknya.
GS : Berarti kalau anak-anak ini lebih besar mungkin sekitar 6 atau 7 tahun, pola ini juga harus ada perubahan, Pak Paul?
PG : Pada usia 6 atau 7 tahun orang tua memang mesti meminta anak melakukan sesuatu untuk kakak atau adiknya dengan imbalan yang berasal dari orang tua bukan dari kakak atau adiknya. Dari awal aya sudah katakan, kita beritahu si adik, "Kamu nanti ditolong oleh kakak atau mendapatkan imbalan dari kakak."
Setelah anak mulai berusia 7 tahun, 8 tahun kita mulai mau mengalihkan imbalan tersebut dari si kakak atau si adik kepada kita orang tua dengan kata lain kita mau anak-anak belajar untuk tidak menuntut imbalan dari orang yang ditolongnya tapi tetap mendapatkan imbalan, namun bukan dari pihak yang bersangkutan yang baru saja ditolongnya. Ini perlu kita tanamkan kepada anak supaya pada akhirnya dia bisa dan bersedia menolong tanpa iming-iming imbalan, misalkan yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah orang tua memberikan pujian sebagai pengganti imbalan yang seharusnya diberikan kakak atau adiknya. Sewaktu dia melakukan sesuatu buat kakaknya maka kita puji, waktu si kakak berbuat sesuatu buak adiknya maka kita puji. Itulah imbalannya dan kita tidak lagi berkata, "Nanti kakak akan berikan lagi kepadamu, nanti adik akan berbuat ini kepadamu," itu tidak lagi dilakukan, perlahan-lahan kita akan berikan imbalan dari diri kita dan imbalan dari kita yang kita buat adalah pujian-pujian kepada anak.
GS : Apakah itu tidak membingungkan anak, Pak Paul, dia menolong kepada kakaknya tapi kenapa bukan kakaknya yang mengucapkan terima kasih.
PG : Sudah tentu nanti kita memuji tapi si kakak atau si adik yang menerima pertolongan harus tetap mengucapkan kata-kata terima kasih. Terima kasih itu sendiri sebetulnya sudah merupakan imbaln, namun dulu imbalan itu disertai dengan sebuah bentuk konkret, sesuatu yang bisa diterima oleh orang yang menolong atau oleh saudara yang menolong.
Sekarang memang tidak ada lagi perbuatan atau barang tersebut dan hanya terimakasih, namun disusul oleh pujian dari orang tua kepadanya.
GS : Seringkali imbalan itu tidak bisa diterima langsung, ada yang beberapa hari kemudian barulah mengucapkan terima kasih, dan anak merasa bahwa waktunya itu lama sekali, tidak ada ucapan terima kasih sehingga menjadi menunggu-nunggu.
PG : Itu sebabnya perlu sekali orang tua menyuruh anak yang menerima pertolongan untuk segera berterima kasih. Pak Gunawan memang tadi mengangkat isu yang sering terjadi adalah anak-anak mempunai keangkuhannya, ada gengsinya sehingga sengaja tidak mengucapkan terima kasih sebab dia merasa nanti saya berhutang kepadamu, nanti saya harus berbuat kepadamu.
Itulah justru penting bagi orang tua untuk mulai menghilangkan imbalan tersebut dan mulai menggantinya dengan imbalan yang berasal dari orang tua yaitu pujian. Sehingga waktu si kakak menerima bantuan dari adiknya, maka dia akan lebih mudah mengucapkan terima kasih sebab dia tahu nantinya dia tidak akan berbuat sesuatu kepada si adik, dia tidak harus membayarnya. Adakalanya dia tidak mau mengucapkan terima kasih sebab terima kasih merupakan pengakuan saya telah menerima sesuatu dan itu sebuah kontrak atau janji saya harus berbuat sesuatu kembali untukmu dan ini adalah hal-hal yang kita mau mulai cairkan atau hilangkan, sehingga akhirnya dua-dua mulai berbuat baik atau menolong satu sama lain tanpa lagi mengharapkan imbalan.
GS : Bagaimana kalau anak ini sudah semakin besar Pak Paul, jadi bukan hanya 6 atau 7 tahun tapi 8 sampai 10 tahun dan itu bagaimana ?
PG : Misalkan anak-anak sudah mulai besar, orang tua mulai harus mengajak anak melihat aspek kebutuhan, kebutuhan yang sedang dirasakan oleh kakak atau adiknya. Dengan kata lain waktu anak-anakberusia 8 atau 10 tahun kita mau agar mereka mulai mengembangkan empati, rasa belas kasihan yang nantinya akan mendorong dia untuk menolong saudaranya.
Bukankah pada akhirnya inilah yang seharusnya mendorong kita untuk menolong sesama yaitu kita melihat kebutuhan. Kenapa di usia 8 atau 9 tahun dan tidak sebelumnya, karena pada usia-usia kecil, anak-anak masih sulit menempatkan diri pada posisi orang lain atau melihat sesuatu dari kacamata orang lain. Itu sebabnya bagi si anak untuk mengerti adanya kebutuhan pada diri kakak atau adiknya itu susah karena dia belum bisa keluar dari dirinya, masuk ke dalam diri kakaknya dan merasakan kebutuhan seperti yang dirasakan kakaknya. Dengan adanya perkembangan kognitif pada usia 8 atau 9 tahun, anak akan lebih mampu melihat dari kacamata kakaknya dan berempati merasakan dari perasaan kakaknya. Karena dia sudah mampu merasakan apa yang dirasakan kakaknya berarti dia juga mampu melihat kebutuhan yang dimiliki oleh kakaknya, disinilah kita mendorong anak untuk melakukan sesuatu dengan kata-kata misalnya, "Kamu tolong, bantu kakakmu, kasihan dia, dia lelah sekali setelah belajar dari pagi sampai sekarang. Tolong sekarang kamu yang bereskan mainan, tolong bereskan supaya kakak nanti tidak membereskan mainan karena dia sudah lelah sekali. Coba lihat kakak, lelah atau tidak ? Lelah 'kan! Jadi tolong bereskan mainan buat kakak." Hal-hal seperti itu kita coba tanamkan pada anak sehingga anak akhirnya nanti dengan lebih alamiah akan lebih bisa melihat kebutuhan dan waktu melihat kebutuhan, terdoronglah keinginan untuk menolong yang membutuhkan itu.
GS : Ada anak yang punya perjanjian dengan saudara-saudaranya, "Yang butuh atau yang memerlukan bantuan itu yang harus bicara, kalau tidak bicara maka tidak akan dibantu," dan itu bagaimana mengatasinya, Pak Paul?
PG : Ini tidak selalu buruk, Pak Gunawan, memang bagi anak yang memerlukan kebutuhan, bicara memang sesuatu yang baik sehingga dia tidak menyimpan semua, mencoba menyelesaikan semua, dia juga brusaha menyediakan hati untuk meminta pertolongan dari pihak lain, ini sesuatu yang baik untuk anak lakukan.
Jadi anak-anak itu perlu didorong dengan arti yang pertama dapat mengenali kebutuhannya dan yang kedua adalah meminta pertolongan agar kebutuhannya bisa dipenuhi oleh kakak atau adiknya. Jadi kita lihat dia memiliki kebutuhan, dia sudah lelah dan sebagainya dan mainannya belum dia bereskan, kita bisa tanya kepada dia, "Kamu lelah ya ?" kemudian dia berkata "Iya." Dia belajar mengenali kebutuhannya. Kemudian kita tanya yang kedua, "Mainan itu masih banyak yang belum dibereskan, apakah kamu sanggup untuk mengerjakan itu, mau tidak meminta pertolongan adikmu saja untuk membereskan mainan itu." Kemudian misalkan dia berkata, "Tidak, tidak perlu," kemudian kita berkata lagi, "Coba kamu pikir lagi, kamu tampaknya lelah, minta tolong adikmu saja supaya nanti dia bisa bereskan," kemudian dia berkata "Terserah Mama," kemudian kita berkata, "Baik kalau begitu saya akan panggilkan adikmu, dan nanti kamu bilang kepada adikmu untuk memintanya membereskan mainanmu karena kamu sedang lelah, itu saja." Kita panggil adiknya dan meminta si kakak mengungkapkan kepada si adik. Ini ada baiknya sehingga nantinya si adik itu bisa belajar melakukan hal yang sama kalau dia punya kebutuhan, dia juga nanti bisa mengutarakannya sehingga orang lain tahu apa yang dibutuhkannya. Di pihak lain Pak Gunawan, kita tetap juga harus menanamkan kepada si anak adalah bahwa kalau pun kakakmu tidak meminta dan kamu melihat dia punya kebutuhan maka coba kamu tawarkan bantuanmu, misalkan tanya saja, "Kak, apakah kamu perlu bantuanku untuk bereskan mainan." Jadi mengajak si anak ini berinisiatif dan tidak menunggu sampai dimintai tolong baru melakukan sesuatu. Jadi waktu dia melihat ada kebutuhan dia terdorong berinisiatif menawarkan bantuan dan ini sesuatu yang bisa kita ajarkan kepada anak.
GS : Ada anak yang tidak mau meminta tolong kepada saudaranya, karena ketika saudaranya menolong dia, bukan justru pertolongan yang dia dapat melainkan malah mengacaukan atau merusakkan. Si penolong ini merasa, "Saya bisanya menolong ya seperti ini," dan orang tua biasanya kesulitan.
PG : Kalau kita tahu pertolongan yang dia berikan itu tidak akan sempurna malah bisa mengacaukan, ada baiknya orang tua terlibat, turut menolong sehingga meskipun si adik tidak benar membereska mainannya dan dengan adanya si ibu atau si ayah nanti mainan itu akan lebih beres, sebab yang penting di sini adalah bukan kwalitasnya tapi tindakan itu sendiri yang keluar dari hati untuk berbuat sesuatu, untuk menolong kakaknya atau adiknya.
Jadi ini yang penting dari pada hasilnya, untuk menolong supaya hasilnya bisa lebih baik, tidak ada salahnya orang tua terlibat membantu sehingga nanti yang tadinya itu butuh pertolongan akan senang melihat bahwa benar-benar ditolong dengan baik.
GS : Ada keluarga yang mencoba mengaplikasikan saling tolong ini dengan mengajak anak-anak mereka menolong orang tuanya lebih dulu, Pak Paul.
PG : Biasanya kita mengawali dengan hal itu dulu, Pak Gunawan. Jadi saling tolong itu dimulai dari anak dengan orang tua, orang tua dan anak. Kalau ini sudah bisa terjalin barulah nanti dipindakan dari anak ke sesama anak.
GS : Dan makin anak itu berkembang, rupanya kalau tidak terbiasa sejak kecil maka makin besar akan makin sulit untuk bisa saling tolong.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Sikap atau sifat saling tolong ini mesti dipupuk sejak kecil. Kalau sudah berumur 17 tahun kemudian barulah kita mau mengajarkan sikap saling tolong memang masihbisa karena manusia masih bisa berubah, tapi hal itu akan sulit sekali karena gaya hidupnya sudah terbentuk, egonya sudah terbentuk sehingga dia tidak mudah untuk menyusahkan diri menolong orang lain.
Atau ada yang tidak terbiasa meminta tolong karena ada rasa gengsi dan ini semua sudah mengkristal, sehingga untuk mengubahnya di usia yang lebih besar jauh lebih sulit. Maka tadi di awal percakapan, kita sudah membahas bahwa kita memulai ini sejak anak-anak kecil, meminta tolong kepada anak mengambilkan sesuatu dan sebagainya maka lama-lama kita juruskan ini kepada sesama anak sehingga mereka bisa saling tolong.
GS : Masalahnya Pak Paul, ada keluhan orang tua yang mengatakan kalau dimintai tolong temannya dia rajin membantu tapi kalau saudaranya yang meminta tolong dia tidak mau membantu dengan baik.
PG : Memang bisa jadi ada beberapa penyebabnya, Pak Gunawan. Misalnya dia merasa di rumah dia tidak diperlakukan dengan benar, dia selalu dimanfaatkan. Jadi pada akhirnya dia tidak suka memberian pertolongan kepada kakak atau adiknya yang misalnya memanfaatkan dia atau memusuhi dia sedangkan di sekolah dia lebih diterima, dihargai dan otomatis dia akhirnya akan lebih sering melakukan saling tolong itu di luar rumah.
Ini pentingnya orang tua melihat dan mengawasi hal seperti ini di rumah, supaya orang tua bisa bertindak kalau orang tua melihatnya. Misalkan orang tua tanya kepada si anak, "Kamu tadi tidak mau menolong adikmu yang meminta tolong," kemudian si kakak berkata, "Karena sekali saya tolong dia, dia sengaja suka menyuruh saya lagi sehingga saya yang harus terus mengerjakan, kalau saya tidak mau mengerjakan dia marah dia tidak mau main dengan saya, saya tidak suka menolong dia. Di luar di sekolah saya suka sama teman-teman, mereka semua baik-baik kalau misalkan saya minta tolong mereka bersedia menolong dan mereka tidak memanfaatkan saya." Kalau orang tua mulai mendengar hal-hal seperti ini, maka orang tua harus turun tangan mulai menengahi dan waktu melihat si adik mulai seperti itu, orang tua mesti lebih tegas untuk menegurnya atau memberi tahu dia, "Kenapa kamu seperti ini, kakakmu sudah menolongmu kenapa sikap kamu seperti ini. Kalau kamu bisa kerjakan hal ini, jangan sengaja menyuruh kakakmu mengerjakannya, itu namanya memanfaatkan." Kita meminta tolong kalau kita memang punya kebutuhan, kamu tidak punya kebutuhan kamu hanya ingin supaya ada orang yang mengerjakan tugasmu, ini tidak benar, kamu harus kerjakan. Dan misalkan dalam rumah si kakak itu memang baik sehingga tetap mau kerjakan, adakalanya orang tua harus melarang dan berkata, "Kamu jangan kerjakan meskipun kamu mau, Papa atau Mama minta adik yang mengerjakan karena ini tugasnya." Jadi orang tua memang mesti terlibat dalam kasus-kasus seperti itu.
GS : Sekaligus mempersiapkan anak ini untuk jangan sampai disalahgunakan oleh orang pihak luar, Pak Paul, sehingga kebaikannya mau menolong ini dimanfaatkan oleh orang lain yang merugikan dia bahkan keluarga itu.
PG : Tepat sekali dan sekali lagi ini diawali di rumah, di rumahlah dalam keluargalah orang tua melengkapi anak dengan bekal-bekal seperti ini supaya nanti si anak waktu keluar, dia lebih siap enghadapi tekanan-tekanan dari luar, teman-temannya dan sebagainya yang di antaranya memang mau memanfaatkan dia.
GS : Berarti anak juga harus dipersiapkan untuk membedakan mana yang perlu ditolong dan mana yang mesti ditolak permintaan itu.
PG : Betul sekali. Maka tadi pada tahap akhir yang perlu orang tua lakukan adalah melatih anak agar menolong atas dasar kebutuhan. Jadi anak memang sebaiknya melihat kebutuhan apakah ada kebutuan, kalau memang tidak ada kebutuhan dan orang memang membuat-buat adanya kebutuhan, maka si anak dapat berkata, "Tidak! Saya tidak mau melakukannya karena memang kamu tidak membutuhkan dan kamu hanya ingin memanfaatkan saya."
GS : Berarti kita mengarahkan anak untuk melihat bahwa menolong itu sifat Tuhan yang menolong manusia dan itu bagaimana, Pak Paul ?
PG : Betul sekali Pak Gunawan. Kita memang harus selalu mengaitkan sifat saling tolong ini adalah sifat yang berasal dari Tuhan, Tuhan selalu bersedia menolong kita. Oleh sebab Allah adalah penasih, dia mau agar kita anak-anaknya menjadi seperti diriNya pula yaitu mengasihi sesama dan menunjukkannya secara konkret dalam bentuk pertolongan.
Saya akan akhiri dengan Firman Tuhan di Matius 6:3-4 Firman Tuhan mengingatkan, "Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." Jadi inilah yang kita ingin tekankan waktu engkau menolong, engkau melakukannya pada Tuhan dan untuk Tuhan bukan untuk manusia, kepada manusia tapi kepada Tuhan dan untuk Tuhan. Biarlah ini yang terus dilihat oleh anak sehingga terus memotivasi dia untuk mewujudkan cinta kasih secara nyata.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini, dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menumbuhkan Saling Tolong Pada Anak." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Anak tidak lahir ke dalam dunia dengan keinginan dan kerelaan menolong; sebaliknya, anak lahir ke dalam dunia dengan keinginan untuk tidak harus bersusah payah melakukan sesuatu bagi orang lain. Keluarga adalah tempat di mana anak menerima didikan agar bisa memiliki keinginan dan kerelaan menolong sesama, dan semua itu dimulai dengan menolong kakak dan adiknya. Berikut akan dipaparkan beberapa masukan untuk menumbuhkan sifat saling tolong pada anak.
Sebagaimana hal lainnya yang tidak bersifat kodrati, menolong sesama adalah sesuatu yang mesti diwajibkan dan diperintahkan kepada anak. Jadi, tidaklah benar bila orangtua beranggapan bahwa ia hanya perlu menantikan tumbuhnya sifat saling tolong pada diri anaknya. Ia harus menanamkan hal ini pada anaknya dan memerintahkan anak untuk saling tolong. Memang pada awalnya saling tolong merupakan suatu keterpaksaan tetapi perlahan namun pasti sifat saling tolong akan terbentuk dan akhirnya menjadi bagian dari kepribadiannya.
Pada awalnya penekanan diberikan pada aspek "saling" yakni bergantian melakukan sesuatu yang bermanfaat kepada satu sama lain. Memang pada tahap ini, saling tolong lebih merupakan transaksi jual-beli yaitu melakukan sesuatu dengan pengharapan bahwa suatu hari kelak akan ada imbalan yang sepadan. Biasanya anak akan menagih imbalan itu dan orangtua mesti memastikan bahwa imbalan itu diberikan oleh kakak atau adiknya. Pada tahap ini perlu adanya kekonsistenan bahwa imbalan akan diberikan sebab jika tidak, semangat saling menolong cepat pudar. Juga, penting adanya kekonsistenan memberi-menerima sebab ini adalah dasar keadilan dan kepatutan. Anak yang tidak memahami hal ini akan mengalami kesulitan dalam pergaulan; ia hanya tahu meminta namun tidak tahu memberi.
Pada tahap berikutnya, setelah anak berusia sekitar 6-7 tahun, orangtua mesti mulai meminta anak melakukan sesuatu untuk kakak dan adiknya dengan imbalan yang berasal dari orangtua, bukan dari kakak dan adiknya. Dengan kata lain, pujian orangtua menjadi pengganti imbalan yang seharusnya diberikan oleh kakak atau adiknya.
