Karakter/Kepribadian
Submitted by admin on Thu, 12/11/2009 - 1:45pm.
Abstrak:
Tidak ada yang senang dengan kesusahan. Sedapatnya kita berupaya untuk menghindar dari kesusahan. Bagi kita kesusahan identik dengan kesengsaraan dan kesengsaraan identik dengan kemunduran yang berakhir dengan keputusasaan—sebuah cara pandang yang pesimistik dan negatif. Namun sebuah karakter yang dihasilkan kesengsaraan adalah karakter yang bergantung penuh pada Tuhan. Ada 6 hal yang akan diuraikan untuk proses pembentukan karakter yang melibatkan kesusahan dan kesengsaraan.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami terdahulu tentang "Kesengsaraan dan Karakter". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, kali ini kita masih akan melanjutkan perbincangan kita yang terdahulu tentang kesengsaraan dan karakter dan mungkin ada beberapa pendengar kita yang waktu itu tidak sempat mendengarkan. Mungkin Pak Paul bisa mengulas secara singkat apa yang sudah kita bicarakan pada kesempatan yang lalu ?
PG : Pembahasan kita sebetulnya didasarkan dari Roma 5:3-5, yaitu Firman Tuhan yang berkata, "Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." Pak Gunawan, pada dasarnya seperti ini. Kita ini kadang-kadang tidak berpikir realistik dan kita ingin memunyai karakter yang indah tapi kita tidak mau untuk membayar harganya, ternyata untuk bisa memiliki karakter yang baik perlu harga mahal yang harus kita bayar dan harga mahal itu adalah kesengsaraan. Dari manakah munculnya kesengsaraan? Kesengsaraan adalah sebuah reaksi yang keluar dari diri kita atas kesusahan yang kita alami. Saya bisa gambarkan seperti ini, kesusahan itu datang dari luar diri kita, misalkan sebuah musibah yakni kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang kita kasihi dan sebagainya. Sewaktu kita masih bisa menghadapinya, maka kita mungkin tidak sampai jatuh sengsara, tapi waktu kita tidak bisa lagi menahannya maka kita jatuh sengsara. Ternyata Firman Tuhan berkata, "Jangan melihat sengsara secara negatif, justru lihatlah secara positif karena dari kesengsaraan ini nanti akan keluar satu karakter yaitu buah ketekunan dan ketekunan ini nanti yang akan menghasilkan sebuah karakter yang bagus yaitu tahan uji dan nanti dari tahan uji akan keluar sebuah sikap hidup yang sangat penuh dengan pengharapan pada Tuhan. Jadi Rasul Paulus di kitab Roma meminta orang-orang Kristen untuk tidak lari dari kesusahan tapi berani menanggungnya sebab bagi Rasul Paulus, selagi Tuhan membiarkan kesengsaraan itu melanda hidup kita, Tuhan sedang mengerjakan sesuatu dalam hidup kita pula yaitu membangun sebuah manusia yang baru.
GS : Karakter yang Allah kehendaki ada di dalam kehidupan kita, sebenarnya terkait dengan karakter dari pribadi Allah sendiri, Pak Paul?
PG : Betul sekali. Jadi seperti ini, kadang kita beranggapan menjadi orang Kristen itu hanya hidup bebas dari hukuman dosa. Jadi kita datang kepada Tuhan seolah-olah datang kepada Penolong yang melepaskan kita dari masalah. Sudah tentu saya tidak akan berkata bahwa Tuhan tidak akan seperti itu, sudah tentu itu betul karena Tuhan adalah penolong kita dan Tuhan menolong tidak dengan terpaksa menolong kita, tapi memang Tuhan mau menolong kita. Namun Tuhan menyelamatkan kita bukan hanya dengan tujuan membebaskan kita dari hukuman dosa yaitu kematian. Tuhan menyelamatkan kita agar kita bisa bertumbuh menjadi anak-anak-Nya karena sebelumnya kita ini bukan anak Tuhan, tapi setelah kita menerima keselamatan dari Kristus Tuhan kita, maka kita menjadi anak-anak-Nya. Dia ingin menurunkan sifat-sifat-Nya kepada kita. Karena kita ini dari luar dan waktu masuk ke dalam rumah Tuhan, kita perlu belajar sifat-sifat Tuhan agar nantinya bisa mengembangkan sifat-sifat Allah itu. Maka Tuhan bukan saja menyelamatkan kita, tapi Tuhan juga membentuk kita supaya kita menjadi seperti Dia dan kita benar-benar menjadi anak Tuhan yang mewarisi sifat-sifat Allah. Konsep ini adalah konsep yang harus kita camkan karena sebagian dari orang-orang Kristen tidak menyadari hal ini dan hanya memikirkannya seperti ini, "Saya menjadi anak Tuhan supaya bisa mewarisi berkat-berkat Tuhan," itu adalah satu bagian yang diterima menjadi anak Tuhan yaitu mewarisi berkat-berkat Tuhan. Tapi terlebih penting yaitu Ia ingin agar kita mewarisi sifat-sifat-Nya dan bukan hanya berkat-berkat-Nya. Untuk bisa mewarisi sifat-sifat Allah itu, ternyata kita harus melalui jalan yang lumayan berat yaitu jalan kesengsaraan.
GS : Apakah ini juga terkait dengan pemulihan manusia sebagai gambar dan teladan Allah, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Kita ini diciptakan Tuhan sesuai dengan gambar-Nya, dan kita ini sangat serupa dengan Dia yaitu memiliki sifat-sifat Allah tetapi setelah kita jatuh ke dalam dosa sifat-sifat kita ini mengalami transformasi, transformasi menuju kepada yang buruk dan kita mewarisi sifat-sifat iblis. Sehingga misalnya kita menginginkan sesuatu dan kita tidak mendapatkannya maka kita marah, memukul orang. Kalau kita ingin sesuatu tapi jalan tertutup dan kita menggunakan jalan-jalan yang salah menipu kanan-kiri, itu adalah sifat-sifat iblis yang kita warisi dari iblis sebab waktu kita jatuh ke dalam dosa yang begitu dalam, kita tidak lagi memunyai sifat-sifat Allah tersebut malahan kita mewarisi sifat-sifat dari iblis. Tuhan menyelamatkan kita dan kita dibebaskan dari hukuman dosa yaitu kematian, kemudian Tuhan juga mulai membentuk kita agar kita ini kembali lagi menjadi seorang manusia sebagaimana Tuhan ciptakan menjadi anak-anak Allah yang sungguh-sungguh memiliki karakter-karakter Allah.
GS : Itu berarti membutuhkan suatu proses yang panjang bukan terjadi seketika ketika kita diselamatkan oleh Tuhan, begitu Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Proses untuk menjalani pembentukan ini sudah tentu harus berjalan seumur hidup dan tidak mengenal batas waktu. Kuncinya adalah kepatuhan. Ada anak-anak Tuhan yang susah bertumbuh dan susah mewarisi sifat Allah karena susah patuh. Sebaliknya kalau kita bersedia patuh yaitu dengan yang penting menerima, yang penting mengikuti semua yang menjadi kehendak Tuhan, maka makin patuh, makin cepat kita mewarisi sifat-sifat Allah. Ini menjelaskan sesuatu, mungkin kita mengenal orang yang sudah menjadi Kristen sudah berpuluhan tahun, bergereja dan menjadi orang Kristen tapi sifat-sifatnya tetap bukan sifat-sifat Kristus, sifat-sifatnya itu mirip dengan sifat-sifat iblis, kalau marah, benci, iri hati sungguh-sungguh bisa menjadi begitu jahat dan hati itu bisa menjadi begitu kotor. Kenapa bisa seperti itu? Besar kemungkinan karena orang ini tidak mengembangkan kepatuhan sehingga Allah itu ingin mewariskan sifat-sifat-Nya tapi tertahan oleh kekerasan hatinya. Tapi sebaliknya ada orang-orang yang belum lama menjadi orang Kristen dan menerima keselamatan dari Kristus namun dengan cepat mengalami perubahan-perubahan. Kenapa seperti itu? Karena lebih patuh, apa pun yang Tuhan ajarkan dia terima dan apa pun yang Tuhan inginkan, dia melakukannya. Akhirnya dengan cepat dia bertumbuh mewarisi sifat-sifat Allah itu.
GS : Ketidak patuhan kita, seringkali karena tidak sesuai atau tidak sejalan dengan apa yang kita pikirkan, "Allah itu membentuk saya, tapi kenapa caranya seperti ini ?"
PG : Khusus Pak Gunawan, tentang pembentukan karakter, jalannya itu hanya satu yaitu jalan kesengsaraan. Kenapa? Sebab di dalam kesengsaraan, maka karakter itu benar-benar dibentuk dan dipoles sehingga menjadi seperti yang Tuhan inginkan. Ibaratnya seperti besi yang begitu keras, mau dibengkokkan untuk menjadi alat yang berguna maka harus dibakar dan dipanaskan sampai besi yang begitu keras akhirnya lunak dan bisa dibengkokkan menjadi alat yang berguna. Begitu juga dengan kita, ibarat besi yang keras maka perlu api kesengsaraan yang membakar kita agar kita lunak, waktu sudah lunak barulah Tuhan bisa membengkokkan kita, menciptakan sebuah alat dalam diri kita yang berguna bagi pekerjaan Tuhan. Makanya untuk bisa menumbuhkan karakter yang Tuhan inginkan, tidak bisa tidak harus lewat jalan kesengsaraan.
GS : Kalau ada orang yang tidak tahan dengan kesengsaraan itu Pak Paul, seperti yang Pak Paul gambarkan yaitu seperti besi yang dibakar sampai panas dan kemudian dibengkokkan, kalau orang ini belum sampai panas kemudian dibengkokkan maka akhirnya patah. Jadi orang ini kemudian meninggalkan Tuhan atau bahkan memutuskan untuk bunuh diri. Apakah kita yang melihat seperti ini bisa berkata bahwa Tuhan itu terlalu berat memberikan kesengsaraan buat orang itu?
PG : Karena Dia adalah Tuhan, maka kita bisa berkata bahwa Tuhan tahu sebetulnya kesanggupan kita dan Tuhan sudah berjanji Dia tidak akan memberikan api pembakaran yang lebih panas dari apa yang bisa kita tanggung. Kalau sampai di tengah jalan kita sudah patah maka besar kemungkinan ini adalah pilihan kita. Bukan salah Tuhan yang memberikan kepada kita terlalu banyak, tapi salah kita yang tidak mau menerimanya maka kita kemudian lari sebab kekuatan Tuhan selalu tersedia. Namun saya tidak berkata karena ada kekuatan Tuhan maka kita tidak mengalami sakitnya. Itu sebabnya buah pertama yang disebut di kitab Roma tadi adalah ketekunan. Artinya waktu kita mengalami rasa sakit, tapi kita tidak lari tetap tekun artinya berdiam diri dan menahannya. Dalam rekaman yang lampau, saya sudah menggunakan istilah tempaan pukulan, ibarat orang yang belajar beladiri mau melatih ketahanan tubuhnya, justru dia harus memperkuat tangannya, badannya melalui pukulan-pukulan supaya lama-kelamaan tubuh itu mengeras dan mengeluarkan reaksi yang diharapkannya. Tetapi apakah dia tidak merasakan sakit lagi? Dia tetap merasakan sakit namun dia bisa menahannya. Kalau kita mau membedakan orang yang kuat atau yang lemah, yang dewasa atau yang kekanak-kanakan sudah tentu ini ukurannya. Orang yang dewasa dan kuat bisa menahan sakit, bisa menahan derita. Tapi orang yang lemah dan kekanak-kanakan tidak bisa menahan derita dan sakit, kalau ada derita dan sakit, dia menjadi kacau dan kalut, menyalahkan orang dan menuduh orang di sekitarnya untuk berbuat ini dan itu bagi dirinya. Tapi orang yang kuat dan dewasa bertahan, terdiam dan menghadapinya meskipun menerima pukulan demi pukulan dan dia tidak lagi lari kemana-mana. Inilah karakter yang Tuhan inginkan yaitu ketekunan.
GS : Padalah orang ini sulit sekali untuk menerima kesukaran yang seperti itu. Jadi dia memunyai kerentanan tersendiri terhadap penderitaan yang dia alami dan ini bagaimana, Pak Paul?
PG : Kadangkala kita ini harus mengakui bahwa kita tidak kuat dalam segala hal, adakalanya kita ini kuat menghadapi hal-hal tertentu, tapi dalam hal-hal yang lain kita tiba-tiba menjadi lemah. Jadi jarang ada orang yang kuat dalam segala hal. Sebagai contoh misalkan seorang wanita yang menghadapi hidup susah, tidak ada uang, dia tahan lapar, dia mengalami semua itu namun dia kuat, kemudian jatuh cinta kepada seseorang dan perempuan ini dicintai, tapi setelah satu tahun berpacaran dia ditinggal pacarnya, dia bisa sangat "down" tidak mau bertemu orang, mengalami depresi berat. Dan orang lain yang mengenal dia menjadi bingung, dulu dia mengalami kesusahan yang berat-berat namun dia tahan tapi ketika ditinggal pacar, reaksinya seperti ini. Kita ini adalah manusia yang tidak sempurna dan ketahanan kita ini jarang merata. Jadi ada waktu-waktu rasanya kita ini seperti terhantam. Di dalam hidup kalau kita mau mengembangkan karakter yang Tuhan inginkan memang kita harus melalui jalur kesengsaraan itu. Jadi justru di daerah dimana kita lemah dan rentan, biasanya Tuhan mengizinkan kesusahan datang dan sebagai reaksi kita mengalami kesengsaraan namun kalau kita bisa bertahan mengeluarkan ketekunan, maka lama-kelamaan kita akan mengeluarkan reaksi berikutnya yaitu tahan uji. Maksudnya tahan uji itu ialah tahan sakit, dari situlah nanti karakter Kristen itu akan bertumbuh.
GS : Pak Paul, ketidak mampuan seseorang menghadapi kesengsaraan dalam satu bidang seperti yang Pak Paul katakan, itu terkait dengan imannya atau tidak ?
PG : Saya kita tidak selalu terkait dengan iman, memang kadang-kadang orang cepat melabelkannya atau menuding, "Kamu ini kurang iman makanya kamu mengalami ini dan itu jadi kamu harus lebih kuat" dan sebagainya. Tapi seringkali yang saya temukan tidak seperti itu, jadi bukan masalah iman. Memang bisa jadi dalam hal-hal lain dia sungguh beriman kepada contoh yang saya berikan tadi. Kalau dia tidak beriman, maka pada waktu mengalami kesusahan, tidak ada pekerjaan atau uang dan sebagainya, kalau dia sama sekali tidak beriman harusnya dia juga tidak runtuh dari dulu tapi karena dia beriman maka dia bertahan. Pertanyaannya kenapa waktu ditinggal pacar dia bisa runtuh seperti itu dan dia kehilangan pegangan. Apa yang terjadi? Bisa jadi ini adalah wilayah yang memang lemah dalam hidupnya karena dari dulu wilayah ini tidak pernah terpenuhi. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang dalam hidupnya dan kemudian menemukan seorang pria yang menyayanginya, dia begitu senang dan menikmati kasih sayang itu namun akhirnya harus kehilangan orang yang dikasihinya karena dia tidak mau bersama dengan perempuan ini. Akhirnya dia mengalami reaksi yang begitu berat. Seringkali itu yang terjadi dan itu tidak berkaitan dengan kerohanian. Makanya di dalam rekaman yang lampau kita jangan cepat berkata, "Saya salah apa, Tuhan? Saya berdosa apa sehingga harus mengalami ini?" Belum tentu dan kadang tidak ada hubungannya dengan kesalahan atau dosa-dosa kita, tapi memang Tuhan membiarkan kesusahan itu datang agar akhirnya Dia bisa memperkuat wilayah yang lemah dalam diri kita itu.
GS : Pak Paul, kalau kita berbicara tentang ketekunan dan tahan uji, itu juga merupakan suatu karakter yang positif di dalam diri seseorang.
PG : Betul. Jadi itu adalah karakter yang lebih sesuai dengan desain awal Tuhan tentang siapakah manusia itu, manusia yang diciptakan Tuhan sesuai dengan gambar Tuhan adalah manusia yang seharusnya tahan uji yang memunyai ketekunan dan tidak mudah menyerah, bisa menahan derita dan sakit. Ini adalah yang Tuhan idamkan pada semua manusia dan bukan hanya kita sebagai orang-orang Kristen.
GS : Tapi prosesnya lama sekali. Misalkan kita tahan uji terhadap suatu penderitaan dan kesengsaraan, maka lain kali pasti akan menghadapi kesengsaraan dengan versi yang lain, Pak Paul ?
PG : Betul. Jadi tidak selalu kita kuat. Jadi mungkin saat ini kita kuat menghadapi pukulan yang berat, kemudian misalkan 10 tahun berlalu keadaan aman-aman saja, tapi kemudian terjadi sesuatu yang lain lagi. Sebetulnya kalau dilihat secara manusiawi, yang terjadi yang kedua itu lebih ringan daripada yang pertama, tapi bisa jadi waktu kita mengalaminya kita tidak bisa lagi kuat dan pada saat itu kita sedang lemah. Pada waktu kita sedang mengalami tiba-tiba hal itu menjadi sangat berat bagi kita. Namun sekali lagi yang mau kita pelajari adalah kita tidak mau bergantung pada berapa besarnya pukulan itu dan apakah pukulan itu? Kita harus bergantung kepada Tuhan yang memberi kita kekuatan, ini yang selalu Tuhan inginkan. Jadi jangan sampai mata kita bergeser dan harus terus memandang Yesus, memohon kekuatan dari-Nya, agar bisa menghadapi pukulan-pukulan hidup sebesar apa pun.
GS : Jadi tujuan utamanya adalah supaya kita punya harapan untuk terus-menerus berharap kepada Tuhan Yesus, menjalani hidup yang pasti ada kesengsaraannya ini, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi Firman Tuhan berkata, dari ketekunan muncul tahan uji dan nanti yang keluar adalah pengharapan. Orang yang memiliki karakter yang kuat yang indah seperti yang Tuhan inginkan adalah orang yang positif dan orang yang melihat harapan, dia tidak mudah berputusasa karena ini lahir dari pengalamannya. Dia mengalami tempaan, tapi Tuhan tetap menolong dan Tuhan memberikan kekuatan. Sebagai contoh, waktu saya selama 8 bulan tidak memunyai pekerjaan, saya tahu kalau Tuhan akan menolong saya, mencukupi saya dan saya menerima janji Tuhan bahwa sandal saya pun tidak akan lapuk, sebab Tuhan akan pelihara hidup saya. Waktu saya menjalani semua itu, tidak berarti saya tidak mengalami sakitnya, deritanya, sengsaranya, saya tetap mengalami semua itu tapi tetap saya klaim janji Tuhan, saya memohon kekuatan-Nya dan saya mau bersandar kepada kekayaan-Nya untuk mencukupi kebutuhan saya. Dan akhirnya saya melihatnya bahwa Tuhan menolong saya. Sebagai contoh, tidak ada asuransi kesehatan bagi kami sekeluarga karena saat itu tidak mampu bagi kami untuk membeli asuransi kesehatan. Tapi Tuhan menjaga kesehatan kami jadi kami tidak harus berobat ke rumah sakit. Memang Tuhan mencukupi dengan cara yang berbeda, dalam pikiran saya yang tradisional dan konvensional adalah Tuhan akan terus memberikan kecukupan finansial sehingga saya bisa memiliki asuransi, tidak seperti itu. Yang Tuhan lakukan adalah Tuhan memelihara kesehatan kami sehingga tidak perlu ke dokter atau ke rumah sakit. Tujuannya sama yaitu supaya saya bisa tetap hidup dan kita benar-benar harus terbuka dengan cara Tuhan. Waktu saya mengalami itu, saya berbicara dengan pembimbing rohani saya dan dia berkata kepada saya, "Paul, Tuhan itu dapat dipercaya. Percayakanlah semua kepada Dia." Dia berkata seperti itu kepada saya berdasarkan pengalaman. Dia seorang hamba Tuhan yang setiap 3 atau 4 tahun sekali harus menulis surat kepada pendukung-pendukung dananya, untuk menanyakan apakah mereka masih bersedia kembali memberikan dananya mendukung pelayanannya selama 3 atau 4 tahun mendatang. Itu berarti dia hidup hanya dari iman dan tidak ada yang tentu, namun dia sudah melayani Tuhan berpuluhan tahun, saya kenal dia disana sudah 30 tahunan lebih. Maka pada waktu dia berkata, "Tuhan memang layak dipercaya," itu keluar dari pengalamannya. Waktu sekarang saya berkata, "Tuhan memang bisa dipercaya, apa pun yang kita alami, kekurangan apa pun yang kita hadapi, Tuhan bisa dipercaya." Sekali lagi itu keluar dari pengalaman. Maka orang yang mengalami tempaan, orang itu selalu punya pengharapan, tidak negatif dan tidak pesimis.
GS : Itulah yang Rasul Paulus katakan yaitu pengharapan itu tidak mengecewakan dan karena kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita. Jadi ini adalah sesuatu yang telah terjadi bagi orang-orang yang mengalami kesukaran ini. Sudah ada pengharapan bagi orang itu karena kasih Allah, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Jadi waktu kita melihat bahwa Tuhan menolong kita, membukakan pintu, yang kita lihat apa? Sebetulnya bukan hanya pertolongan tapi juga kasih Allah. Begitu kita mengalami pertolongan Tuhan di situ maka kita melihat kasih Allah. Kemudian buntu lagi dan Tuhan bukakan lagi pintu yang lain, maka kita melihat kasih Allah. Jadi di mana-mana akhirnya yang kita lihat adalah kasih Allah. Orang yang mengalami kasih Allah terus-menerus, melihatnya terus menerus menjadi orang yang berpengharapan. Inilah manusia Kristiani yang Tuhan inginkan, maka sebagai Bapa yang mengasihi kita, Dia ingin mewariskan sifat-sifat ini kepada kita, tapi Dia mewariskannya melalui sebuah perjalanan yang bernama kesengsaraan.
GS : Kalau ini adalah proses seumur hidup, berarti kita harus siap sengsara untuk seumur hidup, Pak Paul ?
PG : Betul. Dan jarang di antara kita yang selama-lamanya mengalami sengsara namun hanya kadang-kadang saja kita melewati lembah kesengsaraan.
GS : Dari dua kali perbincangan kita kali ini, kesimpulan apa yang ingin Pak Paul sampaikan?
PG : Karakter yang disampaikan oleh kesengsaraan adalah karakter yang bergantung penuh pada Tuhan. Jika pada awalnya kita bergantung pada Tuhan, karena panik, tidak berdaya, setelah melewati ujian kita bergantung kepada Tuhan karena kita percaya sepenuhnya pada pemeliharaan Tuhan. Dengan kata lain, awal-awalnya bergantung dalam kepanikan akhirnya bergantung dalam kedamaian, kita tidak lagi mempertanyakan kehendak Tuhan sebab kita tahu rencana-Nya baik, kita tidak lagi mempertanyakan masa depan karena kita tahu bahwa Dia sudah di depan kita dan akan mengulurkan tangan memberikan pertolongan pada kita. Jadi bergantung dalam damai sejahtera.
GS : Jadi pengalaman kesengsaraan yang kita alami pada waktu yang lalu itu sangat berguna sebagai modal untuk kita menghadapi kesengsaraan yang berikutnya, begitu Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan dan nasehat-nasehat yang sudah disampaikan karena tentunya ini sangat berguna dan menjadi bekal bagi kita untuk menjalani kehidupan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Kesengsaraan dan Karakter" bagian yang kedua. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
"Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita."
Roma 5:3-5
Tidak ada yang senang dengan kesusahan. Sedapatnya kita berupaya untuk menghindar dari kesusahan. Bagi kita kesusahan identik dengan kesengsaraan dan kesengsaraan identik dengan kemunduran yang berakhir dengan keputusasaan-sebuah cara pandang yang pesimistik dan negatif.
Ternyata Tuhan tidak melihat kesusahan dengan kacamata yang pesimistik dan negatif. Sebaliknya, sebagaimana dapat kita baca pada ayat-ayat ini, Tuhan memandang kesusahan dengan kacamata yang jauh lebih optimistik dan positif. Kesusahan bukanlah sesuatu yang seharusnya berada di luar kehidupan kita sebagai orang Kristen. Ternyata kesusahan merupakan bagian dari kehidupan kita bersama Tuhan. Memang kesusahan tetap akan membuahkan kesengsaraan namun kesengsaraan itu sendiri adalah bagian dari pembentukan Tuhan menjadikan kita anak-anak-Nya yang matang. Berikut akan diuraikan proses pembentukan karakter yang melibatkan kesusahan dan kesengsaraan.
Kesusahan dan kesengsaraan. Selama kita hidup di dalam dunia kita tidak bisa lepas dari kesusahan-hal buruk yang berasal dari luar diri kita yang datang menimpa hidup kita. Misalkan, tanpa diduga anak yang kita kasihi mengalami kecelakaan. Atau, pekerjaan yang kita andalkan akhirnya mengalami kebangkrutan dan tubuh yang tadinya sehat tiba-tiba menderita sakit terminal. Semua ini adalah contoh keseharian dari kesusahan yang dapat kapan saja menimpa kita.
Kesusahan dan kehendak Allah. Acap kali tatkala sesuatu yang buruk menimpa kita bertanya-tanya, "Apakah kesalahan kita sehingga kita harus mengalami kesengsaraan ini?" Pertanyaan ini lumrah keluar dari mulut kita yang senantiasa berusaha untuk hidup diperkenan Tuhan. Jika selama ini kita tidak peduli dengan Tuhan, besar kemungkinan kita tidak akan menanyakan pertanyaan ini. Kita mungkin berpikir bahwa memang sudah seharusnyalah kita mengalami semua kesusahan ini. Atau, kita tidak menanyakan pertanyaan ini sebab selama ini kita juga tidak lagi memedulikan Tuhan.
Kesusahan masuk dalam rencana Tuhan dalam pengertian, Tuhan mengizinkan kesusahan itu menimpa kita sebab melalui kesusahan itu Tuhan akan menggenapi rencana-Nya yang tertentu. Kesusahan adalah bagian dari kehidupan di dunia yang tidak lagi sempurna; jadi, siapa pun-termasuk kita orang percaya-dapat mengalaminya. Di dalam Tuhan kita tahu bahwa Ia dapat dan akan menggunakan kesusahan itu untuk menggenapi rencana-Nya yang tertentu. Salah satu bagian dari rencana Tuhan (namun bukan satu-satunya tujuan akhir dari rencana Tuhan) adalah pembentukan karakter kita.
Jadi, kendati kita tergoda untuk menanyakan, apakah dosa atau kesalahan kita sehingga kita harus menanggung kesusahan ini, yakinlah bahwa kesusahan ini tidak terkait dengan perbuatan kita. Kesusahan ini terjadi dalam rencana atau kehendak Tuhan (kecuali bila kita sendiri yang memang hidup berdosa sehingga mendatangkan kesusahan ini pada diri kita).
Kesengsaraan dan pembentukan karakter. Tuhan mati menyelamatkan kita dari hukuman dosa bukan saja agar kita lepas dari jerat maut yang memisahkan kita selamanya dari Tuhan tetapi juga agar kita menjadi anak-anak-Nya. Dan, sebagai anak-anak-Nya Ia berkepentingan melihat kita menjadi serupa dengan-Nya-memiliki karakter Allah sendiri. Itu sebabnya dengan pelbagai cara-termasuk kesengsaraan-Tuhan berusaha menumbuhkan karakter yang diinginkan-Nya dalam diri kita.
Salah satu buah rohani yang dirindukan Tuhan bertumbuh pada diri anak-anak-Nya adalah ketekunan. Pada dasarnya ketekunan berarti ketahanan dalam penderitaan atau kesanggupan menahan sakit. Sewaktu kita merasakan kesakitan reaksi pertama adalah mencoba lari dari situasi yang menimbulkan rasa sakit atau berusaha menghilangkan sumber derita itu agar kita tidak lagi harus mengalami kesengsaraan.
Kuncinya di sini adalah bertahan. Itu sebabnya doa yang mesti dipanjatkan adalah doa untuk memohon kekuatan menahan kesengsaraan. Sewaktu Tuhan akan disalib, Ia berdoa meminta agar Allah Bapa berkenan mengubah garis kehendak-Nya dan melepaskan Allah Putra dari kesengsaraan. Inilah kesengsaraan dalam arti sesungguhnya dan inilah reaksi Allah Putra yang manusiawi-memohon kelepasan dari kesengsaraan.
Sebagaimana kita ketahui, Tuhan Yesus harus melewati lembah kesengsaraan. Itu sebabnya Allah Bapa tidak mengabulkan permohonan-Nya tetapi sebagai gantinya, Allah Bapa mengutus malaikat-Nya untuk memberi Kristus kekuatan (Lukas 22:42-43). Firman Tuhan di Lukas 22:44 menjelaskan kondisi Tuhan Yesus yang "sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa." Inilah kondisi kita tatkala mengarungi lembah kesengsaraan dan tidak ada jalan lain selain berdoa meminta kekuatan dari Tuhan.
Ketekunan dan tahan uji. Istilah tahan uji sebetulnya dapat pula diterjemahkan karakter. Singkat kata kendati terdapat sejumlah karakter yang indah namun puncak dari semua karakter adalah tahan uji. Seakan-akan Tuhan ingin berkata bahwa kalau kita telah memiliki tahan uji, kita telah lulus. Tahan uji keluar dari ketahanan yang memisahkan kita dari kehancuran. Tatkala mengalami tempaan, kita harus menahannya dan sampai titik tertentu kita merasa dekat sekali dengan kehancuran. Di saat nyaris hancur kita terus bertahan dan ternyata kita dapat bertahan sebab kekuatan Tuhan memberi kita kekuatan. Dengan kata lain, tahan uji muncul dari pengalaman nyaris hancur namun tidak hancur. Dari titik terendah karena kehabisan semua tenaga kemudian kembali memperoleh kekuatan untuk melanjutkan hidup.
Tahan uji dan pengharapan. Orang yang tahan uji adalah orang yang bukan saja pernah melihat tetapi juga mengalami pertolongan dan kekuatan Tuhan. Dari kebuntuan kita mengalami campur tangan Tuhan membukakan pintu; dari kegelapan kita melihat terang. Inilah pengalaman yang meyakinkan kita bahwa pertolongan dan kekuatan Tuhan selalu berada di samping kita ketika kita melewati lembah kesengsaraan.
Tidak heran orang yang telah melewatinya dan menghasilkan buah karakter, ia tidak mudah putus asa. Ia terus berpengharapan dan pengharapan ini muncul dari pengenalannya akan kasih Allah. Di dalam kesengsaraan ia menyaksikan dan mencicipi kasih Allah. Pada akhirnya ibarat pohon, ia pun berakar ke dalam dan menjadi kokoh, tidak mudah lagi diombang-ambingkan oleh terpaan badai kesusahan. Ia senantiasa melihat Tuhan di dalam setiap sudut kehidupannya. Ia tahu ia tidak pernah dan tidak akan sendirian.
Kesimpulan
Karakter yang dihasilkan kesengsaraan adalah karakter yang bergantung penuh pada Tuhan. Jika pada awalnya kita bergantung pada Tuhan karena panik dan tidak berdaya, setelah melewati ujian ini kita bergantung pada Tuhan karena kita percaya sepenuhnya pada pemeliharaan Tuhan. Kita tidak lagi mempertanyakan kehendak Tuhan sebab kita tahu rencana-Nya baik.
Submitted by admin on Thu, 12/11/2009 - 1:28pm.
Abstrak:
Tidak ada yang senang dengan kesusahan. Sedapatnya kita berupaya untuk menghindar dari kesusahan. Bagi kita kesusahan identik dengan kesengsaraan dan kesengsaraan identik dengan kemunduran yang berakhir dengan keputusasaan—sebuah cara pandang yang pesimistik dan negatif. Namun sebuah karakter yang dihasilkan kesengsaraan adalah karakter yang bergantung penuh pada Tuhan. Ada 6 hal yang akan diuraikan untuk proses pembentukan karakter yang melibatkan kesusahan dan kesengsaraan.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Kesengsaraan dan Karakter". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Kita agak sulit melihat kaitan antara kesengsaraan yang kita alami dan karakter yang akan Tuhan bentuk melalui kehidupan kita karena hal itu tidak terjadi seketika. Kesengsaraan ini seolah-olah menutup mata kita kalau kita terlalu tenggelam di dalam kesengsaraan dan kesedihan yang berkepanjangan. Ini bagaimana kaitannya, Pak Paul ?
PG : Saya kira sebagai manusia yang normal, sewaktu kita mengalami sebuah masalah yang berat dan orang berkata kepada kita, "Ini untuk kebaikan dan membuat kamu lebih dewasa" dan sebagainya, saya kira sulit kita melihat hal itu, sebab di dalam rasa sakit dan kesengsaraan, kita hanya bisa memfokuskan mata kita pada rasa sakit itu dan kita ingin segera keluar dari lilitan sengsara itu. Maka sangat sulit bagi kita melihat hal yang baik dari masalah yang sedang saya hadapi namun ini yang akan kita angkat, Pak Gunawan, sebab ternyata di dalam kamus Tuhan, Tuhan menempatkan kesengsaraan sebagai sebuah kata yang berharga yang indah dan ini yang nanti kita mau pelajari.
GS : Tapi sebenarnya Tuhan bisa membentuk kita tanpa harus melalui kesengsaraan, Pak Paul ?
PG : Dan masalahnya adalah untuk hal-hal lain Tuhan memang bisa melakukan lewat sarana yang berbeda, tapi nanti kita akan melihat khusus untuk pembentukan karakter, ternyata hanya ada satu cara yaitu lewat tempaan kesengsaraan. Jadi untuk menumbuhkan buah karakter yang Tuhan inginkan, tidak ada jalan lain harus melewati lembah kesengsaraan.
GS : Apa ada ayat Alkitab yang menunjang hal itu, Pak Paul ?
PG : Ada, Pak Gunawan. Saya bacakan di Roma 5:3-5, "Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." Jadi di sini kita bisa melihat bahwa sebagai orang Kristen sewaktu kita mengalami kesengsaraan, kita dipanggil untuk bermegah, bersukacita karena sebetulnya nanti kita akan menerima manfaatnya atau faedahnya yaitu pembentukan karakter dan ini yang Tuhan inginkan bagi kita supaya kita melihat bahwa waktu Tuhan mengizinkan kesengsaraan datang melewati hidup kita, maka ada sesuatu yang baik yang Tuhan sedang kerjakan di dalam hidup kita.
