olehEv. SindunataKurniawan, MK
Saudara–saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK bekerja sama dengan radio kesayangan Anda ini. Saya, Heman Elia, akan berbincang-bincang dengan Bapak Sindunata Kurniawan. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan keluarga. Perbincangan kami kali ini adalah tentang "Mekanisme Pertahanan diri". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
HE : Pak Sindunata, ini tentang mekanisme pertahanan diri. Bagaimana topik ini menarik buat Bapak untuk diangkat?
SK : Berbicara tentang mekanisme pertahanan diri sesungguhnya berbicara tentang keseharian hidup kita sebagai manusia, Pak Heman. Jadi sebagaimana istilah yang dipakai "pertahanan diri". Sesungguhnya di dalam keseharian kita, kita mengalami pelbagai peristiwa emosi yang membuat kita merasa tersudut, merasa terserang, merasa terancam, merasa cemas. Dan secara alami, spontan dan tidak sadar kita memunculkan cara-cara membentengi atau melindungi diri. Inilah yang disebut mekanisme atau sistem pertahanan diri.
HE : Berarti memang setiap hari, setiap saat kita menghadapi serangan-serangan dari luar dan itu memunyai dampak buat emosi kita, ya Pak?
SK : Betul, Pak Heman. Jadi kondisi yang merasa tidak aman, merasa terancam, itu memang setiap saat bisa kita alami ya, bahkan nyaris setiap menit. Sehingga itu yang memunculkan cara-cara perlindungan diri yang nanti akan kita kenali berbagai jenis mekanisme pertahanan diri.
HE : Apakah ada ciri-ciri dari mekanisme pertahanan diri ini secara psikologis?
SK : Sebagaimana sudah saya paparkan tadi, kita bisa rumuskan minimal ada dua ciri khas. Yang pertama, ini merupakan cara, mekanisme ini bisa muncul karena berada dalam kondisi cemas. Karena ada kecemasan yang kita alami sehingga memunculkan mekanisme pertahanan diri. Yang kedua, mekanisme pertahanan diri ini muncul secara tidak sadar atau spontan dari diri kita untuk melindungi diri dari kecemasan itu. Jadi minimal ada dua ciri khas, Pak Heman.
HE : Ini menarik, ya. Tadi Bapak singgung soal tidak disadari. Apakah Bapak bisa menjelaskan lebih lanjut kenapa mekanisme pertahanan diri ini bisa tidak disadari, ya Pak?
SK : Rupanya begini, Pak Heman. Di dalam tubuh kita yang diciptakan Tuhan, Tuhan memang menciptakan sebuah pola yang kita sadari dan pola yang tidak kita sadari atau dengan kata lain pola yang bersifat refleks atau spontan. Misalnya bisa kita lihat dalam sebuah pengalaman kecil. Kalau misalnya tanpa kita memerhatikan tangan kita memegang sesuatu, ternyata itu panci yang panas. Pasti secara spontan kita akan tarik tangan kita dari panci panas itu tanpa melewati proses berpikir, menganalisa atau mengambil keputusan, kita langsung tarik! Inilah proses refleks. Proses refleks secara fisik itu tadi rupanya juga terjadi dalam dunia psikis atau dunia jiwa dan emosi kita, Pak Heman. Inilah yang memunculkan mekanisme pertahanan diri itu tadi.
HE : Jadi ini terjadi secara otomatis dan terjadi di dalam emosi kita. Jadi emosi utama yang muncul itu adalah emosi cemas, ya Pak?
SK : Betul, Pak Heman. Bicara tentang emosi cemas ini kita bisa ingat peristiwa pertama yang dicatat dalam Alkitab, manusia mengalami kecemasan dan ketakutan itu ada di Taman Eden.
HE : Seperti apa itu, Pak?
