Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereKendala dalam Berkomunikasi

Kendala dalam Berkomunikasi


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T116A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Komunikasi adalah sebuah seni, sebuah keterampilan. Komunikasi bukan saja sebagai alat untuk kita menyampaikan sesuatu tetapi bagaimanakah kita bisa mendengarkan sesuatu sehingga apa yang disampaikan pasangan kita dapat kita terima dengan tepat.

MP3: 
3.82 MB
Ringkasan
Isi: 

Tiga kendala dalam berkomunikasi adalah:

  1. Nada suara, jadi adakalanya kita ingin menyampaikan sesuatu namun nada suara kita itu tidaklah pas, tidaklah mendukung. Dr. James Dobson mengatakan bahwa kalau saja kita bisa mengontrol nada suara kita dengan tepat sehingga mendukung apa yang kita sampaikan sebetulnya kita bisa menghindarkan banyak pertengkaran. Amsal 10 : 32, Memberikan kita nasihat yang indah, "Bibir orang benar tahu akan hal yang menyenangkan, tetapi mulut orang fasik hanya tahu tipu muslihat." Artinya :

    1. Bibir orang benar tahu hal yang pas, tahu apa yang disampaikan dengan pas. Bukan saja perkataaannya yang pas tapi juga nada suara kita, jadi samakanlah nada suara kita dengan emosi dan maksud hati kita agar kita ini bisa menyampaikan dengan tepat apa itu yang kita ingin sampaikan.

    2. Sebisanya kita mengurangi atau melembutkan nada suara kita agar berita yang kita ingin sampaikan lebih dapat diterima. Sebab pada dasarnya orang akan bereaksi dengan defensif, dengan marah terhadap emosi marah. Waktu kita berhasil menyampaikan sesuatu dengan nada yang lembut meskipun isinya tidak enak, dia dengar tapi reaksinya biasanya tidak akan keras.

  • Meng-iakan yang memang ia. Ini hal yang mudah-mudah gampang karena kita ini cenderung lebih untuk berkata tidak dari pada berkata ya, berkata tidak dalam pengertian kita menyangkal atau menolak. Yang kita persoalkan adalah:

    1. Cara penyampaiannya, yang mungkin kurang tepat, terlalu keras atau terlalu tergesa-gesa atau juga waktunya kurang pas. Namun kita harus mengakui kebenaran perkataannya kalau memang itu benar, meskipun kita tidak suka.

    2. Kekurangtepatan kwantitas yang dituduhkannya.

  • Memotong percakapan. Ada beberapa alasan kenapa kita cenderung memotong percakapan orang yaitu:

    1. Paling umumnya kita tidak sabar karena sudah tahu arah percakapan itu. Meskipun kita sudah tahu sebaiknya kita membiarkan orang menyelesaikan perkataannya apalagi dengan pasangan sendiri.

    2. Kita tidak ingin dia mengatakan hal-hal yang akan disampaikannya. Jadi kita sudah tahu kira-kira dia akan ke mana dan kita tidak suka.

    3. Kita ingin merendahkannya, dan kita tidak merasa harus mendengarkannya. Hal ini memang fatal, berarti memang kita sudah tidak ada respek sama dia.

    4. Kita terlalu emosional, dan ingin melampiaskan emosi kita sampai puas.

    Dampak dari memotong percakapan orang adalah:

    1. Membuat orang frustasi

    2. Orang tidak akan merasa dihargai dan ini menjadi bahan untuk menambah amunisi kemarahan orang.

    Amsal 10:8, "Siapa bijak hati, memperhatikan perintah-perintah, tetapi siapa bodoh bicaranya akan jatuh."

    Jadi Tuhan menekankan sekali pada apa yang keluar dari hati kita, apa yang kita ucapkan, komunikasi kita yang bijaksana justru membangun, orang yang bodoh, tidak bijaksana dalam berkomunikasi akan jatuh.