Perceraian/Perselingkuhan
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Perselingkuhan pada hakekatnya merupakan perzinahan, yaitu suatu tindakan yang dilarang oleh Tuhan, dan sekaligus perbuatan yang tidak mendatangkan berkat dan damai sejahtera.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami coba berbincang-bincang tentang sebuah topik yang menghangat akhir-akhir ini yaitu tentang perselingkuhan, kami percaya acara ini akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1) GS : Pak Paul, ini memang sudah menggejala di masyarakat kita, yaitu tentang perselingkuhan. Sebenarnya sampai sejauh mana, seorang pria dan seorang wanita disebut berselingkuh?
PG : Berselingkuh itu memang mempunyai beberapa lapisan atau kategori, yang pertama dan biasanya awal dari perselingkuhan adalah emosional, yakni suatu ketertarikan di mana seseorang itu begitumemikirkan orang lain melebihi pasangannya sendiri dan orang lain itu menjadi penyedia kebutuhan emosionalnya.
Jadi dalam pernikahan yang seperti ini, misalkan si pria tersebut tidak lagi mendapatkan kepenuhan kebutuhannya dari si istri, dia mendapatkan semua itu dari wanita lain.
GS : Itu sepihak atau dua-duanya baru bisa kita katakan berselingkuh?
PG : Biasanya yang kita sebut berselingkuh adalah dua-duanya, jadi di waktu ada hubungan timbal balik antara seorang pria dan wanita di luar konteks pernikahan.
GS : Jadi di sana ada keterlibatan emosional antara keduanya?
PG : Betul, jadi ada ketertarikan, dan yang biasa terjadi, mereka merasa bahwa mereka dapat menyediakan kebutuhan masing-masing.
(2) GS : Apakah betul ada beberapa orang atau tipe keluarga yang mempunyai kecenderungan untuk berselingkuh?
PG : Ada, sebelum menjawab akan saya lanjutkan sedikit tentang pertanyaan Pak Gunawan tadi. Pertama perselingkuhan emosional yaitu lapisan yang awal. Lapisan yang lebih dalam biasanya perselinguhan yang melibatkan keduanya, yaitu emosional dan juga fisik.
Di mana sudah ada hubungan suami istri antara dia dengan orang lain. Tapi memang bisa juga perselingkuhan itu dimulai dan diakhiri juga dengan hubungan fisik belaka. Jadi tidak ada ketertarikan emosional, perselingkuhan ini termasuk dalam kategori iseng-iseng. Tadi Pak Gunawan bertanya sebetulnya keluarga seperti apa yang rawan terhadap perselingkuhan. Ada beberapa macam Pak Gunawan, berkaitan dengan yang tadi sudah saya singgung ada orang yang iseng-iseng. Salah satu tipe keluarga yang rawan itu, jikalau si suami atau si istri itu memang seseorang yang membutuhkan kontak seksual yang lebih variatif, tidak mendapatkan kepuasan hanya dari satu orang. Biasanya yang rawan, orang yang sebelum menikah terlibat dalam kehidupan seksual yang bebas, sehingga dia mempunyai pengalaman yang cukup beragam dengan wanita-wanita lain misalnya, atau dengan pria-pria lain kalau dia wanita. Tatkala menikah dan diwajibkan hanya boleh berhubungan dengan seorang wanita saja, dia merasakan suatu kebosanan. Akhirnya tergodalah keinginan untuk melakukan dengan orang lain. Itu memang salah satu tipe yang cukup umum, dalam kategori ini si pelaku itu memang kemungkinan besar tidak ada ketertarikan emosional, jadi hubungan selingkuhnya adalah untuk memenuhi keinginan seksualnya saja.
IR : Jadi berselingkuh itu pasti berakhir dengan hubungan seks, ya Pak?
PG : Tidak harus, biasanya berakhir dengan seksual. Tetapi ada juga perselingkuhan yang memang tidak diiringi dengan hubungan seksual, tetapi ketertarikan emosional yang sangat kuat antara kedu belah pihak.
GS : Mungkin kalau pria itu lebih banyak sasarannya ke hubungan seksual, Pak Paul?
PG : Ya, kalau wanita lebih banyak dimotivasi oleh kebutuhan emosionalnya.
GS : Memang tadi Pak Paul, sudah disebutkan tipe keluarga atau orang yang mudah tergoda atau jatuh ke perselingkuhan. Tetapi masalahnya, lingkungan itu juga kadang-kadang mendorong seseorang untuk berselingkuh baik di pekerjaan maupun di pergaulan, apa memang seperti itu?
PG : Betul, jadi itu bisa kita masukkan dalam kategori yang kedua, Pak Gunawan. Pasangan yang rawan terhadap perselingkuhan adalah pasangan atau seseorang yang hidup dalam lingkungan, yang menoeransi perbuatan selingkuh.
Itu harus menjadi tanda bagi setiap pasangan Kristen, karena ada lingkungan-lingkungan tertentu yang menyuburkan perilaku selingkuh, maksud saya adalah selingkuh dilihat sebagai sesuatu yang bersifat menyenangkan, menggairahkan, bersifat advonturir yaitu berpetualang. Jadi tingkah laku seperti itu dianggap sebagai sesuatu yang bukan saja normal tapi harus dilakukan. Contohnya adalah bagi kalangan tertentu, selingkuh adalah suatu tanda kejantanan, kemerdekaan seorang pria. Dalam konteks seperti itulah seseorang yang tidak pernah berselingkuh bisa terseret dan melakukannya.
GS : Tapi sebenarnya seseorang itu sebelum jauh terlibat dalam hubungan emosionalnya, dia bisa sadar sedang menuju ke perselingkuhan?
PG : Seringkali disadari, tapi yang sering ditemui adalah kebanyakan kesadaran itu tidak cukup kuat untuk menghentikan perilakunya. Jadi betul kata Pak Gunawan, mereka itu menyadari tidak benarnamun ketertarikan itu sangat kuat, begitu kuatnya sehingga tidak berdaya.
Saya bisa melanjutkan dalam kategori yang ketiga, yang rawan terhadap perselingkuhan adalah orang yang memiliki suatu perubahan dalam kehidupannya. Misalkan pada waktu mereka berpacaran si suami atau istri ini mereka sama-sama dalam kategori memulai karier, setelah 10 tahun kemudian si suami misalnya mendapatkan posisi yang baik dalam pekerjaannya. Lingkup pergaulannya berubah, teman-teman tidak lagi sama, cara berpikir juga berubah. Si istri tetap dalam status yang sama yaitu menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak- anak di rumah, 10 tahun sebelumnya dan sesudahnya tidak membawa perubahan. Jadi si istri lingkup kehidupannya seperti itu, sedangkan sang suami 10 tahun kemudian telah mengalami perubahan yang drastis, yang terjadi adalah kebutuhan si suami dulu dan sekarang, juga berbeda. Dulu dia senang orang yang keibuan, 10 tahun kemudian dia menyenangi orang yang ya boleh keibuan tapi yang paling penting adalah bisa menjadi rekan, tempat bertukar pikiran, bisa mengerti juga kebutuhan stress dia dalam pekerjaan. Dan si istri karena lingkupnya yang berbeda tidak bisa memahami seperti teman sekerjanya misalnya. Tipe ini merupakan tipe yang rawan terhadap perselingkuhan, yaitu perubahan yang terlalu drastis dalam diri seseorang yang akhirnya kebutuhannya menjadi begitu berubah, sehingga tidak bisa dipenuhi oleh pasangannya dan dia akan mencari orang lain. Dan waktu dia menemukan orang lain, dia mendapatkan orang ini sangat cocok dengan dia. Yang terjadi memang betul, orang ini cocok dengan dia pada tahap sekarang ini. Secara mental, kematangan berpikir, kemampuan mengerti kebutuhannya memang lebih dapat disediakan oleh pasangan yang baru ini karena selingkup dengan pekerjaannya dan dunianya sama.
(3) GS : Kalau begitu apa memang ada faktor usia atau usia-usia tertentu di mana seorang pria atau wanita rentan terhadap perselingkuhan itu?
PG : Dahulu kala ya Pak Gunawan, orang cenderung berpikir bahwa yang mudah jatuh ke dalam perselingkuhan adalah para pria setengah baya, itu yang disebut puber kedua dsb. Tapi saya menemukan zaan ini tidak lagi begitu, Pak Gunawan.
Jadi saya menemukan ada orang berselingkuh setelah setahun menikah, setelah dua tahun menikah, setelah 20 tahun menikah, ya semua itu ada.
GS : Faktor usia begitu Pak Paul, ya tetap faktor kebutuhan yang tadi Pak Paul katakan, perubahan yang begitu drastis di dalam diri seseorang dan dia membutuhkan itu. Tetapi Pak Paul, ada juga orang yang berselingkuh itu dengan partnernya yang intelegensinya jauh lebih rendah katakanlah misalnya dengan pembantu rumah tangga atau teman lain yang kalau dilihat baik secara ekonomi maupun pendidikan itu jauh lebih rendah, bisa begitu, Pak Paul?
PG : Bisa sekali, memang ada dua faktor. Faktor pertama adalah karena kebutuhan fisik, jadi ketertarikan fisik pada orang lain itu, jadi tidak lagi mengenal perbedaan status ekonomi dan tingkatpendidikan.
Tapi yang cukup umum adalah ini, adakalanya seseorang mengalami suatu kerutinan hidup dan adakalanya dia ingin bebas lepas dari kerutinan yang seolah-olah mengikatnya. Contoh misalkan : seorang suami hidup dengan istri yang sopan, yang berasal dari keluarga baik-baik, segala sesuatu menuruti norma yang berlaku. Pada usia tertentu dia menginginkan suatu eksperimen, variasi dalam kehidupannya. Dia tidak lagi mau terlalu rutin dalam hidup, seolah-olah dia harus berlaku seperti seorang aktor atau aktris di atas mimbar, dia ingin menjadi seorang biasa yang tidak harus menunjukkan siapa dirinya, dan tidak lagi diikat oleh norma-norma yang begitu ketat. Misalkan dia harus sopan santun kepada pihak istri dan keluarganya dsb. Orang yang seperti ini juga rentan terhadap perselingkuhan sebab sewaktu-waktu dalam hidupnya dia ingin bebas lepas dari kungkungan ikatan norma yang mengikat. Akhirnya ia berselingkuh dengan seseorang yang berkebalikan dengan si istri yang sama sekali tidak menuntut dia, yang sama sekali tidak meminta dia menjadi seseorang yang lain. Dengan kata lain, menjadi dirinya sendiri sekarang jauh sudah cukup bagi si wanita itu. Dia tidak usah menjadi siapa-siapa lagi, kalau dengan si istri dia harus pasang taktik, pasang kuda-kuda, harus menjadi seseorang supaya jangan sampai dikalahkan oleh si istri dan sebagainya. Dengan si pembantu rumah tangga misalnya dia tidak perlu melakukan itu semua, dia adalah orang yang dihormati, dikagumi, dan akan dituruti kemauannya, dengan si istri dia harus berdebat-debat untuk bisa mencapai keinginannya. Sedangkan dengan si pembantu rumah tangga tidak usah, semua yang dikatakan diamini, diikuti oleh pasangannya yang baru itu, akhirnya ia terjerumus ke dalam hubungan di luar nikah.
(4) IR : Pak Paul tanda-tanda awal dari perselingkuhan itu bagaimana, atau yang saya dengar kalau seseorang itu mulai senang misalnya cocok berbicara dengan teman sekerja apakah itu sudah mulai masuk perselingkuhan, ya?
PG : Tepat sekali Ibu Ida. Saya pernah membaca suatu artikel yang mengungkapkan bahwa kebanyakan perselingkuhan emosional, bukannya secara fisik saja. Kebanyakan yang terjadi adalah dimulai dar persahabatan, teman bicara.
Jadi kebanyakan dimulai dari persahabatan, kita merasa cocok bicara dengan orang ini, bisa mengerti kita, di dalam rumah pasangan kita tidak bisa mengerti kita. Akhirnya menjadi magnet yang menarik kita kepada dia. Jadi itu adalah lampu merah sekali.
(5) GS : Kalau kita di pihak yang pasif Pak Paul, artinya ada orang yang mencoba untuk berselingkuh, langkah-langkah apa yang harus kita lakukan?
PG : Saya kira kita harus dengan jelas mengatakan ini tidak akan saya ladeni. Jadi undangan untuk berdua, undangan untuk pergi, undangan untuk menghabiskan waktu bersama, itu langsung harus ditlak.
Salah satu ciri yang lainnya, Pak Gunawan atau kategori yang lain dari keluarga yang rentan terhadap perselingkuhan adalah ada orang-orang tertentu yang merasa sungkan, tapi sungkan salah kaprah. Sungkan dalam pengertian dia didekati oleh seseorang, orang itu baik, memperhatikan dia, menanyakan tentang dirinya, kebutuhannya. Akhirnya waktu diajak pergi, dia tidak lagi menolak, tidak tega melukai hati orang itu. Karena sungkan yang salah kaprah itu akhirnya terjerumus. Jadi ada beberapa kasus yang memang sebetulnya tidak ada tujuan atau keinginan berselingkuh. Motivasi yang pertama adalah menyenangkan hati orang yang begitu baik kepada dia, tapi akhirnya terjadilah perselingkuhan itu.
GS : Tapi kadang-kadang orang itu berada pada posisi yang memang sulit Pak Paul, misalnya saja dia pada posisi bawahan yaitu sekretaris dengan majikannya, atau jemaat dengan pendetanya itu, bisa terjadi seperti itu. Jadi bukan bagaimana ya, memang dia merasa sungkan untuk mengatakan tidak, karena kalah posisi, Pak Paul.
PG : Betul itu yang tadi Pak Gunawan katakan sering terjadi, perselingkuhan yang diprakarsai oleh orang yang lebih berwibawa dan lebih berpengaruh darinya, sehingga reaksinya adalah sungkan untk menolak.
Adakalanya sungkan dalam pengertian tidak mau mempermalukan orang tersebut, jadi di satu pihak tidak mau melukai atau hutang budi karena jasanya yang besar kepada kita atau karena dia berkedudukan lebih tinggi dari kita. Namun adakalanya sungkan dalam pengertian tidak mau mempermalukan orang, dia sudah minta masa kita permalukan dengan mengatakan jangan. Akhirnya dia mengikuti daripada dia malu, ini saya sebut kesungkanan yang salah kaprah.
IR : Bagaimana kalau ini terjadi pada seorang hamba Tuhan misalnya dengan jemaat, tanggung jawabnya kepada Tuhan itu bagaimana ya, Pak Paul?
PG : Itu besar sekali tanggung jawabnya karena waktu dia jatuh ke dalam dosa, dia itu mempengaruhi seluruh tubuh Kristus dalam gerejanya. Jadi seorang hamba Tuhan kalau jatuh berdampak jauh lebh besar dibandingkan dengan seorang awam.
Sebab seorang awam tidak memikul tanggung jawab akan jemaatnya sedangkan seorang hamba Tuhan memikul tanggung jawab akan jemaatnya. Kejatuhannya itu akan melukai, mengecewakan para jemaatnya. Saya masih ingat suatu kali saya berkunjung ke rumah seorang nenek dan pada saat itu baru saja ribut-ribut soal kejatuhan hamba Tuhan yang bernama Jimmy Swegart di Amerika Serikat. Saya ingat sekali nenek tua itu begitu marah dan bercerita kepada saya tentang Jimmy Swegart lalu berkata : "Mulai sekarang saya tidak akan mendukung pelayanannya lagi, saya dulu biasa menyumbangkan uang saya untuk pelayanannya, sekarang tidak akan lagi. Saya benar-benar kecewa dengan dia."
IR : Dan mungkinkah Pak Paul kalau orang sudah terikat, sudah berselingkuh mereka mengatakan bahwa mereka itu sulit melepaskan sekalipun dia itu aktif dalam pelayanan, dia merasa kenapa tidak ada kuasa Tuhan yang bisa melepaskan dia. Itu memang dari dirinya sendiri atau memang dia berharap kepada Tuhan?
PG : Biasanya pada waktu kita jatuh ke dalam dosa misalnya berselingkuh, kita memang sudah mulai jauh dari Tuhan. Tadi Pak Gunawan sudah menyinggung bahwa bukankah seharusnya ada tanda-tanda, aa suatu proses perkembangan menuju ke arah itu.
Dan sebetulnya, yang saya maksud di sini adalah perselingkuhan dengan unsur emosional yang biasanya memang ada prosesnya, itu tidak terjadi begitu saja. Ada yang namanya persahabatan, teman yang mengerti saya. Dari situlah akhirnya berkembang ke arah ketertarikan emosional dan akhirnya ke perselingkuhan. Pada saat proses itu berlangsung suara Tuhan akan dikesampingkan. Jadi Tuhan membisikkan, Tuhan mengingatkan dan saya yakin Tuhan mengetuk hati nuraninya untuk menghentikannya. Tapi dia harus melakukan sesuatu dengan suara Tuhan itu. Dan biasanya yang ia lakukan adalah menekan suara Tuhan. Melupakan atau yang cukup umum adalah berdalih merasionalisasi. Dalih yang biasa/umum dilakukan adalah "siapa yang sempurna di dunia ini, semua juga berdosa" atau dalih yang kedua adalah pasanganku tidak memenuhi kebutuhanku, pasanganku tidak tepat buatku, misalnya seperti itu. Atau yang ketiga kita akhirnya berdalih, kita berkata, saya salah memilih pasangan, ini tidak tepat buat saya. Jadi akhirnya suara Tuhan kita redam.
GS : Dan itu pada hakekatnya menyalahkan Tuhan karena memberikan pasangan yang tidak cocok dengan dia.
PG : Secara tidak langsung begitu.
GS : Dan kita juga menyaksikan di Kitab Suci sendiri, Daud berselingkuh dengan Batsyeba tapi pada akhirnya dia juga menyadari akan kejatuhannya, Pak Paul.
PG : Betul, dan satu faktor yang harus juga kita lihat adalah betapapun Daud dekat dengan Tuhan, pada waktu dia jatuh ke dalam dosa perselingkuhan dia juga meredam suara Tuhan. Kita tahu Natan,Nabi Natan datang kepada Daud bukan sehari atau dua hari setelah kejatuhannya Daud.
Natan datang kepada Daud, saya hitung-hitung lebih kurang setahun paling minimal, setahun setelah peristiwa itu, tapi pertanyaannya adalah kenapa sampai begitu lamanya Daud baru sadar. Apa yang dilakukan Daud dengan suara Tuhan? Daud meredamnya, bahkan pada waktu Natan datang dan menceritakan suatu perumpamaan tentang orang yang mengambil domba milik orang lain yang lebih miskin darinya, Daud tidak merasakan itu sebagai teguran terhadap dirinya.
GS : Mungkin itu sudah terlalu lama, Pak Paul?
PG : Dan suara Tuhan sudah terkubur.
IR : Jadi kalau sudah terikat memang sulit ya, Pak Paul?
PG : Sangat sulit karena suara Tuhan tidak ada lagi tenaganya. Dia hanya tahu yang benar yang mana, tapi hanya sekadar pengetahuan, tidak ada lagi kekuatan suara Tuhan dalam hidupnya karena sudh begitu lama dia padamkan.
(5) GS : Mengingat begitu seriusnya akibat dari suatu perselingkuhan, apa yang bisa Pak Paul sampaikan supaya kita ini lebih baik mencegah daripada nanti harus mengobati?
PG : Saya akan mengakhiri dengan suatu cerita yang sungguh-sungguh terjadi. Dan cerita ini dikisahkan olah Pendeta Charles Swindoll yang berasal dari Amerika Serikat. Ini dikisahkan tentang pri eksekutif yang mempunyai seorang sekretaris dan sekretaris ini rupanya menyukai pria tersebut, pria ini sebetulnya tertarik dengan wanita ini.
Mulailah langkah-langkah diambil oleh si wanita itu, yaitu kalau pulang dia sengaja pulang lambat sama dengan si pria itu. Tapi sampai beberapa waktu si pria tidak mengambil inisiatif mendekatkan diri dengan si wanita itu. Akhirnya si wanita tidak sabar lagi dia langsung mengambil langkah yang lebih agresif. Pada suatu malam pada waktu si pria masih bekerja di kantor, dia tunggui kemudian dia masuk ke dalam kantornya, setelah itu dia duduk mengobrol dengan si pria. Langsung dia bertanya apakah engkau pernah berpikir untuk berselingkuh? Si pria dengan jujur berkata : pernah, langsung dia tanya pada hal kedua apakah engkau tertarik kepadaku? Si pria berkata : tertarik, terus perempuan itu seolah-olah bertanya jadi tunggu apa lagi sekarang, kenapa tidak lakukan? Si pria berkata : "Tidak", tidak akan saya lakukan. Si wanita terkejut, engkau pernah memikirkan untuk berselingkuh, engkau tertarik kepadaku, kenapa masih tidak mau melakukan? Si pria berkata : "Sebab Tuhan berkata ini tidak boleh", jadi pangkalnya adalah firman Tuhan, Tuhan melarang dan karena Tuhan melarang lalu kita taati. Kita mungkin bisa mengajukan seribu satu alasan, kenapa saya harus bersama dengan wanita atau pria lain, tapi tetap ada Tuhan yang harus kita hormati dan firman Tuhan melarang kita untuk berzinah. Itu adalah salah satu dari sepuluh hukum Tuhan "jangan berzinah", sangat sederhana sekali sebetulnya.
GS : Ya, mungkin saat ini dibutuhkan orang-orang yang seperti Yusuf itu Pak, yang berani menolak rayuan dari istri Potifar.
PG : Betul sekali, jadi sebelum ia jatuh, akhirnya ia melarikan diri.
IR : Sekalipun yang sudah jatuh Pak Paul, yang sudah terikat harus punya tekat untuk menghentikan ya, Pak Paul?
IR : Kadang-kadang mereka punya alasan tidak berdaya itu Pak Paul, karena mereka masih tidak takut sama Tuhan ya, Pak Paul?
PG : Dan tidak rela melepaskan yang memang disukainya, jadi intinya adalah siapa yang akhirnya kita senangkan, diri kita atau Tuhan, harus pilih salah satu.
GS : Mungkin Pak Paul mau sampaikan sebuah ayat firman Tuhan yang sesuai dengan topik ini.
PG : Firman Tuhan di Matius 5:21-23 berkata : "Telah difirmankan juga siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya, tetapi Aku berkata kepadamu setiap orang ang menceraikan istrinya kecuali karena zinah ia menjadikan istrinya berzinah.
Dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan dia berbuat zinah". Jadi firman Tuhan sangat jelas sekali, Tuhan melarang.
GS : Perselingkuhan itu pada hakekatnya sebuah perzinahan juga ?
IR : Dan pasti tidak mendatangkan damai sejahtera ya, Pak Paul?
PG : Berkat Tuhan tidak ada padanya, sangat gelisah, ketakutan, sembunyi-sembunyi dan mencari masalah.
IR : Itu menyiksa diri sendiri ya, Pak Paul?
Baiklah demikian tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan tentang perselingkuhan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat; alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, sampai jumpa dalam acara TELAGA yang akan datang.
KASET T 31 A "PERSELINGKUHAN"
Sebenarnya sampai sejauh mana seorang pria dan seorang wanita disebut berselingkuh?
Tipe-tipe keluarga bagaimana yang mempunyai kecenderungan untuk berselingkuh?
Adakah faktor usia tertentu yang rentan terhadap perselingkuhan?
Apakah tanda-tanda awal dari perselingkuhan?
Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah terjadinya perselingkuhan?
Ringkasan Isi:
Perselingkuhan adalah suatu hubungan pribadi di luar nikah, di dalamnya ada unsur relasi yang pribadi dan melibatkan sekurang-kurangnya satu individu, baik yang satu berstatus sudah menikah dan yang satunya belum/tidak menikah, atau dua-duanya sudah menikah. Perselingkuhan bisa terjadi karena dua pihak saling tertarik pada saat yang bersamaan, tapi bisa juga diawali hanya oleh satu pihak yang merasa tertarik kepada orang lain. Orang ini kemudian mengambil langkah-langkah proaktif untuk mendekatkan diri dengan orang yang diminatinya. Misalkan, dalam suatu pernikahan suami tidak lagi mendapatkan kepenuhan kebutuhannya dari si istri, dia mendapatkan semua itu dari wanita yang lain.
Perselingkuhan mempunyai beberapa lapisan atau kategori:
Lapisan yang pertama dan merupakan awal dari perselingkuhan, yaitu yang bersifat emosional. Ini terjadi dimana seseorang mengalami ketertarikan dan begitu memikirkan orang lain melebihi pasangannya sendiri. Dan orang lain itu menjadi penyedia kebutuhan-kebutuhan emosionalnya. Pada tahap ini biasanya belum sampai pada kontak fisik.(Anak-anak diminta menulis jawabnya dan mendiskusikannya di kelas.)
Lapisan yang lebih dalam yaitu perselingkuhan yang melibatkan keduanya, secara emosional dan juga fisik. Pada tahap ini umumnya kaum pria akan condong kepada sasaran atau tujuan akhir yaitu, hubungan seksual. Di sini sudah terjadi hubungan suami istri antara dia dengan orang lain.
Kategori iseng-iseng, yaitu perselingkuhan yang dimulai dan diakhiri hanya dengan hubungan fisik belaka. Ketertarikan fisik pada orang lain itu begitu kuat sehingga tidak lagi mengenal perbedaan status ekonomi dan pendidikan. Jadi tidak ada ketertarikan emosional, dan ini bisa dikatakan sekedar iseng-iseng saja. Ini merupakan tipe yg cukup umum, dalam kategori ini si pelaku itu kemungkinan besar tidak ada ketertarikan emosional, jadi hubungan selingkuhnya adalah untuk memenuhi keinginan seksualnya belaka.
Sekurang-kurangnya ada tiga unsur yang terkandung dalam perselingkuhan, yaitu:
Saling ketertarikan
Maka masuklah mereka ke tahap berikutnya, yaitu tahap saling ketergantungan. Dia benar-benar mulai mencurahkan dirinya dan bagian hidupnya kepada si orang itu, sehingga pada waktu orang itu tidak ada dia sangat merasa kehilangan.
Tahap ketiga adalah tahap yang mengandung unsur saling memenuhi.
