Masalah Hidup

Tidak ada gading yang tak retak; tidak ada pernikahan yang tidak pernah mengalami masalah. Apapun masalah yang dihadapi, apabila ditambah dengan kekerasan, maka masalah itu berubah bukan saja menjadi lebih rumit tetapi juga lebih membahayakan. Itu sebabnya masalah ini penting untuk dibahas dan kali ini kita akan meneropongnya dari sisi si pelaku sendiri. Selain itu, kita akan belajar mengatasi masalah ini berdasarkan pengalaman hidup salah satu tokoh di Alkitab yang menyaksikan penindasan terhadap bangsanya sendiri, yaitu Musa.
Tanpa kita sadari, setiap hari kita bangun dari tidur kita berharap bahwa hari ini akan berjalan sama seperti kemarin. Aktivitas yang kita lakukan kemarin akan kita lakukan hari ini dan apa yang terjadi kemarin akan terjadi hari ini. Singkat kata, kita tidak berharap hidup akan berubah dalam sekejap. Masalahnya adalah, hidup kadang berubah dengan sekejap dan kita pun harus membangun hidup dari nol lagi. Faktor apa yang dapat membuat kita kehilangan hidup dengan sekejap? Apa yang mesti kita lakukan bila hal seperti itu menimpa kita?
Salah satu pertanyaan yang kadang muncul adalah, apakah depresi merupakan gangguan yang timbul dari bawaan—dalam pengertian, dari titipan genetik ayah dan ibu—ataukah dari lingkungan—dalam pengertian, dari sesuatu yang dialami atau terjadi dalam hidup ini? Sebagaimana gangguan lainnya, sesungguhnya faktor bawaan hampir selalu hadir dalam kasus depresi, terutama depresi berat. Namun, faktor lingkungan juga berperan memunculkan depresi. Disini akan dibahas faktor-faktor bawaan dan lingkungan itu.
Depresi adalah sebuah gangguan jiwa yang bukan saja riil tetapi juga berbahaya. Itu sebabnya penting bagi kita untuk memahaminya. Biasanya hal pertama yang muncul dalam benak tatkala mendengar kata “depresi” adalah wajah seseorang yang muram, penampilan yang tak terpelihara dan pandangan mata yang kosong. Namun sesungguhnya depresi tidak selalu berpenampakan sama. Karena itu penting buat kita untuk mengkonsepkan depresi sebagai suatu perjalanan yang panjang. Apa saja perjalanan panjang itu ? Dan bagaimana kita menolongnya ?
Kecemasan yang sering dialami oleh anak adalah kecemasan yang bersumber dari ketakutan dan tuntutan. Dan langkah untuk keluar dari ketakutan adalah mencari Tuhan. Bagaimana mencari Tuhan yang benar di dalam kasus pemulihan dari kecemasan ini? Disini jawabannya.
Relasi orang tua - anak adalah relasi yang paling kuat dan paling sulit berubah. Itu sebabnya, jika kebetulan relasi tersebut merupakan relasi yang buruk, maka dampak buruknya pun cenderung bertahan untuk waktu yang lama. Sebaliknya, bila relasi itu sehat, maka dampak positifnya pun bertahan untuk waktu yang lama. Salah satu dampak positif relasi orang tua - anak yang sehat adalah timbulnya RASA AMAN di dalam diri anak. Yang dimaksud dengan rasa aman adalah absennya atau tidak adanya KECEMASAN. Disini akan dijelaskan dua jenis kecemasan yang sering dialami anak.
Bersamaan dengan kemajuan jaman, semakin banyak pula gangguan depresi yang dialami orang masyarakat sekarang. Pemicu awal depresi adalah stres, namun dari stres yang tidak terselesaikan itulah, kemudian mengarah ke depresi dan bisa sampai pada langkah yang terburuk yaitu mengambil tindakan bunuh diri. Bagaimana kita bisa mengetahui gejala depresi ? Agar tidak sampai bunuh diri, apa yang bisa kita lakukan untuk menolong orang yang sedang depresi?
Bersamaan dengan kemajuan jaman, semakin banyak pula gangguan depresi yang dialami orang masyarakat sekarang. Pemicu awal depresi adalah stres, namun dari stres yang tidak terselesaikan itulah, kemudian mengarah ke depresi dan bisa sampai pada langkah yang terburuk yaitu mengambil tindakan bunuh diri. Bagaimana kita bisa mengetahui gejala depresi ? Agar tidak sampai bunuh diri, apa yang bisa kita lakukan untuk menolong orang yang sedang depresi?
Seringkali kita merasa pertolongan Tuhan terlambat atas diri kita, ketika kita membutuhkan pertolongannya, Tuhan tidak segera mengulurkan tangan. Demikian juga yang dialami oleh Marta dan Maria ketika meminta kesembuhan kakaknya Lazarus, hingga akhirnya kakaknya meninggal. Pengalaman yang cukup pahit dialami oleh mereka tapi itu diizinkan oleh Tuhan. Disini kita akan belajar dari pengalaman mereka mengenai keterlambatan Tuhan menolong kita, sehingga ketika kita menghadapi hal serupa, kita bisa mengerti dan lebih siap untuk menjalaninya.
Seringkali kita merasa pertolongan Tuhan terlambat atas diri kita, ketika kita membutuhkan pertolongannya, Tuhan tidak segera mengulurkan tangan. Demikian juga yang dialami oleh Marta dan Maria ketika meminta kesembuhan kakaknya Lazarus, hingga akhirnya kakaknya meninggal. Pengalaman yang cukup pahit dialami oleh mereka tapi itu diizinkan oleh Tuhan. Disini kita akan belajar dari pengalaman mereka mengenai keterlambatan Tuhan menolong kita, sehingga ketika kita menghadapi hal serupa, kita bisa mengerti dan lebih siap untuk menjalaninya.

Halaman