Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereMengapa Sejarah Berulang

Mengapa Sejarah Berulang


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T241A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Salah satu ironi dalam hidup adalah berulangnya sejarah yang menyakitkan di dalam keluarga. Sebagai contoh, kita adalah korban kekerasan orang tua namun pada akhirnya menikah dengan pasangan yang kerap menggunakan kekerasan pula. Mengapakah sejarah cenderung berulang?

MP3: 
3.62 MB
Ringkasan
Isi: 

Salah satu ironi dalam hidup adalah berulangnya sejarah yang menyakitkan di dalam keluarga. Sebagai contoh, kita adalah korban kekerasan orang tua namun pada akhirnya menikah dengan pasangan yang kerap menggunakan kekerasan pula.

Mengapakah sejarah cenderung berulang?

ŸPada faktanya sejarah "baik" maupun sejarah "buruk" cenderung berulang. Jadi, bukan hanya sejarah buruk yang berulang; sejarah baik pun berulang. Semua hal baik yang telah kita terima dari keluarga asal cenderung berulang sebab kita memang ingin melestarikannya dengan sengaja. Namun malangnya, semua hal buruk yang kita alami juga cenderunug berulang, kendati bukan dengan sengaja melainkan dengan tidak sengaja akibat ketidakberdayaan kita menghilangkannya.

ŸPenyebab pertama mengapa sejarah buruk cenderung berulang adalah karena ketidaktahuan kita akan dampak buruk itu. Misalnya, karena orang tua menggunakan pukulan keras dalam mendisiplin kita. Maka kita pun menggunakan cara yang sama dalam mendisiplin anak. Kita luput menyadari bahwa sesungguhnya problem kita dengan kemarahan bersumber dari cara orang tua mendisiplin kita dengan cara kekerasan.

ŸKedua. Sejarah buruk cenderung berulang sebab kita tidak mengenal cara lain untuk hidup sehat. Pada kasus yang sama, bila pukulan adalah menu keseharian, pada akhirnya kita tidak mengenal cara lain yang lebih sehat. Kita tidak tahu bahwa disiplin dapat diberikan secara efektif tanpa pukulan.

ŸKetiga, sejarah buruk sering berulang oleh karena kekerasan hati kita mempertahankan yang buruk. Kadang kita merasa bangga bahwa kendati dipukul dan dibesarkan dengan kekerasan, kita tetap berhasil menjadi "orang." Bahkan kita beranggapan bahwa disiplin orang tua yang keras itulah yang telah membuat kita tegar dalam menghadapi hidup. Alhasil kita justru ingin mempertahankan metode disiplin yang keras ini dan bersikukuh pada keefektifannya.

ŸKeempat. Sejarah buruk berulang sebab adanya kebutuhan yang memang dapat dipenuhi oleh orang lain kendati harus kita bayar mahal. Misalkan kita dibesarkan tanpa kasih yang cukup dan berupaya mendapatkan kasih dari orang lain. Akibat kurangnya bimbingan pada akhirnya kita malah terjerat dalam relasi yang buruk dan sarat kekerasan. Kendati demikian, kita tetap mempertahankan relasi itu oleh karena kita tetap merasa dikasihi olehnya.

Contoh dari Alkitab adalah Eli dan Samuel. Samuel telah melihat contoh buruk keluarga Imam Eli (1 Samuel 2); sayangnya situasi yang sama terjadi dalam keluarga Samuel pula. Semua anak mereka bermasalah sehingga akhirnya tidak ada satu pun dari anak mereka yang meneruskan jejak menjadi pelayan Tuhan. Inilah yang Firman Tuhan katakan tentang anak-anak Samuel, "Tetapi anak-anak itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap, dan memutarbalikkan keadilan (1 Samuel 8:3)

Sebagai kesimpulan, kita harus belajar dari sejarah yang buruk. Kita harus mengakui dampak buruknya pada diri kita dan berusaha mengubahnya supaya orang tidak harus menjadi korban berikutnya.