Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereKepercayaan Diri

Kepercayaan Diri


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T014B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Kepercayaan diri akan muncul pada diri anak apabila ada bekal atau bahan-bahan yang positif yang dia terima dari orangtuanya atau lingkungan di mana dia ada, di gereja misalnya. Dan mengenai bahan apa saja yang diperlukan topik ini akan membahasnya.

MP3: 
3.18 MB
Ringkasan
Isi: 

Ada 2 aspek besar di dalam kepercayaan diri, sbb:

  1. Aspek diri itu sendiri, yang dimaksud diri bukan hanya tubuh jasmani namun yang lebih penting lagi adalah substansi dari diri kita. Yaitu siapa kita menurut pandangan kita dan juga yang terpenting adalah mempunyai suatu kekuatan dari dalam diri kita sehingga waktu kita mengarungi hidup, kita tidak merasa sebagai orang yang tersesat, terkatung-katung tanpa arah, sebab kita mempunyai substansi atau suatu isi dari dalam diri kita.

  2. Aspek mempercayai diri. Jadi mempercayai pertimbangan kita, mempercayai kemampuan, kebiasaan yang bersumber dari satu hal yaitu kita mesti memiliki penilaian tentang diri yang lumayan positif.

Diri sebenarnya berasal dari bahan, bahan yang kita serap dari lingkungan kita dan terutama adalah dari keluarga kita. Jadi yang dimaksud dengan bahan adalah interaksi, pergaulan antara kita dengan orangtua kita. Yang dimaksud interaksi atau pergaulan adalah hidup bersama-sama dengan orangtua, melihat perilaku mereka, dididik oleh mereka, dinasihati oleh mereka, mengisi diri kita sehingga diri kita itu tidak kosong. Misalkan anak sudah berjanji kepada orangtua akan ada di rumah jam 09.00 malam, ternyata dia pulang jam 11.00 malam. Orangtua marah, waktu marah orangtua kemudian mengatakan satu kalimat: "Engkau harus belajar menepati janjimu, sebab orang hanya akan percaya kepada engkau kalau engkau bertanggung jawab dengan janjimu," itu adalah bahan. Bahan yang akhirnya membentuk diri dia, sebab si anak-anak tiba-tiba saat itu disadarkan akan satu hal yang mungkin dulunya dia sepelekan yaitu bahwa perkataannya atau janjinya itu adalah sesuatu yang akan dipegang oleh orang dan menjadi bahan penilaian orang terhadap dirinya.

Bahan di sini bisa positif maupun negatif. Bahan yang positif dapat menambah kekuatannya, bahan yang negatif justru akan menghancurkan dirinya.

Jadi di sini ada 2 aspek:

Pertama adalah kekurangan bahan yang positif misalnya orangtua jarang bergaul dengan anak, dua-dua sibuk, pulang malam, jarang mengungkapkan cinta, ngobrol, berdiskusi dengan anak hal ini menjadikan defisit, kekurangan dalam diri anak.

Kedua, banyak negatifnya artinya anak dikritik, anak dituntut secara berlebihan, dimarahi semau-maunya dsb itu adalah interaksi atau bahan-bahan negatif yang diserap oleh si anak sehingga si anak akhirnya memiliki diri yang penuh dengan perasaan-perasaan negatif.

Aspek mempercayai diri bersumber dari satu hal yaitu kita mesti memiliki penilaian tentang diri yang lumayan positif, apakah kita bisa mempercayai keputusan yang diambil oleh diri kita ini. Ada orang yang senantiasa ragu-ragu mengambil keputusan. Kerapuhan penilaian diri sangat tampak pada keputusan yang telah diambil yaitu seringkali keputusan itu diambil bukan berdasarkan pada apa yang kita pikir, apa yang telah kita timbang dengan baik-baik namun kita sangat dipengaruhi oleh faktor akibat. Kepercayaan diri yang lemah seringkali muncul atau terlihat dalam kasus seperti ini, jadi terlalu memikirkan pandangan orang, penilaian orang nanti akibatnya bagaimana, nanti orang lihat saya bagaimana, sehingga akhirnya keinginan diri, ide dari diri sendiri tertindih dan tidak muncul.

Yang perlu dilakukan untuk mengatasi / membangun kepercayaan diri adalah:

Pertama-tama, tahu siapa diri kita di hadapan Tuhan.

  1. Kita mesti bereskan dulu relasi kita dengan Tuhan, Firman Tuhan menyatakan bahwa kita ini adalah anak Tuhan, dilihat Tuhan secara khusus dan spesial. Dengan kata lain kita mesti melihat bahwa kita ini diciptakan Tuhan bukan karena kebetulan, memang kita muncul dari orangtua tapi kehadiran kita di dunia ini ditetapkan oleh Tuhan, Tuhan menghendaki kita ada. Itu berarti Tuhan mempunyai rencana dengan kehadiran kita ini dan kita sebaiknya hidup sesuai dengan rencana Tuhan.

  2. Mulai mengisi diri kita dengan pergaulan yang positif, kita mencari teman yang positif yang membangun, kita mencari lingkungan yang positif dan membangun relasi dengan baik.

Kedua, mempercayai diri. Di sini kita memang perlu pengalaman sukses, pengalaman keberhasilan dan juga perlu tanggapan dari orang lain bahwa kita berhasil. Nah dari kedua hal inilah kita akhirnya perlahan-lahan mulai membangun kepercayaan diri.