Tugas dan Tantangan Istri Gembala Sidang

Versi printer-friendly
Mei


Motto LBKK adalah "Keluarga Sehat Menciptakan Gereja dan Masyarakat yang Sehat".
Untuk memeringati ulangtahun LBKK yang ke-33 maka judul artikel yang dipilih
adalah "Tugas dan Tantangan Istri Gembala Sidang" sehubungan dengan Menciptakan Gereja yang Sehat.


Kebanyakan kita mengetahui betapa tidak mudahnya tugas Gembala Sidang, tetapi saya kira, tidak banyak yang menyadari bahwa sesungguhnya tugas Istri Gembala Sidang tidak kalah susahnya. Itu sebab pada kesempatan ini kita akan mengangkat topik yang berkaitan dengan Tugas dan Tantangan Istri Gembala Sidang. Secara khusus kita akan melihat tugas dan tantangan Istri Gembala Sidang yang berhubungan dengan Tuhan, suami, anak-anak dan gereja.

Tugas pertama Istri Gembala Sidang adalah MEMELIHARA RELASI YANG AKRAB DENGAN TUHAN. Kadang karena tingginya tingkat kesibukan, kita bisa melalaikan bagian terpenting dalam hidup yaitu menghampiri Tuhan dan berdiam di hadapan-Nya. Sebagaimana Tuhan Kita Yesus memunyai Getsemani—tempat di mana Ia bersekutu dengan Allah Bapa—kita pun harus memiliki Getsemani sendiri—tempat dan waktu di mana kita berdiam di hadapan-Nya, mendengarkan suara-Nya, dan membisikkan suara hati kita kepada-Nya.

  • Istri Gembala Sidang bukan saja berperan memberi dukungan kepada suami; sering kali ia pun berperan sebagai penasihat dan pemberi arah serta peneguhan kepada suami. Semua ini tidak bisa terlaksana dengan baik bila ia tidak berjalan dekat dengan Tuhan.
  • Istri Gembala Sidang adalah orang terdekat dengan suami, jadi, apa pun yang terjadi pada suami, akan memengaruhinya pula. Istri Gembala Sidang perlu memelihara hubungan yang erat dengan Tuhan agar ia pun sanggup menanggung beban pelayanan dan memberi respons yang bijak dan rohani terhadap situasi yang dihadapinya.
  • Istri Gembala Sidang adalah panutan dan secara tidak langsung, gembala jemaat pula; jadi, kehidupan rohani yang akrab dengan Tuhan mutlak diperlukan. Ini adalah otoritas rohaninya; lewat kehidupan rohani yang sehat dan akrab dengan Tuhan ia menebarkan berkat kepada jemaat. Sebaliknya, bila ia tidak menjaga hubungan dengan Tuhan, ia dapat jatuh dan malah menebarkan masalah, yang akan merugikan pelayanan suaminya. Sebaliknya, bila ia memelihara hubungan dengan Tuhan, acap kali ia justru dipakai Tuhan untuk menyeimbangi kelemahan suami.


Berkenaan dengan tugas memelihara hubungan yang erat dengan Tuhan, ada satu TANTANGAN yang kerap datang menyerang Istri Gembala, dan itu, tidak lain tidak bukan, adalah KEKHAWATIRAN. Pada umumnya Istri Gembala menanggung beban untuk mengurus keperluan keluarga. Jadi, ia lebih berhadapan dengan kebutuhan ekonomi keluarga. Di samping kebutuhan, ia pun memunyai keinginan yang wajar bagi anak-anaknya, misalkan bersekolah di sekolah yang baik. Kita tahu bahwa semua ini memerlukan uang dan tidak bisa tidak, ini dapat menjadi tekanan sekaligus sumber kekhawatiran. Ditambah dengan ketidakpastian akan sumber penghasilan pada hari tua, semua ini bisa menambah kekhawatiran. Dan, kita tahu kekhawatiran mengganggu hubungan kita dengan Tuhan ! Itu sebab Istri Gembala harus bergumul melawan kekhawatiran, setidaknya dengan tiga cara berikut ini. Pertama, ia harus BERIMAN; ia mesti menyerahkan segala kekhawatirannya kepada Tuhan dan percaya bahwa Tuhan akan dan sanggup memelihara hidupnya sampai tua nanti. Kedua, ia mesti MENERIMA KONDISI yang Tuhan tetapkan baginya. Mungkin ia tidak dapat mewujudkan keinginannya agar anak bersekolah di sekolah yang bermutu tinggi; mungkin ia harus menerima fakta bahwa hidupnya akan seperti ini untuk suatu waktu yang lama. Dan ketiga, ia perlu BERSYUKUR untuk pemeliharaan Tuhan atas hidupnya. Tuhan telah setia dan Ia akan terus memeliharanya. Selama ini apa yang dibutuhkan telah Tuhan sediakan, jadi, ia dapat mengingat perbuatan Tuhan dan menaikkan syukur kepada-Nya.


