Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereMenyikapi Perbedaan dalam Pernikahan

Menyikapi Perbedaan dalam Pernikahan


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T100A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Perbedaan-perbedaan dalam pernikahan itu tidak otomatis akan hilang. Dan perbedaan itulah yang seringkali memikat kita sewaktu sebelum menikah. Akan tetapi kebalikannya setelah menikah perbedaan adalah hal-hal yang seringkali memisahkan kita dengan pasangan kita.

MP3: 
3.68 MB
Ringkasan
Isi: 

Di dalam pernikahan perbedaan-perbedaan itu tidak otomatis hilang. Saya ingin memberikan suatu catatan yaitu, pada waktu sebelum menikah perbedaan sering kali adalah hal-hal yang memikat kita. Kebalikannya setelah kita menikah perbedaan adalah hal-hal yang seringkali memisahkan kita. Kalau kita berhasil menyatukan diri kita, perbedaan-perbedaan itu akan melengkapi dan memperkuat. Itu betul sekali, tapi kalau kita tidak berhasil menyatukan diri kita dan mengharmoniskan hubungan kita, perbedaanlah yang akan menghancurkan pernikahan kita.

Masing-masing orang, khususnya suami dan istri harus mengambil sikap atau respons terhadap perbedaan, yang saya singkat dengan 3T :

  1. Akan ada perbedaan yang kita terima dengan hati lapang, kita senang dengan perbedaan itu karena perbedaan itu menguntungkan kita.

  2. T kedua adalah toleransi. Ada hal-hal yang harus kita toleransi, toleransi di sini tidak berarti saya bisa tidak menghiraukannya. Hal yang kita toleransi adalah hal yang menjengkelkan kita. Dalam hal ini dibutuhkan pengorbanan karena hati harus terus-menerus disakiti dan kesal. Ada hal-hal yang memang harus kita kompromikan dan sesuaikan dengan pasangan kita, tapi ada hal-hal yang mungkin itulah kekhasan kita dan tidak mudah untuk diubah. Orang yang selalu mengusahakan pasangannya berubah akan membuat pasangannya itu kehilangan dirinya, individualitasnya.

  3. T yang ketiga yaitu tolong. Kita tidak bisa mengharapkan pasangan kita berubah hanya melalui perkataan, kita harus menolong dia berubah. Artinya kita harus terlibat dalam problem sehingga dia akhirnya bisa keluar dan memperbaiki atau berubah seperti yang kita harapkan.

Ada beberapa cara kreatif yang bisa kita lakukan untuk menolong pasangan untuk berubah:

  1. Kita perlu memberikan penjelasan sedemikian rupa sehingga pasangan kita mengerti. Sering kali kita memberikan penjelasan melalui kaca mata kita, kita harus tanggalkan kaca mata kita, beri penjelasan melalui kaca mata pasangan kita.

  2. Bantu dia kerjakan atau usahakan bersama-sama. Dalam hal ini kita turut terlibat untuk melakukan pekerjaan bukan hanya dalam bentuk perintah saja. Kita perlu kerelaan hati untuk melakukannya, kita harus mengalahkan diri untuk berusaha ikut-ikut susah, karena akhirnya kita harus turun tangan.

  3. Menolong dalam pengertian memberikan ingatan atau mengingatkan. Ada hal-hal yang harus kita ingatkan hanya sekali, tapi ada hal yang harus kita ingatkan 1000 kali dan belum tentu ada perubahan. Jadi dalam pernikahan memang akan ada hal-hal yang sulit sekali berubah. Tapi ada hal yang bisa kita terima dengan mudah, kita sambut karena itu menguntungkan kita. Ada hal yang harus kita toleransi, ada hal yang kita ingin ubah.

Yang menjadi kunci, wujud atau bukti keharmonisan keluarga sebetulnya bukan berapa banyak yang kita terima, juga bukan berapa banyak yang kita toleransi karena itu menjengkelkan, tapi berapa banyak yang berhasil kita ubah melalui proses tolong-menolong.

Galatia 6:2, "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." Ayat ini indah sekali dan cukup keras, sebab firman Tuhan berkata kita memenuhi hukum Kristus tatkala kita saling menolong dan menanggung beban. Itu adalah wujud nyata, wujud konkret menanggung beban sesama kita, saling menolong dan dengan cara itulah kita memenuhi hukum Kristus. Jadi pernikahan adalah suatu ajang atau kesempatan untuk kita saling tolong.