Pada tahap ini masing-masing dengan sadar mencoba untuk memenuhi kebutuhan yang satunya. Jadi bukan saja secara natural, otomatis, tapi sekarang sudah terencana, bagaimana saya bisa dan mau membahagiakan engkau, bagaimana saya mencoba untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu, secara sadar ini saya lakukan.
Beberapa tipe pasangan atau keluarga yang mudah tergoda atau mempunyai kecenderungan untuk berselingkuh:
Keluarga yang si suami atau isteri memang seseorang yang membutuhkan kontak seksual yang lebih variatif.
Pasangan atau seseorang yang hidup dalam lingkungan yang toleransi terhadap perbuatan selingkuh
Pasangan yang rawan terhadap perselingkuhan adalah mereka yang memiliki dan mengalami perubahan sangat besar dalam kehidupannya.
Keluarga yang rentan terhadap perselingkuhan adalah orang-orang tertentu yang merasa sungkan, tapi salah kaprah.
Firman Tuhan dalam Matius 5:31, 32 berkata: "Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberikan surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah." Ini jelas sekali melarang perbuatan perselingkuhan.
Apa yang Tuhan larang harus kita taati. Kita mungkin bisa mengajukan seribu satu alasan, kenapa saya harus bersama dengan wanita atau pria lain, tapi tetap Tuhan lah yang harus kita hormati dan FirmanNya melarang kita untuk berzinah. "Jangan berzinah" merupakan salah satu dari hukum taurat yang Allah berikan melalui Nabi Musa dan juga merupakan larangan dari Tuhan Yesus. Tiada yang hidup yang lebih bahagia dan diberkati selain jika kita mentaati firmanNya.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Pernikahan yang bermasalah yang berlangsung terus-menerus dalam jangka waktu yang panjang dapat mengakibatkan banyaknya kebutuhan yang tak lagi terpenuhi atau mulai terganggu. Dan keadaan ini sangat rawan terhadap perselingkuhan.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan melanjutkan perbincangan kami tentang kandidat-kandidat perselingkuhan atau orang-orang yang punya potensi atau peluang untuk berselingkuh. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Karena ini merupakan perbincangan lanjutan dari beberapa waktu yang lalu, mungkin Pak Paul berkenan menguraikan secara singkat apa yang sudah kita bicarakan pada waktu yang lalu tentang perselingkuhan ini.
PG : Pada dasarnya kita membicarakan bahwa perselingkuhan itu suatu hubungan yang kompleks, di dalamnya terdapat unsur ketertarikan yang kemudian berkembang menjadi unsur saling bergantung dn akhirnya menjadi suatu hubungan di mana terjadi saling memenuhi kebutuhan masing-masing.
Dan rupanya kita semua ini rawan terhadap perselingkuhan. Jadi walaupun ada tipe tertentu atau kondisi tertentu yang menambah kerawanan, tapi semua harus waspada karena kita semua bisa masuk ke dalam jeratan itu tanpa kita sadari. Pada pertemuan kita yang lampau, kita telah membicarakan tipe yang pertama yaitu orang-orang yang mempunyai pernikahan yang bermasalah. Itu memang salah satu kondisi yang seringkali menjerumuskan orang ke dalam suatu perselingkuhan, misalkan salah satu contoh yang sering terjadi adalah seperti ini. Hubungan yang bermasalah, dalam pengertian tidak terlalu banyak pertengkaran namun hubungan itu bukanlah hubungan yang sehat misalkan, si suami tidak merasa dia mempunyai suara di rumah, dia merasa di bawah si istri dan tidak mempunyai otoritas terhadap keluarganya atau istrinya. Ini adalah suatu hubungan yang bermasalah, tidak harus diisi dengan pertengkaran-pertengkaran tapi hubungan yang tidak sehat. Akhirnya si suami rawan terhadap perselingkuhan karena di dalam rumah merasa tidak ada apa-apanya. Tiba-tiba mempunyai apa-apa di luar, disegani, dihormati dan sebagainya oleh seseorang, akhirnya ia masuk ke dalam hubungan tersebut.
GS : Mungkin kalau pria besar kemungkinannya di rumah tidak dihargai kemudian di luar rumah ada seseorang yang bisa menghargai karyanya dan sebagainya. Atau sebaliknya si istri di rumah tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari suaminya, lalu ada orang yang masuk ke dalam kehidupannya yang memperhatikan dia dan sebagainya, Pak Paul?
PG : Betul, jadi seperti kesempatan kita pada waktu yang lampau, pernikahan yang bermasalah itu menciptakan kebutuhan yang tidak terisi atau tidak terpenuhi sehingga kita rawan terhadap oran-orang yang bisa memenuhi kebutuhan kita itu.
Lebih lanjut lagi pernikahan yang bermasalah menimbulkan juga rasa frustrasi, rasa marah dalam diri kita, rasa kesal, rasa tidak enak, rasa jengkel. Nah, kalau rasa-rasa yang negatif itu terus hadir dalam diri kita, dibiarkan maka kita akan membutuhkan kelegaan, kita tidak bisa hidup terus-menerus dengan kesal dan marah, kita ingin kenyamanan, kelegaan. Lalu kita bertemu dengan seseorang yang mengasihi kita, memberikan kelegaan, ya akhirnya kita terperangkap dalam hubungan perselingkuhan. Yang berikutnya ini Pak Gunawan, kondisi yang kedua adalah orang yang mempunyai pola pernikahan yang kurang sehat yaitu pola pernikahan dimana tidak ada pertanggungjawaban. Biasanya laki-laki yang melakukan hal ini. Maksud saya adalah hubungan dimana si suami misalnya boleh bersikap sekehendak hatinya tanpa harus memberikan pertanggungjawaban kepada si istri. Misalnya dia mau pergi, ditanya oleh istrinya dengan siapa dia pergi, dia akan berkata dengan teman, dengan siapa? Dia mengatakan dengan teman, ditanya pulang jam berapa, dia akan berkata ya sekembalinya saya, untuk urusan apa, bisnis misalnya begitu. Jadi benar-benar dia tidak merasa bertanggung jawab atau mempunyai kebutuhan untuk mempertanggungjawabkan perilakunya kepada si istri. Yang klasik adalah soal gaji, istrinya tidak tahu berapa gajinya dia, pengeluarannya juga ke mana, si istri juga tidak tahu. Ini adalah pola hubungan nikah yang membuat seseorang itu rawan sekali terhadap perselingkuhan.
IR : Ini terkait dengan karakter orang yang hidup bebas, orang yang masa kecilnya juga tidak disiplin ya, Pak Paul?
PG : Bisa sekali Bu Ida, jadi memang dia adalah orang yang terbiasa hidup sekehendak hatinya atau dia melihat contoh itu pada diri orang tuanya. Mamanya diam di rumah tidak tahu apa-apa, papnya yang menguasai semua dan mamanya tidak pernah bertanya kepada papanya, ataupun kalau bertanya tidak pernah dijawab oleh papanya.
Jadi dia mempunyai suatu konsep begitulah seharusnya rumah tangga. Nah, manusia adalah manusia yang berdosa, tatkala kita merasa bahwa tidak ada lagi yang mengawasi kita, memberikan pertanggungjawaban kepada kita, akhirnya kita bisa berbuat dosa.
GS : Tapi kadang-kadang ada pria yang bukan merasa perlu memberikan pertanggungjawaban, tapi dia merasa risih karena kalau istrinya bertanya seperti penyelidik, jadi dia merasa dituduh atau merasa tidak dipercayai. Sehingga sikapnya ekstrim yaitu tidak mau memberitahukan semuanya. Bagaimana mengatasinya, Pak?
PG : Saya kira harus ada pembicaraan, di mana si suami mengatakan secara terus terang kepada si istri. Caramu bertanya membuatku merasa seperti seorang tersangka, mohon diubah ya . Si istriharus bertanya cara seperti apa yang kau inginkan, beritahu aku.
Si suami perlu memberitahukan dengan spesifik misalnya kalau bertanya jangan sampai nadamu meninggi, jangan sampai seolah-olah memberikan kesan kau curiga padaku. Tapi yang sering kali terjadi, Pak Gunawan dan Ibu Ida, misalkan si istri bilang ya ! saya tidak akan bertanya seperti itu. Tapi saya mohon dengan amat sangat sebelum engkau pergi, engkau sendiri yang dengan sukarela memberitahu aku ke mana, dan dengan siapa, pulang jam berapa. Tapi masalah yang seringkali terjadi adalah si suami tidak mau memberitahu juga, nah ini yang seringkali terjadi dalam rumah tangga. Jadi si istri berkata ya, saya tidak akan bertanya supaya engkau tidak merasa seperti tersangka, tapi engkau yang memberitahu aku secara sukarela, jadi aku tidak harus bertanya. Si suami merasa ini melanggar egonya memberitahu hal itu kepada si istri. Saya kira ini konsep pernikahan yang tidak tepat dan tidak sehat. Sebab ada pria yang berkata bahwa saya tidak seharusnya memberitahu si istri saya pulang jam berapa, dan dengan siapa saya pergi, itu adalah hak saya. Seorang pria tidak harus memberitahukan kepada istrinya hal-hal seperti itu, ini konsep yang keliru, sebab hubungan suami istri adalah hubungan pertanggungjawaban, suami bertanggung jawab pada istri dan sebaliknya juga bukanlah suatu hubungan di mana kuda menarik pedati di belakang. Bukan sama sekali seperti itu, jadi konsep ini memang harus dikoreksi, suami tidak perlu merasa terhina kalau harus memberitahukan ke mana dia akan pergi. Itu adalah informasi yang seharusnya diberikan dan diketahui oleh istrinya.
GS : Disamping itu Pak Paul, mengenai penghasilan yang tadi Pak Paul singgung, kadang-kadang ada suami yang tidak mau secara jujur memberitahukan penghasilannya berapa. Ada keluhan memang dari seseorang yang pernah saya dengar, nanti kalau diberitahukan seluruhnya uang itu dikuasai istri. Saya ingin membeli sesuatu kesukaan saya, menyalurkan hobby saya, tidak bisa karena sudah dikuasai. Biasanya yang saya amati pada saat gajinya masih pas-pasan atau kecil, seluruhnya diberitahukan, tapi begitu sudah mulai besar lalu disembunyikan. Apa memang harus diungkapkan semua atau bagaimana kalau seperti itu kejadiannya, Pak Paul?
PG : Harus diungkapkan semua, Pak Gunawan, sebab pernikahan Kristiani adalah suatu peleburan; waktu Tuhan berkata seorang pria akan meninggalkan ayah dan ibunya menjadi satu dengan istrinya an keduanya itu menjadi satu daging.
Terkandung dalam konsep menjadi satu daging adanya suatu peleburan, ibaratnya misalkan kita ini melebur dua zat menjadi satu, yang susah sekali untuk kita pisahkan atau yang lebih mudah kita bayangkan adalah pelarutan seperti misalnya sirup dengan air. Setelah dilarutkan bersama tidak bisa kita pisahkan lagi. Jadi artinya apa? Tuhan pernah berkata bahwa di I Korintus 7 bahwa tubuh suami bukan tubuhmu lagi, tapi milik si istri dan tubuh istri bukan milikmu lagi, tapi milik suami. Itu sekali lagi bukannya membicarakan mengenai hak milik seperti yang kita kenal, tapi membicarakan suatu pertanggungjawaban. Termasuk dalam hal-hal finansial kalau memang itu masalahnya, misalnya si istri mendominasi keuangan si suami, itu yang harus dibereskan bukan dia menyembunyikan uangnya.
IR : Semua harus terbuka ya, Pak Paul?
GS : Masalahnya dia memang tidak mempunyai wibawa untuk membuat istrinya membagikan, mengerti kebutuhan-kebutuhan dari si suami.
PG : Nah ini memang tidak sehat, sebab dalam konteks ini tanpa disadari telah dimulai suatu pola maling yaitu pola menyembunyikan. Daripada saya terbuka lebih baik saya sembunyikan. Lama-kelmaan pola maling atau pola pencuri ini bisa berkembang kepada hal-hal yang lain.
Kalau kuberitahu dia marah, ya tidak aku beritahu. Kalau aku berbuat ini dia akan marah, aku tidak beritahu, lama-lama aku akan pergi dengan wanita lain.
GS : Ya memang kalau semuanya diberitahukan, dia mengatakan, saya tidak punya kesempatan antara lain tidak punya kesempatan berselingkuh itu, sehingga akhirnya yang terjadi adalah untuk gajinya sendiri yang resmi memang diberitahukan, tapi untuk penghasilan-penghasilan tambahan dia pakai sendiri.
PG : Betul, memang itu adalah bibit yang tidak baik, ya?
GS : Lalu ada yang lain Pak Paul, tadi kita sudah bicarakan dua point kita melihat dari dua sisi, mungkin ada sisi yang lain?
PG : Yang sudah kita singgung juga pada pertemuan yang lampau adalah kalau kita mempunyai sejarah, perilaku seksual yang terlalu bebas sebelum nikah. Jadi ini bisa menjadi suatu godaan untukkita berselingkuh, Pak Gunawan, tidak bisa disangkali bahwa manusia itu bisa bosan, jenuh.
Seks itu sesuatu yang sebetulnya harus menyegarkan, tapi seks itu tidak bisa disangkal sangat bergantung pada ketertarikan fisik. Seks itu memang mengandung unsur fisiknya, selain dari unsur mental atau emosional, jadi harus ada juga ketertarikan fisik. Setelah menikah belasan tahun atau bahkan puluhan tahun, tubuh si istri atau si suami tidak lagi sama seperti dulu waktu masih muda. Dalam keadaan seperti ini, ada kecenderungan kalau orang yang dulunya sering main-main perempuan, berhubungan seks dengan banyak wanita, sebaliknya dia akan tergoda untuk mencicipi yang lain lagi, dengan harapan itu akan membawa variasi dalam kehidupan seksualnya, sebab dia ingin menikmati seks tapi dia tidak lagi bisa menikmati seks dengan pasangannya. Dia ingin mendapatkannya dari orang lain supaya kehidupan seksualnya menjadi dinamis lagi. Itu bahayanya, dia akan tergoda untuk melakukannya dengan orang lain sebab banyak sekali contoh-contoh pribadi yang pernah dia alami dulu, di mana dia merasa sangat puas.
IR : Jadi bahaya sekali ya Pak Paul, kalau calon suami yang hidupnya sudah bebas, suka bermain seks itu juga bahaya sekali, dalam perkawinan akan mendatangkan masalah.
PG : Ya tidak harus, tidak pasti mendatangkan masalah, karena orang yang sudah bertobat dan sebagainya, saya percaya akan mempunyai hidup yang lain, namun tetap harus saya akui godaannya besr.
Dibandingkan dengan orang yang sama sekali tidak pernah punya pengalaman, sehingga dia tidak bisa membanding-bandingkan dengan orang lain.
GS : Tapi memang sebelum pernikahan tidak apa-apa sebenarnya, orang ini normal-normal saja di dalam kehidupan seksualnya. Hanya masalahnya setelah menikah uangnya atau penghasilannya lebih tinggi, dia mendapatkan sarana misalnya untuk membeli buku-buku atau majalah-majalah dari luar negeri atau bahkan dia sendiri yang mengekspos seks itu atau bisa sewa video atau bahkan dari cyberseks dari internet ya, Pak Paul. Nah itu membuat dia ingin mencoba ya, Pak Paul?
PG : Betul, jadi pornografi itu luar biasa berbahayanya Pak Gunawan. Kita harus sadari bahwa suami yang mulai tergila-gila nonton film-film yang mempunyai adegan seksual itu menandakan ada ssuatu yang tidak beres dalam dirinya.
Sebagai seorang istri dia harus mengambil langkah untuk mencegahnya, kalau bisa membicarakannya. Si suami biasanya akan berdalih, tidak apa-apa ini hanya film. Saya menggunakan istilah suami sebab kebanyakan adalah suami yang begitu, tapi ada juga kasus wanita, dia berkata ini hanya film namun jangan kita terima dalih seperti itu. Sebab biasanya sudah menandakan hal yang tidak beres. Dan itu yang harus dibereskan misalnya bisa saja dia merasa gairah seksual dengan si istri sudah sangat berkurang. Waktu dia menonton, dia akan digairahkan lagi dan langsung bisa berhubungan dengan istrinya karena adanya penggairah itu. Jadi sekali lagi masalahnya terletak pada dia dengan si istri.
GS : Lama-lama jadi ketagihan ya?
PG : Bisa sekali, jadi kalau sekali sudah mulai masuk ke dalam pornografi biasanya akan terjerat, luar biasa cengkeraman pornografi itu, sehari-hari pikiran kita akan dikuasai olehnya.
GS : Ya memang yang tadi Pak Paul katakan alasannya itu, dia menghalalkan hal itu, dia memperbolehkan hal itu, karena dia mengatakan dulu waktu aku belum menikah saya tidak mempunyai kesempatan ini. Sekarang menikah saya mempunyai kesempatan untuk melihat dan dia katakan saya berhubungan dengan istri saya, bukan dengan orang lain.
PG : Secara jujur seharusnya dia mengakui bahwa secara fisik dia berhubungan dengan si istri, tapi secara mental dengan orang-orang yang ada dalam film itu.
IR : Dan itu menikmati perzinahan dengan orang lain, dapat berarti dosa.
PG : Secara mental dia sudah berzinah dengan orang lain.
GS : Hal yang lain Pak Paul, yang memungkinkan seseorang itu bisa menjadi kandidat perselingkuhan itu.
PG : Itu adalah masa kecil yang bermasalah Pak Gunawan, jadi ada orang pada masa kecilnya ditekan atau merasa dirinya tidak berharga. Namun sekarang mulai berharga atau misalnya ada doronga untuk menolong orang yang terlalu kuat ya, menyenangkan hati orang tanpa batas, dan tidak bisa juga mengakui keterbatasannya sehingga terus mau menolong akhirnya, misalnya dia menolong teman wanitanya atau teman prianya yang lagi ada masalah, dia mendengarkan dia membantu akhirnya terjerumus, terjerumus makin dalam makin intim.
Jadi adakalanya masa lalu kita yang bermasalah itu menciptakan lubang dalam diri kita. Lubang kebutuhan untuk dihargai, untuk diterima, untuk disayangi. Misalkan kita orang yang disayangi luar biasa oleh ayah ibu kita, setelah kita menikah kita merasakan hal yang tidak sama. Kita mempunyai kebutuhan untuk disayangi yang tidak terpenuhi di situ. Misalnya seperti ini atau kita sangat disayangi oleh mama kita, kita sebagai pria akhirnya setelah menikah kita merindukan ungkapan kasih yang begitu besar dari istri kita, waktu kita tidak mendapatkannya kita merasa kurang akhirnya kita mencarinya di luar.
GS : Kalau faktornya pengalaman masa kecil itu sulit, bagaimana untuk memisahkan atau melupakan masa kecilnya itu, Pak Paul?
PG : Dia harus menyadari bahwa itulah yang dia butuhkan, dan dia harus berhati-hati dengan pemenuhan kebutuhannya itu.
GS : Menyadari itu penting sekali ya Pak Paul, bahwa itu berbahaya dan lain sebagainya?
PG : Penting sekali, karena dia menjadi orang yang rawan, kita misalnya butuh sekali penghargaan dan kita merasakan dari istri atau suami kita kurang mendapatkannya. Kita akan terus mencari-ari penghargaan itu dari orang lain, jadi kita harus menyadari kebutuhan kita dari masa lalu yang bermasalah itu.
IR : Kemudian kalau mungkin ada faktor lain, Pak Paul?
PG : Yaitu kalau ada perubahan yang sangat drastis dalam situasi kehidupan kita. Misalnya kejatuhan ekonomi atau kehilangan pekerjaan, itu menimbulkan frustrasi yang berat dan kita kehilangn jati diri, kita merasa tidak berharga lagi, nah itu merawankan kita untuk jatuh dalam perselingkuhan dengan orang lain.
Misalnya juga adalah kehilangan figur yang penting dalam hidup kita, contoh adalah krisis kehilangan anak misalnya kematian anak, itu bisa membuat goncangan yang hebat sehingga kita seolah-olah kehilangan pegangan hidup, mencari orang lain untuk menjadi pegangan kita atau misalnya orang tua kita meninggal. Salah satu hal yang menarik adalah kebanyakan perselingkuhan cukup banyak menimpa pada orang usia 40-an atau 40 ke atas. Salah satu faktor selain dari faktor pubertas kedua dan sebagainya, yang umum adalah karena pada usia 40-an kita sudah kehilangan orang tua kita. Tanpa disadari kita ini masih merasa diawasi dan harus bertanggung jawab kepada orang tua. Harus menjaga nama, kalau kita berbuat yang tidak baik ada orang tua yang menegur kita sebab orang tua yang paling bebas menegur kita. Waktu orang tua tidak ada, secara psikologis dan tidak disadari kita merasa terbebas dari tanggung jawab atau menjaga nama baik orang tua dan sebagainya. Tiba-tiba kita merasa lebih bisa dan lebih berani untuk melakukan perselingkuhan, jadi itu merupakan faktor yang harus kita perhatikan. Berikutnya lagi adalah kalau seseorang mengalami krisis rohani, jadi misalkan mengalami masalah di gereja, kok orang Kristen seperti ini, kok pendeta seperti itu, kok gereja seperti begitu, akhirnya meninggalkan Tuhan. Ini bahaya juga, karena hal-hal yang dulu dia inginkan tapi bisa diredamnya karena takut pada Tuhan, tiba-tiba sekarang tidak usah diredam lagi, dia mendapatkan izin untuk melakukannya. Jadi krisis rohani seperti ini sebetulnya sangat berbahaya. Yang berikutnya adalah perubahan drastis dalam kehidupan, misalnya status ekonomi yang meningkat dengan sangat pesat. Tadi Pak Gunawan sudah sebut berkali-kali, itu sebabnya orang-orang sering berkata hati-hati kalau suamimu kaya misalnya, kalau dia kaya kebanyakan dia akan mempunyai simpanan bukan saja simpanan uang tapi simpanan wanita. Itu memang ada betulnya, karena keuangan yang meningkat dengan tiba-tiba membuat kita sekarang lebih bisa untuk mendapatkan banyak hal, termasuk misalnya tatapan kagum dari wanita, kepatuhan wanita, hormat wanita kepada kita sebagai pria, sebagai atasan yang dulu tidak kita dapatkan, namun sekarang kita dapatkan.
IR : Kecuali kalau keuangan itu bersama-sama diketahui istri, ya?
PG : Ya, itu menolong sekali maka pertanggungjawaban finansial harus ada dalam keluarga.
IR : Jadi bisa mengerem ya, bisa mengetahui untuk apa saja.
GS : Sehubungan dengan perubahan, Pak Paul, ada satu peristiwa yang terjadi, sebenarnya pasangan suami istri itu tadinya kelihatan tidak bermasalah ya Pak Paul. Tiba-tiba dia di PHK di satu tempat, di salah satu kota tempat dia tinggal bersama istrinya. Lalu istrinya mencarikan dia tempat kerja di luar kota yang cukup jauh. Sehingga tidak memungkinkan suami itu tiap hari pulang atau seminggu sekali pulang, bahkan lama-lama hubungan mereka cukup jauh karena jarang bertemu. Sampai akhirnya si suami itu jatuh dalam perselingkuhan, itu merupakan perubahan drastis yang dialami atau memang dia punya bakat untuk berselingkuh?
PG : Saya kira itu karena perubahan tadi seperti yang sudah saya katakan, kita semua rawan terhadap perselingkuhan. Jarak yang jauh, tidak bisa tidak, akan membawa perubahan dalam diri kita.Cinta itu perlu dipupuk, cinta bertumbuh dalam hubungan, dalam kontak relasi.
Tanpa adanya kontak relasi, yang ada ingatan tentang orang itu bukan lagi cinta terhadap orang itu. Jadi cinta yang nyata adalah cinta yang benar-benar tumbuh dalam kehidupan yang kita lalui bersama. Akhirnya karena jarak yang berjauhan, saya menduga cinta antara mereka mulai pudar, yang ada adalah kewajiban saya sebagai suami harus setia, dia sebagai istri harus setia. Namun isi atau bobot mental atau emosionalnya sudah sangat berkurang, dalam kesepian seseorang akan jauh lebih mudah untuk tertarik kepada orang lain.
IR : Hidup yang hampa, kosong, ya Pak Paul?
GS : Pada awalnya si suami itu masih sering telepon, interlokal menanyakan istrinya, anak-anaknya, tapi makin lama makin jarang dan rupanya perubahan itu kurang disadari oleh istrinya. Tiba-tiba dia mendapat kabar dari temannya bahwa suaminya itu berselingkuh dengan rekan kerjanya yang jauh lebih muda, itu yang terjadi Pak Paul. Istrinya merasa bersalah, menyalahkan dirinya sendiri, karena dia yang mencarikan tempat kerja itu untuk si suami.
PG : Ya saya mengerti rasa bersalah si istri, tapi saya juga mau berkata si istri tidak perlu merasa bersalah, karena yang dia lakukan adalah justru demi kebaikan satu keluarga itu. Dia sedag memikirkan jalan keluar agar si suami mempunyai pekerjaan, bukankah itu juga baik untuk harga diri si suami daripada dia tidak ada pekerjaan sama sekali untuk menafkahi kehidupan keluarga.
Jadi si istri melakukan sesuatu yang baik untuk menyelamatkan keluarga itu. Namun si suamilah yang menyalahgunakan kesempatan itu, jadi yang salah tetap si suami, bukan si istri.
GS : Ya tapi juga bisa berdalih dan mengatakan, diajak pindah ke sini masih beralasan, memang sekolah anaknya itu yang masih harus diselesaikan, istrinya tidak mau cepat-cepat pindah ke sana karena pertama suaminya juga belum mempunyai tempat tinggal yang tetap. Jadi semacam di asrama, ya Pak Paul, sehingga istrinya juga meragukan, nanti saya pindah ke sana anak-anak tidak betah, saya tidak betah, itu yang dikeluhkan oleh si istri.
PG : Ya, itu yang harus dibereskan tapi bukan dengan cara berselingkuh, jadi saya tetap mengembalikan tanggung jawab pada si suami sebetulnya.
