Suami-Istri
Submitted by admin on Thu, 12/11/2009 - 3:20pm.
Abstrak:
Dalam rangking ada 3 hal besar yang sering menjadi pertengkaran antara suami dan istri, yang pertama adalah masalah keuangan. Yang kedua adalah komunikasi, seringkali terjadi salah pengertian entah itu dari nada suaranya, perkataan yang digunakan, cara yang digunakan maka akhirnya terjadi miskomunikasi dan akhirnya bertengkar. Dan yang ketiga yang menyebabkan pertengkaran adalah masalah anak. Jadi mulai dari perbedaan mendidik anak, sampai tuntutan pada anak yang berlainan, itu semua bisa menjadi sumber atau bahan pertengkaran kita. Akan dibahas pemicu konflik dan apa saja hal-hal yang bisa diperbuat untuk menyelesaikan konfllik tersebut.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Konflik Akibat Anak". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Banyak orang mengatakan bahwa anak adalah pemersatu antara suami dan istri tetapi pada faktanya anak juga bisa menjadi sumber perpecahan di antara suami dan istri. Kenyataan seperti ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Itu sangat tepat. Sebetulnya dalam rangking ada 3 besar yang sering menjadi pertengkaran antara suami dan istri, yang pertama adalah masalah keuangan. Yang kedua adalah komunikasi, seringkali terjadi salah pengertian entah itu dari nada suaranya, perkataan yang digunakan, cara yang digunakan maka akhirnya terjadi miskomunikasi dan akhirnya bertengkar. Dan yang ketiga yang menyebabkan pertengkaran adalah masalah anak. Jadi mulai dari perbedaan mendidik anak, sampai tuntutan pada anak yang berlainan, itu semua bisa menjadi sumber atau bahan pertengkaran kita. Pada kesempatan ini kita mau mencoba mengangkat beberapa hal yang sering menjadi pemicu pertengkaran antara kita karena masalah anak. Misalnya yang sering menjadi pemicu adalah, siapa yang harus bangun mengurus anak pada tengah malam sewaktu anak bangun dan meminta makan atau menangis minta untuk dibersihkan. Kalau istri kita tidak bekerja, dan hanya suami yang bekerja purna waktu maka hal itu akan lebih mudah untuk kita saling bagi tugas tapi yang menjadi masalah adalah kalau keduanya harus bekerja dan anak ini sudah berumur satu tahun lebih misalnya. Maka dua-dua harus bekerja dan dua-dua harus bangun pagi, dan yang lebih sering lagi adalah si ibu harus menyiapkan makanan di pagi hari. Jadi siapa yang harus bangun mengurus anak ? Atau kalau kita sedang di rumah dan dua-dua sedang sibuk karena seringkali membawa pekerjaan ke rumah, kemudian anak meminta perhatian kita dan si anak perlu dibantu, perlu diberi makan karena lapar jadi perlu dimasakkan, atau buang air dan kita harus membersihkannya. Jadi siapa yang harus mengurus? Apakah kita dengan mudah berkata, "Itu adalah tugas istri saya." Sekali lagi kalau istrinya memang purna waktu di rumah maka hal ini akan jauh lebih mudah, tapi misalkan kita mengurus anak dan kita dua-dua bekerja maka siapa yang harus mengurusnya? Atau sewaktu anak sakit, misalkan dua-dua juga bekerja dan dua-dua sibuk, jadi siapa yang harus mengorbankan waktu kerjanya membawa anak ke rumah sakit atau ke dokter ? Jadi hal-hal seperti ini yang seringkali menimbulkan pertengkaran di antara suami istri terutama kalau seseorang merasa, "Kamu ini seenaknya saja, kamu ini selalu menyuruh-nyuruh saya, saya juga sibuk bekerja dan bukan hanya kamu." Kalau yang satu terus-menerus menyuruh dan tidak mau memikul beban akhirnya muncullah pertengkaran di antara suami dan istri.
GS : Walaupun pihak istri itu purna waktu di rumah, Pak Paul, tapi kalau si suami acuh tak acuh ketika anaknya bangun malam atau waktu sakit dan kemudian dia masih tidur enak-enakan, ini juga memicu pertengkaran, Pak Paul. Si istri juga akan merasa kurang diperhatikan.
PG : Betul sekali. Sebab meskipun seorang istri tidak bekerja di luar dan dia mengurus anak secara purna waktu di rumah. Namun bangun tengah malam itu adalah hal yang tidak mudah, sekuat-kuatnya tubuh tapi kalau harus bangun tiap tengah malam, itu akan sangat mengganggu dan tidak nyaman. Meskipun dia akan bersedia melakukannya tapi kalau dia melihat suaminya tertidur dengan enak dan sama sekali tidak menawarkan bantuan, ini akan cukup menjengkelkannya sebab yang dia perlu adalah sebuah tenggangrasa. Jadi alangkah baiknya kalau suaminya juga ikut bangun kemudian menawarkan "Kamu bisa tidak bangun, kalau tidak bisa maka saya saja yang bangun," saya kira perkataan yang seperti itu yaitu menawarkan bantuan sudah cukup melegakan dan menghibur hati si ibu dan saya yakin kebanyakan wanita akan berkata, "Tidak mengapa, saya masih bisa mengurus." Atau memang kalau dia sangat letih, kalau suami menawarkan maka dia bisa berkata, "Baiklah malam ini tolong kamu yang bangun karena saya sangat letih. Jadi tenggangrasa seperti ini mesti dipupuk. Dengan kata lain, meskipun yang satu bersedia menunaikan kewajibannya, berkorban mengurus anak tapi mohon pihak yang satunya bangunlah dan selalu tawarkanlah bantuan karena hal ini menunjukkan tenggangrasa dan pengertian terhadap pengorbanan besar yang sedang diberikan oleh istrinya.
GS : Tapi malah ada suami yang pindah kamar kalau malam, jadi membiarkan anaknya bersama dengan ibunya agar dia tidak merasa terganggu. Hal ini juga menimbulkan masalah antara suami dan istri.
PG : Kalau memang ada kesepakatan dan memang istri yang berkata, "Daripada tidurmu terganggu maka lebih baik kamu tidur di sana dan saya saja yang mengurus anak." Sudah tentu ini akan lebih baik namun dalam kondisi seperti itupun saya kira tetap menawarkan bantuan adalah hal yang baik dan positif. Waktu anak-anak kami masih kecil, waktu anak ketiga kami lahir istri saya terpaksa harus tidur dengan anak ketiga kami dan saya tidur dengan anak kedua kami karena anak-anak kami hanya berbeda usia 2 tahun. Jadi memang harus ada tenggangrasa, dan saya harus tidur dengan anak saya yang berusia 2 tahun dan sudah tentu kalau saya tidur tidak pernah pulas dari malam sampai pagi. Jadi tenggangrasa itu membuat saya dan istri bersama-sama memikul beban.
GS : Tapi kuncinya adalah membicarakan hal itu dengan baik-baik dan terbuka kemudian mencari solusinya bersama, begitu Pak Paul?
PG : Jadi ada baiknya untuk bicara secara langsung dari hati ke hati dan saya juga akan tawarkan satu lagi masukan. Misalkan keduanya bekerja, kita bisa tetapkan jadual jaga misalnya hari ini ayah yang menjaga dan besoknya ibu yang menjaga. Jadi dengan kata lain kita saling mengerti kalau dua-dua bekerja maka malam ini saya harus bangun dan besok istri saya yang akan bangun. Tapi sudah tentu diperlukan fleksibilitas, misalkan kalau kita terlalu letih maka kita meminta agar istri kita yang menjaga malam ini dan pihak yang satunya berkata, "Baik, tidak apa-apa." Jadi makin banyak tawaran untuk membantu maka masa-masa ini menjadi lebih mudah, sehingga tidak menimbulkan pertengkaran. Sebaliknya semakin kita kurang tenggangrasa maka makin pelit kita untuk menawarkan bantuan sehingga makin memudahkan kita untuk bertengkar.
GS : Pasti kita terbangun karena satu kamar jadi tidak mungkin kalau kita tidur terus. Tetapi masalahnya adalah setelah kita membantu seringkali kita beranggapan bahwa hal itu sudah selesai dan kemudian kita tidur lagi dengan cepat, hal ini seringkali menimbulkan kejengkelan di pihak istri karena istri dan anak belum tidur tapi kitanya sudah tidur enak.
PG : Jadi dalam hal-hal seperti ini kalau si istri memerlukan kita untuk terus berjaga maka istri juga perlu bicara, "Tolonglah saya masih perlu bantuanmu karena saya juga letih." Jadi istri pun harus berani menyuarakan karena seringkali suami itu tidak selalu mengerti isi hati si istri. Saya masih ingat waktu istri mengurus anak-anak pada masa kecil, 90% istri yang mengurus anak-anak dan dia yang bangun malam untuk mengurus anak dan sebagainya. Tapi selain tadi saya tidur dengan anak saya untuk turut membantu meringankan beban istri saya, kemudian lagi waktu anak sakit saya mencoba untuk membantu misalkan yang saya masih ingat, saya tidak tidur. Apalagi kalau anak panas maka harus dikompres dan saya yang harus terus jaga karena hanya itu yang saya bisa kerjakan secara insidentil, tapi yang rutin memang istri saya. Saya menduga waktu istri saya melihat dalam kasus yang insidentil yaitu saya berkorban tidak tidur semalaman menjaga anak yang sedang sakit, itu mengobati hatinya dan itu juga membuat dia merasa bahwa saya bersama dia dan memikul beban untuk bisa mengurus anak-anak.
GS : Masalah lain yang sering timbul akibat anak ini apa, Pak Paul ?
PG : Biasanya adalah masalah tentang, siapa nanti yang mengurus anak? Atau perbuatan apa yang perlu didisiplin? Dan pertengkaran terjadi karena masalah-masalah seperti ini. Atau seberapa dinikah kita menerapkan disiplin? Atau kapankah mengharuskan anak makan sendiri dan buang air sendiri atau mandi sendiri? Seringkali semua ini menimbulkan kesalahpahaman sebab adakalanya seorang ayah berkata, "Kamu ibu yang mengurus anak berarti kamu juga yang harus mendisiplin anak." Maka seorang istri akan berkata, "Ini bukan hanya anak saya saja tapi ini juga anak kamu maka kamu juga yang harus mendisiplin anak." Atau perbuatan mana yang perlu didisiplin? Dan seringkali tidak ada kecocokan antara suami dan istri akhirnya salah satu orang mengalah dan berkata, "Terserah kamu saja, kamu mau mendisiplin dia seperti apa itu semua terserah kamu," jadi untuk menghindari pertengkaran hal itu yang seringkali dilakukan meskipun bisa jadi dia jengkel kalau anaknya didisiplin dengan hal yang menurut dia tidak semestinya. Atau seberapa dinikah kita menerapkan disiplin? Misalkan istri berkata "Sedini mungkin," tapi suami berkata, "Jangan nanti saja." Atau bahkan ada yang seperti ini, karena dulu dia didisiplin terlalu keras oleh orang tuanya maka dia berjanji tidak akan mendisiplin anak dan istri kebalikannya yaitu ingin mendisiplin anak akhirnya yang terjadi adalah pertengkaran, yang satu merasa terlalu berat kamu memarahi anak tapi yang satu merasa lebih marah karena kamu tidak mau memikul beban mendisiplin anak. Ini adalah masalah-masalah yang mudah timbul, jadi sekarang kita mau melihat bagaimana cara-cara menanggulanginya. Saya hendak menggarisbawahi satu prinsip disini yaitu bahwa disiplin adalah kewajiban kedua orang tua, tidak benar kalau salah satu berkata, "Ini hanya tugasmu," tapi itu adalah anak kita berdua jadi itu adalah tanggung-jawab kita berdua untuk mendisiplinnya. Bagaimana perbedaan dalam mendisiplin? Memang seringkali dibahas agar terjadi saling pengertian dan keselarasan. Saya mengerti hal seperti ini tidak mudah selesai karena kita berbeda tapi yang penting adalah dibicarakan, dijelaskan maksudnya dan yang penting juga adalah sikap mau mendengarkan. Kalau kita memunyai sikap tidak mau mendengarkan pasangan untuk memberikan penjelasannya kepada kita maka kita akan membuat dia merasa percuma bicara dengan kita karena kita pun tidak mau menggubrisnya.
GS : Dalam hal mendisiplin ini seringkali terjadi dualisme, masalahnya adalah salah satu tidak mau terlihat jahat di depan anak. Misalkan kalau ibu terus yang mendisiplin maka anak akan menilai kalau ibu itu jahat dan si ayah baik-baik. Dan hal ini yang mau dihindari oleh salah satu pihak.
PG : Betul sebab hal ini akan memicu kemarahannya karena dia merasa saya mendisiplin untuk kebaikannya, karena anak ini kalau tidak didisiplin maka akan bermasalah. Jika saya mendisiplin dan pasangan saya tidak mendisiplin, memang bagi si anak adalah saya yang jahat. Jadi waktu dia melihat bahwa dia manis-manis dengan pasangannya tapi cemberut-cemberut dengan dia maka dia semakin panas dan nanti dia akan melampiaskan kepada kedua pihak baik kepada pasangannya maupun kepada anaknya. Jadi dengan kata lain, kalau seseorang tidak mau memikul beban mendisiplin anak maka ini seperti hutan yang terbakar dan akan menjalar kemana-mana, maka kita harus menyelesaikan. Dalam pembicaraan tentang apa yang perlu didisiplin? Memang kita harus langsung masuk ke pada tujuan pendisiplinan dan bukan sarananya. Misalnya untuk mengharapkan anak agar bisa makan sendiri, tujuannya adalah melatihnya untuk mandiri. Untuk melatih anak mandiri maka diperlukan proses waktu dan disinilah kita acapkali ada perbedaan pendapat, ada yang mengharapkan hasil dalam waktu yang cepat, tapi ada yang mengharapkan hasil dalam waktu yang lama. Jadi dalam pembicaan kita bisa menekankan bahwa maksud kita sama dan tujuan kita sama namun yang berbeda adalah mulai kapan dan berapa lamanya, ada yang mengharapkan agar anak cepat bisa mandi dan makan sendiri tapi pasangan mengharapkan agar anak tidak terlalu cepat untuk mandiri. Saran saya adalah terus lakukan dengan sabar dan jangan tergesa-gesa dan marah-marah kalau anak tidak bisa melakukan yang kita inginkan. Jadi dengan kata lain pertanyaannya bukanlah perlu atau tidak kita melakukan hal itu? Jawabannya adalah perlu, mendidik anak untuk mandi sendiri apakah perlu? Itu perlu tapi lakukanlah dengan sabar, perlahan-lahan sedikit demi sedikit karena anak perlu proses waktu untuk dapat mengadopsi perilaku yang lebih mandiri.
GS : Contohnya seperti makan tadi, tepatnya kapan untuk kita memberikan disiplin terhadap anak ?
PG : Biasanya anak-anak bisa makan sendiri ketika anak mencapai usia sekitar 4 atau 5 tahun. Jadi dengan kata lain anak harus didorong untuk makan sendiri sekurangnya setahun sebelumnya dan memang ada yang lebih dini. Dengan kata lain, berilah waktu untuk anak berubah atau mengadopsi perilaku tertentu. Kalau ada orang tua berkata, "Baiklah kita mulai mendidik anak untuk makan sendiri dari usia 3 tahun," hal itu tidak mengapa namun kita mesti sabar karena 3 tahun dia mulai diajar untuk makan sendiri, ada anak yang cepat mengadopsi itu dalam waktu beberapa bulan tapi ada yang lebih lama lagi, tapi kita berdua harus memunyai perspektif yang benar yaitu pada akhirnya anak itu akan makan sendiri dan tinggal berapa lamanya dan cepatnya saja. Kesabaran untuk melewati proses itu diperlukan.
GS : Konsekuensinya adalah kalau misalnya anak itu belum bisa makan sendiri dan akhirnya banyak yang tercecer maka harus dibersihkan bersama.
PG : Betul. Kalau makanan masih berceceran dan sebagainya maka kita harus sabar karena anak itu perlu waktu untuk mengadopsi perilaku yang mandiri itu.
GS : Bagaimana untuk mengajar anak membersihkan mainannya, Pak Paul ?
PG : Saya kira kita harus meminta anak untuk menaruh mainan yang telah dimainkannya ke dalam sebuah keranjang sejak anak itu masih kecil atau sejak anak berumur 2 tahun, setelah dia selesai bermain kita ajak dia bersama-sama menaruhnya ke dalam keranjang. Jadi setiap kali selesai, kita mengajak dia bersama-sama menaruh itu di keranjang. Dengan cara itulah lama-kelamaan dia akan terbiasa kalau selesai bermain maka dia akan menaruh mainannya ke dalam keranjang. Disiplin yang bersifat menghukum wajib diberikan tatkala anak membangkang, misalkan anak dengan sengaja berkata, "Tidak mau," kalau disuruh sesuatu berkata, "Tidak mau." Di saat itulah waktunya kita memberikan disiplin yang tegas. Kalau masih bisa dijelaskan dan masih bisa dibujuk dengan kata-kata maka silakan, tapi kalau tidak mau dan tidak mau lagi maka silakan menghukum. Jadi jangan menghukum anak dengan kesalahan yang wajar dilakukan anak seusianya seperti menumpahkan air dan sebagainya tapi hukumlah anak waktu dia membangkang saja.
GS : Atau mengembalikan mainan itu tidak sempurna karena kebiasaan anak adalah mencampur semua mainan. Dan ini yang seringkali menjengkelkan pihak ayah kalau anaknya meminjam barang-barang ayah dan kemudian tidak dikembalikan ditempatnya misalkan alat tulis dan sebagainya dan hal ini sangat menjengkelkan.
PG : Maka kita sebagai orang tua, kita harus menyadari bahwa anak akan senang bermain dengan barang-barang kita, barang-barang yang tidak kita inginkan dimainkan olehnya sebaiknya kita simpan di lemari terkunci, sehingga dia tidak bisa memainkannya. Jadi daripada kita setiap hari pulang dan jengkel maka lebih baik simpanlah agar dia tidak bisa memainkan. Jadi biarkan dia memainkan barang-barang kita yang memang kita perbolehkan untuk dimainkan olehnya.
GS : Tapi menjadi pertengkaran suami istri ketika istri kita yang memberikan barang itu untuk anaknya dengan alasan, "Tadi dia meminta," jadi kemudian diberikan. Akhirnya konfliknya ini antara orang tua.
PG : Maka pasangan kita yang harus diberitahu, "Jangan barang ini karena barang ini saya perlukan dan tolong barang ini ditaruh disini saja dan jangan dikeluarkan."
GS : Hal lain apa yang sering menimbulkan konflik ?
PG : Ini yang seringkali menjadi masalah khususnya kita di sini ialah siapa yang harus membimbing pelajaran si anak? Karena anak tidak hanya belajar di sekolah tapi juga belajar di rumah. Misalnya lagi dimana anak kita bersekolah? Ada yang setuju agar anaknya sekolah di sekolah yang susah, tapi ada yang mau agar anaknya sekolah di sekolah yang biasa-biasa saja. Apakah perlu mengundang guru les? Ada orang tua yang berkata, "Tidak perlu karena saya yang mengajari," tapi setiap malam berteriak-teriak memarahi si anak. Atau perlukah menyediakan les tambahan seperti les musik, olahraga? Ada yang berkata, "Tidak perlu, belajar saja sudah cukup," tapi ada yang berkata, "Tidak apa-apa karena ini akan menambah variasi kegiatannya." Ini adalah bahan-bahan yang seringkali menimbulkan pertengkaran. Saya menyarankan pertama-tama kita harus mengenal anak dengan baik agar dapat mengenal kekuatan dan kelemahannya, jadi ada dua hal yang senantiasa diseimbangkan. Yang pertama kita mesti seyogianya menempatkan anak di sekolah yang memang menantang agar potensinya dapat tergali, namun selayaknya kita menempatkan anak di sekolah di mana dia dapat berkembang agar dia dapat menumbuhkan keyakinan dirinya. Jadi mengembangkan kemampuan dan memperkuat keyakinan diri, hal ini adalah 2 hal yang mesti kita seimbangkan. Kadang kita terlalu menekankan menggali kemampuan, kita lupa kalau nanti dia tidak berhasil dan dia paling rendah di kelasnya, hal itu akan meruntuhkan keyakinan dirinya. Tapi sebaliknya kalau kita menyekolahkan dia di sekolah yang terlalu gampang, keyakinan dirinya memang bertambah tapi kemampuannya tidak tergali dan ini adalah dua hal yang selalu harus diseimbangkan.
GS : Bagaimana dengan pelajaran tambahan, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu boleh diberikan namun ingat jika pelajaran tambahan pada akhirnya menjadi sangat mirip dengan sekolah karena banyaknya pelajaran yang harus dipelajari dan lamanya juga hampir sama seperti sekolah, itu berarti anak menanggung beban yang terlalu berat. Dalam kasus seperti itu sebaiknyalah kita memertimbangkan ulang sekolah yang lebih sesuai dengan kemampuannya dan jangan memberi beban yang terlalu berat sehingga untuk dia harus memenuhinya dia merasa kewalahan dan ini benar-benar tidak sehat buat perkembangan jiwanya.
GS : Biasanya pihak ayah menyarankan agar disekolahkan di sekolah yang bagus dan mendapat les tambahan, tapi untuk lebih tepat melihat masalah ini sebenarnya dari pihak ibu yang mendampingi terus menerus.
PG : Memang adakalanya ayah yang menuntut terlalu tinggi, tapi saya juga melihat ada kasus di mana yang menuntut terlalu tinggi adalah ibu. Di sini perlu untuk melihat anak secara realistis terutama dampaknya pada anak, kalau anak misalkan malam-malam dia ketakutan dan dia menangis berarti beban anak ini sudah terlalu berat. Jadi kita juga harus berhati-hati dan jangan terlalu memberikan kepada dia beban yang seberat itu.
GS : Kalau kita memberikan bimbingan sendiri, itu berarti kita tidak memberikan bimbingan tambahan dari orang lain, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu dalam hal ini kita harus melihat kesanggupan kita dan ketersediaan waktu kita, meskipun kita menguasai bidang pelajarannya namun kita harus mengakui kalau tidak ada waktu yang tersedia maka sebaiknya jangan. Atau walau kita sanggup namun bila bimbingan belajar berubah menjadi ajang kemarahan maka sebaiknyalah jangan kita yang mengajar anak dan berikanlah tugas itu kepada yang lain untuk mengajar anak.
GS : Biasanya untuk menghemat kemudian kita mengurus sendiri, kita pulang kerja merasa lelah kemudian harus mengajari anak belajar dan kemudian anak tidak tanggap, hal itu seringkali menimbulkan kemarahan dan kemudian ditanggapi oleh pasangan kita secara negatif.
PG : Betul sekali. Maka kita harus mencoba melihat masalah dengan lebih utuh dan jangan kita hanya menyoroti satu aspek. Tapi kita harus melihat dampaknya pada relasi kita dengan anak, pada relasi kita dengan satu sama lain, pada suasana rumah, itu semua harus dipertimbangkan jangan sampai karena satu hal yaitu bimbingan belajar anak, akhirnya semua hal lain dikorbankan.
GS : Bagaimana dengan kegiatan-kegiatan di luar rumah. Jadi misalkan olahraga atau belajar musik dan sebagainya, ini bagaimana Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kita harus melihat minat dan bakat anak setelah mencoba les dan bukan sebelumnya, artinya kita tidak akan tahu sampai anak mencobanya. Jadi saya mengusulkan biarkan anak mencobanya, kalau tidak ada kemajuan barulah kita hentikan, pada prinsipnya kegiatan seni dan olahraga adalah baik untuk pertumbuhan jiwa anak, selain menumbuhkan kreativitas, kegiatan ini juga bisa menjadi sarana pelepas ketegangannya.
GS : Hal ini menunggu anak meminta atau kita yang berinisiatif, Pak Paul ?
PG : Dua-duanya. Jadi adakalanya anak yang meminta kemudian kita pertimbangkan atau adakalanya kita yang berinisiatif. Kalau anak selama 3 atau 4 bulan sekali meminta hal yang baru maka hal itu yang harus kita hentikan, jadi setiap kita meminta dia memulai sesuatu yang baru, kita meminta dia untuk berjanji setidaknya menyelesaikan hal ini misalkan 6 bulan. Kalau 6 bulan kita mengevaluasi ulang dan memang tidak ada kemajuan maka lebih baik kita berkata, "Kalau kamu tidak mau maka tidak mengapa dan saya menerima." Atau misalkan baik itu olahraga atau musik dan dia merasa bahwa dia tidak cocok, maka tetap selama 6 bulan dia harus selesaikan. Dengan cara itu anak dilatih untuk tidak mudah bosan.
GS : Namun hal itu pun juga harus tetap dibicarakan dengan pasangan kita, Pak Paul, karena ini menyangkut biaya dan tenaga dia untuk mengantar jemput dan sebagainya ?
PG : Betul. Jadi kelau memang tidak ada biaya dan tidak ada ketersediaan waktu, maka mungkin hal ini harus ditunda dulu.
GS : Pak Paul, kesimpulan apa yang ingin Pak Paul berikan setelah perbincangan ini?
PG : Di Yesaya 42:3 Firman Tuhan berkata, "Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya," artinya Tuhan bersabar membesarkan kita, mendidik kita dan mengarahkan kita dan Tuhan pun tidak mudah putusasa karena Ia tahu bahwa perubahan menuntut waktu, demikianlah dengan membesarkan anak. Kadang perselisihan timbul karena kita menginginkan perubahan pada anak yang seketika dan kita mesti bersabar sebagaimana Tuhan telah bersabar dengan kita maka kita pun bersabar kepada anak sebab dia membutuhkan waktu untuk berubah.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Konflik Akibat Anak". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Dalam rangking ada 3 hal besar yang sering menjadi pertengkaran antara suami dan istri, yang pertama adalah masalah keuangan. Yang kedua adalah komunikasi, seringkali terjadi salah pengertian entah itu dari nada suaranya, perkataan yang digunakan, cara yang digunakan maka akhirnya terjadi miskomunikasi dan akhirnya bertengkar. Dan yang ketiga yang menyebabkan pertengkaran adalah masalah anak. Jadi mulai dari perbedaan mendidik anak, sampai tuntutan pada anak yang berlainan, itu semua bisa menjadi sumber atau bahan pertengkaran kita.<\p>
Kita mengangkat beberapa pertanyaan yang sering menjadi pemicu pertengkaran antara suami istri karena masalah anak :
Siapa yang harus bangun mengurus anak pada tengah malam?
Siapa yang harus mengurus anak kalau dia memerlukan sesuatu?
Siapa yang harus mengorbankan waktu kerjanya untuk membawa anak ke dokter?
Kapankah mengharuskan anak makan sendiri dan buang air sendiri atau mandi sendiri?
Perbuatan apa yang perlu didisiplin?
Seberapa dinikah kita menerapkan disiplin?
Bagaimana perbedaan dalam mendisiplin?
Siapa yang harus membimbing pelajaran si anak?
Dimana anak kita bersekolah?
Apakah perlu mengundang guru les?
Perlukah menyediakan les tambahan seperti les musik, olahraga?
dan sebagainya...
Masalah kerap muncul jika suami istri ini sama-sama bekerja, sehingga ada keterbatasan waktu di antara mereka, sebaliknya konflik lebih kecil jika istri purna waktu di rumah dan suami secara purna waktu bekerja. Maka yang harus dilakukan adalah suami istri sering membahas masalah anak bersama-sama, agar terjadi saling pengertian dan keselarasan. Memang hal seperti ini tidak mudah selesai karena suami istri memiliki perbedaan pendapat tapi yang penting adalah dibicarakan, dijelaskan maksudnya dan yang penting juga adalah sikap mau mendengarkan. Kalau kita memunyai sikap tidak mau mendengarkan pasangan untuk memberikan penjelasannya kepada kita, maka kita akan membuat dia merasa percuma bicara dengan kita karena kita pun tidak mau menggubrisnya.
Firman Tuhan berkata di Yesaya 42:3, "Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya," artinya Tuhan bersabar membesarkan kita, mendidik kita dan mengarahkan kita dan Tuhan pun tidak mudah putusasa karena Ia tahu bahwa perubahan menuntut waktu, demikian pun dengan membesarkan anak. Kadang perselisihan timbul karena kita menginginkan perubahan pada anak dengan seketika dan kita mesti bersabar sebagaimana Tuhan telah bersabar dengan kita, maka kita pun harus bersabar kepada anak, sebab dia membutuhkan waktu untuk berubah.
Submitted by TELAGA on Tue, 16/12/2008 - 3:36pm.
Abstrak:
Pada umumnya kita mengawali pernikahan dalam kasih mesra namun pada akhirnya sebagian dari kita tidak lagi dapat menikmati kemesraan di hari tua. Sebaliknya kita justru mencicipi kehambaran. Karena di awal relasi kita mencintai oleh karena kita mendapati pasangan sebagai orang yang menawan. Namun secara perlahan, rasa sayang karena menawan harus bertumbuh berubah menjadi rasa sayang karena ia berharga. Jika tidak, maka perjalanan cinta dalam pernikahan akan menemui masalah. Inilah pertumbuhan cinta yang sehat. Pertanyaannya adalah: Bagaimanakah membuat “Cinta dan Menawan” bertumbuh menjadi “Sayang dan Berharga” ?
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami yang terdahulu tentang "Sayang dan Berharga". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pada kesempatan yang lalu Pak Paul, kita memperbincangkan perubahan yang harus dialami oleh pasangan suami istri yaitu dari sayang menjadi berharga. Dan waktu itu Pak Paul juga memberikan uraian tentang apa yang harus kita sadari dan apa saja yang harus diubah. Supaya para pendengar kita kali ini juga bisa mengikuti perbincangan kita secara utuh mungkin Pak Paul secara singkat bisa mengulas apa yang kita perbincangkan pada kesempatan yang lampau.
PG : Sekurang-kurangnya ada tiga yang bisa saya bagikan. Yang pertama adalah supaya cinta kita bisa bertumbuh dari level menawan menuju ke arah berharga maka kita harus menumbuhkan cinta dari lvel fantasi ke level realitas, artinya kita tidak lagi berkubang pada fantasi atau angan-angan, bahwa pasangan kita seharusnya seperti ini dan seperti itu.
Maka ada hal-hal yang kita harus terima dan kita tidak persoalkan lagi, dan yang kita perlakukan justru mengembangkan bagian-bagian lain dalam relasi kita yang baik dan positif. Yang kedua adalah cinta itu harus bertumbuh dari jasmaniah ke rohaniah artinya kita tidak lagi menekankan pada penampilan, bagaimana orang melihat kita, bagaimana orang mengagumi kita, apakah orang memandang kita baik. Kita tidak lagi menekankan pada posisi pasangan kita yang terhormat supaya dinilai orang juga baik, atau kita juga tidak menekankan pasangan kita harus tampil prima secara fisik, enak dilihat. Maka akhirnya kita harus bertumbuh dari level jasmaniah ke level rohaniah, kita menghargai pasangan kita karena kebaikannya karena karakter-karakternya yang memang indah. Dan yang terakhir adalah kita juga harus menumbuhkan cinta dari level nafsu ke level sayang. Jangan sampai kita menjadi orang yang terus menyorotinya dari sudut kepuasan seksual, meminta pasangan harus seindah mungkin, secantik mungkin supaya tampil seksi, semua disoroti dari segi nafsu. Cinta yang didasarkan pada nafsu tidak akan bisa bertumbuh dan akhirnya nanti pada usia tertentu kita akan kehilangan kasih itu karena kita tidak mungkin tertarik secara seksual kepada pasangan kita. Maka cinta itu harus bertumbuh dari level nafsu kepada level sayang.
GS : Masalahnya sekarang bagaimana kita membangun cinta kita ? Bagaimana cinta pasangan suami istri bisa tumbuh ?
PG : Sekurang-kurangnya ada 5 hal yang ingin saya bagikan pada kesempatan ini, Pak Gunawan dan kelima-limanya saya ambil dari firman Tuhan. Yang pertama adalah agar cinta atau pernikahan kita ertumbuh menjadi sayang karena dia berharga, kita sendiri harus menumbuhkan kemurahan dalam hidup kita jadi kita harus murah hati.
Firman Tuhan berkata di Amsal 17:9, "Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangki perkara, menceraikan sahabat yang karib." Artinya kita harus murah hati sehingga kita tidak fokus pada kesalahan pasangan tapi kepada kebaikannya, dan kita tidak menyimpan-nyimpan kemarahan dan kebencian atau dendam atas kesalahan pasangan kita. Firman Tuhan jelas berkata, "Siapa membangkit-bangkitkan perkara menceraikan sahabat yang karib" atau kalau kita terapkan dalam keluarga, menceraikan suami istri yang karib menjauhkan kita. Maka kita jangan menyimpan-nyimpan kesalahan namun selesaikanlah, kalau sudah selesai jangan lagi diungkit-ungkit. Juga orang yang murah hati tidak berorientasi pada masa lalu, dia tidak melihat ke belakang tapi mereka melihat ke depan. Sehingga kalau sampai ada masalah mereka mencoba menyelesaikan, supaya lain kali tidak harus menghadapi masalah yang sama. Jadi semua dibingkai dari bingkai masa depan, "supaya masa depan kita lebih baik, relasi kita tambah kuat dan tidak harus mengalami gejolak yang lama lagi." Jadi sekali lagi fokus terus pada masa depan bahwa dia bisa berubah dan kita percaya kepadanya. Dan yang terakhir tentang kemurahan, berusaha mengampuni bukan pendendam. Ada orang kalau ada apa-apa selalu menyimpannya karena dia berkata bahwa, "Orang yang berbuat salah kepada saya, tidak akan saya lupakan dan saya akan terus mengingat kesalahannya." Seolah-olah itu adalah hobinya, jadi hobinya benar-benar bagaimana bisa menyimpan kesalahan orang dan bagaimana nanti kalau ada kesempatan dia ingin membalasnya atau menghukum orang tersebut ? Ini adalah contoh yang buruk, jangan sampai kita menjadi orang seperti itu. Sekali lagi kemurahan seperti inilah maka cinta itu pada akhirnya bisa bertumbuh dari level yang menawan, jasmaniah ke level rohaniah, karena dia berharga buat kita.
GS : Tapi ada kekhawatiran sebagian orang kalau dia terlalu bermurah hati kepada pasangannya maka dia menjadi objek penderita ini, Pak Paul. Jadi disalah mengerti, kemurahannya itu menjadi suatu kekalahan buat dia.
PG : Memang sudah seyogianya dua-duanya seperti ini, Pak Gunawan. Baik suami maupun istri berusaha keras mengembangkan sifat pemurah dalam hatinya. Karena kalau tidak, memang akan menjadi susahkarena yang satu akan terus mengembangkan sifat pemurah namun yang satu tidak menghargai, malah hidup seenaknya, mengambil kesempatan, memanfaatkan, maka hatinya akan terus berdarah karena tertusuk.
Tapi sekali lagi untuk kita menjadi orang yang bisa dianggap berharga oleh pasangan kita, ini adalah jalannya, Pak Gunawan, yaitu kita harus menjadi seorang suami, harus menjadi seorang istri yang pemurah sehingga dari hidup kitalah pasangan kita akan benar-benar diberkati.
GS : Hal yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Kita harus menumbuhkan kebijaksanaan, firman Tuhan berkata di Amsal 19:14 "Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN." Saya percayaini bukan saja ditujukan kepada istri tapi juga kepada suami.
Jadi baik suami atau istri yang berakal budi atau yang bijaksana adalah karunia Tuhan. Apa jadinya yang harus kita lakukan agar makin hari kita makin menjadi orang yang bijaksana, misalnya yang pertama "Berpikirlah sebelum berbuat dan berkata-kata," janganlah setelah kita menikah lima tahun atau lima belas tahun, tapi sama seperti yang dulu yaitu kalau ada apa-apa selalu berbicara dulu, komentar dulu, menghakimi dulu, menuduh dulu; belum mendengarkan dengan tuntas, belum tahu keseluruhannya namun sudah bereaksi seperti itu. Ini adalah sebuah ciri ketidakbijaksanaan, Pak Gunawan. Dan kalau terus seperti ini bagaimana pasangan bisa sayang dan melihat kita itu berharga, itu tidak akan terjadi ! Karena kita tidak lagi berharga atau bernilai. Sudah pasti kalau ingin bijaksana maka harus takut kepada Tuhan jangan sampai berdosa dan menghormati sesama, dua hal ini saya jadikan satu paket. Kalau kita takut kepada Tuhan maka kita harus menghormati sesama. Kita tidak bisa berkata, bahwa kita takut kepada Tuhan atau tidak mau berdosa kepada Tuhan, tapi kita menginjak-injak sesama, bicara seenaknya kepada istri atau sesama kita. Itu tidak bisa ! Kalau kita takut kepada Tuhan maka kita juga harus menghormati sesama dan orang yang bijaksana belajar dari pengalaman, dia tidak buta terhadap kesalahannya dan dia mengakui andilnya dalam masalah yang telah terjadi, tidak defensif, tidak menutupi diri, tidak membela atau membenarkan dirinya. Hal-hal seperti itu tidak dia lakukan, dan mengakui bahwa dia salah di mana kemudian dia belajar. Bagaimana pasangan bisa melihat kita berharga kalau kita bebal, tidak pernah belajar dari pengalaman, sudah jatuh berkali-kali tapi tetap saja mengeraskan hati tidak mau belajar dari pengalaman. Maka susah bagi pasangan untuk melihat bahwa dia berharga.
GS : Bijaksana ini nampak ketika orang mengambil keputusan atau langkah tertentu, maka pasangannya akan melihat bahwa suami atau istrinya ini bijaksana. Ataukah ada jalan lain untuk menunjukkan semua itu, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Seringkali hikmat itu muncul dalam pengambilan keputusan, keputusan yang salah berulangkali dilakukan dan tetap salah, maka itu menunjukkan bahwa orang itu kuran berhikmat.
Orang yang tidak bisa belajar dari pengalamannya atau mungkin tidak mau mendengarkan dari pasangannya atau dari orang lain selalu menganggap diri benar tidak perlu lagi nasehat orang lain, ini adalah ciri-ciri orang tidak bijaksana. Dan kalau hidup kita seperti itu yaitu tidak bijaksana, maka jangan mengharapkan pasangan kita untuk bisa mengembangkan rasa hormat atau penghargaan kepada kita. Pasangan kita akan melihat kita tidak berharga, sebab kita menjadi sumber kerugiannya. Jadi kita harus mengerti kenapa pasangan kadang-kadang tidak bisa menghargai kita dan kita pun juga harus sadar diri "kenapa", sebab kita lebih banyak membawa kerugian kepadanya.
GS : Jadi bijaksana memang kita terima dari Tuhan tapi pelaksanaannya juga tergantung dari kita, Pak Paul ?
PG : Betul. Sehingga firman Tuhan berkata, "Awal dari hikmat adalah takut akan Tuhan," dan takut akan Tuhan adalah porsi kita dan kita yang harus takut berdosa. Orang yang tidak takut dosa sembrangan hidup berarti orang yang tidak takut Tuhan dan akhirnya dia menjadi orang yang sering tersandung-sandung.
Dan tadi saya juga tekankan kita harus menghormati sesama manusia terutama pasangan kita sendiri, cobalah dengarkan masukannya, cobalah perhatikan perasaannya. Jadi kalau kita berbicara harus berhati-hati dan jangan sembarangan. Itu semua menunjukkan kebijaksanaan dalam diri kita.
GS : Hal lain apa lagi Pak Paul, yang kita butuhkan untuk menumbuhkan relasi yang sehat antara suami istri ini ?
PG : Yang ketiga adalah kita harus menumbuhkan kesetiaan, artinya di dalam firman Tuhan di Amsal 20:6 berkata, "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukanya ?" Jadi firman Tuhan memang mengakui bahwa susah dan langka mencari orang yang sungguh-sungguh setia.
