Dewasa
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:20am.
Abstrak:
Kehadiran anak membawa perubahan yang besar. Hari lepas hari diisi dengan pelbagai kegiatan yang berkaitan dengan anak. Jika kehadiran anak membawa perubahan yang begitu besar dalam kehidupan kita, maka dapat dibayangkan bahwa kepergian anak juga membawa perubahan besar. Kendati semua perubahan ini sukar, namun tidak bisa tidak, mesti dihadapi dan dijalani. Apa yang harus kita lakukan jika hal ini sudah mulai melanda kehidupan kita?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Sepi di Hari Tua" bagian yang kedua, karena perbincangan ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami terdahulu mengenai hilangnya kesibukan rutin dan makna yang terkandung di dalamnya. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, sebelum kita melanjutkan perbincangan ini ke perbincangan yang berikutnya supaya para pendengar kita punya hubungan antara pembicaraan yang terdahulu dengan yang sekarang, mungkin Pak Paul bisa secara sekilas menjelaskan apa yang kita perbincangkan pada pembicaraan terdahulu, Pak Paul.
PG : Kehadiran anak dalam hidup kita membawa banyak perubahan, rumah yang tadinya sepi menjadi ramai, waktu yang tadinya agak senggang sekarang menjadi terisi oleh kegiatan anak. Waktu anak-anak pergi, itu juga membawa perubahan besar dalam kehidupan kita, sehingga yang tadinya sehari-hari itu dilalui dalam kesibukan, sekarang tiba-tiba senggang sekali. Namun selain dari hilangnya kegiatan-kegiatan itu, Pak Gunawan, yang memang membuat hari-hari itu sepi sekali setelah kita pension, anak-anak sudah meninggalkan rumah adalah hilangnya makna yang terkandung dalam semua kegiatan itu. Kita yang terbiasa bekerja, terbiasa masuk kantor, bertemu dengan teman melakukan ini dan itu semua itu memberi makna tertentu dan memberikan perasaan tertentu dalam diri kita. Seorang ibu yang mengurus anak, membesarkannya dari kecil sampai besar, sekarang tidak ada lagi anak. Nah tidak bisa tidak dia akan kehilangan juga makna yang terkandung dalam tugas membesarkan anak, jadi kita memang harus menghadapi kehilangan ini. Kita harus menerima fakta bahwa memang kehilangan ini tidak dapat dihindari dan tidak ada yang bisa mengganti makna itu sendiri, karena memang hal-hal itu terkait dalam pekerjaan-pekerjaan yang dulu kita lakukan. Tidak kita lakukan ya memang maknanya pun turut hilang. Kita harus siap menerima itu, namun saya anjurkan agar kita mencoba untuk mengisi hari-hari kita dengan kegiatan yang serutin mungkin dan juga berhubungan dengan orang sehingga kita masih bisa mengerjakan sesuatu secara berkala, secara rutin dan bertemu dengan orang. Saya pun menyarankan agar sebagai orang tua kita memelihara hubungan yang baik dengan anak-anak, jangan mencampuri jangan masuk ke dalam kehidupannya tanpa diundang, tapi tetaplah pelihara hubungan dengan cara menyediakan waktu untuk menolongnya kalau memang diperlukan, menghubunginya, menelepon, berinisiatif untuk juga memerhatikan pasangan hidupnya dan anak-anaknya supaya mereka pun tetap mengingat kita dan memelihara hubungan yang baik dengan kita pula. Itulah letak kekuatan kita menghadapi hari-hari tua yang sepi.
GS : Pak Paul, selain hilangnya kesibukan rutin dan makna yang membuat orang sepi, orang bisa menjadi sepi karena hilangnya apa lagi, Pak Paul?
PG : Yang berikut adalah hilangnya rasa berguna dan dibutuhkan, Pak Gunawan. Bagi kita yang terbiasa hidup dibutuhkan orang, melewati hari tua tanpa ada yang datang meminta bantuan, sungguh menyiksa. Kita terbiasa ditanya, dikonsultasikan, dimintai bantuan tiba-tiba makin hari makin berkurang dan hampir tidak ada lagi orang yang menyapa dan meminta bantuan kita. Nah semua kegiatan yang berkaitan dengan manusia berpotensi melahirkan rasa berguna, itu sebabnya kita yang tergolong pekerja kemanusiaan cenderung akan mengalami kehampaan yang lebih besar dibanding dengan orang yang pekerjaannya berhubungan dengan benda atau data. Jadi memang rasa berguna dan dibutuhkan ini tidak bisa tidak makin tua, anak-anak telah meninggalkan rumah kita juga telah pensiun itu juga makin hari akan makin berkurang.
GS : Sekali pun orang itu tadinya berhubungan dengan benda, Pak Paul, tapi mau tidak mau terkait dengan orang misalnya dia seorang montir. Dia merasa sungguh berjasa ketika mobil yang rusak dia betulkan dan bisa menyenangkan orang lain, sehingga ketika dia pension ini menjadi suatu pukulan bagi kehidupannya.
PG : Betul, saya tahu ada orang yang seperti ini Pak Gunawan. Memang ini perusahaan dia sendiri jadi dia masih bisa berbuat yang dia inginkan, tapi sesungguhnya dia tidak lagi mengelola, tidak lagi mengatur namun ia akan tetap datang setiap hari. Berpakaian serapi seperti sediakala padahal di sana dia hanya duduk beberapa jam, hanya itu saja Pak Gunawan. Setelah itu pulang dan hampir tidak ada lagi yang dikerjakannya, namun sekali lagi untuk dia datang ke tempat pekerjaan, duduk seolah-olah membuat dia merasa seolah-olah masih dibutuhkan. Setidak-tidaknya masih ada yang menyapa dia, ada yang mengajak berbicara dan mungkin yang diajak bicara masih bertanya sesuatu kepadanya, sehingga rasa dibutuhkan rasa berguna itu masih sedikit banyak terpelihara.
GS : Tapi itu buat yang melanjutkan pekerjaannya atau jabatannya, ini menjadi suatu gangguan, Pak Paul.
PG : Seringkali begitu, Pak Gunawan. Jadi kalau memang kita sadari bahwa waktunya sudah tiba mungkin secara perlahan kita harus merelakan diri, terpinggirkan dan menerima fakta. Ya sudah seharusnya begini.
GS : Ya lalu masukan dari Pak Paul, apa ?
PG : Yang pertama, Pak Gunawan, menghadapi semua ini menghadapi hilangnya rasa berguna dan dibutuhkan, terimalah fakta bahwa setelah mencapai usia tertentu kita tidak bertambah bijak. Memang ada yang berkata bahwa makin tua makin kita berpengalaman dan makin berpengalaman makin kita dibutuhkan. Itu benar ya namun semua ada batasnya sampai titik tertentu mungkin kita akan tambah bijak tapi lewat fase tertentu kita tidak akan lagi menambah pengalaman. Makin tua makin sukar buat kita untuk terlibat dalam kegiatan kerja dan hal itu akan membatasi pengalaman kerja. Dengan berkurangnya jam terbang, makin berkurang pula hikmat yang dapat ditimba. Jadi ini, Pak Gunawan, singkat kata kendati sampai titik tertentu benarlah pepatah berkata, bahwa "Makin tua kita semakin seperti barang klasik, barang antik" namun lewat masa tertentu sesungguhnya yang terjadi adalah makin tua makin kita menjadi seperti barang kuno, barang yang tidak lagi terpakai. Inilah fakta kehidupan yang tak dapat kita ingkari.
GS : Ya jadi dirinya sendiri mungkin merasa masih dibutuhkan makin menjadi bijak, tapi orang lain menilai sebaliknya, Pak Paul.
PG : Betul, Pak Gunawan karena bijak atau hikmat itu keluar dari pengalaman-pengalaman. Nah dunia berubah, kemajuan teknologi dan banyak hal lainnya, otomatis kita tidak bisa menguasai semuanya lagi. Sebagai contoh banyak orang sekarang ke "facebook" ke "tualler". Terus terang Pak Gunawan, saya tidak masuk ke dua-duanya, bahkan saya pun belum pernah melihat, tidak pernah membuka-buka tualor atau facebook. Mengapa? Ya saya merasa karena kesibukan saya, interes saya, jadi memang tidak adalah minat ke sana. Saya hanya fokus pada menulis email, menjawab email dan menggunakan sarana internet, itu saja. Berarti dengan bertambahnya kemajuan dan perkembangan ilmu dan sebagainya, makin banyak yang tidak lagi saya ketahui. Ada seorang penulis yang pernah dengan terbuka berkata, seorang yang memang diberkati Tuhan dengan karunia menulis yang baik, namun dia sendiri berkata dia selalu menulis dengan tangannya. Dia tidak menulis dengan komputer, jadi meskipun menulis dengan komputer sudah begitu umum sekarang masih ada penulis yang tidak menulis dengan komputer, tetap dengan tulisan tangan. Nah waktu dia selesai menulis manuskripnya, sampai bermeter-meter panjangnya kertas tulisan itu, karena dia memang menggunakan pena dan kertas. Jadi bagaimanakah kita bisa berkata kita bertambah bijak, dalam hal-hal tertentu, untuk hal-hal tertentu memang ya kita bertambah matang, tapi dalam hal-hal lainnya kita memang akan ketinggalan dan tak mungkin lagi kita akan mendapatkan hikmat dari pengalaman yang tak pernah terjadi dalam hidup kita.
GS : Ya mungkin kita tidak perlu secara terus terang atau secara terbuka berkata bahwa tambah tua tambah bijak, nanti malah ditertawai orang. Kita sendiri mengatakan diri kita bijak, tapi orang melihat bahwa kita tidak bijak malah merepotkan. Tapi kalau orang lain yang memberikan penilaian itu, silakan saja. Kita terima dengan senang hati.
PG : Betul, jadi yang penting adalah sebuah kesadaran diri, Pak Gunawan. Jangan sampai kita makin tua makin mau mengokohkan tempat kedudukan kita dan berkata bahwa kita makin berpengalaman, makin berhikmat. Sampai titik tertentu betul ya, tapi lewat titik tertentu ya tidak lagi. Banyak penemuan yang lebih baru dan orang lebih mengetahui akan cara ini dan itu, akhirnya harus kita sadari bahwa memang kita tidak mengetahui lagi akan hal-hal itu. Waktu saya berbicara dengan seseorang yang baru lulus, membicarakan tentang ilmu-ilmu tertentu dalam psikologi, terus terang Pak Gunawan, saya tidak pernah mendengar tentang hal-hal itu. Terlalu banyak yang memang dimunculkan dan kita tidak bisa menyerap semua dengan bertambahnya usia kita makin tersingkirkan.
GS : Masukan yang lain, apa Pak Paul ?
PG : Yang kedua, terimalah kenyataan bahwa pada usia tua kita tidak lagi diingat orang. Bagi kita yang biasa dibutuhkan, kondisi tidak dibutuhkan akan membuat kita merasa tidak berguna. Barang usang, kita merasa dipinggirkan. Nama kita makin jarang disebut, sumbangsih kita makin jarang diingat. Menghadapi masa tua ada orang yang berusaha tetap berguna dengan menggunakan berbagai macam cara, ada orang-orang yang berupaya keras hadir dalam kehidupan orang lain supaya rasa berguna tetap terpelihara dan mereka pun tetap diingat dan diperhitungkan orang, tapi belum tentu cara-cara itu sehat dan justru membangun orang lain. Ini adalah suatu kenyataan yang sedikit melukai, Pak Gunawan, menyedihkan. Akan ada masa dimana nama kita jarang disebut, Pak Gunawan. Ada masa dimana orang mencari, misalnya "Cari Pak Gunawan, dia bisa ini dan itu, Komisi apa perlu bantuan Pak Gunawan", sebut nama Pak Gunawan, tapi lama-kelamaan nama kita makin jarang disebut, karena sudah ada yang lain yang bisa menggantikan, yang lebih produktif, yang lebih muda, yang lebih baik dan nama kita makin jarang disebut. Berarti kita makin jarang diingat, itu faktanya, bahwa hidup mereka sudah berjalan dan kita makin jarang diingat.
GS : Ini terkait dengan pengaruh, Pak Paul ya, pengaruh pada waktu masa muda waktu kita masih jaya dan punya potensi, sekarang pengaruhnya makin kecil dan lama-lama akan hilang.
PG : Betul sekali dan itulah perputaran hidup yang mesti kita terima. Di tahun 70-an, 80-an kita juga mengetahui ada orang-orang tertentu yang berpengaruh yang sering namanya disebut, yang sering pendapatnya dikutip, tapi 20 tahun kemudian mereka jarang ditanya atau dikutip. Nama mereka pun jarang disebut di media massa dan kita pun sudah melupakan mereka. Apalagi generasi yang di bawah kita yang tidak pernah mengetahui mereka, sama sekali tidak akan mengutip mereka.
GS : Ya tapi itu mestinya masih lebih baik, Pak Paul, daripada mereka ingat kita tapi kejelekan-kejelekan kita yang diingat.
PG : Ya memang begitu juga, yang diingat adalah yang jelek-jelek saja.
GS : Masukan yang lain, apa Pak Paul ?
PG : Yang ketiga adalah hiduplah berkenan kepada Tuhan dan jangan berdosa. Masalahnya adalah untuk memertahankan rasa berguna ada yang menggunakan cara yang sehat dan berkenan kepada Tuhan. Namun ada pula yang menggunakan cara yang licik dan tidak berkenan pada Tuhan. Kita ingat ya Pak Gunawan, kisah raja Saul yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa masa memerintahnya telah habis kendati Tuhan sudah memberikan waktu yang sangat lama lebih dari 40 tahun, bahkan lebih lama dari raja Daud tapi sayang raja Saul ini tidak bisa melepaskan takhtanya karena ia terlalu mencintai kuasa. Alhasil ia pun menggunakan cara yang salah untuk mempertahankan kedudukannya. Kita tahu dia berusaha membunuh Daud yang telah ditunjuk Tuhan untuk menggantikannya. Jadi di hari tua waktu kita ingin memertahankan rasa berguna dan dibutuhkan kita mesti terus hidup takut akan Tuhan, sehingga tidak terperosok masuk dalam perangkap dosa. Pada hari tua tatkala kita merasa tidak berguna dan tidak dibutuhkan lagi, ingatlah akan Tuhan dan hidup takut akan Dia supaya kita tetap hidup berkenan kepadaNya. Jangan membuat cara berdosa untuk membuat diri berguna.
GS : Dalam hal ini memang sering orang yang ingin mengabadikan namanya, entah dalam suatu organisasi atau apa, dia selalu ingin hadir di sana, Pak Paul dan ini membawa dampak yang buruk bagi organisasi atau kelompok orang itu termasuk juga kepada anak-anaknya. Mestinya dia sudah tidak lagi berpengaruh tapi dia memaksakan pengaruhnya di keluarga anak-anak itu. Ini bisa terjadi pada pria maupun wanita, Pak Paul ?
PG : Ada orang yang misalkan mempunyai perusahaan yang ingin diwariskan kepada anaknya. Sebetulnya anak-anaknya senang menerima warisan itu, tetapi mereka menolak. Mengapa mereka menolak ? Sebab si ayah tetap ingin bercokol dan yang menjadi masalah adalah tetap ingin melakukannya dengan cara yang dulu. Padahal dunia sudah berubah, manajemen sudah bertambah jadi sebaiknyalah gunakan cara-cara yang lebih efisien, tapi ada orang tua yang tidak mau, tetap menggunakan caranya. Namun ia berkata, "Ini nanti untuk kamu", entah sampai kapan yang dimaksud, tapi si orang tua tetap bercokol dan memaksakan cara dan kehendaknya. Sayang, anak-anak akhirnya melepaskan diri tidak mau lagi campur dalam urusan orang tuanya. Orang tuanya merasa sedih, "Saya sudah membangun perusahaan ini, nanti saya mau serahkan kepada anak-anak", tapi anak-anak tidak mau. Masalahnya adalah seharusnya si orang tua bercermin diri dan mengakui bahwa "anak-anak saya hidup di zaman yang berbeda, mempunyai pengetahuan yang mungkin lebih efisien. Kita pun harus mendengarkan masukan-masukan dari anak-anak kita.
GS : Kalau seorang wanita, pengaruhnya biasanya di mana, Pak Paul ?
PG : Maksudnya pengaruh-pengaruh ?
GS : Pria dalam pekerjaannya dia memunyai pengaruh-pengaruh yang besar lalu pada suatu saat harus dihibahkan kepada anaknya, tetapi anaknya menolak. Kalau perempuan bagaimana, Pak Paul ?
PG : Saya kira memang yang paling besar yang harus dilepaskan oleh seorang ibu adalah pengaruh atas anak-anaknya. Tidak bisa tidak, anak-anak tetap akan dengarkan tapi tidak terlalu lagi memberikan penekanan pada perkataan orang tuanya atau ibunya itu. Ini memang sebuah kenyataan yang lumayan pahit untuk diterima oleh si ibu, sebab bertahun-tahun bahkan berbelasan atau berpuluhan tahun, omongannya yang terbiasa didengarkan oleh anak-anaknya. Sekarang seperti angin berlalu, dia bicara apa, anaknya tetap saja tidak mendengarkan, jalan saja. Si ibu merasa pengaruhnya terhadap anak sudah begitu tipis hampir tidak ada sama sekali. Hati-hati sebab saya tahu kadang-kadang sebagai ibu, sebagai manusia kadang-kadang terpukul, tersakiti, kecewa berat, sehingga mengatakan, "Kalau tidak mau sama saya, ya sudah saya tidak mau menghubungi kamu, telepon-telepon kamu". Itu yang saya kira keliru. Tetaplah kita menjalin hubungan dengan anak, meskipun masukan-masukan kita belum tentu didengarkannya.
GS : Ya bahkan bertentangan bukan hanya tidak didengarkan. Kadang-kadang bertentangan dengan ide-ide yang diberikan oleh ibunya dan ibu ini merasa dia sudah tidak berguna lagi dalam kehidupan ini.
PG : Ya tidak bisa tidak, sebagai seorang ibu yang terbiasa mengurus anak, terbiasa memberi arahan kepada anak, melepaskan peranan itu berat. Tapi kalau memang itu penting, hal itu berkaitan dengan dosa atau apa, sudah seyogianya kita memberikan peringatan kepada anak.
GS : Masukan yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Yang keempat adalah akuilah keterbatasan dan alihkan tanggung jawab. Ada pula orang yang berusaha memertahankan kebergunaannya dengan cara terus ikut campur dalam hal yang bukan lagi menjadi kewenangan dan keahliannya. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ketrampilannya tidak lagi setajam dulu. Dan bahwa pengetahuannya tidak lagi sekini atau "updated" mitra kerjanya atau bahkan bawahannya. Sebagai akibatnya ia bukan membantu melainkan merugikan banyak orang. Di hari tua kita mesti jeli dan berbesar hati melihat keterbatasan. Kita pun harus memberikan kesempatan pada yang lebih muda untuk mengambil alih bagian yang tadinya menjadi porsi kita. Orang yang jeli dan berbesar hati menerima keterbatasannya justru akan lebih dihormati, kendati ia tidak seberguna dulu, namun masukannya tetap dihargai. Sebab hikmat tetap menjadi bagian hidupnya.
GS : Itulah sebabnya biasa para senior, orang-orang yang lebih berpengalaman ditempatkan sebagai Penasehat, Pak Paul, supaya bisa memberikan masukan dan ia tetap merasa berarti di dalam organisasi itu dengan nasihat-nasihatnya.
PG : Betul ya karena memang pengalamannya menunjang sehingga nasihatnya itu diperlukan oleh mereka yang lebih muda. Namun sekali lagi kita mesti terima, diminta untuk menjadi Penasehat bukan berarti menjadi seorang yang harus dituruti segala kemauannya. Kadang-kadang kita tersinggung, sudah dimintai menjadi Penasehat kok tidak diikuti. Ya belum tentu setiap nasihat kita akan dituruti. Jadi tugas kita hanya memberikannya.
GS : Karena sebagai sosok yang lebih tua atau yang dituakan, bisa menjadi figur pemersatu yang bisa mendamaikan bila terjadi pertengkaran dan sebagainya. Di situlah perannya yang paling kuat.
PG : Betul dan dengan perkataan lain dia bisa merasa dibutuhkan dan berguna.
GS : Apakah masih ada masukan yang lain, Pak Paul?
PG : Yang kelima adalah ciptakanlah kebergunaan dalam hal yang lebih sederhana. Makin tua makin terbataslah wilayah dimana kita dapat berkiprah dan menimba rasa berguna. Mungkin pada akhirnya kita hanyalah berguna dalam hal mengurus misalnya cucu atau kita berguna mengurus burung peliharaan atau tanaman di sekitar rumah. Jadi makin tua makin terbatas pilihan untuk berguna, makin sederhana pilihan yang tersedia. Sungguhpun demikian tetaplah berkiprah dalam kesederhanaan. Misalnya, kunjungilah orang yang sakit, sediakanlah waktu untuk menyediakan ruang ibadah, bantulah pelayanan anak di gereja atau pelayanan lainnya. Belajarlah menikmati dan menghargai yang sederhana, saya kira ini salah satu kuncinya, Pak Gunawan.
GS : Ya jadi bukan lagi kita menekankan pada kualitas pekerjaan atau bahkan jumlah pekerjaan yang harus ditangani, ya Pak Paul, atau ini semacam pekerjaan yang justru penting untuk kita dan bukan untuk orang yang kita layani.
PG : Betul, betul, ya jadi memang makin tua makin menyempitlah ruang lingkup kita dan makin mengecil obyek-obyek yang nanti bisa kita sentuh atau jadikan bagian dari kehidupan atau pekerjaan kita.
GS : Nah ini dibutuhkan kreatifitas yang cukup tinggi bagi seseorang itu untuk mau meluaskan ruang lingkupnya.
PG : Betul, memang perlu kreatifitas dan kerendahan hati, Pak Gunawan, untuk mengerjakan hal-hal yang mungkin tadinya tak terpikir karena terlalu sederhana.
GS : Masih ada lagi, Pak Paul, masukan lainnya ?
PG : Yang terakhir yaitu peliharalah relasi yang membangun dan mendukung dengan generasi penerus. Misalnya, jangan membanding-bandingkan diri dan meninggikan kemuliaan masa lalu. Setiap masa mempunyai kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Singkat kata, jangan menghancurkan jembatan antara kita dan generasi penerus, sebaliknya perkuatlah tali persahabatan. Disitulah terletak kekuatan kita.
GS : Di sini kesulitannya generasi yang melanjutkan kita juga membutuhkan juga pandangan-pandangan kita pada masa-masa yang lampau, Pak Paul. Kadang-kadang mereka menanyakan, misalnya papa dulu seperti apa? Kakek dulu seperti apa. Kadang-kadang kita bercerita kebablasan, terlalu jauh dan membanggakan diri yang akhirnya memuakkan.
PG : Betul, ya kita terlalu banyak mencela dari apa yang kita lihat sekarang dan membandingkannya dengan zaman kita dulu. Itu memang yang harus kita hindari. Kalau mau membicarakan tentang itu, bicaralah dengan sesama kita. Jangan mengatakannya kepada generasi penerus, itu sangat mengecilkan hati mereka.
GS : Tapi dalam Alkitab juga diajarkan, bahwa yang tua harus mengajarkan kepada yang muda berdasarkan pengalaman masa lampau.
PG : Betul kita harus membagikan dari pelajararan yang telah kita petik pada masa lampau, namun harus kita ingat bahwa kita pun terbatas. Pelajaran yang telah kita timba juga terbatas dan belum tentu semuanya itu dapat diterapkan pada masa sekarang, untuk situasi yang sedang dihadapi. Jadi kita harus menyadari bahwa kita bukanlah Tuhan, jadi hikmat kita pun terbatas.
GS : Nah disitu mungkin perlu diseimbangkan antara kita berbagi pengalaman masa lampau dan menanyakan atau memuji tentang kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh generasi penerus kita.
PG : Itu ide yang baik sekali ya, jadi mereka pun melihat bahwa kita pun tertarik dengan apa yang telah mereka kerjakan, kita pun masih mau belajar dari mereka. Dengan kita berinteraksi, saling bertukar ide itu 'kan sebuah sinergi yang akan menguntungkan kita semua.
GS : Pak Paul, apakah ada ayat Firman Tuhan yang mendukung pembicaraan kita ini?
PG : Kitab Pengkhotbah 1:9 berkata, "Apa yang pernah ada akan ada lagi dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi. Tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari". Nah kita yang tidak ingin hidup sia-sia perlu melihat hidup dari perspektif Tuhan. Kadang kita cepat berbesar hati, karena merasa telah berhasil melakukan sesuatu yang berguna. Kita ingin dapat meninggalkan sesuatu yang abadi, namun kita mesti ingat hanya Tuhan yang kekal, tidak ada yang lain. Tuhan memakai kita untuk menggenapi kehendakNya pada masa kita. Bersyukurlah untuk kesempatan yang diberikan-Nya, setelah itu lepaskanlah genggaman.
GS : Jadi sebenarnya rasa sepi di masa tua ini bisa diatasi jika kita mau membuka diri, berelasi, berinteraksi dengan orang lain, begitu Pak Paul?
PG : Tepat sekali, Pak Gunawan, apalagi dengan generasi penerus. Kalau kita masih terus menjalin kontak dengan mereka, kesepian kita akan relatif dapat terobati.
GS : Tapi sebaliknya kalau kita malah mengurung diri kita akan makin bertambah sepi, apalagi kalau penyakit datang, misalnya kebutaan, tuli dan sebagainya. Ini bisa merasa benar-benar tak berguna lagi.
PG : Betul sekali, memang ada tanggungjawab dalam diri kita untuk dapat mengurangi derita ini.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Sepi di Hari Tua" bagian yang kedua. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kehadiran anak membawa perubahan yang besar. Rumah yang tadinya sepi sekarang berubah ramai. Lantai yang tadinya mengkilap sekarang cemong oleh tumpahan makanan dan minuman. Hari lepas hari diisi dengan pelbagai kegiatan yang berkaitan dengan anak-dari mengantar anak ke sekolah di pagi hari sampai meninabobokan anak di kala malam.
Jika kehadiran anak membawa perubahan yang begitu besar dalam kehidupan kita, maka dapat dibayangkan bahwa kepergian anak juga membawa perubahan besar.
Kendati semua perubahan ini sukar namun tidak bisa tidak, mesti dihadapi dan dijalani. Memang masih ada keluarga yang bersedia menampung orang tua yang uzur namun tidak semua bersedia. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan agar tidak menimbulkan dampak yang buruk pada hubungan kita dan anak. Berikut akan dipaparkan dua perubahan yang umumnya terjadi di hari tua dan cara menghadapinya.
Hilangnya Kesibukan Rutin dan Makna yang Terkandung di Dalamnya
Bagi kita yang terbiasa hidup sibuk, hari tua tanpa kegiatan akan menghadirkan rasa jenuh yang luar biasa besar. Kita mesti menyadari bahwa yang terhilang bukanlah kegiatan itu semata melainkan makna dan semua perasaan yang terkait dengan kegiatan itu. Itulah yang membuat hidup begitu kosong dan hambar. Berikut adalah beberapa saran untuk menghadapi kekosongan ini.
Pertama, kita harus hidup dengan kekosongan ini. Dengan kata lain kita harus menerima kenyataan bahwa masa tua adalah masa kehilangan. Jadi, sesuaikanlah harapan sesuai kenyataan. Terimalah fakta bahwa kebahagiaan kita akan berkurang bukan bertambah.
Kedua, kendati tidak ada satu pun kegiatan yang dapat sepenuhnya mengganti makna yang terkandung dalam kegiatan yang lama, seperti membesarkan anak, isilah hari dengan kegiatan lainnya-serutin mungkin. Kuncinya adalah rutin! Entah itu dilakukan tiap hari atau beberapa hari per minggu. Makna sesungguhnya dari apa yang kita kerjakan hanya dapat bertunas dalam jadwal yang rutin. Rasa sayang pada apa pun yang kita kerjakan hanyalah dapat tercicipi bila kita melakukannya sesering dan serutin mungkin.
Ketiga, peliharalah relasi yang baik dengan anak, jangan malah merusakkannya. Kunci memelihara hubungan dengan anak pada masa tua adalah, "hormati batas dan bersedia menolong." Hormati batas berarti senantiasa mengingat bahwa kendati ia tetap anak kita, namun ia bukan "kepunyaan" kita lagi. Artinya, kita mesti menyadari bahwa ada tanggung jawab lain dalam hidupnya selain kita sebagai orang tuanya. Kita tidak bisa menuntutnya untuk menyediakan waktu dan perhatian sama seperti dulu lagi. Untuk memelihara relasi yang baik, tawarkan dan sediakan bantuan sedapatnya agar hubungan kita dengan anak menjadi relasi "memberi dan menerima," bukan "meminta dan menerima."
Keempat, berinisiatiflah untuk memelihara kontak dengan anak. Sudah tentu kita harus memelihara relasi yang baik dengan anak terlebih dahulu sebelum dapat menikmati kontak yang menyenangkan dengan anak dan berinisiatiflah menghubungi anak secara rutin, jangan menunggunya untuk menghubungi kita. Secara berkala ajaklah anak untuk pergi bersama atau undanglah mereka untuk datang ke rumah. Asalkan tidak terlalu sering, besar kemungkinan pasangannya dan anak-anaknya tidak akan berkeberatan.
Kelima, doronglah anak untuk mengasihi dan mementingkan pasangan dan anak-anaknya. Walapun kita "kehilangan" anak, di usia senja ini kita mungkin akan mendapat gantinya lewat kasih sayang dan perhatian pasangan dan anak-anaknya. Sebaliknya, bila kita hanya memerhatikan anak sendiri, tidak bisa tidak, pasangannya pun akan merasa diri tidak bernilai di mata kita. Sebagai akibatnya, ia pun tidak lagi berminat menjalin hubungan dengan kita.
Firman Tuhan: Amsal 14:1 mengingatkan, "Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri." Sudah tentu ayat ini berkenaan baik dengan perempuan maupun laki-laki. Pada hari tua, kita akan memetik buah dari pohon yang kita tanam. Bila kita telah menanam relasi yang sehat dengan anak, pada hari tua kita akan menikmati buah manis dengan anak. Juga, di hari tua janganlah kita malah merusakkan hubungan dengan anak dan keluarganya. Jagalah baik-baik sebab di situlah terletak kekuatan untuk menghadapi hari-hari yang sepi.
Hilangnya Rasa Berguna dan Dibutuhkan
Bagi kita yang terbiasa hidup dibutuhkan orang, melewati hari tua tanpa ada yang datang meminta bantuan sungguh menyiksa. Berikut akan dipaparkan cara untuk mengatasi rasa tidak berguna ini.
Terimalah fakta bahwa setelah mencapai usia tertentu, kita tidak bertambah bijak. Sampai titik tertentu benarlah pepatah yang berkata bahwa makin kita tua makin kita menjadi barang klasik, namun lewat masa tertentu sesungguhnya yang terjadi adalah makin kita tua, makin kita menjadi kuno. Inilah fakta kehidupan yang tak dapat diingkari.
Kedua, terimalah kenyataan bahwa pada usia tua kita tidak lagi diingat orang. Bagi kita yang terbiasa dibutuhkan, kondisi tidak dibutuhkan akan membuat kita merasa tidak berguna. Bak barang usang, kita merasa dipinggirkan. Nama kita makin jarang disebut, sumbangsih kita makin jarang diingat.
Ketiga, hiduplah berkenan kepada Tuhan dan jangan berdosa. Pada hari tua, tatkala kita merasa tidak berguna dan dibutuhkan lagi, ingatlah akan Tuhan dan hidup takut akan Dia supaya kita tetap hidup berkenan kepada-Nya. Jangan menggunakan cara berdosa untuk membuat diri berguna.
Keempat, akui keterbatasan dan alihkan tanggung jawab. Di hari tua kita mesti jeli dan berbesar hati melihat keterbatasan. Kita pun harus memberi kesempatan kepada yang muda untuk mengambil alih bagian yang tadinya menjadi porsi kita. Orang yang jeli dan berbesar hati menerima keterbatasannya, justru akan lebih dihormati. Kendati ia tidak seberguna dulu, namun masukannya tetap dihargai sebab hikmat tetap menjadi bagian hidupnya.
Kelima, ciptakanlah kebergunaan dalam hal yang lebih sederhana. Makin tua, makin terbataslah wilayah di mana kita dapat berkiprah dan menimba rasa berguna. Mungkin pada akhirnya kita hanyalah berguna dalam mengurus cucu dan hal-hal sederhana lainnya. Sungguhpun demikian tetaplah berkiprah di dalam kesederhanaan. Belajarlah menikmati dan menghargai yang sederhana.
Keenam, peliharalah relasi yang membangun dan mendukung dengan generasi penerus. Jangan membanding-bandingkan diri dan meninggikan kemuliaan masa lalu. Setiap masa memunyai kekuatan dan kelemahannya masing-masing.
Firman Tuhan: "Apa yang pernah ada akan ada lagi dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari." (Pengkhotbah 1:9) Kita yang tidak ingin hidup sia-sia perlu melihat hidup dari perspektif Tuhan. Kadang kita cepat berbesar hati karena merasa telah berhasil melakukan sesuatu yang berguna. Kita ingin dapat meninggalkan sesuatu yang abadi. Hanya Tuhan yang kekal. Tidak ada yang lain. Tuhan memakai kita untuk menggenapi kehendak-Nya untuk zaman atau masa kita. Bersyukurlah untuk kesempatan yang diberikan-Nya setelah itu lepaskanlah genggaman.
Submitted by admin on Fri, 13/11/2009 - 9:15am.
Abstrak:
Kehadiran anak membawa perubahan yang besar. Hari lepas hari diisi dengan pelbagai kegiatan yang berkaitan dengan anak. Jika kehadiran anak membawa perubahan yang begitu besar dalam kehidupan kita, maka dapat dibayangkan bahwa kepergian anak juga membawa perubahan besar. Kendati semua perubahan ini sukar, namun tidak bisa tidak, mesti dihadapi dan dijalani. Apa yang harus kita lakukan jika hal ini sudah mulai melanda kehidupan kita?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Sepi di Hari Tua". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Memang sulit dihindari bagi teman-teman yang sudah memasuki usia lanjut, Pak Paul, mungkin pasangannya juga sudah meninggal, anak-anak sudah meninggalkan rumah, sehingga ada kesepian yang menyergap dan bagaimana mengatasinya, Pak Paul ?
