Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereMembantu Anak yang Takut Sekolah

Membantu Anak yang Takut Sekolah


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T075A
Nara Sumber: 
Esther Tjahja, S.Psi.
Abstrak: 

Takut sekolah bukan hanya terjadi pada anak-anak yang baru pertama kali sekolah, tetapi ada anak-anak yang mungkin sudah satu minggu, dua minggu atau bahkan beberapa bulan tiba-tiba takut sekolah. Dan dalam hal ini orangtua sangat perlu memperhatikan kira-kira apa yang menjadi dasar penyebabnya.

MP3: 
3.47 MB
Ringkasan
Isi: 

Takut sekolah terjadi bukan hanya pada anak-anak yang baru pertama kali sekolah, tetapi ada anak-anak yang mungkin seminggu, dua minggu atau bahkan beberapa bulan pertama sekolah tiba-tiba menjadi takut sekolah.

Ciri-ciri anak yang takut sekolah ini sbb:

  1. Ciri-ciri secara fisik, kadang-kadang anak mau berangkat sekolah baru bangun, pagi-pagi sudah dibangunkan oleh orang tua, sudah mulai mengeluh baik sakit perut, pusing, rasanya ingin ke belakang. Kadang sudah sampai di sekolah begitu masuk pagar ada yang bilang mau muntah, sakit perut dsb.

  2. Ciri yang lain menangis, nggak mau pisah dengan orang tuanya. Untuk yang ikut antar jemput mungkin untuk naik ke mobil jemputan juga sudah mulai ketakutan dan menangis.

  3. Bisa juga yang tadinya tidak ngompol jadi ngompol

  4. Nilainya juga mulai merosot.

Anak merasa takut sekolah biasanya disebabkan oleh:

  1. Bagi anak-anak yang pertama kali sekolah misal masuk play group atau TK rasanya memang pengalaman berpisah cukup lama dengan orangtua, ini menjadi hal yang tidak enak buat anak-anak.

  2. Masuk dalam sebuah lingkungan baru yang belum diketahui sama sekali, teman-temannya baru, guru-gurunya baru, ruangannya baru. Jadi itu menimbulkan kecemasan atau hilangnya rasa aman pada anak-anak.

  3. Bagi yang sudah sekolah mungkin pengalaman menghadapi guru yang galak, dimarahi atau ditegur guru.

  4. Memiliki teman yang agresif, begitu dia di sekolah dipukuli atau diancam dengan hal-hal tertentu.

  5. Anak-anak yang takut dengan pelajaran tertentu misalnya matematika, atau terhadap guru tertentu guru olah raga.

  6. Anak takut ke sekolah karena anak takut meninggalkan rumah. Ada anak yang tahu bahwa di rumah itu orangtua sering bertengkar, ada anak yang mengkhawatirkan misalnya ayahnya akan memukuli ibunya. Sehingga waktu dia ke sekolah dia merasa cemas, dia merasa tidak tenang, selanjutnya dia menjadi enggan ke sekolah sebab dia merasa dia bertugas untuk ada di rumah.

Hal-hal di atas bisa menjadi pemicu dari ketakutan anak-anak.

Apa yang bisa dilakukan orangtua untuk menolong anak yang takut ke sekolah tersebut:

  1. Mencari penyebabnya. Sebagai orang tua kita sangat perlu terlibat untuk kita lebih bisa mengenal apa itu yang menjadi penyebab perilaku anaknya. Jadi kedekatan itu penting sekali, kalau anak tidak merasa dekat dengan orang tua, dia mungkin juga enggan untuk bilang terus-terang apa itu yang membuat dia tidak mau ke sekolah. Jadi sekali lagi keterbukaan dan hubungan yang erat antara orang tua anak memang sesuatu yang mutlak, bukan suatu pilihan yang boleh ada atau boleh tidak ada.

  2. Anak tetap dianjurkan untuk ke sekolah, jangan sampai orangtua membiarkan atau mengizinkan anak untuk tidak berangkat ke sekolah kecuali memang keluhan fisik yang dialami demikian berat misalnya buang air terus, muntah-muntah dsb. Namun pendampingan amat sangat tetap diperlukan oleh anak.

  3. Kita mau mengakui bahwa ketakutan itu adalah reaksi yang wajar, tidak ada yang harus malu dengan rasa takut ini dan ketakutan terhadap penyebab itu adalah hal yang wajar pula.

  4. Secara rohani, mungkin orang tua bisa mengajak anak untuk berdoa bersama atau membaca satu atau dua ayat Alkitab sebelum berangkat ke sekolah, ini akan menolong si anak.

Galatia 6:1, "Saudara-saudara kalaupun seseorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut." Orang tua perlu memimpin anak kembali ke jalan yang benar, tidak hidup dalam ketakutan tapi lakukanlah dalam roh lemah lembut, jangan malah memarah-marahi anak.