Jadi banyak orang akan mengklaim diri baik, tapi kebaikannya bisa dibuktikan lewat kesetiaannya. Memang akan banyak orang yang mengklaim "saya mengasihi" tapi kasih itu juga dibuktikan lewat kesetiaan. Jadi sungguh-sungguh bukti dari semua ini adalah kesetiaan. Kita kalau ingin dihargai oleh pasangan, sehingga nanti di hari tua pasangan mencintai kita karena melihat kita berharga maka kita harus menjadi orang yang setia. Jadi apa saja ciri-ciri kesetiaan, yaitu tidak mementingkan kepentingan diri sendiri, melainkan mementingkan pasangan dan keluarga. Waktu dia mengambil keputusan dia tidak hanya mementingkan dirinya, tapi dia juga mementingkan dampaknya pada istri atau pada suami dan pada anak-anaknya, "Kalau saya seperti ini, kalau saya seperti itu, nanti yang terkena adalah anak-anak, yang terkena nanti pasangan saya maka jangan saya lakukan." Orang yang setia intinya tidak hidup untuk dirinya sendiri, dia hidup untuk keluarga. Yang lain, hidupnya konsisten artinya dia tetap sama baik di depan atau di belakang pasangan. Jadi apa pun yang kita hendak lakukan, maka kita harus bertanya, "Kalau ada istri atau kalau ada suami, apakah kita akan melakukan hal yang sama," sudah tentu ini dalam koridor bahwa kita tidak berdosa. Sebab memang ada orang yang hidupnya berdosa dan berkata, "Saya tidak peduli suami atau istri saya tahu" bukan itu yang saya maksud, yang saya maksud bukan orang yang ingin bersenang-senang dalam dosa. Tapi kalau kita ini ingin berbuat sesuatu tanyalah, apakah istri atau suami kita bisa terima, kalau kita merasa tidak lebih baik jangan dilakukan. Jadi hidup kita konsisten jangan sampai hidup kita ini hidup yang terbelah seperti pemain sandiwara, di belakang pasangan berbuat apa dan di depan pasangan juga berbuat apa. Yang terakhir tentang kesetiaan, kita harus memelihara batas yang jelas antara diri kita dan lawan jenis, jangan melewati batas entah itu telepon atau mencari kesempatan berkencan dan sebagainya, itu adalah awal dari ketidaksetiaan. Maka kita harus menjaga batas dalam berhubungan dengan lawan jenis.
GS : Tapi kesetiaan itu justru teruji ketika pasangannya dalam masalah, Pak Paul. Entah masalah keuangan atau masalah keluarga dan sebagainya, namun pasangannya tetap mencintai dia, dan itulah kesetiaan, Pak Paul.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi orang yang setia adalah orang yang tidak mudah lari atau meninggalkan pasangannya tatkala mengalami masalah. Justru kalau dia begitu mudah lari atau keluar etika masalah datang, maka dia menunjukkan ketidaksetiaannya, waktu dia jaya, maka dia dekat dan sayang kepadanya namun ketika dia ambruk kemudian kita tidak menghargai dia.
Cinta yang seperti itu tidak mungkin bertumbuh menjadi sebuah cinta yang didasari atas rasa berharga, kalau kita ingin dihargai pasangan maka jadilah orang yang setia baik susah maupun senang, baik dalam keadaan sehat maupun sakit dan kita mendampingi pasangan kita.
GS : Jadi kesetiaan ini memang perlu diusahakan dengan sungguh-sungguh supaya tercipta di dalam diri kita yaitu sikap setia, Pak Paul.
PG : Betul sekali dan tidak selalu mudah, sebab siapa yang mau menanggung kesusahan ? Pada umumnya kita tidak mau. Justru di situlah kesetiaan diuji dan waktu pasangan melihat bahwa kita begitusetia, dalam kondisi seperti ini kita tetap setia kepadanya.
Maka di situlah rasa sayang itu akan bertumbuh. Sayang atas dasar apa ? Dia berharga dan dia orang yang setia.
GS : Kalau kita mau mengajarkan kesetiaan itu pada pasangan, maka kita harus lebih dahulu setia pada pasangan kita.
PG : Tepat sekali. Kita tidak bisa menuntut pasangan untuk terlebih dahulu setia kemudian barulah kita setia, itu salah ! Sejak dari pertama kita menikah kita harus buktikan bahwa kita setia.
GS : Apakah ada hal lain yang kita butuhkan untuk menumbuhkan hidup pernikahan ini ?
PG : Yang berikut adalah ini, Pak Gunawan. Kita harus menumbuhkan kelemahlembutan, firman Tuhan di Amsal 15:1, "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membankitkan marah."
Itu adalah lemah lembut. Contoh-contoh konkretnya untuk menunjukkan kelemahlembutan, yang pertama adalah tenggang rasa dan berempati artinya dapat menempatkan diri pada posisi pasangan. Orang yang lemah lembut tidak hanya mementingkan dirinya, tapi orang yang lemah lembut akan selalu mencoba menempatkan diri pada posisi pasangannya, dia akan melihat apa yang akan dirasakan pasangannya dan dia makin hari akan makin berempati. Empati itulah yang akan menjadi modal untuk nantinya muncul kele- mahlembutan dalam pernikahan. Atau yang berikut, orang yang lemah lembut akan mengembangkan rasa malu terhadap pengumbaran emosi, justru dia harus berhati-hati sehingga tidak sembarangan mengumbar emosi. Jangan sampai kita menjadikan pengumbaran emosi sebagai gaya hidup kita, kalau kita sedang merasa sesuatu kemudian kita langsung mengekpresikan, itu tidak! Justru kalau kita harus mengumbar emosi, maka kita harus tanamkan rasa malu, kenapa saya masih seperti itu, "Kenapa saya masih mengumbar emosi-emosi saya" jadi kita harus menjaga emosi. Yang terakhir adalah untuk membuat diri kita lemah lembut maka kita harus menyadari kelemahan diri sendiri. Orang yang tidak lemah lembut adalah orang yang buta dengan kelemahannya, jadi hanya melihat kelemahan pasangannya, menyorotinya, mengkritiknya. Benar-benar membuat pasangannya seolah-olah hanya dia yang bermasalah sedangkan kita sendiri tidak bermasalah, kita harus sadar bahwa kita pun penuh dengan kelemahan.
GS : Biasanya kita sebagai kaum pria, menuntut pasangan kita atau istri kita bersikap lemah lembut. Tapi kita juga menuntut dia untuk menerima kita bahwa kita tidak bisa lemah lembut sebagai kaum pria.
PG : Seringkali kita tidak adil, Pak Gunawan. Jadi kita bisanya hanya menuntut orang tapi kita tidak bisa menuntut diri sendiri untuk bisa lemah lembut dan ini juga tidak benar. Maka kita harusmelihat diri kita bahwa kita pun juga banyak kelemahan, jangan hanya bisa menuntut pasangan.
Apa yang ada dalam diri kita yang bisa kita perbaiki ? Orang yang menyadari kelemahannya pada akhirnya lebih mudah bersikap lemah lembut karena dia tahu diri.
GS : Kelemahlembutan bukan berarti kita tidak boleh marah terhadap sesuatu yang kita tidak sukai.
PG : Sudah tentu ada waktu untuk kita marah dan kita tidak selalu bisa mengatur nada bicara kita rendah saat marah, itu betul. Tapi jaga jangan sampai keterusan, jangan sampai emosi itu meledakledak, terutama jaga pembicaraan atau perkataan kita.
Jangan akhirnya menghancurkan pasangan kita lewat kata-kata kita, tapi kita mesti ingat bahwa apa yang kita ucapkan tidak dapat ditarik kembali walaupun sudah minta maaf sebanyak apa pun, tapi itu sudah terjadi dan akhirnya makin menusuk perasaan pasangan dan itu makin menyulitkan dia untuk menyayangi kita atas dasar kita ini berharga, kalau kita sering menyakiti dia.
GS : Kalau kita menyadari akan kelemahan diri kita sendiri, maka mau tidak mau kita akan menjadi orang yang lemah lembut, tidak ada yang kita sombongkan kalau kita sendiri sadar bahwa kita sendiri banyak kesalahan terhadap pasangan.
PG : Betul sekali. Maka kita harus bercermin diri sebelum kita menegur dan ingat bahwa kita juga punya banyak kelemahan. Dengan cara itu mungkin kita bisa lemah lembut pada pasangan.
GS : Mungkin masih ada lagi hal yang kita butuhkan, Pak Paul ?
PG : Ada satu lagi yaitu kita harus menumbuhkan kebaikan, firman Tuhan di Amsal 11:16 berkata, "Perempuan yang baik hati beroleh hormat; sedangkan seorang penindas beroleh kekayaan." Jadi sekal lagi firman ini tidak harus untuk perempuan tapi juga laki-laki, "Perempuan atau laki-laki yang baik hati beroleh hormat" jadi kita ingin pasangan kita menghormati kita, melihat kita sebagai orang yang berharga dan mengasihi kita.
Atas dasar itu maka kita harus menjadi orang yang baik hati. Artinya baik hati adalah misalnya yang pertama dapat membaca kebutuhan orang lain. Ada pasangan yang tidak peka akan apa yang terjadi di luar dirinya, dia tidak tahu pasangannya membutuhkan apa karena dia tidak mau tahu atau cuek urusan orang dan akhirnya orang seperti itu susah dihormati, susah disayangi atas dasar dia itu berharga. Karena bagaimana pun kita sebagai manusia menghargai orang yang memang peduli dan dapat memerhatikan, dapat membaca kebutuhan atau perasaan kita. Dan sudah tentu bukan hanya sensitif dengan apa yang kita rasakan atau butuhkan. Tapi dia pun juga harus berusaha atau berinisiatif melakukan segala sesuatu tanpa pamrih. Orang yang kita katakan baik adalah orang yang melakukan kebaikan tanpa pamrih atau balasan. Begitu ada pamrihnya kemudian kita langsung berkata, "Kamu bukan orang yang baik, kamu sudah menghitung-hitung bahwa kamu akan mendapat imbalannya." Maka kebaikan bukan diukur lewat perbuatan baiknya, tapi kebaikan diukur lewat berapa nol pamrihnya, makin nol pamrih maka makin besar kebaikan itu. Kalau kita balik semakin besar kebaikan, tapi pamrihnya juga besar sama sekali tidak ada artinya. Yang terakhir adalah orang yang baik tidak terpengaruh oleh reaksi orang. Artinya apa pun yang dilakukan pasangannya, dia akan tetap melakukan hal yang sama yaitu berbaik hati, dia tidak terpengaruh. Ada orang yang terpengaruh, "Kamu baik dengan saya maka saya baik dengan kamu" cinta susah bertumbuh dari cinta dan berharga kalau kita terus berkubang di level itu, "Kamu baik dengan saya maka saya baik dengan kamu" tidak seperti itu, melainkan "Kamu tidak baik dengan saya tapi saya masih tetap ingin baik dengan kamu". Dengan cara itulah pasangan akan melihat orang ini berharga, lain dari yang lain, "Orang bisa melakukan hal seperti ini dan seperti itu tapi kamu tidak ! Dan kamu tetap baik hati kepada saya." Dan dengan cara inilah cinta akhirnya makin bertumbuh menjadi sayang karena berharga.
GS : Dalam menumbuhkan kebaikan ini, ada orang yang bisa baik kepada orang lain tetapi tidak bisa baik kepada pasangannya sendiri. Kenapa bisa seperti itu ?
PG : Mungkin jawaban yang pertama adalah hubungan pernikahannya tidak baik lagi, itu sebabnya dia tidak baik kepada pasangannya. Dia mungkin merasa sering disakiti sehingga dia susah sekali untk berbaik hati kepada pasangannya.
Kalau itu yang terjadi maka harus dibereskan dan dia harus menyadari bahwa ada masalah dalam rumah tangganya, dia harus mencari pertolongan supaya benang yang sudah kusut itu bisa diurai kembali, relasinya bisa diperbaiki kembali.
GS : Mesti ada kesepakatan antara suami istri bahwa kebaikan ini penting, karena saya rasa ini menjadi hambatan terbesar untuk kita mewujudkan kebaikan. Sering pasangan mengatakan, "Kamu jangan terlalu baik dengan orang, nanti kita akan dirugikan orang", tetapi kalau kita tidak mengembangkan sikap baik, kita juga tidak bisa menjadi baik terhadap pasangan kita sendiri juga.
PG : Betul sekali. Jadi kita harus menjadi orang yang pada dasarnya baik, firman Tuhan tidak berkata, "Kita harus baik hanya kepada pasangan," tapi Tuhan meminta kita untuk mengasihi sesama mansia.
Untuk itu kita memang harus berusaha baik kepada semua orang, bukan hanya baik kepada pasangan kita. Dan orang yang pada dasarnya baik, sudah tentu akan baik pula kepada pasangannya. Jadi kalau kita membuat pasangan baik hanya kepada kita dan jahat kepada orang lain, artinya kita membuat dia menjadi orang yang tidak baik. Maka senanglah dan bersukacitalah kalau pasangan kita pada dasarnya baik.
GS : Apakah Pak Paul, bisa menyimpulkan seluruh perbincangan kita ini baik yang terdahulu maupun yang sekarang ?
PG : Saya akan simpulkan dalam empat butir, dan yang pertama adalah sebenarnya rasa sayang dan berharga itu muncul sebagai akibat pengalaman mengarungi hidup bersama, jatuh bangun, suka duka, phit manis, kekecewaan dan sebagainya.
Kesetiaan bisa terus bersama mengarungi hidup, maka itulah yang bisa melahirkan sayang dan berharga. Yang kedua, sayang dan berharga ini muncul dari pengalaman merasakan betapa baiknya pasangan dan betapa beruntungnya kita dikasihi olehnya. Jadi kita itu benar-benar bisa berkata, "Saya ini beruntung karena memiliki pasangan sebaik dia dan beruntung bahwa dia juga mengasihi saya, dia mungkin bisa mengasihi orang lain tapi dia memilih untuk lebih mengasihi saya, jadi saya adalah orang yang begitu beruntung dikasihi oleh orang yang sebaik dia." Yang ketiga, sayang dan berharga ini muncul dari rasa bersyukur memilikinya dan dikasihi olehnya. Kita ini merasa, "Tuhan saya bersyukur saya mempunyai dia," bukan orang lain yang mempunyai dia, tapi kitalah yang mempunyai dia, kita memilih suami atau istri yang tepat. Jadi kita mensyukuri sekali, "Tuhan telah menuntun saya untuk memilih pasangan yang sebaik ini" jadi kita bersyukur hidup bersamanya. Dan yang terakhir adalah rasa sayang dan berharga muncul dari kepastian melihat rencana dan kehendak Allah yang sempurna di dalam pernikahan ini. Artinya kita bisa melihat bahwa Tuhan telah bekerja, merajut hidup kita ini hidup dengan pasangan dari nol sampai sekarang dan dari dulu sampai sekarang dan semua itu indah, Tuhan bersama kita dan kita melihat tangan Tuhan yang terus bekerja. Waktu kita melihat semuanya, rencana Tuhan digenapi dalam hidup kita dengan pasangan kita, maka pastilah kita merasa bahwa kita ini adalah orang yang diberkati Tuhan dan karena pasangan saya jugalah, saya diberkati Tuhan dan hidup di dalam rencana Tuhan.
GS : Saya percaya perbincangan kita ini akan mendorong lebih banyak pasangan untuk menghargai pasangannya dan menilai bahwa pasangan yang diberikan Tuhan kepadanya adalah sangat berharga. Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Sayang dan Berharga" bagian yang kedua dan yang terakhir. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
T 270 A+B "sayang dan berharga" oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi
Pada umumnya kita mengawali pernikahan dalam kasih mesra namun pada akhirnya sebagian dari kita tidak lagi dapat menikmati kemesraan di hari tua. Sebaliknya kita justru mencicipi kehambaran. Apakah yang terjadi sehingga kasih mesra berubah menjadi kehambaran?
Di awal relasi kita mencintai oleh karena kita mendapati pasangan sebagai orang yang menawan. Namun secara perlahan, rasa sayang karena menawan harus bertumbuh berubah menjadi rasa sayang karena ia berharga. Jika tidak, maka perjalanan cinta dalam pernikahan akan menemui masalah. Inilah pertumbuhan cinta yang sehat. Pertanyaannya adalah: BAGAIMANAKAH MEMBUAT "CINTA DAN MENAWAN" BERTUMBUH MENJADI " SAYANG DAN BERHARGA"?
Jadi, cinta yang bersumber dari rasa sayang tidak lagi mementingkan dan mencari kepuasan badaniah melainkan kepuasan dikasihi dan mengasihi. Kita tetap dapat menikmati penyatuan badaniah namun tidak lagi bergantung padanya sebab terpenting adalah relasi kasih itu sendiri. Sekarang bagaimanakah kita dapat membangun cinta agar bertumbuh menjadi rasa sayang karena berharga?
Kita harus menumbuhkan KEMURAHAN. Firman Tuhan berkata, "Siapa menutupi pelanggaran mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkitkan perkara menceraikan sahabat yang karib" (Amsal 17:9). Berikut akan dijabarkan beberapa ciri kemurahan:
Tidak memfokuskan pada kesalahan tetapi pada kebaikan
Berorientasi pada masa depan bukan masa lalu
Berusaha mengampuni bukan mendendam
Kita harus menumbuhkan KEBIJAKSANAAN. Firman Tuhan berkata, "Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi istri yang berakal budi adalah karunia Tuhan" (Amsal 19:14). Berikut adalah ciri kebijaksanaan:
Berpikir sebelum berbuat dan berkata-kata
Takut akan Tuhan dan menghormati sesama
Belajar dari pengalaman
Kita harus menumbuhkan KESETIAAN. Firman Tuhan berkata, "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia siapakah menemukannya?" (Amsal 20:6). Berikut adalah ciri kesetiaan:
Tidak mementingkan diri melainkan pasangan dan keluarga
Hidup konsisten: di depan dan di belakang pasangan sama
Memelihara batas yang jelas antara diri dan lawan jenis
Kita harus menumbuhkan KELEMAHLEMBUTAN. Firman Tuhan berkata, "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah" (Amsal 15:1). Berikut adalah ciri kelemahlembutan:
Tenggang rasa dan berempati: dapat menempatkan diri pada posisi pasangan
Malu mengumbar emosi
Sadar dengan kelemahan diri sendiri
Kita harus menumbuhkan KEBAIKAN. Firman Tuhan berkata, "Perempuan yang baik hati beroleh hormat, sedangkan seorang penindas beroleh kekayaan" (Amsal 11:16). Berikut adalah ciri kebaikan:
Dapat membaca kebutuhan orang
Berinisiatif untuk melakukan sesuatu tanpa pamrih
Tidak mudah terpengaruh akan reaksi orang
Sebagai kesimpulan, sesungguhnya Sayang dan Berharga:
Muncul sebagai akibat PENGALAMAN MENGARUNGI HIDUP BERSAMA: jatuh-bangun, suka-duka, pahit-manis
Muncul dari pengalaman merasakan BETAPA BAIKNYA PASANGAN DAN BETAPA BERUNTUNGNYA KITA DIKASIHI OLEHNYA
Muncul dari RASA BERSYUKUR MEMILIKINYA DAN DIKASIHI OLEHNYA
Muncul dari kepastian MELIHAT RENCANA DAN KEHENDAK ALLAH YANG SEMPURNA di dalam pernikahan ini
Submitted by TELAGA on Tue, 16/12/2008 - 3:34pm.
Abstrak:
Pada umumnya kita mengawali pernikahan dalam kasih mesra namun pada akhirnya sebagian dari kita tidak lagi dapat menikmati kemesraan di hari tua. Sebaliknya kita justru mencicipi kehambaran. Karena di awal relasi kita mencintai oleh karena kita mendapati pasangan sebagai orang yang menawan. Namun secara perlahan, rasa sayang karena menawan harus bertumbuh berubah menjadi rasa sayang karena ia berharga. Jika tidak, maka perjalanan cinta dalam pernikahan akan menemui masalah. Inilah pertumbuhan cinta yang sehat. Pertanyaannya adalah: Bagaimanakah membuat “Cinta dan Menawan” bertumbuh menjadi “Sayang dan Berharga” ?
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Sayang dan Berharga". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, beberapa pasangan yang setelah sekian tahun menikah seringkali mengatakan bahwa hubungan kami tidak seperti dulu ketika masih awal menikah atau ketika kami berpacaran. Jadi ada perubahan nuansa di pernikahan mereka, ini sebenarnya penyebabnya apa, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu akan ada perubahan-perubahan dari apa yang kita rasakan dan bagaimana kita mengungkapkan kasih itu. Tapi sesungguhnya kita tidak bisa menjadikan ini sebuah dalih bahwa, "Ya memng begitulah seharusnya yaitu setelah kita menikah untuk satu kurun maka perasaan kita dan kemesraan kita itu akan hilang dan ini adalah hal yang biasa dan baik."
Justru saya ingin menekankan bahwa memang akan ada perubahan, tapi sesungguhnya perubahan itu bukanlah perubahan yang membuat kasih mesra itu menjadi sebuah kehambaran. Jadi bukanlah perubahan dimana kasih mesra itu hilang dan tidak digantikan oleh apa-apa dan hanya sebuah kehampaan saja. Ada orang yang berkata seperti teman, seperti saudara tapi tidak ada lagi perasaan apa-apa dan saya kira tidak seperti itu. Dan perubahannya adalah perubahan yang akan lebih menancapkan akar di bawah dan lebih membersihkan dan memurnikan cinta itu sendiri.
GS : Jadi yang berubah di sini adalah perasaannya. Tetapi hakekatnya tetap mengasihi pasangan kita, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Jadi memang apa yang dirasakan dan bagaimana kita mengungkapkan rasa kasih yang seperti itu, akan mengalami sedikit banyak perubahan, tapi hakikinya apakah cinta itu sendiri asih ada atau apakah nanti akan ada transformasi sehingga kita tetap mengasihi.
Jadi yang saya mau tekankan adalah pada akhirnya dalam perjalanan ini kita akan menemukan bahwa pasangan kita itu orang yang berharga sehingga kita mengasihi dia, menyayangi dia karena dia berharga.
GS : Jadi awalnya kita hanya mengasihi seseorang tapi kurang menilai seseorang itu berharga buat kita, seperti itu Pak Paul ?
PG : Sebab seperti ini, Pak Gunawan. Pada masa-masa awal pernikahan umumnya kita itu mencintai karena dia menawan, dia memikat kita, dia mempunyai hal yang ditawarkan yang benar-benar membuat kta senang sekali dan sebagainya.
Sudah tentu itu bukanlah hal yang buruk, itu adalah hal yang baik dan itu yang biasanya menjadi daya tarik kita kepada seseorang. Namun supaya relasi kita ini bisa terus bertumbuh menjadi lebih kuat, lebih berakar maka relasi cinta itu sendiri juga harus mengalami transformasi dari cinta karena menawan, berubah menjadi sayang karena dia berharga.
GS : Dan masalahnya adalah bagaimana kita menciptakan itu ?
PG : Saya akan memberikan beberapa masukan, Pak Gunawan. Yang pertama adalah cinta itu harus berjalan dari fantasi ke arah realitas. Maksudnya begini, hampir semua pernikahan itu berangkat darifantasi yaitu hal-hal yang kita dambakan ada pada pasangan.
Kita mungkin beranggapan atau berpikir bahwa pasangan kita adalah orang yang bisa meneguhkan kita, mengayomi kita dan dia menjadi pelindung, memberikan kebutuhan-kebutuhan emosional kita untuk dikasihi untuk merasa bahagia dan sebagainya. Tapi pada akhirnya setelah kita menjalani pernikahan, kita harus mengakui bahwa dia sekarang tidak seperti itu. Kadang kita harus menghadapi masalah sendiri tanpa bantuannya, kita ingin sekali dikasihi namun sepertinya dia itu sedikit cuek. Jadi akan ada hal-hal yang harus terjadi dan itu yang saya sebut realitas. Dan di dalam pernikahan, kita akhirnya harus bergerak ke arah realitas, kalau kita tidak mau bergerak ke arah realitas dan kita terus bertahan di wilayah fantasi, yaitu kita menuntut pasangan kita seperti yang kita harapkan atau yang dulu dia pernah lakukan seperti itu, akhirnya pernikahan kita akan goyah sebab tidak lagi didasari pada realitas.
GS : Kalau seseorang ingin bertahan tetap pada fantasinya, pada angan-angannya, harapan-harapannya, itu karena dia melihat realitasnya tidak sebagus apa yang dia harapkan, Pak Paul. Jadi ada keengganan, ada ketakutan untuk hidup di dalam kenyataan.
PG : Seringkali itu yang terjadi, Pak Gunawan. Kita memang tidak mau menerima realitas karena ada ketakutan-ketakutan yang tidak siap kita terima. Atau kita pun tidak siap karena itu berarti aan ada hal-hal yang kita butuhkan namun tidak akan sepenuhnya terpenuhi oleh pasangan kita.
Dan itulah jalur pernikahan yaitu cinta harus beranjak dari fantasi menuju ke realitas. Sudah tentu dalam pernikahan yang sehat, kedua belah pihak memang harus berusaha memenuhi pengharapan pasangannya. Kita tidak bisa berkata, "Ini saya, kamu harus terima saya apa adanya, kalau tidak mau itu terserah kamu" kita tidak bisa seperti itu. Kita harus tetap tenggang rasa, harus mendengarkan apa yang diinginkan oleh pasangan dan apa yang didambakannya, kita tentu harus melakukan hal-hal seperti itu dan hal itu juga baik karena kita makin hari akan menjadi bertambah dewasa dan makin matang. Jangan sampai kita hanya ingin orang yang harus mengerti kita dan menerima kita apa adanya, tapi kita juga dituntut Tuhan menjadi manusia yang makin hari makin dewasa dan makin matang. Jadi semua itu harus dilakukan oleh kedua belah pihak baik itu suami dan istri mereka harus melakukan, walaupun kita sudah melakukan seperti itu namun akan ada hal-hal yang tidak terpenuhi yang tetap menjadi kerinduan kita dan kita tidak tahu kapan kita bisa memenuhinya. Contoh, misalnya pasangan kita itu lamban dan kalau kemana-mana selalu terlambat dan kita harus berusaha untuk membuat kita tidak terlambat dan kita menolongnya bangun pagi agar tidak terlambat. Namun untuk waktu yang lama sekali kita harus hidup dengan kelambanannya itu, ini adalah bagian dari realitas yang kita harus terima, kalau kita tidak bisa menerima maka kita akan menuntut dia terus untuk menjadi ini dan itu, lebih cepat lagi, lebih gesit lagi dan sebagainya dan kita terus menuntut seperti itu, saya kira ini akan terus menjadi faktor yang merusakkan pernikahan. Jadi ada hal-hal yang kita memang harus minta dan kita harus komunikasikan, tapi ada hal-hal yang kita harus terima dan inilah realitasnya. Waktu kita tidak lagi mempersoalkan realitas itu dan memilih mengembangkan bagian-bagian lain dalam pernikahan kita yang positif, barulah pernikahan kita itu bisa bertumbuh.
GS : Kalau kedua-duanya itu hidup di dalam fantasi, dua-duanya hidup di dalam harapan-harapan, impian-impian saja apakah akan menimbulkan masalah, Pak Paul ?
PG : Sudah pasti Pak Gunawan, sebab misalnya karena dua-dua itu bertahan pada fantasinya, pada angan-angannya bahwa pasangannya harusnya seperti ini dan seperti itu. Sudah tentu hidupnya akan pnuh dengan kekecewaan, terus marah, terus kecewa dan relasi itu akan menurun karena tidak ada lagi yang membangunnya, tidak ada lagi yang memperkokohnya karena semua energi dipusatkan pada pertanyaan, kenapa kamu tidak .....
? Kenapa kamu begini ? Akhirnya pernikahan itu semakin terseret dan semakin terseret ke bawah dan tidak akan bisa bertumbuh lagi dan itu adalah dampak buruk yang pertama. Yang kedua adalah kalau dua orang itu mempertahankan angan-angannya hidup dalam fantasi mungkin saja dua-duanya itu bersandiwara, dua-duanya tidak menjadi dirinya yang asli, jadi yang penting apa yang diharapkan atau yang diminta pasangan, itulah yang disajikan dan itulah yang diberikan dan terus seperti itu. Akhirnya ketika kedua-duanya itu mengalami kekosongan, hidupnya itu akan terbelah sebab apa yang dia sajikan, apa yang dia persentasikan di depan pasangannya, itu bukanlah dirinya. Kekhawatiran saya adalah ini hanya bisa bertahan sampai satu kurun, setelah itu ambruk atau dia akhirnya tidak tahan dan dia mencari orang lain di luar, yang dianggapnya bisa menerima dirinya apa adanya. Kadang-kadang ini terjadi di dalam pernikahan dan ini menjadi faktor pencetus terjadinya perselingkuhan di luar, sebab orang ini akhirnya mencari orang yang bisa menerima dirinya yang sesungguhnya itu. Sebab dia tahu di rumah tidak bisa dan dia diharapkan menjadi orang yang berbeda. Jadi kita melihat di sini bahwa, kalau dua orang tidak bisa hidup di dalam realitas maka akan lebih banyak bahaya yang akan muncul dalam pernikahan mereka.
GS : Jadi dengan berjalannya waktu, mau tidak mau orang itu akan berjalan dari fantasi ke realitas, begitu Pak Paul ?
PG : Seharusnya seperti itu, Pak Gunawan. Namun memang kenyataannya ada hambatan-hambatan dan kadang orang tidak bisa sampai ke sana dengan cepat. Yang pertama adalah kita masuk ke dalam pernikhan membawa idealisme yang terlalu tidak realistik, misalkan kita dibesarkan di dalam keluarga dimana begitu banyak kekurangan sehingga kita mulai mengembangkan idealisme, suami harus seperti apa, istri harus seperti apa.
Dan kita bawa idealisme itu ke dalam rumah tangga kita. Kita akhirnya menuntut atau berangan-angan supaya pasangan kita akan seperti yang kita harapkan, meskipun dia tidak seperti itu. Akhirnya apa yang terjadi ? Akhirnya kita tidak rela melepaskan idealisme kita dan kita terus memegang idealisme kita bahwa suami harus begini dan istri harus begini, kita tidak bisa menerima realitas, "kenapa istri seperti ini sekarang ?" Dan akhirnya sekali lagi kita akan kecewa karena kita terus mempertahankan idealisme itu. Memang kita harus memiliki idealisme, sebelum kita menikah kita memang harus benar-benar meneropong pasangan kita dengan sebaik-baiknya supaya dia benar-benar sesuai dengan idealisme kita, kalau tidak maka kita harus terima bagian yang tidak sesuai dengan idealisme kita itu. Nanti waktu kita menikah maka kita harus menemukan lagi hal-hal lain yang tidak sesuai dengan idealisme kita maka kita harus menerima realitas itu. Rintangan yang kedua adalah orang yang membawa banyak kebutuhan ke dalam pernikahannya. Tidak bisa tidak orang yang membawa begitu banyak kebutuhan, misalnya dulu tidak pernah dihargai dan waktu masuk ke pernikahan dia membawa angan-angan ingin dihargai, ketika tidak dihargai dia menjadi cepat tersinggung tidak bisa menerima kritikan, yang penting apa yang menjadi maunya harus dihargai terus. Atau orang yang butuh sekali kasih sayang, dia tidak bisa melihat sedikit saja tanda-tanda ketika pasangannya itu seolah-olah menolaknya. Jadi terus menerus meminta pasangannya untuk sesuai dengan angan-angannya, sesuai dengan fantasinya itu. Jadi ini juga merupakan rintangan, akhirnya tidak bisa mudah melihat realitas, tidak bisa menerima pasangannya kalau pasangannya tidak seperti yang dia harapkan. Jadi tidak bisa memenuhi kebutuhannya seperti yang juga dia inginkan. Dan ini adalah rintangan-rintangan yang kita harus sadari dan akhirnya kita harus atasi.
GS : Memang sebelum pernikahan itu, tiap-tiap orang mempunyai kebutuhan yang belum terpenuhi ketika dia belum menikah. Harapannya adalah setelah menikah kebutuhannya itu terpenuhi. Ada seorang suami yang tadinya sebelum menikah, dia sangat dikekang oleh keluarganya baik oleh orang tuanya yaitu tidak boleh ini dan itu. Tapi setelah menikah, dia menginginkan kebebasan dan pada saat dia ingin mewujudkan kebebasan itu namun istrinya keberatan, Pak Paul, dan dia katakan, "Saya tidak mendapatkan kebebasan sebelum menikah dan sekarang saya menikah ingin mendapatkan kebebasan namun sekarang kamu kekang lagi," dan ini menjadi masalah, Pak Paul.
PG : Ya. Jadi sekali lagi itu adalah kebutuhan yang tak terpenuhi makanya dia masuk ke dalam pernikahan dan dia berangan-angan bahwa istrinya itu adalah seorang wanita yang terbuka yang akan megizinkan, yang akan percaya, yang tidak akan terganggu dengan kemerdekaan kebebasannya dan dia meminta istrinya memberi dia kebebasan seluas-luasnya.
Ini adalah contoh yang baik sekali, Pak Gunawan, dimana kita bisa melihat akibat kebutuhan tak terpenuhi maka kita akhirnya hidup ke dalam fantasi. Tidak bisa tidak relasi ini akan berduri, sering muncul konflik karena suaminya tetap tidak terima karena dia ingin hidup ke dalam angan-angannya, maka dalam hal ini si suami sudah tentu harus mengerti bahwa istrinya tidak seperti itu dan dia harus sedikit banyak korting-korting kebebasannya sehingga dua-duanya bisa sampai ke dalam suatu kesepakatan bahwa seberapa bebas dia bisa ke luar dan seberapa terikatnya dia di dalam rumah tangga.
GS : Pak Paul, selain kita harus berjalan dari fantasi ke realitas mungkin ada cara lain juga, Pak Paul ?
PG : Agar kasih sayang bisa bertumbuh sampai ke level menyayangi karena pasangan kita berharga maka kita juga harus menumbuhkan cinta sehingga dari level jasmaniah bertumbuh ke level rohaniah. pa yang saya maksud dengan cinta yang jasmaniah ? Cinta yang jasmaniah adalah cinta yang berorientasi pada penampilan, jadi terlalu menekankan pada penampilan.
Sejak awal dalam pernikahan mereka ini suami istri sangat menekankan bagaimana orang menilai mereka, apakah orang menilai mereka positif dengan selalu menekankan perilaku-perilaku, kegiatan-kegiatan supaya mereka dilihat orang seperti apa. Jadi benar-benar ada suatu keinginan untuk dihargai lewat penampilannya. Dan ini juga dituntut pada satu sama lain, jadi dua-dua memang harus menjanjikan sebuah penampilan-penampilan yang dapat disukai oleh pasangannya. Pada akhirnya Pak Gunawan, kalau kita mau menumbuhkan cinta dari level jasmaniah ke level rohaniah maka kita tidak bisa lagi bergantung pada penampilan-penampilan, pada apa yang dilihat oleh mata kita, kita harus beranjak pada apa yang dilihat oleh mata kepada apa yang dirasakan oleh hati. Kita tidak lagi menekankan pada penampilan, tapi kita melihat pada hal-hal yang ada dalam diri pasangan kita seperti kesabarannya, kelemahlembutannya, kemurahan hatinya sehingga semua itu menjadi kwalitas-kwalitas yang kita hargai. Akhirnya kita tidak menekankan pada penampilan-penampilan yang dilihat oleh mata orang lain. Ada orang-orang yang terus ke sana, jadi walaupun sudah menikah beberapa lama dia berkeinginan kalau saya dilihat oleh orang maka penampilan saya harus bagus dan jangan sampai orang bicara yang tidak-tidak. Kalau ada orang yang sedikit mencela maka dia tersinggung dan marah karena dia harus tampil baik, suami istri harus tampil baik, anak-anak harus tampil baik, cinta yang seperti itu tidak bisa bertumbuh ke level sayang dan berharga sebab terlalu bergantung pada performa atau penampilan, begitu tidak ada lagi penampilan atau performa maka cintanya juga akan ambruk. Maka seharusnya cinta juga harus bertumbuh.
GS : Sampai batas-batas tertentu mestinya tidak terlalu salah, Pak Paul, memperhatikan penampilan dan sebagainya, kita ini mau tampil prima senantiasa tetapi kalau sudah berkelanjutan, ini yang memang menjadi masalah.
PG : Betul. Jadi misalnya kalau kita kaitkan dalam konteks pekerjaan misalnya ada istri yang sangat menekankan pada penampilan status suami sebagai seorang pekerja, misalnya manager atau yang lin, sehingga itulah yang menjadi dasar cintanya kepada si suami, dan ketika suaminya kehilangan pekerjaannya maka anjlok jugalah cintanya si istri.
Atau si suami yang menekankan penampilan si istri sebagai seorang yang agung, anggun dan sebagainya dan akhirnya itu yang kita mau untuk orang lihat, misalnya begitu istri kita mulai agak gemuk maka kita resah dan kita berkata, "Kenapa kamu tidak bisa jaga badan, kenapa kamu begini dan begitu ?" Jadi akhirnya terlalu menekankan pada penampilan-penampilan seperti itu, "Kenapa rambut kamu beruban, kamu harus cat rambut kamu dan sebagainya." Jadi kelihatan sekali saat terlihat perubahan pada penampilan maka ambruk pula cinta itu. Hal lain pula yang bisa saya pikirkan adalah orang yang bisa menekankan pada pengumpulan materi, Pak Gunawan. Cinta yang jasmaniah itu berpusat sekali pada materi dan apa yang dimiliki baik itu harta kita, uang kita sehingga waktu suami kita jaya, kaya raya maka kita menjadi kolokan, istri menjadi manja kepada dia. Ketika suami tidak lagi memiliki penghasilannya, uangnya mulai berkurang kemudian anjlok juga cinta kita. Kita tidak boleh seperti itu, kalau kita terus berkisar di wilayah materi maka kita tidak mungkin bisa sama-sama bertumbuh, sehingga cinta kita menjadi cinta atas dasar pasangan kita berharga bagi kita.
GS : Saya rasa itu dua hal yang sangat terkait karena penampilan itu biasanya membutuhkan biaya sehingga kalau tidak ada materi yang cukup, secara otomatis juga tidak bisa tampil dengan baik.
PG : Yang saya maksud dengan penampilan atau performa bukan saja penampilan secara fisik misalnya dilihat orang cantik, ganteng dan sebagainya, tapi juga penampilan seseorang adalah orang terhomat dan sebagainya.
Kalau itu adalah dasar cinta kita itu adalah dasar jasmaniah, begitu pasangan kita tidak lagi menempati kedudukan yang baik, kemudian kita juga menjadi goyang. Jadi cinta harus bertumbuh dari level jasmaniah ke level rohaniah yaitu kita menghargai, mencintai pasangan kita karena apa yang terkandung dalam jiwanya yaitu kebaikannya, kemurahannya dan sebagainya.
GS : Dalam hal pengumpulan materi, seringkali yang dijadikan alasan adalah untuk kebutuhan masa depan, anak-anak kita masih kecil dan bakal besar dan butuh biaya sehingga harus mengejar materi ini.
PG : Sudah tentu kita harus menyiapkan dana untuk kebutuhan anak-anak, keluarga dan sebagainya namun ada batasnya, kita tidak mengumpulkan seolah-olah setelah kita meninggal anak-anak kita akanterlantar, kita jangan sampai berpikir seperti itu.
Jadi kita harus siapkan biaya sampai mereka bisa sekolah, tapi hiduplah dengan iman bahwa ada Tuhan, kita tidak harus menyiapkan seolah-olah kalau tidak ada kita, maka anak kita tidak bisa hidup lagi, itu salah karena masih ada Tuhan.
