Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are herePeran Ayah dalam Pembinaan Anak

Peran Ayah dalam Pembinaan Anak


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T011A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Salah satu peran yang dituntut firman Allah terhadap ayah adalah peran mendisiplin anak. Dalam materi ini diajarkan bagaimana seorang ayah mendisiplin anak yang sesuai dengan firman Tuhan.

MP3: 
3.45 MB
Ringkasan
Isi: 

Efesus 6:4 berkata: "Dan kamu bapa-bapa janganlah bangkitkan amarah hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Ada hal yang menarik dalam ayat ini yaitu yang diminta oleh Tuhan untuk mendidik anak bukanlah ibu tapi ayah.

Kata didik sebenarnya kata mendisiplin. Jadi peran mendisiplin anak-anak adalah tanggung jawab ayah, satu peran yang Tuhan dengan jelas minta adalah peran seorang pendidik atau peran sebagai seorang pendisiplin. Sementara peran membesarkan anak secara fisik, secara emosional lebih berada pada pundak ibu. Mendisiplin memang mempunyai suatu resiko, resikonya adalah membangkitkan amarah bagi yang didisiplin.

Pada prinsipnya kalau kita / seorang ayah mendisiplin anak, harus melihat kedua hal yaitu:

  1. Anak mesti melihat kita adil. Anak boleh tidak setuju tetapi dia melihat keadilan di sini, baik terhadap adik atau kakaknya.

  2. Anak mesti melihat motivasi kita. Sewaktu kita mendisiplin, anak dapat melihat bahwa motivasi kita benar dan baik bukan karena kita sedang memuaskan hasrat marah.

Peran seorang ayah untuk mendidik anak sudah ada sejak lama, di kitab Ulangan Tuhan memberikan perintah kepada orang tua yang pada prinsipnya adalah terapkanlah dan ajarkanlah anak-anak tentang Tuhan, didiklah mereka, besarkanlah mereka dalam Tuhan di setiap keadaan yang kita miliki.

Seorang anak cenderung menerima suatu disiplin kalau dia merasa dekat dengan orang yang mendisiplinkan dia. Namun hal ini memang kurang memungkinkan bagi seorang ayah yang setiap harinya sibuk bekerja. Tapi Tuhan pun tidak menuntut hal yang di luar jangkauan kita, jadi peran mendisiplin ini diberikan memang dalam konteks yang ada batasannya.

Yang perlu diperhatikan manakala seorang ayah harus menghadapi anak yang melakukan kesalahan adalah menjaga emosi. Ada kecenderungan kita sebagai pria memiliki pola pikir kerja yaitu:

  1. Aku memberi instruksi, anak melakukan instruksi

  2. Ayah menganggap anak sudah tahu tanggung jawabnya. Jadi dalam hal ini pengharapan anak sadar itu kuat sekali dalam diri ayah biasanya dan sewaktu anak mengulang perbuatan yang sama cenderungnya kita marah. Kita tidak cukup sabar menoleransi bahwa anak memang cenderung mengulang perbuatan yang sama.

Peran seorang ayah sebagai pendisiplin dapat menimbulkan kesan yang kurang baik pada diri anak. Yaitu bisa menimbulkan terjadinya interaksi negatif dalam keluarga. Interaksi negatif adalah sewaktu kita ini sedang berinteraksi dengan si anak atau sewaktu kita berbicara dengan anak, interaksi tersebut ditandai oleh kemarahan, pendisiplinan atau teguran dan koreksi. Jadi ayah memang harus berupaya dengan keras dekat dengan anak, meskipun terbatas dalam hal waktu. Salah satu hal yang harus dilakukan adalah setelah mendisiplin perlu mendekati si anak, ngomong dengannya, peluk dia, misalkan kita sadar kita keliru kita sampaikan permintaan maaf kita kepadanya. Nah hal ini akan menetralisir apa yang telah terjadi, jadi menyeimbangkan hubungan kita dengan dia kembali.

Dampak negatif yang terjadi apabila seorang ayah kurang berperan dalam pendidikan anak, sbb:

  1. Anak akan kehilangan peran. Karena anak khususnya anak laki-laki memerlukan model, baik cara dia bersikap, berpikir, dia bertindak, cara dia menanggapi suatu masalah. Kalau seorang ayah tidak berperan, anak akan dirugikan dalam artian tidak cukup bahan yang diserapnya untuk menjadikan dia seorang manusia yang tangguh dan sudah pasti kehilangan peran model ayah yang positif seperti apa.