Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereKonflik Orang Tua dan Pemberontakan Anak

Konflik Orang Tua dan Pemberontakan Anak


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T295A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Kebutuhan mendasar anak dalam masa pertumbuhannya adalah ketenteraman. Hilangnya ketenteraman niscaya menciptakan gangguan pada pertumbuhan anak. Namun selain dari gangguan, anak pun lebih rentan untuk memberontak terhadap otoritas orang tua bila harus hidup tanpa ketenteraman. Pertanyaannya adalah mengapa anak menjadi lebih mudah jatuh dalam perilaku memberontak dalam situasi seperti ini? Bagaimana menanganinya?
MP3: 
3.61 MB
Ringkasan
Isi: 

Kebutuhan mendasar anak dalam masa pertumbuhannya adalah ketenteraman. Hilangnya ketenteraman niscaya menciptakan gangguan pada pertumbuhan anak. Namun selain dari gangguan, anak pun lebih rentan untuk memberontak terhadap otoritas orang tua bila harus hidup tanpa ketenteraman. Pertanyaannya adalah mengapakah anak menjadi lebih mudah jatuh dalam perilaku memberontak dalam situasi seperti ini? Anak menjadi jauh lebih rentan memberontak sebab pada dasarnya relasi orang tua yang bermasalah membuatnya labil.

Pada umumnya relasi orang tua yang bermasalah menciptakan konflik. Tidak bisa tidak, relasi orang tua yang sarat konflik akan menciptakan suasana rumah yang tidak nyaman. Alhasil anak harus hidup dalam ketegangan secara terus menerus. Setidaknya ada dua dampak langsung dari ketegangan pada pertumbuhan anak.

  • Ketegangan adalah sebuah emosi yang melumpuhkan. Itu sebabnya ada sebagian anak yang bertumbuh besar pasif dan tidak berinisiatif oleh karena tingginya tingkat ketegangan dalam keluarga.
  • Dalam ketegangan kita tidak dapat berfungsi optimal oleh karena kita senantiasa harus berjaga-jaga. Sebagai akibatnya ketegangan membuat kita menyikapi hidup dengan tegang. Singkat kata ketegangan berpotensi menciptakan sebuah sikap atau cara yang tidak utuh dan berimbang dalam menghadapi persoalan hidup.

Nah, akibat langsung dari tidak utuhnya atau tidak berimbangnya respons kita terhadap apa yang terjadi dalam hidup membuat kita mudah mengambil keputusan yang tidak bijak atau melakukan perbuatan yang salah. Pada umumnya respons orang tua terhadap anak yang kerap melakukan kesalahan adalah memarahinya. Di mata orang tua kemarahan seperti ini memang beralasan sebab bukankah memang anak melakukan kesalahan. Masalahnya adalah, sesungguhnya penyebab awal semua ini berpulang pada relasi orang tua sendiri.

Makin sering dimarahi makin banyak kemarahan tersimpan di dalam diri anak. Ditambah dengan kemarahan terhadap orang tua yang sering konflik, pada akhirnya anak bertumbuh besar membawa bobot kemarahan yang tinggi.

Cara Penanganan
  • Untuk mencegah terjadinya pemberontakan akibat konflik, sudah tentu relasi yang bermasalah mesti dibereskan terlebih dahulu. Masalah yang telah menahun menandakan ketidakmampuan kita untuk mengatasinya. Itu berarti kita perlu meminta bantuan pihak ketiga yakni konselor keluarga. Kesediaan kita meminta pertolongan berdampak positif pada anak, karena hal itu menunjukkan kesediaan kita berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalah.
  • Jangan ragu untuk meminta maaf kepada anak atas permasalahan yang terjadi di antara kita-suami-istri. Akui di hadapan anak bahwa konflik orang tua telah memberi sumbangsih negatif pada perkembangannya. Akui pula bahwa pemberontakannya sedikit banyak merupakan dampak dari konflik yang terjadi selama ini di antara kita.
  • Terakhir, bicarakan tuntutan dan harapan masing-masing yakni apa yang menjadi harapannya dan apa yang menjadi harapan kita terhadapnya. Coba dengarkan alasan di belakang permintaannya dan jangan cepat bereaksi terhadap tuntutannya. Sudah tentu akan ada hal yang dapat kita sesuaikan tetapi akan ada pula hal yang tidak dapat kita turuti. Suatu hal yang penting di sini bukanlah apakah kita menuruti semua yang diharapkan anak, melainkan apakah kita sungguh berusaha memahaminya dan berusaha memperbaiki relasi dengannya.
  • Firman Tuhan mengajarkan, "Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri daripada kota yang kuat dan pertengkaran adalah seperti palang gapura sebuah puri" (Amsal 18:19). Konflik orang tua yang berlarut dapat diibaratkan seperti pengkhianatan kepada anak. Firman Tuhan mengatakan bahwa pertengkaran adalah seperti palang gapura. Tidak heran bila relasi orang tua sarat pertengkaran, anak pun cenderung memisahkan diri. Kita harus mengangkat palang dan membuka kembali relasi dengan anak.