Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereMemahami Para Lanjut Usia

Memahami Para Lanjut Usia


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T032A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Dalam hal ini kita diajarkan untuk melihat usia tua itu sebagai usia yang indah, dan tentunya kita juga harus dapat menghadapinya di antaranya kita dapat menerima keterbatasan, belajar untuk hidup bergantung dll.

MP3: 
3.48 MB
Ringkasan
Isi: 

Mungkin banyak di antara kita yang saat ini punya orang tua yang sudah lanjut usia dan masih bersama-sama dengan kita. Kita bersyukur atau kita senang kadang-kadang bisa mendengarkan pengalaman hidup mereka. Namun harus diakui di sisi yang lain kadang-kadang kita kewalahan atau menemui banyak kendala dalam berhubungan dengan mereka.

Secara garis besar orang itu dianggap lanjut usia sesudah ia berusia sekitar 60 atau 65 tahun. Usia tua memang ditandai oleh suatu proses yang sangat nampak dan bisa dilihat dengan sangat jelas sekali. Yang paling nyata adalah secara fisik akan ada perubahan-perubahan yang menandakan menuanya diri seseorang. Misalkan, jalannya tidak secepat dulu, daya tahan tubuhnya untuk bertahan di cuaca dingin makin berkurang, tulang-tulang mereka mulai merapuh, urat-urat saraf mereka jadi kaku sehingga mereka tidak selincah orang yang masih muda.

Kehidupan manusia bisa dibagi dalam beberapa tahapan, yaitu:

  1. Tahapan anak-anak yang juga dibagi-bagi lagi menjadi masa bayi, masa balita, masa kanak-kanak atau usia sekolah.

  2. Masa remaja (ini boleh juga dimasukkan dalam kelompok usia kanak-kanak dari usia sekitar 11 sampai sekitar 17, 18 tahun).

  3. Masa dewasa, sekitar usia 20 tahun memasuki masa pemuda dini atau masa dewasa awal, sampai kira-kira usia 50-an atau 60 tahun. Masa dewasa sebenarnya dibagi dalam 3 tahapan.

  4. Masa usia tua atau lanjut usia.

Kebutuhan emosional kaum lanjut usia lebih besar daripada kebutuhan jasmani mereka. Kebutuhan emosional para orang tua memang unik karena ada 2 golongan lansia, dan kebutuhannya otomatis akan sangat berbeda.
  1. Yang pertama adalah mereka yang memang siap menerima fakta bahwa ia sudah lanjut usia. Maksudnya menerima fakta adalah menerima keterbatasannya, salah satu contohnya ialah pensiun. Jadi orang ini siap menerima konsekuensi usia tuanya.

  2. Yang kedua adalah mereka yang memang belum siap memasuki usia tua, akibatnya ia tidak begitu siap untuk menanggung konsekuensi usia tua tersebut.

Ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk mempersiapkan diri kita memasuki usia tua.
  1. Salah satu hal penting yang harus kita persiapkan adalah pada masa usia sebelum tua, kita harus siap hidup untuk masa sekarang ini. Usia tua adalah usia dimana kita ini merefleksi ke belakang. Seorang yang bernama Eric Erickson memberikan tema pada usia tua yaitu, seseorang akan mengalami suatu pertentangan antara yang dia sebut integritas dan yang disebut keputusasaan. Maksudnya apa? Orang yang melewati usia-usia sebelum tua dengan baik, jauh lebih siap memasuki usia tua. Tapi orang yang melewati usia sebelum tua dengan tidak begitu mulus atau banyak problem, kurang siap untuk memasuki usia tuanya. Rasul Paulus dalam 2Timotius 4:7-8, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya." Jadi kebutuhan emosional terpokok yang diperlukan orang tua adalah orang tua itu perlu bisa hidup tanpa penyesalan

  2. Hal kedua yang penting untuk kita camkan adalah bagaimana kita berhubungan dengan orang lanjut usia. Orang yang lanjut usia akan bisa menerima hari tuanya dengan baik karena merasa hidupnya telah bernilai.

  3. Kebutuhan emosional lainnya yang berkaitan dengan kedua hal di atas ialah mereka tetap ingin berguna.

Amsal 17:6, "Mahkota orang-orang tua adalah anak cucu dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka." Alkitab memang menegaskan bahwa mahkota orang tua adalah anak cucu. Artinya seperti yang dikatakan Eric Erickson juga yaitu orang tua bisa melihat ke belakang dan senang dengan keadaan anak cucunya, ia tidak dihimpit oleh penyesalan dan akan menjadi orang tua yang sangat-sangat tenang pula.