GS : Mungkin masih ada hal yang lain yang masih bisa dilakukan supaya cinta ini bertumbuh dari sayang menjadi berharga ?
PG : Yang ketiga adalah cinta itu harus bertumbuh dari nafsu ke arah sayang. Nafsu itu sangat berorientasi pada kepuasan seksual. Ada orang yang menikah benar-benar mementingkan kepuasan seksua, harus lebih puas lagi, harus lebih menikmati lagi, rasanya tidak puas hanya seperti ini saja, harus tambah lagi eksperimentasi dan sebagainya.
Cinta yang seperti itu rapuh sekali karena seolah-olah kesatuan mereka itu hanya dilandasi oleh kepuasan seksual dan di luar itu tidak ada lagi. Cinta yang dikuasai nafsu seperti ini akhirnya tidak bisa bertumbuh pada rasa sayang bahwa dia berharga bagi kita. Makanya pada akhirnya kita harus berkata, "Ya sudahlah, selama saya bisa menikmati seperti ini ya sudah cukup sebab bagi saya, yang terpenting adalah kita menikmati cinta itu sendiri, bukan kepuasan seksual, kenyataan saya mengasihinya, kenyataan saya dikasihi olehnya dan itu cukup bahkan lebih dari segalanya," jadi relasi seharusnya adalah semakin tua semakin beranjak ke arah sayang seperti itu, suatu rasa bahagia bisa mengasihi pasangan kita dan dikasihi olehnya.
GS : Tapi kita hidup di dalam suatu zaman dimana iklan-iklan produk tertentu atau juga kehidupan sosial di sekitar kita justru mendewa-dewakan penampilan seksual dan sebagainya. Sehingga mau tidak mau banyak orang terpengaruh kalau tidak bisa memenuhi kebutuhan pasangan secara seksual, dianggap rumah tangganya sudah hancur.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Mengapa saya angkat hal ini, karena memang ada orang-orang yang seperti ini, jadi penekanannya pada kepuasan seksual atau pada kecantikan-kecantikan, namun kecanikan-kecantikan dalam konteks menggairahkan nafsunya.
Jadi dia akan menuntut pasangannya untuk berdandan seperti apa, memakai jenis parfum seperti apa, make upnya seperti apa, rambutnya seperti apa, bajunya harus seperti apa. Jadi semua itu dikeker dalam satu teropong yaitu seksi, yaitu menjadi cantik namun bukan cantik seperti biasa, namun dalam konteks menggairahkan secara seksual. Ini adalah contoh orang yang dikuasai nafsu, Pak Gunawan. Cinta yang dikuasai nafsu tidak mungkin bertumbuh, sebab akan ada satu masa dimana pasangan kita tidak akan menggairahkan nafsu seperti itu lagi dan ini adalah kodrat alam, kita tidak bisa melawannya tapi ada orang yang tidak mau bertumbuh dan terus berkubang dalam kolam nafsu yaitu menuntut pasangannya harus cantik, harus seksi dan harus menggairahkan, kalau tidak maka dia tidak bisa terima. Jadi akhirnya cinta itu terkikis habis dan relasi itu juga runtuh dan pasangan yang dituntut seperti itu akhirnya merasa lelah dan hidup dalam ketakutan, "bagaimana kalau ada orang lain yang lebih menggairahkan ? Bagaimana kalau ada orang lain yang lebih cantik, lebih seksi maka lama-lama dia bisa jatuh kepada dia." Jadi hidup dalam ancaman dan ketidakamanan dan tidak akan ada lagi bisa menikmati relasi nikah seperti itu.
GS : Hal-hal yang lahiriah ini memang nampak kelihatan langsung. Jadi predikat seksi itu tidak hanya lagi diterapkan pada wanita tapi pria pun dituntut untuk menjadi pria yang seksi.
PG : Ada memang sebagian wanita yang memang mengharapkan suaminya seperti itu yaitu badannya harus seksi, dan sekali lagi semuanya disoroti dari sudut seks. Memang saya harus akui kalau hal ituada, maka jauh lebih banyak prialah yang menuntut istrinya harus tampil seksi.
GS : Pak Paul, dalam hal ini bagaimana kita harus mengubah nafsu menjadi sayang, apakah ada latihan-latihan tertentu yang harus dilakukan ?
PG : Sudah tentu ada. Dan nanti kita akan lebih tekankan bahwa kita ini harus menumbuhkan atau mengubah nilai kita, lebih mementingkan hal-hal yang bersifat kekal, hal-hal yang memang bersifat arakter dan itu yang harus kita lebih fokuskan dan kita harus lebih banyak berpikir misalkan, "Bukankah saya beruntung mempunyai seorang istri atau seorang suami yang sabar yang menerima saya apa adanya, yang bisa terus mendukung saya, bukankah itu jauh lebih berharga dari pada kepuasan-kepuasan sesaat yang tidak berlangsung lama dan bukankah hal itu akhirnya habis."
Maka kita harus lebih fokuskan pada karakter-karakter moral dalam diri seseorang.
GS : Jadi setiap orang itu pasti punya karakter yang positif di dalam dirinya.
PG : Saya percaya begitu, Pak Gunawan. Dan kita bisa ambil itu atau fokuskan itu dan mudah-mudahan dia pun bisa melihatnya dan dia pun bisa senang karena kita menghargai karakter positifnya, di akan berlaku sama kepada kita dengan cara itulah relasi kita perlahan-lahan bisa bertumbuh.
GS : Mungkin kita bisa lanjutkan perbincangan ini pada kesempatan yang akan datang, namun sebelum kita akhiri perbincangan ini mungkin Pak Paul bisa menyampaikan firman Tuhan yang bisa menjadi landasan bagi kita.
PG : Di Roma 13:8 firman Tuhan berkata, "Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah mmenuhi hukum Taurat."
Jangan berhutang apa-apa tapi berhutanglah satu yaitu saling mengasihi. Jadikanlah itu sebuah tuntutan dalam diri kita untuk mengasihi pasangan kita, dan terus mengasihi dan mengasihi bukan atas dasar kasat mata tapi atas dasar keindahan-keindahan rohaniah dalam diri seseorang. Itulah yang akan membawa pernikahan kita bertumbuh sampai nanti usia tua dan cinta kita atau kemesraan kita tetap akan ada.
GS : Kita akan lanjutkan perbincangan ini pada kesempatan yang akan datang. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Sayang dan Berharga" bagian yang pertama. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Pada umumnya kita mengawali pernikahan dalam kasih mesra namun pada akhirnya sebagian dari kita tidak lagi dapat menikmati kemesraan di hari tua. Sebaliknya kita justru mencicipi kehambaran. Apakah yang terjadi sehingga kasih mesra berubah menjadi kehambaran?
Di awal relasi kita mencintai oleh karena kita mendapati pasangan sebagai orang yang menawan. Namun secara perlahan, rasa sayang karena menawan harus bertumbuh berubah menjadi rasa sayang karena ia berharga. Jika tidak, maka perjalanan cinta dalam pernikahan akan menemui masalah. Inilah pertumbuhan cinta yang sehat. Pertanyaannya adalah: BAGAIMANAKAH MEMBUAT "CINTA DAN MENAWAN" BERTUMBUH MENJADI " SAYANG DAN BERHARGA"?
Jadi, cinta yang bersumber dari rasa sayang tidak lagi mementingkan dan mencari kepuasan badaniah melainkan kepuasan dikasihi dan mengasihi. Kita tetap dapat menikmati penyatuan badaniah namun tidak lagi bergantung padanya sebab terpenting adalah relasi kasih itu sendiri. Sekarang bagaimanakah kita dapat membangun cinta agar bertumbuh menjadi rasa sayang karena berharga?
Kita harus menumbuhkan KEMURAHAN. Firman Tuhan berkata, "Siapa menutupi pelanggaran mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkitkan perkara menceraikan sahabat yang karib" (Amsal 17:9). Berikut akan dijabarkan beberapa ciri kemurahan:
Tidak memfokuskan pada kesalahan tetapi pada kebaikan
Berorientasi pada masa depan bukan masa lalu
Berusaha mengampuni bukan mendendam
Kita harus menumbuhkan KEBIJAKSANAAN. Firman Tuhan berkata, "Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi istri yang berakal budi adalah karunia Tuhan" (Amsal 19:14). Berikut adalah ciri kebijaksanaan:
Berpikir sebelum berbuat dan berkata-kata
Takut akan Tuhan dan menghormati sesama
Belajar dari pengalaman
Kita harus menumbuhkan KESETIAAN. Firman Tuhan berkata, "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia siapakah menemukannya?" (Amsal 20:6). Berikut adalah ciri kesetiaan:
Tidak mementingkan diri melainkan pasangan dan keluarga
Hidup konsisten: di depan dan di belakang pasangan sama
Memelihara batas yang jelas antara diri dan lawan jenis
Kita harus menumbuhkan KELEMAHLEMBUTAN. Firman Tuhan berkata, "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah" (Amsal 15:1). Berikut adalah ciri kelemahlembutan:
Tenggang rasa dan berempati: dapat menempatkan diri pada posisi pasangan
Malu mengumbar emosi
Sadar dengan kelemahan diri sendiri
Kita harus menumbuhkan KEBAIKAN. Firman Tuhan berkata, "Perempuan yang baik hati beroleh hormat, sedangkan seorang penindas beroleh kekayaan" (Amsal 11:16). Berikut adalah ciri kebaikan:
Dapat membaca kebutuhan orang
Berinisiatif untuk melakukan sesuatu tanpa pamrih
Tidak mudah terpengaruh akan reaksi orang
Sebagai kesimpulan, sesungguhnya Sayang dan Berharga:
Muncul sebagai akibat PENGALAMAN MENGARUNGI HIDUP BERSAMA: jatuh-bangun, suka-duka, pahit-manis
Muncul dari pengalaman merasakan BETAPA BAIKNYA PASANGAN DAN BETAPA BERUNTUNGNYA KITA DIKASIHI OLEHNYA
Muncul dari RASA BERSYUKUR MEMILIKINYA DAN DIKASIHI OLEHNYA
Muncul dari kepastian MELIHAT RENCANA DAN KEHENDAK ALLAH YANG SEMPURNA di dalam pernikahan ini
Submitted by TELAGA on Thu, 27/11/2008 - 3:20pm.
Abstrak:
Relasi pernikahan dilukiskan dengan 3 aksara “A,H dan M” dan dari ke 3 aksara itu yang paling baik adalah aksara “M” karena “M” melambangkan relasi nikah di mana suami dan istri bergantung satu sama lain namun keduanya dapat hidup sendiri. Mereka bergandengan tangan berarti ada kehangatan dan kerja sama di antaranya dan mereka pun dapat terbuka menyampaikan masukan kepada masing-masing sehingga relasi keduanya bertumbuh. Bagaimana sepasang suami istri dapat mewujudkan relasi yang disimbolkan dengan aksara “M” ?
Transkrip Isi:
[Kedewasaan dalan Pernikahan_ll] =>
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami yang terdahulu tentang "Anugerah dalam Pernikahan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita sudah membicarakan tentang anugerah dalam pernikahan namun saya percaya tidak semua pendengar kita kali ini mengikuti perbincangan yang lalu, dan supaya para pendengar kita mempunyai gambaran yang lengkap sehingga kita bisa bersama-sama melanjutkan perbincangan ini, mungkin Pak Paul ingin mengulas sedikit apa yang telah kita bicarakan pada kesempatan yang lalu.
PG : Pak Gunawan, pertama-tama saya akan membahas sebetulnya apa tujuan pernikahan. Kita ini memasuki pernikahan biasanya karena kita mencintai pasangan, kita ingin membagi hidup dengannya, ingn mempunyai keturunan dan sebagainya.
Tapi sesungguhnya ada tujuan pernikahan dari kacamata Tuhan sendiri dan ini yang kita perlu ketahui supaya nanti kita bisa hidup di dalam tujuan tersebut. Firman Tuhan di Mazmur 8:2-6, "Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah manusia sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat." Untuk kita bisa memahami kenapa Tuhan menciptakan pernikahan, kita mesti kembali ke awalnya yaitu kenapa Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya. Dari firman Tuhan yang telah kita baca dapat kita lihat bahwa semua yang Tuhan ciptakan adalah untuk mencerminkan kemuliaan Allah. Dengan kata lain bulan, bintang, langit, gunung, lautan, hewan dan juga manusia adalah tanda-tanda dan bukti-bukti yang mencerminkan kemuliaan Tuhan. Kalau kita manusia diciptakan Tuhan untuk menjadi kemuliaan Tuhan, itu artinya sewaktu Tuhan melihat kita, Tuhan mesti melihat kemuliaan dan kehormatanNya pada diri kita. Dosa adalah sewaktu kita akhirnya kehilangan kemuliaan dan kehormatan Tuhan, sehingga tatkala Tuhan melihat kita, kita tidak lagi memantulkan kemuliaan dan kehormatan Tuhan itu. Kalau kita melihat dari sisi manusia, kenapakah Tuhan menciptakan kita ? Kita bisa simpulkan bahwa kita ini diciptakan agar dapat menikmati relasi dengan Pencipta kita dan sebuah relasi dengan Pencipta alam semesta adalah sebuah kehormatan tersendiri. Kalau kita misalkan diijinkan berelasi dengan seorang petinggi, maka kita akan berkata bahwa ini adalah sebuah kehormatan. Tuhan lebih dari seorang petinggi, dari penguasa duniawi. Tuhan adalah Allah pencipta alam semesta ini dan kita diciptakan Tuhan agar kita dapat mencicipi relasi dengan-Nya, ini sebuah kehormatan yang amat besar. Jadinya singkat kata, baik dari sisi Tuhan maupun dari sisi manusia, penciptaan hanyalah mempunyai tujuan tunggal yaitu kemuliaan Allah. Dari sisi Allah supaya Tuhan melihat kemuliaan-Nya pada diri kita, dari sisi kita manusia, kita diciptakan supaya kita menikmati relasi dengan-Nya yang adalah sebuah kehormatan dan kemuliaan tersendiri. Jadi sekali lagi penciptaan manusia merupakan sebuah upaya untuk memantulkan dan menikmati kemuliaan dan kehormatan Tuhan. Jika itu tujuan penciptaan maka dapat kita tarik kesimpulan berikutnya bahwa tujuan pernikahan pun adalah juga untuk menjadi pantulan kemuliaan Allah. Sewaktu Tuhan melihat pantulan dari pernikahan yang diharapkan-Nya, Ia melihat kemuliaan-Nya sendiri di dalam dua orang yang sekarang menjadi satu. Dan untuk dapat menjadi pantulan kemuliaan Allah, pernikahan harus berjalan atas dasar anugerah yaitu mengasihi dan mengampuni, menerima satu sama lain. Maka dari Roma 15:7, telah kita baca bahwa perintah Tuhan sangat jelas, "Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah." Jadi dengan kata lain, kita hanya bisa memuliakan Allah jika kita saling menerima, kita tidak bisa memuliakan Allah jika kita saling gontok-gontokkan dan saling menjauhkan diri dari satu sama lain. Inilah yang dimaksud dengan anugerah dan inilah yang harus kita terapkan dalam pernikahan kita, Pak Gunawan, sebab pernikahan memang didesain Tuhan untuk dijalankan dengan anugerah, pernikahan tidak didesain Tuhan untuk dijalankan dengan prinsip Hukum Taurat yaitu kalau kamu memberikan saya satu maka saya akan memberikan kamu satu, kamu merugikan saya satu dan saya akan merugikan kamu satu. Pernikahan yang seperti itu pasti akhirnya akan berantakan. Pernikahan tidak seperti itu, desain awal pernikahan adalah dijalankan lewat anugerah, lewat kasih dan pengampunan.
GS : Memang kita mau menerima orang lain terutama pasangan kita tetapi itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk kita kerjakan, banyak sekali hambatan dan rintangan, ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Saya mengerti bahwa kita sebagai manusia ini tidak mudah menerima kelemahan pasangan kita, kita telah bahas bahwa ada kelemahan yang memang bersifat kepribadian, gaya hidup yang berbeda atu kelemahan-kelemahan mental seperti mudah lupa, lamban, tidak berinisiatif.
Itu adalah kelemahan-kelemahan yang menjadi kerikil dalam pernikahan dan memang kita harus terima. Untuk hal itu saja tidak mudah, sudah tentu jauh lebih susah menerima kelemahan yang bersumber dari dosa seperti perjudian, kebohongan, perzinahan dan itu adalah kelemahan-kelemahan yang berasal dan berbobot dosa, dan itu susah sekali kita menerimanya. Sudah tentu dalam pengertian, bukanlah kita menoleransi tapi kita menerima, itu dalam pengertian kita harus hidup dengan dia dan kita harus bantu dia supaya dia bisa lepas dari kelemahan-kelemahan dosa itu. Sekali lagi tidak mudah untuk melakukannya namun kita ingat firman Tuhan yang tadi telah saya kutip di Roma 15:7, perintahNya adalah sangat jelas. "Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita." Jadi dasarnya adalah kepatuhan kepada perintah Tuhan. Berdasarkan perintah Tuhan itu maka kita mau maju dan melakukannya tapi masalahnya adalah yang tadi Pak Gunawan juga telah kemukakan, tidak mudah karena ada rintangan-rintangan. Saya akan bacakan satu ayat, dari sini kita nanti akan melihat rintangan apa yang sebetulnya terbentang di depan kita. Roma 15:1-2 berkata, "Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya." Jadi firman Tuhan yang telah kita baca ini memberikan kepada kita sekurang-kurangnya dua indikasi kenapa kita susah sekali untuk menerima kekurangan pasangan kita. Yang pertama adalah tadi firman Tuhan berkata, "Kita yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat." Berarti kalau kita memutuskan untuk menerima kelemahan pasangan kita, kita akhirnya juga akan menanggung kelemahannya, menanggung sisa-sisa tugas tanggung jawabnya yang tak dapat diselesaikan akibat kelemahannya. Misalnya gara-gara dia itu lambat, kita yang harus lebih cepat mengurus sesuatu. Gara-gara dia kurang berinisiatif, akhirnya kita yang harus mengambil inisiatif mengerjakan banyak hal atau menyuruhnya yang sudah tentu membuat kita lelah, "Dari dulu diberitahu tapi tetap tidak bisa berinisiatif sendiri" dan kita yang harus memberitahukannya. Gara-gara dia mudah lupa kita yang akhirnya harus repot mengingat semuanya, jangan sampai nanti ada masalah karena dia lupa. Kita ini pada dasarnya tidak suka menanggung beban ekstra dari orang lain sebab bagi kita beban kita sendiri sudah berat dan kenapa harus menanggung beban orang lain pula. Ini yang menjadi alasan pertama kenapa kita tidak suka menerima kelemahan pasangan kita.
GS : Kita memang menganggap itu sebagai kewajiban dia, tanggung jawab dia. Tadi Pak Paul sudah katakan, kita sendiri saja sudah kerepotan mengurusi diri sendiri tetapi kalau firman Tuhan tadi mengatakan ini "wajib" maka kita akan melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Jadi walaupun kita repot tapi kita sempat-sempatkan harus ikut menanggung.
PG : Betul sekali. Jadi meskipun kita tidak suka tapi inilah perintah Tuhan dan kita tahu hanya dengan cara inilah pernikahan bisa jalan, begitu kita berkata, "Saya tidak mau, ini adalah bebanmu. Karena kelemahanmu kemudian saya harus menanggung bebanmu, saya tidak mau." Begitu kita berkata seperti itu, sebetulnya roda pernikahan sudah berhenti berjalan, sebab sekali lagi pernikahan itu dijalankan oleh roda anugerah, kasih dan pengampunan, menerima kelemahan satu sama lain. Sekali lagi kalau kita mulai perhitungan mulai menggunakan prinsip hukum taurat, maka pernikahan tidak akan berjalan dan pastilah terhenti. Maka kalau kita masih mau menjalankan roda pernikahan ini maka kita harus berusaha sekeras mungkin untuk berani atau bersedia menanggung beban akibat kelemahan pasangan kita.
GS : Ikut menanggung beban pasangan kita, itu bukan saja akan membuat kita repot tapi kita akan kehilangan apa yang kita senangi, misalnya waktu kita untuk bersenang-senang akan secara otomatis terkurangi atau mungkin bahkan hilang, Pak Paul, karena kita harus menanggung pekerjaan atau kewajiban pasangan kita.
PG : Betul sekali, misalkan kita ingin lebih terlibat dalam pelayanan, kita ingin terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial lainnya, kita ingin mengerjakan hobi-hobi kita, itu tidak bisa terlaksaa gara-gara kelemahan pasangan maka kita harus kehilangan kesenangan-kesenangan kita.
Ini sesuai dengan yang firman Tuhan katakan, "Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri." Firman Tuhan mengakui bahwa sebagai manusia kecenderungan kita memang mencari kesenangan kita, kita ingin melakukan kesenangan-kesenangan yang menyenangkan hati maka tatkala kita harus direpoti oleh kelemahan pasangan kita, kita menjadi tidak suka. Saya berikan contoh yang mungkin juga dialami oleh para pendengar kita. Misalkan kita sebagai suami beranggapan, tugas mengajar anak-anak adalah tugas si istri karena kita sudah repot bekerja dan sebagainya, tapi apa mau dikata istri kita itu bukan orang yang sabar untuk duduk berjam-jam bersama anak mengajarkan pelajarannya, sehingga akhirnya sering terjadi keributan antara istri dengan anak-anak. Akhirnya kita berkata, "Ya sudahlah, saya saja yang mengambil alih karena kalau kamu ribut itu juga tidak sehat bagi relasimu dengan si anak." Istri senang karena ada yang menggantikan, tapi gara-gara kita mengajari anak-anak akhirnya kita setiap hari pulang kerja yang tadinya kita bisa duduk relaks, nonton televisi, baca dan sebagainya, itu tidak bisa! Kita harus menghabiskan dua jam bersama anak-anak. Jadi kita berkata, "Dari pagi hingga sore saya sudah bekerja, sekarang sore sampai malam saya bekerja lagi di rumah." Kita rasanya tidak suka kehilangan kesenangan kita, apalagi kalau melihat, "Dia sekarang enak, dia tidak harus bekerja seperti saya," kita rasanya itu tidak terima, itu akhirnya yang membuat kita susah menerima kelemahan pasangan karena harga yang harus kita bayar, sehingga kita menjadi tidak mau. Maka kebanyakan dari kita berusaha mengelak dari tanggung jawab ini, tapi sekali lagi saya ingatkan bahwa roda pernikahan hanya bisa jalan jikalau kita melakukannya. Kalau kita memang bersedia menerimanya dan berusaha menghidupkan anugerah dalam keluarga.
GS : Memang kita harus berusaha sekuat mungkin untuk menerima kelemahan-kelemahan itu dan ikut menanggungnya, Pak Paul, tetapi ini tentu ada alasan-alasan lain yang kuat yang mendasari kita sehingga kita mampu melakukan itu dan itu apa saja, Pak Paul ?
PG : Dalam kekuasaan Tuhan, dalam kemurahan-Nya justru waktu kita melakukan perintah Tuhan kendati kita harus berkorban, kita itu nanti akan mendapatkan berkat dari Tuhan, kita akan dibangunkan Jadi dengan kata lain, kita tidak dirugikan, sekilas dari mata kita, kita dirugikan tapi sesungguhnya tidak.
Setidak-tidaknya ada tiga alasan Pak Gunawan, tiga penjelasan mengapa sebetulnya kita pun diuntungkan dan menerima berkat dari Tuhan kalau kita bersedia berkorban. Yang pertama, makin sering kita memikul beban yang ditinggalkan pasangan oleh karena kelemahannya, makin kita bertambah kuat. Kita ini tidak akan bertambah kuat bila kita hanya memikul beban yang seharusnya kita pikul atau yang menjadi porsi kita. Kita hanya akan bertambah kuat bila kita memikul beban yang ekstra, yang bukan menjadi porsi kita. Tuhan tidak menghendaki kita menjadi orang yang lemah, bila kita hanya mau memikul beban sendiri, kita tidak akan bertambah kuat malahan kita akan bertambah lemah. Misalkan saya berikan sebuah contoh, seorang atlet berkata, "Saya hanya mau mengangkat beban 25 kg dan sampai kapan pun hanya 25 kg," sebetulnya bila dia dibandingkan dengan atlet lain, dia makin lemah, dia bukan makin kuat, sebab atlet lainnya akan mulai menambahkan dari 25 ke 26 ke 27 dan terus seperti itu. Dengan kata lain, yang membuat kita kuat adalah beban ekstra ini. Waktu kita memikul beban pasangan karena kelemahannya, kita bertambah kuat dan dalam rencana Tuhan yang diinginkanNya adalah kita makin hari makin bertambah kuat. Sudah tentu kuat di sini bukan atas upaya kita, sebab mengasihi dan mengampuni apalagi menanggung beban pasangan karena kelemahannya itu mustahil kita lakukan dengan kekuatan kita. Kita harus kembali datang kepada Tuhan, memohon kekuatan-Nya, datang kepada Tuhan kemudian kembali memohon kekuatan-Nya. Berarti kita pun makin bersandar kepada Tuhan untuk mendapatkan kekuatan-Nya itu, kita makin bertumbuh dewasa. Jadi ujung-ujungnya tetap kitalah yang menerima berkat itu dari Tuhan.
GS : Jadi keluarga ini menjadi semacam pusat pelatihan bagi kita untuk makin lama makin bertumbuh menjadi kuat.
PG : Betul dan bayangkan kalau keduanya baik suami atau istri melakukan hal yang sama sebab inilah fakta bahwa keduanya, baik suami atau istri masing-masing mempunyai kelemahan masing-masing da kalau kedua-duanya menerapkan prinsip anugerah, maka saling menanggung beban masing-masing, bukankah kedua-duanya makin kuat dan makin kuat.
Maka kalau kita mau melihat pernikahan yang sehat, kita akan melihat dua orang yang makin hari makin kuat dan makin kuat, makin dewasa, makin benar-benar matang tapi kalau kita melihat pernikahan yang tidak sehat, yang kita lihat adalah keduanya tidak bertumbuh, keduanya tetap lemah karena dua-duanya menolak memikul beban satu sama lain. Atau kita melihat yang satu makin matang dan makin kuat dan yang satu tetap saja tidak matang-matang, tetap saja kekanak-kanakan, selalu bergantung semuanya minta dibereskan. Ini adalah pertanda bahwa ini bukanlah sebuah relasi yang setara, sebuah relasi yang keduanya itu tidak bertumbuh dengan sehat.
GS : Alasan yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Ada satu prinsip yang ingin saya kenalkan kepada kita semua yaitu kemajuan yang terhambat, seringkali adalah kemajuan yang tersembunyi. Acapkali kita ini frustrasi karena merasa kemajuan kta terhambat oleh karena kelemahan pasangan.
Tadi saya sudah singgung sebagai contoh kita ini ingin lebih terlibat dalam pelayanan, tapi tidak bisa, karena kita sekarang harus diam di rumah, mengajarkan pelajaran anak-anak sebab istri kita atau suami kita tidak bisa melakukan tugas dan sebagainya. Kita merasa ini semua adalah sebuah hambatan, tapi di dalam Tuhan seringkali keterhambatan di suatu bidang justru merupakan kemajuan di bidang yang lain, yang memang diperlukan kendati kita tidak menyadarinya pada saat itu. Pengorbanan di suatu hal ternyata merupakan pengayaan di hal lainnya. Kita harus meyakini satu hal bahwa Tuhan tahu apa yang sebenarnya perlu ditumbuhkan di dalam diri kita dan seringkali Ia memakai kelemahan pasangan untuk menumbuhkan karakter yang penting tersebut. Jadi terimalah, sambutlah, jangan frustrasi dan marah karena kita merasa kemajuan kita terhambat oleh kelemahan pasangan. Justru seringkali keterhambatan itu merupakan sebuah kemajuan yang tersembunyi.
GS : Masalahnya kita tidak mengerti bahwa ini sesuatu yang tersembunyi, kita melihat ini merugikan dan hal itu baru kita ketahui selang beberapa tahun bahkan mungkin puluhan tahun setelah itu barulah kita bisa melihat hikmahnya.
PG : Betul. Maka kita mesti percaya, yang pertama hidup kita ini di bawah penguasaan Tuhan sepenuhnya artinya tidak ada yang lolos dari kedaulatan dan pengaturan Tuhan, tidak ada satu pun yang olos.
Jadi masalah yang kita hadapi pun tetap berada dalam pengaturan Tuhan dan tidak luput dari tangan-Nya, berarti akan ada berkat atau hikmah yang ingin diberikan kepada kita lewat keterhambatan ini. Waktu saya di Jakarta, saya dan istri saya sama-sama lelah, akhirnya kami menjadi orang yang kurang sabar terhadap satu sama lain akhirnya kami menjadi orang yang lebih sering bertengkar karena itu kami memutuskan untuk kembali ke Amerika, mendapatkan bimbingan pemulihan. Kami menjalani konseling selama 3 bulan setelah itu selama 1 tahun di sana kami akhirnya kembali lagi ke kota Malang. Saat itu saya tidak mengerti, saat itu saya hanya melihat bahwa tamatlah pelayanan saya di Indonesia. Tapi ternyata setelah melewati semua itu akhirnya saya menyadari itulah yang Tuhan kehendaki, itulah pelajaran yang saya harus terima, itulah berkat yang tersembunyi, kemajuan yang tersembunyi yang Tuhan berikan kepada saya, dibalik kemajuan yang terhambat tersebut. Apa yang saya dapat terima dari Tuhan yang lebih penting dari pelayanan saya saat itu ialah bahwa saya harus mengikuti jejak Tuhan, saya tidak boleh tergesa-gesa mendahului Tuhan dengan rencana-rencana saya, target-target saya harus saya kesampingkan sebab saya harus mendengarkan target dari Tuhan dan hanya mengikuti target-Nya.
GS : Terima kasih untuk berbagi pengalaman seperti itu karena ini menjadi suatu contoh yang sangat konkret sekali, Pak Paul, yang mungkin menjadi pengalaman bagi banyak pendengar kita dan kita semua. Tetapi apakah masih ada alasan yang lain ?
PG : Yang terakhir adalah dengan kita memikul beban pasangan, kita sebetulnya sedang melatih diri untuk tidak memfokuskan perhatian pada diri kita. Kita diarahkan untuk memperhatikan pasangan dn kebutuhannya.
Makin sering kita melihatnya dan apa yang dibutuhkannya, maka makin berkurang keegoisan kita, kita melihat pasangan sudah tentu bukan untuk mencari kesalahannya tapi untuk melihat apa yang dibutuhkannya. Kalau dua-dua orang sudah seperti itu, matanya tidak tertuju pada diri sendiri tapi matanya ditujukan pada satu sama lain, melihat apa yang dibutuhkan pasangan, maka dua-duanya makin bertumbuh karena bukan saja kebutuhan kita terpenuhi tapi kita pun dibangunkan oleh masukan-masukan yang kita terima dari pasangan. Inilah yang Tuhan kehendaki dalam pernikahan supaya dua-dua makin hari makin bertumbuh.
GS : Memang fokus kita melihat diri sendiri dari pada melihat pasangan kita, tetapi melalui pengalaman seperti ini sebenarnya kita itu diajar oleh Tuhan untuk melihat bahwa kita sendiri itu ada hasilnya untuk pertumbuhan. Dari perbincangan kita baik yang lalu maupun hari ini, apakah ada kesimpulan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Membangun relasi sama seperti menanam pohon, sejak awal kita harus memberinya siraman dan pupuk serta melindunginya dari hama. Jika kita melakukan semua itu, setelah pohon tumbuh barulah kta dapat bernaung di bawah daunnya yang rindang dan memakan buahnya yang manis.
Pernikahan pun demikian, bila kita memberi siraman dan pupuk serta melindunginya dari ancaman pihak luar maka kita akan dapat bernaung di dalamnya dan dapat mencicipi buahnya yang manis. Kadang kita mengharapkan pasangan dengan cepat dan dengan sendirinya bertumbuh menjadi dewasa dan masak. Kita ingin menikmati langsung buahnya yang manis namun kenyataannya tidaklah demikian, hanya kita yang bersusah payah menginvestasi usaha keras, yang dapat mencicipi buah relasi pernikahan yang manis.
GS : Ini memang membutuhkan waktu sekali pun merupakan sebuah anugerah di dalam suatu pernikahan, tetapi untuk mengasihi, mengampuni ini memang membutuhkan sebuah proses yang panjang di dalam diri kita dan bagaimana pasangan kita menerima itu, Pak Paul, karena kalau kita memberi dan kita ditolak maka tidak akan terjadi suatu relasi yang baik.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Kita ini jangan menunggu pasangan dulu yang memulainya, tapi mulailah dari diri kita.
GS : Dan tidak jemu-jemu melakukan penyiraman, pemupukan dan sebagainya itu.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih, Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Anugerah dalam Pernikahan" bagian yang kedua dan yang terakhir. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ada orang yang melukiskan tiga jenis relasi pernikahan dengan tiga aksara:
"A" melambangkan relasi nikah di mana suami-istri begitu saling tergantung satu sama lain oleh karena mereka sesungguhnya tidak dapat dapat hidup mandiri. Relasi ini terlilit sehingga keduanya menjadi begitu menyatu sehingga tidak terbuka untuk menyampaikan masukan yang bersifat kritikan. Mereka pun sukar menerima masukan dari pihak luar karena cenderung melindungi satu sama lain secara membabi buta.
"H" melambangkan relasi yang tidak akrab di mana masing-masing menjaga jarak guna menghindari pertengkaran. Relasi ini telah kehilangan keintiman dan kehangatan kendati masih bersanding dalam pernikahan.
"M" melambangkan relasi nikah di mana suami dan istri bergantung satu sama lain namun keduanya dapat hidup sendiri. Mereka bergandeng tangan berarti ada kehangatan dan kerja sama di antaranya dan mereka pun dapat terbuka menyampaikan masukan kepada masing-masing sehingga relasi keduanya bertumbuh.
Untuk dapat mewujudkan relasi jenis aksara "M" diperlukan kedewasaan. Saya mendefinisikan kedewasaan sebagai "kesanggupan menerima kelemahan pasangan dengan senyum." Jadi, berdasarkan definisi ini dapat pula kita mengartikan ketidakdewasaan sebagai:
Ketidakmampuan melihat kelemahan pasangan karena menganggap pasangan sebagai manusia sempurna tanpa kekurangan.
Mampu melihat kelemahan pasangan namun dengan cemberut alias tidak dapat menerimanya.
Definisi Kelemahan :
Kelemahan dapat bersumber dari dosa, seperti dusta, kebencian, perzinahan, dan perjudian. Sudah tentu jauh lebih susah menerima kelemahan pasangan yang bersumber dari dosa.
Kelemahan dapat pula bersumber dari kepribadian, kebiasaan hidup dan keterbatasan mental seperti mudah lupa, kurang berinisiatif, lamban, dsb.
Mengapa Harus Saling Menerima
Firman Tuhan mengajarkan bahwa kita harus menerima satu sama lain, "Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah" (Roma 15:7). Dasar dari perintah ini adalah bahwa Kristus telah menerima kita. Jadi, sebagai orang yang telah diterima Tuhan kita mesti meneruskan penerimaan ini kepada sesama, terutama kepada pasangan sendiri.
Juga, kita harus menerima satu sama lain agar kita memuliakan Allah. Kita hanya dapat menerima satu sama lain lewat anugerah dan anugerah adalah kasih dan pengampunan. Bila kita menjadi orang yang beranugerah maka kita akan membawa kemuliaan bagi Allah sebab kasih dan pengampunan selalu mengingatkan orang akan Tuhan. Hal ini sesuai dengan tujuan pernikahan yakni memuliakan Allah. Berikut akan dipaparkan tujuan pernikahan.
Tujuan Pernikahan :
Untuk memahami tujuan pernikahan kita harus kembali melihat tujuan penciptaan alam semesta dan manusia. Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya agar semua ini memantulkan kemuliaan Tuhan. Inilah tujuan penciptaan dari sisi Allah. Firman Tuhan menjelaskan,
Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan, apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah manusia sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. (Mazmur 8:2, 4-6)
Dari sisi manusia, tujuan penciptaan adalah agar ia dapat menikmasti sebuah relasi dengan pencipta-Nya dan sebuah relasi dengan pencipta alam semesta merupakan suatu kehormatan tersendiri. Singkat kata, bagi manusia kesempatan untuk menikmati relasi dengan Tuhan pencipta alam semesta adalah sebuah kemuliaan. Jadi, baik dari sisi Tuhan maupun manusia, penciptaan hanya mempunyai tujuan tunggal yaitu kemuliaan Allah.
Jika demikian, maka dapat kita simpulkan bahwa pernikahan pun diselenggarakan Tuhan untuk menjadi pantulan kemuliaan Allah. Sewaktu Tuhan melihat pernikahan manusia, yang diharapkan-Nya adalah melihat kemuliaan-Nya sendiri. Dan, untuk dapat menjadi pantulan kemuliaan Allah pernikahan harus berjalan atas dasar anugerah yaitu mengasihi dan mengampuni, menerima satu sama lain.
Rintangan Menerima
Kendati kita tahu bahwa kita harus saling menerima namun tidaklah mudah untuk melakukannya. Berdasarkan Roma 15:1-2, "Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya," kita dapat menyimpulkan dua alasan mengapa tidak mudah untuk menerima kelemahan pasangan :
Menerima kelemahan membuat kita wajib menanggung sisa kerja yang tidak dapat diselesaikannya. Dengan kata lain, kelemahan pasangan membuat kita letih dan repot karena kita harus mengambil alih tanggung jawabnya. Pada umumnya kita tidak suka menanggung beban ekstra.
Menerima kelemahan pasangan membuat kita kehilangan kesenangan sedangkan pada dasarnya kita adalah orang yang mencari kesenangan. Tidak bisa tidak, tatkala disusahkan oleh kelemahannya, kita pun dibuat susah.
Kendati demikian, kita tetap harus berusaha menerima pasangan dan berikut ini akan dipaparkan alasannya.
Makin sering kita memikul beban yang ditinggalkan pasangan oleh karena kelemahannya, makin kita bertambah kuat. Kita tidak bertambah kuat bila kita hanya memikul beban yang memang seharusnya kita pikul atau yang menjadi porsi kita. Kita hanya akan dapat bertambah kuat bila kita memikul beban yang ekstra-yang bukan menjadi porsi kita. Tuhan tidak menghendaki kita menjadi orang yang lemah. Bila kita hanya memikul beban sendiri, kita tidak akan bertambah kuat, kita malah bertambah lemah.
Kemajuan yang terhambat sering kali adalah kemajuan yang tersembunyi. Acap kali kita frustrasi karena merasa kemajuan kita terhambat oleh karena kelemahan pasangan. Namun mungkin sekali keterhambatan di suatu bidang merupakan kemajuan di bidang yang lain yang memang diperlukan, kendati kita tidak menyadarinya pada saat itu. Pengorbanan di suatu hal ternyata merupakan pengayaan di hal lainnya. Tuhan tahu apa yang sebenarnya perlu ditumbuhkan dalam diri kita dan sering kali Ia memakai kelemahan pasangan untuk menumbuhkan karakter yang penting tersebut.
Memikul beban pasangan melatih kita untuk tidak memfokuskan perhatian pada diri sendiri. Kita diarahkan untuk memperhatikan pasangan dan kebutuhannya. Makin sering kita melihatnya dan apa yang dibutuhkannya, makin berkurang keegoisan kita. Pada akhirnya kita berdua makin bertumbuh karena bukan saja kebutuhan kita terpenuhi, kita pun dibangunkan oleh masukan yang kita terima dari pasangan.
Kesimpulan
Membangun relasi sama seperti menanam pohon. Sejak awal kita harus memberinya siraman dan pupuk serta melindunginya dari hama. Jika kita melakukan semua itu, setelah pohon tumbuh, barulah kita dapat bernaung di bawah daunnya yang rindang dan memakan buahnya yang manis.
