Heman Elia, M.Psi.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Menjadi dewasa tidak sekadar bertambahnya usia, tapi salah satunya juga semakin terampil mengendalikan diri. Jadi untuk mendewasakan anak, kewajiban orangtua adalah mendidik mereka mampu bertanggungjawab dan mengendalikan diri.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun Anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S.Th., kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Membantu Anak Mengendalikan Diri". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Heman, pada kesempatan yang sangat berharga ini kita mengangkat suatu tema tentang "Membantu Anak Mengendalikan Diri". Sepanjang yang saya ketahui, biasanya ini ditujukan kepada orang yang dewasa, minimal pemuda, yang dikatakan tidak bisa mengendalikan diri dan sebagainya. Ini sesuatu yang menarik bahwa perbincangan ini tentang anak yang mengendalikan diri, apakah memang seorang anak bisa dibantu untuk mengendalikan dirinya, begitu Pak ?
HE : Ya, seharusnya memang demikian meskipun kita tahu bahwa anak-anak umumnya belum bisa mengendalikan diri sebagaimana orang dewasa.
GS : Biasanya kita melihat kalau anak itu mau menangis ya menangis, kalau dia mau teriak-teriak ya teriak-teriak, apakah itu suatu manifestasi tentang dia tidak bisa mengendalikan dirinya ?
HE : Tergantung usianya kalau kita lihat memang perkembangan usianya sesuai maka kita tidak bisa katakan bahwa dia tidak bisa mengendalikan diri, meskipun sebetulnya kalau diukur dari ukuran orng dewasa ia tergolong tidak bisa mengendalikan diri.
Nah, di dalam hal ini tahapan usia memang penting untuk diperhitungkan, sehingga kita bisa melihat apakah ini wajar, apakah tingkah laku ini wajar atau tidak ataukah memang dia harus dibantu untuk mengendalikan dirinya.
WL : Ya menarik sekali penjelasan dari Pak Heman. Pak, apakah itu berarti kita tidak perlu kuatir karena memang sesuai usia mereka, mereka belum bisa mengendalikan diri.
HE : Ya, memang anak belum bisa mengendalikan diri kalau usia mereka masih sangat muda tapi bukan berarti kita harus membiarkan mereka begitu saja atau kita tidak perlu mengawasi mereka. Dimanaperlu kita tetap perlu membantu atau pun melatih mereka, jadi seumpamanya seperti mereka berjalan, berlari atau berenang dan sebagainya untuk keterampilan-keterampilan itu anak memerlukan latihan supaya dia bisa mengendalikan tubuhnya dan dengan latihan-latihan itu dia semakin terampil.
Demikian juga dengan pengendalian dalam hal-hal yang lain.
GS : Biasanya orang menganggap bahwa dengan bertambahnya usia seseorang dia akan mampu dengan sendirinya mengendalikan dirinya, begitu Pak Heman.
HE : Pandangan demikian memang ada benarnya, jadi seperti tadi kalau dia berjalan, berlari, berenang dia memerlukan perkembangan otot-otot yang semakin matang, semakin kuat tetapi tidak seluruhya benar juga karena selain pengendalian diri itu harus datangnya tahap demi tahap sejalan dengan usia, kita juga perlu melatih mereka karena kalau tanpa latihan maka barangkali mereka tidak bisa mengendalikan tingkah laku mereka sebagaimana kalau mereka dilatih untuk itu.
GS : Kalau begitu dalam hal apa saja kita perlu melatih atau mempersiapkan anak untuk bisa mengendalikan dirinya ?
HE : Ada banyak hal yang kita bisa bantu anak supaya bisa mengendalikan diri. Yang pertama misalnya dalam hal pola makan, jadi ada anak yang makannya hanya mau itu saja, kalau tidak makan es krm kalau tidak makan yang enak-enak, ayam goreng dan sebagainya maka dia tidak mau makan atau ada anak yang kalau makan ia makan berlebihan atau ada yang tidak mau makan sama sekali, susah sekali makan.
Jadi ini perlu dilatih. Yang kedua misalnya dalam hal kebersihan. Ada anak-anak yang kalau sudah misalnya buang air dan sebagainya tidak mau membersihkan ini perlu dilatih juga supaya mereka bisa mengendalikan dirinya. Yang ketiga misalnya dalam hal kontrol emosi jadi seperti Bapak katakan tadi, kalau marah anak kadang-kadang berteriak-teriak dan sebagainya. Nah kalau ini dibiarkan, lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan dan susah untuk dikontrol kembali. Yang keempat misalnya dalam hal perkataan jadi ada anak-anak yang tidak bisa menahan diri dengan mengata-ngatai orang dengan kata-kata yang kasar, kotor dan sebagainya.
GS : Itu 'kan biasanya mereka mencontoh, misalnya dalam hal pola makan, kalau orangtuanya hanya makan menu-menu tertentu, dia akan mengikuti itu biasanya.
HE : Ya ini baik sekali, Pak Gunawan. Memang kadang-kadang anak meniru tetapi juga tidak sepenuhnya demikian. Jadi memang dalam cara kita untuk mengendalikan diri mereka, salah satunya adalah mmberikan contoh.
Dalam hal ini seperti yang dicontohkan oleh Pak Gunawan dalam hal makan kita juga perlu mengontrol diri.
GS : Tapi ada anak yang oleh pembantunya kalau makan mesti di jalan, itu saya sering kali melihat. Jadi terus diajak keliling-keliling jalan-jalan sambil disuapi, kalau tidak maka dia tidak mau. Apakah itu termasuk harus dilatihkan supaya dia bisa makan di meja makan atau di rumah paling tidak, begitu Pak.
HE : Sebaiknya begitu, itu kalau kita menginginkan anak bisa makan dengan tertib di rumah, di meja makan, supaya terjadi sosialisasi begitu ya, supaya dia bisa menyesuaikan diri dengan masyarakt.
Untuk membantu supaya dia mengendalikan diri, memang harus dilakukan tahap demi tahap supaya dia bisa diarahkan dari cara yang kurang baik seperti itu.
WL : Pak, kalau kita perhatikan mengapa banyak anak yang selain tadi pola makannya Pak Gunawan bahas seperti itu, tapi juga makannya berantakan, tercecer ke mana-mana, susunya ada di mana-mana, tapi ada anak-anak lain yang kelihatannya cukup bersih dengan dirinya rapi, tanpa kita harus memarah-marahinya. Apa yang menyebabkan ada perbedaan seperti itu, ya ?
HE : Ini pertanyaan yang baik sekali. Jadi memang ada anak-anak yang secara bawaan lebih bisa mengendalikan diri dalam hal-hal tertentu. Kita bisa katakan, ada anak yang sulit, ada anak yang seang-sedang saja, gampang-gampang sulit atau sulit-sulit gampang dan yang ketiga ada anak yang gampang.
Jadi dengan latihan sedikit saja mereka bisa mengendalikan diri. Memang ada anak yang kita perlu lebih bersusah payah membantu mereka, ada juga yang lebih mudah.
GS : Pak Heman, selain kita bisa melatih dalam pola makan, kebersihan, lalu kontrol emosi dan perkataan, apakah ada yang lain, Pak Heman ?
HE : Masih ada beberapa hal yang lain lagi yaitu misalnya kita juga perlu membantu mereka mengendalikan diri dalam hal penggunaan waktu karena kadang-kadang misalnya mereka main terus dan tidakmau melakukan kegiatan yang lain atau tidur terus kalau tidak dibangunkan mereka tidak bangun dan sebagainya.
Kemudian selanjutnya dalam hal penggunaan uang terutama untuk anak-anak yang sudah sekolah dan kita berikan uang saku, mereka perlu mengatur penggunaan uang itu. Juga untuk anak-anak yang sudah lebih besar masuk dalam masa pubertas atau remaja, mereka perlu diajarkan pengendaian diri dalam hal seksual juga.
WL : Pak Heman, tadi menarik sekali dijelaskan tentang pengendalian diri dalam hal waktu, penggunaan waktu. Kalau misalnya ada anak yang sangat energik, Pak Heman, agak sulit disuruh istirahat, inginnya main melakukan aktifitas dan sebagainya begitu. Itu ada pengaruhnyakah dari keunikan masing-masing anak pada waktu kita mengajarkan mengendalikan diri ?
HE : Ya ketika kita membantu mereka mengendalikan diri, kita memang juga harus melihat keunikan mereka masing-masing. Jadi kita tidak bisa memberikan target yang terlalu tinggi kepada mereka, krena dengan mereka diberi target yang terlalu tinggi, mereka tidak bisa mencapai lalu mereka juga frustrasi, membuat mereka malas untuk melatih diri.
Jadi ini bagian penting, karena kadang-kadang seorang anak bisa berpikir, "Ah saya tidak mungkin bisa mengendalikan diri saya" dan akhirnya semau-maunya.
GS : Bagaimana peran orangtua dalam hal membantu anak remajanya dalam pengendalian diri bidang seksual itu, Pak ?
HE : Tentang bidang seksual, kalau anak sudah mencapai masa pubertas orangtua perlu sedikit banyak memberitahukan dan memberikan mereka pendidikan seks jadi mereka tahu apa yang mereka akan alai dan apa yang akan mereka hadapi.
Rangsangan atau godaan seksual apa yang akan mereka temui dan setelah itu mereka perlu dipersiapkan untuk masa pacaran. Jadi orangtua perlu banyak diskusi dengan mereka, nah tentu hal semacam ini perlu persiapan-persiapan sebelumnya di dalam kontrol pengendalian diri yang lain seperti yang disebutkan tadi antara lain juga dalam hal penggunaan waktu. Misalnya mereka berpacaran dan mereka sudah dapat mengendalikan emosinya, juga penggunaan waktunya, mereka akan lebih mudah dilatih untuk menghadapi hal-hal seksual.
WL : Pak Heman, ternyata banyak sekali hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam mendidik anak terutama bidang mengendalikan diri anak. Kira-kira Pak Heman bisa memberikan panduan atau prinsip-prinsip apa yang perlu kita mengerti dalam hal melatih mereka ini, Pak.
HE : Saya kira ada dua kunci terpenting ketika kita membantu anak mengendalikan diri yaitu yang pertama kita harus sabar untuk mengikuti tahap-tahap usia dan kemampuan mereka, jadi seperti tadisudah dijelaskan bahwa setiap anak berbeda di dalam hal kecepatan menyesuaikan diri, kecepatan belajar menguasai diri.
Kita tidak memberikan target yang terlalu tinggi sehingga anak itu frustrasi. Kemudian yang kedua, kita memberikan contoh dan arah dari tingkah laku yang diharapkan. Sering kali masalahnya adalah begini, kita lebih mudah melarang anak untuk tidak melakukan ini, tidak melakukan itu, sehingga anak tidak belajar untuk melakukan sesuatu secara terkendali, sebagai contohnya misalnya kita tidak membolehkan anak itu main, main di luar rumah, main di dalam rumah, anak itu harus belajar terus misalnya. Ini sebetulnya kurang baik untuk pengendalian diri karena bagi seorang anak mereka juga perlu bermain untuk berkembang lebih sehat. Jadi masalahnya di sini adalah bagaimana agar kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk bermain. Dalam hal uang, kita memberikan uang kepada mereka untuk belajar menggunakan uang. Yang penting adalah kita memberikan batas dan juga memberikan keseimbangan kepada mereka, mana waktu untuk belajar, mana untuk istirahat, bermain dan juga uang seberapa ia boleh pakai untuk apa dan sebagainya.
GS : Menjadi kesulitan bagi kita orangtua, Pak Heman, karena batasan itu sulit untuk kita tetapkan secara tegas. Pada masing-masing keluarga itu berbeda-beda, lalu usia tadi Pak Heman juga katakan, berbeda-beda lagi. Untuk mengubah-ubah ini, batasan ini supaya jelas bisa diikuti anak, tidak terlampau tinggi tetapi juga tidak terlalu mudah untuk dilakukan sehingga memotivasi mereka untuk memenuhi ini. Nah orang cenderung membiarkan atau cenderung bersikap ekstrim begitu ketatnya sehingga kelihatan aneh, buat yang dilatih juga terlalu berat dan orangtuanya juga marah-marah terus karena anak tidak bisa mencapai tujuan itu, Pak Heman. Nah itu bagaimana ?
HE : Ya betul sekali. Kalau kita terlalu kaku, terlalu ketat di dalam melarang anak ini dan itu kita memang akan menjadikan anak juga terlalu kaku atau malah sebaliknya dia tidak bisa mengendalkan diri dengan baik ketika dia diberi kebebasan.
Betul ada kesulitan bagaimana menetapkan batas-batas seperti ini. Kita hanya bisa memberikan prinsipnya, tapi kita memang tidak bisa memberikan pastinya itu seperti apa. Sebagai contoh masalah penggunaan uang, kalau keluarga yang cukup mampu tentu akan bisa memberikan kebebasan dan kelonggaran yang lebih banyak bagi anak tapi saya juga mengetahui ada keluarga-keluarga mampu yang karena ingin mengendalikan anaknya dan membantu anaknya mengendalikan diri, dia memberikan jatah tertentu yang secukupnya saja supaya anak bisa hidup dengan itu. Jadi misalnya anaknya masih perlu naik angkot meskipun dia bisa punya supir untuk antar jemput dan sebaliknya untuk melatih anaknya itu. Jadi memang tergantung masing-masing keluarga dan prinsip mendidik anak dari setiap keluarga, tapi prinsipnya di sini kalau anak sudah bisa mengatur dirinya sendiri sampai pada tahapan tertentu kita perlu memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada mereka. Sebagai contoh misalnya kalau anak diberikan uang Rp. 5.000,- selama seminggu dan dia bisa mempertanggungjawabkan penggunaannya dan kita tahu dia cukup dengan uang Rp. 5.000,- itu, maka kita bisa memberikan uang lebih dari itu dan kemudian meminta dia untuk menabung sisanya. Nah kalau kita lihat bahwa ternyata dia tidak bisa menabung, kita perlu membantu dia setengah memaksa dia untuk menyisakan uang sejumlah tertentu sampai kalau dia sudah bisa, diberikan kelonggaran yang lebih besar lagi dan seterusnya.
WL : Pak Heman, kalau dari penjelasan-penjelasan Pak Heman bila saya tidak salah tangkap, jadi yang mau dilatih adalah kemampuan anak mengendalikan diri dari dalam diri anak. Kalau pun tidak ada orangtua, anak ini tetap bisa mengendalikan. Tapi apakah faktor-faktor luar penting juga atau Pak Heman bisa memberikan beberapa ciri dari orang yang bisa mengendalikan diri.
HE : Kalau tentang pengendalian diri ini kita bisa kenali dari beberapa ciri sehingga kita bisa bedakan itu misalnya orang itu begitu kaku atau begitu takut dan misalnya dia kehilangan kontroldirinya dia bisa lebih kacau lagi.
Nah orang yang bisa mengendalikan diri, ditandai oleh dia itu mampu menunda pemenuhan keinginan atau dorongan dia. Misalnya harus menunda makan yang enak dan sebagainya, dia bisa menunda. Ini berarti dia bisa mengendalikan diri. Yang kedua, dia mampu mengalihkan dorongan ke arah yang lebih berguna, misalnya kalau dia masih bisa bermain tetapi lebih penting untuk saat ini dia memprioritaskan hal lain, misalnya belajar dan sebagainya, maka dia harus bisa mengorbankan kenikmatan yang dia inginkan dari bermain itu. Yang ketiga cirinya adalah kemampuan untuk mengenali batas-batas, ini yang paling sulit barangkali yaitu bagaimana kita tetap bisa melakukan sesuatu tapi kita tahu batas, tetap menggunakan uang tapi sesuai dengan keperluan kita yang penting dan tidak melebihi batas kemampuan. Tetap bisa menyatakan kemarahan tapi dengan kata-kata yang lebih baik dan lebih bisa diterima orang lain. Tetap makan tetapi tidak sampai merusak kesehatan, ini ciri-ciri orang yang mengetahui batas dan juga bisa mengendalikan diri.
GS : Pak Heman, ada beberapa anak yang memang dari lahirnya mungkin diberi energi yang agak lebih sehingga yang kelihatan adalah dia sangat aktif sekali, larinya dan sebagainya, banyak sekali kegiatan yang dia lakukan nah orangtua kesulitan untuk membantu mereka menerapkan apa yang kita bicarakan yaitu mengendalikan diri. Apakah memang perlu terhadap anak-anak yang seperti ini juga diberlakukan pengendalian diri ?
HE : Tetap perlu agar mereka sesuai dengan batas kemampuan mereka tetap bisa berlatih untuk mengendalikan diri, karena kalau tidak maka ini akan menyulitkan mereka di masa-masa mereka dewasa, ktika mereka harus bekerja dan sebagainya.
Jadi memang ada kesulitan tetapi bukan berarti kita lalu menyerah dan lepas tangan. Yang sulit dalam hal ini biasanya orangtua tidak sabar, frustrasi lalu orangtua sendiri tidak bisa mengendalikan dirinya waktu menghukum, memberikan sanksi dan sebagainya. Yang kita perlu hati-hati adalah kita juga perlu menerima kekurangan mereka, jadi kita tetap berusaha membantu mereka tetapi kita juga mengetahui bahwa mereka tidak seperti anak-anak yang lain yang lebih mudah diatur dan mereka tetap perlu diberi cara-cara untuk mengendalikan diri sesuai dengan kemampuan mereka, jadi tidak memasang target yang terlalu tinggi.
GS : Bagaimana kalau anak itu sudah dilatih, sudah dicoba oleh orangtua untuk dilatih tapi tetap nanti kalau sudah dewasa karena pengaruh lingkungan dan sebagainya, lalu tak terkendali lagi sampai orangtuanya kewalahan.
HE : Nah ini tadi karena ada masalah yaitu masalahnya adalah kalau anak terus-menerus diawasi, dibantu terus-menerus untuk mengendalikan diri dan kendali itu selalu dipegang oleh orangtua, akibtnya lalu anak-anak jadi bergantung pada pengendalian dari luar diri mereka.
Jadi caranya yang lebih baik adalah anak-anak ini ketika sudah berhasil melatih diri, menguasai diri sampai tahap tertentu mereka harus dilepas pelan-pelan. Dengan melepas mereka perlahan-lahan nantinya kita harapkan mereka bisa sepenuhnya mandiri, sepenuhnya mengendalikan diri sehingga kita tidak perlu mengawasi mereka lagi atau paling tidak sekali-sekali saja memantau mereka. Kalau tahapan ini bisa dijalankan, maka mereka akan lebih bisa mengontrol dirinya sekali pun tanpa pengawasan. Jadi itu tumbuh dari dalam.
GS : Mungkin yang paling sulit itu pada masa anak-anak ini menginjak masa remaja, Pak. Itu terasa lebih sulit membantu mereka dalam hal pengendalian diri dibandingkan ketika mereka masih kanak-kanak dimana kita mengasuh hampir sepenuhnya.
HE : Ya betul karena itu kita harus betul-betul menyiapkan mereka ketika mereka anak-anak, lebih mudah dilatih dan juga mereka lebih taat. Pada masa remaja itu saatnya kita untuk makin banyak mmberi kebebasan kepada mereka, sekali-sekali kita tegur dan bila dasar pengendalian diri itu sudah tertanam sejak anak-anak, maka biasanya lebih mudah untuk mengatur mereka pada waktu remaja.
WL : Ada beberapa pasang orangtua atau suami istri yang nampaknya kalau dari luar kelihatan sopan, cukup OK begitu, tapi kadang-kadang anaknya bila minta sesuatu tidak diberi itu bisa menangis meronta-ronta atau berguling-guling di depan orang-orang atau ketika ada acara tertentu. Nah itu apakah karena di rumah tidak dilatih masalah pengendalian diri atau ada faktor lain, Pak Heman ?
HE : Kemungkinan besar anak-anak ini tidak dilatih untuk mengendalikan diri. Dalam hal ini kemungkinan besar yang terjadi ketika anak berguling-guling lalu orangtua menuruti apa yang diinginkanoleh anaknya.
Jadi dalam hal ini anak tidak belajar lagi untuk misalnya menunda yang seperti tadi kita bicarakan. Kalau dia mau dia berguling-guling dan dia segera mendapatkan yang dia inginkan, tapi kalau dia bisa dilatih untuk menunda kemudian dia dilatih tidak boleh memperlihatkan kemarahan dalam bentuk yang demikian maka saya percaya hal ini tidak akan terjadi.
GS : Pak Heman, sebelum kita mengakhiri perbincangan ini, apakah ada ayat di dalam Alkitab yang mendukung perbincangan ini, Pak ?
HE : Ada, saya ingin bacakan untuk kita semua dari 1Korintus 9:24-27 , ini sebetulnya adalah tulisan dari Rasul Paulus waktu dia menceritakan bagaimana dia berusaha menguasai diriny, mengendalikan dirinya ketika dia memberitakan Injil, tetapi bukan dalam pemberitaan Injil saja ini diperlukan namun dalam segenap aspek kehidupan kita sebagai orang percaya.
"Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak".
GS : Baik Pak Heman. Terima kasih untuk perbincangan pada kesempatan ini, juga Ibu Wulan terima kasih. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih, Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. Kami baru saja berbincang-bincang dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga) dan kami mengangkat suatu topik yang berjudul "Membantu Anak Mengendalikan Diri". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang . Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Kami mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Banyak pendapat bahwa anak yang masih muda memang tidak bisa mengendalikan diri. Pandangan demikian tidak sepenuhnya benar. Pengendalian diri memang datangnya tahap demi tahap, dan dalam hal ini usia memegang peranan penting.
Sekalipun dalam banyak hal, anak akan lebih mampu mengendalikan diri setelah mereka besar, kita tetap berkewajiban memperhatikan perkembangan mereka dan membantu mereka. Sebagaimana belajar berjalan, berlari, berenang dsb, anak perlu latihan agar tahu bagaimana caranya mengendalikan dirinya. Menjadi dewasa tidak sekadar bertambahnya usia, melainkan salah satunya juga adalah semakin terampil mengendalikan diri. Jadi, untuk mendewasakan anak, kewajiban orangtua adalah mendidik mereka mampu bertanggung jawab & mengendalikan diri.
Kita perlu memperhatikan pengendalian diri mereka dalam hal : Pertama, dalam hal pola makan. Kedua, dalam hal kebersihan. Ketiga, dalam hal kontrol emosi. Keempat, dalam hal perkataan. Kelima, dalam hal penggunaan waktu. Keenam, dalam hal penggunaan uang. Ketujuh, untuk anak yang memasuki masa pubertas atau remaja, mereka perlu diajarkan pengendalian diri dalam hal seksual.
Ada dua kunci terpenting dalam hal membantu anak mengendalikan diri. Pertama, kita harus sabar mengikuti tahap-tahap usia dan kemampuan mereka. Setiap anak berbeda dalam hal kecepatan menyesuaikan diri dan kecepatan belajar menguasai diri. Dengan kata lain, orangtua jangan memasang target terlalu tinggi sehingga anak tidak bisa mencapainya. Target yang terlalu tinggi juga akan membuat anak frustrasi sehingga malas mengembangkan diri. Kedua, kita memberi contoh dan arah dari tingkah laku yang diharapkan. Sering kali kita lebih mudah melarang ini dan itu, sehingga membuat anak tidak belajar untuk melakukan sesuatu secara terkendali. Padahal ada banyak hal yang perlu dilakukan anak, hanya saja perlu ada pembatasan.
Pengendalian diri itu memiliki beberapa ciri. Pertama, kemampuan untuk menunda pemenuhan keinginan atau dorongan. Kedua, kemampuan mengalihkan dorongan ke arah yang lebih berguna, meskipun harus mengorbankan kenikmatan yang diinginkan. Ketiga, kemampuan mengenali batas. Mungkin ini yang paling sulit, yaitu bagaimana kita tetap melakukan sesuatu, tetapi dalam batas-batas tertentu. Tetap menggunakan uang, tetapi seturut keperluan yang penting dan tidak melebihi batas kemampuan..
Ada orang mengatakan bahwa anak hiperaktif sulit mengendalikan dorongan-dorongannya, dan itu terjadi antara lain karena faktor bawaan. Memang ada anak yang lebih sulit diajar untuk mengendalikan diri karena faktor bawaan. Namun tidak berarti bahwa anak-anak demikian tidak perlu diajar dan belajar mengendalikan diri. Jadi sebetulnya banyak cara yang bisa kita pakai agar anak-anak hiperaktif lebih bisa mengendalikan dirinya. Untuk anak-anak demikian, kita memang harus selalu mengingatkan diri bahwa tuntutan kita tidaklah boleh terlalu tinggi. Kita perlu menerima kekurangan mereka, sambil tetap berusaha membantu agar mereka mencapai batas kemampuan untuk belajar mengendalikan diri.
Ada orangtua yang mengajar anaknya sejak kecil untuk melakukan segala sesuatu secara disiplin. Namun setelah anak besar, mereka tetap memerlukan banyak pengawasan orangtua. Kalau tidak, mereka akan berbuat semau-maunya. Masalahnya kendali yang dipegang orangtua harus dialihkan secara bertahap kepada anak-anak, sehingga mereka terlatih untuk mengendalikan diri, bukan dikendalikan orangtua terus-menerus.
Firman Tuhan diambil dari IKorintus 9:24-27 .
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Rasa malu dan rendah diri memiliki keterkaitan, kalau ditelusuri ada cukup banyak orang yang merasa malu, latar belakangnya adalah karena dia merasa rendah diri. Rasa malu digambarkan semacam perasaan yang tidak nyaman sementara orang yang menderita rendah diri adalah kalau orang tersebut merasa kurang berharga dibandingkan dengan orang lain.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. kali ini akan berbincang-bincang dengan Bapak Heman Elia, M.Psi. dan beliau adalah pakar di bidang konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang menarik dan bermanfaat yaitu tentang "Rasa Malu dan Rendah Diri" dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) GS : Pak Heman, terima kasih untuk kehadirannya di tengah-tengah kami dalam perbincangan ini karena dalam kesempatan ini Pak Paul Gunadi rupanya ada kesibukan atau kesehatannya kurang baik, kami senang sekali Pak Heman bersama kami pada saat ini. Kita akan memperbincangkan tentang rasa malu, sebenarnya apa yang disebut rasa malu itu?
HE : Rasa malu bisa digambarkan seperti ini, semacam perasaan tidak nyaman. Biasanya berkaitan dengan membuka diri kepada orang lain, jadi rasa malu timbul seolah-olah kita ini sedang disoroi dan seolah-olah dinilai rendah oleh orang lain dan karena itu kita cenderung menarik atau menutup diri.
GS : Apakah bisa dibedakan dengan rasa takut?
HE : Ya, ada bedanya, kalau rasa takut berarti kita melarikan diri karena takut pada sesuatu, kita ingin menghindari sesuatu. Tetapi rasa malu biasanya lebih banyak terjadi di dalam relasi ssial.
Lebih terjadi dalam kaitan bagaimana saya dilihat oleh orang lain.
(2 ) GS : Tadi Pak Heman mengatakan tentang rendah diri, bagaimana tanda-tanda atau gejala-gejalanya?
HE : Disebut rendah diri kalau kita merasa kurang berharga, dibandingkan dengan orang lain kita kelihatannya kalah terus dan sebagainya, itu kita katakan bahwa kita sedang menderita rasa renah diri.
ET : Tapi antara rasa malu dengan rendah diri ini kadang-kadang susah dibedakan Pak Heman, karena tadi ada kata seolah-olah walaupun belum berarti orang sedang menyoroti. Tapi kalau orang yang rendah diri bukankah mempunyai pikiran begitu juga ya?
HE : Ya di sinilah adanya keterkaitan antara rasa rendah diri dengan rasa malu. Kalau ditelusuri cukup banyak orang yang merasa malu, latar belakangnya adalah karena dia merasa rendah diri. adi seolah-olah dia merasa dipandang rendah oleh orang lain atau dia merasa dirinya rendah dibandingkan dengan orang lain.
ET : Mungkin atau tidak, orang pemalu tetapi sesungguhnya tidak rendah diri?
HE : Ya ada, itu berkaitan dengan perasaan yang lain. Sebetulnya rasa malu juga sebagian didasari oleh sifat dasar kita, jadi ada orang yang lebih peka, lebih mudah untuk merasa malu. Tetapiada juga yang didasari oleh rasa bersalah, nah di sini memang yang saya lihat lebih banyak didominasi oleh rasa rendah diri.
GS : Tapi pada tahap-tahap tertentu Pak Heman, rasa malu juga penting bagi seseorang. Bayangkan seseorang tidak mempunyai rasa malu di tengah-tengah masyarakat, ini akan menjadi apa?
HE : Betul, betul, Pak Gunawan, memang rasa malu penting bagi kita. Kita perlu memiliki rasa malu untuk mengendalikan diri kita terutama kaitannya dengan etiket, pergaulan dan sopan santun dn juga rasa malu untuk berdosa itu perlu kita miliki.
Jadi seperti Alkitab juga mengatakan bahwa ada seorang perempuan yang tidak baik yang memegang remaja kemudian menciumnya tanpa rasa malu, misalnya di Amsal 7:13 itu menggambarkan wanita yang tidak baik. Jadi orang yang seperti itu dikatakan orang yang tidak tahu malu, jadi di sini memang rasa malu perlu juga untuk mengendalikan tingkah laku kita.
ET : Jadi seolah-olah di dalam tahap tertentu itu diperlukan, tetapi kalau kebablasan tidak punya malu juga salah, terlalu pemalu juga menyiksa, itu Pak Heman ya..?
HE : Tepat sekali Ibu Esther.
GS : Tersiksanya bagaimana Pak, seseorang yang memiliki rasa malu karena rendah diri.
HE : Tersiksa, di dalam arti dia menjadi tidak berani untuk bertemu dengan orang lain, lebih cenderung menarik diri, tidak merasa nyaman kalau bersama-sama dengan orang lain, Nah, itu nanti kibatnya juga banyak dirasakan terutama di dalam pergaulan.
GS : Berarti penyebab utamanya rasa rendah diri itu sendiri, Pak.
(3 ) GS : Kalau begitu bagaimana orang ini bisa mengatasi rasa rendah dirinya?
HE : Tentang rasa rendah diri prinsipnya adalah bagaimana kita perlu mengubah diri kita supaya kita lebih bisa menghargai diri kita sendiri. Nah itu memang tidak mudah, prinsipnya adalah seprti itu.
ET : Banyak yang tadi Pak Heman sempat singgung soal pergaulan. Seringkali kita menemukan orang-orang yang cenderung menyendiri terus, bukannya tidak bisa, tapi tidak berani untuk memulai. Jdi mungkin kalau situasinya memang sudah cukup enak bisa sebenarnya untuk bergaul, cuma untuk memulainya itu Pak Heman yang rasanya menjadi penghambat untuk seseorang dalam bergaul, jadi bukannya dia tidak bisa tetapi memulainya itu yang sulit.