Tugas kedua Istri Gembala Sidang adalah MEMELIHARA HUBUNGAN YANG INTIM DENGAN SUAMI. Memang sudah seyogianyalah suami pun berupaya keras memelihara hubungan yang intim dengan istri namun oleh karena tuntutan pelayanan, kadang tugas ini tidak selalu mudah untuk dilakukan. Itu sebab mau tidak mau tugas ini sering kali jatuh pada pundak istri. Daripada mengeluh dan akhirnya menimbulkan lebih banyak masalah, lebih baik Istri Gembala melakukannya dengan ikhlas.

  • Idealnya suami mendahulukan istri ketimbang jemaat yang dilayaninya. Namun kadang prioritas ini tidak mudah dilaksanakan secara konsisten. Tuntutan pelayanan memang bukan masalah mati-hidup tetapi tidak bisa disangkal, keberhasilan memenuhi tuntutan pelayanan memengaruhi keefektifan pelayanan itu sendiri. Beda antara yang “harus” dan yang “diharapkan” tipis dan tidak selalu jelas; itu sebab, sering kali Gembala Sidang terpaksa (walau dengan rela) memenuhinya. Nah, disini diperlukan pengertian dari Istri Gembala Sidang. Pada saat rencana keluarga batal karena adanya kepentingan jemaat yang mendesak, Istri Gembala bukan saja tidak mengeluh, ia pun perlu menyemangati suami untuk melakukan tugasnya dan berdoa baginya.
  • Kunci untuk memelihara hubungan yang intim dengan suami adalah kefleksibelan dalam memanfaatkan waktu bersama, baik yang direncanakan atau tidak. Sudah tentu adalah baik bila jauh hari sebelumnya direncanakan waktu berlibur, di mana suami-istri dapat menghabiskan waktu bersama. Namun oleh karena ini tidak dapat dilakukan terlalu sering, manfaatkan waktu luang yang muncul untuk pergi bersama atau beraktivitas bersama. Berinisiatiflah untuk mengajak suami pergi bersantai atau menghabiskan waktu berdua. Kebersamaan yang singkat dan spontan akan mengeratkan relasi.
  • Istri Gembala juga dapat memelihara hubungan yang intim dengan suaminya lewat penguasaan diri. Istri Gembala perlu menyadari bahwa tugas penggembalaan mengharuskan suami untuk terlibat dalam dua pelayanan yang berlangsung terus menerus yaitu pengajaran Firman dan persoalan hidup jemaat. Oleh karena setiap minggu ia harus memersiapkan pemberitaan Firman, tidak bisa tidak, hidupnya dipengaruhi oleh tuntutan persiapan ini. Sering kali ia harus memikirkan apa yang mesti disampaikannya dan ini akan menyita perhatiannya. Kedua, suaminya mesti terlibat dalam persoalan hidup jemaat. Tidak bisa tidak, ini pun menyita perhatiannya. Itu sebab, jika ada masalah yang mesti dibicarakan, sebaiknya istri memilih waktu yang tepat sebab, konflik atau pembicaraan yang tidak berakhir baik akan memengaruhi suasana hati Gembala. Betapa tidak mudahnya memersiapkan Firman atau melayani jemaat menghadapi persoalan hidupnya jika suasana hati sedang tidak sejahtera. Jadi, bersikap bijaklah dalam memilih waktu untuk membicarakan masalah keluarga.
  • Istri adalah rekan terdekat Gembala Sidang; singkat kata, tidak ada orang yang mengenal Gembala Sidang sebaik dan sebanyak istri. Ia tahu apakah suami hidup dekat dan taat dengan Tuhan atau tidak; ia tahu apakah suami mulai menjauh darinya; ia pun tahu apakah suami tengah bermain api dengan dosa. Istri Gembala perlu menyampaikan apa yang dilihatnya kepada suami; dengan kata lain ia harus menjadi Nabi Natan bagi Daud. Ingat, Istri Gembala harus memercayai suami tetapi ia pun harus mengawasi suami.