GS : Kalau kita sudah tahu tujuannya seperti itu yaitu tujuannya positif bagi diri kita tapi kita itu selalu mencoba untuk menghindar dan sebisa-bisanya menghindar dari kesengsaraan dan penderitaan. Kenapa, Pak Paul ?
PG : Karena yang pertama kita memunyai harapan bahwa hidup kita seharusnya baik, lancar, bahagia, penuh dengan keberhasilan. Semua orang pada dasarnya memunyai pengharapan seperti itu. Jadi jarang orang yang pada awalnya sudah beranggapan bahwa hidup saya nanti akan sarat dengan kesengsaraan. Oleh sebab itulah waktu kita mengalami kesulitan, kita akhirnya bertanya-tanya "Kenapa bisa seperti ini?" jadi sesuatu yang dianggap semestinya tidak terjadi. Nanti kita akan lebih membahas hal ini, tapi secara sekilas saya akan katakan bahwa pandangan ini keliru. Selama hidup di dalam dunia kita tidak boleh hanya berharap bahwa semua yang kita alami itu seperti yang kita harapkan, hidup kita akan diisi dengan keberhasilan dan tidak akan ada kemalangan yang datang mengunjungi kita. Itu adalah suatu anggapan yang keliru. Kita mesti secara realistik berkata, "Selama kita hidup maka kita akan selalu bersinggungan dengan kedua-duanya." Maka waktu kita mengalami hal-hal yang buruk, yang kita ingin lakukan ialah inginnya lari dan tidak mau menerima. Dan yang kedua, mengapa kita itu mau lari dari hal yang menyusahkan kita adalah karena kita memunyai daya tahan yang terbatas dan tidak semua sanggup untuk menahan sakit dan rata-rata semua orang bisa merasakan sakit baik itu secara fisik maupun secara mental. Maka waktu kesusahan datang dan kita harus mengalaminya, tidak bisa tidak tubuh kita atau jiwa kita berontak tatkala harus didera oleh rasa sakit itu dan reaksi kita sebagai manusia adalah ingin lepas dari rasa sakit itu.
GS : Dan seringkali waktu kita mengalami penderitaan atau kesusahan yang kita pikirkan adalah, "Saya ini dosa apa dan salah apa?" jadi kita fokus melihat pada salah kita sendiri dan bukan pada hasil seperti tadi yang dituliskan di dalam kitab Roma itu.
PG : Betul, Pak Gunawan, saya kira ini sebuah pertanyaan yang manusiawi sewaktu kita mengalami masalah yang berat, kita cenderung mulai menanyakan, "Apakah yang telah saya perbuat?" sebab kita ini seolah-olah memunyai sebuah keyakinan, kalau kita berbuat baik maka kebaikanlah yang juga datang. Kalau kita berbuat jahat maka kejahatanlah yang juga akan datang. Sudah tentu secara umum ini yang terjadi dan sudah tentu ini juga yang Tuhan inginkan agar kita alami dalam hidup ini. Tapi karena kita hidup masih dalam dunia yang tidak sempurna, adakalanya kita juga harus menerima bagian yang tidak mengenakkan itu dan ketika kita harus mengalaminya bisa jadi karena merupakan akibat dari perbuatan kita, tapi kalau kita tahu bahwa kita telah hidup berkenan kepada Tuhan sebetulnya hal itu tidak perlu kita tanyakan, "Apa yang telah saya perbuat, kesalahan apa? Dosa apa yang saya perbuat?" Sebab bisa jadi atau yang seringkali terjadi itu tidak ada kaitannya dengan perbuatan kita dan ini benar-benar bagian hidup dari dunia yang tidak sempurna ini.
GS : Tapi tadi kalau kita perhatikan pada ayat yang Pak Paul bacakan, kesengsaraan tidak membawa langsung kepada pengharapan dan memerlukan tahapan-tahapannya.
PG : Jadi begini Pak Gunawan, yang biasanya terjadi kenapa kita mengalami kesusahan. Kesusahan itu saya definisikan sebagai sesuatu yang berasal dari luar diri kita. Sesuatu yang buruk yang menimpa kita. Sudah tentu ada kesusahan yang dapat dengan mudah kita selesaikan, tapi ada kesusahan yang tidak mudah kita selesaikan, perlu waktu yang lebih lama. Dalam masa kita menjalaninya itu adakalanya kita merasa ini di luar tanggungan kita dan kita tidak mampu lagi untuk bisa menghadapi kesusahan ini. Di saat kita merasa tidak mampu menghadapinya, itu yang saya sebut dengan masa kesengsaraan dan benar-benar keseimbangan hidup kita terganggu, kita tidak memunyai lagi sukacita, hari lepas hari bangun tidur rasanya muram dan tidak ada lagi adanya masa depan dan kita hanya bisa melihat kegelapan di depan kita, kita tidak lagi merasa adanya kekuatan, karena hidup itu memerlukan dorongan dan kemudian ada dorongan, kalau tidak ada dorongan rasanya itu ambles dan akhirnya jatuh terkulai, itulah yang saya sebut dengan masa sengsara. Sebuah masa yang benar-benar sulit akibat daya tahan kita yang makin menipis sedangkan kesusahan yang dari luar tetap datang dengan kekuatan yang begitu besar.
GS : Misalkan saja kita kehilangan orang yang kita kasihi atau pekerjaan yang kita dambakan. Mungkin seperti itu, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi meskipun kita sudah siapkan hati untuk menerima bahwa hidup ini tidak sempurna dan dalam hidup ini ada yang namanya kesusahan, kematian dan sebagainya. Tapi akhirnya waktu kita harus mengalaminya sendiri itu memang lain ceritanya. Kita bisa menghibur orang yang misalnya kehilangan suami atau istrinya, tapi waktu kita harus mengalami kehilangan pasangan kita sendiri, itu sudah lain ceritanya, kita tidak bisa mengungkapkan derita kita, kita tidak bisa cetuskan dan kita tidak mendapatkan kekuatan dengan segera dan benar-benar kita seperti kehilangan keseimbangan hidup dan kita akhirnya terjungkal jatuh. Dan di saat-saat itu benar-benar sengsara. Ternyata waktu Tuhan ingin menumbuhkan karakter dalam diri kita, situasi seperti itu yang mesti kita alami dan barulah karakter itu akan keluar dengan indahnya. Sebagai contoh di Alkitab yang kita ingat ialah sewaktu Paulus dipenjarakan dengan Silas, kita tahu mereka bernyanyi dan kita tahu juga akhirnya Tuhan membebaskan mereka tapi waktu mereka bernyanyi mereka tidak tahu kalau mereka akan dibebaskan. Mereka bernyanyi dalam penjara dan pertanyaannya adalah mengapakah mereka bisa bernyanyi? Disini kita bisa melihat karakter, mereka adalah orang-orang yang telah ditempa oleh kesusahan dan pernah menjalani derita sengsara dalam hidupnya sehingga buah karakter itu keluar, waktu mereka dipenjarakan secara tidak adil, tidak ada ketentuan kapan mereka bisa lepas dari penjara atau kapan mereka bisa dibunuh atau dihukum mati, tapi mereka bisa bernyanyi. Itu adalah hasil dari tempaan kesusahan yang melahirkan derita-derita sengsara dan buah akhirnya adalah sebuah karakter yang begitu berkilau.
GS : Tapi pembentukan itu memerlukan waktu yang tidak sama dari diri setiap orang, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, memang ini sesuatu yang tidak bisa kita rencanakan dan sebaiknyalah kita tidak tahu, Pak Gunawan. Sebab kalau kita diberikan kesempatan oleh Tuhan melihat masa depan kita dan kita sudah diberitahukan Tuhan bahwa 20 tahun lagi kita akan mengalami kesengsaraan yang seperti ini, mungkin kita sudah mulai sengsara sejak hari ini sampai 20 tahun lagi. Dan waktu kita mengalami kesengsaraan itu yakni 20 tahun kemudian, benar-benar kita sudah tidak ada lagi tenaga dan kita benar-benar jatuh. Maka ada baiknya Tuhan tidak memberitahukan kepada kita apa yang akan kita tanggung di depan. Yang penting adalah kita tahu kalau itu harus kita lalui maka kekuatan Tuhanlah yang akan menjadi sandaran kita dan akan kita terima dari Dia. Jadi itulah yang menjadi kekuatan menghadapi hidup ini.
GS : Jadi kaitannya antara kesusahan dengan kesengsaraan ini bagaimana,Pak Paul ?
PG : Jadi artinya kesusahan itu peristiwa buruk yang menimpa kita yang datang dari luar, tapi tidak selalu peristiwa yang buruk menimbulkan kesengsaraan karena kadangkala kita bisa menghadapi kesusahan itu. Misalnya ada orang di PHK banyak orang bisa menghadapi PHK itu, kemudian mereka kerja serabutan, walau gaji hanya tinggal separuhnya hal itu tetap dilakukan dan masih bisa berjalan. Tapi misalkan orang yang sama mengalami kehilangan anaknya, istrinya atau orang tuanya, hal itu benar-benar tidak bisa ditanggung dengan mudah dan dia mengalami sebuah kesengsaraan karena kehilangan orang yang dikasihinya jadi benar-benar hidupnya itu sepi luar biasa akhirnya yang muncul sebuah kesengsaraan dan ini yang nanti Tuhan akan gunakan untuk membentuk karakter kita.
GS : Berarti ada kaitan yang erat antara kesusahan itu sendiri dengan rencana Allah atau kehendak Allah bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan, begitu Pak Paul?
PG : Saya kira ada. Sebab tidak ada yang terjadi di dalam hidup ini di luar kehendak Tuhan. Sebagai anak-anak Tuhan kita tahu bahwa kita dituntun Tuhan dengan cermat. Jadi apa pun yang kita alami itu dalam desain Tuhan. Seringkali waktu kita mengalami peristiwa yang menyusahkan kita, kita sering bertanya kepada Tuhan, "Kenapa hal ini harus terjadi?" seolah-olah ini di luar kehendak Tuhan, seolah-olah kita ini berpikir bahwa yang namanya kehendak Tuhan itu selalu berisikan permen-permen yang manis dan tidak pernah pare yang pahit. Ternyata kita harus belajar satu hal bahwa Tuhan tidak hanya memberikan kepada kita permen yang manis dan Tuhan kadang memberikan kepada kita pare yang pahit. Mengapa? Sekali saya sudah singgung bahwa yang pertama kita hidup di dalam dunia yang tidak sempurna. Kalau dari awal kita menjadi anak-anak Tuhan dan Tuhan selalu melindungi kita dari semua hal yang buruk, berarti kita sudah tidak tinggal lagi di dalam dunia, tapi kita sudah tinggal di surga. Selama tinggal di dunia kita harus menerima fakta karena kadangkala kita juga harus menerima yang susah itu. Setelah kita sadari hal itu maka kita akhirnya harus berkata, "Kalau begitu, saya menerimanya Tuhan, bahwa kesusahan ini pun berada dalam rencana Tuhan, tangan Tuhan tidak selalu membawa permen yang manis adakalanya pare yang pahit, dan pare yang pahit ini juga untuk kebaikan saya. Sebab Tuhan akan memakai kesusahan itu untuk menjadikan saya seorang anak Tuhan yang berkarakter." Jadi waktu kita mengalami kesusahan, jangan langsung melabelkan itu sesuatu yang terjadi di luar kehendak Tuhan. Waktu kita menderita sakit penyakit yang tidak kita duga, jangan beranggapan itu bukan dari Tuhan. Waktu kita misalkan mengalami tabrakan, kerugian dan sebagainya, jangan mengatakan itu bukan dari Tuhan, sebab belum tentu. Kadangkala Tuhan memang ijinkan itu terjadi. Saya kira Tuhan menempatkan buku Ayub bukan tanpa tujuan, tapi ada tujuan Tuhan yang tertentu dan salah satunya adalah supaya kita menyadari itulah bagian hidup seorang Kristen, kalau kita sebagai orang Kristen hanya menerima permen-permen yang manis untuk apa ada kitab Ayub, untuk apa ada cerita Yesus yang menderita dan sengsara yang akhirnya mati di kayu salib, bisa saja Tuhan menciptakan dan melepaskan kita dari dosa dengan cara-cara yang luar biasa, sehingga tidak ada lagi yang namanya darah yang harus dicucurkan, namun tidak seperti itu karena ini semua adalah bagian dari rencana Tuhan. Jadi kalau pun kita harus mengalami kesusahan maka kita terima porsi ini. Maka pada waktu Ayub menjawab istrinya yang menyerang dia, "Masakan kita hanya mau terima hal yang baik saja dari Tuhan dan tidak mau menerima yang buruk dari Tuhan." Jadi itulah yang mesti kita sadari, tapi di tangan Tuhan ada dua hal yaitu di satu tangan ada permen yang manis dan yang satunya memegang pare yang pahit.
GS : Tapi untuk bisa memahami hal seperti itu, sebelumnya orang-orang tersebut sudah harus pernah masuk ke dalam suasana kesengsaraan dalam bentuk yang lain, kemudian itu membentuk karakternya sehingga dia bisa menerima hal itu. Bagaimana dengan orang yang belum pernah mengalami hal seperti itu?
PG : Memang kalau saya bisa memastikan bahwa Tuhan akan memberikan kesusahan itu sedikit demi sedikit, atau mengizinkan kesusahan sedikit demi sedikit dan barulah yang lebih berat yang kita alami. Tapi harus saya akui bahwa tidak selalu itu terjadi, adakalanya orang mengalami musibah yang benar-benar terlalu berat dan saya pun tidak mengerti, tapi saya percaya bahwa Tuhan tahu kondisi dan kemampuan kita dan terlebih lagi Tuhan ingin agar kita tahu bahwa Dia selalu ingin memunyai kita kekuatan yang cukup untuk diberikan kepada kita supaya kita bisa menghadapi kesusahan itu. Jadi pada akhirnya sampai titik-titik terakhir kita harus berkata kepada Tuhan, "Saya tidak bisa lagi, hanya Engkau yang bisa. Tidak ada lagi kekuatan hanya Engkau yang memunyai kekuatan. Jadi biarlah dari kekuatan Tuhanlah saya bisa melanjutkan hidup ini." Jadi benar-benar besarnya kesusahan yang menimpa kita, namun kita harus bersandar kepada Tuhan untuk memberikan kepada kita pertolongan-Nya.
GS : Jadi sebenarnya kita tidak boleh terlalu mempermasalahkan kesengsaraan atau penderitaan yang kita alami, entah itu akibat dosa saya atau memang itu adalah sesuatu yang Tuhan ijinkan terjadi atas hidup saya, Pak Paul ?
PG : Betul, Pak Gunawan. Jadi waktu kita mengalami suatu kesusahan, lebih baik kita tidak bertanya lagi, "Apa dosa saya dan sebagainya?" kalau memang Tuhan ingatkan kita berdosa, biarlah ini bagian yang harus kita tanggung sebagai konsekwensinya, maka kita terima itu dengan jelas. Tapi kalau tidak ada kaitannya maka terima ini sebagai bagian dari rencana Tuhan. Satu hal yang ingin saya ingatkan kepada para pendengar kita adalah waktu kita berkata bahwa ini adalah kehendak Tuhan, maka kita harus berhati-hati karena yang saya maksud bukanlah orang yang melakukan perbuatan jahat kepada kita disuruh oleh Tuhan untuk menjahati kita, tidak seperti itu. Waktu kita dirampok, maka Tuhan yang menyuruh perampok itu untuk merampok rumah kita, tidak seperti itu. Jadi waktu kita berkata ini dalam kehendak Tuhan bukan berarti Tuhan menyuruh orang untuk berbuat jahat kepada kita. Tuhan tidak memunyai hati jahat, jadi Tuhan tidak akan pernah menyuruh orang berbuat jahat. Jadi waktu kita berkata ini adalah kehendak Tuhan artinya Tuhan mengizinkan dan Tuhan membiarkan yang buruk itu menimpa kita sebab ada tujuan Tuhan yang penting yang akan digenapi lewat peristiwa yang buruk itu.
GS : Tadi Rasul Paulus mengatakan bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan dan ketekunan itu menimbulkan tahan uji dan seterusnya baru kemudian menimbulkan pengharapan. Berarti disana kita harus tekun saja dalam masalah-masalah penderitaan ini.
PG : Betul, Pak Gunawan. Dan disinilah yang nanti akan kita fokuskan lebih mendalam lagi tapi intinya adalah kita mesti memiliki ketekunan. Orang-orang yang pernah belajar beladiri mengerti satu hal yaitu bagaimana pun dia menguasai teknik atau jurus-jurus beladiri tapi tetap akhirnya mereka harus membangun ketahanan diri. Walaupun mengetahui semua jurus tidak akan berguna kalau tubuhnya tidak memunyai ketahanan. Maka mereka harus melatih diri mengalami pemukulan-pemukulan supaya lama-lama tubuh mereka menjadi kuat dan tahan menghadapi kesakitan. Sudah tentu pada awalnya mengalami penempaan seperti itu rasanya sakit, tidak tahan tapi terus melatih diri dan membiarkan diri dipukul sehingga akhirnya perlahan-lahan tubuh mulai bereaksi mengembangkan otot-otot tertentu dan juga mematikan syaraf-syaraf tertentu sehingga akhirnya waktu dipukul, tidak lagi merasakan rasa sakit itu. Seperti itulah yang dimaksud di sini dalam Firman Tuhan, yaitu waktu kesusahan datang, membuat kita sengsara dan membuat kita bertahan dan diam seolah-olah seperti orang yang belajar beladiri seperti tadi yaitu dengan dipukul dan dipukul agar tubuhnya menjadi kuat. Dan kita pun seperti itu, yaitu kita diam dan bertahan dalam tempaan itu dan perlahan-lahan muncullah sebuah reaksi tahan uji yang dapat kita terjemahkan dengan bebas yaitu tahan sakit. Sehingga pukulan itu tidak lagi terlalu menyakitkan dan dia tetap bisa melangsungkan hidupnya meskipun dalam kondisi seperti itu.
GS : Tapi ada sebagian orang yang gagal untuk bertahan di sana, Pak Paul ?
PG : Karena kita ini tidak selalu siap dan kuat dan bisa bergantung kepada Tuhan. Jadi adakalanya kita gagal. Namun kita tahu Tuhan itu pemurah dan penuh dengan kasih sayang, jadi ada waktu-waktu kita gagal tapi tangan Tuhan tidak membuang dan tidak mencampakkan dan Dia akan pegang kita, dan nanti Dia akan memberikan kita kekuatan dan lain kali waktu kita akan menghadapinya lagi maka dia akan memberikan kepada kita kekuatan tambahan.
GS : Jadi kalau sampai seseorang mau lari dari penderitaannya dengan bunuh diri, Pak Paul, berarti dia mengingkari kekuasaan Tuhan ?
PG : Betul. Itu adalah titik dimana dia tidak lagi datang dan memohon menerima kekuatan Tuhan, dia sangat putus asa sekali. Justru itulah yang harus kita hindari. Sebesar apa pun kesusahan yang harus kita tanggung, tapi kita masih bisa datang kepada Tuhan dan akan mendapatkan kekuatan dari Dia. Pada saat-saat kita harus sengsara, mengalami pukulan yang begitu berat, memang hidup itu akan menjadi sangat sederhana dan kita tidak bisa melihat hari esok, hanya bisa melihat hari ini, kadang-kadang hari ini pun harus kita penggal-penggal dalam beberapa bagian. Dalam satu hari, bisa melewati pagi hari, siang hari, dan melewati malam hari dan kita berkata, "Puji Tuhan bisa lewat satu hari dan kita tidur dan berdoa supaya Tuhan memberikan kita kekuatan menghadapi hari esok." Namun ada waktu-waktu dimana kita tidak lagi hidup per hari, bahkan hanya lewat per jam. Itulah saat dimana kita sudah sangat sengsara.
GS : Jadi intinya adalah di dalam penderitaan bagaimana pun juga, kita harus tetap berpegang teguh kepada Tuhan, Pak Paul?
PG : Betul. Sebab sekali lagi kita tahu bahwa Tuhan tidak akan memberikan pencobaan yang melebihi kekuatan kita dan bahkan Dia akan memberikan kepada kita jalan keluar.
GS : Pak Paul, pembicaraan kita ini tentu akan lebih menarik pada kesempatan yang akan datang sebab kita akan membahas hubungan antara kesengsaraan dan karakter. Jadi kita tetap berharap para pendengar kita yang telah mendengarkan siaran pada saat ini akan mengikuti kelanjutannya pada kesempatan yang akan datang. Dan terima kasih, Pak Paul telah membicarakan hal-hal yang sangat penting di dalam pembentukan karakter kita. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Kesengsaraan dan Karakter" bagian yang pertama. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
"Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita."
Roma 5:3-5
Tidak ada yang senang dengan kesusahan. Sedapatnya kita berupaya untuk menghindar dari kesusahan. Bagi kita kesusahan identik dengan kesengsaraan dan kesengsaraan identik dengan kemunduran yang berakhir dengan keputusasaan-sebuah cara pandang yang pesimistik dan negatif.
Ternyata Tuhan tidak melihat kesusahan dengan kacamata yang pesimistik dan negatif. Sebaliknya, sebagaimana dapat kita baca pada ayat-ayat ini, Tuhan memandang kesusahan dengan kacamata yang jauh lebih optimistik dan positif. Kesusahan bukanlah sesuatu yang seharusnya berada di luar kehidupan kita sebagai orang Kristen. Ternyata kesusahan merupakan bagian dari kehidupan kita bersama Tuhan. Memang kesusahan tetap akan membuahkan kesengsaraan namun kesengsaraan itu sendiri adalah bagian dari pembentukan Tuhan menjadikan kita anak-anak-Nya yang matang. Berikut akan diuraikan proses pembentukan karakter yang melibatkan kesusahan dan kesengsaraan.
Kesusahan dan kesengsaraan. Selama kita hidup di dalam dunia kita tidak bisa lepas dari kesusahan-hal buruk yang berasal dari luar diri kita yang datang menimpa hidup kita. Misalkan, tanpa diduga anak yang kita kasihi mengalami kecelakaan. Atau, pekerjaan yang kita andalkan akhirnya mengalami kebangkrutan dan tubuh yang tadinya sehat tiba-tiba menderita sakit terminal. Semua ini adalah contoh keseharian dari kesusahan yang dapat kapan saja menimpa kita.
Kesusahan dan kehendak Allah. Acap kali tatkala sesuatu yang buruk menimpa kita bertanya-tanya, "Apakah kesalahan kita sehingga kita harus mengalami kesengsaraan ini?" Pertanyaan ini lumrah keluar dari mulut kita yang senantiasa berusaha untuk hidup diperkenan Tuhan. Jika selama ini kita tidak peduli dengan Tuhan, besar kemungkinan kita tidak akan menanyakan pertanyaan ini. Kita mungkin berpikir bahwa memang sudah seharusnyalah kita mengalami semua kesusahan ini. Atau, kita tidak menanyakan pertanyaan ini sebab selama ini kita juga tidak lagi memedulikan Tuhan.
Kesusahan masuk dalam rencana Tuhan dalam pengertian, Tuhan mengizinkan kesusahan itu menimpa kita sebab melalui kesusahan itu Tuhan akan menggenapi rencana-Nya yang tertentu. Kesusahan adalah bagian dari kehidupan di dunia yang tidak lagi sempurna; jadi, siapa pun-termasuk kita orang percaya-dapat mengalaminya. Di dalam Tuhan kita tahu bahwa Ia dapat dan akan menggunakan kesusahan itu untuk menggenapi rencana-Nya yang tertentu. Salah satu bagian dari rencana Tuhan (namun bukan satu-satunya tujuan akhir dari rencana Tuhan) adalah pembentukan karakter kita.
Jadi, kendati kita tergoda untuk menanyakan, apakah dosa atau kesalahan kita sehingga kita harus menanggung kesusahan ini, yakinlah bahwa kesusahan ini tidak terkait dengan perbuatan kita. Kesusahan ini terjadi dalam rencana atau kehendak Tuhan (kecuali bila kita sendiri yang memang hidup berdosa sehingga mendatangkan kesusahan ini pada diri kita).
Kesengsaraan dan pembentukan karakter. Tuhan mati menyelamatkan kita dari hukuman dosa bukan saja agar kita lepas dari jerat maut yang memisahkan kita selamanya dari Tuhan tetapi juga agar kita menjadi anak-anak-Nya. Dan, sebagai anak-anak-Nya Ia berkepentingan melihat kita menjadi serupa dengan-Nya-memiliki karakter Allah sendiri. Itu sebabnya dengan pelbagai cara-termasuk kesengsaraan-Tuhan berusaha menumbuhkan karakter yang diinginkan-Nya dalam diri kita.
Salah satu buah rohani yang dirindukan Tuhan bertumbuh pada diri anak-anak-Nya adalah ketekunan. Pada dasarnya ketekunan berarti ketahanan dalam penderitaan atau kesanggupan menahan sakit. Sewaktu kita merasakan kesakitan reaksi pertama adalah mencoba lari dari situasi yang menimbulkan rasa sakit atau berusaha menghilangkan sumber derita itu agar kita tidak lagi harus mengalami kesengsaraan.
Kuncinya di sini adalah bertahan. Itu sebabnya doa yang mesti dipanjatkan adalah doa untuk memohon kekuatan menahan kesengsaraan. Sewaktu Tuhan akan disalib, Ia berdoa meminta agar Allah Bapa berkenan mengubah garis kehendak-Nya dan melepaskan Allah Putra dari kesengsaraan. Inilah kesengsaraan dalam arti sesungguhnya dan inilah reaksi Allah Putra yang manusiawi-memohon kelepasan dari kesengsaraan.
Sebagaimana kita ketahui, Tuhan Yesus harus melewati lembah kesengsaraan. Itu sebabnya Allah Bapa tidak mengabulkan permohonan-Nya tetapi sebagai gantinya, Allah Bapa mengutus malaikat-Nya untuk memberi Kristus kekuatan (Lukas 22:42-43). Firman Tuhan di Lukas 22:44 menjelaskan kondisi Tuhan Yesus yang "sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa." Inilah kondisi kita tatkala mengarungi lembah kesengsaraan dan tidak ada jalan lain selain berdoa meminta kekuatan dari Tuhan.
Ketekunan dan tahan uji. Istilah tahan uji sebetulnya dapat pula diterjemahkan karakter. Singkat kata kendati terdapat sejumlah karakter yang indah namun puncak dari semua karakter adalah tahan uji. Seakan-akan Tuhan ingin berkata bahwa kalau kita telah memiliki tahan uji, kita telah lulus. Tahan uji keluar dari ketahanan yang memisahkan kita dari kehancuran. Tatkala mengalami tempaan, kita harus menahannya dan sampai titik tertentu kita merasa dekat sekali dengan kehancuran. Di saat nyaris hancur kita terus bertahan dan ternyata kita dapat bertahan sebab kekuatan Tuhan memberi kita kekuatan. Dengan kata lain, tahan uji muncul dari pengalaman nyaris hancur namun tidak hancur. Dari titik terendah karena kehabisan semua tenaga kemudian kembali memperoleh kekuatan untuk melanjutkan hidup.
Tahan uji dan pengharapan. Orang yang tahan uji adalah orang yang bukan saja pernah melihat tetapi juga mengalami pertolongan dan kekuatan Tuhan. Dari kebuntuan kita mengalami campur tangan Tuhan membukakan pintu; dari kegelapan kita melihat terang. Inilah pengalaman yang meyakinkan kita bahwa pertolongan dan kekuatan Tuhan selalu berada di samping kita ketika kita melewati lembah kesengsaraan.
Tidak heran orang yang telah melewatinya dan menghasilkan buah karakter, ia tidak mudah putus asa. Ia terus berpengharapan dan pengharapan ini muncul dari pengenalannya akan kasih Allah. Di dalam kesengsaraan ia menyaksikan dan mencicipi kasih Allah. Pada akhirnya ibarat pohon, ia pun berakar ke dalam dan menjadi kokoh, tidak mudah lagi diombang-ambingkan oleh terpaan badai kesusahan. Ia senantiasa melihat Tuhan di dalam setiap sudut kehidupannya. Ia tahu ia tidak pernah dan tidak akan sendirian.
Kesimpulan
Karakter yang dihasilkan kesengsaraan adalah karakter yang bergantung penuh pada Tuhan. Jika pada awalnya kita bergantung pada Tuhan karena panik dan tidak berdaya, setelah melewati ujian ini kita bergantung pada Tuhan karena kita percaya sepenuhnya pada pemeliharaan Tuhan. Kita tidak lagi mempertanyakan kehendak Tuhan sebab kita tahu rencana-Nya baik.
Submitted by admin on Thu, 04/06/2009 - 4:32pm.
Abstrak:
Kita semua memiliki sifat dasar karena kita mewarisi gen dari orangtua, sifat dasar itu bukan hanya menentukan diri jasmaniah tetapi juga diri mental dan emosional kita. Yang menjadi pertanyaan bagi kebanyakan orang adalah “dapatkah mengubah sifat dasar ?” Jawabannya adalah BISA. Kalau sifat dasar bisa diubah, maka timbul pertanyaan seberapa permanenkah sifat dasar itu ? Kalau kita mengetahui dengan jelas maka kita pun juga dapat mengubah sifat dasar dengan lebih tepat.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Dapatkah mengubah sifat dasar ?". Perbincangan ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami yang lalu tentang "Adakah sifat dasar?" Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita membicarakan tentang sifat dasar itu ada atau tidak, dan Pak Paul sudah cukup menguraikan panjang lebar. Sebelum kita melanjutkan ke topik pembicaraan tentang dapatkah sifat dasar itu diubah, dapatkah Pak Paul menjelaskan sedikit tentang apa itu sifat dasar, supaya para pendengar kita mempunyai suatu gambaran yang lengkap.
PG : Sifat dasar adalah bawaan-bawaan karakter yang kita warisi dari orang tua kita, karena kita adalah produk dari perpaduan kedua orang tua. Waktu kita lahir kita mewarisi gen-gen yang juga mmbawa kecenderungan atau sifat-sifat tertentu, itu sebabnya waktu kita bertumbuh besar, kita sudah memunyai kepribadian-kepribadian yang juga unik, berlainan antara satu dengan yang lainnya.
Pertanyaannya adalah apakah sifat dasar itu bisa diubah ? Bisa, sebab ada orang berkata, "Sudahlah karena ini merupakan sifat dasar saya, maka untuk apa saya susah-susah berubah." Misalnya ada orang yang sedikit-sedikit marah, kemudian dia berkata, "Orang tua saya seperti itu, kakek nenek saya seperti itu, maka saya juga seperti itu dan tidak apa-apa," ini justru sebuah sikap yang salah. Justru kita itu harus bertanggung jawab untuk membendung, mengubahnya dan penelitian memperlihatkan bahwa ternyata gen itu bisa berubah, memang benar bahwa kita mewarisi gen tetapi konsep yang keliru kalau kita tidak bisa mengubah gen itu sebab ternyata gen kita masih bisa berubah. Oleh karena itu kita harus berusaha untuk mengubahnya, kita juga sudah petik Firman Tuhan, dari Mazmur 139 bahwa Tuhanlah yang menenun kita, membuat kita, sejak kita dalam kandungan ibu. Kalau Tuhan menenun atau membentuk kita secara fisik, maka secara mental pada waktu masih bayi, maka setelah kita dewasa Tuhan juga dapat terus membentuk kita, jadi masih bisa berubah. Kita tidak bisa menyalahkan sifat dasar kita.
GS : Pak Paul, kalau kita sudah jelas bahwa sifat dasar itu bisa berubah, faktor-faktor apa yang dapat mengubah sifat dasar seseorang itu ?
PG : Pada dasarnya ada dua, Pak Gunawan. Yang pertama adalah pengalaman hidup, dan yang kedua adalah tekad atau komitmen, jadi yang saya maksud dengan pengalaman hidup adalah tempaan pengalaman yaitu apapun yang kita alami, dan berulang kali kita alami, pada akhirnya memunyai pengaruh yang kuat sekali untuk dapat mengubah sifat dasar kita.
Misalnya ada seseorang yang dahulunya seorang yang halus, sangat berperasaan, kemudian ia menikah dengan seorang suami yang keras, kasar, sehingga hatinya sering terluka, setelah menikah dengannya bertahun-tahun , akhirnya kita membiasakan diri untuk menerima kemarahan suami, kekasaran suami, dan kita juga melindungi diri, supaya tidak sampai terluka terus-menerus oleh perkataan suami, karena terus melindungi diri, mencoba untuk mengabaikan perasaan, jangan mudah terbawa emosi, jangan mudah terluka atau sedih, lama-kelamaan perasaan yang tadinya halus sekali, makin hari menjadi makin kuat, lebih tidak bisa terpengaruh oleh apa yang di luar dirinya. Setelah menikah selama beberapa tahun ia menjadi seorang pribadi yang berbeda, jadi dengan kata lain, apa yang dialami itu memunyai kemampuan untuk mengubah sifat dasarnya.
GS : Padahal pengalaman hidup seseorang itu macam-macam, baik kalau itu menikah, atau kalau orang itu tidak menikah, bukankah terjadi banyak sekali hal didalam kehidupannya. Dan mana yang akan memengaruhi sifat dasarnya ini ?
PG : Biasanya hal-hal yang bersifat lebih keras atau lebih traumatik, itu cenderung memunyai dampak yang lebih besar dalam mengubah diri seseorang. Misalnya ada orang yang mudah sekali percaya,sangat lugu, apa yang orang katakan ia percaya, kemudian karena keluguannya dia memercayakan diri kepada orang, yang akhirnya itu akan merugikan dia dengan sangat besar.
Bisa jadi pengalaman yang begitu berat atau yang traumatik itu mengubah dia dalam sekejap, sehingga akhirnya dari seorang yang lugu menjadi seorang yang penuh dengan kecurigaan. Atau kita memercayai bahwa manusia itu pada dasarnya baik, sampai suatu hari kita mengalami suatu peristiwa yang sangat buruk, misalnya kita dirampok, setelah dirampok, dianiaya, dipukuli dan sebagainya. Bisa jadi karena satu pengalaman yang begitu berat, begitu traumatis, sanggup untuk mengubah temperamen atau sifat dasar kita yang tadinya mudah sekali percaya pada orang, akhirnya kita menjadi orang yang terlalu berhati-hati, penuh dengan pertanyaan terhadap motif atau maksud baik orang. Dengan kata lain, suatu peristiwa yang berat yang traumatis, sanggup untuk mengubah diri kita.
GS : Bisa, ada orang yang mengatakan bahwa pengaruh yang jelek, lebih mudah memengaruhi seseorang daripada pengaruh yang baik, ini bagaimana Pak Paul?