HE : Betul, nah ini analisa yang baik Bu Esther. Mungkin dapat dijelaskan seperti ini, rasa rendah diri kemudian ada rasa malu yang diakibatkannya. Nah rasa malu akan sedikit demi sedikit mecair kalau orang itu merasa lebih aman, merasa lebih diterima dan merasa orang lain sebetulnya tidak memandang rendah dirinya.
Jadi perlu waktu untuk orang ini mengurangi rasa malunya atau rasa takutnya untuk tidak dipandang rendah oleh orang lain.
ET : Waktunya itu yang kadang-kadang sulit dipahami, rasanya kita sudah men-cap kamu ini terlalu malu, ayo bergaul, seperti dipaksakan begitu. Sebenarnya ini tidak membuat dia lebih baik ya,harus dalam sekejap mengubah rasa malunya.
GS : Rasanya memang sulit seseorang itu dalam sekejap mengubah rasa malunya menjadi pemberani, tetapi memang lingkungan itu yang harus mendukung dia untuk berani tampil sesuai dengan dirinya sendiri, Pak Heman?
HE : Justru lingkungan yang seringkali menciptakan rasa malu secara berlebihan, lingkungan juga yang menyebabkan atau asal mulanya seseorang kurang bisa menghargai dirinya sendiri atau meras rendah diri.
Dan lingkungan berperan besar untuk seseorang mulai mengurangi rasa malunya.
GS : Nah orang yang mempunyai sifat pemalu seperti ini, apakah bisa dikenali sedini mungkin. Artinya waktu masih kecil sudah kelihatan atau apakah waktu dewasa menjadi rendah diri atau bagaimana ?
HE : Bisa beberapa macam, bisa dari kecil memang orang ini lebih sensitif, bisa juga sebetulnya dia cenderung tidak begitu peduli dengan dirinya sendiri. Tetapi karena dia terus-menerus dipemalukan, sengaja dipandang rendah, entah itu dalam bentuk hukuman dan sebagainya, lama-lama dia belajar merasa bahwa saya ini orang yang tidak berharga jadi dia malu waktu bertemu dengan orang lain.
Jadi ada 2 macam, memang ada yang dari kecil sudah sensitif. Hanya saja kalau dari kecil lebih sensitif terhadap rasa malu, itu bisa diperbaiki kalau lingkungan banyak mendukung, banyak memberikan penghargaan kepadanya, sehingga dia tampil lebih percaya diri.
ET : Namun kadang-kadang ada peristiwa-peristiwa tertentu yang bisa membuat seseorang rasanya menjadi malu sekali, misalnya anak yang tidak naik kelas, dia mungkin dulunya pemberani sekarang menjadi enggan bertemu dengan teman-temannya atau juga orang-orang yang mungkin berada di tempat yang rasanya semua pintar-pintar, dan saya tidak mempunyai keahlian apa-apa, kalau seperti itu bagaimana, Pak Heman?
HE : Kalau kita sebagai orang dewasa atau orang tua mempunyai anak seperti ini, maka kita harus mencoba menerima anak ini, dan berusaha mengenali apa kelebihan anak ini dibandingkan anak-ana lain.
Jadi biasanya meskipun seseorang tidak terlalu pandai di sekolah misalnya pasti dia mempunyai satu keterampilan, suatu bakat yang bisa dilatih atau sesuatu yang bisa menjadi spesialisasi dia, dia lebih dari orang lain dalam hal itu. Nah, hal ini yang bisa dilatih supaya dia mempunyai suatu pegangan tertentu. Saya berikan contoh, misalnya ada orang yang mungkin berbakat dalam hal musik, nah mungkin dia dengan berlatih musik dia melebihi orang-orang lain, dia bisa mempunyai satu pegangan atau penghargaan terhadap diri sendiri dan sebagainya.
GS : Berarti orang yang pemalu ini perlu mengubah sikap terhadap dirinya sendiri begitu Pak?
GS : Hanya kita di lingkungan ini berperan membantu bagaimana dia segera menemukan dirinya untuk keluar dari siksaan menjadi pemalu itu Pak?
GS : Tetapi masalahnya bagaimana kalau kekurangan itu melekat dalam dirinya, misalnya cacat fisik dan sebagainya, nah itu bagaimana mengatasinya ?
HE : Memang agak sulit, kalau misalnya kita hidup di dalam lingkungan yang mau tidak mau memandang rendah seseorang karena cacat fisik atau cacat lainnya. Tetapi dari kekurangan ini kita tetp harus berusaha untuk belajar mengenal diri, dalam hal ini kita harus percaya bahwa kita ini dikasihi oleh Allah, kita dipilih oleh Allah dan kita yang percaya itu ditebus oleh Allah dan Allah tidak memandang muka, Allah tidak membeda-bedakan.
Cacat atau tidak cacat, semua kita berharga di mata Allah. Nah dengan keyakinan seperti ini seseorang akan mulai keluar dari dirinya sendiri. Kita bisa mengambil banyak contoh di mana orang yang cacat tetapi menjadi sangat terkenal, bukan saja terkenal, tapi bermanfaat bagi orang lain. Banyak membantu orang lain justru karena dia cacat. Saya kira penekanannya bukan pada fisik tetapi pada sifat-sifat baik, selain juga spesialisasi keterampilan yang saya jelaskan tadi.
ET : Tetapi kadang-kadang ada orang-orang yang sepertinya terbalik, ada orang yang cacat tapi bisa begitu percaya diri karena mengenali kemampuan-kemampuan dirinya, sebaliknya ada orang yangsebenarnya secara fisik normal dan juga lingkungannya mendukung, tetapi tetap saja seperti itu.
Mungkin memang cara berpikirnya itu sudah menganggap dirinya orang yang gagal, orang yang nasibnya jelek, yang tidak pernah bisa berhasil. Jadi kalau seperti ini, mungkin lingkungan memberikan dorongan seperti apapun tidak akan terlalu menolong karena ia memiliki cara berpikir yang sepertinya merusakkan dirinya sendiri.
HE : Ya ini pertanyaan yang baik sekali tentang cara berpikir. Setiap kita memang suka berbicara dengan diri sendiri dalam bentuk memikirkan tentang diri sendiri. Ya kita bisa membantu diri ita untuk keluar dari rasa rendah diri dan yang berakibat rasa malu ini.
Tepat sekali tadi dikatakan tentang cara berpikir yang kadang-kadang mengakibatkan kita merasa rendah diri atau rasa malu. Biasanya cara-cara berpikir begini cara berpikir yang mengevaluasi diri secara negatif.
GS : Dan itu harus diubah ya Pak Heman (HE : Ya betul) merubahnya itu seperti apa Pak? Dia harus dirubah seperti bagaimana?
HE : Coba kita melihat dahulu cara berpikir yang umumnya menyebabkan rasa rendah diri atau rasa malu. Cara berpikir orang yang merasa malu kadang-kadang membesarkan hal yang negatif dari dirnya.
Jadi sebetulnya, bagi orang lain kecil tetapi bagi dia itu besar sekali, dan sebaliknya mengecilkan hal-hal yang sebetulnya bagi dia merupakan hal yang baik atau hal yang positif. Saya berikan contoh, ada orang kalau berbicara selalu menutup hidungnya, lalu mengatakan bahwa, "ya habis hidung saya besar", nah ini dia malu terhadap hidungnya yang besar. Padahal bagi orang lain meskipun hidungnya agak besar tapi cukup harmonis di wajahnya. Nah, ini terlalu membesarkan sesuatu yang negatif dan ini mengalahkan diri sendiri atau mengecilkan diri sendiri. Kemudian kalau misalnya saya mempunyai sesuatu yang membanggakan, suatu prestasi kemudian orang lain memuji, cenderung saya yang pemalu ini akan mengatakan: "Ah.... seperti itu saja dipuji, bukankah saya tidak mempunyai apa-apa yang patut dibanggakan." Nah cara-cara berpikir seperti ini yang menyebabkan saya merasa malu. Atau misalnya berpikir yang ekstrim, kalau saya tidak bisa segala-galanya atau meraih semuanya, ya saya bukan apa-apa. Misalnya saja saya sekali waktu gagal untuk hal tertentu, baru gagal sekali kemudian saya mengatakan: "Ya.....saya orang yang gagal, saya tidak mungkin berhasil ya sudah saya tidak usah tampil," dan sebagainya.
ET : Sudah meramal nasibnya sendiri ya Pak?
GS : Tetapi ada faktor kebiasaan keluarga dan adat istiadat setempat yang kadang-kadang memang membuat seseorang seperti itu, kalau secara jujur dia mengakui kelebihannya nanti dikatakan sombong, sehingga dia terbiasa ah...itu bukan apa-apa dan sebagainya walaupun pada dasarnya dia senang dengan pujian itu.
HE : Ini tepat sekali, Pak Gunawan, jadi tadi saya juga sempat menyinggung bahwa lingkungan ini penting dalam seseorang mengevaluasi diri. Dalam hal demikian seseorang harus mengubah cara bepikirnya untuk lebih nyaman terhadap dirinya sendiri, untuk menerima kekurangannya maupun kelebihannya.
(4 ) GS : Bagi sebagian orang memang agak kacau, pemikiran antara rendah diri dan rendah hati. Dia sendiri agak bingung sebenarnya yang mana yang harus dijalani Pak?
HE : Perbedaannya antara rendah diri dengan rendah hati saya kira di dalam hal seperti ini, orang yang rendah diri selalu tidak nyaman menerima kelebihan dirinya dan selalu membesarkan hal yng negatif dari dirinya.
Nah ini terbalik dengan orang yang rendah hati, orang yang rendah hati cukup merasa nyaman meskipun dia tidak berusaha menonjol-nonjolkan kelebihan dirinya, tapi kalau dipuji orang ya terima kasih tanpa berusaha membangga-banggakan kelebihan dirinya dan merendahkan orang lain, ini orang yang rendah hati.
GS : Secara fisik Pak, saya pernah mempunyai teman sampai sekarang masih teman baik, karena dia pemalu, kalau dia merasa malu itu nampak sekali jadi merah padam karena kulitnya putih. Dan itu menjadi bahan tertawaan atau olok-olokan buat kita semua, nah ini mulai merah mukanya lalu malah dia malu, itu bagaimana Pak..?
HE : Ya kalau hal itu memang agak sulit, tapi saya kira kalau misalnya seseorang menerima olok-olokan dan dia tidak merasa bahwa dirinya itu diserang atau direndahkan dan tetap berpikir bahw itu hanya bergurau saja, maka orang akan lebih bisa mengatasi rasa malunya.
GS : Padahal sebenarnya sudah akrab, sudah puluhan tahun berteman, tapi ya tetap dia tidak bisa mengatasi masalah ini, sulit mengatasinya.
ET : Mungkin masalahnya pada warna kulitnya ya, terlalu putih jadi begitu malu langsung kelihatan merah.
GS : Langsung kelihatan Bu Esther, tapi memang kelihatan juga kalau diminta untuk bercerita atau apa kalau sudah mulai malu, berkata-kata pun menjadi sulit, Pak. Seolah-olah kehilangan kata-kata.
HE : Ada orang yang memang sudah sedemikian mendarah daging akan kebiasaannya. Memang bagi orang-orang tertentu tidak terlalu mudah, dibutuhkan waktu dan usaha terus-menerus untuk bisa menghrgai diri sendiri.
Biasanya kalau dihina orang kita mestinya masih bisa lebih tahan, sebetulnya yang menjadi kendala yang paling besar itu bukan orang lain menghina kita, tetapi diri kita sendiri yang menghina diri kita sendiri. Nah, ini repotnya pada orang-orang yang merasa sangat pemalu, orang ini sering memandang rendah dirinya, ini yang harus diubah perlahan-lahan.
ET : Tampaknya semakin bertambah usia lebih sulit ya Pak, karena sudah terbentuk sekian puluh tahun, katakanlah untuk mempunyai nilai diri yang seperti itu, untuk merubahnya menjadi tidak mau pasti lebih sulit.
Tapi bagaimana dengan banyak orang tua yang menyuruh anaknya menyanyi di depan umum, menyuruh ikut perlombaan, katanya supaya anaknya tidak jadi pemalu lagi. Sebenarnya apakah memang ada manfaatnya, Pak Heman, dengan cara seperti itu bagi anak-anak yang pada dasarnya memang pemalu?
HE : Kalau untuk anak-anak yang memang pemalu, saya lebih cenderung diperkenalkan secara bertahap untuk tampil di depan umum. Kalau misalnya dipaksakan, khawatirnya justru sebaliknya dia makn takut dan sangat takut menghadapi orang banyak.
ET : Jadi terlalu ekstrim begitu ya, dari pemalu harus langsung tampil.
HE : Dan dia tidak merasa ada orang yang memberikan perlindungan kepadanya atau memberikan penghiburan kepadanya, jadi lebih baik bertahap.
ET : Berarti sebenarnya untuk tampil di muka umum itu cukup memakai cara bertahap.
GS : Nah dalam hal ini Pak Heman bagaimana sikap Tuhan Yesus sendiri ketika diolok-olok oleh orang banyak, itu kita pernah membaca dalam kitab Injil bahwa Tuhan Yesus sendiri dipermalukan sebenarnya.
HE : Ini hal yang sangat menarik dalam kisah atau pribadi Yesus, Yesus sangat mengenali diriNya sebagai Anak Allah, sebagai Allah sendiri yang mempunyai kemuliaan yang luar biasa dan Dia tidk terpengaruh oleh evaluasi dari orang lain.
Dia sama sekali tidak merasa direndahkan oleh orang lain dan Dia bisa mengampuni orang-orang yang telah mengolok-olok Dia. Nah inilah yang harus kita teladani bahwa kita sebagai manusia-manusia yang berharga di hadapan Allah. Karena kondisi, karena status kita sebagai manusia, kita sesungguhnya orang yang berharga dan apapun yang dikatakan orang lain itu tidak harus menjadikan kita malu atau merasa rendah.
GS : Jadi di dalam hal ini Pak Heman sebagai kesimpulan dari pembicaraan kita saat ini, apakah ada bimbingan dari firman Tuhan yang bisa dijadikan pedoman oleh para pendengar acara Telaga supaya masing-masing bisa mengatasi rasa malunya, karena kita di dalam dunia ini mengemban suatu misi dan itu tentu saja dibutuhkan pribadi-pribadi yang bisa mengalahkan rasa malunya itu.
HE : Ya tadi saya sudah menguraikan banyak tentang rasa malu dan cara berpikir dibalik itu dan kemudian cara-cara kita berusaha mengatasinya. Dan kalau kita melihat dari Alkitab, maka Alkita juga memberikan ayat-ayat yang baik yang menceritakan bagaimana kalau kita mencari pertolongan dari Tuhan maka kita tidak akan mendapatkan malu.
Saya akan bacakan Mazmur 22:5-6 , "KepadaMu nenek moyang kami percaya, mereka percaya dan Engkau meluputkan mereka. KepadaMu mereka berseru-seru dan mereka terluput, kepadaMu mereka percaya dan mereka tidak mendapat malu." Ini penghiburan bagi mereka yang percaya kepada Tuhan.
GS : Jadi saya rasa ayat-ayat itu akan menghiburkan dan menguatkan karena yang berfirman adalah Tuhan Allah sendiri yang menciptakan kita. Nah saudara-saudara pendengar demikian tadi kami telah persembahkan sebuah perbincangan dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami telah berbincang-bincang tentang rasa malu dan rendah diri. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.
Ringkasan Isi:
Rasa malu dapat digambarkan seperti semacam perasaan tidak nyaman. Biasanya berkaitan dengan membuka diri kepada orang lain, jadi rasa malu timbul seolah-olah kita sedang disoroti dan seolah-olah dinilai rendah oleh orang lain.
Perbedaan rasa takut dan rasa malu:
Rasa takut , kita melarikan diri karena kita takut pada sesuatu, kita ingin menghindari sesuatu.
Rasa malu , biasanya terjadi dalam relasi sosial; lebih berkaitan bagaimana saya dilihat oleh orang lain.
Orang dikatakan menderita rendah diri adalah kalau orang tersebut merasa kurang berharga, dibandingkan dengan orang lain, kita kelihatannya kalah terus. Antara rasa malu dan rendah diri memiliki keterkaitan, kalau ditelusuri ada cukup banyak orang yang merasa malu, latar belakangnya adalah karena dia merasa rendah diri. Rasa malu juga diperlukan bagi kita terutama untuk mengendalikan diri kita hal ini berkaitan dengan etiket pergaulan dan sopan santun dan juga rasa malu untuk berdosa itu perlu kita miliki. Amsal 7:13 , mencontohkan perilaku seorang wanita yang tidak tahu malu. Jadi di sini memang rasa malu perlu juga untuk mengendalikan tingkah laku. Rasa malu akan sedikit demi sedikit mencair kalau orang itu kemudian merasa lebih aman, lebih diterima dan dia merasa orang lain sebetulnya tidak memandang rendah dirinya.
Dalam batas tertentu rasa malu diperlukan namun jika kelebihan pun hal ini justru akan menyiksa. Dalam pengertian orang menjadi tidak berani untuk bertemu dengan orang lain, lebih cenderung menarik diri, tidak merasa nyaman kalau bersama-sama dengan orang lain, akibatnya akan dirasakan dalam pergaulan. Lingkungan sering kali yang menciptakan rasa malu yang berlebihan, lingkungan juga yang menyebabkan asal mulanya seseorang kurang bisa menghargai dirinya sendiri atau merasa rendah diri. Dan lingkungan berperan besar untuk seseorang mulai mengurangi rasa malunya.
Cara berpikir kita kadang-kadang juga mengakibatkan kita merasa rendah diri atau rasa malu. Biasanya cara-cara berpikir seperti ini cara berpikir yang mengevaluasi diri secara negatif. Cara berpikir orang yang merasa malu itu kadang-kadang membesarkan hal yang negatif dari dirinya. Misalnya saja kita sekali waktu gagal kemudian kita mengatakan : "Saya orang yang gagal, saya tidak mungkin berhasil ya sudah saya tidak perlu tampil deh".
Perbedaan rendah hati dengan rendah diri:
Orang yang rendah diri , selalu tidak nyaman menerima kelebihan dirinya dan selalu membesarkan hal yang negatif dari dirinya.
Orang yang rendah hati , cukup merasa nyaman meskipun dia tidak berusaha menonjol-nonjolkan kelebihan dirinya, tapi kalau dipuji orang ya terima kasih tanpa berusaha membangga-banggakan berlebihan dirinya dan merendahkan orang lain.
Dalam kisah pribadi Yesus, Yesus sangat mengenali diri-Nya sebagai Anak Allah, sebagai Allah sendiri yang mempunyai kemuliaan yang luar biasa dan Dia tidak terpengaruh oleh evaluasi dari orang lain. Dia sama sekali tidak merasa direndahkan oleh orang lain bahwa Dia bisa mengampuni orang-orang yang telah mengolok-olok Dia. Nah inilah yang harus kita teladani bahwa kita sebagai manusia itu seharusnya menjadi manusia-manusia yang berharga di hadapan Allah. Kita sesungguhnya manusia yang berharga dan apapun yang dikatakan orang lain itu tidak harus menjadikan kita malu untuk merasa rendah.
Mazmur 22:5,6 , "Kepada-Mu nenek moyang kami percaya, mereka percaya dan Engkau meluputkan mereka. kepada-Mu mereka berseru-seru dan mereka terluput, kepada-Mu mereka percaya dan mereka tidak mendapat malu." Ini penghiburan bagi mereka yang percaya kepada Tuhan.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Kita orangtua tidak bisa memberikan label nakal begitu saja kepada anak kita, karena adakalanya anak hanya menunjukkan keisengan atau juga karena dia seorang anak yang aktif bergerak. Kita orangtua harus berhati-hati memakai istilah nakal ini terhadap anak-anak kita.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya ditemani oleh Ibu Esther Tjahja, S. Psi., kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M. Psi., beliau adalah pakar dalam bidang konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang; perbincangan kami kali ini akan kami beri judul "Anak Nakal". Kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) GS : Pak Heman, terima kasih berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan kami pada saat ini, perbincangan kami kali ini akan mengambil judul anak nakal. Yang kelihatannya memang lumrah atau biasa ada di sekeliling kita, tetapi kita juga masih tidak mempunyai suatu batasan yang tepat atau pengertian yang sama tentang anak nakal itu seperti apa Pak?
HE : Ya anak nakal memang bergantung pada penilaian orang tua, misalnya orang tua kalau mengatakan anak ini nakal karena dia aktif sekali atau karena dia itu sering melanggar peraturan yang itetapkan orang tua, seperti itu yang biasa dikatakan oleh orang tua.
Tetapi saya kira kita tidak bisa melabel, memberikan cap begitu saja bahwa anak ini nakal, karena kita harus membedakan kenakalan anak dengan misalnya apakah itu suatu keisengan atau memang suatu hal yang boleh dikatakan dia sebetulnya aktif, bergerak dan sebagainya. Sehingga kita memang harus berhati-hati dengan istilah nakal ini.
GS : Itu bukan dari sudut orang tua yang senang atau tidak senang dengan tindakan anak Pak, jadi kalau orang tua itu merasa dirugikan atau merasa tidak senang dengan tindakan anak itu lalu disebut nakal ?
HE : Itu juga bisa seperti itu, tapi kalau kita mau menilai perilaku anak, seharusnya dari kondisi anak itu sendiri. Jadi kita berangkat dari keadaan anak itu sendiri dan kita jangan menilaiya secara subyektif dari penilaian kita sendiri.
(2 ) ET : Cuma memang rasanya istilah anak nakal ini mudah sekali tercetus dari mulut orang tua atau pun orang dewasa. Begitu melihat anak-anak yang mungkin berperilaku atau bersikap kurang sesuai dengan yang kita harapkan begitu Pak Heman ya, tapi kalau Pak Heman katakan bahwa anak nakal itu harus dinilai jangan secara subyektif sebaiknya bagaimana kita bisa membedakannya?
HE : Kalau kita mau menilai perilaku anak yang melanggar peraturan, kita akan melihat bahwa anak-anak ini kalau sudah melanggar peraturan tanpa memiliki rasa bersalah yang memadai, meskipun elanggarannya tergolong berat.
Dan sebetulnya sudah ada usaha dari orang tua untuk benar-benar mendidik anak ini secara baik maka kita bisa katakan anak ini melanggar peraturan mungkin anak ini dikatakan sebagai "nakal". Jadi anak ini sering kali tidak mau minta ampun, minta maaf dan tidak pernah ada penyesalan yang sungguh-sungguh, kalau kita paksa dia untuk minta maaf, dia tidak menyesal sungguh-sungguh. Nah, hal yang lain adalah pelanggaran anak itu biasanya melampaui tingkat perkembangan anak. Jadi kalau misalnya masih sesuai dengan tingkat perkembangannya kita katakan usil dan sebagainya. Nah, misalnya anak kelas III SD sebagai contoh melempar kepala gurunya dengan sengaja menggunakan penghapus papan tulis, nah itu tergolong perilaku kenakalan. Dan kemudian juga selain tidak adanya rasa penyesalan dia itu sebetulnya sudah tahu bahwa ada peraturan yang tidak boleh dilanggar. Tapi dia tidak peduli dan dia juga tidak peduli bahwa ada orang lain yang dirugikan atau terluka. Biasanya anak-anak yang aktif saja biasanya tidak sengaja melukai, tetapi ini dengan sengaja meskipun dia tahu dia melakukan pelanggaran, bahkan berusaha melukai baik secara fisik maupun mungkin luka hati kepada orang lain.
GS : Nah contoh yang Pak Heman tadi berikan, anak melempar gurunya, apakah tidak bisa dikategorikan sebagai anak yang kurang ajar?
HE : Ya saya kira bisa dikatakan sebagai kurang ajar, di lain sisi kita melihat bahwa anak ini sebetulnya melakukan pelanggaran yang melampaui batas usianya sehingga tergolong tidak wajar. Jdi kalau kurang ajar itu dari sisi sopan santunnya, etika sosialnya.
Kalau kita mengatakan anak ini melanggar peraturan atau melakukan "kenakalan" kita katakan anak ini melakukan perilaku yang melanggar, yang keterlaluan.
ET : Tapi kalau kita lihat anak-anak ini memang kadang-kadang banyak idenya Pak Heman, aktif dan rasanya banyak hal yang tidak kita pikirkan tetapi mereka lakukan. Jadi kalau memang seperti yang Pak Heman katakan sebagai kriterianya adalah pelanggaran, kira-kira bagaimana kita bisa mengenali bahwa suatu perilaku mereka itu memang pelanggaran atau memang mereka iseng-iseng atau ikut-ikutan teman begitu?
HE : Ikut-ikutan teman maupun iseng itu bisa kita nilai juga sebagai pelanggaran peraturan atau tindakan kenakalan, kalau misalnya memenuhi beberapa ciri bahwa dia sebetulnya sudah mampu beraku sesuai dengan peraturan.
Dan dia sebetulnya tahu ada peraturan seperti itu dan biasanya dia juga bisa untuk mengikuti peraturan itu, tetapi dia sengaja melanggar peraturan itu. Hal yang lain adalah dia sengaja dengan tindakannya itu berusaha menentang atau melawan misalnya guru, orang tua atau orang lain, sengaja untuk menjengkelkan hati mereka. Biasanya anak yang iseng atau usil itu tidak secara sengaja berusaha melukai hati orang lain tetapi melakukan hal-hal seperti itu hanya untuk misalnya kesenangan diri dan sebagainya. Nah ketika misalnya tanpa sengaja terjadi luka atau cidera pada orang lain, anak ini biasanya akan sangat menyesal, berbeda dengan anak yang nakal.
GS : Nah kenakalan itu memang terbawa dari lahir atau terbentuk karena lingkungannya Pak?
HE : Saya cenderung mengatakan bahwa kenakalan itu bergantung kepada lingkungannya, baik cara mendidik orang tua maupun lingkungan sosial tempat anak berada. Meskipun adakalanya ada kenakala tertentu yang disebabkan oleh pengaruh genetis misalnya saja pengaruh genetis ini menyebabkan anak-anak ini kurang peka secara naluri, secara emosi kurang peka.
Ada anak-anak yang dilahirkan memang dengan kondisi seperti itu, tetapi dalam keadaan yang umum kita bisa katakan bahwa ini lebih bergantung pada lingkungan.
GS : Kalau anak itu melakukan kenakalan tetapi di luar kesadaran dia atau sepengetahuan dia hanya karena meniru, itu bagaimana Pak?
HE : Ya, kita memang mengetahui bahwa perilaku anak itu banyak dipengaruhi oleh cara dia mencontoh dari lingkungannya dan sebagainya. Masalahnya adalah kalau dia mencontoh dari lingkungannya pertama kali begitu ketahuan misalnya kita mengarahkan dia, anak-anak ini akan bereaksi mematuhi atau setidaknya berlaku kooperatif mau bekerja sama.
Tetapi kalau ini sampai berkelanjutan dan pengaruh dari lingkungan sekitar sedemikian besar dan kemudian ditambah lagi menjadi pihak otoritas terasa tidak berdaya, maka hal ini bisa berlangsung terus menjadi suatu kebiasaan. Dan kebiasaan ini bisa mengikis suara hati anak, membuat anak tidak peka lagi terhadap penderitaan orang lain. Dalam hal ini lama-kelamaan anak bisa terpengaruh menjadi nakal.
ET : Wah, kalau kita sudah tahu batasannya seperti ini rasanya selama ini mungkin banyak salah kaprah dalam hal orang tua memberi label nakal kepada anak-anak, Pak Heman. Karena kadang-kadan lupa kalau misalnya mungkin mereka belum mengerti tetapi sudah dianggap nakal, padahal Pak Heman katakan harusnya pada saat anak sudah mengerti tetapi sengaja melanggar begitu Pak ya? Masalahnya nanti kalau ternyata mungkin para pendengar merasa pernah atau cukup sering memberi predikat nakal kepada anak-anaknya padahal sebenarnya anak-anak yang digolongkan nakal ini kalau menurut kriteria yang kita bicarakan malam hari ini tidak tergolong nakal begitu.
Untuk anak-anak yang seperti ini apakah ada dampaknya Pak dengan cap-cap yang diberikan?
HE : Saya kira ada dan label atau cap nakal ini cukup besar sebetulnya dan kurang disadari dampaknya oleh kebanyakan orang tua. Kalau boleh saya menganjurkan bahwa label atau cap nakal ini sbaiknya tidak disebut untuk anak, kenapa? Ada beberapa alasan di sini.
Pertama karena kita tidak tahu apakah benar secara sengaja anak melakukan pelanggaran dan secara terus-menerus sedang memanipulasi kita, kecuali kalau kita memang sungguh-sungguh mengetahui bahwa anak ini sedang memanipulasi kita, itu pun yang kita lakukan bukan memberikan cap tetapi kita melakukan tindakan-tindakan untuk menghentikan tingkah laku mereka memanipulasi kita. Nah, ada dampak yang lain yang kedua karena label nakal ini tidak jelas menunjukkan suatu perilaku tertentu, jadi kita misalnya mengatakan: "Nakal kamu! Jangan nakal!" dan sebagainya. Nah, ketika kita menyebut jangan nakal, kita tidak menuju kepada suatu perilaku tertentu sehingga anak tidak tahu perilaku apa yang harus dikoreksi dan sebagainya. Karena itu label nakal yang kita terapkan kepada anak tidak akan banyak mengubah tingkah laku anak menjadi lebih baik, nah itu dampak yang lain. Dan dampak selanjutnya adalah ketika kita memberi label kepada anak, label ini kadang-kadang dipakai sebagai suatu cap anak itu sendiri terhadap dirinya. Nah, di dalam hukum perilaku ada kecenderungan begini, kalau misalnya saya menganggap diri saya itu nakal saya akan berperilaku sesuai dengan julukan saya itu yaitu nakal. Jadi ada kemungkinan lama-kelamaan anak ini semakin berperilaku yang melanggar peraturan, semakin bandel dan seterusnya.
ET : Jadi semula tidak nakal justru dengan adanya cap ini malah akhirnya jadi sungguh-sungguh nakal begitu?
HE : Betul, bisa jadi begitu.
GS : Tapi saya pernah mendengar seorang ibu yang menyebut anaknya nakal itu dengan penuh kebanggaan, jadi semacam kebanggaan tersendiri. Lalu dia berkata kepada temannya: "O.....anak saya ini memang nakal," sambil tertawa-tawa dan merasa bangga bahwa anaknya bisa nakal, bisa begitu Pak?
HE : Ya saya kira ini juga semacam salah kaprah bahwa nakal itu sering kali dikacaukan dengan aktif, dikacaukan dengan anak-anak yang memang sehat. Padahal bagi anak-anak tertentu atau kebanakan anak, nakal itu suatu cap yang negatif, yang jelek, jadi sekalipun ibunya bangga mudah-mudahan anaknya tidak merasa dengan cap itu dia terbebani.