GS : Jadi bagaimana Pak Paul apakah kita bisa mendapatkan bimbingan dari firman Tuhan untuk menguatkan baik para istri atau suami?
PG : Saya akan bacakan dari Amsal 5 : 8 , "Jauhkanlah jalanmu daripada dia, dan janganlah menghampiri pintu rumahnya." Amsal 5 adalah Amsal tentang perzinahan Pak Guawan, jadi nasihat firman Tuhan jelas yaitu janganlah memulai, janganlah mendekat-dekat, janganlah mencari-cari alasan.
Kalau kita sudah mulai, kita susah untuk mengakhirinya. Jadi jangan memulai, yang Tuhan ingin ingatkan pada kita, mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Yang lain lagi yang ingin saya sampaikan adalah salah satu hukum taurat Tuhan berbunyi dengan jelas "jangan berzinah". Saya kira sekarang istilah perselingkuhan kehilangan bobot moralnya karena tidak lagi dikaitkan dengan Tuhan, namun dikaitkan dengan mengkhianati pasangan. Itu tetap adalah suatu perzinahan dan perzinahan tetap kita sebut perzinahan, bukan nama lain.
GS : Jadi harus tegas dan itu penting buat kita. Demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan kehadapan Anda, sebuah percakapan tentang kandidat-kandidat perselingkuhan atau orang-orang yang punya potensi besar untuk berselingkuh bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Sekali lagi bagi Anda yang berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda untuk menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58, Malang . Saran-saran, pertanyaan dan tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami ucapkan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kemajuan teknologi komputer yang pesat dan adanya akses internet yang menjamur dimana-mana, membuat makin banyak orang terbawa masuk dalam arus perselingkuhan. Dengan tersedianya majalah-majalah dan video kaset yang berisi pornografi, bahkan cyberseks dari internet, ini membuat mereka terjebak dalam perbuatan selingkuh. Pornografi mempunyai dampak yang luar biasa berbahaya karena pengaruh atau cengkeramannya luar biasa. Kalau seseorang sudah sekali masuk dalam pornografi, biasanya akan terjerat dan sulit lepas, karena pikirannya akan dikuasai terus. Jika seorang suami mulai keranjingan menonton film-film yang mempunyai adegan seksual, itu menandakan ada yang tidak beres dalam dirinya. Istrinya harus mengambil langkah untuk mencegahnya dan membicarakan masalah ini dengan suaminya. Memang ada juga wanita yang keranjingan nonton film seperti itu, tapi seringkali kasus ini terjadi pada kaum pria. Ada sebagian orang yang mencoba menghalalkan hal ini dan merasa boleh menonton film yang demikian. Alasannya, dulu aku belum menikah dan tidak punyak kesempatan. Sekarang sudah menikah dan punya kesempatan untuk menikmati, toh akhirnya saya berhubungan dengan istri sendiri, bukan dengan orang lain. Sebenarnya pikiran seperti ini salah! Secara fisik memang dia berhubungan dengan si istri, tapi secara mental ia berhubungan dengan orang-orang yang dalam film itu. Dan itu berarti mental ia sudah berzinah dengan orang lain!
Ada banyak situasi dan kondisi tertentu yang bisa membuat kita lebih rawan terhadap perbuatan selingkuh, namun perlu diingat bahwa sebenarnya setiap orang rawan terhadap perselingkuhan. Jadi semua harus waspada, karena kita bisa masuk dalam jeratan itu. Perselingkuhan tidak hanya melanda kehidupan orang-orang yang tidak beriman, namun sudah melanda dan menghancurkan kehidupan anak-anak Tuhan. Tontonan yang berbau perselingkuhan begitu diminati dan disukai oleh masyarakat. Akibatnya masalah ini menjadi sesuatu yang sangat-sangat umum dan menjadi suatu tema yang semakin populer.
Kondisi seperti di atas akan menimbulkan beberapa dampak negatif , yaitu:
Sesuatu yang kita saksikan berulang kali akan membuat kita kehilangan rasa sensitif atau kepekaan tehadapnya. Beberapa tahun lalu, kita akan sangat bereaksi pada waktu mendengar apalagi menghadapi suatu perselingkuhan. Namun makin hari kita makin mengakomodasi isu tersebut sebagai sesuatu yang wajar terjadi, dan merupakan bagian dari kehidupan.
Makin banyak kasus-kasus perselingkuhan yang ditayangkan dalam bentuk-bentuk yang sepertinya menarik hati oleh media massa. Akhirnya ini akan membuat kita mempunyai suatu kekaguman tehadap perselingkuhan, seolah-olah perselingkuhan itu begitu indah, mesra, dan romantis.
Beberapa macam orang (kandidat) yang rawan terhadap perselingkuhan:
Mereka yang sudah lama mempunyai pernikahan yang bermasalah. Pernikahan yang bermasalah itu melelahkan, begitu melelahkan sehingga yang dirasakan oleh orang yang bersangkutan ialah kebutuhan akan kelegaan yang amat sangat.
Suami yang merasa dia tidak mempunyai kebutuhan untuk bertanggungjawab kepada istri. Biasanya kaum laki-laki yang melakukan hal ini. Di mana dalam hubungannya dengan sang istri, si suami boleh bersikap sekehendak hatinya tanpa harus memberikan pertanggungjawaban kepada isteri. Ini adalah pola hubungan nikah yang membuat seseorang itu rawan sekali terhadap perselingkuhan.
Seseorang yang mempunyai masa kecil bermasalah. Ada orang yang pada masa kecilnya ditekan atau merasa dirinya tidak berharga. Namun sekarang mulai berharga atau misalnya ada dorongan untuk menolong orang yang terlalu kuat, menyenangkan hati orang tanpa batas, dan tidak bisa mengakui keterbatasannya sehingga terus mau menolong. Akhirnya ia menolong teman wanita atau pria yang sedang bermasalah, dia dengarkan, bantu dan akhirnya terjerumus, makin lama makin intim.
Seseorang yang mengalami perubahan yang sangat drastis. Adanya perubahan yang sangat drastis dan tiba-tiba dalam kehidupan akan membuat kita rawan terhadap perselingkuhan. Misalnya, di PHK, mengalami krisis atau kejatuhan ekonomi, ini akan menimbulkan frustasi yang berat dan seseorang akan kehilangan jati diri. Seseorang yang mengalami peningkatan status ekonomi secara mendadak juga rentan terhadap perselingkuhan. Karena keuangannya pun meningkat dengan tiba-tiba sehingga bisa melakukan banyak hal.
Orang berusia 40-an atau di atas 40 yang mengalami pubertas kedua. Cukup banyak perselingkuhan menimpa mereka yang memasuki tahap ini. Salah satu faktor lain yang terkait dengan pubertas II ini ialah, karena pada usia 40-an umumnya kita sudah kehilangan orang tua kita. Sewaktu orang tua masih hidup, tanpa disadari kita ini masih merasa diawasi dan harus bertanggung jawab kepada mereka. Harus menjaga nama baiknya, kalau kita berbuat yang tidak-tidak ada orang tua yang menegur kita. Sebab orang tua memang yang paling bebas menegur kita. Namun pada waktu orang tua sudah tidak ada lagi, secara psikologis dan tanpa disadari kita merasa terbebas dari tanggung jawab untuk menjaaga nama baik mereka, dsb. Tiba-tiba kita merasa lebih berani untuk melakukan perselingkuhan. Jadi ini adalah faktor yang patut diperhatikan.
Bagian firman Tuhan untuk menguatkan dan membentengi suami-istri : "Karena bibir perempuan jalang menitikkan tetesan madu dan langit-langit mulutnya lebih licin daripada minyak, tetapi kemudian ia pahit seperti empedu, dan tajam seperti pedang bermata dua. Kakinya turun menuju maut, langkahnya menuju dunia orang mati. Ia tidak menempuh jalan kehidupan, jalannya sesat, tanpa diketahuinya ." Amsal 5:3-6
"Jauhkanlah jalanmu daripada dia, dan janganlah menghampiri pintu rumahnya,…" Amsal 5:8
Amsal 5 memperingatkan kita tentang perzinahan. Nasihat firman Tuhan jelas sekali, yaitu janganlah memulai, janganlah mendekat-dekat, atau mencari-cari alasan. Kalau kita sudah mulai, sulit bagi kita untuk akhiri. Mencegah lebih baik dari pada mengobati, itu yang lebih baik. Salah satu hukum taurat dalam Keluaran 20:14 berbunyi dengan jelas: "Jangan berzinah". Perselingkuhan adalah perzinahan. Perzinahan tetap perzinahan, dan ini melanggar firman Tuhan. Apalagi Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan, bahwa kalau kita melihat seseorang yang berlawanan jenis lalu gairah kita bangkit, itu pun sudah merupakan perzinahan. Jadi walaupun masyarakat dan lingkungan di sekitar kita memperbolehkan perselingkuhan, firman Tuhan jelas melarangnya.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Anak-anak itu penting dan berharga di mata Tuhan, oleh karenanya janganlah menuruti kehendak kita sendiri sehingga anak-anak menjadi korban, akibat dari perceraian yang dilakukan. Dan dampak dari perceraian itu tidak hanya terjadi di masa sekarang, tetapi juga berdampak untuk kehidupan anak-anak di masa yang akan datang.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Pada kesempatan ini kami akan berbincang-bincang tentang "Dampak Perceraian terhadap Anak." Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, kita tentunya menikah dengan harapan bisa langgeng sampai maut memisahkan kita, tetapi fakta di dalam kehidupan ini ada keluarga-keluarga yang terpaksa bercerai. Yang ingin saya tanyakan adalah kalau pada awalnya pernikahan itu begitu mesra, begitu kelihatan cocok satu dengan yang lain sehingga memutuskan untuk menikah, lalu bagaimana prosesnya kenapa sampai mereka tiba pada keputusan harus berpisah Pak Paul?
PG : Sebelum saya menjawab Pak Gunawan, saya ingin menggarisbawahi yang tadi Pak Gunawan sampaikan yaitu meskipun kita ini tidak menginginkan perceraian, tapi faktanya adalah orang bercerai. Jai tujuannya kita menyajikan program ini pada hari ini bukanlah untuk menambahkan rasa bersalah atau memberikan penghakiman pada orang yang sudah bercerai, karena kita di sini juga mengakui bahwa orang yang bercerai adalah kebanyakan orang-orang yang terluka dan orang-orang yang sedih.
Sebab tadi Pak Gunawan sudah sampaikan bahwa kita ini menikah untuk selama-lamanya. Saya rasa jarang sekali ada orang yang berpikiran bahwa dia menikah hanya untuk sementara, untuk bercerai. Dalam konteks seperti itulah sekarang yang harus kita bahas adalah apa dampaknya pada anak-anak, sebab bagaimanapun anak adalah bagian integral dalam rumah tangga itu. Perceraian itu tidak terjadi seketika atau dalam satu hari, biasanya ada beberapa hal atau tahapan yang mendahuluinya. Biasanya kedua orang itu menikah karena menemukan kecocokan, akibatnya mereka bertekad untuk bergabung dalam mahligai pernikahan. Setelah mereka menikah, biasanya yang mulai mereka temukan adalah ketidakcocokan, mereka menyadari bahwa mereka berpikir dulu hal-hal ini bisa langsung diselesaikan dengan mudah tapi ternyata tidak semudah yang mereka duga. Ketidakcocokan juga bisa muncul karena hal-hal yang dulu tidak mereka lihat sekarang kelihatan. Dan kadang kala juga situasi hidup berbeda, hingga pada masa berpacaran sifat atau karakter tertentu tidak muncul, namun sekarang dalam situasi yang berbeda muncullah sifat-sifat yang akhirnya menimbulkan ketidakcocokan itu. Biasanya yang dilakukan setelah kita menemukan ketidakcocokan, kita berusaha untuk mencocokkan diri, jadi itu adalah upaya yang natural, kita berupaya untuk menjelaskan diri kita, menyampaikan keinginan kita dan kita berupaya juga mengoreksi pasangan kita agar pasangan kita bisa menjalankan apa yang kita inginkan. Nah, ini dalam konteks hal-hal yang baik, yang positif. Masalahnya adalah kadang kala kita berhasil, tapi cukup sering pasangan-pasangan itu tidak berhasil mengupayakan penyesuaian tadi.
GS : Penyesuaian itu, menyesuaikan yang tidak cocok Pak Paul?
PG : Betul, akhirnya waktu mereka merasakan kenapa tidak berhasil padahal saya sudah berusaha, saya sudah memberitahukan dia, saya sudah minta, atau saya sudah harapkan dia berubah, tapi ternyaa tidak juga berubah.
Nah, yang berikutnya adalah orang akan merasa gagal, gagal untuk membereskan masalah atau kemelut ini sebab yang akan mereka saksikan adalah masalah yang sama diulang-ulang. Ini memang ditimbulkan oleh sekurang-kurangnya dua penyebab yang pertama memang orang yang bersangkutan tidak mau berubah, sehingga akhirnya tidak terjadi perubahan. Tapi adakalanya persoalan itu bertahan bukan karena kedua belah pihak itu tidak mau berubah, tapi mereka belum memahiri cara untuk menyelesaikan problem. Tidak semua orang itu mengerti bagaimana berkomunikasi dengan baik, menyampaikan isi hati dengan baik dan akhirnya mengerti bagaimana membereskan problem yang ada di antara mereka. Nah, itu mungkin dua sebab yang akhirnya membuat mereka gagal menyelesaikan problem mereka. Masih tetap tidak cocok, reaksinya adalah frustrasi. Frustrasi sekali, kenapa tidak berubah, mengapa sama saja kapan berubahnya. Dalam keadaan frustrasi ini perasaan yang muncul adalah perasaan tidak berdaya. Tidak berdaya dalam pengertian tidak berdaya lagi menguasai, mengontrol pasangan kita, tindakannya itu seolah-olah benar-benar di luar jangkauan kita. Kita sudah beritahu jangan, dia tetap lakukan. Kita bilang tolong, kita tidak dihiraukan. Kita mencoba berbicara dengan lembut, dia berteriak akhirnya kita juga berteriak berharap dia tidak berteriak, tetapi hasilnya sama, tetap saja berteriak. Akhirnya merasa tidak berdaya lagi, merasa ini benar-benar dalam bahasa Inggrisnya uncontrol, tidak bisa dihadapi lagi, tidak bisa diatasi lagi. Saya berbuat apapun tidak membuat perubahan, tidak memberikan dampak sedikitpun. Akhirnya kalau kita sudah sampai pada titik kita biasanya menyerah. Menyerah ya sudah seperti apapun sudah tidak bisa lagi, saya apa-apakan memang ini porsi hidup saya, kenyataannya adalah begini. Biasanya menyerah itu diikuti oleh perasaan masa bodoh, memasabodohkan pasangan kita, tidak menghiraukan dia. Dia mau tegur, dia tidak mau tegur, dia mau sapa, tidak mau sapa, dia mau pulang, dia tidak mau pulang, kita berkata saya tidak peduli lagi. Sebetulnya dalam tahap seperti itu meskipun kita berkata kita tidak peduli lagi, sebetulnya perasaan kita sakit, kita sebetulnya sedang dalam keadaan terluka sekali, rasanya perih sekali. Namun ya sudah terpaksa kita bersikap seperti itu masa bodoh. Rasa sakit inilah yang berkepanjangan, yang sering kali mendorong orang untuk bercerai karena kita sebagai manusia tidak bisa menahan rasa sakit untuk waktu yang terlalu panjang. Atau perceraian muncul pada saat ada orang ketiga. Sudah pasti orang ketiga ini menjadi pendorong, dinamit yang membuat orang itu akhirnya bertekad keluar dari pernikahannya dan akhirnya tertarik dengan orang itu. Tapi kalau tidak ada orang ketiga, biasanya yang menjadi pencetus perceraian itu adalah rasa sakit yang tidak tertahankan lagi.
GS : Tapi bagaimana Pak Paul orang yang sudah bersikap masa bodoh tadi, karena menyerah dia masa bodoh, apakah masih bisa merasakan rasa sakit Pak Paul?
PG : Maksudnya dia terpaksa masa bodoh?
GS : Padahal sebenarnya tidak begitu, dia tetap peduli.
PG : Sebetulnya dia mau peduli, dia tetap menginginkan perubahan kalau bisa terjadi perubahan. Namun setelah berusaha berkali-kali dan mungkin bertahun-tahun, nyatanya tidak ada perubahan, terpksa dia bersikap masa bodoh.
Dalam masa bodoh itu sebetulnya dia tetap terluka, terlukanya tidak harus karena tindakan pasangannya lagi, karena biasanya pada titik masa bodoh ini sudah hampir tidak ada kontak lagi secara emosional atau secara komunikasi. Lukanya karena misalnya dia masih menyaksikan pasangannya melakukan hal yang tidak dia sukai, yang menyakitkan hatinya itu nomor satu. Atau yang kedua luka dalam pengertian karena apa yang dia dambakan, apa yang dia inginkan tidak menjadi kenyataan, yang diharapkan dalam pernikahan ini benar-benar dia sadari pupus, bahwa tidak ada lagi perubahan, dan mungkin tidak ada lagi harapan. Jadi orang waktu hidup dalam pernikahan yang tidak sehat itu, hatinya pasti luka, sakit. Kita pulang ke rumah misalnya, pasangan kita tidak menegur kita, kita makan dia tidak temani, kita ajak berbicara dia menjawab sekata dua kata, ya sekeras-kerasnya hati kita memasabodohkan, menebalkan perasaan tetap hati kita tertusuk. Kalau ini berkepanjangan kita makin hari makin perih, kalau sudah tidak tertahankan akhirnya kita berkata saya mau tinggalkan dia.
IR : Kata merasa dengan rasa sakit itu sebenarnya dalam hati itu masih ada rasa cinta ya Pak Paul?
PG : Ada rasa, bisa dikatakan begitu kadang kala itu yang terjadi Bu Ida. Mereka sebetulnya masih mencintai atau ada yang masih berharap terjadi perubahan. Tapi yang pernah saya saksikan juga mskipun cinta itu boleh dikata hampir tidak ada tetap terluka.
Karena hidup dalam satu naungan rumah terus seperti itu sebetulnya menyakiti hati.
IR : Dan juga mungkin masa lalu yang mesra dulu juga masih terbawa ya Pak Paul?
PG : Bisa jadi mengingatkan dia, dulu tidak seperti ini, dulu orangnya mengasihi saya, dia dulu orang yang penuh perhatian kepada saya kenapa bisa begini berubahnya.
(1) GS : Apakah ada suatu tahapan di mana dia menyalahkan dirinya sendiri Pak Paul, sehingga membuat dia sakit?
PG : Pertanyaan yang baik Pak Gunawan, kita ini adalah manusia yang sering kali mencari penyebab atau apa yang salah. Pada awal-awalnya percekcokan, kecenderungan kita menyalahkan orang lain. Nmun kalau sampai ke titik tidak ada lagi perubahan, pernikahan sudah begitu buruk, ada memang kecenderungan kita mulai menatap diri kita dan akhirnya kita mulai berkata saya juga salah, kenapa saya begini, kenapa sampai begini, mungkin saya terlalu ini, mungkin saya terlalu itu, itu biasanya juga terjadi.
Atau ada yang menyalahkan diri ke titik yang paling awal yaitu kenapa saya menikahi dia.
GS : Nah itu Pak Paul, masalah ketidakcocokan itu sebenarnya harus sudah terselesaikan sebelum mereka itu memutuskan untuk menikah?
PG : Seyogyanya Pak Gunawan, namun saya kira cinta itu luar biasa bertenaganya, begitu bertenaganya sehingga mengaburkan kejernihan pandangan kita. Saya kadang kala memberikan suatu perumpamaankepada orang yang belum menikah, tapi sudah pacaran dan akan menikah.
Perumpamaan saya adalah begini waktu kita sekolah, waktu kita berkuliah terus kita didatangi seseorang yang ingin kost bersama kita, pertanyaan yang pertama muncul adalah kira-kira bisa cocok atau tidak itu yang akan kita tanyakan. Kemudian kita kira dia cocok dengan kita, kita tinggal bersama dengan dia, berkuliah bersama. Setelah kita kuliah (ini dengan sesama jenis) sudah pasti kemudian kita sadari aduh tidak cocok, cara pikir, cara hidupnya, kebiasaannya tidak cocok dengan kita. Yang kita harapkan adalah semester depan dia pindah atau saya pindah. Tapi waktu pacaran ini masalahnya sedikit orang berpikir seperti itu, waktu tidak cocok sering kali yang kita lakukan justru memaksakan, merasionalisasi, mungkin dia lagi begini, mungkin nanti akan lebih beres. Saya kira dia orangnya bukan begitu, sifatnya sebetulnya baik dan sebagainya. Kita merasionalisasi supaya bisa cocok, nah saya rasa kenapa kita begitu, karena sudah terlanjur menyukainya, sehingga kadar suka itu mengaburkan kejernihan pertimbangan kita.
IR : Dan takut kalau berpisah Pak Paul, takut kalau tidak jadi mungkin akan patah hati, dan sakit.
PG : Tepat sekali, jadi sering kali ketakutan untuk sakit itu menghentikan dia untuk melakukan tindakan-tindakan yang sehat dan preventif itu atau untuk putus.
GS : Tapi kalau sudah menikah putus malah lebih sakit lagi.
PG : Sebetulnya begitu, kalau mereka sudah terlanjur menikah pasti akan lebih parah. Saya suka memberikan pertanyaan kepada orang yang berpacaran, mau menikah, yaitu berapa seringnya saudara betengkar? Apakah bertengkar untuk hal yang sama.
Nah itu pertanda kalau bertengkarnya sering dan bertengkarnya menyangkut hal yang sama terus-menerus suatu pertanda bahwa ini bukanlah hubungan yang cocok, sebab orang yang cocok tidak terlalu sering bertengkar, dan orang yang cocok kalaupun bertengkar bisa menemukan titik temunya. Sebab demikianlah juga kita dengan teman-teman sejawat kita, masalahnya adalah karena sering kali terlanjur cinta, kita gagal melihat hal ini.
GS : Yang sering juga terjadi pada waktu pacaran, walaupun sudah melihat secara jujur Pak Paul dan merasa cocok, memang betul cocok sepakat mereka menikah, lalu setelah menikah di awal perjalanan pernikahan terjadi semacam intervensi yang mereka tidak duga sama sekali bahwa akan ada seperti itu. Katakan saja misalnya orang tuanya bergabung di situ dalam rumah itu. Lalu dari situ timbul ketidakcocokan, masalahnya adalah mereka tidak terampil dalam menyelesaikan masalah tadi yang Pak Paul sudah sampaikan. Bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah-masalah yang datang tiba-tiba seperti ini?
PG : Cinta harus kuat karena kalau cinta tidak kuat, ikatan itu mudah sekali untuk putus. Jadi cinta yang kuat memperkuat pasangan itu untuk menghadapi segala macam tantangan. Sebab betul kata ak Gunawan, hidup ini penuh dengan hal-hal yang tidak terduga, mengejutkan kita, kalau tidak kuat dan kejutannya terlalu besar hingga akhirnya menggoyangkan pernikahan mereka itu.
Jadi nomor satu cintanya harus kuat. Maksudnya cinta itu sangat berkaitan sebetulnya dengan kecocokan. Kita cenderung makin mencintai orang yang kita rasa cocok dengan kita, yang jarang bertengkar dengan kita. Kalau kita sering bertengkar, sering tidak cocok, tidak bisa tidak yang akan termakan adalah rasa cinta itu. Kalau memang hubungannya kurang begitu kuat, karena sudah termakan oleh percekcokan oleh ketidakcocokan terus mereka menikah dan ada kejutan orang tua tinggal dengan mereka atau misalnya salah satu dari antara mereka diberhentikan dari pekerjaannya atau anaknya cacat dan sebagainya, biasanya langsung menggoyangkan sendi-sendi pernikahan mereka. Jadi persiapan yang pertama memang kita harus melihat berapa besar cinta kita dan berapa kecilnya ketidakcocokan kita itu, semakin besar ketidakcocokan biasanya makin sulit nantinya. Dan keterampilan memecahkan problem itu harus sudah kita lihat dalam diri orang yang mau menikah, misalnya kalau bertengkar dia banting pintu, dia keluar rumah. Berarti dia itu belum terampil untuk memecahkan problem. Atau kalau ada problem nangis meraung-raung, akhirnya tidak bisa menyelesaikan problem karena pasangannya tidak bisa bicara, habis nangis terus-menerus. Atau ngambek tidak mau bicara selama 3 hari 3 malam. Cara-cara yang tidak sehat itu sudah tentu menghalangi orang untuk menyelesaikan problem. Jadi hal kedua yang perlu dipersiapkan bagi para pasangan yang mau menikah adalah keterampilan untuk menyelesaikan problem. Kalau ada orang yang misalnya menyalahkan orang lain, kalau ada sesuatu yang terjadi, itu juga menandakan dia tidak bisa atau tidak terampil memecahkan problem karena kurang dewasa.
(2) IR : Kalau satu keluarga sudah mengalami ketidakcocokan, kemudian orang tuanya sampai bercerai, bagaimana dampak untuk anak-anaknya Pak Paul?
PG : Ada banyak dampak sebetulnya Bu Ida, kita akan bahas beberapa dulu untuk saat ini, mungkin untuk lainkali kita akan membahas kelanjutannya. Yang pertama adalah dampak pada anak-anak itu saa kategorikan pada masa ketidakharmonisan, belum sampai bercerai namun sudah mulai tidak harmonis.
Apa dampaknya pada si anak, biasanya yang pertama adalah anak mulai menderita kecemasan yang tinggi, ketakutan, cemasnya kenapa? sebab dia mendengar orang tuanya berbicara mengenai perceraian, mereka sudah dengar kata-kata cerai muncul dari kosa kata orang tuanya. Setiap anak takut atau cemas mendengar kata cerai dari mulut orang tuanya. Setiap anak takut berpisah dari orang tua, dan setiap anak takut orang tuanya berpisah dari satu sama lain. Itu dua hal yang sering kali anak cemaskan.
GS : Tapi pernah terjadi begini Pak Paul, dengan perpisahan itu menghindari terjadinya percekcokan di depan anak. Maksud saya misalnya seperti beberapa waktu yang lalu kita bicarakan, si ayah atau si suami itu pergi keluar kota karena pekerjaannya, lama tidak pulang, 'kan juga timbul rasa cemas pada anak itu.
