Memahami Perilaku Homoseksual

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T043A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Kaum homoseksual adalah manusia yang normal secara mental, secara jiwa dalam artian mereka tidak mempunyai kelainan jiwa yang tertentu. Mereka adalah orang-orang yang sama dengan kita perbedaannya adalah dalam hal orientasi seksualnya.

Audio
MP3: 
Play Audio: 
Ringkasan

Kata homoseksual berasal dari 2 kata, yang pertama adalah dari kata 'homo', yang kedua 'seksual' dan seksual berarti mengacu pada hubungan kelamin, hubungan seksual, sedangkan homo mengacu pada kata sama. Hubungan seseorang dengan yang sejenis kelamin dengan kita. Istilah ini adalah istilah yang mengacu pada perilaku dan juga orientasi yang dimiliki oleh seseorang, kalau itu seorang pria biasanya disebut kaum gay dari bahasa Inggris sedangkan kalau pada wanita disebut lesbion atau lesbian, dua-duanya itu masuk dalam kelompok homoseksual.

Kaum homoseksual adalah manusia yang normal secara mental, secara jiwa dalam pengertian mereka tidak mempunyai disfungsi tertentu atau kelainan jiwa yang tertentu. Mereka adalah orang-orang yang sama seperti kita namun perbedaannya adalah dalam hal orientasi seksualnya. Mereka tidak tertarik kepada lawan jenis, tetapi mereka tertarik kepada sesama jenis.

Penyebab atau asal mula orang bisa berperilaku homoseksual:

  1. Adalah dari segi keluarga atau bentukan keluarga.
    Pria dan wanita yang homoseksual mempunyai latar belakang atau penyebab yang sering kali berbeda. Untuk pria ada beberapa kemungkinan:

    1. Karena ayahnya absen sedangkan ibunya dominan. Ini adalah kasus di mana ayahnya itu misalkan sudah meninggal dunia atau meninggalkan keluarga, sehingga yang tertinggal di rumah adalah seorang ibu. Menurut teori Sigmund Freud: seorang anak (khususnya anak laki-laki) itu pada usia sekitar 3, 4 tahun akan mulai mengalihkan atau memerlukan seseorang yang adalah pria juga, untuk menjadi modelnya atau contoh perilakunya dalam hal ini adalah identitas seksualnya.

    2. Karena suatu situasi keluarga di mana ayah menjadi tokoh yang negatif atau tokoh yang menyakitkan dalam kehidupan si anak pria. Misalnya dia adalah seorang ayah yang bengis memukuli mamanya, memukuli anak-anak yang lainnya. Si anak pria ini akhirnya bertumbuh besar dengan suatu konsep bahwa pria itu jahat, apalagi ditambah dengan misalnya kakak-kakak prianya juga sama jahatnya, nakal, berontak, menyakiti hati mamanya, dan kebetulan dia juga sangat dekat dengan mamanya. Jika ayah itu absen tidak ada di rumah atau si ayah menjadi figur yang menyakitkan si anak, akibatnya akan ada kehilangan interaksi antara si anak dengan orang tua prianya. Si anak pria ini akhirnya hanya berinteraksi dengan mamanya, dengan figur wanita ini, inilah yang akan diserap oleh anak itu. Ia bisa menyerap tingkah laku kewanitaan tapi tidak harus langsung menyerap luarnya atau gaya-gaya kewanitaan. Namun yang sering kali akan diserap adalah dalamnya si ibu itu, misalnya cara si ibu mengekspresikan perasaannya, cara si ibu sedih waktu dimarahi oleh ayahnya, cara si ibu itu menanyakan sesuatu kepada ayahnya kenapa begini, kenapa begitu dan sebagainya. Cara-cara inilah yang akhirnya diserap oleh si anak menjadi bagian dalam kehidupannya, maka itulah dia akhirnya mengidentifikasi diri dengan si mama. Dan sewaktu dia bertumbuh besar dia menempatkan dirinya tanpa dia sadari di pihak atau di diri seorang wanita.

  2. Adalah adanya kemungkinan kelainan genetik.
    Hasil-hasil riset yang bersifat genetik memang memperlihatkan adanya dukungan terhadap argumen ini. Bahwa memang ada kemungkinan yang sangat besar mereka yang homoseksual itu dilahirkan dengan memiliki kecenderungan itu. Biar dibesarkan oleh rumah tangga seperti apapun tetap dia akan mengarah ke situ, sebab dari kecil atau dari lahir memang sudah diberikan kecenderungan tersebut secara genetik.

Roma 1:26, berkata: "Karena itu Allah menyerahkan mereka (orang-orang Roma ini) kepada hawa nafsu yang memalukan sebab istri-istri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar jadi akhirnya ditulis di sini, sehingga mereka melakukan kemesuman laki-laki dengan laki-laki dan sebagainya." Jadi memang Tuhan melarang hubungan itu sendiri.