PG : Kita harus memahami, Pak Gunawan, bahwa kehadiran anak membawa perubahan yang besar dalam hidup kita. Saya gambarkan, rumah yang tadinya sepi sekarang berubah ramai, lantai yang tadinya mengkilap sekarang cemong karena tumpahan makanan dan minuman. Hari lepas hari diisi dengan pelbagai kegiatan yang berkaitan dengan anak, dari mengantar ke sekolah di pagi hari sampai meninabobokan anak di kala malam. Nah, jika kehadiran anak membawa perubahan yang begitu besar dalam kehidupan kita, maka dapat dibayangkan bahwa kepergian anak waktu mereka sudah dewasa juga membawa perubahan besar. Rumah yang tadinya hiruk-pikuk sekarang menjadi sepi dan dingin, hari yang tadinya berlimpah ruah dengan pelbagai aktifitas tiba-tiba menjadi senggang. Waktu yang tadinya terbatas sekarang menjadi tanpa batas.
GS : Dan ketika anak-anak masih di rumah waktu kita dengan mereka juga cukup panjang, sehingga membekas dalam diri seseorang. Sudah terbiasa dengan keramaian, dan waktu dia masih belum menikah, dia berasal dari keluarga besar yang cukup ramai namun sekarang semuanya pergi satu demi satu sehingga dia harus tinggal sendirian, mungkin dengan pembantu atau dengan perawat saja dan itu membuat hidup terasa sepi.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi misalkan kita berkata bahwa seseorang menikah di usia sekitar 25 tahun, berarti 25 tahun pertama hidupnya dia dikelilingi oleh banyak orang. Dalam keluarga ada ayah, ibu, kakak, adik. Kemudian ketika dia menikah, membesarkan anak, misalkan ada beberapa anak. Berarti kalau ditotal mungkin sekitar 25 tahun berikutnya dia pun hidup dalam keramaian, diisi oleh anak-anak. Dengan kata lain, 2/3 hidup kita diisi dengan kehidupan bersama banyak orang. 1/3 sisanya, di atas usia 50-an sampai usia mungkin 70-an atau 80-an kita ini sendirian, tidak ada lagi orang yang mesti kita rawat, benar-benar kita akan menjalani kehidupan yang sepi. Memang masih ada keluarga yang bersedia menampung orang tua yang uzur, namun tidak semua bersedia. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan agar tidak menimbulkan dampak yang buruk pada hubungan kita dengan anak. Itu sebabnya dewasa ini makin banyak orang tua yang hidup mandiri, lepas dari anak. Sebagai akibatnya kesepian pun melanda masuk, terutama bila kita tidak lagi bekerja dan tidak lagi menikmati kesehatan yang prima.
GS : Biasanya dalam hal apa seseorang itu merasa kesepian di hari tuanya ?
PG : Ada dua yang nanti akan kita bahas, Pak Gunawan. Jadi kita akan bahas yang pertama dulu yaitu hilangnya kesibukan rutin dan makna yang terkandung di dalamnya. Jadi bagi kita yang terbiasa hidup sibuk, hari tua tanpa kegiatan akan menghadirkan rasa jenuh yang luar biasa besar. Memang ada yang berusaha mengisi waktu dengan melakukan kegiatan lain, namun tidak bisa disangkal kita tidak selalu bisa menggantikan kegiatan yang satu dengan kegiatan yang lain. Nah saya berikan contoh, misalnya kita tidak bisa mengganti kegiatan mengurus anak dengan kegiatan lain. Sebab mengurus anak sendiri memberi sukacita dan kepuasan tersendiri. Apa pun itu yang kita lakukan untuk mengisi waktu yang terhilang, tidak akan bisa memenuhi sukacita dan kehangatan di hati dalam mengurus anak. Singkat kata, Pak Gunawan, pada akhirnya kita mesti menyadari bahwa yang terhilang bukanlah kegiatan itu semata, melainkan makna dan semua perasaan yang terkait dengan kegiatan itu. Misalkan, kita terbiasa bekerja, datang ke kantor mendapatkan pengharapan, mendapatkan pengakuan, mendapatkan tugas. Itu semua memberikan kepada kita makna dan memberikan kepada kita perasaan-perasaan tertentu yang terkandung di dalamnya. Nah, sewaktu itu semua terhilang, itulah yang membuat hidup begitu kosong dan hambar.
GS : Padahal ketika masih sibuk, ketika masih banyak tugas yang dialami, seringkali juga terjadi atau keluar keluhan, "Kapan saya bisa mengakhiri semuanya dan bisa duduk santai" dan sebagainya. Kenapa pada saat waktu itu tiba, dia menjadi kesepian, Pak Paul ?
PG : Sebab yang biasanya kita keluhkan adalah efek dari pekerjaan itu. Misalkan, efek dari pekerjaan itu adalah kita menjadi terlalu letih, karena tugas-tugas menumpuk atau efek dari pekerjaan itu adalah kadang-kadang kita harus bersitegang dengan pelanggan atau bahkan dengan rekan kerja atau efek dari pekerjaan itu misalkan kita mendapatkan kritikan. Jadi harus kita bedakan, efek dan makna yang terkandung dalam pekerjaan itu sendiri. Sebab pekerjaan itu sebetulnya memberi makna tersendiri kepada kita dan membuat kita merasakan perasaan-perasaan tertentu. Sewaktu itu tidak lagi kita melakukan maka terhilanglah sebuah makna yang tadinya sudah mengisi hampir segala lini kehidupan kita. Sebagai seorang ibu yang tadinya biasa mengurus anak-anak, meskipun ada kalanya dalam keletihan dia akan berkata, "Kapan anak-anak ini bisa pergi dari rumah, saya sudah capek dan sebagainya". Itu normal karena memang efeknya kadang-kadang meletihkan dan menjengkelkan, tapi di dalam mengurus anak sendiri terkandung makna yang begitu dalam, menciptakan perasaan yang begitu hangat dalam diri kita. Sekarang sewaktu tidak ada lagi, benar-benar ada sebuah rongga yang hampa dalam hati kita.
GS : Kalau begitu, Pak Paul, sebenarnya kaum pria pun akan mengalami kesepian ini juga, sama seperti wanita yang juga bekerja pada saat masih muda, lalu tiba-tiba dia harus berhenti dari pekerjaannya. Apakah dampaknya sama, Pak Paul?
PG : Sama, Pak Gunawan. Belum lama ini saya berbicara dengan seseorang yang baru saja pensiun, karena sudah mencapai batas usia pensiun. Dia baru pensiun 2 atau 3 hari sebelum berbicara dengan saya dan dia bercerita bahwa dia tetap mau ke tempat pekerjaannya di hari itu hanya untuk menyapa teman-temannya. Istrinya menegur, "Mengapa mesti ke sana padahal kamu sudah pensiun, nanti mengganggu teman-temanmu". Tapi memang itulah yang menjadi kebutuhannya, dia mesti datang karena setiap pagi selama berpuluhan tahun, tempat itulah yang dikunjunginya. Tubuhnya, pikirannya sudah seperti robot yang diprogram dan programnya adalah pagi ke sana, ke tempat pekerjaan, bertemu dengan orang-orang yang dilihatnya setiap hari selama puluhan tahun. Tiba-tiba ada satu titik di mana dia harus berkata, "Saya tidak lagi bisa ke situ". Jadi dia bertanya, "Apa yang harus saya perbuat?" Saya katakan, "Silakan datang ke tempat pekerjaan dan sudah tentu jangan terlalu lama, silakan menyapa teman-teman, setelah itu pulang". Dia menceritakan betapa susahnya untuk kembali ke rumah, dia berkata, "Apa yang harus saya lakukan? Saya mau pergi ke sana ke sini juga susah, tidak ada teman-teman sebab sebagian teman-teman masih bekerja". Memang sebuah derita yang tidak bisa tidak kita semua harus mengalaminya.
GS : Kalau begitu apa yang bisa kita lakukan atau apa saran Pak Paul supaya kekosongan seperti yang dialami oleh teman Pak Paul bisa diatasi dengan baik.
PG : Yang pertama, Pak Gunawan, ini bukan suatu tips atau solusi. Justru masukan pertama saya adalah kita harus hidup dengan kekosongan ini, tidak ada jalan lain. Kita mesti menerima kenyataan bahwa masa tua adalah masa kehilangan. Kalau kita berkata masa tua adalah masa kelimpahan, masa banyak ini dan itu, mendapatkan ini mendapatkan itu, mungkin kita sedang menghibur diri sebab pada kenyataannya itu adalah masa kehilangan, ada yang besar yang bermakna yang tadinya mengisi hidup kita dengan penuh tiba-tiba sekarang tidak ada lagi. Jadi kita mesti terima, sesuaikanlah harapan dengan kenyataan. Jangan kita menuntut, mengharapkan pada masa tua kita akan lebih apa lagi, bisa mengerjakan ini dan itu, sebab pada faktanya belum tentu. Ada orang yang tidak lama setelah pensiun, sakit, tidak bisa lagi ke mana-mana, sangat terbatas. Itu adalah bagian dari hari tua. Kita akan jauh kurang sehat dibandingkan ketika masih muda. Jadi terimalah fakta bahwa kebahagiaan kita pun akan berkurang bukan bertambah. Sewaktu kita tidak bisa lagi pergi ke tempat pekerjaan, bertemu dengan teman-teman, ketika kita tidak lagi bisa mengurus anak-anak yang telah menjadi bagian penting dalam hidup kita, yang tadinya setiap hari bertemu dengan anak-anak namun sekarang hanya seminggu sekali atau bahkan ada yang 2 minggu sekali dan ada yang sebulan sekali. Bagaimanakah kita berkata, kebahagiaan kita akan bertambah? Jadi sewaktu kita harus mendekam dalam rumah, dikelilingi tembok yang dingin, tanpa satu suara pun tidak bisa tidak kebahagiaan kita pun akan menguap.
GS : Pak Paul, hal itu mungkin tidak terlalu berat bagi seseorang jika itu terjadi secara bertahap. Namun faktanya seringkali terjadi secara mendadak, dan itu membuat suatu kejutan besar dalam kehidupan seseorang.
PG : Dan kebanyakan semuanya terjadi seketika, Pak Gunawan. Pensiun tidak ada yang dari 40 jam menjadi 35 jam per minggu. Langsung dari 40 jam kemudian langsung stop, tidak ada lagi kerja. Anak-anak begitu keluar dari rumah, maka dia pergi. Jarang yang 2 hari sekali pulang, kebanyakan pergi ya pergi. Kebanyakan perubahan yang terjadi seketika memang tetap akan mengguncangkan, membuat hidup kita kehilangan keseimbangan.
GS : Masukan yang lain yang ingin Pak Paul sampaikan ?
PG : Kendati tidak ada satu pun kegiatan yang dapat sepenuhnya mengganti makna yang terkandung dalam kegiatan yang lama, seperti membesarkan anak, namun isilah hari dengan kegiatan lainnya serutin mungkin. Jadi kuncinya di sini adalah rutin. Seringkali pada usia tua, kita beranggapan tidak semestinya kita mengikatkan diri dalam kegiatan yang rutin. Justru menurut saya, ini adalah anggapan yang keliru. Makna sesungguhnya dari apa yang kita kerjakan, hanya dapat bertunas dalam jadwal yang rutin. Misalnya, kita bekerja sebagai guru. Kita akan datang ke sekolah setiap hari, kita mengajar. Kita melakukan itu dengan rutin setiap hari, dan dalam kerutinan mengajar itulah kita akan memetik makna mengajar. Kita tidak bisa mendapatkan makna yang sama kalau kita mengajar misalnya sebulan 2-3 hari kemudian berhenti, nanti disambung lagi 2-3 hari. Jadi makna itu terkandung dalam kerutinan itu sendiri. Rasa sayang pada apa pun yang kita kerjakan hanyalah bisa tercicipi bila kita melakukannya sesering dan serutin mungkin. Misalkan, mengurus anak, setiap hari mengurus anak, memandikan, memberinya makan, mengajarkan tugas-tugas sekolah. Mengajaknya berbicara, menidurkannya di waktu malam; rutin hari lepas hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan hingga tahun demi tahun. Tapi bukankah makna keluar dan dicicipi dari kerutinan itu? Maka ketika kita mau menggantikannya, carilah kegiatan yang memungkinkan kita melakukan kegiatan itu secara rutin, baik itu setiap hari atau pun beberapa hari seminggu. Tiga hari seminggu pun tidak apa-apa, asalkan rutin, kegiatan yang sama yang kita lakukan. Kita sebagai manusia memang memerlukan kerutinan itu.
GS : Tapi pada masa lanjut usia, kesulitan bagi yang bersangkutan itu ialah mencari sesuatu yang rutin, Pak Paul. Kalau pun ia menemukan sesuatu yang rutin karena itu dilakukan sendirian, itu cepat membosankan bagi dia. Dia merasa hidup ini begini-begini saja. Apakah tidak ada yang lain yang bisa dikerjakan ?
PG : Di Amerika Serikat, Pak Gunawan. Beberapa perusahaan memunyai program-program untuk orang-orang yang sudah berusia senja. Misalkan, hampir setiap Rumah Sakit yang pernah saya kunjungi di sana, selalu yang menjaga, yang menjadi receptionist, yang menjadi pengantar tamu, yang menjadi penunjuk jalan supaya para pengunjung mengetahui apa yang harus dilakukan, adalah orang-orang tua. Dan di sana sudah tentu mereka tidak sendirian, karena ada sejumlah orang tua yang terlibat di dalam pekerjaan itu. Saya juga melihat misalkan di beberapa rumah cepat saji. Yang bekerja ada sebagian orang-orang tua. Jadi mereka memang dipekerjakan, karena mereka mau, mungkin dengan gaji yang minim. Tapi sekali lagi itulah yang dapat memberikan kepada mereka kerutinan. Nah, menurut pendapat saya untuk orang-orang di Indonesia kita harus memikirkan hal-hal seperti itu atau kita menawarkan diri, secara proaktif kita datang ke sebuah tempat dan berkata, "Apakah ada yang bisa saya kerjakan di sini? Apakah ada yang bisa saya bantu di sini?" Segala sesuatu yang bisa kita kerjakan dengan rutin akan menolong kita. Asalkan di tempat itu juga kita bisa berinteraksi dengan orang lain.
GS : Kuncinya mungkin berinteraksi dengan orang lain, Pak Paul. Kalau mengerjakan sesuatu tanpa berinteraksi dengan orang lain, itu yang membuat seseorang cepat jenuh.
PG : Saya kira demikian. Betul sekali apalagi kita yang terbiasa bekerja, berhubungan dengan orang. Misalkan orang itu terbiasa bekerja dengan mesin, mungkin untuk dia tidak apa-apalah, dia sudah pensiun dia tetap mengotak-atik mesin, tapi kita yang terbiasa sebaiknya melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan manusia.
GS : Walaupun kita tidak dibayar atau hanya dibayar dengan gaji yang minim, seringkali orang lain menganggap kita sudah mestinya pensiun, mestinya istirahat tapi masih bekerja terus. Seringkali seperti itu Pak Paul.
PG : Memang ada saja orang yang salah menilai atau mungkin ada yang berpikiran buruk, "Wah pasti anak-anaknya kurang memerhatikan orang tua, orang tua sudah uzur tapi masih disuruh bekerja dan sebagainya". Memang pandangan-pandangan ini masih belum terbiasa, namun saya kira dengan penjelasan maka orang akan terbiasa. Dan justru memberi kepada mereka ide, "Benar juga, lain kali bila saya sudah berusia lanjut, mungkin saya bisa melakukan hal yang serupa, mengisi hari-hari saya dengan kegiatan yang rutin".
GS : Masukan yang lain, apa Pak Paul ?
PG : Yang berikut adalah peliharalah relasi yang baik dengan anak, jangan malah merusakkannya. Jadi kunci memelihara hubungan dengan anak pada masa tua adalah hormati batas dan bersedia menolong. Saya jelaskan, hormati batas berarti senantiasa mengingat bahwa kendati ia tetap anak kita, namun ia bukan kepunyaan kita lagi. Artinya begini, kita mesti menyadari bahwa ada tanggung jawab lain dalam hidupnya, selain kita sebagai orang tuanya. Kita tidak bisa menuntutnya untuk menyediakan waktu dan perhatian sama seperti dulu lagi. Kita pun harus menghormati pasangannya dan selalu melibatkan pasangannya tatkala kita meminta anak untuk melakukan sesuatu bagi kita. Jika hal ini dilanggar, besar kemungkinan pasangan hidupnya akan merasa tidak lagi dihargai atau dihormati oleh kita.
GS : Seringkali hubungan dengan anak sudah berjauhan, agak renggang sehingga hal-hal yang kecil pun kadang-kadang menjadi pemicu terputusnya hubungan.
PG : Itu bisa terjadi dan memang jika tidak berhati-hati justru di hari tua hubungan dengan anak bisa renggang. Pada masa anak-anak lebih kecil kita lebih mudah menoleransi apa pun, sebab bukankah pada masa anak-anak remaja ada saja pertengkaran dengan anak, tapi kita begitu cepatnya melupakan dan memaafkan anak. Kita tidak mengambil hati sama sekali, dan anak pun sama dengan kita, pada masa kecil atau masa remaja ada konflik kalau hari ini konflik besok sudah baik lagi, tapi waktu anak-anak sudah besar apalagi kalau sudah berkeluarga dan ada konflik dengan kita, biasanya itu menimbulkan ketegangan untuk waktu yang lebih lama. Memang tidak sama lagi, Pak Gunawan.
GS : Hal itu terkesan bahwa kita menjadi orang tua yang egois, kalau kita hanya memikirkan diri kita sendiri.
PG : Betul, Pak Gunawan. Kita tidak boleh menjadi orang tua yang egois yang hanya memikirkan kepentingan pribadi. Itu sebabnya saya ingin memberikan masukan dalam hal memelihara relasi yang baik dengan anak, kita perlu menawarkan bantuan kepada anak dan pasangannya dan menyediakan pertolongan yang dibutuhkan. Kadang-kadang kita lupa bahwa anak dan keluarganya juga memunyai kebutuhan, karena kita terlalu terserap dalam kebutuhan kita saja. Nah, untuk memelihara relasi yang baik, tawarkan, sediakan bantuan sedapatnya, agar hubungan kita dengan anak menjadi relasi memberi dan menerima, bukan meminta dan menerima saja.
GS : Itu pun harus atas permintaan anak atau menantu, Pak Paul? Kalau kita berinisiatif sendiri membersihkan rumahnya, dia bisa tersinggung.
PG : Betul, jadi kita selalu hanya menawarkan. Misalnya mereka hendak pergi ke mana, kita bisa berkata, "Titipkan saja anak-anak di sini, saya senang anak-anak di rumah, saya akan bisa menjaga". Jadi hanya tawarkan, jangan kita nyelonong. masuk ke rumah orang, mau beres-beres, menata-nata rumahnya, belum tentu menantu kita bahkan anak kita pun bisa menerima tindakan kita.
GS : Hal lain tentang masukan ini apa, Pak Paul?
PG : Yang keempat, berinisiatiflah untuk memelihara kontak dengan anak. Sudah tentu kita harus memelihara relasi yang baik dengan anak terlebih dahulu sebelum dapat menikmati kontak yang menyenangkan dengan anak. Bila relasi dengan anak sudah terjalin baik, berinisiatiflah menghubungi anak secara rutin dan jangan menunggunya untuk menghubungi kita. Kenyataan bahwa anak tidak menghubungi kita sesering yang kita inginkan, tidaklah berarti bahwa ia tidak ingin menjalin hubungan dengan kita. Besar kemungkinan oleh karena kesibukannya ia tidak begitu terpikir untuk menghubungi kita. Selama kita sehat dan dalam keadaan baik, ia beranggapan ia tidak harus sering-sering menghubungi kita. Jadi saran saya, teleponlah dan tanyakanlah keadaannya serta kondisi istri atau suaminya dan anak-anaknya. Secara berkala ajaklah anak untuk pergi bersama kita atau undanglah mereka datang ke rumah asalkan tidak terlalu sering, besar kemungkinan suami atau istrinya dan anak-anaknya tidak akan berkeberatan.
GS : Jadi harus inisiatif dari kita, hanya kadang-kadang kalau kita sudah berinisiatif lalu tanggapannya negative dan kita menjadi malas. Misalnya saja kita menelepon dan dia sedang sibuk kemudian mengatakan bahwa nanti dia akan menelepon kembali, tapi ditunggu-tunggu ternyata dia tidak telepon. Waktu kita telepon kembali, dia mengatakan "Wah, maaf lupa". Hal itu untuk kami yang sudah lebih tua merasa, itu berarti dia tidak memerhatikan saya. Dia tidak menganggap ini sesuatu yang penting, karena itu begitu mudah dilupakan, biasanya begitu Pak Paul.
PG : Pada faktanya memang demikian, tatkala anak-anak semakin sibuk dalam pekerjaannya dan makin beragam tanggungjawabnya, dia memunyai suami, punya istri, punya anak-anak, ada mertua, ada teman-teman, ada relasi kerja. Dengan kata lain, hal-hal lain atau orang-orang lain itu akan seringkali lebih mendesak untuk diperhatikan. Sedangkan kita selama dia tahu kita baik-baik saja, dia beranggapan kita bisa menunggu, bisa sabarlah. Dengan perkataan lain bisa dinomorduakan. Jadi pada faktanya, memang begitu Pak Gunawan, kita harus dengan hati yang sedikit terluka berkata, memang di hari tua kita tidaklah menjadi orang yang sepenting itu dalam hidupnya.
GS : Mungkin masih ada masukan lain yang ingin Pak Paul sampaikan?
PG : Yang kelima atau terakhir adalah doronglah anak untuk mengasihi dan mementingkan pasangan hidupnya serta anak-anaknya. Serta perhatikanlah istri, suami dan anak-anaknya pula. Makin kita mendorong anak untuk mementingkan suami, istri dan anak-anaknya dan makin pula kita memerhatikan mereka, makin besar penghargaan yang akan kita terima dari suami, istri dan anak-anaknya. Singkat kata, walaupun kita "kehilangan" anak di usia senja ini, kita mungkin akan mendapat gantinya lewat kasih sayang dan perhatian dari suami, istri dan anak-anaknya. Sebaliknya bila kita hanya memerhatikan anak sendiri, hanya menanyakan anak, kebutuhannya apa, sedangkan tidak mau menanyakan atau mau tahu tentang suami, istri atau anak-anaknya, tidak bisa tidak mereka akan merasa dirinya tidak bernilai di mata kita. Sebagai akibatnya, mereka pun tidak lagi berminat menjalin hubungan dengan kita.
GS : Tapi yang seringkali kontak dengan kita biasanya anak kandung kita, Pak Paul. Dengan menantu, kuatirnya kalau nanti berbicara keliru dan sebagainya, sehingga mungkin hanya titip salam. Kalau perlu dia berbicara baru kita menjalin komunikasi, kalau tidak nanti terkesan mencampuri urusan mereka, Pak Paul.
PG : Betul, memang tidak baik kalau kita mencampuri, tapi berinisiatiflah untuk bertanya. Kadang-kadang juga bertanya apa yang dibutuhkan, apa yang kami bisa bantu. Sebab seringkali juga menantu itu mengeluh, "mertua saya tidak pernah menelepon saya dan diinterpretasi tidak suka dengan saya". Jadi memang sebaiknya kita mementingkan mereka sehingga mereka merasakan kasih sayang kita kepadanya.
GS : Pak Paul, apakah ada ayat firman Tuhan yang mendukung perbincangan kita ini?
PG : Amsal 14:1 mengingatkan, "Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya tapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri". Sudah tentu ayat ini berkenaan baik dengan perempuan maupun laki-laki. Pada hari tua kita akan memetik buah dari pohon yang kita tanam. Bila kita telah menanam relasi yang sehat dengan anak, pada hari tua kita akan menikmati buah manis dengan anak-anak. Juga di hari tua janganlah kita malah merusakkan hubungan dengan anak dengan keluarganya. Jagalah baik-baik, sebab di situlah terletak kekuatan untuk menghadapi hari-hari yang sepi.
GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Sepi di Hari Tua" bagian yang pertama, dimana kami fokus membicarakan hilangnya kesibukan rutin dan makna yang terkandung di dalamnya. Kami masih akan melanjutkan perbincangan ini pada kesempatan yang lain. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kehadiran anak membawa perubahan yang besar. Rumah yang tadinya sepi sekarang berubah ramai. Lantai yang tadinya mengkilap sekarang cemong oleh tumpahan makanan dan minuman. Hari lepas hari diisi dengan pelbagai kegiatan yang berkaitan dengan anak-dari mengantar anak ke sekolah di pagi hari sampai meninabobokan anak di kala malam.
Jika kehadiran anak membawa perubahan yang begitu besar dalam kehidupan kita, maka dapat dibayangkan bahwa kepergian anak juga membawa perubahan besar.
Kendati semua perubahan ini sukar namun tidak bisa tidak, mesti dihadapi dan dijalani. Memang masih ada keluarga yang bersedia menampung orang tua yang uzur namun tidak semua bersedia. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan agar tidak menimbulkan dampak yang buruk pada hubungan kita dan anak. Berikut akan dipaparkan dua perubahan yang umumnya terjadi di hari tua dan cara menghadapinya.
Hilangnya Kesibukan Rutin dan Makna yang Terkandung di Dalamnya
Bagi kita yang terbiasa hidup sibuk, hari tua tanpa kegiatan akan menghadirkan rasa jenuh yang luar biasa besar. Kita mesti menyadari bahwa yang terhilang bukanlah kegiatan itu semata melainkan makna dan semua perasaan yang terkait dengan kegiatan itu. Itulah yang membuat hidup begitu kosong dan hambar. Berikut adalah beberapa saran untuk menghadapi kekosongan ini.
Pertama, kita harus hidup dengan kekosongan ini. Dengan kata lain kita harus menerima kenyataan bahwa masa tua adalah masa kehilangan. Jadi, sesuaikanlah harapan sesuai kenyataan. Terimalah fakta bahwa kebahagiaan kita akan berkurang bukan bertambah.
Kedua, kendati tidak ada satu pun kegiatan yang dapat sepenuhnya mengganti makna yang terkandung dalam kegiatan yang lama, seperti membesarkan anak, isilah hari dengan kegiatan lainnya-serutin mungkin. Kuncinya adalah rutin! Entah itu dilakukan tiap hari atau beberapa hari per minggu. Makna sesungguhnya dari apa yang kita kerjakan hanya dapat bertunas dalam jadwal yang rutin. Rasa sayang pada apa pun yang kita kerjakan hanyalah dapat tercicipi bila kita melakukannya sesering dan serutin mungkin.
Ketiga, peliharalah relasi yang baik dengan anak, jangan malah merusakkannya. Kunci memelihara hubungan dengan anak pada masa tua adalah, "hormati batas dan bersedia menolong." Hormati batas berarti senantiasa mengingat bahwa kendati ia tetap anak kita, namun ia bukan "kepunyaan" kita lagi. Artinya, kita mesti menyadari bahwa ada tanggung jawab lain dalam hidupnya selain kita sebagai orang tuanya. Kita tidak bisa menuntutnya untuk menyediakan waktu dan perhatian sama seperti dulu lagi. Untuk memelihara relasi yang baik, tawarkan dan sediakan bantuan sedapatnya agar hubungan kita dengan anak menjadi relasi "memberi dan menerima," bukan "meminta dan menerima."
Keempat, berinisiatiflah untuk memelihara kontak dengan anak. Sudah tentu kita harus memelihara relasi yang baik dengan anak terlebih dahulu sebelum dapat menikmati kontak yang menyenangkan dengan anak dan berinisiatiflah menghubungi anak secara rutin, jangan menunggunya untuk menghubungi kita. Secara berkala ajaklah anak untuk pergi bersama atau undanglah mereka untuk datang ke rumah. Asalkan tidak terlalu sering, besar kemungkinan pasangannya dan anak-anaknya tidak akan berkeberatan.
Kelima, doronglah anak untuk mengasihi dan mementingkan pasangan dan anak-anaknya. Walapun kita "kehilangan" anak, di usia senja ini kita mungkin akan mendapat gantinya lewat kasih sayang dan perhatian pasangan dan anak-anaknya. Sebaliknya, bila kita hanya memerhatikan anak sendiri, tidak bisa tidak, pasangannya pun akan merasa diri tidak bernilai di mata kita. Sebagai akibatnya, ia pun tidak lagi berminat menjalin hubungan dengan kita.
Firman Tuhan: Amsal 14:1 mengingatkan, "Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri." Sudah tentu ayat ini berkenaan baik dengan perempuan maupun laki-laki. Pada hari tua, kita akan memetik buah dari pohon yang kita tanam. Bila kita telah menanam relasi yang sehat dengan anak, pada hari tua kita akan menikmati buah manis dengan anak. Juga, di hari tua janganlah kita malah merusakkan hubungan dengan anak dan keluarganya. Jagalah baik-baik sebab di situlah terletak kekuatan untuk menghadapi hari-hari yang sepi.
Hilangnya Rasa Berguna dan Dibutuhkan
Bagi kita yang terbiasa hidup dibutuhkan orang, melewati hari tua tanpa ada yang datang meminta bantuan sungguh menyiksa. Berikut akan dipaparkan cara untuk mengatasi rasa tidak berguna ini.
Terimalah fakta bahwa setelah mencapai usia tertentu, kita tidak bertambah bijak. Sampai titik tertentu benarlah pepatah yang berkata bahwa makin kita tua makin kita menjadi barang klasik, namun lewat masa tertentu sesungguhnya yang terjadi adalah makin kita tua, makin kita menjadi kuno. Inilah fakta kehidupan yang tak dapat diingkari.
Kedua, terimalah kenyataan bahwa pada usia tua kita tidak lagi diingat orang. Bagi kita yang terbiasa dibutuhkan, kondisi tidak dibutuhkan akan membuat kita merasa tidak berguna. Bak barang usang, kita merasa dipinggirkan. Nama kita makin jarang disebut, sumbangsih kita makin jarang diingat.
Ketiga, hiduplah berkenan kepada Tuhan dan jangan berdosa. Pada hari tua, tatkala kita merasa tidak berguna dan dibutuhkan lagi, ingatlah akan Tuhan dan hidup takut akan Dia supaya kita tetap hidup berkenan kepada-Nya. Jangan menggunakan cara berdosa untuk membuat diri berguna.
Keempat, akui keterbatasan dan alihkan tanggung jawab. Di hari tua kita mesti jeli dan berbesar hati melihat keterbatasan. Kita pun harus memberi kesempatan kepada yang muda untuk mengambil alih bagian yang tadinya menjadi porsi kita. Orang yang jeli dan berbesar hati menerima keterbatasannya, justru akan lebih dihormati. Kendati ia tidak seberguna dulu, namun masukannya tetap dihargai sebab hikmat tetap menjadi bagian hidupnya.
Kelima, ciptakanlah kebergunaan dalam hal yang lebih sederhana. Makin tua, makin terbataslah wilayah di mana kita dapat berkiprah dan menimba rasa berguna. Mungkin pada akhirnya kita hanyalah berguna dalam mengurus cucu dan hal-hal sederhana lainnya. Sungguhpun demikian tetaplah berkiprah di dalam kesederhanaan. Belajarlah menikmati dan menghargai yang sederhana.
Keenam, peliharalah relasi yang membangun dan mendukung dengan generasi penerus. Jangan membanding-bandingkan diri dan meninggikan kemuliaan masa lalu. Setiap masa memunyai kekuatan dan kelemahannya masing-masing.
Firman Tuhan: "Apa yang pernah ada akan ada lagi dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari." (Pengkhotbah 1:9) Kita yang tidak ingin hidup sia-sia perlu melihat hidup dari perspektif Tuhan. Kadang kita cepat berbesar hati karena merasa telah berhasil melakukan sesuatu yang berguna. Kita ingin dapat meninggalkan sesuatu yang abadi. Hanya Tuhan yang kekal. Tidak ada yang lain. Tuhan memakai kita untuk menggenapi kehendak-Nya untuk zaman atau masa kita. Bersyukurlah untuk kesempatan yang diberikan-Nya setelah itu lepaskanlah genggaman.
Submitted by admin on Thu, 12/11/2009 - 2:15pm.
Abstrak:
Kelemahan utama laki-laki terletak pada keangkuhannya. Itu sebabnya satu karakteristik yang perlu ditumbuhkembangkan adalah kerendahan hati. Laki-laki yang rendah hati adalah laki-laki idaman Allah. Karena kerendahan hati itu sulit, maka akan dipaparkan penerapan kerendahan hati di dalam keunikan laki-laki.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Laki-Laki Idaman Allah". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Setiap orang yang menciptakan sesuatu pasti punya keinginan tertentu, idealisme tertentu, idaman tertentu. Demikian juga ketika Tuhan Allah menciptakan manusia khususnya Adam, pastinya punya idaman tertentu. Dalam hal ini sebenarnya laki-laki yang diidamkan oleh Allah itu seperti apa, Pak Paul ?
PG : Saya akan menggunakan satu kata yaitu laki-laki yang rendah hati. Jadi kerendahan hati merupakan suatu karakteristik yang sangat penting bagi pria, dan sudah tentu banyak hal-hal lain yang juga penting dalam hidup ini untuk menyenangkan hati Tuhan tapi khusus bagi pria, rendah hati adalah yang terpenting.
GS : Pada awalnya apakah Tuhan Allah itu juga memberikan modal di dalam diri Adam untuk bisa rendah hati, Pak Paul ?
PG : Saya percaya "ya", Pak Gunawan, jadi Tuhan tidak akan menuntut kalau kita tidak pernah diberikan oleh Tuhan. Namun karena kita sudah jatuh ke dalam dosa, maka pada akhirnya yang seharusnya muncul itu tidak muncul dan yang seharusnya tidak muncul malah muncul. Jadi yang seharusnya adalah kerendahan hati, namun itu yang tidak muncul dan seringkali yang muncul adalah kebalikan dari kerendahan hati yaitu keangkuhan.
GS : Keangkuhan itu adalah sesuatu yang justru harus dihindari oleh kaum pria dalam segala keunikannya, seperti yang kita bicarakan pada kesempatan yang lalu. Dan bagaimana caranya mengatasi keangkuhan ini, Pak Paul ?
PG : Kita mesti mengerti bahwa keangkuhan itu sesuatu yang mudah sekali keluar dari seorang pria sebab keangkuhan itu sangat bertalian dengan beberapa keunikan pria. Misalnya kita akan melihat satu per satu, yang pertama kita sudah membahas bahwa pria itu menyenangi tanggung-jawab dan ingin sekali merasa dirinya berguna. Namun karena dia ingin bertanggung-jawab, dia ingin berguna, kalau tidak hati-hati dia akan berjalan terlalu jauh yakni dia menjadi orang yang otoriter, orang yang memaksakan kehendak. Dan orang itu akan berusaha menguasai orang lain supaya orang tunduk kepadanya dan melakukan yang diinginkannya. Sudah tentu ini bisa baik dan bisa buruk dalam pengertian apa yang ingin dikerjakannya itu bisa baik, bisa buruk, misalkan kalau buruk sudah tentu itu jahat. Tapi kadang-kadang untuk hal-hal yang baik pun kalau tidak hati-hati laki-laki mudah jatuh ke dalam perangkap memaksakan kehendak karena dia berkata "Ini baik, ini seharusnya dilakukan," akhirnya tidak peka dan memaksakan orang untuk melakukan yang diinginkannya dan karena laki-laki itu ingin berguna maka laki-laki seringkali juga mengalami kesulitan untuk menerima teguran atau cercaan tentang karyanya, seolah-olah nanti dia tidak lagi berguna dan dia mencoba untuk mempertahankannya.
