You are herePdt. Dr. Paul Gunadi
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Keluarga yang Berprioritas
Pada masa saya berkuliah dulu, seorang dosen saya pernah bersaksi bahwa sewaktu ia bersekolah di seminari, ia berkomitmen untuk mendahulukan keluarganya di atas tuntutan kuliahnya. Ia berkeyakinan, komitmen itulah yang telah menolong keluarganya lolos dari masa perkuliahannya dengan tidak babak-belur. Nasihat itu saya camkan baik-baik dan saya terapkan tatkala saya menyelesaikan kuliah saya. Selama 6 tahun Santy memberi dukungan kepada saya yang berkuliah, berkeluarga, bekerja penuh waktu dan melayani di gereja. Bukan masa yang mudah namun bisa dilewati dengan pertolongan Tuhan dan adanya prioritas yang benar. Pada akhirnya bukan saja kami sanggup melalui masa yang penuh kesibukan itu, kami pun dapat melihat ke kurun itu sebagai masa yang penuh kenangan indah.
Mengecek Kesehatan Pernikahan
Memasuki usia paro-baya ini saya semakin disadarkan akan pentingnya bertubuh sehat. Untuk itu secara rutin saya mengecek kesehatan melalui tes darah dan sebagainya. Pernikahan pun memerlukan uji kesehatan. Ada baiknya secara berkala kita memeriksa kondisi pernikahan kita dan dengan jujur melihat keadaan sesungguhnya. Ingat, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Pada kesempatan ini saya ingin membagikan dua indikator untuk menguji kesehatan pernikahan kita.
Pertama, pernikahan yang sehat akan membuat kita menjadi individu yang lebih sehat. Saya teringat akan komentar orang tentang Warren Bennis, seorang pakar kepemimpinan di Amerika Serikat, "Bekerja dengan Warren Bennis merupakan sebuah pengalaman yang transformatif. Saudara tidak akan menjadi orang yang sama - sebelum dan sesudanya. Sesuatu terjadi pada diri saudara - ia membuat orang menjadi versi baru yang lebih baik daripada sebelumnya." pernikahan mentransformasi kita; masalahnya ialah, apakah kita menjadi orang yang lebih baik atau sebaliknya, menjadi orang yang lebih buruk, setelah menikah.
Mengatur Suhu Emosi
Salah seorang dosen saya di seminari mengatakan bahwa dosa, hamartia, bukan saja telah merusak relasi manusia dan Tuhan, dosa juga merusak tatanan hidup manusia secara psikologis. Hamartia yang bermakna "tidak mencapai sasaran yang tepat," dapat juga diartikan "kelebihan atau kekurangan"-tidak tepat sasaran. Inilah salah satu persinggungan antara psikologi dan theologi. Nah, dalam kerangka pikir inilah saya berniat membahas masalah pengaturan emosi dalam relasi pernikahan.
Moralitas dan Rasa Hormat
Virginia Satir, seorang pakar terapi keluarga, mengemukakan bahwa suami istri adalah poros keluarga. Dengan kata lain, hubungan suami istri sangat mewarnai kondisi keluarga secara keseluruhan. Salah satu aspek kehidupan suami istri yang berdampak langsung pada keluarga ialah kehidupan moral suami dan istri. Sebagai contoh, keberhasilan orangtua mendisiplin anak sangat terkait dengan kehidupan moral orangtuanya. Apabila anak menghormati kehidupan moral orangtua, anak juga cenderung mematuhi petuah orang tua. Sebaliknya, wibawa orang tua untuk menerapkan disiplin kepada anak mudah merosot jika anak sudah tidak menghormati kehidupan moral orangtuanya lagi.