Kalau anak itu misalnya sampai bangga juga bahwa dirinya nakal, ada kemungkinan nakal yang dipikirkan anak itu lain dengan yang dipikirkan ibunya dan dampaknya bisa negatif juga.
GS : Itu kadang-kadang juga dididik, di dalam sekolah tertentu di mana memang anak-anaknya (kalau kita secara awam berkata itu nakal), itu bagaimana Pak?
HE : Ya sebetulnya kembali lagi ke kriteria orang dewasa, peraturan yang ingin kita tegakkan. Kalau saya pikir kita harus betul-betul memperhitungkan perkembangan anak, artinya begini anak-aak usia dari TK sampai dengan kelas II SD, bahkan sampai kelas III SD itu banyak bergerak.
Nah kita tidak boleh menerapkan peraturan yang banyak melarang perkembangan motorik mereka atau gerak-gerik mereka, jadi misalnya salah satu contoh kalau misalnya di kelas guru tidak bisa menerapkan peraturan yang terlalu keras sehingga anak tidak boleh bergerak sedikitpun. Bayangkan kita orang dewasa saja ½ jam disuruh duduk tanpa bergerak dan harus menulis terus akan kelelahan apalagi anak-anak yang kecil seperti itu. Jadi kalau kita menerapkan peraturan yang terlalu keras kita akan melihat banyak sekali anak nakal padahal bukan itu masalahnya, masalahnya adalah di peraturan kita apakah wajar, sesuai ataukah berlebihan.
ET : Atau justru kadang-kadang saya melihat ada orang tua yang terlalu mentolerir perilaku anaknya dengan mengatakan, "Ah wajar anak-anak nakal" begitu karena mungkin mereka melihatnya sebagi sesuatu yang lucu, sebagai yang biasa padahal setelah besar ternyata yang mereka anggap wajar itu ternyata sesuatu yang nakal seperti yang Pak Heman katakan tadi.
HE : Karena terlanjur terbentuk ketidakpekaan nurani, nah ini yang orang tua harus perhatikan bahwa anak-anaknya masih mempunyai kepekaan terhadap penderitaan orang lain.
GS : Ya, kadang-kadang orang tua juga mentolerir kalau anaknya laki-laki yang nakal. Kalau yang perempuan nakal dimarahi habis-habisan tapi kalau yang laki ini "O.....anak laki tidak apa-apa, itu memang wajar." Itu anggapan seperti itu bagaimana?
HE : Kembali lagi ke kriterianya ya, memang anak laki-laki akan cenderung lebih banyak bergerak dari pada anak perempuan, tetapi yang harus kita tetapkan sebetulnya apakah anak itu melanggar pelanggaran itu adalah pelanggaran perilaku yang biasa, yang normal, yang wajar-wajar saja karena anak itu belum mampu meniru atau menyesuaikan perilakunya dengan perilaku orang dewasa.
Kalau itu, saya kira itu tidak terlalu menjadi masalah tetapi yang lebih serius adalah pelanggaran di dalam hal pelanggaran moral, di dalam hal pelanggaran terhadap hak orang lain, nah ini yang orang tua langsung harus mengambil tindakan atau paling sedikit mengarahkan anak supaya anak ini tidak menjadi berkepanjangan atau berkelanjutan tingkah laku pelanggarannya ini.
GS : Katakan kasusnya menggoda temannya, sama-sama menggoda yang anak pria ini atau anak laki-laki ini menggoda temannya, anak perempuan juga menggoda temannya tapi yang laki ini lebih ditolerir daripada yang perempuan.
HE : Ya memang umumnya begitu, ini persepsi saja bahwa laki-laki ini lebih usil dan sebagainya sehingga kita meletakkan kriteria lebih berat pada wanita. Melanggar sedikit, anak perempuan diatakan nakal.
(3 ) ET : Sebenarnya bisa diselidiki atau dicari penyebabnya yang lebih utamanya atau tidak Pak, yang menyebabkan anak-anak itu bisa nakal seperti itu?
HE : Anak-anak yang nakal seperti kriteria tadi misalnya sampai melanggar peraturan tanpa rasa bersalah dan seterusnya itu ada beberapa sebab yang memang saling berkait, susah dipisahkan sat dengan yang lain namun beberapa hal yang penting di sini saya kira adalah misalnya orang tua yang tidak harmonis, yang menyebabkan orang tua ini menghukum anak secara sewenang-wenang.
Kalau anak dihukum secara sewenang-wenang kemudian anak itu banyak menderita luka batin, mereka merasa frustrasi kondisi-kondisi ini akan menyebabkan pemberontakan yang hebat dari anak. Nah, kondisi ini seharusnya diperbaiki lebih dulu dan sebetulnya di dalam keadaan seperti ini bukan orang tua itu berpikir, "hukuman apa yang sebaiknya saya lakukan atau lebih keras supaya anak menjadi kapok atau jera." Karena kalau ini dilakukan, anak semakin banyak memberontak. Kemudian kemungkinan lain dari anak nakal adalah karena kebutuhan emosi dan kebutuhan psikologis utamanya itu tidak terpenuhi. Misalnya saja kebutuhan akan kasih dan perhatian terutama dari orang tua, kebutuhan untuk rasa aman atau merasa terlindung dari orang tua itu tidak terpenuhi, kebutuhan anak untuk mandiri. Nah ini kenapa saya sebutkan kebutuhan untuk mandiri karena anak yang terlalu dikekang ini tidak boleh, itu tidak boleh, maka reaksi anak adalah memberontak. Dan kalau pemberontakan ini kembali lagi ditekan akan terjadi reaksi frustrasi. Hal yang lain misalnya karena orang tua kurang tegas dan kalau anak melakukan pelanggaran banyak dibiarkan atau malah orang tua ikut tertawa karena merasa lucu dan sebagainya. Nah, ini sering kali diperburuk oleh orang tua yang selalu mengikuti kemauan anaknya. Suatu kali orang tua setelah dia tidak bisa memenuhi kemauan anak, anak menjadi marah dan melakukan kenakalan-kenakalan.
(4 ) GS : Ya mungkin Pak Heman mempunyai saran untuk menanggulangi kalau ada orang tua yang punya anak atau anak-anak yang memang nakal, bagaimana Pak?
HE : Sesuai dengan sebab-sebab tadi yang pertama kita usahakan, kita harus mengusahakan untuk menciptakan keluarga yang harmonis. Kemudian yang kedua orang tua berusaha sekuat tenaga untuk mmenuhi kebutuhan emosional anak yang utama.
Dan yang ketiga bersikap tegas kepada anak dan didik mereka secara wajar dan sesuai dengan ajaran firman Tuhan, saya kira ini 3 hal yang terpenting yang bisa dilakukan oleh orang tua.
ET : Jadi dalam hal ini kuncinya kembali kepada orang tua, Pak Heman?
HE : Itu yang bisa kita lakukan selaku orang tua.
ET : Pak Heman, bisa atau tidak kalau kita menyimpulkan bahwa sebelum menuduh anak kita nakal, sebaiknya orang tua yang introspeksi dulu apa yang menyebabkan anaknya menjadi nakal seperti itu?
HE : Ini saran dan kesimpulan yang baik.
GS : Ya, karena bukan cuma anak-anak yang nakal, banyak orang tua yang lebih nakal dari anak-anaknya Pak Heman, yang kita harus sadari bahwa kita sebenarnya ditatap oleh mata-mata kecil yang gara-gara kita itu mereka bisa bersikap seperti itu.
HE : Ya betul karena orang tua juga sering melanggar peraturan.
GS : Karena ini Pak, kalau memang kenakalan itu kita tekan-tekan bisa jadi nanti suatu saat juga akan terlampiaskan entah waktu dia remaja, entah dia pemuda, itu akan mewujudkan dirinya itu.
HE : Betul, terutama ketika orang tua tidak lagi bisa sepenuhnya mengontrol anaknya.
GS : Tapi saya percaya ada firman Tuhan yang akan memberikan bimbingan yang benar dan pasti sehubungan dengan ini, Pak Heman.
HE : Amsal 29:17 mengatakan demikian: "Didiklah anakmu maka ia akan memberi ketenteraman kepadamu dan mendatangkan sukacita kepadamu."
GS : Ya, tegas sekali firman Tuhan mengatakan didiklah anakmu. Jadi saya rasa itu menjadi tanggung jawab orang tua dan tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.
Terima kasih sekali, Pak Heman untuk kesempatan berbincang-bincang kali ini dan saya percaya sekali bahwa perbincangan ini akan pasti menjadi berkat bagi banyak orang. Dan para pendengar sekalian terima kasih, Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia, M. Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Anak Nakal". Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) , Jl. Cimanuk 58 Malang . Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.END_DATA
Ringkasan Isi:
Cap nakal atau label nakal sebaiknya tidak disebut untuk anak, ada beberapa alasan yaitu:
Karena kita tidak tahu apakah benar secara sengaja anak melakukan pelanggaran dan secara terus-menerus sedang memanipulasi kita, kecuali kalau kita memang sungguh-sungguh mengetahui bahwa anak sedang memanipulasi. Itu pun yang kita lakukan bukan memberikan cap tetapi kita melakukan tindakan-tindakan untuk menghentikan tingkah laku mereka.
Karena label nakal ini tidak jelas menunjukkan suatu perilaku tertentu, sehingga anak tidak tahu perilaku apa yang harus dikoreksi dsb. Label nakal tidak akan banyak mengubah tingkah laku anak menjadi lebih baik.
Ketika kita memberi label kepada anak, label ini dipakai sebagai suatu cap anak itu sendiri terhadap dirinya. Hukum perilaku ada kecenderungan, kalau saya menganggap diri saya itu nakal saya akan berperilaku sesuai dengan julukan saya yaitu nakal. Jadi ada kemungkinan anak semakin berperilaku bandel dan banyak melanggar peraturan.
Penyebab anak menjadi nakal:
Orang tua yang tidak harmonis, yang menyebabkan orang tua ini menghukum anak secara sewenang-wenang. Akibatnya anak banyak menderita luka batin, mereka merasa frustrasi dan dalam kondisi ini akan menyebabkan pemberontakan yang hebat dari anak.
Karena kebutuhan emosi dan psikologis utamanya tidak terpenuhi. Misalnya kebutuhan akan kasih dan perhatian dari orang tua, kebutuhan untuk rasa aman atau merasa terlindungi oleh orang tua, kebutuhan untuk mandiri dan hal-hal ini tidak terpenuhi.
Orang tua kurang tegas kalau anak melakukan pelanggaran, banyak dibiarkan atau malah orang tua ikut tertawa karena merasa lucu.
Orang tua yang selalu mengikuti kemauan anaknya, sehingga sewaktu tidak bisa memenuhi kemauan anak, anak menjadi marah dan melakukan kenakalan-kenakalan.
Yang harus kita lakukan sebagai orang tua untuk menghadapi anak yang nakal:
Kita mengusahakan untuk menciptakan keluarga yang harmonis.
Orang tua berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan emosional anak yang utama.
Bersikap tegas kepada anak dan didik mereka secara wajar sesuai dengan ajaran firman Tuhan.
Sebagai orang tua kita perlu introspeksi diri dulu sebelum menuduh anak kita nakal, yaitu apa yang menyebabkan anak menjadi nakal.
Amsal 29 : 17 , "Didiklah anakmu maka ia akan memberi ketenteraman kepadamu dan mendatangkan sukacita padamu.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Mengoreksi dan memperbaiki bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi mau tidak mau tatkala kita mendidik anak-anak kita ternyata ada sifat atau tingkah laku atau kebiasaan yang kita anggap kurang tepat dan mau tidak mau ini harus dikoreksi.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di manapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M. Psi. beliau adalah seorang pakar di bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini kami beri judul "Mengoreksi Perilaku Anak". Kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) GS : Pak Heman, memang mengoreksi atau memperbaiki itu bukan sesuatu hal yang mudah dilakukan, tetapi mau tidak mau tatkala kita mendidik anak-anak kita atau mempersiapkan mereka untuk masa depan mereka ternyata ada sifat atau tingkah laku atau kebiasaan yang kita anggap kurang tepat dan mau tidak mau ini harus dikoreksi. Tidak mungkin ini dibiarkan saja. Nah memang sering kali kita itu melakukan bentakan melampiaskan kemarahan kepada anak ini tetapi itu pun tidak selamanya membawa suatu hasil yang baik. Nah kadang-kadang kita merasa putus asa dan berkata apa perlu dibiarkan saja kesalahan-kesalahan ini, tidak perlu dikoreksi toh sulitnya setengah mati itu Pak, itu bagaimana Pak sebenarnya?
HE : Kita harus usahakan supaya kita bisa menggunakan cara-cara lain selain yang Pak Gunawan katakan dengan memarahi dan menghukum anak. Mungkin ada cara-cara yang lain yang masih bisa cukupefektif yang bisa kita usahakan.
GS : Kalau cuma dengan kemarahan apakah itu tidak cukup Pak?
HE : Kemarahan boleh dilakukan tetapi masalahnya adalah seperti ini, kadang-kadang anak itu sudah terbiasa orang tuanya ngomel-ngomel, setiap kali ngomel lama-lama anaknya kebal. Lama-lama da terbiasa dan tidak mempan lagi dan dengan hal seperti itu kadang-kadang kita perlu tambahkan kemarahan kita, tambahkan bentakan kita, tambahkan hukuman kita, tetapi itu pun ada batasnya.
Kalau misalnya kita sering memarahi anak, sering membentak, anak pun kadang-kadang hanya takut di depan kita dan kemudian perilakunya tetap saja berlangsung.
GS : Maksudnya itu menambah katakan kalau obat itu dosisnya kita tingkatkan supaya anak ini menjadi jera atau kapok, tetapi kenapa juga tidak berhasil Pak?
HE : Ya ada beberapa kemungkinan di sini kalau misalnya hukuman atau kemarahan kita tidak berhasil. Misalnya saja anak yang sulit, sulit untuk dikoreksi dan lebih bandel kalau dibandingkan dngan anak yang lain.
Memang ada anak-anak yang khusus seperti ini, tetapi juga ada kemungkinan bahwa orang tua tidak harmonis sehingga membuat anak itu tidak puas, frustrasi dan kemudian melakukan pemberontakan-pemberontakan. Kemungkinan lain juga adalah bahwa anak-anak tertentu itu kalau memakai cara hukuman atau dimarahi dia akan lebih sakit hati dan dia melawannya, tetapi kalau dengan cara-cara yang lain dia bisa misalnya dengan teknik-teknik untuk melatih dia supaya dia teralih ke perilaku yang lain yang lebih baik, adakalanya cara yang seperti ini yang lebih berhasil.
GS : Ya berarti dalam rangka membenahi tingkah laku anak tadi juga dibutuhkan suatu kreatifitas tersendiri untuk orang tua itu Pak?
GS : Nah kalau begitu kapan kita itu harus berpindah ke cara-cara yang lain, Pak?
HE : Kadang-kadang bukan saja harus berpindah tetapi kadang-kadang memang kita harus sudah menggunakan cara lain itu sebelum kita melakukan hukuman atau kita marah-marah. Yaitu kalau misalny anak melanggar sesuatu atau melakukan kesalahan itu karena kekurangmatangannya dan bukan karena kesengajaannya.
Kita melatihnya supaya dia memperoleh perilaku yang lebih baik dan perilaku yang baru.
GS : Ya, walaupun anak itu tidak atau belum matang atau belum mengerti benar, tetapi yang namanya kesalahan kita tetap mesti melakukan suatu tindakan koreksi terhadap anak itu Pak?
HE : Ya Pak Gunawan, kita harus koreksi mereka.
GS : Nah di dalam hal ini mungkin Pak Heman bisa menjelaskan tindakan-tindakan apa yang bisa kita ambil selain memberikan hukuman atau memarahi anak?
HE : Kalau misalnya ini bergantung kepada usia, kita berhadapan dengan anak yang masih sangat muda misalnya di bawah 2 tahun. Biasanya anak-anak di bawah usia 2 tahun itu perhatiannya mudah ita alihkan.
Cara mengalihkan perhatian anak ini cukup efektif, kadang-kadang karena kekurangmatangannya itu sang anak misalnya ingin terus-menerus merobek buku atau majalah yang kita simpan. Atau kadang-kadang dia suka bermain-main dan kita makin melarang dia, dia makin sengaja bermain misalnya colokan listrik yang biasanya cukup berbahaya. Kita bisa mengalihkannya misalnya membujuk dia lalu mengalihkan perhatian dia kepada hal-hal yang lebih menyenangkan misalnya kita sediakan botol-botol plastik bekas shampoo atau bekas isi kecap atau yang lainnya yang tidak berbahaya, yang tidak ada tajam-tajamnya. Dia bisa bermain di situ putar-putar kemudian buka tutup, dibanting, dilempar dsb dengan demikian perhatiannya untuk bermain hal itu teralihkan ke hal yang lain yang tidak berbahaya. Nah untuk hal ini kita juga bisa melakukan dengan manipulasi lingkungan, artinya kita tidak izinkan dia bermain di tempat-tempat yang banyak gelas atau banyak barang pecah belahnya. Untuk colokan listrik kita bisa menggantinya dengan colokan yang lebih tidak berbahaya jadi harus dengan diputar, dibuka tutupnya dan diputar misalnya baru bisa dihubungkan dengan listrik dsb.
GS : Menurut saya ada kebiasaan anak yang masih sangat muda itu agak sulit untuk diubah Pak Heman, ada anak yang kalau diberikan makanan itu tidak langsung ditelan, dibiarkan terus di dalam mulutnya nah ini mau mengalihkan perhatiannya bagaimana Pak. Tapi memang kalau anak ini diajak makan sambil jalan-jalan, keliling-keliling itu dia bisa makan tapi bukankah itu tidak sehat, makan dengan keliling jalan sana jalan sini, begitu Pak?
HE : Ya, kekhawatirannya adalah kalau diajak jalan-jalan seperti itu memang makan, tetapi dia memperoleh kebiasaan yang kurang baik, tidak bisa makan di (GS : Rumah atau di tempatnya, itu baaimana Pak mengalihkan perhatiannya?) Ada cara misalnya kita bisa bercerita, di dalam cerita-cerita itu kita sisipkan supaya dia bisa membuka mulutnya.
Misalnya kita bisa bercerita ada pesawat terbang, dia ingin terbang kemudian bersembunyi di sebuah gua, ini ada gua, buka dong guanya lebar-lebar. Nah minta anak membuka mulutnya lalu pesawat terbang ini masuk, nah akhirnya sendoknya masuk. Lalu bercerita tentang yang lain yang menarik sehingga anak itu ingin mengunyah dengan cepat. Saya mengenal ada orang tua yang dengan kreatif memakai cerita-cerita misalnya cerita anak-anak, cerita tentang pahlawan misalnya dia suka pahlawan apa begitu lalu dia mengatakan oh.....si ini. Kalau misalnya mau berperang apakah dia makannya lambat-lambat wah keburu dibunuh sama musuhnya misalnya begitu. Nah dengan begitu anak ini terdorong untuk makan dengan lebih cepat.
GS : Nah itu suatu cara, teknik tersendiri yang mungkin bisa berguna bagi para pendengar kita. Tetapi apakah ada cara lain lagi Pak Heman?
HE : Yang lain lagi misalnya adalah biasanya anak melakukan suatu perilaku itu dengan terus-menerus bahkan menjadi kebiasaan karena ada hasil yang menyenangkan yang dia bisa petik dari pelangaran atau kesalahannya itu atau perilakunya itu.
Jadi setiap kali dia melanggar dia menikmatinya, kalau kita bisa mencari sumber kenikmatannya dan kita menutup sumber kenikmatannya maka kita harapkan kita bisa menghentikan pelanggarannya ini.
(2 )GS : Misalnya apa itu Pak Heman, kesalahan yang dibuat oleh anak itu yang menimbulkan kenikmatan bagi dirinya?
HE : Ya ini memang memerlukan sebuah contoh konkret. Mungkin seperti ini Pak Gunawan, kalau seorang anak misalnya suka merengek, menangis, kalau orang tuanya di rumah minta ini minta itu tidk dituruti menangis dsb, ini banyak terjadi.
Kalau misalnya anak ini dimarahi, dihukum, tangisannya, rengekannya justru menjadi-jadi suaranya justru terdengar sangat mengenaskan. Nah kalau diperhatikan ketika anak ini merengek atau menangis perhatian orang tua justru menjadi berlebihan. Dan cukup sering terjadi setelah diberi hukuman orang tua mungkin merasa bersalah lalu anak ini justru dibelikan apa yang tadinya diinginkannya yang dia minta atau yang dia paksa orang tuanya untuk memberikannya. Nah kalau ini terjadi, berarti ketika dia menangis dia justru bisa menarik semua perhatian dan juga selain itu dia memperoleh apa yang dia inginkan. Karena itu tidak heran setiap kali dia menginginkan sesuatu dia semakin menangis, semakin kuat merengek. Nah kalau pada situasi demikian bagaimana cara menutup sumber kenikmatannya itu, ya kita tidak memberikan apa yang dia inginkan kalau dia dalam keadaan menangis atau merengek. Bahkan misalnya kalau dia punya saudara yang lain, kita berikan apa yang dia inginkan tadi kepada saudaranya yang lain yang tidak merengek. Dan kita jelaskan pada anak ini kalau kamu merengek kamu tidak akan mendapat apa-apa, tetapi di lain pihak kita juga harus memperbanyak perhatian untuk anak yang bersangkutan, bila dia berperilaku manis. Juga kalau dia minta sesuatu tanpa menangis atau merengek nah kalau bisa kita mengusahakannya kita berikan pada saat itu, jadi dengan demikian kita melatih dia untuk meminta sesuatu tanpa merengek.
GS : Ya berarti itu semacam bisa kita janjikan kepada anak itu misalnya kalau kamu tidak menangis ini menjadi milikmu, bisa begitu Pak?
HE : Boleh dijanjikan juga.
GS : Tapi betul-betul kita harus penuhi itu Pak ya?
HE : Nah di situ orang tua juga harus memperhitungkan, kalau misalnya sesuatu yang sulit dipenuhi dan anak ini juga sulit mencapainya ya jangan. Sebab kalau orang tua tidak memenuhi janjinya lain kali anak tidak mau lagi berbuat seperti yang kita inginkan.
Di samping itu kalau anak merasa wah.....saya tidak mungkin bisa mencapai hal itu dan dia tidak pernah mendapatkan hal itu maka dia juga frustrasi dan dia peduli amat dengan janji-janji orang tua.
GS : Tapi memang sering kali anak itu menggunakan senjatanya yaitu menangis untuk memaksakan kehendaknya. Dan biasanya orang tua yang kalah apalagi nangisnya di tempat umum banyak saudara-saudara yang lain kita sebagai orang tua menjadi tidak enak. Akhirnya kita sebagai orang tua yang mengalah untuk memenuhi permintaan anak itu.
HE : Sekali orang tua mengalah di dalam situasi ini maka anak merasa bahwa dia menang, bukan cuma menang terutama dia mendapatkan apa yang dia inginkan, dan hukum perilaku adalah suatu perilku akan cenderung diulang kalau perilaku itu memperoleh hasil yang menyenangkan.
Jadi dia belajar dari situ dan mengulang itu, jadi dalam keadaan ini sedapat mungkin orang tua tidak boleh memenuhi permintaan rengekan dari anak. Bagaimana kalau hal-hal seperti ini terjadi di tempat umum, orang tua sendiri mungkin malu. Tapi saya kira salah satu cara yang kita bisa lakukan adalah mendiamkannya saja, hanya melihatnya saja. Kalau misalnya anak merasa bahwa dia merengek atau dia menggelesot di lantai itu tidak mendapat perhatian orang tuanya ya dia akan berhenti.
GS : Pak Heman, apakah ada cara lain juga selain mengalihkan perhatian dan mencabut sumber kenikmatan ini dalam rangka kita mau mengoreksi tingkah laku yang kurang benar itu?
HE : Cara yang lain lagi adalah misalnya dengan membiarkan atau memberikan konsekuensi yang tidak enak bagi anak. Jadi kita tidak mencegah konsekuensi yang tidak enak atau hasil tindakan dar anak itu untuk anak tanggung sendiri.
GS : Contohnya bagaimana Pak?
HE : Misalnya ini kembali soal makan yang sering kali menjadi ajang pertarungan orang tua-anak. Katakanlah misalnya orang tua sudah bersusah payah menyiapkan makanan lalu anak tidak mau maka, kalau dipaksa anak akan makan dengan lambat sekali atau kadang-kadang ada anak yang berpura-pura mau muntah.
Dalam hal ini kita bisa melakukan koreksi misalnya dengan cara membiarkan anak menanggung konsekuensi tidak enak dari tindakannya yang tidak mau makan. Kita misalnya bisa batasi waktu makan anak, katakanlah misalnya kalau anak biasanya makan 1 jam, kita bisa targetkan misalnya 45 menit harus sudah selesai makan atau mulai makan. Ketika anak tidak memenuhi itu konsekuensinya adalah dia harus tunggu jam makan berikutnya. Kadang-kadang dengan cara yang demikian hanya perlu satu kali ini dilakukan anak sudah jera dan selanjutnya dia akan berhati-hati untuk memenuhi jadwal makan ini. Paling dua atau paling banyak 3 kali setelah dia merasa bahwa orang tuanya pasti memenuhi perkataannya maka anak akan taat kepada orang tuanya.
GS : Yang sering kali ini terutama banyak dihadapi oleh ibu-ibu, bukan anaknya menolak seluruh makanan itu Pak tapi sebagian. Jadi misalnya begini kita sebagai orang tua tahu bahwa sayur-sayuran itu penting untuk pertumbuhan anak, tetapi anak hanya memilih dagingnya saja, sayurnya tidak mau makan. Padahal kita mau mengoreksi bahwa ini suatu tingkah laku yang kurang baik, kalau makan ya makan keseluruhan tapi dia tidak mau, dia selalu sisihkan, disisihkan begitu Pak.
HE : Kadang-kadang ada hal-hal yang memang kita tidak bisa koreksi dan langsung perilakunya menjadi baik sepenuhnya. Adakalanya seperti dia menyisihkan sayur-sayuran dsb, kita boleh variasikn entah dengan cara masaknya ataupun dengan disembunyikan, dibungkus di dalam daging dsb.
Cara mengolah tertentu yang kreatif bisa membuat anak itu berselera. Nah setelah dia merasakan enaknya dia akan belajar menyukainya, kadang-kadang anak itu bisa menyukai makan pare yang pahit itu, dengan memuji dia kalau dia makan itu dia menjadi kuat seperti popaye misalnya. Dan kita juga mengatakan wah kamu kelihatannya lebih sehat, kamu berani makan pare yang pahit itu dsb. Nah dengan cara-cara seperti ini kadang-kadang anak bisa menunjukkan keberaniannya.
GS : Ya karena kalau tidak boleh makan atau makannya ditunda itu kelihatannya kok agak terlalu kejam Pak, apalagi kalau serumah dengan neneknya dsb wah ini bisa menjadi masalah lain Pak.
HE : Ada satu prinsip yang melatarbelakangi kenapa ini juga kadang-kadang sebagai cara yang boleh kita lakukan. Dengan membiarkan anak mengalami konsekuensi yang kadang-kadang bersifat alamih ini, kita mengajarkan rasa tanggung jawab kepada anak.
Jadi karena tidak setiap kali orang tua berada di samping anak, kalau orang tua berada di samping anak orang tua selalu menolongnya. Dengan orang tua selalu menolongnya, anak jarang memperoleh kesempatan untuk merasakan pahit getirnya akibat perbuatannya sendiri. Jadi ketika anak sudah merasakan bahwa dari tindakannya itu ada konsekuensi yang harus dia tanggung dan itu bukan karena tindakan hukuman dari orang tuanya tetapi memang konsekuensi dia tidak mau makan ya berarti kehilangan makanan, maka anak akan belajar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri seperti itu.
GS : Nah pada saat kita melakukan koreksi seperti yang Pak Heman katakan tadi dengan menunda makan dsb, berarti kita perlu mempertimbangkan beberapa hal Pak ya sebelum hukuman itu kita laksanakan, kira-kira hal-hal apa saja yang perlu kita pertimbangkan itu?
HE : Kembali soal makan, memang betul Pak Gunawan bahwa sebelum kita menerapkan suatu kosekuensi tertentu kita memang harus memperhitungkan beberapa hal misalnya yang perlu kita segera perhaikan adalah apakah perilaku tidak mau makan ini ada unsur manipulatifnya atau jangan-jangan ini disebabkan karena anak sedang tidak enak badan, dia tidak bisa cerita karena perbendaharaan katanya masih terbatas.
Atau terjadi karena kurang nafsu makan akibat suatu penyakit tertentu. Nah di dalam keadaan ini yang diperlukan oleh anak adalah obat dan bukan tindakan koreksi dari orang tua.
GS : Ya itu masalahnya anak sulit untuk menceritakan apakah dia sakit, atau menjelang mau sakit itu Pak, kita sebagai orang tua apakah cukup cepat untuk mengenali kondisi seperti itu?
HE : Orang tua memang perlu belajar peka dalam hal ini, nah saya kira ini memang tidak selalu mudah dan terutama pada masa-masa balita. Orang tua perlu mengorbankan lebih banyak waktu bersam anaknya sehingga orang tua tahu kondisi anak ketika ada perubahan tertentu, orang tua dengan segera bisa mengetahuinya.
GS : Apakah ada hal lain lagi yang bisa dijadikan bahan pertimbangan Pak?
HE : Ada hal lain yaitu apakah konsekuensi itu sudah pantas dan dapat ditanggung baik oleh anak maupun orang tua. Jadi bukan hanya bisa ditanggung oleh anak tetapi juga bisa ditanggung oleh rang tua.
Sebagai contoh ini juga banyak terjadi anak itu selalu berlambat-lambat ke sekolah, menyiapkan diri lambat dsb. Nah ada beberapa konsekuensi yang bisa dipertimbangkan, kalau misalnya tujuan anak untuk berlambat-lambat itu memang dia tidak suka sekolah dan ingin membolos, maka kita perlu pikirkan cara apa yang bisa membuatnya tetap harus ke sekolah namun dia jera untuk tidak berlambat-lambat. Masalahnya kalau kita dengan segera menjalankan konsekuensi kalau dia berlambat-lambat ya sudah dia tidak sekolah pada hari itu, padahal itu tujuannya maka kita akhirnya tidak bisa menanggung konsekuensi itu sendiri ketika anak semakin hari semakin buruk prestasinya. Nah salah satu alternatifnya adalah anak diharuskan berjalan kaki ke sekolah bersama orang tuanya, tentu saja dengan memperhitungkan jarak ke sekolah yang tidak terlalu jauh. Kalau misalnya dia biasa diantar dengan kendaraan pribadi nah kali ini dia harus misalnya bersama orang tuanya naik angkutan umum dsb. Nah konsekuensi ini kadang-kadang anak merasa tidak suka dan dia berusaha untuk lain kali tidak berlambat-lambat lagi. Nah sekali lagi ini juga perlu memperhitungkan konsekuensi, misalnya lagi kalau anak memang ingin bersekolah, memang suka bersekolah dan ada perasaan cemas kalau dia tidak bersekolah, adakalanya kita boleh membiarkan dia tidak masuk sekolah untuk hari keterlambatannya sebagai konsekuensi keterlambatannya itu. Di dalam situasi ini biasanya anak akan jera walaupun hanya terjadi sekali saja. Nah ini beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan.
