Skip to main content

Pernikahan Yang Hampa

Abstrak

Mengapa makin lama menikah makin hampa? Bahkan sampai pasangan suami istri yang Kristen sekalipun! Penyebab utamanya adalah karena Perbedaan Investasi Emosional Pria dan Wanita. Mengapa pernikahan menjadi hampa, apa tanda-tandanya? Apa yang mesti dilakukan? Ada beberapa tips praktis yang disarankan untuk kita lakukan.

Transkrip

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Pernikahan yang Hampa." Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, ada banyak pasangan suami istri yang juga Kristen sekalipun, yang merasa pernikahannya itu makin lama makin tidak ada artinya sehingga seperti judul perbincangan ini yaitu sesuatu yang hampa, apakah hal itu bisa terjadi?

PG : Sayangnya bukan hanya bisa terjadi tapi cukup sering terjadi, Pak Gunawan. Jadi saya perkirakan secara pikiran kasar mungkin hanya setengah dari pernikahan itu yang sungguh-sungguh mencicii kebahagiaan dalam pernikahannya.

Dan sebagian lagi adalah orang-orang yang menjalani pernikahan tapi tidak lagi menikmati kebahagiaan dalam pernikahan itu. Dengan kata lain pada akhirnya pernikahan itu menjadi sebuah tempat yang sangat hampa.
GS : Apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya, mungkin Pak Paul bisa menyampaikanya dalam perbincangan ini.

PG : Ada beberapa faktor dan yang pertama adalah wanita dan pria mempunyai perbedaan dalam investasi atau modal emosionalnya. Pada awal pernikahan biasanya pria itu mempunyai investasi emosiona yang besar, dia menggebu-gebu dia sangat mencintai istrinya dan sebagainya.

Makanya ada kecenderungan dia bersikap muluk membicarakan hal-hal yang ideal-ideal, nanti setelah kita menikah kita akan begini-begitu. Dalam hal ini, kita tidak boleh menuduh pria itu gombal karena belum tentu. Sebab pria biasanya pada waktu memasuki pernikahan dia mempunyai begitu banyak hal yang dia ingin berikan untuk keluarganya, tapi dengan berjalannya waktu hidupnya akan mulai terbelah antara di dalam rumah dan di luar rumah. Dia harus memberikan waktu dan tenaganya untuk pekerjaan dan sebagainya. Sehingga perlahan-lahan tanpa disadarinya investasi modal emosional itu menyusut. Jadi kita bisa bayangkan setelah 20 tahun menikah, mungkin sekali yang tersisa untuk di dalam keluarga itu tinggal sedikit karena yang diluarlah yang menyita paling banyak baik pikirannya, tenaganya, interestnya dan karena dia lebih sering di luar rumah maka pertemanannya juga akan terjalin di luar. Kalau tidak hati-hati nanti relasi dengan istri atau pun dengan anak-anaknya makin terbentang jauh. Sebaliknya dengan wanita, Pak Gunawan, waktu wanita memasuki pernikahan biasanya investasi modal emosionalnya relatif sedikit tapi dengan berjalannya waktu dengan adanya anak, dia makin terbenam di dalam keluarganya, jati dirinya sekarang lebih dikaitkan dengan suaminya. Bahkan sampai nama si istri pun tidak dikenal, dikenalnya sebagai ibu misalnya Ibu Gunadi tapi nama istri saya orang tidak tahu. Jadi dengan kata lain dengan berjalannya waktu diri si istri makin terjahit dengan diri si suami dan kehidupannya tercurahkan untuk membesarkan anak. Jadi dengan berjalannya waktu kehidupan atau investasi modal emosional istri makin besar. Kita mulai bisa membayangkan Pak Gunawan, setelah mereka menikah di atas sepuluh tahun akan terjadi konflik karena seperti kerucut. Kalau wanita atau istri itu kerucutnya terbalik yang lancip di bawah dan yang lebar di atas. Tapi pria sebaliknya yang lebar di bawah dan yang lancip di atas. Setelah di atas sepuluh tahun menikah yang di atas itu sudah tidak sama, waktu tidak sama dan bertemu biasanya terjadi masalah. Biasanya masalahnya adalah istri meminta agar suami lebih memberikan waktu dan tenaganya untuk keluarga, suami yang merasa tipis karena sudah banyak memberikan untuk pekerjaan di luar rumah tidak suka dan dia merasa dituntut lagi, di luar sudah dituntut dan di dalam rumah dituntut lagi. Diluar ada tugas yang harus diselesaikan dan di rumah ada tugas lagi yang dibebankan istri kepada dia dan dia tidak akan suka. Di pihak lain si istri akan merasa kamu ini "selfish", mementingkan diri sendiri, ini adalah rumah tangga bersama bukan rumah tangga satu orang, kenapa kamu tidak mau memikul beban, semua dilimpahkan kepada saya, anak juga tanggung jawab saya dan apa peranmu dalam keluarga? Disinilah seringkali terjadi konflik, dan di tengah-tengah kondisi seperti ini konflik susah selesai bahkan mudah melebar karena sekali lagi keduanya ini orang yang stres. Si suami tipis sudah capek, di rumah dituntut dia marah, dia meledak, si istri juga merasa beban keluarga semua dipikul di pundaknya, dia juga dalam keadaan stres. Dua orang ini akhirnya mudah terjadi konflik di antara mereka, kalau tidak terselesaikan biasanya yang mereka lakukan adalah diam dan tidak banyak bicara lagi. Keduanya akan bersikap seperti itu guna menciptakan ketenangan, tapi sebetulnya didalam ketenangan ada bara yang sedang menyala dan pernikahan itu akhirnya hampa. Mereka seolah-olah dalam kondisi gencatan senjata yang berkepanjangan.
GS : Jadi dengan meningkatnya investasi emosi dari pihak istri, Pak Paul, itu tidak serta merta membuat dia puas dengan hidup pernikahannya itu?

