Karunia Melepaskan

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T594B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Yang mesti kita genggam adalah identitas diri dan tujuan hidup yang baru, menjadi pelayan dan saksi bagi Yesus, melepaskan adalah sebuah karunia, bukan hasil usaha kita tapi pemberian Tuhan, mulai dari hal yang kecil sampai pada yang besar
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

Kecenderungan kita adalah menggenggam, bukan melepaskan; itu sebab sejak kecil kita cenderung menggenggam mainan atau apa pun yang kita sukai. Namun hidup tidak selalu memungkinkan kita untuk terus menggenggam apa pun yang kita sukai; kadang kita harus melepaskannya. Itu sebab kita memerlukan hikmat untuk membedakan apa yang mesti kita genggam dan apa yang mesti kita lepaskan; dan kapan kita mesti melepaskannya. Marilah kita melihatnya dengan saksama.

Pertama, yang mesti kita genggam adalah IDENTITAS DIRI dan TUJUAN HIDUP di dalam Kristus. Pada waktu Yesus Tuhan Kita memanggil Paulus, Ia menetapkannya untuk menjadi pelayan-Nya dan saksi-Nya (Kisah Para Rasul 26). Di dalam dua panggilan ini termaktub identitas diri dan tujuan hidup di dalam Kristus. Mulai saat itu Paulus menjadi pribadi yang baru, dengan identitas dan tujuan hidup yang baru.

Seperti Paulus, kita pun dipanggil untuk menjadi pelayan Kristus ; kita mesti mendengarkan perkataan Kristus dan menaati apa yang diperintahkan-Nya. Bukan saja bermuatan FUNGSI, istilah pelayan juga mencakup SIKAP HIDUP, yakni menghamba kepada Kristus dan melayani sesama. Sebagaimana Yesus berkata bahwa Anak Manusia datang untuk melayani, bukan untuk dilayani, maka kita pun dipanggil untuk melayani, bukan untuk dilayani. Melayani mesti menjadi cara atau panduan kita hidup.

Seperti Paulus, kita juga dipanggil untuk menjadi saksi, yakni memberitakan apa yang Yesus telah perbuat dan apa yang ditunjukkan-Nya kepada kita. Inilah tujuan hidup dan tugas kita: Melihat apa yang Yesus perbuat serta apa yang Ia nyatakan kepada kita, kemudian menceritakannya kepada sesama. Dengan kata lain, kita ditetapkan untuk menjadi alat di tangan Tuhan, untuk membuka mata orang supaya berbalik dari kegelapan kepada terang, dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka menerima pengampunan dosa dan warisan bersama segenap orang yang dikuduskan oleh iman di dalam Yesus.

Kita mesti menggenggam kedua penetapan Tuhan ini—menjadi pelayan dan saksi bagi Yesus—sebab bukan saja keduanya adalah panggilan dari-Nya tetapi juga karena keduanya bersifat kekal. Sampai kapan pun dan dalam kondisi seperti apa pun, kita dapat menjadi pelayan dan saksi bagi Kristus. Kaya atau miskin, sehat atau sakit, masih bekerja atau sudah pensiun, terkenal atau terbenam, berpendidikan tinggi atau rendah, tua atau muda, kita dapat menjadi pelayan dan saksi Yesus.

Ini membawa kita kepada Poin Kedua, yaitu apa yang mesti kita lepaskan. Yang mesti kita lepaskan adalah semua yang bersifat sementara dan semu, seperti impian, harta kekayaan, popularitas, anak, orang tua, teman, dan penilaian orang. IMPIAN tidak selalu menjadi kenyataan; jadi, janganlah pegang erat-erat. HARTA KEKAYAAN tidak permanen; ada waktu kita bisa kehilangan segalanya; itu sebab, jangan genggam kekayaan. POPULARITAS datang dan pergi; akan ada masa di mana bukan saja orang tidak mengenal kita, orang pun tidak lagi mengingat kita. ANAK tidak selalu dapat diandalkan dan tidak selalu anak menjadi seperti yang diharapkan; kadang anak justru mengecewakan dan tidak jarang, malah menyusahkan. Itu sebab, jangan genggam anak; lepaskanlah.

ORANG TUA juga adalah manusia biasa; tidak semua dapat diandalkan, apalagi dibanggakan. Kadang kitalah yang justru mesti menanggung malu akibat perbuatan orang tua. Jadi, jangan pegang erat-erat. TEMAN juga datang dan pergi; tidak selalu teman berada disamping kita tatkala kita membutuhkan mereka dan tidak selalu mereka bersedia atau dapat menolong. Jadi, jangan genggam mereka. PENILAIAN ORANG adalah sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan, apalagi pastikan. Jadi, jangan kejar dan jangan genggam. Pada akhirnya kita mesti menjadi diri sendiri, terlepas dari penerimaan orang.