Salah satu TANTANGAN yang kerap mesti dihadapi oleh Istri Gembala adalah keinginan untuk HIDUP “NORMAL,” dalam pengertian, sama seperti orang lain. Ia ingin memunyai suami yang dapat mencurahkan perhatiannya kepada keluarga, sama seperti suami lainnya. Ia pun ingin baik dirinya maupun suami memiliki privasi sehingga dapat hidup lebih bebas, tanpa gangguan permohonan tolong atau celaan, dan sebagainya. Kita dapat mengerti betapa wajarnya keinginan ini. Namun pada akhirnya Istri Gembala harus menyadari bahwa tugas melayani sebagai Gembala Sidang adalah sebuah tugas yang unik, yang membuat kehidupan Gembala Sidang tidak lagi sama dengan kehidupan orang banyak. Sebagai istri ia pun harus membayar harga yang sama mahalnya. Ia harus melawan godaan untuk cemburu atau perasaan disisihkan dan merasa diri tidak berharga. Jadi, daripada terus mendambakan kehidupan yang “normal,” lebih baik Istri Gembala berupaya untuk menikmati hidup di dalam situasi yang unik ini. Ia tidak akan dapat menjadi seperti orang lain, jadi, berhentilah berharap situasi akan berubah. Sebaliknya, galilah kenikmatan hidup didalam keterbatasan hidup dan jalanilah hidup ini sebagai panggilan Tuhan atas dirinya.


TUGAS UTAMA ISTRI GEMBALA SIDANG ADALAH MEMELIHARA HUBUNGAN YANG ERAT DENGAN TUHAN. TUGAS KEDUA, SEBAGAI ORANG YANG PALING DEKAT DENGAN SI SUAMI, IA PERLU MENJAGA HUBUNGAN YANG INTIM DENGAN SUAMI. Kita juga bahas, dia harus MENJADI SEPERTI NABI NATAN KEPADA RAJA DAUD. Dia yang paling tahu si suami. Kalau dia melihat suami makin jauh dari Tuhan, atau mulai bermain api dengan dosa, dia mesti bersuara, dia mesti mengingatkan suaminya.


Tugas ketiga Istri Gembala Sidang adalah MEMELIHARA HUBUNGAN YANG ERAT DENGAN ANAK. Tidak bisa tidak, suami akan sering berada di luar rumah sehingga kesempatan bersama anak tidak banyak. Itu sebab kedekatan hubungan antara anak dan ayah sebagai Gembala Sidang akan terbatas. Istri Gembala selayaknyalah berupaya mengkompensasi kekurangan ini dan menjadi jembatan penghubung antara anak dan ayah.

  • Istri Gembala menjadi penghubung antara anak dan ayah bukan dengan cara mengambil alih tugas dan tanggungjawab ayah. Semua yang harus dilakukan ayah—seperti mendisiplin anak—tetap dilakukan ayah namun oleh karena terbatasnya waktu di rumah, maka volume akan berkurang. Nah, di sinilah Istri Gembala berperan.
  • Istri Gembala memelihara hubungan yang erat dengan anak bukan dalam kapasitas sebagai sepenanggungan dan senasib, dalam pengertian sebagai sesama korban dari ayah yang kurang memberi perhatian. Istri Gembala justru membangun kedekatan dengan anak di atas dasar pengertian yang sama yaitu semua adalah bagian dari pelayanan bagi Kristus, dimana si ayah bertugas di luar sedang mereka bertugas di dalam—memberi dukungan dan berdoa untuknya.
  • Istri Gembala memelihara hubungan dengan anak dengan cara terlibat dalam kehidupan anak. Bukan saja ia terlibat dalam aktivitas sehari-hari, ia pun terlibat dalam kehidupan emosional dan sosial anak. Sebagaimana kita ketahui, anak Gembala sering menerima sorotan dari lingkungan. Nah, Istri Gembala—dan juga Bapak Gembala—seyogianyalah menyampaikan pengertian ini kepada anak, dan tidak menambah tuntutan yang tidak perlu.


Berkaitan dengan tugas memelihara hubungan yang erat dengan anak, salah satu TANTANGAN yang kerap dihadapi oleh Istri Gembala adalah PEMBERONTAKAN ANAK. Anak yang berkemauan keras mulai menunjukkan jiwa pemberontakannya sejak awal. Ia tidak mudah disuruh dan cenderung membantah. Nah, didalam kevakuman peran ayah, anak akan lebih sering memberontak. Tidak bisa tidak, Istri Gembala harus lebih sering menghadapinya. Pemberontakan masa kecil tidak mudah, tetapi pemberontakan masa remaja dan pemuda jauh lebih sulit. Pada masa remaja dan pemuda pemberontakan anak biasanya melibatkan orang lain dan obyek lain, seperti berpacaran dengan yang tidak seiman, bergaul dengan teman yang bermasalah, menggunakan obat terlarang, atau terlibat dalam perilaku kriminal. Terberat adalah menolak iman kepercayaan orangtua dan hidup di luar Tuhan. Ini adalah tantangan berat yang akan menguras tenaga dan air mata. Istri Gembala mesti melibatkan suami dalam menghadapi semua ini; ia tidak bisa menghadapinya sendirian. Jika tidak berhati-hati, ia bisa terjatuh ke dalam lembah kepahitan dan mengasihani diri. Ia pahit terhadap suami, yang dianggapnya berandil besar dalam pemberontakan anak. Dan, ia dapat terjerumus ke dalam lubang mengasihani diri—merasa diri begitu malang. Akhirnya kepahitan merembes masuk ke dalam relasinya dengan Tuhan pula. Ia melihat Tuhan tidak adil dan tidak memerhatikan pengorbanannya.