GS : Kalau laki-laki itu sudah menikah dan dia menjadi kepala keluarga bukankah hal itu yang sering dilakukan? Dan dia merasa apa yang dipikirkannya itu betul. Jadi istrinya dan anak-anaknya harus mengikut dia.
PG : Betul. Dan dalam pikiran seorang laki-laki waktu dia meminta istri dan anak-anaknya untuk ikut dia, dalam pikirannya saat itu ialah dia sedang menunaikan tanggung-jawabnya sebab dia percaya inilah yang baik. Dan kalau nanti anak-istrinya tidak mendengarkan, berarti tanggung-jawabnya akan terbengkalai dan dia menjadi orang yang kurang bertanggung-jawab. Itulah sebabnya karena laki-laki memunyai keinginan yang sangat kuat untuk bertanggung-jawab maka dia mudah untuk jatuh ke dalam perangkap memaksakan kehendaknya. Dan karena dia ingin berguna maka dia akan sering mengalami kesulitan untuk membagi kebisaan atau kemuliaannya dengan orang, yang penting dia ingin melakukan semuanya sendiri. Sekali lagi ini muncul karena keluar dari keinginan untuk berguna dan jangan sampai suatu hari kelak orang melihat dia tidak berguna, tidak ada lagi fungsinya, hal itu sunguh merupakan sesuatu yang menakutkan bagi dia.
GS : Mengenai tanggung-jawab ini, yang diinginkan kaum pria adalah dia bisa menguasai misalnya di dalam hal mencari nafkah sebagai kepala keluarga. Tapi urusan rumah tangga yang dia tidak kuasai dengan baik, maka dia berkata kepada istrinya, "Ini tanggung-jawabmu ya," jadi seolah-olah dia tidak mau campur tangan soal ini.
PG : Jadi laki-laki yang menempatkan diri sebagai kepada keluarga, sewaktu berkata kepada istri, "Ini tanggung-jawabmu," dalam pengertian ini adalah bagian tanggung-jawab dari seorang pria juga. Sehingga tidak jarang kita melihat seorang pria itu marah kalau anaknya itu kurang terurus dan sebagainya. Sebab dia beranggapan ini adalah tanggung-jawab saya juga tapi tanggung-jawab menyeluruh, tanggung-jawab yang memayungi tanggung-jawab istrinya. Jadi sekali lagi dia merasa bahwa itu adalah tanggung-jawab pribadinya untuk mengatur semua agar berjalan dengan baik. Itu sebabnya meskipun ini adalah sesuatu yang alamiah yang Tuhan titipkan terhadap pria, namun selalu harus diisi dan dipandu oleh kerendahan hati, sebab kalau tidak maka laki-laki itu cenderung kelewat batas, menjadi otoriter, "Semua harus mengikuti saya karena ini semua adalah tanggung-jawab saya." Dan karena dia ingin terus berguna dan berfungsi maka dia akan menolak tawaran orang untuk misalkan pindah atau tidak melakukan sesuatu. Jadi susah baginya untuk mendengar hal-hal yang mengancam fungsinya, dia akan mencoba untuk memertahankan fungsinya itu. Maka kita tahu cukup banyak laki-laki yang kesulitan untuk turun takhta sebab turun takhta berarti kehilangan fungsi. Dan itu sesuatu yang sangat tidak nyaman bagi seorang laki-laki.
GS : Keangkuhannya itu mungkin nampak ketika dia menuntut istrinya bertanggung-jawab kepada dia.
PG : Betul sekali. Jadi tetap, bagi dia itu adalah tanggung-jawab besarnya. Maka dia mengharapkan istrinya melapor kepadanya, mempertanggung-jawabkan pekerjaannya kepadanya supaya semuanya beres. Itu sebabnya kalau anaknya mengalami masalah dalam sekolah, yang seringkali dituntut tanggung-jawab oleh si suami adalah si istri, seolah-olah kamu ini tidak beres mengurus anak. Dalam kerendahan hati seorang suami tetap bertanggung-jawab tapi akan sensitif dan tidak memaksakan kehendak atau tidak kasar kepada istri dan anak-anak.
GS : Apakah dalam hal ini ada contoh konkret di dalam Alkitab, Pak Paul ?
PG : Ada, Pak Gunawan. Itu adalah Raja Saul, ini adalah contoh laki-laki yang karena ingin bertanggung-jawab dan ingin berguna kemudian masuk ke dalam dosa keangkuhan. Apa yang dilakukannya? Dia mempertahankan wilayah kekuasaannya lewat paksaan dan segala cara yang salah. Allah sudah menetapkan Raja Daud untuk menggantikannya, dia menolak dan dia ingin tetap mempertahankan kekuasaannya dan dia ingin tetap berfungsi sebagai seorang raja dan dia menghalalkan segala cara, dengan mencoba menghabisi nyawa Daud berkali-kali. Ini adalah contoh laki-laki yang ingin tetap memegang tampuk tanggung-jawab dan ingin tetap berfungsi dan berguna namun malah jatuh ke dalam dosa keangkuhan. Kebalikannya Raja Daud adalah contoh laki-laki yang rendah hati. Misalnya kita bisa melihat dengan jelas waktu dia diurapi oleh Tuhan menjadi raja, dan Saul tidak bisa menerima dan terus mempertahankan kekuasaannya. Daud tidak pernah menggerakkan rakyat untuk memberontak dan menggulingkan Raja Saul, waktu anak buahnya berniat untuk membunuh Saul, Daud melarang dan berkata, "Ini adalah orang yang Tuhan urapi dan kita tidak boleh membunuhnya." Jadi kita melihat ini adalah laki-laki yang rendah hati dan bertanggung-jawab. Waktu akhirnya dia jatuh ke dalam dosa, dia memang mengizinkan putranya Absalom memberontak kepada dia dan dia harus lari meninggalkan kota Yerusalem, dia melepaskan Yerusalem. Waktu ditanya, "Apakah perlu membawa tabut perjanjian?" dia menjawab "Jangan, tinggalkan Yerusalem, kalau Tuhan menghendaki saya kembali maka saya akan kembali dan kalau tidak maka saya tidak akan kembali dan tidak apa-apa." Ini adalah contoh laki-laki yang Tuhan idamkan yaitu tetap mau bertanggung-jawab, tetap mau berguna tapi bisa menjaga batas, bisa melepaskan tanggung-jawab, bisa melepaskan fungsi karena menyadari ada hal yang lebih penting yaitu Tuhan dan kehendakNya.
GS : Selain pria itu rentan terhadap sikap yang angkuh, otoriter seperti itu. Apakah ada hal lain yang harus membuat kita berjaga-jaga, Pak Paul ?
PG : Kita juga sudah membahas tentang keunikan pria, yaitu pria sukar untuk bercerita membagikan perasaannya, isi hatinya yang pribadi kepada orang lain, dia tertutup untuk hal-hal yang bersifat pribadi. Kalau kita tidak hati-hati terutama karena kodratnya ini yaitu yang tertutup, pria ini mudah terjebak ke dalam kondisi tertekan alias stres, masalahnya adalah dia mulai menyelesaikan problem itu sendiri pula. Bukan saja dia rentan stres tapi dia juga rentan menggunakan cara yang tidak berkenan kepada Tuhan untuk meredakan kondisi ketertekanannya. Maka kita tahu banyak laki-laki yang mengembangkan perilaku yang bermasalah, sebagai contoh kita tahu bahwa tindak kejahatan mayoritas dilakukan oleh laki-laki dan bukan oleh perempuan, kita juga tahu kalau laki-laki itu mudah terjerat pada pemakaian obat-obat terlarang, karena besar kemungkinan mereka ingin lari dari stres yang dialaminya. Laki-laki pun stres misalkan karena tidak ada uang dan sebagainya akhirnya lari menjadi seorang perampok atau mencuri dan sebagainya. Jadi dalam keadaan stres, laki-laki itu juga rentan menggunakan cara-cara yang tidak berkenan kepada Tuhan untuk meredakan kondisi ketertekanan itu.
GS : Yang menyebabkan dia stres bukan karena tanggung-jawabnya sebagai seorang kepala keluarga atau pemimpin di sebuah perusahaan, bukan seperti itu, Pak Paul ?
PG : Sudah tentu semua tanggung-jawab itu mengandung unsur tekanan, namun kalau dia bersedia melepaskan maka stres itu akan jauh lebih ringan, atau dia bersedia konsultasi meminta bantuan orang, maka stres itu bisa lebih berkurang. Belakangan ini saya melihat mengenai hidup saya ternyata saya sama rentannya dengan orang lain untuk jatuh ke dalam dosa, untuk meredakan ketertekanan saya. Saya juga sama rentannya untuk berdosa tapi kenapa saya tidak sampai berbuat seperti itu, sampai berbuat dosa, karena saya mencoba untuk mencari bantuan, saya bersedia untuk berbicara dengan orang untuk meminta pertolongannya atau meminta pendapatnya. Saya akhirnya melihat orang-orang yang hidupnya sangat jauh dari Tuhan padahal awalnya sangat dekat dengan Tuhan. Saya akhirnya pelajari, kenapa orang-orang ini bisa jauh dari Tuhan meskipun awalnya begitu dekat dengan Tuhan karena mereka susah sekali meminta bantuan pada orang, susah sekali cerita kalau ada masalah dan semua mau diselesaikan sendiri padahal tidak bisa. Akhirnya menggunakan cara-cara yang salah untuk bisa menyelesaikan masalah atau meredakan stresnya itu. Sebagai laki-laki meskipun ini adalah kodrat atau keunikan kita, susah bercerita, susah berbagi untuk meminta pertolongan orang, tetap kita harus berusaha untuk melakukannya, dan mulai mengundang orang masuk, memohon bantuannya. Inilah yang Tuhan inginkan dari kita.
GS : Mungkin salah satu hal yang Pak Paul katakan tentang Daud, salah satu hal yang diperbuat oleh Daud ketika mendapat tekanan itu adalah bersahabat dengan Yonathan anak dari Raja Saul. Dan dengan persahabatan itu dia bisa mencurahkan isi hatinya Pak Paul ?
PG : Tepat sekali. Jadi selain dengan Yonathan tempat dia bisa bersahabat, dia pun memunyai beberapa sahabat yang lain. Kita tahu bahwa panglima-panglima Daud sangat mengasihi Daud dan mereka bersedia mati bagi Daud. Pernah Daud berkata, "Kalau saja saya bisa meminum air dari kota yang memang masih dikepungnya itu," perwiranya itu langsung mengorbankan, mengambil resiko tinggi untuk mengambil air itu bagi Raja Daud, kenapa? Sebab mereka sayang kepada Daud. Kenyataan bahwa Nabi Natan bersedia datang kepada Daud dan menegur Daud dengan begitu terbuka dan keras, sekali lagi menunjukkan adanya sebuah relasi antara Nabi Natan dan Raja Daud. Belakangan kita juga tahu Tuhan menggunakan Nabi Gad menegur Daud. Sekali lagi kita melihat kenapa orang-orang ini berani bicara kepada Daud apa adanya, sebab bisa saya duga dan simpulkan bahwa Daud terbuka dengan mereka dan Daud memang bersahabat. Jadi memang relasi inilah yang Tuhan inginkan, sebagai laki-laki meskipun ingin semua diselesaikan sendiri, dipikirkan sendiri tapi laki-laki harus tahu kemampuan dan batasnya. Kalau tidak bisa lagi, jangan ragu memohon pertolongan orang lain.
GS : Dalam hal ini laki-laki rentan memerlukan teman bicara, kalau dia bicara dengan sesama pria kadang-kadang dia bisa merasa kalau harga dirinya direndahkan atau bisa disalah mengerti, lalu dia datang kepada seorang wanita dan berbicara kepada seorang wanita akhirnya terjerumus ke dalam dosa perselingkuhan. Di sinilah sulitnya Pak Paul ?
PG : Di sini bahasa laki-laki sering digunakan, sebagai contoh kalau laki-laki mendengarkan temannya bercerita kemudian merasa tidak setuju, kemudian dia berkata, "Kamu seperti ini saja tidak bisa, kamu itu seharusnya seperti ini." Hal-hal seperti inilah yang membuat laki-laki enggan untuk bercerita dengan sesama laki-laki karena laki-laki itu ingin menunjukkan bahwa dia bisa, berguna, mampu, kalau dia terlihat tidak bisa, tidak berguna dan tidak mampu maka dia malu. Itu sebabnya kalau tidak hati-hati, dia menggunakan cara yang salah yaitu berbicara dengan wanita akhirnya terjadilah relasi yang mendalam karena wanita itu tidak merendahkannya, malah mengertinya, memeluknya, akhirnya muncul perasaan-perasaan romantis di antara mereka. Itu sebabnya laki-laki kalau tidak hati-hati mudah jatuh ke dalam banyak dosa, karena satu hal saja, yaitu sukar untuk berbagi problem atau duka dengan orang.
GS : Hal lain apa tentang laki-laki idaman Allah, Pak Paul ?
PG : Kita juga telah membahas bahwa laki-laki itu memunyai kodrat atau keunikan mandiri, tidak suka bergantung pada orang lain namun keunikan ini dapat dengan mudah menjerumuskannya ke dalam dosa pemberontakan yaitu laki-laki menjadi orang yang sukar diatur karena memang tidak mau diatur, ingin mengerjakan segalanya dengan caranya sendiri bahkan mudah melawan peraturan kalau dianggapnya tidak sesuai dengan keinginannya dan ingin menentukan segalanya sendiri. Bahayanya besar sekali sebab pada akhirnya laki-laki sukar bergantung pada Tuhan bahkan sukar percaya pada Tuhan. Sebagai contoh, kalau kita ke gereja maka kita akan melihat lebih banyak wanita daripada laki-laki sebab memang laki-laki tidak terlalu tertarik untuk datang kepada Tuhan, percaya kepada Tuhan, bergantung kepada Tuhan. Lebih banyak laki-laki yang jatuh ke dalam perangkap dosa keangkuhan dan berkata, "Saya bisa, kenapa meminta Tuhan untuk menolong saya. Saya yang mencari uang kenapa saya harus mengatakan kalau Tuhan yang memberi saya uang. Saya yang bekerja keras kenapa dikatakan Tuhan yang memberkati saya sehingga saya boleh menerima seperti ini." Problem itu lebih identik dengan laki-laki daripada perempuan, lebih jarang kita mendengar perempuan berkata seperti itu. Maka kita sebagai laki-laki mesti waspada, jangan sampai kemandirian kita membuat kita menjadi seorang pemberontak yang malah mengatakan kepada Tuhan "Saya tidak memerlukan Engkau."
GS : Dalam hal pemberontakan ini bukan saja terhadap Tuhan saja tapi mungkin juga terhadap keluarganya juga. Jadi kalau dia sudah merasa tersudut dan merasa tidak lagi dibutuhkan atau tidak mau tunduk kepada dia maka dia akan melakukan pemberontakan yang sama.
PG : Tepat sekali karena memang inilah sifat laki-laki yang sangat kodrati, maka kalau dia merasakan orang di rumahnya tidak menghormatinya, tidak mendengarkan, tidak lagi tunduk kepadanya, maka dia akan melepaskan semuanya dan dia tidak memedulikan mereka lagi sebab itulah yang menjadi kelemahan dia. Laki-laki secara alami memang sukar tunduk, kalau di tempat pekerjaan dia akan tunduk karena itu strukturnya, berkaitan juga dengan penghasilan dan masa depannya. Maka akhirnya dia menjadi tunduk, tapi pada dasarnya kalau dia memiliki kebebasan, dia secara alamiah akan lebih sukar tunduk.
GS : Dan bagaimana mencegah atau menghindari supaya kita sebagai kaum pria ini tidak mudah menjadi pemberontak seperti itu ?
PG : Saya akan gunakan contoh langsung dari Alkitab yaitu tentang Musa. Musa pada awalnya adalah seorang laki-laki yang tidak suka diatur dan ingin menentukan segala sesuatunya sendiri, itu sebabnya Musa menghabisi nyawa orang Mesir yang berkelahi dengan orang Israel. Apa yang harus dilakukan Tuhan kepada Musa? Tuhan menempatkan Musa di padang gurun di Midian selama bukan 4 minggu, bukan 4 bulan dan bukan 4 tahun, tapi 40 tahun supaya di dalam pembentukannya itulah Musa akhirnya menumbuhkan sikap kesediaan untuk bergantung dan mau diatur oleh Tuhan. Kita lihat hasilnya, dia mengikuti cara Tuhan dan mengakui ketergantungannya kepada Tuhan. Kita juga bisa melihat di Keluaran 33:13-15, ini perkataan Musa yang disampaikan kepada Tuhan "Beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau. Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini." Dari perkataan ini kita bisa simpulkan bahwa Musa telah berubah menjadi orang yang begitu bergantung kepada Tuhan, sehingga begitu bergantungnya, dia tidak bisa berjalan sendirian kalau Tuhan tidak berjalan di depannya. Apa yang harus terjadi pada Musa, sehingga ia berubah menjadi orang yang begitu bergantung. Saya kira laki-laki itu harus mengalami pengalaman gurun pasir yang artinya pengalaman kehilangan segalanya. Pengalaman kehilangan segalanya membuat laki-laki tertunduk dan di saat tertunduk itulah dia lebih mudah untuk tunduk kepada Tuhan, menyadari keterbatasannya dan mengakui kemahakuasaan-Nya. Kalau saya harus memberikan rumus secara perkataan, apa yang bisa kita katakan kepada laki-laki untuk belajar tunduk kepada Tuhan? Saya tidak memilikinya. Sebab yang saya temukan, hampir tidak ada hasilnya berbicara dengan seorang laki-laki yang sedang sukses, yang sangat bangga dengan dirinya dan mengajaknya bergantung kepada Tuhan, tidak ada kata-kata yang bisa disampaikan. Maka Tuhan harus mengulitinya, mencabuti semua bulunya, membuat dia kehilangan semua yang dibanggakan, dan di titik itulah dia lebih bersedia untuk mendengar siapa itu Tuhan dan mengakui Tuhan.
GS : Memang untuk merubah karakter seseorang yang seperti itu, Tuhan akan menggunakan segala macam cara karena Tuhan mengasihi kita. Dan sesuatu yang menarik di dalam diri Tuhan Yesus, Tuhan Yesus itu lahir sebagai laki-laki tapi Dia menunjukkan kerendahan hati-Nya yang luar biasa.
PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Meskipun Dia adalah Tuhan, Dia berkuasa tapi Dia tidak bergantung dan memegangi kuasa-Nya. Maka pada waktu Petrus mengeluarkan pedang, membabat telinga Malthus, sebelum Tuhan ditangkap di Getsemani, Tuhan berkata, "Jangan lakukan, apakah engkau mengira Aku tidak bisa meminta Bapaku mengirimkan berlaksa-laksa malaikat." Jadi Dia tidak menggunakan kekuasaan-Nya sama sekali, Dia melepaskan karena Dia bergantung penuh kepada Tuhan. Jadi ini adalah sikap yang Tuhan inginkan dari laki-laki yaitu bergantung penuh pada Tuhan, bukan pada dirinya sendiri. Jadi sekali lagi akarnya atau awalnya adalah sebuah sikap rendah hati dan ingin tanggung-jawab, ingin berguna, tertutup dan semua ini cenderung membuat pria untuk angkuh dan kita harus menjaganya dan mengingatkan keterbatasan kita, mengingatkan bahwa Tuhanlah yang memang harus kita sandarkan sehingga kita tetap bisa berjalan seiring dengan Tuhan.
GS : Walaupun itu menentang arus karena pendapat umum, biasanya laki-laki itu harus gagah, harus berwibawa, harus berani bertanggung-jawab, begitu Pak Paul ?
PG : Betul. Amsal 16:2-3 Firman Tuhan berkata, "Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati. Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu." Laki-laki kalau tidak hati-hati cenderung berkata, "Ini bagus menurut saya, bersih menurut pandangan saya," kita tidak boleh seperti itu, kita harus ingat bahwa Tuhan yang menguji, Tuhan yang tahu maka Tuhan berkata, "Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan maka terlaksanalah segala rencanamu". Kuncinya rendah hati, rendah hati membuat dia menyadari bahwa dia tidak bisa semua dan dia harus bergantung kepada Tuhan namun dia akan berusaha sedapatnya tapi selebihnya dia akan menyerahkan kepada Tuhan.
GS : Tetapi kadang-kadang seorang pria berkata, "Saya ini sudah rendah hati," tapi kenyataannya tidak seperti itu, dari sikapnya kita tahu bahwa sebenarnya tidak seperti itu makanya Amsal mengatakan, "Tuhan yang menguji hati," sebab yang menilai diri kita rendah hati itu bukanlah diri kita sendiri, tetapi Tuhan.
PG : Betul sekali. Jadi benar-benar kita berserah kepada Tuhan dan memang kalau kita rendah hati maka kita tunjukkan lewat perbuatan.
GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Laki-Laki Idaman Allah". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Kelemahan utama laki-laki terletak pada keangkuhannya. Itu sebabnya satu karakteristik yang perlu ditumbuhkembangkan adalah kerendahan hati. Laki-laki yang rendah hati adalah laki-laki idaman Allah. Berikut akan dipaparkan penerapan kerendahan hati di dalam keunikan laki-laki.
Oleh karena laki-laki menyukai tanggung jawab dan ingin merasa berguna, ia rentan memaksakan kehendak dan menguasai orang lain agar menurut kehendaknya. Sudah tentu alasannya jelas: Sewaktu ia menguasai orang untuk menuruti kehendaknya, tanggung jawabnya cepat terpenuhi. Ia pun akan dapat terus merasa berguna sebab ia berhasil melakukan tanggung jawabnya dengan baik. Di dalam kerendahan hati ia tetap berusaha untuk bertanggung jawab namun ia tidak memaksakan kehendak lagi. Ia tidak berupaya menguasai orang, sebaliknya ia berusaha menguasai dirinya sendiri.
Raja Saul adalah contoh laki-laki yang memertahankan wilayah kekuasaannya lewat paksaan dan segala cara yang salah. Sebaliknya Raja Daud adalah contoh laki-laki yang rendah hati. Ia siap melepaskan takhta dan tidak berkeberatan kehilangan segalanya. Pada akhirnya Tuhan menambahkan kepadanya; sedangkan Saul kehilangan segalanya.
Oleh karena laki-laki tertutup, ia mudah terjebak dalam kondisi tertekan. Masalahnya adalah ia mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri pula. Bukan saja ia rentan stres, ia pun rentan untuk menggunakan cara yang tidak berkenan kepada Tuhan untuk meredakan kondisi ketertekanannya. Jika ia rendah hati, ia akan bersedia mencari orang untuk meminta pertolongannya. Sewaktu saya melihat ke belakang, saya sering berpikir bahwa saya tidak berbeda dengan orang lain. Saya pun rawan untuk melakukan hal-hal yang salah. Satu kunci yang telah menyelamatkan saya adalah saya bersedia bercerita tentang masalah yang dihadapi.
Oleh karena laki-laki senang mandiri dan tidak suka bergantung, ia rawan terhadap pemberontakan. Ia tidak suka diatur dan ingin mengerjakan segalanya dengan caranya sendiri. Ia mudah melawan peraturan dan ingin menentukan segalanya sendiri. Bahayanya besar, ia sukar bergantung pada Tuhan bahkan ia sukar percaya pada Tuhan. Ia berpikir bahwa ia tahu semua dan tidak butuh bantuan siapa pun, termasuk Tuhan. Jika ia memiliki kerendahan hati, ia bersedia tunduk pada yang di atasnya dan lewat ketundukan ini ia menerima banyak tuntunan yang berharga.
Musa pada awalnya adalah seorang laki-laki yang tidak suka diatur dan ingin menentukan segalanya sendiri. Itu sebabnya ia menghabisi nyawa orang Mesir yang berkelahi dengan orang Israel. Selama 40 tahun Tuhan harus menumbuhkan sikap bergantung dan mau diatur dalam diri Musa. Lihatlah hasil akhirnya: Ia mengikuti cara Tuhan dan mengakui ketergantungannya. Dengarlah perkataan Musa yang disampaikannya kepada Tuhan, ". . . beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku sehingga aku mengenal Engkau . . . . Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini." (Keluaran 33:13-15)
Kesimpulan: Laki-laki idaman Tuhan adalah laki-laki yang rendah hati. Di dalam kerendahan hati barulah ia dapat mendengar suara Tuhan dan mengikuti pimpinan-Nya.
Firman Tuhan berkata,
"Segala jalan orang adalah bersih menurut pandanganya sendiri tetapi Tuhanlah yang menguji hati. Arahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan maka terlaksanalah segala rencanamu." Amsal 16:2-3
Submitted by admin on Thu, 12/11/2009 - 2:12pm.
Abstrak:
Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, sebagaimana tercatat di Kejadian 1:27. Kenyataan Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan memunyai keunikan masing-masing. Namun secara khusus di sini dibahas mengenai keunikan yang dimiliki laki-laki yaitu bertanggung jawab, berguna, tertutup, dan mandiri namun berpotensi besar menciptakan keangkuhan.
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Keunikan Laki-laki". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Memang tiap-tiap orang memiliki keunikannya masing-masing. Jadi ada ciri khasnya. Tapi sebagai kelompok laki-laki apakah ada keunikannya tersendiri ? Karena seringkali kita merasa bahwa kita ini sama saja dengan yang lain. Keunikannya terletak dimana, Pak Paul ?
PG : Memang ada keunikan laki-laki dan ada keunikan perempuan, sebab memang Firman Tuhan pun di Kejadian 1:27 menegaskan, "Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." Jadi Firman Tuhan membedakan antara laki-laki dan perempuan, Tuhan tidak menciptakan manusia yang sama jadi ada 2 jenis manusia dan bukan hanya 1 jenis. Karena ada 2 jenis maka kita harus melihat diri kita sebagai seorang pria yang unik yang berbeda dari seorang wanita.
GS : Memang kalau secara fisik perbedaan itu kelihatan jelas baik yang pria maupun yang wanita tetapi apakah perbedaannya hanya itu saja?
PG : Ternyata tidak. Jadi nanti kita akan melihat ada beberapa keunikan pria yang membedakannya dari seorang wanita.
GS : Yang pertama apa, Pak Paul ?
PG : Yang pertama saya kembali lagi kepada Firman Tuhan. Berdasarkan urutan penciptaan laki-laki diciptakan terlebih dahulu. Oleh karena Adam sudah ada sebelum Hawa maka dapat dipastikan bahwa Adam sudah mengenal lingkungan hidupnya terlebih dahulu pula. Kehadiran Adam sebelum kehadiran Hawa, memungkinkan dia untuk mempersiapkan tempat bagi Hawa dan menjadi penunjuk jalan baginya. Saya simpulkan, ini adalah karakteristik laki-laki yaitu laki-laki suka menjadi perintis untuk mempersiapkan tempat bagi orang yang bergantung padanya. Jadi sifat dasar laki-laki atau keunikan laki-laki adalah ia menyenangi tanggung-jawab dan ingin merasa berguna.
GS : Tapi pada waktu Adam diciptakan pertama kali oleh Tuhan Allah sendiri, sebenarnya dia belum tahu kalau nantinya Tuhan akan menciptakan Hawa.
PG : Betul sekali. Memang saya menyorotinya, kenapa dia diciptakan Tuhan terlebih dahulu? Sebab semua ciptaan yang lain diciptakan sepasang tapi hanya manusia yang diciptakan terlebih dahulu. Jadi saya kira pengalaman Adam sudah hidup sendiri mengetahui seluk-beluk kehidupan ini dan bahkan Alkitab mencatat bahwa dia menamakan hewan-hewan yang ada itu. Jadi menunjukkan bahwa dia lebih mengenal lingkungannya dan dapat saya bayangkan bahwa sewaktu Tuhan menciptakan Hawa, maka Adamlah yang menunjukkan kepada Hawa lingkungan itu, binatang ini namanya siapa dan sebagainya. Jadi inilah yang menjadi keunikan laki-laki dan kenyataan dia diciptakan terlebih dahulu, dia mengenal kehidupannya terlebih dahulu sehingga dia bisa bertanggung-jawab kepada Hawa, kepada wanita yang Tuhan hadirkan kepadanya. Maka kodrat laki-laki yang semula yang Tuhan ciptakan seyogianya adalah kodrat yang menyenangi tanggung-jawab dan menyenangi kesempatan untuk merintis dan menyenangi kegunaan dan inilah kondrat asli yang memang Tuhan titipkan kepada seorang laki-laki.
GS : Tetapi dengan kodrat yang seperti itu tentu ada dampak negatifnya, dan dampak negatifnya apa Pak Paul ?
PG : Seringkali karena laki-laki senang memikul tanggung-jawab, senang merasa berguna maka dia juga cepat berubah menjadi otoriter dan kadang terlalu memaksakan kehendaknya. Jadi agar tanggung-jawabnya terlaksana dan dia tetap berguna, laki-laki mudah tergelincir ke dalam lembah penguasaan orang, bukannya menguasai diri tapi malah menguasai orang, mendominasi orang lain. Dan karena dia ingin berguna maka ia mudah tersinggung bila karyanya atau kerjanya diragukan apalagi ditolak, sebab hal itu akan membuatnya merasa tidak berguna.
GS : Tapi fakta yang ada di taman Firdaus, justru yang terjadi adalah sebaliknya yaitu Adam dikuasai oleh Hawa dan dalam hal ini makan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat itu.
PG : Memang sekilas kita bisa menyimpulkan bahwa Adam dikuasai oleh Hawa sehingga dia ikut-ikutan makan buah yang Tuhan larang. Namun kita akan bahas hal ini yaitu menurut saya, bukan karena dia dikuasai oleh Hawa tapi itu adalah keputusannya sendiri. Dia sendiri sebetulnya juga mau makan buah itu, saya yakin Tuhan tahu pasti isi hati manusia. Jadi kalau memang Adam sungguh-sungguh terpaksa dikuasai oleh Hawa maka ceritanya juga pasti berbeda. Namun saya kira jelas kenapa Tuhan menghukum Adam sama beratnya dengan menghukum Hawa, sebab Tuhan tahu bahwa ini adalah kerinduan hati Adam pula. Tapi kenapa Hawa yang dicobai lebih dahulu karena iblis tahu yang lebih mudah dipengaruhi saat itu adalah Hawa. Tapi Adam sendiri juga sudah memunyai kebutuhan yang sama, dan tidak dicatat di Alkitab bahwa Adam menegur Hawa. Sekalipun tidak pernah Adam menegur Hawa, "Jangan makan buah itu!" karena Alkitab mencatat bahwa Adam memang berada di situ. Jadi waktu terjadi percakapan antara ular dan Hawa, Adam berada di situ bersama dengan Hawa, dia bisa mencegah, dia bisa menarik Hawa, dia bisa berkata, "Jangan dengarkan si iblis" tapi dia tidak melakukannya karena dia sendiri juga mau.
GS : Tapi dalam hal tanggung-jawab kalau kita melihat kembali di kisahnya Adam dan hawa, kesalahan itu dilemparkan ke Hawa oleh Adam. Dan ini masih terlihat sampai sekarang, kalau kita sebagai kaum laki-laki disalahkan, biasanya kita juga mencari kambing hitam juga.
PG : Inilah masalah pria. Jadi nanti kita akan bahas di pertemuan berikutnya bahwa karena manusia jatuh ke dalam dosa maka kodrat asli yang Tuhan ciptakan dan dititipkan kepada diri kita, kita selewengkan. Bukannya memikul tanggung-jawab tapi malah melemparkan tanggung-jawab. Bukannya berkata "Memang benar saya salah, tapi malah menyalahkan orang lain." Kira-kira itulah yang menjadi masalah pria, namun sekali lagi kita kembali karena pria itu ingin bertanggung-jawab maka kalau tidak hati-hati pria cenderung memaksakan kehendak, semua harus berjalan sesuai dengan keinginannya supaya tanggung-jawabnya terlaksana dan supaya dia tetap merasa bahwa dirinya berguna maka dia sangat membanggakan pekerjaannya, mengidentikkan dirinya dengan pekerjaannya sehingga kalau ada orang yang mencela pekerjaannya atau karyanya maka dia menjadi tersinggung karena itu berarti menyinggung dirinya pula. Inilah akibat jatuhnya manusia ke dalam dosa. Jadi pada awalnya kodrat yang Tuhan titipkan pada pria yang menjadi keunikannya adalah dia memang menyenangi kesempatan merintis dan dia juga menyenangi tanggung-jawab dan dia ingin merasa dirinya berguna.
GS : Kalau kodrat sebagai penanggung-jawab ini tidak terpenuhi maka dampaknya apa, Pak Paul ?
PG : Kalau dia tidak mendapatkan kesempatan untuk bertanggung-jawab pada orang-orang yang bergantung kepadanya maka dia akan kehilangan dirinya Pak Gunawan. Pada akhirnya dia menjadi seperti uap dan tidak ada lagi dirinya karena tidak ada peran yang dilakoninya dalam hidup ini. Maka kita melihat pria-pria yang merasa tidak memiliki tanggung-jawab lagi kepada orang-orang di sekitarnya cenderung akhirnya bermasalah dan melakukan hal-hal yang salah yang tidak berkenan kepada Tuhan atau justru terpuruk, depresi berat tidak bersemangat lagi dalam hidup.
GS : Selain keunikan pria yang bertanggung-jawab dalam hal ini berinisiatif untuk bertanggung-jawab dan kadang-kadang otoriter, keunikan yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Kita lihat juga dari penciptaan. Sebelum Hawa diciptakan, Adam memang sudah hidup sendiri karena memang Adam diciptakan lebih dahulu. Artinya karena dia sudah sendiri dan tidak ada teman, sudah tentu dia harus memikirkan semuanya sendiri dan melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain, berarti juga tidak bisa bercerita kepada siapa pun. Inilah karakteristik laki-laki yaitu cenderung tertutup atau privat. Pada permukaannya laki-laki itu terlihat terbuka namun begitu menyangkut hal pribadi, laki-laki cenderung tertutup. Karakteristik seperti ini cenderung membuat laki-laki penyendiri dan akhirnya kesepian dan dia tidak mudah mengeluarkan isi hati dan tidak mudah cerita dari hati ke hati dengan orang lain.