SK : Sebagaimana kita bisa lihat dalam Kejadian 3 ketika manusia melanggar apa yang Allah larang yaitu memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, tiba-tiba manusia bisa tersingkap pemandangan matanya dan melihat dirinya telanjang. Dan ketika dia menyadari diri telanjang, langsung muncul rasa malu, takut, tidak nyaman. Dan dia langsung memunculkan cara perlindungan diri secara fisik yaitu dengan cara menutupi tubuhnya dengan dedaunan, bersembunyi di antara pepohonan dan itu sebenarnya saya lihat sebagai asal muasal mekanisme pertahanan diri itu mulai muncul dalam peristiwa itu. Dan itupun masih berlanjut kalau kita lihat dalam Kejadian 3 itu.
HE : Jadinya saya sekarang ini bisa membayangkan bagaimana besar rasa takut Adam dan Hawa di Taman Eden seperti yang Bapak ceritakan tadi.
SK : Benar. Memang Adam dalam posisi merasa takut. Terlebih lagi ketika Tuhan memanggil Adam dan bertanya, "Dimanakah engkau?" dan Adam menjawab, "Ketika aku mendengar Engkau ada di dalam taman ini aku menjadi takut. Karena aku telanjang. Sebab itu aku bersembunyi." Kemudian Tuhan bertanya, "Siapa yang memberitahu kepadamu bahwa engkau telanjang?" Kemudian Tuhan melanjutkan, "Siapakah yang memberikan makan dari buah pohon yang kularang itu?" maka Adam menjawab, "Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberikan buah pohon itu sehingga aku makan." Nah, disinilah muncul dengan kentara sekali suatu bentuk pertahanan diri secara refleks karena takut dan cemas, Adam memakai mekanisme pertahanan diri dengan cara mengkambinghitamkan Hawa.
HE : Kira-kira apa dampak atau hubungan antara yang terjadi di Taman Eden itu dengan mekanisme pertahanan diri yang terjadi di dalam keseharian kita?
SK : Di dalam keseharian kita, kita merasa terancam, merasa cemas, kemudian kita berusaha melindungi diri. Nah, di dalam melindungi diri ini lebih sering kita memikirkan dari sudut kita sendiri dan sangat mungkin akhirnya menabrak koridor atau batas-batas kebenaran. Dan di sinilah titik kritisnya kenapa kita perlu menyadari mekanisme pertahanan diri macam apa yang kita pakai dalam keseharian kita, salah satunya agar kita bisa lebih membawa ke dalam ruang kesadaran sehingga kita tidak mudah masuk ke dalam mekanisme pertahanan diri itu dan itu juga akan menolong kita untuk tidak hidup di dalam penyangkalan diri di dalam penipuan diri, karena cenderung akhirnya melindungi diri tapi mengabaikan orang lain atau mengabaikan kebenaran. Jadi jika mekanisme pertahanan diri terlalu sering kita pakai, maka sesungguhnya kehidupan kita menjadi hidup yang kurang berintegritas.
HE : Tadi Bapak juga menyebutkan bahwa ini ada kecemasan ya, Pak ? Kemudian juga kecemasan ini membuat kita melakukan pertahanan diri dengan menipu diri. Apakah Bapak bisa menjelaskan, bagaimana bisa kecemasan muncul dalam bentuk menipu diri?
SK : Karena kecemasan itu membawa kita dalam kondisi tidak siap untuk menghadapi fakta kebenaran. Bagi kita kebenaran itu terasa menyakitkan dan menekan, kita tidak siap. Seperti Adam ketika dia ditanya, "Adam dimanakah engkau? Adam apakah engkau makan buah ini?" Adam langsung merasa cemas, dia takut dihukum. Takut dimarahi, mendapatkan sanksi dari Allah. sehingga secara alami, dia melindungi diri, "Daripada aku yang salah dan kena hukum, lebih baik aku kambing hitamkan Hawa, istriku. Dengan cara itulah aku bebas dari sanksi itu. Kecemasanku jadi menurun sehingga aku bisa bertahan hidup dengan cara pertahanan diri yang menyalahkan orang lain."
HE : Benar. Saya setuju dengan Pak Sindu karena saya membayangkan keseharian saya. Memang benar,setelah Bapak jelaskan, baru saya sadar seringkali saya merasa memertahankan diri saya karena saya merasa takut dihukum. Lalu saya mencari-cari berbagai alasan.
SK : Betul. Mencari-cari alasan itu salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri. Yang nanti akan kita kenali