You are hereArtikel
Artikel
Artikel
Keluarga yang Berprioritas
Pada masa saya berkuliah dulu, seorang dosen saya pernah bersaksi bahwa sewaktu ia bersekolah di seminari, ia berkomitmen untuk mendahulukan keluarganya di atas tuntutan kuliahnya. Ia berkeyakinan, komitmen itulah yang telah menolong keluarganya lolos dari masa perkuliahannya dengan tidak babak-belur. Nasihat itu saya camkan baik-baik dan saya terapkan tatkala saya menyelesaikan kuliah saya. Selama 6 tahun Santy memberi dukungan kepada saya yang berkuliah, berkeluarga, bekerja penuh waktu dan melayani di gereja. Bukan masa yang mudah namun bisa dilewati dengan pertolongan Tuhan dan adanya prioritas yang benar. Pada akhirnya bukan saja kami sanggup melalui masa yang penuh kesibukan itu, kami pun dapat melihat ke kurun itu sebagai masa yang penuh kenangan indah.
1001 Akal Membantu Anak Belajar
Anak kita memiliki ciri perkembangannya yang khas dalam belajar pada tiap masa kehidupannya.
Sebagai orangtua, kita dapat menjadi penolong yang jauh lebih efektif bila kita memahami apa yang dibutuhkan anak kita sesuai dengan masa pertumbuhannya. Berikut akan kami sampaikan beberapa hal yang dapat kita lakukan agar anak-anak kita dapat menguasai keterampilan belajar secara lebih optimal. Pada saat yang sama, kita pun dapat mengurangi kesalahan-kesalahan yang sering terjadi. Dalam banyak hal, karena kurangnya pemahaman, banyak orangtua tanpa disadari justru menghambat tumbuhnya keterampilan belajar pada anak-anaknya.
Mengecek Kesehatan Pernikahan
Memasuki usia paro-baya ini saya semakin disadarkan akan pentingnya bertubuh sehat. Untuk itu secara rutin saya mengecek kesehatan melalui tes darah dan sebagainya. Pernikahan pun memerlukan uji kesehatan. Ada baiknya secara berkala kita memeriksa kondisi pernikahan kita dan dengan jujur melihat keadaan sesungguhnya. Ingat, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Pada kesempatan ini saya ingin membagikan dua indikator untuk menguji kesehatan pernikahan kita.
Pertama, pernikahan yang sehat akan membuat kita menjadi individu yang lebih sehat. Saya teringat akan komentar orang tentang Warren Bennis, seorang pakar kepemimpinan di Amerika Serikat, "Bekerja dengan Warren Bennis merupakan sebuah pengalaman yang transformatif. Saudara tidak akan menjadi orang yang sama - sebelum dan sesudanya. Sesuatu terjadi pada diri saudara - ia membuat orang menjadi versi baru yang lebih baik daripada sebelumnya." pernikahan mentransformasi kita; masalahnya ialah, apakah kita menjadi orang yang lebih baik atau sebaliknya, menjadi orang yang lebih buruk, setelah menikah.
Agar Anak Bermoral Baik
Kita barang kali sangat terkejut ketika untuk pertama kali mendapati anak kita yang masih belia berani melontarkan kata-kata kotor kepada guru atau orang tuanya sendiri. Mungkin pula anak yang tadinya manis dan baik tiba-tiba mencuri uang dalam jumlah besar, memeras teman sekelas, nyontek, belajar merokok, memfitnah teman, atau membaca buku porno. Apakah hal demikian normal?
Meskipun saat ini semakin banyak anak terlibat kasus yang menyangkut moral, kita tidak boleh beranggapan bahwa hal ini wajar.
Makna Ayah bagi Anaknya
Suatu hari Ami yang berusia lima tahun bertanya kepada ibunya, Leni, "Kenapa sih mama harus punya papa? Mama kan bisa kerja sendiri dan melahirkan anak?" Pertanyaan Ami yang tampaknya kekanak-kanakan namun bermaksa sangat mendalam ini menyentak Leni dan membuatnya tercenung agak lama. Leni sama sekali tidak menyangka Ami yang masih belia dapat mengajukan pertanyaan tajam semacam ini.
Kurang lebih sang ibu tahu apa yang ada dalam benak Ami. Ya, kenapa harus ada papa? Selama ini toh Ami dan mama dapat hidup berdikari tanpa ayah. Ayah bagi Ami tidak lebih dari sekadar seorang tamu yang kadang-kadang justru mengganggu keintiman relasi Ami dengan ibunya.
Anak Bertanggung Jawab Siapa yang Punya?