Pada tahap selanjutnya, yakni sewaktu anak berusia di atas 8 tahun, orangtua dapat mengajak anak memahami kebutuhan kakak dan adiknya yang memerlukan pertolongannya. Dengan kata lain, pada tahap ini anak diajar untuk berempati dan menjadikan empati sebagai dasar pertolongan yang diberikannya.
Pada akhirnya anak mesti diajarkan untuk melihat semua ini dari kacamata Tuhan yakni Tuhan menghendaki kita untuk menolong. Oleh sebab Ia adalah Allah pengasih, Ia mau agar kita anak-anak-Nya menjadi seperti diri-Nya pula yaitu mengasihi sesama dan menunjukkannya secara konkret dalam bentuk pertolongan. Firman Tuhan mengingatkan, "Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matius 6:3-4)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 09/10/2008 - 12:00pm.
Abstrak:
Ada di antara kita yang tidak setuju dengan persaingan antar anak namun ada pula yang berpendapat sebaliknya. Sebenarnya, apakah persaingan antar anak harus dihindarkan ataukah tidak? Di sini akan dipaparkan beberapa hal yang mesti diketahui tentang persaingan antar anak agar orangtua paham bagaimana seharusnya menyikapi hal ini. Persaingan antar anak mengandung segi positif namun juga berdampak merusak, mengapa demikian?
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Persaingan Antar Anak". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Punya beberapa anak memang mengasyikkan, Pak Paul dan kita bersyukur kepada Tuhan tapi sebagai orang tua harapannya adalah anak-anak itu bisa hidup rukun dan bekerjasama dengan baik, bermain bersama, tapi kenyataan yang dihadapi sebagian besar orang tua adalah sulit sekali mengendalikan anak, anak yang satu tidak cocok dengan anak yang lain, ini sebenarnya bagaimana Pak Paul?
PG : Memang banyak sekali dinamika yang terlihat di antara kakak adik di dalam satu keluarga, misalkan adik dan kakak ada kecenderungan ingin merebut perhatian dari orang tua. Jadi secara alamih kita sebagai manusia memang ingin menjadi yang terutama dan mengharapkan bahwa semua perhatian dan kasih sayang tertumpah pada diri kita.
Dengan kata lain secara alamiah anak-anak akan berusaha merebut kasih sayang, itu sebabnya diantara anak seringkali terjadi pertengkaran karena merasa orang tua tidak adil, "Kenapa selalu membela adik, selalu mengutamakan adik? Kenapa saya yang harus selalu mengalah ?" Hal-hal seperti itu adalah dinamika berkakak-adik dalam keluarga dan dalam hal ini orang tua mesti mewaspadai, sehingga pada akhirnya jangan sampai ada anak yang disisihkan, dinomorduakan walaupun sebetulnya orang tua tidak sama sekali berniat seperti itu.
GS : Kadang-kadang dalam hal memberikan mainan Pak Paul, karena ada perbedaan usia antara kakak dan adik sudah tentu orang tua memikirkan mainan apa yang cocok untuk kakaknya atau adiknya jadi tidak mungkin sama. Ini bisa membentuk suatu pertengkaran di antara mereka, Pak Paul ?
PG : Betul sekali sebab yang satu akan berkata, "Kenapa saya tidak mendapatkan yang itu ?" dia beranggapan bahwa orang tua itu lebih mengasihi adiknya, sehingga adiknya mendapatkan mainan yang tu.
Dia tidak bisa melihat bahwa orang tua memilihkan mainan yang sesuai dan terbaik untuk dia, memang ada kecenderungan bagi anak-anak kecil untuk mulai membanding-bandingkan diri dan akhirnya mulai masuk dalam persaingan di antara mereka.
GS : Itu seringkali yang terjadi pada anak-anak yang sejenis atau berlawanan jenis ?
PG : Sebetulnya secara umum gejala ini bisa kita lihat pada semua anak, baik laki-laki maupun perempuan. Namun saya perhatikan kalau ini adalah anak perempuan dan usianya tidak terpaut begitu auh misalkan dalam hitungan 2 atau 3 tahun, pada umumnya persaingan itu akan lebih terasa, sebab pada umumnya yang pertama anak perempuan akan lebih perasa sehingga akan lebih melibatkan emosi.
Itu sebabnya lebih mudah merasakan tidak dikasihi, kurang diperhatikan dan anak perempuan mempunyai kecenderungan untuk merasakan sesuatu dengan lebih kuat. Kedua, memang tidak bisa kita sangkali bahwa anak perempuan lebih menitik beratkan pada penampilan fisik. Jadi kalau dia merasa dia tidaklah secantik kakak atau adiknya, ini akan membuat dia merasa belum apa-apa dia tidak berharga, seolah-olah orang tua pun nantinya tidak akan menghargai dia. Itulah sebabnya matanya cepat sekali menangkap tindakan-tindakan orang tua yang dianggapnya menomorduakan dirinya dan lebih menomorsatukan misalnya kakaknya yang dianggapnya lebih cantik. Jadi biasanya persaingan antar anak akan lebih terasa pada anak-anak perempuan yang usianya lebih berdekatan.
GS : Pak Paul, kita sebagai orang tua tentu berharap hal-hal seperti itu tidak terjadi atau kita bisa bersikap lebih adil lagi terhadap anak-anak kita. Dalam hal ini hal-hal apa yang perlu kita perhatikan, Pak Paul ?
PG : Ada beberapa yang kita mesti perhatikan, Pak Gunawan, yang kita mau soroti masalah persaingan antar anak ini dengan lebih menyeluruh, kita akan mempertimbangkan sisi baiknya, sisi positifna dan sisi buruknya.
Ada sisi positif dalam persaingan antar anak, jadi tidaklah tepat kalau kita mengatakan bahwa semua jenis persaingan antar anak pastilah buruk. Misalnya segi positif yang bisa saya lihat adalah dalam batas tertentu sebenarnya persaingan itu berupaya untuk menumbuhkan daya saing, dengan kata lain, dengan dia mau bersaing berarti dia mau bertahan, artinya dia mau pertahankan yang dia miliki, mempertahankan prestasi yang telah dicapainya, mempertahankan kwalitas yang telah dia lakukan. Itu adalah dorongan-dorongan untuk mempertahankan sesuatu dan sekaligus persaingan juga akan mendorong anak untuk meningkatkan prestasinya. Sehingga dia bisa berkata, "Baik saya akan coba lebih lagi." Misalkan si kakak mendapatkan nilai yang bagus dan tiba-tiba dia berkata, "Baik, saya harus mendapatkan nilai sebagus itu." Dalam arti atau dari segi ini saya justru bisa simpulkan persaingan memang ada segi positifnya, lewat persaingan kita bertahan untuk tidak mudah menyerah dan lewat persaingan kita juga dipacu untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Jadi sewaktu anak berada pada suatu kancah persaingan, sebenarnya dia akan berkesempatan mengembangkan ketahanan sekaligus potensi dirinya.
GS : Peran orang tua supaya anak memiliki persepsi bahwa saya ini bersaing secara positif dengan saudara-saudara saya, apa yang orang tua bisa lakukan, Pak Paul?
PG : Berawal pada saat anak-anak yang masih kecil, memang kita tidak bisa terlalu menjelaskan hal ini karena memang mereka belum terlalu memahaminya tentang konsep-konsep. Yang kita bicarakan blum bisa kita bagikan kepada anak-anak namun ada hal-hal yang kita akan bahas tentang apa yang harus kita lakukan agar jangan sampai persaingan ini bisa menjadi sesuatu yang sangat negatif atau sangat buruk.
Sekali lagi kita akan menjaga, jangan sampai persaingan menjadi suatu pengaruh buruk tapi kita juga tidak mau dengan sengaja membuang persaingan, karena anak yang sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk bersaing, mereka berkemungkinan tidak mengembangkan daya juang yang tinggi bahkan justru mengambil jalan pintas yang mudah. Jadi misalnya dia cenderung mudah menyerah dan cepat putus asa dengan apa yang dihasilkannya, sebetulnya kemampuannya jauh di atas apa yang telah dihasilkan, tapi karena tidak ada semangat juang tersebut akhirnya dia cepat puas. Dalam hal ini persaingan mempunyai sisi positif. Menjawab apa yang Pak Gunawan tanyakan, apa yang orang tua mesti lakukan agar jangan sampai akhirnya anak makin terseret ke aspek negatif yang buruk tapi tetap bisa mengembangkan sisi positif dari persaingan itu, misalnya yang pertama kita ini sebagai orang tua jangan sampai mengobarkan semangat juang anak dengan cara membandingkan dia dengan kakak atau adiknya. Tindakan orang tua yang menyemangati anak lewat pertandingan malah akan mengadu domba anak. Pada akhirnya anak akan sulit dekat dengan kakak atau adiknya, dia melihat mereka sebagai pesaing bukan sebagai teman apalagi sebagai saudara.
GS : Sebagai orang tua sangat mudah untuk mencari pembanding lewat saudaranya. Atau kita mau mencari orang lain, maka siapa yang bisa digunakan sebagai pembanding. Atau ada cara lain, Pak Paul ?
PG : Sebaiknya kita tidak menggunakan pembanding, kadang-kadang orang tua beranggapan, "Saya tidak akan menggunakan anak sendiri sebagai pembanding tapi saya akan gunakan anak orang lain" atau rang tua akan gunakan saudara sepupunya dan sebagainya, tetapi tetap efek pembanding itu akan membuat anak merasa bahwa Papa atau Mama lebih menghargai orang lain, lebih meninggikan anak orang lain dari pada anak sendiri.
Jadi dengan kata lain, yang mesti orang tua lakukan adalah membandingkan anak dengan dirinya sendiri yaitu melihat kemampuan anak kemudian mengatakan, "Kamu memang bisa seperti ini, kenapa kamu tidak mencoba dengan keras ? Kenapa kamu hanya sampai disini saja ?" Dengan catatan orang tua sungguh-sungguh tahu kemampuan anaknya kalau memang dia lebih dari itu. Kadang-kadang orang tua tidak tahu kalau kemampuan anaknya tapi terus memaksa anak "Kamu harusnya lebih bisa, kamu kok hanya segini." Bagaimana cara agar orang tua tahu dengan tepat? Maka orang tua harus mengajak bicara dan cari tahu apa yang menjadi kesulitannya. Kenapa nilainya hanya segini? Apa yang telah dia lakukan? Belajarnya seperti apa? Waktu orang tua mengetahui anaknya seperti ini maka orang tua harus sadar, "Anak saya ini telah benar-benar melakukan semaksimal mungkin, tapi inilah kemampuannya atau memang karunianya yakni bukan di bidang ini, tapi di bidang lain." Waktu orang tua mengetahui dengan jelas itu semua maka dorongan atau pacuan orang tua akan lebih tepat. Tapi sekali lagi saya tekankan kalau mau membandingkan, maka bandingkanlah dengan kemampuannya sendiri, jangan bandingkan dengan kakak atau adiknya, karena ujung-ujungnya kalau membanding-bandingkan dengan kakak atau adiknya, si orang tua itu sebetulnya menciptakan jurang di antara anak-anaknya. Si anak melihat kakak-kakaknya sebagai pesaing bahkan kadang-kadang sebagai musuh, bukan lagi sebagai kakak, apalagi sebagai sahabat. Ini yang mesti dijaga oleh orang tua.
GS : Seringkali orang tua memiliki ambisi supaya anak mereka lebih pandai dari anak temannya atau anak saudaranya dan ini sulit untuk dihindari, Pak Paul.
PG : Orang tua ingin sekali melihat anaknya maju, memang ada 2 motivasinya yang pertama adalah agar si anak bisa berkembang dan yang menjadi harapan kita adalah masa depan dia menjadi lebih baik. Dan yang juga tidak bisa disangkal sebagai orang tua, kita punya motivasi yaitu bukankah kalau anak kita bisa cemerlang, kita juga nanti beroleh nama baik yaitu seolah-olah kita yang telah berjasa besar membesarkan anak-anak yang mampu untuk bersaing, mampu berprestasi dengan baik.
GS : Mungkin di rumah kita tidak membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain Pak Paul, tapi di sekolah seringkali para pengajar, guru-guru "Kamu tidak seperti ini," atau lewat nilai yang diperoleh, maka anak akan langsung tahu membandingkan dirinya dengan teman-temannya dan ini tidak bisa dihindari, Pak Paul.
PG : Betul, dalam kasus seperti itu memang anak akan menghadapi realitas dan ini bukan sesuatu yang buruk karena dia tidak sebaik temannya, angkanya tidak setinggi temannya. Itu sesuatu yang bak karena dia bisa misalnya berkata, "Saya memang tidak memberikan yang terbaik, saya tidak belajar dengan baik maka akhirnya seperti inilah hasilnya," tapi bisa juga dia berkata, "Saya telah mencoba semaksimal mungkin dan memang harus saya akui bahwa anak ini lebih baik dari pada saya."
Ini adalah sebuah sikap yang baik, sikap mau mengakui kemampuan, kapasitas, keterbatasan pribadi dan sikap bisa menghargai kemenangan orang, mengakui keunggulan orang. Hal-hal seperti inilah yang seyogianya terjadi. Sikap-sikap seperti ini dimulainya di rumah, anak yang susah menerima keunggulan temannya besar kemungkinan mereka tidak pernah belajar di rumah, dan kenapa dia tidak pernah belajar ? Bisa jadi karena cara-cara orang tua yang keliru seperti terlalu meninggikan anak, mengagung-agungkan bahwa dia yang paling cerdas, paling pintar, paling bisa, dan orang tua yang selalu mengadu domba anak dengan cara membanding-bandingkan anak akhirnya anak susah sekali menerima kekalahannya dan mengakui kekuatan orang lain.
GS : Mungkin ada hal lain yang ingin Pak Paul sampaikan pada orang tua ?
PG : Yang lain adalah tindakan orang tua yang membandingkan anak, akan membuat anak merasa bahwa orang tua hanya akan mengasihinya kalau ia berprestasi di atas kakak atau adiknya. Kadang-kadangorang tua tidak sadar bahwa membanding-bandingkan dengan si kakak atau si adik yang angka di sekolahnya bagus kemudian memuji-muji, dan kalau si adik yang dapat prestasi bagus dipuji-puji akhirnya si anak merasa bahwa Papa atau Mama hanya akan mengasihi saya dan saya hanya akan bernilai di mata Papa dan Mama kalau saya berhasil dalam prestasi di atas kakak atau adik saya.
Karena atmosfir di dalam rumah adalah atmosfir perbandingan, ini sesuatu yang sangat tidak sehat, karena sekali lagi akhirnya tumpuan harga diri anak menjadi rapuh, bukanlah bertumpu pada kasih sayang orang tua yang apa adanya, tanpa syarat kepada dirinya, melainkan bertumpu pada perbandingan bahwa dia harus lebih dari orang lain maka barulah dia bernilai. Jadi kita sebagai orang tua tidak boleh menyuruh anak bersaing dengan kakak atau adiknya, biarlah persaingan ini bertumbuh secara alamiah di antara mereka. Kalau memang mereka ingin memacu diri mereka, maka jangan orang tua yang memacu atau membanding-bandingkan diri mereka, tapi biarkan dari mereka sendiri dan bukan dari orang tua yang seolah memacu ana,k membanding-bandingkan, ini justru yang tidak sehat.
GS : Lalu apa yang orang tua bisa lakukan Pak Paul ?
PG : Orang tua harus menekankan bahwa yang terpenting adalah anak melakukan sedapatnya atau sebaiknya. Hal ini yang perlu ditekankan pada diri seorang anak. Orang tua penting menekankan anak unuk tidak memaksakan diri dengan cara mengorbankan hal penting lainnya.
Jadi dengan kata lain orang tua harus mengajarkan kepada anak akan keterbatasan dirinya. Jika anak sampai kehilangan keseimbangan hidup dan mulai menampakkan masalah akibat menuntut diri berlebihan maka orang tua mesti cepat tanggap dan meminta anak untuk mengurangi tuntutan itu. Ada anak yang misalnya cepat marah karena hidupnya tidak lagi seimbang, ada lagi anak yang mengembangkan sikap tidak bersahabat dan egois akibat persaingan. Jika ini yang dilihat orang tua, maka orang tua mesti bertindak untuk menghentikan persaingan ini.
GS : Jadi orang tua bersikap seperti wasit, Pak Paul, di dalam pertarungan ini.
PG : Betul sekali sebagai wasit, pembuat garis, sebagai pendiri pagar, jangan sampai berlebihan. Ada anak karena ingin bersaing, ingin jadi yang nomor satu maka akan mengorbankan hal lain dalamhidupnya, menjadikan kestabilan emosinya tidak sehat, cepat marah, cepat memusuhi orang, maka orang tua harus melihat hal-hal seperti itu dan berusaha untuk mengendalikan, mengajarkan kepada anak "Yang penting adalah engkau melakukan sedapatnya, sebaiknya dan sesudah itu serahkan kepada Tuhan, jangan memaksakan harus mendapatkan yang kita inginkan kalau tidak dapat juga tidak apa, tapi yang terpenting adalah sebaiknya itu adalah tanggung jawab kita di hadapan Tuhan."
GS : Mungkin anak akan merasa aman atau tidak terlalu merasa harus bersaing, kalau kita sebagai orang tua menyatakan kasih kita kepada anak-anak kita, Pak Paul.
PG : Tepat sekali, Pak Gunawan. Jadi orang tua harus sering-sering mengkomunikasikan kasih kepada anak di luar prestasinya. Dengan cara ini anak terus diingatkan bahwa dia dikasihi bukan oleh krena prestasinya, tapi karena orang tuanya.
Jadi lewat kasih dan penerimaan anak pun diajar untuk mengasihi saudara-saudaranya apa adanya. Dengan kata lain anak diajak untuk melihat persaingan sebagai sarana belaka untuk memacu diri bukan sebagai tujuan.
GS : Memang agak sulit menjelaskan hal ini kepada anak-anak karena mereka lebih mudah melihat hal-hal yang nyata, seperti angka-angka atau prestasi mereka tetapi dengan pendekatan yang terus-menerus dengan mengungkapkan kasih yang nyata, saya rasa mereka juga bisa mengerti, Pak Paul.
PG : Betul. Jadi secara spontan orang tua sebaiknya memeluk anak, mencium anak mengatakan, "Saya bangga dengan kamu, saya sayang kepada kamu," tanpa ada alasan, tanpa ada prestasi yang dilihat tau diakui oleh orang tua.