GS : Bagaimana halnya dengan anak yang kalau sudah bermain itu lalu sering kali mainannya ditinggal begitu saja, nah orang tuanya yang harus membereskan sementara anaknya sudah main di tempat lain lagi, nanti di sana ditinggal lagi. Ada anak yang mempunyai kebiasaan itu dan itu saya rasa tingkah laku yang kurang baik Pak?
HE : Ya, satu contoh kita melatih anak untuk membereskan mainannya supaya dia bisa belajar untuk bertanggung jawab atas barangnya sendiri. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah menyediaka subuah kotak atau kardus besar, umpamanya kita bisa memberi nama kotak itu sebagai kotak Sabtu maksudnya kotak hari Sabtu.
Maksudnya apa, ini adalah salah satu alternatif semua mainan yang tidak dibereskan diberi peraturan akan dimasukkan ke dalam kotak itu kemudian di segel dan dikunci. Mainan-mainan itu baru boleh dibuka dan dimainkan pada hari Sabtu. Tetapi kalau misalnya mainan itu dimainkan lalu dibereskan, anak boleh bermain kapan saja asalkan dibereskan, kalau tidak beres kembali lagi masuk ke dalam kotak itu. Apa saja yang tercecer masuk ke dalam kotak itu setelah permainan selesai atau setelah malam pada saat jam tidur mainannya belum beres itu dimasukkan ke kotak itu. Dengan demikian anak menerima konsekuensinya sendiri kalau dia tidak membereskan mainan tanpa kita perlu menghukum mereka.
GS : Tapi memang kadang-kadang ada orang tua itu yang menurut saya agak berlebihan Pak, menyuruh mengembalikan mainannya itu harus ditata rapi lagi di rak-raknya ini, padahal bagi anak itu sulit. Nah apakah cukup anak ini mengembalikankannya hanya pada sebuah kotak tadi atau dus tadi atau box tadi ya sudah dimasukkan begitu saja pada kotak tadi Pak?
HE : Ya betul Pak Gunawan, jadi waktu kita menetapkan peraturan kita juga harus memperhitungkan kemampuan dan usia perkembangan anak. Katakanlah kalau misalnya usianya masih muda dia memanggerakan motoriknya masih terbatas, kita tidak perlu seteliti itu dan menuntut setinggi seperti yang dilakukan oleh orang dewasa.
GS : Ada anak yang saya rasa juga melakukan perbuatan yang kurang baik itu dengan mencoret-coret dinding pakai spidol dsb. Dia senang sekali melihat wah......ni dindingnya baru dibersihkan orang tuanya lalu dicoret-coret, nah ini bagaimana Pak mengatasinya?
HE : Nah ini bisa diberikan alternatif jadi memang harus diusahakan ada alternatif-alternatif. Kalau dia memang tidak ada alternatif dia akan mencoret dinding. Mungkin kita bisa berikan merea misalnya whiteboard atau papan yang besar atau pakai kertas, dan ini memang bergantung juga pada kemampuan orang tua sendiri.
Ada orang tua yang menyediakan satu ruang khusus di mana anaknya boleh mencoret, bermain di situ sesukanya dsb. Memang anak perlu satu lingkungan tertentu di mana dia bisa lebih bebas bergerak dan kita harus memperhatikan juga bahwa aturan yang kita tetapkan jangan sampai sedemikian mengekang kebebasan berkreasi anak dan ini juga kurang baik, dapat mematikan potensi-potensi anak sendiri.
GS : Sering kali anak itu cepat bosan Pak, jadi habis main di sini pindah lagi main di sana, nah orang tuanya terus yang membersihkan itu.
HE : Ya itu juga ekstrim yang lain lagi, jadi di sini diperlukan tahapan-tahapan, kalau untuk melatih anak selalu tuntutan kita itu tidak boleh sangat tinggi di atas kemampuan anak. Kita mentapkan peraturan itu sedikit lebih tinggi dari yang sekarang dia lakukan.
Misalnya sekarang mainan berantakan di mana-mana, maka dia harus membereskan bukan dengan sangat rapi tetapi misalnya cukup mengumpulkan di suatu ruangan tertentu. Setelah dia terbiasa mengumpulkan di ruangan itu, kembali lagi dipersempit aturannya jadi dia harus memasukkan ke dalam kotak tertentu atau lemari tertentu tanpa dirapikan dulu. Sampai pada akhirnya dia bisa merapikan seluruh mainan.
GS : Pak Heman apakah ada ayat firman Tuhan yang Pak Heman sampaikan sehubungan dengan mengoreksi perilaku anak ini?
HE : Dari Ibrani 12:11 , "Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang membrikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya."
Nah ayat ini sebetulnya ditujukan kepada ganjaran yang dimaksud ganjaran ini adalah ganjaran yang diberikan oleh Allah kepada anak-anak yang dikasihi-Nya. Tetapi ini juga bisa mewakili ganjaran yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Orang tua perlu kadang-kadang menegakan hati, menahan rasa kasihan karena pada waktu dia memberikan ganjaran memang tidak membuat sukacita anaknya tetapi dukacita, tetapi setelah itu anak bisa dilatih.
GS : Ya terima kasih Pak Heman, para pendengar sekalian terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia, M. Psi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengoreksi Perilaku Anak". Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang . Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Mengoreksi atau memperbaiki itu bukan sesuatu hal yang mudah dilakukan, tetapi mau tidak mau tatkala kita mendidik anak-anak kita ternyata ada sifat atau tingkah laku atau kebiasaan yang kita anggap kurang tepat dan mau tidak mau ini harus dikoreksi.
Tindakan-tindakan yang bisa kita lakukan selain dari memberikan hukuman atau memarahi anak ini yaitu:
Bagi anak yang masih sangat muda misalnya di bawah 2 tahun, dengan cara mengalihkan perhatian anak kepada hal-hal yang lebih positif. Biasanya cara ini cukup efektif, kadang-kadang karena kekurangmatangannya sang anak misalnya ingin terus-menerus merobek buku atau majalah yang kita simpan.
Mencari sumber kenikmatannya dan menutup sumber kenikmatannya maka kita harapkan kita bisa menghentikan pelanggarannya. Maksudnya biasanya anak melakukan suatu perilaku dengan terus-menerus bahkan menjadi kebiasaan karena ada hasil yang menyenangkan yang dia bisa petik dari pelanggaran atau kesalahan dari perilakunya, jadi setiap dia melanggar dia menikmatinya.
Membiarkan atau memberikan konsekuensi yang tidak enak bagi anak. Jadi kita tidak mencegah konsekuensi yang tidak enak hasil tindakandari anak itu untuk anak tanggung sendiri. Contoh anak tidak mau makan, konsekuensinyadia harus mau kehilangan makanannya.
Ada hal yang perlu kita pertimbangkan sebelum kita menerapkan suatu konsekuensi tertentu yaitu:
Misalnya makan, apakah perilaku tidak mau makan ini ada unsur manipulatifnya atau jangan-jangan disebabkan karena anak sedang tidak enak badan. Atau karena kurang nafsu makan akibat suatu penyakit.
Apakah konsekuensi itu sudah pantas dan dapat ditanggung baik oleh anak maupun orangtua. Jadi bukan hanya bisa ditanggung oleh anak tetapi juga bisa ditanggung oleh orangtua.
Ibrani 12:11 , "Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya."
Allah memberikan ganjaran kepada anak-anak yang dikasihi-Nya. Orang tua pun perlu kadang-kadang menegakan hati, menahan rasa kasihan karena pada waktu dia memberikan ganjaran memang tidak membuat sukacita anaknya tetapi dukacita, tetapi setelah itu anak bisa dilatih.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Segalanya jadi lebih praktis dengan internet. Tetapi internet juga mengundang persoalan karena bisa membuat orang duduk di depan komputer beberapa jam sehari. Salah satu tanda dari kecanduan internet ialah adanya perasaan tidak nyaman, murung, atau cepat tersinggung ketika yang bersangkutan berusaha menghentikan penggunaan internet.
Transkrip Isi:
pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. Beliau adalah seorang dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengatasi Kecanduan Terhadap Internet". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Heman, kalau bicara tentang internet itu rasanya sudah biasa dan hampir di sudut-sudut jalan kita bisa menemukan warung-warung internet dimana kita bisa menggunakannya. Di satu sisi internet ini bisa membantu pekerjaan kita tapi disisi lain juga kadang-kadang ada dampak negatifnya. Di jaman modern ini memang kita dituntut untuk bisa menggunakan internet dan segalanya akan menjadi lebih praktis tetapi mengundang persoalan tersendiri dengan orang yang sampai berjam-jam berada di depan komputer. Nah sebenarnya dampak buruk internet ini apa, Pak?
HE : Kalau orang tidak bisa lepas dari internet, maksudnya internet yang tidak dipakai untuk bekerja untuk menolong orang dan sebagainya, internet yang berguna itu bisa menjadi sesuatu yang burk yang mengikat dan internet yang mengikat itu bisa berpotensi membuat orang menjadi kecanduan.
GS : Jadi internetnya itu sendiri sebenarnya adalah sesuatu yang netral. Tetapi bagaimana cara kita menyikapinya, itu yang akan menentukan ?
HE : Jadi memang keputusan dan tanggung jawab ada di tangan kita sebagai pengguna.
GS : Nah kalau seseorang bisa disebut kecanduan internet, dampak buruk apa yang terjadi, Pak?
HE : Ada cukup banyak dampak buruknya. Misalnya seorang peneliti dan terapi perilaku yang banyak membahas tentang keterkaitan dengan internet. David Greenfield ia mengatakan demikian, "Kecandun internet dapat meningkatkan kekacauan didalam pernikahan kemudian juga menciptakan lebih banyak anak bermasalah, meningkatkan perbuatan melanggar hukum dan ada satu lagi yaitu menyebabkan pengeluaran secara berlebihan."
Kemudian peneliti lain misalnya Kimbly Young juga mencatat bahwa kecanduan berinternet itu melumpuhkan secara serius kemampuan akademik, kemampuan berelasi dan juga menurunkan, menghancurkan prestasi kerja para pecandu. Perlu juga ditambahkan bahwa kecanduan internet dapat membuat seseorang mengalami masalah-masalah dengan perasaannya artinya orang yang kecanduan berinternet itu mengalami banyak rasa bersalah, kecemasan dan juga depresi.
GS : Orang tidak akan tiba-tiba menjadi kecanduan terhadap apapun juga terhadap makanan, terhadap obat-obatan termasuk juga internet. Nah tahapan-tahapannya sehingga seseorang itu bisa kecanduan internet itu bagaimana, Pak?
HE : Yang pertama tentu dia tertarik dengan internet, dia merasa asyik, kemudian dia belajar internet. Dan yang kedua dia merasakan bahwa internet itu ternyata menyenangkan bukan hanya untuk beerja tetapi untuk suatu hobi.
Tetapi sesudah itu rasanya tidak cukup, rasanya ingin tambah terus, rasanya kalau biasanya 1 jam dan sebagainya rasanya kurang memuaskan dan dia terus asyik disana. Dan inilah tanda-tanda permulaan orang yang bisa kecanduan internet lama-lama pikirannya tidak bisa lepas dari internet.
GS : Berarti ada tanda-tanda seseorang itu menjadi kecanduan internet, dan apa saja tanda-tanda itu ?
HE : Ada 8 tanda yang sebagaimana dikemukakan oleh Kimberley Young yang meneliti tentang hal ini dan tanda-tanda ini mirip dengan tanda-tanda kecanduan yang lain, misalnya kecanduan terhadap obt-obatan tertentu dan sebagainya.
Yang pertama pikiran pecandu internet biasanya terus-menerus tertuju pada aktifitas berinternet dan sulit untuk dibelokkan kearah yang lain apalagi kalau pekerjaannya sudah berhadapan dengan komputer. Kedua ada kecenderungan penggunaan waktu berinternet yang terus bertambah. Jadi kali ini misalnya dia menggunakan internet 1 jam dan dia sudah mulai berhenti tetapi satu minggu kemudian 1 jam tidak cukup menjadi 1 1/2 jam dengan cepat bertambah lagi 2 jam dengan cepat bertambah lagi sampai akhirnya misalnya 5 jam pun rasanya kurang puas. Jadi tingkat kepuasaan itu lebih susah dicapai. Kemudian ketiga yang bersangkutan, maksudnya pecandu internet pada umumnya berulang kali berusaha mengontrol menghentikan penggunaan internet secara berlebihan tetapi tidak berhasil. Yang keempat biasanya waktu menggunakan internet ada perasaan tidak nyaman, murung, cepat tersinggung kalau misalnya yang bersangkutan berusaha menghentikan atau dihentikan, diinterupsi waktu dia menggunakan internet.
GS : Sekalipun ada 8 tanda dan yang keempat sudah Pak Heman sampaikan itu sebenarnya orang tidak menyadari bahwa dia dalam proses menuju kecanduan, tadi dia sendiri tidak sadar bahwa waktunya bertambah dan sebagainya dan akhirnya terjerumus kesana. Nah tanda yang berikutnya apa, Pak?
HE : Misalnya lagi yang kelima ini ada kecenderungan untuk tetap online melebihi dari waktu yang ditargetkan. Jadi dia sudah menentukan bahwa saya tidak akan menggunakan internet lebih dari waku yang dia sendiri targetkan, tetapi akhirnya yang bersangkutan tetap penggunaannya melebihi dari waktu yang dia targetkan.
Yang keenam penggunaan internet sudah membawa resiko hilangnya relasi yang berarti, bermakna. Jadi maksudnya dia punya teman, punya pasangan dan sebagainya tetapi dia sudah menggunakan internet, membuat relasi itu menjadi kehilangan waktu tidak ada waktu lagi untuk berelasi. Juga ada resiko kehilangan pekerjaan, kesempatan studi, karir dan sebagainya. Yang ketujuh penggunaan internet menyebabkan pengguna itu suka membohongi keluarga juga orang lain, orang-orang dekat yang lain untuk menyembunyikan keterlibatannya yang berlebihan dengan internet. Kedelapan, internet digunakan untuk melarikan diri dari masalah atau untuk meredakan perasaan-perasaan negatif. Tapi malah sering kali menambah masalah didalam perasaannya, misalnya dia berusaha meredakan rasa bersalah kecemasan, depresi tapi kemudian terlibat dengan perasaan-perasaan negatif itu. Nah disini ada 8 tanda tetapi seorang pengguna sesungguhnya sudah bisa digolongkan sebagai pecandu kalau dia sudah memenuhi sedikitnya 5 dari 8 kriteria yang sudah disebutkan oleh Young ini.
GS : Ketika pada tanda kelima yang tadi Pak Heman katakan ada kecenderungan untuk tetap online melebihi waktu yang ditargetkan sendiri. Itu sebenarnya dia sudah menyadari bahwa dia tidak bisa mengontrol dirinya ?
GS : Makanya dengan lima tanda sudah harus tahu bahwa dia ini sudah kecanduan internet. Tapi orang yang kecanduan masalahnya untuk lepas dari kecanduannya itu sulit, Pak?
HE : Ya betul. Memang akan sulit kalau sudah kecanduan.
GS : Kalau dilihat dari kumpulan-kumpulan atau gejala-gejala tadi, memang tidak begitu saja kita mengatakan bahwa seorang pengguna internet itu mengalami kecanduan. Tapi meskipun demikian kalau diamati itu tampaknya cukup banyak orang yang mengalami kecanduan, betul begitu Pak?
HE : Ya tampaknya begitu, karena kalau kita perhatikan saja misalnya dari pengguna warnet. Kita melihat bahwa warnet sudah banyak tetapi masih bertumbuh dengan begitu pesat dan anehnya meskipunbanyak, masing-masing warnet juga masih menghasilkan keuntungan.
Memang ada kemungkinan begini dengan bertambahnya pengguna internet maka persentase orang yang kecanduan itu juga bertambah. Kemudian kalau kita lihat lagi dari keterangan atau dari kesaksian, informasi dari tetangga, dari orang-orang yang kita kenal ada misalnya gara-gara suami kecanduan internet lalu rumah tangganya jadi berantakan, juga ada anak-anak sekolah yang juga sampai tidak mau pulang, menginap di warnet sampai bolos sekolah dan sebagainya. Jelas ini adalah tanda-tanda mereka itu kecanduan internet dan seringkali masalah-masalah seperti ini tampaknya tidak merupakan hal yang dipandang serius oleh banyak orang dan tidak merasa ini perlu diatasi padahal ini sudah serius sekali. Kalau di luar negeri terutama di negara-negara Barat yang sudah maju masalah ini tidak dianggap lagi sebuah masalah yang harus ditutupi dan mereka datang dengan sukarela kepada psikolog atau konselor untuk mengatasi kecanduan itu.
GS : Memang kecanduan internet atau kecanduan apapun harus ditangani secara serius atau sedini mungkin. Jadi kalau makin lama makin sulit penanganannya nanti, tapi memang sangat benar tadi diuraikan. Memang ada seorang tokoh pemasaran yang mengatakan bahwa, "Kalau sekarang mau bergerak di bidang jasa dan jasa yang terbaik adalah lewat warung internet ini, buka warung internet akan menghasilkan keuntungan yang luar biasa besarnya", katanya.
HE : Ada yang bilang begitu!
GS : Ya mungkin itu betul juga pengamatannya karena orang cenderung menjadi kecanduan dengan internet ini. Nah sebenarnya apa yang menarik dari internet itu sehingga orang dibuat kecanduan, Pak?
HE : Ada beberapa hal misalnya di internet kita bisa mendapatkan informasi yang hampir tanpa batas. Mengenai berbagai hal banyak sekali dan banyak hal tabu dibicarakan dan tidak enak kalau dikeahui oleh orang lain itu juga tersedia di internet dan bebas di-download oleh orang-orang tanpa diketahui oleh orang lain.
Jadi internet itu seolah-olah bersifat anonim meskipun sesungguhnya tidak betul-betul bersifat anonim. Kemudian selain informasi, gosip dan sebagainya yang sehari-hari sedikit susah untuk kita temukan misalnya sampai yang rahasia sekali dan sebagainya. Kita juga bisa bebas berpetualang di internet karena internet juga menyediakan hal-hal yang bersifat pornografi dan juga judi, wah ini cukup mengerikan ya. Nah kita tahu bahwa baik pornografi maupun judi sebetulnya termasuk perbuatan kriminal yang dilarang di banyak negara termasuk di negara kita. Tetapi internet dapat membuat orang melupakan batas antara baik dan jahat, antara benar dan salah. Dulu orang membeli materi pornografi, berjudi itu dengan sembunyi-sembunyi karena ada rasa takut ditangkap dan juga rasa malu itu pun banyak orang sudah terjerat menjadi kecanduan. Sekarang internet bisa membuat orang merasa bahwa resiko ditangkap karena berjudi itu sangat kecil maka orang lebih mudah untuk kecanduan. Selain pornografi anak-anak dan orang dewasa juga bisa kecanduan game online dan ini yang sering ditawarkan oleh warnet. Dan menurut beberapa penelitian salah satu yang banyak digunakan oleh pengguna internet adalah "chat-rooms", jadi mereka bisa ngobrol lewat internet. Nah ini yang juga beresiko membuat orang kecanduan karena banyak orang yang merasa kalau mereka berbicara atau ngobrol atau berelasi di dunia yang nyata mereka mempunyai resiko. Mengandung resiko bagaimana misalnya harus menanggung tanggung jawab dan sebagainya. Tetapi kalau di dunia maya hampir tanpa resiko bahkan ada orang bisa jatuh cinta dengan orang yang tidak pernah dijumpainya hanya dikenal lewat internet.
GS : Ya memang sesuatu yang mengasyikkan kalau kita berada di depan komputer lalu berinternet ria, bisa lupa waktu dan sebagainya. Memang kita bisa pergi kemana-mana dan seolah-olah dunia ini tanpa batas yang tadi Pak Heman katakan. Tetapi memang tidak semua orang punya kesempatan menggunakan internet. Itu artinya ada sebagian orang mungkin juga ada sebagian besar orang yang menggunakan komputer saja sudah menjadi masalah tersendiri, jadi dia tidak bisa menggunakan. Mau menggunakan internet bagaimana kalau menggunakan komputer saja dia canggung? Jadi ada sisi positifnya kalau dia tidak melakukan itu, tapi negatifnya dia juga akan ketinggalan banyak hal, informasi yang sebenarnya baik hanya masalah kecanduan ini yang harus diperhatikan. Mengapa sulit bagi orang yang kecanduan internet itu untuk melepaskan kebiasaan buruknya, Pak?
HE : Rasanya ada beberapa sebab disini yang kita bisa deteksi, misalnya yang pertama apa yang kita peroleh dari internet itu seringkali sangat murah dan bahkan bisa gratis. Makin lama, makin hai kita lihat untuk biaya penggunaan telepon dan sebagainya itu makin lama makin murah sehingga orang tidak merasa bahwa internet itu sebetulnya menghabiskan banyak biaya, menyita energi dan juga waktu.
Jadi sebagian orang merasa bebas menggunakan internet karena fasilitas ini disediakan secara berlimpah termasuk di tempat kerjanya. Kemudian yang ke-dua berinternet itu semakin mudah dilakukan dan dapat dilakukan dimana saja. Ada provider yang menyediakan jasa internet murah dan itu sekarang kita bisa dapatkan lewat telpon genggam yang ringan, praktis dan yang bisa kita bawa kemana saja. Ketiga internet itu sering dianggap aman karena identitas kita bisa kita sembunyikan. Yang keempat internet menghilangkan banyak resiko yang terkait dengan tanggung jawab dan etika sosial yang sering terasa membatasi kita di dunia nyata. Nah ini beberapa hal yang membuat internet itu susah dilepaskan kalau sudah kecanduan.
GS : Seringkali orang yang mengetahui kalau ada anggota keluarganya yang terkena kecanduan internet itu tidak secara serius ditangani dibandingkan dengan kalau ketahuan anggota keluarganya ini kecanduan obat bius misalnya. Internet bedanya, mengikuti trend jaman saat ini harus mengerti kebutuhan mereka dan sebagainya tapi kalau kecanduan obat bius ditangani secara serius, Pak?
HE : Ini justru bahayanya kalau kecanduan internet.
GS : Makanya dianggap itu tidak terlalu serius tapi makin lama makin parah begitu Pak?
GS : Dan apakah kecanduan ini bisa menular kepada anggota keluarga yang lain atau teman-teman yang lain ?
HE : Bisa saja terutama kepada anak tentunya atau juga anak menularkannya kepada yang lain.
GS : Kalau tadi Pak Heman sudah panjang lebar menjelaskan tentang bahaya kecanduan internet ini. Apa yang perlu kita lakukan agar kita tidak terjerat oleh internet itu?
HE : Kita sangat perlu memiliki disiplin diri dan kalau kita merasa lemah disiplin diri ketika berinternet beberapa hal saya bisa ajukan sebagai saran untuk kita lakukan. Misalnya saja waktu beinternet kita mengajak teman yang kira-kira bisa mengingatkan kita ketika kita tenggelam dalam keasyikan berinternet atau misalnya menaruh komputer dan internet di rumah dan di tempat kerja itu di tempat yang terbuka sehingga waktu kita berinternet kita berada di tempat publik dimana kita bisa dilihat, diamati oleh banyak orang.
Nah kenyamanan berinternet seperti ini memang berkurang tetapi akan mengurangi resiko kecanduan yang berikutnya lagi misalnya kalau kita berlangganan internet itu sebaiknya kita tidak berlangganan kalau tidak sangat perlu. Dan kalau kita sangat perlu harus berlangganan maka kita sebaiknya membatasi diri ketika kita harus berlangganan atau ketika kita harus ke warnet untuk berinternet. Jadi membatasi diri kita yang berikutnya lagi kita bisa menggantikan aktifitas berinternet dengan aktifitas atau hobby lain yang lebih berguna dan sebaiknya kita mencari hobby yang terus-menerus kita tekuni dan kita tinggalkan kalau tidak bisa menguasai diri kita ketika berinternet.
GS : Memang seringkali kalau untuk game atau permainan satu-satunya cara yang ditempuh adalah membatasi waktu. Jadi saya hanya ingin main game ini hanya sekian, lalu dibunyikan alarm yang mengingatkan kita. Kalau mengajak teman itu kadang-kadang juga teman hanya untuk pengingat, lalu dia sendiri juga keasyikan main juga sama-sama lupa tapi kalau ada alarm yang berbunyi biasanya kita tersadar bahwa waktunya kita sudah habis kita harus berhenti, Pak Heman.
HE : Ya ini salah satu yang bisa kita lakukan tetapi selalu ada resiko-resiko seperti ini. Misalkan teman ikut larut main dan sebagainya. Tetap kita harus jaga diri kita.
GS : Kadang-kadang kita berfikir tambah sebentar lagi, ini kita sudah hampir habis, hampir selesai. Kita selalu dikejar dengan itu dengan niatan untuk melanjutkan-melanjutkan dan akhirnya bisa berkepanjangan lagi. Kalau ke warnet itu kita juga sarankan untuk membawa uang secukupnya jadi kita tahu satu jamnya berapa lalu kita pakai 2 jam, bawa uang secukupnya.
HE : Betul itu salah satu cara untuk membatasi diri.
GS : Kunjungan ke situs-situs bisa direncanakan dari rumah atau sebelum kita bekerja di internet atau sebelum kita membuka internet. Kita sudah tahu situs-situs mana yang akan kita kunjungi jadi seperti kita pergi belanja ke supermarket kita sudah membawa catatan dari rumah mau pergi belanja apa sehingga kalau kita menghadapi internet menurut saya, kita harus perlakukan seperti itu.
HE : Yang penting adalah kita membatasi diri.
GS : Nah itu yang justru sulit. Yang sulit adalah bagaimana kita membatasi diri untuk tidak larut dan bahkan kecanduan internet itu tadi. Dan dalam pembicaraan itu tadi Pak, bapak mengatakan bahwa kecanduan internet juga dapat berkaitan dengan hal yang tidak pantas dan berdosa itu misalnya seperti berjudi atau mengkonsumsi pornografi, ini mengatasinya bagaimana?
HE : Sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa Tuhan melihat apa yang kita lakukan dan juga apa yang kita lakukan itu pasti ada efeknya buat kita dosa dan hal yang tidak berguna yang kita akukan akan mendukakan Tuhan.
Kita juga bisa mengalami kehancuran rumah tangga itu dampaknya, jadi dengan berpegang teguh pada kesadaran ini kita tanamkan dalam diri kita. Rasa takut dan hormat kepada Tuhan kita juga perlu kembangkan rasa tanggung jawab dan kasih di dalam diri kita yang membuat kita berani mengorbankan kesenangan pribadi kita dan berbuat yang terbaik untuk kesejahteraan baik diri kita maupun keluarga kita.
GS : Ini yang terpenting mungkin nasihat Pak Heman sampaikan bahwa didalam kita berinternet tetap kita melihat bahwa Tuhan itu memperhatikan apa yang sedang kita lakukan. Disana akan timbul rasa takut, rasa hormat kita kepada Tuhan. Kalau tidak ada itu maka akan sulit mengatasinya Pak Heman. Tetapi masalahnya kalau kita sudah berinternet itu lalu lupa kalau ada Tuhan yang mengawasi sehingga seringkali kita sudah keasyikan dengan internet itu tadi.
HE : Makanya kita harus ingatkan terus dan tanamkan di dalam diri kita.
GS : Kalau perlu memang meletakkan tulisan didepan komputer sehingga mengingatkan kita tentang waktunya, tentang itu tadi apa yang harus kita jaga kesucian kita sendiri. Memang kenyataannya bahwa orang yang kecanduan internet itu untuk melihat hal-hal yang cabul, pornografi seperti itu tadi akan merusak keluarga karena dia lebih asyik dengan komputernya daripada dengan istrinya atau suaminya. Nah ini karena pengaruh apa sebenarnya, Pak?
HE : Kecenderungan kita untuk larut, berdosa dan untuk tidak bertanggung jawab, kecenderungan kita untuk menuruti keinginan-keinginan kita sendiri untuk memikirkan diri itu yang sering sekali mmbuat kita larut didalam itu.
GS : Jadi didalam hal ini sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan internetnya itu sendiri atau semua fasilitas yang bisa diberikan oleh internet, tetapi ini menjadi tanggung jawab kita .
HE : Tepat sekali Pak Gunawan. Dan internet bisa sangat berguna dan tantangan bagi kita untuk memutuskan supaya kita mengambil hal yang berguna dan meninggalkan hal yang tidak berguna.
GS : Karena ini ada sebagian orang yang menganggap internet itu alat setan untuk merusak rumah tangga, merusak kehidupan moral orang Kristen. Ini bagaimana menurut Pak Heman?
HE : Tentu ada hal-hal atau dampak samping dari itu. Didalam segala hal segala sesuatu kemajuan teknologi termasuk televisi itu ada dampak positif dan dampak negatifnya dan sekali lagi tergantug pada kita yang tadi Pak Gunawan sampaikan bagaimana kita memilih yang baik.
Kita memanfaatkan teknologi untuk sesuatu yang bermanfaat untuk kita.
GS : Memang tidak bisa serta-merta dikatakan bahwa ini alat setan atau produk dari kejahatan?
HE : Ya betul bahkan siaran kita ini pun bisa di download dari internet.
GS : Ya nanti kita tidak berani melakukan itu kalau nanti seperti itu. Untuk mengakhiri perbincangan kita ini mungkin Pak Heman mau menyampaikan Firman Tuhan.
HE : Saya ingin sampaikan yang saya kutip dari Lukas 11:34-36 ini adalah perkataan Tuhan Yesus "Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jaht, gelaplah tubuhmu.
Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya." Perkataan Tuhan Yesus ini sengaja saya kutip disini karena kita berinternet terutama dengan menggunakan mata sebagai pintu masuknya. Apa yang kita lihat lewat internet bisa membuat tubuh kita terang atau sebaliknya menjadi gelap. Biarlah Firman Tuhan ini bisa menjadi pedoman buat apapun yang kita lakukan.
GS : Terima kasih Pak Heman untuk perbincangan yang sangat bermanfaat ini. Para pendengar sekalian kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Heman Elia, M.Psi. dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengatasi Kecanduan Terhadap Internet". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan email dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Rasanya sulit hidup di zaman modern ini tanpa menggunakan internet. Segalanya jadi lebih praktis dengan internet. Tetapi internet juga mengundang persoalan karena bisa membuat orang duduk di depan komputer beberapa jam sehari.
