Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereHidup Sederhana

Hidup Sederhana


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T311B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Dewasa ini ada banyak orang yang menargetkan untuk menjadi kaya raya pada usia muda. Bahkan ada yang sudah menargetkan usia pensiun dini setelah mengumpulkan harta kekayaan. Tuhan tidak anti kekayaan dan Ia memberkati sebagian orang dengan kekayaan berlimpah. Namun demikian pada hakekatnya Alkitab menghendaki agar kita menjadi jurukunci Tuhan. Hidup sederhana adalah bagian dari menjadi jurukunci yang bertanggung jawab. Bagaimana sebenarnya kita bisa hidup sederhana dan benar ? Ataukah kita harus hidup irit ?
MP3: 
3.60 MB
Ringkasan
Isi: 

Dewasa ini ada banyak orang yang menargetkan untuk menjadi kaya raya pada usia muda. Bahkan ada yang sudah menargetkan usia pensiun dini setelah mengumpulkan harta kekayaan. Tuhan tidak anti kekayaan dan Ia memberkati sebagian orang dengan kekayaan berlimpah. Namun demikian pada hakekatnya Alkitab menghendaki agar kita menjadi jurukunci Tuhan—penerima sekaligus pengelola harta kekayaan untuk kepentingan yang lebih luas dari diri sendiri semata. Hidup sederhana adalah bagian dari menjadi jurukunci yang bertanggung jawab.

Berikut akan dipaparkan makna dari hidup sederhana :

  1. HIDUP SEDERHANA BERARTI HIDUP SECUKUPNYA.
    Misalkan, kendati sanggup membeli kendaraan yang mewah tetapi kita memilih kendaraan yang lebih murah, sebab itu pun sudah memadai untuk kebutuhan kita. Atau, kita tidak membangun rumah yang megah walau mampu; sebaliknya kita membangun rumah yang sesuai dengan kebutuhan. Dewasa ini orang seakan berlomba untuk meningkatkan tingkat kemewahan, jauh melebihi kebutuhan. Padahal tujuan awal diciptakannya benda-benda itu adalah untuk memenuhi kebutuhan semata, bukan untuk kemewahan. Jadi, orang yang hidup secukupnya adalah orang yang tidak mencari kemewahan; ia sekadar memenuhi kebutuhannya.
  2. HIDUP SEDERHANA BERARTI MELIHAT HIDUP DARI PERSPEKTIF YANG LEBIH LUAS DAN BERNILAI KEKEKALAN.
    Kita memandang hidup dari perspektif Tuhan dan kepentingan-Nya. Kita memikirkan bukan saja kebutuhan pribadi dan keluarga, kita pun memikirkan kebutuhan orang di sekitar kita. Kita tahu bahwa semua yang dimiliki adalah pemberian Tuhan untuk digunakan sesuai kehendak-Nya. Jadi, kita berusaha untuk menyisihkan uang untuk perluasan pekerjaan Tuhan, bukan saja untuk perluasan pekerjaan kita. Kita tahu bahwa Tuhan memberkati kita dengan berlimpah agar kita dapat menjadi penyalur berkat Tuhan untuk kepentingan yang lebih luas. Itu sebabnya sebelum menggunakan uang untuk kepentingan pribadi, kita pun akan memertimbangkan apakah kita perlu menggunakannya untuk kepentingan yang lain.
  3. HIDUP SEDERHANA TIDAK BERARTI HIDUP TANPA KENIKMATAN.
    Pengkhotbah 2:24 menegaskan, "Tidak ada yang lebih baik bagi manusia daripada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah." Di sini kita dapat melihat bahwa Tuhan tidak melarang kita untuk "bersenang-senang" alias menikmati hidup. Dengan kata lain, menikmati apa yang telah diberikan Tuhan tidaklah salah. Satu hal lagi: Menikmati hidup juga merupakan bagian dari hidup yang seimbang. Menikmati hidup memberi penyegaran kepada tubuh dan jiwa sehingga kita lebih dimampukan untuk memenuhi tuntutan hidup. Bila kita sudah tidak dapat menikmati hidup, itu pertanda bahwa kita telah kehilangan keseimbangan dalam hidup—sesuatu yang dapat memberi dampak buruk pada relasi dengan sesama.
  4. HIDUP SEDERHANA TIDAK BERARTI BAHWA KITA TIDAK PERLU BEKERJA DENGAN SEBAIK-BAIKNYA.
    Pengkhotbah 5:10 berkata, "Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain daripada melihatnya? Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur." Firman Tuhan mengingatkan bahwa kekayaan bukanlah segalanya dan bahwa menjadi kaya tidaklah seindah yang dibayangkan. Namun demikian Firman Tuhan juga mengingatkan bahwa orang yang bekerja "enak tidurnya." Singkat kata, hidup sederhana bukan berarti hidup malas-malasan tanpa motivasi. Hidup sederhana tetap adalah hidup untuk memberi yang terbaik dari diri kita.