Menyelaraskan Perbedaan Nilai Moral
Nilai moral mencerminkan siapa diri kita yang sebenarnya; sebaliknya, nilai moral pun merefleksikan siapa diri kita yang seharusnya. Kita tidak selalu berhasil hidup sesuai dengan nilai moral yang kita yakini, kadang kita gagal, namun nilai moral itu sendiri mendemonstrasikan bagian terbaik atau terburuk dari diri kita. Tuhan Yesus pernah berkata, "Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu." (
Menolong Suami Menjadi Ayah
Salah satu peranan istri yang penting dalam keluarga (dan sudah tentu, peranan suami pula di pihak sebaliknya) adalah menolong suami menjadi ayah. Kedua peranan ini, yakni sebagai suami dan sebagai ayah, tidaklah secara otomatis dapat dilakonkan oleh semua pria dengan sama baiknya. Sebagian kita, pria, jauh lebih siap menjadi suami ketimbang ayah; sebagian lagi lebih siap menjadi ayah dari pada suami. Pertanyaannya adalah, ayah seperti apakah yang seharusnya menjadi sasaran model setiap pria kristiani? Saya kira pertanyaan ini perlu kita ajukan agar pria bisa memahami bahwa ia bukan sedang "Dibentuk" sesuai selera istrinya belaka, melainkan sedang ditolong untuk menjadi ayah sebagaimana yang Tuhan kehendaki-tugas yang memang tersirat dalam penciptaan Hawa untuk Adam.
Ibadah : Pengikat Tali Pernikahan
Walaupun faktor kesamaan iman bukanlah satu-satunya prasyarat untuk membangun pernikahan, faktor ini tetap merupakan elemen yang penting untuk memelihara pernikahan. Salah satu alasannya adalah, kesamaan iman dalam Kristus memungkinkan kita untuk beribadah bersama. Sudah tentu ibadah di sini tidak hanya berarti pergi ke gereja atau berdoa sebelum makan. Ibadah merupakan komitmen untuk hidup tunduk kepada Tuhan dan kehendak-Nya.
Hidup tidak selalu berjalan lancar tanpa hambatan dan salah satu peran ibadah yang paling nyata ialah sewaktu badai menerpa kita. Ada begitu banyak saat di mana Santy dan saya berdoa bersama menghadapi kesedihan dan kebingungan. Melalui doa kami membawa beban hidup kami kepada-Nya dan di dalam doa jugalah kami disatukan untuk menghadapi problem bersama-sama. Namun, peranan ibadah tidak hanya terbatas pada saat kita menghadapi badai kehidupan. Di bawah ini saya ingin membagikan beberapa peran ibadah dalam pernikahan kami.
Tanggung Jawab yang Terlupakan
Salah satu cara memandang pernikahan ialah melihanya sebagai suaru transaks. Transaksi adalah suatu pertukaran, baik itu jasa maupun bena. Pernikahan dapat dilihat sebagai transaksi sebab masing-masing pihak, istri atau suami, diharapkan untuk memberi dan mengharapkan untuk menerima sesuatu dari pasangannya. Sebenarnya, bukan saja kita mengharapkan; sesungguhnya, kitapun menuntut pasangan kita untuk memberikan yang kita harapkan itu. Dengan kata lain, kita menuntut tanggung jawabnya untuk melunasi bagian dari transaksi yang kita sebut, pernikahan.
Ayah dan Arah
Ada satu pengamatan yang saya saksikan berulang kali dalam praktek konseling yang cukup menyedihkan hati, yakni anak laki-laki, yang dibesarkan dalam keluarga di mana keterlibatan ayah sangat minim, cenderung bertumbuh menjadi pemuda tanpa arah. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ada kaitan yang erat antara keterlibatan ayah dan pertumbuhan kepribadian anak laki-laki. Saya perhatikan biasanya anak-anak seperti ini memperlihatkan beberapa ciri yang serupa misalnya, mereka memiliki banyak keraguan dan ketidakpastian dalam hidup. Mereka bersikap pasif dan menuntut orang untuk senantiasa memahami dan menyediakan kebutuhan mereka. Di dalam mengarungi kehidupan, biasanya mereka mencari-cari "sesuatu' sehingga apa pun yang mereka lakukan tidak akan mampu memberikan kepuasan yang sepenuhnya. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang terus mencari tempat atau habitat mereka dalam hidup ini.
Peran Ayah dalam Mendidik Anak
Peran ayah dalam pendidikan, dalam bahasa Inggris, ialah tofather. Di dalam bahasa Inggris terdapat tiga istilah yang berhubungan dengan tugas mendidik anak, yaitu mothering, fathering, dan parenting. Meskipun semuanya membicarakan tentang tugas mendidik anak, namun ada keunikan masing-masing dalam konteks sumbangsih ayah dan ibu dalam mendidik anak.
Salah satu tugas ayah kristiani ialah "mengajarkannya (perintah Tuhan kepada anak-anakmu dengan membicarakannya......." (





