Skip to main content

Mendengarkan Sebelum Didengarkan

Abstrak
Pada umumnya kita ingin didengarkan ketimbang mendengarkan, namun jika ingin berhikmat kita mesti mendisiplin diri untuk mendengarkan. Makin banyak kita mendengarkan, makin bertambah pengetahuan kita akan permasalahan, makin lega lawan bicara kita. Mendengarkan menambah hikmat karena kita masuk ke alam pikiran orang dan mencoba untuk memahaminya. Mendengarkan juga erat hubungannya dengan kerendahan hati. Kerendahan hati adalah langkah menuju hikmat. Jadikanlah mendengarkan sebagai gaya hidup bukan sekadar keterampilan. Makin kita mendengarkan-Nya, makin kita berhikmat.
Play Audio
Transkrip

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) akan berbincang-bincang dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling. Perbincangan kami kali ini tentang "Mendengarkan Sebelum Didengarkan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Pak Paul, kita masih berbicara dalam satu tema besar yaitu "Bagaimana Hidup Berhikmat" dengan tuntunan Firman Tuhan. "Mendengarkan Sebelum Didengarkan" rasanya agak bertentangan dengan natur kita karena natur kita sebenarnya lebih ingin didengarkan daripada kita mendengarkan orang lain. Ini bagaimana, Pak Paul ?

PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Konteks utama kita adalah tentang bagaimana berhikmat, untuk bisa berhikmat kita perlu menerapkan prinsip lebih baik mendengarkan sebelum didengarkan. Sudah tentu betul tadi Pak Gunawan katakan, kita sebagai manusia kerinduan kita didengarkan ketimbang mendengarkan. Tapi kalau kita ingin berhikmat kita harus berdisiplin diri untuk mendengarkan. Mendengarkan terdiri dari dua langkah atau mencakup dua tindakan. Pertama, kita mendengarkan terlebih dahulu sebelum membuka mulut untuk berbicara dan menuntut orang untuk mendengarkan kita. Ini penting untuk dilakukan sebab dengan mendengarkan kita dapat mengerti masalah atau pembicaraan secara lebih utuh. Sebelum memberi jawab kita dapat memahami permasalahan secara lebih lengkap dan tepat. Jadi langkah pertama adalah kita selalu mau mengedepankan mendengarkan terlebih dahulu sebelum kita berbicara atau kita meminta orang untuk mendengarkan kita. Biasanya yang kita lakukan adalah memang, "Ok saya bersedia mendengarkan tapi setelah kamu mendengarkan saya dahulu". Sekarang yang saya minta adalah kita ubah urutannya, kita kedepankan mendengarkan setelah itu barulah kita minta orang mendengarkan kita.

GS : Apakah itu hanya berlaku kalau kita setara, artinya secara kedudukan sosial sama, usia sama dan sebagainya atau berlaku umum begitu? Kadang-kadang kita mau mendengarkan tapi kalau orang itu lebih muda dari kita seolah-olah lebih kita merasa superior, merasa lebih, dan kamu yang lebih muda, dengarkan saya dahulu. Atau terhadap anak, atau terhadap istri atau berlaku umum, begitu Pak Paul ?

PG : Seharusnya berlaku umum, Pak Gunawan tapi saya mengerti kita hidup dalam budaya tertentu dan budaya kita ini, orang yang tua seharusnya diberikan hak lebih banyak untuk berbicara dan yang lebih muda dituntut untuk mendengarkan, tapi sebetulnya sikap yang baik adalah mendengarkan terlebih dahulu dan tidak jadi soal apakah orang itu secara sosial di bawah kita atau di atas kita atau setara dengan kita.

GS : Pada waktu kita mendengarkan, otak kita berproses untuk tetap memaksakan supaya dia mendengarkan kita.

PG : Kebanyakan kita bila berbicara sebetulnya memang tidak begitu mendengarkan dengan baik karena kita sudah terlalu sibuk memikirkan apa yang ingin kita katakan. Jadi perlu disiplin untuk bisa menahan pikiran kita sehingga belum apa-apa bekerja, memikirkan apa yang ingin kita katakan dan memaksa diri untuk memfokuskan diri perhatian kita pada apa yang dikatakan oleh orang tersebut.

GS : Lalu hal yang kedua apa Pak Paul, tadi Pak Paul katakan ada dua tindakan, yang kedua apa ?

PG : Yang kedua bukan saja kita mendengarkan terlebih dahulu, dalam pembicaraan kita pun lebih memilih untuk mendengarkan daripada berbicara dan didengarkan. Dengan kata lain, sebaiknya porsi terbesar bukanlah mendengarkan tapi didengarkan. Makin banyak kita mendengarkan makin bertambah pengetahuan kita akan permasalahan dan makin lega lawan bicara kita. Akhirnya percakapan menjadi lebih cair dan santai. Jadi sekali lagi saya ulang, mendengarkan terdiri dari dua tindakan. Yang pertama secara umum kita berusaha mendengarkan terlebih dahulu sebelum kita berbicara atau meminta orang mendengarkan kita. Yang kedua yang saya tekankan adalah, kita memilih untuk mendengarkan daripada berbicara atau didengarkan. Jadi secara umum kita lebih mau diam dan mendengarkan. Berbicara seperlunya tidak sembarangan, porsi terbesar dalam kita berinteraksi dengan orang adalah lebih banyak kita mendengarkan. Hikmat baru bisa kita peroleh dan muncul didalam sikap hidup yang seperti ini, sikap hidup yang lebih banyak mau mendengarkan. Kalau perlu baru kita bicara, kalau tidak, tidak usah.