Tanda-tanda orang kecanduan internet yaitu :
Kimberley Young menyebutkan beberapa gejala utama kecanduan berinternet :
Pikiran pecandu internet terus-menerus tertuju pada aktivitas berinternet dan sulit untuk dibelokkan ke arah lain.
Adanya kecenderungan penggunaan waktu berinternet yang terus bertambah demi meraih tingkat kepuasan yang sama dengan yang pernah dirasakan sebelumnya.
Yang bersangkutan secara berulang gagal untuk mengontrol atau menghentikan penggunaan internet.
Adanya perasaan tidak nyaman, murung, atau cepat tersinggung ketika yang bersangkutan berusaha menghentikan penggunaan internet.
Adanya kecenderungan untuk tetap on-line melebihi dari waktu yang ditargetkan.
Penggunaan internet itu telah membawa risiko hilangnya relasi yang berarti, pekerjaan, kesempatan studi, dan karier.
Penggunaan internet menyebabkan pengguna membohongi keluarga, terapis dan orang lain untuk menyembunyikan keterlibatannya yang berlebihan dengan internet.
Internet digunakan untuk melarikan diri dari masalah atau untuk meredakan perasaan-perasaan negatif seperti rasa bersalah, kecemasan, depresi, dan sebagainya.
Seorang pengguna sudah dapat digolongkan sebagai pecandu internet bila ia memenuhi sedikitnya lima dari delapan kriteria yang disebutkan Young ini.
Yang perlu dilakukan agar tidak kecanduan internet :
Mengajak teman yang bisa mengingatkan kita ketika kita tenggelam dalam keasyikan berinternet.
Menaruh komputer dan internet di tempat yang terbuka, juga menghubungkan diri dengan internet ketika berada di tempat publik. Kenyamanan berinternet memang berkurang, tetapi akan mengurangi risiko kecanduan.
Tidak berlangganan internet kalau tidak sangat perlu, dan membatasi diri ketika kita harus berlangganan internet di rumah, atau ketika kita ke warnet.
Menggantikan aktivitas berinternet dengan aktivitas atau hobi lain yang lebih berguna.
Firman Tuhan :
”Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” (Lukas 11:34-36)
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Kecerdasan itu sebenarnya dapat ditingkatkan, bisa melelui stimulasi dini atau rangsangan-rangsangan dini yang memungkinkan kecerdasan seseorang itu bisa meningkat.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan Bp. Heman Elia, M.Psi. Beliau berdua adalah para pakar di bidang konseling dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Meningkatkan Kecerdasan", perbincangan ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami beberapa waktu yang lalu, juga bersama bapak Heman Elia. Kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) GS : Pak Heman, beberapa waktu yang lalu kita berbincang-bincang tentang kecerdasan anak dan salah satu pokok yang disinggung waktu itu bahwa kecerdasan sebenarnya bisa ditingkatkan, kecerdasan seseorang itu lewat suatu stimulasi dini atau rangsangan-rangsangan dini yang memungkinkan kecerdasan seseorang itu bisa meningkat. Mungkin Pak Heman bisa menyampaikan secara umum tentang kecerdasan yang bisa ditingkatkan itu?
HE : Yang pernah saya kemukakan, kecerdasan dan hikmat itu bisa dikembangkan kalau kita taat kepada didikan Tuhan. Di sini saya ingin menambahkan juga bahwa kecerdasan itu bisa ditingkatkan ewat pemberian gizi yang cukup sejak mereka dalam kandungan, kemudian juga dengan menciptakan suasana lingkungan yang baik bagi anak, yang sehat dan melalui stimulasi atau rangsangan yang tepat dari orang tua atau pengasuh.
ET : Dalam hal ini apa ada batasan waktu, misalnya kapan waktu yang tepat untuk bisa diberikan stimulasi untuk pengembangan ini, Pak Heman?
HE : Kalau bisa stimulasi ini seharusnya dilakukan sejak bayi di dalam kandungan. Nah bagaimana mengembangkan atau menstimulasi anak di dalam kandungan, pada hakekatnya begini: kecerdasan it adalah berfungsinya secara baik otak kita, jadi kalau kita ingin mengembangkan kecerdasan berarti kita berusaha mengembangkan otak itu semaksimal mungkin.
Di sini terutama yang penting adalah kecerdasan yang bersifat intelektual. Nah sehubungan dengan otak, kita juga tahu bahwa otak itu berkembang maksimal hingga anak usia 2 tahun, dengan demikian kita harus segera menstimulasi anak sebelum usia ini. Anak yang masih dalam proses perkembangan kecerdasannya itu akan mudah dikembangkan itu hingga usia 5 atau 6 tahun dan setelah itu peningkatan kecerdasan akan semakin melambat dan puncaknya perkembangan kecerdasan itu adalah sekitar usia 20 sampai 22 tahun. Untuk tadi pertanyaan bagaimana kita mengembangkan kecerdasan bayi sejak di dalam kandungan, seorang ibu perlu memberikan lingkungan, suasana hati yang baik bagi anaknya. Jadi misalnya saja itu juga tugas seorang bapak ya mengasihi istrinya sehingga bayinya berkembang dengan baik. Misalnya ada suasana musik yang baik di rumah, ibu yang bersukacita sering berdoa, sering menyanyi, bersyukur kepada Tuhan dan hubungan antar ibu dengan bapak ini baik, ini akan mengembangkan kecerdasan anak. Di samping juga adanya gizi yang baik bagi anak itu untuk mengembangkan otak dari anak dan jangan lupa juga ibu hamil sebaiknya menjaga agar dirinya tidak kekurangan kadar Hb (Haemoglobin) karena kalau ibu kekurangan Hb dia akan menderita anemia. Padahal kita tahu bahwa otak itu berkembang sangat memerlukan oksigen, selain juga gula dan oksigen yang diikat oleh Hb di dalam darah. Jadi ibu hamil harus men-check tingkat kesehatannya, dalam hal ini tingkat Hb-nya di dalam darah.
GS : Mungkin tadi Pak Heman katakan, bahwa ada hubungan emosional antara ibu dan anak, bagaimana itu terjadinya?
HE : Ibu yang mempunyai suasana emosi yang baik, dia akan menghasilkan hormon-hormon yang sifatnya juga akan menenangkan seorang anak sehingga anak itu tidak dalam keadaan stres. Kita tahu klau ibu hamil itu dalam keadaan kebingungan, gelisah, cemas maka bayinya juga akan ikut bergolak di dalam rahim.
Karena bayi itu juga merasakan suasana hati dari ibunya, antara lain dari hormon yang dikeluarkan ibunya kemudian juga aliran darah dan sebagainya.
GS : Dengan kata lain kalau ibunya sering bersedih karena hubungan dengan suami atau dengan anak-anak yang lain, itu akan sangat berpengaruh pada janin yang dikandungnya, Pak?
HE : Penelitian mengatakan demikian, jadi misalnya penelitian itu dilakukan pada anak-anak remaja yang dibandingkan antara waktu anak-anak ini sedang di dalam kandungan ibunya, ibunya menderta kecemasan atau ibunya dalam suasana yang baik.
Ibu-ibu yang menderita kecemasan waktu hamil, waktu anaknya remaja lebih mudah menderita stres, cemas, gelisah dan lebih banyak masalah di dalam kehidupannya dan ini tentu saja menghambat tingkat kecerdasannya.
GS : Bagaimana dengan mereka, anak-anak hasil hubungan perkosaan atau di luar nikah dan sebagainya, Pak?
HE : Ya tentu ada hambatan dan saya kira itu tidak bisa dihindarkan dan kita pun tidak perlu menolaknya, tetapi kita kembangkan hal-hal yang masih bisa kita kembangkan. Seperti misalnya kala anak-anak hasil dari hubungan yang seperti itu tetapi kalau dia tetap mendapatkan pengasuhan yang penuh kasih sayang, dia akan berkembang dengan semaksimal mungkin.
Satu contoh gambaran ada penelitian yang cukup banyak membandingkan Panti Asuhan yang memberikan asuhan yang baik dengan seorang pengasuh yang tidak mengasuh lebih dari 10 anak, dibandingkan dengan misalnya seorang pengasuh mengasuh 50-an anak. Yang tingkat kecerdasannya berkembang jauh lebih baik adalah pada Panti Asuhan dengan pengasuhan yang lebih intensif dan lebih baik. Itu menunjukkan bahwa lingkungan dan pola asuh yang baik, penuh kasih sayang itu membantu anak meningkatkan kecerdasannya.
(2 ) GS : Kalau anak itu sudah dilahirkan Pak, stimulan apa yang bisa diberikan kepada si anak supaya kecerdasannya meningkat?
HE : Ada beberapa hal di sini, kalau mulai bayi anak bisa dilatih untuk menerima stimulasi bagi kelima indranya, terutama indra penglihatan dan pendengaran. Cara-cara yang bisa kita lakukan,misalnya berikan musik klasik yang lembut dan indah.
Sering mengajak anak bicara supaya anak terstimulasi bagaimana berkomunikasi dengan orang lain. Meskipun pada saat anak-anak belum bisa berbahasa sekali pun suasana di mana anak itu diajak bicara akan menstimulasi otak dia, kemudian jaga kesehatan fisiknya kalau bisa waktu dia demam dan sebagainya, jangan sampai dia mengalami kejang. Dan kemudian juga kesehatan fisik ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan otaknya. Kalau anak yang sakit-sakitan terus, maka gizi yang menuju otak itu akan berkurang, jadi sangat perlu untuk dijaga kesehatannya. Kalau bisa memberikan mainan-mainan yang sesuai dengan usia mereka, tidak harus mahal tetapi yang penting Anda sebagai orang tua bisa sering bermain bersama mereka. Jadi kalau mereka sudah bisa belajar menggenggam dan mulai menggunakan jari tangan mereka, boleh berikan botol-botol plastik bekas, botol-botol plastik bekas shampoo, botol minum plastik bekas dan sebagainya yang tidak mudah pecah, robek atau tertelan. Semakin besar mungkin mereka bisa diberikan bermain pasir, bermain air dengan sumpit dan sebagainya. Dengan demikian mereka bebas bermain dan melakukan berbagai eksperimen dan melatih mereka untuk menggunakan tubuh dan motorik mereka, lompat, lari, berjalan, memanjat dan sebagainya. Banyaklah mengajak mereka untuk bercerita kalau anak sudah bisa berbahasa dan dengarkan cerita mereka tanpa berusaha mengkritik. Usahakan agar Anda meluangkan waktu yang banyak bersama mereka.
ET : Saya yakin setiap orang tua pasti berharap anak-anaknya bisa bertumbuh menjadi anak yang cerdas, apalagi mungkin dengan informasi bahwa dengan distimulasi lebih dini saya yakin lebih bear keinginan orang tua untuk bisa membesarkan anak-anaknya menjadi cerdas, Pak Heman.
Cuma kadang-kadang mungkin kuatirnya kebablasan, dalam arti akhirnya ambisi orang tua yang lebih maju supaya anaknya pintar, biasanya orang tua kena pujian "Anak siapa itu". Kira-kira mungkin hal apa yang orang tua perlu perhatikan dalam hal pengembangan kecerdasan ini supaya tidak sampai akhirnya malah menekan anak sehingga anak tidak berkembang dengan bebas?
HE : Ya point ini baik sekali Ibu Esther, jadi orang tua hendaknya sabar dan menanti proses perkembangan tahap demi tahap. Sering kali kita memang tidak bisa terburu-buru dengan perkembangananak dan setiap anak berbeda-beda di dalam tahap perkembangannya.
Kalau misalnya ada keterlambatan di salah satu aspek asal tidak terlambat terlalu lama dan pola itu masih kurang lebih sama dengan pola perkembangan anak-anak pada umumnya, berikan kesempatan, kesabaran Anda untuk menjalani proses ini. Yang penting Anda sudah melakukan apa yang harus Anda lakukan selaku orang tua sebaik mungkin. Juga ada hal-hal yang penting, misalnya orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak kalau mereka melakukan kesalahan. Jadi kalau mereka melakukan kesalahan dan selalu dimarahi karena mereka ingin cepat-cepat bisa, itu justru akan menyebabkan anak merasa dirinya gagal, tidak mampu berbuat apa-apa, nah ini tentu akan menghambat pengembangan kecerdasan mereka. Kecuali kalau anak sudah tahu bahwa dia pasti dapat bertanggung jawab dan dia melakukan kesalahan secara sengaja untuk menjengkelkan orang tua misalnya, maka di sana kita perlu memberikan disiplin. Kemudian kita juga perlu menjaga suasana yang konsisten dan disiplin, mempunyai suasana yang baik, rasa aman di rumah. Demikian juga kita perlu memberikan pujian setiap kali anak mencapai suatu kemajuan tertentu, pujian-pujian ini akan menyebabkan anak bersemangat untuk setiap kali belajar. Kalau misalnya kita selalu menyatakan kekecewaan kita ketika anak tidak berhasil, maka anak justru akan tidak berani mencoba lagi. Dan yang harus diingat oleh orang tua adalah tidak menaruh perhatian terutama kepada prestasi, jadi kalau bisa orang tua memfokuskan pada perhatiannya, karakter baiknya. Banyak orang tua yang memarahi anaknya habis-habisan ketika anaknya ulangannya jelek, tetapi kalau anaknya itu ulangannya baik tidak peduli dia nyontek atau dari hasil mana maka orang tua diam saja, nah ini saya kira kurang baik. Jadi kita harus memfokuskan kepada usaha anak, itu yang lebih penting. Dan berikan keseimbangan stimulasi, jadi jangan hanya satu aspek saja misalnya pelajaran saja tetapi harus seimbang antara rangsangan indrawi, intelektual, musik atau seni yang lain, motorik dan bahasa. Berikan juga mainan-mainan yang bisa dibongkar pasang, jadi jangan memberikan mainan-mainan yang sudah jadi. Kemudian boleh berikan mainan yang sudah jadi, maksud saya jangan itu saja, tapi yang bisa lebih mengembangkan kecerdasan anak dalam mainan yang bisa dibongkar pasang. Dan kemudian supaya kita tidak kebablasan, kita perlu sering sejak kecil mengajarkan anak-anak ini berdoa dan mengenal firman Tuhan, karena sumber kecerdasan dan hikmat adalah Allah sendiri.
ET : Saya tertarik dengan yang tadi Pak Heman katakan, kemungkinan keterlambatan perkembangan anak. Saat ini memang dengan gizi yang lebih baik, kemudian stimulasi yang juga lebih macam-maca bentuknya dibandingkan dengan katakanlah 10, 20 tahun yang lalu akhirnya memang anak-anak kelihatannya memang lebih pintar.
Dalam arti misalnya dalam 4 tahun sudah bisa melakukan hal-hal yang mungkin beberapa tahun yang lalu anak usia seperti itu belum bisa lakukan. Akibatnya saya melihat anak-anak yang sebenarnya normal tetapi karena tidak seunggul anak-anak yang memang lebih unggul tadi untuk ukuran zaman sekarang, orang tua menjadi kuatir dan merasa anak saya lambat, anak saya kurang. Dalam hal ini sesungguhnya ukurannya sampai di mana, kapan orang tua bisa mulai, katakanlah layak untuk mulai curiga akan perkembangan anaknya memang lebih lambat, jadi memang sungguh-sungguh lebih lambat atau hanya kekuatiran orang tua saja dibandingkan dengan anak-anak yang unggul?
HE : Agak susah memang menentukan kapan kita harus menaruh perhatian ekstra kalau anak-anak ini terlambat. Tapi ukuran secara umum adalah kalau misalnya kita bandingkan anak kita tingkat perembangannya itu masih tergolong 50% dari anak-anak seusianya, itu berarti anak ini berkembang normal.
Saya ambil contoh misalnya usia 2 tahun belum lancar bicara itu normal, tetapi kalau sudah usia 3 tahun belum ada satu patah katapun kecuali mama dan papa yang bisa diucapkan anak, berarti anak ini ada masalah dan harus dilatih secara khusus di dalam hal komunikasi itu salah satu contoh. Jadi secara umum kalau misalnya anak itu masih masuk di dalam 50% atau 50 atau 60%, maka anak itu tergolong baik masih tergolong sehat dan normal.
GS : Mungkin di tengah persaingan ini memang kekuatiran yang berlebihan dari orang tua itu bisa menilai anaknya itu secara keliru Pak Heman. Sebenarnya normal lalu dinilai abnormal, padahal yang harusnya abnormal, yang terlalu cepat atau dipaksa lebih cepat itu yang membuat orang-orang normal ini menjadi tidak normal.
HE : Ya bisa ada kemungkinan itu terjadi.
GS : Cuma ini Pak Heman, tadi Pak Heman katakan mengenai mainan atau apa, memang lebih mudah bagi orang tua untuk membeli mainan, tetapi memilihkan yang tepat itu yang agak sulit karena memang tidak semua toko mainan itu mengerti. Yang jualan itu sendiri tidak mengerti ini cocok atau tidak untuk anak usia sekarang, penjaganya sendiri juga mungkin belum mempunyai anak. Nah itu bagaimana Pak Heman pedomannya, tadi yang Pak Heman katakan bisa dilepas atau dibongkar pasang, yang dilepas itu kadang-kadang terlalu kecil sehingga kekuatiran orang tua nanti ditelan lalu kena mata.
HE : Ya memang agak sulit karena pembuat mainan juga maunya untung. Kalau bisa hal-hal yang membahayakan anak, jangan diberikan kepada anak. Salah satu contoh misalnya pistol-pistolan yang bsa menembakkan sesuatu.
Beberapa waktu lalu ini benar banyak terjadi di Indonesia, banyak anak yang menjadi buta seumur hidup karena ketembak temannya. Kemudian juga seperti tadi dikatakan pecahan-pecahan atau komponen dari mainan yang terlalu kecil terutama untuk anak usia di bawah 4 tahun, 5 tahun itu jangan diberikan. Biasanya memang ada petunjuk di kotak setiap mainan tentang batasan usia, tetapi orang tua sebaiknya juga berhati-hati, lebih baik membelikan mainan yang bisa mengembangkan kecerdasan anak. Mengenal warna, mengenal bentuk, mengembangkan keterampilan motorik dan sebagainya, itu yang lebih baik dibelikan buat anak. Dan terutama kalau misalnya komponen-komponen yang kecil itu berbahaya bagi anak-anak yang masih banyak menggunakan mulutnya, segala macam dimasukkan ke mulutnya atau bahkan ke hidungnya, nah itu cukup berbahaya dan sebaiknya tidak diberikan kepada anak.
ET : Kalau tadi Pak Gunawan berbicara soal toko penjual mainannya ya Pak, kalau saya sering melihat justru susternya, maksudnya kalau orang tua yang mempunyai uang pasti membelikan mainan yag paling modern, paling canggih tapi orang tua tidak pernah menemani main, suster atau pengasuh anak juga tidak mengerti.
Akhirnya yang sebenarnya bisa menstimulasi jadinya cuma sekadar dimainkan secara asal-asalan, tidak optimal.
HE : Ya dan ada satu tambahan dari saya tidak harus kita belikan mainan, jadi misalnya anak-anak yang bisa berkembang kecerdasannya dia bisa bermain pura-pura. Dia menggunakan seketemunya pealatan di samping dia untuk dijadikan mainan, kain kemudian kursi, kalau digabung bisa menjadi mainan kereta-keretaan dan sebagainya.
Dan kadang-kadang sabuk itu bisa dijadikan alat pancing bagi anak-anak yang kreatif dan sebagainya, jadi tidak harus dibelikan. Tadi saya berikan contoh misalnya botol shampoo plastik bekas dan sebagainya, nah itu hal-hal yang murah yang biasanya kita buang tapi tidak membahayakan anak. Jadi anak main buka tutup shampoo di sambung-sambung dan sebagainya sudah merupakan latihan bagi anak.
GS : Tingkat kecerdasan seorang anak apa ada kaitannya dengan pertumbuhan rohaninya, Pak?
HE : Ya dalam arti perkembangan kalau seorang anak itu cerdas ditambah dengan kerohaniannya baik, maka dia akan lebih berkembang lagi kecerdasannya. Nah masalahnya di sini adalah bahwa sebagi anak Tuhan yang takut kepada Tuhan, diajarkan untuk taat pada firman Tuhan.
Jadi ada konsep di sini bahwa anak yang cerdas itu tidak sebagaimana, tidak selalu identik dengan kecerdasan yang dihargai oleh dunia ini. Karena sering kali kalau kita berhikmat di hadapan Tuhan itu menjadi kebodohan di pandangan manusia. Sebagai contoh rasul Paulus, rasul Paulus itu menjadikan hikmat dari dunia ini menjadi sampah baginya, meskipun dia sangat cerdas dan dia belajar pada Gamaliel. Dan dia orang yang sangat berhikmat, terbukti dari ucapan Raja Agripa misalnya ketika Paulus diadili dan dia harus membela diri di hadapannya. Agripa mengatakan demikian "Engkau gila Paulus, ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila", Paulus mengatakan: "Aku tidak gila Festus yang mulia, aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat" maka jawab Agripa: "Hampir-hampir saja kau yakinkan aku menjadi orang Kristen". Jadi di sini menunjukkan kita diberi petunjuk bahwa Paulus ini orang yang sangat cerdas. Tetapi Paulus tidak atau kurang dihargai oleh dunia ini.
GS : Jadi kecerdasan yang dihargai oleh Allah itu adalah kecerdasan yang membuat seseorang itu makin dekat atau mengenal kehendak Allah di dalam kehidupannya. Yang terutama sekalipun oleh orang-orang lain yang terpandang, pandai dan sebagainya pun bisa dianggap sebagai orang yang tidak berhikmat, (HE : Ya dianggap bodoh) dianggap bodoh ya, Pak Heman? Memang kadang tingkah laku orang Kristen ini kadang-kadang dianggap bodoh oleh dunia, orang-orang yang tidak mengenal hikmat yang sebenarnya. Padahal sumber hikmat itu dari Allah sendiri, ada satu bagian Alkitab yang lain yang mungkin Bapak mau sampaikan kepada para pendengar sebagai kesimpulan pada pembicaraan pada kali ini.
HE : Saya ambilkan dari 1 Korintus 1:27-31 , ini adalah yang ditulis oleh Paulus "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan pa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.
Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: 'Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan'." Nah ini penghiburan bagi kita yang dianggap bodoh oleh dunia ini.
GS : Tetapi itu bukan berarti kita membiarkan diri kita hidup di dalam kebodohan. Karena konsep seperti ini memang sulit untuk diterima oleh masyarakat pada umumnya, tapi inilah firman Tuhan yang tadi Pak Heman katakan untuk menghibur kita. Jadi kita sebagai orang tua juga bertanggung jawab atas anak-anak yang dipercayakan kepada kita. Dan kita berharap tentunya melalui perbincangan ini orang tua lebih banyak menaruh perhatian, meluangkan waktu dan sebagainya untuk menstimulasi kecerdasan anak. Karena itu saya rasa membutuhkan banyak waktu, banyak perhatian dan segala macam pengorbanan dan sebagainya itu saya rasa harus ada. Jadi Pak Heman, banyak terima kasih untuk kesempatan kali ini dan saya percaya perbincangan meningkatkan kecerdasan ini akan menjadi bermanfaat bagi banyak pendengar kita. Saudara-saudara pendengar demikian tadi Anda baru saja mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Heman Elia, M. Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Meningkatkan Kecerdasan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kecerdasan anak sebenarnya bisa ditingkatkan, dengan cara sebagai berikut:
Melalui stimulasi dini atau rangsangan-rangsangan dini yang memungkinkan kecerdasan seseorang itu bisa meningkat.
Kecerdasan bisa ditingkatkan lewat pemberian gizi yang cukup sejak mereka atau anak dalam kandungan
Dengan menciptakan suasana lingkungan yang baik bagi anak, yang sehat.
Stimulasi dapat diberikan sejak bayi masih di dalam kandungan. Kecerdasan berfungsi dalam otak kita, jadi kalau ingin mengembangkan kecerdasan berarti kita berusaha mengembangkan otak semaksimal mungkin. Sehubungan dengan otak, otak berkembang maksimal hingga anak usia 2 tahun dengan demikian kita harus segera menstimulasi anak sebelum usia ini. Anak yang dalam proses perkembangan kecerdasan akan mudah berkembang hingga usia 5 atau 6 tahun dan puncak perkembangan kecerdasan ini adalah sampai usia 20 - 22 tahun.
Untuk mengembangkan kecerdasan bayi, sejak di dalam kandungan seorang ibu perlu memberikan lingkungan, suasana hati yang baik bagi anaknya. Misalnya tugas seorang bapak mengasihi istrinya sehingga bayinya berkembang dengan baik. Ada musik yang baik di rumah, ibu yang bersukacita sering berdoa, sering menyanyi, bersyukur kepada Tuhan dan hubungan antar ibu dengan bapak baik, ini akan mengembangkan kecerdasan anak. Di samping itu adanya gizi yang baik bagi anak. Dan juga bagi ibu hamil sebaiknya menjaga agar tidak kekurangan kadar Hb (Haemoglobin).
Stimulan yang dapat kita berikan pada anak untuk meningkatkan kecerdasan adalah:
Berikan musik klasik yang lembut dan indah.
Sering mengajak anak bicara supaya anak terstimulasi bagaimana berkomunikasi dengan orang lain.
Jaga kesehatan fisiknya karena kesehatan fisik sangat berpengaruh terhadap perkembangan otaknya.
Berikan mainan yang sesuai dengan usia anak, dan usahakan meluangkan waktu yang banyak bersama dengan anak.
I Korintus 1:27-31 , "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi himat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan." Nah ini penghiburan bagi kita yang dianggap bodoh oleh dunia.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Dalam batas-batas tertentu ketidakpatuhan sering kali dikatakan sebagai sesuatu yang normal. Tetapi orangtua tetap perlu memberi batasan kepada anak karena tanpa arahan dan batasan, anak tidak akan belajar tentang arti disiplin dan rasa tanggung jawab.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Ester Tjahja, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengajarkan Kepatuhan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Heman, kita sering kali repot menghadapi anak yang bukan saja tidak patuh dan sebenarnya kondisi anak yang tidak patuh itu oleh sebagian besar orang dikatakan bahwa itu normal, karena anak memang begitu. Tapi sebenarnya bagaimana, Pak Heman?
HE : Betul, ketidakpatuhan itu sering kali kita katakan sebagai sesuatu yang normal di dalam batas-batas tertentu. Tetapi kita tetap perlu memberi batasan kepada anak karena tanpa arahan da batasan yang orangtua berikan, anak tidak akan belajar tentang arti disiplin dan rasa tanggung jawab.
Memberi batasan itu berarti kita adakalanya harus memaksa mereka untuk patuh.
GS : Artinya tidak ada seorang pun yang lahir di dunia ini dengan sifat kepatuhan atau otomatis patuh, Pak?
HE : Untuk setiap anak yang normal, ketidakpatuhan adalah sebetulnya suatu cara bagi anak untuk menyatakan sesuatu yang wajar, yang normal bagi anak yang cukup sehat.
GS : Sering kali kelihatan bagi anak yang masih sangat kecil pun yang baru berusia beberapa minggu kadang-kadang disusui menolak. Apakah itu sebagai salah satu bentuk ketidakpatuhan?
HE : Belum tentu ketidakpatuhan, jadi bisa saja karena mereka masih bayi itu merupakan respons yang spontan, yang terjadi secara otomatis, jadi dia menolak sesuatu yang tidak enak.
GS : Atau mungkin dia sedang kenyang dan sebagainya.
HE : Ya betul, yang penting dia tidak ingin melakukan misalnya minum susu.
GS : Tadi Pak Heman katakan sampai batas-batas tertentu tidak apa-apa, nah batasan-batasanya itu apa Pak Heman?
HE : Batasannya adalah kalau misalnya kita melihat anak-anak sudah tidak patuh, maka kita mesti melihat apa yang menyebabkan dia tidak patuh, karena ada banyak sebab yang bisa menjadikan anak tidak patuh.
Apakah itu suatu pernyataan bahwa dia ingin menyatakan saya ini berbeda dari Anda, dari orang tua. Saya adalah seorang yang unik, yang mempunyai kepribadian sendiri. Kalau hanya seperti ini sebaiknya diberi ruang, diberikan kesempatan pada dirinya supaya dia menjadi lebih mandiri.
ET : Tapi kadang-kadang membedakan itu yang sangat susah ketika anak sedang ingin mengembangkan diri. Tapi mungkin bagi orang yang lebih dewasa melihatnya bahwa ini ketidakpatuhan.
HE : Betul, memang susah untuk membedakannya, orangtua perlu kepekaan untuk merasakan mana yang ketidakpatuhan dan mana reaksi yang normal bagi anak.
GS : Sebenarnya apa perlunya kita mengajarkan kepatuhan kepada anak?
HE : Untuk semua segi kita perlu memberikan latihan-latihan, misalnya dia merasa ingin memberontak atau merasa ingin tidak menuruti orangtuanya, dia tidak ingin didisiplin. Karena pada dasanya setiap anak mempunyai atau bahkan setiap kita tidak ingin begitu saja mengikuti hal-hal yang tidak enak bagi kita.
Kadang-kadang kita memerlukan latihan-latihan bagi anak. Dengan latihan-latihan ini akhirnya membuat mereka patuh, membuat mereka mengikuti apa yang kita inginkan. Tetapi memang kita perlu berhati-hati kapan kita perlu memaksakan anak untuk memenuhi keinginan kita, keinginan seperti apa kita juga perlu kaji.
ET : Apakah Pak Heman bisa memberikan contoh latihan-latihan yang dimaksud tadi?
HE : Misalnya saja ada anak yang harus belajar menghadapi ulangan pada hari esoknya, tapi dia ingin bermain terus. Nah ini masalah disiplin dan tanggung jawab. Kita tahu dengan persis bahwaanak mempunyai waktu yang cukup untuk bermain, seharusnya sudah cukup bermain dan dia sekarang ini bisa belajar dengan baik kalau dia mau artinya dia tidak dalam keadaan lelah, mengantuk, lapar atau sakit.
Tetapi karena dia tidak mau belajar, kini saatnya kita perlu memaksanya untuk belajar, nah ini salah satu contoh.
ET : Dipaksa untuk patuh?
HE : Betul, kadang-kadang anak-anak memerlukan paksaan untuk patuh.
ET : Kalau situasi seperti tadi bagaimana Pak Heman?
HE : Dalam situasi seperti ini ada beberapa yang bisa kita lakukan. Beberapa cara ini misalnya yang pertama tetapkan dulu peraturan yang ingin kita terapkan, dengan sanksi yang sesuai denga kesalahan mereka, artinya tidak terlalu berat juga tidak terlalu ringan, jadi kita pikirkan dulu sanksinya seperti apa.
