Tahap Pertumbuhan Keluarga

Versi printer-friendly
September

Berita Telaga
Edisi No. 24 /Tahun III/ September 2006/


Diterbitkan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK)
Sekretariat: Jl. Cimanuk 58 Malang 65122 Telp./Fax.:0341-493645 Email: telaga@indo.net.id
Website: http://www.telaga.org Pelaksana: Melany N.T., Lilik Suharmini
Account : BCA.KCP Blimbing no. 331-0311277


TAHAP PERTUMBUHAN KELUARGA

"Penting bagi kita untuk memahami tahap pertumbuhan keluarga agar kita mengerti tugas yang terkandung di dalam setiap fase itu. Keberhasilan menyelesaikan tugas pada setiap tahapan akan mempengaruhi perkembangan tahap selanjutnya. Ada empat tahapan yang masing-masing mencakup sekitar kurun 12 tahun. Setiap tahapan berhubungan dengan tiga tugas yakni kerabat, keluarga, dan karier

  1. Tahap Membangun.
    Ini adalah 12 tahun pertama setelah pernikahan. Tahap ini disebut "membangun" sebab pada tahap ini pasangan nikah barulah memulai membangun
    1. jaringan kekerabatan dengan lingkungan,
    2. keluarga, dan
    3. karier. Tantangan terbesar diberikan pada karier.
  2. Tahap Memelihara.
    Ini adalah penggal kedua dari pernikahan di mana kita memelihara atau mempertahankan kerabat, keluarga, dan karier yang telah kita bangun sebelumnya. Tahap ini berlangsung sekitar 12 tahun dan berjalan menuju usia paro-baya. Relasi dengan keluarga pada umumnya meminta perhatian terbesar sebab anak sudah masuk ke usia remaja sedangkan pernikahan sering kali menjadi dingin pada masa ini.
  3. Tahap Mempersiapkan.
    Ini adalah penggalan ketiga dari pernikahan dan disebut persiapan sebab memang kita harus mulai mempersiapkan masa pensiun sekaligus menolong anak mempersiapkan memilih pasangan yang tepat. Tantangan terbesar pada 12 tahun ini adalah menjalin relasi kerabat yang kuat agar dapat memasuki hari tua tidak dalam kesepian.
  4. Tahap Menikmati.
    Disebut menikmati sebab memang kunci untuk melewati hari tua adalah menikmatinya. Sudah tentu jauh lebih mudah bagi kita untuk menikmatinya bila kita telah menanam benih yang sehat dalam hidup. Pada masa sakit dan dalam keterbatasan tantangan terbesar yang harus kita hadapi adalah apakah kita tetap dapat menikmati hari tua.

Firman Tuhan: "Satu pun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satu pun yang tidak dipenuhi." Yosua 23:14


MENGENAL LEBIH DEKAT

Segala pujian dan kemuliaan hanya bagi Dia Tuhan kita yang sudah menjawab doa sesuai dengan kehendak dan waktunya. Empat tahun lamanya kami merindukan supaya program Telaga dapat kembali didengarkan oleh anak-anak Tuhan yang ada di wilayah Kupang dan sekitarnya, setelah Radio Gema Swara Gloria tidak lagi menyiarkan acara Telaga. Akhirnya Tuhan membukakan pintu yang lain agar kembali berkat Tuhan melalui Telaga dapat disalurkan kepada orang-orang percaya yang ada di Kupang. Radio LIZBETH FM yang mengudara pada fkrekwensi 98,4 MHz menyambut gembira tawaran kerja sama untuk menyiarkan program acara Telaga. Radio LIZBETH FM adalah suatu badan usaha umum yang berbentuk Perseroan Terbatas yang tidak bernauang di bawah salah satu gereja atau lembaga tertentu. Jangkauan siarannya meliputi radius ± 120 km dan 3 kabupaten atau kota. Kerinduannya dalam beberapa bulan ke depan ingin menambah "power" Radio sehingga dapat menjangkau seluruh NTT dan sebagian Indonesia Timur. Akhirnya awal September 2006 ini Telaga mulai disiarkan setiap hari Rabu pk. 09.00 WITA.


KEUANGAN

Pemasukan Telaga bulan ini
Hasil penjualan kaset, CD dan booklet Rp. 4.260.200,00
Total pemasukan sebesar Rp. 4.260.200,00
Pengeluaran TELAGA bulan ini Rp.4.000.000,00

DOAKANLAH

  1. Bersyukur untuk beberapa judul terbaru yang sudah dihasilkan melalui rekaman kaset/CD Telaga, selama Pdt. Paul Gunadi berada di kota Malang. Biarlah apa yang sudah dihasilkan akan lebih memberkati anak-anak Tuhan di seluruh Indonesia.

  2. Sudah lebih dari dua minggu komputer mengalami problem dengan banyaknya virus yang masuk. Doakan supaya hal ini segera dapat diatasi, sehingga pekerjaan dan pelayanan di Telaga tidak terhambat.

  3. Pdt.J.H. Soplantila M.Th. yang baru saja ditinggal oleh istri tercinta, Ibu M.Lydia Soplantila, M.Div. dengan sangat mendadak. Biarlah penghiburan dari Tuhan senantiasa dapat dirasakan pada masa-masa ini.