GS : Yang menyangkut hal pribadi itu seperti apa, Pak Paul ?
PG : Yang pertama adalah laki-laki susah untuk cerita mengenai kegagalannya, hal yang terjadi dengan dirinya, yang tidak dapat diakuinya, tidak dapat dibanggakannya, bagi dia hal yang memalukan, hal-hal itulah yang dia akan simpan. Dan dia susah untuk percaya kepada orang, bahkan cerita kepada sesama laki-laki pun juga susah karena laki-laki pada umumnya tidak biasa untuk membuka hatinya, apalagi membukakan hal-hal yang merupakan kegagalannya.
GS : Tapi hal itu juga terkait dengan karakteristik yang pertama yang Pak Paul katakan bahwa dia yang harus berinisiatif, dia yang harus berotoriter. Kalau dia terbuka kepada orang lain dan menunjukkan kelemahannya maka akan bertentangan dengan karakternya yang pertama, Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Jadi semua ini seperti sebuah paket besar karena dia ingin bertanggung-jawab dan ingin tetap berguna maka tidak dapat menoleransi kegagalan. Maka kalau ada kegagalan, hal itu akan disimpannya dan mungkin juga dipikirkan sendiri tentang bagaimana menyelesaikannya. Jadi tidak mau dan tidak bisa membagikan hidupnya itu dengan orang lain.
GS : Di dalam kesendirian itu kita sebagai laki-laki, kita bisa menikmati kesendirian itu tanpa harus diintervensi oleh orang-orang lain.
PG : Betul. Jadi kalau kita bisa memikirkannya sendiri, seringkali kita tidak menyambut uluran tangan orang lain, kalau ditanya, "Ada apa?" jawaban kita "Tidak apa-apa." Sebab kita susah terbuka dan ini adalah bagian yang sulit diterima oleh istri-istri kita sebab bagi seorang wanita yang terpenting adanya keterbukaan dan keterbukaan itu menimbulkan sebuah koneksi, kebersamaan, penyatuan dan itulah yang menjadi kebutuhan wanita. Tapi laki-laki itu berada di seberang sana dalam hal ini, dan mereka susah sekali. Meskipun dia tahu, kalau dia bercerita akan ada jalan keluar, tapi bagi dia mengeluarkan pikiran itu sendiri itu adalah hal yang sulit. Jadi kadang-kadang kita sebagai pria disalah mengerti dan seolah-olah tidak menghargai pasangan kita karena tidak mau melibatkan mereka dalam hidup kita, tapi pada kenyataannya memang sulit untuk mengeluarkan pikiran, membeberkannya apalagi mengeluarkan perasaan, itu lebih sulit lagi. Bukannya tidak mau tapi seringkali karena tidak bisa. Jadi saya kira ini adalah natur dan titipan Tuhan. Dengan diciptakannya Adam terlebih dahulu itu menyebabkan semua hal harus dipikirkannya, tidak ada teman berbagi dan semua harus dilakukannya sendiri. Jadi terpaksa laki-laki menjadi figur yang tertutup dan privat. Maka kalau laki-laki keluar dengan laki-laki lain, mereka bisa berbincang-bincang dan bergurau sampai berjam-jam, tapi kalau kita perhatikan mereka tidak membicarakan hal-hal yang sangat pribadi atau hal-hal yang menjadi kegagalan mereka atau membuat mereka malu, tapi mereka akan membicarakan seribu satu hal di luar diri mereka seperti komentar-komentar, pengamatan-pengamatan mereka, itu yang akan menjadi bahan pembicaraan tapi bukan membicarakan tentang diri apalagi hal-hal yang memalukan tentang diri mereka.
GS : Karakteristik seseorang itu juga terbentuk saat mereka masih kecil jadi dari pola asuh orang tuanya dan sebagainya ?
PG : Karena laki-laki itu cenderung dituntut untuk jangan menangis, jangan cengeng dan sebagainya akhirnya laki-laki dikondisikan untuk menyelesaikan dan melakukan semua sendiri, jangan kamu terlalu mengumbar dirimu. Itu sebabnya laki-laki hanya mahir dalam satu wilayah perasaan yakni kemarahan. Dan dalam wilayah yang lainnya mereka merasa susah, misalnya kesedihan. Laki-laki akan mengalami kesukaran untuk membagikan kesedihan itu dengan mengeluarkan air matanya. Kadang orang salah mengerti dan berkata, "Kenapa kamu menyimpan-nyimpan kesedihanmu," itu bukan karena menyimpan-nyimpan, tapi memang susah untuk mengeluarkan. Saya sendiri mengakui bahwa ada waktu-waktu di kala saya sedih, inginnya menangis dan mengeluarkan air mata sebab saya tahu dengan saya mengeluarkan air mata dan menangis maka saya akan merasa lebih lega tapi saya tidak bisa melakukannya, bukan disengaja mau menyimpan air mata, memang tidak bisa keluar dengan begitu mudah. Jadi perlu situasi tertentu yang benar-benar membuat kita sedih dan barulah dengan mudah kita bisa mengeluarkan air mata kita.
GS : Jadi kalau pada suatu batas tertentu dimana seorang pria itu tidak lagi mampu untuk memendam perasaannya dan dia membutuhkan orang untuk diajak bicara dan sebagainya. Maka siapa orang pertama yang biasanya dia datangi ?
PG : Kalau hubungan dengan istrinya baik dan dia tahu kalau istrinya itu bisa mengerti dan menerima keluhannya maka dia akan bicara dengan istrinya. Pilihan kedua kalau tidak bisa berbagi dengan istrinya sudah tentu dia akan berbagi dengan saudaranya, itulah orang yang akan diajaknya berbicara. Yang ketiga sudah tentu adalah temannya atau sahabatnya. Dalam hal sahabat pun saya harus katakan ini bukan hal yang mudah. Banyak laki-laki bisa bercerita tentang problem yang dihadapinya baik itu problem pekerjaan, kehidupan atau problem rumah tangganya, mereka bisa berbicara tentang problem dan bagaimana memecahkannya. Tapi sekali lagi kalau menyangkut perasaannya tentang problem itu, hal itu adalah sesuatu yang sangat sukar untuk dicetuskan bahkan terhadap sahabatnya sekali pun.
GS : Tapi yang pasti tidak kepada yang berada di bawah otoritasnya. Jadi misalnya kepada anak atau kepada bawahan, maka itu akan sangat sulit sekali Pak Paul ?
PG : Betul sekali. Meskipun dia ingin bercerita kepada anaknya tapi hal itu menjadi kendala dan dia merasa bahwa ini bukan pada tempatnya kalau saya bercerita berada di bawah otoritas saya ?
GS : Karakteristik yang lain apa, Pak Paul ?
PG : Saya kutip dari Kejadian 2:24 bahwa Firman Tuhan mengatakan "laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya." Dengan kata lain pernikahan mengakibatkan laki-laki meninggalkan orang tuanya. Mohon diperhatikan bahwa Firman Tuhan tidak berkata bahwa laki-laki "diperintahkan" untuk meninggalkan orang tuanya. Tidak seperti itu! Dan Alkitab sama sekali tidak mengatakan kalau Tuhan memerintahkan anak laki-laki meninggalkan ayahnya dan ibunya. Firman Tuhan sekadar menyatakan fakta yakni, "Laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya" hanya itu saja. Dan satu pengamatan lain yang menarik adalah Firman Tuhan tidak mengatakan bahwa perempuan akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, ayat itu tidak menyinggung-nyinggung tentang perempuan namun hanya laki-laki. Pada kenyataannya memang itulah yang terjadi secara emosional, perempuan memang akan terus terlibat dan menjadi bagian dari keluarga asalnya. Sedangkan laki-laki akan terlepas dari keluarga asalnya. Jadi inilah karakteristik atau keunikan pria, Pak Gunawan, yakni mandiri. Sedapatnya laki-laki tidak mau bergantung kepada orang lain bahkan pada orang tuanya sendiri. Memang dari satu pihak kita dapat mengatakan bahwa "Laki-laki pasti angkuh makanya tidak mau bergantung bahkan pada keluarganya sendiri." Pada faktanya seringkali bukanlah keangkuhan tapi itu adalah kodrat kita sebagai pria dan tidak suka bergantung pada orang bahkan pada orang tua kita sendiri.
GS : Hal ini semacam konsekuensi logis bahwa dia mau menyatakan dirinya sebagai seorang pemimpin dan sebagai seorang kepala keluarga sehingga mau atau tidak mau dia harus meninggalkan orang tuanya, Pak Paul ? Karena kalau tidak maka nanti akan terjadi dualisme di dalam rumah itu ?
PG : Betul sekali. Jadi memang karena natur atau kodrat pria yang ingin bertanggung-jawab, ingin mengatur, ingin menyediakan, memelihara bagi orang-orang yang memang menjadi tanggungannya, sudah tentu kalau harus berbagi di bawah atap orang tuanya maka hal ini akan menjadi kendala dan sangat membatasinya. Itu sebabnya dia perlu keluar. Tapi hal kedua juga adalah yang ingin saya tekankan di sini, memang inilah kodratnya, dia tidak suka bergantung, bukan berarti dia sombong. Misalkan perbedaan saya dengan istri saya, misalkan kami akan pergi ke suatu tempat, kira-kira saya sudah tahu dan mendekati tempat itu kemudian saya sedikit bingung dan berkata, "Apa ini tempatnya ya ?" Setelah saya sedikit bingung maka istri saya langsung mengambil HP dan berkata, "Coba saya menelepon si ini dan bertanya." Saya menjawab, "Jangan, kira-kira saya tahu tempatnya dan pasti saya temukan," namun kadang-kadang saya mendiamkan tindakan istri saya dan dia langsung menelepon teman yang sama perempuannya dan saya bingung bahwa mereka sangat senang bicara tentang rute perjalanannya, yang bagi saya itu adalah sesuatu yang asing dan aneh. Tapi itu adalah kodrat perempuan, mereka senang untuk dapat bertanya yang bagi saya bertanya untuk hal seperti ini tidak perlu, kenapa harus bergantung kepada orang untuk soal sesederhana ini, tapi bagi istri saya saat itu bertanya seperti itu tidak apa-apa, dan tidak ada orang yang berkeberatan. Di sini saya melihat perbedaan besar antara pria dan wanita. Laki-laki kalau menerima pertanyaan yang sepele seringkali juga terganggu, sebab laki-laki akan bertanya, "Kenapa untuk hal seperti ini saja harus bertanya kepada orang, harus bergantung kepada orang." Jadi saya melihat, laki-laki cenderung menerapkan hal seperti ini pada dirinya dan seolah-olah memaksa agar orang menerapkan hal yang sama kepada orang lain pula, seolah-olah kita mau mengajar semua orang untuk mandiri.
Gs : Tapi kemandirian ini juga tidak sepenuhnya, dan secara emosional seseorang belajar untuk mandiri tapi secara finansial tidak mandiri. Lalu mau tidak mau dia harus tunduk kepada orang tuanya atau bergantung kepada orang tuanya.
PG : Itu sebabnya dapat disimpulkan, laki-laki yang sehat sebetulnya tidak akan senang bergantung pada orang tuanya. Kalau pun bergantung, itu pun dengan terpaksa, dari pada anak istrinya susah karena tidak ada makanan dan tempat tinggal maka mau tidak mau dia harus bergantung pada dukungan orang tuanya, tapi itu semua merupakan keterpaksaan. Dengan kata lain, kalau ada laki-laki yang berlaku biasa-biasa saja saat bergantung pada orang tuanya, minta kebutuhannya dan dipenuhi, ini menunjukkan ada yang tidak beres dengan pria ini sebab ini melawan kodrat pria. Pria itu diciptakan dengan kerinduan atau kodrat untuk mandiri, jadi kalau mereka begitu mudah dan menikmati bergantung pada orang lain, berarti ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya.
GS : Tapi Tuhan sudah mengatakan pada Adam bahwa tidak baik kalau manusia itu seorang diri, berarti Adam membutuhkan seseorang, itu berarti dia tergantung kepada seseorang juga, Pak Paul ?
PG : Betul. Jadi dalam hal ini meskipun ini adalah keunikan laki-laki tapi keunikan ini harus diimbangi, tidak bisa berdiri sendirian. Laki-laki sekuat apa pun, mereka juga manusia yang terbatas. Jadi ada waktu-waktu dia lemah dan di saat itulah dia membutuhkan bantuan. Jadi sebetulnya tidak ada yang bertentangan di sini, sebab Tuhan menginginkan agar laki-laki cenderung untuk lebih mandiri dan tidak mudah bergantung pada yang lain, namun jangan sampai nanti pada akhirnya laki-laki itu sama sekali tidak bisa memohon bantuan, karena laki-laki terbatas kadang ada waktu-waktu yang susah dimana dia harus meminta bantuan orang lain pula.
GS : Terutama bagi kami kaum laki-laki, meminta bantuan untuk hal-hal yang kecil. Misalkan kalau kita bepergian, kita akan melihat sesuatu yang sifatnya besar yang global seperti tiket dan sebagainya, tapi untuk yang kecil-kecil yang justru penting, pihak wanita yang lebih teliti Pak Paul dan sebenarnya kita memang membutuhkannya.
PG : Betul. Jadi laki-laki yang seimbang, yang sehat pada akhirnya tetap secara umum mencoba untuk mandiri tapi juga menyambut bantuan dari orang lain terutama pasangannya.
GS : Pak Paul, kesimpulan dari perbincangan ini apa ?
PG : Kesimpulannya laki-laki itu bertanggung-jawab, berguna, tertutup dan mandiri namun berpotensi menciptakan keangkuhan. Tadi saya katakan tidak selalu karena keangkuhan tapi sifat-sifat ini yaitu mau bertanggung-jawab dan berguna, cenderung tertutup tapi juga mandiri, ini adalah sifat-sifat yang mudah sekali menyeberang ke wilayah keangkuhan dan kita tahu wilayah keangkuhan adalah wilayah dosa. Kita harus mengingat Firman Tuhan yang berkata di Amsal 11:2, "Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati." Sebetulnya kata cemooh berarti suatu kata yang memalukan atau kejatuhan, dapat juga diterjemahkan kalau keangkuhan tiba, tiba juga kejatuhan. Jadi kalau ini adalah masalah kita sebagai pria, kita akhirnya menyeberang ke wilayah dosa keangkuhan di hati, Tuhan sudah ingatkan tinggal tunggu waktu maka kita juga akan mengalami kejatuhan, Tuhan tidak senang dengan keangkuhan. Namun hikmat ada pada orang yang rendah hati, pria yang merendah justru akan menjadi pria yang berhikmat.
GS : Jadi menjadi tanggung-jawab kita untuk tetap mempertahankan keunikan laki-laki, mengekspresikannya tapi juga berhati-hati untuk tidak menjadi angkuh, Pak Paul.
PG : Betul sekali. Jangan sampai ego kita itu membengkak, tapi memang sudah saya tunjukkan, mudah sekali laki-laki itu masuk ke wilayah ego yang besar yaitu keangkuhan karena memang unsur-unsur ingin bertanggung-jawab, mandiri, ingin berguna dan tertutup, itu lebih mencenderungkan pria untuk mudah tergelincir ke dalam dosa keangkuhan.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Keunikan Laki-Laki". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
"Keunikan Laki-laki" oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi
Tuhan tidak menciptakan laki-laki saja atau wanita saja; Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, sebagaimana tercatat di Kejadian 1:27, "Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." Kenyataan Tuhan menciptakan kita berbeda, itu menunjukkan bahwa kita sebagai laki-laki dan perempuan memunyai keunikan masing-masing. Berikut akan dipaparkan keunikan sekaligus karakteristik laki-laki yang tersirat di dalam Firman Tuhan.
Berdasarkan urutan, laki-laki diciptakan terlebih dahulu. Oleh karena Adam sudah ada sebelum Hawa, dapatlah dipastikan bahwa Adam sudah mengenal lingkungan hidupnya terlebih dahulu pula. Kehadiran Adam sebelum kedatangan Hawa memungkinkannya untuk memersiapkan tempat buat Hawa dan menjadi penunjuk jalan bagi istrinya. Inilah karakteristik laki-laki-ia suka menjadi perintis untuk memersiapkan tempat bagi orang yang bergantung padanya. Ia menyenangi tanggung jawab dan ingin merasa berguna.
Masalahnya adalah oleh karena laki-laki senang memikul tanggung jawab dan merasa berguna, ia cepat berubah menjadi otoriter dan memaksakan. Agar tanggung jawabnya terlaksana dan tetap berguna, ia pun tergelincir ke dalam lembah penguasaan orang, bukan penguasaan diri. Ia cepat tersinggung bila karyanya diragukan apalagi ditolak sebab itu membuatnya merasa tidak berguna.
Sebelum Hawa diciptakan Adam telah hidup sendiri. Semua dipikirkan dan dilakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Inilah karakteristik lak-laki: tertutup atau privat. Pada permukaannya laki-laki terbuka namun begitu menyangkut hal pribadi, laki-laki cenderung tertutup.
Karakteristik ini mencenderungkan laki-laki untuk menjadi penyendiri dan kesepian. Semua ditanggung sendiri sehingga akhirnya ia tertindih oleh bebannya sendiri. Memang tidak mudah bagi laki-laki untuk menceritakan masalahnya bila tidak sampai sangat terdesak. Namun ia perlu belajar untuk membagi beban; ia tidak bisa selalu memikul beban-sendirian.
Pernikahan mengakibatkan laki-laki "meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya" (Kejadian 2: 24). Mohon diperhatikan bahwa Firman Tuhan tidak berkata bahwa laki-laki diperintahkan untuk meninggalkan orangtuanya. Firman Tuhan sekadar menyatakan sebuah fakta yakni laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya. Satu pengamatan lain yang menarik adalah bahwa Firman Tuhan tidak mengatakan bahwa perempuan akan meninggalkan ayahnya dan ibunya.
Pada kenyataannya itulah yang terjadi: Secara emosional perempuan akan terus terlibat dan menjadi bagian dari keluarga asalnya sedangkan laki-laki akan terlepas dari keluarga asalnya. Inilah karakteristik berikut dari pria: Mandiri! Sedapatnya laki-laki tidak mau bergantung pada orang lain. Memang dari satu pihak kita dapat mengatakan bahwa keangkuhanlah yang membuatnya tidak suka bergantung pada yang lain. Namun di pihak lain kita harus mengakui bahwa bergantung pada yang lain berlawanan dengan kodrat dasar laki-laki.
Kesimpulan: Bertanggung jawab, berguna, tertutup, dan mandiri berpotensi besar menciptakan keangkuhan.
Itu sebabnya kita mesti mengingat Firman Tuhan, "Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati." Amsal 11:2
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Setelah ayah atau ibu meninggal, orangtua kembali hidup sendiri. Selang beberapa waktu, orangtua memutuskan untuk menikah. Apakah yang seharusnya menjadi sikap kita sebagai anak tatkala orangtua memutuskan untuk menikah kembali? Anak memiliki tugas untuk mengingatkan orang tua. Apa saja harus diingatkan?
Transkrip Isi:
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Tatkala Orangtua Menikah Kembali". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, ada anak-anak yang tidak bisa menerima bahwa orangtuanya mau menikah lagi, apa pun alasannya. Tetapi ada juga sebagian yang malah mendukung, mendorong orangtuanya untuk menikah lagi, ini bagaimana Pak Paul?
PG : Saya bisa memahami kalau ada anak-anak yang sulit mengijinkan orangtuanya menikah kembali. Di sini kita memang tidak membicarakan anak-anak kecil, tapi kita membicarakan anak-anak yang suah besar, akil baliq.
Mungkin orangtua mereka juga sudah lanjut usia, di atas usia 50, 60 tahun. Saya bisa memahami kesulitan anak-anak untuk mengijinkan orangtua untuk menikah kembali, sebab akan ada banyak pertimbangan yang dipikirkan oleh anak-anak. Jadi inilah hal-hal yang nanti akan kita bicarakan sebab inilah yang sering kali menjadi ganjalan dalam relasi orangtua-anak. Kalau orangtua juga tidak bijak langsung mau menikah dan tidak mempedulikan komentar anak-anak, biasanya pernikahan kembali orangtua yang sudah uzur akhirnya menjadi duri dalam relasi orangtua- anak. Adakalanya anak merasa terkhianati oleh orangtua, misalkan mamanya sudah meninggal dunia kemudian papa hendak menikah kembali di usia tua. Anak-anak akan berkata, "Papa sudah menikah dengan mama berpuluhan tahun, mama mengabdi kepada papa berpuluhan tahun, kok sekarang mama sudah meninggal papa bisa melupakan mama begitu saja, kemudian papa menikah kembali." Hal-hal seperti ini yang sering kali menjadi duri dalam relasi orangtua-anak.
GS : Tetapi sebagai anak bukankah juga harus memahami kebutuhan orangtuanya, Pak Paul?
PG : Betul, memang dari kedua belah pihak saya kira perlu duduk bersama dan berbicara dari hati-ke hati agar segala masalah ini bisa kita selesaikan.
GS : Biasanya apa alasan orangtua yang pasangannya meninggal dan mau menikah kembali?
PG : Ada beberapa Pak Gunawan, misalnya ada orangtua yang ingin menikah kembali karena kesepian, karena tidak ada lagi pasangannya, dia hidup sendirian sementara dia tidak bisa hidup sendiri jai buru-buru mau menikah.
Atau yang lainnya lagi adalah adanya kebutuhan finansial yang mendesak. Kadang-kadang karena tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup, harus bergantung pada orang maka menikah kembali. Ada juga yang menikah kembali karena kebutuhan seksual, misalkan ini orangtua pria meskipun sudah usia 60-an tapi tetap mempunyai kebutuhan seksual jadi memerlukan pasangan yang bisa juga memenuhi kebutuhan seksualnya itu. Ada juga yang butuh akan rasa aman, hidup sendiri menakutkan baginya tidak lagi bisa hidup dengan tenang. Terbiasa misalkan semuanya diselesaikan oleh suaminya, ada urusan apa-apa suaminya yang maju, nah sekarang dia sendiri sedangkan anak-anak jauh dari rumah, dia perlu seseorang yang bisa memberikan rasa aman kembali kepadanya. Atau ini juga yang klasik yaitu adanya kebutuhan akan seseorang yang dapat mengurus rumah, biasanya ini dialami oleh para pria tatkala istrinya meninggal dunia. Terbiasa berpuluhan tahun bergantung pada istri, mengatur rumah tangga, makanan dan sebagainya; sekarang tidak ada lagi istri tidak bisa lagi mengatur rumah tangga meskipun ada orang yang membersihkan rumah, tetap tidak bisa mengatur rumah tangga akhirnya memutuskan menikah. Atau kadang-kadang yang kita lihat adalah adanya kebutuhan kasih sayang, ada orang tertentu yang memang terbiasa hidup dalam relasi kasih sayang; mencintai dan dicintai. Sekarang tidak ada lagi pasangan akhirnya membutuhkan seseorang yang dapat mencintainya.
GS : Jenis kebutuhan ini rupanya juga banyak dipengaruhi oleh usianya Pak Paul, jadi kalau tadi Pak Paul katakan bagi mereka yang masih umur 50, 60 tahun kebanyakan memang kebutuhan seksual tapi kalau sudah lebih dari itu yang lain-lain juga banyak. Tapi bukankah alasan-alasan yang Pak Paul sampaikan kebanyakan berfokus pada dirinya sendiri, padahal sebenarnya pernikahan dasarnya bukan itu Pak Paul, ini bagaimana?
PG : Tepat sekali Pak Gunawan, jadi saya tidak mengatakan semua alasan yang telah saya paparkan tadi adalah alasan yang salah. Tidak ada yang bisa mengatakan begitu, saya kira manusiawi kita ksepian, kita ingin adanya pasangan dan sebagainya.
Tapi saya percaya alasan ini tidak boleh menjadi alasan tunggal mengapa kita menikah. Tadi Pak Gunawan sudah mengatakan bahwa semua alasan ini mempunyai satu ciri yang sama yaitu semuanya berpulang pada kebutuhan pribadi. Kita tahu pernikahan bukanlah untuk memenuhi kebutuhan pribadi, pernikahan adalah sebuah relasi di mana kedua insan saling memberi, jadi kita harus kembali lagi melihat alasan kenapa kita menikah. Yang dapat kita langsung katakan adalah kita menikah karena kita saling mencintai dan menghormati, kita benar-benar mencintai dan karena kita mencintai maka kita ingin memberi kepadanya. Dan kita saling menghormati, kita menghargai pendapatnya, pandangannya, dirinya, kita hormat kepada keluarganya dan sebagainya. Alasan yang kedua adalah kita saling mengisi kebutuhan masing-masing, jangan sampai relasi nikah menjadi relasi searah. Satu orang memberikan kecukupan kebutuhan tapi yang lainnya tidak, hal ini tidak baik. Dan yang terakhir alasan kenapa kita menikah kembali adalah secara jelas kita melihat pimpinan Tuhan yang menuntun kita bersatu dalam pernikahan, jadi kita tidak main-main, kita mendoakannya, kita melihat Tuhan menuntun kita setahap demi setahap. Saya kira ketiga alasan inilah yang kita gabung menjadi sebuah alasan kenapa kita menikah.
GS : Supaya hubungan dengan anak-anak ini tetap baik, apakah dari pihak orangtua yang menyampaikan alasannya atau anak yang menanyakan kepada orangtua alasan menikah itu?
PG : Sebaiknya orangtua yang mengambil inisiatif untuk menceritakan kepada anaknya, kenapa dia merasa perlu untuk menikah kembali. Sebaiknya orangtua jangan datang dengan pasangannya kepada ank dan berkata, "Saya sudah menemukan calon istri saya atau calon suami saya dan kami akan menikah."
Nah anak-anak akan merasa kenapa papa-mama ini tidak mau cerita dulu, tidak bersedia berdiskusi, tidak membuka dialog, nah buat apa sekarang datang dan memberitahukan kami; anak-anak akan merasa tersingkirkan, jadi sebaiknya berbicara terlebih dahulu. Mungkin ada sebagian orangtua yang berpendapat begini, "Kami 'kan orangtua kenapa kami harus minta ijin kepada anak." Tapi masalahnya adalah meskipun kita adalah orangtua namun kita sudah menjadi keluarga. Anak-anak bukanlah orang lain, anak-anak adalah bagian hidup kita, jadi apa pun yang kita lakukan akan berdampak pada anak-anak. Kita tidak bisa memisahkan anak-anak dari kita sama seperti waktu anak-anak dulu ingin menikah, bukankah kita selalu tekankan kepada mereka bahwa tolong pertimbangkan kami sebagai orangtua, sebab kami adalah bagian hidupmu. Engkau tidak bisa mengambil keputusan menikah dengan siapa saja tanpa menghiraukan sama sekali pertimbangan kami, sebab kita satu keluarga. Jadi saya kira sama, kalau orangtua menghendaki untuk menikah kembali, sebaiknya sebelum dia bertemu dengan seseorang dia berbicara terlebih dahulu dengan anaknya. "Saya mulai merasakan adanya kebutuhan ini dan itu," dalam pembicaraan itu dengarkanlah masukan dari anak pula.
GS : Biasanya Pak Paul yang menjadi alasan anak untuk mencegah orangtuanya menikah kembali apa Pak Paul?
PG : Saya kira salah satunya adalah ada orang yang memang sengaja menjebak orang lain menikah dengannya karena alasan ekonomi atau alasan lainnya yang keliru. Dengan kata lain kita mesti memasikan orang yang akan menikahi orangtua kita adalah orang yang benar-benar baik dan sungguh-sungguh mengasihi orangtua kita.
Kita takut kalau orangtua kita itu dimanfaatkan sebab ini pernah terjadi, ada orang-orang yang memang mencari orang yang mapan secara keuangan apalagi dia tahu anak-anaknya sudah berhasil, kenapa tidak menikah dengan dia sebab dia paling hidup berapa tahun lagi setelah itu hartanya jatuh ke tangan saya. Jadi anak-anak biasanya khawatir dengan motivasi memanfaatkan orangtua kita.
GS : Di samping tadi Pak Paul sudah sebutkan citra ibunya atau citra ayahnya yang terdahulu masih sangat kuat dalam diri anak-anak.
PG : Betul, memang meskipun anak-anak mengerti kenapa orangtua ingin menikah kembali, tapi pada umumnya anak-anak itu sukar mengundang atau membiarkan seorang yang lain masuk dalam keluarga merka.
Misalkan mereka kehilangan ibu mereka, mereka lebih baik melihat mereka bersama-sama, saling mendukung meskipun tidak ada lagi mama, tapi papa jangan khawatir kami akan tetap di sini, kalau misalkan papa ingin menikah kembali di usia tua, anak-anak ini biasanya akan sukar menerima fakta ini. Anak-anak akan bertanya seberapa pentingnyakah mama dalam hidupmu, seberapa besarnyakah cintamu terhadap mama. Sudah tentu ini perasaan yang sah, anak-anak mempunyai perasaan seperti ini saya kira sangat wajar tapi sekaligus anak-anak juga mesti mendengarkan perasaan dan kebutuhan orangtuanya, di sinilah diperlukan dialog yang terbuka.
GS : Sebaliknya bagaimana dengan anak-anak yang mendorong orangtuanya untuk menikah lagi, bagaimana sebagai orangtua mempertimbangkan hal ini?
PG : Adakalanya anak-anak meminta orangtua menikah kembali karena beberapa alasan Pak Gunawan. Misalkan adakalanya anak-anak melihat orangtua itu secara emosi benar-benar tidak stabil setelah ematian pasangannya.
Kita sebagai anak melihat misalkan, "Kok mama sekarang sering menjadi tidak stabil, sering marah dan sebagainya." Mulailah terpikir dalam benak kita, "Apakah mungkin mama perlu seorang suami, karena kalau ada suami nantinya ada teman bicara dan mama pun tidak terlalu kesepian." Atau yang lebih buruk adalah karena tidak adanya pasangan, misalkan orangtua kita yang masih hidup itu menjadi genit, sering mencoba perhatian lawan jenis. Kita sangat terganggu akan hal ini dan kita akhirnya berpikir apakah papa membutuhkan seseorang untuk pemenuhan kebutuhan seksualnya, apakah lebih baik papa menikah saja daripada papa nanti jatuh ke dalam dosa. Ini pertimbangan-pertimbangan yang kadang-kadang anak-anak pikirkan. Tapi ada juga motivasi yang tidak tepat Pak Gunawan yaitu adakalanya anak-anak meminta orangtuanya menikah kembali sebab mereka tidak mau menanggung beban merawat orangtuanya. Daripada akhirnya harus menanggung beban tersebut ya anak-anak mendorong orangtuanya untuk menikah lagi supaya lepaslah tanggung jawab si anak untuk merawat orangtuanya.
GS : Sebagai anak-anak sebenarnya kita juga harus jujur terhadap orangtua dalam memberikan pertimbangan, Pak Paul. Menyetujui atau menyarankan tidak menikah dan sebagainya tapi pertimbangan-pertimbangan apa yang perlu kita sampaikan?
PG : Pertama kita harus benar-benar bertanya apakah orangtua telah memiliki pasangan yang tepat baginya? Maksudnya apa, misalnya apakah dia sudah melewati masa perkenalan yang memadai. Jangansampai orangtua kita ikut berdarma wisata, jalan-jalan ke luar kota, pulang seminggu kemudian berkata, "Saya mau menikah."
Kita kaget dan kita tanya, "Menikah dengan siapa?" "O..........menikah dengan seseorang yang saya temui dalam tour ini." Kita akan berkata, "Jangan!" Kadang-kadang orangtua atau kita yang pernah menikah beranggapan begini, "Saya telah menikah 40 tahun, saya tahu apa artinya pernikahan, jangan menguliahi saya lagi." Pendapat seperti itu salah, sebab meskipun kita telah menikah 40 tahun dan pasangan kita sekarang telah meninggal, itu tidak menjadikan kita pakar dalam pernikahan berikutnya. Itu tidak sama karena kita akan menikah bukan dengan orang yang sama, kita akan menikah dengan orang yang berbeda. Kita mungkin lebih berpengalaman dalam hal-hal tertentu, kita lebih bisa mengerti pasangan karena dulu terbiasa hidup dengan pasangan kita selama 40 tahun. Tapi itu tidak menjamin kita itu menjadi pakar dalam pernikahan berikutnya. Jadi dengarkan masukan anak, kalau anak berkata, "Jangan! Baru bertemu seminggu atau beberapa bulan sudah mau menikah, apakah sudah memadai waktu perkenalan tersebut?" Yang lainnya anak-anak juga mesti menolong orangtua melihat apakah benar-benar ada kecocokan di antara mereka, apakah ada kecocokan karakter, sifat-sifatnya saling melengkapi atau tidak, apakah dua-duanya sangat keras sehingga tidak mau mengalah. Bayangkan kalau mereka hidup bersama di bawah satu atap, pasti akan ada banyak pertengkaran. Anak-anak perlu melihat dan mengingatkan orangtua akan karakter pasangannya itu. Yang lainnya lagi adalah apakah ada kecocokan gaya hidup, ini penting sekali. Pada usia muda hal gaya hidup memang sudah penting dan perlu penyesuaian dan biasanya penyesuaian itu dilakukan dengan susah payah untuk menyelaraskan gaya hidup apalagi kalau sudah usia lanjut, kita terbiasa dengan hidup kita selama beberapa puluh tahun. Dan dulu misalkan pasangan kita mengerti gaya hidup kita, tidak berkeberatan dan bisa menerima, sekarang kita hendak menikah kembali apakah calon suami atau istri kita bisa menerima gaya hidup kita. Misalkan sejak usia 60 tahun kita terbiasa tidur jam 08.00 malam, sekarang pasangan kita tidak mau tidur jam 08.00 malam dia mau tidur jam 12.00 malam, dan dia merasa kita ini meninggalkannya di rumah, tidak bisa bicara dengannya, dia akan menuntut kita bangun dan temani dia bicara sampai jam 11.00, 12.00. nah gaya hidup ini penting sekali sebab pada usia lanjut gaya hidup kita itu sudah benar-benar berakar dan susah sekali kita cabut dengan begitu saja. Sudah tentu yang terakhir kita mesti memastikan apakah orangtua kita telah memilih pasangan yang seiman dengannya, apakah mereka berdua bisa beribadah bersama di dalam rumah Tuhan, apakah mereka sungguh-sungguh yakin hidup dalam Tuhan Yesus. Nah ini hal-hal yang perlu orangtua juga sadari dan jika tidak menyadarinya, anak perlu mengingatkan orangtua.
GS : Sebenarnya masa pacaran yang kedua ini seharusnya lebih teliti lagi dalam memilih pasangannya daripada dulu waktu menikah yang pertama kali, Pak Paul?