Pernikahan pun demikian. Bila kita memberi siraman dan pupuk serta melindunginya dari ancaman pihak luar, kita akan dapat bernaung dengan aman di dalamnya dan mencicipi buah nikah yang manis. Kadang kita mengharapkan pasangan dengan cepat dan dengan sendirinya bertumbuh menjadi dewasa dan masak. Kita ingin langsung menikmati buahnya yang manis namun kenyataan tidaklah demikian. Hanya kita yang bersusah payah menginvestasi usaha keras yang dapat mencicipi buah relasi pernikahan yang manis.
Submitted by TELAGA on Thu, 27/11/2008 - 3:17pm.
Abstrak:
Relasi pernikahan dilukiskan dengan 3 aksara “A,H dan M” dan dari ke 3 aksara itu yang paling baik adalah aksara “M” karena “M” melambangkan relasi nikah di mana suami dan istri bergantung satu sama lain namun keduanya dapat hidup sendiri. Mereka bergandengan tangan berarti ada kehangatan dan kerja sama di antaranya dan mereka pun dapat terbuka menyampaikan masukan kepada masing-masing sehingga relasi keduanya bertumbuh. Bagaimana sepasang suami istri dapat mewujudkan relasi yang disimbolkan dengan aksara “M” ?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Anugerah dalam Pernikahan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, relasi nikah juga merupakan anugerah Tuhan karena ini diprakarsai oleh Tuhan. Tapi pengertian anugerah di dalam pernikahan ini apa, Pak Paul ?
PG : Sebetulnya anugerah adalah kasih dan pengampunan, Tuhan mengasihi kita dan Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita, jikalau kita mau datang kepada-Nya dan bertobat. Kedua hal itulah yang menadi karakteristik utama Tuhan dan inilah yang membawa perdamaian antara Tuhan dan kita manusia yang telah berdosa kepada-Nya.
Oleh sebab itu kita sebagai anak-anak Tuhan juga diminta untuk menjadi orang-orang beranugerah yaitu orang-orang yang dapat memberikan kasih kepada sesama dan memberikan pengampunan kepada orang yang telah bersalah kepada kita. Itu sebabnya pula dalam Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, kita diminta untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kita bukan saja orang-orang yang memohon-mohon pengampunan tapi, kita juga harus menjadi orang yang memberi pengampunan, kita bukan saja orang-orang yang memohon-mohon untuk dikasihi tapi kita juga harus menjadi orang yang mengasihi sesama. Nah konsep inilah yang nantinya juga harus diterapkan dalam keluarga kita.
PG : Betul. Jadi ini adalah masalah ketaatan pada perintah Tuhan, apa yang Tuhan telah perintahkan itu yang kita ingin taati. Ada juga dasar yang kedua, Pak Gunawan, kenapa kita harus menerima atu sama lain dan ini terkait dengan yang dikatakan di Roma 15:7, "Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah."
Jadi kita menerima satu sama lain supaya kita dapat memuliakan Allah. Kita hanya dapat menerima satu sama lain lewat anugerah, anugerah adalah kasih dan pengampunan. Karena kita tidak mungkin bisa menerima satu sama lain kalau tidak memiliki kasih dan pengampunan. Inilah anugerah. Bila kita menjadi orang yang beranugerah maka kita akan membawa kemuliaan bagi Allah sebab kasih dan pengampunan selalu mengingatkan orang akan Tuhan, tidak mungkin orang akan melihat kebengisan kemudian mengingat Allah, tidak mungkin orang melihat kejahatan kemudian mengingat Allah, tidak! Sewaktu orang melihat kasih dan pengampunan barulah orang akan mengingat Allah dan memuliakan Allah. Jadi ini nantinya yang kita harus pupuk terus dalam rumah tangga kita yaitu kasih dan pengampunan supaya lewat kasih dan pengampunan kita membawa kemuliaan kepada Allah.
PG : Itu sebabnya langkah awal selalu yaitu kita mesti datang kepada Tuhan, kita mesti mengakui bahwa kita adalah orang berdosa dan kita tahu bahwa tidak ada yang dapat menebus dosa kita entah tu perbuatan baik kita, atau keyakinan-keyakinan kita dan hanya kasih dan pengampunan Tuhanlah yang dapat menebus semua hukuman-hukuman dosa yang seharusnya kita tanggung.
Anak Allah Tuhan kita Yesus Kristus telah datang untuk mati bagi semua dosa-dosa yang telah kita lakukan. Maka orang yang terus menerus menerima, mengalami kasih dan pengampunan Tuhan, menjadi orang yang dapat atau lebih dapat mengasihi dan mengampuni sesamanya. Kadangkala kita ini orang Kristen memang paham sekali dengan konsep anugerah, konsep mengasihi dan mengampuni karena kita terbiasa mendengarnya di gereja tapi kita kurang sekali mengalaminya dalam hidup sehari-hari, kita itu tidak benar-benar menaati Tuhan atau bergantung sepenuhnya kepada Tuhan sehingga kita kurang mengalami kasih dan pengampunan Tuhan. Itu sebabnya terhadap pasangan kita juga akhirnya tidak terlalu menyatakan kasih dan pengampunan itu pula.
GS : Pak Paul, perbincangan ini tentu tidak bisa diakhiri di sini karena masih ada beberapa hal yang perlu kita perbincangkan lagi mengenai tujuan pernikahan dan seterusnya. Namun karena waktu kita sudah terbatas sampai di sini, kita harus sudahi perbincangan ini dengan harapan para pendengar kita akan mengikutinya pada kesempatan yang akan datang, lanjutan dari perbincangan ini. Terima kasih, Pak Paul. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Anugerah dalam Pernikahan" bagian yang pertama. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
PG : Betul Pak Gunawan, jadi sebagaimana saya singgung tadi adakalanya anak justru menempatkan dirinya berlebihan di atas anak-anak lainnya, terutama anak-anak pria lainnya. Dan mungkin sekai dia mempunyai kelebihan tersebut misalnya wajahnya tampan sehingga dari kecil guru-guru selalu memuji ketampanannya atau orangnya pandai sehingga dari kecil dia menerima pujian dari kecemerlangan pikirannya.
Nah kita harus lebih tekankan bahwa wajahmu, kepandaianmu itu anugerah Tuhan. Entah mengapa Tuhan memilih memberikannya kepadamu bukan kepada anak lain, tapi engkau tidak pernah mendapatkannya karena engkau itu bekerja keras, tidak. Wajahmu memang sudah Tuhan berikan seperti itu, kepandaianmu memang Tuhan sudah berikan seperti itu, itu bukan karena pada waktu dalam kandunganku engkau sudah belajar melebihi anak-anak lain. Jadi kita terus tekankan hal seperti itu dan kalau dia bersifat atau memunculkan sifat sombong, melecehkan pria lain kita tegur dia. Jadi di sini orang tua terutama ayah harus bersikap lebih proaktif, kita marahi, kita tegur tidak boleh kamu melecehkan anak lain. Apalagi misalnya anak yang lemah yang memang tidak bisa apa-apa atau anak yang kurang berada. Nah kita harus tekankan kau jangan melecehkan mereka. Kau harus menghormati mereka, itu hal-hal yang seorang ayah bisa lakukan untuk anak prianya.
PG : Betul sekali, dan waktu Dia memasuki taman Getsemani, Dia tidak besorak-sorai dan berkata saya kuat, saya tidak akan berpengaruh oleh penderitaan ini. Dia justru meminta murid-muridNya erdoa untuk Dia.
Kenapa, sebab sebagai Anak Allah namun juga sebagai manusia sama seperti kita, Dia bisa merasa lemah, Dia merasa takut sebab kata yang Dia gunakan hatiku itu susah. Kata yang memang sarat dengan muatan emosi, ketegangan, ketakutan, kelemahan, ini semua bercampur menjadi satu. Dan Dia mengakui itulah yang Dia rasakannya tatkala dia harus berhadapan dengan salib, maka Dia perlu berdoa. Dan kita melihat kuasa Tuhan dinyatakan, Dia mendapatkan kekuatan secara supernatural. Ini juga janji buat kita bahwa waktu kita menghadapi kesusahan, penderitaan, Tuhan akan menyatakan kekuatanNya untuk kita. Prinsip yang saya juga akan angkat di sini adalah Tuhan menyatakan kekuatanNya untuk kita hari ini. Ini acap kali kita barharap kekuatan ini akan berlangsung terus-menerus; besok, besoknya lagi terus akan kuat. Tidak demikian, kekuatan Tuhan diberikan kepada kita hari lepas hari, setiap hari kita merasa lemah, setiap hari kita datang kepadaNya untuk berserah dan berharap kembali dan setiap hari kita akan dikuatkan. Jadi jangan sampai kita berputus asa dan berkata: "Kemarin saya kuat tapi sekarang saya lemah." Betul, anugerah Tuhan cukup untuk kita hari ini dan besok minta lagi kekuatan Tuhan untuk menghadapi hari esok.
PG : Betul sekali, kita memang tidak bisa terus-menerus bertahan tanpa memiliki pengharapan. Jadi memang perlu adanya pengharapan bahwa di luar penderitaan ini, setelah melewati penderitaan ni akan ada hari yang lain; akan ada anugerah Tuhan yang lain untuk kita.
PG : Pak Gunawan, kalau kita menengok ke kiri dan ke kanan, dan melihat lembaga-lembaga pelayanan atau organisasi pelayanan seperti di gereja, saya kira kita mesti mengakui bahwa terlalu banyakmasalah yang timbul di antara anak-anak Tuhan dalam bekerjasama.
Pertanyaannya adalah mengapa sampai seperti itu ? Saya kira salah satu kuncinya adalah kepemimpinan yang efektif. Itu sebabnya saya kira kita perlu menyoroti figur atau sosok Musa sebagai seorang pemimpin karena kepemimpinan Musa itu sebetulnya sebuah kepemimpinan yang sebetulnya sangat sulit alias tidak ideal. Bayangkan dia harus memimpin anak-anak dan orang tua dan itu lebih dari 1.000.000 orang, dari tanah Mesir melewati padang gurun selama 40 tahun. Itu suatu kepemimpinan yang sangat tidak ideal, bahkan memimpin sebuah bangsa di dalam suatu negara yang permanen pun tidak mudah, apalagi ini memimpin sebuah bangsa di dalam perjalanan menuju ke tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan. Di tengah-tengah keminiman makanan, minuman, di tengah-tengah terik matahari dan dinginnya gurun pasir di waktu malam, di tengah-tengah ketiadaan rumah karena mereka harus tinggal dalam tenda-tenda dan kurang lebih 1.000.000 orang hidup bersama-sama. Jadi bisa dibayangkan betapa susahnya memimpin dalam kondisi Musa ini. Tapi kita bisa berkata atas anugerah Tuhan, Musa berhasil memimpin Israel selama 40 tahun. Untuk inilah kita sekarang mengadakan acara ini supaya kita bisa menimba apa yang dilakukan Musa sehingga nantinya bisa kita terapkan di dalam pelayanan kita.
PG : Tepat sekali Pak Gunawan, nah yang indah yang ingin saya angkat adalah pertama kali kita mendengar Batsyeba, kita mendengar tentang istri, seorang wanita muda yang gagal berkata tidak, tap kedua kali kita mendengar tentang Batsyeba kita membaca tentang seorang wanita yang sudah tua namun bijak.
Sehingga dia berani berkata tidak kepada Daud. Nabi Natan yang menyuruh Batyeba menghadap kepada Daud dan berkata tolong beritahukan, ingatkan raja Daud, dia sudah berjanji untuk mengangkat Salomo menjadi raja. Nah sebetulnya Batsyeba bisa berkata tidaklah, tidak apa-apa biarkan saja Daud mau mengangkat Adonia, biarkan saja. Tapi kali ini Batsyeba berkata tidak kepada Daud, dengan kata lain Batsyeba berani untuk menentang kehendak raja. Dia berani menagih janji raja Daud, "Engkau berjanji, Salomo-lah yang akan menggantikanmu kok sekarang engkau diam saja Adonia menobatkan dirinya." Nah akhirnya Daud diingatkan akan janjinya itu, sadar bahwa dia keliru, jadi dia langsung meminta nabi Natan untuk menobatkan Salomo menjadi raja. Jadi kita melihat suatu perubahan di sini Pak Gunawan, dari seorang wanita muda yang tidak bijaksana, Batsyeba berubah menjadi seorang wanita tua yang bijaksana. Dari seseorang yang tidak bisa berkata tidak, menjadi seseorang yang berani berkata tidak, dan dalam perubahannya itulah kita melihat anugerah Tuhan. Bukan dari wanita-wanita yang lain, bukan dari istri-istri Daud yang lain, Tuhan memilih kakek moyang dari Tuhan Yesus tapi justru dari seorang Batsyeba yang pernah jatuh ke dalam dosa. Nah di sini kita melihat betapa luas dan besarnya anugerah Tuhan kepada manusia.
HE : Saya kira kalau itu sekali-sekali dilakukan itu tidak apa-apa, tetapi jangan itu yang dijadikan fokus. Karena apa? Karena itu adalah yang sementara sifatnya. Selain itu boleh dikatakan al-hal seperti ini, ini adalah sesuatu yang dimiliki sebagai anugerah, sebagai karunia.
Dan itu patut disyukuri tapi tidak menjadi fokus pujian. Karena apa? Karena seharusnya yang menjadi fokus pujian kita adalah sesuatu yang menjadi tujuan yang bisa dicapai oleh anak. Kalau kita misalnya memfokuskan pada kecantikannya misalnya atau kepandaiannya atau kekuatannya, nah hal-hal ini suatu ketika bisa berubah. Kalau anak sampai mendasarkan harga dirinya pada hal-hal yang sementara ini maka ketika hal yang sementara ini ternyata tidak memuaskan dirinya atau menjadi luntur, pada saatnya saudara-saudara akan menjadi tua atau berjerawat waktu remaja, tidak cantik lagi maka ini akan memukul dirinya.
HE : OK! Dalam hal demikian misalnya orang tua bisa mengingatkan anak bahwa kamu beruntung karena kamu diberi anugerah wajah yang cantik dari Tuhan, ingat baik-baik bahwa jangan memanfaatkankecantikanmu ini untuk hal-hal yang kurang baik.
Yang terpenting dari seseorang adalah bukan dari kecantikan fisiknya, yang dikatakan juga oleh Alkitab adalah kecantikan dari dalam dan itu adalah sifat-sifat baik yang harus diusahakan oleh seseorang, yang masih bisa diubah oleh seseorang. Sedangkan kalau misalnya orang cerdas atau tidak, cantik atau tidak itu lebih agak susah untuk diubah karena itu suatu bawaan atau pemberian.
PG : Memang ada kecenderungan orang beranggapan bahwa di Perjanjian Lama Tuhan marah dan menghukum manusia, di Perjanjian Baru adalah zaman anugerah maka tidak ada lagi kemarahan dan penghukuma Tuhan.
Sekali lagi ini adalah konsep yang juga keliru. Misalkan kita tahu bahwa Ananias dan Safira berbohong kepada Roh Kudus, di detik itu juga mereka langsung jatuh dan mati, tidak ada lagi tawar-menawar, Tuhan langsung menghukum seperti itu. Memang tidak terlalu banyak dicatat seperti di Perjanjian Lama karena di Perjanjian Lama, Tuhan ingin menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang kudus, dia adalah Allah yang mempunyai standart yang sempurna, Dialah yang memberikan hukum-hukumNya kepada manusia dan sewaktu manusia gagal untuk memenuhi hukum-hukumNya maka kematianlah yang menjadi upah. Tapi di dalam Perjanjian Baru Tuhan mau memberikan suatu jaminan pasti bahwa kendati engkau tidak mau memenuhi hukum Tuhan dan Sabda Tuhan, tapi engkau telah dimaafkan asalkan engkau percaya pada Yesus sang Juru selamat yang telah mati untukmu. Maka di Perjanjian Baru yang lebih ditekankan adalah aspek dan kemurahan Tuhan.
PG : Di dalam diskusi rohani, kadang-kadang kita membicarakan hal-hal rohani kepada pasangan kita setelah lewat atau berhasil melampaui luka-luka yang pernah kita terima. Jika ada pelajaran Firan Tuhan tentang dosa, kita yang bersalah harus mengambil inisiatif untuk mengatakan pengakuan seperti ini, "Saya adalah orang yang telah mengecewakan Tuhan dan keluarga," atau "Saya adalah orang yang tidak selayaknya menerima anugerah Tuhan" meskipun kita sedang membicarakan hal yang lain, yang berkaitan dengan hal-hal rohani yang lain, tapi kadang-kadang kita kaitkan dengan diri kita.
Seperti Paulus di dalam suratnya, kadang-kadang dia menulis, "Saya adalah seorang rasul yang paling kecil, yang paling berdosa, seolah-olah paling tidak bisa dimaafkan, tapi Tuhan memaafkan saya. Jadi dengan kata-kata seperti itu pasangan bisa melihat bahwa kita tidak pernah melupakan perbuatan dosa yang telah kita lakukan. Pengakuan seperti ini penting didengarnya, sebab salah satu ketakutannya adalah bahwa kita dengan mudah melupakan perbuatan yang sangat menyakiti hatinya itu, dengan secara berkala kita memunculkan kata-kata seperti itu, "Benar, saya orang berdosa. Saya telah mengecewakan Tuhan dan kamu." Secara berkala kita katakan maka dia akan tahu, kalau kita sungguh menyesal. Justru kalau kita diam saja, pasangan jadi bertanya-tanya, "Apakah kamu masih ingat dosamu sebab kamu tidak pernah menunjukkan penyesalan," akhirnya dia korek-korek dan kita tersinggung, kita marah. Jadi lebih baik, kita berinisiatif mengatakan hal-hal seperti itu.
PG : Saya kira demikian Pak Gunawan, jadi kalau dia itu harus bekerja terus dan seolah-olah tidak mendapatkan belas kasihan orang, tidak pernah mencicipi karunia, anugerah dari orang atau dai Tuhan, kemungkinan dia akan mengembangkan sikap egois.
Tapi anak-anak yang besar dalam kekurangan kemudian mencicipi anugerah, baik anugerah manusia lainnya ataupun anugerah Tuhan yang berlimpah kepadanya. Dia melihat Tuhan itu baik, orangpun bisa baik kepadanya, nah saya percaya orang-orang seperti ini justru orang yang beranugerah besar, tidak egois.
PG : Di dalam kita mencari pasangan hidup dengan sikap menunggu, firman Tuhan untuk kita adalah ini "Sebab itu janganlah kamu khawatir tentang hari besok, karena hari besok mempunyai kesushannya sendiri."
Jadi jangan khawatir hidup sepenuhnya untuk Tuhan, besok bagaimana, besok ada pimpinan Tuhan, anugerah Tuhan cukup buat hari besok.
PG : Tepat sekali, firman Tuhan berkata demikian: "Juga kamu hai suami-suami hiduplah bijaksana dengan istrimu sebagai kaum yang lebih lemah, hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kash karunia yaitu kehidupan supaya doamu jangan terhalang."
Firman Tuhan menegaskan bahwa pria ini haruslah mempertimbangkan istrinya, jadi hiduplah dengan bijaksana dapat juga diartikan seperti orang Jakarta katakan kita ini knowing, mengerti istri kita, kita mempertimbangkan siapa istri kita. Di sini dikatakan sebagai kaum yang lebih lemah, dalam hal misalnya berkelahi jarang sekali wanita bisa mengalahkan pria dan sebagainya. Nah kalau tidak hati-hati pria memang bisa mendominasi rumah tangga melalui kekuatannya baik itu kekuatan fisik ataupun kekuatan uang. Sebab dalam banyak hal wanita itu memang berada di pihak yang lemah, contoh yang paling gampang saja sekarang ini, secara sosial wanita di pihak yang lebih lemah. Pria umur 40-an misalkan kehilangan istrinya menjadi seorang duda, kemungkinan besar dia bisa menikah lagi tapi seorang wanita yang kehilangan suaminya umur 40-an untuk menikah kembali sangat susah sekali karena memang kurang kesempatan tersebut. Jadi perempuan itu memang dalam banyak hal secara ekonomi, secara sosial, secara fisik berada di pihak yang lebih lemah, maka Tuhan nomor satu mengingatkan pria, ingat baik-baik, memang dia lebih lemah tapi engkau harus hidup bijaksana dalam pengertian kau harus mempertimbangan knowing dia, ngertiin dia, kau harus benar-benar melihat dia siapa, jangan semaunya. Bahkan Tuhan memberikan peringatan yang kedua ingatlah bahwa istrimu adalah sesama pewaris kasih karunia, sesama pewaris anugerah Tuhan. Jadi pria di sini diingatkan bahwa wanita itu bukanlah buntut kita, istri itu bukanlah pesuruh kita, bukanlah orang yang nebeng yang hanya menggandol kita mendapatkan kasih karunia Tuhan yaitu anugerah keselamatan dan hidup yang kekal ini, tidak. Tuhan memberikan hidup yang kekal, memberikan keselamatannya sama rata baik kepada wanita maupun kepada pria, jadi Tuhan sekali lagi secara intinya mengingatkan jangan engkau menganggap dirimu superior, jangan pria itu menganggap dirimu itu lebih hebat meskipun Tuhan ingatkan wanita di pihak yang lebih lemah tapi Tuhan ingatkan pria jangan merasa diri superior.
PG : Bagi saya yang terpenting adalah keduanya sudah lahir baru, sungguh-sungguh sudah mencintai Tuhan, hidup untuk Tuhan Yesus dan mengerti bahwa mereka diselamatkan oleh anugerah Tuhan Yesus.Dan bagi saya kalau keduanya mempunyai kesamaan iman yang seperti itu, lahir baru, saya anggap mereka adalah anak-anak Tuhan Yesus.
Sebab saya tahu ada orang yang memang ke gereja Protestan, tapi hidupnya juga sangat tidak karuan.
ET : Ada orang yang mengatakan seperti ini Pak Paul, apakah dia tergolong perfeksionis atau tidak? Dia bilang pokoknya kalau kita sudah berpikir yang jelek-jelek, kalau misalnya sungguh-sungguhjelek tidak mau sampai jatuh dan kalau memang ternyata baik ya itu anugerah.
PG : Di masa tua-lah kita mesti berdamai dengan diri kita pula. Maksudnya begini, waktu kita menengok ke belakang dan melihat bahwa ini hal-hal yang saya tidak dapatkan, kita mesti duduk dan brpikir dengan jernih, jangan langkah pertama menyalahkan orang, ini hanya akan menambahkan kepahitan.
Lihatlah apa itu bagian kita, nah kalau memang ini kesalahan orang dan orang berbuat buruk kepada kita, tugas kita di masa tua adalah meminta Tuhan menolong kita mengampuni orang itu, ini proyek kita. Sekali lagi kita tidak bisa mendelegasikan ini kepada orang, ini adalah tanggung jawab kita kepada Tuhan. Kalau memang kitalah yang berandil, yang membuat kita kehilangan kesempatan yang baik itu, kita mesti juga berdamai dengan diri kita dan berkata, "Ya sudah, ini memang kesalahan saya, memang saya tidak melakukan bagian atau tugas saya, sehingga inilah hasilnya saya tidak mendapatkannya." Terima ini juga, setelah kita melakukan semua itu datang kembali kepada Tuhan percaya bahwa meskipun kita kehilangan itu semua, tetap rencana Tuhan, anugerah Tuhan bagi kita cukup, tidak lebih-tidak kurang.
PG : Betul sekali, dia menerima pujian sebagai anugerah Pak Gunawan, sebagai tanggapan orang yang positif tapi dia sendiri tidak haus dan mengejar-ngejar pujian tapi anak yang terlalu seringmendengar pujian akhirnya menjadi anak-anak yang mengejar-ngejar pujian dan targetnya selalu pujian.
Dia kehilangan makna berkarya jadinya bahwa karya itu yang penting mementingkan aktualisasi diri sebaik-baiknya nah itu yang terhilang dalam diri dia, sehingga penekanannya lebih pada orang, dinilai orang baik, dinilai orang sukses, dan sebagainya. Bukan pada dirinya dia puas dengan apa yang sudah dia kerjakan, dia bisa karyakan.
PG : Begini Pak Gunawan, ini sebetulnya berasal dari pemahaman tentang kasih karunia atau anugerah. Kita tahu anugerah diberikan dengan cuma-cuma, tapi anugerah yang diberikan dengan cuma-cuma tu bukan berarti murah, anugerah itu sangat mahal karena anugerah itu berbentuk nyawa Putera Allah yaitu Yesus Kristus, siapa yang mau membeli atau membayarnya, tidak bisa! Maka diberikan dengan cuma-cuma, inilah konsep kasih karunia.
Namun sebetulnya konsep kasih karunia atau anugerah yang tadi kita pahami secara tak bersyarat, sebetulnya dalam konteks keselamatan tak bersyarat maksud saya adalah begini; firman Tuhan di Roma 5:8 berkata, "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa". Artinya apa? Tuhan mengasihi kita bahkan tatkala kita masih berdosa maka inilah konsep kasih karunia meskipun kita dalam dosa Tuhan masih mengasihi kita, Tuhan sudah rela mati untuk dosa-dosa kita. Tuhan tidak berkata, "Kamu berubah dulu, tidak berdosa dulu, baru aku mati buat kamu" tidak!!! Tapi Tuhan mati dulu untuk dosa kita. Dan barulah nantinya Tuhan meminta kita berubah, jadi inilah konsep kasih karunia, Tuhan menerima kita, mati bagi kita bahkan sewaktu kita berdosa. Yang kedua adalah saya ambil dari Efesus 2:8, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri". Dari ayat ini kita memetik satu pelajaran yakni keselamatan adalah pemberian Tuhan semata bukan hasil perbuatan manusia, ini yang dimaksud dengan kasih karunia. Tidak ada manusia yang dapat masuk ke pintu surga lewat perbuatan baik karena sebaik-baiknya perbuatan manusia, tidak akan cukup baik, tidak akan mencapai standart kekudusan atau kesucian Tuhan. Maka akhirnya Tuhan membuka pintu surga lewat kematian putraNya supaya kita bisa masuk menjadi anggota keluarga Allah, ini adalah artinya kasih karunia, diberikan kepada kita tanpa syarat. Namun dalam hal pertumbuhan kristen, kasih karunia Tuhan menuntut perubahan, Pak Gunawan. Sekali lagi saya tekankan dalam hal keselamatan, betul Tuhan menerima kita apa adanya, sebelum kita bertobat dari dosa Tuhan sudah mati untuk kita. Tuhan menerima kita apa adanya tapi setelah kita menjadi anakNya, Dia mengharapkan kita berubah. Jadi kasih Allah kepada kita, memang membuka pintu untuk kita masuk ke dalam rumahNya tapi setelah kita di dalam rumahNya, kasih Bapa kepada kita sebagai anak menuntut kita berubah.
PG : Betul mudah-mudahan dalam kasus tersebut anugerah Tuhan dilimpahkan kepada mereka, sehingga meskipun awalnya mereka terpaksa menjadi orang Kristen tapi akhirnya mereka mengerti cinta kasihTuhan dalam hidup mereka sehingga mereka sungguh-sungguh menjadi pengikut Kristus.
PG : Orang yang berprinsip seperti itu juga harus siap menghadapi resikonya kalau-kalau pasangannya tidak menjadi pengikut Kristus. Dia boleh berharap pada kemurahan Tuhan, tapi saya kira dia jga harus siap menghadapi kemungkinan yang satunya.
Memang Tuhan penuh anugerah, jadi meskipun anak Tuhan kadangkala nakal, adakalanya atau sering kita melihat Tuhan melimpahkan kemurahanNya, itu memang terjadi. Tapi sebagai anak yang mencintai dan taat kepada Tuhan, seharusnya kita tidak menggunakan hal tersebut untuk memaksakan kehendak kita. Jadi janganlah kita seolah-olah memanfaatkan kebaikan Tuhan untuk kepentingan kita, tetapi yang Tuhan inginkan kita ini menaati kehendakNya, itu yang lebih indah.
PG : Saya akan bacakan dari Matius 18:21-22 "Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuatdosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."
Nah pada waktu itu orang-orang Israel mempunyai keyakinan batas maksimum orang memaafkan adalah tujuh kali sebab tujuh dianggap angka sempurna. Tuhan menambahkan tujuh puluh kali tujuh artinya di atas yang sempurna masih ada yang sempurna. Pada batas engkau mengampuni engkau berkata: tidak bisa lagi mengampuni, masih bisa mengampuni, itu kira-kira intinya yang Tuhan ingin katakan. Saya kira pernikahan harus dilandasi atas hukum rekonsiliasi, ini yang saya berikan judul pada ayat-ayat tadi. Rekonsiliasi terjadi jika ada pihak yang meminta ampun atau bertobat dan ada yang memberi ampun atau ada yang berbelaskasihan. Jadi memang kalau orang tidak mau berubah atau tidak mau berkata saya salah minta ampun, susah terjadi rekonsiliasi. Seseorang harus maju ke depan dan berkata saya salah, mohon maaf, dan yang satunya berkewajiban memberikan pengampunan. Dan yang kedua adalah pengampunan yang tidak terbatas menandakan hati yang penuh belas kasihan, nah ini yang kadangkala susah untuk kita miliki kalau sudah terlalu sering dilukai. Untuk ini saya kira kita perlu berdoa minta kuasa Tuhan, karena hanya kuasa Tuhan yang bisa memunculkan kembali belas kasihan kalau hati kita sudah mengeras. Jadi pertanyaannya maukah kita berdoa meminta Tuhan mengaruniakan belas kasihan itu kepada diri kita dulu, bukan kepada pasangan kita yang bersalah kepada kita misalnya. Maukah kita berdoa meminta Tuhan memberikan belas kasihan dalam hati kita, agar kita berbelaskasihan kepada pasangan kita yang telah bersalah kepada kita, jadi itu langkahnya. Nah yang terakhir adalah kita perlu mengintrospeksi diri artinya bukankah kita ini sama-sama orang yang pernah bersalah baik kepada sesama kita ataupun kepada Tuhan. Dan bukankah kita orang yang sama-sama telah menerima anugerah pengampunan, kita adalah orang yang telah ditebus, diampuni oleh Tuhan Yesus. Jadi Tuhan meminta kita mengingat bahwa kita juga penerima pengampunan, ingatlah kita sama seperti dia, kita juga harus memberikan pengampunan pada pasangan kita. Nah sekali lagi ini memang mudah kita ucapkan secara teoritis, kenyataannya akan sangat susah sekali. Tapi langkah pertama adalah berdoa meminta Tuhan memberikan kita belas kasihan lebih dulu, kalau tidak ada belas kasihan yang lain-lainnya tidak akan muncul.
PG : Ya, kalau terjadi dalam rumah Pak Gunawan, sudah tentu efeknya lebih pribadi, efeknya akan lebih masuk ke dalam, benar-benar lebih memberikan dampak yang negatif. Sebab kalau terjadi di seolah saja dia lemah tak berdaya, setiap hari dia ke sekolah, dia sebetulnya merasa tertekan, tapi dia masih bisa berkata jam 12.00
saya pulang atau jam 3.00 saya pulang dan saya tidak usah bertemu dengan teman-teman itu. Atau dia masih bisa berkata ada teman-teman yang masih menerima saya, namun kalau di rumah, ini yang susah dia tidak bisa lagi melarikan diri dari rumah sebagai anak kecil, dia terpaksa mendengarkan kata-kata yang dilontarkan oleh ibu atau bapaknya atau kakaknya dan sebagainya, dampaknya lebih menghancurkan dia. Tapi manusia itu memang lentur Pak Gunawan, manusia itu tidak hanya terdiri dari satu sisi, jadi dalam anugerah Tuhan, bisa saja seperti ini, di rumah tidak mendapatkan dukungan malah dihina, tapi di sekolah justru diterima dan mendapatkan pengakuan atau keberhasilannya secara akademik dan sebagainya. Nah itu sedikit banyak akan menetralisir. Nah anak-anak yang di rumah mendapatkan banyak tekanan atau penghinaan, sedangkan di luar mendapatkan pengakuan dan penerimaan, hampir dapat dipastikan pada waktu dia remaja dia mulai akan jarang berada di rumah, dia akan habiskan kebanyakan waktunya di luar rumah. Karena di situlah ia mendapatkan rumah yang sesungguhnya.
GS : Jadi semua itu kita terima sebagai anugerah Tuhan, bahwa Tuhan itu membedakan yang pria dan yang wanita untuk bisa saling mengasihi dan saling menolong, begitu Pak Paul ya.
PG : Mungkin dalam kasus itu justru kita melihat suatu penggenapan dari janji Tuhan, seperti yang tadi Pak Gunawan sudah singgung, memang Tuhan akhirnya menjawab Paulus : Anugerah-Ku cukup bagiu! Dalam kasus tadi saya bisa katakan bahwa orang itu mengalami kepenuhan anugerah Tuhan bahwa anugerah Tuhan cukup baginya sehingga walaupun dia menderita, dia bisa melaluinya dengan kekuatan Tuhan.
Tapi saya tidak bisa menyangkal bahwa mungkin saja ada waktu-waktu tertentu dia menderita, rasa sakit. Saya belum lama ini menyaksikan seorang anak Tuhan meninggal dunia. Mungkin hampir setahun menderita kanker, dan karena penderitaannya itu dia tidak bisa lagi berjalan, dia harus terbaring di tempat tidur. Dan saya menyaksikan sakitnya itu, dia sampai kadang-kadang harus pingsan karena menahan sakit yang sangat luar biasa. Dalam penderitaannya itu adakalanya dia menceritakan pengalamannya dengan Tuhan, bagaimana dia akhirnya mendapatkan mimpi melihat sorga. Jadi ada waktu di mana dia sangat dikuatkan dan bagikan itu kepada saya, saya merasa dikuatkan. Tapi tidak bisa saya sangkal, banyak sekali waktu di mana dia menderita.
GS : Dari dua bentuk penderitaan yang tadi Pak Paul katakan, sebenarnya dia tidak inginkan, yang pertama tadi karena dia taat pada Firman Tuhan. Konsekuensi logisnya dia akan menderita karena disalah mengerti orang. Yang kedua itu Tuhan yang memberikan dia seperti Paulus tadi, Tuhan yang memberikan duri dalam dagingnya supaya dia tidak menjadi sombong dan merasakan anugerah Tuhan. Tetapi ada bentuk yang lain Pak Paul selain kedua bentuk yang itu?
PG : Betul, yang indah adalah hal-hal yang keluar dari mulutnya yaitu hikmat, tidak sembarangan bicara, tidak menjelek-jelekkan tidak menggosip, tidak mencaci dan justru yang keluar adalah hal-al yang indah yang penuh dengan hikmat, penuh dengan anugerah, tahu kapan bicara dengan suami, tahu kapan membangun suami dan sebagainya.
Sebaliknya pria itu harus menunjukkan kebaikannya yaitu selalu siap menolong si istri memikirkan apa yang baik bagi si istri, melakukan apa yang juga diinginkan oleh si istri, sikap-sikap siap membantu, sikap merendah, sikap mau memberi inilah kebaikan yang seharusnya diperlihatkan suami kepada istri. Jadi nasehat rasul Paulus kepada kita, "Jangan kita memfokuskan lagi pada yang kelihatan tapi pada yang tak kelihatan," di hari pernikahan masa tua inilah yang harus kita fokuskan bukan lagi pada yang kelihatan tapi pada karakter, pada yang tidak kelihatan ini.
PG : Tuhan memang tidak menghukum, dalam pengertian Tuhan tidak bertindak secara langsung melakukan sesuatu penghukuman atau menjatuhkan sesuatu yang buruk kepada orang ini. Kenapa, ya saya tidk bisa memastikan rencana Tuhan karena saya yakin sebetulnya ada rencana Tuhan untuk setiap orang, tapi yang bisa saya katakan adalah meskipun mereka memang harmonis tapi tetap berada di luar persetujuan Tuhan.
Nah kalau sampai kita bertanya juga mengapa Tuhan seolah-olah memberkati, mereka tambah hari tambah harmonis apa yang terjadi? Nah kita bisa menyimpulkan nomor satu mereka memang harmonis, memang mereka cocok. Dan yang kedua adalah di dalam kebaikan hati Tuhan, di dalam kemurahan Tuhan, Tuhan memberikan anugerahNya kepada pasangan-pasangan ini. Sebab kenapa, sebab dari pasangan yang tidak seiman ini pun akan lahir anak-anak dan Tuhan menginginkan anak-anak ini bisa menghirup udara yang tenteram dalam keluarga. Nah maka Tuhan juga akan memberikan anugerah itu kepada keluarga tersebut yakni biarkanlah, supaya apa yakni anak-anaknya bisa menikmati ketenteraman hidup. Jadi Tuhan bukanlah Tuhan yang jahat, gara-gara kita melanggar perintahnya, kita menikah dengan yang tidak seiman maka Tuhan langsung akan kutuk sehingga anak-anaknya akan terus hidup di dalam penderitaan, tidak ada kedamaian dan sebagainya tidak selalu begitu. Ada memang yang menikah dengan yang tidak seiman, orang itu berkarakter buruk sehingga pernikahan mereka menjadi sangat-sangat penuh dengan penderitaan, ada yang seperti itu. Tapi saya juga setuju dengan Ibu Wulan, ada yang tidak seperti itu, ada yang harmonis itu adalah anugerah untuk mereka. Tuhan membiarkan itu terjadi, dan Tuhan memelihara anak-anak mereka, Tuhan ijinkan namun tetap saya tegaskan itu di luar persetujuan Tuhan. Sebab firman Tuhan sudah jelas berkata boleh menikah dengan siapa saja asalkan sesama orang percaya.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi benar-benar ini adalah sebuah tawaran anugerah, sebuah hadiah, sebuah pemberian. Sebab tidak mungkin kita bisa memperolehnya dengan kekuatan kita sendiri. Sberapa banyak orang berkata, "Besok saya tidak lagi melakukan ini, besok saya tidak melakukan itu.
Tapi besoknya mengulanginya lagi." Jadi memang kita manusia telah tercemar oleh dosa, kecenderungan kita adalah kembali lagi ke dalam lumpur dosa, maka benar-benar tidak bisa mengandalkan kekuatan kita, mesti ada tangan dari atas yang mengangkat kita keluar, menarik kita keluar dari lumpur dosa itu, yaitu dengan kekuatan Tuhan serta kasih dan kemurahan Tuhan barulah kita bisa diangkat keluar dari lumpur dosa. Sekali lagi saya mau ingatkan, ini tidak berarti bahwa, "Tuhan Yesus saya percaya padaMu, saya mau mengikut Engkau, saya mau menjauhkan diri dari dosa dan mau hidup memuliakan Tuhan," maka semua akan beres, tiba-tiba jalan akan lancar, lurus semuanya, tidak ! Kita akan mengalami pergolakan, pergumulan, gejolak, pencobaan akan selalu ada tapi kita akan kembali kepadaNya, memohon kekuatanNya, kalau kita harus jatuh, kita harus kembali lagi dan berkata, "Tuhan ini saya, saya mengakui dosa saya tapi saya mengetahui satu hal yaitu Tuhan sudah mati buat saya, Tuhan sudah mengampuni saya, saya akan berusaha lagi, tolong kuatkan saya," dan selalu kembali dan kembali kepada Firman Tuhan. Itu adalah daging yang akan memberikan kekokohan dalam hidup kita dalam melawan dosa. Saya perhatikan ada orang-orang yang sudah bertobat tapi paling susah baca Alkitab, maunya datang, mendengarkan, mengalami perasaan-perasaan tertentu dan hanya itu saja, maunya hanya itu, tapi tidak mau benar-benar menancapkan akar pada Firman Tuhan, menuntut diri harus kenal Tuhan. Itu kelemahannya, akhirnya selalu diombang-ambingkan oleh dosa karena tidak punya daging, tidak punya kekuatan. Firman Tuhanlah yang menjadi tulang dan daging yang akan menumbuhkan kita, makin hari makin serupa dengan Kristus.
