Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereKetegasan dalam Mendidik Anak

Ketegasan dalam Mendidik Anak


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T089A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Salah satu masalah dasar di dalam pendidikan anak adalah pergumulan untuk menyeimbangkan antara membiarkan anak sehingga anak bisa mengembangkan dirinya atau membatasi anak yaitu anak tidak bisa semau-maunya. Dan kedua hal ini perlu sekali ada keseimbangan.

MP3: 
3.38 MB
Ringkasan
Isi: 

Dalam mendidik anak, jika tidak berhati-hati, mudah sekali bagi orang tua untuk jatuh ke dalam salah satu sikap yang tidak sehat. Ada orang tua yang terlalu menekankan anaknya sehingga anak kehilangan kebebasan untuk mengembangkan dirinya. Di pihak lain, ada orang tua yang terlalu membiarkan anak berlaku semaunya sehingga anaklah yang mengemudikan orang tuanya.

Kita akan melihat prinsip-prinsip bagaimana menegakkan ketegasan, yang akan diambil dari cerita Alkitab yaitu:
I Samuel 2: 12-14, dari latar belakang kisah yang dicatat ini kita bisa melihat bahwa kedua anak Eli hidup dalam dosa yang sangat serius.
I Samuel 2:22-24, kita juga bisa melihat, anak Eli yang seharusnya menjadi suri tauladan ternyata menjadi perintis perbuatan dosa di kalangan umat Israel dan sebagai imam dia telah melakukan begitu banyak hal yang jahat dan berdosa.
I Samuel 2:29, Tuhan menegur Eli, dari bagian Alkitab ini kita melihat suatu kisah yang tragis tentang seorang hamba Tuhan yang gagal membesarkan anak-anaknya dengan baik di hadapan Tuhan.

Yang dapat kita pelajari adalah:

  1. Eli gagal menetapkan batas hak pada anak-anaknya dalam hal ini hak sebagai imam. Dengan kata lain Eli gagal menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri anak-anaknya.
    Ada dua hal yang perlu kita perhatikan di sini adalah:

    1. Hak harus disertai kewajiban dan kewajiban berasal dari tanggung jawab yang diserahkan kepada anak. Misalnya hak untuk dicintai orang tua berjalan seiring dengan kewajiban menghormati orang tua.

    2. Tidak ada hak yang tak terbatas, semua hak mempunyai batasnya. Misalnya ada hak untuk memiliki uang saku, tidak berarti dia dapat membeli apa saja yang diinginkannya, ada hak menyuruh pembantu rumah tangga, tidak berarti si anak boleh menyuruh apa saja dan kapan saja.

  2. Prinsip kedua, Eli melakukan pelanggaran yang sama yakni turut mengambil bagian dalam dosa anak-anaknya, dengan kata lain Eli tidak konsisten. Ketidakkonsistenan merupakan pembunuh orang tua yang nomor satu.
    Dua aspek tentang kekonsistenan orangtua:

    1. Orang tua tidak melakukan pelanggaran yang sama atau melakukan hal negatif yang dilarangnya.

    2. Orang tua melakukan hal yang positif yang diharapkannya.

  3. Eli tidak menghukum anak-anaknya. Menghukum anak berarti mendidik anak bahwa tindakan membawa akibat. Hukuman memang perlu dipertimbangkan:

    1. Hukuman diberikan harus sesuai usia anak, jangan memukul keras pada anak yang masih kecil. Dianjurkan pukullah pantat anak jangan badan atau kepalanya.

    2. Hukuman harus sakit namun tidak boleh melukai tubuhnya atau merendahkan martabatnya.

    3. Hukuman diberikan dengan segera setelah pelanggaran dilakukan.

    4. Hukuman diberikan setelah peringatan diberikan atau konsekuensinya diketahui oleh anak.

Amsal 22:6, "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." Buah ketidaktegasan tidak terlihat dengan segera, buah ketidaktegasan muncul di kemudian hari. Jadi kuncinya adalah jadilah tegas tanpa harus menjadi beringas dan mulailah sejak dini.