GS : Pak Paul, sebagai orang tua tentu kita berharap atau mengupayakan agar anak- anak kita kelak dewasa menjadi orang yang berguna setidaknya punya karakter yang baik, tapi kadang-kadang banyak orang tua yang tidak tahu harus berbuat apa sehingga dianggap anak ini nanti besar dengan sendirinya dan pasti bisa belajar dengan sendirinya. Tapi sebenarnya menurut Pak Paul bagaimana mengenai hal ini ?
PG : Memang benar, sebagai orang tua ada banyak tugas yang harus kita lakukan dan salah satunya adalah kita mesti membentuk kebiasaan yang baik pada anak. Sebetulnya siapakah anak pada akhirnya ditentukan oleh sejumlah kebiasaan yang terbentuk pada masa pertumbuhannya. Jadi kita tahu bahwa kebiasaan yang tidak sehat akan menjerumuskannya menjadi seorang pribadi yang bermasalah, sedang kebiasaan yang sehat dapat membentuknya menjadi seorang pribadi yang produktif. Dalam kesempatan ini kita akan melihat beberapa kebiasaan yang seharusnya terbentuk pada diri si anak dan kita sebagai orang tua berandil didalam membentuk kebiasaan yang baik ini.
GS : Kalau disebut kebiasaan maka kita harus melakukannya atau melatihnya berulang-ulang sehingga itu yang tadinya luar biasa menjadi biasa, begitu Pak Paul ?
PG : Tepat sekali. Jadi makin sering diulang dan akhirnya anak bisa menyerapnya
maka menjadi bagian dari kepribadian dia. Misalkan contoh yang mudah, kita meminta anak untuk mandi, untuk menyikat gigi dan sebagainya, sudah tentu awalnya tidak gampang karena ini bukanlah kebiasaan bagi si anak tapi karena kita setiap hari menyuruhnya, kalau dia tidak mau kita mandikan dan sebagainya lama-lama akhirnya dia sendiri melakukannya dan terbiasa melakukannya dan ini menjadi sebuah kebiasaan. Pada akhirnya setelah dia dewasa kita berkata bahwa dia menjadi orang yang mengerti menjaga kebersihan tubuhnya dengan cara mandi dan menyikat giginya. Jadi sekali lagi kita bisa simpulkan bahwa sesungguhnya siapakah diri seseorang, sebetulnya dirinya merupakan sejumlah kebiasaan-kebiasaan. Semakin banyak kebiasaan yang baik, makin pribadi itu menjadi pribadi yang sehat dan baik tapi makin banyak kebiasaan yang buruk, makin pribadi itu menjadi sebuah pribadi yang juga buruk.
GS : Kebiasaan yang baik ini lebih baik dilakukan sedini mungkin artinya ketika anak-anak dilatih supaya menjadi terbiasa, itu lebih mudah daripada kalau nanti dia sudah dewasa.
PG : Tepat sekali, Pak Gunawan. Jadi makin dini makin lebih mudah, sebaliknya makin tua, makin susah untuk si anak mengadopsi kebiasaan yang baru itu. Sudah tentu kita tidak berkata bahwa setelah kita dewasa kita berhenti belajar sehingga kita tidak bisa lagi memetik sebuah kebiasaan yang baru, sudah tentu masih bisa. Tapi kita tahu bahwa kebiasaan yang dimulai sejak kecil cenderung bertahan paling lama sedangkan kebiasaan yang dimulai belakangan cenderung bertahan lebih cepat.
GS : Kalau begitu kebiasaan apa yang harus kita latihkan untuk anak-anak kita, Pak
Paul ?
PG : Ada lima yang akan kita angkat pada kesempatan ini dan yang pertama adalah kebiasaan merawat kepunyaannya sebelum membeli yang baru. Sudah tentu kita tahu kecenderungan anak ialah membeli barang yang baru dan melupakan barang yang lama, tidak ada anak yang senang memakai barang yang lama dan tidak mau membeli barang yang baru, tapi sebaiknya sejak anak kecil kita menetapkan aturan kepada anak untuk merawat mainannya atau barang kepunyaannya sebelum kita membelikan barang yang baru untuknya. Jadi adakalanya kita harus konsekwen, kita menolak permintaannya untuk membelikan barang yang baru oleh karena ia tidak menunjukkan usaha menyayangi milik kepunyaannya, misalkan kita baru membelikan barang dan tidak sampai satu minggu tapi dia sudah buang-buang dan dia tidak pernah lagi tengok atau pegang, tidak pernah lagi bersihkan maka waktu dia meminta dibelikan barang yang baru kita bisa mengatakan, Tidak, karena kamu tidak merawat barang kamu yang lama, sekarang kamu rawat dulu yang lama dan nanti setelah kamu rawat baik-baik maka nanti saya belikan yang baru. Jadi kita biasakan dia untuk merawat kepunyaannya yang lama sebelum membeli yang baru. Dengan cara inilah kita menanamkan kebiasaan dalam diri anak untuk menghargai milik kepunyaannya dan tidak seenaknya membuang barang yang tidak diinginkannya lagi. Pak Gunawan mungkin sekarang bisa mengamati banyak anak-anak yang tidak menghargai milik kepunyaannya, buang dan beli lagi seenaknya dan ini saya kira sebuah masalah yang seharusnya bisa dikoreksi kalau saja orang tua waktu anak-anak masih kecil menerapkan prinsip ini.