PG : Betul Pak Gunawan, sebab misalkan ini terjadi di Amerika Serikat, di sana angka perceraian tinggi. Tapi sesungguhnya angka perceraian di antara orang yang menikah kedua kalinya jauh lebihtinggi daripada perceraian di antara orang yang menikah untuk pertama kalinya.
Jadi orang mesti menyadari bahwa pernikahan kedua itu risikonya untuk ambruk jauh lebih besar daripada pernikahan pertama.
GS : Di samping kecocokan antara pasangan yang baru, tentu menyangkut anak-anak. Jadi di pihak pria juga mempunyai anak, yang wanita juga mungkin sudah mempunyai anak. Nah ini bagaimana di dalam hubungan selanjutnya?
PG : Di sini, orangtua yang hendak menikah perlu masuk di terima oleh keluarga yang satunya. Ini menjadi hal yang lebih penting dibandingkan waktu misalnya anak mau menikah karena orangtua kit sudah tua, kita ini nanti akan lebih banyak terlibat dalam kehidupan orangtua kita, hal seperti ini tidak bisa dihindari.
Berarti kita akan benar-benar harus bisa berelasi baik dengan pasangan yang baru. Jadi orangtua juga mesti melihat apakah dua keluarga ini atau anak-anak kita bisa menerima pasangan kita, jangan sampai orangtua tidak memperhatikan sama sekali masukan anak-anak. Berikutnya tentang keluarga adalah jangan sampai orangtua itu menikah dengan seseorang yang berusaha keras memisahkan kita dari orangtua kita. Ada pasangan yang seperti itu, terutama pasangan yang memang terlalu dominan, kehendaknya harus terjadi, dia menguasai orangtua kita. Kita mau ajak orangtua kita pergi, mau ajak dia makan susah sekali, mau berkunjung ke rumahnya pun menjadi sangat susah, mau ajak melihat cucu juga susah karena pasangannya menguasai sekali orangtua kita. Dia yang mengatur semuanya, ini mesti kita waspadai terhadap orang-orang yang berkarakter seperti ini. Atau yang lain lagi adalah orang-orang ini memang mempunyai motivasi yang buruk, maka dia sengaja memisahkan kita dari orangtua kita supaya dia benar-benar bisa mendapatkan apa yang dia inginkan dari orangtua kita. Maka kita mesti melihat apakah orang ini orang yang sungguh-sungguh baik pada orangtua kita, cocok dengan orangtua kita, apakah motivasinya menikahi orangtua kita benar. Jangan sampai orangtua kita terjebak.
GS : Tapi memang sama seperti pernikahan yang pertama, pernikahan yang kedua ini pun sering kali masalah-masalah itu muncul setelah mereka menikah. Jadi anak baru mengetahui seperti misalnya tadi Pak Paul jelaskan sulit menghubungi orangtua dan sebagainya itu setelah mereka menikah. Kalau masalah-masalah ini muncul dan baru diketahui setelah mereka menikah sikap anak-anak bagaimana Pak Paul?
PG : Seharusnya anak-anak berbicara langsung dengan orangtua, tapi berbicara dengan baik-baik mengatakan hal seperti ini misalkan, "Kami prihatin, kami melihat kenapa tante kok seperti ini kepaa papa, kenapa tante itu menghalangi kami datang dan sebagainya.
Pa, kami tidak mau mengatur rumah tangga papa, ini papa yang mempunyai rumah tangga kami menghormati tapi kami hanya mau memberitahukan kami perihatin untuk hal-hal seperti ini, jadi mohon papa berjaga-jaga, papa waspada." Sebab kenapa kita perlu berbicara seperti itu, kalau kita terlalu memaksakan dan langsung memerintahkan papa untuk menegur istrinya, kebanyakan papa kita itu akan marah kepada kita, papa kita mungkin akan langsung membela pasangan dan berkata, "Memang dari dulu kamu sentimenlah dengan istri saya, kamu memang tidak suka dengan istri saya." Nah kita mesti berbicara dengan baik-baik kemudian kita serahkan kembali kepada papa. "Pa, silakan papa putuskan kami hanya ingin memberitahukan ini." Biarlah masukan ini papa mulai ingat sehingga dia mulai berhati-hati bahwa istrinya ternyata tidak seperti yang dia duga. Benar-benar pernikahan ini adalah untuk memenuhi agenda si istri, kalau itu yang terjadi sudah tentu si ayah ini memang harus lebih berwaspada dalam hal misalkan hartanya dan sebagainya.
GS : Biasanya pernikahan yang kedua ini dilakukan pada usia yang sudah cukup lanjut, dan itu saat-saatnya kondisi fisik ini menurun, kesehatannya menurun, sering sakit. Ini bagaimana Pak Paul, apakah hal ini perlu diungkapkan sebagai salah satu pertimbangan?
PG : Sudah tentu, ini berbeda dengan perkawinan di masa muda. Di masa muda kita relatif lebih sehat, kita benar-benar mengantisipasi hari-hari di depan kita di mana kita bisa berkarya, menikmai hidup bersama dalam tubuh yang sehat.
Menikah di usia tua tidak bisa tidak kita harus mempertimbangkan hari-hari tua kita, maka waktu memilih pasangan hidup dua-dua harus siap saling merawat bahwa ini bukan pernikahan di mana kita akan bersenang-senang. Tidak demikian, ini pernikahan di mana dua-dua akan saling bergantung untuk saling merawat. Siap atau tidak, ini yang mesti disadarkan kepada mereka berdua.
GS : Betul atau tidak, ada pengamatan bahwa biasanya yang pria lebih banyak yang menikah kembali daripada yang wanita?
PG : Saya kira itu betul, nomor satu adalah lebih banyak wanita dibandingkan pria yang berusia lanjut. Memang pada umumnya wanita berusia lebih panjang dibandingkan pria. Dengan kata lain kalupun wanita hendak menikah kembali biasanya dia akan kesulitan mendapatkan pasangan hidup.
Yang kedua, kebanyakan wanita lebih bisa hidup tanpa suami dibandingkan suami tanpa istri. Wanita terbiasa mengurus rumah tangga, keluarganya dan sebagainya sehingga waktu pasangannya tidak ada dia masih bisa mengurus semuanya, dan biasanya mama dekat dengan anak-anak dan itu menjadi dukungan yang penting baginya. Papa biasanya tidak terlalu dekat dengan anak sehingga waktu tidak ada istrinya dia akan lebih kesepian.
GS : Pak Paul, untuk merangkumkan perbincangan kita ini apakah ada ayat firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?
PG : Saya akan bacakan Amsal 19:14, "Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi istri yang berakal budi adalah karunia Tuhan." Kita mesti mengingatkan orangtua, berhati-hati dalam memlih pasangan hidup sebab jika keliru memilih masa tua yang seyogianya dilewati dalam ketenangan malah berubah menjadi kawah yang mendidih.
Mintalah kehendak Tuhan, mintalah pimpinan Tuhan, firman Tuhan jelas berkata, "Istri yang berakal budi adalah karunia Tuhan." Kalau kita balik, "Suami yang berakal budi adalah karunia Tuhan." Tuhan yang memberikan jadi kepadaNyalah kita meminta pimpinanNya.
GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini, dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Tatkala Orangtua Menikah Kembali". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Setelah ayah atau ibu meninggal, orangtua kembali hidup sendiri. Selang beberapa waktu, orangtua memutuskan untuk menikah. Kadang tindakan ini dapat diterima namun adakalanya keputusan ini justru menimbulkan dampak yang mengguncangkan keluarga. Apakah yang seharusnya menjadi sikap kita sebagai anak tatkala orangtua memutuskan untuk menikah kembali?
Pada dasarnya kita mesti memastikan bahwa orangtua telah terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang baik. Ingat, tidak selalu kita dapat memastikan hasil akhir atau keputusannya, namun sekurangnya kita bisa memastikan bahwa kita telah menjalani langkah-langkah yang benar dalam proses pengambilan keputusan. Tugas kita sebagai anak adalah mengingatkan orangtua akan hal-hal berikut ini:
Apakah alasan sesungguhnya orangtua ingin menikah kembali? Kadang keinginan untuk menikah kembali keluar dari
(a) kesepian belaka,
(b) kebutuhan finansial yang mendesak,
(c) kebutuhan seksual,
(d) kebutuhan akan rasa aman,
(e) kebutuhan akan seseorang yang dapat mengurus rumah, dan
(f) kebutuhan untuk dikasihi. Semua alasan ini tidak salah tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya alasan untuk menikah kembali.
Alasan terutama kenapa kita menikah kembali adalah
(a) kita saling mencintai dan menghormati,
(b) kita saling mengisi kebutuhan masing-masing, dan
(c) secara jelas kita melihat pimpinan Tuhan yang menuntun kita untuk bersatu dalam pernikahan.
Apakah motivasi pasangannya itu menikah dengan orangtua kita? Ada orang yang sengaja menjebak orang untuk menikah dengannya karena alasan ekonomi atau alasan keliru lainnya. Kita mesti memastikan bahwa ia sungguh-sungguh mengasihi orangtua.
Apakah orangtua telah memilih pasangan hidup yang tepat baginya? Apakah ia telah melewati masa berkenalan yang memadai? Apakah ada kecocokan karakter? Apakah ada kecocokan gaya hidup? Apakah ia pasangan yang seiman dalam Kristus?
Apakah pasangannya itu dapat menerima kita sebagai bagian dari keluarganya? Apakah justru sebaliknya, ia berusaha memisahkan kita dari orangtua?
Apakah orangtua dan pasangannya siap untuk menghabiskan masa tua bersama? Masa tua adalah masa keterbatasan fisik; makin tua makin besar kemungkinan sakit. Apakah mereka siap untuk saling merawat dan memberi dukungan?
Firman Tuhan: "Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi istri yang berakal budi adalah karunia Tuhan." (Amsal 19:14) Kita harus mengingatkan orangtua agar berhati-hati dalam memilih pasangan hidup sebab jika keliru memilih, masa tua yang seyogianya dilewati dalam ketenangan malah berubah menjadi kawah yang mendidih.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Pria mudah jatuh dalam keangkuhan karena pengkondisian sejak awal untuk memegang peranan pelindung, pemimpin, penanggung jawab. Pria juga mempunyai ketakutan kalau dianggap takut kepada istri. Seorang suami harus membangun wibawa rohani yaitu meneladani Kristus Yesus di dalam hidupnya.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen selama ± 30 menit akan menemani anda dalam acara perbincangan seputar kehidupan keluarga. Sebagaimana biasa telah hadir bersama kami, Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, seorang pakar dalam bidang bimbingan dan konseling yang kini juga aktif mengajar di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Juga telah hadir bersama kami Ibu Idayanti Raharjo salah seorang pengurus di LBKK. Ikutilah perbincangan kami karena kami percaya acara Telaga ini pasti sangat menarik dan bermanfaat bagi kita semua.
Lengkap
IR : Pak Paul, ini pengakuan dari ibu-ibu muda, sekalipun Firman Tuhan itu mengatakan dengan jelas bahwa di dalam dan melalui pernikahan pria dan wanita itu akan menjadi satu daging seperti dalam Kejadian 2:24 , namun pada kenyataannya untuk menjadi satu itu tidak mudah Pak Paul?
PG : Ya sangat betul Ibu Ida, sebab menjadikan satu dari dua kepribadian yang sangat berbeda bukanlah perkara yang mudah. Jadi sudah pasti akan memakan waktu dan terlebih penting daripada meakan waktu dalam penyesuaian, akan ada bagian dari dalam diri kita yang harus direlakan termakan atau harus direlakan pergi, dikesampingkan, kalau tidak dua tidak bisa menjadi satu.
GS : Ada orang yang mengatakan, bahwa pernikahan itu seperti dua helai kertas yang direkatkan jadi satu, tetapi nyatanya pernikahan tidak semudah itu Pak Paul karena kita ini bukan kertas yang bisa ditempelkan begitu saja. Apa komentar Pak Paul dengan perumpamaan atau kiasan seperti itu?
PG : Saya sebetulnya sangat suka sekali Pak Gunawan dengan perumpamaan itu sebab memang kalau bisa, andaikan semua orang bisa dilekatkan seperti kertas Pak Gunawan, sudah tentu problem rumahtangga bisa dihilangkan.
Namun kenyataannya seperti tadi disinggung oleh Pak Gunawan tidaklah demikian, dua orang tidak bisa dengan mudah menjadi satu dan saya kira salah satu penyebabnya adalah kekurangpahaman kita tentang siapa suami kita dan siapa istri kita.
GS : Yang dimaksud tidak paham bagaimana? Selama masa pacaran 'kan sudah cukup kami mencoba saling memahami satu dengan yang lain, Pak Paul?
PG : Begini Pak Gunawan, memang dalam setiap pribadi ada hal-hal yang unik, namun sebetulnya pria dan wanita secara umum memiliki keunikan. Saya kira kita bisa belajar banyak kalau kita bisatahu apa yang menjadi ciri-ciri umum misalnya kaum pria dan kaum wanita.
Nah waktu kita memahami bahwa o.....pada umumnya pria seperti ini, o....pada umumnya wanita seperti ini, nah itu menolong kita akhirnya dalam tahap penyesuaian. Saya kadang-kadang berpikir misalnya, jujur istri saya kok begini, aneh sekali istri saya atau istri saya juga mempunyai pandangan yang sama suami saya kok aneh. Misalkan waktu dia merasa saya ini kok tidak sensitif, saya ini kok tidak bisa ngomong dengan terbuka, apa yang saya rasakan. Nah mula-mula istri saya menganggap sayalah satu-satunya yang bermasalah seperti ini, tapi tatkala dia mulai menyadari bahwa bukan saja saya yang bermasalah seperti ini dan sebetulnya hampir kebanyakan pria sulit untuk mengungkapkan perasaan. Nah dia akhirnya lebih menyadari bahwa ini bukanlah masalah, tapi ini adalah ciri atau keunikan yang dimiliki oleh kaum pria.
(1 ) IR : Pak Paul, pada dasarnya pria itu adalah makhluk yang angkuh, bagaimana pengaruh keangkuhan itu dalam aspek kehidupannya Pak Paul?
PG : Saya pikir ada kecenderungan pria itu lebih mudah untuk angkuh daripada wanita, karena ada latar belakangnya juga Ibu Ida. Perempuan itu sejak kecil dikondisi untuk lebih rendah hati, prempuan sejak kecil dikondisi untuk melayani, jadi peran melayani adalah peran yang sangat dilekatkan dengan keibuan, kewanitaan sedangkan pria sejak kecil justru dikondisi untuk memegang peranan pelindung, pemimpin, penanggung jawab.
Nah dalam peranan-peranan yang bersifat memimpin itu dia justru harus mempertahankan wibawanya, harus menjaga jangan sampai dia kelihatan tidak konsisten. Jadi saya melihat memang pria pada akhirnya mudah sekali jatuh ke dalam jerat keangkuhan ini. Karena apa? Karena ya pengkondisian sejak awal itu.
GS : Kalau sudah menikah Pak Paul, itu akan nampak dalam sisi-sisi kehidupan yang bagaimana di dalam diri pria itu?
PG : Yang mungkin biasa terjadi Pak Gunawan, kesulitan pria untuk mengatakan saya salah, karena ketakutan pria atau ketakutan suami adalah tatkala mengatakan saya salah wibawanya sebagai kepla rumah tangga akan merosot dan ada satu ketakutan yang dimiliki oleh hampir semua suami, yakni kita-kita ini yang pria takut sekali dianggap takut kepada istri.
Nah ini adalah hal yang tidak dialami oleh para istri atau para wanita. Wanita misalnya dikatakan o....engkau adalah istri yang takut kepada suami, itu suatu pujian, itu justru sesuatu yang akan membuat si wanita merasa pas dan berhasil dalam perannya sebagai seorang istri. Kebalikannya dengan pria kalau pria dikatakan o......engkau adalah suami yang takut kepada istri itu benar-benar suatu ejekan, jadi pria takut sekali dikatakan itu. Nah oleh karena ketakutannya itu pria cenderung lebih kaku dalam misalnya mengambil inisiatif, meminta maaf karena takut permintaan maaf itu menunjukkan ketidakkonsistenan dia dan akhirnya wibawanya akan merosot di mata istri. Jadi saya bisa bayangkan ada di antara kita yaitu suami-suami yang lebih tega atau rela meskipun tahu salah, bersikap salah, mempertahankan kesalahan daripada harus mengakui bahwa dia itu keliru dan harus meminta maaf kepada istrinya.
GS : Itu 'kan sebenarnya ketakutan suami dan itu tidak terlalu beralasan Pak Paul. Apakah sikap seperti itu perlu dipertahankan Pak Paul?
PG : Sudah tentu itu tidak boleh dipertahankan, jadi intinya adalah seorang suami harus membangun wibawa rohani; nah itu adalah wibawa yang muncul, wibawa yang ditanamkan bukan dari hal-hal eperti tidak mau meminta maaf, mempertahankan gengsi dan sebagainya.
Yang saya maksud dengan wibawa rohani adalah seorang pria atau seorang suami meneladani Yesus Kristus di dalam hidupnya. Jadi sewaktu dia salah ya dia minta maaf, sewaktu dia benar dia juga bisa penuh pengertian menerima istrinya yang mungkin keliru. Sewaktu istrinya perlu dukungan, dia bisa memberikan dorongan tidak malah menghinanya, nah dari semua inilah seharusnya suami akan menerima penghormatan dari si istri, karena si istri akan melihat bahwa suamiku adalah seorang suami yang rohani dan di situlah wibawanya baru akan muncul. Namun saya akui Pak Gunawan, bahwa ini tidaklah selalu bisa kita lakukan, meskipun kita tahu mana yang rohani dan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai anak Tuhan, tapi adakalanya kita susah sekali lepas dari ego kita sebagai seorang pria. Apakah Ibu Ida juga melihat hal itu?
IR : Ya itu bagaimana Pak Paul, kadang-kadang seorang suami tidak mengakui kelemahannya sehingga dia itu tetap angkuh dan dalam kerohanianpun kadang-kadang juga mereka itu tidak mau untuk dipimpin oleh seorang istri untuk menjadi rohani.
(2 ) PG : Ya, Ibu Ida memang mengatakan satu hal yang penting sekali, yakni pria itu memang alergi sekali dipimpin oleh istri. Jadi meski pria itu sadar dia salah, namun kalau dia harus mmberikan dirinya dipimpin oleh si istri lebih baik dia tidak mau mengakui kesalahannya.
Jadi mungkin timbul pertanyaan apa itu yang harus istri-istri lakukan, nah ini bukannya menuntut istri untuk lebih berkorban. Terus terang saya kadang-kadang suka tidak tega memberikan lagi permintaan, menyampaikan himbauan lagi kepada istri sebab saya sadar bahwa banyak istri yang sudah berkorban, Bu Ida. Jadi yang saya akan sampaikan bukan lagi suatu tekanan kepada istri, namun anggap sajalah sebagai suatu penjelasan bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan tepat kepada suami kita. Nah kalau misalkan ada yang harus istri sampaikan kepada si suami, si suami memang merasa terpojok, kalau diberi instruksi lagi atau nasihat lagi, si suami kemungkinan akan bereaksi dengan keras atau tidak menerima nasihat istri. Yang saya sarankan adalah kita sebagai wanita atau para ibu ini tidak boleh menghampiri si suami dengan suatu sikap, "Engkau salah!" dan menuntut si suami itu langsung meminta maaf. Ini adalah suatu taktik, suatu strategi jadi istri bukannya di sini dianjurkan atau saya menganjurkan istri untuk menoleransi hal yang keliru dari si suami, bukan! Tapi ada strateginya berbicara dengan pria. Pria itu sangat alergi dengan tantangan sebab waktu suami atau pria itu ditantang oleh si istri dia akan berbalik melawan kepada si istri dan tidak peduli dia salah atau tidak salah dia pasti akan lawan balik. Jadi anjuran saya jangan menciptakan atau menyudutkan suami sehingga dia merasa tertantang oleh si istri dan dia harus membuktikan dirinya sebagai seorang kepala keluarga, tatkala dia merasa terpojok dan dia merasa harus membuktikan diri sebagai kepala keluarga, biasanya suami langsung akan menunjukkan kuasanya meskipun dia tahu caranya salah. Jadi cara yang terbaik bagi si istri untuk nomor 1 adalah berbicara dengan lembut, dan nomor 2 isi pembicaraan itu janganlah menyudutkan si suami, supaya si suami itu harus bertekuk lutut dan mengakui kesalahannya. Lebih baik misalkan si istri berkata: "Saya melihat bahwa yang tadi terjadi (misalkan si suami itu bicara kepada seorang temannya secara tidak sopan atau kasar) nah si istri mau memberikan teguran, si istri bisa berkata: "Saya tadi melihat yang kau lakukan kepada temanmu. Saya bisa menyelami perasaanmu, mungkin tadi engkau agak tersinggung dengan temanmu itu, makanya engkau mengatakan hal-hal yang keras seperti tadi." Terus sudah diam biarkan suami yang berbicara, biarkan dia berkata: "Ya saya memang tersinggung dengan dia, karena dia gini, gini, gini." Nah setelah si suami cerita kenapa dia marah, kenapa dia tersinggung, si istri bisa dengan hikmat berkata kepada suaminya: "Saya hanya mau memberikan masukan kalau engkau tidak keberatan untuk mendengarnya. Adakalanya memang dalam keadaan beremosi kita mengeluarkan kata-kata yang keras, tapi setelah kejadian kita langsung memikir ulang dan menyadari bahwa kata-kata keras itu tidaklah pada tempatnya dan tidak harus saya katakan, nah ini masukan saya saja dari yang saya tadi amati, mungkin engkau bisa memikir ulang lagi apakah ada hal-hal yang lain yang bisa engkau katakan, ada kata-kata yang lain yang bisa engkau sampaikan dan tidak usah engkau menggunakan kata-kata yang keras itu, nah ini hanya masukan saya saja kepada engkau." Nah kalau Ibu Ida perhatikan dalam contoh ini si istri tidak memojokkan si suami jadi hanya memberikan masukan dan menghormati si suami dalam pengertian engkau boleh menerima masukan saya tapi juga boleh tidak, ini terserahmu. Nah kebanyakan suami jika mendapatkan masukan seperti ini dari istri, dia akan cenderung diam dan mendengarkannya, atau mungkin dia tidak langsung menerima namun perlahan-lahan dia mulai berpikir akan masukan dari si istri itu.
GS : Pak Paul sudah memberikan uraian yang panjang lebar tentang peran istri didalam membantu suami untuk mengatasi keperbedaannya dengan istrinya. Saya yakin sekali bahwa perbedaan antara suami dan istri sifatnya itu juga dari Tuhan, tapi setelah perbincangan ini saya justru merasa bahwa itu merupakan sesuatu yang menjebak diri saya sebagai seorang pria atau saya merasa terjebak tapi juga ingin keluar Pak Paul dari kondisi seperti itu. Itu 'kan sifat bawaan seorang pria (PG : Maksudnya terjebak?) kesombongan dan sebagainya itu 'kan sudah terbawa ya bahwa pria itu seperti itu. Tadi Pak Paul sudah uraikan bahwa peran istri itu besar sekali, dengan lemah lembut bisa memberitahu, saya percaya bahwa itu menolong sekali. Tapi sekarang dari pihak si suami atau saya sebagai seorang laki-laki bagaimana bisa keluar dari kondisi seperti ini Pak Paul?
PG : Dan jangan bersukacita dalam kelemahan kita Pak Gunawan?
GS : Ya betul.
PG : Jangan sampai kita berdalih memang saya sudah begini Jadi sudah pasti Pak Gunawan ya, seorang anak Tuhan tidak boleh dan tidak diperkenankan Tuhan untuk tinggal di dalam dosa terus-meneus.
Memang ini bawaan atau bentukan dari lingkungan, tapi kita tahu juga bahwa keangkuhan, misalkan tidak mau mengakui kesalahan itu adalah dosa. Jadi tetap suami yang rohani harus bisa mengatakan keangkuhan saya itu dosa, dan dia tidak boleh berkata kepada istrinya ya memang ini saya dan seharusnyalah engkau memahami saya. Nah yang tadi saya sarankan kepada istri adalah strategi supaya istri bisa berkomunikasi dengan tepat kepada si suami, namun si suami tidak boleh berkata bahwa saya tidak bisa berubah karena memang inilah saya. Jadi saya setuju sekali dengan komentar Pak Gunawan bahwa suami tidak boleh terjebak di dalam sifat keberdosaannya itu dan dia harus keluar, dan dia harus melawannya. Dengan cara apa dia melawannya, dengan cara meminta maaf, dengan cara mengakui bahwa saya salah tadi dan tidak segan-segan untuk meminta maaf, dan jangan takut bahwa wibawanya akan hilang gara-gara meminta maaf. Sebab dugaan saya mungkin Ibu Ida bisa koreksi saya, justru akan lebih terkesan dengan sifat suami yang 'gentleman', yang berani mengakui kesalahannya, betul Ibu Ida ya?
IR : Ya saya setuju sekali, tapi itu juga kembali lagi pada Firman Tuhan bahwa kalau suami itu mau rendah hati, mau mengakui, bahwa kalau Roh Kudus itu sudah memimpin kelemahlembutan hatinya dia akan berubah Pak Paul, dia akan bisa minta maaf. Dan permintaan maaf itu membanggakan seorang istri.
PG : Ya, dan si istri saya yakin akan merasa sangat dihargai Bu Ida, bahwa suaminya begitu rela meminta maaf.
IR : Ya saya juga mengalami Pak Paul.
GS : Jadi maksudnya begini Pak Paul, seorang pria yang berkata maaf/minta maaf kepada istrinya tatkala dia salah atau mengakui keunggulan-keunggulan istrinya, itu tidak berarti bahwa si suami ini atau si pria ini menjadi kalah di hadapan istrinya, tetapi ada juga pria-pria atau suami-suami yang memang betul-betul dikalahkan oleh istrinya Pak Paul, jadi bukan sekadar tidak angkuh tetapi sudah memang kalah dalam semua hal, itu bagaimana Pak Paul sikap seperti itu?
PG : Ini kadang-kadang memang terjadi Pak Gunawan, kenapa saya tadi sedikit tersenyum karena memang pernikahan itu tidak selalu ideal Pak Gunawan. Seharusnya memang suami itu memimpin tapi aakalanya ada istri yang justru memimpin suami, karena kemampuan si istri lebih tinggi daripada si suami dalam pengambilan keputusan nah ini saya pikir kuncinya yaitu pengambilan keputusan, si istri lebih memiliki hikmat.
Dalam kasus seperti ini saya tetap akan berkata kepada para istri berdasarkan Firman Tuhan bahwa suami itu adalah kepala keluarga, si istri tetap berperan sebagai pemberi masukan. Dia memberikan sumbangsih, nasihat dan gagasan, jalan keluar, anjuran dan sebagainya, namun dia tidak memaksakan dan membiarkan si suami untuk akhirnya mengambil keputusan. Saya juga mau berkata pada para pendengar bahwa yang saya katakan ini sedikit ideal. Sebab adakalanya saya juga bisa menyelami perasaan para istri yang jelas-jelas mau mencoba menolong si suami dan jelas-jelas si suaminya mengambil keputusan yang keliru, tapi si suami tidak mau mendengarkan masukan si istri. Dalam kasus seperti ini bagaimana, nah memang ya tidak bisa saya katakan pasti harus kiri atau pasti harus kanan, namun pada prinsipnya tetap istri itu berperan sebagai pemberi masukan dan berdoa agar Tuhanlah yang mengatur semuanya. Sebab Tuhan tetap bisa mengatur langkah yang keliru yang diambil oleh suami kita, dan membuat itu justru kebaikan, jadi kita percayakan rumah tangga kita ini pada kuasa Tuhan.
IR : Saya setuju sekali Pak Paul kita itu harus berdoa minta hikmat dari Tuhan karena istri-istri itu juga banyak kelemahannya Pak Paul, dan kalau kita juga mau menuntut suami berubah si istri harus berubah dulu supaya suami mau berubah.
PG : Ya sudah tentu memang keduanya harus berubah Bu Ida ya, saya teringat akan Firman Tuhan yang diambil dari Matius 7:12 yang sering disebut sebagai hukum emas ya (Golden Rule, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka itulah isi seluruh hukum taurat dan kitab para nabi."
Jadi memang Tuhan meminta masing-masing kita untuk proaktif ya mengambil inisiatif melakukan hal yang kita tahu kita akan hargai kalau orang lain berbuat itu kepada kita, nah kita perbuatlah ini kepada orang lain termasuk kepada suami dan istri kita. Kalau kita senang pasangan kita meminta maaf waktu dia salah ya kita juga begitu, kita juga minta maaf dan jangan kita terlalu berpikiran o.....saya laki-laki, o....saya wanita, o....saya kepala keluarga atau saya apa tidak ya. Jadi anjuran saya kepada para suami adalah jangan terlalu pikirkan peranan saya ini kepala keluarga, saya harus menjaga wibawa saya, tidak usah, tujukan mata kita hanya pada Kristus yaitu saya ingin menjadi anak Tuhan yang betul, itu yang paling penting.
GS : Memang membutuhkan suatu tekad yang kuat untuk mewujudkan kesatuan suami-istri itu, tetapi harus mulai dilatih dari hal-hal yang kecil yang tadi Pak Paul katakan. Yang agak sulit memang kadang-kadang kita hidup di suatu lingkungan yang tidak mendukung untuk kita mengupayakan kesatuan itu, maksud saya di tempat kerja maupun di lingkungan masyarakat kita selalu menonjolkan diri bahwa pria itu yang menguasai segala sesuatunya itu Pak Paul.
PG : Dan ini memang sangat bertalian erat dengan identitas diri pria, bahwa pria itu diharapkan tahu semuanya, bisa semuanya dan tidak boleh kelihatan bingung atau kelihatan tidak tahu apa-aa.
Jadi akhirnya kita-kita ini terjebak oleh peran yang diembankan oleh masyarakat, oleh kita juga sebetulnya dan akhirnya kita mengorbankan kebenaran demi menegakkan peranan itu sendiri. Dan jadi langkahnya lebih keliru lagi.
GS : Tapi memang ada perbedaan yang esensial sekali Pak Paul antara peran pria dan wanita.
PG : Betul, sebab Alkitab sendiri pun membedakan akan peranan pria dan wanita, Pak Gunawan.
GS : Jadi semua itu kita terima sebagai anugerah Tuhan, bahwa Tuhan itu membedakan yang pria dan yang wanita untuk bisa saling mengasihi dan saling menolong, begitu Pak Paul ya.
Baiklah para pendengar sekalian, tadi telah kami persembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan seputar kehidupan keluarga, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi juga bersama Ibu Idajanti Raharjo. Apabila Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini kami persilakan Anda menghubungi kami melalui surat. Saran-saran, pertanyaan dan dukungan Anda sangat kami nantikan, maka alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) dengan alamat Jl. Cimanuk 58 Malang . Terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.END_DATA
Ringkasan Isi:
Menyatukan dua kepribadian yang sangat berbeda bukanlah perkara yang mudah. Sudah pasti akan memakan waktu dan terlebih penting dalam penyesuaian, akan ada bagian dari dalam diri kita yang harus direlakan pergi, dikesampingkan, kalau tidak, dua tidak dapat menjadi satu. Hal ini yang menjadi salah satu penyebabnya adalah kekurangpahaman kita tentang siapa suami kita dan siapa istri kita. Yang dimaksud adalah kekurangmengertian terhadap hal-hal unik seorang pria dan seorang wanita.
Ciri umum pria adalah sebagai berikut:
Kecenderungan pria mudah angkuh daripada wanita. Perempuan sejak kecil dikondisikan untuk lebih rendah hati, melayani. Sedang pria sejak kecil justru dikondisikan untuk memegang peranan, pelindung, pemimpin, penanggung jawab. Nah dalam peranan itulah pria harus justru mempertahankan kewibawaannya, harus menjaga jangan sampai dia kelihatan tidak konsisten.
Kesulitan pria untuk mengatakan saya salah. Karena ketakutan pria/suami adalah tatkala mengatakan saya salah wibawanya sebagai kepala rumah tangga akan merosot. Dan ada satu ketakutan yang dimiliki hampir oleh semua pria adalah takut sekali dianggap takut kepada istri. Ini adalah hal yang tidak dialami oleh seorang istri/wanita. Tentunya hal ini sangat tidak boleh dipertahankan, intinya seorang suami harus membangun wibawa rohani. Artinya adalah seorang pria atau seorang suami meneladani Yesus Kristus di dalam hidupnya, jadi waktu dia salah ya minta maaf, waktu dia benar, dengan penuh pengertian menerima istrinya yang mungkin keliru. Waktu istri perlu dukungan dia bisa memberikan dorongan tidak malah menghinanya. Justru di situlah wibawa seorang suami akan muncul.
Pria alergi sekali dipimpin oleh istri. Jadi meski pria sadar bahwa dia salah, namun kalau dia harus memberikan dirinya dipimpin oleh si istri lebih baik dia tetap tidak mengakui kesalahannya.
Dan seharusnya cara yang terbaik yang dilakukan istri adalah:
Bicara dengan lemah lembut
Isi pembicaraan jangan menyudutkan suami.
Matius 7:12 sering disebut sebagai hukum emas berkata: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka, itulah isi seluruh hukum taurat dan kitab para nabi."
Jadi memang Tuhan meminta masing-masing kita untuk proaktif mengambil inisiatif melakukan hal yang kita tahu kita akan hargai kalau orang lain berbuat itu kepada kita, nah kita perbuatlah ini kepada orang lain termasuk kepada suami dan istri kita.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Sebetulnya kita secara alamiah adalah makhluk yang mementingkan diri, jadi mengalah atau mendahulukan kepentingan orang merupakan sesuatu yang melawan kodrat manusiawi kita. Hal inilah yang merupakan salah satu yang melatarbelakangi kita mengapa kita susah untuk mengalah dan masih banyak hal lain lagi.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam perbincangan kami kali ini kami beri judul "Mengapa Susah Mengalah". Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1) GS : Pak Paul, di dalam berinteraksi dengan rekan kita kadang-kadang memang terjadi hal-hal yang tidak enak dan sebagainya. Bagaimanapun juga kita sempat tersudut di dalam pembicaraan itu, tetapi kecenderungan terus membela diri walaupun sudah tahu misalnya salah atau kurang tepat memberikan argumentasi. Nah ini sebabnya apa Pak Paul?
PG : Ada 3 penyebabnya, Pak Gunawan, yang pertama saya sebut rintangan ego. Rintangan ego maksud saya secara alamiah kita adalah makhluk yang mementingkan diri. Waktu berkata kita adalah maklukyang mementingkan diri, itu berarti kita cenderung mendahulukan kepentingan pribadi.
