Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereDampak Perceraian Orangtua Terhadap Anak 2

Dampak Perceraian Orangtua Terhadap Anak 2


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T042B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Lanjutan dari T42A

MP3: 
3.81 MB
Ringkasan
Isi: 

Ada beberapa hal tahapan yang mendahului sebelum terjadi perceraian.

  1. Mulai mereka temukan ketidakcocokan dalam pernikahan mereka.

  2. Orang akan merasa gagal untuk membereskan masalah atau kemelut ini. Sebab yang akan mereka saksikan adalah masalah yang sama diulang-ulang.
    Ini memang ditimbulkan oleh sekurang-kurangnya 2 penyebab.

    1. Orang yang bersangkutan tidak mau berubah

    2. Mereka belum menguasai cara untuk menyelesaikan problem.

  3. Yang tidak berhasil, akhirnya terlibat dalam suatu siklus, siklus pertengkaran yang tidak bisa selesai-selesai.

  4. Kalau sudah sampai pada titik ini biasanya kita menyerah.

  5. Kemudian kita akan merasa masa bodoh, akan mendiamkan, memasabodohkan pasangan kita dan tidak menghiraukannya.

  6. Rasa sakit yang berkepanjangan dan tak tertahankan inilah yang seringkali menjadi pencetus atau mendorong orang untuk bercerai.

Dampak pada anak-anak pada masa ketidakharmonisan, belum sampai bercerai namun sudah mulai tidak harmonis:
  1. Anak mulai menderita kecemasan yang tinggi dan ketakutan.

  2. Anak merasa terjepit di tengah-tengah. Karena dalam hal ini anak sulit sekali memilih papa atau mama, dia merasa sangat terjepit di tengah

  3. Anak sering kali mempunyai rasa bersalah.

  4. Kalau kedua orang tuanya sedang bertengkar, itu memungkinkan anak bisa membenci salah satu orang tuanya.

Dalam rumah tangga yang tidak sehat, yang bermasalah dan penuh dengan pertengkaran-pertengkaran bisa muncul 3 kategori anak.

  1. Anak-anak yang memberontak yang menjadi masalah diluar. Anak yang jadi korban keluarga yang bercerai itu menjadi sangat nakal sekali karena:

    1. Mempunyai kemarahan, kefrustrasian dan mau melampiaskannya.

    2. Selain itu, anak korban perceraian jadi gampang marah karena mereka terlalu sering melihat orang tua bertengkar. Namun kemarahan juga bisa muncul karena :

      1. Dia harus hidup dalam ketegangan dan dia tidak suka hidup dalam ketegangan
      2. Dia harus kehilangan hidup yang tenteram, yang hangat, dia jadi marah pada orang tuanya kok memberikan hidup yang seperti ini kepada mereka.
    3. Waktu orang tua bercerai, anak kebanyakan tinggal dengan mama, itu berarti ada yang terhilang dalam diri anak yakni figur otoritas, figur ayah.

  2. Anak-anak yang bawaannya sedih, mengurung diri, dan menjadi depresi. Anak ini juga bisa kehilangan identitas sosialnya.

  3. Anak-anak yang super baik yang jadi juru selamat rumah tangga.

Matius 19:6b, "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia." Tuhan melarang orang bercerai dengan alasan-alasan yang sangat jelas. Tuhan mengerti dampaknya begitu berat, baik bagi orang yang bercerai maupun terhadap anak-anak mereka.

Tapi untuk kasus-kasus yang lebih umum, dimana mulai timbul tanda-tanda yang menuju pada perceraian ada Firman Tuhan di Matius 18:10, "Ingatlah jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu ada malaikat mereka di Surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di Surga." Tuhan Yesus menegaskan bahwa anak-anak itu berharga dan Tuhan memperhatikan mereka. Jadi Tuhan berkata ada malaikat yang menjaga mereka, dengan kata lain, Tuhan mau kita mengingat anak-anak bahwa anak-anak itu penting dan berharga di mata Tuhan. Jangan sampai gara-gara kita menuruti kehendak diri sendiri, anak-anak menjadi korban jadi bertahanlah sebisanya. Bereskanlah itu sebisanya baik saudara yang wanita maupun saudara yang pria, rendahkanlah diri, mintalah bantuan dan bereskanlah masalah, jangan tunggu- tunggu lagi.

Usia perkawinan yang rawan terhadap perceraian adalah :

  1. Masa 5 tahun pertama setelah pernikahan dan juga yang lebih kritis lagi 3 tahun pertama.

  2. Usia pertengahan yaitu usia sekitar 45 - 55 tahunan. Rawan karena pada saat itu saat di mana anak-anak sudah besar. Anak-anak seringkali menjadi pengikat orangtua dan sekaligus merupakan suatu pengalihan problem.

Dampak dari perceraian yang sering kali dialami oleh anak adalah:

  1. Anak merasa terjepit, anak mengalami kesulitan untuk berkata saya memilih mama atau saya memilih papa. Dia merasa terjepit di tengah, siapa yang harus dibela, siapa itu yang dia harus ikuti nantinya kalau misalnya terjadi perceraian.

  2. Anak mempunyai rasa bersalah. Karena anak merasa bahwa dirinya yang menjadi penyebab perceraian.

Anak yang jadi korban keluarga yang bercerai cenderung menjadi anak yang sangat nakal karena:

  1. Anak mempunyai kemarahan, kefrustasian dan dia mau melampiaskannya. Dan pelampiasannya adalah dengan melakukan hal-hal yang berlawanan dengan peraturan, memberontak dan sebagainya.

  2. Anak kehilangan figur otoritas, figur ayah. Waktu figur otoritas itu menghilang anak sering kali tidak terlalu takut pada mama.

  3. Anak kehilangan jati diri sosialnya atau identitas sosialnya. Status sebagai anak cerai memberikan suatu perasaan dia orang yang berbeda dari anak-anak lain.

Pasangan suami-istri seharusnya cepat mencari bantuan pada pihak ketiga yaitu pendeta, konselor untuk membereskan persoalan mereka, jikalau mereka itu tiba-tiba sudah sadar bahwa persoalan yang sama muncul lagi terus-menerus. Jadi kalau sampai ada orang yang menderita dalam pernikahannya yang perlu dilakukan adalah:

  1. Mencari bantuan, dua-dua meskipun yang satu merasa saya tidak punya masalah, carilah bantuan karena seringkali ini bukanlah masalah satu atau yang satunya, tapi masalah berdua.

  2. Harus tetap kuat di dalam Tuhan.