PG : Anak mempunyai kepekaan, jadi waktu anak-anak melihat orang tua serumah tidak bertengkar tapi tidak mesra atau kurang memperhatikan satu sama lain. Kalau kita bertanya pada diri kita sendii kita tahu atau tidak, siapa yang lebih mencintai siapa, papa lebih mencintai mama atau mama lebih mencintai papa.
Saya rasa kita semua bisa menjawab, meskipun orang tua kita tidak pernah memberikan surat pemberitahuan. Tapi kita bisa menjawabnya.
GS : Ya karena sifatnya, perilakunya itu 'kan bisa kelihatan Pak Paul?
PG : Betul, jadi sikap-sikap yang tidak tertulis tapi ditunjukkan kepada anak, biasanya isyarat-isyarat yang anak akan tangkap, bahwa ada yang tidak beres di antara orang tuanya.
GS : Setelah melewati sekian masa, di mana anak itu merasa takut atau cemas, kehilangan dan sebagainya. Apa yang terjadi pada diri anak itu?
PG : Dia akan mulai merasa takut, takut dalam pengertian bukannya saja karena mulai mengantisipasi perceraian, dia mulai takut mengantisipasi pertengkaran. Jadi satu pertengkaran membuat anak brpikir akan muncul pertengkaran yang kedua, pertengkaran yang kedua membuat anak berpikir akan muncul pertengkaran ketiga.
Jadi anak-anak ini mulai hidup dibayang-bayangi oleh pertengkaran orang tua, jangan sampai bertengkar lagi, bertengkar lagi, tapi sering kali yang terjadi adalah justru dia bertengkar nah waktu bertengkar lagi anak makin takut. Aduh tegang tidak enak, nah ketakutannya bukan hanya untuk kali itu mendengar orang tuanya bertengkar, ketakutannya adalah mulai mengantisipasi jangan-jangan besok bertengkar lagi atau kapan mereka akan bertengkar lagi, jadi senantiasa hidup berjaga-jaga dan dalam keadaan was-was itu.
IR : Dan kalau kedua orang tuanya itu sedang bertengkar Pak Paul, memungkinkan anak itu bisa membenci salah satu orang tuanya Pak Paul misalnya si anak itu lebih mencintai ibunya, dia akan benci kepada ayahnya?
PG : Betul sekali Bu Ida, jadi anak misalnya melihat bahwa yang menjadi korban adalah orang yang dikasihinya atau memang dia melihat yang jahat adalah ayahnya atau ibunya timbullah rasa keadila dalam dirinya, di mana dia ingin membela yang dianggap benar dan mulailah dia membenci yang dianggap penjahat atau penjajah dalam rumahnya.
Maka yang timbul adalah kebencian demi kebencian.
GS : Tapi ada juga Pak Paul, saya tadi sempat terkenang pada satu pasangan yang sebenarnya menyeleweng. Ini suami atau ayah, tapi sampai sekarang ini mereka sudah bercerai. Anak-anak itu masih ikut sang ayah karena kekayaan itu ada pada sang ayah itu Pak. Jadi ayah itu mampu menggunakan uangnya itu untuk membuat anak-anaknya dekat pada dia tapi menjauhi ibunya.
PG : Bisa jadi begitu, dalam rumah tangga yang tidak sehat, yang bermasalah dan penuh dengan pertengkaran-pertengkaran bisa muncul 3 kategori anak Pak Gunawan. Yang pertama adalah anak-anak yan memberontak yang menjadi masalah di luar, kedua adalah anak-anak yang mengurung diri, menjadi depresi bawaannya sedih, yang ketiga adalah anak-anak yang super baik yang jadi juru selamat rumah tangga.
Nah anak-anak yang super baik ini adalah anak-anak yang sebetulnya menyangkali fakta, mereka tidak mau menerima fakta bahwa orang tuanya bermasalah, merekalah yang melindungi reputasi orang tua dan mengasihi orang tuanya secara membabi buta seolah-olah orang tuanya itu terbaik di dunia ini, tidak ada orang yang boleh mencela orang tuanya. Jadi unsur penyangkalannya kuat sekali, jadi itu bisa juga terjadi Pak Gunawan.
GS : Ya betul, jadi memang mereka lebih menekankan itu, reputasi ayahnya karena ayahnya terkemuka juga sedangkan ibunya tersingkirkan. Tapi ada juga reaksi dari anak itu yang menjadi mudah marah Pak Paul, atau karena mereka mencontoh orang tuanya yang suka marah tiap-tiap hari?
PG : Itu betul sekali Pak Gunawan, salah satu dampaknya adalah anak yang terlalu sering melihat orang tua bertengkar, dia akan sedikit demi sedikit mencontoh perilaku tersebut. Kalau tidak ada esesuaian dia marah, kalau orang tidak melakukan yang ia inginkan dia marah, sebab itu yang dia saksikan.
Namun kemarahan juga bisa muncul karena nomor satu dia harus hidup dalam ketegangan dan dia tidak suka hidup dalam ketegangan seperti ini atau dia marah karena melihat salah satu pihak itu memang jahat, kurang adil. Yang lainnya lagi adalah karena memang dia harus kehilangan hidup yang tenteram, yang hangat, dia menjadi marah pada orang tuanya kok memberikan hidup yang seperti ini kepada mereka.
GS : Apakah ada kecemasan tentang masa depan mereka Pak Paul, jadi mereka punya perasaan, nanti kalau orang tua cerai lalu masa depan mereka bagaimana, ada atau tidak Pak Paul perasaan itu?
PG : Ada sekali, kebanyakan anak-anak takut orang tua bercerai, salah satunya adalah takut masa depan mereka akan hancur. Sebab mereka tahu waktu orang tua cerai pasti berdampak besar terhadap ereka dan tiba-tiba masa depan yang tadinya sudah terbayang akan kabur maka tidak heran kalau anak-anak korban perceraian sering juga menjadi anak-anak yang frustrasi.
Karena sudah merasa hidup itu tidak ada lagi maknanya, masa depan sudah begitu suram buat apa lagi saya hidup baik-baik. Jadi akhirnya hidup jauh lebih sembarangan, semuanya menuruti hasratnya.
IR : Dan kelak kalau anak ini sudah menikah apa ada kecenderungan juga untuk mudah bercerai dengan pasangannya Pak Paul?
PG : Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah tangga yang bermasalah memang sedikit banyak terpengaruh Bu Ida, saya tidak bisa pastikan apakah mereka akan lebih mudah bercerai. Tapi kalau tidak medapat pertolongan, perbaikan dan perubahan dalam hidupnya, kemungkinan problem itu akan dibawanya dalam pernikahan itu sendiri sehingga menjadi masalah lagi nantinya.
GS : Ada juga yang merasa rendah diri Pak Paul?
PG : Betul, ada juga yang akhirnya minder.
GS : Mungkin kita akan lanjutkan pembicaraan ini pada kesempatan yang akan datang Pak Paul, karena masih ada beberapa hal yang harus kita bicarakan khususnya setelah perceraian itu terjadi, namun mungkin untuk mengakhiri sesi ini Pak Paul akan menyampaikan sebagian firman Tuhan.
PG : Saya akan mengulang lagi yang firman Tuhan katakan di Matius 19:6 "Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia." Tuhan memang mlarang orang bercerai dengan alasan-alasan yang sangat jelas, Tuhan mengerti dampaknya begitu berat, baik bagi orang yang bercerai maupun terhadap anak-anak mereka.
Makanya Tuhan meminta agar kita baik-baiklah menjaga pernikahan kita karena dampak perceraian atau pertengkaran atau ketidakharmonisan sangat besar, jadi jagalah baik-baik pernikahan kita.
GS : Saya rasa itulah anjuran Tuhan yang sangat penting untuk kita lakukan.
Dan demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan tentang dampak perceraian pada anak dan kita masih akan melanjutkan pokok pembicaraan ini pada kesempatan yang akan datang, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.
PERTANYAAN KASET T42A
Adakah tahapan di mana orang yang bercerai itu menyalahkan dirinya sendiri?
Apa dampak perceraian terhadap anak?
Ringkasan Isi:
Ada beberapa hal tahapan yang mendahului sebelum terjadi perceraian.
Mulai mereka temukan ketidakcocokan dalam pernikahan mereka.
Orang akan merasa gagal untuk membereskan masalah atau kemelut ini. Sebab yang akan mereka saksikan adalah masalah yang sama diulang-ulang.
Ini memang ditimbulkan oleh sekurang-kurangnya 2 penyebab.
Orang yang bersangkutan tidak mau berubah
Mereka belum menguasai cara untuk menyelesaikan problem.
Yang tidak berhasil, akhirnya terlibat dalam suatu siklus, siklus pertengkaran yang tidak bisa selesai-selesai.
Kalau sudah sampai pada titik ini biasanya kita menyerah.
Kemudian kita akan merasa masa bodoh, akan mendiamkan, memasabodohkan pasangan kita dan tidak menghiraukannya.
Rasa sakit yang berkepanjangan dan tak tertahankan inilah yang seringkali menjadi pencetus atau mendorong orang untuk bercerai.
Dampak pada anak-anak pada masa ketidakharmonisan, belum sampai bercerai namun sudah mulai tidak harmonis:
Anak mulai menderita kecemasan yang tinggi dan ketakutan.
Anak merasa terjepit di tengah-tengah. Karena dalam hal ini anak sulit sekali memilih papa atau mama, dia merasa sangat terjepit di tengah
Anak sering kali mempunyai rasa bersalah.
Kalau kedua orang tuanya sedang bertengkar, itu memungkinkan anak bisa membenci salah satu orang tuanya.
Dalam rumah tangga yang tidak sehat, yang bermasalah dan penuh dengan pertengkaran-pertengkaran bisa muncul 3 kategori anak.
Anak-anak yang memberontak yang menjadi masalah diluar. Anak yang jadi korban keluarga yang bercerai itu menjadi sangat nakal sekali karena:
Mempunyai kemarahan, kefrustrasian dan mau melampiaskannya.
Selain itu, anak korban perceraian jadi gampang marah karena mereka terlalu sering melihat orang tua bertengkar. Namun kemarahan juga bisa muncul karena :
Dia harus hidup dalam ketegangan dan dia tidak suka hidup dalam ketegangan
Dia harus kehilangan hidup yang tenteram, yang hangat, dia jadi marah pada orang tuanya kok memberikan hidup yang seperti ini kepada mereka.
Waktu orang tua bercerai, anak kebanyakan tinggal dengan mama, itu berarti ada yang terhilang dalam diri anak yakni figur otoritas, figur ayah.
Anak-anak yang bawaannya sedih, mengurung diri, dan menjadi depresi. Anak ini juga bisa kehilangan identitas sosialnya.
Anak-anak yang super baik yang jadi juru selamat rumah tangga.
Matius 19:6 b, "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia."
Tuhan melarang orang bercerai dengan alasan-alasan yang sangat jelas. Tuhan mengerti dampaknya begitu berat, baik bagi orang yang bercerai maupun terhadap anak-anak mereka.
Tapi untuk kasus-kasus yang lebih umum, dimana mulai timbul tanda-tanda yang menuju pada perceraian ada Firman Tuhan di Matius 18:10 , "Ingatlah jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu ada malaikat mereka di Surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di Surga."
Tuhan Yesus menegaskan bahwa anak-anak itu berharga dan Tuhan memperhatikan mereka. Jadi Tuhan berkata ada malaikat yang menjaga mereka, dengan kata lain, Tuhan mau kita mengingat anak-anak bahwa anak-anak itu penting dan berharga di mata Tuhan. Jangan sampai gara-gara kita menuruti kehendak diri sendiri, anak-anak menjadi korban jadi bertahanlah sebisanya. Bereskanlah itu sebisanya baik saudara yang wanita maupun saudara yang pria, rendahkanlah diri, mintalah bantuan dan bereskanlah masalah, jangan tunggu- tunggu lagi.
Usia perkawinan yang rawan terhadap perceraian adalah :
Masa 5 tahun pertama setelah pernikahan dan juga yang lebih kritis lagi 3 tahun pertama.
Usia pertengahan yaitu usia sekitar 45 - 55 tahunan. Rawan karena pada saat itu saat di mana anak-anak sudah besar. Anak-anak seringkali menjadi pengikat orangtua dan sekaligus merupakan suatu pengalihan problem.
Dampak dari perceraian yang sering kali dialami oleh anak adalah:
Anak merasa terjepit, anak mengalami kesulitan untuk berkata saya memilih mama atau saya memilih papa. Dia merasa terjepit di tengah, siapa yang harus dibela, siapa itu yang dia harus ikuti nantinya kalau misalnya terjadi perceraian.
Anak mempunyai rasa bersalah. Karena anak merasa bahwa dirinya yang menjadi penyebab perceraian.
Anak yang jadi korban keluarga yang bercerai cenderung menjadi anak yang sangat nakal karena:
Anak mempunyai kemarahan, kefrustasian dan dia mau melampiaskannya. Dan pelampiasannya adalah dengan melakukan hal-hal yang berlawanan dengan peraturan, memberontak dan sebagainya.
Anak kehilangan figur otoritas, figur ayah. Waktu figur otoritas itu menghilang anak sering kali tidak terlalu takut pada mama.
Anak kehilangan jati diri sosialnya atau identitas sosialnya. Status sebagai anak cerai memberikan suatu perasaan dia orang yang berbeda dari anak-anak lain.
Pasangan suami-istri seharusnya cepat mencari bantuan pada pihak ketiga yaitu pendeta, konselor untuk membereskan persoalan mereka, jikalau mereka itu tiba-tiba sudah sadar bahwa persoalan yang sama muncul lagi terus-menerus. Jadi kalau sampai ada orang yang menderita dalam pernikahannya yang perlu dilakukan adalah:
Mencari bantuan, dua-dua meskipun yang satu merasa saya tidak punya masalah, carilah bantuan karena seringkali ini bukanlah masalah satu atau yang satunya, tapi masalah berdua.
Harus tetap kuat di dalam Tuhan.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Masalah perselingkuhan memang masalah yang cukup berat yang harus diatasi oleh sepasang suami-istri. Namun tidak mudah bagi pasangan suami-istri ini untuk memulihkan hubungannya seperti semula, ketika masalah perselingkuhan itu sudah diselesaikan.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Setelah Perselingkuhan", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, masalah perselingkuhan memang masalah yang cukup berat yang harus diatasi oleh sepasang suami-istri. Tetapi ada beberapa pasangan yang setelah mereka melewati masa itu artinya masalah perselingkuhan itu bisa diselesaikan, ternyata mereka berdua sendiri banyak timbul masalah, di dalam hal komunikasi, di dalam hal hubungan suami-istri, itu kenapa Pak Paul bisa seperti itu?
PG : Yang pertama adalah ini Pak Gunawan, pada masa badai selingkuh menerpa umumnya kita ini bersatu padu melawan satu sasaran yang sama yakni si pengganggu itu atau orang ketiga tersebut. Seteah ancaman itu lenyap, kita kembali melihat ketidakcocokan yang telah membuka pintu perselingkuhan.
Jadi memang tidak bisa tidak untuk sementara waktu kita itu tidak lagi memfokuskan pada relasi kita, karena semua energi terpusat pada si pengganggu itu. Setelahnya, kita sudah melewati ancaman, pernikahan kita bisa tetap utuh, kita kembali melihat relasi kita dan kita mendapati bahwa: Ya, ya, masih sama seperti dulu, ketidakcocokan masih ada, dia masihlah orang yang egois, dia masihlah orang yang kalau marah seenaknya, dia masihlah orang yang tidak memikirkan perasaan orang lain, dia masihlah orang yang tidak mempedulikan nak-anaknya, dan sebagainya. Nah, tiba-tiba kita disadarkan kok tidak berubah ya, kok ketidakcocokan ini masih ada. Inilah yang sering kali terjadi Pak Gunawan, jadi untuk sejenak karena adanya gangguan dari luar, semua usaha dipusatkan pada usaha bagaimana menolong pernikahan ini dan bagaimana menghalau si pengganggu itu. Namun pada akhirnya kita melihat kembali masalah yang sama.
GS : Tetapi bukankah mereka biasanya bertekad untuk memperbaharui kehidupan pernikahan mereka dan melupakan yang di belakang Pak Paul.
PG : Nah masalahnya adalah yang sebetulnya mereka lakukan, mereka mencoba untuk melupakan problem dengan perempuan atau pria yang lain tersebut. Dengan kata lain yang mereka coba kubur adalah igatan atau memori tentang perselingkuhan itu.
Tapi ketidakcocokan yang memang sudah ada di antara mereka itu tidak terselesaikan dengan sendirinya. Kadang-kadang pasangan suami-istri beranggapan bahwa setelah perselingkuhan maka relasi mereka akan bertambah baik. Seolah-olah ketidakcocokan yang dari awalnya sudah ada akan lenyap dengan sendirinya. Nah, kenyataannya tidak demikian, ketidakcocokan itu tetap ada.
GS : Tapi bukankah itu bisa menjadi pemicu bahwa yang berselingkuh itu bisa kembali lagi pada orang yang diselingkuhi itu Pak Paul?
PG : Bisa, itu betul sekali Pak Gunawan, itu sebabnya memutuskan relasi selingkuh tidak mudah. Karena apa? Karena pada umumnya selingkuh itu dipicu atau didahului oleh masalah antara suami-istr itu sendiri, kemudian akhirnya terlibatlah si suami atau istri dengan orang ketiga.
Nah kalau ingin diputuskan, memang tahapannya adalah pertama dia harus putuskan relasi dengan orang ketiga tersebut. Dan tahapan kedua yang biasanya sangat berat adalah mengharmoniskan kembali relasi nikah itu sendiri. Nah, ini ujian yang memang berat. Adakalanya pasangan suami-istri gagal melewati ujian yang berat ini, yang pernah berselingkuh tergoda untuk kembali lagi masuk ke dalam relasi selingkuh.
GS : Kalau begitu Pak Paul mempunyai saran apa untuk mengatasi masalah seperti ini?
PG : Ada beberapa Pak Gunawan yang bisa kita lihat, yang pertama adalah kita harus menyadari bahwa ketidakcocokan itu tidak pudar dengan berakhirnya perselingkuhan. Jangan sampai kita itu mempuyai anggapan kalau perselingkuhan sudah beres maka ketidakcocokan kami itu juga tiba-tiba akan lenyap.
Jangan sampai kita memiliki anggapan seperti itu, jadi inilah masanya membereskan masalah. Jangan sampai kita lari dari masalah atau menutupi masalah. Akui memang kita mempunyai masalah, memang dasarnya kita memiliki ketidakcocokan. Nah, mintalah bantuan pihak konselor atau hamba Tuhan untuk menolong menyelesaikan masalah kita, ini saran saya pada pasangan yang telah dilanda oleh perselingkuhan.
GS : Biasanya Pak Paul, orang yang di pihak berselingkuh itu mempunyai rasa bersalah yang besar sekali terhadap pasangannya, sehingga dia tidak berani mengambil inisiatif seperti tadi Pak Paul katakan ke konselor atau apa, begitu?
PG : Nah, memang perlu kematangan dari kedua belah pihak untuk mengakui bahwa: OK!, kami mempunyai masalah, dan karena kami punya masalah ya masalah ini yang menjadi salah satu pemicu mengapa psangan saya atau saya akhirnya terlibat selingkuh.
Adakalanya ini yang terjadi. Misalkan si suami yang berselingkuh, setelah akhirnya si suami kembali melepaskan pasangan selingkuhnya, dia itu mau membereskan masalah antara dia dan istrinya yang menjadi salah satu pemicu kenapa dia terlibat selingkuh. Namun adakalanya si istri tidak siap, si istri seakan-akan membutakan mata terhadap masalah yang sudah ada. Si istri seolah-olah hanya memfokuskan pada satu masalah yaitu adanya orang ketiga, selain dari itu tidak ada masalah. Maka tadi saya katakan perlu kematangan, perlu keterbukaan untuk mengakui: "Tidak ya, memang kami punya masalah, dan masalah ini melibatkan saya dan pasangan saya." Jangan sampai kita akhirnya tidak mau mengakui bahwa kita berandil dalam masalah rumah tangga kita dan hanya melemparkan tanggung jawab pada pihak ketiga itu. Jadi langkah pertama seperti itu. Sekarang kita melihat yang berikutnya Pak Gunawan, kenapa setelah terjadi perselingkuhan dan bisa keluar dari kemelut ini, pasangan nikah akhirnya mengalami problem? Selain dari yang pertama yang telah kita bahas, berikutnya adalah pada masa mereka harus bertahan, target pasangan adalah menyelamatkan pernikahan tidak ada target yang lain. Sehingga semua perasaan luka yang telah diakibatkan oleh selingkuh tersebut kita abaikan, kita tidak perhatikan. Semua kebutuhan-kebutuhan kita juga kita abaikan, kita fokuskan semuanya untuk menyelamatkan pernikahan kita. Nah setelah badai selingkuh itu lewat barulah kita menyadari luka yang telah ditimbulkan oleh pasangan kita dan oleh selingkuhnya. Barulah kita menyadari juga kebutuhan-kebutuhan kita yang sebetulnya begitu banyak yang tak dipenuhi oleh pasangan kita, gara-gara perbuatannya dia berselingkuh dengan orang lain. Akhirnya apa yang muncul? Marah, kita marah sekali karena kita baru menyadari luka itu dan begitu banyaknya kebutuhan kita yang gagal dipenuhi oleh pasangan kita. Nah, apa yang kita lakukan? Karena sekarang pernikahan kita sudah selamat, pasangan kita tidak lagi bersama pasangan selingkuhnya kita merasa lebih aman, lebih bebas untuk mengungkapkan kemarahan kita. Biasanya bisa memakan waktu sampai berbulan-bulan bahkan beberapa tahun untuk pasangan yang dilukai mengeluarkan uneg-unegnya, kemarahan-kemarahannya. Dia mungkin merasa dulu saya bodoh sekali, kok mau diperlakukan seperti itu, orang ini kok kurang ajar sekali bisa berkhianat. Dulu saya ditipu terus-menerus, dulu saya mau saja percaya, wah kembali semua perasaan-perasaan itu dan membuat kita marah sekali. Nah kalau tidak tahan-tahan dan bijaksana dalam menghadapi gejolak emosi ini, pernikahan mereka akan mengalami krisis yang kedua bukan lagi krisis karena perselingkuhan tapi krisis pasca perselingkuhan.
GS : Karena kemarahan itu ya Pak Paul, dan biasanya pihak istri yang lebih membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh dari lukanya itu.
PG : Tepat sekali, kalau dia adalah pihak yang dirugikan dia akan memerlukan waktu yang lebih lama. Maka saran saya kepada pasangan yang telah mengalami badai selingkuh ini adalah pelaku selinguh atau orang yang melakukan selingkuh harus menyadari bahwa kesembuhan emosional tidak terjadi dengan segera dan memerlukan waktu yang panjang.
Ini saya meminta kepada orang yang telah melakukan selingkuh yaitu saya meminta agar dia mengizinkan pasangannya untuk marah dan mewujudkan lukanya. Jadi terima, memang itu bagian dari kesembuhan emosinya, kalau si pelaku selingkuh justru menutup pintu, justru lebih marah lagi kepada pasangannya, nah ini memperpanjang masalah. Justru kalau dia izinkan pasangannya untuk mengeluarkan kemarahannya, justru proses kesembuhan itu akan berjalan dengan lebih lancar.
GS : Apakah ada masalah lain Pak Paul, yang timbul setelah perselingkuhan itu bisa diatasi?
PG : Yang berikutnya lagi adalah ini Pak Gunawan, badai selingkuh acap kali mengobrak-abrik struktur rumah tangga. Jika sebelumnya kita berada di bawah kekuasaan pasangan kita, mungkin sekali skarang kita berdiri sejajar dengannya, karena perselingkuhan itu.
Atau kebalikannya, mungkin dia dulu berada di bawah kendali kita sekarang dia berselingkuh eh.....dia berada di atas kita. Kenapa? Karena setelah dia berselingkuh kita menyadari bahwa kita salah, kita dulu telah mengabaikan kebutuhannya, kita sekarang menyadari kita takut kehilangan dia, dulu kita menganggap dia itu pasti akan ikut kita, tunduk pada kita dan sebagainya tiba-tiba kita sekarang dibangunkan dari anggapan yang keliru itu bahwa pasangan kita itu hampir saja meninggalkan kita. Wah......kita baru menghargai kehadirannya, sehingga tadinya kita di atas sekarang turun ke bawah dia yang di atas kita. Nah perubahan struktur ini menuntut penyesuaian peran, menuntut perubahan hak juga, menuntut perubahan tanggung jawab. Dulu kita rasanya bebas berbuat apa saja sekarang tidak, dulu kita berkuasa atas pasangan kita misalkan istri kita, kita berkuasa atas istri kita, tapi sekarang setelah berselingkuh kita tidak lagi mempunyai wibawa, tidak lagi mempunyai otoritas itu. Istri kita tidak dengan mudah tunduk kepada kita. Nah sering kali kita itu ingin kembali ke masa persis sebelum terjadinya selingkuh, peranan-peranannya ingin kita kembalikan ke posisi semula. Sering kali justru ini yang tidak bisa lagi kita lakukan, kita harus menerima fakta bahwa sekarang semuanya telah berubah, dulu kita bisa mendapatkan keinginan kita dengan mudah, sekarang mungkin lebih susah. Karena apa? Kita harus bernegosiasi, minta pendapat pasangan kita, dulu tidak usah. Dulu kita pulang jam berapa saja bisa, sekarang kita harus memberitahukan pasangan kita, kita pulang jam berapa dan coba tepati waktu, karena ini adalah proses untuk menumbuhkan kembali kepercayaan pasangan kepada kita. Jadi sekali lagi struktur berubah, kadang kala Pak Gunawan, pasangan nikah tidak bisa menerima perubahan struktur ini dan akhirnya menimbulkan goncangan babak ke dua dalam pernikahan mereka.
GS : Atau hanya untuk sekejab saja Pak Paul, hanya untuk sementara waktu memang ada perubahan itu, tapi kemudian dia akan kembali lagi pada asalnya itu?