Semua ini adalah tantangan yang berat. Istri Gembala bukanlah wanita super yang selalu tahan banting dan tidak bisa retak. Itu sebab, ia perlu meminta pertolongan, kepada suami dan kepada sesama rekan yang bisa dipercaya, atau kepada seorang konselor kristiani. Terutama, ia perlu datang membawa beban yang berat ini kepada Tuhan. Sesungguhnya ia tidak sendirian. Tuhan Yesus yang telah memanggilnya akan terus bersamanya, tetapi Tuhan memunyai waktu-Nya dan cara-Nya untuk menolong.


Terakhir, tugas Istri Gembala Sidang adalah MEMELIHARA HUBUNGAN YANG BAIK DENGAN GEREJA. Istri Gembala dapat memberi pengaruh—baik atau buruk—bagi pelayanan suaminya. Tidak jarang Gembala Sidang dirugikan akibat perilaku istri yang tidak baik; sebaliknya, banyak Gembala Sidang diuntungkan oleh kelakuan istri yang baik.

  • Istri Gembala harus dapat menjaga rahasia, baik itu rahasia suami maupun rahasia jemaat. Ciptakanlah rumah tangga yang aman bagi suami sehingga ia tahu bahwa apa pun yang disampaikannya kepada istri, tidak akan disampaikan kembali kepada salah seorang jemaat yang kebetulan dekat dengan istrinya. Jemaat pun perlu tahu dengan pasti bahwa apa yang disampaikannya kepada Istri Gembala akan dirahasiakan, dan tidak akan disebarluaskan kepada jemaat lainnya.
  • Istri Gembala harus dapat berkomunikasi dengan tepat. Masalah dan kesalahpahaman mudah timbul gara-gara miskomunikasi, jadi, Istri Gembala perlu berhati-hati dalam berkomunikasi.
  • Istri harus menyeimbangkan dengan bijak antara membela kebenaran dan membela suami. Istri Gembala tidak menikah dengan seorang yang sempurna; sebagai seorang yang tidak sempurna, Gembala dapat melakukan kesalahan. Pada saat seperti ini posisi Istri Gembala menjadi terjepit. Apakah yang mesti dilakukannya: Membela suami tanpa kondisi ataukah membela kebenaran, dalam hal ini, membela kepentingan gereja? Istri Gembala harus membela kebenaran dan gereja Tuhan tetapi ia pun harus mendampingi suami. Respek jemaat kepada Istri Gembala barulah dapat muncul jika gereja melihat bahwa Istri Gembala dapat melihat dan mengakui kekurangan suaminya. Namun, pada akhirnya Istri Gembala harus menegaskan bahwa tempatnya adalah di samping suami, bukan di hadapan dan di seberang suaminya.


Berkaitan dengan tugas memelihara hubungan yang baik dengan gereja, ada satu TANTANGAN yang kerap harus dihadapi Istri Gembala yaitu KEBERDOSAAN MANUSIA. Gereja adalah tubuh Kristus yang kudus tetapi gereja tidak diisi oleh orang yang kudus. Gereja diisi oleh manusia yang berdosa. Dan, ada di antara jemaat gereja yang sangat berdosa sehingga sanggup melakukan hal-hal yang buruk, baik terhadap sesama maupun keluarga Gembala Sidang. Inilah yang kadang mesti dihadapi oleh Istri Gembala. Adakalanya Istri Gembala Sidang begitu terkejut dan terpukul melihat ulah segelintir jemaat yang berusaha menghancurkan Gembala Sidang dengan pelbagai cara. Tidak bisa tidak, ia dapat kecewa dan akhirnya mengalami kepahitan. Ia mungkin merasa dikhianati dan ini bisa membuatnya kehilangan bukan saja kepercayaan tetapi juga keinginan untuk melayani Tuhan. Ada yang bahkan memutuskan meninggalkan pelayanan dan meminta suami untuk mengikuti jejaknya. Ia tidak lagi dapat memercayai gereja dan memutuskan relasi dengan gereja.


