Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereTanggung Jawab Anak kepada Orang Tua

Tanggung Jawab Anak kepada Orang Tua


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T262A
Nara Sumber: 
Pdt.Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Salah satu dari Sepuluh Hukum Tuhan adalah “Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu” (Keluaran 20:12). Sebenarnya apakah makna “hormat” di sini? Kita juga harus memahami batas hormat anak kepada orangtua, sebab perintah ini diberikan bukan tanpa batas. Sehingga kita pun bisa bertindak benar dalam menghormati orangtua kita
MP3: 
3.60 MB
Ringkasan
Isi: 

Salah satu dari Sepuluh Hukum Tuhan adalah "Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu" (Keluaran 20:12). Sebenarnya apakah makna "hormat" di sini?

  1. Hormat berarti bersikap santun dan patuh terhadap orangtua. Di dalam hukum Taurat tertera perintah yang mengharuskan orang Israel untuk menjatuhkan sanksi berat-kematian-kepada anak yang mengutuki orangtuanya, "Apabila ada seseorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri" (Imamat 20:9).
  2. Hormat berarti bertanggung jawab memelihara kelangsungan hidup orangtua. Tuhan Yesus menegur orang Yahudi yang menyelewengkan perintah Tuhan akan persembahan atas dasar ketidakrelaan memenuhi kebutuhan orangtua (Matius 15:3-6). Juga, sebelum Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia meminta Yohanes untuk memelihara Maria, ibu-Nya (Yohanes 19:26-27). Semua ini memperlihatkan bahwa Tuhan menginginkan kita untuk bertanggung jawab memelihara kelangsungan hidup orangtua kita.
Namun kita juga harus memahami batas hormat kepada orangtua sebab perintah ini diberikan bukan tanpa batas.
  1. Kendati kita harus patuh kepada orangtua namun kepatuhan kita tidak boleh melebihi kepatuhan kepada Tuhan sendiri. Firman Tuhan mengingatkan, "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku . . ." (Matius 10:37).
  2. Walaupun keluarga jasmaniah adalah penting namun bagi Tuhan terpenting adalah keluarga rohaniah. Pada waktu Tuhan tengah mengajar, ibu dan saudara Tuhan Yesus datang mengunjungi-Nya. Tuhan menegaskan, "Siapakah ibu-Ku dan siapakah saudara-saudara-Ku? . . . Sebab siapa pun yang melakukan kehendak bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku . . . dialah ibu-Ku" (Matius 12:46-50).
  3. Tanggung jawab kepada orangtua lebih bersifat fisik ketimbang emosional. Anak berkewajiban memelihara kelangsungan hidup orangtua di masa orangtua tidak lagi dapat memenuhi kebutuhannya. Namun anak tidak berkewajiban membuat orangtua senang secara membabi buta; menyenangkan orangtua mempunyai batasnya. Firman Tuhan mencatat, "Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya berkata kepada-Nya, 'Tuhan, izinkanlah aku pergi terlebih dahulu menguburkan ayahku.' Tetapi Yesus berkata kepadanya, 'Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka' " (Matius 8:21-22).
  4. Setelah kita menikah, kita harus mengutamakan keluarga sendiri tanpa harus melepaskan tanggung jawab kita sebagai anak kepada orangtua. Itu sebabnya Tuhan berfirman, "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" (Kejadian 2:24). Harus ada sebuah tindak pemisahan dan prioritas sehingga keluarga yang baru dapat berdiri dengan mandiri.
Bagaimana dengan ibu yang senang bikin sakit hati, sejak kecilpun saya tidak pernah dididik sopan santun, beragama, kebersihan meskipun tinggal serumah. Saya mengerti semua itu lambat laun dari mencontoh teman sekolah, teman les maupun kehidupan sepupu saya. Sangat sulit mendapat teman waktu SD,SMP karena tidak pernah mandi waktu ke sekolah, tidak sikat gigi. Tidak diajarkan disiplin bangun pagi sering terlambat kesekolah, sering bolos, selalu hampir tidak naik kelas karena ibu tidak mengajarkan pelajaran SD. Ibu selalu bermuka manis, lain dibibir lain dihati. Sering menyumpahi anak dan orang lain yang menyakiti. Ayah saya sulit bekerja karena ibu selalu cemburu dan sering mengajak berkelahi. Ibu kegereja setelah saya bertobat baru saya ajak ke Gereja itu pun tidak merubah kehidupannya. Saya Stress!
