Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereMenanamkan Rasa Tanggung Jawab Pada Anak

Menanamkan Rasa Tanggung Jawab Pada Anak


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T054A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Dalam hal ini orangtualah yang sangat perlu mengajarkan anak-anak untuk bertanggung jawab. Dan hal ini perlu kita siapkan dari mulanya melakukan sesuatu karena menyadari kegunaannya dan kedua melakukan sesuatu karena memang diwajibkan. Hal ini menjadi bahan yang sangat penitng untuk kesuksesan dalam pekerjaannya di masa mendatang.

MP3: 
3.59 MB
Ringkasan
Isi: 

Tanggung jawab tidak dengan sendirinya ada dalam diri setiap anak atau setiap orang. Anak-anak sebetulnya lahir tanpa mempunyai kesadaran akan tanggung jawabnya, jadi merupakan tugas orang tualah untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab itu. Perlahan-lahan orang tua harus melatih atau menanamkan rasa tanggung jawab pada si anak sehingga pada akhirnya si anak akan melepaskan diri dari si orang tua dan mulai melakukan yang dia harus lakukan dari dirinya sendiri.

Dalam hal melatih tanggung jawab anak, bentuk-bentuk yang bisa diberikan oleh orang tua adalah sbb:

  1. Anak memiliki kemampuan atau merawat dirinya secara jasmani, jadi misalnya pagi-pagi menggosok gigi, mandi pada waktu usia meningkat misalnya 8, 10 tahun dsb.

  2. Tanggung jawab dikembangkan dari tubuh secara jasmani ke barang-barang milik si anak. Misalnya membereskan tempat tidur, menaruh sepatu pada tempat yang seharusnya, meletakkan piring di dapur dsb.

  3. Menginjak usia remaja kita juga akan menanamkan tanggung jawab untuk hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan emosionalnya.

Biasanya sebagian orang tua berpikir, soal tanggung jawab itu nanti diajarkan di sekolah. Saya kira kita harus membedakan tanggung jawab yang internal dan tanggung jawab yang eksternal.

  1. Tanggung jawab eksternal, di mana anak-anak harus bersekolah dan dia pun diharuskan belajar. Kita harus akui pada masa SMP ke bawah anak-anak sesungguhnya belum memahami apa kegunaannya bersekolah, dia hanya melakukan tugas kewajiban yang memang diharuskan. Belum ada kesadaran sebab sekolah itu sesuatu yang di luar dirinya.

  2. Tanggung jawab internal, sebab itulah orang tua perlu menumbuhkan tanggung jawab yang bersifat internal yaitu melakukan sesuatu yang berkaitan langsung dengan dirinya, misalkan sikat gigi, mandi, membereskan tempat tidur.

Waktu seorang anak mulai memikul tanggung jawab, yang akan terjadi adalah:

  1. Dia akan lebih bisa mempercayai kelebihannya. Sebab akan ada banyak hal yang dia mampu lakukan, hal-hal kecil yang tadinya dia pikir tidak berguna, tapi waktu dia mulai lakukan, sesungguhnya itu akan menumbuhkan rasa keyakinan dirinya.

  2. Kita menyadari bahwa pada akhirnya anak-anak itu harus bekerja, dia tidak akan dianggap sebagai manusia yang berharga kalau dia sama sekali tidak bekerja. Orang tua perlu mengajarkan anak-anak bertanggung jawab agar nanti si anak menjadi seorang pekerja yang baik.

Dua hal yang menjadi bahan yang sangat penting untuk kesuksesan anak dalam pekerjaan di masa mendatang adalah:

  1. Kita siapkan anak-anak karena meyadari kegunaannya.

  2. Melakukan sesuatu karena memang diwajibkan, nah dua-duanya harus berimbang dan dimiliki oleh si anak.

Dalam kaitan tanggung jawab ini, saya mengajak kita memperhatikan firman Tuhan yang bisa dijadikan pedoman khususnya bagi orang tua. Amsal 12:11 "Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia tidak berakal budi."

Ciri orang yang bertanggung jawab adalah:

  1. Dia akan lebih realistik. Anak-anak yang dilatih sejak kecil untuk belajar bertanggung jawab akan menjadi anak-anak yang mengerti realitas kehidupan.

  2. Mereka berani mengakui perbuatannya, itu salah satu ciri atau tolok ukur yang penting sekali.