Jadi benar-benar tidak ada angin tidak ada hujan, orang tua sering mengungkapkan kasih sayang dan penerimaan kepada anak. Tunjukkan karakter-karakter kepada anak, "Kamu ini sayang dengan adikmu, kamu orangnya siap membantu kakakmu," hal-hal seperti itu yang sering kita komunikasikan. Sudah tentu waktu dia memberikan prestasi yang baik kita juga mengasihi, waktu dia tidak memberikan prestasi yang baik, kita juga jangan cepat marah, kita hanya perlu tanyakan, "Kenapa? Apa yang terjadi ? Apakah kamu telah belajar dengan sebaik mungkin ?" Kalau memang si anak sudah mengakuinya, "Sudah" maka kita berkata, "Baik saya terima itu". Kalau dia berkata, "Sudah" tapi kita tahu kemarin dia banyak bermain video games, kita katakan, "Rasanya tidak seperti itu. Kemarin Papa melihat kamu banyak bermain video games sampai berjam-jam, itu sudah tidak benar, makanya sekarang hasilnya seperti ini. Saya minta kamu perbaiki, kurangi main video games, saya minta sekarang kamu lebih fokuskan pada pelajaranmu." Jadi hal seperti ini bisa dilakukan disamping terus mengkomunikasikan kasih dan penerimaan kepadanya.
GS : Dan itu harus dilakukan oleh kedua orang tuanya, Pak Paul. Jadi misalnya hanya ibunya yang mengatakan kasih dan ayahnya justru menerapkan persaingan, seringkali anak juga bingung.
PG : Betul sekali. Jadi akhirnya kalau itu yang terjadi si anak nantinya mempunyai keberpihakan, dia harus menjauhi diri dari si ayah yang menuntut dan dia akan mendekat dengan si ibu yang bisamenerima dia.
GS : Hal lain apa Pak Paul yang bisa dilakukan oleh orang tua ?
PG : Anak didasarkan pada konsep dirinya atas kemenangan belaka, konsep seperti ini merupakan benih keangkuhan. Jadi hati-hati kalau si anak mulai membangun konsep diri atas dasar kemenangan, kberhasilan, dan ini yang kita mesti jaga karena ini merupakan benih keangkuhan.
Dan lebih buruk lagi konsep seperti ini ibarat rumah yang dibangun di atas pasir, dia hanya berharga bila berhasil mengalahkan orang lain, ini tidak sehat dan juga tidak kuat. Berarti nanti kalau ada orang lain yang mengalahkan dia maka penghargaan dirinya langsung runtuh, dia bisa patah semangat tidak mau berusaha lagi, tidak bisa menghindar dari kekalahan sebab dia selalu mencari kemenangan. Jadi kalau dia antisipasi dia akan kalah, maka dia tidak mau melakukannya sehingga benar-benar kepercayaan dirinya makin hari makin rapuh.
GS : Dan bagaimana orang tua bisa membantu untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada diri anak?
PG : Pertama orang tua harus terus melimpahkan kasih dan penerimaan di luar prestasinya dan ini modal yang paling besar. Yang berikut adalah orang tua mengajarkan kepada anak apa yang menjadi kkuatan dan yang menjadi keterbatasannya.
Waktu anak bisa melihat hal ini anak mulai bisa menerima dirinya dan kita terus dorong dia untuk mengembangkan kekuatannya.
GS : Mungkin ada hal lain Pak Paul, yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Satu lagi yang terakhir adalah anak harus terus diajarkan bahwa anak tidak boleh menjadikan persaingan sebagai pemotivasi dirinya. Dia pun harus melihat sebagai konsekuensi dan efek sampinan bukan sebagai pencipta prestasi.
Anak yang menjadikan persaingan sebagai satu-satunya pemotivasi diri akan cepat kehilangan semangat jika tidak menemukan pesaing dan ini yang lebih serius. Sesungguhnya dia akan kehilangan arah hidup sebab semua yang dilakukannya bukan keluar dari dirinya sendiri melainkan dari luar dirinya, dia tidak tahu apa yang disukai atau tidak disukainya sebab dia tidak pernah melihat ke dalam dirinya, semua dilakukannya hanya untuk menang.
GS : Banyak orang tua yang mengatakan, "Persaingan itu terjadi di dunia orang dewasa, sehingga tidak apa-apa kalau anak saya ini saya latih supaya siap memasuki kancah persaingan dunia ini" dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Segala persiapan memang harus dilakukan secara bertahap, pada masa anak-anak muda persiapan itu mesti dilakukan sedikit mungkin, seminimal mungkin. Ketika dia jelas mengetahui kekuatan danketerbatasannya maka persaingan akan lebih mudah untuk dilakukan.
Kalau dia tahu dia terbatas di bidang ini, dan dia mengakui keunggulan orang, itu hal yang baik karena dengan dia mengakui keunggulan orang maka dia akan lebih memusatkan perhatiannya dan kekuatannya pada bidang itu. Dengan cara ini, nantinya dia akan lebih siap bersaing, orang yang siap bersaing adalah orang yang siap kalah bersaing, Pak Gunawan. Dan ini yang mesti orang tua sadari dan tanamkan pada anak, tidak ada yang namanya siap bersaing dengan pengertian hanya siap menerima kemenangan.
GS : Seringkali kita jumpai anak yang cepat putus asa, sebenarnya penyebabnya apa Pak Paul ?
PG : Karena pada waktu dia kalah, harga dirinya runtuh dan hidupnya itu akan bersemangat kalau ada saingan. Begitu tidak ada saingan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan ini yang lebihparah, dia tidak tahu sebetulnya apa yang dia ingin lakukan, apa yang menjadi tujuan hidupnya, apa yang menjadi cita-citanya.
Dia tidak tahu semua itu sebab selama ini dia seperti boneka yang tangan dan kakinya diikat dan digerakkan oleh saingan-saingan itu, begitu tidak ada tali-tali yang mengikat dirinya maka semuanya jatuh lunglai.
GS : Tapi ada juga anak yang menjadi angkuh kalau dia mencapai suatu prestasi tertentu, dan ini bagaimana Pak Paul ?
PG : Kalau memang dia terus menjadi angkuh, itulah saatnya orang tua mengingatkan kepada si anak kamu sekarang sudah masuk ke dalam dosa. Kamu selalu meninggikan dirimu, kamu mulai merendahkan rang lain, ini tidak berkehendak di hadapan Tuhan, kamu harus takut kepada Tuhan sebab apa yang kamu miliki adalah pemberian Tuhan dan bukan kamu yang menciptakannya tapi ini dari Tuhan, jadi kamu tetap harus takut kepada Tuhan dan menghargai orang lain sebagaimana Tuhan menghargai mereka.
GS : Jadi disamping kita memberikan penghargaan kepada dia karena berprestasi, tapi juga semacam peringatan agar dia tidak menjadi sombong atau merendahkan teman-temannya atau bahkan saudaranya sendiri, Pak Paul.
PG : Betul, jadi memang harus ada dua pagar ini, agar anak-anak bisa berjalan dengan seimbang.
GS : Ada Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Di Amsal 16:8 Firman Tuhan berkata, "Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan," ini yang penting yang anak-anak harus sadari, lebih bak penghasilan sedikit disertai kebenaran daripada penghasilan banyak tanpa keadilan.
Anak yang terikat dengan persaingan berpotensi menghalalkan segala cara untuk memperoleh kemenangan, ini yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini, dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Persaingan Antar Anak." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ada di antara kita yang tidak setuju dengan persaingan antar-anak namun ada pula yang berpendapat sebaliknya. Sebenarnya, apakah persaingan antar-anak harus dihindarkan ataukah tidak? Berikut ini akan dipaparkan beberapa hal yang mesti diketahui tentang persaingan antar-anak agar orangtua paham bagaimana seharusnya menyikapi hal ini.
Pertama akan diuraikan segi positif dari persaingan itu sendiri.
Dalam batas tertentu, persaingan itu sendiri bukanlah sesuatu yang buruk untuk dialami anak. Persaingan sesungguhnya merupakan upaya untuk bertahan sekaligus meningkatkan prestasi. Lewat persaingan kita bertahan untuk tidak mudah menyerah dan lewat persaingan kita dipacu untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Jadi, sewaktu anak berada di suatu kancah persaingan, ia akan berkesempatan mengembangkan ketahanan sekaligus potensi dirinya.
Anak yang sama sekali tidak memiliki keinginan untuk bersaing berkemungkinan untuk tidak mengembangkan daya juang yang tinggi dan cenderung mengambil jalan pintas yang mudah. Ia cenderung mudah menyerah dan cepat puas dengan apa yang telah dihasilkannya.
Kendati persaingan antar-anak dapat menjadi pendorong yang positif, namun orangtua mesti menyadari beberapa hal yang berpotensi merusak pertumbuhan karakter dan jiwa anak.
Sedapatnya orangtua jangan mengobarkan semangat juang anak dengan cara membandingkannya dengan kakak atau adiknya. Tindakan orangtua yang menyemangati anak lewat perbandingan malah akan mengadudomba anak. Pada akhirnya anak akan sulit dekat dengan kakak dan adiknya karena ia melihat mereka sebagai pesaing, bukan teman apalagi saudara.
Juga, tindakan orangtua yang membandingkan anak, akan membuat anak merasa bahwa orangtua hanya mengasihinya bila ia berprestasi DI ATAS kakak atau adiknya. Singkat kata, orangtua tidak boleh menyuruh anak untuk bersaing dengan kakak atau adiknya. Biarlah persaingan ini tumbuh secara alamiah di antara mereka.
Orangtua harus terus menekankan bahwa terpenting adalah anak melakukan sedapatnya atau sebaiknya. Orangtua mesti terus mengingatkan anak untuk tidak memaksakan diri dengan cara mengorbankan hal-hal penting lainnya. Dengan kata lain, orangtua harus mengajarkan anak akan keterbatasan dirinya. Jika anak sampai kehilangan keseimbangan hidup dan mulai menampakkan masalah akibat menuntut diri berlebihan, orangtua mesti cepat tanggap dan meminta anak untuk mengurangi tuntutan ini. Ada anak yang menjadi cepat marah atau kerap uring-uringan; ada anak yang mengembangkan sikap tidak bersahabat dan egois akibat persaingan. Jika ini yang terlihat, orangtua mesti bertindak untuk menghentikan persaingan ini.
Orangtua juga harus sering mengkomunikasikan kasih dan penerimaan kepada anak DI LUAR prestasinya. Dengan cara ini anak terus diingatkan bahwa ia dikasihi bukan oleh karena prestasinya tetapi karena ia adalah anak orangtuanya. Juga, lewat kasih dan penerimaan, anak pun diajar untuk mengasihi saudara-saudaranya apa adanya. Dengan kata lain, anak diajak untuk melihat persaingan sebagai sarana belaka untuk memacu diri, bukan sebagai tujuan.
Anak juga harus dijaga agar tidak mendasarkan konsep dirinya atas kemenangan belaka. Konsep diri seperti ini merupakan benih keangkuhan. Namun lebih buruk lagi, konsep diri seperti ini sesungguhnya ibarat rumah yang dibangun di atas pasir: ia hanya berharga bila berhasil mengalahkan orang yang lain.
Pada akhirnya anak harus terus diajarkan bahwa ia tidak boleh menjadikan persaingan sebagai pemotivasi dirinya. Ia harus melihat persaingan sebagai konsekuensi dan efek sampingan, bukan sebagai pencipta prestasi. Anak yang menjadikan persaingan sebagai satu-satunya pemotivasi diri akan cepat kehilangan semangat jika tidak menemukan pesaing. Dan, ini yang lebih serius: sesungguhnya ia kehilangan arah hidup sebab semua yang dilakukannya bukan keluar dari dirinya sendiri melainkan dari luar dirinya. Ia tidak tahu apa yang disukai atau tidak disukainya sebab ia tidak pernah melihat ke dalam dirinya; semua telah dilakukannya hanya untuk menang.
Firman Tuhan berkata, "Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran daripada penghasilan banyak tanpa keadilan." (Amsal 16:8) Anak yang terikat dengan persaingan berpotensi menghalalkan segala cara untuk memperoleh kemenangan; ini yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Berdoa adalah perlu kita ajarkan kepada anak sejak anak masih bayi, pada saat dia masih belum mengerti apa-apa. Dengan doa, anak akan selalu merasa bahwa dia harus hidup di hadapan Tuhan dan dia tidak bisa lari dari hadirat Tuhan.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, kali ini bersama Bp. Heman Elia, M. Psi., beliau adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang; kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat, dan perbincangan kami kali ini kami beri judul 'Mengajar Anak Berdoa". Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) GS : Pak Heman, kita tahu bahwa berdoa atau mendidik anak untuk bisa berdoa dengan baik itu penting sekali, karena kita sendiri juga sudah merasakan manfaatnya. Tetapi masalahnya kapan mau dimulai atau bagaimana caranya kita memulai itu yang kadang-kadang banyak orang tua agak kesulitan. Sebenarnya bagaimana mengajar anak untuk bisa berdoa sendiri?
HE : Ya tentu perlu tahapan-tahapan Pak Gunawan, karena anak itu perlu dibiasakan dari kecil untuk berdoa, misalnya kalau menunggu dia remaja baru kita mengajarkan mereka berdoa mungkin akanada rasa malu, rasa segan bagi anak-anak ini.
Karena itu perlu mulai mengajar mereka berdoa sejak dini, sejak kecil.
GS : Nah masalahnya ini Pak Heman, doa itu 'kan seolah-olah kita sedang berbicara pada seseorang, nah kesulitannya adalah bagaimana mengajarkan kepada anak ini untuk berbicara pada sesuatu yang dia sendiri tidak lihat.
HE : Pertama-tama yang perlu kita perhatikan adalah contoh dari orang tua lebih dulu, meskipun anak-anak ini tidak mengerti berdoa, berkata-kata kepada sesuatu pribadi yang tidak kelihatan lngsung, tetapi sikap berdoa mungkin itu yang perlu kita ajarkan dan kita contohkan terlebih dulu.
Bukan yang terutama orang tua menjelaskan dulu kepada siapa kita berdoa dan sebagainya, karena itu tidak relevan dan tidak akan dimengerti oleh anak, justru akan menimbulkan berbagai pertanyaan yang kurang perlu. Jadi pertama-tama adalah kita mengajarkan kebiasaan berdoa lebih dulu.
GS : Mereka sering melihat kita berdoa, ikut memejamkan mata dan sebagainya, tetapi pada gilirannya kita meminta anak kita itu untuk berdoa begitu. Nah sebaiknya pada kesempatan apa itu Pak Heman, pada waktu acara makan bersama atau waktu mau tidur atau apa, Pak Heman?
HE : Ya itu yang paling dasar saya kira waktu makan, waktu tidur dan sebagainya. Sebetulnya masalah berdoa ini kita bisa mengajarkan sejak anak itu masih bayi, saat dia belum mengerti apa-apa. Misalnya waktu kita menggendong anak-anak ini, kita mengajak mereka bercakap-cakap, kadang-kadang di dalam percakapan ini kita tanya sendiri, kita jawab sendiri dan di antara itu kita selipkan doa-doa kita. Dengan demikian anak-anak ini meskipun belum mengerti, tapi mereka menghayati suasana doa dan kemudian ketika anak ini semakin besar, ketika mereka sudah bisa diajak berkomunikasi meskipun mereka belum bisa berbahasa atau berbicara dengan bahasa yang kita gunakan, mereka kita ajak untuk misalnya melipat tangan, menutup mata dalam sikap berdoa dan kita sendiri yang berkata-kata.
GS : Di situ peran ibu sangat besar Pak, karena anak lebih banyak waktunya dengan ibu. Nah, bagaimana peran ayah di sana?
HE : Ayah juga penting sebetulnya, kelihatannya memang ayah tidak sering, mungkin tidak sering merawat si bayi seperti ibunya, tetapi ayah ini juga perlu mendoakan anaknya. Terutama waktu maam anak mau tidur, nah ayah bisa mengajak anaknya itu untuk berdoa.
GS : Tentu anak ini dengan pola pikir yang sederhana, dengan kalimat-kalimat yang sederhana mungkin Pak Heman bisa memberikan contoh, Pak Heman?
HE : Pada waktu anak-anak masih sangat muda dan mulai bisa berkata-kata, kita bisa mengajarkan misalnya terima kasih Tuhan atau terima kasih Bapa, amin! Hanya itu saja kata-kata yang pendek-endek, waktu makan misalnya Tuhan berkati makanan ini, amin! Hanya kata-kata yang pendek-pendek dulu.
Ketika anak semakin besar dan dia semakin banyak perbendaharaan katanya kita boleh tambahkan lebih panjang dan lebih panjang.
GS : Ya itu biasanya bertambah sendiri sesuai dengan perbendaharaan kata yang dimiliki oleh anak itu, tetapi apakah itu bisa mendorong atau memotivasi si anak ini supaya tanpa pengawasan kita pun dia secara keinginannya sendiri itu berdoa, Pak?
HE : Itu baru pada anak-anak yang sudah lebih besar. Yang penting di sini adalah kita menanamkan sikap berdoa dulu waktu kecil dan ada baiknya ketika anak-anak mulai bisa berkomunikasi, anakanak sudah bisa mulai berkata-kata, anak diajak untuk menghafal doa.
Mulanya memang begitu perkembangannya, jadi anak-anak ini belajar menghafal, lalu kita juga ajak anak-anak ini untuk mendoakan misalnya mendoakan temannya, mendoakan kakaknya atau adiknya, mendoakan ayah ibunya. Dan menurut pengalaman saya anak waktu usia misalnya 3 tahun pun dia sudah bisa mendoakan orang lain dengan baik, meskipun kadang-kadang masih pelo-pelo.
GS : Biasanya sekalipun dia sudah terbiasa di rumahnya sendiri memimpin atau berdoa, kadang-kadang kalau ada temannya atau saudaranya yang menginap di rumah, kemudian menjadi enggan, malu atau bagaimana itu Pak?
HE : Ya kita mesti bertahap, mungkin kita berikan contoh lebih dulu, kita katakan bahwa setiap orang di sini memimpin doa secara bergiliran. Jadi ayahnya berdoa lebih dulu dengan kata-kata yng pendek, singkat, supaya anaknya tidak minder, kemudian ibunya juga berdoa dan kemudian giliran anak dan kemudian tamunya.
Jadi mudah-mudahan dengan cara ini anak lebih tertolong dari rasa malunya, kalau misalnya itu tidak jalan orang tua dapat memimpin doa, "OK, mungkin kamu masih malu ya" misalnya begitu, kita berdoa sama-sama jadi ayah atau ibu yang memimpin doa kemudian diikuti oleh anak-anak.