Ada yang bertahan di dalam gereja karena suami tidak mau meninggalkan pelayanan tetapi hati sudah kadung terluka. Akhirnya ia memutuskan relasi dengan jemaat dan hanya hadir dalam ibadah Minggu. Ia tidak lagi dapat mendukung pelayanan suami karena hatinya telah tawar. Ia tidak menyangka bahwa jemaat bisa berbuat begitu jahat kepadanya dan suaminya. Dengan begitu mudahnya mereka melupakan semua pengorbanan dan pelayanan mereka. Tantangan seperti ini memang berat.


ADA DUA CARA UNTUK MENGHADAPI TANTANGAN SEPERTI INI. Pertama adalah dengan MEMUSATKAN PANDANGAN PADA YESUS. Istri Gembala perlu menambatkan iman pada kuasa dan pemeliharaan Tuhan. Yesus, Kepala Gereja, tidak akan berdiam diri; Ia pasti bertindak. Ia akan membela yang benar dan menghukum yang salah.


Kedua adalah dengan MEMUSATKAN PANDANGAN PADA JEMAAT YANG TULUS DAN MENGASIHI TUHAN SERTA HAMBA-NYA. Ada banyak jemaat yang seperti ini. Merekalah alasan mengapa kita tidak meninggalkan pelayanan di gereja. Tuhan sudah memberitahukan kita bahwa di tengah gandum pasti ada lalang (Matius 13:24-30). Ingat, Tuhan tidak menanam lalang; Iblis menanam lalang. Tetapi, akan datang waktunya di mana Tuhan akan membakar lalang; Ia akan bertindak.


Kesimpulan dari semua ini adalah tugas dan tantangan Istri Gembala tidaklah mudah. Namun ingatlah bahwa sama seperti Gembala, Istri Gembala adalah sekadar hamba, bukan yang empunya gereja. Kita bekerja melakukan tugas yang diembankan-Nya tetapi kita tidak bekerja sendirian. Tuhan pun turut bekerja, bahkan Ia sudah bekerja sebelum kita bekerja. Kembali kepada perumpamaan tentang lalang di antara gandum, kita adalah benih gandum yang baik, yang ditanam oleh Tuhan Kita Yesus sendiri. Firman Tuhan mengakhiri perumpamaan itu dengan perkataan ini (Matius 13:43), “Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka.” Ya, bila kita terus hidup benar, kita akan bercahaya seperti matahari di dalam Gereja Bapa.

Ringkasan T 507A+B
Oleh : Pdt. Dr. Paul Gunadi
Simak judul-judul mengenai Pelayanan Gereja di www.telaga.org

PERTANYAAN :

Pengasuh Telaga yang dikasihi Tuhan,
Ada sesuatu yang mengusik pikiran saya 3 minggu yang lalu, hati saya tergerak ingin mengetahui bagaimana kondisi dosen agama saya sewaktu saya kuliah di Bandung dan saya mencarinya. Setelah melalui upaya yang agak panjang dan membaca catatan salah seorang anggota tentang kunjungannya ke Rumah Sakit, mengunjungi saudara kekasih itu yang juga bekas dosen agamanya, saat itu dia dirawat di R.S.Advent Bandung karena stroke dan hati saya bergetar, apakah dosen saya itu masih hidup sampai sekarang? Lalu saya menanyakan kepada alumnus dari universitas dimana saya pernah kuliah dan akhirnya salah seorang teman menghubungi ke rumahnya dan ternyata bapak dosen saya itu masih hidup, hanya bisa menggerakkan sedikit tangan kirinya dan tidak bisa bicara, rahangnya seolah kaku. Saya penasaran dan mencari informasi ke beberapa teman, akhirnya saya diberitahu bahwa pada hari ketika bapak tersebut terkena stroke, dia sedang pelayanan rohani di salah satu pabrik tekstil di Bandung. Sedikit mengenai bapak ini, dahulu sewaktu dia menjadi dosen saya, dia sangat terkenal dengan pelayanan mengusir roh jahat.


Kembali dengan pelayanan di pabrik tekstil di Bandung, pada saat tiba dia akan menyampaikan doa, tiba-tiba dia tidak bisa berbicara dan kemudian jatuh terkena stroke yang kemudian lumpuh hingga sekarang, beberapa kali mendapat serangan stroke dan dia sudah bertahan selama 4 tahun kalau tidak salah. Setahun dia terkena stroke, anak laki-laki satu-satunya dari Bapak itu meninggal mendahului dia, terkena serangan jantung di usia muda, sekitar umur 20-an.