Jadi mengalah yakni mendahulukan kepentingan orang merupakan sesuatu yang melawan kodrat manusiawi kita. Jadi sebetulnya secara alamiah manusia pada waktu datang ke dunia, dari bayi, kecenderungan pertamanya adalah mementingkan diri sendiri setelah itu baru kita mementingkan orang lain. Nah jadi benar-benar kita melihat rintangan ego ini cukup berperan besar, membuat kita sulit mengalah karena kita harus melawan diri kita sendiri.
GS : Jadi ada orang yang egonya katakan kuat, tetapi ada juga yang tidak terlalu menonjol ya, Pak Paul?
PG : Betul dan itu akan mempengaruhi, misalnya seseorang dibesarkan dalam keluarga di mana semua yang diinginkan dituruti. Anak seperti ini akan mempunyai ego yang menggelembung, ego yang mengglembung seperti ini akan lebih merintangi dia untuk mengalah.
Kebalikannya kalau ada seorang anak dibesarkan dalam rumah yang penuh dengan tekanan-tekanan, anak ini dipaksa untuk menuruti kehendak orang lain meskipun dia tidak setuju harus dia lakukan. Paksaan-paksaan yang berlebihan seperti ini akan mengecilkan ego, sehingga dia tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan apa yang dia inginkan, apa yang dia sungguh-sungguh setujui, apa yang sungguh-sungguh dia sukai. Karena tidak berani maka egonya tidak merintangi dia dan cenderung dia akan mengalah terus-menerus. Namun ini adalah kasus mengalah yang tidak sehat, karena dia sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk mencetuskan keinginannya itu.
GS : Tetapi selain ego itu, apakah ada hal lain Pak Paul yang membuat orang bersikap seperti itu?
PG : Penyebab kedua kenapa kita ini susah mengalah, saya sebut rintangan orang lain. Yang saya maksud adalah begini, kita ini menginginkan pengakuan dari orang dan mengalah dianggap sebagai keklahan.
Jadi waktu kita mengalah kita berpikir orang melihat kita sebagai orang yang kalah, jarang orang akan (dalam pikiran kita ya) akan melihat kita sebagai orang yang mulia. Justru kecenderungannya adalah waktu kita ditantang kemudian kita tidak berani untuk menanggapi tantangan itu, orang akan melihat kita sebagai orang yang lemah sehingga kalah. Oleh karena orang rindu untuk mendambakan pengakuan orang, anggapan bahwa kita orang yang kuat dan sebagainya. Pengakuan itu tidak kita dapatkan kalau kita mengalah, jadi karena itulah yang kita butuhkan pengakuan-pengakuan dari orang yang akhirnya kita lebih mementingkan diri, susah mengalah supaya kita mendapatkan pengakuan orang.
GS : Ada lagi yang teman-temannya malah membakar-bakar sehingga membuat suasana menjadi lebih panas "Tidak apa-apa lawan saja" dan sebagainya. Lalu dia yang tadinya sudah siap sebetulnya untuk mengalah, malah menjadi marah lagi.
PG : Betul, ini sering terjadi dalam lingkungan teman-teman di mana memang teman-temannya itu mempunyai standar jangan sampai mengalah. Waktu dia memutuskan untuk mengalah, dia menjadi orang yag tidak populer dan akan kehilangan pengakuan dari teman-temannya.
Ini banyak terjadi terutama di kalangan para remaja misalnya, sebetulnya mereka mau mengalah tapi karena takut dinilai teman-temannya bahwa dia seorang yang lemah akhirnya dia tidak mau mengalah.
GS : Di lingkungan kita itu ada banyak etnis tertentu, kadang-kadang kelihatan dari salah satu etnis tertentu itu memang sukanya mengalah, orangnya tidak terlalu meledak-ledak dan sebagainya. Tapi di lain pihak ada juga satu golongan yang rasanya tidak mau kalah kalau sedang bicara.
PG : Point yang bagus sekali Pak Gunawan dan itu adalah butir yang ketiga penyebab kenapa kita ini susah mengalah, saya sebut rintangan budaya. Jadi ada budaya-budaya tertentu yang menyuburkan asa mengalah, itu betul sekali.
Yang mulia adalah mau mengalah dan mengesampingkan kepentingan pribadi. Tapi ada budaya-budaya lain yang justru menyuburkan sikap tidak mengalah, nah budaya-budaya tertentu itu akan berkata kalau mengalah engkau berarti pengecut, nah orang yang pengecut dikeluarkan dari budayanya. Daripada harus menanggung malu karena dianggap pengecut dan dikeluarkan dari budayanya, terpaksalah akhirnya dia menyuburkan sikap tidak mau mengalah, demi tetap bisa diterima sebagai bagian dari budaya itu.
GS : Jadi itu sifatnya anak melihat tingkah laku orang tuanya dan lingkungannya ya, Pak?
PG : Salah satu lingkungannya termasuk orang tuanya, sanak saudara, orang-orang di sekitarnya dan termasuk yang kita sebut kisah-kisah, legenda-legenda yang diteruskan dari satu generasi ke genrasi berikutnya.
Bahwa si ini, kakek kita, buyut kita dan sebagainya orang yang begini, tidak bisa diperlakukan semena-mena oleh orang bahwa keluarga kita dari dulu begini. Nah itu tradisi-tradisi atau budaya-budaya yang akhirnya diteruskan satu generasi ke berikutnya yang makin menyuburkan sikap tidak mau mengalah.
GS : Jadi sebenarnya itu masalah pandangan terhadap mengalah ya, Pak Paul?
PG : Betul. Jadi pandangan terhadap sikap mengalah berpengaruh besar terhadap keputusan kita bersedia mengalah atau tidak.
(2) GS : Lalu kalau begitu bagaimana seharusnya kita itu bersikap, Pak Paul?
PG : Kita akan kembali ke firman Tuhan. Nah saya akan ambil dari Filipi 2:1-11 saya akan petik ayat 4 terlebih dahulu di sini. "Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kpentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."
Kalau boleh saya ringkaskan yang Tuhan minta adalah kita mulai berpikir komunal, bahwa kita ini hidup dalam satu komunitas, dalam satu lingkungan masyarakat dan Tuhan meminta kita menjaga kelestarian lingkungan ini, masyarakat di mana kita tinggal. Nah untuk bisa menjaganya kita harus memperhatikan kepentingan bersama, jadi kita tidak hanya mementingkan kepentingan diri sendiri. Berpikir komunal adalah sesuatu yang juga tidak mudah dan tidak alamiah buat kita, Pak Gunawan. Sebab apalagi kita yang hidup di kota besar makin hari makin dikondisikan untuk tidak berpikir komunal, kita lebih dikondisikan untuk berpikir individual. Apa yang baik buat saya, apa yang penting buat saya dan saya tidak akan terlalu memikirkan orang lain, pokoknya saya dulu orang lain ya urusan orang itu. Nah firman Tuhan sangat menekankan pola pikir komunal yaitu pikirkan orang, kepentingan orang kita lihat dan mencoba membantu. Jadi untuk bisa mengalah kita harus mulai mengubah pola pikir kita dari individual ke komunal.
GS : Dalam hal memperhatikan pikiran atau pendapat orang lain pasti tetap masih punya prinsip. Jadi kita sendiri harus punya pandangan sendiri yang kalau menurut kita benar ya harus kita pertahankan ya, Pak?
PG : Betul, jadi tidak berarti karena kita berpikir komunal kita akan kehilangan jati diri kita sendiri. Apa yang kita anggap benar kita kompromikan selalu demi keutuhan ikatan persaudaraan di alangan kita, itupun tidak benar.
Jadi ada kasus-kasus, ada panggilan-panggilan tertentu di mana kita harus tegas membela apa yang benar, menegur yang salah dan sebagainya. Namun di luar soal seperti dosa benar/salah saya kira Tuhan meminta kita berpikir komunal, memikirkan kepentingan bersama
GS : Selain itu apa Pak Paul yang ada di Filipi pasal yang ke-2 itu?
PG : Saya akan bacakan ayat yang ketiga, yaitu "Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri." Nah ini hal yang sulitya, bagaimanakah kita bisa menganggap orang lain itu lebih utama daripada diri kita sendiri, tapi ini yang Tuhan minta.
Kalau kita berkata kita bukan yang utama, melainkan orang lain. Kita seolah-olah menomorduakan diri dan ini yang sulit buat kita karena kita butuh penilaian orang yang positif bahwa kita itu nomor 1, kita yang utama. Tuhan meminta kita untuk bersikap mandiri artinya bebas dari penilaian orang, apapun yang menjadi penilaian orang tentang diri kita karena kita mengalah jangan kita hiraukan. Ini memang tidak mudah, tapi ini yang Tuhan minta. Bersikaplah mandiri dalam hidup, kalau kita perlu mengalah kita harus mengalah, meskipun itu harus mengorbankan kepentingan pribadi kalau memang ini yang Tuhan tuntut kita harus lakukan.
GS : Ya di dalam hal mandiri, bagaimana kita bisa membawakan diri dalam satu komunal yang seperti itu padahal ada hal-hal yang memang sama sekali kita tidak cocok, Pak Paul? Memang sulit untuk kita, bukan dosa cuma kita sulit untuk bisa menyesuaikan diri. Karena mungkin latar belakang, perbedaan-perbedaan lain. Dalam hal seperti itu kalau kita membaur terus lalu dikatakan seperti bunglon, kita ini tidak punya pendirian dan sebagainya.
PG : Dan kalau memang kita tidak punya pendirian karena ego kita terlalu kecil, kita hanya turuti orang, saya kira itu tidak sehat. Jadi penting juga kita mengerti apa yang kita percaya, apa yag kita yakini sebagai yang benar, kita bisa juga berani untuk mengutarakan pendapat kita.
Saya kira itu sikap-sikap yang sehat, karena kalau kita hanya menuruti apa yang dikehendaki oleh lingkungan kita tidak akan mempunyai diri dan pada akhirnya orang lain pun tidak akan menghormati kita. Nah kembali lagi pada sikap mandiri yang tadi saya sebut kita ini (tadi sudah saya singgung) merindukan penilaian yang positif dari orang dan adakalanya mengalah justru dilihat negatif oleh lingkungan kita. Nah Tuhan meminta kita untuk tidak memusingkan penilaian orang, tidak takut orang menilai kita lemah atau pengecut. Karena memang penilaian kita itu tidak tergantung pada manusia tapi pada Tuhan. Kalau memang Tuhan menghendaki kita mengalah ya kita akan mengalah. Misalkan dalam contoh suami-istri, betapa susahnya kadang-kadang sebagai suami atau istri meminta maaf atau mengajak bicara setelah pertengkaran. Entah mengapa kita mempunyai anggapan siapa yang mengajak bicara adalah pihak yang menyadari kesalahannya dan mengajak bicara adalah sinyal bahwa dia itu telah mengaku salah. Tidak tahu kenapa, siapa yang mengajarkan, tapi itu yang kadang-kadang kita lakukan dan yang kita yakini. Akhirnya kita enggan untuk memulai bicara setelah pertengkaran.
GS : Mungkin itu kebiasaan sejak kecil Pak Paul, anak-anak waktu bertengkar juga saling tidak menyapa.
PG : Dan menyapa adalah suatu sinyal bahwa saya memang salah, akhirnya dalam pertengkaran kita saling mendiamkan daripada memulai percakapan, kita lebih senang bersunyi-sunyian dengan pasangan ita.
Nah sekali lagi yang sebetulnya terjadi adalah kita tidak mau pasangan kita menganggap kita yang salah, kita inilah yang sekarang menyesali perbuatan kita, belum tentu kita yang salah tapi kenapa kita tidak mengambil inisiatif memulai pembicaraan dengan pasangan kita. Yang Tuhan minta bersikaplah mandiri, jangan terlalu diikat oleh anggapan-anggapan orang di sekitar kita, lakukanlah apa yang Tuhan panggil kita untuk lakukan.
GS : Dalam hal katakan mau menyapa dulu atau mau bicara lebih dulu seperti tadi, apa perlu didahului dengan kata-kata misalnya saya mengajak kamu bicara ini bukan berarti saya salah?
PG : Kalau memang terlalu mengganggu ya harus diawali dengan kata-kata seperti itu boleh juga, kalau bisa sebaiknya jangan. Karena kata-kata seperti itu justru akan memicu kemarahan pasangan kia, belum apa-apa kita sudah berkata: "Saya mengajak bicara kamu bukan karena saya merasa salah ya" Akhirnya pasangan kita merasa buat apa saya menanggapi lebih baik tidak.
Jadi lebih baik tidak mengatakan hal seperti itu, langsung saja mengajak bicara misalnya.
GS : Tetapi memang dalam diri sendiri itu percaya bahwa sebenarnya kita bukan yang salah, Pak Paul?
PG : Betul, kita tahu memang kita tidak salah dan sering kali Pak Gunawan dalam pernikahan memang masalahnya bukan salah atau benar, perbedaan-perbedaanlah yang menimbulkan pertengkaran dan peredaan tidak berarti siapa yang salah, siapa yang benar di situ.
GS : Jadi di situ timbul masalah bagaimana cara kita mengungkapkan sebenarnya keinginan kita atau isi hati kita kepada pasangan atau kepada orang lain. Sejauh itu mereka bisa terima, saya rasa tidak akan timbul image bahwa kita kalah.
PG : Betul, jadi kalaupun muncul image bahwa kita kalah ya tidak apa-apa. Waktu firman Tuhan berkata: "Anggaplah kepentingan orang lebih penting daripada kepentinganmu, anggaplah orang lai lebih utama daripadamu."
Ya kita 'kan rasanya secara manusiawi tidak rela orang menilai kita kok nomor 2, orang lain nomor 1, kita tidak rela, nah Tuhan mau kita membebaskan diri dari penilaian-penilaian manusia.
GS : Hal yang lain dari Filipi 2 itu apa, Pak?
PG : Yang berikutnya adalah sesuai dengan tadi yang kita baca firman Tuhan meminta kita mempunyai gaya hidup tertentu, gaya hidup melayani yaitu gaya hidup mendahulukan orang lain. Nah, sekali agi ini bukanlah hal yang mudah, kadang-kadang kita jatuh kepada satu ekstrim atau ekstrim yang satunya.
Kita mendahulukan kepentingan kita, masa bodoh dengan kepentingan orang lain atau karena kita dari kecil tertekan terus-menerus dan tidak pernah merasa OK menginginkan sesuatu, jadi akhirnya kita senantiasa mendahulukan kepentingan orang. Nah untuk menyeimbangkan keduanya memang susah, tapi yang Tuhan minta di sini adalah kita sadari apa yang kita inginkan karena firman Tuhan juga berkata jangan hanya mementingkan kepentinganmu tapi juga kepentingan orang. Tuhan tidak berkata salah kalau kita ini memikirkan kepentingan pribadi, tidak apa-apa kita memikirkan kepentingan pribadi, asal kita mementingkan kepentingan orang. Dan ini yang Tuhan minta, bagaimanakah kita bisa menolong orang lain agar merekapun bisa mendapatkan yang mereka inginkan, inilah gaya hidup melayani yang Tuhan tanamkan kepada kita.
GS : Ya memang sering kali orang jatuh kepada ekstrim yang satu atau yang lain. Jadi terlalu memperhatikan orang lain sampai dirinya sendiri tidak diurusi atau terlalu mengurusi dirinya sendiri sampai dia tidak punya waktu untuk memperhatikan orang lain, bahkan orang yang serumah dengan dia pun tidak peduli sama sekali.
PG : Betul, jadi sikap-sikap ini sekali lagi saya mau tekankan bukan sikap-sikap yang alamiah sesuai dengan kodrat manusiawi kita. Untuk bisa mengalah itu benar-benar memerlukan pertolongan ilai, pertolongan Tuhan sendiri.
Maka di dalam Filipi 2 ini pada akhirnya Paulus mengajak para penerima surat Filipi untuk melihat kepada Tuhan Yesus. Sebab Dialah contoh kita, teladan kita, nah dikatakan di sini Dia atau Tuhan Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Tuhan Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi dan segala lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa." Kita melihat di sini Yesuslah Tuhan kita, model atau contoh, Dia merendahkan diri dari awalnya Dia sudah datang ke dunia dengan mengosongkan diriNya, Dia Allah tapi menjadi manusia. Jadi sikap merendahkan diri adalah sikap Tuhan yang dicontohkan kepada kita. Nah saya mempunyai prinsip begini, Pak Gunawan, kalau kita ini menghadapi benturan atau dihadapkan dengan situasi di mana kita ditantang, barulah kita memikirkan saya perlu mengalah atau tidak...... Sebabnya kenapa? Sebab kita ini adalah orang yang susah untuk ditantang, kalau ditantang kita cenderung akan menanggapi tantangan itu dan melawannya. Karena waktu kita ditantang yang kita pertaruhkan adalah harga diri kita dan kebanyakan kita akan melakukan segala hal untuk mempertahankan harga diri itu. Jadi saran saya adalah sebelum terjadi apa-apa, sebelum ada situasi yang menantang kita atau apa, kita sendiri harus sudah mengambil keputusan, bahwa saya akan merendahkan diri, bahwa saya adalah anak Tuhan dan Tuhan merendahkan diri maka sebagai anak Tuhan, saya pun akan mencontoh Dia merendahkan diri. Kalau itu sudah menjadi keputusan kita dan jati diri kita, siapa diri kita itu, waktu muncul situasinya kita tidak perlu pikir 2, 3 kali, kita langsung berkata OK saya akan mengalah, bukan karena saya takut atau bukan karena saya itu tidak bisa berbuat apa-apa, tapi karena memang saya dipanggil Tuhan untuk tidak menanggapi tantangan itu, tapi untuk mengalah.
GS : Jadi di situ kita mengubah persepsi kita sendiri tentang mengalah. Yang tadinya kita semacam dibentuk sejak kecil bahwa mengalah itu kalah, lalu dengan pandangan seperti yang tadi, bahwa memang saya mau meneladani sikap Kristus yaitu merendahkan diri, itu akan merubah persepsi kita sendiri.
PG : Betul, dan waktu kita mengubah persepsi terhadap diri kita dan situasi mengalah atau sikap mengalah itu saya kira kita juga akan lebih mudah melakukannya. Tetap susah tapi akan lebih mudahsaya kira.
GS : Jadi kita tahu bahwa mengalah itu sebuah panggilan Tuhan terhadap kita.
PG : Betul, jadi mengalah sudah sangat terkait dengan sifat Kristus, waktu Tuhan ditangkap nah Dia berkata setelah melihat Petrus mengeluarkan pedang dan mencoba untuk melawan. Tuhan berkata: &uot;Apakah Aku tidak mampu memanggil bala tentara sorga, ini 'kan bukan hal yang mustahil, hal yang sangat mungkin Dia lakukan, tapi tidak Dia lakukan.
Sekali lagi Tuhan selalu mencontohkan sikap mengalah seperti itu.
GS : Dengan pernyataan seperti itu ya Pak Paul, sebenarnya seseorang itu menunjukkan kerendahan hatinya atau justru menonjolkan "Lho saya ini sebetulnya bisa ini", jadi menonjolkan kelebihan dia?
PG : Saya kira motivasi memang akan berperan besar di sini, kalau kita mengalah dengan tujuan sengaja untuk menonjolkan diri saya kira tidak tepat. Tapi sekali lagi yang mau saya tekankan adala kalau kita mengalah lakukanlah demi Tuhan.
Sering kali kita akan sulit mengalah demi orang, kita merasa buat apa saya mengalah demi dia, dia orang yang tidak layak menerima sikap mengalah saya ini. Tapi tadi Pak Gunawan sudah tekankan, Tuhan memanggil kita merendahkan diri atau mengalah. Jadi lakukanlah bukan demi manusia tapi demi Tuhan, bahwa ada Tuhan yang mencatat perbuatan kita, mungkin kita tidak akan menjadi orang yang terkenal tidak apa-apa, sebab Tuhan mencatat dalam buku kehidupanNya di surga.
GS : Jadi saya yakin kalau kita punya persepsi yang benar tentang mengalah baik dalam rumah tangga kita, bahkan negara kita ini pasti aman ya, Pak Paul? (PG :Betul sekali). Juga terhindar dari bentrokan atau kemarahan-kemarahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Jadi terima kasih sekali, Pak Paul untuk perbincangan kali ini. Dan saudara-saudara pendengar demikianlah tadi perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengapa Susah Mengalah". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Tiga penyebab kecenderungan kita susah untuk mengalah:
Rintangan ego atau diri sendiri. Secara alamiah kita adalah makhluk yang mementingkan diri sendiri. Maka untuk mengalah yakni mendahulukan kepentingan orang merupakan sesuatu yang melawan kodrat manusiawi kita.
Rintangan orang lain. Kita menginginkan pengakuan dari orang dan sikap mengalah dianggap sebagai kekalahan. Jadi waktu kita mengalah kita berpikir orang melihat kita sebagai orang yang kalah. Akibatnya kita lebih susah untuk mengalah karena kita ingin mendapatkan pengakuan.
Rintangan budaya. Ada budaya-budaya tertentu yang menyuburkan rasa mengalah, jadi yang mulia adalah mengalah. Yang mulia adalah mengesampingkan kepentingan pribadi. Tapi ada budaya-budaya yang justru menyuburkan sikap tidak mengalah, budaya-budaya ini akan berkata kalau mengalah berarti engkau pengecut, orang yang pengecut dikeluarkan dari budayanya. Dari pada dia menanggung malu karena dianggap pengecut akhirnya terpaksalah dia menyuburkan sikap tidak mau mengalah, agar tetap bisa diterima sebagai bagian dari budaya itu.
Pandangan terhadap sikap mengalah berpengaruh besar terhadap keputusan kita bersedia mengalah atau tidak.
Sebagai penuntun bagaimana kita harus bersikap yang sesuai dengan firman Tuhan adalah:
Filipi 2:1-11 , ayat 4, "Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."
Yang Tuhan minta adalah kita mulai berpikir komunal, kita berpikir bahwa kita hidup dalam satu komunitas, dalam satu lingkungan masyarakat dan Tuhan meminta kita menjaga kelestarian masyarakat di mana kita tinggal. Dengan cara kita memperhatikan kepentingan bersama dan tidak hanya mementingkan kepentingan diri. Firman Tuhan sangat menekankan pola pikir komunal yaitu pikirkan orang, apa kepentingan orang mari kita lihat dan coba bantu. Jadi untuk bisa mengalah kita harus mulai mengubah pola pikir kita dari individual ke komunal.
Ayat 3, "Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri."
Ini hal yang sulit, menganggap orang lain lebih utama dari pada diri kita sendiri, tapi inilah yang Tuhan minta agar kita bersikap mandiri artinya bebas dari penilaian orang, apapun yang menjadi penilaian orang tentang diri kita karena kita mengalah jangan kita hiraukan. Bersikap mandiri dalam hidup, kalau kita perlu mengalah, kita mengalah dan meskipun itu harus mengorbankan kepentingan pribadi kalau memang ini hal yang Tuhan tuntut kita lakukan.
Berikutnya adalah Tuhan mengajarkan agar kita mempunyai gaya hidup melayani, yaitu gaya hidup mendahulukan orang lain.
Untuk bisa mengalah kita benar-benar memerlukan pertolongan ilahi, pertolongan Tuhan sendiri. Maka pada Filipi 2:5-11 , Paulus mengajak orang Filipi untuk melihat kepada Tuhan Yesus, sebab Dialah contoh kita, teladan kita. "Kristus Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah Bapa! Yesuslah Tuhan, model atau contoh bagi kita. Sikap merendahkan diri telah Tuhan contohkan kepada kita.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Sering kali kita menjumpai banyak istri yang mengeluh karena figur suaminya yang negatif. Dan ini membawa dampak yang negatif pula, baik untuk istri maupun anak-anaknya. Melalui materi ini, kita ingin mengerti bagaimanakah pria yang setia kepada Tuhan dan keluarganya.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S.Th., akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang " Dicari Pria yang Setia", kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, judul perbincangan ini sangat menarik seperti iklan atau seperti orang yang lagi dicari atau wanted. Tetapi sebenarnya apa yang Pak Paul mau sampaikan atau yang akan kita perbincangkan?
PG : Topik ini keluar dari keprihatinan saya. Saya melihat terlalu banyak melihat figur pria yang negatif sedangkan kita ini sedang mempersiapkan generasi berikutnya. Apa yang akan dilihat oleh generasi berikut ini? Apakah kita telah menjadi figur-figur yang positif buat mereka, kita telah menjadi inspirasi bagi mereka? Apakah kebalikannya justru kita menjadi pengaruh buruk pada mereka?
GS : Yang dimaksud dengan pria ini apakah pria yang sudah dewasa Pak Paul?
PG : Betul, maksud saya adalah pria-pria yang sudah dewasa.
GS : Pengamatan Pak Paul sejauh mana Pak Paul lakukan terhadap lingkungan itu?
PG : Mungkin yang pertama saya ini terpengaruh oleh kasus-kasus yang saya tangani. Terlalu banyak yang saya lihat dalam konseling saya, kasus di mana masalah muncul karena ayah-ayah yang tidak elakukan tugasnya dengan baik.
Pria-pria atau suami-suami yang tidak melakukan kewajibannya dengan baik. Dan telah membawa korban yang besar baik terhadap istri mereka maupun terhadap anak mereka. Dan cukup banyak di antara anak-anak ini yang sampai dewasa harus menanggung akibat perbuatan ayah-ayah mereka.
WL : Citra negatif yang seperti apa yang Pak Paul maksudkan?
PG : Misalkan yang umum adalah tidak setia, itu salah satu yang cukup sering saya lihat atau kasar, marah, semena-mena, seenaknya, atau mau menang sendiri, susah sekali untuk mengalah dan pokokya kehendaknya yang harus dituruti.
Yang cukup sering juga saya lihat adalah mementingkan diri dan tidak memikirkan orang.
GS : Ya, itu 'kan merupakan ciri-ciri egoisme seseorang?
GS : Pak Paul, apakah itu bukan terbawa sejak masa muda sebelum dia menikah atau sebelum dia menjadi dewasa?
PG : Bisa jadi. Jadi ada sebagian pria dibesarkan dalam keluarga yang memang buruk, jadi mereka melihat figur ayah mereka seperti itu, kepada ibunya kepada mereka. Tapi malangnya adalah mereka ukannya belajar untuk tidak menjadi seperti ayah mereka malah mereka akhirnya mengikuti jejak ayah mereka.
Mereka menjadi orang-orang yang menjajah keluarganya. Benar-benar memakai istri untuk mencapai kehendak atau keinginannya. Menindas anak kalau anak mulai menyuarakan pendapatnya. Dan juga penyebab yang kedua adalah pria sangat-sangat rapuh dalam hal harga diri, gengsi, egonya. Tidak boleh ego atau harga dirinya tersentuh kalau tersentuh menjadi marah, tersinggung, dan menggunakan cara yang kasar untuk menunjukkan bahwa dia tetap yang berkuasa. Jadi saya kira ada faktor ego yang tidak bisa disentuh. Dan faktor ketiga adalah konsep bahwa pria itu sebagai kepala keluarga. Malangnya konsep Alkitab yang begini indah ditafsir dan dipahami secara keliru oleh para pria ini. Kepala keluarga berarti seperti raja di mana kehendaknya harus dituruti, kata-katanya ibarat titah yang harus dipatuhi oleh semuanya. Dia tidak mengerti bahwa yang Tuhan maksud dengan kepala adalah kepala yang sangat mengasihi anggota tubuhnya. Tuhan Yesus adalah kepala sedangkan kita jemaat adalah anggota tubuhnya. Dia mengorbankan hidupnya bagi kita. Itulah konsep kepala yang sebetulnya termaktub dalam konsep kepala keluarga di Alkitab. Tapi kebanyakan pria tidak mengerti, anggapannya kepala adalah seperti bos dan orang-orang di rumah harus mengikuti kehendaknya.
GS : Ya, apakah ada citra negatif yang lain Pak Paul?
PG : Yang lain lagi misalkan kejam. Sebagian pria bisa sangat kejam sekali, itu yang saya perhatikan. Bisa menyiksa anak-anaknya, menyiksa istrinya tanpa rasa belas kasihan sama sekali, ada jug yang penipu, tidak jujur, tidak bisa dipegang perkataannya karena tidak ada keterbukaan.
Yang lainnya adalah berkedok kebaikan untuk mencapai maksudnya. Kalau ada maksud tertentu bisa ke gereja, bisa sopan, bisa santun, tapi untuk maksud tertentu itu saja. Yang lainnya lagi yang saya kira cukup umum yaitu tidak rohani, maka di gereja saya lihat banyak wanita daripada pria. Pria tidak begitu tertarik dengan Tuhan atau hal-hal rohani. Yang lainnya yaitu tidak bisa menguasai diri kalau mau marah langsung meledak, hajar, pecahkan barang, tonjok, dan sebagainya. Dan yang satu ini mudah jatuh ke dalam pencobaan. Jadi pria sebetulnya diidentikkan dengan kelemahan bukan dengan kekuatan. Kekuatan pria diidentikkan dengan kekasaran, kekejaman, dan ketidakmampuannya dia menguasai diri sehingga jatuh terus-menerus ke dalam pencobaan, itu justru menambahkan label kelemahan pada pria. Inilah contoh atau citra yang beredar di sekeliling kita dan anak-anak kita harus menyaksikan model-model atau citra-citra yang negatif seperti ini.
WL : Pak Paul, dengan kriteria yang tadi Pak Paul sebutkan, saya teringat pada beberapa pengalaman "ganjil" yang saya temukan. Ada beberapa pria yang berbeda sekali waktu di rumah dengan di luar rumah atau di kantor. Ada yang di rumah memang sangat kasar terhadap istri dan anak. Tetapi di luar rumah bisa sangat baik, sangat sopan sekali. Dan saya juga pernah menemukan kalau di kantor sangat galak, dia adalah salah satu guru saya waktu saya kecil, galak sekali terhadap semua murid-murid. Tetapi saya pernah diberi tahu oleh salah seorang teman saya yang mengatakan: "Jangan salah lho, bapak ini kalau sama istrinya dia sangat baik sekali, lembut sekali. Coba sekali-sekali kamu lihat kalau dia sedang bersama istrinya berbeda sekali dengan waktu kalau di kelas." Nah itu bagaimana ya Pak kok penampakannya bisa kontras seperti itu?
PG : Kalau untuk yang kedua jawaban saya adalah kemungkinan memang si bapak guru itu melihat diharuskanlah dia berwibawa dan berwibawa di hadapan murid diidentikkan dengan galak, sehingga anak-nak takut kepadanya.
Tapi sebetulnya dia bukan orang yang keras atau kasar. Dia menggunakan perilaku galak hanya untuk melancarkan kewajibannya sebagai guru. Yang pertama yang tadi Ibu Wulan munculkan adalah mengapa ada pria yang baik kepada orang, sabar kepada orang, tetapi terhadap keluarga sendiri galak sekali. Sebagai contoh lain yang kadang-kadang yang saya temukan kepada orang lain royal sekali, berani keluarkan uang kalau sama keluarga sendiri pelit sekali. Setiap sen dihitung jadi anak-anak tidak bisa beli ini tidak bisa membeli itu. Istri juga tidak bisa membeli apa-apa. Benar-benar uang itu dipegang dengan erat. Mengapa begitu, saya menduga karena dia perlu menampilkan citra sebagai pria yang baik, yang patut dihormati dan bagi dia royal di luar adalah untuk kepentingannya. Ini memang masuk citra yang tadi saya sebut yaitu mementingkan diri sendiri. Begitu dia di rumah diri aslinya yang keluar dan diri aslinya memang adalah super pelit.
GS : Kalau begitu sebenarnya apa yang Tuhan harapkan dari kita sebagai pria-pria Kristen khususnya menghadapi kenyataan yang seperti itu Pak Paul?
PG : Ada beberapa yang ingin saya bagikan. Yang pertama adalah saya kira pria Kristen haruslah pria yang rohani. Artinya mengutamakan Tuhan di dalam hidupnya dan takut akan Tuhan. Saya kira inikualitas yang makin hari makin langka, banyak pria yang tidak lagi mengutamakan Tuhan tapi mengutamakan dirinya sendiri dan terlalu banyak pria yang tidak takut akan Tuhan.
Tidak ada yang dia takuti lagi sehingga dia menjadi Tuhan dalam hidupnya. Ini yang berbahaya. Jadi rohani berarti mengutamakan Tuhan dan takut akan Tuhan. Sebagai contoh di Alkitab ada seorang anak Tuhan yang seperti itu namanya adalah Yusuf. Yusuf masih usia belia digoda, diminta untuk berhubungan seksual dengan nyonya majikannya. Tapi dia menolak dan alasannya dia menolak adalah sangat indah, sangat rohani. Yaitu dia berkata: "Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah." Ini dicatat dalam Kejadian 39:9 . Sejak usia belia Yusuf tahu Tuhan mengawasinya. Dan dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Tuhan, dengan kata lain dia takut akan Tuhan. Dan dia mengutamakan Tuhan kalau dia hanya mementingkan dirinya dia akan mau menuruti keinginan majikannya, bukankah itu adalah keuntungan baginya. Tapi dia takut Tuhan dan dia mau mengutamakan Tuhan dan tidak mengutamakan kepentingan dirinya. Saya kira Pak Gunawan dan Ibu Wulan kita perlu melihat lebih banyak pria-pria yang rohani yang seperti Yusuf, mengutamakan Tuhan dan takut akan Tuhan.
GS : Langkah apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria, apakah cukup hanya dengan sering ke gereja atau terlibat dalam pelayanan atau hal apa yang lain Pak Paul?
PG : Saya kira yang penting nomor satu dia harus mengenal Tuhan. Tidak bisa hanya mengenal Tuhan berdasarkan kotbah yang didengarnya saja, dia harus bergaul secara langsung kepada Tuhan. Artiny dia membaca firman Tuhan, dia merenungkannya, dan di dalam kehidupannya dia mencoba melakukannya.
Tidak dilihat orang, mungkin tidak akan dipandang oleh orang, tidak ada yang bisa tahu dia melakukan apa, tapi di dalam kesendiriannya dia melakukan firman Tuhan itu. Ketaatan-ketaatan yang kecil itu akan melahirkan ketaatan-ketaatan yang besar. Mengutamakan Tuhan dalam hal kecil akhirnya membuat dia bisa mengutamakan Tuhan dalam hal besar. Takut akan Tuhan dalam hal kecil akhirnya membuat dia takut akan Tuhan dalam hal-hal yang besar.
GS : Sebenarnya apa Pak Paul yang membuat seseorang pria itu kebanyakan kurang tertarik dengan hal-hal yang rohani?
PG : Kebanyakan memang bagi pria, pembicaraan rohani itu tidak praktis. Nah, di sini saya kira tanggung jawab kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan untuk menerjemahkan berita-berita Tuhan secara paktis.