  4. Keluarga besar Bp. Dr. Swantono. Doakan untuk istri, anak, menantu dan cucu-cucu yang ditinggalkan oleh almarhum dengan tiba-tiba.


JUDUL KASET/CD TERBARU

T205 Bencana Alam (I & II)
T206 Pertolongan Bagi Korban Bencana
Bimbingan Rohani Bagi Korban Bencana
T207 Mengapa Anak Bersikap Negatif (I & II)
T208 Mengapa Masalah Pernikahan Sukar Selesai?
Komitmen Pernikahan
T209 Masalah Anak Belajar di Sekolah
Anak Lari Dari Kenyataan
T210 Iri Hati Melawan Kebosanan
T211 Kebohongan Dalam Keluarga
Ketika Pasangan Tidak Setia
T212 Memahami Autisme
Menangani ADHD (Attention Defisit Hyperactive Disorder)
T213 Menangani Anak Sulit Belajar
Tatkala Anak Sukar Mengingat
T214 Membangun Kepercayaan Dalam Pernikahan
Membangun Respek Dalam Pernikahan
T215 Manusia Baru
Bayang-bayang Masa Lalu
T216 Menolong Penderita Depresi
Menolong Penderita Stroke

TELAGA MENJAWAB

Tanya:

Saya kerap sekali sulit untuk mengambil keputusan, terutama untuk hal-hal yang menurut saya "besar" untuk kehidupan saya. Sebagai mahasiswa kedokteran tingkat akhir banyak hal yang saya harus putuskan beberapa tahun lagi, yang setidaknya harus mulai dipersiapkan mulai sekarang. Dan saya pikir jika saya salah melangkah akan berpengaruh besar di dalam hidup saya kelak.

Ada beberapa pilihan setelah lulus menjadi dokter nanti, antara lain PTT dulu atau langsung mengambil spesialisasi. Beberapa waktu ini saya juga sempat berpikir tentang pasangan hidup dan keluarga saya nanti. Jika saya harus mengambil spesialisasi berarti butuh 5-6 tahun lagi. Umur saya sekarang 22 tahun, berarti paska lulus spesialisasi umur saya sudah 30 tahun. Pertanyaan saya:

  1. Bagaimana cara memutuskan hal-hal besar seperti di atas dengan bijaksana, dan mencari kehendak Tuhan sehingga saya dapat mengambil langkah yang tidak akan saya sesali.
  2. Usia berapa seorang pria (seperti saya) selayaknya membangun hubungan untuk menuju ke pernikahan?

Jawab

Dalam pengambilan keputusan kita mesti berdoa dan mempertimbangkan segalanya dengan bijak. Setelah kita berdoa, kita mesti percaya bahwa Tuhan akan menuntut kita dalam proses pengambilan keputusan ini. Misalnya tentang rencana menikah atau meneruskan spesialisasi, ada beberapa faktor yang layak diperhitungkan, misalnya:

  1. Apakah calon istri bersedia menunggu selama itu? Apakah ada batas usia yang diinginkannya? Dengan kata lain, Anda harus mendengarkan keinginannya pula agar tidak merugikannya.
  2. Apakah lebih baik langsung menyelesaikan spesialisasi ataukah di tengah jalan menikah terlebih dahulu? Mana yang lebih realistik untuk dilakukan? Kadang lebih realistik menyelesaikan semua ini agar setelah menikah, Anda berdua tidak usah pindah-pindah lagi dan juga lebih mudah menyelesaikan praktek sebelum ada anak dan tanggungan. Namun kalau memang ada desakan menikah di tengah jalan, mungkin dapat dipikirkan jalan keluar lainnya.
  3. Tentang usia, sebaiknya Anda menikah di seputar usia 25-30 tahun agar nanti tidak menyusahkan istri tatkala mengandung (tidak di atas usia 30) dan Anda berdua tidak terlalu "tua" sewaktu anak berusia remaja.

BERITA DUKA

"...Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.…supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka." Wahyu 14:13

  1. Ibu Myladi Lydia Soplantila, M.Div. dalam usia 64 tahun. Telah dipanggil Tuhan pada hari Minggu 10 September 2006. Beliau adalah salah seorang konselor di Telaga.
  2. Dr. Swantono, M.Appl.Ling. dalam usia 75 tahun. Telah dipanggil Tuhan pada hari Sabtu 16 September 2006. Beliau adalah ayahanda tercinta Ir. Suriptono, Ph.D., salah seorang pengurus LBKK.

CINTA & WAKTU

Tersebutlah, di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak. Ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun, suatu ketika, datang badai menghempas dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta. "Aduh! Maaf Cinta!" kata Kekayaan, "Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahu

ini." Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang. Ia kian panik. Tak lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta. "Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini," sahut Kecantikan. Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta. "Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..." kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!" Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orangtua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orangtua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya lelaki tua tadi. "Oh, orangtua tadi? Dia adalah Waktu." Kata orang itu. "Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku" tanya Cinta heran. "Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu-lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu."

(BT-R-Cakrawala Juni 2006)