Pertanyaan saya, mengapa seorang hamba Tuhan yang menyerahkan dirinya untuk pelayanan, Tuhan izinkan untuk terkena stroke pada saat melayani Kristus? Bagaimana kesan yang muncul bagi orang yang menyaksikan itu, bukankah itu akan menggoncangkan iman mereka yang sedang dilayani? Dalam pikiran saya, mungkin ada di antara mereka yang berpikir jangan-jangan Bapak tersebut terkena kuasa gelap dan bila memang ada yang berpikir demikian, bukankah itu akan semakin memperburuk iman orang-orang tersebut? Apakah mungkin kuasa yang Tuhan dulu berikan, kemudian diambil daripadanya pada saat mungkin seseorang melakukan dosa? Saya pribadi berpikir meskipun seseorang sudah bertobat sungguh-sungguh, bukankah terkadang masih jatuh ke dalam dosa, apakah pada saat itu orang tersebut kehilangan kuasa Allah? Sementara itu dikatakan di Alkitab bahwa musuh kita si iblis itu seperti singa yang kelaparan, yang mengintai kita dan siap menerkam. Kalau ternyata ada masa-masa seorang hamba Tuhan kehilangan kuasa dari Tuhan, lalu apakah itu membuat seseorang gentar untuk mengambil keputusan melayani di bidang tertentu, misalnya pelepasan kuasa gelap. Bagaimana sebenarnya kita harus meletakkan pikiran kita saat kita diperhadapkan dengan kenyataan seperti ini, seolah-olah seorang hamba Tuhan kehilangan kuasa dan kemudian kalah dari kuasa lain. Saya ingin sekali mendapat penjelasan yang mendalam mengenai ini, saya tahu kadang saya berpikir berdasarkan logika manusia dan saat ini saya ingin melihat melalui kebenaran firman Tuhan. Bukankah kita umat Pemenang, tapi mengapa dalam hal ini, seolah Bapak Pendeta itu kalah? Mohon pengupasannya dari sudut pandang Allah dan firman Tuhan. Terima kasih dan Tuhan Yesus memberkati !


Salam damai sejahtera,
S.S.


JAWABAN :

Sdr. S.S.,
Begitu dosa masuk ke dalam dunia, maka terjadilah kekacauan didalam hidup. Itu sebabnya angin yang seharusnya sepoi dapat bertiup keras seperti badai; air hujan yang seharusnya membasahi bumi, malah menenggelamkan bumi; tanah yang seharusnya stabil berubah labil dan sebagainya. Itu semua adalah kekacauan alam. Ada pula kekacauan relasi, misalnya relasi yang seharusnya dilandasi percaya, malah dilandasi curiga. Relasi yang seharusnya diisi kasih, malah dikuasai cemburu dan benci dan seterusnya.


Jenis ketiga kekacauan akibat dosa adalah kekacauan jasmaniah. Sel yang seharusnya bertumbuh sesuai pola, malah berkembang semaunya sehingga membuahkan tumor. Makanan yang seharusnya dicerna dan disaring, malah bertumpuk menjadi lemak dan racun akibat tidak bekerjanya hati dan lainnya. Jenis keempat kekacauan dalam relasi antara manusia dengan Tuhan. Bukannya percaya, malah tidak beriman. Bukannya takut, malah melawan Tuhan. Bukannya mengasihi, malah melecehkan Tuhan. Oleh karena hadirnya kekacauan ini, maka segala bencana dapat muncul.


Selain dari kekacauan sebagai sumber bencana, masalah dapat pula muncul dari perbuatan manusia sendiri. Misalkan kita kurang giat berolahraga dan mengkonsumsi makanan yang sehat, sebagai akibatnya kita mudah terserang penyakit. Sudah tentu perlu saya garis bawahi bahwa penyakit tidak selalu muncul dari perbuatan kita yang kurang merawat tubuh. Penyakit dapat pula muncul dari kekacauan jasmaniah yang kita bawa sejak lahir (misalnya sejak lahir kita mewatisi tekanan darah tinggi).


Jadi, selama kita masih hidup di dunia, kita akan (bukan mungkin) terkena salah satu dampak kekacauan akibat dosa. Kenyataan kita tidak sering mengalaminya, itu dikarenakan Tuhan menjaga kita semua. Nah, sewaktu kita harus mengalaminya, itu tidak berarti Tuhan tidak menjaga kita. Pada saat tertentu Ia harus membiarkan sesuatu yang buruk terjadi supaya kehendak-Nya yang tertentu dapat tergenapi. Sebagai contoh, Yusuf harus dijual sebagai budak dan akhirnya dipenjarakan di Mesir supaya pada saatnya, Tuhan dapat memakainya untuk menyelamatkan umat Israel dari kelaparan yang melanda Kanaan. Singkat kata, bencana tidak mesti melambangkan hukuman Tuhan atau memerlihatkan bahwa Tuhan tidak memelihara kita (adakalanya Tuhan mendatangkan bencana untuk menghukum namun tidak selalu).