Karena pria menginginkan sesuatu yang ada kaitan langsung dengan kehidupan, dengan kenyataan di lapangan. Kalau kita membicarakan sesuatu yang terlalu idealistik, tidak bersentuhan dengan tanah, nah bagi mereka ini tidak ada artinya, ini omong kosong. Jadi tugas kitalah sebagai pelayan Tuhan untuk menerjemahkan firman Tuhan keping demi keping, langkah demi langkah, sehingga si pria tahu bahwa ini sesuatu yang bisa dilakukannya.
WL : Pak Paul, tadi kriteria yang Pak Paul jelaskan dibedakan antara yang negatif dengan yang Kristiani. Apakah itu berarti kalau yang negatif melekat pada orang-orang yang bukan Kristen karena dalam realita sebenarnya kita juga melihat bahwa orang Kristen itu banyak yang semena-mena juga terhadap istrinya, yang kasar, yang tidak setia begitu Pak Paul?
PG : Saya setuju sekali Bu Wulan. Jadi citra negatif itu bisa dilabelkan juga pada sesama orang Kristen. Karena mereka bisa memanggil diri Kristen tetapi belum tentu takut akan Tuhan, belum tenu mengutamakan Tuhan.
WL : Lahir baru ya Pak Paul?
PG : Belum tentu lahir baru. Jadi memang yang penting adalah bukan label bukan pengakuan tapi perbuatannya itu.
GS : Ya, apakah ada hal yang lain Pak Paul?
PG : Yang lain adalah rendah hati. Tadi kita sudah membicarakan tentang ego, gengsi, ciri-ciri yang melekat pada pria, dan sebagainya. Pria yang dicari dewasa ini adalah pria yang rendah hati. rtinya bersedia mengakui dan belajar dari kesalahan, bersedia meminta maaf.
Mengapa? Sebab terlalu banyak saya mendengar dan melihat dan saya yakin Pak Gunawan dan Ibu Wulan juga sering menyaksikan betapa pria itu susah mengakui kesalahan. Susah berkata memang telah saya lakukan kesalahan ini. Cenderungnya pria kalau berbuat kesalahan adalah berdalih. Kemudian melemparkan tanggung jawab kepada orang lain dan kalau bisa dia akan putar balikkan sehingga dia jadi tidak salah, orang lain menjadi salah. Nah itu yang seringnya terjadi. Dan kalau minta maaf sulit sekali, lidah itu seolah-olah kaku kalau harus minta maaf. Mari kita belajar dari hamba Tuhan bernama Daud, Raja Daud seorang yang sangat populer, seorang yang sangat berkuasa tetapi dia jatuh ke dalam dosa. Dia berzinah dengan Batsyeba. Akhirnya Tuhan mengirim nabinya nabi Natan untuk menegurnya. Dan setelah Tuhan menegurnya apa yang Daud katakan. Tidak ada dalih, tidak ada rasionalisasi, tidak ada berkelit, Daud langsung berkata: "Aku sudah berdosa kepada Tuhan." Ini dicatat di 2 samuel 12:13 . Langsung setelah Natan memberitahukan inilah dosamu. Kaulah orangnya. Daud hanya berkata aku sudah berdosa kepada Tuhan. Saya kira kita mau melihat lebih banyak pria seperti ini. Pria yang bisa mengaku salah, bisa berkata saya mau belajar dari kesalahan saya dan tidak mencari kambing hitam, dan berani mengakui dan minta maaf kepada orang yang telah disalahinya.
GS : Tapi ini sangat terkait dengan yang pertama tadi yang Pak Paul katakan kerohanian seseorang itu penting. Nah di dalam hal ini kalau dia memang tingkat kerohaniannya kita katakan memang belum mencapai taraf tertentu untuk rendah hati 'kan sangat sulit Pak Paul?
PG : Bisa jadi begitu. Jadi orang yang lebih rohani seharusnya memang lebih rendah hati Pak Gunawan. Namun saya juga harus akui begini ada orang-orang yang memang berhati besar. Jadi dia lebih erani mengaku salah.
Dia mungkin tidak begitu peka dengan hal-hal rohani. Tapi memang dia berhati besar. Nah ini kita perlu keseimbangan rohani tetapi juga berhati besar sehingga berani mengaku kalau dia salah.
WL : Pak Paul ada pengaruh atau tidak dari lingkungan atau budaya kita maksudnya tidak Indonesia saja. Memang setiap anak laki dari kecil sudah dibentuk dengan konsep bahwa citra anak laki itu harus macho, harus jantan. Sedangkan kalau rendah hati identik dengan lemah. Jadi memang anak laki-laki kebanyakan memang tumbuh seperti itu ya Pak Paul. Susah sekali untuk bisa rendah hati.
PG : Betul, jadi ada pengaruh dari budaya dan tuntutan bahwa pria itu sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin dia harus memimpin yang benar. Kalau dia berbuat kesalahn terus-menerus dia akan malu jua dan kehilangan wibawanya.
Jadi memang saya kira semuanya itu terkait. Yang berikutnya yang saya ingin bagikan adalah peduli dengan orang lain. Artinya tidak mementingkan diri sendiri melainkan mementingkan kepentingan orang. Nah ini kita perlu mempunyai karakteristik seperti ini. Saya masih ingat sekali, Musa berdoa kepada Tuhan untuk umat Israel yang tengah memberontak Tuhan. Tuhan siap menghukum orang Israel tapi inilah doa Musa. Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setiamu. Seperti engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai kemari Bilangan 14:19 . Kalau Musa hanya memikirkan dirinya sendiri dia akan berkata silakan Tuhan jatuhkan api dari surga musnahkan orang-orang Israel ini. Karena mereka sangat tegar tengkuk tidak mau belajar, tidak mau bertobat. Nah itulah yang mungkin sekali Musa lakukan. Tapi tidak dilakukan Musa. Dia justru berdoa setiap saat. Meminta Tuhan mengampuni orang Israel. Nah kita perlu pria yang seperti ini. Pria yang tidak mementingkan dirinya, pria yang tidak memikirkan kepentingan istrinya, anak-anaknya, dan orang di sekitarnya.
GS : Ya memang banyak juga pria yang mempunyai kepedulian terhadap orang lain tapi itu yang dipedulikan adalah orang-orang yang bisa menguntungkan dia sebenarnya Pak Paul.
PG : Seringkali itu terjadi. Betul.
GS : Sehingga dia bisa peduli dengan orang lain tapi tidak peduli dengan keluarganya sendiri.
GS : Bagaimana dengan sikap sehari-hari Pak Paul?
PG : Yang lainnya adalah lembut. Ini penting sekali. Pria lembut artinya tidak menyalahgunakan kekuatan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Pria lembut artinya pria yang bisa menguasai emsinya.
Saya masih ingat kisah Daud. Dia berkesempatan membunuh Saul raja yang sedang mengejarnya dan ingin membunuhnya. Tapi apa yang Daud katakan kepada perwiranya sewaktu mereka berkesempatan membunuh Daud. Dijauhkanlah kiranya Tuhan daripadaku untuk melakukan hal demikian kepada tuanku kepada orang yang diurapi Tuhan. Kita melihat sikap lembut dari Daud. Sikap yang tidak menyalahgunakan kesempatan atau kekuatan untuk mendapatkan yang diinginkannya. Terlalu banyak pria yang sekarang ini menggunakan kekuatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Dengan kekasarannya, dengan kemarahannya dia bisa mengancam orang sehingga dia bisa memperoleh yang diinginkannya. Tidak. Kita tidak mau pria yang seperti itu. Kita mau melihat pria yang lembut yang berani berkata jangan. Jangan kita takut akan Tuhan. Biarkan nanti Tuhan yang akan berikan kepada kita apa yang kita perlukan. Dan jangan gunakan kekuatan atau kekasaran kita itu.
GS : Ya, sebenarnya kita bisa belajar banyak kelemahlembutan ini dari Tuhan Yesus juga Pak Paul ya?
GS : Sikapnya terhadap anak-anak, terhadap wanita, dan sebagainya.
GS : Ya, tetapi apakah itu tidak menimbulkan bahwa dia disebut sebagai orang yang penakut Pak Paul?
PG : Sama sekali tidak mmang kadang-kadang lembut dikaitkan dengan kelemahan seperti banci, feminin. Pria ini takut sekali dengan label-label seperti itu. Tidak justru kemampuan dia untuk bisa enguasai emosinya maka dia bisa menekan kekuatannya.
Ini menunjukkan kekuatan yang lebih besar lagi. Maka kita juga membutuhkan pria yang berani artinya pria yang berprinsip dan rela membayar harga untuk keyakinannya. Saya masih ingat cerita Mordekhai di kitab Ester dia di bawah tekanan untuk menjilat seorang perdana menteri yang bernama Haman tapi dia tidak melakukan perbuatan itu. Di Alkitab di Ester 5:9 "Pada hari itu keluarlah Haman dengan hati riang dan gembira, tetapi ketika Haman melihat Mordekhai di pintu gerbang istana raja, ia tidak bangkit, tidak bergerak menghormati dia, maka sangat panaslah hati Haman kepada Mordekhai." Kita mesti belajar dari Mordekhai berani, ada prinsip, dan berani membayar harga untuk keyakinannya. Nah saya kira terlalu banyak pria yang sekarang tidak punya prinsip, tidak berani bayar harga untuk keyakinannya. Ikut arus ambil jalan aman, tidak ya. Kita mau memberikan contoh positif kepada anak cucu kita.
GS : Saya justru teringat akan Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego itu yang berani menyatakan sikapnya Pak Paul.
GS : Pak Paul, perbincangan ini tadi kita beri judul dicari pria yang setia. Kesetiaan ini apa menjadi ciri juga?
PG : Sangat. Ini adalah ciri yang memang utama, artinya setia kepada Tuhan dan keluarganya. Nah ini kita mau mencari pria yang setia seperti ini. Dikatakan di Alkitab tentang Ayub, setiap kali pabila hari-hari pesta telah berlalu Ayub memanggil mereka anak-anaknya, menguduskan mereka.
Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Ayub lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian sebab pikirnya mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati. Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. Kita butuh pria yang setia kepada Tuhan dan keluarganya. Tidak berdosa dan mendoakan keluarganya dan menguduskan keluarganya.
GS : Ya memang banyak kita jumpai sekarang ini pria yang meninggalkan keluarganya Pak Paul?
PG : Tepat sekali, tidak setia lagi. Terlalu banyak dan inilah yang saya kira menakutkan saya. Apa yang akan diingat oleh anak cucu kita. Contoh seperti apakah yang kita berikan kepada mereka. an kalau kita sudah begini buruk bayangkan apa yang akan terjadi pada mereka.
Mereka mungkin sekali akan lebih buruk daripada kita.
GS : Tapi memang biasanya mereka selalu menemukan alasan untuk menjadi tidak setia.
PG : Ya, sebab memang kecenderungannya agak ke sana untuk pria seperti ini. Maka harus saya tekankan harus pertama-tama setia kepada Tuhan. Karena dia setia kepada Tuhan dia tidak tega melukai strinya.
Masa untuk kesenangan dia sendiri dia rela melihat istrinya menangis, tidak ya. Karena dia setia kepada Tuhan dia rela untuk mengorbankan kepentingannya. Supaya istrinyapun bahagia, anak-anaknya pun bahagia dia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri saja.
WL : Pak Paul, saya pernah mendengar ada gerakan di Amerika namanya promise keepers kalau tidak salah. Laki-laki yang benar-benar bertobat, diperbaharui, dan keluarganya juga diperbaharui, benar-benar mempengaruhi lingkungan secara besar-besaran. Menurut pendapat Pak Paul bagaimana kalau misalnya kita "coba-coba" seperti itu di negara kita.
PG : Sebetulnya sudah ada beberapa kali saya mendengar ada KKR atau confrens atau retreat khusus pria dan tujuannya sama seperti promise keepers. Mau mengajak pria kembali kepada Tuhan. Setia kpada Tuhan Yesus dan setia kepada keluarganya.
Saya kira itu ide yang baik. Sudah waktunya pria-pria ini kembali kepada Tuhan.
GS : Ya, mengambil keputusan itu mungkin bisa dilakukan di dalam saat itu Pak Paul tetapi untuk memelihara janji, itu yang sulit sebagai seorang pria.
PG : Betul, maka sebaiknyalah pria yang rohani yang memang takut akan Tuhan bergaul dengan pria yang rohani dan takut akan Tuhan. Sehingga saling mengingatkan, menjaga. Kalau tidak memang kita udah sekali lupa dan terbawa arus kembali.
GS : Ya, ada satu ide memang di dalam kelompok yang kecil itu di mana yang satu secara tegas bisa mengingatkan kalau temannya atau anggota persekutuannya itu mulai meninggalkan Tuhan.
GS : Jadi memang apa yang dicari laki-laki atau pria yang setia sebenarnya ada di dalam diri kita sendiri Pak Paul. Hanya kita harus menjadi pria yang setia baik kepada Tuhan dan juga kepada keluarga. Terima kasih banyak Pak Paul untuk perbincangan kali ini juga Ibu Wulan. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Dicari Pria yang Setia". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Dewasa ini kita mengalami krisis figur pria yang layak menjadi panutan. Terlalu banyak pria yang justru menyebarkan citra negatif; akibatnya, kita kehilangan kesempatan belajar dari figur pria yang positif.
Beberapa citra negatif yang kerap merebak adalah:
Tidak setia
Kasar
Semena-mena
Mau menang sendiri
Mementingkan diri dan tidak memikirkan orang
Kejam
Penipu, tidak jujur
Berkedok kebaikan untuk mencapai maksudnya
Tidak rohani
Tidak bisa mengusai diri
Mudah jatuh ke dalam pencobaan.
Sebenarnya, pria seperti apakah yang mencerminkan citra kristiani?
"Rohani-mengutamakan Tuhan di dalam hidupnya dan takut akan Tuhan. Yusuf berkata, "Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (Kejadian 39:9 )
Rendah hati-bersedia mengakui dan belajar dari kesalahan, bersedia meminta maaf. Daud berkata kepada Nabi Natan, "Aku sudah berdosa kepada Tuhan." (2 Samuel 12:13 )
Peduli dengan yang lain-tidak mementingkan diri melainkan memikirkan kepentingan orang. Doa Musa kepada Tuhan untuk umat Israel yang tengah memberontak, "Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari." (Bilangan 14:19 )
Lembut-tidak menyalahgunakan kekuatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan, bisa menguasai emosinya. Daud melarang orang-orang-Nya membunuh Saul, "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi Tuhan …" (1 Samuel 24:7 )
Berani-berprinsip dan rela membayar harga untuk keyakinannya. Sikap Mordekhai kepada Haman, "Pada hari itu keluarlah Haman dengan hati riang dan gembira; tetapi ketika Haman melihat Mordekhai di pintu gerbang istana raja, tidak bangkit dan tidak bergerak menghomrati dia, maka sangat panaslah hati Haman kepada Mordekhai." (Ester 5:9 )
Setia-kepada Tuhan dan keluarganya. "Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa." (Ayub 1:5 )
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Seks adalah dari Tuhan, tidak salah kebutuhan seks diciptakan Tuhan, namun penggunaan atau penerapannya harus diberikan kembali kepada Tuhan karena wewenang Tuhan yang akan mengaturnya.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang seks di tengah kita. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
GS : Pak Paul, membicarakan tentang seks rasanya tidak ada habis-habisnya karena begitu banyak segi yang bisa kita bicarakan, dan kali ini kita akan membicarakan tentang realitanya saja Pak Paul, seks di tengah-tengah kita. Menurut Pak Paul kondisi saat ini seperti apa, Pak Paul?
PG : Saya kira memang kondisi sekarang ini cukup memprihatinkan, Pak Gunawan, jadi perilaku seksual baik itu di kalangan anak-anak remaja maupun orang-orang dewasa sebetulnya sangatlah bebas. Klau dahulu kala biasanya perilaku remaja itu kalau berkaitan dengan seks biasanya dilakukan dengan wanita nakal atau pelacur, namun saya kira perkembangan akhir-akhir ini hubungan seksual dilakukan bukan saja dengan pelacur namun yang lebih banyak adalah dengan sesama teman, baik itu dalam konteks berpacaran ataupun hanya kencan-kencan biasa.
Nah, apalagi sekarang semaraknya penggunaan obat-obat terlarang dan kita tahu berkali-kali ini dimuat di surat kabar, atau majalah, polisi misalnya menangkap basah para pemuda yang sedang berpesta. Nah pestanya adalah biasanya dua hal, menggunakan obat baik itu ekstasi, sabu-sabu, atau pun melakukan hubungan seks. Jadi biasanya dua hal itu, penggunaan obat seperti sabu-sabu dan juga ekstasi dan seks itu jadi satu paket.
(1) GS : Nah, faktor penyebabnya biasanya apa Pak Paul, kok orang begitu menggampangkan soal seks itu?
PG : Saya kira ada pengaruh yang kuat sekali dari faktor budaya kita sekarang ini. Memang dahulu kala budaya kita ini cenderung budaya yang mengekang, namun sekarang budaya kita menjadi budaya ang tidak lagi mengekang, sehingga memberikan toleransi yang cukup besar terhadap perilaku seksual di kalangan anak-anak muda, nah itu yang pertama.
Yang kedua adalah saya kira anak-anak remaja, pemuda perlu melihat contoh yang baik, sedangkan sekarang ini anak-anak remaja bisa mendapatkan begitu banyak contoh perselingkuhan di kalangan siapa, di kalangan orang-orang yang tidak lagi terlalu muda yakni misalnya orang tua mereka. Nah, kita tahu yang berselingkuh itu bukanlah anak-anak remaja, remaja belum menikah, yang berselingkuh adalah orang-orang yang sudah menikah dan tidak jarang mereka itu orang-orang yang bahkan sudah berusia paro baya, 40-an ke atas. Dan anak-anak ini melihat bahwa orang tua mereka pun melakukan hubungan seksual di luar nikah, dengan kata lain orang tua tidak lagi mampu atau menghentikan perilaku anak karena mereka sendiri tidak lagi memberikan contoh yang baik kepada anak-anak mereka. Atau yang lainnya lagi adalah hubungan orang tua sudah begitu merenggang, sehingga pengawasan terhadap anak juga terganggu. Orang tua yang mempunyai banyak masalah, tidak bisa tidak, akan mencurahkan lebih banyak energinya membereskan masalah pernikahan mereka sendiri, sehingga pengawasan yang seharusnya mereka berikan kepada anak juga akan berkurang. Dan kita juga tahu bahwa dalam rumah tangga yang bermasalah, anak-anak cenderung lebih berani, sebab rasa hormat pada orang tua sudah jauh berkurang pula. Itu sebabnya mereka lebih bisa melakukan hal-hal yang dilarang oleh orang tua mereka. Jadi meskipun kita mencoba menanamkan nilai-nilai moral yang baik, apa yang kita ajarkan di Gereja, kita coba tanamkan pada anak-anak kita, namun fakta-fakta kehidupan seperti itu akhirnya juga sangat mempengaruhi mereka. Belum lagi faktor-faktor teman-teman yang bercerita misalnya saya sudah meniduri wanita ini, saya sudah berhubungan dengan pria ini, nah akhirnya membuat mereka merasa bahwa ini adalah hal yang bisa dilakukan sebab teman mereka saja melakukannya, kenapa mereka tidak. Nah, belum lagi kita melihat film-film, film di mana sekarang adegan seksual sudah begitu menjamur, istri saya dan saya sebenarnya menikmati film drama yang bagus yang mempunyai alur cerita yang kuat tapi terus terang kadangkala kami dikecewakan karena kami tidak bisa menyaksikan film yang bersih itu, selalu ada saja atau hampir selalu tidak semuanya, hampir selalu ada saja adegan seksualnya. Seolah-olah film itu harus dibumbui adegan seksual baru bisa dijual, padahalnya tidak demikian, contoh seperti film "Titanic" yang memang bagus sekali, dibuat dengan begitu indah tapi sangat saya sayangkan dalam film yang begitu bagus harus ada adegan seksualnya dan bagi saya adegan itu sama sekali tidak menambah bobot film, malah mengurangi bobot film. Tapi itulah yang disaksikan oleh kita semua, baik anak-anak remaja maupun orang tua. Di kalangan orang-orang dewasa di tempat kerja mereka, di kantor mereka, teman mereka berselingkuh baik dengan teman sekerja atau pun dengan orang yang di luar tempat pekerjaan. Nah akhirnya budaya selingkuh juga mulai menyerap ke dalam diri orang-orang dewasa yang bekerja di luar. Ibu-ibu rumah tangga yang di rumah juga berkumpul dengan ibu-ibu rumah tangga yang lain, membicarakan tentang pria, belum lagi yang tidak ada pekerjaan menonton film-film blue, film-film seksual bersama ibu rumah tangga yang lainnya, akhirnya lebih mendorong mereka untuk berselingkuh. Jadi saya kira memang ada suatu pergeseran nilai moral yang sangat kuat sekali di masyarakat kita, dan jangan kita menyalahkannya kepada budaya Barat, soalnya memang kita orang berdosa. Jadi sebab itulah kita senang melakukan hal-hal yang seturut atau sesuai dengan sifat dosa ini, bukan karena budaya Baratnya, kita pun lebih canggih menciptakan masalah.
(2) IR : Nah menurut Pak Paul, pemahaman seks yang keliru itu bagaimana, Pak?
PG : Yang sering sekali kita dengar ada dua macam ya Ibu Ida, yang pertama adalah pemahaman yang represif, yang kedua adalah pemahaman yang obsesif. Yang saya maksud pemahaman yang represif adaah pemahaman seks sebagai sesuatu yang menjijikkan, yang negatif, yang buruk.
Nah seks itu bukannya sesuatu yang harus dan boleh dinikmati, tapi seks adalah suatu kewajiban dan biasanya ini dilihat sebagai kewajiban seorang wanita terhadap seorang pria. Seks bukanlah sesuatu yang seyogyanya dinikmati oleh wanita, sebab ini adalah kepuasan kaum pria, tugas wanita hanyalah memberikan atau menyediakan kepuasan itu kepada suami atau pria dalam hidupnya. Nah, itu adalah budaya seksual yang represif ya, yang benar-benar menguburkan seks sebagai sesuatu yang tidak boleh dipikirkan, tidak boleh dinikmati sama sekali. Kebalikan dari itu adalah budaya yang obsesif, pemahaman yang obsesif ini jadinya membuat seks menjadi sesuatu yang harus dikejar, yang harus dilakukan seolah-olah menjadi suatu obsesi bagi seseorang. Nah, kalau tidak dilakukan rasanya ada yang kurang, untuk mengurangi ketegangan, seks adalah obatnya, untuk mencapai kepuasan hidup seks juga yang menjadi targetnya. Jadi segalanya itu sangat-sangat dikuasai oleh seks, nah saya kira dua ekstrim ini merupakan contoh pemahaman seks yang keliru.
GS : Nah, kita semua tahu bahwa seks itu juga merupakan pemberian dari Tuhan Allah sendiri Pak Paul, dan pasti kalau kita baca di dalam Kitab Suci, Tuhan Allah memberikan pedoman-pedoman buat kita, bagaimana kita menggunakan seks itu. Itu suatu kebutuhan yang Tuhan berikan kepada setiap manusia.
PG : Tepat sekali Pak Gunawan, seks adalah bagian dari kebutuhan biologis. Jadi kita adalah makhluk seksual oleh karena itulah kita mempunyai nafsu seksual, kita mempunyai keinginan untuk berhuungan seksual.
Namun demikian nafsu itu meskipun bagian dari kebutuhan jasmani kita, tidaklah berarti kita boleh mengumbarnya sembarangan, nah oleh karena itulah Alkitab memberikan panduan, aturan. Di sini kita bisa melihat bahwa kebutuhan hakiki manusia sekalipun tidaklah memberikan izin kepadanya untuk mengumbarnya atau memuaskannya seenaknya. Sama seperti misalkan makan, apakah makan salah, tentu tidak, makan untuk memuaskan kebutuhan fisik kita, namun kalau kita pagi, siang, malam hanya pikirnya makanan dan setiap dua jam kita makan, maunya makan terus sudah tentu itu akan merusakkan tubuh kita. Jadi kebutuhan tidak dapat kita anggap sebagai suatu alasan yang membolehkan kita memuaskan kebutuhan itu semau kita. Nah, seks juga begitu, seks adalah bagian kebutuhan jasmani manusia tapi orang yang terlalu memikirkan seks dan hanya mau melakukan seks, saya kira akan menyalahi aturan yang Tuhan berikan pula. Oleh sebab itulah Tuhan memberikan aturannya, sama seperti makan tadi saya berikan contohnya, semua orang mempunyai keinginan untuk makan, tapi misalnya dia ke restoran dia mencuri makanan itu menjadi salah. Jadi makan sendiri tidak salah, lapar itu bagian dari kebutuhan manusia, namun bagaimana kita memuaskannya ada aturan etikanya, nah demikian pula dengan seks. Kebutuhan seksual sendiri adalah bagian yang normal, yang alamiah dari semua manusia, bagaimana kita memuaskan hasrat seksual, nah itu diatur oleh etika, diatur oleh Firman Tuhan. Yang akan saya bahas adalah bagian dari 1 Korintus 6:13 , "Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan melainkan untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuh." Kemudian ayat ke 20, "sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar, karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu." Nah pemahaman seks yang benar mempunyai beberapa aspek, yang pertama adalah yang kita ambil dari Firman Tuhan tadi, seks adalah dari Tuhan, oleh karena itu pemakaiannya, penggunaannya, penerapannya, juga harus sesuai dengan yang Tuhan telah gariskan. Kalau saya boleh singkat, dari Tuhan untuk Tuhan, jadi harus sesuai dengan yang Tuhan telah tentukan. Nah, Tuhan berkata begini, tubuh bukan untuk percabulan melainkan untuk Tuhan, nah di sini yang dimaksud memang adalah dalam konteks hubungan seksual. Jadi tubuh kita itu dengan kebutuhan-kebutuhan seksualnya bukanlah untuk diberikan ke dalam percabulan, percabulan adalah hubungan seksual di antara dua orang yang tidak diikat dalam pernikahan. Nah, Tuhan berkata tubuh dan kebutuhan-kebutuhan biologis bukan untuk dipuaskan dengan bebas dan dengan cara semau-maunya itu, tapi untuk Tuhan maka inilah muliakan Tuhan dengan tubuhmu. Jadi prinsip yang pertama seks dari Tuhan, tidak salah kebutuhan seks itu diciptakan Tuhan, keinginan kita berhubungan seksual dengan lawan jenis kita itu adalah dari Tuhan, tidak salah namun penggunaan atau penerapannya harus diberikan kembali kepada Tuhan, karena menjadi wewenang Tuhan yang akan mengaturnya.
GS : Jadi hanya orang yang bisa menghargai seks itu akan memuliakan Tuhan, juga pada saat kebutuhan seksualnya terpuaskan, Pak Paul?
PG : Tepat sekali, waktu kita melakukannya dengan istri atau suami kita, bukan saja kita akan memperoleh kenikmatan tapi kita tahu bahwa kita melakukan sesuatu yang memang Tuhan kehendaki dan yng Tuhan kehendaki sudah pasti baik, bukannya untuk yang tidak baik.
Nah, jadi kenikmatan seksual dalam wadah pernikahan merupakan kenikmatan yang sempurna, yang lengkap, tidak ada rasa takut bersalah, tidak ada rasa takut/was-was nanti ketahuan oleh siapa tidak, ini adalah hubungan yang dilegalkan yang diberikan oleh Tuhan sendiri dan tujuannya adalah untuk kebaikan suami dan istri. Jadi pada akhirnya memang kita akan bisa menghargai seks sebagai pemberian Tuhan yang begitu indah, melalui hubungan seksual dalam rumah tangga kita sendiri.
IR : Kalau seseorang itu melakukan seks yang berkelebihan Pak Paul apakah itu bukan suatu penyakit, bagaimana kalau dia menderita sakit padahal dia itu seorang anak Tuhan?
PG : Jadi ini adalah satu gangguan yang seringkali secara awam disebutnya hiperseks begitu ya, Bu Ida. Saya percaya memang ada gangguan-gangguan seksual seperti itu, jadi ada orang-orang yang trlalu terobsesi dengan seks.
Nah, saya hanya bisa simpulkan satu hal yaitu orang yang terobsesi dengan seks adalah orang yang tidak mempunyai arah hidup atau orang yang tersesat dalam hidupnya, terombang-ambing oleh hidup ini sehingga tidak mempunyai pegangan yang jelas. Kehidupannya itu kosong dan dalam kekosongannya dia menderita kecemasan, kegelisahan, ketegangan yang semuanya akan bisa dikurangi dengan hubungan seks. Jadi seks itu menjadi sesuatu yang dicarinya terus-menerus, karena seks menjadi pemuasan akan ketegangannya, seks membawa kenikmatan dan kelegaan untuk kekosongan hidupnya yang sedang dirasakannya. Jadi saya akan mengutip perkataan C.S. Lewis, seorang pengarang Kristen dari Inggris, dia berkata tidak heran ada orang-orang yang begitu tergila-gila dengan seks karena hidup mereka begitu kosong. Tapi kalau kekosongan itu dipenuhi, dipuaskan dengan hal-hal yang rohani, keinginan untuk melakukan hubungan seksual juga akan lebih bisa terkendali, karena hidupnya telah diisi. Maka kata C.S. Lewis, orang yang hidupnya kosong kebanyakan akan mudah sekali tergila-gila dengan seks untuk mengisi hidupnya sendiri. Nah, kita harus mengisi hidup kita dengan hal-hal yang baik, dengan yang Tuhan kehendaki terutama dengan Tuhan sendiri.
GS : Selain prinsip seks dari Tuhan untuk Tuhan, apakah ada hal lain yang disampaikan oleh Alkitab?
PG : Seks sudah tentu Tuhan ciptakan untuk kenikmatan, kalau tidak seks tidak membawa kenikmatan. Jadi kita mengetahui dari organ-organ seksual yang kita miliki dan juga dari sensasi yang dialai dalam berhubungan seksual itu semua membawa kenikmatan.
Nah karena itulah kita bisa yakin bahwa memang Tuhan mendesain seks untuk menambahkan kenikmatan dalam kehidupan manusia. Selain dari itu seks Tuhan ciptakan untuk menyatukan, maka itulah di Kejadian pasal 2 dikatakan bahwa keduanya akan menjadi satu, menjadi satu daging, meskipun ini merupakan perlambangan penyatuan dua individu secara penuh, bukan saja secara fisik tapi memang mengandung unsur fisiknya pula. Jadi keduanya menjadi satu itu adalah keintiman puncak, keintiman yang tidak bisa lagi ditingkatkan, itu sudah paling puncak. Nah artinya apa, jadi seks itu merupakan puncak keintiman, masalahnya adalah kalau orang tidak memiliki pemahaman yang benar, orang akan menggunakan seks menambah keintiman. Tidak, keintiman dulu baru seks, kalau seks digunakan untuk menambah keintiman tidak akan bisa berhasil, hanya berlangsung untuk waktu yang sangat singkat saja. Setelah itu akan terhilang aspek keintimannya. Namun kebalikannya, kalau dua orang suami istri hubungannya intim sekali mereka kemudian mengadakan hubungan seksual, hubungan seksual itu menjadi puncak, menjadi bunga yang paling lengkap dari keintimannya.
(3) IR : Nah, bagaimana Pak Paul kalau pasangan itu sudah tua ya, yang istrinya sudah menopause itu bagaimana, apakah bisa juga menikmati keintiman?
PG : Masih bisa, meskipun sudah tentu harus ada hal-hal yang dilakukan oleh kedua orang yang sudah mulai berusia lanjut. Sudah tentu kelancaran akan dipengaruhi pula oleh usia yang sudah tua, bgi seorang pria juga dia tidak bisa bereaksi secepat tatkala dia masih lebih muda.
Karena itu sudah tentu harus ada persiapan-persiapan yang lebih matang, lebih perlahan, lebih memakan waktu, dan bisa juga dibeli obat-obat pelumas yang dapat menolong dalam hubungan suami istri yang sudah berusia agak lanjut. Dan sudah tentu pula makin lanjut usia, frekuensi hubungan seksual juga makin berkurang, karena otomatis dorongan-dorongan itu tidak lagi sekuat pada waktu dia masih berusia lebih muda. Jadi memang Alkitab menyediakan seks sebagai wadah kenikmatan sebagai puncak keintiman, yang kita juga tahu sebagai wadah atau sarana untuk prokreasi, untuk perkembangbiakan, untuk mempunyai keturunan. Oleh karena itulah kita mesti berhati-hati dengan seks. Tuhan memang tidak pernah menciptakan seks seperti kita mau menggaruk badan kita yang gatal, kapan saja gatal kita langsung garuk, tidak pernah. Seks menjadi sarana yang Tuhan tetapkan untuk melahirkan anak, dengan kata lain, itu adalah hal yang super-super penting. Dari hubungan yang begitu intim dan mulia akan muncul satu anak, nah anak ini benar-benar suatu keajaiban dari sel telur dan sperma yang tidak bisa kita lihat berkembang selama 9 bulan menjadi seorang bayi. Dan dari seorang bayi yang begitu kecil berkembang menjadi seorang anak, dari seorang anak akhirnya menjadi seorang dewasa seperti kita semua. Kita melihat adanya suatu keajaiban yang Tuhan telah tetapkan melalui hubungan seksual ini. Dari dua orang yang menyatakan cinta dalam pernikahan, Tuhan akan berikan kesempatan untuk mereka mempunyai keturunan. Jadi itu yang Tuhan tekankan, oleh karena itulah saya berkesimpulan bahwa seks bukan untuk perhambaan, Firman Tuhan di 1 Korintus 6 tadi dikatakan bahwa "Tidakkah engkau tahu bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus." Kemudian disambung lagi di ayat 17 "Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan menjadi satu Roh dengan dia, setiap dosa lain yang dilakukan manusia terjadi di luar dirinya tapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri." Dengan kata lain, seks memang adalah suatu dosa yang langsung berkaitan dengan tubuh kita, dan Tuhan menghendaki agar kita menjadi satu Roh dengan Tuhan, bukan menyatukan diri kita dengan orang-orang yang bukanlah istri atau suami kita, jangan sampai kita diperhamba oleh kebutuhan seksual kita ini.
GS : Tetapi seringkali orang itu tidak sadar, Pak Paul, secara bertahap dia diperhamba oleh seks, oleh kebutuhan seksualnya. Nah, bagaimana dia bisa mencegah sendiri supaya dia tidak menjadi hamba dari seks atau menjadi apa, hanya mementingkan seks dalam kehidupannya sehari-hari?
PG : Saya akan menggunakan argumentasi yang dipaparkan oleh C.S. Lewis, pada intinya hidup kita harus kita isi terlebih dahulu, orang yang diperhamba oleh seks adalah orang yang tidak diperhamb oleh Tuhan.
