Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereTransformasi Karakter

Transformasi Karakter


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T134A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Transformasi karakter bukanlah sesuatu yang didatangkan dari luar melainkan sesuatu yang dihasilkan dari dalam. Yang merupakan hasil dari penyerahan hidup kepada Tuhan.

MP3: 
3.87 MB
Ringkasan
Isi: 

Firman Tuhan mengatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17) Pertanyaannya ialah, mengapakah "ciptaan yang lama" masih ada pada diri kita? Dengan kata lain, mengapakah sukar buat kita berubah?

Ada dua penyebab mengapa kita tidak mudah berubah meski telah menjadi orang percaya.

  1. Penyebab I: Kesalahpahaman pengertian akan firman Tuhan. Kita menganggap perubahan itu sepenuhnya merupakan tanggung jawab Roh Kudus. Kitalah yang bertanggung jawab untuk mengubah diri kita, bukan Roh Kudus. Firman Tuhan berkata, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2)

    Transformasi karakter bukanlah sesuatu yang didatangkan dari luar melainkan sesuatu yang dihasilkan dari dalam. Firman Tuhan berkata, " Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1) Transformasi karakter merupakan hasil penyerahan hidup: makin berserah atau taat, makin berubahlah karakter kita.

  2. Penyebab II: Karakter sukar berubah sebab terkait erat dengan diri kita. Sebagian besar problem kejiwaan bersumber dari karakter manusia. Misalnya, ketergantungan pada narkoba dan gangguan relasi berhubungan dengan karakter. Itu sebabnya masalah-masalah ini tidak mudah hilang.

Kalau begitu, apakah dan seberapa besarnyakah peran Roh Kudus dalam pembentukan karakter kita?

  1. Pertama, Roh Kudus menunjukkan kepada kita kehendak Allah: apa yang baik dan sempurna, apa yang berkenan kepada Allah. (Roma 12:2)

  2. Kedua, Roh Kudus menyediakan kekuatan kepada kita yang menaati-Nya. Firman Tuhan berkata, "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." (2 Korintus 4:7)

Langkah Awal Menuju Pemulihan

  1. Mengakui bahwa kita bermasalah.
  2. Menerima pertolongan baik dari Tuhan maupun sesama.
  3. Menaati kehendak Tuhan sedikit demi sedikit dan sehari lepas sehari.

