Kedewasaan

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T090B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Kadang kedewasaan itu bisa semakin matang karena adanya suatu pengalaman di dalam hidup kita, tempaan, kesusahan, penderitaan dsb yang dapat mempercepat seseorang mencapai kedewasaan yang matang.

Audio
MP3: 
Play Audio: 
Ringkasan

Yang lebih mencerminkan kedewasaan seseorang adalah sikap. Pdt. Charles Swindoll berkata semakin hari semakin dia menyadari pentingnya sesuatu yang disebut sikap. Jadi sikap itu mewarnai cara berpikir kita dan tindakan kita dalam menghadapi hidup ini. Kedewasaan dapat diukur dengan berapa matangnya sikap kita ini dalam menghadapi hudup.

Sudah tentu kedewasaan sangat dipengaruhi oleh :

  1. Pengalaman hidup, jadi orang yang mau belajar dari hidup ini, dari apa yang dialaminya akan lebih mudah dewasa.

  2. Hal yang berikutnya yang bisa menambah kedewasaan kita adalah kita tidak bisa sangkali bahwa tempaan hidup, kesusahan, penderitaan itu akan sangat mempercepat atau mematangkan seseorang menjadi lebih dewasa. Jadi saya dapat katakan bahwa kedewasaan bertunas dari jiwa yang telah mengalami tempaan.

Kita dapat belajar dari kisah Yusuf yang dicatat dalam Kejadian 50:15-21. Kita bisa memetik beberapa pelajaran atau ciri kedewasaan seseorang yaitu:

  1. Orang yang dewasa ialah orang yang menghadapi tantangan hidup dan tidak lari menghindarinya. Yusuf itu dibuang pada usia yang relatif muda sebagai seorang remaja dijadikan budak, difitnah oleh istri majikannya dan dia dipenjarakan, namun ia menghadapi semuanya itu.

  2. Orang yang dewasa adalah orang yang tidak cepat menyalahkan orang lain termasuk Tuhan atas kemalangan yang dideritanya. Saya kira kemalangan atau penderitaan menjadi ukuran yang sangat baik untuk menilai kedewasaan kita. Kalau kita semuanya cukup, tidak ada masalah, kita hidup dalam kemakmuran, sukar untuk mengukur kedewasaan kita. Yusuf tidak menyalahkan Tuhan sewaktu dia menderita dan setelah bebas dari penjara ia pun tidak menyalahkan saudara-saudaranya.

  3. Orang yang dewasa adalah orang yang tabah dan sabar karena tahu bahwa Tuhan mengatur segalanya untuk kebaikan. Yusuf tidak membatasi matanya hanya pada apa yang dilihat dan dirasakannya, ia memandang hidupnya dari perspektif Tuhan. Kalau Yusuf membatasi matanya hanya pada apa yang dilihat dan dirasakannya dia akan hanya melihat penderitaannya, betapa malangnya hidup yang harus dilewatinya. Tapi Yusuf berhasil melebarkan perspektifnya dan dia melihat semua permasalahan hidupnya dari kaca mata Tuhan bahwa Tuhan mempunyai rencana dan bahwa dia adalah bagian kecil dari rencana Tuhan yang besar nah itulah tanda orang yang dewasa sabar dan tabah.

  4. Orang yang dewasa ialah orang yang mampu membebaskan diri dari kepahitan hidup ini. Dengan kata lain orang yang dewasa tidak menyimpan dendam dan tidak mengingat-ingat kekurangan orang. Kita lihat contoh Yusuf, Yusuf tidak mendendam, dia malah memilih melihat hidup dari sisi baiknya yakni ia dapat bersama lagi dengan keluarganya. Kenapa Yusuf bisa begitu baik membalas kejahatan dengan kebaikan, sekali lagi adalah dia orang yang mampu membebaskan diri dari kepahitan hidup. Kalau orang terus memelihara kepahitan hidup dia tidak mungkin dewasa, karena kepahitan itu akan mewarnai sikapnya dalam mengambil tindakan atau dalam mengeluarkan reaksi sehingga sikapnya itu akan sangat mengotori apa yang dia lakukan.

  5. Orang yang dewasa adalah orang yang tidak menempatkan diri di posisi Tuhan, jadi ada orang yang menempatkan diri pada tempat Tuhan. Dia menganggap dirinya tahu segala hal dan dia mempunyai hak untuk berbuat semaunya. Jadi orang yang dewasa orang yang tahu batasnya, tahu dirinya. Orang yang juga mengerti batas antara benar dan tidak benar, kehendak Tuhan dan dosa, sehingga dia tidak memasuki daerah yang berdosa yang Tuhan larang.

  6. Orang yang dewasa ialah orang yang melihat fakta apa adanya.

  7. Orang yang dewasa adalah orang yang memikul tanggung jawab atas tindakannya. Yusuf bisa menjadi orang yang sinis dan jahat karena hidup telah begitu menyakitkan dan tidak adil untuknya. Namun Yusuf memilih menjadi pekerja yang baik sewaktu di rumah Potifar, dia menjadi tahanan yang baik tatkala di penjara karena difitnah.