Dengan kata lain hidup kita kosong, hidup kita tidak lagi diisi oleh hal-hal yang Tuhan kehendaki, dalam kekosongan kita merasa sangat gelisah, sangat tidak tenang, sangat tidak puas, dan kita ingin adanya kelegaan dan seks memang membawa kenikmatan serta kelegaan. Jadi itulah yang akan kita gunakan, nasihat saya atau saran saya yang pertama adalah isilah hidup kita dengan Tuhan, isilah hidup kita dengan hal-hal yang memang baik, yang memang membuat kita merasa bahwa hidup ini bermakna, semakin hidup kita tidak ada maknanya semakin kita bisa tersedot masuk ke dalam seks, jadi itu langkah pertama kita. Langkah kedua adalah kita memang harus juga mempunyai kehidupan yang berimbang, maksud saya begini kalau kita hidup selalu penuh tekanan, kesibukan kita benar-benar membuat tubuh kita letih sekali, pikiran kita lelah sekali, dan kita memerlukan istirahat; nah hati-hati sebab kalau tidak hati-hati, kita akan masuk ke dalam seks, kita misalkan ke panti pijat dan sebagainya, membayar orang untuk memuaskan hasrat seksual kita. Sebetulnya yang kita butuhkan bukanlah pemuasan hasrat seksual, yang kita butuhkan adalah kelegaan, kesegaran karena tubuh kita, pikiran kita terlalu letih, terlalu banyak tugas-tugas kita. Nah haruslah hidup kita berimbang. Hidup yang tidak berimbang akan lebih mendorong kita untuk terobsesi oleh seks dan yang ketiga, tidak bisa tidak, kita harus takut kepada Tuhan. Firman Tuhan sudah berkata jangan kita mencabulkan tubuh kita, jangan kita berhubungan seksual dengan orang yang bukan suami atau istri kita, itulah makna dari percabulan. Apa artinya takut kepada Tuhan? Meskipun kita merasa tidak ada yang melihat, tidak apa-apa, tapi kita harus selalu mengingat bahwaTuhan melihat dan mata Tuhan ada dimana-mana serta bisa memberikan hukuman atas dosa kita. Alkitab sudah mengatakan dosa yang lain diperbuat di luar tubuh manusia, tapi seks adalah dosa yang langsung dilakukan oleh tubuh manusia.
GS : Artinya dalam hal itu ada suatu kaitan yang erat, Pak Paul, antara apa yang dilakukan secara fisik tadi dengan yang terjadi dalam diri seseorang?
PG : Tepat sekali, Pak Gunawan, jadi Tuhan mau menegaskan satu prinsip di sini bahwa kehidupan jasmani kita tidak lepas dari kehidupan rohani kita. Bahwa apa yang kita perbuat dengan tubuh kita mempunyai pengaruh atau dampak langsung terhadap hubungan kita dengan Tuhan.
Apa yang kita lakukan antara kita dengan orang yang lain juga akan mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan. Nah manusia tidak bisa berkata "ini untuk kenikmatan saya, sama-sama mau apa urusannya dengan Tuhan?" Ada urusannya dengan Tuhan sebab seks pemberian Tuhan, Tuhan mau agar seks dipakai sesuai kehendakNya. Seks bukan ciptaan manusia, siapa yang menciptakan organ-organ seksual dalam tubuh manusia, siapa yang menciptakan hormon-hormon seksual dalam tubuh manusia, semua Tuhan; oleh karena Tuhan yang memberi, maka Tuhan menuntut pemakaiannya sesuai dengan kehendakNya juga. Jadi memang apa yang kita perbuat secara fisik sangat berdampak pada hubungan kita dengan Tuhan atau kerohanian kita.
GS : Jadi Pak Paul, kita terpanggil untuk betul-betul cermat atau waspada sekali terhadap gangguan-gangguan, dosa-dosa seksual yang begitu sering terjadi di sekeliling kita itu.
GS : Dan saya rasa pembicaraan ini sangat perlu sekali bagi kita semua dan khususnya para pendengar untuk membekali diri menghadapi pergolakan seksual yang makin lama makin kita rasakan juga di negara kita, Pak Paul.
GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan kehadapan Anda sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang seks di tengah kita. Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK, Jl. Cimanuk 58 Malang . Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami harapkan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.
Ringkasan Isi:
Kondisi sekarang ini cukup memprihatinkan, jadi perilaku seksual, baik itu di kalangan anak-anak remaja maupun orang-orang dewasa sebetulnya sangatlah bebas. Apalagi sekarang penggunaan obat-obat terlarang makin semarak, dan kita tahu berkali-kali ini dimuat di surat kabar, atau majalah. Polisi misalnya menangkap basah para pemuda yang sedang berpesta. Pesta itu biasanya mengandung dua hal yaitu menggunakan obat baik itu ekstasi atau sabu-sabu, juga melakukan hubungan seks.
Saya kira terjadinya semua itu ada pengaruh yang kuat sekali dari faktor budaya kita sekarang ini.
Pertama, dahulu kala budaya kita ini cenderung mengekang, namun sekarang menjadi budaya yang tidak lagi mengekang. Sehingga memberikan toleransi yang cukup besar terhadap perilaku seksual di kalangan anak-anak muda.
Yang kedua adalah anak-anak remaja dan pemuda perlu melihat contoh yang baik, sedangkan sekarang ini anak-anak remaja bisa mendapatkan begitu banyak contoh perselingkuhan bahkan orang tua tidak lagi mampu menghentikan perilaku anak karena mereka sendiri tidak lagi memberikan contoh yang baik kepada anak-anak mereka.
Yang ketiga, hubungan orang tua sudah begitu merenggang, sehingga pengawasan terhadap anak juga terganggu.
Yang keempat, kita melihat film-film yang beredar sekarang, adegan seksualnya sudah begitu menjamur.
Yang kelima, pengaruh dari lingkungan pergaulan dan kerja.
Ada 2 macam pemahaman seks yang keliru yaitu:
Yang pertama adalah pemahaman yang represif. Yang dimaksud pemahaman represif adalah pemahaman seks sebagai sesuatu yang menjijikkan, yang negatif, yang buruk. Seks itu bukannya sesuatu yang harus dan boleh dinikmati, tapi seks adalah suatu kewajiban. Budaya seksual yang represif benar-benar menguburkan seks sebagai sesuatu yang tidak boleh dipikirkan, tidak boleh dinikmati sama sekali.
Yang kedua adalah pemahaman yang obsesif. Pemahaman obsesif ini membuat seks menjadi sesuatu yang harus dikejar, yang harus dilakukan seolah-olah menjadi suatu obsesi bagi seseorang.
I Korintus 6:13,20 , "Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh. Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar, karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu."
Pemahaman seks yang benar mempunyai beberapa aspek:
Seks adalah dari Tuhan. Oleh karena itu pemakaiannya, penggunaannya, penerapannya, juga harus sesuai dengan yang Tuhan telah gariskan.
Tuhan ciptakan seks untuk menyatukan.
Alkitab menyatakan Tuhan menyediakan seks sebagai wadah kenikmatan, sebagai puncak keintiman, yang kita tahu juga sebagai wadah atau sarana untuk prokreasi untuk perkembangbiakan atau untuk mempunyai keturunan, oleh karena itulah kita harus berhati-hati dengan seks.
1Korintus 6 dikatakan, "Tidakkah engkau tahu bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus." Kemudian disambung lagi di ayat 17, "Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan menjadi satu Roh dengan dia, setiap dosa lain yang dilakukan manusia terjadi di luar dirinya tapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri." Dengan kata lain, dosa seksual adalah suatu dosa yang langsung berkaitan dengan tubuh kita, dan Tuhan menghendaki agar kita menjadi satu Roh dengan Tuhan, bukan menyatukan diri kita dengan orang-orang yang bukanlah istri atau suami kita, jangan sampai kita diperhamba oleh kebutuhan seksual kita ini.
Nasihat atau saran saya agar kita tidak menjadi hamba seks:
Isilah hidup kita dengan Tuhan, isilah hidup kita dengan hal-hal yang memang baik, yang memang membuat kita merasa bahwa hidup ini bermakna.
Kita harus mempunyai kehidupan yang berimbang
Kita harus takut kepada Tuhan.
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.
Abstrak:
Pria paro baya bisa disebut dengan dewasa akhir ini, berada pada suatu posisi persimpangan jalan. Yang dimaksud adalah pilihan terhadap karier. Dan di usia inilah mereka mempunyai tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Transkrip Isi:
Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso kali ini bersama Ibu Melany yang juga sekretaris dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara di Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang masalah-masalah sehubungan dengan usia pria setengah baya. Dan kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Lengkap
(1 ) GS : Pak Paul, di dalam kehidupan ini masa remaja itu sering kali disebut suatu masa yang cukup sulit karena menentukan identitas diri dan sebagainya. Rupanya orang tidak habis-habisnya mengalami banyak masalah khususnya ketika memasuki usia paro-baya atau usia setengah baya yang sering kali timbul gejolak-gejolak tertentu di dalam dirinya. Saya sendiri juga mulai memasuki bagian itu jadi saya merasa perlu sekali, sangat berkepentingan untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut. Nah pertama-tama Pak Paul yang ingin kami ketahui adalah pembagian usia seseorang itu mulai meninggalkan masa pemudanya dan memasuki masa dewasanya.
PG : Kalau Pak Gunawan tidak berkeberatan, sebelum saya mulai menjawab saya ingin bertanya dulu, apakah Pak Gunawan sendiri merasakan setelah memasuki usia paro-baya ada perubahan dalam diri Pak Gunawan?
GS : Terus terang ya Pak Paul, jadi pada saat ini saya sedang berusia 49 tahun dan rasanya memang yang memisahkan masa pemuda saya itu pada saat saya menikah di usia 30 tahun itu Pak Paul, itu memang mulai terasa ada perubahan-perubahan.
PG : OK! Ibu Melany sendiri bagaimana Bu?
ME : E......maksudnya?
PG : Apakah secara kejiwaan merasa ada perbedaan usia sekarang ini, ibu juga sudah di atas 45 mungkin ya, apakah berbeda dengan dulu-dulu?
ME : Ya, yang saya rasakan setelah berusia 40 itu memang makin terasa waktu atau kesempatan ini makin sempit, jadi rasanya waktu ini harus digunakan seefektif mungkin, itu yang ada pada diri saya.
PG : Ya, rupanya itu yang dialami oleh banyak orang Pak Gunawan dan Ibu Melany, yakni tatkala memasuki usia paro-baya mereka mengalami adanya gejolak-gejolak atau suatu perasaan-perasaan yan sebelumnya tidak dirasakan yang nanti akan kita bahas.
Namun sebelum kita masuk ke situ untuk menjawab yang tadi Pak Gunawan tanyakan, usia dewasa awal adalah tahap pertama yang kira-kira meliputi usia sekitar 20 tahun hingga usia 30 tahun. Kemudian dewasa tengah atau menengah itu mencakup usia 30 tahun hingga sekitar 45 tahun dan akhirnya dewasa akhir yaitu usia antara 45-60 tahun, dan usia inilah yang disebut usia paro-baya. Di atas usia ini kita biasanya menyebut bukan lagi masa dewasa tapi mulailah disebut masa tua (GS: Usia lanjut itu ya Pak?) usia lanjut betul.
GS : Tadi Pak Paul mengkategorikan dalam 3 yaitu dewasa awal, dewasa tengah dan dewasa akhir, sebenarnya apa yang menandai masa-masa itu Pak Paul?
PG : Pada masa dewasa awal, seseorang itu kalau saya gunakan istilah jalan atau perjalanan seseorang pada usia dewasa awal berada pada titik berangkat dalam perjalanan hidupnya. Jadi pada deasa awal itu seseorang biasanya memasuki perguruan tinggi mengambil bidang yang dikiranya atau diharapkannya bisa menghantarnya ke jenjang karier yang diidamkannya.
Jadi dia sudah mulai memasuki jalan hidupnya, di bawah usia 20 itu masih kita sebut masa kanak-kanak atau masa remaja dan masa remaja pun sebetulnya bisa dibagi dalam tiga. Namun masa remaja itu kami belum masukkan dalam kategori usia, di mana mereka sudah memasuki perjalanan hidup untuk menentukan karier dan sebagainya. Pada usia 20-30 tahun biasanya kita-kita ini mulailah merintis karier kita, merintis kehidupan kita baik itu dalam tindakan-tindakan yang berbentuk persiapan kita sekolah, kita kursus dan sebagainya atau memulai kerja. Jadi kita memulai suatu bidang yang kita rasakan itu adalah keahlian kita dan kia mulai membangun karier kita di situ. Setelah usia 30 tahun kita memasuki dewasa tengah, ciri utamanya di situ adalah kalau tadi memulai perjalanan, mengawali perjalanan sekarang usia 30 tahun kita bisa katakan pria ini mulailah berada di dalam perjalanan. Mereka ini benar-benar sudah biasanya berada pada karier mereka, jadi memang kalau seseorang yang sudah usia 34, 35 masih terus mencari-cari kerjaan apa yang cocok baginya, bidang apa yang cocok baginya ini memang terlambat. Dan akhirnya akan membuat orang itu frustrasi, jadi memang dalam hidup itu ada fase-fase atau bagian-bagian atau tahapan-tahapan dan masing-masing tahapan itu memiliki tugasnya masing-masing. Kalau tugas atau kewajiban atau tuntutan tersebut gagal kita penuhi akan ada dampak-dampak negatifnya Pak Gunawan, jadi misalkan seseorang yang pada usia 20-an itu tidak mempersiapkan dirinya dengan baik untuk mengawali kehidupannya atau kariernya, dia tidak sekolah yang betul, dia tidak memilih jurusan yang tepat dan sebagainya, akhirnya akan berdampak sekali pada tahap berikutnya. Nah tahap yang berikutnya tadi adalah masa perjalanan itu sendiri, setelah itu barulah pada usia 45 tahun dia itu kita katakan berada di persimpangan jalan yang nanti juga akan saya jelaskan.
GS : Hal-hal itu berlaku umum untuk yang pria maupun yang wanita Pak Paul?
PG : Rupanya tidak Pak Gunawan, sebetulnya juga ada perbedaan.
GS : Bedanya Pak Paul?
PG : Begini, pria sudah tentu pada usia-usia dewasa ini banyak memberikan perhatian pada dunia luar yaitu dunia kariernya sedangkan wanita meskipun mereka juga misalnya terlibat dalam dunia arier di luar rumah, namun sering kali perhatian mereka itu tetap tersedot untuk hal-hal yang bersifat domestik yaitu hal-hal yang bersifat rumah tangganya sendiri, jadi memang ada perbedaan yang besar di situ.
Misalkan wanita pada usia 20-30 tahun dia memang sedang memulai juga perjalanannya, di awal perjalanan bukan meniti karier pada umumnya tapi untuk membangun rumah tangganya. Jadi sekali lagi secara sepintas pria dan wanita nampaknya sama, dua-dua bekerja dan dua-dua mempunyai karier, namun titik beratnya tidak bersamaan atau tidak sama. Pria tekanannya pada dunia luar, pada pekerjaannya, wanita tekanannya biasanya pada rumah tangganya. Jadi dia berusaha keras untuk membesarkan anak-anak untuk mencukupi anak-anak, merawat anak-anak dan sebagainya, pekerjaan biasanya hanyalah menjadi sarana saja bukan tujuan akhir. Sedangkan bagi pria, pekerjaan atau karier merupakan tujuan akhirnya atau gol yang ingin dia capai.
(2 ) ME : Pak Paul, kalau saya mendengar istilah paro-baya saya kemudian teringat kadang-kadang ada masalah remaja ke-II. Sering kali kita mendengar ada permasalahan atau ada gejolak pada waktu pria itu usia setengah baya yang kita katakan masa remaja ke-II (PG: Masa puber ke-II) ya.
PG : Betul sekali Ibu Melany, memang periode ini acapkali mempunyai konotasi yang sedikit negatif, karena dianggap pada masa inilah pria itu terlibat dalam perselingkuhan misalnya terlibat dngan wanita lain.
Memang ada kebenarannya, dalam pengertian pada masa ini pria sebenarnya mengalami banyak sekali perubahan-perubahan internal yang perlu dia sadari. Nah, tadi saya sudah menyinggung bahwa pada usia paro-baya ini atau dewasa akhir ini pria itu sebenarnya berada di persimpangan jalan, dewasa awal memulai perjalanan, dewasa tengah di dalam perjalanan tiba-tiba sekarang di dewasa akhir pria itu berada di persimpangan jalan, dia bisa lurus, dia bisa belok ke kiri, ke kanan dan juga bisa mundur juga sebetulnya. Nah, apa yang dimaksud dengan persimpangan jalan ini, salah satu hal yang termaktub di dalam konsep persimpangan jalan adalah terbukannya banyak pilihan, pilihan apa? Salah satunya pilihan karier. Nah pilihan karier ini kalau memang dia meniti karier dengan baik pada masa sebelumnya akan membuat dia menjadi orang yang berkesempatan untuk naik jenjang untuk menjadi seorang direktur atau manager dan sebagainya. Akhirnya dia memiliki rasa kepercayaan diri yang jauh lebih kuat, nah rasa kepercayaan diri yang lebih kuat inilah yang acapkali membuat dia lebih berani untuk mendekati wanita. Dan kita bisa akui pula bahwa ada sebagian wanita yang senang dengan para pria paro-baya ini, karena biasanya alasan yang dikemukakan para pria ini dianggap mantap, stabil secara emosi. Dan secara finansial pada umumnya mereka juga telah mencapai kestabilan yang baik dan yang ketiga adalah para pria ini memang adalah para bapak anak-anak remaja. Mereka yang usianya 50, 55 dan sebagainya adalah orang tua dari anak-anak yang usianya 20-an sehingga sifat kebapakannya itu kuat sekali dan ada sebagian wanita muda yang merindukan figur bapak seperti itu. Nah, saya kira ketiga hal inilah yang akhirnya memperkuat daya tarik si pria paro-baya bagi sebagian wanita dan akhirnya kesempatan itu terbuka. Jadi akhirnya yang terjadi adalah perselingkuhan, itu yang dimaksud puber kedua Ibu Melany.
GS : Ya, jadi di dalam persimpangan tadi Pak Paul memang satu godaan yang cukup besar selain dari segi seksual adalah pindah karier. Jadi sering kali terjadi orang paro-baya ini pindah ke bidang pekerjaan yang lain Pak Paul (PG: Betul sekali Pak Gunawan) alasannya yang utama sebenarnya apa di sana?
PG : Kita ini sebetulnya mempunyai aspirasi, cita-cita atau keinginan terpendam yang acapkali dalam hidup kita tidak terpenuhi. Kita misalkan ingin sekali berusaha sendiri, memulai suatu usaa wiraswasta.
Namun karena tekanan keluarga kita harus bekerja mencukupi kebutuhan mereka, anak dan istri, akhirnya kerinduan tersebut tak terwujud. Kita akhirnya merelakan diri bekerja untuk perusahaan-perusahaan yang lain. Nah, suatu ketika pada usia paro-baya ini tiba-tiba kita disadarkan bahwa waktu di depan kita tidak banyak lagi, nah ini sesuai dengan yang tadi ibu Melany sudah singgung. Bahwa saya sekarang sudah berusia 50 misalnya dan masa produktif saya kira-kira hanya tinggal 15 tahun lagi, tiba-tiba kita menyadari bahwa kita ini berada di persimpangan jalan, apa yang harus kita lakukan. Terus hidup seperti mesin yang kita pikir kita adalah mesin itu sendiri guna memproduksi hasil, mencukupi kebutuhan keluarga kita atau kita sekarang mengalihkan karier, memulai sesuatu yang benar-benar kita rindukan dari dulunya tapi tidak terlalu berani untuk melakukannya. Itulah biasanya yang terjadi pada pria usia paro-baya, maka cukup banyak yang akhirnya mengubah karier. Mengubah karier memang bisa menambah jenjang karier atau justru bisa menguranginya Pak Gunawan.
GS : Tetapi memang ada suatu kebutuhan akan ini Pak Paul, keyakinan bahwa dirinya masih kuat, misalnya dalam bidang seksual tadi para pria paro-baya ini ingin membuktikan bahwa dia itu masih mampu, dia itu masih kuat dan kesempatannya ada, sehingga ya tingkah polahnya kadang-kadang agak di luar batas kewajaran.
PG : Sebab proses penuaan sudah mulai tampak pada usia paro-baya ini, tubuh tidak lagi sekuat dulu, ini semua dirasakan oleh para pria paro-baya. Tapi di pihak lain dia belumlah terlalu tua ntuk dianggap tua dan bahkan ada yang makin tua, tubuhnya makin sedikit gemuk, misalnya dulu kurus sekarang agak gemukan sedikit.
Dan sekarang ada rambut putih membuat mereka-mereka ini tampak lebih berwibawa. Nah, tiba-tiba mereka menyadari bahwa mereka itu lebih ganteng daripada dulu misalnya, akhirnya dorongan untuk membuktikan bahwa mereka tetaplah pria yang menarik, pria yang justru disukai oleh lawan jenis, membuat mereka tergoda untuk akhirnya melangkah terlalu jauh.
(3 ) GS : Tapi bukankah tidak semua orang itu bisa sukses di dalam hal mengawali perjalanan maupun di dalam perjalanan, bagaimana kalau seandainya dia itu tidak sukses justru gagal, pengaruhnya apa Pak Paul?
PG : Ini memang suatu proses atau suatu keadaan yang tidak menyenangkan, biasanya pria paro-baya kalau mengalami kegagalan, kegagalan karier pada usia ini berakibatkan cukup serius Pak Gunawn, yaitu benar-benar akan menghancurkan harga dirinya.
Mereka sebagaimana para pria lainnya pada umumnya mendasari harga diri mereka pada karier, berbeda dengan wanita Pak Gunawan dan Bu Melany; wanita misalkan diberhentikan dari pekerjaan, pasti memang mengganggu perasaannya, harga dirinya, tapi biasanya dampak itu tidaklah seberat jika dialami oleh seorang pria. Nah, apa perbedaannya, pada umumnya wanita mendasari harga dirinya itu pada hubungan keluarganya. Kalau suaminya misalnya mempunyai affair atau perselingkuhan, wanita atau para istri ini tidak berani muncul di muka umum, misalkan dia biasa aktif dalam pelayanan gara-gara masalah suaminya dia bisa mundur dari pelayanan Kristen. Atau masalah dengan anaknya, yang dulu dia banggakan sekarang anaknya tiba-tiba berubah, mulai badung, membuat onar dan sebagainya. Nah si ibu ini bisa sangat enggan untuk terlibat lagi di dalam pelayanan atau muncul lagi di gereja dan sebagainya, karena apa, karena dia merasa hilanglah dirinya, hancurlah nama baiknya, hancurlah harga dirinya. Berbeda dengan pria, misalkan seorang pria itu mempunyai seorang anak yang nakal, dia tetap bisa memfokuskan hidupnya pada karier. Karena memang masalah keluarga bagi pria tidaklah terlalu memberatkan seperti pada istri, sebab harga diri pria memang sering kali terletak pada kariernya itu, jadi menjawab yang tadi Pak Gunawan tanyakan kalau seorang pria pada usia paro-baya mengalami kegagalan dalam kariernya, biasanya berakibat cukup fatal. Bisa frustrasi, bisa malu keluar, diajak oleh istrinya bertemu dengan teman-teman tidak mau, diajak untuk ke pesta tidak mau, diajak untuk ke gereja akhirnya juga tidak mau karena apa, merasa malu, merasa malu sekali. jadi biasanya mereka menarik diri dari pergaulan sosial kira-kira itulah dampaknya Pak Gunawan.
ME : Kalau saya mendengar sejauh ini rupanya pada waktu usia paro-baya, pria itu juga seperti mengulangi lagi masa remaja Pak Paul? 'Kan masa remaja juga dikatakan orang sebagai dewasa belum, dikatakan anak-anak juga tidak mau.
PG : OK! Dari sudut itu betul bu, jadi dalam pengertian para pria paro-baya ini mulai mengalami kebingungan-kebingungan sama seperti seorang remaja yaitu seorang remaja kebingungan dalam halpembentukan siapa dirinya atau jati dirinya.
Sebab pada usia remajalah mereka mulai mengolah data-data yang masuk dari luar, pandangan/penilaian orang dari luar kemudian digabungkan dengan penilaian pribadinya tentang siapa dia akhirnya itu membentuk yang kita sebut jati diri atau identitas diri. Nah pria pada usia paro-baya memang mengalami hal yang serupa meskipun kebingungan itu bercorak lain. Pada usia remaja bingung dalam pengertian dari nol membentuk sesuatu yang baru, jadi tidak pas ke A, ke B, ke C jadi harus mencoba-coba, akhirnya setelah menginjak usia 20-an barulah seorang remaja yang menjadi dewasa itu akhirnya mempunyai konsep yang lebih jelas dan permanen tentang siapa dirinya. Pada usia paro-baya pria ini sudah memiliki konsep dirinya, namun tiba-tiba mulai meragukan apakah ini saya dan apakah saya ingin menghabiskan sisa hidup saya sesuai dengan peranan dan konsep diri yang telah dimilikinya selama ± 30 tahun. Jadi mulailah dia mempertanyakan keputusan-keputusan sebelumnya yang dia pernah ambil, keyakinannya, nilai-nilai moralnya dan sebagainya, mulailah dia ragu-ragu. Apakah memang ini jalannya dan apakah saya mau menghabiskan sisa hidup saya dengan ini semuanya atau saya mau mengubah melakukan sesuatu yang sungguh-sungguh saya ingin lakukan, namun belum berhasil atau belum berkesempatan saya lakukan.
GS : Termasuk juga di dalam hubungannya dengan istrinya Pak Paul, jadi mulai meragukan apakah betul putusannya menikah dengan yang sekarang jadi istrinya itu, sehingga kerap kali terjadi perceraian pada usia-usia ini Pak Paul?
PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi perceraian sebetulnya terjadi paling sering pada dua kategori usia Pak Gunawan. Yang pertama adalah 5 tahun pertama setelah pernikahan, itu masa yang rawa karena 2 dua individu baru berkumpul menjadi satu dalam mahligai pernikahan, perlu menyesuaikan diri dan adakalanya gagal dan pernikahan itu akhirnya bercerai.
Kategori usia kedua yang rawan terhadap perceraian adalah menginjak usia paro-baya ini, sebabnya apa? Salah satunya Pak Gunawan tadi sudah menyebutkan, yakni mereka mulai meragukan apakah ini istri yang sesungguhnya saya inginkan. Dan yang menakutkan adalah jawabannya bukan, saya salah pilih, ini keliru dan seharusnya saya menikah dengan yang seperti ini yang dulu pernah saya pikirkan, tapi akhirnya mendapat yang ini. Yang kedua kenapa rawan terhadap perceraian, anak-anak sudah lepas dari rumah Pak Gunawan, kebanyakan sudah di atas SMA, sudah kuliah di perguruan tinggi, sehingga mereka tak terlalu butuh kita lagi sebagai orang tua. Problem yang dulu sudah ada pada awal pernikahan sebetulnya tertutupi dengan kehadiran anak, karena perhatian harus difokuskan pada usaha membesarkan anak. Tiba-tiba sekarang anak sudah besar tidak lagi membutuhkan kita, nah kita mulai berhadapan dengan pasangan kita. Problem yang dulu itu muncul kembali, akhirnya problem itu membesar sekali.
ME : Pak Paul, sebetulnya saya juga ingin menanyakan tentang masalah pelayanan, saya pernah melihat, pada waktu pemuda begitu menggebu-nggebu dalam pelayanan, tapi pada waktu sudah menikah, mempunyai anak, karier meningkat, seolah-olah dia itu hanya ke gereja hari minggu saja. Jadi yang dulunya pelayanannya menggebu-nggebu seperti tidak ada bekasnya lagi, bagaimana Pak Paul?
PG : Pria paro-baya mempunyai juga keragu-raguan, kekritisan terhadap bukan saja kariernya, pilihan hidupnya, namun juga hal-hal yang bersifat rohani Ibu Melany. Pada masa ini kalau karierny bertambah baik bisa ada 2 kemungkinan yang terjadi, dia makin jauh dari Tuhan karena merasa usaha kerja kerasnya berhasil untuk membuahkan hasil yang baik, maka makin bergantung pada diri sendiri, sehingga makin tidak perlu Tuhan.
Atau yang kedua dia makin menyadari Tuhanlah yang telah memberkati dia, jadi dia yang hidup dalam kebenaran Tuhan akhirnya makin hari makin dekat dengan Tuhan. Tapi memang cukup banyak karena keberhasilan karier itu membuat diri merasa tidak perlu Tuhan lagi. Yang kedua adalah dalam kaitannya dengan mempertanyakan banyak hal, cukup banyak pria paro-baya yang juga mempertanyakan aktifitas rohaninya. Saya dulu rajin, saya dulu melayani ini, itu; ini, itu. Betulkah saya ini menyembah Tuhan yang adil, yang benar dan sebagainya ataukah memang sebetulnya tidak perlu seperti itu, yang penting saya tahu ada Tuhan, ya ikut Tuhan sudah cukup. Nah pertanyaan-pertanyaan ini juga mudah muncul pada pria usia setengah baya ini, Bu Melany.
GS : Tapi kita percaya bahwa Tuhan itu mengasihi kita, pada usia berapapun juga sampai akhir hayat. Adakah firman Tuhan yang memberikan bimbingan kepada mereka atau kita-kita yang sedang memasuki usia paro-baya itu Pak Paul?
PG : Ada satu ayat dari Mazmur 85:12 , "Kesetiaan akan tumbuh dari bumi dan keadilan akan menjenguk dari langit." Bagi para pria paro-baya jangan sampai lupa perlu adanya kesetian, Tuhanlah yang memang memeliharanya, telah bersama dengannya melalui begitu banyak peristiwa jadi dia perlu setia, kesetiaan itu harus dijaganya.
Maka dikatakan di Alkitab kesetiaan tumbuh dari bumi, biarlah kita sebagai manusia yang di bumi ini memperlihatkan kesetiaan kita kepada Tuhan dan dari sorga Tuhanlah yang akan memberkati dengan keadilanNya. Nah adakalanya pria paro-baya dalam kekritisannya dan dalam kebingungannya dan dalam pertanyaan-pertanyaannya, juga meragukan keadilan Tuhan, meragukan kebaikan Tuhan, pemeliharaan Tuhan, kok saya menikah dengan yang ini, kok anak-anak saya jadi begini. Saya sudah bekerja begini keras anak saya tidak menghormati saya dan sebagainya, di mana keadilan Tuhan. Nah biarlah itu yang kita serahkan kepada Tuhan, itu hak Tuhan, Tuhan yang memberikan, tapi dari pihak kita biarlah kita memunculkan kesetiaan terus-menerus.
GS : Saya merasa itu sangat menguatkan, kita yakin itu akan sangat berguna bagi segenap pendengar yang kita kasihi. Dan demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi telah kami persembahkan sebuah perbincangan seputar kehidupan paro-baya khususnya pria, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Masih ada banyak aspek di dalam kita berbicara tentang kehidupan paro-baya ini, jadi kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang . Kami mengucapkan terima kasih bagi anda yang sudah mengirim surat kepada kami namun saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.
Ringkasan Isi:
Usia dewasa dapat dibagi dalam 3 bagian besar yaitu:
Usia dewasa awal, adalah tahap pertama yang meliputi usia sekitar 20 tahun - usia 30 tahun.
Dewasa tengah atau menengah, mencakup usia 30 tahun - sekitar 45 tahun
Dewasa akhir yaitu usia antara 45 - 60 tahun dan usia inilah yang disebut usia paro-baya. Di atas usia ini biasanya kita sebut masa tua atau usia lanjut.
Usia dewasa awal seseorang kalau digunakan istilah jalan atau perjalanan seseorang itu berada pada titik berangkat dalam perjalanan hidupnya. Jadi pada dewasa awal seseorang biasanya memasuki perguruang tinggi mengambil bidang yang kiharapkan bisa menghantarkan ke jenjang karier yang diidamkannya.
Usia dewasa tengah ciri utamanya adalah kalau tadi berada atau memulai perjalanan, sekarang usia 30 tahun dikatakan mulai berada di dalam perjalanan. Mereka ini sudah berada pada karier mereka
Usia dewasa akhir , yaitu pada usia 45 tahun dikatakan berada di persimpangan jalan. Persimpangan jalan adalah terbukanya banyak pilihan. Salah satunya,
Pilihan karier. Pada masa inilah biasanya mereka menjadi pria yang mantap, stabil secara emosi, dan secara finansial pada umumnya mereka telah mencapai kestabilan yang baik. Dan hal-hal tersebut di atas juga yang membuat pria paro baya memiliki daya tarik.
Dalam hal ini atau peristiwa ini berlaku berbeda bagi seorang pria dan seorang wanita.
Pria Wanita
Pada usia dewasa
- Titik beratnya pada dunia luar yaitu pekerjaannya. bersifat domestik rumah tangganya sendiri
- Pekerjaan tujuan sendiri sebagai sarana
Mulai meragukan pilihan hidupnya, apakah istri yang sekarang ada benar-benar yang menjadi keinginannya.
Usia paro baya adalah usia yang juga rawan terhadap perceraian, mengapa?
Menginjak usia paro-baya, masa ini mereka mulai meragukan apakah istrinya sekarang adalah seorang istri yang sesungguhnya dia inginkan.
Munculnyap problem yang dulu pernah ada di awal pernikahan, yang selama ini tertutupi oleh kehadiran anak. Sehubungan dengan anak-anak yang sudah lepas entah kuliah, menikah sehingga di usia ini kembali berhadapan langsung dengan pasangannya.
Keraguan hal yang bersifat rohani.
Pada masa paro-baya kalau karier mereka bertambah baik, bisa ada 2 kemungkinan yang terjadi.
Makin jauh dari Tuhan, karena merasa berhasil, kerja kerasnya untuk menghasilkan buah dengan baik makin bergantung pada diri sendiri, sehingga makin tidak perlu Tuhan.
Dia makin menyadari Tuhanlah yang telah memberkati dia, jadi dia hidup dalam kebenaran Tuhan, makin hari makin dekat dengan Tuhan.
Mazmur 85:12 berkata: "Kesetiaan akan tumbuh dari bumi dan keadilan akan menjenguk dari langit." Bagi para pria paro-baya perlu adanya kesetiaan, Tuhanlah yang memeliharanya telah bersama dengannya melalui begitu banyak peristiwa. Biarlah kita yang di bumi ini memperhatikan kesetiaan kita kepada Tuhan, dan dari sorga Tuhanlah yang akan memberikan dan memberkati dengan keadilannya.