GS : Anak-anak mempunyai daya ingat yang cukup kuat, Tuhan Yesus 'kan mengajarkan sebuah doa yang cukup panjang mungkin bagi anak yaitu doa Bapa Kami. Sering kali kita melihat di Sekolah Kristen khususnya juga atau sekolah Katolik dan sebagainya, anak diajar menghafalkan sebuah doa, itu bagaimana Pak?
HE : Saya kira itu baik-baik saja dan memang itu perlu dilakukan. Doa Bapa Kami misalnya itu memberitahukan bagaimana seharusnya kita berdoa. Paling sedikit di sana banyak prinsip-prinsip yag kita bisa pegang dengan demikian kita juga akan lebih mudah mengajarkan anak-anak ini bagaimana seharusnya berdoa dan apa saja yang perlu ada dalam suatu doa.
Juga memberi arah pada anak ini, bagaimana berdoa secara bebas.
GS : Ya tapi seringkali justru itu Pak, karena dia sudah hafal lalu diucapkan seperti otomatis gitu Pak? Nah itu apa tidak membawa suatu dampak yang negatif buat anak itu sendiri?
HE : Saya kira kita selain mengajarkan Doa Bapa Kami, kita harus membiasakan anak juga untuk berdoa sesuatu secara bebas. Jadi kita berusaha melatih mereka untuk berdoa mengucapkan apa saja epada Tuhan.
Kita katakan kepada mereka bahwa Tuhan itu adalah selain Dia itu Raja di atas segala raja yang kita harus betul-betul hormati, kita harus hidup kudus dihadapanNya sebelum kita berdoa, tetapi dia juga sayang kepada anak-anak. Dia juga dekat kepada anak-anak dan Dia juga mengasihi kita semua, Dia adalah seorang Bapak yang penuh kasih. Nah kita sebagai anak Tuhan boleh meminta apa saja dan boleh berkata-kata apa saja sama seperti anak-anak ini berkata-kata kepada ayah ibunya sendiri. Dan kemudian kita juga perlu tegaskan kepada anak-anak bahwa Yesus itu sangat menghargai anak-anak, sehingga Dia pernah mengatakan bahwa yang di kerajaan sorga ini ya seperti anak-anak ini. Dengan demikian anak-anak yang polos, yang selalu berdoa dengan kejujuran hatinya ini merasa dikuatkan dan mereka akan lebih berani untuk mengucapkan doa, meskipun dengan kesalahan-kesalahan kita harus maklumi itu.
GS : Masalah kesalahan itu pernah terjadi Pak, seorang anak itu memimpin dalam doa makan, tetapi ada juga saudara-saudaranya di situ, dia bukan anak tunggal. Nah di tengah-tengah doanya mungkin dia kehabisan kata-kata atau apa lalu terdiam jadi dia tidak bisa melanjutkan doanya, nah kakak-kakaknya ini yang mentertawakan. Oorang tua memang sudah tidak menghiraukan itu dan orang tuanya juga bersikap cukup positif, tapi sebenarnya apa yang harus dilakukan oleh orang tua seandainya hal itu terjadi Pak?
HE : Begitu anak ini terdiam, kemudian ditunggu sementara waktu misalnya (ini di luar bahwa anak ini sudah ditertawakan oleh saudaranya) katakan dia belum ditertawakan, orang tua boleh membatu dengan melanjutkannya kemudian langsung diakhiri.
Kalau misalnya dia sudah ditertawakan, orang tua wajib untuk mendidik, mengatakan kepada anak-anak yang lain, jangan ditertawakan karena kita semua tidak ada yang berdoa dengan sempurna dan Alkitab mengatakan Roh Kudus sering kali membantu kita berdoa dalam kata-kata yang kita sendiri tidak bisa ucapkan. Nah kita katakan bahwa kita harus betul-betul hormat di hadapan Tuhan dan bahwa Tuhan menghargai apapun doa kita, meskipun itu dengan ada kesalahan-kesalahan seperti itu.
GS : Ya memang yang dikhawatirkan adalah anak yang ditertawakan itu lain kali tidak mau lagi memimpin doa, agak trauma.
HE : Ya kita harus memuji anak ini bahwa bagaimanapun juga kamu sudah berusaha dengan baik, dan Tuhan menghargai doa kamu, Tuhan mendengar doa kamu, tidak sempurna tidak apa-apa. Ya memang iulah kamu belajar di sekolah dan sebagainya itu 'kan juga harus tahap demi tahap begitu.
GS : Sebenarnya bagi si anak, pengaruh positif atau dampak positif apa itu Pak yang membuat dia dipersiapkan untuk masa depannya?
HE : Ya dengan doa, anak ini akan selalu merasa dia harus hidup di hadapan Tuhan dan dia tidak bisa lari dari hadirat Tuhan. Dan ketika dia dewasa ada kemungkinan dia akan mengingat masa-mas indah ini di mana dia berdoa bersama keluarganya, dia diajarkan untuk berdoa dan dia pasti akan mengingat hal-hal ini.
Kita tidak selalu bisa mengawasi anak-anak kita, tetapi kalau anak-anak kita terbiasa hidup di dalam doa dia akan hidup di hadapan Tuhan dan Tuhan sendiri yang akan mengawasi dia pada saat kita tidak bisa mengawasi kehidupan mereka.
GS : Apakah hal-hal yang dilakukan di masa kecil ini punya suatu kenangan atau pengaruh untuk masa depannya, Pak ?
HE : Ya, pasti ada kenangan-kenangan yang indah ketika anak ini berdoa, meskipun misalnya suatu ketika mereka meragukan apakah doa saya didengar, mungkin juga kadang-kadang anak ini ketika tmbuh remaja mereka berpikir apakah Tuhan sungguh-sungguh ada dan sebagainya.
Tetapi kenangan-kenangan ini akan mengingatkan mereka, ada doa-doa yang pernah dijawab, ada doa yang membuat kita semua merasa terharu dan itu yang diharapkan akan menjadikan anak-anak kita itu selalu ingat untuk hidup di dalam doa.
GS : Dalam hal berdoa seperti ini Pak, anak itu meminta sesuatu kepingin mainan atau kepingin dibelikan apa, ingin mendapatkan sesuatu. Nah orang tuanya berkata ya kamu berdoa pada Tuhan, nah kalau seandainya ternyata apa yang diinginkan oleh si anak ini tidak terkabul atau tidak terwujud bagaimana seharusnya sikap orang tua Pak?
HE : Kita katakan kepada anak demikian, kita tidak boleh menjanjikan pada anak bahwa apa yang didoakan itu pasti akan terkabul. Nah kita harus belajar, kita semua harus belajar pada doa Tuha Yesus di Taman Getsemani, di mana Dia berdoa agar Dia tidak usah minum cawan pahit itu, tetapi biar kehendak Tuhan yang terjadi.
Jadi anak-anak sering kali mengajukan keinginan kekanak-kanakannya akan suatu mainan, nah kita katakan bahwa kalau misalnya sesuatu itu entah berbahaya, entah tidak berguna atau kadang-kadang Tuhan memikirkan sesuatu yang lebih dari itu, maka ada kemungkinan permintaan itu tidak dipenuhi. Dan dalam situasi-situasi demikian kita bisa mengajar kepada anak-anak untuk lebih berpikir secara dewasa, untuk menahan diri, dan berdoa tidak hanya sekadar memuaskan hawa nafsu seperti yang dikatakan oleh Alkitab.
GS : Nah, sebaliknya kalau apa yang didoakan itu terkabul atau terwujud di dalam hidupnya. Bagaimana kita mengajarkan kepada anak bahwa doanya itu sudah dijawab oleh Tuhan?
HE : Kalau misalkan doa anak ini sudah terkabul, kita bisa katakan bahwa kita harus mengucap syukur. Karena sering kali kita mengajar anak untuk berdoa waktu dia sakit dan kita sering kali lpa ketika anak itu sudah sembuh kita minta anak untuk mengucap syukur.
Nah, di sini kita mengingatkan bahwa ketika anak sembuh, nah ini Tuhan sudah menjawab doa, meskipun itu misalnya lewat dokter dan sebagainya, tetapi yang jelas bahwa Tuhan memberikan kekuatan untuk sembuh, karena banyak orang juga tidak bisa sembuh. Dan kemudian kita mengajak dia berdoa dan mengucap syukur dengan demikian anak ini tahu bahwa doanya sudah dikabulkan.
GS : Jadi peranan orang tua di sini sebenarnya besar sekali Pak. Di dalam memberikan contoh nyata buat anak-anak, kita itu kadang-kadang juga kepingin waktu berdoa itu tidak dilihat orang termasuk anak-anak kita sendiri. Jadi kita lebih suka menyendiri, itu bagaimana Pak?
HE : Saya kira di dalam kehidupan kita adakalanya anak-anak perlu melihat orang tuanya berdoa dan berdoa ini 'kan tidak sekadar waktu makan, waktu mau tidur tetapi anak-anak perlu melihat keidupan doa dari kehidupan nyata orang tuanya.
Saya ingat tentang ayah saya, setiap pagi sebelum saya bangun, beliau sudah bangun dan berlutut berdoa, ayah saya sudah meninggal tetapi kehidupan doanya ini sangat berkesan di dalam kehidupan saya dan saya tahu ketika ayah saya berlutut di situ dia mendoakan setiap anaknya termasuk saya, dan mendoakan masa depan saya dan sebagainya. Ada satu hal juga yang saya berkesan sekali dari kehidupan ibu saya, ibu saya mengatakan sejak di dalam kandungan ketika ibu saya tahu bahwa dia hamil, maka dia sudah mendoakan saya. Jadi seumur hidup menyerahkan diri saya dan itu sangat mengharukan saya.
GS : Jadi keteladanan yang nyata yang perlu diperagakan, diperagakan di depan anak supaya mereka melihat dan bisa mencontoh begitu Pak. Nah apakah ada hal-hal penting lain yang perlu disampaikan dalam hal ini?
HE : Saya kira ada, sikap doa kita yang perlu kita ajarkan pada anak-anak. Sering kali anak-anak ini karena mereka masih suka bermain, sehingga mereka tidak bersikap hormat. Nah kita harus aarkan kepada mereka bahwa sikap hormat waktu berdoa itu sangat penting dan kemudian juga kita harus ajarkan tentang kerendahan hati dan kekudusan, waktu kita berdoa di hadapan Tuhan.
Kita ingat saja waktu Yesus memberi perumpamaan tentang membandingkan kehidupan doa orang Farisi dengan pemungut cukai, nah di situ mengajarkan tentang kerendahan hati seorang pemungut cukai yang doanya diterima oleh Tuhan. Demikian juga tentang kekudusan, ketika ada dosa di dalam diri kita, kita tidak bisa berdoa dengan baik di hadapan Tuhan. Ini saya kira penting kita ajarkan kepada anak ketika kita ingin supaya mereka berdoa.
GS : Apakah ada ayat Alkitab yang tepat Pak yang bisa mendasari atau menjadikan suatu kesimpulan dari pembicaraan kita saat ini?
HE : Saya akan bacakan dari 1 Samuel 1:27-28 , "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari padaNya. Maka akupun menyerahkanya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan, lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada Tuhan."
Ayat ini mengisahkan tentang Hana yang mendapat anak yaitu Samuel dan dia mengucap syukur kepada Tuhan dan saya kira sikap ini penting bagi orang tua yaitu bagaimana orang tua ini menyerahkan anak-anaknya ini kepada Tuhan. Di dalam doanya orang tua mengatakan demikian, seumur hidup terserah anak saya mau dipakai Tuhan seperti apa, nah saya kira ini penting sekali. Dan ada hal lain juga yang perlu kita ajarkan kepada anak-anak mengenai doa yaitu di dalam doa kita tidak hanya semata-mata meminta sesuatu dari Tuhan, tetapi juga misalnya bersyukur, mungkin juga memuji-muji kebesaran Tuhan atau hanya sekadar berdiam diri, merenungkan kebesaran Tuhan dan berdiam di hadapanNya. Saya kira kehidupan ini yang kita perlu ajarkan kepada anak-anak kita.
GS : Saya percaya bahwa pembicaraan kita ini penting sekali khususnya pada generasi yang sekarang ini di mana banyak kesibukan orang tua, tetapi juga tidak bisa memberikan suatu teladan yang nyata kepada anak-anak mereka untuk berdoa dan sebagainya. Kehidupan doa ini kita tahu sesuatu yang penting sekali dan saya percaya bahwa para pendengar kita dan kita sekalian juga akan memulai bagaimanapun sulitnya, bagaimanapun beratnya, tetapi itulah panggilan yang Tuhan berikan kepada kita. Saya melihat doa itu sebagai suatu hak istimewa kita yang sebenarnya Tuhan berikan untuk setiap anak-anakNya. Jadi terima kasih sekali, Pak Heman untuk perbincangan kita pada saat ini. Saudara-saudara pendengar, kami baru saja berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M. Psi. di dalam sebuah judul yaitu mengajar anak berdoa. Kami percaya Anda telah mengikuti perbincangan kami dalam acara TELAGA ini dengan seksama. Namun kalau Anda masih berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, Anda dapat mengalamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) , Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Berdoa sesungguhnya perlu kita ajarkan kepada anak sejak anak masih bayi, pada saat dia masih belum mengerti apa-apa. Misalnya waktu kita menggendong, kita mengajak mereka bercakap-cakap, atau juga kita selipkan doa-doa kita sehingga anak-anak meskipun belum mengerti tapi mereka menghayati suasana doa.
Yang perlu kita lakukan untuk mengajar anak berdoa:
Yang pertama, kita perlu perhatikan adalah contoh dari orangtua lebih dulu. Meskipun anak-anak ini tidak mengerti berdoa, berkata-kata kepada sesuatu pribadi yang tidak kelihatan langsung, tetapi sikap berdoa mungkin itu yang perlu kita ajarkan dan kita contohkan terlebih dulu.
Kita menanamkan sikap berdoa dulu waktu kecil dan ada baiknya ketika anak-anak mulai bisa berkomunikasi, anak-anak sudah mulai berkata-kata anak diajak untuk menhafal doa.
Kita ajak anak-anak untuk mendoakan misalnya temannya, mendoakan kakak atau adiknya, mendoakan ayah atau ibunya.
Kita juga bisa mengajarkan doa Bapa Kami, dan kita juga harus membiasakan anak untuk berdoa sesuatu secara bebas. Jadi kita berusaha melatih mereka untuk berdoa mengucapkan apa saja kepada Tuhan.
Dampak positif dari kita mengajarkan anak berdoa adalah dengan doa, anak selalu merasa dia harus hidup di hadapan Tuhan dan dia tidak bisa lari dari hadirat Tuhan. Dan ketika dia dewasa ada kemungkinan dia akan mengingat masa-masa indah ini di mana dia berdoa bersama keluarganya, dia diajarkan untuk berdoa dan dia pasti akan mengingat hal-hal ini.
1 Samuel 1:27-28 , "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan, lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada Tuhan."
Ayat ini mengisahkan tentang Hana yang mendapat anak yaitu Samuel dan dia mengucap syukur kepada Tuhan dan saya kira sikap ini penting bagi orangtua yaitu bagaimana orangtua itu menyerahkan anak-anaknya kepada Tuhan.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Anak seringkali menimbulkan masalah di tengah-tengah keluarga, hal ini dipengaruhi atau disebabkan oleh adanya sumber-sumber masalah itu sendiri, baik itu yang berasal dari dalam keluarga maupun sumber yang berasal dari luar keluarga.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di manapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya ditemani oleh ibu Wulan dari SAAT akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi beliau adalah salah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mmengapa Anak Saya Bermasalah". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, kita tahu bahwa anak sering kali membawa masalah di dalam keluarga kita, di samping kehadirannya yang membuat keluarga ceria. Tetapi yang banyak orang tidak tahu kenapa anak ini menjadi bermasalah Pak Paul, padahal dididik dengan baik, diasuh dengan baik, tapi kok selalu atau sering menimbulkan masalah itu kenapa, Pak Paul?
PG : Ada beberapa hal yang akan kita bahas Pak Gunawan, yang menjadi penyebab kenapa anak bermasalah. Nah, saya akan membagi penyebab itu dalam dua golongan yaitu sumber-sumber yang berasal dar dalam rumah tangga itu sendiri dan sumber-sumber yang berasal dari luar keluarga itu.
Yang berasal dari luar keluarga biasanya pertama berkaitan dengan perubahan lingkungan hidup. Jadi anak bisa mulai menunjukkan masalah-masalah perilaku, tatkala dia itu pindah rumah sehingga dia harus meninggalkan teman-temannya dan dalam lingkungannya yang baru dia belum mempunyai teman-teman. Atau dia pindah sekolah dan dia di sana juga harus bertemu dengan lingkungan yang baru yang belum mengenalnya nah kadang-kadang akibat perpindahan lokasi tempat tinggal dan sekolah ini terjadilah masalah perilaku. Misalkan ada anak yang tidak mau sekolah, ada anak yang tiba-tiba pelajarannya menurun dengan drastis dsb. Yang lain adalah perubahan gaya hidup, ini juga termasuk sumber dari luar. Gaya hidup yang saya maksud di sini misalnya adalah dari keadaan berkecukupan masuk menjadi keadaan yang tidak berkecukupan. Biasa dulu bisa pergi main ke tempat-tempat 'games center' misalnya tapi sekarang tidak bisa lagi sehingga harus berdiam di rumah, dulu naik kendaraan bermotor sekarang harus naik angkutan kota dsb. Nah itu juga bisa berdampak pada anak dan si anak karena tidak siap dalam beradaptasi dengan gaya hidup yang baru itu dia menunjukkan atau memunculkan masalah perilaku atau emosional. Yang lainnya juga yang sangat umum adalah tekanan akademik. Adakalanya anak-anak berada dalam sistem sekolah yang tidak tepat untuk dia, dia tidak bisa menunjukkan kebolehannya, dia merasa tertekan, akhirnya dari masalah-masalah sekolah itu merembet ke masalah-masalah perilaku di rumah dan di luar sekolah. Dan yang terakhir adalah yang bisa saya pikirkan yaitu tekanan teman. Adakalanya anak-anak kita itu tidak diterima oleh lingkungannya, oleh teman-temannya, karena tidak diterima dia akhirnya harus dikucilkan dan merasa sangat-sangat terpinggirkan. Atau justru kebalikannya, dia diterima namun dengan tuntutan jadi harus hidup sesuai dengan teman-temannya. Tuntutan teman-temannya macam-macam, ada yang menuntut agar dia berbuat hal-hal yang negatif, melakukan hal-hal yang terlarang atau dia dituntut untuk menurut pada teman-temannya, tidak boleh berbantah. Nah kadang-kadang dalam lingkup-lingkup seperti itu tuntutan teman itu tidak bisa dipenuhinya dengan baik, dia tertekan sekali. Nah inilah yang saya maksud dengan sumber-sumber luar yang bisa menjadi penyebab kenapa anak kita akhirnya bermasalah.