Sikap kita sewaktu menjalani masa sulit adalah tetap beriman kepada-Nya sebab di masa sulit bukan saja Ia akan tetap hadir dalam hidup kita, tetapi Ia pun akan hadir dan menunjukkan kasih-Nya dengan cara yang sangat pribadi sehingga firman Tuhan lewat mulut Paulus tergenapi, “Segala sesuatu dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi aku kekuatan”. Mudah-mudahan tanggapan ini dapat membantu Anda. Kami anjurkan Anda membaca T 065A, “Bagaimana Menghadapi Malapetaka” yang ada di www.telaga.org Tuhan memberkati !

Salam : Paul Gunadi



Oleh: Anita Sieria, S.Sos, M.Th.Konseling *)

Amsal 4:23 "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan".


Setiap orangtua menghendaki yang terbaik bagi anaknya, tapi tidak semua kebaikan ini disampaikan dan diterima dengan baik oleh anak. Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, orangtua menyampaikan hal baik dan menunjukkan kasihnya di dalam keterbatasannya. Ada kalanya orangtua juga salah menilai mana yang terbaik bagi anaknya. Kedua, orangtua juga akan berhadapan dengan kenyataan bahwa betapapun orangtua berupaya memberi yang terbaik bagi anaknya, anak masih bisa salah menangkap maksud baik orangtuanya.


Ada masa di mana saya merasa sakit hati dengan aturan yang orangtua terapkan. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, dan di tengah rasa kesal, saya tidak bisa menghayati apa yang mereka katakan – “ini semua demi kebaikanmu”. Kemudian, tiba giliran saya menjadi orangtua, dan sayapun mengalami apa yang orangtua saya alami ketika dulu saya tak kunjung mengerti sisi baik dari apa yang mereka nasihatkan dan terapkan. Memang benar, kita tidak akan mengerti sudut pandang orangtua sebelum kita sendiri jadi orangtua.


Dalam perjalanan pertumbuhan seorang anak, biasanya orangtua memberikan beragam aturan sebagai batasan untuk menjaga anak tetap aman dan di jalur yang benar. Hal apa yang boleh dilakukan dan hal apa yang tidak boleh dilakukan. Hal-hal apa yang dianggap penting dalam keluarga dan dijaga serta disuburkan bersama. Tidak jarang, di tengah membangun pelbagai batasan, orangtua fokus pada perilaku anak. Yang penting anak taat, yang penting anak tertib, yang penting anak pintar, dan seterusnya. Dari Amsal 4:23, kita belajar bahwa yang terpancar keluar dalam hidup kita sumbernya adalah dari hati. Inilah yang seorang sahabat ingatkan pada saya akhir-akhir ini. Inilah yang sedang saya ingat dan saya upayakan – untuk memerhatikan hati anak-anak ketimbang sekadar perilaku mereka. Untuk mengambil jalan pendisiplinan yang lebih panjang, karena perlu berhadapan dengan hati mereka, ketimbang mengambil jalan yang lebih pendek berhadapan hanya dengan perilaku mereka.


Sebuah bentakan atau mata yang agak melotot mungkin cukup untuk mengubah perilaku anak-anak seketika, membuat mereka berhenti bertengkar, membuat mereka berhenti melanggar, tapi tidak cukup untuk sampai ke hatinya. Tidak cukup untuk membuat mereka mengerti bahwa kita mengasihi mereka, maka dari itu kita menegur mereka dan mengajarkan kebenaran demi kebaikan mereka. “Connection before correction” demikian bunyi kalimat yang sering muncul dalam seminar ’parenting’, tampaknya sederhana tapi membuat saya berulang kali memeriksa kedalam diri. Sudahkah saya membangun koneksi dengan anak-anak saya, atau justru saya terus mengoreksi perilaku mereka, tanpa koneksi ke hati mereka.


Dengan menjaga koneksi dengan anak-anak, kita turut menjaga hati mereka, sebab mereka tahu mereka dikasihi. Dengan demikian, koreksi yang kita berikan bukan merusak melainkan menjaga hati mereka juga. Ketika kita dengan setia mengoreksi dan menerapkan disiplin mengajarkan kebenaran Firman Tuhan dengan kasih, kita menolong mereka untuk belajar menjaga hati mereka dengan segala kewaspadaan. Ajak mereka melihat kecemaran apa yang ada di dalam hati mereka, dan apa yang Tuhan ingin ada dalam hati mereka sebagai ganti kecemaran yang ada dalam hati mereka. Jangan puas dengan perubahan perilaku saja. Saya berdoa agar Tuhan memampukan kita menolong anak-anak menilik dan menjaga hati mereka.