PG : Sebetulnya tergantung, Pak Gunawan. Tidak selalu bahwa pengaruh yang buruk itu lebih gampang untuk mengubah kita, sebab pada kenyataannya adalah kita juga hidup di tengah-tengah lingkunganyang kadang-kadang juga dihadapkan dengan orang-orang yang berbuat hal-hal yang buruk, tetapi kita tidak terpengaruh.
Misalnya ada orang yang senang mencuri, tetapi kita tidak terpengaruh untuk senang mencuri. Namun untuk memulai sebuah kebiasaan baik, ternyata memang memerlukan waktu yang panjang untuk terus menumbuhkembangkan kebiasaan yang baik itu. Jadi tidak semua kebiasaan yang baik itu mudah, sama seperti untuk berbuat buruk, sebetulnya juga tidak begitu mudah. Dengan kata lain, jangan kita beranggapan karena kita tidak mudah berbuat buruk, gampang berbuat baik. Tidak tentu juga, jadi dua-duanya seringkali memerlukan waktu yang lebih lama dalam kondisi yang lemah, kecuali dalam kondisi yang tidak normal, misalnya orang yang dalam kondisi yang sangat susah sekali, kekurangan sekali dan harus benar-benar bertahan hidup ada kecenderungan akan lebih mementingkan diri sendiri, sehingga tidak memusingkan orang, entah dirugikan atau tidak, yang penting dirinya dipenuhi dulu. Nah dalam kondisi yang memang sangat susah itu maka karakter orang bisa juga terpengaruhi dan berubah.
GS : Dan mungkin jumlah orang, Pak Paul, kalau orang yang memengaruhi kita untuk melakukan yang negatif itu jumlahnya lebih banyak, misalnya jumlah orang yang memengaruhi kita berbuat negatif sampai lima puluh orang, tetapi yang memengaruhi kita bertindak positif hanya satu dua orang, maka pengaruh yang lima puluh orang akan lebih besar pengaruhnya.
PG : Betul sekali, jadi makin banyak orang, sudah tentu tekanan itu akan menjadi lebih besar, itulah yang terjadi. Misalnya juga di dalam sebuah kantor atau perusahaan, dimana begitu banyak orag yang korupsi, kalau kita sendirian dan di tengah-tengah orang-orang yang semuanya berkolusi, berkorupsi, maka sudah tentu untuk kita memertahankan diri akan jauh lebih berat, daripada di kantor dimana hampir semuanya hidup dengan integritas, dan hanya satu dua saja yang hidupnya tidak benar.
GS : Pak Paul tadi katakan ada dua hal yang bisa merubah sifat dasar orang, yaitu pengalaman hidup dan tekad, atau komitmen. Yang tekad ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Jadi tekad atau komitmen adalah sebuah keputusan untuk hidup berbeda dari siapa kita, yang kita sudah kenal selama ini. Ternyata waktu kita bertekad, mau hidup berbeda, kemungkinan kita beubah jauh lebih cepat daripada kita tidak menetapkan tekad bahwa kita itu mau berubah.
Sebagai contoh, Pak Gunawan, kita tahu bahwa kita sudah tercandu oleh alkohol, minuman untuk menghentikan sangat berat sekali, tetapi lebih mudah menghentikan minuman alkohol, kalau kita bertekad, daripada kita tidak punya tekad. Ya, jadi sekali lagi saya mau menggarisbawahi hal ini, memang tekad itu tidak menjamin, bahwa kita pasti bisa berubah, memang tidak. Karena tantangan-tantangan di depan masih harus kita hadapi tetapi tanpa tekad maka perubahan itu jauh lebih susah untuk kita capai. Kalau memang kita sudah sadar bahwa kita punya sifat-sifat dasar tertentu yang tidak baik, yang kita mau ubah maka kita harus memunyai sebuah komitmen bahwa saya mau berubah, saya tidak mau menjadi seperti ini. Di sini penting sekali kita membuat hal itu sebagai proyek pribadi kita dan tidak menyalahkan orang lain. Sebagai contoh, Pak Gunawan, betapa seringnya kita yang kurang sabar dan menyalahkan orang bahwa dialah yang membuat kita kurang sabar. Kalau kita mau berubah, kita menjadi orang yang lebih sabar, kita harus menjadikan itu proyek pribadi kita, bahwa kalau sampai saya marah karena kurang sabar, itu bukan karena orang yang membuat saya marah, tetapi memang saya yang kurang sabar. Kalau kita bersedia untuk menjadikan itu proyek pribadi kita dan bertekad untuk terus mau berubah, maka pada akhirnya kemungkinan kita berubah, lebih besar.
GS : Biasanya pada awal tahun atau pada akhir tahun banyak orang yang membuat komitmen, Pak Paul. Untuk mengubah hal-hal yang buruk di dalam kehidupannya menjadi lebih baik, namun biasanya sampai pertengahan tahun, akhirnya kembali lagi ke aslinya, biasanya begitu Pak Paul, ini bagaimana, ya ?
PG : Itu sebabnya Pak Gunawan, kita harus menyadari bahwa perubahan itu tidak permanen sebab sama seperti semen. Semen, kalau kita menyemen sesuatu kemudian hujan, maka sampai kapanpun semen it tidak akan kering-kering.
Jadi semen itu hanya bisa mengering, kalau tidak ada lagi hujan dan yang muncul adalah matahari. Sifat dasar kita juga demikian, kalau kita mau merubahnya, maka perubahan-perubahan itu harus terus-menerus ditanggapi misalnya dengan imbalan, atau dorongan-dorongan atau pemupukan-pemupukan secara terus-menerus, baru lama-kelamaan perubahan-perubahan itu menjadi lebih permanen. Jadi kalau kita berharap bahwa sekali saya berubah maka besok secara langsung/otomatis sudah berubah dan saya akan terus memertahankan perubahan ini, itu keliru. Itu sebabnya bagi orang yang pernah mengikuti program-program seperti "alcoholic anonymous" dan lain-lain untuk mengobati kecanduan pada alkohol atau narkoba, selalu ditekankan konsep hari demi hari, bahwa kita itu bertahan untuk tidak minum, atau tidak memakai narkoba. Hanya untuk hari ini, kita tidak bisa berpikir untuk besok, itu terlalu jauh karena kita hanya bisa berpikir hari ini, bisa tidak kita melalui hari ini, sehingga kita tidak menggunakan narkoba. Dan besok pagi kita membuat lagi komitmen yang sama, hari ini tidak boleh lagi menggunakan narkoba. Karena orang yang beranggapan bahwa sekali saya bisa lepas dari narkoba, dan besok saya tidak perlu bergumul, itu adalah konsep yang salah, sebab besok pergumulan itu muncul kembali. Jadi tekad tetap harus diperbaharui setiap hari.
GS : Tetapi ada orang yang membuat semacam target, Pak Paul. Bahwa pada tahun ini, jadi artinya dalam waktu setahun dia sudah harus bisa meninggalkan sikap buruknya tadi. Ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu tekad seperti itu baik. Dengan adanya tekad itu dia akan lebih berkonsentrasi, dia akan lebih berupaya untuk bisa mengubah sifat dasarnya yang dianggapnya buruk itu. Sudah tent kalau dia bisa melakukannya selama setahun, maka tahun berikutnya akan lebih mudah dan pada akhirnya selama bertahun-tahun maka dorongan untuk kembali kepada sifat dasar yang lama juga melemah.
Namun kita tidak boleh lengah dan berkata karena sifat dasar itu sudah lemah, maka sudah tidak ada lagi, kalau itu yang terjadi maka itu menjadi kekeliruan yang kedua. Kesalahpahaman yang kedua ini yang sering menjerumuskan orang, setelah cukup lama kita sudah bisa lepas dari kebiasaan lama atau dari sifat dasar yang lama, kita mulai lengah dengan beranggapan bahwa sifat dasar itu sudah lenyap, pada faktanya tidak, selalu di dasarnya masih ada. Berarti apa ? Kalau kita tidak berhati-hati maka kita bisa jatuh kembali dan tiba-tiba sifat dasar itu keluar dengan sangat cepat sekali. Jadi memang kita tidak boleh sedikit pun lengah, sampai kapan pun kita harus ingat bahwa sifat dasar itu masih ada, meskipun hanya lapisan di bawah dan kalau kita tidak menjaganya, maka lapisan bawah itu dengan cepat bertumbuh menjadi sebuah gedung yang tinggi.
GS : Biasanya antara komitmen dan pengalaman hidup ada kaitan yang erat, Pak Paul. Ada orang yang sudah punya komitmen dan sudah tidak lagi mau melakukan hal yang buruk, tetapi karena pengaruh teman-temannya atau orang-orang di sekelilingnya maka dia kembali jatuh dengan melakukan perbuatan yang buruk. Apakah seperti itu, Pak ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi lingkungan memunyai pengaruh yang sangat kuat di dalam diri kita, sehingga kita harus mengikuti Firman Tuhan, yaitu Firman Tuhan pernah berkata, lingkungan tau pertemanan yang buruk juga akan merusakkan karakter kita.
Jadi kita harus sadari kalau kita tahu kita akan mudah terhanyut kembali oleh lingkungan kita yang buruk maka kita harus menjauh dari lingkungan itu, jangan kita terus-menerus kembali kepada lingkungan yang sama karena kita sudah tahu dalam lingkungan itu kita rawan dan mudah jatuh, nah sudah tentu langkah itu adalah langkah yang penting untuk memisahkan diri dari sumber-sumber yang membuat sifat dasar itu timbul kembali, jadi jangan 'membangunkan macan tidur', kalau kita sudah berhasil mengalahkannya kita harus ingat sifat dasar itu masih ada dalam diri kita. Jadi kita harus terus-menerus menjaga, jangan sampai lengah, misalkan lingkungan dan kita sembarangan memilih teman-teman sehingga sifat dasar yang lama itu bisa kembali lagi.
GS : Berarti sifat dasar ini tidak bisa dihilangkan seratus persen, Pak Paul ?
PG : Idealnya memang kita maunya mengatakan bisa, tetapi saya harus berkata secara realistik bahwa rasanya tidak bisa, Pak Gunawan. Rasanya sifat dasar itu selalu menunggu kita, kapan waktu dapt muncul kembali.
Maka kita harus terus menjaganya dengan takut dan gentar, kita hidup dalam Tuhan saya kira itulah yang memotivasi Paulus untuk berkata, "Dengan takut dan gentar kerjakanlah keselamatanmu." Kenapa ? Sebab memang seharusnya kita takut dan gentar melihat betapa mudahnya kita dikuasai kembali oleh dosa. Jadi sama dengan sifat dasar kalau kita tidak hati-hati, tidak memerlakukan diri kita dengan takut dan gentar malah hidup sembarangan. Maka tinggal tunggu waktunya kita akan dikuasai kembali oleh sifat dasar yang lama itu.
GS : Tetapi Rasul Paulus pernah berkata pada Jemaat di Korintus yang mengatakan, bahwa yang lama itu sudah berlalu dan yang baru itu sudah terbit, itu bagaimana maksudnya, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu yang dimaksud di situ adalah sebuah status bahwa kita itu bukan lagi ciptaan yang lama, tetapi kita ini ciptaan yang baru, kita ini sudah di dalam Tuhan Yesus. Status kita barutetapi perubahan itu memang akan memakan waktu atau proses.
Maka kita harus terus-menerus bergantung kepada Roh Kudus untuk bisa makin hari makin serupa dengan Tuhan kita Yesus Kristus.
GS : Pak Paul, bagaimana kendati sifat dasar itu bisa berubah dan itu harus terus dikerjakan oleh diri kita sendiri, selanjutnya apa yang bisa kita lakukan ?
PG : Saya akan memberikan sebuah contoh dari Alkitab, yang akan saya kontraskan yaitu kisah Raja Saul. Raja Saul itu sebenarnya orang yang sangat baik, awal-awalnya dia disuruh oleh orangtuanyauntuk mencari keledai yang hilang, akhirnya ketemu dan kemudian diminta oleh Samuel untuk menjadi seorang raja.
Mula-mula dia tidak mau, itu menandakan bahwa diawalnya dia tidak gila kuasa sehingga waktu ditunjuk pun, dia tidak mencari kesempatan diangkat menjadi raja, dan justru dia mau menghindar. Waktu Samuel memerkenalkan dia kepada Israel, malahan dia lari dan menghilang. Nah, itu sebuah sifat yang memerlihatkan bahwa dia adalah seorang yang relatif baik, rendah hati, tidak memikirkan kemuliaan, takhta atau kedudukan, waktu dia mendengar orang-orang yang ditangkap, dianiaya, oleh orang-orang, oleh bangsa-bangsa lain, raja Saul langsung tergerak untuk menolong, dia tidak mau membiarkan orang-orang Gibea itu akhirnya menjadi korban. Sekali lagi menunjukkan sebuah sifat yang baik mau menolong orang yang ditindas, itulah sebabnya dia dipilih, dia ditunjuk menjadi seorang raja, tapi apa yang terjadi pada akhirnya ? Dia makin hari makin menikmati kekuasaannya, makin hari dia makin tidak bisa melepaskan kekuasaannya itu, akhirnya dia mulai congkak, mulai memikirkan diri, kurang memikirkan Tuhan, akhirnya dia tidak lagi menaati Tuhan. Sewaktu Tuhan memutuskan memilih Daud untuk menggantikan dia, dia tidak siap untuk melepaskan tahtanya, dia kejar-kejar Daud untuk dibunuh, jadi pertanyaan yang muncul adalah kenapa seorang yang bernama Saul, memulai sebagai seorang raja yang baik tetapi akhirnya berubah menjadi seorang raja yang lalim, dari taat kepada Tuhan, sehingga menjadi seorang pemberontak dari kehendak Tuhan, dari pengasih, penolong orang lain namun akhirnya mau menjadi pembunuh orang lain. Disinilah kita melihat pengaruh pengalaman hidupnya, dia semakin menikmati kuasa dan akhirnya sifat dari dalam-dalamnya pun juga mengalami perubahan. Itu sebabnya kita harus menyadari bahwa, kita itu bisa berubah, untuk kebaikan atau untuk keburukan, maka kalau kita tahu kita mengubah sifat dasar kita, yang tadinya buruk menjadi baik, kita juga harus sadar bahwa setelah kita berubah kita harus terus-menerus menjaganya, sebab apa yang kita alami kemudian berpotensi untuk mengubah kita kembali, bisa masuk kembali ke jerat sifat dasar yang lama, yang buruk itu atau kebalikannya. Kalau sifat dasar kita itu awalnya memang baik, kemudian kita itu hidup sembarangan, tidak memerhatikan pengaruh lingkungan, tanpa kita sadari, lingkungan itu lama kelamaan bisa masuk menyerap dalam diri kita, dan mengubah kita. Itu yang terjadi pada raja Saul. Sebagai perbandingan, adalah Yohanes, Pak Gunawan. Yohanes itu bahkan dijuluki anak guruh, anak geledek, kenapa ? Sebab rupanya dia pemarah. Dia bertemperamen keras, tetapi dari seorang yang begitu keras, inginnya marah, tapi Tuhan mau ubah. Sehingga waktu itulah dia menulis di surat I Yohanes 4:7, "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah." Dari sini kita melihat bahwa Yohanes, mengalami perubahan dari seorang pemarah yang tidak bisa mengontrol temperamennya atau emosinya menjadi orang yang lembut penuh dengan kasih. Maka dalam suratnya dia hanya menghimbau untuk terus mengasihi. Jadi kita bisa melihat bahwa, dengan kuasa Tuhan kita bisa berubah, tetapi kita juga harus menjaganya.
GS : Secara umum, yang Pak Paul lihat ini, orang yang berubah dari baik menjadi jahat, seperti yang dialami oleh raja Saul, atau sebaliknya yaitu seperti yang terjadi di dalam diri Yohanes ?
PG : Saya katakan secara umum lebih banyak orang berubah dari baik menjadi kurang baik, pada akhirnya. Kenapa begitu ? Sebab, kita harus akui bahwa pengalaman hidup tidak selalu positif dan cukp banyak hal buruk yang harus kita lalui.
Kalau kita tidak menjaga diri kita dengan baik, maka pengalaman-pengalaman yang buruk itu, yang mengecewakan kita, dengan cepat meracuni kita, kalau kita hidup dalam dunia yang ideal semua sempurna maka sudah tentu sifat dasar yang baik itu mudah tetap bertahan. Tetapi karena inilah hidup kita yaitu sedikit-sedikit mendengar orang yang dirampok, ditipu, kalau tidak berhati-hati semua itu akan meracuni kita, membuat kita menjadi orang yang akhirnya kadang-kadang sama seperti orang-orang lain.
GS : Seperti sifat dasar yang negatif, demikian juga sifat positif pun tidak pernah bisa hilang di dalam diri seseorang, Pak Paul ?
PG : Jadi kalau memang sifat dasar yang baik itu ada di dalam diri kita, mungkin bisa terhilang oleh karena kondisi kehidupan yang sangat berat. Waktu kondisi kehidupan itu berubah, besar kemunkinan sifat dasar baik yang lama itu akan muncul kembali, dan itu benar Pak Gunawan.
Jadi apa yang sudah tertanam kebanyakan akan tinggal.
GS : Pak Paul, kita akan mengakhiri perbincangan ini namun sebelumnya, mungkin Pak Paul akan menarik suatu kesimpulan dari apa yang kita perbincangkan saat ini maupun yang lalu.
PG : Ada tiga yang akan saya utarakan, yang pertama adalah perubahan sifat dasar dimungkinkan kendati harus melewati proses yang panjang. Jadi jangan menyerah dan berkata, "Tidak bisa berubah lgi," padahalnya itu bisa ! Kedua, perubahan Kristiani dimulai tatkala kita mengadopsi nilai hidup yang baru dan berusaha hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.
Jadi rujukan kita atau tolok ukur kita adalah kehendak dan Firman Tuhan, itulah yang kita jadikan pegangan. Dan yang terakhir, untuk membuat perubahan permanen, maka diperlukan pemupukan yang tak henti-hentinya, itu sebabnya kita harus terus-menerus hidup akrab dengan Firman Tuhan, dan membiasakan diri untuk menaatinya, hidup yang akrab dengan Firman Tuhan dan membiasakan diri untuk menaati kehendak Tuhan. Itulah yang menjadi pemupukan yang akan terus mengubah diri kita, sehingga perubahan kita menjadi permanen.
GS : Terima kasih, Pak Paul, untuk perbincangan ini dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Dapatkah mengubah sifat dasar ?" yang merupakan kelanjutan dari perbincangan kami yang lalu tentang "Adakah sifat dasar ?" Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by admin on Thu, 04/06/2009 - 4:27pm.
Abstrak:
Ada orang yang beranggapan bahwa mustahil bagi kita mengubah sifat dasar. Pendapat ini bersumber dari keyakinan dan pengamatan bahwa sekali sifat dasar terbentuk maka tidak mungkin bagi kita mengubahnya. Namun ada pula yang meragukan keberadaan sifat dasar. Bagi sebagian orang, karakter atau sifat dasar hanyalah bentukan dari luar. Dari kedua anggapan tersebut, seringkali kita juga berpikir benarkah sifat dasar itu ada? Dan jawabannya adalah ADA. Dengan adanya sifat dasar, apa yang harus kita lakukan?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Adakah sifat dasar ?". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, memang tiap-tiap orang itu sangat unik tetapi bicara tentang sifat dasar ada orang yang mengatakan, sifat dasar itu tidak ada karena orang itu dibentuk setelah lahir. Namun kalau yang namanya sifat dasar berarti sebelum orang itu lahir dia sudah terbentuk, sudah ada. Dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Memang ada yang berkata, sebenarnya kita ini dilahirkan ke dalam dunia, hampa atau kosong. Setelah kita lahir dan kemudian bertumbuh besar dalam keluarga, akhirnya kita bertemu dengan tema di sekolah atau pengalaman-pengalaman hidup yang kita lewati.
Semua itu yang akhirnya mengisi diri kita dan menjadikan kita seperti apa adanya sekarang ini. Nah pandangan ini sama sekali meniadakan pendapat yang berkata bahwa kita itu sebetulnya sudah membawa sifat-sifat dasar tertentu dalam diri kita, sebaliknya ada orang yang memang berkata bahwa pandangan tersebut keliru, tidak ada sifat dasar, memang lingkungan atau pengalaman dalam hidup begitu berpengaruh untuk membentuk diri kita, tetapi sesungguhnya juga ada sifat dasar yang kita bawa, kita wariskan ke dalam dunia ini. Jadi sekarang pertanyaannya, kalau begitu mana yang benar ? Dan jawaban yang betul adalah sifat dasar itu memang ada. Kita lahir ke dalam dunia bukan dalam kehampaan atau kekosongan tanpa kecenderungan tertentu, tanpa watak atau perangai, kepribadian tertentu, namun kita sudah masuk ke dalam dunia ini membawa sifat-sifat dasar tertentu. Nanti kita akan membahas bahwa dalam perkembangannya sudah tentu apa yang kita alami juga bisa berpengaruh terhadap perkembangan diri kita pula.
GS : Apakah sifat dasar itu sama dengan karakter, Pak Paul ?
PG : Jadi sifat-sifat dasar memang berkaitan sekali dengan karakter kita. Siapakah kita nantinya, sebetulnya cukup banyak hal yang sudah ditentukan sejak kita lahir.
GS : Padahal karakter terbentuk karena kebiasaan-kebiasaan atau tingkah laku kita yang berulang-ulang, Pak Paul ?
PG : Betul, jadi di sinilah kita melihat bahwa apa yang kita bawa pada akhirnya harus berinteraksi dengan pengalaman hidup yang tadi Pak Gunawan sudah angkat. Jadi betul sekali ada hal-hal yangmenjadi bagian dalam diri kita yang sebetulnya tidak kita bawa, tetapi kita terima akibat bentukan-bentukan dari lingkungan.
Jadi kebiasaan-kebiasaan yang diterapkan pada diri kita akhirnya menjadi bagian dari diri kita sendiri, sebagai contoh kalau orang tua kita menyenangi kebersihan, selalu meminta kita untuk membersihkan ruangan dan sebagainya, sebenarnya belum tentu kita senang untuk membersihkan kamar dan ruangan, akhirnya karena terpaksa kita menjadi terbiasa untuk membersihkan rumah, kalau melihat rumah tidak bersih kita merasa tidak enak. Kita mengadopsi sifat-sifat atau karakter yang dimiliki dari orang tua yang belum tentu kita miliki.
GS : Kalau sifat dasar yang dibawa sejak lahir itu seperti apa, Pak ?
PG : Sebetulnya Pak Gunawan, kita ini bisa membagi hal-hal apakah yang sebetulnya kita wariskan dari orang tua. Sebelum kita masuk ke sifat dasar atau karakter sebetulnya ada dua hal lain yang uga kita bawa ke dalam hidup ini, ini mengkonfirmasi bahwa kita lahir ke dunia bukan dalam kekosongan, kita lahir ke dunia sudah membawa beberapa warisan dari orang tua kita.
Yang pertama adalah hal-hal yang bersifat jasmaniah, misalkan orang tua kita dua-duanya berbadan tinggi besar, maka besar kemungkinan kita lahir memiliki potensi untuk tinggi besar kecuali dalam perkembangannya kita tidak mendapatkan gizi yang selayaknya, sehingga akhirnya pertumbuhan kita terhambat, tetapi kalau pertumbuhan kita normal-normal saja, biasanya anak-anak yang dibesarkan atau lahir dari orang tua yang bertubuh tinggi, pasti cenderung bertumbuh tinggi. Sebaliknya juga demikian atau misalnya ada orang yang bermata besar, pasti orang tua yang dua-duanya bermata besar nantinya anak-anaknya juga akan mempunyai mata yang besar. Atau rambut, kedua orang tua berambut pirang, maka anak-anaknya juga mewarisi rambut pirang tersebut. Di sini kita bisa melihat bahwa kita tidak lahir dalam kehampaan, kita sudah membawa warisan-warisan, dalam hal ini adalah warisan-warisan yang bersifat fisik.
GS : Tetapi itu adalah sifat dasar yang tidak berkaitan dengan karakter, Pak Paul. Hanya berdampak pada tampilan kita, tinggi besar, mata besar, rambut pirang, tetapi sifat-sifatnya 'kan, tidak ada di situ.
PG : Betul. Memang saya kemukakan bahwa, kita lahir dengan warisan-warisan termasuk sifat dasar, karena kita lahir dengan membawa warisan-warisan lainnya, jadi bukan hanya sifat atau temperamen tetapi juga warisan-warisan jasmaniah.
Hal ini juga nantinya ada kaitannya dengan sifat dasar kita. Sebagai contoh: kalau kita dilahirkan oleh orang tua yang berenergi tinggi, senang berolah raga, aktif luar biasa, karena itulah warisan jasmaniah yang kita miliki, dapat pula kita mewarisi hal-hal yang berkaitan dengan energi tinggi misalnya salah satu hal yang terkait dengan energi tinggi, misalnya adalah mudahnya marah, atau susahnya menahan emosi kalau sedang marah, karena memang energi itu begitu besar. Bisa jadi karena kita juga mewarisi kecenderungan fisik yang kuat seperti itu, sehingga kita aktif sekali, akhirnya kita pun mewarisi kesukaran orang tua menahan kemarahan itu pula. Kita pun mewarisi penyakit-penyakit yang orang tua kita juga bawa, misalnya orang tua kita juga mengidap hipertensi atau diabetes, maka kita sebagai anak, akan berpotensi untuk mewarisi gangguan-gangguan fisik yang dialami oleh orang tua kita, bahkan sebagai tambahan, Pak Gunawan, kondisi mental orang tua, tatkala hamil pun dapat memberi warna tersendiri pada diri kita. misalnya ibu yang mengandung anak dalam kondisi depresi, cenderung melahirkan anak yang nantinya rentan terhadap depresi pula, atau ayah yang peminum, cenderung mewariskan hasrat minum-minuman keras pada anak itu pula. Jadi kita lihat disini sekali lagi, apa yang menjadi bagian dalam hidup orang tua kita, tidak bisa tidak, sebagian dari itu akan diwariskan kepada kita, suka tidak suka, baik atau buruk, menguntungkan atau merugikan, kita harus menerima. Paket pertama yang kita terima dari orang tua kita, yaitu: paket jasmaniah. Paket kedua yang juga berkaitan adalah: kemampuan untuk kelebihan kita, Pak Gunawan, jadi misalnya kalau orang tua itu dua-duanya senang musik, senang bernyanyi, besar kemungkinan kita pun mewarisi kemampuan itu. Ada orang yang memang tidak bisa menyanyi, susah sekali disuruh menyanyi, jika menyanyi salah-salah, tidak bisa melantunkan nada tertentu, tetapi ada orang yang dengan begitu mudah melantunkannya, kenapa ? Sebab banyak hal yang telah kita warisi dari orang tua kita. Sebagai contoh adalah komposer klasik, Mozart. Mozart dibesarkan oleh seorang ayah yang juga seorang pemusik, atau Strauss yang kita kenal dengan dansa Waltz-nya, sebenarnya yang namanya Strauss itu ada tiga orang, Richard Strauss, Johan Strauss, dan satu lagi yang saya lupa namanya. Semua adalah Strauss, yang adalah kakek, anak, dan cucu, tiga-tiganya menjadi pemusik dan pengarang lagu-lagu klasik, di situ kita bisa melihat bahwa kita mewarisi kelebihan-kelebihan atau bakat-bakat tertentu dari orang tua kita. Nah, yang terakhir paket yang kita bawa adalah temperamen atau karakter, itupun juga kita bawa dari orang tua kita.
GS : Berarti ada sifat-sifat dasar yang dibawa sejak lahir itu pun yang merupakan suatu potensi bagi anak yang dilahirkan itu, Pak Paul ? Jadi potensi untuk jadi seniman, seperti tadi Pak Paul katakan, atau olahragawan, tetapi ini tidak secara langsung akan bisa berkembang ?
PG : Sudah tentu apa yang nantinya dilakukan oleh orang tua untuk memupuknya atau justru mengikisnya akan berpengaruh besar terhadap perkembangan bahkan untuk kemampuan itu. Nah kalau orang tu juga memberikan pupukan karena dia bisa musik dan terus didorong untuk belajar bermusik, kalau orang tua juga memberikan pupukan, karena juga bisa musik maka secara langsung bakat itu menjadi berkembang.
Kalau tidak diberikan pupukan, maka sudah tentu bakat untuk berkembang juga kecil. Namun suatu waktu misalkan, anak itu berkesempatan untuk belajar musik, maka di situlah baru kita lihat, bakat yang tersedia itu tiba-tiba akan muncul dan berkembang dengan sangat cepat. Anak-anak lain belajar akan memakan waktu yang lama untuk belajar, namun anak ini belajar musik dalam waktu yang pendek dan bisa menguasainya. Di situ kita bisa melihat pengaruh bawaan. Jadi orang yang sudah mempunyai kemampuan bawaan, waktu diberikan kesempatan atau diberikan pemupukan, maka dia berkembang dengan sangat cepat sekali.
GS : Iya, dalam hal sifat dasar ini, apakah kecenderungan anak itu untuk berbuat dosa juga termasuk, Pak Paul ? Yang diturunkan oleh orang tuanya.
PG : Saya kira semua anak sama seperti semua orang tua adalah orang berdosa. Jadi kita sudah mempunyai kecenderungan untuk berdosa, namun ada karakteristik tertentu, yang tidak bisa tidak lebihmemudahkan anak atau orang itu untuk berdosa.
Misalnya adalah anak yang dilahirkan dengan keberanian, dengan kekerasan hati, dengan tekad, kalau sudah ada maunya dia menjadi keras kepala. Sudah tentu sifat-sifat seperti ini bisa menyuburkan perkembangan dosa dalam hidup seseorang, saya kontraskan itu dengan seorang anak yang perasa, yang mudah merasa takut, cemas, karena sudah lahir dengan bawaan tersebut, secara langsung anak yang lebih merasa cemas, dan lebih takut, akan lebih dituntun, dikuasai oleh hati nuraninya oleh apa yang benar dan apa yang salah. Sebaliknya anak yang keras kepala, susah untuk taat. Tidak bisa tidak, dia lebih suka untuk menaati apa yang benar dan lebih tergoda untuk mencoba-coba yang salah. Jadi ada tipe-tipe kepribadian tertentu yang memang sudah kita wariskan, yang menyulitkan kita untuk hidup taat kepada Tuhan, namun ada juga yang lebih memudahkan orang untuk hidup taat kepada Tuhan. Maka kita kembali kepada Firman Tuhan, Tuhan mengatakan bahwa manusia menghakimi dari luar sedangkan Tuhan menghakimi dari dalam, karena Tuhan melihat apa yang di dalam. Mungkin di mata orang, orang ini mudah sekali jatuh ke dalam dosa, tapi sebetulnya sebelum dia jatuh ke dalam dosa sebenarnya dia sudah melawannya dengan susah payah karena tidak mudah bagi dia untuk menolak godaan dosa tersebut karena adanya faktor-faktor kecenderungan. Sebagai contoh, seorang anak anak laki-laki yang tadi saya sudah singgung, yang dilahirkan dalam keluarga di mana ayahnya seorang peminum, kalau dia seorang anak laki, maka dia akan mewarisi kemungkinan tersebut. Jadi kemungkinan untuk menjadi seorang alkoholik jauh lebih besar daripada anak lelaki lain yang dibesarkan dalam rumah, dimana orang tuanya bukanlah seorang alkoholik. Jadi buat si anak untuk menolak alkohol itu sangat susah, sebab kenapa ? Karena dari dalam dirinya sudah ada bawaan untuk minum dan waktu dia minum dia benar-benar bisa menikmatinya. Dari sini kita bisa menyimpulkannya, bahwa pergumulan setiap orang itu tidak sama. Untuk orang yang cepat takut, cepat cemas dan merasa bersalah, dia memang tidak suka bermain dengan dosa, tetapi buat orang yang perasaan-perasaannya peka tersebut, dia lebih mudah untuk jatuh.
GS : Bagaimana pendapat Pak Paul, dengan orang yang mengatakan bahwa, bayi yang lahir itu tidak berdosa ?
PG : Sudah tentu, kalau kita berkata bahwa bayi belum berbuat dosa, itu betul. Karena bayi memang belum bisa berbuat dosa, tetapi apakah bayi itu lahir dalam dosa, jawabannya adalah "Ya". Karen Firman Tuhan jelas berkata di Mazmur 139, kita itu dilahirkan dalam dosa, karena memang dosa itu sudah dilakukan dan dipilih oleh Adam dan Hawa.
Jadi sejak itu sampai sekarang setiap orang lahir sudah dalam dosa. Artinya apa ? Seorang anak tanpa disuruh atau tanpa diberikan pendidikan tambahan, dia tetaplah sudah bisa berdosa. Misalnya tidak ada yang menyuruh dan mengajarkannya untuk berbohong tetapi dia sudah bisa berbohong. Nah itu adalah kecenderungan-kecenderungan yang lahir dari adanya dosa dalam hidup kita ini.
GS : Jadi kecenderungan berbuat dosa, merupakan salah satu sifat dasar manusia secara umum ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan !
GS : Kalau sekarang kita bicara tentang sifat dasar yang umum seperti itu, pertanyaannya adalah apakah kita lalu pasrah saja, jadi kita hanya menerima karena ini adalah warisan dari orang tua kita, apakah seperti itu ?
PG : Jawabannya adalah ini, Pak Gunawan, kendati anak lahir membawa sifat dasar tertentu, tetapi ternyata sifat dasar itu masih dapat diubah, setidaknya kekuatannya dikurangi. Jadi tidak benar alau kita berkata, "Sudahlah ini sifat dasar saya, saya tidak akan bisa merubahnya, sudahlah saya terima saja."