GS : Tapi mengenai gaya hidup, itu bisa juga terjadi dari yang tadinya kurang mampu, menjadi mampu, Pak Paul. Apakah itu juga bisa memicu timbulnya masalah?
PG : Itu bagus sekali Pak Gunawan, jadi adakalanya anak-anak yang misalnya terbiasa hidup pas-pasan atau bahkan dalam kekurangan sekarang mendapatkan peningkatan, jadi bisa membeli barang dsb. isa jadi karena tidak bisa menguasai diri dan misalnya orang tua juga langsung jor-jorana atau berlomba memberikan kebebasan membeli barang, bisa jadi uang itu atau peningkatan taraf hidup itu menjadi pemicu munculnya masalah.
Dia misalnya cenderung membelikan barang untuk teman-temannya, jadi seolah-olah dia membeli teman-temannya dengan uangnya atau dia mulai merasa terlalu berkuasa di kalangan teman-temannya, sehingga akhirnya tidak bisa dibendung oleh mereka, kehendaknya harus terjadi itu bisa juga menjadi masalah.
GS : Ya mengenai lingkungan Pak Paul, yang sulit kita pantau itu yang bisa berubah sewaktu-waktu entah karena ada kekacauan, entah ada kerusuhan dalam kota atau di sekolah itu juga bisa menimbulkan masalah, Pak Paul?
PG : Bisa, jadi kadang-kadang memang hal-hal yang terjadi di luar itu seperti kerusuhan atau keadaan yang mencekam bisa membawa tekanan tertentu pada si anak, sehingga dia misalnya menjadi taku sekali untuk pergi ke sekolah atau bergaul dengan teman-temannya, itu sering kali terjadi juga.
GS : Kalau yang bersumber dari dalam rumah sendiri, apa Pak Paul?
PG : Yang paling umum adalah konflik antara orang tua Pak Gunawan, jadi anak-anak yang terus-menerus terekspos pada konflik antara orang tua tidak bisa tidak akan terpengaruh secara negatif. Meeka biasanya akan tertekan sekali, dan karena konflik antara orang tua itu terjadi dengan cukup sering dia akan mengembangkan rasa takut atau dia mengembangkan rasa marah terhadap orang tuanya yang terus berkelahi.
Nah akibatnya rasa takut itu dan rasa marah itu akan keluar, akan luber. Lubernya dalam kelakuan-kelakuan yang bermasalah, kalau dia terlalu penuh dengan rasa takut dia bisa mengembangkan diri yang sangat penakut, penuh dengan kecemasan dan ketegangan. Sebaliknya kalau yang lebih memenuhi hatinya adalah kemarahan, pemberontakan nah dia akan keluar dari rumah membuat masalah di luar, perilakunya menjadi destruktif, tidak lagi mendengarkan bimbingan dari orang lain. Jadi yang paling umum adalah konflik antara orang tua. Yang lainnya lagi adalah sumber dari dalam yakni hilangnya atau dalam hal ini kematian dari seseorang yang dekat dengannya. Jadi tidak jarang Pak Gunawan, kalau si anak itu misalkan dekat dengan kakeknya kemudian si kakek meninggal dunia nah itu bisa menimbulkan gejolak dalam diri si anak. Sehingga akhirnya dalam gejolak itu dia memunculkan reaksi-reaksi tidak mau ke sekolah, maunya di rumah saja, dia bisa mengembangkan rasa takut yang begitu berlebihan. Sekarang dia ketakutan kalau-kalau nanti mamanya atau papanya yang meninggal, gara-gara kakeknya meninggal dia akhirnya menjadi sangat protektif terhadap papa-mamanya dan bisa-bisa dia tidak mau pergi ke mana-mana termasuk ke sekolah karena dia takut kalau dia pergi ke sekolah nanti ayah atau ibunya meninggal dunia. Nah, jadi dia akan mau di rumah saja, akan menuntut orang tuanya terus-menerus melayani dia, nah hal itu juga bisa terjadi. Dan yang terakhir adalah sumber dari dalam yakni perlakuan orang tua yang negatif terhadap anak. Nah ini contohnya adalah kalau misalnya orang tua terlalu sering memarahi anak atau terlalu menolak anak, menuntut anak berlebihan dan sebagainya. Nah itu hal-hal yang akhirnya sangatlah berdampak pada pertumbuhan si anak.
GS : Pak Paul, kalau secara umum antara pengaruh luar dan pengaruh yang dari dalam rumah, itu sebenarnya yang paling besar pengaruhnya yang mana Pak?
PG : Harus saya akui yang paling besar di dalam rumah Pak Gunawan, sebab asumsi saya seberapa besarnya pun tekanan dari luar, kalau keluarga solid keluarga akan bisa memberikan dukungan kepada i anak dalam menghadapi perubahan-perubahan yang harus dilewatinya itu.
Misalkan perpindahan rumah atau sekolah sudah tentu itu membawa stres pada si anak, namun kalau orang tua bisa memberikan kehangatan, penerimaan, dorongan dan si anak bisa berakses langsung ke orang tua bisa berbicara, bisa cerita dsb, nah itu akan menolong si anak untuk bisa melewati masa yang sulit itu. Tapi sekali lagi meskipun lingkungan luar mendukung, tidak ada masalah, si anak itu baik-baik saja di luar, tapi kalau di rumah tidak ada dukungan karena orang tua misalkan pergi dari pagi sampai malam, tidak begitu mempedulikan anak, atau mereka sering kali bertengkar atau perlakuan terhadap anak buruk, seberapa bagusnya pun dukungan yang diterimanya dari luar itu tetap akan mempengaruhi dia kalau yang dari dalam itu sangat buruk.
GS : Karena itu ada yang mengatakan kalau bertengkar jangan di depan anak, tapi sekalipun pertengkaran itu tidak dilakukan di depan anak, saya itu merasa anak itu tahu kalau orang tuanya bertengkar, Pak Paul?
PG : Betul, dan ketegangan itulah yang akan ditangkap oleh si anak bahwa papa-mama dalam keadaan yang tidak baik, sehingga mereka pun tidak begitu berani untuk berbicara dengan orang tuanya, atu cerita kepada orang tuanya, nah kadang-kadang itu yang terjadi.
GS : Jadi kalau begitu apa yang harus kita perhatikan, kalau kita itu sebagai pihak orang tua, Pak Paul?
PG : Ada beberapa panduan yang akan saya bagikan Pak Gunawan, yang pertama adalah tuntutan, jadi orang tua perlu bertanya apakah tuntutannya sesuai dengan kemampuan anak. Adakalanya orang tua brpikiran terlalu positif, orang tua beranggapan bahwa anak saya mampu, nah kenyataannya adalah tidak selalu anak mampu.
Mampu dalam pengertian tuntutan yang diembankan padanya tidak sesuai dengan kemampuannya, sudah tentu kalau misalnya ini yang terjadi, orang tua harus peka dan menyeimbangkannya antara kemampuan anak dan tuntutannya. Misalnya salah satu yang menjadi gejala dewasa ini adalah orang tua menginginkan anak-anak sekolah di sekolah yang unggul. Nah sekolah unggul berarti memang untuk anak unggul dan saya mengerti betapa indahnya kalau anak-anak kita semuanya dikategorikan anak-anak unggul. Tapi faktanya adalah tidak semua anak-anak kita unggul nah kita mesti bisa melihat dengan jelas kemampuan anak-anak kita. Dan misalkan dia itu bersekolah di sekolah yang biasa pun tapi kalau memang dia tidak menyukai bidang-bidang yang tertentu dan hanya bidang-bidang yang tertentu saja dia sukai, kita juga harus bisa memilah untuk bidang yang dia memang tidak begitu bisa. Kita tidak terlalu mendesaknya, memarahinya, kalau dia tidak mencapai angka yang kita inginkan. Kita bisa memberikan dia harapan, kita bisa mendorongnya agar dia belajar tapi setelah dia belajar hasil berapa pun yang dia dapat ya kita terima. Tapi untuk bidang yang kita tahu dia lebih bisa nah kita lebih dorong dia di sana. Salah satu sumber ketegangan antara orang tua dan anak adalah masalah belajar, masalah sekolah dan saya kira salah satu penyebabnya adalah tuntutan orang tua. Nah orang tua juga harus menyadari tuntutan itu harus diikuti oleh rekreasi jangan sampai orang tua lupa, kadang kala orang tua hanya maunya anak belajar, pulang sekolah harus belajar, pulang sekolah harus belajar nah kapan anak itu bisa rekreasi, senang-senang dsb. Jadi perlu ada pembagian waktu kapan belajar, kapan bermain atau bisa main video games atau apa, jadi perlu pembagian waktu sehingga tuntutan yang orang tua embankan kepada anak menjadi tuntutan yang realistik.
WL : Pak Paul, banyak orang tua pada umumnya yang sering saya dengar orang tua menganggap anak di dalam usia anak itu tidak tahu apa yang terbaik buat mereka begitu. Nah jadi tugas kamilah sebagai orang tua atau tanggung jawab kami itu memberikan yang terbaik buat mereka. Jadi kami harus, sebagai orang tua memacu, mendorong anak supaya maksudnya memaksimalkan kemampuan mereka kalau tidak dipacu bisa saja mereka malas padahal sebenarnya mampu, nah itu hikmatnya bagaimana untuk menyeimbangkan hal itu?
PG : Saya setuju bahwa orang tua itulah yang memberi arah kepada anak jadi jangan sampai anak-anak itu tidak mendapatkan pengarahan sama sekali. Anak-anak yang bertumbuh besar tanpa pengarahan rang tua, menjadi anak-anak yang tersesat dalam hidup ini, mencari-cari arah dalam hidupnya.
Jadi perlu sekali, tapi orang tua perlu melihat dengan jelas apa yang menjadi talenta atau kebisaan atau karunia si anak itu. Dan mengarahkan sesuai dengan kemampuan itu. Nah yang saya takut adalah kebanyakan orang tua kurang memahami hal ini. Misalnya kebanyakan orang tua itu beranggapan kalau anak saya bisa mendapatkan nilai 8 di Matematika, seharusnya dia memperoleh nilai 8 di bidang-bidang lainnya misalnya di bidang-bidang lainnya misalnya di bidang bahasa dan sebagainya. Nah faktanya adalah kita pun tahu bahwa kita ini jarang sekali yang bisa semua, kebanyakan kita hanya bisa sebagian, karena itulah ada yang namanya kekuatan kita, ada yang namanya bukan kekuatan kita. Tugas orang tualah untuk mengerti bahwa waktu anaknya jago atau mampu dalam matematika kemungkinan besar dia akan lemah dalam bidang-bidang yang kebalikannya dari matematika misalnya dalam bidang sejarah, hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan bahasa mungkin sekali anaknya lemah di situ. Atau kebalikannya dia kuat dalam bidang bahasa, menulis dsb nah di dalam misalnya ilmu alam dia kurang kuat, nah itu hal yang harus orangtua terima. Jadi saya kira orang tua bermaksud baik supaya anak-anak itu bisa memaksimalkan kemampuan tapi ya harus disadari bahwa kemampuan si anak itu tuh terbatasi dalam bidang-bidang tertentu saja.
WL : Dan itu wajar sekali Pak Paul ya?
PG : Sangat wajar, jadi justru kalau orang tua menyamaratakan bahwa anak harus baik dalam semua bidang, ya, anak itu genius. Nah kenyataannya yang genius itu minoritas, jarang sekali.
GS : Jadi yang dibutuhkan sebenarnya oleh orang tua selain tuntutan juga tuntunan. Jadi adakalanya tuntunan ini yang kadang-kadang dinomorduakan oleh orang tuanya, padahal anak itu lebih membutuhkan tuntunannya dari pada tuntutannya.
PG : Itu istilah yang bagus sekali Pak Gunawan, jadi selain tuntutan juga tuntunan. Nah tuntunan sudah tentu didasari atas pengenalan orang tua akan anaknya nah jangan sampai orang tua tidak megenal anak karena dari pagi sampai malam sudah sibuk pulang-pulang malam sudah tidak tahu lagi anaknya bisa apa, maunya apa, hobynya apa, interestnya apa, dia tidak tahu.
Tugas orang tualah untuk dekat dengan anak, sehingga dia mengerti apa yang sebetulnya menjadi interest si anak itu.
GS : Banyak yang mengatakan orang tua kadang-kadang lebih kenal orang lain daripada kenal anaknya sendiri Pak Paul. Sering kali terjadi begitu, tapi bukankah tiap-tiap orang tua tentu punya harapan-harapan atau idealisme tertentu untuk anaknya Pak Paul, apakah itu salah?
PG : Tidak, tidak salah asal idealisme itu cocok dengan kemampuan si anak, yang menjadi salah adalah kalau idealisme itu tidak ada kaitannya dengan kebisaan si anak, nah itu akan menjadi beban agi si anak.
GS : Misalnya bagaimana Pak Paul, contoh konkretnya?
PG : Misalnya yang paling jelas adalah banyak orang tua tetap masih dipengaruhi oleh cara pikir lamanya yaitu kalau sudah besar anak-anak menjadi dokter, menjadi insinyur, menjadi bankir misalna hanya itu saja.
Padahal sekarang bidang studi sudah begitu menjamur, sehingga tidak ada sekolah satu pun yang bisa mempersiapkan anak untuk menempati jabatan-jabatan yang sekarang tersedia dalam hidup ini. Terlalu banyak ragam pekerjaan sekarang ini, jadi memang tidak bisa disiapkan. Kadang-kadang orang tua karena tahunya hanya beberapa bidang itu memaksa anak masuk ke bidang yang tadi ia pikirkan nah itu 'kan belum tentu tepat. Jadi memang mengarahkan saja dulu, dia kuat di mana itu yang didorong, yang tidak ya tidak.
GS : Apakah itu berkaitan dengan kepribadian anak itu, Pak Paul?
PG : Sangat berkaitan, jadi misalkan anak-anak yang lebih pendiam, mungkin sekali keterampilan interpersonalnya agak lemah. Nah si orang tua tidak bisa membawa anak ini, misalnya masuk menjadi ntrepreneur atau menjadi kuat dalam bisnis, marketing dsb ya mungkin tidak tapi harus diterima bahwa dia punya kekuatan yang lainnya begitu.
WL : Ada kemungkinan tidak Pak Paul, orang tua waktu mudanya tidak mencapai apa yang dia impikan. Bisa karena tidak mampu atau sebetulnya dia mampu cuma kondisi keuangannya tidak memungkinkan untuk mencapai itu, lalu terlampiaskannya kepada anak, jadi memaksa anak begitu Pak?
PG : Itu sering terjadi, jadi akhirnya orang tua menjadikan anak itu perpanjangan dirinya. Perpanjangan diri dalam pengertian yang tidak dia capai dulu nah sekarang dia harapkan terjadi pada anknya.
Ini membawa kita kepada point berikutnya Ibu Wulan yaitu harapan orang tua itu kadang-kadang membawa harapan yang tidak sesuai dengan kepribadian anak. Anak itu harus menjadi apa, tapi kepribadiannya tidak cocok. Tidak bisa berbicara di muka umum didorong-dorong harus bisa memimpin, anak itu memang pendiam suka membaca di dalam kamar ya sudah kita terima. Kita dorong dia boleh tapi jangan dipaksa, jadi harapan-harapan itu sangat penting sekali. Misalnya yang lain lagi adalah penerimaan, nah kadang-kadang orang tua hanya menerima anak kalau anak itu memenuhi kondisi mereka, anaknya manis, ulangannya dapat bagus, tapi apakah anak-anak kita semuanya seperti itu, apakah anak-anak kita semuanya akan manis-manis, kenyataannya kok tidak. Jadi jangan sampai orang tua terlalu menetapkan kondisi, baru menerima anak. Nah anak perlu tahu bahwa apa adanya mereka itu telah diterima sepenuhnya oleh orang tua. Nah jadi kita mesti perhatikan tentang penerimaan itu. Dan yang berikutnya adalah penghukuman, orang tua ini kadang-kadang kalau lagi menghukum anak yang muncul adalah kebencian, marah atas perbuatan anak tidak sama dengan membenci diri anak, nah orang tua jangan sampai membaurkan keduanya. Adakalanya dalam kemarahan orang tua itu memarahi anak dengan nada yang benci, membenci pribadi si anak, itu jangan.
GS : Tapi disiplin tetap perlu ditegakkan, Pak Paul?
PG : Disiplin perlu, jadi kita menyoroti perbuatannya, kita marah atas perbuatannya. Tapi kita tidak membenci diri si anak nah ini orang tua perlu jaga. Yang berikutnya adalah pemberian kasih, adi jangan sampai orang tua ini terlalu berlebihan memberikan kasih, dalam pengertian semua dibolehkan, anaknya tidak pernah salah, orang lain yang salah, semua dibela membabi buta anaknya yang paling hebat, itu pemberian kasih yang sudah tidak lagi tepat sasaran.
Nah ini sering kali justru akan berdampak negatif pada si anak di kemudian hari. Dan yang terakhir adalah orang tua perlu memperhatikan percakapannya, apa yang menjadi isi percakapan kita. Apakah itu lebih sering berisi keluhan-keluhan, ketidakpuasan kita, pembandingan-pembandingan, anak ini begini kamu kok begini atau celaan-celaan, nah hal-hal seperti itu perlu kita perhatikan. Apa yang menjadi karakteristik utama pembicaraan kita di rumah itu yang perlu orang tua tanyakan.
GS : Jadi sebenarnya kalau anak bermasalah itu awalnya orang tuanya yang bermasalah Pak Paul ya?
PG : Sebetulnya kita tidak bisa mematok pasti begitu, kadang-kadang pengaruh-pengaruh luar, teman-teman juga bisa memunculkan masalah. Maka tadi awalnya saya katakan ada masalah yang muncul dar luar.
Namun tetap saya tekankan kalau di rumah kuat, penerimaannya kuat, disiplin juga kuat, seharusnya yang dari luar itu tidak akan mengobrak-abrikkan yang di dalam tapi kebalikannyalah yang sering kali terjadi, di dalam rumah memang sudah ada masalah.
GS : Ya ada bagian Alkitab yang mengatakan apa yang kita tabur itu yang harus kita tuai.
