Tuhan Di Piring Makanan 2

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T577B
Nara Sumber: 
Ev. Sindunata Kurniawan, M.K.,M.Phil.
Abstrak: 

Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

dpo. Ev. Sindunata Kurniawan, M.K., M.Phil.

Berikut beberapa tips yang bisa menjadi pertimbangan kita:

Pertama, Minum air putih minimal 1,5 liter hingga 2 liter per hari= 8 gelas. Berguna untuk membersihkan ginjal dan mengurangi asupan makan. Jika perlu, pakailah botol 1,5 liter atau 2 liter untuk target minum. Minumlah saat bangun tidur bisa hingga 3 gelas. Paling cepat 15 menit setelah minum, barulah makan. Dan minumlah paling cepat 1 jam setelah makan. Hal ini untuk memaksimalkan penyerapan sari makanan di usus. Minimalkan sedapat mungkin minuman bersoda atau air berkarbonasi yang banyak disukai karena memiliki sensasi menyegarkan. Selain dapat menyebabkan obesitas, minum soda setiap hari juga akan meningkatkan risiko seseorang mengidap sindrom metabolik, gangguan kadar gula darah, tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung.

Kedua, Perbanyak makan sayur dan buah. Berupa makanan organik yang dikonsumsi pun harus mengandung nutrisi seimbang seperti mineral, vitamin, protein, enzim, serat dan lemak. Sedapatnya memilih menu makanan atau bahan pangan yang sedekat mungkin dengan alam. Atau dengan kata lain, yang sedikit mungkin melalui proses pengolahan. Dokter Tan Shot Yen: Pilihlah menu makan berdasarkan apa yang tubuh butuhkan, bukan berdasarkan mulut inginkan.

Perkenalkan pula kepada anak-anak. Anak melihat orangtua dan anak perlu dimotivasi orangtua. Seringkali anak tidak menghabiskan sayur atau nasinya saat makan sendiri atau hanya ditemani pengasuh. Orangtua perlu memantau pola makan anak sehari-hari. Orangtua perlu mengenalkan berbagai variasi makanan dan menjelaskan manfaatnya untuk tubuh anak. Dengan begitu, anak tidak pilih-pilih makanan dan mau menghabiskan isi piringnya.

Ketiga, utamakan untuk memasak sendiri untuk diri sendiri atau keluarga demi keterjaminan kualitas gizi dan higienitasnya. Dengan memasak sendiri, selain menghemat pengeluaran, juga bisa mengatur menu sehat dan berimbang untuk memenuhi nutrisi keluarga.

Keempat, Hindari sedapat mungkin memanaskan makanan sisa. Ternyata, kebiasaan ini berbahaya bagi kesehatan. Beberapa jenis makanan bisa menghasilkan zat beracun saat dipanaskan ulang. Tidak semua jenis makanan bisa kita panaskan ulang, terutama makanan yang berprotein tinggi.

Ada enam makanan yang tidak bisa dipanaskan ulang:

  1. Sayuran dengan nitrat yang tinggi seperti bayam
  2. Nasi
  3. Telur
  4. Ayam
  5. Kentang
  6. Jamur

Kelima, Makan besar 3 kali dan 2 kali kudapan atau camilan. Makan dengan lambat dan tidak terburu-buru. Menikmati dan tidak mengunyah. Sedapatnya duduk 3-5 menit setelah selesai makan. Sebaiknya makan terakhir pk 19.00.

Keenam, sedapatnya makan bersama orang lain dalam suasana interaktif yakni dengan keluarga atau rekan lain. Makan sambil bersama orang lain memberi pula kepuasan jiwa. Terkadang orang makan banyak semata karena lapar secara psikologis. Waspadai lapar mata atau lapar psikologis.

Ketujuh, bagian dari penguasaan diri pula, ambil makanan sesuai porsi untuk dihabiskan. Jika merasa asing dengan makanan itu, ambil sedikit untuk icip. Biasakan itu pula pada anak sejak kecil. Makanan itu dari Tuhan. Masih banyak orang di sekitar kita yang berkekurangan dan kesulitan untuk makan.

Yang menyedihkan dengan situasi pangan kita adalah Indonesia menduduki peringkat kedua tertinggi sedunia menurut data tahun 2011 sebagai negara penghasil limbah makanan. Di tengah masih banyaknya orang yang kekurangan asupan gizi makanan yg baik, tiap orang malah hasilkan limbah makanan 300 kg/tahun. Banyak bahan makanan terbuang cuma-cuma mulai dari panen, olahan sampai distribusi. Sebagai perbandingan, Arab Saudi 427 kg/tahun, Amerika Serikat 277 kg/tahun.

Ajarkan berulangkali sejak dini kepada anak-anak. Berani ambil, berani menghabiskan.

Kedelapan, hindari obat sebagai jalan pintas mengatasi pelanggaran pantangan makan oleh dokter karena sesungguhnya terjadi peradangan dalam organ dalam tubuh kita.