Skip to main content

Topeng Perempuan 1

Abstrak
Laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan oleh Tuhan, sama-sama berharga dan sama-sama dikasihi. Ketika laki-laki dan perempuan masuk ke dalam lingkungan masyarakat, ternyata perempuan memiliki tuntutan yang lebih besar dibandingkan laki-laki. Apa saja tuntutannya? Kalau perempuan kurang bisa memenuhi tuntutan itu, perempuan tersebut menjadi menggunakan topeng di dalam kesehariannya.
Transkrip

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Topeng Perempuan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita pernah berbicara tentang topeng pria, topeng laki-laki dimana seseorang dituntut oleh lingkungannya untuk melakukan sesuatu yang mungkin belum tentu sesuai dengan jati dirinya sendiri, tetapi ternyata itu bukan hanya dialami oleh kaum pria. Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang topeng perempuan. Sebenarnya apa yang terjadi, Pak Paul ?

PG : Begini, Pak Gunawan, pada dasarnya meskipun kita dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan namun pada kenyataannya kita menjadi laki-laki atau perempuan lewat proses pembentukan. Maksud saya kita belajar menjadi laki-laki atau pun perempuan melewati pengamatan sendiri maupun pengamatan dari orang dan mungkin dari budaya di sekitar kita. Keberhasilan kita ataupun kegagalan kita memenuhi apa yang diharapkan oleh lingkungan akan menentukan penilaian lingkungan terhadap diri kita sebagai laki-laki atau perempuan. Jadi dengan kata lain, kalau kita berhasil maka tuntutan atau pengharapan akan bercampur dengan diri kita, namun jika kita tidak berhasil memenuhinya maka tuntutan dan pengharapan itu tidak menyatu dengan diri kita dan yang akan kita lakukan adalah asal memenuhi saja. Dengan kata lain, kita memakai sebuah topeng supaya kita tetap diterima oleh lingkungan sebagai akibatnya kalau kita hanya mengenakan topeng, kita tidak akan hidup bebas dan kita akan hidup dalam ketegangan antara menjadi diri yang sebenarnya dan diri yang diharapkan. Dan perempuan tidak luput dari tuntutan seperti ini pula. Kita akan mencoba membahas sebetulnya apa yang dituntut oleh lingkungan terhadap perempuan dan apa dampaknya pada perempuan terutama jikalau memang dia tidak bisa memenuhinya.

GS : Tuntutan pada awalnya ketika seseorang masih kecil, tuntutan itu datang dari keluarga dan apakah keluarga tidak mengetahui, jadi sifat-sifat atau jati diri seorang perempuan, Pak Paul ?

PG : Sebenarnya tahu tapi karena itulah yang dituntut dan menjadi norma maka semua hanya mengikut saja apa yang telah digariskan oleh lingkungan. Sebagai contoh, banyak wanita di masa lampau tidak begitu menyukai kodratnya sebagai wanita, sebab tuntutan yang diembankan kepada wanita karena mereka tidak sanggup untuk memenuhinya maka menjadi wanita adalah beban yang berat yang harus mereka tanggung. Sudah tentu seorang ibu mengerti hal itu tapi tidak bisa disangkal waktu ibu itu memunyai anak dan anaknya mulai besar dan anaknya kebetulan perempuan, maka dia akan menerapkan tuntutan yang sama pada anak perempuannya. Jadi akhirnya dengan cara itu tuntutan demi tuntutan dilestarikan dari generasi ke generasi.

GS : Jadi sebenarnya sebagai seorang ibu yang tahu bahwa tuntutan itu bisa menimbulkan dia memakai topeng seumur hidupnya maka lebih baik diajarkan kepada anak perempuannya bagaimana menghadapi tantangan atau tuntutan itu, Pak Paul.

PG : Jadi idealnya hubungan ibu dengan anak perempuannya baik, sehingga si ibu bisa menjadi mentor bagi si anak perempuan, memberikan masukan bagaimana caranya memenuhi tuntutan itu dan kalau memang tidak bisa maka biarlah ibu juga mendukung si anak itu untuk mengembangkan diri yang sesungguhnya.

GS : Biasanya tuntutan apa terhadap seorang perempuan, Pak Paul ?

PG : Saya akan intisarikan saja dengan satu kata yaitu saya kira pada umumnya perempuan dituntut untuk menjadi sempurna. Jadi kita akan melihat dalam setidak-tidaknya empat aspek dimana perempuan itu dituntut untuk sempurna. Yang pertama adalah selalu tahu membawa diri dan kedua selalu bersedia berkorban dan ketiga selalu memaafkan dan memercayai serta yang keempat selalu rohani. Jadi saya kira inilah empat aspek tuntutan yang semuanya mengerucut pada satu yaitu dituntut untuk sempurna.

GS : Kita akan coba perbincangkan ini satu demi satu. Mengenai tuntutan bahwa perempuan itu dituntut untuk selalu tahu membawa diri dalam semua situasi ini seperti apa, Pak Paul ?

PG : Misalnya kita tahu ada begitu banyak aturan yang diembankan kepada perempuan untuk bersikap, untuk berpenampilan dari cara duduk sampai cara makan, dari cara berbicara sampai cara berjalan, dari bercengkrama dengan teman sampai berbicara dengan kerabat, itu semua telah digariskan dan hampir semuanya diembankan kepada perempuan lebih daripada laki-laki. Kita memang melihat ketidakseimbangan, sebab laki-laki itu misalkan kalau mau tertawa terbahak-bahak masih wajar, tapi kalau wanita tertawa terbahak-bahak itu tidak wajar dan mungkin akan diminta untuk mengecilkan volume suara atau diminta menutup mulutnya. Dan cara duduk juga selalu diperhatikan walaupun dua-dua sama-sama memakai celana panjang, kalau laki-laki boleh duduk semaunya tapi kalau perempuan akan ditegur, "Kamu duduknya jangan seperti itu". Jadi benar-benar perempuan memang lebih dituntut untuk dapat membawa diri di dalam setiap situasi.