PG : Tidak! Jadi dia ingin melihat respon timbal balik dari pasangannya. Kalau sendiri saja itu tetap tidak akan memberikan kepuasan baginya.

GS : Tapi kalau si suami bisa mengimbangi dengan meningkatkan investasi emosinya atau paling tidak mempertahankan tanggung jawab, itu bisa memuaskan pihak istri.

PG : Betul, jadi sebetulnya istri itu tidak menuntut sama persis, pada umumnya istri menyadari kalau itu tidak bisa sama namun menyusutnya jangan sampai drastis seperti itu kalau bisa hanya setngahnya saja.

Jadi yang penting istri melihat ada upaya dari pihak si suami untuk kembali menyedot yang dari luar dan memberikannya untuk yang di dalam rumah. Sebab yang selama ini akhirnya terjadi adalah si istri melihat kamu itu mengambil dari dalam rumah dan memberikannya untuk yang di luar rumah. Ini yang perlu disesuaikan sehingga si istri dapat berkata "Suami saya telah berusaha." Di pihak si suami sudah tentu membutuhkan pengertian istri jadi istri bisa berkata saya mengerti kamu capek, saya mengerti tugasmu sudah banyak dan dia menawarkan apa yang bisa saya bantu untuk menolongmu. Setelah itu baru dia berkata, "Bisa tidak kamu juga tolong saya lakukan ini dan itu." Jadi berikanlah tugas kepada suami secara langsung dan konkret. "Bisa tidak kamu tolong antar anak dan sebagainya," dari pada si istri marah-marah dan langsung menuduh dengan kata-kata yang bersifat umum, "Kamu tidak peduli dengan keluarga, kamu tidak sayang lagi kepada kami." Kata-kata seperti itu tidak akan membantu dan tidak akan menolong si suami, jadi si istri perlu memberikan saran-saran yang spesifik dalam hal dia meminta partisipasi si suami, namun mintalah bukan menuntut dan marah-marah. Jadi kalau keduanya bisa melakukan ini, seyogianyalah investasi itu bisa disesuaikan kembali.
GS : Berarti ada hal-hal yang membuat pernikahan itu dirasakan hampa oleh pasangan suami istri dan itu apa saja?

PG : Biasanya begini, tadi yang saya uraikan itu adalah hal yang memang seringkali secara alamiah. Tapi adalagi hal yang lain yaitu konflik yang muncul akibat kegagalan kita menyesuaikan diri. idalam siaran yang lampau kita membicarakan tentang tahap-tahap penyesuaian, kalau kita gagal menyelesaikan penyesuaian maka biasanya itu menimbulkan benih-benih ketidaksukaan, benih-benih konflik, mungkin gencatan senjata dan sebagainya, tapi intinya tidak selesai.

Masalahnya adalah dari awalnya kita itu terlalu mudah menyerah, dari pada konflik tidak bisa selesai maka melakukan gencatan senjata dengan cara jangan bicarakan lagi. Akhirnya karena kita tidak mau menyelesaikan dan kita diamkan, lama-kelamaan ini akan menjadi duri, mungkin dengan adanya anak maka duri itu tidak terlalu menusuk tapi setelah anak-anak pergi kuliah dan sarang kosong kembali, apalagi kalau sudah pensiun maka duri-duri itu akan keluar semuanya dan kembali menusuk, dan yang akan keluar ialah masalah-masalah lama. Tapi kita tidak mau berkelahi sudah lelah akhirnya kita diamkan. Tapi itu akan mempengaruhi kasih mesra di antara kita dan pada akhirnya kita merasa hampa, kita tidak mau lagi dekat dan intim dengan pasangan kita, masing-masing sendiri-sendiri.
GS : Berarti kehampaan itu sebetulnya bisa dirasakan oleh suami istri, apa tanda-tandanya, Pak Paul?

PG : Misalkan ada relasi kasih yang sudah benar-benar kosong dan nantinya yang terjadi ialah tidak ada lagi energi. Suami istri yang hampa sangat kelihatan sekali tidak lagi mempunyai suatu siar atau cahaya, energi dalam relasi mereka dan dalam diri mereka.

Yang lain lagi misalkan kalau ingin mendapatkan kesenangan, dia harus pergi keluar mencari dari orang lain, cari dari kesenangan lain, hiburan-hiburan lain karena memang tidak ada lagi kesenangan dari pasangan yang bisa diperolehnya. Sehingga akhirnya relasi benar-benar sepi, dingin mirip seperti kuburan dan untuk mencegah konflik supaya tidak terjadi maka masing-masing menjaga teritorinya, tugas masing-masing sudah dibagi dengan rapi sehingga tidak pernah lagi bisa tabrakan. Tapi sekali lagi itu bukanlah sebuah penyatuan, keintiman, dan hanyalah menjaga teritori agar jangan sampai saling tabrakan. Dan yang terakhir dalam relasi yang hampa itu hubungan seksual pun tidak lagi memberikan kepuasan, tapi seringnya tidak dapat di