Salah satu sanksi yang dapat kita lakukan adalah misalnya mencabut hak mereka atau kesenangan mereka. Umpamanya membatasi mereka menonton TV lebih lama atau melarang mereka keluar rumah sesering biasanya. Ini sanksi, jadi bukan suatu larangan setelah perilaku itu terjadi, tapi kita tetapkan dulu sanksinya. Kedua, kalau terjadi pelanggaran segera terapkan sanksi yang telah ditetapkan. Ketiga, siapkan situasi yang dapat membuat mereka mau tidak mau harus belajar menurut jadwal yang ditetapkan. Misalnya setiap jam belajar orangtua ada di tempat itu dan duduk bersama mereka, mengawasi mereka. Mungkin orangtua tidak perlu harus terus-menerus mengetes mereka atau menguji mereka tetapi cukup orangtua mendampingi mereka dengan cara orangtua membaca buku. Ini hanya salah satu contoh yang bisa kita lakukan dan penerapannya nanti bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.
GS : Tapi bukankah itu juga sangat tergantung pada umur berapa anak itu bisa kita terapkan sanksi seperti ini. Kalau masih terlalu kecil bukankah itu sulit?
HE : Ya betul, karena itu kita perlu juga melihat usia perkembangan anak. Memang kita tidak bisa memaksa anak melampaui dari usia perkembangannya. Misalnya anak usia 3, 4 tahun. Daya konsenrasi mereka paling lama hanya 15 menit saja dan ketika mereka belajar pun mereka perlu banyak istirahat dan mungkin juga perlu banyak gerak.
GS : Kadang-kadang kita sebagai orang yang awam dalam hal ini, mau menetapkan suatu sanksi itu sulit. Kadang-kadang ukurannya adalah ukuran untuk kita atau untuk anak yang sudah lebih besar daripada anak yang kita mau didik untuk patuh.
HE : Betul, itu tidak mudahnya di sana, kita perlu belajar juga saling menyesuaikan diri dengan anak. Jadi selain kita meminta anak untuk patuh kita juga perlu memperhitungkan daya kekuatananak.
Itu sebabnya tadi saya kemukakan sebelum kita memberikan paksaan atau sanksi kita harus memperhitungkan juga dan kita mesti fleksibel apakah mereka dalam keadaan lapar, kebutuhan emosinya apakah sudah tercukupi, kebutuhan fisik mereka apakah tercukupi. Juga termasuk bukan saja usia tetapi misalnya kalau anak dalam keadaan sakit tentu saja mereka rewel dan itu sudah otomatis. Dan kita mesti juga menempatkan diri kita dan perasaan kita pada keadaan anak pada saat itu.
ET : Bicara soal paksaan Pak Heman, kadang-kadang orangtua juga mengalami kebingungan karena khawatir mentalnya anak seolah-olah harus dipaksa. Kalau tidak ada itu tanggung jawabnya tetap tdak ada, padahal tadi sebenarnya tujuan kita melakukan ini untuk membangkitkan disiplin dan tanggung jawab.
Kadang-kadang sepertinya mesti didorong terus baru jalan.
HE : Kenapa anak nantinya berkembang selalu harus didorong, karena kita terlalu menghendaki anak kita itu 100% patuh sehingga anak tidak mempunyai ruang bergerak lagi. Anak tidak mengembangan dirinya, kemandiriannya seperti tadi pertama kali kita bicarakan.
Jadi anak perlu mempunyai ruang gerak juga, bagaimana caranya kita bisa membuat anak mempunyai ruang gerak yang cukup, salah satunya adalah kita tidak terlalu mengatur hal-hal yang terlalu mendetail. Jadi kita memegang terutama hal yang umum, yang prinsipnya saja. Misalnya tentang jadwal belajar, kita perlu fleksibel tentang ini. Yang penting adalah anak menyelesaikan belajarnya, jadi yang penting bukannya berapa jam dia belajar. Mungkin prinsip-prinsip ini yang perlu kita atur, sedangkan hal yang kecil-kecil misalnya mereka menumpahkan air minum dan sebagainya hal-hal yang kecil-kecil seperti itu kita hanya perlu melatih mereka supaya lebih hati-hati, tapi kita tidak perlu memaksa mereka.
GS : Nah ketergantungan akan dipaksa yang makin lama makin tumbuh, misalnya tadi Pak Heman katakan kalau belajar itu didampingi orangtua walaupun orangtuanya membaca buku dan sebagainya. Ada anak yang kalau orangtuanya tidak di rumah karena ada undangan atau apa, dia tidak belajar.
HE : Ya, jadi memang nanti di dalam perkembangan itu pada awalnya karena anak itu cenderung untuk menunjukkan dirinya dan kemudian tidak patuh maka kita memang melatih mereka untuk patuh telebih dulu.
Tetapi setelah mereka bisa patuh terutama di dalam hal yang prinsip di kemudian hari kita perlu memberikan kelonggaran dan kebebasan secara bertahap, sehingga anak belajar untuk menguasai dirinya. Hanya kalau kita melihat bahwa mereka sudah terlalu banyak menyimpang dari yang kita harapkan, baru kita memberikan batasan lagi. Tetapi batasan itu semakin hari harus semakin longgar dan semakin banyak tanggung jawab yang perlu kita bebankan kepada anak. Salah satu contoh ada kemungkinan kita perlu membiarkan anak itu gagal satu, dua kali ulangan. Biarkan mereka merasakan apa itu kegagalan.
GS : Untuk anak ini Pak Heman, sering kali mereka merasa kepatuhannya kepada orangtua itu hanya menguntungkan orangtua, sedangkan di pihak dia hanya dirugikan saja dengan adanya kepatuhan, nah ini bagaimana Pak?
HE : Sering kali begitu karena mereka tidak dari awal belajar untuk bertanggung jawab, jadi di dalam hal ini sesuatu yang dipaksakan dari luar itu hanya pada awalnya dan nantinya kita harapan sesuatu yang dari luar ini bisa tumbuh dari dalam.
Salah satu caranya adalah kita perlu memuji anak, membesarkan hati anak, menghargai anak sewaktu anak bisa mengerjakan sesuatu itu dengan sendirinya secara otomatis tanpa disuruh dan sebagainya, nah hal-hal seperti itu harus dihargai. Jadi begitu anak bisa melakukan sesuatu sendiri kita perlu lepaskan, kita biarkan mereka lalu sekali-sekali kita memuji mereka, sekali-sekali menghargai mereka.
GS : Tapi kondisi itu sering kali tidak stabil, kadang-kadang pada suatu saat anak itu kelihatan bisa dilepaskan, tapi beberapa hari kemudian dia kelihatan sebagai anak yang kalau tidak dipaksa tidak jalan lagi.
HE : Ya, ini baik sekali, ini sehari-hari yang kita temukan, karena itu kita tidak bisa serta merta atau sekaligus melepaskan anak. Jadi memaksa mereka untuk taat pertamanya, kemudian setelh mereka bisa perlahan-lahan dilepas.
Seperti contoh tadi di dalam hal ulangan, mereka tidak bisa belajar sendiri kalau tidak disuruh, coba kita lepas, kita lepaskan tentu tidak sepenuhnya, secara bertahap. Kita katakan kepada anak, "Nah sekarang kamu sudah lebih besar, jadi Papa dan Mama ingin memberikan kepada kamu kepercayaan yang lebih besar. Papa dan Mama ingin melihat kamu bisa belajar sendiri, jadi untuk hari ini dan besok Papa dan Mama coba tidak mengawasi kamu. Kami harapkan kamu bisa mengatur sendiri." Dan kita evaluasi setelah misalnya ternyata mereka gagal, kita bicara dengan anak itu kembali, kita tanyakan, "Kenapa kamu kelihatannya kok susah kalau misalnya Papa dan Mama lepas, bagaimana caranya apakah kamu mau Papa dan Mama bantu lagi supaya kamu bisa lebih baik." Kalau misalnya anak bilang, "Tidak, saya mau berusaha lagi, Papa Mama perlu memberikan kepercayaan kembali." Tetapi kalau anak bilang mau minta tolong Papa Mama, berarti rasa tanggung jawab itu mulai bertumbuh.
ET : Jadi kita sepertinya mau mengajarkan kepada anak sisi-sisi mana yang memang benar-benar mereka lakukan seperti yang orangtua inginkan dan sisi-sisi mana yang mereka bisa lakukan cengan cara mereka. Begitu Pak Heman?
HE : Ya, betul sekali Ibu Ester, ini kesimpulan yang sangat baik.
GS : Ada orangtua yang menggunakan moment ulang tahun anak, jadi setiap anak itu ulang tahun pada saat ulang tahunnya langsung diberitahukan, "Sekarang ini kamu kerjakan sendiri, yang ini tanggung jawabmu." Dan nanti di evaluasi, kalau gagal dan minta pendampingan ya didampingi lagi. Dan di tahun berikutnya akan ditambahkan- ditambahkan lagi Pak?
HE : Ya ini salah satu cara yang bisa dilakukan oleh keluarga moment yang baik di ulang tahun atau moment lain adalah kenaikan kelas.
GS : Tapi yang berkesan ini, ulang tahun itu sifatnya pribadi, jadi itu hari istimewa buat dia dan kita katakan ini tanggung jawabmu bertambah lagi karena kamu sudah tambah usia, tanggung jawabnya ditambah lagi. Mengenai anak-anak yang keras kepala akhirnya susah sekali untuk menurut, bagaimana kita menghadapinya, Pak?
HE : Pertama kita lihat penyebabnya dulu, jadi sebelum kita melakukan apa-apa kita harus tahu penyebabnya sehingga kita bisa memperlakukan mereka dengan lebih tepat. Saya mencatat ada beberpa kemungkinan penyebab anak bisa keras kepala dan sangat sulit diatur, karena ada kemungkinan mereka sedang menghadapi problem yang perlu diatasi.
Kemungkinan pertama adalah anak itu bermasalah karena menanggung stres yang besar. Dia tidak mampu menanggulangi stres itu dan sebagai akibatnya dia memberontak menjadi keras kepala. Stres salah satunya yang paling umum adalah masalah keluarga yaitu ketidakharmonisan antara ayah dan ibu ini. Jadi anak ini mau memberontak atau frustrasi tidak bisa menyatakannya, sehingga dia melakukan tindakan yang memberikan kepadanya label keras kepala. Kedua, ada kemungkinan karena orangtua salah menanganinya, misalnya anak ini sudah terlalu sering dihukum terlalu keras, atau sebaliknya orangtua membiarkan anak ini sehingga anak bisa bertindak sewenang-wenang. Waktu mau diatur, anak ini menjadi susah diatur dan dia menjadi anak yang keras kepala. Ketiga, secara bawaan anak ini tergolong anak yang sulit. Salah satu penelitian ada yang mengatakan bahwa ada anak yang sejak lahir memang kurang peka terhadap rasa sakit, jadi dihukum seperti apapun dia tidak merasa sakit atau bagi dia rasa sakit ini bisa dia tanggung. Anak-anak ini cenderung impulsif artinya susah untuk mengendalikan diri, tidak peka terhadap perasaan orang lain. Jadi anak-anak ini menjadi keras kepala dan susah untuk ditundukkan dan dijadikan untuk menjadi lebih taat.
ET : Sepertinya aturan yang bisa kita pakai untuk anak-anak lain, untuk anak-anak keras kepala ini seolah-olah harus dobel, Pak?
HE : Ya, atau kita menggunakan cara yang berbeda di dalam pendekatannya. Salah satunya kalau misalnya itu berasal dari kondisi pernikahan, anak ini mengandung stres maka kita harus mengadakn perbaikan untuk kondisi pernikahan.
Ada anak yang mengalami tekanan berat dari teman-teman maupun dari sekolahnya. Di dalam hal ini orangtua perlu tahu terlebih dahulu dan kemudian mendampingi dia untuk menghadapinya. Mendampingi, tidak harus ke mana-mana mengikuti anak, tetapi bisa dengan kata-kata penghiburan, nasihat dan sebagainya. Kemudian yang kedua kalau misalnya ada hal-hal yang seperti ini orangtua yang pertama-tama harus lakukan adalah memperbaiki dan meningkatkan relasi dengan anak. Jadi relasi ini akan mempermudah kita menuntut ketaatan, kepatuhan kalau itu diperlukan. Dan yang ketiga kita perlu perhatikan apakah anak sudah tercukupi kebutuhan fisik dan emosinya. Terutama untuk anak yang keras kepala barangkali kita tidak perlu melakukan paksaan kalau misalnya anak itu mudah untuk dibujuk atau dia peka terhadap pujian. Kalau kita memuji dia dan sebagainya dia bisa lebih menaati orangtuanya, barangkali ini yang dia butuhkan.
GS : Pak Heman, apakah keras kepala seperti ketidakpatuhan itu menurun, soalnya banyak orang mengatakan, "Anak ini keras kepalanya seperti kakeknya atau seperti ayahnya."
HE : Ya, sebagian memang seperti yang sudah dikatakan tadi bahwa ada anak-anak yang secara bawaan seperti itu. Tetapi sebagian kita perlu perhitungkan sebagian dari anak keras kepala itu buan menurun secara bawaan tetapi dia melihatmencontoh.
Ada orang-orang dewasa yang dia hormati ternyata mereka keras kepala atau mereka memang tidak mudah ditundukkan dan mereka meniru pola yang seperti ini.
GS : Kadang-kadang kita itu sebagai orang yang lebih dewasa atau orang tua itu sulit membedakan antara anak ini keras kepala, tidak patuh dan mempunyai kemauan yang kuat.
HE : Ya, betul, kalau anak ini mempunyai kemauan yang kuat, kita tidak mematahkan kemauan yang kuat ini tetapi kita mengarahkannya. Seperti misalnya dalam hal selera, umpamanya soal makan, da anak yang sedemikian keras kepala sehingga misalnya kalau dia minta, "Saya minta nasi goreng," asalkan dia konsekuen dia minta nasi goreng dan dia makan itu bahkan sampai sedemikian kuat kemauannya kemudian dia habiskan, dia konsekuen, kita harus hargai konsekuennya.
Ini soal selera, soal minat, saya kira ini tidak perlu dipaksakan mereka menyesuaikan diri dengan selera kita. Tetapi ada hal-hal tertentu yang kita memang harus tegas, kalau orangtua tegas, orangtua bisa menjaga wibawanya. Orangtua yang dihormati, tetapi dekat dengan anak ini lebih bisa menjaga kepatuhan dari anak. Karena di dalam masyarakat anak harus menyesuaikan diri, ada saatnya dia harus memimpin, ada saatnya di bawah, ada saatnya dia harus patuh, ada saatnya dia tidak boleh patuh. Jadi anak-anak perlu juga diberikan kesempatan di dalam hal selera, itu terserah anak. Anak mau memilih baju seperti apa sebaiknya kita berikan sedikit kebebasan. Tetapi untuk karakter, sifat-sifat baik, itu perlu kita latihkan.
GS : Sering kali ketidakpatuhan itu timbul karena orangtuanya yang tidak konsisten. Tegas tapi tidak terus-menerus tegas, jadi suatu saat dia perbolehkan, suatu saat dia melarang jadi anak bingung.
HE : Ini baik sekali, kalau orangtua tidak konsisten anak juga akan bisa semakin keras kepala, semakin kuat keinginannya untuk melanggar, karena dia tahu dia bisa lolos pada saat-saat tertetu, jadi dia paksakan saja.
GS : Untuk menyimpulkan perbincangan kita pada saat ini, apakah ada firman Tuhan yang ingin Pak Heman sampaikan?
HE : Saya ingin membacakan satu bagian Alkitab dari Amsal 13:12, "Siapa meremehkan Firman, ia akan menanggung akibatnya tetapi siapa taat kepada perintah akan menerima balasan." Bagian firmn Tuhan ini mengingatkan kita sebagai orangtua pada saat kita memaksakan atau mengarahkan anak kita supaya mereka patuh, terutama bukan patuh kepada keinginan kita tetapi kita mengarahkan mereka untuk taat kepada firman Tuhan.
Dan kalau mereka bisa taat kepada firman Tuhan maka mereka akan memperoleh balasan, di dalam hati mereka akan memperoleh berkat dari Tuhan.
GS : Itu saya rasa bentuk yang konkret yang perlu diajarkan oleh orangtua sedini mungkin kepada anak-anaknya untuk patuh kepada Tuhan. Terima kasih Pak Heman dan ibu Ester untuk perbicnangan kali ini. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengajarkan Kepatuhan." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat
telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.END_DATA
Ringkasan Isi:
Dalam batas-batas tertentu ketidakpatuhan sering kali dikatakan sebagai sesuatu yang normal. Tetapi orangtua tetap perlu memberi batasan kepada anak karena tanpa arahan dan batasan, anak tidak akan belajar tentang arti disiplin dan rasa tanggung jawab. Memberi batasan berarti adakalanya kita harus memaksa anak untuk patuh.
Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua sehubungan dengan kepatuhan, yaitu:
Tetapkan dulu peraturan yang ingin kita terapkan, dengan sanksi yang sesuai dengan kesalahan mereka, artinya tidak terlalu berat juga tidak terlalu ringan.salah satu sanksi yang dapat kita lakukan adalah misalnya mencabut hak mereka atau kesenangan mereka.
Kalau terjadi pelanggaran segera terapkan sanksi yang telah ditetapkan.
Siapkan situasi yang dapat membuat mereka mau tidak mau harus belajar menurut jadwal yang ditetapkan.
Bagaimana menghadapi anak yang keras kepala dan tidak mau patuh?
Pertama-tama orangtua perlu melihat penyebabnya terlebih dahulu, karena ada kemungkinan-kemungkinan mereka menghadapi problem yang perlu diatasi.
Anak bermasalah karena menanggung stres yang besar. Dia tidak mampu menanggulangi stres itu dan akibatnya dia memberontak dan menjadi keras kepala.
Ada kemungkinan karena orangtua salah menanganinya, misalnya anak sudah terlalu sering dihukum, terlalu keras atau sebaliknya orangtua membiarkan anak sehingga anak bisa bertindak sewenang-wenang. Anak menjadi susah diatur dan dia menjadi anak yang keras kepala.
Secara bawaan anak tergolong anak yang impulsive, susah mengendalikan diri, tidak peka terhadap perasaan orang lain, kurang peka terhadap rasa sakit.
Amsal 13:12, "Siapa meremehkan Firman, ia akan menanggung akibatnya tetapi siapa taat kepada perintah akan menerima balasan".
Ayat ini mengingatkan kita sebagai orangtua pada saat kita mengarahkan anak kita supaya patuh, terutama bukan patuh kepada keinginan kita tetapi untuk patuh dan taat kepada Firman Tuhan. Kalau mereka bisa taat kepada Firman Tuhan maka mereka akan memperoleh berkat dari Tuhan.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Ambisi itu suatu dorongan di dalam diri kita yang membuat kita terpacu untuk mengerjakan sesuatu dengan hasil yang baik dan kita mempunyai tujuan di dalam ambisi itu, kita mempunyai sasaran akan apa yang ingin kita capai.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahya, S.Psi. dan juga kali ini kami ditemani oleh Bapak Heman Elia seorang Magister dalam bidang Psikologi dan beliau berdua adalah pakar-pakar di bidang konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Dan kali ini kami akan berbincang-bincang dengan satu tema yaitu "Ambisi". Maka dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Heman, terima kasih bisa bersama-sama dengan kami kembali pada saat ini, dan kita coba membahas tentang masalah ambisi. Apakah semua orang memang mempunyai ambisi, Pak?
HE : Ya semua orang punya dan seharusnya memang punya.
(1 ) GS : Hanya kadarnya saja yang berbeda-beda. Apa sebenarnya yang disebut dengan ambisi itu?
HE : Ambisi itu adalah suatu dorongan di dalam diri kita yang membuat kita terpacu untuk mengerjakan sesuatu dengan hasil yang baik tentunya dan kita mempunyai tujuan biasanya di dalam ambis itu, apa yang ingin kita capai.
GS : Kalau memang seperti yang Pak Heman tadi katakan, kenapa banyak orang menafsirkan atau mengartikan bahwa ambisi itu sesuatu yang negatif?
HE : Terlanjur terbentuk suatu konotasi mungkin, untuk ambisi kalau orang misalnya menginginkan sesuatu dengan sangat misalnya kedudukan, uang lalu dikatakan bahwa dia berambisi. Nah karena tu sering kali ambisi dikaitkan dengan hal-hal yang seperti itu, terlalu berambisi.
Padahal sebetulnya saya kira ambisi yang sehat itu seharusnya kita miliki dan supaya kita bisa berprestasi dengan baik, menghasilkan karya terbaik.
ET : Mungkin tidak Pak Heman, ada orang di dunia ini yang sama sekali tidak punya ambisi apa-apa?
HE : Selama kita hidup dan tadi saya katakan yang normal, yang wajar, yang sehat itu harusnya ada ambisi. Mungkin pada orang-orang yang sungguh-sungguh cacat begitu ya, cacatnya sampai beratsekali nah itu bisa terjadi tidak punya ambisi karena dia tidak bisa berpikir dengan baik, dia tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik tapi selama seseorang hidup dan masih bertumbuh, masih punya keinginan dia masih punya ambisi.
ET : Dulu falsafah Jawa atau mungkin Timur juga banyak yang istilahnya 'nerimo' kira-kira ini hal yang berlawanan atau tidak dengan masalah ambisi?
HE : Saya lebih melihat falsafah 'nerimo' itu adalah dalam kaitan kita bisa menerima hal-hal buruk yang terjadi atas diri kita. Dalam arti begini, kalau misalnya kita mempunyai ambisi tetapikita tidak bisa mencapainya ya kita tidak di dalam falsafah 'nerimo' ini berarti meredam sehingga tidak terjadi akibat yang merugikan yang memukul diri kita karena ambisi yang tidak tercapai.
(2 ) GS : Lalu apakah ambisi dengan keinginan seseorang itu beda atau sama?
HE : Ada beberapa hal yang sama dalam arti begini, keinginan itu merupakan suatu dorongan dan dorongan itu ingin mencapai suatu tujuan tertentu. Kalau ada suatu tujuan dorongan atau energi, aka itu merupakan suatu ambisi, seperti itu.
GS : Jadi pada dasarnya sebenarnya ambisi itu sendiri bukan sesuatu yang negatif, cuma masalahnya kalau sudah ekstrim itu tadi yang Pak Heman katakan tadi. Akibatnya apa Pak, kalau seseorang itu sampai berlebihan di dalam ambisinya itu?
HE : Kalau ambisi terlalu besar dan itu tidak sebanding dengan kekuatan ataupun potensi yang seseorang miliki, maka yang akan terjadi biasanya orang tidak bisa melihat lagi realita dengan jeas dan tepat.
Akibatnya tentu bermacam-macam, ada berbagai gejala yang bisa dirasakan misalnya secara garis besar ada gejala fisik yang ditampilkan, ada gejala kejiwaan dan juga perilaku.
GS : Gejala kejiwaan itu seperti apa, Pak?
HE : Dalam gejala kejiwaan seperti tadi bahwa orang ini tidak bisa melihat realita dengan tepat karena itu di dalam gejala kejiwaan, orang ini sering kali hidup di dalam alam yang tidak nyat, yang dikaburkan atau didistorsikan, diselewengkan.
Dan kadang-kadang secara ekstrim orang-orang ini bisa menderita beberapa macam gangguan jiwa.
ET : Mungkin itu seperti ini Pak Heman, misalkan sering kita melihat mungkin film tentang rumah sakit jiwa. Orang-orang yang mungkin merasa dirinya sebagai seorang presiden atau sebagai seorang pemimpin, apakah itu juga memang dampak dari gejala kejiwaan dari ambisi yang terlalu besar itu juga, Pak Heman?
HE : Ada kemungkinan seperti itu.
ET : Lalu tentang tadi Pak Heman sempat singgung juga soal perilaku, kira-kira apa yang bisa nampak nyata dari akibat ini?
HE : Kalau dari perilaku kadang-kadang bisa terjadi seperti ini, ada yang suka omong besar karena dia tidak bisa mencapainya di dalam kenyataan lalu dia ngomong besar. Ada juga yang di dalampersaingan misalnya dia takut kalah bersaing, dia berusaha menghalangi kemajuan orang lain kalau perlu menyingkirkan orang lain.
Ada gejala-gejala mungkin cepat marah, mudah tersinggung, baik di pekerjaan maupun di rumah. Ada yang karena dia berusaha melarikan diri dari kenyataan kemudian misalnya menggunakan obat-obatan berlebihan, suka melamun atau sulit mengendalikan diri di dalam hal pengeluaran karena dia berambisi menjadi orang kaya, ingin seperti orang lain yang mampu lalu tidak bisa lagi mengontrol pengeluarannya. Bahkan misalnya banyak yang berhutang tidak bisa membayar dan sebagainya. Itu gejala-gejala perilaku di mana ambisi itu sangat besar dan tidak bisa dikontrol lagi, melampaui potensi yang kita miliki.
ET : Jadi semuanya itu sepertinya kembali lagi menggambarkan orang-orang ini tidak lagi hidup dalam dunia yang realistis ya, Pak Heman?(HE : Betul).
GS : Tapi itu sebenarnya harus ada semacam pemicunya, ambisi seseorang itu tidak tiba-tiba menjadi besar mungkin tadinya dia cuma biasa-biasa saja. Tapi apakah mungkin lingkungan sekelilingnya atau apa yang mendesak dia sampai kebablasan itu tadi?
HE : Saya kira ambisi ini karena merupakan salah satu energi yang mendorong kita berperilaku, adakalanya energi di dalam kita itu besar dan ini sebetulnya perlu penyaluran yang pas, itu kala dari dalam diri kita.
Faktor dari lingkungan juga cukup banyak, misalnya saja anak-anak yang tumbuh di dalam keluarga yang orang tuanya selalu memacu anak ini untuk mencapai sesuatu hal yang kadang-kadang terasa tidak mungkin. Tetapi karena misalnya kalau anak ini sekali waktu bisa mencapai harapan orang tuanya, orang tuanya menghadiahi berbagai macam. Lalu anak ini akan melakukan usaha-usaha misalnya. Saya kasih contoh anak yang kalau ulangan tidak bisa mencapai angka 8, 9 dan 10, tetapi karena keinginan orang tuanya dan dianggap anak ini baru berharga kalau dia mendapat ulangan yang setinggi ini, maka dia akan misalnya sampai mencontek tanpa ketahuan orang tuanya dan sebagainya. Nah dengan cara demikian anak ini dilatih, dibentuk menjadi orang yang berambisi antara lain juga misalnya dengan dia membual lalu teman-temannya menghargai dia. Dia menjadi terlatih untuk membual dan mempunyai ambisi yang berlebihan seperti itu, ditambah lagi kalau lingkungan kita sekarang ini adalah lingkungan persaingan yang sangat ketat. Dan sering kali persaingan-persaingan ini tidak didasarkan kepada hal yang baik, yang jujur. Kita lihat di mana-mana orang yang hidupnya dengan kerja keras dan sebagainya justru mereka sering kali tidak berhasil secara ekonomi dan sebagainya dan orang kurang dihargai, maka orang-orang yang berambisi untuk menjadi kaya mereka cenderung mencari jalan pintas. Lalu mereka menjadi berlebihan di dalam ambisinya ini, di dalam perilakunya.
GS : Rupanya untuk mencapai atau memuaskan ambisinya itu, dia akan menghalalkan semua cara ya?
HE : Ya kalau tidak terkontrol bisa seperti itu.
(3 ) ET : Masalahnya memang kadang-kadang saya tertarik yang tadi Pak Heman katakan, dari orang tua yang kadang-kadang berambisi yang begitu besar, kemudian mereka harapkan perwujudannya ada anaknya.
Jadi anak-anak dipacu sedemikian rupa untuk memenuhi ambisi orang tuanya, yang akhirnya buat si anak sepertinya yang dia kejar memang bukan buat dirinya sendiri tetapi buat orang tuanya. Akibatnya sering kali saya amati pada anak-anak yang zaman sekarang seperti mereka punya harapan, punya cita-cita yang sebenarnya jauh di atas kemampuan yang mereka miliki. Kira-kira apa dampak yang mungkin terjadi pada anak-anak yang seperti itu, Pak Heman?
HE : Selain dampak yang tadi saya sebutkan, bisa jadi anak ini kemudian memanipulasi dan kemudian melakukan banyak kebohongan. Kemungkinan lain adalah justru sebaliknya anak-anak ini menjadianak yang cenderung mudah patah semangat, karena dia merasa tidak bisa mencapai apa yang ditargetkan oleh lingkungannya kepadanya.
Jadi sebelum bertanding kalah duluan kira-kira seperti itu, mereka bahkan justru bisa menjadi orang yang apatis, yang tidak mau tahu. Kalau didorong oleh orang tua untuk belajar dan sebagainya mereka memberontak. Kalau tidak berani terang-terangan mungkin mereka kelihatannya belajar, tapi sebetulnya melamun dan sebagainya. Jadi bisa ada 2 macam ya, bisa anak ini kemudian karena dipaksa melampaui potensinya dia membual, berbuat seolah-olah dia mampu atau bertingkah laku seolah-olah dia bisa dan yang kedua sebaliknya dia menjadi apatis, menjadi tidak mau tahu.
(4 ) GS : Pak Heman, kalau tadi di awal Pak Heman katakan bahwa hampir semua orang itu punya ambisi, orang-orang yang tergolong normal dan sehat. Nah tentunya ambisi ini bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang positif, nah masalahnya bagaimana memanfaatkan ambisi itu untuk sesuatu yang positif?
HE : Ya ada beberapa hal yang harus kita kendalikan dari ambisi ini supaya bisa mempunyai dampak yang positif. Yang pertama kita perlu peka terhadap batas-batas kemampuan kita sendiri, meman ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.
Tetapi kita perlu melatih diri untuk bisa menilai diri, melihat diri apakah kita lebih atau kurang dari yang sebenarnya. Kalau kita terbiasa melatih, menyesuaikan ambisi kita dengan realita kehidupan kita maka kita bisa lebih wajar di dalam ambisi kita. Kita tidak perlu iri misalnya terhadap orang-orang yang di atas kita, sebaliknya kita juga tidak perlu merasa terlalu bangga kalau kita lebih dari orang lain. Yang kedua kita juga perlu secara tajam bisa menganalisa realitas dengan cara pandang yang benar, kita perlu punya suatu tujuan dan misi yang jelas. Saya beri contoh misalnya di dalam kehidupan Kristus sendiri, Dia mempunyai suatu misi untuk tidak mencari nama bagi diriNya sendiri, tetapi sebaliknya Dia datang justru untuk melayani dan memberikan nyawaNya bagi tebusan banyak orang. Nah saya kira kalau misalnya setiap orang Kristen itu mempunyai tujuan seperti ini, melayani orang lain dan kemudian berkorban bagi orang lain, mengasihi orang lain, menjunjung tinggi bukan namanya sendiri tetapi nama Tuhan, maka Allah dalam hal ini justru akan memuliakan atau meninggikan kita, bahkan Allah akan menghargai kita. Saya kira ini ambisi yang seharusnya dicapai oleh yang dimiliki oleh setiap orang Kristen. Kita lihat misalnya di Filipi 2:9 justru karena Yesus itu tidak merasa perlu mempertahankan kedudukanNya yang istimewa, maka Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama. Yang ketiga kita belajar mencukupkan diri dengan apa yang telah diberikan kepada kita. Kita bersyukur dengan pemberian Tuhan untuk kita. Dan yang keempat kita perlu mengendalikan ambisi karena biasanya hidup kita itu didasarkan pada kedagingan kita. Nah kita perlu menundukkan diri kita kepada hukum Roh dan bukan kepada hukum kedagingan. Dan kita tahu dari Alkitab bahwa hukum roh itu adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Kalau kita mempunyai ambisi dan kita selalu cenderung mempunyai keinginan daging, memuaskan keinginan kita sendiri maka kita harus menundukkan diri kita pada kuasa Roh Kudus, saya kira itu beberapa hal yang terpenting.