PG : Betul sekali, nah Pak Gunawan dan Ibu Wulan, saya ingin membacakan suatu puisi yang indah sekali, yang saya kira banyak pendengar kita telah juga mendengarnya. Untuk mengingatkan kita apa ang harus kita lakukan sebagai orang tua.
Judulnya adalah anak akan hidup sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya,
Jika anak hidup dengan celaan, dia akan belajar menghakimi orang
Jika anak hidup dengan kebencian, dia akan belajar untuk bermusuhan
Jika anak hidup dengan ejekan, dia akan menjadi minder
Jika anak hidup dengan rasa malu, dia akan dihantui oleh rasa bersalah
Jika anak diberikan semangat, dia akan belajar untuk percaya diri
Jika anak hidup dengan pujian, dia akan belajar untuk menghargai orang
Jika anak hidup dengan keadilan, dia akan belajar bersikap adil
Jika anak hidup dengan rasa aman, dia akan belajar untuk beriman
Jika anak hidup dengan penerimaan, dia akan belajar untuk menyukai dirinya
Dan jika anak hidup dengan persahabatan, dia akan belajar untuk mengasihi hidup ini.
GS : Tapi memberikannya itu harus dalam porsi yang pas itu ya Pak Paul, kalau berlebihan bisa negatif. Seperti pujian misalnya tadi dikatakan bisa berdampak positif tapi kalau pujian itu berlebihan bisa berakibat negati.
PG : Betul, jadi memang perlu keseimbangan dalam segalanya ini.
GS : Pak Paul, sebelum kita mengakhiri pembicaraan kita kali ini, apakah ada ayat firman Tuhan yang pas untuk mendukung pembicaraan ini.
PG : Amsal 3:27 berkata: "Janganlah engkau menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." Saya tetap ingatkan para orng tua, kita mempunyai tanggung jawab jangan sampai kita menahan tanggung jawab yang baik ini dari anak-anak kita yang berhak menerimanya.
Mereka berhak menerima penerimaan, berhak menerima kasih, berhak menerima disiplin, berhak menerima pemberian semangat, kita harus memberikannya jangan sampai kita menahan kebaikan-kebaikan itu dari anak-anak kita.
GS : Tetapi saya percaya bahwa orang tua akan memberikan yang terbaik untuk anaknya baik bidang pendidikan, dsb. Hanya masalahnya kadang-kadang apa yang diberikan tidak pas Pak Paul, jadi yang dibutuhkan tidak diberikan, yang tidak dibutuhkan malah diberikan.
PG : Salah satu tAnda untuk melihat kita pas atau tidak pas adalah perilaku si anak. Kalau dia mulai memunculkan masalah seharusnya itu adalah tAnda awas o.....o....mungkin yang kita lakukan kuang pas, kita harus lebih sesuaikan lagi.
GS : Pak Paul, kalau masalah itu sebenarnya masalah dalam apa yang sering kali muncul itu?
PG : Biasanya dalam emosi dan perilakunya. Jadi kalau emosi misalnya terlalu mudah naik turun, marah, banting barang atau depresi, sedih, sendu terus-menerus atau dalam bentuk perilaku misalnyamulai bohong, mencuri, mencontek, tidak mau sekolah, membangkang nah itu hal-hal yang berkaitan dengan perilaku.
GS : Jadi terima kasih sekali Pak Paul dan Ibu Wulan, juga pendengar sekalian, bahwa kita sudah melakukan perbincangan pada saat ini tentang suatu topik yang menarik yaitu "Mengapa Anak Saya Bermasalah". Anda baru saja mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk No. 58 Malang . Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Masalah dapat dipicu oleh dua sumber: dari luar dan dari dalam.
Sumber Luar:
Perubahan lingkungan hidup, misalnya pindah rumah atau pindah sekolah
Perubahan gaya hidup, misalnya dari keadaan berkecukupan menjadi tidak berkecukupan
Tekanan akademik
Tekanan teman, misalnya penolakan teman atau tuntutan teman
Sumber Dalam
Konflik antara orang tua
Hilangnya (kematian) seseorang yang dekat dengannya
Perlakuan orang tua yang negatif
Dari semua yang paling berpengaruh ialah perlakuan negatif dari orang tua. Perlakuan orang tua akan mencetak anak.
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam memperlakukan anak:
Tuntutan: Apakah sesuai dengan kemampuan anak?
Harapan: Apakah sesuai dengan kepribadian anak?
Penerimaan: Apakah sarat dengan kondisi bersyarat?
Penghukuman: Apakah bermuatan kebencian dan berlebihan?
Pemberian kasih: Apakah berlebihan?
Percakapan: Apa yang menjadi isi percakapan kita? Apakah itu keluhan, ketidakpuasan, pembandingan, celaan dsb?
Anak akan Hidup Sesuai dengan Apa yang Telah Dipelajarinya
Jika anak hidup dengan celaan, ia akan belajar menghakimi orang.
Jika anak hidup dengan kebencian, ia akan belajar untuk bermusuhan.
Jika anak hidup dengan ejekan, ia akan menjadi minder.
Jika anak hidup dengan rasa malu, ia akan dihantui oleh rasa bersalah.
Jika anak diberikan semangat, ia akan belajar untuk percaya diri.
Jika anak hidup dengan pujian, ia akan belajar untuk menghargai orang.
Jika anak hidup dengan keadilan, ia akan belajar bersikap adil.
Jika anak hidup dengan rasa aman, ia akan belajar untuk beriman.
Jika anak hidup dengan penerimaan, ia akan belajar untuk menyukai dirinya.
Jika anak hidup dengan persahabatan, ia akan belajar untuk mengasihi hidup ini.
Amsal 3:27 , "Janganlah engkau menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya."
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Ada banyak hal yang perlu ditolak dan yang perlu anak ketahui, salah satu misalnya eksperimen seks di luar nikah, pornografi, judi, minum-minuman keras, menggunakan narkoba dan sebagainya. Ini hal-hal yang sangat berbahaya yang menjadi masalah besar bagi anak-anak generasi sekarang ini dan itu perlu diajarkan sejak dini.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Ester Tjahja, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengajar Anak Berani Menolak". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Heman, beberapa waktu yang lalu kita telah memperbincangkan bagaimana mengajarkan anak untuk patuh, tetapi dalam kehidupan nyata ini kalau seseorang itu patuh, patuh, patuh terus tanpa mempedulikan kepada siapa dia harus patuh, bukankah pada suatu saat itu akan membahayakan dirinya sendiri?
HE : Tepat sekali Pak Gunawan, jadi selain kepatuhan seperti yang pernah kita perbincangkan kita juga perlu memberi ruang kepada anak untuk mengatakan 'tidak' atau menolak suatu permintaan.Karena kalau misalnya kita membiarkan anak untuk patuh terus-menerus memang kelihatannya anak itu manis, tetapi repotnya kadang-kadang mereka menjadi tidak berani menolak hal-hal yang membahayakan mereka.
GS : Sampai seberapa jauh batasan untuk mengajarkan anak bahwa yang ini kamu harus tolak, yang ini kamu harus patuh. Nah bukankah kadang-kadang anak juga akan mengalami kesulitan?
HE : Ya, betul, kita memang harus mengajarkan dulu yang mana yang mereka tidak boleh terima, yang mana yang harus mereka terima dan seterusnya. Jadi untuk hal ini PR-nya orangtua memang banak.
GS : Biasanya kami memulai dengan pokoknya yang dikatakan orangtua kamu patuhi tapi untuk yang di luar orangtua kamu pikir-pikir dulu.
HE : Mungkin untuk anak-anak yang masih lebih muda hal ini bisa dilakukan atau diterima oleh anak tetapi makin anak besar, anak harus diajak untuk berpikir. Jadi ada banyak hal yang perlu dtolak yang perlu anak ketahui, salah satu misalnya eksperimen seks di luar nikah, pornografi, judi, minum-minuman keras, menggunakan narkoba dan sebagainya.
Ini hal-hal yang sangat berbahaya yang menjadi masalah besar bagi anak-anak generasi sekarang ini.
ET : Apakah kita memang menunggu usia-usia tertentu untuk mengajarkan ini atau lebih dini lebih baik, menurut Pak Heman bagaimana?
HE : Saya kira untuk mereka mengatakan 'tidak' kita perlu ajarkan sejak dini tetapi bukan itu saja misalnya hal-hal yang sudah boleh mereka ketahui misalnya tentang seks, minuman-minuman keas, itu sejauh usia perkembangan mereka kita perlu juga memberitahukan apa yang tidak baik, apa yang tidak boleh dilakukan dan seterusnya.
Dan kalau misalnya ada orang melakukan seperti ini kepada kamu, memegang bagian ini pada kamu, tolong kamu beritahukan segera kepada Papa dan Mama karena itu perbuatan yang tidak baik. Kamu harus lawan misalnya kamu mengatakan, "Tidak, tidak mau," dan sebagainya dengan keras kepada orang itu. Jadi dari kecil meskipun mereka belum tahu tentang seks di dalam arti yang sebenarnya, paling tidak mereka tahu bahwa hal-hal tertentu yang dilakukan oleh orang dewasa atau orang lain itu membahayakan mereka dan harus mereka tolak.
GS : Saat yang paling tepat saya rasa anak ini mulai berinteraksi dengan orang di luar rumah, misalkan dia sudah mulai bermain-main di luar atau di jalan bahkan sudah mulai masuk sekolah. Misalnya dijemput, bukankah kadang-kadang ada orang yang tidak kenal yang menjemput dengan tujuan menculik. Jadi anak sudah dipersiapkan, "Kalau tidak kenal siapapun yang mengajak kamu, dirayu atau diberi hadiah kamu harus bilang 'tidak'."
HE : Ya ini contoh yang baik sekali, jadi anak diajarkan tentang bahaya apa yang perlu mereka hindari.
GS : Selain tadi yang Pak Heman katakan, masalah-masalah seksual apakah ada hal-hal yang lain?
HE : Hal-hal yang lain misalnya tentang narkoba, ini memang masalah yang cukup mengerikan. Memang tidak sepenuhnya kita bisa sungguh-sungguh mencegah secara total, tetapi paling tidak kita isa mengajarkan anak jangan sembarangan menerima pemberian misalnya permen, promosi makanan dan sebagainya.
Mereka tidak boleh menerima terutama yang gratisan atau kalau mau membeli pun mereka perlu bertanya dulu kepada orangtua apakah ini boleh atau tidak. Kalau ada orang-orang yang menawarkan sesuatu kepada mereka, apalagi dari orang yang tidak dikenal, mereka harus berani menolaknya. Ini yang perlu kita ajarkan kepada mereka.
GS : Berarti orangtua itu harus memberikan bimbingan kepada anak tentang bagaimana mengatakan 'tidak' kepada pihak-pihak yang mau merugikan dia. Tetapi bagaimana pola pembimbingan itu sendiri?
HE : Selain tadi yang sudah disebutkan kita memberitahukan dan memberikan pengetahuan tentang kehati-hatian dan tentang bahaya di sekitar kita, soal kriminalitas, soal seks, soal narkoba da sebagainya sesuai dengan batas usia mereka, kita juga perlu memberitahukan bagaimana cara menolak permintaan.
Contohnya antara lain menolak dan langsung pergi, salah satu contohnya kita bisa mengatakan seperti ini; kalau misalnya anak kita pernah diajak untuk membolos sekolah dan mereka cerita, kita bisa memberikan cara. "Kamu lain kali kalau diajak begitu, kamu boleh bilang begini: "Sorry, saya ini ada pelajaran yang belum jelas dan saya mau tanya kepada guru, mau ikutan yuk." Jadi setelah mengatakan sorry, mereka langsung pergi jangan terus berada di situ. Karena kalau terus di situ dan tidak langsung pergi, biasanya tekanan itu makin lama makin besar. Kemudian hal yang lain adalah kita perlu melatih anak untuk mengatakan 'tidak' dengan suara yang tegas dan cukup keras. Jadi ini bisa dalam permainan drama dengan anak, kita menjadi temannya yang jahat dan mereka yang harus menolak. Ini memang harus dimulai dari anak sejak muda, karena kalau mereka sudah mencapai usia remaja mereka tentu malu melakukan ini. Kemudian hal berikutnya adalah mereka diajarkan untuk menghindarkan diri dari situasi-situasi yang bisa membuat mereka serba salah. Jadi kalau mereka sudah tahu ada kelompok-kelompok tertentu yang kurang baik kita suruh agar tidak dekat-dekat dengan mereka, karena kalau mereka sudah dekat dan sudah masuk ke kelompok itu mereka akan susah untuk keluar lagi, ini perlu kita beritahukan kepada mereka agar mereka langsung pergi. Dan mungkin juga yang berguna adalah membantu anak mempunyai banyak kegiatan dan teman yang sehat, misalnya mengikutsertakan mereka dalam kegiatan gerejawi supaya mereka bisa ikut club olahraga yang baik, sanggar seni dan sebagainya.
ET : Jadi memang pilihan teman itu juga berpengaruh besar untuk mereka bisa berkata 'tidak'?
HE : Betul sekali, karena kalau teman-teman ini teman yang jahat bisa membuat tekanan sehingga lama-kelamaan mereka susah untuk mengatakan 'tidak', sedangkan teman-teman yang baik bisa memprkuat mereka, membantu mereka, mendukung mereka untuk mengatakan 'tidak' kepada kelompok yang jahat.
ET : Tapi kadang-kadang bisa jadi menimbulkan konflik yang lebih besar, karena dia dibesarkan di lingkungan yang baik-baik, di keluarga yang baik, tetangga-tetangga yang baik, kemudian tema-teman sekolah yang baik.
Tetapi semakin besar anak bukankah pergaulannya semakin luas, kemudian sampai usia tertentu seperti matanya terbuka melihat wah ternyata ada yang tidak baik. Sementara dia menjadi tidak terlatih.
HE : Ya, bisa jadi begitu karena itu kita sebagai orangtua juga kalau bisa mempunyai hubungan yang baik dengan anak supaya kita bisa segera tahu apa yang mereka alami. Biasanya anak-anak yag baik yang dekat dengan orangtua akan bisa cerita dengan bebas apa saja yang dia alami, kalau misalnya mereka menghadapi tekanan yang lebih besar ketika mereka terbuka matanya lalu dengan bercerita orangtua mendengarkan, memahami tanpa terlalu banyak memberikan nasihat itu sudah merupakan suatu dukungan bagi anak, memperkuat anak untuk tidak ikut-ikutan.
GS : Memang sampai ada orangtua memindahkan anaknya dari sekolah tertentu karena orangtua melihat pergaulannya sudah mulai membahayakan bagi anaknya.
HE : Ini salah satu cara juga untuk menghindarkan anak dari tekanan yang terlalu berat, saya kira ini tindakan yang baik untuk dilakukan kalau memang itu memungkinkan.
ET : Walaupun tidak selalu menjamin juga Pak Gunawan?
GS : Memang tidak menjamin, tapi sebagai tindakan darurat dipindahkan anaknya ke sekolah yang lain, walaupun agak berat. Bagi anak itu sendiri keluar dari lingkungan itu juga berat karena sudah mempunyai banyak teman dan sebagainya.
HE : Betul, tetapi kita juga boleh melihat dengan satu kacamata yang positif juga, kadangkala meskipun anak ini hidup di lingkungan itu justru dia bertumbuh dalam kemandiriannya dan kekuatanya untuk menolak bahkan mungkin mempengaruhi teman-temannya ke arah yang baik.
GS : Ada kekhawatiran juga di dalam diri orangtua ketika mengajarkan anaknya untuk berkata 'tidak', orangtua masih khawatir jangan-jangan anak ini nanti berani melawan dia sebagai orangtua. Bukankah itu akan menjadi senjata makan tuan.
HE : Ya karena itu seperti yang di waktu lalu kita pernah membicarakan tentang mengajar anak akan kepatuhan maka urut-urutannya harus dari semula mengajarkan kepatuhan dan memberikan landasn yang baik lebih dulu.
Selain itu kita perlu memberikan landasan pengetahuan moral yang baik kepada anak di dalam Tuhan, jadi mengajar anak tentang Firman Tuhan sedari mereka masih kecil. Jadi mereka bisa membedakan mana yang baik mana yang tidak. Setelah anak patuh dan anak mempunyai ketulusan lalu kita ajarkan anak untuk mengatakan 'tidak' untuk melawan yang tidak baik, pada saat seperti itu anak sudah bisa melakukan pilihan di mana anak tumbuh di dalam dirinya rasa tanggung jawab dan kemandirian. Kalau urutan itu yang dipakai maka biasanya orangtua masih mempunyai otoritas kepada anak dan anak akan bisa memilih mana yang dia harus patuhi dan mana yang dia harus tolak.
GS : Bagaimana kita mengajarkannya Pak Heman, supaya anak itu bisa mengatakan 'tidak', secara tepat dan mengatakan 'ya' juga pada tempatnya?
HE : Pertama-tama kita perlu mengajarkan kepada mereka apa yang Tuhan sukai dan apa yang tidak berkenan di hati Tuhan. Dan berikutnya adalah mengusahakan supaya anak mempunyai kebanggaan dii dan identitas diri yang kuat.
Karena biasanya anak yang sering kali susah menolak permintaan temannya adalah anak yang tidak mempunyai kebanggaan diri, dia misalnya merasa rendah diri terhadap teman-temannya, jadi dia selalu ingin menyenangkan hati teman-temannya dengan cara memenuhi keinginan mereka. Kalau mereka mempunyai kebanggaan diri misalnya orangtua memberikan keterampilan tertentu yang unik kepada anaknya dan anaknya bangga dengan keterampilan itu. Atau anak ditumbuhkan kepercayaan dirinya di dalam keluarga sehingga dia tidak perlu mencari-cari perhatian di luar, mencari persetujuan dari teman-temannya di luar, maka anak-anak seperti ini dia akan lebih bisa menolak dan mengetahui mana yang tidak baik dan mana yang baik.
ET : Dan kadang-kadang yang saya lihat adalah penanaman kepatuhan justru membuat anak memang patuh tapi tidak mempunyai identitas diri, larut karena papa bilang tidak boleh, mama bilang tidk boleh.
HE : Ya betul, jadi apa-apa dari papa dari mama dan ini akan mudah sekali dipakai oleh teman-temannya untuk mempermalukan anak ini. Dan kalau anak ini malu, apa-apa ikut papa-mama akhirnya ia akah larut dan ikut teman-temannya.
Ya ini contoh yang baik.
GS : Memang tekanan dari teman-teman ini sangat besar Pak Heman terhadap diri seorang anak, sehingga anak lebih condong mengikuti apa yang dikatakan temannya daripada yang dikatakan orangtuanya?