PG : Nah sering kali yang terjadi adalah yang satu ingin kembali kepada posisi semula, yang satu tidak mau. Misalkan pasangan yang dilukai atau dikhianati, akan berkata saya tidak mau dibodohi ntuk kedua kalinya, kamu sudah mempedaya saya, nah sekarang saya tidak mau lagi dipedaya.
Maka sekarang dia menuntut pasangannya untuk lebih bertanggung jawab padanya, untuk berani, untuk bersedia memberitahukan dia pergi dengan siapa. Nah yang si pelaku selingkuh mungkin sekali tidak mau memberitahukan itu sebab dulu waktu dia pergi dengan teman-temannya dia tidak pernah memberitahukan pasangannya dia pergi dengan siapa. Dia pulang jam berapa, dia berbuat apa, dia tidak pernah mau melakukan semua itu sekarang pasangannya tidak terima dan menuntut dia untuk memberitahukan itu. Di sinilah akan terjadi pertengkaran kembaali.
GS : Kalau sampai terjadi katakan perebutan kekuasaan seperti itu, apa yang bisa dilakukan?
PG : Yang bisa kita lakukan adalah menyadari pertama-tama bahwa perubahan memang mencemaskan, kita takut kalau berubah itu nanti kita akan susah, kita akan berada di bawah tumit kaki pasangan kta.
Jadi kita berusaha mencengkeram kembali posisi itu, sebaiknya jangan, sebaiknya terimalah bahwa memang telah terjadi perubahan. Memaksakan diri untuk kembali pada posisi semula, biasanya justru menimbulkan lebih banyak goncangan, terima saja. Dengan bantuan seorang konselor, perubahan itu bisa dilalui dan akhirnya akan berakibatkan baik, lebih baik daripada yang semula. Jadi saya meminta jangan kaku dan jangan menolak perubahan.
GS : Pak Paul, biasanya beberapa pasangan yang terjadi perselingkuhan seperti itu (ini kebanyakan suami-suami yang melakukan hal itu). Dia baru kembali ke istrinya itu pada masa tuanya, katakan sudah tua dia baru kembali ke istrinya, menyesali perbuatannya. Nah gejala-gejala seperti itu tidak terlalu kelihatan Pak Paul?
PG : Itulah yang cukup sering terjadi Pak Gunawan, maka kadang-kadang kalau orang datang kepada saya bertanya: "Pak, berapa lama saya harus menunggu sampai pasangan saya sadar, bertobat kebali ke rumah?" Sering kali saya harus berkata: "Bisa setahun, bisa sepuluh tahun, bisa dua puluh tahun dan selanjutnya."
Memang tidak bisa dipastikan, jadi kesabaran memang sangat dibutuhkan di sini, namun di samping kesabaran juga perlu ketegasan. Ada yang akhirnya pasrah membuka pintu rumahnya untuk pasangannya kembali, namun jadinya harus membagi pasangan dengan orang ketiga itu. Hari apa di rumah kita, hari apa di rumah pasangannya yang lain, ada orang yang seperti itu juga. Karena tidak ada pilihan lain dalam hidup. Saya mengerti masalah ini sangat pelik, tidak mudah, dan untuk setiap pasangan ada jawabannya masing-masing, ada jalan keluarnya masing-masing, dan ada caranya masing-masing. Jadi saya kira untuk saya memberikan satu rumus untuk bisa digunakan semua pasangan tidaklah realistik. Setiap pasangan harus menemukan dirinya di sini, sanggupnya seperti apa, mampunya seperti apa, ini harus kita sadari. Dan tanggung jawab kita terhadap anak dan sebagainya harus kita pikirkan juga, jadi begitu banyak faktor yang harus dipikirkan. Dan ini juga akhirnya berpengaruh terhadap apa yang terjadi setelah perselingkuhan. Adakalanya kita tidak sabar, setelah terjadinya perselingkuhan kita mengharapkan pasangan kita berubahnya 180° tapi tidak begitu. Baik yang menjadi pelaku maupun yang menjadi korban, dua-dua perlu waktu untuk berubah. Nah ini perlu waktu untuk berubah ini yang harus dicamkan baik-baik, tidak dengan sendirinya si pelaku maupun si korban berubah dengan cepat. Masalah semula yang telah ada akan tetap ada, tidak akan lenyap dengan sendirinya dan itu perlu kita terima dan perlu kita hadapi bukan kita hindarkan dan kita lari lagi.
GS : Apakah mungkin karena faktor usia itu Pak Paul, lalu orang yang berselingkuh itu menjadi sadar dan melihat bahwa istrinya yang pertama dululah yang lebih baik daripada selingkuhannya yang sekarang kemudian dia kembali lagi pada istrinya yang pertama?
PG : Ada yang seperti itu, jadi karena melek mata ya melihat betapa indahnya istrinya akhirnya kembali lagi pada istri yang pertama. Memang semua relasi selingkuh itu indah pada awalnya, sebab elasi selingkuh yang benar-benar didasari oleh cinta memang akan indah pada masa-masa awal, seperti juga relasi kita dengan pasangan kita pada awal-awal pernikahan, pada masa-masa berpacaran, akan sangat indah.
Namun setelah kita jalani dengan lewatnya waktu, kita akan menyadari bahwa pasangan kita tetaplah manusia yang mempunyai kehendak dan gaya hidup yang berbeda dari kita, dan kita perlu menyesuaikannya lagi. Jadi yang tadinya seindah bunga mawar atau apa, tidaklah seperti itu lagi. Akhirnya kita menyadari di balik setiap bunga ada duri, dan kita harus menghadapi duri-duri itu, kita tidak hanya bisa mencium-cium bunga setiap hari dan itulah pernikahan. Nah, kadang-kadang kita dalam pernikahan kita itu mengalami dis-ilusi, saya pikir saya akan hanya menciumi bunga ternyata banyak duri yang harus saya hadapi. Betul sekali, setiap taman bunga akan ada bunga dan akan ada durinya dan kita harus bisa menghadapi keduanya.
GS : Pak Paul, setelah mereka bisa mengatasi itu semua seharusnya bagaimana sikap pasangan suami-istri ini terhadap pihak ketiga yang kadang-kadang masih melintas di dalam kehidupan mereka?
PG : Memang sekali lagi, tidak semua situasi sama. Misalkan ada yang seperti ini, pasangan selingkuhnya itu adalah rekan sekerjanya. Nah kadang-kadang seseorang tidak mempunyai banyak pilihan utuk bekerja di tempat lain.
Memang idealnya adalah melepaskan pekerjaannya supaya dia tidak bertemu dengan mitra selingkuhnya itu, tapi saya juga menyadari hidup tidaklah seideal itu. Meskipun itu yang terbaik tapi itu tidak bisa dilakukan. Nah, si korban selingkuh mungkin saja menuntut pasangannya untuk lepas dari pekerjaan tersebut karena dia takut ini akan terulang lagi dengan adanya mitra selingkuhnya di situ. Namun saya juga ingin menghimbau agar semua keputusan dipikirkan matang-matang, jangan tergesa-gesa, didasari oleh emosi sesaat, kita perlu melihat apakah ada pilihan yang baik. Jangan sampai gara-gara mau melepaskan diri dari mitra selingkuh itu akhirnya tidak mendapatkan pekerjaan dan itu menjadi masalah bagi pernikahan itu lagi.
GS : Di pihak pasangannya itu bagaimana Pak Paul, kalau memang mitra selingkuh itu katakan dari suaminya tadi masih sering berhubungan seperti tadi Pak Paul katakan?
PG : Nah, dia harus menjaga batas bahwa sekarang tidak ada lagi pertemuan di luar jam kantor, kalau engkau membutuhkan bantuanku, maaf aku tidak bisa lagi memberikan bantuan itu kepadamu. Dulu ngkau bisa minta aku ke rumahmu; kapan-kapan engkau minta aku, aku datang sekarang tidak bisa lagi; sekarang relasi kita hanyalah sebagai teman sekerja, itu saja.
Dan tidak lagi membicarakan masalah pribadi, masalah-masalah keluarga, tidak lagi, benar-benar harus menahan diri untuk memutuskan relasi emosional itu. Dan setiap hal yang terjadi di tempat pekerjaan, dia harus membicarakannya dengan pasangannya di rumah, sehingga pasangannya tidak usah mencari-cari tahu. Bukankah kalau dia nanti pulang ke rumah diintrogasi oleh pasangannya, dia pun tidak senang, dia pun 'kan marah, kok saya masih diintrogasi, kamu tidak percaya pada saya, nah sebelum diintrogasi ya ceritakan terlebih dahulu. Tadi si itu telepon saya, tadi si itu ngomong-ngomong dengan saya tanya saya, tapi saya katakan begini, begini. Terus ceritakan, sehingga pasangan kita yang di rumah akhirnya menyadari bahwa dia jujur, dia terbuka dan saya aman. Aman karena fokusnya sudah pada rumah tangga sendiri bukan pada orang lain.
GS : Tetapi sering kali yang terjadi itu justru pasangan yang dikhianati itu mengungkit-ungkit kembali masalah-masalah perselingkuhan yang lama itu.
PG : Sampai waktu tertentu Pak Gunawan, hal itu memang dibolehkan dan memang sehat, karena kemarahannya itu masih terus tersisa, dia akan terus munculkan, dia akan mengeluarkan kemarahannya. Beikan waktu antara setahun sampai dua tahun untuk pasangan kita mengalami gejolak emosi itu.
Jangan balas ngomong, jangan coba jelas-jelaskan. Waktu pasangan kita marah atau menangis, menuduh kita atau apa, kita dengan tenang dengarkan kita katakan saya minta maaf, saya salah, selalu katakan begitu saya minta maaf, saya salah. Jangan membela diri, sebab pembelaan diri makin memanaskan hati pasangan kita yang telah kita khianati itu.
GS : Untuk kondisi yang cukup berat ini Pak Paul, apakah ada firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?
PG : Saya akan bacakan Amsal 22:4 , "Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan." Dua hal yang ingin saya angkat dari firman Than ini adalah kerendahan hati dan takut akan Tuhan.
Kalau kita rendah hati dan takut akan Tuhan, tidak ada selingkuh. Namun kalau sampai kita telah jatuh ke dalam dosa selingkuh, dosa perzinahan, dan kita ingin bereskan kembali, bangun kembali rumah tangga kita ini kuncinya, rendah hati untuk mau menerima perubahan, menerima peran yang baru, mengalami keterbatasan, rendah hati mengakui kesalahan dan minta maaf, dan terus-menerus takut akan Tuhan. Ini panduan kita karena kita tahu Tuhan mengawasi kita, jangan lagi berbuat dosa.
GS : Terima kasih sekali Pak Paul, saya percaya pedoman firman Tuhan yang telah disampaikan tadi sangat bermanfaat bagi para pendengar kita yang mungkin mengalami peristiwa seperti ini. Dan para pendengar sekalian kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Setelah Perselingkuhan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Pada masa badai perselingkuhan menerpa, kita mengeluarkan segenap energi untuk bertahan. Apa yang terjadi setelah badai selingkuh berlalu kadang mengejutkan. Kita malah saling mencakar dan relasi antara suami-istri justru memburuk. Mengapa?
Pada masa badai selingkuh menerpa, kita bersatu padu melawan satu sasaran yang sama, yakni si pengganggu itu. Setelah ancaman itu lenyap, kita kembali melihat ketidakcocokan yang telah membuka pintu perselingkuhan itu.
Pada masa bertahan, target kita adalah menyelamatkan pernikahan. Semua perasaan luka dan terabaikan serta kebutuhan kita kesampingkan. Setelah badai selingkuh lewat, kita barulah menyadari luka yang ditimbulkan dan kebutuhan yang tak terpenuhi. Perasaan marah yang tadinya kita kesampingkan sekarang terangkat ke permukaan dan mulai kita ekspresikan kepada pasangan.
Badai selingkuh acap kali mengobrak-abrik struktur rumah tangga. Jika sebelumnya kita berada di bawah kekuasaannya, mungkin sekali sekarang kita berdiri sejajar dengannya. Atau kebalikannya. Mungkin dia dulu yang berada di bawah kendali kita, sekarang ia berada di atas kita. Perubahan ini menuntut penyesuaian peran, hak, dan tanggung jawab.
Apa yang harus kita lakukan?
Pelaku selingkuh harus menyadari bahwa kesembuhan emosional tidak terjadi dengan segera dan memerlukan waktu yang panjang. Izinkan pasangan untuk marah dan mewujudkan lukanya.
Ketidakcocokan tidak pudar dengan berakhirnya perselingkuhan; inilah masanya membereskan masalah, dan bukan menutupinya. Mintalah bantuan seorang konselor untuk menolong menyelesaikannya.
Perubahan memang mencemaskan namun sering kali perubahan adalah untuk kebaikan bersama. Jadi, jangan kaku dan menolak perubahan.
Firman Tuhan "Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan, dan kehidupan." Amsal 22:4
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Perceraian merupakan tindakan yang dilarang oleh Tuhan, karena dampak dari perceraian itu sendiri terlalu pahit baik bagi yang melakukannya, bagi pasangannya dan terlebih juga bagi anak-anaknya.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang masalah perceraian, kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1) GS : Pak Paul, kita semua tahu bahwa Tuhan Allah sendiri melarang adanya perceraian. Tetapi fakta nyata yang kita hadapi hampir tiap-tiap hari, baik di koran maupun kita dengar berita bahkan kawan-kawan dekat kita sendiri melakukan perceraian. Sebenarnya bagaimana prosesnya itu Pak Paul, kenapa sampai seseorang itu memutuskan hubungan pernikahan yang begitu suci, begitu khusus, yang begitu sakral itu Pak Paul, dimana mereka juga tahu bahwa itu sesuatu yang dilarang oleh Tuhan?
PG : Sebetulnya bisa dibagi dalam dua kategori atau penggolongan, Pak Gunawan. Yang pertama adalah perceraian yang disebabkan karena kekurangan makanan emosional pada pernikahan itu atau ibaratpohon yang kurang gizi, kurang sekali dirawat sehingga akhirnya pohon itu lama-lama kering dan mati.
Kategori kedua adalah yang diakibatkan adanya hama yang menyerang pohon itu, nah hama ini dapat saya ilustrasikan misalnya : dengan pertengkaran, keributan-keributan yang keras atau masuknya orang lain, jadi akhirnya pernikahan itu rontok.
GS : Jadi ada faktor ekstern dan intern yang tadi dikatakan ya Pak Paul?
GS : Sebenarnya mereka tahu akan bahaya itu,namun kenapa tidak dihindari ?
PG : Kadangkala memang penghindaran itu sulit dilakukan misalnya kalau kita lihat dari faktor yang internal yaitu kurangnya pupuk atau makanan dalam pernikahan. Para istri ada kalanya terbawa aus rutin atau kerutinan hidup.
Kita masing-masing bekerja merawat anak dan memikirkan tentang masa depan kita, akhirnya sedikit waktu yang diberikan untuk masing-masing pasangan kita.
GS : Membina intimasi antara mereka berdua ya, Pak Paul?
PG : Betul, jadi komunikasi tidak lagi berjalan dengan baik, karena jarang bicara. Dan kebutuhan untuk dicintai tidak pernah diberikan lagi, yang ada adalah pembicaraan yang lebih bersifat sepeti rekan kerja.
Anak sudah beres belum, pekerjaannya bagaimana, hanya sedalam itu saja. Yang terjadi akhirnya adalah suatu kekeringan dan kebutuhan yang tidak terpenuhi. Kalau seseorang meminta untuk kebutuhan itu dipenuhi oleh pasangannya dan pasangannya tetap mengacuhkan atau tidak mempedulikan, akhirnya yang terjadi adalah sikap yang mulai berubah. Manusia normal, waktu hal yang dia inginkan tidak terpenuhi reaksinya adalah menjauh dari orang tersebut dan bisa juga ia terluka karena tidak diperhatikan lagi. Akhirnya kalau ini terus berkelanjutan, menjadikan dua orang seperti dua orang asing dalam satu rumah. Namanya suami istri, tapi sebetulnya tidak saling mengenal lagi. Tidak ada lagi hubungan yang dalam antara keduanya.
IR : Proses itu akan berlanjut ya, Pak Paul?
PG : Ya, jadi kalau terus berjalan seperti itu yang terjadi adalah perceraian secara emosional, belum secara legal tapi sebetulnya tidak ada lagi pernikahan yang sungguh- sungguh dalam pernikahn itu.
GS :Apakah kebutuhan emosional itu tidak bisa tergantikan, jadi misalnya dengan kegiatan di luar atau mungkin dengan hoby, atau kekayaan yang diberikan oleh pihak suami misalnya, suaminya kerja terus begitu ya Pak Paul, jadi banyak uangnya. Lalu apakah itu tidak bisa menggantikan kebutuhannya?
PG : Adakalanya bisa tapi ada kalanya juga tidak bisa. Adakalanya bisa dalam pengertian, cukup banyak kasus, ada istri-istri atau ibu-ibu yang sebetulnya sangat kering tidak lagi mendapatkan cita kasih dan perhatian suaminya, tapi juga mengurus anak.
Dan anak itu menjadi pengganti suami yang memberikan dia perhatian dan cinta kasih, sehingga itu menjadi kekuatannya untuk bertahan dalam pernikahan itu. Jadi adakalanya bisa, tetapi adakalanya tidak cukup, jadi yang di butuhkan akan dicarinya dan di sinilah si suami istri rentan terhadap perselingkuhan, karena ia haus dan lapar. Orang yang haus dan lapar akan mencari makanan dan minuman agar dia tidak lagi kelaparan dan kehausan, dia akan mencarinya di luar. Saya mengatakan mencari itu tidak berarti dia sengaja mencari-cari orang untuk berkencan dengan dia, mungkin sekali tidak. Tapi kebutuhannya begitu besar sehingga sewaktu ada orang lain yang memberikannya, langsung dia sambut dan dia tidak bisa melepaskannya lagi, dia akan memegang terus orang itu.
2) IR : Bagaimana pengaruh perceraian terhadap anak-anak?
PG : Perceraian berpengaruh negatif, jadi saya pernah membaca hasil riset longitudinal yaitu riset yang dilakukan sepanjang waktu tertentu dan waktunya cukup lama. Pada waktu anak-anak masih keil sampai beberapa tahun kemudian anak-anak itu sudah menjadi orang dewasa dan hasil riset itu menunjukkan bahwa luka yang diderita si anak, ternyata masih dibawa sampai usia dewasa.
Meskipun perceraian orang tua itu terjadi mungkin lebih dari 10 tahun yang lampau.
IR : Dan itu juga berdampak kalau anak-anak sudah berumah tangga, kecenderungan untuk juga mencontoh perceraian itu ada ya, Pak Paul?
PG : Bisa ada, meskipun kebanyakan anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang bercerai, pada mulanya bertekad tidak akan bercerai, sebab tidak mau mengulang pengalaman orang tanya.
Tapi, saya tidak tahu pastinya berapa banyak, tapi ada diantara mereka yang akhirnya menikah dan kemudian bercerai. Pertanyaannya adalah kenapa bisa begitu, bukankah sudah bertekad tidak akan bercerai. Salah satu sebabnya adalah tadi, Ibu sudah katakan yaitu perilaku orang tua dicontoh oleh anak. Jadi akhirnya mereka mempunyai suatu anggapan bahwa pernikahan itu memang mungkin dipisahkan atau diceraikan, sebab orang tua saya sendiri bercerai. Bagi anak-anak yang lain, yang orang tuanya tidak bercerai kemungkinan bahwa konsep pernikahan itu bisa dipecahkan atau dipisahkan agak jauh darinya, tidak terpikirkan. Jadi bagi anak-anak yang sudah melihat orang tuanya bercerai, akhirnya konsep pernikahan itu juga mulailah terpengaruh dengan keadaan orang tuanya bahwa pernikahan itu tidak selama-lamanya dan bisa bercerai. Itu memberikan dia izin untuk melakukan tindakan yang sama. Yang kedua mengapa mereka juga rentan terhadap perceraian? Tanpa disadari perceraian itu memberikan kepada mereka solusi, jadi orang tua tidak cocok ya bercerai, itu solusi. Akhirnya mengadopsi solusi itu, akibatnya daya tahan dan daya juangnya untuk mempertahankan pernikahan yang sedang dilanda masalah, sangat mengendor, mengurang. Kemudian dia lebih mudah menyerah misalnya sudahlah memang tidak bisa dipertahankan ya sudah saja bercerai. Jadi daya juangnya kurang. Yang ketiga adalah secara sosial. Kalau orang tua, keluarga, sanak saudara kita, tidak ada yang bercerai, kita akan takut mengambil inisiatif perceraian. Jangan sampai menjadi orang pertama yang bercerai di sanak keluarga kita. Tapi kalau orang tua kita sendiri sudah bercerai, kita sekurang-kurangnya tahu satu hal, orang tua kita tidak akan memarahi kita atau berkata apa-apa, sebab merekapun melakukan hal yang sama. Jadi pagar untuk mencegah orang jangan bercerai tidak ada dalam hidupnya, sehingga dia langsung melewatinya dan dia bercerai.
GS : Tapi memang banyak pasangan yang mencari alasan mengatakan, daripada bertengkar terus dan itu pengaruhnya jelek terhadap anak-anak, lebih baik pisah dengan baik- baik, begitu Pak Paul?
PG : Saya harus akui alasan ini memang ada betulnya, sebab dalam salah satu hasil riset yang pernah saya baca, dalam rumah tangga di mana pertengkaran sudah mengerikan. Yang namanya mengerikan tu adanya pemukulan, berteriak-teriak, mengancam keselamatan jiwa si istri atau si suami.
Dalam keadaan seperti itu si anak akan mengalami ketertekanan yang sangat besar. Jadi dalam pengertian seperti itu kalau kedua orang tua itu berpisah tidak serumah, otomatis si anak akan lebih menikmati kedamaian, meskipun perceraian itu sendiri nantinya akan membawa dampak kerugian yang lain. Faktor ketegangan yang terjadi di dalam rumah tangga, akan terhilangkan tatkala kedua orang yang memang hubungannya sangat buruk itu berpisah.
GS : Tapi itu artinya penyembuhan yang sementara, atau pengatasan masalah tapi belum tuntas ya, Pak Paul?
PG : Betul, yang selesai satu hal tapi memang menimbulkan soal yang lain. Sebab perceraian itu sudah satu paket dengan masalah yang lain. Contohnya : Anak-anak yang dibesarkan oleh ibu tunggal ebih rentan terhadap kenakalan remaja, pemberontakan, pemakaian obat, perkelahian, kekerasan dan lain sebagainya, dibandingkan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang utuh.
Alasannya sangat sederhana sekali, sewaktu seorang ayah tidak ada lagi dan hanya ada seorang ibu, pengontrol tidak ada lagi atau yang mewakili figur pendisiplin tidak ada lagi, sehingga rasa takut anak akan jauh berkurang tatkala tidak ada lagi ayah. Dan tindakannya memang cenderung lebih berandal.
GS : Tapi biasanya posisi itu langsung diisi oleh kakeknya atau neneknya untuk mengawasi, apakah itu memadai, Pak Paul?
PG : Tidak memadai sepenuhnya, memang menolong kalau ada kakek atau nenek atau paman, tapi tidak bisa menggantikan secara tuntas. Karena si anak membutuhkan interaksi dari dua belah pihak, baik dari ayah maupun ibu.
Misalnya dalam proses pembentukan jati diri, atau identitas diri, anak perlu berinteraksi dengan dua cermin, agar dia bisa melihat dirinya dari dua cermin yang berbeda yaitu cermin wanita atau cermin pria, cermin ayah atau cermin ibunya. Kalau ada satu, berarti satunya akan terhilang. Jadi perceraian itu pasti membawa dampak yaitu keseimbangan pernikahan terhadap anak itu akan mulai goyang.
(3) GS : Tadi kita sudah bicarakan ada perceraian yang cuma emosional yang di dalam, orang luar juga tidak tahu. Proses itu akan berlanjut, lalu tahapan-tahapannya bagaimana, Pak Paul?
PG : Biasanya dimulai dengan perceraian emosional, tadi sudah saya katakan salah satu penyebabnya adalah kekeringan makanan, pupuk, emosional yang harusnya diterima oleh seseorang. Ada juga yan akhirnya mengalami kematian cinta bukan karena kekurangan pupuk saja tapi pertengkaran, karena hati terlalu dilukai oleh pasangannya, terus- menerus dimaki, disalahkan; pertengkaran itu juga berpotensi besar membunuh cinta atau relasi dalam pernikahan.
Akibat dari semuanya itu adalah padamnya cinta antara keduanya. Pada saat itu yang terjadi adalah perceraian emosional. Setelah itu biasa terjadi perceraian fisik, ini bisa langsung atau bisa juga setelah itu ada selang waktu yang cukup lama. Secara fisik maksudnya adalah tidak lagi tidur sama-sama. Ada orang yang bertengkar tapi masih bisa ada hubungan suami istri, hubungan badan. Tapi biasanya hubungan badanpun terhenti, tidak lagi bisa menikmati hubungan seksual. Ini yang berlangsung untuk jangka waktu tertentu. Sebetulnya ini menimbulkan problem yang baru, karena kebutuhan seksual tidak terpenuhi dan membuka pintu masuknya orang ketiga. Saya menyebutnya hama yang dari luar yaitu masuknya orang lain ke dalam hubungan mereka ini karena sudah adanya kehausan emosional dan kehausan fisik (kehausan seksual).
GS : Lalu seringkali orang mencampuradukkan, tidak tahu mana pendapatnya yang menurut Pak Paul benar. Ada yang mengatakan dia tidak tertarik melakukan hubungan seksual karena memang secara emosional sudah terpisah atau mana yang lebih dahulu atau karena hubungan emosionalnya terpisah maka dia tidak melakukan hubungan seksual?
PG : Biasanya adalah karena hubungan emosional itu sudah retak maka ketertarikan seksual itu berkurang, ini bisa dialami baik oleh suami maupun istri. Jadi adakalanya kita beranggapan pria itu isa berhubungan seksual dengan istrinya meskipun secara emosional kurang baik.
Tapi saya temukan tidak begitu, jadi cukup banyak si suami tidak ada gairah dengan si istri karena secara emosional sudah sangat jauh dengan istrinya.