*) Ketua PKTK Sidoarjo



POKOK DOA (BTK Mei 2023)

Tahun 2023 sudah lima bulan kita lewati. Kita sudah memasuki musim kemarau di tahun politik ini. Ada beberapa doa syukur dan doa permohonan sebagai berikut :

  1. Bersyukur untuk HUT LBKK ke-33 yang jatuh pada Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei 2023 yang lalu. Di usia yang ke-33, disamping program radio TEgur sapa gembaLA keluarGA, juga ada Pusat Konseling Telaga Kehidupan (PKTK) di Sidoarjo dan Pusat Konseling Telaga Pengharapan (PKTP) serta Bina Iman Anak Tunas Kehidupan di Jember.
  2. Bersyukur ada 1 radio yang telah dikirimi rekaman lanjutan dalam bulan Mei 2023, yaitu Radio Suara Syallom FM di Halmahera Utara.
  3. Doakan untuk Radio Pemulihan Kasih FM di Bajawa, Flores yang menyiarkan program Telaga setiap hari, yaitu pk. 11.00 dan pk.20.00 WITA, sejak bulan Maret 2023 sampai dengan sekarang masih belum mengudara. Ada beberapa hal yang perlu didoakan yaitu: (a) Teknisi, (b) Perpanjangan Izin Prinsip Penyelenggaraan (1x dalam 5 tahun) dan (c) Perpanjangan Izin Stasiun Radio (1x dalam 6 bulan).
  4. Doakan untuk Bp. Heman Elia, salah seorang narasumber rekaman Telaga yang telah beberapa lamanya menderita kanker di paru-paru yang sudah mengecil tapi menjalar di lain bagian dan sudah sampai ke otak. Harus tetap memakai oksigen, biarlah Tuhan memberi kekuatan dalam menjalani kemoterapi dan mujizat Tuhan bisa dialami oleh hamba-Nya di masa-masa yang sulit ini.
  5. Doakan agar dalam bulan Juni dan Juli 2023 bisa dikirimkan bahan rekaman Telaga tahun 2020 dan 2021 ke radio-radio yang memerlukan.
  6. Bersyukur untuk jiwa-jiwa yang Tuhan percayakan untuk dilayani oleh PKTK (Pusat Konseling Telaga Kehidupan) Sidoarjo. Kiranya Tuhan yang menolong agar menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya bagi setiap mereka yang memerlukan.
  7. Doakan untuk kebutuhan tenaga konselor di PKTK Sidoarjo.
  8. Doakan agar kantor PKTK Sidoarjo bisa digunakan untuk mereka yang memerlukan konseling tatap muka.
  9. Bersyukur Tuhan membuka pintu kerjasama dengan pihak GKI, GKT dan Persekutuan Mahasiswa Kristen (Permaker) Jember, biarlah Dia terus memerluas jejaring dan kerjasama dengan Gereja-Gereja, Sekolah-Sekolah dan Lembaga-Lembaga di wilayah Jember dan sekitarnya.
  10. Bersyukur atas kesediaan Ev. Yudi Handoko bekerjasama dengan Tim Telaga Pengharapan yang sedang menggumulkan pelayanan untuk menjangkau kaum muda, doakan agar Tuhan memberi visi yang jelas, menyatukan hati dan memberi hikmat kepada tim dalam menyusun kurikulum dan program-program yang tepat.
  11. Bersyukur untuk tim kreatif yang telah menyelesaikan profil Telaga Pengharapan untuk Instagram, kitanya Tuhan memberi hikmat dan ide-ide kreatif untuk mengembangkan edukasi melalui media sosial.
  12. Doakan untuk acara melalui Instagram Live pada tanggal 16 Juni 2023 dengan tema “Mendampingi Anak Berkebutuhan Khusus” yang akan disampaikan oleh Ev. Lidanial, M.K., M.Pd., agar Tuhan memakai sarana ini untuk para orangtua.
  13. Doakan untuk penutupan semester Bina Iman Tunas Kehidupan pada tanggal 17 Juni 2023, doakan tim guru yang menyusun Laporan Pertumbuhan Anak agar Tuhan memberi hikmat pada guru dan orangtua untuk melihat pertumbuhan yang DIA kerjakan dalam diri setiap anak.
    Bersyukur untuk sumbangan dari donatur tetap di Malang, yaitu :
    015 – Rp 4.500.000,- untuk 6 bulan