PG : Rasa bersalah harus ada sebagai reaksi atas perbuatan kita, namun rasa bersalah itu tidak semestinya menjauhkan kita dari Tuhan. Rasa bersalah seyogyanya membawa kita lebih dekat pada thta anugerah Tuhan karena kita tahu kita bersalah, kita berdosa dan kita memerlukan anugerah Tuhan untuk mengampuni kita.
Jadi rasa bersalah seharusnya membawa kita lebih dekat kepada Tuhan. Kalau rasa bersalah membuat kita lari dari Tuhan; seperti yang dilakukan oleh Yudas setelah dia menjual Tuhan, dia merasa bersalah dan dia menyesali perbuatannya akhirnya dia menggantung diri, dia menjauhkan diri dari Tuhan bukannya malah mendekatkan diri kepada Tuhan. Berbeda dengan Petrus, dia tahu dia salah bahwa dia menyangkal Tuhan, tapi dia terus mengikuti Tuhan sampai ke rumah imam besar pun dia ikuti. Tuhan sudah katakan bahwa dia akan lari, memang dia lari ketakutan tapi dia terus mengikuti Tuhan, dia memang jatuh ke dalam dosa. Tapi waktu Tuhan menatap dia, dia menangis, dia menyesali perbuatannya, dia tahu dia salah; namun kita tahu bahwa dia tetap mencoba mendekati Tuhan kembali. Jadi saya kira batasnya itu, jangan sampai rasa bersalah itu justru menjauhkan kita dari Tuhan.
PG : Saya bacakan dari I Petrus 3:10, "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus mejaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu." Apa cara kita menjadi berkat buat pasangan kita dan memberkati pasangan kita? kita harus memiliki lidah yang tulus, lidah yang tidak jahat, lidah yang tidak menipu. Artinya pertama, kita mengatakan yang benar; jangan sampai kita tidak mengatakan yang benar. Kita harus mengatakan yang benar dengan baik, ini penting. Kita harus mengatakan yang benar dengan baik sebab kadang-kadang mulut kita mengatakan yang benar tapi caranya kasar, menghina orang. Dan kita berkata, "Memang dia tolol, dibilangi tidak ngerti-ngerti." Kata tolol itu tidak baik, meskipun perkataan kita benar, mau mengoreksi orang yang melakukan kesalahan, tapi dengan kita membubuhkan kata tolol, itu merusakkan yang benar karena caranya tidak baik. Jadi lidah harus benar-benar baik jangan lidah kita masuk ke dalam yang jahat. Berikutnya tentang lidah, kita harus mengatakan yang baik dengan benar, ini penting. Jangan sampai kita mengatakan yang baik tapi akhirnya isinya kebohongan, manis di mulut, kadang-kadang ini yang kita saksikan, orang-orang manis di mulut tapi sesungguhnya tidak ada kebenaran. Jadi bukan hanya caranya harus benar, isinya pun harus benar; caranya harus baik, isinya pun harus mengandung kebenaran. Ini yang Tuhan minta dari kita, dengan kata lain lidah kita ini harus penuh dengan anugerah dan kebenaran.
Ringkasan Isi:
Ada orang yang melukiskan tiga jenis relasi pernikahan dengan tiga aksara:
"A" melambangkan relasi nikah di mana suami-istri begitu saling tergantung satu sama lain oleh karena mereka sesungguhnya tidak dapat dapat hidup mandiri. Relasi ini terlilit sehingga keduanya menjadi begitu menyatu sehingga tidak terbuka untuk menyampaikan masukan yang bersifat kritikan. Mereka pun sukar menerima masukan dari pihak luar karena cenderung melindungi satu sama lain secara membabi buta.
"H" melambangkan relasi yang tidak akrab di mana masing-masing menjaga jarak guna menghindari pertengkaran. Relasi ini telah kehilangan keintiman dan kehangatan kendati masih bersanding dalam pernikahan.
"M" melambangkan relasi nikah di mana suami dan istri bergantung satu sama lain namun keduanya dapat hidup sendiri. Mereka bergandeng tangan berarti ada kehangatan dan kerja sama di antaranya dan mereka pun dapat terbuka menyampaikan masukan kepada masing-masing sehingga relasi keduanya bertumbuh.
Untuk dapat mewujudkan relasi jenis aksara "M" diperlukan kedewasaan. Saya mendefinisikan kedewasaan sebagai "kesanggupan menerima kelemahan pasangan dengan senyum." Jadi, berdasarkan definisi ini dapat pula kita mengartikan ketidakdewasaan sebagai:
Ketidakmampuan melihat kelemahan pasangan karena menganggap pasangan sebagai manusia sempurna tanpa kekurangan.
Mampu melihat kelemahan pasangan namun dengan cemberut alias tidak dapat menerimanya.
Definisi Kelemahan :
Kelemahan dapat bersumber dari dosa, seperti dusta, kebencian, perzinahan, dan perjudian. Sudah tentu jauh lebih susah menerima kelemahan pasangan yang bersumber dari dosa.
Kelemahan dapat pula bersumber dari kepribadian, kebiasaan hidup dan keterbatasan mental seperti mudah lupa, kurang berinisiatif, lamban, dsb.
Mengapa Harus Saling Menerima
Firman Tuhan mengajarkan bahwa kita harus menerima satu sama lain, "Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah" (Roma 15:7). Dasar dari perintah ini adalah bahwa Kristus telah menerima kita. Jadi, sebagai orang yang telah diterima Tuhan kita mesti meneruskan penerimaan ini kepada sesama, terutama kepada pasangan sendiri.
Juga, kita harus menerima satu sama lain agar kita memuliakan Allah. Kita hanya dapat menerima satu sama lain lewat anugerah dan anugerah adalah kasih dan pengampunan. Bila kita menjadi orang yang beranugerah maka kita akan membawa kemuliaan bagi Allah sebab kasih dan pengampunan selalu mengingatkan orang akan Tuhan. Hal ini sesuai dengan tujuan pernikahan yakni memuliakan Allah. Berikut akan dipaparkan tujuan pernikahan.
Tujuan Pernikahan :
Untuk memahami tujuan pernikahan kita harus kembali melihat tujuan penciptaan alam semesta dan manusia. Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya agar semua ini memantulkan kemuliaan Tuhan. Inilah tujuan penciptaan dari sisi Allah. Firman Tuhan menjelaskan,
Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan, apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah manusia sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. (Mazmur 8:2, 4-6)
Dari sisi manusia, tujuan penciptaan adalah agar ia dapat menikmasti sebuah relasi dengan pencipta-Nya dan sebuah relasi dengan pencipta alam semesta merupakan suatu kehormatan tersendiri. Singkat kata, bagi manusia kesempatan untuk menikmati relasi dengan Tuhan pencipta alam semesta adalah sebuah kemuliaan. Jadi, baik dari sisi Tuhan maupun manusia, penciptaan hanya mempunyai tujuan tunggal yaitu kemuliaan Allah.
Jika demikian, maka dapat kita simpulkan bahwa pernikahan pun diselenggarakan Tuhan untuk menjadi pantulan kemuliaan Allah. Sewaktu Tuhan melihat pernikahan manusia, yang diharapkan-Nya adalah melihat kemuliaan-Nya sendiri. Dan, untuk dapat menjadi pantulan kemuliaan Allah pernikahan harus berjalan atas dasar anugerah yaitu mengasihi dan mengampuni, menerima satu sama lain.
Rintangan Menerima
Kendati kita tahu bahwa kita harus saling menerima namun tidaklah mudah untuk melakukannya. Berdasarkan Roma 15:1-2, "Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya," kita dapat menyimpulkan dua alasan mengapa tidak mudah untuk menerima kelemahan pasangan :
Menerima kelemahan membuat kita wajib menanggung sisa kerja yang tidak dapat diselesaikannya. Dengan kata lain, kelemahan pasangan membuat kita letih dan repot karena kita harus mengambil alih tanggung jawabnya. Pada umumnya kita tidak suka menanggung beban ekstra.
Menerima kelemahan pasangan membuat kita kehilangan kesenangan sedangkan pada dasarnya kita adalah orang yang mencari kesenangan. Tidak bisa tidak, tatkala disusahkan oleh kelemahannya, kita pun dibuat susah.
Kendati demikian, kita tetap harus berusaha menerima pasangan dan berikut ini akan dipaparkan alasannya.
Makin sering kita memikul beban yang ditinggalkan pasangan oleh karena kelemahannya, makin kita bertambah kuat. Kita tidak bertambah kuat bila kita hanya memikul beban yang memang seharusnya kita pikul atau yang menjadi porsi kita. Kita hanya akan dapat bertambah kuat bila kita memikul beban yang ekstra-yang bukan menjadi porsi kita. Tuhan tidak menghendaki kita menjadi orang yang lemah. Bila kita hanya memikul beban sendiri, kita tidak akan bertambah kuat, kita malah bertambah lemah.
Kemajuan yang terhambat sering kali adalah kemajuan yang tersembunyi. Acap kali kita frustrasi karena merasa kemajuan kita terhambat oleh karena kelemahan pasangan. Namun mungkin sekali keterhambatan di suatu bidang merupakan kemajuan di bidang yang lain yang memang diperlukan, kendati kita tidak menyadarinya pada saat itu. Pengorbanan di suatu hal ternyata merupakan pengayaan di hal lainnya. Tuhan tahu apa yang sebenarnya perlu ditumbuhkan dalam diri kita dan sering kali Ia memakai kelemahan pasangan untuk menumbuhkan karakter yang penting tersebut.
Memikul beban pasangan melatih kita untuk tidak memfokuskan perhatian pada diri sendiri. Kita diarahkan untuk memperhatikan pasangan dan kebutuhannya. Makin sering kita melihatnya dan apa yang dibutuhkannya, makin berkurang keegoisan kita. Pada akhirnya kita berdua makin bertumbuh karena bukan saja kebutuhan kita terpenuhi, kita pun dibangunkan oleh masukan yang kita terima dari pasangan.
Kesimpulan
Membangun relasi sama seperti menanam pohon. Sejak awal kita harus memberinya siraman dan pupuk serta melindunginya dari hama. Jika kita melakukan semua itu, setelah pohon tumbuh, barulah kita dapat bernaung di bawah daunnya yang rindang dan memakan buahnya yang manis.
Pernikahan pun demikian. Bila kita memberi siraman dan pupuk serta melindunginya dari ancaman pihak luar, kita akan dapat bernaung dengan aman di dalamnya dan mencicipi buah nikah yang manis. Kadang kita mengharapkan pasangan dengan cepat dan dengan sendirinya bertumbuh menjadi dewasa dan masak. Kita ingin langsung menikmati buahnya yang manis namun kenyataan tidaklah demikian. Hanya kita yang bersusah payah menginvestasi usaha keras yang dapat mencicipi buah relasi pernikahan yang manis.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 09/10/2008 - 2:43pm.
Abstrak:
Salah satu wujud nyata kasih adalah mempertimbangkan perasaan pasangan. Sayangnya tidak selalu kita berhasil mengingat perasaan pasangan sebelum kita melakukan tindakan yang melukai hatinya. Adakalanya kita melukai hati pasangan, baik dengan sengaja ataupun tidak. Apakah yang harus kita perbuat bila kita melukai atau mengecewakan hati pasangan?
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami yang terdahulu yaitu tentang "Meminta Maaf Saja Tidak Cukup". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, karena ini merupakan perbincangan lanjutan, dan mungkin sebagian dari pendengar kita tidak mengikuti perbincangan yang terdahulu. Jadi sebelum kita melanjutkan perbincangan yang kedua dari judul, "Meminta Maaf Saja Tidak Cukup," silakan Pak Paul menguraikan sejenak apa yang kita bicarakan pada kesempatan yang lampau.
PG : Kita ini manusia berdosa. Sehingga kecenderungan kita berbuat dosa dan sudah tentu tatkala kita melakukan dosa yang bersifat moral didalam pernikahan, maka kita akan melukai hati pasangan.Ternyata meminta maaf saja tidak cukup dilakukan dengan perkataan satu kali dan kita minta maaf.
Jadi mesti ada hal-hal lain yang kita harus lakukan, saya singgung misalkan yang pertama kita harus datang kepada Tuhan, mengakui semua perbuatan dosa kita. Kedua kita juga mesti mengakuinya kepada pasangan dengan terbuka dosa yang telah kita lakukan dan didalam pengakuan itu kita tidak mengungkit-ungkit kesalahannya, tapi kita akui bagian kita saja dan yang terpenting kita bersikap biasa kepada pasangan. Jangan menuntutnya untuk langsung segera memaafkan kita, biarkanlah, dia perlu waktu untuk mencerna semua itu, proses harus berjalan untuk waktu yang agak lama. Dan kita tidak boleh menggunakan Firman Tuhan, memaksanya untuk seketika mengampuni kita, nanti dia akan merasa, "Sekarang kamu munafik menggunakan Firman Tuhan, dulu saat berbuat dosa kamu tidak mengingat Firman Tuhan dan sebagainya." Juga jangan sampai kita memperbesar permasalahan atau memperkecilkan penyesalan, jangan menangis terus-menerus, merasa bersalah, karena itu semua akan membuat pasangan merasa, "Kamu tahu ini akan berakibat buruk, dan sekarang menangis, ini semua percuma, kenapa dulu kamu tidak pikir." Tapi juga jangan sebaliknya meremehkan dan berkata, "Ya sudah sekarang sudah diampuni, maka jangan dibicarakan lagi, kubur semuanya," kemudian kita langsung gembira, lega, maka pasangan akan berpikir, "Kamu ini gampang sekali, kamu tidak tahu luka yang kamu timbulkan dalam hati saya." Jadi hal-hal seperti ini perlu kita lakukan, kita perlu sadari sehingga proses meminta maaf dan proses dimaafkan dapat berjalan dengan baik.
GS : Tetapi ada hal-hal yang lain yang harus dilakukan selain yang tadi telah Pak Paul uraikan, dan itu apa saja ?
PG : Yang berikut adalah jangan berhenti meminta maaf, kendati kita sudah mengatakannya tetaplah menyampaikan permohonan maaf secara berkala, terutama tatkala kita melihatnya sedih, sampaikanla permohonan maaf namun jangan mengatakan hal yang lain, jadi kita hanya berkata, "Sekali lagi saya minta maaf karena telah melukai kamu," dan stop di situ dan kita jangan mengatakan hal yang lain.
Jika dia yang ingin membicarakannya, misalkan dia kemudian berkata, "Kenapa kamu bisa seperti itu, kenapa kamu tega kepada saya ?" dan sebagainya, barulah kita menanggapinya. Kita dengarkan dulu, baru berikan tanggapan, maksud saya biarkan dia yang menentukan kapan dia akan membahas hal ini. Sebagian orang lebih suka menyelesaikan pergumulannya secara pribadi, dia tidak suka bicara terus-menerus karena makin bicara makin terluka, sehingga dia tidak siap. Tapi ada waktu-waktu dimana dia siap dan dia mau bicarakan, pada saat itulah kita menanggapinya. Jadi artinya jangan kita yang mengambil inisiatif, mungkin dia belum siap sehingga kita kehilangan kepekaan, mungkin dia perlu waktu untuk diam dulu dan waktu dia butuh untuk bicara, kita juga harus bicara. Jangan kita yang berkata sebaliknya "Sudah saya tidak mau bicarakan lagi," jangan ! Kita di pihak yang salah dan kita mesti siap selalu untuk memberikan penjelasan kepadanya.
GS : Biasanya yang dikatakan adalah hal-hal yang sama, jadi seperti pengulangan, ini membuat kita agak kehilangan kesabaran lagi.
PG : Seringkali yang terjadi adalah kenapa pasangan kita membicarakan hal yang sama, kita mungkin sudah jelaskan sebanyak 50 kali. Sebetulnya ada satu yang ingin dia bicarakan, dia mencoba mengrti, "Kenapa kita bisa melakukannya, kenapa kita bisa berbuat."
Jadi itulah kecenderungan dari orang yang telah kita dilukai, dia mencoba untuk memahaminya "Kenapa bisa berbuat seperti itu." Memang ini akan timbul kesan yang membuat jengkel karena berputar-putar disitu terus. Namun dia ingin tahu "Kenapa" sebab ini yang menjadi tujuan akhir, dia ingin memastikan bahwa hal itu tidak terulang lagi. Dengan dia tahu alasannya, ini penyebabnya maka dia nanti bisa mengontrolnya, misalnya dia berkata, "Baiklah saya mengerti kenapa kamu sampai jatuh ke dalam dosa perzinahan, karena kamu merasa bahwa saya itu kurang hangat kepadamu," dengan si orang ini berkata, "Baiklah sekarang saya tahu, karena hal ini kamu jatuh," dia akan merasa lebih tentram, karena sekarang dia tahu duduk masalahnya, berarti dia bisa mengoreksinya, dia bisa memastikan bahwa kesalahan yang sama tidak terulang lagi yaitu dari pihak dia, dia mau lebih hangat supaya pasangannya tetap merasakan kehangatan darinya dan tidak terpikir untuk jatuh ke dalam dosa. Dengan kata lain itulah penyebabnya kenapa ada kecenderungan orang itu membangkit-bangkitkan hal yang sama, sebetulnya salah satu tujuannya adalah untuk memahami duduk masalah sebenarnya, agar dia bisa memastikan hal yang sama tidak terulang lagi.
GS : Mungkin dalam rangka ingin tahu apa penyebabnya, ada juga yang selalu menanyakan, "Sebenarnya saya ini salah apa, sampai kamu melakukan hal seperti itu," atau "Apa yang membuat saya menyakitkan kamu sehingga kamu menyakitkan saya seperti itu." Padahal sebenarnya tidak ada salahnya tapi itu yang terus dipertanyakan, dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Itu adalah upaya untuk melihat apa yang tidak saya perbuat, supaya nanti saya bisa mengoreksinya dengan tujuan kalau saya mengoreksinya maka kesalahan ini tidak akan diulang lagi. Jadi ituah kodrat manusiawi kita, sewaktu kita mendapatkan berita yang begitu buruk dan mengejutkan maka kita akan bereaksi, yang pertama kaget tapi kita memang akan bereaksi dengan sebuah tekad mau memastikan ini tidak terulang lagi.
Maka cara untuk memastikan ini tidak akan terulang lagi adalah memastikan apa yang bisa kita lakukan, dengan kita mencari tahu saya salah dimana, berarti saya ini bisa mengendalikan masalah ini atau relasi ini, supaya pasangan tidak jatuh ke dalam dosa yang sama. Saya kira itulah yang terkandung dibalik kenapa menanyakan hal yang sama dan menanyakan saya salah apa.
GS : Kalau memang tidak ada alasan untuk menyalahkan dia, karena sepenuhnya memang kesalahan kita, apakah kita itu harus mencari-cari alasan dan mengatakan "Kamu sebenarnya salah ini," padahal sebenarnya juga tidak.
PG : Saya kira sebaiknya jangan. Jadi kalau memang kita dengan objektif berkata "Tidak ada salahnya," memang tidak ada ! Kita bisa berkata bahwa sudah tentu setiap relasi ada permasalahannya seab engkau tidak menikah dengan orang yang sempurna, saya pun tidak menikah dengan orang yang sempurna.
Kalau kita mau menggali-gali masalah-masalah, kesalahan-kesalahan yang kita masing-masing telah lakukan, sudah tentu kita akan menemukannya. Tapi itu bukan tujuannya, dan itu bukan hal yang relevan sebab yang membuat saya jatuh ke dalam dosa sebetulnya adalah diri saya sendiri, dalam hal ini tidak ada keterkaitannya dengan kamu. Memang jawaban ini sebenarnya tidak menenteramkan hati sebab dia terus mencoba cari tahu apa yang dia telah lakukan dan apa yang belum lakukan, sebab sekali lagi tujuannya adalah agar dia bisa memastikan hal yang sama tidak terulang lagi, tapi memang kalau tidak ada ya tidak ada, meskipun dia harus cemas, dia harus mengulang-ulang lagi tapi kita hanya bisa jujur, sejujur-jujurnya kepada dia.
GS : Kalau kita membiarkan dia terus mengulang-ulang pertanyaan seperti itu padahal tidak ada jawaban yang pasti apakah itu tidak terus membuat hatinya terluka, Pak Paul ?
PG : Ya. Untuk waktu yang sedikit panjang dia akan terus mencari tahu jawabannya, makin lama, makin cemas, makin gelisah, makin luka, itu akan terjadi. Tapi nantinya dia akan merumuskannya sendri dengan pengertian, dia akan merumuskannya seperti ini, "Baiklah, mungkin saya tidak bersalah tapi mungkin saya dulu percaya kepada dia, jadi saya harus waspada dan lebih berani untuk memantau, menanyakan dia pergi kemana dan sebagainya."
Jadi dengan kata lain orang yang dilukai, pada akhirnya mau tahu apa yang bisa dilakukannya supaya setidak-tidaknya dia bisa mengontrol, mengecilkan kemungkinan perbuatan yang sama itu diulang kembali.
GS : Maksudnya supaya dia tidak terluka pada hal-hal yang sama lagi.
GS : Apakah ada tindakan lain yang perlu kita lakukan, Pak Paul ?
PG : Berdoalah secara pribadi, jangan mengajaknya berdoa bersama kita. Maksud saya begini, kita ini beranggapan bahwa dengan berdoa maka semua akan beres, kita sehati kembali datang kepada Tuhan. Saya kira lebih baik jangan mengajaknya berdoa bersama kita. Setelah kita memberikan pengakuan kepada pasangan, belum tentu dia siap berdoa bersama kita, bisa-bisa dia melihat kita sebagai orang munafik. Jadi yang kita harus lakukan adalah katakan pada dia bahwa kita selalu siap berdoa bersamanya namun kita akan menunggu kesiapannya, kita sampaikan juga bahwa kita mengerti bila ia tidak siap untuk berdoa dengan kita sekarang ini. Jadi biar kita berdoa sendiri. Misalkan dia sudah siap dan kita sudah mengatakan, "Kalau kamu sudah siap, saya mau berdoa bersama kamu," memang kalau dia sudah siap, dia akan berkata, "Saya sudah siap mari berdoa bersama," barulah kita berdoa bersamanya.
GS : Padahal ada pasangan yang sudah membiasakan pada jam-jam tertentu berdoa bersama-sama, membaca Alkitab lalu berdoa bersama-sama. Karena kasus seperti ini dan disuruh berdoa sendiri-sendiri, itu menjadi sesuatu yang tidak enak, Pak Paul.
PG : Sudah tentu kitanya akan berkata, "Kita tetap mau berdoa bersama-sama" tapi kita mau sensitif dengan dia bahwa mungkin untuk sementara dia rasanya tidak siap berdoa dengan kita, tanya saja "Bagaimana perasaanmu, apakah siap berdoa dengan saya atau tidak?" Jadi kalau pasangan berkata, "Tidak apa-apa saya siap, mari berdoa bersama" sudah tentu kita jangan menjauh darinya dan berdoa sendiri, kita berdoa bersamanya.
Kalau memang dia berkata, "Saya belum siap," maka tunggu sampai dia siap.
GS : Ada kekhawatiran pasangan, jika tidak berdoa dia akan semakin jauh dari Tuhan dan semakin sulit mengampuni kita, Pak Paul.
PG : Maka yang terpenting adalah kita masing-masing berdoa, kita tetap mau dekat kepada Tuhan, baik pihak yang bersalah maupun pihak yang dilukai. Dua-dua harus terus mencari wajah Tuhan, memina Tuhan menolong kita dan ini yang harus dilakukan oleh kedua belah pihak.
GS : Tapi juga tidak patut kalau kita menanyakan, "Apakah kamu sudah berdoa dan membaca Kitab Suci," karena nanti akan menjadi pemicu lagi.
PG : Betul sekali. Jadi jangan sampai kita yang salah ini, tiba-tiba menanya-nanya dia, mengecek dia, "Sudah berdoa belum, sudah saat teduh belum?" dia akan makin marah, merasa bahwa kamu ini mnafik, pura-pura rohani.
Jadi kita harus berhati-hati dengan hal-hal yang bersifat kerohanian dalam kondisi ini, karena kalau tidak, mudah sekali membuat dia merasa "kamu ini orang yang munafik." Satu hal yang kadang dilakukan oleh pasangan, kita yang bersalah ingin langsung mau berdoa dan tidak apa-apa, sebab ada pasangan yang bisa merasa begini, "Kenapa kamu bisa berdoa ya ? Dan berdoanya bisa begitu bagus, mengapa kamu bisa begini ya." Ini menambah kebingungannya, "Kenapa kamu yang bisa berdoa sebagus ini, tapi bisa melakukan dosa seperti itu?" jadi ini juga menambah ketidaknyamanan. Dulu kamu juga berdoa seperti ini, tidak ada beda, tapi dalam doa seperti ini, kamu sanggup melakukan dosa seperti itu, dan sekarang kamu berdoa juga seperti ini, bagaimana saya tahu kamu sungguh-sungguh berubah. Itu sebabnya tadi saya usulkan ada baiknya kita meminta jedah, kalau pasangan kita belum siap, kita katakan, "Nanti saja kita berdoa bersama, kalau kamu sudah siap kamu beritahu saya. Saya mungkin juga perlu berdoa sendiri, untuk merenung, untuk melihat apa yang telah saya lakukan. Ini mungkin juga baik buat saya, agar bisa bersama Tuhan menjalani proses penyembuhan bagi diri saya juga."
GS : Dan bagaimana kalau sudah ada anak-anak, biasanya anak-anak juga kita libatkan didalam doa dan membaca Kitab Suci. Kalau pihak salah satu yang dilukai ini tidak kita ajak, maka dia akan merasa terasingkan di sana.
PG : Kalau memang ada anak-anak, sebaiknya kita jangan menginterupsi kebiasaan itu, jadi teruskan saja doa bersama sebab sudah tentu pada masa anak-anak apalagi pada masa-masa kecil kita akan brdoa untuk hal-hal yang bersifat keseharian pula, dan karena mereka masih kecil sebaiknya kita juga tidak menceritakan masalah ini kepada mereka.
Kalau anak-anak sudah besar dan mereka tahu, sudah tentu permintaan maaf kita harus kita lakukan bukan saja kepada pasangan tapi juga kepada anak. Sebab yang dilukai bukan hanya pasangan tapi juga anak-anak kita.
GS : Apakah kita juga meminta dia untuk tetap ikut di dalam persekutuan keluarga, Pak Paul ?
PG : Sebaiknya kalau dia belum siap berdoa bersama, jadi kita beritahukan kepada anak-anak bahwa misalkan mama kurang sehat, atau mama belum siap hari ini, nanti kita berdoa sendiri dulu, nantiPapa yang berdoa untuk kalian.
Tidak apa-apa seperti itu.
GS : Apakah ada hal lain Pak Paul yang perlu kita lakukan ?
PG : Di dalam percakapan tentang hal lain, berhati-hatilah dengan komentar yang menghakimi orang lain, ingatlah bahwa akibat perbuatan kita, dia menjadi peka dengan kemunafikan, kata-kata yang ersifat menghakimi hanyalah membangkitkan ingatannya akan perbuatan kita dan membuatnya marah serta menuduh kita munafik, baginya kita hanyalah orang yang dapat melihat kesalahan orang namun buta terhadap kesalahan sendiri.
Jadi jagalah komentar-komentar kita, kadang-kadang kita itu seperti dulu lagi, mulut kita cepat mengkritik, menghakimi orang, mencela orang, tapi sekarang masalahnya sudah berbeda, masalahnya sudah lebih serius, kita sudah melakukan dosa. Jadi kita jangan meneruskan kebiasaan kita itu, benar-benar kalau kita terus menghakimi orang, pasangan akan benar-benar merasa muak melihat, "Kamu itu munafik, hanya bisa melihat dosa orang dan buta dengan dosa sendiri."
GS : Memang dalam kondisi seperti ini kadang-kadang agak sulit mencari topik-topik pembicaraan yang tepat. Sebaiknya topik-topik apa yang bisa kita angkat supaya komunikasi ini tetap ada.
PG : Untuk waktu yang agak panjang, berminggu-minggu bahkan bisa berbulan-bulan, sehingga percakapan itu lebih merupakan percakapan rutin tentang mengelola rumah tangga misalkan tentang tugas, entang anak, hal-hal itulah yang menjadi topik pembicaraan kita.
Kita memang belum bisa keluar dari topik itu dan masuk ke topik-topik yang lebih personal sebab biasanya pada masa itu masih ada letupan-letupan kemarahan. Jadi kalau ada hal-hal yang lebih pribadi dan ditambah dengan letupan maka ini akan menjadi sesuatu yang berat bagi kita yang telah bersalah itu. Sehingga ada baiknya pada tahap-tahap awal pembicaraan dibatasi pada hal-hal pengelolaan rumah tangga, nanti kalau secara alamiah luka sudah mulai sembuh, maka dengan sendirinya akan timbul keinginan untuk membicarakan hal-hal yang lain.
GS : Dan memang dalam hal ini kita pun harus siap kalau dia tidak tanggap artinya dia tidak memberikan tanggapan positif dengan topik atau pembicaraan kita, Pak Paul.
PG : Sekali lagi, waktu kita membicarakan hal-hal itu, bisa jadi dia belum siap. Jadi dia mungkin menanggapinya hanya sekilas saja, kita mungkin bisa menjadi jengkel atau sedih, namun kita haru mengerti bahwa dia belum siap.
Jadi tanggapannya tidak selalu positif.
GS : Misalnya mengenai pekerjaan di rumah, sebelum kita bicara, dia sudah mengerjakan itu semua, seolah-olah dia melarikan diri dalam kesibukan itu, Pak Paul.
PG : Bisa jadi. Dari pada dia bicara dengan kita maka dia lebih baik membenamkan diri dalam tugas rumah tangga. Kalau itu yang kita lihat, maka tetap saya kira biarkan, jangan kita justru menjai marah, kita yang sudah bersalah malah marah, "Kamu tidak mau mengajak saya bicara, kamu malah bersembunyi dibalik tugas rumah tangga," tidak ! Malahan kita ada baiknya berkata kepada dia, "Saya mengerti, saya telah melukaimu.
Maka kamu belum siap untuk bicara dengan saya, bahkan kamu lebih nyaman untuk menjauh, mengerjakan tugas rumah tangga, tidak apa-apa saya mengerti itu." Justru kalau kita angkat dan kita berikan pengertian, itu justru berdampak lebih positif.
GS : Ada hal lain yang mungkin Pak Paul mau sampaikan ?
PG : Di dalam diskusi rohani, kadang-kadang kita membicarakan hal-hal rohani kepada pasangan kita setelah lewat atau berhasil melampaui luka-luka yang pernah kita terima. Jika ada pelajaran Firan Tuhan tentang dosa, kita yang bersalah harus mengambil inisiatif untuk mengatakan pengakuan seperti ini, "Saya adalah orang yang telah mengecewakan Tuhan dan keluarga," atau "Saya adalah orang yang tidak selayaknya menerima anugerah Tuhan" meskipun kita sedang membicarakan hal yang lain, yang berkaitan dengan hal-hal rohani yang lain, tapi kadang-kadang kita kaitkan dengan diri kita.
Seperti Paulus di dalam suratnya, kadang-kadang dia menulis, "Saya adalah seorang rasul yang paling kecil, yang paling berdosa, seolah-olah paling tidak bisa dimaafkan, tapi Tuhan memaafkan saya. Jadi dengan kata-kata seperti itu pasangan bisa melihat bahwa kita tidak pernah melupakan perbuatan dosa yang telah kita lakukan. Pengakuan seperti ini penting didengarnya, sebab salah satu ketakutannya adalah bahwa kita dengan mudah melupakan perbuatan yang sangat menyakiti hatinya itu, dengan secara berkala kita memunculkan kata-kata seperti itu, "Benar, saya orang berdosa. Saya telah mengecewakan Tuhan dan kamu." Secara berkala kita katakan maka dia akan tahu, kalau kita sungguh menyesal. Justru kalau kita diam saja, pasangan jadi bertanya-tanya, "Apakah kamu masih ingat dosamu sebab kamu tidak pernah menunjukkan penyesalan," akhirnya dia korek-korek dan kita tersinggung, kita marah. Jadi lebih baik, kita berinisiatif mengatakan hal-hal seperti itu.
GS : Tapi juga ada kekhawatiran di pihak yang pernah bersalah itu, kalau dia mengatakan hal itu, maka itu akan digunakan sebagai pintu masuk untuk mengungkit kembali masa lampau, dan kita tidak sukai.
PG : Kalau dia memang masih perlu mengungkitnya, memang dia akan mengungkitnya, namun biarkan. Jadi saran saya kalau gara-gara perkataan kita dia langsung marah, dia mengungkitnya, biarkan ! Jai berilah waktu yang cukup lama, misalkan setelah lewat waktu 1 tahun, dia masih mengungkitnya, kita diam saja.
Tapi waktu dia tenang kita datang kepadanya dan berkata, "Saya memahami adakalanya kamu masih perlu marah mengungkit-ungkitkan luka-luka lama itu, tapi saya juga minta agar kamu berusaha melawannya sebab memang proses ini akan lebih bisa cepat dilalui kalau kita juga berusaha melawannya, saya pun mengalami pencobaan yang sama tapi dalam bentuk yang berbeda. Saya pun kadang-kadang ingin membenamkan diri dalam penyesalan, rasanya tidak mau melakukan apa-apa, depresi berat tapi saya tidak mau. Jadi saya pun berusaha keras melawan dorongan dari diri saya."
GS : Pak Paul, kalau kita tahu dengan pasti bahwa pasangan kita, sudah mengampuni kita, apa yang bisa kita lakukan, Pak Paul ?
PG : Bila memang ia telah sampai pada titik dimana dia berhasil mengampuni kita sepenuhnya, ini yang saya minta bersukacitalah sekaligus berdukacitalah dengannya. Bersukacita karena ia telah meang namun berdukacitalah sebab kita telah melukai hatinya, sebegitu dalamnya dan membuat dia menderita sebegitu lamanya.
Jadi dukacita ini tidak boleh sampai secara penuh, secara tuntas lepas selama-lamanya, jangan ! Sekali lagi saya tekankan dua-duanya harus ada, bersukacitalah dan berdukacitalah. Bersukacita, kita berikan tanggapan positif kepada pasangan kita, kita telah menolongnya, memberinya kemenangan, melawan ini semua sehingga dia mengampuni kita tapi kita juga katakan, "saya tetap berdukacita karena saya tahu, saya telah melukaimu sebegitu dalamnya dan gara-gara perbuatan saya, kamu harus memikul derita untuk waktu yang begitu panjang." Dengan cara-cara seperti inilah, luka-luka itu disembuhkan dan relasi itu dijahit kembali.
GS : Apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan untuk menjadi sebuah kesimpulan dari perbincangan kita ini ?
PG : Sekali lagi kita akan kembali ke Yohanes 8:1-11 kisah dimana orang Farisi dan ahli Taurat yang membawa wanita yang kedapatan berzinah kepada Tuhan Yesus. Apa yang Tuhan Yesus katakan setelh orang Farisi dan para ahli Taurat meninggalkannya akibat pertanyaan Tuhan Yesus, "Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, silakan dia mengambil batu pertama," setelah semua pergi Tuhan berkata, "Hai perempuan, dimanakah mereka, tidak adakah mereka yang menghukum engkau."
Jawabnya "Tidak ada Tuhan," lalu kata Yesus, "Aku pun tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Inilah berita sukacita dari surga yaitu Injil bahwa Tuhan telah mengampuni dosa kita, tidak ada dosa yang begitu besar sehingga mengalahkan kasih Tuhan, semua dosa lebih kecil dari kasih Tuhan. Satu hal yang dimintaNya yaitu "Bertobat, jangan berbuat dosa lagi."
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih, Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Meminta Maaf Saja Tidak Cukup," bagian yang kedua dan yang terakhir. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu wujud nyata kasih adalah mempertimbangkan perasaan pasangan. Sayangnya tidak selalu kita berhasil mengingat perasaan pasangan sebelum kita melakukan tindakan yang melukai hatinya. Adakalanya kita melukai hati pasangan, baik dengan sengaja ataupun tidak. Apakah yang harus kita perbuat bila kita melukai atau mengecewakan hati pasangan?
Kita harus memohon pengampunan kepada Tuhan dan bertekad untuk tidak mengulang perbuatan itu lagi. Apa pun perasaan kita, akuilah dosa yang telah kita perbuat. Terlebih penting dari perasaan bersalah adalah komitmen untuk hidup menyenangkan hati Tuhan.
Kita mesti mengakui dosa di hadapan pasangan pula. Jangan mencari alasan untuk membenarkan diri kendati bisa saja perbuatan kita memang berkaitan dengan masalah yang tengah melanda pernikahan. Akui bagian kita dan jangan singgung-singgung keterkaitan dengan dirinya. Tindakan itu hanyalah akan membuatnya beranggapan bahwa kita tidak memikul tanggung jawab sepenuhnya atas perbuatan salah tersebut.
Berilah kepadanya waktu untuk mencerna semua ini. Jangan memintanya untuk mengampuni kita dengan segera. Sudah tentu jangan kita mengutip-ngutip Firman Tuhan untuk memaksanya mengampuni. Tindakan itu pasti memancing kemarahannya sebab buat dia, kita menjadi orang yang munafik-hanya cakap menggunakan Firman Tuhan untuk kepentingan pribadi.
Bersikaplah pasrah akan keputusannya dan bersiaplah untuk menerima konsekuensi. Jangan menuntut apa-apa darinya. Kita berada di posisi bersalah; tuntutan hanyalah membuatnya yakin bahwa kita sebenarnya tidak menyesali perbuatan kita.
Sedapatnya bersikap biasa, dalam pengertian lakukanlah kewajiban kita sehari-hari. Jangan meremehkan namun sebaliknya, jangan membesar-besarkan penyesalan. Jadi, pekalah untuk tidak melakukan atau menunjukkan reaksi yang gembira. Mungkin saja kita merasa lega karena telah mengeluarkan pengakuan dosa namun ingatlah, sekarang pasanganlah yang harus memikul dan menjalani perjalanan untuk mengampuni. Membesar-besarkan penyesalan juga tidak perlu sebab tindakan itu hanyalah akan membuatnya berpikir, "Kalau sudah tahu bahwa akibatnya begitu buruk, mengapa tetap melakukannya? Mengapa tidak memikirkannya terlebih dahulu?"
Firman Tuhan: Di dalam Injil Yohanes 8:1-11 dicatat kisah perjumpaan Tuhan Yesus dengan wanita yang tertangkap basah kedapatan berbuat zinah. Orang Farisi dan para ahli Taurat membawa perempuan itu kepada Yesus untuk mencobai-Nya supaya mereka memperoleh alasan untuk mendiskreditkan Tuhan Yesus yang pada saat itu tengah mengajar di Bait Allah di hadapan orang banyak. Sebetulnya mereka sendiri sudah tidak lagi menerapkan hukum Musa yakni merajam penzinah sampai mati, namun mereka memperhadapkan Tuhan dengan perempuan itu. Jika Tuhan Yesus menyuruh mereka merajam perempuan itu, Tuhan akan dinilai kejam. Sebaliknya jika Ia menolak melakukannya, Ia akan dinilai, tidak taat kepada hukum Taurat. Sungguh suatu situasi yang sulit. Namun, apa jawab Tuhan kepada mereka? "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (8:7) Kita semua orang berdosa dan layak menerima hukuman Tuhan yaitu kematian. Kita tidak boleh menganggap diri lebih benar dari sesama. Jangan menjadi hakim; selalu lihatlah diri sebelum melihat kesalahan orang.