HE : Betul, yang sering saya katakan kepada saya misalnya bahwa kalau kamu bisa membalik itu yaitu mempengaruhi teman-temanmu ke arah yang baik, kamu adalah seorang pemimpin, dan memang kam mempunyai arah atau jiwa seorang pemimpin.
Jadi dengan begitu dia bangga, bangga dengan keunikannya, bangga dengan kebaikannya dan bangga karena dia bisa menolak permintaan teman-temannya yang tidak baik.
GS : Berarti ada korelasi antara kebanggaan diri dan keberanian untuk mengatakan 'tidak', Pak Heman?
HE : Betul, ada kaitannya antara kebanggaan diri dengan penolakan itu, karena anak yang bangga dengan dirinya akan merasa bahwa dia diterima dan dikasihi orang pada umumnya. Kalau misalnya da satu, dua orang yang tidak suka kepada dia, dia tidak menjadi terlalu takut atau gelisah atau merasa mendapatkan tekanan yang sedemikian besar supaya orang lain menyenangi dirinya.
Dia sendiri sudah merasa puas dengan dirinya, merasa cukup senang dengan keadaan dirinya, jadi dia tidak perlu lagi ikut-ikutan dengan teman-temannya, apalagi misalnya diajak pacaran terus diajak hubungan seks dan sebagainya, karena dia merasa tubuh saya ini berharga, buat apa saya mengorbankan diri dan mengikuti ajakan teman saya.
ET : Tapi dasarnya untuk anak bisa mengatakan 'tidak' dengan tegas dan keras harus mempunyai kebanggaan terhadap dirinya.
HE : Betul itu landasannya.
ET : Masalahnya ini saya mencoba membayangkan mungkin ada orangtua yang mulai tegang karena membayangkan harus mengajarkan anak berkata 'tidak', karena bukankah ini juga berkaitan dengan eg orangtua juga.
Misalnya orangtua mengatakan sesuatu kemudian anak berkata 'tidak', bukankah orangtua akan merasa disepelekan. Padahal kadang-kadang bukankah ini merupakan bagian proses belajar anak.
HE : Ya, betul dan biasanya ini yang terus-terang saya sebagai orangtua juga bisa spontan bereaksi, misalnya ada rasa tidak enak, saya bisa membayangkan kebanyakan kita bisa tersinggung kalu ternyata anak menolak permintaan kita.
Tetapi mungkin saja ini tahapannya dan kita perlu menumbuhkan suasana yang lebih demokratis setelah anak sudah bisa taat kepada kita. Jadi secara perlahan orangtua juga perlu menyesuaikan diri, belajar menerima bantahan anak tanpa menjadi marah dan kemudian mengalihkan, jadi bukan dengan kemarahan tapi dengan diskusi, dengan dialog, sehingga dengan pembicaraan-pembicaraan seperti itu kita bisa berdebat tanpa harus merusak relasi antara orangtua dan anak dan anak tetap bisa menghargai kita.
ET : Saya membayangkan kalau misalnya kita sebagai orangtua dibesarkan dalam suasana keluarga yang tidak boleh membantah, saya rasa para pendengar pun kebanyakan mempunyai latar belakang seerti itu jadi waktu orangtua mengatakan A ya kita harus A, sementara sekarang kita justru diperlakukan kita bilang A, anak bilang B.
HE : Betul, jadi memang suatu hal yang berbeda dengan kebiasaan kita dan tentu ada masalah, tidak sedemian mudah. Sebagaimana yang sudah dibicarakan di waktu yang lalu tentang kepatuhan, meang kita perlu memilih mana yang lebih prinsip, mana yang anak perlu patuh, mana yang tidak perlu dan mereka boleh memiliki pendirian sendiri.
Kalau mereka misalnya mengatakan 'tidak', kita coba untuk diam sebentar dan coba kita lihat dulu kenapa mereka berbicara seperti itu, kalau perlu ajaklah anak ini bicara. Biasanya anak yang sudah pernah diajarkan tentang ketaatan mereka akan merespons kalau kita berbicara dengan mereka secara baik-baik, terutama kalau kita mendekati mereka dan menyentuh perasaan mereka.
GS : Memang yang perlu tahu kenapa justru anak itu mengatakan 'tidak' pada saat kita menyuruh melakukan sesuatu atau meminta sesuatu kepadanya.
HE : Ya, dan saya temukan juga ketika saya lebih sabar dan mau mendengarkan anak ternyata anak sering kali mempunyai alasan yang cukup kuat dan bisa diterima. Saya harus akui cukup sering sya yang salah karena terlalu memaksa anak.
GS : Memang proses belajar ini bukan pada diri anak saja, tetapi kita sebagai orangtua juga belajar memahami kenapa anak suatu saat itu mengatakan 'tidak' kepada kita.
HE : Betul, saya setuju sekali Pak Gunawan.
GS : Kemudian bagaimana kalau orangtua perlu memperhatikan anaknya yang mempermalukan diri, Pak Heman?
HE : Anak yang mempermalukan dirinya biasanya karena mereka kurang kebanggaan diri dan kenapa mereka bisa kurang bangga dengan diri sendiri karena apapun yang mereka lakukan jarang mendapatan pengakuan, penghargaan, baik dari orangtua, teman-teman maupun gurunya.
Jadi memang yang pertama-tama kita harus berikan kepada anak adalah penghargaan bahwa mereka itu unik, bahwa mereka itu mempunyai sesuatu yang sungguh-sungguh berbeda dengan orang lain. Bagaimanapun kita harus temukan dan kita bisa temukan keunikan dari setiap anak dan kita memberikan dukungan kepada mereka. Selain itu yang perlu juga kita perhatikan adalah hubungan yang baik antara sesama orangtua dan orangtua dengan anak. Artinya kalau kita mempunyai dua hal ini kita bisa menghargai anak, kita bisa mempunyai hubungan yang baik dengan anak, maka anak biasanya tidak akan memandang dirinya secara negatif dan mereka tidak terbiasa dengan mempermalukan diri mereka sendiri.
GS : Memang perlu memberitahukan kepada anak ini apa risikonya kalau dia mengatakan 'tidak'. Jadi kita sudah memberitahukan kepada dia bahwa memang segala sesuatu yang sudah diputuskan itu akan membawa suatu risiko baik terhadap teman-temannya maupun orang lain, pasti ada risiko. Misalnya diajak hubungan seks di luar nikah kemudian dia mengatakan 'tidak', kemungkinan risikonya adalah pacaran ini putus. Jadi kita sebagai orangtua jauh-jauh hari sudah memberitahukan ini berisiko mengatakan 'tidak' tapi ini bisa diterima oleh anak.
HE : Ini point yang baik sekali, jadi kadang-kadang kita tidak boleh terlalu melindungi anak sejak kecil mereka juga perlu sekali-sekali merasakan bagaimana itu mengalami konflik dengan temn, dimusuhi dan kemudian ditinggalkan; yang penting kita bisa mendampingi, memberi nasihat dan menghibur mereka.
Dan kalau mereka mengalami hal-hal seperti ini lalu kita ajak mereka ngomong-ngomong dan menanyakan apa yang mereka bisa dan biasanya mereka lakukan dalam menghadapi keadaan ini dan seterusnya. Saya setuju sekali risiko ini harus diberitahukan.
GS : Memang di dalam mengajarkan sesuatu kepada anak kita selalu menggunakan landasan Firman Tuhan, suatu landasan yang kokoh dan suatu alat ukur yang sudah standar buat kita. Dalam hal ini apakah Firman Tuhan yang ingin Pak Heman sampaikan?
HE : Saya ingin membacakan dari Mazmur 1:1-2, "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dala kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam."
Kiranya orangtua bersama dengan anak juga boleh membaca dan siapa tahu boleh menghafal ayat ini menjadi pegangan di dalam kehidupan mendidik anak dan membesarkan anak.
GS : Terima kasih Pak Heman dan Ibu Ester untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengajar Anak Berani Menolak." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Orangtua perlu memberi ruang kepada anak untuk mengatakan 'tidak' atau menolak suatu permintaan. Mungkin untuk anak-anak yang masih kecil bisa menerapkan semua apa yang dikatakan orangtua untuk dipatuhi tetapi untuk anak yang sudah makin besar misalnya remaja, anak harus diajak untuk berpikir.
Ada banyak hal yang perlu ditolak dan yang perlu anak ketahui, salah satu misalnya eksperimen seks di luar nikah, pornografi, judi, minum-minuman keras, menggunakan narkoba dan sebagainya. Ini hal-hal yang sangat berbahaya yang menjadi masalah besar bagi anak-anak generasi sekarang ini.
Mengajarkan anak untuk mengatakan 'tidak' perlu kita lakukan sejak mereka masih dini, tetapi untuk hal-hal yang sudah boleh mereka ketahui misalnya tentang seks, minum-minuman keras, itu perlu kita beritahukan sejauh usia perkembangan mereka. Misalnya saat yang paling tepat adalah saat mereka mulai berinteraksi dengan orang di luar rumah, misalkan dia sudah mulai bermain-main di luar atau di jalan atau bahkan sudah mulai masuk sekolah. Mereka perlu diajarkan tentang bahaya apa yang perlu mereka hindari.
Orangtua juga perlu mengajarkan bagaimana cara menolak permintaan. Antara lain:
Misalnya dengan menolak dan langsung pergi.
Mengatakan `tidak` dengan suara yang tegas dan cukup keras.
Ada kekhawatiran di dalam diri orangtua ketika mengajarkan anak untuk berkata 'tidak, jangan-jangan mereka berani melawan kita sebagai orangtua. Urut-urutannya memang kita perlu mengajarkan kepatuhan dan memberikan landasan yang baik terlebih dulu. Selain itu kita perlu memberikan landasan pengetahuan moral yang baik kepada anak di dalam Tuhan, yaitu mengajar anak tentang Firman Tuhan sedari mereka masih kecil. Jadi mereka bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Setelah anak patuh dan anak mempunyai ketulusan barulah kita mengajarkan anak untuk mengatakan 'tidak; guna melawan yang tidak baik.
Mazmur 1:1-2, "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam."
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Seringkali menjadi keluahan dari banyak orang tua yaitu sulit sekali menjalin suatu relasi dengan remaja karena suka melawan, banyak tanya dsb. Apa yang harus dilakukan orang tua untuk bisa berelasi baik dengan remaja?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Menjahit Relasi dengan Remaja". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, seringkali yang menjadi keluhan banyak orang tua ialah sulit sekali menjalin suatu relasi dengan anak, khususnya anak remaja mereka yang sudah mulai akil balig karena bermasalah, suka melawan, banyak tanya dan sebagainya. Apalagi kalau latar belakang hubungan mereka memang kurang baik sejak kecil karena harapan yang salah atau anak yang salah menanggapi kasih orang tua. Bangaimana ini Pak Paul, apakah bisa ditolong atau tetap kondisinya seperti itu karena semakin lama semakin buruk?
PG : Seharusnya waktu anak-anak memasuki usia remaja, relasi orang tua itu akan masuk ke dimensi yang berbeda. Dimensi yang berbeda tidak harus menjadi sebuah dimensi yang lebih buruk daripada imensi yang sebelumnya.
Tapi memang tadi Pak Gunawan sudah singgung kalau pada masa sebelum anak-anak remaja, relasi orang tua dengan anak-anak sudah buruk maka hampir banyak dipastikan dimensi remaja itu akan menjadi puncak buruknya relasi kita dengan anak. Dan kita juga harus menyadari bahwa pada masa anak remaja kalau kita dan suami atau kita dan istri menyimpan masalah, biasanya masalah kita pun akan meledakpada waktu anak-anak berusia remaja. Karena di usia remajalah boleh dikatakan kalau remaja itu dalam dimensi yang baru, dituntut mengadakan perubahan paling banyak melalui tahapan perubahan-perubahan dalam kehidupan. Kita setiap hari tidak selalu sama namun dapat dipastikan bahwa pada masa anak-anak remajalah orang tua dan anak-anak dituntut untuk melakukan banyak penyesuaian karena itulah yang diperlukan. Karena pada masa anak remaja mereka menjadi calon orang dewasa artinya kalau dulu di rumah kita hanya ada dua kepala yaitu suami dan istri, maksudnya bisa mengambil keputusan dan menentukan sesuatu, kalau anaknya tiga dan sekarang sudah mulai remaja berarti di rumah itu ada lima kepala. Dulu dua kepala sudah lumayan rumit karena dua-dua harus saling menyesuaikan tapi kalau dua kepala itu tidak menyatu, saat ada lima atau empat kepala akan terjadi masalah. Tapi kalau dua kepala yaitu suami dan istri sudah berhasil menyatu sebelum anak-anak memasuki usia remaja, maka nantinya mereka dapat mengatur dua atau tiga anak remaja itu. Maka sekali lagi saya tekankan memang usia remaja seyogianya menjadi sebuah dimensi baru dalam kehidupan, kita harus berubah, anak-anak harus berubah. Banyak penyesuaian yang harus kita lakukan namun tidak harus menjadi sebuah dimensi yang lebih buruk kondisinya dari pada sebelum-sebelumnya.
GS : Kalau begitu langkah-langkah apa atau hal-hal apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki hubungan itu. Katakan, pada waktu mereka masih anak-anak hubungannya buruk, tapi kita sekarang mau memperbaiki?
PG : Ada beberapa yang saya coba bahas Pak Gunawan. Yang pertama adalah saya mau kita mengingat prinsip pertama yaitu seburuk-buruknya relasi dengan anak, sadarilah bahwa pada dasarnya anak itutetap ingin menjalin relasi yang baik dengan kita.
Mungkin bagi sebagian orang tua rasanya tidak benar karena seringkali saya melihat kebalikannya yaitu rasanya anak-anak justru tidak mau menjalin relasi dengan kami, tapi Itu salah! Dan pada dasarnya/sebetul-betulnya anak-anak itu menginginkan relasi yang baik dengan orang tua namun dalam perjalanannya karena mereka merasa tidak mendapatkan tanggapan yang sesuai atau mereka merasa bahwa ada hal-hal yang kita lakukan yang membuatnya merasa tertolak akhirnya itu yang membuat mereka bersikap acuh tak acuh kepada kita atau menjauh dari kita. Tapi pada dasarnya sebetulnya anak ingin mendekat kepada orang tua, maka dalam usai-usia remaja sebetulnya orang tua masih berkesempatan untuk menjalin kembali relasi dengan anak-anaknya. Kalau saja orang tuanya bersedia untuk mengesampingkan gengsi, berani terbuka, berani mengakui kesalahan dan sebagainya dan terutama berani mendengarkan apa yang anak katakan kepadanya niscaya relasi itu akan bisa kembali dijahit, Pak Gunawan.
GS : Berarti memperbaiki mutu dari komunikasi antara orang tua dan anak?
PG : Tepat sekali. Komunikasi yang selalu menekankan gengsi, "Saya benar karena saya orang tua dan kamu harus dengarkan saya," itu salah! Relasi terbuka artinya kita terbuka juga dengan kekuranan kita, kelemahan, kesalahan kita, berani mengakui dan minta maaf, dan mau mendengarkan apa yang anak katakan.
Salah satu keluhan terutama remaja terhadap orang tuanya adalah "Orang tua saya tidak mendengarkan saya, orang tua lebih tertarik menyampaikan pikirannya kepada saya daripada mendengarkan pikiran saya." Ini akhirnya membuat anak-anak enggan menjalin relasi dengan kita. Jadi tetap saya mau tekankan, sebetulnya anak ingin menjalin relasi yang baik dengan kita.
GS : Tapi kalau keinginan itu tidak mendapatkan tanggapan yang positif dari orang tua suatu saat juga bisa padam, Pak Paul?
PG : Betul sekali, akan padam. Kalau tidak ada perbaikan akhirnya anak berkata "Untuk apa, sudahlah," dan biasanya yang orang tua tangkap ialah anak tidak mau lagi membuka relasi dengan orang ta.
Sebelumnya apa yang telah terjadi itulah yang orang tua harus instrospeksi diri.
GS : Hal yang lain apa, Pak Paul?
PG : Yang berikut adalah tentang sikap menolak. Orang tua adakalanya melihat anak-anak menolaknya dan ketahuilah bahwa sikap menolak anak lebih dikarenakan oleh ketakutannya pada penolakan kitakepadanya.
Artinya anak-anak melihat kita sudah menolaknya, kita tidak mau bicara dengan dia, tidak suka dengan dia, anak-anak itu peka sekali meskipun bisa keliru. Mungkin saja anak menyimpulkan bahwa kita tidak mau bicara dengan dia sebagai suatu penolakan yang total, tapi padahalnya tidak! Hanya saat itu saja kita marah dengan dia. Tapi anak bisa berkesimpulan lain, anak bisa berpikir "Memang dari dulu Papa lebih sayang pada Adik karena Adik itu pandai, Adik itu bisa membuat Papa bangga dan saya tidak." Mungkin sekali kita tidak terpikir dan tidak merencanakan hal itu sama sekali tapi anak mungkin saja mengembangkan pemikiran seperti itu dan dengan kata lain kita harus menyadari adakalanya anak-anak itu mengembangkan sebuah persepsi bahwa orang tua sudah menolaknya, ini yang menimbulkan ketakutan pada dirinya bahwa dia sudah ditolak, makanya dia akhirnya menolak kita, dia menjauhkan diri dari kita sebab dia tidak mau disakiti hatinya, ini adalah sesuatu yang orang tua mesti peka terutama kalau ada orang tua yang memang suka membanding-bandingkan anak, baik dengan Kakak atau Adik maupun dengan saudara-saudara atau pun dengan teman-temannya. Cenderung mengkomunikasikan penolakkan pada anak sehingga anak akhirnya membalas menolak orang tua, "Engkau tidak suka saya sebagai anakmu, sudahlah saya juga tidak harus menjadi anakmu." Akhirnya relasi makin renggang.
GS : Dalam hal ini, biasanya anak perempuan lebih peka dibandingkan anak laki-laki. Tapi dalam soal keberanian, anak laki-laki lebih berani untuk menolak kembali orang tuanya dibandingkan anak perempuan dan ini bagaimana Pak Paul?
PG : Itu tepat sekali Pak Gunawan, anak wanita umumnya tidak berani menyatakan sikap yang negatif terhadap orang tua, tapi anak laki-laki lebih berani. Itu sebabnya, umumnya di masa remaja konfontasi frontal seringkali terjadi antara orang tua dan anak laki-laki, tapi kenyataan anak perempuan tidak berkonfrontasi frontal, dia tidak berarti dan bisa jadi justru dia yang merasa tertolak.