GS : Banyak orang tua yang menganggap anak itu cepat bosan. Jadi mereka kebanyakan menerima saja kalau anaknya main sebentar, satu dua kali dan kemudian tidak ditengok lagi, apalagi kalau pilihannya banyak, Pak Paul.
PG : Jadi kalau saya lihat sekarang ini mentalitasnya adalah karena orang tua sibuk tidak banyak waktu untuk mengurus anak, jadi yang penting anak minta apa daripada pusing atau ribut sehingga dibelikan saja. Padahal dengan cara itu si orang tua menanamkan sebuah kebiasaan yang buruk yaitu kebiasaan tidak menghargai milik kepunyaannya, kebiasaan tidak suka langsung buang dan mau membeli yang baru lagi. Ketika anak sudah besar dia akan menunjukkan kebiasaan yang buruk itu secara lebih nyata, dan barulah orang tua menyadari
kenapa anak saya seperti ini dan tidak bisa menghargai apa yang kita sudah berikan. Dia seenaknya, hamburkan saja, dan orang tua lupa bahwa pada masa anak kecil mereka tidak menerapkan prinsip ini.
GS : Biasanya diberikan barang yang murah-murah karena orang tua menganggap ini sebentar lagi bosan, masalahnya bukan dibuang tapi tidak dipakai untuk bermain, Pak Paul.
PG : Jadi kita mau anak itu setidak-tidaknya untuk sementara bertahan dengan mainannya itu dan tidak cepat-cepat kita berkata, Ya tidak apa-apa, nanti beli yang baru bukan soal harga murah atau tidak, tapi kita mau anak kita menghargai barang kepunyaannya dan cara menghargai adalah dengan menjaganya, merawatnya, menaruhnya di tempat yang benar dan sebagainya.
GS : Itu yang bisa kita lakukan adalah menyediakan tempat tertentu untuk anak
menaruh mainannya, jadi setelah dia bermain dia harus kembalikan barang itu ke tempatnya.
PG : Betul. Jadi itu adalah salah satu cara untuk melatih anak menghargai, misalkan mainannya itu seperti mainan yang bisa dipasang untuk membangun robot, biarkan setelah dia uraikan, minta dia pasang kembali atau dia taruh di tempatnya dengan rapi lagi, itu adalah cara untuk si anak belajar merawat barang kepunyaannya, tidak sembarangan dan kepingan itu tidak dibuang ke sana dan ke sini.
GS : Anak mungkin melihat, misalkan ada pembantu dalam hal ini baby sitter atau apa, dia merasa setelah main dan ditinggal, nanti ada yang merapikan.
PG : Betul. Tidak heran saya bisa berkata bahwa akhirnya banyak anak yang setelah dewasa menjadi anak yang benar-benar tidak menghargai apa yang dimilikinya dan bersikap sangat semaunya dengan milik kepunyaannya, asal ganti dan beli lagi, karena salah satu kesalahan kita adalah menyetujui permintaan anak, membiarkan baby sitter yang memungut barang-barangnya dan nanti sudah besar sudah pasti tidak ada baby sitter, sudah pasti nanti dia akan menyuruh orang lain untuk memunguti barang-barangnya.
GS : Termasuk orang tuanya, apakah hal-hal lain lagi yang bisa dilatihkan pada anak apa, Pak Paul ?
PG : Yang berikut kita mau menanamkan kebiasaan belajar sebelum bermain. Kita harus mengerti hampir dapat dipastikan semua anak akan memilih bermain daripada belajar, bagi anak bermain adalah sesuatu yang natural sedang belajar tidak natural. Itu sebabnya kita sebagai orang tua harus mendidik anak belajar terlebih dahulu sebelum ia bisa bermain. Saya kira alasannya jelas lewat aturan ini pada akhirnya anak akan mengembangkan kebiasaan untuk bekerja sebelum bermain. Kita tahu di usia dewasa sesungguhnya kita hanya bisa bermain atau bersenang-senang setelah kita bekerja, orang yang memilih bermain sebelum bekerja pada akhirnya tidak bisa bekerja dan sudah pasti kemungkinan besar dia akan kehilangan pekerjaannya dan dia tidak melakukan tugasnya. Dia main-main, senang senang, tugasnya dia lalaikan dan akhirnya tidak bisa memertahankan pekerjaan. Jadi kita mau menanamkan kebiasaan yang baik ini sejak kecil dan sudah tentu bukan lewat bekerja karena anak itu belum usia bekerja tapi lewat belajar, tanggungjawabnya diselesaikan dulu
baru bermain, jangan terbalik bermain seenaknya dan nanti belajar sisanya. Jadi sejak kecil anak didisiplin diri, memprioritaskan tugas dan tanggung jawabnya terlebih dahulu. Bermain merupakan imbalan hadiah terhadap upayanya untuk mengerjakan tugas.