Jangan berhenti meminta maaf. Kendati kita sudah mengatakannya, tetaplah menyampaikan permohonan maaf secara berkala, terutama tatkala kita melihatnya sedih. Sampaikanlah permohonan maaf namun jangan mengatakan hal-hal lain. Jika ia ingin membicarakannya, barulah kita dengarkan dan beri tanggapan. Jadi, biarkan ia menentukan kapan ia ingin membahas hal ini. Sebagian orang lebih suka menyelesaikan pergumulannya secara pribadi, jadi janganlah berinisiatif mengungkit-ungkit masalahnya.
Berdoalah secara pribadi; jangan mengajaknya berdoa bersama kita. Belum tentu ia siap berdoa bersama kita; bisa-bisa ia malah melihat kita sebagai orang munafik. Katakanlah bahwa kita selalu siap berdoa bersamanya namun kita akan menunggu kesiapannya. Sampaikanlah bahwa kita mengerti bila ia tidak siap untuk berdoa dengan kita.
Dalam percakapan tentang hal-hal lain, berhati-hatilah dengan komentar yang menghakimi orang lain. Ingat, akibat perbuatan kita, sekarang ia menjadi peka dengan kemunafikan. Kata-kata yang bersifat menghakimi hanyalah membangkitkan ingatannya akan perbuatan kita dan membuatnya marah serta menunduh kita, munafik. Baginya, kita adalah orang yang hanya dapat melihat kesalahan orang namun buta terhadap kesalahan sendiri.
Dalam diskusi rohani, jika ada pelajaran dari Firman Tuhan tentang dosa, ambillah inisiatif untuk mengatakan pengakuan seperti,"Saya adalah orang yang telah mengecewakan Tuhan dan keluarga." Atau,"Saya adalah orang yang tidak selayaknya menerima anugerah Tuhan." Kalimat seperti ini memperlihatkan kepada pasangan bahwa kita tidak pernah melupakan perbuatan dosa yang telah kita lakukan. Pengakuan ini penting didengarnya sebab salah satu ketakutannya adalah bahwa kita dengan mudah melupakan perbuatan yang sangat menyakitkan hatinya itu.
Pada akhirnya, bila ia sudah sampai pada titik di mana ia berhasil mengampuni kita sepenuhnya, bersukacitalah sekaligus berdukacitalah dengannya. Bersukacita karena ia telah menang namun berdukacitalah sebab kita telah melukai hatinya sebegitu dalamnya dan membuatnya menderita sebegitu lamanya.
Firman Tuhan:
Kembali ke Yohanes 8:1-11, Tuhan bertanya kepada perempuan yang kedapatan berzinah setelah para penangkapnya pergi, "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau? Jawabnya,"Tidak ada Tuhan." Lalu kata Yesus, "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Inilah berita suka dari surga yakni Injil bahwa Tuhan telah mengampuni dosa kita. Tidak ada dosa yang begitu besarnya sehingga mengalahkan kasih Tuhan. Semua dosa lebih kecil dari kasih Tuhan. Satu hal yang diminta-Nya yaitu bertobat-jangan berbuat dosa lagi.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 09/10/2008 - 2:39pm.
Abstrak:
Salah satu wujud nyata kasih adalah mempertimbangkan perasaan pasangan. Sayangnya tidak selalu kita berhasil mengingat perasaan pasangan sebelum kita melakukan tindakan yang melukai hatinya. Adakalanya kita melukai hati pasangan, baik dengan sengaja ataupun tidak. Apakah yang harus kita perbuat bila kita melukai atau mengecewakan hati pasangan?
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Meminta Maaf Saja Tidak Cukup". Dan karena panjangnya perbincangan ini maka kali ini merupakan bagian yang pertama dari topik tadi. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, memang setiap hari dalam hubungan relasi kita khususnya dengan pasangan kita, tidak mungkin tidak terjadi kesalahan dan sebagai pihak yang bersalah tentunya meminta maaf, kelihatannya pasangan kita memaafkan, namun ternyata ada perbedaan di dalam sikapnya dengan sebelum terjadi peristiwa itu. Padahal kita sudah minta maaf dengan tulus dan sungguh-sungguh, dan apa yang menjadi masalah, Pak Paul ?
PG : Bagaimana pun juga setelah kita melukai hati pasangan, pasangan memerlukan waktu untuk sembuh atau pulih seperti biasa, sudah tentu semua ini bergantung pada berapa dalamnya luka yang tela kita timbulkan.
Makin dalam luka yang telah kita timbulkan, maka makin lama waktu yang dia perlukan untuk pulih. Maka saya kira kalau kita melakukan sebuah kesalahan kepada pasangan, kita mesti meminta maaf. Pada kesempatan kali ini kita akan coba mengangkat, apa yang mesti kita lakukan selain dari pada hanya berkata "Sorry, ya." Jadi ada hal-hal lain yang selayaknyalah kita lakukan apalagi jika kesalahan yang kita perbuat adalah sebuah pelanggaran moral atau sebuah dosa yang telah kita lakukan.
GS : Memang seringkali orang yang melukai ini, menganggap dia sudah memaafkan kita, tapi sebenarnya dengan sikapnya yang seperti itu, menunjukkan bahwa dia belum memaafkan kita, apakah memang begitu, Pak Paul ?
PG : Saya kira pada hakekatnya kalau pasangan memang mencintai kita, maka dia akan memaafkan kita namun untuk dia bisa melewati semua perasaan-perasaannya, dia memerlukan waktu dan dalam prosesitu pastilah dia akan tetap bereaksi, dia akan marah, dia akan sedih kalau dia mengingat kembali perbuatan yang telah kita lakukan.
Jadi ini adalah sebuah proses dan makin dalam luka yang ditimbulkan maka makin lama proses penyembuhan itu.
GS : Jadi dalamnya luka, selain diakibatkan oleh apa yang kita telah lakukan, nampaknya kedekatan hubungan kita juga mempengaruhi ya, Pak Paul ? Makin dekat seseorang didalam berelasi maka makin dalam luka itu.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi didalam suatu relasi yang intim dimana ada kepercayaan dan kasih yang kuat dan ada respek yang dalam, tatkala kita melukai hatinya maka luka yang ditimbulka juga makin dalam, kalau hubungannya tidak akrab maka luka yang ditimbulkan juga tidak akan sedalam itu.
GS : Kalau terjadi hal yang demikian sebagai pihak yang bersalah ini, apa yang harus kita lakukan, Pak Paul ?
PG : Yang pertama sudah tentu kita mesti datang kepada Tuhan, kita mesti berdoa memohon agar Tuhan kembali mengampuni kita, menghapus semua dosa, memang kita tahu Tuhan telah mengampuni kita, drahNya yang telah dikucurkan di kayu salib menghapus semua dosa-dosa kita.
Tapi kita perlu kembali kepadaNya mengakui dosa-dosa kita dan Tuhan sudah berjanji kalau kita mengakui dosa maka Dia akan setia, Dia akan bermurah hati, mengampuni semua dosa-dosa kita, ini adalah suatu hal yang perlu sebab ini pertanda bahwa kita tidak mengabaikan teguran Roh Kudus di dalam hati kita. Waktu Tuhan menegur, "Kamu salah, kamu harus meminta maaf" dan kita datang kepada Tuhan memohon ampun, itu berarti kita memang menanggapi teguran Roh Kudus. Makin peka kita terhadap teguran Roh Kudus, maka akan makin terjalin erat hubungan kita dengan Tuhan dan kita akan makin terlindung dari dosa-dosa yang lebih besar, karena kita makin peka terhadap suara Roh Kudus. Sebaliknya kalau kita makin mengeraskan hati, kita tidak mau mendengarkan suara Roh Kudus yang menegur kita, dan kita terus berkata, "Tidak apa-apa, ini bukan kesalahan, ini bukan dosa, makin kita merasionalisasi, makin mengeraskan hati, kita makin sulit mendengarkan suara Tuhan dan akhirnya kita makin jauh dari Tuhan. Dan akhirnya membuat kita jauh lebih rentan dan lebih sering untuk jatuh ke dalam dosa.
GS : Di dalam mengakui dosa kepada Tuhan, minta pengampunan Tuhan, itu ada sebagian orang yang mengatakan bahwa itu harus diuraikan secara rinci dosa yang kita lakukan. Tapi ada juga yang mengatakan "Tuhan itu Mahatahu, bilang saja kalau sudah berbuat dosa dan minta ampun," bagaimana pandangan ini menurut Pak Paul ?
PG : Saya melihat, pentingnya mengakui apa yang kita telah lakukan di hadapan Tuhan, kalau kita berasumsi Tuhan sudah tahu semua berarti doa pun tidak perlu sebab bukankah waktu kita berdoa Tuhn meminta untuk membawa petisi-petisi kita, membawa syafaat-syafaat kita kepadaNya.
Dan kita bisa berkata, "Tuhan sudah tahu, kita tidak perlu minta lagi," oh tidak ! Sebab dengan meminta apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan atau keinginan kita, maka kita mempercayakan bahwa Tuhan akan mendengarkan dan ini adalah wujud sebuah relasi antara anak dan Bapa dan memang selayaknya anak datang kepada Bapa di surga kemudian mengucapkan hal-hal yang menjadi kebutuhannya. Demikian kalau anak telah berdosa kepada Bapa, sudah selayaknya dia datang kepada Bapa mengakui dosa yang telah dilakukannya, sebab keberanian menatap kembali apa yang telah kita perbuat, itu juga akan menjadi sebuah pelajaran bagi kita bahwa kita telah melakukan hal seperti itu. Itu sebabnya Daud, kita bisa membaca di kitab Mazmur 51, dia dengan hati yang hancur mengakui dosanya, kenapa dia bisa berbuat dosa ? Dia mengatakan bahwa rasanya tulang-tulangnya seperti remuk. Jadi waktu kita memandang lagi dosa yang telah kita lakukan maka dosa itu akan tampak begitu buruk dan kita makin disadarkan betapa kita telah jatuh begitu dalamnya ke dalam dosa, dan ini justru menjadi sebuah pelajaran yang nanti kita akan ingat supaya nanti kita tidak mengulangnya kembali. Saya juga mau mengingatkan satu hal, Pak Gunawan, ada kecenderungan kita datang hanya untuk meminta maaf kepada Tuhan kalau kita ini merasa bersalah, tidak tentu ! Adakalanya karena hati nurani kita sudah begitu terbalik, sudah tidak lagi tepat, maka bukannya merasa bersalah tapi kita tidak merasa apa-apa dan itu bukan pertanda bahwa kita tidak bersalah. Jadi jangan gantungkan pada perasaan, perasaan penyesalan bisa ada, bisa tidak dan yang terpenting adalah sebuah kesadaran, sebuah pengakuan, "Saya telah melanggar, saya telah melakukan kesalahan dan saya harus datang memohon pengampunan kepada Tuhan."
GS : Sebagai seseorang yang sama-sama beriman dengan pasangan kita, kalau kita itu menyakiti hati pasangan kita, maka secara tidak langsung kita juga menyakiti hati Tuhan, karena dia juga kekasih Tuhan.
PG : Betul sekali. Sebab bukankah dia anak Tuhan, kekasih Tuhan dan kita akhirnya melukai anak Tuhan yang dikasihiNya.
GS : Apakah ada tindakan lain yang perlu kita lakukan, Pak Paul ?
PG : Selain datang dan meminta ampun kepada Tuhan mengakui dosa kita, kita juga harus mengakui dosa di hadapan pasangan kita pula. Jangan mencari alasan untuk membenarkan diri, kendati bisa saj perbuatan kita berkaitan dengan masalah yang sedang melanda pernikahan kita.
Maksud saya begini, akui kelemahan kita, jangan singgung-singgung keterkaitan dengan dirinya, waktu kita meminta maaf jangan katakan, "Saya seperti ini karena kamu begitu, kalau kamu tidak begitu maka saya tidak begini," jangan ! Akui bagian kita, apa yang telah kita lakukan, yang salah katakan, jangan singgung-singgung bagiannya. Itu hanya akan membuat dia beranggapan bahwa kita tidak memikul tanggung jawab sepenuhnya atas perbuatan salah yang telah kita lakukan.
GS : Biasanya untuk meminta maaf, kadang-kadang juga berat untuk dilakukan khususnya bagi kaum pria. Kita berharap dengan perubahan sikap kita maka pasangan kita sudah mengerti bahwa kita sudah menyesal, tidak perlu dengan bahasa lisan mengatakan, "Sorry atau minta maaf."
PG : Ada orang yang memang berkilah, "Tidak perlu bicara minta maaf yang penting adalah perbuatan kita." Bagi saya itu adalah sebuah cara untuk menutupi kesombongan kita karena waktu kita memina maaf, tidak bisa tidak kita harus merendahkan diri kita di hadapan pasangan.
Ada sebagian kita yang sulit untuk merendahkan diri, maka dari pada mengatakan, "Saya salah, saya minta maaf", Lebih baik menutup mulut kemudian mengkompensasi dan berkata, "Sudah saya tunjukkan dalam perbuatan" itu tidak cukup. Sebab sekali lagi Tuhan pun pernah berkata lewat hambanya Samuel, apa yang Tuhan inginkan, apakah korban bakaran, korban sembelihan, tidak ! Yang Tuhan inginkan adalah hati yang hancur. Jadi benar-benar sebuah hati yang merendah di hadapan Tuhan, mengakui kita telah salah, kita telah jatuh maka Tuhan tolong ampuni saya, demikianlah yang Tuhan juga tuntut dari kita kepada pasangan. Kalau kita telah salah, merendahlah, katakanlah kita telah salah, jangan merasionalisasi, membenarkan diri, apalagi menyalahkannya, tapi akui bagian kita tanpa harus menyinggung-nyinggung peranan atau bagian pasangan kita.
GS : Jadi sebenarnya untuk meminta maaf diperlukan kesatuan antara apa yang kita katakan dan juga sikap kita kepada dia, dalam hal ini tidak bisa dipilih salah satu ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Sudah tentu yang benar bukan hanya mengatakannya tapi juga harus menunjukkan perubahan lewat perbuatan kita.
GS : Pak Paul, mengenai tindakan yang salah itu, seringkali kita mengungkit masa lalunya. Jadi bukan terkait pada dosa yang kita lakukan saat ini, hubungannya dengan dia, tapi masa lalunya misalnya, "Dulu kamu salah, tidak pernah meminta maaf kepada saya dan saya memaafkan kamu, kenapa sekarang kamu tidak bisa memaafkan saya."
PG : Kadangkala ini adalah hal yang kita lakukan sebab kita merasa kita harus adil, "Kalau dulu saya memaafkan kamu maka sekarang kamu harus memaafkan saya," sebaiknya jangan mengatakan hal seprti itu, waktu kita datang dan kita salah, maka kita akui bagian kita, jangan singgung-singgung bagian pasangan kita sebab pasangan yang tengah terluka dan melihat kita mengungkit-ungkit bagiannya, maka akan cepat berkesimpulan, "Kamu ini tidak sungguh-sungguh menyesali perbuatanmu, kamu lebih sibuk dan maunya menyalahkan saya, kamu tidak mau melihat bagianmu."
Ini yang perlu dilihat oleh pasangan bahwa kita bersedia melihat bagian kita, salah dimana, perlu koreksi dimana, dan itulah yang nanti kita perlu akui di hadapan pasangan.
GS : Seringkali kalau kita meminta maaf kepada pasangan, pasangan tidak langsung menanggapi dengan mengatakan, "Ya, kamu saya maafkan," dia diam saja, Pak Paul. Dan bagaimana kita bisa tahu kalau dia memaafkan kita ?
PG : Memang kita harus memahami bahwa pasangan perlu waktu untuk mencerna semua yang telah terjadi, untuk juga bisa menyembuhkan dirinya dari luka yang telah ditimbulkan dari perbuatan kita. Jai ada baiknya setelah kita meminta maaf, kita diam, kita tidak memaksanya untuk dengan segera mengampuni kita, mengatakan kata-kata seperti, "Saya mengampuni kamu dan sebagainya," tidak perlu ! Katakan saja bagian kita, setelah itu biarkan dan dia mencerna, mungkin dia perlu waktu berhari-hari atau mungkin berminggu-minggu untuk bisa mencerna semuanya dan setelah melewati waktu yang agak panjang, kita juga bisa datang kepadanya, kita bisa bertanya lagi, "Bagaimana apakah engkau sudah memaafkan saya, apakah ada hal-hal yang perlu saya lakukan lagi ?" Jadi kita menunjukkan sikap sensitif, kita mengerti dia butuh waktu.
Satu hal yang saya ingin ingatkan kepada para pendengar kita, jangan mengutip-ngutip Firman Tuhan untuk memaksanya mengampuni, adakalanya itu yang kita lakukan, "Kamu ini orang kristen, Firman Tuhan berkata; ampunilah dosa, mengapa kamu tidak mau mengampuni, nanti Allah Bapa di sorga tidak mengampuni dosa kamu juga, itu adalah Firman Tuhan." Sudah tentu pasangan kita tahu kalau dia harus mengampuni tapi dia perlu melalui sebuah proses untuk sungguh-sungguh bisa mengampuni kita, kalau kita malah mengutip-ngutip Firman Tuhan seperti itu, saya kira kita malah memancing kemarahannya, sebab buat dia, kita menjadi orang yang munafik, hanya cakap menggunakan Firman Tuhan untuk kepentingan pribadi.
GS : Tapi yang saya tanyakan, bagaimana kita bisa memahami bahwa dia secara prinsip sudah memaafkan kita, Pak Paul ?
PG : Biasanya secara langsung nanti akan berkata, "Baik saya sudah memaafkan kamu, asal kamu jangan berbuat lagi," kalau memang dia tidak mengatakan apa-apa, kita bisa bertanya, "Apakah kamu bia memaafkan saya ?" biarkan dia menjawabnya.
Ada juga yang menunjukkan sikap-sikap yang memang berubah, dulunya diam, dulu tidak mau bicara dengan kita tapi setelah lewat beberapa hari, dia mulai berbicara, mulai memberikan sikap yang lebih menyenangkan. Kita tahu bahwa mulai saat itu, dia telah memulai proses mengampuni kita, mungkin belum tuntas tapi setidak-tidaknya ada gerakan-gerakan ke arah itu.
GS : Apakah ada hal lain yang bisa kita lakukan, Pak Paul ?
PG : Ini yang susah, yang berikutnya adalah bersikap pasrah terhadap keputusannya dan bersiaplah untuk menerima konsekwensi. Artinya, kita jangan memaksa pasangan untuk tidak memberikan konsekunsi.
Ada kecenderungan kita berkata seperti ini, "Karena saya sudah minta maaf maka kamu tidak boleh lagi menghukum saya atau memberikan konsekuensi apa pun, kamu benar-benar harus melupakan, kamu tidak boleh marah, kamu tidak boleh mengungkit-ungkit dan sebagainya." Sudah tentu akan ada waktu dimana pasangan harus berhenti membangkit-bangkitkan masalah, tapi untuk satu kurun dia memerlukan waktu, kesempatan untuk bisa mengeluarkan luka di hatinya dan kemarahannya. Sudah tentu ada waktu juga, dimana pasangan perlu menjauh dari kita, dia tidak bisa dekat-dekat dengan kita, dia merasa sudah tertusuk, dia tidak bisa lagi percaya kepada kita, dan mungkin untuk sementara waktu dia tidak begitu senang disentuh oleh kita dan sebagainya. Kita mesti mengerti ini, kita tidak bisa memaksanya untuk melupakan secara sekejap dan kemudian bersikap normal lagi kepada kita, tidak ! Bahkan adakalanya nanti ada akibat-akibat lain yang harus ditanggung dan inilah hal-hal yang kita harus pasrah dan terima. Ada orang yang sangat terlukai, sehingga perlu waktu yang lama untuk bisa menjalin hubungan yang akrab kembali dengan pasangannya. Hal-hal seperti ini memang harus diterima, kita mesti pasrah, kita tidak boleh menuntutnya untuk bersikap seperti biasa lagi kepadanya. Kita berada di posisi yang salah, tuntutan hanyalah membuatnya yakin bahwa kita sebenarnya tidak menyesali perbuatan kita. Jadi bagi dia kalau kita buru-buru menuntut agar dia tidak meminta konsekuensi apa pun bagi dia, bagi dia kita hanyalah orang yang ingin lari dari konsekuensi, hanya ingin jalan pintas yang mudah, makanya tergesa-gesa meminta maaf, tidak berani dan tidak mau bertanggung jawab memikul akibat perbuatan sendiri.
GS : Kadang-kadang karena butuh waktu yang cukup lama, Pak Paul, pasangan tidak segera memaafkan, lalu di pihak yang salah ini mulai berpikir-pikir, hal ini terjadi juga karena salah dia. Walaupun tadi Pak Paul mengatakan bahwa kita tidak mau mengungkit-ungkit di hadapannya, tetapi sebenarnya didalam pemikiran kita, "Sebenarnya saya juga tidak terlalu salah betul, dia juga punya andil di dalam kesalahan." Dan ini menghadapi diri kita sendiri bagaimana, Pak Paul ?
PG : Memang adakalanya waktu kita sudah meminta maaf, kita ingin tergesa-gesa mengubur semuanya, tidak mau lagi mengungkitnya dan waktu pasangan mau memunculkannya, kita merasa tidak nyaman. Tpi sekali lagi satu hal yang ingin saya tekankan adalah ini semua merupakan sebuah proses dan kita harus bersedia melewatinya bersama-sama dengan pasangan dan tidak mudah untuk kita membalik lembaran hidup kita, adakalanya akan tersangkut di lembaran yang sama untuk satu kurun yang agak panjang, kita tidak bisa langsung membuka lembaran dan mengajaknya langsung memulai, sudah tentu ini akan menjadi target, ini adalah tujuannya, tapi untuk dia sembuh berilah dia waktu, setelah itu kalau memang memungkinkan kita datang meminta bantuan dari seorang konselor sehingga dia bisa ditolong mencerna luka-lukanya dan kembali menjahit relasi yang telah robek itu.
GS : Bagaimana kita harus bersikap karena setiap hari kita bertemu dengan dia, tidak bisa kita menghindar untuk lari dari hadapannya tapi sikap kita itu kadang-kadang canggung.
PG : Sudah tentu karena apa yang telah kita lakukan, itu sepertinya memberikan sebuah kecacatan di dalam relasi kita, akhirnya dalam bersikap kita menjadi serba salah. Jadi nasehat saya adalah edapatnya kita bersikap biasa.
Artinya lakukanlah kewajiban kita sehari-hari, yang mestinya kita lakukan, yang biasanya kita kerjakan maka kita lakukan, jangan meremehkan namun sebaliknya jangan membesar-besarkan penyesalan. Maksud saya misalnya jangan menunjukkan reaksi yang gembira karena kita ini lega, karena kita telah mengakui dosa kita, sekarang kita merasa bahwa beban itu lepas dari kita ini senang, kita tiba-tiba berseri-seri, pasangan yang harus memikul semua ini, dia harus menjalani perjalanan yang panjang dan penuh derita untuk mengampuni kita. Sewaktu dia melihat kita begitu gampangnya melupakan kesalahan, normal-normal, biasa-biasa, ketawa-ketawa, bercanda-canda lagi, itu akan makin menambahkan luka di hatinya. Dan makin membuat dia merasa "Kamu ini seenaknya saja, menggampangkan semuanya ini, kamu tidak bisa peka, sadar, bahwa saya ini sekarang sedang terluka." Jadi sekali lagi bersikap biasa namun jangan meremehkan penyesalan, sebaliknya juga jangan membesar-besarkan penyesalan, karena itu akan membuatnya berpikir, "Kalau sudah tahu akibatnya begitu buruk, mengapa tetap melakukannya, mengapa tidak memikirkannya terlebih dahulu." Jadi kalau kita menyesal, ya menyesal tapi juga harus jaga. Ada juga orang yang menangis terus-menerus, pasangan mungkin saja tidak merasa enak atau iba, malahan dia merasa kesal, "Kamu sekarang menangis dan sebagainya," belum lagi nanti berpikiran buruk, kamu ini pura-pura dan sebagainya. Jadi sekali lagi bersikap biasa jangan meremehkan penyesalan, jangan mengecilkannya tapi sekaligus juga jangan membesar-besarkan.
GS : Memang betul Pak Paul, ada beberapa pasangan yang merasa pasangan hidupnya ini menggunakan air mata hanya untuk memperoleh belas kasihan, karena itu sudah dilakukan berkali-kali, setiap kali dia melakukan kesalahan itu maka dia menangis-nangis di depan istrinya, pertama istrinya memang melihat kehancuran hatinya tapi lama-lama dia jadi muak, Pak Paul.
PG : Sebab sekali lagi yang terpenting adalah perbuatannya. Jadi kita harus menindaklanjuti penyesalan kita dengan perbuatan, makanya Tuhan pun meminta kita melakukan yang disebut di Alkitab, pnyesalan yang rohani atau penyesalan yang Ilahi, suatu penyesalan yang keluar dari lubuk hati terdalam karena telah melukai hati Tuhan dan sesama serta sebuah komitmen untuk berubah, untuk tidak melakukan lagi dosa yang sama.
GS : Mungkin ada contoh yang konkret di Alkitab tentang pengampunan ?
PG : Di dalam Injil Yohanes 8:1-11 dicatat kisah perjumpaan Kristus dengan wanita yang tertangkap basah kedapatan berbuat zinah, orang Farisi dan para ahli Taurat membawa perempuan itu kepada Ysus untuk mencobaiNya supaya mereka memperoleh alasan untuk mendiskreditkan Tuhan Yesus yang saat itu tengah mengajar di Bait Allah, di hadapan orang banyak.
Sebetulnya mereka sendiri sudah tidak lagi menerapkan hukum Musa, yakni merajam pezinah sampai mati, namun mereka memperhadapkan Tuhan dengan perempuan itu, jika Tuhan Yesus menyuruh mereka merajam perempuan itu, Tuhan akan dinilai kejam, sebaliknya jika Dia menolak untuk melakukannya maka dia akan dinilai tidak taat kepada hukum Taurat. Sungguh merupakan suatu situasi yang sulit namun apa jawab Tuhan kepada mereka ? Di Yohanes 8:7 ditulis "Barangsiapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Kita semua orang berdosa dan layak menerima hukuman Tuhan yaitu kematian, kita tidak boleh menganggap diri lebih benar dari sesama, jangan menjadi hakim, selalu lihatlah sebelum melihat kesalahan orang. Jadi bagi siapa yang telah dilukai, saya minta mengampunilah, Tuhan mengingatkan kita semua orang berdosa, kita semua tidak ada yang sempurna, maka kalau pasangan telah bersalah dan meminta ampun, maka ampunilah. Kalau memang sulit maka mintalah kuasa Tuhan untuk menolong kita mengampuni. Salah satu cara untuk mengampuni adalah menyadari kita pun orang berdosa yang tidak luput dari dosa yang sama.
GS : Di dalam peristiwa perempuan yang berzinah, ada suatu peristiwa ketika Tuhan Yesus menunduk lalu menulis-nulis, banyak orang bertanya, "Tuhan Yesus menulis apa ?"
PG : Saya menyimpulkannya sederhana yaitu Tuhan Yesus menulis apa yang Dia katakan yaitu Dia menulis, "Barangsiapa di antara kamu yang tanpa dosa, silakan melemparkan batu yang pertama."
GS : Tapi kita memang tidak tahu dengan jelas apa yang ditulis oleh Tuhan Yesus, Pak Paul ?
PG : Ya, saya hanya menduga saja sebab Alkitab atau orang-orang Yahudi sering menggunakan gaya bahasa pengulangan, yaitu "Sesungguhnya, sesungguhnya Aku berkata kepadamu," itu gaya bahasa mereka. Jadi sangat mungkin Tuhan menuliskannya kemudian mengatakannya.
GS : Tapi begitu cepat orang-orang Yahudi menyadari bahwa sebenarnya mereka pun juga berdosa, jadi tidak berani melempar batu.
PG : Dan itu adalah cara Tuhan yang sangat efektif, Dia tidak memarah-marahi, tidak memojokkan, Dia hanya mengungkapkan sebuah fakta dan fakta itu langsung berbicara ke hati nurani mereka. Seba memang orang Farisi dan ahli Taurat adalah orang yang setiap hari menggumuli hukum Taurat Musa, jadi tidak bisa tidak hati nurani mereka tertegur oleh perkataan Tuhan Yesus.
GS : Perbincangan kita kali ini tentu belum tuntas, jadi memang ada banyak hal yang perlu kita bicarakan tapi nanti kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang dan kita berharap para pendengar bisa mengikuti kelanjutan dari perbincangan ini. Terima kasih Pak Paul dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Meminta Maaf Saja Tidak Cukup," bagian yang pertama. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu wujud nyata kasih adalah mempertimbangkan perasaan pasangan. Sayangnya tidak selalu kita berhasil mengingat perasaan pasangan sebelum kita melakukan tindakan yang melukai hatinya. Adakalanya kita melukai hati pasangan, baik dengan sengaja ataupun tidak. Apakah yang harus kita perbuat bila kita melukai atau mengecewakan hati pasangan?
Kita harus memohon pengampunan kepada Tuhan dan bertekad untuk tidak mengulang perbuatan itu lagi. Apa pun perasaan kita, akuilah dosa yang telah kita perbuat. Terlebih penting dari perasaan bersalah adalah komitmen untuk hidup menyenangkan hati Tuhan.
Kita mesti mengakui dosa di hadapan pasangan pula. Jangan mencari alasan untuk membenarkan diri kendati bisa saja perbuatan kita memang berkaitan dengan masalah yang tengah melanda pernikahan. Akui bagian kita dan jangan singgung-singgung keterkaitan dengan dirinya. Tindakan itu hanyalah akan membuatnya beranggapan bahwa kita tidak memikul tanggung jawab sepenuhnya atas perbuatan salah tersebut.
Berilah kepadanya waktu untuk mencerna semua ini. Jangan memintanya untuk mengampuni kita dengan segera. Sudah tentu jangan kita mengutip-ngutip Firman Tuhan untuk memaksanya mengampuni. Tindakan itu pasti memancing kemarahannya sebab buat dia, kita menjadi orang yang munafik-hanya cakap menggunakan Firman Tuhan untuk kepentingan pribadi.
Bersikaplah pasrah akan keputusannya dan bersiaplah untuk menerima konsekuensi. Jangan menuntut apa-apa darinya. Kita berada di posisi bersalah; tuntutan hanyalah membuatnya yakin bahwa kita sebenarnya tidak menyesali perbuatan kita.
Sedapatnya bersikap biasa, dalam pengertian lakukanlah kewajiban kita sehari-hari. Jangan meremehkan namun sebaliknya, jangan membesar-besarkan penyesalan. Jadi, pekalah untuk tidak melakukan atau menunjukkan reaksi yang gembira. Mungkin saja kita merasa lega karena telah mengeluarkan pengakuan dosa namun ingatlah, sekarang pasanganlah yang harus memikul dan menjalani perjalanan untuk mengampuni. Membesar-besarkan penyesalan juga tidak perlu sebab tindakan itu hanyalah akan membuatnya berpikir, "Kalau sudah tahu bahwa akibatnya begitu buruk, mengapa tetap melakukannya? Mengapa tidak memikirkannya terlebih dahulu?"
Firman Tuhan: Di dalam Injil Yohanes 8:1-11 dicatat kisah perjumpaan Tuhan Yesus dengan wanita yang tertangkap basah kedapatan berbuat zinah. Orang Farisi dan para ahli Taurat membawa perempuan itu kepada Yesus untuk mencobai-Nya supaya mereka memperoleh alasan untuk mendiskreditkan Tuhan Yesus yang pada saat itu tengah mengajar di Bait Allah di hadapan orang banyak. Sebetulnya mereka sendiri sudah tidak lagi menerapkan hukum Musa yakni merajam penzinah sampai mati, namun mereka memperhadapkan Tuhan dengan perempuan itu. Jika Tuhan Yesus menyuruh mereka merajam perempuan itu, Tuhan akan dinilai kejam. Sebaliknya jika Ia menolak melakukannya, Ia akan dinilai, tidak taat kepada hukum Taurat. Sungguh suatu situasi yang sulit. Namun, apa jawab Tuhan kepada mereka? "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (8:7) Kita semua orang berdosa dan layak menerima hukuman Tuhan yaitu kematian. Kita tidak boleh menganggap diri lebih benar dari sesama. Jangan menjadi hakim; selalu lihatlah diri sebelum melihat kesalahan orang.
Jangan berhenti meminta maaf. Kendati kita sudah mengatakannya, tetaplah menyampaikan permohonan maaf secara berkala, terutama tatkala kita melihatnya sedih. Sampaikanlah permohonan maaf namun jangan mengatakan hal-hal lain. Jika ia ingin membicarakannya, barulah kita dengarkan dan beri tanggapan. Jadi, biarkan ia menentukan kapan ia ingin membahas hal ini. Sebagian orang lebih suka menyelesaikan pergumulannya secara pribadi, jadi janganlah berinisiatif mengungkit-ungkit masalahnya.
Berdoalah secara pribadi; jangan mengajaknya berdoa bersama kita. Belum tentu ia siap berdoa bersama kita; bisa-bisa ia malah melihat kita sebagai orang munafik. Katakanlah bahwa kita selalu siap berdoa bersamanya namun kita akan menunggu kesiapannya. Sampaikanlah bahwa kita mengerti bila ia tidak siap untuk berdoa dengan kita.
Dalam percakapan tentang hal-hal lain, berhati-hatilah dengan komentar yang menghakimi orang lain. Ingat, akibat perbuatan kita, sekarang ia menjadi peka dengan kemunafikan. Kata-kata yang bersifat menghakimi hanyalah membangkitkan ingatannya akan perbuatan kita dan membuatnya marah serta menunduh kita, munafik. Baginya, kita adalah orang yang hanya dapat melihat kesalahan orang namun buta terhadap kesalahan sendiri.
Dalam diskusi rohani, jika ada pelajaran dari Firman Tuhan tentang dosa, ambillah inisiatif untuk mengatakan pengakuan seperti,"Saya adalah orang yang telah mengecewakan Tuhan dan keluarga." Atau,"Saya adalah orang yang tidak selayaknya menerima anugerah Tuhan." Kalimat seperti ini memperlihatkan kepada pasangan bahwa kita tidak pernah melupakan perbuatan dosa yang telah kita lakukan. Pengakuan ini penting didengarnya sebab salah satu ketakutannya adalah bahwa kita dengan mudah melupakan perbuatan yang sangat menyakitkan hatinya itu.
Pada akhirnya, bila ia sudah sampai pada titik di mana ia berhasil mengampuni kita sepenuhnya, bersukacitalah sekaligus berdukacitalah dengannya. Bersukacita karena ia telah menang namun berdukacitalah sebab kita telah melukai hatinya sebegitu dalamnya dan membuatnya menderita sebegitu lamanya.
Firman Tuhan:
Kembali ke Yohanes 8:1-11, Tuhan bertanya kepada perempuan yang kedapatan berzinah setelah para penangkapnya pergi, "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau? Jawabnya,"Tidak ada Tuhan." Lalu kata Yesus, "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Inilah berita suka dari surga yakni Injil bahwa Tuhan telah mengampuni dosa kita. Tidak ada dosa yang begitu besarnya sehingga mengalahkan kasih Tuhan. Semua dosa lebih kecil dari kasih Tuhan. Satu hal yang diminta-Nya yaitu bertobat-jangan berbuat dosa lagi.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 09/10/2008 - 2:23pm.
Abstrak:
Neil Clark Warren, seorang psikolog Kristen di Amerika menekankan bahwa berapa sehatnya suatu relasi ditentukan oleh berapa sehatnya suami atau istri itu sendiri. Dengan kata lain, jika ada satu pihak yang tidak sehat, maka relasi itu akan terseret turun menjadi tidak sehat pula. Salah satu masalah yang kadang timbul pada masa berpacaran adalah, ada orang tidak berkeinginan untuk melakukan andilnya untuk menciptakan relasi yang sehat. Ia berharap bahwa pasangannya yang harus menyesuaikan dirinya dengannya, dan tidak sebaliknya. Singkat kata, ia adalah seseorang yang mau terima enaknya saja. Apakah cirinya pasangan yang seperti ini?
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Relasi Yang Tidak Seimbang". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Relasi suami istri diharapkan seimbang dalam hal kebutuhannya dan juga tuntutan-tuntutannya. Tapi seringkali pada kenyataannya ada ketidak seimbangan dalam relasi ini dan hal ini menimbulkan masalah. Dan sebaiknya apa yang harus dilakukan, Pak Paul ?
PG : Yang Pak Gunawan katakan memang betul. Seyogianyalah relasi itu seimbang tapi pada dasarnya tidak semua begitu. Ada yang bekerja jauh lebih keras sedangkan pasangannya jauh lebih sedikit dn sudah tentu pada akhirnya relasi yang seperti ini akan menuai masalah.
Jadi kita akan mengajak para pendengar kita untuk melihat ke belakang yaitu kepada masa-masa berpacaran, kita berharap para pendengar kita saat ini adalah juga para kawula muda yang belum menikah sehingga mereka bisa mempersiapkan, bisa mewaspadai hal ini jauh sebelum mereka memasuki jenjang pernikahan. Saya ingin mengutip seorang psikolog Kristen di Amerikat Serikat bernama Neil Clark Warren, beliau berkata bahwa suatu relasi ditentukan oleh seberapa sehatnya istri atau suami itu sendiri dengan kata lain, kalau ada satu pihak yang kurang sehat maka relasi itu akan terseret turun menjadi tidak sehat pula. Jadi penting sekali kita memasuki jenjang pernikahan dalam kondisi sehat secara jiwani karena nantinya pernikahan kita tergantung pada berapa sehatnya kita secara pribadi. Namun masalah yang seringkali timbul didalam pernikahan adalah ada salah satu dari pasangan tidak berkeinginan melakukan andilnya untuk menciptakan relasi yang sehat dan dia berharap pasangannyalah yang harus menyesuaikan diri. Singkat kata, orang seperti ini adalah orang yang mau menerima enaknya saja. Kalau ada orang seperti ini di dalam pernikahan maka relasi pernikahan ini nantinya menjadi suatu relasi yang tidak akan bisa bertumbuh, jadi sepertinya dia menjadi beban yang akan menarik relasi nikah ini turun ke bawah sebab relasi nikah menuntut adanya kesediaan untuk bekerjasama untuk mau menghidupkan, melestarikan, memperhatikan relasi ini. Kalau hanya satu yang bekerja nanti pastilah relasi itu akan terus terseret ke bawah. Jadi pada masa berpacaran kita mesti waspada apakah pasangan kita ini tipe yang seperti ini.
GS : Hal-hal apa saja yang mungkin penting supaya ada keseimbangan di dalam relasi ini, Pak Paul ?
PG : Kita mau melihat ciri-cirinya karena kita mesti waspada jangan sampai kita nanti masuk ke dalam relasi yang tidak sehat ini. Misalkan ciri yang pertama, adalah orang ini terbuka dengan kelmahannya, tapi yang menjadi masalah adalah dia tidak mempunyai motivasi untuk menyesuaikan diri dengan kita, dia berharap kita menerima semua kelemahannya dengan tuntas, dengan penuh.
Jadi waktu dia berkata, "Saya lemah dalam hal ini dan itu," dia hanya berharap kita mendengarkan dan dia tidak melakukan apa-apa. Kalau itu yang terjadi maka berarti relasi ini tidak akan bertumbuh karena relasi akan bertumbuh bukan hanya pada saat kita menyadari kelemahan kita, tapi kita juga berupaya memperbaikinya, berupaya mencocokkan diri dengan kita. Tapi kalau tidak ada upaya dan mengharapkan pasangan untuk menerima, tidak banyak bicara, tidak banyak menuntut, jadinya seperti kita membeli barang, sudah mengerti barangnya seperti ini dan cukup. Dalam aspek tertentu kita harus menerima hal-hal yang memang kita tahu tidak mudah untuk berubah, namun kita harus selalu berusaha memperbaiki dan menumbuhkan sehingga nantinya kita berubah. Jadi kalau ada pasangan yang belum apa-apa sudah menunjukkan sikap seperti ini maka kita harus berhati-hati, sudah tentu kita harus mengajak dia bicara, tanggap terhadap kelemahannya dan minta dia untuk lebih tanggap terhadap kelemahannya dan minta juga dia untuk berusaha merubahnya sebab bagi kita, hal ini penting sebab kalau tidak relasi kita tidak akan bertumbuh.