Kalau sifat dasar itu menjuruskan kita untuk lebih mudah berdosa, atau untuk lebih menciptakan masalah, sudah tentu kita harus berusaha keras mengubahnya. Kita tidak bisa berkata, "Sudahlah, terima saja, pasrah saja, hiduplah seperti apa adanya." Kita tidak boleh seperti itu ! Tuhan menuntut kita untuk bisa keluar dari kecenderungan kita dan dengan pertolongan-Nya, kita akan mampu untuk melakukannya. Saya akan memberikan sebuah hasil penelitian, Pak Gunawan, yang meneliti orang selama kurang lebih dua dekade atau dua puluhan tahun, orang-orang yang berusia mulai dari umur dua puluh tahun sampai berusia empat puluh tahun, perkembangannya terus diikuti. Ternyata hasilnya ini Pak Gunawan, orang makin tua makin cenderung menjadi lebih bernurani dan berhati-hati, serta menjadi lebih stabil. Dengan kata lain, akan terjadi perubahan dalam diri orang yang berusia dua puluh tahunan dengan orang yang berusia empat puluh tahunan. Dengan hasil ini akhirnya para peneliti berkesimpulan bahwa, ternyata pengalaman hidup memengaruhi, mengubah sifat dasar manusia. Tambahan lagi, setelah usia empat puluh tahunan, seorang akan lebih tertutup terhadap pengalaman yang baru atau konsep-konsep yang baru dan akhirnya cenderung lebih senang untuk menyendiri dan melakukan hal-hal yang sudah biasa dilakukan, yang dia sudah pernah lakukan. Berbeda dengan orang pada usia dua puluhan, mereka suka keramaian, suka pergi, bergaul dengan teman-teman dan mau mencoba hal yang baru, belajar ini, belajar itu, mencoba yang tidak pernah dilakukannya. Para peneliti ini berkata bahwa, "Semua sifat itu, baik itu sifat menyendiri, atau sifat yang mau ramai-ramai, sifat mau melakukan hal-hal yang baru, mau belajar hal-hal yang tidak pernah dilakukannya, itu semua sifat-sifat yang ditentukan oleh gen, atau hal-hal yang kita bawa sejak lahir, tetapi setelah usia empat puluhan, sifat-sifat itu berubah." Sekali lagi, hal-hal inilah yang makin mengkonfirmasi pandangan, bahwa ternyata pengalaman hidup dapat mengubah sifat dasar manusia, oleh karena itu kita tidak boleh berkata, "Sudahlah saya sudah seperti ini, terima apa adanya." Itu bisa berubah dan kuncinya adalah sebuah pengalaman yang terus-menerus. Jadi kalau pengalaman itu hanya terjadi sekali-sekali, maka susah untuk mengubah sikap dasar kita, Pak Gunawan. Tetapi kalau terjadi terus-menerus, untuk suatu kurun yang agak panjang, maka akan berpotensi untuk mengubah sifat dasar manusia.
GS : Jadi berubahnya sifat dasar manusia, menurut riset tadi, itu karena pengaruh lingkungan hidupnya atau karena perubahan biologis dari orang tersebut, Pak Paul ?
PG : Ya, sebetulnya itu merupakan satu paket, Pak Gunawan, jadi dengan bertambahnya usia, misalnya secara fisik dia tidak selincah dulu, maka secara fisik, tubuhnya membutuhkan istirahat lebih anjang, tidak ada energi sekuat dulu dan sebagainya.
Itu juga menjadi pengaruh. Namun disamping itu tampaknya ada perubahan di dalam proses internal psikis orang yang tadinya mempunyai sifat-sifat dasar yang berbeda itu. Jadi sekali lagi kuncinya adalah sebuah pengalaman yang terus-menerus dan akhirnya akan mengubah orang. Sebagai contoh, orang yang masuk dinas militer, bisa jadi dulu sebelum masuk dinas militer, saat duduk badannya selonjor dan kalau berbicara suaranya lemah, tetapi setelah masuk dinas militer untuk suatu kurun dan menjadi seorang prajurit, tidak bisa tidak karena bentukan, akhirnya tubuhnya mengalami perubahan. Waktu dia berjalan, waktu dia duduk dan lama-kelamaan suaranya pun mengalami perubahan, karena semua itu adalah akibat bentukan intensif yang terus-menerus dilakukan. Jadi dengan kata lain, setelah melewati kurun itu, akhirnya orang berubah. Berarti kesimpulannya gen manusia sebetulnya fleksibel. Ada orang yang salah beranggapan bahwa kita lahir tanpa gen tertentu, namun jelas bahwa kita lahir membawa gen-gen yang menentukan sifat dasar kita, namun gen-gen tersebut ternyata, bisa berubah, tidak kaku, seperti yang dulu pernah dipikirkan oleh orang.
GS : Pak Paul, kalau kita bicara tentang orang yang punya sifat dasar pemarah, jadi misalkan karena orang yang awalnya adalah pemarah namun karena pengaruh lingkungan, pada usia empat puluh tahunan karena pengaruh lingkungan, dia menjadi orang yang lebih lemah lembut, lebih bisa menahan amarahnya. Dan kemudian orang ini mempunyai anak, apakah nantinya anak ini mewarisi gen yang dulu kakeknya berikan kepada orang tuanya, yaitu mudah marah, Pak Paul ?
PG : Tidak, jadi orang yang sudah mengalami perubahan, sebetulnya secara genetik pun di dalamnya juga sudah mengalami perubahan, sehingga waktu dia nanti mempunyai anak, anak itu akan mewarisi ennya yang sekarang, bukan gen orang tua sewaktu orang tua itu berusia sepuluh tahun atau lima belas tahun.
Karena gen kita pun, masih bisa berubah, nah waktu kita mempunyai anak, gen terakhir itulah yang kita wariskan kepada anak kita, bukan yang dulu-dulu yang belum berubah.
GS : Jadi, seringkali seseorang beralasan bahwa dia menjadi seorang pemarah, karena ayahnya pemarah dan kakeknya juga pemarah. Sebenarnya adalah karena ayahnya tidak mau mengubah sifat pemarahnya itu tadi, Pak Paul ?
PG : Betul. Jadi, kalau misalnya orang tua kita tidak mengubah sifat-sifat dasarnya, misalkan pemarah tadi, orang tuanya terus pemarah, waktu kita dilahirkan maka potensi itu akan ada pada dirikita.
Memang tidak setiap anak akan mewarisi, tetapi pada setiap anak itu akan diwarisi hal yang sama. Tetapi kalau orang tua berubah, kemudian mempunyai anak, maka gen itulah yang dia akan wariskan pada anak-anaknya.
GS : Ya, jadi sebenarnya, sebagai orang tua kita bisa memutus mata rantai dari sifat-sifat dasar yang buruk, untuk menurunkan yang baik kepada anak-anak kita, Pak Paul ?
PG : Betul, Pak Gunawan. Itu sebabnya kadang-kadang kita mendengar pengakuan orang yang berkata bahwa, "Sebetulnya kalau kamu tahu, nenekmu atau kakekmu dulu keras, kalau saya salah dipukul, teapi saya tidak memerlakukan kamu seperti itu."
Apa yang terjadi ? Karena dia tidak memerlakukan anaknya seperti itu, maka anak-anaknya pun waktu dibesarkan dalam rumah itu, tidak lagi mewarisi sifat tersebut. Jadi sifat itu hanya ada pada kakek nenek. Karena orang tua sudah memutuskan sifat keras itu dan sewaktu anak-anaknya lahir, maka anak-anaknya tidak lagi mewarisi sifat-sifat tersebut.
GS : Tetapi sebaliknya, Pak Paul. Kalau orang tua justru melakukan hal yang lebih buruk dari orang tuanya itu maka keturunannya pun akan jauh lebih parah lagi, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, jadi memang apa yang sudah dimulai oleh kakek nenek, malahan dikembangkan oleh orang tua, tidak bisa tidak, kalau anak itu lahir maka akan memiliki kecenderungan yang lebih kat lagi.
Itu sebabnya Pak Gunawan, secara fisik pun kita mengerti hal itu, yaitu kenapa orang tidak boleh menikah dengan saudara sendiri, sebab kelemahan yang dibawa oleh dua orang yang sama kemudian menjadi satu, maka gen itu akan kuat sekali diwariskan kepada anaknya.
GS : Pak Paul, ini suatu pembicaraan yang sangat menarik tentang sifat dasar, tetapi kita harus mengakhiri dulu bagian ini dan nanti kita akan lanjutkan pada kesempatan yang berikutnya dalam perbincangan program telaga yang akan datang. Namun sebelum kita mengakhiri bagian ini mungkin Pak Paul ingin menyampaikan Firman Tuhan ?
PG : Mazmur 139:13 berkata, "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku." Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan kita sejak ita dalam kandungan.
Ini berarti Tuhan yang menciptakan kita dan Tuhan sanggup membentuk kita atau mengubah kita, bukan saja Tuhan yang membentuk kita secara fisik menjadikan kita seperti ini, tetapi Tuhan pun bisa mengubah kita menjadi serupa dengan Dia. Inilah harapan kita, kita tidak boleh menyerah dan berkata ini sifat dasar kita, kita harus yakin bahwa kita bisa berubah, Tuhan juga dapat membentuk kita seturut seperti diri-Nya.
GS : Saya tertarik dengan istilah menenun yang digunakan oleh Pemazmur, berarti Tuhan itu mengerjakan kita satu demi satu, sehingga tidak ada manusia yang sama persis dengan orang lain, karena ini seperti "hand made", benarkah seperti itu, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan.
GS : Terima kasih sekali Pak Paul, untuk perbincangan kali ini dan para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih, Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Adakah Sifat Dasar ?" Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Submitted by TELAGA on Tue, 16/12/2008 - 1:47pm.
Abstrak:
Salah satu tantangan terbesar dalam bekerja sama adalah bagaimanakah kita dapat menghadapi pribadi yang begitu berbeda dari kita. Termasuk perbedaan gaya hidup dan sudut pandang membuat konflik tak terelakkan bila kedua belah pihak tidak rela mengalah. Disini akan dipaparkan beberapa prinsip yang dapat digunakan untuk menghadapi pribadi yang berbeda dari kita.
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Menghadapi Pribadi yang Berbeda". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Dalam pergaulan kita sehari-hari, kita tentu bertemu dengan orang-orang yang pasti berbeda dengan kita karena kita diciptakan secara unik oleh Tuhan. Hal ini bisa menjadi suatu masalah tapi juga bisa menjadi suatu kebanggaan tersendiri karena bisa berkomunikasi dengan orang yang berbeda dengan kita. Nah ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Memang kita senang bisa bertemu dengan orang yang berbeda dengan kita sebab adakalanya perbedaan itu melengkapi kekurangan kita, apa yang tidak bisa kita lakukan dengan baik, di situlah akn dilakukan oleh orang lain dengan baik.
Kita menyambut perbedaan tersebut apalagi dalam sebuah kelompok dimana kita harus bekerjasama, tapi tidak bisa dihindari bahwa perbedaan itu juga berpotensi menimbulkan konflik karena perbedaan membuat kita tidak melihat sesuatu dengan pandangan yang sama, akibatnya adakalanya kita harus bersitegang. Jadi pada umumnya kita ini menyambut perbedaan dengan setengah hati, di satu pihak senang namun di pihak lain merasa cemas kalau-kalau nanti akan terjadi konflik. Saya kira ini juga dialami oleh para manager, waktu mereka misalkan harus menerima orang baru untuk bekerja di bawahnya atau juga di dalam gereja misalkan majelis dipilih maka hamba Tuhan juga akan melihat siapa yang akan dipilih. Itu adalah sesuatu yang wajar, kita bertanya-tanya kalau orang yang dipilih ini begitu berbeda dengan saya, nanti kira-kira apakah bisa bekerjasama dengan saya, ataukah lebih banyak konfliknya atau lebih banyak keharmonisannya.
GS : Memang kesulitannya adalah menyesuaikan diri atau supaya orang baru ini menyesuaikan diri dengan kita, dan ini merupakan suatu proses yang tarik- menarik.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Satu hal yang kita harus sadari adalah segala jenis kerjasama apalagi kalau ada unsur perbedaannya akan menuntut waktu karena semua ini tidak akan terjadi dengancepat, jadi kita harus bersabar.
Ini adalah salah satu hal dimana kita harus mengingatkan diri kita bahwa kita harus bersabar, dari awal semua tidak bisa berjalan dengan cepat.
GS : Jadi kalau begitu hal-hal apa saja yang harus kita perhatikan di dalam kita berinteraksi dengan pribadi yang berbeda seperti itu ?
PG : Yang pertama, kita harus menyadari bahwa kita adalah manusia yang mempunyai kesamaan dan perbedaan antara satu sama lain. Jadi di dalam kesamaan kita akan menemukan perbedaan dan di dalam erbedaan kita akan menjumpai kesamaan.
Yang terpenting kita harus mengingatkan diri kita bahwa kadang kita ini dibuat kecewa karena kita beranggapan, "Kamu ini sama dengan saya kenapa harus berbeda, kenapa harus tidak setuju dengan saya." Maka kita harus menyadari di dalam kesamaan pun akan ada perbedaan jadi jangan kecewa kalau orang yang kita anggap sama dengan kita juga harus berbeda pandang, apalagi kalau kita ini seorang atasan dengan bawahan kita jangan tersinggung dan marah, "Kamu ini tidak mendukung saya, kamu ini juga tidak setuju dengan saya, saya anggap kamu ini di pihak saya, saya anggap kamu ini mengerti saya," sebab di dalam kesamaan akan ada perbedaan. Sebaliknya waktu kita menghadapi masalah akibat perbedaan dengan rekan kerja kita juga mesti menyadari dan mengingatkan diri kita bahwa di dalam perbedaan-perbedaan itu akan kita temukan persamaan. Jarang kita mendapati orang yang dari A sampai Z semuanya berbeda dari kita.
GS : Persamaan itu seringkali terjadi di luarnya saja misalkan kita itu sama-sama karyawan, sama-sama majelis, sama-sama orang Kristen, itu hanya permukaan tapi yang di dalamnya justru berbeda banyak, Pak Paul.
PG : Betul. Dan kalau pun ada kesamaan-kesamaan dalam hal-hal yang bersifat prinsipiil, akan ada hal-hal lain yang nantinya kita harus berbeda pandang dan itu wajar. Jadi memang itulah yang teradi sebab tidak ada orang yang 100 persen sama dengan kita dan sebaliknya tidak orang yang 100 persen berbeda dari kita pula.
GS : Jadi kita menemukan perbedaan atau kita sadar ada perbedaan. Dan apa yang harus dilakukan ?
PG : Yang kita lakukan, yang pertama sebagai langkah awal kita harus memisahkan antara yang kita sebut perbedaan dan kelemahan akibat dosa, ini dua hal yang tidak sama meskipun itu kadang-kadan rancu dengan keduanya.
Misalnya yang saya maksud dengan perbedaan adalah perbedaan gaya hidup dan perbedaan sudut pandang dan kita memiliki kebiasaan-kebiasaan yang tidak sama dengan orang lain. Sudut pandang adalah perbedaan nilai-nilai kita, tapi kelemahan akibat dosa itu lain lagi. Kelemahan akibat dosa itu menyangkut nilai moral, nilai rohani yang kita anut, sikap-sikap atau tindakan-tindakan yang melawan Tuhan dan perintah-Nya misalnya keangkuhan, ketamakan, kebohongan dan sebagainya dan sudah tentu waktu kita harus berhadapan dengan kelemahan akibat dosa maka kita harus bedakan reaksi kita waktu kita menghadapi perbedaan, jangan sampai kita membabi buta menyamaratakan keduanya. "Pokoknya kalau ada sedikit perbedaan, maka kita labelkan ini dosa" kita buru-buru mau mengejarnya, mau mendisiplinnya dan sebagainya. Itu belum tentu! Perbedaan bisa jadi hanyalah perbedaan dan jangan cepat-cepat kita melabelkannya sebagai dosa. Orang yang berbeda pandang dengan kita janganlah kita lihat dia sebagai orang yang berdosa, orang yang pasti salah. Sebaliknya juga jangan sampai kita meringankan kelemahan akibat dosa dengan berkata, "Memang manusia itu tidak sama," padahal ini bukan masalah tidak sama, tapi ini adalah masalah sikap atau tindakan yang melawan Tuhan dan perintah-Nya. Ada orang yang berkata, "Kita tidak perlu setia kepada pasangan kita, sekali-kali kita mempunyai intermeso dengan orang lain di luar, itu adalah hal yang wajar dan banyak orang yang melakukannya," kita tidak boleh berkata, "Saya dengan dia lain, saya lebih cocok dengan satu pasangan, dia lebih cocok dengan beberapa orang," ini bukan soal beda tapi ini soal dosa. Jadi kita mesti membedakan keduanya dan sudah tentu kalau ini masalah kelemahan akibat dosa, yang harus dilakukan orang tersebut adalah bertobat dan kita pun harus mengingatkannya untuk bertobat, tapi kalau kita melihat masalahnya adalah perbedaan maka jangan menyuruh-nyuruh orang bertobat seolah-olah dia sedang bersalah. Maka kita harus menyesuaikannya.
GS : Kalau perbedaan yang menyangkut gaya hidup itu mungkin kita bisa terima sejauh tidak memengaruhi kita, tapi perbedaan karena nilai moral, ini yang sulit, Pak Paul. Pernah ada sebagian besar orang di sekelilingnya mendukung apa yang dia perbuat, padahal kita secara prinsip berbeda dalam hal ini.
PG : Memang sekali lagi kalau nilai moral ini sebuah sikap yang melawan Tuhan dan perintah-Nya, maka kita mesti tahu jelas bahwa ini salah dan kita akan berdiri tegas tidak berkompromi dengan aa yang dilakukannya itu.
Tapi kalau nilai moralnya ini bukan dalam pengertian sikap atau tindakan yang melawan Tuhan, ini merupakan nilai-nilai tertentu dimana kita berbeda, maka kita mesti lebih toleransi dan tidak harus menyamaratakan ini sebagai sebuah dosa. Sebagai contoh yang kita tidak bisa sangkal dalam tata ibadah kita sebagai orang Kristen, ada kelompok-kelompok yang berbeda dengan kita. Ada yang memang nyaman dengan cara-cara tertentu dan sebagainya, bagi mereka itu adalah nilai-nilai rohani yang penting. Nah, dalam tata ibadah di mana kita harus berbeda maka kita katakan itu sebuah perbedaan, kita tidak akan melabelkan itu sebuah dosa atau kelemahan akibat dosa.
GS : Kalau perbedaan gaya hidup itu asal muasalnya bagaimana ?
PG : Biasanya itu muncul dari latar belakang dan cara-cara melakukan hal tertentu. Perbedaan itu bisa berhulu dari budaya maupun keluarga atau lingkungan. Sebagai contoh di dalam budaya kita, tnggal bersama orang tua bahkan sampai tua sekali pun, ini bukanlah sesuatu yang salah atau tidak semestinya, namun di belahan Barat anak yang tinggal bersama orang tua pada masa dewasa dilihat sebagai sesuatu yang tidak semestinya dan menyiratkan adanya masalah dalam diri kita.
Maka mereka tidak akan berkata bahwa ini adalah hal yang normal, itu adalah hal yang salah. Kalau kita sudah berusia empat puluh tahun dan masih tetap tinggal bersama orang tua maka orang akan mengerenyitkan dahi dan menduga ada yang kurang beres dalam diri kita sebab diharapkan setelah kita berusia dewasa umur 18 tahun, maka kita harus mulai mandiri, kita harus hidup di atas kaki kita sendiri. Jadi kita akan melihat perbedaan gaya hidup, kita tidak bisa berkata ini sebuah dosa. "Anak yang berusia dewasa itu sedang berdosa" ini adalah sebuah perbedaan dan kadang-kadang ini juga yang harus kita hadapi dengan rekan kerja. Contoh lain ada orang-orang yang tidak suka berlama-lama menyelesaikan tugas, begitu diberikan maka dia akan berupaya sesegera mungkin menyelesaikannya. Sebaliknya ada orang yang menggunakan waktu sebelumnya untuk mengerjakan hal lainnya sebab dia telah memperhitungkan bahwa masih tersedia waktu untuk menyelesaikan tugasnya. Sudah tentu dalam hal ini kita tidak bisa mengatakan mana yang benar dan mana yang salah sebab keduanya mempunyai alasan yang baik. Bagi orang yang sudah terbiasa melakukan tugas di menit terakhir, mereka akan berkata, "Inilah saya, saya tidak bisa untuk menyicil jauh-jauh hari hasilnya akan sama dan lebih baik saya lakukan hal-hal lain di hari-hari sebelumnya dan saya sisakan dua hari terakhir ini untuk menyelesaikan tugas saya." Bukankah bagi kita yang penting adalah tugas itu diselesaikan, jadi dalam bekerjasama kita sebagai atasan yang harus kita tuntut adalah hasil, bagaimana pun cara-caranya kita harus terima dan memang masing-masing orang tidak sama.
GS : Kalau ada batasannya misalnya tenggang waktu maka kita akan dengan mudah mengaturnya atau menyesuaikannya selama dia masih bisa dalam batas ditoleransi, tapi ada hal-hal yang kita sendiri tidak memiliki patokan, tidak punya ukurannya dan ini membuat kita sulit menentukan apakah ini perlu ditolerir atau tidak ?
PG : Mungkin salah satu kriteria yang bisa kita gunakan adalah apakah ini bisa menghambat, kalau ini menghambat kinerja, mengganggu suasana kerja atau relasi di antara sesama atau menimbulkan kresahan, maka kita harus mengatakan kepada orang yang bersangkutan bahwa kendati kita menyadari ini bukan masalah besar, ini bukan masalah dosa tapi perbedaan ini sedikit banyak menimbulkan keresahan.
Jadi kita bisa bertanya kepada yang bersangkutan, "Apa yang bisa kamu lakukan supaya kita bisa meredam gejolak-gejolak ini dan supaya kinerja kita tidak terganggu, kita masih bisa tetap bekerja sama." Jadi mungkin ukurannya adalah apakah telah menimbulkan gangguan dan kalau menimbulkan gangguan maka kita harus membahasnya.
GS : Itu kalau mengganggu kinerja kelompok, tapi selama itu tidak mengganggu maka itu menjadi urusan dia.
PG : Sebaiknya, ya. Jadi sebaiknya kita memberikan ruang pada individualitas seseorang atau keunikan seseorang. Kita tidak bisa menyamaratakan orang. Jadi yang penting adalah hasilnya bahwa tugs itu diselesaikan.
Saya jadinya teringat dengan kelompok-kelompok orang yang bekerja di bagian 'hi-tech' di Silicon Valley, daerah California bagian Utara, mereka itu sangat diberikan kebebasan dalam cara bekerjanya. Jadi mereka diberikan ruangan untuk berekreasi, berolah raga, ada 'fitness centre'nya, juga boleh datang dengan pakaian yang sangat 'casual', dengan pakaian yang sangat bersahaja. Jadi yang penting perusahaan itu menuntut hasil, bagaimana mereka mengerjakannya itu tidak akan diatur lagi sebab mereka menyadari adanya keunikan masing-masing.
GS : Dan memang tidak semua pekerjaan bisa diberlakukan seperti itu dan juga budayanya, karena ada orang yang diberikan kebebasan malah menyalahgunakan kebebasannya.
PG : Betul sekali. Jadi kalau sama sekali bertentangan dengan budaya kerja di situ atau biasanya bagaimana pekerjaan itu dilakukan, maka akan menimbulkan sedikit banyak ketegangan maka kita mesi datang kepada yang bersangkutan dan meminta dia untuk menyesuaikan diri pula atau misalkan kita ingin memasuki sebuah lingkup kerja sama yang baru, maka kita harus melihat apakah kita bisa cocok di situ dengan cara kerja yang seperti itu.
Kalau kita berkata, "Saya memang tidak bisa dengan cara kerja yang seperti itu dan mungkin saya tidak akan tahan dengan tuntutan saya harus seperti itu pula", maka kita jangan masuk.
GS : Kita kadang-kadang melihat gaya hidup seseorang berubah, yang tadinya bisa bekerjasama dengan kita, entah karena sesuatu hal misalkan karena kenaikan jabatan lalu gaya hidupnya berubah dan akhirnya membuat kita sulit untuk berinteraksi dengan dia.
PG : Ini adalah hal-hal yang sering terjadi dan tidak bisa dihindari, bisa buruk dan bisa juga sebagai hal yang lazim yang kita harus terima. Misalnya dengan posisi kerja dia yang meningkat, keibukannya menjadi bertambah dan karena kesibukannya bertambah maka dia menjadi lebih peka dengan waktu sehingga dia lebih memperhatikan lamanya untuk dia berbicara dengan kita, misalkan kalau dia keluar makan dengan kita maka dia akan memperhitungkan waktunya.
Kalau dulu dia tidak seperti itu namun sekarang dia menjadi lebih tergesa-gesa, atau karena dia makin sibuk akhirnya dia mau mengefisienkan waktu misalkan untuk menelepon kita, dia akan meminta seseorang untuk meneleponkannya supaya bisa langsung berbicara dengan kita. Adakalanya kita di pihak yang satunya itu merasa tersinggung, tersisihkan karena merasa tidak dihormati lagi dan berubah sekarang seperti ini, dan kita dengan cepat menyimpulkan, "Kamu sekarang sombong mentang-mentang kamu di atas dan saya masih di bawah." Jadi kita juga mesti berhati-hati jangan cepat menuduh orang itu sombong dan sebagainya, karena sekali lagi itu adalah tuntutan kerja, perubahan jadwal hidup dan sebagainya dan itu bisa menuntut perubahan. Misalkan dulu belum menikah masih lajang bisa keluar beramai-ramai sampai jam berapa pun, dan sekarang sudah menikah maka dia harus diam di rumah dan dia harus bersama dengan pasangannya dan tidak bisa lagi untuk bisa bebas seperti dulu. Kita sebagai teman juga harus mengerti perubahan gaya hidup seperti itu dan sekali lagi yang dituntut di sini adalah pengertian dari kedua belah pihak.
GS : Masih ada prinsip lain Pak Paul, di dalam menghadapi orang yang berbeda dengan kita ?
PG : Yang berikut jadinya kita harus menyadari selain gaya hidup ada juga yang terjadi yaitu perbedaan sudut pandang atau perspektif kita. Perbedaan sudut pandang itu merupakan hasil dari nilaiyang ditanamkan dan pembelajaran dari pengalaman hidup.
Jadi ada orang yang berkata bahwa kita tidak boleh memercayai orang yang baru dikenal sedangkan ada orang yang mengatakan selama orang belum menunjukkan niat buruk maka kita tidak boleh berprasangka buruk. Sudah tentu orang yang tidak memercayai orang yang baru dikenal mengembangkan pandangan tersebut dari nilai yang ditanamkan padanya atau pengalaman buruk yang menimpanya akibat terlalu cepat memercayai orang. Sebaliknya orang yang berprinsip bahwa seyogianya saya memercayai orang yang tidak memperlihatkan niat buruk, hal-hal seperti itu berdasarkan hal-hal yang ditanamkan padanya dan pengalaman hidup yang membuktikan bahwa hampir semua orang yang dipercayainya ternyata layak dipercaya. Jadi sekali lagi sangat-sangat subjektif bergantung pada pengalaman hidup seseorang dan nilai-nilai yang ditanamkan padanya. Jadi ini juga menciptakan perbedaan dalam kita bekerjasama.
GS : Jadi perbedaan gaya hidup maupun perspektif, itu seringkali merupakan penyebab konflik pribadi demi pribadi. Dalam hal ini apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus kita pertimbangkan supaya hubungan kita itu enak?
PG : Ada beberapa yang bisa saya bagikan, yang pertama adalah jelas bahwa hal ini bukanlah masalah benar atau salah, kudus atau dosa, sehingga kita perlu menetapkan kepemimpinan. Siapa yang memmpin berhak meneruskan gaya dan sudut pandangnya dan mereka yang berada di bawah kepemimpinannya mesti tunduk.
Sudah tentu sebagai pimpinan yang baik dia memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk memberikan masukan, namun bila terdapat perbedaan yang tidak dapat disatukan, maka orang yang berada di bawah kepemimpinannya harus mengalah dan mengikuti keputusan si pemimpin. Masalah timbul bila semua orang merasa bahwa mereka mempunyai hal yang sama dengan si pemimpin yakni hak, bukan saja untuk didengarkan melainkan juga untuk dipatuhi, bila ini yang terjadi maka kekacauanlah yang akan kita tuai.
GS : Seringkali ada pemimpin-pemimpin yang tidak formal. Jadi ada pemimpin-pemimpin formal yang diangkat karena ada surat keputusan bahwa dia diangkat, tapi bawahannya karena memiliki pengalaman yang lama di suatu tempat, sehingga mereka juga seolah-olah menjadi pemimpin-pemimpin dan mereka juga menuntut untuk didengarkan juga.
PG : Betul. Dalam kondisi itu dia juga mempunyai pengalaman yang mungkin lebih baik dari pada si pemimpin itu sendiri dan dia berkewajiban membagikannya kepada si pemimpin tapi tetap karena di alam struktur organisasi, dia adalah bawahan maka dia mesti tunduk.
Kalau dia sudah tidak bisa lagi menghormati dan tunduk kepada si pemimpin maka dia harus dengan baik-baik mengundurkan diri. Namun sekali lagi kalau dia berada di bawah kepemimpinan seseorang bagaimana pun juga dia harus menaati karena kalau tidak menaati maka semua akan kacau.
GS : Seringkali pemimpin baru itu adalah karyawan yang tadinya sama-sama bekerja dengan mereka, kemudian naik jabatan dan hal ini seringkali tidak bisa diterima secara langsung oleh bawahan-bawahan itu.
PG : Seringkali kita beranggapan bahwa kita mempunyai hak yang sama dengan si pemimpin, bahwa suara kita harus didengarkan sama seperti seorang pemimpin, namun tidak demikian! Di dalam strukturorganisasi ada yang menjadi atasan atau ada yang menjadi bawahan dan haknya tidak sama, kalau semua beranggapan bahwa haknya sama maka kita akan benar-benar menuai kekacauan maka perlu adanya ketertiban dan ini adalah sebuah perintah bahwa Tuhan pun menginginkan adanya ketertiban.
Misalkan di 1 Korintus, waktu Tuhan mengatur tata ibadah tentang berbicara dalam bahasa roh dan sebagainya, Tuhan memang dengan jelas menekankan ketertiban maka kita harus tunduk kepada yang memimpin.
GS : Apakah ada hal lain yang perlu dipertimbangkan, Pak Paul ?
PG : Bila si pemimpin itu bijak dan tanggap secara berkala dia pun harus mengalah demi menjaga kesatuan dan rasa dihargai oleh bawahannya. Dengan kata lain jika dia melihat bahwa hal ini bukan asalah benar atau salah, maka akan jauh lebih baik jika sekali-kali ia melakukan apa yang disarankan bawahannya kendati itu berbeda dari apa yang dipikirkannya.
Alhasil bawahan merasa bahwa pandangannya itu didengarkan dan dihargai. Jadi pemimpin harus fleksibel untuk hal-hal yang tidak terlalu prinsipiil dan dia tidak berbeda pandang, jangan selalu meminta orang mengikuti pendapatnya. Pemimpin yang bijak akan sesekali memberikan ruangan kepada bawahannya untuk melakukan apa yang memang disarankan dan dia akan mengikuti yang diminta oleh bawahannya meskipun sebenarnya dia punya ide yang lain dan bisa jadi idenya itu memang lebih baik, tapi sekali lagi kalau ini bukan hal yang besar, sekali-sekali biarkan, agar bawahan merasa bahwa pemimpin itu sungguh-sungguh mendengarkannya sehingga mereka nanti akan terus bersemangat memberikan masukan-masukan yang berharga sebab mereka tahu kalau mereka akan di- dengarkan dan sekali-sekali si pemimpin akan melakukan apa yang mereka sarankan.
GS : Tapi masalahnya ada pada gengsi si pemimpin itu, Pak Paul.
PG : Memang ini masalahnya. Kadang-kadang si pemimpin itu merasa orang itu tidak boleh memiliki ide yang lebih baik darinya dan tidak boleh dia itu ikut pendapat bawahannya. Itu adakalanya pandngan yang keliru.
Justru kerjasama akan lebih optimal jika si pemimpin sekali-sekali bersedia merendahkan diri dan mengalah.
GS : Itu kalau hubungan atasan dan bawahan, pemimpin dan yang dipimpin, tetapi bagaimana kalau ini setara jadi sama-sama bawahan.
PG : Kalau setara sebaiknya digunakan sistem giliran. Jadi jika terdapat perbedaan yang tidak menyangkut benar salah maka masing-masing berinisiatif untuk mengalah sesuai giliran. Problem timbu jika satu pihak terus mengalah dan satu pihak tidak mau mengambil giliran mengalah.
Jika ini yang terjadi maka kita mengingatkan pihak yang satunya agar dia pun juga mengalah jika ia menolak maka besar kemungkinan itu akan menjadi akhir dari pertemanan atau kerjasama kita. Di sini kita bisa melihat bahwa sesungguhnya pertemanan atau kerjasama dibangun di atas prinsip timbal balik. Di dalam benak kita sebenarnya akan mencatat 'track record', jadi berapa seringnya kita mengalah dan berapa seringnya dia mengalah, kalau tidak seimbang maka akan menimbulkan banyak masalah. Jika tidak ada timbal balik maka kerjasama itu juga akan harus disudahi.
GS : Ini juga dibutuhkan dalam relasi hubungan suami istri, Pak Paul ?
PG : Benar sekali. Jadi masing-masing mesti mengingat giliran mengalahnya itu.
GS : Pak Paul, apakah ada pertimbangan lain yang harus diperhatikan ?
PG : Bisa juga perbedaan itu diperdekat lewat penjelasan dan pencarian alternatif. Jadi kita harus mengomunikasikan alasan, di balik pandangan dan gaya hidup yang kita anut, seringkali pemahama akan menolong kita untuk berkompromi karena makin mengerti, maka makin tinggi penghargaan kita satu sama lain.
Jadi kita mesti memelihara semangat pencarian alternatif sebab jalan ini akan dengan cepat menyelesaikan perbedaan dan alternatif kerap memuaskan dan menghilangkan kebutuhan akan giliran, sebab kedua belah pihak berada di posisi yang setara.
GS : Mencari alternatif ini yang tidak mudah dilakukan sebab ini membutuhkan suatu kreatifitas tersendiri, kemampuan orang berkreasi sehingga bisa menemukan alternatif itu.
PG : Betul dan kadang-kadang kalau tidak bertemu jalan alternatif, maka jalan giliranlah yang kita harus tempuh kalau kita memang setara.
GS : Pak Paul, apakah Pak Paul bisa menyampaikan suatu kesimpulan dari apa yang kita sudah bicarakan ini ?
PG : Firman Tuhan di Amsal 13:10 berkata, "Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat." Firman Tuhan jelas menyoroti masalah keangkuhan an bukankah seringkali keangkuhanlah yang menghalangi kita untuk merendahkan diri, mengalah, mendengarkan nasehat dan masukan dari orang atau bawahan di sekitar kita.
Jangan sampai keangkuhan menghancurkan pertemanan atau kerjasama kita. Firman Tuhan jelas berkata, "Mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat."
GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menghadapi Pribadi yang Berbeda". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu tantangan terbesar dalam bekerja sama adalah bagaimanakah kita dapat menghadapi pribadi yang begitu berbeda dari kita. Berikut akan dipaparkan beberapa prinsip yang dapat gunakan untuk menghadapi pribadi yang berbeda dari kita.
Pada dasarnya kita adalah manusia yang mempunyai kesamaan dan perbedaan antara satu sama lain. Di dalam kesamaan kita akan menemukan perbedaan dan di dalam perbedaan kita akan menjumpai kesamaan.
Tatkala kita menjumpai perbedaan kita mesti membedakan antara perbedaan dan kelemahan akibat dosa. Perbedaan menyangkut (a) gaya hidup dan (b) sudut pandang sedangkan kelemahan akibat dosa merupakan nilai moral, sikap, atau tindakan yang melawan Tuhan dan perintah-Nya, seperti keangkuhan, ketamakan, kebohongan, dsb.
Perbedaan gaya hidup berasal dari perbedaan latar belakang kehidupan dan cara melakukan hal-hal tertentu. Perbedaan ini bisa berhulu dari budaya maupun keluarga atau lingkungan. Sebagai contoh, di dalam budaya kita, tinggal bersama orangtua bahkan sampai tua sekalipun bukanlah sesuatu yang salah atau tidak semestinya. Di belahan dunia Barat, tinggal bersama orangtua pada masa dewasa dilihat sebagai sesuatu yang tidak semestinya dan menyiratkan adanya masalah dalam diri kita. Sudah tentu dalam hal ini, kita tidak bisa mengatakan mana yang benar dan mana yang salah sebab keduanya mempunyai alasan yang baik.
Perbedaan sudut pandang merupakan hasil dari nilai yang ditanamkan dan pembelajaran dari pengalaman hidup. Jadi, ada orang yang berkata bahwa kita tidak boleh mempercayai orang yang baru dikenal sedangkan ada orang yang mengatakan bahwa selama orang belum menunjukkan niat buruk, maka kita tidak boleh berprasangka buruk.
Perbedaan gaya hidup dan sudut pandang membuat konflik tak terelakkan bila kedua belah pihak tidak rela mengalah. Itu sebabnya beberapa hal berikut ini perlu dipertimbangkan.
Jika jelas bahwa hal ini bukanlah masalah benar-salah dan kudus-dosa, maka kita perlu menetapkan kepemimpinan. Siapa yang memimpin berhak meneruskan gaya dan sudut pandangnya dan mereka yang berada di bawah kepemimpinannya mesti tunduk. Sudah tentu sebagai pimpinan yang baik seyogianyalah ia memberi kesempatan kepada bawahannya untuk memberinya masukan. Namun bila memang terdapat perbedaan yang tidak dapat disatukan, maka orang yang berada di bawah kepemimpinannya harus mengalah dan mengikuti keputusan si pemimpin. Masalah timbul bila semua orang merasa bahwa mereka mempunyai hak yang sama dengan si pemimpin.
Bila si pemimpin bijak dan tanggap, secara berkala ia pun harus mengalah demi menjaga kesatuan dan rasa dihargai pada bawahannya. Alhasil bawahan merasa bahwa pandangannya didengarkan dan dihargai.
Jika kedua belah pihak setara, sebaiknya ditentukan sistem giliran. Jadi, jika terdapat perbedaan yang tidak menyangkut benar-salah, maka masing-masing berinisiatif untuk mengalah sesuai giliran. Problem timbul bila satu pihak terus mengalah dan pihak lainnya tidak mau mengambil giliran mengalah. Di sini kita dapat melihat bahwa sesungguhnya pertemanan dibangun di atas prinsip timbal-balik. Jika tidak ada timbal-balik maka pertemanan pun niscaya terbalik.
Kadang perbedaan dapat diperdekat lewat penjelasan dan pencarian alternatif. Jadi, kita harus mengkomunikasikan alasan di belakang pandangan dan gaya hidup yang kita anut. Sering kali pemahaman menolong kita untuk berkompromi karena makin mengerti makin tinggi penghargaan kita akan satu sama lain. Juga, kita mesti memelihara semangat pencarian alternatif sebab jalan ini akan dengan cepat menyelesaikan perbedaan. Alternatif kerap memuaskan dan menghilangkan kebutuhan akan giliran sebab kedua belah pihak berada di posisi yang setara.
Kesimpulan:
Perbedaan tidak harus menyebabkan perpecahan selama kedua belah pihak jelas akan peran masing-masing dan memelihara komunikasi antara satu sama lain. Firman Tuhan mengingatkan, "Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat." (Amsal 13:10)
Submitted by TELAGA on Thu, 27/11/2008 - 2:48pm.
Abstrak:
Hasil riset di Amerika memerlihatkan bahwa sebagian besar anak-anak yang bersekolah Minggu, pada masa dewasanya tidak lagi bergereja. Dan kita pun tahu selama hampir 2000 tahun, benua Eropa dan Asia Kecil merupakan pusat kekristenan namun sekarang tidak lagi. Bagi banyak orang, Tuhan tidak lagi relevan dan tidak layak dipikirkan, apalagi diyakini. Tuhan tidak meminta kita untuk memisahkan diri dari lingkungan namun Tuhan memerintahkan kita untuk hidup berbeda dan tidak menuruti pola hidup dan iman yang berbeda. Apa yang bisa dilakukan agar kita sebagai umat Tuhan hidup berbeda?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Hidup Berbeda". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, sebagai orang beriman kita tahu bahwa kita dipanggil oleh Tuhan untuk hidup kudus, bukan hidup tanpa dosa tapi lain dari pada yang lain. Dan letak lainnya ini dimana dan bagaimana ?
PG : Sudah tentu yang dimaksud dengan lain ini bukan menunjuk pada atribut-atribut jasmaniah yaitu cara kita mendandani rambut kita. Tapi ini adalah perubahan nilai, apa itu yang penting dalam idup ini, apa itu yang akan kita tinggikan, apa yang akan kita kejar di dunia ini, untuk hal apa sajakah kita akan berkorban dalam hidup ini.
Hal-hal seperti itulah yang diminta Tuhan untuk kita ubah. Dan sudah tentu berbeda di dalam hal dosa juga merupakan sebuah keharusan, yaitu kita tidak melakukan dosa dari yang tadinya kita biasa lakukan atau dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita. Jadi seperti itulah kudus yang Tuhan kehendaki, Pak Gunawan.
GS : Dan untuk itu Pak Paul, apakah ada ayat Firman Tuhan yang Pak Paul ingin bahas ?
PG : Ada, Pak Gunawan. Dan sebetulnya pembahasan kita kali ini muncul dari sebuah keprihatinan di Amerika Serikat, beberapa waktu yang lalu diadakan sebuah survei dan dari survei itu ternyata aak-anak yang di sekolah minggukan pada masa kecilnya, setelah SMA mereka makin berkurang untuk ke gereja, dan pada saat menginjak bangku kuliah hampir setengahnya sudah tidak lagi bergereja.
Dan setelah masuk ke dunia kerja, ternyata yang masih bergereja tinggal sekitar 10 persennya saja. Berarti begitu banyak anak-anak yang tadinya itu mengenal Tuhan, bergereja setiap minggu diajarkan tentang Tuhan tapi setelah dewasa tidak lagi menghiraukan hal-hal ini. Dan sesungguhnya apa yang terjadi ? Apakah ini adalah sesuatu yang baru ? Ternyata tidak! Mazmur 106:34-36 mengatakan bahwa mereka (orang-orang Israel) tidak memunahkan bangsa-bangsa seperti yang diperintahkan Tuhan kepada mereka, tapi mereka bercampur-baur dengan bangsa-bangsa dan belajar cara-cara mereka bekerja, mereka beribadah kepada berhala-berhala, mereka yang menjadi perangkap bagi mereka. Jadi orang-orang Israel setelah masuk ke tanah yang Tuhan janjikan akhirnya bercampur-baur dan akhirnya mulai mengadopsi nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa-bangsa di tanah Kanaan itu. Kita juga mesti berhati-hati karena ternyata gejala ini terus berlangsung dari zaman Perjanjian Lama, hal itu masih terus berlangsung sampai sekarang. Memang di satu pihak membuat kita frustrasi, apalagi yang harus kita kerjakan, bukankah kita sudah melakukan tugas sebagai orang tua mengajak anak-anak mengenal Tuhan kita Yesus Kristus, mengenal apa itu ibadah kepada Tuhan dan akhirnya juga mengenal Firman Tuhan lewat sekolah minggu dan khotbah-khotbah yang didengarnya tapi setelah besar dia bisa hilang begitu saja. Dan kita mesti mewaspadai, kita sudah melihat contoh yang sangat nyata terjadi di Eropa dan Asia kecil. Eropa adalah pusat kekristenan yang mengirimkan begitu banyak hamba-hamba Tuhan yang melayani Tuhan di segala penjuru dunia. Tapi sekarang kita ketahui tidak ada lagi pusat kekristenan secara umum karena orang-orang di sana sudah tidak terlalu menghiraukan Tuhan, Tuhan adalah sebuah konsep yang tidak relevan dalam hidup. Mereka mungkin saja percaya adanya Tuhan, tapi Tuhan bukanlah Tuhan yang seharusnya terlibat di dalam hidup mereka.
GS : Pak Paul, kalau pemazmur mengatakan tentang mereka itu bercampur-baur dengan bangsa-bangsa lain, pada saat ini juga sangat dimungkinkan karena kita sulit untuk mengisolir diri, apalagi sebagai orang Kristen untuk berkumpul dengan orang Kristen saja sulit, Pak Paul. Jadi percampuran ini bisa membawa dampak seperti yang telah kita bahas ini ?
PG : Betul. Jadi sudah tentu yang dimaksud dalam konteks sekarang ini bukanlah kita mau memisahkan hidup yaitu tidak bergaul, tidak bersosialisasi dengan orang lain, sama sekali bukan. Sebab Tuan juga meminta kita untuk menjadi terang, menjadi garam dan benar-benar menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita supaya lewat perbuatan baik kita, orang bisa melihat kemuliaan Tuhan.
Jadi konsep berbaur di sini, lebih kepada suatu adaptasi dan asimilasi nilai-nilai hidup dan keyakinan kepercayaan sehingga kita mesti menjaga jangan sampai itu nanti yang turut tererosi.
GS : Kalau riset itu dilakukan di Amerika, Pak Paul, kalau seandainya dilakukan di Indonesia, saya rasa hasilnya juga tidak terlalu jauh berbeda, Pak Paul.
PG : Sebenarnya ya. Banyak orang yang setelah dewasa itu tidak lagi terlalu melibatkan Tuhan dalam hidup mereka, mungkin saja setiap minggu mereka tetap pergi ke gereja dan sebagainya, tapi Tuhn bukanlah menempati porsi terbesar dalam hidupnya, jadi benar-benar ke gereja, beribadah adalah sebagai kewajiban sebagaimana manusia namun tidak sungguh-sungguh tunduk kepada Tuhan di dalam setiap kehidupannya.
GS : Kalau begitu apa yang harus dilakukan, Pak Paul ? Kita tentu tidak menghendaki anak-anak kita atau generasi muda ini tidak lagi mempunyai nilai-nilai yang sudah ditanamkan sejak mereka masih anak-anak.
PG : Kita akan melihat beberapa panduan yang diambil dari Roma 12:1,2. Firman Tuhan berkata, "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahka tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Prinsip pertama yang bisa kita petik dari Firman Tuhan adalah kita hanya bisa hidup berbeda bila kita pertama-tama mempersembahkan hidup kepada Kristus Tuhan kita, dengan kata lain kita mesti bertekad untuk hanya hidup sesuai dengan kehendak Allah dan menjalankan misi-Nya, fokus kita hanyalah Dia dan tidak ada lagi selain Dia. Saya menyimpulkan begini, Pak Gunawan, orang yang mudah terpengaruh oleh lingkungan adalah orang yang tidak pernah benar-benar memersembahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Saya kira sedikit banyak kembali kepada peranan kita sebagai orang tua, misalkan saya mau katakan kadang-kadang sebagai orang tua kita gagal menekankan hal ini, kita memandang hal rohani sebagai salah satu dari sejumlah hal lain di dalam hidup ini, bukan sebagai bagian terutama dari hidup, dan pada akhirnya anak bertumbuh besar memiliki pandangan yang serupa bahwa Tuhan hanyalah satu bagian, satu hal dari sejumlah hal lain dalam hidup ini. Anak-anak seperti inilah yang nantinya rentan terhadap erosi rohani ketika menginjak usia dewasa.
GS : Masalahnya mungkin pada konsep memersembahkan diri kepada Tuhan Yesus, masih banyak orang yang menganggap kalau memersembahkan diri maka harus menjadi pendeta, harus bekerja penuh waktu di gereja. Sehingga orang tidak berani memersembahkan diri atau enggan memersembahkan diri, dan ini bagaimana Pak Paul ?
PG : Memersembahkan diri berarti, yang pertama adalah menjadikan Tuhan yang terutama dalam hidupnya. Jadi apa pun yang dilakukannya semua harus disesuaikan dengan kehendak Tuhan, apa yang ingindilakukannya harus ditanyakan dengan Tuhan, apakah ini memang sesuatu yang Tuhan kehendaki dan yang saya maksud menanyakan sesuatu kepada Tuhan, untuk hal-hal yang memang penting untuk kita lakukan.
Saya bukannya berkata kalau mau mandi kemudian bertanya kepada Tuhan, atau mau makan bertanya kepada Tuhan. Tapi pada intinya memersembahkan diri kepada Tuhan berarti menempatkan Tuhan sebagai Tuhan dalam hidup kita, yang terutama dalam hidup kita. Saya masih ingat dengan diri saya pribadi, sebelum saya lahir baru, apa yang ingin saya lakukan maka saya lakukan sesuai dengan kehendak saya, saya tidak lagi memusingkan apakah Tuhan setuju atau tidak setuju dengan yang saya lakukan. Tapi setelah saya lahir baru, saya berusaha mengingat-ingat apakah ini sesuai dengan kehendak Tuhan, apakah ini memuliakan Tuhan atau tidak. Waktu saya mau sekolah dan memilih jurusan, memilih pasangan hidup, saya selalu terbiasa berdoa dan meminta pimpinan Tuhan. Saya mau memastikan bahwa yang saya lakukan tidaklah bertentangan dengan kehendak Tuhan. Jadi hal seperti ini yang sejak awal kita tanamkan kepada anak-anak bahwa Tuhan yang terutama, hidup ini untuk Tuhan sebab hidup ini dari Tuhan. Jadi tidak ada lagi yang istimewa dari pernyataan hidup ini untuk Tuhan sebab bukankah pada dasarnya hidup ini adalah dari Tuhan, jadi memang sepenuhnya untuk Tuhan oleh karena itu kita harus hidup seperti itu pula, bahwa kita ini adalah milik Tuhan dan hiduplah sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki.
GS : Jadi pengajaran tentang cerita Alkitab, menanamkan nilai-nilai itu memang penting dilakukan sejak anak itu masih dini, tapi yang Pak Paul ingin sampaikan di sini bahwa menekankan kepada anak bahwa harus berani memersembahkan hidupnya kepada Tuhan secara pribadi.
PG : Betul. Jadi memersembahkan di sini bukan berarti kamu nanti harus menjadi pendeta, tapi memersembahkan artinya sepenuhnya hidup ini hanyalah untuk Tuhan.
GS : Makanya kalau kita sendiri sebagai orang dewasa masih tidak jelas dengan konsep ini, maka kita juga tidak akan memberikan dorongan kepada anak-anak kita.
PG : Benar. Memang harus diawali dari kita, apakah kita telah memersembahkan hidup kita kepada Tuhan. Sepenuhnya ini adalah untuk Tuhan, kita tidak lagi hanya mementingkan diri tapi selalu maumementingkan kepentingan Tuhan.
GS : Yang lain yang Pak Paul ingin sampaikan dari Roma 12 ini apa, Pak Paul ?
PG : Yang berikut adalah Tuhan meminta kita untuk tidak serupa dengan dunia ini. Istilah dunia di sini merujuk pada pola hidup atau jiwa dari dunia yang berlawanan dengan kehendak Tuhan sehingg tidak setiap hal yang dicetuskan oleh dunia berarti bertentangan dengan Tuhan.
Tapi akan ada hal-hal atau nilai-nilai hidup yang dipromosikan yang memang berlawanan dengan kehendak Tuhan. Namun untuk dapat tidak serupa dengan dunia, pertama-tama kita harus tahu lebih dahulu apa itu yang menjadi pola hidup dunia, apa itu yang diajarkan oleh dunia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita sebagai orang tua mesti menjelaskan kepada anak-anak apa itu pola dunia yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan dan mengapa tidak sesuai. Jadi tidak boleh kita sebagai orang tua hanya berkata, "Ini salah, ini jahat" tapi tidak menjelaskan kenapa tidak boleh dan kenapa itu tidak benar, kenapa itu jahat. Saya akan berikan beberapa contoh pola dunia yang berada di sekitar kita yang mesti kita waspadai. Misalkan yang pertama, ada yang berpendapat bahwa hidup bergantung sepenuhnya pada diri kita manusia dan bukan Tuhan, ada orang yang mengandalkan kepandaiannya, mengandalkan kekuatannya, kebisaan-kebisaannya. Kemajuan ilmu pengetahuan memang salah satu hal yang baik tapi kalau tidak hati-hati, kemajuan ilmu pengetahuan akan membuat kita lupa bahwa pada akhirnya nafas ini pun adalah pemberian Tuhan dan bahwa kepandaian juga karunia Tuhan. Sebab misalkan kita membicarakan masalah IQ, kecerdasan intelektual, apakah itu sesuatu yang bisa ditambahkan misalkan yang tadi IQ-nya 90 dan sekarang menjadi 150, tidak! Kita tahu penambahan IQ hanyalah bisa berlangsung mencakup 5-10 point tapi itu pun masih bisa dipertanyakan apakah itu penambahan ataukah pengoptimalan, yang memang sudah ada dioptimalkan. Intinya adalah kita sudah membawanya. Itu sebabnya anak-anak yang cacat mental, yang memang mengalami kemunduran dalam kecerdasan intelektualnya, apa pun yang dilakukan tidak akan berhasil mengeluarkannya dari ikatan itu, tetap ada dan dia akan susah mengikuti pelajaran dan sebagainya. Jadi intinya kita mesti menyadari hidup ini pemberian Tuhan, nafas adalah pemberian Tuhan, kecakapan kita, kepandaian kita adalah juga pemberian Tuhan. Tapi betapa banyaknya orang yang tidak lagi menghiraukan Tuhan karena memikirkan bahwa tidak perlu tergantung pada Tuhan karena ini semua sudah begitu hebat dan begitu maju. Jadi akhirnya kita menyembah diri kita sendiri, bukan lagi Tuhan.
GS : Itu memberhalakan ilmu atau diri kita sendiri menggantikan Tuhan dan memang hal ini sangat gencar disampaikan kepada anak-anak yang mengatakan, "Kalau kamu berpikir bisa, maka kamu pasti bisa melakukan itu," dan itu adalah suatu ajaran yang membingungkan anak.
PG : Betul. Jadi kita memang boleh mendorong anak, "Kamu jangan sampai ragu, kamu harus coba teruskan, apakah yang kamu sudah kerjakan itu sudah baik" itu tidak apa-apa, namun jangan sampai berebihan, seolah-olah semua tergantung pada dia.
Kita mesti mengajar anak berdoa meminta berkat Tuhan dan meminta kehendak Tuhan, sebab memang apa pun yang dia persiapkan misalnya ujian, sebaik apa pun dia belajar kalau hari itu dia harus sakit maka dia tidak bisa ikut ujian sehingga semuanya harus terhenti. Jadi kita mengajak anak dari kecil untuk bergantung pada Tuhan.
GS : Mungkin ada anggapan keliru yang lain yang saat ini sedang berkembang ?
PG : Yang kedua adalah bahwa semua kepercayaan adalah baik dan sama di mata Tuhan. Ini memang sebuah falsafah yang dianut oleh banyak orang di dunia ini, apalagi di kalangan kaum intelektual da sebagainya, "Tidak apa-apa, semua bergantung pada kita dan sebagainya."
Pertanyaan yang ingin saya sampaikan adalah jika semua keyakinan sama, mengapa harus ada begitu beragam dan ini yang penting, begitu berlainan ? Kalau memang mirip, kita masih bisa berkata "Mungkin semua ini sama karena mirip", tapi faktanya kalau kita ingin mendalami setiap keyakinan, ternyata kita temukan berbeda sekali, tidak ada yang sama di dalam dasar-dasarnya, begitu beragam, begitu berbeda. Ini membuktikan bagi saya tidak sama, sebab kalau sama kenapa harus begitu berbeda, jadi bagi saya memang tidak sama dan karena tidak sama tugas kitalah untuk mencari tahu, mencari kebenaran itu, mendalaminya dan tidak menggampangkan. Buat saya orang yang menggampangkan, "Semua sama" adalah orang yang tidak mau menghiraukan Tuhan dalam hidupnya maka dia menganggap, "Semua sama" sehingga dia tidak harus pusing-pusing, sikap seperti inilah yang kita harus waspadai sebab anak-anak kita akan bertumbuh di dalam lingkup seperti ini, di mana pun dia berada sekarang, di luar negeri juga sama bahkan lebih parah lagi. Jadi benar-benar sebuah sikap yang mau menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat Tuhan dengan mengatakan, "Semua sama tidak ada bedanya".
GS : Itu seringkali dikemukakan dalam rangka kita menoleransi orang lain yang berbeda keyakinan atau agama dengan kita. Dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu kita perlu hidup rukun, kita perlu saling mengasihi karena ini adalah perintah Tuhan dan perintah Tuhan adalah kita harus mengasihi orang bahkan perintah Tuhan lebih jauh lagi,kita harus mengasihi orang yang memusuhi kita, yang membenci kita, kita diminta untuk mendoakan.
Jadi bukan hanya menoleransi, sebab panggilan kristiani adalah mengasihi, lebih jauh lagi dari menoleransi. Tapi didalam kita mengasihi, kita pun mengakui bahwa memang tidak sama, tapi tidak sama tidak harus membuat kita membenci orang, sebab membenci orang adalah sebuah dosa. Tapi kita mesti tahu, saya ingin menggugah orang tua untuk mendorong anak supaya benar-benar mengerti apa yang Tuhan ajarkan sehingga mereka tidak mudah terbawa oleh angin yang berkata, "Ya sudahlah, kamu juga sama baiknya."
GS : Hal lain apa Pak Paul, yang ingin Pak Paul ungkapkan dari Roma 12 ?
PG : Yang berikut adalah ada orang-orang yang beranggapan bahwa yang terpenting adalah kebahagiaan dan bahwa Tuhan sesungguhnya menginginkan kita bahagia dan inilah sebuah falsafah kehidupan yag juga berkeliaran di sekitar kita.
Jadi pada akhirnya faktor dosa atau melakukan sesuatu yang melawan Tuhan menjadi tidak relevan sebab semua diukur dari bahagia, kalau kita bahagia berarti kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan terlalu banyak orang yang seperti itu, Pak Gunawan. Ada orang yang akhirnya tinggal bersama dengan pacarnya, dia tidak peduli bahwa ini adalah dosa, bahwa ini adalah perzinahan di mata Tuhan, dia tidak peduli. Sebab mereka bisa berkata, "Saya sudah tidak cocok dengan istri atau suami saya, maka sekarang saya tinggal dengan dia, yang penting saya bahagia, Tuhan pasti tidak ingin melihat saya hidup sengsara dan menderita." Itu salah! Tuhan lebih senang melihat kita menderita karena melawan dosa, daripada bersukacita karena hidup di dalam dosa. Jadi itu sebuah konsep yang sangat salah, anak-anak nanti akan hidup di dalam roh atau budaya seperti ini, "Yang penting kamu senang dan bahagia dan kamu menjadi orang yang lebih baik." Tidak! Yang Tuhan tekankan bukannya kebahagiaan tapi yang Tuhan tekankan selalu menaati kehendakNya.
GS : Memang seringkali orang menempatkan kebahagiaan, kesuksesan sebagai tujuan akhir kehidupannya dan itu yang menjadi masalahnya.
PG : Betul dan akhirnya apa pun yang kita lakukan, tujuannya adalah supaya bahagia, kalau kita sudah mencapai titik bahagia, kita akhirnya tidak lagi memedulikan cara dan kita membolehkan semuacara yang penting kita bahagia.
Kita mesti mengajarkan kepada anak-anak bahwa Tuhan menuntut pertanggungjawaban. Orang yang memutarbalikkan, yang menyelewengkan kebenaran Firman Tuhan yaitu supaya bahagia di dalam dunia ini, suatu hari kelak harus memertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan. Jadi inilah yang anak-anak mesti mulai menerima dari kita sewaktu mereka masih kecil.
GS : Apakah ada pendapat yang lain yang membingungkan atau yang menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan ?
PG : Yaitu bahwa semua nilai moral relatif sebab semua bergantung pada bagaimanakah kita melihatnya, boleh atau tidak boleh, salah atau benar. Itu semua relatif tergantung bagaimana kita meyakiinya dan sebagainya, itu salah! Jangan sampai nanti kita terpengaruh oleh nilai-nilai moral seperti ini yaitu benar atau salah semua adalah masalah persepsi belaka.
Ada yang benar dan ada yang salah, karena Tuhan sudah mengatakannya dan kita harus mengikuti, kita setuju atau tidak setuju itu yang nomor dua dan tidak penting, terpenting adalah apa yang Tuhan katakan. Ini juga yang mesti kita tekankan kepada anak-anak pada masa pertumbuhannya.
GS : Pak Paul, seringkali kita mengatakan sesuatu tanpa dasar sehingga semuanya relatif, baik itu kebaikan atau kekudusan. Hal-hal yang Pak Paul nilai sesuatu yang mutlak, itu yang bagaimana Pak Paul ?
PG : Misalnya Tuhan sudah berkata bahwa, "Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup, tidak ada seorang pun datang kepada Bapa kecuali melalui Aku." Ini yang mengatakan adalah Tuhan Yesus dan bagi sya Dia tidak berbohong dan kalau dia tidak berbohong berarti Dia mengatakan yang benar, saya akan pegang itu sebagai suatu kebenaran dalam hidup saya yang mutlak dan saya tidak akan kompromikan.
Misalnya Tuhan meminta kita untuk mengasihiNya dan mengasihi sesama dan kita akan memutlakkan itu. Kalau kita tidak mengasihi Tuhan dan tidak mengasihi sesama, itu adalah sebuah dosa, itu tidak berkenan kepada Tuhan. Kita tidak bisa berkata, "Ya, namanya juga manusia, membenci juga tidak apa-apa sekali-sekali" tidak! Yang namanya tidak berkenan kepada Tuhan adalah merupakan suatu dosa yang kita harus hindari.
GS : Hidup yang berbeda dengan yang lain ini, contohnya seperti apa lagi ?
PG : Jadi akhirnya kita diperintahkan Tuhan untuk berubah dalam cara berpikir kita, tidak sama dengan cara dunia. Jadi kita harus ditransformasi, artinya kita harus mengadopsi nilai yang baru dn sudut pandang yang berbeda.
Hanya dengan perspektif yang baru kita dapat menjalani hidup berbeda dari pola dunia, kita harus memahami bagaimanakah Kristus Tuhan kita memandang semuanya dan berusaha sekuat tenaga menerapkannya dalam hidup. Jadi kendati bagi dunia, kita hanya dipandang kuat bila kita misalnya berani membalas, namun Tuhan memerintahkan kita untuk tidak membalas, malahan Tuhan meminta kita untuk berdoa bagi yang menyakiti kita. Jadi sebagai orang tua kita mesti mendorong anak untuk menerapkan Firman Tuhan di dalam hidupnya dan memandang hidup dari lensa Tuhan. Anak-anak yang sejak kecil dididik untuk menyikapi hidup melalui mata Tuhan akan bertumbuh besar dengan lebih kuat dan terbiasa menyikapi hidup lewat kacamata Tuhan. Kalau dia sejak kecil tidak terbiasa maka setelah dia dewasa dengan sangat mudah dia akan hanyut oleh nilai-nilai yang ada di sekitarnya.
GS : Jadi kita bisa mengubah pola hidup kita, kalau pola pikir kita berubah dan perubahan pola pikir hanya dimungkinkan kalau Firman Tuhan itu bekerja di dalam hidup seseorang, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Firman Tuhan menegaskan bahwa perubahan baru terjadi ketika kita berupaya keras keluar dari pola dunia dan mempersembahkan hidup kepada Kristus, semua ini memerlkan waktu dan proses.
Jadi sebagai orang tua kita patut rajin mengajarkan semua ini kepada anak. Mungkin ada waktunya ia mengalami pergolakan, kita dengarkan dan berilah dorongan namun jangan memarahinya. Kuncinya adalah terus menjalin relasi yang terbuka dengan anak-anak agar kita dapat memantau dan mengarahkan pertumbuhan rohaninya.
GS : Tetapi ada orang yang berpendapat bahwa kalau dia sudah menanamkan nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan kepada anak-anak sejak kecil, katakan dia nanti sejak remaja atau dewasa meninggalkan Tuhan atau gereja bahkan meninggalkan imannya, suatu saat dia akan kembali lagi dan ini bagaimana, Pak Paul ?
PG : Saya melihat kebenaran hal ini, Pak Gunawan, karena dasarnya bukanlah pengalaman, tapi dasarnya adalah kasih karunia Tuhan yang sangat besar sehingga kasih karuniaNya yang begitu besar mesipun orang itu sudah terlalu kelewatan dan sebagainya, di akhirnya Tuhan tetap memberinya kesempatan untuk kembali kepadaNya.
Sudah tentu ini terpulang juga pada individu tersebut apakah dia mau merendahkan diri datang kepada Tuhan atau tidak, kalau dia tidak mau berarti dia harus menanggung semua akibatnya tapi saya percaya di titik akhir Tuhan akan memberikan kesempatan kepada anak-anakNya yang telah hidup jauh dariNya untuk kembali kepadaNya. Sudah tentu kita tidak boleh berkata, "Kalau begitu kita hidup semaunya, karena nanti Tuhan akan memberikan saya kesempatan terakhir," jangan! Kenapa kita harus menyakiti hati Bapa selama puluhan tahun, kalau kita tidak menyakiti hati Bapa sehari pun bukankah itu yang lebih indah ?
GS : Jadi waktu yang baik kita menaburkan Firman Tuhan itu, justru pada masa anak-anak, Pak Paul ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Kenapa begitu penting di masa anak-anak sebab bukankah kita sekarang menyadari lewat psikologi pendidikan dan sebagainya bahwa apa yang diingat pada masa kanak-knak itu akan terus tinggal bersama kita sampai di hari tua.
Bukankah sekarang ilmu medis menjelaskan kepada kita bahwa di hari tua memori jangka pendek kita itu makin hari makin menipis, yang terus bertahan adalah memori jangka panjang. Jadi apa yang kita terima pada masa kecil, Firman Tuhan demi Firman Tuhan, kebenaran demi kebenaran, di hari tualah itu yang akan kita pegang, kita bawa sampai nanti kita uzur dan yang terakhir-terakhir itu justru yang akan kita lupakan. Jadi betul sekali penting mendidik anak dalam Firman Tuhan.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Hidup Berbeda." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
"Mereka tidak memunahkan bangsa-bangsa seperti yang diperintahkan Tuhan kepada mereka, tetapi mereka bercampur baur dengan bangsa-bangsa dan belajar cara-cara mereka bekerja. Mereka beribadah kepada berhala-berhala mereka yang menjadi perangkap bagi mereka." (Mazmur 106:34-36)
Hasil riset di Amerika memperlihatkan bahwa sebagian besar anak-anak yang bersekolah Minggu, pada masa dewasanya tidak lagi bergereja. Sekali lagi hasil riset ini memperlihatkan betapa sulitnya menjaga dasar yang telah diletakkan dan betapa kuatnya pengaruh lingkungan. Begitu anak-anak menginjak bangku kuliah, sesungguhnya hanya tinggal setengahnya yang masih bergereja.
Erosi nilai dan iman kepercayaan tidak terjadi dalam sekejap. Selama hampir 2000 tahun benua Eropa dan Asia Kecil merupakan pusat kekristenan namun sekarang tidak lagi. Bagi banyak orang, Tuhan tidak lagi relevan dan tidak layak dipikirkan, apalagi diyakini. Tuhan tidak meminta kita untuk memisahkan diri dari lingkungan namun Tuhan memerintahkan kita untuk hidup berbeda dan tidak menuruti pola hidup dan iman yang berbeda.
Roma 12:1-2 memberi kita petunjuk bagaimanakah kita hidup berbeda:
"Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persemabahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan: manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna."
Kita hanya dapat hidup berbeda bila pertama-tama kita mempersembahkan hidup kepada Kristus, Tuhan kita. Dengan kata lain, kita mesti bertekad untuk hanya hidup sesuai dengan kehendak Allah dan menjalani misi-Nya. Fokus kita hanyalah Dia dan tidak ada lagi selain Dia. Kadang sebagai orangtua kita gagal menekankan hal ini; kita memandang hal rohani sebagai salah satu hal dalam hidup belaka, bukan sebagai bagian terutama dari hidup. Alhasil anak bertumbuh besar memiliki pandangan yang serupa-bahwa Tuhan hanyalah bagian dari sejumlah pilihan dalam hidupnya. Anak-anak seperti inilah yang rentan terhadap erosi rohani ketika menginjak usia dewasa.
Tuhan meminta kita untuk tidak serupa dengan dunia ini. Istilah dunia di sini merujuk kepada pola hidup atau roh dari dunia yang berlawanan dengan kehendak Tuhan. Namun untuk dapat berbuat demikian, pertama-tama kita harus tahu terlebih dahulu apa itu yang menjadi pola hidup dunia. Sebagai orangtua kita mesti menjelaskan kepada anak akan pola dunia dan mengapa pola dunia ini tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Berikut adalah beberapa pola dunia yang berseliweran di sekitar kita:
Bahwa hidup bergantung sepenuhnya pada kita, bukan Tuhan. Kemajuan ilmu pengetahuan membuat kita lupa bahwa pada akhirnya nafas ini pun adalah pemberian Tuhan dan bahwa kepandaian adalah karunia Tuhan belaka.
Bahwa semua kepercayaan adalah baik dan sama di mata Tuhan. Pertanyaannya adalah, jika sama, mengapa harus ada begitu beragam dan berlainan?
Bahwa terpenting adalah kebahagiaan dan bahwa Tuhan sesungguhnya ingin kita memiliki kebahagiaan. Jadi, faktor dosa atau melakukan sesuatu yang melawan Tuhan menjadi tidak relevan sebab semua diukur dari bahagia.
