Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereMenangis Bersama Anak

Menangis Bersama Anak


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T163B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Sama seperti orang dewasa, anak pun dapat bersedih hati namun alasannya mungkin berbeda. Anak bisa merasa sedih karena kehilangan, kekecewaan, penolakan, disakiti atau karena orangtua tidak rukun. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk mendampingi anak yang sedang bersedih hati.

MP3: 
3.53 MB
Ringkasan
Isi: 

Sama seperti kita, anak pun dapat bersedih hati namun anak bersedih hati untuk alasan yang mungkin saja berbeda dengan kita. Orangtua perlu peka membaca kesedihan anak dan mendampinginya dalam masa kesedihan itu. Interaksi yang penuh empati ini akan menjadi penghiburan bagi anak dan kekuatan baginya melalui kesedihan yang akan dialaminya kelak.

Berikut ini saya akan menjabarkan penyebab kesedihan anak dan membagikan beberapa petunjuk bagi orangtua untuk mendampingi anak melewati kesedihannya.

  1. Anak sedih karena kehilangan, misalkan kehilangan teman dekatnya, mainan kesayangannya, perawatnya, kakek dan neneknya.

  2. Anak sedih karena kekecewaan, misalnya teman yang diharapkannya hadir ternyata tidak datang, permintaannya tidak dapat kita turuti, harapannya untuk mendapatkan nilai yang baik tidak terpenuhi, rencananya untuk pergi dibatalkan.

  3. Anak sedih karena penolakan, misalnya tidak diundang ke pesta ulang tahun temannya, tidak diajak bermain sandiwara atau ikut dalam pertandingan olahraga, tidak dimintai tolong.

  4. Anak sedih karena disakiti, misalnya perkataan orangtua yang menghinanya, permusuhan dengan teman, atau kritikan guru yang menjatuhkan martabatnya.

  5. Anak sedih karena orangtua tidak rukun atau bahkan saling bermusuhan. Ini adalah sumber kesedihan yang dalam dan acap kali tak terungkapkan.

Tindakan Orangtua untuk Mendampinginya:

  1. Perlihatkanlah kesedihan kita melalui mimik wajah atau bahasa tubuh kita.

  2. Bertanyalah seperlunya, jangan menginterogasinya.

  3. Berilah penghiburan, bukan pengguruan.

  4. Jangan sepelekan perasaannya dengan mengatakan bahwa itu adalah hal yang biasa.

  5. Bagikan pengalaman kita yang serupa agar anak tahu bahwa kita sungguh memahaminya dan ia pun akan dapat belajar dari pengalaman kita.

  6. Ajak anak untuk berdoa dan mendoakan apa pun atau siapa pun itu yang terlibat.

Firman Tuhan: "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku" (Filipi 4:13-14)