(4) IR : Ada kasus ya Pak Paul, sepasang suami istri itu waktu menikah tidak diberkati di gereja karena masing-masing berbeda agama, kemudian setelah mereka menjadi Kristen seolah-olah mau taat tidak bercerai. Dalam firman bercerai itu tidak boleh, tapi akhirnya setelah hubungannya retak mereka mengatakan bahwa bercerai itu tidak apa-apa karena dulu mereka menikah tidak diberkati di gereja. Itu berarti tidak berjanji di hadapan Tuhan, bagaimana hal ini menurut Pak Paul?
PG : Itu tidak boleh karena Paulus juga mengatakan di I Korintus "Hendaklah kamu masing-masing tinggal atau diam di dalam tempat di mana kamu dipanggil" artinya kalau engkau dipanggil sbagai budak tetaplah sebagai budak, sebagai istri tetaplah sebagai istri.
Kalau memang mereka dulu menikah tidak seagama, tapi mereka sudah menikah tetap itu adalah pernikahan yang sah dan tidak ada alasan seseorang berkata sekarang saya jadi orang Kristen, jadi saya tidak mau menikah dengan kamu lagi, saya akan menceraikan kamu. Tidak boleh, itu adalah dosa karena Tuhan menghormati pernikahan yang dilembagakan oleh manusia. Bentuknya, macamnya, aturannya memang bisa berbeda di setiap suku bangsa, tidak selalu sama tapi Tuhan mengakui pernikahan itu sebagai suatu lembaga yang sah. Jadi ia harus tetap menikah dengan orang tersebut dan itu adalah tanggung jawabnya. Jadi tidak boleh melepaskan begitu saja. Paulus berkata juga di I Korintus dan kalau yang tidak percaya mau meninggalkan ya sudah kita jangan memaksakan, itu kata Paulus tapi tetap prinsipnya adalah kita persatukan sebisa-bisanya kalau memang tidak bisa lagi, dia ingin meninggalkan kita dan dia kebetulan adalah orang yang merasa belum percaya, Paulus menasehatkan orang Kristen jangan ribut-ribut, mengalah saja.
GS : Ada pasangan suami istri yang mencoba untuk berpisah sementara meskipun tidak bercerai, ya Pak Paul, dengan maksud masing-masing merenungkan apa yang sudah mereka lakukan. Sebenarnya itu menolong tidak Pak Paul, di tengah-tengah kondisi mereka yang sudah dingin. Jadi secara emosional, secara fisik mereka sudah bercerai. Ini betul-betul mereka berpisah. Apakah itu bisa menolong, Pak Paul?
PG : Yang Pak Gunawan sebut adalah tahap ketiga atau jenis ketiga dari perceraian itu. Yaitu perceraian emosional, kemudian perceraian seksual, fisik dan yang ketiga adalah perceraian geografis secara lokasi tinggalnya tidak sama-sama lagi.
Dalam pengalaman saya, Pak Gunawan, orang yang akhirnya berpisah secara geografis itu tinggal 1/2 cm sebelum akhirnya bercerai. Jadi jarang saya menemukan orang yang sudah berpisah secara geografis bersatu kembali.
GS : Mungkin ada pendapat orang, kalau dekat lalu kelihatan jeleknya saja, Pak Paul. Kalau menjauh malah saling merindukan, ada keinginan berkumpul lagi, tidak mungkin ya Pak Paul hal itu tumbuh dengan sendirinya?
PG : Kalau berpisah secara permanen jadi tidak saling bertemu dan perpisahannya diawali dengan suatu keributan dan ada perasaan pahit kemungkinan bersatunya kecil, tapi saya juga tahu adakalany orang mengambil keputusan untuk bukan berpisah secara permanen tapi karena hubungan yang buruk.
Ya sudahlah engkau bekerja di kota apa, aku bekerja di kota apa, kita bertemu misalnya tiga hari sekali atau seminggu sekali. Di situ memang kita bisa melihat adanya perubahan mereka lebih jarang berkelahi, karena tidak ada waktu berkelahi. Karena sama-sama lelah dan jarang ketemu, orang mengatakan itu jalan keluar. Merupakan jalan keluar meskipun bukan jalan keluar yang baik, yang sempurna, karena yang tetap dirugikan di situ adalah si anak tidak bisa bertemu ayah dan ibunya.
IR : Dan itu membuat kesempatan berselingkuh.
PG : Betul sekali, itu membuka pintu untuk iblis menggoda. Itu memang tahap ketiga atau jenis ketiga, Pak Gunawan, dalam proses perceraian setelah itu biasanya adalah perceraian total. Biasanyabegini yang saya amati, kedua orang meskipun sudah memiliki hubungan yang jelek biasanya tidak begitu berani mengambil langkah untuk bercerai.
Karena tetap perceraian itu adalah sesuatu yang menyakitkan, jadi aib untuk seseorang, sangat malu secara sosial. Jadi saya mau berbicara kepada orang yang bercerai karena fakta dari orang-orang yang bercerai. Saya tahu cukup banyak dari mereka sebetulnya tidak pernah ingin untuk bercerai, tapi karena keadaan, keterpaksaan atau menjadi korban perbuatan pasangannya akhirnya bercerai. Memang menyakitkan sekali. Akhirnya mereka terpaksa bercerai di tahap yang terakhir. Tapi saya perhatikan seringkali mereka tetap bertahan dalam status pernikahan sampai munculnya orang ketiga, itu yang saya lihat dialami berkali-kali oleh banyak pasangan, tetap bertahan namun waktu orang ketiga muncul pernikahan itu langsung putus.
GS : Jadi ada alasan buat pasangan itu untuk bercerai.
PG : Dan kekuatan, jadi seolah-olah waktu muncul orang ketiga, kita merasa (maaf ya) sepertinya ada ban serep/cadangan. Kalau saya putus dengan pasangan saya, sudah ada yang menantikan saya. Selah-olah dia mempunyai kekuatan untuk mengambil langkah menceraikan pasangannya.
Jadi seringkali memang perceraian itu muncul dan direalisasikan tatkala adanya orang ketiga, kalau tidak kebanyakan orang mencoba bertahan, itu yang saya saksikan.
GS : Atau mungkin faktor sosial kita yang tidak mentolerir perceraian sehingga mereka mati-matian bertahan walaupun mungkin di rumah tidak sekamar.
PG : Dan juga takut akan Tuhan, karena saya kira semua orang Kristen tahu Tuhan Yesus tidak menginginkan kita untuk bercerai, maka mereka mencoba bertahan dan itu adalah hal yang positif.
GS : Tetapi menjadi suatu tekanan tersendiri di dalam kehidupan mereka.
PG : Biasanya ya, biasanya sangat menekan dan dalam keadaan seperti itu mereka membutuhkan bantuan, pertolongan agar bisa ada penyelesaian yang lebih tuntas. Yang ingin saya katakan adalah jangn menyerah.
Saya sudah melihat pernikahan yang dilanda oleh konflik dan akhirnya dimasuki oleh orang ketiga dan bertahan terus tidak ada penyelesaian untuk jangka waktu yang cukup panjang, tapi saya menyaksikan adanya pembaharuan. Tatkala memang keduanya itu mau mengikuti Tuhan meskipun berat, akhirnya perlahan-lahan masalah itu dibereskan, satu persatu masalah itu diselesaikan. Misalnya yang pertama adalah orang ketiga itu harus disingkirkan, itu langkah pertama meskipun orang bisa berkata, bukan saya menyukai dia, tapi memang saya punya masalah dengan istri saya, hubungan saya tidak baik dengan dia. Itulah yang akhirnya membuat saya ingin bercerai bukan karena adanya orang ketiga. Orang ketiga seringkali memotivasi dan mempercepat proses perceraian, jadi orang ketiga itu harus disingkirkan terlebih dahulu kemudian minta bantuan seorang konselor atau hamba Tuhan untuk membereskan kemelut dalam rumah tangga kita ini dan ada harapan, saya sudah melihat itu akhirnya disatukan kembali oleh Tuhan.
GS : Kesadaran bahwa pernikahan itu adalah suatu inisiatif dari Tuhan Allah, itu penting dan ada seseorang yang menganjurkan walaupun kita itu bertengkar. Walaupun seru sekali dengan istri atau suami, jangan sekali-kali mengatakan saya ceraikan kamu. Karena itu memberikan suatu kesan bagi yang mengatakan atau mendengar, bahwa ada kecenderungan untuk bercerai, apa betul pendapat seperti itu, Pak Paul?
PG : Jadi intinya adalah jangan sampai kita itu memberikan izin, Pak Gunawan.
GS : Iblis itu masuk ke sana.
GS : Mungkin Pak Paul mau menyampaikan kebenaran firman Tuhan tentang perceraian ini?
(5) PG : Saya akan awali dengan perkataan guru saya, dosen saya dia berkata : "Saya yakin kenapa Tuhan melarang perceraian adalah karena Tuhan tahu dampak perceraian itu terlalu pahit baik leh yang melakukannya, yang menjadi korbannya, pasangannya atau anak-anaknya."
Jadi firman Tuhan sendiripun berkata di Matius 19 "Tetapi Aku berkata : Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia."
Jadi sekali lagi jelas Tuhan tidak mau orang bercerai, karena Tuhan tahu dampaknya terlalu pahit buat orang banyak.
GS : Kalau tiap-tiap pagi, kita bisa mensyukuri bahwa pasangan yang diberikan Tuhan adalah pasangan yang terbaik yang Tuhan pilihkan untuk kita.
PG : Meskipun kita masih mau berdalih ini bukan yang terbaik, ada yang lebih baik, alasan berikutnya yang harus menjadi alasan pertama yaitu kita mau taat pada Tuhan dan perasaan kita itu nomordua, yang nomor satu adalah perintah Tuhan yaitu ketaatan.
IR : Dengan taat itu kita belajar untuk menerima apa adanya.
PG : Dan akan ada berkat yang Tuhan munculkan juga.
Baiklah demikian tadi para pendengar kami telah persembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang masalah perceraian. Dan perbincangan ini kami lakukan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK JL. Cimanuk 58 Malang . Melalui kesempatan ini kami juga mengucapkan banyak terima kasih untuk semua saran, tanggapan, pertanyaan, dari Anda namun kami masih tetap mengharapkan usulan-usulan yang akan membawa acara ini lebih baik lagi. Dan kami dari studio mengucapkan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.END_DATA
Ringkasan Isi:
Penyebab perceraian dikategorikan dalam beberapa golongan, yaitu:
Kekurangan makanan emosional dalam pernikahan, ibarat pohon yang kurang gizi, kurang dirawat yang akhirnya kering dan mati.
Adanya hama yang menyerang pohon Hama tersebut diilustrasikan sebagai pertengkaran, keributan-keributan keras, masuknya orang lain yang pada akhirnya mengakibatkan pernikahan itu rontok.
Kurangnya pupuk bagi pohon tersebut. Artinya suami-istri hidup mengikuti arus kerutinan hidup, istri sibuk mengurus anak dls, sehingga sedikit waktu yang diberikan bagi pasangan.
Pengaruh perceraian terhadap anak-anak adalah pengaruh negatif:
Riset longitudinal yaitu riset yang dilakukan sepanjang waktu tertentu dan waktunya cukup lama (waktu anak masih kecil sampai beberapa tahun kemudian menjadi orang dewasa).
Menghasilkan : bahwa luka-luka yang diderita si anak ternyata dibawa sampai dewasa, kepahitan-kepahitan yang dirasakan dibawa sampai dewasa meskipun perceraian orang tuanya terjadi 10 tahun yang lampau.
Berdampak pada pernikahan anak. Konsep tentang pernikahan itu berpengaruh, bahwa pernikahan itu tidak selama-lamanya dan bisa bercerai, dan sepertinya itu memberikan izin untuk bercerai.
Tanpa disadari perceraian memberikan solusi, jadi orangtua tidak cocok ya bercerai. Akhirnya si anak mengadopsi, akibatnya daya tahan atau daya juang dalam pernikahan kurang atau sangat mengendor.
Secara sosial, kalau orangtua kita, sanak saudara kita tidak ada perceraian, maka kita agak takut mengambil inisiatif bercerai, jangan sampai kita menjadi orang pertama dalam keluarga kita yang bercerai. Kalau orangtua sudah bercerai, sekurang-kurangnya tahu satu hal bawa orang tua kita tidak akan memarahi kita atu tidak berkata apa-apa sebab mereka melakukannya juga.
Tahap perceraian sebagai berikut:
Perceraian emosional, pertengkaran yang terjadi mengakibatkan kematian cinta, dalam pernikahan dan ujungnya adalah perceraian.
Perceraian fisik, tidak lagi tidur bersama akibatnya seks tidak terpenuhi, timbul problem baru yaitu munculnya orang ketiga.
Perceraian geografis, pisah tempat (secara fisik dan emosional dingin) dan hal ini sangat jarang untuk bisa bersatu kembali.
Peceraian total.
Sesungguhnya bagi pasangan yang memiliki hubungan yang jelek tidak berani mengambil keputusan bercerai, karena hal itu sangat menyakitkan. Mereka biasanya akan tetap bertahan. Namun ketika orang ketiga muncul pernikahan itu diancam putus.
Matius 19:6 , tetapi Aku berkata: "Apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia."
Kenapa Tuhan melarang perceraian?
Karena Tuhan tahu dampak perceraian itu terlalu pahit, baik pada yang melakukannya, pasangannya maupun anak-anaknya.
Yang paling penting kita lakukan adalah ketaatan kepada Tuhan dan hal itu akan mendatangkan berkat.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan melanjutkan perbincangan kami tentang kandidat-kandidat perselingkuhan atau orang-orang yang punya potensi atau peluang untuk berselingkuh. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Karena ini merupakan perbincangan lanjutan dari beberapa waktu yang lalu, mungkin Pak Paul berkenan menguraikan secara singkat apa yang sudah kita bicarakan pada waktu yang lalu tentang perselingkuhan ini.
PG : Pada dasarnya kita membicarakan bahwa perselingkuhan itu suatu hubungan yang kompleks, di dalamnya terdapat unsur ketertarikan yang kemudian berkembang menjadi unsur saling bergantung dn akhirnya menjadi suatu hubungan di mana terjadi saling memenuhi kebutuhan masing-masing.
Dan rupanya kita semua ini rawan terhadap perselingkuhan. Jadi walaupun ada tipe tertentu atau kondisi tertentu yang menambah kerawanan, tapi semua harus waspada karena kita semua bisa masuk ke dalam jeratan itu tanpa kita sadari. Pada pertemuan kita yang lampau, kita telah membicarakan tipe yang pertama yaitu orang-orang yang mempunyai pernikahan yang bermasalah. Itu memang salah satu kondisi yang seringkali menjerumuskan orang ke dalam suatu perselingkuhan, misalkan salah satu contoh yang sering terjadi adalah seperti ini. Hubungan yang bermasalah, dalam pengertian tidak terlalu banyak pertengkaran namun hubungan itu bukanlah hubungan yang sehat misalkan, si suami tidak merasa dia mempunyai suara di rumah, dia merasa di bawah si istri dan tidak mempunyai otoritas terhadap keluarganya atau istrinya. Ini adalah suatu hubungan yang bermasalah, tidak harus diisi dengan pertengkaran-pertengkaran tapi hubungan yang tidak sehat. Akhirnya si suami rawan terhadap perselingkuhan karena di dalam rumah merasa tidak ada apa-apanya. Tiba-tiba mempunyai apa-apa di luar, disegani, dihormati dan sebagainya oleh seseorang, akhirnya ia masuk ke dalam hubungan tersebut.
GS : Mungkin kalau pria besar kemungkinannya di rumah tidak dihargai kemudian di luar rumah ada seseorang yang bisa menghargai karyanya dan sebagainya. Atau sebaliknya si istri di rumah tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari suaminya, lalu ada orang yang masuk ke dalam kehidupannya yang memperhatikan dia dan sebagainya, Pak Paul?
PG : Betul, jadi seperti kesempatan kita pada waktu yang lampau, pernikahan yang bermasalah itu menciptakan kebutuhan yang tidak terisi atau tidak terpenuhi sehingga kita rawan terhadap oran-orang yang bisa memenuhi kebutuhan kita itu.
Lebih lanjut lagi pernikahan yang bermasalah menimbulkan juga rasa frustrasi, rasa marah dalam diri kita, rasa kesal, rasa tidak enak, rasa jengkel. Nah, kalau rasa-rasa yang negatif itu terus hadir dalam diri kita, dibiarkan maka kita akan membutuhkan kelegaan, kita tidak bisa hidup terus-menerus dengan kesal dan marah, kita ingin kenyamanan, kelegaan. Lalu kita bertemu dengan seseorang yang mengasihi kita, memberikan kelegaan, ya akhirnya kita terperangkap dalam hubungan perselingkuhan. Yang berikutnya ini Pak Gunawan, kondisi yang kedua adalah orang yang mempunyai pola pernikahan yang kurang sehat yaitu pola pernikahan dimana tidak ada pertanggungjawaban. Biasanya laki-laki yang melakukan hal ini. Maksud saya adalah hubungan dimana si suami misalnya boleh bersikap sekehendak hatinya tanpa harus memberikan pertanggungjawaban kepada si istri. Misalnya dia mau pergi, ditanya oleh istrinya dengan siapa dia pergi, dia akan berkata dengan teman, dengan siapa? Dia mengatakan dengan teman, ditanya pulang jam berapa, dia akan berkata ya sekembalinya saya, untuk urusan apa, bisnis misalnya begitu. Jadi benar-benar dia tidak merasa bertanggung jawab atau mempunyai kebutuhan untuk mempertanggungjawabkan perilakunya kepada si istri. Yang klasik adalah soal gaji, istrinya tidak tahu berapa gajinya dia, pengeluarannya juga ke mana, si istri juga tidak tahu. Ini adalah pola hubungan nikah yang membuat seseorang itu rawan sekali terhadap perselingkuhan.
IR : Ini terkait dengan karakter orang yang hidup bebas, orang yang masa kecilnya juga tidak disiplin ya, Pak Paul?
PG : Bisa sekali Bu Ida, jadi memang dia adalah orang yang terbiasa hidup sekehendak hatinya atau dia melihat contoh itu pada diri orang tuanya. Mamanya diam di rumah tidak tahu apa-apa, papnya yang menguasai semua dan mamanya tidak pernah bertanya kepada papanya, ataupun kalau bertanya tidak pernah dijawab oleh papanya.
Jadi dia mempunyai suatu konsep begitulah seharusnya rumah tangga. Nah, manusia adalah manusia yang berdosa, tatkala kita merasa bahwa tidak ada lagi yang mengawasi kita, memberikan pertanggungjawaban kepada kita, akhirnya kita bisa berbuat dosa.
GS : Tapi kadang-kadang ada pria yang bukan merasa perlu memberikan pertanggungjawaban, tapi dia merasa risih karena kalau istrinya bertanya seperti penyelidik, jadi dia merasa dituduh atau merasa tidak dipercayai. Sehingga sikapnya ekstrim yaitu tidak mau memberitahukan semuanya. Bagaimana mengatasinya, Pak?
PG : Saya kira harus ada pembicaraan, di mana si suami mengatakan secara terus terang kepada si istri. Caramu bertanya membuatku merasa seperti seorang tersangka, mohon diubah ya . Si istriharus bertanya cara seperti apa yang kau inginkan, beritahu aku.
Si suami perlu memberitahukan dengan spesifik misalnya kalau bertanya jangan sampai nadamu meninggi, jangan sampai seolah-olah memberikan kesan kau curiga padaku. Tapi yang sering kali terjadi, Pak Gunawan dan Ibu Ida, misalkan si istri bilang ya ! saya tidak akan bertanya seperti itu. Tapi saya mohon dengan amat sangat sebelum engkau pergi, engkau sendiri yang dengan sukarela memberitahu aku ke mana, dan dengan siapa, pulang jam berapa. Tapi masalah yang seringkali terjadi adalah si suami tidak mau memberitahu juga, nah ini yang seringkali terjadi dalam rumah tangga. Jadi si istri berkata ya, saya tidak akan bertanya supaya engkau tidak merasa seperti tersangka, tapi engkau yang memberitahu aku secara sukarela, jadi aku tidak harus bertanya. Si suami merasa ini melanggar egonya memberitahu hal itu kepada si istri. Saya kira ini konsep pernikahan yang tidak tepat dan tidak sehat. Sebab ada pria yang berkata bahwa saya tidak seharusnya memberitahu si istri saya pulang jam berapa, dan dengan siapa saya pergi, itu adalah hak saya. Seorang pria tidak harus memberitahukan kepada istrinya hal-hal seperti itu, ini konsep yang keliru, sebab hubungan suami istri adalah hubungan pertanggungjawaban, suami bertanggung jawab pada istri dan sebaliknya juga bukanlah suatu hubungan di mana kuda menarik pedati di belakang. Bukan sama sekali seperti itu, jadi konsep ini memang harus dikoreksi, suami tidak perlu merasa terhina kalau harus memberitahukan ke mana dia akan pergi. Itu adalah informasi yang seharusnya diberikan dan diketahui oleh istrinya.
GS : Disamping itu Pak Paul, mengenai penghasilan yang tadi Pak Paul singgung, kadang-kadang ada suami yang tidak mau secara jujur memberitahukan penghasilannya berapa. Ada keluhan memang dari seseorang yang pernah saya dengar, nanti kalau diberitahukan seluruhnya uang itu dikuasai istri. Saya ingin membeli sesuatu kesukaan saya, menyalurkan hobby saya, tidak bisa karena sudah dikuasai. Biasanya yang saya amati pada saat gajinya masih pas-pasan atau kecil, seluruhnya diberitahukan, tapi begitu sudah mulai besar lalu disembunyikan. Apa memang harus diungkapkan semua atau bagaimana kalau seperti itu kejadiannya, Pak Paul?
PG : Harus diungkapkan semua, Pak Gunawan, sebab pernikahan Kristiani adalah suatu peleburan; waktu Tuhan berkata seorang pria akan meninggalkan ayah dan ibunya menjadi satu dengan istrinya an keduanya itu menjadi satu daging.
Terkandung dalam konsep menjadi satu daging adanya suatu peleburan, ibaratnya misalkan kita ini melebur dua zat menjadi satu, yang susah sekali untuk kita pisahkan atau yang lebih mudah kita bayangkan adalah pelarutan seperti misalnya sirup dengan air. Setelah dilarutkan bersama tidak bisa kita pisahkan lagi. Jadi artinya apa? Tuhan pernah berkata bahwa di I Korintus 7 bahwa tubuh suami bukan tubuhmu lagi, tapi milik si istri dan tubuh istri bukan milikmu lagi, tapi milik suami. Itu sekali lagi bukannya membicarakan mengenai hak milik seperti yang kita kenal, tapi membicarakan suatu pertanggungjawaban. Termasuk dalam hal-hal finansial kalau memang itu masalahnya, misalnya si istri mendominasi keuangan si suami, itu yang harus dibereskan bukan dia menyembunyikan uangnya.
IR : Semua harus terbuka ya, Pak Paul?
GS : Masalahnya dia memang tidak mempunyai wibawa untuk membuat istrinya membagikan, mengerti kebutuhan-kebutuhan dari si suami.
PG : Nah ini memang tidak sehat, sebab dalam konteks ini tanpa disadari telah dimulai suatu pola maling yaitu pola menyembunyikan. Daripada saya terbuka lebih baik saya sembunyikan. Lama-kelmaan pola maling atau pola pencuri ini bisa berkembang kepada hal-hal yang lain.
Kalau kuberitahu dia marah, ya tidak aku beritahu. Kalau aku berbuat ini dia akan marah, aku tidak beritahu, lama-lama aku akan pergi dengan wanita lain.
GS : Ya memang kalau semuanya diberitahukan, dia mengatakan, saya tidak punya kesempatan antara lain tidak punya kesempatan berselingkuh itu, sehingga akhirnya yang terjadi adalah untuk gajinya sendiri yang resmi memang diberitahukan, tapi untuk penghasilan-penghasilan tambahan dia pakai sendiri.
PG : Betul, memang itu adalah bibit yang tidak baik, ya?
GS : Lalu ada yang lain Pak Paul, tadi kita sudah bicarakan dua point kita melihat dari dua sisi, mungkin ada sisi yang lain?
PG : Yang sudah kita singgung juga pada pertemuan yang lampau adalah kalau kita mempunyai sejarah, perilaku seksual yang terlalu bebas sebelum nikah. Jadi ini bisa menjadi suatu godaan untukkita berselingkuh, Pak Gunawan, tidak bisa disangkali bahwa manusia itu bisa bosan, jenuh.
Seks itu sesuatu yang sebetulnya harus menyegarkan, tapi seks itu tidak bisa disangkal sangat bergantung pada ketertarikan fisik. Seks itu memang mengandung unsur fisiknya, selain dari unsur mental atau emosional, jadi harus ada juga ketertarikan fisik. Setelah menikah belasan tahun atau bahkan puluhan tahun, tubuh si istri atau si suami tidak lagi sama seperti dulu waktu masih muda. Dalam keadaan seperti ini, ada kecenderungan kalau orang yang dulunya sering main-main perempuan, berhubungan seks dengan banyak wanita, sebaliknya dia akan tergoda untuk mencicipi yang lain lagi, dengan harapan itu akan membawa variasi dalam kehidupan seksualnya, sebab dia ingin menikmati seks tapi dia tidak lagi bisa menikmati seks dengan pasangannya. Dia ingin mendapatkannya dari orang lain supaya kehidupan seksualnya menjadi dinamis lagi. Itu bahayanya, dia akan tergoda untuk melakukannya dengan orang lain sebab banyak sekali contoh-contoh pribadi yang pernah dia alami dulu, di mana dia merasa sangat puas.
IR : Jadi bahaya sekali ya Pak Paul, kalau calon suami yang hidupnya sudah bebas, suka bermain seks itu juga bahaya sekali, dalam perkawinan akan mendatangkan masalah.
PG : Ya tidak harus, tidak pasti mendatangkan masalah, karena orang yang sudah bertobat dan sebagainya, saya percaya akan mempunyai hidup yang lain, namun tetap harus saya akui godaannya besr.