Kami mengerti frustrasi Anda. Seyogianyalah setiap kita mempunyai sepasang orangtua yang baik--berfungsi sebagai orangtua yang sehat. Pada kenyataannya tidak semua orangtua bersikap dewasa, sama seperti tidak semua kita hidup dewasa. Tidak bisa tidak, untuk melindungi diri Anda perlu menjaga jarak dari Ibu agar Anda tidak terlalu terpengaruh olehnya. Kalaupun mendengar sesuatu yang tidak mengenakkan darinya, jangan hiraukan dan jangan dipikirkan. Terakhir, jangan lupa berdoa untuknya. Tuhan meminta kita menghormati orangtua--tanpa syarat. Artinya, Tuhan meminta kita menghormati orangtua kendati berdasarkan kehidupannya, mereka belum tentu layak dihormati. Penghormatan kita kepada orangtua menunjukkan penghormatan kita kepada Tuhan yang telah memberi perintah itu. Demikian tanggapan yang dapat kami berikan. Tuhan memberkati ! Salam : Tim Pengasuh Program TELAGA
Saya barusan menikah, sebelum menikah ibu lebih sering tinggal dengan saya walau kadang2 suka pindah2 kerumah anaknya yang lain. setelah menikah, istri saya menekan saya dengan ayat kejadian 2:24 dengan terang2an tdk mengijinkan ibu tinggal bersama kami atau minta cerai. Salah satu yang membuat saya ingin mempertahankan agar ibu tetap tinggal bersama dengan kami adalah karena saya tidak ingin iman ibu saya akan menjadi goyah. Ibu memiliki 6 orang anak 3orang kristen 3 orang ikut agama leluhur. Ibu baru bertobat 5 tahun lalu, sebelumnya dan sampai saat ini masih mempercayai adat2 eluhur. Selama pindah2 kerumah anak2nya apalagi tinggal lebih lama ditempat 3 orang anak lain iman, ibu masih suka2 ikut adat leluhur (meramal, melihat tanggal baik buruk, dll) sedangkan 2 anak yang seiman, ibu tdk bisa tinggal lama paling 1-2 hari karena ekonomi kurang memadai sehingga tdk ada kamar khusus buat ibu. Kalau ibu datang anak2 tidur dikamar orang tuanya. yang hanya memungkinkan adalah dirumah saya yang memang ada kamar ibu dari dulu. Ibu sudah mau mengalah demi keutuhan rumah tanggaku yang baru itu dengan tinggal disalah satu anaknya yang tdk seiman itu. Tapi dalam hatiku aku ingin tetap berbakti dan membalas budi kepada ibu dan tdk ingin ibu kembali ke kepercayaannya dulu. Tapi dilain pihak istri saya tdk menginginkan ibu tinggal bersama kami. Malah mengusulkan supaya memberi sebuah rumah untuk ibuku tinggal sendirian/masak janda tua dikasih tinggal sendirian?. Ibuku sudah tua, tdk ada ambisi dan hanya ingin hidup tenang. Tdk suka mencampuri urusan orang apalg rumah tangga orang. Saya sudah berulang kali memberi pengertian kepada istriku, bahwa tdk ada perbedaan antara ibu tetap tinggal bersama kami atau tdk. Tapi istri terus menekan saya dengan ayat kejadian 2:24. Terus terang kalau boleh milih saya lebih milih ibu saya, tdk ada mantan ibu. Tapi saya tdk menginginkan perceraian. Tapi kalau didesak terus, aku harus bagaimana? Email saya UD_PM@xxx.com
Pertama-tama maaf pertanyaan anda baru hari ini kami jawab, karena komputer kami terkena virus sehingga perlu beberapa waktu untuk dibersihkan. Masalah Anda pelik karena di satu pihak Anda sayang kepada istri namun di pihak lain Anda ingin berbakti kepada ibu. Pertama kami ingin mengatakan bahwa Kejadian 2:24 tidak mengharuskan anak untuk berpisah atau tidak tinggal serumah dengan orangtua setelah menikah. Ayat itu hanya menegaskan bahwa ketika seseorang menikah, ia memisahkan diri dari keluarga asalnya dan bersatu dengan istrinya untuk membangun sebuah keluarga yang baru. Jadi, terpenting adalah kemandirian psikologis, bukan keterpisahan geografis. Sungguhpun demikian, tidak bisa disangkal kalau kita tinggal serumah dengan orangtua, proses pemisahan akan sedikit banyak terhambat dan sebagai akibatnya proses pembangunan keluarga yang baru, juga akan terpengaruh. Di dalam keterbatasan sebagai manusia, kita akan mengalami kesukaran menyeimbangkan perhatian antara ibu dan istri. Jadi, faktor ini mesti dipertimbangkan. Juga, Anda mesti menyelami ketakutan istri dengan cara membayangkan situasi yang sebaliknya. Andaikan Anda yang harus menerima mertua laki-laki dan kebetulan beliau sangat akrab dengan istri. Besar kemungkinan Anda pun akan mengalami kekhawatiran kalau-kalau nantinya istri Anda akan lebih banyak memberi perhatian kepada ayahnya dan lebih mendengarkan perkataannya daripada Anda sendiri. Akhirnya kami menyarankan agar Anda tidak memaksakan hal ini sebab memaksakan ibu tinggal di rumah malah akan memperburuk semuanya. Besar kemungkinan relasi Anda dengan istri akan lebih terganggu, relasi istri dan ibu juga terganggu dan sudah tentu hal ini akan lebih menorehkan luka di hati ibu jika ia harus mengalami konflik terbuka dengan istri. Saya pun meminta Anda untuk menerima istri apa adanya dan tidak menyimpan dendam. Hidup tidak sempurna dan tidak ada suami atau istri yang sempurna. Inilah bagian ketidaksempurnaan istri yang mesti Anda terima. Jika Anda menyimpannya di hati sebagai kepahitan, pastilah ini akan memberi dampak buruk pada relasi Anda. Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan menolong anda mengatasi kesulitan yang dialami. Salam : Tim Pengasuh Program TELAGA
kedua orang tua adalah segala-galanya bagi anaknya......................
