Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereMengapa Istri Dominan?

Mengapa Istri Dominan?


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T309A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Kendati kecil, pernikahan adalah sebuah organisasi. Di dalam organisasi sekurangnya mesti ada dua unsur : struktur dan tugas. Tanpa struktur dan tugas, niscaya organisasi mengalami kekacauan. Di dalam struktur pernikahan Tuhan menetapkan laki-laki atau suami sebagai kepala dan bertugas memimpin istri dan anak-anaknya. Namun di zaman sekarang ini banyak istri yang lebih dominan dibandingkan suaminya, apakah itu Anda ? Dan bagaimana sikap kita, jika kita memang memiliki sifat dominan tersebut ?
MP3: 
3.61 MB
Ringkasan
Isi: 

Kendati kecil, pernikahan adalah sebuah organisasi. Di dalam organisasi sekurangnya mesti ada dua unsur: struktur dan tugas. Tanpa struktur dan tugas, niscaya organisasi mengalami kekacauan. Struktur menjabarkan posisi sedangkan tugas menjabarkan peranan atau kewajiban.

Nah, di dalam struktur pernikahan Tuhan menetapkan laki-laki atau suami sebagai kepala dan bertugas memimpin istri dan anak-anaknya. Persoalannya adalah, konsep struktur sebagaimana diajarkan Alkitab kadang sulit diterapkan. Berikut akan dipaparkan penyebab mengapa demikian :

  1. Tuhan menetapkan posisi DAN tugas. Jadi, posisi sebagai kepala mesti disertai dengan tugas dan tugas yang diberikan Tuhan kepada suami adalah mengasihi istri. Dengan kata lain, suami memimpin istri di dalam dan dengan kasih, bukan di dalam kuasa dan dengan paksa. Masalah timbul ketika suami tidak melakukan tugas mengasihi dan lalai bertanggung jawab memberi pimpinan.
  2. Sama seperti pria, wanita adalah manusia berdosa dan sebagai manusia berdosa, kita cenderung memberontak. Dengan kata lain, di dalam setiap manusia pasti ada keinginan untuk memberontak sebab pemberontakan merupakan sebuah pesan bahwa kita tidak ingin mengalah.
  3. Secara sosial dan budaya, dewasa ini kebanyakan kita dikondisikan untuk kritis dan untuk tidak begitu saja menerima apa yang dikatakan orang. Itu sebabnya sekarang tidaklah mudah bagi perempuan untuk menerima posisi "ikut suami." Sama seperti laki-laki, perempuan pun ingin mengetahui alasan mengapa ia mesti tunduk kepada suami. Tanpa alasan yang baik, istri akan mengalami kesulitan tunduk kepada suami.
  4. Tidak selalu suami memiliki hikmat yang melebihi istri. Kadang, karena istri lebih berhikmat, ia mengalami kesulitan untuk mendengarkan suaminya, apalagi bila suami menolak untuk menerima masukan dari istri.
  5. Adakalanya istri mengukur otoritas berdasarkan uang yang dihasilkan. Tidak bisa disangkal, di dunia di mana kita semua tinggal, uang identik dengan kuasa dan otoritas. Tidak heran sedikit banyak nilai hidup ini memengaruhi kita pula sehingga kadang istri tidak begitu menghargai suami yang tidak menghasilkan uang sesuai keinginannya.
  6. Di dalam zaman ini konsep kuasa tunggal makin sulit diterima sebab yang dianggap lebih baik adalah berbagi kuasa. Mulai dari sistem kenegaraan sampai perusahaan, konsep saling mengawasi dan saling memertanggungjawabkan dianggap kunci organisasi yang sehat. Itu sebabnya makin banyak istri yang mengharapkan suami untuk berbagi kuasa. Dengan kata lain semua mesti disepakati bersama.
  7. Perempuan tidak lagi harus bergantung pada suami secara finansial, seperti dahulu kala. Kemandirian finansial adakalanya menambah sulit istri untuk mengikuti suami. Di masa lalu, kalaupun tidak setuju, pada akhirnya istri terpaksa mengikuti kehendak suami karena tanpa dukungan suami, ia susah untuk memutar roda kehidupan. Sekarang tidaklah demikian.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, menerapkan Firman Tuhan untuk tunduk kepada suami menjadi tantangan tersendiri. Tidak jarang, akhirnya ada istri yang mengambil alih biduk keluarga dan malah mengendalikan suami. Biasanya tatkala hal ini terjadi orang cenderung menilai bahwa istri adalah seorang yang dominan, padahal penyebabnya acap kali tidaklah sesederhana itu. Sungguhpun demikian kita tetap harus mengikuti pola atau aturan yang ditetapkan Tuhan, sebagaimana dicatat di Efesus 5:22-23, "Hai istri tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat." Dengan kata lain, kita memasuki dengan kesiapan untuk tunduk.