GS : Biasanya kalau orang ditanyai begitu, dia tidak langsung menolak, kadang-kadang dia berkata, "Saya akan usahakan".
PG : Kalau memang orang itu berkata, "Baik nanti akan saya coba usahakan" memang kita harus memberikan kesempatan itu, atau berilah waktu misalkan mencoba agar relasi ini menjadi matang sehingg kelemahannya bisa nampak lebih jelas, paling kurang perlu waktu setahun, sebenarnya perlu waktu yang lama misalkan 2 tahun.
Waktu kita sudah bersama dia 2 tahunan, kita bisa mengevaluasi apakah dia benar-benar menunjukkan kemauan untuk berubah ataukah tidak. Misalkan kita melihat bahwa dia mulai berubah, ada hal-hal yang tidak lagi dilakukannya, itu memberikan kepada kita damai sejahtera. Tapi kalau kita melihat dia selalu berkata "Ya, saya usahakan" tapi tidak ada perubahan apa-apa, itu berarti dia memang tidak begitu bermotivasi. Sesungguhnya yang dia inginkan adalah kita menerima dia apa adanya, 100%, itu tidak mungkin bagi kita.
GS : Apakah ada ciri yang lain, Pak Paul ?
PG : Ciri yang lain adalah orang yang tidak mau melakukan bagiannya adalah orang yang kalau menghadapi masalah pola penyelesaiannya adalah menunda, dia tidak mau menghadapinya, dia tidak mau mebicarakannya sampai tuntas dan selesai.
Dia tidak berkeinginan menyelesaikan masalah sebab baginya ini adalah tindakan membuang waktu. Jadi usaha kita membicarakan untuk menyelesaikan masalah biasanya kandas, kita frustrasi. Sudah tentu kita juga mesti introspeksi diri, yaitu janganlah kita menjadi orang yang sedikit-sedikit mempermasalahkan sesuatu sehingga pasangan kita kelelahan dan terus- menerus dihujani oleh masalah, "Ayo kita bicarakan, ini belum selesai itu belum selesai," itu salah ! Jadi mesti ada batasnya. Namun yang saya mau tekankan adalah sewaktu ada masalah dan kita mau bicarakan, dia mesti menghindar. Bagi saya, ini pertanda buruk sebab pernikahan nantinya tidak akan berjalan mulus seperti jalan tol, waktu ada hambatan diperlukan keduanya untuk duduk bersama membahasnya. Kalau ada pihak yang satunya menunda, tidak mau duduk membahasnya, ini pertanda buruk berarti relasi dengan dia menjadi relasi yang selalu menumpukkan masalah. Akhirnya tidak pernah menyelesaikan masalah, berarti kalau sepuluh tahun kita menikah dengan dia maka stok pertengkaran akan sangat banyak, 20 tahun menikah dengan dia malah lebih bertambah banyak, makin menumpuk dan dia tidak mau menghadapi, dia buang semuanya. Jadi siapa nanti yang harus menerimanya? Ya, kita semuanya. Jadi pada masa berpacaran kita harus melihat pasangan kita mau duduk membicarakan masalah.
GS : Dalam hal ini, Pak Paul singgung ada pasangan yang suka melontarkan masalah, sehingga bukan pihak satunya yang mau menyelesaikan tapi juga dia kewalahan dengan masalah-masalah yang ditimbulkan tadi, dalam hal ini yang menjadi masalah adalah yang melontarkan problem-problem itu tadi.
PG : Ada kecenderungan, Pak Gunawan, orang-orang itu memang melihat detail kecenderungannya adalah lebih cepat melihat masalah. Orang yang lebih global, lebih menyeluruh, kecenderungannya adala tidak melihat masalah sejelas itu dan ini memang perbedaan yang berasal dari daya fungsi di otak kita.
Dalam relasi, kita harus mencapai titik temu di tengah, orang yang melihat secara detail mesti belajar untuk mengabaikan sebagian, jadi setiap masalah tidak selalu harus dibicarakan, ada hal-hal yang harus diprioritaskan. Jadi yang berpikir detail atau yang melihat sangat jelas semuanya, langkah pertama yaitu dia harus menyusun prioritas, dia mesti tahu apa yang lebih penting buat dirinya, tidak bisa semua hal penting dan orang yang berpikiran detail seringkali melihat semua permasalahan penting dan semua harus dibicarakan, itu salah ! Dia mesti belajar menyusun daftar prioritas, apa yang penting dan apa yang tidak terlalu penting. Kedua, dia juga mesti belajar mengatur 'timing' atau waktu artinya dia mesti melihat apakah waktunya sekarang cocok untuk bicara. Kalau pun ini hal penting dan dia anggap memang penting, dia harus berusaha dan berhasil memprioritaskan masalah sehingga tidak semua sama-sama pentingnya, dia mesti menahan diri dan mengatur waktunya. Kalau waktunya tidak cocok, entah itu pasangan kita sedang lelah dan sebagainya, dia mesti menahan diri mencari waktu yang cocok. Jadi di pihak yang berpikir detail ini yang harus dilakukan, dia mesti belajar mendengarkan. Inilah yang mesti dipelajari olehnya karena orang yang tidak melihat masalah sebetulnya susah untuk duduk mendengarkan masalah. Maka langkah pertama dia mesti duduk, belajar mendengarkan dan waktu mendengarkan dia mesti belajar, yang kedua yaitu bagaimana mendapatkan suatu solusi supaya hal-hal ini tidak terjadi lagi. Sebab bagi orang yang melihat atau berpikiran detail, kalau nanti hal itu akan terjadi lagi maka dia akan tangkap lagi dan tangkap lagi, sehingga di pihak yang satunya, harus memikirkan cara praktisnya sehingga nanti tidak terulang lagi. Jadi selain mendengarkan, dia juga harus langsung memikirkan sebuah strategi solusi bagaimana supaya hal ini tidak terulang lagi. Inilah yang akan dia sampaikan kepada pasangan yang memunculkan masalah, "Baiklah kalau ini yang harus saya lakukan, bagaimana apakah cukup buat kamu. Apakah kamu senang kalau saya melakukan sampai disini." Mungkin dia tidak bisa sejauh itu, "Kalau hanya segini saja bisakah kamu terima?" Misalkan yang disana berkata "Baik saya bisa", berarti sudah bisa diselesaikan tapi ini yang diperlukan, Pak Gunawan, kedua belah pihak mesti mau duduk bersama membicarakan, namun biasanya dia malah lari dan menundanya.
GS : Jadi keseimbangannya adalah duduk bersama-sama membicarakan secara proporsional, yang tepat Pak Paul. Mungkin masih ada ciri yang lain, Pak Paul ?
PG : Ada satu lagi ciri orang yang hanya mau enaknya saja, tidak mau melakukan bagiannya pada masa-masa berpacaran yaitu orang yang bersedia mendengarkan kita dan tuntutan kita namun tidak bersdia menemuinya dengan sengaja.
Maksud saya, kalau kebetulan dia bisa melakukannya tanpa dia harus repot-repot maka dia akan kerjakan, tapi kalau apa yang kita harapkan atau kita tuntut itu memaksanya untuk mengubah gaya hidupnya, dia tidak bersedia. Sudah tentu akan ada tarik-menarik dan tidak mesti orang akan mengubah gaya hidupnya demi kita. Seperti kita pun juga tidak mau mengubah semua gaya hidup kita demi pasangan. Namun ada hal-hal yang penting yaitu kita mesti komunikasikan kepada pasangan dan kita juga berusaha rela mengubah gaya hidup tertentu. Sebagai contoh sewaktu saya baru menikah, salah satu hal yang istri saya minta adalah saya tidak boleh keluar dengan teman-teman saya yang wanita, sebelum saya menikah saya mempunyai banyak teman di gereja, saya terlibat aktif sehingga banyak teman karena saya dianggap sebagai salah satu seperti kakak bagi banyak orang, jadi orang sering bicara dengan saya, kalau mereka ada masalah selalu bercerita dan sebagainya. Jadi saya terbiasa menjalin persahabatan dengan teman-teman wanita maupun pria, seringkali kita keluar bersama ngobrol. Waktu saya menikah, saya tetap mau mempertahankan relasi yang seperti itu, sebab bagi saya mereka adalah adik-adik saya di dalam Tuhan Yesus, teman-teman baik, tidak ada apa-apa, sebab kalau ada apa-apa, dulu kami sudah jadian namun itu tidak terjadi dan malah memilih pasangan saya yaitu istri saya. Saya coba terangkan kepada istri saya, tapi dia tidak terima dan dia berkata, "Tidak bisa Paul, kamu sekarang sudah menikah maka sekarang kamu harus batasi. Kalau kamu mau keluar dengan teman-teman priamu, silakan ! Tapi kamu tidak bisa lagi keluar berdua dengan teman wanitamu, ngobrol-ngobrol dan sebagainya," awalnya saya sulit untuk menerima karena saya terbiasa dengan peran saya, relasi saya dengan teman-teman di gereja, tapi saya mengerti bahwa hal ini penting buat dia, karena hal ini penting buat dia maka saya berusaha keras mengubah gaya hidup saya dan saya putuskan tidak lagi, jadi saya tidak lagi keluar dengan teman-teman untuk ngobrol-ngobrol. Sekali lagi dalam relasi mesti ada kesediaan dalam mengubah gaya hidup. Sebenarnya bukan masalah benar atau salah, tapi demi kepentingan pasangan kita, kalau kita berdebat memang tidak akan ada ujungnya dan kita tidak mungkin akan menyatu, Pak Gunawan.
GS : Hal yang dituntut dari kita atau pasangan yang sedang menyesuaikan diri adalah pengorbanan bahwa dia harus mau berkorban. Memang tidak salah harus mengorbankan sesuatu, seperti tadi yang Pak Paul lakukan.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi inilah hal yang terhilang dari orang yang seperti ini sehingga kita mesti memilih sikap yang tepat dan sikap yang tepat adalah menyadari dan menerima bahwa rang yang seperti ini yakni yang maunya enak saja, sesungguhnya tidak mengerti apa yang namanya cinta, Pak Gunawan, sebab cinta menuntut pengorbanan.
Kalau dia tidak mau berkorban maka relasi ini akan menjadi seperti transaksi, "Saya beri ini, kamu beri itu. Saya melakukan ini maka kamu lakukan itu," semuanya seperti transaksi. Itu bukanlah sebuah relasi, relasi menuntut pengorbanan dan inilah relasi cinta. Jadi kalau orang tidak mau melakukan itu, besar kemungkinan dia belum memahami arti cinta.
GS : Dan bagaimana Pak Paul kalau kita terlibat di dalam suatu hubungan dimana relasi itu tidak seimbang, Pak Paul ?
PG : Kita memang harus menekankan pada penyesuaian. Jadi langkah-langkah yang harus kita tekankan adalah penyesuaian, "Ayo kamu menyesuaikan diri, ayo aku juga menyesuaikan diri, mari saling meyesuaikan diri."
Jadi relasi bukan dibangun atas dasar, "Aku seperti ini dan kamu harus mengikuti saya" itu tidak! Dua-dua mesti belajar saling menyesuaikan diri. Jadi mustahil mengharapkan relasi yang tidak menuntut penyesuaian diri, orang yang tidak bersedia menyesuaikan akhirnya akan membuat tembok pemisah, tidak ada lagi jalan di antara kita berdua, tidak ada lagi jembatan di antara kita berdua. Jadi kalau kita mempunyai pacar yang seperti ini, maka kita mesti mendorong dia, "Tolong kamu juga menyesuaikan diri dan bukan hanya saya saja yang menyesuaikan diri. Apakah kamu ingat sewaktu saya menyuruh kamu pergi ke sini, kamu benar-benar tidak mau, dan pada akhirnya saya yang mengikuti kamu. Pada saat mau makan, kamu tidak mau menu ini, maka saya yang menyesuaikan untuk ikut makan makanan yang kamu sukai. Misalkan mau nonton film, kamu tidak suka film ini, maka saya mengalah dan menonton apa yang kamu sukai. Semua sepertinya saya yang harus menyesuaikan diri dengan kamu. Coba kamu ingat-ingat dalam hal apa kamu pernah menyesuaikan diri dengan saya tentang gaya hidupmu, apa yang pernah kamu ubah demi saya." Pertanyaan seperti itu sedikit menyentak, tapi memang perlu untuk menyadarkan orang ini bahwa, "Benar ya, saya tidak pernah melakukan apa-apa, tidak pernah saya melakukan sesuatu untuk menyesuaikan diri dengan kamu, saya tidak pernah mengubah gaya hidup saya demi kamu dan semua harus menuruti saya. Kalau saya anggap benar maka semua harus mengikuti saya." Masalahnya dalam hubungan suami istri adalah bukan benar atau salahnya, tapi seringkali karena ada perbedaan-perbedaan. Kalau menganggap bahwa semuanya benar dan yang kamu anggap itu salah, itu berarti tidak ada lagi jembatan di antara kita dan kita makin hari makin menjauh, "Apakah ini yang kamu inginkan" hal itu kita tanyakan. "Kamu ini ingin makin dekat atau makin jauh dari saya. Dengan cara kamu seperti itu berarti kamu membangun tembok, saya makin hari makin tidak dekat dengan kamu dan apakah itu yang kamu inginkan?" Mudah-mudahan dengan pembicaraan seperti ini pasangan tersadarkan, Pak Gunawan.
GS : Didalam menyesuaikan diri, Pak Paul, antara pasangan ini, maka butuh waktu yang cukup lama. Biasanya dimulai pada saat pacaran dan kita melihat ada hal-hal positif tapi semuanya tidak bisa terselesaikan pada masa pacaran saja dan juga harus dikerjakan pada masa menikah nanti. Hal ini mengganggu atau tidak ?
PG : Betul sekali. Dan sudah tentu ini adalah sebuah proses, tidak selesai dengan segera. Tapi yang penting adalah ini harus segera dimulai pada masa berpacaran, sebab jika kita mulai saat meniah, kita akan menuai masalah, pasti akan mengganggu pasangan kita.
Dan bukankah waktu kita melihat pasangan menyesuaikan diri seolah-olah dia sedang menabung, menabung memberikan investasi dalam relasi dan memberikan bunga-bunga indah karena kita akan melihat, "Benar ya, dia telah berusaha, dia telah berkorban," dan kita menghargainya, itu akan menciptakan bunga-bunga dalam relasi ini. Tapi sebaliknya kalau kita tidak pernah melihat dia berkorban untuk kita dan kita yang terus berkorban untuk dia, pasti relasi itu tidak akan menghasilkan bunga. Sehingga nanti kita akan melihat carang dan cabang yang kering dan relasi yang seperti inilah, yang nanti akan dipetik oleh dua orang yang hidup seperti ini.
GS : Pak Paul, di dalam kita menyepakati apa yang menjadi tuntutannya dan kita mengalah atau berkorban, perlukah kita mengatakan kepada pasangan kita "Dalam hal ini saya yang mengalah, saya yang menyesuaikan diri dengan kamu."
PG : Itu ide yang baik Pak Gunawan. Jadi dengan kita berkata jelas seperti itu pasti pasangan merasa diingatkan, "Benar ya kalau kamu sedang mengalah" jadi ini menjadi sesuatu tabungan di dalamhidupnya, bahwa kita berusaha menyesuaikan diri dengan dia dan kita berusaha mengalah untuknya dan mudah-mudahan, nanti waktu terjadi masalah lagi, dia akan termotivasi untuk berkata, "Baik dalam hal ini saya yang mengalah."
Dengan cara itulah relasi makin hari makin menguat.
GS : Kalau pun kita tidak mengatakan, seolah-olah dia beranggapan bahwa kita menyetujuinya, padahal sebenarnya kita kurang bisa menyetujui, Pak Paul ?
PG : Itu point yang bagus. Jadi kita dengan jelas berkata, "Saya sebetulnya tidak setuju tapi demi kamu saya mengalah." Ini sebuah cara komunikasi yang baik dan sehat. Jadi kita mengkomunikasikn keyakinan kita namun sekaligus kita juga mengkomunikasikan kerelaan kita berkorban, kalau ini yang kita tabur nantinya kita akan menuai relasi yang sehat, sudah tentu pihak yang satunya juga bisa bersikap begitu.
Tadi kita bicara tentang orang yang tidak mau melakukan bagiannya, yang penting mau enaknya sendiri, dalam relasi yang seperti itu, ini sangat melelahkan, Pak Gunawan. Karena yang satu akan berkata, "Saya sebetulnya tidak setuju tapi baiklah saya mengalah" dan yang satunya tidak mau, tadi sudah saya singgung, kalau ini terjadi pada masa berpacaran dan tidak ada perubahan, maka dia harus berpikir ulang, "Apakah baik meneruskan relasi ini."
GS : Mungkin ada hal lain yang bisa kita lakukan dalam hubungan yang tidak seimbang ini?
PG : Maka kita bisa simpulkan bahwa orang yang seperti ini adalah orang yang mementingkan diri alias egois. Dia hanya mencari jalan mudah dan tidak terbiasa untuk bersusah payah, kita semua tah bahwa pernikahan menuntut kerja keras yang tidak selalu mudah, tidak ada kesiapan, ini adalah pertanda masa depan yang buruk, menikah dengan dia.
Jadi berhati-hatilah menikah dengan orang yang egois, makin hari sikap egois itu sangat berlawanan dengan jiwa pernikahan dan tidak bisa digabungkan, kalau orang itu egois maka pernikahan kita 100% mengikuti kehendak dia secara membabi buta.
GS : Memang seringkali ditanggapi keliru seperti tadi, kalau pun kita mengatakan "Kali ini saya yang mengalah," dia suatu saat juga bisa mengatakan, "Dulu kamu bisa mengalah dan kenapa untuk kali ini kamu tidak bisa mengalah." Dan kita akan kesulitan lagi, Pak Paul ?
PG : Dalam kasus seperti itu, kita harus tenang jangan membalasnya dengan amarah, setelah kita sedikit tenang, kita mengajak dia bicara, "Saya tidak masalah, saya bersedia saja mengalah, saya tdak mempersoalkan hal seperti itu tapi sekarang saya ingin bertanya kepada kamu, kapan kamu terakhir kali melakukan untuk saya ?" kita bicarakan itu saja, dan kita diam, kita mempersilakan dia untuk berpikir.
Sebab kalau kita berdebat dengan orang seperti ini, dia makin senang, dia makin ramai. Jadi jangan kita masuk ke dalam perdebatannya dan kita hanya lontarkan kata-kata seperti itu, "Kapan terakhir kamu melakukan hal yang sama untuk saya ?" dan kita diam. Kemudian sepertinya dia dipaksa untuk bercermin bahwa dia hanya bisa menuntut dan dia sama sekali tidak melakukannya.
GS : Jadi yang dimaksudkan dengan hubungan seimbang, seimbang di dalam memberikan tuntutan tetapi juga memberikan tanggung jawab yang memadai, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Jadi masing-masing harus melakukan bagiannya untuk menyukseskan relasi ini.
GS : Di dalam hal ini Pak Paul, apakah ada Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Firman Tuhan di 1 Korintus 13:4,5,7 mengingatkan, "Kasih itu murah hati; kasih itu tidak mencari keuntungan diri sendiri; kasih itu sabar menanggung segala sesuatu." Murah hati sedia membei tanpa menghitung-hitung, tidak mencari keuntungan diri berarti memikirkan orang yang dikasihi dan berusaha melakukan hal-hal yang memberi keuntungan bagi orang yang dikasihi.
Sabar menanggung sesuatu, menunjukkan komitmen untuk bertahan dalam situasi yang tidak nyaman sekali pun. Semua ini berkebalikan dengan tipe orang yang mau enaknya sendiri dan tidak bersedia berkorban atau bekerja sama dengan pasangannya. Itu sebabnya dapat kita simpulkan sesungguhnya ia tidak mencintai kita dan hanya mencintai dirinya sendiri.
GS : Dan semoga itu bisa diketahui sebelum pernikahan supaya akibatnya tidak bertambah fatal dan proses menyeimbangkan relasi bukan sesuatu yang gampang, tapi dimana ada kasih di situ akan terwujud sesuatu yang seimbang. Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Relasi Yang Tidak Seimbang." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Neil Clark Warren, seorang psikolog Kristen di Amerika menekankan bahwa berapa sehatnya suatu relasi ditentukan oleh berapa sehatnya suami atau istri itu sendiri. Dengan kata lain, jika ada satu pihak yang tidak sehat, maka relasi itu akan terseret turun menjadi tidak sehat pula. Salah satu masalah yang kadang timbul pada masa berpacaran adalah, ada orang tidak berkeinginan untuk melakukan andilnya untuk menciptakan relasi yang sehat. Ia berharap bahwa pasangannya yang harus menyesuaikan dirinya dengannya, dan tidak sebaliknya. Singkat kata, ia adalah seseorang yang mau terima enaknya saja. Apakah cirinya pasangan yang seperti ini?
Ia terbuka dengan kelemahannya namun tidak bermotivasi untuk menyesuaikan diri dengan kita. Ia berharap kita akan dapat menerima semua kelemahannya dengan tuntas.
Jika timbul masalah, pola penyelesaiannya adalah menunda. Ia tidak berkeinginan menyelesaikan masalah, sebab baginya ini adalah tindakan membuang waktu. Jadi, usaha kita untuk mengajaknya membicarakan masalah biasanya kandas.
Ia bersedia mendengarkan tuntutan dan pengharapan kita namun tidak bersedia untuk memenuhinya dengan sengaja. Kalau kebetulan ia bisa melakukannya dengan mudah, ia akan mengerjakannya. Bila ia harus mengubah gaya hidupnya, ia tidak bersedia.
Bagaimanakah kita harus bersikap bila ini yang terjadi?
Pada hakikinya orang ini belum memahami arti cinta sebab dalam kenyataannya ia lebih memilih bertransaksi daripada berkorban sedangkan kita tahu bahwa cinta menuntut pengorbanan.
Semua relasi menuntut penyesuaian dari kedua belah pihak, jadi hampir mustahil mengharapkan relasi yang tidak menuntut penyesuaian diri. Orang yang tidak bersedia untuk menyesuaikan diri akhirnya membuat tembok pemisah.
Tidak bisa tidak kita harus menyimpulkan bahwa orang yang seperti ini adalah orang yang mementingkan diri alias egois. Ia hanya mencari jalan mudah dan enak dan tidak terbiasa untuk bersusah payah. Kita semua tahu bahwa pernikahan menuntut kerja keras yang tidak selalu mudah; tidak adanya kesiapan pertanda masa depan yang buruk menikah dengannya.
Firman Tuhan mengingatkan, "Kasih itu . . . murah hati . . . tidak mencari keuntungan diri sendiri . . . sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4,5,7) Murah hari berarti sedia memberi tanpa menghitung kerugian. Tidak mencari keuntungan diri sendiri berarti memikirkan orang yang dikasihi dan berusaha melakukan hal-hal yang memberi keuntungan bagi orang yang dikasihinya. Sabar menanggung segala sesuatu menunjukkan komitmen untuk bertahan dalam situasi yang tidak nyaman sekalipun. Semua ini berkebalikan dengan tipe orang yang mau enaknya sendiri dan tidak bersedia berkorban atau bekerja sama dengan pasangannya. Itu sebabnya dapat kita simpulkan sesungguhnya ia tidak mencintai kita; ia hanya mencintai dirinya sendiri.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 09/10/2008 - 2:16pm.
Abstrak:
Ada sejumlah faktor yang mesti dipertimbangkan dalam pemilihan pasangan hidup, salah satunya adalah apakah kita mencintai pasangan kita atau tidak. Hal ini menjadi rumit tatkala bukan saja rasa sayang yang kita rasakan tetapi juga rasa benci. Dengan kata lain, kita merasa tidak dapat hidup tanpa kehadirannya namun kita merasa tidak sanggup hidup dengannya pula. Apa saja cirinya? Dan bagaimana kalau kita sudah hidup dengan relasi seperti ini?
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Sayang Tapi Benci". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Judul perbincangan kita kali ini sangat kontradiksi, Pak Paul, ada sayangnya tapi juga benci. Tentu ini di dalam relasi antara pria dan wanita yang sedang menjalin kasih. Bagaimana kalau dua hal yang bertentangan bisa menyatu dalam suatu keadaan, Pak Paul ?
PG : Boleh saya katakan ini sebuah relasi yang berbahaya karena relasi ini tidak murni, buruk sehingga mudah terlihat. Karena relasi ini bisa terlihat dengan jelas, sebenarnya kita bisa segera mbil keputusan namun yang menjadi masalah adalah ada perasaan sayang yang kuat sekali, tapi ada juga perasaan benci.
Jadi sepertinya tidak bisa hidup tanpa orang yang kita sayangi itu, tapi masalahnya adalah kita juga tidak suka dengan dia, marah kalau dekat dengan dia. Dalam kondisi seperti ini biasanya keduanya susah sekali untuk menilai bahwa sebetulnya relasi ini buruk dan mereka harus putus. Sehingga mereka terus melanjutkan hubungan mereka, semakin hari satu sama lain saling menghancurkan, karena meskipun ada perasaan sayang namun kemarahan juga begitu banyak. Jadi sebetulnya relasi mereka sangat buruk, tapi mereka tidak bisa melihat hal itu.
GS : Seringkali pada masa pacaran rasa sayang lebih besar dari pada bencinya. Perasaan bencinya itu hanya sedikit dan tertutupi oleh perasaan sayang. Dan yang menjadi masalah setelah menikah unsur benci itu lebih besar, Pak Paul.
PG : Seringkali itu yang terjadi. Pada waktu berpacaran masih dibuai oleh cinta meskipun banyak konflik yang membuat mereka marah dan mereka masih bisa berkata, "Tidak apa-apa." Tapi setelah meangkah masuk ke dalam pernikahan rasa benci itu perlahan-lahan makin bertumbuh.
Maka penting bagi saya untuk menyoroti hal ini dengan lebih saksama. Pertama-tama saya mau melihat hal ini, ada dua ciri yang kita mesti perhatikan dan mudah-mudahan para pendengar bisa menyimaknya. Yang pertama, pada dasarnya kita merasa sangat menyayanginya dan terus merindukannya namun kita tidak bisa berlama-lama dengan dia, karena nanti akan ada pertengkaran. Jadi bisa kita bayangkan situasinya, setiap kali kita berbicara dengan dia maka kita akan mengakhirinya dengan pertengkaran. Sehingga kita jarang bersama-sama menikmati waktu tanpa bertengkar, ujung-ujungnya bertengkar dan kalau bertengkar sangat hebat. Namun setelah pulang ke rumah kita merindukannya, rasanya tidak bisa hidup tanpa dia, tapi kalau besok bertemu lagi maka kita akan bertengkar, kira-kira itulah yang menjadi pola pertama relasi sayang tapi benci ini.
GS : Biasanya hal-hal apa yang disayangi dan hal-hal apa yang dibenci, Pak Paul ?
PG : Biasanya dalam kondisi seperti itu kita menyayangi hal-hal yang kita tahu kita sukai, kita kagum dengan ketegasannya, kerohaniannya, kepeduliannya, rela berkorban untuk kita. Jadi hal-hal tu membuat hati kita hangat kalau memikirkan tentang dirinya, namun setiap kali kita bertemu dengan dia, kita bisa bertengkar karena ada hal-hal yang ternyata menjadi ketidakcocokan kita sehingga pada akhirnya ketidakcocokan itu meletuskan pertengkaran-pertengkaran.
GS : Biasanya pertengkaran juga dipicu oleh kondisi kita yang tidak merasa senang, atau ada hal-hal lain yang mengganggu kita, seperti di pekerjaan dan sebagainya sehingga pertengkaran itu cepat timbul.
PG : Sudah tentu akan memperburuk keadaan kalau kita dalam kondisi yang tidak prima atau ada hal-hal yang mengganggu kita. Namun dalam kondisi yang normal pun pertengkaran bisa terjadi boleh diatakan konsisten, boleh dikatakan tidak bisa bicara baik-baik, inilah ciri pertama yang kita mesti perhatikan.
Dan ada ciri yang kedua yaitu biasanya kita menyayanginya, tapi ada hal-hal tertentu yang kita tidak suka. Bukan hanya sekadar tidak suka namun benar-benar membenci hal tertentu tentang dirinya, misalnya kita tidak suka dengan kekasarannya, kita sudah beritahukan kepada dia, "Tolong kamu jangan kasar seperti itu, tolong kamu lebih pertimbangkan perasaan orang dan sebagainya", namun dia tidak mau merubahnya dan terus melakukan hal yang sama. Sehingga kalau kita mengingat hal itu atau kalau kita terkena dampaknya, kita bisa marah meskipun setelah itu kita kembali menyayanginya, dan rasanya tidak bisa hidup tanpa dirinya. Tapi sewaktu kita bersentuhan dengan bagian di dalam dirinya yang kita tidak sukai, kita menjadi sangat marah dan tidak terima dengan hal itu. Ini adalah dua ciri yang kita mesti waspadai, Pak Gunawan.
GS : Kalau dari ciri yang kedua, ada orang yang bisa menerima perlakuan kasar itu dan dia mengatakan, "Setidaknya dia masih menghargai saya bahwa saya ada di situ."
PG : Ada orang yang berkata seperti itu dan akhirnya menoleransi semua, tapi sebetulnya dia mesti menyadari bahwa sesungguhnya ini adalah bagian yang tidak dia sukai, sangat mengganggunya sehinga reaksi marahnya begitu kuat.
Atau reaksi yang lain misalkan pria tidak suka dengan wanita yang bersikap ketus, itu sebabnya waktu dia mulai ketus dengan orang atau temannya, maka reaksi kita adalah langsung marah, apalagi kalau kita yang menjadi target kemarahan atau sikap ketusnya. Waktu kita marah rasanya kita mau putus dengan dia dan sudah tidak tahan lagi. Tapi setelah pulang ke rumah dan menimbang-nimbang lagi maka kita sayang lagi. Jadi ini yang saya katakan relasi sayang tapi benci. Relasi sayang yang seperti ini berbahaya karena kedua orang ini tidak melihat duduk masalah yang sebenarnya dan terus menoleransi, menjalaninya walaupun sesungguhnya semakin hari, semakin tenggelam di dalam masalah.
GS : Apakah ini bukan masalah pribadi dari orang tersebut, yaitu dia memiliki kebutuhan dikasihi namun pasangannya tidak bisa memberikan ?
PG : Biasanya ada. Jadi di dalam dirinya sudah ada kebutuhan yang besar dan bisa jadi rasa sayangnya juga muncul dari kebutuhan yang terpenuhi oleh pasangannya. Misalkan dia merasa tidak berhara namun pasangannya sangat membutuhkannya, mencari pertolongannya, sehingga dia merasa berharga dan kebutuhannya terpenuhi.
Tapi ada hal-hal lain yang dia butuhkan namun tidak dipenuhi dan apa yang ingin dilihat pada pasangannya tidak dia lihat malah kebalikannya yang terjadi adalah pasangannya kasar, tidak sensitif berbuat seenaknya dan sebagainya, hal-hal ini yang membuat dia marah tapi di pihak lain ada kebutuhan-kebutuhan lain yang terpenuhi. Hal-hal itulah yang membuat mereka putus dan kembali lagi. Tapi yang saya mau ingatkan pada para pendengar kita adalah kita mesti menyadari bahwa kalau hampir dalam setiap percakapan berakhir dengan pertengkaran, itu pertanda bahwa banyak ketidakcocokan dalam banyak hal, sehingga kita tidak bisa berlama-lama dalam berkomunikasi karena akan menimbulkan pertengkaran dan mungkin sekali kita juga tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan cara yang cocok agar bisa didengarkan dan diterima oleh pasangan. Bisa jadi itu merupakan tanda adanya perbedaan cara pikir atau nilai kehidupan yang belum terselesaikan. Sekali lagi kalau dalam kenyataan kita sering bertengkar berarti cukup banyak perbedaan dan pertengkaran merupakan tanda kegagalan kita menyelaraskan perbedaan. Kita mungkin mencintainya tapi bila inilah yang justru terjadi dan ini menunjukkan ketidakcocokan di depan mata, maka kita mesti mengingat bahwa cinta itu sendiri tidak cukup kuat untuk menopang pernikahan tanpa adanya keharmonisan.
GS : Pertengkaran itu merupakan proses dalam penyesuaian dan sampai berapa lama kita bisa menyesuaikan ?
PG : Kalau kita sudah berpacaran selama setahun dan rasanya relasi kita ini bukannya membaik tapi rasanya kurang harmonis itu adalah sebuah tanda bahwa kita lebih banyak berbenturan dengan ketiakcocokan.
Kalau dalam satu tahun pertama kita masih bergumul saya kira ini masih wajar. Biasanya dua atau tiga bulan pertama itu adalah masa-masa indah, tapi seyogianya setelah empat atau lima bulan kita mulai masuk di dalam realitas berpacaran dan kita mulai bertemu atau berpapasan dengan ketidakcocokan. Seyogianya enam bulan kita mulai belajar mencocokkan sehingga setelah itu kita mulai bisa berkata, "Sekarang kita sudah bisa menyelesaikan dan menyelaraskan hal ini." Kalau itu yang terjadi maka kita bisa dengan aman berkata, "Baiklah, relasi kita sekarang ini sudah berjalan di rel yang benar," tapi sebaliknya kalau setelah enam bulan dan ditotal satu tahun kita berpacaran, dan sering bertengkar, ini adalah pertanda kita tidak berhasil menyelaraskan ketidakcocokan kita. Tadi sudah saya singgung ini adalah pertanda kita tidak tahu cara berkomunikasi sehingga setiap kali berbicara selalu dianggapnya keliru dan membuat dia tersinggung. Kalau kita mulai frustrasi, maka kita mesti bicara dan kita mesti menyadari bahwa cara berpikir kita terlalu berbeda. Saya sering bertemu dengan pasangan nikah yang setelah menikah baru berkata, "Saya memang baru menyadari cara bepikir kami terlalu berbeda atau nilai-nilai yang saya junjung juga sangat berbeda," ada orang yang menekankan efisiensi sehingga tidak terlalu memikirkan perasaan orang dan yang satunya lebih mempertimbangkan, memperhatikan perasaan orang dan akhirnya nilai-nilai itu berbenturan, apalagi kalau nanti punya anak. Jadi hal-hal itu yang kita mesti lihat yakni begitu banyak ketidakcocokan di dalam diri kita.
GS : Biasanya pada masa berpacaran, masing-masing menahan diri dan tidak mengungkapkan jati diri yang sebenarnya, sehingga meletusnya kemarahan itu pada saat mereka resmi menjadi suami istri, Pak Paul.
PG : Seringkali itu yang terjadi, Pak Gunawan. Kita beranggapan bahwa itu adalah masalah kecil dan yang mesti kita lakukan adalah kita harus membuka mata. Maksud saya adalah misalnya kita membeci aspek tertentu di dalam dirinya, dan posisi kita saat ini masih berpacaran, jangan kita beranggapan bahwa nanti setelah menikah dengan sendirinya hal ini akan pudar dan kita tidak akan saling marah, nantinya kebencian kita juga akan makin susut, itu salah ! Kenyataan kalau kita membenci hal tersebut, itu memperlihatkan bahwa itu merupakan hal penting bagi kita, yang kita dambakan dari pasangan kita.
Sebagai contoh jika kita membenci kekasarannya, itu menandakan bahwa kita meninggikan nilai kesantunan dan itu berarti kita sukar menghormati orang yang tidak memiliki kesantunan, berarti ini sesuatu yang tidak ada di dalam diri pasangan kita, sedangkan ini hal yang penting bagi kita, jadi kita harus kompromikan. Kita mesti ingat sebesar-besarnya cinta kita kepadanya pada akhirnya hal yang kita benci juga berpotensi mengubah semuanya itu. Dengan berjalannya waktu, cinta cenderung lapuk dan malah tergantikan dengan rasa tidak suka karena karakternya yang kita tidak suka itu. Jadi sekali lagi jangan sepelekan ketidak sukaan kita sebab itu tidak akan hilang dengan sendirinya.
GS : Kalau kita sudah mengalami dan terlibat dengan hubungan yang kurang sehat itu yaitu sayang tapi benci, apa yang bisa kita lakukan, Pak Paul ?
PG : Yang pertama adalah jangan mengabaikan rasa benci ini, cinta kepadanya memang menunjukkan bahwa ada hal yang kita sukai namun kebencian, kemarahan, memperlihatkan ketidakcocokan yang serius. Jadi berikanlah waktu untuk memfokuskan kepada ketidakcocokan dan kalau perlu carilah pertolongan dari seorang konselor pernikahan, bila tetap tidak ada perubahan sebaiknya pertimbangkan perpisahan, ingatlah bahwa cinta sendiri tidak cukup kuat untuk menopang pernikahan yang sehat.
GS : Dan ini dimungkinkan pada masa berpacaran, Pak Paul. Jadi dalam masa berpacaran kita harus jujur dengan perasaan tidak suka ini. Dan untuk mengkomunikasikan pada tentang ketidaksukaan dengan tindakan-tindakannya, ini sulit untuk diungkapkan.
PG : Memang ada baiknya pada masa berpacaran ini, kita misalkan berbicara dengan santai dan meminta pasangan kita untuk menuliskan, "Hal-hal apa tentang diriku yang kamu harapkan, kalau saya bia mengubahnya maka akan lebih baik nanti saya juga akan tulis hal-hal yang aku inginkan dari kamu kalau bisa diubah maka akan lebih baik lagi."
Kemudian kita minta dia menuliskan dan minta dia berpikir dengan rinci dan dengan berani, terbuka, tuliskan semuanya itu kemudian kita bicarakan sehingga akhirnya terlihat jelas sebetulnya apa yang menjadi duri-duri dalam relasi kita ini, karena sepertinya kalau kita bertengkar, kita selalu bertengkar di lahan yang sama, berputar-putar di sini saja. Dan jangan ragu untuk berkata, "Saya terus terang frustrasi" disini dibutuhkan pasangan yang dewasa, kalau dia tidak dewasa dia akan tersinggung dengan perkataan kita, maka respons pertamanya adalah, "Ya sudah kalau begitu kita putus saja." Justru kalau pasangan kita seperti itu menurut saya, itu sebagai konfirmasi bahwa besar kemungkinan dia bukan pasangan yang cocok sebab kalau ada orang belum apa-apa sudah berkata "Sudahlah kita putus saja" itu sangat menunjukkan kekurang dewasaan. Saya tidak berkata bahwa kalau menikah dengan orang ini pasti dalam pernikahan itu akan banyak pertengkaran dan nantinya bisa terjadi perceraian, tidak, belum tentu ! Sebab orang bisa bertumbuh lewat waktu. Tapi hal itu memang menunjukkan ketidak dewasaan seseorang karena orang yang dewasa pada akhirnya akan berkata, "OK, saya terima, ini bagian tentang diri saya yang memang kita belum bisa cocokkan, hal ini yang kamu tidak senangi tentang diri saya. Saya akan coba kompromikan dan saya juga akan mencoba melakukan yang kamu inginkan." Jadi adanya keterbukaan tanpa harus merasa defensif. Kedua, kerelaan untuk betemu di tengah, jadi selalu dalam percakapan dua-dua bisa berkata dan seharusnya berkata, "Bagaimana caranya supaya kita bisa bertemu di tengah, mungkin saya tidak menjadi seperti yang engkau inginkan 100% dan kamu tidak akan menjadi seperti yang saya harapkan 100%, tapi bagaimana kita bisa bertemu di tengah." Jadi dalam masa berpacaran sering-seringlah berbicara seperti ini, sering-seringlah memikirkan bagaimana bertemu di tengah. Inilah yang menjadi tanda-tanda bahwa semakin hari hubungan kita makin harmonis, meskipun awalnya nilai-nilai, cara pikir, cara komunikasi kita berbeda tapi akhirnya mulai ketemu di tengah. Makin banyak modal ini maka makin banyak kita percaya bahwa relasi kita sekarang ini berjalan di rel yang benar.
