Skip to main content

Audio

Audio

Mengatasi Trauma

Sebagaimana gangguan lainnya, makin parah atau besar trauma yang pernah dialami, maka makin lama dan sukar penyelesaiannya. Didalam psikologi, gangguan ini dikenal dengan nama Post-Traumatic Stress Disorder, disingkat PTSD. Ketakutan yang mencekam akibat trauma dapat membuat kita sulit tidur, atau kalau pun dapat tidur, kita sering diganggu oleh mimpi buruk yang menyeramkan. Untuk mengatasi dampak trauma yang tidak separah PTSD, ada beberapa saran yang dapat diberikan. Pada prinsipnya oleh karena roh, jiwa, dan raga terkait erat, tidak bisa tidak untuk mengatasi trauma diperlukan penanganan terpadu.

Trauma Masa Kecil

Sebagaimana kita ketahui istilah trauma mengacu kepada peristiwa atau kejadian yang mengguncangkan kalbu secara dahsyat. Begitu banyak orang yang mengalami trauma di masa kecil dan harus terus hidup di bawah bayang-bayang trauma sampai di usia dewasa. Itu sebabnya penting bagi kita untuk memahami trauma secara lebih saksama dan mengetahui cara untuk mengatasinya.

Racun dalam Perkataan

Kadang kesalahpahaman terjadi dalam komunikasi. Mungkin kita mengatakan sesuatu namun ditafsir berbeda oleh yang orang lain atau dalam keadaan emosional kita mengatakan sesuatu yang tidak tepat. Semua ini dapat berakibat buruk dan perlu penjelasan supaya relasi kembali terajut. Namun adakalanya sesuatu yang lebih buruk terjadi yakni lewat perkataan kita menebar racun yang mematikan. Disini akan dipaparkan beberapa jenis racun dalam perkataan yang dapat kita temui di Alkitab.

Mengawasi Perkataan

Mungkin lebih banyak masalah timbul akibat perkataan, bukan perbuatan. Sebagaimana dijelaskan oleh Firman Tuhan, walau kecil lidah berpotensi untuk “. . . membakar hutan yang besar.” Itu sebabnya penting bagi kita untuk menguasai perkataan yang keluar dari mulut. Beberapa prinsip untuk bisa mengendalikan lidah akan diuraikan disini.

Mematahkan Sayap Anak

Salah satu sukacita terbesar dalam hidup adalah sukacita memunyai anak. Secara alamiah kasih ingin terus mengalir keluar dan masuk ke dalam diri anak. Seiring dengan bertumbuhnya kasih, ada satu lagi hasrat yang turut bertumbuh yaitu keinginan untuk memberi yang terbaik kepada anak. Sayangnya, kadang kita melangkah terlalu jauh dan malah merugikan anak—bukan saja ia makin bergantung pada kita, ia pun tidak memunyai keyakinan diri dan kesanggupan menghadapi tantangan hidup. Disini akan dipaparkan beberapa tindakan yang kerap diperbuat orang tua “demi kebaikan anak,” namun akhirnya malah mematahkan sayap anak.

Berpisah Tidur Dengan Anak

Salah satu tugas yang mesti dijalankan orang tua adalah MEMPERSIAPKAN ANAK UNTUK HIDUP MANDIRI. Pada akhirnya anak akan harus hidup sebagai seorang dewasa yang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Ia tidak lagi dapat terus bergantung pada kita sebagai orang tuanya. Nah, dalam kerangka menyiapkan anak untuk mandiri, kita pun perlu untuk mulai memisahkan anak dari kita—salah satunya adalah, TIDAK LAGI TIDUR DENGAN KITA.

Nurani : Terhilang Atau Tercemar ?

Kadang kita mendengar cetusan, “Orang itu sudah tidak berhati nurani !” Biasanya cetusan ini keluar sebagai reaksi terhadap perbuatan yang sungguh keji atau buruk. Namun demikian apakah benar bahwa kita bisa kehilangan nurani ? Jika kita menjawab, “tidak”, masalahnya adalah, mengapakah orang sanggup melakukan perbuatan yang keji ? Bukankah kehadiran nurani seharusnya dapat menghentikan perbuatan yang keji itu. Disini akan dibahas apakah memang benar nurani dapat terhilang dan jika tidak, apakah yang sesungguhnya terjadi ?

Kata Hati

Salah satu misteri dalam hidup adalah hadirnya "suara" di dalam lubuk hati terdalam yang "bukan bagian dari diri sendiri." Dikatakan, "bukan bagian dari diri sendiri" sebab bukankah acap kali "suara" ini meminta kita melakukan sesuatu yang bukan saja TIDAK kita pikirkan sebelumnya, tetapi juga, TIDAK kita inginkan. Karena itu adakalanya kita berusaha melarikan diri dari "suara" ini. Atau setidaknya, kita berusaha mengalihkan perhatian sehingga tidak lagi berkesempatan mendengarkan "suara" ini. Namun, apa pun yang kita perbuat, satu hal yang TIDAK dapat kita lakukan adalah membungkam "suara" ini. "Suara" itu tetap berkata-kata—tidak peduli didengarkan atau tidak. Suara ini adalah kata hati atau nurani.

Depresi : Bawaan atau Lingkungan ?

Salah satu pertanyaan yang kadang muncul adalah, apakah depresi merupakan gangguan yang timbul dari bawaan—dalam pengertian, dari titipan genetik ayah dan ibu—ataukah dari lingkungan—dalam pengertian, dari sesuatu yang dialami atau terjadi dalam hidup ini? Sebagaimana gangguan lainnya, sesungguhnya faktor bawaan hampir selalu hadir dalam kasus depresi, terutama depresi berat. Namun, faktor lingkungan juga berperan memunculkan depresi. Disini akan dibahas faktor-faktor bawaan dan lingkungan itu.

Menghadapi Hidup Tak Bermakna

Depresi adalah sebuah gangguan jiwa yang bukan saja riil tetapi juga berbahaya. Itu sebabnya penting bagi kita untuk memahaminya. Biasanya hal pertama yang muncul dalam benak tatkala mendengar kata “depresi” adalah wajah seseorang yang muram, penampilan yang tak terpelihara dan pandangan mata yang kosong. Namun sesungguhnya depresi tidak selalu berpenampakan sama. Karena itu penting buat kita untuk mengkonsepkan depresi sebagai suatu perjalanan yang panjang. Apa saja perjalanan panjang itu ? Dan bagaimana kita menolongnya ?