Audio
Audio
Suami Yang Berkenan Di Hati Allah 2
Seperti apakah suami yang berkenan di hati Allah itu? Dalam pembahasan ini kita akan mengangkat salah satu tokoh di Alkitab yang terabaikan. Dia adalah Yusuf, ayah Yesus Putra Allah, di dunia. Walau tidak banyak catatan tentang dirinya, ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Yusuf, terutama dalam perannya sebagai seorang suami.
Suami Yang Berkenan Di Hati Allah 1
Seperti apakah suami yang berkenan di hati Allah itu? Dalam pembahasan ini kita akan mengangkat salah satu tokoh di Alkitab yang terabaikan. Dia adalah Yusuf, ayah Yesus Putra Allah, di dunia. Walau tidak banyak catatan tentang dirinya, ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Yusuf, terutama dalam perannya sebagai seorang suami.
Tatkala Hidup Berhenti dengan Tiba-Tiba
Tanpa kita sadari, setiap hari kita bangun dari tidur kita berharap bahwa hari ini akan berjalan sama seperti kemarin. Aktivitas yang kita lakukan kemarin akan kita lakukan hari ini dan apa yang terjadi kemarin akan terjadi hari ini. Singkat kata, kita tidak berharap hidup akan berubah dalam sekejap. Masalahnya adalah, hidup kadang berubah dengan sekejap dan kita pun harus membangun hidup dari nol lagi. Faktor apa yang dapat membuat kita kehilangan hidup dengan sekejap? Apa yang mesti kita lakukan bila hal seperti itu menimpa kita?
Ketika Pasangan Tidak Bisa Melepaskan Selingkuhannya
Salah satu masalah terbesar yang kadang mesti kita hadapi adalah perselingkuhan. Ibarat batu besar jatuh menimpa atap rumah, demikianlah perasaan korban selingkuh. Secara tiba-tiba hidup hancur dan kita mungkin tidak tahu lagi apakah kita akan dapat membangun kembali rumah tangga yang telah hancur. Jika saja pasangan yang selingkuh bersedia untuk memutuskan tali asmaranya, mungkin akan sedikit lebih mudah buat kita melanjutkan hidup. Masalahnya adalah tidak semua bersedia melakukannya. Ada yang terus menjalin relasi asmaranya. Apakah yang mesti kita perbuat bila pasangan tidak bersedia melepas kekasihnya?
Tatkala Tuhan Berkata Tidak
Salah satu pergumulan rohani yang mesti kita semua lalui adalah menerima jawaban “tidak” dari Tuhan. Andai saja permohonan itu buruk dan jahat, kita semua akan bersedia mendengar jawaban “tidak”. Pergumulan timbul sebab kita tidak memohon yang buruk dan jahat; sebaliknya, kita memohon sesuatu yang baik, seperti mohon diberikan keturunan, disembuhkan, disediakan pekerjaan dan sebagainya. Namun, sebagaimana kita ketahui, Tuhan tidak selalu menjawab “ya”. Mengapa demikian?
Melampaui Efisiensi
Kita hidup di era efisiensi. Kata efisiensi mengandung arti melakukan atau menghasilkan sebanyak mungkin dengan tenaga dan waktu sesedikit mungkin. Segala perencanaan yang kita buat didasarkan atas hukum efisiensi. Tidak boleh ada yang terbuang, semua mesti terpakai sebaik mungkin — termasuk tenaga dan waktu. Lewat pembahasan ini kita melihat bahwa Tuhan tidak selalu bekerja berdasarkan hukum efisiensi. Kehendak Tuhan berada di atas hukum efisiensi.
Penentu Keharmonisan Pernikahan 2
Ada banyak hal yang dapat menentukan keharmonisan pernikahan, namun di antara semua itu, ketiga faktor berikut merupakan yang terpenting:
- Relasi dengan Tuhan yang otentik dan dinamis,
- Kesamaan dalam hal yang penting dan
- Kesehatan jiwa masing-masing. Dalam bagian ini akan dibahas ketiga faktor tersebut.
Penentu Keharmonisan Pernikahan I
Ada banyak hal yang dapat menentukan keharmonisan pernikahan, namun di antara semua itu, ketiga faktor berikut merupakan yang terpenting:
- Relasi dengan Tuhan yang otentik dan dinamis,
- Kesamaan dalam hal yang penting dan
- Kesehatan jiwa masing-masing. Dalam bagian ini akan dibahas ketiga faktor tersebut.
Sikap Hidup Reaktif
Tidak semua kita memunyai masa kecil yang menyenangkan. Salah satu dampak masa kecil yang buruk adalah pengaruhnya terhadap diri kita pada masa sekarang. Secara khusus kita akan menyoroti sikap hidup reaktif sebagai akibat masa kecil yang tidak menyenangkan dan dampaknya pada relasi kita sekarang dengan orang di sekitar, terutama dengan pasangan sendiri.
Bisakah Mengubah Pasangan ?
Salah satu perbedaan utama antara sebelum dan sesudah menikah adalah, pada masa sebelum menikah, kita cenderung MENERIMA pasangan sedangkan setelah menikah, kita cenderung MENGUBAH pasangan. Singkat kata, sebelum menikah kita berusaha menerima pasangan apa adanya namun setelah menikah, kita menyadari bahwa tidak semua tentang pasangan dapat kita terima apa adanya. Pertanyaannya adalah apakah kita dapat mengubah pasangan? Dan jawabannya adalah tidak bisa. Karena kita tidak bisa mengubah pasangan maka apa yang harus kita lakukan agar kita bisa menciptakan kondisi yang kondusif.