Dibandingkan dengan orang yang sama sekali tidak pernah punya pengalaman, sehingga dia tidak bisa membanding-bandingkan dengan orang lain.
GS : Tapi memang sebelum pernikahan tidak apa-apa sebenarnya, orang ini normal-normal saja di dalam kehidupan seksualnya. Hanya masalahnya setelah menikah uangnya atau penghasilannya lebih tinggi, dia mendapatkan sarana misalnya untuk membeli buku-buku atau majalah-majalah dari luar negeri atau bahkan dia sendiri yang mengekspos seks itu atau bisa sewa video atau bahkan dari cyberseks dari internet ya, Pak Paul. Nah itu membuat dia ingin mencoba ya, Pak Paul?
PG : Betul, jadi pornografi itu luar biasa berbahayanya Pak Gunawan. Kita harus sadari bahwa suami yang mulai tergila-gila nonton film-film yang mempunyai adegan seksual itu menandakan ada ssuatu yang tidak beres dalam dirinya.
Sebagai seorang istri dia harus mengambil langkah untuk mencegahnya, kalau bisa membicarakannya. Si suami biasanya akan berdalih, tidak apa-apa ini hanya film. Saya menggunakan istilah suami sebab kebanyakan adalah suami yang begitu, tapi ada juga kasus wanita, dia berkata ini hanya film namun jangan kita terima dalih seperti itu. Sebab biasanya sudah menandakan hal yang tidak beres. Dan itu yang harus dibereskan misalnya bisa saja dia merasa gairah seksual dengan si istri sudah sangat berkurang. Waktu dia menonton, dia akan digairahkan lagi dan langsung bisa berhubungan dengan istrinya karena adanya penggairah itu. Jadi sekali lagi masalahnya terletak pada dia dengan si istri.
GS : Lama-lama jadi ketagihan ya?
PG : Bisa sekali, jadi kalau sekali sudah mulai masuk ke dalam pornografi biasanya akan terjerat, luar biasa cengkeraman pornografi itu, sehari-hari pikiran kita akan dikuasai olehnya.
GS : Ya memang yang tadi Pak Paul katakan alasannya itu, dia menghalalkan hal itu, dia memperbolehkan hal itu, karena dia mengatakan dulu waktu aku belum menikah saya tidak mempunyai kesempatan ini. Sekarang menikah saya mempunyai kesempatan untuk melihat dan dia katakan saya berhubungan dengan istri saya, bukan dengan orang lain.
PG : Secara jujur seharusnya dia mengakui bahwa secara fisik dia berhubungan dengan si istri, tapi secara mental dengan orang-orang yang ada dalam film itu.
IR : Dan itu menikmati perzinahan dengan orang lain, dapat berarti dosa.
PG : Secara mental dia sudah berzinah dengan orang lain.
GS : Hal yang lain Pak Paul, yang memungkinkan seseorang itu bisa menjadi kandidat perselingkuhan itu.
PG : Itu adalah masa kecil yang bermasalah Pak Gunawan, jadi ada orang pada masa kecilnya ditekan atau merasa dirinya tidak berharga. Namun sekarang mulai berharga atau misalnya ada doronga untuk menolong orang yang terlalu kuat ya, menyenangkan hati orang tanpa batas, dan tidak bisa juga mengakui keterbatasannya sehingga terus mau menolong akhirnya, misalnya dia menolong teman wanitanya atau teman prianya yang lagi ada masalah, dia mendengarkan dia membantu akhirnya terjerumus, terjerumus makin dalam makin intim.
Jadi adakalanya masa lalu kita yang bermasalah itu menciptakan lubang dalam diri kita. Lubang kebutuhan untuk dihargai, untuk diterima, untuk disayangi. Misalkan kita orang yang disayangi luar biasa oleh ayah ibu kita, setelah kita menikah kita merasakan hal yang tidak sama. Kita mempunyai kebutuhan untuk disayangi yang tidak terpenuhi di situ. Misalnya seperti ini atau kita sangat disayangi oleh mama kita, kita sebagai pria akhirnya setelah menikah kita merindukan ungkapan kasih yang begitu besar dari istri kita, waktu kita tidak mendapatkannya kita merasa kurang akhirnya kita mencarinya di luar.
GS : Kalau faktornya pengalaman masa kecil itu sulit, bagaimana untuk memisahkan atau melupakan masa kecilnya itu, Pak Paul?
PG : Dia harus menyadari bahwa itulah yang dia butuhkan, dan dia harus berhati-hati dengan pemenuhan kebutuhannya itu.
GS : Menyadari itu penting sekali ya Pak Paul, bahwa itu berbahaya dan lain sebagainya?
PG : Penting sekali, karena dia menjadi orang yang rawan, kita misalnya butuh sekali penghargaan dan kita merasakan dari istri atau suami kita kurang mendapatkannya. Kita akan terus mencari-ari penghargaan itu dari orang lain, jadi kita harus menyadari kebutuhan kita dari masa lalu yang bermasalah itu.
IR : Kemudian kalau mungkin ada faktor lain, Pak Paul?
PG : Yaitu kalau ada perubahan yang sangat drastis dalam situasi kehidupan kita. Misalnya kejatuhan ekonomi atau kehilangan pekerjaan, itu menimbulkan frustrasi yang berat dan kita kehilangn jati diri, kita merasa tidak berharga lagi, nah itu merawankan kita untuk jatuh dalam perselingkuhan dengan orang lain.
Misalnya juga adalah kehilangan figur yang penting dalam hidup kita, contoh adalah krisis kehilangan anak misalnya kematian anak, itu bisa membuat goncangan yang hebat sehingga kita seolah-olah kehilangan pegangan hidup, mencari orang lain untuk menjadi pegangan kita atau misalnya orang tua kita meninggal. Salah satu hal yang menarik adalah kebanyakan perselingkuhan cukup banyak menimpa pada orang usia 40-an atau 40 ke atas. Salah satu faktor selain dari faktor pubertas kedua dan sebagainya, yang umum adalah karena pada usia 40-an kita sudah kehilangan orang tua kita. Tanpa disadari kita ini masih merasa diawasi dan harus bertanggung jawab kepada orang tua. Harus menjaga nama, kalau kita berbuat yang tidak baik ada orang tua yang menegur kita sebab orang tua yang paling bebas menegur kita. Waktu orang tua tidak ada, secara psikologis dan tidak disadari kita merasa terbebas dari tanggung jawab atau menjaga nama baik orang tua dan sebagainya. Tiba-tiba kita merasa lebih bisa dan lebih berani untuk melakukan perselingkuhan, jadi itu merupakan faktor yang harus kita perhatikan. Berikutnya lagi adalah kalau seseorang mengalami krisis rohani, jadi misalkan mengalami masalah di gereja, kok orang Kristen seperti ini, kok pendeta seperti itu, kok gereja seperti begitu, akhirnya meninggalkan Tuhan. Ini bahaya juga, karena hal-hal yang dulu dia inginkan tapi bisa diredamnya karena takut pada Tuhan, tiba-tiba sekarang tidak usah diredam lagi, dia mendapatkan izin untuk melakukannya. Jadi krisis rohani seperti ini sebetulnya sangat berbahaya. Yang berikutnya adalah perubahan drastis dalam kehidupan, misalnya status ekonomi yang meningkat dengan sangat pesat. Tadi Pak Gunawan sudah sebut berkali-kali, itu sebabnya orang-orang sering berkata hati-hati kalau suamimu kaya misalnya, kalau dia kaya kebanyakan dia akan mempunyai simpanan bukan saja simpanan uang tapi simpanan wanita. Itu memang ada betulnya, karena keuangan yang meningkat dengan tiba-tiba membuat kita sekarang lebih bisa untuk mendapatkan banyak hal, termasuk misalnya tatapan kagum dari wanita, kepatuhan wanita, hormat wanita kepada kita sebagai pria, sebagai atasan yang dulu tidak kita dapatkan, namun sekarang kita dapatkan.
IR : Kecuali kalau keuangan itu bersama-sama diketahui istri, ya?
PG : Ya, itu menolong sekali maka pertanggungjawaban finansial harus ada dalam keluarga.
IR : Jadi bisa mengerem ya, bisa mengetahui untuk apa saja.
GS : Sehubungan dengan perubahan, Pak Paul, ada satu peristiwa yang terjadi, sebenarnya pasangan suami istri itu tadinya kelihatan tidak bermasalah ya Pak Paul. Tiba-tiba dia di PHK di satu tempat, di salah satu kota tempat dia tinggal bersama istrinya. Lalu istrinya mencarikan dia tempat kerja di luar kota yang cukup jauh. Sehingga tidak memungkinkan suami itu tiap hari pulang atau seminggu sekali pulang, bahkan lama-lama hubungan mereka cukup jauh karena jarang bertemu. Sampai akhirnya si suami itu jatuh dalam perselingkuhan, itu merupakan perubahan drastis yang dialami atau memang dia punya bakat untuk berselingkuh?
PG : Saya kira itu karena perubahan tadi seperti yang sudah saya katakan, kita semua rawan terhadap perselingkuhan. Jarak yang jauh, tidak bisa tidak, akan membawa perubahan dalam diri kita.Cinta itu perlu dipupuk, cinta bertumbuh dalam hubungan, dalam kontak relasi.
Tanpa adanya kontak relasi, yang ada ingatan tentang orang itu bukan lagi cinta terhadap orang itu. Jadi cinta yang nyata adalah cinta yang benar-benar tumbuh dalam kehidupan yang kita lalui bersama. Akhirnya karena jarak yang berjauhan, saya menduga cinta antara mereka mulai pudar, yang ada adalah kewajiban saya sebagai suami harus setia, dia sebagai istri harus setia. Namun isi atau bobot mental atau emosionalnya sudah sangat berkurang, dalam kesepian seseorang akan jauh lebih mudah untuk tertarik kepada orang lain.
IR : Hidup yang hampa, kosong, ya Pak Paul?
GS : Pada awalnya si suami itu masih sering telepon, interlokal menanyakan istrinya, anak-anaknya, tapi makin lama makin jarang dan rupanya perubahan itu kurang disadari oleh istrinya. Tiba-tiba dia mendapat kabar dari temannya bahwa suaminya itu berselingkuh dengan rekan kerjanya yang jauh lebih muda, itu yang terjadi Pak Paul. Istrinya merasa bersalah, menyalahkan dirinya sendiri, karena dia yang mencarikan tempat kerja itu untuk si suami.
PG : Ya saya mengerti rasa bersalah si istri, tapi saya juga mau berkata si istri tidak perlu merasa bersalah, karena yang dia lakukan adalah justru demi kebaikan satu keluarga itu. Dia sedag memikirkan jalan keluar agar si suami mempunyai pekerjaan, bukankah itu juga baik untuk harga diri si suami daripada dia tidak ada pekerjaan sama sekali untuk menafkahi kehidupan keluarga.
Jadi si istri melakukan sesuatu yang baik untuk menyelamatkan keluarga itu. Namun si suamilah yang menyalahgunakan kesempatan itu, jadi yang salah tetap si suami, bukan si istri.
GS : Ya tapi juga bisa berdalih dan mengatakan, diajak pindah ke sini masih beralasan, memang sekolah anaknya itu yang masih harus diselesaikan, istrinya tidak mau cepat-cepat pindah ke sana karena pertama suaminya juga belum mempunyai tempat tinggal yang tetap. Jadi semacam di asrama, ya Pak Paul, sehingga istrinya juga meragukan, nanti saya pindah ke sana anak-anak tidak betah, saya tidak betah, itu yang dikeluhkan oleh si istri.
PG : Ya, itu yang harus dibereskan tapi bukan dengan cara berselingkuh, jadi saya tetap mengembalikan tanggung jawab pada si suami sebetulnya.
GS : Jadi bagaimana Pak Paul apakah kita bisa mendapatkan bimbingan dari firman Tuhan untuk menguatkan baik para istri atau suami?
PG : Saya akan bacakan dari Amsal 5 : 8 , "Jauhkanlah jalanmu daripada dia, dan janganlah menghampiri pintu rumahnya." Amsal 5 adalah Amsal tentang perzinahan Pak Guawan, jadi nasihat firman Tuhan jelas yaitu janganlah memulai, janganlah mendekat-dekat, janganlah mencari-cari alasan.
Kalau kita sudah mulai, kita susah untuk mengakhirinya. Jadi jangan memulai, yang Tuhan ingin ingatkan pada kita, mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Yang lain lagi yang ingin saya sampaikan adalah salah satu hukum taurat Tuhan berbunyi dengan jelas "jangan berzinah". Saya kira sekarang istilah perselingkuhan kehilangan bobot moralnya karena tidak lagi dikaitkan dengan Tuhan, namun dikaitkan dengan mengkhianati pasangan. Itu tetap adalah suatu perzinahan dan perzinahan tetap kita sebut perzinahan, bukan nama lain.
GS : Jadi harus tegas dan itu penting buat kita. Demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan kehadapan Anda, sebuah percakapan tentang kandidat-kandidat perselingkuhan atau orang-orang yang punya potensi besar untuk berselingkuh bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Sekali lagi bagi Anda yang berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda untuk menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58, Malang . Saran-saran, pertanyaan dan tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami ucapkan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kemajuan teknologi komputer yang pesat dan adanya akses internet yang menjamur dimana-mana, membuat makin banyak orang terbawa masuk dalam arus perselingkuhan. Dengan tersedianya majalah-majalah dan video kaset yang berisi pornografi, bahkan cyberseks dari internet, ini membuat mereka terjebak dalam perbuatan selingkuh. Pornografi mempunyai dampak yang luar biasa berbahaya karena pengaruh atau cengkeramannya luar biasa. Kalau seseorang sudah sekali masuk dalam pornografi, biasanya akan terjerat dan sulit lepas, karena pikirannya akan dikuasai terus. Jika seorang suami mulai keranjingan menonton film-film yang mempunyai adegan seksual, itu menandakan ada yang tidak beres dalam dirinya. Istrinya harus mengambil langkah untuk mencegahnya dan membicarakan masalah ini dengan suaminya. Memang ada juga wanita yang keranjingan nonton film seperti itu, tapi seringkali kasus ini terjadi pada kaum pria. Ada sebagian orang yang mencoba menghalalkan hal ini dan merasa boleh menonton film yang demikian. Alasannya, dulu aku belum menikah dan tidak punyak kesempatan. Sekarang sudah menikah dan punya kesempatan untuk menikmati, toh akhirnya saya berhubungan dengan istri sendiri, bukan dengan orang lain. Sebenarnya pikiran seperti ini salah! Secara fisik memang dia berhubungan dengan si istri, tapi secara mental ia berhubungan dengan orang-orang yang dalam film itu. Dan itu berarti mental ia sudah berzinah dengan orang lain!
Ada banyak situasi dan kondisi tertentu yang bisa membuat kita lebih rawan terhadap perbuatan selingkuh, namun perlu diingat bahwa sebenarnya setiap orang rawan terhadap perselingkuhan. Jadi semua harus waspada, karena kita bisa masuk dalam jeratan itu. Perselingkuhan tidak hanya melanda kehidupan orang-orang yang tidak beriman, namun sudah melanda dan menghancurkan kehidupan anak-anak Tuhan. Tontonan yang berbau perselingkuhan begitu diminati dan disukai oleh masyarakat. Akibatnya masalah ini menjadi sesuatu yang sangat-sangat umum dan menjadi suatu tema yang semakin populer.
Kondisi seperti di atas akan menimbulkan beberapa dampak negatif , yaitu:
Sesuatu yang kita saksikan berulang kali akan membuat kita kehilangan rasa sensitif atau kepekaan tehadapnya. Beberapa tahun lalu, kita akan sangat bereaksi pada waktu mendengar apalagi menghadapi suatu perselingkuhan. Namun makin hari kita makin mengakomodasi isu tersebut sebagai sesuatu yang wajar terjadi, dan merupakan bagian dari kehidupan.
Makin banyak kasus-kasus perselingkuhan yang ditayangkan dalam bentuk-bentuk yang sepertinya menarik hati oleh media massa. Akhirnya ini akan membuat kita mempunyai suatu kekaguman tehadap perselingkuhan, seolah-olah perselingkuhan itu begitu indah, mesra, dan romantis.
Beberapa macam orang (kandidat) yang rawan terhadap perselingkuhan:
Mereka yang sudah lama mempunyai pernikahan yang bermasalah. Pernikahan yang bermasalah itu melelahkan, begitu melelahkan sehingga yang dirasakan oleh orang yang bersangkutan ialah kebutuhan akan kelegaan yang amat sangat.
Suami yang merasa dia tidak mempunyai kebutuhan untuk bertanggungjawab kepada istri. Biasanya kaum laki-laki yang melakukan hal ini. Di mana dalam hubungannya dengan sang istri, si suami boleh bersikap sekehendak hatinya tanpa harus memberikan pertanggungjawaban kepada isteri. Ini adalah pola hubungan nikah yang membuat seseorang itu rawan sekali terhadap perselingkuhan.
Seseorang yang mempunyai masa kecil bermasalah. Ada orang yang pada masa kecilnya ditekan atau merasa dirinya tidak berharga. Namun sekarang mulai berharga atau misalnya ada dorongan untuk menolong orang yang terlalu kuat, menyenangkan hati orang tanpa batas, dan tidak bisa mengakui keterbatasannya sehingga terus mau menolong. Akhirnya ia menolong teman wanita atau pria yang sedang bermasalah, dia dengarkan, bantu dan akhirnya terjerumus, makin lama makin intim.
Seseorang yang mengalami perubahan yang sangat drastis. Adanya perubahan yang sangat drastis dan tiba-tiba dalam kehidupan akan membuat kita rawan terhadap perselingkuhan. Misalnya, di PHK, mengalami krisis atau kejatuhan ekonomi, ini akan menimbulkan frustasi yang berat dan seseorang akan kehilangan jati diri. Seseorang yang mengalami peningkatan status ekonomi secara mendadak juga rentan terhadap perselingkuhan. Karena keuangannya pun meningkat dengan tiba-tiba sehingga bisa melakukan banyak hal.
Orang berusia 40-an atau di atas 40 yang mengalami pubertas kedua. Cukup banyak perselingkuhan menimpa mereka yang memasuki tahap ini. Salah satu faktor lain yang terkait dengan pubertas II ini ialah, karena pada usia 40-an umumnya kita sudah kehilangan orang tua kita. Sewaktu orang tua masih hidup, tanpa disadari kita ini masih merasa diawasi dan harus bertanggung jawab kepada mereka. Harus menjaga nama baiknya, kalau kita berbuat yang tidak-tidak ada orang tua yang menegur kita. Sebab orang tua memang yang paling bebas menegur kita. Namun pada waktu orang tua sudah tidak ada lagi, secara psikologis dan tanpa disadari kita merasa terbebas dari tanggung jawab untuk menjaaga nama baik mereka, dsb. Tiba-tiba kita merasa lebih berani untuk melakukan perselingkuhan. Jadi ini adalah faktor yang patut diperhatikan.
Bagian firman Tuhan untuk menguatkan dan membentengi suami-istri : "Karena bibir perempuan jalang menitikkan tetesan madu dan langit-langit mulutnya lebih licin daripada minyak, tetapi kemudian ia pahit seperti empedu, dan tajam seperti pedang bermata dua. Kakinya turun menuju maut, langkahnya menuju dunia orang mati. Ia tidak menempuh jalan kehidupan, jalannya sesat, tanpa diketahuinya ." Amsal 5:3-6
"Jauhkanlah jalanmu daripada dia, dan janganlah menghampiri pintu rumahnya,…" Amsal 5:8
Amsal 5 memperingatkan kita tentang perzinahan. Nasihat firman Tuhan jelas sekali, yaitu janganlah memulai, janganlah mendekat-dekat, atau mencari-cari alasan. Kalau kita sudah mulai, sulit bagi kita untuk akhiri. Mencegah lebih baik dari pada mengobati, itu yang lebih baik. Salah satu hukum taurat dalam Keluaran 20:14 berbunyi dengan jelas: "Jangan berzinah". Perselingkuhan adalah perzinahan. Perzinahan tetap perzinahan, dan ini melanggar firman Tuhan. Apalagi Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan, bahwa kalau kita melihat seseorang yang berlawanan jenis lalu gairah kita bangkit, itu pun sudah merupakan perzinahan. Jadi walaupun masyarakat dan lingkungan di sekitar kita memperbolehkan perselingkuhan, firman Tuhan jelas melarangnya.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini akan melanjutkan perbincangan kami pada kesempatan yang lalu yaitu tentang "Dampak Perceraian pada Anak". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu, kami sudah membicarakan tentang prosesnya dari seseorang yang tadinya kelihatan akrab, sepakat untuk menikah tapi akhirnya terjadi juga perceraian dan ada dampaknya yang mulai kita bicarakan tentang anak. Namun supaya pendengar kita kali ini bisa mengikuti seluruh pembicaraan ini dan mempunyai suatu gambaran yang lengkap, mungkin Pak Paul bisa mengulang sedikit yang pernah kita bicarakan.
PG : Pada intinya suami dan istri itu memulai pernikahan di dalam kecocokan, pasti ada ketidakcocokan tapi pada umumnya banyak kecocokan. Setelah menjalani pernikahan barulah mereka menyadari aa yang tidak cocok, dan yang biasanya mereka lakukan adalah mengoreksi ketidakcocokan itu supaya lebih cocok.
Namun ada pasangan-pasangan yang berhasil, ada juga yang tidak berhasil. Nah, yang tidak berhasil inilah akhirnya terlibat dalam suatu siklus, siklus pertengkaran yang tidak bisa selesai-selesai. Nah, pertengkaran demi pertengkaran membuat mereka pada akhirnya putus asa, merasa tidak berdaya, frustrasi tidak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan dan mereka merasa bahwa pasangan itu benar-benar di luar kendalinya, di luar kontrolnya. Apapun yang dia lakukan tidak lagi berdampak pada pasangannya, pasangannya tetap berbuat seperti yang tidak dia inginkan. Alhasil dia akan merasa masa bodoh, dia akan mendiamkan, memasabodohkan pasangannya. Namun dalam perasaan masa bodoh itu sebetulnya dia merasa sakit, luka karena dia harus hidup dalam rumah di mana awan begitu gelap, di mana tidak ada keceriaan sama sekali, tidak ada gelak tawa, tidak ada komunikasi jadi itu adalah suatu suasana yang sangat tidak nyaman dan membuat dia sangat terluka atau sakit. Nah inilah yang sering kali menjadi pencetus orang bercerai yaitu kalau rasa sakit itu tidak tertahankan. Ini dengan catatan kalau tidak ada orang ketiga yang muncul, kalau ada orang ketiga yang muncul biasanya masalah perceraian ini bisa dipercepat. Kalau tidak ada orang ketiga yang biasanya membuat orang mengambil tindakan untuk bercerai adalah rasa sakit yang tidak tertahankan itu.
(1) IR : Nah pada usia perkawinan berapa tahun Pak pasangan itu rawan dalam bercerai?
PG : Sebetulnya pernikahan itu sangat rawan pada masa 5 tahun pertama setelah pernikahan atau mungkin lebih kritis lagi 3 tahun pertama. Kalau 3 tahun pertama kita gagal untuk mencocokkan diri an menemukan celahnya, kita kecenderungannya akan terus membawa problem itu untuk tahun-tahun mendatang jadi 3 tahun pertama itu sangat krusial.
IR : Tapi ada pasangan yang sudah usia ke 26 tahun, bisa cerai Pak Paul?
PG : Nah fase kedua yang memang rawan terhadap perceraian adalah usia pertengahan yaitu usia sekitar 45-55. Rawannya adalah karena pada saat itu meskipun secara sejarah, latar belakang mereka sdah menikah 20 tahun misalnya, tapi saat itu adalah saat di mana anak-anak sudah besar.
Anak-anak itu sering kali menjadi pengikat orang tua dan sekaligus merupakan suatu pengalihan problem, waktu ada anak sedikit banyak problem itu dialihkan sehingga kita tidak langsung menatap pasangan kita. Ada yang harus kita urus yaitu anak-anak kita. Kalau anak-anak sudah besar berarti tidak ada lagi yang jadi pengalihan, kita harus menghadapi pasangan kita secara langsung. Nah, di situlah kecocokan kita diuji mati-matian. Kalau pada awal pernikahan sebelum punya anak, kita sudah bermasalah dan tidak dibereskan dengan tuntas pada waktu itu, kemudian muncul anak-anak dan kita repot membesarkan anak biasanya problem itu muncul kembali di usia pertengahan. Jadi betul sekali kata Bu Ida, ada orang yang sudah menikah 20 tahun-an, akhirnya bubar.
(2) GS : Nah, kalau begitu Pak Paul, perceraian itu justru sering kali terjadi ketika pasangan itu sudah punya anak ya Pak Paul, dan itu pasti ada dampaknya, yang pernah kita bicarakan juga. Nah, itu dampak-dampak apa yang sering kali dialami oleh anak itu?
PG : Yang pertama adalah anak merasa terjepit Pak Gunawan, terjepit di tengah-tengah sebab meskipun si anak itu tahu, misalkan saja mamanya yang kurang benar atau papanya yang kurang benar, tetp anak mengalami kesulitan untuk berkata saya memilih mama saya karena papa saya tidak benar misalnya.
Jadi karena anak sulit sekali memilih hal ini, memilih papa atau mama dia merasa sangat terjepit di tengah, siapa itu yang harus dia bela, siapa itu yang dia harus ikuti nantinya atau misalnya terjadi perceraian. Nah waktu terjadi perceraian di situlah anak mulai bingung, dalam keadaan terjepit dia suka bingung harus pilih siapa. Karena dia merasa sungkan berkata saya pilih mama atau saya mau pilih papa, dia sungkan terhadap orang tua yang satunya.
GS : Tapi sering kali yang juga terjadi itu memang sejak dini anak itu sudah bisa menilai orang tuanya, ayahnya atau ibunya, jadi kesalahan itu siapa yang salah sebenarnya, itu 'kan anak juga punya perasaan seperti itu Pak Paul?
PG : Betul, dalam hati dia sudah ada penilaian siapa yang lebih salah, dan siapa yang lebih benar. Namun waktu mereka menyadari orang tua sekarang bercerai, tetap ada rasa sungkan mengkhianati rang tuanya.
