Selamat Datang |
Follow us on :

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA

Loading

You are hereBelajar Rendah Hati

Belajar Rendah Hati


Printer-friendly version
Kode Kaset: 
T250A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Tuhan memerintahkan kita pengikut-Nya untuk hidup dengan penuh kerendahan hati. Sebenarnya apakah kerendahan hati itu? Kerendahan hati di sini juga akan dibandingkan dengan tinggi hati, apa itu tinggi hati?
MP3: 
3.61 MB
Ringkasan
Isi: 

Tuhan memerintahkan kita pengikut-Nya untuk hidup dengan penuh kerendahan hati. Sebenarnya apakah kerendahan hati itu?

Pertama, kerendahan hati bukanlah sebuah sikap tubuh yang merendah-rendah. Di dalam banyak budaya, sikap merendahkan tubuh dianggap sebagai kerendahan hati. Sesungguhnya kerendahan hati bukanlah sikap tubuh melainkan sikap hati, yang tidak mementingkan diri, malah mengedepankan kepentingan orang lain. Marilah kita lihat dengan saksama ciri orang yang rendah hati sebagaimana diuraikan di Filipi 2:3 dengan cara mengkontraskannya dengan sikap orang yang tinggi hati, "dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia . . . menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. "

  • Orang yang tinggi hati akan mencari kepentingan diri sendiri, sedangkan orang yang rendah hati akan mencari kepentingan orang lain. Orang yang tinggi hati akan selalu berpikir, "Apa untungnya buat saya?" Dengan kata lain, orang yang tinggi hati sukar melakukan sesuatu murni untuk kepentingan orang lain. Sebaliknya, orang yang rendah hati bersedia berkorban melakukan sesuatu yang tidak berkaitan atau tidak memberi keuntungan bagi dirinya.
  • Orang yang tinggi hati akan mencari puji-pujian orang terhadap dirinya, sedangkan orang yang rendah hati tidak memikirkan hal ini. Sewaktu orang yang tinggi hati melakukan sesuatu, ia akan memikirkan efeknya-apakah hasil perbuatannya akan dihargai orang atau tidak. Dengan kata lain, jika ia beranggapan bahwa efek karyanya tidak akan mengundang pujian orang, ia tidak mau melakukannya. Tidak heran, orang yang tinggi hati cepat marah dan tersinggung, bila orang tidak memberi respons terhadap karyanya sesuai dengan keinginannya. Sebaliknya, orang yang rendah hati akan melakukan segala sesuatu sebaik-baiknya, "dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. " (Kolose 3:23) Orang yang rendah hati melihat Tuhan sebagai "penonton" perbuatannya; ia tidak memusingkan orang. Fokus utamanya adalah mempersembahkan hasil karya hidupnya untuk Tuhan; jadi, terpenting baginya adalah membuat Tuhan senang. Kalau sampai orang memuji dirinya, itu adalah efek sampingan yang tidak dicarinya.
  • Orang yang tinggi hati akan menomorsatukan diri sedangkan orang yang rendah hati berupaya menomorduakan dirinya. Orang yang tinggi hati beranggapan bahwa ia lebih utama dan lebih baik dari orang lain. Itu sebabnya orang yang tinggi hati sering kali menuntut perlakuan khusus atau istimewa sebab ia beranggapan ia tidak sama dengan orang lain. Ia berharap orang akan membebaskannya dari kewajiban yang biasanya dituntut pada kebanyakan orang oleh karena baginya, ia bukanlah orang biasa. Sebaliknya, orang yang rendah hati tidak melihat dirinya sebagai orang yang istimewa dan selayaknya menerima perlakuan khusus. Ia akan menempatkan dirinya sejajar dengan yang lain, bahkan ia cepat menghargai sumbangsih orang. Dengan kata lain, orang yang rendah hati cepat melihat keistimewaan orang lain dan lambat melihat keistimewaan dirinya. Sudah tentu ini tidak berarti bahwa ia buta terhadap dirinya; tidak! Ia tahu siapa dirinya-kekuatan dan kelemahannya, namun baginya, tidaklah penting untuk menonjolkan kekuatannya. Baginya justru yang penting adalah bagaimana ia dapat menolong orang yang lain mengembangkan diri sehingga akan lebih banyak orang yang dapat melakukan apa yang baik bagi sesama dan Tuhan