Bahwa semua nilai moral relatif sebab semua tergantung pada bagaimanakah kita melihatnya. Singkat kata, benar-salah semua adalah masalah persepsi belaka.
Tuhan memerintahkan kita untuk berubah dalam cara pikir. Dengan kata lain, kita harus mengadopsi nilai yang baru dan sudut pandang yang berbeda. Kita harus memahami bagaimanakah Kristus Tuhan kita memandang semuanya dan berusaha sekuat tenaga menerapkannya dalam hidup. Jadi, kendati bagi dunia, kita hanya akan dipandang kuat bila kita berani membalas, namun Tuhan memerintahkan kita untuk tidak membalas. Malah Tuhan meminta kita untuk berdoa bagi yang menyakiti kita. Jadi, sebagai orangtua kita harus mendorong anak untuk menerapkan Firman Tuhan dalam hidupnya dan memandang hidup dari lensa Tuhan.
Firman Tuhan menegaskan bahwa perubahan baru terjadi ketika kita berupaya keras keluar dari pola dunia dan mempersembahkan hidup kepada Kristus. Mungkin ada waktunya ia mengalami pergolakan; dengarkan dan berilah dorongan namun jangan memarahinya. Kuncinya adalah menjalin relasi yang terbuka dengannya agar kita dapat memantau dan mengarahkan pertumbuhan rohaninya.
Submitted by TELAGA on Thu, 27/11/2008 - 2:39pm.
Abstrak:
Salah satu kisah tragis yang dicatat di Alkitab adalah kisah kegagalan Musa masuk ke tanah yang dijanjikan Tuhan. Di padang gurun Meriba orang Israel mengeluh karena tidak ada air dan Tuhan memerintahkan Musa untuk berkata-kata kepada bukit batu untuk mengeluarkan air. Musa tidak menaati Tuhan, Musa gagal sebab ia teledor dengan mulutnya. Dan sayangnya, ada begitu banyak orang yang gagal oleh karena perkataannya. Dalam bagian ini akan lebih dipaparkan langkah praktis mengekang lidah.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Berhati-hati dengan Lidah". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, kita tahu ada satu bagian anggota tubuh kita yang memang sulit sekali untuk dikendalikan bahkan kadang bisa mengendalikan tubuh kita, itu adalah lidah. Kita mungkin lebih mudah untuk mengendalikan yang namanya tangan kita atau kaki kita atau mata kita dibandingkan dengan mengendalikan lidah, dan ini bagaimana Pak Paul ?
PG : Saya setuju dengan pengamatan Pak Gunawan, mengendalikan lidah adalah sesuatu yang sulit itu sebabnya pergumulan kita dalam Tuhan senantiasa melibatkan lidah. Salah satu kisah tragis yang icatat di Alkitab adalah kisah kegagalan Musa yang tidak bisa masuk ke tanah yang Tuhan janjikan, dan kegagalan Musa diakibatkan oleh keteledorannya dengan lidahnya.
Di Mazmur 106:32-33, pemazmur kilas balik melihat apa yang terjadi saat itu, mereka menggusarkan Dia yaitu Tuhan dekat air Meriba sehingga Musa kena celaka karena mereka, sebab mereka memahitkan hati Musa sehingga dia teledor dengan kata-katanya. Jadi memang di padang gurun itu mereka mengeluh karena tidak ada air, dan seperti biasa kalau mereka mengeluh seolah-olah mereka lupa dengan apa yang Tuhan telah perbuat dan juga lupa apa yang Musa telah perbuat. Dia sudah bersusah payah memimpin mereka, memelihara mereka tapi kalau sedang marah dan kesal, mereka lupa dengan kebaikannya. Dan hati Musa menjadi pahit, "Mereka itu tidak berterima kasih dan kurang ajar." Dalam kemarahan Musa tidak menaati Tuhan. Tuhan hanya meminta Musa menyuruh bukit batu untuk mengeluarkan air, tapi Musa memukul bukit batu itu dua kali, sedangkan bukit batu itu melambangkan Tuhan yang akan mengeluarkan air, memelihara kebutuhan umatNya. Jadi Tuhan marah kepada Musa dan berkata, "Karena kamu tidak percaya kepadaKu dan tidak menghormati kekudusanKu di depan mata orang Israel, itu sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Aku berikan kepada mereka," ini semua tercatat di kitab Bilangan 20:2-13 . Karena itulah Musa tidak diizinkan masuk ke tanah yang Tuhan janjikan. Sekali lagi kisah ini tragis sebab Musa telah bekerja bersusah payah, mengeluarkan umat Israel keluar dari tanah Mesir tapi tidak bisa masuk, hanya karena teledor dengan lidahnya. Sayangnya ada begitu banyak orang yang gagal oleh karena perkataannya.
GS : Di Perjanjian Lama, tokoh yang bapak angkat adalah Musa, saya teringat akan Petrus di Perjanjian Baru, yang juga secara spontan kadang-kadang mengeluarkan kata-kata yang dia sendiri mungkin tidak tahu, dia berjanji tidak akan menyangkali tapi akhirnya dia menyangkali dan banyak hal dia keliru di dalam kata-katanya.
GS : Pak Paul, kalau kita seringkali gagal atau banyak orang gagal mengendalikan lidahnya, pasti Alkitab memberikan tuntunan bagi kita orang-orang beriman ini, bagaimana seharusnya kita mengendalikan lidah kita ?
PG : Saya akan ambil beberapa prinsip yang tertera di Yakobus 3:2-12, Pak Gunawan. Yang pertama adalah dalam Firman Tuhan itu ditegaskan bahwa banyak kesalahan dibuat oleh lidah, dengan kata lan, salah satu pergumulan terbesar dalam hidup adalah pergumulan mengekang lidah.
Kesalahan terbesar bukanlah pada dosa tidak mengatakan, melainkan mengatakan yang tidak seharusnya dikatakan. Firman Tuhan mengumpamakan orang yang mampu mengendalikan lidah seperti memiliki kekang pada mulut kuda atau kemudi pada kapal yang berlayar di tengah angin keras. Dengan Alkitab menggunakan perumpamaan kekang pada mulut kuda, kemudi pada kapal yang berlayar di tengah lautan yang berombak diterpa angin yang keras, itu semua memberikan kepada kita suatu indikasi bahwa Firman Tuhan mengakui bahwa mengekang lidah itu sangat sulit, sampai-sampai kita seperti mengekang kuda atau mengemudikan kapal yang sedang diterjang badai. Seperti itulah kerasnya gempuran-gempuran dalam hati kalau ingin mengeluarkan kata-kata dan kita harus menahannya.
GS : Memang semua berasal dari pikiran kita, apa yang kita pikirkan itu yang keluar dari lidah kita. Tapi tidak semua yang kita pikirkan itu disampaikan lewat kata-kata.
PG : Dan kita semua sebenarnya mengerti hal itu, kita sudah diberitahukan dan mungkin kita telah belajar dari kesalahan di masa lampau. Namun sewaktu saatnya tiba, kita tahu kalau kita tidak pelu bicara, tapi hati tidak tahan ingin bicara.
Itu merupakan pergumulan yang sangat berat, itu sebabnya kebanyakan dari kita gagal. Saya yakin, kalau Musa ditanya untuk kilas balik maka dia akan berkata, "Kenapa saya harus seperti itu, mengeluarkan kata-kata yang begitu kasar kepada umat Israel dan ini semua dalam rangka Tuhan ingin memelihara umatNya dan seharusnya saya mendukung menghormati kekudusan Tuhan dan tidak berbuat seperti itu." Tapi saya kira semuanya sudah terlambat, pada waktu peristiwa itu terjadi, Musa sudah tidak bisa menguasai dirinya sehingga keluarlah kata-kata dan tindakan yang menodai kekudusan Tuhan.
GS : Penyesalan memang seperti itu. Dan sering terjadi sampai sekarang ini, kadang-kadang kita juga mengalaminya yaitu setelah berbicara kemudian menyesal, sebenarnya saya tidak perlu bicara seperti itu karena itu akan membuat orang lain sakit hati dan sebagainya, tapi sudah terlambat, sudah terlontar dan membuat orang lain terluka karena kita.
PG : Betul sekali. Jadi inilah pergumulan kita, yaitu melawan desakan-desakan atau hal-hal yang tidak seharusnya kita katakan. Jadi dengan kata lain kita mesti mulai dari sekarang menyikapi perumulan melawan desakan-desakan yang tidak seharusnya, sebagai sebuah proyek yang besar.
Saya kira mengapa diantara kita itu gagal menahan lidah kita, karena kita tidak menganggap bahwa ini benar-benar sebuah pergumulan yang besar dan dahsyat, kita menganggap ini adalah pergumulan yang kecil dan biasa karena mungkin kita hanya melihatnya sebagai masalah lidah dan perkataan saja. Tapi ini adalah sebuah pergumulan yang dahsyat. Jadi kita harus bersiap-siap melawan raksasa yang besar ini dan jangan kita melihat masalah lidah ini sebagai masalah yang kecil sebab Alkitab sendiri mengatakan bahwa masalah lidah ini bukanlah masalah yang kecil, karena mengekang kuda dan menerjang badai adalah masalah yang besar. Nah, maka langkah pertama untuk bisa menahan lidah kita adalah mengakui ini adalah masalah besar yang harus kita hadapi, ini adalah proyek yang tidak ada habis-habisnya yang kita harus hadapi dan kita tidak boleh lengah.
GS : Mungkin orang juga lengah menahan lidahnya karena akibatnya, Pak Paul? Kalau kita memukul seseorang, maka orang akan menunjukkan bekas pukulan yang kamu perbuat tapi kalau melontarkan lewat kata-kata, maka akan sulit dibuktikan kalau dia terluka karena kata-kata kita.
PG : Tepat sekali. Kita memang lebih mudah melihat dampak yang kasat mata, misalkan tadi Pak Gunawan berikan contoh akibat pukulan-pukulan fisik maka kita akan melihat bekas-bekasnya, dan meman kalau perkataan kita tidak begitu jelas melihatnya.
Apalagi dalam budaya kita, kecenderungan orang itu untuk diam, untuk tidak mau mencetuskannya, tidak berkata apa-apa atau memberikan tanggapan. Jadi akhirnya kita beranggapan bahwa tidak apa-apa, namun Alkitab justru mengatakan bahwa akibat dari penggunaan lidah yang tidak dikekang adalah dahsyat, begitu dahsyatnya sehingga dilukiskan seperti kebakaran hutan yang besar dan racun yang mematikan dan kita tahu sewaktu hutan terbakar maka susah untuk dihentikan karena terus-menerus merembet sangat cepat, satu pohon terbakar bisa-bisa itu berhektar-hektar, berarea-area tanah hutan akan terbakar habis. Atau seperti racun yang mematikan, begitu racun masuk dengan cepat akan dibawa oleh darah ke jantung dan akhirnya ke otak dan kita pun bisa mati. Inilah yang Alkitab katakan bahwa betapa dahsyatnya akibat penggunaan lidah yang tidak bertanggung jawab. Efeknya menimbulkan kerusakan yang besar, bukankah banyak relasi yang rusak akibat lidah, antara suami-istri, antara orang tua dan anak, antara anak dan orang tua, antara sesama rekan baik itu dalam pekerjaan atau pun dalam pelayanan, persahabatan. Banyak kepercayaan yang mulai hilang oleh lidah dan banyak respek yang pudar juga oleh karena lidah. Jadi benar-benar dampaknya itu sangat dahsyat. Maka kita harus benar-benar melihat ini adalah suatu proyek yang besar, kalau kita gagal menahannya maka dampak kerusakannya memang sangat luas.
GS : Mungkin yang membuat kita lengah adalah dampak itu tidak terjadi seketika. Kalau kita kembali lagi kepada contoh kita yang tadi yaitu memukul orang, dampak itu seketika kita lihat, yaitu orangnya pingsan dan sebagainya karena kita pukul. Tapi kalau karena kata-kata, mungkin saat itu kita tidak melihat apa-apa karena kita agak meremehkan, walaupun dikatakan dampak berikutnya bisa dahsyat seperti kebakaran hutan dan sebagainya.
PG : Kadang-kadang kita juga bersikap defensif, selain kita tidak melihat langsung dampak kerusakan. Yang berikutnya lagi adalah kita sebagai manusia tidak cepat mengakui kesalahan dan kadang-kdang kita berkata, "Itu salahmu dan kenapa kamu harus merasa tersinggung, kenapa kamu harus merasa marah" seolah-olah kita bebas mengatakan apa saja dan orang tidak harus dan tidak boleh terpengaruh oleh kata-kata kita.
Itu tidak mungkin sebab di dunia ini apa yang kita lakukan bisa menimbulkan sebuah akibat tapi adakalanya kita bersikap defensif, "Tidak, saya tidak salah dan saya bicara seperti itu benar. Terserah orang mau mendengarnya seperti apa, orang tidak percaya dengan saya, saya tidak pusingkan." Akhirnya semua rusak dan kita tetap merasa diri benar. Orang yang beranggapan diri selalu benar, tidak peduli dengan penggunaan kata-katanya akhirnya akan menjadi orang yang sangat kesepian, Pak Gunawan. Dia akan hidup sendirian sebab orang-orang yang makin dekat dengan dia, akan makin menjauh karena takut kalau nanti akan terkena serangan dari perkataannya atau memang sudah kehilangan respek kepadanya. Tapi sekali lagi kalau orangnya tidak mau menyadari bahwa ini ditimbulkan oleh perkataannya dan dia yang harus berubah, sampai kapan pun tidak akan ada perubahan.
GS : Sikap defensif itu seringkali juga terlontar dengan pernyataan, "Maksud saya sebenarnya bukan seperti apa yang saya katakan", jadi maksudnya berbeda, Pak Paul. "Saya tidak bermaksud buruk." Misalnya seperti itu tapi kata-kata yang dikeluarkan itu sangat tajam sekali.
PG : Betul, dan kalau itu yang memang terjadi maka kita bisa maklumi karena kita memang manusia tidak sempurna dan kita minta maaf. Kita jangan membela diri meskipun kita berkata, "Ini bukan masud saya," tapi kalau menimbulkan dampak yang merusakkan, maka kita minta maaf agar dapat merekonsiliasi kembali perkataan dan itu jangan sampai merusakkan relasi kita.
Jadi kita mau simpulkan Pak Gunawan, bahwa tidak bisa tidak dalam mengendalikan lidah seringkali kita gagal. Saya kira jarang sekali orang yang bisa berkata, "Saya selalu berhasil menahan lidah saya" saya kira kita akan selalu mengalami penyesalan-penyesalan, "Kenapa tadi saya katakan," dan sekali lagi ini adalah dosa mengatakan yang tidak seharusnya, jarang sekali kita menyesali apa yang tidak kita katakan. "Kenapa tidak saya katakan" itu lebih jarang. Jadi yang lebih sering adalah kenapa akhirnya saya harus mengatakan. Maka di Alkitab, di kitab Yakobus, lidah diumpamakan seperti binatang buas yang tidak bisa dijinakkan, tidak bisa dijinakkan sepenuhnya. Maka kita harus senantiasa menjaga diri, menyadari bahwa ada binatang buas yang sewaktu-waktu bisa keluar dengan liar dan kita senantiasa harus berhati-hati.
GS : Memang semua itu adalah merupakan ungkapan isi hati kita, apa yang ada di dalam hati kita, itu terlontar lewat kata-kata. Apakah seperti itu ?
PG : Tepat sekali. Firman Tuhan di Yakobus memberikan ilustrasi yang indah sekali yaitu mata air atau sumber air tidak akan mungkin mengeluarkan air pahit dan air manis, kalau sumber air itu megeluarkan air yang pahit maka semua akan pahit dan kalau mengeluarkan air yang manis maka semua akan menjadi manis.
Dan Firman Tuhan berkata, "Tidak bisa kita ini memuji Tuhan, menghormati Tuhan, memuliakan dengan lidah tapi di saat yang sama kita bisa mengumpat-umpat Tuhan." Lidah memang bisa seperti itu, tapi Tuhan berkata, "Jangan sampai kita seperti itu" bagaimana caranya agar sumber mata air kita yang adalah hati kita mengeluarkan kedua-duanya. "Kepahitan, kebencian dan juga kemanisan. Bagaimana caranya ?" Firman Tuhan menekankan, kita harus menjaga hati kita, membersihkan hati kita sehingga darinya akan keluar air yang bersih. Dengan kata lain, pengekangan lidah diawali dengan pembersihan hati. Jadi di sini Alkitab memberikan kepada kita sebuah fokus yang sangat tepat. Kalau kita hanya berputar-putar mengekang lidah, maka hal itu sangat sulit akan terus gagal. Maka kita harus masuk ke dalam, ke titik awalnya yaitu hati kita, kalau hati kita penuh dengan kepahitan maka kepahitanlah yang akan keluar dari mulut kita, sebaliknya bila hati kita dipenuhi kasih Tuhan maka kasihlah yang akan keluar dari mulut kita. Dan juga jika hati penuh dengan iman, percaya pada Tuhan Yesus maka pengharapan dan keyakinanlah yang akan keluar dari mulut kita, sekali lagi kita mau fokuskan kepada hati, bersihkan hati sebersih-bersihnya sehingga nanti lidah pun akan menurut, akan keluar sesuai dengan isi hati kita.
GS : Dan itu memang mesti dilakukan tiap-tiap hari, tidak bisa kalau dilakukan sekali tapi untuk selama-lamanya, setiap hari menjadi pergumulan kita.
PG : Maka ada baiknya waktu pagi hari kita datang kepada Tuhan, kita berdoa, kita membaca FirmanNya. Di malam hari sebelum kita tidur, kita memikirkan apa yang terjadi seharian mungkin ada tindkan, ada perkataan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, tenanglah di malam hari, periksalah, dan kalau Roh Kudus memunculkan hal-hal yang perlu kita akui jangan kita melawan, dan jangan kita defensif membenarkan diri.
Mengakui dan kita coba membenahi diri, "Mari kita bereskan, mari kita akui perbuatan kita dan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan dan mengakuinya." Dengan cara itulah maka hari lepas hari hati kita bisa terjaga. Kata Pak Gunawan benar, ini bukanlah apa yang kita lakukan sekali dan berlangsung seumur hidup.
GS : Mungkin kita bisa mencontoh doa pemazmur yang berkata, "Tuhan jadilah penjaga atas mulutku."
GS : Apakah Pak Paul, mempunyai langkah-langkah praktis untuk menolong para pendengar sekalian, tentang bagaimana kita sebenarnya harus mengekang lidah ?
PG : Ada beberapa yang bisa saya bagikan. Yang pertama adalah sebelum berkata-kata kita harus memastikan kebenarannya terlebih dahulu, jangan sampai kita menyebarkan gosip yang dapat menghancuran hidup orang lain apalagi kalau ini menyangkut integritas orang lain, kita benar-benar mesti memastikannya dan sudah tentu kalau memastikan kita tidak langsung ke nara sumbernya.
Kadang-kadang kita mendengar sesuatu dari pihak yang ketiga atau pihak yang lain, kita mesti mengecek dari pihak itu apakah memang informasi tersebut sungguh-sungguh telah dicek, sungguh-sungguh benar dan orang yang memberitahukan adalah orang-orang yang memang dapat kita percayai. Jadi kalau kita tidak bisa mengeceknya ke nara sumber maka kita harus memastikan bahwa yang menyampaikan itu layak dipercaya, bahwa dia pun telah melakukan cek dan cek ulang. Bukankah ini adalah prinsip etika jurnalistik bahwa apapun yang telah dilaporkan dianggap sudah dicek dan terpercaya dan kita pun harus melakukan hal yang sama, sebelum mengatakan sesuatu yang memang bernada negatif tentang seseorang atau sebuah peristiwa atau lembaga, jangan sampai kita mengatakan sesuatu gegabah tidak mengeceknya terlebih dahulu dan terlanjur disebarluaskan, itu akan sangat susah sekali untuk dikoreksi.
GS : Itu kalau untuk orang lain maka kita melakukan check and re-check seperti itu. Tapi kalau untuk diri sendiri, kalau kita mengatakan sesuatu hendaknya kita mengatakan sesuatu yang benar tentang diri kita, jadi bukan dengan dusta atau kebohongan.
PG : Penting sekali, Pak Gunawan. Kalau kita menyimpan kepahitan atau kemarahan kepada seseorang maka dia cenderung melebihkan. Jadi kita memulai dengan yang benar atau yang fakta tapi selebihna itu adalah ciptaan kita, bumbu kita, kita tambah-tambahkan, kita mesti berhati-hati untuk tidak menambahkan, apa yang tidak dikatakan oleh orang, jangan kita katakan, "Dia mengatakan ini" jadi jangan menambahkan.
Atau jangan mengubah perkataan menjadi lebih serius, berat, jadi seolah-olah orang yang mengatakan itu menjadi lebih buruk dan kita mesti berhati-hati. Makanya kita harus menjaga hati ini, kalau hati sudah penuh dengan kedengkian, kemarahan, tidak bisa tidak yang keluar dari mulut pastilah ampas-ampasnya yang juga buruk.
GS : Dalam hal ini, kita juga harus berhati-hati di dalam mengutip ayat Firman Tuhan. Kadang-kadang kita tambah-tambahkan padahal Tuhan mengatakan, "Tidak boleh ditambahkan dan tidak boleh dikurangi".
PG : Kadang-kadang kita dengar hal-hal seperti ini yaitu orang yang berkata "Firman Tuhan seperti ini" padahal tidak ada di Firman Tuhan. Itu karena apa ? Bisa saja karena dia lupa, atau dia medengar dari orang lain, dia anggap itu adalah Firman Tuhan padahal bukan.
Tapi yang lebih berbahaya adalah seolah-olah dia itu menciptakan sebuah ayat untuk mendukung perilakunya atau mendukung keinginannya dan itu yang berbahaya maka kita tidak boleh melakukan hal seperti itu.
GS : Jadi harus dalam kebenaran yang pertama, tapi sebelum kata-kata itu keluar, kita sendiri itu harus memikirkan apa yang kita katakan.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi kita harus selalu berpikir ke depan yaitu kalau saya mengatakan hal ini apa yang menjadi dampaknya. Saya tidak berkata gara-gara kita memikirkan dampaknya kmudian kita tidak mengatakan, bukan itu.
Adakalanya kita mesti mengatakan kendati dampaknya itu sangat berat, kita mesti menanggungnya namun kita mesti bertanya apakah kita siap untuk menanggung dampaknya. Jangan sampai kita hanya melempar batu kemudian menyembunyikan tangan kita, kalau kita yang mengatakan, maka kita tanggung jangan sampai kita lempar tanggung jawab itu kepada orang lain, tidak! Kalau kita yang melakukan maka kita yang menanggung akibatnya. Tapi sekali lagi kita mesti siap untuk menanggungnya, kalau tidak siap menanggungnya mohon dipertimbangkan ulang.
GS : Mungkin ada contoh langkah praktis yang lain yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Sebelum berkata-kata sesuatu, yang mengandung emosi maka tahanlah dan menyingkirlah, tenangkan hati sampai gejolak reda, baru kemudian timbang lagi apakah memang perlu kita mengatakannya. anyak kali saya harus diam menenangkan diri dan menyingkir dari situasinya, kemudian setelah saya reda, kemudian saya berpikir, "Tidak perlu."
Betapa banyak hal yang kalau tidak lagi emosi dan pikiran kita sudah kembali tenang, sebetulnya kita tidak mau mengatakannya. Makanya kalau kita tahu emosi sedang naik sebaiknya diam dan menyingkir dari situasi tersebut supaya kita bisa tenang dan kita tidak harus mengatakan hal-hal yang nanti kita sesali.
GS : Di dalam hal ini Pak Paul, kita melihat kenyataan di dalam kehidupan sehari-hari, kaum pria itu lebih mampu mengendalikan diri seperti itu dibandingkan dengan wanita. Apa sebabnya, Pak Paul ?
PG : Tidak bisa disangkal memang pada umumnya tidak setiap kasus, tapi pada umumnya wanita itu lebih mudah terpengaruh dengan gejolak emosinya. Oleh karena itu jauh lebih sulit baginya untuk megendalikan perkataan sewaktu dia sedang emosi.
Maka sedapatnya terutama wanita kalau menyadari memang mempunyai masalah dengan hal ini maka harus lebih berhati-hati, sewaktu lagi emosi cobalah tahan, cobalah menyingkir, cobalah tenangkan hati dulu. Jangan mengatakan hal-hal yang nanti sangat menusuk hati pasangan atau anak-anak.
GS : Tapi kaum pria pun tidak terbebas dari hal itu, contohnya tadi yang saya katakan yaitu Petrus juga suka spontan bicara.
PG : Benar, dan Musa juga seorang pria. Dan betul sekali ini memang bukan hanya untuk seorang wanita tapi juga untuk pria. Kita semua harus selalu berjuang mengekang lidah kita.
GS : Mungkin ada langkah praktis terakhir yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Yang terakhir adalah sebelum berkata-kata ujilah terlebih dahulu, apakah ada dosa di dalamnya. Jika ada, berhentilah jangan meneruskan kalau kita tahu bahwa kita marah atau dengki dan kitamau mengatakan sesuatu sengaja untuk melukai atau menodai kehormatan orang lain, maka lebih baik jangan.
Jangan sampai mulut kita dipakai sebagai kendaraan untuk melakukan dosa.
GS : Memang satu-satunya yang bisa memberikan kekuatan kepada kita untuk mengekang lidah atau berhati-hati dengan lidah, saya kira hanya Tuhan sendiri, Pak Paul. Kita sebagai manusia akan kesulitan menjaga lidah kita sendiri. Dalam hal ini apakah ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Firman Tuhan di Yakobus 3:2 berkata, "Barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang yang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya." Firman Tuhan tidak akanmeminta kita melakukan sesuatu yang tidak mungkin kita lakukan, jadi ini mungkin tapi harus dengan pertolonganNya.
Firman Tuhan sudah memberikan beberapa panduan dan kita coba untuk mengikutinya, dan kalau kita mencoba untuk mengikutinya dan menaati pada akhirnya kita bisa mengendalikan lidah kita.
GS : Saya rasa ini menjadi pergumulan kita seumur hidup, Pak Paul. Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Berhati-hati dengan Lidah." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
"Mereka menggusarkan Dia dekat air Meriba sehingga Musa kena celaka karena mereka; sebab mereka memahitkan hatinya sehingga ia teledor dengan kata-katanya." (Mazmur 106:32,33)
Salah satu kisah tragis yang dicatat di Alkitab adalah kisah kegagalan Musa masuk ke tanah yang dijanjikan Tuhan. Di padang gurun Meriba orang Israel mengeluhkan ketidakadaan air dan Tuhan memerintahkan Musa untuk berkata-kata kepada bukit batu untuk mengeluarkan air. Musa tidak menaati Tuhan; bukannya berkata-kata, ia malah memukul bukit batu itu dua kali. Tuhan marah dan berkata kepada Musa, "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." (Bilangan 20:2-13) Musa gagal sebab ia teledor dengan mulutnya. Dan sayangnya, ada begitu banyak orang yang gagal oleh karena perkataannya. Yakobus 3:2-12 memberi kita panduan tentang menjaga lidah sebagaimana dapat kita lihat berikut ini:
Banyak kesalahan dibuat oleh lidah. Dengan kata lain, salah satu pergumulan terbesar dalam hidup adalah pergumulan mengekang lidah. Kesalahan terbesar bukanlah pada dosa tidak mengatakan, melainkan pada mengatakan yang tidak seharusnya dikatakan. Orang yang dapat mengendalikan lidah diumpamakan seperti kekang pada mulut kuda dan kemudi pada kapal yang berlayar di tengah angin keras. Singkat kata, pergumulan menguasai lidah diumpamakan seperti pergumulan menguasai kuda dan menerjang badai di lautan. Sungguh suatu pergumulan yang besar!
Jika demikian, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya terlebih mudah menuruti kemauan lidah daripada menolaknya. Jika perjuangannya begitu besar, sudah tentu menyerah akan jauh lebih mudah.
Akibat dari penggunaan lidah yang tak terkekang adalah dahsyat sehingga dilukiskan seperti kebakaran hutan yang besar dan racun yang mematikan. Perkataan yang tak bertanggung jawab dapat menimbulkan kerusakan yang besar. Banyak relasi rusak akibat lidah; banyak kepercayaan hilang juga oleh lidah, banyak respek yang pudar, juga oleh karena lidah.
Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa kita lebih sering gagal menguasai lidah, ibarat binatang buas yang tak dapat dijinakkan sepenuhnya. Lebih sering kita menyesali kegagalan kita namun sekali perkataan keluar, kita tidak dapat menariknya kembali.
Namun terpenting adalah kita harus membersihkan hati sehingga darinya akan keluar air yang bersih. Dengan kata lain, pengekangan lidah diawali dengan pembersihan hati. Jika kita penuh kemarahan maka kemarahanlah yang akan keluar dari mulut; jika kita penuh kepahitan, maka kepahitan yang akan keluar dari mulut. Sebaliknya, bila hati dipenuhi kasih Tuhan, maka kasihlah yang akan keluar dari mulut. Jika hati penuh iman percaya kepada Tuhan, maka pengharapan dan keyakinanlah yang akan keluar dari mulut.
Langkah Praktis Mengekang Lidah:
Sebelum berkata-kata, pastikanlah kebenarannya terlebih dahulu. Jangan sampai kita menyebarkan gosip yang dapat menghancurkan hidup orang.
Sebelum berkata-kata, pikirkanlah dampaknya terlebih dahulu dan bertanyalah apakah kita siap menanggungnya.
Sebelum berkata-kata sesuatu yang berkandungan emosi, tahanlah dan menyingkirlah. Tenangkan hati sampai gejolak reda, baru kemudian timbang lagi apakah memang perlu kita mengatakannya.
Terakhir, sebelum berkata-kata, ujilah terlebih dahulu apakah ada dosa di dalamnya. Jika ada, berhentilah, jangan meneruskannya.
Firman Tuhan:
"Barang siapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat mengendalikan seluruh tubuhnya." ( Yakobus 3:2)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 09/10/2008 - 11:50am.
Abstrak:
Sukar bagi manusia untuk merasa cukup; setiap kecukupan melahirkan keinginan baru sehingga pada akhirnya kita tidak merasa cukup. Jika tidak berhati-hati, rasa tidak cukup dapat menjadi benih ketamakan. Di sini akan dipaparkan kiat untuk menjaga diri tidak tamak.
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengikis Ketamakan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, kita memiliki kecenderungan untuk tamak, untuk serakah, selalu tidak puas dengan apa yang kita miliki dan kita tahu sebenarnya ini bertentangan dengan Firman Tuhan, namun bagaimana kita bisa keluar dari dosa ketamakan ini, Pak Paul ?
PG : Betul sekali apa yang Pak Gunawan katakan bahwa kita memang adalah orang yang tamak dan untuk mengetahui bahwa kita ini tamak sebetulnya tidak perlu jauh-jauh, kita bisa lihat dengan jela pada anak-anak kita.
Kecenderungan anak atau manusia untuk tamak misalnya siapa anak yang bila disuruh dengan rela memberikan apa yang dia senangi atau yang dia sukai kepada yang lain. Kalau untuk barang yang dia tidak suka, maka dia akan mudah untuk memberikan tapi kalau untuk yang dia sukai maka dia akan pegang terus. Misalkan dia sedang membawa makanan dan kita memintanya, kalau dia suka maka dia tidak akan memberi. Orang tua memang perlahan-lahan mengajar "Boleh tidak Papa minta, Papa lapar," akhirnya dia belajar memberikan. Jadi itulah sifat yang memang kita bawa sebab Alkitab mengatakan, "Saat kita dalam kandungan pun, kita dikandung dalam dosa" karena apa yang telah diperbuat oleh Adam dan Hawa memang terus berdampak pada diri kita. Jadi memang ketamakan ada dalam darah dan daging kita, untuk bisa melawannya bukanlah sesuatu yang mudah karena kecenderungan kita adalah berjalan ke arah itu, kalau kita sukai maka kita akan ingin lagi dan lagi. Jadi memang kita tidak akan pernah merasa cukup. Sebagai pembukaan Pak Gunawan, saya akan mengutip perkataan dari seseorang yang bernama John D. Rockerfeller, seorang yang sangat kaya pada abad ke 20 di Amerika serikat, saat ditanya apa definisi dari "Cukup" dan dia menjawab, "Mempunyai sedikit lebih dari apa yang saya punyai sekarang." Padahalnya dia adalah orang yang sangat kaya namun tetap berkata "Cukup" artinya mempunyai sedikit lebih banyak dari yang saya punyai sehingga artinya adalah tidak pernah cukup. Inilah kodrat dasar manusia yang kita harus lawan.
GS : Selain dari kodrat dasar kita, secara tidak sengaja orang tua kita atau kalangan pendidik kita mendorong kita untuk menjadi tamak.
PG : Betul sekali karena itulah cara orang hidup yang biasanya orang lakukan adalah tidak berhenti kalau memang ini disukai maka jangan berhenti dan teruskan dapatkan lagi dan dapatkan lagi. Mialnya ada orang yang membuka usaha dan berhasil, kecenderungannya bukannya membiarkan usahanya satu tapi dia akan membuka lagi yang satunya, kalau sudah berkembang maka dia akan berkata "Saya akan buka lagi," itu adalah kecenderungan manusiawi kita sehingga kita susah sekali berkata "Cukup atau sudah."
Bukankah adakalanya inilah ambisi kita yang didasari atas ketamakan, kita sampai-sampai rela mengorbankan orang lain, Pak Gunawan. Ada orang yang memperalat orang, mengabaikan keluarganya, yang penting bisa mempunyai lebih dan lebih lagi tidak pernah cukup-cukup. Malahan ada orang yang akhirnya melewati batas yaitu kalau orang yang lain akan mendapatkan pekerjaannya atau proyeknya meskipun dia sudah serba kecukupan maka dia berusaha menjegalnya dengan cara-cara yang kotor dia berusaha membatalkan kontrak orang yang sudah tertulis, sehingga orang lain tidak bisa mendapatkan proyek itu dan semua harus kembali kepada dirinya. Jadi inilah lingkungan kita, Pak Gunawan, dimana kita hidup. Betul apa yang telah Pak Gunawan katakan yaitu agak susah untuk bisa melawan semua ini karena di mana-mana seperti ini yaitu tidak pernah cukup dan harus lebih.
GS : Dan ketamakan ini bisa menjadi ancaman besar bagi keutuhan keluarga, Pak Paul, artinya ada suami yang rela meninggalkan keluarganya demi mencukupi kebutuhan rumah tangganya, melakukan hal itu padahal mereka sudah berlebihan.