Jadi sering kali anak-anak itu tidak berani, saya itu mau pilih siapa, makanya salah satu dampak yang lain dari perceraian pada anak adalah anak sering kali mempunyai rasa bersalah, bersalah karena dia pilih orang tua yang satu bukan yang satunya, bersalah karena kadang-kadang kita susah mengerti, tapi kadang kala anak merasa bahwa marekalah yang menjadi penyebab perceraian. Sebab adakalanya dalam rumah tangga yang memang tidak cocok, yang memang sedang bermasalah itu salah satu bahan keributan adalah anak, sering kali kita ini bertengkar karena urusan anak, nah anak di dalam ketidakmengertiannya berkata papa, mama bercerai gara-gara saya, dulu mereka sering ribut karena saya tidak belajar, saya dulu agak malas sekolah, mama sering marahi saya waktu di rumah karena saya dimarahi mama terus-menerus, papa bela, akhirnya papa mama bertengkar, dan akhirnya ribut. Akhirnya mereka bercerai karena salah saya. Nah, sekali lagi ini adalah memang suatu proses yang alamiah, orang selalu mencari kambing hitam atau mencari penyebab atau mencari titik kesalahan, supaya mereka bisa mengerti, memahami dengan akal inilah sebabnya terjadi perceraian jadi orang selalu ingin tahu mencari penyebab atau siapa yang salah. Nah sering kali anak-anak menyalahkan diri mereka sendiri.
IR : Sekalipun perceraian itu akibat perselingkuhan Pak Paul? Masak anak merasa bersalah juga ?
PG : Kalau perselingkuhan, kemungkinan besar lebih gampang untuk anak cerna, ada orang ketiga itu lebih gampang.
GS : Tapi kalau cekcok tadi yang sulit ya Pak Paul?
PG : Betul, sebab sering kali kalau cekcok melibatkan anak.
GS : Tapi ada juga anak yang menjadi korban keluarga yang bercerai itu menjadi sangat nakal sekali itu Pak Paul, itu apa sebenarnya yang diharapkan oleh anak?
PG : Sebetulnya yang terjadi adalah si anak nomor 1 mempunyai kemarahan, kefrustrasian dan dia mau melampiaskannya. Pelampiasannya adalah dengan melakukan hal-hal yang berlawanan dengan peraturn, memberontak dan sebagainya.
Atau yang kedua, yang sering terjadi waktu orang tua bercerai anak kebanyakan tinggal dengan mama. Nah berarti ada yang terhilang yakni figur otoritas, figur ayah. Waktu figur otoritas itu menghilang, anak sering kali tidak terlalu takut pada mama. Maka ini adalah suatu fakta yang saya pernah baca dalam suatu hasil riset yang menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan orang tua tunggal oleh seorang ibu cenderung nakal.
IR : Dan juga anak bisa kehilangan identitas sosialnya, Pak Paul?
PG : Ya, anak akhirnya merasa tidak pas karena dia melihat ke kiri, dia melihat ke kanan, teman-temannya punya papa, punya mama, kok saya tidak punya papa, kok saya tidak punya mama. Waktu dia icara dengan teman-temannya mereka membicarakan tentang papa dan mama, dia tidak bisa bicarakan papanya, papanya tidak tinggal serumah apalagi kalau papanya menikah lagi dengan orang lain dia lebih susah lagi bicara tentang papanya yang sudah punya istri yang lain.
Jadi dengan kata lain statusnya itu sebagai anak cerai memberikan suatu perasaan dia orang yang berbeda dari anak-anak lain. Nah ini tadi yang dimaksud dengan kehilangan jati diri sosialnya, identitas sosialnya itu. Dia tiba-tiba tidak masuk, tidak pas lagi dengan lingkupnya.
IR : Dan ada kasus Pak Paul kebanyakan anak-anak yang orang tuanya bercerai dia mencari pasangan, mencari latar belakang orang tuanya bercerai, karena dia punya perasaan minder, apa benar begitu?
PG : Betul, sering kali begitu mereka itu bisa membawa suatu perasaan bahwa mereka anak-anak yang cacat, anak-anak yang tidak setara dengan anak-anak lain. Oleh karenanya timbul suatu rasa taku kalau saya ini menikah dengan orang yang benar-benar, nanti saya dipandang rendah atau ada suatu perasaan saya tidak pantas berpasangan dengan orang yang dari keluarga benar-benar.
Jadi saya lebih cocoklah menikah dengan yang sejenis dengan saya, harapannya adalah yang sejenis dengan saya, lebih bisa menerima saya, senasib dan orang tuanya pun juga bisa menerima saya. Sebab dia tahu bahwa banyak orang tua tidak rela menikahkan anaknya dengan seseorang yang dari keluarga yang sudah broken-home seperti itu.
IR : Mereka punya image bahwa kelak mereka mungkin akan bisa bercerai, jadi kasihan anak-anak ini mereka menjadi korban.
PG : Dan korban yang kedua kalinya Ibu Ida, pertama kali waktu orang tuanya bercerai, kedua kali waktu mereka sudah dewasa, jadi ada rasa takut seperti itu, takut dihukum lagi oleh masyarakat.
GS : Nah Pak Paul, kalau kedua orang tua itu sangat mengasihi anak ini dan kebetulan anak ini cuma satu atau dua, apa yang terjadi dalam diri anak?
PG : Ada perasaan terbelah, ada perasaan dia itu dicabik-cabik, satu pihak harus ke mama satu pihak harus ke papa. Akan muncul suatu dorongan dalam diri si anak untuk menjadi perekat, untuk menadi penyatu.
Nah jadi apa yang dilakukan, dia akan menjadi juru bicara misalkan dari orang tuanya. Mama ngomong kepada dia tentang si papa dan nanti yang sampaikan bukan langsung si mama pada papa, si anak yang menyampaikan. Atau si papa ingin komunikasi dengan si mama tidak mau langsung, tapi melalui si anak. Jadi akhirnya si anak inilah yang menjadi jubir di antara kedua orang tuanya. Atau bisa juga dia yang menjadi peredam persoalan atau konflik di antara kedua orang tuanya yang sudah bercerai ini, karena dia tahu dua-duanya mengasihi dia dan dia mau dua-duanya itu jangan sampai lebih buruk lagi keadaannya. Jadi apa yang terjadi dialah yang akan meredam konflik, misalnya papanya marah-marah terhadap mamanya (di belakang mamanya maksud saya) waktu ketemu mamanya, mamanya tanya, "papa marah-marah atau tidak?" Dia akan bilang: "Tidak, papa tidak bilang begitu," dengan kata lain sejak kecil dia akhirnya belajar untuk mendistorsi fakta kehidupan.
GS : Ada yang pola seperti itu Pak Paul, karena kedua orang tuanya sudah bercerai. Lalu anaknya itu sebulan di rumah ibunya, sebulan lagi di rumah ayahnya, bergantian. Jadi kalau yang sulung di rumah ibunya, yang bungsu di ayahnya lalu sebulan sekali diganti begitu. Orang tuanya mengatakan kami bermasalah dengan pasangan kami, tapi dengan anak-anak kami tidak ada masalah, baik sekali. Sebenarnya pandangan seperti itu bagaimana?
PG : Dalam hubungan nikah yang sudah-sudah sangat jelek ya, pertengkarannya sudah sangat parah, kebanyakan anak-anak yang akan memilih untuk supaya mereka bercerai. Dan dari hasil riset yang saa pernah baca, memang diperlihatkan demi kesehatan jiwa si anak, anak-anak itu akan lebih tenteram sewaktu dilepaskan dari suasana seperti itu.
Jadi pada waktu orang tuanya tidak tinggal sama-sama mereka itu rasanya lebih tenang karena tidak harus menyaksikan pertengkaran. Nah akhirnya mereka lebih mantap, lebih damai hidupnya, dan lebih bisa berhubungan dengan orang tuanya secara lebih sehat.
GS : Atau dititipkan ke neneknya Pak Paul?
PG : Ada yang terjadi seperti itu juga betul, jadi akhirnya dititipkan kepada orang lain. Nah, apapun yang terjadi memang secara sepihak anak-anak ini bebas dari pertengkaran orang tuanya. Namu di pihak lain dia harus menanggung kerugian-kerugian yang sebetulnya juga berat, jadi dibebaskan dari pertengkaran itu suatu manfaat, itu suatu hal yang positif.
Tapi di samping manfaat anak cerai itu sebetulnya menanggung lebih banyak kerugian, banyak sekali. Saya pernah membaca hasil suatu riset yang menunjukkan bahwa bahkan sudah sampai 20 tahun kemudian, saya kurang ingat berapa, tapi sudah sangat lama berpuluhan tahun kemudian anak-anak korban perceraian tetap masih membawa luka-luka akibat perceraian orang tuanya, jadi dampaknya itu sangat panjang.
GS : Tapi saya melihat juga ada kasus di mana anak korban perceraian itu kita ambil sisi yang positifnya itu, anak itu seperti cepat dewasa Pak Paul, punya rasa tanggung jawab yang baik, bisa membantu ibunya. Kebetulan dia ikut ibunya itu memang bisa seperti itu ya Pak Paul?
PG : Bisa jadi, memang tadi kata Pak Gunawan ada yang bisa nakal luar biasa, tapi ada yang kebalikannya justru menjadi anak yang sangat baik dan bertanggung jawab. Yang terjadi adalah sebetulny pengkompensasian Pak Gunawan.
Si anak ini seolah-olah mengkompensasi kekurangan atau kehilangan dalam rumah tangganya. Misalkan dia tinggal dengan mamanya dia anak laki, papanya tidak ada lagi sudah bercerai dengan mamanya. Kecenderungannya adalah dia menggantikan fungsi papanya, dialah yang akhirnya menjadi teman bicara mamanya dan dia tidak bisa tidak karena keadaan dipaksa untuk menjadi lebih dewasa. Atau seorang anak wanita yang harus tinggal dengan papanya kalaupun dia tidak tinggal dengan papanya dia misalkan perwaliannya dengan ibu tapi seminggu sekali bisa pulang ke rumah papanya. Yang cukup umum si anak perempuan ini menjadi seperti mamanya terhadap si papa, menjadi teman bicara, menjadi orang yang mengerti isi hati papanya. Jadi lama-kelamaan si papa ada kekesalan atau apa, cerita dengan anak perempuannya. Jadi betul kata Pak Gunawan akhirnya didorong kuat untuk mengambil alih peran orang tua yang tidak ada lagi dalam rumah tangganya. Secara luar kita melihat sepertinya baik menjadi lebih dewasa tapi sebetulnya secara kedewasaan tidak terlalu baik, karena dia belum siap untuk mengambil alih peran orang tuanya itu.
GS : Mungkin dia kehilangan masa anak-anaknya itu Pak Paul?
PG : Tepat sekali, dia akan kehilangan masa kanak-kanak itu dan terpaksa menjadi orang dewasa.
(3) IR : Sebelum bercerai Pak Paul, misalnya kalau pasangan itu terlebih dahulu pisah itu memungkinkan atau tidak untuk memperbaiki hubungan mereka?
PG : Dari yang saya lihat Ibu Ida, kalau orang sudah berpisah, berpisah rumah kemungkinan kembali hampir tidak ada. Justru saya ini berupaya dalam konseling pernikahan yang memang sudah parah brusaha agar jangan mengambil jalan pisah rumah, karena sering kali kalau sudah pisah rumah tidak bisa disatukan lagi.
Kecuali dalam kasus-kasus di mana salah seorang itu benar-benar dalam keadaan terancam misalnya dipukuli secara sadis oleh suaminya. Nah, dalam keadaan seperti itu lebih baik mereka tidak serumah sebab itu sangat membahayakan jiwanya si wanita dan juga sangat membahayakan kesehatan jiwa anak-anaknya, menyaksikan mama dipukuli seperti itu. Dalam keadaan yang begitu rusak saya memang lebih suka melihat mereka tidak serumah, tapi kalau hanya pertengkaran demi pertengkaran saya kira jangan pisah rumah, kalau pisah rumah kemungkinan kembali hampir tidak ada.
IR : Karena mereka sudah menikmati rasa aman itu mungkin ya Pak Paul?
PG : Betul, mereka sudah rasa damai pisah rumah, dan mereka berpikir 1000 kali untuk gabung dan bertengkar lagi seperti dulu karena sangat menyakitkan hati.
GS : Tapi kalau mereka masih serumah kemudian terus bertengkar, masalahnya anak-anak itu yang menjadi korban Pak Paul, walaupun cuma pertengkaran mulut, tapi itu 'kan tidak baik didengarkan anak-anak?
PG : Seperti yang telah kita bahas, pertengkaran itu selalu menambah ketegangan anak, maka anak-anak yang dibesarkan dalam rumah yang tidak harmonis dan penuh pertengkaran sering kali menjadi aak-anak yang penuh keragu-raguan, mudah cemas, mudah takut, tidak percaya diri, tidak aman itu semua adalah dampak dari ketegangan-ketegangan yang harus dipikulnya.
GS : Makanya mungkin ada pasangan itu yang memutuskan tetap di dalam pernikahan walaupun sebenarnya mereka itu secara emosional sudah bercerai Pak Paul?
PG : Betul, ada satu hal yang menjadi pengamatan saya Pak Gunawan yaitu kita lebih berani mengakui gangguan fisik dibandingkan gangguan keluarga atau gangguan jiwa. Kita tidak berkeberatan oran mengetahui kita punya sakit jantung, kita punya sakit kanker.
Tapi kebanyakan kita berkeberatan orang tahu kita punya masalah keluarga. Akibatnya kalau kita tahu, kita sakit jantung kita ke dokter jantung. Tetapi kalau kita punya masalah keluarga kecenderungannya kita justru menyembunyikannya. Nah, sering kali persoalan-persoalan ini menumpuk tidak selesai, maka seperti ditulis oleh Marcia Lasswell dalam bukunya No Fault Marriage dia bilang kebanyakan orang mencari pertolongan pernikahan setelah parah dan rata-rata dia sudah hitung sekitar 7 tahun. Jadi rata-rata orang setelah 7 tahun bergumul dalam persoalan mereka, bukannya 7 tahun usia pernikahan bukan, 7 tahun bergumul dalam persoalan itu baru akhirnya mencari orang atau pihak ketiga untuk membantu mereka, konselor atau hamba Tuhan. Tapi setelah 7 tahun masalahnya itu diderita, nah kalau kita sakit kanker 7 tahun kita diam saja, ya sudah stadium 4.
GS : Sudah meninggal.
PG : Betul, tapi kita berpikir tidak apa-apalah kita diamkan, nanti bisa berubah kok. Memang beginilah pernikahan. Jadi kita sering kali berdalih-dalih kita tidak mau mencari pertolongan atau yng paling umum dalam konteks budaya kita adalah malu.
(4) GS : Nah tadi atau pada kesempatan yang lalu, Pak Paul sudah menguraikan prosesnya sampai seseorang itu bisa bercerai, dan kini kita bicarakan tentang perlunya orang ketiga yang bisa membantu. Sebaiknya dalam proses yang mana orang datang untuk membicarakan hal ini, entah pada konselor atau pada hamba Tuhan?
PG : Orang harus sudah mulai mencari bantuan pada pihak ketiga yaitu pendeta atau konselor, untuk membereskan persoalan mereka, jikalau mereka itu tiba-tiba sudah sadar bahwa persoalan yang saa muncul lagi terus menerus.
Berarti apa? berarti usaha mereka untuk memperbaiki tidak lagi efektif. Sama seperti kita misalkan dengan mobil kita, kita coba betulkan sendiri rusak lagi, betulkan rusak lagi, sudah waktunya kita bawa ke bengkel begitu.
GS : Ya memang itu masalahnya mau atau tidak membawanya atau mengungkapkannya secara jujur memang itu kalau tidak memang makin parah saja kehidupan pernikahan mereka.
GS : Nah kalaupun sudah terjadi perceraian dan ada dampak yang begitu besar terhadap diri anak-anak, tentunya melalui pembicaraan kita ini kita mengharapkan para pendengar bisa mengantisipasi kalau sudah ada masalah-masalah seperti itu. Tetapi saya percaya sekali bahwa kebenaran firman Tuhan itulah yang akan memberikan bimbingan yang paling pas untuk keluarga-keluarga di saat ini, begitu Pak Paul. Jadi mungkin Pak Paul akan membawakan sebagian dari firman Tuhan untuk ini?
PG : Saya menyadari Pak Gunawan bahwa hidup ini kompleks dan saya juga menyadari bahwa kita ini menikah untuk sungguh-sungguh, langgeng selamanya. Jadi kalau sampai ada orang yang menderita dalm pernikahan sering kali itu di luar kehendak mereka, di luar harapan mereka.
Jadi saran saya adalah sebisanya carilah bantuan, dua-dua, meskipun yang satu merasa saya tidak punya masalah, carilah bantuan karena sering kali ini bukanlah masalah satu atau yang satunya, tapi masalah berdua. Kedua yang saya ingin katakan adalah kita harus tetap kuat di dalam Tuhan, kita tidak bisa mengerti kenapa kita mendapat porsi kehidupan yang seperti ini. Ada kasus Pak Gunawan, memang bukan salah yang satu tapi benar-benar salah yang satunya. Ada yang memang menikah dengan orang yang sangat keliru misalnya sangat jahat dan sebagainya. Akhirnya dia terjebak dalam pernikahan seperti itu juga, kadang kala itulah porsi kehidupan kita yang memang pahit dan harus kita minum. Tapi untuk kasus-kasus yang lebih umum di mana mulai timbul perceraian-perceraian ada firman Tuhan untuk saudara-saudara yang mendengarkan. Firman Tuhan berkata: "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga." Ini dicatat oleh Injil Matius 18:10 . Tuhan Yesus menegaskan bahwa anak-anak itu berharga dan Tuhan memperhatikan mereka jadi Tuhan berkata ada malaikat yang menjaga mereka. Nah dengan kata lain, Tuhan mau kita mengingat anak-anak bahwa anak-anak itu penting dan berharga di mata Tuhan, jangan sampai gara-gara kita menuruti kehendak kita anak-anak menjadi korban jadi bertahanlah sebisanya. Bereskanlah itu sebisanya baik saudara yang wanita maupun saudara yang pria, rendahkanlah diri, mintalah bantuan dan bereskanlah masalah, jangan tunggu-tunggu lagi.
GS : Dan kita juga menyadari bahwa anak atau anak-anak itu adalah karunia Tuhan sendiri yang bahkan pemazmur bilang milik pusaka Tuhan yang dipercayakan Tuhan kepada kita, sebenarnya bukan untuk dijadikan korban karena kita tidak cocok dengan pasangan kita, tapi justru mesti dipelihara.
PG : Betul, saya sering katakan ini Pak Gunawan, mayoritas klien saya dalam konseling adalah orang dewasa tapi mayoritas klien saya adalah orang-orang yang menderita karena mereka membawa problm sejak masa kecil mereka.
Dengan kata lain mereka bermasalah sekarang, sebab pada masa kecil mereka, mereka sudah mengalami masalah akibat perbuatan orang tua mereka.
GS : Jadi itu seperti mata rantai yang tidak terputuskan, karena sekarang dia bermasalah anaknya juga mengalami hal yang sama nanti, jadi kalaupun terputus saya rasa semata-mata karena anugrah Tuhan.
PG : Betul, dan ada yang terputus karena anugerah Tuhan pada usia remaja atau dewasa akhirnya bertemu Tuhan, bertobat mempunyai teman-teman seiman yang mencintainya sehingga dia dibangunkan kemali, disusun kembali, dibentuk kembali menjadi manusia yang berbeda.
IR : Jadi masih ada pengharapan Pak Paul?
PG : Betul tetap masih ada pengharapan.
GS : Itulah keagungan dari kasih Tuhan kita yang kita kenal dalam Yesus Kristus itu.
Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan yang merupakan lanjutan dari perbincangan kami yang lalu tentang dampak perceraian terhadap anak, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.
PERTANYAAN KASET T 42 B
Pada usia berapakah pasangan itu disebut rawan terhadap perceraian?
Dampak-dampak apa sajakah yang ditimbulkan perceraian terhadap anak?
Perpisahan sementara sebelum perceraian apakah memungkinkan untuk memperbaiki hubungan?
Sebaiknya dalam proses yang mana seorang pasangan perlu datang pada pihak ketiga yaitu konselor atau hamba Tuhan?
Ringkasan Isi:
Ada beberapa hal tahapan yang mendahului sebelum terjadi perceraian.
Mulai mereka temukan ketidakcocokan dalam pernikahan mereka.
Orang akan merasa gagal untuk membereskan masalah atau kemelut ini. Sebab yang akan mereka saksikan adalah masalah yang sama diulang-ulang.
Ini memang ditimbulkan oleh sekurang-kurangnya 2 penyebab.
Orang yang bersangkutan tidak mau berubah
Mereka belum menguasai cara untuk menyelesaikan problem.
Yang tidak berhasil, akhirnya terlibat dalam suatu siklus, siklus pertengkaran yang tidak bisa selesai-selesai.
Kalau sudah sampai pada titik ini biasanya kita menyerah.
Kemudian kita akan merasa masa bodoh, akan mendiamkan, memasabodohkan pasangan kita dan tidak menghiraukannya.
Rasa sakit yang berkepanjangan dan tak tertahankan inilah yang seringkali menjadi pencetus atau mendorong orang untuk bercerai.
Dampak pada anak-anak pada masa ketidakharmonisan, belum sampai bercerai namun sudah mulai tidak harmonis:
Anak mulai menderita kecemasan yang tinggi dan ketakutan.
Anak merasa terjepit di tengah-tengah. Karena dalam hal ini anak sulit sekali memilih papa atau mama, dia merasa sangat terjepit di tengah
Anak sering kali mempunyai rasa bersalah.
Kalau kedua orang tuanya sedang bertengkar, itu memungkinkan anak bisa membenci salah satu orang tuanya.
Dalam rumah tangga yang tidak sehat, yang bermasalah dan penuh dengan pertengkaran-pertengkaran bisa muncul 3 kategori anak.
Anak-anak yang memberontak yang menjadi masalah diluar. Anak yang jadi korban keluarga yang bercerai itu menjadi sangat nakal sekali karena:
Mempunyai kemarahan, kefrustrasian dan mau melampiaskannya.
Selain itu, anak korban perceraian jadi gampang marah karena mereka terlalu sering melihat orang tua bertengkar. Namun kemarahan juga bisa muncul karena :
Dia harus hidup dalam ketegangan dan dia tidak suka hidup dalam ketegangan
Dia harus kehilangan hidup yang tenteram, yang hangat, dia jadi marah pada orang tuanya kok memberikan hidup yang seperti ini kepada mereka.
Waktu orang tua bercerai, anak kebanyakan tinggal dengan mama, itu berarti ada yang terhilang dalam diri anak yakni figur otoritas, figur ayah.
Anak-anak yang bawaannya sedih, mengurung diri, dan menjadi depresi. Anak ini juga bisa kehilangan identitas sosialnya.
Anak-anak yang super baik yang jadi juru selamat rumah tangga.
Matius 19:6 b, "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia." Tuhan melarang orang bercerai dengan alasan-alasan yang sangat jelas. Tuhan mengerti dampaknya begitu berat, baik bagi orang yang bercerai maupun terhadap anak-anak mereka.
Tapi untuk kasus-kasus yang lebih umum, dimana mulai timbul tanda-tanda yang menuju pada perceraian ada Firman Tuhan di Matius 18:10 , "Ingatlah jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu ada malaikat mereka di Surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di Surga." Tuhan Yesus menegaskan bahwa anak-anak itu berharga dan Tuhan memperhatikan mereka. Jadi Tuhan berkata ada malaikat yang menjaga mereka, dengan kata lain, Tuhan mau kita mengingat anak-anak bahwa anak-anak itu penting dan berharga di mata Tuhan. Jangan sampai gara-gara kita menuruti kehendak diri sendiri, anak-anak menjadi korban jadi bertahanlah sebisanya. Bereskanlah itu sebisanya baik saudara yang wanita maupun saudara yang pria, rendahkanlah diri, mintalah bantuan dan bereskanlah masalah, jangan tunggu- tunggu lagi.
Usia perkawinan yang rawan terhadap perceraian adalah :
Masa 5 tahun pertama setelah pernikahan dan juga yang lebih kritis lagi 3 tahun pertama.
Usia pertengahan yaitu usia sekitar 45 - 55 tahunan. Rawan karena pada saat itu saat di mana anak-anak sudah besar. Anak-anak seringkali menjadi pengikat orangtua dan sekaligus merupakan suatu pengalihan problem.
Dampak dari perceraian yang sering kali dialami oleh anak adalah:
Anak merasa terjepit, anak mengalami kesulitan untuk berkata saya memilih mama atau saya memilih papa. Dia merasa terjepit di tengah, siapa yang harus dibela, siapa itu yang dia harus ikuti nantinya kalau misalnya terjadi perceraian.
Anak mempunyai rasa bersalah. Karena anak merasa bahwa dirinya yang menjadi penyebab perceraian.
Anak yang jadi korban keluarga yang bercerai cenderung menjadi anak yang sangat nakal karena:
Anak mempunyai kemarahan, kefrustasian dan dia mau melampiaskannya. Dan pelampiasannya adalah dengan melakukan hal-hal yang berlawanan dengan peraturan, memberontak dan sebagainya.
Anak kehilangan figur otoritas, figur ayah. Waktu figur otoritas itu menghilang anak sering kali tidak terlalu takut pada mama.
Anak kehilangan jati diri sosialnya atau identitas sosialnya. Status sebagai anak cerai memberikan suatu perasaan dia orang yang berbeda dari anak-anak lain.
Pasangan suami-istri seharusnya cepat mencari bantuan pada pihak ketiga yaitu pendeta, konselor untuk membereskan persoalan mereka, jikalau mereka itu tiba-tiba sudah sadar bahwa persoalan yang sama muncul lagi terus-menerus. Jadi kalau sampai ada orang yang menderita dalam pernikahannya yang perlu dilakukan adalah:
Mencari bantuan, dua-dua meskipun yang satu merasa saya tidak punya masalah, carilah bantuan karena seringkali ini bukanlah masalah satu atau yang satunya, tapi masalah berdua.
Harus tetap kuat di dalam Tuhan.