GS : Sebenarnya perbedaan yang sangat prinsip antara yang pertama dan kedua itu dimana, Pak Paul ?

PG : Kalau yang pertama maksudnya keduanya bisa bicara, kita hanya menunggu giliran. Daripada giliran kita yang berbicara, kita memberikan giliran itu kepada lawan bicara kita. Kita memilih untuk mendengarkan dulu, jadi seolah-olah kita mengalah. Lebih baik kita mendengarkan dulu apa yang dia pikiran, dia katakan, baru kita setelah itu. Porsinya sama 50 : 50. Kalau gaya hidup yang kedua selain dari mendahulukan orang, kita memang secara umum mau mempunyai sebuah gaya hidup yaitu kita lebih mau irit bicara. Kita lebih mau mengedepankan mendengarkan, biar orang yang bicara dan kita duduk, mendengarkan dan kalau perlu memang diminta baru kita berikan masukan-masukan.

GS : Karena pendengar yang aktif membutuhkan umpan balik dari orang yang berbicara tadi. Kita mendengarkan orang berbicara supaya jelas bahwa kita aktif mendengarkan. Kita minta umpan balik, begitu Pak Paul.

PG : Jadi ada orang-orang yang dalam berbicara dia akan sabar, memberi kesempatan kepada lawan bicaranya untuk bicara tapi dia juga akan bicara dan dia berharap lawan bicaranya akan mendengarkan dia. Jadi porsinya kira-kira sama. Yang saya juga mau dorong kita lakukan adalah bukannya mempertahankan porsi yang sama tapi mengecilkan porsi kita berbicara dan lebih baik kita mendengarkan. Saya pernah diminta hadir dalam sebuah pertemuan, nah orang tersebut yang meminta saya hadir, mau memberikan pertolongan kepada satu kelompok, sebuah Yayasan. Saya agak bingung pada waktu saya hadir dalam pertemuan itu sebab seharusnya kita tanya, lebih banyak mendengarkan apa kebutuhan Yayasan ini, apa yang bisa kita bantu. Tapi yang terjadi adalah, orang yang mengundang saya, mendominasi pembicaraan dari depan sampai belakang dia berbicara terus. Saya menjadi bingung yang mau ditolong tidak diberi kesempatan memberitahukan apa yang dibutuhkan sebab yang mau menolong sudah mendominasi seolah-olah dia sudah mengetahui semuanya. Memang orang ini seperti itu, gaya hidupnya gaya hidup berbicara dan orang harus mendengarkan dia. Saya mau kita belajar untuk lebih banyak mendengarkan. Jadi itu sebuah gaya hidup kita.

GS : Ya sebenarnya kalau kita yang lebih banyak bicara, kita tidak bisa memberikan pertolongan sesuai yang dibutuhkan oleh orang yang mau kita tolong itu.

PG : Betul, Pak Gunawan. Kalau kita mengatakan bahwa "Kita datang untuk menolong kamu". Orang itu tidak sempat membuka mulut, kita terus yang buka mulut, bagaimana kita bisa menolong dia ? Tidak mungkin. Di mata orang itu saya pun berpikir pasti dia juga kecewa mungkin merasa kesal. Mengapa orang ini bukan bertanya kebutuhannya apa, tapi terus berbicara tidak pernah berhenti.

GS : Tetapi untuk mendorong orang berbicara itu ‘kan kadang-kadang perlu dimotivasi, ada orang yang apalagi yang tadi saya katakan, yang status sosialnya beda untuk mengutarakan itu susah untuk dia bila tidak diberi kesempatan, Pak Paul?

PG : Kalau kita dalam konteks budaya tertentu kita agak susah untuk berinisiatif memang kalau kita tidak mendapatkan ijin dari orang lain untuk berbicara.

GS : Lalu apa kaitannya antara mendengarkan dengan hikmat ?

PG : Pertama mendengarkan bukan saja memasang telinga tapi terpenting kita berusaha mengerti apa yang disampaikan dan mengapa perlu disampaikan. Setiap butir pemahaman atau usaha untuk memahami akan menambah hikmat, sebaliknya didengarkan tidak akan menambah hikmat karena didengarkan atau kita yang berbicara terus hanyalah mengeluarkan apa yang ada di alam pemikiran sendiri. Mendengarkan menambah hikmat karena kita masuk ke dalam alam pikiran orang dan mencoba memahaminya. Ini bisa kita lihat, Pak Gunawan, pada orang-orang yang gemar membaca. Orang yang gemar membaca sebetulnya adalah orang yang gemar mendengarkan sebab ya sama juga mendengarkan lewat telinga atau mendengarkan lewat mata. Intinya adalah orang yang gemar membaca buku sebetulnya orang yang gemar mendengarkan. Tidak heran orang yang gemar membaca akhirnya mempunyai hikmat yang dalam karena pengetahuan dan pengertiannya akan bertambah. Kalau kita hanya gemar berbicara, kita tidak akan menambah hikmat karena kita hanya me