PG : Betul sekali, mungkin dia bisa berkata "Ini untuk keluarga dan sebagainya" tapi sebenarnya tidak. Dalam kasus-kasus seperti itu istri atau anak-anaknya akan berkata, "Tidak! Ini bukan buatkami tapi buat engkau karena kalau sungguh-sungguh buat kami, maka yang kami butuhkan adalah engkau di rumah tapi engkau tidak pernah di rumah."
Jadi sekali lagi ini sebuah bentuk ketamakan dan untuk menghadapinya, yang pertama adalah kita mesti menyadari kalau kita semua pada dasarnya mempunyai sifat tamak ini dan jangan kita beranggapan, "Saya tidak mungkin akan tamak," karena kalau kita sudah mengatakan hal itu maka berarti kita sudah berjalan di atas rel ketamakan. Saya tahu akan ada orang yang berkata, "Tidak! Kalau dengan harta saya tidak seperti itu, kalau sudah dapat maka saya merasa cukup." Memang ada orang tidak tamak dengan harta tapi kita bisa tamak dengan hal-hal yang lain, Pak Gunawan. Contohnya ada orang yang sangat tamak dengan pujian tidak cukup dengan pujian, dia mungkin sekali mendapat pujian lewat perbuatan-perbuatan tertentu, tapi intinya adalah motivasi melakukan semua perbuatan itu adalah supaya menerima pujian dan kalau sudah menerimanya maka dia akan berusaha mencari pujian lagi, dia melakukannya lagi supaya dipuji dan terus seperti itu. Jadi benar-benar sepertinya tercandu pada pujian yang tidak pernah bisa memuaskannya. Ada juga orang yang tamak dengan kasih, dengan cinta atau dengan perhatian, tidak cukup-cukup menerima perhatian dari orang apalagi dari pasangan, dari suaminya atau dari istrinya, dia terus meminta dan menuntut diberikan perhatian, tidak pernah merasa puas. Ini sebetulnya bentuk-bentuk ketamakan meskipun bukan ketamakan materi tapi intinya atau dasarnya adalah sama yaitu tidak pernah merasa puas dan harus mendapatkan lebih.
GS : Itu juga bisa terjadi dengan pelayanan. Jadi yang tidak pernah puas melakukan pelayanan dengan bidang tertentu dan hampir semua bidang pelayanan dimasuki olehnya.
PG : Ada yang seperti itu, dia memasuki semua bidang. Atau ada orang yang di dalam suatu bidang namun dia tidak memberi kesempatan orang lain masuk menggantikannya karena dia merasa bahwa ini aalah hak miliknya.
Itu sebetulnya adalah bentuk-bentuk ketamakan. Memang ada orang yang harus mengontrol, mengetahui semua kegiatan sehingga dia masuk ke semua jurusan dan mungkin dia bisa menggunakan alasan, "Kalau ada yang menggantikan berarti saya tidak bisa memberi laporan, kalau saya tidak tahu apa-apa dan orang bertanya, maka itu juga bukan hal yang baik." Tapi sebetulnya di belakang itu, pertanyaannya adalah kenapa harus masuk ke segala jurusan, ke segala tempat pelayanan dan sebagainya ? Sebetulnya ada yang dicarinya, Pak Gunawan, biasanya yang dicari adalah "merasa diri penting" bahwa kita dibutuhkan di pelayanan A, di pelayanan B, di komisi A, di komisi B, kalau saya masuk di mana-mana berarti saya punya tempat di semua jurusan. Dengan kata lain itu adalah sebuah ketamakan yakni tidak bisa puas, dia harus mendapatkan pengakuan bahwa dia masih penting, itu adalah ketamakan juga.
GS : Pak Paul, selain menyadari bahwa ketamakan sudah menjadi sifat dasar kita apakah ada hal-hal lain yang bisa kita lakukan untuk mencegah diri supaya tidak tamak ?
PG : Ada dua, Pak Gunawan, yang akan saya bagikan dan sebetulnya ini berkaitan dengan perspektif bagaimana cara kita memandang diri kita dan sesama dan ternyata perspektif ini penting sekali unuk mengikis ketamakan pada diri kita.
Perspektif yang pertama adalah ketamakan umumnya dimulai dengan melihat apa yang tidak saya miliki. "Saya tidak bisa mempunyai mobil ini, kenapa saya tidak bisa mempunyai rumah ini." Jadi mulai dengan apa yang tidak kita miliki. Kalau kita mulai dengan perspektif ini yaitu apa yang tidak kita miliki maka sudah tentu langkah berikutnya adalah mau mendapatkan yang tidak kita miliki. Dengan kata lain ketamakan selalu melihat bagian yang kosong dari gelas yang terisi air. "Kenapa ini bisa kosong? Kenapa ini kosong?" dan luput melihat bahwa di bawah yang kosong itu ada air yang banyak. Sehingga kalau kita mau mengikis ketamakan, yang pertama adalah kita harus melihat apa yang kita miliki. Yang kedua adalah menghargainya, meskipun kita harus menghargainya dengan tepat tapi tetap kita harus menghargainya. Yang saya maksud dengan tepat adalah ada orang yang justru masuk dengan kejatuhan di dalam dosa yang lain yaitu kesombongan atau membesarkan diri. Misalkan dia tidak terlalu bisa bermain musik, tapi karena dia mau menghargai kemampuan musiknya maka dia membesar-besarkan diri memberi penilaian yang terlalu tinggi terhadap kemampuan musiknya dan itu juga salah. Maka Firman Tuhan berkata, kita harus bisa melihat diri dengan tepat jangan menilai diri terlalu besar. Jadi kita mesti tepat memandang diri kita. Ketamakan adalah kegagalan kita menghargai apa yang kita miliki maka mata kita melihat apa yang tidak kita miliki dan kita ingin mendapatkannya dan kalau sudah mendapatkannya maka ingin mendapatkan lagi. Sekali lagi saya mau tekankan apakah kita tidak boleh mengembangkan diri atau mengembangkan usaha ? Sudah tentu boleh, tapi tujuannya yang mesti dibedakan. Orang yang mengembangkan usahanya supaya dia tambah besar, dia tambah kaya, itu adalah ketamakan. Namun orang yang memikirkan bagaimana bisa mengembangkan usahanya supaya bisa lebih banyak orang dipekerjakan dan menafkahi keluarganya atau dapat mengembangkan diri mereka, orang yang berpikir luas seperti itu memang benar usahanya maju, tapi dia tidak tamak. Jadi sekilas hampir sama, tapi sebenarnya tujuanlah yang membedakan.
GS : Memang itu sulit sekali dibedakan dengan jelas, Pak Paul, memang orang akan selalu berkata ini untuk kepentingan orang lain, karyawan saya, buruh-buruh saya, kalau perusahaan ini saya tutup maka mereka tidak mendapat nafkah dan sebagainya. Tapi yang pasti sebagian besar dari keuntungan dia itu justru untuk dia.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi seharusnya kita memang perlu mencukupi kebutuhan keluarga kita, namun kalau kebutuhan kita sudah cukup maka sudah, dan kelebihan-kelebihan itu lebih baik unuk kita tuangkan lagi untuk kesejahteraan diri kita, staf kita guna melebarkan usaha sehingga lebih banyak orang yang dapat diserap dan bekerja.
Jadi itulah yang memang dikehendaki oleh Tuhan. Prinsipnya harus jelas, Alkitab itu jelas mengajarkan kepada kita bahwa waktu kita diberkati tujuannya adalah agar kita membagikan berkat itu kepada yang lain. Jadi Tuhan menginginkan kita menjadi saluran, tidak pernah Tuhan menginginkan kita untuk menjadi seperti waduk, hanya menerima dan menyimpan, tapi Tuhan meminta kita untuk menjadi saluran, apa yang kita terima kita salurkan. Makanya Tuhan pertama-tama memanggil orang Israel mengikat perjanjian dengan Dia menjadi umat Tuhan namun mereka gagal menerima tugas tanggung jawab dari Tuhan, malahan mereka mengeraskan hati dan tidak percaya kepada Anak Allah, menolak Kristus Yesus, sehingga tugas itu diberikan kepada orang-orang yang non-Israel, ini adalah teologi Paulus. Paulus jelaskan misalkan di kitab Roma, dari bangsa-bangsa yang lain inilah Injil keselamatan bukan saja diterima tapi juga terus disebarkan. Jadi kita selalu melihat konsep yang sama mengalir di Alkitab, "Diberkati untuk menjadi berkat," orang yang tamak tidak bisa melakukannya, Pak Gunawan, kalau diberkati berarti untuk saya dan berhenti di situ dan ini yang salah.
GS : Tadi Pak Paul katakan ada dua hal, selain yang pertama tadi maka yang kedua apa, Pak Paul?
PG : Sekali lagi kita akan kembali kepada yang pertama yaitu perspektif. Kemudian yang berikut atau yang kedua adalah biasanya kita menjadi tamak karena kita selalu melihat apa yang orang lain iliki, "Wah dia punya mobil baru, wah dia bajunya bagus," selalu melihat apa yang orang lain miliki.
Tidak bisa tidak, kalau mata kita atau perspektif kita tertuju kepada orang lain dan apa yang mereka miliki sudah tentu akhirnya itulah yang akan kita kejar, kita juga mau memiliki yang orang lain miliki itu. Ini sebabnya banyak orang yang jatuh ke dalam dosa melakukan hal-hal yang salah untuk memperoleh yang dia inginkan, tapi awalnya adalah karena terus menyoroti apa yang orang lain miliki dan akhirnya timbul keinginan untuk memiliki yang sama. Oleh karena itu kita harus mengubah perspektif tersebut, kita sekarang harus melihat apa yang orang lain tidak miliki. Jangan hanya melihat apa yang orang lain miliki, coba perhatikan apa yang orang lain tidak miliki, misalkan dia sepertinya tidak punya kedamaian, sepertinya hidup mereka tidak tentram, dia tampaknya hidup penuh dengan tekanan, kapan dia bisa benar-benar relaks, kapan dia bisa santai. Jadi kita mulai melihat apa yang orang lain tidak miliki maka dengan cara itu kita nantinya juga akan bisa berkata, "Saya bersyukur karena saya memiliki ini, saya bisa mendapatkan kedamaian, saya bersyukur istri atau suami saya baik dan mencintai saya, saya bersyukur anak-anak juga baik." Jadi waktu kita melihat apa yang orang lain tidak miliki, itu juga mendorong kita untuk menghargai apa yang kita miliki itu .
PG : Memang sulit mengubah persepsi ini, Pak Paul, maka bagaimana kita bisa belajar untuk mengubah persepsi itu ?
PG : Tadi Pak Gunawan betul, itu adalah persepsi kita sebab inilah yang dikatakan oleh orang-orang di sekitar kita. Bukankah kita ini sering mendengar orang-orang bahwa, "Lihat orang itu sekarag? Punya ini dan itu," memang itulah yang dikatakan oleh orang di sekitar kita.
Jadi memang orang selalu melihat apa yang dimiliki oleh orang lain dan untuk melawan itu kita mesti berani untuk melihat dengan lebih kritis, "Sebetulnya dia tidak punya semuanya," jangan hanya membutakan mata atau melihat sebelah mata dia punya ini dan itu tapi lihat dengan teliti sekali lagi bahwa ada hal-hal yang tidak dia miliki. Kemudian kita juga melihat ke bawah dan melihat diri kita kemudian kita berkata, "Kita juga punya ini." Memang kita tidak punya itu dan tidak apa-apa tapi kita punya ini, dengan kita terus menekankan perspektif itu perlahan-lahan mata kita mulai berubah, kita tidak lagi melihat seperti itu. Dan perlahan-lahan dorongan untuk tidak puas akan mulai hilang dan yang keluar justru ucapan syukur. Jadi ini merupakan disiplin rohani, karena kalau kita mau bersyukur mau bersikap yang bisa berterima kasih memang perlu disiplin rohani. Dan disiplinnya adalah seperti yang tadi itu untuk mengubah perspektif kita.
GS : Memang ketamakan erat hubungannya dengan kepuasan, tapi mengapa kepuasan yang kita miliki itu seolah-olah tidak pernah puas, selalu ada kebutuhan-kebutuhan untuk memuaskan diri kita.
PG : Memang semua kembali kepada yang di dalam, yaitu kembali kepada sumbernya. Firman Tuhan di Galatia 5:22,23 menjabarkan Buah Roh yaitu kasih sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan,kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Ini semua adalah karakter yang muncul dari dalam, tidak ada yang disuntik dari luar seperti kelemahlembutan, tidak ada suntikan penguasaan diri. Maka untuk bisa melawan ketamakan memang kita harus tinggal di dalam Tuhan, dituntun oleh Tuhan sepenuhnya dan benar-benar dikuasai oleh Roh Kudus Tuhan sehingga perlahan-lahan buah Roh Kudus ini akan keluar yaitu kasih, kesetiaan, kemurahan hati. Waktu buah Roh Kudus keluar maka dosa ketamakan akan makin terkikis, makin tersisihkan sebab tidak ada lagi ruang untuk tamak. Kalau hati kita dipenuhi oleh kasih maka tidak ada ruang untuk tamak, kalau hati kita penuh dengan sukacita dan damai sejahtera serta kesabaran maka tidak ada ruang tamak. Kalau hati kita penuh kebaikan, kelemah lembutan akhirnya dosa tamak tidak bisa lagi masuk karena kita sekarang sudah berubah. Tapi sekali lagi perubahan memang harus terjadi dari dalam, yaitu akibat penyerahan dan relasi kita dengan Tuhan sendiri.
GS : Berarti upaya mengikis ketamakan tidak bisa kita lakukan dengan cara-cara kita sendiri, Pak Paul ?
PG : Sangat sulit, Pak Gunawan. Tadi saya bagikan tentang mendisiplin diri untuk mengubah perspektif, namun pada akhirnya yang saya ingin tekankan adalah kita mesti kembali menjalin relasi dengn Tuhan.
Maka kita akan coba lihat di Galatia 5:24-26 dikatakan, "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat." Bagaimana untuk kita tidak gila hormat atau tamak hormat dan sebagainya, maka kita harus menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya, kita harus hidup oleh Roh Tuhan dan dipimpin oleh Roh Tuhan juga alias benar-benar taat. Ketaatan yaitu mengikuti semua yang Tuhan katakan, yang Tuhan ajarkan. Tuhan meminta kita mengasihi yang lain, jangan memikirkan diri sendiri, itulah yang kita harus taati, dengan kita mentaati Firman Tuhan maka terkikiskah ketamakan itu.
GS : Jadi kuncinya adalah yang Pak Paul tadi bacakan yaitu menjadi milik Kristus.
PG : Betul sekali. Jadi yang pertama, kita mesti percaya kepada Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya, dan kita menjadi milik Dia, kita menjadi hambaNya kita menjadi anakNya dan kita akan bekerja sekeras mungkin untuk mengikuti kehendakNya.
Waktu kita berjalan seperti itu maka sudah pasti dosa-dosa yang termasuk di dalamnya ketamakan juga makin hari akan makin tersisihkan dari hidup kita.
GS : Dan justru yang menjadi penghambat terbesar untuk mengikis ketamakan ini adalah diri kita sendiri, Pak Paul, kita merasa tidak enak kalau ketamakan kita terkikis.
PG : Sebab kadang-kadang kita ini khawatir, Pak Gunawan, "Kalau saya tidak punya sesuatu yang banyak, nanti kalau ada apa-apa bagaimana ?" selalu berpikir "Bagaimana kalau ada apa-apa?" Seolah-lah di dalam hidup ini tidak ada Tuhan, kita mesti ingatkan diri masih ada Tuhan dalam hidup ini dan Tuhan adalah Tuhan yang berkuasa, kalau ada Tuhan maka kita tidak perlu khawatir, Dia akan memelihara kita.
Jadi kita tidak perlu menambah-nambahkan, "Nanti kalau ada apa-apa kan kita enak" itu salah! Karena kita harus mencukupkan diri dan kita percaya bahwa ada Tuhan yang akan memelihara kita.
GS : Pak Paul terima kasih untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengikis Ketamakan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terimakasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Pernah seseorang bertanya kepada John D. Rockerfeller, salah seorang terkaya di Amerika pada awal abad 20, akan definisi kecukupan. Ia menjawab, "Mempunyai sedikit lebih dari apa yang saya miliki sekarang." Sukar bagi manusia untuk merasa cukup; setiap kecukupan melahirkan keinginan baru sehingga pada akhirnya kita tidak merasa cukup. Jika tidak berhati-hati, rasa tidak cukup dapat menjadi benih ketamakan. Berikut akan dipaparkan kiat untuk menjaga diri tidak tamak.
Ketamakan merupakan sifat dasar semua orang; jadi, jangan beranggapan bahwa kita tidak memiliki masalah dengan ketamakan. Ketamakan tidak selalu berkaitan dengan materi; ketamakan juga bisa mencakup hal lain seperti pujian dan perhatian. Ketamakan adalah ketidakpuasan tanpa batas; makin dipuaskan makin merasa tidak cukup. Kita tahu kita tamak tatkala kita telah mempunyai sesuatu namun ingin mempunyai lebih lagi.
Ketamakan dimulai dengan melihat apa yang tidak kita miliki; oleh sebab itu kita mesti melatih diri untuk melihat apa yang kita miliki dan menghargainya.
Ketamakan dipupuk dengan melihat apa yang orang lain miliki; oleh sebab itu kita mesti melatih diri untuk juga melihat apa yang orang lain tidak miliki.
Ketamakan tidak pernah berhasil memberi kepuasan sebab semua kepuasan mesti berasal dari dalam diri sendiri. Itu sebabnya buah Roh Kudus sebagaimana dipaparkan di Galatia 5:22-23 berasal dari hidup orang percaya itu sendiri, yakni "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri."
Ketamakan mesti dilawan dengan ketaatan pada kehendak Tuhan. "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh dan janganlah kita gila hormat. . . ." (Galatia 5:24-26)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 09/10/2008 - 11:45am.
Abstrak:
Tuhan memerintahkan kita pengikut-Nya untuk hidup dengan penuh kerendahan hati. Sebenarnya apakah kerendahan hati itu? Kerendahan hati di sini juga akan dibandingkan dengan tinggi hati, apa itu tinggi hati?
Transkrip Isi:
Lengkap
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Belajar Rendah Hati". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, kita baca di seluruh bagian Alkitab bahwa Tuhan memerintahkan kita sebagai pengikut-pengikutNya untuk hidup dalam kerendah hatian, sebenarnya rendah hati itu apa ?
PG : Adakalanya kita mengidentikkan rendah hati dengan rendah diri. Ini dua istilah yang memang kedengarannya mirip, namun sebetulnya tidak sama. Rendah diri adalah sebuah sikap atau pandangan erhadap diri yang melihat diri itu kurang, yang melihat diri negatif, buruk, tidak layak.
Jadi benar-benar sebuah sikap yang tidak menghargai diri sama sekali, itu adalah rendah diri. Sedangkan rendah hati adalah sebuah sikap atau karakter yang positif. Jadi orang yang rendah hati bukanlah orang yang tidak bisa melihat kebaikan dan kekuatan pada dirinya, tapi dia menyadari bahwa dia mempunyai kekuatannya namun dia juga bisa melihat dan mengakui kekurangannya dan kelemahannya. Nanti yang kita akan uraikan adalah orang yang rendah hati memunculkan beberapa ciri-ciri yang pada akhirnya adalah tidak lagi meninggikan atau mementingkan dirinya dan ini adalah sebuah konsep yang memang sangat sentral dalam iman kristiani, sebab Tuhan pun berkata kepada kita bahwa kalau kita mau mengikutNya, kita harus memikul salib dan menyangkal diri. Jadi menyangkal diri artinya tidak lagi mengedepankan diri sebagai orang yang harus di utamakan. Untuk mendasari pembahasan ini maka saya akan menggunakan panduan dari Firman Tuhan yang terambil dari Filipi 2 ayat 3, " Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri."
GS : Kalau begitu rendah hati tidak dibawa oleh orang sejak lahir, Pak Paul ?
PG : Tidak. Jadi ini sebuah sikap yang kita harus pelajari dan dalam banyak hal kita harus mengakui rendah hati adalah sebuah sikap yang berlawanan dengan kodrat alamiah kita. Sebab pada akhirna kita akan melihat bahwa sebagai manusia kita tidak terlalu suka untuk mengutamakan yang lain, kita sebagai manusia ingin diutamakan.
Jadi rendah hati adalah sikap yang perlu dipelajari, perlu ditanamkan dalam diri kita dan modelnya adalah Tuhan Yesus sendiri.
GS : Dan sikap rendah hati ini juga sangat dibutuhkan dalam relasi keluarga, Pak Paul ?
PG : Tepat sekali Pak Gunawan, sebab pada akhirnya tinggi hati atau keangkuhanlah yang memisahkan kita baik dengan Tuhan maupun dengan sesama. Saya sering berkata bahwa satu-satunya dosa yang lngsung memisahkan manusia dengan Tuhan adalah keangkuhan.
Dosa lain yang kita lakukan misalnya kita jatuh ke dalam dosa perzinahan, memang dosa adalah sesuatu yang buruk, tapi dosa perzinahan dengan cepat bisa membuat kita tersadar dan kita cepat bertobat kepada Tuhan. Namun dosa keangkuhan tidak demikian Pak Gunawan, dosa keangkuhan seringkali tidak bisa kita lihat sebagai dosa, namun efeknya adalah justru membuat kita tidak merasa butuh dengan Tuhan. Maka tadi saya katakan itu adalah dosa yang langsung memisahkan kita dari Tuhan karena keangkuhan menempatkan diri sebagai penguasa, tidak ada lagi ruangan bagi Tuhan untuk berkuasa dalam hatinya. Kalau tidak ada lagi ruang bagi Tuhan untuk berkuasa di hatinya maka jangan harap ada ruang bagi orang lain untuk masuk dan diutamakan. Jadi sekali lagi keangkuhan adalah dosa yang sangat serius sekali dan kita bisa simpulkan bahwa kerendahan hati justru adalah sebuah karakter yang indah sekali di mata Tuhan.
GS : Tapi itu membutuhkan pengorbanan dari orang yang hidup didalam kerendahan hatinya ?
PG : Sangat membutuhkan pengorbanan, karena kita sebagai manusia biasa, tidak terbiasa mengedepankan orang lain, kita tidak terbiasa menaruh diri di belakang. Sebetulnya kalau memungkinkan kitaingin mendapatkan yang paling baik, yang terutama.
GS : Karena kita juga sering menjadi korban dari orang-orang yang tidak rendah hati atau orang-orang yang sombong.
PG : Jadi sebetulnya ini Pak Gunawan, salah satu tes atau ukuran untuk mengetahui betapa rendah hatinya kita atau berapa tinggi hatinya kita adalah berapa mampunya kita berada bersama orang yan tinggi hati.
Maksud saya begini, orang yang tinggi hati akan cepat mengedepankan dirinya. Dan pertanyaannya adalah apa reaksi kita kepada orang yang cepat mengedepankan dirinya ? Kalau reaksi kita marah dan kita ingin menjatuhkan orang tersebut, mempermalukannya, merendahkannya supaya dia tidak angkuh lagi, sesungguhnya upaya-upaya itu menunjukkan ketinggian hati kita pula karena orang yang tinggi hati tidak tahan dengan orang yang tinggi hati, karena dia tidak tahan dengan orang yang mengedepankan dirinya sehingga dia yang dibelakangkan. Sebetulnya kita bisa simpulkan bahwa reaksi kita yang terlalu keras dengan orang yang tinggi hati, itu bisa mencerminkan ketinggian hati yang ada pada diri kita sendiri.
GS : Biasanya itu hanya untuk membela diri Pak Paul, supaya kita tidak terlalu direndah-rendahkan di hadapan orang lain.
PG : Ya, memang akhirnya menolak untuk direndahkan. Berdasarkan alasan itu kita misalkan menyerang orang yang tinggi hati, tapi persoalannya adalah sebetulnya kita berkeberatan bersama orang yng tinggi hati, sebab kita akan dikebelakangkan.
Pemberontakan kita terhadap upaya orang membuat kita berdiri di belakang sedikit banyak mencerminkan ketinggian hati itu sendiri.
GS : Karena biasanya orang-orang yang tinggi hati senang dipuji padahal kita juga mengharapkan ada pujian yang diberikan kepada kita.
PG : Betul sekali. Jadi mungkin sekarang kita akan coba lihat dengan lebih seksama ciri-ciri orang yang rendah hati. Sebenarnya sudah berapa bagian yang sudah kita singgung tadi, Pak Gunawan. Utuk melihat apa ciri-ciri orang yang rendah hati dan mudah-mudahan pendengar kita dan kita disini juga termotivasi untuk mengikuti langkah Kristus menjadi rendah hati, yang pertama adalah orang yang tinggi hati akan mencari kepentingannya sendiri sedangkan orang yang rendah hati akan mencari kepentingan orang lain, orang yang tinggi hati akan berpikir seperti ini, "Apa untungnya buat saya ?" Dengan kata lain orang yang tinggi hati sukar melakukan sesuatu murni untuk kepentingan orang, sebaliknya orang yang rendah hati bersedia melakukan sesuatu yang tidak berkaitan atau yang tidak memberi keuntungan bagi dirinya sendiri.
GS : Berarti orang yang tinggi hati sulit untuk tulus kepada orang lain ?
PG : Tulusnya itu biasanya tercampur dengan kepentingan pribadinya, dia tidak bisa benar-benar dengan murni melakukan sesuatu bagi orang lain, bagi kepentingan yang lain dan tidak ada kepentingn sedikit pun baginya, itu sangat sulit sekali.
Jadi dia akan selalu mengukur dengan satu pertanyaan, "Apa untungnya buat saya ?" kalau tidak menguntungkan buat saya, saya tidak mau mengerjakan, untuk apa ! Jadi kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa sikap seperti ini adalah tinggi hati, karena ujung-ujungnya adalah kita mencari kepentingan diri sendiri sedangkan rendah hati tidak mencari kepentingan diri sendiri malah mencari kepentingan orang lain. Contohnya adalah Tuhan Yesus Kristus, kedatanganNya ke dunia jelas-jelas untuk kepentingan manusia, bukan untuk kepentingan Tuhan karena dia justru menyerahkan nyawaNya bagi kita untuk menebus dosa-dosa yang telah kita lakukan. Jadi itu adalah sebuah perbuatan yang murni demi orang lain, maka orang yang rendah hati juga melakukan hal yang sama dan inilah ciri orang yang rendah hati.
GS : Tapi seringkali hal itu disalahgunakan oleh orang lain Pak Paul, kalau tahu bahwa ada seseorang yang mau melakukan sesuatu dengan berkorban untuk kepentingan orang lain, maka orang itu akan diperalat.
PG : Makanya Tuhan juga berkata kita harus tulus seperti burung merpati tapi kita juga harus cerdik seperti ular, artinya apa ? Kita juga harus mengerti bahwa manusia di sekeliling kita tidak smuanya baik, ada yang tidak baik dan akan sengaja memperalat kita.
Bolehkah kalau kita menolak untuk diperalat ? Saya kira itu tidak apa-apa. Namun adakalanya demi Kristus kita membiarkan diri kita diperalat, kita tahu orang ini sengaja memperalat kita tapi demi kepentingan yang lebih besar maka tidak apa-apa kita biarkan. Sebagai contoh kita ini dimintai tolong, "Bisa tidak jemput saya dan sebagainya," dan kita merasa, "Kamu ini sebetulnya bisa pergi sendiri dan kenapa minta jemput saya," tapi kita berkata, "Biarlah karena dia melihat kita ini mau menolong, kita ini orangnya baik," dan memang kita bisa menjemput dia, maka tidak apa-apa supaya dia bisa melihat kebaikan kita sebagai anak Tuhan. Kadang-kadang kita juga melakukan hal seperti itu. Namun tadi saya sudah tekankan, tidak ada salahnya kalau kita katakan kepada orang yang mau terus memperalat kita "Maaf saya tidak bersedia," itupun juga tidak apa-apa.
GS : Ciri yang lain apa, Pak Paul, dari orang yang rendah hati itu ?
PG : Saya bandingkan lagi dengan orang yang tinggi hati, supaya dapat melihat cirinya dengan lebih tepat. Orang yang tinggi hati akan mencari puji-pujian orang terhadap dirinya, sedangkan orangyang rendah hati tidak mementingkan hal ini.
Maksud saya seperti ini, sewaktu orang yang tinggi hati melakukan sesuatu dia akan memikirkan efeknya, yakni apakah hasil perbuatannya akan dihargai orang atau tidak. Dengan kata lain, jika orang yang tinggi hati beranggapan bahwa efek karyanya tidak akan mengundang pujian orang, maka dia tidak akan melakukannya. Tidak heran orang yang tinggi hati cepat tersinggung bila orang tidak memberi respons terhadap karyanya sesuai dengan keinginannya. Sebaliknya orang yang rendah hati akan melakukan segala sesuatu sebaik-baiknya, dia akan mengikuti Firman Tuhan yang tertera di Kolose 3:23, "Dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." Orang yang rendah hati melihat Tuhan sebagai penonton perbuatannya, dia tidak memusingkan orang, fokus utamanya adalah mempersembahkan hasil karyanya untuk Tuhan. Jadi terpenting baginya adalah membuat Tuhan senang, kalau sampai orang memuji dirinya itu adalah efek sampingan yang tidak dicarinya.
GS : Tapi tidak secara khusus dia melakukan sesuatu demi pujian, Pak Paul ?
PG : Sama sekali tidak, dia akan lakukan sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan dan itulah prinsip hidupnya. Kebalikannya orang yang tinggi hati hanya melakukan sesuatu kalau dia tahu tindakannya aau perbuatannya itu akan mengundang pujian orang, dihargai orang.
Kalau orang tidak menghargainya maka dia tidak akan lakukan tapi kalau dia sudah terlanjur melakukan dan orang tidak menghargainya maka dia akan marah, sudah tentu untuk menutupi diri supaya tidak terlihat tinggi hati mungkin saja dia akan menuduh orang yang tidak menghargai, orang yang memang menyia-nyiakan sesuatu yang baik dan sebagainya tapi sebetulnya didalam perkataan-perkataan seperti itu tersembunyi sikap yang angkuh yaitu menganggap diri hebat, apa yang saya lakukan seharusnya mendapatkan penghargaan, kalau tidak dihargai berarti orang itu memang tidak bisa melihat betapa hebatnya saya ini. Inilah yang akhirnya membuat dia cepat tersinggung dan marah kalau orang tidak memberi respons yang dia harapkan yaitu pujian.
GS : Bisa berbentuk seperti yang non material yaitu pujian itu tadi, tapi ada pula yang menuntut dalam bentuk material, Pak Paul ?
PG : Ada juga yang seperti itu dan memang segala sesuatu diukur dari keuntungannya. "Apa untungnya buat saya? Saya dihargai atau tidak sesuai dengan yang saya berikan." Jadi selalu menghitung-htung apakah yang saya berikan mendapatkan balasan atau imbalan yang seharusnya, kalau tidak, dia tidak akan mau mengerjakannya.
Sebaliknya orang yang rendah hati tidak seperti itu Pak Gunawan, dia akan mengerjakan untuk Tuhan, kalau dihargai manusia, dia merasa senang, kalau tidak dihargai manusia pasti rasa sedih itu ada, tapi sekali lagi bagi orang yang rendah hati penonton perbuatannya adalah Tuhan sendiri, yang penting bertanggung jawab kepada Tuhan melakukan sebaik-baiknya.
GS : Ada orang yang bukan menuntut pujian demi dirinya sendiri, tapi dia merasa untuk mengukur kemampuan dia. Jadi kalau orang memuji maka itu seperti "feedback" buat dia.
PG : Kalau dalam kasus seperti itu, itu masih dapat dibenarkan sebab kalau kita mendapatkan tanggapan barulah kita tahu kwalitas karya kita namun yang seharusnya kita cari adalah tanggapan atauevaluasi dan tidak mesti pujian yang kita cari.
Sekali lagi Pak Gunawan, kita tadi sudah singgung bahwa untuk rendah hati itu bukan sesuatu yang alamiah buat diri kita, sebab kalau kita boleh jujur bukankah kita semua mendambakan pujian dari apa yang kita lakukan, kita ingin dihargai orang, kalau tidak dihargai orang kita juga tidak senang. Jadi inilah kodrat manusia kita yang sangat menginginkan pujian orang tapi kita juga harus melawannya, kita harus selalu ingatkan diri kita, "Lakukanlah meskipun tidak ada keuntungannya buat kita, demi Tuhan maka lakukanlah, meskipun tidak mendapat pujian dari orang, itu tidak menjadi masalah jangan pikirkan itu tapi pikirkan Tuhan, Dialah penonton yang memang menyaksikan. Jadi lakukanlah sebaik-baiknya untuk Tuhan.
GS : Padahal sejak kecil kalau kita melakukan suatu prestasi tertentu, orang tua memberikan pujian dengan tujuan memotivasi kita dan ini mungkin membekas dalam pikiran kita, Pak Paul.
PG : Bukan hanya pada orang tua tapi nanti di sekolah pun mereka sebetulnya akan mendapatkan pujian lewat angka, nilai dari guru dan sebagainya. Maka sekali lagi ini adalah sesuatu yang memang ita lawan, Pak Gunawan, sebab secara naluriah, secara alamiah kita itu terdorong untuk terus mencari pujian dan orang yang tidak menjaga dirinya akan tersedot oleh keinginan untuk dipuji dan itu akhirnya yang menjadi motivasi utama perbuatannya, ada pujian kalau tidak mendapatkan penghargaan maka dirinya akan berhenti, kalau dia tahu dia akan mendapatkan pujian barulah dia berjalan dan itulah yang akhirnya menjadi sesuatu yang salah dan justru menumbuhkan keangkuhan.
GS : Ciri yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Ciri yang lain adalah orang yang tinggi hati akan menomor satukan diri sedangkan orang yang rendah hati berupaya menomor duakan dirinya. Orang yang tinggi hati beranggapan dia lebih utama an lebih baik dari orang lain, itu sebabnya orang yang tinggi hati menuntut perlakuan khusus atau istimewa sebab dia beranggapan dia tidak sama dengan orang lain.