GS ; Tapi itu baru bisa kita terapkan atau laksanakan kalau anak ini sudah masuk sekolah, begitu Pak Paul ?
PG : Betul. Sudah tentu ini untuk anak usia 5 tahun ke atas.
GS : Tadi Pak Paul katakan anak itu pada dasarnya, kesukaannya adalah bermain dan dia membutuhkan bermain, di dalam bermain itu dia belajar. Bagaimana kita mengkombinasikan supaya antara belajar dan bermain ini berimbang, kalau belajar terus dia kehilangan masa kanak-kanaknya untuk bermain.
PG : Secara praktisnya saya berikan contoh anak itu misalkan sekolah dari pagi
sampai siang, sekarang kebanyakan sekolah pulang jam 3 sore berarti anak itu memang benar-benar capek belajar dari pagi sampai sore, sudah tentu yang lebih masuk akal adalah setelah dia pulang biarkan dia beristirahat. Istirahat ini bisa dilakukan dengan tidur atau lewat bermain atau yang lain-lainnya, jadi ini adalah kesempatan dia untuk menyegarkan diri karena lelah. Tapi setelah itu dia harus belajar dulu, jadi waktu jamnya belajar yang kita sudah berikan setelah dia bisa istirahat dan sebagainya, itu harus digunakan untuk belajar dan menjadi sebuah kebiasaan dimana setiap hari misalnya Senin sampai Jum'at itu adalah hari dimana anak itu belajar, kita berikan misalnya hari libur dia misalkan di hari Sabtu atau Minggunya. Tapi anak itu tahu di hari-hari ini dari jam berapa sampai jam berapa dia harus selesaikan tugas dulu, dia tidak bisa berkata kepada orang tuanya, Saya mau main dulu, nanti setelah saya main jam 9 nanti saya mau belajar tidak bisa! Sebab nanti di masa remaja dia bisa berkata di hari biasa, Saya mau pergi dengan teman-teman saya kita katakan, Tidak, ini hari sekolah dan ini hari dimana kamu tidak pergi dengan teman-temanmu, nanti di akhir pekan kamu boleh bermain dengan teman- teman kamu. Jadi kebiasaan ini yang nanti tertanam dalam diri si anak, yaitu dia harus menyelesaikan tugasnya dulu dan barulah nanti dia boleh menikmatinya.
GS : Mungkin membuat jadwal itu menolong karena anak sudah mulai bisa membaca jam dan sebagainya, jadwal itu bisa ditempel di kamarnya dan dia bisa melihat kapan dia belajar, kapan dia bermain, kapan dia melakukan sesuatu yang lain, tapi itu harus diperbaharui dari minggu ke minggu karena minggu yang satu kemungkinan berbeda dengan minggu yang lain.
PG : Itu ide yang bagus, dengan memberikan jadwal jadi anak bisa melihat juga secara jelas seminggu ini apa yang diharapkan orang tua pada dirinya. Ini menjadi sebuah kebiasaan yang baik juga pada waktu dia bekerja karena kita tahu bahwa di tempat pekerjaan betapa banyaknya kita temukan orang-orang yang pada masanya harus bekerja, dia main-main dan dia tidak melakukan tugasnya. Ini contoh dia tidak punya kebiasaan yang baik itu. Jadi sekali lagi kalau kita bisa menanamkan kebiasaan yang baik ini, ini justru akan bermanfaat untuk si anak itu kelak.
GS : Kuncinya adalah melatih supaya anak berdisiplin khususnya di dalam menggunakan waktu yang ada.
PG : Betul.
GS : Disiplin khususnya di dalam menggunakan waktu yang ada. PG : Betul.
GS : Lalu hal lain yang bisa kita kerjakan lagi apa, Pak Paul ?
PG : Hal yang ketiga yang kita mau tanamkan dalam diri anak adalah kebiasaan membaca buku sebelum menonton. Ini memang sekarang menjadi masalah yang sangat besar karena apa-apa sekarang ditonton. Saya juga mengerti ada film yang bersifat mencerahkan dan meluaskan wawasan dan pengetahuan. Sudah tentu adalah baik bagi anak menikmati film seperti