Ini membawa kita ke Poin Ketiga, yakni kapankah kita perlu melepaskan. Kita melepaskan sewaktu kita tidak lagi dapat mengendalikannya atau apa yang diharapkan tidak lagi menjadi kenyataan. Mungkin ada di antara kita yang bergantung pada penilaian orang; kita takut dinilai buruk dan kita ingin diterima. Itu sebab kita melakukan apa saja supaya orang menilai kita secara positif dan menerima diri kita. Namun pada akhirnya kita mesti menerima kenyataan bahwa tidak selalu kita dapat menyenangkan hati orang. Akan datang waktunya di mana kita harus berdiri sendiri dan bersikap beda dari apa yang diharapkan orang. Pada saat seperti itulah kita harus melepaskan pengakuan orang dan menerima konsekuensi tidak disukai bahkan ditolak orang.

Akan tiba pula waktu di mana orang yang kita andalkan berbalik dan bahkan mengecewakan hati kita. Sudah tentu kita terluka dan biasanya berusaha untuk memerbaiki relasi. Kadang kita pun terdorong untuk "meluruskan" jalan orang itu supaya tidak lagi menyimpang dari arah yang benar dan baik. Namun, pada akhirnya kita mesti menyadari bahwa kita tidak dapat mengubahnya; seberapa besar usaha yang kita keluarkan, tetap tidak membuahkan hasil. Di saat itulah kita mesti melepaskannya.

Melepaskan adalah sebuah KARUNIA; dengan kata lain, pemberian. Bukan dari diri sendiri, sebab sesungguhnya kita tidak ingin melepaskan; kita justru ingin terus menggenggam. Jadi, kita mesti datang kepada Tuhan dan memohon kepada-Nya untuk memberikan karunia melepaskan apa yang mesti dilepaskan. Kita harus terus berdoa sampai kita berhasil membuka tangan dan melepaskan.

Ada dua hal yang akan terjadi sewaktu kita melepaskan. Pertama, kita akan BERIMAN. Melepaskan bukan berarti membiarkan melainkan MENYERAHKAN kepada Tuhan. Sewaktu kita menyerahkan, kita MEMERCAYAI Tuhan untuk mengurus dan berhubungan langsung dengan apa pun dan siapa pun yang kita lepaskan. Di sinilah iman bertumbuh; kita bersandar dan berharap penuh pada kekuasaan Tuhan.

Kedua, kita akan BEBAS. Sewaktu kita melepaskan, kita akan dimerdekakan; kita tidak lagi diikat oleh apa pun dan siapa pun. Kita sadar bahwa kemampuan kita terbatas dan usaha kita, bukan saja tidak berhasil tetapi malah dapat menjadi bumerang yang memukul kita atau memperparah masalah. Bebas tidak berarti bebas dari perasaan sedih atau kecewa; karena kita peduli, kita akan tetap merasa sedih atau kecewa, tetapi kita tidak lagi merasa tertindih. Sewaktu melepaskan, kita menanggalkan beban dan membiarkan orang untuk memikul beban yang diciptakannya sendiri. Sewaktu melepaskan, kita pun memisahkan diri dari orang; kita tidak lagi terseret atau terdakwa. Dia adalah manusia terpisah.

Raja Saul adalah contoh orang yang tidak dapat melepaskan. Ia tidak dapat melepaskan takhtanya; itu sebab, ia berusaha membunuh Daud yang dianggapnya sebagai orang yang berambisi merebut takhta. Ia pun tidak dapat melepaskan impiannya—menjadikan putranya Yonatan sebagai raja. Dan, ia tidak dapat melepaskan kebutuhannya untuk diterima orang. Itu sebab ia melakukan apa saja supaya diterima dan dipuji orang; dia memilih menjadi raja yang menyenangkan hati orang, bukan hati Tuhan.

Tidak heran, akhirnya dia tidak lagi beriman dan tidak lagi hidup merdeka. Dia bergantung sepenuhnya pada perhitungannya; alhasil, dia melepaskan iman dan malah hidup dalam ketidaktaatan. Dia pun hidup dibelenggu oleh kebencian dan ketakutan karena melepaskan kemerdekaannya untuk hidup bebas dari kebencian dan ketakutan. Sayang, Saul tidak pernah meminta karunia untuk melepaskan; ia malah terus menggenggam. Pada akhirnya Tuhan membuka tangannya dan memaksanya melepaskan apa yang digenggamnya—yang sementara dan semu. Pengkhotbah 3:11 mengingatkan, "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya." Sering kali, Tuhan baru membuat segala sesuatu indah pada waktu kita melepaskan apa yang ada dalam genggaman. Jadi, lepaskan dan serahkan kepada-Nya.