Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereDampak Keberhasilan Istri pada Suami

Dampak Keberhasilan Istri pada Suami


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T318B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Seharusnyalah para suami berbahagia dengan keberhasilan istri di dalam kariernya namun faktanya tidak semua merasa bahagia. Penyebabnya sudah tentu bukanlah keberhasilan itu sendiri melainkan dampak keberhasilan itu pada dirinya. Itu sebabnya kita perlu melihat hal ini dengan saksama agar kita dapat menghindar dari dampak buruk yang berpotensi merusak pernikahan. Ada 4 hal yang membuat suami tidak menyambut keberhasilan istri dengan gembira dan bagaimana sikap istri dalam menanggapi perilaku suami yang tidak suka dengan keberhasilan istrinya ?
MP3: 
3.60 MB
Ringkasan
Isi: 

Seharusnyalah semua suami berbahagia dengan keberhasilan istri di dalam kariernya namun faktanya tidak semua merasa bahagia. Penyebabnya sudah tentu bukanlah keberhasilan itu sendiri melainkan dampak keberhasilan itu pada dirinya. Itu sebabnya kita perlu melihat hal ini dengan saksama agar kita dapat menghindar dari dampak buruk yang berpotensi merusak pernikahan.

Berikut ini akan dipaparkan beberapa penyebab mengapa suami tidak menyambut keberhasilan istri dengan gembira.

  1. Penyebab pertama mengapa suami tidak menyambut gembira keberhasilan istri adalah dikarenakan ketakutannya sendiri bahwa ia tidak lagi dapat menjadi kepala keluarga. Kita hidup di dalam dunia yang menjadikan uang dan kedudukan sebagai penentu kekuasaan dan pengaruh. Itu sebabnya menanjaknya karier istri dapat menciutkan kepercayaan diri suami yang merasa bahwa sekarang ia berada di bawah kendali istri. Alhasil, ia menjadi sensitif dan cenderung menafsir tindakan istri sebagai upaya untuk mengendalikannya dan sebagai sikap yang tidak menghormatinya.
  2. Berikut, mengapa suami tidak menyambut gembira keberhasilan istri adalah karena sekarang ia harus memikul beban mengurus rumah tangga. Sering kali keberhasilan istri dalam karier mengharuskannya untuk meninggalkan keluarga. Sebagai akibatnya tugas rumah tangga mesti ditanggung suami dan sudah tentu tidak semua suami menyambutnya dengan gembira
  3. Kadang ada pula suami yang malah menjadi malas oleh karena keberhasilan istri. Ia beranggapan bahwa sekarang ia tidak lagi harus bekerja sekeras dulu dan mulai mengandalkan istri untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Singkat kata, ia memanfaatkan istri untuk mengongkosi kebutuhannya dan keluarga.
  4. Ada pula suami yang karena istri bertambah berhasil dalam karier malah mengembangkan kebiasaan buruk seperti berjudi, bermabuk-mabukan, atau berzinah. Salah satu penyebabnya adalah tersedianya kesempatan untuk melakukan semua itu.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah yang seharusnya dilakukan istri bila inilah yang terjadi ?

  1. Pertama, istri harus bersikap biasa kepada suami setelah peningkatan kedudukan dan penghasilan. Dengan kata lain, usahakanlah agar keberhasilan ini tidak memunculkan sikap atau tindakan yang dapat digunakan suami untuk menuduh bahwa istri telah merendahkan dan tidak lagi menghormati dirinya.
  2. Sebaliknya, jangan sampai istri merasa takut untuk membicarakan tentang uang. Bila memang harus dilakukan pembahasan tentang pemakaian atau penyimpanan uang, lakukanlah. Sekali lagi, hiduplah seperti biasanya. Jangan membesarkan perihal kenaikan penghasilan atau kedudukan.
  3. Sebelum menerima promosi sebaiknya istri merundingkannya terlebih dahulu dengan suami. Bicarakanlah dampaknya pada tugasnya di rumah dan mengurus anak. Tanyakanlah pendapatnya dan berilah waktu kepadanya untuk memertimbangkan hal ini. Jangan memaksanya untuk cepat mengiyakan permintaan ini. Keterlibatan suami dalam pengambilan keputusan akan membuatnya merasa berandil dalam proses ini dan lebih siap untuk menanggung konsekuensinya.
  4. Sering-seringlah memberi penghargaan kepada suami yang harus memikul beban keluarga. Jangan berkata bahwa memang sudah semestinyalah ia menanggung beban keluarga. Hargailah dan berterima kasihlah atas kesediaannya mendukung istri sejauh ini.
  5. Kemukakan kepada suami bahwa keluarga menempati prioritas atas. Jadi, bila sampai terjadi masalah dalam keluarga yang menuntut pengorbanan istri untuk mengurangi atau bahkan melepaskan pekerjaannya, istri siap untuk melakukannya.
  6. Apabila terlihat jelas bahwa suami memanfaatkan istri, tolaklah permintaannya. Jangan takut untuk dituduh bahwa istri terlalu menghina suami. Sekali lagi, hal ini hanya boleh dilakukan bila memang terlihat jelas suami berubah malas dan memanfaatkan istri sebagai pemenuh kebutuhannya.
  7. Jika suami terlibat perilaku berdosa karena istri jarang di rumah, ajaklah suami untuk menjalani bimbingan agar rumah tangga dipulihkan kembali. Ingatlah Firman Tuhan yang berkata, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semua itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33)