Jadi orang yang tinggi hati berharap orang akan membebaskannya dari kewajiban yang biasanya dituntut pada kebanyakan orang oleh karena baginya dia adalah bukan orang biasa. Sebaliknya orang yang rendah hati tidak melihat dirinya sebagai orang yang istimewa dan selayaknya menerima pengakuan khusus, ia akan menempatkan dirinya dengan yang lain bahkan dia akan cepat menghargai sumbangsih orang. Dengan kata lain, orang yang rendah hati cepat menerima keistimewaan orang lain dan lambat menerima keistimewaan dirinya. Sudah tentu orang yang rendah hati itu tidak buta terhadap dirinya, ia tahu siapa dirinya, dia tahu kekuatannya, kelemahannya namun bagi dia tidaklah penting untuk menonjolkan kekuatannya, baginya justru yang penting adalah bagaimana dia dapat menolong orang lain mengembangkan diri sehingga akan lebih banyak orang yang dapat melakukan hal yang baik bagi sesama dan Tuhan.
GS : Seringkali di dalam pertemuan-pertemuan orang merasa dirinya itu yang penting, makanya Tuhan Yesus sendiri mengatakan, "Kalau kamu diundang jangan tergesa-gesa duduk di depan, lebih baik duduk di belakang dan nanti kalau dipersilakan duduk di depan maka lebih baik."
PG : Betul sekali, makanya Tuhan berkata, "Kalau mau menjadi yang terbesar dia harus menjadi yang terkecil, kalau mau menjadi yang terdahulu dia harus menjadi yang terakhir, terbelakang." Maka uhan berkata, "Anak manusia datang bukan untuk dilayani tapi untuk melayani."
Ini bertentangan dengan kodrat alamiah kita, siapa yang mau melayani ? Siapa yang tidak mau dilayani ? Itu memang kodrat manusia kita yaitu mau dilayani, melayani merupakan sesuatu yang bertentangan dengan kodrat manusiawi kita. Siapa yang mau terbelakang ? Semua inginnya terdepan. Jadi kita selalu mencari yang di depan dan bukan yang di belakang, yang menjadi nomor pertama dan bukan nomor dua. Namun Tuhan justru meminta kita secara terencana, secara rasional, secara sadar menomor duakan diri. Justru Tuhan meminta kita mendorong orang untuk di depan, untuk di nomor satukan. Sekali lagi bukan berarti kita ini minder atau rendah diri, kita tahu kemampuan kita, kita tahu apa yang bisa kita kerjakan tapi kita lebih mau memberi kesempatan kepada yang lain untuk maju dulu. Orang yang rendah hati, wawasan hidupnya luas, Pak Gunawan, dia tidak memikirkan dirinya saja, dia tidak terkurung pada tembok pribadinya, hanya melihat dirinya saja tapi orang yang rendah hati wawasannya luas sehingga dia berpikir, "Dengan dia menomor satukan orang, mendorong orang untuk bisa berkembang dan menolong mereka berkembang bukankah lebih banyak manfaatnya," orang yang lain akhirnya mendapatkan berkat pula dan Tuhan lebih dipermuliakan. Jadi memang wawasannya sangat luas dan orang yang tinggi hati wawasannya sangat sempit sekali, karena memikirkan diri sendiri.
GS : Tapi dengan mendorong orang supaya mereka menjadi yang nomor satu dan kita menjadi yang nomor dua, apakah itu tidak sama dengan mencobai orang supaya orang itu menjadi sombong ?
PG : Tidak! Karena pada akhirnya kalau kita beranggapan setiap orang melakukan hal yang sama yaitu mengalah, membuat yang lain itu akhirnya bisa maju dan mengembangkan dirinya, berarti kita itumenjadi masyarakat atau menjadi orang-orang yang tidak mengedepankan diri, tapi mau mendorong orang lain untuk mengembangkan dirinya.
Sudah tentu orang yang memberikan kesempatan itu lain kali dia juga akan belajar menomor duakan dirinya. Dengan kata lain, begini Pak Gunawan, orang ini adalah orang yang nomor satu tapi dia menjadi nomor dua, kalau orang itu sudah menjadi nomor dua berarti dia tidak bisa lagi memberikan kesempatan kepada orang lain, dia tidak bisa berkata "Kamu nomor satu" sedangkan dirinya sendiri sudah menjadi nomor dua. Jadi ini untuk yang nomor satu, tapi dia berkata, "Tidak apa-apa yang lain saja," tapi sudah tentu kalau karyanya dibutuhkan maka dia akan bersedia melakukannya dia tidak akan menolak, sedangkan kalau dia bisa menolong orang, mengembangkan diri sehingga bisa sejajar dengan dia, dia justru akan senang sekali. Jadi ini adalah konsep bahwa saya jangan sampai sendirian di atas, saya sebisanya mau membawa sebanyak-banyaknya orang untuk naik ke atas dan ini adalah konsep yang dimilikinya.
GS : Pak Paul, apakah bisa orang yang rendah hati menjadi tinggi hati karena kerendahan hatinya, Pak Paul ?
PG : Makanya untuk masalah ini Winston Churchill, seorang mantan perdana menteri Inggris berkata, "Hal tersulit dalam hidup adalah menjadi rendah hati, sebab begitu kita beranggapan kita rendahhati maka kita sudah sombong," ini memang ada benarnya.
Jadi orang yang rendah hati memang seyogianya tidak memikirkan diri, kalau orang yang beranggapan dirinya rendah hati tapi memikirkan dirinya terus sebagai rendah hati berarti dia tidak rendah hati. Sebab sekali lagi orang yang rendah hati tidak memikirkan, tidak mempunyai banyak waktu melihat-lihat dirinya, bercermin-cermin menatapi dirinya. Yang justru dia pusingkan atau fokuskan adalah, "Apa yang dia bisa lakukan untuk Tuhan dan untuk sesama." Jadi memang selalu fokusnya pada mengedepankan orang lain, menganggap orang lain lebih utama dari pada dirinya.
GS : Jadi kita perlu belajar langsung dari Tuhan Yesus sendiri mengenai kerendah hatian ini ?
PG : Betul sekali, Pak Gunawan.
GS : Dan ada ayat Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Saya akan bacakan dari Filipi 2:8, ini adalah Firman Tuhan yang menceritakan tentang apa yang Kristus telah lakukan, "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan tat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama." Kristus dalam keadaan sebagai manusia merendahkan diriNya dan merendahkan diriNya sampai mati artinya sempurna. Ada orang yang bersedia rendah hati tapi sampai titik tertentu, itu salah ! Tapi sampai akhir hidupnya bahkan sampai mengorbankan nyawanya. Kalau Tuhan sebagai model kita maka seyogianya kita juga menuruti Dia, sebab bukankah kita adalah anak-anak Tuhan.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Belajar Rendah Hati". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terimakasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Tuhan memerintahkan kita pengikut-Nya untuk hidup dengan penuh kerendahan hati. Sebenarnya apakah kerendahan hati itu?
Pertama, kerendahan hati bukanlah sebuah sikap tubuh yang merendah-rendah. Di dalam banyak budaya, sikap merendahkan tubuh dianggap sebagai kerendahan hati. Sesungguhnya kerendahan hati bukanlah sikap tubuh melainkan sikap hati, yang tidak mementingkan diri, malah mengedepankan kepentingan orang lain. Marilah kita lihat dengan saksama ciri orang yang rendah hati sebagaimana diuraikan di Filipi 2:3 dengan cara mengkontraskannya dengan sikap orang yang tinggi hati, "dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia . . . menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. "
Orang yang tinggi hati akan mencari kepentingan diri sendiri, sedangkan orang yang rendah hati akan mencari kepentingan orang lain. Orang yang tinggi hati akan selalu berpikir, "Apa untungnya buat saya?" Dengan kata lain, orang yang tinggi hati sukar melakukan sesuatu murni untuk kepentingan orang lain. Sebaliknya, orang yang rendah hati bersedia berkorban melakukan sesuatu yang tidak berkaitan atau tidak memberi keuntungan bagi dirinya.
Orang yang tinggi hati akan mencari puji-pujian orang terhadap dirinya, sedangkan orang yang rendah hati tidak memikirkan hal ini. Sewaktu orang yang tinggi hati melakukan sesuatu, ia akan memikirkan efeknya-apakah hasil perbuatannya akan dihargai orang atau tidak. Dengan kata lain, jika ia beranggapan bahwa efek karyanya tidak akan mengundang pujian orang, ia tidak mau melakukannya. Tidak heran, orang yang tinggi hati cepat marah dan tersinggung, bila orang tidak memberi respons terhadap karyanya sesuai dengan keinginannya. Sebaliknya, orang yang rendah hati akan melakukan segala sesuatu sebaik-baiknya, "dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. " (Kolose 3:23) Orang yang rendah hati melihat Tuhan sebagai "penonton" perbuatannya; ia tidak memusingkan orang. Fokus utamanya adalah mempersembahkan hasil karya hidupnya untuk Tuhan; jadi, terpenting baginya adalah membuat Tuhan senang. Kalau sampai orang memuji dirinya, itu adalah efek sampingan yang tidak dicarinya.
Orang yang tinggi hati akan menomorsatukan diri sedangkan orang yang rendah hati berupaya menomorduakan dirinya. Orang yang tinggi hati beranggapan bahwa ia lebih utama dan lebih baik dari orang lain. Itu sebabnya orang yang tinggi hati sering kali menuntut perlakuan khusus atau istimewa sebab ia beranggapan ia tidak sama dengan orang lain. Ia berharap orang akan membebaskannya dari kewajiban yang biasanya dituntut pada kebanyakan orang oleh karena baginya, ia bukanlah orang biasa. Sebaliknya, orang yang rendah hati tidak melihat dirinya sebagai orang yang istimewa dan selayaknya menerima perlakuan khusus. Ia akan menempatkan dirinya sejajar dengan yang lain, bahkan ia cepat menghargai sumbangsih orang. Dengan kata lain, orang yang rendah hati cepat melihat keistimewaan orang lain dan lambat melihat keistimewaan dirinya. Sudah tentu ini tidak berarti bahwa ia buta terhadap dirinya; tidak! Ia tahu siapa dirinya-kekuatan dan kelemahannya, namun baginya, tidaklah penting untuk menonjolkan kekuatannya. Baginya justru yang penting adalah bagaimana ia dapat menolong orang yang lain mengembangkan diri sehingga akan lebih banyak orang yang dapat melakukan apa yang baik bagi sesama dan Tuhan
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Transformasi karakter bukanlah sesuatu yang didatangkan dari luar melainkan sesuatu yang dihasilkan dari dalam. Yang merupakan hasil dari penyerahan hidup kepada Tuhan.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S.Th. akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini berjudul "Transformasi Karakter", kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, perbincangan kali ini kita beri judul yang mungkin agak asing bagi sebagian pendengar dan kita sendiri, transformasi karakter sebenarnya apa itu Pak Paul?
PG : Begini Pak Gunawan, yang melatarbelakangi topik ini adalah sebuah pertanyaan yaitu mengapakah kita ini sukar berubah. Bukankah kita sebagai orang percaya kita sudah menerima Yesus sebagai uhan kita, kita mengundangnya masuk menjadi Tuhan dalam hidup kita dan kita meyakini firman Tuhan yang diambil dalam 2 Korintus 5:17 yang berbunyi: jadi siapa yang ada di dalam Kristus ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
Nah pertanyaannya adalah kenapa ciptaan yang baru itu lama datangnya. Kita yang lama masih terus bercokol, jadi itu sebabnyalah pada saat ini kita mengangkat topik bagaimanakah caranya mengubah atau menstranformasi karakter kita sewaktu kita sudah menjadi percaya.
GS : Pengertian karakter itu sama atau tidak dengan sifat itu Pak?
PG : Sama, jadi memang ada beberapa istilah yang digunakan untuk makna yang sama ya bisa itu sifat, bisa itu kepribadian dan bisa itu karakter.
WL : Pak Paul waktu menyebutkan di II Korintus 5:17 itu saya ingat masa ketika saya baru lahir baru ya itu salah satu ayat hafalan saya yang benar-benar wah saya ingat sekali, tapi sekaligus membuat saya frustrasi. Di rumah saya masih sering marah-marah Pak Paul. Di rumah misalnya sedang menghadapi apa yang tidak menyenangkan saya misalnya konflik dengan orang tua atau apa begitu terus saya jadi berpikir kenapa saya kok tidak berubah, katanya kita sudah ciptaan baru dan itu juga suka disindir di rumah atau teman atau siapa, pusing kepala juga Pak Paul, jadi kaitannya bagaimana Pak Paul, bisa tolong jelaskan?
PG : Yang pertama ini Bu Wulan, kita mesti jelas dulu waktu kita membicarakan tentang perubahan. Sebetulnya perubahan apakah yang memang sewajarnya terjadi dalam diri kita setelah kita menjadi rang percaya.
Ayat yang akan saya ambil adalah ayat di Roma 12:2 ini menjadi dasar diskusi kita. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Firman Tuhan berkata berubahlah oleh pembaharuan budimu. Nah kata budi sebetulnya berasal dari kata pikiran, dengan kata lain perubahan seharusnya terjadi di daerah rasional atau di daerah sudut pAndang, cara melihat situasi atau cara bersikap, cara memberikan reaksi terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Nah pola pikir itulah yang seharusnya berubah, jadi waktu tadi ibu Wulan berkata pada masa-masa awal setelah pertobatan ibu juga tetap bergumul dengan sifat yang sama dan sebagainya, nah sebetulnya dalam pengertian ini Ibu Wulan, reaksi-reaksi marah itu, emosi-emosi tersebut sesungguhnya adalah efek atau buah dari cara pAndang. Karena asumsinya, begitu cara pAndang berubah maka emosi yang menyertai cara pAndang tersebut juga akan berubah. Kita misalkan tidak lagi melihat bahwa orang tua kita atau keluarga kita sengaja menjengkelkan kita, kita akan mengubah cara pAndang kita dan berkata bahwa o.......mereka bukannya sengaja menjengkelkan kita, tapi itulah kelemahan mereka. Nah waktu kita mengubah cara pAndang itu, maka akan berubah pulalah reaksi emosional yang sebelumnya menyertai cara pikir kita.
GS : Padahal cara pAndang itu bukankah sudah terpola sedemikian lama di dalam diri kita itu Pak Paul?
PG : Betul sekali, cara pAndang sudah tercetak dalam benak kita, nah untuk mengubahnya akan memerlukan waktu. Sudah tentu akan ada hal-hal yang lebih mudah berubah, yang mudah mengelupas saya gnakan istilah itu ya, tapi ada hal-hal yang sukar mengelupas, nah mungkin ini nanti yang akan lebih kita fokuskan Pak Gunawan, yang sukar kok tidak mudah untuk mengelupas.
WL : Waktu disebut ada yang butuh waktu, ada yang lebih gampang begitu berarti ada proses. Ada kaitannya atau tidak Pak Paul kalau saya kaitkan dengan "pola kerjanya" Tuhan lebih ke arah proses bukan yang instan. Misalnya setiap bayi yang lahir saya belum pernah mendengar begitu lahir langsung dewasa, pasti melewati masa kanak-kanak, remaja, pemuda sampai dewasa, ada tahapan selalu ada proses. Apakah seperti itu, terus waktu bangsa Israel keluar dari Mesir ke tanah Kanaan juga ada maksud lain untuk membentuk bangsa Israel yaitu diputar dulu. Sebenarnya Tuhan 'kan Maha Kuasa kalau mau merubah memakai jalan pintas, tapi tidak, selalu ada proses apakah ada kaitannya dengan itu Pak Paul?
PG : Tepat sekali, kadang-kadang Tuhan bekerja dengan cara supernatural, cepat sekali, tapi kebanyakan Tuhan akan bekerja melalui proses yang lebih alamiah. Saya berikan contoh, saya teringat aa teman saya sewaktu bertobat dia langsung berdoa meminta Tuhan memutuskan keterikatannya pada rokok dan seketika rokok itu lepas, dia tidak pernah lagi merokok sama sekali.
Tapi juga ada orang-orang dan ini yang lebih banyak, setelah bertobat meminta Tuhan melepaskannya dari rokok tapi tidak langsung lepas nah yang lebih sering terjadi adalah mereka harus bergumul melewati proses yang panjang, jatuh bangun untuk supaya bisa berhenti merokok.
GS : Ya tadi yang Pak Paul kutib dari rasul Paulus, pengalaman rasul Paulus sendiri bagaimana Pak Paul?
PG : Begini Pak Gunawan, rasul Paulus juga membagikan pergumulannya, dia tidak membagikan kemenangan yang seketika. Misalkan kalau kita membaca Roma 6-7 , rasul Paulus membagikan pegumulannya dengan hal-hal yang tetap mengganggunya.
Dia tidak selalu bisa mengerjakan hal yang dia tahu baik, dia tidak selalu bisa menahan diri tidak melakukan hal yang tidak baik, dengan kata lain Paulus dengan jujur mengatakan diapun harus melewati proses pertumbuhan jatuh bangun, bergumul untuk bisa melepaskan bagian-bagian tertentu dalam hidupnya. Jadi transformasi karakter dalam diri Paulus pun harus berjalan melewati proses waktu.
GS : Ya mungkin di situ ada salah pengertian Pak Paul, ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa seseorang harus lahir baru, bukankah kelahiran itu terjadi seketika, tidak sedikit lalu lain waktu sedikit, itu gimana Pak Paul?
PG : Setuju sekali Pak Gunawan, saya kira kesalahpahaman pemahaman akan firman Tuhan saya kira salah satu penyebab mengapa transformasi karakter tidak terjadi. Nah firman Tuhan yang telah kita aca tadi di Roma 12:2 menegaskan bahwa tanggung jawab berubah ada pada pundak kita bukan pada pundak Roh Kudus.
Sering kali kita beranggapan karena kita adalah Bait Allah, tubuh kita adalah tempat di mana Allah sekarang tinggal, maka Allahlah yang akan mengerjakan semua perubahan itu pada diri kita, tidak demikian. Justru firman Tuhan berkata berubahlah, jadi firman Tuhan meminta kita berubah. Jadi sekali lagi saya ingin tegaskan tanggung jawab mengubah diri terletak pada kita sendiri. Yang berikutnya yang berkaitan dengan ini juga adalah kita sering kali menganggap bahwa Tuhan akan mengirimkan kuasa-Nya dari luar diri kita yanG akan langsung memasuki kita, mengobrak-abrik sistem hidup kita, menciptakan sesuatu yang baru dalam diri kita, tidak demikian juga. Tuhan tidak mengirimkan sesuatu dari luar diri kita untuk langsung mendobrak dan menciptakan sesuatu yang baru. Tuhan akan menggunakan sesuatu yang berasal dari dalam diri kita sendiri yang nantinya akan menyebabkan perubahan karakter, dengan kata lain transformasi karakter bukanlah sesuatu yang didatangkan dari luar, melainkan sesuatu yang dihasilkan dari dalam. Nah firman Tuhan berkata: "Karena itu saudara-saudara demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah itu adalah ibadahmu yang sejati." Nah firman Tuhan meminta kita untuk menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan sebagai persembahan yang kudus dan yang hidup itu. Dengan kata lain prinsip ini yang akan terjadi Pak Gunawan yaitu transformasi karakter merupakan hasil penyerahan hidup. Makin berserah atau taat makin berubahlah karakter kita, jadi dengan kata lain kita berandil sangat besar dalam proses perubahan karakter kita ini, sangat besar sekali peranan kita yaitu peranan menyerahkan, menaati lagi, menaati lagi, menaati lagi. Nah ternyata firman Tuhan memang meminta kita begitu mempersembahkan, mempersembahkan, menyerahkan, menyerahkan. Dan ternyata waktu kita menyerahkan hidup, menaati Tuhan nah hasil dari penyerahan itu barulah perubahan karakter.
WL : Pak Paul, kalau ada orang yang akhirnya berhasil walaupun tidak sempurna melewati tahapan itu, bisa berhasil berubah apakah dia bisa berkata ini karena hasil kerja saya, hasil kerja keras saya, saya merubah semua yang ada dalam saya, saya melaksanakan tanggung jawab yang dituntut oleh Tuhan, nah apakah bisa seperti itu begitu. Terus porsinya Roh Kudus bagaimana kalau dikatakan secara kasar?
PG : OK, kadang-kadang memang kita ini terlempar ke satu kubu, satu ekstrim sehingga kehilangan keseimbangan. Nah di satu pihak memang Tuhan meminta kita berperan dalam proses perubahan karakte kita ini, kita diperbaharui menjadi seperti Kristus.
Nah kitanya berandil, jangan sampai kita mempunyai konsep Tuhanlah yang melakukan segalanya, jadi kalau saya masih belum berubah yang salah Tuhan, tidak, Tuhan meminta kitanya yang mengerjakan tugas itu. Namun kita harus menyadari bahwa kadang kala justru Tuhan itu secara tidak nyata bekerja dan memberikan kuasaNya kepada kita. Nah kita memang tidak melihatnya seperti halilintar yang turun atas kita, tapi sebetulnya di tengah-tengah pergumulan kita itu juga Tuhan bekerja. Nah tidak ada sesuatu yang terjadi di luar pekerjaan Tuhan, jadi waktu manusianya menaati Tuhan di situ juga Tuhan bekerja.
GS : Pak Paul, apakah ada penyebab yang lain selain karena kita salah mengartikan firman Tuhan, bagian tertentu dari firman Tuhan itu tentang perubahan atau transformasi karakter ini?
PG : Kadang kala ini Pak Gunawan, kenapa kita susah berubah selain dari kesalahpahaman tadi, saya kira karena karakter itu sesuatu yang melekat erat pada diri kita, karakter itu sesuatu yang meupakan bagian diri kita, siapa kita apa adanya.
Nah apakah mudah mengubah siapa diri kita apa adanya itu, saya kira memang sukar sekali. Jadi saya berikan contoh tentang misalkan tadi merokok, kenapa kok sukar melepaskan rokok memang adanya keterikatan, kecanduan pada rokok itu sendiri, namun di luar dari soal kecanduan secara fisik itu, kecanduan yang terbesar adalah kecanduan psikologisnya. Memang tubuh akhirnya menuntut adanya nikotin yang masuk, tapi sebetulnya yang paling berat adalah dalam kasus kecanduan adalah kecanduan secara psikologis. Waktu dia bingung mengerjakan sesuatu dia memerlukan rokok, waktu dia lagi rasanya tertekan, terhimpit dia memerlukan rokok, waktu dia tidak bisa berpikir dan konsentrasi dia memerlukan rokok, dengan kata lain rokok menjadi penopang hidupnya secara psikologis. Nah ini yang susah berubah sebab ini sudah menjadi bagian dari kepribadiannya, jadi kita mesti memang memaklumi bahwa transformasi karakter memerlukan waktu panjang dan usaha keras. Ini adalah siapa diri kita dan kita sudah begitu terkait dengan semuanya.
WL : Pak Paul, kalau seperti itu berarti respons gereja seharusnya menolong ya orang-orang seperti ini yang bergumul terus untuk hidup berkemenangan dan bukan mengucilkan. Tapi realitanya di dalam banyak gereja tidak seperti itu, justru yang lebih diterima, lebih maksudnya dalam pergaulan lebih "diagungkan" orang-orang yang tingkah laku agamanya bagus, itu bukan yang inside out kalau kita pinjam istilahnya Larry Crap atau siapa, bagaimana Pak Paul?
PG : Ya saya kira kecenderungannya kita di gereja memang memfokuskan pada penampilan, dan kita mau melihat yang bersih, yang indah-indah. Jadi sedikit sekali perhatian yang diberikan kepada faka yang sebetulnya menjadi isi dari penampilan itu dan isinya sebetulnya adalah dosa, pergumulan hidup ini.
Tugas kitalah sebagai hamba-hamba Tuhan berani mengangkat isi yang melatarbelakangi penampilan-penampilan yang bersih-bersih di luar itu, sehingga jemaat pun atau orang-orang Kristen lebih berani juga untuk apa adanya.
GS : Ya itu karena tadi Pak Paul katakan bahwa karakter itu memang menyatu dalam diri seseorang, menjadi bagian dalam hidupnya selama orang itu tidak menyadari bahwa itu adalah suatu karakter yang Tuhan tidak berkenan, dia akan tetap bertahan hidup di dalam karakter itu Pak Paul.
PG : Betul sekali, itu sebabnya kita selalu tetap berkata Roh Kudus berperan, kita tidak bisa melihatnya secara langsung tapi Roh Kudus berperan dalam perubahan karakter kita ini. Peranan seperi apakah yang Roh Kudus akan lakukan, yang tadi Pak Gunawan munculkan yaitu Roh Kudus memberitahukan kita apa yang benar, yang baik, yang Tuhan inginkan nah itulah yang perlu kita ketahui.
Sebab tepat sekali tadi Pak Gunawan sudah singgung, sebab adakalanya kita tidak tahu bahwa itu tidak boleh, dan itu tidak baik dan kita menganggapnya tidak apa-apa. Misalkan: o....tidak apa-apa berbohong asal tidak merugikan siapa-siapa, nah pertanyaannya nomor satu apakah tidak merugikan siapa-siapa, saya kira berbohong akan merugikan seseorang itu salah satu argumennya. Tapi yang kedua adalah bahwa memang Tuhan tidak menyetujui perilaku berbohong itu, nah Roh Kuduslah yang akan memberitahukan kita, melalui apa? Melalui firman Tuhan yang kita baca, di dalam perenungan kita akan firman Tuhanlah Roh Kudus akan mengajarkan kepada kita, ini yang Tuhan minta, ini yang merupakan stAndar Tuhan. Nah jadi peranan pertama Roh Kudus dalam perubahan karakter kita adalah memberitahukan stAndar Tuhan, apa yang Tuhan inginkan jadi kita tahu arahnya dalam perubahan karakter kita ini.
WL : Tapi Alkitab tidak memberikan semua penjelasan sampai detail Pak Paul, tidak boleh A, tidak boleh B, tidak boleh C begitu. Pak Paul, bisa atau tidak memberikan rambu-rambu untuk pendengar mengerti yang kira-kira tidak mendukakan Tuhan?
PG : Bisa kita langsung gunakan atribut Tuhan yang hakiki yaitu kekudusanNya dan kasihNya. Jadi apakah yang kita lakukan ini merupakan wujud dari kasih kepada sesama kita dan kepada Tuhan, sebak apapun yang kita lakukan tanpa kasih itu kita tahu sebetulnya Tuhan tidak berkenan, itu prinsip pertama.
Prinsip kedua adalah kekudusan Tuhan, kita selalu bisa mengecek apakah ini berdosa kalau Alkitab memang jelas katakan berdosa, sebaik apapun terdengar di telinga kita, kita tetap tidak lakukan jadi mungkin secara garis besar itu saja.
GS : Ya kalaupun Roh Kudus itu sudah memberitahukan kepada kita ini dosa, Tuhan tidak berkenan, tetapi kita itu sudah berusaha namun tetap gagal Pak Paul. Nah tetap jatuh bangun, jatuh bangun lama-lama bosa, timbul kejenuhan wah memang saya tidak bisa lepas dari satu ini, itu bagaimana Pak Paul?
PG : Sekali lagi saya ingin ingatkan bahwa memang jatuh bangun merupakan prosesnya, namun pada akhirnya kita akan lebih bisa mengatasinya. Bagaimanakah kita lebih bisa mengatasinya? Kita harus erjuang untuk menaati Tuhan, tidak selalu berhasil tapi kita harus berjuang menaati Tuhan.
Firman Tuhan di 2 Korintus 4:7 berkata: "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, (nah Paulus menggunakan metafora diri atau tubuh kita ini sebagai bejana tanah liat) supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari diri kami". Dengan kata lain kekuatan untuk hidup seperti yang Tuhan kehendaki berasal dari Tuhan sendiri. Nah tapi jangan salah sangka dan berkata waktu kita menjadi orang percaya kita mendapatkan transfer kekuatan itu langsung dari Tuhan, tidak. Harus ada kuncinya, dengan kata lain kita ini hendak memasuki rumah kita mesti ada kuncinya, kita ingin menjalankan mobil yang mempunyai kekuatan itu untuk berjalan perlu ada kuncinya, nah kuncinya adalah ketaatan. Kalau kita taat mobil itu berjalan, kekuatan itu bisa didayagunakan, kalau kita taat kekuatan Roh Kudus itu baru berfungsi, kalau kita tidak taat kekuatan dari Roh Kudus itu tidak berfungsi juga. Nah dua-duanya ini berjalan pada saat yang sama, waktu manusia berkata saya mau taat, di titik itu, di detik itu jugalah kekuatan dari Roh Kudus masuk dan menolong. Tapi waktu manusia berkata ah saya tidak mau, saya tidak bisa ah, di situ jugalah kekuatan dari Roh Kudus berhenti berfungsi. Jadi keduanya bekerja pada detik yang sama.
GS : Pak Paul, orang yang sudah lahir baru, orang yang sudah mulai mengalami transformasi karakter, apakah dia bisa menyadari bahwa sedang terjadi sesuatu dalam dirinya.
PG : Saya kira kalau dia terus berusaha mencari Tuhan, membaca firman Tuhan, dia makin menyadari problem-problem yang masih tersisa dalam hidupnya karena sekali lagi Roh Kudus akan memberitahuknnya, Roh Kudus akan berkata kepada kita: "O...o...kamu
tadi tidak jujur, o....o....kamu tadi tidak tulus, o........o.....kamu tidak mengatakan yang sebenarnya, Roh Kudus akan memberitahukan kepada kita, itu kerja Roh Kudus. Nah apa yang harus kita lakukan waktu Roh Kudus memberitahu kita, mengakuinya. Maka langkah pertama selalu waktu menghadapi hal-hal seperti ini kita harus mengakui ya saya salah, ya saya punya problem, ya memang saya kurang bisa mengasihi, ya memang saya masih dengki, masih suka iri dan sebagainya, kita mesti mengakui problem kita itu.
WL : Pak Paul, kalau kita sudah mengakui bahwa kita memang bermasalah tetapi ada masalah-masalah tertentu yang misalnya ada kaitannya dengan latar belakang keluarga kita. Misalnya ada moment tertentu di masa kecil yang menyebabkan kita agak sulit melepaskan sifat jelek ini. Nah Pak Paul kira-kira memberikan pedoman bagaimana?
PG : Kalau kita sudah bisa mengakui saja bahwa saya mempunyai masalah ini, yang kedua memang kita harus merendahkan hati untuk meminta pertolongan. Nah seberat apapun problem kita terkait denga masa lalu kita atau apa kita mesti memberanikan diri meminta pertolongan baik itu dari Tuhan maupun dari sesama.
Saya sering kali melihat, yang menghalangi kita mendapatkan kesembuhan salah satunya adalah kita angkuh, kita gengsi, kita malu cerita, kita malu membuka diri karena misalkan masalah ini terkait dengan keluarga kita dulu. Jadi prinsipnya adalah bersedialah meminta bantuan, jangan sampai kita mengeraskan hati berkata saya bisa lakukan ini semuanya, tidak. Minta Tuhan menolong kita dan terbuka dengan cara Tuhan menolong kita. Yang sering kali Tuhan lakukan memakai orang-orang lain menolong kita pula.
GS : Langkah berikutnya apalagi Pak Paul?
PG : Prinsip yang terakhir ini Pak Gunawan, tadi saya sudah singgung sedikit yaitu menaati kehendak Tuhan sedikit demi sedikit dan sehari lepas sehari. Yaitu kalau kita belum bisa mengampuni pebuatan misalnya seseorang yang sangat keterlaluan, ok hari ini minta Tuhan menolong kita mengampuni perbuatannya yang lain yang menyakiti kita, tapi kadarnya lebih ringan.
Jadi selalu maju meskipun langkah kita sedikit, kecil, tidak apa-apa. Kadang kala kita duduk terdiam tidak bisa maju karena memikirkan langkah besar yang harus kita ambil dan kita merasa tidak mampu, jangan. Lakukan sedikit demi sedikit, tidak bisa mengampuni perbuatan yang sangat buruk kepada kita, mulailah mengampuni hal-hal yang buruk, yang tidak terlalu besar yang pernah menimpa kita itu. Jadi prinsipnya lakukan meskipun hanya sedikit. Kita belum bisa memberikan misalkan persembahan satu juta, Tuhan tidak minta kita memberikan persembahan 1 juta, mulai dengan seribu perak, mulai dengan seperti itu. Jadi menaati Tuhan sedikit demi sedikit dan hari lepas hari, artinya hari ini kita taati, sudah, jangan pikirkan besok bisa atau tidak ya, saya harus konsekuen besok-besok juga harus begini, tidak, hitung saja hari ini cukup.
GS : Yang penting itu ada langkah awal yang harus dilakukan.
PG : Betul sekali Pak Gunawan.
GS : Jadi saya rasa menarik sekali perbincangan kita kali ini Pak Paul, dan terima kasih untuk kesempatan yang diberikan kepada kita juga Ibu Wulan terima kasih. Para pendengar sekalian yang telah setia mengikuti acara ini kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Transformasi Karakter". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang . Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id , saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Firman Tuhan mengatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17 ) Pertanyaannya ialah, mengapakah "ciptaan yang lama" masih ada pada diri kita? Dengan kata lain, mengapakah sukar buat kita berubah?
Ada dua penyebab mengapa kita tidak mudah berubah meski telah menjadi orang percaya.
Penyebab I: Kesalahpahaman pengertian akan firman Tuhan. Kita menganggap perubahan itu sepenuhnya merupakan tanggung jawab Roh Kudus. Kitalah yang bertanggung jawab untuk mengubah diri kita, bukan Roh Kudus. Firman Tuhan berkata, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2 )
Transformasi karakter bukanlah sesuatu yang didatangkan dari luar melainkan sesuatu yang dihasilkan dari dalam. Firman Tuhan berkata, " Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1 ) Transformasi karakter merupakan hasil penyerahan hidup: makin berserah atau taat, makin berubahlah karakter kita.
Penyebab II: Karakter sukar berubah sebab terkait erat dengan diri kita. Sebagian besar problem kejiwaan bersumber dari karakter manusia. Misalnya, ketergantungan pada narkoba dan gangguan relasi berhubungan dengan karakter. Itu sebabnya masalah-masalah ini tidak mudah hilang.
Kalau begitu, apakah dan seberapa besarnyakah peran Roh Kudus dalam pembentukan karakter kita?
Pertama, Roh Kudus menunjukkan kepada kita kehendak Allah: apa yang baik dan sempurna, apa yang berkenan kepada Allah. (Roma 12:2 )
Kedua, Roh Kudus menyediakan kekuatan kepada kita yang menaati-Nya. Firman Tuhan berkata, "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." (2 Korintus 4:7 )
Langkah Awal Menuju Pemulihan
Mengakui bahwa kita bermasalah.
Menerima pertolongan baik dari Tuhan maupun sesama.
Menaati kehendak Tuhan sedikit demi sedikit dan sehari lepas sehari.