Pertama kali melihat judulnya sudang angker duluan. Tapi jangan membuat sebuah kesimpulan terlebih dahulu jika belum menyimak diskusi di dalam program audionya...:D. Ibaratnya sebuah peringatan untuk saya, bahwa ketaatan penuh kepada Allah adalah penentu perubahan karakter di dalam diri saya. Saya percaya bukan suatu proses yang instan. Tapi dalam diskusi tersebut saya mengambil sarinya bahwa firman Tuhan dan tuntunan Roh Kudus akan menolong kita untuk "sedikit demi sedikit" mengubah karakter yang sesuai dengan kehendak-Nya. Doakan saya agar bisa lebih taat dan mau diubahkan oleh Allah.. Ini adalah sebuah perjuangan yang berat untuk saya pribadi. Terimakasih TELAGA! Kristin-Solo
Merubah sebuah kebiasaan yang sudah tertanam dalam waktu yang cukup lama memang sulit, saya sendiri pernah merasakannya. Yang pertama tentu jujur pada diri sendiri bahwa saya bermasalah, kemudian jujur pada lingkungan. Setelah itu mulailah proses menyakitkan untuk berubah, dalam proses itu tidak sekali dua kali saya jatuh bangunm, tapi puji Tuhan penyertaan Tuhan melalui firman dan nasehat orang lain bisa menguatkan saya kembali. Proses yang tidak kalah sulit adalah pemulihan citra diri, ibarat maling walau sudah tobat akan tetap dicap sebagai maling. Syukurlah kini semua sudah mulai stabil. Yohanna
Dari topik bahasan ini saya teringat dengan apa yang pernah dikatakan oleh salah seorang sahabat saya, "Vi, kamu tahu gak apa bedanya karakter dengan reputasi?" Sejenak saya berpikir, Lalu saya menjawab bahwa untuk memiliki karakter seperti apa yang Allah kehendaki adalah suatu proses yang berlangsung seumur hidup dan kita tidak dapat menggunakan kekuatan kita sendiri untuk dapat mencapainya. Dan biasanya sulit sekali untuk seseorang melihat karakter yang baik dalam hidup kita, apa lagi jika dulunya kita pernah memiliki predikat yang kurang baik. Sedangkan reputasi adalah sesuatu yang dapat kita raih dalam waktu singkat dan orang dapat melihatnya dengan jelas. Dari artikel ini, saya belajar penting sekali kita sebagai orang percaya memiliki karakter yang sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki. Terima kasih untuk artikelnya. GBU
Saya setuju sekali bahwa perubahan karakter memang harus dimulai dari dalam diri kita sendiri. Kalau kita memang sudah punya keinginan yang sungguh-sungguh untuk berubah, taat kepada Tuhan, pasti kita akan mendapatkan kekuatan dari Roh Kudus, termasuk saat menghadapi masa-masa sulit proses perubahan itu. Christiana
Saya merasakan bahwa Roh Kudus memang selalu mengingatkan dan menunjukkan pada saya apa yang seharusnya saya lakukan ketika saat itu saya melakukan hal yang seharusnya tidak saya lakukan.... :( Tapi sering dan kerap kali saya me'masabodoh'kan peringatan Roh kudus, dan akhirnya saya sendiri yang rugi. Saat ini saya bersyukur, karena melalui renungan diatas, saya benar-benar ditegur. Sedikit demi sedikit saya akan belajar mengaplikasikan 3 langkah awal menuju pemulihan diatas. Doakan saya ya Pak Paul, terima kasih atas renungan Anda. - tatik - GBU ;-)
Teman-teman di YLSA, terima kasih untuk semua tanggapan yang begitu terbuka ini. Saya menghargai kerinduan teman-teman untuk bertumbuh. Mengenai pertumbuhan dan perubahan, pada akhirnya saya simpulkan bahwa adakalanya Tuhan harus "memaksa" kita bertumbuh dan berubah lewat krisis yang kita hadapi sebab kalau semuanya tergantung pada kita, besar kemungkinan kita akan memilih sama alias tidak bertumbuh. Jadi, saya kira kuncinya adalah bukan pada usaha kita untuk menciptakan pertumbuhan tapi pada penyerahan dan ketaatan kita kepada Kristus. Salam : Paul Gunadi
Topik ini terasa sulit untuk di terapkan apalagi menyangkut tentang karakter, itu sudah tertanam sejak kecil, dan sulit untuk diubah. Perubahan membutuhkan proses yang panjang, datang dari dalam diri sendiri dan perlu penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dari apa yang saya dengan tadi pagi lewat Telaga dan artikel yang saya baca, saya merasa ditegur, apakah saya sudah berubah dan taat kepada Tuhan. Wah ternyata banyak hal yang masih perlu saya perbaiki, dan belajar tentang karakter. Anik
Pepatah Jawa berkata, "watuk isa diobati ning watak digawa nganti mati "(batuk bisa diobati tapi watak dibawa sampai mati) Namun hal itu tidak berlaku saat kita menjadi ciptaan baru di dalam Yesus. Watak-watak buruk kita bisa diubahkan oleh karya Roh Kudus. Memang semuanya memerlukan waktu yang tidak singkat. Dan kita harus memperjuangkannya. Setiap orang punya potensi untuk berubah, baik berubah ke arah yang baik maupun buruk. Dari renungan di atas setiap kita kembali diingatkan agar kita mau dibentuk dan diubahkankan Allah menjadi serupa Kristus. Sekalipun terasa menyakitkan. Selain itu kita diingatkan agar tidak mengingat orang dari "image" lamanya yang buruk. Maksudnya kita seharusnya bisa menerima mantan preman yang bertobat dan yang benar-benar ingin diubahkan dalam Yesus, dan bukan menyingkirinya. Kiranya dengan berjalannya waktu karakter kita semakin serupa dengan karakter-Nya yang Ilahi. Amin!
Transformasi karakter adalah sebuah proses. Dan kita tidak bisa melakukannya dengan kekuatan sendiri. Bahkan orang yang sudah begitu 'mengenal' Yesuspun beberapa kali mengeluarkan sifat aslinya saaat menghadapi sesuatu yang tidak ia harapkan. Tetapi semuanya kembali ke satu, transformasi karakter bukan sebuah proses instan. Itu sebuah proses jatuh bangun.
Memang benar transformasi karakter berlangsung terus-menerus, agar makin hari kita makin seperti DIA. Salam : Tim Pengasuh Program TELAGA