Kebanyakan Pendeta lebih suka membawakan firman Tuhan di Keluaran 20:12 dari pada Kolose 3:20-21. Saya suka artikel Bapak/Ibu mengenai cara pandang orang tua terhadap anaknya karena bisa membuat banyak orang tua melek mata bahwa anak itu titipan Tuhan yang harus dipertanggung-jawabkan nantinya bukan dijadikan obyek. Pemerintah juga mencoba menjadi jembatan melalui peraturan yang dikeluarkan yang melindungi hak anak. Ada contoh yang baik di Alkitab yang sering diartikan dari sudut berbeda mengenai cerita "Anak yang terhilang" sering dibawakan/dikotbahkan sisi jelek si anak saja tapi kurang melihat sisi legawa orang tua, memang kita tidak boleh mencontoh kelakuan anak terhilang tersebut tapi lebih wajib lagi hukumnya untuk mencontoh sikap bapa di kisah anak terhilang tersebut. Orang tua lebih suka mengangap dirinya sebagai tuhan di dunia ini dan dihormati dari pada melihat apa yang ada pada diri anak-anak mereka. Semoga artikel Bapak/Ibu mengurangi kegagalan kita sebagai orang tua bukan melihat itu murni kesalahan anak dan akhirnya nama Yesus dimuliakan. AMIN.
saya berusia 20 tahun.saya anak yang tidak menghormati orang tua.padahal orang tua saya selalu ajarkan yang baik.tapi saya mmg susah d nasehati.saya sering kali emosi saat d nasehati.hati saya rindu brsama Tuhan,tapi ntah knapa saya slalu emosional dalam hal yang baik saya slalu menyangkal hati saya.tlg brikan saya penerangan saya rindu firman Tuhan.
Pertanyaan Saudara agak sulit dijawab karena Saudara tidak menjelaskan seperti apakah contoh sikap emosional Saudara pada waktu dinasihati, dan apakah ada topik-topik tertentu yang mudah menyinggung saudara ataukah semua topik. Saudara juga tidak menjelaskan bagaimana relasi Saudara dengan orang tua, apakah terbiasa berbagi perasaan atau tidak misalnya. Karena sikap yang emosional pada waktu menerima nasihat dari orang lain, termasuk orang tua dapat disebabkan beberapa hal, antara lain: 1. Hubungan tidaklah dekat (meskipun tinggal satu rumah), sehingga di mata kita bentuk nasihat seolah adalah bentuk campur tangan yang tidak diiringi dengan kepedulian. 2. Ada topik tertentu yang bagi Saudara sensitif, sehingga jika topik itu disinggung, Saudara menjadi emosional. 3. Ada konflik yang terpendam, atau perasaan (pernah kecewa atau marah, tapi dipendam) yang tidak terungkapkan terhadap orang tua, yang bocornya dalam bentuk lain (misalnya menjadi emosi saat dinasihati) Nah..semoga jawaban ini membantu Saudara. Tuhan memberkati.
1.saya terkadang taat kepada orang tua.....namun terkadang jg tidak...itu karena disebabkan kurang pengertiannya dari orang tua......tolong jelaskan apakah yg saya harus lakukan 2.berkali2 saya mengikuti berbagai macam program dan juga berbagai macam usaha...namun sering kali gagal....dan kata oranbg tua...itu dkarenakan dosa...sehingga kurang mendapatkan berkat...apakah itu benar
saya seorang anak yang baik tpi ada juga pernah menyinggung perasaan mama saya........tpi saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi... saya x nak jadi anak yang derhaka.... i luv my mama.........
SAYA SEORANG ANAK YANG BERNASIB BAIK... SAYA SAYANGKAN MAK N AYAH SAYA. SAYA SUKA AKAN KELUARGA SAYA YANG MENGAMBIL BERAT TENTANG SAYA... AYAH N MAK SAYA MENDIDIK SAYA SEHINGGA SAYA MENJADI ANAK YANG TIDAK LUPAKAN IBU BAPA....