GS : Ya tadi Pak Heman memberikan contoh antara lain Tuhan Yesus, kita tahu bahwa Tuhan Yesus itu punya kuasa yang demikian hebat, besar. Tetapi mungkin yang jadi masalah bagi kita orang awam ini justru mengendalikan kekuasaan yang kita miliki, kalau sudah punya kuasa itu kecenderungannya adalah menggunakan kuasa itu untuk memenuhi ambisi kita.
HE : Ya dan itulah yang sering kali membuat orang itu saling sikut, saling bertengkar. Juga di rumah Tuhan, seperti murid-murid Tuhan Yesus yang berebut di sebelah kanan, di sebelah kiri Tuhn Yesus kalau misalnya Dia menjadi Raja dan sebagainya.
Tapi itu semua adalah pandangan-pandangan atau keinginan-keinginan kedagingan kita. Yesus memberikan suatu prinsip yang terbalik, siapa yang menjadi terbesar dia harus menjadi hamba, saya kira tidak mudah tapi ini yang harus kita tuju. Ini yang harusnya menjadi tujuan dari ambisi kita yaitu menjadi hamba yang melayani.
ET : Kalau saya tadi tertarik pada bagian pertama yang Pak Heman katakan, tentang peka terhadap batas kemampuan diri. Jadi memang idealnya kalau seseorang tahu lalu dia bisa dengan dorongan tau ambisi itu mencapai yang terbaik, lalu bagaimana halnya dengan memang orang-orang yang ternyata pengenalan terhadap batas kemampuan ini terlalu rendah, rendah diri seperti itu mungkin.
Bagaimana caranya apabila dalam keadaan seperti itu, tapi dia tetap bisa mempunyai ambisi yang sehat, Pak Heman?
HE : Orang yang rendah diri sering kali memerlukan konfirmasi dari orang lain, jadi tampaknya perlu suatu bantuan dari orang lain yang lebih dewasa untuk menilai orang itu secara pas dan wajr.
Orang yang rendah diri harus belajar menghargai dirinya sendiri, nah supaya dia bisa mempunyai ambisi yang pas sering kali orang yang rendah diri bisa jadi ambisinya itu berfluktuasi begitu. Kadang-kadang terlalu tinggi, kadang-kadang rendah, nah memang kalau di dalam keadaan dia tidak bisa memandang dirinya dengan tepat dan jelas dia perlu bantuan orang lain. Kalau perlu seorang ahli begitu yang membantu dia mengevaluasi dirinya, tapi di lain pihak juga teman-teman yang baik, teman-teman yang cukup matang kerohaniannya sering kali juga bisa membantu memberikan evaluasi dan yang penting juga teman-teman ini tidak boleh segan untuk memberikan teguran selain juga pujian.
ET : Ya, karena saya cukup sering melihat orang-orang yang sebenarnya kalau kita sebagai orang luar melihat dia bisa mencapai lebih, tapi dia merasa sudah segini saja karena dia memang mempuyai penilaian yang memang sudah puas.
Tapi bukan ukuran puas yang tepat dalam arti karena dia melihat kemampuannya serendah itu, dia merasa ambisinya pun cukup sekian sementara kalau kita lihat dia mau punya harapan yang lebih tinggi rasanya dia juga bisa mencapainya begitu.
HE : Ya, betul itu pada akhirnya satu prinsip yang harus kita semua miliki yaitu sebetulnya yang penting bukan seberapa besar potensi kita, seberapa banyak potensi kita tetapi seberapa besaratau seberapa maksimal usaha kita untuk menggali semua potensi yang ada di dalam diri kita.
Jadi artinya kadang-kadang kita tidak perlu bertanya-tanya lagi apa yang saya bisa atau apa yang saya tidak mampu, tetapi kita usahakan supaya semua potensi yang ada dalam diri kita bisa dimaksimalkan. Dalam hal ini Tuhan tidak menghargai terutama kaya atau miskin dan sebagainya, orang yang rendah diri sering kali mendasarkan ambisinya ini kepada potensi-potensi yang secara fisik itu sudah tidak bisa diubah, kaya miskin kemudian cantik kemudian IQ yang tinggi dan sebagainya. Itu sudah tidak bisa diubah, yang bisa dia usahakan adalah dia memaksimalkan supaya dia bisa menggunakan ini semua dengan semaksimal mungkin.
GS : Nah, Pak Heman apakah seseorang itu pada suatu saat bisa memiliki beberapa macam ambisi?
HE : Ya, itu sangat mungkin.
GS : Jadi ingin yang ini dan juga ingin meraih yang lain ya, Pak?
GS : Lalu bagaimana dia mengonsentrasikan dirinya?
HE : Ya, bagaimana mengonsentrasikan dirinya adalah mau tidak mau menentukan prioritas apa yang bisa paling efektif dia lakukan. Dan untuk itu kadang-kadang diperlukan juga trial and error, oba-coba begitu dan sampai pada suatu ketika setiap orang perlu memakai skala prioritas, mana yang paling efektif yang dia lakukan, mana yang paling produktif.
GS : Kalau dia sudah mencapai sesuatu, dia pasti akan terpacu lagi untuk mencapai yang lebih-lebih lagi yang dia inginkan. Bagaimana itu Pak, rasanya tidak ada habis-habisnya?
HE : Betul, dan ambisi seharusnya seperti itu. Masalahnya begini, apa yang ingin kita capai itu jangan terlalu tinggi dari apa yang saat ini kita ada. Jadi artinya begini kadang kita sampai ada tingkat 6 misalnya, ambisi kita atau tujuan kita jangan 10 atau 12 tetapi 7.
Setelah 7 tercapai otomatis kita naikkan lagi target kita sampai 8 dan seterusnya. Dan itu adalah ambisi yang lebih sehat, kalau terlalu tinggi kita akan mengalami frustasi, stres dan berbagai gejala yang tadi kita sudah bahas.
GS : Nah dalam hal ini Pak Heman, dalam hubungannya dengan ambisi yang baru saja kita bahas apakah ada firman Tuhan itu yang bisa dijadikan pegangan selain tadi contoh-contoh yang sudah sebutkan, khususnya untuk para pendengar kita dan kita semua.
HE : Ada satu ayat firman Tuhan yang saya ingin bacakan dan bagikan, ayat firman Tuhan ini terutama berbicara tentang ambisi untuk menjadi lebih dalam hal materi. Dari Ibrani 13:5, "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, karena Allah berfirman Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau,".
Satu lagi dari Filipi 4:6-7 , "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur, damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus."
GS : Ayat-ayat ini saya rasa cukup jelas, khususnya bagi kita semua dan tentunya masalah ambisi itu bukan sesuatu yang buruk. Masalahnya adalah bagaimana mengelola ambisi itu dalam diri kita sehingga menjadi lebih bermanfaat dan bukan malah menghancurkan kita atau menghancurkan orang lain. Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi demikianlah tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Heman Elia, M. Psi. dan juga Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Bagi Anda yang berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilahkan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, tanggapan serta pertanyaan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian anda. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Semua orang punya ambisi hanya kadarnya yang berbeda-beda. Ambisi itu suatu dorongan di dalam diri kita yang membuat kita terpacu untuk mengerjakan sesuatu dengan hasil yang baik dan kita mempunyai tujuan di dalam ambisi itu, apa yang ingin kita capai . Sebenarnya ambisi itu sendiri bukan sesuatu yang negatif, cuma akan jadi bermasalah kalau ambisi tersebut berlebihan dan tidak sebanding dengan kekuatan atau pun potensi yang seseorang miliki. Maka orang tersebut tidak bisa melihat lagi realita dengan jelas dan tepat.
Ada berbagai gejala yang bisa dirasakan apabila ambisi terlalu besar, misalnya secara garis besar :
Gejala fisik yang ditampilkan, berbagai penyakut yang diakibatkan oleh stres, seperti jantung, lambung, liver, sakit kepala yang sulit dijelaskan secara medis.
Gejala kejiwaan, seperti tadi diungkapkan orang tidak bisa melihat realita dengan tepat karena sering kali orang ini hidup dalam alam yang tidak nyata, bisa juga menderita gangguan kejiwaan.
Gejala perilaku, yang nampak nyata dari mereka ini misalnya ada yang suka omong besar, dalam persaingan dia takut bersaing, dia berusaha menghalangi kemajuan orang lain dan kalau perlu menyingkirkan orang lain, cepat marah, gampang tersinggung baik di pekerjaan maupun di rumah, penggunaan obat-obatan berlebihan karena ingin lari dari kenyataan, suka melamun, sulit mengendalikan diri dalam hal pengeluaran karena dia berambisi menjadi orang kaya. Bahkan misalnya banyak yang berhutang tidak bisa bayar dsb.
Ada beberapa hal yang kita harus kendalikan dari ambisi supaya bisa mempunyai dampak yang positif yaitu:
Kita perlu peka terhadap batas-batas kemampuan kita sendiri.
Kita perlu secara tajam menganalisa realitas dengan cara pandang yang benar, kita perlu punya suatu tujuan dan misi yang jelas.
Kita belajar mencukupkan diri dengan apa yang telah diberikan kepada kita, kita bersyukur dengan pemberian Tuhan untuk kita.
Kita perlu mengendalikan ambisi karena biasanya hidup kita itu didasarkan pada kedagingan kita. Dalam hal ini kita perlu menundukkan diri kita kepada hukum Roh dan bukan kepada hukum kedagingan.
Akibat ambisi tidak tercapai adalah kekecewaan dan frustrasi
Munculnya ambisi:
Ada energi yang mendorong untuk berperilaku seperti itu, adakalanya energi di dalam kita itu besar dan sebetulnya perlu penyaluran yang pas.
Faktor lingkungan juga cukup banyak, misalnya anak-anak yang tumbuh di dalam keluarga yang orang tuanya selalu memacu anak untuk mencapai sesuatu hal yang kadang-kadang terasa tidak mungkin.
Dampak yang akan muncul dalam diri anak akibat harus memenuhi ambisi orang tua adalah:
Seperti dikemukakan di atas, dalam diri anak akan juga timbul ambisi yang besar.
Anak juga kemudian memanipulasi dan melakukan banyak kebohongan.
Anak-anak ini menjadi anak yang cenderung mudah patah semangat karena dia merasa tidak bisa mencapai apa yang ditargetkan oleh lingkungan kepadanya.
Ibrani 13:5 , "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, karena Allah berfirman Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau," ini jaminan dari Tuhan.
Filipi 4:6-7 , "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur, damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Rasa bersalah yang tepat bisa kita katakan sebagai rasa bersalah yang realistis, tapi juga ada rasa bersalah yang tidak atau kurang tepat. Akibat kesalahan atau rasa bersalah yang realistis pun bisa juga membawa dampak yang merugikan maupun menguntungkan.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M. Psi. beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang rasa "Rasa Bersalah Orang Tua". Kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1) GS : Pak Heman, kita semua tahu bahwa sebagai orang tua sekalipun kita sudah berusaha dengan baik mendidik anak-anak kita, kita merasakan ada saja yang kurang. Tetapi masalahnya timbul rasa bersalah di dalam diri kita ketika melihat perkembangan anak kita tidak normal Pak Heman, entah dalam tingkah lakunya, sikapnya dan sebagainya kemudian timbul rasa bersalah di dalam diri kita itu, wah ini gara-gara saya anak kita menjadi seperti ini. Nah, sebenarnya Pak Heman apakah rasa bersalah seperti itu salah di dalam diri kita?
HE : Ada rasa bersalah yang memang tepat dan realistis, tetapi juga ada rasa bersalah yang tidak atau kurang tepat. Dan rasa bersalah yang tepat bisa kita katakan sebagai rasa bersalah yang reaistis.
GS : Maksudnya kita bisa mengintrospeksi diri kemudian lain kali kalau mempunyai anak yang lain kita lebih hati-hati, apakah itu yang Bapak maksudkan?
HE : Ya betul Pak Gunawan, tetapi rasa bersalah yang realistis sekalipun, maksudnya yang betul-betul akibat kesalahan kita bisa juga membawa dampak yang merugikan, jadi tidak selalu membuat kit mengubah perilaku dan mengoreksinya tetapi adakalanya justru membawa dampak-dampak yang kurang menguntungkan.
(2) GS : Nah, dampak-dampak yang kurang menguntungkan itu misalnya seperti apa Pak?
HE : Seperti ini Pak Gunawan, kadang-kadang kita itu karena merasa terganggu oleh rasa bersalah, kita kurang memperhatikan anak ketika mereka balita dan itu menyebabkan anak-anak ini kurang memeroleh layanan kesehatan yang memadai, maka akibatnya setelah anak ini tumbuh makin besar anak ini lemah dan setiap kali anak merasa sakit maka kita merasa bersalah.
Nah, di dalam hal ini kalau kita misalnya terus terlalu melindungi anak dari segala macam, anak menjadi tidak boleh keluar, tidak bebas dan setiap kali ke mana-mana harus diantar, diawasi dan sebagainya maka rasa bersalah ini menimbulkan suatu perilaku berlebihan dari kita, menyebabkan kita terlalu melindungi anak. Dan kalau kita tidak hati-hati kita malah akan membuat anak menjadi lumpuh atau semakin tergantung kepada kita.
GS : Kemudian kita sebagai orang tua sebaiknya apa yang kita lakukan kalau timbul rasa bersalah di dalam diri kita?
HE : Salah satunya adalah kita perlu menyadari apakah rasa bersalah ini, kita tentu harus menyadari bahwa ini rasa bersalah dan tindakan kita disebabkan oleh rasa bersalah ini. kemudian kita pu harus mengontrol dan mengukur kadar rasa bersalah ini.
Terutama kita pikirkan apa tujuan dari tindakan kita, apakah tindakan kita ini berlebihan sebagai reaksi terhadap rasa bersalah itu ataukah tindakan kita sebetulnya cukup memadai, bukan sekadar menebus rasa bersalah itu tetapi bagaimana kita tetap melakukan suatu cara untuk mendidik dan memikirkan akan masa depan anak. Sebagai contoh, untuk anak-anak yang sering sakit, kita perlu tetap melatih mereka supaya mereka mempunyai tubuh yang lebih sehat dan bukannya terus-menerus melindungi mereka.
GS : Ada suatu pola atau suatu gaya orang tua untuk menebus kesalahannya terhadap anaknya dengan memberikan materi sebanyak-banyaknya Pak Heman. Jadi mungkin karena orang tuanya itu bekerja terutama ibunya yang merasa bersalah, karena meninggalkan anaknya yang masih balita, lalu setiap kali hampir setiap kali pulang kerja dia selalu membawa oleh-oleh buat anaknya. Sikap seperti itu bagaimana Pak?
HE : Ya kalau misalnya oleh-oleh ini berdampak kepada perilaku anak yang kemudian semakin cengeng dan misalnya kalau anak ini minta sesuatu pasti dituruti oleh ibunya didorong oleh rasa bersala ini, maka nantinya anak ini justru tidak semakin baik, tetapi justru anak ini akan belajar suatu perilaku yang manipulatif.
GS : Ada pula ketika ibunya sedang bekerja anaknya jatuh, nah ibunya ini merasa sangat bersalah sekali, di mana sebenarnya harus ada di samping anaknya ternyata anaknya itu jatuh dan cukup. Nah perasaan bersalah itu positif atau negatif atau bagaimana Pak?
HE : Perasaan bersalah itu positif, perasaan itu sendiri sah dan memang harus ada tetapi yang selanjutnya kita harus kontrol adalah perilaku kita, apa yang kita lakukan terhadap anak untuk mengtasi dampak itu, dampak dari terjatuh tadi.
Yang kita harus lakukan misalnya tindakan-tindakan yang realistis, di dalam arti kita belajar bagaimana mengontrol keadaan sehingga tidak sampai anak itu terjatuh lagi dengan akibat yang fatal, tetapi bukan dengan memanjakan anak secara berlebihan atau melindungi anak secara berlebihan.
GS : Berarti ada sesuatu yang baik atau meningkatkan mutu pendidikan itu sendiri terhadap anak dengan timbulnya rasa bersalah itu Pak?
HE : Betul, ada akibat yang baik asalkan kita bisa meletakkan rasa bersalah ini pada porsi yang seharusnya.
(3) GS : Dan bagaimana kita bisa mengenali rasa bersalah yang timbul dalam diri kita itu Pak?
HE : Ada dua macam rasa bersalah, yang tadi itu adalah rasa bersalah yang realistis. Memang terjadi kesalahan pada diri kita dan akibat dari kesalahan ini membuat anak menderita sesuatu. Di lai pihak ada rasa bersalah yang juga sebetulnya kurang realistis, dalam arti ada anak yang sebenarnya melakukan kesalahan, anak mempunyai perilaku yang tidak matang atau kekanak-kanakan, tetapi bukannya kita mengoreksinya namun sebaliknya kita menanggung kesalahan anak itu.
Mengambil beban tangggung jawab yang seharusnya itu adalah beban anak menjadi beban kita, nah itu adalah rasa bersalah yang kurang realistis. Dan rasa bersalah yang kurang realistis ini akan membuat anak menjadi semakin tidak mandiri dan kalau anak peka akan hal ini, anak bisa mempermainkan rasa bersalah orang tuanya untuk kepentingan anak.
GS : Nah, itu bagaimana menyeimbangkannya supaya memiliki rasa bersalah yang proporsional seperti itu?
HE : Yang harus kita perhatikan pertama-tama adalah agar kita mengetahui, menyadari apa yang seharusnya sudah bisa dan apa yang sudah mulai menjadi beban tanggung jawab anak, dan mana yang tangung jawab kita sebagai orang tua.
Kadang-kadang misalnya anak itu menangis ketika kita tidak mampu membelikan mainan yang mahal, nah di dalam hal ini kadang-kadang orang tua merasa bersalah karena mereka tidak mempunyai penghasilan yang besar dan tidak bisa mengusahakan mainan-mainan yang mahal. Nah ini adalah rasa bersalah yang kurang realistis kenapa? Karena itu sesuatu yang tidak bisa diusahakan oleh orang tua, itu keterbatasan orang tua yang tidak bisa dihindari. Di samping itu kalau misalnya kita memberikan semua yang diminta oleh anak, mainan-mainan yang mahal dan sebagainya maka kita kehilangan suatu tujuan di dalam kita mendidik anak yaitu membuat mereka semakin bisa mengontrol diri dan semakin matang. Di dalam hal ini misalnya anak yang meminta mainan yang mahal dan sebagainya, seharusnya anak itu diajarkan untuk mengontrol diri dan mengurangi rasa frustrasinya sendiri ketika permintaannya itu tidak dipenuhi. Jadi di sini adalah adanya rasa tanggung jawab anak yaitu anak tidak boleh misalnya di dalam rasa frustrasinya itu meluapkan perasaan frustrasinya dengan cara yang tidak baik misalnya dengan marah-marah, dengan ngambek, dengan perilaku ngadat dan sebagainya.
GS : Itu berarti harus diajarkan kepada anak itu secara bertahap Pak, tidak mungkin sekaligus kita bisa menjelaskan kepada anak tentang hal itu?
HE : Betul sekali, ini memang menjadi sesuatu yang harus membuat orang tua peka. Jadi pertama memang tahapan-tahapan itu dan tahapan-tahapan itu sebetulnya menyangkut hal yang kedua yaitu bagaiana kita membedakan antara apa yang sungguh-sungguh menjadi kebutuhan anak dan yang seharusnya kita penuhi dan mana sebetulnya keinginannya yang didasarkan pada ketidakmatangannya.
Ini harus kita bedakan betul-betul dan ini memang terlalu mudah untuk membedakannya.
GS : Katakan kita sudah bisa membedakan itu, langkah selanjutnya apa Pak?
HE : Langkah selanjutnya adalah kita meletakkan proporsi tanggung jawab itu kepada diri anak-anak kita dan kepada diri kita. Saya berikan contoh demikian misalnya anak tidak mau belajar, kadangkadang anak itu perlu mengalami konsekuensi-konsekuensi dari tindakannya, misalnya kemudian anak mendapat nilai jelek dan sebagainya.
Nah, kalau misalnya orang tua selalu berusaha supaya anak itu belajar, anak itu menyelesaikan PR-nya, orang tua selalu mengerjakan PR bagi anak-anaknya ini berarti membuat anak tidak merasa bertanggung jawab. Dan ketika orang tua tidak sempat untuk mengajar anak-anaknya atau membuatkan PR, anak-anak akan menyalahkan orang tuanya sehingga beban ini terbalik yang seharusnya rasa bersalah ini ada pada anak, ternyata menjadi beban orang tuanya dan ini tidak mendewasakan anak-anak. Jadi langkah selanjutnya adalah meminta anak juga bertanggung jawab atas kesalahan-kesalahannya sendiri.
GS : Tetapi kalau dari hasil evaluasi itu ternyata justru kita yang memang betul-betul bersalah, apa yang harus kita lakukan Pak?
PG : Ada beberapa hal, pertama kita harus menyadari bahwa itu adalah kesalahan kita dan kalau kita merasa mempunyai rasa bersalah yang berlebihan kita harus menyadarinya. Dan kemudian yang selajutnya adalah kita perlu menyadari pula bahwa setiap orang tua itu pernah mempunyai rasa bersalah.
Jadi setiap orang tua itu pernah melakukan kesalahan-kesalahan, yang penting di sini adalah bukan kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan itu, tetapi bagaimana kita bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada. Kalau misalnya kesalahan-kesalahan yang ada sudah sulit dikoreksi, maka kita juga perlu mengalihkannya. Jadi misalnya begini kadang-kadang kita semua orang tua melakukan kesalahan dan kita tahu orang tua kita juga melakukan kesalahan, tetapi kita mempunyai kesan bahwa orang tua kita itu sering kali adalah orang tua yang meskipun tidak sempurna tapi mereka memberikan kesan yang baik. Karena kita tahu mereka mempunyai tujuan yang baik dalam mendidik anak-anaknya. Demikian juga kalau kita mendidik anak kita, kita perlu memberi kesan-kesan khusus, dalam hal ini misalnya orang tua bisa menciptakan kenangan-kenangan yang indah bersama anak-anaknya. Beberapa hal yang bisa dilakukan dalam kenangan yang indah ini, misalnya saja orang tua bisa menyediakan waktu secara khusus yang berharga, menciptakan moment-moment indah bersama anak seperti misalnya bercerita tentang masa kecil anak yang lucu kemudian bercengkrama bersama mereka, bepergian ke alam bebas hanya bersama dengan keluarga saja dan kemudian di dalam perjalanan itu kita saling bercerita, membagi cerita dan kemudian juga merenungkan kebesaran Tuhan, berdoa, membaca Alkitab bersama, bernyanyi bersama anak dan sebagainya. Banyak sekali moment yang kita bisa ciptakan dan kalau moment-moment ini cukup banyak maka anak sering kali tidak membebankan kesalahan-kesalahan semata-mata kepada orang tua, tetapi bisa mengingat bahwa hubungan orang tuanya sebetulnya lebih banyak indahnya, lebih mengesankan hal-hal yang indah itu.
GS : Nah, moment-moment seperti itu justru sering kali itu membuat anak banyak bertanya tentang kehidupan kita, termasuk kelemahan dan kekurangan kita, lalu kita harus bersikap bagaimana kalau demikian?
HE : Adakalanya kita boleh membuka sedikit kelemahan-kelemahan kita dan kegagalan-kegagalan kita. Percuma kita menyangkali kegagalan dan kelemahan ini, karena itu akan semakin membuat anak misanya merasa pahit, merasa marah terhadap diri kita jadi kita akui saja kita katakan bahwa memang kadang-kadang orang tua melakukan kesalahan dan kadang-kadang kita perlu juga meminta maaf kepada anak-anak.
Dan dengan cara ini sebetulnya kita juga mendidik anak-anak untuk mengakui kesalahan mereka dan kemudian meminta maaf atas kesalahan mereka. Dengan demikian, rasa bersalah kita juga bisa dikontrol dengan lebih baik, kalau tidak kita akan selalu terombang-ambing antara dua ekstrim. Antara memanjakan dan terlalu ketat dan seterusnya.
GS : Ya sering kali Pak Heman kita sebagai orang tua kalau sudah ketemu kadang-kadang yang dibicarakan adalah anak-anak kita. Dan kadang-kadang juga masih tercetus atau terungkap rasa bersalah itu dalam pembicaraan kita dengan sesama orang tua, sebenarnya dampaknya itu bagaimana Pak?
HE : Saya kira itu cukup baik karena di dalam kita bicara-bicara, berbagi dengan sesama orang tua, di situ kita belajar, belajar dari kesalahan diri kita sendiri, belajar dari kesalahan orang lin, belajar bagaimana mengatasi kesalahan-kesalahan itu dan kita akan merasakan o.....ternyata
bukan saya sendiri yang melakukan kesalahan seperti ini, orang tua lain juga melakukan kesalahan seperti ini. Dan juga kadang-kadang kita beroleh penghiburan dari sana, ternyata ada kesalahan-kesalahan yang sebetulnya tidak harus menjadikan anak itu besarnya menjadi tidak seperti yang kita inginkan. Adakalanya kesalahan-kesalahan yang seperti itu justru akan membuat anak tumbuh menjadi lebih dewasa, misalnya begitu. Nah, dengan berbagi rasa bersalah kita juga akan lebih bisa dikontrol, nah ini hal yang baik juga.
GS : Ya itu supaya tidak menimbulkan kesan kita menjelek-jelekkan diri kita sendiri atau anak kita. Sampai sejauh mana kita bisa mengungkapkan hal itu kepada teman kita?
HE : Saya kira perlu kita ketahui juga mengenai lawan bicara kita, jadi kalau dua orang tua itu semakin saling terbuka sebetulnya kedua orang tua ini atau kedua belah pihak yang sedang berbicar ini semakin mau mengakui kesalahannya masing-masing, dengan demikian ada saling menerima.
Jadi di dalam hal ini tidak akan terlihat lagi saling menjelek-jelekkan, tetapi justru ada perasaan bahwa kita sedang mengakui kelemahan kita masing-masing.
GS : Pak Heman, kalau kesalahan yang kita buat itu berdampak sangat negatif terhadap anak kita, sehingga seolah-olah tidak bisa lagi diperbaiki, apa tindakan kita selanjutnya Pak?
HE : Kadang-kadang ada situasi yang sangat sulit di mana kita terlambat melakukan koreksi atas kesalahan kita. Dan kadang-kadang kita harus membayarnya dengan harga yang mahal, misalnya anak yag dulunya pernah menyaksikan ayahnya memukul ibunya, mungkin ayah ini memerlukan waktu yang panjang untuk memulihkan hubungan dengan anaknya.
Nah, di dalam hal ini ada satu prinsip yang boleh kita pegang yaitu usahakan supaya diri kita menjadi orang tua yang maksimal, dan kita berhenti berusaha menjadi orang tua yang sempurna. Karena kita tidak akan menjadi orang tua yang sempurna, sambil kita juga mengoreksi semaksimal mungkin apa yang masih tersisa sampai kita perlu terus berdoa bagi anak-anak kita supaya mereka tetap mempunyai masa depan yang baik.
GS : Jadi ada suatu perbedaan yang jelas antara rasa bersalah yang realistis dan rasa bersalah yang kurang realistis. Mungkin Pak Heman bisa menyimpulkan lagi, sebelum kita mengakhiri perbincangan ini.
HE : Jadi letak rasa bersalah yang realistis dengan yang tidak realistis itu terletak pada tanggung jawab yang proporsional atas suatu kesalahan. Bila kesalahan itu dibuat oleh orang tua dan orng tua merasa bersalah ini adalah rasa bersalah yang realistis.
Sebaliknya, bisa kesalahan itu dibuat oleh anak dan orang tua tidak berani mengoreksinya karena merasa bahwa itu adalah dampak dari perbuatan orang tua itu sendiri, berarti itu rasa bersalah yang tidak realistis, nah ini kesimpulannya.
GS : Dan apakah ada firman Tuhan yang mendukung prinsip itu Pak?
HE : Saya ingin bacakan dari ayat-ayat yang indah yang ditulis oleh raja Daud beberapa saat setelah dia jatuh ke dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba dan kemudian dia menuliskan sebuah doa di alam Mazmur 51:14-15 (Disebutkan ayat 12 dan 13) dikatakan demikian : "Bangkitkanlah kembali kepadaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu."
Di sini sebetulnya Daud melakukan kesalahan yang sangat mendalam, sehingga dia berteriak kepada Tuhan di dalam kedukaannya, tetapi dia tidak berhenti sampai di situ, dia minta kepada Tuhan supaya membangkitkan kembali kegirangannya karena selamat yang dari pada Tuhan. Dan juga Daud tetap melanjutkan pekerjaannya antara lain mengajarkan jalan Tuhan kepada orang-orang, di dalam pembicaraan kita adalah anak-anak kita yang akan kita didik ketika mereka melakukan pelanggaran. Jadi kalau kita mempunyai rasa bersalah tidak dengan sendirinya kita harus berhenti di dalam mengajarkan anak-anak kita, justru kita harus bangkit kembali dan melakukan tugas mendidik anak-anak kita.
GS : Ya jadi dengan demikian saya percaya ini menjadi suatu pengharapan yang besar bahwa karena kelemahan dan dosa-dosa kita itu juga dalam mendidik anak itu tetap ada pengampunan, tetap ada jalan keluar di dalam Yesus Kristus sebagai Juru Selamat kita. Terima kasih banyak Pak Heman untuk perbincangan kita kali ini. Dan saudara-saudara pendengar, terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami bersama Bp. Heman Elia, M.Psi. dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Rasa Bersalah Orang Tua". Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Anda dapat juga menggunakan fasilitas e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio, kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Dalam mendidik anak, kita selalu menghadapi rasa bersalah ketika terjadi sesuatu pada anak kita. Apakah rasa bersalah ini ada manfaatnya atau justru merugikan ketika kita menghadapi anak?