Tanto dalam usianya yang ke delapan seharusnya sudah dapat melakukan banyak tugas sehari-hari. Nyatanya ia masih memerlukan banyak bantuan dari orang-orang di sekelilingnya. Untuk tugas yang ringan pun ia enggan mengerjakannya sendiri. Tanto bahkan tidak mau bergerak untuk sikat gigi, mandi, memakai sepatu, sebelum disuruh. Bahkan cukup sering ia minta bantuan pembantu di rumahnya untuk melakukan apa yang harus ia lakukan sendiri.
Menelusuri apa yang menjadi latar belakang Tanto, mungkin kita akan maklum dengan perilaku Tanto saat ini. Sejak kecil Tanto jarang mengerjakan sendiri apa yang seharusnya dapat ia lakukan. Ia dengan mudah memperoleh apapun yang diinginkannya dengan berteriak atau menangis. Sang Ibu segera akan datang melayani dan melakukan apa saja untuk menenangkan Tando. Ketika sang Ibu tidak sempat menghampiri Tanto, Ibu akan berteriak meminta bantuan pembantu. Dengan begitu segala usaha Tanto untuk mandiri terpasung oleh pertolingan berlebihan dari orang dewasa di sekitarnya. Tanpa disengaja, Tanto kehilangan rasa percaya diri bahwa ia cukup mampu melakukan berbagai hal secara mandiri.
Makna dibalik Uang Jajan
Tidak dapat disangkal bahwa masalah keuangan merupakan salah satu sumber paling potensial dalam memicu perselisihan dan pertengkaran di dalam keluarga. Perselisihan muncul bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti sikap yang berbeda terhadap uang dan cara pengelolaan yang berbeda pula, selain juga karena kurangnya pemahaman dan kemampuan di dalam pengelolaan akibat kurangnya latihan.
Menurut Larry Burkett dalam bukunya "Mengatur Keuangan Dengan Bijak", orangtua perlu membimbing anak-anaknya agar mempunyai sikap yang benar terhadap uang. Anak-anak juga perlu dibekali dengan pengetahuan dan prinsip-prinsip dasar mengenai keuangan dan cara-cara pengelolaannya agar mereka tidak berorientasi pada materi.
Ayah dan Arah
Ada satu pengamatan yang saya saksikan berulang kali dalam praktek konseling yang cukup menyedihkan hati, yakni anak laki-laki, yang dibesarkan dalam keluarga di mana keterlibatan ayah sangat minim, cenderung bertumbuh menjadi pemuda tanpa arah. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ada kaitan yang erat antara keterlibatan ayah dan pertumbuhan kepribadian anak laki-laki. Saya perhatikan biasanya anak-anak seperti ini memperlihatkan beberapa ciri yang serupa misalnya, mereka memiliki banyak keraguan dan ketidakpastian dalam hidup. Mereka bersikap pasif dan menuntut orang untuk senantiasa memahami dan menyediakan kebutuhan mereka. Di dalam mengarungi kehidupan, biasanya mereka mencari-cari "sesuatu' sehingga apa pun yang mereka lakukan tidak akan mampu memberikan kepuasan yang sepenuhnya. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang terus mencari tempat atau habitat mereka dalam hidup ini.
Membantu Anak Memahami Makna Kematian
Betapa paniknya Atik dan adiknya Edo menyaksikan marmut mereka mati. Setiap pagi ibu mereka menjemur sejenak marmut kesayangan ini bersama kandanya di taman berumput agar makin sehat. Hari itu, ketika keluar rumah, sang ibu rupanya lupa memasukkan marmut ini ke tempat yang lebih teduh. Akibatnya, marmut kepanasan dan akhirnya mati.
Atik dan Edo pun berdebat mengenai apa yang harus mereka lakukan atas marmut yang sudah tidak bergerak dengan tubuh kaku itu. Mereka membawa bangkai marmut ke sana ke mari dan akhirnya memaksa ibu membawa serta marmut ke dokter. Ketika ibu berusaha membuang bangkai marmut, Atik dan Edo menjerit dan menangis. Mereka tidak habis mengerti mengapa marmut yang lucu itu harus dibuang. Mereka sangat sedih ketika mereka harus berpisah dengan sang marmut. Kejengkelan mereka terbangkit karena ibu seolah tidak berbuat banyak untuk membuat sang marmut bergerak kembali.
Peran Ayah dalam Mendidik Anak
Peran ayah dalam pendidikan, dalam bahasa Inggris, ialah tofather. Di dalam bahasa Inggris terdapat tiga istilah yang berhubungan dengan tugas mendidik anak, yaitu mothering, fathering, dan parenting. Meskipun semuanya membicarakan tentang tugas mendidik anak, namun ada keunikan masing-masing dalam konteks sumbangsih ayah dan ibu dalam mendidik anak.
Salah satu tugas ayah kristiani ialah "mengajarkannya (perintah Tuhan kepada anak-anakmu dengan membicarakannya......." (