Misalkan berat tubuhnya, penampilan fisiknya maka hati-hatilah dengan cara kita berbicara, dengan cara-cara kita memberi komentar. Ada orang tua yang terlalu takut anaknya gemuk, dan setiap kali anak perempuan makan selalu diawasi dan dikomentari "Jangan makan ini nanti kamu gemuk, jangan makan itu nanti kamu tambah gembrot dan sebagainya," itu adalah mengkomunikasikan penolakan.
GS : Hal lain lagi apa, Pak Paul?
PG : Yang berikut adalah pahamilah bahwa ketakutan utama remaja adalah di mata kita orang tuanya tidak ada yang baik pada dirinya. Sebagian remaja memang berkeyakinan seperti ini Pak Gunawan, ii menyedihkan tapi ini fakta.
Sebagian remaja mempunyai persepsi bahwa orang tua tidak pernah melihat ada yang baik kepada dirinya, ini sebetulnya sebuah ketakutan yang akhirnya melahirkan kemarahan. Mula-mula ketakutan kenapa tidak ada yang baik terhadap diri saya, kenapa? Sebab orang tua kalau berbicara dengan nada negatf dengan nada mencela, kalau ada yang positif tidak pernah dikomentari, tapi kalau ada sesuatu yang negatif selalu dikomentari. Akhirnya anak berpandangan, "Baiklah orang tua memang tidak melihat ada yang baik dalam diri saya, semuanya buruk." Ini yang membuat anak-anak tadinya takut akhirnya marah dan apa yang mereka lakukan "Sudahlah, kalau memang saya seburuk ini," ada anak yang ekstrem berkata, "Baiklah saya akan menjadi seperti seburuk yang orang tua pikirkan." Atau ada anak berkebalikan berkata, "Saya akan buktikan diri saya tidak seperti yang Papa dan Mama pikir," dia akan buktikan tapi dengan sikap melawan dan memberontak. Apa pun yang orang tuanya katakan, dia akan lawan. Yang berikutnya adalah kita mesti menerima fakta bahwa sebaik-baiknya relasi kita dengan anak pada masa remaja, teman menjadi orang yang penting dalam hidupnya, namun itu tidak berarti bahwa kita tidak berarti baginya. Itu sebabnya sikap kita yang menolaknya sangat melukai hatinya, kadang-kadang orang tua itu seperti berkompetisi dengan teman-teman anak-anaknya, "Kenapa kamu dengan teman seperti itu dan dengan saya tidak. Kenapa teman selalu didahulukan dan saya tidak," memang pada masa remaja teman menduduki porsi yang penting dalam hidupnya tapi ini yang perlu orang tua sadari, bahwa itu tidak berati orang tua tidak penting, orang tua tetaplah penting. Waktu orang tua memberikan pilihan atau ultimatum atau alternatif "Pilih saya atau pilih teman," itu sangat menyulitkan anak dan menyedihkannya, mereka pasti akan berkata, "Saya akan pilih dua-duanya, orang tua penting dan teman-teman pun penting." Orang tua juga perlu sensitif, biarkanlah anak-anak mengembangkan sosialisasinya. Kita tetap memberikan arahan, kita tetap memandunya dan jangan berkompetisi dengan teman-temannya seolah-olah kita sedang berlomba mencari atau memenangkan trofi yaitu anak kita.
GS : Memang kadang-kadang orang tua merasa ada pembedaan, kalau mencari pendapat atau mencari nasehat selalu pada temannya tapi kalau butuh uang, dia lari ke orang tua. Jadi orang tua ini semacam bendahara yang terus membayari dia.
PG : Dan itu yang harus diantisipasi oleh orang tua yaitu pada masa-masa remaja memang anak-anak akan seperti itu. Tapi orang tua jangan menyimpulkan "Ternyata saya itu tidak penting lagi, sayaitu hanya menjadi objek pemanfaatan anak."
Ingat yang kita sudah bahas di sesi yang terdahulu bahwa konsep akan siapakah anak itu berpengaruh penting, Pak Gunawan. Kalau kita memang sudah terlibat dalam relasi untung dan rugi dengan anak, kita sering bereaksi dan kita marah kepada anak-anak. Tapi kalau kita sadar ini adalah proyek Tuhan maka kita bisa membesarkan, kita jaga sebaik-baiknya "Itu biasa! Kalau anak-anak remaja mulai dekat dengan teman dan tidak terlalu mau dengan kita. Itu tidak menjadi masalah tapi kita tahu kita tetap berarti buat dia. Nanti kalau mereka sudah memasuki fase remaja mereka akan kembali lagi menghargai kita."
GS : Kadang-kadang ucapan/kata-kata atau bahkan nasehat itu juga bisa memperburuk hubungan kita dengan anak remaja kita, Pak Paul?
PG : Betul sekali Pak Gunawan. Kita mesti menjaga kata-kata atau ucapan kita atau perlakuan kita, jangan sampai kita mengatakan atau melakukan hal-hal yang nantinya anak kita sesali dan kita haus ingat prinsip ini.
Dia mungkin sudah melupakan apa yang sudah terjadi di masa kecil namun dia akan sukar melupakan apa yang dialaminya pada masa remaja. Kenapa? Sudah tentu karena pada masa remaja dia sudah lebih besar, dia sudah lebih ingat dan mengerti. Anak-anak kecil mengalami banyak hal yang nantinya dia akan lupakan, mungkin kalau kita prosentasekan hanya 10% dari memori masa kecil yang kita nanti bawa ke masa dewasa tapi besar kemungkinan 60-70% memori masa remaja kita bawa sampai usia dewasa karena jaraknya lebih dekat dengan usia dewasa. Dan di usia remaja kita lebih mengerti sehingga kita akan lebih bisa memaknai perlakuan atau ucapan orang tua. Misalkan tanpa kita sadari saat kita sedang marah, kita berkata kepada anak kita, "Saya menyesal punya anak kamu." Itu bisa ditafsir oleh anak bahwa benar Mama atau Papa benar-benar menyesal mempunyai saya sebagai anak. Tidak heran sikap-sikapnya dulu seperti ini dan itu dan anak sudah mulai merangkai dan memaknai dengan sebuah pemaknaan yang lebih logis. Kalau sampai Mama/Papa berkata seperti itu, itu merupakan cetusan hatinya sehingga itu berdampak lebih besar terhadap dirinya. Kalau anak kecil yang berumur 6 tahun dan Mamanya berkata seperti itu mungkin 2 hari lagi dia juga sudah lupa dan tidak ingat dan anak kita juga tidak tahu artinya, pengertiannya tidak seperti waktu dia sudah remaja. Maka hati-hatilah dengan ucapan dan perlakuan kita sebab inilah yang akan dia ingat di masa-masa dewasanya.
GS : Jadi kalau begitu langkah-langkah apa yang Pak Paul ingin sampaikan supaya hubungan antara orang tua dan remaja ini bisa terjalin kembali dengan baik?
PG : Yang pertama yang saya sarankan, ambillah langkah mengatakan kepada anak bahwa kita merindukan sebuah relasi yang akrab dengan dia. Jadi kita dengan terbuka berkata kepada dia, "Saya inginmempunyai relasi yang lebih akrab denganmu."
Jadi kita tidak datang kepadanya memarahinya dan berkata, "Kamu kenapa menjadi seperti ini, kamu kenapa begitu, kenapa kamu berbuat begini begitu," kalau anak remaja mendengar kata-kata seperti itu yaitu menyalahkan dia maka keinginannya untuk berelasi dengan kita langsung padam. Langkah kedua ialah datanglah dan akuilah bahwa kitalah yang merindukan sebuah relasi yang akrab dengannya, misalkan kita menyadari bahwa ada kesalahan yang telah kita lakukan maka akui dan minta maaf, jangan takut kalau nanti anak tidak hormat kepada kita kalau kita tidak minta maaf kepadanya. Justru waktu dia melihat kita berani minta maaf, itu akan mendekatkan kita dengan dia sebab dia akan melihat "Papa/Mama rupanya bisa mengakui kesalahan dan minta maaf," kalau begitu nantinya dia bisa lebih akrab, lebih bisa ngobrol dengan kita sebab Papa/Mama tidak lagi di atas tapi sekarang di bawah sejajar dengan saya, dan jangan menuntut anak meminta maaf terlebih dahulu. Ada orang tua yang berkata, "Yang penting anak dulu yang minta maaf, kalau dia tidak minta maaf kenapa saya harus meminta maaf duluan, inikan tidak lucu." Jadi menjadikan anak seperti musuh pribadi, bukan! Ini bukan musuh tapi ini adalah anak yang Tuhan percayakan kepada kita. Maka perlakukanlah dia sebagai seorang anak. Kitalah yang mengaku salah, tapi bagaimana kalau kita berkata, "Tapi saya merasa kalau saya tidak ada salah," mungkin kita tidak ada salah, tapi mungkin kita ada andil-andil atau bagian-bagian yang kita perlu katakan "Ya, kalau saja saya tidak mengatakan itu maka akan lebih baik." Kita mulai dari situ, kita mungkin tidak bisa berkata kalau itu sebuah kesalahan tapi kita harus akui.
GS : Memang ada orang tua yang berkata "Memang saya salah dan saya minta maaf, tapi yang memicu kesalahan itu kamu." Jadi berbalik lagi, anak remajalah yang bersalah.
PG : Betul, maka waktu kita bicara jangan sampai pembicaraan kita sependek itu "Saya minta maaf tapi kamu..." dan kemudian kita berbicara panjang lebar satu jam tentang kesalahan dia. Maka permntaan maaf kita tidak akan ada artinya.
Jadi kita hanya berbicara tentang kesalahan kita saja dan bukan kesalahan anak remaja kita. Dia tidak minta maaf pun tidak apa-apa, biarkan dia sendiri yang akan minta maaf kalau kita memaksa dia untuk minta maaf itu tidak ada gunanya karena tidak keluar dari hatinya. Berikutnya adalah kita mengungkapkan alasan dibelakang tindakan kita kepada dia misalkan pada umumnya ketakutanlah yang melatar belakangi perbuatan kita kepadanya maksudnya kita memarahi dia bergaul dengan teman-teman tertentu, kita kritis sekali dengan teman-temannya, karena dibelakang itu semua tersembunyi ketakutan kita, kita takut nantinya dia terseret oleh teman-temannya melakukan hal-hal yang salah sehingga akhirnya dia menghancurkan masa depan hidupnya, itu yang harus kita sampaikan, "Saya takut kamu begini, maka saya mengatakan hal-hal itu. Saya mengakui kalau bicara saya terlalu kasar. Saya memang salah bicara sekasar itu dan saya tahu itu menyakiti hatimu dan saya minta maaf. Tapi sekarang kamu tahu dibelakang itu, inilah masalahnya saya takut." Kemudian kita bawa ke point berikutnya di balik ketakutan kita, ada kasih kita yang besar kepadanya. Kita berkata, "Kamu tahu, kenapa saya takut? Saya takut kalau nantinya akan merusakkan masa depanmu, hidupmu. Kamu tahu kenapa saya takut? Sebab saya sangat mencintaimu, saya tidak mau ada apa-apa dengan hidupmu, saya mau yang terbaiklah yang nanti menimpa hidupmu dan bukan kemalangan, kasih saya yang memotivasi saya menjadi orang tua yang ketakutan dan akhirnya dalam ketakutan, saya kurang bijaksana memperlakukan kamu."
GS : Yang seringkali terbaca oleh remaja adalah bahwa orang tua tidak mempercayai dirinya sebagai anak remaja yang bisa mengatasi masalah-masalah itu?
PG : Dalam kasus seperti itu Pak Gunawan, memang kita harus introspeksi apakah kita yang terlalu berhati-hati, karena adakalanya anak remaja sudah mampu dan bisa dipercaya sehingga harusnya kit bisa melepaskan dia.
Tapi adakalanya memang kita tidak percaya sebab dia belum punya kemampuan itu dan kalau itulah duduk masalahnya, kita terus terang dan kita tidak perlu berputar-putar membuat-buat dalih dan kita katakan, "Ya, memang saya tidak percaya bahwa kamu bisa melakukan itu karena..." kita sebutkan bukti-buktinya. Sampai saya melihat perubahan dalam hidupmu, baru saya dapat percaya kembali. Disini kita menyodorkan anak akan realitas bahwa tidak ada kepercayaan gratis, kepercayaan harus dibeli dengan pembuktian, dia harus menunjukkan dalam hidupnya barulah kita bisa percaya kepadanya.
GS : Mungkin langkah lain yang bisa dilakukan apa, Pak Paul?
PG : Ungkapkanlah pengharapan kita kepadanya artinya apa yang kita inginkan darinya kita sampaikan, kita mau dia lebih fokus dengan pelajarannya, kita mau agar dia membatasi pergaulannya dan seagainya.
Tapi terus kita harus cocokkan itu dengan pengharapannya kepada kita, disinilah saatnya kita mendengarkan dia dan kita tanya, "Apa yang kamu harapkan atau apa yang kamu inginkan dari saya," kita cocokkan yang kita minta dan yang dia minta dari kita. Dan seringkali dalam proses ini dua-dua harus mengalah dan akhirnya bisa bertemu di tengah. Ada orang tua yang tidak mau mengalah dan waktu orang tua tidak mau mengalah anak juga tidak mau mengalah. Seringkali kalau orang tua berkata, "Baik saya mau mengalah, bagaimana kalau misalkan dari pada kamu pulang jam 2 atau 3 pagi, baiklah saya tunggu kamu sampai jam 12 malam. Kamu setuju atau tidak?" Misalkan si anak berkata, "Baiklah jam 10 malam tidak bisa Ma/Pa, masih banyak orang-orang, saya tidak bisa tinggalkan." Akhirnya kita ketemu di tengah. Dengan kata lain kita mau membangun sebuah sistem, dan ini yang penting, sehingga masalah yang kemudian timbul dapat diselesaikan dengan cara yang lebih sehat. Dengan kita mengajaknya berbicara seperti ini, kita sebetulnya membangun sebuah sistem sehingga lain kali anak tahu kalau ada masalah dia bisa bicara dengan kita dan dia pun tahu kita bisa bicara dengan dia. Sistem ini yang kita harus ciptakan dalam relasi dengan anak remaja.
GS : Mungkin ada hal terakhir yang ingin Pak Paul sampaikan?
PG : Ini Pak Gunawan, kita katakan kepada anak kita bahwa, "Kita baru mengerti apa itu kasih," pada waktu pertama kali kita menggendongnya di tangan, kita katakanlah bahwa "Sampai kapan pun dandalam kondisi apa pun, kita akan terus mengasihinya," ini adalah janji yang kita buat kepada Tuhan.
GS : Jadi itu semacam komitmen yang anak harus tahu?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi kita tekankan inilah kasih dan kita baru mengerti apa itu kasih sewaktu kita pertama kali menggendongnya di tangan kita, kita baru mengatakan luapan kasih yng begitu kuat dan begitu kudus pada anak.
Maka kasih inilah yang tetap kita miliki sampai sekarang dan sampai kapan pun dan dalam kondisi apa pun.
GS : Dalam hal itu apakah kita bisa meminta kepada anak remaja kita untuk juga membantu kita supaya kita tetap mengasihi dia?
PG : Boleh kita katakan, "Kamu sudah tahu isi hati saya, kamu juga tolong jaga relasi kasih ini, karena kasih perlu dijaga. Saling menghormati satu sama lain dan tolong kita saling jaga."
GS : Apakah ada ayat firman Tuhan yang bisa menjadi pegangan bagi orang tua?
PG : Saya akan bacakan dari Amsal 29:17, "Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu." Kalau saja kita bisa menjahit relasi itu, membangu sebuah sistem dimana anak dan kita bisa membereskan masalah, maka kita akan memberikan ketenteraman kepada hidup kita dan memberikan kita sukacita.
Sebab anak-anak akan bisa bertumbuh besar sesuai dengan apa yang Tuhan tetapkan baginya.
GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menjahit Relasi dengan Remaja." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat
telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di
www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
END_DATA
Ringkasan Isi:
Seringkali menjadi keluhan banyak orang tua yaitu sulit menjalin relasi dengan anak khususnya anak remaja yang sudah mulai akil balig karena mereka bermasalah.
Hal-hal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki hubungan dengan anak remaja:
Seburuk-buruknya relasi dengan anak pada dasarnya ia tetap INGIN menjalin relasi yang baik dengan kita!
Sikap menolaknya lebih dikarenakan oleh KETAKUTANNYA pada penolakan kita kepadanya atau oleh KEMARAHANNYA pada ketidakbenaran yang dilihatnya pada diri kita!
Ketakutan utama remaja adalah bahwa di mata kita, orangtuanya, TIDAK ada yang BAIK pada dirinya!
Terimalah fakta bahwa sebaik-baiknya relasi kita dengannya, pada masa remaja TEMAN menjadi orang yang penting dalam hidupnya, namun itu tidak berarti bahwa KITA TIDAK LAGI BERARTI BAGINYA! Itu sebabnya sikap kita yang menolaknya sangat MELUKAI hatinya!
Berhati-hatilah dengan ucapan atau perlakuan kita kepadanya! Jangan sampai kita mengatakan atau melakukan hal-hal yang nanti kita akan SESALI! Ia mungkin sudah melupakan apa yang terjadi di masa kecil, namun ia sukar melupakan apa yang dialaminya pada MASA REMAJA!
Ambillah langkah pertama dengan mengatakan bahwa kita MERINDUKAN sebuah relasi yang akrab dengannya.
Apabila kita menyadari bahwa ada kesalahan yang telah kita lakukan, akuilah dan mintalah MAAF kepadanya. Jangan tunggu dia untuk meminta maaf terlebih dahulu!
Ungkapkanlah alasan di belakang tindakan kita kepadanya. Pada umumnya KETAKUTAN melatarbelakangi perbuatan kita kepadanya. Dan, di balik ketakutan, biasanya ada KASIH.
Ungkapkanlah pengharapan kita kepadanya dan COCOKKANLAH dengan pengharapannya terhadap kita. Sering kali kita harus bertemu di TENGAH!
Bangunlah sebuah SISTEM sehingga masalah yang kemudian timbul dapat diselesaikan dengan cara yang lebih sehat!
Katakanlah bahwa kita baru mengerti apa itu KASIH pada waktu pertama kali kita menggendongnya di tangan kita! Katakanlah, bahwa sampai kapan pun dan dalam kondisi apa pun, kita akan TERUS mengasihinya! Inilah JANJI yang kita buat di hadapan TUHAN!
Firman Tuhan:
"Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu." (Amsal 29:17)