GS : Susah untuk orang yang seringkali berkata, "Kalau kita tidak cocok, lebih baik kita putus saja," kemudian dia berbaikan lagi dan minta maaf dan mengatakan bahwa dia akan berubah.
PG : Dalam kasus seperti itu kita harus bicara apa adanya dan berkata, "Tolong kalau kita sedang mengalami konflik jangan kita cepat untuk mengatakan putus, tolong kamu bersabar, tolong kamu leih tabah menghadapi kesulitan jangan cepat lari."
Kalau kita sudah bicara seperti itu tapi terus-menerus, diulang lagi, diulang lagi, maka itu adalah pertanda bahwa kesanggupan pasangan kita menampung stres, menghadapi kesulitan lemah dan orang yang memiliki kesanggupan menampung stres yang lemah akan rentan sekali menghadapi tantangan dalam hidup sehingga nanti setelah menikah kita yang harus lebih mengakomodasi, menyesuaikan, harus lebih menyesuaikan, harus lebih menjaga perasaannya dan harus lebih melindunginya dari tekanan-tekanan di luar. Sudah tentu saya tidak berkata bahwa ini pasti suatu relasi yang buruk, tidak! Memang dengan berjalannya waktu orang bisa bertumbuh tapi itu akan menjadi porsi kerja keras kita di dalam relasi ini. Ini yang perlu kita sadari pada masa berpacaran dan apakah kita sanggup, kalau kita berkata, "Rasanya tidak sanggup" maka kita harus berkata kepada pasangan kita, "Rasanya aku tidak sanggup untuk menjadi seperti apa yang kamu harapkan yaitu orang yang kamu butuhkan untuk selalu melindungimu."
GS : Mungkin ada hal lain yang bisa kita lakukan, Pak Paul ?
PG : Yang berikut adalah komunikasikan tuntutan dan harapan yang terkandung di dalam hati secara terbuka, jangan meremehkan reaksi tidak suka atau perilaku pasangan yang tidak berkenan dan jangn takut kehilangan dirinya.
Kalau memang dia tidak bisa berubah dan tidak berniat meneruskan relasi bukankah itu jauh lebih baik dari pada mempertahankannya. Kalau lebih banyak yang diselesaikan sebelum pernikahan maka setelah menikah tugas kita semakin ringan. Itu satu prinsip yang saya tekankan kepada pasangan yang sedang berpacaran sebab tadi Pak Gunawan juga sudah sebutkan kecenderungannya dalam masa berpacaran adalah meremehkan masalah, tuntutan, pengharapan dan merasa tidak perlu dibicarakan, mengalir saja, itu salah ! Justru pada masa berpacaranlah kita mesti berani mengkomunikasikan apa yang kita dambakan dalam relasi ini.
GS : Mengkomunikasikan pengharapan itu mungkin lebih mudah dari pada mengkomunikasikan tuntutan, Pak Paul. Tetapi kalau tuntutan harus disampaikan, itu bagaimana, Pak Paul ? Supaya relasi ini tetap terjaga dan tuntutan kita juga bisa disampaikan dengan baik.
PG : Misalkan pasangan kita sering terlambat dan kita tidak suka, kita suka kalau berjanji dengan orang harus tepat waktu, sebab orang juga punya kesibukan tersendiri, jadi kita mau agar pasangn kita sensitif dengan perasaan orang tapi pasangan kita ini seenaknya tidak bisa tepat waktu.
Kalau hal ini penting kita bisa menuntutnya. Jadi betul kata Pak Gunawan bahwa pengharapan boleh dikatakan tapi pengharapan memang derajat keurgensiannya memang tidak terlalu tinggi. Kalau tuntutan berarti mendesak dan untuk kita ini penting, kita harus katakan kepada pasangan kita, "Tolong perhatikan, ini penting buat saya dan kalau ini terus berlanjut saya akan sangat sulit menerima kamu." Jadi dalam masa berpacaran jangan ragu untuk mengatakan hal seperti itu bahwa "Hal ini sungguh penting buat saya. Jadi kalau kamu tidak memperhatikannya ini akan sangat mengganggu relasi kita berdua dan saya akan sulit menerima kamu." Jadi kita sudah memberikan sinyal-sinyal kepada pasangan kita, "Tolong berubah" sebenarnya kita fleksibel dan dalam banyak hal kita juga fleksibel dan untuk hal tertentu yang kita anggap penting buat kita maka kita katakan begitu. Kalau orang menganggap semuanya penting maka pasangannya juga akan bingung. Ada orang yang seperti itu yakni menganggap semuanya penting dan dia menuntut semuanya kepada pasangan, itu juga tidak benar. Jadi kalau kita bisa memperlihatkan bahwa dalam banyak hal sebetulnya kita fleksibel tapi untuk hal tertentu ini tidak. Pasangan nanti akan melihat bahwa kita ini adalah orang yang mempunyai prinsip dan tidak membabi buta dalam segala hal, dia orangnya memang fleksibel tapi untuk hal tertentu dia tidak mundur dan kita harus perhatikan.
GS : Dan sebaliknya, kalau kita dituntut oleh pasangan kita, maka kita juga harus mengatakan yang jujur juga, Pak Paul ? Bahwa kita mampu atau tidak memenuhi tuntutan itu.
PG : Betul sekali. Jadi memang perlu kejujuran jangan sampai kita menyepelekan, "Saya bisa" tapi tidak menepati janji. Jadi kalau kita memang tidak bisa, kita mesti katakan apa adanya sehinggapasangan juga mulai menimbang apakah saya orang yang cocok buat dia.
GS : Pak Paul, dalam hal ini apakah ada Firman Tuhan yang memberikan bimbingan kepada kita ?
PG : Jangan melupakan hal yang penting ini yaitu Tuhan memelihara hidup kita, Dia tahu semua kebutuhan kita bahkan sebelum kita mengatakannya. Jadi percayalah Dia memberi yang terbaik kepada kia dan bersandarlah kepada rencanaNya.
Firman Tuhan mengingatkan di Amsal 31:10, "Istri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata." Jadi carilah istri dan suami yang cakap bukan secara fisik tapi secara jiwani secara rohaniah, agar dia sungguh menjadi belahan jiwa.
GS : Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Sayang Tapi Benci." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ada sejumlah faktor yang mesti dipertimbangkan dalam pemilihan pasangan hidup, salah satunya adalah apakah kita mencintai pasangan kita atau tidak. Hal ini menjadi rumit tatkala bukan saja rasa sayang yang kita rasakan tetapi juga rasa benci. Dengan kata lain, kita merasa tidak dapat hidup tanpa kehadirannya namun kita merasa tidak sanggup hidup dengannya pula.
Ciri Relasi Sayang tetapi Benci
Pada dasarnya kita merasa sangat menyayanginya dan terus merindukannya namun kita tidak bisa berlama-lama dengannya sebelum meletusnya pertengkaran. Jadi, hampir setiap kali kita berbicara dengannya, kita akan mengakhirinya dengan pertengkaran.
Kita sangat menyayanginya namun membenci hal tertentu tentang dirinya. Ini bukan sekadar tidak suka namun sungguh membenci hal tertentu tentang dirinya. Misalnya, kita sangat membenci kekasarannya namun selalu merindukannya.
Mengapa Kita Perlu Mewaspadai Relasi Ini?
Jika hampir setiap percakapan berakhir dengan pertengkaran, itu pertanda ketidakcocokan dalam banyak hal. Bisa jadi, kita tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan cara yang pas diterima oleh pasangan. Bisa jadi pula itu merupakan tanda adanya perbedaan cara berpikir atau nilai kehidupan yang belum terselesaikan. Sekali lagi, kenyataan kita terus bertengkar itu berarti perbedaan yang ada cukuplah besar dan pertengkaran merupakan tanda kegagalan kita menyelaraskan perbedaan. Kita mungkin mencintainya namun bila inilah yang terjadi, itu menunjukkan ketidakcocokan yang berada di depan mata. Ingat, cinta sendiri tidak akan cukup kuat menopang pernikahan tanpa adanya keharmonisan.
Jika kita membenci aspek tertentu tentang dirinya sekarang sebelum pernikahan, jangan beranggapan bahwa setelah menikah maka kebencian itu akan segera hilang. Kenyataan kita membenci hal tersebut, itu memperlihatkan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang penting bagi kita. Jadi, jika kita membenci kekasarannya itu menandakan kita meninggikan nilai kesantunan dan itu berarti, kita sukar menghormati orang yang tidak memiliki kesantunan. Sebesar-besar cinta kita kepadanya, pada akhirnya hal yang kita benci berpotensi mengubah semuanya itu. Dengan berjalannya waktu cinta cenderung lapuk dan malah tergantikan dengan rasa tidak suka akan karakteristiknya yang kita benci itu. Jadi, jangan sepelekan ketidaksukaan kita sebab itu tidak akan hilang dengan sendirinya.
Jadi, apa yang harus dilakukan bila inilah yang terjadi?
Jangan mengabaikan rasa tidak suka yang kuat ini. Cinta kepadanya menunjukkan bahwa ada hal tentang dirinya yang kita sukai, namun kebencian memperlihatkan ketidakcocokan yang serius. Jadi, berikanlah waktu untuk memfokuskan pada ketidakcocokan dan kalau perlu carilah pertolongan dari seorang konselor pernikahan. Bila tetap tidak ada perubahan, sebaiknya pertimbangkan perpisahan. Ingat, cinta sendiri tidak cukup kuat untuk menopang pernikahan yang sehat.
Komunikasikan tuntutan dan pengharapan yang terkandung di hati secara terbuka. Jangan meremehkan reaksi tidak suka atas sikap atau perilaku pasangan yang tidak berkenan. Dan, jangan takut kehilangan dirinya. Kalau memang ia tidak bisa berubah dan tidak berniat meneruskan relasi, bukankah itu jauh lebih baik ketimbang mempertahankannya. Makin banyak yang diselesaikan sebelum pernikahan, makin ringan tugas setelah pernikahan.
Jangan melupakan hal yang penting ini: Tuhan memelihara hidup kita! Ia tahu semua kebutuhan kita bahkan sebelum kita mengatakannya. Jadi, percayalah bahwa Ia memberi yang terbaik kepada kita dan bersandarlah pada rencana-Nya. Firman Tuhan mengingatkan, "Istri yang cakap, siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada permata." (Amsal 31:10) Carilah istri dan suami yang cakap, bukan secara fisik namun secara jiwani agar ia sungguh menjadi belahan jiwa.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 09/10/2008 - 2:12pm.
Abstrak:
Ada banyak penyebab timbulnya masalah dalam pernikahan, salah satunya adalah tidak terpenuhinya tuntutan suami agar istri mengurus rumah. Pada akhirnya kekecewaan melahirkan konflik dan tidak jarang, hal ini terus menjadi duri dalam pernikahan. Di sini akan dipaparkan mengapa sebagian wanita tidak suka mengurus rumah dan apa yang dapat dilakukan suami?
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Istri Tidak Mau Mengurus Rumah". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pada awalnya istri itu senang mengurusi rumah dan itu merupakan pengembangan dirinya. Kalau ada tamu yang datang dan berkata, "Rumahmu bagus, rapi dan sebagainya" yang paling merasakan senang biasanya istri, Pak Paul.
GS : Tapi ada beberapa istri yang acuh tak acuh dengan keadaan rumah tangganya dalam pengertian menata barang atau kebersihan rumah, Pak Paul.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Memang hal-hal ini bisa saja dianggapnya sepele oleh istri tapi saya yakin bahwa sampai sekarang sebagian besar pria atau suami sebetulnya suka dengan istri yangsuka mengurus rumah.
Misalnya bisa mengatur dan membersihkan barang-barang perabotan, meskipun bukan dia sendiri yang membersihkannya. Namun tidak semua istri bisa melakukan hal-hal seperti itu. Contoh kecil yang kadang-kadang menjadi krikil dan lama-lama menjadi krikil yang tajam untuk relasi nikah adalah misalnya ada suami yang mengharapkan istrinya bangun lebih pagi dari pada dirinya atau sama-sama paginya namun ada istri yang tidak bisa bangun pagi, jadi bangunnya bisa jam 9 atau jam 10. Sedangkan si suami pagi-pagi sudah harus bangun menyiapkan makanan untuk bekerja atau makanan disiapkan oleh yang lain. Bisa jadi hal-hal itu menjadi duri di dalam hati si suami sebab dia respek kepada istri yang berfungsi dengan baik seperti yang dia idamkan. Kalau hal ini tidak menjadi kenyataan maka dia mulai menyimpan kekecewaan. Pagi-pagi dia harus bangun, dia harus makan sendirian, istrinya bangun jam 9 atau jam 10 akhirnya itu menjadi duri dalam hati si suami.
GS : Kalau suami mengharapkan istrinya mau berbenah di dalam rumah tangga tetapi tetap mendapati istrinya seperti itu, hal-hal apa yang bisa dilakukan oleh si suami ini ? Mungkin banyak alasannya dan kita tidak mengerti, mungkin latar belakangnya yang menyebabkan istri tidak mau mengurusi rumah tangga itu, Pak Paul.
PG : Sudah tentu langkah terbaik adalah pada awalnya sebelum mereka menikah si suami dan si istri ini sudah harus menyampaikan tuntutan atau harapan yang terkandung. Jadi sebelum menikah si pri bisa menyampaikan, "Saya mengharapkan kamu sebagai istri yang mengurus ini, bangun jam berapa" itu dikatakan secara spesifik semua harus dijabarkan.
Jika pada masa pranikah hal ini telah dibicarakan maka akan dapat dicarikan jalan keluar yang memuaskan bagi kedua belah pihak. Jika belum dibicarakan dan sekarang setelah menikah, saya harapkan suami mengutarakan hal-hal ini dengan lembut dan meminta istrinya untuk mengurus rumah. Untuk menghindari kesalah pahaman sebaiknya si suami menyampaikan pengharapan ini secara spesifik yakni hal-hal apakah yang diidamkannya, dengan kata lain, suami harus menjelaskan dengan apa yang dimaksudkan dengan mengurus rumah. Jadi jangan sampai dia hanya berkata, "Yang penting kamu harus mengurus rumah" dan apa artinya mengurus rumah ? Si istri bisa berkata, "Saya sudah mengurus rumah, anak-anak semua bisa sekolah, tidak ada yang sakit-sakitan, semua saya rawat dengan baik," jadi mengurus rumah diartikan dengan jelas, supaya tidak ada kesalah pahaman di antara mereka.
GS : Biasanya calon istri sulit untuk membayangkan karena dia tidak tahu apa yang dikatakan mengurus rumah apalagi kalau di rumah, dia tidak pernah melihat ibunya melakukan pekerjaan rumah. Dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Memang sebaiknya pada masa sebelum mereka menikah si istri harus menceritakan apa yang biasa dilakukan di rumah, si suami juga harus menceritakan apa yang biasanya harus dilakukan di rumah Dari cerita masing-masing sebetulnya sudah bisa terlihat gaya hidup yang biasa mereka nikmati, dari situ nanti bisa dibicarakan kesediaan masing-masing untuk mengubah gaya hidup itu.
Ada yang tadi Pak Gunawan telah singgung, ada yang memang tidak melihat figur mama sebagai figur yang mengurus rumah, sehingga akhirnya dia tidak tahu bagaimana mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena tidak ada contohnya. Sehingga kalau itulah yang terjadi maka dua-dua mesti membicarakannya sehingga si calon suami juga bisa sabar untuk memberitahukan bahwa ini yang biasa dilakukan dan itu yang biasa dilakukan, betapa sering misalkan barang ini mesti dibersihkan dan sebagainya. Jadi akhirnya dua-dua bisa saling kerjasama dan saling menolong kalau memang si istri tidak mempunyai gambaran yang harus dilakukan.
GS : Jadi di dalam hal ini, si istri bukannya tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tapi dia tidak tahu apa yang harus dia kerjakan, Pak Paul.
PG : Betul. Jadi bukannya dia tidak mau mengerjakan tapi memang dia tidak tahu. Atau ada istri yang bekerja di luar rumah sehingga dia tidak bisa mengerjakan semua seperti yang telah diinginkanoleh si suami.
Dalam kasus seperti itu si suami harus fleksibel bahwa istrinya tidak bisa melakukan semua yang diharapkannya. Misalkan ada pembantu yang bisa dimintai bantuannya, biarkan diserahkan kepada seseorang yang nantinya mengurus, membersihkan dan sebagainya. Dengan cara itu si suami melihat bahwa yang penting rumah ini telah beres, diurus dengan benar dan anak-anak juga diurus dengan benar dan ini bisa memberi ketenangan kepada si suami.
GS : Tetapi ada juga beberapa istri yang memang tidak tertarik melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah dan itu bagaimana Pak Paul ?
PG : Betul, Pak Gunawan. Memang kita tidak bisa menyalahkan karena sekarang ini semua anak sama, baik perempuan dan laki-laki bersekolah. Sehingga dari kecil baik laki-laki maupun perempuan dikndisikan untuk memfokuskan pada hal-hal yang lain.
Jarang di sekolah mendapatkan pelajaran mengurus rumah, membersihkan rumah, mengurus anak. Dan memang sekolah tidak mengajarkan hal-hal itu, yang biasanya diajarkan adalah hal-hal lain seperti membicarakan tentang karier, kesempatan bekerja dan jarang sekali dibicarakan hal-hal rumah tangga. Jadi tidak bisa disalahkan kalau cukup banyak wanita yang tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu yakni hal-hal rumah tangga. Misalnya sebagian wanita yang berkarier di luar rumah pada akhirnya kurang berminat mengurus rumah, misalnya menjaga kebersihan dan menata isi rumah sebab mungkin saja kondisi istri sendiri sedang letih, sudah capek tapi kenapa tugas ini harus saya yang kerjakan bukankah lebih baik kalau saya delegasikan kepada orang lain atau kepada pembantu dan dia dapat menggunakan tenaganya untuk tugas lain yang dinilainya lebih penting. Jika ini adalah kasusnya sudah tentu suami mesti menerima hal ini namun sudah selayaknya pula istri menjadi penanggung jawab rumah tangga kendati bukan dia yang menjadi pelaksananya.
GS : Di dalam hal-hal tertentu ada suami yang tidak mau untuk pekerjaan-pekerjaan istri dilakukan oleh ibu, kecuali oleh istrinya, misalkan membersihkan kamar tidur mereka, Pak Paul. Ada suami yang menuntut harus istrinya, dia berpikir tidak nyaman kalau orang lain masuk ke kamar mereka, Pak Paul.
PG : Betul, memang ada suami yang berkonsep bahwa seyogianyalah ibu rumah tangga mengurus ini semua. Jadi ada yang beranggapan bahwa meskipun kamu mau bekerja, silakan ! Tapi ini yang lebih pening misalkan suaminya menghasilkan uang yang cukup baik sehingga si istri tidak harus bekerja tapi istrinya mau mengaktualisasikan diri dengan tetap berkarier, akhirnya suaminya berkata, "Baiklah tidak apa-apa kamu mau berkarier asal kamu tetap mengurus rumah tangga."
Waktu istri mulai mendelegasikan tiba-tiba suami mulai tidak senang, sebab dia memiliki konsep atau idealisme seharusnya istri atau mama di rumah. Waktu tidak dilakukannya, suami sudah mulai merasa kurang senang dalam hal ini suami harus menahan perasaannya dan mau mengerti bahwa dia menikah dengan seorang istri yang minat utamanya berkarier di luar rumah, yang penting dia bisa mengatur rumah tangga sehingga urusan rumah tangga itu diselesaikan. Misalkan dalam soal kamar suami berkata, "Kamu yang membersihkan kamar sebab saya tidak bisa menerima kalau kamu menyerahkan kepada pembantu untuk bersihkan kamar kita." Dalam hal itu si istri mesti mengalah dan berkata, "Baik untuk kamar, saya yang bersihkan tapi karena pada hari biasa saya pulang sudah capek, bagaimana kalau saya membersihkannya pada hari Sabtu saja atau pada hari libur saya." Dengan cara itu si suami bisa melihat bahwa istrinya juga berusaha untuk bisa bertemu di tengah dengan dia untuk mengakomodasikan keinginannya dan itu bisa menyelesaikan masalah.
GS : Jadi ada kesepakatan lebih dahulu diantara mereka, Pak Paul?
GS : Hanya kadang-kadang karena istri berkarier lalu menganggap pekerjaan di rumah itu sesuatu yang rendah.
PG : Ada yang seperti itu misalnya ada yang beranggapan ini buang waktu atau ini merendahkan martabat saya, sebab dia tidak pernah melakukannya dulu dan bagi dia ini suatu penderitaan bukannya uatu sukacita bisa menyenangkan hati si suami.
Jadi akhirnya dia menolak. Sekali lagi yang diperlukan adalah sebuah kerjasama contohnya adalah soal masak, saya tahu ada suami yang mengharapkan istrinya masak di rumah, walau pun ada masakan di rumah entah itu dimasak oleh orang lain atau "catering", dia tidak suka apalagi kalau dia tahu bahwa istrinya bisa masak. Kalau mungkin istrinya tidak bisa masak dia masih bisa mengerti tapi kalau dia tahu bahwa istrinya bisa masak, tapi dia tidak mau meluangkan waktu untuk memasak buat suaminya, dia bisa kaitkan ini dengan kasih sayang, "Kamu tidak sayang kepada saya makanya kamu tidak mau masak buat saya." Ada juga kasus seperti ini yaitu si istri susah masak di rumah dengan alasan tidak ada waktu, capek pulang kerja dan sebagainya namun kadang-kadang ketika keluarganya atau mamanya meminta tolong untuk dimasakkan maka dia akan memasakkan, dalam hal ini si suami bisa marah, "Kamu cepat kalau memasak untuk mamamu tapi kalau untuk aku tidak! Kapan kamu terakhir masak untuk aku tapi kalau untuk mamamu kamu selalu dahulukan dan sebagainya." Jadi inilah yang menjadi duri di dalam rumah tangga, saya kira kuncinya di sini adalah kerjasama, si istri bisa berkata "Saya mau memasakkan untuk kamu, memang untuk hari-hari biasa saya susah untuk memasakkan kamu karena saya sudah capek, bagaimana kalau hari Sabtu atau hari Minggu, saya pasti akan masak dan saya akan coba masak beberapa macam sehingga bisa didinginkan di lemari es dan nanti bisa dipanaskan. Setidak-tidaknya setengah dari makanan di rumah adalah masakan saya meskipun tidak selalu segar, saya akan masakan," atau fleksibel misalnya nanti sekali-kali sebelum pulang si istri bisa berkata kepada si suami, "Bisakah kamu mampir ke supermarket untuk membelikan beberapa jenis bahan makanan dan nanti setelah saya pulang saya akan langsung masak." Jadi sekali-kali berikan kejutan seperti itu kepada si suami agar si suami juga senang bahwa istrinya juga memikirkan dia. Maka tidak disuruh pun akhirnya si istri langsung sudah bisa memikirkan apa yang bisa dimasakkan untuk si suami secara kejutan.
GS : Memang agak peka dalam masalah makanan, Pak Paul, katakan si istri itu minta tolong orangtuanya untuk memasakkan bagi suaminya, ini juga bisa membuat suaminya marah-marah, Pak Paul.
PG : Betul, memang tidak seharusnya suaminya marah-marah karena tidak setiap kali hanya sekali-kali saja dan kita juga mesti ingat juga bahwa kenapa sampai si istri tidak sempat memasakkan makaan.
Kita mesti menyadari bahwa tidak semua perempuan itu karena dia perempuan kemudian suka masak, sama seperti kita pria karena kita pria maka kita suka main basket atau karena kita pria maka kita akan suka bermain sepak bola atau karena kita pria maka hobinya mereparasi mobil. Itu tidak! Karena pria juga berjenis-jenis dan perempuan juga berjenis-jenis apalagi sekarang perempuan tidak lagi dikondisikan untuk masuk ke dapur, mengurus rumah, karena sekarang semua sama-sama bersekolah seperti kita dan kita yang pria-pria. Mulai dari kecil sampai besar sekolah tidak terekspose dengan masak-memasak atau membersihkan rumah, kita akhirnya tidak terlalu berminat kesana. Jadi harus dimengerti hal seperti itu, namun di pihak lain istri juga harus mengerti bahwa inilah peran tradisional yang biasanya dikaitkan dengan wanita atau istri. Sehingga sebagian besar suami sebetulnya tetap mengharapkan istri yang bisa mengatur, kalau pun dia tidak bisa turun tangan langsung setidak-tidaknya dia yang mengupayakan pengaturannya, siapa yang membersihkan, sehingga waktu suaminya pulang ke rumah maka rumah itu telah beres, telah bersih.
GS : Kadang-kadang ada istri yang merasa tersinggung atau merasa tidak enak kalau si suami ikut-ikutan urusan dapur. Jadi misalnya membersihkan dapur lalu sedikit memasak, padahal tadi Pak Paul katakan orang punya bakat sendiri-sendiri, suami ini pintar masak dan senang masak tapi kalau istrinya itu dimasakkan maka istrinya marah-marah.
PG : Ada yang seperti itu. Memang sekali lagi ini adalah hal-hal kecil yang bisa menjadi duri, ada suami yang memang senang masak dan pandai masak misalkan dia tahu istrinya ingin membuktikan dri bahwa dia bisa masak, bisa menyenangkan hati suami jadi akhirnya si istri yang mencoba untuk memasak.
Tapi ada suami yang karena dia punya standart masakan tinggi dan bagus akhirnya dia kurang suka, akhirnya dia mulai memberikan komentar-komentar, memberikan masukan-masukan harusnya ini dan itu. Kalau menyampaikannya tidak dengan bijak sudah tentu akan menyinggung perasaan si istri, "Kamu bisanya hanya mencela saja." Ada baiknya kalau si suami masak bersama-sama dengan si istri dari pada mengambil alih, "Boleh tidak saya membantu kamu." Jadi sekali lagi menawarkan diri atau sekali-kali suaminya berkata, "Kamu tampak letih, mau atau boleh 'kan untuk masak nanti malam saya yang akan masak, kamu tidak perlu masak." Jadi sekali lagi dia tidak menyinggung-nyinggung kwalitas masakan si istri dan dia juga tidak membanggakan diri. Misalkan ada orang tua yang berkata di depan anak-anak, "Kamu lebih suka masakan papa atau mama." Hal-hal seperti itu memang harus dijaga. Misalkan mengundang tamu, jangan sampai berkata, "Ini masakan si suami dan ini masakan si istri" dan kebetulan si suami pintar masak, kemudian orang akhirnya berkata, "Suamimu masak lebih enak dari pada kamu," dan itu akan lebih menjatuhkan martabat si istri. Memang perlu kepekaan-kepekaan dalam hal itu dan di pihak lain istri juga jangan sungkan untuk menerima bantuan si suami, kalau memang suami suka dan rela untuk melakukan hal itu, kenapa tidak ? Ijinkanlah suami untuk bisa membantu si istri pula.
GS : Apakah ada alasan yang lain Pak Paul kenapa istri juga tidak mau mengurusi rumah ?
PG : Ini yang lebih berat, Pak Gunawan, yaitu ada istri yang tidak mau mengurusi rumah namun tidak suka pula bekerja di luar rumah. Singkat kata istri ini memang malas untuk melakukan semua itu keinginannya adalah senang tanpa harus berkeringat, memang ada orang yang seperti itu.
Dia menganggap dirinya seperti putri, seperti anak raja, biasa dimanja tidak pernah melakukan apa-apa. Jadi akhirnya tidak mau mengurus apa-apa. Begitu masuk ke dalam pernikahan dengan konsep, "Saya tidak perlu melakukan apa-apa dan itu semua harus diurus oleh orang lain." Kalau ini situasinya sudah tentu seyogianya sebelum menikah si suami sudah harus tahu kondisi si istri. Makanya betapa pentingnya pembicaraan seperti ini sebelum mereka menikah sehingga sudah jelas tuntutan masing-masing. Jika sudah menikah sudah tentu suami harus membicarakan pengharapannya, mungkin sebagai awal suami bisa menurunkan tuntutannya sehingga istri bisa melakukan hal yang sederhana, misalnya istrinya tidak terbiasa kerja dan sebagainya dia berkata kepada si istri "Bagaimana kalau ranjang kita saja yang kamu bereskan dan biarlah nanti bagian lain dari kamar saya yang akan bereskan." Jadi mintalah untuk si istri melakukan hal-hal kecil yang sangat sederhana dan waktu si istri melakukannya, si suami memujinya, membanggakannya sehingga si istri mulai mendapatkan kekuatan dari si suami dan dia makin senang, dia akan melakukan hal seperti itu. Jadi lama-lama dia akan labih terdorong bukan saja membereskan ranjang tapi nanti juga akan membereskan lemari dan sebagainya atau dia nanti akan meminta pembantu untuk mengurus ini dan itu. Semakin istri melakukan hal itu maka suami tidak boleh lupa harus terus mengkomunikasikan penghargaannya, "Saya senang kamu mencoba benar-benar dengan keras, saya mengerti latar belakangmu, kamu tidak terbiasa tapi kamu rela susah-susah melayani saya seperti ini." Makin dihargai sudah tentu si istri makin senang untuk melakukannya.
GS : Pak Paul, ada istri yang mengeluh karena pekerjaan rumah tangga itu menjemukan sehingga suatu saat dia berkata, "Saya ini sedang jenuh melakukan pekerjaan di rumah" entah itu memasak, entah itu membersihkan rumah atau cuci baju. Dan bagaimana sikap si suami, Pak Paul ?
PG : Maka yang pertama kalau si istri berkata seperti, si suami harus mengerti bahwa istrinya jenuh dan suaminya berkata, "Baiklah tidak apa-apa dan kamu istirahat saja dan saya akan minta pembntu untuk beli sesuatu dan sebagainya."
Jadi suami menawarkan diri untuk mengambil alih tapi cara lain juga yang baik adalah bagaimana pun juga perlu waktu untuk beristirahat jangan sampai menjadi istrinya tidak ada waktu untuk beristirahat. Jadi berikanlah hari-hari tertentu tidak perlu masak, katakan kepada istri, "Hari ini kamu tidak perlu masak, nanti kita bisa makan di luar atau nanti saya yang masak" jadi benar-benar ada spirit kerjasama di antara suami istri. Ada hal lain lagi yang juga kadang-kadang muncul yang bisa menimbulkan masalah yaitu kebalikannya, ada istri yang terlalu senang membersihkan rumah akhirnya rumah itu perlu dipoles sampai mengkilap, jadi benar-benar dari pagi sampai malam pekerjaannya adalah membersihkan rumah, sampai-sampai suami itu cukup sengsara tinggal dengan si istri karena tidak boleh kotor sedikit pun. Pulang kerja suami mengharapkan si istri bisa relaks, nonton televisi bersamanya namun itu tidak terjadi karena ada saja yang dikerjakan oleh si istri sampai jam 10 atau 11 malam, sudah lelah kemudian tidur. Si suami mengharapkan istri bisa bercengkerama dengan dia namun itu tidak bisa, dan waktu suaminya mengeluh, istrinya berkata, "Ini juga buat kamu supaya rumah ini menjadi bersih, kalau rumah bersih maka dilihatnya enak dan sebagainya. dan kamu juga harus mengerti saya karena saya juga sudah capek," akhirnya timbul konflik lagi. Jadi di sini dituntut kerjasama dan pengertian di antara suami dan istri.
GS : Ada orang yang memiliki sifat-sifat seperti itu, kalau kita mencegah dia membersihkan rumahnya, maka nanti akan timbul masalah lain, Pak Paul ?
PG : Dalam masalah itu saya kira suami bisa berkata kepada istri, "Begini saja kalau kamu rasa kamu harus membersihkan rumah itu tidak apa-apa, tapi bisakah kalau sudah jam 7 kamu harus berhenti. Jadi yang penting kamu disiplin diri kalau jam 7 malam kamu berhenti tidak lagi membersihkan rumah." Dan suami membantu si istri misalkan membersihkan dapur setelah makan, kemudian berhenti dan pekerjaan yang dilanjutkan besok pagi. Jadi minta kesediaan istri untuk menghentikan, jangan sampai dirinya sendiri itu obsessif, terus-menerus ada saja yang belum beres. Ada saja istri yang berkata, "Belum beres semuanya" dan memang tidak bisa beres, namanya juga rumah, namanya juga debu, namanya juga lingkungan selalu ada saja yang mengotori, apalagi kalau ada anak. Tapi si istri harus diyakinkan bahwa ini bukanlah pekerjaan yang bisa beres dan selamanya beres, kalau hari ini beres besok tidak beres lagi tetap sama. Jadi lebih baik dibatasi dan dalam hal ini istri harus menunjukkan pengertiannya, tidak bisa dia hanya menuntut suami untuk mengerti bahwa inilah kesukaannya membersihkan rumah dan dia tidak bisa tidur kalau rumah belum bersih. Itu akhirnya menjadi masalah buat si suami.
GS : Kesulitan istri yang bisa dibantu oleh suami adalah bagaimana mengatur waktu baik mengurus rumah, mengatur anak, termasuk memberikan perhatian kepada suaminya.
PG : Betul sekali. Memang ujung-ujungnya adalah suami tidak merasa diperhatikan. Memang si istri bisa berkata, "Seharusnya kamu mengerti," tapi bagaimana pun juga dia manusia biasa yang memerluan perhatian.
Kalau sudah punya anak sudah tentu suami harus mengerti bahwa istri tidak bisa berbuat banyak dan dia harus terima fakta itu. Tapi suami juga bisa membantu, misalkan anak-anak mengajari pelajaran anak-anaknya dan sebagainya sehingga istri juga merasa bahwa "Baiklah kamu tidak hanya menuntut tapi kamu juga rela menyingsingkan lengan baju menolong saya." Dan ini sudah tentu akan membuat pasangan, si istri akan lebih senang melihat suaminya bersedia turun tangan.
GS : Sebetulnya peran anak-anak kalau anak-anak sudah besar, bisa melibatkan anak-anak untuk ikut membantu menata rumah. Misalkan membersihkan mainannya sendiri atau merapikan mainannya sendiri, Pak Paul.
PG : Betul dan memang bisa dilakukan oleh si suami, suaminya bisa menyuruhnya untuk membereskan mainan. Jadi jangan sampai suami bersikap seperti bos dengan duduk dan kaki di atas meja di depantelevisi menyuruh-nyuruh istrinya, "Sudah berhenti, anak-anak berhenti dan sebagainya."
Si istri dalam hati pasti marah, "Kamu hanya bisa menyuruh, bersantai-santai begitu tolonglah membantu sedikit, anak-anak tolong diawasi pekerjaannya, suruh mereka mandi, sikat gigi supaya mereka bisa siap-siap tidur dan sebagainya, jadi jangan hanya terima beres saja." Memang penting bagi suami menunjukkan kerjasamanya.
GS : Pembagian tugas ini penting, baik di pihak suami maupun di pihak istri sehingga masing-masing tahu dimana tanggung jawabnya.
GS : Dan apakah ada ayat Firman Tuhan yang memberikan bimbingan kepada kita semua, Pak Paul ?
PG : Amsal 21:5 berkata, "Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan." Indah sekali Firman Tuhan ini, orang yang rajin mengundang hormat demikian pula istri yang rajin pastilah engundang hormat suami.
Relasi dibangun atas dasar rasa hormat dan ternyata rasa hormat keluar dari hal-hal sederhana seperti mengurus rumah tangga. Tuhan berjanji memberkati orang yang rajin dengan berlimpah, istri yang rajin akan menerima pujian dan kasih dari suami dan anak-anaknya.
GS : Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Istri Tidak Mau Mengurus Rumah." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Ada banyak penyebab timbulnya masalah dalam pernikahan, salah satunya adalah tidak terpenuhinya tuntutan suami agar istri mengurus rumah. Pada akhirnya kekecewaan melahirkan konflik dan tidak jarang, hal ini terus menjadi duri dalam daging pernikahan. Berikut akan dipaparkan mengapa sebagian wanita tidak suka mengurus rumah dan apa yang dapat dilakukan suami.
Sudah tentu langkah terbaik adalah pada awalnya, sebelum menikah, suami dan istri sudah harus membicarakan tuntutan atau harapan yang terkandung. Jika pada masa pranikah hal ini telah dibicarakan, maka akan dapat dicarikan jalan keluar yang memuaskan kedua belah pihak. Bila ini belum dilakukan, maka tidak bisa tidak, hal ini mesti dibicarakan. Seyogianya suami mengutarakan pengharapan ini dengan lembut dan meminta istri untuk mengurus rumah. Untuk menghindari kesalahpahaman lagi, sebaiknya suami membicarakan pengharapan ini secara spesifik yakni hal-hal apakah yang diidamkannya. Dengan kata lain, suami harus menjalaskan apa yang dimaksudnya dengan "mengurus rumah." Sudah tentu di sini dibutuhkan fleksibilitas dan pengertian. Bila istri pun bekerja, tidaklah realistik untuk menuntutnya mengurus rumah sendiri. Sudah tentu pilihan menggunakan tenaga pembantu selayaknya dipertimbangkan.
Ada istri yang tidak mau mengurus rumah karena memang tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu. Misalnya, sebagian wanita yang berkarier di luar rumah tidak berminat mengurus rumah-menjaga kebersihan dan menata isi rumah-sebab baginya, tugas ini dapat didelegasikan kepada pembantu dan ia dapat menggunakan waktunya untuk tugas lain yang dinilainya lebih penting. Jika inilah kasusnya, sudah tentu suami mesti menerima hal ini namun sudah selayaknyalah istri menjadi penanggung jawab rumah tangga, kendati bukan ia yang menjadi pelaksananya.
Ada pula istri yang tidak tertarik untuk masak sebab memang tidak semua orang berminat untuk masak. Namun jika suami tetap berharap istri memasak, sebaiknya dibicarakan frekuensinya. Mungkin istri tidak bisa masak setiap hari, tetapi tidak ada salahnya ia berusaha masak seminggu sekali. Bagi sebagian suami, makan makanan yang disiapkan istri memiliki kebanggaan tersendiri. Jadi, sebaiknya istri mengalah demi menyenangkan hati suami.
Ada istri yang tidak mau mengurus rumah atau masak namun tidak suka pula bekerja di luar rumah. Singkat kata, ada istri yang memang malas untuk melakukan semua itu. Keinginannya hanyalah hidup senang tanpa harus bekeringat. Jika inilah kondisinya, sudah tentu suami harus mengutarakan pengharapannya. Mungkin suami dapat menurunkan tuntutannya sehingga istri dapat melakukan beberapa hal yang sederhana. Namun bila tetap tidak membuahkan hasil, sebaiknya suami tidak lagi mengungkitnya. Dalam kondisi seperti ini suami seyogianya mengambil alih tanggung jawab dan memastikan rumah terurus. Tidak bisa tidak, pada akhirnya pernikahan akan mengalami keretakan karena tentulah rasa hormat akan merosot.
Firman Tuhan
"Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan." (Amsal 21:2) Orang yang rajin mengundang hormat, demikian pula istri yang rajin pastilah mengundang rasa hormat suami. Relasi dibangun atas dasar rasa hormat dan ternyata, rasa hormat keluar dari hal-hal sederhana seperti mengurus rumah tangga. Tuhan berjanji memberkati orang yang rajin dengan berlimpah; istri yang rajin akan menerima pujian dari suami dan anak-anaknya.