Rasa bersalah akan membawa manfaat dan dapat pula merugikan. Secara kasar rasa bersalah dapat dibagi menjadi dua. Pertama, rasa bersalah realistis, dan kedua rasa bersalah yang tidak realitstis. Kedua jenis rasa bersalah ini dapat membawa kita memperlakukan anak secara baik, ataupun sebaliknya, kurang sesuai dengan prinsip mendidik yang baik dan sehat.
Yang perlu kita lakukan kalau timbul rasa bersalah dalam diri kita:
Kita perlu menyadari apakah rasa bersalah ini, kita harus menyadari bahwa ini rasa bersalahdan tindakan kita disebabkan oleh rasa bersalah ini.
Lalu kita harus mengontrol dan mengukur kadar rasa bersalah ini. Terutama kita pikirkan apa tujuan dari tindakan kita, apakah tindakan kita ini berlebihan sebagai reaksi terhadap rasa bersalah itu ataukah tindakan kita sebetulnya cukup memadai, bukan sekadar menebus rasa bersalah tetapi bagaimana kita tetap melakukan suatu cara untuk mendidik dan memikirkan akan masa depan anak.
Ada dua cara mengenali rasa bersalah yang timbul dalam diri kita yaitu:
Rasa bersalah yang realistis. Jadi memang terjadi kesalahan pada diri kita dan akibat dari kesalahan ini membuat anak menderita sesuatu.
Rasa bersalah yang kurang realistis. Dalam arti ada anak yang melakukan kesalahan, tapi kita tidak mengoreksinya tapi justru kita menanggung kesalahan anak atau mengambil beban tanggung jawab yang seharusnya itu adalah beban anak. Rasa bersalah ini akan membuat anak menjadi semakin tidak mandiri dan kalau anak peka, anak bisa mempermainkan rasa bersalahnya orangtua untuk kepentingan anak.
Bagaimana supaya rasa bersalah itu seimbang atau proporsional yaitu:
Kita harus menyadari apa yang seharusnya mulai menjadi beban tanggung jawab anak dan mana yang menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua.
Membedakan antara apa yang sungguh-sungguh menjadi kebutuhan anak dan yang seharusnya kita penuhi dan mana sebetulnya keinginannya yang didasarkan pada ketidakmatangan.
Meminta anak bertanggung jawab atas kesalahan-kesalahannya sendiri. Contoh, anak tidak mau belajar, kadang-kadang anak perlu mengalami konsekuensi-konsekuensi dari tindakannya, misalnya kemudian anak mendapat nilai jelek.
Jadi letak rasa bersalah yang realistis dengan yang tidak realistis itu terletak pada tanggung jawab yang proporsional atas suatu kesalahan. Bila kesalahan itu dibuat oleh orang tua dan orang tua merasa bersalah ini adalah rasa bersalah yang realistis. Sebaliknya bisa kesalahan itu dibuat oleh anak dan orang tua tidak berani mengoreksinya karena merasa bahwa itu adalah dampak dari perbuatan orang tua itu sendiri, berarti itu rasa bersalah yang tidak realistis.
Mazmur 51:14-15 , "Bangkitkanlah kembali kepadaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu."
Jadi kalau kita mempunyai rasa bersalah, tidak dengan sendirinya kita harus berhenti di dalam mengajarkan anak-anak kita, justru kita harus bangkit kembali dan melakukan tugas mendidik anak-anak kita.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Salah satu kriteria orang tua otoriter adalah seberapa banyak kita mengekang anak dan tidak membiarkan mereka memiliki ruang geraknya sendiri. Orang tua yang otoriter tidak mengijinkan anak mempunyai pendapat sendiri, memiliki minat yang berbeda, atau melakukan sesuatu yang berbeda. Anak memerlukan ruang untuk bergerak, agar ia terlatih untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di manapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M. Psi. beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini kami beri judul "Orang Tua Otoriter." Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Heman, istilah otoriter itu memang sering kita dengar, tapi selama ini biasanya itu dikaitkan dengan pemerintahan, dengan sistem di kemiliteran dan sebagainya. Nah ini kalau dikaitkan dengan hubungan orang tua dan anak, otoriter itu artinya apa Pak?
HE : Nah kalau kita mau melihat apakah orang tua itu otoriter atau tidak kita bisa mengukurnya dari orang tua itu sendiri. Yaitu seberapa banyak orang tua melakukan tindakan mengekang anak dan idak membiarkan anak-anak memiliki ruang geraknya sendiri.
Jadi orang tua yang otoriter tidak mengizinkan anaknya mempunyai pendapat sendiri, mempunyai minat yang berbeda atau melakukan sesuatu yang berbeda. Anak-anak selalu berada di dalam tekanan terus-menerus untuk bertindak bahkan juga untuk berpikir sesuai dengan keinginan orang tua.
GS : Sering kali kita orang awam menyebut itu orang tua keras sekali.
HE : Ya, bisa kadang-kadang dalam istilah sehari-hari kita katakan bahwa itu orang tua yang keras sekali tapi sebetulnya itu tindakan yang otoriter.
GS : Apakah ada yang berbalikan dengan itu yang berbalikan 180° dengan orang tua yang otoriter ini, orang tua apa Pak?
HE : Orang tua yang permisif atau dikatakan dengan istilah kadang-kadang disebut Laissez-faire. Jadi orang tua yang membiarkan anaknya, tidak melakukan tindakan apa-apa untuk anak-anaknya.
GS : Jadi otoriter ini dinyatakan atau bisa kita lihat lewat tindakan orang tua itu Pak?
HE : Lewat tindakan orang tua.
GS : Nah, tapi kita sebagai orang tua itu tentunya menghendaki anak-anak kita itu nanti menjadi orang yang baik, sehingga sebagian besar orang tua memang mempunyai prinsip saya harus mendidik anak saya itu untuk menurut pada saya. Bukankah saya lebih tua, saya lebih pengalaman, saya lebih banyak tahu, begitu Pak Heman?
HE : Ya itu betul, prinsip itu betul tetapi pada saat prinsip itu diterapkan kita harus sungguh-sungguh memikirkan beberapa hal supaya kita tidak bertindak otoriter atau semena-mena. Jadi untukmembedakan mana yang otoriter dan mana yang tidak otoriter itu memang dibutuhkan kepekaan yang ekstra dari orang tua atas dirinya sendiri.
Kalau kita bisa memikirkan misalnya apa yang dipikirkan pada anak selagi kita melakukan hal ini, melarang ini, melarang itu, apa yang mereka rasakan setiap kali kita berkomunikasi dengan mereka maka kita akan mulai memiliki kepekaan ini. Kepekaan apakah saya sedang melakukan sesuatu yang otoriter atau tidak. Jadi kalau misalnya anak selalu kita salahkan, apapun yang mereka lakukan kita marahi, jadi mereka sering kali menjadi ragu-ragu tidak bisa begini, tidak bisa begitu akhirnya mereka menjadi apatis atau memberontak habis-habisan (sebaliknya dari apatis), nah ada kemungkinan di sana kita sudah bertindak otoriter.
GS : Kalau begitu berarti orang tua ini perlu ada suatu kedekatan tertentu dengan anak-anaknya Pak?
HE : Betul, kalau misalnya anak-anak ini selalu menjauh dari orang tua dan tidak merasa nyaman berdekatan dengan orang tuanya, nah di situ ada kemungkinan orang tua sudah bertindak otoriter.
GS : Jadi kalau orang tua itu terlalu menekankan disiplinnya tetapi kedekatannya sangat rendah dengan anak-anaknya, itu bisa menjadi orang tua yang otoriter begitu Pak?
HE : Ya betul, tetapi masalahnya adalah kapan kita tahu bahwa kita itu sudah memaksakan kehendak diri kita sendiri.
GS : Padahal kita, dalam hati kecil kita itu tentu bermaksud mendidik mereka supaya nantinya menjadi baik, Pak?
HE : Ya ukurannya adalah bagaimana kita masih menyediakan ruang gerak bagi mereka, sebisa mungkin kalau misalnya itu tidak membahayakan diri anak-anak itu. Kita juga harus memikirkan bahwa serig kali kita melarang ini dan melarang itu, sebetulnya itu lebih beralasan untuk memuaskan keinginan kita, ambisi kita, tujuan-tujuan kita sendiri dan kita kurang memikirkan bahwa ini sebetulnya hanya masalah perbedaan antara anak dengan orang tua.
Perbedaan gaya, perbedaan cara berpikir, perbedaan situasi, latar belakang, suasana sosial sekarang ini dsb. Nah itu yang harus kita pikirkan, kalau kita memang lebih mudah untuk melarang semua hal tetapi masalahnya adalah bahwa anak kemudian tidak bertumbuh sesuai dengan irama mereka sendiri, perkembangan mereka sendiri dan akhirnya mereka menjadi lumpuh secara sosial, mereka tidak berani mengambil keputusan sendiri. Bahkan mereka menjadi orang yang tidak berani bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Nah ini kerugiannya kalau kita sebagai orang tua bertindak otoriter.
GS : Pak Heman, sering kali memang yang sulit itu adalah bagaimana kita menempatkan diri kita pada diri anak itu, makanya kita lebih gampang menuntut supaya anak itu yang menempatkan dirinya pada diri kita, Pak?
HE : Ya betul, ini kesimpulan yang baik sekali, saya kira inilah masalah dari orang tua sering kali kita tidak bisa membayangkan kita sebagai anak. Memang ini karena sebagian kita itu sudah jau dari kehidupan anak, kita sudah melewati masa anak-anak sudah sekian lama dan kita mungkin akhirnya meniru pola orang tua kita mendidik kita.
Lalu daripada kita susah-susah sudah begini saja dan kita memaksakan kehendak kita pada anak-anak. Padahal mungkin belum tentu itu hal yang cocok atau pas buat anak-anak.
GS : Kita memakaikan baju kita kepada anak pasti tidak cocok Pak, kalau sikap otoriter orang tua ini berkelanjutan, apakah dampaknya terhadap kehidupan anak-anak, Pak Heman?
HE : Ada dua kemungkinan yang ekstrim, memang ini masih bergantung pada masing-masing anak. Kadang-kadang kita juga bisa mendapati anak-anak yang rasanya masih bisa bertumbuh dengan wajar, tetai dalam keadaan yang normal ada dua kemungkinan yaitu yang pertama anak itu menjadi apatis atau pasif.
Karena segala sesuatu sudah dikerjakan oleh orang tua, dan orang tua yang selalu benar dan anak selalu salah sehingga anak-anak tidak berani melakukan apa-apa dan akibatnya dia juga tidak berani untuk mengambil keputusan, pasif, apatis. Nah di lain pihak ada anak-anak yang lebih berani, pada anak-anak yang lebih berani mereka akan melawan habis-habisan, memberontak. Kenapa habis-habisan? Karena ketika mereka melawan menunjukkan tanda-tanda pemberontakan, baru tanda saja itu sudah ditekan habis oleh orang tua. Mereka tidak boleh berbeda dengan orang tua dan semakin ditekan anak-anak ini semakin memberontak, nah ini dua hal yang kemungkinannya bisa terjadi.
GS : Pak Heman, kadang-kadang kita itu memang sudah menghindari untuk tidak bertindak otoriter, tetapi ada waktu-waktu tertentu kita itu secara jelas melihat anak kita itu sedang menuju sesuatu yang berbahaya Pak, yang bisa merugikan dia, nah apakah dalam waktu atau kondisi seperti itu kita tidak boleh bertindak otoriter?
HE : Ini pertanyaan yang baik sekali, dan memang saya kira kita juga harus bijak, kita harus berhikmat. Jadi adakalanya itu terjadi, kita harus mengambi tindakan yang otoriter. Tetapi mengambiltindakan yang otoriter bukan berarti kita sepanjang waktu bersikap otoriter kepada anak.
Nah ada keadaan-keadaan darurat yang kita sudah tahu pasti bahayanya tetapi anak-anak tidak tahu dan karena mendesaknya waktu, kita tidak sempat lagi memberikan anak pilihan-pilihan ataupun kita berdiskusi, berdialog dengan mereka. Dan saya kira pemimpin manapun juga termasuk orang tua sebagai pemimpin tentu pernah melakukan tindakan atau keputusan sepihak tanpa persetujuan bawahannya yaitu terutama dalam situasi darurat, situasi perang misalnya. Tindakan seperti ini seolah-olah seperti suatu tindakan pembedahan untuk mengobati penyakit. Nah keadaan darurat itu seperti misalnya kalau kita melihat anak itu memanjat ke atas gedung atau dia lari ke jalan raya yang ramai atau dalam keadaan tertentu karena keadaannya yang parah anak harus dipaksa ke dokter atau anak-anak yang masih terlalu muda dan mereka belum bisa mengatur waktu belajarnya sendiri. Nah di sini kita harus mengambil tindakan yang tegas juga tanpa memberikan pilihan kepada mereka.
GS : Tetapi kalau memungkinkan kita masih bisa memberikan pilihan kepada anak atau anak-anak kita?
HE : Sejauh mungkin, sebisa mungkin kita harus memberikan pilihan kepada mereka meskipun pilihan-pilihan ini tetap kita batasi juga.
GS : Itu contoh konkretnya bagaimana?
HE : Misalnya nah ini sekali lagi juga saya tekankan bahwa memberikan pilihan itu jangan pilihan yang kita tidak bisa tolerir jadi di dalam batas-batas yang kita bisa izinkan jadi misalnya di dlam hal belajar.
Kalau kita melihat bahwa ada gaya-gaya belajar tertentu pada anak dan kita ingin mengajarkan kemandirian kepada mereka, kita bisa tawarkan kepada mereka apakah mereka mau belajar sendiri atau mereka mau belajar dengan kita. Tentu saja kita harus juga memberitahukan konsekuensinya, apa konsekuensinya kalau mereka belajar sendiri, apa konsekuensinya kalau belajar dengan kita. Kalau kita mau mengontrol belajar mereka karena mereka belum bisa menguasai diri kita juga perlu memberitahukan hal ini. Dan kemudian dalam hal makanan, misalnya mereka sekarang belum boleh makan makanan gorengan, nah kita bisa tawarkan kepada mereka apa yang boleh mereka makan. Misalnya kamu hari ini mau pilih makan apa? Mau makan soto atau mie kuah dsb. begitu sejauh yang kita bisa izinkan. Kalau kita mau memberikan mereka kursus, kita tawarkan kepada mereka, mereka mau kursus ini atau kursus itu dan juga kemudian sekalian konsekuensinya seperti itu.
GS : Menyinggung makanan, biasanya anak kalau sudah senang dengan satu jenis makanan dia akan memilih makanan itu terus, Pak. Misalnya dia memang senang soto, dan setiap kali ditanya mintanya soto terus. Padahal kita sebagai orang tua tahu bahwa dia membutuhkan makanan yang bervariasi supaya tumbuh dengan baik.
HE : Ya betul, tetapi adakalanya kita perlu memberikan kesempatan kepada mereka juga untuk berlaku berbeda. Sampai pada suatu titik, ketika melihat bahwa ini sudah berlebihan kita tawarkan lagipilihan-pilihan yang lain dan kalau misalnya anak tidak mau mengikuti pilihan ini artinya memperkaya gizi mereka, menyeimbangkan makanan mereka maka kita boleh melakukan tindakan untuk mengarahkan secara lebih tegas lagi.
Tapi sejauh mungkin di mana kita bisa memberikan pilihan, kita berikan pilihan.
GS : Ada beberapa orang tua itu yang bersikap membiarkan anaknya memilih agamanya sendiri. Nah kita percaya imannya sendiri itu boleh dipilih sendiri, itu menurut Pak Heman bagaimana?
HE : Kalau menurut saya ini soal iman, soal yang lain. Soal iman kita perlu membimbing mereka sejak mereka muda. Ini pertanyaan yang baik sekali karena ada hal-hal tertentu termasuk soal agama tu kita tidak boleh memberikan pilihan kepada anak sebelum waktunya karena mereka belum tahu, mereka belum bisa mengambil pilihan.
Jadi ketika anak yang masih muda misalnya selain keadaan darurat tadi ada anak-anak yang masih terlalu muda itu belum bisa memilih, karena dia belum tahu dan kita harus memilihkan untuk mereka. Dan pada saatnya nantilah ketika anak itu sudah tahu mana yang baik, mana yang tidak baik barulah kita berikan kesempatan pilihan yang lebih banyak kepada mereka.
GS : Justru itu alasan orang tua selalu mengatakan daripada nanti anaknya bingung, sekarang ini saya tidak mendidik agama tertentu kepada anak saya, biar nanti kalau katakanlah remaja atau pemuda dia memilih sendiri begitu Pak.
HE : Nah ini saya kurang setuju, karena firman Tuhan mengajarkan bahwa kita harus mendidik anak-anak kita di dalam rasa takut akan Tuhan. Dan rasa takut akan Tuhan itu apa, ya sesuai dengan ima kita kepada Tuhan, Tuhan itu seperti apa dan sebagainya.
Ini kita harus membimbing mereka sejak mereka masih muda, kalau tidak demikian, kalau tidak ada bimbingan maka kemungkinan anak-anak itu tersesat sangat-sangat besar.
GS : Pak Heman, kalau ada sebagian anak di mana boleh memilih dan sebagian lagi kita yang menentukan apakah hal itu tidak membingungkan anak?
HE : Tidak membingungkan anak, saya kira asal orang tua itu tegas, artinya begini tegas itu bukan berarti otoriter tetapi ia mengambil peran sebagai seorang pemimpin. Jadi pemimpin itu selalu mngarahkan dan ada hal-hal yang secara konsisten kita membuat pilihan-pilihan.
Ada hal-hal yang kita katakan kepada anak bahwa belum saatnya mereka boleh memilih sendiri seperti itu.
GS : Berarti pilihan-pilihan itu juga ditentukan oleh usia anak itu yang harus kita pertimbangkan Pak?
HE : Ya tepat sekali Pak Gunawan, jadi usia ini mengambil peran penting ketika kita harus melakukan tindakan tertentu, jadi artinya begini ketika anak-anak pada usia yang dini memang gaya mendiik kita adalah gaya mendidik yang lebih cenderung ke arah otoriter, mengingat bahwa anak-anak pada usia dini belum mempunyai bekal untuk memilih.
Dan semakin besar, anak itu perlu dididik secara demokratis, lebih banyak dijelaskan, mendapatkan penjelasan bukan "Pokoknya kamu harus begini!" tidak. Tetapi diajak diskusi dsb, dan sampai pada saat remaja anak seharusnya semakin memperoleh kebebasan untuk memilih, mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Jadi kita harus menyelesaikan banyak dasar-dasar penanaman moral yang baik, kebiasaan yang baik itu sesaat sebelum anak menginjak masa remaja.
GS : Ya memang berdasarkan pengalaman seperti itu Pak Heman, jadi waktu anak-anak kita masih kecil kita berikan pengarahan atau dasar-dasarnya itu sudah cukup baik, kalau remaja-pemuda kita agak berikan pilihan dan tentu dia akan memilih yang biasa dia terima sejak kecilnya Pak?
HE : Ya, betul, jadi kita sebagai orang tua juga tidak ingin anak-anak kita besoknya hidup menyimpang sekali dari jalan Tuhan.
GS : Jadi berarti otoritas kita itu sebenarnya dibutuhkan ketika anak masih kecil Pak ya?
HE : Ya, otoritas kita maksudnya pemaksaan-pemaksaan kita, itu lebih dibutuhkan pada saat anak-anak masih kecil.
GS : Sehingga ketika nanti beranjak dewasa, pemuda, remaja dia sudah terpola dengan pola pikir kita juga, begitu Pak?
HE : Betul, dan ada satu tambahan Pak Gunawan, sehubungan dengan tadi, bahwa anak-anak usia muda kita lebih bertindak otoriter, tetapi tetap kita tidak boleh melupakan akan tahapan perkembanganmereka.
Jadi kita tetap harus membayangkan mereka yang masih muda, yang tidak terlalu bisa banyak konsentrasi, mereka yang perlu lebih banyak bergerak, mereka yang lebih sering menangis dsb. ini perlu kita tolerir.
GS : Pak Heman, sekalipun anak-anak kita itu sudah remaja atau pemuda, kadang-kadang mau tidak mau kita sebagai orang tua itu sekali-sekali bertindak otoriter itu Pak, apakah hal itu berdampak negatif kepada anak yang sudah remaja atau pemuda itu?
HE : Saya kira tidak, selama kita bisa menjelaskan kenapa begitu terutama pada anak-anak remaja yang hidupnya masih bergantung penuh kepada kita. Kita katakan bahwa selama anak-anak ini hidup d rumah kita maka mereka harus juga mendengarkan, menaati kita.
Dan ini juga sesuai dengan prinsip Alkitab bahwa anak-anak harus menaati orang tuanya di dalam Tuhan.
GS : Ya tetapi itu memang masa-masa pemberontakan di dalam diri pemuda-remaja itu kadang-kadang sulit Pak Heman bisa diatasi oleh orang tua. Saya mengenal sekali ada orang tua yang sejak kecil sebenarnya sudah mengajarkan kepada anaknya ini untuk sungguh mengasihi Tuhan dalam iman yang benar. Tetapi karena pengaruh lingkungannya ternyata anak ini memilih suatu ajaran yang campur baur tidak karu-karuan, sehingga orang tuanya itu menjadi sangat sulit sekali mengendalikan anak ini, mau dipaksa pun sulit karena dia sudah beranjak ke dewasa.
HE : Ini kasus yang baik juga, jadi sebetulnya kalau kita sudah memberikan, menanamkan ajaran-ajaran moral kemudian kerohanian yang baik kepada anak, maka ada kemungkinan memang anak di dalam msa untuk sementara waktu seolah-olah menyimpang.
Tetapi kalau memang dasarnya sudah baik, dia tidak akan tahan lama-lama menyimpang di jalan itu, dia akan kembali lagi ke jalan yang semula. Kebanyakan seperti itu.
GS : Itu memang menjadi harapan orang tuanya dan harapan kita semua Pak, suatu saat bisa melihat dia kembali bahkan sungguh-sungguh menyadari akan kesalahannya dan sekarang sungguh-sungguh menekuni apa yang benar.
HE : Betul, dan di sini doa mengambil peran penting, jadi saya percaya kalau orang tua berdoa, doa itu besar kuasanya.
GS : Ya semua percaya akan hal itu, nah Pak Heman kalau otoriter itu memang banyak segi yang negatifnya, seharusnya kita itu harus bertindak bagaimana itu sebagai orangtua itu, Pak?
HE : Kalau bisa kita lebih banyak bertindak demokratis, demokratis itu berarti memberikan ruang gerak kepada anak untuk berbeda dengan orang tuanya. Kadang-kadang di dalam hal yang kecil saja msalnya di dalam hal belajar, anak kadang-kadang harus atau baru bisa belajar dengan baik kalau dengan bergerak.
Jalan ke sana-ke sini kadang-kadang sambil memakai walkman, dengan begitu dia bisa belajar dengan lebih baik. Tetapi orang tua yang tidak memahami, bisa melakukan pemaksaan dengan mengharuskan dia duduk di depan meja dsb dengan penerangan yang sekian dan sebagainya. Kita kalau misalnya mengarah ke demokratis kita bisa memberikan pilihan-pilihan atau juga mendengarkan apa yang diinginkan oleh anak, apa yang anak-anak senangi dsb, nah itu orang tua yang demokratis memberi ruang bagi anak untuk bertanya dan juga mencari alasan kenapa sesuatu hal yang itu diizinkan sedangkan hal yang lain tidak diizinkan selain dari otoriter.
GS : Pak Heman, kita di dalam kehidupan berkeluarga suami-istri tentunya menghendaki anak-anak kita baik. Tetapi dalam hal sikap seperti ini kadang-kadang bisa berbeda Pak Heman, jadi saya sebagai laki-laki itu kadang-kadang bertindak otoriter, lalu istri saya atau ibunya itu memberikan kelonggaran-kelonggaran. Atau bahkan sebaliknya kadang-kadang istri saya yang kelihatan otoriter dan saya yang memberikan kelonggaran-kelonggaran, nah itu bagaimana Pak dampaknya?
HE : Nah ini yang memang paling sering terjadi, ketika salah seorang orang tua bertindak otoriter kemudian pasangannya ingin mengimbanginya dengan cara yang sebaliknya. Jadi secara tidak disadai ingin supaya anak-anak bisa lebih dekat kepada orang tua.
Tetapi tentu saja ini ada dampaknya, nah kita akan melihat polanya seperti ini, anak menjadi lebih dekat kepada orang tua yang tidak otoriter tentu saja dan lebih longgar kepada anak. Dan repotnya lagi ketika orang tua yang otoriter melihat hal ini yaitu anak lebih dekat kepada pasangannya maka secara, kadang-kadang tanpa disengaja orang tua yang otoriter menjadi semakin otoriter. Dia tidak suka dengan ini dan semakin membuat anaknya semakin menjauh dari dirinya dan kemudian juga mengakibatkan dia juga semakin jauh dari pasangannya. Untuk pasangan-pasangan yang demikian kita perlu menyadarinya bahwa pola ini sudah terjadi, kalau pola ini lebih disadari maka kita akan lebih besar kemungkinannya untuk memutuskan mata rantai ini.
GS : Ya memang bisa membuat anak bingung Pak, melihat orang tuanya yang satu begini, yang satu begitu.
HE : Ya, tapi anak-anak sering kali membaca hal ini dan anak-anak yang cerdik bisa memainkan ini.
GS : Memilih yang menguntungkan dia tentunya.
HE : Betul, dan ini akan berpotensi memecah belah keluarga.
GS : Tentunya hal ini tanpa dia sadari Pak Heman, seorang anak tidak mau orang tuanya sampai bertengkar gara-gara dia.
HE : Ya, tetapi anak inginnya untung begitu Pak.
GS : Pak Heman, kita mau melihat bagian dari Alkitab Pak Heman yang bisa mendukung perbincangan kita pada saat ini. Pak Heman bisa memberikan?
HE : Saya akan membacakan dari kitab Efesus 6:4 , saya akan bacakan dari dua fersi Alkitab yaitu fersi Alkitab dari Lembaga Alkitab Indonesia dan satu lagi dari fersi Firman Allah yng hidup.
"Dan kamu bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Dari fersi Firman Allah yang hidup yaitu di dalam bahasa sehari-hari terbitan Kalam Hidup. "Dan sekarang sedikit nasihat kepada para orang tua, jangan terus-menerus menggusari dan mencari-cari kesalahan anak-anak saudara, sehingga membuat mereka marah dan jengkel." Tetapi didiklah mereka dengan tata tertib yang penuh kasih dan menyukakan hati Allah, dengan saran-saran dan nasihat-nasihat berdasarkan firman Allah. Jadi orang tua di sini dinasihatkan untuk tidak terus-menerus mencari-cari kesalahan anak dan membuat mereka gusar.
GS : Ya memang ini menjadi tanggung jawab dari kedua orang tua Pak, jadi bukan hanya bapak-bapak tapi juga ibu-ibu. Keduanya terpanggil untuk melakukan perintah Tuhan ini.
GS : Terima kasih Pak Heman, untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia, M.Psi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang suatu judul "Orang Tua Otoriter". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk No. 58 Malang . Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Salah satu kriteria orang tua otoriter adalah seberapa banyak kita mengekang anak dan tidak membiarkan mereka memiliki ruang geraknya sendiri. Orang tua yang otoriter tidak mengijinkan anak mempunyai pendapat sendiri, memiliki minat yang berbeda, atau melakukan sesuatu yang berbeda. Saya setuju dengan pendapat bahwa orang tua harus menjadi pemimpin anak-anaknya. Namun ini tidak berarti orang tua dapat memaksakan seluruh kehendaknya. Anak memerlukan ruang untuk bergerak, agar ia terlatih untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.
Masalahnya sekarang, kapankah kita tahu bahwa kita telah memaksakan seluruh kehendak kita, padahal yang kita maksud adalah mendidik anak agar mereka mempunyai hidup yang baik kelak?
Untuk membedakan mana yang otoriter dan mana yang tidak memang dibutuhkan kepekaan ekstra dari orang tua atas dirinya sendiri. Kalau kita dapat memikirkan apa yang dipikirkan anak dan merasakan apa yang mereka rasakan setiap kali kita berkomunikasi dengan mereka, kita akan memiliki kepekaan itu. Jadi, kalau misalnya anak selalu salah, apapun yang mereka lakukan, dan hal ini membuat mereka apatis, atau sebaliknya memberontak habis-habisan, ada kemungkinan kita telah bertindak otoriter.
Akibatnya bagi anak bila kita bersikap otoriter?
Anak akan bertumbuh menjadi orang yang bergantung pada orang lain.
Anak menjadi keras kepala dan sulit diatur. Ini akan terjadi pada anak yang lebih berani.
Dalam keadaan tertentu, kita memang tidak akan sempat lagi berdebat dengan anak karena mendesaknya waktu. Dalam keadaan demikian, kita perlu mengambil tindakan yang bersifat otoriter. Saya kira pemimpin manapun tentunya pernah melakukan tindakan dan keputusan sepihak tanpa persetujuan bawahannya, yaitu terutama dalam situasi darurat. Tetapi sedapat mungkin dalam kebanyakan keadaan, berikan pilihan-pilihan kepada mereka, sehingga anak relatif mempunyai kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri bersama dengan konsekuensinya.
Dapat dikatakan bahwa gaya mendidik yang otoriter kita perlukan lebih banyak pada usia-usia dini anak, dan hendaknya semakin demokratis ketika anak semakin dewasa. Seharusnya pada saat remaja, anak semakin memperoleh kebebasannya. Untuk itu, kita perlu menyelesaikan penanaman dasar moral dan kebiasaan yang baik sesaat sebelum anak memasuki usia remaja. Sehingga ketika anak remaja diberi kebebasan menentukan dirinya lebih banyak, mereka tidak mengambil tindakan yang kurang bertanggung-jawab.
Otoriter itu didominasi oleh pemaksaan-pemaksaan orang tua kepada anak, jadi lebih banyak bertujuan memuaskan keinginan, target, ambisi, bahkan hawa nafsu orangtua sendiri. Sebaiknya orang tua dalam melakukan tindakan mendisiplin ataupun berelasi dengan anak dengan dilandaskan kasih sayang, jadi lebih banyak memikirkan kebutuhan dan kemampuan anak. Dalam hal ini orang tua lebih baik bersikap demokratis dan memberi ruang kepada perbedaan anak dengan orang tua, dan memberi ruang juga bagi anak untuk bertanya dan mencari alasan mengapa suatu hal diijinkan dan hal lain tidak diijinkan.
Efesus 6:4 , "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Firman Allah yang Hidup. Dan sekarang sedikit nasihat kepada para orang tua. Jangan terus-menerus menggusari dan mencari-cari kesalahan anak-anak Saudara, sehingga membuat mereka marah dan jengkel. Tetapi didiklah mereka dengan tata tertib yang penuh kasih dan yang menyukakan hati Allah, dengan saran-saran dan nasihat-nasihat berdasarkan firman Allah.